Category: BERITA

  • Para Perantau NTT Harus Dipersiapkan

    Para Perantau NTT Harus Dipersiapkan

    BERANDANEGERI.COM,– Fenomena migrasi dan perantauan menjadi pengalaman sehari-hari manusia saat ini dan bahan pemberitaan bagi media di mana saja. Merantau sebagai pergi dan meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan pengalaman yang lebih kaya adalah hal yang lumrah dalam kehidupan seorang anak manusia.

    Masalah muncul ketika ada dampak negatif dari perantauan, bahkan ada korban nyawa dari para perantau. Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu daerah yang terkenal banyak menghasilkan perantau. Berita terakhir yang menyedihkan adalah bahwa pemerintah memulangkan 459 WNI dari berbagai tahanan imigrasi Malaysia. Atau, selama 11 bulan, 106 TKI ilegal asal NTT meninggal di Malaysia (kompas.com).

    Berbagai kalangan yang peduli pada migran dan perantauan sepakat untuk melihat lebih jernih masalah TKI, terutama yang berasal dari NTT ini. Semua pihak sepakat bahwa para perantau asal NTT harus dibekali dengan berbagai persiapan sebelum meninggalkan kampung halaman.

    Demikian kesimpulan fokus diskusi terbatas yang digelar di Saint Mary’s College Jakarta yang digagas oleh kelompok studi “Ende Bergerak”. Adapun pembicara yang hadir terdiri dari Direktur PADMA Gabriel Sola, Ketua Komisi Migran dan Perantauan Keuskupan Agung Ende (KAE) RD Eduardus Radja Para, Ketua Yayasan Saint Mary M Hanafi, Praktisi Bisnis dan Manajemen SDM Thobias Djaji, serta beberapa tokoh muda lain asal NTT.

    RD Edu mengaku, hampir setiap minggu ada laporan bahwa ada TKI asal NTT yang meninggal di luar negeri, terutama di Malaysia. Hal ini memprihatikan banyak kalangan.

    “Seringkali kami kewalahan dalam pendataan. Karena, banyak yang merantau tanpa prosedur yang jelas,” kata Edu. Data perantau asal Keuskupan Agung Ende berdasarkan sensus 2015 ada sebanyak 25.368 orang dari 3 kabupaten (Ende, Nagekeo, Ngada). Dari Ende ada sekitar 12 ribu perantau. Tujuan perantau asal NTT terkonsentrasi di Malaysia, Kalimantan dan Papua. 

    Pastor Edu menjelaskan, ada beragam alasan orang NTT merantau. Bisa karena alasan ekonomi dan finansial. Ada yang karena gaya hidup anak muda untuk melihat dunia yang lebih luas. Sebagian kecil perantau asal NTT, karena adanya tekanan adat di kampung halaman.

    Menurut Edu, merantau mempunyai dampak positif seperti mendapatkan pekerjaan, membantu ekonomi keluarga, transfer pengetahuan dan teknologi, menjadi pewarta iman, dan lain-lain. Kendati demikian, ada dampak negatifnya juga seperti migrasi non procedural, tanpa persiapan diri, human trafficking hingga penyebaran HIV-AIDS.

    Sementara itu, ada beberapa masalah di daerah perantauan yang ditemukan tim kerja RD Edu, seperti perantau yang tidak memiliki dokumen yang lengkap, kriminal, pendidikan anak-anak perantau yang tidak diperhatikan, lemahnya perlindungan hukum, pindah agama, dan adanya godaan untuk menikah lagi.

    Keuskupan Agung Ende telah menggagas berbagai solusi dan jalan keluar untuk masalah ini. Komisi migran dan perantauan KAE sejak 2014 gencar melakukan sosialisasi tentang migrasi dan dampak-dampaknya. Sejak 2015 membentuk desa ramah migran. Desa Ranggatalo di kabupaten Ende menjadi contoh desa ramah migran. Pada 2016, KAE membentuk tripartit 3 keuskupan antara keuskupan asal, keuskupan transit dan keuskupan tujuan. Hal itu untuk memastikan perpindahan umat Katolik antarkeuskupan.

    KAE juga membentuk paroki ramah migran yang berupaya membentuk paguyuban istri-istri migran, pendampingan terhadap anak-anak migran di asrama, pembedayaan ekonomi dengan komisi ekonomi, arisan bersama, kegiatan doa dan berbagai kegiatan kreatif dan produktif lainnya. Paroki ramah migran juga akan menajdi tempat untuk pengaduan masalah migran.

    Sementara itu, pihak KAE juga mengikuti pendekatan terkini dalam sosialisasi migran, seperti menyebarkan film-film pendek tentang migran. “Kami akan menggelar pertemuan nasional tahun depan di Ende dengan mengangkat tema ‘Berpastoral di Tengah Arus Migran dan Perantauan’. Semoga ini menjadi momentum untuk terus sadar tentang fenomena migran,” jelas RD Edu.

    Sementara itu, Gabriel Sola mengaku, perumusan undang-undang dan regulasi tentang TKI di Indonesia sangat memperhatikan jejaring internasional dan gereja Katolik. Komitmen Gereja Katolik pada kepedulian pada migran telah menginspirasi dunia luas.

    “Kendati demikian, di Flores dan Lembata, tidak terlalu mencolok laporan ke polisi tentang TKI yang meninggal. Padahal data di lapangan sangat banyak,” jelas Gabriel.

    Menurut Gabriel, setiap kali ada masalah TKI di NTT, hampir dipastikan actor intelektualnya tidak pernah ditangkap. “Ada 69 kasus tindakan pidana perdagangan orang (TPPO) di Polda NTT, tetapi kita tidak akan pernah bisa menangkap actor intelektual,” kata Gabriel.

