Category: OPINI

  • Kiai Berhati Gembala

    Kiai Berhati Gembala

    Oleh Ansel Deri

    PRESIDEN Joko Widodo melukiskan sejumlah hal tentang sosok Kiai Haji Salahuddin Wahid alias Gus Sholah (77). Di mata Jokowi, Gus Sholah ialah cendekiawan Muslim. Adik kandung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Gus Sholah, putra pahlawan nasional KH Wahid Hasyim, adalah tokoh panutan semua umat beragama. Tak hanya Islam tetapi juga Katolik, Protestan, Hindu, Budha maupun Konghucu di Indonesia.

    Jokowi, mantan Walikota Solo menyebut Gus Sholah akan selalu dikenang sebagai tokoh yang gigih menjaga dan merawat persatuan bangsa. Keislaman dan keindonesiaan ialah narasi yang melekat dalam hati dan pikiran Gus Sholah, cucu Hadratus Syaikh (Maha Guru) Hasyim Asyari, kemudian beralih ke hati Jokowi. Narasi tentang kasih, persahabatan, persaudaraan, dan kerjasama ini selalu disampaikan Kepala Negara kepada warga negara sesama anak bangsa dari beragam latar suku, agama, ras, dan antargolongan yang dipimpinnya.

    Jauh sebelumnya, terutama saat memimpin Kota Surakarta hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu diserukan narasi-narasi teduh di atas. Seruan Jokowi itu ditujukan bagi warga negara yang menyebar mulai dari Sabang di Nanggroe Aceh Darussalam hingga Merauke di Papua; dari Miangas di Sulawesi Utara hingga Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur yang merindukan kedamaian.

    Gus Sholah adalah segelintir dari kiai, guru bangsa, tokoh umat beragama (tak hanya umat Islam) di Indonesia. Sosok dan rekam jejaknya hadir penuh kharisma, kerendah-hatian, keiklasan, persaudaraan bagi sesama anak bangsa. Berbagai gambaran itu menjadi inspirasi bagi semua orang sekaligus meruntuhkan sekat-sekat primordial atas nama pertumbuhan dan perkembangan sosial kemasyarakatan. Sebagai seorang kiai, Gus Sholah telah menunaikan tugas dan perannya seperti juga para gembala selaku pelayan Sabda dalam kehidupan menggereja, berbangsa, dan bernegara. Mengapa?

    Imbauan Hierarki

    Mencermati jejak pengabdian selama ia masih berziarah di dunia, Gus Sholah tak sekadar seorang kiai panutan yang mengurus umat Islam melalui karya sosial kemasyarakatan. Ia juga menyampaikan atau mengajar tata hubungan manusia (umat) dengan Tuhannya (hablum minallah) dalam urusan ibadah (ubudiyah) tetap terpelihara dengan baik.

    Berikut relasi yang mengurus manusia dengan makluk lainnya (hablum minannas) dalam rupa amaliyah sosial. Hal yang juga diumpai dari peran strategis para gembala atau pemimpin Gereja dan kaum klerus dalam konteks keagamaan maupun kehidupan sosial para domba, umat Allah, selaku warga negara.

    Kerja keras Gus Sholah bagi umat Islam mewujud melalui Pesantren Tebuireng, taman pendidikan jumbo warisan sang ayah di Jombang yang sudah mendidik ribuan santri. Lulusan pesantren ini belakangan menjadi pemimpin bangsa dan negara. Kehadiran para pemimpin di semua level kepemimpinan yang lahir dari rahim pesantren di tengah dunia tak hanya dirasakan manfaatnya oleh umat Islam. Lebih dari itu, sungguh dirasakan pula umat beragama lain dalam kehidupan.

    Sebagai kiai dan ulama besar Indonesia, Gus Sholah juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan universal tentang bagaimana umat Islam menjaga relasi yang harmonis dengan Tuhan dan menjaga relasi yang akrab dengan sesama umat ciptaan-Nya. Pesan bagi umat Islam menjaga relasi dengan Tuhan dan sesama ini tentu tak hanya menjadi pedoman bagi umat Islam sendiri namun juga umat beragama lain. Sesuatu yang juga ditemui dari ajaran dan nasehat pimpinan Gereja Katolik secara hierarki.

    Menurut Sekretaris Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Guido Suprapto Pr dalam Kerasulan Politik: Panggilan dan Perutusan Umat Katolik (2013), Gereja Katolik dalam diri kaum awamnya dipanggil dan diutus terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan politik.

    Panggilan dan perutusan yang paling relevan saat ini adalah mendorong pembangunan politik dan tata dunia yang baik, beradab, dan bermoral. Menjadikan politik yang melayani masyarakat dengan hati, kejujuran dan tanpa pamrih. Bidang sosial politik dapat menjadi tempat merasul bagi kaum awam yakni membangun tatanan dan kiprah politik yang bermoral demi terwujudnya kebaikan bersama (bonum commune).

    Komitmen Agama

    Tentang komitmen institusi agama (Islam) para kiai sekelas Gus Sholah atau pemimpin agama-agama lain di Indonesia, kita bisa menyimak kembali catatan Tasirun Sulaiman merujuk pemikiran KH Hasyim Muzadi dalam KH A Hasyim Muzadi: Sang Peace Maker (2017), terkait Islam sebagai agama dengan populasi pengikut paling besar di Indonesia dan dunia.

    Entitas Islam, demikian kiai Hasyim Muzadi, sebagai rahmatan lil’alamin (rahmat bagi semesta) mengakui eksistensi pluralitas keberagaman, karena Islam memandang pluralitas keberagaman itu sebagai sunnatullah, yaitu fungsi pengujian Allah kepada manusia, fakta sosial, rekayasa (social engineering), dan kemajuan umat manusia. Pluralitas sebagai sunnatullah diabadikan dalam Al-Qu’ran, antara lain dalam surat Ar-Rum ayat 22 dan Al-Hujurat ayat 13. Ayat-ayat itu menempatkan kemajemukan sebagai syarat determinan (conditio sine qua non) dalam penciptaan makhluk.

    Dalam diri Gus Dur pun tak jauh berbeda. Perhatian dan komitmen memperjuangkan persoalan-persoalan yang dihadapi umat yang notabene warga negara tak diragukan. Mereka mengabdi umat hingga ajal menjemput; yang juga ditemui dalam sosok kiai seperti Gus Sholah dan Ahmad Muzadi hingga para pemimpin agama-agama di luar Islam seperti para klerus, gembala di lingkup Gereja. Gus Dur, misalnya, ia punya kelebihan, bertutur dengan cerdas, cerdik bahkan kocak yang selalu membuat setiap orang merasa terhibur.

    Tokoh pers Jakob Oetama dalam Gus Dur Menjawab Kegelisaan Rakyat (2007) mengungkapkan bagaimana Gus Dur mengangkat persoalan-persoalan yang menggerakkan perhatian banyak orang karena memang aktual dipermasalahkan dan dirasakan. Pandangan dan pendapat Gus Dur cenderung mencerminkan sikap dasarnya, seperti Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia yang Pancasila, Indonesia yang beragama, Indonesia yang berperikemanusiaan, yang berkeadilan sosial serta demokratis.

    Bagi saya, baik Gus Dur, Gus Sholah, kiai Muzadi, para pemimpin agama lain ibarat obor di tengah kelam. Gus Sholah, juga tak lebih seperti seorang “gembala” dalam terminologi Gereja. Selama hidup ia (Gus Sholah) bertaruh hati, tenaga, dan pikiran “menggembalakan” seluruh umat atau kawanan domba-Nya agar berjalan dengan panduan nilai-nilai agama dan kemanusiaan universal untuk kemaslahatan bersama.

    Gus Sholah juga ambil bagian dalam karya kemanusiaan universal agar dunia diliputi damai dan suka-cita melalui –salah satunya– Tebuireng, pesantren warisan sang kakek, Hasyim Asyari. Namun Gus Sholah tak lagi memendam rindu memenuhi panggilan Sang Sabda, Minggu, (2/2 2020) malam. Detak jantungnya berhenti di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

    Ia kembali ke Tebuireng via bandara Halim Perdanakusuma setelah berpulang. Selamat jalan, Gus Sholah. Selamat jalan, kiai berhati gembala. Teladan, semangat, dan cintamu kepada sesama adalah warisan berharga yang tak akan mati dalam sanubari setiap anak bangsa.

    Ansel Deri,  Staf Viktor Laiskodat di DPR RI, 2014-2017

    Sumber: Victory News, Kamis, 13 Februari 2020

  • Potret Ketenagakerjaan di Nusa Tenggara Timur

    Potret Ketenagakerjaan di Nusa Tenggara Timur

                                          

    Oleh  Helena Beraf

    Ketenagakerjaan  di NTT kini jadi perdebatan panjang dan seolah menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua. Berbicara soal ketenagakerjaan tentunya tidak bisa dipisahkan dengan sumber daya manusia. Jika dilihat dari karakteristik lapangan kerja yang dualistik (formal maupun informal) menunjukan tingkat pengangguran yang sangat tinggi juga kualitas tenaga kerja yang rendah.

    Kualitas tenaga kerja dicerminkan oleh tingkat pendidikan dan ketrampilan yang dimiliki seseorang. Kualitas yang tinggi jika dipadukan dengan penggunaan teknologi yang sesuai akan mengarah pada produktivitas yang tinggi pula. Dalam pasar tenaga kerja di NTT sendiri, tingkat partisipasi angkatan kerja tidak cukup tinggi dan berfluktuasi.

    Pengangguran terjadi disebabkan antara lain karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja serta kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Keadaan yang demikian menyebabkan banyak penduduk NTT memilih untuk bekerja di sektor informal dibandingkan sektor formal. Kondisi rendahnya tingkat pendidikan dan keahlian angkatan kerja ini berpengaruh terhadap lambatnya penyerapan tenaga kerja dari Sektor pertanian, kehutanan, perkebunan dan perikanan ke sektor-sektor lainnya. Sebagian besar tenaga kerja yang terserap hanya merupakan tenaga kerja informal dengan keahlian yang rendah.

    Upaya pemerintah dan masyarakat sudah banyak dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Namun belum dapat menekan tingginya tingkat pengangguran. Rendahnya kualitas tenaga kerja masih menjadi hal penting yang harus dibenahi. Keadaan ketidaksesuaian antara kualifikasi pencari kerja dengan kualifikasi yang dibutuhkan penyedia kerja dan rendahnya keahlian akan berdampak pada lambannya peningkatan produktivitas kerja. Perusahaan mempunyai tujuan optimalisasi produksi sedangkan tenaga kerjanya tidak dapat mendukung kebijakan perusahaan menyebabkan perusahaan tidak dapat mengembangkan dirinya.

    Pemerintah misalnya, perlu memberikan investasi di bidang pendidikan dan pelatihan guna peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Pemerintah harus lebih menekankan pencapaian di bidang pendidikan formal, sebab pendidikan dan pelatihan akan meningkatkan keterampilan pekerja, sehingga dapat meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan pula pendapatan pekerja.

    Banyak hasil penelitian yang menunjukkan hubungan korelasi yang positif antara tingkat pendidikan dengan produktivitas kerja. Melalui data dari BPS menunjukkan ada hubungan yang positif antara tingkat pendidikan pekerja dengan produktivitas yang dihasilkannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula produktivitasnya.

