Category: OPINI

  • Tantra,  Ritual Bhairawa,  dan Masuknya Islam di Nusantara, dalam Dimensi Budaya dan Agama

    Tantra,  Ritual Bhairawa,  dan Masuknya Islam di Nusantara, dalam Dimensi Budaya dan Agama

    Oleh  Agus Widjajanto

     

     

    Tantra adalah jalan menuju Tuhan dengan mengutamakan pemujaan pada sakti, salah satu cara unik yang ditempuh dalam upaya mendekatkan diri pada energi ketuhanan, Tantra menggunakan simbol simbol alat alat reproduksi sebagai sarana atau disebut Yantra. Bahwa Tantra adalah suatu kombinasi unik antara mantra, upacara ritual keagamaan dan pemujaan secara total. Secara umum dapat diterangkan bahwa Yantra dan mantra adalah bentuk bentuk ajaran Tantra yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat/seseorang pengikutnya guna memuja kebesaran Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur semua yang ada di alam raya semesta ini.

    Dalam agama Hindu kata Tantra juga dapat diartikan sebagai praktek untuk membebaskan orang dari ketidak tahuan, dengan demikian Tantra memiliki dua implikasi yaitu sebagai jalan yang membebaskan diri dari ketidaktahuan dan sekaligus jalan ekspansi sebagai jalan untuk mencapai pencerahan secara personal. Bahwa hidup ini harus selaras dalam hukum alam (Sunatullah) agar diri kita tidak terjebak karma (hukuman terhadap diri kita atas perbuatan yang telah kita lakukan) dimana ciri dari tradisi Tantra adalah menggunakan mantra, sehingga sering disebut sebagai mantra marga (jalan mantra) dalam agama Hindu atau Mantrayana (kendaraan mantra) dan Guhyahmantra (mantra rahasia) dalam agama Budha. Istilah mantra sendiri dalam tradisi India yang berarti “Teks, teori, sistem , metode, instrument, tehnik atau praktek” yang bersifat sistematis dan dapat diterapkan secara luas. Dengan ritual dan mantra berupa symbol-simbol tadi sebagai upaya menyatukan diri seseorang dengan Tuhan. Maka tidak heran dalam keyakinan Jawa dan Nusantara selalu dilakukan melalui simbol-simbol.  Hal ini adalah pengaruh dari Budaya Tantra baik dari Hindu Siwa maupun Budha dari India.

    Dunia Alam Raya dalam galaksi ini atau jagad raya bermula dari kehendak Sanghyang Suwung yang misterius. Kehendak itu terekpresi melalui sabda yang mengoyak kehampaan lalu menciptakan ruang ruang yang menyebar ke segala arah dan membentuk pusaran pusaran energi sesuai 8 mata angin . Dititik pusat pusaran energi disebut Siwa Shakti, atau Rohman Rohim dalam Islam, Kasih sayang dalam Kristani, Yin Yang  dalam energi Tao, lanang wadon (pria wanita) yang dilambangkan lingga Yoni dalam peninggalan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari 10 pusaran energi itu oleh leluhur kita di Nusantara dilambangkan dengan Dasaksara yang membentuk 10 aksara mistis yang membentuk. Sacred geometry bernama Mandala. Melalui getaran aksara aksara itulah kehidupan tercipta dimana aksara adalah cikal bakal seluruh ciptaan.

    Selaras dengan prinsip holografis Dasaksara itu bersemayam ditubuh manusia selaku jagad alit (dunia kecil) yang menampung seluruh unsur jagad raya (jagad gede), dimana tubuh manusia pun tersusun dari aksara-aksara yang bergetar membentuk Mandala yang berpusat di inti  hati tempat sayang hyang suwung (Tuhan) bertahta sebagai sang hyang Atma (Ruh)

    Itulah sesungguhnya ajaran inti dari Tantra, ilmu kuno Nusantara yang diyakini berbagai para ahli sebagai ilmu paling tertua  di dunia,  siapa yang bisa mengakses dan mendaya gunakan aksara aksara ditubuhnya ia akan menjadi manusia sakti mandraguna dan Waskita.

    Pada agama Budha ada aliran. Yang disebut aliran. Budha Tantra atau Tantrayana berupa ritual puja atau menuju Bhairawa yaitu memuja kehebatan atau kesaktian. Dengan cara khusus . Ritual Bhairawa sendiri pernah dilakukan oleh Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari khusus untuk menandingi kesaktian Raja Kubhilai Khan atau Khan yang agung dari Mongholia, yang mendalami Aliran Bhirawa tantra dalam agama Budha Mahayana   yang berkuasa pada tahun 1260 hingga 1294 Masehi. Merupakan Imperium yang menguasai hampir 2/3 dunia hingga Eropa , Raja Kertanegara yang terkenal sakti dimana raja saat itu bersama para  patih dan pejabat tinggi kerajaan sedang berpesta pora dengan makan minum arak  sepuasnya, dan bersenggama, dimana dalam sejarah tertulis Raja Kertanegara saat mabuk diserbu oleh Adipati gelang-gelang dari Madiun dengan pasukan jaran goyangnya terbunuh saat itu. Yang tidak lagi bisa melakukan peperangan melawan Kerajaan Mongol, didalam sejarah Raden Wijaya menantu dari Raja Kertanegara yang berhasil mengusir tentara mongol dari Jawa bersama Raden  Aryawiraraja Sumenep Madura, sekaligus menghancurkan Adipati gelang-gelang dari Madiun yang telah menyerang Singosari dan membunuh Raja Kertanegara, yang pada akhirnya  sekaligus pendiri kerajaan Majapahit.

    Paham bhairawa secara khusus berkembang hingga ke China, Tibet, dan Indonesia. Di Nusantara masuknya saktiisme, tantrisme, dan Bhairawa dimulai pada abad ke 7 Masehi melalui kerajaan Sriwijaya di Palembang pada tahun 684 Masehi yang berasal dari pengaruh India selatan dan Tibet.

    Dari bukti peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga peninggalan yaitu Bhairawa Heruka terdapat di padang lawas Sumatra Utara, Bhairawa Kalatjakra yang dianut oleh Raja Kertanegara, dan jendral angkatan laut Singosari Adityawarman,   serta aliran  Bhairawa Bima yang banyak ada di Bali.

    Dalam Bhairawa Tantra, upacara ritual dengan melakukan apa yang disebut “Mo 5” disebut “Panca Makara Puja” denganrlakukan upacara Ksetra. Prasasti Joko Dolog di Surabaya pada tahun 1289 menulis bahwa Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Budha) yang bergelar Jnanaciwa Braja. Dalam agama Budha Tantrayana, istilah tabtrayan berasal dari akar kata ‘Tan’ yang artinya Sakti atau kuat dari kekuatan para dewa (Tuhan) di Bali wujud Bhairawa bisa seperti ilmu leak, yang dikenal dengan ilmu aji wegig yang dikenal sebagai ilmu ngiwo (kiri) dimana merupakan olah spiritual tingkat tinggi yang sebetulnya bisa juga digunakan untuk kebaikan bukan hanya untuk keburukan, akan tetapi konotasi nya sudah terlanjur sebagai ilmu hitam karena digunakan untuk menyerang orang lain. Kisah yang paling legendaris adalah kisah janda Calonarang yang sangat populer di Bali dimana peristiwanya saat kerajaan Daha (Kediri) di Jawa Timur, pada masa pemerintahan prabu Airlangga yang sangat sakti mandraguna, tapi bisa ditahlukan okeh empu Baradah dimana buku buku soal ilmu leak oleh para murid muridnya dibawa ke pulau Bali dalam bentuk lontar pengleakan.

    Di Jawa Tengah aliran Bhairawa Tahtra dulu berkembang di lereng gunung Merapi dan daerah pegunungan Dieng, yang pada saat wali songo sebagai penyebar agama tradisi ritual korban yang awalnya berupa daging manusia, diubah dengan cara selamatan baca kataman Alquran dengan merubah menjadi daging ayam utuh dibakar dengan bumbu opor disebut engkung ayam dimana tradisi tersebut tetap dilestarikan pada setiap selamatan, hajatan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pendekatan budaya oleh wali songo di Jawa, pada saat penyebaran agama mempertimbangkan demi mempermudah sosialisasi dan perekrutan anggota keagamaan baru, tradisi selamatan daging tetap dipertahankan. Walau melalui dengan cara merubah  menjadi daging ayam bakar. Minum arak yang memabukkan diubah menjadi minum kopi hitam, dan minuman segar yang lain. Dalam penyebaran Islam di Jawa juga terpengaruh dan mengadopsi Tantra yang menggunakan simbol simbol, dimana salah satu wali songo menggunakan tembang mocopat, dandang gulo, media wayang yang dirubah dari kisah Mahabarata kepada  kisah yang dipadukan sesuai ajaran Islam dalam lakon  senjata kalimasada (kalimat syahadat), hal itu merupakan tata cara menggunakan simbol-simbol dalam religi keagamaan khas Jawa untuk mengajarkan penyatuan pendekatan kepada Tuhan lewat pengajaran Manunggaling Kawulo Gusti, dimana dunia spiritual di Nusantara khususnya Jawa bukan tidak mungkin akan mengalami kejayaan dan  selalu mengalami evolusi  mungkin revolusi untuk menemukan jati dirinya sendiri dalam konsep ketuhanan, jikalau dilihat dari perjalanan sejarah bangsa ini dari abad ke abad.

    Pada masa kekinian (saat ini) budaya selamatan dalam hajatan baik mau nikah kan mau pindah rumah  bahkan peringatan haul meninggalnya kerabat baik 7 hari, 40 hari, 100 hari maupun 1000 hari tetap dipertahankan walau oleh kaum syariat dan paham tertentu dianggap Bid’ah dan sesat tidak sesuai ajaran agama dalam akidah agama (hukum hukum agama) dalam Alquran dan sunah.

    Orang Nusantara selalu bisa menerima hal baru keyakinan dan agama baru, baik dari Hindustan di India maupun Agama Samawi tapi mereka tetap berpegang teguh pada ajaran luhur nenek moyang yang tradisi ritualnya dipengaruhi oleh pengaruh India, baik orang Jawa, orang  Batak, orang Dayak, orang Indonesia Timur, Minahasa maupun Madura, bahwa suatu keyakinan ibarat pusaka keris atau pedang dan tombak, ada warangka (bungkus) dan ada curiganya pusakanya, yang keduanya merupakan satu kesatuan dalam estetika keindahan sekaligus ke kesaktian.

    Pada saat masuknya Islam di Jawa maupun di Nusantara, oleh para anggota  wali  songo  melalui perjalanan laku spiritual yang tentu sangat dalam, mulai menggali dan menciptakan ilmu kaweruh baru, dari hasil modifikasi ajaran agama Hindu Siwa, Bhuda Mahayana tadi dalam Tantra dan Bhairawa, yang disebut “Rajah Kala Tjakra” yang paling terkenal dalam sejarah dilakukan oleh sunan Kudus Sayyid jak’ far Sodiq, dengan menggunakan media benda dirajah/ditulis dengan huruf honocoroko maupun huruf Pegon (arab gundul) untuk digunakan sebagai sarana melarutkan /menghilangkan ilmu kesaktian dari seseorang yang dipandang lawan,  dimana lafal ilmu cakra dari senjatanya Prabu Krisna dalam kisah Mahabarata dari India tetap pertahankan dalam lafal ilmu Kolo Tjokro, yakni: ya marojo joyomoyo yaa maroni Niro moyo, yaa dayudho yaa dayani, nilo Doyo monosio, yaa badigko demikian juga menyangkut wahyu atau sinar jatuhnya pulung yang dikenal di Jawa  sebagai Wahyu keprabon  disebut Wahyu Tjokroningrat, yang merupakan Wahyu yang dipercaya orang Jawa sebagai isyarat datangnya Ratu Adil yang bisa membawa bangsa ini mencapai kejayaan dan keadilan, menuju Indonesia merdeka seutuhnya.

    Bahwa wawasan, pandangan dan kedalaman ilmu dari para  wali songo tidak perlu diragukan, yang kerap memfatwakan yang berhubungan dengan mu’amalah dengan aturan akidah seperti melarang penyembelihan sapi di wilayah Kudus oleh sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap saudara saudara pemeluk agama Hindu saat itu, bahkan pure Hindu yang sudah tidak terpakai dijadikan menara masjid yang hingga kini terkenal dengan masjid menara Kudus, bahwa begitu membuminya adab dan  ilmu mereka serta  rela berasimilasi dengan orang orang pribumi, sebagai perwujudan hablu minanas, ukuwah islamiah, dan ukuwah wathoniah untuk mewujudkan ukuwah bhasariah (Memayu Hayuning Bawono).

     

    ——————————

     

    Penulis adalah Pengamat Budaya, Sosial Politik dan Hukum, Tinggal di Jakarta
  • Lebaran untuk Semua

    Lebaran untuk Semua

     

    Oleh  JB Kleden

     

    Lebaran adalah hari raya umat Islam. Namun di era yang semakin menyatunya peradaban umat manusia saat ini, Lebaran tidak lagi menjadi kesibukan eksklusif umat muslim. Sentimentalitas suasananya yang penuh dengan rasa syukur, kegembiraan, dan kedamaian yang membangkitkan semangat persaudaraan, membuat semua orang merasa ditulari.

    Maka ketika Menag Yaqut Cholil Qoumas menginstruksikan seluruh aparaturnya menyemarakkan Lebaran melalui twibbon di berbagai platform media sosial sebagai ungkapan kebersamaan dengan tagar #LebaranUntukSemua, kita tahu itu bukanlah sikap yang ekstrim. Dalam beragama orang yang ekstrim biasanya menarik, tetapi seorang yang moderat biasanya mendekati kebenaran.

                                ***

    TAKJIL SEPANJANG JALAN barangkali menjadi penanda paling pertama #LebaranUntukSemua. Tentang ini setiap kita punya cerita.