    Sejak 2016, TKI asal NTT yang meninggal jumlahnya selalu bertambah masing-masing 46 orang (2016), 62 orang (2017), 105 orang (2018) dan 114 orang (tahun ini). Kondisi ini makin diperparah oleh ketiadaan dokumen migran dan kebiasaan merantau secara illegal.

    Gabriel mengungkapkan, harus ada kerja sama yang baik antara berbagai elemen seperti pemerintah dan pemerintah lokal, pemuka agama, swasta dan berbagai pihak terkait untuk mempersiapkan para perantau dengan cara yang baik.

    Hal senada diungkapkan M Hanafi yang mengatakan, sebelum berangkat merantau, pembekalan semau aspek (keterampilan, moral, rohani) harus dilakukan. “Kita juga harus berpikir dengan pemberdayaan orang-orang yang tinggal di kampung. Supaya, kampung kita tidak kosong,” kata Hanafi.

    Hanafi menawarkan lembaga pendidikannya, Saint Mary’s College menjadi mitra untuk KAE dan pemda di NTT dalam mempersiapkan pekerja-pekerja terampil. Saat ini, Saint Mary’s College bekerja sama dengan berbagai lembaga dan perusahaan kaliber untuk memastikan studi vokasional yang berkualitas.

    Pada akhir diskusi, Koordinator Ende Bergerak, Agustinus Tetiro menambahkan, terpilihnya banyak anak muda sebagai kepala desa di NTT perlu menjadi langkah awal yang seharusnya didukung terutama untuk memastikan realisasi dana desa untuk proyek-proyek yang lebih melibatkan warga setempat sehingga ekonomi desa semakin bergairah.

    “Para kepala desa muda bisa menggagas Desa Wisata ataupun jenis kegiatan ekonomi lain yang lebih kreatif dan kontekstual untuk mendukung makin banyak lapangan pekerjaan terbuka di desa-desa di NTT,” tandas Agustinus. (*)

  • Pustakawan Harus Kreatif Budayakan Minat Baca

    Pustakawan Harus Kreatif Budayakan Minat Baca

    Perkembangan peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital menimbulkan tantangan serta peluang bagi para pustakawan dalam meningkatkan literasi minat baca masyarakat Bangsa Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi menilai, di era digitalisasi saat ini, para pusatakawan harus mampu mendorong minat baca masyarakat melalui pemanfaatan media sosial.

    Menurut Dede, kreativitas dalam menyebarkan informasi melalui media sosial merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan oleh pengelola perpustakaan. Hal itu ia ungkapkan usai menjadi narasumber dalam seminar yang bertema “Pemanfaatan dan Kita Pengguna Media Sosial Bagi Pengelola Perpustakaan” yang diselenggarakan Bidang Perpustakaan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI, di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2019). Seminar ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar.

    “Pustakawan harus keluar dari zona nyaman, harus ada terobosan serta inovasi yang dibuat dalam menyampaikan informasi yang dapat menarik minat baca masyarakat,” tutur politisi Partai Demokrat itu seraya mengatakan peningkatkan literasi masyarakat sejalan dengan visi Nawacita Jilid II Presiden Joko Widodo, yaitu meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Maka, peningkatan literasi ini harus dikuatkan melalui kebijakan.

    Seminar ini juga menghadirkan Editor Indonesiabaik.id, Edy Supangat. Edypang, sapaan akrabnya menyampaikan bagaimana suatu informasi dikemas menarik agar isi pesannya sampai kepada khalayak. “Era digital saat ini, masyarakat lebih senang menerima informasi berbentuk visual, apalagi generasi milenial. Kita (lembaga negara) harus membuat konten yang menarik melalui pemanfaatan media sosial yang kita miliki,” ungkapnya.

    Dijelaskan Edypank, gawai atau gadget adalah fenomena dasyat abad ini. Bahkan, bisa dikatakan gadget merupakan kebutuhkan keempat setelah pangan, papan dan sandang. Berdasarkan riset yang Indonesiabaik.id, dalam satu hari ada sekitar 2,5 milliar pesan yang tersebar, ada 5 juta video yang ditonton, serta seseorang mengecek gadget-nya mencapai 200 kali dalam satu hari. “Minat baca sangat rendah,” tandas Edypank.

    Maka, lanjut Edypank, cara menarik perlu dilakukan dalam penyebaran informasi melalui visual content perlu dibuat dalam format video,  komik, infografis, quotes, meme, foto beserta caption menarik, atau hal yang menyentuh emosi masyarakat. Sebagai lembaga negara, menurut Edypank, kecepatan menyebar informasi adalah bonus yang utama harus dilakukan dalam informasi yang di-publish. “Kita kan sering mendapatkan data, teks. Kita harus sampaikan informasi yang benar,” pesannya. (rnm/sf)

    Sumber : dpr.go.id

    Foto Ilustrasi : Berandanegeri

  • Guru Perlu Terus Berinovasi di Era Teknologi

    Guru Perlu Terus Berinovasi di Era Teknologi

    Perkembangan era teknologi dan mudahnya mengakses informasi seperti saat ini, seoarang guru harus melakukan peka terhadap perkembangan yang mempengaruhi proses belajar kepada anak didik. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian berpesan, guru-guru perlu melakukan inovasi dalam memberikan pembelajaran agar pesan yang disampaikan di kelas tetap relevan dan mudah diterima.

