Blog

  • BUPATI DOGIYAI RESPON PERISTIWA EKIMANI

    BUPATI DOGIYAI RESPON PERISTIWA EKIMANI

    Berandanegeri.com, BUPATI Kabupaten Dogiyai, Papua, Yakobus Dumupa, S.IP merespon peristiwa kecelakaan lalu lintas dan pengeroyokan yang terjadi pada Minggu, 23 Februari 2020, di Kampung Ekimani, Distrik Kamu Utara, Kabupaten Dogiyai. Insiden tersebut menyebabkan pengendara motor, DEMIANUS MOTE (37 tahun), warga Kabupaten Dogiyai, dan sopir truk YUS YUNUS (27 tahun) warga Polewali Madar, Sulawesi Barat meninggal dunia.

    Kejadian ini telah menjadi viral dan mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Berkaitan dengan itu dan dalam rangka untuk menyelesaikan masalah ini secara baik, jujur dan adil, saya selaku Bupati Dogiyai menyampaikan beberapa hal agar masyarakat luas tahu duduk soalnya,” kata Bupati Dogiyai dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat 28 Februari 2020.

    Berikut beberapa poin yang disampaikan Bupati Yakobus Dumupa:

    (1) Pemerintah Kabupaten Dogiyai atas nama PARA PELAKU pengeroyokan dan pembunuhan serta seluruh masyarakat Kabupaten Dogiyai menyampaikan TURUT BERDUKA CITA dan PERMOHONAN MAAF yang sebesar-besarnya kepada pihak KORBAN almarhum YUS YUNUS dan keluarganya dan kepada seluruh warga Polewali Mandar dan warga Sulawesi yang berada di Polewali Mandar, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Nabire dan dimanapun berada. Kami berdoa semoga arwahnya diterima oleh ALLAH, Tuhan Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkannya diberi penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup ini. Dan kami berharap semoga permohonan maaf kami dari lubuk hati yang terdalam ini dapat diterima.

    (2) Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga menyampaikan TURUT BERDUKA CITA atas meninggalnya almarhum DEMIANUS MOTE. Semoga arwahnya diterima oleh ALLAH, Tuhan Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkannya diberi penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup ini.

    (3) Perlu diklarifikasi dan dipertegas mengenai satu hal yang simpang siur dan tidak benar, bahwa pengeyorokan dan pebunuhan terhadap sopir YUS YUNUS bukan sebagai upaya balas dendam atas kematian BABI, karena para pelaku yang melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap YUS YUNUS tidak mempersoalkan kematian babi. Tetapi hal ini karena tersulut emosi melihat kematian DEMIANUS MOTE yang DICURIGAI ditabrak oleh truk. Sehingga diharapkan untuk tidak mengembangkan dan menyebarluarkan isu seolah-olah nyawa babi dibalas dengan nyawa manusia. Sekali lagi saya pertegas bahwa ini tidak benar!

    (4) Beberapa pihak mempunyai pemahaman dan kronologis yang berbeda-beda mengenai masalah ini, dan perbedaan itu menyebabkan tanggapan yang berbeda-beda pula. Untuk itu, agar masalah tidak menjadi simpang siur dan agar menjadi terang-benderang sesuai dengan kejadian yang sesungguhnya, maka kami mempercayakan pihak berwajib (kepolisian) untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah ini. Dan diharapkan hasil penyelidikan secara baik dan benar itulah yang perlu dipercayai.

    (5) Pemerintah Kabupaten Dogiyai tidak mengharapkan masalah ini membesar, meluas dan menyimpang dari kejadian yang sebenarnya. Perlu dipahami bersama bahwa masalah ini tidak ada kaitan dengan kepentingan politik, rasisme, agama, suku, kepulauan dan lainnya. Dan juga ini bukan masalah antara orang Dogiyai dengan orang Polewali Mandar atau masalah antara orang Papua dan orang non-Papua. Masalah ini murni kecelakaan lalu lintas dan kriminal. Karena itu dimohon untuk tidak mengaitkan masalah kecelakaan lalu lintas dan kriminal ini dengan masalah politik, rasisme, agama, suku, kepulauan, dan lainnya.

    (6) Pemerintah Dogiyai MEMOHON semua pihak, terutama pihak korban dan pelaku untuk MENAHAN DIRI dan TIDAK MELAKUKAN AKSI BALAS DENDAM atas permasalahan ini. Semua pihak harus menyerahkan penyelesaian masalah ini melalui proses hukum.

    (7) Pemerintah Kabupaten Dogiyai mendukung seluruh proses penyelidikan terhadap masalah ini, yang sedang dilakukan oleh pihak berwajibn (POLSEK Kamu, POLRES Nabire dan POLDA Papua). Diharapkan kepada semua pihak juga untuk mendukung proses hukum ini. Demikian pernyataan yang dapat kami sampaikan dengan maksud agar masalah ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya.

  • Kepala Daerah Harus Sediakan Kebutuhan Bacaan  hingga ke Tingkat Desa

    Kepala Daerah Harus Sediakan Kebutuhan Bacaan hingga ke Tingkat Desa

    BANDARANEGERI.COM,-  Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prof. H. M. Tito Karnavian, Ph.D., mendorong kepala daerah untuk menyediakan kebutuhan bahan bacaan bagi penduduknya dan  membangun perpustakaan hingga ke tingkat desa. 

    Mendagri mengatakan hal itu saat membuka Rakornas Perpustakaan Nasional 2020 yang bertajuk “Inovasi dan Kreativitas Pustakawan Dalam Penguatan Budaya Literasi Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju” di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (25/02).

    Menurut Mendagri, kunci untuk memunculkan sumber daya yang unggul, selain faktor kesehatan, SDM unggul juga harus terdidik dan terlatih. Semakin banyak bahan bacaan tersedia, maka makin terbuka inovasi yang bisa dihasilkan, mengembangkan ide, dan juga opsi-opsi sehingga mampu menghasilkan keputusan yang cepat.

    “Saya meminta kepada Kepala Daerah baik yang di Provinsi, Kabupaten/Kota agar pertama membuat dinas perpustakaan, yang kedua menganggarkannya, kemudian mendorong juga pembangunan perpustakan di kecamatan-kecamatan. Nggak usah besar-besar, tetapi sesuai dengan kebutuhan masyarakat di situ, untuk desa juga sama,” kata Mendagri.

    Menurut Mendagri, besarnya dana desa yang dikucurkan Pemerintah Pusat kepada rekening kas desa juga dapat dimanfaatkan untuk membuat perpustakaan yang dapat mendorong literasi masyarakat setempat.

    “Dengan adanya dana desa, saya koordinasikan dengan Kemendes agar dapat digunakan juga untuk membangun perpustakaan mini tiap desa, tidak perlu besar-besar tetapi buku-buku yang ada, kemudian bahan koleksi yang ada di situ yang kira-kira bisa dikonsumsi informasinya oleh masyarakat untuk mengembangkan inovasi mereka untuk membangun daerahnya,” ujarnya.

    Tak hanya itu, sebagai Kementerian yang memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan di daerah, pihaknya akan membuat surat edaran untuk mendorong adanya dinas perpustakaan di daerah.

    “Saya akan membuat Peraturan Mendagri termasuk surat edaran, bagaimna untuk membentuk organisasi atau lembaga dinas perpustakaan. Yang kedua adalah mereview APBD-nya supaya APBD-nya juga menganggarkan, setelah itu melakukan pengawasan melalui inspektorat. Ini semua kalau semua Provinsi, Kabupaten/Kota sampai ke Desa akses untuk perpustakaan ini  ada, maka akan mendongkrak minat baca juga,” ujarnya.

    Dana Desa

    Staf Ahli Menteri Bidang Pengembangan Wilayah, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Conrad Hendrarto mengatakan berdasarkan Peraturan Menteri Desa PDTT No. 11 Tahun 2019, dana desa yang dikucurkan pemerintah tiap tahunnya ke rekening kas desa, dapat dialokasikan untuk pembangunan perpustakaan desa dan pengadaan bahan baca.

    ”Di kota bahan bacaan banyak tersedia, berbeda dengan di desa yang akses untuk mendapatkan buku terbatas sehingga diperlukan adanya perpustakaan desa. Keberadaan perpustakaan desa dapat dimanfaatkan masyarakat dalam mengembangkan inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan,” tutur Conrad dalam paparannya pada Rakornas Bidang Perpustakaan, Selasa (25/2).

    Lebih lanjut, Conrad menjelaskan, ada enam langkah memberdayakan perpustakaan desa. Diantaranya, melakukan analisa potensi desa, pembagian peran dan pengolahan kinerja penggiat literasi desa, peningkatan peran desa dalam perpustakaan desa sesuai dengan kewenangannya, serta integrasi kegiatan pendampingan di tingkat desa untuk kegiatan literasi.

    “Kita harus mengetahui apa potensi desa, agar dapat memberikan buku-buku yang sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat. Hingga tahun 2019, sebanyak 1.201 unit perpustakaan sudah dibangun dengan menggunakan dana desa,” lanjutnya.

    Rakornas Perpusnas Tahun 2020 mengambil tema ‘Inovasi dan Kreativitas Pustakawan dalam Penguatan Indeks Literasi untuk Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju’, diikuti sekurangnya 2000 pemangku kepentingan baik dari pemerintah pusat, daerah maupun pengiat dunia literasi dan perpustakaan di Indonesia. Rapat koordinasi diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dan sinkronisasi program untuk peningkatan indeks literasi di Indonesia. (che)

  • Larantuka, Dari Dulu Sudah Jadi  Perhatian

    Larantuka, Dari Dulu Sudah Jadi Perhatian

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com akan menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 ini hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Artikel Rabu 26 Februari 2020 berjudul : “Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka”. Semoga berguna.

    Penulis: Benjamin Tukan

    Di hadapan saya terlihat laut biru. Serta berbagai pulau, yaitu Pulau Adonara dan Solor, tempat orang Portugis meninggalkan berbagai benteng, gereja, dan senjata berat. Di belakang saya terdapat permadani hijau yang terdampar hingga ke pucuk gunung Ile Mandiri, ke arah selatan , suatu kawasan yang setengah hancur, tempat beberapa remaja serta botol plastik beristirahat, menempati pantai yang menurut lagenda pernah ditemukan patung Bunda Maria Rosari dan terukir kata “Mater Dolorosa” di atas pasir“.

    Sepenggal kalimat diatas adalah tulisan Jurnalis Lepas asal Portugis Joaquim Magalhaes de Castro dalam bukunya Lautan Rempah Peninggalan Portugis di Nusantara”, tentang pengalamannya saat pertama kali menginjakan kakinya di Larantuka.

    ***

    Terletak di ujung Timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),  kota Larantuka terbilang relatif kecil  hanya memanjang dari timur ke barat kira-kira 10 km. Sisi utara kota ini langsung merebah di lereng gunung Ile Mandiri dan sisi selatannya langsung bertemu dengan pinggir pantai Selat  Larantuka.  

    Di depan kota ini, dalam jaraknya yang sangat dekat berjejer dua pulau yakni Pulau Solor dan Pulau Adonara yang menjadikan laut di depannya bagai sebuah danau yang indah. Tersembunyi di balik kedua pulau ini, dalam jarak tempuh pelayaran  dengan kapal motor selama 30 menit segera dapat terlihat sebuah pulau yang cukup besar dan kaya yakni pulau Lembata. Gugusan  pulau ini termasuk Alor dan Pantar di timur Lembata, sering dinamakan kepulauan Solor. 

    Sebagai daerah yang terletak di pulau Flores bagian timur, Larantuka berada dalam rumpun budaya  Lamaholot, umumnya dianut masyarakat penghuni kepulauan Solor. Kendati  batasan selalu tidak tegas membedakan,  penduduk  Lamaholot sering diasosiasikan  dengan penduduk  yang  mendiami  Flores Timur daratan, Pulau Solor, Adonara, Lembata dan sebagian Alor-Pantar.

    Kota Larantuka di Waktu sore. (Foto tahun 2011)

    Sebutan Lamaholot untuk wilayah ini memang cukup beralasan. Dalam bahasa setempat Lamaholot berasal dari kata Lama yang berarti bagian atau kampung, atau piring (lamak) dan holo berarti sambung, diartikan sebagai gugusan pulau atau kampung yang bersambung. Suatu masyarakat dimana antar kampung juga pulau yang berbeda mempunyai jalinan kekarabatan.

