Category: OPINI

  • ๐‡๐จ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐š๐ฎ๐ฌ ๐…๐ซ๐š๐ง๐ฌ๐ข๐ฌ๐ค๐ฎ๐ฌ ๐Œ๐ข๐ฌ๐š ๐€๐ค๐›๐š๐ซ ๐๐ข ๐“๐š๐ฌ๐ข ๐“๐จ๐ฅ๐ฎ, ๐ƒ๐ข๐ฅ๐ข-๐“๐ข๐ฆ๐จ๐ซ ๐‹๐ž๐ฌ๐ญ๐ž, ๐’๐ž๐ฅ๐š๐ฌ๐š, ๐Ÿ๐ŸŽ ๐’๐ž๐ฉ๐ญ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ ๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ’

    ๐‡๐จ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐š๐ฎ๐ฌ ๐…๐ซ๐š๐ง๐ฌ๐ข๐ฌ๐ค๐ฎ๐ฌ ๐Œ๐ข๐ฌ๐š ๐€๐ค๐›๐š๐ซ ๐๐ข ๐“๐š๐ฌ๐ข ๐“๐จ๐ฅ๐ฎ, ๐ƒ๐ข๐ฅ๐ข-๐“๐ข๐ฆ๐จ๐ซ ๐‹๐ž๐ฌ๐ญ๐ž, ๐’๐ž๐ฅ๐š๐ฌ๐š, ๐Ÿ๐ŸŽ ๐’๐ž๐ฉ๐ญ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ ๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ’

     

    โ€œ๐‘†๐‘’๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘›๐‘Ž๐‘˜ ๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘™๐‘Žโ„Ž๐‘–๐‘Ÿ ๐‘ข๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐‘˜๐‘–๐‘ก๐‘Ž, ๐‘ ๐‘’๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘๐‘ข๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž ๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘ข๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐‘˜๐‘–๐‘ก๐‘Žโ€ (๐‘Œ๐‘’๐‘  9:5).

     

    Ini adalah kata-kata dalam bacaan pertama, yang digunakan oleh Nabi Yesaya untuk menyapa penduduk Yerusalem, pada masa kemakmuran kota tersebut, yang sayangnya juga ditandai dengan kemerosotan moral yang luar biasa.

    Ada banyak kekayaan, tetapi kekayaan membutakan orang-orang yang berkuasa, menipu mereka untuk berpikir bahwa mereka sendiri bisa melakukan semuanya, bahwa mereka tidak lagi membutuhkan Tuhan, dan keangkuhan mereka membuat mereka menjadi egois dan berlaku tidak adil. Inilah sebabnya, meskipun ada begitu banyak kekayaan, orang miskin ditinggalkan dan kelaparan ada dimana-mana, perselingkuhan merajalela, dan praktik keagamaan semakin direduksi menjadi formalitas belaka. Tampilan wajah yang menipu dunia, yang sekilas tampak sempurna tapi sebenanrya menyembunyikan realitas yang jauh lebih gelap, lebih keras, dan lebih kejam, di mana ada banyak kebutuhan akan pertobatan, belas kasihan, dan penyembuhan.

    Inilah sebabnya mengapa Sang Nabi menyerukan kepada bangsanya sebuah cakrawala baru, yang akan dibukakan oleh Allah bagi mereka: sebuah masa depan yang penuh pengharapan, masa depan yang penuh sukacita, di mana penindasan dan peperangan akan dihapuskan untuk selama-lamanya (bdk. Yes. 9:1-4). Ia akan membangkitkan bagi mereka terang yang besar (lih. ay. 1) yang akan membebaskan mereka dari kegelapan dosa yang menindas mereka, dan Ia akan melakukannya bukan dengan kekuatan tentara, senjata, atau kekayaan, tetapi melalui anugerah seorang anak laki-laki (lih. ay. 5-6).

    Mari kita hening sejenak untuk merenungkan gambaran ini: Allah menyinarkan terang keselamatan-Nya melalui karunia seorang anak laki-laki. Di setiap tempat, kelahiran seorang anak adalah momentum terang, waktu sukacita dan pesta, dan kadang-kadang juga membangkitkan keinginan yang baik dalam diri kita, untuk memperbarui diri kita dalam kebaikan, untuk kembali ke kemurnian dan kesederhanaan. Dihadapan seorang anak yang baru lahir, bahkan hati yang paling keras pun menjadi hangat dan dipenuhi dengan kelembutan. Kerapuhan seorang anak selalu membawa pesan yang begitu kuat sehingga menyentuh jiwa yang paling keras sekalipun, membawa serta tindakan-tindakan dan niat-niat yang harmonis dan tenang. Sungguh menakjubkan, saudara dan saudari, apa yang terjadi pada saat kelahiran seorang anak!

    Kedekatan Allah adalah melalui seorang anak. Allah menjadi seorang anak. Dan tidak hanya untuk mengherankan dan menggerakkan kita, tetapi juga untuk membuka kita kepada kasih Bapa dan membiarkan diri kita dibentuk oleh kasih itu, sehingga kasih itu dapat menyembuhkan luka-luka kita, mengatur kembali perbedaan-perbedaan kita, menata kembali keberadaan kita.

    Di Timor Lorosa’e ini sangat indah, karena ada begitu banyak anak-anak: Negara ini adalah sebuah negara muda di mana di setiap sudutnya kalian dapat merasakan denyutan dan detakan kehidupan. Dan ini adalah anugerah, anugerah yang luar biasa: kehadiran begitu banyak kaum muda dan begitu banyak anak-anak yang terus-menerus memperbaharui energi dan kehidupan kita. Namun lebih dari itu, ini adalah sebuah tanda, karena memberikan ruang bagi kanak-kanak, bagi anak-anak kecil, menyambut mereka, merawat mereka, dan menjadikan diri kita kecil di hadapan Allah dan di hadapan sesama, justru merupakan sikap yang membuka diri kita terhadap karya Tuhan. Dengan menjadikan diri kita sebagai anak-anak, kita mengijinkan karya Tuhan dalam diri kita.

    Hari ini kita menghormati Bunda Maria sebagai Ratu, yaitu ibu dari seorang Raja, Yesus, yang dilahirkan dalam keadaan kecil, untuk menjadikan dirinya sebagai saudara kita, dan yang meminta jawaban โ€œyaโ€ dari seorang gadis muda yang rendah hati dan rapuh (bdk. Luk 1:38).

    Maria memahami hal ini, sampai-sampai ia memilih untuk tetap menjadi kecil sepanjang hidupnya, untuk membuat dirinya semakin kecil, melayani, berdoa, menghilang untuk memberikan ruang bagi Yesus, bahkan ketika semua itu harus dibayar mahal.

    Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, marilah kita tidak takut untuk menjadikan diri kita kecil di hadapan Allah, dan di hadapan sesama, marilah kita tidak takut kehilangan hidup kita, untuk menyumbangkan waktu kita, untuk merevisi rencana-rencana kita dan mengubah ukuran proyek-proyek kita jika perlu, bukan untuk mengurangi, tetapi untuk menjadikannya lebih indah melalui karunia diri kita sendiri dan sesama kita.

    Semua ini dilambangkan dengan sangat baik oleh dua perhiasan tradisional yang indah di negeri ini: ๐Š๐š๐ข๐›๐š๐ฎ๐ค dan ๐๐ž๐ฅ๐š๐ค. Keduanya terbuat dari logam mulia. Itu berarti bahwa keduanya sangat berharga!

    ๐Š๐š๐ข๐›๐š๐ฎ๐ค melambangkan tanduk kerbau dan cahaya matahari, dan ditempatkan di atas, menghiasi dahi, dan juga di bagian atas rumah. Kaibauk melambangkan kekuatan, energi dan kehangatan, dan dapat mewakili kekuatan dari Tuhan, pemberi kehidupan. Namun tidak hanya itu: ditempatkan setinggi kepala dan di atas rumah-rumah, sebenarnya ingin mengingatkan kita bahwa, dengan terang Firman Tuhan dan kuasa kasih karunia-Nya, kita juga dapat bekerja sama dengan pilihan dan tindakan kita dalam rencana penebusanNya yang agung.

    Yang kedua, ๐๐ž๐ฅ๐š๐ค, yang diletakkan di atas dada, adalah pelengkap dari yang pertama. Ini mengingatkan kita pada cahaya lembut bulan, yang dengan rendah hati memantulkan cahaya matahari di malam hari, menyelimuti segala sesuatu dengan pancaran cahayanya. Belak melambangkan tentang kedamaian, kesuburan, kemanisan, dan kelembutan seorang ibu, yang dengan pantulan cintanya yang lembut membuat apa yang disentuhnya bersinar dengan cahaya yang sama dengan cahaya yang diterimanya dari Tuhan.

    Kaibauk dan Belak, kekuatan dan kelembutan dari seorang ayah dan Ibu: dan inilah cara Tuhan memanifestasikan kerajaan-Nya, yang terbuat dari cinta kasih dan belas kasihan.

    Maka marilah kita bersama-sama, dalam Ekaristi ini, kita masing-masing, sebagai perempuan dan laki-laki, sebagai Gereja, sebagai masyarakat, mengetahui bagaimana untuk memantulkan kepada dunia cahaya yang kuat, cahaya yang lembut dari Allah yang penuh kasih, Allah yang, seperti yang kita doakan dalam Mazmur Tanggapan, โ€œIa menegakkan orang yang hina dari debu, mengangkat orang yang lemah dari dalam debu, mengangkat orang yang miskin dari lumpur, dan mendudukkannya di antara para bangsawanโ€ฆโ€ (Mzm. 113:7-8).

    Saudara dan saudari yang kekasih,

    Saya telah lama berpikir: apa hal terbaik yang dimiliki Timor? Cendana? Buah persik? Bukan semua itu yang terbaik. ๐˜๐š๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ซ๐›๐š๐ข๐ค ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐จ๐ซ๐š๐ง๐ -๐จ๐ซ๐š๐ง๐ ๐ง๐ฒ๐š. Saya tidak bisa melupakan orang-orang di pinggir jalan, dengan anak-anak. Berapa banyak anak yang kalian miliki! Orang-orang, dan hal terbaik yang kalian miliki adalah senyuman dari anak-anak kalian. Dan orang-orang yang mengajarkan anak-anaknya untuk tersenyum adalah orang-orang yang memiliki masa depan.

    ๐—ง๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ-๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ! ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐˜„๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ถ; ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ด๐—ถ๐—ด๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ. ๐—›๐—ฎ๐˜๐—ถ-๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ! ๐—›๐—ฎ๐˜๐—ถ-๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜†๐—ฎ-๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ป, ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ป. ๐—ง๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ. ๐——๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜†๐—ฎ-๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ๐—ด๐—ถ๐˜, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ๐—ด๐—ถ๐˜ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€.

