Oleh Eulis Saputra (Komunitas Cinta Indonesia /KACI)
BANDUNG, DISDIK JABAR – Seni dalam mendidik ibarat memberi warna pada kanvas kehidupan siswa. Setiap peserta didik sudah tentu memiliki keunikan yang khas. Dengan memahami setiap jiwa yang memiliki kemampuan berbeda maka akan lebih mudah memfokuskan pada bidang pendidikan yang sesuai potensi siswa. Oleh sebab itu, tes potensial sangat penting dilaksanakan pada awal pembelajaran guna mendeteksi bakat alam yang bisa menentukan pilihan pendidikan bagi masa depan peserta didik.
Ada berbagai teori pembelajaran kreatif yang banyak ditulis
para ahli. Mulai dari metode, teknik, dan strategi dipadu kajian teori
kecerdasan. Secara umum, dalam penanganan peserta didik dapat diklasifikasikan
pada beberapa kelompok kecerdasan. Semua ini menjadi data empiris temuan di
ruang kelas. Setiap strategi mengajar bisa dikolaborasikan dalam satu pertemuan
kegiatan pembelajaran. Sehingga, peserta didik memiliki suguhan pembelajaran
yang heterogen pada setiap tahap kegiatan (proses eksplorasi, elaborasi, dan
konfirmasi).
Strategi mengajar dengan menyuguhkan pancingan
multikecerdasan; kecerdasan linguistik, logis matematis, visual, musikal, kinestetik,
interpersonal, dan naturalis. Namun, pernahkan terpikirkan bahwa semua itu
adalah ilmu, seni dalam mendidik? Marilah kita sedikit menelisik bagaimana padu
padan seni dalam mendidik dikaitkan dengan teori seni itu sendiri. Dimana kita
bertemu dengan pendidik yang jenius dan mengagumkan, guru penggerak yang bisa
mengajak belajar menciptakan keceriaan sesuka hati serta menciptakan pabrik
kegembiraan.
Sejarah estetika romantis memusatkan perhatiannya pada diri
seniman dan proses kreatifnya dalam seni. Kebebasan berkreasi dalam seni secara
autodidak/alamiah/bakat alami dari setiap individu. Penekanannya ada pada
konsep “alam”. Lingkungan alam yang menggugah rasa kegembiraan karena
keindahannya memberi kedamaian dan kenyamanan.
Begitu pula bagi seorang pendidik, ibarat seniman yang
membuat suatu keindahan saat mengajar. Berdasarkan konsep ini, pada dasarnya
seni mendidik akan berkembang kreatif jika dilakukan secara alami oleh pendidik
penggerak sebagai seniman didik. Pemahaman terhadap jiwa-jiwa pembelajar dengan
ilmu pedagogisnya. Dengan pendekatan alami inilah, pembelajaran akan terasa
lebih dekat, menyamankan, dan manusiawi.
Contoh analogi lainnya; sebuah karya seni tidak akan lepas
dari latar belakang (sejarah) pengalaman sang seniman itu sendiri. Begitu pula
karya seni, akan mewakili keberadaan pada zamannya yang bercerita tentang
situasi dan kondisi pada masa tersebut. Sifatnya kontekstual (sesuai pada
zamannya) yang berbicara tentang kekinian. Walau mungkin bisa bercerita tentang
masa lalu atau mungkin juga relevan sepanjang masa, tapi jiwanya akan kosong
jika tidak menyentuh objek yang relevan, kemungkinan ada istilah bahasa yang
tidak sesuai lagi.
Maksud dari pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa seni
dalam mendidik tidak terlepas dari pengalaman, keilmuan, dan kepribadian para
pendidik itu sendiri. Pendidik sebagai seniman didik mengajarkan kepada siswa
didiknya tentu dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya. Peserta didik adalah
objek karya seni mendidik. Dengan gaya kekolotan dipadukan dengan cara pandang
kekinian dalam mendidik, jika dikolaborasikan dengan baik, diharapkan perubahan
dari zaman manual ke digital akan berjalan mulus. Pendidikan masa kini di zaman
milenial tentu harus diposisikan sesuai tuntutan zaman. Mau tidak mau, semua
stakeholder pendidikan harus hadir menjadi pendamping yang bisa memberikan
bimbingan dan rasa percaya diri, baik bagi dirinya maupun bagi para pendidik
dan peserta didiknya. Semua digiring ke masa kekinian.
Mungkin perlu pengakuan budaya kolonial, dengan adanya
unggah-ungguh sangatlah penting dalam penguatan pembentukan karakter peserta
didik. Yang tidak boleh adalah feodalisme dalam keilmuan. Kita harus terbuka
dalam ilmu. Yang bisa jadi, kita bertambah ilmu dari pengalaman empiris ketika
bertemu anak kecil yang lugu dan masih jauh penalarannya terhadap dunia. Ilmu
anak kecil sangatlah sederhana, penuh mimpi namun faktual.
