Blog

  • Yang Akrab dengan Yang Murni

    Yang Akrab dengan Yang Murni

    Mengenang Arief Budiman (1941- 2020)

    Goenawan Mohamad

    SEORANG anak muda 19 tahun, sebaya saya, tetapi lebih kurus, lebih tinggi, dengan baju dan celana lusuh tapi bersih, dengan cara bicara yang lempang tapi agresif, dan dipanggil “Djin”, mengatakan ia sudah menerjemahkan satu bab dari L’Etrangere: sejak kami berkenalan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ditahun 1960, Arief Budiman—waktu itu memakai nama “Soe Hok Djin” – sudah tampak luar biasa.

    Ia menyukai sastra dan filsafat sejak SMA, ia melukis, ia bermain gitar klasik, dengan ketrampilan awal yang lumayan, ia pintar matematika. Kami berdua dengan cepat jadi akrab. Mungkin karena kami berdua agak jauh dari pergaulan dengan mahasiswa lain di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Waktu itu jumlahnya mungkin tak lebih dari 150 orang, tapi umumnya mereka tak dekat dengan hal-hal yang kami sukai: omong filsafat, omong seni. Arief juga tak menikmati yang mereka sukai – disebuah universitas yang bersemboyan “buku, pesta dan cinta”.

    Persahabatan kami diperkuat lingkungan yang terbentuk kemudian. Arief memperkenalkan saya dengan seniman dan cendikiawan terkenal: Trisno Sumardjo (penerjemah Shakespeare dan perupa), Nasar (perupa), Zaini (perupa), P.K. Ojong (wartawan dan kelak pendiri Kompas), Onghokham (sejarawan), dan setelah 1967, memperkenalkan saya dengan orang yang ia kagumi dan dekat kepadanya, Moctahr Lubis.

    Segera saya menjadi bagian lingkungan ini – meskipun saya, yang dibesarkan dalam bahasa Jawa, tak seberani Arief menyebut seniman yang lebih tua “kau”.

    Ya, Arief anak Jakarta tulen. Ia dibesarkan keluarga Tionghoa yang hanya berbahasa Indonesia (ayahnya dulu seorang sastrawan yang menulis dalam bahasa Melayu Tionghoa), dan meskipun ibunya berbahasa Sunda, adat bertutur Arief lurus, lugas.

    Lagi pula, ia tak melihat dirinya inferior. Dalam umur semuda itu, ia sudah menulis esai di majalah Star Weekly. Seperti yang saya sebut di awal, Arief sudah menerjemahkan satu bab dari L’Etrangere. Ia mengagumi Albert Camus; ia bahkan merasa punya persamaan dengan pengarang kelahiran Aljazair itu ketika ia, seperti Camus di umur 17 tahun, didiagnosis kena tuberkolosis; Arief pernah harus dirawat di Pacet. Ia membaca dalam bahasa Inggri, buku-buku Camus. Ia melahap The Myth of Sisyphus, dari mana ia kembangkan pandangannya yang anti-utopisme. Buku itu, di mana tertera nama “Djin” di halaman depan, masih saya simpan, sejak setengah abad yang lalu.

    Arief bukan foto kopi Camus, tentu. Ia tak pernah aktif dalam dunia pentas, dan tak seperti Camus, Arief tak punya hubungan dengan perempuan-perempuan yang memikat. Tapi pandangan anti-utopismenya memang dibentuk mithos Sisyphus yang dipakai Camus sebagai alegori bagi sejarah manusia yang tak pernah selesai dan lengkap.

    Ini terutama tampak ketika ia, di tahun 1963, pada umur 22 tahun, ikut merumuskan Manifes Kebudayaan. Manifes itu semacam petisi. Kami menghimbau dijaganya kemerdekaan ekspresi seni di masa ‘Demokrasi Terpimpin’ itu, ketika banyak tulisan diberangus.

    Petisi kami bertolak dari pandangan bahwa tak semestinya kemerdekaan seni dikorbankan untuk perjuangan politik (ditahun 1960-an itu disebut “Revolusi” dengan “R”) yang hendak mencapai masyarakat yang sempurna. Sebab, dalam prespektif yang anti-utopisme, masyarakat seperti itu tak akan pernah tercapai. Justru dengan merawat kemerdekaan, menurut Manifes Kebudayaan, kesenian akan mampu menjadi bagian pembebasan. Peran seni itu tak pernah berhenti, sebab tak mengasumsikan akan ada “sorga di bumi”- untuk meminjam judul kumpulan sajak seorang penyair Lekra, Sugiarti Siswadi.

    Dalam hal itulah petisi diejek sebagai “Manikebu” itu bertentangan dengan “realisme sosialis” yang dianjurkan Lekra. “Realisme” ini doktrin yang digariskan Stalin pada awal 1930-an untuk mendukung Rencana Lima Tahun. Bagi doktrin ini kemerdekaan kesenian sebuah kemewahan. Seperti pernah dikatakan Lenin, kemerdekaan hanya ada setelah masyarakat sosialis lahir.

    Kami berkeberatan. Kemerdekaan tak sebaiknya dikarantina. Arief dan penanda tangan Manifes Kebudayaan menganggap bahwa itu akan mengorbankan banyak hal, seperti yang terjadi di Uni Soviet, di mana sastrawan dipenjarakan, disisihkan, atau dieksekusi. Dan semuanya sia-sia, karena mereka di korbankan untuk sebuah masyarakat masa depan yang akan lahir. Dan terbukti eksperimen Stalin gagal membangun masyrakat seperti itu.

    Sebenarnya waktu itu Arief jauh dari Marxisme. Ia tak tertarik. Ia tak pernah ikut saya melihat-lihat buku terbitan Foreign Publishing House, Moskow, di Jln Kramat Raya, Jakarta, di bagian bawah kantor CC PKI, di mana karya Dostoyevski, Gorki, Turgenev, Plekanov, Lenin, Marx, Engels – dalam jilid yang tebal dan menarik – dijual dengan harga murah. Saya sering berbelanja: buku-buku Marxis dengan gambar wajah dua orang berjenggot mengingatkan saya pada perpustakaan ayah saya – maka mungkin saya, yang bangga bisa hafal lagu Internasionale sejak kelas tiga SD, menyenanginya karena nostalgia. Arief mendapatkan bacaan utamanya dari tempat lain, mungkin dengan bantuan P.K. Ojong, wartawan senior Star Weekly yang sangat dekat dengan dia. Ojong selama majalahnya ditutup Demokrasi Terpimpin (karena dianggap dekat dengan Partai Sosialis Indonesia yang dibubarkan Bung Karno), punya cara mendapatkan buku dari Eropa dan Amerika yang waktu itu tak boleh masuk ke Indonesia. Arief beruntung menikmati kesempatan itu.

    Saya kagum ia menguasai bagian-bagian yang sulit dari Being and Nothingness, versi Inggris karya Sartre. Tapi jika ia menyukai “eksistensialisme”, bukan karena ia ikut sebuah mode intelektual; eksistensialisme menyertai pandangan Arief di awal dan pertengahan 1960-an. Ia bahkan menulis skripsi untuk gelar sarjana psikologi dengan focus Chairil Anwar sebagai “eksistensialis”. Dan ini luar biasa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang tak pernah menyentuh sastra Indonesia.

    Saya kira yang merasuk ke dalam diri Arief dari para penulis Prancis sehabis pendudukan Nazi itu adalah semangat perlawanan dan ide kemerdekaan – dua thema yang menjadi corak pemikirannya selamanya.

    Dengan itulah Arief memilih jalan yang liat-jalan ide yang solid di atas dunia yang rekalsitran dan lunak. Ada sikap puritan dalam dirinya. Ia tak pernah mencari santapan lezat dan pakaian mentereng. Kesederhanan hidupnya berkaitan dengan keyakinan bahwa tubuh tak begitu penting. Dunia pemikiran lebih penting.

    Di sana sayup-sayup bergaung pemikiran Sartre-atau alam pikiran yang menyebabkannya mudah menerima pembagian biner ala Sartre: di satu pihak ada kehidupan en-soi – yang tak digerakkan kesadaran/pikiran/refleksi. Di pihak lain kehidupan pour-soi, yang sadar akan kesadarannya, yang bisa membentuk, mengubah keadaan obyektif.

    Prespektif biner seperti itu kuat dalam pandangan Arief: yang terkenal misalnya, ia melihat beda yang tegas antara “gerakan moral” dan “gerakan politik. Dan sebagiamana lazimnya, prespektif biner mengutamakan yang satu di atas yang lain. Bagi Arief, “gerakan politik”- juga yang berniat mengubah struktur yang busuk – selalu terjebak “tangan-tangan kotor”. Ia memilih “gerakan moral”. (Ia bahkan menjaga “yang moral” sampai hal yang sepele. Ketika menjadi anggota Badan Sensor Film di akhir tahun 1968, mewakili seniman, ia menolak menerima rokok 555 yang dibagikan importir film; baginya itu langkah kecil penyuapan).

    Marxismenya, yang ia dapat selama belajar dan bergaul di kampus Amerika di akhir tahun 1970-an, adalah Marxisme “ethis”. Ia terpikat karya-karya Marx muda. Marxisme Arief bermula dari kesadaran akan ketidakadilan, dan kemudian membentuk konstruksi teoritis masyarakat. Dari sana ia menganalisis keadaan. Disertasinya di Harvard tentang Cile dan pemerintah Allende yang kiri adalah contohnya.

    Dalam pemikiran ilmunya, Arief menjalankan apa yang disebut “idealisasi”, menangkap realitas dengan cara membentuknya dalam ide-dan dengan demikian ia menganalisis problem dengan gamblang.

    Sebab itu esai Arief Budiman kita baca sebagai prosa yang tajam dan terang, clair and et distinct. Kompleksitas, keruwetan dan inkonsistensi di dunia ini tak dibiarkan merecoki thesis yang hendak di kemukakan. Arief dengan ulung mampu mencerna masalah dan menguraikan persoalan menjadi sederhana. Saya pernah melihat ia pernah menjelaskan sebuah problem statistika yang pelik kepada teman-teman sekuliah. Mereka senang, perkara jadi jelas sebagaimana kalau orang mengikuti paparan Arief Budiman tentang, misalnya,  “theory dependensi” pembangunan ekonomi di Amerika Latin.

    Maka wajar kalau transformasi Arief dari seorang penggemar filsafat menjadi seorang man of action – dari yang bergairah dalam dunia pemikiran menjadi orang yang turun ke jalan untuk menyatakan statement. Aktivisme menghendaki arah yang jelas.

    Ini sejajar dengan perubahan sumber-sumber intelektual Arief: ia jadi tertarik kepada Marxism, setelah di masa muda begitu “masuk” ke pemikiran Camus dan Sartre.

    Di sini saya duga Sartre sebuah jembatan. Pemikir Prancis ini, setelah mencoba memaparkan filsafatnya sebagai alternative bagi Marxisme, di akhir tahun 1950-an berubah. Dalam Critique de la Raison Dialectique yang terbit ditahun 1960 Sartre menyatakan bahwa ekstensialisme berada di bawah Marxisme. Ia seorang “Marxis”, katanya merumuskan dirinya sendiri.

    Arief tak pernah menjelaskan perubahan ini dalam tulisannya (atau saya tak pernah mengetahuinya jika ia pernah). Tapi seperti Sartre, ia punya keyakinan humanisme yang unik. Baginya, manusia merdeka karena dihukum untuk merdeka, dan dengan kemerdekaan itu, ia tidak bisa dirumuskan dengan esensi tertentu. Ia menjadi dirinya karena memilih, berbuat, membuat.

