Blog

  • Normalisasi ‘Keadaan-Darurat’, Sumbangan Filsafat Politik Giorgio Agamben

    Normalisasi ‘Keadaan-Darurat’, Sumbangan Filsafat Politik Giorgio Agamben

    FILSUF Italia, Giorgio Agamben, dewasa ini mendapatkan tempat khusus dalam khazanah pemikiran politik Barat. Karya-karyanya, terutama Homo Sacer dan State of Exception, sangat berpengaruh dan memicu perhatian lintas-disiplin dalam dunia intelektual Barat.

    Lahir di Roma pada 22 April 1942, Agamben menyelesaikan studi doktoral bidang hukum dan filsafat di Universitas Roma dengan disertasi pemikiran politik Simone Weil, dan mengikuti kuliah-kuliah Martin Heidegger mengenai Hegel dan Heraklitos sebagai peneliti pascadoktoral. Agamben pernah mengajar di berbagai universitas, antara lain Academia di Archittetura di Mendriso (Universita Della Svizzera Italiana), Universitas IUAV Venezia, Collegge International de Philosophie Paris.

    Negara Demokrasi dan Keadaan-Darurat

    Demokrasi umumnya selalu dibayangkan sebagai tatanan politik yang mampu mewujudkan kepastian hukum, pelembagaan hak-hak sipil dan pembagian kekuasaan menjadi eksekutif, yudikatif dan legislatif. Hukum dalam negara demokrasi selalu tampil membawa janji tentang kesetaraan, keadilan, dan absennya kekerasan dalam kehidupan bersama. Namun dalam kenyataannya, menurut Agamben, dalam negara demokrasi kepastian hukum sering di tangguhkan, prinsip pemisahan kekuasaan diabaikan, dan hak-hak sipil dilanggar ketika negara tersebut mengalami ‘keadaan darurat’ seperti perang saudara, revolusi, invasi asing, pemberontakan atau ancaman terorisme. ‘Keadaan-darurat’ senantiasa dicirikan oleh penangguhan hukum (suspension of law) yang konon bertujuan melindungi masyarakat dari kekerasan. Garis pemisah kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif dihapus, sementara kekuasaan militer diperluas hingga menjangkau urusan publik yang lebih luas dari sekedar urusan pertahanan. Situasi inilah yang oleh Agamben disebut sebagai penyelenggaraan ‘keadaan-darurat’ atau ‘keadaan-pengecualian’ (state of exception).

    Agamben kemudian menunjukan asal mula penyelenggaraan ‘keadaan-darurat’ dan hubungannya dengan tatanan demokrasi. Menurut Agamben, demokrasi sejak awal merupakan kekaburan antara kekuatan yang melahirkan kekuasaan politik dengan kekuatan yang menjalankan kekuasaan politik. Sejak era polis Yunani, demokrasi selalu merupakan tumpang tindih antara rasionalitas politik yuridis konstitusi dan rasionalitas manejerial-administratif pemerintahan. Kata politeia secara ambigu diterjemahkan sebagai konstitusi sekaligus administarasi pemerintahan. Padahal, dalam khazanah Yunani, sesungguhnya telah terkandung kata politeuma untuk merujuk pada kehendak bersama, kedaulatan rakyat dan konstitusi. Yang terjadi kemudian adalah politeia dalam pengertian kekuatan-pembentuk-konstitusi dan politeuma dalam pengertian kekuatan-pelaksan-konstitusi menjadi tak terpisahkan dan melebur ke dalam satu sosok, kyrion, yang diterjemahakan Agamben sebagai kekuasaan-berdaulat (the souverign power).

    Agamben menilai, polis Yunani telah mewariskan dualitas politeia dan politeuma sebagai landasn politik Barat hingga saman demokrasi kontemporer. Peleburan rasionalitas politis-yuridis dan rasionalitas manejerial-administratif ke dalam sosok kekuasaan berdaulat dalam praktiknya membuat kehendak bersama dan hak konstitusional rakyat di satu sisi dengan penyelenggaraan pemerintahan di sisi lain menjadi tak terpisahakan. Dengan latar belakang sejarah seperti inilah demokrasi dalam perjalanannya lebih banyak dipahami sebagai sistem penyelenggaraan kekuasaan dibandingkan sebagai sistem yang menakar legitimasi penyelenggaraan kekuasaan.

    Penyelanggaraan kekuasaan tegas Agamben, kemudian menjadi demikian identik dengan kekuasaan-berdaulat. Sosok yang tidak tertandingi oleh kekuatan apa pun dan tidak terikat oleh mekanisme apa pun karena merupakan representasi tunggal dari seluruh rakyat. Karena telah merepresentasikan kekuasaan seluruh rakyat, kekuasaan-berdaulat menjadi kekuatan yang tak tersentuh. Keputusannya bersifat otonom dan tak terbantahkan.

    Sumbangan penting pemikiran Agamben adalah bahwa situasi keadaan-berdaulat tidak hanya terjadi pada rezim totaliter tapi juga kekuasaan-berdaulat oleh Agamben diletakan sebagai fenomena rezim demokrasi. Bagaimana kekuasan-berdaulat menyusup masuk dalam tatanan demokrasi? Menurut Agamben, melalui normalisasi keadaan-darurat. Keadaan-darurat lazim dipahami sebagai keadaan khusus yang merupakan pengecualian dari normalitas tatanan demokrasi. Dalam keadaan-darurat, kekuasaan eksekutif dapat secara sepihak menangguhkan hukum, mengabaikan prosedur-prosedur konstitusional, membenarkan kekerasan dan mengabaikan hak-hak kebebasan warga negara.

    Demokrasi kontemporer, menurut Agamben, tidak banyak mengubah kenyataan bahwa keadaan-darurat adalah praktek dominan dalam tatanan demokrasi. Agamben menunjukan, negara demokrasi liberal yang bertumpu pada prinsip pembatasan kekuasaan negara tidak berhasil menghapuskan praktik-praktik penangguhan hukum dalam keadaan-darurat. Kebebasan individu dapat dicabut dan keadilan ditangguhkan atas nama hukum dengan alasan menjaga kepentingan keamanan nasional. Lebih dari itu, pengertian keadaan-darurat kemudian sedemikian rupa diperlonggar atau diperluas sehingga batas-batas antara yang darurat dan normal, antara pengecualian hukum dan pelaksanaan hukum menjadi kabur. Dengan melakukan penulusuran historis, Agamben menyimpulkan pelembagaan dan normalisasi keadaan-darurat adalah tendensi dominan dalam praktek kekuasaan demokrasi kontemporer.

    Manusia Kontemporer sebagai Homo Sacer

    Dikotomi utama dalam politik menurut Agamben bukanlah dikotomi kawan lawan melainkan dikotomi antara hidup-alamiah dan hidup politis. Perendahan atas hidup alami yang melahirkan fenomena hidup telanjang-yakni orang-orang yang tanpa tameng hukum sama sekali-juga berakar pada sejarah hukum Romawi. Istilah homo sacer adalah istilah dalam hukum Roma untuk menyebut orang-orang yang dilucuti haknya dalam mendapatkan perlindungan hukum. Siapa pun dapat menganiaya dan membunuh orang-orang tersebut dengan impunitas. Status homo sacer merujuk kepada pelaku kriminal, pengkhianat kerajaan atau penganut aliran kepercayaan yang menyimpang. Mereka dapat dibunuh tanpa konsekuensi apa pun untuk pelaku pemnbunuhan. Mereka telah dieksklusi dari komunitas politik dan menjadi eksitensi fisik belaka tanpa status hukum sama sekali. Pembunuhan atas homo sacer juga tidak dianggap sebagai proses penyakralan atau persembahan suci. Homo sacer adalah orang-orang yang mengalami dua eksklusi: dari hukum duniawi maupun hukum ilahi. Pembunuhan atas dirinya bukan suatu pelanggaran hukum dan ditolak sebagai bentuk persembahan suci.

    Agamben menggunakan istilah homo sacer untuk menjelaskan keadaan masyarakat dalam negara demokrasi kontemporer. Tesis politik Agamben menegaskan, hubungan politik asali antara negara dan warganya adalah penelantaran. Negara menginklusi semua orang dalam tatanan dengan berbagai peraturan dan batasan. Namun negara juga, menjalankan kekuasaan berdasarkan paradigma penyelenggaraan status darurat sehingga di dalam tatanan hukum sekalipun, kekerasan dan kesewenangan masih terjadi. Ketika penyelenggaraan status-darurat telah mengalami normalisasi dan kekerasan dipakai sebagai mode penyelenggaraan kekuasaan, maka tidak ada lagi batas antara hukum dan kekosongan hukum, antara keadaan alamiah (state of nature) dan tatanan hukum (state of law). Dalam konteks inilah menurut Agamben, setiap orang pada era kontemporer ini berstatus sebagai homo sacer.

    Dari temuan istilah homo sacer, Agamben berargumen bahwa prosuder resmi negara untuk meng-homo sacer– warganya adalah lewat state of exception (situasi darurat). Menurut Agamben, yang berhak mendekritkam State of Exception adalah The Sovereign (Yang Berdaulat) yang merupakan gabungan dua hal: potestas (power) dan auctoritas (authority). Sebagai potestas (contituted power), ia adalah power of law, pemimpin eksekutif tertinggi sesuai undang-undang yang ada. Namun sebagai auctoritas (kewenangan, constituting power) ia bersifat beyond the law. Karena bersifat beyond the law, Yang Berdaulat bisa mendekritkan state of expection sehingga semua hukum yang ada ditangguhkan.

