Blog

  • Kapal Memiliki Jenis Kelamin

    Kapal Memiliki Jenis Kelamin

    Bira-Kapal itu setinggi hampir 3 orang laki-laki dewasa. Panjangnya mencapai 30 meter. Tampak 12 kayu penyangga kapal menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, menjaga agar badan raksasanya tidak roboh. Perlu usaha yang agak payah untuk naik menuju buritan kapal yang baru akan selesai dibuat 2 bulan lagi tersebut.

    Diatas tampak 3 orang sedang membengkokkan kayu sepanjang 2 meter untuk dipasang di ujung haluan. Salah satu pekerja menjelaskan bahwa kami tidak sedang berdiri di geladak utama. Mengejutkan, rupanya kapal ini akan lebih tinggi lagi. Tempat yang tadinya kami kira geladak utama nantinya akan menjadi restoran didalam kapal.

    Kapal yang sedang digarap oleh Muhammad Djafar dan anaknya ini adalah jenis Padewakang, salah satu model kapal khas Sulawesi Selatan selain Pinisi. Kapal Padewakang berusia lebih tua dari kapal Pinisi. Deperkirakan, kapal ini telah dipergunakan oleh orang Makassar pada abad ke-16 untuk mencapai benua Australia. Keunikan dari kapal padewakang adalah layarnya berbentuk segi empat. Bentuk kapal dengan layar seperti ini juga terdapat dalam relief kapal pada candi Borobudur.

    Melihat pembuatan kapal tradisional disini cukup mengejutkan. Tidak seperti teknologi modern saat ini dalam membuat kapal, disini semua dilakukan dengan cara yang masih tradisional. Semua peralatan yang digunakan berasal dari kayu. Terlihat hanya sebuah bor dan las listrik alat modern yang digunakan.

    Bagi seorang Panrita Lopi (tokoh adat ahli perahu), ilmu pasti dalam pembuatan kapal tidak sepenuhnya berlaku. Mereka lebih mengandalkan pengalaman dan perasaan. Perahu yang sedang dibuat sekarang misalnya, Muhammad Djafar tidak membutuhkan design atau gambar. Hanya mengandalkan perasaan. Demikianlah yang dilakukan nenek moyangnya selama berabad abad dan turun temurun. Kecuali jika ada permintaan design khusus dari si pemesan kapal.

    Metode yang bertolak belakang dengan metode modern juga masih lekat dengan tradisi pembuatan kapal di wilayah Tanahberu ini. Bahkan, ritual-ritual khusus sebelum dan sesudah pembuatan masih dilakukan. Misalnya ritual Sambung Lunas, pelarungan lunas dan upacara Selamatan.

    Menurut Rahma Djafar, anak ke enam dari Muhammad Djafar, para Panrita Lopi memperlakukan sebuah kapal seperti tubuh manusia dan kadang meyakini sebuah kapal memiliki jenis kelamin.“Berdasarkan perasaannya, seorang ahli kapal dapat mengatakan jenis kelamin sebuah kapal ketika sudah setengah jadi, apakah ini kapal laki-laki atau perempuan,” ujarnya.

    Ahmad Abdul, Penyusun Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, bahkan mengatakan dahulu seorang Panrita Lopi dapat mengetahui nasib kapal yang dibuatnya.”Menurut cerita, mereka bisa tahu kapal yang dibuatnya akan tenggelam oleh apa atau karam dimana”.

    kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • E.F.E Douwes Deker

    E.F.E Douwes Deker

    Di dalam tubuhnya mengalir darah Belanda, Perancis, Jerman, dan Jawa, tapi ia seorang penggerak revolusi Indonesia yang melampaui zamannya. Namanya Ernest Prancois Eugene Douwes Dekker. Di tengah kekecewaan sebagian kalangan terhadap sikap elitis Boedi Oetomo.  Douwes Dekker hadir menyodorkan gagasan segar. Ia mendirikan partai politik pertama di Indonesia, yang bercita-cita memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua ras yang ada di Hindia .

    Kehadiran Indische Partij meniupkan roh di awal pergerakan. Kemunculannya di sambut gegap-gempita. Tour propaganda yang digerakkan Douwes Dekker merupakan rapat akbar politik pertama di Hindia. Inilah tonggak pergerakan dengan strategi pengerahan massa dalam jumlah besar – strategi yang kemudian diterapkan Tjokroaminoto untuk mengorganisir massa Sarekat Islam.

    Tak bisa dipungkiri, Indische Partij meletakkan fondasi penting bagi nasionalisme Hindia. Organisasi politik ini jauh lebih radikal daripada Boedi Oetomo. Tak cuma menyeruhkan perombakan di bidang pelayanan administrasi, Douwes Dekker mengusung reformasi politik pertanian dan perpajakan sebagai salah satu program partai. Tindak-tanduk Douwes Dekker diawasi karena menolak diskriminasi. Ia dicap sebagai agitator  berbahaya. Douwes Dekker menjadi figur menggetarkan bagi pemerintah Hindia Belanda.

    Di usianya yang singkat karena dipaksa bubar oleh Belanda, Indische Partij berhasil menyuburkan semangat juga harapan. Organisasi politik ini meniupkan napas panjang bagi aksi pergerakan setelah itu.

    Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya ialah suatu gejala baru yang harus dibedakan dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa  1825 – 1930 misalnya, pada waktu Pangeran Diponogoro melawan kekuasaan Belanda di Jawa Tengah  selama lima tahun, merupakan suatu gerakan setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan baru  yang muncul abad ke-20. Nasionalisme baru itu adalah hasil imperialisme baru. Ia harus dipandang sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar  yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19.

    Rasa kebangssann ditempa dalam pengalaman bersama melawan penindasan kolonial, namun gagasan-gagasan tentang kebangsaan dan kemudian penciptaan suatu tatanan politik baru – suatu negara modern –  yang dapat digunakan untuk mengungkapkan gagasan itu, pada dasarnya merupakan konsep baru, yang melampui aspek-aspek negatif  dari perjuangan kemerdekaan. Dan ini pun menyangkut penyusunan saluran-saluran baru bagi kekuasaan dalam masyarakat-masyarakat tradisional serta  perumusan harapan-harapam baru. Semua ini mempunyai kesamaan-kesamaannya di mana pun di India, di bagian-bagian lain Asia Tenggara dan di Afrika – dan ini sangat berbeda dari gerakan perlawanan araris “ pra-nasiolis “ yang umum terdapat dalam masyarakat Indonesia, atau dari pemberontakan di bawah pemimpin tradisional yang berdasarkan keluhan-keluhan tertentu.

    Sebab-sebab nasionalisme abad ke-20 harus dicari pada terganggunya keseimbangan masyarakat-masyarakat tradisional sebagai akibat dari dampak penuh industri modern Eropa. Dengan munculnya kaum cendikiawan baru, rasa tidak puas massa dapat disalurkan dan diorganisasikan ke dalam gerakan-gerakan kekuatan politik yang menentang rezim kolonial, memandang ke depan secara positif untuk membangun suatu negara merdeka yang didasarkan pada nilai-nilai pola-pola tatanan lama  tradisional

    Ernest Renan mengatakan bahwa etnisitas tidak diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Jadi nasionalisme bisa terjadi  dalam komunitas multietnis. Persatuan agama juga tidak diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Dalam hal nasionalisme, syarat mutlak dan utama adalah adanya kemauan dan tekad bersama. Kedouri mengaksenkan masalah self-determinitaion (penentuan nasib sendiri) sebagai salah satu tujuan dari nasionalisme. Plamenatz menfokuskan diri pada self-determination ( pemerintahan sendiri sebagai unsur sentral dalam pembahasannya mengenai nasionalisme  dan kolonialisasi. Salah satu fokus Gellner adalah persatuan budaya sebagai hubungan antarorang yang merupakan landasan nasionalisme, terlebih lagi Guibermau yang lebih mengunggulkan budaya sebagai kekuatan pemersatu.