    Aktivisme Sartre-filosof ini, kita ingat, bukan hanya menulis karya-karya yang tebal, tapi juga penggerak demonstarsi menentang kapitalisme dan imperialisme-bertolak dari pandangan tentang manusia yang tak punya ketentuan takdir. Aktivisme Arief juga demikian. Tapi harus saya tambahkan pada Arief, ada yang sangat berbeda.

    Satu tokoh dalam Huis Close Sartre mengatakan, “Neraka, itulah orang lain.” Berlawanan dengan itu, Arief menemui orang lain, ia mudah bertegur sapa, bertukar pikiran tanpa ngotot. Komunikasi merupakan dorongan yang dominan dalam dirinya.

    Bahkan ia melihat konflik sebagai komunikasi. Tak pernah tercetus kata “goblok” atau “bangsat” dari mulutnya. Ia tak pernah menghina pendapat lain. Kata negative yang paling kasar dari mulut Arief: “payah!”. Ia punya kapasitas mendengarkan, juga mendengarkan kritik yang paling keras.

    Dengan sangat wajar ia bergabung dalam “pergerakan”. Tapi ada satu faktor lainnya yang membuatnya  “bergerak”: Soe Hok Gie, adik kandungnya. Persisnya sejak Gie meninggal dalam kecelakaan di Gunung Semeru.

    Kakak adik ini jarang berbicara satu sama lain. Mereka saling menjauh, setidaknya di depan orang ramai. Dunia pergaulan mereka berbeda. Gie aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis; ia dekat dengan kalangan Partai Sosoialis Indonesia yang dibubarkan Bung Karno, dan pemimpinnya, Sjahrir di penjarakan. Gie lebih akrab dengan aktivis politik-termasuk dengan bekas peserta pemberontakan Permesta. Sedangkan Arief lebih banyak bergaul dengan perupa sperti Nazar, Zaini, Oesman Efendi, dan Trisno Sumardjo, dan kemudian dengan saya, Rendra dan penulis lain.

    Tapi ketika ia menulis obituari pendek tentang adiknya, Arief terasa tergetar, dan tergerak, oleh perjuangan Gie yang selama ini mungkin tak ia pedulikan. Ia menjemput jenazah Gie dari Gunung Semeru. Di sana ia diberitahu ada tukang peti mati yang menangis karena “kematian orang yang berani” itu.   

    Ini memberi Arief insight baru. Pada suatu saat Gie pernah menyatakan kebimbangan kepadanya dalam perjuangan untuk “menolong rakyat kecil yang tertindas”, ia merasa kian banyak dimusuhi. Kata Gie, “Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

    Tapi di kaki Semeru itu Arief tahu, tak demikian halnya. Soe Hok Gie tak kurang pendukung dan pengagum. Di sebuah peti mati adiknya ia berkata, “Gie, kamu tidak sendirian”.

    Kemudian Arief membuktikan itu dengan bergerak sebagai aktivis, seakan-akan mengambil bendera keberanian yang terjatuh yang dibawah adiknya yang tewas. Ia percaya seseorang ‘yang jujur dan berani” yang melawan ketidakadilan akan “mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang”. 

    Kepercayaan Arief kepada “banyak orang” itu bagi saya memperlihatkan sikapnya dalam dirinya, tak ada arogansi, tak ada kekenesan seseorang yang sedang berada di atas panggung perjuangan.

    Berbeda dengan Gie, Arief tak pernah mengatakan ia sendirian dan dengan itu merasa heroik. Kesendirian dalam diri Arief sangat dekat dengan keikhlasan. Ia suka memakai tokoh film Shane sebagai tauladan. Jagoan film western ini menghadapi kesewenang-wenangan tanpa melibatkan orang lain ke dalam bahaya, dan setelah berhasil memulihkan keadilan, pergi menghilang. Tanpa menunggu sorak-sorai.

    Itu sebabnya orang yang mengenalnya tahu, perjuangan Arief murni. Persahabtannya juga murni, sebagaimana cintanya kepada Leila-teman sekuliahnya yang kemudian menjadi istrinya. Saya ingat apa yang dikatakan seseorang yang mengaguminya dan mencintainya: Ivan Kats, yang bekerja di Congres for Cultural Freedom di Paris di tahun 1960-an.

    Sebelum Arief dan keluarga pindah ke Paris di tahun 1972 untuk bekerja bersama Ivan, di tahun 1964 Arief pernah tinggal di rumah keluarga Kats di Marly-le-Roi, sebuah kota kecil tua dengan hutan yang rindang di dekat Versailles. Kepada saya, yang mampir berlibur ke rumah itu sewaktu kuliah di Burges, Belgia, mendiang Ivan dan istrinya, Evelina, seorang pelukis, bercerita: mereka beberapa kali mengajak Arief berjalan menyusuri hutan. Mereka tertegun, sahabatnya akan berhenti di tepi sebuah parit dengan air yang jernih, dan dalam cuaca musim gugur, langsung minum dari air itu………”Ia sungguh akrab dengan yang murni,” kata Evelina. Kini Arief akan murni selama-lamanya.

    Jakarta, 23 April 2020.

    Sumber: Catatan Pinggir, Majalah Tempo, Edisi April –Mei 2020.

  • Sr. Franselin Sabu, SSpS: Tofa dan Kail untuk Orang Kusta

    Jakarta, berandanegeri.com. SUSTER Franselin Sabu, SSpS meminta saya bertemu di rumah kerabatnya dari Adonara, Flores Timur. Persisnya di sekitaran Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Kelurahan Bidaracina, Jakarta Timur. Tak jauh dari Gereja Santo Antonius Padua Bidaracina, paroki saya. Jauh-jauh terbang dari Ruteng, kota Kabupaten Manggarai, biarawati itu bertaruh waktu di Jakarta demi sejumlah panti rehabilitasi kusta di bawah naungan Yayasan Santo Damian Cancar, Keuskupan Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, milik Kongregasi Suster Misi Abdi Roh Kudus atau dalam kata bahasa Latin, Congregatio Missionalis Servarum Spiritus Sancti (SSpS).

    Ada Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar, Kabupaten Manggarai, Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Unit Binongko, Manggarai Barat, dan Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Unit Ngalu, Waingapu, Sumba Timur. Meski singgah di rumah kenalannya di Bintaro, Tangerang, Provinsi Banten. “Ada kenalan yang menahan saya harus nginap di rumahnya. Mereka menyediakan mobil dan supir kapan saja bisa mengantar saya selama di Jakarta. Jadi, kita ketemu di Otista agar tidak mengganggu aktivitas ade,” kata Sr Franselin, SSpS, Ketua Yayasan Santo Damian Cancar, Manggarai dari balik telepon genggam. Tak sulit mencari alamat kerabatnya setelah tukang ojek online mengantar saya ke alamat yang dituju.

    Sr. Franselin SSpS, dan Penghuni Pantai Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar, Manggarai

    Pagi ini, Sr Franselin mengontak saya dari Cancar, Manggarai, Flores. Ia mengabarkan, personil kelompok musik SLANK menyambangi anak asuhnya. Jauh-jauh dari Jakarta, SLANK berbaur dengan pengelola dan penghuni Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Unit Binongko, Labuan Bajo, Manggarai Barat, ujung barat Flores. Informasi kehadiran personil SLANK di panti rehabilitas kusta di bibir pantai itu membuat Sr Franselin segera meluncur ke panti rehabilitasi kusta dan cacat yang terlekat di kampung Binongko tersebut. Ingatan biarawati asal Adonara berdarah kampung Kluang, Boto, Lembata ini menyasar anak-anak asuhnya di panti rehabilitasi yang sebagian tinggal dan akrab dengan alam pedesaan dan pantai. Berikut kerja keras sebagian besar penghuni panti yang saban waktu bertaruh peluh di kebun atau laut untuk melatih kemandirian mereka.

    “Selama ini kita menampung, merawat, dan menyayangi para penghuni dengan cara berbeda. Mereka saling membantu satu sama lain dalam kondisi keterbatasan. Bagi yang punya kemampuan bertani, kita ajak mereka ambil bagian menolong temannya agar cepat mandiri. Jadi kalau penghuni panti ingin makan nasi atau jagung, kita minta donatur bantu tofa, pacul, parang atau klewang. Begitu pula kalau ingin makan ikan, kita minta donatur bantu kail atau sampan,” kata Sr Franselin. Menurutnya, di Ngalu jumlah orang kusta sebanyak kurang lebih 65. Mereka tinggal di rumah dan dilayani di sana pengelola. Kalau ada perawatan khusus dibawa ke klinik. Sedangkan di Binongko ada 20 orang. Kemudian di Cancar ada 80 orang tinggal dalam panti. Sebanyak 24 orang tinggal di luar.

    Biarawati yang ramah ini mengaku sudah menyatu dengan Manggarai. Ia menambahkan, selama mempersembahkan hidup dan karyanya bagi Tuhan melalui panggilan hidup membiara selama 34 tahun, nadinya sudah menyatu dengan komunitas SSpS Ruteng. Selama menjadi misionaris di Juba, kota negara Sudan Selatan, benua Afrika selama 6 tahun ia mengaku Tuhan sungguh luar biasa baginya.

    Sr. Franselin SSpS bersama Personil SLANK dan Penghuni Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat St. Damian Unit Binongko, Manggarai Barat

    Pimpinan SSpS Flores bagian barat mengutusnya kembali ke Manggarai, tanah Congka Sae, Manggarai, untuk kembali melayani Tuhan melalui sesama yang berkekurangan dalam fisik dan mental di Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar. “Jubah sangat indah dan saya bahagia melayani umat di negara baru itu meski beratap desingan peluruh akibat konflik yang mendera negara baru pecahan dari Sudan. Tetapi Tuhan mengutus saya kembali menjadi misionaris di Manggarai agar saya dapat melakukan sesuatu yang berguna dari Nusa Bunga untuk dunia,” kata Sr Franselin, anak kedua dari pasangan Alm Fransiskus Ola Ebang dan Almhr Juliana Kebang de Ona.

    Tentang Sudan Selatan

    Saya tertarik dengan kisah Sr Franselin SSpS tatkala menjadi misionaris di Juba, Sudan Selatan. Bayangan tentang Addis Ababa, tanah Misi di negara pecahan Sudan yang kering kerontang, tandus, dan panas sirna. Ia mengaku pada Minggu 5 September 2010 pukul 11.30 waktu setempat, untuk pertama kali ia menginjakkan kaki di tanah Addis Ababa, Sudan Selatan, Afrika. Udara kota negara Republik Demokratik Ethiopia yang terletak di Benua Afrika itu dingin dan hujan terus mengguyur. Setelah mengurus visa ke Sudan, Sr Franselin didampingi rekan-rekan biarawati sesama kongregasi yang bertugas di Addis Ababa, berkesempatan melihat-lihat kota itu sebelum ia terbang ke Juba, ibu kota Sudan Selatan.

    “Addis Ababa sangat indah. Setelah menelusuri beberapa tempat saya lihat para penghuni kota itu hidup berdampingan dengan damai. Kaum wanitanya juga cantik seperti kebanyakan orang Arab,” ujar Sr Franseline kepada saya melalui surat elektronik (e-mail) dari Addis Ababa, Ethiopia, Selasa, 14 September 2010. Setelah proses visanya selesai, seharusnya pada Senin, 13/9, pukul 10.00 waktu Addis Ababa biarawati asal Pulau Adonara, Keuskupan Larantuka, Flores Timur, itu bertolak ke Juba. Namun, penerbangan baru terjadi pada pukul 04.00 sore.

