selalu tertarik untuk
membuat karya seni antikorupsi.
Meski sebagaian lahir
sebagai seni adikarya,
korupsi tetap saja
berjaya.
ESENSI kesenian adalah menyarankan kepada setiap orang untuk
berbuat baik. Kesenian juga berfungsi sebagai antena social. Itu sebabnya
sekitar satu dasawara setelah kemerdekaan Indonesia, ketika masyarakat mulai
resah dengan gejala korupsi, kesenianlah yang lebih dulu menangkap. Dari sini
lahir film berjudul Korupsi karya
sutradara Raden Arifien, produksi Tjendrawasih (1956).
Film hitam-putih yang dibintangi Bambang Hermanto, Dian
Anggreni, Tuty S. bercerita tentang seseorang lelaki lurus hati bernama
Muhamad. Namun istri dan ketiga anak gadisnya terseret kehidupan boros dan
mewah. Muhamad terpuruk ketika ia berurusan dengan calon menantunya yang
importir penyelundup. Bahkan si menantu ini berhasil memaksanya menerima suap
dan menelan uang negara. Muhamad akhirnya hidup nista setelah dicokok sebagai
koruptor.
Film di atas agaknya efektif berperan sebagai pengingat.
Sedikit banyak film ini berhasil menghambat munculnya korupsi dalam skala besar
pada kurun itu. Tapi tahun terus berjalan, dan orang Indonesia memasuki masa
Orde Baru. Tak disangka masa ini ternyata mencetak cukup banyak pejabat yang
pandai korupsi, meski semua konon berjalan sangat sistematis, namun serapat apa
pun aib itu disembunyikan, kebusukan akan kuat tercium. Sampai akhirnya
termanifestasi dalam film terkenal Si
Mamad (1973).
Si Mamad, produksi PT Matari Film,
disutradarai oleh Sjuman Djaja. Di situ diceritakan bahwa ketika istri Si Mamad
akan melahirkan anaknya yang ketujuh, lelaki jujur ini bingung lantaran tak
memiliki uang. Ia pun melakukan korupsi kecil-kecilan, seperti memalsukan pembelian
bon kertas di kantor tempat ia bekerja. Perbuatan ini sangat menyiksa jiwanya.
Sering timbul niatan untuk mengaku ke hadapan atasannya, yang diperankan oleh
Aedy Moward. Namun niat itu selalu terhalang. Sementara atasannya, yang
sebenarny juga koruptor besar, tahu perbuatan Si Mamad. Dan Si Mamad –
diperankan Mang Udel alias Drs Purnomo – dibiarkan untuk melakukan
perbuatannya. Sekaligus dibiarkan tertindih perasaan bersalahnya sampai ia
sakit dan meninggal dunia. Film yang diinspirasi karangan Anton Chekov ini
memperoleh beberapa Piala Citra 1974.
Film Si Mamad senafas
dengan film antikorupsi Sjuman Djaja sebelumnya, Lewat Jam Malam (1971), produksi PT Allied Film of Indonesia. Film
ini berbicara soal pencurian uang negara dengan melibatkan para koruptor yang
diburu oleh para polisi (pada waktu itu) masih jujur. Tokoh-tokoh film
diperankan Rachmad Hidayat, Rima Melati, Sukarno M Noor, Rahayu Effendi, dan
Sjuman Djaja sendiri.
Sementara keberanian Sjuman Djaja mengkritik koruptor disulut
oleh sejumlah puisi kritis Rendra pada kurun itu. Dalam sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya Rendra
memang membakarnya. “Sebagai kepala
jawatan lelakimu normal / Suka disogok dan suka korupsi. Bila ia ganti kau tipu
/ itu sudah jamaknya / Maling menipu maling itu biasa…..” Kita tahu, sajak
ini merupakan embrio dari drama korupsi birokrasi yang berjudul Sekda (Sekretaris Daerah), ciptaan
Rendra beberapa tahun kemudian.
Orde Baru runtuh pada Mei 1998. Keruntuhan itu menyemburkan
kekuatiran betapa keganasan korupsi yang bermain di bawah permukaan itu
diprediksi akan terus berlangsung pada era Reformasi. Dan kanker korupsi akan
mematikan apabila tidak segera dihadang. Dari sini gerakan reaktif kesenian
antikorupsi berhamburan muncul. Ada yang didera perasaan pesimis. Tapi tidak
sedikit yang optimis. Contoh yang paling optimis adalah ini.
Pada 28 Oktober 1998 di Solo berdiri Parsendi, atau Partai
Seni dan Dagelan Indonesia. Dalam kongresnya yang luar biasa Parsendi memilih
Sri “Milko” Mulyati sebagai Ketua Umum. Sri adalah pelawak yang peka social,
terus terang, kampungan, buta huruf, sekaligus maha jujur sehingga jauh dari
niatan korupsi. Ini selaras dengan jiwa Parsendi yang sangat antikorupsi.
Menyadari bahwa Parsendi hidup di Indonesia, maka pada pemilu 1999 organisasi
politik (Kumpul-kumpul untuk menggelitik) ini pun menjunjung semboyan penuh
percaya diri:”Hanya ada kata bertuah: Optimis Kalah!”.
Bila Parsendi melumuri dirinya dengan tawa pedih dan senyum sinis, penyair Taufiq Ismail tampil dengan kedongkolan tak tertahnkan. Dalam puisi panjang Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998) ia pun berkata “Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu / Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang susah dicari tandingan / Di negeriku, komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separoh masuk kantong jas safari.”
Dalam seni rupa korupsi juga ramai menjadi tema. Banyak
adikarya yang lahir dari isu membencikan ini. Lukisan Suraji Jakarta Berburu Tikus (2008), misalnya.
Karya ini merupakan pemenang utama dalam kompetisi Jakarta Art Awards 2008 yang
diikuti 3.456 lukisan. Dalam kanvas tampak masyarakat kota sedang riuh
menangkap tikus-tikus raksasa (berdasi!) yang tubuhnya kuat bagai banteng.
Ribuan tangan manusia yang dibantu hewan buas seperti serigala dan harimau tak
juga mampu merungkusnya. Sementara di pojok sana tampak seekor macan putih yang
tertawa gembira lantaran merasa berhasil menangkap tikus-tikus sangat kecil
segede ibu jari saja. Lukisan ini dibeli oleh Gubernur Jakarta Fauzi Bowo.
Perupa Agapethus A. Kristiandana pada tahun 2000-an
menciptakan adikarya seni patung yang menggambarkan sapi bertubuh sangat
panjang, dengan belang kulit yang menggambarkan peta Indonesia. Ia seperti
meramalkan bahwa pada saatnya Indonesia akan diperas bak sapi perah lewat
skandal korupsi import daging sapi, seperti yang sekarang terjadi. Pada Maret
2013 Aris Budiono Sadjad berpameran khusus seni lukis bertema “Perang Suci
melawan Korupsi”. Apa yang dikerjakan membarengi musik Ikang Fauzi, Iwan Fals,
Franky sampai Slank, yang jelas-jelas memusuhi perbuatan busuk itu. Dan secara
moral ikut mendorong lahirnya film antikorupsi Sebelum Pagi Terulang Kembali, yang didukung oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi pada 2014.
Tapi apakah para seniman dirugikan oleh secara langsung oleh
perbuatan para koruptor itu? Seniman, sebagai rakyat, cenderung mengaku tidak.
Lalu kita ingat apa yang dikatakan Jean Jaques Rousseau, filsuf Prancis abad
18. “Sesungguhnya rakyat tidak pernah
dikorupsi. Rakyat hanya ditipu oleh para koruptor.” Bagi seniman, penipuan
justru lebih menyakitkan.***
*Agus Dermawan T, lahir di Rogojampi, Jawa Timur. Menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Seni Rupa ‘Asri’, Yogyakarta. Telah menulis ribuan artikel budaya, seni, sosial, politik di berbagai media massa, seperti Kompas, Tempo, Gatra, Koran Tempo, Koran Sindo, Media Indonesia, Intisari, Femina.
Sumber Tulisan : Buku Sihir
Rumah Ibu, Agus Dermawan T, Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.
Adalah Henry Ford, si raja mobil itu, pada suatu hari keluar
kota bersama mobilnya. Kebiasaannya adalah selalu melihat-lihat dan menikmati
pemandangan sekitar.
Ketika mereka sampai di sebuah desa terpencil, ada beberapa
anak sedang bermain bola. Fokus perhatian Henry Ford tiba-tiba tertuju pada
seorang anak yang hanya tertatih-tatih. Berhenti sebentar, perintahnya kepada
sopir.
Si raja mobil itu turun lalu menghampiri anak yang cacat
kakinya. Siapa namamu? Jimmy jawab si anak. Berapa umurmu? 8 tahun. Kamu suka
bila kakimu sama dengan kaki teman-temanmu itu? Tentu saja, jawab Jimmy, tetapi
kenapa bapak bertanya? Henry Ford menjawab: sebab saya mau kakimu menjadi
normal dan boleh bermain bola dengan lincah.
Kemudian ia masuk lagi ke dalam mobil dan berkata kepada
sopirnya: tugas utamamu hari ini adalah mencari tahu di mana rumah orang tua
Jimmy. Tanyalah apakah mereka setuju, jika kaki Jimmy dioperasi.
Ayah-ibu Jimmy yang sederhana heran, kaget dan tidak percaya.
Mana ada orang di saman sekarang mau berbuat baik tanpa pamrih? Tetapi sopir
itu terus bertanya dan meminta jawaban. Singkat cerita, persetujuan orang tua
Jimmy didapat dan Jimmy boleh dioperasi. Mereka tetap mendesak dan bertanya
siapa sih yang berbaik hati semacam ini? Sopir menjawab: Penderma itu tidak mau
namanya disebut.
Kini Jimmy berseri-seri karena gembira, kakinya sudah
dioperasi dan mendapat pula sepatu khusus. Masih ada lagi tugasmu, kata Henry
Ford kepada sopirnya, pergilah lagi kepada ayah-ibu Jimmy dan katakan mereka
sekeluarga boleh membeli pakaian dan sepatu baru untuk Natal.
Prinsip si raja mobil itu ialah: kita membantu orang agar mereka membantu diri sendiri dan jangan pernah kita biarkan orang bergantung pada kita.
Kisah lain adalah seorang gadis buta. Dia membenci dirinya
dan orang lain karena dia buta. Satu-satunya orang yang dia sayangi adalah
pacarnya. Pacarnya selalu menemaninya dan membantunya di mana pun juga. Maka
kata si gadis buta itu: seandainya pada suatu hari saya bisa melihat, maka saya
akan menikahi pacar saya.
Pada suatu hari si gadis buta mendapat dua mata yang sehat
dari seorang penderma. Si gadis buta akhirnya bisa melihat dunia dan ia amat
bahagia. Betapa kagetnya ia ketika ia melihat bahwa pacarnya itu buta. Pacarnya
bertanya, sekarang kamu sudah melihat, marilah kita menikah. Tetapi si gadis
buta yamg kini sudah melihat itu, menolak dan tidak mau menikahi pacarnya.