    “Apa-apa kan saat ini dapat diakses di internet, makanya guru harus lebih kreatif dalam memberikan pemberlajara di dalam kelas. Misalnya ketika mengajar terkait sejarah kemerdekaan, guru harus mampu mengemas itu menjadi narasi yang menarik, sehingga pesan-pesan moral yang dikandung dalam proses kemerdekaan dapat dipahami para pelajar,” ungkap Hetifah kepada Parlementaria, baru-baru ini.

    Selain itu, ruang diskusi dalam kelas perlu digalakkan, sehingga generasi muda nanti akan menjadi anak yang aktif dan dapat beragumen dengan baik. “Model belajar yang biasanya menyuruh murid menghafal harus diubah menjadi ruang diskusi, agar generasi anak muda menjadi aktif dan dapat berargumen dengan baik,” tutur politisi Partai Golkar itu.

    Menurut Hetifah, ketika kewajiban seorang guru telah dilaksanakan dengan baik, maka Pemerintah perlu memberikan haknya dengan layak. Tuntutan para guru yang selama ini disuarakan perlu didengar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. “Kami berharap Mendikbud memperhatikan kesejahteraan guru honorer. Selain itu, birokrasi di bidang pendidikan harus dibenahi, pelatihan harus diberikan agar kompetensi guru semakin meningkat dan berkualitas dalam melahirkan generasi penerus,” tutupnya. (rnm/sf)

    Sumber : dpr.go.id

    Foto Ilustrasi : Googling

  • Penggunaan Medsos Untuk Tingkatkan Literasi

    Penggunaan Medsos Untuk Tingkatkan Literasi

    Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar menilai, secara fungsi Perpustakaan DPR RI memiliki fungsi yang strategis. Tidak lagi hanya meningkatkan minat baca pegawai Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI, tapi juga berfungsi untuk berbagai kepentingan. Seperti kepentingan sejarah kedewanan, tugas akhir seperti skripsi, tesis ataupun disertasi, sehingga pemanfaatan dan penggunaan media sosial bagi pengelola perpustakaan juga digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif lagi.

    “Jadi, perpustakaan kita sebenarnya bukan dengan konteks minat baca dalam arti yang sederhana, tapi sudah ada kepentingan-kepentingan yang lebih luas lagi. Para peneliti yang ingin juga memberikan bahan berkaitan dengan keputusan-keputusan dewan. Jadi, perpustakaan kita ini sangat strategis fungsinya,” katanya usai membuka Seminar Perpustakaan DPR RI bertema “Pemanfaatan dan Kiat Penggunaan Medsos Bagi Pengelola Perpustakaan”, di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2019).

    Sementara, kaitan antara perpustakaan dan penggunaan media sosial, Indra menilai bahwa penggunaan media sosial juga seperti pisau bermata dua, dimana penggunaannya bisa positif, bisa juga negatif. Melalui perpustakaan ini Indra berharap, agar media sosial digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif, positif, menghindari hoaks dan sejenisnya.

    “Jadi perpustakaan ini menghindari berita negatif dan hoaks, menjelaskan juga misalnya media sosial yang ada di DPR ini bisa diakses untuk kepentingan-kepentingan yang lebih positif. Dan banyak juga orang-orang luar yang membutuhkan berbagai referensi mengenai sejarah kedewanan, baik kepentingan untuk penulisan, disertasi, dan penulisan-penulisan ilmiah lainnya, dan larinya ke Perpustakaan DPR RI,” katanya.

    Indra menambahkan, medsos yang dimiliki sebuah lembaga mengalami perkembangan menjadi media promosi dan sosialisasi. Menurutnya itu menjadi tantangan untuk penyedia informasi di tengah kemajuan internet, khususnya perpustakaan. Oleh karenanya, gagasan meningkatkan literasi melalui medsos perlu dijadikan tujuan utama. “Tujuan utamanya memang literasi minat baca. Kita ingin literasi minat baca itu mengarah pada kekuatan data dan sumber berita sebagai pengetahuan dan bahan penulisan,” tuturnya.

    Lebih lanjut Indra menambahkan, bagian dari semangat parlemen modern atau lembaga perwakilan modern ini nantinya masyarakat juga ingin tahu tentang produk-produk hukum di DPR RI. Ia berharap nanti segala hal yang ada di perpustakaan itu bisa diakses di masyarakat dengan baik, sehingga berbagai risalah-risalah dan keputusan-keputusan dewan itu diketahui masyarakat luas.

    Seminar ini juga menghadirkan pembicara Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Efendi dan Editor Indonesiabaik.id Edy Supangat. Seminar dimoderatori oleh CEO Good News From Indonesia (GNFI) Wahyu Aji. Dengan dihadiri oleh sejumlah pegawai di lingkungan Setjen dan BK DPR RI, Forum Perpustakaan Khusus Indonesia, dan para Pengelola Perpustakaan Seluruh Indonesia yang diharapkan mampu menjadikan perpustakaan sebagai wadah untuk membentuk minat baca. (ndy,mg/sf)

    Sumber : dpr.go.id

    Foto Ilustrasi : Berandanegeri

  • Pengusaha Tjie Tjin Hoan Berpulang

    Pengusaha Tjie Tjin Hoan Berpulang

     DUNIA usaha Tanah Air tentu tahu siapa pengusaha kaya raya ini. Namanya Tjie Tjin Hoan atau lebih terkenal dengan sapaan akrab Ciputra (88). Ciputra, chairman dan founder Ciputra Group adalah seorang insinyur teknik jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB). Bicara property di Indonesia nama Ciputra tak pernah tanggal. Dialah owner sejumlah group usaha sukses seperti Jaya Group, Metropolitan Group bahkan Ciputra Group. Total kekayaan bersih Ciputra tahun 2019 tergolong gede: 1,3 miliar USD.