    Sebagaimana kehidupan setiap kampung yang otonom dalam kebudayaan ini, dapat saja terjadi perbedaan aturan dan budaya, namun tetap saja memiliki satu kesamaan dalam  pandangan tentang alam kodrati dan sesama masyarakat.  Dalam hal ini, masyarakat Lamaholot juga telah lama mengenal kehidupan masyarakat dalam bentuk organisasi  yang khas.  Hal ini dapat dilihat di hampir setiap kampung memiliki struktur kesukuan yakni yakni Koten, Kelen, Hurit dan Maran yang memiliki peran masing-masing dalam menjaga keharmonisan kehidupan kampung. 

    Sebenarnya wilayah yang disebut kepulauan Solor atau juga tanah Lamaholot, dari sisi bahasa bukanlah satu bahasa. Dari segi bahasa, umumnya penduduk di wilayah ini menggunakan   bahasa Lamaholot, tapi juga dibeberapa tempat seperti Larantuka, menggunakan bahasa Melayu,  bahasa Kedang untuk wilayah Kedang, bahasa krowin  untuk wilayah yang berbatasan dengan kabupaten Sikka dan bahasa Bajo untuk beberapa wilayah di pesisir Pantai.    

    Larantuka terletak pada 8,4 derajat lintang selatan dan 123 derajat bujur timur beriklim sub tropis dengan musim kemarau yang panjang rata-rata 8-9 bulan, Musim hujan hanya terdapat pada bulan Desember-hingga Maret.   Namun perubahan iklim saat  ini yang tidak menentu, seringkali membuat kota ini mengalami curah hujan yang ekstrim baru pada bulan januari dan  Februari bahkan Maret.

    Pada musim kemarau, suhu udara di Larantuka terbilang cukup panas. Suhu udara yang panas ini  menyebabkan siang hari berada di kota ini selalu disinari matahari yang menyengat.  Pemandangan lahan tandus  pada punggung gunung ile Mandiri juga perbukitan-perbukitan kecil yang ada di pulau Solor dan Adonara, menjadikan suasana terasa begitu gersang.

    Kota Larantuka memang berada di dalam teluk dan siapa pun yang pernah ke sana akan terkesima menyaksikan indahnya panorama teluk.  Sebagai daerah berteluk, tempat ini pun sejak abad 16 sudah menjadi perhatian dari berbagai orang yang melintasi pelayaran nusantara dari barat ke timur dan dari timur ke barat. Amukan gelombang laut di perairan Flores bagian utara dan Laut Sawu bagian selatan Flores, mau tidak mau  menjadikan Larantuka tempat alternatif untuk berteduh sekaligus mengisi perbekalan untuk perjalanan selanjutnya. 

    Kapal Motor Penyeberangan antar pulau dari pelabuhan Larantuka

    Bagai bersambut gayung, wilayah teluk yang banyak terdapat di  kepulauan  Solor menjadi tempat yang aman  untuk bersembunyi dari perompak-perompak laut yang selalu hadir di tengah ramainya perdagangan nusantara tempo itu. Kerasnya persaingan dalam perdagangan, menjadikan Larantuka bagai kota yang siap untuk memberi ketenangan, menyusun strategi untuk melanjutkan atau bertahan dari gejolak persaingan yang ada.

    Sebagai daerah berteluk, selain Larantuka sebagai pelabuhan yang cukup ramai, di kepulauan Solor terdapat juga  pelabuhan-pelabuhan kecil diantaranya, Balauring, Hadakewa, Lewoleba, Waiteba, Labala, Wulandoni, Lamalera, Mingar, Loang (Semuanya di Lembata), Mananga, dan Lamakera (pulau Solor),   Waiwerang,  Lamahala, Terong, Sagu, Waiwuring (di pulau Adonara) ; Konga, Paihaka, Pantai Oa, Pantai Konga, Pantai Wotan, Pantai Kelambu  dan Rako di Wilayah Flores Timur daratan.

    Seiring perkembangan yang terjadi,  persingahan demi persinggahan dan juga lintasan perahu layar yang keluar masuk teluk,  menyebabkan Larantuka menjadi pelabuhan yang ramai di bandingkan pelabuhan di sekitarnya. Dari perkembangan demi perkembangan Larantuka yang sebelumnya bernama Lewonama  (tempat orang berkumpul) berubah nama menjadi Larantuka (Laran = jalan, tukan = tengah) yang dapat diartikan sebagai tempat persinggahan atau jalan tengah. (*)

  • Lamafa: Diri Sakral dalam Semesta Kehidupan Orang-orang Lamalera

    Lamafa: Diri Sakral dalam Semesta Kehidupan Orang-orang Lamalera

    Oleh Alexander Aur, Penikmat Sastra dan Pengajar Filsafat di Universitas Pelita Harapan

    • Catatan Kecil tentang Novel Lamafa

    “… penangkapan ikan paus di Lamalera berkaitan erat dengan pelbagai aspek kehidupan masyarakatnya, sehingga kalau orang mengenal Lamalera berarti orang mengenali hubungannya dengan menangkap ikan paus. … pada saat seorang juru tikam atau lamafa memperhatikan gerak-gerik ikan yang akan ditikamnya, dia sendiri mengucapkan harapannya dengan kata-kata seperti ditujukan kepada mangsanya supaya tenang terapung untuk ditikam untuk memberi makan kepada warga kampung, terutama kaum miskin dan janda-janda yang menaruh harapan mereka pada pekerjaan di laut itu.” Alex Beding, SVD.

    Foto: Novel Lamafa

    Pengantar

    Novel Lamafa merupakan sastra etnografis. Ciri etnografis itu tampak dalam tema, latar tempat,dan narasi tentang lamafa dan budaya menangkap paus dalam novel ini. Kata lamafa yang oleh digunakan oleh pengarang sebagai judul novel ini merupakan sebuah istilah yang berlaku dalam masyarakat nelayan Lamalera. Kata itu digunakan sebagai predikat yang dilekatkan pada seseorang yang menjalankan peran sebagai pemimpin kelompok penangkap paus. Salah satu tugas utama pemimpin tersebut adalah menikam mamalia laut tersebut. Dengan demikian, lamafa dikenal khalayak sebagai penombak/penikam paus.

    Kata lamafa selanjutnya bermetamorfosis dari predikat menjadi identitas yang melekat pada seseorang dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera. Metamorfosis itu sekaligus sebagai penetapan dan penegasan terhadap eksistensi lamafa. Seorang lamafa tidak semata-mata penombak/penikam paus, tetapi lebih dari itu, ia adalah pemimpin, yang mengemban tugas sakral, yakni menjaga kehidupan dan sekaligus menghubungkan kehidupan dunia laut dan kehidupan dunia darat. Itulah tesis pokok catatan kecil tentang novel ini.

    Mengingat novel Lamafa merupakan sastra etnografis, maka novel ini mesti dibaca dengan sudut pandang geografi budaya dan sosiologi budaya kampung nelayan Lamalera. Dengan sudut pandang pembacaan yang demikian, pembaca dapat menyadap dan menyerap filsafat kehidupan yang berada di balik peran lamafa (pemimpin kelompok penangkap paus). Tulisan ini merupakan paparan tentang pembacaan atas novel Lamafa dengan sudut pandang geografi budaya dan sosiologi  budaya. Meski demikian, pembingkaian ini bukan bermaksud untuk memasung kebebasan para pembaca. Para pembaca tetap mempunyai kebebasan untuk menafsirkan dan menangkap kekayaan isi novel ini.

    Catatan kecil ini terbagi dalam beberapa bagian. Pertama, mengenal konteks geografis dan sosiologis masyarakat nelayan Lamalera. Dua konteks itu berada dalam selubung kebudayaan. Mengenal dua konteks itu amat penting karena di keberadaan lamafa justru terbangun dari konteks itu. Kedua, semesta kehidupan lamafa dan warga kampung nelayan Lamalera. Dengan menggali semesta kehidupan lamafa, siapapun dapat menyadap darinya semangat atau spirit sosial lamafa dan orang-orang Lamalera. Ketiga, lamafa dalam novel Lamafa. Sosok lamafa dalam novel ini berada dalam empat situasi penting. Keempat situasi yang diuraikan dalam bagian akhir tulisan ini merupakan situasi-situasi yang di dalamnya tokoh Saya dididik agar tumbuh dan berkembang sebagai lamafa. Artinya, selain bakat alam dalam diri, seseorang yang menjadi lamafa harus menjalani proses “pendidikan”.

    Mengenal Lamalera: Sebuah Konteks Geografi Budaya dan Sosiologi Budaya Novel Lamafa

    Boleh jadi pembaca atau siapapun, khususnya orang di dan dari luar Lembata akan bingung dan bertanya-tanya, saat membaca kata (istilah) lamafa, yang menjadi judul novel ini. Boleh jadi pula kata tersebut sangat asing di telinga dan asing dalam pikiran para pembaca. Tetapi jika membaca kata “Lamalera”, para pembaca atau siapapun, baik orang di maupun dari luar Lembata, segera mempunyai persepsi tertentu. Persepsi yang paling cepat mengemuka adalah “penangkapan paus secara tradisional.”

    Lamalera sudah diketahui dan dikenal publik jauh sebelum novel ini ada. Lamalera dikenal publik karena tradisi penangkapan ikan paus secara trasidional. Bahkan, karena sangat terkenal, sehingga Lamalera lebih dikenal oleh publik di luar Lembata dan NTT daripada daripada Lembata, yang di dalamnya Lamalera berada. Dengan gaya humor filosofis, suatu saat di masa lalu seorang pewaris roh lamafa yang bernama Bona Beding, pernah menyatakan, “Lembata berada dalam Lamalera, bukan Lamalera berada Lembata.”

    Pernyataan Bona Beding tersebut bukan sebuah pemujaan terhadap Lamalera. Bukan pula sebuah olok-olok terhadap Lembata. Humor yang dinyatakan Bona Beding tersebut bertumpu pada filsafat kehidupan yang terkandung dalam dan terungkap dari kata “Lamalera”. Secara etimologis, kata “Lamalera” terdiri dari dua kata, “lama” dan “lera”. “Lama” berarti “piring”. “Lera” berarti “matahari”. Secara sederhana “Lamalera” berarti “piring matahari”. Baik secara etimologis maupun secara fenomenologis, kata “Lamalera” menyimbolkan dan menyingkapkan semesta kehidupan (makrokosmos dan mikrokosmos) orang-orang Lamalera.

    Sebelum mengudar secara lebih komprehensif semesta kehidupan lamafa dan orang-orang Lamalera, terlebih dahulu diperkenalkan secara ringkas seluk-beluk Lamalera. Pater Alex Beding, SVD dalam Pater Bernhard Bode, SVD, menyebut Lamalera sebagai “bumi berbatu yang memiliki daya tarik sendiri”. Pater Alex mendeskripsikan Lamalera sebagai berikut ini:

    Di pantai selatan pulau Lembata, pada sebuah teluk kecil dengan pantai berpasir kira-kira 300 m panjangnya, di situlah terletak kampung Lamalera. Di latar belakang tampak puncak sebuah gunung yang tinggi, yakni gunung Labalekang (tingginya 1.644 mdpl), sehingga kampung ini terletak di kaki gunung itu. Suatu wilayah pantai yang panjangnya mencapai puluhan kilometer dan terdiri dari wadas hitam dan tebing-tebing batu yang tertanam dalam laut. Dan kampung Lamalera sendiri bagaikan terletak di atas batu-batu. Setiap tamu yang tiba di Lamalera bisa bertanya dalam hati: bagaimana orang bisa hidup di tempat ini? Bagaimana kiranya pencarian nafkah mereka? Dan ada apa yang menarik di sini? Pantai kampung Lamalera adalah sesuatu yang khas. Yang (paling) pertama tampak ialah satu deretan bangsal-bangsal (disebut naje) beratap daun lontar terpajang sepanjang pantai. Itulah rumah-rumah tempat perahu-perahu nelayan disimpan. Selurunya mirip sebuah kompleks bengkel kerja.[1]

    Foto: Kampung Lamalera

    Deskripsi ringkas tersebut menujukkan secara terang benderang bahwa kampung Lamalera adalah kampung nalayan. Keberadaan diri orang-orang Lamalera bertautan erat dengan keberadaan laut, perahu, dan aktivitas kenelayanan. Mereka mengakarkan diri dan aktivitas kehidupannya pada laut. Laut merupakan hal istimewa bagi orang-orang Lamalera. Laut bukan semata-mata tempat mencari ikan. Lebih dari itu, laut merupakan rumah dan energi kehidupan, bahkan ibu kehidupan bagi mereka.

