Blog

  • Dari Apologetik ke Dialog, Beberapa Kesimpulan Diskusi “Refleksi Kebudayaan” (1)

    Dari Apologetik ke Dialog, Beberapa Kesimpulan Diskusi “Refleksi Kebudayaan” (1)

    Oleh Ignas Kleden

    PADA 9 September 1995 di auditorium Institut Kesenian Jakarta dilangsungkan diskusi “Refleksi Kebudayaan” yang mendapat perhatian dan sambutan luas, baik dari segi partisipasi peserta maupun dari segi pemberitaan dalam surat kabar dan majalah berita di Ibu Kota. Diskusi diadakan dengan beberapa tujuan yang saling berkaitan.

    Pertama, apakah mungkin suatu diskusi kebudayaan yang semata- mata apologetik akan dapat bersifat produktif? Mempertahankan posisi sendiri adalah hal yang mutlak perlu dalam melakukan diskusi. Namun demikian, mempertahankan posisi sendiri tanpa kesediaan memahami alasan pihak lawan diskusi, akan menyebabkan perdebatan cenderung menjadi dua monolog yang tidak menghasilkan perkembangan gagasan dan perkembangan sikap yang lebih jauh. Karena itu diskusi kebudayaan seberapa pun kerasnya sedapat mungkin harus ditempatkan dalam suatu struktur dialog, sehingga perkembangan pemikiran di dalamnya dapat juga berguna untuk pihak lainnya yang tidak turut aktif dalam perdebatan, tetapi yang ingin memperlajari sesuatu dari perdebatan tersebut.

    Kedua, apakah mungkin untuk menemukan dan kemudian mengembangkan kaitan antara suatu persoalan mikro kebudayaan dan masalah-masalah makro kebudayaan? Ini berarti, apakah mungkin melihat bagaimana suatu masalah makro kebudayaan terpantul kembali secara khas dalam persoalan atau konflik kebudayaan yang bersifat mikro, dan apakah mungkin melihat suatu cetusan kecil kebudayaan sebagai percikan suatu persoalan makro kebudayaan yang barangkali laten sifatnya?

    Ketiga, refleksi kebudayaan harus selalu diadakan karena kebudayaan hanya dapat dikembangkan karena direfleksikan. Tanpa refleksi, bukan tidak mungkin bahwa kita akan hanyut dalam semacam determinisme kebudayaan. Dalam pandangan kebudayaan yang deterministis kebudayaan dipandang hanya sebagai norma dan nilai yang tak boleh diganggu gugat, dan bukannya juga produk bersama yang telah kita hasilkan dan ciptakan, dan karena itu selalu dapat berubah dan diubah bilamana tidak sesuai lagi dengan keperluan pada saat ini. Dalam kedudukannya sebagai kata benda, kebudayaan harus kita hadapi dan kita terima, tetapi dalam kedudukannya sebagai kata kerja kebudayaan harus digarap dan diolah kembali.

    Ketiga pokok pikiran di atas telah menjadi alasan terpenting mengapa diskusi tersebut diadakan. Pikiran-pikiran tersebut juga telah diusahakan untuk menjadi kerangka dan konteks bagi pertukaran pikiran, yang pada beberapa titik telah dilakukan dengan sengit. Menghadiri dan mengikuti diskusi enam jam itu dari dekat, saya telah berusaha menyusun beberapa pikiran yang kalau bukan merupakan kesimpulan, sekurang-kurangnya bisa dianggap menjadi pikiran dasar dalam diskusi tersebut.

    Kebenaran sejarah dan kebenaran moral

    Tak dapat dihindari bahwa diskusi tersebut telah memberikan perhatian besar kepada kontroversi perihal hadiah Magsaysay untuk pengarang Pramudya Ananta Toer. Dalam perdebatan selama ini persoalan telah berkembang sampai pada beberapa tingkat argumentasi. Apakah Yayasan Magsaysay dengan komitmennya kepada demokrasi cukup taat kepada asasnya sendiri dalam memberikan hadiah tersebut? Apakah Yayasan Magsaysay cukup mempunyai pengetahuan mengenai latar belakang pengarang yang akan menerima hadiah? Bagaimana sikap para pengarang Indonesia yang di masa lampau telah terlibat dalam konflik kebudayaan dengan pengarang tersebut? Bagaimana sikap orang-orang lain yang tidak mengalami konflik masa lampau tersebut terhadap hadiah Magsaysay dan terhadap Pramudya Ananta Toer? Apa sikap Pramudya sendiri baik terhadap hadiah maupun terhadap kontroversi mengenai hadiah ini?

    Setelah mendengar berbagai alasan rupanya apa yang menjadi titik perdebatan di Indonesia dan Jakarta khususnya adalah masalah kebenaran. Pihak yang menentang hadiah berdiri di atas asas kebenaran sejarah, bahwa apa yang terjadi di masa lampau harus dikemukakan dengan jelas dan tidak patut disembunyikan, apalagi dipalsukan. Dengan demikian salah satu tahap penting untuk menjernihkan perselisihan ini adalah mengadakan penelitian sejarah kebudayaan, khususnya sejarah kesusasteraan di tahun enampuluhan, supaya dapat diperoleh suatu gambaran yang lebih jelas.

    Untuk menjamin obyektivitas seperti itu setiap pihak yang terlibat konflik sebaiknya memperoleh akses yang sama untuk melakukan penelitian supaya dari berbagai fakta dan uraian yang mungkin berbeda, pembaca kemudian dapat memperoleh gambaran yang mendekati kebenaran. Namun, ada dua hal yang perlu dibedakan: fakta sejarah di satu pihak, dan interpretasi terhadap fakta tersebut di pihak lainnya. Terhadap setiap fakta sejarah setiap orang dapat dan rupanya boleh memberikan interpretasi yang berbeda, karena interpretasi selalu merupakan hasil tarik-menarik antara kenyataan obyektif dan pemahaman subyektif.

    Pada titik ini kita berbicara tentang dua jenis kebenaran yang amat berbeda hakikatnya, yaitu kebenaran sejarah dan kebenaran moral. Bahasa kita belum mempunyai vokabuler cukup untuk membedakan dua jenis kebenaran tersebut, yang dalam bahasa Barat didistingsikan dengan jelas. Yang satu berbicara tentang apa yang bersifat historically true (or false) atau apa yang benar secara historis; yang lainnya berbicara tentang apa yang bersifat morally right (or wrong) atau apa yang benar secara moral. Diskursus modern memang membedakan dengan jelas apa yang oleh Habermas dinamakan epistemische Wahrheit (kebenaran pengetahuan) dan moralische Wahrhaftigkeit (kejujuran sikap).

    Kalau kita kembali kepada soal Pramudya di masa lampau, akan tampak bahwa pihak yang menentang hadiah sangat menekankan kebenaran sejarah (sekurang-kurangnya supaya diuji kembali) tentang tindak- tanduk Pramudya terhadap kebebasan kreatif lawan-lawan politiknya. Perlu dibuktikan berdasarkan studi sejarah kesusasteraan apakah benar Pramudya pernah turut membakar, atau sekurang-kurangnya tidak mencegah pembakaran buku-buku sastra karya-karya pengarang Manifes Kebudayaan atau malahan, meminjam istilah Goenawan Mohamad, menunjukkan intoleransi yang merugikan pengarang-pengarang yang tidak sepaham dengannya.

    Kebenaran sejarah adalah kebenaran pengetahuan yang berhubungan dengan kejadian, peristiwa atau fakta. Hal ini tentu perlu dijernihkan. Namun kalau kita membaca keterangan Pramudya dalam berbagai wawancara, yang menjadi inti jawabannya adalah penekanan pada pilihannya secara moral pada waktu itu untuk membela suatu posisi politik tertentu, yaitu posisi politik Bung Karno. Apa pun soalnya, di sini ada perbedaan yang mencolok tentang apa yang dianggap penting dan karena itu perlu mendapatkan perhatian kita semua. Dalam berhadapan dengan tuntutan akan kebenaran sejarah, Pramudya bersiteguh di atas kleimnya tentang kebenaran moral yang dipilihnya secara politis.

    Kedua kebenaran ini dengan sendirinya sulit dipertemukan, karena kebenaran sejarah berhubungan dengan pengetahuan mengenai fakta, kejadian, dan peristiwa sedangkan kebenaran moral berhubungan dengan sikap terhadap seperangkat nilai yang dipilih. Kebenaran sejarah berhubungan dengan Sein, kebenaran moral berhubungan dengan Sollen, dan pelaksanaan moral secara politik ditentukan oleh Wollen (kemauan politik).

    Kebenaran moral yang dimaksudkan di sini adalah kesesuaian antara tindakan seseorang dengan nilai-nilai asasi yang dianut dan dipilihnya. Selanjutnya, apakah nilai moral seseorang dapat dibenarkan secara rasional terutama kalau dibandingkan dengan nilai moral lain, hal ini merupakan diskusi lain yang bersifat filsafat etik, yang bertugas menyelidiki dasar-dasar rasional dari nilai-nilai moral tersebut. Secara teknis, dibedakan di sini kebenaran moral secara budaya, dan kebenaran etis secara filosofis. Untuk kembali kepada soal kita, kebenaran sejarah berhubungan dengan pengetahuan (tentang kejadian dan peristiwa), kebenaran moral berhubungan dengan sikap dan tindakan (yaitu apakah sikap dan tindakan sesuai dengan nilai yang dipilih atau tidak) sedangkan kebenaran etis berhubungan dengan dasar rasional dari sikap yang dipilih (yaitu apakah nilai yang dianut dapat dipertahankan berdasarkan alasan-alasan yang teruji secara rasional atau tidak). Untuk mengutip Habermas sekali lagi, kebenaran sejarah berhubungan dengan Wahrheit/truth, kebenaran moral berhubungan dengan Wahrhaftigkeit/truthfulness, sementara kebenaran etis berhubungan dengan Richtigkeit/rightness.

    Dengan demikian bahkan terhadap sejarah pun ada dua tingkat persoalan. Yang pertama adalah kebenaran sejarah yang harus didekati sedekat mungkin oleh mereka yang menguasai peralatan metodologis sejarah untuk menyelidikinya. Yang kedua adalah sikap terhadap kebenaran sejarah tersebut. Dalam diskusi menjadi jelas bahwa sikap terhadap sejarah dan kebenaran sejarah adalah hak setiap generasi. Tiap generasi bahkan setiap individu seyogyanya mempunyai hak dan kebebasan yang sama untuk mengambil sikap dan pendirian terhadap sejarah, tanpa terlalu didikte oleh generasi yang lebih tua atau bahkan oleh orang yang mengambil peran sebagai aktor atau korban dalam suatu peristiwa sejarah.

    Pendirian ini jelas ada dasarnya. Sebabnya, apa pun yang terjadi di masa lampau, setiap generasi dan setiap individu mempunyai pengalaman sejarah yang tidak selalu sama. Pengalaman sejarah yang berbeda menghasilkan sikap yang berbeda terhadap sejarah, dan perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang harus disesalkan, tetapi harus dikaji untuk mengembangkan proses belajar kita semua. (Bersambung).

