Category: OPINI

  • Honocoroko Database dari Sila-Sila Pancasila sebagai Dasar Negara

    Honocoroko Database dari Sila-Sila Pancasila sebagai Dasar Negara

     

    Oleh Agus Widjajanto

     

    Ditengah derasnya pengaruh budaya luar karena adanya kemajuan tekhnologi informasi, dimana seolah dunia tanpa sekat dan batas wilayah, yang dengan mudah nya generasi muda digiring pada framing opini publik, yang belum tentu tepat dan benar, yang merupakan strategi  global dimana Imperalisme modern ysng selalu berganti wajah dan bentuk namun dari genetik yang sama  melakukan eskplotasi strategi penguasaan ekonomi dan politik, dengan cara menghancurkan dari dalam sosial budaya ekonomi masyarakatnya.

    Di tengah memanasnya perang Iran melawan Amerika dan Israel, dimana dunia mengalami ketidak pastian dalam Geo Strategis dan Geo Politis secara global, bukan tidak mungkin Indonesia dengan segala sumber daya alamnya tidak menjadi incaran negara negara besar,  sebagai negara kepulauan dan dengan sistem pertanahan rakyat semesta, memang  sulit dan Imperalis  harus berpikir ulang bagi  bangsa lain akan melakukan invasi militer langsung kepada Negara ini dengan jumlah penduduk mencapai 280 juta jiwa.

    Kemungkinan paling aktual yang bisa dilakukan adalah dengan tehnik dan strategi lama dengan wajah baru melalui politik pecah belah, dan penghancuran dari dalam , dan ini sudah terjadi dan terasa benar saat ini yang harus diwaspadai bersama anak bangsa .

    Bahwa generasi muda sebagai tulang punggung bangsa ke depan harus paham dan belajar dari sejarah warisan leluhur. Bahwa bangsa ini adalah bangsa yang adi luhung, yang meninggalkan warisan budaya dan peradaban yang sangat besar. Salah satunya adalah ajaran luhur ilmu batin secara spiritual yakni warisan aksara jawa Honocoroko yang ditulis dalam huruf palawa dan bahasa sansekerta, yang merupakan induk  dari ajaran luhur para kesatriya Yakni Sastro Jendro Hayuningrat .

    Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Dayu, yang lebih populer disebut Ajaran Luhur  ” Sastro Jendro Hayuningrat ” adalah sebuah ajaran pitutur berupa karya sastra atau ajaran suci  lewat sastra, menyangkut ilmu kaweruh batin , yang bersumber dari ajaran ajaran Agama, yang disamarkan dalam kisah pewayangan untuk menuntun pada laku spiritual dalam dimensi spiritual Jawa, yang membabar atau membuka rahasia rahasia alam semesta, untuk menuntun kepada sifat berbudi luhur, menghancur sifat angkara, sifat Anasir Anasir negatif , agar mencapai kesempurnaan hidup, sedulur papat limo pancer Soko guru dari puncak spiritual Jawa, dimana Manusia sebagai khalifah di muka Bumi dimaknai sebagai wakil Tuhan dimuka bumi, manusia dilahirkan agar bisa , mempunyai wawasan dan pemikiran yang luas ( Den Ajembar ), dengan demikian agar bisa dicapai untuk bisa menampung berbagai masukan aspirasi baik dari kalangan bawah , kalangan menengah dan kalangan atas, untuk bisa mengambil kebijakan ( Den Momot ), dan harus menghilangkan ego pribadi atau kepentingan pribadi ( Lawan den wengku), agar mencapai kesempurnaan sebagai manusia sejati , yang mempunyai pandangan , ilmu , wawasan , hati nurani , kebijaksanaan seluas samudera raya ( Den Koyo Segoro ) sebagai seorang manusia sejati /Pemimpin .

    Bahwa dalam tradisi sastra Jawa kuno istilah nama  Sastro Jendro Hayuningrat dikenal dalam teks uttarakanda Jawa kuno, Tek Uttara kanda adalah gubahan dari Tek uttarakanda sansekerta pada akhir abad ke sepuluh Masehi, dimana Tek uttarakanda berisi kisah tentang Rahwana atau kelahirannya, dimana Raja Sumali yang ingin mengawinkan putri nya yang berwajah raksasa yang bernama Dewi sukesi yang berharap dapat menantu berwajah tampan seperti dewa, yang mana pada saat jaman kerajaan Majapahit tahun 1379 Masehi, kisah tersebut digubah kembali oleh Mpu Tantular menjadi Epos Kakawin arjunawiwaha.

    Ajaran luhur  Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Dayu sendiri , adalah ajaran yang selama ini dirahasiakan hanya pada kalangan terbatas, dari bangsawan Jawa, karena dianggap yang membabar ilmu rahasia , yang tidak hanya mengajarkan tentang olah batiniah, tapi juga tentang ilmu ilmu kanuragan kesaktian, yang dimiliki raja-raja jaman dulu.

    Bahwa makna atau kaweruh dari kitab Sastro Jendro Hayuningrat sendiri sebenarnya adalah penjabaran dari huruf huruf dalam abjad honocoroko, yang diciptakan pada tahun satu saka, tentang asal usul terjadi nya manusia, menurut persepsi dari kebatinan Jawa. Yang ditulis dalam bentuk sastra Jawa, dengan bahasa sansekerta dan huruf Pallawa.

    Bahwa Filosofi dari aksara Jawa Honocoroko itu sendiri juga  merupakan intisari dari nilai nilai Pancasila, yang digali oleh para pendiri bangsa Bung Karno, yang saat itu dipidatokan dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni yang diperingati sebagai lahir nya Pancasila, disamping dari sumber -sumber lain diantaranya dari Kitab Negara Kertagama,  yang pada pemerintahan Orde Baru, diadopsi lagi dan dijadikan rujukan untuk dilakukan pembelajaran tentang  penguatan nilai-nilai Pancasila yang dikenal dengan Eka Prasetya Pancakarsa (P4).

    Konsep Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di Dunia ini pada hakekatnya adalah satu kesatuan hidup. Javanisme Memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam Kosmos, dengan demikian perjalanan kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman pengalaman religius.

    Dalam mencari eksistensi jati dirinya sebagai mahluk Hamba Tuhan maka, daya upaya dilakukan melalui pengembaraan yang tidak pernah berhenti untuk mencari hakekat hidup dan kehidupan itu sendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Hukum Alam ( Sunatullah ), hingga timbul pertanyaan dari mana kita berasal dan setelah itu mau kemana dan kembali kemana ( Sangkan Paraning Dumadi ), maka dikarenakan Wujud sang Pengeran / pangeran yang berarti Tuhan yang tidak berwujud sebagai tempat bernaung dan berlindung, yang tidak bisa ditembus dan dijangkau dengan pikiran serta  panca Indra kita, maka sebagai wujud ekpresinya untuk menggambarkan itu semua maka ada istilah Tan Keno Kinoyo Ngopo.

    Pengetahuan tentang konsep ketuhanan salah satunya disimbulkan kedalam Aksara Jawa, Aksara yang sejatinya untuk media menulis orang Jawa, digunakan sebagai simbol pengetahuan konsep Ketuhanan . Simbol tersebut terdapat dalam tiap huruf aksara Jawa  Ha Na Ca To Ko , Da Tha Sha Wa La, , Pa Da Jo Yo Nyo, Ma Ga Ba Ta NGO.

    Bahwa setiap huruf mengandung arti makna berbeda dan berkaitan antara satu dengan yang lain, yang semuanya berjumlah 20 Huruf aksara Jawa yang merupakan pengembangan dari huruf Palawa, yang setiap huruf nya punya muatan yang berkaitan dengan Sifat Religius dalam Konsep Ketuhanan , yang dalam keseharian dijabarkan dalam entitas olah ROSO bagi orang Jawa yang menekankan sisi Spiritualitas yakni dengan laku spiritual .

    Dalam beberapa babad atau cerita diciptakan nya Aksara Jawa pada tahun satu Saka, penciptanya adalah Aji Saja dari tanah Hindustan India yang mengembara ke Tanah Jawa pada abad ke Dua Masehi, dengan demikian Aji Saka merupakan figur yang menyebarkan agama Hindu pertama di Tanah Jawa , maka tidak heran di Jawa banyak tempat tempat  yang diadopsi dari tanah Hindustan di India misalnya gunung Muria, dan Gunung Semeru yang identik dengan gunung Mahemeru yang disesuaikan dengan lidah orang Jawa, kisah Aji Saka sampai saat ini tumbuh subur di Jawa dan kisah Aji Saka menjadi inspirasi kehidupan batin orang Jawa, sebagai pusaka jati diri, ibarat Pusaka adalah Curigo , sedang kan warongko nya bisa bernama apa saja , sebagai pakaian penutup aurat dan memperindah bentuk .

    Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ko mewakili spiritualitas orang Jawa yang paling dalam yang merindukan Harmoni , yang tidak suka atas terpecah belah nya Anak Bangsa.

     

    Arti dan makna dari huruf Aksara Jawa tersebut adalah :

    Ha Na Ca Ra Ka, yang berarti utusan yakni utusan Hidup berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad badan kasar manusia. Ada yang dipercaya untuk bekerja.  Yang ketiga unsur nya adalah Tuhan, Manusia, dan kewajiban Manusia sebagai Hamba Tuhan.

    Da Ta Sa Wa La yang berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan saat meninggal tidak boleh SaWaLa atau mengelak sebagai manusia, harus bersedia melaksanakan , menerima takdir, dan menjalankan kehendak nya

    Pa DHA Ja Ya Nya, yang berarti menyatunya Zat Pemberi Hidup ( Tuhan ) dengan yang diberi hidup ( Mahluk ) yang diberi sifat unggul atau jaya sebagai mahluk yang diberkati untuk memimpin di muka Bumi ,

    Ma Gha Ba Ta Ngo, yang artinya menerima yang diperintahkan dan melarang atas hukum yang dilarang dari Tuhan yang Maha Esa, yang maksutnya manusia harus berserah diri Sumarah pada garis Kodrati, meskipun manusia diberi hak meWiradat, atau  berusaha .

     

    Sedangkan arti setiap Huruf nya adalah :

    HA Hana Hurip Wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci ( Tuhan )

    NA Nur Chondro, Ghaib Condro artinya pengharapan Manusia hanya selalu pada Sinar cahaya ke Tuhanan untuk jadi penuntun .

    CA Cipto Wening artinya Arah dan Tujuan Manusia hanya pada yang Maha Tunggal atau Tuhan.

    RA Rasa Ingsun Handulusih artinya Rasa Cinta sejati muncul dari Cinta Kasih Nurani

    KA  Karsoningsung memayuning Bawono, artinya hasrat ditujukan untuk kesejahteraan Alam Semesta .

    1. Dumading Dzat kang tanpo winangenan, artinya menerima hidup apa adanya.

    TA  Tatas lan Wibowo, artinya totalitas dalam hidup untuk mencapai tujuan satu visi dan misi .

     

    1. Sifat Ingsun, artinya membentuk kasih sayang seperti sifat Tuhan yang penuh kasih .
    2. Wujud Hana tan keno kiniro, artinya Ilmu manusia hanya terbatas , tapi implikasi nya bisa tanpa batas.
    3. Lir Handoyo paseban jati , artinya mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi .
    4. Papan Tan tanpo Kiblat, artinya hakekat Tuhan yang ada di segala Arah , timur dan Barat milik Allah dimana wajahmu dihadapkan disitulah Allah berada.

    DHA  Duwur wekasane endek wiwitane, artinya untuk bisa berada diatas, tentu selalu dimulai dari bawah / dasar.

    JHA jumbuhing Kawulo LAN Gusti, artinya selalu berusaha menyatu memahami kehendaknya .

    1. Yakin marang samubarang, artinya yakin atas titah kodrat illahi

    NYA  Nyoto tanpo moto, artinya memahi kodrat kehidupan ,

    1. Madep manteb nembahing illahi, artinya mantab dalam menyembah Illahi

    GA guru Sejati kang Muruki, artinya guru sejati adalah hati nurani dan belajar lah pada nya,

    BA Bayu sejati kang andalani, artinya menyelaraskan pada gerakan alam Semesta ( Sunatullah ).

    TA  Tukul Soko niat, artinya sesuatu akan terjadi dari niat diri kita

    NGA. Ngracut busaning Manungso, artinya melepas dan menghancurkan Ego pribadi , sebagai manusia.

     

    Bahw setiap huruf huruf aksara Jawa dalan honocoroko tersebut penuh dengan dimensi spiritual yang punya kekuatan magis secara spiritual , dengan tata cara yang tentu diajarkan oleh para ahli filsafat dan kebatinan Jawa.

    Apabila diringkas maka merupakan sebuah perjalanan, untuk menjawab segala pertanyaan kita dari mana kita berasal dan setelah dilahirkan untuk apa, di Dunia, lalu kita akan kembali Kemana dengan bekal apa kita berjalan.

    Karena setiap aksara tersebut bermakna dimensi spiritual maka, seluruh Sila Sila dari Pancasila merupakan perwujudan dan pengejawantahan dari nilai nilai makna dan arti dari setisp  aksara Jawa tersebut yang dijabarkan dalam bahasa modern saat ini dalam sila pertama hingga kelima dari Pancasila.

    Dalam kaitan Membangun Karakter Bangsa, terhadap generasi muda , dimana Pembangunan karakter bangsa mencakup  potensi potensi keunggulan bangsa , untuk ketahanan bangsa , yang diarahkan empat tatanan yakni menjaga jati diri bangsa, menjaga keutuhan NKRI , membentuk masyarakat yang berakhlak mulia dan membentuk bangsa yang maju, mandiri dan bermartabat sebagai bangsa yang besar dan berbudaya.

    Kiranya konsep aksara Jawa dari honocoroko bisa dijadikan pijakan dan pembelajaran bersama dari generasi muda, yang merupakan tulang punggung bagi bangsa ke depan agar tetap  mengenal budaya Bangsanya sebagai bangsa yang berbudaya tinggi dan adiluhung . Nusantara pernah mencapa kejayaan dimana Saat abad ke Tujuh masehi, dinasti sanjaya dan syailendra membangun monumen budaya bangsa yang menghasilan bangunan yang jadi keajaiban dunia yakni candi prambanan dan Candi Borobudur beserta anak anak candi dalam situs sejarah yang bisa dilihat hingga hari ini, belum lagi saat abad je 11 Masehi, Singosari dengan armada Angkatan laut nya yang sangat terkenal telah menahlukan hampir sepertiga wilayah Dunia, serta Majapahit imperium yang sanggup menyatukan Nusantara ( Wilayah asia tenggara saat ini ), harus bangga sebagai anak bangsa.

    Sebagai refleksi semangat tidak mau dijajah bangsa lain dalam bentuk apapun, baik ekonomi, budaya, tatanan kenegaraan dalam konsep berdemokrasi, isu Hak asasi Manusia ,Demokrasi dan Terorisme yang selalu dijadikan komuditas Politik, untuk Intervensi pada Negara yang berdaulat dalam negara Modern saat ini. sedangkan kita punya ciri khas tersendiri secara demokrasi yang telah diatur dalam kontitusi pada pasal 1 ayat 2, dan sila ke empat pada Pancasila, secara musyawarah mufakat.

    Kebebesan di jamin oleh Kontitusi dan UUD 1945 namun te tu kebebasan yang bertanggung jawab, yang menghargai keberadaan Saudara saudara kita yang lain , yang tidak bisa di paksakan kehendak dan pandangan seseorang terhadap orang lain .

    Demikian juga hak asasi Manusia, sebelum Dunia luar pasca perang dunia kedua membentuk Komisi Hak Asasi Manusia PBB ( UN Commision On Human Rights) pada tahun 1946 yang bertugas mengkonsep tentang Frasa The Man Of Right, yang lalu disyahkan lewat  Deklarasi hak asasi manusia  pada tahun 1948, yang mana  Para pendiri Bangsa kita ( Founding Fathers ) telah lebih dahulu  mengkonsep hak asasi warga negara dalam UUD nya  jauh tahun sebelum piagam PBB tersebut di bentuk, lewat perdebatan sengit dalam sidang BPUPKI  pada tanggal 15 Juli tahun 1945 sebelum Indonesia Merdeka dan disyahkan pada tanggal 18 agustus 1945. Artinya jangan ajari bangsa ini dengan Denokrasitasi dan hak asasi Manusia, karena para pendiri bangsa lebih dulu mencantumkan dalam 7 pasal di dalam kontitusi soal hak hak warga negara. Ini yang generasi muda harus paham.

    Tan Hanna Dharma Mangrwa, tiada kebenaran yang mendua  BhinekaTunggal Ika. Walaupun berbeda beda tetap satu jua.

     

    ———————

    Penulis adalah seorang praktisi hukum di Jakarta, pemerhati sosial budaya, hukum dan politik.

  • Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia 2026

    Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia 2026

     

    Sahira Diniy Khairun Nisa, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Gejolak geopolitik di Timur Tengah pada awal 2026 kembali mengingatkan dunia bahwa energi masih menjadi sektor yang sangat rapuh ketika konflik memanas. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan hanya memicu kekhawatiran regional, tetapi juga mengguncang pasar energi global. Bagi Indonesia, situasi ini penting dicermati karena negeri ini masih sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi internasional.

    Salah satu titik paling krusial dalam sistem energi dunia adalah Selat Hormuz. Jalur ini menjadi penghubung utama perdagangan minyak dari kawasan Teluk ke pasar internasional, dengan sekitar 20 juta barel minyak per hari melintas di sana atau sekitar seperempat perdagangan minyak laut dunia. Karena itu, setiap gangguan di Selat Hormuz hampir selalu diikuti oleh kepanikan pasar dan lonjakan harga minyak dunia. Dalam konteks April 2026, harga minyak dunia bahkan sudah menembus sekitar US$98 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang berada di kisaran US$60–80 per barel dan dalam praktik fiskal digunakan sekitar US$70 per barel.

    Di dalam negeri, pemerintah memilih tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026. Keputusan ini layak diapresiasi karena menjaga daya beli masyarakat, meredam inflasi, dan mencegah gejolak harga turunannya di sektor transportasi maupun logistik. Namun, kebijakan tersebut juga membawa konsekuensi fiskal yang tidak kecil. Ketika harga minyak dunia naik sementara harga BBM domestik ditahan, selisihnya harus ditutup melalui subsidi dan kompensasi energi dalam APBN.

    Besarnya tekanan itu terlihat dari pagu subsidi dan kompensasi energi APBN 2026 yang mencapai Rp381,3 triliun. Pemerintah juga menyiapkan tambahan anggaran subsidi energi sekitar Rp90–100 triliun untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak lebih lanjut. Dalam waktu yang sama, saldo anggaran lebih atau SAL sebesar Rp420 triliun diposisikan sebagai bantalan fiskal jika tekanan global makin berat. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya menahan harga BBM, tetapi juga menyiapkan ruang fiskal yang cukup agar kebijakan tersebut tetap aman dijalankan.

    Tekanan fiskal itu bukan sekadar potensi di atas kertas. Realisasi subsidi dan kompensasi energi pada awal 2026 sudah mencapai Rp51,5 triliun, dengan porsi terbesar berasal dari pembayaran kompensasi yang menutup kewajiban tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, realisasi subsidi juga tercatat sangat besar. Data ini memperlihatkan bahwa beban energi bukan lagi isu musiman, melainkan persoalan struktural yang terus berulang dari tahun ke tahun.

    Dari sisi ekonomi rumah tangga, penahanan harga BBM memang terasa menenangkan. Masyarakat tidak langsung menghadapi lonjakan harga di SPBU, sehingga tekanan inflasi bisa lebih terkendali. Tetapi dampak kenaikan harga minyak tidak berhenti di sana. Biaya transportasi, distribusi barang, dan ongkos produksi tetap berpotensi meningkat. Pada akhirnya, harga kebutuhan pokok dan jasa juga dapat terdorong naik, walau melalui jalur yang lebih tidak langsung.

    Karena itu, kebijakan subsidi BBM sebaiknya dipahami sebagai penyangga jangka pendek, bukan solusi utama. Indonesia memang membutuhkan kebijakan yang melindungi masyarakat dari guncangan harga, tetapi pada saat yang sama perlu keluar dari pola ketergantungan yang sama dari tahun ke tahun. Jika sumber energi masih didominasi impor, maka setiap konflik di Timur Tengah akan terus menjadi ancaman bagi stabilitas fiskal dan ekonomi nasional.

    Indonesia sebenarnya tidak kekurangan potensi energi, justru yang menjadi masalah adalah bagaimana potensi itu dikelola. Di tengah gejolak harga minyak dunia, pilihan paling masuk akal bukan hanya menahan harga BBM, tetapi mempercepat pemanfaatan energi yang memang melimpah di dalam negeri. Indonesia punya sumber energi surya yang besar karena letaknya berada di wilayah tropis dengan paparan matahari sepanjang tahun, lalu tenaga air dari banyak sungai dan bendungan, energi angin di sejumlah kawasan pesisir, bioenergi dari hasil pertanian dan perkebunan, serta panas bumi karena Indonesia berada di jalur cincin api. Potensi ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk memperkuat ketahanan energi, asalkan pengembangannya dilakukan secara serius, konsisten, dan tidak hanya berhenti pada wacana.

    Selain itu, pengembangan energi domestik juga penting agar Indonesia tidak terus berada dalam posisi yang mudah terdampak setiap kali pasar minyak global bergejolak. Selama kebutuhan energi masih sangat bergantung pada impor dan subsidi BBM, setiap konflik di Timur Tengah atau gangguan di jalur distribusi seperti Selat Hormuz akan tetap terasa di Indonesia, meski tidak secara langsung. Karena itu, transisi energi seharusnya tidak dipahami sebagai proyek masa depan yang jauh, melainkan sebagai kebutuhan mendesak hari ini. Pemerintah perlu mendorong energi terbarukan sebagai bagian dari solusi jangka panjang, sementara masyarakat juga perlu melihat bahwa ketahanan energi bukan hanya soal harga BBM murah, tetapi soal kemampuan negara menyediakan energi yang stabil, bersih, dan berkelanjutan untuk waktu yang panjang.

    Pada akhirnya, upaya meredam gejolak harga minyak dunia melalui penahanan harga BBM dan efisiensi anggaran memang penting untuk menjaga stabilitas jangka pendek. Namun, seperti yang juga tercermin dari berbagai pembahasan kebijakan energi, langkah semacam ini belum menyentuh akar persoalan ketahanan energi Indonesia. Selama ketergantungan pada energi impor masih tinggi, setiap guncangan dari Timur Tengah akan terus memaksa pemerintah memilih antara melindungi daya beli masyarakat atau menjaga ruang fiskal negara. Karena itu, Indonesia perlu melangkah lebih jauh: memperkuat produksi energi domestik, mempercepat transisi energi, dan membangun sistem yang tidak mudah terguncang setiap kali pasar minyak global bergejolak.

  • KRIS BPJS: Pemerataan Layanan atau Risiko Baru bagi Publik?

    KRIS BPJS: Pemerataan Layanan atau Risiko Baru bagi Publik?

     

    Oleh Karyn Melody Ceria Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma- Yogyakarta

     

     Perubahan sistem BPJS Kesehatan kembali menjadi sorotan publik. Pemerintah berencana menghapus pembagian kelas 1, 2, dan 3, lalu menggantinya dengan sistem Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Secara konsep, kebijakan ini terdengar ideal karena semua pasien mendapatkan layanan yang sama tanpa dibedakan oleh kemampuan ekonomi. Gagasan ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial dalam pelayanan kesehatan. Namun di balik tujuan mulia tersebut, terdapat berbagai tantangan yang perlu diperhatikan agar kebijakan ini benar-benar dapat berjalan efektif di seluruh Indonesia.

    Selama ini, sistem kelas dalam BPJS memang mencerminkan ketimpangan layanan. Pasien dengan kelas lebih tinggi memperoleh fasilitas yang lebih nyaman, sementara peserta kelas bawah sering kali harus menerima kondisi ruang yang lebih padat. Perbedaan ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut kualitas pengalaman perawatan. Oleh karena itu, kehadiran KRIS dipandang sebagai upaya untuk menghapus kesenjangan tersebut dengan menetapkan standar pelayanan yang sama bagi seluruh pasien. Dengan standar ini, diharapkan tidak ada lagi diskriminasi layanan berdasarkan kemampuan ekonomi.

    Di satu sisi, kebijakan ini patut diapresiasi. Pemerataan layanan kesehatan merupakan kebutuhan mendesak, terutama di negara dengan jumlah penduduk besar seperti Indonesia. KRIS juga berpotensi mendorong rumah sakit untuk meningkatkan kualitas fasilitasnya agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Jika dilaksanakan dengan baik, kebijakan ini dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem jaminan kesehatan nasional dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan BPJS.

    Namun, kebijakan yang baik tidak cukup hanya berhenti pada niat. Tantangan terbesar justru terletak pada implementasinya. Banyak rumah sakit terutama di daerah masih menghadapi keterbatasan fasilitas, tenaga kesehatan, dan kapasitas ruang rawat inap. Standar KRIS yang menuntut kualitas tertentu tentu membutuhkan biaya besar serta waktu penyesuaian yang tidak singkat. Jika kebijakan ini diterapkan secara terburu-buru tanpa kesiapan yang matang, bukan tidak mungkin kualitas layanan justru menurun dan pasien menjadi pihak yang dirugikan.

