Membaca adalah salah satu disiplin terbaik yang saya ketahui
untuk tetap “berada pada permainan” dan berada pada pencapaian kita yang
tertinggi. Membaca buku yang bagus berarti berdialog dengan pengarangnya. Dan
kita pun menjalin dialog dengan diri kita sendiri. Cobalah malam ini membaca
buku autobiografi Mahatma Gandhi, My Experience with Truth, ditemani
secangkir kopi, Anda akan melihat melalui sudut pandangnya dan belajar mengenai
apa yang menggerakannya. Ingin menghabiskan waktu bersama Madonna besok? Bacalah bukunya. Sama
halnya dengan Jack Welch, Ibu Teresa, Bill Gates, Salvador Dalhi, atau Dalai
Lama. Selain itu, membaca buku karya seseorang yang Anda hormati membuat
kecerdasan mereka melekat pada Anda. Tangan yang meletakkan buku bagus yang
telah selesai dibaca, tidak akan pernah sama lagi. Seperti yang diamati oleh
Oliver Wendell Homes: ”Pikiran yang telah berkembang karena suatu ide baru
tidak akan pernah kembali ke dimensi aslinya.”
Ketika saya beranjak dewasa, ayah saya pernah berkata, “Kurangi biaya sewa dan kurangi pengeluaran untuk makan, tapi tak perlu merasa cemas karena menginvestasikan uang untuk sebuah buku bagus.” Pemikiran yang sangat berpengaruh ini telah menyertai saya sepanjang hidup. Filosofinya adalah mendapatkan satu ide dari sebuah buku akan membawa Anda ke satu tingkat baru dan mengubah cara Anda memandang dunia. Jadi begitulah rumah kami penuh buku. Dan sekarang saya mencoba untuk menyediakan waktu sedikitnya satu jam setiap hari untuk membaca. Kebiasaan ini sendiri telah mengubah saya. Terima kasih, Ayah.
Mungkin hadiah terbesar saya untuk anak-anak ketika saya mati adalah perpustakaan saya. Saya memunyai koleksi buku tentang kepemimpinan, hubungan antarmanusia, bisnis, filsafat, kesehatan, spiritualitas, contoh-contoh kehidupan yang luar biasa, dan banyak buku lain dengan topik-topik favorit saya. Banyak di antara buku itu saya beli di took buku dalam perjalanan melintasi dunia ketika saya melakukan perjalanan bisnis. Buku-buku ini membentuk filosofi pribadi saya. Buku-buku ini menjadikan saya manusia seperti sekarang ini. Bagi saya, buku-buku saya tak ternilai harganya.
Pepatah lama ini memang benar: “Mengetahui bagaimana membaca
tetapi tidak membaca hampir sama dengan tidak mengetahui bagaimana cara
membaca.” Sediakan waktu untuk membaca sesuatu yang baik setiap hari. Isilah
pikiran Anda dengan ide-ide besar dan pemikiran yang memesona. Maanfatkan buku
untuk mengalirkan harapan dan inspirasi ke dalam jiwa Anda. Dan Ingatlah, jika
Anda ingin memimpin, Anda memang perlu membaca. Oh, dan jika Anda – seperti
saya – memiliki kebiasaan membeli banyak buku, tapi belum tentu dibaca, jangan
merasa bersalah, Anda sedang membangun perpustakaan Anda. Dan ini akan menjadi
sesuatu yang indah.
Sumber Tulisan : The Greatness Guide, Robin Sharma, BIP Jakarta.
Robin Sharma, CEO Sharma Leadership International.
Banyak kisah tentang kesenjangan
generasi/generation gap di berbagai belahan bumi. Banyak kajian tentang kendala
dan peluang lintas generasi, salah satunya mengacu pada esai The Problem of Generations karya
sosiolog Karl Mannheim. Banyak juga lelucon muncul akibat kesenjangan ini,
antara lain joke ‘millenial versus kolonial’.
Saya yang tergolong generasi Z,
generasi yang lahir di era kecanggihan teknologi, juga mengalami banyak kisah
dalam interaksi dengan generasi baby
boomer yang lahir antara tahun 1946 – 1964, dan generasi X yang lahir tahun
1965 – 1980.
Sejak SD saya sering ikut ibu dalam
kunjungan ke panti-panti wreda (panti lansia), baik panti lansia untuk kaum
miskin maupun wisma lansia eksklusif untuk kaum kaya. Saya senang ketemu para
lansia sebab saya tidak punya kakek-nenek dari ibu dan dari ayah. Lha wong saya
lahir usia ibu saja sudah nyaris 40 tahun, katanya sudah lupa urus bayi sampai
langganan lagi majalah ibu-anak serta beli buku-buku tentang merawat bayi dan
balita.