    Ignas Kleden, Moderator pada diskusi “Refleksi Kebudayaan” 9 September !995 di Jakarta

    Sumber Tulisan dari buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Grafiti

  • Terlahir dari Sunyi

    Terlahir dari Sunyi

    Oleh Paul Budi Kleden

     

     

    “CATATAN SUNYI”, demikian penyair kita memberi judul bagi kumpulan puisinya ini. Mencatat kesunyian, mengeja huruf dari dalam kesunyian. Bagaimanakah itu? Bagaimana relasi sunyi dan kata? Kesunyian, mungkinkah dia disesaki kata? Adakah kesunyian yang dijejali kisah? Sunyi yang dipadati gagasan? Atau, sunyi adalah kelepasan dari kebisingan kata? Adakah sunyi merupakan keheningan dari segala pengertian?Tidakkah sunyi berarti pula tiadanya catatan? Tak ada catatan dalam sunyi?

    Sunyi biasanya berkonotasi pada situasi tanpa suara, tanpa bunyi. Tempat yang sunyi adalah tempat yang jauh keramaian, suasana yang sunyi berarti kondisi tanpa kebisingan. Namun, itukah makna terdalam kesunyian? Memahami kesunyian sebagai situasi tanpa suara berarti menempatkan kesunyian pada wilayah indra pendengaran. Dalam alur berpikir seperti ini, maka sunyi berarti secara sengaja menutup telinga bagi suara atau secara tidak sengaja tidak menangkap sumber bunyi apapun. Namun, agaknya pandangan ini bermasalah. Sebab, apakah pengalaman seseorang yang dapat menutup telinganya di tengah pusat keramaian disebut sebagai kesunyian? Apakah saya sedang mengalami atau mungkin menikmati kesunyian saat memakai penutup telinga untuk menangkal gelombang suara menghantam gendang telingaku sedangkan mata saya tengah terbelalak menyaksikan keramaian orang-orang yang sedang menari? Apakah seorang penjahat buronan disebut sedang berada dalam kesunyian saat dia tinggal jauh dari suara apapun dan sedang hatinya tidak tenang dipenuhi kecemasan kalau-kalau tempat persembunyiannya diketahui?

    Sunyi bukan hanya soal tidak menangkap suara atau kesuksesan memasang kedap suara. Sunyi adalah juga kondisi batin seseorang yang mengambil jarak dari dunia luar. Orang menarik diri dari keramaian untuk berkonsentrasi pada pergumulan dengan diri sendiri. Sunyi adalah jalan menuju diri. Sunyi bukanlah suasana tenang ketika orang tekun mempelajari pikiran orang lain atau menyelesaikan tugas yang diberikan orang. Karena itu, dalam kesunyian orang dihadapkan pada diri sendiri.

    Di dalam kesunyian orang berada dengan dirinya sendiri. Berada dengan diri sendiri dapat mengantar orang ke dalaman diri. Orang merenungi dirinya, menyusuri sejarah dan mengais pengalamannya. Orang akan mengalami sumur dengan dasar tak terduga dan tak kunjung diraih. Rahasia kedirian manusia diselami dan selalu menghadirkan pertanyaan baru.

    Tetapi sunyi dapat pula menjadi penjelajahan fantasi sampai ke tepian semesta. Sunyi membuat orang terbawa dalam gelombang sejarah dan alunan alam. Orang merasa menyatu dengan semesta dan menjadi bagian dari sejarah yang panjang dari umat manusia.

    Sunyi membawa ke kedalaman dan keluasan. Dalam dimensi yang tak terjangkau ini, orang mengalami dilema eksistensi diri manusia. Betapa unik tak tergantikan dan berharganya setiap kehidupan, serentak betapa kecil dan tak berdaya bak buah kelapa yang dipermainkan gelombang samudera raya. Dalam sunyi orang mengalami akunya, serentak kebesaran jagad dan kedahsyatan sejarah yang menempatkan dirinya hanya sebagai sebuah titik kecil yang gampang diabaikan. Maka, dari kesunyian seperti ini Amir Hamzah melahirkan puisinya Nyanyi Sunyi yang terkenal itu: “Sunyi itu duka; sunyi itu kudus; sunyi itu lupa; sunyi itu lampus.” Sunyi mempertemukan orang dengan kepahitan pengalaman dan kegoyahan kehidupan. Ada duka tersimpan di dalamnya. Duka memandang wajah-wajah yang dikasihi dari bening sumur kenangan yang tak dapat digenggam. Pedih mengenang kisah-kisah yang tidak selesai, benang-benang yang rapuh dari relasi yang pernah terjalin. Sunyi adalah duka eksistensi manusia yang memiliki kerinduan tanpa batas di tengah kemungkinan pemenuhan serba terbatas. Tetapi justru di sana sunyi dapat menjadi perjumpaan dengan yang kudus. Orang mengalami persentuhan dengan yang terbatas dan membenam di dalamnya. Pembenanam ini dapat membuat orang lupa. Kenikmatan pada segukan transendensi mengangkat orang ke dalam sebuah dimensi kehidupan yang tak biasa. Sunyi yang membuat orang lupa akan dunianya yang keras dan tak bersahabat. Sebab itu, sunyi dapat memabukkan. Ada pengalaman eskstase dalam kesunyian.

     

     

    Monika N. Arundhati

     

    Penyair kita memberi refleksinya tentang sunyi dalam pengantarnya:“Lantas mengapa berjudul “Catatan Sunyi?” Tak ada alasan lain selain bahwa puis-puisi itu lahir dalam saat-saat sunyi; saat di mana pengembaraan intelektual dan rohani saya berlangsung secara intens. Saya hanya berusaha menuruti kehendak hati, menggali dan mengolah kemungkinan yg ada, hingga yg paling mustahil sekalipun. Di dalam “Catatan Sunyi” ini ada perjalanan panjang seorang petualang, pencarian jati diri yg tak henti-henti. Ada teka-teki kehidupan yg mesti diurai dan dipecahkan. Ada cinta dan kesakitan. Misteri kematian. Rahasia alam dan kepekatan malam, terlebih lagi kerinduan pada sang Khalik.“Lebih lanjut dalam puisinya Catatan Sunyi, penyair kita bersajak,

    Lewati lorong malam,/ membasuh senyap subuh// Dingin//Angin//Sehelai daun jatuh.// Sunyi.

    Dalam Pelabuhan kita baca:

     

    Kutambatkan perahu pada ranting-ranting sujud,

    Menelusuri belantara sunyi untuk menjumpaiMu.

    O, jadilah Kau telaga tanpa dasar,

    Mengganti cintaku yang dangkal dan berbatu.

     

    Kendati dengan refleksi tentang kesunyian seperti ini, pertanyaan kita di atas belum pula terjawab: apakah sunyi adalah pemangkasan kata dan pantang dari semua gagasan?

    Martin Heidegger, filsuf berkebangsaan Jerman abad ke-20 mengatakan, bahasa adalah rumah dari sang ada. Selama kita ada, kita ber-rumah dalam bahasa. Maka, batas bahasa kita adalah batas dunia kita, seperti dikatakan Ludwig Wittgenstein. Duniaku sejauh bahasaku. Dan bahasa berarti pengertian dan kata. Sebagaimana kita tidak dapat terlepas dari dunia melainkan selalu di dalam dan menjadi bagian dari dunia, demikian pun kita tidak pernah terlepas dari bahasa. Duniaku adalah jaringan yang terbuat dari kata. Terlempar ke dalam dunia, demikian Heidegger mengartikan keberadaan manusia, berarti terlempar ke dalam kata. Kita terjerat dalam kata. Sebab itu, juga kesunyian kita tak pernah bebas dari kata. Kita tidak pernah mampu menarik diri dari kata, sebagaimana kita tak bisa keluar dari dunia selama masih hidup. Pandangan ini kemudian dipertegas muridnya, Hans-Georg Gadamer dengan pernyataan terkenal: Tidak ada pengalaman tanpa bahasa.

    Untuk menunjukkan pemahaman tentang dominasi bahasa ini pada bidang sastra, saya kutip permenungan dokter Yurii Zhivago dalam roman besar “Dokter Zhivago” karangan Boris Pasternak (1890-1960). Dokter Zhivago dalam roman karya Pasternak adalah seorang dokter dan sekaligus sastrawan. Petikan yang diambil berikut ini berasal dari pelukisan sebuah malam penuh inspirasi bagi Yurii Zhivago yang terbangun dari tidurnya di samping Lara, kekasih gelapnya, dan Katenka, puteri mereka, untuk menuangkan di atas kertas sejumlah permenungan literarisnya. Adegan di rumah peristirahatan di Varykino itu dilukiskan secara sangat menyentuh perasaan. Pasternak menulis tentang pengalaman kreatif Yurii Zhivago malam itu:

    Setelah menulis dua atau tiga bait yang demikian mudah mengalir dari penanya, dan sesudah menghasilkan sejumlah perbandingan yang membuat dirinya sendiri demikian kagum, dia merasa sungguh dikuasai oleh pekerjaannya. Dia merasa sudah dekat sekali pada apa yang disebut inspirasi. Keterpaduan dari sekian banyak daya yang mengarahkan penulisan yang kreatif muncul dalam benaknya. Yang paling menentukan bukan lagi manusia dengan suasana batinnya yang hendak dituangkannya dalam kata. Yang terpenting kini adalah bahasa, dengannya dia hendak menyingkapkan tabir dirinya. Bahasa, tanah pijakan dan bejana keindahan dan makna, mulai berpikir dan berbicara sendiri untuk manusia dan menjadi laksana musik, bukan sebagai bunyi yang keras, namun bagai alur batiniah yang cepat dan kuat. Bahasa mencuat dalam arus yang mengalir dahsyat, yang dengan gerakannya perlahan melicinkan permukaan batu yang ada di dasarnya, arus yang menggerakkan roda kelincir […] Dalam suasana seperti itu Zhivago merasakan bahwa pekerjaan utama tidak terletak di tangannya, melainkan pada sesuatu yang ada di luar dirinya dan yang menuntunnya, yakni pemikiran dunia dan puisi dunia, masa depannya yang sudah ditentukan terlebih dahulu dan langkah ke depan yang mesti dilaksanakan dalam perkembangan historis­nya.

    Bahasa dapat menjadi semacam alur sungai, dan kita terhanyut dalam alunannya, dibuai olehnya. Bahasa sungguh menjadi Logos, yang memang berarti pikiran dan bahasa mahaluas, yang menjadikan kita percikan-percikan kecil untuk mengungkapkan kehadiran dan pengaruhnya. Tidak jarang kita mengalami kenikmatan, saat kita menemukan sebuah alur berpikir dan berbahasa yang mengalir. Pemikiran kita demikian mudah menemukan bahasanya, dan perasaan kita segera tertuang dalam pilihan kata yang jernih. Kita dapat mengalami kenikmatan itu dalam fantasi atau khayalan, tetapi dapat pula dalam permenungan studi yang serius. Dengan sangat gampang kita menelusuri sebuah persoalan, dan dengan mudah menemukan ruas-ruasnya yang masih tersembunyi, untuk kita angkat dalam kata yang padat makna. Kita mengalami diri sebagai sebuah instrumen pengungkapan diri dari kebenaran.