    Selain itu, kekhawatiran masyarakat terkait kemungkinan kenaikan iuran BPJS juga tidak bisa diabaikan. Perubahan sistem besar seperti ini sering kali diikuti dengan penyesuaian pembiayaan. Meskipun pemerintah belum memberikan kepastian, isu kenaikan iuran sudah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Jika iuran meningkat tanpa diimbangi peningkatan layanan yang signifikan, kepercayaan publik terhadap BPJS bisa menurun. Oleh karena itu, transparansi kebijakan menjadi hal yang sangat penting agar masyarakat memahami arah perubahan yang dilakukan dan tidak hanya menjadi pihak yang terdampak.

    Di sisi lain, KRIS tetap memiliki potensi besar untuk memperbaiki sistem kesehatan nasional. Dengan adanya standar yang sama, kualitas pelayanan dapat lebih terkontrol dan merata di berbagai wilayah. Namun, hal ini hanya dapat terwujud jika didukung oleh kesiapan infrastruktur, distribusi tenaga kesehatan yang merata, serta pengelolaan anggaran yang efektif. Tanpa dukungan tersebut, KRIS berisiko menjadi kebijakan ambisius yang sulit diwujudkan secara optimal di lapangan.

    Lebih jauh lagi, keberhasilan KRIS juga bergantung pada pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan. Pemerintah tidak hanya perlu memastikan kebijakan berjalan, tetapi juga harus siap melakukan perbaikan jika ditemukan kendala di lapangan. Partisipasi masyarakat dalam memberikan masukan juga menjadi faktor penting agar kebijakan ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan nyata. Keterlibatan tenaga kesehatan dan pihak rumah sakit juga perlu diperhatikan agar kebijakan tidak berjalan satu arah tanpa mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.

    Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan aspek pemerataan antar wilayah. Ketimpangan fasilitas kesehatan antara kota besar dan daerah terpencil masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Jika KRIS diterapkan tanpa strategi khusus untuk daerah dengan keterbatasan fasilitas, maka tujuan pemerataan justru akan sulit tercapai. Oleh karena itu, kebijakan ini harus diiringi dengan pembangunan infrastruktur kesehatan yang lebih merata serta dukungan anggaran yang memadai bagi daerah.

    Pada akhirnya, KRIS bukan sekadar perubahan teknis dalam sistem BPJS melainkan transformasi besar dalam cara negara menjamin layanan kesehatan bagi warganya. Pemerintah tidak hanya dituntut membuat kebijakan, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan tersebut dapat dijalankan secara adil dan efektif. Dengan perencanaan yang matang, pengawasan yang kuat, serta keterlibatan semua pihak, KRIS berpotensi menjadi langkah penting dalam mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang lebih merata, berkualitas, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

     

  • Antara Kartini dan Sosrokartono dalam Membangun Emansipasi Wanita

    Antara Kartini dan Sosrokartono dalam Membangun Emansipasi Wanita

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Setiap tanggal 21 April selalu kita peringati Hari Kartini sebagai hari emansipasi wanita. Idealnya, Hari Kartini jangan cuma kebaya-an dan lomba masak. Kalau berhenti di situ, kita kalah di perang pikiran, di tengah derasnya informasi serta pengaruh budaya dan politik demi kepentingan lain yang menyusup melalui media sosial dan tayangan media elektronik.

    Bahwa refleksi 21 April seharusnya membuat kita “terang” benar-benar, bukan sekadar seremonial seperti fenomena jaman saat ini di masa Reformasi yang kerap menuntut Emansipasi namun tidak tahu apa itu terang dan apa itu dibalik gelap

    Pertama-tama, kita luruskan fakta sejarahnya agar “terang” benderang, terutama terkait peran Sosrokartono yang sering dikaburkan:

     

    Fakta Sejarah Terbitnya Habis Gelap Terbitlah Terang

    Aspek  Fakta: Bukan buku karangan Kartini tapi buku yang di terbitkan yang isinya 108 surat Kartini kepada sahabat Belandanya tahun 1899–1904, paling banyak kepada Rosa Abendanon dan Stella Zeehandelaar.

    Yang menyusun & menerbitkan   J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, sekaligus suami Rosa Abendanon. Terbit pertama tahun 1911 di Belanda dengan judul Door Duisternis tot Licht.

    Diterjemahkan ke Indonesia tahun 1922 oleh Balai Pustaka dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Armin Pane yang menerjemahkan.

    Tujuan Abendanon menerbitkan Untuk mendukung politik etis: pendidikan bagi pribumi, terutama perempuan. Namun isinya justru menjadi senjata anti-kolonial karena membongkar borok feodalisme dan penjajahan ini yang menggetarkan Pemerintahan belanda saat itu.

     

    Peran R.M.P. Sosrokartono – Kakak dan “Kepala Intelijen” Kartini

    Sosrokartono bukan penulis bukunya. Namun tanpa peran beliau surat-surat itu tidak akan menjadi buku. Berikut perannya:

    1. Kurir & Pelindung Ide

    Sosrokartono lulusan Leiden, poliglot 24 bahasa, serta wartawan New York Herald Tribune. Dia yang mengajarkan Kartini menulis, berdebat, dan memahami politik Eropa. Ketika Kartini dipingit, Sosrokartono yang menyelundupkan surat-suratnya ke luar melalui jaringan kawan Belandanya. Don’t lie, but don’t tell the truth: kepada keluarga disebut “surat biasa”, padahal isinya bom waktu.

          2. Kurator & Editor Bayangan

    Banyak sejarawan meyakini Sosrokartono ikut memilih surat mana yang “aman”, tetapi tetap tajam untuk diberikan kepada Abendanon. Dia memahami sensor Belanda. Jadi dia bermain catur: agar lolos terbit, tetapi maknanya tetap menghantam penjajah. Ini merupakan operasi intelijen murni.

        3. Arsitek Narasi Emansipasi

    Konsep “terang” = melek pikiran lahir dari diskusi Kartini dengan Sosrokartono. Sosrokartono yang mengenal Liga Bangsa-Bangsa dan memahami power of narrative. Dia mengarahkan Kartini: “Menulis jangan hanya mengeluh, tetapi menawarkan solusi: pendidikan.” Hasilnya, surat Kartini bukan sekadar ratapan, melainkan policy brief.

        4. Penjaga Api Setelah Kartini Wafat 1904

    Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Sosrokartono yang terus menjaga hubungan dengan Abendanon hingga buku itu terbit tahun 1911. Dia juga terus mengajar di Bandung dan mencetak murid seperti Soekarno. Artinya: emansipasi Kartini dilanjutkan kakaknya melalui pendidikan.

    Pertanyaan Cerdas kita mengapa Peran Sosrokartono Dikaburkan?

     

    1.  Bahaya secara politik: Dia guru Soekarno, memahami kebatinan Jawa, serta memiliki sikap anti-aseng dan anti-asong. Orde Baru tidak menyukai tokoh yang sugih tanpa banda.

     

    1. Tidak mencari panggung: Dia sendiri meminta dimakamkan secara sunyi di Kaliputu, Kudus, tahun 1952. Sesuai ajarannya: menang tanpa ngasorake.

     

    1. Sejarah ditulis pemenang: Yang tertulis di buku sekolah hanya “Kartini pahlawan emansipasi”. Jaringan intelektual di belakangnya dihapus. Persis seperti yang saya tulis: kita kalah dalam perang pikiran.

     

    Kesimpulan buat Hari Kartini 2026:

    Habis Gelap Terbitlah Terang adalah produk operasi intelektual keluarga. Kartini moncongnya, Sosrokartono otaknya, Abendanon percetakannya.

    Jadi, jika emansipasi hari ini hanya sebatas kebaya dan FYP tanpa isi kepala, itu bukan meneruskan Kartini—itu melupakan Sosrokartono.

    : “Terang” = kepala tidak dijajah. Dan terang itu dinyalakan oleh dua orang: adik yang menulis, kakak yang mengawal.

    Referensi untuk memperkuat: Soekarno sendiri mengaku, “Kalau aku bisa membaca pikiran Nehru dan Chou En Lai, itu karena aku murid Sosrokartono.” Muridnya proklamator, gurunya dikubur sejarah. Ini yang harus kita terang-kan kembali.