    Implikasi Pemikiran Politik Agamben

    Normalisasi ‘keadaan-darurat’ seperti yang dikatakan Agamben telah menjadi kecenderungan dominan dalam penyelenggaraan pemerintahan pada rezim demokrasi dewasa ini. Keadaan darurat lazim dipahami sebagai status yang diputuskan secara resmi oleh negara ketika sedang menghadapi ancaman perang, invasi asing, pemberontakan, dan semacamnya. Keadaan darurat senantiasa ditandai dengan tindakan penangguhan atas konstitusi, prosedur pengambilan keputusan demokratis, serta prinsip pemisahan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Atas nama keamanan nasional, eksekutif mengambil kekuasaan legislatif dan yudikatif, mengabaikan hukum positif dan melegitimasi tindakan kekerasan. Namun, dalam perjalanannya, pengertian keadaan-darurat mengalami perluasan konteks penerapan sehinggah muncul keadaan darurat bencana, darurat terorisme, darurat narkoba, darurat wabah penyakit dll. Dalam berbagai keadaan ini, ciri-ciri keadaan darurat tetap dipertahankan: penangguhan hukum, kesewenang-wenangan eksekutif, dan legitimasi atas kekerasan. Dalam konteks ini Agamben menegaskan, normalisasi keadaan-darurat  dalam rezim demokrasi telah menghapuskan perbedaan distingtif antara ‘keadaan-darurat’ dan ‘keadaan-normal’.

    Paskalis Bataona

    Tulisan ini sepenuhnya ringkasan dari buku: Agus Sudibyo, DEMOKRASI dan KEDARURATAN, Memahami Filsafat Politik Giorgio Agamben– (Marjin Kiri, 2019).

  • Sapardi dan Puisi yang Mampus

    Sapardi dan Puisi yang Mampus

    Ansel Deri

    KALAU Sapardi Djoko Damono masih hidup ia akan menertawakan kami. Tinggal di kaki gunung dengan kawalan belukar yang masih perawan, teman kami adalah katak di sungai, ubi kayu dari kebun orangtua, dan panorama alam pegunungan nan eksotik. Puisi dengan modal kata? Sabar dulu. Biarkan kami anak laki berdeklamasi dengan baju disisip dengan celana sobek di bawah selangkangan. Atau rok teman-teman sesama anak kampung yang dijahit dengan benang hasil pintal ibu-ibu mereka.

    Nikmat? Tentu. Tapi, jangankan Chairil Anwar atau Idrus, nama “tuan tanah” di jagad sastra, tuan Sapardi pun tak akan ambil pusing dengan kami. Kalaupun mereka tahu kami anak-anak tengah berdeklamasi ria di bawah hawa gunung yang manja, mungkin hanya sebait doa mereka yang rapuh di sunyi puisi dari Jakarta, kota bertabur beton. Kami hanya berdeklamasi. Bukan berpuisi. Kok begitu? Ya, tak ada kata “puisi” yang membaptis omongan-omongan lisan rada seni yang indah. Puisi kami sudah mampus: kami “berpuisi” dengan gambar.

    Kamus Besar Bahasa Indonesia, gudang kata, adalah barang mewah tuan-tuan yang mengatur negara. Kami terpaut jauh. Sejauh langit dan bumi; bumi, tanah leluhur tempat kami pijak nun di lereng. Kata yang segera menjadi puisi telah lama mampus. Puisi sudah lapar dan lama mati di tengah sunyi: dibalut rimba lereng. Ia mati tapi tidak (mati) dalam batok kepala kami yang telah penuh dengan gizi ubi kayu, bunga & daun pepaya dari ladang bapak & ibu kami. Otak kami sudah menyatu dengan katak di sungai yang mengalir di lekuk alam yang masih perawan. Puisi mati tapi ia suci dan bertahan dalam benak kami. Ia beranak pinak dalam wajah ubi kayu, pisang, katak, daunan hijau yang kami santap di ladang atau di bibir anak sungai, tak jauh dari kampung. Kalaupun Sapardi, Chairil atau Idrus tahu kala itu, ia akan menyapa kami dari jauh: dalam puisi meski nantinya puisi juga jadi barang asing.

    Mengapa? Kami punya sebatas satu ini: deklamasi. Pun musiman. Untung-untungan kalau guru kami membawa kami ke tengah lapangan lalu kata luruh seperti butiran jagung dari serbet ibu yang sudah kabur warnanya. Kemudian satu per satu disuruh deklamasi modal corat coret guru di atas selembar kertas putih polos agar kata merasuk sukma yang sudah kebal dengan gizi dari dapur sederhana ibu. “Tali celana kamu diikat kuat. Kalau saat berekspresi dalam deklamasi celana kalian tidak melorot. Sayang kalo tali celana putus ayahmu bisa pening. Kata-kata yang kita produksi adalah bahasa jiwa. Ia lentera batin melihat ke (dunia) luar,” kata guru Bahasa Indonesia kala itu.

    Puisi? Tak ada. Sekali lagi: puisi sudah (lama) mampus. Tapi ia jadi seperti orang suci, kudus dalam batin. Ia akan setia bekerja membasuh jiwa kita, jiwamu, kelak di manapun ujung bumi kau pijak. Puisi akan jadi guru dalam setiap jejak tapak yang kau ciptakan, katanya. Benar. Bersentuhan dengan Golgota, tempat tengkorak, dalam (baru belakangan setelah “deklamasi” bergeser) puisi di kota Timor, di atas batu karang dalam selembar koran lokal. Puisi (nama baru) menemui ruang edisi Minggu. Menyebut penulis deklamasi takut dibilang ndeso: kampungan. Dibilang penyair terlalu tinggi setinggi gunung Labalekan. Ya, mau dibilang apa, terserah. Tapi jangan dibilang penyair. Terlalu berlebihan. Atau abai lebe lebe, kata orang Kupang. Saya tidak di posisi itu. Pas kalau menyebut John Dami Mukese di tingkat lokal (sekadar menyebut satu nama) atau Sapardi, Chairil Anwar atau Idrus di level atas. Kalau Sapardi, ya. Sapardi dalam hati saya tak lebih seorang pemangku ulayat “deklamasi”, “puisi” dalam khasana satra Indonesia. Ia telah memenuhi panggilan Tuhan, sang Penyair dari segala penyair. Langit negeri bertabur kata di Ahad 19 Juli 2020 di Rumah Sakit Eka, Tangerang Selatan, seputaran Bumi Serpong Damai, Banten. Sapardi menutup mata selamanya menghadap Tuhan, Sang Sabda.

    Sosok Sapardi

    Siapa sastrawan Sapardi Joko Damono? Ia bukan orang kampung saya. Tapi kelak ia telah mengajarkan banyak orang arti mengolah batin, mencintai manusia, dan negeri di mana kita tinggal. Negeri bertabur onggokan tanah besar dan kecil bernama seperti Lembata. Pulau yang juga jadi tempat lahir Prof Dr Gregorius Perawin (Gorys) Keraf, guru besar dan ahli Tata Bahasa Indonesia. Sapardi lahir di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1943. Ia anak pertama dari dua bersaudara pasangan orangtua Sadyoko dan Sapariah. Sekolah mulai SD hingga SMA ia lalui di Solo. ‘Melarat’ (dalam istilah kampung saya) atau merantau ke Jogja, ia diterima di jurusan Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada hingga meraih gelar tahun 1964. Tahun 1970-1971, ia terbang ke Hawaii untuk menempuh pendidikan non gelar di University of Hawaii, Honolulu. Masa studi Sapardi yang kala itu saya masih orok setelah ibu pecah ketuban di hutan tak jauh dari kampung dan saya mulai bertemu dunia luas. Tahun 1989, Sapardi meraih gelar doktor (S-3) Universitas Indonesia (UI). Disertasinya membedah novel-novel di Jawa tahun 1950-an. Baru tahun 1995, ia dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra kampus negeri itu.

    Jejak Sapardi

    Sapardi memiliki sejarah panjang pengabdiannya di jalur pendidikan. Ia guru di ruang kuliah dan guru di tengah masyarakat. Ia tentu mengajar bagaimana cara olah gerak mimik dan tubuh yang baik saat deklamasi, berpuisi bagi banyak orang terutama para penyair Indonesia bahkan dunia. Kompas.com menulis sekilas jejak pengabdian Sapardi. Ia pernah menjadi dosen tetap, Ketua Jurusan Bahasa Inggris, IKIP Malang Cabang Madiun, tahun 1964-1968. Tak lama diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra-Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 1968-1973. Sejak 1974, ia bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra, UI, jurusan Sastra Indonesia. Fakultas ini yang kalau tak salah juga ada Gorys Perawin Keraf, penulis Tata Bahasa Indonesia, buku yang jadi bacaan di sekolah-sekolah, termasuk kampus-kampus di Indonesia. Sapardi pernah menjabat Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra, UI kurun waktu tahun 1979-1982. Tak lama kemudian diangkat jadi Pembantu Dekan I pada 1982-1996. Lalu menjabat Dekan tahun 1996-1999 di UI.