    Kita boleh saja mengalami dan memahami diri sendiri dalam buaian seperti ini. Namun kalau demikian, di manakah manusia sebagai subjek pengguna bahasa yang bertanggung jawab? Apakah itu bukan berarti kita menciptakan sebuah metasubjek, di belakangnya kita dapat bersembunyi dari kewajiban dan tanggung jawab membahasakan sesuatu? Ketika bahasa menjadi terlalu dominan, dia menjadi tameng perlindungan bagi manusia untuk menyembunyikan diri dari kewajiban bertanggung jawab sebagai subjek. Dominasi bahasa dapat beralih menjadi dominasi tradisi dan masyarakat, dominasi pola pikir arus utama dan budaya. Lalu manusia hanya menjadi elemennya tanpa daya dan tanggung jawab. Kesunyian dalam pandangan ini berarti masuk ke dalam jaringan kata yang sudah tertenun tradisi dan budaya. Sunyi dipadati kata, dia bukan lagi pengalaman keunikan diri, melainkan pintu masuk ke gerakan jagad dan alur sejarah yang berada di luar kontrol kita. Manusia hanya menjadi produk sejarah dan serpihan universum.

    Namun, pandangan seperti ini mengabaikan dimensi lain dari manusia sebagai pelaku sejarah dan individu khas. Kita bukan hanya bagian dari sejarah dan alam. Kita adalah juga makhluk independen yang dapat mengambil jarak terhadap apa yang terjadi dalam alam dan sejarah. Oleh kebebasan yang dimiliki yang tercermin dalam kesanggupan berkehendak dan berpikir kita dapat memutuskan mata rantai terhadap sejarah dan melakukan sesuatu terhadap alam.

    Pereduksian pengalaman ke dalam pembahasaan sebagaimana diusung dalam pandangan terdahulu tampaknya mempermiskin dunia manusia. Dunia kita bukan hanya bahasa kita dan gagasan-gagasan yang dirumuskan. Dunia kita adalah pengalaman kita, dan pengalaman sudah selalu dapat dibahasakan, tidak selalu menjadi bagian dari keluasan alam dan sejarah. Ada pengalaman amat pribadi yang tak terkatakan. Pengalaman pra-bahasa yang tersimpan sebagai gudang kekayaan setiap pribadi. Jika duniaku hanyalah bahasaku, apakah dunia bayi dalam rahim ibu? Sementara psikologi modern mengajarkan kita betapa pengalaman tanpa kata tersebut mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang.

    Ada yang tidak terkatakan, tak terbahasakan. Ada kesunyian yang kosong kata dan bebas pengertian, kesunyian tanpa rumusan. Setelah memberikan ulasan menarik tentang bahasa dalam Tractatus, Ludwig Wittgenstein mengatakan:“Wovon man nicht reden kann, darüber soll man schweigen” (orang harus diam tentang apa yang orang tidak dapat bicarakan). Memang orang masih saja berdebat, apakah sikap diam yang dituntut oleh Wittgenstein itu sikap diam seorang ateis, agnostik, seorang positivis atau seorang teis, entahkah itu sebuah sikap diam tentang ketiadaan atau sebuah kediaman di hadapan Yang Tak Terungkapkan, Yang Mistis. Namun, kalau membaca buku harian rahasia yang ditulisnya bersamaan dengan penulisan Tractatus dan baru diterbitkan kemudian (1961), akan terungkap apa yang dimaksudkan Wittgenstein. Di dalam buku harian itu filsuf ini mendokumentasikan penderitaannya tersebab oleh kebiadaban perang, situasi sulit di front, pergolakan batinnya, kecemasannya terhadap kematian, doanya untuk mendapatkan Roh, untuk mengalami Allah. Menjadi jelas bahwa Wittgenstein, dalam buku hariannya, bergulat pada tapal batas kemungkinan bahasa yang dibayangkannya sendiri dan merasa harus berbicara. Dia menulis: “noch immer kann ich das eine erlösende Wort nicht aussprechen” (Aku belum juga sanggup mengungkapkan kata yang menyelamatkan itu). Itu berarti, ada kata penyelamat, namun kata tersebut belum bisa diungkapkan. Sikap diam Wittgenstein bukanlah diamnya seorang ateis, melainkan sikap diam seorang pemikir yang beriman dan berharap. Ada yang tak terkatakan, ada yang hanya bisa diakui sebagai rahasia.

    Saya sering mengutip kata-kata Friedrich Duerrenmatt, sastrawan Swiss yang mengatakan,“Seluruh karya seniku adalah sebuah upaya tanpa akhir untuk mengungkapkan visi yang kuperoleh.”Namun visi itu bukanlah sebuah rumusan yang jelas, dia lebih merupakan sebuah kerinduan yang tidak selalu terungkap dalam kata. Sebab itu, seluruh biografi seninya adalah usaha untuk mencari dan merangkai kata, mengkreasi figur dan menyusun alur kisah, untuk mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam kerinduannya. Dan setiap kali dia menyadari bahwa kata, figur dan kisah yang ditampilkan selalu lebih miskin dari apa yang tersimpan sebagai visinya. Pada mulanya adalah kerinduan tanpa kata, dan kerinduan itu dialami dalam kesunyian, dan selanjutnya penyair mencari kata untuk membahasakan kerinduan itu.

    Jika yang tersimpan sebagai kerinduan bagi dunia dan cita-cita bagi diri selalu lebih kaya dari kata yang dirumuskan, apakah kita memerlukan mukzijat perbanyakan kata untuk mengenyangkan kerinduan tersebut?

    Yang diperlukan bukan perbanyakan kata, melainkan puisi sebagai catatan kesunyian. Yang kita butuhkan adalah mukjizat perbanyakan sunyi untuk melahirkan dan membaca puisi. Puisi mengandalkan diksi dan majas, kekuatan kata untuk menimbulkan imajinasi. Sebab itu, puisi lahir sunyi dan akan membawa kepada sunyi. Puisi adalah catatan sunyi dan mengirim orang kembali ke sunyi. Sebab itu, saya yakin, puisi hanya dapat dinikmati orang-orang yang berani mengalami kesunyian. Dalam Sajak Untuk Tuhan Leo Kleden menulis, “Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah. Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi. Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu.“ Ada sunyi di bait terakhir semua puisi. Penyair, pun pembaca, akan dibawa ke dalam sunyi, tanpa pernah sanggup menulis dan membacanya secara tuntas.

    Dan dalam sunyi itu ada kontinuitas dan diskontinuitas, ada pengalaman menjadi bagian dari alam dan sejarah, serentak ada pengalaman akan keunikan diri, tak tergantikan dalam arus sejarah dan luasnya alam. Di atas kita katakan, sunyi membawa kepada kedalaman diri dan keluasan jagad serta sejarah.

    Mengalami ketaktergantikan diri dan arus sejarah serta alam berarti mengantar orang untuk menerima dan mengalami aku-nya yang solider. Setiap orang ini otonom, mempunyai hak untuk memberi kepada dirinya sendiri nomos, aturannya, untuk mengejar apa yang disebutnya sebagai cita dan karsa. Namun, setiap makhluk adalah pula serentak solidaritas, dalam ikatan yang menghidupkan dengan yang lain, entah sejarah pun alam.

    Sunyi mempertemukan orang dengan diri dan membawanya bersentuhan dengan yang tanpa batas, apapun nama yang hendak diberikan orang untuknya. Orang yang beragama melukiskannya sebagai Tuhan, yang lain menggunakan visi atau gambar kerinduan tanpa batas untuk mendeskripsikannya. Bagi yang beragama, Alfred North Whitehead pernah berkata, “Jika engkau takut terhadap sunyi, engkau tidak pernah dapat sungguh-sungguh menjadi manusia beriman.“ Beriman bukan pertama-tama soal bergerombolan memekikkan nama Tuhan, memadahkan pujian dan meneriakkan permohonan. Beriman pertama-tama adalah kesanggupan masuk dan bertahan dalam sunyi, mengalami keunikan diri yang selalu berarti kerapuhannya karena terentang antara ada dan ketiadaan, dan mengalami keluasan jagad dan sejarah.

    Ungkapan ini sejalan dengan pernyataan Karl Rahner, teolog Jerman terkemuka abad ke-20 tentang orang Kristen, yang hemat saya dapat diterapkan untuk para penganut agama manapun: Orang beriman masa ini harus merupakan seorang mistikus, atau tidak menjadi orang beriman sama sekali. Orang harus tumbuh sebagai individu yang beriman dan mempunyai kesadaran pribadi dan rasa percaya diri yang sehat. Orang beriman yang tidak takut akan kesunyian ini adalah manusia yang tidak menggadaikan nuraninya pada orang lain dan akalnya pada sebuah lembaga, orang yang sanggup menanggapi berbagai tawaran dan kemungkinan yang disampaikan kepadanya.

    Membaca puisi-puisi Monika N Arundhati dalam kumpulan ini bagi saya merupakan sebuah kenikmatan dalam sunyi. Dia membawa ke dalam sunyi yang menghadapkan pada diri dan melarutkan dalam arus sejarah dan keluasan alam. Penyair ini, seperti ditulisnya sendiri, memang tidak takut mengalami kesunyian, sebab dalam sunyi gagasan dan rasanya dipertajam dan disemai jadi matang. Ya, matang, itulah ungkapan yang tepat untuk mencirikan analogi-analogi cerdas yang ditemukan dan digunakannya. Dapat dibayangkan, puisi-puisi ini lahir dari kreativitas yang diberi ruang untuk berproses.

    Kesunyian tampaknya membawa penyair membaca alam sebagai analogi bagi perjumpaan dengan manusia, permenungan tentang hidup, dan kenangan akan mereka yang dikasihi. Dalam sajak Narasi Amplop Hitam kita baca, “Luka-duka kau simpan hingga membangkai di sudut jiwa. Gelap jalanku menjelma embun yang gugur dari matamu sebelum fajar.” Seorang anak yang mengenang bunda yang telah meninggal, yang tak membongkar dan memaklumkan luka dukanya melalui pengeras suara, perempuan yang memendam sendiri kebingungan melihat jalan hidup anaknya yang tak dipahaminya, yang dikonotasikan  dengan gelap.

    Dalam sajak Inkarnasi kita temukan sebuah analogi alam tentang penjelmaan wujud dengan sebuah akhir berupa pembalikan yang sarkastis. Setelah melukiskan pandangan yang dituturkan leluhur tentang jiwa yang hidup lagi dalam kupu-kupu yang mesti dihormati, penyair menulis: “Waktu terus berlalu. Aku terus tua dan menjelma kupu-kupu. Terbang mengitari rumah tanpa pernah dihiraukan.” Dalam bait ini terungkap hakikat hidup sebagai momentum kontinuitas dan diskontinuitas. Kontinuitas kebenaran tradisi yang ditemurunkan dalam kisah, kemudian menemukan patahannya dalam diri yang harus mengalami sebuah anomali. Tidak demikian kasusnya seperti yang dituturkan dalam kisah.