    Tjie Tjin Hoan lahir di Sulawesi Selatan tanggal 24 Agustus 1931. Menikah dengan Dian Sumeler pasutri pengusaha ini dikarunia empat putra dan putri: Rina Ciputra Sastrawinata, Cakra Ciputra, Candra Ciputra, dan Junita Ciputra. Juga cucu-cucu: Nararya Sastrawinata, Lalitya Sastrawinata, Aditya Sastrawinata, dan lain-lain. Rabu, 27 November 2019 pukul 01.05 waktu Singapura, Ciputra mengakhiri ziarah hidupnya di Gleaneagles Hospital Singapore. Ia menutup mata selamanya, memenuhi panggilan Tuhan, Sang Sabda. Doa dan ucapan duka dari berbagai pihak mengalir untuk keluarga besar Alm. CIputra. “Telah meninggal dunia dengan tenang, Bapak Ir Ciputra, Chairman dan Founder Ciputra Group di Singapore pada tgl 27 November 2019 pk 1:05 waktu Singapore. Kami keluarga besar Ciputra Group mengucapkan turut berduka yang mendalam dan mendoakan semoga Keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapi kedukaan ini,” kata Rina Ciputra Sastrawinata, anak pertama Ciputra melalui pesan singkat dari Singapura.

    Ciputra tamat SMP dan SMA Frateran Manado, Sulawesi Utara. Setamat dari Manado ia menuju Jawa dan kuliah di ITB. Saat berada di tingkat empat bersama rekannya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan mereka merintis usaha konsultan bidang arsitektur. Usaha ini dimulai dari sebuah garasi. Usai rampung kuliah dan mengantongi gelar Insinyur di kota Kembang tahun 1960, baru kemudian setelah, ia hijrah ke Jakarta. Ia mengawali karirnya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Di perusahaan properti ini, dia berhasil meniti karir hingga menjabat sebagai direksi sampai usia 65 tahun kemudian ambil posisi penasihat. Di perusahaan itu ia diberi keleluasaan berinovasi, termasuk di antaranya dalam pembangunan proyek Ancol. Matang dan kenyang dalam pengalaman Ciputra bersama rekan-rekannya: Liem Soe Liong (Sudomo Salim), Sudwikatmono, Budi Brasali, dan Ibrahim Risjad mendirikan Metropolitan Group. Melalui Metropolitan Group mereka membangun Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai, kawasan hunian elite bagi kaum berduit. Pada masa itu, Ciputra didapuk sebagai direktur utama di Jaya Group. Sedang di Metropolitan Group ia diplot sebagai Presiden Komisaris. Hanya butuh selangkah, ia melebarkan sayap membangun Ciputra Group, kelompok usaha milik keluarga.

    Selamat jalan, Pak Ciputra. Jasamu ikut membangun dan memajukan Indonesia tentu diingat selalu pemerintah dan masyarakat Indonesia. Engkau sungguh inspirasi hidup negeri maha luas ini. Indonesia kehilangan seorang sosok pengusaha bersahaja dan rendah hati. Kerinduanmu memenuhi panggilan Sang Sabda lebih kuat mengalahkan rasa cintamu pada keluarga dan Tanah Air. Damailah di sisi-Nya. Sekadar tambahn setiba di Indonesia jenazah Alm Ciputra disemayamkan di kediama keluarga di Jalan Bukit Golf Utama PA 1-2 Jakarta Selatan. “Ia adalah alumnus ITB, pengembang pertama di Indonesia, pendiri Tempo Media dan Bisnis Indonesia, dan tokoh yang sangat aktif melahirkan pengusaha baru di Indonesia. Selamat jalan, Pak Ciputra. Kiranya Firdaus Abadi menjadi perhentian terakhirmu,” kata Primus Dorimulu, wartawan senior asal Flores sekaligus pimpinan sejumlah media nasional dalam laman Facebook-nya.

    Ansel Deri, Penulis Buku KEJUTAN POLITIK

  • Pemikiran-pemikiran Klasik, Masikah Relevan ?

    Pemikiran-pemikiran Klasik, Masikah Relevan ?

    ·     

    Oleh Paskalis Bataona

    Ditengah kesibukannya menempuh program studi doktoralnya di Universitas Chichago, Nurcholis Madjijid menerjemahkan risalah para pemikir Islam klasik antara lain Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn- Taimiyah, Ibn Khaldun, Al-Afghani, Muhammad Abduh. Risalah ini dihimpun sebagai sebuah antologi. Melalui bunga rampai yang diberi judul “KHAZANAH INTELEKTUAL ISLAM” ini, Nurcholis Madjid bermaksud memperkenalkan kepada pembaca Indonesia salah satu segi kekayaan Islam dalam pemikiran, khususnya yang berkaitan dengan teologi, filsafat ilmu kedokteran.

    “Meski pun ditulis berabad-abad yang lalu pemikiran-pemikiran para intelektual Islam ini patut di baca kembali karena pemikiran-pemikiran klasik itu meletakan dasar – dasar yang kuat soal Tuhan, Moralitas dan Kehidupan Praktis, tegas Ignas Kleden salah satu pembicara pada Diskusi Buku “KHAZANAH INTELEKTUAL ISLAM”, Rabu 20 Maret 2019. Lebih jauh Ignas mengatakan bahwa para intelektual Islam klasik ini tidak memiliki “Center of Excellence” namun secara sporadis dan apologetik memunculkan gagasan-gagasn mereka. Disitulah letak keunikan para pemikir Islam klasik ini, tegas Ignas.
    Ignas Kleden juga mengharapkan pasca Nurcholis para intelektual Islam diharapkan menuliskan buku Sejarah Filsafat Islam secara komperhensif.