    Saya mendoakan kalian kedamaian. Saya berharap kalian terus memiliki banyak anak: sebab senyum bangsa ini adalah senyum anak-anaknya! Jagalah anak-anakmu, tetapi jagalah juga orang-orang tua, yang merupakan kenangan bagi negeri ini.

    Terima kasih, terima kasih banyak atas cinta kalian, atas iman kalian. Teruslah maju dengan harapan!

    Dan sekarang kita mohon kepada Tuhan untuk memberkati kita semua, dan kemudian kita akan menyanyikan sebuah lagu pujian kepada Perawan Maria.

     

    Galery Foto Kunjungan Paus Fransiskus di Timor Leste

     

  • Jarak Orang Tuli dan Kedekatan Yesus

    Jarak Orang Tuli dan Kedekatan Yesus

     

    KOTBAH PAUS FRANSISKUSย  ย DALAM MISA DI STADION SIR JOHN GUISE, PORT MORESBY, PAPUA NUGINI, 8 SEPTEMBER 2024

     

    Bacaan Ekaristi :

    Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37.

     

    Kata-kata pertama yang disampaikan Tuhan kepada kita hari ini adalah, โ€œKuatkan hatimu, janganlah takut!โ€ (Yes 35:4). Dengan cara ini, Nabi Yesaya berbicara kepada semua orang yang telah kehilangan semangat. Ia juga menyemangati umat-Nya dan, bahkan di tengah kesulitan dan penderitaan, mengundang mereka untuk menengadah ke cakrawala harapan dan masa depan di mana Allah akan datang untuk menyelamatkan kita. Karena Tuhan memang akan datang, dan pada waktu itu, โ€œmata orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang tuli akan dibukaโ€ (Yes 35:5).

    Nubuat ini tergenapi dalam diri Yesus. Dalam kisah Santo Markus, dua hal secara khusus ditekankan: jarak orang tuli dan kedekatan Yesus.

    Jarak yang ditempuh orang tuli. Kita melihat dia di wilayah geografis yang dalam bahasa masa kini kita sebut sebagai “pinggiran”. Wilayah Dekapolis terletak di seberang Sungai Yordan, jauh dari pusat keagamaan Yerusalem. Lebih dari itu, orang tuli ini juga merasakan jarak yang lain: ia jauh dari Allah dan orang lain karena ia tidak dapat berkomunikasi, ia tuli dan karenanya tidak dapat mendengar, dan ia juga bisu sehingga tidak dapat berbicara. Ia terputus dari dunia, terasing, terpenjara oleh kondisi bisu tulinya, sehingga ia tidak dapat menjangkau orang lain atau berkomunikasi dengan mereka.

    Kita juga dapat menafsirkan situasi orang itu dalam pengertian lain, karena kita juga dapat terputus dari persekutuan dan persahabatan dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita ketika, alih-alih telinga dan lidah kita, hati kita yang tersumbat. Sungguh, ada semacam ketulian dan kebisuan batiniah hati yang terjadi setiap kali kita menutup diri, atau menutup diri dari Allah dan orang lain melalui keegoisan, ketidakpedulian, takut mengambil risiko atau berterus terang, dendam, kebencian, dan daftarnya bisa terus berlanjut. Semua ini menjauhkan kita dari Allah, dari saudara-saudari kita, dari diri kita sendiri dan dari sukacita kehidupan.

    Saudara-saudari, Allah menanggapi jarak seperti itu dengan cara yang sangat bertolak belakang, dengan kedekatan Yesus. Melalui Putra-Nya, Allah ingin menunjukkan pertama-tama bahwa Ia dekat dan berbela rasa, Ia peduli kepada kita dan mengatasi jarak apa pun. Bahkan, dalam perikop Injil kita melihat Yesus pergi ke daerah-daerah pinggiran, meninggalkan Yudea untuk bertemu dengan orang-orang kafir (bdk. Mrk 7:31).

    Melalui kedekatan-Nya, Yesus menyembuhkan kebisuan dan ketulian manusia. Sungguh, setiap kali kita merasa jauh, atau kita memilih untuk menjaga jarak dari Allah, dari saudara-saudari kita atau dari mereka yang berbeda dengan kita, kita menutup diri, menghalangi diri kita dari luar. Kita akhirnya hanya berputar di sekitar ego kita, tuli terhadap sabda Allah dan jeritan sesama kita, dan karena itu tidak dapat berbicara kepada Allah atau sesama kita.

    Dan kamu, saudara-saudari, yang tinggal di negeri yang sangat jauh ini, mungkin kamu membayangkan bahwa kamu terpisah dari Tuhan dan satu sama lain. Ini tidak benar, tidak: Kamu dipersatukan dalam Roh Kudus dan di dalam Tuhan! Dan Tuhan berkata kepadamu masing-masing, “terbukalah”! Yang terpenting adalah membuka diri kita kepada Allah dan saudara-saudari kita, serta membuka diri kita kepada Injil, menjadikannya pedoman kehidupan kita.

    Hari ini, Tuhan juga berkata kepadamu, โ€œBeranilah, rakyat Papua Nugini, janganlah takut! Bukalah dirimu! Bukalah dirimu terhadap sukacita Injil; bukalah dirimu untuk berjumpa dengan Allah; bukalah dirimu terhadap kasih saudara-saudarimuโ€. Semoga tidak seorang pun dari kita yang tetap tuli atau gagap terhadap undangan ini. Selain itu, semoga Beato John Mazzuccini menemanimu dalam perjalanan ini, karena di tengah banyak kesulitan dan permusuhan, ia membawa Kristus ke tengah-tengahmu, sehingga tidak seorang pun akan tetap tuli terhadap pesan keselamatan yang penuh sukacita, dan agar semua orang dapat melonggarkan lidah mereka untuk menyanyikan kasih Allah. Semoga hal ini benar-benar terjadi terhadapmu hari ini !.

     

  • NTT dan Kunjungan Sri Paus

    NTT dan Kunjungan Sri Paus

     

    Oleh Herman Seran

     

     

    Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, tanggal 3 – 6 September 2024, merupakan momen yang luas diperbincangkan. Para pemerhati menekankan dua fungsi kunjungan sri paus sebagai kunjugan diplomatik sekaligus kunjungan kegembalaan. Dalam konteks kunjungan kegembalaan Paus Fransiskus mengunjungi sekitar 8,5 juta umat katolik di Indonesia. Angka ini memang sangat minoritas dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 276 juta. Banyak yang kecewa karena sri paus tidak menyinggahi Nusa Tenggara Timur yang dihuni sekitar 34% warga Katolik Indonesia.

    Terlepas dari berbagai alasan tak ada kunjungan ke NTT, mayoritas umat katolik NTT tidak bisa menyambut Sri Paus karena kondisi perekonomian NTT yang merupakan termiskin di Indonesia. Tahun 2022, pendapatan per kapita rata-rata per bulan sekitar Rp1.8 juta yang lebih dari 74% untuk belanja makanan. Dengan struktur pengeluaran macam ini sangat sulit memiliki uang lebih untuk urusan sekunder seperti menyambut Bapa Suci, pemimpin rohani mereka yang sangat dikagumi.

    Dalam momen kunjungan sri paus pemimpin umat katolik sejagat ke Indonesia, orang NTT patut berefleksi diri. Mengapa provinsi mayoritas katolik di Indonesia ini menjadi yang paling miskin di Nusantara tercinta? Apakah hidup rohani tak ada hubungan dengan hidup jasmani? Bukankah Yesus datang agar manusia memiliki hidup dalam kepenuhan? Indeks pengembangan SDM NTT juga termasuk nomor butut di seantero Nusantara. Tatakelola pemerintah yang buruk, yang dibuktikan dengan tingkat korupsi yang tinggi, juga menjadi kisah lain yang mengafirmasi fakta bahwa iman tak berbanding lurus dengan perilaku penganutnya.

    NTT memang provinsi ribuan pulau yang bukan provinsi kepulauan. Akses transportasi yang ada sering menjadi momok mobilisasi orang dan barang. Jika untuk menyeberang dari Kupang ke Pulau semau membutuhkan sekitar 3,5 jam antri untuk penyeberang ferry 15 menitan maka bisa dibayangkan daerah lain yang jauh dari Kupang.

    Ketika menelisik kualitas pendidik di NTT kita pun akan menjadi bertanya-tanya. Misi Katolik dan protestan telah hadir di bumi Flobamora sebelum Indonesia merdeka tetapi mengapa pula kemajuan pendidikan tak signifikan. Ada paradoks di NTT ketika semakin tinggi pendidikan justeru semakin mempersempit akses pada lapangan kerja. Statistik menunjukkan tingkat pengangguran sarjana justeru lebih tinggi daripada pengangguran SMA ke bawah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa para sarjana di NTT kebanyakan hanya membuang waktu dan biaya hanya untuk menutupi peluangnya mendapatkan pekerjaan.

    Tidaklah mengherankan, NTT merupakan salah satu kantong penjualan orang (human trafficking). Banyak warga usia produktif yang bermigrasi keluar NTT untuk mencari pekerjaan. Konyolnya, mereka meninggalkan anak-anak mereka kepada kakek nenek mereka yang mengurus diripun sudah tak sanggup. Generasi emas yang menjadi tulang punggung gereja dan bangsa di NTT ditelantarkan tanpa asupan gizi jasmani dan rohani yang memadai. Bahkan banyak yang mengalami pelecehan seksual yang memperburuk perkembangan kepribadian mereka.

    Kunjungan sri paus harus menjadi momentum untuk membuktikan bahwa iman itu berurusan dengan kebahagiaan hari ini dan eskatologis. Kesejahteraan umat adalah ekspresi kualitas iman umat juga. Tentu kita hidup tidak hanya dari roti saja, tetapi kita butuh roti untuk melanjutkan perjalanan kita menuju tanah terjanji. Jika Tuhan bisa menurunkan manna dan menyiapkan burung puyuh kepada umat Israel, bukankah orang Katolik NTT patut mendapatkan asupan gizi yang memadai? Para pemimpin dunia maupun gerejani NTT perlu memberi mereka makan.

    Kita patut mengingat mukjizat penggandaan lima roti dua ikan di padang gurun. Ketika para murid meminta Yesus menyuruh orang-orang pergi mencari makan karena mereka tak mampu menafkai mereka. Yesus justeru memerintahkan: kamu harus memberi mereka makan. Para pemimpin katolik, baik awam maupun klerus, bertanggung jawab memberi makan umat yang telah memilih mengikuti Kristus. Sinergi yang diawali oleh seorang anak yang menyumbangkan lima roti dan dua ekor ikan mampu mengenyangkan lebih dari lima ribu orang mengajarkan bahwa bersama Tuhan kita bisa.