    Puisi yang cerdas sering menampilkan kejutan pada bait terakhir, yang kemudian membawa kita ke dalam sunyi. Orang disuguhkan dengan pernyataan yang tidak dibayangkan sebelumnya dan karena itu orang diundang untuk berkhayal panjang dan tunduk merenung. Ketrampilan seperti ini tampaknya dikuasai dengan baik penyair kita. Salah satunya adalah puisi Lelaki Kayu, yang saya kutip sepenuhnya di sini.

     

    Lelaki Kayu

    Ialah lelaki yang terpahat dari batang jati terkokoh

    dengan wangi cendana.

    Tubuhnya berukirkan tatapan teduh, senyum damai

    juga hati penuh belaskasih.

    Ia adalah lelaki yang dipelitur

    dengan campuran tiner cinta

    dan sekaleng penuh vernis ketulusan.

    Tangan kanannya menggenggam palu,

    anggrek di tangan kirinya.

    Ia menjunjung langit dan memeluk bumi.

    Lelaki itu Bapak.

     

    Ketajaman pelukisan seperti ini, hemat saya, hanya mungkin lahir dari penyair yang tidak takut akan kesunyian, yang mengalami kesunyian baik sebagai penyelaman ke dalam jaringan kata yang menenun ruang keberadaan, maupun kesunyian yang kosong bahasa. Dalam kesunyian mengamati dan mengenang lelaki itu, lalu muncul dari kesunyian itu berbagai analogi cerdas. Puisi-puisi ini hanya dapat dinikmati apabila orang mengambil waktu untuknya. Mereka terlahir dari sunyi, dan mengantar kepada sunyi.

     

    —————————————————–

     

    Sumber Tulisan: Pengantar Buku Puisi Catatan Sunyi, Karya Monika N. Arundhati

     

     

     

  • Srigala  dan  Bangau

    Srigala dan Bangau

    Cerpen Mini  Aesop

    SEEKOR Srigala sedang menguyah seekor binatang yang baru saja ia bunuh, ketika tiba-tiba sepotong tulang kecil dalam daging tersangkut dalam tenggorokannya dan ia tersedak. Ia segera merasa sakit luar biasa di tenggorokannya, dan berlari kesana-kemari melenguh dan melenguh dan mencari sesuatu yang bisa membebaskan dirinya dari rasa sakit itu. Ia mencoba meminta tolong pada siapa pun yang ia jumpai untuk mengeluarkan tulang itu. “Aku akan memberikan apa saja,” katanya, “jika kau berhasil mengeluarkannya.” Akhirnya seekor Bangau setuju untuk mencoba, dan mengatakan pada sang Srigala untuk bersandar dan membuka rahangnya selebar mungkin. Lalu sang Bangau mengulurkan lehernya yang panjang ke dalam tenggorokan sang Srigala, dan dengan paruhnya mengambil tulang itu, hingga akhirnya tulang itu keluar. “Apakah kau sudi memberi apa yang kau janjikan?” kata sang Bangau. Sang Srigala menyeringai dan menampakkan gigi-giginya dan berkata “Puaskanalah dirimu. Kau telah meletakkan kepala di dalam mulut seekor Srigala dan mengeluarkannya kembali dengan selamat. Itu tentu sebuah hadiah yang cukup buatmu.” Rasa terimakasih dan kesombongan tak pernah seiring dan sejalan.

    Aesop, seorang fabulus (penulis fabel) legendaris Eropa.

    Sumber: Buku Pagi di Amerika, 47 Cerpen Mini dari 5 Benua, Serambi.

  • Melki Mekeng Beri Bantuan 464 Paket Sembako kepada Warga Diaspora Flores Timur Jabodetabek

    BNC,– Anggota DPR RI Dapil NTT 1 Melchias Markus Mekeng memberikan bantuan 464 paket sembako kepada warga diaspora asal Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur yang berdomisi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,dan Bekasi (Jabodetabek) yang terdampak Covid-19

    Penyerahan bantuan dari anggota DPR Melchias Markus Mekeng yang juga disponsori oleh Bank BNI ini, diserahkan Staf Ahli DPR Herman Hayong dan diterima Ketua Paguyuban Tite Hena Flores Timur-Jabodetabek Fidelis Lein di SMA Pax Patriae, Bekasi, Sabtu (10/10/2020). Hadir dalam kegiatan ini seluruh pengurus Tite Hena.

    Fidelis Lein, mengatakan, pandemi Covid-19 berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat, termasuk warga diaspora Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berdomisili di Jabodetabek.

    Karena itu, pihaknya berupaya menggalang bantuan bagi para warga yang terdampak pandemi tersebut. Kegiatan ini, tuturnya, semakin menyadarkan semua warga diaspora akan pentingnya organisasi paguyuban daerah seperti Tite Hena.

    “Keberadaan organisasi seperti Tite Hena akan semakin berdaya guna jika mau membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak. Ini eranya kerja sama dengan berbagai pihak, lintas daerah, agama dan golongan dalam semangat yang sama yakni untuk kemanusiaan,” ujarnya di sela kegiatan pebagian sembako.

    Dia mejelaskan, dalam kegiatan kali ini, paket bantuan sembako disalurkan ke 20 kelompok arisan anggota Tite Hena serta 4 organisasi pemuda mahasiswa asal Flores Timur di Jabodetabek dengan jumlah sebanyak  464 paket.

    Pada kesempatan itu, Fidelis menyampaikan terima kasih kepada Anggota DPR asal Dapil I NTT, Melchias Markus Mekeng dan relasinya dari Bank BNI yang mendukung kegiatan pemberian bantuan tersebut.

    “Semoga niat baik ini bisa dibalas oleh Yang Mahakuasa dan leluhur kami,” ujarnya.

    Ketua Paguyuban Tite Hena Fidelis Lein saat memberikan sambutan dalam acara penyerahan bantuan.

    Sementara itu, Herman Hayong, mengatakan bahwa pandemi kali ini menyebabkan terjadinya kelesuan ekonomi dan Pemerintah berupaya keras menjaga daya beli masyarakat dengan menggelontorkan sejumlah kebijakan khususnya di bidang ekononi.

    “Apa yang diserahkan pada hari ini merupakan wujud persaudaraan antarsesama warga yang berasal dari NTT,” tuturnya.

    Johnson Riberu  sesepuh Tite Hena mengucapkan terima kasih atas bantuan yang dikoordinasikan oleh Tite Hena dan didukung oleh Melchias Markus Mekeng. Dia mengaku mengenal Melky Mekeng semenjak keduanya bersekolah di sebuah SMA di Jakarta. “Sejak dulu beliau memiliki kepedulian terhadap sesama warga NTT,” pungkasnya. (Bn)

  • Merawat Surga Bernama Papua

    Oleh Ansel Deri

    Sekretaris Papua Circle Institute

    SUARA penyanyi asli Papua, Edo Kondologit, terdengar indah melantunkan syair lagu, Aku Papua dari laman Youtube. Lagu itu, karya Franky Sahilatua, penyanyi legendaris Indonesia. Suara merdu Edo dan suara hati masyarakat Papua mengungkapkan kekaguman dan rasa cinta pada tanah leluhurnya dalam dekapan NKRI. Tanah leluhur warga paling timur Indonesia itu meliputi Papua dan Papua Barat.

    Tanah yang bergelimang harta dari perut gunung Nemangkawi di wilayah ulayat suku Amungme dan Komoro, berupa emas, perak, tembaga, dan hasil tambang lainnya. Tanah (terutama Papua) yang menyedot Freeport-McMoRan & Gold Inc, raksasa tambang dunia asal AS melebarkan sayap usaha pertambangannya melalui PT Freeport Indonesia.

    Begitu pula wilayah Papua Barat, yang terus bersolek dengan keberadaan Liquefied Natural Gass (LNG) Tangguh, perusahaan gas alam di Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, yang dioperasikan British Petroleum Berau, Ltd, selaku operatornya.

    Selain itu juga irisan pulau kepala burung itu berada di bawah otoritas Papua Nugini, negara tetangga RI. Tanah Papua, entah Papua entah Papua Barat, merujuk Aku Papua, ialah tanah yang kaya. Ia ibarat surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah, sebanyak batu ialah harta harapan. Ia tanah leluhur, bersama angin, daun anak-anak Papua dilahirkan dan dibesarkan.

    Kekerasan

    Namun, Papua terus bergelimang kekerasan sejak Indonesia merdeka. Pada Sabtu (19/9), misalnya, pendeta Yeremia Zananbani roboh dan maut menjemputnya di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya. Penerjemah Alkitab bahasa Moni itu tewas setelah tubuhnya terkena timah panas orang tak dikenal.

    Beberapa hari sebelumnya dalam pekan itu, Serka Sahlan dan rekannya, Pratu Dwi Akbar Utomo serta Badawi, tukang ojek yang mengalami nasib serupa Zananbani. Peristiwa tragis ini seolah menambah luka bagi Papua setelah pada 2018, pendeta Germin Nirigi, juga tutup mata selamanya di Mapnduma, Kabupaten Nduga.

    Dua insiden itu segera menyeret nama kelompok kriminal bersenjata sebagai pihak terkait di balik insiden kelam itu. Pun nama institusi keamanan segera mendapat tudingan serupa. Namun, siapa pelaku sesungguhnya, seolah hanya mata Tuhan yang tahu insiden di atas surga kecil itu. Papua diselubung duka saban waktu.

    Mengapa kekerasan berujung kematian begitu nyata di atas surga kecil (yang) jatuh ke bumi itu? Papua dan Indonesia dibuat heboh, tentuya. Apakah semua pemangku kepentingan, terutama para elite, pemimpin gereja lokal, dll di tanah Papua sungguh ikut bekerja untuk menjaga keamanan dan kedamaian warga di atas surga kecil itu?

    Menurut Cypri JP Dale dan John Jonga dalam Paradoks Papua (2011), merujuk hasil studi Forum Kerja (Foker) LSM Papua dan LIPI, ada sejumlah akar konfl ik Papua. Foker LSM Papua menyebut akar konfl ik di antaranya, persoalan ketidakadilan yang berkaitan aspek ekonomi. Dominasi pendatang dalam politik pemerintahan, dominasi dan penindasan budaya dan pengembangan SDM yang bias, serta kekerasan militer.

    Sementara itu, LIPI memetakan sejumlah sumber lain seperti marginalisasi dan diskriminasi, kegagalan pembangunan dan kekerasan negara, serta pelanggaran HAM. Jauh sebelumnya, dalam tubuh pemerintahan lokal juga sudah disadari Gubernur Papua Barnabas Suebu. Bas membagi akar persoalan konflik Papua dalam tiga kelompok. Pertama, pelanggaran HAM. Kedua, ketimpangan pembangunan antara Papua dan luar Papua. Ketiga, kemiskinan yang akut dan meluas.

    Pascainsiden Intan Jaya, Jakarta langsung bereaksi. Presiden Jokowi melalui Menko Polhukam Mahfud MD membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Kekerasan dan Penembakan di Intan Jaya. TGPF menuju Papua dan segera bekerja selama dua minggu berdasarkan SK Menko Polhukam No 83/2020.

    Merawat Papua

    Publik utamanya di Papua menyambut baik langkah cepat merespons insiden Intan Jaya. Kepedulian negara terhadap warga terkait nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan nasib orang tertindas ialah keharusan. Bahkan sejak awal, gereja secara institusi, hierarki maupun umat Allah juga menaruh sikap tegas membela orang-orang kecil bahkan kaum tertindas.