    Selain peningkatan pendidikan dan keterampilan, pemberian kesempatan kerja juga perlu dilakukan agar pekerja dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam bekerja. Dengan kesempatan kerja yang terbuka luas, seseorang dapat menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya secara maksimal. Dengan demikian, rasa percaya diri dengan sendirinya akan tumbuh karena pengalaman kerja tersebut. Semakin tinggi pengalaman kerja maka tingkat keahliannya pun semakin baik. Dan pada akhirnya, meningkatkan produktivitas kerja.

    TKW asal NTT

    Kondisi ketenagakerjaan di NTT masih sangat memprihatinkan, dilihat dari tingginya tingkat pengangguran karena ketidaksesuaian tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan perusahaan dan rendahnya upah akibat minimnya produktivitas.

    Pendidikan dan keterampilan merupakan human capital dalam pasar kerja, oleh karena itu tenaga kerja di NTT perlu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan. Selain pendidikan dan keterampilan, produktivitas tenaga kerja juga didukung oleh tingkat gizi dan kesehatan, serta etos kerja. Dan secara teori di NTT sudah menyalahi aturan yaitu salah satunya mereka mempunyai pekerja dibawah umur padahal anak – anak dibawah umur itu seharusnya dibekali oleh ilmu pengetahuan dan keterampilan. Terbatasnya kesempatan kerja membuat belum tertampungnya seluruh pencari kerja yang ada, baik yang baru menyelesaikan pendidikan, pengangguran dan yang ingin bekerja kembali.


    Adapun rendahnya kualitas angkatan kerja terlihat dari sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada 2014 di mana tenaga kerja yang pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar masih dominan mencapai mencapai 46,9%. Berdasarkan pengalaman yang ditemui banyak tenaga kerja yang sekolah setinggi mungkin namun begitu tamat tidak bekerja dan pada akhirnya bekerja apa saja.

     Faktor Ekonomi sebagai Imbas  dari Masalah Ketenagakerjaan

    Dari penjabaran di atas dapat ditarik benang merah antara ketenagakerjaan dan perihal ekonomi. Karena keterbatasan sumber daya manusia sehingga orang sulit mendapatkan pekerjaan, ditambah lagi dengan sempitnya lapangan pekerjaan jika dibadingkan dengan pencari kerja. Ini berimbas pada kondisi ekonomi yang buruk. Sementara kebutuhan sehari hari terus bertambah dan mengharuskan seorang kepala keluarga harus bekerja. Dalam kondisi seperti ini tak jarang iming – iming bekerja di luar negeri dengan gaji yang besar dapat menjadi solusi.

    Hal ini sangat irasional karena orang cenderung memilih pekerjaan yang kurang produktif dan tanpa perlindungan sosial dibandingkan dengan pekerjaan yang produktif dan dengan jaminan sosial yang memadai. Hingga tak jarang kita dengar banyak tenaga kerja Indonesia yang disiksa di luar negeri. Terakhir kita menjemput TKI asal NTT yang diduga menjadi korban Human Trafficking. Ini jelas karena tingkat penegetahuan yang masih sangat rendah ditambah beban dan kebutuhan hidup yang mau tidak mau harus dipenuhi.

    Naasnya adalah banyak calon TKI asal NTT yang nekat bekerja di luar negeri tanpa mengikuti alur secara prosedural karena terdesak oleh keadaan ekonomi. Meskipun ada variable-variable penyertanya seperti iming-iming mendapatkan uang dolar. Orang desa mana pernah lihat uang dolar. Inilah yang mendorong mereka nekat tanpa memperdulikan resiko yang akan diterima selama bekerja di luar negeri secara illegal. Karena itu pemerintah perlu bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama untuk memberikan pemahaman mengenai menjadi TKI dan tidak boleh tergiur dengan iming-iming para calo TKI yang memberikan janji janji manis tetapi setelah itu dibiarkan untuk menanggung resiko sendiri jika sudah terkena razia atau mengalami penyiksaan yang kejam oleh majikan seperti kisah kisah pilu yang akhir akhir ini sering kita dengar.

    Inilah relitanya. Potret kasus Human Trafficking di NTT sungguh gawat. Berdasarkan laporan BP3TKI kupang menyajikan berita yang memilukan semua rakyat NTT. Putra  putri daerag silih berganti menempati list kematian TKI/TKW di negeri orang. Dalam bulan pertama di tahun 2018 sudah terdapat 9 jenasah TKI asal NTT  yang dipulangkan dari luar negeri. Masih ingat dengan Angelina Sau? Gadis kelahiran Oenino, Timor Tengah Selatan yang disiksa oleh majikan. Yah., singkat kata pergi dengan pesawat, pulang dengan peti.Berbicara soal NTT dengan kompleksitas persoalan membuat masyarakat NTT harus menggandeng sterotipe yang sangat beragam. Ada yang mengatakan NTT: Nasib Tergantung Tetangga, Nasib Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong. Setiap predikat ini disematkan ketika berkaca pada persoalan yang melilit masyarakat NTT. Kemiskinan, korupsi, Human Trafficking, degradasi moral dan lain sebagainya. Ini menjadi sebuah fenomena baru bagi Provinsi NTT yang kini memasuki usia 58 tahun.

    Kasus Human Trafficking diamini disebabkan oleh berbagai macam faktor dan kondisi serta persoalan yang berbeda-beda. Tetapi dapat disimpulkan beberapa faktor, antara lain: Pertama,  kurangnya kesadaran ketika mencari pekerjaan dengan tidak mengetahui bahaya trafficking dan cara-cara yang dipakai untuk menipu atau menjebak korban. Kedua, kemiskinan telah memaksa banyak orang untuk mencari pekerjaan ke mana saja, tanpa melihat risiko dari pekerjaan tersebut. Ketiga, kultur/budaya yang menempatkan posisi perempuan yang lemah dan juga posisi anak yang harus menuruti kehendak orang tua dan juga perkawinan dini, diyakini menjadi salah satu pemicu trafficking. Biasanya korban terpaksa harus pergi mencari pekerjaan sampai ke luar negeri atau ke luar daerah, karena tuntutan keluarga atau orangtua. Keempat, lemahnya pencatatan /dokumentasi kelahiran anak atau penduduk sehingga sangat mudah untuk memalsukan data identitas. Kelima, lemahnya oknum-oknum aparat penegak hukum dan pihak-pihak terkait dalam melakukan pengawalan terhadap indikasi kasus-kasus trafficking.

    Terlepas dari batas wilayah. NTT secara potensial yang ada tidaklah pantas diurutkan sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Sebut saja potensi pertanian sebagai basis ekonomi dengan potensi lahan basah 127.271 ha, potensi lahan kering 1.528.306 ha, padang untuk usaha peternakan seluas 1.939.801 ha. Perarian laut yang diperkirakan seluas 200.00 km2 (80,86%) dari luas wilayah yang memiliki sumber daya hayati laut multi spesies dengan potensi 240.000 ton/tahun belum termaksud nener 680.000.000 ekor/tahun. Potensi wisata diantarnya danau Kelimutu, kawasan wisata Komodo, wisata bahari dan wisata budaya yang tidak bisa disebutkan satu per satu, juga potensi tambang antaranya marmer, beji besi, batu aji, dan potensi tambang lainnya. Ini belum dikalkulasi dengan modal sosial budaya yang berlimpah di Flobamora ini (Isiodorus Lilijawa:267-268).

    Kembali lagi, bahwa soal pendidikan dan pelatihan adalah solusi terbaik untuk menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dengan  SDM yang handal di bidangnya. Masyarakat pesisir perlu dibekali dengan pengetahuan tentang perairan, masyarakat pegungungan perlu dibekali dengan latihan berkebun, bercocok tanam dan beternak, dan sedapat mungkin megusahakan segala aspek yang menunjang itu.

    Pariwisata Berbasis Lokal Menjaring Tenaga Kerja dan Percepatan Ekonomi?

    Seperti yang diuraikan di atas. Sejarah geografis NTT memiliki sektor pariwisata yang tidak bisa dilihat sebelah mata. Sebut saja danau K elimutu, Taman Komodo, pantai Lasiana, pulau Padar, air terjun Oehala, pantai Nembrala, sawah Lodok, pulau Ruing, dan juga tradisi penagkapan ikan Paus Lamalera.

    Penangkapan Ikan Paus di Lamalera

    Untuk menunjang pariwisata, pemerintah perlu membenahi banyak hal seperti akses ke tempat wisata dan juga pemugaran pada objek – objek wisata yang sudah mulai terkikis zaman. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari peran masyarakat setempat. Masyarakat setempat haruslah menjadi pelaku pariwisata karena mereka lebih mengenal tempat dan juga budaya. Wisata penangkapan ikan Paus desa Lamalera, misalnya adalah sebuah objek wisata yang ramai dikunjungi. Tak hanya memiliki keunikan cara penangkapan ikan hanya dengan peledang (perahu yang dipakai oleh nelayan Lamalera untuk menangkap ikan Paus) tetapi lebih dari itu ada budaya dan historis juga agama di dalamnya. Hal ini yang menjadi ciri khas tersendiri yang menarik minat wisatawan untuk datang. Dan ini harus diceritakan atau dipromosikan keluar tidak hanya oleh pemerintah tapi juga masyarakat.

    Salah satu obyek parawisata NTT, Labuan Bajo

    Tentu banyak sekali objek wisata bisa dipakai untuk percepatan ekonomi kita. Pemerintah akhir akhir ini mencanagkan banyak sekali program pariwista. Ini tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat NTT. Bagaimana tidak NTT semakin dikenal di luar, karena alamnya yang masih perawan dan juga  budaya adat istiadat serta kondisi sosial kultur yang unik, ini tidak hanya isapan jempol belaka. Masyarakat pun harus tanggap dengan program yang dicanangkan pemerintah. Masyarakat dituntut untuk kreatif dalam hal ini adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat .Secara tidak langsung bahwa pendidikan dan pelatihan kepariwisataan lokal perlu diberikan pada masyarakat setempat.

    Danau Kelimutu, Ende, Flores

    Dengan keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata diharapkan dapat mengikis perlahan angka pengangguran dan juga memperbaiki ekonomi masyarakat akar rumput sehingga sejahtera mulai dari bawah untuk kokoh ke atas.

    Helena Beraf,  Peminat Sastra, Penulis Opini, sedang menyelesaiakn studi kebidanan di Jakarta

  • MARK HANUSZ dan PRAMOEDYA ANANTA TOER

    MARK HANUSZ dan PRAMOEDYA ANANTA TOER

    Oleh Mohamad Sobary

    Kretek, however, is more than simply an exotic

    cigarette and economic phenomenon, it is an

    integral part of Indonesia’s cultural tradition.”

                                                             (Mark Hanusz)

    Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer dua sosok pribadi; yang satu hidup di dunia kemegahan uang, dan yang satu lagi seniman besar yang hidup di dunia ide. Usaha untuk membuat keduanya bertemu tampaknya merupakan sesuatu yang mustahil.

    Jika kita hanya melihatnya sepintas lalu, akan segera jelas bahwa Mark, seorang bankir, dan Pram, sastrawan terkemuka, niscaya tidak bakal cocok satu dengan lainnya. Keduanya mungkin memang tidak bisa bertemu secara hangat untuk berbicara tentang hidup.

