Blog

  • Politik, Konflik dan Jalan Keluar

    Politik, Konflik dan Jalan Keluar

    Oleh Hendrik Berybe, CSsR

    ADA berbagai cara merumuskan apakah politik itu. Misalnya, “politik” sering didefinisikan sebagai “strukturalisasi dan sistem pemerintahan lewat lembaga-lembaga politik yang menjadi implementasi dari demokrasi rakyat”. Demokrasi rakyat mengasumsikan bahwa rakyat adalah subyek dan agen politik tertinggi dan utama, sementara institusi-institusi politik yang ada dengan sistem hukum positif, seperti UUD dan peraturan-peraturan konkret lainnya, menjadi sarana atau instrumentum politik. Tidak bisa dibantah bahwa mungkin inilah satu definisi ilmiah mengenai politik.

    Namun yang menjadi soal atau pertanyaan adalah, mengapa dalam dunia real politik definisi yang indah mengenai politik sering tidak jalan atau tidak operasioanal? Jadi, ada semacam political gap antara politik sebagai ilmu dan politik sebagai praksis hidup. Sebagai contoh, dalam politik praktis sering rakyat yang seharusnya menjadi subyek politik terpojok atau dipojokkan sebegitu rupa sehingga cuma menjadi obyek politik dari sekelompok elit politik dan birokrat yang mempunyai self-interest tertentu. Lalu lembaga-lembaga politik yang ada tinggal menjadi sarana manipulasi politik dan kelompok elit politik dan birokrat demi mendapatkan justifikasi bagi  self-interest mereka.

    Political gap semacam ini ada karena dua alasan. Pertama, tidak semua pejabat birokrat adalah politikus dalam arti yang sebenarnya. Paling tidak sebagian besar dari mereka lebih sebagai pekerja politik daripada orang profesional di bidang politik. Kedua, politik sebagai profesi dalam konotasi ilmiah sering dilepaskan dari etika politik sebagai conditio sine qua non bagi politik sebagai praksis hidup.

    Demokrasi dan The Biased Politics

    Justru demokrasi pada hakikatnya berfungsi menghilangkan dikotomi antara politik de iure dan politik de facto atau antara politik sebagai ilmu dan politik sebagai praksis hidup. Itu berarti bahwa demokrasi adalah suatu proses rasionalisasi politik, yakni upaya agar praksis politik yang dijalankan dapat dijustifikasi berdasarkan kebenaran politik sebagai ilmu.

    Rasioanalisasi politik itu diperlukan agar tidak terjadi apa yang disebut the biased politics atau praksis politik yang membias dari prinsip-prinsip etika politik yang diasumsikan oleh politik sebagai ilmu. Misalnya, dalam praksis politik, berlakulah prinsip etika berikut ini: vox populi suprema lex atau suara rakyat adalah hukum tertinggi. Namun dalam konflik politik yang menyangkut konflik kepentingan seringkali yang menjadi hukum tertinggi dan kata terakhir adalah vox imperatoris (suara sang penguasa).

    Biasanya justifikasi untuk the biased politics tidak sulit dicari. The biased politics sering dibenarkan atas nama atau demi “stabilitas nasional, kesatuan dan persatuan, kelangsungan pembangunan, memblokir kelompok sektarian dan kelompok sempalan”. Biasanya kambing hitam dan tumbal pun dicari agar proses justifikasi terasa lebih canggih, sahih dan meyakinkan. Karena itu, dalam konteks the biased politics ini juga political lie and political violence (tipuan politik dan kekerasan politik) dibenarkan.

    Plato adalag figur politik utama dari the biased politics yang membenarkan, bahkan memperbolehkan tipuan dan kekerasan politik demi demi mempertahankan stabilitas politik dan meredam konflik-konflik politik yang ada. Jadi, menurut Plato, seorang pemimpin politik boleh menipu rakyatnya karena pemimpin itu omniscient (tahu segala-galanya) sedangkan rakyat itu ignorant (tidak tahu apa-apa). Dalam etika politik Plato, akhirnya, tujuan menghalalkan segala macam cara: end justifies all means. Dengan kata lain, bukan cuma penipuan melainkan juga kekerasan politik adalah halal. Tidak usah heran bila Plato menghabisi Socrates yang menjadi momok bagi Plato, sang pemimpin yang tidak lain dari the Philosopher King. Socrates yang menjadi pengkritik utama Plato adalah tumbal bagi etika politik Platonik yang otoritarian.

    Kekerasan Politik Masa Kini

    The biased politics dan etika politik otoritarian Plato yang sudah ada sebelum masehi itu masih tetap hidup juga dalam khasanah politik dunia kontemporer. Seorang pejuang sosial-humanitarian dari Amerika Latin, Dom Helder Camara, mengatakan bahwa “kekerasan (violence) adalah malapetaka (misery) abad kita”. Helder Camara menyebut, sekurang-kurangnya, tiga macam kekerasan abad ini: (a) the violence imposed by the developed world on the underdeveloped world, (b) the violence of ‘heredian’ oppressors, (c) the violence exercised by goverments which support the two forms of violence.

    Kekerasan pertama terjadi pada level internasional. Negara-negara industri dan teknologi maju, lewat ekonomi pasar bebas dan lembaga-lembaga keuangan mondial seperti World Bank, atau IMF dan lembaga-lembaga bantuan dan kerjasama ekonomi dunia seperti CGI, mengeksploitasi negara-negara sedang dari Dunia Ketiga dengan tujuan-tujuan: (a) mengeruk kekayaan alam Dunia Ketiga dan (b) membuat Dunia Ketiga tergantung pada negara-negara industri-teknologi maju dari Dunia Pertama dan Dunia Kedua, (c) lewat ideologi pembangunan sebagai sarana hegemoni.

    Negara-negara dari Dunia Ketiga diupayakan sebegitu rupa sehingga mereka mau tidak mau mesti mengikuti pembangunan atau perkembangan (development theory) di Dunia Pertama dan Dunia Kedua sebagai model yang dijustifikasi secara ideologis. Ini yang biasa disebut sebagai the internationally political, economic and cultural imperialism. Agar ambisi imperialistik ini terjamin, maka para elit birokrat dan teknorat negara-negara industri-teknologi maju dari Dunia Pertama dan Dunia Kedua mencari kaki tangan sebagai kolaborator mereka di negara-negara Dunia Ketiga, lewat lembaga-lembaga kerjasama politik, ekonomi dan budaya yang disusul dengan perjanjian kerjasama dan proses alih teknologi. Dari sini lahirlah kekerasan dari tipe kedua dan ketiga di mana terjadi semacam internal colonialism atau kolonialisme internal.

    Dalam kolonialisme internasional, sekelompok elit politik birokrat dan teknokrat nasional mengklaim diri sebagai the privileged group karena mereka memiliki segala macam akses terhadap kekuatan politik, ekonomi dan kultural sebegitu rupa sehingga dalam percaturan politik dalam negeri self interest kelompok mereka tetap terjamin. Pinjaman luar negeri dan PMA sering dilegitimasikan sebagai upaya mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan karena itu bakal mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Kata pembangunan menjadi agama baru yang setiap saat bisa dipakai untuk membenarkan apa saja yang diinginkan oleh the privileged group menurut pola etika platonik. Biasanya self-interest dan the privileged group dijamin untuk langgeng dengan menciptakan struktur-strukrur politik, ekonomi, budaya dan pendidikan yang ofensif dan opresif. Pengembangan SDM dalam negeri akhirnya tidak lain adalah upaya perpanjangan tangan dari the internal privileged group dan menjadi kolaborator dari the international vested interest groups.

    Demokratisasi, Power Game dan Konflik

    Inilah panorama dari dunia real politik yang sering ditemukan dalam hidup sehari-hari terutama dari Negara-negara dari Dunia Ketiga. Real politik sering menjelam menjadi the biased politics karena politik, mau tidak mau, menyangkut soal kekuasaan atau power. Politik lalu menjadi sebuah power game yang tidak luput dari instink atau nafsu akan kekuasaan dari manusia sebagai animale rationale. Demokrasi sebagai proses rasionalisasi politik adalah upaya agar kekuasaan tidak semata-mata dikomandoi oleh hukum instink manusia melainkan oleh pertimbangan akal budi. Dengan kata lain, politik adalah pertama-tama dan terutama adalah soal membatasi dan memagari kekuasaan politik agar dia tidak menjadi buas dan liar. Singkatnya, demokrasi adalah upaya menjinakan kekuasaan politik.

    Inilah sebenarnya pesan Ibu Pertiwi ketika terbentuknya sebuah negara bangsa. Ibu Pertiwi adalah homonim Indonesianya “the nation-state”. Begitu nasionalisme dimengerti sebagai patriotisme atau cinta tanah air yang mesti bebas dari pamrih. Cinta tanah air yang tanpa pamrih tampak, misalnya dalam tokoh-tokoh nasionalis yang mengutamakan “the common interest” dari rakyat banyak dan memperjuangkan suatu open politics agar salah kaprah dalam politik bisa dihindarkan. Karena seorang politikus tidak luput dari human error maka “kritik dan kontrol terhadap pengemban kekuasaan politik (penguasa atau pejabat) adalah mutlak perlu”. Mengingkari kenyataan ini, dengan dalih dan argumentasi apa pun, adalah sebetulnya sebauah escape, yakni pelarian demi mengamankan the biased politics berdasarkan self-interest pribadi sang penguasa.

    Karena itu, bila ada konflik politik dan konflik kepentingan, maka upaya menghindari suatu pendekatan sepihak dan sikap ingin menang sendiri lewat justifikasi sewenang-wenang adalah mutlak perlu. Pendekatan dan justifikasi dari satu pihak, hanya benar dan pantas bila siap untuk dikritik dan diuji oleh pendekatan dan justifikasi dari pihak lainnya. Hanya dengan cara ini sebetulnya kita dapat mengakses the political truth. Cara ini pantas untuk dicamkan lantaran politik itu menyangkut soal kekuasaan dan untuk menggunakan kekuasaan tidak ada ilmunya. Yang ada untuk itu cuma political wisdom. Kebijaksanaan politik pada hakekatnya bersikap anti kesewenang-wenangan dan main kuasa. Kebijaksanaan politik menuntut agar setiap justifikasi dapat dikalkulasi menurut pertimbangan rasioanal sehingga politikus tidak menjadi barbar dan politik tidak menjadi buas dan liar.

    Political Truth: Politik sebagai Panggilan

    Political truth juga mengasumsikan bahwa perkara paling penting dan hakiki dalam politik bukan soal “siapa berkuasa” melainkan soal “bagaimana orang itu menggunakan dan mengoperasionalkan kekuasaan”. Banyak konflik politik muncul karena politik direduksi ke soal pertama, yakni soal siapa yang berkuasa. Begitu soal “figur politik” menjadi fokus perhatian sehingga soal bagimana memagari dan membatasi kekuasaan agar tidak sewenang-wenang kurang diperhatikan. Di sini yang menjadi soal dasar sebetulnya adalah prinsip legalitas atau konstitusional. Bila politik dibatasi ruang lingkupnya pada “soal berkuasa”, maka ada bahaya bahwa prinsip legalitas diabaikan.

    Contoh paling gamblang dari pentingnya prinsip legalitas ini tampak dalam kasus kepemimpinan Soerjadi versus kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Yang ironis di sini ialah bahwa lembaga tinggi negara setelah Munas PDI mengakui dan menyatakan kepemimpinan Megawati sah. Namun anehnya tanpa ada sebab yang jelas kepemimpinan Soerjadi setelah Kongres Medan diakui sah oleh lembaga tinggi negara sementara sebagian besar warga PDI tidak mendukung kepemimpinan Soerjadi karena legalitas dari Kongres Medan pun tetap menjadi pertanyaan atau soal bagi sebagian besar warga PDI. De facto, kepemimpinan Soerjadi jalan terus. Namun setelah merosotnya perolehan suara PDI dalam Pemilihan Umum 1997 kentaralah bahwa cara Soerjadi mendapatkan kekuasaan untuk menjadi pemimpin PDI tidak direstui dari dalam tubuh PDI sendiri. Karena legalitas Kongres Medan sebagai legitimasi bagi kepemimpinan PDI masih menjadi soal bagi warga PDI.

    Bila soal “siapa berkuasa” yang diutamakan, maka soal legalitas dan prosedur seseorang memperoleh kekuasaan menjadi tidak penting. Bila soal “bagaimana orang itu berkuasa” itu penting, maka prosedur yang  ia tempuh untuk mengemban kekuasaan pun mesti legal dan justifiable pula. Yang tragis bagi kepemimpinan Soerjadi adalah absennya prinsip legalitas dan justifikasi inernal. Dengan kata lain, yang tragis dan ironis bagi Soerjadi ialah bahwa “tujuan tidak menghalalkan segala macam cara”. Menjadi pemimpin yang berkuasa tanpa legalitas atau prosedur yang konstitusional, ditinjau dari etika politik demokratis-humanitarian, tidak dapat dibenarkan, kecuali kalau social political engeneering mau diklaim sebagai prosedur yang secara etis dibenarkan.

