Category: SASTRA

  • Ketika Theoresia Rumthe Menjadi “Lelaki yang Gelisah”

    Ketika Theoresia Rumthe Menjadi “Lelaki yang Gelisah”

     

    Oleh Humaera Nur’izzatinnisa, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Bayangkan seorang lelaki di tengah malam kota besar, menatap langit yang dipenuhi arak-arakan awan membentuk kereta kuda tanpa penarik, sementara napasnya membekas kabut di kaca jendela, menyembunyikan wajahnya sendiri. Daun kering berputar-putar di halaman rumah kosong, seperti gelisah yang tak pernah diam, dan sesekali ia menggak vodka untuk melayang sejenak. Namun, rindu datang lebih hebat saat siuman. Pengalaman seperti ini bukan asing bagi banyak lelaki Indonesia modern, yang terperangkap antara tuntutan maskulinitas tradisional dan kehampaan batin di era urbanisasi yang cepat, sebagaimana ditangkap begitu tajam dalam puisi “Lelaki dan gelisah” karya Theoresia Rumthe.

     

    Lelaki dan Gelisah

    Theoresia Rumthe

     

    Lelaki dan gelisah seumpama arak-arakan awan

    Membentuk kereta kuda

    Tanpa penariknya

     

    Lelaki dan gelisah

    seumpama uap napas

    pada kaca jendela

    tanpa kelihatan muka

     

    lelaki dan gelisah

    seumpama rumah kosong tanpa penghuni

    hanya daun-daun kering di halaman

     

    lelaki dan gelisah

    seumpama vodka,

    mabuk sesaat,

    melayang sejenak,

    datang rindu yang lebih hebat

    ketika siuman

     

    Jembatan ke Ekspresivisme

    Puisi pendek ini, dengan empat stanza paralelnya, bukan sekadar curahan emosi Theoresia Rumthe sebagai pengarang nyata, melainkan lahir dari teori ekspresivisme sastra yang menekankan karya sebagai ekspresi batin pencipta. Dalam kerangka Wayne C. Booth pada The Rhetoric of fiction (1961), pengarang nyata “menghilang” dan digantikan oleh Implied Author. Persona retoris yang dibangun melalui pilihan bahasa, citra, dan struktur teks untuk membentuk pengalaman pembaca.

    Implied Author ini bukan Theoresia Rumthe secara harfiah, seorang perempuan yang justru mendeskripsikan kekasihnya William Johanes sebagai “lelaki Gelisah”. Sosok “lelaki gelisah” yang menjadi suara dominan, mengarahkan kita memahami gelisah bukan sebagai keadaan pribadi semata, melainkan kondisi manusiawi universal. Transisi dari pengalaman konkret ke konsep ini menunjukkan bagaimana sastra ekspresif mengubah emosi mentah menjadi konstruksi retoris yang hidup.

    Namun, puisi ini ditulis oleh Theoresia Rumthe yang lalu dibalas oleh kekasihnya, William Johanes. Theoresia mendeskripsikan kekasihnya dengan meumpamakan dirinya sebagai William yang gelisah. Adanya ikatan batin antara dua subjek yang kemudian ditarik oleh satu subjek untuk menjadi diri subjek yang satunya. Itulah yang dilakukan Theoresia Rumthe dalam menulis puisi berjudul “Lelaki dan Gelisah” ini.

     

    Analisis Citraan Implied Author

    Pengulangan frasa “lelaki dan gelisah seumpama…” di awal setiap stanza menciptakan ritme obsesif, seolah Implied Author adalah lelaki yang terperangkap dalam lingkaran pikiran, mengekspresikan kegelisahan batin yang tak terucapkan. Citra pertama dilihat pada bait “arak-arakan awan membentuk kereta kuda tanpa penariknya” yang menggambarkan gerakan tak ada arah, tak terkendali, simbol kekosongan eksistensial di mana persona ini menyiratkan dirinya sebagai pengembara tanpa tujuan, mencerminkan ekspresi batin pengarang terhadap ketidakpastian hidup modern di tengah hiruk-pikuk kota besar.

    Citra kedua, “uap napas pada kaca jendela tanpa kelihatan muka,” memperkuat persona ini sebagai sosok yang tak terlihat, tersembunyi di balik kabut emosi sendiri. Hal ini menandakan sebuah metafora identitas yang hilang, di mana Implied Author menggunakan anonimitas untuk mengajak pembaca merenungkan kerapuhan diri. Di tengah keramaian urban, individu seringkali kehilangan wajahnya, menjadi kabur seperti uap pada kaca.

    Ketiga, “rumah kosong tanpa penghuni hanya daun-daun kering di halaman,” membangun gambaran kehampaan fisik dan jiwa. Daun kering hadir sebagai sisa-sisa kehidupan yang sia-sia, menjadikan persona ini saksi bisu atas kesepian kolektif urban. Rumah, yang seharusnya menjadi simbol kehangatan dan perlindungan, justru menjadi monument kesendirian.

    Puncaknya berada pada stanza terakhir, “seumpama vodka, mabuk sesaat, melayang sejenak, datang rindu yang lebih hebat ketika siuman”, yang mengungkap strategi retoris Implied Author menjadi pelarian bahwa gelisah adalah siklus abadi, mengubah ekspresi pribadi menjadi undangan refleksi bagi pembaca. Penanganan sementara (mabuk) hanya akan memperparah rasa hampa (rindu) saat kesadaran kembali.

     

    Strategi Retoris dan Konteks Budaya

    Sebagai kekuatan retoris, Implied Author mengendalikan emosi pembaca melalui struktur paralel yang membangun intensitas bertahap, dari citra alam (awan) ke fisik (napas), domestic (rumah), hingga intoxicating (vodka). Bahasa yang sederhana, tapi sangat padat ini dengan enjambement (pemenggalan baris), menciptakan ritme napas yang meniru denyut gelisah itu sendiri, membuat pembaca ikut “bernapas” bersama persona.

    Dalam konteks Indonesia, di mana puisi sering jadi wadah kegelisahan sosial seperti pada karya Sapardi Djoko Damono atau Sitor Situmorang, persona dalam puisi ini memperluas ekspresi Theoresia Rumthe menjadi kesaksian lelaki urban yang terombang-ambing modernitas. Lelaki seringkali dituntut untuk tegar tanpa cela, namun di sini, ia ditampilkan  kesepian di tengah keramaian kota besar. Implied Author tidak bersifat netral, melainkan memposisikan diri sebagai suara otoritatif yang menuntut empati, membuktikan ekspresivisme sebagai alat transformasi emosi menjadi kekuatan naratif.

     

    Dinamika Gender dan Penutup Reflektif

    Theoresia Rumthe telah bertransformasi total menjadi “Lelaki yang sedang gelisah”. Dalam hal ini, Implied Author bukan bayangan pengarang nyata, melainkan entitas hidup yang menggugat kita atas “rindu pasca-mabuk sesaat”. Fenomena ini mengingatkan kita pada dinamika gender yang lebih luwes atau fluida dalam sastra kontemporer Indonesia. Di sini, seorang perempuan seperti Theoresia Rumthe bisa “menjadi” lelaki untuk menyuarakan kerapuhan bersama, sehingga memperkaya diskursus literatur nasional.

    Sastra Ekspresivisme mengajarkan kita bahwa gelisah yang abadi ini bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah panggilan untuk menghadapi kehampaan dengan keberanian. Puisi “Lelaki dan Gelisah” pada akhirnya bergema sebagai pengalaman bersama yang melampaui identitas individu penyairnya, mengubah pembaca menjadi bagian integral dari puisi itu sendiri. Melalui persona “lelaki” ini, Theoresia Rumthe bukan hanya menceritakan tentang kekasihnya, tetapi sedang membicarakan kita semua yang seringkali tersesat di balik uap napas di kaca jendela kehidupan modern.

                 

  • Keluhuran dalam Cerpen “1 Perempuan 14 Laki-laki” Karya Djenar Maesa Ayu: Perspektif Longinus

    Keluhuran dalam Cerpen “1 Perempuan 14 Laki-laki” Karya Djenar Maesa Ayu: Perspektif Longinus

    Oleh Florentina Veni Mayasari, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Ketegangan antara pria dan wanita serta eksplorasi pengalaman seksual merupakan tema sentral dalam sastra Indonesia kontemporer, khususnya dalam karya Djenar Maesa Ayu, seperti kumpulan cerpen 1 Perempuan 14 laki-laki (2011). Tubuh perempuan digambarkan sebagai medan pertempuran antara kekuasaan dan perlawanan, di mana pengalaman perempuan berfungsi sebagai ruang untuk memahami dinamika kekuasaan, trauma, dan keberanian untuk melawan. Esai ini menganalisis cerpen tersebut menggunakan teori sublim Longinus, yang menyatakan bahwa sublim muncul dari kekuatan bahasa dan gagasan yang sangat menggerakkan emosi pembaca, bukan hanya keindahan konvensional.

    Cerpen 1 Perempuan 14 laki-laki menceritakan kisah seorang wanita yang berhubungan seks dengan empat belas pria dalam satu malam. Menurut Longinus, apa yang tampak rendah secara moral dapat menjadi sumber keindahan jika diperlakukan dengan kepekaan batin. Cerpen ini tidak memandang tubuh sebagai dosa, melainkan sebagai arena benturan kekuasaan, penderitaan, dan identitas. Tokoh protagonis perempuan sengaja tidak disebutkan namanya untuk mewakili banyak perempuan yang kehilangan kendali atas tubuh mereka karena kekerasan fisik, tekanan sosial, atau norma budaya.

    Longinus mengidentifikasi keagungan sastra sebagai berasal dari lima sumber: wawasan yang mendalam, emosi yang mulia, retorika yang unggul, ekspresi, dan transformasi yang mulia. Meskipun membahas tema berat seperti pemerkosaan massal, karya Djenar mewujudkan keagungan melalui kekuatan dan intensitas emosional, bukan kemurnian moral. Keberanian untuk menyajikan sisi gelap kemanusiaan dengan emosi yang kuat itulah yang membuatnya agung.

    Narasi diceritakan dengan nada datar dan berulang yang mengingatkan pada rutinitas sehari-hari, menciptakan kesan bahwa karakter perempuan hanya menyaksikan tubuh mereka dikendalikan oleh orang lain, daripada bertindak aktif. Pendekatan ini menghindari sensasionalisme, dan malah memperkuat konsep keagungan Longinus melalui intensitas emosional yang mendalam.

     

    Daya Pemikiran yang Agung: Melampaui Skandal Menuju Kebenaran

    Menurut Longinus, salah satu elemen kunci dari keagungan adalah kebesaran gagasan yaitu, kemampuan penulis untuk menangkap kebenaran yang mendalam. Dalam karya ini, Djenar Maesa Ayu tidak menyajikan seksualitas dalam kerangka romantis, melainkan sebagai ruang untuk perjuangan batin dan sosial. Kebesaran pemikirannya terlihat jelas dalam keberaniannya untuk menyajikan penderitaan tanpa disembunyikan. Jika Longinus mengagumi Homer karena kemampuannya menggambarkan badai dahsyat, maka Djenar menyajikan badai serupa melalui gejolak tubuh dan jiwa protagonis perempuannya.

    Kebesaran gagasan dalam cerita pendek ini terlihat jelas dalam penolakannya untuk berkompromi demi kenyamanan pembaca. Ia menghadapkan pembaca pada realitas yang umumnya disembunyikan oleh norma-norma kesopanan sosial. Lebih jauh lagi, keberanian intelektual Djenar juga terlihat jelas karena ia tidak menempatkan karakter perempuan dalam penilaian moral yang sederhana. Ia menolak baik posisi yang hanya menghakimi maupun sikap yang secara tidak kritis memuliakan.

