Sebuah cerita perkumpulan budayawan
dan seniman muda di Yogyakarta yang meresahkan kaum penguasa, di Jakarta.
Maklum PSK namanya!
APABILA PSK atau Persada Studi Klub masih hidup pada 2013,
klub sastrawan ini akan berusia 45 tahun. Karena pada medio Maret 1968 klub
tersebut mulai dibentuk lewat rubrik sastra di mingguan Pelopor Yogya. Sebuah koran amat sederhana, yang terkategori jelek
cetakannya. PSk ini dikomandani oleh Umbu Landu Paranggi, penyair karakteristik
kelahiran Waikabubak, Sumba Barat, yang pada 2013 genap berusia 70 tahun.
Apabila lembar-lembar sejarah PSK dicermati, ternyata klub sastra itu tidak cuma menggerakan gairah para pencipta puisi dan prosa saja, tetapi juga memotivasi para pemikir serta aktivis sosial dan budaya yang “laten revolusioner” pada tengah tahun 1970-an.
Ket. Foto: Trotoar di persimpangan Kantor Pos Besar Yogyakarta, tempat pertemuan komunitas Persada Studi Klub
Lewat rubrik sastra itu Umbu memang tak henti memupuk
keberanian anak-anak muda untuk bicara lewat medium tulisan, apa pun bentuknya.
“Segala yang kau pikirkan” katanya memprovokasi di depan gedung Senisono. Tepatnya
di sehampar trotoar yang letaknya di persimpangan Kantor Pos Besar Yogyakarta,
sebelah selatan Malioboro. Satu wahana informal yang jadi pusat pertemuan fisik
dan pikiran anak-anak muda setiap malamnya.
Bagi yang sadar situasi budaya, yang lantas bertaut dengan sosial dan politik, kalimat Umbu itu seperti akan ajakan untuk bersikap dan berbuat dengan disertai kematangan pikiran, yang telah dilatih lewat dunia penulisan. Tujuannya agar anak-anak muda siap menghadapi pemerintah Orde Baru, yang pada menjelang paru pertama dekade 1970 dirasa mulai represif. Lewat PSK Umbu seperti mengatakan bahwa orang yang berpikir tak mudah tersingkir.
Ket. Foto: Rainer Maria Rilke, sastrawan Jerman yang pemikirannya didiskusikan oleh Persada Studi Klub
Bertahun-tahun sastra jalanan ala Umbu hidup dan menyala. Dan
ia selalu melontarkan topik untu dipikirkan dan didiskusikan. Pada suatu kali
lewat rubrik ia menegaskan perkataan pujangga Rainer Maria Rielke, “Janganlah
engkau menulis puisi cinta yang cengeng pada langkah permulaan. Berpalinglah
kepada tema kehidupan sehari-hari yang keras dan terus melintas.” Saya tak
menduga, topik Rielke yang dilontarkan Umbu itu jadi perbincangan sehari-hari
di trotoar Senisono, juga disepanjang koridor Malioboro. Dan kalimat
“berpalinglah kepada tema kehidupan yang keras” berkembang jadi wacana
bagaimana cara melawan segala sesuatu yang menjurus ke tiran.
Pada kesempatan lain penyair Ragil Suwarna Pragolapati menyampaikan kabar bahwa Umbu menolak isi esai Why the moved matters tulisan D.H. Lawrance, yang menyatakan bahwa novelis lebih tinggi kedudukannya ketimbang penyair. Lalu tak kurang dari seminggu forum diskusi trotoar memperdalam persoalan itu. Penyair dan novelis pun merasa dirinya satu.
Ket. Foto: Pemikiran Filsuf Herbet Marcuse menjadi tema serius di Persada Studi KlubKet. Foto: Puisi-puisi Rendra juga menjadi bahan diskusi di Persada Studi Klub
Ratusan topik kesenian, kebudayaan sosial, bahkan politik
dipercakapkan di sana. Dari yang ilmiah, ngilmiah,
ringan, berat sampai yang banal. Nama Rivai Apin, W.S. Rendra, Dickinson, Andy
Warhol, Herman Hesse, Robert Forst, Herbert Marcuse, sampai Ronggowarsito
muncul di ujung Malioboro.
Pada awalnya yang berkumpul di situ tentu sastrawan kerabat
PSK. Kemudian diimbuh para mahasiswa STSRI ( Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia
) “Asri” yang gemar diskusi. Selanjutnya muncul anak-anak muda anggota
teater di sekitar Yogya. Pada waktu
berikutnya bergabung mahasiswa serta dosen dari fakultas sastra, sejarah,
sosial-politik serta filsafat Universitas Gajah Mada-Bulaksumur. Sampai disini
niat Umbu mempertemukan sastrawan dengan perupa, filsuf, sosiolog, politikus
sampai antropolog tampak tercapai. Dan dari sinilah kemudian muncul istilah
“Universitas Malioboro” atau “Poros Bulaksumur-Malioboro”, yang dikemudian hari
diangkat jadi judul kumpulan puisi.
Jika dedengkot PSK Emha Ainun Najib mengungkap ada jalur Umbu
yang menyusur Tugu sampai Kraton (Utara-Selatan), maka tak boleh dilupakan
jalur Gampingan sampai Bulaksumur (Barat-Timur), yang bersumbu di ujung
Malioboro. Jalur ini adalah turunan dari kegilaan Umbu, yang lantas menerbitkan
nama Yudhistira ANM Masardi, Halim HD, Ebiet G. Ade, Linus Suryadi AG, Landung
R. Simatupang dan puluhan nama penting lainnya.
Pada akhir Maret 1975, sebagai mahasiswa STSRI “Asri” saya
dan delapan teman mengadakan pameran “Nusantara! Nusantara!” di gedung Karta
Pustaka, Yogyakarta.* Sebuah pameran parody seni rupa, yang isinya berempati
kepada sejumlah mahasiswa STSRI “Asri” yang diskors dari kampus. Syahdan para
mahasiswa ini dihukum lantaran melakukan gerkan “Desember Hitam” yang anti
pemaksaan konsep kebudayaan di Jakarta. Pameran “Nusantara! Nusantara!” dibuka
oleh Romo Dick Hartoko, seorang rohaniwan Katolik, budayawan, pemimpin redaksi
majalah Basis.
Beberapa hari pameran dibuka keributan terjadi. Aparat Orde
Baru menuduh pameran itu embrio dari subversi kebudayaan. Terembus kabar bawah
kasus ini, sekalian kasus ‘Desmber Hitam’, telah masuk dalam pembahasan Panglima
Komando Wilayah Pertahanan IV Jawa-Madura, Letjen Widodo. Para dosen STSRI
“Asri” ditekan untuk menindak para peserta pameran. Dan saya selaku juru bicara
pameran tidak boleh masuk kampus dalam tempo tiada terbatas.
Saya pun datang ke Romo Dick untuk minta pertolongan. Dengan
Kuatir Romo Dick mengatakan bahwa saya telah dicatat sebagai bagian dari
“Universitas Malioboro”, komunitas pemikir muda yang sudah lama dimata-matai
aparat kemananan demi stabilitas politik. “Ini tanda-tanda zaman”, katanya. Apa
yang dikatakannya benar. Beberapa minggu kemudian Emha Ainun Najib dan
novelis-sosiolog Ashadi Siregar menyarankan agar saya segera lari, bila tidak
ingin ditangkap tentara. Mereka menganjurkan saya ke Jakarta, untuk menyelinap
di majalah Obor. Majalah itu ternyata
dibatalkan penerbitannya oleh Menteri Penerangan, lantaran di dalamnya ada nama
Aini Chalid, salah seorang penggerak Malari (Malapetaka Limabelas Januari)
1974.
Saya pun menggelandang di Jakarta sambil mengingat Umbu Landu Paranggi, “Presiden Malioboro” yang menginspirasi siapa saja untuk terus berpikir dan bertindak berani. Sementara Umbu sendiri diam-diam pulang ke kampungnya, lalu pindah ke Bali, setelah PSK di populerkan pemerintah sebagai singkatan dari Pekerja Seks Komersial.
Foto: Umbu Landu Paranggi
***
*Karta Pustaka adalah perpustakaan milik Konsulat Belanda di
Yogyakarta. Didirikan pada 1968. Perpustakaan yang menyimpan puluhan ribu buku
ini tutup pada awal Desember 2014, karena kekurangan dana pemeliharaan.
*Sumber Tulisan dari Buku SIHIR
RUMAH IBU, Agus Dermawan T, Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel Kedelapan. Semoga berguna.
Penulis : Benjamin Tukan
Lain Portugis, lain Belanda. Berita jatuhnya Benteng Malaka ke tangan Belanda tahun 1641 seakan membawa kecemasan bahwa sebentar lagi kepulauan Solor pun bakal dikuasai oleh Belanda. Apa yang akan diperbuat Belanda di kepulauan Solor? Tak ada yang dapat memastikan. Semua serba spekulasi.
Namun, kedatangan para pengungsi dari Malaka kemudian dari Makasar akibat kekalahan perang Portugis sepertinya mulai memberi kekuatiran di tengah masyarakat.
Mendahului kedatangan pengaruh politik Belanda di kepulauan Solor, dari segi ekonomi, pelayaran-pelayaran perdagangan nusantara kala itu perlahan mulai dikuasai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.
Di Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni. Istilah ini diambil dari kata compagnie dalam nama lengkap perusahaan tersebut dalam bahasa Belanda. VOC yang menjadi kampiun perdagangan saat itu, sangat berambisi menguasai sentra-sentra perdagangan.
Hingga kedatangan pengaruh politik Belanda, tidak ada pengetahuan sedikit pun tentang kompeni ini. Namun kenyataan yang terjadi, kekuasaan Portugis mulai terdesak. Blokade di jalur perdagagan yang dilakukan VOC, mulai menuai protes dan perang pun tak terhindarkan terjadi di hampir seluruh nusantara.
Pelabuhan Larantuka
Sebagaimana yang terjadi di kepulauan Solor, pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian tepatnya 18 April 1613 benteng Solor pun jatuh ke tangan Belanda.
Rupanya prospek perekonomian di kepuluaan Solor terlalu diabaikan oleh Belanda. Belanda pun anggan menghabiskan waktu menghadapi pertikaian yang sering terjadi di masyarakat lokal.
Hanya tiga tahun Belanda menduduki benteng, tahun 1616 Belanda meninggalkan benteng. Politik ekonomi VOC lebih mefokuskan daerah Jawa, dengan pola pertanian skala besar. Apa yang terjadi ? Daerah-daerah yang jauh dari Jawa-Sumatera mulai tidak diperhatikan oleh Belanda.
Tapi lagi-lagi, kedatangan Belanda tidak hanya semata-mata mengumpulkan hasil-hasil bumi untuk didagangkan, tapi jauh lebih mendesak yakni mengamankan jalur perdagangan. Konsekuensinya begitu serius karena penaklukan wilayah yang otonom harus dilakukan, sekalipun korban peperangan adalah kelanjutannya.
Lagi-lagi Belanda tetap menginginkan konsolidasi teritori di seluruh nusantara. Di kepulauan Solor, Belanda bolak balik hanya membuat Portugis tidak leluasa menguasai wilayah ini. Upaya penguasaan wilayah terutama di kepulauan Solor oleh Belanda baru mulai serius pada tahun 1851.
Kali ini Belanda memang serius. Di bulan Desember 1851, kapal Belanda Merapie melabuhkan jangkarnya di pelabuhan Larantuka. Saat itu Belanda mengumumkan pada upacara penyambutan di Larantuka bahwa agama tetap dipertahankan. Dari 1851 hingga 1859 Belanda melakukan serangkaian perundingan dengan Portugis dan 20 April 1859, seluruh kepulauan Solor menjadi milik Belanda.
***
Kendati sebelumnya politik Belanda, menempatkan kepulauan di luar Jawa sebagai Buitengewesten (wilayah di luar, wilayah luaran), atau juga buitenbezittingen (milik-milik di luar sana). Namun perubahan baru tengah dihadapi masyarakat baik dari segi politik maupun dalam wilayah keagamaan.
Dari segi politik, Belanda mulai memperkenalkan struktur pemerintahan baru yang semuanya berpusat pada Gubernur Jendral yang ada di Batavia. Pada 1915 Belanda membagi wilayah pemerintahan yang terdiri dari Residen, afdeling, onderafdeling, dan beberapa district (distrik) atau gemeente di bawahnya. Pembagian wilayah yang demikian juga berdampak pada semakin melemahnya kekuatan masyarakat lokal.