    Saat itu seluruh penumpang sudah di dalam pesawat, tetapi hujan lebat sekali sehingga para penumpang disuruh turun. Penerbangan akhirnya ditunda sampai besok siang pukul 13.30. “Seluruh penumpang diinapkan di hotel yang disiapkan maskapai penerbangan. Hotel ini juga menyediakan fasilitas internet sehingga saya bisa menghubungi rekan-rekan suster di komunitas,” kata biarawati kelahiran Boto, Lembata, NTT, ini.

    Menurut Sr Franselin, sebelum menjadi misionaris di Sudan Selagan ia bertugas di sebuah komunitas SSpS di Bima, Nusa Tenggara Barat. Di Bima ada sebuah karya sosial di bidang kesehatan yang ditangani para suster suster SSpS.Namun, belum beberapa lama mengemban misi sosial kemanusiaan itu, ia mendapat tugas baru di Sudan, Afrika Selatan. Sebelum menjalani misinya di Benua Afrika, Sr Franselin bertolak ke Australia guna mengikuti kursus persiapan selama enam bulan.

    Pada awal September 2010, ia terbang ke Addis Ababa, Ethiopia, melalui Dubai, Uni Emirat Arab. Tepat pada 5 September, ia menginjakkan kaki di Addis Ababa. Sebelum masuk Juba, ia terus membayangkan negara tujuannya, Sudan, yang tinggal seminggu melakukan jajak pendapat, referendum, untuk Sudan Selatan pada 9 Januari 2011. “Kita semua perlu berdoa agar referendum berjalan lancar, aman, dan damai agar nama Tuhan semakin dimuliakan di muka bumi,” kata Sr Franselin, biarawati yang lahir sebagai anak kedua kemudian mengikuti jejak Pastor Petrus Payong SVD (Alm), kakak sulungnya sebagai pelayan Sabda. “Saya sungguh merasakan kasih Tuhan dengan melayani sesama. Selama 34 tahun hidup membiara, saya sudah 28 tahun menyatu dengan orang-orang yang saya kasihi di Pusat Rehabilitasi Kusta Cancar dan sesama saudara saya di Manggarai. Di sini saya melayani dengan cara berbeda. Kalau ada yang berbaik hati menawarkan beras, pisang, ibu atau sayur maka saya minta tofa, klewang, benih agar anak asuh bisa bekerja memberdayakan diri dan saling melayani. Begitu pula kalau ada yang orang baik hati mau beri ikan untuk anak asuh saya minta bantuan kail atau sampan,” kata Sr Franselin.

    Jakarta, 6 September 2020
    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    Pernah ke Labuan Bajo

  • Josef Bataona dan Panggilan Tanggung Jawab terhadap Orang Lain

    Josef Bataona dan Panggilan Tanggung Jawab terhadap Orang Lain

    DALAM pekerjaan kita apa pun kita semua terpanggil untuk menjadi ‘pemimpin’. Bila roh pemimpin itu melekat dalam diri kita apakah kita sudah merasa berhasil memimpin orang lain? Apakah kepemimpinan kita dilandasi rasa ‘kasih sayang’? Apakah kita mampu memberikan pengaruh positif kepada orang lain sehingga bermaanfaat bagi mereka dan pada akhirnya mereka merasa berubah? Apakah kita mampu menjadi rule model dan menyapa dengan sikap rendah hati? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini menggugah Josef Bataona untuk membagikan pengalamannya sebagai pemimpin entah itu di Unilever, Bank Danamon, ataupun di Indoofood. Pengalaman-pengalaman Josef Bataona ini ia terbitkan sebagai buku. Sudah tiga buku tentang ‘kepemimpinan’ yang lahir dari tangannya (buku pertama berjudul Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku, buku keduaberjudul # Curhat Staf dan buku ketiga berjudul Leader as Meaning Maker, ketiga buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kompas). Pria kelahiran Lamalera, Kabupaten Lembata ini baru-baru ini menerbitkan buku ketiganya dengan judul Leader as Meaning Maker.

    Buku Leader as Meaning Maker menarik bagi mereka yang mau mempraktekan seni kepemimpinan dengan kasih sayang, memimpin dengan pesan-pesan positif, memimpin dengan sikap rendah hati, memimpin dengan menjadikan diri rule model, memimpin sebagai pemimpin yang mendengarkan.

    Dalam bukunya ini, Josef Bataona banyak menimba inspirasi selain dari pengalamannya, ia banyak menimba inspirasi dari penulis-penulis seperti Dale Carnegie, Stephen Covey, Maxwell, Shannon L. Alder, Maya Angelou.

    Memimpin dengan Kasih Sayang

    Josef Bataona dalam bukunya Leader as Meaning Maker pada sub judul “Leading with Love” menginterupsi para pemimpin betapa memimpin dengan kasih sayang adalah point paling penting dalam memimpin. Ia menulis:

    “Saya rutin menyimak video pendek “Minute with Maxwell’ yang dikirim pada saya setiap hari. Ada satu hal yang ingin saya angkat dan bagi kepada pembaca semua, walaupun saya sangat yakin semuanya sudah paham, namun tidak ada salahnya untuk terus saling mengingatkan. Ia mulai videonya dengan ungkapan berikut ini:

    When you stop loving your people, you should stop leading your people.”

    Alasannya sederhana. Saat seorang leader memimpin dengan kasih sayang, yang senantiasa muncul bukan tentang siapa leadern-ya. Apa pun yang mereka lakukan bukan berkaitan dengan siapa leaderitu, melainkan tentang orang lain, orang yang mereka pimpin. Ungkapan berikut juga tidak kalah menarik:

    It is wonderful when the people believe in leaders, but more wonderful when the leader believe in people. That is leading and love all about.”

    Maxwel mengakui, leadership itu sulit, dan penuh tanggung jawab yang berat. Banyak di antara kita yang mungkin telah lelah menjadi seorang leader.Walaupun demikian, apa yang memotivasi kita untuk terus berperan sebgai leader adalah karena kita mengasihi orang-orang (hal 17).”

    Tulus Mendengarkan

    Dale Carnigie adalah inspirator yang banyak menginspirasi Josef. Buku Dale Carnigie yang membuat namanya terkenal adalah “How to Win Friends and Influence People”.  Rasa kasih terhadap manusia, membangkitkan semangat, mengekspresikan gagasan, adalah nilai-nilai penting yang dapat kita peroleh dari buku ini. Josef dalam tulisannya “Ketertarikan dan Tulus Mendengarkan” dengan inspirasi dari Carnigie bertutur:

    “Dalam paparannya di buku The Leader in You, Dale Carnegie mengungkapkan:

    “Tunjukan ketertarikan yang tulus kepada orang lain. Tidak ada cara yang lebih baik untuk membuat orang tertarik kepada Anda. Orang akan merespon orang yang tertarik secara tulus kepada mereka. Mereka tidak punya pilihan lain selain merespon. Ini salah satu fakta paling dasar dari psikologi manusia. Kita tersanjung dengan perhatian orang lain. Itu membuat kita merasa istimewa, merasa penting.’

    Pemimpin yang andal senantiasa meluangkan waktu untuk mendengarkan, turun dan hadir secara fisik di tengah karyawan, bahkan di daerah yang jauh sekalipun. Pemimpin hadir melalui kedua telinga yang terbuka lebar serta hati yang siap untuk mendengarkan. Banyak hal yang sesungguhnya karyawan ingin sampaikan kepada pimpinan bilamna mereka mendapat ruang dan kesempatan di tempat kerja mereka (hal 40).”

    Pemimpin yang Bertanya

    Mantan CEO Harley Davidson, Rich TeerLink bersama konsultan pengembangan organisasi Lee Ozly, dalam karya mereka yang berjudul More Than Motorcycle: The Leadership Journey at Harley-Davidson menulis jalan yang ditempuh management Harley Davidson untuk ke luar dari gempuran kekalahan mereka terhadap produk-produk Jepang.

    Seperti paham betul dengan ‘technology makes it possible, people make it happen’, raksasa motor ini mengkonsentrasikan seluruh langkahnya untuk membenahi orang dan organisasinya. Di sektor kepemimimpinan mereka berpendapat: When the crisis goes away, leaders have to stop taking answer to their people instead take question to their people. Bertanya sebagai sarana kepemimpinan memiliki derajat efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jawaban.

    Dalam Tulisannya “Mengenal dan Memotivasi Team” (hal 98)  Josef juga menekankan pentingnya seorang pemimpin yang terus bertanya, ia menulis:

    “Melalui cuitan di Twiter awal Mei lalu, Steve Keating sengaja menggugah perhatian kita dengan menceritakan pengalamnnya bertanya kepada banyak orang yang menduduki posisi leader: what motivates your people? Menurut Steve dalam menjawab pertanyaan itu, seorang authentic leaders mempunyai Jawaban, sementara yang lainnya mempunyai respon. Apa perbedaan keduanya itu ?

    Jawaban didasari oleh apa yang ia ketahui. Sementara itu, respon didasari oleh apa yang ia pikirkan atau yang ia pikir ia tahu. Authentic leader tahu apa yang memotivasi orang-orangnya , sebab ia bertanya kepada mereka, sementara leader yang lain hanya berasumsi bahwa mereka tahu, atau mengira bahwa apa yang memotivasi seseorang akan juga memotivasi orang lain.

    Berasumsi bahwa mereka tahu apa yang memotivasi orang lain adalah kesalahan yang umum dilakukan leader yang tidak efektif. Setiap orang itu unik. Mereka memiliki pengalaman hidup yang berbeda yang membentuk keyakinannya, apa yang disukai atau tidak disukai, serta apa yang memotivasinya. Membuat asumsi dengan menggeneralisasi hal tersebut merupakan kesalahan yang fatal.

    Authentic leader meluangkan waktu berharganya untuk memahami apa yang menjadi motivator unik dari setiap individu. Terkadang, itu berarti membantu timnya menemukan apa yang memotivasi mereka, karena seringkali orang tidak berhenti mempertimbangkannya sebagai pertanyaan penting (apa yang memotivasi) bagi diri sendiri.

    Authentic leader tahu bahwa setiap orang pada dasarnya punya motivasi. Namun, ada yang kehilangan motivasi dalam perjalanan hidup ini sehingga perlu diingatkan dan di-refresh. Sementara, anak buah lain yang sudah punya motivasi perlu dibantu untuk tetap mempertahankan motivasinya.

    Apa pun lingkungan tempat tim Anda berada, salah satu tanggung jawab utama sebagai seorang leader adalah membantu mereka untuk mempertahankan motivasi atau menumbuhkan kembali motivasi yang sudah redup. “

    Legacy

    Stephen Covey, penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People, menganjurkan 7 kebiasaan untuk mendorong manusia melihat dunia dengan cara yang baru. Salah satu point yang diajukan adalah bagaimana kita ‘menuju ke tujuan akhir’. Akan seperti apa kita 5 tahun atau 10 tahun ke depan ditentukan oleh kebiasaan kita hari ini. Kata-kata seperti apa yang hendak kita dengarkan pada saat pemakaman kita? Ditentukan oleh kebiasaan kita hari ini. Legacy menjadi sesuatu yang penting di mata Stepen Covey.