    Nasionalisme adalah paham dan proses di dalam sejarah saat sekelompok orang merasa menjadi anggota dari suatu nasion (bangsa) dan mereka ingin mendirikan satu state (negara) yang mencakup semua anggota dari kelompok itu. Teori nasionalisme  tentu saja lebih luas lagi, akan tetapi tidak di bahas di sini karena tulisan ini tidak bertujuan menulis suatu karya teoritis mengenai nasionalisme pada umumnya.

    Akan tetapi selain dari faktor-faktor itu juga ada beberapa faktor kontekstual yang perlu diperhatikan. Nasionalisme hanya dapat berkembang jika beberapa faktor-faktor pendorong itu ada. Smith membahas teori Gellner yang mengatakan bahwa modernisasi dan industrialisasi adalah faktor-faktor yang menyebabkan munculnya nasionalisme. Smith dalam interprestasinya terhadap teori Gellner menyatakan bahwa peran kaum elit dan krisis yang terjadi di kalangan mereka akibar modernisasi dan industrialisasi dianggap sebagai faktor sentral dalam kebangkitan nasionalisme. Industrialisasi mengakibatkan posisi elit tidak bisa ditempati oleh sembarangan bangsawan. Hanya mereka atau orang biasa yang berbakat saja akan berhasil mendapatkan posisi elit  itu dalam apparatus pemerintahan . Hal ini mengakibatkan suatu krisis pada diri kaum elit lama yang kemudian merasa terancam.

    Masalah nasionalisme Hindia jelas tidak dapat dilepaskan dari Sang Inspirator Revolusi. Ia adalah Ernest Francois Douwes Dekker yang dilahirkan di Pasuruan, Jawa Timur pada tanggal 8 Oktober 1879 . Ia adalah anak kedua dari pasangan Auguste  Douwes Dekker dan Luoise Margaretha Neumann. Kakeknya dari pihak ayah, Jan Douwes Dekker adalah kakak dari penulis terkenal Eduard Douwes Dekker adalah kakak dari penulis terkenal Eduard Douwes Dekker atau Multatulli, sehingga Ernest adalah cucu-kemenakan Multatulli

    Keluarga Douwes Dekker adalah kreol ( Eropa murni yang tinggal di Hindia Belanda). Sementara itu ibunya adalah keturunan campuran Jerman dan Jawa, dengan demikian termasuk dalam golongan Indo-Eropa . Pada masa remajanya, Douwes Dekker menempuh pendidikan HBS di Batavia di mana salah saru rekan seangkatannya adalah calon regent di Serang, Banten, Achmaf Djajadiningrat.

    Ia memulai karirnya sebagai pegawai pada perkebunan kopi di Sumber Duren di kaki Gunung Semeru. Pengalamannya bekerja di perkebunan tersebut membuatnya untuk pertama kalinya menyaksikan realitas eksploitasi kolonial, Douwes Dekker muda yang mengindentifikasikan diri sebagai orang Jawa, merasa terusik dengan keadaan tersebut dan karenanya ia cenderung mengesampingkan status Eropanya dan lebih membela kelompok pekerja bumiputera. Oleh R Jesse, atasannya di perkebunan tersebut, ia dianggap tidak memperhatikan batas yang tepat dalam hubungannya dengan para pekerja. Hal ini sudah merupakan suatu alasan untuk memberhentikannya.

    Demikian pula ketika Ernst menjadi pegawai laboratorium dan kemudian menjadi ahli kimia di pabrik gula Pajarakan, Probolinggo, ia tak dapat menahan diri ketika melihat adanya kecurangan pada pembagian air irigasi antara perkebunan tebu dengan sawah milik penduduk. Administratur pabrik gula tersebut kemudian memperingatkannya untuk tidak mencampuri hal-hal yang bukan urusannya. Seperti halnya Multatulli, ia memilih mundur demi mempertahankan prinsip dan harga dirinya.

    Kehidupannya sebagai “ petualang “ dimulai pada usia puluh.. Dalam bulan Februari 1900, Ernest Douwes Dekker bertolak dari Batavia menuju Transvaal, Afrika Selatan. Pada saat itu di Afrika Selatan sedang terjadi perang antara kelompok penduduk keturunan Belanda yang menamakan dirinya Zuid Afrikaner atau orang-orang Broer dengan Inggris yang juga  ingin memperluas wilayah koloninya. Pada abab ke-18 golongan keturunan Belanda di Afrika itu membentuk Republik Transvaal di bawah Paul Kruger, tetapi keberadaan negara tersebut  terus terancam oleh ekspansi Inggris. Dalam perang Broer pertama (1877-1889), golongan Broer memperoleh kemenangan sehingga kekuasaan Republik Transvaal dipulihkan. Setelah adanya penemuan tambang emas di Transvaal, pihak Inggris kembali melanjutkan upaya-upaya aneksasi mereka terhadap wilayah Republik Transvaal, sehingga peperangan pecah kembali  pada akhir tahun 1899.

    Kenyataan adanya suatu kelompok minoritas – yang notabene merupakan bangsa leluhurnya, Belanda – sedang terancam oleh kekuasaan kolonialis yang lebih kuat, membuat semangat nasionalis Douwes Dekker tergerak. Bersama beberapa rekannya dari Hindia Belanda seperti J.G Van Ham dan lain-lain, Douwes Dekker berangkat sebeagai sukarelawan ke Afrika Selatan membantu orang-orang  Broer melawan orang-orang Inggris

    Tidak terlampau siginifikan untuk mendeskripsikan panjang lebar peperangan di Afrika Selatan tersebut. Akan tetapi, cukup jelas bahwa pengalaman perang tersebut sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran Douwes Dekker  sewlanjutnya sebagai tokoh pergerakan  Indis, dan memang terdapat kesejaharan antara bangsa Broer di Afrika Selatan  dengan orang-orang keturunan campuran di negerinya. Keduanya mewakili jenis nasionalisme kreol, atau golongan keturunan Eropah dan tersebar dan membentuk koloni-koloni di benua lain.  Hal yang ia sesalkan kemudian adalah bahwa peperangan tersebut tidak kurang dan tidak lebih merupakan perang perebutan koloni antar dua bangsa kulit putih yang berbeda, tetapi mereka sama-sama tidak menaryh perhatian atau cenderung terasing dari komunitas bumiputera yang lebih besar, yaitu penduduk asli Afrika Selatan.

    Orang-orang Eropa di Afrika memberlakukan batasan rasial yang ketat dan tidak memungkinkan pembauran atau perkawinan hibrida. Ini membawanya pada suatu pemikiran mengenai arti pengenai keberadaan komunitas Indo di Hindia Belanda, potensinya sebagai faktor pemersatu dalam menciptakan identitas suatu bangsa mutli-etnik yang mengatasi perbedaan  dan pemisahan rasial dan etnik yang selama ini dipelihara oleh rezim kolonial.

    Dengan kekalahan pihak Boer, Republik Transvaal jatuh kepada kekuasaan Inggris. Pada April 1902 Douwes Dekker dan kawan-kawannya ditahan oleh pemerontah Inggris di Pretoria dan kemudian dipindahkan ke Kolombo, Sri Langka. Tidak lama ia menjalani penahanan karena tahun yang sama  ia kembali ke Hindia Belanda dan memulai debutnya dalam dunia politik dan jurnalisme. Pada tahun 10-3, Douwes Dekker mulai bergabung dengan redaksi De Loomotif di bawah P Brooscholt yang berpusat di Semarang . Surat kabar ini merupakan salah satu pendukung gagasan Politik Etis, di samping Brooscholf sendiri adalah seorang pendukung aliran sosial-demokrat.  Kemudian ia bergabung dengan Soerabaiasch Handelsblad, sebelumnya akhirnya bergabung di Bataviaasch Nieuwsblad  tempat sebelumnya ia pernah menulis opini dan pengalamannya sehubungan dengan Perang Broer  di Afrika Selatan. Keterlibatan Douwes Dekker dalam redaksi surat kabar terakhir inilah yang terpenting dalam perjalanan karir intelektual dan politiknya.

