Author: Redaksi

  • Lamafa: Diri Sakral dalam Semesta Kehidupan Orang-orang Lamalera

    Lamafa: Diri Sakral dalam Semesta Kehidupan Orang-orang Lamalera

    Oleh Alexander Aur, Penikmat Sastra dan Pengajar Filsafat di Universitas Pelita Harapan

    • Catatan Kecil tentang Novel Lamafa

    “… penangkapan ikan paus di Lamalera berkaitan erat dengan pelbagai aspek kehidupan masyarakatnya, sehingga kalau orang mengenal Lamalera berarti orang mengenali hubungannya dengan menangkap ikan paus. … pada saat seorang juru tikam atau lamafa memperhatikan gerak-gerik ikan yang akan ditikamnya, dia sendiri mengucapkan harapannya dengan kata-kata seperti ditujukan kepada mangsanya supaya tenang terapung untuk ditikam untuk memberi makan kepada warga kampung, terutama kaum miskin dan janda-janda yang menaruh harapan mereka pada pekerjaan di laut itu.” Alex Beding, SVD.

    Foto: Novel Lamafa

    Pengantar

    Novel Lamafa merupakan sastra etnografis. Ciri etnografis itu tampak dalam tema, latar tempat,dan narasi tentang lamafa dan budaya menangkap paus dalam novel ini. Kata lamafa yang oleh digunakan oleh pengarang sebagai judul novel ini merupakan sebuah istilah yang berlaku dalam masyarakat nelayan Lamalera. Kata itu digunakan sebagai predikat yang dilekatkan pada seseorang yang menjalankan peran sebagai pemimpin kelompok penangkap paus. Salah satu tugas utama pemimpin tersebut adalah menikam mamalia laut tersebut. Dengan demikian, lamafa dikenal khalayak sebagai penombak/penikam paus.

    Kata lamafa selanjutnya bermetamorfosis dari predikat menjadi identitas yang melekat pada seseorang dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera. Metamorfosis itu sekaligus sebagai penetapan dan penegasan terhadap eksistensi lamafa. Seorang lamafa tidak semata-mata penombak/penikam paus, tetapi lebih dari itu, ia adalah pemimpin, yang mengemban tugas sakral, yakni menjaga kehidupan dan sekaligus menghubungkan kehidupan dunia laut dan kehidupan dunia darat. Itulah tesis pokok catatan kecil tentang novel ini.

    Mengingat novel Lamafa merupakan sastra etnografis, maka novel ini mesti dibaca dengan sudut pandang geografi budaya dan sosiologi budaya kampung nelayan Lamalera. Dengan sudut pandang pembacaan yang demikian, pembaca dapat menyadap dan menyerap filsafat kehidupan yang berada di balik peran lamafa (pemimpin kelompok penangkap paus). Tulisan ini merupakan paparan tentang pembacaan atas novel Lamafa dengan sudut pandang geografi budaya dan sosiologi  budaya. Meski demikian, pembingkaian ini bukan bermaksud untuk memasung kebebasan para pembaca. Para pembaca tetap mempunyai kebebasan untuk menafsirkan dan menangkap kekayaan isi novel ini.

    Catatan kecil ini terbagi dalam beberapa bagian. Pertama, mengenal konteks geografis dan sosiologis masyarakat nelayan Lamalera. Dua konteks itu berada dalam selubung kebudayaan. Mengenal dua konteks itu amat penting karena di keberadaan lamafa justru terbangun dari konteks itu. Kedua, semesta kehidupan lamafa dan warga kampung nelayan Lamalera. Dengan menggali semesta kehidupan lamafa, siapapun dapat menyadap darinya semangat atau spirit sosial lamafa dan orang-orang Lamalera. Ketiga, lamafa dalam novel Lamafa. Sosok lamafa dalam novel ini berada dalam empat situasi penting. Keempat situasi yang diuraikan dalam bagian akhir tulisan ini merupakan situasi-situasi yang di dalamnya tokoh Saya dididik agar tumbuh dan berkembang sebagai lamafa. Artinya, selain bakat alam dalam diri, seseorang yang menjadi lamafa harus menjalani proses “pendidikan”.

    Mengenal Lamalera: Sebuah Konteks Geografi Budaya dan Sosiologi Budaya Novel Lamafa

    Boleh jadi pembaca atau siapapun, khususnya orang di dan dari luar Lembata akan bingung dan bertanya-tanya, saat membaca kata (istilah) lamafa, yang menjadi judul novel ini. Boleh jadi pula kata tersebut sangat asing di telinga dan asing dalam pikiran para pembaca. Tetapi jika membaca kata “Lamalera”, para pembaca atau siapapun, baik orang di maupun dari luar Lembata, segera mempunyai persepsi tertentu. Persepsi yang paling cepat mengemuka adalah “penangkapan paus secara tradisional.”

    Lamalera sudah diketahui dan dikenal publik jauh sebelum novel ini ada. Lamalera dikenal publik karena tradisi penangkapan ikan paus secara trasidional. Bahkan, karena sangat terkenal, sehingga Lamalera lebih dikenal oleh publik di luar Lembata dan NTT daripada daripada Lembata, yang di dalamnya Lamalera berada. Dengan gaya humor filosofis, suatu saat di masa lalu seorang pewaris roh lamafa yang bernama Bona Beding, pernah menyatakan, “Lembata berada dalam Lamalera, bukan Lamalera berada Lembata.”

    Pernyataan Bona Beding tersebut bukan sebuah pemujaan terhadap Lamalera. Bukan pula sebuah olok-olok terhadap Lembata. Humor yang dinyatakan Bona Beding tersebut bertumpu pada filsafat kehidupan yang terkandung dalam dan terungkap dari kata “Lamalera”. Secara etimologis, kata “Lamalera” terdiri dari dua kata, “lama” dan “lera”. “Lama” berarti “piring”. “Lera” berarti “matahari”. Secara sederhana “Lamalera” berarti “piring matahari”. Baik secara etimologis maupun secara fenomenologis, kata “Lamalera” menyimbolkan dan menyingkapkan semesta kehidupan (makrokosmos dan mikrokosmos) orang-orang Lamalera.

    Sebelum mengudar secara lebih komprehensif semesta kehidupan lamafa dan orang-orang Lamalera, terlebih dahulu diperkenalkan secara ringkas seluk-beluk Lamalera. Pater Alex Beding, SVD dalam Pater Bernhard Bode, SVD, menyebut Lamalera sebagai “bumi berbatu yang memiliki daya tarik sendiri”. Pater Alex mendeskripsikan Lamalera sebagai berikut ini:

    Di pantai selatan pulau Lembata, pada sebuah teluk kecil dengan pantai berpasir kira-kira 300 m panjangnya, di situlah terletak kampung Lamalera. Di latar belakang tampak puncak sebuah gunung yang tinggi, yakni gunung Labalekang (tingginya 1.644 mdpl), sehingga kampung ini terletak di kaki gunung itu. Suatu wilayah pantai yang panjangnya mencapai puluhan kilometer dan terdiri dari wadas hitam dan tebing-tebing batu yang tertanam dalam laut. Dan kampung Lamalera sendiri bagaikan terletak di atas batu-batu. Setiap tamu yang tiba di Lamalera bisa bertanya dalam hati: bagaimana orang bisa hidup di tempat ini? Bagaimana kiranya pencarian nafkah mereka? Dan ada apa yang menarik di sini? Pantai kampung Lamalera adalah sesuatu yang khas. Yang (paling) pertama tampak ialah satu deretan bangsal-bangsal (disebut naje) beratap daun lontar terpajang sepanjang pantai. Itulah rumah-rumah tempat perahu-perahu nelayan disimpan. Selurunya mirip sebuah kompleks bengkel kerja.[1]

    Foto: Kampung Lamalera

    Deskripsi ringkas tersebut menujukkan secara terang benderang bahwa kampung Lamalera adalah kampung nalayan. Keberadaan diri orang-orang Lamalera bertautan erat dengan keberadaan laut, perahu, dan aktivitas kenelayanan. Mereka mengakarkan diri dan aktivitas kehidupannya pada laut. Laut merupakan hal istimewa bagi orang-orang Lamalera. Laut bukan semata-mata tempat mencari ikan. Lebih dari itu, laut merupakan rumah dan energi kehidupan, bahkan ibu kehidupan bagi mereka.

    Dalam konteks keberadaan masyarakat adat, Lamalera merupakan sebuah kelompok masyarakat adat. Bila sebagian besar masyarakat adat di Indonesia memiliki hak ulayat atas tanah (darat) dan segala isi yang terkandung di dalamnya, demikian pula bagi masyarakat adat Lamalera, laut adalah hak ulayatnya. Mereka berhak atas laut dan segala isi yang terkandung di dalamnya. Laut adalah ibuorang-orang Lamalera. Ibu yang mengandung knato (kiriman) Tuhan, yakni paus dan ikan-ikan lainnya. Laut pulalah yang melahirkan knato Tuhan untuk mereka. Bagi seluruh warga kampung nelayan Lamalera, paus bukanlah satwa buruan yang harus diburu demi mempertahankan hidup dari ancaman kematian. Sebaliknya, paus – yang mereka sebut ketekelema – dan ikan-ikan lainnya adalah knato atau kiriman dari Tuhan untuk mereka. Sebagai knato, paus adalah rejeki dari Tuhan untuk mereka.

    Kampung nelayan Lamalera, terbagi menjadi dua kampung, yakni Lamalera A dan Lamalera B. Pembagian dua kampung nelayan ini dilakukan oleh pemerintah, sebagai bentuk respon terhadap perkambangan jumlah orang-orang Lamalera yang semakin banyak. Tetapi ada hal yang menarik yang terjadi di sana, sebagai dampak dari pembagian itu. Hal menarik itu adalah gerak pergi-pulang orang-orang Lamalera A yang terletak lebih di atas pantai dan ke dan dari Lamalera B yang terletak di pinggir pantai. Pater Alex Beding menggambarkan hal itu sebagai berikut:

    Orang dari kampung Lamalera B di pantai yang hendak pergi ke Lamalera A, harus melalui satu tempat bertebing curam yang disebut Gripe. Di situ terdapat satu-satunya jalan yang hanya berupa batu-batu di mana orang dapat meletakkan kaki untuk mendaki atau menurun. Itupun harus dilakukan dengan hati-hati karena di sampingnya terdapat jurang. Untuk penduduk setempat yang sudah terbiasa tidak ada kesulitan, lain halnya bagi pendatang asing. … Baru pada 1998 tangga itu dibongkar dan dibangun sebuah “Gripe” yang baru berupa jalan yang kini dapat dilewati dengan kendaraan beroda dua atau empat.

    ... Dahulu Lamalera mempunyai seorang kakang (kepala haminte/gemeentehoofd – bahasa Belanda). Sejak 1950 Lamalera yang sudah berkembang lebih luas dan dimekarkan menjadi dua kampung, yakni Kampung  Lamalera A (Atas), yang dalam Bahasa Lamalera disebut Tétilefo dan Kampung Lamalera B yang disebut Lalifatan, yang satu letaknya lebih tinggi sedangkan yang lain lebih rendah di pinggir laut. Kedua kampung itu dipisahkan oleh sebuah bukit yang mereka sebut Fung, satu areal yang ditutupi batu-batu besar, tetapi di situ juga terdapat sejumlah rumah penduduk.

    Nama kampung Lamalera dewasa ini sudah terkenal di mana-mana sebagai kampung ikan paus, sebab rupanya kampung ini satu-satunya di Indonesia yang biasa menangkap ikan paus selain ikan-ikan jenis lumba-lumba, pari, hiu dan lain-lain. Tetapi penangkapan ikan paus di Lamalera berkaitan erat dengan pelbagai aspek kehidupan masyarakatnya, sehingga kalau orang mengenal Lamalera berarti orang mengenali hubungannya dengan menangkap ikan paus.

    Mengapa penangkapan ikan paus di Lamalera begitu menarik perhatian? Nelayan-nelayan Lamalera menangkap ikan-ikan sebagai mata pencarian utama mereka. Tetapi mereka memburu dan menikam juga ikan yang besar seperti ikan paus yang panjangnya bisa mencapai 10 meter atau lebih, dengan menggunakan perahu-perahu dan dengan alat-alat tradisional sederhana seperti tempuling (kafé). Ikan paus (kotekelema) yang besar yang ditangkap itu dianggap sebagai rezeki untuk seluruh masyarakat. Jadi bukan hanya untuk dibagi kepada awak perahu, pemilik perahu, atau pembuat perahu, yang disebut ata molang, atau satu kelompok eksklusif. Tentu saja orang bebas berusaha mendapat bagian dari ikan besar itu. (Tetapi) ikan paus yang ditangkap itu seolah-olah menjadi milik bersama karena dalam hal pembagian ikan itu, kelompok miskin dan para janda dalam masyarakat harus diperhatikan. Hal ini merupakan suatu peraturan turun-temurun.

    Orang Lamalera berdiam di suatu wilayah yang kering dan berbatu dan tidak layak untuk pertanian. Hanya pada musim hujan mereka menanam jagung di mana terdapat sedikit tanah, jadi mereka tidak bisa berkebun. Untuk mendapat hasil kebun mereka mesti menukarkan dengan ikan. Mereka mempunyai ukuran-ukuran untuk jagung, padi, sayur dan buah-buah dan lain-lain dan di pihak lain ukuran ikan berapa besar dan berapa potong.

    Terutama ikan paus, yang sangat digemari tentu merupakan kekuatan ekonomi bagi orang-orang miskin supaya mereka bisa mempertahankan kehidupan. Maklumlah, pada saat seorang juru tikam atau lamafa memperhatikan gerak-gerik ikan yang akan ditikamnya, dia sendiri mengucapkan harapannya dengan kata-kata seperti ditujukan kepada mangsanya supaya tenang terapung untuk ditikam untuk memberi makan kepada warga kampung, terutama kaum miskin dan janda-janda yang menaruh harapan mereka pada pekerjaan di laut itu. Lalu dengan satu salto yang kuat dia menghujamkan tikamannya ke badan ikan. Jelas bahwa pembagian ikan yang ditangkap itu untuk orang-orang miskin merupakan suatu kewajiban moril yang selalu diperhatikan dengan sungguh-sungguh.[2]

    Deskripsi tentang Lamalera yang dipaparkan oleh Pater Alex Beding tersebut menyingkapkan situasi geografi budaya dan sosiologi budaya masyarakat Lamalera. Geografi budaya kampung nelayan Lamalera adalah bumi berbatu. Di atas bumi yang demikian, mereka membangun rumah-rumah tinggal. Dan sudah barang tentu, situasi yang demikian turut pula menumbuhkan dalam diri orang-orang Lamalera semangat yang tangguh dan pantang menyerah. Keteguhan hati dan kepantangan menyerah diri mereka sekuat dan seteguh batu-batu dan tebing-tebing kokoh.

    Semesta Kehidupan Lamafa dan Warga Kampung Nelayan Lamalera

    Orang-orang Lamalera adalah pribadi-pribadi tangguh dan penuh daya hidup serta daya juang. Elan vital – meminjam istilah Henry Bergson – orang-orang Lamalera memampukan mereka untuk mengarungi dan menyelami laut Sawu yang bergelora untuk mendapat ikan dari rahim laut Sawu. Dalam situasi geografis yang demikianlah orang-orang Lamalera sebagai suatu kelompok masyarakat adat membangun dan mengembangkan hidupnya.

    Dalam situasi geografis yang demikian pula, seseorang – dari sekian banyak laki-laki Lamalera – tumbuh dan ditempa dalam kesenyapan dan deru laut di halaman kampung nelayan Lamalera, sehingga kelak ia menjadi lamafa yang mengemban tugas sakral sebagai salah satu simpul penting dari seluruh simpul dan semesta kehidupan kampung nelayan Lamalera.