    Buku “Khazanah Intelektual Islam” karya Nurcholis Madjid

    Dari sisi yang berbeda Ulil A. Abdallah memberikan testimoni pribadinya bahwa buku “ KHAZANAH INTEKTUAL ISLAM” yang pertama kali terbit 1984 ini merubah hidupnya. Ulil membeli buku ini ketika dia masi nyantri di dusun Pati. Dia secara diam-diam membaca bagian Mukadimah yang ditulis oleh Nurcholis Madjid sebagai pengantar buku ini. Nurcholis, kata Ulil dengan sangat menarik mengulas gagasan-gagasan para pemikir Islam klasik ini. Ulil sungguh tercerahkan dengan membaca buku Nurcholis ini.
    Gagasan – gagasan klasik para pemikir Islam ini justru menyajikan sebuah pedoman penting untuk memahami persoalan-persoalan aktual yang di hadapi oleh masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Membaca dan sekali lagi membaca adalah resep untuk maju dalam segala kehidupan, tegas Ulil………jadi membacalah————

  • Billy Mambrasar, Anak Papua Staf Khusus Jokowi

    Billy Mambrasar, Anak Papua Staf Khusus Jokowi

    Oleh Ansel Deri

    JUMAT 27 September 2019. Di Lantai 3 Graha Oikumene Gedung Persekutuan Gereja-gereja di (PGI) Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Saya tiba sejam sebelum dimulai acara diskusi “Solusi Damai untuk Papua”. Diskusi digagas Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI).

    Sehari sebelum acara diskusi, Ketua Umum DPP GAMKI Wilem Wandik melalui stafnya, Alexander Ramandey, menghubungi saya jadi moderator memandu acara yang menghadirkan para narasumber bagaimana gagasan mereka masing-masing di bidangnya ikut membantu pemerintah mencari format jalan keluar (solusi) damai bagi masyarakat tanah Papua.

    Diskusi menghadirkan lima pembicara masing-masing Ketua Umum DPP GAMKI sekaligus anggota DPR RI Dapil Papua Willem Wandik, penggagas Papua Damai dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Adriana Elisabeth, tokoh Gereja Papua Frans Ansanay, dan dua tokoh muda Papua yaitu motivator dan lawyer Methodius Kosay SH, MH serta wirausahawan Billy Mambrasar atau lengkapnya Gracia Billy Yosaphat Y. Mambrasar.

    Billy Mambrasar. Nama ini masih asing di telinga saya kala bersua di Graha Oikemene yang berhadapan dengan RS St Carolus Jakarta. Begitu pula Metho Kosay. Mama yang kalah akrab di telinga saya seperti Wandik, Ansanay atau Adriana. Wandik saya kenal sebagai sosok politisi muda setelah terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019. Sedang Adriana saya kenal sebagai salah seorang penggagas Dialog Papua Damai bersama rekan-rekannya seperti (alm) Pastor Dr Neles Kebadabi Tebai Pr dan Muridan S Wijoyo.

    Nama Billy Mambrasar muncul dari Istana Negara Jakarta Kamis, 21 November 2019. Bily, anak muda potensial asal tanah Papua itu ditunjuk langsung Presiden Joko Widodo sebagai Staf Khusus Presiden. Billy, demikian Jokowi, saat ini sedang menempuh pendidikan strata dua di Oxford University, Inggris konsentrasi bisnis.

    Saat memberikan waktu memperkenalkan diri sebelum menyajikan materi dalam diskusi Solusi Damai Papua, anak muda tanah Melanesia ini menyampaikan sekilas rekam jejaknya di bidang pendidikan. Billy menyebut, sebumnya ia merampungkan studi di Australian National University (ANU) dengan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menjadi mahasiswa terbaik pada 2015 lalu.

    Billy juga menyebut dalam waktu yang tak lama ia akan terbang ke USA mewujudkan cita-cita menempuh studi doktoral dengan Beasiswa Afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat dalam bidang pembangunan manusia. Bagi anak muda Papua seusianya, cita-cita melanjutkan studi di perguruan tinggi di negara adidaya itu tak pernah terlintas di benaknya.

    Lahir dan besar dari keluarga kurang mampu di Serui, Kepulauan Yapen, Papua, tentu jauh dari mimpi bagi kebanyakan anak muda dari kampung. Ia mengisahkan, saat masih tinggal di Yapen, setiap hari ibunya berjualan kue dan makanan di pasar guna mengongkosi ekonomi keluarga. Aktivitas ini dilakukan karena gaji ayahnya yang adalah seorang guru belum cukup. Ia mengaku, kerap turun gunung membantu sang bunda berjualan kue. “Subuh ibu bikin kue, paginya ibu pergi ke pasar jualan, kami ke sekolah sambil bawa kue untuk dijual,” kata Billy mengutip Kantor Berita Nasional Antara, Jakarta.

    Semangat juang dan pantang menyerah selalu tertanam dalam hati. Hal yang juga dimiliki sebagian besar anak muda Papua yang bertaruh nasib hidup di kota-kota di jalur pendidikan. Akhirnya, mereka menjadi pribadi militan dan cekatan dalam banyak hal, terutama di bidang pedidikan. Mereka, anak-anak muda Papua juga memiliki kemampuan luar biasa besar di pasar kerja.