Daerah Flores menjadi satu afdeling dan berpusat di Ende. Sementara Afdeling Flores tergabung dalam satu residen Timor yang berpusat di Kupang. Residentie Timor tergabung ke dalam propinsi Grote Oost, Timur Besar dengan ibukotanya Makasar.
Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Geraghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda.
Para kepala onder afdeeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant.Kepala distrik atau kepala hamente mendapat nama yang berbeda di tiap wilayah.
Pembagian dari segi kelompok etnik dengan bahasa dan budaya sendiri yang dilakukan Belanda kurang lebih menyesuaikan dengan wilayah kerajaan yang ada saat itu. Dengan menempatkan penguasan sipil (zelfbestuurder) di setiap onder afdeeling tentu semakin mengurangi kekuasaan raja yang sebelumnnya sangat otonom.
Belum lagi dalam perkembangan kemudian raja harus menandatangi hak dan kewajibannya untuk tunduk pada pemerintahan Belanda. Namun, pola kekuasan pemerintah Belanda ketika itu masih menerapkan pola sentralisme dan semua harus tunduk pada Batavia.
Aksi-aksi militer Belanda dan penertiban atas pemerintah lokal yang sebelumnnya otonom telah pula membawa goncangan di masyarakat. Ada perkembangan yang cukup baik dengan kebijakan politik etis dengan mulai dibangunnya sarana jalan yang menghubungkan satu kota dengan kota yang lain dalam wilayah ini yang mulai dibangun 1909 . Begitupun jalan lintas Flores dari Reo ke Larantuka mulai dibangun pada 31 Agustus 1915 dan selesai 31 Agustus 1925, dimana berdampak bagi penduduk untuk membangun pemukiman di sekitar wilayah yang berdekatan dengan jalan.
***
“Anda Boleh Berganti Bendera, Namun Anda Tidak Boleh Pernah Berganti Agama”.
Pernyataan diatas, adalah pernyataan Imam Portugis, Gregorio Maria Barreta kepada umatnya di Larantuka ketika masa peralihan itu berlangsung.
Ini tentu berhubungan sekali dengan perjanjian Portugis dan Belanda yang mengharuskan agar pemerintah Belanda harus mengakui keberadaan agama katolik di wilayah ini.
Di wilayah keagamaan khususnya perkembangan misonaris yang datang, justru terlihat ada perhatian serius di masa ini akan perkembangan gereja lokal. Para misonaris diberi kebebasan untuk menangani pendidikan dan jumlah pelayanan umat pun semakin baik karena misonaris yang datang lebih banyak dari sebelummnya.
Sebagai pusat misi tempat subur tumbuh kembangnya benih iman Katolik kala itu, kedatangan Belanda mau tidak mau juga menjadi perhatian misonaris dan gereja saat itu. Dengan dukungan pemerintahan gubernur Belanda, tahapan misi kedua di Larantuka mulai ditata lagi. Namun kali ini, misi yang dibawah lebih bernuasa sistemastis dengan pandangan yang lebih visoner ke depan.
Postoh-Lanrantuka (Foto 10 tahun lalu)
Kendati melewati serangkaian perdebatan di Parlemen Belanda yang akhirnya pada 23 Agustus 1860 disepakati rumusan “kebebasan agama diberikan secara timbal balik kepada para penduduk di wilayah-wilayah yang diserahkan perjanjian ini”, namun Belanda tetap harus memenuhi kewajibannya.
Pada 12 September 1859 sepucuk surat dari Larantuka kepada Mgr Petrus Maria Vrancken Pr, Vikaris Apostolik Batavia untuk mengirim imam ke Larantuka. Uskup Vrancken kemudian mengirimkan Pater Johanes Petrus Nicolaus Sanders, imam diosesan, asal Leiden Belanda dan telah menjadi misonaris di Hindia Belanda sejak 1847 ke Larantuka pada 1860.
Pater Johanes Petrus Nicolaus Sanders merupakan tokoh penting ketika itu karena mulai dengan suatu tradisi yang baru namun tak selamanya bisa cepat diterima oleh umat. Perbedaan sikap yang seringkali ditunjukan raja dan umat terhadap pastor memang akhirnya dapat dimengerti mengingat begitu lamanya umat ditinggalkan pastor.
Bagaimanapun, selama ketidak hadiran pastor di wilayah ini, umat sudah merasa nyaman dengan apa yang dilakukan, terutama yang berhubungan dengan perayaan-perayaan kegerejaan.
***
Suatu perubahan besar baik politik, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan agama sedang terjadi di Larantuka saat itu. Suatu era baru mulai diperkenalkan yang pengaruhnya hingga saat ini. Barangkali pembicaraan tentang Larantuka kemudian berhubungan dengan suatu integrasi baru yang menamakan diri Flores Timur termasuk Lembata, perlu dilihat dalam konteks ini.
Di luar itu masih terdapat begitu banyak sejarah lokal yang juga berlangsung di masa-masa ini, yang belum banyak terungkap. Sejarah kerajaan Islam di daerah ini pun belum banyak terungkap.
Kita perlu belajar dari sejarah yang menjadikan kita seperti hari ini. (*)
Yesus mengalami hal-hal lumrah seperti kita: lapar, haus, bahkan digoda iblis. Kepada Yesus iblis menawarkan solusi-solusi instant untuk menggunakan kuasa-Nya demi memenuhi keinginan akan makanan, harga diri, serta kekuasaan politik.
Makanlah Karena Kebutuhan, bukan Demi Selera
Yesus digoda untuk menggunakan kuasa-Nya demi memenuhi kebutuhan jasmani: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti”. Yesus tidak menyangkal bahwa manusia butuh makan. Tetapi ia tidak menggunakan kuasa ilahi-Nya demi kepuasan sesaat. Dengan mengatakan “manusia hidup bukan dari roti saja”, Yesus menyatakan bahwa makanan memang penting bagi tubuh, tetapi tentu bukan jaminan keselamatan jiwa manusia.
Kata-kata Yesus itu relevan juga pada situasi aktual manusia: Kita diingatkan bahwa makanan dikonsumsi bukan demi memenuhi selera makan, tetapi terutama untuk kesehatan tubuh. Tradisi Kristen selalu menghormati nilai tubuh manusia: Tubuh bukan penjara jiwa, melainkan raung (locus) bagi jiwa untuk lebih terarah kepada Pencipta.
Gengsi: Virus Tua yang Selalu Baru
Yesus juga digoda untuk mendapat kehormatan dan pengakuan atas hal-hal ajaib yang dapat Ia lakukan. Kata: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkan saja dirimu ke bawah, toh ada malaikat-malaikat yang dapat engkau perintahkan untuk menatang engkau, sehingga tidak tersandung batu”. Kalau manusia memiliki kekuasaan, gengsinya juga jadi besar.
Yang relevan dengan dunia kita sekarang ialah soal gengsi. Gengsi itu ibarat virus yang menyebar tanpa membedakan antara orang kaya dan miskin, antara yang gajinya besar atau yang pas-pasan, antara artis terkenal atau orang biasa. Yesus mengingatkan kita untuk hidup realistis, sesuai kemampuan, tak mengejar hal yang tidak mampu kita dapatkan. Yesus memberi motivasi: mari hidup sesuai kenyataan, bukan sesuai kata orang, sesuai nilai yang kita yakini, bukan asal sesuai style umum, apalagi sesuai gosip.
Waspadai Politisi Murahan
Kita mungkin bertanya begini: Tetapi kan Yesus itu ilahi, Anak Allah. Mengapa Ia tidak menggunakan kuasa itu untuk mengatasi godaan? Bukankah dengan demikian Iblis dipermalukan. Tidak! Yesus tidak sewenang-wenang, Ia tidak main kuasa; ia tidak berkolusi dengan goadaan solusi instant. Yesus mendidik kita agar tidak gegabah dalam melawan iblis. Ia memperlihatkan teladan kesetiaan dan ketahanan dalam mewujudkan misi mewartakan Kerajaan Allah, sampai wafat di salib dan bangkit.
Bukan Tiga Kali
Godaan yang dialami Yesus juga terus mendatangi manusia, bukan hanya tiga kali, tetapi berkali-kali; dan manusiapun bisa jatuh berkali-kali. Setelah mengakhiri pencobaannya, iblis mundur. Tapi dikatakan bahwa ia menunggu waktu yang baik. Artinya, godaan terus mendekati kita melalui naluri kemanusiaan: makanan, kekuasaan, harga diri dan kehormatan. Kita ditantang untuk mewaspadai godaan itu.
Akar dari segala dosa ialah egoisme: Bentuk ekstrim dari egoisme ialah menjadikan diri sebagai allah, dan itulah berhala dalam arti sesungguhnya. Sejak awal mula, manusia jatuh dalam godaan untuk “menjadi seperti Allah”, sebagaiamana dikatakan ular kepada Hawa. Manusia tergoda untuk menjadi bebas tanpa harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Manusia tergoda mengandalkan dirinya, artinya menyangkal Allah.
Pintu Rahmat.
Paulus mengajak kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah, dan bukan kepada diri sendiri (lawan egoisme). Pintu pertobatan terbuka bagi kita. Di mana letak pintu itu? Pada kasih karunia Allah. Mengapa kasih karunia Allah? Kasih karunia itu lebih besar dari dosa kita; kasih karunia selalu mengalir dari hati Allah. Sebenrnya manusia tidak layak, tidak pantas memandang Allah. Namun manusia dibenarkan dan dimaafkan tanpa jasa apapun dari pihak kita. Inilah dasar keyakinan kita.
P. Andre Atawolo, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketujuh. Semoga berguna.
Penulis : Benjamin Tukan
Portugis pindah dari Solor ke Larantuka dan membangun benteng di Sandominggo 18 April 1613. Tapi jangan dikira dengan membangun dua benteng sekaligus di Larantuka, benteng Sandominggo dan kemudian Benteng Postoh tahun 1620, Portugis sudah melupakan Solor. Justru di Larantuka, Portugis lebih serius untuk kembali ke Solor menata puing-puing peninggalan yang telah porak poranda itu.
Portugis tahu, sekalipun Belanda telah mengambil benteng Solor, Belanda sepertinya tidak serius mengurus benteng itu apalagi terlibat dalam perdagangan antar pulau di kepulauan Solor. Belanda sempat meninggalkan Lohayong –Solor 1616 dan baru kembali lagi ke tempat ini dua tahun kemudian yakni 1618. Dalam tahun 1629-1630 Belanda juga meninggalkan benteng itu.
Tapi kembali Solor itu tidak mudah. Dari Sandominggo di Larantuka, Solor hanya sejauh mata memandang. Namun, bagi Portugis untuk ke sana harus berpikir dua tiga kali karena ancaman selalu saja datang baik dari Belanda maupun dari penduduk lokal.
Tahun 1598 penduduk lokal pernah menunjukan kemarahan dan memporakporandakan benteng, lantaran Panglima Benteng Antonio Viegas memenjarakan seorang Bangsawan Lamakera D. Diogo. Belum lagi sewaktu-waktu Belanda bisa datang dan mengerahkan kekuatannya.
Kalau saja dendam terlalu kuat untuk memelihara ingatan, barangkali orang yang tak pernah dilupakan Portugis adalah seorang Belanda bernama Apolonius Scotte. Dia lah yang tahun 1613 memimpin pasukan Belanda untuk merebut Benteng Lohayong di Solor. Dengan jatuhnya Benteng inilah disusul penyerahan kekuasan Portugis ke Belanda atas Solor.
Usaha untuk kembali ke Solor memang selalu ada, namun usaha itu selalu gagal, karena Portugis sudah tidak lagi diterima di sana. Portugis sudah tidak mendapat dukungan masyarakat baik dari agama maupun perdagangan. Kenyataan ini harus diterima, hingga tahun 1636 Portugis benar-benar meninggalkan Lohayong-Solor dan selanjutnya menetap di Larantuka.
Ada semacam penyesalan sebagaimana ditulis Miguel Rangel, seorang arsitek pembangunan Benteng Solor, yang ditulisnya di Malaka tahun 1633. Ia menulis : “jika orang Beladnda tidak menghalangnya, benteng Solor telah menjadi sebuah kota yang dikunjungi semua orang dari daerah sekitarnya dan dari Malaka dan Tiongkok, dari mana pada musim hujan 1633 terakhir ini baru datang empat kapal ke Solor untuk memuat kayu cendana.”