    Jadi, demokrasi mengasumsikan bahwa setiap penguasa atau pemimpin memperoleh kekuasaan lewat prosedur yang legal dan justifiable pula. Tanpa prosedur ini yang terjadi adalah rekayasa politik yang melahirkan karbitan. Hal ini juga berkaitan dengan kenyataan bahwa politik, menurut Max Weber, adalah sebuah panggilan. Mengatakan “politik adalah panggilan” berarti bahwa yang menjadi soal bukan cuma “saya mendapatkan sesuatu, yakni jabatan atau kursi, dari kerja politik” melainkan juga “saya memberikan sesuatu, yakni pelayanan atau dedikasi saya, kepada kerja politik”.

    Mengatakan “politik adalah panggilan” berarti bahwa politik menuntut tata krama yang pas. Berpolitik tidak sama artinya dengan ‘boleh apa saja’. Mengatakan “politik adalah panggilan” berarti berpolitik tanpa tangan kotor bukan sesuatu yang mustahil. Jadi, perlulah menolak klaim yang selama ini mengatakan bahwa ‘politik itu kotor”. Mengatakan “politik adalah panggilan” berarti bahwa “menjadi politikus profesioanal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin”. Karena untuk menjadi pekerja politik siapa pun bisa.

    Sumber Tulisan: Majalah Prisma No. 4 Tahun XXVI April-Mei 1997.

  • Mengenal dan Belajar dari Para Pemimpin Besar

    Mengenal dan Belajar dari Para Pemimpin Besar

    Oleh Yakobus Odiyaipai Dumupa

    “Menjadi pintar bukan soal apa saya bisa, tetapi soal bagaimana saya bisa.” (Dumupa Odiyaipai)

    SEJARAH kehidupan manusia telah mencatat bahwa dunia telah melahirkan para ‘Pemimpin Besar’ (yang mempunyai jiwa besar, melakukan perjuangan besar, menerima risiko besar, dan meraih sukses besar). Para ‘Pemimpin Besar’ telah memanfaatkan mandat yang diberikan oleh rakyatnya dengan konsistensi yang tinggi (tanpa menyerah)  untuk memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan rakyatnya, walaupun harus berhadapan dengan berbagai kendala dan tantangan yang luar biasa. Demi meraih impiannya dan impian rakyatnya, mereka tak gentar diteror, dianiaya, dipenjarakan, diasingkan, bahkan dibunuh. Bagi mereka, itu semua adalah konsekuensi dari perjuangan. Karena itulah, kebanyakan dari mereka menjadi idola rakyatnya, bahkan menjadi idola umat manusia yang mencintai dan menghendaki kehidupan yang bebas (dari berbagai belenggu penjajahan dan penindasan), karena sejatinya setiap orang mempunyai hak asasi untuk hidup bebas.

    Dari sekian banyak pemimpin besar, beberapa di antaranya Mohandas Karamchan Gandhi (India), Nelson Rolihlahla Mandela (Afrika Selatan), Fidel Alejandro Castro Ruz (Kuba), Ernesto Guevara Linch de la Seme (Argentina, Kuba, Boivia), Martin Luther King, Jr (Amerika Serikat), Oscar Romero (El Salvador), Paulo Freire (Brasil), Rigoberta Menchu Tum (Guatamala), Hugo Rafael Chavez Frias (Venezuela), Juan Evo Moarales Ayma (Bolivia), Mahmoud Ahmadinejad (Iran), Subcomandante  Marcos (Mexico).

    Adanya penjajahan Inggris atas India, telah melahirkan Mohandas Karamchan Gandhi sebagai pemimpin bangsa dan tokoh kemerdekaan India. Praktik politik apartheid di Afrika Selatan telah melahirkan Nelson Rolihlahla Mandela sebagai penentang dan tokoh pembebas rakyat Afrika Selatan dari praktik politik tersebut. Kekuasaan rezim militer dan korup Flugencio Batista yang menderitakan rakyat Kuba telah melahirkan Fidel Alejandro Castro Ruz sebagai penentang dan tokoh pembebas rakyat Kuba. Praktik Imperialisme dan Neoliberalisme  di Amerika Selatan dan Amerika Tengah (dan juga di seluruh dunia) telah melahirkan Ernesto Guevara Linch de la Serne sebagai tokoh penentang dengan jalan gerilya bersenjata.

    Praktik politik rasialisme di Amerika Serikat yang menjadikan orang Afrika  (berkulit hitam dan berambut keriting) sebagai budak telah melahirkan Marthin Luther King, Jr, sebagai penentang dan tokoh pembebas dari rasialisme. Adanya pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh rezim militer dan korup di El Savador, telah melahirkan Oscar Romero sebagai penentang utama rezim tersebut. Adanya praktek pendidikan yang tidak membebaskan manusia (memanusiakan manusia) di Brasil dan hampir semua Negara, telah melahirkan Paulo Freire sebagai tokoh pendidikan yang membebaskan manusia. Kekuasaan rezim militer di Guetamala yang merampas tanah adat dan membunuh masyarakat adat Indian, telah melahirkan Rigoberta Menchu Tum sebagai penantang dan advokat internasional atas hak asasi masyarakat adat di Guetamala.

    Kekuasaan rezim militer dan korup Venezuela yang menjadi “boneka” Amerka Serikat, sehingga mengorbankan rakyat Venezuela, telah melahirkan Hugo Rafael Chaves Frias sebagai tokoh revolusioner dengan konsep “Sosialisme Abad 21”. Kekuasaan rezim militer dan korup Bolivia yang menjadi “boneka” Amerika Serikat, sehingga masyarakat adat Indian menjadi korban konspirasi antara rezim militer dan Amerika serikat, telah melahirkan Juan Evo Morales Ayma sebagai penentang dan tokoh pembebas masyarakat adat di tanah leluhurnya. Praktik neoliberalisme yang dipraktikan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, yang mengorbankan negara-negara lemah, telah melahirkan Mohmoud Ahmadinejad sebagai tokoh penentang Iran. Adanya praktek neoliberalisme yang oleh Marcos disebut “Perang Dunia Keempat” dewasa ini dan ketidakadilan bagi masyarakat adat Indian di Mexico oleh pemerintah, telah melahirkan Subcomandante Marcos sebagai penentang neoliberalisme dan ketidakadilan dengan “senjata kata”.

    Para pemimpin besar tersebut terpaksa menjadi pemberontak karena dipaksa oleh sejarah penjajahan, diskriminasi, ketidakadian, dan penderitaan yang diterima oleh rakyatnya. Adanya kesulitan hidup, dimana tak terpenuhinya kebutuhan rakyat yang menjadi haknya, menjadi motivasi bagi mereka untuk menjadi pemimpin besar. Kebanyakan dari mereka menimba pengetahuan dari pengalaman hidupnya dan rakytanya yang oleh Evo Morales disebut belajar dari “universitas kehidupan” menyangkut apakah telah, sedang dan kemungkinan akan berjalan normal. Selanjutnya, setelah mengetahui dan memahami ada hal-hal tidak normal yang memalangkan nasib rakyatnya, maka hati nurani mereka tergerak untuk melawan ketidaknormalan tersebut.

    Belajar dari pengalaman, kebayakan kondisi tidak normal (yang kadang-kadang dianggap normal), disebabkan oleh adanya sikap eksploitasi dan dominasi oleh pihak tertentu kepada pihak lain. Yang kemudian hal itu ditandai dengan adanya teror, penyiksaan, pembunuhan, genosida (pelenyapan etnis tertentu secara sistematis), perampokan kekayaan alam, pemaksaan kebudayaan (bahasa, makanan, pakaian, seni, dan lainnya), dan berbagai bentuk kejahatan kemanusiaan lainnya terhadap pihak yang dikuasai atau dijajah.

    Kondisi demikian kemudian menumbuhkan rasa nasionalisme (atau sebutlah “rasa senasib”) sebagai satu komunitas yang terjajah, yang kemudian mendorong mereka untuk bersatu dan menentang penjajahan tersebut. Dalam kondisi demikianlah biasanya pemimpin besar itu lahir. Hampir semua pemimpin besar yang lahir tahu dan paham bahwa penjajahan, diskriminasi, ketidakadilan dan penderiataan tersebut bukan takdir yang wajib mereka terima. Mereka juga tahu dan paham bahwa hal itu bukan wasiat leluhur yang wajib mereka terima. Dan akhirnya, mereka tahu dan paham bahwa hal itu bukan impian yang harus mereka pertahankan dan raih. Bagi mereka, semuanya itu sengaja diciptakan oleh manusia untuk mencari keuntungannya sendiri sambil mengorbankan orang lain.

    Karena itu, para pemimpin besar yang telah lahir dari Rahim sejarah penjajahan, diskriminasi, ketidakadilan, dan penderitaan merasa bahwa “melawan adalah kewajiban suci” untuk mempertahankan dan menyelamatkan harga diri kemanusiaan dan warisan tanah leluhurnya. Dengan memegang prinsip tersebut, mereka telah berjuang menentang segala bentuk penjajahan, diskriminasi dan ketidakadilan. Bahkan mereka telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk berjuang. Bagi mereka, teror, intimidasi, penyiksaan, pemenjaraan dan pembunhan adalah kosekuensi perjuangan yang wajib mereka terima. Tetapi mereka selalu percaya bahwa “mereka akan menang”, dan memang benar kemenangan selalu memihak mereka.

    Apabila para pemimpin besar tersebut telah, sedang dan kemungkinan akan sukses memimpin rakyatnya, apakah kepemimpinannya boleh ditiru oleh orang (calon) pemimpin dan atau pemimpin dan atau pemimpin lain? Sudah pasti boleh! Karena mereka telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin besar, yang dengan jiwa besar melakukan perjuangan besar, tanpa mempedulikan resiko besar untuk meraih sukses besar bagi rakyat yang dipimpin. Orang lain perlu belajar dari mereka karena tiga alasan. Pertama, karena mereka tahu dan paham dinamika penjajahan. Kedua, karena mereka telah bekerja atau berjuang melawan penjajahan. Ketiga, karena mereka telah berhasil meraih cita-cita perjuangan.

    Yakobus Odiyaipai Dumupa, Penulis Buku “Mengenal dan Belajar dari Para Pemimpin Besar”.

    Memang sangat sulit untuk bertemu langsung dengan para pemimpin besar tersebut, karena sebagian dari mereka telah meninggal dunia (ada yang mati sadis karena dibunuh). Tetapi ada yang susah ditemui karena jauhnya jarak yang ditempuh, karena mereka kebanyakan berada di negara yang berbeda-beda. Tetapi kepopuleran nama besar mereka cukup membantu orang lain untuk dapat belajar dari mereka, karena perjuangan mereka cukup terdokumentasi. Di antara mereka ada yang menuliskan riwayat perjuangannya sendiri (otobiografi), ada juga yang perjuangnnya ditulis oelh orang lain (biografi), dan bahkan ada juga yang perjuangannya disebarkan oleh media massa ataupun secara lisan.

    Dari sekian banyak cara untuk belajar dari mereka, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan cara membaca. Dengan membaca otobiografi, biografi, dokumentasi media massa, orang lain dapat belajar bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh para pemimpin besar tersebut untuk diambil hikmahnya. Selanjutnya orang lain dapat meniru sambil menyesuaikan diri dengan kondisi obyektif di arena perjuangan masing-masing. Dengan cara ini orang lain yang telah, sedang dan akan menjadi korban penjajahan dan penindasan dapat mendidik dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin besar di kemudian hari, karena dunia tidak pernah berhenti melahirkan pemimpin besar.

                                 ************

    Sumber Tulisan : “Kata Pengantar” dalam buku Mengenal dan Belajar dari Para Pemimpin Besar, 2012, Penerbit Lembaga Pendidikan Papua.

  • Cony Setelah Tuan Niko Duli

    Cony Setelah Tuan Niko Duli

    NUSA Tenggara Timur mengenal dua sosok orang baik. Satu Prof Dr Cornelis Lay MA (61) dan lainnya, Pastor Nikolaus Duli Lolon Pr. Baik amatana Cony maupun ama tuan Niko sama-sama mengabdi di jalur pendidikan. Bedanya, satu awam, lainnya imam (pastor) dalam Gereja Katolik. Mengabdi di tempat berlainan berjarak ribuan kilometer, saya yakin dua sosok warga NTT di rantau ini bisa saja tak saling kenal. Cony dari Kupang. Sedang tuan Niko dari Mulankera, sebuah kampung kecil di bibir pantai selatan Pulau Lembata, menghadap ke Laut Sawu. Ama tuan Niko mengabdi di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), provinsi di tapal batas perairan Semenanjung Malaka menghadap negeri tetangga, Singapura. Mereka mungkin bersua dalam buku atau artikel-artikel di jurnal atau koran.