     

    Tiga lapisan makna Hari Kartini dalam perspektif sejarah:

    1. Emansipasi = Kemerdekaan berpikir, bukan sekadar kerja

    Kartini tidak hanya menuntut perempuan boleh bekerja. Dia menuntut perempuan boleh berpikir dan menentukan nasibnya. Suratnya kepada Stella: “Saya ingin mendirikan sekolah untuk anak perempuan, bukan supaya mereka jadi Nyai Belanda, tetapi supaya mereka tahu harga dirinya.”

    Itu adalah senjata dalam perang pikiran. Penjajah paling takut pada bangsa yang perempuannya melek, karena ibu yang melek melahirkan generasi yang tidak mudah dibodohi.

    1. Di balik Kartini ada “jaringan intelijen keluarga

    Seperti dibahas sebelumnya: Sosrokartono. Tanpa kakaknya yang bolak-balik Eropa dan memahami politik global, surat Kartini tidak akan sampai ke tangan Abendanon. Tanpa Abendanon, tidak ada buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

    Artinya: emansipasi tidak berjalan sendirian. Butuh dukungan sistem: keluarga, guru, dan negara.

    1. “Habis Gelap” adalah proses intelektual

    Gelap = bodoh, dijajah, tidak memahami strategi

    Terang = memahami peta, mengetahui kawan dan lawan, serta arah bangsa.

    Polanya sama: terang adalah hasil proses panjang, bukan instan.

     

    Jadi refleksi Hari Kartini 2026:

    Kalau dulu “gelap” berarti tidak boleh sekolah, sekarang “gelap” berarti:

    1. Tidak memahami bagaimana algoritma TikTok membentuk selera dan opini.
    2. Tidak sadar standar kecantikan dan gaya hidup dikendalikan industri luar.
    3. Tidak mengenal tokoh bangsa sendiri seperti Sosrokartono.

     

    “Terang” zaman sekarang = Perempuan Indonesia memahami sejarahnya, memahami ekonomi global, dan mampu membedakan emansipasi sejati dengan propaganda gaya hidup.

    Kartini menulis: “Saya mau membuat perempuan Jawa berdiri sendiri.”

    Di tahun 2026, berdiri sendiri berarti: kepala tidak dijajah, dompet tidak dijajah, dan hati tidak dijajah.

    Jika Hari Kartini hanya berhenti pada simbol, maka kita mengulang kesalahan lama: merayakan bentuk, tetapi mengubur makna.

    —————————

    Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsanya

  • Makanan Cepat Saji: Solusi Praktis di Tengah Kesibukan, Tetapi Berisiko bagi Kesehatan

    Makanan Cepat Saji: Solusi Praktis di Tengah Kesibukan, Tetapi Berisiko bagi Kesehatan

     

    Oleh Agustina Dwi Purwaningsih, Mahasiswi Sastra Indonesia – Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Beberapa waktu yang lalu, saya melihat para remaja yang baru saja pulang sekolah, ia berada di salah satu restoran dan memesan makanan cepat saji. Dia memesan burger, kentang, dan minuman manis. Saat makanan datang ia langsung menikmati makanan bersama dengan teman-temannya tak lama kemudian makanan itu habis. Pemandangan seperti ini semakin sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan sudah menjadi bagian dari kehidupan remaja saat ini.

     

    Kepraktisan sebagai Daya Tarik Utama

    Di tengah kesibukan sehari-hari, makanan cepat saji atau fast food semakin menjadi pilihan utama. Kemudahan untuk mendapatkan dan menyajikannya membuat makanan ini diminati banyak orang. Makanan cepat saji sangat praktis dan cepat disajikan sehingga cocok bagi orang yang memiliki waktu memasak terbatas.  Fenomena tersebut menunjukkan bahwa makanan cepat saji telah menjadi bagian dari gaya hidup modern yang serba cepat dan praktis.

    Bagi pelajar, pekerja, maupun masyarakat dengan aktivitas padat, fast food sebagai solusi cepat saat lapar. Makanan ini dapat diperoleh dengan mudah di restoran, pusat perbelanjaan, maupun layanan pesan antar. Mereka tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk memasak atau menyiapkan makanan sendiri. Cukup datang ke restoran, membeli di pusat perbelanjaan, atau memesan melalui layanan pesan antar, makanan sudah dapat diperoleh dalam waktu singkat. Hal ini tentu sangat membantu, terutama bagi orang yang memiliki waktu terbatas. Selain itu, rasanya enak, menunya beragam, harganya terjangkau, dan penyajiannya cepat sehingga sangat bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Oleh karena itu, kepraktisan menjadi daya tarik utama yang menjadikan makanan cepat saji pilihan banyak orang untuk menghemat waktu.

     

    Dampak Negatif bagi Kesehatan

    Di sisi lain, menurut penelitian jika dilihat dari kandungannya, makanan cepat saji memiliki banyak kekurangan. Makanan cepat saji tergolong sebagai ultra-processed food yang dirancang awet selama beberapa hari, komposisinya yang tidak seimbang, yakni sekitar 70% penguat rasa dan hanya 30% kandungan gizi sehat. Makanan ini tidak sehat karena mengandung lemak, gula, dan garam yang tinggi. Jika dikonsumsi secara berlebihan maka akan menyebabkan obesitas. Selain itu, makanan cepat saji juga cenderung kurang nutrisi karena tidak mengandung cukup vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan oleh tubuh. Kondisi inilah dapat berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.

    Makanan cepat saji memiliki gizi yang kurang dibutuhkan oleh tubuh. Contohnya, seseorang yang terlalu sering mengonsumsi burger dan kentang goreng akan merasa kenyang setelah memakannya tetapi tubuhnya tetap kekurangan nutrisi penting. Hal ini dapat berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh. Kepraktisan memang penting, tetapi kesehatan jauh lebih penting untuk dijaga. Pengaruh seperti dari lingkungan, iklan, dan media sosial membuat remaja lebih tertarik pada makanan cepat saji daripada makanan sehat.

     

    Pentingnya Pola Konsumsi Seimbang

    Sebagai langkah konkret, remaja perlu bijak dalam memilih asupan nutrisi dengan membatasi frekuensi konsumsi maksimal dua kali dalam seminggu. Belajar memasak sendiri di rumah menggunakan bahan seperti roti gandum, kentang kukus, atau yogurt merupakan alternatif cerdas untuk mengontrol kualitas lemak dan garam. Dengan adanya kesadaran dari individu, keluarga, dan edukasi sekolah, kita dapat memutus rantai dampak negatif ini.

    Oleh karena itu, saya menyarankan konsumsi makanan cepat saji sebaiknya dibatasi. Kita bisa tetap mengonsumsinya tetapi tidak secara berlebihan misalnya makan makanan cepat saji satu bulan sekali atau dua Minggu sekali. Selain itu, tetap diimbangi dengan makanan bergizi, seperti sayuran. Makanan cepat saji memang memiliki banyak kelebihan seperti praktis, enak, harga terjangkau, dan mudah didapatkan. Namun, dampak negatifnya jauh lebih besar.

    Makanan cepat saji menjadi pilihan banyak orang karena praktis, mudah didapatkan, dan cocok dikonsumsi di tengah kesibukan. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering, makanan ini dapat menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan remaja, seperti obesitas dan risiko penyakit lainnya.  Faktor lingkungan, pergaulan dengan teman sebaya, serta paparan iklan turut memperkuat kebiasaan konsumsi makanan cepat saji di kalangan remaja. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran  mulai dari individu, keluarga, serta edukasi dari sekolah dan pemerintah untuk membentuk pola makan sehat sejak dini. Mari kita mulai menerapkan pola hidup sehat sekarang, karena kesehatan adalah aset paling berharga bagi generasi muda.

  • Kasus Keracunan Makana Bergizi Gratis (MBG)

    Kasus Keracunan Makana Bergizi Gratis (MBG)

     

    Oleh Agustin Risti Prasetyo, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah penantian besar yang sudah lama dinantikan. Di tengah tantangan ekonomi dan isu kesehatan seperti stunting, hadirnya makanan bergizi di meja sekolah memberikan harapan baru. Program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang lebih cerdas dan kuat. Namun, belakangan ini, kegembiraan tersebut terusik oleh kabar yang tidak mengenakkan. Kasus keracunan massal yang menimpa siswa di beberapa daerah, mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah, menjadi pengingat pahit bahwa niat mulia saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan pengawasan yang ketat.