    Di Kupang, Nusa Tenggara Timur,  kegembiraan menyambut lebaran sudah dirasakan semenjak hari pertama puasa Ramadhan. Trotoar Gereja Katedral Kristus Raja Kupang hingga Bank Mandiri di Jl. Urip Sumoharjo mendadak disulap jadi pasar Ramadhan tempat berbagai makanan khas Ramadhan dijual.

    Pasar Ramadhan di depan Gereja Katedral Kristus Raja Kupang ini merupakan fenomena khas yang berlangsung setiap tahun selama bulan suci Ramadhan. Dari pkl. 15.30 hingga 19.00 wita ruas jalan sempit tempat pertemuan semua jalur lalu lintas di Kota Kupang ini menjadi wahana perjumpaan lintas iman penuh sukacita.

     

    Suasana Pasar Ramadhan depan Gereja Katedral Kristus Raja Kupang sepanjang Bulan Suci Ramadhan

     

    Puluhan hingga ratusan orang setiap sore memadati lokasi ini berburu takjil. Takjil disiapkan umat muslim dari Kampung Solor, Airmata dan Bonipoi yang merupakan kampung-kampung muslim di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, diserbu oleh segenap warga Kota Kupang hingga Kabupaten Kupang.

    Bosong (umat Muslim) yang puasa, katong (Non Muslim) yang kas abis (menghabiskan) ini takjil,” kelakar tukang parkir di halaman Gereja Katedral. “Moe wi (bahasa Lamaholot, engkau ini) ada-ada saja,” balas ibu penjual takjil dari Kampung Solor, sambil menyodorkan segelas es kacang ijo yang disambut dengan penuh sukacita. “Terima kase ema sayang.”

    Ngabuburit di sepanjang Pasar Ramadhan ini senantiasa menciptakan momen kebersamaan dan kegembiraan yang menyenangkan. Sebuah perjumpaan lintas iman yang tulus dan berbuah.

    Di sini kita bersetuju dengan Abdul Moqsith Ghazali, Katib Syuriyah PBNU Periode 2022-2027 dan  Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (Kompas, 9/4) fenomena “War Takjil” yang menyemarakkan kehidupan keberislaman selama bulan Suci Ramadhan, menghadirkan kehidupan beragama yang riang gembira. Serentak ia juga mengekspresikan kehidupan yang harmonis antar umat yang telah mengental dalam darah, berdetak dalam jantung.

    Seandainya tak ada pra-kondisi berupa hubungan yang harmonis di antara umat sebelumya, kelakar tukang parkir di atas dengan logat Kupangnya yang aneh, bisa kena pasal penodaan. Maka bukan sesuatu yang berlebihan jika dikatakan, hari raya keagamaan yang diperkaya dan dimasyarakatkan oleh adat dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat, berkembang menjadi hari raya bersama. Lebaran menjadi rahmat yang berkatnya merambah semua lapisan, yang rasa syukur dan sukacitanya menyentuh semua orang, dan solidaritasnya menyentuh sesama umat lintas batas tanpa mengusik keberagamaan orang lain.

    Tradisi yang terus dipelihara dan dihidupkan ini menjadi sukacita yang meluap, menerobos mengatasi sekat-sekat kemajemukan. Ia menjadi memori kolektif insani yang membernas di sepanjang musim yang berganti.

                                  ***

    CUTI BERSAMA – Jam kerja yang lebih pendek selama bulan puasa dan cuti bersama barangkali dapat disebutkan sebagai penanda kedua #LebaranUntukSemua. “Ayo mari kita nikmati pulang jam tiga,” seorang rekan sejawat saya berteriak penuh kegembiraan di hari pertama puasa. Dan begitu alarm pkl 15.00 berdering Teng… langsung Go…

    Tentu saja bukan karena bersua dengan keluarga menjadi begitu penting. Tetapi karena rutinitas yang tak berkesudahan, akhirnya merupakan beban yang tak tertanggungkan. Manusia bukanlah arbeitstier, kuda beban yang harus bekerja tanpa jedah.

     

    Ket.  Foto : Ibu-ibu Merayakan Kemerdekaan di Lepas Pantai Kelapa Lima

     

    Maka cuti bersama menjelang dan setelah Lebaran selalu disambut dengan penuh sukacita  oleh semua kalangan. Pertama sebagai penghormatan kepada umat yang merayakan, kedua cuti bersama menjadi sebuah istirahat nasional.

    Pada hari-hari itu otot kita mungkin akan bekerja sama kerasnya seperti hari-hari dinas, tetapi ketegangan pikiran dilenturkan.  Nilai-nilai yang dalam hari-hari kerja dipandang demikian serius, boleh diremehkan dan ditertawakan. Tujuan dan kepentingan yang dikejar mati-matian di tempat kerja, saat cuti bersama boleh dilupakan dan dianggap tidak penting – meski hanya untuk sementara.

    Cuti bersama menjadi kesempatan manusia berganti kulit dari homo faber, manusia tukang yang lelah berkeringat,  menjadi homo ludens yang santai bermain-main sekaligus menjadi homo ridens yang tertawa ria dan jenaka. Pada saat itu orang boleh melepas semua atribut dinas, pergi ke ke gunung, ke pulau pasir dan bebas berselancar di buih ombak mewarnai hidupnya.

    Dalam perspektif ini, ada semacam kemerdekaan yang diberikan negara dan yang coba direbut seluruh pegawai dengan penuh sukacita untuk dirayakan dalam cuti bersama, yakni: Kemerdakaan dari keharusan bekerja mati-matian serta berbagai tuntutan pragmatisme di tempat kerja. Maka kalau negara memberi kesempatan untuk libur bersama secara nasional berliburlah dengan riang gembira. Libur tidak bisa didisposisikan untuk diwakilkan.

                                     ***

    MUDIK – Seperti takjil, mudik sebetulnya merupakan sebuah fenomena yang khas umat Islam pada hari-hari Lebaran. Namun karena setiap kita punya udik, maka mudik juga menjadi penanda #LebaranUntukSemua.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam jumpa pers virtual yang dipantau dari Jakarta, Minggu, (17/3/2024) menyatakan terdapat tren kenaikan perjalanan mudik pada musim Lebaran 2024 sebesar 71,7 persen dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 193 juta orang dibandingkan periode yang sama pada 2023. Ini tentu amat menggembirakan, ia bisa dipandang sebagai suatu indikasi implisit meningkatnya kesejahteraan, jika mau dilihat secara ekonomis.

     

    Ket. Foto: Larantuka udik yang selalu dirindu

     

    Udik (kampung halaman) memang memiliki daya magnit yang kuat hingga mampu menyedot setiap orang untuk mudik. Padalah mudik bukan sebuah perjalanan tanpa risiko. Tapi para pemudik tidak menghiraukan semua risiko tersebut, karena mudik bukan sekadar pulang kampung merenda rindu pada halamannya. Mudik sejatinya merupakan ekspresi romantisme ritual-ritual urban people yang sehari-hari harus berjuangan dengan kerasnya kehidupan.

    Kehidupan perkotaan yang memaksa orang harus bekerja sebagai robot bernyawa, akan kalis dengan mudik. Maka orang yang bermudik merupakan pribadi yang secara naluriah berupaya untuk merengkuh dan menghidupkan kembali ruh jiwanya yang sudah sekalian lama terlempar dan terkapar dalam kelelahan di sudut-sudut kota. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa fenomena mudik tersublimasi dalam perjalanan manusia mencari air kesejukan yang berpuncak pada Lebaran.

    Lebaran menjadi energi positif yang mampu menggerakan semua orang untuk rame-rame ke udik yang kemudian dipersepsikan sebagai primordial nature yang penuh harmoni dengan Tuhan, sesama dan lingkungan yang hilang dalam pengembaraan dan rutinitas setiap kita di rantau.

    Mudik menjadi terapi kerohanian dan momentum pemulihan kondisi manusia dari kegersengan dan kekosongan makna kehidupan kepada kesejukan rohani yang mendalam. Maka mudik tidak bisa diwakilkan.

                                       ***

    MOHON MAAF LAHIR BATHIN.  Inilah penanda paling universal “LebaranUntukSemua. Kalau takjil sepanjang jalan menjadi sarana perjumpaan lintas batas, cuti bersama saat berganti kulit menyiapkan diri memasuki suasana penuh kebebasan, mudik menjadi ekspresi dari kerinduan asali manusia akan mitor firdaus yang hilang yang menjadi pengembaraan setiap insan, maka Lebaran adalah saat pembebasan. Kemenangan. Yang profan dipatahkan, yang kodian dihentikan dan umat muslim dengan penuh khusuk memasuki waktu yang kudus dan daerah yang sakral.

     

    Ket. Foto: Penulis bersama Ketua MUI Kota Kupang, H. Muhammad M.S. Bersaudara dalam Iman.

     

    Sahabat perjalanan saya dalam tradisi iman Abraham, H. Muhammad MS, Ketua MUI Kota Kupang, dalam sebuah acara buka puasa bersama, mengatakan, semangat keilahian (devine spirit) yang membebaskan pada hari Lebaran sangat terasa karena dipersiapkan dengan ibadah sebulan utuh selama bulan suci Ramadhan.

    Selama berpuasa, katanya, umat Islam tidak hanya menahan lapar, dahaga dan berbagai nafsu badan, tetapi berdoa dan merenung memuji nama Allah dan bergulat menemukan kembali jati dirinya. Pertemuan dengan Sang Khalik selama bulan suci Ramadhan menjadi pangkal tolak pertemuan dengan sesama pada hari lebaran.

    “Manifestasinya adalah silaturahmi maaf memaafkan, juga memberi sedekah melalui sirkulasi zakat fitra secara proporsional. Jadi kalau bapak ibu pegawai Kementerian Agama rajin berpuasa dan berbuka bersama tapi iklas beramalnya hanya slogan di dinding kantor dan tidak mau bersilaturahmi maaf-memaafkan dengan sesama, itu saya disclaimer, pak Kleden.” ujarnya dengan logat Makasar yang khas, disambut gemuruh ketawa hadirin.

    Di sinilah makna pembebasan sepenuhnya. Manusia menemukan kepenuhan fitrahnya. Ia bertemu dengan Tuhan dalam kedamaian dan berjumpa dalam rekonsialisasi penuh persaudaraan dengan sesamanya. Inilah perbuatan yang sungguh membebaskan dan universak: meminta maaf dan memberi maaf.

    Pada hari yang fitra ini hidup tak usah bersandiwara karena kita sungguh-sungguh, secara bersama-sama dengan sengaja dan penuh keiklasan dan kerendahan hati menelanjangi diri  sendiri. Memohon ampun kepada Yang Maharahman dan Maharahim. Dan ketika hati manusia tersentuh cinta ilahi hanyalah keharuan yang terjadi.

    Kita menganggungkan nama Allah, tanpa direcoki oleh kesialan yang terus menerus menimpa si miskin. Kelebihan tidak mengusik suara hati, karena juga diberikan kepada sesama. Makanan yang disajikan benar-benar lezat karena memang disiapkan untuk disajikan dan dinikmati oleh yang lain.

    Setiap kali melakukan silaturahmi Idul Fitri sebagai seorang non-muslim,  saya merasakan Idul Fitri (seperti Natal dalam tradisi iman saya) hari raya yang paling dapat menyentuhkan cinta ilahi pada perasaan manusiwi. Saat memohon ampun dan memberi maaf, mengajari kita bagaimana seharusnya orang beriman menjadi manusia. Idul Fitri adalah saat dimana orang beriman harus berani menjadi makin manusiawi, lebih dari pada menjadi “sekadar” beragama.

                                     ***

    AGAMA mempunyai nilai dan relevansi universal. Demikian juga perayaan hari raya keagamaan yang merupakan sesuatu yang eksklusif, tapi nilai-nilai dan pesannya mengandung makna universal: Kepekaan yang begitu iklas untuk tidak mau bergembira sendiri, kerelaan untuk berjumpa dengan sesama dalam semangat pengampunan dan persaudaraan sejati menjadi pedoman dan etika dalam kehidupan bersama.

    Maka kita sangat berkepentingan untuk mengatakan alangkah indahnya kebiasaan saling memberi maaf dikembangkan menjadi suatu sifat dan jiwa besar yang bisa mengatasi kekerdilan jiwa dan hati. Termasuk dalam kehidupan berpolitik.

    Konstruksi keindonsiaan kita adalah hasil rekonfigurasi politik terus menerus. Dalam konfigurasi itu kadang melahirkan luka dan peradangan yang berkepenjangan yang membuat perikehidupan bangsa terkoyak-koyak. Persatuan politik amat rentan karena kepentingan namun dendamnya terpendam secara sosiologis menjadi laten.

    Di saat negeri ini menghajatkan ketenangan untuk memulihkan keadaan dan untuk bangkit dari keterpurukan akibat pemilu. Idul Fitri degan kandungannya silaturahimnya seyogyanya menjadi acuan utama. Karena Idulfitri sebagaimana ditulis Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam pojok Gusmen (Rabu,10/4) adalah momen yang tidak hanya menghadirkan kebahagiaan namun juga membangkitkan semangat persaudaraan.

    Dalam perspektif ini umat Islam boleh merasa mujur karena mewarisi peradaban yang benar-benar pernah menjadi peradaban global. Kosmoplolitanisme Islam telah pernah menjadi kenyataan sejarah yang meratakan jalan bagi terbentuknya warisan kemanusiaan yang tidak dibatasi pandangan-pandangan kebangsaan sempit dan parokialistik.

    Maka ketika Menag Yaqut Cholil Qoumas memerintahkan seluruh aparaturnya menyemarakkan Lebaran melalui twibbon sebagai ungkapan kebersamaan dengan tagar #LebaranUntukSemua, kita tahu itu bukanlah sikap yang ekstrim. Dalam beragama, orang yang ekstrim biasanya menarik, tetapi seorang yang moderat biasanya mendekati kebenaran.  Indonesia is our home, in which we long for a better motherland.