Dengan berurai air mata, pacarnya pergi. Lalu menulis surat yang berbunyi
begini: “Tolong jaga baik-baik kedua mata saya, yamg sudah saya hadiahkan
untukmu”. Begitulah banyak orang mengingkari janjinya, bila keadaan telah
berubah.
Hari ini bila Anda menghadapi makanan yang kurang enak dan Anda hendak mengomel, ingatlah ada banyak orang yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk dimakan.
Sebelum Anda mengeluh tentang istri dan suami Anda, ingatlah
masih ada orang yang minta pada Tuhan untuk mendapatkan pasangan hidup.
Bila Anda mengeluh tentang hidup, ingatlah bahwa ada banyak
orang yang mempunyai umur yang pendek.
Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak, ingatlah bahwa ada
banyak orang yang tetap mengharapkan keturunan.
Sebelum Anda mengeluh tentang rumah yang terlalu kecil atau
kotor, ingatlah pada mereka yang tidak mempunyai rumah.
Sebelum Anda mengeluh tentang pekerjaanmu, ingatlah pada
mereka yang tidak mempunyai pekerjaan.
Sebelum Anda menuduh seseorang akan kesalahannya, ingatlah bahwa tak ada seseorang pun yang luput dari kesalahan dan dosa. Dan bila tekanan hidup amat menekan Anda, senyumlah dan berterima kasihlah pada Pencipta bahwa Anda masih hidup, dan boleh menikmati keindahan sekitar dan sesame yang baik terhadapmu.
Hidup adalah hadiah, nikmatilah, rasakanlah dan isilah hidup Anda dengan hal-hal yang berguna.
*Stephie Kleden-Beetz, lahir di Waibalun Flores Timur. Stephie pernah bekerja di Deutsche Welle-radio nasional Jerman dan seorang wartawan lepas. Stephie telah menerbitkan beberapa buku antara lain: Cerita Kecil Saja (Kanisius, 2009), Merajut Kata-Kata (Kanisius, 2011), Tanda Mata (Lamalera, 2016).
Oleh Ansel Deri, Sekretaris Papua
Circle Institute
KEAMANAN dan kedamaian merupakan dua hal yang menjadi kerinduan masyarakat Kabupaten Nduga, Papua. Jaminan keamanan dan kedamaian boleh jadi ialah napas kehidupan masyarakat. Kerinduan rasa aman dan damai, terutama bagi sebagian umat kristiani warga Nduga menjelang dan puncak perayaan Natal 2019, misalnya, masih jauh dari kehidupan sosial warga setempat. Mengapa? Fakta memperlihatkan, setahun belakangan ketegangan bahkan kekerasan masih menyelimuti Nduga.
Publik nasional tentu masih ingat
baik peristiwa kelam berbau SARA di Wamena pada akhir September 2019.
Buntutnya, seperti disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan
Sosial Kemensos RI, Harry Hikmat, Kamis (3/10), sebanyak 32 warga meninggal, 67
luka-luka, belasan ribu orang meninggalkan wilayah Wamena, Jayawijaya, untuk
mengungsi ataupun kembali ke kampung halaman masing-masing.
Duka Nduga ialah duka bangsa. Siapa
pun tentu tak sudi kekerasan antarpihak beranak pinak di tengah upaya
pemerintahan Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin menggelontorkan anggaran
bersumber APBN, dan mendorong sejumlah kebijakan strategis guna memacu
ketertinggalan Nduga serta daerah-daerah lainnya di tanah Papua. Namun, konflik
masih saja terjadi. Bisa saja dalam hati pelaku berdiam frasa ini, ‘kekerasan
ialah satu-satunya bahasa yang saya pahami’. Mengapa Nduga bergelimang konflik dan
kekerasan?
Belum
Membaik
Sejak akhir Desember 2018 hingga
penghujung 2019, kekerasan di Nduga, Papua, belum memperlihatkan tanda-tanda
membaik. Persis dalam konteks relasi Jakarta-Papua. Dalam Dialog Jakarta-Papua:
Sebuah Perspektif Papua (2009), (alm) Neles Tebay, salah seorang penggagas
dialog damai Papua dari Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Dioses Jayapura,
juga mengingatkan, jalan kekerasan tidak pernah menyelesaikan konflik. Soal
yang kini tengah dialami pemerintah dan masyarakat Nduga.
Meski tak terkait dengan kekerasan
Nduga, Neles bicara ihwal kekerasan seperti yang melanda Nduga saat ini. Kata
Neles, kenyataan sejarah di Papua memperlihatkan secara jelas bahwa hingga kini
masalah Papua belum dituntaskan secara komprehensif kendati telah diupayakan
penyelesaiannya melalui berbagai cara. Pada Rabu (14/8), Direktur Yayasan
Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem, memerinci sedikitnya 184
warga sipil meregang nyawa pascaoperasi keamanan di Nduga sejak Desember 2018
hingga Juli 2019.
Menjelang Natal 2019, kekerasan
terus menemui ruangnya. Theo menyebut ada tiga aktor kekerasan, yaitu
masyarakat sipil, TNI-Polri, dan Organisasi Papua Merdeka. Buntutnya, Senin
(23/12/2019), Wakil Bupati Wentius Nimiangge di hadapan warganya menyatakan
mengundurkan diri dari jabatannya.
Wentius berkilah, sudah satu tahun
terjadi kekerasan, pihaknya menghadap menteri, DPR, Panglima TNI, dan Kapolri
meminta pasukan di Nduga ditarik agar masyarakat kembali beraktivitas seperti
biasa. Namun, permintaan tidak direspons sehingga penembakan terhadap warga
terus terjadi. Karena itu, ia memilih mundur sebagai bentuk protes atas operasi
militer karena banyak memakan korban warga masyarakat (Media Indonesia, 26/12).
Bara
dalam Sekam
Kekerasan di Nduga sepintas bukanlah
konflik yang berdurasi pendek, tetapi berkepanjangan sejak puluhan tahun.
Potensi konflik Nduga ibarat bara dalam sekam yang bisa terbakar. Karena itu,
tak berlebihan bila Nduga senantiasa berada dalam zona konflik yang perlu
penangangan serius, tak hanya pemangku kepentingan lokal, tapi juga nasional.
Pertanyaan retorik muncul dari Forum
Kerja Oikumene Gereja-gereja Papua melalui sejumlah pendeta, yaitu Dorman
Wandikmbo, Socratez Yoman, dan Benny Giyai. Menurut mereka, kalau Presiden Jokowi
bisa gunakan pendekatan dialogis dengan Aceh, mengatasi krisis kemanusiaan di
Rohingya dan mendukung kemerdekaan bagi Palestina, mengapa masih gunakan
pendekatan militer di Papua?
Intelektual Papua Markus Haluk dalam
bukunya Konflik Nduga: Tragedi Kemanusiaan Papua (2019)
mengemukakan, Nduga dalam zona konflik mencakup beberapa dimensi.
Dimensi-dimensi dimaksud ialah, pertama, kehidupan sosial politik. Kedua,
religi dan sejarah gereja. Ketiga, administrasi pemerintahan. Keempat,
perjuangan hak penentuan nasib sendiri. Kelima, memoria passionis suku Nduga
dari waktu ke waktu. Memoria passionis ini mengungkapkan berbagai kejadian yang
bertalian dengan pembunuhan dan pelanggaran HAM orang Papua.
Penderitaan warga Papua selama 55
tahun (1 Mei 1963 hingga Desember 2018) bersama Indonesia, demikian Haluk,
dialami dengan tindakan berbagai operasi terbuka dan tertutup yang dilakukan
pemerintah Indonesia kepada warga Papua.
Sejumlah contoh operasi militer yang
berakibat pada pelanggaran HAM terhadap rakyat Papua dapat dikemukakan di sini.
Misalnya, Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Barathayudha (1967-1969), Operasi
Wibawa (1969), Operasi Militer di Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih I dan
II (1980), dan Operasi Militer Pembebasan Mapenduma (1996). Bagaimana langkah
efektif pemerintah pusat dan daerah serta semua pemangku kepentingan mengurangi
kekerasan Nduga? Ini pertanyaan penting. Salah satu pilihannya, dialog
sebagaimana disampaikan tiga gembala Papua: Dorman, Socratez, dan Giyai. Dialog
ini juga pernah disampaikan Muridan S Widjojo dkk (2009), bertolak dari empat
akar persoalan di Papua. Akar persoalan itu ialah diskriminasi dan
marginalisasi, kegagalan pembangunan, pelanggaran HAM, serta sejarah dan status
politik.
Catatan editorial Media Indonesia,
Jumat (27/12), menarik. Pendekatan kesejahteraan bagi Papua (termasuk Nduga
tentunya) sudah tidak bisa ditawar lagi. Semua sepakat, kesenjangan pembangunan
selama ini juga menjadi faktor pemantik munculnya aksi-aksi perlawanan dari
sebagian rakyat di sana.
Apresiasi tentu juga dialamatkan
kepada Presiden Jokowi dan jajaran pemerintahan mulai pusat sampai daerah.
Membangun Nduga dan daerah-daerah lainnya di Papua, mengupayakan kesejahteraan
rakyat ialah pilihan rasional sejak awal memimpin negeri ini. Namun, kekerasan
yang terjadi hampir setahun belakangan ini merupakan persoalan serius yang
tentu tak dapat dibiarkan berlarut-larut.
Presiden Jokowi perlu mengundang
para pemangku kepentingan lokal segera bertemu guna mencari alternatif solusi
mengurai kekerasan agar rakyat Nduga tak tersandera lagi dalam kubangan konflik
dan kekerasan berkepanjangan.
Para kepala distrik, ondoafi (kepala
suku), pimpinan gereja lokal, tokoh pemuda dan perempuan juga perlu diundang
bersama bupati, wakil bupati, DPRD setempat, pimpinan aparat keamanan untuk
duduk bersama mencari alternatif solusi damai.
Duduk bersama satu meja dalam
semangat persaudaraan sejati, boleh jadi ialah kado istimewa pemerintah bagi
masyarakat Nduga memasuki babak baru kehidupan awal tahun yang damai dan penuh
cinta. Tiga aktor kekerasan seperti disampaikan Hesegem: masyarakat sipil,
TNI-Polri, dan Organisasi Papua Merdeka perlu juga bergabung dan duduk satu
meja. Memandang Nduga dan Papua sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi, surga
penuh cinta dan damai.
Dari tanggal 3 sampai dengan 15 Desember2017 digelar
Konferensi PBB tentang Pemanasan Global di Denpasar, Bali. Pertemuan penting
ini di selenggarakan karena masalah pergeseran iklim bumi sebagai akibat dari
pemanasan global. Hujan dan salju yang tidak datang pada waktunya membawa
kebingungan dan kecemasan pada manusia. Suhu yang semakin naik membuat makhluk
hidup kehilangan orientasi. Bukan mustahil, kebingungan dan kehilangan
orientasi itu berakibat pada perubahan wajah bumi dan punahnya spesies tertentu
dan makhluk hidup.