    Dalam tulisannya “Legacy”, Josef juga menanamkan pada karyawannya betapa pentingnya legacy. Ia menulis:

    “Megamendung Learning Center menjadi saksi betapa banyak karyawan yang telah memutuskan misi hidupnya melalui program 7 Habits of Highly Effective People. Program ini sekaligus mengajak peserta untuk memutuskan saat ini juga, legacy apa yang akan ditinggalkan setelah mereka pergi? Mereka ingin diingat sebagai apa atau siapa? Dan, tentu saja ini buah dari kesan yang mendalam yang menyentuh emosi orang sekitarnya. Saat saya pensiun dari Unilever akhir Juli 2011, karyawan kami memberikan sebuah lukisan besar (foto di atas) sebagai my leaving legacy , yang menceritakan bahwa langkah yang telah kami lakukan bersama, yakni membangun budaya positif untuk memacu pertumbuhan setiap karyawan sudah membuahkan hasil (hal 204).”

    Filsuf Emmanuel Levinas, dengan sangat tepat menggambarkan bahwa tanggung jawab muncul karena “tatapan wajah” orang lain. “Tatapan wajah” orang lain, menurut Levinas, memanggil saya untuk bertanggung jawab terhadapnnya. Dengan menampakkan diri saja mereka sudah membebankan tuntutan yang tidak terbatas kepadaku. Wajah orang lain, kenyataan bahwa mereka – entah laki-laki entah perempuan, entah orang dewasa entah anak-anak – ada dan menatapku sudah membuat aku menjadi seorang hamba yang bertanggung jawab atas keberadaan mereka atas hidup dan tingkah laku mereka. Josef Bataona dalam seluruh uraian bukunya Leader as Meaning Maker telah menghidupi spirit dari Levinas ini. Terpanggil untuk bertanggung jawab terhadap orang lain. (Paskalis Bataona)

    • Bila Anda tertarik untuk memiliki buku Leader as Meaning Maker eksklusif dengan tanda tangan penulis, dapat menghubungi kami lewat WA: Paskalis Bataona 081280642742.

  • Mengasah ‘Listening Skill’ menuju Peran sebagai ‘Meaning Maker’

    Mengasah ‘Listening Skill’ menuju Peran sebagai ‘Meaning Maker’

    Oleh Josef Bataona

    “I would never read a book if it were possible for me to talk half an hour with the man who wrote it.” (Woodrow Wilson)

    BUKU baru telah diluncurkan. Ada syukuran kecil di tengah keluarga. Moment untuk berterima kasih kepada kedua inspiratorku, Lena istriku dan Eka putriku. Dan Bersama kami memanjatkan Puji Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Rahim, karena hanya dengan perkenanNya, buku Leader as MEANING MAKER bisa mengunjungi pembaca.

    Buku ini menghantarkan berbagai pemikiran positif, yang ingin saya sebarkan melalui pembaca. Merekalah yang diharapkan, setelah mendapat inspirasi dari buku ini, akan membagi juga kepada yang lain. Berikut foto syukuran sederhana di rumah, saat peluncuran buku Leader as MEANING MAKER.

    Menempah Pribadi yang Tahan Banting

    Perjalanan meluncurkan buku, diawali dengan buku pertama yang hadir di tahun 2015, dengan judul, Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku. Ada yang melihatnya sebagai kisah perjalanan hidupku. Mereka benar. Tapi ada juga yang melihatnya sebagai sharing pengalaman hidup dan professional dalam meniti karier, mulai dari desa yang hingga saat ini masih banyak yang tidak mengenalnya. Itulah desa Lamalera, Lembata, Nusa Tenggar Timur. Dan pemahaman inipun benar. Saya suka story telling. Saya suka mengangkat berbagai pengalaman keseharian, termasuk hal yang kecil sekalipun. Sebut saja makna penting di balik kartu ucapan terima kasih yang saya tulis tangan dan menandatanganinya.

    Di keluargapun tidak lupa saya mengangkat cerita bagaimana anakku yang masih SD mengajarkan cara libur yang benar. Atau pengalaman seorang ayah yang memberi contoh berpikir kreatif, menentang arus. Dan lain-lain. Banyak sisi human yang melatar-belakangi semua cerita ini, termasuk didalamnya, ketulusan untuk mengakui bahwa saya melakukan kesalahan dan meminta maaf serta mengambil langkah solusinya. Jadi buku ini diharapkan untuk memberikan inspirasi bagaimana menempah diri menjadi pribadi yang tangguh, siap menerima berbagai panggilan tugas yang lebih besar lagi.

    Mendengarkan dengan Hati

    Banyak diantara kita yang ingin menjadi pemimpin. Untuk itu berbagai persiapan dilakukan, termasuk belajar dari berbagai sumber, termasuk dari pengalaman setiap hari. Namun sering orang lupa, kalau sebelum dia mampu memimpin orang lain, dia harusnya yakin bahwa dia bisa memimpin diri sendiri.

    Salah satu skill yang dibutuhkan baik dalam memimpin diri sendiri atau memimpin orang lain adalah “Listening Skill”. Banyak pemimpin yang sangat yakin mereka memiliki skill ini. Dan ini membuat saya tergelitik untuk mengajak follower twitter saya untuk diskusi selama 6 bulan, setiap hari Kamis selama sejam. Tema awal yang saya lontarkan adalah” Boss yang asyik itu kayak apa sih?”

    Hasil diskusi itu menggelitik saya untuk menerbitkannya di buku dengan judul,  #CURHATSTAF Seni Mendengarkan bagi Para Pemimpin. Melalui buku ini kami mengangkat berbagai kemungkinan untuk mengajak para Pemimpin untuk membuka Hati, karena siapa tahu suara yang disampaikan melalui diskusi twitter ini boleh jadi suara anak buahmu yang tidak terdengarkan, karena mereka tidak berkesempatan untuk menyampaikan. Atau kesempatan itu ada tapi entah mengapa mereka takut menyampaikannya. Layak dipercaya, merupakan syarat penting seorang pemimpin yang tangguh.  Sampai disini, karyawan atau tim memutuskan untuk menjadi anggotanya, selain karena mereka meyakini apa yang dikerjakan sang pemimpin untuk organisasi, juga apa yang dilakukan untuk membuat teamnya tumbuh berkembang. Diharapkan melalui buku ini, pembaca akan terus mengasah listening skillnya. Cukupkah sampai disini? Mari kita mencoba menarik benang merah kedua buku tersebut dengan buku ketiga: Leader as MEANING MAKER.

    Menemukan MAKNA Hidup

    Bila kita mencermati jumlah pekerjaan yang dilakukan setiap hari, terkadang kita kewalahan sendiri. Ada yang bangga karena banyak yang dikerjakan, ada yang cemas karena melihatnya sebagai beban. Namun berapa sering kita mengajukan pertanyaan pada diri sendiri: Mengapa saya melakukan pekerjaan tersebut. Jawaban tersebut bisa beragam tergantung sudut pandang:

    1. Ada yang menganggapnya sebagai pelaksanaan tugas dalam job description, karena dia digaji untuk itu.
    2. Ada juga yang melihatnya sebagai bagian dari pelajaran dalam membangun kariernya
    3. Ada juga yang melihat lebih jauh lagi, sebagai Langkah memenuhi Panggilan Hidupnya.

    Kelompok ketiga, telah berhasil untuk menemukan apa MAKNA dibalik apa saja yang dia kerjakan. Bila ini ditemukan maka akan memotivasinya dalam bekerja. Apalagi kalau yang bersangkutan adalah seorang pemimpin, yang merasa terpanggil untuk juga membantu teamnya dalam menemukan MAKNA di balik pekerjaan mereka. Buku ketiga yang baru saja diluncurkan, Leader as MEANING MAKER, diharapkan bisa menginspirasi pembacanya untuk menyimak perjalanan hidup dan perjalanan profesionalnya untuk menemukan makna di balik apa saja yang dia kerjakan. Kemudian membantu teamnya untuk juga menemukan makna hidup mereka. Semoga ini bisa menjadi bagian dari pemenuhan panggilan hidup sang pemimpin.

    “We learn something from everyone who passes through our lives. Some lessons are painful, some are painless.. but, all are priceless.” (Unknown).

    Sumber Tulisan: https//www.josefbataona.com

  • Pengetahuan Menurut Immanuel Kant

    Pengetahuan Menurut Immanuel Kant

    Pengantar

    Immanuel Kant adalah filsuf modern yang paling berpengaruh. Pemikirannya yang analitis dan tajam menjadi acuan bagi segenap filosof terutama dalam bidang epistomologi, metafisika dan etika

    Kant lahir pada 22 April 1724 di Konigsberg, sebuah kota kecil di Prusia Timur. Mulai tahun 1740 belajar filsafat, matematika, ilmu pengetahuan dan teologi. Tahun 1755 mendapat gelar doktor, lalu bekerja sebagai dosen di universitas Konigsberg. Pada bulan Maret 1770, Kant mendapat gelar profesor logika dan metafisika dengan disertasi “De mundi sendihilis atque intelligihilis forma et principiis” (Tentang Bentuk dan Asas-asas dari Dunia Inderawi dan Dunia Akal Budi). Sepanjang hidupnya Kant tidak pernah meninggalkan kota kelahirannya Konigsberg.

    Karya Kant dapat dibagi dalam dua masa, masa prakritis dan masa kritis. Dalam masa prakritis, 1755-1770 Kant dipengaruhi oleh Rasionalisme ala Leibniz-Wolf. Namun, kemudian berkat filsafat Hume, Kant memulai suatu filsafat yang dinamainya ‘kritisisme’. Terbitnya buku Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Budi Murni), 1781, menandai masa kritisisme Kant.

    Kant menulis bahwa empirisme filsuf Skotlandia, David Hume, membangunkannya dari ‘tidur dogmatiknya’. Filsafat yang bersifat dogmatis menerima kebenaran-kebenaran asasi agama dan dasar ilmu penegetahuan begitu saja, tanpa mempertanggunjawabkannya secara kritis. Dogmatisme menganggap pengenalan obyektif sebagai hal yang sudah dengan sendirinya. Sikap demikian, menurut Kant adalah sikap yang keliru. Mestinya, orang harus bertanya “Bagaimana pengenalan obyektif itu mungkin?” Oleh karena itu penting sekali menjawab pertanyaan mengenai syarat-syrat kemungkinan adanya pengenalan dan batas-batas pengenalan itu.

    Pengenalan

    Dalam Critique of Pure Reason, Kant mempersoalkan: Apakah metafisika itu mungkin atau tidak untuk memperluas pengetahuan kita tentang kenyataan? Apakah metafisika sungguh bisa memberi pengetahuan yang pasti mengenai Allah, kebebasan dan keabadian? Pertanyaaan ini jelas merupakan sebuah kesangsian atas kebenaran atas metafisika yang pernah menjadi “ratu ilmu-ilmu”, sebab dalam kenyataan, metafisika, tidak seperti fisika, tidak memiliki metode yang terpercaya untuk memecahkan masalah-masalahnya. Klaim-klaimnya bisa bertentangan dari sistem ke sistem. Yang dipersoalkan Kant dalam metafisika adalah upaya untuk menghasilkan ‘pengetahuan a priori’ atau pengetahuan murni. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang tidak diturunkan dari pengalaman, melainkan berasal dari struktur-struktur pengetahuan subyek sendiri, kosong dari pengalaman empiris. Kant memberi contoh, dalam kehidupan sehari-hari kalimat ‘semua peristiwa ada sebabnya’ adalah pengetahuan a priori. Kita tidak perlu membuktikan secara inderawi apakah semua peristiwa disebabkan sesuatu dan asas ini bisa dipakai universal untuk segala peristiwa yang belum terjadi. Soalnya bagi Kant adalah: Bagaimana pengetahuan a priori itu mungkin?