    Isu utama yang kini muncul ke permukaan bukan lagi soal “apa menu hari ini”, melainkan “apakah makanan ini aman dimakan?”. Ketika anak-anak yang seharusnya belajar dengan tenang justru harus dilarikan ke puskesmas karena mual dan pusing setelah makan siang, ada sesuatu yang salah dalam sistem kita. Masalah keracunan ini menjadi sinyal darurat bahwa program sebesar ini tidak boleh dijalankan dengan prinsip “yang penting jalan”. Keamanan pangan harus menjadi fondasi utama, karena tanpa jaminan kesehatan, nilai gizi setinggi apa pun dalam makanan tersebut akan menjadi sia-sia.

    Lemahnya pengawasan dan standar kualitas di lapangan adalah lubang besar yang harus segera ditambal. Fakta di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan antara aturan yang dibuat di pusat dengan praktik dapur di daerah. Sering kali, demi mengejar kepraktisan dan kecepatan distribusi, aspek kebersihan atau higienitas diabaikan. Kita harus jujur mengakui bahwa koordinasi antara pemerintah, pihak sekolah, dan penyedia katering masih sering tidak seirama. Urusan kebersihan dapur sering dianggap sebagai detail kecil yang boleh dilewatkan, padahal dari sanalah kesehatan ribuan nyawa siswa ditentukan setiap harinya.

    Kejadian keracunan massal di sekolah-sekolah membuktikan bahwa sistem distribusi kita masih rentan. Bagaimana makanan diolah, bagaimana suhu makanan dijaga saat pengantaran, hingga berapa lama makanan tersebut dibiarkan sebelum disantap adalah rantai proses yang sangat sensitif. Jika salah satu rantai ini putus, risikonya adalah keselamatan siswa. Oleh karena itu, kritik terhadap pola distribusi yang hanya mengejar target jumlah tanpa memperhatikan standar kesehatan adalah hal yang sangat wajar. Keselamatan siswa harus selalu berada di atas kepentingan keuntungan penyedia jasa atau sekadar pencapaian administratif program.

    Untuk memperbaiki keadaan, diperlukan evaluasi besar-besaran terhadap seluruh alur program MBG. Pemerintah perlu memperjelas siapa yang memikul tanggung jawab hukum jika terjadi masalah kesehatan. Prosedur standar operasional (SOP) harus dibuat sangat rinci, mulai dari pemilihan bahan baku yang segar hingga cara pengemasan yang steril. Selain itu, kesiapan sekolah dalam menangani kondisi darurat juga harus ditingkatkan. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat menerima makanan, tetapi juga harus memiliki tim kecil yang bertugas mengecek kelayakan makanan sebelum dibagikan kepada para siswa.

    Langkah tegas harus diambil terhadap pihak-pihak yang lalai. Jika hasil investigasi menunjukkan bahwa keracunan disebabkan oleh keteledoran penyedia katering dalam menjaga kebersihan, maka sanksi berat harus dijatuhkan. Pencabutan izin atau pemutusan kontrak permanen adalah konsekuensi logis agar penyedia jasa tidak main-main dengan urusan perut anak bangsa. Penggunaan data dan pengawasan berkala oleh dinas kesehatan di tiap daerah juga menjadi kunci agar setiap piring makanan yang sampai ke tangan siswa sudah melalui proses pengecekan yang masuk akal.

    Harapan kita semua adalah melihat program ini berjalan berkelanjutan dan aman. Salah satu solusi cerdas adalah dengan membatasi keterlibatan pihak luar yang tidak memiliki sertifikat keamanan pangan yang jelas. Melibatkan UMKM lokal memang baik untuk ekonomi, namun mereka harus dibekali pelatihan dan distandarisasi secara ketat oleh ahli gizi atau dinas kesehatan terkait. Alternatif lain adalah memaksimalkan peran dapur sekolah atau dapur umum yang diawasi langsung oleh pihak sekolah dan orang tua. Dengan jalur distribusi yang lebih pendek, risiko makanan basi atau terkontaminasi selama perjalanan bisa ditekan serendah mungkin.

    Pada akhirnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis ini membutuhkan kesadaran kolektif. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri; orang tua harus aktif memantau, guru harus jeli melihat kualitas makanan, dan masyarakat harus berani memberikan masukan jika melihat adanya penyimpangan. Kita sedang membangun masa depan Indonesia melalui piring-piring makanan di sekolah. Jangan sampai cita-cita Indonesia Emas justru terhambat karena urusan dapur yang dikelola secara asal-asalan.

    Sebagai penutup, kita semua sepakat bahwa program MBG memiliki potensi yang sangat positif bagi masa depan anak-anak Indonesia. Program ini membantu meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus memastikan asupan nutrisi siswa terjaga. Namun, kembali lagi pada prinsip dasar: keamanan pangan adalah harga mati. Mari kita perketat pengawasan dan tingkatkan standar kualitas mulai sekarang. Kesehatan dan keselamatan siswa adalah aset paling berharga bangsa ini yang tidak boleh ditawar dengan alasan apa pun. Niat baik pemerintah harus kita kawal bersama agar benar-benar membawa manfaat, bukan malah membawa petaka bagi kesehatan generasi muda kita.

     

  • Sulit Dibedakan, Mudah Dipercaya: Bahaya Konten AI di Media Sosial

    Sulit Dibedakan, Mudah Dipercaya: Bahaya Konten AI di Media Sosial

     

    Oleh Maharani Yahya, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir melaju sangat cepat, terutama dengan hadirnya Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini memungkinkan siapa saja membuat berbagai jenis konten, mulai dari tulisan, gambar, hingga video, dengan cara yang jauh lebih mudah dan cepat. Di media sosial, AI bahkan menjadi alat yang membantu kreator menghasilkan konten menarik dalam waktu singkat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan baru yang tidak bisa diabaikan. Semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin sulit pula membedakan antara konten yang benar dan yang telah dimanipulasi.

    Salah satu bentuk yang paling terlihat adalah munculnya konten deepfake, yaitu manipulasi visual atau audio berbasis AI yang tampak sangat realistis. Gambar tokoh publik yang seolah melakukan sesuatu, suara yang ditiru secara digital, hingga video yang sebenarnya tidak pernah terjadi kini beredar luas di media sosial. Perkembangan AI generatif membuat konten semacam ini semakin mudah dibuat, sekaligus semakin sulit dibedakan dari yang asli. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa peningkatan kualitas konten berbasis AI membuat masyarakat semakin kesulitan membedakan antara informasi asli dan hasil manipulasi, sehingga berisiko memicu krisis kepercayaan di ruang digital.

    Masalahnya, tidak semua pengguna media sosial memiliki kemampuan untuk memverifikasi informasi tersebut. Kelompok yang kurang akrab dengan teknologi digital, seperti sebagian orang tua, menjadi lebih rentan. Banyak dari mereka menganggap bahwa apa yang terlihat nyata pasti benar-benar terjadi. Akibatnya, konten manipulatif lebih mudah dipercaya dan disebarkan ulang, misalnya dalam grup keluarga atau percakapan sehari-hari.

    Situasi ini tidak hanya berdampak pada penyebaran hoaks, tetapi juga membuka peluang kejahatan digital. Teknologi AI dapat dimanfaatkan dalam praktik penipuan, seperti meniru suara seseorang atau membuat identitas palsu untuk meyakinkan korban. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam praktik social engineering semakin meningkat karena mampu meniru pola komunikasi manusia secara lebih meyakinkan.

    Di sisi lain, perkembangan AI juga menimbulkan persoalan yang jarang disadari, yaitu dampaknya terhadap lingkungan. Sistem AI membutuhkan pusat data dengan kapasitas besar yang mengonsumsi listrik dalam jumlah tinggi serta air untuk menjaga suhu server tetap stabil. Seiring meningkatnya penggunaan AI, kebutuhan sumber daya ini tidak hanya bertambah, tetapi juga berpotensi membebani lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Dalam jangka panjang, penggunaan energi dan air dalam skala besar ini dapat memperbesar tekanan terhadap sumber daya alam dan mempercepat munculnya masalah lingkungan baru di tengah meningkatnya ketergantungan pada teknologi digital.

    Meski demikian, AI bukanlah teknologi yang sepenuhnya bermasalah. Dalam bidang pendidikan, misalnya, AI dapat membantu mahasiswa mencari referensi, merangkum materi, hingga memahami konsep yang sulit dengan lebih cepat. Namun, kemudahan ini juga berpotensi membuat pengguna menjadi terlalu bergantung dan kurang mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya sendiri.

    Di sisi lain, dalam industri kreatif, AI dimanfaatkan untuk membantu proses pembuatan desain, penulisan, hingga produksi konten digital secara lebih efisien. Akan tetapi, penggunaan AI dalam skala luas juga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait orisinalitas karya dan posisi kreator manusia yang bisa semakin terpinggirkan.