Tampaknya pergeseran serupa kita alami pula dengan
perayaan-perayaan keagamaan,seperti Natal. Suasana yang khas, yang boleh jadi
dialami dahulu, terasa sudah bergeser. Taka da lagi yang khusus. Banyak orang
kehilangan orientasi. Masa advent tidak lagi menyajikan suasana istimewa
persiapan Naatal. Akibatnya seperti tiba-tiba, kita telah berada di ambang
Natal.
Namun, sebenarnya peristiwa ini terlampau agung untuk
dibiarkan pergi bersama berlalunya waktu. Belum terlambat untuk memberi makna
padanya. Untuk dapat menyelami makna yang mendalam dari perayaan Natal, kita
perlu membongkar berbagai pemahaman yang kurang tepat dari praktik yang
menyeleweng. Dengan demikian Natal menjadi sebuah moment untuk belajar dan
berubah.
Desakan Harapan
Pada dasarnya setting
Natal bukan terutama kandang hewan yang mudah membangkitkan rasa haru. Aktor
utamanya bukan sepasang suami istri yang ketiadaan tumpangan, yang merah
mukanya mendengar umpatan tuan rumah yang menolak memberikan penginapan. Natal
bukan pertama-tama diistimewakan oleh bintang yang bersinar benderang di malam
yang kelam, yang menjadi inspirasi untuk
sebuah lagu dan syair yang menggugah. Juga bukan terutama berkenaan dengan
nyanyian merdu para malaikat yang membangunkan dan mengundang rasa kagum para
pekerja di padang gembalaan.
Memang, semua yang disebutkan di atas termasuk dalam kisah
Natal. Namun, kisah itu hanya dipahami secara benar apabila kita menempatkannya
pada suatu latar belakang yang jauh lebih luas. Natal harus ditempatkan pada
horizon penantian yang sangat panjang, mendesak sekaligus aktual. Karena itu,
bukan tanpa alasan orang-orang Kristen melewati masa penantian selama empat
minggu, sebelum merayakan pesta Natal. Masa penantian itu melambangkan harapan
yang panjang dari umat manusia.
Natal adalah jawaban Allah atas harapan yang mendalam dari
sejarah panjang umat manusia. Di tengah situasi kehidupan dengan berbagai
persoalannya, terkristalisasi harapan yang mendesak akan intervensi ilahi yang
mengatasi semuanya. Secara sangat padat harapan itu diungkapkan oleh Yesaya,
seorang nabi Yahudi dari abad ke-8 SM: “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan itu
telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya
terang telah bersinar….sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas
bahunya telah Kaupatahkan……..sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap
dan setiap jubbah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. Sebab seorang
anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan bagi kita” (Yesaya
9: 1-6).
Pernyataan sang nabi itu merupakan ungkapan kerinduan manusia
yang mengalami ketertekann karena tanggungjawab kehidupan yang semakin berat.
Tidak hanya pada waktu itu. Sang nabi membahasakan kerinduan dan harapan kita
juga. Tuntutan dan beban kerja yang kian tidak manusiawi di bawah ancaman PHK
yang sangat riil, ruang gerak ekonomi yang semakin sempit, yang tak jarang
memaksa orang menjual harga dirinya sebagai manusia; kerakusan akan kekayaan
yang menghancurkan keseimbangan alam. Di tengah situasi seperti ini, manusia
merindu dan berharap agar beban yang menekan, yang sering membuatnya malu,
diangkat. Warga bangsa seperti ini tidak ingin lagi terus menunduk,
menyembunyikan wajahnya, terpuruk dalam kehinaan.
Dalam kenyataan, memang banyak orang mesti hidup di bawah
komando orang lain yang bertindak sewenang-wenang. Kesewenangan itu tidak
jarang menampilkan diri dalam bentuk kekerasan dan symbol-simbol kekerasn. Ada
pemaksaan yang menggunakan perangkat perundangan dan aparat negara. Negara dan
perangkatnya dialami sebagai institusi yang mewakili kepentingan para pemodal
besar daripada kesejahteraan umum. Mereka menekan masyarakat untuk bekerja di
bawah kondisi yang tidak bersahabat demi peningkatan profitnya sendiri.
Lembaga-lembaga demokrasi lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas wacana
demokrasi, karena kuantitas lebih gampang memberikan kriteria objektif untuk
mendapat uang dan serentak memperbanyak kesempatan untuk melakukan korupsi. Rakyat
kehilangan instansi dan oknum yang bersedia menyuarakan desahan penderitaan
mereka. Dalam situasi seperti ini tumbuh harapan agar tongkat penindas sefera
dipatahkan. Tak akan ada lagi penguasa yang bertindak sewenang-wenang di atas
penderitaan orang banyak.
Kenyataan lain yang sangat membelenggu masyarakat adalah rantai balas dendam yang sengaja dibiarkan tidak pernah putus. Kerusuhan-kerusuhan yang secara terencana tidak pernah diselesaikan dengan tuntas, yamg selalu menyembunyikan tokoh kunci di balik nama misterius ‘dalang’ atau ‘aktor intelektual’, menimbun rasa dendam yang berkelanjutan pada masyarakat. Di tengah kondisi masyarakat seperti ini, dibutuhkan sebuah pemicu yang sangat tidak berarti untuk memunculkan aksi kekerasn yang meluas. Maka tindak kriminal pun menjadi semakin tidak terbendung. Ketidakpercayaan terhadap penyelesaian masalah oleh lembaga publik menemukan kompensasinya dalam tindakan main hakim sendiri. Banyak mantel menjadi berdarah-darah. Dari dalam kondisi ini terumus harapan agar mantel berdarah yang memendam dendam itu dihanguskan. Bayang-bayang penderitaan masa lalu yang menghantaui akan ditiadakan, agar dengan lebih bebas orang menatap dan melangkah ke depan.
Buku “DI TEBING WAKTU’ Karya Paul Budi Kleden
Kesederhanaan Natal
Memahami Natal dalam prespektif kerinduan dan harapan yang
panjang dan mendesak itu, memunculkan pertanyaan: Apakah harapan besar itu
menemukan pemenuhannya dalam peristiwa yang dirayakan sebagai Natal? Allah
datang ke dunia dalam sosok seorang bayi, putera sepasang suami-istri yang miskin
secara ekonomi dan tidak berpengarug secara politis. Dapatkah kerinduan itu
mendapatkan jawabannya dalam kehinaan dan ketakberdayaan serupa itu?
Hemat saya di sini kita mengenal ironi Natal. Betapa tidak!
Kesukaan besar, dapatkah itu ditemukan pada kelahiran seorang anak dari sebuah
keluarga miskin yang sedang ketiadaan tumpangan? Berita gembira bagi seluruh
bangsa, mungkinkah itu bermula dari pinggir sebuah kota kecil? Juruselamat,
bisakah Dia dijumpai dan dialami di dalam diri seorang bayi? Pembebas, dalam
sosok anak kecil yang terikat lampin di kawan hewan? Yang membebaskan, dalam
Dia yang dikandangkan? Kristus yang diurapi, di tengah bau binatang, pemilik
sah dari kandang itu? Rentetan pertanyaan ini mengungkapkan ironi Natal.
Orang Kristen merayakan Natal sebagai pesta Allah memberikan
jawaban-Nya kepada harapan manusia. Apakah ini sebuah jawaban yang memadai?
Yang diimpikan adalah keselamatan, namun yang ditemukan adalah sebuah
kemiskinan. Yang dinantikan adalah pembebasan, tapi yang diberikan adalah
sebuah ketakberdayaan. Yang dirindukan adalah kepastian, sementara yang
dijumpai adalah seorang bayi, tanda paling jelas dari ketidakpastian. Ini
adalah sebuah ironi, karena jawaban yang diberikan Allah terlampau kecil untuk
segudang pertanyaan yang kita kandung dalam diri kita. Kelahiran itu tampaknya
terlalu tak berarti untuk kerinduan kita
yang sangat besar. Palungan itu terlalu sederhana untuk membungkus hadiah yang
kita harapkan. Lalu apa makna ironi itu?
Natal bukanlah jawaban tuntas dari Allah yang sanggup
mendiamkan semua pertanyaan manusia. Natal tidak dapat sebagai akhir dari
sejarah. Ke;ahiran Kristus bukanalah jawaban yang memberikan kepenuhan bagi
serba kerinduan dan impian manusia. Sebaliknya! Kelahiran itu menyingkapkan
sederetan pertanyaan baru, membakar kembali kerinduan manusia, menyalakan lagi
impiannya. Natal, kelahiran Kristus, bukan titik final dari segala ziarah,
bukan penyelesaian semua tugas dan akhir segala beban kehidupan. Sejarah Allah
dan manusia tidak berhenti di sini.
Natal berarti Kristus lahir dalam sebuah kehinaan, ditengah
kekelaman nasib para miskin, dalam kepeutusasaan sekian banyak bangsa yang
terpenjara karena kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Kristus tidak
datang untuk menutupi semua itu. Sebaliknya, Dia datang untuk menyingkapkan
semua itu. Dia datang agar kemiskinan, keputusasaan, aib dan ketakberdayaan itu
tidak terus disembunyikan.
Tempat kelahiran-Nya adalah sebuah wilayah kumuh, daerah
gelap, daerah yang sengaja digelapkan agar tidak tampak, yang disembunyikan di
balik tirai. Dia lahir di tengah kelompok orang miskin. Mereka ini adalah
kelompok yang disembunyikan, yang ditutup-tutupi supaya tidak mencoreng
kejayaan sebuah rezim. Apa yang tidak semestinya, hendak disembunyikan, supaya
ada kesan baik tentang rezim yang sedang berkuasa. Lalu, perlahan yang miskin
sebagai korban ketidakadilan itu dianggap tidak ada. Pertanyaan yang seharusnya
timbul kareana kenyataan ini perlahan hilang. Manusia hidup seolah semuanya
beres, tanpa masalah, tanpa pertanyaan yang mendesak semua jawaban.
Terang Natal bukanlah terang yang menyilaukan dan membutakan.
Kesyahduan Natal bukanlah sebuah undangan untuk tenggelam dalam sebuah histeria
massal. Natal memang jawaban Allah, namun jawaban itu memancarkan sinar atas
banyak hal yang belum beres. Jawaban itu membangkitkan sederetan pertanyaan
baru tentang apa yang mesti dilakukan. Natal berarti Allah memberanikan manusia
untuk melihat kekelaman yang masih saja merundung banyak bangsa dan sekelompok
masyarakat, menyoroti kegelapan yang masih tersisa dalam hidup kita sebagai
manusia.