    Bu Cony -kalau lidah saya manjakan dengan dialek Kupang- adalah Profesor pada Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Hiruk pikuk urusan politik nasional, bu Cony, salah seorang intelektual dan ahli politik adalah orang yang selalu (di)jadi(kan) rujukan. Selain tentu banyak ilmuwan dan ahli politik lainnya dari kompleks Bulaksumur atau kampus-kampus lainnya di Indonesia. Dari namanya, meski saya orang udik yang baru mengenal beliau dari membaca dan sedikit diskusi dengan saudara-saudari sesama orang kampung dari tanah Flobamora, saya bisa pastikan ia berdarah Sabu.

    Beberapa kali saya inbox beliau via jejaring maya Facebook, amatana Cony baru respon. Senang, tentu. Demi pendidikan, amatana Cony rela pigi melarat (dalam dialek kampung saya), meninggalkan orangtua dan kerabatnya di Kupang. Ia menuju Yogyakarta. “Bu Cony baru saja meninggal tadi pagi di Rumah Sakit Panti Rapih. Saya kehilangan sahabat baik. Seorang intelektual, ahli di bidang pemikiran politik. Orangnya rendah hati dan suka berbagi ilmu,” kata Frans Maniagasi, intelektual Papua lulusan UGM kepada saya pagi ini. “Baru bu Cony ko kenal k tida? Pele….. Itu laki-laki sunggu mati. De pintar sampe…..,” kata Maniagasi. Maniagasi, analis politik asli Papua kagum pada Cony, memuji kehebatan dan kemampuan koleganya. Ia menyarankan agar kalau diskusi mendapat ilmu dan nasehat, saya bisa bertanya pada Cony, sesama orang kampung dari NTT. “Siyap dan hormat dibri, kaka tuan,” kata saya menimpali usulan Maniagasi gaya Papua.

    Kabar Cony pukul 05.00 WIB membuat mata Maniagasi sembab. Air matanya gugur mengenal Cony, seniornya di jurusan Politik dan Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. Anak Kupang dan Papua itu bersahabat sejak 30 tahun lalu tatkala Maniagasi diterima di Fisipol UGM tahun 1981. “Cuma saya satu-satunya mahasiswa dari Irian Jaya saat itu. Sehingga dia jadi abang saya di kampus. Ada teman-teman lain dari NTT yang seangkatan tapi Cony jadi jangkar buat kami-kami. Ada uang 200 ribu dia panggil dan tanya saya. ‘Sudah makan?’ Kalau saya bilang belum, dia kasih 15 atau 20 ribu saya beli makan. Sampai hal-hal seperti itu. Selain bicara dan diskusi tentang ilmu-ilmu sosial dan politik,” kata Maniagasi pada saya.

    Tuan Acong

    Ket. Foto: Nikolaus Duli Lolon, Pr. Foto oleh Stefan Kelen, Pr

    Sosok lain adalah Romo Diosesan (RD) Nikolaus Duli Lolon Pr. Di kampung sapaan sopan adalah tuan/bapa tuan Niko. Tuan Niko saat dipercaya sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bentara Persada Batam, Keuskupan Pangkalpinang. Kemarin ia pamit ke rumah-Nya di Rumah Sakit St Carolus, Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat. “Romo Niko Duli adalah imam diosesan Keuskupan Pangkalpinang. Ia sosok imam yang potensial bagi umat, terutama orang muda Katolik. Selama ini ia mempunyai kontribusi besar membangun metode pemberdayaan OMK di Keuskupan Pangkalpinang dengan membentuk lembaga out bond La Vita. Istilah kata bahasa Latin yang berarti hidup dan bertumbuh,” kata ama tuan Stefan Kelen Pr, Ketua Komsos Keuskupan Pangkalpinang.

    Badan tuan Niko Duli tinggi. Ia ramah, cerdas dan mudah bergaul. Ia membangun La Vita dan membentuk tim pastoral kaum muda untuk menjadi trainner atau pelatulih di La Vita. Keuskupan Pangkalpinang tugaskan beliau masuk Jakarta untuk kuliah hukum di Universitas Atmajaya. Ia lulus dengan predikat summa cum laude. Ia langsung disuruh lagi studi S-2 bidang ator sumber daya manusia di kampus di bilangan Semanggi itu. Ia raih S-2 Magister Manajemen. Usai rampungkan S-1 dan S-2 tuan Niko balik Pangkalpinang. Uskup Hilarius Moa Nurak SVD (Alm) kasi anak nelayan ini jadi Ketua Yayasan Tunas Karya (YTK), Pangkapinang. Yayasan ini tangani 44 sekolah Katolik di Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Selama menjadi Ketua YTK ia bangun sistem dan manajemen SDM di lingkungan yayasan. “Beliau sangat akrab dengan para tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah-sekolah di lingkungan YTK. Ia sosok yang humoris, tidak menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang harus disembah. Tidak mengkomunikasikan kultur feodalistik dari gayanya memimpin. Ia selalu membuat kajian sebelum menetapkan suatu kebikakan umum berkaitan dengan YTK sebagai lembaga publik. Ada transparansi dan akuntabilitas yang ia tunjukkan,” kata tuan Stefan Kelen, pastor dari kampung di Flores Timur, ujung timur Pulau Flores.

    Tuan Niko Duli juga peduli dengan masyarakat kecil tak berdaya. Selain turun ke tengah masyarakat, ia juga menulis gagasan-gagasan profetisnya di Bangka Pos, koran lokal. Ia adalah Imam Projo pertama Pangkalpinang yang ikuti seleksi jadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Bangka Belitung. Namun, ia tidak lolos seleksi, hanya berada di urutan ke 6. Pesentasi makalah di hadapan tim seleksi, ia sangat mampu kasi argumentasi. Ia sungguh menguasai materi. Di luar itu, tuan Niko adalah sosok humoris. “Kami menyapanya ‘Romo Acong’. Setiap ia berkesempatan memimpin Misa selama ia kuliah di Jakarta, Acong adalah nama rekaan pedagang yang diangkat dalam kotbah. Karena itu kami menyapa dengan nama nama ‘Romo Acong’. Romo Niko suka melucu dan mengundang tawa,” kata Petrus Bala Pattyona, praktisi hukum asal kampung Kluang, Desa Belabaja, Lembata.

    Tuan Niko lahir di Mulankera, Desa Atakera, Lembata, 15 Agustus 1965. Ia lahir dari ayah-ibu Matias Laba-Juliana Barek Koban. Dibaptis di Mulankera pada 26 Agustus 1967 dan ditahbiskan jadi imam di Lekebai, Flores pada 19 September 1999. Alm menyelesaikan SD di SD Katolik Bersubsidi Labala, Wulandoni tahun 1975 -1980. Ia kemudian masuk SMP St. Pius X di Lewoleba tahun 1980-1983. Ia kemudian masuk SMA Kawula Karya Lewoleba, Lembata tahun 1983-1986. Masuk Tahun Orientasi Rohani di Seminari Tinggi St. Petrus, Sinaksak, Pematangsiantar dari Tahun 1986 s/d. 1994. Kemudian Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Regina Pacis, Tanjungpandan, Belitung Agustus 1995-1996. Ia lalu kuliah di STFT Widya Sasana, Malang September 1996-April 1999.

    Ia pernah membantu Paroki Pangkalpinang mulai 1 November 1999-2022. Berturut-turut ia Delegatus Komisi Kepemudaan, 1 April 2002s-2006; Ketua Pengurus Asrama St. Theresia mulai 1 Juni 2002 – 30 Juli 2005; Pastor Pembantu Paroki Pangkalpinang mulai 1 Juni 1998-Oktober 1999. Lalu Anggota Dewan Imam Keuskupan Pangkalpinang & Perangkat Tribunal & Hakim Keuskupan Pangkalpinang mulai 1-Jun-2005-1-Jun-2008; Ketua Badan Penyelenggara Seminari Menengah Mario John Boen Keuskupan Pangkalpinang per 1 April 2011; Ketua Yayasan Tunas Karya Pangkalpinag 2011-2015; Anggota Tim Penyusun Buku Sinode II Keuskupan Pangkalpinang sejak 27 Agustus 2011. Terakhir ia menjabat Ketua Sekolah Tinggi Bentara Persada Batam sejak 2013.

    Rabu pagi (5/8) pukul 08.30 WIB tuan Niko bertolak dari Jakarta ke Pangkalpinang. Tuan Niko meninggalkan RS St Carolus Jakarta. Ia segera berada Katedral St. Yosef Pangkalping. Pagi ini juga bu Cony segera ke rumah-Nya via RS Panti Rapih Yogyakarta. Guru Cony dan tuan Niko memenuhi panggilan Tuhan Sang Sabda. Selamat jalan, amatana Cony. Selamat jalan, ama tuan Niko. NTT tentu kehilangan dua guru rendah hati dari rahim Flobamora.

    Jakarta, 5 Agustus 2020
    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    Untuk amatana Cornelis Lay & ama tuan Niko Duli Lolon

  • Amon Djobo, Ones Laa, dan Dugong

    Amon Djobo, Ones Laa, dan Dugong

    ALOR menyimpan sejuta pesona. Entah pesona wisata alam maupun budaya. Di bidang lain jangan tanya lagi. Olahraga atau seni, misalnya, Kabupaten Alor juga punya nama mentereng. Kabupaten yang behadapan muka dengan Pulau Lembata, Indonesia atau berjarak sepelemparan batu dari Atauro, pulau di Republik Demokratik Timor Leste atau Timor Leste, negara adalah wilayah terluar Indonesia yang terbilang unik dan mistis. “Kalau anak panah sudah dilepaskan dari busur untuk melumpuhkan musuh ia akan mencari sendiri sasaran yang dituju. Panah Alor akan melumpuhkan Komodo, Paus atau Kuda Sandel. Tim Nusa Kenari akan menggunakan ilmu hitam paling sakti untuk melumatkan setiap pergerakan lawan di bawah mistar gawang. Tim-tim luar Timor akan pulang membawa duka dan Alor akan “terbang” ke markasnya bermodal selembar daun,” kata Justin, teman loper koran saya saat kami berada di Tribun bagian barat Stadion Oepoi Kupang menyaksikan laga El Tari Memorial Cup tahun 90-an, turnamen bola antartim memperebutkan Tropi dan hadiah turnamen yang digagas mantan Gubernur NTT El Tari.

    Alor memang memiliki daya tarik luar biasa. Tak sebatas kisah-kisah mistik yang membalut kabupaten nan eksotik itu di bibir pantai Lembata bagian timur. Bahkan lebih dari itu. Alor memiliki daya tarik tersendiri. Al Quran dari kulit kayu pun ada di Alor. Anggota DPR Adji Massaid merasa terharu saat menyambangi Alor. Kata Adjie saat saya sambangi di ruang kerjanya, kompleks DPR RI, mengaku kabupaten itu menyimpan pesona luar biasa besar bagi pengunjung. Masyarakatnya sangat ramah; sesuatu yang juga menjadi kerinduan wisatawan saat menghabiskan waktu berhari-hari mengakrabi pesona bawah laut pulau-pulau di wilayah Kabupaten Alor. Mari menikmati pesona nan eksotik pulau-pulau mungil lainnya seperti Pulau Kepa, Pantar, Rusa, dan lain-lain. Sumber daya manusia Alor pun meroket ke tingkat nasional. Syahrir Ika, dosen dan orang penting di Bagian Analisa Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia adalah putera Alor. Masih ingat Hasan Azhari Oramahi, penyiar TVRI era 1980-an segenerasi Luther Kalasuad, Dian Budiargo, Max Sopacua, Indirwan, Yan Partawijaya, Yasir Denhas, dll, adalah wartawan senior dari Alor.

    Atau sekadar menyebut Irjen Pol Drs Johni Asadoma, SIK, M.Hum, Ketua Umum Pertina, mantan Wakil Kepala Polda NTT yang sejak 17 Juli 2020 mengemban amanat sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri. Pun Dr Imanuel Ekadianus Blegur, mantan Ketua Umum GMKI dan staf Gubernur Viktor Laiskodat adalah putra Alor yang mengabdi di tingkat nasional. Berikut Thobias Tubulau, Asisten Deputi Industri Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia adalah putra Alor yang mengabdi di tingkat nasional. “Kita bekerja dengan hati agar berarti bagi bangsa dan negara. Kita bantu juga daerah kita sepanjang kita bisa,” kata Thobias kepada saya suatu waktu di sela-sela Raker dengan Menteri Pemuda dan Olahraga dan jajarannya dengan Komisi Olahraga DPR RI di Lt 1 Gedung Nusantara Senayan, Jakarta. Lalu balik ke kompleks Universitas Kristen Artha Wacana Kupang ada Dr Johni Lumba, Dekan Fakultas Ilmu Keguruan. Lalu bergeser ke Pulau Dewata ada Yabes Malaifani, pemain betkarakter yang tengah merumput di Bali United. Pun Andmesh Kamaleng, finalis Indonesia Idol 2018 adalah anak-anak Alor yang mengharumkan nama daerah dan tanah Flobamora.