    Tahun 2005, ia memasuki masa pensiun sebagai guru besar Fakultas Ilmu Budaya, UI. Meski demikian, ia masih diberi tugas sebagai promotor dan penguji di beberapa perguruan tinggi, termasuk menjadi konsultan Badan Bahasa. Ia juga aktif di lembaga seni dan sastra tahun 1970-1980. Ia pernah menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Jakarta (1973-1980), redaksi majalah sastra Horison (1973), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak 1975), anggota Dewan Kesenian, anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka Jakarta (sejak 1987) dan lain-lain. Tahun 1986, Sapardi mengemukakan perlunya mendirikan organisasi profesi kesastraan di Indonesia. Ia pun mendirikan organisasi bernama Himpunan Sarjana-Kesusasteraan Indonesia (Hiski) pada 1988 dan terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat selama tiga periode. Sapardi juga tercatat sebagai anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI), dan sebagai anggota Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV). Selain aktif di dunia sastra dalam negeri, Sapardi juga sering menghadiri berbagai pertemuan internasional, seperti Translation Workshop dan Poetry International di Rotterdam, Belanda (1971) dan Seminar on Literature and Social Exchange in Asia di Australia National University Canberra.

    Merujuk Ikhtisar Kesusasteraan Indonesia Modern (1988) karya Pamusuk Eneste, Sapardi dimasukkan dalam kelompok pengarang Angkatan 1970-an. Begitu pula dalam Sastra Indonesia Modern II (1989) karya A Teeuw, Sapardi digambarkan sebagai cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar 1960. Puisinya banyak dikagumi. Mengapa? Banyak kesamaan dengan yang ada dalam persajakan Barat yang disebut simbolisme sejak akhir abad ke-19. Beberapa karyanya adalah Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998). Serta Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2000), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003), kumpulan cerpen Pengarang Telah Mati (2001), dan kumpulan sajak Kolam (2009).

    Sapardi sungguh pakar sastra yang dimilik Indonesia. Beberapa buku penting karyanya saya sebut di sini. Misalnya, Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999), Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1996), Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999), Sihir Rendra: Permainan Makna (1999), dan Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan Awal. Ia juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway); Daisy Manis (Daisy Milles, Henry James); Puisi Brasilia Modern; George Siferis; Sepilihan Sajak; Puisi Cina Klasik; Puisi Klasik; Shakuntala; Dimensi Mistik dalam Islam karya Annemarie Schimmel; Afrika yang Resah (Song of Lowino dan Song of Ocol oleh Okot p’Bitek); Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra oleh Eugene O’Neill); Amarah I dan II (The Grapes of Wrath, John Steinbeck), dan lain-lain.

    Apresiasi

    Sapardi adalah sastrawan berjasa di bidangnya selama masih hidup. Peran dan karyanya di bidang sastra, berbuah aneka penghargaan, apresiasi di bidang sastra. Hadiah Majalah Basis atas puisinya “Balada Matinya Seorang Pemberontak” (1963); Penghargaan Cultural Award dari Pemerintah Australia (1978); Mendapat Hadiah Anugerah Puisi-Puisi Putera II untuk bukunya Sihir Hujan dari Malaysia (1983); Mendapat hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta atas bukunya yang berjudul Perahu Kertas (1984); Mataram Award (1985); Menerima hadiah SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Thailand (1986); Mendapat Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990); Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996); Mendapat penghargaan The Achmad Bakrie Award for Literature (2003); Khatulistiwa Award (2004); dan Penghargaan dari Akademi Jakarta 2012). Hari ini dunia sastra Tanah Air tentu merasa kehilangan Sapardi. Tapi, saya percaya panggilan Sang Sabda lebih ia rindukan. Sapardi tak mau puisinya tetap hadir nun di rumah-Nya. Tak lagi seperti kami anak kampung tempo doeloe yang suka deklamasi di tengah lapangan di bawah bayang-bayang tali celana yang rerancam putus. Meski perut kami sudah aman dengan singkong, daging katak atau pesona alam pegunungan yang menggoda dan menyemangati kami melangkah dalam diam demi masa depan. Meski kami relah puisi kami mampus dan kami bertahan dengan deklamasi saja.

    Sapardi, saya akan deklamasikan Hujan Bulan Juni, puisi karyamu. Dalam hati tentunya. Kali ini saya deklamasikan tanpa tali celana berbahan benang pintalan ibu atau tali waru hasil kreasi ayah saya di kampung saat saya masih kecil.

    Hujan Bulan Juni

    tak ada yang lebih tabah

    dari hujan bulan Juni

    dirahasiakannya rintik rindunya

    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak

    dari hujan bulan Juni

    dihapusnya jejak-jejak kakinya

    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif

    dari hujan bulan Juni

    dibiarkannya yang tak terucapkan

    diserap akar pohon bunga itu

    —-1994———————

    Selamat jalan, Sapardi. Berpuisilah dari Surga agar puisi tak lagi mampus seperti dulu; dalam sunyi alam pegunungan. Bahagia selalu. Selalu, Sapardi Requiscat In Pace. Damailah di sisi-Nya.


    Ansel Deri
    Orang udik penikmat sastra;
    Mengenang Sapardi Djoko Damono

  • Memanjakan Mata di Bukit Nilo Maumere

    Memanjakan Mata di Bukit Nilo Maumere

    BNC,- Pulau Flores menyimpan sejuta pesona wisata. Bila Anda berada di Larantuka, kota Reina Rosari, Flores Timur di ujung timur. Pun berada di Labuanbajo, kota ujung barat nusa bunga. Maka melangkahlah lebih dalam, ke Maumere. Di sini tak sekadar Ledalero, kampus filsafat pencetak sarjana filsafat dan imam Katolik kelas dunia bakal membuat kagum. Merapatlah ke Nilo. Manjakan mata dengan pesona Maumere dan laut Flores dari ketinggian.

    DARI Hotel Capa, Jalan Mairoa Waipare, Maumere, kota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur tukang ojek itu melaju kencang bersama Kewaama, tamu hotel milik Melchias Markus Mekeng, pengusaha sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Tak lama si tukang ojek berkulit legam itu menghentikan laju kendaraan. Di Jalan Brai, Kota Uneng, Alok, si tamu hotel itu minta diturunkan di jalan depan sebuah kapel kecil, persis di samping rumah tinggal para biarawati Katolik. Akhir Januari 2018, Kewaama, menyambangi Maumere, Flores.

    “Saya minta tukang ojek berhenti di Jalan Brai. Saya tertegun melihat patung Bunda Maria Segala Bangsa berdiri megah. Saya sengaja melihat sejenak dari pinggir jalan keindahan Nilo. Selama ini saya hanya mendengar tempat wisata rohani itu dari kerabat yang pernah ke Maumere. Kali ini saya bisa menyaksikan sebuah maha karya rohani dari Kongregasi Carmel, sebuah tarekat religius klerikal diosesan. Saya memanjakan mata sejenak sebelum bertemu kerabat yang tinggal tak jauh dari kapel itu,” ujar Kewaama saat berbincang-bincang dengan berandanegeri.com saat dihubungi dari Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu, 11 Juni 2020.

    Bukit Nilo Maumere (Foto : Dok FBC)

    Celestinus Ola Koban, warga asal Atadei, Pulau Lembata yang lahir dan besar di Maumere juga mengakui, patung Bunda Maria Segala Bangsa unik itu terletak di  Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita. Bukit eksotik itu menjadi salah satu destinasi wisata di Maumere, Flores yang digandrungi para wisatawan dalam negeri maupun manca negara. Para wisatawan dalam negeri, menurut Tino Koban, menjadian Nilo sebagai salah satu destinasi favorit Maumere tatkala menyusuri keindahan Flores mulai dari Labuanbajo di bagian barat hingga Larantuka di ujung timur Flores.

    Maumere adalah kota di Flores yang sudah mendunia. Setiap tahun, para wisatawan berbondong-bondong menyambangi kota yang dihempas gempa bumi dan gelombang tsunami tahun 1992 dan nyaris melumpuhkan seluruh aktivitas warga Sikka dan beberapa kabupaten lain seperti Ende dan Flores Timur. Selain itu, Maumere juga menyajikan pesona Nilo karena dari atas ketinggian wajah kota terlihat indah di dipandang mata. Pengalaman ini terasa lengkap setelah merasakan suasana damai bukit Ledalero, sekolah tinggi berusia puluhan tahun milik Kongregasi Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) yang sudah mencetak ribuan sarjana filsafat, imam Katolik maupun awam kelas dunia yang tak hanya menyebar dalam negeri namun hampir mengabdi di setiap ujung bumi di lima benua.

    “Setiap tahun, wisatawan selalu ke Maumere kemudian memanjakan mata dari ketinggian Nilo. Dari atas wisatawan leluasa memandang Maumere. Selain ke Larantuka untuk mengikuti proses Semana Santa atau usai mengunjungi Lamalera yang dikenal di seluruh dunia atau menikmati keindahan alam danau Tiga Warna Kelimutu, perkampungan eksotik Moni di Kabupaten Ende, wisatawan akan melihat juga Nilo. Selain merasakan suasana khas sebagai obyek wisata bernuansa religi, wisatawan juga melihat wajah Maumere dari atas bukit. Suasana kota yang indah, warga kota yang ramah atau akses kuliner yang mudah adalah daya tarik lain yang memikat hati wisatawan betah,” ujar Tino Koban, praktisi hukum yang tinggal di Bogor, Jawa Barat.