    Socratez Sofyan Yoman dalam Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat (2007) menguraikan perhatian dua misionaris, Theo PA van den Broek, OFM dan J Budi Hermawan, OFM yang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan care terhadap orang-orang tertindas.

    Perhatian atau kepedulian mereka seperti itu bukan hanya perlu, tetapi menjadi keharusan bagi gereja untuk terlibat dalam misi pembelaan dan perlindungan terhadap manusia agar hak-hak dasar masyarakat diakui, dihormati, dan diutamakan.

    Masyarakat sangat mengharapkan gereja mampu mengambil sikap dalam perjuangan dan penderitaan mereka. Lebih-lebih belakangan masyarakat tanah Papua menaruh kepercayaan besar pada gereja. Pada peran gereja inilah mereka merasa diakui dan dihormati sebagai manusia sejati. Inilah cara gereja berperan serta bersama pemerintah, merawat Papua agar menjadi mozaik indah, surga kecil (yang) jatuh ke bumi. Surga yang perlahan terhindar dari kekerasan sebagaimana di Intan Jaya.

    Namun, dalam jangka panjang, ada beberapa langkah strategis meminimalisasi kekerasan di Papua. Dalam konteks lokal, intelektual Papua Paskalis Kossay mengingatkan pemerintah tidak perlu membuat konsep yang muluk-muluk, tetapi sesuai apa yang dihadapi setiap hari dalam kehidupan masyarakat.

    Menurut Kossay, ada beberapa hal. Pertama, mengubah cara pandang terhadap masalah Papua. Selama ini Jakarta masih melihat Papua dari perspektif keutuhan wilayah. Padahal, saat ini Papua tidak lagi menjadi ancaman serius dari luar. Ancaman yang ada hanya dari dalam dan masih dikategorikan sebagai gangguan keamanan dalam negeri.

    Kedua, Otsus Papua ialah dasar membangun Papua dengan hati. Presiden ke-6 RI SBY dalam Pidato Kenegaraan di hadapan Sidang Bersama DPR dan DPD RI pada 16 Agustus 2016 mengatakan otsus ialah kerangka dasar mengelola pelayanan publik, pembangunan dan pemerintahan daerah. Pemerintah telah menerapkan pendekatan yang terintegrasi guna mempercepat pembangunan. Bahwa membangun Papua dalam bingkai NKRI menjadi tugas kolektif semua anak bangsa.

    Namun, praktik di lapangan banyak tumpang tindih pelaksanaan kebijakan yang diterapkan di tanah Papua. Belum ada sinkronisasi kebijakan dengan amanat otsus. Setiap lembaga negara baik di pusat maupun daerah bergerak parsial, mengedepankan ego sektoral.

    Nah, bila hal itu terus terjadi bukan tidak mungkin niat dan kerja keras merawat Papua, bakal melewati jalan terjal.

    Namun, langkah para pemangkut kepentingan (stakeholders) baik pemerintah pusat, maupun Pemerintah Provinsi Papua bekerjasama, terutama dengan kelompok kultural setempat, pimpinan gereja, tokoh masyarakat, ondoafi, intelektual, dan mahasiswa mutlak diperlukan.

    Bukan tidak mungkin, akar persoalan serius kekerasan yang kerap melanda Papua, potongan surga yang jatuh ke bumi segera ditemukan. Namun, pekerjaan tambahan segera diseriusi, yaitu merawatnya dengan hati tanpa prasangka terhadap satu sama lain.


    Sumber: Media Indonesia, 10 Oktober 2020

  • 12.28 ke 13.28

    Cerpen Fince Bataona

    Maria menatap layar HP androidnya. Foto laut biru dan jam. Mengapa jam? Apapun yang kau pikirkan dan lakukan, selalu beriringan dengan waktu. Dia setia bergerak. Terus bergerak. Menandai perubahan. Mengingatkanmu. Meski terima kasih mungkin tak pernah kau ucapkan buatnya.

    “Satu jam lagi, saya berangkat. Untuk waktu yang lama dan  tak menentu, saya ada di sana. Tidak ada signal. HP mati total. Hubungi saya sekarang sebelum saya benar-benar pergi, Maria.”

    ***

    Ini malam entah kesekian. Dia tidak lagi menghitung. Yang setia dilakukannya adalah duduk sejenak di teras rumah usai makan malam. Kepada malam yang sepi. Kepada angin yang dingin. Kepada bintang yang berpendar, dia hanya menitip rindu. Rindu yang kekal. Padamu.

    Selalu begitu. Tiap kali begitu. Dia tahu, sia-sia berharap segala inginnya sampai padamu. Tapi dia percaya, dia sedang tak sia-sia melewati segala malam dalam doa yang sama. Dia teguh yakin, jika malam enggan bicara padamu, telinga Tuhan telah lebih dulu mendengar. Bahkan saat harap itu masih bersemayam dalam hati.

    Dingin terasa mulai menusuk hingga tulang. Lewoleba sedang berada pada puncak musim dingin di malam hari. Jacket tebal yang dipakainya tak cukup menghalau dingin.

    “Di kamar saja. Kehangatan ada di dalam. Sebab pintu dan jendela tertutup. Selimut tebal juga bisa menutupi seluruh tubuhmu. Dikau nyaman di dalam. Hanya dalam kamarmu.”

    “Saya ingin menulis.”

    “Tentang apa?”

    “Tentang hari ini.”

    Dipandanginya Laptop yang tak pernah tutup itu. Seperti pada HP, dia memandangi laut biru dan jam pada layarnya.

    *

    12.28 Wita.

    Siang yang panas tadi. Jalanan tidak seluruhnya beraspal mulus. Sebagiannya pecah dan berlubang. Sebagian lagi masih jalan tanah.

    “Ini wilayah Desa Nila Napo, Kecamatan Omesuri. Sebelahnya Desa Balurebong, Kecamatan Lebatukan. Kita sedang berada di dua wilayah kecamatan di Kabupaten Lembata, yang berbeda.”

    Perempuan berkulit putih dengan rambut pendek yang duduk di sebelah saya menjelaskan. Ibu camat. Suaminya, kepala wilayah Kecamatan Lebatukan.

    Mobil terus bergerak. Menyusuri kali kecil lalu jalanan tanah. Debu beterbangan naik ke udara bak kepulan asap saat kebakaran. Saya menoleh. Dari kejauhan, saya menyaksikan pepohonan, rerumputan dan bebatuan menerima dengan iklas sisa-sisa debu kendaraan kami. Seberapa tebal tepungnya menempel? Setiap hari, jalan ini pasti dilewati. Minimal sepeda motor.

    Iklasmu seumpama pepohonan, rerumputan dan bebatuan di pinggiran jalan ini, Maria. Diam, pasrah, tabah. Selalu begitu. Tiap kali begitu.

    “Ini lokasi penangkaran tukik,” ibu camat mengalihkan pikiran saya.

    Mobil berhenti di pinggir pantai. Air sedang surut jauh. Hamparan rumput laut hijau tumbuh di atas karang. Di kejauhan, Pulau Rusa terlihat anggun dikelilingi laut biru. Indah nian. Melepas lelah, mungkin pas di tempat seperti ini.

    “Kau anggun, Maria. Seperti itu dirimu. Dikelilingi banyak soal yang mengharu biru nuranimu, menguras air matamu. Tapi, kau senantiasa tegak berdiri. Itulah kau, Maria!”

    Bapak Mikael tersenyum lebar. Gigi-giginya hitam. Dia pasti biasa isap tembakau. Atau dia suka makan sirih pinang, seperti perempuan umumnya di kampung. Bapak Mikael pengecualian bersama beberapa laki-laki di kampung yang suka makan sirih pinang.

    Tubuhnya kurus dengan rambut keriting, beruban. Usianya sekitar 60-an tahun. Dia terlihat energik. Diperlihatkannya beberapa baskom plastik dan baskom dari ban bekas. Ratusan tukik bergerak. Berdesakan. Wadah ini terlampau kecil di usia mereka yang sudah sebulan. Di dasar baskom, rumput laut masih tersisa. “Makanan tukik hanya rumput laut”, katanya.  “Saya ambil tiap hari. Secukupnya saja untuk tukik.” Dalam sebuah ember bekas cat, ada sisa-sisa rumput laut yang masih segar.

    Seorang perempuan seusia bapak Mikael tergopoh menemui kami. Ramah tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. Sama seperti bapak Mikael. Ema ini pasti selalu makan sirih pinang. Di bibirnya masih tersisa merah air sirih pinang.

    Kepada kami disodorinya pisang rebus. “Makanlah. Yang ada hanya ini.”  Suaranya lembut. Dia amat ramah. Polos. Apa adanya.

    Maria, itulah kau. Selalu ramah dan apa adanya. Jangan berubah!

    “Kak, ayo dimakan.” Ibu camat yang ramah, saya membathin. Warga di wilayah ini pasti menyenangi sosok sepertinya. Dia tak perlihatkan jarak saat bicara dengan istrinya bapak Mikael, tadi. Saya melihatnya bergurau seperti sahabatnya dan istri bapak Mikael lagi-lagi tertawa lebar. Gigi-giginya yang hitam dan sisa air sirih pinang tampak jelas. Mungkin semburat air ludahnya yang merah mengenai baju kaus putih ibu camat. Tapi, mereka tak peduli soal itu.

    Jadi pemimpin mesti begitu, Maria!

    Kau jaga jarak? Sok jaga image? Rakyatmu lebih tak peduli. Ketika kau ajak mereka sama-sama membangun wilayah, mereka bisa balik belakang seolah tak mengenalmu. Bagi mereka, bisa makan tiga kali saja, sudah cukup. Tidak ada urusan dengan segala tetek bengek ukuran keberhasilan seorang pemimpin. Itu patokanmu dengan pemimpin di atasmu.

    Beda, jika kau membangun ikatan emosional dengan mereka. Kalau kunjungan ke desa, duduklah bersama mereka di bale-bale. Makanlah ubi, pisang, jagung titi sambil minum tuak bersama mereka. Dengarkan mereka, lalu bicaralah bersama apa yang mau kau buat untuk kepentingan bersama.

    “Itu terlalu idealis.” Saya membantah, “Rakyat itu jadi komoditas politik semata untuk kepentingan pribadi. Main kuasa saja. Persetan dengan kepentingan mereka.”

    Di lokasi penangkaran, saya memandangi bangunan 2×3 meter penuh tanya. Seperti pos penjagaan. Catnya biru, Baru. Mungkin dicat sesaat sebelum kunjungan bapak gubernur. Sudah lama, bangunan itu berdiri, tapi dibiarkan begitu saja, kata Bapak Mikael. Karena bernama penangkaran tukik, bapak Mikael pun tergerak mengurus.

    Saban malam dia tidur di pasir pantai yang dingin. Saat dibacanya tanda alam penyu akan bertelur, dia setia menunggui. Menandai lokasi-lokasi penyu bertelur. Terus menjagai hingga telur-telur itu menetas. Memelihara dan merawat tukik dalam baskom plastic dan ban bekas hingga mereka harus dilepas ke laut.