    Bergabungnya Douwes Dekker dalam surat kabar tersebut segerea memberi nuansa tersendiri dalam kancah pergerakan Indis. Secara umum idealisme dan gagasannya bersesuaian dengan Karel Zallbergh, pemimpin Bataviaasch Nieuwsblad yang menjadi kawan dekat dan mentornya. Akan tetapi, menurut pandangan mentornya ini, Douwes Dekker sedikit “ kurang matang dan cenderung lebih mengikuti perasaan daripada perhitungan yang rasional dan cermat.”

    Kedua tokoh tersebut sama-sama terinspirasi oleh Ernst Haeckel, seorang ahli biologi asal Jerman penganut teori Darwin. Bagi Douwes Dekker, hal yang menarik dari pemikiran  Haeckel  adalah oposisinya terhadap wacana kekristenan yang telah berhasil menjadi salah satu kekuatan pendorong imperialisme Barat. Bagi Haeckel, Tuhan lebih identik dengan kekuatan alam dan pandangan ini menyerupai konsep spiritual orang Timur. Sebagaimana kita ketahui Douwes Dekker mengindentifikasikan orang Indo atau Indis sebagai bangsa Timur  dan ia cukup tertarik pada berbagai wacana  tandingan terhadap wacana kolonial yang Eurosentris. Sementara Zaalberg, di samping sudah lama tertarik pada evolusioner juga mengagumi Haeckel sebagai seorang penganjur kebebasan berfikir, anti dogmatisme, dan konservatisme Darwinisme atau Haeckelianisme merupakan titik temu pertma pemikiran Zaalberg dan Douwes Dekker.

    Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa antara Douwes Dekker dan Zaalberg terjadi kerja sama erat dalam kampanye-kampanye melawan diskriminasi terhadap golongan Indo. Hanya saja Douwes Dekker lebih menekankan sifat antikolonial, sehingga hubungan itu harus diputuskan  Sikap anti-kolonial Douwes Dekker terlihat terutama melalu tulisannya. “ Hoe kan Holland he Spoedigst zijn Kolonial verliezen ? ( Bagaimana cara Belanda cepat-cepat melepaskan jajahannya ? ) yang dimuat dalam Niuewe Arahemsche Courant pada bulan Juli 1908.

    Tulisannya tersebut mengingatkan orang pada tulisan tokoh recolusi Amerika Benyamin Franklin “ Seni untuk menghilangkan sebuah jajahan “. Inggris telah menerapkan hal itu, dan membuat koloni mereka di Amerika melepaskan diri. Ia mempersoalkan kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang tampaknya tidak belajar dari situasi tersebut, dan menyatakan bahwa Politik Etis atau modernisasi bukanlah cara tepat untuk memperkuat loyalitas koloni Hindia. Yang lebih tepat ialah membebaskannya, atau dengan menciptakan pemerintahan sendiri oleh rakyat Hindia.

    Gagasan tersebut sangatlah radikal dalam konteks Hindia Belanda waktu itu. Akan tetapi, jika kita melihat perkembangan nasionalisme di negara-negara terjajah lainnya, hal demikian sama sekali tidak mengherankan. Douwes Dekker merupakan seseorang tokoh pertama yang sungguh sungguh tertarik pada fenomena nasionalisme Asia dan telah mengadakan studi mendalam mengenai itu. Ide nasionalisme Indis-nya dalam banyak hal sangat sangat dipengaruhi okeh gerakan kaum mestizo di Filipina. Pada tahun 1898, di bawah pimpinan Aguinaldo, para nasionalis Filipina yang sebagian besar adalah berasal ras campuran ini berhasil mengadakan revolusi dan mendirikan sebuah republik merdeka.

    Dalam kunjungannya ke Eropa antara 1910 hingga pertengahan 1911, Douwes Dekker sempat menemui beberapa tokoh nasionalis dari India –Inggris (British-India), di antaranya ialah tokoh radikal Shyamaji Krishnawarma, pemimpin redaksi majalah The Indian Sociologist. Pertemuan ini cukup sifnifikan bagi perkembangan pemikiran Douwes Dekker, karena kemudian sangat jelas terlihat bagaimana pengaruh nasionalisme India ini bagi gerakan India yang dipimpinnya. Sepulangnya dari perjalanan itulah, Douwes Dekker baru mengemukakan ide untuk membentuk sebuah partai politik, di mana model dan sifat gerakannya banyak di dasarkan pada Kongres Nasional India (Indian National Congres ), organisasi nasionalis India yang telah berdiri sejak tahun 1895.

    Perkembangan lainnya adalah diadakannya Kongres Ras Universal di London (1911) yang untuk pertama kalinya membicarakan ras campuran sebagai kategori etnisitas. Kongres ini merupakan senjata ampuh bagi pemikiran Douwes Dekker selanjutnya mengenai indentifikasi diri orang Indo. Hingga saat ini orang-irang Indo. Hingga saat itu orang-orang Indo secara hukum memang diklasifikasikan sebagai Eropa karena sebagai anak, mereka otomatis mewarisi nama keluarga Eropa dari garis ayah. Dengan demikian, jarang di antara mereka menyadari bahwa status Eropanya sebagai kontruksi kolonial yang membedakan mereka dari penduduk lainnya di Kepulauan Hindia.

    Douwes Dekker sendiri telah sering memberi penekanan pada pembaca Indo-nya bahwa mereka akan “berkhianat“ pada ibu jawa mereka jika mengambil sikap superior tersebut. Oleh karenanya ia mendesak khalayak Indo untuk mengindentifikasikan diri mereka sebagai “ orang-orang Hindia “ (de Indiers), tempat mereka lahir dan dibesarkan. Sejauh itu, pengertian orang Hindia atau Indo hanya dipergunakan di kalangan Indo-Eropa, karena 0rang-orang Indonesia biasa menyebut diri mereka menurur identitas etnik dan regional (kedaerahan). Dalam sebuah tulisannya, ia menyatakan bahwa orang-orang Indo – berbeda dengan orang Jawa, Sunda, Batak, dan kelompok etnis lain- tidak memiliki indentitas regional sehingga mereka tidak akan merasa kehilangan identitas dengan mengadopsi konsep kebangsaan yang meliputi seluruh kepulauan Hindia.

    Sebagai langkah berikutnya, ia mendefinisikan orang Indis tidak sebatas Indo melainkan segenap penduduk yang lahir dari bertempat tinggal di Hindia tanpa memandang ras dan etnisitas. Dalam idealiisme Douwes Dekker masyarakat Indis baru akan terbentuk melalui asosiasi golongan Indo-Eropa dengan orang Indonesia, bukan sebaliknya orang bumiputera diasimiliasi mengikuti Eropa seperti keinginan para pendukung Politik Etis.

    Banyak orang Indo – Eropa yang memerlukan sebuah gerakan dengan lebih banyak karakter politik. Karena hal itu, kemudian didirikan Insulinde pada tahun 1907. Organisasi ini banyak mengupayakan perbaikan terhadap keadaan orang Eropa yang lahir di Hindia Belanda dengan menggunakan “ semua alat yang diperkenankan dan sah menurut hukum” Oleh sebab itu, Insulinde terbuka untuk semua orang Eropa berumur 18 atau lebih yang mengakui Hindia Belanda sebagai tanah airnya.