Natal memiliki sebuah ironi. Namun ironi itu bukan untuk
mematikan, melainkan untuk membongkar semua rasa puas diri dan mental
triumfalistis. Ironi Natal mengingatkan bahwa kita masih terus menempuh sebuah
jalan panjang mengubah kandang menjadi rumah yang layak bagi semua. Natal
adalah sebuah simpul pada harapan panjang umat manusia.
Sumber Tulisan dari Buku ‘DI
TEBING WAKTU’ Penerbit Ledalero, 2009
APA yang diharapkan dari seorang pemimpin –di semua level kepemimpinan– tatkala ia mendapat mandat dari rakyat yang dipimpinnya? Bagi pemimpin itu sendiri, apa pelajaran paling utama selama memimpin? Dua pertanyaan saya ajukan bagi masyarakat Kabupaten Dogiyai memperingati dua tahun kepemimpinan Bupati Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oscar Makai (selanjutnya Dumupa dan Makai), yang jatuh pada 18 Desember 2019.
Apa urgensinya membuat catatan ringkas ini sebagai seorang
“asing” di mana lokus domisili saya yang sangat jauh dengan Dogiyai, kabupaten
nun di tanah Papua, nusa awal matahari menyapa bumi Pertiwi? Lalu apa pula
mesti saya menuangkan waktu dan pikiran kecil ini sedangkan siapa sosok Bupati
Dumupa dan wakilnya, Makai, tak pernah saya jumpai secara langsung? Ini
pertanyaan retoris lainnya dalam benak saya. Jawaban bisa beragam. Namun,
jawaban atas pertanyaan di atas bertolak dari berbagai sumber dan
catatan-catatan pribadi Bupati Dumupa di media sosial.
Pemimpin Potensial
Siapa sosok sesungguhnya Bupati Dumapa, setiap warga Papua
terutama masyarakat Dogiyai dan sekitarnya tentu punya testimoni. Namun, paling
kurang ada hal yang menguras dasar jiwa dan batok saya untuk menjawab
pertanyaan di atas. Pertama, saya memandang Bupati Dumupa seorang pemimpin potensial
yang lahir dari rahim tanah dan honai sendiri, Dogiyai. Ia bukan sekadar anak
muda karbitan yang bersolo karir di bidang politik hingga meraih kursi
pemerintahan sebagai orang nomor satu Dogiyai.
Namun, lebih dari itu. Pejalanan karier seorang Dumupa
dimulai saat diberi mandat rakyatnya menduduki posisi sebagai anggota Majelis
Rakyat Papua (MRP), wadah sosial kultural yang hadir sebagai salah satu
perintah Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Panggilan kampung halaman
yang memenuhi ruang batinnya membawanya menjadi Bupati Dogiyai dalam usia yang
relatif muda. Ia juga putra asli Dogiyai dan seorang intelektual muda lulusan
sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.
Kedua, dalam catatan saya, tipikial pemimpin sekelas Dumupa,
tak sekadar dibutuhkan untuk memimpin kabupaten yang masih jauh tertinggal
dalam berbagai dimensi kehidupan sosial. Namun, lebih dari itu sosok dan
kemampuan dia adalah kerinduan bagi Papua bahkan Indonesia di masa akan datang.
Ia seorang pemimpin yang tak hanya memimpin kabupaten dalam artian
sesungguhnya. Lebih dari itu, ia seorang intelektual muda masa depan Papua dan
Indonesia. Berlebihan? Tentu tidak demikian.
Paling kurang itu dalam pikiran saya. setahu saya Bupati
Dumupa seorang penulis produktif yang baik. Ia sungguh tengah merawat peradaban
Indonesia melalui karya tulis berupa buku bertema kepemimpinan, politik,
pembangunan, dan sastra. Hingga saat ini –setahu saya– sudah sembilan buku
karya Bupati Dumupa. Dalam catatan saya, dua buku terakhir karya Bupati Dumupa
yang terbit penghujung 2019 adalah Kata yang Menghidupkan dan Apa Itu Cinta?
lewat Penerbit Ikan Paus, Lamalera, Lembata.
Dalam dua buku itu, pria asli suku Mee itu menuliskan
kata-kata inspiratif atau ekspresi cintanya kepada Tuhan, sang Sumber Cinta via
laman Facebook miliknya bagi pembaca, tak hanya di Kabupaten Dogiyai atau Papua
namun juga umat manusia penikmat kebesaran cinta-Nya di bawah kolong langit.
Boleh jadi, ia adalah salah seorang bupati di tanah Papua yang tergolong
produktif dalam menulis buku (tentu masih ada bupati lain di Papua yang juga
menyisikan waktu menulis buku). Menemukan sosok bupati penulis di era
keterbukaan teknologi informasi adalah –seperti kata anak baru gede/ABG–
sesuatu banget. Mereka, para pemimpin yang juga penulis adalah kelompok yang
ikut merawat peradaban umat manusia lewat tradisi literasi.
Melayani hingga Kampung
Dumupa dan Makai dilantik Gubernur Papua Lukas Enembe di
Gedung Negara, Dok V Jayapura, Papua, Senin, 18 Desember 2017. Pada saat
bersamaan, Gubernur Enembe juga melantik Wakil Bupati Yalimo Erdi Dabi sisa
masa jabatan 2016-2012. Salah satu pesan penting Enembe ialah pejabat yang
dilantik dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka diharapkan
bergandengan tangan melaksanakan tugas di kabupaten dan menjalankan kewenangan
daerah sesuai peraturan yang berlaku.
Berikut dapat memantau jalannya pemerintahan baik di tingkat
kabupaten hingga kampung. “Saya ingin berpesan untuk Bupati dan Wakil Bupati
yang terpilih agar dapat menjalankan pemerintahan dengan sungguh-sungguh untuk
mensejahterakan rakyat dalam bingkai NKRI,” ujar Gubernur Enembe kepada Bupati
Dumupa dan wakilnya, Makai, saat berlangsung prosesi pelantikan. Pesan ini mau
tidak mau menuntut kesiapan pemimpin memberi diri, menjadi pelayan masyarakat.
Meski demikian, menjadi pemimpin tentu tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Ia (pemimpin) dituntut bekerja dengan totalitas
pengabdian bersama warga masyarakat bekerja keras memaksimalkan seluruh potensi
sumber daya alam yang dimiliki guna memajukan daerah sesuai kemampuan yang
dimiliki. Dalam konteks Dogiyai, Dumupa dan Makai dituntut memajukan daerah
yang dipimpinnya sesuai visi yang diusung ‘Dogiyai Bahagia’. Mewujudkan Dogiyai
bahagia, tersenyum, aman, sejahtera lahir dan batin hanya bisa digapai melalui
kepemimpinan melayani melampaui sekat-sekat primordial. Entah suku, agama, asal
usul dan relasi kekerabatan. Ia (pemimpin) siap memberi hati, waktu, tenaga,
pikiran, ilmu bahkan nyawa untuk kemajuan rakyat dan daerahnya mulai dari kota
hingga kampung. Selamat merayakan dua tahun kepemimpinan untuk Bupati Yakobus
Dumupa dan Wakil Bupati Oskar Makai pada 18 Desember 2019. Hormat dibri. Tuhan
berkati. Wa wa wa……….
Ansel Deri, Sekretaris Papua Circle Institute; Tenaga Ahli Anggota DPR Dapil Papua 2009-2014
“The first time I read an excellent book, it is to me just as if I
had gained a new friend. When I read over a book I have perused before, it
resembles the meeting with an old one.” (Oliver Goldsmith)
LANGKAH memasuki sebuah toko buku,
nampak biasa saja, semua kita alami. Bahwa kita menuju ke rak berisi buku
dengan kategori yang kita cari, normalnya memang demikian. Bila sudah kita
temukan buku yang dicari, kita akan segera membayarnya. Tapi bagaimana kalau
mendadak mata melihat sesuatu yang lain? Mengapa tangan ini segera menggapai
buku itu lalu menyimak reviewnya? Menurut saya, langkah orang ini sudah diatur
oleh alam semesta, tanpa disadari, karena ada kebutuhan tertentu yang
menghendaki hadirnya buku tersebut ditangannya. Dan dua buku yang sudah diambil,
ditinggalkan dan malah membeli buku terakhir ini. Mengapa buku ini jadi
menarik?
Bermula dari penasaran
Namanya Retno Wulandari, yang
kisahnya ini diposting di LinkedIn, dan atas ijinnya saya sajikan kembali
secara utuh di blog ini untuk pembaca semua:
26 Oktober 2019.
Kali kedua gajian mundur dan dompet
sudah menipis, tapi hasrat ingin beli buku sangat tinggi, sehingga berhasil
mendaratkan saya di toko buku salah satu mall di Jogja.
Ketika akhirnya sudah menemukan buku
yang saya inginkan, tiba tiba saya melihat di rak paling bawah bagian ‘Self
Improvement’ ada buku berjudul #CurhatStaf . Penasaran dengan isinya, saya
ambil buku tsb dan membaca bagian reviewnya.
Menimbang-nimbang untuk membelinya
dan merelakan buku yang sudah saya ambil, (mengingat keadaan dompet yang masih
kritis) akhirnya saya putuskan untuk membawanya pulang & merelakan 2 buku
lainnya.
#CurhatStaf. Kenapa akhirnya saya
membeli buku ini? Jujur saja, selain saya sangat penasaran dengan isinya, buku
ini terasa cocok dengan keadaan kantor saya saat itu, banyak gap & chaos
antara staff & atasan, yang membuat kondisi tempat kerja semakin tidak
nyaman.
Belajar dari buku tsb, akhirnya saya
sedikit-banyak mengerti sebetulnya kebutuhan akan pemimpin seperti apa yg staff
idamankan (ya meskipun saya juga masih staff hihi) Belajar dari sekarang,
sebelum naik ke jenjang selanjutnya.
Terimakasih Pak Josef Bataona
sudah membuat buku ini!
Semoga semakin banyak yang
terinspirasi oleh Bapak.
N.B : bonus quotes favorit saya.
Sayapun menanggapinya dengan
antusias:
Terima kasih Retno Wulandari C.W.
Sudah memilih untuk membaca buku #CURHATSTAF Seni Mendengarkan Bagi Para
Pemimpin. Saya juga kagum akan niat Retno untuk belajar agar suatu waktu saat
menjadi Pemimpin bisa lebih bijak. Salam
Paragraf terakhir tulisan Retno
justru menarik perhatian saya. Dia sedikit banyaknya paham tentang Pemimpin
yang diidamkan staf itu seperti apa, terutama karena dia bisa menghubungkannya
dengan kenyataan yang dilihatnya disekitar tempat kerjanya. Dan tidak kalah pentingnya
adalah, dia mulai belajar agar suatu ketika dia menjadi pemimpin, dia bisa
berperilaku yang lebih bijak. Kita semua doakan semoga Retno sukses meraih yang
dia impikan.