    Jika memberinya nama penangkaran tukik, mengapa hanya ada bangunan kecil, semacam pos jaga? Saya menatap Bapak Mikael yang sedang sibuk memberi makan tukik. Urat tangannya tampak jelas. Dia pekerja. Sambil terus membagi-bagi rumput laut, dia terus berceritera dan saya mendengarnya dengan setia.

    Maria, kau pendengar yang baik, penuh perhatian pada setiap wajah yang mengeluh. Bahkan pada keluhan-keluhan remeh temeh, kau mendengarnya dengan sungguh. Tetaplah begitu, Maria.

    Bapak Mikael mengambil sepasang tukik yang melompat keluar dari dalam baskom. Terdesak dengan sesamanya yang pasti berebutan berada di posisi nyaman. Dia menggeleng berkali-kali dan saya memahami harapannya. Dia ingin memberi tukik lebih leluasa hidup.

    Hanya orang bernurani saja yang terusik melihat sesuatu yang hanya asal nama. Dia terganggu dengan sesuatu yang asal ada, di sekitarnya. Dan dia tidak menunggu untuk memulai sesuatu. Saya memegang tangannya, salut, bapak!

    Maria, lakukan sesuatu.

    Saya diam. Diskusi kita tentang pemimpin, kuasa, kesewenangan, seperti sebuah film pendek yang tengah diputar di depan saya.

    “Minggu depan sudah dibangun bak penampung untuk tukik-tukik itu.” Kepala Desa Balurebong dan Camat Lebatukan sudah berdiri di sebelah Bapak Mikael yang tersenyum sumringah. Dia bahagia.

    ***

    “Hubungi saya sekarang. Sebelum saya benar-benar pergi. Di sana, HP mati total.” Saya memandangi layar HP dengan perasaan tak menentu. Gelisah saya menekan nomor. Masuk. Tidak diangkat. Coba lagi. Tidak diangkat. Coba lagi dan tetap tidak diangkat.

    Nanar, saya terus pandangi waktu. Sedih perlahan berkecamuk.

    Di tangga pesawat, Adrian menatap layar HPnya. Membiarkan saya memanggil. “Maria, saya tidak kuat dengar, kalau kau bilang, saya tak kuat kehilanganmu. Jangan menangis, Maria.”

    Butiran air hanya menggantung di bola mata. Saya dekatkan jarak lihat ke layar HP. Tak! Waktu berubah. Jam12.28Wita ke 13.28 WIT. Lompatan waktu satu jam. Di depan sana, Pantai Wade bening menggoda. Lewoleba, 0508202

    Pantai Wade Lembata (Sumber Foto Google)

    Catatan:

    Ema: Panggilan untuk ibu dalam bahasa setempat

    Pantai Wade: salah satu obyek wisata pantai di Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Propinsi NTT dengan keunikan yang belum banyak diketahui umum adalah lompatan waktunya satu jam lebih cepat dari waktu di seluruh wilayah Lembata bahkan NTT (dari WITA ke WIT)

  • Buku untuk Rayakan Otonomi Lembata

    Buku untuk Rayakan Otonomi Lembata

    JAKARTA, berandanegeri.com– Sejumlah warga Lembata diaspora se-dunia, Kamis, (8/10/2020), meluncurkan buku berjudul – Membangun Tanpa Sekat – sebagai wujud kecintaan bersama Pemerintah Kabupaten Lembata dan masyarakat di tanah kelahiran, lewotana, leu awuq, untuk merayakan dan memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-21 Otonomi Lembata yang jatuh pada Senin, 12 Oktober 2020.

    Foto; Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata

    Buku tersebut berisi koleksi 26 tulisan hasil refleksi kritis atas sejumlah isu dan aspek pembangunan di Lembata selama 20 tahun terakhir. Ada sejumlah tema dalam buku tersebut seperti sejarah, kepemimpinan, prasarana dan sarana, pendidikan, kesehatan, pariwisata, kebudayaan, spiritualitas, filsafat dan epistemologi lokal.

    “Para penulis adalah putera-puteri Lembata, yang menyebar di seluruh wilayah NTT dan manca negara. Mereka berasal dari beragam latar belakang pendidikan, pengalaman, dan profesi. Misalnya anggota DPR, rohaniwan, akademisi, pengacara, ASN, politisi, aktivis, guru, pekerja sosial, dan wartawan. Semua tulisan disajikan dengan bahasa yang lugas dan ringan sehingga mudah dibaca. Buku ini digagas Ansel Deri, seorang wartawan di Jakarta, dan Dr Justin L Wejak, dosen Kajian Indonesia di The University of Melbourne, Victoria, Australia,” ujar Ansel Deri, co-editor buku dari Ata Lembata, dalam keterangan tertulis yang diterima berandanegeri,com di Jakarta, Kamis, (8/10/2020).

    Ansel yang pernah menjadi tenaga ahli Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Irjen Pol (Purn) Drs Y. Jacki Uly MH di DPR RI, menambahkan, buku tersebut diberi sambutan sebagai pengantar oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Johnny G. Plate, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pemilihan NTT 1 yang meliputi juga Lembata. Sedangkan, Prolog ditulis jurnalis senior asal Waibalun, Flores Timur, Stephie Kleden-Beetz dan epilognya ditulis Pastor Dr. Otto Gusti Madung SVD, Pimpinan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.

    Justin L. Wejak, Salah Seorang Penggagas Buku “Membangun Tanpa Sekat”

    Menurut Justin L Wejak, ide dan gagasan menerbitkan buku tersebut lahir dari diskusi lepas beberapa orang dalam WA Group Ata Lembata pada September 2019. Group itu lebih sekadar moting, tempat ngobrol ala kampung di jagat maya dan beranggotakan sejumlah warga asal Lembata yang tinggal di kampung halaman maupun di luar.

    “Buku ini, selain merupakan hasil refleksi kritis para penulis, ia hadir sebagai ajakan bagi para pembaca untuk membuat refleksi tentang Lembata di masa dulu, kini dan seperti apa Lembata nanti di masa depan. Ini penting agar julukan tak enak saat ini sebagai ‘kabupaten tertinggal’ atau meminjam judul buku Pastor Steph Tupeng Witin SVD, ‘negeri kecil salah urus’, bukan label tetap sepanjang masa,” kata Justin, dosen kelahiran Baolangu, Kecamatan Nubatukan.

    Justin menambahkan, pilihan judul buku bertolak dari pemikiran bahwa Lembata adalah kabupaten dengan potensi kekayaan sumber daya manusia dan sumber daya alam melimpah yang mesti diberdayakan dan dikembangkan untuk kemajuan masyarakat dan daerah. Para pemimpin setiap berganti rezim mesti membangun Lembata secara holistik dan integratif berpijak pada potensi daerah tanpa terjebak dalam pragmatisme politik pembangunan. Semua stakeholders lokal perlu disatukan dalam satu visi yang sama demi memajukan Lembata tanpa terjerumus dalam sekat-sekat primordialisme geopolitik.

    “Buku ini hadir sebagai kado kecil bagi pemerintah dan rakyat Lembata selama 20 tahun perjalanan Lembata menjadi daerah otonom, pada 12 Oktober 2020, memasuki usia ke-21. Lembata resmi menjadi kabupaten otonom terlepas dari kabupaten induknya Flores Timur pada 12 Oktober 1999. Semoga melalui buku ini putra-putri Lembata baik yang tinggal di kampung maupun di luar tetap setia mencintai Lembata dengan caranya masing-masing sekecil apapun,” kata Justin, kolumnis harian The Jakarta Post, Ucanews, dan Canberra Times.

    Ansel Deri, Co -Editor Buku “Membangun Tanpa Sekat”

    Sedangkan Ansel, co-editor sekaligus admin grup Ata Lembata, menambahkan, buku –Membangun Tanpa Sekat – terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berisi sejumlah tulisan antara lain, Lembata dan Kepemimpinan Melayani, Memanen Buah Otonom, Dua Puluh Tahun Otonomi Lembata, Wajah Lembata yang Perlu Dipoles, Pembelajaran Berbasis Motivasi, Guru Terima Kasih, Jokowi, Guru dan Lembata, dan Berguru Kearifan Tempo Doeloe

    Bagian kedua buku berisi artikel-artikel antara lain Kekuatan Budaya Lembata, Spiritualitas Ata Lembata, Pariwisata dan Kearifan Lokal, Selamat Datang Desa Budaya Leuwayang, Filosofi Tenun Tradisional, Lamalera dalam Konstruksi Konservasi, Politik yang Jauh dari Rakyat, dan Korupsi Awololong.

    Sedangkan bagian ketiga meliputi delapan artikel yaitu Ketakutan Momok Pembangunan, Menelisik Tambang Emas di Lembata, Mengabdi Rakyat, Nasionalisme: Sebuah Pembaharuan Etis, Lembata yang Remaja, Balita yang Terancam ISPA dan Bahaya Rokok, Mengapa Orang Lembata Merantau, dan Sastra sebagai Sebuah Refleksi Kehidupan Manusia.

    “Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus Jakarta, ia hadir sebagai bentuk mini mencintai Lembata, tanah leluhur. Sekaligus bentuk tanggungjawab kepada para pejuang dan perintis sejarah perjuangan Lembata menjadi kabupaten otonom. Setelah perjuangan mencapai garis finish mengantar Lembata menjadi daerah otonom sejak 21 tahun lalu, kini saatnya semua elemen masyarakat berperan aktif dengan caranya masing-masing membangun Lembata tanpa sekat-sekat primordialisme kepentingan geopolitik. Buku ini bisa menjadi bahan bacaan masyarakat sekaligus mendukung gerakan literasi yang dicanangkan pemerintah,” kata Ansel Deri. (bn)

    Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi No WA:

    Ansel Deri: +62 822 1343 3110, atau

    Justin Wejak: +61 408 285 838

  • Menulis “C i n t a” Menemukan Sesama dan Tuhan

    Menulis “C i n t a” Menemukan Sesama dan Tuhan

     

    DALAM bukunya Kata Waktu Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001 (Penerbit Pusat Data dan Analisa Tempo),  Goenawan mengatakan bahwa: “Puisi dimulai dengan semangat dan kerinduan, dan berakhir dengan kerendahan hati. Mereka yang mencipta dengan sungguh-sungguh tahu bahwa kesenian merupakan usaha yang tak putus-putusnya. Jika seni merupakan proses dialektik – manusia di satu sisi dan realitas di pihak lain – dialektik itu tak kunjung habis. Hasil seni tak pernah sempurna, meskipun ia selalu ingin demikian.”  Semangat menulis itulah yang menjadi pelatuk bagi Yakobus Odiyaipai Dumupa menerbitkan buku puisinya Apa Itu Cinta. Permenungan tentang cinta (dari cinta akan sesama sampai ke pencarian akan cinta abadi) menggelisahkan Yakobus untuk menulis puisi-puisinya.  