Waktu SMP, tiap tahun saya diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menjadi narasumber Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional
(FLS2N) Tingkat SMP untuk motivasi literasi pada siswa. Pada kesempatan tanya
jawab, salah seorang guru bahasa Indonesia bertanya, bagaimana trik/tips
menulis awal karangan, sebab murid-muridnya kebanyakan memulai paragraf awal
dengan kalimat “Pada suatu hari…..”. Saya menjawab “Bebaskan judul karangan bu…jangan
seragam…”.
Dulu saya paling sebel kalau disuruh
mengarang dengan judul dipatok seragam “Liburan di Rumah Nenek”. Terpaksa saya
harus menggali imajinasi, lha saya gak punya nenek. Untung dulu belum ada pemeo
“Liburan di rumah nenek lu?…”.
Gaul dengan baby boomer secara intensif juga saya alami waktu usia SMP, berguru Ballroom & Latin Dance pada opa Him Damsyik sampai mahir. Sekarang gantian saya mengajar dansa opa-opa dan oma-oma di beberapa retirement club. Saya jadi tambah mengerti filosofi bahwa hidup adalah sebuah lingkaran.
Kolaborasi rentang generasi di zaman
now sangat potensial untuk memperkuat tatanan ekonomi sosial budaya di berbagai
sektor, dengan saling melengkapi kekuatan masing-masing generasi, bukan hanya
terpaku pada kesenjangannya.
Beruntung saya punya pengalaman
bergaul dengan para lansia, sehingga memudahkan dalam berinteraksi dengan para
senior baby boomer, baik di lingkup
organisasi maupun di lingkup bisnis sendiri dan di lingkungan kerja.
Yang paling seru dalam tugas saya sebagai Plt Corporate Secretary adalah saat saya melaksanakan koordinasi dan komunikasi antara Direksi dan Dewan Komisaris yang sudah sepuh-sepuh (tua). Harus ekstra sabar dalam berkomunikasi. Saat sang sepuh sedikit rewel, saya lalu ingat waktu kecil sering iri pada teman yang punya kakek-nenek. Tuhan pun menjawab, semua akan indah pada waktunya. Ya sekarang ini, Tuhan bilang “Nyoh, tak kek’i eyang-eyang (nih tak kasih eyang-eyang) gak usah iri…”.
Keuntungan yang tak ternilai dari
kolaborasi rentang generasi ini, saya banyak menimba ilmu bisnis dan
rangkaiannya dari para pengusaha besar sebagai ‘guru/suhu’. Sering saya harus
membawa laptop ke meja Komisaris untuk menyerap langsung aspirasi dan arahannya
secara ‘tikpet’ ketik cepet. Persis
seperti hubungan eyang dan cucu. What a
wonderful life…
Selain ilmu bisnis, banyak ilmu
kehidupan yang saya peroleh selama gaul dengan para lansia lintas strata
sosial. Dari seorang engkong Kumpen,
petani kota sahabat keluarga, saya banyak dapat ilmu tentang kearifan alam
semesta. Saya menjulukinya guru tanpa aksara, karena ia buta huruf.
Tak terhitung keberuntungan yang saya peroleh dari pergaulan dengan para lansia, ya dari pengalamannya, ya dari petuahnya, ya dari hiburannya, musik dan tontonannya. Saya ikuti semua. Apalagi di zaman keajaiban teknologi sekarang, tinggal klik, semua tentang ‘kejadulan’ muncul dalam sekejap.
Buku apa yang mereka baca, saya
baca. Film legendaris yang mereka tonton, saya tonton juga. Saya si generasi Z
akhirnya jadi teman ngobrol yang asyik bagi generasi baby boomer, karena saya bisa ngikuti dan ‘nimpalin’ alur
obrolannya.
Banyak kelucuan dalam komunikasi
lintas generasi. Semua jadi hiburan yang membahagiakan, walau sesekali ada juga
hal yang menyebalkan dalam lingkungan kerja, terutama tentang seringnya lupa
atas arahan dan sebagainya, yang membuat saya ngelus hape eh ngelus dada.
Tentang buku, konon para pemimpin
dunia yang humanis, masa kecilnya membaca buku serial Winnetou karya Karl May. Saya baca juga serial itu.
Anjuran membaca buku “Menjadi Indonesia”-nya opa Parakitri T.
Simbolon yang setebal dingklik (bangku jongkok) itu pun saya baca ‘ampe gempor’.