    Elemen politik itu semakin menguat berkat usaha salah seorang elite Indo-Eropa yang paling penting. Ia adalah wartawan, penulis, dan aktivis politik bernama Ernst Douwes Dekker. Pada tahun 1912, ia mendirikan Indische Partij yang merupakan organisasi politik. Para indo-Eropa dalam organisasi ini memang menenuhi peran mereka sebagai pelopor tapi mereka juga memiliki visi tujuan kelompok yang lebih besar. Dengan semboyan Indie voor Indies (Hindia Belanda orang-orang Indies) partai ini juga terbuka untuk prang Indonesia dan orang Tionghoa. Mereka akan berjuang bersama-sama untuk kemerdekaan Hindia Belanda. Demikian usaha mereka pada waktu itu.

    Namun kenyatannya tidak pernah sejauh yang mereka inginkan. Sebelum gagasan-gagasannya sempat diendapkan, Indische Partij dilarang oleh pemerintah kolonial pada 1913. Pengaruh partai yang tertinggal ini juga hanya sedikit. Indische Partij adalah partai bagi orang Indo-Eropa karena 70 % pengikutnya merupakan orang Indo-Eropa. Hal yang membuat perkembangan partai ini terlihat adalah sikap masyarakat Eropa di koloni yang menjadi radikal. Mereka mencari sarana pelampiasan politik atas ketidakpuasan mereka. Mereka berupaya agar pencapaian kesetaraan bagi sebagian orang Eropa dapat memberi tempat bagi keinginan mereka untuk merdeka, jika bahkan melalui kekerasaan.

    Ernset Douwes Dekker merupakan seotrang penting bagi kelompok yang tidak banyak berpendapat ini. Pendapat-pendapat politik tertutama dituangkan lewat kedudukannya sebagai wartawan majalah Het Tijdschrift dan De Express  Dari artikel-artikelnya terungkap kenapa gubernur jenderal pada waktu itu, A.W.F Idenburg, memerintahkan untuk mengawasinya dengan seksama. Douwes Dekker adalah orang yang menciptakan propaganda, pemogokan, sabotase dan bahkan revolusi sebagai sarana mewujudkan harapan kemerdekaan. Ia pun menulis tentang tema-tema yang banyak dibicarakan seperti “ ras-ras campur “ dan : keunggulan ras.” Namun akhirnya ia memiliki kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Dari sudut pandangnya, para keturunan hubungan campur justru menyatakan karakter terbaik dari dua dunia di dalam diri mereka.  Oleh karena itu, orang Indo-Eropa sangat cocok berperan sebagai pemimpin dalam perjuangan kemerdekaan.

    Namun gagasan-gagasan Douwes Dekker terlalu radikal bagi Indo-Eropa. Di samping itu, kebanyakan dari mereka membutuhkan pergerakan yang khusus mewakili kepentingan mereka, bukan kepentingan orang Indonesia dan Tionghoa. Pendapat yang sama juga diutarakan oleh orang-orang Indonesia yang kemudian bernaung di bawah Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia.

    Gagasan Douwes Dekker  tentang Indier sebagai konsep kewarganegaraaan dan kebangsaan multik-etnik yang menghapuskan masyarakat berdasarkan kualifikasi bertingkat menurut aras adalah sebuah serangan langsung terhadap hubungan kolonial. Walaupun gagasan-gagasannya berakar sepenuhnya pada kesadaran orang Indo atau Indis sebagai masyarakat pemukim majemuk, penekanan gerakan Indis Douwes Dekker sudah mengarah pada sesuatu yang lebih radikal yaitu kemerdekaan.

    Namun, gagasan revolusioner Douwes Dekker tampil terlalu prematur dan tampaknya gagal ketika Indische Partij yang didirikannya bubar dan para pemimpinnya dibuang. IP dituduh sebagai organisasi revolusioner yang “ menyebarkan permusuhan dan tentangan di antara kelompok-kelompok penduduk. Benarkah demikian ? Jika dianalisis lebih lanjut gagasan yang ia munculkan memang sedikit banyak mengandung kelemahan baik dalam hubungannya dengan orang-orang Indo-Eropa maupun orang-orang Indonesia.

    Nasionalisme Indie sebagai gerakan politik sebagaimana diusung oleh Indische Partij dan mengambil bentuk sebagai gerakan Indo-Eropa, khususnya para elitenya.  Mayoritas dari mereka seharusnya lebih diprioritaskan pada terjaminnya hak-hak seluruh warga Indo di Hindia. Secara umum, gerakan itu juga akan mendukung penciptaan masyarakat sipil Hindia Belanda yang menuju kemandirian politik secara evolusioner, tanpa merusak sendi-sendi masyarakat kolonial. Masyarakat elite Indo-Eropa pada dasarnya menganggap Hindia Belanda sebagai keluarga besar, maka harmoninya harus dijaga sepenuhnya dan jangan sampai menimbulkan pertentangan antara kelompok, apalagi di antara “kita“, sesama orang Indies. Pengertian Indis yang umum diterima adalah Indies sebagai masyarakat pemukim Eropa, keturunannya dan atau orang-orang yang memiliki hubungan secara kekeluargaan dengannya. Paling luas pengertian  Indis mencakup pula orang-orang Indonesia yang terbaratkan (meliputi  komunitas Kristen dan kaum Teosofis Jawa ).

    Dengan demikian, Douwes Dekker bersama konsepsi Indernya melangkah terlalu jauh (dan terlalu awal) karena ia ingin merangkul  semua orang. Di samping itu ia dengan gerakan Indische Partij-nya dianggap menyebarkan kebencian orang Indo kecil terhadap orang-orang Eropa pendatang dan pemerintah kolonial, sehingga ia dianggap pula menyebarkan permusuhan di antara “ kita “. Sebagai reaksi terhadap aliran pemikiran ini kemudian  beberapa tokoh Indo-Eropa di bawah pengaruh Zaalberg mendirikan Indo Europeesch Verbond (IEV), yang menegaskan kembali konsep Indies sebagai Indische Nederlands atau orang Belanda berkarakter Hindia, orang Eropa tetap berbudaya “tropis’. Dalam anggaran dasarnya IEV secara tergas menyatakan bahwa definisi Indis adalah masyarakat keturunan Eropa yang lain, dan semua hubungan dengan kaum revolusioner ditolak.

    Konsep nasionalisme menurut Douwes Dekker dengan gagasan tentang Indier multirasial dan multi-etnik itu juga mengandung beberapa kelemahan jika dihadapkan dalam konteks pergerakan Indonesia. Alur pemikiran maupun gerakan politik yang digagasnya cukup jelas mengimplikasikan adanya sentralitas kedudukan kaum Indo-Eropa dalam identitas kebangsaan yang ingin dibangun. Karena ide-ide yang dibawanya, konsep-konsepnya tentang bangsa, hak-hak kewarganegaraan, kesetaraan dan sebagainya berasal dari Barat, maka tentunya orang-orang Indo-Eropa sendirilah yang memegang peran, atau paling tidak orang orang-orang Indonesia yang berpendidikan dan berorientasi Barat.