Makna Dibalik Tulisan
Jari-jari kita seakan lancar saja
mengetik apa yang ada di dalam pikiran. Kata-kata yang kita rangkai ternyata
mempunyai roh, mempunyai daya tarik yang bisa menginspirasi siapa saja yang
membacanya. Apalagi, setelah dibaca isi yang menginspirasi itu dibagikan
kembali kepada yang lain, dan menciptakan bola pembelajaran terus bergulir,
dengan multiplied effect. Steven Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly
Effective People juga mendorong kita untuk setelah belajar, mencoba
mengimplementasi untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman, dan kemudian kita
bagikan lagi pengetahuan tersebut yang sudah diperkaya dengan pengalaman
praktis.
Karena itu, tidak berlebihan kalau
Meisia Chandra juga turut memberikan komen melalui email:
“…… seperti inilah reward tak
terduga dan sangat berarti dari berkarya. Waktu menulis kita ga pernah tahu
bagaimana karya itu akan dipersepsikan dan dimaknai oleh orang lain, seolah
karya itu sudah memiliki jati diri sendiri. Syukurlah ketika karya itu dapat
benar2 related dan membantu dalam kehidupan real seseorang. Lanjutkan pak !”
Dan Retno yang empunya cerita ini,
sadar benar bahwa, ini bukan berkaitan dengan berapa harga buku #CurhatStaf
yang dia beli, tapi berapa ongkos yang harus ditanggung dalam kehidupan ini,
seandainya dia tidak membaca buku ini, seperti kata bijak Jim Rohn yang
mengakhiri tulisan ini.
“It isn’t what the book costs; it’s what it will cost if you don’t read it.” (Jim Rohn)
“If you don’t understand generational differences, You overreact
to the small things, ignore the big things, and propose the wrong things.”
(Haydn Shaw)
PERUBAHAN terus terjadi seputar
kita. Tanpa kita melakukan apa-apa, dampak pada diri kita atau organisasi kita
akan terjadi, cepat atau lambat. Dengan membuka mata dan telinga lebar demi
menyimak perubahan itu akan sangat membantu kita dalam menyikapinya. Apalagi
secara proaktif kita mengantisipasi, mempersiapkan diri untuk perubahan jangka
Panjang.
Kagum akan Pendekatan
Menjaring generasi muda untuk
menjadi agen perubahan di perusahaan swasta, itu sudah biasa. Berbagai program
transformasi yang dilakukan dengan pendekatan yang professional, juga lumrah
dilakukan dengan melibatkan semua unsur lintas divisi maupun lintas generasi.
Namun telpon yang saya terima hari itu membuat saya tertegun kagum: Departemen
Keuangan mempunyai unit transformasi, dengan melibatkan agen-agen lintas divisi
dan lintas generasi. Lebih mengagumkan lagi, mereka memang membuka diri untuk
belajar dari berbagai sumber di masyarakat, dari perusahaan swasta local maupun
multinasional, start-up company, individu dan lain-lain. Mereka diundang di
sesi pagi untuk memberikan perspektif yang berbeda serta pendekatan mereka yang
unik demi meraih sukses.
Foto Bersama Menteri Keuangan, ibu
Sri Mulyani, sesudah beliau memberikan pengarahan.
Salah satu butir kecil yang diminta
bu Menteri dalam pengarahannya, tapi ini merupakan contoh apakah mereka mau
berubah atau tidak: agar mulai besok semua eselon 1 dan 2 harus makan siang
dengan orang yang berbeda setiap hari. Jangan hanya satu divisi, satu kampung
atau satu sekolah saja. Walau disambut dengan tertawa peserta, namun saya
percaya bahwa untuk melaksanakannya diperlukan komitmen tulus.
Saya diundang sebagai narasumber
dalam kegiatan tahunan bersama para Change Agent Kementerian Keuangan, untuk
mengaddress isu mengenai tantangan komunikasi multi-generasi di Kementerian
Keuangan, bersama Coach Nina Moran dengan moderator Coach Zizi (Zivanna Letisha
Siregar), Miss Universe Indonesia 2009.
Eco-System yang perlu
sentuhan
Saya sangat yakin, ibu Menteri
Keuangan dan tim sangat paham kebutuhan akan perubahan secara organisasi,
system, procedural. Mereka juga sangat sadar bahwa pada akhirnya manusia yang
terlibat disana yang menentukan berhasil atau tidak. Walaupun sekitar 60% tim
adalah milenial, sementara itu generasi yang lebih tua pun masih hadir disana
terutama pada posisi-posisi menentukan dalam pengambilan keputusan. Sementara
itu mereka semua harus sepakat akan pola interaksi, cara komunikasi secara
terbuka yang mampu mengakomodasi berbagai perubahan. Eco-system ini harus
diciptakan, agar ide-ide cemerlang di kepala masing-masing tidak mengalami
hambatan saat difasilitasi untuk dialirkan keluar. Karena itu tidak berlebihan
kalau tema yang mereka pilihkan untuk saya fokus adalah: Seni
Mendengarkan dan Tanggung Jawab Bersama Membangun Team yang Resilience. Dari
sini kita bisa memahami bahwa masing-masing generasi yang hadir akan memainkan
peran penting. Namun bila mana terjadi potensi benturan, maka tak boleh ada
yang patah atau pecah, karena mempunyai daya lentur yang tinggi.
Provokasi Tim
Transformasi
Tujuan kami bertiga adalah untuk
memprovokasi team transformasi, untuk bisa terus berusaha menemukan cara2
berkomunikasi yang tepat di lingkungan kerja yang multi generasi. Mereka tidak
mungkin bertransformasi dengan pendekatan perintah atau instruksi. Transformasi
tidak akan berjalan mulus kalau semua unsur tidak sepenuhnya memahami arah
kedepan. Dan transformasi akan bisa berjalan mulus kalau tercipta suasana
terbuka, untuk dialog, untuk menggugah munculnya ide2 kreatif, untuk membuat
anggota tim merasakan kalau ide mereka dihargai, sehingga mereka akan dan mau
mengutarakan semua yang mereka pikirkan.
Kita semua sadar bahwa perubahan itu
tidak terjadi dalam semalam. Namun demikian niat mereka untuk memulai sudah
sangat positif. Tinggal tantangannya adalah seberapa cepat mereka bisa berlari
mengejar berbagai ketinggalan, seberapa tinggi semangat dan daya tahan untuk
terus berlari mengawal transformasi tersebut. Kita semua doakan semoga SUKSES.
“When you encounter difficulties and contradictions, do not try to break them, but bend them with gentleness and time.” (St Francis de Sales).
Naskah berikut merupakan naskah kerja untuk rangkaian program Philosophy Underground – Komunitas Utan Kayu, yang telah berlangsung sejak 2016. Naskah ini dipresentasikan pada 27 September 2019, dan dibukukan dalam buku saku kecil oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) sebagai bahan panduan peserta.
Pengantar
Bagi seorang filsuf seperti Edmund Husserl (8 April 1859 – 27 April 1938) yang menghabiskan separuh karirnya sebagai ahli matematika, pernyataan bahwa ilmu-ilmu modern sedang berada dalam krisis merupakan pernyataan keras yang memerlukan pertanggungjawaban tersendiri. Bagi Edmund Husserl Sang Pendiri Fenomenologi, yang mementingkan peran metode dan rigoritas cara kerja ilmu, persoalan krisis dalam ilmu-ilmu modern harus diajukan secara metodik dan rigor.
Jawaban Husserl terhadap persoalan krisis ilmu-ilmu modern ia ajukan dalam 2 karya: 1) The Origin of Geometry [Der Ursprung der Geometrie als intentional-historisches Problem / 1936], dan 2) The Crisis of European Sciences and Trascendental Phenomenology [Die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie: Eine Einleitung in die phänomenologische Philosophie / post-humous 1938].
Jawaban Husserl atas tanda-tanda krisis ilmu menjadi batu penjuru yang menetapkan arah filsafat pada zaman berikutnya. Dari respon Husserl itulah kemudian muncul aliran-aliran terkenal seperti eksistensialisme dan pasca-modernisme.
Naskah ini akan membahas argumen-argumen kunci Husserl dalam 2 karya penting tersebut di atas dengan alur pembahasan sebagai berikut: pertama-tama akan diuraikan konteks sosio-historis pergulatan filsafat dan sains pada zaman Husserl (1), berikutnya akan dijabarkan pokok permasalahan yang diajukan Husserl terhadap ilmu-ilmu modern (2), untuk kemudian menakar bagaimana pengaruh serta relevansi argumen-argumen dasar Husserl itu bagi perkembangan filsafat dan ilmu di abad ke-20 dan 21 (3).
1. Fenomenologi sebagai Kritis atas Saintisme: Dari Positivisme hingga ke Fasisme dan Komunisme
Pada Januari 1935 Edmund Husserl masuk ke dalam 5 besar daftar merah polisi partai fasis Nazi (SS) sebagai intelektual yang perlu diawasi 24 jam. Sebabnya sederhana, Husserl berdarah Yahudi. Murid kesayangannya, Martin Heidegger, yang secara pribadi direkomendasikan Husserl untuk menggantikannya sebagai rektor Universitas Freiburg, mengetahui hal ini tetapi tidak melakukan apa pun. Efek dari UU Kamdagri Jerman yang baru berlaku itu antara lain Husserl tidak diperbolehkan untuk: menulis atau menerbitkan tulisan apa pun baik pribadi mau pun di publik, berbicara di publik atau kelas-kelas privat, menerima tamu di rumahnya, berdiskusi di rumah pribadi atau di publik dengan siapa pun kapan pun.
Atas prakarsa Jan Patočka (tokoh Piagam 77 HAM) dan Emmanuel Levinas, yang paham betul perkembangan situasi di Jerman ketika itu, Pada November 1935 Husserl diundang ke Praha (saat itu Cekoslovakia) untuk memberikan rangkaian kuliah ‘pengantar’ fenomenologi bagi forum filsafat Cercle philosophique de Prague.
Naskah yang disiapkan Husserl untuk forum tersebut akan menjadi naskah sistematis terakhir yang ditulis Husserl sebelum meninggal pada 1938. Naskah pada forum tersebut, yang dikenal sebagai ‘naskah-naskah Praha’, juga menjadi bahan utama buku Krisis yang diterbitkan oleh asisten Husserl, Eugen Fink, setelah Husserl meninggal.
Sejak awal perkembangan fenomenologi pada 1900 lewat terbitnya buku Logical Investigations (3 Jilid) hingga 1938 sesaat sebelum ia meninggal, sebagian besar karya Husserl merupakan ‘Pengantar Fenomenologi’. Misal: Pengantar menuju fenomenologi perihal kesadaran waktu internal (1905), pengantar fenomenologi murni (1907), pengantar menuju fenomenologi psikologis (1911), pengantar menuju logika formal dan transendental (1929), pengantar menuju fenomenologi transendental (1931). Sebagai catatan tambahan, Husserl meninggalkan lebih dari 40.000 naskah fenomenologi yang belum terjamah para ahli. Naskah itu kebanyakan ditulis dalam kode stenografi Habelsberg, dan tersimpan di Husserl Archive Belgia.