(Catatan : Perlu diingat Miguel Rangel ini nama yang saat ini diabadikan untuk jalan di sekitaran Sandominggo kelurahan Larantuka. Miguel Rangel adalah seorang bruder Dominikan yang pada 1630 memutuskan untuk memperbaiki benteng di Pulau Solor yang telah ditinggalkan oleh orang Belanda.)
Tapi lagi-lagi Belanda terus membuntuti Portugis. Tidak saja mendesak Portugis keluar dari Solor, tapi juga dari Larantuka juga dari Flores. Pertikaian demi pertikaian terus terjadi. Tahun 1846 Belanda menyerang Flores. Pada tahun 1648 terjadi gempa bumi yang meruntuhkan benteng Solor semakin membuat Portugis tidak lagi menghiraukan Solor dan hanya berkonsentrasi di Larantuka.
Belanda tetap menginginkan konsolidasi teritorinya di seluruh wilayah Nusantara. Tahun 1850 Belanda membeli sisa-sisa benteng Portugis di Flores dan mulai berkuasa di Larantuka sejak 1851 melalui penandatanganan traactaat Dili. Bersamaan dengan itu pada 1851 datang tawaran dari Portugis Dili kepada Belanda mengambil alih benteng Larantuka dan Wureh sebagai jaminan atas pinjaman sebesar f. 80.000 kepada gubernur Portugal di Koloni Timor-Timur.
Seluruh kepulauan Solor menjadi milik Belanda sejak 20 April 1859, dengan Belanda membayar tambahan f. 120.000. Pada 1856 Portugis meninggalkan kepulauan ini termasuk Larantuka, sekalipun ratifikasi atas perjanjian itu baru terjadi pada 20 April 1859 di Lisabon. Suatu perjanjian untuk melepaskan pos-pos Portugis yang jauh dan klaim-klaimnya atas Flores dan Solor kepada Belanda, dan mempertahankan haknya atas Timor Portugis.
Sejak itu Portugis pun meninggalkan Larantuka dan tak kembali lagi.
***
Urusan masyarakat punya cerita sendiri, kemauan politik punya ceritanya juga. Di tengah pergulatan politik-ekonomi yang dialami Portugis kala itu, sejak jatuhnya Malaka ke tangan Belanda 1641, penduduk Melayu Kristen/katolik dipaksa harus keluar dari Malaka. Dalam tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu ini ke Larantuka.
Seiring dengan berpindahnya penduduk ke Larantuka dan Larantuka dipandang sebagai tempat yang cocok untuk pengembangan misi, maka banyak barang Portugis yang berada di Malaka dialihkan ke Larantuka termasuk benda-benda gereja.
Pada tahun 1665 mengungsi pula orang-orang Portugis dari Makasar menuju Larantuka. Para pengungsi Makasar ini menyebar lagi di Larantuka, dan beberapa tiba di Konga 20 kilometer arah barat Larantuka, dan Wureh di Pulau Adonara. Dalam pengungsian ini Frei Lucas da Cruz berhasil menyelamatkan benda-benda ibadah yang sangat berharga dari Gereja S. Domingos de Surian di Makasar dan dialihkan ke Larantuka. Kemungkinan pengungsi dari Makasar inilah yang telah mendirikan Gereja Santo Domingo dan mengawali ibadah “Senyora Rosari” serta perayaan Paskah di Larantuka.
Orang Portugis yang mengungsi ini, kemudian mulai membangun perkampungan. Mereka membangun perkampungan baik di Larantuka, Konga dan Wureh. Orang-orang yang tinggal di Larantuka, Konga dan Wureh menyebut diri mereka dengan sebutan Larantuqueiros atau orang dari Larantuka.
Repro
Ketika itu, kehidupan iman umat katolik memang sungguh menantang, lebih-lebih karena kurangnya imam. Kurangnya pelayan para imam ini selain karena banyak misionaris Portugis terhalang masuk karena pertikaian politik, persoalan yang dihadapi imam-imam ordo Dominikan di Portugis, juga karena dihapusnya keuskupan Malaka dan dikembalikan ke Keuskupan Goa. Selama abad ke 17 dan 18, hanya ada dua kapal angkut Portugis yang berlayar dari Goa (India) ke Larantuka. Dalam serba keterbatasan inilah sesekali umat Larantuka mendapat kunjungan imam diosesan dari Dili. Tidak ada seorang pun wakil resmi kerajaan Portugal yang berkunjung ke Larantuka selama periode tersebut.
Kendati hidup dalam pertikaian dan keadaan serba terbatas, orang-orang Portugis yang ada di Larantuka, Konga dan Wureh ini mulai banyak memberikan pengaruh yang besar untuk daerah ini. Di antara mereka banyak yang kawin dengan penduduk setempat. Nama-nama ahli waris kerajaan Larantuka diberi gelar Don dan diikuti dengan serangkaian nama aristrokrasi Portugis.
Tidak hanya nama kerajaan, beberapa suku kecil di wilayah ini juga menggunakan nama-nama Portugis. Sebanyak 13 suku di Larantuka yang tadinya menggunakan nama suku Lamaholot berubah menjadi suku Fernandez, suku Da Silva, suku De Rosari, suku Da Costa. Juga Da Santo, Gonzales, Ribeiru, Skera, atau De Ornay. Namun demikian ada beberapa suku memang keturunan langsung Portugis.
Dalam hal penyebutan nama, di wilayah ini mulai dikenal dengan penyebutan nama keluarga bagi mereka yang dibaptis. Nama bapak menjadi nama belakang dan yang kemudian dipakai secara turun temurun. Beberapa bahasa dan istilah yang dipakaipun masih juga menggunakan nama-nama Portugis.
Bekas diplomat Portugal di Indonesia, Antonio Pinto da Franca, menginventarisasi paling tidak ada 75 kata Indonesia berasal dari Portugis. Beberapa kata mungkin terasa asli Indonesia. Sebut misalnya,- sisa dari sisa, terigu dari terigo, tempo dari tempo.Kata lain, misalnya, bangku dari banco, berandadari varanda, boneka dari boneca, kaldu dari caldo,meja dari mesa, pesta dari festa. Ada juga sekolah dari escola, pigura dari figura, dan sepatu dari sapato. Kata-kata ini pun mudah dijumpai di Larantuka.
Penyebutan untuk Nama-nama portugis dalam upacara keagamaan masih dipertahankan hingga kini, demikian juga pakaian-pakaian dan asesoris peribadatan, masih juga menggunakan warisan Portugis. Di kota ini, beberapa nama tempat memberi kesan akan tradisi Portugis termasuk menjadikan POSTO untuk sebutan pusat kota.
Dalam kehidupan rumah tangga, keluarga-keluarga yang dipengaruhi Portugis mulai menyamakan kehidupannya dengan keluarga di tempat asalnya di Portugis. Rumah mulai ditata dengan halaman rumah yang di tumbuhi bunga-bunga. Sementara dalam rumah, ibu menjadi penentu membesarkan anak-anak dan mendidik anak-anak mencintai pekerjaan rumah tangga. Patung ditempatkan di tempat khusus untuk berdoa.
Larantuka seakan menjadi tempat pertukaran kebudayaan termasuk kebudayaan Eropa abad pertengahan dengan kebudayaan Malayu dan kebudayaan Lamaholot dari masyarakat setempat. Kewajiban menjaga agama kalau pastor tidak ada diserahkan kepada “persekutuan Reinja Rosario’ dengan tugas mengajarkan katekhismus, melakukan Pembatisan , mejaga pemeliharaan kapel-kapel serta menyelenggarakan prosesi-prosesi.
***
Sekali pun melalui tradisi dan perjumpaan masyarakat tempo itu, sedikit banyak menunjukkan pengaruh Portugis atas wilayah ini, namun menurut studi yang dilakukan Didik Pradjoko, tidak pernah ada perasaan bahwa mereka dikuasai oleh pemerintah Portugal. Sesungguhnya mereka adalah kekuatan yang merdeka dan berdiri sendiri.
Ini pun dibuktikan pada tahun 1679, Larantuka menolak menjadi jajahan Portugis, (*)
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keenam. Semoga berguna.
Penulis : Benjamin Tukan
Untuk Larantuka, Portugis bukanlah ceritra masa lampau saja, tapi hingga kini jejak-jejak Portugis banyak berbicara mengenai perkembangan kota ini. Kendati demikian, Larantuka bukanlah Makau yang dibangun Portugis yang saat ini cukup dikenal itu. Kecuali tradisi keagamaan, hingga kini peninggalan-peninggalan Portugis di Larantuka masih terus dikumpulkan dan coba untuk diberi makna.
Menelusuri kembali perjalanan Portugis yang singgah di Larantuka, tidak lepas dari budaya bangsa pelaut ini dalam menjelajahi dunia termasuk datang ke daerah Nusantara yang banyak menghasilkan rempah-rempah.
Sungguh petualangan model ini adalah hal yang paling menakjubkan untuk negara sekecil Portugal. Jika bukan karena pembawaan dari bangsa Iberia yakni kecendrungan aneh untuk bermimpi, kesenangan untuk mengambil resiko berbahaya, juga idealisme religus, tidak mungkin mereka tiba di Larantuka.
Petualangan yang begitu sederhana dalam perkembangan kemudian kedatangan Portugis ini didorong oleh tujuan yang lebih besar yakni feitoria, fortaleza, dan igreja atau emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.
Sebagai negara kecil yang dulunya masih menjadi satu dengan Spanyol adalah negara di bagian paling barat Eropa dengan komunitas agama Katolik. Portugis dikenal sebagai masyarakat penjelajah dunia dengan kebudayaan maritim yang cukup baik.
Perjalanan mengilingi dunia dimulai pada 1488 melalui ekspedisi Bartolomeus Dias. Dia yang menjangkau hingga Tanjung Harapan, Afrika. Vasco da Gama melanjutkan ekspedisi Bartolomeus. Sayang ia juga hanya sampai India 1498. Kemudian pada 1503, Armada yang dipimpin Alfonso de Albuqueque berangkat dari Sungai Tagus yang bermuara ke Samudra Atlantik, mengarungi samudra Atlantik dan masuk melewati Tanjung Harapan Afrika lalu haluan kapal diarahkan menuju Goa India. Baru April 1511 ia ke Malaka dan tiba di Malaka dalam bulan yang sama.
Saat itu Malaka telah menjadi satu tempat di Nusatara yang cukup ramai. Dari Malaka, sebuah akspedsi dikirim oleh Alfonso de Albuqueque. Dibawa pimpinan Antonio de Abreu dan Francisco Serrao mereka berlayar ke arah timur. Pelayaran melewati pesisir pantai Sumatera, Jawa,Bali, Lombok, Sumbawa dan Flores kemudian memutar haluan ke utara dan mencapai Banda pada 1512. Portugis juga mengirimkan armada ke arah China. Pada 1513 armada tiba China dan mencapai Jepang tahun 1543.
Setiap kali mereka tiba di suatu tempat, orang-orang Portugis selalu memegaruhui kehidupan komunitas masyarakat yang disinggahi. Dari tempat yang disinggahi mereka selalu memperkenalkan bahasa, makan, cara berpakaian,dan jenis musik. Orang-orang Portugis sangat menghargai seni baik musik maupun tari-tarian.
Di tempat asalnya, masyarakat Portugis dikenal sebagai bangsa yang sangat menghargai leluhur serta selalu menjaga kebiasaan secara turun temurun. Kehidupan masyarakatnyapun sangat ramah dan saling menghargai antar sesama.
Dalam keluarga tradisional Portugis hubungan antara orangtua dan anak sangat kuat. Tradisi kumpul bersama menjadi kebiasaan yang selalu dipertahankan. Orang-orang Portugis mengajarkan dan mendidik anak mereka untuk menyukai pekerjaaan yang berkaitan dengan rumah termasuk mengurusi halaman rumah dengan tanaman.
Dalam keluarga-keluarga Portugis, ibu memegang peran yang penting menentukan berlangsung hidup keluarga. Di rumah selain tarian dan musik, khususnya anak perempuan dilatih menyulam baju, selimut, taplak meja, saputangan dan lainnya .