    Indische Partij didirikan pada tanggal 6 September 1912 di Bandung dan partai itu, berganti nama menjadi Nationale Indische Partij dan dibubarkan pada Mei 1923. Tahun 1913 asas dasar Indische Partij tidak diterima oleh Gubernur Jenderal Belanda di Hindia Belanda dan Indische Partij dilarang oleh pemerintahan kolonial Belanda. Para pengikut Indische Partij bergabung dalam Isulinde, yaitu suatu organisasi orang Indo yang didirikan pada tahun 1907. Pada tahun 1919, Nationale Indische Partij didirikan sebagai pengganti Isulinde. Ide mengenai kerja sama antar golongan masyarakat di Hindia Belanda berkembang pada awal ke-20, meskipun akhirnya tidak berhasil karena terjadi perpecahan antara kaum bumiputera dan kaum Eropa serta kaum Indo.

    sumber : Peter Kasenda

    Biodata

    Peter Kasenda dilahirkan di Bandung. Ia belajar di Jurusan Perancis dan Sejarah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.  Sekarang dosen Ilmu Politik di  Kampus  Merah  Putih  Universitas  17  Agustus  1945 Jakarta. Ia menjadi dosen terbang dan mengajar di sejumlah SMA (Malang, Kediri, Solo dan Purwokerto). Lima tahun terakhir, ia menulis buku, diantaranya,  Sukarno Muda Biografi Pemikiran 1926 – 1933 (Komunitas Bambu, 2010); Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (Penerbit Buku Kompas, 2011); Zulkifli Lubis Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD (Penerbit Buku Kompas, 2012); Hari-Hari Terakhir Sukarno (Komunitas Bambu, 2012); Soeharto – Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun ? ( Penerbit Buku Kompas, 2013); Bung Karno Panglima Revolusi ( Galang Pustaka, 2014); Sukarno, Marx & Leninisme. Akar Pemikiran Kiri &Revolusi Indonesia (Komunitas Bambu, 2014); Sarwo Edhie dan Tragedi 1965 (Penerbit Buku Kompas, 2015); Hari-Hari Terakhir Orde Baru. Menelusuri Akar Kekerasaan Mei 1998 (Komunitas Bambu 2015) Soekarno Dibawah Bendera Jepang (Penerbit Buku Kompas dan segera terbit Manusia Dalam Sejarah Sejarah ( Beranda, 2016)

    kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Butet Manurung, Sebuah Kisah Kartini Muda Indonesia

    Butet Manurung, Sebuah Kisah Kartini Muda Indonesia

    Raden Ajeng Kartini, sebuah nama yang sangat tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Hari kelahirannya, 21 April, selalu disambut dengan sukacita, tidak hanya kaum perempuan, namun juga seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Perjuangan RA Kartini untuk mengangkat derajat perempuan Jawa saat itu melalui pendidikan berdampak besar sampai saat ini. Baginya, pendidikan adalah jalan utama bagi setiap manusia untuk dapat hidup dengan layak.

    Semangat itu juga yang dibawa oleh seorang Saur Marlina Manurung, atau lebih dikenal dengan Butet Manurung. Perempuan yang lahir di Jakarta, 21 Februari 1972 ini menaruh perhatian besar bagi pendidikan masyarakat pendalaman. Hal ini Ia buktikan dengan Sokola Rimba bagi suku asli Orang Rimba, Jambi pada tahun 2004 lalu.

    Kepedulian Butet Manurung dalam usahanya untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat Rimba dimulai dari kegemarannya menonton film-film petualangan semasa kecil. Film-film seperti Indiana Jones memotivasi dirinya untuk menamatkan pendidikan sarjana Antropologi dan Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung. Selepas meraih gelar sarjana, Butet Manurung sempat berkerja sebagai pemandu wisata di Taman Nasional Ujung Kulon. Sampai pada tahun 1999, sebuah iklan lowongan kerja dari Lembaga Swadaya Masyarakat Warung Infromasi Konservasi (Warsi) di Harian Kompas menarik perhatiannya. Lowongan kerja sebagai fasilitator pendidikan alternatif bagi suku asli Orang Rimba, Jambi itu menggetarkan hatinya dan merasa inilah pekerjaan yang Ia cari selama ini.

    Selepas 3 tahun bersama Warsi, Butet Manurung beserta rekan-rekannya membentuk LSM pendidikan bagi suku terasing, yang dimulai dari suku Rimba. Butet berpendapat bahwa pendidikan yang diajarkan kepada masyarakat Suku Rimba dapat mengatasi masalah saat masyarakat Rimba berhadapan dengan masyarakat luar. Dengan pendidikan, meskipun sebatas baca dan tulis, masyarakat Suku Rimba dapat setahap lebih maju dan tidak lagi merasa dirugikan.

    Usaha Butet Manurung dan rekan-rekannya tidaklah mudah. Penolakan dan pengusiran kerap diterima oleh Butet Manurung karena dianggap sebagai orang luar dan dapat membawa malapetaka di bagi masyarakat setempat. Namun Butet Manurung tidak patah semangat. Ia terus menerus berusaha untuk mencuri hati orang Rimba dengan pendekatan budaya setempat. Sampai suatu saat tiga orang anak kecil menghampirinya untuk belajar angka dan huruf. Mulai dari saat itu, masyarakat Suku Rimba menerima Butet Manurung dan mendapatkan pendidikan layaknya masyarakat Indonesia pada umunya.

    Setelah sukses dengan Sokola Rimba, Butet membuka sejumlah sekolah untuk suku-suku terasing di Indonesia, seperti di Pulau Besar, Sikka, NTT, suku Asmat di Papua, dan suku Kajang di Sulawesi Selatan. Butet Manurung membuktikan bahwa semangat juang Kartini untuk memajukan sesama manusia akan tetap ada di dalam tubuh masyarakat Indonesia.

    Sumber:

    Profil Penerima Penghargaan Kebudayaan 2015

    kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Sekilas Tentang Perempuan – Perempuan Hebat Pada Masa Klasik Nusantara

    Sekilas Tentang Perempuan – Perempuan Hebat Pada Masa Klasik Nusantara

    Hampir seluruh dunia kini paham, jika perempuan merupakan bagian dari roda pergerakan zaman, dan banyak perempuan yang menorehkan namanya dalam sejarah. Pandangan terhadap permpuan kini mungkin sedikit berubah. Pada masa lalu, bahkan mungkin masih terjadi pada masa kini, perempuan dinilai sebagai makhluk lemah, inferior, dan sebagainya. Kartini menjadi tonggak perjuangan kaum perempuan di Indonesia, walaupun fakta sejarah mencatat banyak pejuang pejuang perempuan jauh sebelum kartini.

    Banyak nama pejuang perempuan di Indonesia perlahan mulai terangkat sejarahnya, semisal Dewi Sartika, Malahayati, Maramis dan sebagainya, namun masih sedikit yang kurang mengenal para perempuan hebat dari masa Klasik Nusantara (Hindu – Budha) jauh sebelum nama Indonesia dikenal, berikut adalah ulasannya:

    1. Ratu Shima dari Kerajaan Kaliŋga

    Walaupun banyak bercampur kisah mitos, kisah penguasa kerajaan kalingga sekitar 674-732 M memiliki banyak sumber sejarah. Ratu Shima yeng bergelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara, merupakan ratu yang sangat adil, hingga berita Cina menyebutkan sampai sampai tidak ada satupun yang berani menyentuh pundi pundi emas yang terjatuh di jalan. Ratu Shima juga kelak merupakan nenek dari pendiri wangsa Sanjaya.

    1. Pramodawardhani dari Kerajaan Mdaŋ

    Sosok Pramodawardhani sebenarnya sudah disinggung dalam prasasti Kayumwungan dalam peresmiannya pada bangunan yang disibut Jinalaya yang bertingkat-tingkat (yang pada akhirnya ditafsirkan sebagai borobudur). Pramodawardani merupakan putri mahkota wangsa Çailendra, pada akhirnya ia menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu, namun dengan adilnya pada kerajaan Mdaŋ ada dua agama yang hidup berdampingan dan bahkan memiliki candi yang besar yakni Hindu Pada Candi Prambanan (Agama Rakai Pikatan) dan Buddha Pada Candi Sewu (Agama Pramodawardhani).

    1. Tribhuwanatunggadewi dari Kerajaan Majapahit

    Gayatri adalah Istri yang tersisa dari Raden Wijaya. Ketika Suaminya mangkat Gayatri seharusnya memegang tahta atas Raden Wijaya, sayangnya ia tidak mau dan memilih menjadi petapa. Tribhuwanatunggadewi adalah satu satunya anak Gayatri, pada akhirnya dia yang terpilih menggantikan ibunya memimpin Majapahit dengan gelar Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. Pada masa kepemimpinan Tribhuwanatunggadewi Majapahit mengalami awal masa kejayaan dengan melakukan perluasan kekuasaan yang merupakan sumpah Palapa. Pada masanya Majapahit berhasil menaklukkan Sumatera dan Bali. Tribhuwanatunggadewi memerintah dari tahun 1328 hingga tahun 1351. Tribhuwanatunggadewi merupakan ibu dari Hayam Wuruk.