    “Di luar segala pikiran tentang apa yang salah dan benar, ada sebuah tempat,” tulis Rumi, “aku akan menemuimu di sana.” Mungkin penyair yang sufi itu tidak bica tentang agama. Tapi agama masih merupakan salah tempat yang senantiasa dijadikan manusia untuk mengeliminasi kepanikan, mengurangi kekhawatiran dan menyandarkan harapan.

    Dalam dunia yang semakin mengglobal dimana semakin banyak problem musti diatasi secara mondial, agama dan kepercayaan yang banyak harus saling mempengaruhi demi menyatakan iman yang satu. Kebenaran bersifat pluriform. Setiap unsur dogmatis yang eksklusif perlu “melebur” dalam ziarah iman yang sama. Tagar Lebaran Untuk Semua – juga untuk semua hari raya keagamaan – adalah teguran alternatif yang mengingatkan kita semua mengenai kebersamaan umat sebagai bagian dari masyarakat bangsa. Ancaman yang paling melumpuhkan setiap orang dan setiap agama adalah ketika ia kehilangan perspektif kebersamaan dan menjadi eksklusif.

    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1445 H/2024 dari kawan seperjalanan dalam tradisi iman Abraham. #LebaranUntukSemua – Mohon maaf lahir bathin. (*)
  • Rapuhnya  Birokrasi  Kita

    Rapuhnya Birokrasi Kita

     
    Oleh  Alois A. Nugroho

     

     APA komentar Peter Drucker seandainya ia masih bisa membaca bahwa, dalam penilaian para pemuka lintas agama, birokrasi negara kita sangat rapuh sebagai akibat dari mudahnya para penegak hukum dipengaruhi uang? (Kompas, 21 Januari 2011). Salah satu kemungkinan Peter Drucker yang dijuluki “bapak manajemen modern itu” akan berpaling pada “bapak filsafat eksistianlisme”, Soren Kierkegaard (Drucker, 2010: 47-61).  

     

    Peter Drucker

     

    Keabadian sebagai Alteritas

    Kierkegaard menjadi relevan karena menyadarkan kita tentang adanya ketegangan dalam eksistensi manusia. Ketegangan itu terjadi antara eksistensi manusia dalam waktu dan eksistensi manuasia di luar waktu. Kita menyebut eksistensi manusia dalam waktu itu sebagai “hidup” dan menyebut eksistensi manusia di luar waktu sebagai “ada” (being). Dalam dimensi “hidup” horison imajinasi manusia adalah “mati”. Dalam dimensi “ada”, horison imajinasi manusia adalah “keabadian”. Dalam ilmu administrasi, kita sudah belajar dari Stephen Covey bagaimana “kematian” menjadi horison imajinasi bagi birokrat dan manajer yang “proaktif” dan dengan demikian “efektif”. Di sini berlaku pula dalil Heidegger, bahwa orang yang otentik ialah yang memiliki anticipatory resoluteness terhadap kematian karena manusia adalah Sein-zum-Tode (Ada–ke-arah-kematian). Orang proaktif, begitulah Covey, ialah orang yang peduli pada apa yang dipikirkan para pelayat tentang dirinya tatkala dia sudah terbujur sebagai jenasah. Bagi Covey, orang “efektif” ialah orang yang peduli pada “kenangan” yang akan tetap tumbuh dalam hati dan pikiran banyak orang ketika dirinya sudah tidak hidup lagi. Dalam dimensi keabadian, kenangan orang-orang lain waktu kita mati bukanlah masalah utama. Masalah utama adalah bagaimana dalam hidup ini eksistensi sebagai “keabadian” dapat diaktualkan. Bagaimana dapat diwujudkan dalam perilaku konkret hidup sehari-hari di dunia sekarang, bahwa eksistensi kita punya dimensi “eternitas”. Dalam bahasa para agamawan, itu kurang lebih berbunyi bahwa eksistensi kita “tidak berasal dari dunia ini”.  

     

     

    Bagi Kiergegaard, dua dimensi itu berada dalam ketegangan. Eksistensi dalam waktu mendorong manusia untuk berkembang biak, agar spesies bertahan dan tumbuh kuat, untuk menafkahi hidupnya dan anak cucunya, untuk meraih kekuasaan, kemuliaan, kejayaan. Eksistensi dalam keabadian mendorong manusia untuk bergerak ke arah yang sebaliknya. Mengendalikan nafsu, sabar, berani mengalah, bela rasa, selalu siap mengampuni, adalah beberapa sikap yang dipupuk oleh eksistensi diri sebagai keabadian. Penghayatan eternitas oleh eksistensi yang juga fana ini tidak jarang menimbulkan kecemasan (fear and trembeling). Bayangkan Anda bangun tidur dan tiba-tiba tersadar bahwa suatu saat Anda akan mati, tetapi akan tetap “ada” dan tidak dapat men-delete “ada’ Anda. Perwujudan eksistensi eternitas dalam dunia temporal sering menimbulkan tragedi, bhkan juga di kalangan para pemuka agama. Secara tragis, agama dapat “jatuh” dan berubah menjadi usaha pribadi atau usaha bersama untuk mengakumulasi kekayaan, kekuasaan, kemuliaan, kejayaan duniawi. Buku harian Soren Kierkegaard sendiri, memuat banyak kritik atas praktik “organisasi dan administrasi” agama yang tragis. Mengingat jauhnya perbedaan antara dua dimensi itu, bersama Hannah Arendt bisa kita katakan bahwa dimensi keabadian ialah “alteritas” dari dimensi keberwaktuan. Kita sering “banal”, “pragmatis” atau “mencari mudahnya saja”, dengan menutup mata dan telinga terhadap “alteritas”. Eksistensi kita sebagai keabadian tidak diajak berunding. Kita menganggap eksistensi keberwaktuan sebagai eksistensi keabadian.

     

    Suara Hati Birokrat                           

    Dalam konteks pemikiran Hannah Arendt, birokrat dan penegak hukum yang tidak “banal” ialah birokrat dan penegak hukum yang peduli terhadap “alteritas” berupa eksistensi sebagai keabadian. Mereka mendengarkan suara keabadian, suara “yang lain” dalam diri, yang dalam bahasa sehari-hari disebut “suara hati” atau “hati nurani”.  

     

    Hannah Arendt

     

    Dimensi keabadian perlu dipedulikan dalam perilaku profesional maupun perilaku sehari-hari, tidak hanya pada saat beribadah. Jangan sampai dalam perilaku profesional, para birokrat dan penegak hukum semata-mata bertindak atas “dorongan untuk hidup”, “mempertahankan kekuasaan”, atau “mencari kekayaan, kemuliaan dan kejayaan” yang lebih tinggi. Jangan sampai kita hanya bertindak berdasarkan “kebiasaan” begitu saja, tanpa memeriksa adakah yang kurang pas, kurang sreg, dilihat dari sudut keabadian. Jangan sampai kita bertindak hanya berdasarkan “semangat korps” atau “prosedur” semata, tanpa memperhatikan “suara hati” atau “suara keabadian”. Bahkan dengan mengingat imbauan Stephen Covey saja, birokrat dan penegak hukum kita semestinya berusaha peduli pada bagaimana kelak hidupnya akan dikenang orang pada saat sudah meninggal, tak hanya pada bagaimana bergelimang kekayaan dan kejayaan semasa hidup. Sikap proaktif ini merupakan salah satu ciri dari birokrat yang “efektif”, yang akan menyebabkan birokrasi kita tidak serapuh sebagaimana dikeluhkan para pemuka lintas agama. Namun, bagi Drucker, Kierkegaard, Arendt, “efektivitas sosial” bukanlah ukuran yang memadai. Dengan efektivitas sosial, birokrat kita akan sekadar menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada, atau dengan “semangat korps” semata-mata. Kita bisa saja dikenang sebagai “warga korps” yang “loyal”, bila tidak membuka korupsi yang dilakukan secara beramai-ramai. Kita akan berusaha untuk dikenang sebagai “bukan raja tega” oleh sanak kerabat yang menengadahkan tangan dan tak mau tahu darimana asal uang bantuan itu. Akibatnya, akan muncul keluhan bahwa birokrat dan penegak hukum kita rapuh, mudah tergiur oleh uang. Dalam konteks ini, “mengambil nafas satu menit” untuk berkonsultasi dengan “suara keabadian” dalam diri menjadi sangat penting bagi para birokrat dan penegak hukum. Masalahnya, suara keabadian itu mungkin hanya berbisik lirih, sementara suara keberwaktuan dengan suara keras mendominasi ruang batin para birokrat, penegak hukum dan juga politisi. Kita berharap para birokrat, penegak hukum dan politisi masih mendengar desir keabadian yang lirih itu.  

     

     

     ******************                          

     

    Sumber: Alois A. Nugroho, 2017, Rakyatisme dan Esai-esai Lain, Jakarta, Penerbit Buku Kompas.

  • Teosofi, Sudut Pandang Ronggo Warsito, Syech Siti Jenar dan RM Sosro Kartono tentang Tuhan

    Teosofi, Sudut Pandang Ronggo Warsito, Syech Siti Jenar dan RM Sosro Kartono tentang Tuhan

     

    Oleh Agus Widjajanto

     

     

    Teosofi adalah paham yang dianut oleh kepercayaan Jawa dalam konsep spiritual, Teosofi berarti Tuhan dan Sofia berarti cinta, dimana jika diterjemahkan secara terminologi Teosofi adalah ilmu Ketuhanan untuk mencapai kesempurnaan (yang cinta kebijaksanaan), bahwa Teosofi Jawa lebih mengedepankan pencarian kesempurnaan hidup yang didasarkan pada paham Monistik dan Panteistik. Monistik sendiri adalah pandangan bahwa Tuhan yang Esa itu berada, yang memancarkan dalam diri manusia dan beserta seluruh alam semesta (Sunatullah). Sedangkan Panteistik adalah alam semesta jagad raya ini menyatu dengan Tuhan, dimana antara Monistik dan Panteistik selalu berjalan seiring dalam konsep spiritual Jawa. Yang keduanya diyakini selalu ada yang tidak dapat dipisahkan alias manunggal .

    Berpijak dari pemikiran Keeler (Stange 1998: 253-254) Teosofi itu bercirikan pada rasa, Teosofi dalam spiritual Jawa adalah paham yang memanfaatkan rasa (olah  batin) dalam proses pencarian Tuhan. Dimana kedepan Teosofi Jawa menjadi sebuah paham yang memanfaatkan rasa dan laku, dimana ketika orang Jawa berpikir tentang semesta, menggunangan konsep simbol, diantanya dengan konsep wayang yang bersifat simbolik, dimana hal itu adalah akar dari Teosofi Jawa, bahkan kalau mau jujur hidup keagamaan spiritual Jawa juga tergambar dalam kisah pewayangan, dimana dalam kisah pewayangan ada penguasa tertinggi yaitu Dewa, yang bisa menjelma pada diri manusia setelah melalui laku tirakat, yang bisa merembes sebagai suprahuman kepada diri manusia. Itulah sebabnya dapat dikatakan Teosofi adalah pandangan yang selalu memuja Tuhan berada dalam diri manusia, yang keberadaan nya lebih dekat dari urat nadi kita sendiri, dimana Dzat Tuhan sebagai Dzat tunggal diindentifikasi sebagai kekuatan Imanen dan Transenden. Dimana dalam hidup manusia teremanasi dari Dzat yang sempurna, menguasai seluruh alam semesta, dimana oleh keyakinan spiritual Jawa Dzat itu dalam keadaan kosong (suwung) yang tidak dapat ditangkap, adalah ide sinkretis dari Hindu dan Bhudisme, bahwa Dzat Tuhan itu halus merasuk dalam diri manusia bagi keyakinan Jawa, dimana secara terus menerus akan selalu berupaya menemukan kesejatian Dzat jati itu sendiri. Bahwa dalam paham mistik kejawen berawal dari emanasi kekuatan sentral, dimana mahluk secara fisik dari unsur kosmik yang membentuk alam makrokosmos dan mikrokosmos. (Prof Suwardi Endraswara , Agama Jawa – Ajaran, Amalan , dan Asal Usul Kejawen)

    Raden Ngabehi Ronggo Warsito sebagai pujangga penutup paling ternama dalam kesusastraan Jawa, dalam beberapa tulisanya menjelaskan tentang persoalan keberadaan Allah sebagai Tuhan penguasa semesta, dimana beliau menyatakan Allah merupakan Dzat yang maha suci, yang Qadim Azali abadi, dimana sebelum Allah menciptakan sesuatu dia tegak sendiri di alam yang masih kosong, dan ketika telah menciptakan mahluk maka mahluk tersebut merupakan tajalli nya Dzat Yang Maha Suci, oleh Ronggo Warsito, Karena kekuasaan dan keberadaan Tuhan berdiri sendiri, sebagai Dzat yang Suci maka diibaratkan Tuhan sebagai hal nya huruf “Alif” yang disifati dengan wujud, dimana keberadaan nya ada dari Dzat itu sendiri tanpa ada yang menciptakan dimana keberadaannya merupakan suatu yang wajib dan mustahil jikalau tidak ada. “Sesungguhnya tidak ada apa apa, segala sesuatu yang tersebut tadi bukan merupakan Tajjali Dzat Tuhan, artinya bukan manifestasi Tuhan yang maha suci, dimana yang Maha suci Maha mulia, Maha Kuasa hanyalah aku (Tuhan) sebelum ada barang sesuatupun di alam raya yang ada hanyalah Dzat Yang Mahasuci yang bersifat Esa, dinamakan Dzat yang mutlak yang kadim Azali abadi” ….kata Ronggo Warsito.