    Menggapai Nilo

    Nilo dan Maumere adalah dua entitas yang sulit dipisahkan satu sama lain. Keduanya ibarat gadis kembar yang molek. Menyebut Nilo mengingatkan para pengunjung tentang sebuah destinasi wisata bernuansa religi, tempat para pengunjung menemukan kedamaian batin. Tak berlebihan, ke Maumere tanpa menyambangi patung Bunda Maria Segala Bangsa Nilo, rasanya nggak rame. Pun menyambangi Maumere tak akan pernah bebas dari kisah Paus Yohanes Paulus II (Sri Paus), Pemimpin Umat Katolik Sedunia, yang memilih bermalam di bukit sandar matahari, Ledalero tahun 1989 dalam kunjungan kenegaraan di Indonesia, termasuk Dili, kota Provinsi Timor Timur, yang kini bernama Republik Demokratik Timor Leste. Tahun 1992 Maumere juga menjadi pusat perhatian dunia akibat gempa bumi dan gelombang pasang (tsunami)  yang melumatkan banyak bangunan dan menewaskan ribuan orang.

    Di atas bukit itu ditakhtakan patung perunggu setinggi 28 meter dengan berat 6 ton. Proses pembangunan dimulai pada 2004 dan dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan Agung Ende Mgr. Abdon Longinus da Cunha Pr melalui Misa Agung kemudian ditetapkan sebagai tempat ziarah pada 31 Mei 2005. Patung itu berada di atas ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (dpl). Posisi patung itu menghadap langsung Maumere di bawahnya. Mata wisatawan akan leluasa dimanjakan Laut Flores yang menawan hati. Tak berlebihan Nilo menjadi destinasi wisata aduhai bagi para penggila tours and travel karena dapat menikmati view Maumere dan Laut Flores dari ketinggian bukit.

    “Jarak tempuh dari Maumere ke Nilo sekitar satu jam lebih. Kalau dalam rombongan pengunjung bisa menyewa kendaraan. Untuk perorangan cukup menyewa tukang ojek yang mangkal di sekitar hotel atau tempat penginapan. Sebelum sampai ke Nilo, pengunjung biasanya singgah terlebih dahulu di Ledalero atau Seminari Tinggi Santo Paulus Ritapiret. Di gerbang masuk kawasan wisata Nilo, semua kendaraan berhenti di area khusus yang disiapkan kemudian berjala kaki sejauh kurang lebih 500 meter menuju lokasi wisata. Dari bukit itu pengunjung leluasa menikmati panorama alam yang indah dan memandang Maumere dari atas ketinggian bukit,” ujar Anjebertus Magnus, warga Maumere.

    Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Nusa Tenggara Timur Dr Jelamu Ardu Marius M.Si mengatakan, obyek wisata favorit Bukit Bunda Maria Nilo selalu ramai dikunjung wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Obyek wisata ini juga menjadi pilihan bagi para peziarah rohani Katolik tak hanya dari daerah-daerah di NTT tetapi juga luar negeri seperti Timor Leste, Filipina, Portugal, Brazil, Amerika, Australia maupun negara-negara di benua Eropa. Berada di atas bukit dan memandang kota Maumere yang berada di bawah dan laut Flores yang tenang seolah membawa rasa damai bagi para pengunjung. Selain menghabiskan waktu sekadar berekreasi, para pengunjung beragama Kristiani mengisi waktu untuk berdoa dengan khusuk. Pepohonan yang hijau dan masih alami serta angin yang bertiup manja akan mengantar para pengunjung menyadari betapa Tuhan begitu murah menghadirkan Nilo bagi pengunjung.

    “Obyek wisata Bunda Maria Segala Bangsa Nilo Maumere merupakan salah satu destinasi unggulan Flores. Dalam berbagai kegiatan kunjungan Bapak Gubernur Viktor Laiskodat ke luar negeri, beliau selalu mempromosikan obyek wisata Nilo dan beberapa obyek wisata favorit lainnya di Flores. Selain itu, di Flores kita punya Taman Nasional Komodo, Riung, Kelimutu, Larantuka, dan Lembata. Harapannya semakin banyak wisatawan yang berkunjung di NTT. Promosi ini membuka peluang pemasukan bagi masyarakat dan daerah. Kita tahu pariwisata menjadi perhatian Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur sejak awal memimpin NTT. Secara khusus beliau berdua menjadikan pariwisata sebagai prime mover, penggerak utama pembangunan daerah,” ujar Marius, lulusan Sekolah Tinggil Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere.

    Patung Yesus di Bukit Nilo Maumere (Foto : Dok FBC)

    Berkunjung ke Maumere dan menyambangi Nilo dapat menggunakan pesawat atau kapal laut. Saat ini ada sejumlah maskapai penerbangan beroperasi di Bandara Udara Frans Seda Maumere seperti Sriwijaya Air, Lion Air, Wings Air, dan lain-lain. Penerbangan ke Maumere menempuh rute Jakarta via Denpasar dan Lombok atau Jakarta via Sumba-Kupang. Pengunjung bisa menempuh rute dengan kapal Pelni dari Jawa, Bali, Lombok atau Bima menuju beberapa kota kabupaten di Flores. Masyarakat Maumere dan Kabupaten Sikka umumnya terkenal menjaga dan melestarikan kerajinan tangan, budaya, adat-istiadat, dan kesenian. Lagu Gemu Fa Mi Re adalah salah satu lagu daerah yang digandrungi sebagian lapisan masyakarat Indonesia.

    Maumere juga terkenal dengan kekhasan tenun ikatnya. Kota Maumere Maumere dikelilingi desa-desa kecil penghasil kerajinan tenun. Beberapa desa yang sudah familiar di kalangan pengunjung terdapat di daerah Sikka dan Lela. Hasil karya tangan khas ibu-ibu dan perempuan selalu jadi cinderamata para pengunjung. Selain menarik, corak dan motif kain tenun khas Maumere sangat unik dan mudah dibawa. Mengelliling Maumere juga membawa sensasi tersendiri bagi pengunjung. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Flores Timur. Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ende dan sebelah selatan berhadapan muka dengan Laut Sawu.

    Bagi para pencinta sejarah boleh jadi akan tertarik untuk menelusuri arti kata Maumere dan cikal bakal kota itu mendandani dirinya hingga terkenal di seluruh pelosok dunia. Maumere berasal dari kata bahasa Ende, yaitu Ma’u berarti pelabuhan dan Mere berarti besar. Sejumlah catatan melukiskan, Kata Maumere muncul jaman dulu saat Moang Juang Korung da Cunha ditugaskan Raja Sikka, Don Cosmo Semao da Silva untuk mengurus pelabuhan Alok Wolokoli yang ramai dikunjungi pedagang. Korung da Cunha lalu membangun sebuah perkampungan dan benteng di pantai sebuah teluk berbentuk cekung, dengan gugusan pulau di depannya. Tak lama Korung da Cunha melabeli tempat itu dengan Maumere yang berarti pelabuhan besar.

    Dr Jelamu Ardu Marius, M.Si, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT (Foto: Dok Marius Jelamu)

    Warga Maumere Silverius Angi mengatakan, para pengunjung atau wisatawan yang bepergian ke Flore terutama Maumere tak terlalu sulit mendapatkan hotel atau home stay dengan harga sesuai kemampuan isi dompet. Di Maumere ada sejumlah hotel bintang 4 dan beberapa hotel melati jadi pilihan pengunjung sesuai dengan selera pengunjung. Misalnya, Hotel Sylvia; Capa Maumere Resort Hotel di Jalan Nairoa Waipare; Sea World Club Beach Resort di Waiara; Amrita Maumere Resort; Sunset Cottages Maumere; Hotel Binongko Jaya; Nusra Hotel atau Hotel El Tari Indah. “Banyak altenatif pengunjung tinggal dan menetap di Maumere selama melakukan perjalanan wisata. Mereka bisa tinggal dalam beberapa hari di kota Maumere setelah puas memanjakan mata di Nilo dan puas memandang Maumere dan Laut Flores dari atas bukit rohani itu,” kata Siflan, sapaan akrab Silverius Angi, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sikka. (Germanus Wisung/adv)

  • Air Terjun Lodovavo, Pesona Wisata Unggulan yang Masih Terpenjara

    Air Terjun Lodovavo, Pesona Wisata Unggulan yang Masih Terpenjara

    BNC– Wilayah pantai selatan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, memiliki sejumlah obyek wisata unggulan. Misalnya, air terjun Lodovavo di Desa Atawai, Nagawutun. Naasnya, sejak Lembata otonom tahun 1999 ruas jalan dari Lewoleba ke Atawai atau Lamalera masih sangat buruk.

    DIONISIUS DUA kerap tak habis pikir. Sejak terpisah dari Flores Timur tahun 1999, akses jalan menuju obyek wisata Lodovavo sangat buruk. Begitu pula ruas jalan ke Lamalera, Lewopenutung dan Warawatu.