    1. Suhita dari Kerajaan Majapahit

    Menjelang keruntuhan Majapahit, tercatat ada Permaisuri yang gigih menumpas pemberontakan, ia bernama Suhita. Tidak begitu jelas perihal asal usul Suhita, karena ia hanya diceritakan menjelang perang Paregreg. Saking terkenalnya Suhita disebut dalam kronik Cina di Kuil Sam Po Kong dengan ejaan Su King Ta.

    Penulis: Indra Eka Widya Jaya.

    Sumber:

    Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

    Slamet Muljana. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara, 1979.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Kecap, Sebuah Kuliner Akulturasi Budaya

    Kecap, Sebuah Kuliner Akulturasi Budaya

    Si Hitam Manis, begitu kuliner ini biasa disapa. Bentuknya yang kental dan berwarna hitam pekat ini sering kali digunakan sebagai penambah rasa dalam makanan. Tapi ternyata, makanan ini sangat erat hubungannya dengan budaya peranakan Tionghoa.

    Kecap merupakan kuliner yang sudah sangat mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Rasanya yang manis dan gurih membuat masyarakat Indonesia jatuh cinta dengan kuliner olahan kedelai hitam satu ini. Namun faktanya, kecap bukanlah budaya asli orang Indonesia. Lalu darimanakah kecap berasal?

    Kecap merupakan sebuah bentuk akulturasi budaya antara masyarakat Jawa dengan masyarakat Tionghoa. Pada mulanya, para pelancong Negeri Tirai Bambu tersebut datang ke Indonesia membawa berbagai barang yang akan ditukar dengan berbagai hasil bumi dan olahan khas Indonesia.  Salah satu barang yang dibawa dalam ekspedisi tersebut adalah kecap asin (soy sauce). Namun ternyata, kultur budaya masyarakat Jawa, sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal ekspedisi Tionghoa tersebut tidak terlalu menyukai kecap asin. Singkat cerita, masyarakat Tionghoa akhirnya menambahkan gula yang berasal dari kelapa ke dalam kecap sehingga kecap asin berubah menjadi kecap manis. Dari sinilah lahir kecap manis yang disesuaikan dengan penganan khas masyarakat Jawa yang memiliki ciri khas cita rasa manis.

    Sentra kecap manis di Indonesia berada di kawasan Tangerang, Banten. Di daerah sekitar Pasar Lama Tangerang, atau juga dikenal sebagai kawasan Benteng inilah kecap manis lahir. Dulunya banyak kecap produksi rumahan yang dibuat di kawasan ini, namun seiring perkembangan zaman, yang bertahan dan masih disukai oleh masyarakat Indonesia Kecap Teng Giok Seng yang dijual terbatas di kawasan Tangerang serta Kecap SH yang dijual luas di area Jabodetabek.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Mengenal Bapak Pers Nasional, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo

    Mengenal Bapak Pers Nasional, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo

    Setiap tanggal 9 Februari, media massa Indonesia bersuka cita merayakan Hari Pers Nasional. Tanggal ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1985 yang menyatakan “bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.” Jauh sebelumnya, tanggal 9 Februari juga sudah dianggap sebagai hari pers yang bertepatan dengan hari lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia. Namun, tahukah kamu siapa Bapak Pers Nasional Indonesia?

    Raden Mas Tirto Adisuryo, atau biasa dipanggil Tirtoadisuryo merupakan sosok yang dikenal sebagai Bapak Pers Nasional Indonesia. Beliau yang lahir di Blora pada tahun 1880 ini merupakan anak dari Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro dan cucu dari Raden Mas Tumenggung Tirtonoto. Sebagai seorang priyayi, Tirto Adisuryo seharusnya melanjutkan sekolah di bidang pemerintahan, namun Ia lebih memilih untuk melanjutkan sekolah dokter di Stovia Batavia pada tahun 1893 – 1900.

    Karir Tirtoadisuryo dibidang jurnalistik dimulai ketika Ia memimpin surat kabarnya sendiri, Soenda Berita pada tahun 1901. Soenda Berita merupakan surat kabar pertama yang dibiayai, dikelola, disunting, dan diterbitkan oleh pribumi. Selepas Soenda Berita, Tirtoadisuryo kemudian mendirikan mingguan Medan Priyayi pada tahun 1909 namun sayangnya mingguan ini berhenti terbit pada tahun 1912. Di tahun yang sama dengan kemunculan mingguan Medan Priyayi, Tirtoadisuryo juga mendirikan perusahaan penerbitan pertama di Indonesia, N.V Javaansche Boekhandelen Drukkerij “Medan Priyayi” pada tahun 1909 bersama Haji Mohammad Arsjad dan Pangeran Oesman.

    Menurut Tirtoadisuryo, tugas pers haruslah memajukan dan memahami hak-hak dan martabat rakyat. Beliau sangat aktif mengelola media massa, baik sebagai penulis maupun pemimpin, seperti Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Priyayi, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotomo, Soeara B.O.W, Soeara Spoor dan Tram, serta Soeraaurna dan melihat tugasnya sebagai sarana untuk menyadarkan masyarakat dalam menjawab persoalan yang timbul.

    Tirtoadisuryo adalah seorang yang memberi inspirasi bagi masyarakat yang gamang dan tidak memiliki pijakan visi yang luas, dan cenderung kacau. Ia tidak hanya sebagai jurnalis namun juga sebagai penulis berita, perumus gagasan dan pengarang karya-karya non-fiksi. Atas hasil karya dan perjuangan Beliau dalam dunia jurnalistik Indonesia, Tirtoadisuryo kemudian ditetapkan sebagai Bapak Pers Nasional oleh Dewan Pers RI pada tahun 1973.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Mengembalikan Visi Kelautan Sebagai Jati Diri Bangsa

    Mengembalikan Visi Kelautan Sebagai Jati Diri Bangsa

    Indonesia bukan pulau-pulau dikelilingi laut. Tetapi, laut yang ditaburi pulau-pulau” – AB Lapian

    Beranjak dari pernyataan tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa negara Indonesia disebut juga sebagai negara kepulauan atau Archipelago State. Archipelago state berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata, Arche yang berarti utama dan Pelago yang artinya laut, jadi laut adalah yang utama. Atau dengan kata lain Archipelago State sendiri mempunyai arti negara yang terdiri dari banyak pulau, dimana laut, udara, dan daratan adalah satu kesatuan Nusantara.

    Laut sebagai penghubung antar pulau tersebutlah yang menjadikan bangsa kita sebagai bangsa maritim dengan memanfaatkan laut selain sebagai jalur transportasi juga sebagai tempat untuk perdagangan. Julukan sebagai negara maritim tidak terlepas dari fakta sejarah yang terjadi pada masa lampau, dimana nenek moyang kita melakukan pelayaran untuk menjelajahi Samudera, salah satunya ialah para pelaut Bugis yang melakukan pelayaran dengan kapal tradisionalnya yang bernama pinisi menjelajahi Samudera Pasifik. Hal itu dibuktikan dengan penemuan peta pelayaran berdasarkan Kajian Le Roux yang ditemukan di perkampungan bajak laut di Santhel yang teletak di Teluk Sekana di Pulau Singkep tahun 1854. Dalam peta tersebut menggambarkan peta-peta wilayah di seluruh Nusantara, sebagian Asia Tenggara, Australia Utara, dan wilayah Cina yang mana dari nama-nama yang ada dalam peta inilah menunjukkan luasnya pengetahuan tentang daerah-daerah di Asia Tenggara, Pilipina Selatan, Australia Utara dan Cina. Peta itu juga menggambarkan rute dan tujuan pelayaran kapal-kapal Bugis sebelum petengahan abad ke-19.[1]

    DCIM100MEDIADJI_0019.JPG
    DCIM100MEDIADJI_0019.JPG

    Jiwa kemaritiman mulai memudar tatkala kolonialisme dan imperialism mulai memasuki Nusantara. Kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan kepada tanah Nusantara telah memancing Pemerintah Belanda untuk menerapkan sistem Cultuur Stelsel atau yang biasa dikenal sebagai Tanam Paksa pada tahun 1833. Sistem ini mewajibkan setiap desa untuk menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami tanaman tanaman yang hasilnya kemudian dijual ke Eropa. Rempah-rempah menjadi komoditi yang berharga bagi orang Eropa, selain sebagai bahan bumbu masakan untuk mengawetkan daging dan juga rempah-rempah juga menjadi bahan ramuan obat dan untuk memperkuat daya tahan tubuh yang sangat dibutuhkan bagi orang Eropa mengingat cuaca disana yang dingin.