     

    Emosi yang Kuat

     Bagi Longinus, kemuliaan sastra berasal dari emosi yang autentik, bukan dari perasaan yang dibuat-buat untuk efek dramatis. Dalam cerita pendek ini, Djenar tidak menggambarkan tokoh perempuan melalui air mata atau luapan ekspresi verbal yang berlebihan. Sebaliknya, ia menggunakan narasi yang tenang, lugas, bahkan tampak dingin.

    Namun justru di balik kesederhanaan inilah tersembunyi emosi yang sangat kuat. Rasa sakit akibat pengkhianatan, hasrat seksual, dan kerinduan disajikan dengan kekuatan yang mendalam. Intensitas emosional ini memikat pembaca ke dalam pengalaman yang hampir ekstatis, di mana pembaca tidak hanya memahami isi teks, tetapi juga merasakan getaran batin para tokoh. Dalam konteks ini, gairah bukan hanya dorongan biologis tetapi juga keinginan untuk bertahan hidup di tengah realitas sosial yang penuh dengan kemunafikan.

     

    Retorika yang Unggul

     Keunggulan retorika dan pilihan kata dalam karya Djenar sering menuai kritik karena diksi yang dianggap vulgar. Namun, menurut Longinus, penggunaan bahasa yang tajam dan tepat justru merupakan jalan menuju keunggulan ekspresif. Kata-kata kasar dan istilah-istilah yang berkaitan dengan tubuh yang muncul dalam teks tidak dimaksudkan untuk membangkitkan unsur-unsur pornografi, melainkan berfungsi sebagai perangkat retorika untuk mengungkap kepalsuan.

    Bahasa seperti itu memperoleh kemuliaannya dari kejujuran yang diwujudkannya. Seperti yang ditegaskan Longinus, bahasa yang indah menerangi pikiran; di ranah yang dibungkam oleh tabu, bahasa Djenar berfungsi seperti cahaya yang mengungkapkan aspek-aspek tersembunyi dari kemanusiaan.

     

    Diksi

    Pilihan bahasa dalam cerita pendek 1 Wanita, 14 Pria juga memainkan peran utama dalam menciptakan efek yang agung. Bahasa yang digunakan tajam, lugas, dan tanpa hiasan. Realitas yang keras disampaikan secara blak-blakan, tanpa diperhalus oleh metafora. Menurut teori Longinus, diksi yang kuat dan tepat adalah cara utama untuk menyampaikan gagasan-gagasan besar. Djenar sengaja memilih kata-kata yang kasar sehingga pembaca tidak memiliki ruang untuk menghindari realitas yang disajikan. Ungkapan yang padat dan tepat menciptakan ritme yang cepat dan tegang, selaras dengan suasana ketakutan dan urgensi yang dialami oleh para tokoh. Ini mencerminkan pengaturan bahasa yang efektif, di mana setiap elemen ditempatkan untuk menghasilkan dampak emosional dan intelektual yang maksimal.

     

    Komposisi yang Unik

    Struktur cerita pendek ini unik karena memadukan empat belas gaya penulisan pria yang berbeda menjadi satu kesatuan yang kohesif, semuanya terikat oleh gaya khas Djenar. Harmoni ini menciptakan rasa kemuliaan yang kompleks. Beberapa bagian membangkitkan nada puitis dan melankolis, sementara bagian lain terasa kasar dan sinis. Transisi antar bagian menciptakan ritme yang mengaduk emosi pembaca, pada akhirnya menegaskan bahwa kemuliaan sejati muncul dari keberanian untuk menyajikan kontradiksi kehidupan secara utuh, tanpa penyederhanaan.

     

    Kesimpulan

    Berdasarkan konsep sublimasi yang dikemukakan oleh Longinus, cerita pendek Djenar Maesa Ayu 1 Perempuan, 14 Laki-laki tidak hanya menggambarkan seksualitas sebagai elemen eksploitasi, tetapi lebih sebagai pencapaian estetika yang membawa transformasi penting dalam karya sastra. Melalui keahlian naratif yang intens, penulis berhasil mensublimasikan trauma dan hasrat menjadi kekuatan naratif yang dominan. Dinamika kekuasaan yang awalnya tidak setara antara laki-laki dan perempuan direkonstruksi menjadi hubungan yang lebih setara, sehingga menghasilkan pengalaman estetika yang kuat bagi pembaca. Pengalaman ini memungkinkan pembaca untuk melampaui realitas sehari-hari dan menyaksikan kemuliaan penderitaan dan kejujuran manusia yang tersembunyi di balik konstruksi sosial.

    Melalui kumpulan cerita pendek ini, Djenar memperingatkan masyarakat yang terluka oleh kepura-puraan, menggunakan narasi marginal dan intim yang mengungkapkan martabat manusia lebih tinggi daripada mereka yang berpura-pura suci namun tetap terhambat secara spiritual. Karya ini layak dianggap mulia karena membawa pembaca ke tahap sublimasi, di mana keindahan sejati lahir dari kejujuran eksistensi manusia tanpa batas atau rasa malu; kemuliaan sastra terletak pada kemampuan teks untuk membebaskan jiwa dari kepalsuan dunia, dan Djenar, bersama dengan 14 pria di sekitarnya, telah berhasil mencapai hal ini.

  • Sublimitas di Balik Luka: Membedah “Tarian Bumi” Karya Oka Rusmini dalam Perspektif Keluhuran Longinus

    Sublimitas di Balik Luka: Membedah “Tarian Bumi” Karya Oka Rusmini dalam Perspektif Keluhuran Longinus

    Oleh Zefanya Chrisantya Ningrum, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Oka Rusmini, seorang sastrawan dan jurnalis kelahiran 1967, memiliki latar belakang yang sangat krusial dalam penciptaan Tarian Bumi. Sebagai perempuan yang menyandang status kasta Brahmana di Bali, Oka berada dalam posisi yang unik, ia adalah bagian dari hierarki yang ia kritik. Latar belakang sosiokultural ini menjadi modalitas bagi apa yang disebut Longinus sebagai “jiwa yang besar”. Keberanian Oka untuk membongkar kemunafikan adat dan represi terhadap perempuan dalam kasta tinggi maupun rendah adalah fondasi dari keluhuran yang ia tawarkan. Hubungan antara biografi pengarang yang berani dan narasi novelnya menciptakan sinergi ekspresivisme yang membawa pembaca pada tahap sublimasi.

    Sebuah karya sastra yang mengguncang tatanan moral masyarakat seringkali langsung dicap sebagai karya yang kontroversial atau bahkan amoral. Namun, jika melihat prespektif Longinus, seorang kritikus klasik abad ke-3 M, ukuran sebuah karya bukanlah pada kepatuhannya terhadap norma-norma santun, melainkan pada kemampuannya mencapai Peri Hypsous atau “Keluhuran”. Bagi Longinus, fungsi sastra yang sejati bukan sekadar memberikan pelajaran atau kesenangan, melainkan untuk membawa pembaca keluar dari dirinya sendiri sebuah proses yang ia sebut sebagai transport. Novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini adalah contoh sempurna dari sebuah teks yang, meskipun dianggap kontroversial karena keberaniannya membongkar tabu budaya dan seksualitas di Bali, justru memancarkan keluhuran yang luar biasa.

    Longinus menyatakan bahwa kritik sastra yang akurat hanya bisa lahir setelah seseorang membaca sebuah karya secara intensif. Ketika kita menyelami narasi tentang Ida Ayu Telaga Sari dalam Tarian Bumi, kita tidak hanya disuguhi cerita tentang konflik kasta antara kaum Brahmana dan Sudra. Kita sedang dihadapkan pada sebuah kekuatan yang mampu mengangkat  jiwa pembaca ke tahap sublimasi. Keluhuran ini, menurut Longinus, bersumber dari lima prinsip utama, yang semuanya berkelindan secara harmonis dalam novel ini.

    Prinsip pertama adalah daya wawasan yang agung (grandeur of thoughts). Longinus percaya bahwa “pikiran-pikiran besar muncul dari jiwa yang besar.” Dalam Tarian Bumi, keagungan ini tampak pada keberanian tokoh utamanya, Telaga, untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya demi cinta dan martabat kemanusiaan yang lebih jujur. Pikiran untuk “turun kasta” demi menikahi Wayan bukan sekadar bentuk kenekatan remaja, melainkan sebuah visi besar untuk melawan struktur sosial yang kaku dan menindas. Di sini, Oka Rusmini menunjukkan bahwa pikiran yang agung adalah pikiran yang bebas dari kerendahan dan kehinaan tradisi yang sudah membusuk. Gagasan besar ini ditata dalam struktur narasi yang kuat, di mana pergulatan batin perempuan Bali tidak lagi menjadi urusan domestik belaka, melainkan menjadi narasi kemanusiaan yang universal.

    Yang sering menjadi titik kontroversi dalam novel ini, adalah emosi atau nafsu (passion) yang mulia. Banyak pembaca mungkin merasa terganggu dengan penggambaran hasrat seksual perempuan atau deskripsi tubuh yang begitu “telanjang” dalam novel ini. Namun, dalam pandangan Longinus, sebuah karya yang baik lahir dari dorongan yang kuat dan mulia. Gairah yang digambarkan oleh Oka Rusmini bukanlah pornografi picisan; itu adalah manifestasi dari energi hidup yang jujur. Ketika tokoh-tokohnya mengungkapkan rasa marah, cinta, atau kerinduan yang membakar, mereka sedang mengekspresikan “nafsu yang mulia” karena emosi tersebut lahir dari penderitaan dan kebenaran eksistensial yang dalam. Emosi yang intens ini memiliki kapasitas untuk membawa pembaca pada “suka cita ilahi” (divine joy), di mana kita menyadari bahwa di balik rasa sakit dan hasrat yang meledak-ledak, ada martabat manusia yang sedang diperjuangkan.

    Ketiga dan keempat, Longinus menekankan pentingnya retorika yang unggul serta pengungkapan yang berkelas melalui diksi dan metafora. Oka Rusmini tidak menggunakan bahasa yang mendayu-dayu tanpa makna. Diksi-diksinya tajam, sering kali terasa perih seperti sembilu, namun tetap memiliki kelas yang tinggi. Metafora “tarian” dalam judulnya sendiri merupakan sebuah bentuk penggubahan yang mulia (prinsip kelima). Menari dalam novel ini bukanlah sekadar gerakan estetis di atas panggung, melainkan metafora dari gerak hidup yang melelahkan, penuh keringat, dan darah. Pemilihan kata yang berkaitan dengan bau tubuh, sesaji yang busuk, hingga deskripsi tentang kotoran manusia, digunakan bukan untuk menghina pembaca, melainkan untuk memberikan efek sublim. Longinus menyebut bahwa sumber-sumber keagungan ini mengilhami dan merasuki kata-kata dengan semangat ilahi. Melalui diksi yang berani inilah, Oka Rusmini berhasil menciptakan suasana yang mencekam namun sekaligus luhur.

    Kehebatan Tarian Bumi terletak pada kemampuannya memenuhi syarat utama Longinus: nothing is poetry unless it transports. Sebuah karya hanya menjadi hebat jika memiliki kekuatan membawa pembaca ke hal yang luhur. Saat kita membaca penderitaan Luh Sekar yang mengejar status sosial atau kepedihan Telaga yang kehilangan suaminya, kita tidak sekadar merasa kasihan. Kita merasa “terangkat”. Kita dibawa keluar dari realitas kita yang sempit untuk melihat sebuah kebenaran yang lebih besar tentang struktur kekuasaan dan penindasan gender. Inilah yang disebut Longinus sebagai proses di mana pikiran, perasaan, dan kehendak pembaca terlibat secara harmonis.

