GUBERNUR
Viktor Laiskodat (Laiskodat) dan wakilnya, Josef A Nae Soi (Nae Soi) terus
bertaruh sejumlah kebijakan di era kepemimpinan. Tagline Victory Joss –NTT
Bangkit, NTT Sejahtera– menjadi visi-misi pemerintahannya ibarat parang
tajam petani menebas ilalang atau menumbangkan pohon di tengah lahan perawan
untuk memberikan kesempatan bagi jagung, pisang, ubi-ubian, kacang-kacangan,
sayur-mayur, tumbuh subur.
Parang
itu mesti dimanfaatkan setelah diasah tajam guna membersihkan “ilalang”
(ketertinggalan) masyarakat mulai dari kebun di kaki gunung, di kota, hingga
orang-orang kecil di rantau (luar negeri) yang bertaruh peluh mengongkosi
anak-anak mereka agar kelak bernasib baik serupa gubernur dan wakil gubernur,
misalnya.
Dalam
durasi waktu kekuasaan setahun lima bulan lebih, Gubernur Laiskodat dan
wakilnya, Nae Soi bertaruh niat, kerja keras, dan kerja cerdas bersama seluruh stakeholder menunaikan amanah rakyat
memajukan Nusa Tenggara Timur. Kekuasaan yang digenggam keduanya –sekali lagi–
masih balita. Laiskodat kita tahu, petinggi dan pernah jadi Ketua Fraksi NasDem
DPR. Sedang Nae Soi adalah politisi Golkar, pernah manjabat Staf Khusus Yasonna
Laoly, Menteri Hukum dan HAM.
Keduanya resmi dilantik dan diambil sumpah Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 5/9 2018. Rekam jejak mumpuni dan kekuasaan yang kini dalam genggamannya akan jadi sarana efektif sekaligus ibarat oase di tengah “padang gersang” (ketertinggalan dan stigma negatif lainnya) memajukan tanah Flobamora. Karena itu, tentu keduanya tahu dari mana langkah mengurai berbagai persoalan terutama ketertinggalan yang melilit masyarakat dan daerah selama ini.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Victor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi (kanan).
Usai
dilantik di hadapan awak media yang ngepos
di Istana Merdeka, Gubernur Laiskodat menyampaikan paling kurang ada lima aspek
yang segera dibenahi bersama wakilnya memajukan masyarakat dan daerah agar
lebih maju dan sejahtera lahir-batin. Dalam catatan saya lima aspek itu yaitu
pembangunan pariwisata, reformasi birokrasi, pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur serta sumber daya manusia.
Dalam
jangka pendek Laiskodat berjanji. Pertama, menghentikan seluruh aktivitas
pertambangan di daerah ini. Kedua, menghentikan sementara (moratorium) pengiriman
tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Satu hal penting lain yakni Gubernur tak
sudi NTT dipelesetkan dengan akronim-akronim negatif semisal Nanti Tuhan Tolong, Nasib Tidak Tentu, NTT Miskin
dan Terkebelakang atau Nyatanya Tetap
Tertinggal. Dengan demikian sebagai pemimpin ia mengajak rakyat berpikir
dan berbuat besar memajukan masyarakat dan daerah. Mengapa plesetan itu perlu
dihapus?
Potensial
NTT adalah Nusa Tenggara Timur, provinsi yang sangat dikenal di seluruh dunia sebagai daerah penyumbang misionaris. Meski dikenal juga sebagai provinsi dengan musim kemarau panjang, ia juga gudang penghasil manusia berotak cerdas,pekerja keras, dan jujur. Indonesia mencatat baik siapa sosok Herman Johannes, pahlawan nasional, cendekiawan, ilmuwan Indonesia, anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1978) atau Menteri Pekerjaan Umum RI (1950-1951) era Presiden Soekarno, dan guru besar serta mantan Rektor Universitas Gajah Mada asal Rote.
Prof. Dr. Herman Johhanes
Siapa
pula yang tak kenal Frans Seda, politisi, tokoh Gereja, pengusaha dan Menteri
Perkebunan (1963-1964), Menteri Keuangan (1966-1968) atau Menteri Perhubungan
(1968-1973) era Presiden Soekarno dari Lekebai, Sikka, Flores. Atau juga dua
nama pahlawan nasional yaitu Izaak Huru (IH) Doko dan Wilhelmus Zakaria (WZ)
Johannes. Berikut Mgr Gabriel Manek SVD, uskup pribumi kedua Indonesia dan
mantan anggota MPR RI asal Lahurus, Belu atau Gorys Keraf, guru besar Bahasa Indonesia
UI asal kampung nelayan Lamalera, Lembata (sekadar menyebut beberapa di
antaranya).
Di
masanya, meski datang dari latar keluarga berbeda dari rahim tanah Flobamora
dengan segala kekurangan yang dimiliki tempo
doeloe, di lain sisi memiliki kemampuan luar biasa untuk dipersembahkan
bagi bangsa dan negara dan tetap menginspirasi generasi muda kita. Belum lagi
putra-putri NTT yang mendapat kepercayaan di era Soeharto, Habibie, Megawati,
Gus Dur, SBY hingga Jokowi, mengabdi untuk bangsa dan negara.
Sebut
saja Ben Mboi, Nafsiah Mboi, Ben Mang Reng Say, Adrianus Mooy, ECW Neloe,
Vincent Radja, Sonny Keraf, Saleh Huzen, Johnny Plate, dan putra-putri NTT
lainnya yang mengabdi di jagad politik dan pemerintahan hingga berbagai bidang
profesi lainnya hingga saat ini. Mereka ini datang dari kampung, berjuang
sekuat tenaga kemudian kelak mendedikasikan ilmu dan tenaganya sehingga menjadi
penyemangat tak hanya bagi para pemimpin dan rakyat di level nasional namun
juga orang-orang terkasih di kampung halaman.
Di
bidang sumber daya manusia NTT tak diragukan. Pun sumber daya alam yang
menyebar di hampir semua pulau. Tentu tak logis melabeli NTT dengan stigma di
atas. Testimoni Gubernur Laiskodat saat bertemu budayawan Emha Ainun Nadjib
(Cak Nun) bisa memberikan gambaran bahwa masyarakat NTT tak perlu takluk di
bawah stigma yang meruntuhkan semangat dan militansi membangun NTT dengan SDA
yang berlipat-lipat. Malah menjadi pemicu dalam bekerja memajukan daerah.
Upaya ‘Meruntuhkan’
Paling
kurang ada beberapa hal yang dicatat dari plesetan tak produktif terhadap Nusa
Tenggara Timur di atas. Pertama, Gubernur Laiskodat terdorong “meruntuhkan” stigma
NTT seperti Nanti Tuhan Tolong atau Nasib Tidak Tentu sebagaimana ia baca
dalam buku “Ide-Ide Plesetan” karya Cak Nun (meski bukan dalam konteks NTT)
dalam perjalanan Jakarta-Surabaya dengan Cak Nun, budayawan yang juga murid
Umbu Landu Paranggi, penyair asal Sumba yang dijuluki Presiden Malioboro atau
Penyair Kuda Kayu.
“Ketika melewati pendidikan SMP, SMA, apa cita-cita dan mimpi saya? What I should be? What I must be? Saya merambah Ibu Kota Negara untuk meraih cita-cita, menggeluti berbagai bidang kehidupan kemasyarakatan yang rentan kekerasan, usaha taksi, membina keluarga dan akhirnya terjun di dunia politik. Beberapa kali saya terpental dan akrab dengan akronim ‘gaul’ alias gagal ulang-ulang. Saya bangkit dan bangkit lagi sampai mimpi itu terwujud: menjadi gubernur NTT; pemimpin lima juta jiwa yang tersebar di berbagai desa, dusun, kampung di bumi Flobamora,” kata Laiskodat (bdk. Petrus Salu SVD: Dunia Tak Selebar Daun Kelor; Penerbit Ikan Paus, 2019).
Komodo salah satu daya tarik parawisata di NTT
Kedua,
dalam berbagai kesempatan menyambangi masyarakat di sejumlah kabupaten Gubernur
Laiskodat bicara bahkan pidato dengan nada suara yang kerap dianggap kasar
namun sesungguhnya merupakan bentuk protes atas plesetan-plesetan tak produktif
di atas untuk memastikan bahwa NTT adalah provinsi yang kaya raya namun belum
mendapat sentuhan pembangunan maksimal dan proporsional melalui APBN saban
tahun anggaran. Manusia NTT adalah kelompok cerdas yang juga memiliki
kontribusi besar dalam pawai pembangunan nasional yang juga perlu diperhatikan serius.
Oleh karena itu, masyarakatnya pun perlu terus-menerus didorong, dimotivasi
agar memiliki rasa percaya diri yang kuat untuk ikut ambil bagian memajukan
daerahnya dengan kemampuan keuangan dan sumber daya alam yang dimiliki.
“Gubernur
sangat anti dengan kemapanan, kelambanan, kemalasan, kebodohan, dan korupsi
yang menjadi penyebab berbagai masalah di NTT. Misalnya, tingginya angka
kemiskinan, rendahnya pendapatan per kapita, rendahnya kualitas pendidikan,
kesehatan, tingginya angka stunting,
dan sebagainya. Karena itu, ia tak henti-hentinya mendorong semua pihak yang
bertanggungjawab langsung dengan kebijakan pembangunan NTT untuk membuat
terobosan-terobosan baru yang inovatif dan memiliki nilai kebaruan,” kata Dr
Jelamu Ardu Marius, M.Si, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT (bdk. Valeri
Guru & Sam Babys: NTT Gerbang Selatan
Indonesia;2019).
Pada 17 Februari 2020, Gubernur Laiskodat merayakan HUT ke-54. Tentu selain mengucap Syukur atas kebaikan Tuhan, lebih dari itu adalah awal yang baik meniatkan diri bersama masyarakat meruntuhkan plesetan-plesetan negatif; setia bekerja keras mewujudkan visi-misi besar: NTT Bangkit, NTT Sejahtera.
Ansel Deri, Mantan Staf Viktor Laiskodat di DPR RI
SEBAGAI pemikiran awal dalam bab ini, dapatlah dikatakan begitu saja bahwa antara kekuasaan, ideologi, dan peran agama-agama–khususnya dalam milenium ketiga–terdapat sejumlah kemungkinan hubungan yang jelas tidak semuanya dapat dibahas disini, seandainya pun kita mampu melakukannya. Oleh karena itu pembicaraan saya harus dibatasi pada beberapa hubungan yang di satu pihak dapat dilakukan sesuai space yang tersedia. Dan dipihak lain memungkinkan pemikiran dan antisipasi terhadap perkembangan yang akan datang berdasarkan beberapa kecenderungan yang dapat diamati sekarang.
Untuk memudahkan diskusi, saya akan mengajukan enam tesis, yang sekalipun tidak diuraikan secara in extensio di sini, saya harapkan dapat menjadi tititk tolak untuk diskusi.
Tesis 1:
Kekuasaan dan ideologi selalu saling mengandaikan karena tidak ada kekuasaan yang tidak membutuhkan ideologi, dan tidak ada ideologi yang tidak mempunyai muataan kekuasaan.