    Dengan demikian, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan teknologinya, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut digunakan dan direspons oleh manusia. Tanpa kesiapan literasi digital yang memadai, kemajuan teknologi justru dapat memperbesar risiko, mulai dari penyebaran hoaks, meningkatnya penipuan digital, hingga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi di ruang publik.

    Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi konten digital. Literasi digital menjadi kunci agar pengguna media sosial mampu membedakan informasi yang valid dan yang telah dimanipulasi. Selain itu, pengembang teknologi dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa penggunaan AI tidak disalahgunakan, misalnya dalam bentuk manipulasi informasi atau penipuan digital, serta tetap memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan.

    Pada akhirnya, persoalan AI bukan sekadar tentang kecanggihan teknologi, tetapi tentang kesiapan manusia dalam menghadapinya. Tanpa sikap kritis dan kesadaran yang memadai, kemudahan yang ditawarkan AI justru dapat berubah menjadi celah yang memperbesar kesalahan, mempercepat penyebaran informasi yang keliru, dan perlahan mengaburkan batas antara kenyataan dan rekayasa.

  • Menang ‘War’ Takjil, Menang Kebersamaan: Saat Gorengan Menjadi “Duta” Toleransi Bangsa

    Menang ‘War’ Takjil, Menang Kebersamaan: Saat Gorengan Menjadi “Duta” Toleransi Bangsa

    Oleh Olivya Permata Agustina, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

     

    Ramadhan tahun ini menyisakan satu memori kolektif yang barangkali paling unik dalam sejarah media sosial kita: ‘War Takjil’. Fenomena ini muncul bukan sebagai instruksi negara atau kampanye formal, melainkan gerakan organik yang meledak di trotoar-trotoar jalanan. Jika biasanya bulan puasa identik dengan suasana khusyuk dan eksklusif bagi umat Muslim, kemarin kita justru melihat pemandangan yang jauh lebih cair, riuh, dan—tentu saja—mengenyangkan bagi semua orang.

    ‘War Takjil’ telah mengubah persepsi kita tentang camilan sore. Ia bukan lagi sekadar rutinitas mencari pengganjal perut sebelum makan besar, melainkan sebuah arena “pertarungan” penuh kegembiraan. Di berbagai sudut kota, kita menyaksikan betapa trotoar penuh sesak oleh masyarakat yang antusias. Menariknya, kerumunan itu tidak lagi didominasi oleh mereka yang sedang berpuasa. Saudara-saudara non-muslim ternyata ikut andil, bahkan tak jarang mereka tampil lebih “agresif” dan gesit memborong gorengan atau kolak sebelum azan berkumandang.

    Meleburnya Sekat di Depan Lapak

    Awalnya, istilah ini mungkin hanya dianggap sebagai tren jenaka di linimasa. Namun, dalam hitungan hari, ia bergeser menjadi rutinitas kolektif yang berhasil meruntuhkan sekat-sekat sosial. Sebagai seorang muslim, saya merasa ada kehangatan yang berbeda saat melihat pemandangan kala itu. Di depan lapak pedagang kaki lima, identitas agama seolah menguap bersama aroma bakwan yang baru diangkat dari penggorengan.

    Interaksi yang terjadi sangat spontan: obrolan santai tentang stok tahu isi yang hampir habis atau tawa renyah saat melihat siapa yang datang lebih awal. Inilah ruang perjumpaan yang paling jujur. Kita tidak butuh seminar lintas agama untuk bicara tentang toleransi jika di depan lapak kolak pisang kita sudah bisa saling menghargai dan berbagi tawa. Fenomena ini membuktikan bahwa harmoni bangsa sering kali tidak lahir dari forum-forum formal yang kaku, melainkan dari interaksi sederhana yang manis—semanis segelas es campur.

    Pesona Universal yang Melampaui Batas

    Daya tarik ‘War Takjil’ kemarin nyatanya telah melampaui batas-batas geografis dan teologis. Kita bisa melihat bagaimana konten dari pemuda asal Prancis melalui kanal YouTube @cowokperancis yang ikut larut dalam keriuhan di Kota Bandung. Meski bukan bagian dari tradisi asal mereka, keduanya tak ragu ikut “bertempur” di tengah kemacetan demi mencicipi bakso bakar. Ini adalah bukti bahwa pengalaman sensorik—rasa, aroma, dan suasana—mampu menyatukan siapa saja ke dalam satu frekuensi kegembiraan yang sama.

    Keriuhan ini juga terekam indah di Pulau Dewata. Laporan Bali Post menunjukkan bagaimana Pasar Ramadhan Wanasari di Denpasar menjadi titik temu lintas keyakinan. Tidak hanya warga lokal, tetapi wisatawan mancanegara pun rela mengantre demi takjil. Hal ini mempertegas bahwa momen suci tersebut telah menjadi momentum ekonomi dan sosial yang inklusif. Di sini, takjil menjadi “duta” yang mengundang siapa saja untuk merayakan keberagaman tanpa rasa sungkan.

    Politik “Guyub” di Balik Gorengan

    Kanal YouTube @terusbertumbuh23 sempat menggambarkan bagaimana narasi “Muslim vs Non-muslim” dalam berburu takjil justru menjadi lelucon segar yang mempersatukan. Strategi “curi start” yang dilakukan kawan-kawan non-muslim sering kali menjadi bahan candaan hangat. Perang ini tidak menyisakan luka, melainkan perut yang kenyang dan hati yang senang.

    Tentu, ada segelintir pandangan yang mengeluhkan kemacetan atau gangguan ketertiban. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ‘War Takjil’ kemarin adalah ruang latihan toleransi paling efektif. Di sanalah kesabaran dilatih saat mengantre bersama mereka yang berbeda keyakinan. Kehadiran saudara non-muslim yang antusias sebenarnya adalah bentuk penghormatan sekaligus dukungan nyata bagi ekonomi pelaku UMKM.

    Sebagaimana dicatat dalam berbagai kajian akademis, antrean panjang tersebut telah bertransformasi menjadi ruang interaksi yang memperkuat kohesi sosial. Media sosial memainkan peran krusial dalam mengubah potensi gesekan menjadi narasi inklusivitas yang merangkul semua pihak.

    Menjaga Api Inklusivitas

    Kini, saat Idul Fitri telah berlalu dan keriuhan ‘War’ itu mereda, ada satu harapan yang tertinggal: semoga semangat inklusivitas ini tidak ikut hilang. ‘War Takjil’ seharusnya menjadi model ideal toleransi di Indonesia. Toleransi yang tidak dipaksakan, tidak kaku, dan penuh dengan kegembiraan.

    Mari kita terus merawat perbedaan ini di ruang-ruang publik lainnya. Karena sejatinya, harmoni bangsa ini dirawat bukan dengan kecurigaan, melainkan melalui keramahan sederhana yang kita temukan di sepanjang trotoar jalan saat mentari mulai tenggelam. Menang dalam ‘War Takjil’ mungkin soal siapa yang dapat gorengan terakhir, tapi menang yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa merayakan perbedaan dalam satu meja yang sama.

     

  • Antara “Persona Practica” dan “Persona Poetica”: Konstruksi Implied Author dalam Novel “Rasuk” Karya Risa Saraswati

    Antara “Persona Practica” dan “Persona Poetica”: Konstruksi Implied Author dalam Novel “Rasuk” Karya Risa Saraswati

     

    Oleh Wayan Dehabrita Devi, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Kegelapan sering kali dianggap sebagai ruang kosong yang menakutkan, namun bagi sebagian orang, ia adalah teman setia tempat menyembunyikan luka yang tak kasat mata. Bayangkan seorang gadis yang merasa kehadirannya di dunia adalah sebuah kesalahan, tumbuh dalam bayang-bayang kebencian terhadap nasib, dan mengutuk setiap garis hidup yang dianggapnya tidak adil. Inilah atmosfer yang menyengat saat kita membuka halaman pertama novel Rasuk, di mana suara penuh keputusasaan dan kecemburuan membakar emosi pembaca sejak awal.

    Novel Rasuk karya Risa Saraswati menghadirkan tokoh Langgir Janaka sebagai pusat dari segala kekacauan emosional tersebut. Dalam konteks naratologi, terdapat perbedaan mendasar antara Risa Saraswati sebagai pengarang nyata (real author) dengan sosok yang hadir di dalam teks. Mengacu pada konsep Wayne Booth, pengarang nyata sering kali “menghilang” dan digantikan oleh implied author atau persona poetica yang menginstruksikan pembaca bagaimana cara memahami dunia dalam karya tersebut. Dalam essai ini, akan ditunjukkan bahwa teks Rasuk bukanlah suara langsung dari Risa Saraswati yang kita kenal di dunia nyata, melainkan sebuah konstruksi retoris yang membentuk pengalaman horor dan trauma.