    Mark Hanusz

    Seorang bankir kerjanya ‘membuat uang’, sastrawan bekerja di bidang nilai-nilai, dalam worldview, dalam sikap dan tingkah laku manusia maupun dalam renungan filsafat tentang keadialan, kemanusiaan dan estetika yang sangat jauh dari bank dan uang. Di bank, uang paling berharga.

    Bank itu rumah uang. Di dalamnya hanya ada uang dan uang. Manusia ada untuk melipatgandakannya. Sekali lagi, di bank, uanglah yang paling berharga dan paling dimuliakan oleh manusia.

    Dunia Pram tidak ada hubungannya dengan bank. Mungkin Pram mengutuk bank dalam keadaan darurat sedang membutuhkan uang, tapi bank tidak begitu tertarik untuk memberinya pinjaman yang mengandung tuntutan kekeluargaan dan menimbang rasa kemanusiaan.

    Kemanusiaan yang adil dan beradab boleh diteriakan seribu kali dalam hanya satu jam, tetapi boleh jadi bank tak tergiur untuk mendengarkannya. Dalam kamus dunia perbankan, kata kemanusiaan tidak ada. Rumah uang, ya rumah uang. Dia bukan rumah kemanusiaan.

    Kita tahu, bank bekerja dengan mekanisme bisnis yang serba ketat, jauh dari apa yang namanya filsafat keadilan, kemanusiaan, mapun keindahan. Namun Mark melepas semua atribut yang ada pada dirinya. Kemudian ia tampil sebagai peneliti yang berkutat dengan wawancara, melakukan pengamatan secara jeli dan menginterpretasi suatu fenomena sebagai bagian dari data yang dihimpunnya. Ia pun berbicara tentang tembakau, tentang produk olahannya, dan aroma cengkeh yang semerbak – ada hangat ada pedas – dan menghubungkannya dengan warisan kebudayaan Indonesia. Dari situ, pelan-pelan Mark dan Pram tersambung oleh semangat dan jiwa penulis.

    Ketika pembicaraan jauh dari urusan uang – sesuatu yang asing baginya – Pram akan bisa melayaninya semalam suntuk. Lebih-lebih kalau Mark membawakannya oleh-oleh berupa beberapa bungkus kretek kesukannya.

    Kita sedang berbicara tentang Mark yang menulis buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes, buku terbaik di bidang tersebut hingga saat ini. Majalah Time menyanjungnya dengan ungkapan bahwa Mark menampilkan uraian hingga ke tingkat detail dan teliti mengenai industri yang sudah berusia 120 tahun itu, didukung oleh ilustrasi yang so beautiful, so interesting.

    Buku KRETEK: THE CULTURE AND HERITAGE OF INDONESIA’S CLOVE CIGARETTES, Karya Mark Hanusz

    Patut ditambahkan pula disini bahwa hingga hari ini buku Mark tadi belum ada tandingannya. Karya yang setara saja belum ada. Apalagi yang membandingi kesungguhannya.

    Apa yang dianggap penting dari tulisan Mark menurut kalangan muda yang bergerak dalam komunitas-komunitas pembela tembakau? Mungkin ini: kretek bukan hanya sekedar rokok yang bersifat eksotis maupun fenomena ekonomi belaka. Baginya, kretek merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia, sebagaimana dikutip di awal tulisan ini.

    Kretek merupakan bagian dari keluhuran budaya Indonesia. Inilah pesona Indonesia, atau pesona dari Timur, kehangatan dan aroma wangi cengkeh, yang membuat bangsa-bangsa Barat berdatangan, berkelahi, baku bunuh di sini, dan kemudian pelan-pelan menaklukan kita. Abad ke-16 adalah abad yang ditandai dengan modernitas, kemajuan dan pencerahan. Tapi apa yang maju di Eropa, kata Pram dalam novelnya Bumi Manusia, hanya berlaku di Eropa. Orang-orang yang hidup berkemajuan itu tak memberi kita perlakuan dengan rasa hormat.

    Dalam diskusi seperti ini, Mark dan Pram jelas satu semangat satu jiwa, ibaratnya takkan terpisahkan satu dari yang lain. Dalam buku Mark itu ditulis: “With a foreword by Pramoedya Ananta Toer”. Terbit tahun 2003, ketika nama Pram sudah melejit setinggi langit. Namanya terukir megah di tingkat dunia.

    Dalam buku Mark itu Pram berbicara tentang masa kecilnya, tentang kretek, dan pasar malam. Usianya masih 13 tahun,  ketika ayahnya menganggap Pram bodoh dan tak boleh meneruskan sekolah. Maka Pram membuka warung kretek. Dengan kata lain, Pram dihukum ayahnya, lalu berjualan kretek. Persis seperti Roro Mendut yang dikenai hukuman Tumenggung Wiroguno dari Mataram, dan kemudian membuka warung rokok yang menjadi bisnis sukses.

    Selama setahun itu Pram meraih sukses pula. Kita tidak tahu darimana darah bisnis yang mengalir di tubuhnya. Dia melayani para pelanggan, termasuk pamnnya sendiri, yang membeli kreteknya dengan cara kredit. Harga kretek dibayar pelan-pelan di kemudian hari. Ini potret ekonomi rakyat yang sangat tulen.

    Hukumnya bukan bisnis adalah bisnis. Juga bukan ungkapan bahwa bisnis tak mengenal saudara. Namun bisnis itu tolong-menolong. Semangat itu terbukti membuat dia sukses. Namun anak adalah anak. Sambil berlatih bisnis, Pram juga bermain gambar, atau disebut ‘adu gambar’, seperti layknya mainan anak-anak yang baru tumbuh.

    Pramoedya Ananta Toer

    Tak diragukan, dia sendiri perokok berat, sampai akhir hayatnya, dalam usia sekitar 86 tahun, kegemaran merokok tak dihentikannya. Dia mengetik sambil merokok. Ke belakang pun merokok. Juga ketika duduk tenang sambil mengembangkan ispirasi untuk menulis. Pram dan rokok adalah dua entitas yang menjadi satu dan saling mendukung.

    Mark menulis buku kretek dan memberinya sanjungan yang melambung ke dunia ide, tentang budaya Indonesia. Pram merokok untuk menanti datangnya inspirasi dan mengejar ide.

                                                ***

    *Mohamad Sobary, budayawan, penulis beberapa buku diantaranya: Semar Gugat di Temanggung, Makamkan Dirimu di Tanah Tak Dikenal, Kidung, Kisah Karna dan Dendam Kita, Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer, Kang Sejo Melihat Tuhan, Demokrasi ala Tukang Copet, Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung.

    *Sumber Tulisan buku Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer, Mohamad Sobary, Kepustakaan Populer Gramedia, 2016.

  • Politik sebagai Media Pelayanan

    Politik sebagai Media Pelayanan

    Oleh Ansel Deri

    PEKAN lalu sebanyak 25 calon anggota DPRD Dogiyai terpilih dilantik secara resmi oleh Ketua Pengadilan Negeri Nabire Ernest Jannes Ulaen. Pelantikan tersebut sesuai Surat Keputusan Gubernur Papua Nomor 155.2/407 tahun 2029 tentang Peresmian Keanggotaan DPRD Dogiyai periode 2019-2024. Prosesi pelantikan berlangsung semarak dalam acara bertajuk, Pengambilan Sumpah dan Janji Anggota DPRD Dogiyai di Aula Maranatha Malompo, Nabire, Kamis (23/1 2020). Para wakil rakyat ini akan mengemban tugas kurun waktu 2019-2024 memajukan rakyat dan tanah Dogiyai.

    Pelantikan ini membawa harapan pemerintah dan warga masyarakat setelah sekian lama Dogiyai vakum tak memiliki DPRD sebagai insitusi formal rakyat dalam ikut merencanakan arah kebijakan (politik) pembangunan bersama Bupati-Wakil Bupati beserta eksekutif. Anggota DPRD terlantik yang merupakan perpanjangan tangan partai secara kelembagaan di DPRD setempat dituntut pula tanggungjawab politik mereka bersama pemerintah dan rakyat memajukan daerah agar lebih sejahtera, aman, dan damai sesuai visi-misi ‘Dogiyai Bahagia’ Bupati Yakobus Dumupa-Wakil Bupati Oscar Makai. Ketua DPRD Yeskel Anou bersama rekan-rekannya akan bergandengan tangan bersama pemerintah dan masyarakat, dituntut bekerja keras memajukan daerahnya.

    Bupati Yakobus atas nama masyarakat dan pemerintah menyampaikan selamat kepada para anggota DPRD yang baru saja dilantik. Ungkapan Bupati Dumupa, hemat saya menarik. Ia menyebutnya dalam frasa, “Selamat menjadi pejabat Negara dan pelayan rakyat Kabupaten Dogiyai”. Pelayan rakyat mengandaikan wakil rakyat adalah “anak buah” dari “bos” bernama rakyat. Wakil rakyat adalah pengemban mandat politik, penerus suara kaum tak bersuara (voice of voiceless) sehingga wakil rakyat perlu terus-menerus diawasi agar mereka setia menyadari esensi politik sebagai  media pelayanan, kerasulan politik. Mengapa Bupati Dumupa perlu mengemukakan term “pelayan rakyat” bagi para wakil rakyat yang baru dilantik dalam konteks pembangunan Dogiyai?

    Esensi Politik

    Proses pelantikan anggota DPRD Dogiyai tentu memiliki makna strategis. Tentu tak sebatas dalam pemahaman tiga tugas dan fungsi wakil rakyat yaitu legislasi, anggaran (budgetting), dan pengawasan (controlling) dalam setiap kebijakan (politik) pembangunan. Namun, lebih dari itu, para wakil rakyat (semisal Dogiyai) yang merupakan perpanjangan tangan partai politik perlu memahami arti dan makna esensial politik yang bermuara pada kepentingan dan kebaikan  rakyat (bonum commune).

    Peneliti Veri Junaidi dkk (2011) menyebutkan, jauh sebelum merdeka Indonesia sudah mengenal partai politik. Pada zaman kolonial, para tokoh pergerakan menggunakan partai sebagai alat atau sarana perjuangan politik. Karena itu, Wakil Presiden Mohamad Hatta mengeluarkan Maklumat X pada Oktober 1945, partai-partai politik yang sempat tiarap pada zaman Jepang, bangkit kembali. Perang kurun waktu 1945-1949 tak menyurutkan konsolidasi masing-masing partai politik sehingga tatkala masa perang berakhir, melalui para kadernya partai siap berkompetisi merebut dukungan politik melalui Pemilu untuk menjadi –meminjam istilah Bupati Yakobus Dumupa– pelayan rakyat.

    Foto Buku SAKRAMEN POLITIK, Karya Eddy Kristiyanto

    Dalam Sakramen Politik (Lamalera, 2008), Eddy Kristiyanto, guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta memandang perlu agar setiap politisi memahami makna dan esensi politik. Bukan dalam artian sempit, stricto sensu melainkan dalam arti luas, largo sensu yakni arti utama dan sesungguhnya dari politik.

    “Jiwa” politik dan memoria itu paling jelas terbaca bukan pada tataran wacana (discourse), bukan tingkat verbal dan kognitif, melainkan pada kemungkinan yang diciptakan oleh masing-masing pribadi dalam kebersamaan untuk menjadi semakin manusiawi (human), seraya hidup dalam suatu lingkungan yang ramah (hospitable) terhadap sesama, di mana keadilan, bela rasa penuh cinta (compassion), dan pemeliharaan hidup diutamakan.