    Festival Dugong

    Amon Djobo, Bupati Alor mengaku kabupaten yang ia pimpin menyimpan pesona wisata luar biasa besar. Festival Dugong di Pantai Mali adalah salah satu event pariwisata dari Alor bagi tak sekadar memanjakan mata warga Alor dan NTT namun persembahan terindah bagi para pelancong dalam dan luar negeri. Apa keunikan Festival Dugong? Ini pertanyaan menarik. Dugong atau ikan duyun bisa dipanggil masuk ke Pantai Mali dan mata wisatawan leluasa menyaksikan ikan itu pada saat pembukaan Festival Dugong di Mali. “Tahun 2009 saya bersama isteri menanam anakan mangrove dan bibit kelapa di Mali. Isteri saya malah protes. Mau urus anak kuliah atau urus tanam mangrove? Saya bilang kalau kita tidak tanam, merawat yang ada saya sudah cukup membantu menjaga kelestarian ekosistem pantai untuk masa depan alam dan lingkungan kita,” kata Onesimus Laa.

    warga Alor dengan Kain Adat

    Ones menjauh dari isteri, menyelam lebih dalam ke tengah arus Mali yang menantang. “Saat menyelam saya bertemu duyun. Saya mengakrabinya. Mengelus-elus badannya. Duyun itu akhirnya menjadi teman setia. Kapan saja saya bisa panggil ia akan datang seperti teman akrab. Dunia geger saat saya bersama tim WWF selam dan saya bisa akrab dengan duyun layaknya manusia. Sejak 2019, Pak Bupati Alor Amon Djobo menyelenggarakan Festival Dugong dihadiri langsung Pak Gubernur. Tahun 2020, Pak Gubernur datang lagi. Saya hadirkan dugong, duyun itu dan menjadi tontotan ribuan warga. Tahun 2021, Pak Gubernur berencana mengundang para duta besar negara-negara sahabat untuk datang menyaksikan langsung duyun dalam Festival Dugong di Mali,” ujar Ones.

    Festival Dugong

    Warga Alor I Gusti K Malua mengaku, Alor memiliki daya tarik luar biasa. Berbagai langkah yang diambil Bupati Amon Djobo dan jajaran Dinas Pariwisata Alor merupakan langkah cerdas mendukung program Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat yang menjadikan pariwisata sebagai prime mover, penggerak utama pembangunan NTT. Gusti, sarjana Bahasa Inggris lulusan Undana Kupang, mengaku di sela-sela menunaikan tugasnya sebagai guru ia juga diam-diam ikut membantu Dinas Pariwisata Alor mempromosikan potensi pariwisata akan makin dikenal dunia internasional.

    Festival Dugong

    “Langkah ini memang kecil. Namun, membantu Pemerintah Kabupaten Alor dan Dinas Pariwisata setempat mempromosikan berbagai destinasi wisata daerah adalah bagian tanggung jawab sebagai warga Alor. Cinta budaya dan pariwisata bisa kita wujudkan dalam bentuk promosi. Alor dan pulau-pulanya memiliki keunggulan di bawah laut seperti pulau-pulau kecil lainnya di NTT. Pesona sun set Alor tak jauh seperti memandang Pulau Semau dari Pelabuhan Tenau atau Bolok di Kupang,” kata Gusti Malua, Kepala SMP PGRI Alor. “Keunikan Festival Dugong ini adalah bagaimana pengunjung menyaksikan langsung om Ones berenang dan membawa langsung duyung ke bibir pantai kemudian dilihat langsung pengunjung,” kata Yanto Padabain, staf Dinas Pariwisata Alor.

    Festival Dugong

    Menarik wisatawan dunia

    Tahun 2019, untuk pertama kalinya digelar Festival Dugong (Duyun) selama satu minggu yaitu mulai 19-25 Juli di Pantai Wisata Mali, Kecamatan Kabola, kurang lebih 12 kilo meter dari arah utara Kalabahi, kota Kabupaten Alor. Tujuan festival ini salah satunya mendorong semangat masyarakat setempat untuk mengembangkan pariwisata yang berbasis lingkungan dan alam (eco tourism). Juga bermaksud agar duyung atau dugong tetap dilindungi, tidak punah sehingga menjadi daya tarik turis dorang ke Alor. Termasuk turis lokal dari Lembata, pulau tetangga. Awal festival, diawali dengan prosesi kaka Ones berenang pigi panggil duyung, dugong di pesisir pantai Pulau Sika, kurang lebih 20 menit pelayaran dari bibir Mali. Di perairan Sika (bukan Kabupaten Sikka di Flores), ada “pasutri” duyung hidup bersama anak mereka selama bertahun-tahun.

    Onesimus Laa

    Kaka Ones seperti manusia sakti yang “pake pake”? Bisa saja. Laki-laki Alor berkulit legam ini sudah lama bertemu dan bersahabat dengan duyun. Itu tadi, sejak 1999 dan dikisahkan kaka Ones kepada wartawan Media Indonesia, milik Surya Paloh. Suatu sore, ketika Onesimus selesai menanam bakau di pesisir pantai Pulau Sika, ia turun ke laut untuk mengambil perahu. Saat kembali itulah, Onesimus melihat dua ekor dugong berenang di samping perahu. Seekor dugong berenang di depan perahu dan satu lagi berenang di belakang perahu. Dua dugong ini mengantar Ones hingga pantai Mali.Keesokan harinya saat dia kembali dari Sika, dua dugong tersebut kembali mengantar Ones. “Hari ketiga, saya lepas jangkar perahu dan tunggu. Dua ekor dugong itu muncul lalu saya mengulurkan tangan dan keduanya mencium tangan saya. Dari situ naluri dugong masuk dalam pribadi saya,” kata Ones.

    Festival Dugong

    Sejak itu, ia bersahabat dengan Dugong hingga saat ini, seperti terlihat saat dia memanggil dugong untuk bertemu pengunjung selama dua hari sejak Jumat (19/7) dan Sabtu. Begitu perahu tiba di lokasi kemunculan dugong, Ones kemudian memanggil nama mamalia tersebut mengunakan bahasa daerah Kabola beberapa kali. “Bu lamoli go, mao, hao,” ujarnya beberapa kali.Tidak kurang dari satu menit, seekor dugong jantan muncul dari arah depan perahu dan berenang mengelilingi perahu sekitar 10 menit sebelum diperintahkan pulang. Menurut Ones, dugong yang muncul tersebut memiliki panjang hampir tiga meter dan berat sekitar 300 kilogram. Dia menyebutkan, mamalia itu muncul sendirian karena sang betina tengah bersama anaknya. “Anak dugong belum bisa menyesuaikan diri dengan tamu sehingga tidak muncul,” kata Ones saat saya ngobrol dengan beliau (3/8) kemarin.

    Festival Dugong

    Prosesi tersebut bagian dari festival panggil dugong yang dibuka Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Saat membuka kegiatan, Viktor mengatakan festival tersebut akan dikembangkan agar berkualitas internasional, mulai dari fasilitas kapal, atraksi budaya, akomodasi, kuliner dan kerajinan rakyat sehingga menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru di Alor. “Persiapan festival dugong 40% bagus, tinggal dipoles lagi agar mendakati 100%,” ujar Viktor yang didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Jelamu, dan Kepala Dinas Periwisata NTT, Wayan Darmawan, dan sejumlah pejabat lainnya.

    Menurut Viktor, pada festival panggil dugong ke-2 pada 2020, akan dihadiri Presiden RI, Joko Widodo. “Saya sudah lapor presiden dan akan hadir pada festival tahun depan,” kata Laiskodat kala itu. Viktor, mantan Ketua Fraksi NasDem DPR RI mengatakan, setelah seluruh persiapan rampung, kegiatan menonton dugong hanya dibuka dua kali dalam setahun. Hal itu bertujuan menjaga dan melindungi dugong bersama makanan dugong, yakni padang lamun di perairan tersebut. Nah, akhir pekan lalu selepas menjauh dari bibir pantai selatan Lembata, Viktor dan rombongan menyapa Mali. Dari Mali ada secercah asa, menjadikan Festival Dugong magnet baru menjadikan pariwisata NTT prime mover pembangunan. Dimulai dari bibir Mali nan eksotik, kabupaten yang dikawal Bupati Amon Djobo dan.kaka Ones, “manusia sakti” yang bisa panggil duyung untuk memanjakan mata turis (baca juga dalam https://radarntt.co/daerah/2020/amon-ones-dan-dugong/).

    Jakarta, 4 Agustus 2020
    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    staf Viktor Laiskodat di DPR


    Sumber foto: google, Yanto & Fb. Marius Jelamu

  • Penulis Obituari yang Memikat, Sisi Lain Ajip Rosidi

    Penulis Obituari yang Memikat, Sisi Lain Ajip Rosidi

    Ajip Rosidi, lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938. Ia tidak menyelesaikan pendidikannya hingga di Taman Madya (setingkat SMA)  di Taman Siswa Jakarta. Dalam jagad sastra Indonesia namanya mulai dikenal sejak 1952. Ia menulis puisi, cerita pendek dan roman. Tak hanya dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis dalam bahasa Sunda. Ketika berumur 17 tahun, 1955, ia menerbitkan bukunya yang pertama dengan judul Tahun-tahun Kematian.

    Ket. Foto Ajip Rosidi

    Ajip Rosidi tidak saja terkenal piawi menulis sajak, cerpen, roman, tetapi ia juga penulis obituari yang mumpuni. Dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain, Sejumlah Obituari, Kepustakaan Populer Gramedia, Ajip Rosdi, sastrawan yang menulis sejak berusia 12 tahun ini, menulis dengan sangat indah dan berbagi kenangan tentang orang-orang yang pernah ia kenal dari orang-orang sederhana hingga  orang-orang terkemuka. Dalam buku itu Ajip merefleksikan hidup dan sisi unik para sahabatnya seperti Pram, Rendra, Asrul Sani, Sobron Aidit, Ramadhan K.H., Utoy T. Sontani, Ali Sadikin, Moh. Gozali (seorang penjaga museum). Sikap kerendahan hati dan keakraban Ajip memampukannya menulis sisi humanis para sahabat yang ditulisnya.

    Dengan gaya bahasanya yang memikat Ajip menggambarkan para tokoh yang ditulisnya menjadi tokoh yang istimewa.  Tentang Pram misalnya,  ia menulis:

    “Pram adalah individualis yang keras mempertahankan hak-haknya dalam setiap kesempatan. Untuk itu dia tidak mengenal basa-basi. Pada tahun 1976 ketika para tahanan politik Pulau Buru akan dibebaskan karena tekanan dunia internasioanal, nama Pram termasuk yang pertama akan dibebaskan, karena dialah yang paling dikenal di dunia internasional. Sebelum pembebasan dilakasanakan, Panglima Kodam Maluku berkunjung dari Ambon ke Pulau Buru dan diantaranya mengambil kesempatan untuk beramah-tamah dengan para tapol, antaranya dengan Pram. Ketika Panglima bertanya kepada Pram , “Bagaimana Pak Pram, selama di sini baik-baik saja, kan?”

    Pram tidak menjawab pertanyaan basa-basi itu dengan basa-basi lagi, melainkan dengan tegas menunjukkan kenyataan bahwa sebagai tahanan politik dia bersama-sama dengan orang lain dirampas hak-hak sipilnya dan bahwa selama itu mereka tidak diperlakukan tidak sebagai warga negara merdeka. Tentu saja jawaban itu di luar dugaan Panglima, sehingga Panglima marah dan memerintahkan agar Pram jangan dulu dibebaskan. Karena itulah Pram baru dibebaskan dua setengah tahun kemudian.” ( “Pramoedya Ananta Toer Individualis Tulen”).