     

    Pesona Cinta

    Dari novel pengarang Rusia Dotoevski, Crime and Punishment, kita dapat memperoleh inspirasi yang menarik mengenai cinta. Bagaimana tidak? Dalam novel itu, dikisahkan bagaimana Raskolnikov seorang  mahasiswa yang miskin, terdesak akan kebutuhannya akan uang untuk melunasi biaya kuliah dan kosnya di Petersburg (Moskow sekarang), menjadi mata gelap dan membunuh dua orang perempuan tua, tukang gadai barang. Kepada mereka ini Raskolnikov biasa menggadaikan barangnya. Sekian lama polisi mencari jejak si pembunuh, namun belum menemukan. Sekian lama pula, Raskolnikov berada dalam kegelisahnnya karena perbuatannya belum diketahui.

    Akan tetapi tatkala percintaan terjalin antara Raskolnikov dan Sonia, meluaplah pengakuan dari hati si anak muda yang gelisah oleh karena beban kejahatan yang tersembunyi dan telah terlalu lama ditanggungnya. Pengakuan itu tercurah bagaikan air ke dalam jembangan ketulusan dan kesederhanaan si gadis miskin itu. Tetapi drama percintaan itu tidak hanya berhenti di situ. Daya cinta Sonya mendorong Raskolnikov untuk melangkah lebih jauh lagi, menegakkan harga diri Raskolnikov, sehingga ia berani secara jantan mengakui perbuatannya itu di hadapan polisi. Memang, Raskolnikov akhirnya mendapat ganjaran delapan tahun kerja paksa di Siberia, namun Sonia yang setia tidak meninggalkannya sendirian. Ia ikut menemani kepindahan kekasihnya ke Siberia. Yang menarik, Sonia tidak dilukiskan Dotoevski sebagai seorang moralis, yang berkotbah mengenai kebaikan dan tanggung jawab atau pun menjelaskan mengenai jahtnya pembunuhan, melainkan sebagai seorang gadis yang sederhana, yang bahkan sering menjadi incaran orang-orang kaya untuk dijadikan koirban karena kemiskinan dan kesederhanaannya.

    Teknologi canggih dewasa ini bisa menjelaskan kemungkinan memindahkan gunung untuk membuat jalan raya atau menimbun jurang untuk membuat jalan kereta, menimbun danau untuk pertanian dan sebagainya. Akan tetapi cinta bukanlah “teknik” dan untuk menggerakkan hati, atau menegakkan harga diri, ternyata diperlukan energi yang jauh lebih besar dari yang bisa dicipta  oleh “teknik”. Teknik mampu memproduksikan energi atom atau nuklir, yang berdaya guna. Akan tetapi energi ini tak bisa menggerakan perasaan moral manusia.

    Hanya dalam cinta yang tulus dan setia ada energi yang besar sekali, energi yang  bisa menggoncang kehidupan, merobohkan kesombongan, mencairkan kebekuan, dan menerobos kemampetan ( Bagian ini sepenuhnya saya ambil dari buku: A. Sudiarja, Menemukan Tuhan dalam Segala, Kanisius 2014).  Yakobus Odiyaipai Dumupa meyakini bahwa cinta mampu memberikan energi untuk kehidupan.

     

    CINTA DAN HUDUP

     

    Ketika cinta tak terbendung

    Yang dibutuhkan hanya kepercayaan

    Biarkanlah kasih kalbumu bersatu

    Sebesar ketulusan kasih kalbuku

    Ketika kasih kalbu bersatu

    Yang dibutuhkan hanya pengorbanan

    Biarkanlah dirimu berkorban

    Sebesar kukorbankan diriku

    Ketika pengorbanan terbukti

    Biarkanlah dirimu menemukan makna hidupku

    Sebesar aku menemukan makna hidupmu

    Menuju akhir kehidupan dunia

     

    (Lereng Merapi, 17/06/2010).

     

     

    Yakobus Odiyaipai Dumupa

     

    Puisi bukan deretan kata mati, puisi adalah realitas hidup ketika dibahasakan, disuarakan,  dan digaungkan dalam keindahan kata. Dalam puisinya “Gelora Cinta Teluk Saireri”, Yakobus seolah menegaskan bahwa hal-hal yang mempesona, sebelum hilang mesti kita olah menjadi karya sastra entah itu berupa puisi ataupun cerpen.

     

    GELORA CINTA TELUK SAIRERI

     

    Cinta yang membekas

    Kapal Dorolonda adalah saksi

    Kala kau tergoda dan pasrah

    Disambar kedip mesra tatapanku

    Kau tersenyum malu

    Ditengah alunan gelombang

    Tak henti kau menatapku

    Dalam hembusan angina malam Saireri

    Kala aku ulur tangan hendak kenal

    Kau menyambar girang

    Aku mengaku Rajawali rimba

    Kau mengaku Rembulan Serui

    Dewa cinta melilit kita

    Dalam peluk cium mesra

    Dewi bulan menemani kita

    Dalam canda tawa girang

    Takdir tak dapat dilawan

    Kau pergi menghiasi taman kembang

    Aku pergi mengitari rimba

    Tapi kenangan cinta tetap abadi.

     

    (Km. Doloronda Nabire-Serui, 04/06/2008).

     

     

    Seorang filsuf besar abad 20, Alfred North Whitehead, membicarakan agama sebagai sumber visi dan penggerak untuk bertualang atas dasar keyakinan iman. Whitehead juga menekankan pentingnya “adventure” (sikap dan keberanian untuk melakukan suatu penjelajahan baru). Allah digambarkan oleh Whitehead sebagai suatu daya dinamis yang secara imanen berfungsi dalam pergulatan hidup manusia di dunia ini dan bukan sebagai suatu individu yang serba transenden. Agama adalah dasar yang memberikan jaminan bahwa perjuangan hidup yang tak kunjung habisnya untuk menyempurnakan hidup di dunia ini, tidaklah sia-sia. Agama memberikan rasa damai. Rasa damai diperoleh karena walaupun proses hidup di dunia ini tidak lepas dari kekurangan, kesalahan dan dosa, namun Tuhan Penebus dan Penyelamat mampu menjalin suatu karya seni yang indah. Yakobus dalam peziarahan hidupnya, dengan penuh kerendahan hati terus mencari cinta yang berasal dari Sang Sumber Cinta. Tentang itu ia menulis:

     

    PELUKAN KEABADIAN

     

    Dalam remang-remang kabut kehidupan

    Ketika segala sinar sirna dihadapan waktu

    Tersisa senyap-senyap melodi ratapan

    Aku termenung tak berdaya di ujung senja

    Seakan girang yang berlalu tak bermakna lagi

    Hanya jejak-jejak pengantar kea lam binasa

    Hendak kuratapi setiap detik yang berlalu

    Tapi tak ada harapan yang sudi menolong

    Di ujung senja ini aku terlelap lunglai

    Bermimpi bidadari merangkulku mesra

    Membawaku terbang tinggi ke kayangan

    Agar aku tetap dalam pelukan keabadian

    (Dune Kapau, Makewaapa, 9/8/2015)

     

    Yakobus seakan mengajak kita melihat Tuhan dengan kaca mata Whitehead, Tuhan sebagai teman seperjalanan dan teman senasib sepenanggungan yang maha memahami, maha memaklumi dan oleh karena itu maha mengampuni.

     

    Paskalis Bataona

  • Menjadi Penggarap Tahu Diri (Refleksi 100 tahun SVD di Lembata)

    Menjadi Penggarap Tahu Diri (Refleksi 100 tahun SVD di Lembata)

    Oleh P. Steph Witin, SVD


    Minggu Biasa XXVII-A
    Yes 25:6-10a;
    Flp 4:12-14;
    Mat 22:1-14

    Nabi Yesaya melukiskan keajaiban Tuhan menciptakan kebun anggur. Para ahli agama Yahudi selalu menggunakan sebutan “kebun anggur” sebagai kiasan bagi Israel. Kebun anggur dunia ini Tuhan beri tanah yang subur dengan air yang cukup dan dikelola oleh para penggarap dengan setia agar menghasilkan buah yang melimpah. Di tengah kebun anggur itu ada menara jaga yang ditafsirkan sebagai “tempat kudus” atau Bait Allah yang dilengkapi dengan tempat memeras anggur yang ditafsirkan sebagai “altar.” Lukisan ini mengingatkan kita bahwa kebun anggur itu tempat kudus yang mesti dirawat agar yang kudus itu berbuah kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tapi Tuhan sebagai pemilik kebun anggur tidak pernah memaksakan pikiran dan kehendak-Nya kepada penggarap-pengarap yang ia percaya. Pemilik kebun anggur tidak arogan dalam kuasa meski ia memilkinya. Ia sangat menghargai kehendak dna pilihan bebas. Penginjil Matius menulis, “Pemilik kebun anggur itu menyewakan kebun itu kepada penggarap-pengarap lalu berangkat pergi ke negeri lain” (Mat 21:33). Allah memberikan kebebasan penuh kepada penggarap-penggarap untuk mengekspresikan kehendak bebas demi Kerajaan Allah. Beda Venerabilis, seorang Rahib Benediktin yang menetap dalam Biara Northumbria Santo Petrus di Monkwearmouth Inggris, menulis “Ia tampaknya meninggalkan kebun anggur supaya dapat meninggalkan para pemelihara kebun anggur itu pilihan tindakan yang bebas.” Pilihan tindakan yang bebas itu sesungguhnya terangkum dalam identitas “penggarap.” Istilah “penggarap”-sebenarnya tertuju kepada Imam kepala yang duduk dalam Mahkamah Agama Sanhedrin-bisa kita terjemahkan “penyewa”, “pemilik sementara” “sekadar pekerja” atau “petani kebun anggur.” Istilah “penggarap” identik dengan sesuatu yang sementara saja. Mereka hanya sekadar menggarap lahan dari pemilik tanah. Konsekuensi lanjut, jika pemilik tanah tidak mempunyai ahli waris maka para “penggarap” mempunyai hak pertama untuk memiliki tanah itu.

    Soal ahli waris inilah yang memunculkan konflik kepentingan dalam diri para penggarap di dalam kebun anggur. Ruang-ruang rohani tidak pernah bebas dari permainan kepentingan dangkal. Berhadapan dengan realitas kebun anggur yang memilik prospek masa depan, hadir hasrat menjadi kaya dengan menghalalkan segala cara. Atas nama rakus hidup mewah instan, nyawa begitu murah ditumbalkan dan darah ditumpahkan tanpa pernah mendengarkan teriakan sunyi. Kehendak bebas yang Tuhan titip untuk menentukan pilihan yang benar, baik dan adil, dibelokkan sekadar memuaskan hasrat diri.

    Penggarap-penggarap kebun anggur merasa khawatir akan kepastian masa depan berhadapan dengan godaan kualitas hasil kebun anggur ini, Santo Paulus mengingatkan jemaat di Filipi, godaan itu akan berperang melawan suara Tuhan yang terkadang lebih sunyi, pelan dan kecil dibandingkan dengan suara keserakahan yang bergelora dan mendesak-desak (Flp 4:12).
    Pengarap-penggarap itu kehilangan kendali kebebasan. Hati mereka oleng dan kalangkabut oleh godaan dan tawaran kenikmatan, kemewahan dan kualitas hasil kebun anggur. Kehendak dan pilihan yang berkiblat pada Kerajaan Allah kalah dari dorogan hasrat keserakahan untuk memiliki kebun anggur. Maka pembunuhan sesama khususnya utusan pemilik kebun anggur yang ditafsir sebagai nabi atau utusan Allah menjadi sebuah keniscayaan. Nyawa dan darah utusan, bahkan pemiliknya yaitu Yesus Kristus begitu gampang ditumpahkan. Para penggarap sangat kesetanan hasil dorongan hasrat membara untuk menguasai kebun anggur milik orang lain. Mereka mencuri hal milik orang lain. Niat itu begitu licik tapi nikmat. Ada darah dan nyawa yang dikorbankan. Tapi ada kuasa, harta dan kebun anggur yang akan dimiliki meski itu “sementara”.