    NTT mungkin gersang dalam banyak hal tetapi kiranya tidak gersang dari semangat belarasa. Kiranya orang-orang NTT berhenti mengurusi diri sendiri tetapi lebih perduli pada sesamanya. Solidaritas dan semangat persaudaraan yang dibawa Paus Fransiskus ke Indonesia semakin memampukan kita untuk memperbaiki kesejahteraan orang-orang NTT. Kita berharap, kunjungan paus berikutnya dapat disambut oleh orang-orang NTT entah di Jakarta, ataupun Banda Aceh maupun Merauke sekalipun, karena keuangan tak lagi menjadi hambatan untuk bepergian, apalagi untukKunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, tanggal 3-6 September 2024, merupakan momen yang luas diperbincangkan. Para pemerhati menekankan dua fungsi kunjungan sri paus sebagai kunjugan diplomatik sekaligus kunjungan kegembalaan. Dalam konteks kunjungan kegembalaan Paus Fransiskus mengunjungi sekitar 8,5 juta umat katolik di Indonesia. Angka ini memang sangat minoritas dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 278 juta. Banyak yang kecewa karena sri paus tidak menyinggahi Nusa Tenggara Timur yang dihuni sekitar 2,97juta orang atau sekitar 34% warga katolik Indonesia.ย 

    Hari ini NTT menjadi kontributor utama panggilan hidup selibat katolik di dunia. Tidaklah mengherankan Sri Paus menyebut secara khusus Indonesia sebagai ladang subur benih panggilan hidup rohani, masa depan gereje sejagat. ย Lebih dari 2500-an anggota IRRIKA (Ikatan Rohaniwan/ti Indonesia di Kota Abadi) saat ini, lebih dari 80% datang dari NTT. Kehadiran Pater Markus Solo Kewuta, SVD di samping Paus Fransiskus selama kunjungan sebagai interpreter adalah bentuk hiburan dan sekaligus afirmasi bahwa orang NTT pantas bermain di panggung global. Muncul gurauan hari ini bahwa Roma adalah tempat main anak-anak NTT, walau mereka tak mampu main di Jakarta. ย P Markus bersama ribuan rohaniwan/ti lain di kota abadi setidaknya menjadi telinga, mata dan mulut bagi para saudara mereka yang tak mungkin berjumpa dengan sri paus.ย 

    Tanpa menafikan berbagai alasan tak ada kunjungan ke NTT, mayoritas umat katolik NTT tidak bisa menyambut Sri Paus karena kondisi perekonomian NTT yang adalah termiskin di Indonesia. Tahun 2022, pendapatan per kapita rata-rata per bulan sekitar Rp1.8 juta dan lebih dari 74% dialokasikan untuk belanja makanan. Dengan struktur pengeluaran macam ini, mereka sangat sulit memiliki uang lebih untuk urusan sekunder seperti menyambut Bapa Suci, pemimpin rohani mereka yang sangat dikagumi. Maka tidaklah mengherankan kalau warga Keuskupan Atambua yang terdaftar secara resmi untuk menghadiri kunjungan paus ke Timor Leste hanya berjumlah 654 orang, walaupum merupakan keuskupan terdekat dengan TL dan memiliki ikatan genealogis dan budaya yang kental.

    Dalam momen kunjungan sri paus, pemimpin umat katolik sejagat ke Indonesia ini, orang NTT patut berefleksi diri. Mengapa provinsi mayoritas Katolik di Indonesia ini menjadi yang paling miskin di Nusantara tercinta? Apakah hidup rohani tak ada hubungan dengan hidup jasmani? Bukankah Yesus datang agar manusia memiliki hidup, hidup dalam kepenuhan? Indeks pengembangan SDM NTT juga termasuk nomor butut di seantero Nusantara. Tatakelola pemerintah yang buruk, yang dibuktikan dengan tingkat korupsi yang tinggi, juga menjadi kisah lain yang mengafirmasi fakta bahwa iman tak berbanding lurus dengan perilaku penganutnya.

    NTT memang provinsi ribuan pulau yang bukan provinsi kepulauan. Akses transportasi yang ada sering menjadi momok mobilisasi orang dan barang. Jika untuk menyeberang dari Kupang ke Pulau Semau membutuhkan sekitar 3,5 jam antri untuk penyeberang ferry 15 menitan, maka bisa dibayangkan daerah lain yang jauh dari Kupang.

    Ketika menelisik kualitas pendidik di NTT kita pun akan menjadi bertanya-tanya. Misi Katolik dan Protestan telah hadir di bumi Flobamora sebelum Indonesia merdeka, tetapi mengapa pula kemajuan pendidikan NTT tak signifikan. Adalah paradoksal di NTT, ketika semakin tinggi pendidikan justeru semakin sempit akses pada lapangan kerja. Statistik menunjukkan tingkat pengangguran sarjana justeru lebih tinggi daripada pengangguran sekolah menengah ke bawah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi di NTT umumnya hanya membuang waktu dan biaya hanya untuk menutupi peluangnya mengakses lapangan kerja.

    Tidaklah mengherankan, NTT merupakan salah satu kantong penjualan orang (human trafficking). Banyak warga usia produktif yang bermigrasi keluar NTT untuk mencari pekerjaan. Konyolnya, mereka meninggalkan anak-anak mereka kepada kakek nenek mereka yang mengurus diripun sudah tak sanggup. Generasi emas yang menjadi tulang punggung gereja dan bangsa di NTT ditelantarkan tanpa asupan gizi jasmaniah dan rohaniah yang memadai. Bahkan banyak yang mengalami pelecehan seksual yang memperburuk perkembangan kepribadian mereka.

    Kunjungan Sri Paus harus menjadi momentum untuk membuktikan bahwa iman itu berurusan dengan kebahagiaan hari ini dan eskatologis. Kesejahteraan umat adalah ekspresi kualitas iman umat juga. Tentu kita hidup tidak hanya dari roti saja, tetapi kita butuh roti untuk melanjutkan perjalanan kita menuju tanah terjanji. Jika Tuhan bisa menurunkan manna dan menyiapkan burung puyuh kepada umat Israel, bukankah orang katolik NTT patut mendapatkan asupan gizi yang memadai? Para pemimpin duniawi maupun gerejani NTT perlu memberi mereka makan.

    Kita patut mengingat mukjizat penggandaan lima roti dua ikan di padang gurun. Ketika para murid meminta Yesus menyuruh orang-orang pergi mencari makan karena mereka tak mampu menafkai mereka. Yesus justeru memerintahkan: kamu harus memberi mereka makan. Para pemimpin katolik, baik awam maupun klerus, bertanggung jawab memberi makan umat yang telah memilih mengikuti Kristus. Sinergi yang diawali oleh seorang anak kecil yang menyumbangkan lima roti dan dua ekor ikan mampu mengenyangkan lebih dari lima ribu orang mengajarkan bahwa bersama Tuhan kita bisa.

    NTT mungkin gersang dalam banyak hal tetapi kiranya tidak gersang dari semangat belarasa. Kiranya orang-orang NTT berhenti mengurusi diri sendiri tetapi lebih perduli pada sesamanya. Solidaritas dan semangat persaudaraan yang dibawa Paus Fransiskus ke Indonesia semakin memampukan kita untuk memperbaiki kesejahteraan orang-orang NTT.ย 

    Kita berharap, kunjungan paus berikutnya dapat disambut oleh orang-orang NTT entah di Jakarta, ataupun Banda Aceh maupun Merauke sekalipun, karena keuangan tak lagi menjadi hambatan untuk bepergian, apalagi untuk menyambut pemimpin mereka yang sangat dicintai.

     

    ———————————-

    Fotoย  ย  ย  IWAN JAYADI
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
  • Homili Paus Fransiskus pada Misa Kudus Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, 5 September 2024

    Homili Paus Fransiskus pada Misa Kudus Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, 5 September 2024

     

    PERJUMPAAN ย dengan Yesus mengundang kita untuk menghidupi dua sikap mendasar yang memampukan kita menjadi murid-murid-Nya: yaitu mendengarkan sabda dan menghidupi sabda.

    Pertama, mendengar sabda, karena semua hal berasal dari mendengarkan, dari membuka diri kita kepada-Nya, dari menyambut anugerah berharga dari persahabatan dengan-Nya. Lalu, penting untuk menghidupi sabda yang telah kita terima, bukan sekadar menjadi pendengar yang sia-sia dan menipu diri kita sendiri (Yak 1:22); untuk tidak mengambil resiko sekadar mendengar dengan telinga tanpa membuat sabda itu masuk ke dalam hati dan mengubah cara pikir kita, cara merasa, dan bertindak. Sabda yang dianugerahkan, dan yang kita dengar, butuh untuk menjadi kehidupan untuk mengubah kehidupan, untuk berinkarnasi di dalam hidup kita.

    Kedua sikap dasar inilah: mendengar sabda dan menghidupi sabda yang dapat kita renungkan dalam Injil-Injil yang baru saja diwartakan.

    Pertama, mendengarkan sabda. Penginjil bercerita bahwa banyak orang mengerumuni Yesus dan โ€œhendak mendengarkan sabda Allahโ€ (Luk 5:1). Mereka mencari Dia, mereka lapar dan haus akan sabda Tuhan dan mereka mendengarnya bergema dalam sabda Yesus. Nah, adegan ini, yang diulang berkali-kali dalam Injil, memberitahu kita bahwa hati manusia selalu mencari kebenaran yang dapat memenuhi dan memuaskan hasratnya akan kebahagiaan; yang tidak dapat memuaskan kita hanya oleh sabda manusia, oleh kriteria-kriteria dunia ini dan oleh penilaian-penilaian duniawi. Kita selalu membutuhkan sebuah terang yang datang dari atas untuk menyinari langkah-langkah kita; akan air kehidupan yang memuaskan dahaga padang gurun jiwa, akan sebuah penghiburan yang tidak mengecewakan karena ia berasal dari surga dan bukan dari hal-hal fana dunia ini. Di tengah kekacauan dan kefanaan kata-kata manusia, ada kebutuhan akan sabda Allah, satu-satunya kompas bagi perjalanan kita, yang di tengah begitu banyaknya luka dan kehilangan, mampu menuntun kita menuju arti kehidupan sejati.

