Blog

  • LEGISLATOR NTT : Ahmad Yohan, M.Si

    LEGISLATOR NTT : Ahmad Yohan, M.Si

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Ende / 26 Agustus 1975

    Riwayat Pendidikan

    • SD , SEKOLAH DASAR KHATOLIK BERSUBSIDI TANALODU NGADA NTT. Tahun: 1982 – 1988
    • SMP , MADRASAH TSANAWIYAH TARBIYAH ENDE NTT . Tahun: 1988 – 1991
    • SMA , MADRASAH ALIYAH NEGERI ENDE NTT. Tahun: 1991 – 1994
    • DIPLOMA , . Tahun: –
    • S1 TARBIYAH, IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA . Tahun: 1994 – 2000
    • S2 PASCASARJANA PROGAM MAGISTER ILMU ADMINISTRASI JURUSAN OTONOMI DAERAH , UNIV MUHAMMADIYAH JAKARTA . Tahun: 2003 – 200

    Riwayat Organisasi

    • DPP BM PAN , Sebagai: KETUA UMUM . Tahun: 2016 – 2021
    • DPP BM PAN , Sebagai: SEKERTARIS JENDERAL . Tahun: 2011 – 2016
    • DPW B, PAN DIY , Sebagai: KETUA DPW BM PAN . Tahun: 2006 – 2010
  • LEGISLATOR NTT : Melchias Markus Mekeng

    LEGISLATOR NTT : Melchias Markus Mekeng

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Jakarta / 08 Desember 1963

    Agama: Katolik

    Riwayat Pendidikan

    SD , SD REGINA PACIS. Tahun: 1970 – 1976

    SMP , SMP REGINA PACIS. Tahun: 1976 – 1979

    SMA , SMA REGINA PACIS. Tahun: 1979 – 1982

    S1 MANAJEMEN KEUANGAN, DE LA SALLE UNIVERSITY. Tahun: 1982 – 1987

    S1 , . Tahun: –

    S2 HUKUM BISNIS, UNIVERSITAS PARAHIYANGAN. Tahun: 2011 –

    Riwayat Pekerjaan

    PT EMCO ASSET MANAGEMENT , Sebagai: SENIOR ADVISOR. Tahun: 2011 – SKRG

    PT EMCO ADIDAYA INTERNATIONAL, Sebagai: KOMISARIS UTAMA. Tahun: 2009 – SKRG

    PT. MESANA INVESTAMA UTAMA, Sebagai: DIREKTUR UTAMA. Tahun: 1995 – 2005

    PT. PENTASENA ARTHA SENTOSA, Sebagai: KEPALA FIXED INCOME DEVISION. Tahun: 1993 – 1995

    PT. PENTA MARTIN BIERBAUM, Sebagai: MANAGER. Tahun: 1992 – 1993

    PT. DHARMALA SAKTI SEJAHTERA, Sebagai: ASISTEN CHIEF DEALER. Tahun: 1990 – 1992

    BANK DUTA, Sebagai: COSTUMER DESK FOR EXCHANGE TRADE. Tahun: 1988 – 1990

    Riwayat Organisasi

    DPP PARTAI GOLKAR, Sebagai: KETUA BIDNG PEMENANGAN PEMILU WILAYAH BALI NUSA TENGGARA. Tahun: 2014 –

    INDONESIA MONEY BROOKER ASOCIATION, Sebagai: KETUA. Tahun: 2013 – 2014

    FPG DPRRI, Sebagai: WAKIL KETUA. Tahun: 2012 – 2014

    DPP PARTAI GOLKAR, Sebagai: WAKIL BENDAHARA UMUM. Tahun: 2009 – 2015

    DPP ORMAS SOKSI, Sebagai: BENDAHARA UMUM. Tahun: 2009 – 2015

    DPD PARTAI GOLKAR KAB. SIKKA, Sebagai: KETUA. Tahun: 2006 – 2010

    DPP ORMAS MKGR, Sebagai: WAKIL BENDAHARA. Tahun: 2005 – 2009

    FUD MPRRI , Sebagai: WAKIL BENDAHARA. Tahun: 2001 – 2004

    PUSAT PERKUMPULAN PECINTA TANAMAN, Sebagai: DEWAN PENASEHAT. Tahun: 1998 – 2002

    ASOCIATION FOREIGN EXCHANGE TRADE INDONESIA, Sebagai: KETUA BID. PENGEMBANGAN PASAR. Tahun: 1991 – 1993

  • LEGISLATOR NTT : Andreas Hugo Pareira

    LEGISLATOR NTT : Andreas Hugo Pareira

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Maumere / 31 Mei 1964Agama: Katolik

    Riwayat Pendidikan

    • S3 , . Tahun: –

    Riwayat Pekerjaan

    • Univ. Katholik Parahyangan , Sebagai: Dosen . Tahun: 1988 – 2005

    Riwayat Organisasi

    • balitbangda PDI Perjuangan , Sebagai: Sekretaris . Tahun: 1998 – 2000
    • Senat Mahasiswa Fisip unpar , Sebagai: wakil ketua . Tahun: 1984 – 1985

    Riwayat Pergerakan

    • Forum Komunikasi – . Tahun: 2000 –
    • GMNI – . Tahun: 1984 –

    Riwayat Penghargaan

    • Piagam Penghargaan Dilingkungan , Dari: Univ. Katholik Parahyangan Bandung , Tahun:
  • LEGISLATOR NTT : N. M. Dipo Nusantara Pua Upa, S.H, M.Kn.

    LEGISLATOR NTT : N. M. Dipo Nusantara Pua Upa, S.H, M.Kn.