    Untuk menjawab itu, Kant mulai dengan menyelidiki putusan. Suatu putusan menggabungkan dua pengertian, yang masing-masing berperan sebagai subyek dan predikat. “Rumah itu mahal”, “Lingkaran itu bulat”. Dalam putusan pertama (rumah itu mahal) predikatnya (mahal) menambahkan sesuatu kepada subyeknya (rumah). Sebab tidak semua rumah adalah mahal. Ada juga rumah yang murah. Karena predikat menambahkan sesuatu yang baru kepada subyek. Maka putusan itu oleh Kant disebut putusan sintetis. Penambahan ‘mahal’ itu diperoleh setelah ada pengalaman dengan rumah-rumah yang lain. Oleh karena itu putusan ini pun disebut a posteriori. Sebaliknya putusan kedua (lingkaran adalah bulat): di sini predikat ‘bulat’ tidak menambahkan sesuatu yang baru kepada subyeknya (lingkaran). Sebab semua lingkaran adalah bulat. Oleh karena putusan macam ini diperoleh sebelum ada pengalaman dengan lingkaran-linkaran inderawi, cuma berdasarkan analisa terhadap subyeknya, maka, putusan ini oleh Kant disebut: putusan analitis, dan diperoleh secara a priori. Akan tetapi menurut Kant, di samping putusan sintesis a posteriori dan putusan analitis a priori tadi masih ada putusan jenis lain yaitu putusan sintetis a priori. Putusan ini sekalipun bersifat a priori (jadi analitis), namun sintesis juga. Misalnya: “Segala kejadian ada sebabnya”. Putusan ini bersifat sintesis, karena predikatnya menambahkan sesuatu yang baru pada subyeknya. Tetapi anehnya putusan ini tidak diperoleh berdasarkan pengalaman melainkan secara a priori, walaupun bukan dengan jalan menganalisa subyek (dalam pengertian “kejadian” tidaklah tersirat pengertian “sebab”).

    Ilmu pasti sebenarnya disusun atas dasar putusan a priori yang bersiafat sintesis ini. Ilmu pengetahuan mengandaikan adanya putusan-putusan yang memberi pengertian baru (sintesis) dan yang pasti mutlak serta bersifat umum (a priori). Maka ilmu pengetahuan menuntut adanya putusan-putusan a priori yang bersifat sintesis. Oleh karean itu, suatu metafisika yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, harus juga bekerja dengan mempergunakan putusan-putusan yang a priori, namun yang bersifat sintesis.

     Tingkatan-tingkatan Daya Pengenalan

    Dalam ajarannya menegenai daya pengenalan Kant mengatakan bahwa daya pengenalan adalah bertingkat, dari tingkat yang paling rendah, yaitu pengamatan inderawi, menuju ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu akal (Verstand), untuk akhirnya sampai kepada rasio (Vernunft).

    1. Pengetahuan pada Taraf Inderawi

    Kant menerima pandangan para filsuf empiris Inggris bahwa pengetahuan berhubungan dengan pengalaman inderawi, tetapi menurut Kant, tidak seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Bagaimana kita berhubungan dengan obyek di luar diri kita? Menurut Kant lewat intuisi langsung. Namun Kant menambahkan bahwa intuisi kita mengandaikan bahwa kita dipengaruhi oleh obyek dengan cara tertentu. Kemampuan subyek untuk menerima representasi obyek disebutnya sensibilitas atau kemampuan menginderai. Jadi, intuisi manusia adalah intuisi inderawi. Efek sebuah obyek pada kemampuan representasi atau pikiran sejauh dipengaruhinya disebut penginderaan. Obyek penginderaan disebutnya penampakan.

    Kant menolak anggapan empirisme bahwa penginderaan bersifat murni a posteriori. Menurutnya ada dua unsur dalam penampakan obyek, yaitu unsur materi (material) dan bentuk (forma). Unsur materi adalah sesuatu yang berhubungan dengan isi penginderaan itu, sedangkan forma adalah sesuatu yang memungkinkan berbagai penampakan itu tersusun dalam hubungan-hubungan tertentu. Jadi, forma merupakan unsur a priori dari penginderaan sedangkan materi merupakan unsur a posteriori. Kant mengatakan ada dua forma murni penginderaan, yakni: ruang dan waktu.

    Menurut Kant ‘penampakan obyek’ bukanlah ‘obyek’. Obyek di luar kita itu, tidak kita ketahui. Dengan istilah Kant das Ding an sich (benda pada dirinya) tidak kita ketahui. Yang kita tangkap sebagai penampakan itu sudah menjadi sintesis antara efek obyek pada subyek dan unsur a priori yakni forma ruang dan waktu yang sudah ada pada subyek. Kant juga membedakan antara ‘penginderaan eksternal’ yakni persepsi terhadap obyek dari luar diri kita dan ‘penginderaan internal’, yakni persepsi atas keadaan-keadaan eksternal kita. Forma ruang adalah bentuk penampakan dari penginderaan internal, sedang forma waktu adalah penginderaan internal itu. Dengan mengatakan ruang dan waktu bersifat a priori, Kant tidak memaksudkannya bahwa keduanya tidak real. Menurut Kant, memang das Ding an sich tidak kita ketahui, tetapi kenyataan empiris selalu sudah merupakan sintesis antara unsur a priori dan a posteriori. Jadi, kenyataan yang tampak itu tidak hanya kelihatannya berada dalam ruang dan waktu, melainkan sungguh berada dalam ruang dan waktu. Keduanya menjadi syarat kemungkinan penampakan obyek empiris. Kant mengatakan bahwa ruang dan waktu itu secara empiris real, tetapi secara transedental ideal. Secara empiris real, karena ruang dan waktu bukan ilusi, melainkan sesuatu yang nyata secara inderawi. Secara transedental ideal, karena ruang dan waktu hanya bisa diterapkan pada penampakan, tidak pada das Ding an sich, jadi lebih ditentukan oleh struktur subyek.

    2.Pengetahuan pada Taraf Akal Budi (Verstand

    Bersamaan dengan pengenalan inderawi itu bekerjalah akal (Verstand) secara spontan. Kerja akal mengatur data-data inderawi, yaitu dengan mengemukakan putusan-putusan. Segala hasil pengamatan indera diolah oleh akal hingga menjadi satu sintese yang teratur menjadi putusan-putusan. Umpamnya: saya melihat sebuah rumah. Sebenarnya saya melihat kesan-kesan atau cerapan-cerapan inderawi yang bermacam-macam. Saya melihat genting-genting atapnya yang banyak itu, juga jendela-jendelanya, pintu-pintunya, batu-batu temboknya dan lain-lainya lagi. Semua kesan atau cerapan itu pada dirinya sendiri tidak harus pasti menampakkan suatu hal yang secara tertentu teratur. Sebab rumah itu dapat diihat dari segala sudut, dari kiri, dari kanan, dari depan, dari belakang. Cerapan-cerapan itu belum mewujudkan sintesis. Lalu bekerjalah akal dengan daya khayal atau fantasinya untuk menyusun cerapan-cerapan itu hingga menjadi suatu gambar yang dikuasai oleh bentuk ruang dan waktu. Dengan demikian saya mendapat gambar rumah yang saya amati. Gambar inilah yang disebut fenomenon atau penampakan. Gambar ini belum saya kenal, sebelum saya pikirkan. Berpikir, demikian Kant adalah menyusun putusan. Suatu putusan terdiri dari subyek dan predikat serta penghubung. Saya dapat memutuskan: “Rumah itu Indah”. Jikalau demikian putusan ini baru berkisar di bidang empiri, sebab baik rumah maupun indah adalah pengertian empiris.

    Yang diutamakan Kant memang pengertian-pengertian transedental, yang menurut dia tidak  timbul dari pengamatan, tapi telah ada pada kita, sekalipun pengertian-pengertian itu baru diaktualkan pada kesempatan pengamatan inderawi. Kesan-kesan atau cerapan-cerapan yang telah disusun menjadi gambar tadi dipikirkan menurut salah satu pengertian a priori tertentu, atau menurut macam-macam pengertian  a prori. Dalam soal rumah tadi, putusan saya dapat berbunyi: “Rumah adalah substansi”. Pengertian substansi ini bukan pengertian empiris, pengertian ini tidak diperoleh a posteriori, melainkan a priori. Pengertian yang demikian itu oleh Kant disebut kategori.

    Menurut Kant, kategori-kategori yang secara khusus bersifat asasi adalah kategori-kategori yang menunjukan kuantitas, kualitas, hubungan, dan mentalitas. Masing-masing mengandung di dalamnya tiga bentuk kategori, yait: kuantitas mengandung di dalamnya kategori-kategori kesatuan, kejamakan, dana keutuhan; kualitas mengandung di dalamnya kategori-kategori realitas, negasi dan pembatasan; hubungan mengandung di dalamnya kategori-kategori substansi, kausalitas, dan keadaan timbal balik; modalitas mengandung di dalamnya kategori-kategori kemungkinan, peneguhan, dan keperluan.

    Sesuai dengan revolusi Kopernikannya, Kant memandang bahwa agar obyek diketahui, obyek itu harus menyesuaikan diri dengan kategori-kategori itu dan bukan sebaliknya. Dalam hal ini kategor-kategori itu dapat diumpamakan seperti kacamata merah yang membuat kita memandang benda-benda berwarna merah. Benda-benda itu tentu tidak berwarna merah, tetapi kita tidak melihatnya kecuali dalam warnah merah karena kacamata itu melekat dalam diri kita. Tanpanya benda tidak tampak; dengannya, benda tampak tapi dalam warna merah. Apakah lalu berarti bahwa benda merah itu adalah fiksi kita saja? Kalau kita ikuti penjelasan Kant, kita akan menemukan bahwa jawabannya adalah tidak. Menurut Kant, obyek itu tampak hanya dengan kategori subyek, jadi tak ada cara lain kecuali mengetahuinya dengan struktur kategori akal budi itu, dan yang kita ketahui itu hanyalah penampakan (fenomena) dari das Ding an sic, bukan dirinya sendiri (noumena).