Uraian:
Persoalan hubungan kekuasaan dan ideologi mendapat wujudnya dalam legitimasi Habermas (dalam Zur Rekonstruktion des Historischen Materialismus) mendefinisikan legitimasi sebagai kelayakan sebuah orde politik untuk diakui dan diterima (Anerkennungswirdigkeit einer politischen Ordnung). Suatu kekuasaan dapat bertahan selama dia diakui dan diterima. Ada semacam tukar-menukar yang terjadi antara kekuasaan yang dijalankan oleh suatu orde politik dan pihak yang memberikan pengakuan dan ketaatan terhadapnya.
Pertanyaannya adalah apakah klaim terhadap pengakuan dan penerimaan itu seimbang dengan alasan-alasan untuk meminta dan mendapatkan pengakuan dan penerimaan. Paul Ricoeur, dalam Lectures on Ideology and Utopia, menjelaskan hubungan kekuasaan dan ideologi melalui teori nilai-lebih ideologi (surplus-value theory of ideology). Maksudnya, alasan-alasan suatu orde politik untuk memintakan pengakuan dan ketaatan yang dituntut selalu lebih sedikit dari ketaatan yang dituntutnya. Ketaatan yang dituntut selalu lebih besar, sedangkan alasan-alasan yang tersedia untuknya selalu lebih kecil. Untuk mengisi kesenjangan antara klaim terhadap ketaatan dan alasan-alasan untuk mendapatkan ketaatan, diperlukan bantuan ideologi.
Dalam menjalankan peran tersebut, ideologi dapat memainkan tiga fungsi, yaitu fungsi mengintegrasikan, fungsi membenarkan dan fungsi mendistorsikan. Seperti diketahui, fungsi integrasi ideologi diambil Ricoeur dari Geertz, fungsi legitimasi diambil dari Weber, dan fungsi distorsi diambil dari Marx.
Sebaliknya, dapatlah dikatakan juga bahwa ideologi selalu bermuatan kekuasaan. Mengapa? Karena efek yang dihasilkan oleh ideologi adalah penerimaan dan ketundukan terhadap suatu orde kekuasaan. Penerimaan itu dapat dihasilkan dengan jalan paksa atau dengan jalan sukarela. Kalau dijalankan dengan pemaksaan maka terjadi apa yang oleh Gramsci (dalam bukunya Prison Notebooks) dinamakan dominasi, sedangkan kalau diterima dengan sukarela maka terjadi apa yang dinamakan hegemoni. Dominasi adalah paksaan dengan menggunakan kekerasan sebagai sarananya, sedangkan hegemoni adalah penerimaan yang spontan dan bebas karena seluruh alam pikiran seseorang atau sekelompok orang sudah dikuasai dan dipengaruhi sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah dapat dipengaruhi dan digiring ke arah yang dikehendaki. Dominasi merupakan suatu regime of power, sedangkan hegemoni merupakan suatu regime of significance.
Untuk memakai istilah-istilah kebudayaan yang lebih halus, dominasi adalah penguasaan yang terjadi karena bantuan paksaan secara fisik, sedangkan hegemoni terjadi melalui penguasaan dunia simbolik, di mana kepercayaan, pengetahuan dan keyakinan nilai-nilai sekelompok orang sudah dikuasai sedemikian rupa, sehingga mereka dapat digiring ke arah yang dikehendaki. Pada titik itu, ideologi merupakan suatu alat yang ampuh untuk menciptakan hegemoni, karena ideologi merupakan suatu jenis pengetahuan khusus yang ditandai oleh sifat-sifatnya yang menyeluruh dan mengikat, dan memintakan komitmen.
Tesis 2:
Setiap agama dikehendaki atau tidak dikehendaki, selalu berhadapan dengan kemungkinan menjadi ideologis, dan sebaliknya setiap ideologi yang ingin memantapkan diri cenderung menempuh jalan untuk memberikan warna keagamaan kepada dirinya. Ideologisasi agama selalu diimbangi dengan religiofikasi ideologi.
Uraian:
Kecendrungan suatu agama menjadi ideologis dapat dilihat pada dua gejala. Pertama, kalau agama dalam berhadapan dengan kekuasaan tidak menjalankan fungsi kritisnya, tetapi lebih banyak menjalankan perannya sebagai sarana untuk legitimasi kekuasaan. Kedua, kalau agama karena tugasnya untuk menyampaikan keselamatan dan mengajarkan kesempurnaan hidup, menjadi sarana yang ampuh untuk menciptakan hegemoni.
Fungsi legitimasi agama dijalankan dengan mengambil alih dan menjalankan fungsi ideologi yang biasa, yaitu mengintegrasikan, membenarkan atau mendistorsikan kenyataan yang ada. Agama dapat menjalankan fungsi integratif karena dia menjadi unsur yang sangat penting dalam dunia simbolik, yaitu dunia pengetahuan, kepercayaan dan nilai, yang menjadi rujukan sekelompok orang dalam menjalankan tindakan mereka secara sosial. Makna tidak selalu didefinisikan berdasrkan dunia simbolik yang dianut, dan agama bukan saja berperan dalam dunia simbolik itu, melainkan memberikan sifat kategoris dari dunia simbolik tersebut.
Dalam ilmu sosial, dunia sosial adalah dunia tindakan sosial dan dunia interaksi sosial. Sedangkan makna tindakan dan interaksi itu bersumber pada dunia simbolik. Kalau tindakan sosial masih mengikuti dunia simbolik maka yang terjadi adalah integrasi. Sebaliknya, kalau tindakan sosial tidak dapat mengikuti tuntutan dunia simbolik, maka yang terjadi adalah disintegrasi. Jalan yang kemudian ditempuh untuk tetap menyelamatkan integrasi adalah menyesuaikan dunia simbolik dengan kenyataan sosial yang ada. Pada saat itu yang terjadi adalah distorsi. Distorsi seperti ini sering dilakukan karena dengan memberikan definisi yang baru kepada suatu penyelewengan sosial maka tindakan itu juga lebih mudah dibenarkan. Istilah ‘pengamanan’ untuk penangkapan, ‘pembersihan’ untuk penggusuran, dan berbagai eufefisme lain dalan bahasa Indonesia, adalah contoh untuk distorsi seperti itu. Distorsi itu dilakukan untuk membenarkan tindakan sosial yang menyeleweng dari dari ketentuan dalam dunia simbolik. Kalau agama harus membenarkan dan turut melakukan distorsi seperti itu maka agama menjadi ideologis.
Sebaliknya, suatu ideologi sekuler cenderung memberikan watak sakral dan religious kepada dirinya melalui proses yang dinamakan religiofikasi. Istilah ini diambil dari penulis Eric Hofer (dalam The True Believer) yang mengartikannya sebagai ‘the art of turning practical purposes into holy causes’. Dengan cara itu, suatu ideologi sekuler akan menimbulkan beberapa sikap yang biasanya ditimbulkan oleh agama dalam diri penganutnya. Pertama, tuntutan agama bersifat kategoris dan karena itu tak dapat ditawar-tawar. Dengan cara itu, suatu ideologi berusaha menciptakan penerimaan dan ketaatan sepenuh-penuhnya dari suatu masyarakat. Kedua, ketakutan akan sanksi terhadap pelanggaran menjadi lebih besar, karena pelanggaran terhadap suatu yang sakral dan religius akan mampu memberikan suatu tujuan hidup terakhir kepada penganutnya, yang untuknya para penganut diminta kerelaan dan kesiapannya dalam memberikan segala pegorbanan yang diperlukan.
Tesis 3:
Agama sebagai suatu lembaga cenderung mempunyai sejumlah kekuasaan dalam dirinya, dan selalu terdapat suatu proses sosial dimana kekuasaan agama diperluas menjadi kekuasaan dunia, dan kekuasaan dunia diperluas ke dalam daerah kekuasaan agama.
Uraian:
Dalam studi-studi sosiologi agama, kedua proses itu disebut oleh Max Weber (dalam Wirtschaft und Gesellschaft) sebagai hierokrasi dan caesaropapisme. Istilah hierokrasi menunjuk kepada keadaan di mana agama atau diperluas menjadi kekuasaan politik, dan para pemimpin agama sekaligus menjadi pemimpin politik. Sebaliknya, istilah caesaropapisme menunjuk kepada proses di mana seorang pemimpin politik (caeser) sekaligus menjadi pemimpin agama (papa=paus), dan kekuasaan agama sekaligus menjadi kekuasaan politik.
Hierokrasi menjadi mungkin karena seperti dikatakan di atas selalu ada unsur kekuasaan dalam tiap agama, terutama kalau agama itu menjadi besar dan menjadi sebuah lembaga. Hierokrasi itu terjadi bukan saja karena seorang pemimpin agama juga menjadi pemimpin politik, melainkan juga karena doktrin agama sekaligus juga menjadi doktrin politik. Dalam praktek, teokrasi adalah suatu perwujudan hierokrasi yang paling sempurna, karena hukum agama juga menjadi undang-undang negara.
Caesaropapisme menjadi mungkin karena seperti dikatakan di atas ada kecenderungan pada ideologi sekuler untuk memberikan warna atau sifat sakral dan religius pada dirinya, dan hal yang sama juga berlaku pada kekuasaan sekuler. Kekuasaan politik mendapatkan legitimasi sepenuh-penuhnya kalau pembenaran terhadap pemilikan dan pelaksanaan kekuasaan itu dilakukan tidak hanya dengan alasan-alasan budaya, tetapi juga sakral dan religius. Semua kekuasaan absolut pada dasarnya mendapatkan suatu pembenaran religius, bahwa kekuasaan itu diberikan oleh Tuhan, dewa atau oleh suatu tenaga supernatural.
Persatuan kekuasaan politik dan kekuasaan agama dimungkinkan dalam ajaran sosial yang tidak membedakan kekuasaan politik dari kekuasaan agama. Penyelesaian dalam negara modern dilakukan dengan memisahkan Gereja dari negara, atau agama dari politik. Negara dianggap memiliki kekuasaan dalam bidang-bidang profan, sedangkan agama tetap menguasai bidang-bidang yang dianggap sakral.
Dalam hal ini, Indonesia mempunyai suatu kedudukan khusus, karena negara Republik Indonesia dianggap bukanlah suatu negara teokratis karena negara berdiri di atas Undang-Undang yang tidak diambil dari suatu doktrin keagamaan, tetapi negara juga tidak dianggap sebagai negara sekuler, karena melibatkan diri dan bertanggung jawab terhadap keamanan dan perkembangan tiap agama yang diakuinya. Adanya departemen agama adalah bukti yang sangat jelas bahwa negara Republik Indonesia menolak adanya keterpisahan mutlak antara yang profan dan yang sakral, antara agama dan negara. Simbol-simbol keagamaan seperti doa misalnya, selalu menjadi bagian dari upacara dan protokol kenegaraan. Sebaliknya kehidupan keagamaan, khususnya prasarana untuk kehidupan agama, selalu mendapat perhatian dan tunjangan dari negara.