    Menurut Ronggo Warsito terdapat keterkaitan yang sangat erat antara Dzat, Sifat, dan Af’ Al (perbuatan) (Prof. Simuh 1988: 285 ) dimana dalam disertasi Prof. Simuh memberikan penjelasan mengenai gagasan Ronggowarsito dengan mengatakan bahwa hubungan antara Dzat dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya, dimana ada madu pasti ada rasa manisnya, yang tidak bisa dipisahkan, demikian juga sifat dan  asma Tuhan laksana hubungan matahari pasti ada sinar mentarinya, sedangan antara asma dan Af’ Al (perbuatan) ditamsilkan seperti hubungan benda dimuka cermin dengan bayang bayang yang terlihat dicermin, gagasan Ronggo Warsito soal Dzat, Sifat, Asma, dan Af’ Al agak mirip dengan gagasan Syech Abdul Karim Al-Jilli yang tertuang dalam buku Insan Kamil.

    Sedang pandangan Syeh Abdul Jalil atau Syech Siti Jenar, mengajarkan sasagidan serta ilmu ma’ Rifat dan hakekat dalam bentuk sufisme wilujudiyah, atau wahdatul wujud, dimana Tuhan, wujud yang tidak kasat mata itu dapat bersatu dengan dirinya pribadi, yang merubah bahasa wahdatul wujud, menjadi Manunggaling Kawulo lan Gusti, yang dikenal dikalangan masyarakat Jawa, ajaran atau kepercayaan dalam kejawen yang bermakna menyatunya mahluk, orang (kawulo) dengan Raja dalam menghadapi sang Pencipta, yang gagasan spiritual nya adalah manusia dan alam semesta berada dalam kesatuan illahi.

    Bahwa wahdatul wujud adalah suatu ajaran yang membicarakan tentang wujud atau keberadaan Tuhan yang dikaitkan dengan alam sebagai ciptaan-Nya, ajaran ini pada awalnya dibawa oleh Ibnu Arabi dan kemudian dikembangkan oleh Hamzah Fansuri yang menuai pro dan kontra hingga saat ini, dan di Jawa dikonsep ulang oleh Syech Abdul Jalil atau Syech Siti Jenar Syech Lemah Abang di Jepara,  yang ada di desa Keling Kabupaten Jepara saat ini.

    RM Sosro Kartono seorang ahli kebatinan Jawa, yang mengajarkan falsafah Jawa, yang hingga kini menjadi pedoman dalam pengajaran budi pekerti terhadap anak-anak oleh para orang tua, yang isi nya adalah: Sugih tanpo Bondo (kekayaan yang utama itu kaya hati, bukan mesti harta benda, itu lebih bisa bermanfaat kata beliau ), Digdoyo tanpo Aji (tak terkalahkan tanpa kesaktian), Ngluruk tanpo Bolo (menyerbu musuh tanpa pasukan / prajurit), Menang tanpo Ngasorake (menang tanpa merendahkan lawan yang dikalahkan).

    Selama hidup di Bandung, RM Sosro Kartono, menghabiskan sisa umur nya untuk mengajar pada yayasan Taman Siswa dan melakukan pengobatan, kepada masyarakat melalui kekuatan batin yang selalu menggunakan media kertas bertuliskan huruf “Alif” yang arti dan maknanya oleh Sosro Kartono, Dzat yang Suci yang berdiri sendiri , segala sesuatu tergantung padanya, sebagai penguasa alam semesta, yang keberadaannya sangat dekat dengan diri kita lebih dekat dari urat nadi kita, yang menyatu pada diri insan Kamil, yang pada intinya orientasi pandangan spiritualnya juga menganut paham Spiritual Jawa, Manunggaling Kawulo lan Gusti dalam pencapaian secara Ma’krifatullah, dalam keadaan kasaf, dimana diri kita hanya sarana, mahluk yang tiada daya apapun.

    Pendapat penulis dalam konsep Spiritualisme Jawa yang berkaitan dengan  Teosofi , dimana Dzat adalah Yang Maha Suci dan Maha Agung,  sifat yaitu yang mempunyai sifat -sifat Allah sesuai Asmaul Al Husna yang berjumlah 99, diantaranya adalah Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Quddus , As Salam, Al Mu’min dan seterusnya.

    Sedang wujud, adalah sesuai Sunatullah, bahwa keberadaan Tuhan adalah bersemayam  dalam nukat Ghaib yang tidak sama dengan alam kosong dan menyinari seluruh mahluk yang ada alam raya dan muka bumi, pantulan cahaya Illahi itulah sesungguhnya, dalam olah rasa, bagaikan menyatunya antara Kawulo lan Gustinya padahal sejatinya adalah dua hal yang berbeda tapi menyatu dalam insan Kamil yang keduanya tidak bisa dipisahkan  (Roro Ning Tunggal ) tetap dalam kondisi Transenden bukan Imanen.

    Sedang makrifat adalah suatu kondisi dimana dalam spiritual Jawa, manusia sudah mencapai tingkatan mengenal dirinya sekenal kenalnya hingga bisa memahami dan mengerti siapa dan apa serta dimana Tuhan yang Esa, tersebut, yang hidayahnya  diberikan kepada mahluk yang dicintai-Nya, dan ingin menyatu dengan-Nya. Secara Transenden melalui Roro NingTunggal secara harfiah. Itulah konsep, Dzat, Sifat, Wujud, Makrifat.

     

    ————————-

     

    Penulis adalah Pemerhati Budaya, Sosial, Politik dan Sejarah Bangsanya
  • Maryon Daniamaputra Pattinaja  Menghidupkan Ekomusikologi Merawat Bumi

    Maryon Daniamaputra Pattinaja Menghidupkan Ekomusikologi Merawat Bumi

    Oleh  JB Kleden

     

     

    “E… Usi’ Apakaet/ Ama’ Neno amnau to/Uis Amnanut Paon Leu Honis o/Hai minebtom eim/Moko manum kolon haokin oh/Hemi fuat amno’al neu ba hit A’naet/Hai susal hai manukat paha snaen/Neu Amnanut amnau to…” – Ya Tuhan Pencipta, kami datang merendahkan diri, bersama ayam dan burung peliharaan, menyerahkan diri kepada Yang Mahabesar, susah sengsara kami di padang pasir, pada-Mu Yang Mahatinggi penyayang umat.

     

    NYANYIAN Usi’Apakaet yang dibawakan PS Prodi Musik Gereja dalam orasi ilmiah wisuda Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, 21 Maret 2024 mampu menyayat hati hadirin yang memadati Grand Mutiara Timor, Kupang. Soundscape aula yang semula gaduh oleh antrophoni antara orang dan akustik ruangan, seakan terhenti ketika nada lagu itu mencapai oktaf tertinggi.

    Musik memang memiliki keajaiban untuk memukau dan menyatukan orang-orang. Irama dan reffrain lagu itu seperti magnet yang mampu menyatukan energi positif di tengah kebisingan. Tapi nyanyian berbentuk prosa liris gubahan John Taus ini ditampilkan sang orator lebih karena keresahan yang menjadi weltanchauung lagu tersebut.

    “E…Usi../ Manse ma’taen le’uf/Nhoi na meot nain le sa sa/Pena ane ka napuen/Loli laku tka na nes/Es neno i/Mimtis maen mim no’oen oh.  E Usi’, Uis Amnanut amnau to/Thanik tan kai Usi oh… (Oh Tuhan, matahari telah mengeringkan segalanya, jagung padi tak berbulir, umbi-umbian tak berisi kami datang berserah diri bersama ayam dan burung, Kami datang berkumpul dan bersehati… O Tuhan, Tuhan Mahatinggi penyayang umat/ Dinginkan/ Segarkanlah kami oh Tuhan.)

    Lebih dari sebuah nyanyian, Usi’Apakaet merupakan ratapan manusia di tengah padang atas bencana kekeringan yang sedang menimpa.   Sekaligus menggambarkan ketakberdayaan manusia yang menghempaskannya ke hadapan Yang Mahamutlak. Larik terakhir nyanyian tersebut, bagaikan parafrase pengalaman Charil Anwar, sang binatang jalang, dalam sajak doa. “Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling”. Di latar belakang dengan nada yang lebih lembut, kita seperti mendengar William Blake yang bersajak,  “Hold infinity in the palm of your hand/ and eternity in hour.”

    ***

    LINGKUNGAN alam memang menjadi isu penting saat ini. Organisasi internasional yang menangani masalah lingkungan, World Wide Fund for Nature, sejak awal dasawarsa 2000, telah memperkirakan bahwa sekitar 400 spesies primata terancam punah dalam 40 tahun mendatang karena perubahan lingkungan yang drastis. Semua itu sudah dan sedang kita alami  akhir-akhir ini.

    Degradasi lingkungan terjadi di mana-mana. Ibu pertiwi seperti sedang sakerat. Dan kita bagaikan pengemis yang mulai berang, menatap sia-sia ke langit yang kosong dan sepi. “Kulihat ibu pertiwi/ Sedang bersusah hati/ Air matanya berlinang/ Emas intannya terkenang/ Hutan, gunung, sawah, lautan/ Simpanan kekayaan. Kini ibu sedang lara/ Merintih dan berdoa…..” Lalu? Que sera, sera sajalah?

    Di tengah problematika degradasi budaya maupun tantangan krisis ekologis yang dihadapi, Maryon Daniamaputra Pattinaja, memunculkan ekomusikologi sebagai paradigma baru untuk mengeksplorasi hubungan integratif dan timbal balik antara musik, budaya, dan lingkungan alam dalam konteks krisis lingkungan, melalui orasi ilmiahnya “Quo Vadis Ecomusicology: A New Paradigm In The Intersection Of Music, Nature, and Culture of Atoni Pah Meto Society”.

    Doctor of  Philosohy in Music Theology di Seoul Jangsin University, Korea Selatan tersebut menguraikan ekomosikologi pada konteks nyanyian-nyanyian kerja masyarakat Atoni Pah Meto di pulau Timor Bagian Barat. Nyanyian-nyanyian kerja masyarakat Atoni Pah Meto, tidak hanya sekedar  ekspresi aktivitas pertanian atau bentuk komunikasi bunyi semata, tetapi lebih dari pada itu, ia mencerminkan filosofi hidup, nilai-nilai budaya, dan hubungan  manusia dengan alam. Nyanyian kerja mendeskripsikan ikatan yang kuat antara  individu, komunitas, dan lingkungannya.

    Menurut pria Ambon manese yang fasih berbahasa Dawan ini, ada 9 (Sembilan) dimensi  ekomusikologis yang terkandung dalam nyanyian-nyanyian kerja pada praktik pertanian tradisional masyarakat Atoni Pah Meto. Pertama  the doctrinal or philosophical dimension (dimensi doktrinal atau filosofis) yang berkaitan dengan keyakinan penting yang diungkapkan  dalam bentuk keagamaan dan berinteraksi secara dialektis dengan ritual atau dimensi pengalaman.

    Kedua the mythical or narrative dimention (dimensi mitos atau naratif). Dalam nyanyian, unsur mitologi tidak disajikan sebagai fakta, tetapi dinarasikan sebagai petuah. Mitologi yang merupakan memori kolektif masyarakat dinarasikan dalam nyanyian sebagai pewarisan dari generasi ke generasi. Ketiga, the experiental dimension (dimensi pengalaman). Dimensi ini berkorelasi dengan sistem pengetahuan lokal (indigenious knowledge) yang terkait dengan berbagai aspek seperti kosmologi, flora, fauna, benda, kegiatan, dan peristiwa masa lalu.

    Keempat the social dimension (dimensi sosial). Dimensi sosial budaya Atoni Pah Meto mencerminkan struktur kehidupan bersama yang kuat, dengan nilai-nilai seperti gotong royong dan kekeluargaan yang erat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kelima, the ethical dimension (dimensi etika) yang bertujuan mengatur perilaku manusia dalam berinteraksi dengan orang lain, dunia spiritual, dunia fisik, dan bagaimana perilaku itu diatur.

    Keenam, the ritual or practical dimension (dimensi ritual atau praktis). Ritual dipahami sebagai perilaku yang tabuh sekaligus tindakan internalisasi batin. Ketujuh,  the material or artistic dimension (dimensi material atau artistik). Simbolis dalam nyanyian digunakan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai melalui ekspresi artistik seperti arsitektur, seni, pakaian, dan tempat-tempat yang terkait dengan praktik-praktik budaya.

    Kedelapan the ecological dimension (dimensi ekologis) yang menjelaskan bagaimana alam dan lingkungan secara tidak langsung mendorong atau menstimulasi para petani untuk menunjukan etos kerja yang tinggi serta spirit kerja sama dan solidaritas demi kesejahteraan hidup. Kesembilan the musical dimensions (dimensi musikal). Nyanyian-nyanyian kerja dalam masyarakat Atoni Pah Meto, umumnya memiliki bentuk melodi pentatonik, heksatonik dan diatonik; Frasa lebih repetitif, iteratif dan stropik; sangat mengutaman puisi logogenic yang mengungkapkan kesinambungan budaya dan hubungan yang seimbang antara manusia, budaya, dan alam.

    Kesembilan unsur ini saling kait dan sulam menyulam dalam nyanyian-nyanyian kerja. Bagi masyarakat Atoni Pah Meto, nyanyian kerja bukan sekadar tradisi, melainkan juga benteng ekologi yang merawat hubungan sosial, hubungan degan Tuhan dan alam. Nyanyian itu diwariskan agar harmonisasi alam terpelihara.

    Maka sesungguhnya dalam nyanyian kerja,  masyarakat Atoni Pah Meto, secara esensial mengungkapkan filsafat hidup (Weltanschauung) sekaligus juga pandangan hidup (Lebensanschauung) mereka yang menyeluruh: mindset, worldview, juga emosi-emosi mereka dalam relasi mereka dengan Tuhan, alam, dan sesama sebagai satu kesatuan hidup yang tidak terpisahkan.

    Langit di luar, langit di dalam bersatu dalam nyanyian. Pengungkapan syukur kepada Yang  Mahatinggi serentak juga menggeliatkan dimensi sosil, ekologi dan mitis. Dalam nyanyian masyarakat mengungkapkan kekaguman kepada Yang Ilahi sebagai Deus Magna Majestate, Yang Akbar, Yang Agung, Yang tremendum. Tetapi sekaligus juga sebuah fascinans yang memancarkan daya pukau penuh bhakti. “Ya Tuhan dan Allah kami betapa mulia namaMu di bentangan jagat.”