    “Jujur saja, kondisi jalan menuju obyek-obyek wilayah seperti Lodovavo atau Lamalera sangat buruk, minim perhatian. Hingga kini Lodovavo masih jadi wisata favorit warga lokal. Mereka harus jalan kaki dari kampung Boto, Desa Labalimut ke Atawai. Dari kampung kemudian jalan kaki ke Lodovavo,” ujar Dion Oldani, sapaan akrab tour guide saat dihubungi di Denpasar awal April 2020.

    Lodovavo tak hanya akrab bagi masyarakat di kampung-kampung di lereng Labalekan, gunung tertinggi di Lembata. Namun, juga warga masyarakat di kecamatan lainnya. Warga masyarakat seperti Mingar, Lewoblolong, Tadalakar, Penikenek, Lamanepa hingga Lusiduawutun di pesisir selatan Lembata mengenal baik obyek wisata Lodovavo. Selain masih asri, sumber air baku untuk beberapa kampung di wilayah pesisir itu juga bersumber dari Lodovavo dan sekitarnya.

    Sedangkan masyarakat di sekitar lereng Labalekan sudah familiar dengan Lodovavo. Kegiatan edukatif dan hiburan berbagai komunitas masyarakat selalu menempatkan Lodovavo sebagai obyek kunjungan. Para pengunjung utamanya dari desa-desa sekitar lereng Labalekan. Misalnya, Labalimut, Belabaja, Liwulagang, Ileboli, Bolibean, Puor, Imulolong bahkan Posiwatu. Selain Fai Kating, obyek wisata berupa sumber air panas di bagian barat kali Fai Snara, sebelah selatan Desa Labalimut dan Belabaja.

    Obyek wisata potensial

    Obyek wisata air Lodovavo memiliki banyak keunikan. Debit air sangat besar. Apalagi, pada musim hujan. Tingginya sekitar 50 meter lebih. Diapit pohon-pohon kenari dan berbagai jenis pohon seukuran dua pelukan orang dewasa. Sekitarnya bertaburan aneka stalaktit runcing dengan lobang yang lancip menambah pesona Lodovavo.

    Air terjun itu menjadi muara sejumlah anak sungai seperti Wai Lator, Wai Fetem, Wai Kro, Wai Mudajen, Kideng Mirek, Wai Meran, dan Wai Mitemen. Sedangkan di bagian hulu, mengalir Wairajan dan Waimera yang merupakan pertemuan beberapa anak sungai dari lereng Labalekan melewati kawasan hutan Menator.

    “Saya dua kali mengunjungi Lodovavo. Obyek wisata itu memiliki kekayaan flora dan fauna sangat besar. Masyarakat sekitar terutama Atawai dan desa-desa di lereng Labalekan perlu setia menjaga dan melestarikan hutan di hulu. Dengan demikian, pada musim kemarau debit air Lodovavo tetap stabil dan menjadi alternatif tujuan wisata yang eksotik. Selain itu, pemerintah daerah perlu melakukan intervensi melalui anggaran untuk membatu pemerintah dan masyarakat desa sekitar menata Lodovavo menjadi destinasi menarik. Ruas jalan ke obyek wisata itu perlu dibangun,” ujar Dion Ola Wutun, seorang pengunjung yang bermukim di Lewoleba.

    Dion Wutun, freelance guide tingkat madya dan ASN di Lembata, menambahkan, Belabaja yang letaknya tak jauh dari Atawai, sudah ditetapkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia sebagai salah satu wilayah sasar Program Desa Wisata tahun 2009. Karena itu Atawai ini punya posisi penting sebagai subtitute object di mana orang tinggal di Belabaja sebelum melakukan wisata ke Lamalera dan Lodovavo.

    Dr Jelamu Ardu Marius, M.Si, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT (Sumber foto: Ist)

    “Wisatawan yang tinggal di Boto bisa melakukan half day tour untuk menikmati ekowisata Lodovavo sambil mandi di air terjun. Oleh karena itu, Lodovavo perlu dijaga dan dilestarikan alam pegunungan serta flora dan faunanya. Wisatawan akan sangat tertarik mengunjungi Lodovavo. Apalagi, obyek wisata itu memiliki legenda menarik bagi pengunjung yang suka kisah-kisah unik yang melingkupi obyek wisata itu. Karena itu akses jalan ke Atawai melalui Idalolong di wilayah pantai atau Boto di wilayah lereng gunung perlu dibangun sehingga Lodovavo tidak terpenjara dalam ketertinggalan,” ujar Dion Wutun.

    Lodovavo memiliki arti. Dalam bahasa tutur dialek Imulolo, lodo berarti turun. Sedangkan vavo artinya ke bawah. Karena itu, Lodovavo artinya turun ke bawah. Selepas dari Atawai, para pengunjung akan melewati area yang akan terjal sebelum menggapai obyek wisata air terjun Lodovavo. Selain sekadar menikmati obyek wisata itu, para pengunjung terutama dari desa-desa sekitar bisa mengisi waktu mencari ikan aneka jenis, udang, belut seukuran paha orang dewasa, katak, dan lain-lain.

    “Pernah ada warga yang meninggal akibat keseterum listrik genset saat menangkap ikan dan udang. Korban dievakuasi ke darat sebelum dibawa ke kampungnya. Korban meninggal di tempat dan dipercaya sebagai ungkapan amarah penjaga Lodovavo. Meski demikian, Lodovavo tetap dikunjungi warga karena obyek wisata itu termasuk yang digandrungi di selatan Lembata. Selain itu, jaraknya ke obyek wisata sekitar 500 meter dari Atawai, melewati hutan yang masih asri,” kata Gerard, warga Atawai.

    Gebrakan Gubernur Laiskodat

    Pesona Lodovavo dan destinasi wisata lainnya di Lembata jika dilihat belum serius diperhatikan baik oleh Pemerintah Kabupaten Lembata maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur selama 20 tahun Lembata menjadi kabupaten otonomi. Meski demikian, baik kabupaten maupun provinsi menempatkan pariwisata sebagai sektor unggulan dalam menambah pemasukan daerah. Selain itu, akses jalan menuju destinasi wisata mulai diperhatikan.

    Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskdat sudah menunjukkan keseriusan membantu Pemkab dan masyarakat Lembata membuka akses jalan Waijarang menuju Tewaowutung di pesisir selatan Lembata. Langkah ini tentu menjawab kerinduan warga yang sudah 20 tahun lebih menikmati akses jalan ke desa-desa, termasuk obyek wisata unggulan seperti Lodovavo dan obyek-obyek wisata lainnya seperti Lewopenutung di beranda Laut Sawu.

    Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Nusa Tenggara Timur Dr Jelamu Ardu Marius, M.Si mengakui, potensi wisata Lembata luar biasa besar. Semua memikili daya tarik tersendiri. Sebut saja Lamalera, Pantai Bean, Tanjung Atadei, Pantai Labala, Wuloandoni, Jontona, Mingar, Lolong, dan lain-lain.

    “Pak Gubernur Viktor Laiskodat dan Pak Wakil Gubernur Jos Nae Soi menjadikan pariwisata sebagai penggerak utama, prime mover ekonomi daerah. Sejak 2019 beliau berdua giat mempromosikan berbagai potensi wisata NTT di luar negeri. Kegiatan promosi itu baik melalui festival di sejumlah negara di Eropa, Amerika, Selandia Baru maupun negara-negara lain. Tujuannya agar para wisatawan manca negara kenal dan tertarik mengunjungi destinasi kita di daerah-daerah seperti Lembata,” ujar Marius, mantan Kepala Dinas Pariwisata NTT, yang sangat fasih berbahasa Inggris.

    Wisatawan yang berkunjung di Lembata tentu juga dimudahkan akses jalan yang baik, termasuk kesiapan masyarakat dalam memberikan pelayanan prima. Masyarakat juga perlu menyiapkan makanan khas desa, fasilitas mandi, cuci, dan toilet yang  bersih agar wisatawan betah menikmati liburannya.

    “Tahun 2020, Pak Gubenur NTT sudah mengalokasikan anggaran bersumber dari APBD NTT untuk membantu membangun ruas jalan di pesisir selatan Lembata. Kita harapkan agar setiap tahun meningkat dan masyarakat merasakan manfaatnya. Tentu disesuaikan kemampuan karena kabupaten dan kota lain juga perlu diperhatikan,” lanjut Marius.

    Sekadar tambahan. Lodovavo adalah salah satu obyek wisata yang selama 20 tahun otonomi masih terkungkung di tengah nama sejumlah obyek yang mengharumkan nama Lembata. Misalnya, desa nelayan Lamalera yang terkenal dengan tradisi lefa, perbutuan  paus secara tradisional berpijak pada kearifan lokal. Lamalera tak hanya fa,iliar di tingkat nasional, namun manca negara.

    “Lodovavo juga tentu menjadi perhatian semua pemangku kepentingan. Kita akan bekerjasama dengan semua pihak, termasuk media agar ikut mempromosikan wisata Lembata agar makin dikenal,” kata Marius.