    Pada tulisan yang lain “R. Satjadibrata, Penyusun Kamus Sunda Pertama” Ajip mengisahkan:

    “Ketika S. Takdir Alisjahbana sedang berceramah dalam Pekan Buku Balai Pustaka di gedung Balai Pustaka Jl. Wahidin Jakarta, tanggal 26 Agustus 1969, seorang tua yang usianya sudah lanjut benar dengan langkah-langkah goyah dan tangan gemetar, maju ke depan memotong pembicaraan penceramah, meminta waktu untuk menyampaikan isi hatinya. S. Takdir Alisjahbana yang mengenal orang tua tersebut, memberikan kelapangan waktu. Dia turun dari mimbar dan orang tua yang sudah lanjut itu berdiri menggigil di depan mimbar kemudian ditolong naik mimbar. Ia meminta maaf karena telah memotong pembicaraan penceramah, tetapi tak bisa berbuat lain karena ia merasa takkan sanggup mengikuti ceramah itu sampai habis lantaran uzur.

    Kemudian ia mengungkapkan isi hatinya, yaitu pentingnya Balai Pustaka menerbitkan buku-buku bacaan. Kalau tidak dapat menjalankan fungsinya itu, dia menyarankan agar Balai Pustaka lebih baik ditutup saja. Dia juga menyinggung nasib cetak ulang Kamus Bahasa Sunda yang disusunnya dan sudah direvisi oleh Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat namun keburu meninggal sebelum pekerjaan itu selesai namun demikian kamus revisi itu tidak juga dicetak ulang. Orang tua tersebut tidak lain R. Satjadibrata, pengarang kenamaan dalam bahasa Sunda, pernah lama menjadi redaktur Balai Pustaka.”

    Ajip, penulis Mengenang Hidup Orang Lain, Sejumlah Obituari, itu kini telah berpulang. Ia telah bersua dengan para sahabatnya yang pernah ia tulisi obituari mereka.

    Paskalis Bataona

  • Rapuhnya Birokrasi Kita

    Rapuhnya Birokrasi Kita

    Oleh Alois A. Nugroho

    APA komentar Peter Drucker seandainya ia masih bisa membaca bahwa, dalam penilaian para pemuka lintas agama, birokrasi negara kita sangat rapuh sebagai akibat dari mudahnya para penegak hukum dipengaruhi uang? (Kompas, 21 Januari 2011). Salah satu kemungkinan Peter Drucker yang dijuluki “bapak manajemen modern itu” akan berpaling pada “bapak filsafat eksistianlisme”, Soren Kierkegaard (Drucker, 2010: 47-61).

    Peter Drucker

    Keabadian sebagai Alteritas

    Kierkegaard menjadi relevan karena menyadarkan kita tentang adanya ketegangan dalam eksistensi manusia. Ketegangan itu terjadi antara eksistensi manusia dalam waktu dan eksistensi manuasia di luar waktu. Kita menyebut eksistensi manusia dalam waktu itu sebagai “hidup” dan menyebut eksistensi manusia di luar waktu sebagai “ada” (being). Dalam dimensi “hidup” horison imajinasi manusia adalah “mati”. Dalam dimensi “ada”, horison imajinasi manusia adalah “keabadian”.

    Dalam ilmu administrasi, kita sudah belajar dari Stephen Covey bagaimana “kematian” menjadi horison imajinasi bagi birokrat dan manajer yang “proaktif” dan dengan demikian “efektif”. Di sini berlaku pula dalil Heidegger, bahwa orang yang otentik ialah yang memiliki anticipatory resoluteness terhadap kematian karena manusia adalah Sein-zum-Tode (Ada–ke-arah-kematian).

    Orang proaktif, begitulah Covey, ialah orang yang peduli pada apa yang dipikirkan para pelayat tentang dirinya tatkala dia sudah terbujur sebagai jenasah. Bagi Covey, orang “efektif” ialah orang yang peduli pada “kenangan” yang akan tetap tumbuh dalam hati dan pikiran banyak orang ketika dirinya sudah tidak hidup lagi.

    Dalam dimensi keabadian, kenangan orang-orang lain waktu kita mati bukanlah masalah utama. Masalah utama adalah bagaimana dalam hidup ini eksistensi sebagai “keabadian” dapat diaktualkan. Bagaimana dapat diwujudkan dalam perilaku konkret hidup sehari-hari di dunia sekarang, bahwa eksistensi kita punya dimensi “eternitas”. Dalam bahasa para agamawan, itu kurang lebih berbunyi bahwa eksistensi kita “tidak berasal dari dunia ini”.

    Bagi Kiergegaard, dua dimensi itu berada dalam ketegangan. Eksistensi dalam waktu mendorong manusia untuk berkembang biak, agar spesies bertahan dan tumbuh kuat, untuk menafkahi hidupnya dan anak cucunya, untuk meraih kekuasaan, kemuliaan, kejayaan. Eksistensi dalam keabadian mendorong manusia untuk bergerak ke arah yang sebaliknya. Mengendalikan nafsu, sabar, berani mengalah, bela rasa, selalu siap mengampuni, adalah beberapa sikap yang dipupuk oleh eksistensi diri sebagai keabadian.

    Penghayatan eternitas oleh eksistensi yang juga fana ini tidak jarang menimbulkan kecemasan (fear and trembeling). Bayangkan Anda bangun tidur dan tiba-tiba tersadar bahwa suatu saat Anda akan mati, tetapi akan tetap “ada” dan tidak dapat men-delete “ada’ Anda.

    Perwujudan eksistensi eternitas dalam dunia temporal sering menimbulkan tragedi, bhkan juga di kalangan para pemuka agama. Secara tragis, agama dapat “jatuh” dan berubah menjadi usaha pribadi atau usaha bersama untuk mengakumulasi kekayaan, kekuasaan, kemuliaan, kejayaan duniawi. Buku harian Soren Kierkegaard sendiri, memuat banyak kritik atas praktik “organisasi dan administrasi” agama yang tragis.

    Mengingat jauhnya perbedaan antara dua dimensi itu, bersama Hannah Arendt bisa kita katakan bahwa dimensi keabadian ialah “alteritas” dari dimensi keberwaktuan. Kita sering “banal”, “pragmatis” atau “mencari mudahnya saja”, dengan menutup mata dan telinga terhadap “alteritas”. Eksistensi kita sebagai keabadian tidak diajak berunding. Kita menganggap eksistensi keberwaktuan sebagai eksistensi keabadian.

    Suara Hati Birokrat                           

    Dalam konteks pemikiran Hannah Arendt, birokrat dan penegak hukum yang tidak “banal” ialah birokrat dan penegak hukum yang peduli terhadap “alteritas” berupa eksistensi sebagai keabadian. Mereka mendengarkan suara keabadian, suara “yang lain” dalam diri, yang dalam bahasa sehari-hari disebut “suara hati” atau “hati nurani”.

    Hannah Arendt

    Dimensi keabadian perlu dipedulikan dalam perilaku profesional maupun perilaku sehari-hari, tidak hanya pada saat beribadah. Jangan sampai dalam perilaku profesional, para birokrat dan penegak hukum semata-mata bertindak atas “dorongan untuk hidup”, “mempertahankan kekuasaan”, atau “mencari kekayaan, kemuliaan dan kejayaan” yang lebih tinggi. Jangan sampai kita hanya bertindak berdasarkan “kebiasaan” begitu saja, tanpa memeriksa adakah yang kurang pas, kurang sreg, dilihat dari sudut keabadian. Jangan sampai kita bertindak hanya berdasarkan “semangat korps” atau “prosedur” semata, tanpa memperhatikan “suara hati” atau “suara keabadian”.

    Bahkan dengan mengingat imbauan Stephen Covey saja, birokrat dan penegak hukum kita semestinya berusaha peduli pada bagaimana kelak hidupnya akan dikenang orang pada saat sudah meninggal, tak hanya pada bagaimana bergelimang kekayaan dan kejayaan semasa hidup. Sikap proaktif ini merupakan salah satu ciri dari birokrat yang “efektif”, yang akan menyebabkan birokrasi kita tidak serapuh sebagaimana dikeluhkan para pemuka lintas agama.

    Namun, bagi Drucker, Kierkegaard, Arendt, “efektivitas sosial” bukanlah ukuran yang memadai. Dengan efektivitas sosial, birokrat kita akan sekadar menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada, atau dengan “semangat korps” semata-mata. Kita bisa saja dikenang sebagai “warga korps” yang “loyal”, bila tidak membuka korupsi yang dilakukan secara beramai-ramai. Kita akan berusaha untuk dikenang sebagai “bukan raja tega” oleh sanak kerabat yang menengadahkan tangan dan tak mau tahu darimana asal uang bantuan itu. Akibatnya, akan muncul keluhan bahwa birokrat dan penegak hukum kita rapuh, mudah tergiur oleh uang.

    Dalam konteks ini, “mengambil nafas satu menit” untuk berkonsultasi dengan “suara keabadian” dalam diri menjadi sangat penting bagi para birokrat dan penegak hukum. Masalahnya, suara keabadian itu mungkin hanya berbisik lirih, sementara suara keberwaktuan dengan suara keras mendominasi ruang batin para birokrat, penegak hukum dan juga politisi. Kita berharap para birokrat, penegak hukum dan politisi masih mendengar desir keabadian yang lirih itu.

                                **************

    Sumber Tulisan,Alois A. Nugroho, 2017, Rakyatisme dan Esai-esai Lain, Jakarta, Penerbit Buku Kompas.

  • “Kata yang Menghidupkan” Inspirasi Dumupa dari Membaca

    “Kata yang Menghidupkan” Inspirasi Dumupa dari Membaca

    Penulis tidak hanya membutuhkan kepintaran, tetapi juga keberanian untuk menulis.” ( Dumupa Odiyaipai ).

    Hari itu di antium Roma, selepas bertubi-tubi masalah menghantam Cicero, ia memanggil Tiro, pengawal setianya. “Apa satu-satunya senjata yang kumiliki Tiro?” Cicero bertanya, lalu menjawabnya sendiri, “ini,” ujarnya sambil menunjuk bukunya Kata-Kata. Caesar dan Pompeius punya tentara, Crassus punya harta, Cloudius punya pengawal di jalan. Satu-satunya tentaraku adalah kata-kata. Dengan bahasa aku meninggikan derajat dan dengan bahasa aku akan bertahan.

    Fragmen sejarah ini dapat di baca pada episode terakhir novel brilian Conspirata. Dan sejarah memang mencatat bahwa “Kata-Kata” lah yang membuat nama Cicero abadi sebagai orator Romawi yang paling brilian dan dikenang oleh sejarah selama lebih dari 2000 tahun. Ia menjadi orang pertama yang meraih jabatan tertinggi di republik Romawi, tanpa modal harta melimpah atau dukungan jabatan turun temurun(Dea Tantyo, 2017).

    Buku Kata yang Menghidupkan, Kumpulan Kata Inspiratif yang ditulis Yakobus Odiyaipai Dumupa adalah buku yang ke-10 yang ditulisnya. Sebelumnya ia telah menulis 9 buah buku yang terdiri dari buku umum, novel dan puisi. Uniknya, anak dari pasangan suami-istri Amatus Dumupa dan Theodora Goo ini menulis dan menerbitkan buku dalam situasi dan kapasitas apapun yang dimuainya sejak masih kuliah, menganggur, menjabat sebagai anggota Majelis Rakyat Papua, hingga menjabat sebagai Bupati Dogiyai.

    Naskah dalam buku Kata yang Menghidupkan merupakan kumpulan kata-kata inspiratif yang telah ia tulis dan dipublikasikan secara lepas di media sosial facebook. Lelaki asal suku Mee ini, karena kegemarannya membaca, rupanya memahami betul bahwa seringkali seseorang dihargai bukan karena kedudukan, melainkan kekuatan kata-kata. Banyak tokoh dunia dikenang bukan karena harta atau kedudukan, tetapi dari apa yang mereka perbuat dan ucapkan. Sokrates, Cicero, Dalai Lama, Confucius, Mahatma Gandhi, adalah tokoh-tokoh yang pada zamannya bukan berlatar belakang orang kaya dan berkedudukan. Mereka adalah orang-orang sederhana tetapi ‘kata-kata’ mereka memiliki daya, kekuatan untuk merubah peradaban.

    Tradisi Membaca dan Menulis Inspirasi dari Hatta

    Menulis adalah kebiasaan orang-orang besar. Orang-orang besar menjadikan menulis sebagai tradisi. Tradisi membaca dan menulis juga melekat pada diri Bung Hatta. Sepanjang 77 tahun masa hidupnya, ia sudah membaca dan mengoleksi 80 ribu judul buku. Rasa cinta Mohammad Hatta terhadap  buku benar-benar mengangumkan. Ke mana  Hatta tinggal menetap ke situ pula ribuan buku itu ikut serta. Ia dan buku ibarat dua sejoli. Saat meminang Rahmi Rachim, Hatta menyerahkan mas kawin yang unik: buku karangannya sendiri Alam Pikiran Yunani. Buku ini ditulis saat Hatta di buang ke Boven Digul. Di Boven Digul, disela-sela waktunya yang tertib, Hatta menyempatkan memberi kursus kepada orang-orang buangan sesamanya. Kursus itu tidak hanya menyangkut masalah politik, ekonomi dan sosiologi. Namun juga filsafat. Menurut Hatta, filsafat meluaskan pandangan serta memepertajam pikiran. Dari bahan-bahan kursus filasafat itulah lahirlah buku Alam Pikiran Yunani.