     

    Ket Foto: Rektor IAKN Kupag Dr. Harun Y. Natonis, M.Si

     

    DALAM perspektif ini, Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Y. Natonis, memberi apresiasi dan berharap Daniamaputra Pattinaja sebagai  Ketua Jurusan Musik Gereja dan Peribadatan Kristen pada Fakultas Musik IAKN Kupang untuk menghidupkan ekomusikologi menjadi ekosistem musik di IAKN Kupang. Melalui penelitian dan pengembangan terhadap nyanyian-nyanian kerja dalam praktik pertanian tradisional para dosen dan mahasiswa setidaknya telah turut melestarikan warisan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat NTT.

    Beberapa nilai kontribusi dari nyanyian-nyanyian kerja dalam budaya pertanian tradisional dapat dikontekstualisasi menjadi musik gereja Kristen di NTT dan Nusantara. Implementasi dalam bentuk hymne kontekstual dapat memperkaya pengalaman  rohani dan memperkuat identitas budaya asli masyarakat Timor dalam kebhinekaan budaya nusantara untuk pembangunan berkelanjutan.

    Menumbuhkan ekomusikologi sebagai ekosistem musik bukan sebuah perkara yang mudah, dibutuhkan keberanian, dedikasi dan daya cipta. Tetapi bukan tidak mungkin. Pemilihan tema musik sebagai orasi ilmiah -untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak kampus berdiri berdiri pada 28 September 2012- menunjukkan keprihatian sekaligus keberpihakan Institut Agama krsten Kupang untuk megembangankan musik tradisi sebagai “trade merek” IAKN Kupang ke depan.

     

    Ket. Foto: Mahasiswa Prodi Musik Gereja IAN Kupag menyanyikan Usi’ Apakaet dalam orasi ilmiah wisuda IAKN Kupang.

     

    MASYARAKAT Atoni Pah Meto barangkali tak banyak mengenal apa itu ekomusikologi. Sebagai masyarakat agraris nyanyian-nyanyian kerja berasal filsafat dan pandangan hidup mereka dalam kebersatuannya dengan alam, sesama dan Tuhan. Hujan turun dengan ritmenya, desiran angin, deburan ombak dan angin pantai, adalah nyanyian kehidupan. Mereka hanya luluh dalam alam dan bersyair.

    Ratusan tahun nyanyian-nyaian mereka berkumandang di langit-langit semesta. Diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan syair itu mereka saling mengigatkan untuk menjaga lingkungan hidup mereka. Nyanyian mereka tumbuh dan besemi bersama hutan belukar, gaharu dan cendana.  Lewat nyanyian dan syair-syair ada masyarakat Atoni Pah Meto telah melestarikan alam sejak lama. Namun tidak berarti hal tersebu diproyeksikan untuk masa depan.

    Kini cendana telah punah, hutan-hutan banyak yang berganti rupa dengan tiang-tiang beton. Anak-anak telah peri ke kota. Herankah kita bahwa pada saat pohon-pohon tak lagi berbunga dan berbuah, pada saat padang sabana dan stepe tak lagi menjadi lanskap mereka, nyanyian-nyanyian rakyatpun tak lagi diciptakan?  Galaukah para tetua masyarakat Atoni Pah Meto, melihat anaknya lebih menyukai musik-musik berbasis AI dengan genre yang beagama mulai dari R & B, Hip-Hop, Top musik Pop, serta genre-genre budaya populer seperti K-Pop, J-Pop, Regional Meksiko, Bollywood, musik Spanyol Kontemporer, dan tak lupa musik berbasis AI menggantikan musik-musik tradisonal?

    Hidup adalah river of no return – mengalir hilir tanpa arah kembali. Tidak ada seorangpun yang menyarankan kita untuk kembali ke masa agraris atau jaman batu. Masa lalu tidak pantas diproyeksikan dan dihadirkan kembali secara utuh di masa depan. Ia hanya sebagai titik tolak dan sumber inspirasi.

    Di sinilah peran ekomusikologi, karena ekomusikologi bukan hanya tentang musik bernuansa ekologi, tetapi juga tentang bagaimana musik berinteraksi dengan lingkungan hidupnya yang terus berubah.  Kalau Daniamaputra Pattinaja menyebut ekomusikologi sebagai a new pardigm in the interseksion of music, nature and culture, barangkali tidak berlebihan untuk mengatakan berbicara tentang ekomusikologi sebetulnya melakukan pembalikan satu cara berpikir.

    Jika selama ini kita berbicara mengenai nyanyian kerja masyarakat Atoni Pah Meto, praktis lebih mendasarkan apa yang kita terima sebagai warisan dari para leluhur dan itu tak ada hubungan dengan ekomusikologi. Meskipun syair lagu mereka tentang manusia dan lingkungan hidupnya. Maka dalam mewujudkan ekomusikologi sebagai a new pradigm sudah musti diandaikan terlebih dahulu bahwa kita sendirilah yang sanggup megarahkan, mengembangkan dan menciptakan kembali secara baru, menyumbangkan nilai-nilai dan tingkah laku baru yang barangkali sangat boleh jadi tidak dibayangkan sebelumnya.

    Nyanyian kerja sebagai warisan cenderung bersifat normatif maka ekomusikologi sebagai strategi haruslah bersifat kreatif. Sebagai agen artinya melakukan penciptaan warisan baru dalam kebudayaan di mana kita hidup dengan menggunakan sumber insprasi dari tradisi. Jika IAKN mau menjadikan ekomusikologi sebagai “trade mark” fakultas musik, sebetulnya pada mula pertama berarti menegaskan diri sebagai agen bukan hanya sebagai penerima dan penerus warisan. Artinya IAKN harus bisa – meminjam istilah yang keren dari Ignas Kleden – “membangun tradisi tanpa sikap tradisional”.

    ***

    KEHIDUPAN rupanya terlalu besar hanya untuk dijadikan untuk dijadikan obyek penelitian dan terlalu agung untuk tidak dirayakan. Kalau seorang dosen musik melahirkan discourse, maka seorang komponis menghadirkan sebuah perayaan. Kekuatan musik dan nyanyian ada pada lukisan pikiran dan perasaan. Analisis dapat menajamkan akal, ilmu dapat mengatur pengetahuan, tetapi musik dan nyanyian diciptakan untuk mempertahankan harapan. A thing og beauty is joy for ever .

    Dalam nada-nada pentatonik, heksatonik dan diatonik dengan frasa yang reptitif, nyanyian-nyanyian  kerja masyarakat Atoni Pah Meto seakan mengingatkan secara terus-menerus akan bahaya menggantikan harapan masa depan dengan kebanggaan masa kini. Dengan kata lain mereka hanya ingin menumbuhkan sebuah etos yang bernama pengharapan dalam nyanyian-nyanyian mereka. Karena the poetry o fit helps men to bear the prose of life. Maka on care of our common human mari menghidupkan ekomusikologi. 

     

     ***********************

     

    JB Kleden, PNS Kementerian Agama, Penikmat Sastra, Tinggal di Kupang.
  • Wahyu Cakraningrat sebagai Mitologi  Kepercayaan Jawa, Ratu Adil, dan Hasil Pemilu 2024

    Wahyu Cakraningrat sebagai Mitologi  Kepercayaan Jawa, Ratu Adil, dan Hasil Pemilu 2024

      Oleh  Agus Widjajanto

     

     

    Dalam lakon atau kisah “Wahyu Cakraningrat” yang dipercaya mengisahkan tentang penitisan sebuah energi berupa Wahyu yang bernama Wahyu Cakraningrat untuk mendudukkan seseorang menjadi pancer ( tiang utama dari simbol kekuasaan  di tanah Jawa ) merupakan suatu fenomena budaya Jawa yang merupakan salah satu Representasi pengetahuan orang Jawa yang bersumber dari mitologi yang diterima secara universal untuk menginterpretasikan dunianya yang penuh simbol baik secara mikrocosmos ( jagad cilik / dunia kecil yaitu diri kita sebagai hamba dan Khalifah Tuhan) maupun makrocosmos (jagad gede / alam semesta berupa galaksi seluruh alam raya sebagai bagian dari Sunatullah buatan dan ciptaan Tuhan Esa) yang penuh tersirat makna pesan yang dalam untuk kemaslahatan umat , baik secara dunia nyata / Dhohiriyah maupun dunia Astral (alam ghaib) yang memang kental sekali dari budaya Jawa.

    Bahwa karena Wahyu Cakraningrat merupakan simbol bagaimana seorang pemimpin berlomba lomba untuk mencari dan mendapatkan atas kesakralan serta sipirit yang terkandung didalamnya untuk sebuah media kekuasaan yang diyakini oleh para ahli kebatinan Jawa dan pemerhati budaya, Wahyu Cakraningrat tersebut akan turun pada medio tahun 2024 ini, sebagai bersamaan dengan tahun politik di Indonesia.

    Cerita Wahyu Cakraningrat sendiri merupakan cerita kepemimpinan yang mampu menghandayani (memverifikasi contoh) rakyat, yang memegang teguh kejujuran , memberikan keteladanan, rasa aman serta nyaman , dan tentram kepada rakyat, sebagai pemegang amanah tanpa membedakan seseorang / rakyat nya apa latar belakang  pendidikan nya, status sosialnya, agama nya, ras, suku, dan budayanya, yang sangat menjaga keseimbangan alam yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai hukum alam ( Sunatullah ).

    Bung Karno ( Presiden pertama Soekarno ) sendiri menulis dalam bukunya yang berjudul Di bawah Bendera Revolusi pada catatan tulisan tangan beliau pada halaman belakang pada buku jilid 1 Di bawah Bendera Revolusi, bahwa yang bisa membawa kepada bangsa kita menjadi mercusuar dunia, yang mencapai adil makmur gemah ripah loh jinawi, adalah seseorang yang mempunyai jiwa spirit Wahyu Cokroningrat, artinya Bung Karno juga meyakini, bahwa Wahyu Cokroningrat bukan hanya sebuah simbol atau mitologi Jawa, akan tetapi merupakan spirit bagi pemimpin bangsa ini.

    Begitu hebatnya Wahyu Cokroningrat hingga dalam cerita pewayangan yang kerap dimainkan oleh dalang dalang tersihir di tanah air, dalam cerita nya disebutkan Raden Samba putra dari Prabu Krisna, sangat menginginkan Wahyu Cakraningrat apapun jalanya harus didapatkan, demikian juga Raden Abimayu putra dari para Pandawa Lima, serta Raden Lesmana Mandra Kumara sangat mengindkan nya walau akan tetap berusaha dengan cara sportif, karena hal itu tidak bisa diminta dan tidak mungkin juga bisa ditolak bagi yang memang sudah jadi takdirnya mendapatkannya.

    Bagi orang pada dunia modern saat ini, yang selalu berpikir empiris dan rasional, yang selalu mengesampingkan mata batiniah, yang hanya bersandar logika, menduga bahwa Wahyu Cakraningrat adalah sebuah benda tiga dimensi yang mempunyai volume, berat , ruang tertentu serta ada pada waktu tertentu.yang diyakini sebagai senjata pamungkas, tiada lawan tanding lagi untuk mengalahkan musuh musuhnya, yang bisa jatuh dan dimiliki oleh semua orang tokoh siapapun  baik yang berwatak protagonis maupun antagonis.

    Padahal sejatinya Wahyu Cakraningrat adalah sebuah  ‘ruh’ dari Bathara Cakraningrat yang lebih tepatnya spirit kekuatan dengan deminsi ruh, berupa cahaya Cakranigrat yang harus secara eksis dan mutlak sifatnya saat Wahyu tersebut turun ke dunia nyata pada jaman dan waktu yang telah digariskan yaitu adanya syarat mutlak, “Adanya kurungan Kencana” (jasad emas) yang memang sudah ditakdirkan. Cakra adalah Roda berputar dengan gerigi  berbentuk Cakra, sedang ningrat adalah kemuliaan, dimana Wahyu tersebut adalah suatu spirit berupa ruh yang selalu bergerak dan berputar di alam semesta, mengelilingi dan membawa unsur-unsur kemuliaan.

    Bathara Cakraningrat ratusan bahkan ribuan tahun selalu mencari kurungan kencana yang punya sifat bersih lahir batin, cerdas, tahan godaan, tahan fitnah, yang mempunyai prinsip sepi ing pamrih rame ing gawe (bekerja tidak mengharapkan imbalan), berbudi luhur budi laksono, jujur dan sangat bisa dipercaya. Bathara Cakraningrat tidak bisa masuk melalui sembarang kurungan (jasad) pada semua orang atau prmpimpin,  akan tetapi mutlak harus masuk dan menyatu pada kurungan Kencana, yang datangnya telah diramalkan oleh Prabu Jayabaya raja Kediri, yang disadur oleh Raden Ngabehi Ronggo Warsito pujangga penutup keraton solo kasunanan, dan peramal dari Perancis yakni Michel De Nistredame seorang sufi Katolik Ortodoks, keturunan Yahudi, dimana akan datang masanya pemimpin dari Timur.

    Dalam kaitan hasil pemilihan presiden yang baru saja diumumkan secara real count okeh KPU, siapapun pemegang amanah Wahyu Cokroningrat apakah pelresiden terpilih kah, atau apakah ada tokoh lain yang mungkin tersembunyi, menunggu datang nya hukum alam ( Sunatullah ) kah, yang pasti rakyat butuh pemimpin yang bijaksana, adil, dan bisa melindungi seluruh rakyatnya, menuju masyarakat adil makmur, toto tenteram kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi bagi bangsa ini. Mari kita tunggu kiprahnya.