    Kontroversi mengenai novel ini seperti kritik terhadap penggambaran kasta Brahmana yang tidak selalu suci atau keterbukaan soal libido perempuansebenarnya adalah bukti bahwa karya ini memiliki energi Peri Hypsous. Keluhuran sejati sering kali memang menakutkan karena ia memaksa kita melihat hal-hal yang selama ini disembunyikan. Namun, sebagaimana kata Longinus, keluhuran sejati akan selalu menyenangkan dan membawa suka cita bagi semua pembaca di setiap zaman. Tarian Bumi tetap relevan dan terus dibaca hingga hari ini karena ia melampaui perbedaan ras, agama, dan ideologi; ia berbicara langsung pada jiwa yang rindu akan kebebasan.

    Unsur terpenting dalam penciptaan seni sastra, menurut materi Longinus, adalah kreativitas dalam jiwa pengarang. Oka Rusmini menunjukkan kreativitas tersebut dengan tidak terjebak pada pakem-pakem sastra yang sekadar mencari harmoni palsu. Ia berani menunjukkan bahwa keluhuran bisa lahir dari lumpur penderitaan. Keluhuran atau sublimasi sejati dalam novel ini tercapai ketika pembaca akhirnya menyadari bahwa meskipun tubuh para perempuan Bali dalam cerita ini mungkin hancur oleh beban tradisi, jiwa mereka tetaplah agung.

    Sebagai penutup, jika kita hanya melihat Tarian Bumi sebagai sebuah novel tentang protes sosial, kita akan kehilangan esensi keluhurannya. Dengan menggunakan perspektif Longinus, kita bisa melihat bahwa novel ini adalah sebuah monumen estetika yang berhasil mentransformasi rasa sakit menjadi sebuah keindahan yang agung. Ia adalah bukti bahwa karya besar tidak harus “sopan”, tetapi ia harus “luhur”. Kemampuan novel ini untuk mengangkat pembaca ke tahap sublimasi inilah yang menjadikannya salah satu karya sastra terbaik Indonesia yang pernah ada, yang secara akurat memenuhi standar Peri Hypsous yang diajarkan oleh Longinus ribuan tahun yang lalu.

  • Keluhuran dalam Cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu Karya Djenar Maesa Ayu

    Keluhuran dalam Cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu Karya Djenar Maesa Ayu

     

    Oleh Bernadetta Yovita Dwijayanti, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Pendahuluan

    Karya sastra merupakan sarana bagi pengarang untuk dalam menyampaikan pengalaman, pengalaman, dan pandangannya terhadap kehidupan. Melalui karya sastra pembaca tidak hanya disuguhi cerita, tetapi juga diajak memahami realitas manusia dari sudut pandang tertentu. Kekuatan sebuah karya sastra terletak pada cara penyampaiannya yang mampu memberi Kesan mendalam bagi pembaca.

    Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat kekuatan tersebut adalah teori keluhuran (sublimitas) dari Longinys yaitu daya wawasan yang agung, emosi atau passion yang kuat, retorika yang unggul, pengungkapan atau diksi yang tepat, serta penggubahan atau komposisi yang mulia. Kelima unsur tersebut menjadikan sebuah karya sastra mampu memberikan Kesan mendalam kepada pembacanya.

    Cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang memiliki keberanian dalam mengangkat tubuh, seksualitas, dan relasi manusia. Cerpen ini menampilkan relasi antara suami, istri, dan pihak ketiga yang saling terhubung melalui pengalaman masing-masing.

     

    Pembahasan

    1. Daya Wawasan yang Agung

    Daya wawasan yang agung berkaitan dengan kedalaman pemikiran pengarang dalam memahami realitas kehidupan manusia. Dalam cerpen ini, Djenar Maaesa Ayu menunjukkan wawasan yang luas mengenai hubungan manusia yang tidak hanya didasarkan pada cinta, tetapi juga hasrat, kepentingan, dan konflik batin.

    Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

    “Saya heran, selama lima tahun kami menjalin hubungan, tidak sekali pun terlintas di kepala saya tentang pernikahan. Tapi jika dikatakan hubungan kami ini hanya main-main, apalagi hanya sebatas hasrat seksual, dengan tegas saya akan menolak.”

    Kutipan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antar tokoh tidak dapat dipahami secara sederhana. Hubungan tersebut berada di antara cinta, kebiasaan, dan hasrat. Melalui dialog ini, pengarang memperlihatkan bahwa hubungan manusia sering kali penuh dengan ambiguitas dan tidak selalu mengikuti norma sosial yang ideal. Wawasan pengarang yang mampu menggambarkan kompleksitas hubungan manusia inilah yang menunjukkan adanya keluhuran dalam karya tersebut.

    1. Emosi atau Passion yang kuat

    Sumber keluhuran kedua menurur Longinus adalah emosi atau passion yang kuat. Dalam cerpen ini, emosi tokoh-tokohnya digambarkan secara intens sehingga mampu menggugah perasaan pembaca.

    Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

    “Saya sadar, saya memang cerewet. Tapi sudah menjadi kewajiban saya untuk cerewet.. Bahkan untuk urusan rumah inilah kulit saya keriput, tubuh saya gembrot, karena saya sudah tak punya waktu lagi selain mengurus rumah.”

    Kutipan tersebut memperlihatkan perasaan seorang Perempuan yang merasa lelah dan tidak dihargai dalam kehidupan rumah tangga. Ia telah mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengurus keluarga, tetapi pengorbannya justru tidak membuatnya dihargai oleh pasangannya. Penggambaran emosi seperti ini membuat pembaca dapat merasakan penderitaan dan kekecewaan yang dialami tokoh. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan passion yang kuat karena mampu menghadirkan emosi yang mendalam.

    1. Retorika yang unggul

    Retorika yang unggul berkaitan dengan cara pengarang menyampaikan gagasan secara kuat melalui bahasa. Dalam cerpen ini, Djenar Maesa Ayu menggunakan gaya bahasa yang tegas dan sering memanfaatkan pengulangan kalimat untuk menegaskan gagasan.

    Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

    “Saya sering katakan, jangan main api nanti terbakar.”

    Kalimat tersebut memiliki makna simbolis sebagai peringatan bahwa tindakan manusia dapat membawa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Penggunaan metafora “main api” menunjukkan kemampuan pengarang dalam menyampaikan pesan secara retoris. Selain itu, pengulangan kalimat dari sudut pandang tokoh yang berbeda juga memperkuat konflik dalam cerita. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan retorika yang unggul karena mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang kuat dan berkesan.

    1. Pengungkapan atau Diksi yang Tepat

    Pemilihan kata atau diksi merupakan salah satu unsur penting dalam menciptakan nilai estetika karya sastra. Dalam cerpen ini, pengarang menggunakan diksi yang lugas dan berani, terutama dalam menggambarkan realitas hubungan manusia.

    Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

    “Awalnya memang urusan kelamin.”

    Penggunaan kata “kelamin” secara langsung menunjukkan keberanian pengarang dalam mengungkapkan realitas yang sering dianggap tabu dalam masyarakat. Selain itu, pengarang juga mengguakan metafora yang tajam dalam menggambarkan tokoh perempuan.

    “Ia terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging yang tak lagi segar.” Ungkapan “seonggok daging” memberikan gambaran bagaimana tubuh perempuan dipandang secara objektif dan tidak manusiawi oleh tokoh laki-laki. Diksi tersebut memperkuat kritik sosial terhadap pandangan patriarkal yang meredukasi perempuan hanya sebagai objek fisik.

    1. Penggubahan atau Komposisi yang Mulia

    Keluhuran terakhir menurut Longinus adalah penggubahan atau komposisi yang baik. Dalam cerpen ini, pengarang menyusun cerita dengan menggunakan berbagai sudut pandang tokoh sehingga cerita menjadi lebih kompleks dan menarik.

    Hal tersebut terlihat dari penjelasan berikut:

    Cerpen ini dirancang dengan hubungan silang antar tokoh suami,istri,pacar gelap, yang disampaikan melalui pengakuan masing-masing tokoh.

     

    Kesimpulan

    Berdasarkan analisis menggunakan perspektif Longinus, cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu menunjukkan nilai keluhuran dalam berbagai aspek. Daya wawasan yang agung terlihat dari kemampuan pengarang menggambarkan kompleksitas hubungan manusia yang tidak hanya berkaitan dengan cinta, tetapi juga hasrat dan konflik batin. Emosi atau passion yang kuat tampak dalam penggambaran perasaan tokoh yang mendalam sehingga mampu menggugah perasaan pembaca.

    Selain itu, retorika yang unggul terlihat melalui penggunaan bahasa yang tegas dan metaforis, sedangkan pengungkapan atau diksi yang tepat tampak dari pemilihan kata yang lugas dan kuat dalam menggambarkan realitas kehidupan. Penggubahan atau kamposisi yang mulai terlihat dari struktur cerita yang menggunakan berbagai sudut pandang tokoh sehingga menghasilkan cerita yang kompleks dan menarik.

     

  • Di Atas Meja Belajar – Cerpen Gonsi Kusman

    Di Atas Meja Belajar – Cerpen Gonsi Kusman

     

    Ani, ada apa denganmu? Masih adakah sisa cinta di hatimu, atau rindu yang mengamuk, sehingga kau enggan segera berpaling dariku? Kau begitu gampang datang dan pergi. Kau juga muncul tanpa tabir. Wajahmu yang ungu merayu menyusup ke relung imajinasiku. Ah, nikmat sekali, Ani. Senikamat anggur pemberian Tuhan pagi-pagi buta. Sungguh, jika kau menyelami kesendirianku hingga ke dasar khayalan, tapi bukan di meja belajar ini.

    Malam ini sunyi sepi. Di luar jendela, angin menderu kencang. Sepotong celana dalam kesayanganku terhempas ke dahan pohon mangga paling ujung; sebuah peninggalan para musafir masa lalu yang masih tersisa. Di ambang teras kamar, hujan berguyur deras, membasahi kenangan yang terlambat kulepaskan dari jemuran waktu. Rindu pun demikian. Melambung dalam kabut ingatan. Aneh, bukan? Bahkan burung peliharaanku ikutan kabur dari sangkar saat senja tiba. Potongan pisang yang kuberikan siang tadi masih menggantung tenang di sarangnya. Ke manakah ia pergi?

    Sementara itu, Baba Juang, teman diskusiku di kamar sebelah, telah terlelap dalam mimpi. Ia terkulai tak sadar di atas tempat tidur setelah berdebat rindu dengan Tina, pacarnya di Jakarta. Mereka mempersoalkan cinta dan rindu. Tina bilang, rindu adalah obat bagi cinta. Baba Juang tak setuju. Baginya, cinta adalah siksaan yang lahir dari rindu. “Cinta seperti penjajah tangguh,” katanya, “yang tak pernah mengaku salah saat seseorang terkoyak rindu.” Demikian Baba Juang menutup perdebatan sebelum mematikan telepon. Ia mengalah, meski terasa dipaksa. Rumit, bukan?

    Di atas meja belajar, hanya tersisa buku-buku tua W.S. Rendra. Rendra seolah berbicara lantang tentang perjuangan dari sebuah wejangan peninggalannya. Baru saja kuhabiskan satu bab dengan seluruh tenaga, tapi tak kunjung usai. Begitu pula hujan, masih merintik di genteng. Airnya menggenang, menenggelamkan seekor anak ayam kepunyaan tuan Ande. Suara Rendra tak lagi menembus pikiranku. Yang terdengar hanyalah gemuruh guntur yang menggerogoti, dan rindu yang sementara menggila. Aku, barangkali, tenggelam di dalamnya. Membiarkan pikiran terbuka lebar, seolah mengundang siapa saja boleh menjelajahinya.

    Barangkali hanya diriku sendiri.