    Pergeseran pandangan dari laut menjadi darat mengubah jati diri bangsa Indonesia dari negara maritim menjadi negara agraris. Sejarah sebagai bangsa maritim tidak hanya dipandang sebagai sejarah kejayaan di masa lampau. Sudah sepatutnya laut yang kita miliki menjadi potensi dasar untuk memperkuat untuk negeri ini agar bisa menjadi bangsa yang maju baik dari segi politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang disegani oleh bangsa lainnya di masa mendatang. (Wanti)

    [1] Le Roux, C.C.F.M., A.A. Cense, ‘Boegineesche Zeekaarten van den Indischen Archipel’, Tijdschrift van het Koninlijk Nederlandsch Aardrijkskunding Genootschap, Tweede Serie, Deel LII, Leiden, E. Brill, 1935, hal. 706-714. (Dilihat dariDidik Pradjoko, M.Hum, Kasijanto, M.Hum, Dr. Suharto, dkk. Modul I Sejarah Indonesia: Hibah Modul Pengajaran: Content Development Tema BI. 2008. Hal. 68.)

  • Berburu Kuliner Khas Peranakan Tionghoa Di Bogor

    Berburu Kuliner Khas Peranakan Tionghoa Di Bogor

    Gerbang berwarna merah di seberang Pintu Utama Kebun Raya Bogor menjulang tinggi dengan atap khas negeri bambu berwarna kuning. Dua singa berwarna putih terlihat ‘duduk’ di kiri kanan gapura seolah menjaga kawasan tersebut agar selalu aman

    Jalan Suryakencana, atau juga biasa disebut sebagai kawasan Pecinan Bogor ini terletak persis di depan Pintu Utama Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Kawasan yang identik dengan gerbang berbentuk gerbang istana berwarna merah tersebut merupakan tempat dimana banyak aktifitas dan pemukiman orang peranakan disana. Selain terdapat Vihara Dhanagun yang tak jauh dari gerbang masuk, di kawasan ini juga terdapat gang yang sudah dikenal oleh masyarakat luas bernama Gang Aut. Di gang yang berada di ujung Jalan Suryakencana ini, masyarakat dapat mencicipi berbagai kuliner khas peranakan. Berikut 3 kuliner khas peranakan yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke Pecinan, Bogor.

    Ngo Hiang

    Ngo Hiang merupakan nama kedai sekaligus nama makanan utama yang dijajakan di kedai yang buka sejak pukul 10.00 – malam tersebut. Pemiliknya merupakan keturunan kedua dari Pak Wijaya Candra, yaitu Koh Andri. Kedai ini buka sejak tahun 1992 dan masih ramai dikunjungi pembeli sampai sekarang.

    Apa itu Ngo Hiang? Ngo Hiang merupakan penganan serupa batagor namun daging yang digunakan adalah daging babi atau ayam. Ngo Hiang disajikan bersama potongan kentang rebus dan tahu kuning serta acar lobak yang disiram dengan kuah kacang yang kental. Rasanya yang khas membuat kedai ini masih diburu oleh pecinta kuliner khas peranakan. Dengan harga Rp32000,- untuk seporsi Ngo Hiang, pembeli sudah dapat mencicipi kelezatan Ngo Hiang turun temurun ini.

    Ngo Hiang sendiri berasal dari bahasa Hokkian yang berarti 5 wangi. Orang Hokkian mempercayai bahwa dalam makanan terdapat 5 rempah utama yang dapat menghasilkan wangi sedap pada makanan yang dimasak. 5 rempah wewangian tersebut adalah pekak, merica Shicuan (Shicuan pepper), kayu manis, jinten, dan cengkeh.

    Selain Ngo Hiang, makanan lainnya yang diserbu pembeli di kedai ini adalah Pangsit Penganten. Pangsit Penganten merupakan makanan berupa sup yang berisi soun, kol, ayam suir, bakso goreng, dan pangsit. Sesuai dengan namanya, Pangsit Penganten ini biasa disajikan dalam acara pernikahan orang Tionghoa.

    Lumpia Basah

    Lumpia basah satu ini sangat legendaris. Terletak persis di sebelah kiri Kedai Ngo Hian, lumpia basah ini sudah dijual sejak tahun 1972 oleh seorang penjual bernama Pak Alen. Namun saat ini digantikan oleh anaknya karena Pak Alen sedang sakit. Meskipun begitu, kedai sederhana lumpia basah ini masih sangat ramai diserbu oleh para pembeli. Tempat berjualan lumpia basah ini sangat sederhana, hanya menggunakan gerobak kecil berwarna hijau sebesar kedai minuman di pinggir jalan. Alat masak yang digunakan juga sederhana, hanya menggunakan anglo dan wajan berukuran sedang untuk menumis isian lumpia.

    Tidak seperti lumpia Semarang yang menggunakan rebung, Lumpia Basah Pak Alen ini menggunakan bengkoang sebagai bahan isian lumpia. Bengkoang yang dipotong dadu kecil-kecil tersebut kemudian ditumis bersama toge, telur, ebi, cincangan tahu kuning dan diberi kecap sebagai penambah rasa. Setelah matang, isian tersebut kemudian ditaruh di atas kulit lumpia buatan sendiri. Kulit lumpia yang lebih tebal dari kulit lumpia pada umumnya tersebut diisi dengan isian tadi kemudian dilipat dan dibungkus dengan daun pisang. Tidak lupa saus kacang juga diberikan sebagai tambahan untuk menyantap penganan khas peranakan tersebut.

    Rasa dari lumpia basah Pak Alen ini sangat unik akibat campuran bengkoang dengan bahan isian lainnya. Rasa manis dan gurih serta rasa kacang dan tekstur yang tebal dari kulit lumpia membuat penganan ini cocok dijadikan cemilan yang mengenyangkan. Harganya sebesar Rp13.000,- untuk 1 porsi lumpia basah. Kekurangan lumpia basah ini hanya satu, yaitu tidak tersedianya tempat duduk untuk pembeli yang ingin menyantap langsung lumpia ini.

    Martabak Ncek

    Martabak ini sudah ada sejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Tempat yang digunakan untuk berdagang sangat sederhana, berupa gerobak kecil dengan cat warna hijau pupus. Pedagangnya pun seorang kakek tua berusia kira-kira 70 tahun ke atas. Para pembeli dan orang sekitar biasa menyebut martabak ini dengan nama martabak Ncek. Martabak ini merupakan martabak Bangka dengan aneka varian rasa manis. Rasanya yang enak dan khas menjadikan para pembeli rela mengantri lama dan menunggu dengan sabar untuk dilayani oleh sang kakek yang berdagang sendiri ini. Martabak Ncek buka sejak sore hari, dari pukul 5 sore sampai habis.