     

    —————————-

    Penulis adalah Pemerhati Budaya, Sosial Politik dan Praktisi Hukum di Jakarta
  • Pendidikan Empatik Nelson Mandela

    Pendidikan Empatik Nelson Mandela

    Oleh   J. Sumardianta, Guru SMA Kolese De Brito, Yogyakarta

     

    “Orang-orang dengan siapa saya berkonflik, mereka adalah guru saya yang paling penting.”  – Dalai Lama –

    Seorang bapak buta berjalan pada malam hari. Tangan kanannya menggenggam tongkat, tangan kiri menjinjing lampu. Ini pemandangan mengherankan bagi seorang pria yang kebetulan berpapasan dengannya. Penasaran, pria itu bertanya, “Mengapa Anda berjalan membawa lampu?” Orang buta itu menjawab, “Buat penerangan.” Belum puas, pria itu bertanya lagi, “Bukankah Anda tetap tidak bisa memandangi jalan meski menjinjing lampu penerang?” Sambil tersenyum, orang buta menjawab, “Meski saya tidak bisa melihat, orang lain bisa memandangi saya. Lampu saya membuat jalanan menjadi benderang. Juga agar pengguna jalan lain tidak menabrak saya.”

    Kisah di atas adalah anekdot sederhana perihal cara manusia memandang hidup. Lelaki heran mewakili manusia kebanyakan, yang biasa melihat persoalan dengan “sudut pandang aku” atau “sudut pandang kamu”. Orang buta berparadigma sinergis: cara berpikirku bertemu cara berpikirmu menghasilkan cara berpikir kita.

    Manusia bermental sinergis mendahulukan kita ketimbang aku. Manusia sinergis, mengingat populasinya amat sedikit, dalam bahasa statistik disebut pencilan. Macolm Gladwell menyebut manusia bukan rata-rata itu dengan istilah outlier. Tokoh sinergis itulah karakter Nelson Mandela.

    Stephen Richard Covey, dalam The 3rd Alternative (2011), menjuluki Mandela dengan Seminal karena menabur benih dan memekarkan tunas baru dalam memahami dunia. Dia menempatkan dirinya bukan sebagai korban keadaan, melainkan pencipta masa depan. Bisa percaya diri sekaligus rendah hati pada waktu bersamaan.

    Pemimpin perdamaian dunia ini mengajarkan kebaikan dengan memutus mata rantai kekerasan dan siklus balas dendam. Mandela teladan perbuatan baik. Bangsa kulit putih yang memenjarakan dan melakukan politik apartheid dibiarkan hidup dalam damai. Mandela tidak pernah berencana melakukan aksi pembersihan etnis terhadap bangsa kulit putih. Ia memaafkan bangsa yang pernah menista dan menjajah kaum kulit hitam. Mandela tahan uji. Tidak menularkan ketakutan, kecemasan, dan penderitaannya kepada orang lain.

    Pada 1964, Nelson Mandela mulai menjalani masa hukuman 27 tahun di penjara terpencil pulau Robben, Afrika Selatan. Pengacara muda ini memberontak pada sistem apartheid yang menindas warga kulit hitam. Di penjara, ia getir mendapat cemoohan, makian, dan penghinaan seperti binatang. Mandela butuh empat tahun untuk menghilangkan rasa benci terhadap sipir yang menghina dan menyiksanya. Hati Mandela berangsur berubah karena para sipir juga korban dari apartheid.

    Mandela berkarib dengan Christo Brand. Sipir itu menyelundupkan roti dan surat buat Mandela. Ia melanggar aturan dengan membolehkan Mandela menggendong cucunya. Suatu saat, sipir itu bisa kena bala. Mandela mengirim surat kepada istri sang sipir agar suaminya kuliah lagi. Mandela memperlakukan Riaan, anak sang sipir, layaknya cucunya sendiri. Riaan kelak, saat Mandela jadi presiden, memperoleh beasiswa dari mantan orang nomor satu Afrika Selatan itu. Relasi narapidana dengan sipir itu merupakan salah satu tahap dari perjalanan panjang Mandela membebaskan dari prasangkanya sendiri.

    Selama tahun-tahun panjang dan sepi, hasrat Mandela pada kemerdekaan kaumnya berubah menjadi hasrat untuk kebebasan semua orang, baik kulit putih maupun hitam. Pihak penindas harus dibebaskan. Sama seperti pihak yang ditindas. Keduanya, setali tiga uang, telah direnggut kemanusiannya. Bangsa Afrika Selatan mengatakan Mandela memiliki Ubuntu, wawasan hidup yang dibangkitkan semangat belas kasih dan curahan kemurahan hati menakjubkan.

    Pergeseran paradigma Mandela radikal. Konflik dilihatnya bukan lagi sebagai masalah, melainkan peluang. Perbedaan pendapat besar dijadikan ajang pembelajaran, bukan dinding batu pemisah. Tujuan hidup Mandela bukan untuk meraih kemenangan atas lawan, melainkan melakukan perubahan untuk semua orang dan semua pihak. Dia menyelesaikan akar konflik dengan mengubah paradigma penyebab konflik, yang dimulai dengan mengatasi konflik batin yang merupakan konflik paling pelik dan sulit.

    Mentalitas defensif (keras kepala) muncul karena rasa tidak aman dan ketidakjujuran pada diri sendiri. Mentalitas ini cenderung merendahkan mereka yang berbeda pendapat. Empati muncul saat Mandela menemukan dirinya dalam hati orang lain. Mandela mengamati dengan matanya, merasakan emosinya, dan berbagi kepedihannya. Kapasitas untuk berempati itu sesuatu yang alami dan memberi dampak besar. Tapi mengapa empati sangat langka? Karena persaingan antarparadigma lebih banyak dimenangkan “cara berpikirku” dan “cara berpikirmu”, bukan “cara berpikir kita”. Aku dan kamu lebih banyak mendahulukan kepentingan pribadi masing-masing ketimbang mengutamakan kepentingan kita. Sebagian besar resolusi konflik jadi bersifat transaksional. Sedangkan resolusi yang ditawarkan Mandela bersifat transformatif.

    Ada anggapan empati akan memperpanjang konflik. Tapi cara paling tepat untuk mendapatkan solusi adalah dengan mendengarkan penuh empati. Waktu yang diluangkan untuk memahami rival tidak seberapa banyak dibanding waktu dan sumber daya yang terbuang bila terus berselisih. Di AS, 1,2 juta pengacara menagih sekitar US$ 71 miliar setahun untuk jasa mereka. Angka itu belum termasuk success fee untuk perkara yang mereka menangkan di pengadilan. Betapa banyak waktu dan uang bisa dihemat bila orang berusaha saling memahami secara jujur.

    Politikus oportunis Indonesia yang keras kepala sulit berempati. Kaum pragmatis sering menggunakan kata rakyat dalam sepak terjang kemunafikan dan hipokrisi. Ajudikasi, penyelesaian konflik lewat jalur hukum, sebaiknya dihindari. Pemenang biasanya menjadi pecundang dalam biaya pengeluaran dan waktu yang terhambur. Mendengarkan penuh empatik butuh waktu. Tidak seberapa lama dibanding yang dibutuhkan untuk memulihkan hubungan yang telanjur rusak, untuk hidup di bawah penindasan dan masalah yang tak terpecahkan.

    Berusahalah terlebih dulu untuk mengerti, baru kemudian dimengerti. “Keberanian bukan berarti tiadanya rasa takut, melainkan kemenangan atas ketakutan. Berani bukan berarti dia yang tidak merasa takut, melainkan yang berhasil mengalahkan rasa takut.” Begitulah prinsip hidup Nelson Mandela.

    Robert Holden, dalam Success IntelligenceTimeless Wisdom for a Manic Society (2005), mencatat warisan terbesar Mandela untuk mengatasi dunia yang belepotan dendam dan prasangka. “Permaafan melepaskannya dari belenggu kesalahan masa lalu dan membuatnya kembali kuat. Ia memaafkan dirinya sendiri. Agar perasaan malu dan penyangkalan diri tidak terlalu berat untuk dipikul. Ia juga memaafkan pihak lain atas peran mereka dalam menciptakan kekecewaan dan kesedihan. Tujuan hidupnya bukan memikul segala keluhan sesal melainkan untuk terus berkembang dan tumbuh.” ●

     

    —————————————————————-

    Sumber   TEMPO.CO, 18 Juni 2013

     

  • Merajut Falsafah Kepemimpinan, Harapan untuk Presiden Terpilih Menggapai Indonesia Emas

    Merajut Falsafah Kepemimpinan, Harapan untuk Presiden Terpilih Menggapai Indonesia Emas

     

    Oleh Agus Widjajanto

     

     

    Kemajuan tekhnologi informasi berdampak  pengaruh budaya asing  yang sulit dibendung dan sangat mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk gaya hidup generasi muda milenial di jaman modern saat ini dimana seakan tidak ada lagi sekat dan batas negara, setiap orang bisa mengakses  tehnologi informasi, Sehingga yang ada adalah kebebasan seperti kebebasan berekpresi dalam hidup bermasyarakat yang majemuk seperti Indonesia kebebasan berbicara menyampaikan pendapat yang sudah berlebihan cenderung kebablasan yang tidak lagi mencerminkan adab bagi sebuah bangsa yang santun.

    Dalam menyikapi hal itu, rasanya tidak cukup hanya dari pendekatan   spiritual keagamaan dan dari sisi edukasi lewat pengajaran disekolah maupun di kampus-kampus dan pengajaran keagamaan. Dimana harus diakui upaya di atas  telah mengalami kegagalan,  baik dari kaum agamawan, pendidik baik guru, dosen  dan budayawan.

    Kondisi dimana telah melahirkan suatu keadaan, generasi muda lebih condong pada budaya kebebasan, hasil dari mengabdopsi budaya-budaya yang dianggap cocok yang berakibat terkikisnya   budaya sendiri tiadanya rasa  malu dimana berbuat hal yang tercela dan bertentangan dengan adab dan kesopanan dianggap hal yang wajar, seakan lupa bahwa kita bangsa timur dengan adat istiadat ketimuran dan ke indonesiaan, bukan budaya barat hal ini  bisa kita lihat terjadinya korupsi secara masif, dimana lembaga antirasuah, sendiri berat untuk menegakan pemberantasan korupsi  serta  mengatasi korupsi, baik itu dari segi penindakan maupun pencegahan, yang mana korupsi selalu terjadi  walaupun telah diberikan fasilitas dan biaya dari APBN yang begitu besar, tetapi karena adanya degradasi moral dan sistem yang menunjang terjadi nya korupsi  itu sendiri dimana gaya hidup para pejabat dan keluarganya  yang begitu glamor sesuai terungkap di berita berita media masa, korupsi seakan menjadi budaya dan dianggap wajar saat ini sebagai pengembalian modal, karena begitu besar nya cost biaya yang ditimbulkan untuk mencalonkan pada jabatan publik di negeri ini.

    Indonesia pernah mengalami pasang surut kepemimpinan. Sebagai pemimpin, haruslah bisa menjalankan pemerintahan agar rakyat dan bangsa tidak kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa yang beradab dengan  menjunjung tinggi dan memegang teguh peradaban serta budayanya.

    Pada saat pemerintahan Orde Lama dan masa masa kemerdekaan, Bung Karno berpegang teguh prinsip kepemimpinan Jawa. Membentuk negara Non Blok ditengah memanasnya persaingan negara-negara besar pasca perang Dunia II. Pengaruh Amerika beserta sekutu blok Barat dengan negara sosialis yang dimotori Uni Soviet saat itu beserta Tiongkok. 

    Bung Karno menerapkan  prinsip Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake yang artinya Indonesia tanpa melakukan invasi militer  tapi dengan kekuatan lobi, pendekatan melalui diplomasi internasional. Dengan modal karismatiknya, Soekarno bisa membentuk blok baru yakni negara Non- Blok yang bisa diterima dua kekuatan super power dunia, blok Barat maupun blok Timur.  Prinsip yang juga dipegang teguh Soekarno adalah Memayu Hayuning Bawono yakni menjaga keseimbangan dan kemaslahatan dunia agar tidak terjadi perang antar negara Super Power, sebagaimana tertulis dalam Preambul (Pembukaan) UUD 1945.

     Pada awal pemerintahan Orde Baru falsafah kepemimpinannya dijadikan alat untuk memaknai kemerdekaan dengan melakukan pembangunan perekonomian dan stabilitas politik nasional.

    Saat itu mantan presiden Soeharto berpedoman pada falsafah Tri Darma versi Pangeran Samber Nyawa,  dimana rakyat diberikan doktrin dan wawasan agar turut memiliki dan melindungi negara. Falsafah Handarbeni, Hangayomi, dan Hangrungkepi, dimana pemimpin dituntut agar memberikan contoh,  suri tauladan terhadap rakyatnya.

    Falsafah Tri Darma tersebut sejalan dengan falsafah dari Sri Sultan Hamangkubuwono ke-IX yakni Hamengku , Hamangku, Hamengkoni. “Hamengku”  artinya seorang pemimpin senantiasa melindungi rakyat, secara adil, “Hamangku” pemimpin lebih banyak memberi darma bakti nya kepada rakyat dan bangsanya. Sedang ” Hamengkoni ” pemimpin harus memberikan suri tauladan, contoh bagi rakyat dan memikul tanggung jawab dengan segala resiko nya.

    Presiden Soeharto  juga selalu berprinsip, “Mikul Dhuwur, Mendem Jero” menghormati para pendahulu yang telah berjuang demi kemerdekaan ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

    Sementara saat ini, masyarakat berharap, Presiden terpilih dalam Pemilu 2024, Prabowo Subianto dan Wakil Presiden, Gibran Raka Buming Raka,   mempunyai sikap sesuai prinsip falsafah kepemimpinan yang telah diwariskan oleh raja – raja masa lalu  dan pemimpin terdahulu, yang sangat mencintai bangsanya.

    Falsafah kepemimpinan yang harus dipegang teguh adalah, “Adil Ambeg Paramarta” dimana sebagai pemimpin harus bersikap adil dan dapat membedakan urusan kenegaraan dan urusan pribadi sehingga bisa fokus menjalankan amanah kepemimpinannya. “Berbudi Bawa Laksana”, pemimpin harus bermurah hati serta teguh memegang dan memenuhi janji pada rakyat, janji saat kampanye Pilpres agar dicintai rakyat.