    Tapi saat kulepaskan sejenak, Ani, mantan kekasihku tiba-tiba mendekat, menyusuri lorong pikiranku. Lekuk tubuhnya merayu. Aduh, indah sekali! Rendra kubiarkan terlantar di atas meja. Lalu, Ani kujumpai dalam segenap ingatan. Sepi itu berubah menjadi pilihan. Membaca Rendra atau memeluk Ani? Namun, sunyi mengusik, dan waktu tak menghentikan derunya. Cinta dan rindu, barangkali, adalah kerumitan terberat. Menerjemahkannya seperti nestapa mendalam dalam hidupku. Ia memaksaku larut dalam khayalan, mengecap rasa cinta dan rindu yang campur aduk, tak bertepi dan menggoda. Ani mendekat pelan ke hatiku, lalu merambat hingga ke akar khayalan yang paling nakal.

    Bukankah kau adalah kegembiraan masa laluku yang kini berubah menjadi luka, Ani? Begitukah?

    “Cantik sungguh dirimu masih memikat,” kataku sambil membelai helai rambutmu saat kita bertemu tanpa sepengetahuan siapa-siapa kala itu. Aku sempat mengeraskan pundakku sebagai sandaran bagi kepalamu. Tapi aku sadar, aku lemah; tak sekuat pundak seorang lelaki yang kau impikan. Seperti ayah. Janji sekaligus tipu daya yang kau tanamkan padaku dulu, barangkali kini menjadi beban bagimu. Tapi itu bukan alasan untuk ragu. Kali ini, kuizinkan kau bisa berlama-lama menikmati teduh di pundak ingatanku. Sebab, pundak mana yang tega menolak bila wanita lamanya ingin kembali pulang?

    Kak, cinta kita sudah tua dalam hubungan ini. Tapi makna dari cinta itu sendiri masih terlampau muda di pikiranku. Apakah itu cinta, menurutmu?” Tanyamu saat itu, ketika pertemuan kita tak diizinkan waktu untuk berlarut dalam pelukan sepi.

    Kita membiarkan sunyi berbicara sejenak dan kata-kata butuh istiraharat. Kau memejamkan mata, menanti jawabanku. Aku menatap langit, berusaha mencari arti. Tapi tak satu kata pun yang terucap. Barangkali pikiranku terlalu lemah untuk memikirkannya. Atau kekuatan cinta memang dahsyat, sehingga mendefinisikannya terlampau rumit?

    “Susah sungguh, Ani,” kataku. “Definisi cinta tak sanggup ditanggung oleh akal semata. Aku masih bingung dengan kata itu.”

    “Barangkali cinta tak perlu didefinisikan. Ataukah mesti?”

    Cinta itu abstrak.

    Bukankah kita pernah mendewasakan cinta? Bisa jadi, itulah yang dinamakan cinta: saat kita saling mengerti, saling larut, lalu saling menyalahkan.

    Aku menyalahkan kau, dan kau menyalahkan nafsu.

    “Hmm, seandainya begitu, bagaimana kau mendefinisikan cinta pada ibu dan saudaramu? Apakah demikian?” Tanyamu bergurau.

    “Tentu tidak, Ani! Cinta yang kumaksudkan tentang kita berdua.”

    Dulu kau berbisik lembut di telingaku saat senja merayap ke pangkuan bumi dan malam mulai mendekat. Kau mengharuskan aku bahwa cinta butuh dibuktikan. Meski suatu malam kita pernah sepakat, cinta tak selalu butuh bukti. Entahlah, itu hanya omong kosong saat kesadaran berpihak pada akal.

    Malam semakin pekat. Matamu tampak lelah, seolah memberi isyarat bahwa saatnya merayakan cinta yang kian menua. Pasrah pun menjadi ramah bersama aliran darah di tubuh penuh noda.

    Rembulan adalah saksi saat kita menari di bawahnya. Aku mencium paling dalam hatimu, sementara kau menjerit seperti jangkrik sambil menggenggam erat cintaku yang tegar. Malam itu hanya milik kita berdua.

    Ah… Ani! Masihkah kau ingat? Nikmatnya bukan main.

    Gemuruh guntur dan riuh rintik hujan tak lagi terdengar dalam jiwaku. Padahal, mataku menyaksikan setiap tetesan menusuk rahim bumi yang pasrah dan mencium kaca jendela kamar yang tak bersalah. Meski begitu, kilauan kilat masih menyilaukan mataku tanpa henti.

    Apakah kau yang membuatku tuli, Ani?

    Di atas meja belajar, segalanya terasa hampa. Tak ada lagi yang dipedulikan kecuali Ani. Cantiknya melekat di imajinasiku. Pandai merayu. Membuatku kehilangan cara mencerna petuah Rendra yang belum kuhabiskan. Sementara, kepalaku butuh asupan pengetahuan, termasuk kebijaksanaan Rendra.

    “Apakah kau tak ingin aku berpengetahuan, Ani? Bukankah pengetahuan lebih utama daripada cinta?“ Demikian hatiku berucap ketika kesadaranku dipulihkan oleh buku W.S Rendra di atas meja belajar. Seolah, buku itu setia menanti meksi aku berlabuh terlampau jauh.

    Aku, barangkali, terjebak!

    Ya, aku sedang terjebak.

    Konon, kakek pernah ingatkan ayah bahwa ilmu pengetahuan mesti diutamakan bagi yang masih merangkak di bangku sekolah. Bukan cinta. Ayah menyampaikannya pesis sama padaku saat kutinggalkan rumah, saat tekadku bulat ingin menjadi seorang intelektual.

    Tapi, apakah intelektual seperti malam ini? Mengabaikan petuah Rendra demi memeluk Ani dalam rindu? Apakah petuah Rendra tak sehangat dekapan di dada Ani?

    Ah, Tuhan. Mengapa begini?

    Apakah Engkau yang mengirim Ani melawatku malam ini? Jika benar, jangan mengirim dia ke meja belajar. Meja ini bukan tempat Ani menari. Meja ini hanyalah panggung bagi Rendra berpidato dan filsuf berdiskusi.

    Kalau Ani?

    Barangkali tempatnya di ranjang. Intinya bukan meja belajar.

    “Tuhan, jika Engkau mengkehendaki Ani kembali, ajaklah ia ke dalam mimpiku,“ ujudku di hadapan Salib Yesus, sebelum kembali menikmati petuah Rendra.[*]

     

    Ledalero, 2024

     

  • Keluhuran Cerpen Menyusuh Ayah Djenar Maesa Ayu

    Keluhuran Cerpen Menyusuh Ayah Djenar Maesa Ayu

    Oleh Samuel Piedro Nahak Manewain, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

     

     

    Keluhuran di Balik “Menyusu Ayah” : Membaca Djenar melalui Kacamata Longinus

    Sastra yang menggemparkan sering kali berada di antara yang profan dan yang luhur. Cerpen Djenar Maesa Ayu berjudul “Menyusu Ayah” merupakan sebuah anomali dalam sastra Indonesia kontemporer yang membuat pembaca berpaling sekaligus terdiam. Cerpen ini sering disebut sebagai karya yang hanya membangkitkan emosi karena mengangkat tema inses dan trauma. Namun, jika kita melepaskan prasangka moralistik sejenak dan menggunakan kacamata Longinus tentang the Sublime (keluhuran), kita akan menemukan kekuatan estetis yang melampaui sekadar keberanian tematis. Longinus, dalam risalah klasik On the Sublime, berpendapat bahwa keagungan dalam sastra bukan sekadar tentang keindahan yang menenangkan, melainkan tentang kekuatan yang mengangkat jiwa pembaca ke dalam keadaan ekstasi yang tak terelakkan.

     

    Dialektika Tubuh : Djenar, Ayu Utami, and Leila S. Chudori

    Kita perlu melihat lanskap sastra perempuan Indonesia untuk memahami posisi Djenar. Ayu Utami menggunakan seks sebagai alat dekonstruksi politik dan teologis dalam “Saman”, sedangkan Leila S. Chudori menggunakan tubuh sebagai saksi sejarah yang liris dalam “Malam Jahanam” atau “Laut Bercerita”. Djenar, di sisi lain, memilih jalan yang lebih brutal.

    Djenar tidak menyajikan metafora yang “indah”. Leila mungkin menggunakan bahasa yang lembut untuk menggambarkan kepedihan, tetapi Djenar justru menggunakan bahasa yang telanjang. Perbandingan ini menunjukkan bahwa “Menyusu Ayah” memiliki tingkat keagungan yang berbeda, karya ini tidak berasal dari refleksi intelektual yang jauh, melainkan dari urgensi eksistensial yang meluap. Keagungan Djenar muncul dari kejujurannya yang menyakitkan dalam memotret distopia domestik.

     

    Keagungan Pemikiran (Grandeur of Thought)

    Djenar menggugat konstruksi patriarki yang paling purba yaitu peran ayah sebagai pelindung. Dengan tokoh Nayla, ia memperkenalkan gagasan tentang ingatan pralahir, sebuah konsep filosofis yang menunjukkan bahwa kesadaran manusia melampaui keberadaan fisik. Pemikiran bahwa seorang janin mampu memahami pengkhianatan ayahnya adalah gagasan yang megah sekaligus getir, mengangkat cerita ini dari sekadar drama keluarga menjadi tragedi eksistensial.

     

    Emosi yang Kuat (Strong Passion)

    Longinus menekankan bahwa keagungan membutuhkan antusiasme yang membara. Dalam cerita pendek ini, perasaan itu terwujud sebagai “gairah untuk bertahan hidup.” Nayla tidak digambarkan sebagai korban yang pasif. Ia menggambarkan proses kelahirannya yang heroik dengan semangat yang membara. Inilah keagungan rasa sakit, sebuah emosi yang begitu intens hingga mampu mengubah trauma menjadi ketangguhan.

     

    Retorika yang Unggul (Figures of Speech)

    Djenar menggunakan teknik pengulangan mantra: “Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki.” “Retorika” menyusui, yang biasanya merupakan simbol sakral kasih sayang ibu, dibalikkan menjadi tindakan eksploitasi. Pembalikan makna ini merupakan strategi retorika cerdas yang menciptakan efek terapi kejutan, memaksa pembaca untuk melihat sisi gelap dari simbol-simbol kenyamanan.

     

    Diksi yang Baik (Noble Diction)

    Kekuatan Djenar terletak pada gaya bahasanya yang lugas, dingin, namun puitis secara makab. Ia tidak menggunakan kata-kata halus untuk menyamarkan kebejatan. Kata-kata seperti “sperma”, “penis”, dan “nafsu yang tak terpenuhi” digunakan untuk menciptakan efek “kekerasan verbal” yang selaras dengan pengalaman karakter. Gaya bahasa yang tepat ini menciptakan atmosfer yang mencekam, menarik pembaca ke dalam labirin psikologis yang hancur namun tetap tajam seperti pisau.

     

    Komposisi yang Mulia (Dignified Composition)

    Struktur cerita pendek ini dibangun dengan ritme yang mantap, mulai dari kenangan di dalam kandungan hingga klimaks aksi. Bagian penutup cerita, saat Nayla menghantamkan patung kepala kuda ke arah pelakunya, menghadirkan efek keagungan yang sempurna dari sebuah ledakan tindakan. Terdapat keseimbangan antara penderitaan yang berkepanjangan dan kebebasan yang singkat namun intens.

     

    Kesimpulan (Conclusion)

    Berdasarkan analisis menggunakan teori keluhuran Longginus, cerpen ini muncul sebagai sebuah struktur di mana setiap fragmen memiliki peran penting dalam menciptakan konflik dan memperdalam karakter. Djenar menunjukkan bahwa konflik Nayla bukan hanya perbedaan pemikiran, tetapi juga perjuangan radikal demi kebebasan diri atas otoritas ayah yang otoriter, dimulai dari pengenalan traumatik hingga pencarian figur ayah pada lelaki lain. Struktur yang efisien ini memastikan pesan cerita tersampaikan secara utuh bahwa keluarga, yang seharusnya menjadi ruang perlindungan paling sakral, dapat bermutasi menjadi ruang luka ketika relasi kekuasaan dijalankan tanpa tanggung jawab moral.