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Kota Surabaya / 23 Maret 1965

    Agama: Islam

    Riwayat Pendidikan

    SD , SD TANWIR SURABAYA. Tahun: – 1977

    SMP , SMP MUJAHIDIN. Tahun: – 1981

    SMA , SMA MUJAHIDIN. Tahun: – 1984

    S1 HUKUM, UNIVERSITAS AIRLANGGA. Tahun: 1990 – 1995

    S2 KENOTARIATAN, UNIVERSITAS PADJAJARAN. Tahun: 1995 – 2012

    Riwayat Pekerjaan

    Notaris / PPAT, Sebagai: PPAT Kotamadya Jakarta Timur. Tahun: 2002 – Skrg

    Notaris / PPAT, Sebagai: PPAT Kab. Bekasi. Tahun: 1999 – 2002

    PT. MBM Surabaya, Sebagai: . Tahun: 1991 – 1996

    Riwayat Organisasi

    Hubungan Kelembagaan Ikatan Notaris , Sebagai: Ketua Hubungan. Tahun: 2009 – 2012

    INI Wilayah DKI Jakarta, Sebagai: Wakil Ketua. Tahun: 2006 – 2009

    INI, Sebagai: Seksi Humas. Tahun: 2003 – 2006

    IPPAT, Sebagai: Wakil Sekretaris Umum. Tahun: 2003 – 2007

    INI, Sebagai: Anggota. Tahun: 1999 – 2002

    Riwayat Pergerakan

    GP ANSOR – Wakil Bendahara. Tahun: 2005 – 2010

    GP ANSOR – Bendahara Umum Pimpinan Pusat. Tahun: 2000 – 2005

  • Minum Kopi bersama Gandhi

    Minum Kopi bersama Gandhi

    Oleh Robin Sharma

    Membaca adalah salah satu disiplin terbaik yang saya ketahui untuk tetap “berada pada permainan” dan berada pada pencapaian kita yang tertinggi. Membaca buku yang bagus berarti berdialog dengan pengarangnya. Dan kita pun menjalin dialog dengan diri kita sendiri. Cobalah malam ini membaca buku autobiografi Mahatma Gandhi, My Experience with Truth, ditemani secangkir kopi, Anda akan melihat melalui sudut pandangnya dan belajar mengenai apa yang menggerakannya. Ingin menghabiskan waktu  bersama Madonna besok? Bacalah bukunya. Sama halnya dengan Jack Welch, Ibu Teresa, Bill Gates, Salvador Dalhi, atau Dalai Lama. Selain itu, membaca buku karya seseorang yang Anda hormati membuat kecerdasan mereka melekat pada Anda. Tangan yang meletakkan buku bagus yang telah selesai dibaca, tidak akan pernah sama lagi. Seperti yang diamati oleh Oliver Wendell Homes: ”Pikiran yang telah berkembang karena suatu ide baru tidak akan pernah kembali ke dimensi aslinya.”

    Ketika saya beranjak dewasa, ayah saya pernah berkata, “Kurangi biaya sewa dan kurangi pengeluaran untuk makan, tapi tak perlu merasa cemas karena menginvestasikan uang untuk sebuah buku  bagus.” Pemikiran yang sangat berpengaruh ini telah menyertai saya sepanjang hidup. Filosofinya adalah mendapatkan satu ide dari sebuah buku akan membawa Anda ke satu tingkat baru dan mengubah cara Anda memandang dunia. Jadi begitulah rumah kami penuh buku. Dan sekarang saya mencoba untuk menyediakan waktu sedikitnya satu jam setiap hari untuk membaca. Kebiasaan ini sendiri telah mengubah saya. Terima kasih, Ayah.

    Mungkin hadiah terbesar saya untuk anak-anak ketika saya mati adalah perpustakaan saya. Saya memunyai koleksi buku tentang kepemimpinan, hubungan antarmanusia, bisnis, filsafat, kesehatan, spiritualitas, contoh-contoh kehidupan yang luar biasa, dan banyak buku lain dengan topik-topik favorit saya. Banyak di antara buku itu saya beli di took buku dalam perjalanan melintasi dunia ketika saya melakukan perjalanan bisnis. Buku-buku ini membentuk filosofi pribadi saya. Buku-buku ini menjadikan saya manusia seperti sekarang ini. Bagi saya, buku-buku saya tak ternilai harganya.

    Pepatah lama ini memang benar: “Mengetahui bagaimana membaca tetapi tidak membaca hampir sama dengan tidak mengetahui bagaimana cara membaca.” Sediakan waktu untuk membaca sesuatu yang baik setiap hari. Isilah pikiran Anda dengan ide-ide besar dan pemikiran yang memesona. Maanfatkan buku untuk mengalirkan harapan dan inspirasi ke dalam jiwa Anda. Dan Ingatlah, jika Anda ingin memimpin, Anda memang perlu membaca. Oh, dan jika Anda – seperti saya – memiliki kebiasaan membeli banyak buku, tapi belum tentu dibaca, jangan merasa bersalah, Anda sedang membangun perpustakaan Anda. Dan ini akan menjadi sesuatu yang indah.

    Sumber Tulisan : The Greatness Guide, Robin Sharma, BIP Jakarta.

    Robin Sharma, CEO Sharma Leadership International.

  • Kolaborasi Rentang Generasi

    Kolaborasi Rentang Generasi

    Oleh Nilam Zubir*

    Banyak kisah tentang kesenjangan generasi/generation gap di berbagai belahan bumi. Banyak kajian tentang kendala dan peluang lintas generasi, salah satunya mengacu pada esai The Problem of Generations karya sosiolog Karl Mannheim. Banyak juga lelucon muncul akibat kesenjangan ini, antara lain joke ‘millenial versus kolonial’.