    Saudara dan saudari, janganlah kita lupa hal ini: tugas pertama seorang murid bukanlah mengenakan jubah kerohanian yang sempurna secara luar, atau melakukan hal-hal luar biasa atau mengerjakan usaha-usaha besar. Sebaliknya, langkah pertama terdiri dari tahu menempatkan diri di dalam mendengar satu-satunya sabda yang menyelamatkan, yaitu sabda Yesus. Seperti yang kita lihat dalam episode Injil, ketika Sang Guru menaiki perahu Petrus untuk sedikit menjauhkan diri dari danau dan dengan demikian bisa berkhotbah dengan lebih bagus kepada orang banyak (bdk. Luk 5:3). Hidup iman kita berawal ketika kita menerima Yesus dengan rendah hati di atas perahu kehidupan kita, menyediakan ruang untuk-Nya, dan menempatkan diri dalam mendengarkan sabda-Nya dan dari situ kita berefleksi, diguncangkan, dan berubah. Pada saat yang sama, sabda Tuhan menuntut untuk berinkarnasi secara nyata dalam diri kita: oleh karena itu, kita dipanggil untuk menghidupi sabda. Sejatinya, setelah selesai berkhotbah kepada orang banyak dari atas perahu, Yesus berpaling kepada Petrus dan menantangnya untuk mengambil risiko dengan bertaruh pada sabda ini: โ€œBertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikanโ€ (ay. 4). Sabda Tuhan tidak hanya tetap tinggal sebagai gagasan abstrak yang indah atau hanya membangkitkan emosi sesaat. Sabda Tuhan menuntut perubahan cara pandang kita, membiarkan kita mengubah hati menjadi hati Kristus; Ia memanggil kita untuk berani menebarkan jala Injil ke lautan dunia, โ€œberlari dengan risiko menghidupi kasih yang telah Ia ajarkan kepada kita dan yang telah Ia hidupi terdahulu. Juga kepada kita, Tuhan, dengan kekuatan yang membakar dari sabdaNya, mengundang kita untuk membuka jalan kehidupan, untuk melepaskan diri dari pantai-pantai mandek kebiasaan-kebiasaan buruk, dari rasa takut dan suam-suam kuku, serta berani untuk menjalani kehidupan baru.

    Tentu saja, selalu akan ada kesulitan-kesulitan dan alasan-alasan untuk mengatakan tidak. Tetapi, marilah kita melihat sekali lagi sikap Petrus: datang dari satu malam yang sulit ketika Ia tidak menangkap apa-apa, lelah dan kecewa, tetapi, daripada tinggal seolah-olah dilumpuhkan di dalam rasa hampa atau terhalang oleh kegagalannya sendiri, ia berkata: โ€œGuru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala jugaโ€ (ay. 5). Atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala juga. Kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi, yakni mukjizat penuhnya perahu dengan ikan sampai hampir tenggelam (bdk. Ay. 7).

    Saudara dan saudari, dalam menghadapi berbagai tugas hidup sehari-hari, menghadapi panggilan yang kita semua rasakan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, untuk melangkah maju di jalan perdamaian dan dialog, yang telah lama dipetakan di Indonesia, kita kadang-kadang merasa tidak mampu, merasakan beratnya komitmen yang begitu besar yang tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan, atau kesalahan-kesalahan kita yang tampaknya menghambat perjalanan hidup kita. Namun, dengan kerendahan hati dan iman yang sama seperti Petrus, kita juga diminta untuk tidak tetap menjadi tawanan kegagalan kita, dan alih-alih tetap menatap jala kita yang kosong, untuk memandang Yesus dan percaya kepada-Nya. Kita selalu dapat mengambil risiko untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala lagi, bahkan ketika kita telah melewati malam kegagalan, masa kekecewaan di mana kita tidak menangkap apa pun.

    Santa Teresa dari Kalkuta, yang peringatannya kita rayakan hari ini, yang tanpa lelah peduli pada orang-orang termiskin dan memajukan perdamaian dan dialog, pernah berkata: โ€œKetika kita tidak memiliki apa pun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa-apa, jangan pernah lelah menaburโ€. Saudara dan saudari, saya juga hendak berkata kepada Anda, kepada bangsa ini, kepada Nusantara yang mengagumkan dan beranekaragam ini: janganlah Lelah berlayar dan menebarkan jalamu, janganlah lelah bermimpi dan membangun lagi sebuah peradaban perdamaian! Beranilah selalu untuk mengimpikan persaudaraan! Dengan dibimbing oleh sabda Tuhan, saya mendorong Anda semua untuk menaburkan kasih, dengan penuh keyakinan menempuh jalan dialog, terus memperlihatkan kebaikan budi dan hati dengan senyum khas yang membedakan Anda untuk menjadi pembangun persatuan dan perdamaian. Dengan demikian, Anda akan menyebarkan aroma harapan di sekeliling Anda.

    Ini adalah keinginan yang diungkapkan baru-baru ini oleh Uskup-Uskup Indonesia dan saya juga ingin untuk melibatkan seluruh umat Indonesia: berjalanlah bersama untuk kebaikan Gereja dan masyarakat! Jadilah pembangun harapan, pengharapan Injil, yang tidak mengecewakan (bdk. Rm 5:5) melainkan membuka kita menuju sukacita tanpa akhir.

    ————————

     

    Paus Fransiskus saat memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Sumber Foto:ย 
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
    Paus Fransiskus didampingi Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo (kiri) saat memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Misa akbar yang diikuti lebih dari 86.000 umat Katolik dari berbagai kota dan wilayah di Indonesia tersebut merupakan rangkaian perjalanan apostolik Paus Fransiskus di Indonesia.
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
  • Jauhkan Rasa Ingin Menghakimi

    Jauhkan Rasa Ingin Menghakimi

     

    Oleh Elis Handoko

     

     

    ” Siapakah saya ini Sehingga Saya harus menghakiminya ? “ย  ( Pausย  Fransiskus )

     

    Jika seseorang itu adalah homoseksual, sedang mencari Tuhan, dan mempunyai kehendak baik, siapakah saya ini sehingga saya harus menghakiminya?โ€ kata Bergoglio (Paus Fransisikus) dalam suatu penerbangan dari Rio de Janiero, Brasil, ke Italia.

    Orang-orang itu lemah dan rapuh. Saat mereka datang kepada kita, berarti dalam diri mereka ada suatu kerinduan untuk bisa menemukan jalan yang benar. Di sinilah kita dipanggil untuk menjadi teman yang baik bagi mereka, teman yang mau mendengarkan, dan menghargai mereka. bergaul dekat dengan orang-orang yang secara sosial dikucilkan sudah menjadi kebiasaan Bergoglio sejak lama. Ketika menjadi Uskup Agung Buenos Aires, Argentina, ia sering menerima surat dari orang-orang homoseksual yang terbebani secara sosial. Sering kali sikap mayoritas masyarakat membuat kaum homoseksual yang sudah terluka secara sosial semakin berbeban berat. Kita mengucilkan mereka dari konteks kebersamaan hidup, dari masyarakat kita.

    Orang-orang lebih tergoda berbicara mengenai moral seksual dan segala yang terkait dengan hukum tentang seks. Kita kerap lebih siap ย mengutuk daripada menerima. Kita kerap cepat menilai, tetapi tidak membungkuk untuk memahami derita umat manusia.

    Menurut Bergoglio, orang terbiasa menghakimi orang karena ia merasa sudah paling benar, tidak merasa membutuhkan rangkulan dan pengampunan dari sesama.

     

    ——————————————-

    Sumber Tulisanย  dari Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis, Grasindo 2016

     

     

    Paus Fransiskus Pada Misa Agung di Gelora Bung Karno 05-09 -2024
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
    Paus Fransiskus didampingi Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo (kiri) saat memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Misa akbar yang diikuti lebih dari 86.000 umat Katolik dari berbagai kota dan wilayah di Indonesia tersebut merupakan rangkaian perjalanan apostolik Paus Fransiskus di Indonesia.
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
    IWAN JAYADI
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024

     

     

  • Habis Kelam Terbitlah Kebaikanย ย 

    Habis Kelam Terbitlah Kebaikanย ย 

    0leh Elis Handoko

     

    โ€œBetapapun gelapnya segala sesuatu, k e b a i k a n selalu muncul Kembali dan menyebar.โ€ย  (Paus Fransiskus)

    ย 

    Kemiskinan, penderitaan, pelecehan, kegagalan, dan kecewa berkepanjangan bisa mengakibatkan efek negatif pada diri kita. Kita menjadi pesimis dan kehilangan rasa percaya, lalu menyerah dan putus asa. Kita sering berpikir, tidak akan ada perubahan lagi pada sesuatu yang sedang kita hadapi sehingga tidak ada gunanya lagi berupaya. Kita juga mungkin sering berpikir, mengapa harus repot-repot berusaha jika akhirnya ย harus melihat hasil yang tidak sesuai dengan harapan yang kita perjuangkan atau semua pasti berakhir sia-sia!

    Inilah kelemahan kita ketika ditimpa kemalangan secara bertubi-tubih. Hal ini manusiawi sekali. Kendati demikian, kita harus tetap move on dari kelesuan! Caranya?

    Mungkin ada baiknya kita melihat perspektif berbeda yang ditawarkan Begoglio (Paus Fransiskus) melalui surat apostoliknya pada 24 November 2013. Dalam surat itu dia menulis, โ€œBenar bahwa sering kali seakan-akan Tuhan meninggalkan kita. Sementara itu, di sekitar kita terus-menerus terjadi ketidakadilan, kejahatan, ketidakpedulian, dan kekejaman. Namun, benar juga bahwa di tengah-tengah kegelapan, sesuatu yang muncul dalam hidup, dan cepat atau lambat ia akan menghasilkan buah. Di atas tanah yang ia ratakan kembali, ย kehidupan muncul, gigih dan tak terkalahkan.โ€

    Sekarang mari kita telaah kembali kehidupan kita. Setiap hari keindahan lahir dengan cara baru di dunia kita. Keindahan diperbarui justru melalui badai. Dalam situasi demikian, nilai-nilai cenderung muncul dalam bentuk-bentuk yang baru. Manusia pun pada akhirnya akan selalu bangkit dari waktu ke waktu, dari situasi yang sebelumnya tampaknya kelam.

    Prinsipnya kita harus percaya bahwa kesukaran hidup terjadi untuk memberi pelajaran pada kita. Sama seperti ujian di sekolah. Kalau berhasil melalui ujian tersebut dengan nilai yang baik, kita akan naik kelas. Kalau gagal, kita terpaksa mengulang kembali hal yang sama.

    Hal itu hanya terjadi sementara. Begitu berhasil melaluinya, maka akan ada lebih banyak hal baru yang akan kita alami dan membawa pelajaran yang baru pula.