Serial novel dan film The Godfather-nya Mario Puzo dan Francis Ford Copolla juga asyik dibaca
dan filmnya saya tonton berulang-ulang. Banyak pelajaran dari film yang meramu
paradoks hidup tentang bisnis legal & ilegal dalam lingkaran kekuasaan,
keserakahan, kejahatan, dendam, berpadu dengan cinta, kasih sayang, kesetiaan,
dan keindahan yang dikemas jitu menjadi tontonan apik.
Walau tontonan penuh kengerian, tapi ada juga tuntunan dalam banyak rangkaian kalimat filosofis, seperti “Jangan biarkan siapa pun tahu apa yang kau pikirkan…”
Akhirulkalam, ini wejangan dari eyang Don Michael Corleone “Jangan
membenci musuhmu…”.
“Karena kebencian akan melumpuhkan
nalar dan kewarasan…” sambung si
grandcicit genZ
Speak sofly love…
~
Nilam Zubir,
Public Relation Representative di
Indonesia Plastic Recyclers
“Develop an attitude of gratitude, and give thanks for everything
that happens to you, knowing that every step forward is a step toward achieving
something bigger and better than your current situation.” (Brian Tracy)
Pagi-pagi saya menerima pesan di WA
dengan tautan artikel di The Weekend Australian Magazine, November 22, 2019.
Saya membukanya, membaca sepintas, tapi naluri saya mendorong untuk membacanya
kembali sambil mencernanya secara saksama. Aku dibuat merinding membaca tulisan
itu, walau situasi yang diceritakan itu banyak ditemukan di pedesaan di
Indonesia. Tetapi cerita yang dikedepankan sungguh memberikan pelajaran yang
luar biasa. Sayapun memutuskan untuk mengangkat pelajaran dari tulisan tersebut
di blog ini.
Tantangan Orang Kota
Namanya Hugh van Cuylenburg, besar
dan sekolah di Melbourne. Dia sedang sibuk sebagai coach di Melbourne
University Cricket Club mempersiapkan mereka untuk kejuaraan. Tapi cintanya
pada seorang gadis keturunan Australia India mendorongnya untuk mengikuti
pacarnya menjadi relawan untuk mengajar 6 bulan di Ladakh, sebuah desa
kecil sekitar Himalaya. Penduduk desa itu sangat ramah. Mereka ditempatkan di
rumah kepala sekolah, dan tidur di lantai seperti lainnya.
Sekolahnya sederhana, dengan ruang
kelas hanya berisi satu meja dan kursi untuk guru, sementara 150 murid yang
berusia antara 4 sd 16 tahun hanya duduk di lantai. Murid2nya sangat santun dan
penuh perhatian di kelas, memiliki semangat tinggi setiap hari dan menebar
kebahagiaan diantara mereka.
Kepala Sekolah menugaskan 3 anak
usia 4 tahun untuk menunjukan TK. Sangat menyedihkan saat mereka menunjukan
permainan enjot-enjotan yang tak layak dipakai. Tak disangkah anak2 itu
mengacungkan jempol menunjukan alat main itu dengan penuh antusias dan bangga.
Mereka memperlihatkan bagaimana bermain dengan alat itu dengan cara mereka
sendiri, tidak seperti design aslinya. Misalnya mereka hanya
bergelantungan disana selama mungkin.
Hugh Mengisahkan Sendiri
Pengalamannya
Saya kagum dengan semua anak di
sekolah itu, tapi ada seorang yang sungguh mencuri hatiku. Namanya Stanzin,
usia 9 tahun dan mungkin orang terbaik yang pernah kutemui. Saat pertama kali
saya masuk ke kelasnya, saya tidak sadar kalau kusen pintunya rendah sehingga
kepalaku terbentur. Di hari berikutnya, Stanzin sudah berdiri di depan pintu
sambil tersenyum dan menunjuk bagian atas kusen pintu. Dia mengikat kantong
kain berisi pasir dan dedaunan untuk mengingatkan saya akan bahaya benturan.
Stanzin memperlihatkan kepedulian
tulus tidak hanya kepada saya. Saat makan siang, bila dia menemukan seorang
temannya sendirian, dia akan menghentikan apa yang sedang dilakukan dan
menghampiri teman dan bertanya, apakah anda baik2 saja? Tidak peduli apa yang
sedang diperbuat, Stanzi akan utamakan menolong yang lain. Komen saya ke Anjali
(sang pacar): “This kid has got to be the most caring, selfless and truly
happy person I’ve ever met.”