     3. Pengetahuan pada Taraf Rasio (Vernunft)

    Dalam “Dialektika Transedental”, Kant membedakan rasio (Vernunft) dari akal budi (Verstand). Istilah Vernunft ini mengacu pada kemampuan lain yang lebih tinggi dari akal budi. Rasio ini menghasilkan ide-ide transendental yang tidak bisa memperluas pengetahuan kita tetapi memilih fungsi mengatur putusan-putusan kita ke dalam sebuah argumentasi. Sementara akal budi langsung berkaitan dengan penampakan, rasio berkaitan secara tidak langsung, yakni dengan mediasi akal budi. Dibedakan juga adanya pengertian-pengertian yang berasal dari rasio, yang disebut idea, dan pengertian-pengertian dari akal. Pengertian-pengertian dari rasio adalah pengertian yang mengatasi pengalaman, pengertian-pengertian mengenai realitas yang mengatasi pengalaman (umpamanya: pengertian atau idea tentang Allah). Pengertian-pengertian rasio tidak memiliki nilai konstitutif bagi daya pengenalan manusia, artinya: tidak ikut menyusun pengenalan manusia, yaitu pengetahuan sebagaimana dihasilkan di bidang ilmu pengetahuan. Pengertian-pengertian rasio memiliki daya mengatur, artinya idea-idea tidak memperbanyak pengetahuan kita dan tidak menambah kebenaran baru. Oleh karena itu idea-idea adalah jauh daripada kenyataan yang obyektif. Jadi keadannya berbeda dengan kategori-kategori yang ada sangkutpautnya dengan kenyataan yang obyektif. Idea-idea sebagai pengertian-pengertian yang dimiliki rasio, sekaligus mewujudkan ‘persangkaan rasio’ sehingga apa yang dikemukakan idea adalah suatu hal yang semu secara transedental, artinya, bahwa idea-idea itu tidak memberikan gagasan tentang kenyataan-kenyataan yang ada (das Ding an sich), tidak berada sebagai benda. Idea-idea itu tiada isinya, oleh karenanya mewujudkan bangunan bagi ilmu yang semu atau khayali dari metafisika yang rasional. Idea berbeda sekali dengan kategori, sebab kategori dikaitkan dengan gagasan tentang hal-hal yang nyata.

    Menurut Kant, ada tiga idea transedental. Idea pertama menjamin kesatuan akhir dalam pengalaman subyek (kesadaran atau cogito) dalam hubungannya dengan dirinya sendiri dan disebt idea jiwa. Idea kedua menjamin kesatuan akhir dalam hubungan-hubungan kausal dalam penampakan obyek dan disebut idea dunia. Idea ketiga menjamin kesatuan akhir dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan entah yang tampak atau tidak dan disebut idea Allah. Selanjutnya, menurut Kant, ketiga idea rasio murni ini mendasari tiga cabang tiga cabang pokok metafisika menurut klasifikasi Wolff. Jiwa atau cogito menjadi obyek penelitian psikologi (psycologia rationalis). Seluruh penampakan obyek menjadi penelitian kosmologi (cosmologia rationalis). Akhirnya, kenyataan akhir menjadi obyek penelitian teologi (theologia transcedentalis).

    Ketiga idea ini mengatur argumentasi-argumentasi kita tentang pengalaman, tetapi ketiga idea sendiri tidak termasuk pengalaman kita. Idea-idea ini kosong, tiada isinya. Maksud Kant: idea-idea ini bukanlah idea tentang kenyataan-kenyataan yang ada, bukan tentang ‘benda dalam dirinya sendiri’. Jiwa, dunia dan Allah tidak boleh dipandang sebagai benda-benda, sebab ketiganya adalah aturan-aturan rasio kita yang memberikan kesatuan yang sebesar mungkin kepada pengertian-pengertian yang dihasilkan akal. Dengan adanya ketiga idea ini, Kant berharap tercapailah satu kesatauan dan kesempurnaan yang dicita-citakan akal budi dalam mengatur dunia fenomenal, dunia inderawi dan dunia lahiriah.

    Mengapa Kant, kendati menerima ketiga idea itu, berpendapat bahwa mereka tidak bisa diketahui lewat pengalaman? Karena pengalaman itu, menurut Kant hanya terjadi di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga idea itu berada pada dunia noumenal. Idea mengenai jiwa, dunia dan Allah bukanlah pengertian-pengertian tentang kenyataan inderawi, bukan, ‘benda pada dirinya sendiri’ (das Sing an sich). Ketiganya merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologis yang berada di luar jangkuan pembuktian teoritis-empiris.

    Tanggapan terhadap Kant

    Kant menamakan filsafatnya sebagai ‘kritisisme’ dan ia mempertentangkannya dengan dogmatisme. Menurut Kant kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Semua filsuf yang mendahului Kant, digolongkannya sebagai dogmatisme, karena mereka percaya mentah-mentah pada kemampuan rasio tanpa menyelidikinya lebih dahulu secara kritis. Sebaliknya Kant bermaksud menyadari kemampuan rasio secara obyektif dan menentukan batas-batas kemampuan rasio.

    Kritisisme Kant dapat dianggap sebagai suatu usaha untuk memperdamaikan rasioanalisme dengan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur-unsur a priori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman (seperti ‘idea-idea bawaan ala Descartes). Empirisme menekankan unsur-unsur a posteriori, berarti unsur-unsur yang berasal dari pengalaman (misalnya John Locke yang mengaggap rasio as a white paper). Menurut Kant, baik rasionalisme maupun empirisme dua-duanya berat sebelah. Kant berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan sintesa antara unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur a posteriori.

    Walapun Kant berusaha untuk memperdamaikan rasionalisme dan empirisme, antara unsur a priori dan unsur a posteriori dalam pengetahuan manusia, sebenarnya Kant berat sebelah ke arah subyek. Dalam menganalisa pengetahuan manusia, Kant terlalu mengabaikan bahwa manusia berakar pada dunianya dan pada materi. Pengertian-pengertian dan ide-ide manusia tidak hanya berasal dari subyek tetapi juga berasal dari dunia luar, dari kenyataan, dari realitas dan dari obyek.

    Paskalis Bataona

                                        ****************

                             Bahan Bacaan

    Copleston F. 1960. A History of Philosophy. New York.

    Hadiwijuwono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

    Hardiman, Budi Fransisco. ‘Diktat Kuliah Sejarah Filsafat Barat Modern. Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara-Jakarta.

    Magnis-Suseno, Franz. 1997. 13 Tokoh Etika. Yogyakarta: Kanisius.

  • Angka Kesembuhan Pasien Covid di Papua Capai 85 Persen, Ini Tiga Alasannya

    Jakarta berandanegeri.com—KABAR gembira datang dari Bumi Cenderawasih Papua. Jumlah pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh terus bertambah hingga mencapai 85 persen atau 3.024 pasien sembuh dari total kasus kumulatif 3.575 kasus per Selasa (25/08/2020). Sementara yang sedang dalam perawatan 609 orang (14 %) dan meninggal 42 orang (1 %).

    “Ada tambahan yang sembuh sebanyak 197 hari ini, dengan rincian Kota Jayapura 169 orang, Kabupaten Jayapura 20 dan Mimika 8 orang. Ini angka kesembuhan tertinggi selama ini,” ujar Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) saat memberi keterangan pers secara virtual kepada wartawan, Selasa (25/08/2020).

    Menurut Sumule, dengan meningkatnya angka kesembuhan, tidak berarti masyarakat menjadi lalai dan longgar dalam menjalankan protokol kesehatan. Sebab masih saja terjadi tambahan kasus baru setiap hari, dimana per 25 Agustus 2020 terdapat 24 kasus baru, meliputu Kota Jayapura 1 orang, Kabupaten Jayapura 1 orang, Merauke 6 orang, Mimika 5 orang, dan Biak 8 orang.

    “Masyrakat tetap jadi garda terdepan. Kami berterima kasih kepada semua pihak, terutama tim kesehatan di Puskesmas, tim surveilans, tim surveilans dan para tenaga kesehatan yang siang malam bekerja melakukan perawatan di rumah sakit,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan ini.

    Alasan Kesembuhan


    Tingkat kesembuhan pasien Covid terus meningkat sepekan terakhir. Berdasarkan data, trend positif angka kesembuhan pasien Covid di Papua pekan ini dimulai pada 21 Agustus, dimana terjadi kenaikan 5 persen dari 61 ke 66 persen. Sehari kemudian, pada 22 Agustus, angka kesembuhan naik menjadi 71 persen dan meningkat lagi menjadi 76 persen pada 23 Agustus 2020.

    Sebelum mencapai angka kesembuhan hingga 61 persen, rekor pencapaian Provinsi Papua di tingkat nasional pun pernah diraih. Papua meraih urutan kedua kasus sembuh tertinggi di Indonesia setelah Provinsi Bali. Ketika itu, pada 24 April 2020, angka kesembuhan mencapai 28 %. Data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua menunjukkan, dari jumlah kasus 137 0rang pasien positif Covid yang yang menyebar di 11 kabupaten/kota, terdapat 38 orang yang sembuh, 92 orang orang sedang dalam perawatan, dan 7 orang meninggal.

    Dua bulan kemudian, tepatnya 8 Juli 2020, tingkat kesembuhan naik menjadi 51 persen, dimana dari total 2.027 kasus, sebanyak 1.043 orang dinyatakan sembuh, 962 pasien sedang dalam perawatan (49 persen), dan 22 meninggal dunia atau 1 persen. Di hari itu, ada 57 pasien Covid di Papua dinyatakan sembuh. Rinciannya, Kota Jayapura sebanyak 41 orang, Mimika 1 orang, Biak ada 11 orang, dan Kabupaten Jayapura terdapat 4 orang.

    Sepekan kemudian, ada data yang menarik. Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, 16 Juli 2020, jumlah pasien Covid di Provinsi Papua yang sembuh dan yang sedang dirawat jumlahnya sama yaitu sama-sama 1199. Dari total jumlah kasus kumulatif sebanyak 2424, terdapat 1.195 pasien yang sembuh (49,5%), 1.195 % sedang dirawat(49,5 %) DAN 26 orang meningeal dunia ( 1%).

    Seiring lonjakan kasus baru selama Juli hingga Agustus 2020, data juga menunjukkan bahwa pekan angka kesembuhan tertinggi terjadi pada 23 Juli-6 Agustus 2020. Sebanyak 223 pasien dinyatakan sembuh dengan rincian, Kota Jayapura (206 orang), Kabupaten Mimika (5 orang), Kabupaten Merauke (1 orang), dan Kabupaten Jayapura (11 orang).

    Dalam wawancara sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Papua Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes menilai ada tiga alasan mengapa tingkat kesembuhan pasien Covid di Papua sangat tinggi.

    Pertama, koordinasi dan kerjasama dalam penanggulangan dan penanganan wabah Covid di Papua sangatlah bagus. Ada kolaborasi yang baik antara tim Satgas Covid-19 Provinsi Papua maupun Gugus Tugas kota/kabupaten yang gencar melakukan tracing (penelusuran), testing (pengujian), dan treatment (perawatan). Pasien Covid pun cepat ditangani, baik itu di rumah sakit, karantina terpusat maupun karantina mandiri.

    “Hingga hari ini sudah ada pemeriksaan PCR dan TCM sebanyak 37.826 sampel,” katanya.

    Kedua, berdasarkan data Satuan Tugas Covid-19 Provinsi Papua per 18 Agustus 2020, kelompok umur yang paling banyak terkena Covid di Papua adalah kelompok usia dewasa produktif yaitu 19-58 tahun yaitu sebanyak 86 persen. Sementara usia anak 0-18 tahun sebanyak 9 persen dan kelompok lansia (58 tahun ke atas) sebanyak 5 persen.
    Artinya, kelompok dewasa yang paling dominan terinfeksi Covid memiliki imun tubuh yang kuat yang mampu melawan virus ini sehingga mereka bisa sembuh. Dan memang rata-rata, 95 persen pasien Covid yang meninggal di Papua adalah para lansia yang memiliki riwayat penyakit penyerta atau kormobid.
    Ketiga, dari faktor iklim, suhu udara di Papua yang rata-rata panas antara 29A Celsius hingga 31,8 Celcius ikut menjadi salah satu “penangkal” alami yang membunuh virus. Hal ini dibenarkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengatakan dari kajian sejumlah ahli menyebut terdapat pengaruh cuaca dan iklim terhadap tumbuh kembang virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. (Gusty Masan Raya)

  • Hasil Pemeriksaan BPK 2019: Dogiyai Raih Opini Wajar dengan Pengecualian

    Mowanemani berandanegeri.com-BUPATI Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Yakobus Dumupa mengatakan, laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai tahun anggaran 2019, kabupaten yang dipimpinnya meraih opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP).