    Bona Beding menuturkan bahwa tidak semua lelaki Lalamera dapat menjadi lamafa. Seseorang yang kelak adalah lamafa dan bertindak sebagai lamafa dalam kosmologi hidup kampung nelayan Lamalera, harus melewati proses formasi dalam kesenyapan dan ketekunan seorang lamafa. Bahkan orang yang kelak adalah lamafa tersebut tidak sadar bila ia sedang dididik menjadi lamafa. Seorang lamafa mendidik calon lamafa melalui ketekunan kerja dan sikap hidupnya.[3]

    Lamafa adalah salah satu simpul penting dalam tradisi ola nuá masyarakat Lamalera. Ola nuá merupakan aktivitas melaut secara tradisional sebagai mata pencarian utama orang-orang Lamalera. Mereka menyelenggarakan ola nuá pada musim léfa, yakni masa resmi untuk turun ke laut, yang berlangsung dari bulan Mei-September. Musim léfa disebut juga mussi lerâ atau léfa nuang, yang berarti musim kemarau.Pada musim itu gerombolan ikan paus dan berbagai jenis ikan lainnya muncul di perairan laut Sawu.[4]

    Sepanjang musim itu, apabila warga kampung melihat ada semburan air di tengah laut, segeralah berkumandang teriakan, “Baleo … baleo … baleoooo…”. Teriakan itu sambung-menyambung dari satu orang ke orang lain dan bergema di seluruh kampung. Teriakan itu sebagai penanda ada paus yang berenang tak jauh dari pantai. Teriakan itu merupakan kelanjutan dari doa yang didaraskan oleh lamafa dan seluruh warga kampung nelayan di pesisir pantai saat-saat sebelum lamafa dan para awak pelédang melaut. “Sedo basa hari lolo/ jaji pulo boi lema ropong/ hode one sare, yang berarti,Oh ibunda lautan/ engkau mengandung, melahirkan/ memelihara dan meyimpan segala-galanya untuk kami,” demikianlah syair mantra laut nan magis orang-orang Lamalera.[5]

    Teriakan “Baleo … baleo … baleo …” para warga kampung memacu semangat lamafa memimpin sekelompok nelayan untuk mendayungkan peledang[6] ke tengah laut. Gerak mengarah ke tengah laut berlangsung dalam keheningan batin dan deru-gemuruh laut. Dalam suasana demikian, lamafa berbisik, “Huro…” yang artinya “dayung lebih cepat” karena paus sudah dekat. Lamafa – yang berdiri diburitan depan peledang – mengemban tugas sakral untuk membawa pulang knato ke darat. Sementara itu, di darat (di tepi pantai), para janda, orang-orang miskin,  para orang tua, perempuan, dan anak-anak menanti knato kehidupan dengan harapan yang membuncah dan doa yang menggemuruh.

    Saat lamafa berhasil menancapkan tempuling (mata tombak) dan paus berontak, warga kampung berteriak, “Hirrkae …hir … hir ke, levo hiiir kae,” yang berarti, “Puji dia, seluruh isi kampung puji dia.”[7] Dalam mendayung pulang pelèdang ke pantai sambil menarik paus, sang lamafa beryair dengan suara merdu bersama para awak, “Sora taran bala tala lefo rai tai/Tuba bera rai nai ribu lefo gole/Kide ina-fai tuba bera rai nai,” yang berarti “Kerbau yang bertanduk gading/ Mari kita beranjak menuju kampung nun di sana/ Seluruh masyarakat merindukan kehadiranmu. Ayo, segeralah kita ke sana.”[8]

    Seorang lamafa adalah pribadi yang sakral. Kesakralan dirinya terkandung dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya. Dari peran lamafa yang memimpin awak pelédang untuk menyambut knato Tuhan di tengah laut, tersingkap suatu makna, yakni kepada lamafa para warga kampung mendapukkan harapan agar lamafa dan rekan-rekan seperahu kembali ke darat sambil membaya paus. Mamalia laut itu adalah penanda bahwa warga kampung nelayan Lamalera terus hidup selama satu musim ke depan.

    Supaya bisa membawa pulang paus, lamafa harus mempurifikasikan dirinya dengan mengosongkan dirinya dari berbagai anasir buruk. Ia harus menyucikan diri supaya bisa mengemban tugas sakral sebagai lamafa, yakni menjaga kehidupan dan sekaligus menghubungkan kehidupan dunia laut dan kehidupan dunia darat. Untuk itu, ia tidak boleh berprasangka buruk dengan semua warga kampung, tak berkonflik dengan istri dan anak-anak, dan tak berseteru dengan semua orang. Bahkan, ia harus berpantang secara seksual saat menjalankan tugasnya selama musim lefa. Dengan demikian, ia mengemban amanah kehidupan, baik kehidupan dunia laut maupun kehidupan dunia darat.[9]

    Lamafa dalam Novel Lamafa

    Dalam novel Lamafa, keberadaan lamafa tetap sebagai sosok diri yang sakral. Sakral di sini bukan berarti orang suci sebagaimana yang dimengerti dalam dunia agama-agama. Bukan itu. Kesakralan diri lamafa terletak pada konsistensi dan kesetiaan menjalankan panggilan hidup sebagai lamafa dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera. Bahkan keberadaan lamafa dalam novel ini hadir secara unik.

    Keunikan lamafa dalam novel Lamafa, tampak pada karakter tokoh Saya. Tokoh Saya ditampilkan oleh narator sebagai sosok yang memilih panggilan hidup sebagai lamafa. Berbeda dengan sebagian besar lamafa yang menjadi lamafa setelah melalui proses formasi diam-diam sesuai dengan tradisi dan kebiasaan masyarakat Lamalera, justru sebaliknya tokoh Saya menjadi lamafa atas dasar kehendaknya sendiri.

    Tokoh Saya adalah seorang sarjana sosial lulusan Universitas Nusa Cendana, Kupang. Setelah diwisuda, ia memilih menjalani hidup sebagai lamafa di kampungnya. Sudah barang tentu, pilihannya itu melahirkan konsekuensi-konsekuensi tertentu. Ia pun siap menghadapi dan menyelesaikan setiap konsekuensinya. Misalnya, ia harus berpisah dengan kekasihnya. Tokoh Saya baru saja menjalin hubungan dengan temannya sebagai sepasang kekasih pada saat wisuda berlangsung. Tokoh Saya juga kelak harus menghadapi konflik dengan adik kandungnya dan menghadapi pengkhianatan oleh teman-teman seperahu penangkap ikan paus.

    Hal yang paling menarik dari novel tersebut adalah narator menempatkan tokoh Saya sebagai lamafa dalam 4 situasi besar. Pertama, situasi formasi ke-lamafa-an melalui bermain. Kedua, situasi formasi etis. Ketiga, situasi sebagai lamafa dan menghadapi konflik. Keempat, situasi rekonsiliasi. Empat situasi tersebut menunjukkan ketersituasian tokoh Saya dalam kerangka waktu. Seperti manusia pada umumnya yang tersituasikan oleh waktu dan manusia mensituasikan diri dalam waktu, demikian pula tokoh Saya. Ia tersituasikan dan menyituasikan dirinya dalam waktu.

    Ketersituasian dan menyituasikan diri dalam waktu merupakan salah satu aspek dari ontologi (hakekat dan cara berada) diri tokoh Saya sebagai manusia dan sebagai lamafa. Bagan sederhana berikut ini merupakan visualisasi ketersituasian dan penyituasikan diri tokoh Saya.

    Situasi Pertama: Formasi Ke-lamafa-an melalui Bermain

    Dalam situasi pertama, tokoh Saya masih kanak-kanak. Aktivitas yang dilakukan adalah bermain. Narator menggambarkan tokoh Saya kecil bukan sebagai “manusia bermain” melainkan “manusia yang bermain”. Bermain yang diperagakan oleh “manusia bermain” merupakan aktivitas fisiologis dan psikologis, yang berlangsung secara mekanistik. Bermain yang ditunjukkan oleh “manusia bermain” merupakan fenomena yang darinya tersingkap gairah/hasrat yang bersifat biologis berpadu dengan dorongan psikologis. Bermain merupakan aktivitas tanpa intensi tertentu. Dengan demikian, bermain yang ditunjukkan oleh “manusia bermain” bukanlah sebuah aktivitas kultural.

    Meski demikian, narator tidak membiarkan “manusia bermain” sebagai sesuatu yang tak bermakna. Sebaliknya, narator memformulasikan “manusia bermain” menjadi “manusia yang bermain.” Tokoh Saya kecil adalah “manusia yang bermain”. Saya kecil bermain dalam sebuah skema formasi sebagai lamafa. Skema formasi itu dilakukan oleh ayah (saat masih hidup), Tengah, dan kakak, dan mamanya. Ayah, Tengah, dan kakak adalah formator dalam hal penanaman nilai keutamaan dan ketrampilan lamafa. Keberadaan lamafa sebagai diri sakral sudah ditanamkan ke dalam tokoh Saya dalam situasi ini. Demikian pula tokoh Saya sudah berlatih menombak paus sebagai keterampilan utama lamafa dalam situasi ini, meskipun keberlangsungan formasi (penanaman nilai keutamaan lamafa dan latihan menombak) dengan pola bermain.

    Tokoh Saya kecil sebagai “manusia yang bermain” sejajar dengan pemikiran J. Huizinga tentang manusia sebagai homo ludens. “Manusia yang bermain” adalah homo ludens. Dalam “manusia yang bermain” atau homo ludens, permainan merupakan fenomena yang berada dalam konteks kultural tertentu, yang darinya tersingkap watak kultural manusia. Bermain sebagai bentuk kegiatan khusus, sebagai suatu “bentuk penting” yang mengandung fungsi sosial tertentu. Bermain merupakan konstruksi sosial.[10] Dengan demikian, permainan menombak ikan paus yang diperagakan oleh tokoh Saya kecil saat bermain merupakan suatu aktivitas kultural dan sebagai momen formasi ke-lamafa-an dalam dirinya.

    Situasi Kedua: Formasi Etis

    Dalam situasi kedua, tokoh Saya kecil, masih terus berada dalam skema formasi. Selain formasi ke-lamafa-an tetap berlangsung, formasi etis pun berlangsung. Dalam formasi etis inilah peran mama janda Moni sangat penting. Bahkan mama janda Moni adalah tokoh sentral dalam formasi etis. Oleh mama janda Monilah, tokoh Saya kecil dididik dalam hal kepedulian dan tanggungjawab terhadap orang lain, khususnya terhadap orang yang harus ditolong. Dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera, orang-orang yang wajib ditolong adalah para janda dan orang-orang miskin.

    Dalam perspektif Emmanuel Levinas, para janda dan orang-orang miskin dengan seluruh diri dan kehidupannya adalah “wajah” yang “menyandera”lamafa secara etis agar terus-menerus bertanggung jawab terhadap hidup mereka.[11] “Penyanderaan” itu merupakan tuntutan etis dan lamafa tak dapat mengelak darinya. Lamafa mewujudkan tanggung jawab etis melalui pemurnian motivasi menjadi lamafa: menjadi lamafa untuk menolong sesama dan memprioritaskan para janda dan orang-orang miskin dalam pembagian daging paus.

    Aspek lain dari formasi etis yang diintrusikan ke dalam diri tokoh Saya dalam situasi kedua adalah sikap mengampuni dan memahami orang lain. Sikap ini, kelak diwujudkan oleh tokoh Saya saat berkonflik dengan sang adik, yakni Yohanes yang menantang kedirian tokoh Saya sebagai lamafa. Sikap mengampuni dan memahami tersebut terwujud secara terang-benderang manakala tokoh Saya menghadapi sang adik yang menderita sakit karena sudah menantang dan mau mengubah tradisi penangkapan paus.

    Kedudukan tokoh Yohanes cukup menarik dalam novel ini. Narator mendudukan Yohanes sebagai penantang tokoh Saya. Dengan kedudukannya yang demikian, hubungan tokoh Saya dengan Yohanes berlangsung secara konfliktual. Tetapi dengan kedudukannya yang demikian, Yohanes justru memainkan sebuah peran yang penting dalam formasi etis. Dimensi etis dalam diri tokoh Saya diuji melalui tokoh Yohanes. Tidak tanggung-tanggung, ujian itu datang dari adik kandungnya.

    Keberadaan tokoh Yohanes – dengan seluruh sepak terjangnya – dalam novel ini akan lebih mudah dipahami bila kita menggunakan kerangka berpikir (logika) dialektika Hegelian: tesis-antitesis-sintesis. Tokoh Saya adalah tesis. Tokoh Yohanes sebagai antitesis. Pada bagian akhir novel, narator menempatkan rekonsiliasi sebagai sintesis. Sintesis itu berlangsung dalam Misa Lefa. Itu berarti Misa Lefa adalahjantung rekonsiliasi. Sebagai jantung rekonsiliasi, Misa Lefa adalah momen dan tindakan rekonsiliasi.  Dengan demikian, tampak sisi lain sakralitas diri lamafa, yakni mengampuni atau memaafkan. Tindakan mengampuni bukan terletak pada kapasitas manusia sebagai makhluk sosial yang dapat saling mengampuni, melainkan bertumpu pada dan bersumber dari Misa Lefa.

    Formasi etis tersebut diperkuat lagi dengan formasi sosiologis melalui pembelajaran dan pergaulan akademik, perjumpaan dengan banyak pihak semasa tokoh Saya kuliah, dan aktivitas menjual koran untuk membiayai kuliah. Semua itu merupakan formasi sosiologis, yang menguatkan tokoh Saya untuk memutuskan menjadi lamafa setelah lulus kuliah.

    Situasi Ketiga: Sebagai Lamafa dan Menghadapi Konflik

    Dalam situasi ketiga, tokoh Saya menjalani pilihan/panggilan hidupnya sebagai lamafa. Inilah situasi yang menjadi batu uji atas pilihan yang sudah ditetapkan tokoh Saya. Situasi ini juga menjadi acuan untuk memastikan keberhasilan proses formasi atas diri tokoh Saya pada situasi-situasi sebelumnya.

    Ujian yang paling nyata termaktub dalam struktur dan situasi konfliktual antara tokoh Saya dengan Yohanes, dan teman-teman seperahu penangkap paus. Konflik antara tokoh Saya dengan Yohanes yang adalah adik kandungnya, terkait erat dengan karakter penantang dalam diri Yohanes. Karakter itu terbentuk sejak ayah mereka meninggal dunia. Yohanes masih bayi ketika ayah mereka meninggal dunia.

    Setelah ayah mereka meninggal dunia, Yohanes dibesarkan oleh nenek. Sebagai cucu yang paling kecil dan sudah ditinggal mati oleh ayah, Yohanes sangat disayang oleh nenek dan ia memperoleh segala hal secara gampang. Ia dimanja oleh nenek. Yohanes dididik dengan cara dimanjakan oleh nenek. Pemanjaan itu membuat Yohanes tumbuh sebagai sosok yang harus selalu dituruti oleh siapapun. Oleh karena itu, ia tampil sebagai sosok yang keras kepala dan keinginannya harus terpenuhi. Jika tidak terpenuhi, ia akan mengamuk dan marah.

    Karakter Yohanes yang demikian berpengaruh terhadap pola relasi antara dirinya dengan tokoh Saya. Relasi mereka berlangsung secara konfliktual. Bahkan sejak kecil pola relasi seperti itu. Di sini tampak jelas bahwa narator membangun struktur konflik dalam novel ini. Struktur konflik itu tampak dalam relasi konfliktual antara tokoh Saya sebagai kakak dengan Yohanes sebagai adik. Relasi konfliktual juga terjadi antara tokoh Saya dengan rekan-rekan satu perahu penangkap ikan paus.

    Puncak konflik dengan Yohanes ketika pemerintah mendesakkan program mengonservasi paus. Untuk itu, Yohanes dipakai sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Mengonservasi paus yang diprogramkan oleh pemerintah dan difasilitasi oleh Yohanes merupakan tantangan yang paling pelik. Mengapa? Tantangan itu tertuju secara jitu pada kesakralan diri tokoh Saya sebagai lamafa.

    Untuk memastikan pelaksanaan program pemerintah itu, Yohanes sudah menjadi sarjana hukum tampil sebagai juru kampanye pihak pemerintah. Ia dengan lantang menyerukan agar para nelayan dan lamafa wajib menggunakan alat tangkap modern agar dapat menangkap jenis ikan lain yang polulasinya masih banyak. Sebaliknya, lamafa dan para nelayan tidak boleh lagi menangkap paus dan ikan-ikan lain karena populasinya semakin berkurang.

    Bagi tokoh Saya dan sebagian besar warga nelayan Lamalera, konservasi paus adalah sejenis teror terhadap tradisi dan keberadaan mereka. Bila konservasi dilaksanakan, maka hal itu adalah “pembunuhan” terhadap eksistensi lamafa dan warga nelayan Lamalera sebagai penangkap paus secara tradisional. Apalagi, penangkapan paus merupakan budaya, yang di dalamnya mengandung semesta kehidupan dan keberadaan orang-orang Lamalera yang memilki, memelihara dan terus mempraktikkan tradisi lefa.

    Konflik juga terjadi antara tokoh Saya dengan rekan-rekan satu perahu penangkap paus. Diam-diam, rekan-rekannya menerima uang dari Yohanes karena mereka telah mendukung program pemerintah. Bagi tokoh Saya, sikap rekan-rekannya itu merupakan pengkhianatan terhadap dirinya sebagai lamafa dan pengkhinatan terhadap tradisi lefa

    Konflik antara tokoh Saya dengan Yohanes, mengakibatkan Johanes sakit. Derita Johanes terkait dengan tindakannya melawan tradisi leluhur, yang tunjukkan melalui dukungan terhadap program pemerintah. Yohanes yang menderita sakit, justru mengundang empati dari tokoh Saya dan mendorongnya bersikap etis terhadap adik kandungnya tersebut. Sikap etis dalam situasi ini merupakan buah dari formasi etis yang telah dijalani tokoh Saya pada masa formasi etis. Sikap etis terwujud dalam Misa Lefa di tepi pantai Lamalera.