Suatu malam, setelah berkeliling
kampung, saya temukan sesuatu yang sungguh mengubah hidupku. Saya melihat Stanzin
masih dalam seragam sekolah siap2 untuk pergi tidur. Saya mendekatinya dan
menyapa dia. Dia tidur di lantai tanah, seperti penduduk lainnya. Dia tersenyum
lebar. Saya membalas senyumnya dan pamit untuk pulang ke kediamanku. Sepanjang
jalan saya sendiri tidak tahan menyaksikan kenyataan itu sampai saya sendiri
menangis.
Saya tidak bisa tidur semalaman saat
membayangkan murid2ku di Australia yang mengalami depresi, cemas dan sakit
mental. Mengapa mereka yang berada di negara maju dengan berbagai fasilitas
serba ada justru mengalami itu?
Bukan hanya Stanzin, semua yang saya
temui di desa terpencil ini telah menemukan rahasia kebahagiaan,. Tetapi
apa RAHASIA kebahagiaan mereka?
Sir, dis, dis!
Stanzin datang ke sekolah setiap
hari dengan membawa buku catatan dan pensil. Saya terus memperhatikan semua
perilaku dan apa yang dia perbuat. Suatu saat istirahat makan siang, Stanzin
menunjukan kepada saya sepatunya, sambal berujar “dis” maksudnya “this”.
Tidak semua anak sekolah mempunyai sepatu. Tapi yang menarik juga adalah,
sepatu Stanzin mungkin sudah diperoleh beberapa tahun lalu. Begitu dia
tumbuh besar, ujung sepatu itu harus dipotong agar bisa muat walau jari2
kakinya menonjol keluar.
Bukan saja sepatu yang tidak
dimiliki anak2. Bahkan sekolah menyediakan sekedar nasi putih untuk makan siang
anak2. Reaksi mereka: “Sir, dis, dis” sambil menunjuk piring nasi,
seakan berkata: “sir, how good is it that we get lunch at school?”
Hal lain yang saya perhatikan,
penduduk ini melakukan meditasi. Antara jam 08:30-09:00 sebelum sekolah
dimulai, murid2 berkumpul di halaman dimana mereka duduk diam dan fokus pada
momen kekinian. Apakah mereka berdoa? Tidak, mereka melakukan meditasi, dan
setiap murid akan datang awal karena mereka tidak ingin kehilangan momen
tersebut.
Setelah tiga bulan, saya merasa
paham apa rahasia kebahagiaan penduduk desa itu. Ada tiga prinsip yang mereka
terapkan, dan itu yang membuat mereka tahan banting/ulet (resilient) dan
BAHAGIA:
Gratitude (the
ability to pay attention to what you have instead of worrying about what
you don’t have);
Empathy
(the ability to feel what another person is feeling) and
Mindfulness
(the ability to focus on the present moment).
Kehidupan penduduk desa itu
sesungguhnya lebih berat dibandingkan dengan dunia lain, namun mereka
menanggapinya dengan cara yang berbeda. Perjalanan ini merupakan titik balik
dalam hidupku.
Positivity
Di tahun 2010 saya mengambil
masterku di RMIT. Salah satu yang saya pelajari adalah GRATITUDE. Saat saya
membaca bahan dari psikolog Amerika Martin Seligman, founder dari Positive
Psychology, saya hampir terjungkal dari kursi. Beliau mengatakan bahwa “we
can retrain our brains so we feel happier on a day-to-day basis.” Dia
menyarankan Teknik sederhana: “write down three things that went well each
day, every day, along with an explanation for why each good thing happened.”
Riset Seligman mengingatkan saya
akan pengalaman di India, dimana Stanzin setiap hari memperlihatkan hal positif
dalam hidupnya, kecuali satu hal lebih yang dilakukan Stanzin: dia mencatat
momen2 itu. Ia akan berhenti dan menunjukkan apa saja yang patut disyukuri di
momen itu: “dis!”
The Power of Story
Telling
Suatu saat saya ngobrol dengan
sahabat kuliahku di Fintona tentang pengalaman di India dia bereaksi: “you
should come in one day and give a talk to my class.” Seminggu kemudian saya
sudah hadir di kelasnya, tanpa persiapan apa yang mau saya bicarakan. Saya
hanya ingin bercerita tentang bagaimana anak sekolah di India yang beda dengan
anak2 di Fintona, dengan failitas yang lengkap. Melihat anak2 yang terdiam
menyimak dengan mata telinga terbuka lebar, saya berkesimpulan ceritaku sungguh
memukau mereka.
