Berandanegeri.com. KETUA Gugus Tugas Covid-19 sekaligus Bupati Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, Yakobus Dumupa menyebutkan, hasil evaluasi kerja termin pertama Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai terkait percepatan penanganan covid-19 di wilayah itu hingga Senin (21/4), masih nihil alias belum ada kasus covid-19.
“Secara umum pelaksanaan kegiatan penanganan covid-19 di Dogiyai telah berjalan dengan baik. Hampir semua kegiatan mulai berjalan dan sejumlah kekurangan mulai dibenahi secara bertahap. Masyarakat juga mulai memahami covid-19 dan mematuhi kebijakan dan keputusan yang diambil oleh pemerintah kabupaten dalam rangka penanganan covid-19,” ujar Yakobus Dumupa dalam keterangan yang diterima berandanegeri.com Selasa (22/4).
Hasil evaluasi juga
memperlihatkan, pos koordinasi atau posko pengamanan dan pemeriksaan kesehatan
di kilo meter 100 Siriwo, Bomomani, dan Moanemani sudah beroperasi secara
efektif. Sedangkan posko Unito dan Wigoumakida tengah dalam proses
pemberangkatan petugas ke lokasi dan dipastikan minggu depan sudah bisa
dioperasionalkan. Dengan demikian, kata Dumupa, seluruh wilayah perbatasan
Dogiyai dengan sejumlah kabupaten tetangga bisa dijaga dan diawasi petugas yang
ditempatkan di masing-masing posko.
Selain itu, pengguna
jalan darat dari Kabupaten Nabire menuju Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai,
dan Intan Jaya dan sebaliknya masih belum tertib. Ia mengaku, masih terjadi
iring-iringan kendaraan, penyerobotan posko, pemaksaan petugas, dan tindakan
anarkhis yang kebanyakan dilakukan warga masyarakat Paniai dan Deiyai dengan
menggunakan “surat ijin jalan palsu” (di-scan dan di-fotokopi ulang-ulang) dari
bupati setempat. Sedangkan warga masyarakat Dogiyai mulai tertib dan mematuhi
ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam penggunaan jalan trans Papua
Nabire-Ilaga.
“Pemerintah Dogiyai
melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga mulai melakukan pendataan dan
verifikasi pelajar dan mahasiswa untuk diberi bantuan biaya hidup selama masa
covid-19. Kami juga sedang menyediakan bahan makanan untuk kemudian disalurkan
bagi warga masyarakat yang kurang mampu ketika terjadi krisis pangan nanti.
Termasuk menyiapkan pemberian dana bantuan sosial bagi masyarakat yang kurang
mampu,” lanjutnya
Ia menambahkan, dalam
beberapa hari ke depan, Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai akan melakukan sosialisasi
sejumlah hal yang berkaitan dengan covid-19 dan dampaknya dalam berbagai aspek
dan langkah-langkah mengantisipasi atau mengatasi berbagai masalah yang akan
muncul kemudian.
Karena itu, menurutnya,
pihak Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai telah berkomitmen untuk konsisten dengan
kesepakatan para bupati dari wilayah Meepago dalam rangka percepatan penanganan
covid-19 di selkuruh kabupaten di wilayah Meepago. Wilayah Meepago Nabire,
Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya. Dengan demikian, pihaknya juga berharap agar
masyarakat dan semua pihak tetap konsisten menaati kesepakatan yang telah
diambil bersama para bupati di wilayah Meepago.
“Selaku Ketua Gugus Tugas Covid-19 sekaligus Bupati Dogiyai saya mengapresiasi kerja keras tim, masyarakat, dan semua pihak yang sudah bahu-membahu ikut ambil bagian dalam mencegah dan menangani penyebaran covid-19 di Dogiyai. Evaluasi pertama ini perlu kami sampaikan untuk diketahui dan dijadikan bahan evaluasi agar dilakukan pembenahan-pembenahan sebagaimana mestinya,” katanya.
Berandanegeri.com. ASOSIASI Bupati Meepago, Provinsi Papua, bertekad memperkuat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire, Kabupaten Nabire, menyepakati untuk memperkuat RSUD Nabire dalam rangka mempercpat penanganan coronavirus 2019 (Covid-19) di wilayah Meepago yang meliputi Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya.