    Pemimpin juga harus “Wicaksana” bijaksana dalam mengambil keputusan, sehingga  tidak mengorbankan rakyat dan rasa keadilan. ”Eling lan Waspodo” pemimpin harus ingat pada jati dirinya sebagai abdi rakyat  dan akan bekerja untuk rakyat  dengan tetap menjaga kewaspadaan yang ada sebagai hamba Tuhan. Selain itu, “Nut Jaman Kelakone”, pemimpin harus bisa mengikuti jaman dengan prinsip kuat ngeli Ning ora keli (mengalir tapi tidak ikut terbawa arus) serta ngono yo ojo ngono, bisa menjaga dan mengontrol diri sebagai seorang pemimpin yang punya kekuasaan besar yang mempunyai sifat mulia andhap ashor (rendah hati ), prasojo (sederhana) rajin bekerja, sabar, tenang. Pemimpin harus mempunyai prinsip, “Den Ajembar” mempunyai hati, pikiran yang  berpandangan luas, ”Den Momot” memuat dan menerima masukan dan inspirasi dari rakyatnya dalam mengambil kebijakan, “Lawan Den Wengku” harus bisa mengalahkan dan menyingkirkan Kepentingan pribadi atau ego pribadi, “Den Koyo Segoro” memiliki ilmu, wawasan, mempunyai kebijakan dan hati seluas samudera, yang dicintai rakyatnya.

    Masyarakat berharap pemimpin kedepan memiliki sifat-sifat tersebut untuk menyongsong Indonesia Emas, membawa Indonesia kembali kepada jati dirinya sebagai bangsa yang berbudaya dan mencintai peradaban budayanya sendiri. Bangsa yang bermartabat di mata Dunia Internasional dan disegani karena berdiri pada kaki sendiri. Semoga **

     

    ==================

     

    *Penulis adalah Praktisi Hukum dan Pemerhati Sosial Budaya, Tinggal di Jakarta
  • Tarikan Konstitusionalisme + Jebakan Tradisionalisme = RI

    Tarikan Konstitusionalisme + Jebakan Tradisionalisme = RI

     

    Oleh  Ignas  Kleden

     

     

    Riwayat demokrasi di Indonesia rupanya tak pernah lepas dari riwayat Negara RI, sementara riwayat negara tak pernah lepas dari riwayat para pemimpinnya. Sedari awal, sudah terlihat perbedaan yang mencolok antara dua jenis pemimpin kita dalam pendekatan yang mereka terapkan untuk mempersiapkan negara yang akan terbentuk. Herbert Feith membuat tipologi pemimpin Indonesia masa itu dengan membedakan mereka ke dalam tipe solidarity maker dan administrator. Dalam tulisan ini tipologi tersebut diperluas menjadi tipe tradisionalis dan tipe konstitusionalis.

    Seorang tradisionalis sangat paham bahwa sebagian terbesar rakyat Indonesia menjelang kemerdekaan masih hidup dalam tradisi komunitas mereka masing-masing. Sekalipun mereka memperlihatkan beberapa aspirasi yang non tradisional, seperti mengirim anak ke sekolah agar dapat bekerja sebagai pegawai (dan tidak lagi sebagai petani atau nelayan), pedoman utama dalam perilaku mereka tetaplah nilai-nilai tradisional. Mereka lebih senang mendengar apa kata orang-orang tua dalam membuat keputusan daripada mencoba memutuskan sendiri, lebih terikat pada kelompok dan enggan mencari jalan sendiri yang lebih menjanjikan, tetapi mungkin menyebabkan mereka terpencil secara sosial, atau lebih percaya pada nasib daripada rencana yang dibuat sendiri.

    Pemimpin politik yang ingin mendapat dukungan akan berdiri di persimpangan jalan: dia dapat mendidik rakyatnya untuk terbuka kepada pemikiran alternatif dan nilai-nilai baru yang dibutuhkan dalam suatu negara modern, atau dia bersikap akomodatif terhadap sikap dan perilaku tradisional agar lebih mudah dipahami oleh rakyatnya dan cepat mendapat dukungan mereka.

    Jalan pertama memakan waktu lebih lama, karena pendidikan selalu memerlukan waktu. Jalan ini ditempuh oleh Hatta, Sjahrir, dan mungkin juga Haji Agus Salim, meskipun metode pendidikan mereka berbeda. Intinya, harus dipersiapkan sejumlah kader terpelajar yang cukup pengetahuan untuk mengambil alih posisi-posisi dalam administrasi pemerintahan, apabila posisi-posisi itu ditinggalkan oleh para birokrat kolonial. Orientasi terpokok ialah bahwa negara yang merdeka, pemerintah yang mengatur negara, birokrasi yang melaksanakan pemerintahan, serta rakyat yang diperintah, semuanya berpegang pada satu pedoman yang sama, yaitu hukum yang diwujudkan dalam konstitusi.

    Jalan lain diambil oleh Soekarno yang percaya bahwa pengerahan massa merupakan faktor revolusioner terpenting dalam merebut kemerdekaan. Karena itu, massa harus ditarik hatinya, digelorakan semangatnya, untuk memberi dukungan, dan ini hanya mungkin dilakukan jika pemimpin memahami alam pikiran mereka, berbicara dalam jargon-jargon mereka dan berpikir menurut nalar mereka. Clifford Geertz pernah menulis secara dilebih-lebihkan bahwa Soekarno tidak mempunyai suatu alat pun di tangannya untuk memimpin negara modern dan menjalankan pemerintahan. Dia tidak mempunyai partai politik yang terorganisasi seperti yang dipunyai oleh Nkrumah di Ghana, tidak punya birokrasi modern seperti yang dipunyai oleh Nehru di India, tidak mempunyai angkatan bersenjata yang populis seperti yang dipunyai Nasser di Mesir, juga tidak didukung oleh borjuasi nasional seperti yang dipunyai oleh Quezon di Filipina, dan bahkan tidak mempunyai kebanggaan tribal seperti yang dipunyai oleh Kenyatta di Kenya. Dia hanya mempunyai kemampuan memainkan simbol-simbol tradisional dan memenangkan dukungan rakyatnya melalui daya pukau poetics of power.

    Ketegangan antara konstitusionalisme dan tradisionalisme ini dilukiskan dengan cara yang menarik oleh Adnan Buyung Nasution dalam studinya yang luas dan cermat, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia (1995). Sebelum pemilu pertama 1955 semua UU yang digunakan bukanlah hasil perdebatan dan kesepakatan para wakil rakyat, tetapi disusun oleh beberapa sarjana hukum atas penugasan negara. UUD 45, misalnya, lebih cenderung menjadi produk negara dan bukan hasil yang muncul dari aspirasi rakyat melalui wakil-wakil mereka di parlemen. Sementara itu, dalam UUD 45 dianut konsep negara integralistik, yang memandang negara tidak dalam perbedaan dan pertentangan kepentingan dengan masyarakat dan individu, tetapi melihatnya sebagai kolektif yang menampung baik masyarakat dan individu dalam harmoni. Sayangnya, harmoni itu lebih merupakan asumsi yang diandaikan dan bukannya kesimpulan suatu analisis historis. Akibatnya, masalah asasi seperti HAM tidak mendapat tempat yang layak dalam UUD 45.

    Konstituante, mengikuti studi Adnan Buyung Nasution, membalikkan kecenderungan sebelumnya dengan dua sasaran utama: menghasilkan konstitusi yang lahir dari aspirasi rakyat melalui wakil-wakil mereka dalam parlemen, dan memberi tempat yang lebih pasti bagi HAM dalam konstitusi baru. Perdebatan mengenai HAM yang berakhir pada 10 September 1958, menyetujui 19 hak asasi manusia, setelah pembicaraan tentang HAM didukung oleh hampir semua kelompok politik dalam Konstituante. Keberhasilan ini dipandang demikian penting dalam studi tersebut sehingga kesepakatan tentang HAM dianggap sebagai proklamasi kemerdekaan ke dalam, setelah Soekarno-Hatta melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia ke dunia luar.

    Sukses Konstituante dalam merumuskan dan mengesahkan HAM, sayangnya, tidak disertai dengan keberhasilan yang sama dalam menyepakati dasar negara. Perbedaan opsi dan pertentangan paham berlangsung tegang di antara kelompok-kelompok politik yang masing-masing menghendaki Pancasila, Islam, dan sosial-ekonomi sebagai dasar negara. Beberapa persiapan dilakukan untuk mencapai kompromi tetapi, sebelum sempat dilaksanakan, Konstituante telanjur dibubarkan oleh Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959.

    Kontras yang diciptakan oleh Konstituante terhadap masa sebelumnya memperlihatkan apa yang dianggap paling penting untuk politik dalam kurun waktu tertentu. Pertama, konsep negara integralistik dalam UUD 45 jelas lebih dekat dengan berbagai tradisi di Nusantara, yang menganggap kekeluargaan lebih penting daripada individu, kebersamaan lebih penting daripada perorangan, sementara kepentingan pribadi hanya mungkin terwujud dalam kepentingan bersama. Uniknya, asumsi tentang kebersamaan itu dapat menghasilkan kesimpulan yang amat berbeda dalam teori politik. Rousseau, misalnya, pada awal bukunya tentang kontrak sosial menulis: Manusia dilahirkan bebas, tetapi di mana-mana mendapatkan dirinya terbelenggu.” Kalimat ini tidak hanya berarti bahwa setiap orang secara alamiah bebas tetapi kemudian masyarakatlah yang mengekangnya dalam berbagai ikatan. Kalimat itu lebih mencerminkan keyakinan Rousseau bahwa kebebasan alamiah lebih mirip suatu abstraksi, sedangkan ketergantungan tiap orang adalah realitas manusiawi yang sebenarnya.

    Tugas politik bukanlah menyelamatkan kebebasan alamiah dari tekanan masyarakat, melainkan melegitimasi ketergantungan itu melalui kewarganegaraan dan mengubah kebebasan alamiah yang semu itu menjadi kemerdekaan politik yang sesungguhnya melalui komunitas demokratis. Ketergantungan alamiah kepada masyarakat justru mengharuskan politik untuk mewujudkan kebebasan perorangan. Karena itu, dengan merujuk kepada Rousseau atau tidak, para politisi kita dalam Konstituante ternyata memberi perhatian besar kepada hak-hak perorangan yang terwujud dalam pengesahan 19 hak asasi sebelum lembaga itu dibubarkan.

    Kedua, selama berabad-abad para filosof memikirkan mengapa harus ada masyarakat dan negara. Pemikiran tentang negara bergerak antara kutub republikan yang sudah bermula semenjak Aristoteles di Yunani Antik, melalui Machiavelli di Italia semasa Renaisans, diteruskan ke revolusi Prancis pada abad ke-18 hingga ke Thomas Jefferson di AS, sementara di lain pihak ada pemikiran liberal yang digalakkan oleh para filosof Inggris dan kemudian diteruskan dalam varian yang amat beragam.

    Tema dasar dalam paham republikan adalah civic virtue (kebajikan warga negara). Aristoteles mengajarkan bahwa keutamaan seseorang hanya mungkin terwujud melalui keterlibatannya dalam politik. Machiavelli menganggap para pedagang tidak bisa diandalkan dalam kebajikan warga negaranya, karena mereka tidak bisa diajak bertempur kalau negara dalam bahaya. Semangat republikan inilah yang menjiwai perjuangan kemerdekaan Indonesia tatkala rakyat dan pemimpinnya merasa harus mempersembahkan segala sesuatu, bahkan nyawanya sendiri.

    Sebaliknya, keutamaan dalam paham liberal adalah kebebasan perorangan, yang dianggap menjadi benteng terakhir yang melindungi individu dari paksaan dan intervensi negara dan institusi lainnya. Konstituante tampaknya memberi antitesis yang kuat kepada republikanisme dengan menunjukkan perhatian yang sentral kepada hak-hak individu yang ditetapkan sebagai hak-hak asasi manusia.

    Apakah ini masa yang sebaik-baiknya dalam politik liberal di Indonesia? Pertanyaan itu dapat dijawab dalam formula negatif: Konstituante pastilah bukan masa yang seburuk-buruknya dan harus disesalkan karena di sana diperlihatkan kreativitas politik lain, yang muncul dengan tenang dan jernih dari gegap gempita revolusi kemerdekaan.

    Karena itu, kalau republikanisme mudah dinyalakan karena berkerabat dekat dengan tradisionalisme kebudayaan kita, maka politik liberal dikerjakan dengan perdebatan yang tekun dan bermutu tinggi serta makan waktu, untuk membuka jalan ke arah konstitusionalisme, sebagai suatu cita-cita yang hendak dijadikan tradisi dalam masyarakat baru.

     

    ————————————————

     

    Sumber Tulisan: Majalah Tempo Edisi 13 – 19 Agustus 2007 

     

     

  • Datangnya Ratu Adil sesuai Ramalan Jayabaya dan Michael Nostradamus yang dikaitkan dengan Hasil Pemilihan Presiden Tahun 2024

    Datangnya Ratu Adil sesuai Ramalan Jayabaya dan Michael Nostradamus yang dikaitkan dengan Hasil Pemilihan Presiden Tahun 2024

    Oleh  Agus Widjajanto

     

     

    TAHUN 2023 yang belum lama kita lewati  dan beberapa waktu lalu baru selesai pemilu serentak untuk pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan anggota DPR RI dan DPD propinsi serta DPRD Propinsi dan Kota/Kabupaten, yang hasilnya sudah kita bisa lihat bersama.  Indonesia sendiri yang dulu disebut Nusantara  telah diramalkan oleh Jayabaya Raja Kediri yang berkuasa dan hidup pada tahun sekitar tahun 1150 Masehi.