Seni mendidik selain menghadirkan rasa estetis/keindahan,
juga bisa membuat peserta didik sebagai penikmatnya merenung (berkontemplasi),
menafakuri hakikat hidup dan kehidupan apa adanya. Ada gejolak positif-negatif
berupa keterkejutan yang menarik.
Seni mendidik merupakan perpaduan antara estetika
keselarasan dan pertentangan. Melalui seni mendidik, bisa menggerakkan hati
manusia untuk mendekat dan mengenal Sang Mahaseni. Tangan-tangan Tuhan turut
andil dalam bentuk komunikasi religi. Contohnya, menggerakkan orang untuk giat
belajar, berbuat kebaikan, ibadah, beramal, menolong, sidqoh, membantu sesama,
cepat tanggap, mengerti bahasa isyarat, lambang, dan simbol serta membuat orang
menjadi lebih bijak (paham).
Pernyataan-pernyataan dalam materi pembelajaran sifatnya
dapat terukur dan dipahami, walau kita tidak menyaksikan nyata/langsung.
Tetapi, logika kita langsung bekerja mengembangkan penafsiran yang
terukur/logis. Ketakjuban akan mekanisme komputerisasi/digital yang memberi
ruang keindahan, seni mendidik harus masuk pada semua bidang keilmuan.
Sehingga, jiwa-jiwa tidak kering, semua tertata indah dalam mata pelajaran
agama, PKn, bahasa, IPA, IPS, matematika, olahraga, seni budaya, dan prakarya.
Dengan seni, wawasan menjadi luas, penalaran pun akan
berkembang. Karena, seni tidak pernah mati, akan selalu membawa kegairahan dan
kreasi. Seni yang bijak yang mengajak kita untuk mengenal jati dirinya,
mengenalkan, dan mengakrabkan pada Sang Mahaseni, Allah SWT.
Panjangkan dan lebarkanlah keilmuan kita. Cobalah untuk
mengenal dan memasuki dunia seni dalam pendidikan. Caranya, dengan melibatkan
diri dalam pendidikan seni itu sendiri. Dengan demikian, kita terlatih
berapresiasi dan berekspresi dari cipta, karsa, dan karya. Misalnya membaca,
menulis, mendeklamasikan,dan mendengarkan puisi.
Seni India begitu indah karena pelaku seni memahami tugas
dan fungsinya untuk memberikan suguhan seni yang agung secara total. Setiap
gerak, ekspresi, dan pakaian memiliki makna. Sehingga, penikmat seni terhanyut
dalam permainannya dan memberi penilaian sebagai bentuk apresiasinya. Tubuh
dihias, tidak kosong dari bawah sampai atas. Setiap sesuatu ada hal yang ingin
disampaikan sebagai bentuk komunikasi. Contohnya, angin yang berembus meniup
tubuh kita merupakan bentuk komunikasi kita dengan udara yang harus dimaknai
dan dihayati.
Seni adalah kehalusan jiwa. Yang menata keindahan rasa dalam
bentuk karya. Seni mendidik mengajak pendidik penggerak untuk membentuk
karakter peserta didik yang kreatif (bagus dalam memikirkan cara baru untuk
melakukan sesuatu), ingin tahu (memiliki minat mengeksplorasi dan meneliti),
berpikiran terbuka (mau melihat masalah dari beberapa perspektif), keberanian
(tidak lari dari ancaman dan tantangan), ketekunan (bertahan saat keadaan
menjadi sulit), vitalitas (menjalani hidup dengan semangat dan energi), cinta
(bisa membentuk hubungan dekat dengan orang lain), kebaikan (senang memberi
kepada orang lain), citizenship (menjadi pemain dan pendukung orang-orang di
sekitar), kepemimpinan (mengambil tanggung jawab dan melangkah maju), pemaaf
(bisa memaafkan orang yang telah melakukan kesalahan), kerendahan hati (tidak
menarik perhatian dengan pencapaian diri), kehati-hatian (menunjukkan kontrol
diri dan tidak terlalu menurut kata hati), bersyukur (berterima kasih untuk
hal-hal baik dalam kehidupan), harapan (mengharapkan hal baik untuk berusaha
mencapainya) serta humor (melihat sisi lucu dari kehidupan dan riang).
Budaya sekolah terbentuk dari kompetensi seni mendidik
setiap seniman didiknya. Jadilah guru penggerak yang memiliki kebebasan dan
kekuatan dalam berekspresi serta berapresiasi. Mengembangkan kemampuan menata
siswa dengan hati yang mulia. Menjauh dari keangkuhan. Melebur dalam ilmu yang
subur menuju kemakmuran pendidikan dalam kesantunan.***
Sumber : http://disdik.jabarprov.go.id/news/2208/guru-penggerak-dan-seni-mendidik-membentuk-budaya-sekolah