    Maka dari itu pembicaraan tentang politik dan memoria menyangkut harkat hidup kita semua sebagai manusia. Inilah salah satu makna terdalam manusia di hadapan Hyang Widi. Kiranya, Ia tidak pertama-tama melihat agama, ras, golongan etnis, tingkatan sosial apa yang melatarbelakangi kita, melainkan “apa nilai manusia“ di hadapan-Nya. Semua hal kemudian menjadi sangat relatif jika diperhadapkan pada Sang Absolut Sejati.

    Pekerjaan Berat

    Sebanyak 25 orang yang baru dilantik guna mengemban mandat sebagai wakil rakyat di DPRD Dogiyai, orang-orang pilihan yang datang dari honai rakyat sendiri. Mereka juga tentu tahu anatomi Dogiyai sebagai sebuah daerah otonom 12 tahun lalu.  Komplet dengan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan tantangan yang sudah dan tengah dihadapi oleh Bupati, Wakil Bupati dan jajaran pemerintah serta masyarakat.

    Foto: Moanemani – Ibu Kota Kabupaten Dogiyai

    Sekadar mengingatkan kembali. Dogiyai adalah sebuah kabupaten yang dari segi usia masih tergolong muda. Tahun 2008, Dogiyai mekar bersama 16 daerah otonom baru lainnya di seluruh tanah Papua. Luas wilayahnya sebesar 4.237,4 km persegi meliputi sepuluh distrik (kecamatan) dan 79 kampung (desa). Sebagai kabupaten dengan wilayah yang sangat luas, Dogiyai menyimpan beragam potensi unggulan di sektor pertanian dan peternakan, Luas areal tanaman perkebunan tahun 2016, misalnya, sebesar 253 hektar dengan produksi sebesar 2.464 ton.

    Meski demikian, menurut Yakobus Dumupa dalam Desa Kuat Negara Berdaulat (2019), secara umum kehidupan masyarakat masih dibayangi kemiskinan dominan. Rumah sebagian besar warga sangat sederhana, tidak dilengkapi dengan sanitasi dan akses air bersih untuk konsumsi atau kebutuhan lain. Banyak keluarga tidak memiliki jamban (WC) yang layatk dan sehat. Kebutuhan air untuk mandi dan cuci masih mengandalkan sungai atau kali.

    Di kampung-kampung yang jauh dari sungai, penduduk mengandalkan air hujan yang mereka tampung. Setidaknya ada 50 kampung yang sulit mengakses air bersih. Di beberapa kampung —tidak lebih dari 15 kampung— pemerintah sudah membangun instalasi air bersih untuk umum. Biasanya masyarakat mengambil air di pancuran yang bersumber dari mata air untuk kebutuhan sehari-hari dan mencuci busana.

    Gambaran sekilas Dogiyai dengan potensi dan tantangan yang melingkupnya di atas menuntut kerja politik para wakil rakyat bersama eksekutif dan masyarakat berpijak pada esensi dan makna politik paling hakiki yaitu media pelayanan. Menjadikan politik sebagai media pelayanan adalah sesuatu yang dirindukan rakyat tatkala mereka disambangi di musim kampanye. Nah, pascapelantikan anggota DPRD Dogiyai di Aula Maranatha Malompo, Nabire, pekan lalu ada asa yang tengah dirindukan rakyat di tangan 25 orang wakilnya bersama Bupati Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oscar Makai bersama para pemangku kepentingan lokal menggapai Dogiyai Bahagia. 

    Anse Deri, Sekretaris Papua Circle Institute

    Sumber: Papua Pos Nabire, 31 Januari 2020

  • Keajaiban Kasih Sayang

    Keajaiban Kasih Sayang

    Oleh Gede Prama *

    Dunia yang semakin rumit. Ini potret zaman ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhasil membuat komplesitas permasalahan di segala bidang menurun. Sebaliknya di segala bidang muncul kerumitan-kerumitan yang semakin rumit. Di tengah kelangkaan jalan keluar, biasanya manusia menunggu datangnya keajaiban. Kebanyakan manusia mengira, keajaiban datang dari langit, lupa bahwa keajaiban yang paling ajaib datang dari dalam hati, muncul dalam keseharian yang penuh kasih sayang.

    Kesembuhan

    Keajaiban kasih sayang yang pertama, muncul dalam bentuk kesembuhan. Dulunya, kasih sayang menyembuhkan hanya cerita di dunia spiritual. Sekarang, berlimpah riset yang mendukung penemuan ini. Salah satu riset yang paling sering dikutip dalam hal ini, adalah dua kelompok mahasiswa yang diminta menonton dua film berbeda. Kedua kelompok mahasiswa ini diambil air liurnya sebelum dan sesudah menonton film untuk untuk melihat kekebalan tubuh mereka. Hasilnya sangat menyentuh, kelompok mahasiswa yang menonton film Bunda Teresa kekebalan tubuhnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang menonton film biasa.

    Sejumlah yogi Tibet dimasukan ke dalam mesin MRI, kemudian diminta memeditasikan kasih sayang. Hasilnya terang sekali, gerakan neural di bagian otak tempat berfungsinya kesembuhan menaik drastis sekali. Seorang sahabat dekat yang ceritanya bisa dipercaya sepenuhnya menggunakan tubuhnya sendiri untuk mengecek kebenaran bahwa kasih sayang dapat menyembuhkan. Tatkala melakukan meditasi pribadi, sore harinya memberikan kesempatan kepada banyak sekali nyamuk-sebagian nyamuknya berwarna hitam putih yang kerap disebut sebagai sumber penyakit demam berdarah-untuk meminum darahnya. Tentu saja dilakukan dengan spirit kasih sayang mendalam. Akibatnya tubuhnya tentu saja merah di sana-sini. Tapi setelah bertahun-tahun, tidak ada  tanda-tanda ia terkena penyakit demam berdarah.

    Daftar contoh dan bukti bisa diperpanjang tentu saja. Tapi di tengah mahalnya harga obat, tidak terjangkaunya biaya rumah sakit, tidak tersentuhnya masyarakat miskin oleh bantuan pemerintah, layak kita renungkan melindungi kesehatan tubuh dengan kasih sayang mendalam.

    Kedamaian  

    Keajaiban kasih sayang yang kedua, ia sangat mendamaikan. Salah satu Guru yang meditasinya damai sekali bernama Ramana Maharshi. Berkali-kali muridnya menemukan, di dekat beliau, meditasi atau mengajar, tidak saja manusia damai, bahkan binatang liar seperti ularpun damai. Nelson Mandela adalah contoh lain. Beliau tidak saja dirasakan damai oleh sahabat dan keluarga, tapi juga terasa damai di hati musuh-musuhnya. Jalalludin Rumi adalah salah satu tokoh sufi yang damai sekali. Vibrasi kedamainnya bahkan dirasakan jauh di luar komunitas muslim, melampaui waktu hidupnya di abad empat belas. Ketiga tokoh ini memang lahir dari agama yang berbeda. Tetapi ketiganya memiliki satu kesamaan, yakni hati yang penuh dengan kasih sayang.

    Salah satu logika yang bisa menjelaskan hal ini adalah cerita ketika dua orang bertemu anjing. Orang pertama damai sekaligus penuh kasih sayang. Orang kedua adalah orang biasa. Setelah lewat di depan anjing, hanya orang kedua yang digonggong anjing. Ini bisa terjadi karena ketakutan berlebihan membuat tubuh manusia menghasilkan adrenalin. Dan adrenalin ini yang dicium oleh anjing sehingga menggonggong juga karena ketakutan.

    Indahnya kasih sayang mendalam, tidak saja membuat tubuh manusia tidak memproduksi adrenalin, juga menjadi jembatan bagi pengalaman kebersatuan. Di tingkat kebersatuan, diri kecil (tubuh, perasaan, persepsi, formasi mental, pikiran dualistik) lebur menyatu dengan Diri Agung. Di tingkat ini alam kecil dan alam besar terhubung rapi. Sehabis ini, tidak ada hal lain yang tersisa kecuali damai.

    Kesempurnaan

    Dengan modal kedamaian menawan, kasih sayang bisa mengantar manusia ke tangga keajaiban yang ketiga yakni kesempurnaan. Di tingkat kesembuhan dan kedamaian berlimpah logika dan penelitian yang tersedia sebagai bahan penjelasan. Di tingkat kesempurnaan, semua bahasa dan logika manusia menjadi tangga yang tidak cukup tinggi untuk menjangkau. Itu sebabnya, orang suci yang sudah sampai di sini semuanya menggunakan bahasa puitik.

    Salah satu Guru suci pernah berpesan seperti ini: “Awalnya suka cita. Di tengah suka cita. Di akhir juga sukacita”. Di tingkat kesempurnaan, semua dilihat dan diperlakukan dengan suka cita sehingga kehidupan tidak punya wajah lain selain suka cita. Bedanya suka cita di tingkat kesempurnaan dengan suka cita orang biasa, suka cita di tingkat kesempurnaan menjadi ibu bagi lahirnya bayi indah bernama kasih sayang. Makanya, salah satu arti buku suci adalah kerinduan mendalam akan kasih sayang (a crying for compassion).

    Dengan kata lain buku suci lahir dari kerinduan mendalam akan kasih sayang. Ia serupa seorang ibu yang rindu akan anak-anaknya, sekaligus dengan tangan mendekap untuk menenangkan sekaligus menyelamatkan. Itu sebabnya, di banyak tradisi disarankan menghormati buku suci sebaik manusia menghormati ibu kandungnya.

    Menitipkan Masa Depan

    Kembali ke cerita awal tentang kerumitan meningkat di mana-mana, salah satu sebab dominannya karena dunia tanpa pemimpin. Sulit menyangkal, zaman ini sangat mengagumi Mahatma Gandhi, Nelason Mandela, Bunda Teresa, Dalai Lama. Dan yang serupa dari tokoh-tokoh ini sederhana, semuanya berpengaruh karena kedalaman kasih sayang. Dalam studi mendalam tentang kepemimpinan, sudah lama ditemukan bahwa intisari kepemimpinan terletak pada kemampuan ‘memengaruhi’. Dan kemampuan memengaruhi sangat ditentukan oleh seberapa indah hati seseorang dihiasi oleh kasih sayang. Kepada orang-orang semacam inilah masa depan akan dititipkan.

                                                   ***

    *Gede Prama, adalah seorang pencinta kedamaian, motivator.

    *Sumber Tulisan: Buku Cahaya Kedamaian, Gede Prama, Penerbit Karania, 2014.

  • Menelusuri Benang Kusut Jiwasraya

    Menelusuri Benang Kusut Jiwasraya

    Oleh Bernard Limalaen Krova

    TATKALA kasus Jiwasraya mencuat, muncul beragam pendapat dari pengamat ekonomi, praktisi asuransi, DPR dan Pemerintah. Umum berpendapat Jiwasraya gagal bayar karena tiga hal. Pertama, krisis global 1998. Kedua, mismanaged atau salah investasi. Ketiga, perampokan besar-besaran. Semua sepakat harus ditelusuri ‘siapa yang merampok’ dan ‘pemerintah bertanggungjawab mengembalikan dana nasabah’.