     

    ——————

    Sumber Tulisan dari Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis, Grasindo, 2016

  • Perayaan Kemerdekaan RI Ke-79 di Tengah Bayang-bayang “Ferienjob” sebagai Perbudakan Modern: Sebuah Refleksi atas Sistem Pendidikan Kita

    Perayaan Kemerdekaan RI Ke-79 di Tengah Bayang-bayang “Ferienjob” sebagai Perbudakan Modern: Sebuah Refleksi atas Sistem Pendidikan Kita

    Oleh Ferdinandus Butarbutar, Dosen Etika di UPH Karawaci

     

    Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-79 adalah sebuah seremoni kebangsaan yang sangat penting.
    Perayaan ini memiliki keunikan tersendiri, setidaknya karena beberapa faktor: Kemerdekaan
    kita dari penjajahan kolonial, secara politik kita juga sudah melampaui orde baru hingga
    reformasi 1998, persiapan transisi kepemimpinan dari Jokowi ke Prabowo, perpindahan Ibu
    Kota dari Jakarta ke IKN, serta visi 100 tahun kemerdekaan di tahun 2045 yang dikenal sebagai
    Indonesia Emas.

    Hal mendasar yang ingin ditegaskan dalam artikel ini adalah bahwa tahun 2024, pada bidang
    pendidikan kita diperhadapkan dengan โ€œProgram Ferienjobโ€, yang konon merupakan bagian
    dari kurikulum pendidikan tinggi. Hal ini perlu dipikirkan secara reflektif, karena ferienjob
    seharusnya menjadi peluang dan harapan pengembangan karier bagi mahasiswa yang belajar
    dan yang merdeka, telah berubah menjadi bentuk perbudakan modern yang tersamar, di mana
    sistem pendidikan tinggi Indonesia secara tidak langsung menjadi pintu masuk bagi eksploitasi
    manusia melalui kebijakan kurikulum. Sebagai validasi, bahwa Dittipidum-Direktor Tindak Pidana Umum, Bareskim Mabes Polri, pada Rabu 20 Maret 2024, mengungkap ke publik tentang TPPO-Tindak Pidana Perdagangan Orang (human trafficking), yang turut menyeret 33 Universitas di Indonesia dan1.047 mahasiswa dalam program magang (yang disebut sebagai ferienjob) di Jerman.

     

    Problematika Ferienjob

    โ€œFerienjobโ€ sendiri sebenarnya bukan magang, melainkan sebuah program bagi mahasiswa
    asing (EU atau Non-EU) yang ingin secara langsung mengalami suasana kerja di Jerman, yang
    umumnya ditempuh selama 90 hari, tepatnya pada momen official semester break. Sekali lagi
    bukan magang, tetapi pekerja liburan. Hal ini diatur pada Ordonansi Ketenagakerjaan Jerman
    (Beschรคftigungsverordnung/BeschV), pasal 14:2. Mahasiswa asingpun dari berbagai negara
    mengajukan dan mendaftar langsung ke perusahaan/korporasi dan ini murni sebagai kerja
    industri dan mekanisme pasar kerja (job market) di Jerman. Biasanya tanpa ada pungutan biaya
    sebagai kewajiban, termasuk untuk tiket, transportasi, akomodasi dll., semua hal fundamental
    tersebut disediakan oleh pihak perusahaan disana.

    Di sisi lain, jika hal tersebut dilakukan oleh orang-orang dari luar Jerman (tidak sedang di
    Jerman), tentu mereka akan menempuh berbagai mekanisme. Untuk mahasiswa Indonesia yang
    berminat, maka hal mendasar tentunya adalah visa, karena hal ini akan berkorelasi langsung
    dengan pihak imigrasi dan perwakilan Indonesia disana (KBRI/KJRI). Dan jika proses ini jelas
    dan terarah (aspek legal), maka mungkin sulit ditetapkan sebagai human trafficking, namun
    jika ada mekanisme yang di by pass terutama oleh agensi di Jerman, juga jika ditemukan
    perhitungan jam kerja yang lebih dari 8 jam, penyalahgunaan visa wisata sebagai visa kerja,
    adanya tindakan manipulasi hutang/pinjaman, termasuk pemangkasan upah kerja, maka bisa
    saja dikategorikan sebagai human trafficking. (Lih.https://humas.polri.go.id/2024/03/27/polisi-beberkan-peran-5-tersangka-magang-mahasiswaferienjob-jerman/,). Pola-pola yang tidak disiplin dan illegal seperti ini, tampaknya sulit ditemukan di Jerman, sebagai negara yang terkenal disiplin dan amat tertib.

    Validasi lain yang perlu kita intip adalah dari Kemenristekdikti bahwa program ferienjob di
    Jerman terindikasi melanggar prosedur, sehingga diperintahkan kepada universitas-universitas
    untuk menghentikan program magang internasional tersebut. Demikian juga Menteri
    Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR
    mengafirmasi bahwa program magang internasional tidak masuk dalam ranah kementeriannya.

    Lebih jauh, Dirtipidum Mabes Polri telah menetapkan 5 orang tersangka yakni ER alias EW
    (39 thn) juga bos dari PT SHB; A alias AE (37 thn), petinggi CV GEN. Kedua orang tersebut
    berada di Jerman. Tersangka lainnya yakni SS (65 thn), AJ (52 thn) dan MZ (60 thn), ketiganya
    bekerja di perguruan tinggi, dengan peran dan tugas masing-masing seperti mensosialisasikan,
    narahubung konsolidasi peminjaman dan ketua panitia rekrutmen calon dari mahasiswa.
    Kelima tersangka adalah dari Indonesia, hal ini sekaligus menegaskan bahwa problematika etis
    bahkan dugaan tindak pidana ada pada pihak kita sendiri, bukan pada pihak Jerman.

     

    Ferienjob, Kurikulum MBKM dan Program MSIB Sebagai Problem

    Sebagaimana temuan penyidik Dirtipidum Mabes Polri, bahwa ferienjob sebagai bagian dari
    kurikulum MBKM yang dapat dikonversi hingga 20 SKS. Lebih jauh melalui LP3N (Lembaga
    Pengembangan dan Pembinaan Pendidikan Nasional) sebagai lembaga yang bertanggung
    jawab atas program magang dan pendidikan di tingkat nasional. Untuk konteks “Ferienjob,”
    LP3N disebut sebagai pihak yang mempromosikan program tersebut kepada mahasiswa. Pada
    LP3N ada MZ sedangkan sosialisasi dilakonkan oleh tersangka SS, yang mengatakan bahwa
    ferienjob adalah magang bertaraf internasional, dan dipandang relevan bagi pengembangan
    pendidikan tinggi terutama demi mempersiapkan mahasiswa untuk memasuki dunia profesi.
    (Lih. https://www.humas.polri.go.id/2024/03/27/polisi-beberkan-peran-5-tersangka-magangmahasiswa-ferienjob-jerman/). Gagasan ini ada baiknya dan memang hal tersebut dibutuhkan
    oleh para mahasiswa, demi pengenalan diri, minat dan arah keahliannya ke depan. Prinsip link
    and matc yang etis dan mutual perlu dijahit dengan baik. Lebih jauh dalam konteks ferienjob
    yang perlu dimunculkan sebagai pertanyaan adalah, apakah mengonversi ferienjob ini dapat
    dipertanggungjawabkan secara etis dengan core jurusan keilmuan yang diambil oleh
    mahasiswa di prodi masing-masing? Karena faktanya mereka bekerja sebagai buruh kasar di
    bandara, kurir pengiriman, buruh rest area, buruh pabrik dll.

    Selain itu, keprihatinan kita juga tertuju kepada realisasi kurikulum MBKM khususnya
    program MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat), yang rentan multitafsir. Satu sisi,
    program Kemenristekdikti tersebut sebenarnya juga mengandung nilai-nilai yang positif,
    terutama karena berpotensi mempersiapkan mahasiswa dalam memasuki dunia profesi atau
    karier. Sehingga latihan-latihan dan penajaman keterampilan (hard/soft skill), pengenalan
    kultur dan sistem dunia kerja yang paralel dengan prodi keilmuannya, tentu sangat baik bagi
    mahasiswa. Di sisi lain, jika program ini ditekuk sedemikian rupa ke ranah pragmatisme, maka
    kurikulum MBKM tersebut rentan terjebak kepada tuntutan-tuntutan job market yang kapitalis,
    yakni sejenis perbudakan modern yang kini rute rekrutmennya tersamar melalui kebijakan
    pendidikan tinggi.

    Pada pihak Jerman sendiri, sebenarnya tidak pernah memaksudkan program ferienjob sebagai
    bagian dari kurikulum pendidikan tinggi di sana, termasuk kepada mahasiswa asing (EU atau
    Non-EU). Ini adalah murni kerja pada periode libur akhir semester, dan perlakuan terhadap
    peserta ferienjob adalah perlakuan yang profesional sesuai dengan jenis pekerjaan yang
    tersedia, dan konon perlakuan yang sama juga diberikan perusahaan terhadap karyawan
    permanen. Ferienjob bukan program kerjasama bilateral dan itu sebabnya, tidak masuk akal
    jika mengategorikannya sebagai bagian dari kurikulum MBKM. Rute yang etis dan normatif
    meski dikedepankan.

    Lebih jauh kita udar unsur-unsur perbudakan modern dalam kasus ferienjob antara lain:
    Pertama, adanya manipulasi kontrak kerja. Kontrak kerja yang diberikan kepada para
    mahasiswa dibuat dalam bahasa Jerman, yang pasti membawa jurang pengertian bagi
    mahasiswa. Hal ini dapat dikategorikan sebagai bentuk manipulasi, karena informasi penting
    tentang hak dan kewajiban rentan dikaburkan dan disalahartikan. Kontrak kerja seyogianya
    mengafirmasi kesadaran, kebebasan, penegrtian dan kesetaraan relasi. Itu sebabnya diperlukan
    prasyarat penerjemahan, demi memahami dokumen kontrak kerja dengan jelas. Ironisnya para
    mahasiswa diminta untuk menandatangani kontrak pada saat kedatangan, tanpa adanya waktu
    yang cukup untuk memahami isi kontrak apalagi mencari konsultan hukum. Mereka dipaksa
    untuk menandatangani perjanjian dibawah tekanan, terutama dalam situasi dimana mereka
    tidak memiliki pilihan lain, kesepakatan itu dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak etis.
    Kedua, pemaksaan kerja di luar ketentuan yang jelas. Para mahasiswa dipaksa bekerja selama
    12-14 jam sehari, yang jauh di luar standar kerja yang layak. Dikesani sebagai pemaksaan kerja
    karena tidak diterimanya informasi yang jelas dan gamblang. Padahal jika asumsi awalnya
    adalah magang, maka pengalaman kerja harus berkorelasi dengan pengalaman belajar di kelas
    sebagai ruang teori, sialnya mereka dipekerjakan sebagai buruh kasar. Belum lagi problem
    penggajian, dimana mereka hanya menerima โ‚ฌ700, padahal seyogianya dengan bekerja antara
    12-14 jam sehari, atau 60-70 jam per minggu, dengan standard upah minimum โ‚ฌ12.41 per jam,
    mereka dipastikan menerima antara โ‚ฌ744.60-โ‚ฌ868.70 per minggu, atau antara โ‚ฌ2,978.40-
    โ‚ฌ3,474.80 per bulan, tentu hal ini diluar pajak. (Lihat https://www.asianews.it/news-en/Fakeinternships:-Indonesian-university-students-exploited-in-Germany-60420.html;
    https://www.destatis.de/DE/Home/_inhalt.html). Ketiga, penyalahgunaan visa. Dimana visa
    mereka bukan visa student, tetapi sebagai visa wisata. Hal ini mengafirmasi unsur-unsur
    manipulatifnya. (Lih. https://www.humas.polri.go.id/2024/03/27/polisi-beberkan-peran-5-
    tersangka-magang-mahasiswa-ferienjob-jerman/).