    Dalam konteks keberadaan masyarakat adat, Lamalera merupakan sebuah kelompok masyarakat adat. Bila sebagian besar masyarakat adat di Indonesia memiliki hak ulayat atas tanah (darat) dan segala isi yang terkandung di dalamnya, demikian pula bagi masyarakat adat Lamalera, laut adalah hak ulayatnya. Mereka berhak atas laut dan segala isi yang terkandung di dalamnya. Laut adalah ibuorang-orang Lamalera. Ibu yang mengandung knato (kiriman) Tuhan, yakni paus dan ikan-ikan lainnya. Laut pulalah yang melahirkan knato Tuhan untuk mereka. Bagi seluruh warga kampung nelayan Lamalera, paus bukanlah satwa buruan yang harus diburu demi mempertahankan hidup dari ancaman kematian. Sebaliknya, paus – yang mereka sebut ketekelema – dan ikan-ikan lainnya adalah knato atau kiriman dari Tuhan untuk mereka. Sebagai knato, paus adalah rejeki dari Tuhan untuk mereka.

    Kampung nelayan Lamalera, terbagi menjadi dua kampung, yakni Lamalera A dan Lamalera B. Pembagian dua kampung nelayan ini dilakukan oleh pemerintah, sebagai bentuk respon terhadap perkambangan jumlah orang-orang Lamalera yang semakin banyak. Tetapi ada hal yang menarik yang terjadi di sana, sebagai dampak dari pembagian itu. Hal menarik itu adalah gerak pergi-pulang orang-orang Lamalera A yang terletak lebih di atas pantai dan ke dan dari Lamalera B yang terletak di pinggir pantai. Pater Alex Beding menggambarkan hal itu sebagai berikut:

    Orang dari kampung Lamalera B di pantai yang hendak pergi ke Lamalera A, harus melalui satu tempat bertebing curam yang disebut Gripe. Di situ terdapat satu-satunya jalan yang hanya berupa batu-batu di mana orang dapat meletakkan kaki untuk mendaki atau menurun. Itupun harus dilakukan dengan hati-hati karena di sampingnya terdapat jurang. Untuk penduduk setempat yang sudah terbiasa tidak ada kesulitan, lain halnya bagi pendatang asing. … Baru pada 1998 tangga itu dibongkar dan dibangun sebuah “Gripe” yang baru berupa jalan yang kini dapat dilewati dengan kendaraan beroda dua atau empat.

    ... Dahulu Lamalera mempunyai seorang kakang (kepala haminte/gemeentehoofd – bahasa Belanda). Sejak 1950 Lamalera yang sudah berkembang lebih luas dan dimekarkan menjadi dua kampung, yakni Kampung  Lamalera A (Atas), yang dalam Bahasa Lamalera disebut Tétilefo dan Kampung Lamalera B yang disebut Lalifatan, yang satu letaknya lebih tinggi sedangkan yang lain lebih rendah di pinggir laut. Kedua kampung itu dipisahkan oleh sebuah bukit yang mereka sebut Fung, satu areal yang ditutupi batu-batu besar, tetapi di situ juga terdapat sejumlah rumah penduduk.

    Nama kampung Lamalera dewasa ini sudah terkenal di mana-mana sebagai kampung ikan paus, sebab rupanya kampung ini satu-satunya di Indonesia yang biasa menangkap ikan paus selain ikan-ikan jenis lumba-lumba, pari, hiu dan lain-lain. Tetapi penangkapan ikan paus di Lamalera berkaitan erat dengan pelbagai aspek kehidupan masyarakatnya, sehingga kalau orang mengenal Lamalera berarti orang mengenali hubungannya dengan menangkap ikan paus.

    Mengapa penangkapan ikan paus di Lamalera begitu menarik perhatian? Nelayan-nelayan Lamalera menangkap ikan-ikan sebagai mata pencarian utama mereka. Tetapi mereka memburu dan menikam juga ikan yang besar seperti ikan paus yang panjangnya bisa mencapai 10 meter atau lebih, dengan menggunakan perahu-perahu dan dengan alat-alat tradisional sederhana seperti tempuling (kafé). Ikan paus (kotekelema) yang besar yang ditangkap itu dianggap sebagai rezeki untuk seluruh masyarakat. Jadi bukan hanya untuk dibagi kepada awak perahu, pemilik perahu, atau pembuat perahu, yang disebut ata molang, atau satu kelompok eksklusif. Tentu saja orang bebas berusaha mendapat bagian dari ikan besar itu. (Tetapi) ikan paus yang ditangkap itu seolah-olah menjadi milik bersama karena dalam hal pembagian ikan itu, kelompok miskin dan para janda dalam masyarakat harus diperhatikan. Hal ini merupakan suatu peraturan turun-temurun.

    Orang Lamalera berdiam di suatu wilayah yang kering dan berbatu dan tidak layak untuk pertanian. Hanya pada musim hujan mereka menanam jagung di mana terdapat sedikit tanah, jadi mereka tidak bisa berkebun. Untuk mendapat hasil kebun mereka mesti menukarkan dengan ikan. Mereka mempunyai ukuran-ukuran untuk jagung, padi, sayur dan buah-buah dan lain-lain dan di pihak lain ukuran ikan berapa besar dan berapa potong.

    Terutama ikan paus, yang sangat digemari tentu merupakan kekuatan ekonomi bagi orang-orang miskin supaya mereka bisa mempertahankan kehidupan. Maklumlah, pada saat seorang juru tikam atau lamafa memperhatikan gerak-gerik ikan yang akan ditikamnya, dia sendiri mengucapkan harapannya dengan kata-kata seperti ditujukan kepada mangsanya supaya tenang terapung untuk ditikam untuk memberi makan kepada warga kampung, terutama kaum miskin dan janda-janda yang menaruh harapan mereka pada pekerjaan di laut itu. Lalu dengan satu salto yang kuat dia menghujamkan tikamannya ke badan ikan. Jelas bahwa pembagian ikan yang ditangkap itu untuk orang-orang miskin merupakan suatu kewajiban moril yang selalu diperhatikan dengan sungguh-sungguh.[2]

    Deskripsi tentang Lamalera yang dipaparkan oleh Pater Alex Beding tersebut menyingkapkan situasi geografi budaya dan sosiologi budaya masyarakat Lamalera. Geografi budaya kampung nelayan Lamalera adalah bumi berbatu. Di atas bumi yang demikian, mereka membangun rumah-rumah tinggal. Dan sudah barang tentu, situasi yang demikian turut pula menumbuhkan dalam diri orang-orang Lamalera semangat yang tangguh dan pantang menyerah. Keteguhan hati dan kepantangan menyerah diri mereka sekuat dan seteguh batu-batu dan tebing-tebing kokoh.

    Semesta Kehidupan Lamafa dan Warga Kampung Nelayan Lamalera

    Orang-orang Lamalera adalah pribadi-pribadi tangguh dan penuh daya hidup serta daya juang. Elan vital – meminjam istilah Henry Bergson – orang-orang Lamalera memampukan mereka untuk mengarungi dan menyelami laut Sawu yang bergelora untuk mendapat ikan dari rahim laut Sawu. Dalam situasi geografis yang demikianlah orang-orang Lamalera sebagai suatu kelompok masyarakat adat membangun dan mengembangkan hidupnya.

    Dalam situasi geografis yang demikian pula, seseorang – dari sekian banyak laki-laki Lamalera – tumbuh dan ditempa dalam kesenyapan dan deru laut di halaman kampung nelayan Lamalera, sehingga kelak ia menjadi lamafa yang mengemban tugas sakral sebagai salah satu simpul penting dari seluruh simpul dan semesta kehidupan kampung nelayan Lamalera.

    Bona Beding menuturkan bahwa tidak semua lelaki Lalamera dapat menjadi lamafa. Seseorang yang kelak adalah lamafa dan bertindak sebagai lamafa dalam kosmologi hidup kampung nelayan Lamalera, harus melewati proses formasi dalam kesenyapan dan ketekunan seorang lamafa. Bahkan orang yang kelak adalah lamafa tersebut tidak sadar bila ia sedang dididik menjadi lamafa. Seorang lamafa mendidik calon lamafa melalui ketekunan kerja dan sikap hidupnya.[3]

    Lamafa adalah salah satu simpul penting dalam tradisi ola nuá masyarakat Lamalera. Ola nuá merupakan aktivitas melaut secara tradisional sebagai mata pencarian utama orang-orang Lamalera. Mereka menyelenggarakan ola nuá pada musim léfa, yakni masa resmi untuk turun ke laut, yang berlangsung dari bulan Mei-September. Musim léfa disebut juga mussi lerâ atau léfa nuang, yang berarti musim kemarau.Pada musim itu gerombolan ikan paus dan berbagai jenis ikan lainnya muncul di perairan laut Sawu.[4]

    Sepanjang musim itu, apabila warga kampung melihat ada semburan air di tengah laut, segeralah berkumandang teriakan, “Baleo … baleo … baleoooo…”. Teriakan itu sambung-menyambung dari satu orang ke orang lain dan bergema di seluruh kampung. Teriakan itu sebagai penanda ada paus yang berenang tak jauh dari pantai. Teriakan itu merupakan kelanjutan dari doa yang didaraskan oleh lamafa dan seluruh warga kampung nelayan di pesisir pantai saat-saat sebelum lamafa dan para awak pelédang melaut. “Sedo basa hari lolo/ jaji pulo boi lema ropong/ hode one sare, yang berarti,Oh ibunda lautan/ engkau mengandung, melahirkan/ memelihara dan meyimpan segala-galanya untuk kami,” demikianlah syair mantra laut nan magis orang-orang Lamalera.[5]

    Teriakan “Baleo … baleo … baleo …” para warga kampung memacu semangat lamafa memimpin sekelompok nelayan untuk mendayungkan peledang[6] ke tengah laut. Gerak mengarah ke tengah laut berlangsung dalam keheningan batin dan deru-gemuruh laut. Dalam suasana demikian, lamafa berbisik, “Huro…” yang artinya “dayung lebih cepat” karena paus sudah dekat. Lamafa – yang berdiri diburitan depan peledang – mengemban tugas sakral untuk membawa pulang knato ke darat. Sementara itu, di darat (di tepi pantai), para janda, orang-orang miskin,  para orang tua, perempuan, dan anak-anak menanti knato kehidupan dengan harapan yang membuncah dan doa yang menggemuruh.

    Saat lamafa berhasil menancapkan tempuling (mata tombak) dan paus berontak, warga kampung berteriak, “Hirrkae …hir … hir ke, levo hiiir kae,” yang berarti, “Puji dia, seluruh isi kampung puji dia.”[7] Dalam mendayung pulang pelèdang ke pantai sambil menarik paus, sang lamafa beryair dengan suara merdu bersama para awak, “Sora taran bala tala lefo rai tai/Tuba bera rai nai ribu lefo gole/Kide ina-fai tuba bera rai nai,” yang berarti “Kerbau yang bertanduk gading/ Mari kita beranjak menuju kampung nun di sana/ Seluruh masyarakat merindukan kehadiranmu. Ayo, segeralah kita ke sana.”[8]

    Seorang lamafa adalah pribadi yang sakral. Kesakralan dirinya terkandung dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya. Dari peran lamafa yang memimpin awak pelédang untuk menyambut knato Tuhan di tengah laut, tersingkap suatu makna, yakni kepada lamafa para warga kampung mendapukkan harapan agar lamafa dan rekan-rekan seperahu kembali ke darat sambil membaya paus. Mamalia laut itu adalah penanda bahwa warga kampung nelayan Lamalera terus hidup selama satu musim ke depan.

    Supaya bisa membawa pulang paus, lamafa harus mempurifikasikan dirinya dengan mengosongkan dirinya dari berbagai anasir buruk. Ia harus menyucikan diri supaya bisa mengemban tugas sakral sebagai lamafa, yakni menjaga kehidupan dan sekaligus menghubungkan kehidupan dunia laut dan kehidupan dunia darat. Untuk itu, ia tidak boleh berprasangka buruk dengan semua warga kampung, tak berkonflik dengan istri dan anak-anak, dan tak berseteru dengan semua orang. Bahkan, ia harus berpantang secara seksual saat menjalankan tugasnya selama musim lefa. Dengan demikian, ia mengemban amanah kehidupan, baik kehidupan dunia laut maupun kehidupan dunia darat.[9]

    Lamafa dalam Novel Lamafa

    Dalam novel Lamafa, keberadaan lamafa tetap sebagai sosok diri yang sakral. Sakral di sini bukan berarti orang suci sebagaimana yang dimengerti dalam dunia agama-agama. Bukan itu. Kesakralan diri lamafa terletak pada konsistensi dan kesetiaan menjalankan panggilan hidup sebagai lamafa dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera. Bahkan keberadaan lamafa dalam novel ini hadir secara unik.