“Rumah Sakit
Umum Daerah Nabire ditunjuk Pemerintah Pusat menjadi salah satu rumah sakit
rujukan Covid-19 di Papua. Karena itu kami dari Asosiasi Bupati Meepago telah
menyepakati memperkuat Rumah Sakit Umum Daerah Nabire. Selain itu ada sejumlah
poin kesepakatan yang kami ambil bersama guna mempercepat penanganan Covid-19
di wilayah Meepago,” ujar Yakobus Dumupa, Sekretaris Asosiasi Bupati Meepago yang
juga Bupati Kabupaten Dogiyai dalam keterangan tertulis yang diterima media ini di Jakarta, Kamis (16/4 2020).
Kesepatan para
bupati Meepago tersebut berlangsung di Jalan Trans Papua Nabire-Ilaga KM 100
Siriwo dan didampingi para pimpinan DPRD, Kapolres, Dandim, para Kepala Dinas
Kesehatan, dan sejumlah anggota Gugus Tugas Covid-19 dari masing-masing kabupaten.
Selain memperkuat RSUD Nabire, masing-masing kabupaten menyumbang dana sebesar
Rp. 1 miliar dan sejumlah alat kesehatan.
Para bupati juga
bersepakat memutus total jalan raya Wasior-Nabire guna mencegah penyebaran Covid-19
ke wilayah Meepago. Kemudian menutup atau membatasi semua pintu masuk ke
wilayah Meepago melalui jalur darat, laut dan udara, kecuali untuk pelayanan
kesehatan dan pelayanan bahan bakar minyak melalui jalur udara untuk Intan Jaya
dengan mengikuti protokoler medis yang ketat.
“Kami juga
sepakat memperpanjang pembatasan lalu lintas kendaraan dan orang ke wilayah
Meepago dan dalam wilayah Meepago sampai tanggal 6 Mei 2020 dan akan dievaluasi
kembali untuk menentukan tindak lanjutnya,” kata Yakobus Dumupa.
Selain itu, para
bupati sepakat diberlakukan surat ijin jalan khusus dan wajib mengenakan
pakaian dinas bagi para pejabat, pegawai ASN, dan anggota TNI dan Polri yang
melakukan perjalanan untuk keperluan atau urusan dinas.
Kesepakatan
lainnya, dilarang membawa atau menitipkan minuman keras dan barang-barang
terlarang lainnya dalam kendaraan yang diizinkan melintas di jalan raya Trans
Papua Nabire-Ilaga. Juga mengisolasi atau membatasi warga masyarakat di
masing-masing Kabupaten agar tidak bepergian ke Kabupaten lain atau melakukan
kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan penularan dan penyebaran Covid-19.
Para bupati juga
menyepakati pembagian tanggungjawab Posko sepanjang jalan Trans Papua
Nabire-Ilaga, mulai dari Nabire sampai Intan Jaya. Kabupaten Nabire
bertanggungjawab untuk Posko Topo, Kabupaten Dogiyai bertanggungjawab untuk Posko
KM 100 Siriwo dan Posko Bomomani. Sedangkan Kabupaten Deiyai bertanggungjawab
untuk Posko Iyadimi dan Kaitaka, Kabupaten Paniai bertanggungjawab untuk Posko
Udaugi dan Makataka, dan Kabupaten Intan Jaya bertanggungjawab untuk Posko
Makataka dan Ugisiga.
“Para Bupati wilayah Meepago bersama seluruh komponen yang hadir dalam pertemuan telah bersepakat untuk melakukan upaya-upaya percepatan penanganan Covid-19 secara bersama-sama,” ujarnya.
Berandanegeri.com. BUPATI Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, Yakobus Dumupa dan jajaran pemerintah setempat bergerak cepat mencegah dan menangani coronavirus 2019 (Covid 19) di Dogiyai.
Saat ini pihaknya telah memutuskan untuk menambah tiga posko baru yakni di Bomomani, Distrik Mapia, Unito, Distrik Sukikai Selatan, dan Wigoumakida, Distrik Sukikai Selatan.