    Saya yang tergolong generasi Z, generasi yang lahir di era kecanggihan teknologi, juga mengalami banyak kisah dalam interaksi dengan generasi baby boomer yang lahir antara tahun 1946 – 1964, dan generasi X yang lahir tahun 1965 – 1980.

    Sejak SD saya sering ikut ibu dalam kunjungan ke panti-panti wreda (panti lansia), baik panti lansia untuk kaum miskin maupun wisma lansia eksklusif untuk kaum kaya. Saya senang ketemu para lansia sebab saya tidak punya kakek-nenek dari ibu dan dari ayah. Lha wong saya lahir usia ibu saja sudah nyaris 40 tahun, katanya sudah lupa urus bayi sampai langganan lagi majalah ibu-anak serta beli buku-buku tentang merawat bayi dan balita.

    Waktu SMP, tiap tahun saya diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menjadi narasumber Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Tingkat SMP untuk motivasi literasi pada siswa. Pada kesempatan tanya jawab, salah seorang guru bahasa Indonesia bertanya, bagaimana trik/tips menulis awal karangan, sebab murid-muridnya kebanyakan memulai paragraf awal dengan kalimat “Pada suatu hari…..”. Saya menjawab “Bebaskan judul karangan bu…jangan seragam…”.

    Dulu saya paling sebel kalau disuruh mengarang dengan judul dipatok seragam “Liburan di Rumah Nenek”. Terpaksa saya harus menggali imajinasi, lha saya gak punya nenek. Untung dulu belum ada pemeo “Liburan di rumah nenek lu?…”.

    Gaul dengan baby boomer secara intensif juga saya alami waktu usia SMP, berguru Ballroom & Latin Dance pada opa Him Damsyik sampai mahir. Sekarang gantian saya mengajar dansa opa-opa dan oma-oma di beberapa retirement club. Saya jadi tambah mengerti filosofi bahwa hidup adalah sebuah lingkaran.

    Kolaborasi rentang generasi di zaman now sangat potensial untuk memperkuat tatanan ekonomi sosial budaya di berbagai sektor, dengan saling melengkapi kekuatan masing-masing generasi, bukan hanya terpaku pada kesenjangannya.

    Beruntung saya punya pengalaman bergaul dengan para lansia, sehingga memudahkan dalam berinteraksi dengan para senior baby boomer, baik di lingkup organisasi maupun di lingkup bisnis sendiri dan di lingkungan kerja.

    Yang paling seru dalam tugas saya sebagai Plt Corporate Secretary adalah saat saya melaksanakan koordinasi dan komunikasi antara Direksi dan Dewan Komisaris yang sudah sepuh-sepuh (tua). Harus ekstra sabar dalam berkomunikasi. Saat sang sepuh sedikit rewel, saya lalu ingat waktu kecil sering iri pada teman yang punya kakek-nenek. Tuhan pun menjawab, semua akan indah pada waktunya. Ya sekarang ini, Tuhan bilang “Nyoh, tak kek’i eyang-eyang (nih tak kasih eyang-eyang) gak usah iri…”.

    Keuntungan yang tak ternilai dari kolaborasi rentang generasi ini, saya banyak menimba ilmu bisnis dan rangkaiannya dari para pengusaha besar sebagai ‘guru/suhu’. Sering saya harus membawa laptop ke meja Komisaris untuk menyerap langsung aspirasi dan arahannya secara ‘tikpet’ ketik cepet. Persis seperti hubungan eyang dan cucu. What a wonderful life…

    Selain ilmu bisnis, banyak ilmu kehidupan yang saya peroleh selama gaul dengan para lansia lintas strata sosial. Dari seorang engkong Kumpen, petani kota sahabat keluarga, saya banyak dapat ilmu tentang kearifan alam semesta. Saya menjulukinya guru tanpa aksara, karena ia buta huruf.

    Tak terhitung keberuntungan yang saya peroleh dari pergaulan dengan para lansia, ya dari pengalamannya, ya dari petuahnya, ya dari hiburannya, musik dan tontonannya. Saya ikuti semua. Apalagi di zaman keajaiban teknologi sekarang, tinggal klik, semua tentang ‘kejadulan’ muncul dalam sekejap.

    Buku apa yang mereka baca, saya baca. Film legendaris yang mereka tonton, saya tonton juga. Saya si generasi Z akhirnya jadi teman ngobrol yang asyik bagi generasi baby boomer, karena saya bisa ngikuti dan ‘nimpalin’ alur obrolannya.

    Banyak kelucuan dalam komunikasi lintas generasi. Semua jadi hiburan yang membahagiakan, walau sesekali ada juga hal yang menyebalkan dalam lingkungan kerja, terutama tentang seringnya lupa atas arahan dan sebagainya, yang membuat saya ngelus hape eh ngelus dada.

    Tentang buku, konon para pemimpin dunia yang humanis, masa kecilnya membaca buku serial Winnetou karya Karl May. Saya baca juga serial itu.

    Anjuran membaca buku “Menjadi Indonesia”-nya opa Parakitri T. Simbolon yang setebal dingklik (bangku jongkok) itu pun saya baca ‘ampe gempor’.