    Situasi Keempat: Misa Lefa sebagai Momen dan Tindakan Rekonsiliasi

    Situasi keempat merupakan situasi puncak dari seluruh situasi yang dinarasikan narator dalam novel ini. Inilah situasi rekonsiliasi. Penanda situasi rekonsiliasi adalah Misa lefa, yakni ritus Ekaristi yang diselenggarakan di tepi pantai Lamalera. Misa merupakan perayaan kudus utama dalam tradisi Gereja Katolik untuk mengenangkan (memoria) sesangsara, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus dan ucapan syukur atas berkat Allah. Misa dipimpin oleh seorang imam (pastor/pater/romo).

    Misa Lefa merupakan momen bagi orang-orang Lamalera untuk mengenangkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, sekaligus sebagai penanda musim lefa (musim menangkap ikan paus) dimulai. Misa Lefa diselenggarakan pada awal bulan Mei. Biasanya musim lefa berlangsung dari bulan Mei sampai bulan September setiap tahun.

    Dalam novel ini, Misa Lefa menjadi momen tindakan rekonsoliasi antara tokoh Saya, Yohanes, dan teman-reman seperahu penangkap ikan paus. Seluruh konflik yang terjadi sebelumnya luruh dalam misa lefa. Narasi tentang misa lefa pada akhir novel ini, menyingkapkan suatu nilai etis, yakni bahwa konflik akan menjadi berkat apabila konflik berakhir pada rekonsoliasi. Konflik yang reda tanpa rekonsiliasi antar para pihak yang berkonflik hanyalah penundaan atas konflik lebih lanjut. Sebaliknya, konflik yang berakhir dengan rekonsiliasi adalah suatu momen – yang dalam teologi disebut kairos – yakni saat penuh rahmat Allah.

    Foto: Misa Leva setiap 1 Mei di Pantai Lamalera

    Saat Misa Lefa, segala konflik luruh dan itulah momen kairos, momen Allah yang penuh belas kasih meluruhkan segala amarah dan dengki dalam hati manusia, dan mendorong manusia untuk saling mengampuni. Rekonsiliasi yang berlangsung dalam Misa Lefa, “menandai akhir dari ketegangan dan konflik dan permulaan suatu proses baru. Rekonsiliasi adalah humanisasi dan peradaban penyelesaian konflik. … Rekonsiliasi adalah jalan menuju kebaikan dan kebenaran baru, yang lebih tinggi dan bermutu.”[12]

    Rekonsiliasi itu memukau pembaca melalui tuturan tokoh Saya pada akhir novel ini:

    Semuanya selesai siang ini. Sore ini kita bertiga ikut misa Lefa. Saya mau seperti dulu. Kau, ema, saya dan kaka Teus menyalakan lilin-lilin kecil di pinggir pantai sambil terus menyebut nama bapa dalam doa-doa untuk laut kita. Lainnya kita buatkan tempat lilin dari tripleks, menyelipkan beberapa tangkai bunga lalu lilin kita nyalakan dan kita arungkan di lautan sambil menyebut nama bapa. Berharap bapa mengambil nyala lilin di seberang lautan lain. Ketika itulah dia tahu kita sangat merindukannya.

    Novel Lamafa merupakan sebuah prosa yang mampu mengangkat masalah tradisi ola nuá warga kampung nelayan Lamalera. Sejak tahun 2007, tradisi ini dirong-rong oleh berbagai pihak, yakni lembaga swadaya masyarakat internasional dan pemerintah (pusat dan daerah). Pihak-pihak ini begitu bernapsu untuk menghilangkan tradisi itu. Para pihak itu berdalih bahwa paus adalah satwa yang populasinya semakin sedikit. Oleh karena itu, harus dihentikan penangkapannya.

    Sudah barang tentu, para pihak itu lupa dan tidak sadar (paham) bahwa tradisi ola nuá bukan perburuan paus seperti yang berlangsung di beberapa negara yang sangat rakus memburu paus. Tradisi itu adalah aktivitas budaya menjemput kiriman rejeki dari Tuhan demi menghormati kehidupan yang ditanamkan Tuhan dalam diri orang-orang Lamalera.

    Penutup

    Dalam tradisi ola nuá terkandung nilai etis, yakni tanggung jawab terhadap keberlangsungan populasi paus dan jenis ikan yang lain serta tanggung jawab terhadap kehidupan orang-orang Lamalera. Mereka tidak  rakus menangkap paus dan ikan-ikan lain. Paus dan ikan-ikan lain yang ditangkap pun bukan untuk diperdagangkan sebagaimana layaknya bisnis perikanan, melainkan dibagikan kepada seluruh warga kampung dan selanjutnya ditukarkan dengan makanan. Dengan demikian mereka melanjutkan kehidupannya.

    Adalah benar bila berpihak pada semesta kehidupan orang-orang Lamalera dan tradisi ola nuá. Menulis sastra, khususnya novel, merupakan salah satu wujud keberpihakan terhadap hal itu. Fince Bataona melakukannya melalui novel Lamafa.

    Foto Fince Bataoan, Penulis Novel “Lamafa”

    Fince – demikian ia biasa dipanggil – lahir di Lamalera, Lembata, NTT 9 Maret 1970. Usai menyelesaikan pendidikan di SD Inpres Lamalera dan SMPK APPIS (Aksi Putera Puteri Ikan Sembur) Lamalera, ia melanjutkan pendidikan ke SMA Santu Gregorius di Reo Manggarai. Menuntaskan diploma tiga Pendidikan Kimia di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

    Ia terjun di dunia kewartawanan sebagai jurnalis Harian Umum Pos Kupang. Karir jurnalistik dijalankan di berbagai tempat, yakni Kupang, Flores Timur, Lembata, Sikka dan Dili (Timor Leste). Sambil menjalani hidup sebagai ibu dari empat orang anaknya, Fince tetap menulis sebagai jurnalis untuk Majalah Kabar NTT dan mengelola sekaligus menulis untuk media online Aksiterkini.com, yang didirikan bersama suaminya Fredy Wahon. Fince memasuki dunia sastra dengan menulis novel Lamafa. Novel ini merupakan karya sastranya yang pertama yang dibukukan.

    Medang Lestari, Tangerang, akhir Mei 2017


    [1] Alex Beding, SVD., (2008), Pater Bernhard Bode, SVDRasul Pulau Lembata, Yogyakarta, Penerbit Lamalera, hal. 65-70.

    [2] Alex Beding, Op.Cit., hal. 69, 89-93.

    [3] Anastasia Ika, “Mantra Syair Laut”, http://indo.wsj.com/posts/2014/10/27/mantra-syair-laut-lamalera-2/. Diakses pada 23 April 2017, pkl. 18.26.

    [4] Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, (2001), Masyarakat Nelayan Lamalera dan Tradisi Penangkapan Ikan Paus, Depok, Lembaga Gelekat Lefo Tanah, hal. 79.

    [5] Anastasia Ika, Op.Cit.

    [6] Pelédang atau téna laja memiliki struktur yang kompleks dan filsafat yang mendalam. Mengenai hal itu dapat dibaca dalam Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, Op.Cit., hal. 44-68. Dapat pula dibaca dalam artikel Charles Beraf, berjudul “Mengendus Cinta dari Tena-Laja Lamalera” dalam Maria D. Andriana, dkk., (2008), Merayakan Cinta, Yogyakarta, Penerbit Lamalera, hal. 67-73.

    [7] Pius Kia Tapoona, “Warisan yang Nyaris Punah” dalam Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, Op.Cit., hal. xii.

    [8] Anastasia Ika, Op.Cit.

    [9] Alexander Aur, “Pergulatan tentang Budaya Lokal dalam Puisi-Sikap Budaya Penyair dalam Nusa Puisi” Epilog dalam Julia Daniel Kotan (Editor), (2016), Nusa Puisi-Antologi Penyair NTT, Bekasi, Penerbit Kandil Semesta, hal. 161.

    [10] J. Huizinga, 1949, Homo Ludens – A Study of the Play-Element in Culture, Routledge & Kegan Paul, London, hal. 3-4.

    [11] Para janda dan orang-orang miskin, dalam kehidupan sehari-hari sering kali dipandang dan diperlakukan oleh banyak orang sebagai “orang lain” atau “yang lain” dalam sistem sosial. Tetapi “orang lain” atau “yang lain” ini bernada buruk atau negatif. Oleh karena mereka adalah “orang lain” atau “yang lain” maka sering kali pula dianggap atau diperlakukan sebagai tidak ada dan ditolak oleh banyak orang. Anggapan dan penolakan terhadap “orang lain” atau “yang lain” seperti itu menunjukkan bahwa banyak orang lebih berkehendak terhadap “yang sama.” Menolak dan menganggap para janda dan orang-orang miskin tidak ada, menunjukkan bahwa pihak yang menolak mereka menghendaki keberadaan orang-orang yang sama atau selevel.

    Cara memandang dan memperlakukan para janda dan orang-orang miskin seperti itu tidak ada dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera. Dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera, para janda dan orang-orang miskin mendapat kedudukan utama dan penting secara etis. Mereka dipandang dan diperlakukan sebagai pihak yang harus mendapat perhatian etis tanpa syarat apapun dari pihak yang memberi perhatian etis (lamafa dan para nelayan).

    Pemandangan dan perlakuan etis itu bukan bertujuan untuk membuat mereka menjadi sama dengan pihak yang memberi perhatian etis. Tidak. Mengapa? Karena apabila membuat mereka menjadi sama berarti mengobjekkan mereka sesuai dengan kehendak lamafa dan para nelayan. Sebaliknya, memandang dan memperlakukan mereka secara etis berarti membiarkan mereka dengan seluruh keadaannya, membiarkan mereka tetap dengan “keberlainannya”. Keberadaan para janda dan orang-orang miskin adalah sungguh-sungguh lain dengan segala keberlainannya. Dengan keberadaanya yang demikian, mereka tetap dan selalu hadir menjadi penggugah dan penyandera lamafa dan para nelayan, agar terus-menerus memberi perhatian etis tanpa syarat apapun kepada mereka.

    Hal tersebut bukan berarti menciptakan ketergantungan hidup para janda dan orang-orang miskin pada lamafa dan para nelayan, melainkan untuk memastikan bahwa momen-momen etis dan tindakan-tindakan etis tetap berlangsung dalam sistem sosial masyarakat nelayan Lamalera. Mengapa? Karena semesta kehidupan  orang-orang Lamalera tidak semata-mata bersifat biologis dan ekonomis, melainkan pula etis. Bdk., David Tobing, 2017, Keadilan Etis & Keadilan Politis-Pandangan Levinas tentang Keadilan, Kedai Buku Sinau, hal. 119-127.

    [12] Amatus Woi, “Konflik dan Rekonsiliasi – Suatu Tinjauan Teologis” dalam Guido Tisera (Ed.), 2002, Mengolah Konflik Mengupayakan Perdamaian, Maumere, LPBAJ, hal. 100.

  • NTT Go Internasional?

    NTT Go Internasional?

    Oleh Dr Justin L Wejak, Dosen Kajian Indonesia Universitas Melbourne, Warga asal NTT kelahiran Baolangu, Lembata

    DI UJUNG tahun 2019 saya diwawancarai Pak Marius Jelamu, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur. Wawancara itu mengenai kunjungan Pak Viktor Laiskodat ke Eropa. Kunjungan perdana sebagai Gubernur tersebut dalam rangka memperkenalkan NTT kepada dunia.

    Pak Marius yang fasih dalam beberapa bahasa asing sempat menawarkan kemungkinan wawancara dilakukan dalam Bahasa Inggris. Namun setelah saling berkiriman pesan melalui Whatsapp, akhirnya kami sepakat untuk menggunakan saja Bahasa Indonesia.

    Gubernur Nusa Tenggara Timur Victor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi (kanan) melakukan salam komando usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9).

    Sejak wawancara itu keingintahuan saya tentang Pak Viktor dan kebijakan-kebijakan pembangunannya bersama Wagub Pak Josef A Nae Soi semakin menggebu. Saya ingin tahu apa kebijakan-kebijakan mereka, dan bagaimana reaksi masyarakat NTT.

    Beberapa pidatonya yang sempat menggemparkan khalayak saya tonton di Youtube. Terus terang saya kagum dengan gaya beliau berpidato. Sangat kharismatik. Tulisan-tulisan tentang Pak Viktor di koran pun saya baca semuanya dengan penuh gairah.

    Entah kenapa tumbuh minat menggebu untuk tahu lebih banyak tentang Pak Viktor: anak kampung dari Tubululin, dan dari keluarga biasa-biasa, yang menjadi orang “luar biasa” asa NTT di rantau sebelum bale kampung halaman, tanah Flobamora.

    NTT harus makin dikenal dunia

    NTT memang harus makin dikenal dunia; itu bukan pilihan melainkan keperluan. Perjalanan Pak Viktor ke manca negara penting, selain untuk bertemu langsung dengan foreign stakeholders, juga (dan terpenting) untuk memperkenalkan NTT kontemporer ke dunia. Pak Wagub Josef A Nae Soi pun sudah beberapa kali ke Australia dalam rangka melihat bagaimana misalnya destinasi-destinasi wisata tertentu seperti Philip Island dikelola.

    NTT memang harus makin dikenal dunia. Kata orang: kenal maka sayang. Makin dikenal maka makin disayangi.

    Pasti untuk alasan itu, Pak Viktor memboyong sekelompok penari asal Sabu Raijua untuk mementaskan tarian tradisional dalam Festival Pariwisata di Norwegia beberapa waktu lalu. Selain tarian, diperkenalkan pula tenunan khas NTT, hal yang dilakukan isterinya, Ibu Julie Laiskodat, yang segera dilantik sebagai anggota DPR (PAW) menggantikan koleganya, Johnny G Plate, yang ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika RI. Semua kain tenunan yang dibawa habis terjual. Itu tanda pembeli memang suka produk tenunan NTT.

    Bukan hanya tarian dan tenunan, masih ada juga produk-produk asli lain dari NTT yang sedang diperkenalkan kepada dunia. Termasuk di antaranya minuman keras sophia (sopi asli), se’i, dan kelor. Tentang kelor, disinyalir Jepang sudah mengimpor rata-rata 40 ton per minggu. Patut dicatat, khasiat kelor untuk kesehatan sudah diakui Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation, WHO). Sementara sophia dilirik para pengusaha minuman Rusia untuk keperluan pembuatan vodka di negeri pencetak petenis unggul perempuan itu. Awalnya, seperti diketahui, beberapa pihak memang menolak inisiatif pembuatan Sophia. Tetapi setelah melihat manfaat ekonomisnya kini mereka tak sungkan mengacungkan jempolnya.

    Keterampilan menenun dan membuat minuman keras sudah lama ada dalam masyarakat NTT. Tugas pemerintah, melestarikan keterampilan-keterampilan itu dengan mencarikan pemasarannya di seantero dunia.

    Selain produk-produk khas NTT: tenunan, sophia, se’i, pemerintah juga tengah gencar mempromosikan Komodo dan beberapa destinasi atraktif lain di NTT. Tahun 2019 Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur bersama rombongan “bertamasya” ke Perth, ibukota Negara Bagian Western Australia. Tamasya itu penting karena bisa menjadi ajang pembelajaran tentang bagaimana pariwisata dikelola di belahan dunia lain.

    Promosi dan pengenalan memang penting. Tapi yang tak kalah penting (bahkan lebih penting) adalah kesiapan daerah. Sudah siapkah kita untuk menjadi “tuan rumah” yang manis dan ramah bagi para wisatawan –asing dan domestik– sehingga mereka betah di tempat kita?

    Penangkapan ikan paus di Lamalera

    Infrastruktur jalanan ke titik-titik wisata di Lembata, misalnya, belum cukup memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengunjung. Lamalera yang sudah berabad-abad dikenal dunia sebagai “kampung paus”, dan pantas dijadikan salah satu ikon wisata Lembata (bahkan NTT dan Indonesia), justru tergolong wilayah dengan kondisi jalan raya terparah di Lembata.

    Pemerintahan Kabupaten Lembata di bawah komando Bupati Sunur yang menjadikan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan justru dinilai gagal membangun sarana dan prasarana memadai untuk mendukung pariwisata seperti jalan, air dan listrik.

    Aspek-aspek seremonial seperti Festival Tiga Gunung dan beberapa festival lain sudah beberapa kali diadakan dan dihadiri baik pengunjung lokal maupun luar. Tujuannya, mempromosi wisata Lembata. Sayang, hasilnya hampir nihil; tak banyak membawa manfaat ekonomis bagi masyarakat. Justru anak-anak perempuan usia sekolah menjadi hamil karena “kecelakaan seks”. Apa yang salah dengan promosi wisata Lembata?