    Keunikan lamafa dalam novel Lamafa, tampak pada karakter tokoh Saya. Tokoh Saya ditampilkan oleh narator sebagai sosok yang memilih panggilan hidup sebagai lamafa. Berbeda dengan sebagian besar lamafa yang menjadi lamafa setelah melalui proses formasi diam-diam sesuai dengan tradisi dan kebiasaan masyarakat Lamalera, justru sebaliknya tokoh Saya menjadi lamafa atas dasar kehendaknya sendiri.

    Tokoh Saya adalah seorang sarjana sosial lulusan Universitas Nusa Cendana, Kupang. Setelah diwisuda, ia memilih menjalani hidup sebagai lamafa di kampungnya. Sudah barang tentu, pilihannya itu melahirkan konsekuensi-konsekuensi tertentu. Ia pun siap menghadapi dan menyelesaikan setiap konsekuensinya. Misalnya, ia harus berpisah dengan kekasihnya. Tokoh Saya baru saja menjalin hubungan dengan temannya sebagai sepasang kekasih pada saat wisuda berlangsung. Tokoh Saya juga kelak harus menghadapi konflik dengan adik kandungnya dan menghadapi pengkhianatan oleh teman-teman seperahu penangkap ikan paus.

    Hal yang paling menarik dari novel tersebut adalah narator menempatkan tokoh Saya sebagai lamafa dalam 4 situasi besar. Pertama, situasi formasi ke-lamafa-an melalui bermain. Kedua, situasi formasi etis. Ketiga, situasi sebagai lamafa dan menghadapi konflik. Keempat, situasi rekonsiliasi. Empat situasi tersebut menunjukkan ketersituasian tokoh Saya dalam kerangka waktu. Seperti manusia pada umumnya yang tersituasikan oleh waktu dan manusia mensituasikan diri dalam waktu, demikian pula tokoh Saya. Ia tersituasikan dan menyituasikan dirinya dalam waktu.

    Ketersituasian dan menyituasikan diri dalam waktu merupakan salah satu aspek dari ontologi (hakekat dan cara berada) diri tokoh Saya sebagai manusia dan sebagai lamafa. Bagan sederhana berikut ini merupakan visualisasi ketersituasian dan penyituasikan diri tokoh Saya.

    Situasi Pertama: Formasi Ke-lamafa-an melalui Bermain

    Dalam situasi pertama, tokoh Saya masih kanak-kanak. Aktivitas yang dilakukan adalah bermain. Narator menggambarkan tokoh Saya kecil bukan sebagai “manusia bermain” melainkan “manusia yang bermain”. Bermain yang diperagakan oleh “manusia bermain” merupakan aktivitas fisiologis dan psikologis, yang berlangsung secara mekanistik. Bermain yang ditunjukkan oleh “manusia bermain” merupakan fenomena yang darinya tersingkap gairah/hasrat yang bersifat biologis berpadu dengan dorongan psikologis. Bermain merupakan aktivitas tanpa intensi tertentu. Dengan demikian, bermain yang ditunjukkan oleh “manusia bermain” bukanlah sebuah aktivitas kultural.

    Meski demikian, narator tidak membiarkan “manusia bermain” sebagai sesuatu yang tak bermakna. Sebaliknya, narator memformulasikan “manusia bermain” menjadi “manusia yang bermain.” Tokoh Saya kecil adalah “manusia yang bermain”. Saya kecil bermain dalam sebuah skema formasi sebagai lamafa. Skema formasi itu dilakukan oleh ayah (saat masih hidup), Tengah, dan kakak, dan mamanya. Ayah, Tengah, dan kakak adalah formator dalam hal penanaman nilai keutamaan dan ketrampilan lamafa. Keberadaan lamafa sebagai diri sakral sudah ditanamkan ke dalam tokoh Saya dalam situasi ini. Demikian pula tokoh Saya sudah berlatih menombak paus sebagai keterampilan utama lamafa dalam situasi ini, meskipun keberlangsungan formasi (penanaman nilai keutamaan lamafa dan latihan menombak) dengan pola bermain.

    Tokoh Saya kecil sebagai “manusia yang bermain” sejajar dengan pemikiran J. Huizinga tentang manusia sebagai homo ludens. “Manusia yang bermain” adalah homo ludens. Dalam “manusia yang bermain” atau homo ludens, permainan merupakan fenomena yang berada dalam konteks kultural tertentu, yang darinya tersingkap watak kultural manusia. Bermain sebagai bentuk kegiatan khusus, sebagai suatu “bentuk penting” yang mengandung fungsi sosial tertentu. Bermain merupakan konstruksi sosial.[10] Dengan demikian, permainan menombak ikan paus yang diperagakan oleh tokoh Saya kecil saat bermain merupakan suatu aktivitas kultural dan sebagai momen formasi ke-lamafa-an dalam dirinya.

    Situasi Kedua: Formasi Etis

    Dalam situasi kedua, tokoh Saya kecil, masih terus berada dalam skema formasi. Selain formasi ke-lamafa-an tetap berlangsung, formasi etis pun berlangsung. Dalam formasi etis inilah peran mama janda Moni sangat penting. Bahkan mama janda Moni adalah tokoh sentral dalam formasi etis. Oleh mama janda Monilah, tokoh Saya kecil dididik dalam hal kepedulian dan tanggungjawab terhadap orang lain, khususnya terhadap orang yang harus ditolong. Dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera, orang-orang yang wajib ditolong adalah para janda dan orang-orang miskin.

    Dalam perspektif Emmanuel Levinas, para janda dan orang-orang miskin dengan seluruh diri dan kehidupannya adalah “wajah” yang “menyandera”lamafa secara etis agar terus-menerus bertanggung jawab terhadap hidup mereka.[11] “Penyanderaan” itu merupakan tuntutan etis dan lamafa tak dapat mengelak darinya. Lamafa mewujudkan tanggung jawab etis melalui pemurnian motivasi menjadi lamafa: menjadi lamafa untuk menolong sesama dan memprioritaskan para janda dan orang-orang miskin dalam pembagian daging paus.

    Aspek lain dari formasi etis yang diintrusikan ke dalam diri tokoh Saya dalam situasi kedua adalah sikap mengampuni dan memahami orang lain. Sikap ini, kelak diwujudkan oleh tokoh Saya saat berkonflik dengan sang adik, yakni Yohanes yang menantang kedirian tokoh Saya sebagai lamafa. Sikap mengampuni dan memahami tersebut terwujud secara terang-benderang manakala tokoh Saya menghadapi sang adik yang menderita sakit karena sudah menantang dan mau mengubah tradisi penangkapan paus.

    Kedudukan tokoh Yohanes cukup menarik dalam novel ini. Narator mendudukan Yohanes sebagai penantang tokoh Saya. Dengan kedudukannya yang demikian, hubungan tokoh Saya dengan Yohanes berlangsung secara konfliktual. Tetapi dengan kedudukannya yang demikian, Yohanes justru memainkan sebuah peran yang penting dalam formasi etis. Dimensi etis dalam diri tokoh Saya diuji melalui tokoh Yohanes. Tidak tanggung-tanggung, ujian itu datang dari adik kandungnya.

    Keberadaan tokoh Yohanes – dengan seluruh sepak terjangnya – dalam novel ini akan lebih mudah dipahami bila kita menggunakan kerangka berpikir (logika) dialektika Hegelian: tesis-antitesis-sintesis. Tokoh Saya adalah tesis. Tokoh Yohanes sebagai antitesis. Pada bagian akhir novel, narator menempatkan rekonsiliasi sebagai sintesis. Sintesis itu berlangsung dalam Misa Lefa. Itu berarti Misa Lefa adalahjantung rekonsiliasi. Sebagai jantung rekonsiliasi, Misa Lefa adalah momen dan tindakan rekonsiliasi.  Dengan demikian, tampak sisi lain sakralitas diri lamafa, yakni mengampuni atau memaafkan. Tindakan mengampuni bukan terletak pada kapasitas manusia sebagai makhluk sosial yang dapat saling mengampuni, melainkan bertumpu pada dan bersumber dari Misa Lefa.

    Formasi etis tersebut diperkuat lagi dengan formasi sosiologis melalui pembelajaran dan pergaulan akademik, perjumpaan dengan banyak pihak semasa tokoh Saya kuliah, dan aktivitas menjual koran untuk membiayai kuliah. Semua itu merupakan formasi sosiologis, yang menguatkan tokoh Saya untuk memutuskan menjadi lamafa setelah lulus kuliah.

    Situasi Ketiga: Sebagai Lamafa dan Menghadapi Konflik

    Dalam situasi ketiga, tokoh Saya menjalani pilihan/panggilan hidupnya sebagai lamafa. Inilah situasi yang menjadi batu uji atas pilihan yang sudah ditetapkan tokoh Saya. Situasi ini juga menjadi acuan untuk memastikan keberhasilan proses formasi atas diri tokoh Saya pada situasi-situasi sebelumnya.

    Ujian yang paling nyata termaktub dalam struktur dan situasi konfliktual antara tokoh Saya dengan Yohanes, dan teman-teman seperahu penangkap paus. Konflik antara tokoh Saya dengan Yohanes yang adalah adik kandungnya, terkait erat dengan karakter penantang dalam diri Yohanes. Karakter itu terbentuk sejak ayah mereka meninggal dunia. Yohanes masih bayi ketika ayah mereka meninggal dunia.

    Setelah ayah mereka meninggal dunia, Yohanes dibesarkan oleh nenek. Sebagai cucu yang paling kecil dan sudah ditinggal mati oleh ayah, Yohanes sangat disayang oleh nenek dan ia memperoleh segala hal secara gampang. Ia dimanja oleh nenek. Yohanes dididik dengan cara dimanjakan oleh nenek. Pemanjaan itu membuat Yohanes tumbuh sebagai sosok yang harus selalu dituruti oleh siapapun. Oleh karena itu, ia tampil sebagai sosok yang keras kepala dan keinginannya harus terpenuhi. Jika tidak terpenuhi, ia akan mengamuk dan marah.

    Karakter Yohanes yang demikian berpengaruh terhadap pola relasi antara dirinya dengan tokoh Saya. Relasi mereka berlangsung secara konfliktual. Bahkan sejak kecil pola relasi seperti itu. Di sini tampak jelas bahwa narator membangun struktur konflik dalam novel ini. Struktur konflik itu tampak dalam relasi konfliktual antara tokoh Saya sebagai kakak dengan Yohanes sebagai adik. Relasi konfliktual juga terjadi antara tokoh Saya dengan rekan-rekan satu perahu penangkap ikan paus.

    Puncak konflik dengan Yohanes ketika pemerintah mendesakkan program mengonservasi paus. Untuk itu, Yohanes dipakai sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Mengonservasi paus yang diprogramkan oleh pemerintah dan difasilitasi oleh Yohanes merupakan tantangan yang paling pelik. Mengapa? Tantangan itu tertuju secara jitu pada kesakralan diri tokoh Saya sebagai lamafa.

    Untuk memastikan pelaksanaan program pemerintah itu, Yohanes sudah menjadi sarjana hukum tampil sebagai juru kampanye pihak pemerintah. Ia dengan lantang menyerukan agar para nelayan dan lamafa wajib menggunakan alat tangkap modern agar dapat menangkap jenis ikan lain yang polulasinya masih banyak. Sebaliknya, lamafa dan para nelayan tidak boleh lagi menangkap paus dan ikan-ikan lain karena populasinya semakin berkurang.

    Bagi tokoh Saya dan sebagian besar warga nelayan Lamalera, konservasi paus adalah sejenis teror terhadap tradisi dan keberadaan mereka. Bila konservasi dilaksanakan, maka hal itu adalah “pembunuhan” terhadap eksistensi lamafa dan warga nelayan Lamalera sebagai penangkap paus secara tradisional. Apalagi, penangkapan paus merupakan budaya, yang di dalamnya mengandung semesta kehidupan dan keberadaan orang-orang Lamalera yang memilki, memelihara dan terus mempraktikkan tradisi lefa.

    Konflik juga terjadi antara tokoh Saya dengan rekan-rekan satu perahu penangkap paus. Diam-diam, rekan-rekannya menerima uang dari Yohanes karena mereka telah mendukung program pemerintah. Bagi tokoh Saya, sikap rekan-rekannya itu merupakan pengkhianatan terhadap dirinya sebagai lamafa dan pengkhinatan terhadap tradisi lefa

    Konflik antara tokoh Saya dengan Yohanes, mengakibatkan Johanes sakit. Derita Johanes terkait dengan tindakannya melawan tradisi leluhur, yang tunjukkan melalui dukungan terhadap program pemerintah. Yohanes yang menderita sakit, justru mengundang empati dari tokoh Saya dan mendorongnya bersikap etis terhadap adik kandungnya tersebut. Sikap etis dalam situasi ini merupakan buah dari formasi etis yang telah dijalani tokoh Saya pada masa formasi etis. Sikap etis terwujud dalam Misa Lefa di tepi pantai Lamalera.