    Billy juga membuktikan sendiri betapa anak muda tanah Papua juga bisa membuktikan kehebatan di tingkat dunia. Ia misalnya, pernah diundang magang oleh Pemerintah Amerika Serikat dan berbicara di State Department Amerika Serikat. Ia akhirnya menjejakkan kakinya di White House dan bertemu Presiden Barack Obama. Bahkan tahun 2017, ia ditunjuk sebagai utusan Indonesia yang berbicara tentang isu pendidikan di Kantor Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat.

    Berbekal ilmu yang diperoleh ia juga care terhadap dunia pendidikan bagi anak-anak Papua melalui Yayasan Kitong Bisa yang dirintis sejak 2009. ‘Kitong Bisa’ mempunyai arti kita bisa. Atau dengan kata lain semua anak-anak Papua bisa meraih pendidikan meski berasal dari keluarga miskin.

    Melalui Kitong Bisa, Billy ingin memberikan akses pendidikan untuk anak-anak tidak mampu, khususnya di Papua dan Papua Barat. Sejumlah pelatihan keterampilan juga diselenggarakan. Saat ini, ‘Kitong Bisa’ melalui usaha sosialnya, mengoperasikan sembilan pusat belajar dengan 158 relawan dan 1.100 anak.

    “Saya melihat kompleksitas pendidikan dan juga akses pendidikan masih menjadi kendala di Papua, oleh karenanya kami fokus dalam pembangunan SDM. Hal ini sesuai juga dengan komitmen Presiden Jokowi dalam membangun SDM,” kata Billy.

    Presiden Jokowi menilai Billy merupakan talenta hebat tanah Papua yang diharapkan akan memberikan kontribusi berupa gagasan inovatif dalam membangun tanah Papua. Boleh jadi, prestasi dan jejak panjang Billy di bidang pendidikan dan kewirausahaan menjadi pertimbangan Presiden Joko Widodo mengangkat Billy menjadi staf khusus. Sunggu mati. Ade Bily, ko tra kosong. Wa wa wa……

    Anse Deri,  Penulis Buku Kejutan Politik

  • Menelusuri Duka dari Nduga

    Menelusuri Duka dari Nduga

    Di negeri ini kerusuhan massa terus menerus terjadi, pertikaian berdarah di banyak tempat, konflik negara dan kelompok bersenjata, kekerasan seksual berulang kali terjadi. Muncul pertanyaan mengapa keberadaan manusia demikian lekat dengan kekerasan?, bagaimana dengan kondisi trauma korban kekerasan (terutama kekerasan karena pemerkosaan). Persoalan-persoalan ini yang menjadi pelatuk bagi Kristina Samah untuk menulis buku Duka dari Nduga.

    Bertempat di Aula St. Antonius, Gereja Hati Kudus Kramat, Senin 18 November 2019, berlangsung diskusi buku Duka dari Nduga dengan pembicara Rm. Stefanus Suprobo, OFM, Kristin Samah, dan Maman Suherman sebagai moderator. Diskusi buku ini digagasi oleh Sie HAAK dan Komsos Gereja Hati Kudus Kramat.

    Buku ini mengisahkan kekerasan seksual yang terjadi di Nduga. Penulis buku ini, Kristin Samah mencoba mengisahkan siklus kekerasan di Nduga dengan meramu ingata-ingatan penduduk setempat dan dari cerita-cerita anak muda di sana terutama sekitar tragedi Mapenduma bertahun silam dan dampaknya hari ini.

    Buku Duka dari Nduga juga mengajak kita melihat peristiwa Nduga dengan kaca mata hati, bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia dengan terjadinya perkosaan terhadap seorang guru perempuan. Penulis membawa kita pada sebuah refleksi bahwa di wilayah yang jauh dari keramaian dan minimnya fasilitas hidup yang memadai masih ada perempuan yang mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa namun tidak mendapatkan perlindungan dan perhatian utuh dari negara ketika dirinya mengalami kekerasan seksual.

    Seorang korban kekerasan karena pemerkosaan akan mengalami trauma, dan dalam dirinya akan mengalami mimpi buruk secara berulang-ulang. Dia bukannya tak mampu memaafkan pelaku. melainkan tak mampu keluar dari jerat-jerat prasangka yang menimpanya setiap saat. Ada kegaduhan dalam kesadarannya – gaduh dalam arti ribut seperti seseorang yang terperangkap di tengah-tegah massa yang mengepungnya. Dalam kegaduhan kesadarannya itu, kediriannya, ego-nya, person-nya seolah lenyap. Dia telah dianggap tiada oleh pelaku dan lebih suka menganggap dirinya sendiri tiada ditenggelamkan kebisingan kesadarannya. Memaafkan adalah bertindak yang menurut Hannah Arendt “memulai sesuatu yang baru”, lahir lagi, yakni merelakan yang lewat. Tetapi, trauma telah membuat korban tak mampu bertindak, maka ia tak mampu memaafkan. Membalas dendam adalah reaksi naluriah atas kebekuan itu,  tetapi dendam adalah ketidakmampuan untuk memulai sesuatu yang baru. Alternatif yang tersedia adalah membiarkan diri matang oleh waktu, yaitu lewat bercerita entah kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Bercerita tentang pengalaman negatif adalah usaha memahami yang tak terpahami. Dalam jarak naratif itulah luka-luka masa lalu terintegrasi ke dalam identitasnya. Bercerita dapat menjadi perjalanan menuju merelakan yang lewat ( F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas).