    Benar, terjadi krisis global tahun 1998. Industri keuangan global terpuruk dan nyaris ambruk. Bailout dipandang sebagai satu-satunya obat mujarab. Industri asuransi juga mengalami kondisi tersebut. Peran pemerintah nihil dalam membantu industri asuransi. Pelaku industri asuransi mencari cara agar bertahan.

    Investasi berupa saham, reksadana dan deposito hancur lebur. Aset tergerus dan equitas lampu merah yang berakibat kemampuan membayar klaim kerusuhan 1998 pada level insolven. Pemodal dan pemilik asuransi enggan bahkan tidak mampu memberikan suntikan modal mendongkrak solvabilitas.

    IFRS Diperkenalkan

    Setelah krisis 1998, Bapepam-LK pada 2000 memperkenalkan International Financial Report Standard yang diadopsi dari standar akutansi internasional. Solvabilitas 120 persen dipatok sebagai batas minimum memenuhi kewajiban.

    Sistem pencatatan akuntansi, pengakuan pendapatan, pencadangan premi, pencadangan klaim dan investasi berubah. Industri asuransi bergejolak meminta relaksasi. Pemerintah memberikan kelonggaran pemberlakuan secara gradual, dimulai 5 persen triwulan pertama 2000 dan akan efektif 120 persen akhir 2004.

    Dari sini muasal carut-marut Jiwasraya. Implikasi penerapan IFRS, perusahaan asuransi yang selama ini sehat dalam sekejap berubah menjadi insolven. Pasalnya, solvabilitas terjerembab di bawah 120 persen.

    Penerapan IFRS ini oleh pemerintah dituangkan melalui KMK No. 481/KMK.017/1999, digantikan dengan KMK No. 424/KMK.06/2003, dan belakangan diganti dengan PMK No. 53/Tahun 2012. KMK No. 424/KMK.06/2003 Bab II Pasal 2 Ayat 1 mengatur batas tingkat solvabilitas minimum sebesar 120 persen dari risiko kemungkinan kerugian yang mungkin timbul.

    Penghitungan solvabilitas memasukkan sejumlah faktor risiko. Misalnya, kegagalan pengelolaan kekayaan (asset default risk), ketidakseimbangan antara nilai kekayaan dan kewajiban dalam setiap jenis mata uang asing (currency mismatched), perbedaan antara beban klaim dan beban yang diperkirakan (claim experience worse than expected) dan reinsurance risk.

    Ketua BPK, Agung Firman Sampurna dalam statemennya 8 Januari 2020 mengatakan, kasus Jiwasraya bermula pada 2002. Pernyataan ini menegaskan dugaan saya bahwa akibat dari implementasi IFRS, Jiwasraya terpuruk dalam kondisi defisit equitas.

    Laporan Keuangan per 31 Desember 2006 menyebutkan, Jiwasraya menderita defisit Rp 3,29 triliun. Isu utama defisit adalah jumlah aset jauh lebih rendah dibandingkan kewajiban. Akhir 2008, Jiwasraya defisit Rp 5,7 triliun. Defisit berlanjut 2009 mencapai Rp 6,3 triliun. Jelas equitas Jiwasraya defisit sehingga sudah tidak mampu memenuhi kewajiban atau solvabilitasnya di bawah 120 persen.

    Opsi solusi

    Hanya ada dua opsi solusi bila defisit ekuitas. Pertama berhenti berbisnis dan kedua, menambah modal. Opsi pertama sangat sulit bagi Jiwasraya. Jumlah nasabah Jiwasraya berkisar 7 juta pemegang polis. Pilihan yang paling tepat adalah opsi kedua, mendapatkan suntikan dana segar. Entah dari pemerintah sebagai pemilik atau investor baru.

    Kementerian BUMN pada 2008 meminta bantuan likuiditas berupa pinjaman subordinary atau zero coupon bond sebesar Rp 6 triliun. Permintaan tersebut ditolak Menteri Keuangan. Oleh Kementerian BUMN, Jiwasraya dipaksa berbisnis dengan kondisi kesehatan “jantung” sudah stadium empat.

    Bapepam-LK tentu telah melakukan pengawasan. Bila demikian, seyogyanya Kementerian Keuangan paham dan menyetujui rencana penyehatan (lihat Pasal 7 Ayat 1 – 7 KMK No. 424/2003). Rencana penyehatan harus dituangkan dalam ‘rencana bisnis lima tahun’, di mana sebelum sampai kepada Menteri Keuangan tentu telah mendapat persetujuan Menteri BUMN selaku pemegang saham. Rencana penyehatan harus mendapat pengawasan ketat Bapepam-LK.

    Demi menopang equitas, atas ijin Bapepam-LK ditempuh cara reasuransi 2009. Cara ini seharusnya tertuang dalam ‘rencana bisnis lima tahun’ karena bagian dari program penyehatan. Model reasuransi umumnya dalam kurun waktu ‘three years deal’ sehingga akan berakhir tahun 2012.

    Era OJK

    Era Bapepam-LK berakhir melalui Undang-Undang Nomor 21/2011, tonggak lahirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Model reasuransi tidak kunjung menyembuhkan, selanjutnya ditempuh cara revaluasi aset pada 2013. Revaluasi meningkatkan aset Jiwasraya dari Rp 208 miliar menjadi  Rp 6.3 triliun. Revaluasi aset berdampak equity Jiwasraya surplus Rp 1.7 triliun. Surplus equitas hanya ada di pembukuan akuntansi, bukan aset liquid yang dapat dicairkan sewaktu waktu.

    Alih-alih memperbaiki kinerja memperbaiki struktur permodalan, struktur portofolio, juga struktur investasi, atas ijin OJK Jiwasraya menjual produk JS Saving Plan dengan cost of fund sangat tinggi. Return guarantee-nyadi atas 9 persen, memaksa Jiwasraya mencari investasi high return.

    Polis produk ini berdurasi lima tahun dan akan jatuh tempo tahun 2018, benefit polis dapat dicairkan setiap tahun. Oleh Jiwasraya, dana nasabah diinvestasikan pada instrumen saham dan reksadana yang berkualitas rendah.

    Ini merupakan ‘bom waktu’ kedua. ‘Bom waktu’ pertama adalah defisit equitas. Kedua bom waktu ini memicu default atau gagal bayar Jiwasraya atas kewajiban-kewajibannya.  

    BPK mengatakan bahwa produk saving plan adalah produk yang memberikan kontribusi pendapatan tertinggi bagi Jiwasraya sejak tahun 2015. Pendapat ini benar. Namun bagi praktisi asuransi, tentu paham bahwa premi yang diperoleh bukan sekaligus diakui sebagai pendapatan. Dari Rp 100, bila 25 persen adalah komisi, dan 40 persen adalah cadangan untuk polis berdurasi lima tahun. Maka, yang dapat dibukukan sebagai pendapatan di tahun pertama hanya sebesar Rp 9.

    Laporan Keuangan 2017 menunjukkan, Jiwasraya mampu membukukan laba Rp 360,3 miliar. Namun disematkan opini tidak wajar karena kekurangan pencadangan premi Rp 7,7 triliun. Berlanjut ke tahun 2018, Jiwasraya membukukan kerugian unaudited sebesar Rp 15,3 triliun. Pada September 2019, kerugian menurun jadi Rp 13,7 triliun. Laporan terakhir November 2019 menyebut, Jiwasraya mengalami negative equity sebesar Rp 27,2 triliun.

    Dalam kurun waktu 2010-2019, BPK telah dua kali melakukan pemeriksaan atas Jiwasraya. Pertama, pemeriksaan dengan tujuan tertentu tahun 2016 dan pemeriksaan investigatif pendahuluan tahun 2018. Ingat, investigasi dilakukan setelah tahun 2013 saat JP Saving Plan diluncurkan. Hemat saya, ini tidak membongkar akar masalah sebenarnya yaitu defisit equitas sejak 2006.  

    Benang merahnya adalah defisiti equitas yang mengakibatkan Jiwasraya terpuruk dalam kondisi insolven dan tidak ada upaya penyelamatan berarti oleh Kementerian BUMN sejak tahun 2006. Sebagaimana telah saya sampaikan, hanya ada dua opsi penyelesaian bila sebuah perusahaan asuransi dalam kondisi insolven.

    Perusahaan asuransi yang tidak memenuhi ketentutan tingkat solvabilitas wajib menyampaikan rencana penyehatan keuangan yang disetujui pemegang saham dalam rangka memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas. Rencana penyehatan keuangan harus disampaikan kepada Menteri bersamaan penyampaian perhitungan tingkat solvabilitas.

    Langkah-langkah penyehatan, paling sedikit memuat salah satu rencana berikut. Pertama, restrukturisasi kekayaan dan/atau kewajiban. Kedua, penambahan modal disetor. Ketiga, pengalihan sebagian atau seluruh portofolio pertanggungan. Keempat, melakukan penggabungan badan usaha. 

    Otoritas yang berkewajiban dan bertugas sebagai pengawas sama. Semua standar yang tertuang dalam PMK No. 53/Tahun 2012 pengganti KMK No. 424/2003 abai dilaksanakan. Ketika kondisi Jiwasraya kian amburadul, telunjuk pun mengarah kemana-mana. Terlalu mahal biaya yang harus dibayar akibat segala kelalaian ini.

    Bernard Limalaen Krova, Praktisi Asuransi.

    Sumber Media Indonesia, Sabtu, 1 Februari 2020

  • Kehormatan Memberi Kewajiban

    Kehormatan Memberi Kewajiban

    Oleh Albino Luciani*

    Kepada Goethe

    Penyair yang sangat saya hormati.

    Festival film terakhir, yang sudah mendapat pujian sampai ke tingkat yang tingi-tinggi, saya tidak tahu bagaimana, mengingatkan saya akan Anda. Mungkin disebabkan oleh kesan-kesan yang timbul dari bawah sadarku. Ketika membaca tulisan-tulisan dalam surat-surat kabar pada waktu itu, saya harus berpikir tentang Anda, tentang para pencinta keindahan, para seniman dan para kritikus bidang kesenian. Anda adalah pencinta ulung keindahan, yang sanggup secara mendalam dan dengan hati yang luas mengangkat “keindahan alamiah” yang tersebar di seluruh jagad, mulai dari peristiwa-peristiwa alam sampai kepada gejolak nafsu hati seorang manusia. Anda adalah seniman yang besar, yang sanggup menyajikan dengan penuh wibawa kepada orang-orang lain, bukan saja keindahan yang dilihat melainkan juga suasana batin dengan mana Anda sendiri menyaksikannya. Anda adalah seorang kritikus yang hebat di bidang kesenian, sebab dengan pengetahuan tentang persoalannya dan dengan penuh semangat Anda menghadapi karya-karya seni orang lain.

    Bukankah negeri Jerman mengagumi Anda sebagai direktur teater banyak tahun lamanya di Weimar? Bukankah Anda menamai peristiwa itu suatu kelahiran Anda kedua, ketika Anda menginjakan kaki di Roma yang antik itu? Bukankah Anda nyaris jatuh pingsan karena sedemikian merasa bahagia pada menyaksikan patung Apolo di Belvedere? Sayang bahwa Anda tidak menonton film mengenai festival itu – dan dengan demikian saya pun sudah mengetahui reaksi Anda. Karena itu saya hanya bisa membayangkan saja. Sebagai pencinta keindahan Anda sebenarnya sudah menemukan banyak hal-hal yang lebih indah, yang Anda belum kenal.