    Dengan mengacu pada teori keagungan Longinus, cerpen “Menyusu Ayah” telah menunjukkan bahwa karya ini merupakan wadah yang kuat untuk kritik sosial. Keberanian Djenar dalam mengangkat topik-topik tabu dengan bahasa yang lugas tidak hanya membangkitkan emosi, tetapi juga mendorong pembaca untuk merefleksikan secara kritis nilai-nilai kemanusiaan, tubuh, dan kekuasaan. Cerpen ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan arti sebenarnya dari cinta dan tanggung jawab. Djenar Maesa Ayu telah mengukir “Menyusu Ayah” menjadi sebuah keagungan estetika yang membicarakan sisi-sisi tergelap dari sifat manusia demi mencapai tingkat martabat yang lebih tinggi. Membaca cerpen “Menyusu Ayah” mengingatkan kita bahwa sastra besar tidak selalu berasal dari hal-hal yang manis. Ada rasa kehormatan dalam keberanian menghadapi monster-monster dalam budaya kita sendiri.

  • Di Balik Gua – Cerpen Sanny Tukan

    Di Balik Gua – Cerpen Sanny Tukan

     

    Budi adalah anak yatim piatu berumur 23 tahun yang berprofesi sebagai petani. Ayah dan ibunya meninggal saat perang saudara di desa mereka. Hanya bermodalkan cangkul dan sabit, bukan buku dan pena, bukan pula teori dan konsepsi, Budi mengandalkan harapan untuk bekerja di sawah peninggalan orang tuanya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    Meski dihantui oleh sinar mentari dalam keadaan bertelanjang dada dan celana ala kadarnya, Budi tetap fokus pada pekerjaan yang sedang digelutinya. Badan yang kurus, tenggorokkan kering, dan kulit terbakar karena panasnya mentari, sungguh tidak membuatnya patah semangat dalam mengais sumber hidup dari sepetak sawah. Budi sadar bahwa dirinya masih terlalu muda untuk menerima kegagalan atau D’O dari dunia persawahan. Budi sesekali menyeka keringat dari dahi berkerut yang dimilikinya sembari memandang burung-burung sawah menari riang di atas cakrawala.

    “Ah, andaikan aku bisa menjadi seperti mereka, barangkali hidup ini akan terasa lebih indah, terbang sintesis begitu saja semau-ku,” katanya dalam hati.

    ***

    Ketika senja menghampiri, Budi duduk beristirahat. Ia melihat sepetak tanaman padi dan berharap padi itu tumbuh dengan subur. Ia ragu dan berpikir bahwa tanaman padi tidak akan berkembang dengan baik, karena pertimbangan kondisi tanah yang masih mengandung zat-zat kimia dari sisa-sisa bekas bom rakitan dan porak poranda sampah plastik akibat peperangan kala itu, dengan kondisi air yang masih keruh. Namun di satu sisi, ia percaya bahwa semua usaha dan niat baik akan memperoleh hasil yang memuaskan. Ia sadar bahwa hidup butuh proses, bukan butuh hipotesis.

     “Ayah-ibu tolong hantarkan harapan dan doaku kepada Tuhan yang empunya dunia ini,” curhatan Budi di dalam hati.

    Budi pun pulang ke gubuknya. Gelap gulita sudah mulai menyelimuti dunia. Terlihat beberapa pelita berjuang menerangi gubuk-gubuk kecil di seberang sana. Terdengar pula burung-burung malam berusaha menghibur penduduk desa dengan kicauan merdunya, ditemani angin sepoi-sepoi yang menambah mesranya malam itu. Tetapi, di dimensi lain anak-anak balita tidak mampu membendung lapar dan tangisan, berteriak pilu menanti sesuap nasi dari hasil jerih payah kedua orang tua mereka. Sedang di dalam gubuknya, Budi asyik menyantap masakannya sendiri. Ia berusaha melewati hari tanpa harus mengeluh. Hingga keheningan desa membuatnya tertidur lelap dalam mimpi dan imajinasi.

    ***

    Sinar mentari pagi dari ufuk timur menembusi celah-celah dinding gubuk, Budi tersadar dan meninggalkan sahabat malamnya.

    “Arkhh!” ujarnya sambil merenggangkan otot dari penat kenikmatan tidur malam.

    Hari ini, Budi bangun dengan suasana hati yang tidak terjadi seperti biasanya, tak ada semangat, tak ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan, bagaikan kebiasaan mahasiswa/i yang harus bangun pagi-pagi mencangkul otak, membentangi bibit-bibit analisis dan mencari kebenaran di balik bedeng-bedeng kehidupan. Sekelilingnya terlihat sepi, semua penduduk telah pergi ke sawah sebelum matahari terbit. Budi mengangkat cangkul kesayangannya dan mengambil bambu berisikan air minum, lalu berjalan menuju sawah. Budi menyimpan air minum, mengangkat cangkul dan segera membuka saluran irigasi yang ditutupi timbunan lumpur kemarin, sekaligus memperbaiki jalur irigasi yang rusak agar sumber air dapat mengalir lancar ke dalam petakan-petakan sawah.  Ketika sedang serius bekerja di dalam petakan, ia mengangkat kepaala dan melihat tiga buah mobil Jeep meluncur di jalanan becek menuju perkampungan.

     “Sudalah, cukup.” ujar Budi, mengakhiri pekerjaan.

    Ia duduk di pondok, mengangkat bambu berisi air minum dan menegukinya, menghilangkan rasa haus yang membakar dahaga. “Hufffssttt!!” Budi menarik nafas lega. Sejenak ia membaca buku dogeng cerita rakyat kesukaan ibunya yang terselip di dinding gubuk pondok, meskipun ia tidak terlalu suka membaca buku. “Ahh, menarik sejuta hati buku ini,” ujar Budi. Ia lalu bangkit pulang ke perkampungan. Di tengah perjalanan, ia melihat tiga mobil Jeep terparkir di depan gubuk kepala suku. Terlihat beberapa pereman berdiri memegang senjata laras panjang, memantau ke kiri dan ke kanan, dan nampak salah satu dari antara mereka sedang berbincang serius bersama kepala suku. Budi hanya tertunduk bisu. Mata sipit mencuri pandang dan telinganya serius menganalisis setiap sumber suara. Budi bingung sekaligus cemas bilamana terjadi sesuatu terhadap kepala suku dan semua penduduk di kampungnya, lantaran sudah sejauh beberapa tahun pasca perang saudara, baru kali ini muncul lagi sekelompok pereman: provokator persepsi yang pernah memicu perang saudara di kampung mereka (menurut cerita ibu) kembali bertengger di tengah kampung.

     “Budi?” sapa kepala suku, melihat Budi berdiri di pinggir jalan.

     “Iya kek!” sambung Budi.

     “Sedang apa kamu disitu?” tanya kepala suku.

     “Baru pulang dari sawah, kek.  Sengaja berdiri di sini kek, sekedar melihat pisang kakek, barangkali bisa barter sama padi saya kek” ujar Budi, pura-pura melihat pisang.

     “Aduh Nak, lain kali barternya, pisang itu masih terlalu mudah untuk dibarter” ujar kakek.

    “Oiah baik kakek, permisi!” sambung Budi, meninggalkan mereka.  

    Malam pun tiba, Budi sibuk memperbaiki cangkulnya yang rusak. Ketika sedang sibuk dengan dunianya sendiri, tak lama terdengar teriakan: “Tolonggggg, tolonggg, tolongggggg!” Gubuk kepala suku beserta isinya hangus dilahap api. Tak lama kemudian, 10 mobil Jeep muncul beserta para pereman. Satu dua tembakan senjata diluncurkan, bunyi besar menimbulkan kemelut di tengah kampung. Gubuk-gubuk rumah perkampungan dibakar hangus, darah bercucuran dimana-mana, dan Ibu-ibu susah sungguh menggendong bayi berlari entah kemana sembari menangisi realitas.

    “Perhatiannn-perhatiannnnnn!” teriak salah seorang pereman, kasar, intimidasi, sungguh otoriter.

    Mulai detik ini, perkampungan, sawah, kebun dan hasil-hasilnya akan menjadi milik kami!” ujar pereman itu.

    Hening syahdu, semua penduduk kampung antah berantah, entah sudah dimana.

    “Tidak, tidak, tidak!” teriak warga memecah kesunyian, dari kejauhan, tak kelihatan.

    Prajurit, tembakkk merekaaaaa!” perintah pria itu lagi dengan penuh ketegasan.

    Keheningan malam berubah menjadi perpecahan, benci berlumur darah menggangu dimensi rasa dan logika di malam yang kelam, hingga tangisan membentuk luka tak bersuara.

    ***

    Mentari menjemput malam pulang, sinarnya memperlihatkan porak-poranda desa. Budi berjalan sempoyongan, air mata membasahi wajah manisnya. Setiap derapan langkah menyusuri jalan setapak tak bertepi, tiada lagi gubuk perumahan, apalagi harapan. Di lihatnya sebuah gua dari kejauhan, dimasukinya gua itu, sekedar berteduh dan menikmati bayangan cahaya-cahaya kecil yang menerobosi lubang-lubang gua perdamaian. Sejenak, ia keluar bersahabat dengan tarian burung sawah, sembari coba mencari arti.

    “Ah Tuhan, mungkinkah aku akan mengalami nasib yang sama seperti ayah dan ibu? mereka mati secara fisik, tetapi aku kini mati secara rasa dan logika. Sungguh dunia ini begitu gelap,” seru Budi sambil meleparkan beberapa batu kecil ke arah burung sawah yang sedang beterbangan. Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Budi masuk kembali ke gua. Gelap pekat, tetapi cahaya redup dari dalam rongga gua itu terus menyambutnya. Di situ, ia temui sosok tua berjubah putih, duduk bersila, entah sedang ber-alegori, atau sebatas bermeditasi.

    Siapa?” tanya Budi, penasaran.

    Saya penjaga gua, namaku Tu’an. Bukan orang, bukan pula rasa, apalagi logika yang kamu pahami, aku lebih dari pada itu,” jawab sosok tua itu sambil tersenyum.

     Budi diam, tak bersuara.

     “Engkau mencari apa di balik gua ini Nak?” kata lelaki tua itu.

    Aku mencari rumah Tu’an, rumah yang pernah membuatku menemukan segala yang ‘Ada’, dan rumah yang pernah membuatku mengerti betapa nikmatnya perpaduan antara rasa dan logika; tetapi kini ia hanya tinggal sebatas kenangan, bahwa saya pernah hujan-hujanan demi pulang: rumah (kedamaian),” curhat Budi.

    Lelaki tua itu tersenyum tipis, memanggil Budi duduk bersila di sampingnya.

     “Sungguh malang Nak nasibmu, sudah sejauh ini berziarah mencari ‘rumah’, seperti ziarah sepanjang jalan menuju Santiago de Compostela dalam novel Paulo Coelho, kamu tahu itu?” tanya Tu’an.

    Tidak Tu’an”, jawab Budi, menunduk.

    Tentu, itu tentu. Sebab engkau bukanlah seseorang yang sebatas pernah membaca buku, tetapi engkau adalah seseorang yang pernah membaca buku kehidupan. Di sini, Aku akan mengajarimu bagaimana caranya mencari ‘rumah’ yang engkau impikan: Rumah perdamaian, rumah kebenaran, rumah kebijaksanaan, dan rumah kesalehan. Tutup matamu, kosongkan pikiranmu, berdamailah dengan diri sendiri, tarik nafas dalam-dalam. Lakukan itu berulang kali” ujar lelaki tua.

    Budi masih terdiam. Belum menjalankan pinta Tu’an. Ia masih dilemma karena pengalaman keterlukaan.

    Mengapa masih terdiam?” ujar lelaki tua itu tersenyum ramah.

    Ah Tu’an, Susah-Sungguh. Aku masih terlalu muda untuk melakukan yang Engkau mau. Saya belum bisa menukar kekecawaan dengan kebahagian hati, bagaikan pisang kepala suku yang masih terlalu muda untuk dibarter,” ujar Budi.