Sebagaimana umumnya ‘pengantar’, ‘Pengantar-pengantar fenomenologi’ yang ditulis Husserl menghantar pembacanya ke dalam dua hal pokok: 1) Persoalan-persoalan dasar yang dihadapi fenomenologi, dan 2) metode utama yang digunakan fenomenologi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Metode merupakan kekhasan yang membedakan fenomenologi dari aliran filsafat lain dan secara khusus membedakan fenomenologi dari ilmu-ilmu alam.
1.1. Perihal Metode Fenomenologi
Dalam kaitan dengan metode, karya-karya Husserl memiliki konsistensi internal yang kuat. Misalnya, buku Krisis merupakan tematisasi dari metode fenomenologi transendental yang telah ditegaskan sebelumnya dalam buku Meditasi Cartesian (cartesianische Meditation / 1929). Buku Meditasi sendiri merupakan perumusan lebih jauh dari prinsip-prinsip metode yang dijabarkan di buku Gagasan-gagasan (Ideen zu einer reinen phänomenologische Philosophie / 1907). Begitu seterusnya, jejak pemikiran Husserl dapat dilacak hingga ke karya fenomenologi awal, yaitu Penyelidikan-penyelidikan Logika (Logische Untersuchnungen / 1900-1901). Hal ini berbeda misalnya dengan Max Scheler yang menulis karya sesuai dengan mood di hari atau bulan itu, dan tanpa konsistensi metode antara satu dengan lainnya.
Secara garis besar kekhasan metode fenomenologi terletak pada penyelidikan atas fenomena khas manusia, yaitu kesadarannya. Apa yang khas dari kesadaran spesies manusia adalah: 1) sifatnya yang dua-sisi: selalu intensional atau terarah pada suatu hal, sekaligus juga terbuka pada berbagai kemungkinan (misal lewat persepsi), 2) sifatnya yang merentang secara tak terbatas di dalam ruang dan waktu. Kedua hal ini disebut Husserl sebagai intensionalitas kesadaran. Penyelidikan terhadap cara bagaimana intensionalitas itu bekerja disebut sebagai analisa intensional (intentional analysis).
Istilah ‘fenomena’ mengacu kepada segala sesuatu yang dipersepsi oleh kesadaran dan menghadirkan diri bagi kesadaran. Ini juga berarti bahwa struktur kesadaran meliputi baik aktivitas mau pun pasivitas, keterarahan sekaligus keterberian. Fenomena, misalnya tidak disebut sebagai fakta sebab fakta merupakan penafsiran lebih sempit atas fenomena atau objek intensional yang disadari seseorang. Maka, fenomenologi adalah kajian metodik sistematis (logos) mengenai cara bagaimana realitas hadir bagi kesadaran (fenomena).
Skema Representasi yang berlaku dalam cara berpikir dan cara kerja ilmu pengetahuan pada umumnya
Skema cara berpikir dan cara kerja fenomenologi yang menerobos pemahaman metode kerja ilmu pada umumnya
Objek yang sama, misal gunung, dapat memberikan diri secara beragam kepada orang yang berbeda-beda. Demikian juga, setiap orang memiliki keterarahan yang berbeda-beda terhadap gunung yang sama. Gunung Lawu di Tawangmangu misalnya, dapat menjadi sumber inspirasi bagi seorang pelukis atau penyair, menjadi tantangan untuk didaki bagi pemuda pecinta alam, menjadi tempat menjalankan ritual kebatinan untuk seorang kejawen, atau menjadi tujuan penelitian bagi seorang ahli geologi dan vilkanologi.
Hal yang sama berlaku untuk setiap objek di alam semesta, baik yang berupa objek empirik (benda-benda kasatmata), objek imajinatif (misal: perbatasan galaksi Bima Sakti), atau pun objek fantasi (kuda Unicorn terbang-terbang di Planet Klingon).
Fenomenologi mengakui bahwa terdapat struktur dasar kesadaran dan pengalaman yang sama di hadapan medan objek yang tak terbatas. Struktur kesadaran inilah yang membuat seseorang dapat memahami pengalaman atau bahkan bahasa orang lain yang berbeda darinya.
Maka perbedaan pengalaman terhadap suatu hal merupakan perbedaan dalam perkara intensitas dan perspektif, bukan perbedaan dalam hal struktur dasar kesadaran. Struktur dasar kesadaran ini dalam fenomenologi Husserl disebut sebagai struktur intersubjektivitas transendental. Metode analisa intensional bermaksud untuk menyelidiki setiap lapis dimensi pengalaman manusiawi kita hingga ke struktur intersubjektivitas temporal-transendental itu. Salah satu caranya adalah dengan melukiskan/mendeskripsikan suatu peristiwa dalam pengalaman sehari-hari secara dekat/melekat dari sisi orang pertama tunggal (first person perspective).
Misalnya seorang vulkanolog yang telah belajar fenomenologi akan menjabarkan dalam catatan risetnya bahwa: “di bibir kawah Gunung Tambora saya merasa…., saya mengalami…, metode yang saya pilih adalah…., saya mengalami bahwa metode ini cocok/tidak cocok untuk kawah Gunung Tambora, kekuatan gempa kawah Gunung Tambora yang saya alami adalah…tercatat dalam alat saya adalah…dst.” Melalui deskripsi dekat seperti itu seseorang bukan saja menyelidiki suatu objek (misal: kawah Gunung Tambora di Sumbawa), melainkan juga menyelidiki kesadaran saya mengenai objek tersebut.
Saling keterkaitan antara kesadaran dan objeknya itulah yang memberikan bobot validitas atau objektivitas terhadap suatu hal yang disebut saintifik. Maka metode dalam mengkaji suatu objek memang merupakan sumber dari nilai objektif suatu penelitian ilmiah. Namun, bobot legitimasi dari kebenaran metode tersebut tidak datang dari objek atau pun metode itu sendiri, melainkan datang dari subjek manusia yang membuat atau memilih metode tersebut. Dengan demikian metode fenomenologi, lewat analisis intensionalitas, bermaksud untuk menyelidiki kedalaman dan keluasan daya kesadaran yang sering dinafikkan oleh sains.
1.2. Perihal Persoalan di Masa Husserl
Sejak awal 1920-an, metode fenomenologi Husserl menimbulkan minat luar biasa para ahli dari berbagai bidang. Orang-orang dari berbagai latar belakang bidang ilmu dan latar belakang bangsa, salah satunya Jepang, berdatangan ke Universitas Freiburg untuk mengikuti kelas-kelas Husserl. Namun Husserl sendiri sejak 1920-an bergulat dengan dua persoalan yang semakin membuatnya prihatin dan membuatnya semakin kurus.
Yang pertama (1) adalah kondisi perkembangan filsafat dan ilmu-ilmu di Eropa. Yang kedua (2) adalah suasana kebatinan bangsanya yang semakin terpecah-belah oleh gagasan-gagasan politik yang mendaku-diri ilmiah. Di hadapan dua persoalan itulah Husserl menghendaki metode fenomenologi untuk tampil memberikan terobosan.
Mengenai persoalan pertama (1), filsafat dan ilmu-ilmu lain berada dalam kondisi berhadap-hadapan. Filsafat mengklaim diri otonom, sementara ilmu-ilmu alam dan psikologi mengklaim diri superior. Efeknya adalah terjadinya patahan di antara filsafat dan ilmu-ilmu modern. Filsafat sendiri cenderung menjadi relativistik dengan menekankan pada kekuatan kehendak, determinasi sejarah, atau pun pada daya Roh Absolut. Ilmu-ilmu modern sendiri semakin merasa superior dengan metodenya yang semakin memberikan hasil/fungsi nyata.
Terkait dengan ilmu modern, bahkan terjadi patahan di dalam satu bidang ilmu yang sama, misalnya patahan di antara bidang ekonomi makro, ekonomi-politik, dan akuntansi. Disebut patahan sebab relasi saling-keterkaitan dan saling-ketertarikan satu sama lain yang sebelumnya ada telah patah. Maka satu bidang ilmu tidak merasa terkait dan tertarik untuk mengetahui apa yang dikerjakan bidang lainnya. Begitu juga dalam hal metode, metode bidang ilmu ekonomi atau biologi telah patah atau tidak lagi terhubung dengan bidang akuntansi atau pun biologi molekular. Ilmu-ilmu modern, bagi Husserl, cenderung lekas melepaskan diri dari asal-usul metodiknya dan segera menciptakan dunianya sendiri.
Perihal persoalan kedua (2), masyarakat Eropa pada umumnya dan Jerman khususnya berada dalam keadaan saling berhadapan satu sama lain. Kondisi ini semakin memburuk setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia I dan masuk ke dalam sistem demokrasi terbuka yang disebut Republik Weimar.
Di satu kubu adalah kelompok masyarakat yang meyakini ‘ramalan ilmiah’ ide-ide sosialis-Marxistik dan menuntut perombakan struktural melalui pengambil-alihan kekuasaan. Di kubu lain terdapat sebagian besar masyarakat Jerman yang meyakini ide-ide fasistik tentang superioritas bangsa Jerman yang didukung oleh penemuan-penemuan pseudo-ilmiah dan menuntut perombakan besar-besaran lewat pengambil-alihan kekuasaan.
Di antara dua kecenderungan itu, filsafat ikut menjadi sektarian. Di satu sisi kampus-kampus Jerman dipenuhi mahasiswa militan yang berdiskusi tentang revolusi dengan berapi-api. Di sisi lain, para dosen dan mahasiswa yang keblinger dengan mitos-mitos Arya bergabung bersama kelompok-kelompok diskusi filsafat esoterik dan menjalankan ritual-ritual kultus Arya. Contoh terkenal untuk yang kedua ini adalah lingkaran penyair Stefan George (Stefan George Zirkel) yang dipenuhi oleh tokoh intelektual dan kaum muda fasis, dan banyak dari mereka kemudian menduduki posisi penting di rezim fasis Nazi.
Dari beberapa tulisan dan korespondensi Husserl di periode 1920-an, Husserl seperti orang yang telah paham bahwa akhir dari kekisruhan yang sedang terjadi tidak akan baik. Dari surat-suratnya juga terlihat bagaimana Husserl semakin menuntut fenomenologi, dan para fenomenolog muda, untuk dapat memberikan terobosan-terobosan bagi kebuntuan zamannya itu.
Tetapi peristiwa berkata lain. Rakyat Jerman pada akhirnya, sesuai kekhawatiran Husserl, menentukan nasib sejarahnya sendiri. Husserl dapat dikatakan beruntung. Jika ia tidak meninggal pada 1938, satu hingga dua tahun kemudian ia akan ikut dimasukkan ke dalam kamp-kamp konsentrasi untuk orang-orang seperti dirinya.