    Situasi Keempat: Misa Lefa sebagai Momen dan Tindakan Rekonsiliasi

    Situasi keempat merupakan situasi puncak dari seluruh situasi yang dinarasikan narator dalam novel ini. Inilah situasi rekonsiliasi. Penanda situasi rekonsiliasi adalah Misa lefa, yakni ritus Ekaristi yang diselenggarakan di tepi pantai Lamalera. Misa merupakan perayaan kudus utama dalam tradisi Gereja Katolik untuk mengenangkan (memoria) sesangsara, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus dan ucapan syukur atas berkat Allah. Misa dipimpin oleh seorang imam (pastor/pater/romo).

    Misa Lefa merupakan momen bagi orang-orang Lamalera untuk mengenangkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, sekaligus sebagai penanda musim lefa (musim menangkap ikan paus) dimulai. Misa Lefa diselenggarakan pada awal bulan Mei. Biasanya musim lefa berlangsung dari bulan Mei sampai bulan September setiap tahun.

    Dalam novel ini, Misa Lefa menjadi momen tindakan rekonsoliasi antara tokoh Saya, Yohanes, dan teman-reman seperahu penangkap ikan paus. Seluruh konflik yang terjadi sebelumnya luruh dalam misa lefa. Narasi tentang misa lefa pada akhir novel ini, menyingkapkan suatu nilai etis, yakni bahwa konflik akan menjadi berkat apabila konflik berakhir pada rekonsoliasi. Konflik yang reda tanpa rekonsiliasi antar para pihak yang berkonflik hanyalah penundaan atas konflik lebih lanjut. Sebaliknya, konflik yang berakhir dengan rekonsiliasi adalah suatu momen – yang dalam teologi disebut kairos – yakni saat penuh rahmat Allah.

    Foto: Misa Leva setiap 1 Mei di Pantai Lamalera

    Saat Misa Lefa, segala konflik luruh dan itulah momen kairos, momen Allah yang penuh belas kasih meluruhkan segala amarah dan dengki dalam hati manusia, dan mendorong manusia untuk saling mengampuni. Rekonsiliasi yang berlangsung dalam Misa Lefa, “menandai akhir dari ketegangan dan konflik dan permulaan suatu proses baru. Rekonsiliasi adalah humanisasi dan peradaban penyelesaian konflik. … Rekonsiliasi adalah jalan menuju kebaikan dan kebenaran baru, yang lebih tinggi dan bermutu.”[12]

    Rekonsiliasi itu memukau pembaca melalui tuturan tokoh Saya pada akhir novel ini:

    Semuanya selesai siang ini. Sore ini kita bertiga ikut misa Lefa. Saya mau seperti dulu. Kau, ema, saya dan kaka Teus menyalakan lilin-lilin kecil di pinggir pantai sambil terus menyebut nama bapa dalam doa-doa untuk laut kita. Lainnya kita buatkan tempat lilin dari tripleks, menyelipkan beberapa tangkai bunga lalu lilin kita nyalakan dan kita arungkan di lautan sambil menyebut nama bapa. Berharap bapa mengambil nyala lilin di seberang lautan lain. Ketika itulah dia tahu kita sangat merindukannya.

    Novel Lamafa merupakan sebuah prosa yang mampu mengangkat masalah tradisi ola nuá warga kampung nelayan Lamalera. Sejak tahun 2007, tradisi ini dirong-rong oleh berbagai pihak, yakni lembaga swadaya masyarakat internasional dan pemerintah (pusat dan daerah). Pihak-pihak ini begitu bernapsu untuk menghilangkan tradisi itu. Para pihak itu berdalih bahwa paus adalah satwa yang populasinya semakin sedikit. Oleh karena itu, harus dihentikan penangkapannya.

    Sudah barang tentu, para pihak itu lupa dan tidak sadar (paham) bahwa tradisi ola nuá bukan perburuan paus seperti yang berlangsung di beberapa negara yang sangat rakus memburu paus. Tradisi itu adalah aktivitas budaya menjemput kiriman rejeki dari Tuhan demi menghormati kehidupan yang ditanamkan Tuhan dalam diri orang-orang Lamalera.

    Penutup

    Dalam tradisi ola nuá terkandung nilai etis, yakni tanggung jawab terhadap keberlangsungan populasi paus dan jenis ikan yang lain serta tanggung jawab terhadap kehidupan orang-orang Lamalera. Mereka tidak  rakus menangkap paus dan ikan-ikan lain. Paus dan ikan-ikan lain yang ditangkap pun bukan untuk diperdagangkan sebagaimana layaknya bisnis perikanan, melainkan dibagikan kepada seluruh warga kampung dan selanjutnya ditukarkan dengan makanan. Dengan demikian mereka melanjutkan kehidupannya.

    Adalah benar bila berpihak pada semesta kehidupan orang-orang Lamalera dan tradisi ola nuá. Menulis sastra, khususnya novel, merupakan salah satu wujud keberpihakan terhadap hal itu. Fince Bataona melakukannya melalui novel Lamafa.

    Foto Fince Bataoan, Penulis Novel “Lamafa”

    Fince – demikian ia biasa dipanggil – lahir di Lamalera, Lembata, NTT 9 Maret 1970. Usai menyelesaikan pendidikan di SD Inpres Lamalera dan SMPK APPIS (Aksi Putera Puteri Ikan Sembur) Lamalera, ia melanjutkan pendidikan ke SMA Santu Gregorius di Reo Manggarai. Menuntaskan diploma tiga Pendidikan Kimia di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

    Ia terjun di dunia kewartawanan sebagai jurnalis Harian Umum Pos Kupang. Karir jurnalistik dijalankan di berbagai tempat, yakni Kupang, Flores Timur, Lembata, Sikka dan Dili (Timor Leste). Sambil menjalani hidup sebagai ibu dari empat orang anaknya, Fince tetap menulis sebagai jurnalis untuk Majalah Kabar NTT dan mengelola sekaligus menulis untuk media online Aksiterkini.com, yang didirikan bersama suaminya Fredy Wahon. Fince memasuki dunia sastra dengan menulis novel Lamafa. Novel ini merupakan karya sastranya yang pertama yang dibukukan.

    Medang Lestari, Tangerang, akhir Mei 2017


    [1] Alex Beding, SVD., (2008), Pater Bernhard Bode, SVDRasul Pulau Lembata, Yogyakarta, Penerbit Lamalera, hal. 65-70.

    [2] Alex Beding, Op.Cit., hal. 69, 89-93.

    [3] Anastasia Ika, “Mantra Syair Laut”, http://indo.wsj.com/posts/2014/10/27/mantra-syair-laut-lamalera-2/. Diakses pada 23 April 2017, pkl. 18.26.

    [4] Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, (2001), Masyarakat Nelayan Lamalera dan Tradisi Penangkapan Ikan Paus, Depok, Lembaga Gelekat Lefo Tanah, hal. 79.

    [5] Anastasia Ika, Op.Cit.

    [6] Pelédang atau téna laja memiliki struktur yang kompleks dan filsafat yang mendalam. Mengenai hal itu dapat dibaca dalam Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, Op.Cit., hal. 44-68. Dapat pula dibaca dalam artikel Charles Beraf, berjudul “Mengendus Cinta dari Tena-Laja Lamalera” dalam Maria D. Andriana, dkk., (2008), Merayakan Cinta, Yogyakarta, Penerbit Lamalera, hal. 67-73.

    [7] Pius Kia Tapoona, “Warisan yang Nyaris Punah” dalam Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, Op.Cit., hal. xii.

    [8] Anastasia Ika, Op.Cit.

    [9] Alexander Aur, “Pergulatan tentang Budaya Lokal dalam Puisi-Sikap Budaya Penyair dalam Nusa Puisi” Epilog dalam Julia Daniel Kotan (Editor), (2016), Nusa Puisi-Antologi Penyair NTT, Bekasi, Penerbit Kandil Semesta, hal. 161.

    [10] J. Huizinga, 1949, Homo Ludens – A Study of the Play-Element in Culture, Routledge & Kegan Paul, London, hal. 3-4.

    [11] Para janda dan orang-orang miskin, dalam kehidupan sehari-hari sering kali dipandang dan diperlakukan oleh banyak orang sebagai “orang lain” atau “yang lain” dalam sistem sosial. Tetapi “orang lain” atau “yang lain” ini bernada buruk atau negatif. Oleh karena mereka adalah “orang lain” atau “yang lain” maka sering kali pula dianggap atau diperlakukan sebagai tidak ada dan ditolak oleh banyak orang. Anggapan dan penolakan terhadap “orang lain” atau “yang lain” seperti itu menunjukkan bahwa banyak orang lebih berkehendak terhadap “yang sama.” Menolak dan menganggap para janda dan orang-orang miskin tidak ada, menunjukkan bahwa pihak yang menolak mereka menghendaki keberadaan orang-orang yang sama atau selevel.

    Cara memandang dan memperlakukan para janda dan orang-orang miskin seperti itu tidak ada dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera. Dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera, para janda dan orang-orang miskin mendapat kedudukan utama dan penting secara etis. Mereka dipandang dan diperlakukan sebagai pihak yang harus mendapat perhatian etis tanpa syarat apapun dari pihak yang memberi perhatian etis (lamafa dan para nelayan).

    Pemandangan dan perlakuan etis itu bukan bertujuan untuk membuat mereka menjadi sama dengan pihak yang memberi perhatian etis. Tidak. Mengapa? Karena apabila membuat mereka menjadi sama berarti mengobjekkan mereka sesuai dengan kehendak lamafa dan para nelayan. Sebaliknya, memandang dan memperlakukan mereka secara etis berarti membiarkan mereka dengan seluruh keadaannya, membiarkan mereka tetap dengan “keberlainannya”. Keberadaan para janda dan orang-orang miskin adalah sungguh-sungguh lain dengan segala keberlainannya. Dengan keberadaanya yang demikian, mereka tetap dan selalu hadir menjadi penggugah dan penyandera lamafa dan para nelayan, agar terus-menerus memberi perhatian etis tanpa syarat apapun kepada mereka.

    Hal tersebut bukan berarti menciptakan ketergantungan hidup para janda dan orang-orang miskin pada lamafa dan para nelayan, melainkan untuk memastikan bahwa momen-momen etis dan tindakan-tindakan etis tetap berlangsung dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera. Mengapa? Karena semesta kehidupan  orang-orang Lamalera tidak semata-mata bersifat biologis dan ekonomis, melainkan pula etis. Bdk., David Tobing, 2017, Keadilan Etis & Keadilan Politis-Pandangan Levinas tentang Keadilan, Kedai Buku Sinau, hal. 119-127.

    [12] Amatus Woi, “Konflik dan Rekonsiliasi – Suatu Tinjauan Teologis” dalam Guido Tisera (Ed.), 2002, Mengolah Konflik Mengupayakan Perdamaian, Maumere, LPBAJ, hal. 100.

  • Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka

    Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka

    Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com akan menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 ini hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Semoga berguna.

    Penulis :Benjamin Tukan

    Hari ini Rabu, 26 Februari 2020, umat Katolik se-dunia memasuki masa khusus dalam tahun liturginya yang disebut  “Masa Prapaskah”. Rabu awal masa pra paskah ini sering pula disebut “Rabu Abu” yang berhubungan dengan perayaan pengolesan abu di dahi umat sebagai awal masa pertobatan.

    Masa Prapaskah berlangsung sejak hari Rabu Abu sampai hari Jumat Agung menjelang Hari Raya Paskah. Dalam tradisi umat Katolik, masa Pra Paskah, sering disebut masa puasa atau masa pertobatan. Pada masa ini, umat Katolik diajak untuk lebih cermat dan tekun menjalankan pertobatan dan membarui diri agar siap merayakan Paskah.

    ***

    Saat memasuki masa Prapaskah, orang-orang mulai berbicara tentang Larantuka, kota kecil, ibukota Kabupaten Flores Timur, ujung Timur Pulau Flores. Soalnya, di kota ini saban tahun jelang Paskah selalu menjadi tempat kunjungan para peziarah lantaran telah hidup berabad lamanya tradisi perayaan paskah yang dikenal sebagai Semana Santa atau pekan suci.

    Tak hanya umat Katolik Larantuka, umat dari daerah lain bahkan para peziarah dan turis manca negara pun setiap tahun mengagendakan waktu untuk merayakan paskah atau pun sekedar berlibur di Larantuka saat perayaan Paskah.