    Tak ada yang gratis

    Jika promosi wisata disambut positif dan hasilnya terukur misalnya banyak wisatawan berkunjung, maka tentu saja ada dan banyak manfaat ekonomisnya. Tak ada kunjungan yang gratis, bukan?  Dalam Bahasa Inggris ada sebuah ucapan lazim –there is no such thing as a free lunch– artinya tak ada makan siang gratis. Bukan cuma tak gratis, melainkan diharapkan agar “makan siang” itu bisa menjadi sumber devisa berlimpah bagi masyarakat.

    Teringat ucapan Pak Viktor sendiri dalam pidatonya di Kupang 14 November 2019. Kala itu beliau mendorong para pelancong kaya melirik NTT sebagai destinasi wisata. Tentu selain Bali yang notabene 85% ekonominya mengandalkan industri pariwisata. Apakah NTT bakal menjadi seperti –bahkan melampaui– Bali? 

    Labuan Bajo, salah satu andalan parawisata NTT

    Menurut Pak Viktor, wisata NTT siap masuk kategori wisata premium. Itu artinya NTT siap memanjakan para wisatawan khususnya yang berduit dengan fasilitas-fasilitas mewahnya dan pelayanan berkelas. Ditambahkannya, kebanyakan warga NTT miskin; dan mereka tak ingin melihat pelancong berkantong kempes datang ke NTT. Kemiskinan membuat warga tertekan dan terbebani.

    Ucapan Pak Viktor dalam pidatonya memang sempat menuai kontroversi, meski tak sekontroversial beberapa pidatonya yang lain. Beberapa pemandu wisata, misalnya, sempat bereaksi tak suka. Mereka khawatir kehilangan nafakah hidup lantaran kemungkinan terjadi boikot dari para pelancong yang menolak datang ke NTT.

    Terlepas dari aneka masalah yang melilit NTT, satu hal yang patut saya kagumi dari sosok Gubernur NTT adalah keberaniannya. Beliau berani mengucapkan pikirannya. Tak membiarkan dirinya dirundung ketakutan untuk berbicara apa adanya. Beliau siap menanggung apapun risiko dari ucapannya.

    Felicem diem natalem

    Hari ini 17 Februari, pas hari ulang tahun Gubernur NTT, Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat. Tulisan ini hadir sebagai kado ulang tahun buat Pak Viktor. Tentu tak mudah mencarikan hadiah yang cocok apalagi untuk seseorang yang belum cukup dikenal secara pribadi.

    Namun, untuk Pak Viktor yang kebetulan adalah seorang Gubernur, hadiah berupa tulisan barangkali bisa dianggap layak. Setelah sejenak membaca beberapa catatan Pak Ansel Deri –staf khusus Pak Viktor saat masih di Senayan– akhirnya saya putuskan untuk mempersembahkan sekeping tulisan. Maka tulisan ini hadir sebagai kado ulang tahun buat Pak Viktor, Gubernur Provinsi kelahiranku, NTT.

    Sekali lagi dari benua seberang ingin saya sampaikan ucapan selamat berbahagia kepada Pak Viktor:  Felicem diem natalem.

    ***

    Sumber Tulisan: Victory News, 17 Februari 2020

  • Kisah Ikan Salmon

    Kisah Ikan Salmon

    Oleh  Stephie Kleden-Beetz

    TEMPATNYA di Reykyavik (Islandia, negeri api dan es). Di restoran yang modern dan canggih itu saya mendapat hidangan makan saing ini: kentang kukus, sayur brokoli dan ikan salmon. Ya kisah itu sudah bertahun-tahun yang lalu.

    Kali ini saya bukan mau bercerita tentang pulau gunung api di utara, di mana musim dingin yang beku selama 9 bulan dan musim panas (Juni, Juli, Agustus yang hangat dengan matahari yang bersinar di tengah malam) melainkan yang mau saya suguhkan ialah tentang ikan salmon.

    Ikan salmon (salamonidae) ada bermacam-macam jenis. Ada salmon Atlantik yang disebut Salmon Salar, ada salmon Pasifik yang bernama Oncorhynchus. Mereka adalah ikan pemburu yang tangguh. Lahir di sungai-sungai. Dalam umur 2-3 tahun dengan panjang 15 cm mereka mulai melanglang buana menuju lautan lepas. Di samudera raya mereka tumbuh sangat cepat dan bertemu dengan sesama jenisnya dari berbagai tempat di seuruh dunia, ada yang dari Kanada, Skotlandia, Rusia, Skandinavia, Jerman dan sebagainya.

    Keistimewaan ikan-ikan salmon ialah: ketika masa kawin tiba mereka kembali ke tempat lahirnya. Secara instinktif mereka tahu di mana mereka lahir dan halangan apapun tak akan pernah mungkin bisa menahannya untuk kembali. Maka mulailah sebuah perjalanan pulang yang penuh dengan tantangan dan petualangan yang luar biasa. Dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, mereka hampir tidak punya waktu untuk makan. Hal ini sudah mereka atur jauh-jauh hari sebelumnya dengan sangat teliti yaitu dengan makan sebanyaknya-banyaknya sehingga tubuhnya penuh dengan lemak dan energi.

    Rintangan dalam perjalanan ke tempat lahir pertama ialah: melawan arus yang begitu deras. Tak kurang air-air terjun yang tidak sedikit yang harus mereka lewati. Tetapi apalah rtinya? Mereka lampaui dengan perkasa air terjun yang tingginya tiga sampai lima meter, mereka lampaui dengan perkasa yaitu dengan sekali loncat. Bila loncatan pertama gagal, jangan kira mereka putus asa. Mereka akan mencoba dan terus mencoba sampai berhasil. Sering sekali dalam usaha ini mereka jatuh terpelanting di batu-batu yang tajam dan runcing, ada yang luka da nada pula yang mati. Acap kali untuk menghemat tenaga mereka berusaha melompat jauh dan siapa sangka mereka bisa melompat sejauh 5 meter. Kesulitan yang tidak kala besarnya ialah manusia yang memburunya dan ahu tepat di mana rombongan ikan salmon ini bisa di tangkap. Jangan lupa di dunia ini tidak sedikit manusia yang menyukai ikan salmon yang lezat dan mahal itu.

    Perjalanan panjang yang ribuan kilo meter itu mereka tempuh antara 6 bulan sampai satu tahun. Bagaimana ikan salmon itu bisa menemukan jalan kembali ke tempat lahirnya tetap merupakan rahasia alam pun bagi para ahli yang bertahun-tahun menyelidikinya. Mereka (para ilmuwan) hanya berkesimpulan bahwa untuk dapat kembali atau daya orientasi itu diperoleh dari penciuman. Dengan ketahanan tubuh yang luar biasa mereka bisa berenang sekitar 54 km dalam sehari. Berhubung mereka tidak ada lagi waktu untuk makan dalam petualangan hidup mati itu, maka persedian lemak dalam tubuhnya diubah menjadi otot dan energi. Ekornya yang kokoh amat membantu untuk laju perjalanannya.

    Semakin mendekat ke tempat lahir terjadilah perubahan yang luar biasa pada diri ikan-ikan salmon itu. Sang jantan berubah warna dan siap memakai pakain ‘pengatin’ yang amat indah. Kebalikan dari dunia manusia di mana mempelai wanita lebih dominan dan heboh dan meriah dalam berdandan. Maka bersoleklah mempelai pria dengan punggung yang agak gelap, perut dihiasi dengan warna yang merah menyala dan seluruh tubuh ditaburi bintik-bintik coklat atau putih yang membuat dandanan semakin sempurna. Sirip dan ekor indah jelita seolah ditaburi mutiara dan berlian. Sang betina sedikit saja berubah tetapi tidak semewah mempelai pria.

    Akhirnya tibalah mereka di tempat yang dituju, di kampong halaman. Dari ribuan yang menempuh perjalanan panjang hanya sedikit saja yang terengah-engah tiba ditempat. Kini sang betina mulai bekerja dengan semangat yang luar biasa dan mengagumkan: dengan mulut, dibantu ekor dan sirip ia mulai menggali untuk tempat bertelur. ‘Kamar pengantin’ ini rata-rata 10 sampai 20 cm dalamnya tetapi dengan lebar dan luas sampai 1 (satu) meter atau lebih. Nelayan-nelayan Ceko bahkan pernah mengintip ‘kamar pengantin’ itu yang menurut mereka begitu luas sehingga seekor kuda pun bisa berbaring di dalamnya.

    Yang luar biasa adalah ini: Selama sang betina bekerja membanting tulang dan bercucur keringat, banyak jantan yang menunggu dengan penuh birahi di samping situ. Mereka tidak sama sekali menolong tetapi hanya melotot! Bayangkan! Dasar jantan. Sesudah betina selesai, majulah para jantan itu dan mau nerebut betina tersebut. Terjadilah pergumulan yang hebat di samping kamar pengantin untuk memperebutkan pengantin putri. Jantan yang kalah mundur, ada pula yang tewas. Jantan yang menang mulai ‘making love’ dengan sang betina. Ada tarian menarik hati, seremoni itu dan itu, barulah terjadi upacara perkawinan dan telur-telur yang puluhan ribu yang sudah tersedia di kamar pengantin pun dibuahi. Sesudah itu sang betina menutupi telur-telur itu dengan pasir.

    Dan pasangan yang baru saja bercinta itu kehabisan tenaga lalu menghembuskan nafas terakhir. Suatu kematian yang bahagia setelah menempuh jalan panjang penuh sengsara dan bahaya. Mereka telah pergi sesudah memberikan kehidupan baru kepada keturunannya yang dalam waktu 70-20 hari akan lahir dan terjadilah lagi proses kehidupan dari awal.

                                          ***

    Stephie Kleden-Beetz, pernah menjadi korespenden Deutsche-Welle, radio nasional Jerman. Menulis buku antara lain Cerita Kecil Saja, Merajut Kata-Kata, Tanda Mata.

    Sumber Tulisan: Majalah Warta Flobamora, Edisi 41 Juni 2016

  • Pentingnya  Kebenaran

    Pentingnya Kebenaran

    Oleh  F. Budi Hardiman

    KEBENARAN memang penting, tetapi mengapa hal itu perlu ditegaskan lagi? Akhir-akhir ini demokrasi elektoral di Amerika, Eropa, dan sampai juga di Indonesia pada tahun politik ini dibisingkan dengan retorika-retorika yang tidak berdasarkan fakta.

    Para politikus memengaruhi para pemilih tidak dengan argumentasi rasional, tetapi dengan mengaduk-aduk sentimen-sentimen kolektif. Di sana dengan islamofobia, isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transjender), dan masalah imigran. Di sini dengan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), retorika krisis ekonomi, atau menakut-nakuti para pemilih. Gejala itu lalu disebut pasca-kebenaran atau post-truth, sebuah istilah yang pada tahun 2016 oleh Oxford Dictionary dinobatkan sebagai word of the year.

    Istilah itu muncul seperti patahan dalam demokratisasi. Sebetulnya tidak ada kondisi yang begitu cocok untuk mewujudkan ideal-ideal demokrasi, yaitu politik deliberatif, kewarganegaraan inklusif, keadilan sebagai fairness, seperti kondisi kita dewasa ini, ketika ponsel pintar telah memindahkan diskusi-diskusi dari auditorium, forum, kontainer massa, ke dalam genggaman. Seharusnya inilah saatnya demokrasi ditopang oleh kebenaran dan penalaran publik yang sehat. Akan tetapi, justru persis pada saat ini, ketika akses langsung ke dalam politik dimungkinkan oleh telepon genggam, ideal-ideal demokrasi itu justru luput dari genggaman.

     Kegagalan itu sebagian besar terjadi karena kebenaran diremehkan. Manusia tak kedap terhadap kebenaran, tetapi ia bisa mengabaikannya. Istilah pasca-kebenaran melukiskan sebuah kondisi ketika kebenaran dianggap tak lagi penting dalam politik, tetapi hal itu sama sekali tidak berarti bahwa kebenaran tidak penting. Dengan mengatakan “pasca”-kebenaran, tidak berarti kita boleh membenarkan kelemahan karakter para politikus. Sebaliknya, istilah itu justru menunjukkan keprihatinan atasnya. Keprihatinan itu menjadi mungkin karena kebenaran merupakan nilai sangat penting dalam demokrasi.

    Tiga alasan mendasar Mengapa kebenaran itu penting bagi demokrasi? Marilah kita bertolak dari tiga aspek kebenaran sebagaimana dianalisis oleh filsuf kontemporer, Jürgen Habermas, yakni kebenaran sebagai fakta, sebagai moralitas, dan sebagai autentisitas. Pernyataan para politikus partai selama kampanye dapat diperiksa menurut tiga aspek kebenaran tersebut, yaitu kesesuaian pernyataan itu dengan fakta, ketepatannya dengan moralitas publik, dan ketulusan orangnya. Berdasarkan tiga aspek kebenaran itu, kita lalu dapat memberikan argumen mengapa kebenaran itu penting untuk demokrasi.

    Alasan pertama adalah bahwa ide demokrasi itu sendiri mengandaikan kebenaran sebagai fakta. Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat. Tapi siapakah “rakyat”? Tentu bukan hanya kerumunan tribal yang berteriak bela ini atau bela itu di jalan-jalan. Rakyat juga bukan hanya partai atau orang partai yang sering mengklaim mewakilinya. Rakyat adalah kita semua dan semua pihak. Namun, bagaimana kita tahu bahwa sebuah opini mewakili semua pihak? Kita tahu lewat kebenaran faktual, yakni lewat statistik, jurnalisme obyektif, survei, dan seterusnya. Tanpanya kita sulit membedakan antara opini dan berita, fakta dan hoaks, fiksi dan realitas. Politik pasca-kebenaran meremehkan perbedaan-perbedaan itu dan memberi-menyebar data palsu sehingga publik kebingungan dan mencari pegangan pada demagogi sang pembohong.

    Alasan kedua mengapa kebenaran itu penting bagi demokrasi adalah karena kebebasan berpendapat yang melekat pada demokrasi merupakan sebuah ide moral. Kebebasan tidak akan kita miliki jika kebebasan kita diancam oleh kebebasan orang lain. Sebagai ide moral kebebasan menjadi berlebihan jika dipakai untuk membohongi publik atau untuk membenci pihak lain. Demokrasi yang sehat tidak menoleransi intoleransi yang dicetuskan dari kebebasan berpendapat. Jadi, perlu ada kebenaran moral yang memungkinkan kebebasan seseorang juga merupakan kebebasan semua orang lainnya. Kebenaran moral itu termuat dalam prosedur demokratis, misalnya keadilan sebagai fairness dan hak-hak asasi manusia. Dalam hal ini pers tak perlu netral, tetapi justru memihak yang benar. Asas keseimbangan pers dalam arti menerima dari kedua sisi kerap disalahgunakan pihak yang akan merongrong demokrasi untuk dapat panggung media.

    Alasan ketiga terkait hakikat demokrasi. Demokrasi pada hakikatnya adalah komunikasi, dan komunikasi perlu dilandasi kepercayaan timbal balik. Kepercayaan tersebut baru mungkin didapat kalau ada kebenaran sebagai ketulusan. Integritas para politikus dan transparansi publik sangatlah sentral untuk membangun iklim kepercayaan dan respek timbal balik. Politik pasca-kebenaran berbenturan dengan kodrat demokrasi. Retorika narsistis yang disebarkannya membelah para pemberi suara menjadi kawan dan lawan. Hal itu meningkatkan iklim ketidakpercayaan timbal balik dan potensi kekerasan. Justru dalam situasi itu kebenaran sebagai kejujuran jadi penting. Kejujuran dapat memulihkan keutuhan komunitas politis dan meningkatkan iklim saling pengertian.

    Daya Tarik Kebohongan

    Pertimbangan di atas diberikan bukanlah karena kebenaran selalu menarik. Justru sebaliknya, bagi sebagian besar orang, apalagi mereka yang menjadi partisan dan fanatik dengan sebuah kubu di tahun politik ini, kebohongan lebih menarik. Tentu dibohongi bukanlah hal yang menarik. Namun, kebohongan, apalagi yang disajikan secara sensasional dan kontroversial, bisa dipersepsi sebagai hal menarik. Kerumunan yang haus sensasi dan kontroversi itu adalah mangsa lezat para politikus pasca-kebenaran.

    Mengapa orang bisa tidak tertarik pada kebenaran? Karena manusia tidaklah serasional seperti yang disangka. Nalar kita tidak netral, tetapi tendensius, sehingga apa yang kita harap benar mewarnai hal yang sebenarnya, apalagi jika hal itu menyangkut rivalitas politis. Lee McIntyre dalam Post-Truth (2018) menyebutnya “motivated reasoning”. Nalar macam ini cepat mengubah selentingan tentang politikus sontoloyo, tampang Boyolali, dan sejenisnya menjadi kontroversi dangkal yang menyeret publik ke dalam rivalitas “kita versus mereka”, yakni pihak sendiri selalu benar, sedangkan pihak lawan pasti salah.