    Serial novel dan film The Godfather-nya Mario Puzo dan Francis Ford Copolla juga asyik dibaca dan filmnya saya tonton berulang-ulang. Banyak pelajaran dari film yang meramu paradoks hidup tentang bisnis legal & ilegal dalam lingkaran kekuasaan, keserakahan, kejahatan, dendam, berpadu dengan cinta, kasih sayang, kesetiaan, dan keindahan yang dikemas jitu menjadi tontonan apik.

    Walau tontonan penuh kengerian, tapi ada juga tuntunan dalam banyak rangkaian kalimat filosofis, seperti “Jangan biarkan siapa pun tahu apa yang kau pikirkan…”

    Akhirulkalam, ini wejangan dari eyang Don Michael Corleone “Jangan membenci musuhmu…”.

    “Karena kebencian akan melumpuhkan nalar dan kewarasan…” sambung si grandcicit genZ

    Speak sofly love… ~

    Nilam Zubir, Public Relation Representative di Indonesia Plastic Recyclers

     

     

     

     

     

    +7

    Top of Form

    36

    Bottom of Form

  • Bersyukur : Sumber Kebahagiaan

    Bersyukur : Sumber Kebahagiaan

    Oleh Josef Bataona

    “Develop an attitude of gratitude, and give thanks for everything that happens to you, knowing that every step forward is a step toward achieving something bigger and better than your current situation.” (Brian Tracy)

    Pagi-pagi saya menerima pesan di WA dengan tautan artikel di The Weekend Australian Magazine, November 22, 2019. Saya membukanya, membaca sepintas, tapi naluri saya mendorong untuk membacanya kembali sambil mencernanya secara saksama. Aku dibuat merinding membaca tulisan itu, walau situasi yang diceritakan itu banyak ditemukan di pedesaan di Indonesia. Tetapi cerita yang dikedepankan sungguh memberikan pelajaran yang luar biasa. Sayapun memutuskan untuk mengangkat pelajaran dari tulisan tersebut di blog ini.

    Tantangan Orang Kota

    Namanya Hugh van Cuylenburg, besar dan sekolah di Melbourne. Dia sedang sibuk  sebagai coach di Melbourne University Cricket Club mempersiapkan mereka untuk kejuaraan. Tapi cintanya pada seorang gadis keturunan Australia India mendorongnya untuk mengikuti pacarnya  menjadi relawan untuk mengajar 6 bulan di Ladakh, sebuah desa kecil sekitar Himalaya. Penduduk desa itu sangat ramah. Mereka ditempatkan di rumah kepala sekolah, dan tidur di lantai seperti lainnya.

    Sekolahnya sederhana, dengan ruang kelas hanya berisi satu meja dan kursi untuk guru, sementara 150 murid yang berusia antara 4 sd 16 tahun hanya duduk di lantai. Murid2nya sangat santun dan penuh perhatian di kelas, memiliki semangat tinggi setiap hari dan menebar kebahagiaan diantara mereka.

    Kepala Sekolah menugaskan 3 anak usia 4 tahun untuk menunjukan TK. Sangat menyedihkan saat mereka menunjukan permainan enjot-enjotan yang tak layak dipakai. Tak disangkah anak2 itu mengacungkan jempol menunjukan alat main itu dengan penuh antusias dan bangga. Mereka memperlihatkan bagaimana bermain dengan alat itu dengan cara mereka sendiri, tidak seperti design aslinya.  Misalnya mereka hanya bergelantungan disana selama mungkin.

    Hugh Mengisahkan Sendiri Pengalamannya

    Saya kagum dengan semua anak di sekolah itu, tapi ada seorang yang sungguh mencuri hatiku. Namanya Stanzin, usia 9 tahun dan mungkin orang terbaik yang pernah kutemui. Saat pertama kali saya masuk ke kelasnya, saya tidak sadar kalau kusen pintunya rendah sehingga kepalaku terbentur. Di hari berikutnya, Stanzin sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum dan menunjuk bagian atas kusen pintu. Dia mengikat kantong kain berisi pasir dan dedaunan untuk mengingatkan saya akan bahaya benturan.

    Stanzin memperlihatkan kepedulian tulus tidak hanya kepada saya. Saat makan siang, bila dia menemukan seorang temannya sendirian, dia akan menghentikan apa yang sedang dilakukan dan menghampiri teman dan bertanya, apakah anda baik2 saja? Tidak peduli apa yang sedang diperbuat, Stanzi akan utamakan menolong yang lain. Komen saya ke Anjali (sang pacar): “This kid has got to be the most caring, selfless and truly happy person I’ve ever met.”

    Suatu malam, setelah berkeliling kampung, saya temukan sesuatu yang sungguh mengubah hidupku. Saya melihat Stanzin masih dalam seragam sekolah siap2 untuk pergi tidur. Saya mendekatinya dan menyapa dia. Dia tidur di lantai tanah, seperti penduduk lainnya. Dia tersenyum lebar. Saya membalas senyumnya dan pamit untuk pulang ke kediamanku. Sepanjang jalan saya sendiri tidak tahan menyaksikan kenyataan itu sampai saya sendiri menangis.

    Saya tidak bisa tidur semalaman saat membayangkan murid2ku di Australia yang mengalami depresi, cemas dan sakit mental. Mengapa mereka yang berada di negara maju dengan berbagai fasilitas serba ada justru mengalami itu?

    Bukan hanya Stanzin, semua yang saya temui di desa terpencil ini telah  menemukan rahasia kebahagiaan,. Tetapi apa RAHASIA kebahagiaan mereka?

    Sir, dis, dis!