    Lelaki tua itu tersenyum lagi.

    Lakukanlah, carilah dan temukan ‘Rumah’ di dalam gua hatimu sendiri Nak!” seru lelaki tua itu.

    Budi lekas berkonsentrasi, ditinggalkannya seluruh kenangan ego diri yang berkecamuk dalam pikiran akibat kelemahan rasa dan logika. Ia sungguh masuk ke dalam alam bawa sadar; menikmati indahnya gua hati, alegori, imajinasi, dan meditasi sampai tak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan itu ke dalam serangkaian kata. Budi sungguh bahagia ketika bercumbu dan bersatu dengan rasa.

    Mulai detik ini, cari dan panggil aku Tuhan, bukan lagi Tu’an,” kata lelaki tua itu, Menghilang

    **********************

      

     

     

     

     

  • Camus, Caligula, Asrul Sani: Mempertimbangkan Kembali (Eksistensi) Kebudayaan Kita

    Camus, Caligula, Asrul Sani: Mempertimbangkan Kembali (Eksistensi) Kebudayaan Kita

     

    Oleh Raudal Tanjung Banua

     

    Pada tanggal 4 Januari 1960, Albert Camus, penulis lakon Caligula, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dekat Villeblein. Ia lahir di Mondovi, Aljazair, 7 November 1913, tetapi lebih dikenal dalam khazanah filsafat dan sastra Prancis. Berasal dari keluarga veteran Marne, Camus mencecap kehidupan yang sulit; kemiskinan, perang dan penyakit. Mungkin pengalaman ini yang membekas pada aktivitas dan karya-karyanya kemudian.

    Camus misalnya, bergabung dengan koran bawah tanah Combat yang mewartakan penderitaan manusia di tengah kecamuk perang dunia kedua. Sebagai filsuf yang hidup sezaman dengan Sartre, Camus menolak pandangan kaum materialisme dan kaum idealisme. Yang pertama menganggap eksistensi manusia sama dengan eksistensi materi atau benda-benda; yang kedua kelewat mengagungkan pikiran manusia di atas segalanya. Sembari itu, ia melancarkan otokritik terhadap kaum eksistensialisme yang kadangkala menisbikan hakikat kemerdekaan manusia.

    Sementara karya dramanya yang masyhur, Caligula, pada kenyataannya lahir sebagai sublimasi pengalaman empiris dan filosofisnya, sehingga sangat kritis, pedas dan memiliki keberpihakan yang tidak konvensional.

    Ke dalam khazanah sastra-drama Indonesia, Caligula diterjemahkan oleh Asrul Sani, yang meninggal 11 Januari (kebetulan sama-sama Januari) 2004 di Jakarta. Asrul lahir di Rao, Pasaman, Sumatera Barat, 10 Juni 1926 dan dikenal luas dalam khazanah sastra, teater, film dan pemikir budaya tanah air.

    Asrul di antaranya mendirikan perkumpulan “Gelanggang Seniman Merdeka” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin; mengasuh rubrik budaya “Gelanggang” di warta sepekan Siasat; serta bersama-sama pula menerbitkan buku puisi monumental Tiga Menguak Takdir. Dalam teater, ia antara lain dikenal sebagai pendiri dan Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang menjadi tonggak teater modern (akademik) Indonesia, di samping menerjemahkan banyak lakon asing pilihan, termasuk Caligula. Di film, namanya abadi bersama karya film yang disutradarai-nya seperti Pagar Kawat Berduri, Apa yang Kau Cari Palupi, Salah Asuhan dan drama Makhamah.

    Kenyataan bahwa Asrul Sani sebagai pemikir kebudayaan, terlihat dari pernyataan “Surat Kepercayaan Gelangga-ng” yang digagasnya. Surat yang dimuat pertama kali dalam “Gelanggang”/Siasat, 23 Oktober 1950 itu, menjadi sangat terkenal terutama karena pandangannya yang menyatakan “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia; dan kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tak ingat kepada melap-lap kebudayaan lama sampai berkilat untuk dibanggakan.”

    Lalu, apakah hubungan antara Albert Camus, Caligula dan Asrul Sani? Tentu saja sebuah hubungan sangat kompleks, sarat dengan idiom kemanusiaan yang menarik untuk diaktualkan.

     

     

    Albert Camus – Asrul Sani: Tindakan dan Pandangan

    Albert Camus merupakan sosok yang ingin terlibat dal-am segala hal; tak hanya merenungkan segala sesuatu dari meja kafe–sebagaimana dilakukan Sartre dan kekasihnya, Simone de Beauvoir–atau dari belakang meja akademi dalam konteks Asrul Sani, melainkan terjun langsung ke lapangan kebudayaan.

    Empirisme ini melahirkan gagasan dan tindakan yang memberi antitesa pada kemapanan. Camus misalnya tidak dapat menerima begitu saja ungkapan rasionalitas yang ditoreh Descrates, Corgito ego sum, “Aku berfikir maka aku ada”, namun melangkah lebih jauh, “Aku memberontak maka aku ada!” Lewat cara ini, Camus tidak menerima begitu saja paham eksistensialisme yang telah dirintis dengan bersahaja oleh Kierkegaard atau Nietzsche yang heroik —dan tidak pula menjadi varian bagi kemegahan Sartre. Meskipun dibanding Sartre, Camus lebih dikenal sebagai sastrawan ketimbang filsuf, sesuatu yang ironis dan tak adil sebenarnya.

    Padahal, pandangan Camus mewarnai filsafat eksistensialisme dengan antitesa terhadap kaum materialisme dan idealisme, sekaligus otokritik trhadap eksistensialisme. Camus percaya bahwa untuk menjadi “ada” manusia harus merumuskan “cara” dan menempuh “upaya” dan itu tidak mungkin dilakukan oleh benda-benda; akan tetapi “cara” dan “upaya” itu terletak di atas kemerdekaan diri, jiwa yang otonom. Ada suara pemberontakan di situ, tapi sekaligus kearifan merumuskan pandangan relatif netral.

    Di sisi lain, Asrul Sani menyadari eksistensi manusia Indonesia dibangun lewat proses kebudayaan yang agung dimasa silam, tapi itu tidak bisa diisolasi dari dunia-lapang luas. “Surat Pernyataan Gelanggang” sesungguhnya berangkat dari sini: menjadi antitesa “Polemik Kebudayaan” antara STA & Armjn Pane. Namun, “jalan tengah” yang ditawarkan Asrul kerap dipahami sebagai “jalan aman”, padahal itulah jalan ideal.

    Nirwan Dewanto misalnya, kerap mengutip pernyataan ini secara sepenggal, khususnya “kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” yang kemudian dianggap mewakili pandangan Asrul dkk. Padahal, pernyataan itu mestilah dipahami secara utuh, tak sepenggalan, apalagi berpretensi memojokkan. Nirwan menganggap ketegasan sikap tersebut sebagai “upaya meminta-minta” pada dunia, khususnya Barat, padahal disimpulkan dari sekerat kalimat! Sungguh ironis!

     

    Teks dan Konteks Caligula: Mempertimbangkan Eksistensi Kebudayaan Kita

    Caligula merupakan karya masterpiece Albert Camus yang memuat pandangannya terhadap hidup, takdir dan nasib sebagai satu-kesatuan rumusan eksistensialisme. Bukan suatu kebetulan, sebagai penerjemah, Asrul juga berurusan deng-an idiom “takdir” dalam merumuskan posisi dan eksistensi (kebudayaan) manusia Indonesia. Kata “takdir” pada buku puisi Asrul dkk. kadang ditafsirkan merujuk Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang pandangannya hendak dibongkar Asrul. Akan tetapi, “takdir” juga merujuk pada pusaran eksistensialisme, katakanlah dalam konteks kesastrawanannya yang mesti menjalani takdir: “dikutuk” untuk terus menjadi manusia gelisah, seperti Sisiphus atau Caligula.

    Teks Caligula sendiri bercerita tentang menghilangnya Caligula, seorang raja muda, dari istana; membawa kesedihan mendalam atas meninggalnya orang yang dicintainya, Drusila. Ia mengembara di lorong kota Roma sembari mengolah pikirannya perihal hidup dan nasib. Sejauh manakah kemerdekaan manusia atas takdir kalau orang yang dicintai seorang raja pun tak luput dari kerkap tangan takdir? Takdir macam apakah yang dijalani manusia shingga harus menderita, misalnya oleh perang dan pembunuhan?

    Pertanyaan-pertanyaan ini mengantar Caligula pada kesimpulan bahwa takdir mesti dilawan karena mengancam kemerdekaan dan eksistensi manusia. Ia pulang, dan segera melaksanakan gagasan pencerahan tersebut: hidup yang keras dan tak terduga, manusia yang akan mati dan tidak berbahagia, haruslah dihadapi dengan cara yang keras dan tak terduga pula. Maka tak terduga, Caligula menzalimi kerajaannya: membunuh, memperkosa, dan melecehkan rakyatnya sendiri. Absurditas ini memberi antitesa pada takdir: kalau manusia mati dan ia tak bahagia, maka harus ada tindakan yang membuat mati tidak sekadar persoalan bahagia atau menderita, tapi persoalan cara dan upaya mempertahankan eksistensi.

    Kita bisa mengaktualkan teks ini dalam konteks dunia sekarang yang penuh paradoks dan ironisme. Ada ancaman terhadap eksistensi (kebudayaan) manusia karena yang menang tampaknya adalah pandangan materialisme yang menganggap manusia tak ubahnya benda-benda yang bisa dieksploitasi seenaknya. Lewat imprealisme gaya baru, kapitalis-me dan militerisme internasional, pandangan itu mewujud terutama di negaranegara dunia ketiga, termasuk Indonesia! Sementara itu, kaum idealisme yang kelewat jumawa mengagungkan pikiran, jelas masih bertengger di menara gading dan sebagian menjadi korban (kalau tidak pengikut), kekuasaan. Sudah barang tentu ini mengancam eksistensi budaya dan ekologi, mematikan nalar dan daya kritis, dan yang lebih tragis: mengancam kemerdekaan manusia dalam menentukan nasib sendiri. Perdagangan bebas, perang dan invansi, jelas menolak “cara” dan “upaya” lain di luar mainstream.

    Reaksi terhadap hal itu muncul beragam dari yang kooperatif hingga yang radikal seperti terorisme. Di satu sisi, terorisme menyebabkan kegoncangan pada seluruh tatanan hidup manusia (termasuk kebudayaan) tapi sebenarnya berpangkal pada satu soal: eksistensi. Tragedi 11 September yang mengguncang AS (kemudian juga Jakarta dan Bali, di sini!) jelas mengancam eksistensi umat manusia, akan tetapi di sisi lain sadarkah kita bahwa ada juga kelompok manusia yang eksistensinya tak terakui? Kelompok inilah yang kemudian bertindak dengan “cara” dan “upaya” yang sangat tidak lazim—membajak pesawat, menabrak menara, mele-dakkan bom (bunuh diri)—sebagaimana Caligula bertindak dengan caranya sendiri.

    Di sinilah suara Camus kembali bergema: manusia, sia-papun ia, harus merebut eksistensinya, yang berarti mere-but kemerdekaannya, dari ketertindasan apapun. Karena manusia bukan objek, tapi subjek, maka berbagai “cara” dan “upaya” ditempuh dalam menghadapi tekanan nasib. Semestinya kita bertanya: siapa yang menekan dan siapa yang tertekan? Siapa yang tidak merdeka dan siapa yang leluasa? Di balik kutuk dan serapah terhadap teroris (sebagaimana juga terhadap Caligula), sesungguhnya kita perlu sedikit menyisakan suara jernih: bukankah Amerika dan sekutunya lewat noe-imperialisme, kapitalisme dan militer-isme dengan leluasa menekan eksistensi kelompok lain? Ketertindasan, apa boleh buat, telah memunculkan “cara” dan “upaya” yang tidak lazim dalam sejarah perjuangan eksistensi umat manusia. Separatisme, fundamentalisme, juga terorisme adalah sederet cara dan upaya yang terpaksa ditempuh untuk menunjukkan keberadaan diri atau kelompok tersisih.