    Juga peramal Perancis yang bernama Michael Nostradamus, mengatakan bahwa akan mulai munculnya pemimpin baru di tengah masyarakat yang dikenal dengan pemimpin baru dari Timur. Apakah ini ada korelasinya dengan ramalan Jangka Jayabaya dan juga Nostrademus yang juga menyebutkan akan mulai muncul datangnya seorang Satriya Utomo yang terpingit pada tahun 2024?

    Michael Nostradamus adalah seorang warga negara Perancis dimana beliau adalah keturunan Yahudi. Ia merupakan seorang sufi dari Kristen Ortodok yang sangat terkenal atas ramalan-ramalanya yang kerap terbukti. Menurut ramalannya sebagaimana ditulis Fistwith dan Peter Lori dalam bukunya yang berjudul The  End Of The Millenium Profesi 1992 hingga 2001, akan muncul pada tahun 2024 seorang calon pemimpin yang ditakdirkan akan merubah Peradaban Dunia.

    Pemimpin tersebut merupakan seseorang yang akan membawa A New World Religion. Pemimpin itu seorang yang dijuluki dengan panggilan The Man from The East atau laki-laki dari Timur dan akan muncul dari negeri Timur yang terletak pada pertemuan tiga lautan. Kemunculannya akan menggemparkan Dunia Timur dan Barat, karena ketegasan dan keberaniannya dalam menyuarakan keadilan dan kesetaraan dalam aturan tatanan dunia.

    Dalam buku The New World Religion atau Agama Baru di dunia untuk mencerahkan kebuntuan atas segala perbedaan yang semakin besar dari agama agama yang ada. Dia akan lahir sebagai penguasa dunia baru yang tidak atau belum pernah dikenal dan diperkirakan sebelumnya oleh umat manusia di seluruh Dunia,

    Demikian juga dengan ramalan Jangka Jayabaya yang diyakini oleh masyarakat Jawa bahwa akan lahirnya Agama Budi bersenjata Trisula Weda yang berisi tiga  mata tombak. Ada korelasinya antara Ramalan dari Michael Nostradamus dengan Ramalan Jangka Jayabaya yang sudah di adopsi dan disempurnakan oleh Raden Ngabehi Ronggo Warsito dengan akan datangnya Ratu Adil yaitu Satriyo Panindito sisihaning Wahyu.

    Membicarakan akan datangnya Ratu adil setiap jaman selalu relevan untuk dibicarakan. Medio tahun 1920 pun ramai  diramalkan akan datangnya ratu adil yang membawa bangsa ini menemukan cahaya keadilan, yang bagi masyarakat Jawa disebut lahirnya Satriyo piningit dan pada masa itu lahir putra sang Fajar (Soekarno atau Kusno). Pemimpin yang memproklamirkan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dengan memanfaatkan kekosongan pemerintahan pasca perang dunia kedua.

    Jayabaya adalah Raja Kediri yang hidup pada sekitar 1150 Masehi. Tokoh yang bagi orang Jawa lebih dari sekedar figur Historis. Jayabaya dipandang sebagai figur mistis  dimana ia dipandang sebagai nabi yang mengujarkan nubuat dan ramalan tentang masa depan orang Jawa, yang kemudian terkenal dengan sebutan Ramalan Jayabaya (Jongko Joyoboyo). Ramalan Jayabaya tersebut mengilhami adanya gerakan Ratu adil di Jawa yang pengikutnya berharap akan datangnya Ratu adil atau umumnya dipandang sebagai mesias Jawa.

    Kemunculannya diharapkan dapat membebaskan rakyat dari penderitaan dan penindasan kaum bermodal dan penjajahan pada masa kolonial Belanda. Karenanya pada setiap periode tertentu baik pada abad ke 18 menjelang pecahnya perang Jawa pada tahun 1825 hingga 1830 dan dipimpin oleh Diponegoro atau RM Ontowiryo, merupakan gerakan perang Sabil ( perang suci agama ). Disebut demikian karena menyangkut kepercayaan mesias Jawa, yang disebut Sultanul Sayyidil Panetep Panoto Agomo (Raja / pemimpin agama) untuk membebaskan rakyat dari penindasan.

    Berikut pada medio awal abad ke 19 Masehi saat Budi Utomo dibentuk 1908 hingga masa masa revolusi kemerdekaan yang dipercaya oleh rakyat (wong cilik). Dimana datangnya Ratu adil akan menjungkir balikan tatanan yang ada untuk membebaskan rakyat dari belenggu kezaliman agar bisa mencapai hidup makmur dan bisa mendapatkan keadilan yang sama sebagai suatu hak dalam suatu anak bangsa.

    Demikian pula saat ini di jaman Reformasi yang dalam Ramalan Jangka Jayabaya disebut jaman Kolo Bendu (jaman morat marit/ketidakpastian ) hukum diciptakan bagi yang kuat dan kaya, tumpul diatas tahan dibawah, merosotnya budi pekerti , anak berani melawan orang tua, guru dianggap teman dan tidak lagi ada rasa hormat, berbicara tanpa aturan karena kebebasan berpendapat yang tidak lagi beretika.

    Sangat menarik disini untuk dikaji dan direnungkan bersama yang kadang ekspektasi masyarakat lebih lebih wong cilik yang terlampau besar harapan nya kepada pemimpinan nya ,  dimana sesuai ramalan jongko dari Raja Brawijaya yang lalu disadur dan diperbaruhi oleh Raden Ngabehi Ronggo Warsito, diramalkan akan datangnya Ratu Adil yang dalam literatur tulisan beliau akan datang Satriyo Panandito Sisihaning Wahyu, Dewa atau Tuhan berbadan manusia berparas Batara Surya, bersenjata Trisula Weda.

     

    Trisula Weda

    Trisula Weda adalah sebuah perumpamaan mengenai ilmu rahasia leluhur di Negeri Ini yang dulu disebut Nusantara, yang juga ditulis dalam karya sastra dalam kitab Sastro Jendro Hayuningrat, yaitu metode pengajaran ilmu dalan tata negara untuk menata tata cara pemerintahan yang menghubungkan benang merah antara masa kini, masa depan dan sejarah masa lalu.

    Trisula Weda sendiri adalah senjata tombak dari Dewa Siwa salah satu dari Trimurti. Yang kegunaan nya Senjata tersebut untuk memerangi sifat Angkara murka dari sifat kedagingan dari diri manusia , yang mempunyai sifat ambisi menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan baik harta maupun tahta, agar menjadi manusia yang berbudi Pekerti Luhur adiluhung yang bisa menciptakan Harmonisasi dalam hidup di Dunia sebagai wakil yang Maha kuasa.

    Trisula adalah senjata bermata tiga , sedang kan Weda adalah berasal dari bahasa sansekerta yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia punya arti ilmu pengetahuan yang secara Etimologi artinya mengetahui .

    Tiga mata trisula apabila diterjemahkan dalam Akidah  hukum dogma adalah aturan yang mengatur agar antara Niat / Nawaitu,  ucapan dan tindakan (Mu,amallah) bisa manunggal atau satu, sebagai manifestasi kejujuran sebagai seorang hamba Tuhan,

    Tombak dapat diartikan hubungan tegak lurus antara mahluk hamba dengan Tuhan sang pencipta. Dimana hukum alam selalu berlaku hukum sebab akibat mengapa alam semesta ini diciptakan dan mengajarkan agar diri kita selaras dengan hukum alam/ sunatullah, seperti hal nya kita menyembah dan sujud pada setiap sholat sholat kita, dimana gunung, hewan, tumbuhan, lautan juga mahluk yang menyembah dan berlaku sesuai hukum Tuhan dalam Sunatullah, seperti halnya Bumi mengitari matahari, dan matahari mengitari Galaksi Bima Sakti, serta bulan mengitari bumi.

    Harmonisasi alam ini hanya bisa diciptakan jikalau diri kita juga memahami dan melakukan harmonisasi sesuai Sunatullah dan menjalankan Budi pekerti adiluhung jujur dan adil. Dan itulah pengharapan dari masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya untuk menantikan lahir nya pemimpin yang bisa mengayomi rakyat kecil , yang berjiwa jujur adil antara ucapan pikiran dan perbuatan adalah satu atau tunggal , yang selalu berjalan selaras sesuai hukum Tuhan dan hukum alam.

     

    Bersorban atau Berikat Biru

    Yang mempunyai makna terlahir dari keturunan darah biru atau Raja Raja di Nusantara ini,  lalu dilahirkan bertemunya tiga lautan adalah menyangkut Nazab atau turunan dari Darah Biru Yang merupakan kerajaan masa lalu.

    Trisula Weda sendiri merupakan  sepasang senjata  yang Trisula Raja (Laki laki) dan Trisula Ratu (perempuan) sepasang senjata ini merupakan simbol kehidupan alam Raya ini dari Sunatullah tadi. Bahwa apapun selalu dilahirkan diciptakan berpasang pasangan, yang identik dengan simbol Lingga dan Yoni yang banyak ditemukan pada situs situs di Candi candi purbakala, yang apabila dikaitkan dengan kepercayaan Jawa merupakan kakang kawah Adi Ari Ari.

     

     Agama Budi

    Bahwa dalam beribadah seperti kita ketahui dibagi tiga hal yaitu akidah yang mengatur hukum fiqih dalam aturan aturan agama, kedua akidah atau seremonial ibadah yang merupakan tata cara menjalankan ibadah. Kemudian Mu’amalah, atau amal ibadah di tengah masyarakat. Dalam hal ini hubungan bukan hanya pada hablumminallah tapi juga pada hablumminannas atau hubungan antar manusia dalam bermasyarakat dan bernegara.

    Dalam perspektif Agama Budi seperti yang ditulis dalam Jangka Joyoboyo, mempunyai makna bahwa kita harus mempunyai budi pekerti adiluhung yang luhur sebagai Hamba Tuhan, yang bisa menerapkan Trisula. Ucapan, pikiran dan niat atau hati dan tindakan harus satu manunggal. Menjalankan tata cara adat istiadat dari apa yang telah diwariskan para leluhur masa lalu yang terkenal adiluhung dan penuh bahasa tersirat dan sarat perumpamaan yang dalam dunia modern telah diajarkan oleh pendidikan Taman Siswa Ki Hajar Dewantoro.

    Makna dari Trisula Weda sendiri sesungguhnya merupakan harapan dari rakyat atau kawulo agar lahir pemimpin yang bisa memikirkan dan mengangkat harkat dan martabat wong cilik baik petani , nelayan, buruh, agar bisa hidup layak dan itu harapan mereka dan rakyat Indonesia terhadap pemimpin terpilih pada pemilu tahun 2024 ini.

    Dalam Ramalan Jangka, dapat dijabarkan bahwa Ratu adil adalah Manusia Pilihan Tuhan, sakti tanpo aji aji, bukan manusia di pemerintahan atau pejabat, segala ucapannya jadi kenyataan sabdo tunggal, kun fayakun jadi terjadilah. Sifat kepemimpinannya, jika menang tidak merendahkan lawan dan selalu memanusiakan manusia seperti dalam dongeng dongeng sebenarnya.

    Apabila Tuhan berkehendak tidak ada yang mustahil di dunia ini, karena seluruh ramalan dari Raja Jayabaya diyakini masyarakat jawa telah  banyak terbukti, tinggal datangnya Ratu adil tersebut yang belum terjadi yang merupakan harapan bagi wong cilik (masyarakat kecil) yang hidupnya belum bisa menikmati hasil dari buah kemerdekaan yang dicita-citakan citakan dalam Pembukaan UUD 1945 dan sila sila dalam Pancasila.

    Dalam perspektif kekinian yang masyarakatnya majemuk, dengan pola kehidupan bebas berbicara  yang mempunyai keinginan kebebasan demokrasi yang sebenarnya adalah produk barat, diciptakan pasca pemenang dunia kedua sebagai alat kolonialisasi modern sebagai bagian dari stratrgi perang Hibrida untuk menguasai suatu wilayah dengan cara gabungan  antara konvensional dengan cara  mempengaruhi ekonominya, budaya nya, bahasanya, tekhnologi informasi bagi generasi muda nya dimana harapan masyarakat bawah /kecil untuk menunggu datangnya Ratu adil seperti halnya pada jaman pra kemerdekaan yang mengalami jaman tanam paksa dalam penjajahan belanda. Adalah sebuah harapan yang wajar memimpikan datangnya pemimpin yang disebut Ratu Adil untuk menyongsong jaman keemasan Gemah Rimpah Loh Jinawe, Toto Tentrem Kerto Raharjo adil dan Makmur.

    Harapan tersebut saat ini tentu ditujukan kepada presiden dan wakil presiden terpilih pada pemilihan umum tahun 2024 yang baru saja terlaksana. Pemimpin terpilih diharapkan bisa menjadi pengayom masyarakat baik kalangan bawah selaku wong cilik maupun kalangan menengah hingga atas, untuk mencapai jaman kejayaan.

    Tentunya dengan tetap menjunjung tinggi kehormatan dan kebenaran serta keadilan bagi rakyatnya serta kehormatan bagi bangsanya menuju masyarakat yang dicita-citakan oleh proklamasi yaitu menuju masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi, toto tenteram kerto raharjo, serta mampu berperan menjaga  perdamaian dunia.

    Harapan tersebut menjadi tugas yang harus diemban sesuai amanat rakyat kepada pasangan presiden terpilih yang akan menjabat mendatang yakni Prabowo Subiyanti dan Gibran Raka Buming Raka. Semoga menjaga amanat rakyat, tidak mengingkari amanat rakyat kecil, menjadi pemimpin yang adil dan berani, yang selalu berorientasi ke Indonesian. Kutagih janjimu, kunantikan kiprahmu.

    Semoga dapat memberikan manfaat pencerahan bagi pecinta budaya Jawa dan Bangsa nya yang terkenal bangsa Adiluhung sopan santun, andhap aso, tapi berharga diri sebagai bangsa yang berbudaya serta sebagai Bangsa yang berketuhanan Yang Maha  Esa.

     

    ———————————–

     

    *Agus Widjajanto, Praktisi Hukum dan Pemerhati Sosial Budaya,  Tinggal di Jakarta