    Stanzin datang ke sekolah setiap hari dengan membawa buku catatan dan pensil. Saya terus memperhatikan semua perilaku dan apa yang dia perbuat. Suatu saat istirahat makan siang, Stanzin menunjukan kepada saya sepatunya, sambal berujar “dis” maksudnya “this”. Tidak semua anak sekolah mempunyai sepatu. Tapi yang menarik juga adalah, sepatu Stanzin mungkin sudah diperoleh beberapa tahun lalu.  Begitu dia tumbuh besar, ujung sepatu itu harus dipotong agar bisa muat walau jari2 kakinya menonjol keluar.

    Bukan saja sepatu yang tidak dimiliki anak2. Bahkan sekolah menyediakan sekedar nasi putih untuk makan siang anak2. Reaksi mereka: “Sir, dis, dis” sambil menunjuk piring nasi, seakan berkata: “sir, how good is it that we get lunch at school?”

    Hal lain yang saya perhatikan, penduduk ini melakukan meditasi. Antara jam 08:30-09:00 sebelum sekolah dimulai, murid2 berkumpul di halaman dimana mereka duduk diam dan fokus pada momen kekinian. Apakah mereka berdoa? Tidak, mereka melakukan meditasi, dan setiap murid akan datang awal karena mereka tidak ingin kehilangan momen tersebut.

    Setelah tiga bulan, saya merasa paham apa rahasia kebahagiaan penduduk desa itu. Ada tiga prinsip yang mereka terapkan, dan itu yang membuat mereka tahan banting/ulet (resilient) dan BAHAGIA:

    • Gratitude (the ability to pay attention to what you have instead of worrying about what you don’t have);
    • Empathy (the ability to feel what another person is feeling) and
    • Mindfulness (the ability to focus on the present moment).

    Kehidupan penduduk desa itu sesungguhnya lebih berat dibandingkan dengan dunia lain, namun mereka menanggapinya dengan cara yang berbeda. Perjalanan ini merupakan titik balik dalam hidupku.

    Positivity

    Di tahun 2010 saya mengambil masterku di RMIT. Salah satu yang saya pelajari adalah GRATITUDE. Saat saya membaca bahan dari psikolog Amerika Martin Seligman, founder dari Positive Psychology, saya hampir terjungkal dari kursi. Beliau mengatakan bahwa “we can retrain our brains so we feel happier on a day-to-day basis.” Dia menyarankan Teknik sederhana: “write down three things that went well each day, every day, along with an explanation for why each good thing happened.”

    Riset Seligman mengingatkan saya akan pengalaman di India, dimana Stanzin setiap hari memperlihatkan hal positif dalam hidupnya, kecuali satu hal lebih yang dilakukan Stanzin: dia mencatat momen2 itu. Ia akan berhenti dan menunjukkan apa saja yang patut disyukuri di momen itu: “dis!”

    The Power of Story Telling

    Suatu saat saya ngobrol dengan sahabat kuliahku di Fintona tentang pengalaman di India dia bereaksi: “you should come in one day and give a talk to my class.” Seminggu kemudian saya sudah hadir di kelasnya, tanpa persiapan apa yang mau saya bicarakan. Saya hanya ingin bercerita tentang bagaimana anak sekolah di India yang beda dengan anak2 di Fintona, dengan failitas yang lengkap. Melihat anak2 yang terdiam menyimak dengan mata telinga terbuka lebar, saya berkesimpulan ceritaku sungguh memukau mereka.

    Walaupun sebelumnya saya tidak pernah melakukan hal seperti itu, saya menemukan bahwa saya menyukai sharing cerita positif didepan anak2. Dan itu merupakan langkah awal dari perjalanan panjang dalam menciptakan proyek yang saya sebut dengan Resilience Project. Berkat cerita dari mulut ke mulut, saya akhirnya harus berbicara di 10 kelas dalam seminggu. Semua uang yang terkumpul saya gunakan untuk membuat kurikulum dan model jurnal untuk anak dewasa. Di akhir 2014 Resilience Project sudah diadopsi di 500 sekolah di Australia. Dan awal tahun ini, program managerku melaporkan bahwa di 2019, kita akan mempunyai 110.000 anak yang terlibat dalam kurikulum atau presentasi.

    Berlaku di berbagai segi kehidupan

    Suatu Sabtu sore di Pebruari 2015, saya ngobrol dengan Brian Phelan yang bekerja di The Melbourne Storm Rugby Leage Club. Dia bertanya, apa yang saya kerjakan selain Cricket. Saya ceritakan tentang Resilience Project, yang langsung disambut Brian: “you should come to my work and speak.” Dia menginginkan saya bercerita kepada anggota clubnya, dan yang dimaksud adalah pemainnya.

    Beberapa hari kemudian, di Storm’s Home ground at Aami park, saya hadir dan dalam lima menit, saya menyadari bahwa saya menganggap reme “the power of the message”; para pemain  mendengarkan dengan penuh perhatian, kata demi kata. Belakangan Brian memberitahuku bahwa Pimpinan Club: Cameron Smith, Cooper Cronk dan Billy Slater meminta agar program ini diluncurkan ke seluruh Club. Semua mereka menjadi champion the resilience project dan menenun GEM (gratitude, empathy and mindfulness) tidak saja dalam kehidupan club tapi juga dalam kehidupan pribadi.

    “Dis” Challenge

    Tujuh bulan berikutnya, seminggu sekali saya luangkan bersama NRL Club. Mereka terpesona dengan cerita Stanzin dan sangat mengapresiasi apa saja yang baik dalam kehidupan ini. Saya lalu memberikan mereka “dis challenge”, yang sangat popular di sekolah. Sangat sederhana, kataku. Dalam 24 jam, kapanpun anda melihat sesuatu yang patut disyukuri, tidak peduli anda dimana atau dengan siapa, saya inginkan anda berhenti, tunjukan jarimu dan katakan “dis”. Semua setuju.