Walaupun sebelumnya saya tidak
pernah melakukan hal seperti itu, saya menemukan bahwa saya menyukai sharing
cerita positif didepan anak2. Dan itu merupakan langkah awal dari perjalanan
panjang dalam menciptakan proyek yang saya sebut dengan Resilience
Project. Berkat cerita dari mulut ke mulut, saya akhirnya harus
berbicara di 10 kelas dalam seminggu. Semua uang yang terkumpul saya gunakan
untuk membuat kurikulum dan model jurnal untuk anak dewasa. Di akhir 2014
Resilience Project sudah diadopsi di 500 sekolah di Australia. Dan awal tahun
ini, program managerku melaporkan bahwa di 2019, kita akan mempunyai 110.000
anak yang terlibat dalam kurikulum atau presentasi.
Berlaku di berbagai segi
kehidupan
Suatu Sabtu sore di Pebruari 2015,
saya ngobrol dengan Brian Phelan yang bekerja di The Melbourne Storm Rugby
Leage Club. Dia bertanya, apa yang saya kerjakan selain Cricket. Saya ceritakan
tentang Resilience Project, yang langsung disambut Brian: “you should come
to my work and speak.” Dia menginginkan saya bercerita kepada anggota
clubnya, dan yang dimaksud adalah pemainnya.
Beberapa hari kemudian, di Storm’s
Home ground at Aami park, saya hadir dan dalam lima menit, saya menyadari bahwa
saya menganggap reme “the power of the message”; para pemain
mendengarkan dengan penuh perhatian, kata demi kata. Belakangan Brian
memberitahuku bahwa Pimpinan Club: Cameron Smith, Cooper Cronk dan Billy Slater
meminta agar program ini diluncurkan ke seluruh Club. Semua mereka menjadi
champion the resilience project dan menenun GEM (gratitude, empathy and
mindfulness) tidak saja dalam kehidupan club tapi juga dalam kehidupan pribadi.
“Dis” Challenge
Tujuh bulan berikutnya, seminggu
sekali saya luangkan bersama NRL Club. Mereka terpesona dengan cerita Stanzin
dan sangat mengapresiasi apa saja yang baik dalam kehidupan ini. Saya lalu
memberikan mereka “dis challenge”, yang sangat popular di
sekolah. Sangat sederhana, kataku. Dalam 24 jam, kapanpun anda melihat sesuatu
yang patut disyukuri, tidak peduli anda dimana atau dengan siapa, saya inginkan
anda berhenti, tunjukan jarimu dan katakan “dis”. Semua setuju.
The resilience project mulai menarik
perhatian public, karena itu banyak yang minta dibantu. Salah satunya adalah
the Richmond Football Club. Saya tiba di tempat mereka dengan membawa copies
“21-day wellbeing journal.” Setelah presentasi. Setiap peserta mengambil
journal yang saya bawa. Saat Dustin Martin berdiri, dia mengambil 10 lembar
journal. 210 hari kemudian saya menerima text message darinya: “finished the
journals. Can you please send me some more? “Ini dengan Dustin Martin, Richmond
Football Club. Setiap hari saya menulis semua pengalaman baikku yang patut saya
syukuri. Saya hampir tidak percaya betapa ini mengubah hidupku, dan saya tidak
ingin kehilangan catatan untuk hari berikutnya. Tolong kirimkan saya lembar
jurnal lagi.” Awal tahun ini, saya berbicara bersama Dustin di sebuah
conference, dan dihadapan pendengar, Dustin bercerita kalau dia sudah habiskan
1086 hari berturut-turut mengerjakan the resilience project journal.
Momen Mensyukuri
Kisah Stanzin juga memberikan dampak
luar biasa kepada pemain di Collingwood Football Club. Suatu hari saya melihat
Kapten Club Scott Pendlebury membuat posting foto di sosmednya dengan caption: “dis
moment #gratitude.”
Saat saya bertemu, saya bertanya,
itu maksudnya apa? Saya sungguh menyukai cerita tentang anak kecil yang anda
kisahkan. Kita sering berpikir negatif tentang kehidupan ini. Kisahmu sungguh
membantu saya untuk melihat sisi positifnya. Dan suatu waktu bila anda nonton
pertandingan, perhatikan Adam Treloar. Dia biasanya menuliskan dengan tinta
hitam di gelang tangannya: “dis” sambil berkata pada dirinya
sendiri: “Adam, you are blessed”. Saat saya bertemu Adam, saya bertanya,
apa makna tulisan itu, apa yang mebuatnya merasa terberkati? Ujarnya: “I
live in australia, we get food, we get water, we get shelter. I remind myself
of that whenever I get stressed. ‘dis’ means this life in this country, every
day.”