    Film itu sendiri yang terdiri dari tata cahaya, gerak, warna-warni, musik dan perbuatan, adalah sesuatu yang indah. Anda duduk menghadapi layar putih, dan kalau montase film itu dibuat dengan baik, maka Anda akan terseret sedemikian rupa oleh peristiwa-peristiwa, sehingga rasanya jam-jam sebagai menit-menit saja. Gambar-gambar yang besar, yang memenuhi layar dengan satu wajah manusia saja, mendekatkan Anda kepada gambar-gambar itu secara amat memukau; manusia-manusia yang hatinya digugah oleh perasaan-perasaan yang mendalam. Antara Anda dan para sutradara timbul suatu hubungan yang akrab. Bagian-bagian yang singkat yang Anda kagumi pada Mantegna dan Carveggio, dapat Anda saksikan berkat teknik pengambilan yang memperbesar dengan ukuran raksasa. Misalnya seseorang penjahat diambil gambarnya dari bawah dan dengan bantuan baying-bayang dari sisi kiri bentuk badannya dibikin begitu jelek, sehingga Anda merasa ngeri dan takut melihatnya. Ini saja untuk menunjukkana kepada Anda beberapa unsurnya.

    Entah pada menyaksikan sebuah film Anda juga menemukan ‘keindahan seni’? Saya kira begitu. Sebagai seorang kritikus karya seni Anda pasti siap menghadapi hal-hal yang menakjubkan. Anda sudah biasa dengan dengan renungan-renungan yang menembus lebih jauh dari pada latar depan, juga dengan kecenderungan-kecenderungan klasik, dengan suatu bahasa yang berbicara kepada Anda dari dalam karya-karya bangunan, dari karya-karya marmer dan fresko atau dari miniature-miniatur karya tulisan. Anda memberikan pertimbangan mengenai masing-masingnya, ahli bangunan, pelukis, pelakon. Sebaliknya dalam sebuah film beberapa senimsn bekerjasama: produsen, penata pentas, sutradara, pelakon. Tiap-tiapnya bekerja sesuai dan bersama dengan yang lain, untuk membuat hanya satu film. Dengan demikian sulitlah mengetahui momen kreatif yang sebenarnya di dalam karya itu: pada tiap film hal itu terletak pada suatu bidang yang lain. Boleh jadi ada nilai seni di dalamnya, saya ulangi, mungkin nilai seni yang tinggi sekali, namun hal itu tidak dapat ditangkap pada salahsatu segi, melainkan tersebar dan terpencardi seluruh bidang. Jadi suatu karya seni yang lain dari yang lain; orang menamakannya ‘dewi seni kesepuluh’.

    Mengenai pengaruhnya, orang menyebutnya sebagai ‘kekuatan kelima’, sesudah parlemen, pemerintah, kekuasaan dan pers. Sehubungan dengan penyebarannya, orang sering menyebutnya sebagai ‘kekuatan pertama’, karena orang memperhitungkan bahwa sesudah beberapa tahun ada film-film yang sudah mempengaruhi penonton yang bermilyar-milyar jumlahnya. Sebaliknya dari pihak lain film ditujukan kepada industri dan perdagangan, jadi kepada uang. Para sutradara dan pelakon sering menginginkan produksi dari karya-karya yang bertaraf seni yang tinggi, yang memberikan kemungkinan kepada mereka, untuk mempertahankan kebolehan mereka. Akan tetapi sang produsen, yang harus mengambil uang dari padanya, mempunyai perhitungan lain. Ia menghendaki film-film yang membawa hasil dan mengisi kas. Andaikata ada seorang seniman gila misalnya Doktor Faust atau bahkan Mephisto dari karya Anda, yang dengan perantaraan Antipe dengan tongkat sulap menjamin lebih dahulu sukses dari film yang bermutu karya seni, maka sang produsen akan membuat film yang bermutu seni, karena tak ada seniman gila itu maka sang produsen dengan susah payah harus mencari jalan lain.

    Pada waktu hidupnya Terens harus menelan kepahitan, ketika ia melihat para penonton meninggalkannya dan pergi menonton pemain-pemain yang berjalan di atas tali dan pemain-pemain sandiwara yang memberikan pertunjukan dalam sebuah teater tidak jauh dari situ. Gejala ini sekarang berulang lagi: para produsen film cenderung untuk membuat fil-film yang disesuaikan dengan cita rasa yang kurang luhur para penonton. Sebab biasanya mereka tidak mengunjungi kino, untuk menambah pegetahuannya, melainkan untuk bersantai. Jadi kiranya inilah sesuatu yang dapat menimbulkan rasa prihatin pada kritikus kesenian seorang Goethe dalam festival film: yakni kenyataan bahwa walaupun tersedia sarana dan personil untuk menciptakan karya-karya seni yang ulung, namun mereka sering hanya mempertunjukan hasil yang sedang-sedang saja, oleh karena orang mementingkan keuntungan-keuntungan bagi perusahan.

    Sesuatu yang lain lagi kiranya dapat Anda ketemukan: bahwa pada beberapa film memang terdapat nilai kesenian sejati, akan tetapi toh berhubungan dengan soal-soal tak susila. Barangkali Anda heran kalau saya berbicara mengenai karya-karya yan bersifat tak susila dan sekaligus bernilai seni. Kata ajektif ‘bersifat seni’ dihubungkan dengan karya itu sendiri, sedangkan kata adjektif ‘tak susila’ mengenai hubungan antara manusia-seniman dan seniman-kristen. Beberapa novel tertentu yang bersifat tak susila dari Boccacio memang bernilai seni sastra yang indah, tapi Boccacio sendiri berlaku buruk secara moril, ketika ia menulis buku-buku itu, sehingga berakibat merugikan banyak pembaca. Anda kenal beberapa di antaranya, sebab ketika Anda menulis Leiden des jungen Wether, Anda merasa gelisah dan kacau menghadapi akibat negatif yang ditimbulkan oleh buku itu pada para remaja Jerman dalam gejolak semangatnya.

    Tapi, mengapa saya bisa hanya mengkritik seorang Goethe, yang menulis mengenai satu dari antara para pengeritiknya: “Sebagaimana halnya tiap mawar, demikianpun setiap seniman mempunyai serangga: saya punya Tieck”. Baik, kalau begitu kini Anda telah menulis juga tentang saya, yang walaupun mengagumi keunggulan Anda. Misalnya begini: oleh karena bidang kesenian meliputi seluruh alam yang nyata, maka seorang seniman dapat secara sah dan bebas menceritakan semuanya, menjelaskan semuanya, termasuk hal-hal yang tak senonoh. Tentu saja sang seniman dapat memperlihatkan juga hal-hal yang buruk, akan tetapi atas cara sedemikian rupa, sehingga orang mengenal yang buruk itu sebagai sesuatu yang patut dihindarkan. Hal itu janganlah diperindah ataupun jangan sampai menggoda orang lain untuk menirunya. Tema sentral dalam buku Sophekles Raja Oedipus ialah zinah. Tetapi perbuatan itu dibeberkan secara kasar dengan kata-kata yang jelas, sehingga dari mula sampai akhir nampak jelas rasa muak. Hukuman-hukuman bagi orang-orang yang bersalah dilukiskan secara mengerikan, sehingga pada akhirnya para pembaca lebih terpikat oleh perbuatan zinah itu daripada oleh hal-hal lain. Saya katakana: ‘dari mula sampai akhir’. Sebab ada saudara-saudara dan kritikus-kritikus yang berpendapat, bahwa dengan satu catatan dari segi moral atau dengan satu aksen penutup orang dapat meloloskan sebuah film porno. Seolah-olah dengan satu semprotan air suci orang mengusir roh-roh jahat atau perbuatan guna-guna. Kiranya inilah yang masih kurang pada kita!

    Foto Johann Wolfgang von Goethe

    Satu pendapat Anda yang lain tidak dapat saya setujui: bahwa seorang genius itu hampir seperti dewa. Jadi satu tokoh bintang yang berada di atas moral umum. Anda telah mengungkapkan pemikiran ini terutama pada jaman ketika Anda belajar bersama nyonya von Stein Spinoza dan mencari Allah di di dalam alam jagat. Anda mengira, bila seorang cendikiawan terus-menerus nengangkat dirinya dengan dibantu oleh kebudayaannya maka dia dapat di telan sedikit demi sedikit oleh Allah, dan akhirnya bersatu dengan-Nya dan dengan demikian menjadi tuan atas dirinya sendiri. Dewasa ini tidak sedikit orang yang menganut gagasan ini, sekurang-kurangnya dalam praktek. Sayang! Tujuan yang luhur dan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa pada manusia berlaku untuk tiap manusia, juga bagi yang miskin, yang bodoh dan yang menderita. Allah menghendaki agar semua orang menjadi anak-anakn-Nya, dan agar mereka semua dengan salah satu cara mencapai tujuan yang sama dengan Dia. Akan tetapi yang menjadi persoalan manusia harus meningkatkan diri dengan bantuan Allah dengan mengindahkan hukum-hukum-Nya yang wajib ditaati semua orang yang besar dan kecil, juga para seniman. Anda sendiri sebagai penyair yang ulung, para seniman yang diwakili dalam festival oleh karya-karya mereka, dan kami, orang-orang kecil di pinggir-pinggir jalan, yang kurang berbakat. Dalam pandangan ini kita semua sama rata di hadapan Allah. Jadi jika seseorang memeperoleh anugerah keahlian di bidang kesenian, atau anugerah kemasyhuran atau kekayaan, maka ia semaikn mempunyai kewajiban untuk berterimakasih kepada Allah oleh suatu cara hidup yang layak. Untuk digolongkan bersama orang-orang besar, ada;ah suatu anugerah Allah. Hal itu hendaknya tidak menjadi alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri, melainkan mengajaknya untuk berlaku sederhana dan berbudi baik. Sekali lagi: Noblesse obdige! Kehormatan adalah kewajiban.

    *Albino Luciani, adalah Paus Yohanes Paulus I, hanya 34 hari saja beliau memangku jabatan pimpinan tertinggi Gereja Katolik. Pada tanggal 25 September 1978 seluruh dunia dikejutkan oleh berita duka cita dari Vatikan bahwa Paus Yohanes Paulus I telah tutup usia secara mendadak. Artikel di atas, “Kehormatan Memberi Kewajiban” adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Albino Luciani kepada Goethe, yang dibukukan dalam buku berjudul Illustrissimi (Kepada yang Terhormat). Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh P. Alex Beding, SVD, dengan judul Kepada yang Terhormat, 1982, Penerbit Nusa Indah, Ende-Flores.