    The resilience project mulai menarik perhatian public, karena itu banyak yang minta dibantu. Salah satunya adalah the Richmond Football Club. Saya tiba di tempat mereka dengan membawa copies “21-day wellbeing journal.”  Setelah presentasi. Setiap peserta mengambil journal yang saya bawa. Saat Dustin Martin berdiri, dia mengambil 10 lembar journal. 210 hari kemudian saya menerima text message darinya: “finished the journals. Can you please send me some more? “Ini dengan Dustin Martin, Richmond Football Club. Setiap hari saya menulis semua pengalaman baikku yang patut saya syukuri. Saya hampir tidak percaya betapa ini mengubah hidupku, dan saya tidak ingin kehilangan catatan untuk hari berikutnya. Tolong kirimkan saya lembar jurnal lagi.” Awal tahun ini, saya berbicara bersama Dustin di sebuah conference, dan dihadapan pendengar, Dustin bercerita kalau dia sudah habiskan 1086 hari berturut-turut mengerjakan the resilience project journal.

    Momen Mensyukuri

    Kisah Stanzin juga memberikan dampak luar biasa kepada pemain di Collingwood Football Club. Suatu hari saya melihat Kapten Club Scott Pendlebury membuat posting foto di sosmednya dengan caption: “dis moment #gratitude.”

    Saat saya bertemu, saya bertanya, itu maksudnya apa? Saya sungguh menyukai cerita tentang anak kecil yang anda kisahkan. Kita sering berpikir negatif tentang kehidupan ini. Kisahmu sungguh membantu saya untuk melihat sisi positifnya. Dan suatu waktu bila anda nonton pertandingan, perhatikan Adam Treloar. Dia biasanya menuliskan dengan tinta hitam di gelang tangannya: “dis” sambil berkata pada dirinya sendiri: “Adam, you are blessed”. Saat saya bertemu Adam, saya bertanya, apa makna tulisan itu, apa yang mebuatnya merasa terberkati? Ujarnya: “I live in australia, we get food, we get water, we get shelter. I remind myself of that whenever I get stressed. ‘dis’ means this life in this country, every day.”

    Banyak sekali momen setiap hari yang layak kita syukuri. Belajar dari kisah Hugh, kitapun bisa mulai dengan “Resilience Project” untuk diri kita, menyiapkan buku catatan dan tuliskan setiap hari momen yang layak disyukuri. Kita akan kaget sendiri, betapa banyaknya berkat yang kita terima setiap hari.

    Selanjutnya dalam diskusi jelang akhir tahun, bersama beberapa teman kami gulirkan #GEMprogram3 untuk membawanya dalam keseharian. Nantikan di postingan selanjutnya.

    “Appreciation can make a day – even change a life. Your willingness to put it into words is all that is necessary.” (Margaret Cousins).

    Sumber Tulisan: https://www.josefbataona.com

  • Ketika Seni Membaca Korupsi

    Ketika Seni Membaca Korupsi

    Oleh Agus Darmawan T*

    Para seniman Indonesia dari berbagai disiplin

    selalu tertarik untuk membuat karya seni antikorupsi.

    Meski sebagaian lahir sebagai seni adikarya,

    korupsi tetap saja berjaya.

    ESENSI kesenian adalah menyarankan kepada setiap orang untuk berbuat baik. Kesenian juga berfungsi sebagai antena social. Itu sebabnya sekitar satu dasawara setelah kemerdekaan Indonesia, ketika masyarakat mulai resah dengan gejala korupsi, kesenianlah yang lebih dulu menangkap. Dari sini lahir film berjudul Korupsi karya sutradara Raden Arifien, produksi Tjendrawasih (1956).

    Film hitam-putih yang dibintangi Bambang Hermanto, Dian Anggreni, Tuty S. bercerita tentang seseorang lelaki lurus hati bernama Muhamad. Namun istri dan ketiga anak gadisnya terseret kehidupan boros dan mewah. Muhamad terpuruk ketika ia berurusan dengan calon menantunya yang importir penyelundup. Bahkan si menantu ini berhasil memaksanya menerima suap dan menelan uang negara. Muhamad akhirnya hidup nista setelah dicokok sebagai koruptor.

    Film di atas agaknya efektif berperan sebagai pengingat. Sedikit banyak film ini berhasil menghambat munculnya korupsi dalam skala besar pada kurun itu. Tapi tahun terus berjalan, dan orang Indonesia memasuki masa Orde Baru. Tak disangka masa ini ternyata mencetak cukup banyak pejabat yang pandai korupsi, meski semua konon berjalan sangat sistematis, namun serapat apa pun aib itu disembunyikan, kebusukan akan kuat tercium. Sampai akhirnya termanifestasi dalam film terkenal Si Mamad (1973).

    Si Mamad, produksi PT Matari Film, disutradarai oleh Sjuman Djaja. Di situ diceritakan bahwa ketika istri Si Mamad akan melahirkan anaknya yang ketujuh, lelaki jujur ini bingung lantaran tak memiliki uang. Ia pun melakukan korupsi kecil-kecilan, seperti memalsukan pembelian bon kertas di kantor tempat ia bekerja. Perbuatan ini sangat menyiksa jiwanya. Sering timbul niatan untuk mengaku ke hadapan atasannya, yang diperankan oleh Aedy Moward. Namun niat itu selalu terhalang. Sementara atasannya, yang sebenarny juga koruptor besar, tahu perbuatan Si Mamad. Dan Si Mamad – diperankan Mang Udel alias Drs Purnomo – dibiarkan untuk melakukan perbuatannya. Sekaligus dibiarkan tertindih perasaan bersalahnya sampai ia sakit dan meninggal dunia. Film yang diinspirasi karangan Anton Chekov ini memperoleh beberapa Piala Citra 1974.