Banyak sekali momen setiap hari yang
layak kita syukuri. Belajar dari kisah Hugh, kitapun bisa mulai dengan
“Resilience Project” untuk diri kita, menyiapkan buku catatan dan tuliskan
setiap hari momen yang layak disyukuri. Kita akan kaget sendiri, betapa
banyaknya berkat yang kita terima setiap hari.
Selanjutnya
dalam diskusi jelang akhir tahun, bersama beberapa teman kami gulirkan
#GEMprogram3 untuk membawanya dalam keseharian. Nantikan di postingan
selanjutnya.
“Appreciation can make a day – even change a life. Your willingness to put it into words is all that is necessary.” (Margaret Cousins).
selalu tertarik untuk
membuat karya seni antikorupsi.
Meski sebagaian lahir
sebagai seni adikarya,
korupsi tetap saja
berjaya.
ESENSI kesenian adalah menyarankan kepada setiap orang untuk
berbuat baik. Kesenian juga berfungsi sebagai antena social. Itu sebabnya
sekitar satu dasawara setelah kemerdekaan Indonesia, ketika masyarakat mulai
resah dengan gejala korupsi, kesenianlah yang lebih dulu menangkap. Dari sini
lahir film berjudul Korupsi karya
sutradara Raden Arifien, produksi Tjendrawasih (1956).
Film hitam-putih yang dibintangi Bambang Hermanto, Dian
Anggreni, Tuty S. bercerita tentang seseorang lelaki lurus hati bernama
Muhamad. Namun istri dan ketiga anak gadisnya terseret kehidupan boros dan
mewah. Muhamad terpuruk ketika ia berurusan dengan calon menantunya yang
importir penyelundup. Bahkan si menantu ini berhasil memaksanya menerima suap
dan menelan uang negara. Muhamad akhirnya hidup nista setelah dicokok sebagai
koruptor.
Film di atas agaknya efektif berperan sebagai pengingat.
Sedikit banyak film ini berhasil menghambat munculnya korupsi dalam skala besar
pada kurun itu. Tapi tahun terus berjalan, dan orang Indonesia memasuki masa
Orde Baru. Tak disangka masa ini ternyata mencetak cukup banyak pejabat yang
pandai korupsi, meski semua konon berjalan sangat sistematis, namun serapat apa
pun aib itu disembunyikan, kebusukan akan kuat tercium. Sampai akhirnya
termanifestasi dalam film terkenal Si
Mamad (1973).
Si Mamad, produksi PT Matari Film,
disutradarai oleh Sjuman Djaja. Di situ diceritakan bahwa ketika istri Si Mamad
akan melahirkan anaknya yang ketujuh, lelaki jujur ini bingung lantaran tak
memiliki uang. Ia pun melakukan korupsi kecil-kecilan, seperti memalsukan pembelian
bon kertas di kantor tempat ia bekerja. Perbuatan ini sangat menyiksa jiwanya.
Sering timbul niatan untuk mengaku ke hadapan atasannya, yang diperankan oleh
Aedy Moward. Namun niat itu selalu terhalang. Sementara atasannya, yang
sebenarny juga koruptor besar, tahu perbuatan Si Mamad. Dan Si Mamad –
diperankan Mang Udel alias Drs Purnomo – dibiarkan untuk melakukan
perbuatannya. Sekaligus dibiarkan tertindih perasaan bersalahnya sampai ia
sakit dan meninggal dunia. Film yang diinspirasi karangan Anton Chekov ini
memperoleh beberapa Piala Citra 1974.
Film Si Mamad senafas
dengan film antikorupsi Sjuman Djaja sebelumnya, Lewat Jam Malam (1971), produksi PT Allied Film of Indonesia. Film
ini berbicara soal pencurian uang negara dengan melibatkan para koruptor yang
diburu oleh para polisi (pada waktu itu) masih jujur. Tokoh-tokoh film
diperankan Rachmad Hidayat, Rima Melati, Sukarno M Noor, Rahayu Effendi, dan
Sjuman Djaja sendiri.
Sementara keberanian Sjuman Djaja mengkritik koruptor disulut
oleh sejumlah puisi kritis Rendra pada kurun itu. Dalam sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya Rendra
memang membakarnya. “Sebagai kepala
jawatan lelakimu normal / Suka disogok dan suka korupsi. Bila ia ganti kau tipu
/ itu sudah jamaknya / Maling menipu maling itu biasa…..” Kita tahu, sajak
ini merupakan embrio dari drama korupsi birokrasi yang berjudul Sekda (Sekretaris Daerah), ciptaan
Rendra beberapa tahun kemudian.