    Betapapun cara dan upaya itu tidak lazim, bahkan mengancam eksistensi itu sendiri, namun tidaklah untuk didiamkan dan dibutakan. Menjawab cara dan upaya yang tidak lazim dengan caracara yang juga tidak lazim seperti penangkapan konyol, main tuduh, perang, agresi, dan operasi militer hanya akan berbuntut pada kenyataan bahwa kekerasan adalah cara yang lazim. Maraknya jaringan terorisme, serta bergolaknya sejumlah daerah di Indonesia dari Aceh hingga Papua, boleh jadi berpangkal dari tertindasnya kebudayaan, rusaknya ekologi dan terancamnya eksistensi para pendukungnya. Tapi bukankah kita seperti membutakan mata , menulikan telinga?

    Kalau demikian kenyataannya, maka penerjemahan Asrul Sani atas lakon Caligula karya Albert Camus, bertahun-tahun yang lalu, memiliki nilai aktual dan relevansi dalam mempertimbangkan sikap dan eksistensi kebudayaan kita, baik ke luar maupun ke dalam, hingga hari ini. Ke luar, bagaimanakah sikap bangsa ini atas hegemoni kebudayaan kapital dan industrial; apakah mesti dilanjutkan atau ditiru untuk menggilas eksistensi kebudayaan non mainstream? Ke dalam, apa kabar kebudayaan Indonesia hari ini, apa kabar kemanusiaan kita, di tengah hingar-bingar politik reformasi, otonomi atau MTV?.

    ——————-

    Sumber: Sastra-Indonesia.com

  • Keluarga   Petani – Cerpen Gonsi Kusman

    Keluarga Petani – Cerpen Gonsi Kusman

     

     

    Parang dan cangkul adalah sahabat setia keluarga kami. Bagaimana tidak, kami terlahir dan dibesarkan dalam keluarga petani. Sejak mentari berpijar hingga senja mengatup, kami mengais di kebun tanpa henti. Kami diajar ayah untuk memaknai waktu sebaik mungkin dan bekerja sekeras tenaga meski menguras keringat.  Bagi kami, kerja dengan memanfaatkan kesuburan tanah adalah cara terhormat dan bijaksana menghargai pemberian ilahi. Ayah mengajarkan itu karena sudah diwarisi dari nenek moyang yang juga petani. Dulu, nenek moyang kami mencangkul dengan alat seadanya, belum ada besi seperti sekarang. Di kebun, kami terus mengais dan mencangkul dengan lapang. Sampai tangan melepuh. Sampai peluh bertumpah-ruah membasahi tanah. Tak ada kata lelah, apalagi kalah. Kami mengabaikan lapar bahkan sakit sekalipun. Sungguh tak ada yang instan.

    “Sipri!” Panggil ayah dari belakang dapur.

    “Iya,” jawabku.

    “Kau sudah asah parang?”

    “Masih tajam. Tak perlu diasah. Biar di kebun saja baru asah kalau tak tajam lagi.”

    Biasanya aku jarang asah parang di rumah. Soalnya batu asah di rumah susah membuat parang menjadi tajam. Kalaupun diasah, mesti butuh waktu yang lama untuk bisa tajam. Apalagi waktu berangkat ke kebun sangat mepet. Kami berangkat ke kebun mesti tepat waktu agar kerjanya maksimal.

    “Asah saja di sini. Di kebun tak ada waktu lagi sibuk asah parang,” kata ayah, tegas.

    “Tak ada waktu lagi,” jawabku.

    “Dari tadi kau ke mana!”

    Aku tak menjawab. Kalau aku terus menjawab, ayah pasti murka. Soalnya, tadi, aku bangun agak terlambat.

    “Kalau begitu, siapkan air minum bawa ke kebun,” perintah ayah.

    “Simpan pakai apa,” jawabku.

    “Ada botol aqua besar di atas rak piring.”

    Aku mengambil botol aqua besar itu lalu menuang air ke dalamnya. Botol aqua itu dibeli ibu saat pergi ke Kota Ruteng tiga bulan lalu. Masih berguna hingga sekarang. Setelah airnya habis diminum, ibu tak langsung membuang botolnya. Ia membawa pulang ke rumah, katanya untuk bawa air ke kebun. Barangkali demikian cara ibu mencintai lingkungan, memanfaatkan botol bekas. Tapi, bukankah botol aqua bekas tak baik untuk kesahatan? Apalagi jika digunakan untuk menyimpan air minum dan warnanya sudah pudar.

    Setalah diisi air, aku letakkan di dalam karung bekas bertuliskan bulog 10kg .

    “Jangan lupa garam dan korek api di regel,” kata ibu setelah pulang dari kandang babi.

    Aku langsung ambil garam di regel lalu letakkan bersama botol air di dalam karung. Sedangkan korek api ada di ayah karena dia seorang perokok kuat. Di saku celananya tembakau gulung dan korek api selalu menyatu. Itu sudah pasti.

    “Semua sudah beres. Jalan sudah,” kataku sambil mengikat parang di pinggang.

    Aku, ayah dan ibu berangkat ke kebun. Selain membawa peralatan kerja, kami juga membawa air, garam dan korek api. Tak ada nasi, apalagi lauk yang kami bawa. Selain karena tak bisa membeli beras, toh selama di kebun kami tak kesusahan makanan. Di sana ada ubi kayu, pisang, kelapa, jagung, cabe rawit dan ubi talas. Tak hanya itu, di sana juga ada tikus hutan, motang,[1] musang dan babi landak yan gemar memangsa tanaman. Di pinggir kebun, ayah sudah memasang sejumlah jerat. Setiap hari pasti ada yang terjerat, dan itu menjadi santapan kami. Memang, alam sungguh kaya dan bisa mengihudupkan keluarga kami yang penuh keterbatasan.

    Setiba di kebun, kami menyimpan barang-barang di sekang.[2] Seperti biasa, ibu langsung menyalakan api di tungku. Sedangkan, aku dan ayah langsung mengecek jerat. Total jerat yang dipasangkan ada sepuluh. Ayah memasang jerat itu di setiap pate.[3] Kami mengecek secara berurutan. Mulai dari jerat pertama tak ada tanda-tanda binatang yang lewat. Begitupun seterusnya sampai jerat ketujuh. Sedangkan jerat kedelapan dan kesembilan berhasil kabur, karena ayah mengikat ujung tali jeratnya kurang kuat. Saat mengecek jerat kesepuluh, kami mendapati seekor motang berukuran besar menjerit. Lehernya terjerat tali rem. Motang itu meronta-ronta, berusaha kabur ketika melihat kami. Tapi tali rem itu sangat kuat melilit lehernya. Untungnya, ayah mengikat ujung tali rem pada pohon yang agak besar, membuat motang itu tak berdaya untuk kabur. Aku dan ayah sangat senang melihat motang sebesar itu.

    “Potong satu bambu! Ujungnya dibuat tajam,” perintah ayah.

    “Oke.”

    “Cepat!”

    Tanpa berlama-lama, aku langsung memotong sebuah bambu berukuran sedang dan dibuat runcing sesuai yang diperintahkan. Aku memberikan bambu itu ke ayah. Dari jarak dekat, ayah menancap bambu runcing itu tepat di leher motang. Darahnya membucah mengenai muka ayah. Meski begitu, ayah sangat gembira.

    “Mampus! Selama ini kau yang datang mengoyak tanaman di kebun ini,” kata ayah sambil mengelap percikan darah di pipinya.

    Dengan segera, aku membantu ayah mengangkat motang itu ke sekang. Ibu terkejut melihat motang di pundakku. Sebelumnya, ayah tak pernah menangkap motang sebesar itu.  Ibu seolah tak percaya. Motang sebesar itu seolah  rezeki terbesar bagi kami.

    “Tuhan mencintai kita,” kata ibu, spontan sambil menengadah ke langit.

    “Ya. Tuhan tak pernah membiarkan kita kelaparan,” jawab ayah.

    Aku dan ayah langsung membelah dan membersihkan bulu motang itu. Sedangkan ibu langsung pergi mencabut beberapa ubi kayu.

    “Seandainya kita terlahir di kota atau setidaknya tempat ini dijadikan pusat kota dengan berbagai bangunan megah, kita tak akan pernah menikmati daging motang,“ ujar ibu sambil meletakan ubi di atas tumpukan kayu api.

    Setelah semua selesai, ibu lanjut membakar sebagian daging motang untuk dimakan. Sambil menunggu, aku dan ayah mulai membersihkan rumput liar yang menghalang pertumbuhan ubi jalar.

    Kami menebas rumput liar menggunakan parang. Ayah lebih cepat. Dia melaju beberapa langkah di depanku. Aku menebas rumput sedikit terlambat dari ayah, karena parang kurang tajam. Tak setajam parang ayah.

    “Sudah diberitahu, tapi tak dengar,” kata ayah sambil mengayunkan parang, menebas rumput di depannya.

    Aku tak menjawab. Aku tahu, aku yang salah bukan parang. Aku memang anak yang enggan mendengarkan nasihat orangtua.

    “Kita ini petani. Jadi petani harus gesit, tak boleh lamban,“ kata ayah.

    Sekali lagi aku tak menjawab. Aku membiarkan ayah memarahiku. Di balik ekspresinya, ada pesan yang tak sempat terucap, barangkali tersendat penat. Aku menyadari itu. Meski begitu, aku tetap lanjut membersihkan rumput liar itu.

    “Petani tuhh panggilan hidup kita,” ungkap ayah sebelum kami dipanggil ibu untuk makan.

    Benar. Ayah adalah keturunan petani. Ayah tahu persis seperti apa susah dan senang hidup sebagai petani. Dari pertanian, perut kami tak pernah kewalahan menanggung lapar. Sebab, melalui alam Tuhan berpihak pada kami.

    Aku bangga lahir dari rahim keluarga petani yang hidup di tengah alam. Namun, aku cemas, jika suatu ketika alam tak lagi bersahabat. Hubungan kami dengan alam renggang, lalu ia tiba-tiba murka.

    Jika alam murka, apakah kami masih bisa bertahan hidup?

    “Sipri, betapa beruntungnya kita hidup di tengah alam yang kaya ini,” ujar ayah sambil mengelap keringat di mukanya.

    Aku mengangguk penuh syukur. Bahwa, dari kekayaan alam keluarga kami bisa makmur. Paling kurang tidak pernah merasa lapar.

    “Kau tahu, betapa bodohnya keluarga si Markuh itu. Ia rela jual tanah ke PLN untuk proyek geotermal,“ kata ayah sambil menghela napas panjang.

    “Kenapa ayah berkata begitu. Bukankah mereka dapat uang banyak dan desa kita terjangkau listrik?“

    “Kau sama bodohnya dengan mereka!“ Jawab ayah, sambil mengacungkan telunjuk.

    Ia kecewa dengan jawabanku. Raut mukanya terlihat penuh penyesalan. Seketika, ia menghentikan ayunan parangnya, lalu mengajakku duduk sejenak. Tampaknya ayah ingin menjelaskan sesuatu padaku.

    “Sipri, supaya kau tahu. Jual tanah itu tak baik. Awas kena kutuk. Tanah tuhh harga diri kita. Jika tanah dijual, itu sama halnya jual diri.”

    Suara ayah kian keras nan tegas. Matanya berbinar melihat tanaman bertumbuh subur di sekitar kebun.

    “Andai tanah kita dijual demi lembaran uang dan pembangunan, kita bisa makan apa? Kita pasti mati. Apalagi, proyek geothermal sangat mengancam pertumbuhan tanaman.”