2. Krisis Ilmu Pengetahuan dan Kegagalan Filsafat sebagai Ilmu Rigor
Apa yang sebetulnya dimaksudkan Husserl sebagai ‘krisis’ ilmu? Apakah penekanan pada krisis ini tetap relevan bahkan jika bidang ilmu yang disebut mengalami krisis itu tidak merasakan adanya krisis?
Kata krisis berasal dari akar kata Yunani (Κρίνειν) yang berarti ‘waktu untuk memilih dan memutuskan’. Husserl sendiri di bagian I buku Krisis menyebut apa yang dimaksudkannya dengan krisis ilmu sebagai “a collapse of the belief in reason understood as the ancients opposed episteme to doxa. A collapse that shakes to the foundations the whole meaning of truth…an inner dissolution. It is a peculiar change in the whole way of thinking [Crisis, §5; 11-12].”
Di hadapan krisis itu buku Krisis merupakan respon terhadapnya. Husserl menyebut karyanya itu sebagai suatu bentuk ‘interogasi terhadap keretakan cara berada manusia-manusia modern, interogasi terhadap pelupaan manusia modern atas cara beradanya yang menyeluruh’ (its total Existenz). [Crisis, §5, § 6; 12, 18]
Apa yang menarik bahwa bagi Husserl keruntuhan dan pelupaan itu sebagian besar merupakan tanggung jawab filsafat sebagai ilmu, bukan tanggungan sains. Dengan kata lain, krisis ilmu pengetahuan sebagian besar merupakan akibat dari kegagalan filsafat.
Bagi Husserl, filsafat gagal membuktikan legitimasinya sebagai suatu pengetahuan yang rigor secara metode, radikal dalam menjawab persoalan, dan berguna secara praktis. Secara tragis filsafat, setelah dua ribu tahun, tidak mampu mengambil sikap di hadapan tuntutan zaman dan segera diambil-alih oleh ilmu-ilmu alam. Singkatnya, ilmu-ilmu alam sekadar mengisi kekosongan yang ditinggalkan filsafat. Dalam bahasa Husserl, sains ilmu alam segera memonopoli akses kepada hal-hal yang disebut ‘benar’ dan ‘riil’. [Philosophy as Rigorous Science, 76]
Perlu dicatat bahwa Husserl, berbeda dari Heidegger misalnya, tidak pernah bersikap anti terhadap kemajuan sains dan teknologi. Husserl sendiri adalah seorang ahli matematika dan bersentuhan terus-menerus dengan perkembangan terkini di bidang sains, khususnya fisika.
Apa yang dipersoalkan oleh Husserl adalah cara pandang yang menganggap metode ilmu tertentu (dalam kasus Husserl adalah ilmu-ilmu alam positivistik) dapat diterapkan menyeluruh pada berbagai bidang lain di luar objek-objek ilmu alam. Cara pandang yang kemudian menjadi menyeluruh ini oleh Husserl disebut sebagai Saintisme, yaitu cara kerja ilmu alam yang diaplikasikan pada berbagai gejala non-alamiah. Dengan demikian, metode kerja yang ruang kajiannya terbatas pada lingkup objek fisik-material ternyata membawa klaim kebenaran yang tidak terbatas dan jauh beroperasi melampaui objek-objek fisik.
Apa yang digugat oleh Husserl adalah kerancuan kategoris (kategorien Missdeutung) dalam menerapkan metode. Misalnya: metode empirik kausalistik yang mau diterapkan pada gejala-gejala yang tidak selalu empirik dan belum tentu bekerja secara kausalistik seperti psyche atau ‘jiwa’ manusia. Penerapan azas-azas empirik verifikatif kepada objek-objek kajian yang tidak empirik dan tidak selalu bisa diverifikasi inilah yang oleh Husserl disebut sebagai Naturalisme.
Penerapan metode ilmu alam secara khusus ke dalam kajian mengenai bidang-bidang kemanusiaan oleh Husserl disebut sebagai Psikologisme. Psikologi behavioristik, psikologi empirik kuantitatif, tes-tes psikologi modern, sosiologi positivistik, semua itu termasuk ke dalam Psikologisme. Baik psikologisme dan naturalisme keduanya merupakan bentuk praktis dari cara pandang saintisme yang telah menjadi agama baru.
Melalui pembedaan tersebut Husserl berada dalam satu garis pemikiran dengan tokoh filsuf hermeneutika Wilhelm Dilthey (1833 – 1911) yang membedakan antara ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). Perbedaannya terletak pada cara bagaimana Husserl secara metodologis mengritik penyeragaman metode ilmu yang membuat orang tidak lagi bisa membuka kemungkinan-kemungkinan pendekatan lain di hadapan suatu hal.
Saintisme disebut sebagai agama baru sebab layaknya agama klaim kebenaran yang dibawanya tidak pernah dipertanyakan lagi. Bagi Husserl, cara kerja ilmu positivistik membawa serta klaim ontologis dan klaim epistemologis yang kebenarannya tidak dapat diuji oleh metodenya sendiri. Yang dimaksud dengan klaim ontologis adalah pernyataan yang menetapkan status keberadaan satu hal sebagai ukuran hal-hal lainnya. Yang dimaksud dengan klaim epistemologis adalah pernyataan yang mengesahkan status kebenaran satu hal di atas hal-hal lainnya.
Contoh klaim ontologis: Suatu hal (misal: penelitian) disebut objektif jika, dan hanya jika, hal itu dapat diverifikasi secara empirik dan sesuai dengan hukum sebab-akibat. Pernyataan tersebut disebut klaim ontologis karena hal-hal yang tidak dapat diverifikasi secara empirik dianggap tidak memiliki status keberadaan objektif. Padahal, pernyataan itu sendiri tidak dapat diuji secara empirik dan verifikatif.
Contoh klaim epistemologis: suatu hal disebut benar jika, dan hanya jika, hal tersebut dapat dibuktikan sebagai benar melalui metode faktual saintifik. Pernyataan ini merupakan klaim epistemologis karena hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara faktual saintifik dengan sendirinya dianggap tidak benar. Padahal pernyataan itu sendiri merupakan pernyataan perihal nilai dan bukan fakta. Pernyataan itu sendiri tidak dapat dicek secara faktual dan saintifik.
Dengan kata lain, hal yang sederhana yaitu penekanan pada sebuah metode, jika ditarik ke titik terjauhnya ternyata membawa kepada efek yang tidak sederhana. Efek itu adalah penyeragaman cara pandang dunia manusia-manusia modern. Penyeragaman cara pandang ini, berlawanan dengan cita-cita sains untuk membebaskan manusia dari dogma, justru membelenggu atau mempersempit cara berpikir manusia. Seperti dikatakan Husserl: “sayangnya inilah situasi kita saat ini, situasi yang mematerai seluruh peradaban modern.” [The Origin of Geometry, 366]
Intisari dari kritik Husserl sebetulnya konsisten bertolak dari metode fenomenologi. Metode analisis intensionalitas menegaskan bahwa dunia pengalaman/kesadaran intensional tidak tergantikan oleh metode apa pun. Seluruh abstraksi atas pengalaman yang kemudian dirumuskan menjadi metode atau pun sains, semua itu niscaya bertolak dari medan kesadaran yang intensional.
Intensionalitas kesadaran itu kemudian membuka persepsi kita pada berbagai kemungkinan pemaknaan/perumusan: rumusan teoretik, rumusan estetik, rumusan politik, rumusan ekonomik, rumusan koruptif, rumusan nihilistik, rumusan absurdistik, rumusan saintifik, dan sebagainya.
Maka kebenaran metode faktual-verifikatif ilmu pengetahuan merupakan satu saja dari sekian banyak kemungkinan konstruksi pemahaman/perumusan kita atas dunia pengalaman. Dengan kata lain, meski benar bahwa ilmu pengetahuan modern memiliki tingkat justifikasi metode yang lebih tinggi dari pengalaman sehari-hari, namun ilmu pengetahuan modern tidak memiliki legitimasi kebenaran yang lebih superior dari dunia pengalaman pada umumnya. Dunia pengalaman yang secara mendasar bersifat inter-subjektif (bukan objektif) itu, yang mendahului segala metode dan menjadi asal-usul rumusan teori ilmu-ilmu, dunia itu oleh Husserl secara sederhana dinamakan sebagai dunia-kehidupan (Lebensewelt / lifesworld).
Disebut sebagai dunia inter-subjektif sebab Lebenswelt merupakan rangkaian medan interaksi berbagai pengalaman manusia sebagai subjek, satu dengan yang lain. Dengan kata lain, legitimasi atas pengalaman, termasuk pengalaman observasi ilmiah, bersumber pada pengalaman subjek yang subjektif.
Singkatnya, subjektivitas kesadaran justru menentukan objektivitas rumusan-rumusan pengalaman kita, termasuk pengalaman percobaan ilmiah. Jika sains hendak mengeksplorasi dunia sebagai objek pada dirinya sendiri, maka fenomenologi ingin mengembalikan dunia itu sebagai dunia bagiku.
Sebagaimana dapat kita baca di buku Krisis: The scientific conception of the world is a ‘conception’ of the world, and is therefore the correlate of intentional relations. Even though objects of science are constituted as subject-independent, such objects remain constituted by subjectivity. There is no scientific theory that is radically subject-independent. [The Origin of Geometry, 382]
Inti dari kritik Husserl terhadap ilmu pengetahuan modern, dengan demikian, dapat dirumuskan sebagai berikut: penekanan ilmu-ilmu pada objektivitas metode memisahkan bahkan mengasingkan manusia modern dari dunia tempat metode itu sendiri berasal, yaitu dunia pengalaman subjektif dan inter-subjektif.
3. Galileo dan Mathesis Universalis
Tetapi Husserl tidak berhenti sampai di kritik itu. Ia melacak akar krisis itu secara genealogis. Genealogi itu membawa Husserl pada satu titik dalam sejarah ilmu: Galileo Galilei (1564 – 1642).
Lewat pembacaan yang teliti atas karya-karya kunci Galileo, Husserl menemukan bahwa untuk memangkas cara pandang dunia lama yang teosentris dan memulai sesuatu yang sama sekali baru Galileo harus memulai dari satu fondasi yang paling penting: bahasa. Galileo tidak banyak menulis dalam bahasa Latin. Ia menulis untuk sebagian besar bukunya dalam bahasa matematika dan geometri. Cara ini berhasil. Hanya orang yang memahami geometri dan astronomi saja yang mengerti apa yang sedang disampaikannya: sebuah revolusi cara pandang dunia. Matematika menjadi bahasa esoterik Galileo untuk mengatakan banyak hal tentang alam semesta.