    Buku Duka dari Nduga karya Kristin Samah

    Memandang Papua, menurut Kristin, bukan hanya soal jarak tempat dari pusat kekuasaan, tetapi juga jarak kesenjangan yang sangat jauh. Ketika daerah lain sudah berpikir soal revolusi industry 4.0, pelosok-pelosok terpencil Papua masih berkutat dengan persoalan minimnya pendidikan, minimnya prasarana kesehatan dan juga persoalan gizi buruk.

    Buku ini didedikasikan untuk orang-orang yang bekerja demi memuliakan kemanusiaan. Penghormatan pada para pekerja kemanusiaan yang oleh sebab konflik, terpaksa menjadi korban kekerasan brutal. “Benar bahwa mengangkat senjata untuk merampas hak hidup orang lain adalah kejahatan sadis. Namun, penjahat sesungguhnya adalah orang-orang yang menjual ketidakmampuan orang lain untuk meraih keuntungan diri sendiri atau kelompok”, tegas Kristin pada akhir diskusi bukunya.

    Paskalis Bataona

  • Seno Gumira Ajidarma : Indonesia Cukup Panik dengan Revolusi 4.0

    Seno Gumira Ajidarma : Indonesia Cukup Panik dengan Revolusi 4.0

    BERANDANEGERI.COM, Sastrawan Seno Gumira Ajidarma tampil memukau saat membawakan pidato kebudayaan berjudul  “kebudayaan dalam bungkus tusuk gigi”. Berangkat dari hal yang remeh temeh seperti tusuk gigi, ia kemudian mengomentari persoalan penting dan actual akhir-akhir ini yakni revolusi industri 4.0.

    Seno Gumira Ajidarma membacakan pidato kebudayaannya, di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM) , Jakarta, Minggu (10/11). Pidato yang menjadi agenda rutin tahunan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), diadakan bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November sekaligus peringatan 51 tahun berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM).

    Dalam refleksinya, mantan jurnalis ini melihat kebudayaan layaknya “tusuk gigi” yang dibungkus oleh beban makna ganda: konotasi dan denotasi. Dalam makna konotasi, kebudayaan tidak mengutamakan “tusuk gigi” yang dibungkusnya, melainkan rancangan visual yang sama sekali lain, atau boleh dikatakan sebagai “komodifikasi” atau “jualan”.

    Sebaliknya, kebudayaan sebagai makna denotasi lebih mementingkan isinya, yaitu “tusuk gigi” itu sendiri. Baginya, kebudayaan itu adalah produk ilmu pengetahuan, peradaban dan teknologi.

    Meski, demikian, bungkus-bungkus yang berideologi komodifikasi (konotasi) maupun kebenaran tunggal (denotasi) diaduk secara acak, maka artikulasi atas ideologi masing-masing akan menghasilkan pertarungan konotasi.

    Lantas, apa yang tersahihkan sebagai denotasi, toh pada kenyataannya merupakan konotasi yang paling dominan, paling hegemonik dan paling berkuasa.

    Seno Gumira kemudian merambah pada pemikiran relasi dan konstruksi kuasa. “Kita bisa melihat bahwa adanya institusi pendidikan, tradisi, agama, regulasi, media institusi militer dan negara sekalipun menyodokkan peran dan posisi dalam kepentingan setiap kelompok, yang dominan maupun pinggiran, sehingga berlangsungnya kebudayaan merupakan proses hegemoni,” ujarnya.

    Dalam tataran ini, kata Seno Gumira, kuasa sejatinya sudah terlepas dari genggaman klasikal negara karena kekuasaan kini sudah tersirkulasi di antara khalayak: antarmanusia, antargolongan dan antarbudaya.

    Mengomentari masyarakat urban, menurut Seno Gumira, kuasa dan relasi antarmanusia ini akan selalu bernegosiasi dan maknanya tidak akan pernah stabil dan mapan. Hubungan kuasa seperti ini membuat pribadi manusia merasa terawasi dan menanamkan satu disiplin kepada diri sendiri, yang melibatkan politik identitas yang berkepanjangan.

    Dalam khazanah bahasa, problem ini dapat terlacak dalam konteks urban sebagai ruang kehidupan pluralistik yang meruntuhkan kelompok-kelompok statis dan homogen. Atau yang disebut Pieterse sebagai “perjalanan”, sehingga kebudayaan lebih dipandang sebagai isu relokasi dan hibridisasi.

    Namun demikian, Seno Gumira memandang, dengan kehadiran ruang urban ini, maka populasi suatu tempat menjadi sangat multi-etnik dan multi-kultural, dengan kehadiran manusia-manusia yang kian tidak tetap dan stabil.

    Hal ini menyebabkan pertarungan kembali atas makna-makna dengan kepentingan masing-masing, sehingga kebersamaan arkais suku-suku yang memudar tertandingi oleh apa yang disebut komunitas, di mana tiap komunitas memiliki bahasanya sendiri, termasuk bahasa kesenian.

    “Jika memang cara berbahasa komunitas tidak hanya menunjukkan siapa diri mereka, tapi juga segenap wacana yang melekat padanya, maka ruang itu diperjuangkan agar terlihat nyaman dan memenuhi kepentingannya,” katanya.

    Bagi Seno Gumira, klaim kebenaran terhadap bahasa kesenian komunitas harus melewati pengujian: apakah ia lebih argumentatif, relevan dan mengantisipasi masa depan, ketimbang dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan romantik serta penuh ilusi.