    Film Si Mamad senafas dengan film antikorupsi Sjuman Djaja sebelumnya, Lewat Jam Malam (1971), produksi PT Allied Film of Indonesia. Film ini berbicara soal pencurian uang negara dengan melibatkan para koruptor yang diburu oleh para polisi (pada waktu itu) masih jujur. Tokoh-tokoh film diperankan Rachmad Hidayat, Rima Melati, Sukarno M Noor, Rahayu Effendi, dan Sjuman Djaja sendiri.

    Sementara keberanian Sjuman Djaja mengkritik koruptor disulut oleh sejumlah puisi kritis Rendra pada kurun itu. Dalam sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya Rendra memang membakarnya. “Sebagai kepala jawatan lelakimu normal / Suka disogok dan suka korupsi. Bila ia ganti kau tipu / itu sudah jamaknya / Maling menipu maling itu biasa…..” Kita tahu, sajak ini merupakan embrio dari drama korupsi birokrasi yang berjudul Sekda (Sekretaris Daerah), ciptaan Rendra beberapa tahun kemudian.

    Orde Baru runtuh pada Mei 1998. Keruntuhan itu menyemburkan kekuatiran betapa keganasan korupsi yang bermain di bawah permukaan itu diprediksi akan terus berlangsung pada era Reformasi. Dan kanker korupsi akan mematikan apabila tidak segera dihadang. Dari sini gerakan reaktif kesenian antikorupsi berhamburan muncul. Ada yang didera perasaan pesimis. Tapi tidak sedikit yang optimis. Contoh yang paling optimis adalah ini.

    Pada 28 Oktober 1998 di Solo berdiri Parsendi, atau Partai Seni dan Dagelan Indonesia. Dalam kongresnya yang luar biasa Parsendi memilih Sri “Milko” Mulyati sebagai Ketua Umum. Sri adalah pelawak yang peka social, terus terang, kampungan, buta huruf, sekaligus maha jujur sehingga jauh dari niatan korupsi. Ini selaras dengan jiwa Parsendi yang sangat antikorupsi. Menyadari bahwa Parsendi hidup di Indonesia, maka pada pemilu 1999 organisasi politik (Kumpul-kumpul untuk menggelitik) ini pun menjunjung semboyan penuh percaya diri:”Hanya ada kata bertuah: Optimis Kalah!”.

    Bila Parsendi melumuri dirinya dengan tawa pedih dan senyum sinis, penyair Taufiq Ismail tampil dengan kedongkolan tak tertahnkan. Dalam puisi panjang Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998) ia pun berkata “Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu / Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang susah dicari tandingan / Di negeriku, komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separoh masuk kantong jas safari.”

    Dalam seni rupa korupsi juga ramai menjadi tema. Banyak adikarya yang lahir dari isu membencikan ini. Lukisan Suraji Jakarta Berburu Tikus (2008), misalnya. Karya ini merupakan pemenang utama dalam kompetisi Jakarta Art Awards 2008 yang diikuti 3.456 lukisan. Dalam kanvas tampak masyarakat kota sedang riuh menangkap tikus-tikus raksasa (berdasi!) yang tubuhnya kuat bagai banteng. Ribuan tangan manusia yang dibantu hewan buas seperti serigala dan harimau tak juga mampu merungkusnya. Sementara di pojok sana tampak seekor macan putih yang tertawa gembira lantaran merasa berhasil menangkap tikus-tikus sangat kecil segede ibu jari saja. Lukisan ini dibeli oleh Gubernur Jakarta Fauzi Bowo.

    Perupa Agapethus A. Kristiandana pada tahun 2000-an menciptakan adikarya seni patung yang menggambarkan sapi bertubuh sangat panjang, dengan belang kulit yang menggambarkan peta Indonesia. Ia seperti meramalkan bahwa pada saatnya Indonesia akan diperas bak sapi perah lewat skandal korupsi import daging sapi, seperti yang sekarang terjadi. Pada Maret 2013 Aris Budiono Sadjad berpameran khusus seni lukis bertema “Perang Suci melawan Korupsi”. Apa yang dikerjakan membarengi musik Ikang Fauzi, Iwan Fals, Franky sampai Slank, yang jelas-jelas memusuhi perbuatan busuk itu. Dan secara moral ikut mendorong lahirnya film antikorupsi Sebelum Pagi Terulang Kembali, yang didukung oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2014.

    Tapi apakah para seniman dirugikan oleh secara langsung oleh perbuatan para koruptor itu? Seniman, sebagai rakyat, cenderung mengaku tidak. Lalu kita ingat apa yang dikatakan Jean Jaques Rousseau, filsuf Prancis abad 18. “Sesungguhnya rakyat tidak pernah dikorupsi. Rakyat hanya ditipu oleh para koruptor.” Bagi seniman, penipuan justru lebih menyakitkan.***

    *Agus Dermawan T, lahir di Rogojampi, Jawa Timur. Menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Seni Rupa ‘Asri’, Yogyakarta. Telah menulis ribuan artikel budaya, seni, sosial, politik di berbagai media massa, seperti Kompas, Tempo, Gatra, Koran Tempo, Koran Sindo, Media Indonesia, Intisari, Femina.