     

    Nilai-Nilai Reflektif

    Nilai-nilai reflektif atas fenomena โ€œferienjobโ€ menjadi perlu diudar sebagai penutup pada
    artikel pendek ini, mengingat momen perayaan kemerdekaan ke-79, kurikulum Merdeka
    Belajar Kampus Merdeka (MBKM dan MSIB) yang memberi bobot konversi hingga 20 SKS.
    Pertama, Kita perlu kian jernih dan terbuka membuka horison hermeneutik yang politis dan
    yang sosial. Bahwa munculnya penjajahan bukan semata dalam โ€œperang kasat mata (fisik)โ€,
    tetapi juga bermanuver dalam berbagai bentuk, seperti pada kasus ferienjob. Tindakan ini
    sejenis eksploitasi manusia, demi kepentingan sesaat, yang pada akhirnya merusak pendidikan
    dan masa depannya di jangka panjang.

    Kedua, Konstruksi dan aplikasi kurikulum MBKM, jangan semata difokuskan kepada
    kebutuhan bidang industri dan teknologi. Fokus demikian akan rentan jatuh kepada mental
    โ€œintelektual kolinialismeโ€, yang semata menggunakan pengetahuan dan penguasaan
    keterampilan untuk menguasai yang lain bahkan yang lemah. Itulah sebabnya reformasi bidang
    pendidikan rentan menemui kendala.

    Ketiga, Secara moral kebijakan dan pelaksanaan kurikulum pendidikan tinggi tersebut perlu
    menjunjung tinggi martabat manusia Indonesia, dengan memberikan kesetaraan, kemerdekaan
    dan solidaritas yang memiliki concern pada cita-cita kehidupan bersama. Kesetaraan akses bagi
    semua manusia Indonesia, tanpa memandang strata dan kategori status lainnya. Kemerdekaan
    yang otonom pada pendidikan tersebut, sehingga dapat berpikir bebas demi pengembangan
    ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Lebih jauh yang keempat, pendidikan tersebut berdimensi holistis (utuh). Pertimbangan dasar
    disini adalah memikirkan dasar, proses dan arah pendidikan tersebut, mampu
    mempertimbangkan struktur ontologis pada manusia sebagai nara didik yang bertubuh, berjiwa
    dan berroh. Keutuhan kodrat konstitusional manusia tersebut perlu didekati dan dikonstruksi
    melalui pendidikan.Dan kecenderungan-kecenderungan yang ada pada pengetahuan industri,
    bisnis dan teknologi, sering sekali hanya fokus pada salah satu aspek yang materil, sehingga
    abai pada hal-halyang imateril, yang sebanarnya amat penting, terutama dalam merajut
    pendidikan yang berbasis nilai.

  • Hatta, Moral dan Kepemimpinan

    Hatta, Moral dan Kepemimpinan

     

    Olehย  Deliar Noer

     

     

    PADA abad ke-21 ini, adakah pemimpim Indonesia yang bermoral? Jika memang ada yang perlu diingat dan ditiru oleh mereka yang aktif berpolitik masa kini, mereka perlu mengingat sikap, perbuatan, kebijakan, dan reputasi Mohammad Hatta yang berkaitan dengan moralnya. Seorang pemimpin bisa saja cekatan dalam menentukan langkah, atau memiliki banyak pengikut atau bahkan didukung secara membabi buta oleh masyarakat, tapi itu semua belum menjamin moralnya. Namun, jika seorang pemimpin berangkat dari ke-pemilikan moral yang tinggi, niscaya musuh politiknya tak akan dapat berkutik kecuali dengan fitnah.

    Hatta, salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia kita, adalah seorang pemimpin yang langka, yang senantiasa memperlihatkan moral tinggi dalam bergerak, baik secara prihadi maupun dalam bermasyarakat dan dalam berpolitik. Ia dikenal sebagai pemimpin yang bersih dan tak pernah berupaya memperkaya diri dan keluarga. Ia juga bersih dalam menilai kekuasaan yang sebenarnya dapat ia permainkan untuk menjaga kedudukannya. Dalam hubungannya dengan perempuan, ia selalu menghargai perempuan tersebut sembari tetap menjaga jarak berdasarkan akhlak yang dituntut dari seorang muslim yang saleh. Akibatnya, ia kerap dianggap kaku dalam berhubungan. Dalam dunia politik, dulu dan kini, ia adalah suri teladan. Sejak tahun 1930, ia telah mulai berbeda pandangan dengan Sukarno. Ketika itu Sukarno menyetujui pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI), kemudian bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo). Hatta dengan tegas mengemukakan perlunya PNI dipertahan| kan sesuai dengan prinsip PNI itu sendiri. Tetapi ia mengemukakan kritiknya secara wajar tanpa melecehkan. Ia sadar bahwa dalam politik bangsa dan masyarakat kita masih perlu dibina, maka ia pun memberi contoh dengan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia. Partainya menjadi partai kader.

    Dalam masa Demokrasi Terpimpin, Hatta berusaha mendidik masyarakat melalui brosur kecil – antara lain Demokrasi Kita – agar mampu mempelajari langkah-langkah Sukamo yang menyimpang dan cita-cita demokrasi kita, tetapi toh ia mengemukakannya dengan lurus. Meski Sukarno memberangus brosur itu, toh Hatta tak kunjung ย henti menginm surat kepada Sukarno yang berisi anjuran dan nasihatย  agar mengubah pendiriannya, dan agar ia kembali kepada cita-cita kemerdekaan semula. Dalam nasihatnya itu, Hatta tak pernah melecehkan atau mengecilkan arti diri pribadi Sukarno.

    Pada zaman Orde Baru, saat Soeharto mulai berkuasa (tahun 1966), bersama beberapa orang kalangan muda Islam, Hatta berusaha mendirikan suatu partai baru, Partai Demokrasi Islam Indonesia, yang tidak dibenarkan oleh Presiden Soeharto. Dengan rela ia tunduk pada Soeharto dan menganjurkan kepada generasi yang lebih muda agar tetap pada maksud semula, karena masa akan berubah.

    Pada tahun 1971, Orde Baru untuk pertama kali menyelenggarakan pemilihan umum dengan menyediakan kursi bagi sejumlah golongan dan daerah, yang mengakibatkan pemulihan umum ini hanya berlaku bagi sebagian kalangan DPR dan MPR. Hatta terpaksa mengingatkan Soeharto bahwa pemilihan umum seharusnya diberlakukan bagi segenap anggota lembaga petwakilan tersebut. Bila tidak, menurut Hatta, sebaiknya pemilihan umum tak usah diselenggarakan. Sejak itu secara berangsur ia banyak mengkritik pemerintah Orde Baru, antara lain dalam bidang ekonomi. Tetapi Hatta sekadar mengingatkan, ia tidak menggalang massa. Sikap Hatta dalam berpolitik itu jelas berdasarkan akhlak dan moral. |

    Di masa kanak-kanak, Hatta sudah menikmati ajaran Islam. Ia berasal dari rumah yang turut mengurus lembaga surau: tempat pendidikan Islam secara tradisional diย  kampungnya di Batuhampar, antara Bukittinggi dan Payakumbuh. Sembari bersekolah di HIS Bukittinggi, ia juga mengaji secara teratur di bawah ajaran Syekh Muhamad Djamil Djambek, salah seorang pembaru Islam di Minangkaban. ย Ketika memennpuh pendidikan di MULO, Padang, ia jaga memperoteh bimbingan agama dari Haji Abdullah Ahmad, juga ย seorang pelopor pembaru Islam di daerah tersebut. Maka, Ketika ia ย menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond (Persatuan Pemuda Sumatra) di Padang. dan kemudian sebagai bendahara pengurua pusat ISB di Jakarta (di ibu kota ini, Hatta mencmpuh pendidikan sekolah dagang menengah, Prins Hendrik School), ia melaksanakan tugasnya dengan baik, bersih, dengan pembukuan yang sangat rapi.

    Tak mengherankan jika saat Hatta menjadi wakil presiden, baik sebelum maupun sesudah ia berumah tangga, tidak pernah terbetik berita yang mengarah pada kemiringan. Mungkin ada juga yang menganggap ia cukup kaku dalam pergaulan, tetapi bisa juga dikatakan bahwa ia menjaga jarak. Ketika Hatta berkunjung ke kawasan Maluku, para penyambutnya, baik pejabat maupun tokoh setempat – yang lazim menyelenggarakan tari lenso pada kesempatan kunjungan pejabat – malah sengaja menunda acara tarian tersebut hingga Hatta meninggalkan pertemuan. Sesudah Hatta tidak lagi ada di tempat, tari lenso pun ramai digelar oleh para hadirin. Menurut sejumlah tokoh Maluku saat itu, mereka ingin menghormati pendirian Hatta.

    Bagaimana Hatta mempertahankan pendirian politiknya? Jika ia menganggap sebuah pendapat potuik yang tidak wajar, ia akaa menentangnya dengan keras. Contoh sikapnya yang keras terpancar pada saat sidang pleno Komite Nasronal Indonesia Pusat (sebagai pengganti parlemen di masa revolusi) yang diselenggarakan di Malang pada 25 Februari hingga 3 Maret 1947.