    Yakobus Odiyaipai Dumupa, Penulis Buku “Kata yang Menghidupkan”

    Yakobus Odiyaipai Dumupa, penulis buku yang produktif ini juga adalah seorang pemimpin yang menimba spirit kepemimpinannya dari membaca dan menulis. Kemampuan intelektual seorang pemimpin diukur dari kemampuan menulisnya. Menulis adalah jalan untuk menyelami kehidupan dan memaknai keberadaan diri. Dalam semangat menulisnya, Yakobus Odiyaipai Dumupa, mungkin membatinkan pepatah Latin ini “Verba Volant, Scripta Manen”—Lisan Sementara, Tulisan Abadi—.

    “Pikiran dan hati yang baik merupakan kombinasi yang dahsyat. Namun jika engkau menambahkan lidah atau pena yang terasah, maka engkau memiliki sesuatu yang istimewa.” (Nelson Mandela)

    Paskalis Bataona

  • Membasuh Jiwa dalam Sisi Lain Tuhan Chee

    Membasuh Jiwa dalam Sisi Lain Tuhan Chee

     
    Oleh Ansel Deri, Orang Udik dari Kampung, Penikmat Sastra

     

     

    TAK BANYAK PENYAIR  setia mengendus kata dalam jejak sepi. Si penyair kayanya perlu semacam mantra sakti lalu menepi di sunyi puisi. Doa sudah pasti: di tempat sepi di kaki gunung, misalnya. Kadang di kamar biara. Di tengah savana. Pun di altar Gereja. Memeluknya dengan riang. Chee, salah satunya. Pasangan burung Gereja pun ia pelototi (dalam imajinasi) demi kata yang ia cari kemudian hadir dalam bait-bait. Tatkala pasangan burung bercinta pun, mata penyair ini tak sudi berpaling.

    Chee Nardi Liman
     Chee, si penyair dalam Sisi Lain Tuhan, mengamati burung Gereja yang tengah dalam desah. Chee, si penyair (lengkapnya Chee Nardi Liman), menyadari diri di sisi Tuhan: ia seperti manusia biasa, umat yang tak pernah bebas dari dosa. Ia (manusia, umat) adalah makluk berlumur dosa karena, misalnya, kerap selingkuh. Dan syair itu lahir dari kedalaman hatinya; lebih pas batin. Ia (penyair) -tentu juga penikmat puisi & sastra umumnya- seperti membasuh jiwa dalam syair; menyadari diri sebagai yang lemah di hadapan Sang Sabda. Katanya, “Maaf Tuhan, hamba-Mu doyan selingkuh di bangku-bangku bait-Mu,” kata Chee dalam Birahi, salah satu bait dalam Sisi Lain Tuhan, antologi puisi perdananya.

    Paling kurang puluhan karya sastra (baca: puisi) Chee dalam antologi ini menegaskan satu hal: kedekatan penyair dengan Tuhan sebagai sumber inspirasi. Seketika kedekatan itu menjelma puisi-puisi religi dalam antologi bersampul gelap. Tambahan ilustrasi seorang (katakan musafir) tengah meneteng lentere di tengah gulita malam adalah perjalanan sunyi membasuh jiwa dalam doa. Karena itu lahirlah puisi-puisi religi (banyak saya lihat begitu) ringkas dengan lokus kelahiran puisi bertautan jauh satu sama lain. Kluang, Wisma Gaspar, Wanno Gaspar (apakah identik dengan Wisma Gaspar Chee?), Yogyakarta, Wisma Sang Penebus, dan Weetabula.

    Adakah pembaca atau tepatnya penikmat puisi Chee tahu dari beberapa sudut negeri ini lahir puisi-puisi indah penyair muda ini? Yogya, Wetabula okelah. Yogya? Dunia tahu. Ia kota tempat domisili Raja Yogya sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X. Pun Weetabula. Di Pulau Sumba, menyebut Weetabula, identik dengan pusat karya para imam Katolik dari Kongregasi Redemptoris (CSsR). Begitu juga Sumba adalah tanah kelahiran Umbu Landu Paranggi, penyair unik bergelar “mantan Presiden Malioboro”. Umbu, penyair kuda kayu bertangan dingin yang melahirkan banyak penyair berbakat seperti budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) atau si empunya Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi AG bahkan Ebiet G Ade, penyanyi dan pencipta lagu legendaris Indonesia.

    Sedang Kluang? Tentu tak banyak yang tahu di mana letaknya. Tapi tidak demikian dengan Chee. Ia (Kluang) adalah kampung nun di udik, di lereng Labalekan. Tepatnya di Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Kluang, Belabaja dan Boto adalah tiga kampung atau dusun kecil mungil di Nagawutun yang familiar dengan Boto. Boto (desa Labalimut) adalah pusat Paroki St Joseph Boto dan bekas kota Kecamatan Nagawutun tempo doeloe sebelum pindah ke Loang, kota kecamatan saat ini. Kluang adalah dusun tempat awal gedung SMP Lamaholot Boto, sekolah swasta yang didirikan para kepala kampung tahun 60-an untuk anak-anak kampung di sekitar lereng Labalekan. Tahun 1997, sekolah menengah ini diambil alih pemerintah kemudian berubah nama jadi SMP Negeri 2 Nagawutun.

     

    Desa Belabaja, Kabupaten Lembata

    Sekolah ini menjadi lahan pengabdian Josef Ribu Liman, ayahanda terkasih penyair Chee, sebagai guru. Pun kampung tempat Marselina Jawang, ibunda Chee menghabiskan waktu membesarkan ketiga anaknya: Elfri Liman, Icha Liman, dan penyair Chee. “Chee salah satu murid kami yang pintar dan rendah hati. Ia anak yang kutu buku. Kami bangga dengan alumni seperti Chee dan pilihan hidupnya saat ini. Saya sudah pesan beberapa buku Sisi Lain Tuhan agar jadi bahan bacaan adik-adiknya dan kami para guru di almamater,” kata Konrad Soni Labaona, Kepala SMP Negeri 2 Nagawutun. Setahu saya, guru Ribu Liman dan isterinya adalah aktivis sosial keagamaan. Di masanya, tatkala masih mengabdi di Boto, Ribu Liman adalah pemimpin Ibadat Sabda tatkala pastor paroki turne ke luar stasi. Begitu pula sang isteri, ibu Marselina, adalah anggota koor dan penggerak ibu-ibu di dusun ini. “Kalau liburan, anak-anak saya juga akan menghabiskan waktu liburnya di Kluang. Selain ke Lamabaka, kampung halaman dan tanah leluhurnya,” kata ibu Marselina tatkala saya sambangi di Klua(ng) suatu waktu.

     

    Bpk. Jos Ribu Liman dan Ibu Marselina Jawang, Orang Tua Chee Nardi Liman


    Elfri dan Icha Liman, Kakak dan Adik Chee Nardi Liman


  • Yang Tersingkap dan Yang Tersembunyi Yang Akrab dan Yang Asing

    Yang Tersingkap dan Yang Tersembunyi Yang Akrab dan Yang Asing

     

     

    Oleh Paul Budi Kleden

     

     

    Satu diktum yang dikenal luas dari Paul Klee berbunyi: “Kunst macht sichtbar,” –Karya seni menyingkapkan-. Tentu pernyataan ini tidak mengatakan banyak tentang hakikat seni, yang sanggup membedakannya dari semua yang lain. Dan di sini memang kita tidak bermaksud melibatkan diri dalam diskursus tentang hakikat seni. Dengan mengutip ungkapan di atas hanya mau dikatakan bahwa hal yang sama penting dengan hakikat adalah makna seni, yang merujuk pada apa yang ditunjukkan oleh sebuah karya seni. Hanya dengan demikian sebuah karya seni tidak selesai didefinisikan dengan sebuah refleksi atas keindahan. Sebuah karya seni bukan sekadar sesuatu yang indah, dia adalah juga sesuatu yang berbicara tentang sesuatu. Dalam arti ini, seni dapat diletakkan sejajar dengan banyak kegiatan manusia lainnya, seperti refleksi ilmiah, keterlibatan politik atau aksi sosial.

    Karya seni, entah musik, lukisan, tarian atau sastra membuka mata orang untuk menangkap sesuatu yang tidak mau atau tidak dapat dilihat. Karya seni menyentakkan orang untuk menangkap realitas yang mungkin dengan sengaja atau secara tanpa sengaja didepak ke wilayah yang tersembunyi. Wajah yang sengaja di sembunyikan dinyatakan, suara yang diredam atau didiamkan diangkat. Sebuah karya seni dapat memelekkan mata orang untuk menemukan sesuatu yang luhur, yang tertimbun di bawah kesemuan keluhuran yang diobral. Apa dan mereka yang dipinggirkan dan diabaikan, menjadi pusat perhatian dan keprihatinan. Melalui karya seni orang dibantu untuk menyadari dan mengakui keindahan yang masih terpancar dalam sebuah masyarakat yang terlanjur mendapat umpatan sebagai masyrakat biadab. Juga sebaliknya, sebuah karya seni dapat mengungkapkan kebobrokan yang menyebalkan di balik kegemerlapan yang dipamerkan.

    Dalam pengertian di atas, karya seni adalah sebuah medium pengetahuan. Pemirsa dan pembaca tidak hanya ditempatkan pada posisi penikmat yang hanyut dalam suasana emosional, tetapi sekaligus disapa sebagai makhluk berintelek, kepadanya disuguhkan sejumlah  informasi. Namun informasi yang diberikan tidak bertujuan memperbanyak perbendaharaan pengetahuan objektif akan sesuatu, tetapi agar orang meneruskan perolehan pengetahuan dalam imajinasinya sendiri. Pengetahuan yang disuguhkan adalah rangsangan untuk sebuah petualangan imajinatif melampaui apa yang dilukiskan. Objek kesenian menarik kita kepada dirinya, untuk, setelah dibekali dengan sejuta data penting, kembali melepaskan kita ke dalam sebuah petualangan interpretasi. Sebuah karya seni menyingkapkan sesuatu, yang pada gilirannya akan menjadi awal dari sebuah proses penyingkapan yang berkelanjutan.

    Kegiatan menikmati dan menginterpretasi sebuah karya seni adalah sebuah keterlibatan di dalam alur penyingkapan makna tersebut. Untuk itu memang mutlak disadari perbedaan antara tanda dan yang ditandakan, antara pernyataan dan maksud, atau antara isi dan bentuk. Apabila orang menolak makna dalam karya seni, maka orang akan berputar pada bentuk yang merangsang rasa indah dalam diri pemirsa.

    Dalam diskursus tentang estetika, ada perbedaan pendapat tentang kualitas sebuah karya seni. Ada yang melihat nilai sebuah karya seni sebagai objek estetis. Pandangan seperti ini hanya memperhatikan apa yang dirasakan oleh pemirsa atau pembaca. Di sini yang menjadi kriteria sebuah objek estetis adalah entakah pemirsa atau pembaca merasa tersentuh atau tidak, entahkah sebuah karya itu sanggup membangkitkan dalam diri pemirsa atau pembaca suatu perasaan kagum yang menghanyutkan. Konsep ini dikritik karena dianggap memutarbalikan objek estetis dengan karya seni. Seharusnya, yang disebut sebagai karya seni adalah karya yang mengatakan sesuatu. Sebuah karya seni tidak berhenti di dalam dirinya.

    Karena itu sebuah karya seni mesti dibedakan dari objek estetis. Karya seni menunjukkan sesuatu, yang berbeda dari dirinya, tetapi yang tak bisa dilepaskan dari dirinya. Kita dapat menyebutnya sebagai sebuah simbol untuk sebuah makna. Makna menjiwai seluruh karya itu dan menjadikannya sebuah karya seni, sehingga karya itu mampu berbicara, memiliki makna.

    Tentu serentak diingatkan bahwa dengan memahami karya seni sebagai karya yang meneruskan pengetahuan, kita tidak bermaksud mengatakan bahwa dalam sebuah karya seni kita menjumpai data-data objektif tentang sesuatu. Kita memiliki data realistis, namun kita tidak berhenti pada data-data realistis itu, sebab tujuannya adalah membawa kita melampaui data-data objektif yang ada. Memang ada karya seni yang tidak mengandung data empiris, karya itu hanya memaparkan suatu penyimpangan dari keadaan sebenarnya. Namun penyimpangan itu disadari dan dikehendaki, dan seorang pemirsa atau seorang pembaca diberi bantuan secukupnya untuk menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan sebuah kamuflase dari  kenyataan empiris.