Tesis 4:
Hubungan antara agama dan negara ditandai oleh persaingan di antara peran keimanan dan peran kenabian agama. Semakin banyak suatu agama menjalankan peran keimanan (priestly role) maka semakin dekat agama itu kepada negara, dan semakin suatu agama menjalankan peran kenabian (prophetic role) maka semakin kritis agama itu terhadap negara.
Uraian:
Peran keimanan agama adalah peran agama sebagai institusi sosial. Dalam peran seperti itu, agama harus membantu proses integrasi sosial sama seperti peran kebudayaan umumnya. Dalam arti itu, agama harus bekerja sama dengan institusi sosial lainnya, dan terutama sekali, harus bekerja sama dengan negara sebagai institusi sosial yang terbesar. Konflik antara institusi sosial akan menimbulkan disintegrasi, dan demi keperluan itu agama sebagai lembaga sosial harus menyesuaikan diri dengan tuntutan lembaga sosial lainnya.
Untuk memakai model Max Weber, dalam fungsi keimanannya agama berusaha mempertahankan warisan tradisionalnya dan watak rasional-administratifnya, sedangkan dalam peran kenabiannya agama menampilkan sifatnya yang karismatis. Karisma adalah sesuatu yang menyimpang dan mengatasi institusi sosial dan lebih kuat dari watak rasional suatu lembaga. Semakin besar peranan karismatis agama, semakin agama itu mengatasi dan menyimpang dari lembaga sosial, dan semakin jauh pula hubungannya dengan negara.
Tesis 5:
Setiap agama mempunyai fungsi ganda sebagai suatu institusi sosial dan sebagai jalan kesempurnaan pribadi, di mana hubungan di antara keduanya dapat saling menunjang, tetapi dapat juga saling bertentangan dan saling merugikan.
Uraian:
Peran sosial agama ditandai oleh fungsinya dalam menjaga integrasi sosial, atau dengan perkataan yang lebih gampang, dalam menjaga ketenangan, perkembangan dan kelanjutan serta reproduksi masyarakat. Dalam fungsi itu, agama berusaha mengurangi perbedaan dan pertentangan di antara berbagai kelompok dan berbagai individu, agar terhindar dari kemungkinan konflik yang dapat membawa kepada disintegrasi sosial.
Peran personal dan ekstensial agama ditandai oleh fungsinya sebagai jalan bagi seorang individu untuk mencapai kesempurnaan diri sejauh-jauhnya. Apa yang dinamakan ‘the indefinite perfectability of human being’ bukan saja merupakan suatu prinsip dalam dunia pendidikan, melainkan juga prinsip dalam kehidupan agama pribadi. Ini berarti dalam bidang agama pun berlaku semacam prinsip, bahwa setiap hari seorang masih dapat menjadi sedikit lebih sempurna dari sebelumnya, dan selama hidupnya seseorang tidak akan pernah menjadi cukup sempurna, sehingga dia tidak perlu atau tidak dapat menjadi sedikit lebih sempurna lagi. Semboyan filsafat ‘we can never be human enough’ dapat diterjemahkan secara teologis dalam agama menjadi semboyan ‘we can never be perfect enough’. Dalam kehidupan pribadi setiap orang, agama dianggap mampu membawa seseorang kepada kesempurnaan pribadi yang sejauh-jauhnya dan sepenuh-penuhnya.
Keyakinan pribadi seseorang dapat diterjemahkannya dalam sosial seperti halnya keyakinan tentang keadilan Tuhan dapat diterjemahkan ke dalam usaha, mendukung gerakan HAM atau keyakinan tentang kemurahan Tuhan, dapat membawanya kepada usaha-usaha pengembangan masyarakat, khususnya dalam bidang sosial ekonomi. Tanggung jawab seseorang kepada dirinya dalam wujud spiritualitas kemudian diterjemahkan ke dalam bidang sosial dalam bidang moralitas. Tesis Max Weber tentang ‘the protestan ethic and the spirit of capitalism’ adalah contoh klasik tentang hubungan ini, di mana harapan dan keyakinan seseorang tentang pilihan Tuhan untuk dirinya untuk mendapatkan keselamatan, dianggap terwujud dalam keberhasilan usahanya dalam bidang ekonomi. Atas cara itu, spiritualitas dihubungkan langsung dengan moralitas, dan tingkah-laku ekonomi direstui secara teologis.
Meski demikian, agama sebagai jalan kesempurnaan pribadi dapat pula mengabaikan dan merugikan peran sosial suatu agama. Ada semacam individualisme spiritual dan individualisme asketis dalam paham ini. Yaitu kalau dianggap bahwa kesempurnaan diri seseorang terwujud langsung dalam hubungan dengan Tuhannya, tanpa terlalu menghiraukan apa yang dilakukan orang lain. Kehidupan soliter, kontemplatif dan kehidupan mistik mempunyai kecenderungan untuk menjadi individual secara asketis, dan hal ini semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk dilibatkan dalam latihan-latihan yang sudah mencapai taraf yang amat tinggi.
Dalam kalangan Katolik umpamanya, kehidupan sebagai hermit pernah dianggap sebagai sebuah ideal kesempurnaan tertinggi di samping martyrium (kesaksian hidup) dan kehidupan selibat (tidak menikah). Jelas dari praktek tersebut, bahwa menyendiri di padang gurun, atau di sebuah gua yang terpencil dengan kehidupan doa sepanjang hari sepanjang malam, pernah dianggap sebagai jalan kesempurnaan tertinggi, sekalipun tidak begitu jelas bagaimana hal ini berhubungan dengan fungsi sosial dalam agama.
Secara sosiologis, jalan tengah antara fungsi sosial dan fungsi pribadi agama terwujud dalam sekte. Istilah sekte digunakan disini semata-mata dalam arti sosiologis tanpa konotasi teologis apa pun. Dalam pandangan yang menekankan fungsi pribadi dan fungsi perseorangan suatu agama, peran sosial agama dianggap menyebabkan agama menjadi agama orang banyak dengan latihan-latihan kesempurnaan yang semakin hari semakin menurun kadarnya. Sebaliknya, dalam pandangan orang banyak, latihan-latihan agama pribadi, seringkali merupakan latihan yang sangat elitis yang tidak semua orang sanggup mengikutinya. Jalan tengah adalah terbentuknya sekelompok orang yang menganggap mereka mempunyai kualifikasi keagamaan yang kira-kira setaraf tetapi yang lebih tinggi tingkatnya dari kemampuan keagamaan rata-rata orang kebanyakan. Max Weber menyebutkan sekte sebagai suatu ‘aristokratisches Gebilde’ (an aristocratic group) atau suatu kelompok aristokratis, yang tujuannya adalah membentuk suatu ‘Verein der religious voll Qualifizierten’ (an association of person with full religious qualifications). Berbeda dari Gereja yang dianggap lembaga yang harus membagi rahmat baik bagi orang saleh maupun orang berdosa yang harus di bawah kembali kepada Tuhan, suatu sekte bertujuan membentuk ‘acclesia pura’ (Gereja yang murni atau dimurnikan, dari sini berasal istilah purisme) karena yang berkumpul dalamnya orang-orang yang dianggap saleh dan tinggi mutu kehidupan agamanya, sedangkan persekutuan mereka dianggap sebagai ‘die sichtbare Gemeinschaft der Heiligin’ atau ‘the visible community of the saints’.
Dengan demikian, dalam artian sosiologis, sekte adalah usaha dalam setiap Gereja untuk mengatasi ketegangan antara apa yang oleh Weber dinamakan agama-etis dari agama tradisionil. Semakin suatu agama terbatas keanggotaannya, maka semakin dapat diawasi kriteria-kriteria etis agama itu, yang mungkin sekali tidak dapat diterapkan pada anggota-anggota yang tidak termasuk dalam elite keagamaan. Semakin agama itu banyak anggotanya, maka semakin dibutuhkan penyesuaian agama itu dengan tradisi-tradisi setempat dari para penganutnya agar agama itu dapat dimengerti dan diterima oleh masyarakat kebanyakan.
Ini juga menunjukkan ketegangan antara agama di satu pihak dan ideology dan kekuasaan di pihak lainnya. Semaikn besar kekuasaan suatu agama, akan semakin diperlukan ruang ideologis agama itu, dan semakin rendah kualifikasi keagamannya. Sebaliknya semakin tinggi kriteria keagamaan suatu agama, semakin kecil pula kekuasaannya dan semakin tidak dibutuhkan fungsi ideologisnya.
Tesis 6:
Ketegangan antara peran institusional dan peran individual dan personal agama, tampaknya akan diatasi dalam millennium ketiga oleh peran individual agama, karena hal itu sangat ditunjang oleh tendensi umum ke arah proses deinstitusionalisasi berbagai lembaga sosial yang sudah kelihatan gejalanya sekarang ini.
Uraian:
Seperti sudah diuraikan di atas, peran sosial agama amat didukung oleh hubungannya dengan kekuasaan dan ideologi. Peran ini dalam milennium ketiga akan beralih ke peran individual dan peran personal agama. Hal ini akan terjadi kalau agama dalam kedudukannya yang ideologis beralih kepada fungsinya sebagai utopia. Karl Mannheim (dalam Ideology and Utopia) membedakan ideologi dan utopia dalam tiga hal.
Pertama, kalau ideologi berfungsi melegetimasikan keadaan yang ada, maka utopia mempunyai kekuatan mempertanyakan dan mengguncang keadaan yang ada.
Kedua, kalau ideologi menjalankan peran integratif untuk menjaga identitas perseorangan atau kelompok, maka utopia melakukan eksplorasi terhadap apa yang masih mungkin.
Ketiga, kalau ideologi hanya mampu melakukan distorsi terhadap apa yang ada, maka utopia mampu menyingkirkan seorang, atau sekelompok orang, dari keadaan yang ada dan membawanya ke situasi (bayangan) yang sama sekali lain dan sama sekali baru.
Dengan perkataan lain, kalau ideologi membela keadaan sekarang, maka utopia membela masa depan. Hal ini sangat sejalan dengan semangat eksatologis agama-agama yang menjanjikan masa depan yang lebih baik yang disempurnakan oleh penemuan kembali dan persatuan kembali antara yang imanen dan yang transendental, antara yang insani dan yang ilahi. Tetapi dengan itu, agama harus mengurangi hubungannya baik dengan ideologi maupun kekuasaan, suatu hal yang akan mengurangi rasa aman agama-agama itu sendiri, dan menimbulkan suatu tingkat alienasi terhadap lembaga-lembaga sosial lainnya. Namun demikian, hal ini tidak perlu menimbulkan kecemasan karena ‘innerweltliche Askese’ (this-worldly asceticism) hanyalah sebagian dari tugas agama yang dalam keadaan sekarang sudah terlalu diutamakan. Mungkin dibutuhkan suatu ‘ausserweltliche Askese’ (other-worldly asceticism) yang memperingatkan kita bahwa agama pada dasarnya berada di dunia ini tetapi tidak mempunyai seluruh tujuannya di sini.