    Lodovavo bisa dikunjungi melalui jalan darat kurang lebih 26 kilo meter dari Lewoleba, kota Kabupaten Lembata menuju Atawai. Bila menggunakan kendaraan umum, setiap pengunjung dipungut biaya Rp. 30 ribu per orang. Namun, jika menggunakan jasa motor sewaan, setiap orang mengeluarkan ongkos sewa sebesar Rp. 100 ribu. Bila perjalanan hanya sampai di Boto, maka perjalanan ke Atawai akan dilanjutkan dengan jalan kaki atau menyewa bus kayu dengan ongkos Rp. 10 ribu per orang.

    “Dari Atawai, para pengunjung bisa leluasa menikmati makanan khas seperti jagung titi, emping jagung, ubi-ubian, dan air kelapa segar sebelum menuju Lodovavo. Selain itu pengunjung bisa leluasa membeli souvenir berupa sarung atau selendang hasil kerajinan warga dengan harga yang tak membuat kantong terkuras,” ujar Gerard menambahkan. (Germanus Wisung/adv)

  • Pustakawan Ditantang Lebih Eksis Berikan Informasi

    Pustakawan Ditantang Lebih Eksis Berikan Informasi

    BNC,- Pesatnya teknologi  tentunya memudahkan terjadinya diseminasi informasi. Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, secara khusus menantang para pustawakan untuk berani menuliskan ide-ide serta gagasannya melalui berbagai media, termasuk media sosial. Kongres di Ciawi pada 1973 membawa pesan penting bahwa kata pustakawan merupakan simbol persatuan untuk membangun perpustakaan ke arah lebih maju.

    Hal tersebut disampaikan Kepala Perpusnas saat memberikan arahan pada Peringatan Hari Pustawakan, dan Ulang Tahun ke-47 organisasi Ikatan Pustawakan Indonesia (IPI) sekaligus Seminar Internasional Kepustakawanan yang digelar secara Webinar di Jakarta, Selasa, (7/7).

    Bahkan, jauh sebelum Kongres Ciawi, Presiden Soekarno pada 1959, disebut-sebut telah meletakkan dasar-dasar pentingnya perpustakaan umum. “Namun, ini masih perlu dikaji, ditelaah dan dibahas oleh para pustakawan,” imbuh Syarif Bando. 

    Keberadaan pustakawan di Indonesia diakui memang belum mencukupi jumlah ideal. Tetapi, kondisi ini jangan sampai juga menjadi sebuah paradoks. Di satu sisi mengeluhkan tentang kurangnya tenaga pustakawan, namun di sisi lain lain pustakawan kurang mengambil peran strategis dalam pembangunan.

    Banyak informasi yang bisa dikemas oleh para pustakawan agar menjadi pengetahuan yang menarik. Kepala Perpusnas mencontohkan bagaimana negara Tiongkok menulis sejarah tentang “Jalur Sutera” yang mahsyur. Indonesia harusnya tidak boleh kalah, karena di masa lalu, Nusantara dikenal sebagai salah satu negara kaya penghasil rempah-rempah, seperti lada, pala, cengkeh, dan sebagainya. 

    Pustakawan bisa mengkaji bagaimana bangsa Eropa bersusah payah mendapatkan rempah-rempah. Bahkan, tidak jarang mereka meraihnya dengan cara adu senjata. Kajian tentang Nusantara sebagai jalur rempah dunia bisa mengimbangi informasi tentang Jalur Sutera Tiongkok.

    “Ini pentingnya mempelajari sejarah masa lalu agar bisa mengukur lompatan masa depan,” urai Syarif Bando.

    Selain itu, Kepala Perpusnas juga menyoroti sejumlah program yang belum sempurna dijalankan oleh kepengurusan IPI, seperti membentuk kepengurusan IPI di tingkat kabupaten/kota, membentuk tim penilai di lembaga atau mitra, mengambil bagian diklat asesor dan mengambil bagian tentang standar perpustakaan yang ada. Syarif Bando juga berharap IPI dapat membuat road map pembinaan untuk pengembangan perpustakaan di Indonesia.

    Kepala Perpusnas berpesan agar pustakawan jangan terjebak dengan kegiatan-kegiatan seremonial tetapi minim aksi di lapangan. Padahal, banyak hal yang bisa diciptakan pustakawan seperti tutorial menaikkan partisipasi kegemaran membaca, pentingnya membaca, inklusi sosial, dan sebagainya.

    “Dunia berubah dengan informasi. Dan simbol informasi salah satunya adalah perpustakaan. Siapa yang tidak cinta dengan perpustakaan. Dan saya ingin pustakawan bisa eksis berselancar memberikan informasi dengan menggunakan teknologi,” tambah Syarif Bando.

    Sumber : perpusnas.go.id

  • Musisi Diharapkan  Terus Berkarya di Masa Normal Baru

    Musisi Diharapkan Terus Berkarya di Masa Normal Baru

    BNC,- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mengajak musisi untuk terus berkarya dan meningkatkan kreativitas di masa normal baru.

    Plt Deputi bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh, dalam virtual talkshow “ORKESMU” (Obrolan Kreatif Seputar Musik) bertajuk Tetap Asik Bermusik dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru, Kamis (9/7/2020), mengatakan kreativitas dan inovasi adalah kekuatan dari sumber daya manusia.

    Frans menuturkan, mengasah inovasi dan kreativitas pekerja seni, dalam hal ini musisi, selalu menjadi prioritas Kemenparekraf/Baparekraf dalam upaya pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia ekonomi kreatif. “Kita punya visi menghadirkan orang-orang kreatif dan hebat yang memberikan kontribusi dalam kegiatan pengembangan budaya terutama dalam kerja kreatif,” katanya.

    Oleh karena itu, lanjut Frans, Kemenparekraf/Baparekraf terus berupaya mendukung para pekerja seni untuk terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Salah satunya, dengan pelaksanaan pertunjukan musik virtual di masa pandemi COVID-19.

    “Virtual itu pasti sesuatu yang sangat penting, tapi mengasah rasa ini membutuhkan kerja-kerja yang prima dari semua stakeholder,” ujar Frans. Ia menuturkan Kemenparekraf/Baparekraf juga mempersiapkan protokol kesehatan yang mengedepankan prinsip CHSE (Cleanliness, Health, and Safety Environment) sehingga para promotor acara musik, musisi, dan penikmat musik dapat menikmati konser di tempat terbuka dengan tetap menjaga diri agar tidak terjangkit COVID-19.

    Diskusi ini menghadirkan narasumber dari kalangan musisi dan promotor musik. Mereka adalah Gitaris Band Gigi, Dewa Budjana; composer Tya Subiakto; jurnalis musik senior sekaligus pendiri koran Slank, Buddy Ace; serta CEO Deteksi Production, Harry Koko dan Toar RE Mangaribi selaku moderator.

    Buddy Ace menilai dalam rangka mengembangkan kreativitas dalam berkarya, seorang musisi harus menonjolkan identitas kulturalnya yang dapat membedakannya dengan musisi lain.

    “Kalau kita mau bersaing dengan Korea, kita harus memperkuat identitas akar kultural, itulah makna yang berkembang menjadi brand,” ungkap Buddy.

    Sementara, Tya Subiakto mengajak para musisi untuk senantiasa berinovasi dan tidak kaku dalam berkarya. Tak hanya itu, Tya juga mengajak para musisi untuk mengubah cara pandang terhadap pandemi COVID-19 dari sebuah bencana menjadi suatu kesempatan.

    “Kita harus menyikapi bencana sebagai kesempatan. Semoga kita semua bisa survive dan bangkit dan menghadapinya dengan apa yang ada di kita. Ayo kita asah skill kita, ayo kita manfaatkan dan mencari rezeki di bidang kita yaitu kreatif,” ungkap Tya.

    Dalam kesempatan ini, Harry Koko juga memberikan masukan mengenai penerapan protokol kesehatan yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan konser musik di masa normal baru. Masukan tersebut ialah pembuatan surat pernyataan patuh protokol kesehatan yang ditandatangani oleh pengunjung konser.

    “Di masa adaptasi kebiasaan baru ini, selain protokol kesehatan, pembeli tiket juga disuruh membuat pernyataan agar mau diatur promotor. Jika mereka tidak patuh protokol kesehatan akan kami perlihatkan bukti pernyataan mereka yang mereka tandatangani,” ujar Harry.

    Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Muh. Ricky Fauziyani menambahkan, kedepannya pihaknya akan terus menghadirkan acara serupa dalam upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia khususnya di sektor ekonomi kreatif.

    “Setiap kegiatan akan dibuat sebagaimana layaknya seminar offline dengan memberikan ‘panggung’ kepada para pelaku seni. Tidak hanya sebagai daya tarik dalam acara, tapi juga memberi peluang bagi pekerja seni tetap berkarya di tengah pandemi,” kata Ricky Fauziyani. 

  • Video Storytelling Dinilai Efektif untuk Promosikan Destinasi Wisata Indonesia

    Video Storytelling Dinilai Efektif untuk Promosikan Destinasi Wisata Indonesia

    BNC,- Video Storytelling dianggap menjadi cara yang efektif untuk mempromosikan dan memperkenalkan nilai-nilai atau makna yang terkandung di setiap destinasi wisata yang ada di Indonesia.

    Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, saat Webinar Wisata Heritage bertema “Mengangkat Nilai-Nilai Produk Wisata Warisan Budaya Dunia melalui Video Storytelling” Kamis, (?8/7/2020?), mengatakan sangat penting bagi pelaku pariwisata untuk dapat mengangkat nilai-nilai atau daya tarik destinasi wisata yang ada di setiap daerah. Salah satunya dengan penceritaan visual melalui Video Storytelling.

    Webinar ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari program Kemenparekraf untuk mendiversifikasikan produk pariwisata. Fokus utama saat ini ialah mempromosikan destinasi pariwisata dan memperkenalkan produk-produk pariwisata. Karena pariwisata merupakan sebuah pengalaman yang memiliki nilai atau cerita yang terkandung di balik destinasi wisata yang ada, seperti Subak di Bali misalnya.

    “Orang bilang, subak merupakan sawah berundak, tetapi ternyata sawah berundak di Bali memiliki satu nilai yang berbeda. Nilai-nilai destinasi wisata ini yang harus kita perkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Agar ada rasa bangga, betapa hebatnya nenek moyang kita dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia,” kata Rizki Handayani.

    Webinar Wisata Heritage menghadirkan dua narasumber, diantaranya Ketua Indonesia Heritage Trust/ Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Catrini Pratihari Kubontubuh, menyampaikan materi yang bertajuk “Sejarah Lanskap Sistem Subak dan Produk Wisata di Sekitar Jatiluwih” dan materi kedua mengenai Video Storyteling dipaparkan oleh Content Writer Astrid Savitri.

    Ketua Indonesia Heritage Trust/ Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Catrini Pratihari Kubontubuh, mengatakan bahwa Subak tidak hanya sekadar sawah berundak atau irigasi. Namun, Subak merupakan organisasi petani pengelola irigasi yang bersifat sosio kultural dalam suatu kawasan sawah tertentu, memiliki sumber air, memiliki pura subak, dan bersifat otonom.

    “Setiap orang Bali yang bercerita mengenai Subak tentu menggambarkan gunung, sawah, pura tempat sembahyang, dan ada kegiatan manusia. Sebenernya ini adalah inti sari dari Subak,” kata Catrini.

    Pertama kali muncul istilah terkait pertanian tertulis pada Prasasti Sukawana di Bangli tahun 882 yang menyebutkan lahan dan pertanian huma (sawah) dan perlak (ladang). Sementara Prasasti Klungkung tahun 1071 dan Prasasti Pandak Bandung (Tabanan) tahun 1072 telah menyebutkan istilah Seuwak yang akhirnya dikenal sebagai Subak.

    “Saat ini, jumlah Subak di seluruh wilayah Bali adalah 1.599 Subak, dengan luas sawah 76.000 hektare,” ujar Catrini.

    Pada 29 Juni 2012 UNESCO menetapkan Subak sebagai salah satu dari World Heritage. Uniknya Subak ini tidak ditetapkan sebagai World Heritage bagian dari Nature atau Culture tetapi sebagai bentuk manifestasi dari filosofi Tri Hita Karana.

    Filosofi Tri Hita Karana merupakan harmonisasi kehidupan masyarakat Bali yang menekankan kepada tiga aspek penting yaitu Parahyangan; hubungan manusia dengan sang pencipta, Pawongan; hubungan manusia dengan sesama, dan Palemahan; hubungan dengan lingkungan.

    Hubungan manusia dengan sang pencipta (Parahyangan) menegaskan untuk selalu sujud dan bersyukur terhadap Tuhan, sang pencipta. “Sujud syukur ini bisa terlihat dari upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada para dewa-dewa atas nikmat panen yang telah diberikan. Sebanyak 15 ritual dilakukaan masyarakat Bali dari mulai menanam hingga menuai hasil panen,” kata Catrini.

    Begitupun hubungan manusia dengan sesama manusia (Parahyangan). Masyarakat berkumpul, berorganisasi sehingga terbentuk sebuah alur demokrasi untuk menyampaikan kebijakan-kebijakan yang akan bermuara kepada hubungan dengan lingkungan (Palemahan) untuk saling membantu demi menjaga, merawat, serta melestarikan lingkungan.

    “Sangat jarang di Bali kita melihat sawah itu kotor, tidak ada sampah di saluran airnya. Karena itu semua menjadi tanggung jawab bersama dari anggota Subak. Biasanya ada denda tersendiri jika saluran air terdapat sampah dan kepala Subak punya hak untuk menertibkan hal tersebut,” ujar Catrini.

    Catrini juga menambahkan daya guna wisata yang dimaksud ialah bagaimana sebuah destinasi wisata yang disebut permaculture. Kerja sama antara kegiatan pertanian dan pariwisata, dimana wisatawan diberikan kesempatan untuk melihat, merasakan, dan memiliki pengalaman langsung melakukan kegiatan pertanian bersama petani.

    Untuk menceritakan nilai-nilai yang terkandung di balik Subak dibutuhkan sebuah media yang dapat menggambarkan keindahan serta keunggulannya, seperti melalui penceritaan visual.

    Content Writer Astrid Savitri, menjelaskan penceritaan visual adalah sebuah kisah yang diceritakan melalui media visual, seperti foto, video, simbol, warna, ataupun ilustrasi. Penceritaan visual sangat penting bagi manusia.

    “Karena 90% otak manusia menerima informasi dalam bentuk visual,” ujar Astrid.

    Melalui informasi visual, seseorang akan lebih mudah dan lebih cepat untuk memahami sebuah informasi serta membuat informasi lebih menarik.

    Pada pembahasan Webinar kali ini fokus utamanya ialah menceritakan kisah melalui media visual yang berupa video. Video Storytelling merupakan teknik bercerita menggunakan format video yang menarik. Biasanya digunakan untuk menceritakan sebuah brand, destinasi wisata, atau produk wisata.

    “Dengan Video Storytelling kita dapat memperkenalkan destinasi dan produk wisata dengan menceritakan nilai yang terkandung di dalamnya. Membuat kisah yang dapat menyentuh hati, menyulut hubungan emosional, dan menghadirkan solusi bagi wisatawan yang menyaksikan video tersebut,” kata Astrid.

    Yang menarik dari Webinar Wisata Heritage Seri ini, para peserta diajak untuk mengikuti sayembara storyelling. Dimana peserta mengupload satu postingan berisi dua foto yang mengisahkan Lanskap Budaya Sistem Subak di Jatiluwuh dan sekitarnya serta mengenai daya tarik wisata sejarah, warisan budaya dan religi dari daerah asal masing-masing.

    Kemudian peserta diminta memberikan caption foto yang mengandung elemen storytelling, mencantumkan hashtag #WebinarSubakBali #ShareOurHeritage #NoHeritageNoFuture, dan tag akun instagram @kemenparekraf.ri (*che)

  • Rangkai Community Gelar Konser Virtual dan Talkshow Kekayaan Wisata Alam Indonesia

    Rangkai Community Gelar Konser Virtual dan Talkshow Kekayaan Wisata Alam Indonesia

    BNC,- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia mendukung semangat Rangkai Community yang akan menyelenggarakan virtual music event and talkshow bertajuk “RANGKAI LIVE Ep. 4: Surga di Indonesia”. Kegiatan ini mengajak audiens menjelajah pengalaman seru dan tidak terduga ketika menikmati keindahan wisata alam dari sudut pandang musisi dan bintang tamunya. Dalam RANGKAI LIVE juga akan digelar konser musik virtual yang menghadirkan penampilan dari Sal Priadi dan Raissa Anggiani.

    Redemptus Rangga raditya selaku Co-founder Rangkai Community mengatakan Indonesia memiliki kekayaan wisata alam yang tinggi dan tersebar di banyak penjuru negeri. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa masih banyak objek wisata yang belum diangkat dan dikenal banyak kalangan.

    “Konser virtual beserta talkshow ini dilaksanakan sebagai media untuk mengajak warga masyarakat mengeksplorasi keindahan kekayaan alam Tanah Air yang belum tereksplorasi secara menyeluruh,” kata Rangga dalam keterangannya, Rabu (8/7/2020).

    Nantinya talkshow akan menghadirkan bintang tamu diantaranya finalis Puteri Indonesia 2019 asal Riau, Sabrina Anggraini; atlet jetski nasional, Aqsa Aswar; aktris Agatha Pricilla; dan selebgram Nazla Alifa.

    Mereka akan memberikan informasi mengenai 5 Destinasi Super Prioritas (Labuan Bajo, Danau Toba, Likupang, Borobudur dan Mandalika) serta menggali destinasi wisata baru dari pengalaman bintang tamu yang dapat dikunjungi lagi nantinya dengan protokol kesehatan terbaru. Termasuk pengalaman mereka dalam mengeksplorasi keindahan Indonesia serta berbagi tips bagaimana menemukan destinasi wisata baru.

    “Banyak pengalaman dari bintang tamu yang dapat menceritakan pengalaman dan tips dalam mencari titik-titik objek wisata yang indah di Indonesia. Keindahan Indonesia didukung dengan budaya yang kental, lekat dengan mereka yang peka dan dapat menghasilkan sebuah karya, hasil inspirasi dari Surga di Indonesia,” katanya.