    Pemaparan realistis mesti ditunjang oleh sejumlah data yang objektif, saat seorang pengarang sastra misalnya menyebutkan secara eksplisit setting ceritanya, membatasi tempat atau waktunya. Semakin dipersempit setting sebuah kisah, semaikn tinggi kebutuhan akan akurasi data yang dipaparkan, tetapi semakin dituntut pula kecakapan seorang pengarang untuk tetap menciptakan ruang simbolis di dalam kepadatan data itu. Di satu pihak kita berhadapan dengan kenyataan bahwa sebuah karya seni yang melukiskan sesuatu secara tidak benar, hanya akan menimbulkan perasaan dibodohi dalam diri pemirsa atau pembaca, dank arena itu gagal membawa misinya sebagai sebuah karya seni. Pada pihak yang lain, pembatasan yang terlampau ketat akan meniadakan ruang imaginasi dan mematikan sebuah karya seni. Sebab itu, karya seni, secara khusus seni sastra, sebenarnya hidup dari dialektika antara identitas apa yang dipaparkan dan makna yang hendak disampaikannya.

    Apa yang diuraikan di atas, menemukan ungkapan hermeneutisnya dalam pengertian-pengertian dunia empiris yang menjadi referensi dan dunia potensial atau dunia proyeksi yang menjadi makna dalam filsafat Paul Ricoeur. Dunia referensi adalah dunia yang sedang dilukiskan dalam sebuah karya seni, entah itu dunia riil atau dunia imaginatf. Dunia ini adalah apa yang dibicarakan, referensi, sebuah dunia di luar relasi linguistis teks. Pada pihak lain, dunia proyeksi adalah dunia yang menjadi tujuan dari pembicaraan, dunia kepadanya seniman mengajak pemirsa atau pembaca untuk bertualang. Ini adalah makna dari sebuah teks. Makna, sense, sinn, adalah satu jaringan relasi dari unsur-unsur internal teks. Makna adalah dunia yang dicita-citakan, yang diproyeksikan oleh teks. Di dalam makna terungkap apa yang seharusnya di tengah realisme yang dihidupkan oleh apa yang ada. Dengan ungkapan lain, dunia pertama adalah subjek dari sebuah kalimat. Subjek mesti dijelaskan, sehingga orang dapat memperoleh bayangan tentang apa yang dibicarakan. Peran identifikasi subjek membantu kita mengetahui apa yang dikisahkan, peristiwa yang dituturkan. Sementara dunia proyeksi adalah predikatnya, yang membuka kembali identifikasi subjek ke arah yang lebih luas, ke sebuah dunia di depan teks.

    Sebuah karya sastra membutuhkan identitas peristiwa yang tertentu, yang menjadi dasar bagi perluasan dalam pencarian makna dalam prekasi. Identitas mengandaikan adanya pengetahuan. Pengarang hanya dapat membeberkan sebuah peristiwa secara benar apabila dia memiliki pengetahuan tentang itu. Tetapi dia harus memiliki kesanggupan untuk menuturkan pengetahuan itu sedemikian, sehingga predikasi dimungkinkan. Seorang seniman harus mengetahui apa yang dikisahkannya, untuk dapat melukiskannya secara meyakinkan, dan dengan demikian menciptakan sebuah kondisi yang menjadi dasar bagi petualangan individual para pemirsa atau para pembaca.

    Di sinilah letak dilema yang dapat ditemukan dalam sebuah karya seni, secara kuhusus sastra. Seorang pengarang dapat melukiskan secara sangat mendetail sesuatu, tanpa membiarkan kita mengetahui apa yang sebenarnya hendak dikatakan dengan pelukisan itu. Pelukisan yang sekian mendetail dapat menjadi alasan bahwa sebuah karya gagal sebagai karya sebuah karya sastra karena tidak memberikan ruang untuk imajinasi pembaca, sekaligus tidak berhasil sebagai suatu karya ilmiah karena masih tetap mencoba memberi ruang kebebasan bagi pemirsa dan pembaca.

    Bahaya seperti ini cukup besar dijumpai dalam diri para pengarang yang mencoba menuliskan sesuatu yang belum banyak dikenal. Terdorong oleh hasrat untuk memberikan sebanyak mungkin pengetahuan, seorang pengarang dapat menjejali pembaca dan pemirsa dengan sekian banyak informasi. Tak ada ruang tersisa untuk memberikan arah ke mana semua hendak menuju.

    Penyingkapan kedua dunia dan bahaya yang terkandung di dalam upaya penyingkapan itu dapat dicermati kalau kita membaca novel ini. Ata Mai, Sang Pendatang adalah satu bentuk penyingkapan yang membawa orang kepada beberapa kenyataan yang tersembunyi atau disembunyikan. Novel ini menyingkapkan sebuah wilayah dari suatu kelompok masyarakat yang belum banyak menjadi pusat perhatian dalam percaturan politik dan kalkulasi ekonomi berskala besar. Secara cukup detail pengarang membawa kita ke beberapa kota dan desa di Flores. Memang terkadang pengarang terjebak dalam keinginan besar untuk melukiskan sebanyak mungkin hal yang dianggap baru dan penting diketahui pembaca, sehingga dapat muncul kesan, novel ini tak banyak berbeda dari sebuah laporan perjalanan dan mendekati sebuah jurnal peneliti antropologi. Selain itu, kegiatan penelitian yang demikian dinamis melompat dari satu aktivitas yang lain, tidak memberi waktu untuk pembaca untuk berdiam diri. Novel seakan mewartakan suatu aktivisme di tengah pengagungannya akan keheningan dan ketenangan alam pedesaan.

    Tetapi mungkin di sinilah letak keunggulan dari novel ini, yakni teknik pemilihan tokohnya. Pengarang memilih Lila, seorang peneliti sebagai tokoh utamanya, dan bagi seorang peneliti antropologi, keterbukaan bagi hal-hal yang baru, kekaguman dan minat yang besar akan kebudayaan yang dijumpai adalah syarat yang utama. Kita di bawa oleh pengarang untuk mengalami bersama peneliti berbagai macam hal baru yang dilihat dan didengarnya.

    Mengetahui, mengenal sesuatu berarti menangkap secara lebih tajam berbagai nuansa yang terdapat di dalamnya, menjadi sadar dan mengakui bahwa sesuatu itu jauh lebih kompleks dari kesan awal tentangnya. Dunia referensi, tentangnya pengarang hendak menawarkan kita sejumlah pengetahuan, memiliki juga sekian banyak nuansa.

    Di dalam novel ini pengarang membawa kita untuk mengetahui dan mengenal kompleksitas kenyataan dan permasalahan suatu kelompok masyarakat yang sedang berada dalam satu tahapan perubahan. Biasanya, semakin jauh suatu kelompok masyarakat dari jangkuan perhatian kita, semakin mudah kita jatuh dalam stereotipe kalau hendak menilai mereka. Dengan relatif mudah kita akan menggunakan kategori-kategori besar untuk  mendeskripsi-kan mereka. Tokoh Bimo dalam novel mewakili cara pandang jarak jauh yang menggeneralisir. Akan segera menjadi nyata, bahwa di bawah bayang-bayang kategori besar itu banyak individu kehilangan individualitasnya. Keberagaman warna sebuah masyarakat hilang dalam pandangan yang menyamaratakan. Dengan kesadaran yang patut dipuji pengarang mengarahkan perhatian kita pada satu kelompok masyarakat. Terkesan kuat bahwa pengarang berusaha melawan satu cara pandang yang menggeneralisir itu.

    Ketajaman mata seorang peneliti menyingkapkan tabir pandangan tentang suasana kampung yang tak bernoda, dalamnya warga masyarakat hidup dalam satu keharmonisan yang membahagiakan. Pandangan yang nostalgis tentang masyarakat desa di perhadapkan dengan sebuah pemaparan yang hidup tentang berbagai ketegangan dan ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat desa. Secara khusus perhatian kita diarahkan kepada nasib kaum perempuan dan anak-anak yang kurang diperhatikan. Dengan ini, novel ini tidak hanya mengundang untuk melihat satu wilayah dan sebuah kelompok masyarakat yang berada dipinggiran perhatian pada tingkat nasioanal, tetapi juga membuka tabir peminggiran yang juga terjadi di dalam masyarakat desa itu.

    Pada awal kedatangannya masih ditulis kalimat seperti ini sebagai kesan pertama:

    Sesungguhnya mereka orang-orang kaya, yang berlimpah kasih sayang dan persaudaraan. Kehidupan yang tenteram karena di tempat ini uang tidak menjadi Dewa. (hlm. 87).

    Setelah mengalami sejumlah peristiwa Lila mesti mengatakan:

    Hampir enam bulan berada di Flores, dan mengalami berbagai peristiwa. Hidup bukan sesuatu yang mudah, bukan sekedar kesenangan menerima gaji berbelanja di pertokoan atau menghabiskan uang dengan berekreasi atau membeli benda-benda koleksi dan hobi. Banyak hal mewarnai kehidupan. Ibarat pelangi, selama ini hanya warnah putih dan merah yang kulihat, tetapi di Flores aku mengenal warna jingga, hijau, biru dan ungu. (hlm. 420).

     

    Maria D. Andriana, Penulis Novel “Ata Mai, Sang Pendatang”.


    Selain itu, pengarang mengantar kita untuk menyadari  banyaknya perubahan yang tengah terjadi karena mobilitas manusia dan arus informasi. Juga seorang peneliti, yang merekam apa yang dikira masih asli pada sebuah masyarakat, mesti menyadari bahwa kehadirannya sedang membawa perubahan ke dalam tatanan sosial itu. Di tengah gelombang perubahan yang tak terelakan itu, apakah satu kebudayaan asli akan tergilas dan hanya direkontruksi menjadi objek sebuah tontonan? Keseluruhan novel mengungkapkan sebuah dilema antara keinginan untuk mempertahankan kebudayaan yang sudah dibangun leluhur dan ketakberdayaan menemukan bentuk yang memadai untuk menyelamatkan kebudayaan itu dalam konteks yang berubah. Menulis sastra seperti ini adalah satu upaya untuk menyingkapkan apa yang pernah ada sedang berubah. Namun sebuah transformasi budaya yang kreatif tidak dapat dilaksanakan hanya dengan dokumentasi. Ada contoh yang mesti mengingatkan kita:

    Di halaman belakang terdapat contoh bangunan rumah adat suku Lio yang dibuat dengan sempurna, tetapi kemudian terlantar tanpa perawatan, berdebu, terbakar matahari, dan tersapu angin laut yang membuatnya kusam. Ke-beradaannya hanya sebagai tanda bukti bahwa kota ini mpunya contoh rumah adat. (hlm. 24).

    Satu proses pengenalan yang menerobos sekat-sekat kategori-kategori besar untuk menangkap perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam satu kolektivitas, akhirnya bermuara pada kisah cinta antara Lila dan Sam, seorang pemuda Flores. Tampaknya pelukisan kisah cinta itulah yang menjadi inti dari novel ini. Petualangan Lila, si Ata Mai, si orang asing di Flores, bukan hanya dan bukan terutama pergumulan seorang peneliti sosial yang berhadapan dengan sekian banyak pengalaman baru, tetapi agaknya pergolakan batin seorang perempuan yang terlibat dalam sebuah jalinan percintaan dengan seorang lelaki dengan sebuah latar belakang yang berbeda. Dunia batin seorang perempuan, yang terombang-ambing antara janji karier seorang wanita post-modern yang ditawari pekerjaan di Kanada, disingkapkan secara cukup jelas. Pada pihak lain, kita berhadapan dengan Sam, seorang lelaki yang tertutup dan penuh teka-teki.

    Dengan teknik seperti ini pengarang novel menunjukkan bahwa yang menjadi Ata Mai bukan hanya dia yang datang dari luar. Ada pula orang asing di lingkungan sendiri, malah di dalam keluarga sendiri. Sebaliknya, persoalan kedekatan tidak terutama ditentukan oleh rahim yang melahirkan dan tanah yang memberi makan. Jika yang asli dapat dikonotasikan dengan yang dikenal, padanya orang merasa krasan, maka dapat terjadi bahwa yang asing menjadi asli, dan yang asli justru menjadi asing. Yang asli tidak selalu berarti yang jauh dan ditolak, dan yang asli tidak identik dengan yang dekat dan bersahabat. Berbagai pengalaman kepahitan telah mengunci hati Sam, menjadikannya orang yang sulit didekati dan dipahami, juga oleh orang tua dan saudarinya sendiri. Pada pihak lain, novel ini melukiskan, betapa dua perempuan yang berbeda asal namun seusia, Inez, saudari Sam, dan Lila, dapat sekian cepat menjadi sahabat yang sangat akrab.