    Meski tak sepenuhnya rasional, manusia juga tidak kedap terhadap kebenaran. Kewarasannya terkait erat dengan keterbukaannya terhadap kebenaran. Penerimaan atas fakta kemajemukan, kesetiaan pada Pancasila sebagai moral publik, dan rekonsiliasi atas pengalaman-pengalaman negatif di masa lalu merupakan tiga macam keterbukaan yang menjamin kewarasan masyarakat kita. Namun, jaminan itu hilang, begitu kita lengah dan membiarkan demokrasi dikooptasi oleh kelompok-kelompok radikal yang berpura-pura demokratis.

    Cara-cara berpolitik yang membuat kebohongan lebih menarik daripada kebenaran sangatlah berbahaya bagi kewarasan mental publik. Jika politik diubah dari soal benar atau salah menjadi soal menang atau kalah, segala cara dapat dilakukan untuk mendongkrak elektabilitas, termasuk merangkul kelompok-kelompok radikal. Kebenaran dengan ketiga aspeknya, yakni sebagai fakta, moral publik, dan ketulusan, diingkari dengan melantik ideologi sebagai ukuran baru. Timoty Snyder tidak berlebihan saat memperingatkan dalam On Tyranny (2017) bahwa “pasca-kebenaran adalah pra-fasisme”.

    Satu Alasan Lagi

    Sebagai penutup saya memberi satu alasan lagi mengapa kebenaran itu penting untuk demokrasi. Setia kepada kebenaran membuat para warga negara demokratis berbahagia. Bukti untuk kaitan antara kebenaran dan kebahagiaan ini mudah untuk diberikan kalaupun tidak secara moral atau eksistensial, sekurangnya secara politis. Negara-negara demokratis yang terlatih untuk menghargai fakta, moralitas, dan transparansi terbukti lebih sejahtera daripada mereka yang terjebak dalam kemelut konflik ideologi, propaganda agama, dan kleptokrasi.

    Kemajuan pers dan sains, meningkatnya akuntabilitas publik, dan kepercayaan timbal balik sebagai hasil transparansi memang tidak menjamin kebahagiaan subyektif tiap orang. Bunuh diri banyak terjadi di negara-negara maju. Negara memang tidak perlu membahagiakan setiap orang. Selain mustahil, hal itu juga berlebihan karena akan muncul paksaan tak membahagiakan untuk berbahagia. Yang perlu dilakukan negara dan para politikus adalah menciptakan kondisi-kondisi untuk bahagia, dan hal itu mustahil terwujud tanpa minat terhadap kebenaran.

    Karena itu, negara dan para politikus wajib menarik minat para pendukung mereka terhadap kebenaran sehingga peluang kesejahteraan sosial menjadi lebih besar. Tapi ada catatan kecil di sini. Minat akan kebenaran berbeda dari memiliki kebenaran. Para antusias politis dan religius yang berteriak-teriak mengklaim memiliki kebenaran sesungguhnya tidak meminati kebenaran. Mereka memaksa orang lain bahagia menurut cara mereka.

    Arogansi seperti itu justru mengancam bukan hanya kebahagiaan orang lain, melainkan juga diri mereka sendiri. Kebahagiaan tidak datang dari paksaan kebenaran, tetapi dari penemuan kebenaran lewat kebebasan. Kebebasan itulah yang mengantar pada kebenaran yang tidak terlalu dini untuk dikatakan. “Kebenaran”, demikian Voltaire, “adalah buah yang hanya boleh dipetik saat matang”.

    ***

    F Budi Hardiman, Pengajar Filsafat di Universitas Pelita Harapan, Tangerang

    Sumber Tulisan: Kompas, 30 November 2018

  • Meruntuhkan Stigma Ketertinggalan

    Meruntuhkan Stigma Ketertinggalan

    Oleh Ansel Deri

    GUBERNUR Viktor Laiskodat (Laiskodat) dan wakilnya, Josef A Nae Soi (Nae Soi) terus bertaruh sejumlah kebijakan di era kepemimpinan. Tagline Victory Joss –NTT Bangkit, NTT Sejahtera– menjadi visi-misi pemerintahannya ibarat parang tajam petani menebas ilalang atau menumbangkan pohon di tengah lahan perawan untuk memberikan kesempatan bagi jagung, pisang, ubi-ubian, kacang-kacangan, sayur-mayur, tumbuh subur.

    Parang itu mesti dimanfaatkan setelah diasah tajam guna membersihkan “ilalang” (ketertinggalan) masyarakat mulai dari kebun di kaki gunung, di kota, hingga orang-orang kecil di rantau (luar negeri) yang bertaruh peluh mengongkosi anak-anak mereka agar kelak bernasib baik serupa gubernur dan wakil gubernur, misalnya.

    Dalam durasi waktu kekuasaan setahun lima bulan lebih, Gubernur Laiskodat dan wakilnya, Nae Soi bertaruh niat, kerja keras, dan kerja cerdas bersama seluruh stakeholder menunaikan amanah rakyat memajukan Nusa Tenggara Timur. Kekuasaan yang digenggam keduanya –sekali lagi– masih balita. Laiskodat kita tahu, petinggi dan pernah jadi Ketua Fraksi NasDem DPR. Sedang Nae Soi adalah politisi Golkar, pernah manjabat Staf Khusus Yasonna Laoly, Menteri Hukum dan HAM.

    Keduanya resmi dilantik dan diambil sumpah Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 5/9 2018. Rekam jejak mumpuni dan kekuasaan yang kini dalam genggamannya akan jadi sarana efektif sekaligus ibarat oase di tengah “padang gersang” (ketertinggalan dan stigma negatif lainnya) memajukan tanah Flobamora. Karena itu, tentu keduanya tahu dari mana langkah mengurai berbagai persoalan terutama ketertinggalan yang melilit masyarakat dan daerah selama ini.

    Gubernur Nusa Tenggara Timur Victor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi (kanan).

    Usai dilantik di hadapan awak media yang ngepos di Istana Merdeka, Gubernur Laiskodat menyampaikan paling kurang ada lima aspek yang segera dibenahi bersama wakilnya memajukan masyarakat dan daerah agar lebih maju dan sejahtera lahir-batin. Dalam catatan saya lima aspek itu yaitu pembangunan pariwisata, reformasi birokrasi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur serta sumber daya manusia.

    Dalam jangka pendek Laiskodat berjanji. Pertama, menghentikan seluruh aktivitas pertambangan di daerah ini. Kedua, menghentikan sementara (moratorium) pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Satu hal penting lain yakni Gubernur tak sudi NTT dipelesetkan dengan akronim-akronim negatif semisal Nanti Tuhan Tolong, Nasib Tidak Tentu, NTT Miskin dan Terkebelakang atau Nyatanya Tetap Tertinggal. Dengan demikian sebagai pemimpin ia mengajak rakyat berpikir dan berbuat besar memajukan masyarakat dan daerah. Mengapa plesetan itu perlu dihapus?

    Potensial

    NTT adalah Nusa Tenggara Timur, provinsi yang sangat dikenal di seluruh dunia sebagai daerah penyumbang misionaris. Meski dikenal juga sebagai provinsi dengan musim kemarau panjang, ia juga gudang penghasil manusia berotak cerdas,pekerja keras, dan jujur. Indonesia mencatat baik siapa sosok Herman Johannes, pahlawan nasional, cendekiawan, ilmuwan Indonesia, anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1978) atau Menteri Pekerjaan Umum RI (1950-1951) era Presiden Soekarno, dan guru besar serta mantan Rektor Universitas Gajah Mada asal Rote.

    Prof. Dr. Herman Johhanes

    Siapa pula yang tak kenal Frans Seda, politisi, tokoh Gereja, pengusaha dan Menteri Perkebunan (1963-1964), Menteri Keuangan (1966-1968) atau Menteri Perhubungan (1968-1973) era Presiden Soekarno dari Lekebai, Sikka, Flores. Atau juga dua nama pahlawan nasional yaitu Izaak Huru (IH) Doko dan Wilhelmus Zakaria (WZ) Johannes. Berikut Mgr Gabriel Manek SVD, uskup pribumi kedua Indonesia dan mantan anggota MPR RI asal Lahurus, Belu atau Gorys Keraf, guru besar Bahasa Indonesia UI asal kampung nelayan Lamalera, Lembata (sekadar menyebut beberapa di antaranya).

    Di masanya, meski datang dari latar keluarga berbeda dari rahim tanah Flobamora dengan segala kekurangan yang dimiliki tempo doeloe, di lain sisi memiliki kemampuan luar biasa untuk dipersembahkan bagi bangsa dan negara dan tetap menginspirasi generasi muda kita. Belum lagi putra-putri NTT yang mendapat kepercayaan di era Soeharto, Habibie, Megawati, Gus Dur, SBY hingga Jokowi, mengabdi untuk bangsa dan negara.

    Sebut saja Ben Mboi, Nafsiah Mboi, Ben Mang Reng Say, Adrianus Mooy, ECW Neloe, Vincent Radja, Sonny Keraf, Saleh Huzen, Johnny Plate, dan putra-putri NTT lainnya yang mengabdi di jagad politik dan pemerintahan hingga berbagai bidang profesi lainnya hingga saat ini. Mereka ini datang dari kampung, berjuang sekuat tenaga kemudian kelak mendedikasikan ilmu dan tenaganya sehingga menjadi penyemangat tak hanya bagi para pemimpin dan rakyat di level nasional namun juga orang-orang terkasih di kampung halaman.

    Di bidang sumber daya manusia NTT tak diragukan. Pun sumber daya alam yang menyebar di hampir semua pulau. Tentu tak logis melabeli NTT dengan stigma di atas. Testimoni Gubernur Laiskodat saat bertemu budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bisa memberikan gambaran bahwa masyarakat NTT tak perlu takluk di bawah stigma yang meruntuhkan semangat dan militansi membangun NTT dengan SDA yang berlipat-lipat. Malah menjadi pemicu dalam bekerja memajukan daerah.

    Upaya ‘Meruntuhkan’

    Paling kurang ada beberapa hal yang dicatat dari plesetan tak produktif terhadap Nusa Tenggara Timur di atas. Pertama, Gubernur Laiskodat terdorong “meruntuhkan” stigma NTT seperti Nanti Tuhan Tolong atau Nasib Tidak Tentu sebagaimana ia baca dalam buku “Ide-Ide Plesetan” karya Cak Nun (meski bukan dalam konteks NTT) dalam perjalanan Jakarta-Surabaya dengan Cak Nun, budayawan yang juga murid Umbu Landu Paranggi, penyair asal Sumba yang dijuluki Presiden Malioboro atau Penyair Kuda Kayu.

    “Ketika melewati pendidikan SMP, SMA, apa cita-cita dan mimpi saya? What I should be? What I must be? Saya merambah Ibu Kota Negara untuk meraih cita-cita, menggeluti berbagai bidang kehidupan kemasyarakatan yang rentan kekerasan, usaha taksi, membina keluarga dan akhirnya terjun di dunia politik. Beberapa kali saya terpental dan akrab dengan akronim ‘gaul’ alias gagal ulang-ulang. Saya bangkit dan bangkit lagi sampai mimpi itu terwujud: menjadi gubernur NTT; pemimpin lima juta jiwa yang tersebar di berbagai desa, dusun, kampung di bumi Flobamora,” kata Laiskodat (bdk. Petrus Salu SVD: Dunia Tak Selebar Daun Kelor; Penerbit Ikan Paus, 2019).

    Komodo salah satu daya tarik parawisata di NTT

    Kedua, dalam berbagai kesempatan menyambangi masyarakat di sejumlah kabupaten Gubernur Laiskodat bicara bahkan pidato dengan nada suara yang kerap dianggap kasar namun sesungguhnya merupakan bentuk protes atas plesetan-plesetan tak produktif di atas untuk memastikan bahwa NTT adalah provinsi yang kaya raya namun belum mendapat sentuhan pembangunan maksimal dan proporsional melalui APBN saban tahun anggaran. Manusia NTT adalah kelompok cerdas yang juga memiliki kontribusi besar dalam pawai pembangunan nasional yang juga perlu diperhatikan serius. Oleh karena itu, masyarakatnya pun perlu terus-menerus didorong, dimotivasi agar memiliki rasa percaya diri yang kuat untuk ikut ambil bagian memajukan daerahnya dengan kemampuan keuangan dan sumber daya alam yang dimiliki.

    “Gubernur sangat anti dengan kemapanan, kelambanan, kemalasan, kebodohan, dan korupsi yang menjadi penyebab berbagai masalah di NTT. Misalnya, tingginya angka kemiskinan, rendahnya pendapatan per kapita, rendahnya kualitas pendidikan, kesehatan, tingginya angka stunting, dan sebagainya. Karena itu, ia tak henti-hentinya mendorong semua pihak yang bertanggungjawab langsung dengan kebijakan pembangunan NTT untuk membuat terobosan-terobosan baru yang inovatif dan memiliki nilai kebaruan,” kata Dr Jelamu Ardu Marius, M.Si, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT (bdk. Valeri Guru & Sam Babys: NTT Gerbang Selatan Indonesia;2019).

    Pada 17 Februari 2020, Gubernur Laiskodat merayakan HUT ke-54. Tentu selain mengucap Syukur atas kebaikan Tuhan, lebih dari itu adalah awal yang baik meniatkan diri bersama masyarakat meruntuhkan plesetan-plesetan negatif; setia bekerja keras mewujudkan visi-misi besar: NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

    Ansel Deri, Mantan Staf Viktor Laiskodat di DPR RI

    Sumber: Pos Kupang, Senin 17 Febrari 2020

  • Kekuasaan, Ideologi, dan Peran Agama-agama di Masa Depan

    Kekuasaan, Ideologi, dan Peran Agama-agama di Masa Depan

    Oleh  Ignas Kleden

     

    SEBAGAI pemikiran awal dalam bab ini, dapatlah dikatakan begitu saja bahwa antara kekuasaan, ideologi, dan peran agama-agama–khususnya dalam milenium ketiga–terdapat sejumlah kemungkinan hubungan yang jelas tidak semuanya dapat dibahas disini, seandainya pun kita mampu melakukannya. Oleh karena itu pembicaraan saya harus dibatasi pada beberapa hubungan yang di satu pihak dapat dilakukan sesuai space yang tersedia. Dan dipihak lain memungkinkan pemikiran dan antisipasi terhadap perkembangan yang akan datang berdasarkan beberapa kecenderungan yang dapat diamati sekarang.

    Untuk memudahkan diskusi, saya akan mengajukan enam tesis, yang sekalipun tidak diuraikan secara in extensio di sini, saya harapkan dapat menjadi tititk tolak untuk diskusi.

     

    Tesis 1:

    Kekuasaan dan ideologi selalu saling mengandaikan karena tidak ada kekuasaan yang tidak membutuhkan ideologi, dan tidak ada ideologi yang tidak mempunyai muataan kekuasaan. 

     

    Uraian:

    Persoalan hubungan kekuasaan dan ideologi mendapat wujudnya dalam legitimasi Habermas (dalam Zur Rekonstruktion des Historischen Materialismus) mendefinisikan legitimasi sebagai kelayakan sebuah orde politik untuk diakui dan diterima (Anerkennungswirdigkeit einer politischen Ordnung). Suatu kekuasaan dapat bertahan selama dia diakui dan diterima. Ada semacam tukar-menukar yang terjadi antara kekuasaan yang dijalankan oleh suatu orde politik dan pihak yang memberikan pengakuan dan ketaatan terhadapnya.

     

     

    Pertanyaannya adalah apakah klaim terhadap pengakuan dan penerimaan itu seimbang dengan alasan-alasan untuk meminta dan mendapatkan pengakuan dan penerimaan. Paul Ricoeur, dalam Lectures on Ideology and Utopia, menjelaskan hubungan kekuasaan dan ideologi melalui teori nilai-lebih ideologi (surplus-value theory of ideology). Maksudnya, alasan-alasan suatu orde politik untuk memintakan pengakuan dan  ketaatan yang dituntut selalu lebih sedikit dari ketaatan yang dituntutnya. Ketaatan yang dituntut selalu lebih besar, sedangkan alasan-alasan yang tersedia untuknya selalu lebih kecil. Untuk mengisi kesenjangan antara klaim terhadap ketaatan dan alasan-alasan untuk mendapatkan ketaatan, diperlukan bantuan ideologi.

    Dalam menjalankan peran tersebut, ideologi dapat memainkan tiga fungsi, yaitu  fungsi mengintegrasikan, fungsi membenarkan dan fungsi mendistorsikan. Seperti diketahui, fungsi integrasi ideologi diambil Ricoeur dari Geertz, fungsi legitimasi diambil dari Weber, dan fungsi distorsi diambil dari Marx.