***
Ignas Kleden, Sosiolog dan Kritikus Sastra
Sumber Naskah: Dari buku Agama-agama Memasuki Milenium Ketiga, Grasindo, 2000.
MENTERI Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menjelaskan, Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar ke-9 di dunia pada tahun 2030. Pasalnya, saat ini Indonesia menjadi salah satu dari 16 negara dengan PDB terbesar di dunia. “Tidak ada keraguan bahwa dunia sekarang berubah dari ruang fisik menjadi ruang digital, jadi Indonesia harus bersiap untuk mengubah dirinya menjadi era digital. Indonesia memiliki lanskap digital yang sangat dinamis, di mana saat ini ada 171,2 juta orang aktif menggunakan internet dan 355,5 juta langganan seluler, ada 26 juta UKM yang diproyeksikan go online pada tahun 2022,” ujar Johnny saat menyampaikan pidato kunci pada Gala Dinner US-Indonesia Society (USINDO) di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (13/2).
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu, Johnny lebih jauh mengatakan, Indonesia memiliki pasar digital yang sangat luas sehingga diproyeksikan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, baik secara regional maupun global. Hingga saat ini, lanjutnya, pemerintah telah memiliki empat unicorn dan satu Decacorn.
Selain itu, demikian Johnny,
setidaknya delapan perusahaan startup siap menjadi Unicorn Indonesia
berikutnya, perusahaan-perusahaan tersebut menurutnya tumbuh luar biasa menjadi
perusahaan bisnis yang berpengaruh seperti saat ini yang menghasilkan lapangan
kerja dan peluang ekonomi bagi Indonesia dan para pengusaha. Ia menegaskan,
upaya mempercepat proses investasi digital sejalan dengan visi Presiden Joko
Widodo dalam menciptakan Indonesia yang adil, makmur dan berkelanjutan,
“Ekosistem TIK yang kuat akan menciptakan efek positif yang akan
memperkuat ketahanan ekonomi, mendukung pengembangan sumber daya manusia,”
kata Johnny.
Menurutnya, pembangunan
infrastruktur TIK di Indonesia telah telah dilakukan secara besar-besaran,
tentu pembangunan yang berkelanjutan itu bekerja sama denga sektor swasta.
“Kami telah membangun lebih dari 348.000 km panjang tulang punggung serat
optik nasional, baik kabel darat maupun kabel bawah laut, dan hampir 480.000
Base Transceiver Stations (BTS) di seluruh negeri. Selain itu, lima satelit
multi-fungsi telah orbit untuk menutupi titik-titik kosong (wilayah 3T),”
ujarnya.
Selain itu, dalam rangka mengimbangi
dunia global yang bergerak begitu cepat, pemerintah juga mengembangkan
teknologi 5G. Oleh karena itu, pemerintah terus proaktif untuk memastikan
masyarakat Indonesia saling terhubung satu sama lain melalui pengembangan
teknologi 5G, “Ini menjadi prioritas kami, karena kami memiliki tanggung
jawab untuk memenuhi permintaan spektrum 737MHz pada tahun 2020, dan akan
meningkat hingga 1310 MHz sebelum 2024,” tegasnya.
Pengembangan
SDM Digital
Kementerian Kominfo, kata Menteri
Johnny, memiliki peran penting dalam pengembangan SDM di era digital ini,
sehingga menjadi tugas bersama untuk memberikan perhatian khusus dalam
meningkatkan talenta-talenta digital yang unggul.
“Kami memiliki Siberkreasi yaitu gerakan nasional literasi digital, Gerakan ini telah menjangkau setidaknya 75.000.000 orang dalam dua tahun terakhir. Pada tingkat keterampilan digital yang lebih tinggi, tahun ini kami menyediakan 60.000 slot Beasiswa Digital Talent, serta 300 slot Digital Leadership Akademy, ada ribuan slot yang juga ditawarkan oleh mitra kerja kami seperti CISCO, Google, Facebook, Microsoft, Amazon, IBM, Oracle, Huawei, ZTE, dan banyak lagi,” ujarnya.
Selain itu, Johnny menjelaskan upaya
pemerintah untuk menyederhanakan regulasi dan kebijakan dalam mewujudkan visi
Indonesia Maju, di antaranya Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi
(UU PDP) dan RUU Omnibus Law yang saat ini telah diajukan ke DPR RI. Acara Gala
Dinner USINDO juga dihadiri President of USINDO David Merril, Under Secretary
of State for Economic Growth, Energy, and the Environment Keith Krach, CEO US
International Development Finance Corporation (DFC) Adam Boehler, Menko Maritim
dan Investasi RI Luhut B. Panjaitan, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dan
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar serta 300 pengusaha AS.
Rasa sakit tidak bisa dihindari karena tubuh manusia sifat
alamiahnya membawa rasa sakit. Ia mirip
dengan air membawa basah. Tetapi penderitaan adalah pilihan. Manusia bisa
memilih untuk tidak menderita, termasuk tidak menderita di tengah rasa sakit.
Es Batu Penderitaan
Rasa sakit manapun serupa panah yang ditembakkan ke
seseorang. Tapi ada panah ke dua yang lebih menyakitkan yakni cara bereaksi
seseorang secara amat negatif.
Itu sebabnya, meditasi mengelompokkan perasaan ke dalam
senang, sedih dan netral. Dan tugas meditasi adalah menjadi yang ke empat yakni
menyaksikan dengan penuh kasih sayang. Bila orang biasa di cengkram oeh
emosinya sehingga mudah marah, batin yang disentuh meditasi bisa berjarak
dengan emosi manapun.
Kehidupan serupa aliran air. Kedamaian terjadi tatkala orang
mengalir sempurna bersama aliran kehidupan. Penderitaan terjadi karena batin
membeku kaku seperti es – hidup mesti begini mesti begitu – sehingga gagal
mengalir. Meditasi seperti matahari yang membuat es batu ini kemudian meleleh
dan mengalir.
Aliran Sungai Kedamaian
Dalam setiap batin yang kaku beku serta belum tersentuh meditasi, terjadi pertempuran dualitas yang tidak mengenal henti. Saya yang benar-orang lain salah. Kelompok saya baik-yang berbeda dengan kelompok saya buruk. Bila batin sering duduk diposisi ke empat dengan menyaksikan penuh senyuman, maka pelan perlahan pertempuran ini melonggar. Sampai suatu hari pencerahan membuat batin jadi seluas ruang.
Akibatnya, api rasa sakit tidak menimbulkan ledakan
penderitaan karena wadahnya sudah besar dan lebar. Cirinya, manusia menjadi
semakin toleran, pemaaf, terbuka pada apa saja yang mungkin terjadi dalam
kehidupan. Ini salah satu hasil penting meditasi yakni kemampuan untuk
menderita secara tidak terbatas.
Dengan kemampuan terakhir, es batu penderitaan mencair.
Kemudian mengalir sempurna seperti air di sungai. Pada waktunya ia pulang ke
rumah samudra.
Samudra Tidak Berhingga
Di samudra, batin berjumpa kualitas-kualitas yang tidak
berhingga. Terutama karena apa pun yang datang ke samudra akan dipeluk lembut
tanpa membeda-bedakan. Ini yang kerap disebut dengan samudra kasih sayang.
Lumpur, kayu, batu, kotoran, emas, makanan, apa saja diterima oleh samudra. Ini alasan utama kenapa pengertian meditasi ditingkat kesempurnaan adalah istirahat di saat ini apa adanya. Sebagai akibatnya, tidak saja batin melebar, tapi juga memberikan ruang tidak berhingga ke apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh.
Jika sebagian orang tua memberikan ruang pertumbuhan ke anak-anaknya secara terpaksa, di tingkatan ini tidak ada keterpaksaan. Kasih sayang menjadi sesuatu yang sangat alami. Ia sealami samudra yang luas tidak terbatas sekaligus menghidupi tanpa membeda-bedakan. Di tingkatan ini, manusia tidak saja bisa memilih untuk tidak menderita, tetapi juga menjadi wakil kasih sayang yang tidak berhingga. Termasuk mampu memancarkan kasih sayang pada rasa sakit, penyakit dan orang yang menyakiti. Bom teroris bisa meledak di mana saja. Oleh karena wadah batin sudah seluas samudra, ia tidak menimbulkan penderitaan. Sebaliknya, bom teroris menjadi sumber air kasih sayang. Terutama karena kekerasan tidak lahir untuk membakar, namun kekerasan lahir untuk membangunkan kasih sayang.
Gede Parma, Motivator
Sumber: dari buku Cahaya Kedamaian, Gede Parma, Penerbit Karaniya, 2014
PRESIDEN Joko Widodo melukiskan sejumlah hal tentang sosok Kiai Haji Salahuddin Wahid alias Gus Sholah (77). Di mata Jokowi, Gus Sholah ialah cendekiawan Muslim. Adik kandung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Gus Sholah, putra pahlawan nasional KH Wahid Hasyim, adalah tokoh panutan semua umat beragama. Tak hanya Islam tetapi juga Katolik, Protestan, Hindu, Budha maupun Konghucu di Indonesia.
Jokowi, mantan
Walikota Solo menyebut Gus Sholah akan selalu dikenang sebagai tokoh yang gigih
menjaga dan merawat persatuan bangsa. Keislaman dan keindonesiaan ialah narasi
yang melekat dalam hati dan pikiran Gus Sholah, cucu HadratusSyaikh (Maha
Guru) Hasyim Asyari, kemudian beralih ke hati Jokowi. Narasi tentang kasih,
persahabatan, persaudaraan, dan kerjasama ini selalu disampaikan Kepala Negara
kepada warga negara sesama anak bangsa dari beragam latar suku, agama, ras, dan
antargolongan yang dipimpinnya.
Jauh sebelumnya,
terutama saat memimpin Kota Surakarta hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta
berpasangan dengan wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu
diserukan narasi-narasi teduh di atas. Seruan Jokowi itu ditujukan bagi warga
negara yang menyebar mulai dari Sabang di Nanggroe Aceh Darussalam hingga
Merauke di Papua; dari Miangas di Sulawesi Utara hingga Pulau Rote, Nusa
Tenggara Timur yang merindukan kedamaian.
Gus Sholah
adalah segelintir dari kiai, guru bangsa, tokoh umat beragama (tak hanya umat
Islam) di Indonesia. Sosok dan rekam jejaknya hadir penuh kharisma,
kerendah-hatian, keiklasan, persaudaraan bagi sesama anak bangsa. Berbagai gambaran
itu menjadi inspirasi bagi semua orang sekaligus meruntuhkan sekat-sekat
primordial atas nama pertumbuhan dan perkembangan sosial kemasyarakatan. Sebagai
seorang kiai, Gus Sholah telah menunaikan tugas dan perannya seperti juga para
gembala selaku pelayan Sabda dalam kehidupan menggereja, berbangsa, dan
bernegara. Mengapa?