Portugis selalu meninggalkan jejak di setiap tempat yang kunjungi lebih-lebih pada kehidupan yang dekat dengan keseharian manusia, membuat bangsa ini selalu diingat. Ini juga yang dilupakan oleh Belanda dalam konflik Belanda dengan Portugis di Nusantara. Belanda mengira Portugis akan pergi dan tak pernah kembali atau meninggalkan jejak di Nusatarara, tetapi kenyataan di beberapa tempat termasuk Flores Portugis meninggalkan jejak itu.
Di luar persaingan perdagangan tempo itu, di Nusantara umumnya dan Larantuka khususnya, Portugis selain dikenang melalui tradisi agama katolik, juga melalui musik, bahasa, pola hidup dalam rumah maupun jenis-jenis sayuran dan buah-buahan.
***
Pelayaran Portugis mengarungi nusantara yang melewati perairan Nusa Tenggara, membawa mereka pada suatu waktu di masa lalu untuk tiba di Larantuka dan kepulauan Solor. Sebelum tiba di kepulauan Solor, dalam perjalanan itu, mereka menemukan sebuah pulau yang kemudian dinamakan “Cabo da Flores” yang berarti Tanjung Bunga yang mana nama tersebut dipakai hingga saat ini menjadi Pulau Flores.
Letak kepulauan Solor yang terbilang strategis untuk menghindari dari amukan gelombang laut, membuat perahu-perahu Portugis memilih untuk berlabuh di daerah ini. Begitu pun hasil-hasil alam dari kepulauan ini cukup untuk memasok perbekalan perjalanan mereka selanjutnya.
Pada 1515 pelayaran Portugis membuka perdagangan di kepulauan nusantara tiba di kepulauan Solor dan Timor. Lima tahun kemudian, pada 1520 pedagang Portugis mulai menetap dan tinggal di Solor, pulau kecil di depan Larantuka. Mulai saat itu, Solor dijadikan tempat pertama untuk aktivitas perdagangan wilayah kepulauan.
Di Solor, mereka membangun rumah-rumah sederhana dan karena mereka beragama Katolik, maka mereka mulai berdoa dengan cara dan tradisi Katolik. Pada 1522 seorang imam yang menyertai rombongan pedagang itu tinggal dan menetap di Solor. Ia bekerja dengan tekun, melayani umat baik di kepulauan Solor maupun Timor.
Laporan seorang imam Dominikan P. Antonio de Taveria, OP pastor kapal Portugis, ketika menyinggahi Lohayong di Pulau Solor dan Larantuka di Pulau Flores, beliau mendapati banyak orang katolik disana. Dia juga berkesempatan mempermandikan banyak orang.
Perkembangan umat katolik yang dibawa pedagang Portugis di wilayah kunjungan mereka, mendapat respon dari Paus sebagai pemimpin Gereja katolik. Pada 1529 Paus menyerahkan tugas menyebarkan agama katolik kepada misionaris Portugis.
Perkembangan dan pertumbuhan umat yang pesat diketahui juga oleh Uskup Malaka Mgr. Jorge da Santa Lucia, OP. Pada 1561. Uskup menugaskan tiga imam Ordo Dominikan dari Melaka ke Solor. Ketiga missionaris tersebut adalah Pater Antonio da Cruss OP, Pater Simao das Chagas, dan Bruder Alexsius. Ketiga imam Dominikan ini pergi dan menetap di Solor. Oleh karenanya, tahun ini ditetapkan sebagai tahun resmi awal karya Misi Katolik di kawasan ini.
Pada 1566, Pater Antonio da Cruz mulai membangun sebuah benteng di Solor dengan pendanaan dari Maukau. Benteng yang dibangun, kemudian menjadi pusat aktivitas misi Katolik. Di dalam banteng itu dibangun asrama, gereja dan seminari. Pada tahun 1600 tercatat sedikitnya ada 50 siswa seminaris. Benteng ini kemudian oleh Belanda diberi nama benteng Fortaleza (benteng pertahanan), “Henricus”.
***
Kepulauan Solor dulunya ditumbuhi hutan-hutan cendana yang sangat bernilai harganya pada perdagangan kala itu. Dari Lohayong -Solor hubungan baru mulai tercipta. Perkembangan dari sisi ekonomi perdagangan dan agama katolik di wilayah ini, membuat Solor berhubungan langsung dengan pusat-pusat perdagagan dan pusat-pusat misi seperti Maluku dan Ternate, Malaka dan Maukao bahkan hingga ke Goa India.
Sementara itu terjadi persaingan di tingkat perdagangan yang melibatkan pedagang yang melintasi Larantuka, juga perlawanan dari penduduk lokal sendiri dengan kehadiran agama baru tersebut. Sebagai akibatnya, pada masa itu terjadi pembunuhan dan lahirlah para Martir Katolik pertama. Meraka adalah Pater Antonio Pestana, Pater Simao de Montanhas, Pater Simao da Chagas, dan Pater F.
Calassa.
Harapan untuk menancapkan pengaruh yang semakin kuat,pada kenyataannya harus menghadapi ancamanan dari kedatangan Belanda. Pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian pada 18 April 1613 benteng Lohayong pun jatuh ke tangan Belanda.
Jatuhnya Benteng ke tangan Belanda mengakibatkan banyak orang Portugis meninggalkan Solor menuju Larantuka, bahkan ada yang memilih untuk kembali ke Malaka. Pater Agustino de Magdalena dan Kapitan Fransiskus Fernandes memimpin beberapa pengikut yang setia berserta orang-orang Portugis hitam (Indo) menuju Larantuka.
Pater Agustino de Magdalena memilih sebuah tempat yang bagus dan strategis untuk pertahanan Keamanan,yakni di Sandominggo (sekarang istana Uskup Dioses Larantuka). Jadi jika orang bertanya kapan ulang tahun kota Larantuka, maka bisa saja diambil dari tanggal 18 April (18 April 1613), kecuali ada pertimbangan lain. (*)
KAMI bertemu pertama kali pada pertengahan tahun 1972 ketika Drs. Benediktus Molan Oleona (lebih dikenal dengan Ben Oleona) tiba di Ende untuk bergabung dengan Penerbit Nusa Indah, dan turut mempersiapkan terbitnya majalah dwimingguan umum DIAN dan majalah bulanan anak-anak KUNANG-KUNANG. Ben datang dari Jakarta setelah menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) dan meraih gelar sarjana (doktorandus). Sambil kuliah Ben juga bekerja sebagai wartawan dan penulis untuk majalah Penabur, sebuah majalah Katolik yang kemudian mati dan digantikan dengan majalah Hidup Katolik yang dewasa ini telah berubah nama lagi menjadi majalah Hidup. Sekolah Tinggi Publisistik yang dulunya berkampus di daerah Menteng, Jakarta Pusat, kemudian hari berpindah ke Lenteng Agung, di perbatasan Jakarta dan Jawa Barat, dan kini dikenal sebagai Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta.
Foto Penerbit Nusa Indah-Ende Flore, NTT
Waktu itu kami yang bekerja di Penerbit Nusa Indah, Ende di bawah pimpinan direktur P. Alex Beding SVD, yakni Thom Wignyanta, E. P. Boleng, Albert Pantaleon, Aloy L. Madja dan saya memang sedang mempersiapkan penerbitan kedua majalah tersebut. Bahkan sejak hari pertama bertemu P. Alex di bulan Oktober 1971, saya diberitahu bahwa Biro Naskah Nusa Indah, selain mengerjakan dan menerbitkan buku-buku, juga merencanakan penerbitan dua majalah. Oleh karena itu dibutuhkan tenaga-tenaga muda untuk memperkuat tim Nusa Indah. Beberapa orang yang ditunggu untuk datang dari Jakarta adalah Ben Oleona, El Mauritsz Parera dan Matheus Dhae. El dan Matheus lebih dulu tiba di Ende; El bekerja sebagai ilustrator buku dan majalah dan tinggal dengan kami di Wisma Paupire, sedangkan Matheus Dhae hanya beberapa hari, lalu pergi menghilang kembali ke Jakarta.
Pada bulan Juli 1972 Ben Oleona dan isteri serta puteranya Didi tiba di Ende dan menempati sebuah rumah misi di Jl. Irian Barat. Dengan kehadiran Ben, maka berbagai persiapan terus dilakukan di bagian Redaksi dan percetakan Arnoldus karena akan terbit kedua majalah itu segera setelah keluar Surat Izin Terbit (SIT) dan Surat Izin Cetak (SIC) dari Departemen Penerangan Republik Indonesia di Jakarta. Kami yang bekerja di Biro Naskah Nusa Indah sekaligus merangkap sebagai wartawan/reporter bagi majalah DIAN. Ben Oleona ditunjuk sebagai Redaktur Pelaksana DIAN dan melapor langsung kepada P. Alex Beding SVD sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi sesuai dengan ketetapan dalam SIT.
Kami mulai menyiapkan tulisan-tulisan yang akan diedit dan disempurnakan oleh Ben sebelum dimuat dalam DIAN. Sebagai Redaktur Pelaksana, Ben memimpin kegiatan redaksional DIAN sehari-hari, sedangkan untuk majalah anak-anak KUNANG-KUNANG, Pater Alex menunjuk Sr. Emmanuella Gunanto OSU dari Biara Santa Ursula, Ende.
Sebelum terbitnya kedua majalah tersebut, P. Alex sering bepergian ke Jakarta untuk urusan-urusan yang berkenaan dengan Surat Izin Terbit dan Surat Izin Cetak. Di Jakarta, Nusa Indah mempunyai kantor perwakilan di Jl. Matraman Raya, biara SVD, di mana Marcel Beding, wartawan senior Harian Kompas sebagai Kepala Perwakilan, dengan Melanus Conterius, eks Seminari Mataloko, sebagai kepala kantor. Urusan ini tenyata makan waktu lama, hampir 2 tahun. Surat Izin Terbit (SIT) dari Departemen Penerangan Republik Indonesia diurus di Jakarta, dengan berbagai syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Meskipun sudah punya SIT, perusahaan pers belum boleh melakukan penerbitan, karena harus juga mendapatkan Surat Izin Cetak (SIC) dari Panglima Kodam setempat, dalam hal ini Pangdam Udayana di Denpasar, karena Ende/Flores di mana majalahh-majalah ini akan terbit termasuk dalam jurisdiksi Kodam Udayana. Itulah lika- liku penerbitan pers di masa rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Akhirnya SIT dan SIC diperoleh maka DIAN dan KUNANG-KUNANG boleh terbit. Selama waktu-waktu penantian itu, tim redaksi menyiapkan tema dan topik-topik artikel untuk majalah-majalah tersebut. Selain itu juga direncanakan tema atau isu-isu apa yang akan diangkat jadi topik peliputan sebagai berita utama, di samping berita-berita lainya untuk mengisi rubrik-rubrik yang ada.
Pada tanggal 24 Oktober 1973, edisi pertama DIAN terbit. Kami senang, bangga dan bersyukur. Majalah DIAN menggunakan semboyan: “Membangun Manusia Pembangun”, dan kemudian El Mauritsz merancang sebuah iklan “Diam-diam baca DIAN” yang akan menjadi sangat populer di masyarakat pembaca.
Latihan Bekerja sebagai Wartawan
Kepada kami yang belum berpengalaman, Ben memberikan bimbingan dan arahan bagaimana bekerja sebagai wartawan, baik dalam meliput berita, mewawancarai narasumber dan membuat tulisan atau laporan jurnalistik dengan formula berita 5W1H (What, Who, When, Where, Why dan How). Meskipun demikian, penulisan laporan mesti dilakukan sebagai tulisan feature karena DIAN akan terbit sebagai majalah bukan surat kabar harian.
Toko Buku Nusa Indah
Kami juga diajari bahwa bekerja sebagai wartawan harus berintegritas, jujur, obyektf, berita yang ditulis harus berdasarkan kebenaran dan fakta, bukan asumsi atau dugaan. Wartawan harus berani dalam mencari dan mewawancarai narasumber, tetapi tetap menjaga sopan santun, dan selalu mempersiapkan diri dengan banyak membaca dan terus berlatih menulis. Redaktur atau editor, dalam hal ini Ben sendiri akan memeriksa dan memperbaiki seperlunya agar tulisan kami agar laik muat.