    Sebaliknya, dapatlah dikatakan juga bahwa ideologi selalu bermuatan kekuasaan. Mengapa? Karena efek yang dihasilkan oleh ideologi adalah penerimaan dan ketundukan terhadap suatu orde kekuasaan. Penerimaan itu dapat dihasilkan dengan jalan paksa atau dengan jalan sukarela. Kalau dijalankan dengan pemaksaan maka terjadi apa yang oleh Gramsci (dalam bukunya Prison Notebooks) dinamakan dominasi, sedangkan kalau diterima dengan sukarela maka terjadi apa yang dinamakan hegemoni. Dominasi adalah paksaan dengan menggunakan kekerasan sebagai sarananya, sedangkan hegemoni adalah penerimaan yang spontan dan bebas karena seluruh alam pikiran seseorang atau sekelompok orang sudah dikuasai dan dipengaruhi sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah dapat dipengaruhi dan digiring ke arah yang dikehendaki. Dominasi merupakan suatu regime of power, sedangkan hegemoni merupakan suatu regime of significance.

    Untuk memakai istilah-istilah kebudayaan yang lebih halus, dominasi adalah penguasaan yang terjadi karena bantuan paksaan secara fisik, sedangkan hegemoni terjadi melalui penguasaan dunia simbolik, di mana kepercayaan, pengetahuan dan keyakinan nilai-nilai sekelompok orang sudah dikuasai sedemikian rupa, sehingga mereka dapat digiring ke arah yang dikehendaki. Pada titik itu, ideologi merupakan suatu alat yang ampuh untuk menciptakan hegemoni, karena ideologi merupakan suatu jenis pengetahuan khusus yang ditandai oleh sifat-sifatnya yang menyeluruh dan mengikat, dan memintakan komitmen.

     

    Tesis 2:

    Setiap agama dikehendaki atau tidak dikehendaki, selalu berhadapan dengan kemungkinan menjadi ideologis, dan sebaliknya setiap ideologi yang ingin memantapkan diri cenderung menempuh jalan untuk memberikan warna keagamaan kepada dirinya. Ideologisasi agama selalu diimbangi dengan religiofikasi ideologi.

     

    Uraian:

    Kecendrungan suatu agama menjadi ideologis dapat dilihat pada dua gejala. Pertama, kalau agama dalam berhadapan dengan kekuasaan tidak menjalankan fungsi kritisnya, tetapi lebih banyak menjalankan perannya sebagai sarana untuk legitimasi kekuasaan. Kedua, kalau agama karena tugasnya untuk menyampaikan keselamatan dan mengajarkan kesempurnaan hidup, menjadi sarana yang ampuh untuk menciptakan hegemoni.

    Fungsi legitimasi agama dijalankan dengan mengambil alih dan menjalankan fungsi ideologi yang biasa, yaitu mengintegrasikan, membenarkan atau mendistorsikan kenyataan yang ada. Agama dapat menjalankan fungsi integratif karena dia menjadi unsur yang sangat penting dalam dunia simbolik, yaitu dunia pengetahuan, kepercayaan dan nilai, yang menjadi rujukan sekelompok orang dalam menjalankan tindakan mereka secara sosial. Makna tidak selalu didefinisikan berdasrkan dunia simbolik yang dianut, dan agama bukan saja berperan dalam dunia simbolik itu, melainkan memberikan sifat kategoris dari dunia simbolik tersebut.

    Dalam ilmu sosial, dunia sosial adalah dunia tindakan sosial dan dunia interaksi sosial. Sedangkan makna tindakan dan interaksi itu bersumber pada dunia simbolik. Kalau tindakan sosial masih mengikuti dunia simbolik maka yang terjadi adalah integrasi. Sebaliknya, kalau tindakan sosial tidak dapat mengikuti tuntutan dunia simbolik, maka yang terjadi adalah disintegrasi. Jalan yang kemudian ditempuh untuk tetap menyelamatkan integrasi adalah menyesuaikan dunia simbolik dengan kenyataan sosial yang ada. Pada saat itu yang terjadi adalah distorsi. Distorsi seperti ini sering dilakukan karena dengan memberikan definisi yang baru kepada suatu penyelewengan sosial maka tindakan itu juga lebih mudah dibenarkan. Istilah ‘pengamanan’ untuk penangkapan, ‘pembersihan’ untuk penggusuran, dan berbagai eufefisme lain dalan bahasa Indonesia, adalah contoh untuk distorsi seperti itu. Distorsi itu dilakukan untuk membenarkan tindakan sosial yang menyeleweng dari dari ketentuan dalam dunia simbolik. Kalau agama harus membenarkan dan turut melakukan distorsi seperti itu maka agama menjadi ideologis.

     

     

    Sebaliknya, suatu ideologi sekuler cenderung memberikan watak sakral dan religious kepada dirinya melalui proses yang dinamakan religiofikasi. Istilah ini diambil dari penulis Eric Hofer (dalam The True Believer) yang mengartikannya sebagai ‘the art of turning practical  purposes into holy causes’. Dengan cara itu, suatu ideologi sekuler akan menimbulkan beberapa sikap yang biasanya ditimbulkan oleh agama dalam diri penganutnya. Pertama, tuntutan agama bersifat kategoris dan karena itu tak dapat ditawar-tawar. Dengan cara itu,  suatu ideologi berusaha menciptakan penerimaan dan ketaatan sepenuh-penuhnya dari suatu masyarakat. Kedua, ketakutan akan sanksi terhadap pelanggaran menjadi lebih besar, karena pelanggaran terhadap suatu yang sakral dan religius akan mampu memberikan suatu tujuan hidup terakhir kepada penganutnya, yang untuknya para penganut diminta kerelaan dan kesiapannya dalam memberikan segala pegorbanan yang diperlukan.

     

    Tesis 3:

    Agama sebagai suatu lembaga cenderung mempunyai sejumlah kekuasaan dalam dirinya, dan selalu terdapat suatu proses sosial dimana kekuasaan agama diperluas menjadi kekuasaan dunia, dan kekuasaan dunia diperluas ke dalam daerah kekuasaan agama.

     

    Uraian:

    Dalam studi-studi sosiologi agama, kedua proses itu disebut oleh Max Weber (dalam Wirtschaft und Gesellschaft) sebagai hierokrasi dan caesaropapisme. Istilah hierokrasi menunjuk kepada keadaan di mana agama atau diperluas menjadi kekuasaan politik, dan para pemimpin agama sekaligus menjadi pemimpin politik. Sebaliknya, istilah caesaropapisme menunjuk kepada proses di mana seorang pemimpin politik (caeser) sekaligus menjadi pemimpin agama (papa=paus), dan kekuasaan agama sekaligus menjadi kekuasaan politik.

     

     

    Hierokrasi menjadi mungkin karena seperti dikatakan di atas selalu ada unsur kekuasaan dalam tiap agama, terutama kalau agama itu menjadi besar dan menjadi sebuah lembaga. Hierokrasi itu terjadi bukan saja karena seorang pemimpin agama juga menjadi pemimpin politik, melainkan juga karena doktrin agama sekaligus juga menjadi doktrin politik. Dalam praktek, teokrasi adalah suatu perwujudan hierokrasi yang paling sempurna, karena hukum agama juga menjadi undang-undang negara.

    Caesaropapisme menjadi mungkin karena seperti dikatakan di atas ada kecenderungan pada ideologi sekuler untuk memberikan warna atau sifat sakral dan religius pada dirinya, dan hal yang sama juga berlaku pada kekuasaan sekuler. Kekuasaan politik mendapatkan legitimasi sepenuh-penuhnya kalau pembenaran terhadap pemilikan dan pelaksanaan kekuasaan itu dilakukan tidak hanya dengan alasan-alasan budaya, tetapi juga sakral dan religius. Semua kekuasaan absolut pada dasarnya mendapatkan suatu pembenaran religius, bahwa kekuasaan itu diberikan oleh Tuhan, dewa atau oleh suatu tenaga supernatural.

    Persatuan kekuasaan politik dan kekuasaan agama dimungkinkan dalam ajaran sosial yang tidak membedakan kekuasaan politik dari kekuasaan agama. Penyelesaian dalam negara modern dilakukan dengan memisahkan Gereja dari negara, atau agama dari politik. Negara dianggap memiliki kekuasaan dalam bidang-bidang profan, sedangkan agama tetap menguasai bidang-bidang yang dianggap sakral.

    Dalam hal ini, Indonesia mempunyai suatu kedudukan khusus, karena negara Republik Indonesia dianggap bukanlah suatu negara teokratis karena negara berdiri di atas Undang-Undang  yang tidak diambil dari suatu doktrin keagamaan, tetapi negara juga tidak dianggap sebagai negara sekuler, karena melibatkan diri dan bertanggung jawab terhadap keamanan dan perkembangan tiap agama yang diakuinya. Adanya departemen agama adalah bukti yang sangat jelas bahwa  negara Republik Indonesia menolak adanya keterpisahan mutlak antara yang profan dan yang sakral, antara agama dan negara. Simbol-simbol keagamaan seperti doa misalnya, selalu menjadi bagian dari upacara dan protokol kenegaraan. Sebaliknya kehidupan keagamaan, khususnya prasarana untuk kehidupan agama, selalu mendapat perhatian dan tunjangan dari negara.

     

    Tesis 4:

    Hubungan antara agama dan negara ditandai oleh persaingan di antara peran keimanan dan peran kenabian agama. Semakin banyak suatu agama menjalankan peran keimanan (priestly role) maka semakin dekat agama itu kepada negara, dan semakin suatu agama menjalankan peran kenabian (prophetic role) maka semakin kritis agama itu terhadap negara.

     

    Uraian:

    Peran keimanan agama adalah peran agama sebagai institusi sosial. Dalam peran seperti itu, agama harus membantu proses integrasi sosial sama seperti peran kebudayaan umumnya. Dalam arti itu, agama harus bekerja sama dengan institusi sosial lainnya, dan terutama sekali, harus bekerja sama dengan negara sebagai institusi sosial yang terbesar. Konflik antara institusi sosial akan menimbulkan disintegrasi, dan demi keperluan itu agama sebagai lembaga sosial harus menyesuaikan diri dengan tuntutan lembaga sosial lainnya.

     

     

    Untuk memakai model Max Weber, dalam fungsi keimanannya agama berusaha mempertahankan warisan tradisionalnya dan watak rasional-administratifnya, sedangkan dalam peran kenabiannya agama menampilkan sifatnya yang karismatis. Karisma adalah sesuatu yang menyimpang dan mengatasi institusi sosial dan lebih kuat dari watak rasional suatu lembaga. Semakin besar peranan karismatis agama, semakin agama itu mengatasi dan menyimpang dari lembaga sosial, dan semakin jauh pula hubungannya dengan negara.

     

    Tesis 5:

    Setiap agama mempunyai fungsi ganda sebagai suatu institusi sosial dan sebagai jalan kesempurnaan pribadi, di mana hubungan di antara keduanya dapat saling menunjang, tetapi dapat juga saling bertentangan dan saling merugikan.

       

    Uraian:

    Peran sosial agama ditandai oleh fungsinya dalam menjaga integrasi sosial, atau dengan perkataan yang lebih gampang, dalam menjaga ketenangan, perkembangan dan kelanjutan serta reproduksi masyarakat. Dalam fungsi itu, agama berusaha mengurangi perbedaan dan pertentangan di antara berbagai kelompok dan berbagai individu, agar terhindar dari kemungkinan konflik yang dapat membawa kepada disintegrasi sosial.

    Peran personal dan ekstensial agama ditandai oleh fungsinya sebagai jalan bagi seorang individu untuk mencapai kesempurnaan diri sejauh-jauhnya. Apa yang dinamakan ‘the indefinite perfectability of human being’ bukan saja merupakan suatu prinsip dalam dunia pendidikan, melainkan juga prinsip dalam kehidupan agama pribadi. Ini berarti dalam bidang agama pun berlaku semacam prinsip, bahwa setiap hari seorang masih dapat menjadi sedikit lebih sempurna dari sebelumnya, dan selama hidupnya seseorang tidak akan pernah menjadi cukup sempurna, sehingga dia tidak perlu atau tidak dapat menjadi sedikit lebih sempurna lagi. Semboyan filsafat ‘we can never be human enough’ dapat diterjemahkan secara teologis dalam agama menjadi semboyan ‘we can never be perfect enough’. Dalam kehidupan pribadi setiap orang, agama dianggap mampu membawa seseorang kepada kesempurnaan pribadi yang sejauh-jauhnya dan sepenuh-penuhnya.

     

     

    Keyakinan pribadi seseorang dapat diterjemahkannya dalam sosial seperti halnya keyakinan tentang keadilan Tuhan dapat diterjemahkan ke dalam usaha, mendukung gerakan HAM atau keyakinan tentang kemurahan Tuhan, dapat membawanya kepada usaha-usaha pengembangan masyarakat, khususnya dalam bidang sosial ekonomi. Tanggung jawab seseorang kepada dirinya dalam wujud spiritualitas kemudian diterjemahkan ke dalam bidang sosial dalam bidang moralitas. Tesis Max Weber tentang ‘the protestan ethic and the spirit of capitalism’ adalah contoh klasik tentang hubungan ini, di mana harapan dan keyakinan seseorang tentang pilihan Tuhan untuk dirinya untuk mendapatkan keselamatan, dianggap terwujud dalam keberhasilan usahanya dalam bidang ekonomi. Atas cara itu, spiritualitas dihubungkan langsung dengan moralitas, dan tingkah-laku ekonomi direstui secara teologis.

    Meski demikian, agama sebagai jalan kesempurnaan pribadi dapat pula mengabaikan dan merugikan peran sosial suatu agama. Ada semacam individualisme spiritual dan individualisme asketis dalam paham ini. Yaitu kalau dianggap bahwa kesempurnaan diri seseorang terwujud langsung dalam hubungan dengan Tuhannya, tanpa terlalu menghiraukan apa yang dilakukan orang lain. Kehidupan soliter, kontemplatif dan kehidupan mistik mempunyai kecenderungan untuk menjadi individual secara asketis, dan hal ini semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk dilibatkan dalam latihan-latihan yang sudah mencapai taraf yang amat tinggi.

    Dalam kalangan Katolik umpamanya, kehidupan sebagai hermit pernah dianggap sebagai sebuah ideal kesempurnaan tertinggi di samping martyrium (kesaksian hidup) dan kehidupan selibat (tidak menikah). Jelas dari praktek tersebut, bahwa menyendiri di padang gurun, atau di sebuah gua yang terpencil dengan kehidupan doa sepanjang hari sepanjang malam, pernah dianggap sebagai jalan kesempurnaan tertinggi, sekalipun tidak begitu jelas bagaimana hal ini berhubungan dengan fungsi sosial dalam agama.

    Secara sosiologis, jalan tengah antara fungsi sosial dan fungsi pribadi agama terwujud dalam sekte. Istilah sekte digunakan disini semata-mata dalam arti sosiologis tanpa konotasi teologis apa pun. Dalam pandangan yang menekankan fungsi pribadi dan fungsi perseorangan suatu agama, peran sosial agama dianggap menyebabkan agama menjadi agama orang banyak dengan latihan-latihan kesempurnaan yang semakin hari semakin menurun kadarnya. Sebaliknya, dalam pandangan orang banyak, latihan-latihan agama pribadi, seringkali merupakan latihan yang sangat elitis yang tidak semua orang sanggup mengikutinya. Jalan tengah adalah terbentuknya sekelompok orang yang menganggap mereka mempunyai kualifikasi keagamaan yang kira-kira setaraf tetapi yang lebih tinggi tingkatnya dari kemampuan keagamaan rata-rata orang kebanyakan. Max Weber menyebutkan sekte sebagai suatu ‘aristokratisches  Gebilde’ (an aristocratic group) atau suatu kelompok aristokratis, yang tujuannya adalah membentuk suatu ‘Verein der religious voll Qualifizierten’ (an association of person with full religious qualifications). Berbeda dari Gereja yang dianggap lembaga yang harus membagi rahmat baik bagi orang saleh maupun orang berdosa yang harus di bawah kembali kepada Tuhan, suatu sekte bertujuan membentuk ‘acclesia pura’ (Gereja yang murni atau dimurnikan, dari sini berasal istilah purisme) karena yang berkumpul dalamnya orang-orang yang dianggap saleh dan tinggi mutu kehidupan agamanya, sedangkan persekutuan mereka dianggap sebagai ‘die sichtbare Gemeinschaft der Heiligin’ atau ‘the visible community of the saints’.