    Narasi bacaan hari ini melukiskan kasih setia Allah di satu pihak dan keserakan manusia di pihak lain. Allah sangat setia dan telaten merawat Israel agar menjadi kebun anggur yang menghasilkan buah yang ranum dan lezat. Ia mencangkul tanahnya, membuang-batu-batu, menanaminya dengan bibit anggur pilihan, membangun pagar dan menara penjaga serta menggali lubang pemerasan anggur (Yes 5:7). Tapi Isreal hadirkan kekecewaan karena tegar hati sehingga hanya mampu hasilkan buah anggur asam. Israel mengingkari semua kebaikan Allah. Bahkan dalam Injil Matius, penggarap justru tidak tahu diri dan berebut kuasa menjadi pemilik dengan menyingkirkan orang-orang kepercayaan Allah. Bahkan Anak Allah sebagai pemilik sah kebun anggur pun dibunuh (Mat 21:37-39).

    Namun Tuhan selalu menciptakan keajaiban di tengah puing-puing kehancuran dunia. Tragedi Jumat Agung dimahkotai kebangkitan. Perbuatan jahat selalu tidak abadi. Hanya memuaskan dahaga infantil sesaat. Penggarap-penggarap yang garang dan sadis akan tertunduk malu di hadapan sang pemilik. Utusan Allah dan Anak-Nya pemilik yang telah dibuang akan menjadi batu sendi hidup Gereja di masa depan. Darah orang-orang benar tidak pernah mengering apalagi hilang. Darah itu akan abadi dalam “teriakan.”

    Darah Misionaris

    Darah Pater Konrad Becker SVD yang tumpah di Watuwawer, Paroki Lerek, Lembata menyucikan tanah kebun anggur dan menyuburkan benih panggilan. Rentang waktu 100 tahun kehadiran SVD di tanah Lembata menjadi momen refleksi spiritual. Saat untuk bersyukur, mengenang jejak tapak kaki para misionaris dan merancang misi masa depan. Apakah Lembata telah menjadi kebun anggur yang berbuah ranum dan berkualitas lezat? Atau kita hanya menghasilkan buah anggur yang asam karena otak kita terbatas-meski ada potensi-stagnan dan tertutup lalu hilang kreativitas di tengah deburan gelombang informasi kemajuan zaman? Apakah kita menjadi penggarap yang kehilangan identitas karena kelekatan dengan “orang tertentu” yang begitu personal dan akhirnya membangun “rumah kenyamanan pribadi” lalu dengan berbagai cara berusaha “membunuh” utusan yang lebih muda, progresif dan berenergi untuk perubahan karena merusak kenyamanan relasi penggarap terdahulu yang sudah akut dan uzur? Belum lagi, “utusan” lebih dekat dengan pemilik yang hanya ada di belakang meja, gemar mendengarkan bisikan dan menjadikan jabatan dan status sebagai ruang pengaman bagi utusan yang tidak berbobot, bodoh (kurang pengetahuan), tertutup dan arogan. Saat kehilangan argumentasi, utusan yang tidak berkualitas membela diri dengan sepotong SK dari “atasan.” Utusan-utusan yang tidak berbobot hanya mempersulit manajemen pengelolaan kebun anggur sehingga penggarap yang nakal bisa membawa kabur aset kebun anggur ke “negeri seberang.” Tapi perilaku penggarap yang bawa lari uang ini patut diduga ada skenario “bersama” utusan untuk “mengamankan” niat buruk. Kita belajar dari para misionaris dulu yang setia bekerja, tahu diri, sadar kemampuan sehingga menyatu dengan keseharian umat sederhana yang menjadi ruang tumbuhnya benih Sabda Allah kontekstul. Sikap diam terhadap utusan yang tidak berkualitas adalah dukungan suburnya tabiat yang semakin merusak kelestarian dan keutuhan kebun anggur.

    Gereja St. Maria Banneux Lewoleba

    Rasul Paulus mengatakan bahwa gereja mampu jadi penggarap yang baik kalau Tuhan jadi kiblat hidup seumur hidup, hati yang terbuka kepada realitas, kritis membaca kenyataan, peka menangkap getaran aspirasi dan berani memperjuangkan kebenaran dan kebaikan bersama hingga Kalvari. *

    Sumber Tulisan: Suryaflobamora.com

  • Isaiah Berlin

    Oleh Rizal Mallarangeng

    PADA 6 November 1997, dalam usia 88 tahun, Isaiah Berlin telah pergi, meninggalkan sekian banyak tulisan yang dapat di sejajarkan dengan karya-karya pemikiran terbaik di abad ke-20 ini.

    Dalam banyak esai panjangnya, Isaiah Berlin yang semasa kecilnya sempat menjadi saksi pergolakan Revolusi Rusia pada 1917, sering mengingatkan kita betapa berbahayanya bagi sejarah kemanusiaan ide-ide besar yang mengklaim kebenaran bagi dirinya sendiri. Dari ruang studinya di Oxford, dia mengabdikan hidupnya untuk menjelaskan dan mendalami sejarah ide-ide semacam ini.

    Isaiah Berlin adalah seorang intelektual sejati yang hidup dan menghirup nikmatnya udara kehidupan melalui eksplorasi dan pertarungan ide-ide. Di tangannya, ide-de tidak lagi menjadi sekedar konsepsi-konsepsi abstrak yang dingin. Bagai seorang penyihir, dia sanggup menghidupkan kembali berbagai pemikiran klasik yang telah beku dan dilupakan, misalnya Hamann, Vico, Herzen, de Maistre, dan mencari kaitan ide-ide mereka dengan gagasan-gagasan besar yang di zaman modern ini mengharu-birukan nasib manusia.

    Dia banyak menelusuri asal-usul, substansi, dan kaitan antara gagasan-gagasan besar karena dia percaya pada kekuatan pemikiran. Dia pernah berkata, “Konsep-konsep filosofis yang dilahirkan di ruang studi yang sepi seorang profesor dapat menghancurkan sebuah peradaban.” Baginya kekuatan-kekuatan sosial dan material memang penting, tetapi semua ini hanya akan menjadi kekuatan buta tanpa arah jika tidak dibingkai oleh ide-ide. Dia sangat yakin bahwa dunia pemikiranlah yang memberi petunjuk ke arah mana sejarah harus  bergerak.

    Satu dari ide-ide besar yang menarik perhatiannya adalah ide atau konsepsi kebebasan positif. Konsepsi ini berasal dari spektrum pemikiran yang luas, mulai dari Palto, Rousseau, Hegel, de Maistre hingga Marx. Menurut konsepsi ini, manusia bebas adalah manusia yang menjadi tuan bagi dirinya sendiri, yang menjadi manusia sejati, yang mencapai hidup sepenuh-penuhnya. Manusia semacam ini bukanlah manusia yang senantiasa diperbudak oleh berbagai nafsu dan kesadaran palsunya. Kebebasan hanya mungkin terjadi jika manusia memang bisa merealisasikan potensinya yang sejati, yang “benar”, yang “lebih tinggi”.

    Konsepsi ini, menurut Isaiah Berlin, berbau romantik. Kebebasan tidak lagi dikaitkan dengan pembatasan tindakan sewenang-wenang terhadap individu, tetapi dengan proses pemenuhan kesempurnaan hidup manusia. Jadi, dalam konsepsi ini, walaupun seseorang secara legal dan faktual tidak dikekang oleh siapapun, dia tetap bukan manusia yang bebas sejauh dia masih diperbudak oleh kesadaran palsunya, oleh pikiran dan perasaannya yang “keliru”.

    Yang menarik adalah, bagi Isaiah Berlin, konsepsi kebebasan semacam ini bisa berbahaya, bahkan sangat berbahaya. Kenapa? Karena, dengan sedikit manipulasi makna, pengertian “tuan” dalam konsepsi ini dapat menjadi “bangsa”, “Negara”, “partai”, atau “kelas”. Sementara “hidup yang sepenuh-penuhnya” dapat  diartikan hidup dalam “masyarakat sosialis”, “masyarakat baru”, “sejarah baru”. Berkaitan dengan hal ini, diri manusia pun diartikan sebagai makhluk yang terdiri atas dua kenyataan yang berlawanan, yaitu dirinya yang sejati, yang lebih tinggi, yang benar, dan dirinya yang lebih rendah sumber nafsu dan kesadaran palsu.

    Jika pembalikan makna ini sudah terjadi, maka, menurut Isaiah Berlin, terbentanglah jalan yang sangat lebar bagi seorang despot untuk memerintah dengan sewenang-wenang dan memberangus kebebasan individu. Bukankah tetek-bengek nasib individu adalah hal yang terlalu kecil untuk dianggap serius bagi sebuah bangsa, atau partai, atau negara, yang sedang mengejar tuntunan sejarahnya untuk membangun masyarakat baru? Bukankah dalam proses pemenuhan tuntutan sejarah ini Diri yang Lebih Tinggi ( yaitu Sang Bangsa, Sang Partai, Sang Negara) memang layak memberangus Diri yang Rendah (manusia yang hanya terbawa oleh kesadaran palsu, yang tidak mengerti tuntunan sejarah)?

    Konsepsi kebebasan positif, dengan kata lain, sangat cocok untuk menjadi alasan pembenar bagi tirani dan kekuasaan despotik. Dalam konsepsi ini tidak ada argumentasi yang secara prinsipil dapat mengatakan kepada Sang Penguasa untuk membatasi kekuasaannya dan menghargai kedaulatan masing-masing individu. Sekali Sang Penguasa berhasil memanipulasi beberapa pengertian kunci yang ada dalam konsepsi ini, maka ia seolah-olah mendapat cek kosong, carte blanche, untuk melakukan apa saja yang dianggapnya perlu dalam mengejar “tuntutan sejarah”, “masyarakat baru”, atau apapun yang sanggup menjamin tercapainya “hidup yang sepenuh-penuhnya”.

    Karena itulah tidak mengherankan jika Isaiah Berlin, yang dikenal sebagai penentang gigih para pemimpin garis keras Israel, berkata bahwa konsepsi kebebasan semacam inilah yang berada di balik banyak malapetaka kemanusiaan pada abad ke-20.

    Di abad ini, kita tahu muncul banyak pemimpin besar yang atas nama bangsa, partai, kelas, atau negara, melindas nasib orang per orang untuk mengejar tujuan-tujuan yang dianggapnya bersifat historis, luhur, atau progresif. Hitler, Stalin, Mao, Pol-Pot: tangan mereka berlumuran darah justru untuk menggiring bangsa mereka ke arah “kebebasan” yang lebih sejati.

    Sumber Tulisan dari buku Dari Langit, Rizal Mallarangeng, Penerbit KPG.