Imbauan
Hierarki
Mencermati jejak
pengabdian selama ia masih berziarah di dunia, Gus Sholah tak sekadar seorang
kiai panutan yang mengurus umat Islam melalui karya sosial kemasyarakatan. Ia
juga menyampaikan atau mengajar tata hubungan manusia (umat) dengan Tuhannya (hablum minallah) dalam urusan ibadah (ubudiyah) tetap terpelihara dengan baik.
Berikut relasi
yang mengurus manusia dengan makluk lainnya (hablum minannas) dalam rupa amaliyah
sosial. Hal yang juga diumpai dari peran strategis para gembala atau
pemimpin Gereja dan kaum klerus dalam konteks keagamaan maupun kehidupan sosial
para domba, umat Allah, selaku warga negara.
Kerja keras Gus Sholah bagi umat Islam mewujud melalui Pesantren Tebuireng, taman pendidikan jumbo warisan sang ayah di Jombang yang sudah mendidik ribuan santri. Lulusan pesantren ini belakangan menjadi pemimpin bangsa dan negara. Kehadiran para pemimpin di semua level kepemimpinan yang lahir dari rahim pesantren di tengah dunia tak hanya dirasakan manfaatnya oleh umat Islam. Lebih dari itu, sungguh dirasakan pula umat beragama lain dalam kehidupan.
Sebagai kiai dan
ulama besar Indonesia, Gus Sholah juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan
universal tentang bagaimana umat Islam menjaga relasi yang harmonis dengan
Tuhan dan menjaga relasi yang akrab dengan sesama umat ciptaan-Nya. Pesan bagi
umat Islam menjaga relasi dengan Tuhan dan sesama ini tentu tak hanya menjadi
pedoman bagi umat Islam sendiri namun juga umat beragama lain. Sesuatu yang
juga ditemui dari ajaran dan nasehat pimpinan Gereja Katolik secara hierarki.
Menurut
Sekretaris Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Guido
Suprapto Pr dalam Kerasulan Politik:
Panggilan dan Perutusan Umat Katolik (2013), Gereja Katolik dalam diri kaum
awamnya dipanggil dan diutus terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan
politik.
Panggilan dan
perutusan yang paling relevan saat ini adalah mendorong pembangunan politik dan
tata dunia yang baik, beradab, dan bermoral. Menjadikan politik yang melayani
masyarakat dengan hati, kejujuran dan tanpa pamrih. Bidang sosial politik dapat
menjadi tempat merasul bagi kaum awam yakni membangun tatanan dan kiprah
politik yang bermoral demi terwujudnya kebaikan bersama (bonum commune).
Komitmen
Agama
Tentang komitmen institusi agama (Islam) para kiai sekelas Gus Sholah atau pemimpin agama-agama lain di Indonesia, kita bisa menyimak kembali catatan Tasirun Sulaiman merujuk pemikiran KH Hasyim Muzadi dalam KH A Hasyim Muzadi: Sang Peace Maker (2017), terkait Islam sebagai agama dengan populasi pengikut paling besar di Indonesia dan dunia.
Entitas Islam,
demikian kiai Hasyim Muzadi, sebagai rahmatan
lil’alamin (rahmat bagi semesta) mengakui eksistensi pluralitas
keberagaman, karena Islam memandang pluralitas keberagaman itu sebagai sunnatullah, yaitu fungsi pengujian
Allah kepada manusia, fakta sosial, rekayasa (social engineering), dan kemajuan umat manusia. Pluralitas sebagai sunnatullah diabadikan dalam Al-Qu’ran,
antara lain dalam surat Ar-Rum ayat 22 dan Al-Hujurat ayat 13. Ayat-ayat itu
menempatkan kemajemukan sebagai syarat determinan (conditiosinequanon)
dalam penciptaan makhluk.
Dalam diri Gus
Dur pun tak jauh berbeda. Perhatian dan komitmen memperjuangkan
persoalan-persoalan yang dihadapi umat yang notabene warga negara tak diragukan.
Mereka mengabdi umat hingga ajal menjemput; yang juga ditemui dalam sosok kiai
seperti Gus Sholah dan Ahmad Muzadi hingga para pemimpin agama-agama di luar
Islam seperti para klerus, gembala di lingkup Gereja. Gus Dur, misalnya, ia
punya kelebihan, bertutur dengan cerdas, cerdik bahkan kocak yang selalu
membuat setiap orang merasa terhibur.
Tokoh pers Jakob
Oetama dalam Gus Dur Menjawab Kegelisaan
Rakyat (2007) mengungkapkan bagaimana Gus Dur mengangkat
persoalan-persoalan yang menggerakkan perhatian banyak orang karena memang
aktual dipermasalahkan dan dirasakan. Pandangan dan pendapat Gus Dur cenderung
mencerminkan sikap dasarnya, seperti Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika,
Indonesia yang Pancasila, Indonesia yang beragama, Indonesia yang berperikemanusiaan,
yang berkeadilan sosial serta demokratis.
Bagi saya, baik
Gus Dur, Gus Sholah, kiai Muzadi, para pemimpin agama lain ibarat obor di
tengah kelam. Gus Sholah, juga tak lebih seperti seorang “gembala” dalam
terminologi Gereja. Selama hidup ia (Gus Sholah) bertaruh hati, tenaga, dan
pikiran “menggembalakan” seluruh umat atau kawanan domba-Nya agar berjalan
dengan panduan nilai-nilai agama dan kemanusiaan universal untuk kemaslahatan
bersama.
Gus Sholah juga ambil bagian dalam karya kemanusiaan universal agar dunia diliputi damai dan suka-cita melalui –salah satunya– Tebuireng, pesantren warisan sang kakek, Hasyim Asyari. Namun Gus Sholah tak lagi memendam rindu memenuhi panggilan Sang Sabda, Minggu, (2/2 2020) malam. Detak jantungnya berhenti di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.
Ia kembali ke
Tebuireng via bandara Halim Perdanakusuma setelah berpulang. Selamat jalan, Gus
Sholah. Selamat jalan, kiai berhati gembala. Teladan, semangat, dan cintamu kepada
sesama adalah warisan berharga yang tak akan mati dalam sanubari setiap anak
bangsa.
Ansel Deri, Staf Viktor Laiskodat di DPR RI, 2014-2017
Ketenagakerjaan
di NTT kini jadi perdebatan panjang dan
seolah menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua. Berbicara soal ketenagakerjaan
tentunya tidak bisa dipisahkan dengan sumber daya manusia. Jika dilihat dari
karakteristik lapangan kerja yang dualistik (formal maupun informal) menunjukan
tingkat pengangguran yang sangat tinggi juga kualitas tenaga kerja yang rendah.
Kualitas
tenaga kerja dicerminkan oleh tingkat pendidikan dan ketrampilan yang dimiliki
seseorang. Kualitas yang tinggi jika dipadukan dengan penggunaan teknologi yang
sesuai akan mengarah pada produktivitas yang tinggi pula. Dalam pasar tenaga
kerja di NTT sendiri, tingkat partisipasi angkatan kerja tidak cukup tinggi dan
berfluktuasi.
Pengangguran terjadi disebabkan antara lain karena jumlah
lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja serta kurang
efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Keadaan yang demikian
menyebabkan banyak penduduk NTT memilih untuk bekerja di sektor informal
dibandingkan sektor formal. Kondisi
rendahnya tingkat pendidikan dan keahlian angkatan kerja ini berpengaruh
terhadap lambatnya penyerapan tenaga kerja dari Sektor pertanian, kehutanan,
perkebunan dan perikanan ke sektor-sektor lainnya. Sebagian besar tenaga kerja
yang terserap hanya merupakan tenaga kerja informal dengan keahlian yang rendah.
Upaya pemerintah dan
masyarakat sudah banyak dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Namun belum
dapat menekan tingginya tingkat pengangguran. Rendahnya kualitas tenaga kerja
masih menjadi hal penting yang harus dibenahi. Keadaan ketidaksesuaian antara
kualifikasi pencari kerja dengan kualifikasi yang dibutuhkan penyedia kerja dan
rendahnya keahlian akan berdampak pada lambannya peningkatan produktivitas
kerja. Perusahaan mempunyai tujuan optimalisasi produksi sedangkan tenaga
kerjanya tidak dapat mendukung kebijakan perusahaan menyebabkan perusahaan
tidak dapat mengembangkan dirinya.
Pemerintah misalnya, perlu memberikan investasi di bidang pendidikan dan pelatihan guna peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Pemerintah harus lebih menekankan pencapaian di bidang pendidikan formal, sebab pendidikan dan pelatihan akan meningkatkan keterampilan pekerja, sehingga dapat meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan pula pendapatan pekerja.
Banyak hasil penelitian
yang menunjukkan hubungan korelasi yang positif antara tingkat pendidikan dengan
produktivitas kerja. Melalui data dari BPS menunjukkan ada hubungan yang
positif antara tingkat pendidikan pekerja dengan produktivitas yang
dihasilkannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula
produktivitasnya.
Selain peningkatan pendidikan dan keterampilan, pemberian kesempatan kerja juga perlu dilakukan agar pekerja dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam bekerja. Dengan kesempatan kerja yang terbuka luas, seseorang dapat menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya secara maksimal. Dengan demikian, rasa percaya diri dengan sendirinya akan tumbuh karena pengalaman kerja tersebut. Semakin tinggi pengalaman kerja maka tingkat keahliannya pun semakin baik. Dan pada akhirnya, meningkatkan produktivitas kerja.
TKW asal NTT
Kondisi ketenagakerjaan
di NTT masih sangat memprihatinkan, dilihat dari tingginya tingkat pengangguran
karena ketidaksesuaian tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan
perusahaan dan rendahnya upah akibat minimnya produktivitas.
Pendidikan dan
keterampilan merupakan human capital dalam pasar kerja, oleh
karena itu tenaga kerja di NTT perlu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya
melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan. Selain pendidikan dan
keterampilan, produktivitas tenaga kerja juga didukung oleh tingkat gizi dan
kesehatan, serta etos kerja. Dan secara teori di NTT sudah menyalahi aturan
yaitu salah satunya mereka mempunyai pekerja dibawah umur padahal anak – anak
dibawah umur itu seharusnya dibekali oleh ilmu pengetahuan dan keterampilan. Terbatasnya
kesempatan kerja membuat belum tertampungnya seluruh pencari kerja yang ada,
baik yang baru menyelesaikan pendidikan, pengangguran dan yang ingin bekerja
kembali.
Adapun rendahnya kualitas angkatan kerja terlihat dari sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada 2014 di mana tenaga kerja yang pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar masih dominan mencapai mencapai 46,9%. Berdasarkan pengalaman yang ditemui banyak tenaga kerja yang sekolah setinggi mungkin namun begitu tamat tidak bekerja dan pada akhirnya bekerja apa saja.
Faktor Ekonomi sebagai Imbas dari Masalah Ketenagakerjaan
Dari penjabaran di atas dapat ditarik benang merah antara ketenagakerjaan
dan perihal ekonomi. Karena keterbatasan sumber daya manusia sehingga orang
sulit mendapatkan pekerjaan, ditambah lagi dengan sempitnya lapangan pekerjaan
jika dibadingkan dengan pencari kerja. Ini berimbas pada kondisi ekonomi yang
buruk. Sementara kebutuhan sehari hari terus bertambah dan mengharuskan seorang
kepala keluarga harus bekerja. Dalam kondisi seperti ini tak jarang iming –
iming bekerja di luar negeri dengan gaji yang besar dapat menjadi solusi.