    Dengan demikian, dalam artian sosiologis, sekte adalah usaha dalam setiap Gereja untuk mengatasi ketegangan antara apa yang oleh Weber dinamakan agama-etis dari agama tradisionil. Semakin suatu agama terbatas keanggotaannya, maka semakin dapat diawasi kriteria-kriteria etis agama itu, yang mungkin sekali tidak dapat diterapkan pada anggota-anggota yang tidak termasuk dalam elite keagamaan. Semakin agama itu banyak anggotanya, maka semakin dibutuhkan penyesuaian agama itu dengan tradisi-tradisi setempat dari para penganutnya agar agama itu dapat dimengerti dan diterima oleh masyarakat kebanyakan.

    Ini juga menunjukkan ketegangan antara agama di satu pihak dan ideology dan kekuasaan di pihak lainnya. Semaikn besar kekuasaan suatu agama, akan semakin diperlukan ruang ideologis agama itu, dan semakin rendah kualifikasi keagamannya. Sebaliknya semakin tinggi kriteria keagamaan suatu agama, semakin kecil pula kekuasaannya dan semakin tidak dibutuhkan fungsi ideologisnya.

     

    Tesis 6:

    Ketegangan antara peran institusional dan peran individual dan personal agama, tampaknya akan diatasi dalam millennium ketiga oleh peran individual agama, karena hal itu sangat ditunjang oleh tendensi umum ke arah proses deinstitusionalisasi berbagai lembaga sosial yang sudah kelihatan gejalanya sekarang ini.

     

    Uraian:

    Seperti sudah diuraikan di atas, peran sosial agama amat didukung oleh hubungannya dengan kekuasaan dan ideologi. Peran ini dalam milennium ketiga akan beralih ke peran individual dan peran personal agama. Hal ini akan terjadi kalau agama dalam kedudukannya yang ideologis beralih kepada fungsinya sebagai utopia. Karl Mannheim (dalam Ideology and Utopia) membedakan ideologi dan utopia dalam tiga hal.

     

     

    Pertama, kalau ideologi berfungsi melegetimasikan keadaan yang ada, maka utopia mempunyai kekuatan mempertanyakan dan mengguncang keadaan yang ada.

    Kedua, kalau ideologi menjalankan peran integratif untuk menjaga identitas perseorangan atau kelompok, maka utopia melakukan eksplorasi terhadap apa yang masih mungkin.

    Ketiga, kalau ideologi hanya mampu melakukan distorsi terhadap apa yang ada, maka utopia mampu menyingkirkan seorang, atau sekelompok orang, dari keadaan yang ada dan membawanya ke situasi (bayangan) yang sama sekali lain dan sama sekali baru.

    Dengan perkataan lain, kalau ideologi membela keadaan sekarang, maka utopia membela masa depan. Hal ini sangat sejalan dengan semangat eksatologis agama-agama yang menjanjikan masa depan yang lebih baik yang disempurnakan oleh penemuan kembali dan persatuan kembali antara yang imanen dan yang transendental, antara yang insani dan yang ilahi. Tetapi dengan itu, agama harus mengurangi hubungannya baik dengan ideologi maupun kekuasaan, suatu hal yang akan mengurangi rasa aman agama-agama itu sendiri, dan menimbulkan suatu tingkat alienasi terhadap lembaga-lembaga sosial lainnya. Namun demikian, hal ini tidak perlu menimbulkan kecemasan karena ‘innerweltliche Askese’ (this-worldly asceticism) hanyalah sebagian dari tugas agama yang dalam keadaan sekarang sudah terlalu diutamakan. Mungkin dibutuhkan suatu ‘ausserweltliche Askese’ (other-worldly asceticism) yang memperingatkan kita bahwa agama pada dasarnya berada di dunia ini tetapi tidak mempunyai seluruh tujuannya di sini.

                                                                 ***

     

    Ignas Kleden, Sosiolog dan Kritikus Sastra

    Sumber Naskah: Dari buku Agama-agama Memasuki Milenium Ketiga, Grasindo, 2000.

  • Menkominfo Paparkan Proyeksi Ekonomi Digital Indonesia di Washington

    Menkominfo Paparkan Proyeksi Ekonomi Digital Indonesia di Washington

     

    MENTERI Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menjelaskan, Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar ke-9 di dunia pada tahun 2030. Pasalnya, saat ini Indonesia menjadi salah satu dari 16 negara dengan PDB terbesar di dunia. “Tidak ada keraguan bahwa dunia sekarang berubah dari ruang fisik menjadi ruang digital, jadi Indonesia harus bersiap untuk mengubah dirinya menjadi era digital. Indonesia memiliki lanskap digital yang sangat dinamis, di mana saat ini ada 171,2 juta orang aktif menggunakan internet dan 355,5 juta langganan seluler, ada 26 juta UKM yang diproyeksikan go online pada tahun 2022,” ujar Johnny saat menyampaikan pidato kunci pada Gala Dinner US-Indonesia Society (USINDO) di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (13/2).

    Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu, Johnny lebih jauh mengatakan, Indonesia memiliki pasar digital yang sangat luas sehingga diproyeksikan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, baik secara regional maupun global. Hingga saat ini, lanjutnya, pemerintah telah memiliki empat unicorn dan satu Decacorn.

    Selain itu, demikian Johnny, setidaknya delapan perusahaan startup siap menjadi Unicorn Indonesia berikutnya, perusahaan-perusahaan tersebut menurutnya tumbuh luar biasa menjadi perusahaan bisnis yang berpengaruh seperti saat ini yang menghasilkan lapangan kerja dan peluang ekonomi bagi Indonesia dan para pengusaha. Ia menegaskan, upaya mempercepat proses investasi digital sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo dalam menciptakan Indonesia yang adil, makmur dan berkelanjutan, “Ekosistem TIK yang kuat akan menciptakan efek positif yang akan memperkuat ketahanan ekonomi, mendukung pengembangan sumber daya manusia,” kata Johnny.

    Menurutnya, pembangunan infrastruktur TIK di Indonesia telah telah dilakukan secara besar-besaran, tentu pembangunan yang berkelanjutan itu bekerja sama denga sektor swasta. “Kami telah membangun lebih dari 348.000 km panjang tulang punggung serat optik nasional, baik kabel darat maupun kabel bawah laut, dan hampir 480.000 Base Transceiver Stations (BTS) di seluruh negeri. Selain itu, lima satelit multi-fungsi telah orbit untuk menutupi titik-titik kosong (wilayah 3T),” ujarnya.

    Selain itu, dalam rangka mengimbangi dunia global yang bergerak begitu cepat, pemerintah juga mengembangkan teknologi 5G. Oleh karena itu, pemerintah terus proaktif untuk memastikan masyarakat Indonesia saling terhubung satu sama lain melalui pengembangan teknologi 5G, “Ini menjadi prioritas kami, karena kami memiliki tanggung jawab untuk memenuhi permintaan spektrum 737MHz pada tahun 2020, dan akan meningkat hingga 1310 MHz sebelum 2024,” tegasnya.

    Pengembangan SDM Digital

    Kementerian Kominfo, kata Menteri Johnny, memiliki peran penting dalam pengembangan SDM di era digital ini, sehingga menjadi tugas bersama untuk memberikan perhatian khusus dalam meningkatkan talenta-talenta digital yang unggul.

    “Kami memiliki Siberkreasi yaitu gerakan nasional literasi digital, Gerakan ini telah menjangkau setidaknya 75.000.000 orang dalam dua tahun terakhir. Pada tingkat keterampilan digital yang lebih tinggi, tahun ini kami menyediakan 60.000 slot Beasiswa Digital Talent, serta 300 slot Digital Leadership Akademy, ada ribuan slot yang juga ditawarkan oleh mitra kerja kami seperti CISCO, Google, Facebook, Microsoft, Amazon, IBM, Oracle, Huawei, ZTE, dan banyak lagi,” ujarnya.

    Selain itu, Johnny menjelaskan upaya pemerintah untuk menyederhanakan regulasi dan kebijakan dalam mewujudkan visi Indonesia Maju, di antaranya Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan RUU Omnibus Law yang saat ini telah diajukan ke DPR RI. Acara Gala Dinner USINDO juga dihadiri President of USINDO David Merril, Under Secretary of State for Economic Growth, Energy, and the Environment Keith Krach, CEO US International Development Finance Corporation (DFC) Adam Boehler, Menko Maritim dan Investasi RI Luhut B. Panjaitan, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dan Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar serta 300 pengusaha AS.

  • Samudra  K a s i h  S a y a n g

    Samudra K a s i h S a y a n g

    Oleh  G e d e   P r a m a

    Rasa sakit tidak bisa dihindari karena tubuh manusia sifat alamiahnya membawa rasa sakit.  Ia mirip dengan air membawa basah. Tetapi penderitaan adalah pilihan. Manusia bisa memilih untuk tidak menderita, termasuk tidak menderita di tengah rasa sakit.

    Es Batu Penderitaan

    Rasa sakit manapun serupa panah yang ditembakkan ke seseorang. Tapi ada panah ke dua yang lebih menyakitkan yakni cara bereaksi seseorang secara amat negatif.

    Itu sebabnya, meditasi mengelompokkan perasaan ke dalam senang, sedih dan netral. Dan tugas meditasi adalah menjadi yang ke empat yakni menyaksikan dengan penuh kasih sayang. Bila orang biasa di cengkram oeh emosinya sehingga mudah marah, batin yang disentuh meditasi bisa berjarak dengan emosi manapun.

    Kehidupan serupa aliran air. Kedamaian terjadi tatkala orang mengalir sempurna bersama aliran kehidupan. Penderitaan terjadi karena batin membeku kaku seperti es – hidup mesti begini mesti begitu – sehingga gagal mengalir. Meditasi seperti matahari yang membuat es batu ini kemudian meleleh dan mengalir.

    Aliran Sungai Kedamaian

    Dalam setiap batin yang kaku beku serta belum tersentuh meditasi, terjadi pertempuran dualitas yang tidak mengenal henti. Saya yang benar-orang lain salah. Kelompok saya baik-yang berbeda dengan kelompok saya buruk. Bila batin sering duduk diposisi ke empat dengan menyaksikan penuh senyuman, maka pelan perlahan pertempuran ini melonggar. Sampai suatu hari pencerahan membuat batin jadi seluas ruang.

    Akibatnya, api rasa sakit tidak menimbulkan ledakan penderitaan karena wadahnya sudah besar dan lebar. Cirinya, manusia menjadi semakin toleran, pemaaf, terbuka pada apa saja yang mungkin terjadi dalam kehidupan. Ini salah satu hasil penting meditasi yakni kemampuan untuk menderita secara tidak terbatas.

    Dengan kemampuan terakhir, es batu penderitaan mencair. Kemudian mengalir sempurna seperti air di sungai. Pada waktunya ia pulang ke rumah samudra.

    Samudra Tidak Berhingga

    Di samudra, batin berjumpa kualitas-kualitas yang tidak berhingga. Terutama karena apa pun yang datang ke samudra akan dipeluk lembut tanpa membeda-bedakan. Ini yang kerap disebut dengan samudra kasih sayang.

    Lumpur, kayu, batu, kotoran, emas, makanan, apa saja diterima oleh samudra. Ini alasan utama kenapa pengertian meditasi ditingkat kesempurnaan adalah istirahat di saat ini apa adanya. Sebagai akibatnya, tidak saja batin melebar, tapi juga memberikan ruang tidak berhingga ke apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh.

    Jika sebagian orang tua memberikan ruang pertumbuhan ke anak-anaknya secara terpaksa, di tingkatan ini tidak ada keterpaksaan. Kasih sayang menjadi sesuatu yang sangat alami. Ia sealami samudra yang luas tidak terbatas sekaligus menghidupi tanpa membeda-bedakan. Di tingkatan ini, manusia tidak saja bisa memilih untuk tidak menderita, tetapi juga menjadi wakil kasih sayang yang tidak berhingga. Termasuk mampu memancarkan kasih sayang pada rasa sakit, penyakit dan orang yang menyakiti. Bom teroris bisa meledak di mana saja. Oleh karena wadah batin sudah seluas samudra, ia tidak menimbulkan penderitaan. Sebaliknya, bom teroris menjadi sumber air kasih sayang. Terutama karena kekerasan tidak lahir untuk membakar, namun kekerasan lahir untuk membangunkan kasih sayang.

    Gede Parma, Motivator

    Sumber: dari buku Cahaya Kedamaian, Gede Parma, Penerbit Karaniya, 2014

  • Kiai Berhati Gembala

    Kiai Berhati Gembala

    Oleh Ansel Deri

    PRESIDEN Joko Widodo melukiskan sejumlah hal tentang sosok Kiai Haji Salahuddin Wahid alias Gus Sholah (77). Di mata Jokowi, Gus Sholah ialah cendekiawan Muslim. Adik kandung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Gus Sholah, putra pahlawan nasional KH Wahid Hasyim, adalah tokoh panutan semua umat beragama. Tak hanya Islam tetapi juga Katolik, Protestan, Hindu, Budha maupun Konghucu di Indonesia.

    Jokowi, mantan Walikota Solo menyebut Gus Sholah akan selalu dikenang sebagai tokoh yang gigih menjaga dan merawat persatuan bangsa. Keislaman dan keindonesiaan ialah narasi yang melekat dalam hati dan pikiran Gus Sholah, cucu Hadratus Syaikh (Maha Guru) Hasyim Asyari, kemudian beralih ke hati Jokowi. Narasi tentang kasih, persahabatan, persaudaraan, dan kerjasama ini selalu disampaikan Kepala Negara kepada warga negara sesama anak bangsa dari beragam latar suku, agama, ras, dan antargolongan yang dipimpinnya.

    Jauh sebelumnya, terutama saat memimpin Kota Surakarta hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu diserukan narasi-narasi teduh di atas. Seruan Jokowi itu ditujukan bagi warga negara yang menyebar mulai dari Sabang di Nanggroe Aceh Darussalam hingga Merauke di Papua; dari Miangas di Sulawesi Utara hingga Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur yang merindukan kedamaian.

    Gus Sholah adalah segelintir dari kiai, guru bangsa, tokoh umat beragama (tak hanya umat Islam) di Indonesia. Sosok dan rekam jejaknya hadir penuh kharisma, kerendah-hatian, keiklasan, persaudaraan bagi sesama anak bangsa. Berbagai gambaran itu menjadi inspirasi bagi semua orang sekaligus meruntuhkan sekat-sekat primordial atas nama pertumbuhan dan perkembangan sosial kemasyarakatan. Sebagai seorang kiai, Gus Sholah telah menunaikan tugas dan perannya seperti juga para gembala selaku pelayan Sabda dalam kehidupan menggereja, berbangsa, dan bernegara. Mengapa?

    Imbauan Hierarki

    Mencermati jejak pengabdian selama ia masih berziarah di dunia, Gus Sholah tak sekadar seorang kiai panutan yang mengurus umat Islam melalui karya sosial kemasyarakatan. Ia juga menyampaikan atau mengajar tata hubungan manusia (umat) dengan Tuhannya (hablum minallah) dalam urusan ibadah (ubudiyah) tetap terpelihara dengan baik.

    Berikut relasi yang mengurus manusia dengan makluk lainnya (hablum minannas) dalam rupa amaliyah sosial. Hal yang juga diumpai dari peran strategis para gembala atau pemimpin Gereja dan kaum klerus dalam konteks keagamaan maupun kehidupan sosial para domba, umat Allah, selaku warga negara.

    Kerja keras Gus Sholah bagi umat Islam mewujud melalui Pesantren Tebuireng, taman pendidikan jumbo warisan sang ayah di Jombang yang sudah mendidik ribuan santri. Lulusan pesantren ini belakangan menjadi pemimpin bangsa dan negara. Kehadiran para pemimpin di semua level kepemimpinan yang lahir dari rahim pesantren di tengah dunia tak hanya dirasakan manfaatnya oleh umat Islam. Lebih dari itu, sungguh dirasakan pula umat beragama lain dalam kehidupan.

    Sebagai kiai dan ulama besar Indonesia, Gus Sholah juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan universal tentang bagaimana umat Islam menjaga relasi yang harmonis dengan Tuhan dan menjaga relasi yang akrab dengan sesama umat ciptaan-Nya. Pesan bagi umat Islam menjaga relasi dengan Tuhan dan sesama ini tentu tak hanya menjadi pedoman bagi umat Islam sendiri namun juga umat beragama lain. Sesuatu yang juga ditemui dari ajaran dan nasehat pimpinan Gereja Katolik secara hierarki.

    Menurut Sekretaris Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Guido Suprapto Pr dalam Kerasulan Politik: Panggilan dan Perutusan Umat Katolik (2013), Gereja Katolik dalam diri kaum awamnya dipanggil dan diutus terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan politik.

    Panggilan dan perutusan yang paling relevan saat ini adalah mendorong pembangunan politik dan tata dunia yang baik, beradab, dan bermoral. Menjadikan politik yang melayani masyarakat dengan hati, kejujuran dan tanpa pamrih. Bidang sosial politik dapat menjadi tempat merasul bagi kaum awam yakni membangun tatanan dan kiprah politik yang bermoral demi terwujudnya kebaikan bersama (bonum commune).