    Sementara konser virtual akan diisi dengan kolaborasi antara penyanyi Sal Priadi dan Raissa Anggiani. Meskipun konser ini berbentuk virtual, Rangga menjamin kualitas audio dari konser ini akan terjaga dengan baik.

    “Pada setiap pertunjukan musiknya, RANGKAI LIVE mengimplementasikan ‘minimalist strip down concert’ atau dapat diartikan sebagai konser dengan spesifikasi peralatan musik yang minimalis. Dengan standarisasi produksi pertunjukan sendiri, RANGKAI LIVE tetap melakukan penanganan tata suara dengan peralatan panggung pertunjukan sehingga akan memiliki kualitas audio-video terbaik bagi penonton dari berbagai media seperti Smartphone, Laptop, Komputer hingga Smart TV,” ujar Rangga.

    Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf Rizki Handayani Mustafa mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap enam proposal event terbaik pada kegiatan Webinar Virtual Events: Best Practise and Ideas yang diadakan pada bulan Mei 2020.

    Hal ini menunjukkan bahwa banyak pekerja event yang tetap bersemangat dan mampu berinovasi dalam membuka peluang baru di era normal baru seperti saat ini.

    “Kegiatan ini diharapkan dapat membangkitkan sektor event di Indonesia dan menginspirasi komunitas event lainnya untuk terus berinovasi,” kata Rizki Handayani.

    “RANGKAI LIVE Ep. 4: Surga di Indonesia” akan ditayangkan secara langsung di akun YouTube RANGKAI LIVE pada Minggu, 12 Juli 2020 pukul 19:00-20:30 WIB secara gratis.(*che)

  • Geowisata NTB Dipromosikan Secara Virtual Lewat Geotourism Festival 2020

    Geowisata NTB Dipromosikan Secara Virtual Lewat Geotourism Festival 2020

    BNC,-  Di tengah pandemi COVID-19 upaya mempromosikan potensi geowisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus dilakukan salah satunya lewat acara virtual Festival Geowisata 2020. Acara ini merupakan salah satu dukungan terhadap enam proposal event pemenang pada program webinar Virtual Events: Best Practise and Ideas pada bulan Mei 2020 lalu, yang merupakan kerja sama antara Kemenparekraf/Baparekraf Indonesia dengan Australia Marketing Institute.

    Kemparekraf/Baparekraf RI memberikan dukungan kepada virtual events “Geotourism Festival 2020”, yaitu festival geowisata pertama di Indonesia ini menjadi ajang mempromosikan potensi wisata dan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di kawasan NTB. “Event virtual tentang geowisata pertama di Indonesia ini didedikasikan untuk para pelaku wisata, pelaku UMKM, dan masyarakat luas yang mau belajar, pantang menyerah, dan mau memanfaatkan peluang,” Kata Melawati dalam keterangannya, Rabu (8/7/2020).

    Nantinya akan ada empat rangkaian acara dalam festival yang dilaksanakan pada 15 hingga 16 Juli 2020 ini yaitu pameran dan eksebisi yang akan memamerkan aneka produk UMKM dan aneka produk wisata di 30 booth virtual dari pelaku UMKM dan pelaku wisata asal Lombok dan Sumbawa. Kemudian webinar tentang pengembangan potensi geowisata yang ada di Indonesia, selanjutnya virtual tour di sekitar Gunung Rinjani dan Gunung Tambora, serta festival budaya dan musik jazz.

    “Dengan memanfaatkan kemudahan teknologi, wisatawan dan penyedia jasa pariwisata dapat tetap berinteraksi tanpa batas dengan siapapun dan dari belahan bumi manapun dengan mudah, murah, dan meriah. Melalui virtual event ini, pelaku industri dan komunitas pariwisata di Indonesia bisa belajar memanfaatkan teknologi untuk menjual produk dan jasa pariwisatanya di masa pandemi covid-19,” ungkap Rizki Handayani, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events), Kemenparekraf/Baparekraf RI

    Festival yang diselenggarakan oleh Rinjani Lombok Geopark Community ini akan melibatkan peserta dari Jaringan Geopark Indonesia (JGI), Jaringan Geopark Asia Pasifik (APGN), dan Jaringan UNESCO Global Geopark di seluruh dunia. Selain itu, peserta umum lainnya juga akan mengundang kelompok-kelompok komunitas, asosiasi, akademisi, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum lainnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

    Bagi calon peserta yang berminat mengikuti acara ini dapat mendaftarkan diri di Http://bit.ly/registrationGF2020 (pembayaran via bank transfer), Geoturismfestival.com (via gopay and PayPal), dan Https://bit.ly/exebhitionGF2020 (exebhition).

    Acara ini rencananya akan dibuka secara resmi oleh Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah pada 15 Juli 2020, pukul 09.00 WITA dan akan dilakukan secara virtual. Selain itu, acara ini juga akan mengundang perwakilan dari kantor UNESCO Paris, Kantor UNESCO Global Geopark Council, Kantor Global Geopark Network, Kantor UNESCO Jakarta, dan Asia Pacific Geopark Network (APGN).

    Kemudian Kemenko Maritim dan Investasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian ESDM, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Komite Nasional Indonesia Untuk UNESCO (KNIU), Badan Geologi Bandung, Jaringan Geopark Indonesia (JGI), dan seluruh anggota Jaringan Geopark Indonesia sejumlah 19 geopark.

    “Temukan ide-ide kreatif kita sendiri nanti setelah mengikuti acara ini. Be there, Be entertained, Be Inspired,” tutup Meliawati, ketua panitia Geotourism Festival 2020.(*che)

  • BEKUP,  Upaya Pengembangan Stratup Lokal Agar Berdaya Saing

    BEKUP, Upaya Pengembangan Stratup Lokal Agar Berdaya Saing

    BNC,- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mendorong ekosistem startup di tanah air dengan meluncurkan program Baparekraf for Startup (BEKUP) sebagai upaya pengembangan stratup lokal agar semakin berdaya saing tinggi.

    Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Josua Simanjuntak, saat Kick Off Road To Baparekraf For Startup 2020 di Jakarta, Selasa (7/7/2020) menjelaskan, melalui program BEKUP, Kemenparekraf ingin membuka kesempatan lebar bagi para pelaku usaha, serta mendorong terciptanya inovasi digital dan kemampuan adaptasi startup lokal untuk meningkatkan kualitas wirausaha.

    “Lewat teknologi digital, kita harapkan akan ada akselerasi bisnis yang membuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dapat pulih dengan lebih cepat. Selain itu, dengan adanya kesempatan yang ditawarkan oleh program ini, para pelaku usaha diharapkan bisa fokus dan berinovasi untuk menjadi solusi dalam menanggulangi dampak pandemi COVID-19,” kata Josua.

    Josua menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki 5 startupterbaik yakni Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, Ovo, dan Gojek yang tercatat telah menjadi decacorn. Berkaca dari dampak ekonomi yang besar dari 5 startup tersebut, pemerintah ingin menumbuhkan startup-startup yang mereplikasi startup unicorn dan decacorn yang ada.

    “Jangan sampai Indonesia hanya jadi pasar, besarnya populasi Indonesia besar pula market. Meskipun penetrasi internet kita rendah di angka 64 persen tetapi jumlah pengguna internet adalah terbesar di Asia Tenggara yaitu 175 juta,”ujarnya.

    Kemenparekraf berharap setelah adanya program ini, startup dapat berinovasi dan menggunakan teknologi agar berdampak positif. Untuk selanjutnya dapat memberikan terobosan bagi masyarakat agar bisa bangkit di masa pandemi ini.

    “Kami ingin menjaring startup digital Indonesia yang berkualitas dan dapat bersaing dengan kompetitif dan bisa memberikan dampak positif terhadap ekonomi kita,” kata Josua.

    Dalam “Kick Off Road To Baparekraf For Startup 2020” hadir Presiden Coworking Indonesia Faye Alund, Co Founder Tiket.com Gaery Undarsa, dan Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Baparekraf Muhammad Neil El Himam.

    Sementara itu, Presiden Coworking Indonesia, Faye Alund, menambahkan bahwa program ini dapat menjadi wadah bagi para startup untuk berkarya dan mengembangkan inovasi secara kompetitif yang menjawab kebutuhan perekonomian Tanah Air.

    “Kami di komunitas Coworking Indonesia percaya bahwa pertumbuhan kewirausahaan dan ekonomi Indonesia dapat dibangun lewat kolaborasi, dan pandemi bukanlah alasan untuk menghalangi hal tersebut,” kata Faye.

    Pendaftaran BEKUP batch pertama tahun 2020 akan dibuka di Jakarta pada 20 Juli 2020. Lalu, akan diikuti oleh batch kedua di Surabaya pada 29 Juli 2020, ketiga di Bali pada 7 Agustus 2020, keempat di Medan pada 20 Agustus 2020, dan kelima di Makassar pada 1 September 2020.

    Lebih dari 500 startup ditargetkan untuk dapat berpartisipasi dalam program BEKUP 2020. Setelah melalui proses seleksi, startup ini akan dibina untuk kemudian dipilih sebanyak 40 startup terbaik yang akan masuk ke tahap inkubasi dengan mentor-mentor berkompeten dalam industri startup digital Indonesia.(*che)