Hal ini sangat irasional karena orang cenderung memilih
pekerjaan yang kurang produktif dan tanpa perlindungan sosial dibandingkan
dengan pekerjaan yang produktif dan dengan jaminan sosial yang memadai. Hingga
tak jarang kita dengar banyak tenaga kerja Indonesia yang disiksa di luar
negeri. Terakhir kita menjemput TKI asal NTT yang diduga menjadi korban Human Trafficking. Ini jelas karena tingkat
penegetahuan yang masih sangat rendah ditambah beban dan kebutuhan hidup yang
mau tidak mau harus dipenuhi.
Naasnya adalah banyak calon TKI asal NTT yang nekat bekerja di luar negeri tanpa mengikuti alur secara prosedural karena terdesak oleh keadaan ekonomi. Meskipun ada variable-variable penyertanya seperti iming-iming mendapatkan uang dolar. Orang desa mana pernah lihat uang dolar. Inilah yang mendorong mereka nekat tanpa memperdulikan resiko yang akan diterima selama bekerja di luar negeri secara illegal. Karena itu pemerintah perlu bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama untuk memberikan pemahaman mengenai menjadi TKI dan tidak boleh tergiur dengan iming-iming para calo TKI yang memberikan janji janji manis tetapi setelah itu dibiarkan untuk menanggung resiko sendiri jika sudah terkena razia atau mengalami penyiksaan yang kejam oleh majikan seperti kisah kisah pilu yang akhir akhir ini sering kita dengar.
Inilah relitanya. Potret kasus Human Trafficking di NTT sungguh gawat. Berdasarkan laporan BP3TKI kupang menyajikan berita yang memilukan semua rakyat NTT. Putra putri daerag silih berganti menempati list kematian TKI/TKW di negeri orang. Dalam bulan pertama di tahun 2018 sudah terdapat 9 jenasah TKI asal NTT yang dipulangkan dari luar negeri. Masih ingat dengan Angelina Sau? Gadis kelahiran Oenino, Timor Tengah Selatan yang disiksa oleh majikan. Yah., singkat kata pergi dengan pesawat, pulang dengan peti.Berbicara soal NTT dengan kompleksitas persoalan membuat masyarakat NTT harus menggandeng sterotipe yang sangat beragam. Ada yang mengatakan NTT: Nasib Tergantung Tetangga, Nasib Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong. Setiap predikat ini disematkan ketika berkaca pada persoalan yang melilit masyarakat NTT. Kemiskinan, korupsi, Human Trafficking, degradasi moral dan lain sebagainya. Ini menjadi sebuah fenomena baru bagi Provinsi NTT yang kini memasuki usia 58 tahun.
Kasus Human
Trafficking diamini disebabkan oleh berbagai macam faktor dan kondisi serta
persoalan yang berbeda-beda. Tetapi dapat disimpulkan beberapa faktor, antara
lain: Pertama, kurangnya kesadaran ketika mencari pekerjaan
dengan tidak mengetahui bahaya trafficking
dan cara-cara yang dipakai untuk menipu atau menjebak korban. Kedua, kemiskinan telah memaksa banyak
orang untuk mencari pekerjaan ke mana saja, tanpa melihat risiko dari pekerjaan
tersebut. Ketiga, kultur/budaya yang
menempatkan posisi perempuan yang lemah dan juga posisi anak yang harus
menuruti kehendak orang tua dan juga perkawinan dini, diyakini menjadi salah satu
pemicu trafficking. Biasanya korban
terpaksa harus pergi mencari pekerjaan sampai ke luar negeri atau ke luar
daerah, karena tuntutan keluarga atau orangtua. Keempat, lemahnya pencatatan /dokumentasi kelahiran anak atau
penduduk sehingga sangat mudah untuk memalsukan data identitas. Kelima, lemahnya oknum-oknum aparat
penegak hukum dan pihak-pihak terkait dalam melakukan pengawalan terhadap
indikasi kasus-kasus trafficking.
Terlepas dari batas wilayah. NTT secara potensial yang
ada tidaklah pantas diurutkan sebagai salah satu provinsi termiskin di
Indonesia. Sebut saja potensi pertanian sebagai basis ekonomi dengan potensi
lahan basah 127.271 ha, potensi lahan kering 1.528.306 ha, padang untuk usaha
peternakan seluas 1.939.801 ha. Perarian laut yang diperkirakan seluas 200.00
km2 (80,86%) dari luas wilayah yang memiliki sumber daya hayati laut multi
spesies dengan potensi 240.000 ton/tahun belum termaksud nener 680.000.000
ekor/tahun. Potensi wisata diantarnya danau Kelimutu, kawasan wisata Komodo,
wisata bahari dan wisata budaya yang tidak bisa disebutkan satu per satu, juga
potensi tambang antaranya marmer, beji besi, batu aji, dan potensi tambang
lainnya. Ini belum dikalkulasi dengan modal sosial budaya yang berlimpah di
Flobamora ini (Isiodorus Lilijawa:267-268).
Kembali lagi, bahwa soal pendidikan dan pelatihan adalah
solusi terbaik untuk menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dengan SDM yang handal di bidangnya. Masyarakat
pesisir perlu dibekali dengan pengetahuan tentang perairan, masyarakat pegungungan
perlu dibekali dengan latihan berkebun, bercocok tanam dan beternak, dan
sedapat mungkin megusahakan segala aspek yang menunjang itu.
Pariwisata
Berbasis Lokal Menjaring Tenaga Kerja dan Percepatan Ekonomi?
Seperti yang diuraikan di atas. Sejarah geografis NTT memiliki sektor pariwisata yang tidak bisa dilihat sebelah mata. Sebut saja danau K elimutu, Taman Komodo, pantai Lasiana, pulau Padar, air terjun Oehala, pantai Nembrala, sawah Lodok, pulau Ruing, dan juga tradisi penagkapan ikan Paus Lamalera.
Penangkapan Ikan Paus di Lamalera
Untuk menunjang pariwisata, pemerintah perlu membenahi banyak hal seperti akses ke tempat wisata dan juga pemugaran pada objek – objek wisata yang sudah mulai terkikis zaman. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari peran masyarakat setempat. Masyarakat setempat haruslah menjadi pelaku pariwisata karena mereka lebih mengenal tempat dan juga budaya. Wisata penangkapan ikan Paus desa Lamalera, misalnya adalah sebuah objek wisata yang ramai dikunjungi. Tak hanya memiliki keunikan cara penangkapan ikan hanya dengan peledang (perahu yang dipakai oleh nelayan Lamalera untuk menangkap ikan Paus) tetapi lebih dari itu ada budaya dan historis juga agama di dalamnya. Hal ini yang menjadi ciri khas tersendiri yang menarik minat wisatawan untuk datang. Dan ini harus diceritakan atau dipromosikan keluar tidak hanya oleh pemerintah tapi juga masyarakat.
Salah satu obyek parawisata NTT, Labuan Bajo
Tentu banyak sekali objek wisata bisa dipakai untuk percepatan ekonomi kita. Pemerintah akhir akhir ini mencanagkan banyak sekali program pariwista. Ini tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat NTT. Bagaimana tidak NTT semakin dikenal di luar, karena alamnya yang masih perawan dan juga budaya adat istiadat serta kondisi sosial kultur yang unik, ini tidak hanya isapan jempol belaka. Masyarakat pun harus tanggap dengan program yang dicanangkan pemerintah. Masyarakat dituntut untuk kreatif dalam hal ini adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat .Secara tidak langsung bahwa pendidikan dan pelatihan kepariwisataan lokal perlu diberikan pada masyarakat setempat.
Danau Kelimutu, Ende, Flores
Dengan
keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata diharapkan dapat mengikis
perlahan angka pengangguran dan juga memperbaiki ekonomi masyarakat akar rumput
sehingga sejahtera mulai dari bawah untuk kokoh ke atas.
Helena Beraf,Peminat
Sastra, Penulis Opini, sedang menyelesaiakn studi kebidanan di Jakarta
Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer dua sosok pribadi; yang
satu hidup di dunia kemegahan uang, dan yang satu lagi seniman besar yang hidup
di dunia ide. Usaha untuk membuat keduanya bertemu tampaknya merupakan sesuatu
yang mustahil.
Jika kita hanya melihatnya sepintas lalu, akan segera jelas bahwa Mark, seorang bankir, dan Pram, sastrawan terkemuka, niscaya tidak bakal cocok satu dengan lainnya. Keduanya mungkin memang tidak bisa bertemu secara hangat untuk berbicara tentang hidup.
Mark Hanusz
Seorang bankir kerjanya ‘membuat uang’, sastrawan bekerja di
bidang nilai-nilai, dalam worldview,
dalam sikap dan tingkah laku manusia maupun dalam renungan filsafat tentang
keadialan, kemanusiaan dan estetika yang sangat jauh dari bank dan uang. Di
bank, uang paling berharga.
Bank itu rumah uang. Di dalamnya hanya ada uang dan uang.
Manusia ada untuk melipatgandakannya. Sekali lagi, di bank, uanglah yang paling
berharga dan paling dimuliakan oleh manusia.
Dunia Pram tidak ada hubungannya dengan bank. Mungkin Pram
mengutuk bank dalam keadaan darurat sedang membutuhkan uang, tapi bank tidak
begitu tertarik untuk memberinya pinjaman yang mengandung tuntutan kekeluargaan
dan menimbang rasa kemanusiaan.
Kemanusiaan yang adil dan beradab boleh diteriakan seribu
kali dalam hanya satu jam, tetapi boleh jadi bank tak tergiur untuk
mendengarkannya. Dalam kamus dunia perbankan, kata kemanusiaan tidak ada. Rumah
uang, ya rumah uang. Dia bukan rumah kemanusiaan.
Kita tahu, bank bekerja dengan mekanisme bisnis yang serba
ketat, jauh dari apa yang namanya filsafat keadilan, kemanusiaan, mapun
keindahan. Namun Mark melepas semua atribut yang ada pada dirinya. Kemudian ia
tampil sebagai peneliti yang berkutat dengan wawancara, melakukan pengamatan
secara jeli dan menginterpretasi suatu fenomena sebagai bagian dari data yang
dihimpunnya. Ia pun berbicara tentang tembakau, tentang produk olahannya, dan
aroma cengkeh yang semerbak – ada hangat ada pedas – dan menghubungkannya
dengan warisan kebudayaan Indonesia. Dari situ, pelan-pelan Mark dan Pram
tersambung oleh semangat dan jiwa penulis.
Ketika pembicaraan jauh dari urusan uang – sesuatu yang asing
baginya – Pram akan bisa melayaninya semalam suntuk. Lebih-lebih kalau Mark
membawakannya oleh-oleh berupa beberapa bungkus kretek kesukannya.