    “Tapi, aku sempat dengar dari Markuh kalau proyek itu hadir, kampung kita akan maju. Lapangan pekerjaan tercipta bagi kita di desa ini, mungkin aku bisa kerja di sana,” jawabku, mendukung perkataan Markuh saban lalu.

    Tak disangka, jawaban itu memicu amarah ayah. Ia berdiri, lalu menggenggam parang di tangan kirinya. Ia mengayunkannya hampir mengenaiku.

    Ayah garang dengan jawabanku.

    “Kau bodoh! Kau sama dengan mereka; pengecut! Tanah ini hadiah dari Tuhan. Tuhan memberikan tanah dengan segala keindahannya. Tak pantas bagi kita menjual, apalagi merusaknya. Kita hanya boleh merawat dan mengelola. Bukan merusak. Ingat itu!”

    Aku terdiam.

    “Kalau kau sebut proyek itu sebagai lapangan pekerjaan, lalu apa bedanya dengan berkebun. Bukankah kita yang tiap hari mencangkul di kebun adalah sebuah pekerjaan. Terus mengapa kau tidak menamai kebun sebagai lapangan pekerjaan? Ingat! Jangan coba-coba tergiur dengan uang lalu korbankan harga diri!“ Tegas ayah dengan suara meraung.

    Suara perdebatan antara aku dan ayah didengar ibu. Seketika, ibu pun mendekat.

    “Tolong, jangan bertengkar gara-gara proyek bangsat itu!” Ungkap ibu dengan suara penuh permohonan.

    Jawaban ibu jelas. Ia sepakat dengan ayah, mengutuk keras proyek geotermal itu.

    “Sipri, benar yang dikatakan ayah. Kita tak punya keahlian di proyek itu. Kita ini petani. Kita hidup dari hasil pertanian, bukan dari geotermal,” ujar ibu meyakinkanku.

    Aku terdiam mencerna segala penyampaian itu. Ungkapan ibu dan ayah benar adanya. Andaikan keluarga kami tanpa alam bisa saja mati. Tapi, alam tanpa keluarga kami tetap aman-aman saja.

    “Maaf bu, yah. Aku mudah tergoda,“ kataku, memohon maaf pada ayah dan ibu. Aku sadar, bahwa alam adalah rahmat terindah dari Tuhan. Alam, segalanya tersedia. [*]

                                                                                                            Nitapleat, 2026

     

    —————————

    Gonsi Kusman, Mahasiswa Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

     

    [1] Motang: Babi hutan

    [2] Sekang: Pondok

    [3] Pate: Bekas jalan binatang hutan

     

  • Ayah, Tubuh, dan Kekuasaan: Kritik Sosial dalam Cerpen “Menyusu Ayah”

    Ayah, Tubuh, dan Kekuasaan: Kritik Sosial dalam Cerpen “Menyusu Ayah”

    Oleh Febrian Sakukut, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Cerpen Menyusu Ayah merupakan salah satu karya dari Djenar Maesa Ayu yang dikenal berani mengangkat tema-tema yang sering dianggap tabu dan vulgar. Dalam banyak karyanya, Djenar kerap menyingkap sisi gelap relasi manusia, terutama yang berkaitan dengan tubuh, seksualitas, dan kekuasaan. Ia tidak menulis dengan tujuan mengejutkan pembaca semata, melainkan ingin memperlihatkan fakta realitas yang sering disembunyikan di balik norma sosial.

    Karakter kepenulisan Djenar Maesa Ayu, sangat berpengaruh terhadap cara ia membangun cerita. Sebagai penulis yang sering mengangkat persoalan tubuh dan pengalaman perempuan, Djenar berusaha memperlihatkan bagaimana tubuh dapat menjadi ruang perebutan kekuasaan.

    Dalam cerpen ini, tokoh utama Nayla, digambarkan sebagai seorang anak yang mengalami relasi keluarga yang tidak sehat. Sosok ayah yang seharusnya menjadi pelindung justru berada dalam posisi dominan yang menimbulkan luka psikologis bagi dirinya. Melalui kisah Nayla, Djenar memperlihatkan bahwa relasi kekuasaan dalam keluarga tidak selalu berjalan secara adil. Yang pada akhirnya menjadi kritik sosial terhadap struktur keluarga yang sering dianggap sebagai ruang paling aman.

    Untuk memahami kekuatan estetik cerpen ini, pendekatan yang dapat digunakan adalah konsep keluhuran (sublime) yang dikemukakan oleh Longinus. Menurut Longinus, sebuah karya sastra dapat dianggap luhur apabila memiliki lima unsur utama, yaitu keagungan pemikiran (grandeur of thought), emosi yang kuat atau gairah yang mulia (passion), penggunaan retorika yang unggul, pemilihan diksi yang berkualitas, serta komposisi atau susunan karya yang mulia.

     

    Daya Pemikiran yang Agung

    Keagungan pemikiran dalam cerpen ini terlihat dari keberanian Djenar mengangkat persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu penyalahgunaan kekuasaan dalam keluarga. Dalam masyarakat, keluarga sering dipandang sebagai tempat yang penuh kasih sayang dan perlindungan. Figur ayah umumnya dianggap sebagai simbol tanggung jawab dan otoritas moral. Namun melalui cerita Nayla, Djenar Maesa Ayu justru menghadirkan gambaran yang berlawanan. Ayah dalam cerpen Menyusu Ayah, tidak sepenuhnya menjalankan perannya sebagai pelindung, melainkan sebagai pihak yang memiliki kuasa terhadap tubuh anaknya.

    Melalui konflik tersebut, pengarang menyampaikan gagasan besar mengenai bagaimana kekuasaan dapat bekerja dalam hubungan yang paling dekat sekalipun. Nayla berada dalam posisi yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena ia masih seorang anak yang bergantung pada orang tuanya. Situasi ini menunjukkan bahwa kekuasaan dalam keluarga dapat menjadi tidak sehat ketika tidak disertai tanggung jawab moral. Keagungan pemikiran dalam cerpen ini terletak pada kemampuannya membuka ruang refleksi bagi pembaca tentang pentingnya kesadaran etis dalam relasi keluarga.

     

    Emosi yang Kuat dan Gairah yang Mulia

    Cerpen Menyusu Ayah, menghadirkan emosi yang sangat intens melalui pengalaman batin tokoh Nayla. Nayla digambarkan belum sepenuhnya memahami cinta dan kasih sayang. Ia berada dalam kondisi bingung antara mempercayai sosok ayah sebagai figur yang memberikan cinta dan kasih sayang.

    Perasaan takut, bingung, dan tidak berdaya yang dialami Nayla membuat pembaca merasakan konflik batin yang mendalam. Emosi dalam cerita ini tidak muncul melalui ungkapan yang berlebihan, melainkan melalui situasi yang secara perlahan memperlihatkan tekanan psikologis yang dialami tokoh utama. Pembaca diajak menyelami perasaan Nayla yang berada dalam posisi rentan. Inilah yang membuat cerpen Menyusu Ayah memiliki kekuatan emosional yang besar. Pembaca tidak hanya memahami cerita secara rasional, tetapi juga merasakan penderitaan tokoh secara emosional.

     

    Penggunaan Retorika yang Kuat

    Dalam cerpen Menyusu Ayah, retorika terlihat dari cara Djenar menyusun narasi yang kompleks dan abstrak sehingga memiliki dampak yang kuat. Djenar Maesa Ayu juga menggunakan kalimat rumit dengan pemikiran vulgar, yang bertujuan untuk mewakili konsep asbtrak untuk menuju ke pemikiran yang lebih dalam. Yang kemudian membuka kebenaran tentang pola pikir dan perjuangan identitas perempuan.

    Selain itu, retorika juga muncul melalui kontras antara citra ayah sebagai pelindung dengan kenyataan yang dialami tokoh utama. Kontras ini menciptakan efek ironi yang kuat. Pembaca yang pada awalnya mungkin mengharapkan sosok ayah sebagai figur penyelamat justru dihadapkan pada kenyataan bahwa figur tersebut menjadi sumber ketakutan bagi Nayla. Strategi retorika seperti ini membuat kritik sosial yang disampaikan terasa lebih tajam tanpa harus dijelaskan secara langsung oleh pengarang.

     

    Pilihan Diksi yang Berkelas

    Pilihan kata yang digunakan oleh Djenar Maesa Ayu memiliki peran penting dalam membangun suasana cerita. Bahasa yang digunakan terasa sederhana namun sarat makna. Kata-kata yang dipilih mampu menggambarkan kondisi psikologis tokoh Nayla dengan sangat kuat.

    Diksi yang digunakan juga memperlihatkan bagaimana tubuh menjadi simbol penting dalam cerita. Tubuh Nayla tidak hanya digambarkan sebagai bagian fisik, tetapi juga sebagai ruang di mana relasi kekuasaan berlangsung.

    Melalui pilihan kata yang tepat, Djenar memperlihatkan bagaimana tubuh dapat menjadi wilayah yang rentan ketika berada dalam relasi yang tidak seimbang. Akibatnya cerpen Menyusu Ayah, memberikan logika berpikir abstrak untuk menyinggung para kaum yang mengganggap perempuan hanya sebagai objek pemuas nafsu.

     

    Komposisi yang Mulia dan Harmonis

    Pembaca mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam hubungan antara Nayla dan ayahnya. Dimulai dari pengenalan tokoh Nayla, kemudian konflik yang ia alami dengan ayahnya, hingga pencarian kasih sayang pada laki-laki lain sebagai pengganti figur ayah.

    Konflik tidak muncul ketika ia berbeda pemikiran dengan ayahnya, tetapi juga dalam prosesnya ia berusaha untuk memperjuangkan kebebasan terhadap dirinya sendiri. Yang sejak kecil sudah hidup pada aturan ayahnya yang otoriter.

    Komposisi cerita yang rapi membuat setiap bagian memiliki fungsi dalam membangun konflik dan memperdalam karakter tokoh. Tidak ada bagian yang terasa berlebihan, karena seluruh unsur cerita diarahkan untuk memperlihatkan relasi kekuasaan yang terjadi dalam keluarga Nayla. Struktur yang demikian membuat pesan cerita tersampaikan dengan lebih kuat.

    Melalui pendekatan teori keluhuran Longinus, cerpen Menyusu Ayah menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan kritik sosial. Pengalaman Nayla tidak hanya menggambarkan penderitaan seorang anak, tetapi juga mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam masyarakat. keluarga yang seharusnya menjadi ruang perlindungan dapat berubah menjadi ruang yang penuh luka ketika relasi kekuasaan tidak dijalankan dengan tanggung jawab moral.

    Selain itu, keberanian Djenar Maesa Ayu dalam mengangkat tema yang sensitif juga menunjukkan peran penting sastra dalam membuka diskusi mengenai persoalan yang sering dianggap tabu. Melalui gaya bahasa yang lugas dan struktur cerita yang kuat, Djenar berhasil menghadirkan karya yang tidak hanya menggugah emosi, tetapi juga mendorong pembaca untuk berpikir lebih kritis mengenai nilai-nilai kemanusiaan.

    Dengan memanfaatkan unsur keluhuran sebagaimana dijelaskan oleh Longinus, cerpen Menyusu Ayah berhasil menghadirkan pengalaman membaca yang menggugah kesadaran pembaca tentang tubuh, kekuasaan, dan keluarga.

    Cerpen Menyusu Ayah, tidak sekadar menghadirkan kisah yang mengejutkan, tetapi juga mengajak pembaca untuk melihat kembali makna tanggung jawab, perlindungan, dan kasih sayang dalam keluarga.

    Melalui kekuatan bahasa dan keberanian tematiknya, Djenar Maesa Ayu berhasil menjadikan cerpen Menyusu Ayah, sebagai salah satu bentuk kritik sosial yang penting dalam karya sastra.

    —————-