    Komitmen Agama

    Tentang komitmen institusi agama (Islam) para kiai sekelas Gus Sholah atau pemimpin agama-agama lain di Indonesia, kita bisa menyimak kembali catatan Tasirun Sulaiman merujuk pemikiran KH Hasyim Muzadi dalam KH A Hasyim Muzadi: Sang Peace Maker (2017), terkait Islam sebagai agama dengan populasi pengikut paling besar di Indonesia dan dunia.

    Entitas Islam, demikian kiai Hasyim Muzadi, sebagai rahmatan lil’alamin (rahmat bagi semesta) mengakui eksistensi pluralitas keberagaman, karena Islam memandang pluralitas keberagaman itu sebagai sunnatullah, yaitu fungsi pengujian Allah kepada manusia, fakta sosial, rekayasa (social engineering), dan kemajuan umat manusia. Pluralitas sebagai sunnatullah diabadikan dalam Al-Qu’ran, antara lain dalam surat Ar-Rum ayat 22 dan Al-Hujurat ayat 13. Ayat-ayat itu menempatkan kemajemukan sebagai syarat determinan (conditio sine qua non) dalam penciptaan makhluk.

    Dalam diri Gus Dur pun tak jauh berbeda. Perhatian dan komitmen memperjuangkan persoalan-persoalan yang dihadapi umat yang notabene warga negara tak diragukan. Mereka mengabdi umat hingga ajal menjemput; yang juga ditemui dalam sosok kiai seperti Gus Sholah dan Ahmad Muzadi hingga para pemimpin agama-agama di luar Islam seperti para klerus, gembala di lingkup Gereja. Gus Dur, misalnya, ia punya kelebihan, bertutur dengan cerdas, cerdik bahkan kocak yang selalu membuat setiap orang merasa terhibur.

    Tokoh pers Jakob Oetama dalam Gus Dur Menjawab Kegelisaan Rakyat (2007) mengungkapkan bagaimana Gus Dur mengangkat persoalan-persoalan yang menggerakkan perhatian banyak orang karena memang aktual dipermasalahkan dan dirasakan. Pandangan dan pendapat Gus Dur cenderung mencerminkan sikap dasarnya, seperti Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia yang Pancasila, Indonesia yang beragama, Indonesia yang berperikemanusiaan, yang berkeadilan sosial serta demokratis.

    Bagi saya, baik Gus Dur, Gus Sholah, kiai Muzadi, para pemimpin agama lain ibarat obor di tengah kelam. Gus Sholah, juga tak lebih seperti seorang “gembala” dalam terminologi Gereja. Selama hidup ia (Gus Sholah) bertaruh hati, tenaga, dan pikiran “menggembalakan” seluruh umat atau kawanan domba-Nya agar berjalan dengan panduan nilai-nilai agama dan kemanusiaan universal untuk kemaslahatan bersama.

    Gus Sholah juga ambil bagian dalam karya kemanusiaan universal agar dunia diliputi damai dan suka-cita melalui –salah satunya– Tebuireng, pesantren warisan sang kakek, Hasyim Asyari. Namun Gus Sholah tak lagi memendam rindu memenuhi panggilan Sang Sabda, Minggu, (2/2 2020) malam. Detak jantungnya berhenti di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

    Ia kembali ke Tebuireng via bandara Halim Perdanakusuma setelah berpulang. Selamat jalan, Gus Sholah. Selamat jalan, kiai berhati gembala. Teladan, semangat, dan cintamu kepada sesama adalah warisan berharga yang tak akan mati dalam sanubari setiap anak bangsa.

    Ansel Deri,  Staf Viktor Laiskodat di DPR RI, 2014-2017

    Sumber: Victory News, Kamis, 13 Februari 2020

  • Potret Ketenagakerjaan di Nusa Tenggara Timur

    Potret Ketenagakerjaan di Nusa Tenggara Timur

                                          

    Oleh  Helena Beraf

    Ketenagakerjaan  di NTT kini jadi perdebatan panjang dan seolah menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua. Berbicara soal ketenagakerjaan tentunya tidak bisa dipisahkan dengan sumber daya manusia. Jika dilihat dari karakteristik lapangan kerja yang dualistik (formal maupun informal) menunjukan tingkat pengangguran yang sangat tinggi juga kualitas tenaga kerja yang rendah.

    Kualitas tenaga kerja dicerminkan oleh tingkat pendidikan dan ketrampilan yang dimiliki seseorang. Kualitas yang tinggi jika dipadukan dengan penggunaan teknologi yang sesuai akan mengarah pada produktivitas yang tinggi pula. Dalam pasar tenaga kerja di NTT sendiri, tingkat partisipasi angkatan kerja tidak cukup tinggi dan berfluktuasi.

    Pengangguran terjadi disebabkan antara lain karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja serta kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Keadaan yang demikian menyebabkan banyak penduduk NTT memilih untuk bekerja di sektor informal dibandingkan sektor formal. Kondisi rendahnya tingkat pendidikan dan keahlian angkatan kerja ini berpengaruh terhadap lambatnya penyerapan tenaga kerja dari Sektor pertanian, kehutanan, perkebunan dan perikanan ke sektor-sektor lainnya. Sebagian besar tenaga kerja yang terserap hanya merupakan tenaga kerja informal dengan keahlian yang rendah.

    Upaya pemerintah dan masyarakat sudah banyak dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Namun belum dapat menekan tingginya tingkat pengangguran. Rendahnya kualitas tenaga kerja masih menjadi hal penting yang harus dibenahi. Keadaan ketidaksesuaian antara kualifikasi pencari kerja dengan kualifikasi yang dibutuhkan penyedia kerja dan rendahnya keahlian akan berdampak pada lambannya peningkatan produktivitas kerja. Perusahaan mempunyai tujuan optimalisasi produksi sedangkan tenaga kerjanya tidak dapat mendukung kebijakan perusahaan menyebabkan perusahaan tidak dapat mengembangkan dirinya.

    Pemerintah misalnya, perlu memberikan investasi di bidang pendidikan dan pelatihan guna peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Pemerintah harus lebih menekankan pencapaian di bidang pendidikan formal, sebab pendidikan dan pelatihan akan meningkatkan keterampilan pekerja, sehingga dapat meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan pula pendapatan pekerja.

    Banyak hasil penelitian yang menunjukkan hubungan korelasi yang positif antara tingkat pendidikan dengan produktivitas kerja. Melalui data dari BPS menunjukkan ada hubungan yang positif antara tingkat pendidikan pekerja dengan produktivitas yang dihasilkannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula produktivitasnya.

    Selain peningkatan pendidikan dan keterampilan, pemberian kesempatan kerja juga perlu dilakukan agar pekerja dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam bekerja. Dengan kesempatan kerja yang terbuka luas, seseorang dapat menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya secara maksimal. Dengan demikian, rasa percaya diri dengan sendirinya akan tumbuh karena pengalaman kerja tersebut. Semakin tinggi pengalaman kerja maka tingkat keahliannya pun semakin baik. Dan pada akhirnya, meningkatkan produktivitas kerja.

    TKW asal NTT

    Kondisi ketenagakerjaan di NTT masih sangat memprihatinkan, dilihat dari tingginya tingkat pengangguran karena ketidaksesuaian tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan perusahaan dan rendahnya upah akibat minimnya produktivitas.

    Pendidikan dan keterampilan merupakan human capital dalam pasar kerja, oleh karena itu tenaga kerja di NTT perlu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan. Selain pendidikan dan keterampilan, produktivitas tenaga kerja juga didukung oleh tingkat gizi dan kesehatan, serta etos kerja. Dan secara teori di NTT sudah menyalahi aturan yaitu salah satunya mereka mempunyai pekerja dibawah umur padahal anak – anak dibawah umur itu seharusnya dibekali oleh ilmu pengetahuan dan keterampilan. Terbatasnya kesempatan kerja membuat belum tertampungnya seluruh pencari kerja yang ada, baik yang baru menyelesaikan pendidikan, pengangguran dan yang ingin bekerja kembali.


    Adapun rendahnya kualitas angkatan kerja terlihat dari sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada 2014 di mana tenaga kerja yang pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar masih dominan mencapai mencapai 46,9%. Berdasarkan pengalaman yang ditemui banyak tenaga kerja yang sekolah setinggi mungkin namun begitu tamat tidak bekerja dan pada akhirnya bekerja apa saja.

     Faktor Ekonomi sebagai Imbas  dari Masalah Ketenagakerjaan

    Dari penjabaran di atas dapat ditarik benang merah antara ketenagakerjaan dan perihal ekonomi. Karena keterbatasan sumber daya manusia sehingga orang sulit mendapatkan pekerjaan, ditambah lagi dengan sempitnya lapangan pekerjaan jika dibadingkan dengan pencari kerja. Ini berimbas pada kondisi ekonomi yang buruk. Sementara kebutuhan sehari hari terus bertambah dan mengharuskan seorang kepala keluarga harus bekerja. Dalam kondisi seperti ini tak jarang iming – iming bekerja di luar negeri dengan gaji yang besar dapat menjadi solusi.

    Hal ini sangat irasional karena orang cenderung memilih pekerjaan yang kurang produktif dan tanpa perlindungan sosial dibandingkan dengan pekerjaan yang produktif dan dengan jaminan sosial yang memadai. Hingga tak jarang kita dengar banyak tenaga kerja Indonesia yang disiksa di luar negeri. Terakhir kita menjemput TKI asal NTT yang diduga menjadi korban Human Trafficking. Ini jelas karena tingkat penegetahuan yang masih sangat rendah ditambah beban dan kebutuhan hidup yang mau tidak mau harus dipenuhi.

    Naasnya adalah banyak calon TKI asal NTT yang nekat bekerja di luar negeri tanpa mengikuti alur secara prosedural karena terdesak oleh keadaan ekonomi. Meskipun ada variable-variable penyertanya seperti iming-iming mendapatkan uang dolar. Orang desa mana pernah lihat uang dolar. Inilah yang mendorong mereka nekat tanpa memperdulikan resiko yang akan diterima selama bekerja di luar negeri secara illegal. Karena itu pemerintah perlu bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama untuk memberikan pemahaman mengenai menjadi TKI dan tidak boleh tergiur dengan iming-iming para calo TKI yang memberikan janji janji manis tetapi setelah itu dibiarkan untuk menanggung resiko sendiri jika sudah terkena razia atau mengalami penyiksaan yang kejam oleh majikan seperti kisah kisah pilu yang akhir akhir ini sering kita dengar.

    Inilah relitanya. Potret kasus Human Trafficking di NTT sungguh gawat. Berdasarkan laporan BP3TKI kupang menyajikan berita yang memilukan semua rakyat NTT. Putra  putri daerag silih berganti menempati list kematian TKI/TKW di negeri orang. Dalam bulan pertama di tahun 2018 sudah terdapat 9 jenasah TKI asal NTT  yang dipulangkan dari luar negeri. Masih ingat dengan Angelina Sau? Gadis kelahiran Oenino, Timor Tengah Selatan yang disiksa oleh majikan. Yah., singkat kata pergi dengan pesawat, pulang dengan peti.Berbicara soal NTT dengan kompleksitas persoalan membuat masyarakat NTT harus menggandeng sterotipe yang sangat beragam. Ada yang mengatakan NTT: Nasib Tergantung Tetangga, Nasib Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong. Setiap predikat ini disematkan ketika berkaca pada persoalan yang melilit masyarakat NTT. Kemiskinan, korupsi, Human Trafficking, degradasi moral dan lain sebagainya. Ini menjadi sebuah fenomena baru bagi Provinsi NTT yang kini memasuki usia 58 tahun.

    Kasus Human Trafficking diamini disebabkan oleh berbagai macam faktor dan kondisi serta persoalan yang berbeda-beda. Tetapi dapat disimpulkan beberapa faktor, antara lain: Pertama,  kurangnya kesadaran ketika mencari pekerjaan dengan tidak mengetahui bahaya trafficking dan cara-cara yang dipakai untuk menipu atau menjebak korban. Kedua, kemiskinan telah memaksa banyak orang untuk mencari pekerjaan ke mana saja, tanpa melihat risiko dari pekerjaan tersebut. Ketiga, kultur/budaya yang menempatkan posisi perempuan yang lemah dan juga posisi anak yang harus menuruti kehendak orang tua dan juga perkawinan dini, diyakini menjadi salah satu pemicu trafficking. Biasanya korban terpaksa harus pergi mencari pekerjaan sampai ke luar negeri atau ke luar daerah, karena tuntutan keluarga atau orangtua. Keempat, lemahnya pencatatan /dokumentasi kelahiran anak atau penduduk sehingga sangat mudah untuk memalsukan data identitas. Kelima, lemahnya oknum-oknum aparat penegak hukum dan pihak-pihak terkait dalam melakukan pengawalan terhadap indikasi kasus-kasus trafficking.

    Terlepas dari batas wilayah. NTT secara potensial yang ada tidaklah pantas diurutkan sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Sebut saja potensi pertanian sebagai basis ekonomi dengan potensi lahan basah 127.271 ha, potensi lahan kering 1.528.306 ha, padang untuk usaha peternakan seluas 1.939.801 ha. Perarian laut yang diperkirakan seluas 200.00 km2 (80,86%) dari luas wilayah yang memiliki sumber daya hayati laut multi spesies dengan potensi 240.000 ton/tahun belum termaksud nener 680.000.000 ekor/tahun. Potensi wisata diantarnya danau Kelimutu, kawasan wisata Komodo, wisata bahari dan wisata budaya yang tidak bisa disebutkan satu per satu, juga potensi tambang antaranya marmer, beji besi, batu aji, dan potensi tambang lainnya. Ini belum dikalkulasi dengan modal sosial budaya yang berlimpah di Flobamora ini (Isiodorus Lilijawa:267-268).

    Kembali lagi, bahwa soal pendidikan dan pelatihan adalah solusi terbaik untuk menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dengan  SDM yang handal di bidangnya. Masyarakat pesisir perlu dibekali dengan pengetahuan tentang perairan, masyarakat pegungungan perlu dibekali dengan latihan berkebun, bercocok tanam dan beternak, dan sedapat mungkin megusahakan segala aspek yang menunjang itu.

    Pariwisata Berbasis Lokal Menjaring Tenaga Kerja dan Percepatan Ekonomi?

    Seperti yang diuraikan di atas. Sejarah geografis NTT memiliki sektor pariwisata yang tidak bisa dilihat sebelah mata. Sebut saja danau K elimutu, Taman Komodo, pantai Lasiana, pulau Padar, air terjun Oehala, pantai Nembrala, sawah Lodok, pulau Ruing, dan juga tradisi penagkapan ikan Paus Lamalera.

    Penangkapan Ikan Paus di Lamalera

    Untuk menunjang pariwisata, pemerintah perlu membenahi banyak hal seperti akses ke tempat wisata dan juga pemugaran pada objek – objek wisata yang sudah mulai terkikis zaman. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari peran masyarakat setempat. Masyarakat setempat haruslah menjadi pelaku pariwisata karena mereka lebih mengenal tempat dan juga budaya. Wisata penangkapan ikan Paus desa Lamalera, misalnya adalah sebuah objek wisata yang ramai dikunjungi. Tak hanya memiliki keunikan cara penangkapan ikan hanya dengan peledang (perahu yang dipakai oleh nelayan Lamalera untuk menangkap ikan Paus) tetapi lebih dari itu ada budaya dan historis juga agama di dalamnya. Hal ini yang menjadi ciri khas tersendiri yang menarik minat wisatawan untuk datang. Dan ini harus diceritakan atau dipromosikan keluar tidak hanya oleh pemerintah tapi juga masyarakat.

    Salah satu obyek parawisata NTT, Labuan Bajo

    Tentu banyak sekali objek wisata bisa dipakai untuk percepatan ekonomi kita. Pemerintah akhir akhir ini mencanagkan banyak sekali program pariwista. Ini tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat NTT. Bagaimana tidak NTT semakin dikenal di luar, karena alamnya yang masih perawan dan juga  budaya adat istiadat serta kondisi sosial kultur yang unik, ini tidak hanya isapan jempol belaka. Masyarakat pun harus tanggap dengan program yang dicanangkan pemerintah. Masyarakat dituntut untuk kreatif dalam hal ini adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat .Secara tidak langsung bahwa pendidikan dan pelatihan kepariwisataan lokal perlu diberikan pada masyarakat setempat.

    Danau Kelimutu, Ende, Flores

    Dengan keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata diharapkan dapat mengikis perlahan angka pengangguran dan juga memperbaiki ekonomi masyarakat akar rumput sehingga sejahtera mulai dari bawah untuk kokoh ke atas.

    Helena Beraf,  Peminat Sastra, Penulis Opini, sedang menyelesaiakn studi kebidanan di Jakarta