Saya ingat, waktu Gubernur NTT El Tari berkunjung ke Ende untk melantik Herman Josef Gadi Djou menjadi bupati Ende menggantikan H. Hasan Aroeboesman, saya dan El Mauritsz pergi ke Wolowona untuk meliput penjemputan gubernur. Sebagai wartawan kami membawa kamera dan selalu berada di dekat Gubernur untuk mengabadikan setiap momen penting yang bernilai berita. Kami wartawan DIAN lebih berani mendekat ke gubernur, dibandingkan pegawai-pegawai departemen penerangan dan reporter RRI Ende. Waktu acara pelantikan bupati di gedung DPRD Ende, kami berada di dalam ruang sidang untuk memotret kegiatan itu dan juga mencatat pidato-pidato gubernur, ketua DPRD dan bupati baru. Ada rasa senang dan bangga bekerja sebagai wartawan. Saya membuat reportase mengenai kegiatan hari itu yang kemudian diedit, dirangkai dengan informasi lain dan disempurnakan oleh Ben untuk dimuat dalam DIAN sebagai berita utama (headline).
Selang seminggu kemudian, DIAN mendapat undangan untuk meliput kunjungan perdana Bupati Gadi Djou ke Wolowaru, kampung halamannya. Saya ditugasi untuk mengikuti dan meliput kunjungan tersebut dan kemudian membuat reportase untuk DIAN. Demikian juga kunjungan dinas sehari bupati ke Nangapanda dan juga kunjungan kerja dua hari di Detusoko.Ada lagi satu kunjungan Bupati Gadi Djou yang saya ikuti yakni ke Kaburea di pantai utara yang berbatasan dengan kabupaten Ngada. Bupati Ende Gadi Djou dan Bupati Ngada Jan Jos Botha bersama rombongan bertemu di Kaburea untuk menyelesaikan perselisihan tapal batas kedua kabupaten, di mana telah terjadi bentrokan fisik oleh masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan tersebut.Jika menulis berita yang kemudian dirangkum dan digabungkan oleh Ben, maka nama wartawan/reporter hanya menggunakan singkatan atau kode angka. Sedangkan kalau menulis artikel atau feature secara by-line, boleh menggunakan nama lengkap. Itulah sebabnya saya selalu ingin membuat tulisan-tulisan by-line yang menyebutkan nama lengkap penulisnya.
Saya ingat tulisan by-line saya yang pertama adalah sebuah feature yang berjudul “Sirih dan manfaatnya”, tetapi setelah mengeditnya, Ben memberi judul “Sirih bukan hanya untuk dimakan”. Dia menjelaskan bahwa judul tulisan harus menarik supaya orang tertarik untuk membaca. Karena umumnya kaum ibu di Flores suka makan sirih-pinang, maka judul tulisan itu dibuat lebih menarik dan lebih sesuai dengan apa yang ada dalam masyarakat pembaca. (Tulisan ini dimuat pada DIAN no. 10 Tahun I, tanggal 10 Maret 1974).
Suatu reportase lain saya buat mengenai kebun contoh di Malamesi, yang terletak di antara Raja dan Ndora, di kabupaten Nagekeo sekarang, yang kami kunjungi pada suatu hari Sabtu. Kebun contoh yang dikelola oleh seorang bruder SVD itu menanam dan memelihara tanaman jagung, kacang panjang, kacang tanah, singkong (ubi kayu) dan lain-lain yang dilakukan dengan sistem terasering (petak-petak pada lokasi tanah yang miring). Selain untuk keperluan sendiri, kebun ini juga dimaksudkan untuk memberi contoh kepada masyarakat petani sekitar untuk belajar bertani secara baru dan modern.Pulang dari kunjungan sehari itu, saya membuat suatu reportase yang saya beri judul “Ceritera dari Malamesi”, dan ternyata Ben setuju dengan judul itu dan tidak mengubahnya, walaupun isi tulisan banyak juga dikoreksinya. (DIAN no. 14 Tahun I, tanggal 10 Mei 1974).
Bagi saya sebagai seorang wartawan pemula, ada rasa bangga ketika berita yang saya tulis dapat diperbaiki dan dimuat, dengan nama reporter hanya diberi singkatan atau kode. Tetapi akan terasa lebih senang lagi apabila kami bisa menulis artikel atau feature, karena nama kami disebut lengkap dan jelas. Bagi seorang penulis, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan selain tulisan atau artikel by-line kita dimuat. Betapa senangnya membaca nama kita pada terbitan majalah atau surat kabar tersebut.
Surat untuk Kapolri
Meskipun senang dan menikmati bekerja di Ende, tetapi saya tidak akan terus di sini, karena saya berencana merantau ke Jakarta untuk mencari kerja dan kuliah. Itulah sebabnya setelah setahun lebih bekerja sebagai wartawan DIAN dan 3 tahun sebagai penulis, penyadur dan penerjemah untuk buku-buku Nusa Indah, El dan saya mengundurkan diri baik-baik dari Nusa Indah, dan kami berdua berangkat ke Jakarta dengan menumpang kapal misi KM Stella Maris dari Ende pada tanggal 1 Januari 1975 menuju Surabaya. Dengan bus kami ke Jogjakarta dan bermalam di rumah kost teman mahasiswa, dan dua hari berikutnya kami naik bus ke Jakarta dan tinggal di Kelurahan Makassar, Jakarta Timur, di rumah keluarga Om Side Parera.
Dengan bekal pengalaman bekerja di Penerbit Nusa Indah dan majalah DIAN di Ende itu, di Jakarta saya beruntung karena cepat mendapat pekerjaan di surat kabar Harian Suara Karya sebagai translator berita-berita dan artikel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pada masa itu Suara Karya termasuk salah satu surat kabar mainstraim di Indonesia di samping harian pagi Kompas dan harian sore Sinar Harapan. Setahun kemudian saya minta untuk merangkap jadi reporter, dan oleh redaksi saya ditugaskan untuk meliput di Hankam/Kopkamtib/Opstib, juga departemen Luar Negeri serta di Sekneg/Istana.
Pada awal 1976, saya menerima sebuah surat dari Pater Alex Beding di Ende, yang meminta saya melaporkan langsung kepada Kepala Kepolisian RI atas kasus pemukulan wartawan DIAN Christianus Nau oleh oknum-oknum polisi di Bajawa. Laporan kronologis kasus pemukulan dan penganiayaan tersebut dibuat dan ditandatangani oleh Ben Oleona sebagai Redaktur Pelaksana dan P. Alex Beding sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi. Saya menghadap Kapolri Jend. Polisi Drs. Widodo Budidarmo di rumahnya di Kebayoran Baru dan menyerahkan langsung laporan tersebut. Kemudian saya dengar bahwa oknum-oknum polisi di Bajawa yang terlibat penganiayaan wartawan tersebut mendapat tindakan disiplin berupa teguran dari atasan.
Bertemu Lagi di Universitas Atma Jaya Jakarta
Sambil bekerja sebagai wartawan Suara Karya pada pertengahan 1976, saya mulai kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FIPK) Unika Atma Jaya, Jakarta. Di sini saya bertemu lagi dengan Ben Oleona yang bekerja di kantor rektorat Atma Jaya bersama Dr. Gorys Keraf, pembantu rektor bidang kemahasiswaan. Rupanya setelah 4 tahun bekerja di Ende, Ben mengundurkan diri, pindah ke Jakarta dan bekerja di Atma Jaya. Di kampus ini, Ben menerbitkan majalah kampus “Atma Jaya” dan mengajak saya juga untuk ikut sebagai anggota redaksi media kampus tersebut.
Dalam 4 tahun bekerja di Ende sebagai Redaktur Pelaksana DIAN, Ben berhasil melatih dan mendidik para staf dan karyawan redaksi sehingga bisa meneruskan penerbitan majalah itu, setelah ia pindah ke Jakarta. Jabatan Redaktur Pelaksana DIAN dipegang oleh Thom Wignyanta, putera Bali yang kemudian menjadi tokoh pers di Flores.
Pater Alex Beding SVD, 96 tahun, yang kini tinggal di Biara Simeon Ledalero, Maumere, Flores, mengatakan beberapa hari lalu, bahwa Ben Oleona memang dia minta untuk jadi redaktur pelaksana DIAN. Selain karena pengalamannya bekerja sebagai wartawan majalah Penabur di Jakarta, Ben juga mempunyai pendidikan jurnalistik yang lengkap yaitu sarjana Publisistik. “Ketika kami di Ende merencanakan penerbitan majalah, saya teringat akan Ben yang sedang kuliah publisistik di Jakarta. Jadi saya ajak dia untuk ikut dalam pengelolaan majalah DIAN sebagai redaktur pelaksana. Ben itu dari Lamalera, sekampung dengan saya. Dia keponakan saya. Dia banyak membantu kami di DIAN walau tidak lama, lalu pindah ke Jakarta karena dia ingin mengembangkan karirnya di ibukota. Sebagai pimpinan DIAN dan Nusa Indah, saya merasa sangat terbantu oleh Ben selama dia bekerja dengan kami,” kata P. Alex Beding lewat telepon genggamnya.
Pada tahun 1978, ketika saya tinggal di Perumnas Depok Jaya, kami bertemu lagi dengan Ben dan keluarganya yang juga tinggal di perumahan tersebut. Saya tinggal di Jl. Komodo Raya (kemudian ganti nama jadi Jl. Arif Rahman Hakim), sedang Ben dan keluarga tinggal di Jl. Kutilang. Kami biasa bertemu di gereja St. Herculanus karena Ben juga aktif memimpin paduan suara (kor) di gereja tersebut.
Agak lama kami tidak bertemu, dan baru pada bulan September 1982, ketika sebagai redaktur luar negeri Suara Karya saya menghadiri suatu seminar internasional mengenai Hubungan Indonesia – Amerika di Nusa Dua, Bali, seorang wartawan Bali memberitahu saya bahwa ia bekerja dengan Ben Oleona sebagai pemimpin redaksi koran Nusra (Nusa Tenggara). Pada malam harinya Ben menjemput saya di hotel dan kami jalan-jalan untuk makan malam dan mampir di kantor redaksi dan percetakan harian Nusra di daerah Sesetan, Denpasar.
Rupanya Ben bekerja di Atma Jaya sampai pertengahan 1981, lalu mendapat tawaran untuk menjadi pemimpin redaksi koran Nusra di Bali. Menurut penuturan Josef Larantukan, seorang wartawan asal Larantuka, Flores Timur, koran Nusra sebelumnya bernama Surat kabar Angkatan Bersenjata (AB) milik Kodam Udayana, Bali. Yosef sudah bekerja beberapa tahun di koran tersebut dan kemudian Kodam Udaya mengundang investor swasta untuk menanamkan sahamnya di koran itu dan mengganti namanya menjadi koran Nusra untuk menjadi surat kabar harian umum dengan harapan akan lebih mudah penetrasi ke pasar. Ben Oleona dan team redaksi dan manajemen baru menangani penerbitan koran itu, dengan teknisi-teknisi percetakan yang didatangkan dari Jakarta. Masuknya Ben di Nusra, menurut Yosef, direkomendasikan oleh wartawan senior/redaktur Luar Negeri Kompas, Marcel Beding.
Akan tetapi rupanya perkembangan koran Nusra kurang menjanjikan, di tengah persaingan ketat dengan koran Bali Post yang sudah lebih lama eksis dan juga membanjirnya koran-koran dari Jakarta, Bandung dan Surabaya yang punya wartawan/koresponden tetap di Bali. Dua tahun kemudian koran Nusra tutup dan Ben beralih profesi dengan bekerja pada sebuah perusahaan pengembangan properti.
Rupanya jiwa dan semangat kewartawanan masih terus membara di dalam dirinya, sehingga pada tahun 1990, ketika Kompas-Gramedia lewat anak perusahaan Persda, membeli dan mengelola koran-koran di daerah-daerah, Ben bergabung dengan Persda. Dia sempat bekerja membantu pengembangan redaksi surat kabar Harian Surya di Surabaya, kemudian pindah ke surat kabar Harian Fajar di Makassar, lalu surat kabar Pos Maluku di Ambon dan surat kabar mingguan Tifa Irian di Jayapura.
Selesai kontrak dengan Persda, Ben kembali ke Denpasar dan menjadi penulis lepas (freelance) untuk berbagai surat kabar dan majalah di Jakarta seperti Kompas, Suara Karya, Jakarta Post, majalah Tempo, majalah Hidup Katolik dll. Ben juga pernah menjadi penulis tetap Tajuk atau Induk Karangan untuk Harian Bali Post.