    Semana Santa yang merupakan perayaan sepekan sebelum hari raya Paskah ini dimulai saat perayaan minggu Palem dan berakhir pada minggu Paskah. Semana Santa dalam bahasa Portugis berarti pekan suci. Semana sancta (semana = seminggu/sepekan, sancta = kudus).

    Perayaan yang diwariskan para paderi (pastor) Portugis dari Abad XVI ini,oleh umat setempat dimaknai sebagai “hari bae”, hari penuh rahmat. Dalam pekan ini umat berdatangan ke kapela-kapela untuk melantunkan doa yang dalam bahasa setempat disebut “mengaji semana Santa”.

    Hari bae diyakini merupakan hari penuh rahmat, sehingga umat yang hadir percaya akan memperoleh berkat dan rahmat berlimpah. Oleh karena keyakinan ini, umat yang mengikuti sungguh terlibat dalam doa dengan ujud dan niat khusus. Dalam sepekan ini, tidak ada hari tanpa perayaan dan semuanya tidak terpisah satu dengan yang lain.

    Larantuka melalui tradisinya, seolah menyuguhkan sebuah suasana dan pengalaman yang khas untuk membantu umat untuk merayakan paskah. Satu hal yang sering dibicarakan orang tentang kehidupan iman umat di Larantuka adalah ketekunan melakukan devosi serta melakasanakan perayaan-perayaan keagamaan secara massal dan meriah.

    Tarian Penyambutan Tamu (Foto : Dok BN)

    Dalam pekan Semana Santa, disamping umat Larantuka khidmat dalam sujud dan doa, kapela-kapela tempat penyimpanan patung-patung yang juga telah ada berabad silam ini, dibuka dan dikunjungi para peziarah untuk penghormatan dan menyampaikan doa. Di gereja Katedral umat datang untuk mengikuti upacara Liturgi, sebagai bagian dari perayaan wafat dan kebangkitan Yesus.

    Di luar perayaan Liturgi gereja, berbagai pertemuan antar umat digelar untuk membicarakan persiapan melangsungkan perayaan Tri Hari Suci. Umat dari luar kota pun, mulai berdatangan menambah kemerihan suasana persiapan dan minggu palem.

    Pada hari Jumat atau sering dikenal sebagai Jumat Agung, Larantuka bagaikan kota yang melewati sepenuh harinya dalam susana perkambungan. Umat mengarak patung Tuan Ma (Bunda Maria) dari Kapela Pante Kebis dan Tuan Ana (Patung Yesus) dari Kapela Tuan Ana menuju Gereja. Pada hari Jumat ini juga diadakan prosesi bahari yang mengantarkan patung kanak-kanak Yesus melewati selat Larantuka yang diiringi sampan dan motor laut. Sore jelang malam setelah doa selesai di Gereja, sambil membawa dan menyalakan lilin umat menjalani prosesi yang melewati delapan armida.

    Pantai Air Panas Kawalilu,keindahan alam daerah sekitar Larantuka (Foto : Dok BN)

    Melalui tradisi yang dirayakan masyarakat ini, otomatis kota ini pun dapat dihubungkan dengan sejarah masa lalu. Tak heran jika ceritra masa silam dapat dipadatkan saat berkunjung ke Larantuka. Di sini terungkap pula kedatangan orang-orang luar, seperti Portugis, Belanda, Jepang juga pengaruh yang datang sebelumnya  dari kerajaan-kerajaan nusantara.

    Larantuka memang unik. Kendati kota sering disebut, namanya tidak setenar  Dili dan Macau di Cina sana. Walau Larantuka, Dili dan Macau punya hubungan sejarah  di  awal pembentukan, tetap saja Larantuka tidak segemilang kedua kota itu. Belum lagi, sejak politik VOC yang tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jawa, semakin menjauhkan Larantuka dari percaturan perdagangan masa VOC Belanda dan nyaris dilupakan.

    Maka benar kalau Sejahrawan Denys Lombard, dalam “Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-batas Pembaratan”, memberikan pernyataan yang cukup menarik bahwa ketika VOC sibuk memperkokoh pengaruhnya di bandar-bandar besar Nusantara, kekatolikan berjalan secara baik dan terkadang mandiri di daerah-daerah Flores; daerah yang relatif jauh dari sentuhan dengan VOC pada awal-awalnya.

    Tapi itulah Larantuka.Sebagaimana Dili dan Macau, diam-diam orang menaruh simpati untuk datang mengunjunginya.Tinggal di Larantuka selama sepekan bukanlah waktu yang membosankan. Keindahan alam dan budaya Lamaholot memberikan arti tersendiri untuk mempekaya khazanah iman dan budaya bagi para pengunjung. Dari Larantuka, siapa pun dapat melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah sekitarnya yang juga menyimpan keindahan budaya yang khas.

    Mengalami sepekan di Larantuka,merayakan paskah bersama umat Larantuka tetap menjadi dambaan siapa saja. Karena itu sejak sekarang, orang mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk dapat tiba di Larantuka untuk berlibur dan merayakan paskah umat kristiani (*)

  • Milenial Berperan Besar dalam Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    Milenial Berperan Besar dalam Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    BERANDANEGERI.COM,- Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo mengatakan  generasi milenial berperan besar dalam pengembangan kualitas pariwisata dan ekonomi kreatif, sehingga berdampak positif terhadap lama kunjungan dan tingkat pengeluaran wisatawan saat berkunjung ke Indonesia.

    “Riset di revolusi industri 4.0 menunjukkan bahwa 51 persen wisatawan saat ini adalah milenial, dan 70 persen wisatawan dalam pencarian dan berbagi pengalamannya dalam berwisata selalu dilakukan melalui online. Disinilah milenial melalui platform digital bisa berperan untuk mempromosikan wilayah kita,” kata Angela Tanoesoedibjo dalam acara “Milenials Gathering” di Grand Jatra Hotel, Balikpapan, Senin (24/02/2020).

    Angela mengatakan, pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan sektor yang memiliki multiplier effect besar di masyarakat. Pembangunan pariwisata misalnya yang akan selalu sejalan dengan pembangunan di daerah, mulai dari infrastruktur, telekomunikasi dan lainnya.

    “Jadi perlu digarisbawahi bahwa pengembangan ekonomi kreatif adalah pengembangan masyarakatnya sendiri dan akan terus berkembang,” kata Angela.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai devisa yang diraih sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif setiap tahunnya selalu meningkat. Di tahun 2018, pariwisata menyumbang devisa sebesar 19,29 miliar dolar AS dan lebih dari 20 miliar dolar AS pada tahun 2019.

    Begitu juga di ekonomi kreatif yang nilai ekspornya di tahun 2018 mencapai 21,2 miliar dolar AS dan di 2019 diperkirakan mencapai 22,06 miliar dolar AS.

    “Serapan kerjanya juga sangat besar. Kita lihat di tahun 2018 pariwisata mampu menyerap 12,8 juta orang dan ekonomi kreatif mampu menyerap 18,2 juta orang,” kata Angela.

    Lebih lanjut Angela mengatakan, Kemenparekraf dalam upaya meningkatkan kualitas wisatawan, dalam hal ini lama kunjungan dan tingkat pengeluaran, memiliki target jangka pendek dan menengah. Pertama adalah meningkatkan safety and security sehingga dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.

    Selanjutnya adalah meningkatkan konektivitas, yakni dengan menambah jumlah seat capacity ke Indonesia, termasuk interconnectivity di Indonesia. “Ketiga adalah peningkatkan SDM, karena pariwisata erat kaitannya dengan services,” kata Angela.

    Begitu juga di ekonomi kreatif, dimana pemerintah akan menciptakan ekosistem yang dapat mendukung pemain lokal, termasuk mendukung bibit-bibit unggul generasi milenial.

    “Ini penting sekali, karena kita ingin menciptakan keseimbangan antara pemain lokal dan pemain asing,” kata Angela.

    “Tak kalah penting adalah peningkatan SDM dari sisi teknikal, soft skill, sehingga bisa berkembang menjadi seorang entrepreneur. Kita juga akan siapkan training dimana nantinya calon pekerja akan dipertemukan dengan industri sehingga dapat langsung terserap dengan baik,” ujar Angela.

    Angela berharap generasi milenial benar-benar bisa mengambil peran dalam pengembangan tersebut.

    “Saya harap yang hadiri di sini bisa jadi bagian dari itu, memperbaiki citra Indonesia dan mempromosikan Indonesia lebih baik lagi,” kata dia. (*Che)

  • Labuan Bajo Dipromosikan dalam International Fair of Tourism Serbia

    Labuan Bajo Dipromosikan dalam International Fair of Tourism Serbia

    BERANDANEGERI.COM,- Destinasi super premium Labuan Bajo yang berada di Nusa Tenggara Timur dipromosikan dalam ajang “42nd International Fair of Tourism” yang berlangsung pada 20-23 Februari 2020 di Beograd, Serbia.

    Dalam siaran pers Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kegiatan ini merupakan kerja sama antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beograd dengan Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF).

    Duta Besar RI untuk Serbia dan Montenegro M. Chandra Widya Yudha saat pembukaan International Fair of Tourism di Beograd, Kamis (20/2/2020), menjelaskan kegiatan pameran seperti ini berperan penting untuk strategi KBRI Beograd mempromosikan pariwisata Indonesia di Serbia dan kawasan sekitarnya.

    “Berkat berbagai kegiatan promosi yang dilakukan, terlihat ada kenaikan signifikan wisatawan Serbia ke Indonesia sebesar 40 persen dibanding pada 2018. Tercatat wisatawan Serbia ke Indonesia pada 2019 sebanyak 5600 wisatawan,” katanya.

    International Fair of Tourism diadakan setiap tahunnya dan menghadirkan sekitar 900 exhibitor dan dikunjungi oleh sekitar 65.000 ribu pengunjung. Partisipasi KBRI Beograd pada pameran ini merupakan salah satu program prioritas di tahun 2020.

    Dubes Chandra Widya Yudha juga menjelaskan meskipun Bali menjadi destinasi favorit wisatawan Serbia, KBRI Beograd juga mempromosikan destinasi lainnya yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang sebagai 5 Destinasi Super Prioritas yang saat ini sedang didorong pembangunan infrastrukturnya.

    “Labuan Bajo menjadi fokus utama pameran ini dikarenakan akan menjadi tempat penting penyelenggaraan Konferensi G20 dan Konferensi ASEAN. Selain BOPLBF, KBRI Beograd bekerja sama dengan Turkish Airlines, Jungle Tribe yang merupakan TA/TO Serbia dengan market share wisatawan ke Indonesia paling besar,” katanya.

    Terpisah Dirut BOPLBF Shana Fatina juga menjelaskan, Labuan Bajo telah ditetapkan Presiden Jokowi sebagai destinasi wisata premium. Yang pengembangan infrastrukturnya ditargetkan selesai pada akhir 2020.

    “Event ini menjadi salah satu momentum kita untuk memperkenalkan pariwisata di NTT. Selain Labuan Bajo dan Flores, NTT memiliki potensi pariwisata luar biasa, seperti Sumba dan Daratan Timor. Karena bicara pariwisata ini kan kita tidak hanya bicara soal atraksi alam, tetapi juga budaya dan manusianya,” katanya. (Che)

  • NTT Go Internasional?

    NTT Go Internasional?

    Oleh Dr Justin L Wejak, Dosen Kajian Indonesia Universitas Melbourne, Warga asal NTT kelahiran Baolangu, Lembata

    DI UJUNG tahun 2019 saya diwawancarai Pak Marius Jelamu, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur. Wawancara itu mengenai kunjungan Pak Viktor Laiskodat ke Eropa. Kunjungan perdana sebagai Gubernur tersebut dalam rangka memperkenalkan NTT kepada dunia.

    Pak Marius yang fasih dalam beberapa bahasa asing sempat menawarkan kemungkinan wawancara dilakukan dalam Bahasa Inggris. Namun setelah saling berkiriman pesan melalui Whatsapp, akhirnya kami sepakat untuk menggunakan saja Bahasa Indonesia.

    Gubernur Nusa Tenggara Timur Victor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi (kanan) melakukan salam komando usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9).

    Sejak wawancara itu keingintahuan saya tentang Pak Viktor dan kebijakan-kebijakan pembangunannya bersama Wagub Pak Josef A Nae Soi semakin menggebu. Saya ingin tahu apa kebijakan-kebijakan mereka, dan bagaimana reaksi masyarakat NTT.