    Akhirnya, Seno Gumira menyentil soal kepanikan moral pemerintah yang, alih-alih mengadaptasi hingar-bingar revolusi industri 4.0, justru tampak panik dan waspada terhadap perubahan zaman, dengan merangkul kebudayaan elektronik secara total.

    Hal ini berdasar pada asumsi bahwa Indonesia akan gagal dan terbelakang jika tidak mampu mengadaptasi kehadiran kebudayaan tersebut.Ia melihat, sebenarnya revolusi industri bagi Indonesia tidak pernah berjalan linear, melainkan saling tumpang tindih dan tampak absurd serta kacau.

    Jika memang revolusi industri 4.0 sebagai gejala kebudayaan,  Indonesia cukup panik untuk tenggelam dalam mitos bahwa yang terbaik adalah yang tercepat.

    Ia mencontohkan dongeng Melayu tentang adu lari Kancil dan Siput, yang diadopsi dari mitos Aesop purba, memperlihatkan bahwa justru bukan yang tampak cepat yang menjadi pemenang, melainkan strategi untuk memenangkannya.

    “Dalam akhir pertualangan di belantara tanda-tanda, bahasa, susastra, aksara, maupun dongeng kanak-kanak sederhana, saya akan kembali kepada temuan dari perbincangan bungkus tusuk gigi: bahwa bersama kebenaran, kebudayaan terlalu sering terpahami sebagai ilusi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tutupnya.

    Seno Gumira Ajidarma dikenal sebagai penulis generasi baru sastra Indonesia. Beberapa karyanya adalah ‘Atas Nama Malam’, ‘Wisanggeni-Sang Buronan’, ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’, ‘Biola tak Berdawai’, ‘Kitab Omong Kosong’, ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’, dan ‘Negeri Senja’.

    Tulisannya tentang Timor Timur dituangkan dalam trilogi buku ‘Saksi Mata’ (kumpulan cerpen), ‘Jazz, Parfum, dan Insiden’ (roman), dan ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’ (kumpulan esai). (*)

  • Presiden Hadiri Pameran Foto “Membangun Indonesia”

    Presiden Hadiri Pameran Foto “Membangun Indonesia”

    BERANDANEWS.COM,- Presiden Joko Widodo menghadiri Pameran Foto “Membangun Indonesia” yang digelar di Neo Soho Mall Central Park, Jakarta, pada Selasa, 12 November 2019. Pameran foto tersebut menampilkan foto-foto pembangunan era pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Kabinet Kerja.

    Setibanya di lokasi pameran sekitar pukul 17.06 WIB, Presiden Jokowi disambut oleh Ketua Pelaksana Randi Tri Kurniawan yang juga merupakan salah satu pewarta foto Rakyat Merdeka. Presiden Jokowi tampak didampingi oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

    Kedatangan Kepala Negara disambut riuh masyarakat dan pengunjung pameran yang hadir. Presiden Jokowi menyempatkan menyapa masyarakat dan berswafoto dengan beberapa di antaranya sebelum kemudian masuk ke galeri foto yang berada di lobi utama mal.

    Pameran foto tersebut menampilkan 67 karya foto jurnalistik dari 47 pewarta foto Istana Kepresidenan dan juga pewarta foto dari daerah di seluruh Indonesia. Aksi blusukan, hasil program kerja, sisi humanis Presiden Jokowi, hingga aktivitas para Menteri Kabinet Kerja ditampilkan dalam pameran foto tersebut.

    Sumber foto : Sespres

    Dalam pameran foto tersebut, ditampilkan juga tiga foto yang bukan merupakan jepretan para pewarta foto. Ketiga foto tersebut yaitu karya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, dan karya Presiden Jokowi sendiri.

    Menurut Randi, selain dipamerkan, foto-foto tersebut juga dibukukan untuk merangkum kinerja pemerintahan periode 2014-2019. Di sela-sela peninjauan, Presiden Jokowi menerima buku “Membangun Indonesia” dan foto pilihan sebagai kenang-kenangan.

    “Alhamdulillah, pewarta foto Istana Kepresidenan dan seluruh Tanah Air dapat menghasilkan karya-karya yang layak dipamerkan dan dibukukan ini. Buku yang merangkum cerita tentang lima tahun kinerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada periode 2014-2019,” kata Randi.

    Usai peninjauan, Presiden Jokowi mengapresiasi hasil karya yang dipajang di pameran tersebut. Menurutnya, sisi pengambilan gambar dan unsur humanis dalam karya-karya foto yang ditampilkan sangat baik.

    sumber foto : Sespres

    “Pertama yang berkaitan dengan wilayah. Pengambilan di Jakarta ada, di Papua ada, di Lampung Sumatera ada. Saya kira itu momen-momen yang sangat baik yang bisa diambil secara cepat oleh kamera. Yang kedua juga dari sisi human (interest). Pengambilannya enggak tahu dari sudut mana tapi hasilnya bagus sekali,” kata Presiden Jokowi kepada jurnalis.

    Salah satu foto yang menjadi favorit Presiden Jokowi adalah foto dirinya menggendong anak Papua saat kunjungan kerja ke Kabupaten Asmat, Papua. Foto ini juga yang diserahkan oleh kurator foto Mpu Ageng Oscar Motuloh sebagai cendera mata untuk Presiden Jokowi.

    “(Paling favorit) yang dengan gendong anak Papua. Yang ngambil sangat pintar, enggak tahu dari sudut depan atau sudut samping, tapi bagus,” ujarnya.

    “Ya foto, gambar juga berbicara. Enggak usah banyak tulisan sudah banyak berbicara. Asal ngambilnya dari sudut yang pas, berbicara semua,” imbuhnya.(*sespres)