Dari Guru ke Wartawan
Benediktus Molan Oleona Lahir di Lamalera, Lembata pada 26 Juli 1939. Ben bercita-cita menjadi guru. Itulah sebabnya setelah tamat sekolah dasar di kampungnya, dia pergi ke kota Larantuka dan masuk Sekolah Guru Bawah (SGB). Tamat SGB, Ben berangkat ke Ende dan melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) Ndao. Pada masa itu lulusan SGB berhak mengajar di sekolah-sekolah dasar, sedangkan SGA mengajar di sekolah menengah pertama (SMP) dan juga SMA. Jadi setelah tamat SGA Ndao, Ben sempat menjadi guru di SMP Lewoleba.Tahun 1964 ia berangkat ke Jakarta untuk kuliah di STP sambil bekerja di Penabur, dan aktif di PMKRI Jakarta. Pada masa-masa itulah ia berpacaran dengan Johanita Murniati, seorang perawat RS Sint Carolus, dan kemudian mereka menikah pada 20 Juni 1971 di Jakarta.
Kampung Lamalera, Kampung kelahiran Ben Oleona
Selama bekerja di Ende, Ben sempat diminta jadi dosen tamu pada Universitas Nusa Cendana Cabang Ende untuk mengajar matakuliah penulisan ilmiah. Wilhelmus Berybe, seorang guru di Kupang menuturkan bahwa ketika ia kuliah di FKIP Undana Cabang Ende, pernah mendapatkan kuliah matapelajaran penulisan ilmiah dari Ben Oleona, ketika FKIP Ende dipimpin oleh Asisten Dekan Dra Threes Kumanireng. Ketika bekerja di Unika Atma Jaya, kalau mau Ben bisa saja menjadi dosen. Tetapi rupanya dunia jurnalistik dengan ‘kebebasannya’ lebih menarik minatnya daripada pekerjaan lain, termasuk jadi guru. Namun jiwa gurunya pun tetap kelihatan ketika dia mengajari kami di Ende bagaimana bekerja sebagai wartawan. Dan juga bagaimana di tengah kesibukan-kesibukannya di bidang jurnalistik, Ben masih punya waktu melayani kegiatan gereja, baik sebagai pengurus dewan pastoral paroki maupun dirigen paduan suara yang handal. “Kami di sini mengenal Pak Ben sebagai seorang wartawan yang disegani, tetapi beliau juga aktif dalam kegiatan lingkungan gereja dan masyarakat. Di paroki Monang-maning, Denpasar, Pak Ben aktif memimpin kor dan juga jadi anggota Dewan Pastoral Paroki,” tutur Benediktus Jandon, asal Riung, Flores dan eks Seminari Mataloko, seorang tokoh Katolik di Monang-maning baru-baru ini.
Lama sekali kami tidak bertemu dan berkomunikasi dengan Ben Oleona. Pada Juli 2000, saya dan isteri yang waktu itu tinggal di Kuala Kencana, Timika, Papua berlibur ke Bali. Di bandara Ngurah Rai, kami berkenalan dengan seorang staf Travel Bureau, yang mengatakan mengenal Ben Oleona, karena mereka sama-sama tinggal di perumahan Monang-maning Denpasar, dan juga sama-sama satu gereja di paroki tersebut. Ia mengatakan bahwa Ben Oleona bekerja sebagai wartawan dan juga sangat aktif di gereja, baik di Dewan Pastoral Paroki maupun sebagai pemimpin kor.
Dia juga memberi saya nomor telepon Ben di rumah, sehingga saya kemudian bisa menghubunginya dan kami janji bertemu di Kuta, di hotel Santika, tempat saya dan isteri menginap. Kami bertemu dengan Ben dan isteri serta makan malam sambil ngobrol banyak hal nostalgik baik waktu bekerja di Ende maupun di Jakarta dan juga Depok. Keesokan harinya dengan menggunakan mobil Ben, kami jalan-jalan di Denpasar dan sekitarnya, termasuk ke beberapa obyek wisata, dengan Ben sebagai guide.
Itulah pertemuan terakhir kami dengan Ben Oleona, karena menjelang akhir tahun 2000 ia jatuh sakit dan meninggal dunia pada 21 Desember 2000 pada usia 61 tahun 5 bulan dan dimakamkan di Denpasar. Saya sendiri baru mengetahui bahwa Ben sudah wafat, justru dari Thom Wignyanta di Ende, Flores. Suatu hari di tahun 2001 atau 2002, saya menelepon Thom untuk menanyakan sesuatu hal. Tetapi dari seberang, Thom malah bertanya kepada saya, “Pak Ben sudah meninggal, Ans sudah dengar?” Saya kaget, karena memang belum mendengar dan mengetahui hal itu. Biasanya saya kadang-kadang suka menelepon Ben, tetapi karena kehilangan nomor teleponnya, saya tidak bisa lagi menghubunginya.
Ketika membuat tulisan ini, saya teringat akan kedua orang senior, mentor dan guru saya, dari siapa saya belajar bekerja: Dari Ben Oleona saya belajar bekerja sebagai wartawan, dari Thom Wignyanta saya belajar mengerjakan buku-buku baik sebagai penulis, penerjemah dan penyadur. Ben orang Lembata, Flores memilih berkarya di Bali sampai akhir hayat, sedang Thom, orang Bali memilih berkarya di Ende, Flores sepanjang hidupnya. Terima kasih, Seniors. Reqiescant In Pace!
Berandanegeri.com. KREATIVITAS anak milenial terus dipacu dan berkembang, hal ini terlihat dari pameran lukisan yang dilakukan oleh sekolah melukis Tomato Art ke 9 yang berlangsung dari 29 Februari – 1 Maret 2020 di Lotte Shoping Centre, Jl Casablanca, Jakarta Selatan.
Deezal Annabel Putri atau akrab disapa Annabel, turut memamerkan hasil karya lukisannya tentang “Pelecehan”(Harrasment) dengan judul Case Study 01. Hal ini ia lakukan atas hasil penelitiannya dengan mendatangi dan mewawancarai si korban dan dituangkan dalam bentuk lukisan.
“Saya dan istri selaku orang tua tentu terus memberikan dorongan dan motivasi agar Annabel terus memperdalam dan mengembangkan bakat serta daya imajinasinya agar lukisan lukisannya semakin bermutu dan disenangi oleh orang lain yang melihatnya,” ujar Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) Saleh Husin.
Pada pertengahan Desember 2018 Annabel juga pernah membuat pameran tunggal lukisan hasil karyanya di Kemang Jakarta Selatan dengan tema Sence Movement (Sense MVMT). “Saya juga berharap suatu saat nanti pameran karya anak-anak milenial ini dapat di lihat oleh Bapak Presiden Jokowi sebagai bentuk dukungan untuk para milenial dapat tampil di pentas internasional,” lanjut Saleh Husin, mantan Menteri Perindustrian. (Ansel)
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel kelima. Semoga berguna.
Penulis: Benjamin Tukan
Pelabuhan tempat kapal berlabuh, sesungguhnya bukan sekadar dapat berlabuh, tapi bagaimana tempat itu memberikan rasa aman, terlindung dari ombak besar, angin dan arus yang kuat.
Sejarahwan Maritim, AP. Lapian menuliskan “Pelabuhan harus mempunyai daya tarik yang besar bagi kapal-kapal dari luar, misalnya pasar yang ramai tempat hasil hutan dari pedalaman diperdagangkan serta bahan makanan dan air minum disediakan untuk konsumsi di kapal”.
***
Apa yang dituliskan AP Lapian, baik juga untuk memotret kembali keadaan Larantuka tempo dulu, ketika tempat ini disebut memiliki pelabuhan yang cukup ramai, sekaligus penghubung perdagangan di antara kerajaaan besar di nusantara abad 16 terutama dalam lintasan perdagangan yang menghubungkan zona perdagangan di sekitarnya seperti Bima-Sumbawa, Lombok, Ende, Waingapu dan Kupang.
Sebelumnya, pada jaman Majapahit dengan ekspansi armada ke nusantara, sebenarnya wilayah ini sudah cukup dikenal. Dalam buku M. Yamin tentang Gadjah Mada dituliskan bahwa daerah Mananga adalah daerah yang cocok untuk melabuhkan kapal.
Mananga sendiri letaknya di Pulau Solor, tidak jauh dari Larantuka dan sama-sama berada dalam teluk. Hingga memasuki jaman pelayaran Portugis di nusantara, Solor dan Larantuka menjadi tempat persingahan yang cukup aman.
Menjadi menarik di sini Larantuka dan sekitarnya (kepulauan Solor) yang dulu menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal yang melintasi perairan Flores dan sekitarnya tidak sekadar memiliki teluk yang tenang dan aman tapi juga memiliki potensi lain yang menunjang aktivitas kepelabuhanan.
Jika Larantuka dilihat dari satu bentangan peta Nusantara yang berhubungan dengan pelayaran kapal-kapal dagang yang melintasi perairan dari timur ke Barat demikian sebaliknya, maka satu tempat yang tidak bisa dilupakan adalah Tanjung Bunga. Sebuah tanjung paling ujung timur pulau Flores. Di tempat inilah atau di perairan ini, klasi kapal memutuskan untuk memutar haluan menuju tempat yang dituju.
Jika pelayaran itu datang dari arah barat, maka lautan di Tanjung Bunga adalah tempat yang tepat untuk memutar haluan ke arah Banda dan Ternate, atau juga bisa ke arah selatan menuju Kupang dan Dili. Sebaliknya kapal yang datang dari arah timur, di tempat inilah haluan kapal diarahkan entah ke Makasar, Jawa, ataupun meneruskan perjalanan ke Malaka sebagai bandar yang ramai ketika itu.
Tanjung Bunga memberi daya tarik terendiri. Pemandangan pantai nan indah yang banyak ditumbuhi pohon-pohon flamboyan dan berbagai tanaman berbunga merah seperti pohon dadap dan kapuk hutan, selalu menggoda para pelaut untuk menghampiri. Tak berlebihan keindahan yang disuguhkan oleh alam inilah yang oleh pelaut Portugis menyebut pulau ini Cabo da Flora, pulau bunga, yang menjadikan nama pulau Flores hingga saat ini.
Letak yang strategis dari wilayah Tanjung Bunga untuk memasuki daerah kepulauan Solor, dapat juga dilihat dari perjalanan kapal Victoria pada bulan Desember 1521. Kapal sisa armada Magelhaes ini berlayar dengan misi menemukan tempat-tempat penghasil rempah. Dari Amerika selatan, kapal ini tiba di Filiphina terus ke Ambon pada 8 Januari 1522 dan kemudian memasuki perairan kepulauan Solor menuju Timor. Kapal melewati perairan antara pulau Lembata dan pantar menuju Pulau Timor dan dari ujung pulau Timor, mengarahkan haluannya ke Tanjung Pengharapan dan terus ke Spanyol.
Tapi soalnya bagaimana dengan Larantuka? Jika posisi kapal sungguh berada persis di ujung Tanjung Bunga dengan haluan kapal arah timur, maka Larantuka sebenarnya tidak jauh dari situ. Memutar haluan ke arah barat, kapal-kapal akan memasuki sebuah teluk dengan apitan pulau-pulau dengan penghuni yang terbilang cukup banyak. Inilah yang dilakukan armada Portugis yang dipimpin Antonio de Aberu pada pada tahun 1511. Armada yang dikirim Alfonso de Albuquerque ini menyinggahi wilayah ini untuk beberapa lama.
Selat Larantuka memang dikenal dengan arusnya yang deras. Jika waktu yang tepat, para pelaut tak butuh banyak kerja, cukup mendayung ataupun memasang layar pelayaran akan juga tiba. Arus selat yang deras, cukup dapat membantu mengantarkan perahu hingga ke dalam teluk Larantuka.
Dengan memilih berlabuh di Larantuka atau teluk-teluk di perairan kepulauan Solor merupakan pilihan yang tepat untuk menghindar dari amukan badai di utara atau selatan Flores. Di sinilah, kapal-kapal yang melintasi perdagangan tempo itu berlabuh menunggu mengisi perbekalan dan menunggu redahnya badai musim barat. Letak yang strategis ini juga sebagai tempat para pelaut, berteduh untuk menambah perbekalan di perjalanan kemudian. Hasil-hasil bumi juga merupakan daerah barteran yang cukup terkenal.
Karena itu, bukan satu yang berlebihan, bila laporan pendeta Jesuit Balthasar Dias yang mengunjungi Solor pada tahun 1559 melaporkan adanya 200 pedagang dan pelaut Portugis yang beristirahat selama bulan Desember dan Januari untuk menghindari badai yang ganas.