  • Minum Kopi bersama Gandhi

    Minum Kopi bersama Gandhi

    Oleh Robin Sharma

    Membaca adalah salah satu disiplin terbaik yang saya ketahui untuk tetap “berada pada permainan” dan berada pada pencapaian kita yang tertinggi. Membaca buku yang bagus berarti berdialog dengan pengarangnya. Dan kita pun menjalin dialog dengan diri kita sendiri. Cobalah malam ini membaca buku autobiografi Mahatma Gandhi, My Experience with Truth, ditemani secangkir kopi, Anda akan melihat melalui sudut pandangnya dan belajar mengenai apa yang menggerakannya. Ingin menghabiskan waktu  bersama Madonna besok? Bacalah bukunya. Sama halnya dengan Jack Welch, Ibu Teresa, Bill Gates, Salvador Dalhi, atau Dalai Lama. Selain itu, membaca buku karya seseorang yang Anda hormati membuat kecerdasan mereka melekat pada Anda. Tangan yang meletakkan buku bagus yang telah selesai dibaca, tidak akan pernah sama lagi. Seperti yang diamati oleh Oliver Wendell Homes: ”Pikiran yang telah berkembang karena suatu ide baru tidak akan pernah kembali ke dimensi aslinya.”

    Ketika saya beranjak dewasa, ayah saya pernah berkata, “Kurangi biaya sewa dan kurangi pengeluaran untuk makan, tapi tak perlu merasa cemas karena menginvestasikan uang untuk sebuah buku  bagus.” Pemikiran yang sangat berpengaruh ini telah menyertai saya sepanjang hidup. Filosofinya adalah mendapatkan satu ide dari sebuah buku akan membawa Anda ke satu tingkat baru dan mengubah cara Anda memandang dunia. Jadi begitulah rumah kami penuh buku. Dan sekarang saya mencoba untuk menyediakan waktu sedikitnya satu jam setiap hari untuk membaca. Kebiasaan ini sendiri telah mengubah saya. Terima kasih, Ayah.

    Mungkin hadiah terbesar saya untuk anak-anak ketika saya mati adalah perpustakaan saya. Saya memunyai koleksi buku tentang kepemimpinan, hubungan antarmanusia, bisnis, filsafat, kesehatan, spiritualitas, contoh-contoh kehidupan yang luar biasa, dan banyak buku lain dengan topik-topik favorit saya. Banyak di antara buku itu saya beli di took buku dalam perjalanan melintasi dunia ketika saya melakukan perjalanan bisnis. Buku-buku ini membentuk filosofi pribadi saya. Buku-buku ini menjadikan saya manusia seperti sekarang ini. Bagi saya, buku-buku saya tak ternilai harganya.

    Pepatah lama ini memang benar: “Mengetahui bagaimana membaca tetapi tidak membaca hampir sama dengan tidak mengetahui bagaimana cara membaca.” Sediakan waktu untuk membaca sesuatu yang baik setiap hari. Isilah pikiran Anda dengan ide-ide besar dan pemikiran yang memesona. Maanfatkan buku untuk mengalirkan harapan dan inspirasi ke dalam jiwa Anda. Dan Ingatlah, jika Anda ingin memimpin, Anda memang perlu membaca. Oh, dan jika Anda – seperti saya – memiliki kebiasaan membeli banyak buku, tapi belum tentu dibaca, jangan merasa bersalah, Anda sedang membangun perpustakaan Anda. Dan ini akan menjadi sesuatu yang indah.

    Sumber Tulisan : The Greatness Guide, Robin Sharma, BIP Jakarta.

    Robin Sharma, CEO Sharma Leadership International.

  • Kolaborasi Rentang Generasi

    Kolaborasi Rentang Generasi

    Oleh Nilam Zubir*

    Banyak kisah tentang kesenjangan generasi/generation gap di berbagai belahan bumi. Banyak kajian tentang kendala dan peluang lintas generasi, salah satunya mengacu pada esai The Problem of Generations karya sosiolog Karl Mannheim. Banyak juga lelucon muncul akibat kesenjangan ini, antara lain joke ‘millenial versus kolonial’.

    Saya yang tergolong generasi Z, generasi yang lahir di era kecanggihan teknologi, juga mengalami banyak kisah dalam interaksi dengan generasi baby boomer yang lahir antara tahun 1946 – 1964, dan generasi X yang lahir tahun 1965 – 1980.

    Sejak SD saya sering ikut ibu dalam kunjungan ke panti-panti wreda (panti lansia), baik panti lansia untuk kaum miskin maupun wisma lansia eksklusif untuk kaum kaya. Saya senang ketemu para lansia sebab saya tidak punya kakek-nenek dari ibu dan dari ayah. Lha wong saya lahir usia ibu saja sudah nyaris 40 tahun, katanya sudah lupa urus bayi sampai langganan lagi majalah ibu-anak serta beli buku-buku tentang merawat bayi dan balita.

    Waktu SMP, tiap tahun saya diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menjadi narasumber Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Tingkat SMP untuk motivasi literasi pada siswa. Pada kesempatan tanya jawab, salah seorang guru bahasa Indonesia bertanya, bagaimana trik/tips menulis awal karangan, sebab murid-muridnya kebanyakan memulai paragraf awal dengan kalimat “Pada suatu hari…..”. Saya menjawab “Bebaskan judul karangan bu…jangan seragam…”.

    Dulu saya paling sebel kalau disuruh mengarang dengan judul dipatok seragam “Liburan di Rumah Nenek”. Terpaksa saya harus menggali imajinasi, lha saya gak punya nenek. Untung dulu belum ada pemeo “Liburan di rumah nenek lu?…”.

    Gaul dengan baby boomer secara intensif juga saya alami waktu usia SMP, berguru Ballroom & Latin Dance pada opa Him Damsyik sampai mahir. Sekarang gantian saya mengajar dansa opa-opa dan oma-oma di beberapa retirement club. Saya jadi tambah mengerti filosofi bahwa hidup adalah sebuah lingkaran.

    Kolaborasi rentang generasi di zaman now sangat potensial untuk memperkuat tatanan ekonomi sosial budaya di berbagai sektor, dengan saling melengkapi kekuatan masing-masing generasi, bukan hanya terpaku pada kesenjangannya.

    Beruntung saya punya pengalaman bergaul dengan para lansia, sehingga memudahkan dalam berinteraksi dengan para senior baby boomer, baik di lingkup organisasi maupun di lingkup bisnis sendiri dan di lingkungan kerja.

    Yang paling seru dalam tugas saya sebagai Plt Corporate Secretary adalah saat saya melaksanakan koordinasi dan komunikasi antara Direksi dan Dewan Komisaris yang sudah sepuh-sepuh (tua). Harus ekstra sabar dalam berkomunikasi. Saat sang sepuh sedikit rewel, saya lalu ingat waktu kecil sering iri pada teman yang punya kakek-nenek. Tuhan pun menjawab, semua akan indah pada waktunya. Ya sekarang ini, Tuhan bilang “Nyoh, tak kek’i eyang-eyang (nih tak kasih eyang-eyang) gak usah iri…”.

    Keuntungan yang tak ternilai dari kolaborasi rentang generasi ini, saya banyak menimba ilmu bisnis dan rangkaiannya dari para pengusaha besar sebagai ‘guru/suhu’. Sering saya harus membawa laptop ke meja Komisaris untuk menyerap langsung aspirasi dan arahannya secara ‘tikpet’ ketik cepet. Persis seperti hubungan eyang dan cucu. What a wonderful life…

    Selain ilmu bisnis, banyak ilmu kehidupan yang saya peroleh selama gaul dengan para lansia lintas strata sosial. Dari seorang engkong Kumpen, petani kota sahabat keluarga, saya banyak dapat ilmu tentang kearifan alam semesta. Saya menjulukinya guru tanpa aksara, karena ia buta huruf.

    Tak terhitung keberuntungan yang saya peroleh dari pergaulan dengan para lansia, ya dari pengalamannya, ya dari petuahnya, ya dari hiburannya, musik dan tontonannya. Saya ikuti semua. Apalagi di zaman keajaiban teknologi sekarang, tinggal klik, semua tentang ‘kejadulan’ muncul dalam sekejap.

    Buku apa yang mereka baca, saya baca. Film legendaris yang mereka tonton, saya tonton juga. Saya si generasi Z akhirnya jadi teman ngobrol yang asyik bagi generasi baby boomer, karena saya bisa ngikuti dan ‘nimpalin’ alur obrolannya.

    Banyak kelucuan dalam komunikasi lintas generasi. Semua jadi hiburan yang membahagiakan, walau sesekali ada juga hal yang menyebalkan dalam lingkungan kerja, terutama tentang seringnya lupa atas arahan dan sebagainya, yang membuat saya ngelus hape eh ngelus dada.

    Tentang buku, konon para pemimpin dunia yang humanis, masa kecilnya membaca buku serial Winnetou karya Karl May. Saya baca juga serial itu.

    Anjuran membaca buku “Menjadi Indonesia”-nya opa Parakitri T. Simbolon yang setebal dingklik (bangku jongkok) itu pun saya baca ‘ampe gempor’.

    Serial novel dan film The Godfather-nya Mario Puzo dan Francis Ford Copolla juga asyik dibaca dan filmnya saya tonton berulang-ulang. Banyak pelajaran dari film yang meramu paradoks hidup tentang bisnis legal & ilegal dalam lingkaran kekuasaan, keserakahan, kejahatan, dendam, berpadu dengan cinta, kasih sayang, kesetiaan, dan keindahan yang dikemas jitu menjadi tontonan apik.

    Walau tontonan penuh kengerian, tapi ada juga tuntunan dalam banyak rangkaian kalimat filosofis, seperti “Jangan biarkan siapa pun tahu apa yang kau pikirkan…”

    Akhirulkalam, ini wejangan dari eyang Don Michael Corleone “Jangan membenci musuhmu…”.

    “Karena kebencian akan melumpuhkan nalar dan kewarasan…” sambung si grandcicit genZ

    Speak sofly love… ~

    Nilam Zubir, Public Relation Representative di Indonesia Plastic Recyclers

     

     

     

     

     

    +7

    Top of Form

    36

    Bottom of Form

  • Bersyukur : Sumber Kebahagiaan

    Bersyukur : Sumber Kebahagiaan

    Oleh Josef Bataona

    “Develop an attitude of gratitude, and give thanks for everything that happens to you, knowing that every step forward is a step toward achieving something bigger and better than your current situation.” (Brian Tracy)

    Pagi-pagi saya menerima pesan di WA dengan tautan artikel di The Weekend Australian Magazine, November 22, 2019. Saya membukanya, membaca sepintas, tapi naluri saya mendorong untuk membacanya kembali sambil mencernanya secara saksama. Aku dibuat merinding membaca tulisan itu, walau situasi yang diceritakan itu banyak ditemukan di pedesaan di Indonesia. Tetapi cerita yang dikedepankan sungguh memberikan pelajaran yang luar biasa. Sayapun memutuskan untuk mengangkat pelajaran dari tulisan tersebut di blog ini.

    Tantangan Orang Kota

    Namanya Hugh van Cuylenburg, besar dan sekolah di Melbourne. Dia sedang sibuk  sebagai coach di Melbourne University Cricket Club mempersiapkan mereka untuk kejuaraan. Tapi cintanya pada seorang gadis keturunan Australia India mendorongnya untuk mengikuti pacarnya  menjadi relawan untuk mengajar 6 bulan di Ladakh, sebuah desa kecil sekitar Himalaya. Penduduk desa itu sangat ramah. Mereka ditempatkan di rumah kepala sekolah, dan tidur di lantai seperti lainnya.

    Sekolahnya sederhana, dengan ruang kelas hanya berisi satu meja dan kursi untuk guru, sementara 150 murid yang berusia antara 4 sd 16 tahun hanya duduk di lantai. Murid2nya sangat santun dan penuh perhatian di kelas, memiliki semangat tinggi setiap hari dan menebar kebahagiaan diantara mereka.