    Sumber Tulisan : Buku Sihir Rumah Ibu, Agus Dermawan T, Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.

  • Strategi Jalur Rempah

    Strategi Jalur Rempah

    Oleh Stefanus Ananta Wahana, Sekretaris Badiklatpus DPP PDI PERJUANGAN, Anggota Komisi VI DPR RI Periode 2019-2024

  • Hidup adalah Hadiah

    Hidup adalah Hadiah

    Oleh Stephie Kleden-Beetz *

    Adalah Henry Ford, si raja mobil itu, pada suatu hari keluar kota bersama mobilnya. Kebiasaannya adalah selalu melihat-lihat dan menikmati pemandangan sekitar.

    Ketika mereka sampai di sebuah desa terpencil, ada beberapa anak sedang bermain bola. Fokus perhatian Henry Ford tiba-tiba tertuju pada seorang anak yang hanya tertatih-tatih. Berhenti sebentar, perintahnya kepada sopir.

    Si raja mobil itu turun lalu menghampiri anak yang cacat kakinya. Siapa namamu? Jimmy jawab si anak. Berapa umurmu? 8 tahun. Kamu suka bila kakimu sama dengan kaki teman-temanmu itu? Tentu saja, jawab Jimmy, tetapi kenapa bapak bertanya? Henry Ford menjawab: sebab saya mau kakimu menjadi normal dan boleh bermain bola dengan lincah.

    Kemudian ia masuk lagi ke dalam mobil dan berkata kepada sopirnya: tugas utamamu hari ini adalah mencari tahu di mana rumah orang tua Jimmy. Tanyalah apakah mereka setuju, jika kaki Jimmy dioperasi.

    Ayah-ibu Jimmy yang sederhana heran, kaget dan tidak percaya. Mana ada orang di saman sekarang mau berbuat baik tanpa pamrih? Tetapi sopir itu terus bertanya dan meminta jawaban. Singkat cerita, persetujuan orang tua Jimmy didapat dan Jimmy boleh dioperasi. Mereka tetap mendesak dan bertanya siapa sih yang berbaik hati semacam ini? Sopir menjawab: Penderma itu tidak mau namanya disebut.

    Kini Jimmy berseri-seri karena gembira, kakinya sudah dioperasi dan mendapat pula sepatu khusus. Masih ada lagi tugasmu, kata Henry Ford kepada sopirnya, pergilah lagi kepada ayah-ibu Jimmy dan katakan mereka sekeluarga boleh membeli pakaian dan sepatu baru untuk Natal.

    Prinsip si raja mobil itu ialah: kita membantu orang agar mereka membantu diri sendiri dan jangan pernah kita biarkan orang bergantung pada kita.

    Kisah lain adalah seorang gadis buta. Dia membenci dirinya dan orang lain karena dia buta. Satu-satunya orang yang dia sayangi adalah pacarnya. Pacarnya selalu menemaninya dan membantunya di mana pun juga. Maka kata si gadis buta itu: seandainya pada suatu hari saya bisa melihat, maka saya akan menikahi pacar saya.

    Pada suatu hari si gadis buta mendapat dua mata yang sehat dari seorang penderma. Si gadis buta akhirnya bisa melihat dunia dan ia amat bahagia. Betapa kagetnya ia ketika ia melihat bahwa pacarnya itu buta. Pacarnya bertanya, sekarang kamu sudah melihat, marilah kita menikah. Tetapi si gadis buta yamg kini sudah melihat itu, menolak dan tidak mau menikahi pacarnya. Dengan berurai air mata, pacarnya pergi. Lalu menulis surat yang berbunyi begini: “Tolong jaga baik-baik kedua mata saya, yamg sudah saya hadiahkan untukmu”. Begitulah banyak orang mengingkari janjinya, bila keadaan telah berubah.

    Hari ini bila Anda menghadapi makanan yang kurang enak dan Anda hendak mengomel, ingatlah ada banyak orang yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk dimakan.

    Sebelum Anda mengeluh tentang istri dan suami Anda, ingatlah masih ada orang yang minta pada Tuhan untuk mendapatkan pasangan hidup.

    Bila Anda mengeluh tentang hidup, ingatlah bahwa ada banyak orang yang mempunyai umur yang pendek.

    Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak, ingatlah bahwa ada banyak orang yang tetap mengharapkan keturunan.

    Sebelum Anda mengeluh tentang rumah yang terlalu kecil atau kotor, ingatlah pada mereka yang tidak mempunyai rumah.

    Sebelum Anda mengeluh tentang pekerjaanmu, ingatlah pada mereka yang tidak mempunyai pekerjaan.

    Sebelum Anda menuduh seseorang akan kesalahannya, ingatlah bahwa tak ada seseorang pun yang luput dari kesalahan dan dosa. Dan bila tekanan hidup amat menekan Anda, senyumlah dan berterima kasihlah pada Pencipta bahwa Anda masih hidup, dan boleh menikmati keindahan sekitar dan sesame yang baik terhadapmu.

    Hidup adalah hadiah, nikmatilah, rasakanlah dan isilah hidup Anda dengan hal-hal yang berguna.

    *Stephie Kleden-Beetz, lahir di Waibalun Flores Timur. Stephie pernah bekerja di Deutsche Welle-radio nasional Jerman  dan seorang wartawan lepas.  Stephie telah menerbitkan beberapa buku antara lain: Cerita Kecil Saja (Kanisius, 2009), Merajut Kata-Kata (Kanisius, 2011), Tanda Mata (Lamalera, 2016).

    Sumber tulisan Majalah Warta Flobamora