Perhatian lebih terarah lagi, saat Benteng Portugis di Malaka di ambil oleh VOC pada 1541. Solor kemudian menjadi alternatif Portugis untuk mengantikan Malaka. Hal ini pun dikaitkan dengan Peta Dunia yang dipublikasikan Mercator dalam tahun 1569 yang menempatkan Flores sebagai tempat yang penting di sebelah timur Malaka.
Kehadiran Portugis di wilayah ini pada abad XVI membuka
hubungan perdagangan antara Malaka dan Solor, juga terjadi kontak antara Solor
dengan pos-pos perdagangan Portugis di Cina Makao. Apa yang terjadi dengan ini
semua tidak lain, kepulauan Solor dan Larantuka khususnya dijadikan tujuan para
pengungsi Portugis di Malaka ini. Dalam berbagai tahapan, para pengungsi mulai
berdatangan ke Larantuka.
Sejak abad 16 daerah ini telah menjadi perhatian para pedagang yang meramaikan perdagangan di kepulauan Nusa Tenggara. Ketika itu, rempah-rempah dan kayu Cendana termasuk barang mahal dan dibutuhkan di daratan Eropa. Dan permintaan ini dapat terjawab dari wilayah-wilayah di Flores, Maluku, Ternate yang banyak menghasilkan rempah-rempah.
Menurut I Gde Parimartha, pada tahun 1756 ditemukan banyak pedagang
pribumi yang berlayar dari Makasar menuju Flores. Mereka membawa barang-barang
seperti: ikan mas, ikan salem, ikan haring, gading gajah, porselin, dan barang-barang
dari tembaga, kain lena, porselin, parang. Sebaliknya dari timur mereka kembali
ke Makassar dengan membawa sarang burung, karet, barang anyaman dan budak.
Selain barang-barang itu, di kepulauan ini ikut juga
diperdagangkan teripang. dari Flores juga dibawakan kain tenun dan anyaman, mede,
cendana, buah asam, kapas, jagung, minyak ikan paus, sirip ikan, dan balerang,
atau jalur seltn lewat timor. Catatan sejarah juga menyebutkan daerah ini
memiliki pasar-pasar pada hari tertentu.
Dituliskan bahwa, pada abad XVII, kain tenun dari Nusa Tenggara ada yang dikirim sampai Maluku. Semua ini memberi gambaran bagaimana gugusan kepulauan Nusa Tenggara telah berada di tengah-tengah jaringan perdagangan yang luas. Flores termasuk dalam zona perdagangan Laut Jawa,juga terletak di antara zona perdagangan yang ramai seperti antara Makassar dan Maluku. Bima dan Solor merupakan jalur utara perdagangan di Nusa Tenggara.
Perahu-motor yang membawa barang antar pulau bersandar di Pelabuhan Larantuka ( Foto : Dok FBC)
Ada pengaruh lain dari pelintasan perdagangan semacam ini,adalah proses asimilasi dan kawin-mawin, juga pertukaran budaya serta masuknya pengaruh agama-agama besar seperti Islam dan Katolik ke wilayah ini. Seperti pengaruh Portugis terhadap masuknya agama Katolik di daerah ini, datangnya para mubalik melalui jalur perdagangan, bahkan jauh sebelum itu sekitar abad 14-15 M, memberikan pengaruh bagi perkembangan agama Islam di wilayah ini.
Kembali ke Larantuka, pertikaian dan persaingan yang terjadi dalam merebut benteng Solor yang berlangsung hampir seabad, menjadikan Larantuka pilihan yang terbaik untuk melabuhkan kapal dan menjadi tempat yang ramai untuk perdagangan di wilayah tenggara nusantara.
Runtuhnya benteng dan pemberotakan penduduk Solor 1598, menyebabkan seluruh kegiatan kepelabunanan dipindahkan ke Larantuka. Sementara dalam masa-masa ini sudah mulai terbentuk wilayah-wilayah di Adonara Barat dan Timur, termasuk semakin berpengaruhnya kerajaan lima pantai yakni Adonara, Terong, Lamahala, Lawayong, dan Lamakera.
Larantuka di abad XVII seperti diteliti Didik Pradjoko, merupakan pelabuhan alam yang bagus karena terlindungi dari amukan badai. Daerah sekitar pantainya cukup subur, sehingga tanaman jagung yang ditanam oleh orang-orang Portugis tumbuh dengan baik di sana. Di lihat dari sisi pertahanan Larantuka juga sangat baik, karena meskipun ada blokade laut, penduduk dapat melintasi pedalaman dan menuju daerah pantai yang lain.
Dengan teluknya yang tenang karena dilindungi oleh dua buah pulau kecil, Adonara dan Solor, Larantuka yang sebelumnya hanya sebagai tempat persingahan, lama kelamaan daerah ini berkembang semakin pesat lebih-lebih dengan masuknya kapal-kapal dari Jawa dan Cina secara rutin.
Di luar perkembangan agama, secara ekonomi kehadiran pedagang-pedagang yang meramaikan wilayah ini cukup membantu perkembangan ekonomi. Dalam perkembangan selanjutnya, hubungan-hubungan perdagangan mulai berpindah ke Timur seiring dengan jatuhnya benteng Portugis di Kupang ke tangan Belanda pada 1653.
Dengan perpindahan wilayah kekuasaan Portugis, berakibat Larantuka perlahan mulai tidak dilirik para pedagang. Penduduk wilayah ini yang semula dikenal sebagai pelaut, mulai memilih hidup bertani. Larantuka hingga 1915 berangsur-angsur sepi, menyusul pola pelayaran dan perdagangan telah berubah. Hubungan perdagangan baru yang diperkenalkan oleh Belanda lebih menyerupai suatu hubugan yang terintegrasi di bawah satu sistem kekuasaan.(*)
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keempat Semoga berguna.
Oleh : Benjamin Tukan
Larantuka pada awal perkembangannya, cenderung memusat hanya pada daerah Postoh di bagian timur hingga Sandominggo, kelurahan Larantuka di sebelah barat, yang merupakan pergerakan wilayah misi Katolik, kerajaan dan pemerintahan.
Di Postoh ada gereja Katedral, rumah para pastor, sekolah dan pertukangan misi, kompleks tentara, penjara, pasar dan pelabuhan. Di Sandominggo ada rumah Uskup Larantuka yang sebelumnya pada masa portugis terdapat sebuah gereja, juga ada sekolah. Di antara timur dan barat, ada rumah jabatan bupati, kantor pemerintahan, rumah raja, dan beberapa kapela.
Dari timur hingga barat, Larantuka menyerupai sebuah benteng. Segala keperluan penduduk dipenuhi di dalam “benteng” itu. Postoh mungkin lebih dikenal sebagai benteng sesungguhnya karena fasilitasnya yang lebih lengkap yang berhubungan dengan pusat militer (tansi tentara) dan penjara.
Wilayah dari Postoh hingga Sandominggo, itulah poros perkembangan penduduk Larantuka. Oleh karena kehidupan begitu terkonsentrasi di dalam “benteng” itu, maka melekat pula perasaan sebagai “orang dalam” untuk membedakan dari “orang luar”. Perasaan-perasaan semacam ini masih terbawa hingga saat ini.
Penduduk yang mendiami wilayah Larantuka ini sering menamakan diri mereka orang Nagi. Kata “Nagi” sering diidentikkan dengan “Nagarai” pengaruh kosa kata Melayu, yang sama artinya dengan kampung atau sama dengan “Lewo” dalam bahasa Lamaholot. Orang Nagi menggunakan bahasa Nagi atau bahasa Melayu dialek Larantuka.
Aktivitas warga Larantuka
Dalam kehidupan keseharian, orang nagi terbiasa menjalankan tradisi keagamaan yang ditinggalkan Portugis. Setiap kampung memiliki kapela, dengan kewajiban bagi setiap warga atau umatnya untuk selalu membersihkan dan memelihara tempat dan ornamento termasuk menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Tradisi prosesi Jumat Agung dan tradisi semana santa merupakan tradisi bersama di antara orang nagi.
Selain aktif di gereja, orang Nagi pun dekat dengan kerajaan dan juga dengan pemerintahan modern. Ini juga membawa konsekuensi lain, bahwa penduduk yang tinggal di dalam wilayah ini lebih dahulu berkembang atau minimal dapat lebih dahulu tahu akan kebijakan yang datang dari pusat kekuasaan. Dalam hubungan dengan akses terhadap pendidikan juga lowongan untuk menjadi pegawai, tentu orang nagi lebih banyak memiliki peluang. Di antara tamatan-tamatan dalam pendidikan awal, banyak orang nagi yang menjadi guru dan duduk di lembaga pemerintahan.
Sebagai sebuah komunitas kota yang tumbuh dan berkembang dekat dengan pusat kekuasaan, konsekuensi lain yang tidak bisa dihindarkan adalah perasaan untuk mengidentifikasikan diri sebagai yang paling tahu, terpelajar dan punya kebudayaan tinggi. Tidak jarang pula dalam kehidupan sosial muncul anggapan tentang keterbelakangan yang dialami oleh masyarakat di sekitarnya, sebagai sesuatu yang terberi.
Jika sejarah mau dilihat lagi, perasaan-perasaan yang merasa paling tahu ini kadang menciptakan gap antara masyarakat yang ada di dalam dan di luar “benteng”. Kota tetap dimaknai hanya milik mereka yang kebetulan punya akses dengan sumber-sumber kekuasaan ataupun pengetahuan.
Perkembangan masyarakat memang tak terhindarkan. Cepatnya perubahan pasca kemerdekaan, membuat kehidupan orang nagi mulai bercampur baur dengan penduduk lain yang datang ke ibukota Kabupaten dan yang datang ke pusat misi. Pendidikan yang diperoleh beberapa anak di luar orang nagi, akibat peluang yang dibuka gereja dan pemerintahan, memungkinkan tamatannya bekerja di Larantuka. Kendati ada perasaan untuk memiliki tradisi yang diwariskan, otoritas gereja setempat dan pemerintah tidak mungkinkan untuk membeda-bedakan satu dengan yang lain, jika tidak pada pertimbangan khusus atau berdasarkan kompetensi.
Orang nagi yang tamatan sekolah guru dan pertukangan dikirim untuk bekerja di di desa-desa sekitarnya ataupun dikirim ke perkampungan-perkampungan di Flores, Sumba dan Timor. Hal ini telah juga jauh sebelum kemerdekaan. Tapi mau dikatakan di sini bahwa orang nagi tidak saja mengenal budaya lain dari kedatangan penduduk ke Larantuka, tapi juga mengenal budaya lain karena ditugaskan untuk bekerja di wilayah lain. Terjadi proses kawin mawin, juga bentuk-bentuk pembauran yang terjadi membuahkan makna-makna baru pada kehidupan orang nagi.
Bencana banjir 1979, yang memporak-porandakan kota Larantuka membuka lembaran baru untuk mereka yang tinggal di dalam “benteng” untuk menerobos keluar dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Mereka yang menjadi korban dibangun pemukiman baru di luar kota/benteng yang berakibat berubah pula pola interaksi masyarakat.
Sebagaimana contoh, di perkampungan baru Weri (pemukiman untuk korban banjir yang dibangun pemerintah pasca banjir 1979) orang nagi mulai lebih intens berbaur dengan masyarakat umumnya. Apalagi pemukiman korban banjir ini, dalam perkembangan kemudian, lebih menyerupai perumahan perumahan baru bagi siapa saja yang hendak tinggal di Larantuka.
Pelabuhan Larantuka (Foto : FBC)
Dari Weri di ujung timur, jika hendak kembali ke Larantuka (wilayah Postoh -Sandominggo) maka orang akan melewati berbagai kampung kecil seperti kota Sau, Kota Rowidho, Kampung tengah, Lebao , dan seterusnya hingga Amagarapati dan Ekasapta. Tak berlebihan kampung-kampung kecil ini dengan sendirinya terdongkrak untuk diperhatikan. Perkembangan kota terjadi juga di Barat pada desa-desa selepas Sandominggo yakni Pante Besar, Lewolere dan Waibalun. Mulai terjadi pergerakan untuk keluar dari benteng, sekaligus menorobos masuk ke dalam benteng.