    Sidang itu dihadiri oleh semua anggota KNIP (termasuk yang beberapa saat sebelumnya diangkat oleh Presiden dengan alasan bahwa jumlah anggota yang ada terlalu sedikit). Saat itu, KNIP belum memperlihatkan keterwakilan daerah dan golongan yang tumbuh sejak kemerdekaan, terutama sesudah Oktober 1945, ketika KNIP bagai dijadikan perwakilan rakyat yang sesungguhnya. Perubahan kepartaian yang ada juga menuntut perubahan pada komposisi keanggotaan KNIP. Sebelum sidang KNIP di Malang, sudah terdengar suara pro dan kontra. Ada yang menolak penambahan anggota KNIP, sementara Presiden Sukarno dalam pembukaan sidang pleno KNIP di Malang itu mengemukakan bahwa sebelum dapat diselenggarakan pemilihan umum, adalah kewajiban Presiden untuk mengangkat para anggota lembaga perwakilan karena Presiden “dianggap sebagai wakil dari seluruh rakyat”, Ucapan ini jelas menggugah reaksi para anggota. Maka, banyak anggota yang menentang keputusan pemerintah dalam “menyempurnakan” keanggotaan KNIP itu. Akibatnya, untuk beberapa saat, terkesan bahwa ada kesenjangan pendapat antara pemerintah dan KNIP.

    Terjadilah perdebatan sengit selama dua hari. Dengan suara yang keras dan tegas, Hatta menghentikan perdebatan itu dengan mengemukakan bahwa bila KNIP memang tidak mempercayai Presiden dan Wakil Presiden, lembaga itu dapat memilih presiden dan wakil presiden lain. Maka, suasana sidang pleno langsung hening, mereka tak menyangka akan mendengar ucapan ini dari Hatta. Seketika saja, mereka tak melanjutkan kritiknya terhadap keputusan pemerintah tersebut. Para anggota terdiarn dan akhirnya menerima tuntutan Hatta. Keputusan Presiden menambah anggota KNIP diterima.

    Peristiwa ini mencermiakan sifat Hatta yang tegas, jelas, dan tidak menginginkan kekuasaan. Dalam keadaan seperti ini, tampaknya tidak ada seorang pun dalam KNTP yang ingin menangguk di air keruh. Saat itu, jelas bagi anggota KNIP, wibawa Hatta menjaga kedudukan Presiden Sukamo.

    Agaknya akan sukar untuk percaya bahwa Hatta pun bisa kekurangan uang. Tetapi gajinya pada awal tahun 1950 hanya Rp 3.000. Beberapa tahun kemudian, gajinya Rp 5.000. Kenaikan ini semulanya ditolaknya, tetapi akhirnya ia menerimanya juga. Sebab, jika ia tetap menolaknya, akibatnya gaji pejabat lain, termasuk gaji perdana menteri, akan ikut mandek.

    Setelah berhenti dari jabatannya sebagai wakil presiden pada Desember 1956, Hatta mulai menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya. Pada saat itu, Hatta memerintahkan I. Wangsawijaya, sekretaris pribadinya, untuk mengembalikan dana taktis sebagai wakil presiden sejumlah Rp 25.000. Padahal, dana taktis tersebut tidak perlu dipertanggungjawabkan.

    Sesungguhnya, dana pensiun yang diterima Hatta tidak memadai sama sekali untuk hidup. Ia juga menolak tawaran beberapa perusahaan, termasuk perusahaan asing, untuk menjadi komisaris Perusahaan. Mengapa? Alasannya, “Apa kata rakyat nanti?โ€ Ia khawatir bahwa perjuangannya membela rakyat tidak akan murni lagi, dan ja mudah dituduh meninggalkan rakyat bila ia menjabat komisaris sebuah perusahaan. Dalam otobiografinya, Hatta menulis bahwa memang ia memperoleh honorarium dari beberapa buku yang ditulisnya. Ia juga mengakui bahwa beberapa kawannya membantu dia dalam menjalani hidup sekeluarga dan ia menerimanya karena kawan-kawannya memberikan bantuan itu dengan ikhlas. Belakangan barulah pemerintah memberikan perhatian kepadanya dengan menaikkan jumlah pensiun yang diterimanya.

    Pada saat keterpurukan negeri kita saat ini, sosok Hatta menjadi satu dari sedikit tokoh yang bercahaya. Indonesia, tentu saja, apalagi Minangkabau khususnya, memerlukan banyak Hatta, bukan hanya pemikiran dan sikap politiknya, tetapi juga moral dan akhlaknya akan menjadi monumen teladan di hati rakyat Indonesia.

    ———————-

    Sumber Tulisan: Majalah Tempo, 19 Agustus 2001

     

  • Prestise Sekolah dan Persepsi Masyarakat,  Antara Realitas dan Stereotip

    Prestise Sekolah dan Persepsi Masyarakat, Antara Realitas dan Stereotip

     

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Kandidat Doktor STF Driyarkara, Jakarta

     

    ย 

    Foto: Ilustrasi sekolah yang mempunyai prestise tinggi, diminati banyak kalangan, sumber: Pexels

     

    Di Indonesia, banyak orang tua murid, cenderung kurang memperhatikan kualitas sekolah yang dipilih bagi anak-anak mereka. Bagi sebagian besar dari mereka, yang terpenting adalah anak-anak dapat bersekolah, dan jika memungkinkan, mendapatkan pendidikan secara gratis. ย Sikap ini tentu bisa dimaklumi mengingat kondisi keuangan setiap keluarga berbeda-beda, dan banyak yang lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Dalam situasi di mana ekonomi keluarga menjadi perhatian utama, mencari sekolah yang menawarkan biaya rendah atau bebas biaya menjadi solusi wajar dan realistis. Namun, konsekuensinya, kualitas pendidikan sering kali menjadi aspek yang terabaikan.

    Di sisi lain, ada juga kelompok orang tua yang sangat peduli dengan masa depan anak-anak mereka dan berupaya memastikan bahwa sekolah yang dipilih mampu memberikan pendidikan berkualitas. Bagi mereka, penting memilih sekolah yang tidak hanya menyediakan pendidikan formal, tetapi juga mendukung perkembangan potensi anak secara holistik.

    Mereka memahami bahwa investasi dalam pendidikan yang baik merupakan langkah strategis untuk masa depan anak-anak mereka. Orang tua seperti ini cenderung lebih selektif dan berusaha mencari sekolah yang memiliki reputasi baik, kurikulum yang mumpuni, serta lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter dan keterampilan anak.

    Prestise sekolah sering kali dipandang bagi orang tua murid tertentu sebagai suatu kualitas yang melekat, seolah-olah merupakan atribut inheren dari institusi pendidikan tersebut. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa prestise ini bukanlah sesuatu yang ada secara alami dalam sekolah, melainkan sebuah atribut yang diberikan oleh masyarakat, khususnya oleh para orang tua. Melalui pandangan orang tua, kita dapat melihat berbagai faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan prestise sekolah, dan mengapa hal ini menjadi begitu penting dalam konteks pendidikan.

     

    Foto : Ilustrasi sekolah berkualitas prima mempunyai perpustakaan memadai, sumber: Pexels

     

    Dalam sebuah penelitian Moshe Tatar (2006) yang melibatkan 465 orang tua dari siswa kelas 9 dan 11 di 18 sekolah negeri-sekuler, ditemukan bahwa pencapaian pendidikan adalah faktor utama yang berkorelasi dengan prestise sekolah. Hal ini diikuti oleh kualitas guru, siswa, orang tua, kebijakan sekolah, iklim sekolah, manajemen, dan fasilitas fisik. Hasil ini mengungkapkan bahwa faktor-faktor intrinsik pendidikanโ€”seperti kualitas guru dan kebijakan pendidikanโ€”menjadi sumber utama atribusi prestise sekolah.

    Namun, yang menarik dari penelitian ini adalah adanya perbedaan persepsi di antara subkelompok orang tua. Beberapa kelompok orang tua lebih memprioritaskan fitur ekstrinsik, seperti fasilitas fisik atau manajemen sekolah, dalam menilai prestise. Hal ini menyoroti bahwa prestise tidak hanya dilihat dari kualitas pendidikan yang diberikan, tetapi juga dari persepsi masyarakat yang mungkin dipengaruhi oleh stereotip atau pandangan umum yang sudah ada.

    Dalam analisis Tatar (2006) efek ‘halo’ yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penilaian prestise sering kali didasarkan pada persepsi stereotip, di mana satu aspek positif dari sekolah dapat memperbesar pandangan positif terhadap seluruh aspek sekolah tersebut, meskipun tidak semua aspek tersebut berkualitas tinggi. Misalnya, sekolah dengan gedung megah dan fasilitas lengkap mungkin dianggap lebih memiliki prestise meskipun kualitas pengajaran tidak selalu superior.

     

    Foto : Ilustrasi sekolah dengan fasilitas lengkap dengan gedung yang megah, sumber: Pexels

     

    Penelitian Tatar (2006) ini memberikan beberapa implikasi penting bagi pengelola sekolah dan pembuat kebijakan. Pertama, penting untuk menyadari bahwa prestise sekolah bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh sekolah itu sendiri, karena ini sangat dipengaruhi oleh persepsi publik. Oleh karena itu, sekolah perlu bekerja lebih keras dalam membangun kualitas intrinsik mereka sambil juga menyadari pentingnya citra dan komunikasi dengan masyarakat.

    Kedua, adanya efek ‘halo’ menunjukkan pentingnya transparansi dan edukasi dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Orang tua perlu diberikan data akurat dan komprehensif mengenai kinerja sekolah agar penilaian mereka tidak hanya berdasarkan kesan awal atau citra umum yang mungkin tidak sesuai dengan kenyataan.

    Sebagai catatan akhir, prestise sekolah merupakan hasil dari kompleksitas persepsi publik, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik. Meskipun pencapaian pendidikan dan kualitas pengajaran menjadi faktor utama dalam penilaian prestise, kita tidak bisa mengabaikan peran persepsi masyarakat yang sering kali dipengaruhi oleh stereotip.

    Oleh karena itu, upaya untuk membangun prestise sekolah perlu mencakup peningkatan kualitas pendidikan dan juga pengelolaan citra publik yang transparan dan jujur. Prestise sekolah, pada akhirnya, lebih dari sekadar reputasi; ini adalah refleksi dari bagaimana masyarakat menilai nilai dan kualitas pendidikan yang mereka harapkan bagi anak-anak mereka.

    ———————————

     

     

     

  • Ignas Kleden, “Postcript” Sebuah Kesungguhan Intelektual

    Ignas Kleden, “Postcript” Sebuah Kesungguhan Intelektual

    Oleh Hamid Basyaib

    ย 

    ย 

    Sangat sedikit intelektual Indonesia seperti Ignas Kleden. Ia tak pernah mau berkompromi dalam soal kualitas ide dan kesungguhan dalam menghadapi masalah. Mungkin ini sebabnya ia tak pernah tampil di acaraย talk showย televisi โ€” sebuah medium komunikasi yang tekun memerosotkan mutu percakapan intelektual, selain mengumbar kedangkalan kultural tanpa putus melalui acara-acara hiburan yang keburukannya sulit dipercaya.