Orde Baru runtuh pada Mei 1998. Keruntuhan itu menyemburkan
kekuatiran betapa keganasan korupsi yang bermain di bawah permukaan itu
diprediksi akan terus berlangsung pada era Reformasi. Dan kanker korupsi akan
mematikan apabila tidak segera dihadang. Dari sini gerakan reaktif kesenian
antikorupsi berhamburan muncul. Ada yang didera perasaan pesimis. Tapi tidak
sedikit yang optimis. Contoh yang paling optimis adalah ini.
Pada 28 Oktober 1998 di Solo berdiri Parsendi, atau Partai
Seni dan Dagelan Indonesia. Dalam kongresnya yang luar biasa Parsendi memilih
Sri “Milko” Mulyati sebagai Ketua Umum. Sri adalah pelawak yang peka social,
terus terang, kampungan, buta huruf, sekaligus maha jujur sehingga jauh dari
niatan korupsi. Ini selaras dengan jiwa Parsendi yang sangat antikorupsi.
Menyadari bahwa Parsendi hidup di Indonesia, maka pada pemilu 1999 organisasi
politik (Kumpul-kumpul untuk menggelitik) ini pun menjunjung semboyan penuh
percaya diri:”Hanya ada kata bertuah: Optimis Kalah!”.
Bila Parsendi melumuri dirinya dengan tawa pedih dan senyum sinis, penyair Taufiq Ismail tampil dengan kedongkolan tak tertahnkan. Dalam puisi panjang Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998) ia pun berkata “Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu / Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang susah dicari tandingan / Di negeriku, komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separoh masuk kantong jas safari.”
Dalam seni rupa korupsi juga ramai menjadi tema. Banyak
adikarya yang lahir dari isu membencikan ini. Lukisan Suraji Jakarta Berburu Tikus (2008), misalnya.
Karya ini merupakan pemenang utama dalam kompetisi Jakarta Art Awards 2008 yang
diikuti 3.456 lukisan. Dalam kanvas tampak masyarakat kota sedang riuh
menangkap tikus-tikus raksasa (berdasi!) yang tubuhnya kuat bagai banteng.
Ribuan tangan manusia yang dibantu hewan buas seperti serigala dan harimau tak
juga mampu merungkusnya. Sementara di pojok sana tampak seekor macan putih yang
tertawa gembira lantaran merasa berhasil menangkap tikus-tikus sangat kecil
segede ibu jari saja. Lukisan ini dibeli oleh Gubernur Jakarta Fauzi Bowo.
Perupa Agapethus A. Kristiandana pada tahun 2000-an
menciptakan adikarya seni patung yang menggambarkan sapi bertubuh sangat
panjang, dengan belang kulit yang menggambarkan peta Indonesia. Ia seperti
meramalkan bahwa pada saatnya Indonesia akan diperas bak sapi perah lewat
skandal korupsi import daging sapi, seperti yang sekarang terjadi. Pada Maret
2013 Aris Budiono Sadjad berpameran khusus seni lukis bertema “Perang Suci
melawan Korupsi”. Apa yang dikerjakan membarengi musik Ikang Fauzi, Iwan Fals,
Franky sampai Slank, yang jelas-jelas memusuhi perbuatan busuk itu. Dan secara
moral ikut mendorong lahirnya film antikorupsi Sebelum Pagi Terulang Kembali, yang didukung oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi pada 2014.
Tapi apakah para seniman dirugikan oleh secara langsung oleh
perbuatan para koruptor itu? Seniman, sebagai rakyat, cenderung mengaku tidak.
Lalu kita ingat apa yang dikatakan Jean Jaques Rousseau, filsuf Prancis abad
18. “Sesungguhnya rakyat tidak pernah
dikorupsi. Rakyat hanya ditipu oleh para koruptor.” Bagi seniman, penipuan
justru lebih menyakitkan.***
*Agus Dermawan T, lahir di Rogojampi, Jawa Timur. Menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Seni Rupa ‘Asri’, Yogyakarta. Telah menulis ribuan artikel budaya, seni, sosial, politik di berbagai media massa, seperti Kompas, Tempo, Gatra, Koran Tempo, Koran Sindo, Media Indonesia, Intisari, Femina.
Sumber Tulisan : Buku Sihir
Rumah Ibu, Agus Dermawan T, Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.
Adalah Henry Ford, si raja mobil itu, pada suatu hari keluar
kota bersama mobilnya. Kebiasaannya adalah selalu melihat-lihat dan menikmati
pemandangan sekitar.
Ketika mereka sampai di sebuah desa terpencil, ada beberapa
anak sedang bermain bola. Fokus perhatian Henry Ford tiba-tiba tertuju pada
seorang anak yang hanya tertatih-tatih. Berhenti sebentar, perintahnya kepada
sopir.