Pasca banjir 1979, banyak kantor dibangun kembali di luar benteng. Kantor Bupati dan kantor-kantor lainnya yang dibangun di tempat baru menyerupai kompleks perkantoran itu, semakin meninggalkan Larantuka sebagai sebuah benteng. Larantuka perlahan mulai menjemput perkembangan kota modern yang didalamnya harus pula merayakan pluralitas.
Sedikit berkembang dari kota yang hanya dalam benteng, kini sedikit mulai meluas, sekalipun masih terkesan sangat sempit untuk menampung segala fasilitas perkotaan. Namun, ada optimisme bahwa masyarakat kota yang lebih plural dapat saja segera terwujud. Sementara beberapa perkampungan tradisional yang berada di sekitar pegunungan Ile mandiri mulai ditata sekaligus menjanjikan suasana pembangunan kota yang lebih baik dan bernilai untuk jangka panjang.
Berhadapan dengan perkembangan masyarakat tanpa harus meninggalkan kekhasan tradisi yang dimiliki masyarakat, maka pekerjaan rumah yang besar adalah mencari formula yang pas agar kehidupan itu bisa mendatangkan kebahagian bagi semua orang tanpa ada yang merasa tersisih dari perkembangan yang ada. Perayaan Semana Santa, misalnya, di satu sisi adalah perayaan orang nagi Larantuka dengan segala aturan yang ditetapkan, tapi sebagai perayaan keagamaan harus terus membuka diri untuk keterlibatan pihak lain.
Diskusi masih terbuka. Gereja, Pemerintah, dan Kerajaan, tokoh masyarakat, akademisi mestinya selalu duduk bicara menghadapi perubahan yang terus datang. (*)
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketiga Semoga berguna.
Penulis : Benjamin Tukan
Dari sejarah yang ditutur-lisankan secara turun temurun dari penduduk Flores bagian timur khususnya Larantuka dan sekitarnya, asal usul penghuni wilayah ini datang dari penduduk asli yakni suku ile jadi, dan para pendatang yang berasal dari wilayah nusantara bagian Barat dan Timur. Suku pendatang berasal dari Barat disebut dengan istilah “Sina Jawa Malaka” dan yang datang dari Timur disebut “Keroko Puken” dan “Tena Mao”.
Sebutan “Sina Jawa Malaka” sering diasosiasikan orang sebagai berikut : Sina dimaksudkan suku dari Cina bagian selatan, Jawa ialah suku Hindu Jawa dan Malaka yaitu berasal dari suku Melayu termasuk Portugis indo dan Portugis hitam yang sebelumnya pernah tinggal di Malaka.
Sedangkan “Keroko Puken” berasal dari sebuah pulau di timur Lembata yang tenggelam. Suku dari timur pun termasuk suku Seram Goran yang datang dari Maluku, Arafuru dan Banda. Kedatangan penduduk dari luar wilayah ini dalam hal pembauran dengan penduduk asli telah menghasilkan kekhasan tersendiri dalam corak budayanya.
Jika dilihat lebih jauh lagi ke dalam masyarakat Lamaholot, penduduk yang mendiami wilayah timur Flores ini dapat dikatakan bahwa penduduk Lamaholot merupakan suatu masyarakat yang dibentuk dari proses perjumpaaan, kawin mawin dan asimilasi kebudayaan antara masyarakat asli atau yang datang lebih dahulu dengan masyarakat yang datang kemudian ke wilayah ini.
Perpindahan suku-suku ke wilayah ini telah dimulai sekitar abad ke 3 hingga abad 5 dari migrasi Melayu yang diperkirakan telah mencapai wilayah Timur dan termasuk daerah timur Flores. Namun, jika berpatokan pada imigrasi manusia dari Afrika ke bumi nusantara, tentu hitungan tahun dapat mundur jauh ke belakang.
Salah satu teluk berpasir putih di Kota Larantuka (Foto : BN)
Gelombang berikutnya, pada era kejayaan kerajaan Sriwijaya, juga terjadi migrasi yang mencapai daerah Flores bagian timur termasuk daerah Timor dan Maluku. Selanjutnya, terjadi pada era perdagangan nusantara termasuk pada era kerajaan Majapahit yang membawa misi mempersatukan nusantara.
Dalam perkembangan masyarakat wilayah ini, dapat dikatakan tempat ini mendapat pengaruh dari kerajaan-kerajaan nusantara baik Sriwijaya, Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya di nusantara, juga pengaruh dari Portugis, Belanda dan Jepang yang datang kemudian.
Pengaruh yang dibawa dari luar tentu saja mempengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah ini. Selain bentuk dan struktur suku, kampung dan kerajaan, tradisi yang dijalani hingga sekarang pun merupakan hasil dari pencampuran dengan unsur budaya luar atau budaya yang datang kemudian.
Bukan berlebihan bila dikatakan kebiasaan hidup masyarakat Larantuka merupakan pencampuran yang cukup sempurna antara kebudayaan asli, dan pendatang Malayu dan Eropa. Dalam masyarakat Lamoholot pun terjadi hal yang sama. Dapat kita lihat berbagai kemiripan yang bisa dijumpai dengan penduduk di tenggara Maluku bahkan sampai Papua bagian barat.
Kembali ke Larantuka. Sebagai kota yang pernah dijadikan pusat misi Katolik, Paderi Portugis dan umat Katolik awal, terus menghidupkan tradisi katolik yang tersisa, entah tersisa dari tanah asalnya di Eropa, maupun tersisa dari pelarian setelah runtuhnya benteng Malaka, benteng Makasar maupun benteng Solor.
Ketika memulai kehidupan awal di Larantuka dari suatu perjalanan panjang sebelumnya, orang nasarani Larantuka memulai dengan menata patung dan segala ornamento perayaan keagamaan Katolik untuk disimpan pada tempat yang lebih baik. Tradisi yang merupakan warisan dari masyarakat Eropa abad pertengahan ini berhubungan pula dengan devosi kepada yang Kudus yang terus dirayakan, dipertahankan bahkan terus diwariskan kepada keturuanannya hingga saat ini.
Patung, ornamento dan tradisi berdevosi, bukanlah sekadar hadir menyemarakan perayaan keagamaan dalam tradisi Katolik. Ada suatu yang lebih dari itu yakni untuk menghadapi ancaman yang terus datang baik dari Belanda maupun penduduk lokal juga termasuk persaingan dagang tempo itu. Ornamento dan tradisi dijadikan sarana perlindungan sekaligus jalan pengharapan akan datangnya mukjizat dan keselamatan. Semakin banyak dijumpai kesulitan, semakin umat merasa dekat dengan yang kudus.
Larantuka ketika itu, memang jauh dari pembicaraan politik para pengambil keputusan. Pergolakan politik yang terjadi di luar sana, sepertinya tidak pernah memikirkan tentang keberadaan masyarakat Larantuka. Larantuka bahkan semakin jauh dari perhatian, juga ketika kedatangan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Nusantara dalam tahun 1602 atau setelah hancurnya Benteng Portugis di Ambon 1605.
Walau Portugis pernah menjadikan Solor sebagai pusat misi, yang kurang lebih berhubungan dengan perdagangan cendana, itupun tidak menjadi pertimbangan VOC untuk melihat lebih jauh akan potensi ekonomi wilayah ini. Politik VOC yang tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jawa, semakin menjauhkan Larantuka dari percaturan perdagangan masa VOC Belanda yang dampaknya hingga saat ini.
Menarik disimak perkembangan masyarakat di wilayah ini terutama dalam hal kegalauan menghadapi kebijakan politik dan ekonomi kala itu. Persaingan Portugis dan Belanda, sungguh mempengaruhi keberadaan misonaris yang melayani umat saat itu.Misonaris Portugis terpaksa pergi meninggalkan Larantuka seiring dengan kemauan politik yang menghendaki Portugis harus pergi, menyebabkan umat harus berjuang sendiri lepas dari para misionaris. Di sinilah mulai muncul peran raja Larantuka yang semakin luas untuk mengambil alih kepemimpinan agama saat itu.
Bersama raja, penduduk Larantuka melewati hari-hari dalam kesepian, menjadi sendiri bagai “yatim piatu” jauh dari persinggungan arus perkembangan perdagangan nusantara dan atau terpengaruh menjadi koloni dari para penguasa jalur rempah. Barangkali hubungan-hubungan kerajaan-kerajaan kecil Islam di wilayah ini dengan Ternate dan Tidore, Gowa dan Bima sedikit banyak menghidupkan perdagangan di wilayah ini tempo itu.
Larantuka baru kembali menjadi perbincangan ketika datangnya misonaris Belanda dan mulai membuka lembaga-lembaga pendidikan. Sekalipun di wilayah pemerintahan, sentralisme Belanda tetap menjauhkan Larantuka, justru dalam soal agama, Larantuka tetap menjadi awal sejarah pendidikan dan misi di Flores.
Pendidikan yang diselenggarakan dalam banyak hal lebih ditujukan untuk melayani pengembangan misi dimanapun dibutuhkan. Bisa dikatakan, Larantuka hidup dan berkembang tidak secara khusus untuk masyarakatnya sendiri melainkan selalu berhubungan dengan sesuatu di luarnya.
Perkembangan lain yang cukup menarik disimak adalah dalam hubungan dengan kekafiran (istilah untuk orang yang belum beragama formal) ataupun dalam kerangka agama lokal menghadapi datangnya agama-agama baru yang dibawa orang Eropa. Ada yang cukup menarik lantaran tempat inipun menjadi awal perjumpaan antara agama baru dan agama lokal.
Selat Larantuka bagai sebuah danau, tempat warga menghabiskan waktu untuk memancing ikan (Foto : FBC)
Dapatkah mereka bersanding? Itu pertanyaan yang mungkin ada. Tapi bagaimana pun kemauan awal dari perjalanan yang sungguh jauh di belahan Eropa sana tidak mudah menerima semuanya bisa bersama berjalan secara mulus. Keinginan untuk melawan kekafiran di sekitarnya merupakan sebagian sedikit sejarah yang menandakan keberadaan kota ini.
Perlawanan untuk mempertahankan kebenaran yang diyakini, segera mencari jalan baru untuk membawa daerah ini pada suatu perlindungan dalam tradisi yang dihayati. Oleh para misonaris, kota Larantuka berada dalam perlindungan santo Philipus dan Yakobus, kendati hingga kini orang lebih mengenal sebagai kota Maria atau dijuluki ‘Kota Reinha’.
Patahan demi patahan sejarah terus dialami penduduk wilayah ini. Kehidupan yang mulai tertata harus diiklaskan untuk tidak dilanjutkan, lantaran politik yang ditentukan di luar sana menghendaki suatu yang lain sama sekali. Apa yang dialami umat ketika peralihan Portugis ke Belanda, kembali terulang dalam peralihan Belanda ke Jepang. Segalanya harus mulai secara baru lagi. Lagi-lagi untuk bisa bertahan, kembali ke tradisi adalah jawabannya.
Perkembangan terus berjalan. Sebagai akibat dari pertumbuhan umat yang semakin pesat, sejak 1951 Larantuka dan sekitarnya menjadi satu wilayah keuskupan yakni Keuskupan Larantuka.
Larantuka dijadikan tempat kediaman Uskup Larantuka yang berarti juga menjadi pusat keuskupan. Ini juga membawa pengaruh yang cukup besar dan berarti bagi perkembangan kota ini. Hilir mudik para imam dan biarawan yang mengunjungi rumah keuskupan di Sandominggo menjadikan kota ini mulai terasa kian ramai dan mulai ada kesibukan baru.
Sementara di wilayah pemerintahan yang ketika itu sudah menjadi bagian dari NKRI, Larantuka dijadikan ibukota kabupaten Flores Timur, sebagaimana masa Belanda yang menempatkan satu komandan di sini.
Sebagai ibukota Kabupaten Flores Timur, mulai ada permintaan tenaga kerja untuk mengisi pos-pos dalam pemerintahan. Perpindahan penduduk ke pusat kekuasaan adalah suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Larantuka mulai bertumbuh sebagai sebuah ibu kota kabupaten dengan segala konsekuensinya.
Larantuka, wilayah yang kecil itu, adalah tempat tinggal uskup Larantuka, tempat tinggal raja Larantuka dan tempat tinggal dan bekerja dari seorang bupati. Semuanya ada di sini dan semuanya memiliki “suara” yang sama nyaringnya. Karenanya tidak heran, saat sebuah isu diperbincangkan di wilayah publik, orang pun bertanya, “ini suara siapa?”.