    Ia meminati percakapan intelektual sejak masih belia, sejak ia, dari kampungnya di Waibalun, Nusa Tenggara Timur, memandangi orang-orang pintar Jakarta menyajikan ide-ide mereka atau berpolemik di media massa. Ia menikmati semua itu dari perpustakaan yang baik di seminari Larantuka, yang selalu menerima kiriman edisi terbaru majalah apapun. Ia menawarkan diri untuk bekerja di sana, supaya bisa menikmati bahan bacaan yang melimpah.

    Ia menerjemahkan teks-teks berbahasa Inggris (atau Jerman) untuk Nusa Indah, sebuah penerbit yang komited menerbitkan buku-buku bermutu, menerapkan standar intelektual para pastor pembinanya.

    โ€œSaya membicarakan mereka (para intelektual Jakarta) seolah-olah saya mengenal mereka secara pribadi,โ€ katanya, tersenyum geli, mengenang sikap โ€œsok tahuโ€nya. Dan ia pun berani menyodorkan ide-idenya sendiri di forum media ibu kota, bersanding dengan nama-nama besar seperti Asrul Sani atau Wiratmo Sukito. Waktu itu ia baru awal 20-an, dan menulis kolom-kolom yang bagus di mingguan Tempo atau bulanan Budaya Jaya.

    Ia tampak berupaya menawarkan pendekatan akademis terhadap isu-isu sastra, bahasa dan budaya. Ia, misalnya, mengutip Sigmund Freud untuk kolomnya tentang bahasa.

    Perujukan kepada para sarjana ilmu sosial ini, untuk isu-isu budaya, jarang dikerjakan oleh para penulis yang menekuni bidang itu. Mereka enggan membaca buku, dan lebih mengandalkan โ€œpengolahan batin yang otentikโ€ โ€” agar tak dikotori oleh ide-ide intelektual para sarjana.

    *****

    Tawaran akademis semacan ini terus diupayakannya sampai puluhan tahun kemudian. Dalam kritik sastra, misalnya, ia akhirnya terang-terangan mengungkap motifnya ketika ia mengritik tulisan penyair Afrizal Malna untuk sebuah kumpulan cerita pendek Kompas (karena tanpa keterusterangan itu rupanya ia merasa maksud tawaran yang sudah sering diajukannya tak dimengerti).

    Ia, katanya, ingin menyarankan supaya kritik sastra kita punya referensi teoretis, misalnya pada Paul Ricour, yang sudah banyak mengulas soal ini dengan baik. Mengapa teori orang-orang seperti itu tidak dimanfaatkan?

    Tanpa rujukan teoretis, kritik sastra kita hanya akan berputar-putar dengan mengandalkan โ€œkreatifitasโ€ dadakan sang kritikus, sambil mengumbar aneka peristilahan mentereng atau serampangan yang tak tentu maknanya.

    Itulah yang dia lihat pada pengantar berjudul โ€œUpaya Membuat Telingaโ€ tersebut โ€” tentu ini ia maksudkan sebagai sekadar contoh terdekat. Dengan kekocakan yang cerdas, ia mengibaratkan tulisan itu dengan pemain yang sibuk membawa bola, asyik menggoreng bola dengan berputar-putar di dekat gawang lawan, tapi tak pernah menendang untuk mencetak gol. Pembaca dibiarkan dalam ketidakmengertian atas maksud si kritikus.

    Tulisan itu, katanya, seperti menjanjikan hal-hal yang istimewa, seakan mau mengajak pembacanya menikmati steak yang enak, tapi ternyata hanya menyajikan makanan sehari-hari yang biasa saja.

    ****

    Ketajamannya dalam mengidentifikasi pemikiran orang, dengan bahasa Indonesia yang sangat baik, tak tertara. Ia menulis pengantar panjang yang sangat bagus untuk antologi Soedjatmoko (โ€œEtika Pembebasanโ€, LP3ES, 1984). Baginya, seluruh kerja intelektual Soedjatmoko bertumpu pada martabat manusia, dan dapat dirangkum dalam dua kata: otonomi dan kebebasan.

    Ia dengan gemilang mempertanggungjawabkan klaim itu, dengan secara konsisten menunjukkan dua pokok ide tersebut dalam begitu banyak tulisan Soedjatmoko yang tersebar di jurnal maupun sumbangan artikel di buku-buku yang kebanyakan disunting sarjana lain dan diterbitkan di luar negeri, selain tulisan-tulisan editorial di mingguan โ€œSiasatโ€ milik Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Soedjatmoko di tahun 1950an.

    Temuannya seperti menjawab kebingungan Arief Budiman dalam menghadapi lanskap luas pemikiran Soedjatmoko, setidaknya yang terhimpun dalam antologi โ€œDimensi Manusia dalam Pembangunanโ€ (LP3ES, 1981). Dalam resensi atas buku itu di majalah Tempo, Arief mengeluh bahwa ia gamang menghadapi Soedjatmoko. โ€œIa seperti melukis di kanvas besar, dengan sapuan-sapuan kuas yang juga besar-besar,โ€ tulis Arief.

    Maksud Arief: sebagai pemikir Soedjatmoko tidak menganut suatu mazhab atau pendekatan tertentu seperti lazimnya para sarjana di kancah ilmu-ilmu sosial, sehingga orang kesulitan untuk melacak dan menggeledah pikirannya.

    Ignas Kleden menyanggahnya dan mengajukan dua kata kunci itu (otonomi dan kebebasan), sambil menunjukkan bahwa Soedjatmoko tampaknya banyak terpengaruh oleh Karl Jaspers, seorang psikiater-filosof Swiss-Jerman.

    ***

    Ia juga menulis pengantar panjang yang kuat untuk kumpulan Catatan Pinggir 2 ย karya Goenawan Mohamad (1989) โ€” sebuah tinjauan brilian yang sangat mungkin tidak disukai penulis bukunya karena ulasannya yang tajam dan sulit dibantah.

    Baginya, meskipun Goenawan menebar begitu banyak tema dalam esai pendek yang terbit setiap minggu di majalah Tempo itu, untuk memahaminya (tapi terutama memahami sikap dan gaya, bukan substansinya), pertama-tama Goenawan harus dilihat sebagai wartawan, dan kedua sebagai penyair.

    Konsekuensi dari kedua predikat itu terlihat jelas pada pendekatan jurnalistisnya โ€” yang serba sekilas dan terpotong-potong โ€” dalam menangani isu apapun, dan pada semangat artistiknya dalam membahas isu apapun. Sikap Goenawan, katanya, tidak pernah jelas dalam hampir semua masalah, kecuali dalam soal kebebasan.

    Sebab kedua profesi itu, wartawan dan penyair, sangat mementingkan kebebasan sebagai prasyarat โ€” tapi tentang ini pun tidak ada elaborasi yang memadai yang ditawarkan Goenawan, berbeda dari semua isu lain yang disentuhnya, yang selalu ditandai dengan tendensi philosophizing; seakan-akan kebebasan tak memerlukan bahasan filosofis lagi karena sudah sangat jelas manfaatnya bagi manusia/warganegara.

    Terhadap obsesi Goenawan pada keindahan bentuk, pada ketekunannya mendekorasi kalimat atau merumuskan proposisi ide dengan elan artistik khas penyair, Ignas berkomentar: Goenawan menebar begitu banyak kembang dalam esai-esainya, tapi susah ditebak apa jenis tanamannya.

    Dengan kata lain: keluhan Ignas terhadap Goenawan Mohamad mirip keluhan Arief Budiman tentang Soedjatmoko, yaitu ketiadaan disiplin metodologis pada keduanya.

    Esai-esai pendek Goenawan itu, setidaknya bagian-bagiannya, menurut Ignas, tidak dimaksudkan oleh penulisnya sebagai pernyataan diskursif yang bisa didiskusikan, melainkan sekadar cetusan keluar dari suatu perenungan batin yang intim.

    Inilah yang disebut Karl Raimund Popper dengan expressionism epistemology โ€” ia memang terpengaruh Popper sejak sebelum kuliah di Jerman. Konsekuensi dari karakter tulisan seperti itu, menurutnya, ialah: kita hanya bisa menerima atau menolaknya โ€” tidak ada peluang untuk diskusi.

    ***

    Kecemerlangan Ignas Kleden semakin terlihat saat ia merangkum percakapan di seminar HIPIIS di Palembang, 1996. Ia menulisย postcriptย itu di jurnal Prisma.

    Ia menjahit dengan sangat rapi begitu banyak gagasan โ€” dari soal strategi besar pembangunan negara hingga perhitungan konsumsi kalori rakyat Indonesia dan rasio gini nasional โ€” dan menjadikannya masuk akal bahwa semua itu memang saling terkait, dan terutama membuat kita mendapat kebulatan pemahaman yang memadai terhadap perhelatan keilmuan yang meriah itu.

    Siapapun tahu bahwa membuat catatan akhir semacam itu โ€” yang berhasil mengaitkan paparan semua pemrasaran, dengan menangkap ide-ide besar mereka sambil melayani detail-detail dan ilustrasinya โ€” merupakan pekerjaan yang saya duga bahkan panitia penyelenggara seminar pun tidak sanggup mengerjakannya.

    Dan yang lebih mengagumkan: ia memotret seluruh ide yang dipertukarkan di sana semata-mata dari meneliti makalah-makalah para peserta. Ia tidak hadir di Palembang.

    Ia pernah mencoba membentuk lembaga riset yang lebih berorientasi aksi, bertumpu pada upaya menumbuhkan spirit demokrasi, terutama untuk Indonesia Timur. Sangat sedikit kiprahnya yang kita dengar.

    Seperti kebanyakan pemikir serius, ia tampak kurang peduli pada harta, dan tidak pandai mencari uang. Ia berangkat diam-diam tadi subuh. Ia tak akan pernah hadir lagi di kota manapun โ€” ia memulai perjalanan dari stasiun Waibalun pada Mei 1948, dan berakhir di Jakarta, Januari 2024.

    Ia tak menitipkan apa-apa kepada kita. Tapi kita tahu: sejak lama generasi-generasi intelektual Indonesia terinspirasi oleh titipan karya-karya cemerlang Ignas Kleden โ€” suatu inspirasi penting yang dulu tak mudah kita dapatkan dari intelektual lain, dan makin sulit kita raih hari-hari ini.