    Itulah 3 kuliner khas masyarakat peranakan yang berada di Gang Aut, Jalan Suryakencana, Bogor. Selain menawarkan wisata kuliner peranakan, di sekitar Pecinan ini juga menawarkan lokasi-lokasi foto yang sayang untuk dilewatkan.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Museum Sasmitaloka Jend. A. Yani, Mengenal Sejarah Hingga Ke Akarnya

    Museum Sasmitaloka Jend. A. Yani, Mengenal Sejarah Hingga Ke Akarnya

    Siang itu kediaman Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani yang sejak tanggal 1 Oktober 1966 diresmikan menjadi museum, tampak sepi. Tak banyak pengunjung yang hadir saat itu. Pengunjung diperkenankan untuk masuk tanpa alas kaki. Memasuki ruangan, pengunjung disambut oleh berbagai foto dokumentasi yang berkaitan dengan Jend. A. Yani.

    Mulai dari dokumentasi kegiatan ibu-ibu Persit K.C.K dan Sukwati Dimabesad (Persatuan Istri Tentara), foto kenangan Jend. A. Yani saat kunjungan ke Manada, Timor Timor, Rusia, Filipina, Vietnam, dan Yugoslavia. Adapula foto dokumentasi rekonstruksi penculikan dan penembakan Jend. A. Yani. Suasana museum sungguh membuat para pengunjung merasakan tragedi masa lampau.

    lukisan-jend-a-yani-1024x768

    Pada lemari kaca terdapat foto yang membuat pengunjung terperangah yakni, dokumentasi penggalian dan pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya. Serta foto dokumentasi upacara pemakaman jenazah para Pahlawan Revolusi di TMP Kalibata pada tanggal 5 Oktober 1965.

    Pada sudut ruangan terdapat pintu yang dimana bila kita memasuki ruangan sepetak itu terdapat seragam yang digunakan oleh beberapa pahlawan revolusi yakni seragam Jend. A. Yani yang tergantung rapi dalam lemari. Serta terdapat foto Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto, Kapten CZI Anumerta Pierre Andreas Tendean, dan Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono beserta peralatan serta seragam mereka. Dalam ruangan itu juga terdapat diorama Museum Sasmitaloka Jend. A. Yani dan harimau yang diawetkan. Harimau tersebut merupakan salah satu kenang-kenangan dari kerabat Jend. A. Yani.

    lokasi-jend-a-yani-gugur-1024x768

    Berbagai dokumentasi yang terpampang membuat pengunjung mengetahui secara terperinci peristiwa yang terjadi pada masa lampau terutama yang berkaitan dengan Jend. A. Yani. Museum yang dahulu merupakan kediaman Jend. A. Yani ini sungguh membuat kita ikut merasakan kejadian pada masa itu. Lantai, posisi isi rumah, dapur, kamar, kamar mandi masih tampak seperti dahulu.

    Saat menyusuri rumah tersebut, para pengunjung terhenti dan memandangi dengan saksama pintu kaca yang terhubung dengan rumah bagian dalam. Pada pintu tersebut tampak beberapa lubang. Ya, itu merupakan bekas tembakan yang diluncurkan oleh Pasukan Tjakrabirawa kepada Jend. A. Yani. Bekas tembakan itu masih sangat terlihat, nyata, dan jelas. Saat membuka pintu, para pengunjung begitu terperangah melihat suasana bagian dalam rumah itu. Begitu luas dan nyaman sekali.

    sertifikat-dan-penghargaan-jend-a-yani-1024x768

    Di depan pintu terdapat lantai yang dijaga dengan rantai, yang menunjukkan bahwa itu merupakan lokasi penembakan Jend. A. Yani. Pada dinding yang terdapat pada depan pintu, lukisan Jend. A. Yani yang merupakan saksi bisu penembakan masih terpajang rapi. Terdapat dua bekas tembakan pada lukisan tersebut. Tepat di sebelah lukisan, terdapat lemari yang berisi beberapa foto Jend. A. Yani dan istri di mana pada lemari itu juga terdapat beberapa bekas tembakan.

    Televisi, cangkir, meja makan, dan peralatan golf yang sering digunakan oleh Jend. A. Yani masih tersimpan rapi dan terpajang dalam ruangan. Berbagai surat keputusan, piagam penghargaan dan belasungkawa, Medali Bintang RI kelas II, vandel dari berbagai pejabat tinggi dan perguruan tinggi, dan kenang-kenangan dari kerabat Jend. A. Yani dari berbagai negara pun juga terpajang dan tersusun rapi pada setiap sudut ruangan.

    Adapun peninggalan tersebut berupa kenang-kenangan harimau yang diawetkan, lukisan, patung serta miniatur, dan kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi Jend. A. Yani adalah Chevrolet Impala yang pada masa itu seharga 53 ribu. Tak hanya lukisan Jend. A. Yani namun lukisan Pahlawan Revolusi lainnya juga terpajang pada dinding ruangan.

    kediaman-jend-a-yani-1024x768

    Memasuki kamar Jend. A. Yani, pengunjung dapat melihat benda pribadi beliau. Mulai dari sepatu, seragam, pakaian, minyak wangi, foto keluarga, foto setelah pernikahannya, bahkan seprai saat kejadian pun masih tersimpan rapi dalam kamar beliau. Begitu pula pada kamar putra dan putri Jend. A. Yani, boneka yang dahulu seringkali dimainkan oleh anaknya masih tertata rapi. Lukisan serta foto mereka terpampang di dinding.

    Pengunjung Museum Jend. A. Yani tak hanya mengenal lebih dalam terkait sejarah Jend. A. Yani namun juga sejarah pada masa lampau. Perjuangan para Pahlawan Revolusi patut kita lestarikan, hargai, serta tumbuhkembangkan. Semangat juang para Pahlawan Revolusi menjadi panutan kita dalam berbangsa Indonesia.

    Sumber : Museum Sasmitaloka Jend. A. Yani

  • Cimanuk, Perkembangan Sejarah Pelabuhan Kecil Di Indramayu

    Cimanuk, Perkembangan Sejarah Pelabuhan Kecil Di Indramayu

    Jakarta – Pelabuhan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam ekosistem peradaban maritim. Banyak pelabuhan-pelabuhan besar yang ada dan menjadi bagian perkembangan sejarah Indonesia, Pelabuhan Sunda Kelapa misalnya. Selain pelabuhan-pelabuhan besar, ada pula pelabuhan-pelabuhan kecil, salah satunya adalah Pelabuhan Indramayu. Pelabuhan ini memanglah tidak besar, namun memiliki nilai penting dalam sejarah Nusantara. Dini Nurlelasari memaparkan pentingnya Pelabuhan Indramayu dalam diskusi panel pada rangkaian acara Konverensi Sejarah Nasional X.

    Pelabuhan Indramayu merupakan pelabuhan yang berada di antara dua pelabuhan besar di Batavia dan di Cirebon. Pelabuhan ini sebenarnya dikenal dengan sebutan Pelabuhan Cimanuk, yang juga merupakan nama sungai besar yang menghubungkan Indramayu dengan Cirebon. Nama pelabuhan ini sudah lama tercatat dalam berbagai catatan kuno Tiongkok, maupun Tome Pires.

    Pada masa kerajaan tradisional, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan milik kerajaan Sunda. Tome Pires menyebutkan dalam Suma Oriental, pelabuhan ini merupakan milik penguasa yang tinggal di Daerah Dayo.
    Pada masa-masa selanjutnya, Dini menambahkan, terdapat benteng yang terletak di tepi sungai Cimanuk ini. Benteng tersebut berguna sebagai penjara dan penyimpanan komoditas VOC. Pada akhirnya keberadaan benteng tersebut mengukuhkan kekuasaan VOC di dekat Cirebon.

    Kejayaan suatu tempat pada akhirnya akan memiliki klimaksnya, perlahan tapi pasti kejayaan pelabuhan ini mulai berkurang, adapun salah satu penyebabnya adalah pendangkalan sehingga perahu dan kapal besar enggan berlabuh di pelabuhan ini.

    Penulis: Indra

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id