Kita sedang berbicara tentang Mark yang menulis buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes, buku terbaik di bidang tersebut hingga saat ini. Majalah Time menyanjungnya dengan ungkapan bahwa Mark menampilkan uraian hingga ke tingkat detail dan teliti mengenai industri yang sudah berusia 120 tahun itu, didukung oleh ilustrasi yang so beautiful, so interesting.
Buku KRETEK: THE CULTURE AND HERITAGE OF INDONESIA’S CLOVE CIGARETTES, Karya Mark Hanusz
Patut ditambahkan pula disini bahwa hingga hari ini buku Mark
tadi belum ada tandingannya. Karya yang setara saja belum ada. Apalagi yang
membandingi kesungguhannya.
Apa yang dianggap penting dari tulisan Mark menurut kalangan
muda yang bergerak dalam komunitas-komunitas pembela tembakau? Mungkin ini:
kretek bukan hanya sekedar rokok yang bersifat eksotis maupun fenomena ekonomi
belaka. Baginya, kretek merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan
Indonesia, sebagaimana dikutip di awal tulisan ini.
Kretek merupakan bagian dari keluhuran budaya Indonesia. Inilah pesona Indonesia, atau pesona dari Timur, kehangatan dan aroma wangi cengkeh, yang membuat bangsa-bangsa Barat berdatangan, berkelahi, baku bunuh di sini, dan kemudian pelan-pelan menaklukan kita. Abad ke-16 adalah abad yang ditandai dengan modernitas, kemajuan dan pencerahan. Tapi apa yang maju di Eropa, kata Pram dalam novelnya Bumi Manusia, hanya berlaku di Eropa. Orang-orang yang hidup berkemajuan itu tak memberi kita perlakuan dengan rasa hormat.
Dalam diskusi seperti ini, Mark dan Pram jelas satu semangat
satu jiwa, ibaratnya takkan terpisahkan satu dari yang lain. Dalam buku Mark
itu ditulis: “With a foreword by
Pramoedya Ananta Toer”. Terbit tahun 2003, ketika nama Pram sudah melejit
setinggi langit. Namanya terukir megah di tingkat dunia.
Dalam buku Mark itu Pram berbicara tentang masa kecilnya,
tentang kretek, dan pasar malam. Usianya masih 13 tahun, ketika ayahnya menganggap Pram bodoh dan tak
boleh meneruskan sekolah. Maka Pram membuka warung kretek. Dengan kata lain,
Pram dihukum ayahnya, lalu berjualan kretek. Persis seperti Roro Mendut yang
dikenai hukuman Tumenggung Wiroguno dari Mataram, dan kemudian membuka warung
rokok yang menjadi bisnis sukses.
Selama setahun itu Pram meraih sukses pula. Kita tidak tahu darimana
darah bisnis yang mengalir di tubuhnya. Dia melayani para pelanggan, termasuk
pamnnya sendiri, yang membeli kreteknya dengan cara kredit. Harga kretek
dibayar pelan-pelan di kemudian hari. Ini potret ekonomi rakyat yang sangat
tulen.
Hukumnya bukan bisnis adalah bisnis. Juga bukan ungkapan bahwa bisnis tak mengenal saudara. Namun bisnis itu tolong-menolong. Semangat itu terbukti membuat dia sukses. Namun anak adalah anak. Sambil berlatih bisnis, Pram juga bermain gambar, atau disebut ‘adu gambar’, seperti layknya mainan anak-anak yang baru tumbuh.
Pramoedya Ananta Toer
Tak diragukan, dia sendiri perokok berat, sampai akhir
hayatnya, dalam usia sekitar 86 tahun, kegemaran merokok tak dihentikannya. Dia
mengetik sambil merokok. Ke belakang pun merokok. Juga ketika duduk tenang
sambil mengembangkan ispirasi untuk menulis. Pram dan rokok adalah dua entitas
yang menjadi satu dan saling mendukung.
Mark menulis buku kretek dan memberinya sanjungan yang
melambung ke dunia ide, tentang budaya Indonesia. Pram merokok untuk menanti
datangnya inspirasi dan mengejar ide.
***
*Mohamad Sobary, budayawan, penulis beberapa buku
diantaranya: Semar Gugat di Temanggung,
Makamkan Dirimu di Tanah Tak Dikenal, Kidung, Kisah Karna dan Dendam Kita, Mark
Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer, Kang Sejo Melihat Tuhan, Demokrasi ala Tukang
Copet, Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung.
*Sumber Tulisan buku Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer, Mohamad Sobary, Kepustakaan Populer
Gramedia, 2016.
PEKAN
lalu sebanyak 25 calon anggota DPRD Dogiyai terpilih dilantik secara resmi oleh
Ketua Pengadilan Negeri Nabire Ernest Jannes Ulaen. Pelantikan tersebut sesuai
Surat Keputusan Gubernur Papua Nomor 155.2/407 tahun 2029 tentang Peresmian
Keanggotaan DPRD Dogiyai periode 2019-2024. Prosesi pelantikan berlangsung
semarak dalam acara bertajuk, Pengambilan Sumpah dan Janji Anggota DPRD Dogiyai
di Aula Maranatha Malompo, Nabire, Kamis (23/1 2020). Para wakil rakyat ini
akan mengemban tugas kurun waktu 2019-2024 memajukan rakyat dan tanah Dogiyai.
Pelantikan
ini membawa harapan pemerintah dan warga masyarakat setelah sekian lama Dogiyai
vakum tak memiliki DPRD sebagai insitusi formal rakyat dalam ikut merencanakan
arah kebijakan (politik) pembangunan bersama Bupati-Wakil Bupati beserta
eksekutif. Anggota DPRD terlantik yang merupakan perpanjangan tangan partai
secara kelembagaan di DPRD setempat dituntut pula tanggungjawab politik mereka
bersama pemerintah dan rakyat memajukan daerah agar lebih sejahtera, aman, dan
damai sesuai visi-misi ‘Dogiyai Bahagia’ Bupati Yakobus Dumupa-Wakil Bupati
Oscar Makai. Ketua DPRD Yeskel Anou bersama rekan-rekannya akan bergandengan
tangan bersama pemerintah dan masyarakat, dituntut bekerja keras memajukan
daerahnya.
Bupati
Yakobus atas nama masyarakat dan pemerintah menyampaikan selamat kepada para
anggota DPRD yang baru saja dilantik. Ungkapan Bupati Dumupa, hemat saya
menarik. Ia menyebutnya dalam frasa, “Selamat menjadi pejabat Negara dan
pelayan rakyat Kabupaten Dogiyai”. Pelayan rakyat mengandaikan wakil rakyat
adalah “anak buah” dari “bos” bernama rakyat. Wakil rakyat adalah pengemban
mandat politik, penerus suara kaum tak bersuara (voice of voiceless)
sehingga wakil rakyat perlu terus-menerus diawasi agar mereka setia menyadari
esensi politik sebagai media pelayanan, kerasulan politik. Mengapa Bupati
Dumupa perlu mengemukakan term “pelayan rakyat” bagi para wakil rakyat
yang baru dilantik dalam konteks pembangunan Dogiyai?
Esensi Politik
Proses
pelantikan anggota DPRD Dogiyai tentu memiliki makna strategis. Tentu tak
sebatas dalam pemahaman tiga tugas dan fungsi wakil rakyat yaitu legislasi,
anggaran (budgetting), dan pengawasan (controlling) dalam setiap
kebijakan (politik) pembangunan. Namun, lebih dari itu, para wakil rakyat
(semisal Dogiyai) yang merupakan perpanjangan tangan partai politik perlu
memahami arti dan makna esensial politik yang bermuara pada kepentingan dan
kebaikan rakyat (bonum commune).
Peneliti Veri Junaidi dkk (2011) menyebutkan, jauh sebelum merdeka Indonesia sudah mengenal partai politik. Pada zaman kolonial, para tokoh pergerakan menggunakan partai sebagai alat atau sarana perjuangan politik. Karena itu, Wakil Presiden Mohamad Hatta mengeluarkan Maklumat X pada Oktober 1945, partai-partai politik yang sempat tiarap pada zaman Jepang, bangkit kembali. Perang kurun waktu 1945-1949 tak menyurutkan konsolidasi masing-masing partai politik sehingga tatkala masa perang berakhir, melalui para kadernya partai siap berkompetisi merebut dukungan politik melalui Pemilu untuk menjadi –meminjam istilah Bupati Yakobus Dumupa– pelayan rakyat.
Foto Buku SAKRAMEN POLITIK, Karya Eddy Kristiyanto
Dalam Sakramen Politik (Lamalera, 2008), Eddy Kristiyanto, guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta memandang perlu agar setiap politisi memahami makna dan esensi politik. Bukan dalam artian sempit, strictosensu melainkan dalam arti luas, largo sensu yakni arti utama dan sesungguhnya dari politik.
“Jiwa”
politik dan memoria itu paling jelas terbaca bukan pada tataran wacana (discourse),
bukan tingkat verbal dan kognitif, melainkan pada kemungkinan yang diciptakan
oleh masing-masing pribadi dalam kebersamaan untuk menjadi semakin manusiawi (human),
seraya hidup dalam suatu lingkungan yang ramah (hospitable) terhadap
sesama, di mana keadilan, bela rasa penuh cinta (compassion), dan
pemeliharaan hidup diutamakan.
Maka
dari itu pembicaraan tentang politik dan memoria menyangkut harkat hidup kita
semua sebagai manusia. Inilah salah satu makna terdalam manusia di hadapan
Hyang Widi. Kiranya, Ia tidak pertama-tama melihat agama, ras, golongan etnis,
tingkatan sosial apa yang melatarbelakangi kita, melainkan “apa nilai manusia“
di hadapan-Nya. Semua hal kemudian menjadi sangat relatif jika diperhadapkan
pada Sang Absolut Sejati.
Pekerjaan Berat
Sebanyak 25 orang yang baru dilantik guna mengemban mandat sebagai wakil rakyat di DPRD Dogiyai, orang-orang pilihan yang datang dari honai rakyat sendiri. Mereka juga tentu tahu anatomi Dogiyai sebagai sebuah daerah otonom 12 tahun lalu. Komplet dengan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan tantangan yang sudah dan tengah dihadapi oleh Bupati, Wakil Bupati dan jajaran pemerintah serta masyarakat.
Foto: Moanemani – Ibu Kota Kabupaten Dogiyai
Sekadar
mengingatkan kembali. Dogiyai adalah sebuah kabupaten yang dari segi usia masih
tergolong muda. Tahun 2008, Dogiyai mekar bersama 16 daerah otonom baru lainnya
di seluruh tanah Papua. Luas wilayahnya sebesar 4.237,4 km persegi meliputi
sepuluh distrik (kecamatan) dan 79 kampung (desa). Sebagai kabupaten dengan
wilayah yang sangat luas, Dogiyai menyimpan beragam potensi unggulan di sektor
pertanian dan peternakan, Luas areal tanaman perkebunan tahun 2016, misalnya,
sebesar 253 hektar dengan produksi sebesar 2.464 ton.