    Namun adalah terlalu naïf untuk mengatakan bahwa persoalan asing dan asli hanyalah masalah relasi antara dua manusia. Lingkungan dengan stereotipenya masih mempunyai peran yang sangat menentukan. Dengan menjadi sahabat dari Inez dan kekasih dari Sam, Lila belum menjadi seorang asli yang memahami semuanya dan bersahabat dengan semua orang di kampung. Tetap ada orang yang menolaknya, bukan hanya para rival Sam dan keluarganya, tetapi juga sejumlah orang yang memandang kehadirannya sebagai sebuah ancaman untuk keamanan kehidupan mereka. Sementara itu,  masih ada banyak hal yang terus tersembunyi, yang tak tersingkap, yang tak dipahami. Lila menolak dan menunjukkan ketak-mengertiannya atas sikap Inez yang terlampau merendahkan dirinya sendiri sebagai perempuan.

    Kalau kau melamar ke Pemda bisa jadi camat, “candaku. Inez mencibirkan bibir

    “Aku perempuan, susah mendapat posisi di daerah seperti ini, laki-lakilah yang menjadi camat atau bupati.” (hlm. 62).

    Praktik penomorduaan perempuan adalah satu hal yang ditolaknya dan karena itu menjadikannya asing di tengah kaum laki-laki dan sebagian perempuan yang terkondisi oleh sistem yang didominasi kaum laki-laki. Selain itu, yang bertahan sebagai sebuah teka-teki yang tak terjawab adalah Sam. Lelaki yang dikasihimya itu adalah satu sosok yang asing dan tak terpahami, juga pada kunjungannya yang kedua ke Flores, setelah meninggalkannya selama tiga tahun.

    Ata Mai menyingkapkan kenyataan, bahwa akan selalu ada sesuatu yang asing, yang tak terpahami di dalam setiap perjumpaan. Ketegangan yang diciptakan di dalam novel ini antara keriangan dan keringanan persahabatan yang cepat dan mudah antara Lila dan sejumlah besar tokoh lain, dan kesulitan untuk mendekati dan sungguh-sungguh memahami Sam, mengungkapkan kemustahilan sebuah obsesi bahwa manusia bisa mengenal secara paripurna. Selalu ada yang tersisa, yang asing. Setiap orang adalah Ata Mai bagi orang lain, dan bagi dirinya sendiri. Setelah menerima akhir yang menyedihkan dari kisah-kasih mereka, Lila mengatakan kepada dirinya sendiri:

    Betapa munafiknya, satu sisi diriku menantinya tetapi, sebagian lain menolaknya. Sejauh ini hidupku selalu beruntung dan nasib baik selalu menyertaiku. Sekarang aku merasa dikalahkan oleh seorang gadis kecil yang bukan siapa-siapa! (hlm. 530).

    Sikap paling tepat berhadapan dengan yang asing itu, adalah menghormati.

    Sastra memang menyingkapkan, tetapi ada bagian dalam diri manusia yang masih tersembunyi, yang tak kuasa disingkapkan, juga tidak oleh sastra. Yang dapat dibuat sastra adalah menyadarkan orang akan adanya wilayah yang belum tersingkapkan ini dalam setiap orang. Kalau kita berbicara tentang dunia di depan kita, dunia yang diproyeksikan oleh pengarang, maka boleh jadi elemen ini yang hendak digarisbawahi, bahwa kita perlukan sikap saling menghargai secara tulus. Kita boleh dan harus selalu berusaha menemukan sebanyak mungkin kesamaan di antara kita, tetapi kita tidak akan pernah sampai pada sebuah pengenalan paripurna akan manusia. Yang rahasia, yang patut dihargai dan yang diterima kekhasannya, bukan hanya kebudayaan yang beragam, tetapi juga setiap diri manusia yang dijumpai.

     

    =====================

     

    *Tulisan ini adalah Kata Pengantar dalam Novel Ata Mai, Sang  Pendatang, Galang Press

  • Jejak Inspiratif Surya dari Kuta Raja

    Jejak Inspiratif Surya dari Kuta Raja


    Oleh Ansel Deri Staf Anggota DPR

    F-Nasdem, 2014-2019

    KEHADIRAN partai sebagai alat perjuangan politik bagi kemaslahatan rakyat sungguh disadari segelintir elite negeri di Indonesia. Tatkala kran keterbukaan menganga menyusul berakhirnya sistem politik otoritarian Orde Baru ke sistem demokratis, peran partai politik kian disadari sangat vital para elite. Tatkala sistem demokratis diterapkan saat bersamaan memberi peluang perubahan terhadap dinamika kehidupan politik nasional.

    Sejarah politik Indonesia mencatat ada segelintir elite bangsa terpanggil melahirkan partai sebagai sarana dan alat perjuangan politik guna meraih cita-cita besar bagi kebaikan atau kesejahteraan umum, bonum commune. Partai diyakini menjadi salah satu institusi penting dan instrumen strategis bagi pertumbuhan dan perkembangan demokrasi. Ia (partai) muncul sebagai salah satu pilar penting demokrasi. Para pakar juga meyakini bahwa tanpa partai politik demokrasi tak akan efektif bekerja.

    Salah satu elite bangsa, Surya Dharma Paloh, adalah segelitir dari elite bangsa yang memenuhi panggilan mengabdi bangsa dan negara melalui partai. Pengusaha dan tokoh pers nasional dari Kuta Raja, kota Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam itu menghadirkan NasDem, di mana ia tampil sebagai sosok penting di balik kehadiran partai yang mengusung tagline Restorasi Indonesia. Surya memahami poin penting sikap kenegarawanan sebagai sebuah kebutuhan terbesar dan panggilan luhur.

    Kepentingan komunal

    Apa makna politik bagi Surya, paling kurang ada beberapa catatan. Pertama, politik tak dipahami sekadar merebut dan mempertahankan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Pemahaman mesti bergerak lebih ke dalam yaitu memikirkan kepentingan rakyat dalam artian sesungguhnya. Bila politik dimengerti sebatas merebut kekuasaan maka makna paling esensial politik tergerus.

    Poin ini hendak menegaskan bahwa para elite partai yang tengah mengabdi di jalur politik memiliki misi kolektif menunaikan tugas-tugas partai meraih kesejahteraan bangsa dan negara. Kerja politik tak boleh dipatok untuk kepentingan kelompok tetapi demi kebutuhan dan kepentingan yang lebih luas yaitu kemaslahatan bersama.

    Tak berlebihan Surya setia mengingatkan pentingnya makna dan pemahaman esensi politik bagi para elite internal. Misalnya, saat hadir dalam acara syukuran dua tahun Fraksi Partai NasDem DPR RI periode 2014-2019 di Lt 22 Gedung Nusantara 1, kompleks DPR/MPR RI Senayan, Jakarta. Ketua Fraksi (kala itu), Viktor Bungtilu Laiskodat mengundang Surya memberikan nasehat dan arahan kepada anggota fraksi bekerja dengan sumber daya, resourches yang dimiliki agar kerja politik kian berdaya guna. Para elite (kader) juga semakin memahami esensi partai dalam kerja-kerja politik demi kebaikan umum. Meski bicara secara internal, pesan ini tentu juga bagi elite lainnya.

    Kedua, di tengah kehidupan yang penuh tantangan, para elite partai senantiasa diharapkan tetap berkonsolidasi, berbenah, dan berkontribusi maksimal bagi bangsa dan negara. Para elite setia mengambil peran politik, tidak sekadar berpikir mengedepankan kepentingan partai tetapi memikirkan kepentingan negara yang lebih luas. Partai mesti rela melepaskan kepentingan sesaat namun terus menyasar dan sanggup berkorban demi kebaikan bersama.

    Pilihan sikap setia memberi arahan, nasehat kepada para elite internal sebagaimana dilakukan Surya dalam berbagai kesempatan ialah langkah tepat yang bertujuan memastikan satu hal penting tentang arti dan makna esensial dari politik. Bahwa esensi politik selalu berkiblat atau mengabdi kepentingan umum. Dengan demikian, partai perlu menawarkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki kepada masyarakat yang merupakan muara dan pengabdian politik.

    Mengapa tawaran keunggulan politik ini penting? Itu tak lain bertolak dari konsep ideal politik yang memiliki orientasi menjawab kepentingan bersama. Selain itu dalam praksis hidup politik kerap dibelokkan segelintir elite sehingga tujuan mulianya dibajak di tengah jalan. Politik berpotensi berbelok arah, berubah menjadi anak tangga menggapai kepentingan pribadi atau kelompok. Bila itu terjadi esensi politik tergerus.

    Panggilan suci

    Dalam Restorasi: Rekonstruksi Menuju Keberadaban Politik (2007), Surya mengapresiasi tema restorasi NasDem, partai yang ia dirikan. Kata Surya, Restorasi Indonesia sebagai tagline semangat perjuangan untuk melakukan perubahan bangsa ke arah lebih baik merupakan pilihan tepat, atraktif, dan inspiratif. Restorasi sebagai upaya melakukan rekonstruksi menuju pemberdayaan politik menjadi salah satu tawaran yang tepat.

    Tak berlebihan di tangan Surya dan para elitenya pada Pemilu 2019 NasDem mendulang sukses kemudian mengantar partai itu masuk peringkat lima besar dengan perolehan 12,6 juta suara. Sukses ini bertolak dari semangat Restorasi Indonesia yang diusung dan nilai-nilai yang dipegang dan diperjuangkan selama ini.

    Karena itu bila ada hal-hal terkait kinerja partai ia serahkan kepada masyarakat untuk menilai apakah partai melenceng dari semangat tujuan awal atau tidak. Baginya, tidak ada tempat bagi kader bila dia inkonsisten. Bahkan alangkah bodohnya bagi Surya sebagai pendiri dan ketua umum membuang waktu, tenaga, pikiran, energi yang dimiliki tanpa ambisi untuk satu kekuasaan formal yang ingin dicapai kalau bukan hanya karena niat baik semata-mata. Di sini, politik adalah panggilan suci mengabdi rakyat, meski kerap dilihat dalam wajah berbeda seperti berikhtiar dengan kotor.

    Menurut Frumen Gions dalam Gereja Itu Politis (2012), kita hidup dengan pemahaman dan bahkan keyakinan bahwa politik itu sama dengan tipu muslihat dan laku tercela. Berpolitik berarti berikhtiar dengan kotor, bergelut dengan dusta, bertingkah dengan kasar dan berjuang dengan korup. Politik adalah wilayah penuh intrik, dendam kesumat. Padahal, kenyataan-kenyataan buruk bisa muncul dalam kehidupan bersama lantaran kita sendiri tak punya sensivitas untuk kehidupan sosial.

    Dalam benak Surya, boleh jadi politik merupakan aspek kehidupan manusia yang punya nilai fundamental dan menarik. Politik adalah ruang publik, muara aneka kepentingan manusia. Entah elite, aparat, pers, petani, tukang sayur, guru, mahasiswa, supir, cleaning service, petugas pom bensin, tukang cukur, dan lain sebagainya. Ini menunjukkan esensi politik sesungguhnya. Lewat NasDem Surya menunjukkan dirinya laksana surya, suluh kemudian mendermakan tenaga, pikiran, dan uangnya melalui karya sosial maupun politiknya bagi banyak orang.

    Harian Media Indonesia (14/7 2020) menyebut Surya Paloh sebagai inspirator kaum muda membangun negeri. Ia tokoh politik, tokoh pers, dan pengusaha sukses. Namanya tak asing di Tanah Air dengan segudang pengalaman dan prestasi. Di kalangan pengusaha nasional, Surya dikenal sebagai sosok bertangan dingin dalam menjalankan roda bisnisnya. Pidato politiknya selalu membakar semangat sehingga kerap disebut sebagai singa podium namun berhati lembut, asyik berdiskusi.

    Jejak panjang pengabdian Surya dalam politik dapat dibaca dalam beberapa aspek. Pertama, politik perlu dipahami dari esensinya untuk menata kehidupan masyarakat yang berpatok pada prinsip keadilan. Mengapa hal ini penting? Konflik politik berpotensi lahir dan dapat menyandra rakyat. Dengan demikian dituntut kesadaran kolektif elite dan rakyat dalam berpolitik.

    Kedua, elite di semua level perlu memahami peran politiknya menata kehidupan guna mewujudkan cita-cita meraih kebaikan bersama agar lebih sejahtera, berkeadaban, dan berkeadilan. Mengapa? Politik tak sekadar urusan merebut dan mempertahankan kekuasaan. Ia mesti dipahami dalam terang iman sebagai peluang tepat menjadi berkat bagi sesama. Selamat Ulang Tahun ke-69, Pak Surya Paloh. Pengabdianmu adalah inspirasi anak bangsa dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote.

    Sumber: Victory News, Selasa, 21 Juli 2020