    Kepala Sekolah menugaskan 3 anak usia 4 tahun untuk menunjukan TK. Sangat menyedihkan saat mereka menunjukan permainan enjot-enjotan yang tak layak dipakai. Tak disangkah anak2 itu mengacungkan jempol menunjukan alat main itu dengan penuh antusias dan bangga. Mereka memperlihatkan bagaimana bermain dengan alat itu dengan cara mereka sendiri, tidak seperti design aslinya.  Misalnya mereka hanya bergelantungan disana selama mungkin.

    Hugh Mengisahkan Sendiri Pengalamannya

    Saya kagum dengan semua anak di sekolah itu, tapi ada seorang yang sungguh mencuri hatiku. Namanya Stanzin, usia 9 tahun dan mungkin orang terbaik yang pernah kutemui. Saat pertama kali saya masuk ke kelasnya, saya tidak sadar kalau kusen pintunya rendah sehingga kepalaku terbentur. Di hari berikutnya, Stanzin sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum dan menunjuk bagian atas kusen pintu. Dia mengikat kantong kain berisi pasir dan dedaunan untuk mengingatkan saya akan bahaya benturan.

    Stanzin memperlihatkan kepedulian tulus tidak hanya kepada saya. Saat makan siang, bila dia menemukan seorang temannya sendirian, dia akan menghentikan apa yang sedang dilakukan dan menghampiri teman dan bertanya, apakah anda baik2 saja? Tidak peduli apa yang sedang diperbuat, Stanzi akan utamakan menolong yang lain. Komen saya ke Anjali (sang pacar): “This kid has got to be the most caring, selfless and truly happy person I’ve ever met.”

    Suatu malam, setelah berkeliling kampung, saya temukan sesuatu yang sungguh mengubah hidupku. Saya melihat Stanzin masih dalam seragam sekolah siap2 untuk pergi tidur. Saya mendekatinya dan menyapa dia. Dia tidur di lantai tanah, seperti penduduk lainnya. Dia tersenyum lebar. Saya membalas senyumnya dan pamit untuk pulang ke kediamanku. Sepanjang jalan saya sendiri tidak tahan menyaksikan kenyataan itu sampai saya sendiri menangis.

    Saya tidak bisa tidur semalaman saat membayangkan murid2ku di Australia yang mengalami depresi, cemas dan sakit mental. Mengapa mereka yang berada di negara maju dengan berbagai fasilitas serba ada justru mengalami itu?

    Bukan hanya Stanzin, semua yang saya temui di desa terpencil ini telah  menemukan rahasia kebahagiaan,. Tetapi apa RAHASIA kebahagiaan mereka?

    Sir, dis, dis!

    Stanzin datang ke sekolah setiap hari dengan membawa buku catatan dan pensil. Saya terus memperhatikan semua perilaku dan apa yang dia perbuat. Suatu saat istirahat makan siang, Stanzin menunjukan kepada saya sepatunya, sambal berujar “dis” maksudnya “this”. Tidak semua anak sekolah mempunyai sepatu. Tapi yang menarik juga adalah, sepatu Stanzin mungkin sudah diperoleh beberapa tahun lalu.  Begitu dia tumbuh besar, ujung sepatu itu harus dipotong agar bisa muat walau jari2 kakinya menonjol keluar.

    Bukan saja sepatu yang tidak dimiliki anak2. Bahkan sekolah menyediakan sekedar nasi putih untuk makan siang anak2. Reaksi mereka: “Sir, dis, dis” sambil menunjuk piring nasi, seakan berkata: “sir, how good is it that we get lunch at school?”

    Hal lain yang saya perhatikan, penduduk ini melakukan meditasi. Antara jam 08:30-09:00 sebelum sekolah dimulai, murid2 berkumpul di halaman dimana mereka duduk diam dan fokus pada momen kekinian. Apakah mereka berdoa? Tidak, mereka melakukan meditasi, dan setiap murid akan datang awal karena mereka tidak ingin kehilangan momen tersebut.

    Setelah tiga bulan, saya merasa paham apa rahasia kebahagiaan penduduk desa itu. Ada tiga prinsip yang mereka terapkan, dan itu yang membuat mereka tahan banting/ulet (resilient) dan BAHAGIA:

    • Gratitude (the ability to pay attention to what you have instead of worrying about what you don’t have);
    • Empathy (the ability to feel what another person is feeling) and
    • Mindfulness (the ability to focus on the present moment).

    Kehidupan penduduk desa itu sesungguhnya lebih berat dibandingkan dengan dunia lain, namun mereka menanggapinya dengan cara yang berbeda. Perjalanan ini merupakan titik balik dalam hidupku.

    Positivity

    Di tahun 2010 saya mengambil masterku di RMIT. Salah satu yang saya pelajari adalah GRATITUDE. Saat saya membaca bahan dari psikolog Amerika Martin Seligman, founder dari Positive Psychology, saya hampir terjungkal dari kursi. Beliau mengatakan bahwa “we can retrain our brains so we feel happier on a day-to-day basis.” Dia menyarankan Teknik sederhana: “write down three things that went well each day, every day, along with an explanation for why each good thing happened.”

    Riset Seligman mengingatkan saya akan pengalaman di India, dimana Stanzin setiap hari memperlihatkan hal positif dalam hidupnya, kecuali satu hal lebih yang dilakukan Stanzin: dia mencatat momen2 itu. Ia akan berhenti dan menunjukkan apa saja yang patut disyukuri di momen itu: “dis!”

    The Power of Story Telling

    Suatu saat saya ngobrol dengan sahabat kuliahku di Fintona tentang pengalaman di India dia bereaksi: “you should come in one day and give a talk to my class.” Seminggu kemudian saya sudah hadir di kelasnya, tanpa persiapan apa yang mau saya bicarakan. Saya hanya ingin bercerita tentang bagaimana anak sekolah di India yang beda dengan anak2 di Fintona, dengan failitas yang lengkap. Melihat anak2 yang terdiam menyimak dengan mata telinga terbuka lebar, saya berkesimpulan ceritaku sungguh memukau mereka.

    Walaupun sebelumnya saya tidak pernah melakukan hal seperti itu, saya menemukan bahwa saya menyukai sharing cerita positif didepan anak2. Dan itu merupakan langkah awal dari perjalanan panjang dalam menciptakan proyek yang saya sebut dengan Resilience Project. Berkat cerita dari mulut ke mulut, saya akhirnya harus berbicara di 10 kelas dalam seminggu. Semua uang yang terkumpul saya gunakan untuk membuat kurikulum dan model jurnal untuk anak dewasa. Di akhir 2014 Resilience Project sudah diadopsi di 500 sekolah di Australia. Dan awal tahun ini, program managerku melaporkan bahwa di 2019, kita akan mempunyai 110.000 anak yang terlibat dalam kurikulum atau presentasi.

    Berlaku di berbagai segi kehidupan

    Suatu Sabtu sore di Pebruari 2015, saya ngobrol dengan Brian Phelan yang bekerja di The Melbourne Storm Rugby Leage Club. Dia bertanya, apa yang saya kerjakan selain Cricket. Saya ceritakan tentang Resilience Project, yang langsung disambut Brian: “you should come to my work and speak.” Dia menginginkan saya bercerita kepada anggota clubnya, dan yang dimaksud adalah pemainnya.

    Beberapa hari kemudian, di Storm’s Home ground at Aami park, saya hadir dan dalam lima menit, saya menyadari bahwa saya menganggap reme “the power of the message”; para pemain  mendengarkan dengan penuh perhatian, kata demi kata. Belakangan Brian memberitahuku bahwa Pimpinan Club: Cameron Smith, Cooper Cronk dan Billy Slater meminta agar program ini diluncurkan ke seluruh Club. Semua mereka menjadi champion the resilience project dan menenun GEM (gratitude, empathy and mindfulness) tidak saja dalam kehidupan club tapi juga dalam kehidupan pribadi.

    “Dis” Challenge

    Tujuh bulan berikutnya, seminggu sekali saya luangkan bersama NRL Club. Mereka terpesona dengan cerita Stanzin dan sangat mengapresiasi apa saja yang baik dalam kehidupan ini. Saya lalu memberikan mereka “dis challenge”, yang sangat popular di sekolah. Sangat sederhana, kataku. Dalam 24 jam, kapanpun anda melihat sesuatu yang patut disyukuri, tidak peduli anda dimana atau dengan siapa, saya inginkan anda berhenti, tunjukan jarimu dan katakan “dis”. Semua setuju.

    The resilience project mulai menarik perhatian public, karena itu banyak yang minta dibantu. Salah satunya adalah the Richmond Football Club. Saya tiba di tempat mereka dengan membawa copies “21-day wellbeing journal.”  Setelah presentasi. Setiap peserta mengambil journal yang saya bawa. Saat Dustin Martin berdiri, dia mengambil 10 lembar journal. 210 hari kemudian saya menerima text message darinya: “finished the journals. Can you please send me some more? “Ini dengan Dustin Martin, Richmond Football Club. Setiap hari saya menulis semua pengalaman baikku yang patut saya syukuri. Saya hampir tidak percaya betapa ini mengubah hidupku, dan saya tidak ingin kehilangan catatan untuk hari berikutnya. Tolong kirimkan saya lembar jurnal lagi.” Awal tahun ini, saya berbicara bersama Dustin di sebuah conference, dan dihadapan pendengar, Dustin bercerita kalau dia sudah habiskan 1086 hari berturut-turut mengerjakan the resilience project journal.

    Momen Mensyukuri

    Kisah Stanzin juga memberikan dampak luar biasa kepada pemain di Collingwood Football Club. Suatu hari saya melihat Kapten Club Scott Pendlebury membuat posting foto di sosmednya dengan caption: “dis moment #gratitude.”

    Saat saya bertemu, saya bertanya, itu maksudnya apa? Saya sungguh menyukai cerita tentang anak kecil yang anda kisahkan. Kita sering berpikir negatif tentang kehidupan ini. Kisahmu sungguh membantu saya untuk melihat sisi positifnya. Dan suatu waktu bila anda nonton pertandingan, perhatikan Adam Treloar. Dia biasanya menuliskan dengan tinta hitam di gelang tangannya: “dis” sambil berkata pada dirinya sendiri: “Adam, you are blessed”. Saat saya bertemu Adam, saya bertanya, apa makna tulisan itu, apa yang mebuatnya merasa terberkati? Ujarnya: “I live in australia, we get food, we get water, we get shelter. I remind myself of that whenever I get stressed. ‘dis’ means this life in this country, every day.”

    Banyak sekali momen setiap hari yang layak kita syukuri. Belajar dari kisah Hugh, kitapun bisa mulai dengan “Resilience Project” untuk diri kita, menyiapkan buku catatan dan tuliskan setiap hari momen yang layak disyukuri. Kita akan kaget sendiri, betapa banyaknya berkat yang kita terima setiap hari.

    Selanjutnya dalam diskusi jelang akhir tahun, bersama beberapa teman kami gulirkan #GEMprogram3 untuk membawanya dalam keseharian. Nantikan di postingan selanjutnya.

    “Appreciation can make a day – even change a life. Your willingness to put it into words is all that is necessary.” (Margaret Cousins).

    Sumber Tulisan: https://www.josefbataona.com