Meski
demikian, menurut Yakobus Dumupa dalam Desa Kuat Negara Berdaulat
(2019), secara umum kehidupan masyarakat masih dibayangi kemiskinan dominan.
Rumah sebagian besar warga sangat sederhana, tidak dilengkapi dengan sanitasi
dan akses air bersih untuk konsumsi atau kebutuhan lain. Banyak keluarga tidak
memiliki jamban (WC) yang layatk dan sehat. Kebutuhan air untuk mandi dan cuci
masih mengandalkan sungai atau kali.
Di
kampung-kampung yang jauh dari sungai, penduduk mengandalkan air hujan yang
mereka tampung. Setidaknya ada 50 kampung yang sulit mengakses air bersih. Di
beberapa kampung —tidak lebih dari 15 kampung— pemerintah sudah membangun
instalasi air bersih untuk umum. Biasanya masyarakat mengambil air di pancuran
yang bersumber dari mata air untuk kebutuhan sehari-hari dan mencuci busana.
Gambaran sekilas Dogiyai dengan potensi dan tantangan yang melingkupnya di atas menuntut kerja politik para wakil rakyat bersama eksekutif dan masyarakat berpijak pada esensi dan makna politik paling hakiki yaitu media pelayanan. Menjadikan politik sebagai media pelayanan adalah sesuatu yang dirindukan rakyat tatkala mereka disambangi di musim kampanye. Nah, pascapelantikan anggota DPRD Dogiyai di Aula Maranatha Malompo, Nabire, pekan lalu ada asa yang tengah dirindukan rakyat di tangan 25 orang wakilnya bersama Bupati Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oscar Makai bersama para pemangku kepentingan lokal menggapai Dogiyai Bahagia.
Dunia yang semakin rumit. Ini potret zaman ini. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi tidak berhasil membuat komplesitas permasalahan di
segala bidang menurun. Sebaliknya di segala bidang muncul kerumitan-kerumitan
yang semakin rumit. Di tengah kelangkaan jalan keluar, biasanya manusia
menunggu datangnya keajaiban. Kebanyakan manusia mengira, keajaiban datang dari
langit, lupa bahwa keajaiban yang paling ajaib datang dari dalam hati, muncul
dalam keseharian yang penuh kasih sayang.
Kesembuhan
Keajaiban kasih sayang yang pertama, muncul dalam bentuk kesembuhan. Dulunya, kasih sayang
menyembuhkan hanya cerita di dunia spiritual. Sekarang, berlimpah riset yang
mendukung penemuan ini. Salah satu riset yang paling sering dikutip dalam hal
ini, adalah dua kelompok mahasiswa yang diminta menonton dua film berbeda. Kedua
kelompok mahasiswa ini diambil air liurnya sebelum dan sesudah menonton film
untuk untuk melihat kekebalan tubuh mereka. Hasilnya sangat menyentuh, kelompok
mahasiswa yang menonton film Bunda Teresa kekebalan tubuhnya jauh lebih baik
dibandingkan dengan yang menonton film biasa.
Sejumlah yogi Tibet dimasukan ke dalam mesin MRI, kemudian
diminta memeditasikan kasih sayang. Hasilnya terang sekali, gerakan neural di
bagian otak tempat berfungsinya kesembuhan menaik drastis sekali. Seorang
sahabat dekat yang ceritanya bisa dipercaya sepenuhnya menggunakan tubuhnya
sendiri untuk mengecek kebenaran bahwa kasih sayang dapat menyembuhkan. Tatkala
melakukan meditasi pribadi, sore harinya memberikan kesempatan kepada banyak
sekali nyamuk-sebagian nyamuknya berwarna hitam putih yang kerap disebut
sebagai sumber penyakit demam berdarah-untuk meminum darahnya. Tentu saja
dilakukan dengan spirit kasih sayang mendalam. Akibatnya tubuhnya tentu saja
merah di sana-sini. Tapi setelah bertahun-tahun, tidak ada tanda-tanda ia terkena penyakit demam
berdarah.
Daftar contoh dan bukti bisa diperpanjang tentu saja. Tapi di
tengah mahalnya harga obat, tidak terjangkaunya biaya rumah sakit, tidak
tersentuhnya masyarakat miskin oleh bantuan pemerintah, layak kita renungkan
melindungi kesehatan tubuh dengan kasih sayang mendalam.
Kedamaian
Keajaiban kasih sayang yang kedua, ia sangat mendamaikan. Salah satu Guru yang meditasinya damai sekali bernama Ramana Maharshi. Berkali-kali muridnya menemukan, di dekat beliau, meditasi atau mengajar, tidak saja manusia damai, bahkan binatang liar seperti ularpun damai. Nelson Mandela adalah contoh lain. Beliau tidak saja dirasakan damai oleh sahabat dan keluarga, tapi juga terasa damai di hati musuh-musuhnya. Jalalludin Rumi adalah salah satu tokoh sufi yang damai sekali. Vibrasi kedamainnya bahkan dirasakan jauh di luar komunitas muslim, melampaui waktu hidupnya di abad empat belas. Ketiga tokoh ini memang lahir dari agama yang berbeda. Tetapi ketiganya memiliki satu kesamaan, yakni hati yang penuh dengan kasih sayang.
Salah satu logika yang bisa menjelaskan hal ini adalah cerita
ketika dua orang bertemu anjing. Orang pertama damai sekaligus penuh kasih
sayang. Orang kedua adalah orang biasa. Setelah lewat di depan anjing, hanya orang
kedua yang digonggong anjing. Ini bisa terjadi karena ketakutan berlebihan
membuat tubuh manusia menghasilkan adrenalin. Dan adrenalin ini yang dicium
oleh anjing sehingga menggonggong juga karena ketakutan.
Indahnya kasih sayang mendalam, tidak saja membuat tubuh
manusia tidak memproduksi adrenalin, juga menjadi jembatan bagi pengalaman
kebersatuan. Di tingkat kebersatuan, diri kecil (tubuh, perasaan, persepsi,
formasi mental, pikiran dualistik) lebur menyatu dengan Diri Agung. Di tingkat
ini alam kecil dan alam besar terhubung rapi. Sehabis ini, tidak ada hal lain
yang tersisa kecuali damai.
Kesempurnaan
Dengan modal kedamaian menawan, kasih sayang bisa mengantar
manusia ke tangga keajaiban yang ketiga
yakni kesempurnaan. Di tingkat kesembuhan dan kedamaian berlimpah logika dan
penelitian yang tersedia sebagai bahan penjelasan. Di tingkat kesempurnaan,
semua bahasa dan logika manusia menjadi tangga yang tidak cukup tinggi untuk
menjangkau. Itu sebabnya, orang suci yang sudah sampai di sini semuanya
menggunakan bahasa puitik.
Salah satu Guru suci pernah berpesan seperti ini: “Awalnya
suka cita. Di tengah suka cita. Di akhir juga sukacita”. Di tingkat
kesempurnaan, semua dilihat dan diperlakukan dengan suka cita sehingga
kehidupan tidak punya wajah lain selain suka cita. Bedanya suka cita di tingkat
kesempurnaan dengan suka cita orang biasa, suka cita di tingkat kesempurnaan
menjadi ibu bagi lahirnya bayi indah bernama kasih sayang. Makanya, salah satu
arti buku suci adalah kerinduan mendalam akan kasih sayang (a crying for compassion).
Dengan kata lain buku suci lahir dari kerinduan mendalam akan kasih sayang. Ia serupa seorang ibu yang rindu akan anak-anaknya, sekaligus dengan tangan mendekap untuk menenangkan sekaligus menyelamatkan. Itu sebabnya, di banyak tradisi disarankan menghormati buku suci sebaik manusia menghormati ibu kandungnya.
Menitipkan Masa Depan
Kembali ke cerita awal tentang kerumitan meningkat di mana-mana, salah satu sebab dominannya karena dunia tanpa pemimpin. Sulit menyangkal, zaman ini sangat mengagumi Mahatma Gandhi, Nelason Mandela, Bunda Teresa, Dalai Lama. Dan yang serupa dari tokoh-tokoh ini sederhana, semuanya berpengaruh karena kedalaman kasih sayang. Dalam studi mendalam tentang kepemimpinan, sudah lama ditemukan bahwa intisari kepemimpinan terletak pada kemampuan ‘memengaruhi’. Dan kemampuan memengaruhi sangat ditentukan oleh seberapa indah hati seseorang dihiasi oleh kasih sayang. Kepada orang-orang semacam inilah masa depan akan dititipkan.
***
*Gede Prama, adalah seorang pencinta kedamaian, motivator.
*Sumber Tulisan: Buku Cahaya Kedamaian,Gede Prama, Penerbit
Karania, 2014.
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) meminta kepada seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Provinsi NTT untuk mendukung dua program nasional yang ada di Provinsi NTT. “Saya minta kita semua dukung Program Nasional yang ada di NTT yakni Sensus Penduduk tahun 2020 dan Pemilihan Kepala Daerah di sembilan kabupaten yang ada di NTT,” tandas Gubernur VBL saat memimpin apel bersama di halaman gedung Sasando Kantor Gubernur di Jalan El El Tari 52 Kupang, Senin (03/02/2020). Ikut hadir Wagub NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM, Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Ben Polo Maing, dan seluruh pimpinan perangkat daerah lingkup Pemprov NTT serta ratusan ASN juga sejumlah ASN yang akan memasuki masa purna tugas diantaranya Drs. Sinun Petrus Manuk (mantan Kadis PMD NTT), Dra. Sisilia Sona (mantan Kadis Kop, Nakertrans NTT, dan Karo Umum Drs. Hali Lanan Elias). Data Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT menyebutkan ada 125 ASN yang purna tugas terhitung Januari sampai dengan Maret 2020 yang terdiri dari golongan IV sebanyak 53 orang, golongan III sebanyak 64 orang, golongan II sebanyak 7 orang dan golongan I sebanyak 1 orang. Sensus Penduduk, sebut Gubernur VBL harus didukung agar bisa diketahui populasi penduduk baik di Indonesia maupun di Provinsi NTT. “Kita harus terlibat secara aktif. Sehingga kita tahu populasi penduduk di NTT maupun di Indonesia. Sekarang populasi penduduk di dunia sebanyak 7,7 miliar orang,” ucap Gubernur VBL.
ASN Harus Netral Pada bagian lain arahannya,
Gubernur VBL meminta kepada seluruh jajaran ASN untuk bersikap netral dalam
menyikapi konstelasi Pilkada di sembilan kabupaten di NTT. “ASN harus
netral,” tegas Gubernur dan menambahkan, “memang tadi pagi saya baca
di media ada tiga daerah yang dikategorikan merah atau rawan.” Sebagaimana
diketahui sembilan kabupaten yang melaksanakan Pilkada antara lain : Malaka,
Belu, TTU, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Sabu Raijua, Sumba Timur dan
Sumba Barat. Sedangkan tiga daerah yang dianggap rawan sesuai catatan pihak
kepolisian antara lain : TTU, Manggarai dan Sumba Barat. (*) Valeri
Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda
Provinsi NTT.