    “Laporan hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah tahun anggaran 2019 pada Pemerintah Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua diserahkan langsung phak Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Papua kepada Ketua DPRD Pak Elias Anou dan Pak Dwi Anang Karjanto dari kantor Inspektorat Dogiyai mewakili Bupati Dogiyai di Kantor BPKP Papua di Jayapura hari ini. Hasilnya Kabupaten Dogiyai meraih opini Wajar Dengan Pengecualian atau WDP,” ujar Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa dalam keterangan yang diterima berandanegeri.com di Mowanemani, kota Kabupaten Dogiyai, Senin (24/8).

    Menurut Bupati Dumupa, status opini WDP adalah yang kedua kali setelah pada 2018 juga meraih status WDP. Padahal, demikian Dumupa, selama kurun waktu 2009-2017 atau sembilan tahun berturut-turut Kabupaten Dogiyai selalu meraih opini disclaimer. Ini berarti selama dua tahun telah terjadi peningkatan penataan pengelolaan keuangan daerah secara baik dan benar.

    Ket. Foto: Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa

    “Sebagai Bupati, saya menentukan target pengelolaan keuangan untuk tahun 2020 harus lebih baik dari sebelumnya. Di masa mendatang Dogiyai harus meraih opini wajar tanpa pengecualian atau WTP. Ini adalah tantangan sekalipun proses meraihnya tidaklah mudah,” ujar Bupati Dumupa.

    Menurutnya, salah satu pekerjaan terbesar yang perlu dibenahi sesuai dengan catatan Badan Pemeriksa Keuangan adalah soal aset. Masalah aset sudah menjadi masalah berat sejak pembentukan Kabupaten Dogiyai. Oleh karena itu, diakuinya, hal ini menjadi pekerjaan serius yang harus dikerjakan dan diselesaikan dengan baik di masa akan datang.

    “Saya menyampaikan terimakasih kepada jajaran BPKP Papua yang telah melakukan pemeriksaan keuangan daerah Dogiyai secara saksama. Kemudian memberikan sejumlah catatan, koreksi membangun untuk penyempurnaan pengelolaan keuangan daerah ke depan,” kata Dumupa, bekas anggota Majelis Rakyat Papua.

    Pihaknya juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada seluruh pimpinan dan staf dalam jajaran pemerintahan yang telah bekerja keras dan bekerja cerdas dalam mengelola dan mempertanggungjawabkan keuangan daerah Dogiyai.  

    “Saya juga menyampaikan terimakasih kepada para pimpinan dan anggota DPRD serta masyarakat Dogiyai dan pihak lainnya yang telah berkontribusi dengan baik dalam proses penyelenggaraaan pemerintahan, pembangunan masyarakat, dan pengelolaan keuangan daerah.” ujarnya.

    Dumupa menambahkan, untuk mewujudkan visi Dogiyai Bahagia tidak mudah, penuh tantangan dan butuh proses yang panjang. Namun, ia percaya dengan kerja keras dan kerja cerdas semua pihak serta pertolongan Tuhan, visi itu terwujud. “Kita bisa!,” kata Dumupa. (AD/PB)

  • Saleh Husin Bacakan Puisi Karya Taufik Ismail dalam Acara “Puisi demi Kemerdekaan”

    Jakarta, berandanegeri.com. Kalangan civitas academica dan alumni Universitas Indonesia (UI) menggelar acara “Puisi Demi Kemerdekaan” dalam rangkaian memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia yang telah berusia 75 tahun secara virtual pada Sabtu (22/8/2020).

    Pada acara yang digagas Guru Besar Teknik Komputer di Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik UI Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari MM. MSc bersama teman teman ini, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA UI) Saleh Husin tampil secara bergantian dengan Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, Ph.D, Ketua Senat Akademi UI Prof Nachrowi Djalal , Ketua Dewan Guru Besar UI Prof Harkristuti Harkrisnowo dan para dekan serta para profesor di lingkungan UI.

    Saleh Husin membacakan puisi karya Taufik Ismail berjudul “Kerendahan Hati”, sedang Rektor UI Prof Ari Kuncoro membacakan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Diponegoro”. Sementara Prof Riri Fitri Sari sendiri membacakan puisi berjudul ” Cerita Buat Dien Tamaela” karya Chairil Anwar.

    Prof Riri mengatakan, Kemerdekaan Indonesia yang telah berusia 75 tahun pada 17 Agustus 2020 patut disyukuri, dihayati, dan direfleksikan. Melalui pembacaan goresan pena para penyair, para pembaca puisi menyuarakan syukur, penghayatan, dan juga pemaknaan atas usia kemerdekaan ini.

    Acara “Puisi Demi Kemerdekaan” ini sebenarnya berawal dari suatu kegiatan untuk mengenang Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, tokoh sastrawan Indonesia, dengan membacakan puisi-puisi karya almarhum secara virtual melalui zoom pada tanggal 25 Juli 2020.

    Dari acara itu lahirlah gagasan untuk membentuk Poetry Reading Society of Indonesia. Pembacaan puisi secara virtual, di tengah pandemi corona itu, ternyata memberi kesan mendalam bagi para pembaca dan audiens, sehingga disepakati untuk dilanjutkan pada kesempatan lain.

    Para pembaca puisi merupakan civitas academica dan alumni UI. Kepesertaan pembaca puisi bersifat terbuka dan sukarela. Diharapkan kegiatan ini menjadi ajang pertemuan dan apresiasi sastra Indonesia yang unik dan prestise, karena telah diawali oleh 26 Guru Besar dan Akademisi UI yang kesehariannya sangat sibuk, namun ternyata memiliki waktu hening yang menjelma menjadi kemampuan menikmati kata-kata.

    Kegiatan olah rasa dan seni dari civitas academica UI ini diadakansecara regular pada hari Sabtu minggu ketiga setiap bulan, pukul 14.00—17.00 WIB, dengan tema yang berbeda.

    Momen merayakan Hari Jadi Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus tahun 2020 ini disepakati sebagai ajang pertemuan yang ke-2, secara virtual, untuk membacakan puisi-puisi bertema kemerdekaan.

    Pada acara “Puisi Demi Kemerdekaan” ini sebagian besar pembaca puisi memilih puisi karya penyair kenamaan Indonesia: Taufiq Ismail, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus), W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Toto Sudarto Bachtiar, Asrul Sani, Usmar Ismail, Sitor Situmorang, Sukanto S.A., Rayhandi, Joko Pinurbo dan Douglas Malloch. Beberapa yang lain membacakan puisi hasil renungannya sendiri tentang kemerdekaan.

    Ada pula yang membacakan lagu terkenal karya: H. Mutahar, Ismail Marzuki, dan Rossa. Juga ada yang membacakan mini prosa atau cerpen.

    Diharapkan Zoom Poetry Reading ini menjadi salah satu bentuk ungkapan cinta tanah air dan penghormatan yang luhur kepada para pahlawan bangsa yang telah berkorban demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Juga penghormatan dan apresiasi kepada para penyair Indonesia yang telah menggoreskan cerita tentang perjalanan kemerdekaan ini dari masa ke masa.

    “Mengutip ungkapan mantan Rektor UI dan Mendiknas, almarhum Prof. Fuad Hassan, “Panji-Panji Ilmu dan Seni Berkibar di Almamater Ini”, semoga semangat merenung, menulis, dan mengekspresikan pikiran melalui karya sastra ini menyebar ke seluruh nusantara, ” kata Prof Riri. * (AD)

  • Tifaona Pimpin Bank NTT Mbai

    Tifaona Pimpin Bank NTT Mbai

    SETIAP akhir pekan, ia selalu mampir di kos saya di Oebobo, depan toko Calvary, Jalan WJ Lamalentik, Oebobo atas, tak jauh dari lampu merah El Tari, depan kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur. Kalau bukan kangkung Oeba atau ubi kayu, bunga dan daun atau bunga pepaya ada di kantong kresek hitam. Matias Nara Tifaona atau akrab dengan sapaan Tyas segera bergabung dengan sesama anak kos yang rata-rata dari lereng Labalekan yang tengah melanjutkan kuliah di berbagai perguruan tinggi di Kupang. Tatkala saya mendata beberapa mahasiswa asal Nagawutun dan Wulandoni untuk saya himpun dalam wadah Ikatan Pelajar Mahasiwa Paroki St Joseph Boto (IMPB) Kupang, Robertus Rudi Olaguna (Rudy), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Katolik (Unika) Widya Mandira Kupang nyeletuk polos.menyebut nama Tyas Tifaona.

    “Ada satu juga orang Fafelima yang kuliah di Fakultas Ekonomi Unika. Beberapa kali saya sempat bertemu. Tapi saya kurang begitu kenal. Dia tinggal di Oeba. Baik juga kalau dia kita ajal gabung di organisasi kita ini,” ujar Rudy Pukan. Kami ketawa. Ketawa karena Rudy menyebut “Fafelima”, kampung asal Tyas Tifaona. Fafelima atau lebih pas Faflima adalah sebutan akrab di kalangan warga pedalaman lereng Labalekan untuk Imulolong. Sedang orang Fafelima yang dimaksud adalah Matyas Nara Tifaona. Sebagai sesama mahasiswa asal Lembata di lereng Labalekan, Tyas beberapa kali sudah sering mampir di kos saya di Oebobo. “Sayur-sayuran, pisang, dan aneka buah-buahan di Pasar Oeba sangat banyak. Jadi, saya mampir sebentar sekalian beli sayur dan ikan tembanh baru naik bemo lampu 6 jurusan terminal Kupang arah Oebufu. Nanti bisa tambah-tambah kita makan siang atau makan malam bersama di kos kaka,” katanya.

    No Tyas, begitu saya menyapanya sudah beberapa kali bertemu saat saya masih sekolah di Lewoleba kurun waktu 1987-1990. Setelah bergeser dari Ur(u) Mitem ke Bluwa, Lewoleba, saya tinggal di rumah Pak Markus Kedati Klobor, tak jauh dari rumah Pak Yohanes Galot Tifaona, ayah Tyas Tifaona. Sesekali saya bertemu Pak John dan isterinya yang singgah di Bluwa di tengah ia menunaikan tugas sebagai pegawai penyuluh lapangan Keluarga Berencana Kecamatan Atadei di Kalikasa. “Bapa pernah cerita ibu jari kaki pernah ketiban batu saat ikut bantu tukang gali perigi di rumah kami di Bluwa. Kukunya sampai terlepas,” kata Tyas Tifaona kepada saya mengulang cerita Pak John Tifaona, sang ayah. Saya pun “buka kartu” pengalaman unik saat masih sekolah di SMA Kawula Karya Lewoleba. Saya dan dua sahabat, Gerardus Ratu dari Ndondo, Ende dan Eman Kia Tokan pernah tak makan sehari saat berangkat sekolah. “Periuk nasi satu-satunya dibawa anjing dan raib entah kemana. Usai kami masak nasi dan ikan lupa cuci dan gantung di dinding. Sekitar jam 07.00 lewat, anak-anak sekolah yang berjalan menuju sekolah di atas bukit menemukan periuk tergeletak di pinggir jalan. Ternyata periuk itu dibawa anjing karena masih amis. Dengan kecewa saya ambil periuk itu lalu bawa ke dapur dan segera berangkat sekolah tanpa sarapan sampai jam pelajaran siang,” kata saya. Kami ngakak di kos Oebobo.