    Beberapa pidatonya yang sempat menggemparkan khalayak saya tonton di Youtube. Terus terang saya kagum dengan gaya beliau berpidato. Sangat kharismatik. Tulisan-tulisan tentang Pak Viktor di koran pun saya baca semuanya dengan penuh gairah.

    Entah kenapa tumbuh minat menggebu untuk tahu lebih banyak tentang Pak Viktor: anak kampung dari Tubululin, dan dari keluarga biasa-biasa, yang menjadi orang “luar biasa” asa NTT di rantau sebelum bale kampung halaman, tanah Flobamora.

    NTT harus makin dikenal dunia

    NTT memang harus makin dikenal dunia; itu bukan pilihan melainkan keperluan. Perjalanan Pak Viktor ke manca negara penting, selain untuk bertemu langsung dengan foreign stakeholders, juga (dan terpenting) untuk memperkenalkan NTT kontemporer ke dunia. Pak Wagub Josef A Nae Soi pun sudah beberapa kali ke Australia dalam rangka melihat bagaimana misalnya destinasi-destinasi wisata tertentu seperti Philip Island dikelola.

    NTT memang harus makin dikenal dunia. Kata orang: kenal maka sayang. Makin dikenal maka makin disayangi.

    Pasti untuk alasan itu, Pak Viktor memboyong sekelompok penari asal Sabu Raijua untuk mementaskan tarian tradisional dalam Festival Pariwisata di Norwegia beberapa waktu lalu. Selain tarian, diperkenalkan pula tenunan khas NTT, hal yang dilakukan isterinya, Ibu Julie Laiskodat, yang segera dilantik sebagai anggota DPR (PAW) menggantikan koleganya, Johnny G Plate, yang ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika RI. Semua kain tenunan yang dibawa habis terjual. Itu tanda pembeli memang suka produk tenunan NTT.

    Bukan hanya tarian dan tenunan, masih ada juga produk-produk asli lain dari NTT yang sedang diperkenalkan kepada dunia. Termasuk di antaranya minuman keras sophia (sopi asli), se’i, dan kelor. Tentang kelor, disinyalir Jepang sudah mengimpor rata-rata 40 ton per minggu. Patut dicatat, khasiat kelor untuk kesehatan sudah diakui Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation, WHO). Sementara sophia dilirik para pengusaha minuman Rusia untuk keperluan pembuatan vodka di negeri pencetak petenis unggul perempuan itu. Awalnya, seperti diketahui, beberapa pihak memang menolak inisiatif pembuatan Sophia. Tetapi setelah melihat manfaat ekonomisnya kini mereka tak sungkan mengacungkan jempolnya.

    Keterampilan menenun dan membuat minuman keras sudah lama ada dalam masyarakat NTT. Tugas pemerintah, melestarikan keterampilan-keterampilan itu dengan mencarikan pemasarannya di seantero dunia.

    Selain produk-produk khas NTT: tenunan, sophia, se’i, pemerintah juga tengah gencar mempromosikan Komodo dan beberapa destinasi atraktif lain di NTT. Tahun 2019 Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur bersama rombongan “bertamasya” ke Perth, ibukota Negara Bagian Western Australia. Tamasya itu penting karena bisa menjadi ajang pembelajaran tentang bagaimana pariwisata dikelola di belahan dunia lain.

    Promosi dan pengenalan memang penting. Tapi yang tak kalah penting (bahkan lebih penting) adalah kesiapan daerah. Sudah siapkah kita untuk menjadi “tuan rumah” yang manis dan ramah bagi para wisatawan –asing dan domestik– sehingga mereka betah di tempat kita?

    Penangkapan ikan paus di Lamalera

    Infrastruktur jalanan ke titik-titik wisata di Lembata, misalnya, belum cukup memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengunjung. Lamalera yang sudah berabad-abad dikenal dunia sebagai “kampung paus”, dan pantas dijadikan salah satu ikon wisata Lembata (bahkan NTT dan Indonesia), justru tergolong wilayah dengan kondisi jalan raya terparah di Lembata.

    Pemerintahan Kabupaten Lembata di bawah komando Bupati Sunur yang menjadikan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan justru dinilai gagal membangun sarana dan prasarana memadai untuk mendukung pariwisata seperti jalan, air dan listrik.

    Aspek-aspek seremonial seperti Festival Tiga Gunung dan beberapa festival lain sudah beberapa kali diadakan dan dihadiri baik pengunjung lokal maupun luar. Tujuannya, mempromosi wisata Lembata. Sayang, hasilnya hampir nihil; tak banyak membawa manfaat ekonomis bagi masyarakat. Justru anak-anak perempuan usia sekolah menjadi hamil karena “kecelakaan seks”. Apa yang salah dengan promosi wisata Lembata?

    Tak ada yang gratis

    Jika promosi wisata disambut positif dan hasilnya terukur misalnya banyak wisatawan berkunjung, maka tentu saja ada dan banyak manfaat ekonomisnya. Tak ada kunjungan yang gratis, bukan?  Dalam Bahasa Inggris ada sebuah ucapan lazim –there is no such thing as a free lunch– artinya tak ada makan siang gratis. Bukan cuma tak gratis, melainkan diharapkan agar “makan siang” itu bisa menjadi sumber devisa berlimpah bagi masyarakat.

    Teringat ucapan Pak Viktor sendiri dalam pidatonya di Kupang 14 November 2019. Kala itu beliau mendorong para pelancong kaya melirik NTT sebagai destinasi wisata. Tentu selain Bali yang notabene 85% ekonominya mengandalkan industri pariwisata. Apakah NTT bakal menjadi seperti –bahkan melampaui– Bali? 

    Labuan Bajo, salah satu andalan parawisata NTT

    Menurut Pak Viktor, wisata NTT siap masuk kategori wisata premium. Itu artinya NTT siap memanjakan para wisatawan khususnya yang berduit dengan fasilitas-fasilitas mewahnya dan pelayanan berkelas. Ditambahkannya, kebanyakan warga NTT miskin; dan mereka tak ingin melihat pelancong berkantong kempes datang ke NTT. Kemiskinan membuat warga tertekan dan terbebani.

    Ucapan Pak Viktor dalam pidatonya memang sempat menuai kontroversi, meski tak sekontroversial beberapa pidatonya yang lain. Beberapa pemandu wisata, misalnya, sempat bereaksi tak suka. Mereka khawatir kehilangan nafakah hidup lantaran kemungkinan terjadi boikot dari para pelancong yang menolak datang ke NTT.

    Terlepas dari aneka masalah yang melilit NTT, satu hal yang patut saya kagumi dari sosok Gubernur NTT adalah keberaniannya. Beliau berani mengucapkan pikirannya. Tak membiarkan dirinya dirundung ketakutan untuk berbicara apa adanya. Beliau siap menanggung apapun risiko dari ucapannya.

    Felicem diem natalem

    Hari ini 17 Februari, pas hari ulang tahun Gubernur NTT, Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat. Tulisan ini hadir sebagai kado ulang tahun buat Pak Viktor. Tentu tak mudah mencarikan hadiah yang cocok apalagi untuk seseorang yang belum cukup dikenal secara pribadi.

    Namun, untuk Pak Viktor yang kebetulan adalah seorang Gubernur, hadiah berupa tulisan barangkali bisa dianggap layak. Setelah sejenak membaca beberapa catatan Pak Ansel Deri –staf khusus Pak Viktor saat masih di Senayan– akhirnya saya putuskan untuk mempersembahkan sekeping tulisan. Maka tulisan ini hadir sebagai kado ulang tahun buat Pak Viktor, Gubernur Provinsi kelahiranku, NTT.

    Sekali lagi dari benua seberang ingin saya sampaikan ucapan selamat berbahagia kepada Pak Viktor:  Felicem diem natalem.

    ***

    Sumber Tulisan: Victory News, 17 Februari 2020

  • Kisah Ikan Salmon

    Kisah Ikan Salmon

    Oleh  Stephie Kleden-Beetz

    TEMPATNYA di Reykyavik (Islandia, negeri api dan es). Di restoran yang modern dan canggih itu saya mendapat hidangan makan saing ini: kentang kukus, sayur brokoli dan ikan salmon. Ya kisah itu sudah bertahun-tahun yang lalu.

    Kali ini saya bukan mau bercerita tentang pulau gunung api di utara, di mana musim dingin yang beku selama 9 bulan dan musim panas (Juni, Juli, Agustus yang hangat dengan matahari yang bersinar di tengah malam) melainkan yang mau saya suguhkan ialah tentang ikan salmon.

    Ikan salmon (salamonidae) ada bermacam-macam jenis. Ada salmon Atlantik yang disebut Salmon Salar, ada salmon Pasifik yang bernama Oncorhynchus. Mereka adalah ikan pemburu yang tangguh. Lahir di sungai-sungai. Dalam umur 2-3 tahun dengan panjang 15 cm mereka mulai melanglang buana menuju lautan lepas. Di samudera raya mereka tumbuh sangat cepat dan bertemu dengan sesama jenisnya dari berbagai tempat di seuruh dunia, ada yang dari Kanada, Skotlandia, Rusia, Skandinavia, Jerman dan sebagainya.

    Keistimewaan ikan-ikan salmon ialah: ketika masa kawin tiba mereka kembali ke tempat lahirnya. Secara instinktif mereka tahu di mana mereka lahir dan halangan apapun tak akan pernah mungkin bisa menahannya untuk kembali. Maka mulailah sebuah perjalanan pulang yang penuh dengan tantangan dan petualangan yang luar biasa. Dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, mereka hampir tidak punya waktu untuk makan. Hal ini sudah mereka atur jauh-jauh hari sebelumnya dengan sangat teliti yaitu dengan makan sebanyaknya-banyaknya sehingga tubuhnya penuh dengan lemak dan energi.

    Rintangan dalam perjalanan ke tempat lahir pertama ialah: melawan arus yang begitu deras. Tak kurang air-air terjun yang tidak sedikit yang harus mereka lewati. Tetapi apalah rtinya? Mereka lampaui dengan perkasa air terjun yang tingginya tiga sampai lima meter, mereka lampaui dengan perkasa yaitu dengan sekali loncat. Bila loncatan pertama gagal, jangan kira mereka putus asa. Mereka akan mencoba dan terus mencoba sampai berhasil. Sering sekali dalam usaha ini mereka jatuh terpelanting di batu-batu yang tajam dan runcing, ada yang luka da nada pula yang mati. Acap kali untuk menghemat tenaga mereka berusaha melompat jauh dan siapa sangka mereka bisa melompat sejauh 5 meter. Kesulitan yang tidak kala besarnya ialah manusia yang memburunya dan ahu tepat di mana rombongan ikan salmon ini bisa di tangkap. Jangan lupa di dunia ini tidak sedikit manusia yang menyukai ikan salmon yang lezat dan mahal itu.

    Perjalanan panjang yang ribuan kilo meter itu mereka tempuh antara 6 bulan sampai satu tahun. Bagaimana ikan salmon itu bisa menemukan jalan kembali ke tempat lahirnya tetap merupakan rahasia alam pun bagi para ahli yang bertahun-tahun menyelidikinya. Mereka (para ilmuwan) hanya berkesimpulan bahwa untuk dapat kembali atau daya orientasi itu diperoleh dari penciuman. Dengan ketahanan tubuh yang luar biasa mereka bisa berenang sekitar 54 km dalam sehari. Berhubung mereka tidak ada lagi waktu untuk makan dalam petualangan hidup mati itu, maka persedian lemak dalam tubuhnya diubah menjadi otot dan energi. Ekornya yang kokoh amat membantu untuk laju perjalanannya.

    Semakin mendekat ke tempat lahir terjadilah perubahan yang luar biasa pada diri ikan-ikan salmon itu. Sang jantan berubah warna dan siap memakai pakain ‘pengatin’ yang amat indah. Kebalikan dari dunia manusia di mana mempelai wanita lebih dominan dan heboh dan meriah dalam berdandan. Maka bersoleklah mempelai pria dengan punggung yang agak gelap, perut dihiasi dengan warna yang merah menyala dan seluruh tubuh ditaburi bintik-bintik coklat atau putih yang membuat dandanan semakin sempurna. Sirip dan ekor indah jelita seolah ditaburi mutiara dan berlian. Sang betina sedikit saja berubah tetapi tidak semewah mempelai pria.

    Akhirnya tibalah mereka di tempat yang dituju, di kampong halaman. Dari ribuan yang menempuh perjalanan panjang hanya sedikit saja yang terengah-engah tiba ditempat. Kini sang betina mulai bekerja dengan semangat yang luar biasa dan mengagumkan: dengan mulut, dibantu ekor dan sirip ia mulai menggali untuk tempat bertelur. ‘Kamar pengantin’ ini rata-rata 10 sampai 20 cm dalamnya tetapi dengan lebar dan luas sampai 1 (satu) meter atau lebih. Nelayan-nelayan Ceko bahkan pernah mengintip ‘kamar pengantin’ itu yang menurut mereka begitu luas sehingga seekor kuda pun bisa berbaring di dalamnya.