Si raja mobil itu turun lalu menghampiri anak yang cacat
kakinya. Siapa namamu? Jimmy jawab si anak. Berapa umurmu? 8 tahun. Kamu suka
bila kakimu sama dengan kaki teman-temanmu itu? Tentu saja, jawab Jimmy, tetapi
kenapa bapak bertanya? Henry Ford menjawab: sebab saya mau kakimu menjadi
normal dan boleh bermain bola dengan lincah.
Kemudian ia masuk lagi ke dalam mobil dan berkata kepada
sopirnya: tugas utamamu hari ini adalah mencari tahu di mana rumah orang tua
Jimmy. Tanyalah apakah mereka setuju, jika kaki Jimmy dioperasi.
Ayah-ibu Jimmy yang sederhana heran, kaget dan tidak percaya.
Mana ada orang di saman sekarang mau berbuat baik tanpa pamrih? Tetapi sopir
itu terus bertanya dan meminta jawaban. Singkat cerita, persetujuan orang tua
Jimmy didapat dan Jimmy boleh dioperasi. Mereka tetap mendesak dan bertanya
siapa sih yang berbaik hati semacam ini? Sopir menjawab: Penderma itu tidak mau
namanya disebut.
Kini Jimmy berseri-seri karena gembira, kakinya sudah
dioperasi dan mendapat pula sepatu khusus. Masih ada lagi tugasmu, kata Henry
Ford kepada sopirnya, pergilah lagi kepada ayah-ibu Jimmy dan katakan mereka
sekeluarga boleh membeli pakaian dan sepatu baru untuk Natal.
Prinsip si raja mobil itu ialah: kita membantu orang agar mereka membantu diri sendiri dan jangan pernah kita biarkan orang bergantung pada kita.
Kisah lain adalah seorang gadis buta. Dia membenci dirinya
dan orang lain karena dia buta. Satu-satunya orang yang dia sayangi adalah
pacarnya. Pacarnya selalu menemaninya dan membantunya di mana pun juga. Maka
kata si gadis buta itu: seandainya pada suatu hari saya bisa melihat, maka saya
akan menikahi pacar saya.
Pada suatu hari si gadis buta mendapat dua mata yang sehat
dari seorang penderma. Si gadis buta akhirnya bisa melihat dunia dan ia amat
bahagia. Betapa kagetnya ia ketika ia melihat bahwa pacarnya itu buta. Pacarnya
bertanya, sekarang kamu sudah melihat, marilah kita menikah. Tetapi si gadis
buta yamg kini sudah melihat itu, menolak dan tidak mau menikahi pacarnya.
Dengan berurai air mata, pacarnya pergi. Lalu menulis surat yang berbunyi
begini: “Tolong jaga baik-baik kedua mata saya, yamg sudah saya hadiahkan
untukmu”. Begitulah banyak orang mengingkari janjinya, bila keadaan telah
berubah.
Hari ini bila Anda menghadapi makanan yang kurang enak dan Anda hendak mengomel, ingatlah ada banyak orang yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk dimakan.
Sebelum Anda mengeluh tentang istri dan suami Anda, ingatlah
masih ada orang yang minta pada Tuhan untuk mendapatkan pasangan hidup.
Bila Anda mengeluh tentang hidup, ingatlah bahwa ada banyak
orang yang mempunyai umur yang pendek.
Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak, ingatlah bahwa ada
banyak orang yang tetap mengharapkan keturunan.
Sebelum Anda mengeluh tentang rumah yang terlalu kecil atau
kotor, ingatlah pada mereka yang tidak mempunyai rumah.
Sebelum Anda mengeluh tentang pekerjaanmu, ingatlah pada
mereka yang tidak mempunyai pekerjaan.
Sebelum Anda menuduh seseorang akan kesalahannya, ingatlah bahwa tak ada seseorang pun yang luput dari kesalahan dan dosa. Dan bila tekanan hidup amat menekan Anda, senyumlah dan berterima kasihlah pada Pencipta bahwa Anda masih hidup, dan boleh menikmati keindahan sekitar dan sesame yang baik terhadapmu.
Hidup adalah hadiah, nikmatilah, rasakanlah dan isilah hidup Anda dengan hal-hal yang berguna.
*Stephie Kleden-Beetz, lahir di Waibalun Flores Timur. Stephie pernah bekerja di Deutsche Welle-radio nasional Jerman dan seorang wartawan lepas. Stephie telah menerbitkan beberapa buku antara lain: Cerita Kecil Saja (Kanisius, 2009), Merajut Kata-Kata (Kanisius, 2011), Tanda Mata (Lamalera, 2016).