Tetapi cerita terus berlanjut. Dengan menggunakan matematika sebagai bahasa ‘baru’ untuk konstruksi cara pandang dunia yang juga baru, Galileo sedang mencoba memisahkan dunia fakta (ilmiah) dari dunia nilai (teologis). Ia sedang mencoba memisahkan dunia objektif alam semesta dari dunia subjektif manusia. Dengan kata lain, ia sedang melakukan matematisasi atau idealisasi alam semesta sebagai dunia ideal yang tertata rapih oleh hukum-hukum geometri dan azas-azas fisika. [Crisis, § 8h, 48-49]
Inilah yang oleh Husserl disebut sebagai mathesis universalis (matematisasi alam semesta)yang untuk pertama kalinya terjadi dalam sejarah pemikiran manusia. Singkatnya, Galileo sedang membangun dan mengidealkan sebuah dunia, yaitu dunia metode.
Dari kisah yang sama, di dunia modern kita akan menemukan bagaimana ilmu ekonomi misalnya lewat rumusan-rumusan metode membangun dunia idealnya sendiri yang kemudian berjalan sebagai dunia baru: pasar saham dan forex. Fisika dan teknologi, lewat rumusan-rumusan matematis dan fisika, membangun dunia idealnya sendiri dan menjelma menjadi dunia tersendiri: pasar persenjataan modern. Biologi dan kimia membangun gambaran realitas idealnya sendiri dan menemukan dunia baru: rekayasa genetik. Dan seterusnya.
Dalam bahasa Husserl, seperti ruh yang terlepas dari badan jasmaninya, dunia metode segera melepaskan diri dari dunia pengalaman. Lewat proses idealisasi tersebut, ruang dan waktu segera menjadi konsep ideal yang melepaskan diri dari ruang dan waktu sesungguhnya, yaitu: diri manusia sendiri.
4. Penutup
Seluruh buku Krisis sesungguhnya merupakan sebuah kritik terhadap metode, yaitu metode ilmu-ilmu pengetahuan modern. Tetapi lebih dari sekadar kritik, buku Krisis juga merupakan proyek baru fenomenologi Husserl yang mulai melakukan tematisasi atas persoalan temporalitas waktu dan sejarah. Lewat buku Krisis Husserl mencoba membaca zaman dengan menekankan pada temporalitas gagasan dan inter-subjektivitas sejarah. Proyek baru ini pada akhirnya tidak akan pernah ia selesaikan.
Terkait dengan krisis ilmu yang dijabarkan dalam buku Krisis, kesimpulan Husserl sesungguhnya sederhana: setiap metode pasti menyejarah. Kebenaran setiap metode tidak datang sekonyong-konyong begitu saja, tetapi merupakan sebuah proses konstruksi pemahaman yang tersedimentasi dalam sejarah. Bukti dari keampuhan suatu metode tidak lain adalah efek atau hasil atau fungsi praktisnya. Tetapi dasar yang melegitimasi metode itu bukanlah hasilnya, melainkan subjektivitas dari manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Subjektivitas dan kemenyejarahan inilah yang bagi Husserl terlupakan dalam sejarah ilmu. Seperti dituliskan Husserl: “For all of those methods have the mobility of sedimented traditions that are worked upon, again and again, producing new structures of meaning and handling them down. Everywhere the problems, the clarifying investigations, the insights of principle are historical.” [The Origin of Geometry, 368-369]
Karya-karya akhir Husserl mencetak jejak yang cukup panjang dalam pemikiran kontemporer Abad ke-20 dan 21. Formulasi masalah dan cara bagaimana Husserl menghadapi masalah tersebut rupanya mempesona banyak filsuf-pemikir. Jacques Derrida (1930 – 2004) misalnya menerbitkan buku komentar dan interpretasi khusus mengenai karya akhir Husserl ini, berjudul Edmund Husserl’s Origin of Geometry: An Introduction (1962). Bahkan sebelumnya, pada 1953-54, Derrida menulis disertasi doktoral mengenai karya-karya akhir Husserl ini, berjudul The Problem of Genesis in Husserl’s Phenomenology (terbit pertama pada 1990).
Para filsuf yang menjadi acuan pemikiran di Abad ke-21, seperti Jean-Luc Marion, Michel Henry, Dominique Janicaud, dan sebagainya, bisa dikatakan sebagai pembaca Husserl yang tekun. Para pemikir yang terkenal sebagai filsuf post-modern itu rupanya banyak berhutang pada Husserl. Mereka menyadari bahwa kritik Husserl atas zaman modern memiliki radikalitas tersendiri yang menggugat konsep-konsep modern hingga ke akarnya, termasuk konsep mengenai subjek. Bagi para pemikir ini, Husserl, dan bukan Heidegger, yang menjadi jurang pemisah antara modernitas dan pasca-modernitas.
Namun, proyeksi seperti itu nampaknya terlalu jauh bagi Husserl. Sebab, proyek filosofis Husserl ia rumuskan sendiri sebagai: “a way of teleological-historical refelction upon the origins of our critical scientific and philosophical situation, and by that way to establish the unavoidable necessity of a transcendental-phenomenological re-orientation of philosophy.” [Crisis, § 1; 3].
Ito Prajna-Nugroho, Alumnus Program Sarjana dan Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, dan Staf Ahli DPR-RI Bidang Kebijakan dan Legasi.
Rujukan
Edmund Husserl, 1965, Phenomenology and the Crisis of Philosophy, terj. Quentin Lauer, New York: Harper & Row.
Edmund Husserl, 1970, The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology: An Introduction to Phenomenological Philosophy, terj. David Carr, Evanston: Northwestern University Press.
James Dodd, 2004, Crisis and Reflection: An Essay on Husserl’s Crisis of Eurpean Sciences, Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.
J. N. Mohanty, 2011, Edmund Husserl’s Freiburg Years, New Haven: Yale University Press.
Rudolf Bernet, Iso Kern, Eduard Marbach, 1999, An Introduction to Husserlian Phenomenology, Evanston: Northwestern University Press.
“Do you wait for things to happen, or do you make them happen yourself? I believe in writing your own story.” (Charlotte Eriksson)
SEMANGAT berceritera seakan tiada
habisnya. Setiap hari, di seputar kita banyak cerita yang hadir, entah dari
orang-orang yang kita temui dan bertegur sapa, atau dari berbagai kejadian di
hadapan kita sepanjang hari. Semua itu bukan kebetulan. Di balik itu semua ada
saja cerita menarik untuk kita angkat dan dibagi. Bila kita terus menerus
mengasah kepekaan untuk mencermati kejadian-kejadian tersebut, akan dengan
mudah kita menangkap pelajaran penting yang bisa kita serap dan bagikan melalui
cerita. Ini yang coba saya lakukan selama sewindu (delapan tahun), sejak saya
luncurkan blog www.josefbataona.com di tanggal 11 bulan 11 tahun 2011.
Makna Blog ini buatku
Pada kesempatan yang berbahagia ini,
saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada semua pembaca yang telah meluangkan waktu berharganya
untuk menyimak berbagai tulisan di blog ini. Anda semua adalah alasan mengapa
saya terus menulis. Semangat membaca kalian telah menjadi api semangat buatku
untuk terus mencari inspirasi dan berbagi di blog ini. Dan saat sebagian di
antara kalian memberi komentar bahwa tulisan ini menginspirasi dan sangat
bermanfaat, maka hadir senyum lebar di wajahku pertanda sebuah tekad untuk
membuat tulisan-tulisan di blog ini lebih bermakna buat banyak orang. Walaupun
saya memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman, tapi bila itu tidak saya
bagikan, maka akan sia-sialah semuanya tersimpan dalam diriku, dalam
unconscious mind.
Sebagai laporan kepada semua
pembaca, saat ini blog sudah diisi 700 artikel dengan berbagai kategori sebagai
berikut (dalam kurung adalah jumlah artikel tentang kategori tersebut). Saya
sebutkan saja top 20:
Career Wisdom (105)
Coaching (44)
Development (31)
Employee Engagement (82)
Family (16)
Fish Fun (96)
Healthy Life (16)
Hubungan Industrial (10)
Inspirasi (81)
Knowledge Management (19)
Leadership (116)
Learning (34)
Life Wisdom (133)
Millennials (10)
My Book (35)
People Management (56)
Service Excellence (19)
Social Media (17)
Traveling (24)
Work-life-balance (16)
Menanggapi 700 artikel tersebut,
sebanyak 3.584 komentar sudah diberikan pembaca dalam kaitan dengan tulisan
tertentu. Dari 700 artikel tersebut, kami telah memilih beberapa artikel untuk
dijadikan buku seperti foto berikut.
Beberapa komen sebagai
ilustrasi
Komentar-komentar tersebut tentu
bisa pembaca lihat di akhir tulisan. Namun pada kesempatan ini saya akan
mengangkat beberapa diantaranya sebagai ilustrasi;
Membaca tulisan ini saya jadi ingat
postingan quote Shauna Niequist di FB Pak Josef beberapa hari lalu. Disebutkan
apabila yg kita temui tidak sesuai dgn yg kita harapkan dan kita berani serta memiliki
keyakinan utk menganggap hal itu sebagai hal yg indah, that’s celebration.
Bagaimana cara memandang kita akan
suatu hal, suatu pencapaian atau permasalahan sekalipun, jika kita memandangnya
secara positif pasti akan menaikkan tingkat kebahagiaan diri kita dan
orang-orang di sekitar kita.
Thank you Pak
Josef, walaupun hanya bertemu sekali, tetapi setiap ucapan bapak sangat
menginspirasi. saya berharap dimoment berikutnya, saya bisa bertemu dengan
bapak. Salam – Denitri – CHRP44
Selalu mengagumi cara bapak sharing
berbagai hal..entah itu secara theory pun sebuah pengalaman..entah itu hal
besar pun hal kecil.. Pemilihan kata2 nya sangat tepat dalam penyampaian
pesan2nya… Terus sharing ya pak…God bless u pak
Saya baca tulisan ini berulangkali,
setiap kali dibaca selalu memberikan insight baru buat saya, akhirnya semakin
tersadar bahwa gambaran diri pada cermin sangat penting untuk introspeksi dan
jadi penentu langkah yang lebih baik selanjutnya. Cermin tersebut tentu bukan
dari kita, namun dari orang lain yang berinteraksi dengan kita, Gambaran yang
muncul pada cermin kabur atau jelas, juga sangat tergantung dari kita dalam
menentukan sudut dan sisi pandangnya. Terima Kasih Pak Josef …. sangat
menginspirasi
Ciptakan sendiri cuaca hatimu, agar
harimu yang ceria bisa dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan >> sudah
membuat saya senyum dulu pagi ini sebelum baca postingan ini….
Good morning Pak…
Have a fabulous Friday…Happy holiday and
safe trip…I’ll wait for the next story from you… Terima kasih untuk
tulisannya Pak.
Dan kisah-kisah lainnya akan terus
hadir di blog ini. Pembuatan kategori tersebut diatas akan sangat memudahkan
untuk mencari langsung tulisan yang diperlukan. Saran atau pendapat dari semua
pembaca sangat ditunggu.
“Never go tapping into the lives of others like you know them and their story! Their story is not yours, tell yours, for that is all you know.” (Auliq-Ice)