    Lama tak bersua

    Usai menunaikan kuliah saya memilih masuk Jakarta. Sejak awal kuliah, saya mewujudkan niat masuk Jakarta. Tujuannya, dua adik saya juga punya kesempatan kuliah. Adik saya, Paul, memilih masuk Dili, Timor Timur membantu kaka Albert Glinger de Ona, seorang kerabat dari kampung yang sudah lama menjadi mandor hutan tanaman industri (HTI). Paul bergabung sebagai buruh HTI di Kabupaten Kovalima dan tinggal di Foholulik, tak jauh dari Suai, kota Kabupaten Kovalima. Sejak itu, saya juga kehilangan kontak dengan Tyas Tifaona setelah ia menyelesaikan kuliah jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unika Widya Mandira Kupang.

    “Untung ada medsos jadi kita bisa bertemu kembali. Saya berterima kasih kita pernah merasakan dan melewati masa-masa sulit saat masih tinggal di Kupang,” kata Tyas Tifaona saat kami bertemu di kompleks Gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta tahun 2016. Beberapa hari sebelumnya, Tyas mengontak saya via telepon selular. Ia meminta kami bertemu usaia ia mengikuti Ujian Sertifikasi Manajemen Resiko Level 1 kerjasama Bank NTT dengan Badan Sertifikasi Manajemen Resiko di Jakarta. Tyas mengaku, setelah lulus kuliah, ia melamar dan diterima bekerja di Bank NTT. “Rejekinya diterima bekerja di Bank NTT. Ya, saya syukuri saja apa pekerjaan saat ini. Tuhan selalu menunjuk jalan kepada kita selama kita meniatkan hati dengan tulus untuk mengabdi bangsa dan negara,” kata Tyas merendah.

    Namun, kabar gembira datang dari Tyas Tifaona. Sejak 18 Agustus 2020 lalu, pihak manajemen Bank NTT mempercayakan Matias Nara Tifaona sebagai Pemimpin Cabang Bank NTT Mbai, Kabupaten Nagekeo, Flores. Tyas bersama 11 orang rekannya mengikuti seleksi untuk mengisi empat pos pimpinan cabang Bank NTT Cabang Surabaya, Bajawa, Labuanbajo, dan Mbai. Setelah melewati seleksi, enam orang lulus kemudian mengikuti seleksi lanjutan. “Saya temasuk yang dinyatakan lolos. Kemudian dipercaya sebagai Pemimpin Cabang Bank NTT Cabang Mbai sejak 18 Agustus lalu. Saya baru saja melapor diri kepada Bupati Nagekeo, Pak Don Bosko sebelum memulai tugas di Mbai,” kata Tyas.

    Ket. Foto: Matias Nara Tifaona bersama Bupati Ngada Don Bosko dan staf Bank NTT cabang Mbai

    Siapa Matias Nara Tifaona? Tyas berasal dari Dusun Imulolong (Faflima), Kecamatan Wulandoni, Lembata. Lahir di Hadakewa, 6 Oktober 1978 dari pasangan Yohanes Galot Tifaona & (alm) Rosa Kedapi Ikeng. Tyas tamat Sekolah Dasar Katolik (SDK) Kalikasa dan SMP Negeri 1 Kalikasa, Atadei. Tyas melanjutkan sekolah di SMA Negeri Lewoleba. Ia kemudian masuk jurusan Manajemen FE Unika Widya Mandira Kupang tahun 1996 dan selesai 2002. Tahun 2005, ia diterima bekerja di Bank NTT Cabang Lewoleba. Hanya selang setahun, pada 2006 ia pindah ke Labuanbajo, Manggarai Barat, Flores hingga Mei 2008. Pada Juni 2008 ia dipindahkan ke Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua.

    “Tahun 2011 saya diberi kepercayaan menjadi Koordinator Unit Simpan Pinjam Desa ata USPD Sabu Timur. Kemudian tahun 2015 dipindahkan menjadi Kepala Kas Cabang RSUD dr Hendrik Fernandez Larantuka. Tak lama, tahun 2017 menjadi Kepala USPD Boru, Kecamatan Wulanggitan. Kemudian pada Maret 2019 menjadi Pemimpin Bank NTT Cabang Pembantu Boru. Pada Juni 2019 menjadi Wakil Pemimpin Cabang Sabu. Pada Februari 2020 dipercaya sebagai Wakil Pemimpin Cabang Larantuka sebelum pindah ke Mbai,” kata Tyas Tifaona, suami Wilhelmina Korebima dan ayah dua putra: Nopa dan Johan.

    Semasa kuliah Tyas aktif sebagai anggota Resimen Mahasiwa (Menwa) Unika Widya Mandira. Di luar kampus, ia adalah anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Kupang. Ia menyadari sebagai mahasiswa organisasi intra dan ekstra universiter adalah wadah efektif menempah diri untuk masa depan di mana saja ia bekerja. Disiplin dan kerja keras adalah sesuatu yang dibutuhkan. Pengalaman perjuangan orangtua dan saudaranya dari Imulolong hingga meraih sukses adalah pelajaran hidup yang selalu ia jadikan cermin. Kedua orangtuanya juga selalu memotivasi dirinya dalam berjuang menggapai cita-citanya. “Nasehat kedua orangtua selalu saya pegang. Sukses itu sekadar konsekuensi dari konsistensi kita dalam bekerja keras dan bekerja cerdas. Selebihnya, doa adalah hal yang tak bisa ditawar,” katanya.

    Kisah sukses orang-orang dari lereng Labalekan selalu menjadi inspirasi hidup. Tyas menyebut, sosok Btigjen Pol (Purn) Anton Enga Tifaona, sang kakek adalah orang yang selalu memotivasi banyak anak kampung dalam bertahan hidup dan sukses meraih karier di berbagai bidang. Entah imam, suster, bruder, guru bahkan petani. Begitu juga putera Anton Enga Tifaona, Kombes Pol Daniel Boli Tifaona, yang saat ini berdinas di Mabes Polri. “Saat opa Anton liburan di Imulolong, ia berpesan agar generasi muda tak boleh patah semangat meski kami masih serba kekurangan sana sini. Namun, kalau sudah punya semangat berjuang maka sukses pasti akan kita raih,” kata Tyas Tifaona. Selamat bertugas, ade kepala. Salam ke Mbai. Dewa beka. Molo…

    Jakarta, 21 Agustus 2020

    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    Catatan untuk Tyas Tifaona

  • Anggota DPR Mekeng Beri Bantuan Warga Terdampak Covid-19

    Anggota DPR Mekeng Beri Bantuan Warga Terdampak Covid-19

    ANGGOTA Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI Melchias Markus Mekeng, Rabu (19/8 2020) menyerahkan sebanyak 610 paket bantuan sembako kepada warga masyarakat Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek).

    Penyerahan bantuan secara simbolis itu diserahkan Melchias, anggota DPR dari Partai Golkar Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur 1 itu kepada pengurus Keluarga Besar Lembata Jakarta Jou Hasyim Waimaing dan sesepuh Lembata Jakarta sekaligus Ketua Umum Induk Koperasi Unit Desa (KUD) Herman Yosef Loli Wutun di Lantai 7 Graha Induk KUD Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan disaksikan sejumlah warga asal Lembata di Jakarta.

    “Bantuan ini tidak seberapa namun bisa membantu meringangkan saudara-saudara kita daru NTT di Jakarta yang terdampak covid. Kami juga sudah memberikan bantuan serupa kepada saudara-saudara kita asal Sikka di Jakarta. Kegiatan ini didukung pihak Bank Tabungan Negara yang care juga terhadapa warga masyaraat terdampak covid,” ujar Mechias Mekeng, mantan Ketua Badan Anggaran DPR RI. Demikian keterangan yang diterima media ini, Kamis (20/8).

    Saat penyerahan paket bantuan tersebut, Mekeng yang saat ini menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar didamping stafnya yakni Herman Hayong, Erwin Richardo Silalahi, Fransiskus Xaverius Namang, dan Alexander Atawolo. Sejumlah perwakilan masyarakat Lembata dari berbagai kecamatan juga hadir saat itu. Mereka antara lain pemilik dan pelatih tinju dari Lembata King Box Camp Jakarta Wilhem Lojor, sejumlah wartawan asal Lembata seperti Ansel Deri, Ferdinand Lamak, John Laba Wujon, tokoh muda asal Lembata Andreas Lagar Koban, dan sejumlah warga asal Lembata.

    Lembata akan maju

    Lembata di mata Mekeng, Lembata adalah pulau yang sangat indah dengan potensi alam luar biasa besar namun belum dikelola dengan baik. Landasan pacu bandara Wunopito perlu diperpanjang lagi dengan frekuensi penerbangan rutin maka daerah itu akan menjadi destinasi wisata unggulan yang sangat menarik.

    Lembata, Foto Harri Daryanto

    “Periode ini saya sudah berniat untuk fokus mendorong anggaran memajukan Lembata setelah Kabupaten Flores Timur di ujung timur Flores. Di Flores Timur saya sudah bantu dorong pembangunan ratusan kilo meter jalan. Saya sudah sampaikan kepada Menteri Keuangan Sri Muliani bahwa periode saya di DPR kali ini akan saya fokus membantu Lembata. Sayangnya, tiba-tiba covid-19 melanda Indonesia dan negara ngga punya duit lagi. Saya berharap kalau covid-19 sudah hilang dan APBN kita sudah sehat, Lembata akan jadi perhatian saya,” kata Melchias Mekeng.

    Herman Wutun mengaku berterima kasih kepada Melchias Markus Mekeng atas kepeduliannya terhadap warga masyarakat, terutama dari Lembata di wilayah Jabodetabek. Kehadiran wakil rakyat ini, jelas Wutun, tak sekadar sebagai salah seorang tokoh politik Flores atau NTT namun seorang tokoh nasional yang puluhan tahun merasul, mengabdi sebagai garam dan terang bagi sesama di jalur politik dan wirausahawan.

    “Sebagai anggota DPR, Pak Melki ke sini bukan karena warga Lembata terdampak covid. Namun, lebih dari itu Graha Induk KUD adalah himpunan para petani dan nelayan seluruh Indonesia yang tergabung dalam koperasi KUD. Kami berdoa setelah beranjak dari sini, tapak kaki Pak Melki tetap berada dengan petani dan nelayan dalam wadah koperasi,” kata Herman Wutun, yang sudah memimpin Induk KUD empat periode.

    Jou Hasyim mengaku berterima kasih kepada Melchias Markus Mekeng atas kepeduliannya kepada warga asal Lembata di Jabodetabek. Dampak pandemi covid-19, jelas Jou, sangat dirasakan warga asal Lembata di Jakarta. “Hampir seluruh warga kita terdampak covid. Karena itu sebagai pengurus saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Melki sebagai anggota DPR asal NTT. Kami terharu karena masih banyak wakil rakyat yang peduli dengan sesamanya. Insya Allah bantuan ini meringangkan beban mereka. Kami juga doakan, semoga Pak Melki sehat selalu dalam tugas,” kata Jou, yang juga pengacara. (AD)