    Yang luar biasa adalah ini: Selama sang betina bekerja membanting tulang dan bercucur keringat, banyak jantan yang menunggu dengan penuh birahi di samping situ. Mereka tidak sama sekali menolong tetapi hanya melotot! Bayangkan! Dasar jantan. Sesudah betina selesai, majulah para jantan itu dan mau nerebut betina tersebut. Terjadilah pergumulan yang hebat di samping kamar pengantin untuk memperebutkan pengantin putri. Jantan yang kalah mundur, ada pula yang tewas. Jantan yang menang mulai ‘making love’ dengan sang betina. Ada tarian menarik hati, seremoni itu dan itu, barulah terjadi upacara perkawinan dan telur-telur yang puluhan ribu yang sudah tersedia di kamar pengantin pun dibuahi. Sesudah itu sang betina menutupi telur-telur itu dengan pasir.

    Dan pasangan yang baru saja bercinta itu kehabisan tenaga lalu menghembuskan nafas terakhir. Suatu kematian yang bahagia setelah menempuh jalan panjang penuh sengsara dan bahaya. Mereka telah pergi sesudah memberikan kehidupan baru kepada keturunannya yang dalam waktu 70-20 hari akan lahir dan terjadilah lagi proses kehidupan dari awal.

                                          ***

    Stephie Kleden-Beetz, pernah menjadi korespenden Deutsche-Welle, radio nasional Jerman. Menulis buku antara lain Cerita Kecil Saja, Merajut Kata-Kata, Tanda Mata.

    Sumber Tulisan: Majalah Warta Flobamora, Edisi 41 Juni 2016

  • Pentingnya  Kebenaran

    Pentingnya Kebenaran

    Oleh  F. Budi Hardiman

    KEBENARAN memang penting, tetapi mengapa hal itu perlu ditegaskan lagi? Akhir-akhir ini demokrasi elektoral di Amerika, Eropa, dan sampai juga di Indonesia pada tahun politik ini dibisingkan dengan retorika-retorika yang tidak berdasarkan fakta.

    Para politikus memengaruhi para pemilih tidak dengan argumentasi rasional, tetapi dengan mengaduk-aduk sentimen-sentimen kolektif. Di sana dengan islamofobia, isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transjender), dan masalah imigran. Di sini dengan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), retorika krisis ekonomi, atau menakut-nakuti para pemilih. Gejala itu lalu disebut pasca-kebenaran atau post-truth, sebuah istilah yang pada tahun 2016 oleh Oxford Dictionary dinobatkan sebagai word of the year.

    Istilah itu muncul seperti patahan dalam demokratisasi. Sebetulnya tidak ada kondisi yang begitu cocok untuk mewujudkan ideal-ideal demokrasi, yaitu politik deliberatif, kewarganegaraan inklusif, keadilan sebagai fairness, seperti kondisi kita dewasa ini, ketika ponsel pintar telah memindahkan diskusi-diskusi dari auditorium, forum, kontainer massa, ke dalam genggaman. Seharusnya inilah saatnya demokrasi ditopang oleh kebenaran dan penalaran publik yang sehat. Akan tetapi, justru persis pada saat ini, ketika akses langsung ke dalam politik dimungkinkan oleh telepon genggam, ideal-ideal demokrasi itu justru luput dari genggaman.

     Kegagalan itu sebagian besar terjadi karena kebenaran diremehkan. Manusia tak kedap terhadap kebenaran, tetapi ia bisa mengabaikannya. Istilah pasca-kebenaran melukiskan sebuah kondisi ketika kebenaran dianggap tak lagi penting dalam politik, tetapi hal itu sama sekali tidak berarti bahwa kebenaran tidak penting. Dengan mengatakan “pasca”-kebenaran, tidak berarti kita boleh membenarkan kelemahan karakter para politikus. Sebaliknya, istilah itu justru menunjukkan keprihatinan atasnya. Keprihatinan itu menjadi mungkin karena kebenaran merupakan nilai sangat penting dalam demokrasi.

    Tiga alasan mendasar Mengapa kebenaran itu penting bagi demokrasi? Marilah kita bertolak dari tiga aspek kebenaran sebagaimana dianalisis oleh filsuf kontemporer, Jürgen Habermas, yakni kebenaran sebagai fakta, sebagai moralitas, dan sebagai autentisitas. Pernyataan para politikus partai selama kampanye dapat diperiksa menurut tiga aspek kebenaran tersebut, yaitu kesesuaian pernyataan itu dengan fakta, ketepatannya dengan moralitas publik, dan ketulusan orangnya. Berdasarkan tiga aspek kebenaran itu, kita lalu dapat memberikan argumen mengapa kebenaran itu penting untuk demokrasi.

    Alasan pertama adalah bahwa ide demokrasi itu sendiri mengandaikan kebenaran sebagai fakta. Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat. Tapi siapakah “rakyat”? Tentu bukan hanya kerumunan tribal yang berteriak bela ini atau bela itu di jalan-jalan. Rakyat juga bukan hanya partai atau orang partai yang sering mengklaim mewakilinya. Rakyat adalah kita semua dan semua pihak. Namun, bagaimana kita tahu bahwa sebuah opini mewakili semua pihak? Kita tahu lewat kebenaran faktual, yakni lewat statistik, jurnalisme obyektif, survei, dan seterusnya. Tanpanya kita sulit membedakan antara opini dan berita, fakta dan hoaks, fiksi dan realitas. Politik pasca-kebenaran meremehkan perbedaan-perbedaan itu dan memberi-menyebar data palsu sehingga publik kebingungan dan mencari pegangan pada demagogi sang pembohong.

    Alasan kedua mengapa kebenaran itu penting bagi demokrasi adalah karena kebebasan berpendapat yang melekat pada demokrasi merupakan sebuah ide moral. Kebebasan tidak akan kita miliki jika kebebasan kita diancam oleh kebebasan orang lain. Sebagai ide moral kebebasan menjadi berlebihan jika dipakai untuk membohongi publik atau untuk membenci pihak lain. Demokrasi yang sehat tidak menoleransi intoleransi yang dicetuskan dari kebebasan berpendapat. Jadi, perlu ada kebenaran moral yang memungkinkan kebebasan seseorang juga merupakan kebebasan semua orang lainnya. Kebenaran moral itu termuat dalam prosedur demokratis, misalnya keadilan sebagai fairness dan hak-hak asasi manusia. Dalam hal ini pers tak perlu netral, tetapi justru memihak yang benar. Asas keseimbangan pers dalam arti menerima dari kedua sisi kerap disalahgunakan pihak yang akan merongrong demokrasi untuk dapat panggung media.

    Alasan ketiga terkait hakikat demokrasi. Demokrasi pada hakikatnya adalah komunikasi, dan komunikasi perlu dilandasi kepercayaan timbal balik. Kepercayaan tersebut baru mungkin didapat kalau ada kebenaran sebagai ketulusan. Integritas para politikus dan transparansi publik sangatlah sentral untuk membangun iklim kepercayaan dan respek timbal balik. Politik pasca-kebenaran berbenturan dengan kodrat demokrasi. Retorika narsistis yang disebarkannya membelah para pemberi suara menjadi kawan dan lawan. Hal itu meningkatkan iklim ketidakpercayaan timbal balik dan potensi kekerasan. Justru dalam situasi itu kebenaran sebagai kejujuran jadi penting. Kejujuran dapat memulihkan keutuhan komunitas politis dan meningkatkan iklim saling pengertian.

    Daya Tarik Kebohongan

    Pertimbangan di atas diberikan bukanlah karena kebenaran selalu menarik. Justru sebaliknya, bagi sebagian besar orang, apalagi mereka yang menjadi partisan dan fanatik dengan sebuah kubu di tahun politik ini, kebohongan lebih menarik. Tentu dibohongi bukanlah hal yang menarik. Namun, kebohongan, apalagi yang disajikan secara sensasional dan kontroversial, bisa dipersepsi sebagai hal menarik. Kerumunan yang haus sensasi dan kontroversi itu adalah mangsa lezat para politikus pasca-kebenaran.

    Mengapa orang bisa tidak tertarik pada kebenaran? Karena manusia tidaklah serasional seperti yang disangka. Nalar kita tidak netral, tetapi tendensius, sehingga apa yang kita harap benar mewarnai hal yang sebenarnya, apalagi jika hal itu menyangkut rivalitas politis. Lee McIntyre dalam Post-Truth (2018) menyebutnya “motivated reasoning”. Nalar macam ini cepat mengubah selentingan tentang politikus sontoloyo, tampang Boyolali, dan sejenisnya menjadi kontroversi dangkal yang menyeret publik ke dalam rivalitas “kita versus mereka”, yakni pihak sendiri selalu benar, sedangkan pihak lawan pasti salah.

    Meski tak sepenuhnya rasional, manusia juga tidak kedap terhadap kebenaran. Kewarasannya terkait erat dengan keterbukaannya terhadap kebenaran. Penerimaan atas fakta kemajemukan, kesetiaan pada Pancasila sebagai moral publik, dan rekonsiliasi atas pengalaman-pengalaman negatif di masa lalu merupakan tiga macam keterbukaan yang menjamin kewarasan masyarakat kita. Namun, jaminan itu hilang, begitu kita lengah dan membiarkan demokrasi dikooptasi oleh kelompok-kelompok radikal yang berpura-pura demokratis.

    Cara-cara berpolitik yang membuat kebohongan lebih menarik daripada kebenaran sangatlah berbahaya bagi kewarasan mental publik. Jika politik diubah dari soal benar atau salah menjadi soal menang atau kalah, segala cara dapat dilakukan untuk mendongkrak elektabilitas, termasuk merangkul kelompok-kelompok radikal. Kebenaran dengan ketiga aspeknya, yakni sebagai fakta, moral publik, dan ketulusan, diingkari dengan melantik ideologi sebagai ukuran baru. Timoty Snyder tidak berlebihan saat memperingatkan dalam On Tyranny (2017) bahwa “pasca-kebenaran adalah pra-fasisme”.

    Satu Alasan Lagi

    Sebagai penutup saya memberi satu alasan lagi mengapa kebenaran itu penting untuk demokrasi. Setia kepada kebenaran membuat para warga negara demokratis berbahagia. Bukti untuk kaitan antara kebenaran dan kebahagiaan ini mudah untuk diberikan kalaupun tidak secara moral atau eksistensial, sekurangnya secara politis. Negara-negara demokratis yang terlatih untuk menghargai fakta, moralitas, dan transparansi terbukti lebih sejahtera daripada mereka yang terjebak dalam kemelut konflik ideologi, propaganda agama, dan kleptokrasi.

    Kemajuan pers dan sains, meningkatnya akuntabilitas publik, dan kepercayaan timbal balik sebagai hasil transparansi memang tidak menjamin kebahagiaan subyektif tiap orang. Bunuh diri banyak terjadi di negara-negara maju. Negara memang tidak perlu membahagiakan setiap orang. Selain mustahil, hal itu juga berlebihan karena akan muncul paksaan tak membahagiakan untuk berbahagia. Yang perlu dilakukan negara dan para politikus adalah menciptakan kondisi-kondisi untuk bahagia, dan hal itu mustahil terwujud tanpa minat terhadap kebenaran.

    Karena itu, negara dan para politikus wajib menarik minat para pendukung mereka terhadap kebenaran sehingga peluang kesejahteraan sosial menjadi lebih besar. Tapi ada catatan kecil di sini. Minat akan kebenaran berbeda dari memiliki kebenaran. Para antusias politis dan religius yang berteriak-teriak mengklaim memiliki kebenaran sesungguhnya tidak meminati kebenaran. Mereka memaksa orang lain bahagia menurut cara mereka.

    Arogansi seperti itu justru mengancam bukan hanya kebahagiaan orang lain, melainkan juga diri mereka sendiri. Kebahagiaan tidak datang dari paksaan kebenaran, tetapi dari penemuan kebenaran lewat kebebasan. Kebebasan itulah yang mengantar pada kebenaran yang tidak terlalu dini untuk dikatakan. “Kebenaran”, demikian Voltaire, “adalah buah yang hanya boleh dipetik saat matang”.

    ***

    F Budi Hardiman, Pengajar Filsafat di Universitas Pelita Harapan, Tangerang

    Sumber Tulisan: Kompas, 30 November 2018