    Dalam novel Rasuk, transformasi Risa Saraswati dari pengarang nyata (real author) menjadi implied author bekerja melalui mekanisme yang sangat sistematis. Merujuk pada konsep Wayne Booth, implied author adalah “pribadi kedua” yang diciptakan pengarang untuk bertindak sebagai pemandu moral dan emosional di dalam teks. Di sini, kita melihat jarak yang lebar antara persona practica Risa (individu yang menulis) dengan persona poetica yang hadir dalam narasi.

    Pertama, Persona sebagai Suara dan Kekuasaan. Meskipun narasi menggunakan sudut pandang orang pertama (“Aku”), implied author mengendalikan cara kita memandang Langgir Janaka. Risa sebagai pengarang nyata mungkin adalah sosok yang religius atau stabil secara mental, namun implied author dalam Rasuk membangun kekuasaan naratif yang memaksa pembaca untuk “merasakan” kebencian Langgir terhadap ibunya (Ambu) dan rasa irinya terhadap sahabat-sahabatnya setelah kehilangan sosok ayah (Abah). Otoritas ini bekerja melalui pilihan kata yang sangat emosional dan destruktif, seperti “Aku benci duniaku,” yang bukan sekadar curhatan tokoh, melainkan strategi retoris untuk menciptakan atmosfer depresi yang mencekam.

    Kedua, Bahasa dan Citraan sebagai Strategi Retoris. Struktur naratif dalam Rasuk tidak hanya bercerita tentang hantu, tetapi tentang “rasuk” secara psikologis. Implied author menggunakan citraan kegelapan dan isolasi untuk menunjukkan bahwa identitas Langgir adalah konstruksi dari luka batin. Penggunaan diksi yang tajam dan sinis menunjukkan bahwa persona poetica disini sengaja mengambil posisi sebagai “minoritas yang tertindas” secara emosional. Ini adalah kecerdasan kreatif (sebagaimana disebutkan dalam materi Anda mengenai Chairil Anwar) di mana pengarang mampu mengungkapkan identitas atau perasaan yang sangat spesifik—dalam hal ini, trauma dan kecemburuan—meskipun hal itu mungkin bukan representasi langsung dari kehidupan harian sang penulis di dunia nyata.

    Ketiga, Relasi antara Pengarang Nyata dan Teks. Sama halnya dengan Chairil Anwar yang tidak perlu menginjakkan kaki di Maluku untuk menulis Cerita Buat Dien Tamaela, Risa Saraswati tidak perlu menjadi seorang pembenci keluarga untuk menulis Rasuk. Di sinilah fungsi implied author sebagai “pencipta nilai”. Teks Rasuk berdiri secara otonom sebagai sebuah dunia di mana nilai-nilainya ditentukan oleh pengarang yang tersirat. Melalui struktur horor yang dibangun, implied author memberikan pesan bahwa ketidakmampuan memaafkan masa lalu akan berujung pada kehancuran diri (rasuk). Hal ini menunjukkan bahwa narasi tersebut adalah sebuah “kesaksian” atas luka manusia yang dirancang secara sadar, bukan sekadar limpahan emosi tanpa kontrol dari pengarang nyatanya.

    Melalui analisis ini, terlihat jelas bahwa terdapat garis tegas antara persona practica (Risa sebagai individu) dan persona poetica (pengarang yang tersirat dalam Rasuk). Sastra bukan sekadar cerminan hidup pengarangnya, melainkan sebuah proses transformasi di mana pengarang nyata “menjadi” tokoh melalui strategi naratif yang cerdas. Rasuk akhirnya menjadi sebuah kesaksian bahwa kekuatan sebuah karya tidak terletak pada sejarah hidup penulisnya, melainkan pada bagaimana teks tersebut mampu mengonstruksi pengalaman manusia yang mendalam dan universal.

  • Asap yang Menyimpan Kenangan: Kuasa Cinta, Perempuan, dan Sejarah dalam Novel ”Gadis Kretek” Karya Ratih Kumala

    Asap yang Menyimpan Kenangan: Kuasa Cinta, Perempuan, dan Sejarah dalam Novel ”Gadis Kretek” Karya Ratih Kumala

    Oleh Marsiana Wisti, Mahasiswi Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Waktu sering meninggalkan jejak yang samar, seperti asap yang perlahan memudar namun tetap menyisakan aroma. Dalam setiap perjalanan manusia, ada kisah yang tak pernah ditulis, ada luka yang tak pernah diakui, dan ada cinta yang tetap berdenyut meski tak lagi bersama. Sejarah pada akhirnya bukan hanya deretan peristiwa besar yang tercatat di buku, melainkan potongan-potongan kenangan yang melekat di hati. Dari serpihan yang terlupakan itulah kita belajar bahwa identitas bangsa dan manusia dibangun bukan hanya dari kemenangan, tetapi juga dari kehilangan, keberanian, dan ingatan yang enggan hilang.

    Cerita bermula dari permintaan terakhir Idroes Moeria, seorang tokoh besar dalam industri kretek, yang menjelang ajalnya menyebut nama Dasiyah, atau Jeng Yah. Dari satu ucapan yang meluncur di ujung hidup, terbuka jalan menuju rahasia cinta, luka yang tak pernah sembuh, dan kenangan yang melekat seperti aroma tembakau di udara. Jeng Yah bukan sekadar perempuan biasa, dia adalah sosok yang berani, cerdas, dan penuh semangat, yang menolak tunduk pada batasan gender di dunia kretek yang didominasi laki-laki. Melalui tokoh Jeng Yah, Ratih Kumala menghadirkan gambaran perempuan yang melawan arus, yang berani menegakkan identitasnya di tengah tradisi yang kaku.

    Konflik utama novel ini berpusat pada hubungan antara Jeng Yah dan Idroes Moeria. Cinta mereka tumbuh dalam diam, penuh luka dan rahasia, dan akhirnya tidak pernah benar-benar menemukan jalan untuk bersatu. Namun justru di situlah kekuatan novel ini, dia menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu harus dimiliki, tetapi bisa tetap hidup dalam kenangan, dalam sejarah, bahkan dalam aroma kretek yang diwariskan lintas generasi. Seperti yang ditulis Ratih Kumala

     “Cinta itu seperti asap kretek, ia melayang, hilang di udara, tetapi aromanya tetap tertinggal.”

    Kutipan ini menegaskan bahwa cinta, meski tak berakhir dengan kebersamaan, tetap meninggalkan jejak yang abadi. Selain kisah cinta, Gadis Kretek juga mengangkat sejarah industri kretek sebagai bagian dari identitas bangsa.

    “Sejarah bukan hanya tentang bangsa, tetapi juga tentang hati yang pernah patah.”

    Kutipan diatas memperkuat kesan bahwa novel Gadis Kretek adalah refleksi personal sekaligus kolektif. Ratih Kumala seakan ingin menegaskan bahwa sejarah tidak hanya tercatat dalam arsip negara atau catatan resmi, melainkan juga dalam luka pribadi, dalam cinta yang gagal, dan dalam kenangan yang terus hidup di benak manusia.

    Selain cinta, kisah ini juga mengangkat sejarah industri kretek sebagai bagian dari identitas bangsa. Kretek bukan sekadar rokok, melainkan simbol perlawanan, simbol budaya, dan simbol kebanggaan.

     “Meracik kretek bukan hanya soal tembakau dan cengkeh, tetapi soal hati dan jiwa yang menyatu di dalamnya.”

     Kutipan diatas menegaskan bahwa tradisi bukan sekedar warisan, melainkan juga perasaan yang hidup di dalam manusia. Pada akhirnya, Gadis Kretek adalah karya yang memikat sekaligus menyentuh, mengajak kita merenungkan bahwa cinta, sejarah, dan identitas saling terkait. Ia menghadirkan narasi yang kaya akan budaya, penuh refleksi, dan menyisakan kesan mendalam. Membaca novel ini membuat kita sadar bahwa setiap aroma kretek menyimpan cerita tentang perjuangan, cinta, dan keberanian perempuan yang melawan batas zamannya.

    —————————–

     

    Referensi :

    Kumala, R. (2012). Gadis Kretek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

    Heryanto, A. (2015). Identitas dan Kenangan dalam Budaya Populer Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.