Posko Bomomani bertugas melakukan pembatasan dan pemeriksaan kendaraan dan orang dari Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Paniai, Kabupaten Deiyai, dan Kabupaten Dogiyai ke Nabire dan sebaliknya.
Sedangkan Posko Unito bertugas melakukan pembatasan dan pemeriksaan kendaraan dan orang dari Sukikai Selatan di Dogiyai ke Timika di Kabupaten Mimika dan sebaliknya. Kemudian Posko Wigoumakida bertugas melakukan pembatasan dan pemeriksaan kendaraan dan orang dari Wigoumakida di Dogiyai ke Kabupaten Kaimana di Provinsi Papua Barat dan sebaliknya.
“Setelah masa tugas satgas berakhir 5 April 2020, secara resmi saya bubarkan. Selaku Bupati Dogiyai saya menyampaikan terimakasih kepada seluruh pimpinan dan anggota satgas dan semua pihak yang telah berpartisipasi melaksanakan upaya-upaya pencegahan pandemi covid-19. Semoga segala jerih payahnya diperhitungkan dan dibalas dengan berkat yang melimpah dari Tuhan,” ujar Bupati Dumupa dalam keterangan yang diterima Sabtu (11/4).
Bupati Dumupa, menegaskan, pembubaran satgas itu sesuai dengan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 440/2622/SJ tentang Pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Daerah. Salah satu poin surat edaran itu yaitu memerintahkan Gubernur dan Bupati/Walikota menjadi Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Daerah. Tugas Gubernur, Bupati/Walikota tersebut, tidak dapat didelegasikan kepada pejabat lain di daerah.
“Sesuai surat edaran Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia di atas, maka sejak tanggal 9 April 2020, saya langsung menjadi Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 Kabupaten Dogiyai. Keanggotaan gugus tugas ini terdiri dari sejumlah unsur dan kami akan bekerja selama lima bulan ke depan dengan ketentuan dapat diperpanjang masa kerjanya sesuai kondisi dan kebutuhan,” lanjut Bupati Dumupa, yang pernah menjadi anggota Majelis Rakyat Papua.
Langkah pembubaran satgas juga merujuk Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pencegahan Penyebaran dan Percepatan Penanganan Corona Virus Disease di Lingkungan Pemerintah Daerah. Salah satu poin instruksi itu yakni melakukan percepatan pengutamaan penggunaan alokasi anggaran kegiatan tertentu (refocussing) atau perubahan alokasi anggaran yang digunakan secara memadai.
“Pemerintah Kabupaten Dogiyai telah melakukan perubahan alokasi anggaran. Alokasi anggaran ini akan kami gunakan untuk beberapa pos seperti penanganan kesehatan dan hal-hal lain terkait kesehatan, penanganan dampak ekonomi serta penyediaan jaringan pengaman sosial atau social safety net,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berkaitan dengan sedang dan akan dilakukan upaya-upaya pencegahan penyebaran dan penularan pandemi covid-19 oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 Kabupaten Dogiyai diharapkan dukungan dan kerja sama masyarakat.
“Saya meminta dan berharap agar masyarakat dan semua pemangku kepentingan mendukung berbagai upaya pencegahan penyebaran dan penularan pandemi covid-19. Saya juga meminta masyarakat dan semua pihak mematuhi segala keputusan yang telah dan akan diambil pemerintah dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 Kabupaten Dogiyai,” katanya.
Dalam upaya mencegah penularan dan penyebaran pandemi covid-19 di wilayah Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai serta kabupaten-kabupaten sekitarnya, pihaknya akan terus melaksanakan kerja sama penanganan pencegahan penyebaran dan penularan pandemi COVID-19 secara bersama-sama.
“Kita tetap bekerja keras untuk mencegah dan menangani penyebaran covid-19 di Kabupaten Dogiyai meskipun hingga saat ini kasus covid-19 masih nihil di daerah ini. Dukungan APBD juga kita sedang hitung bersama. Sedangkan sejak kasus covid-19 muncul kami hanya memiliki alat pelindung diri atau DPD sebanyak 5 buah. Kami sedang berupaya menyiapkan APD dalam jumlah besar guna mengantisipasi penyebaran covid-19,” ujar Bupati Dumupa.
Oleh Ansel Deri, Mantan Staf Viktor Laiskodat di DPR
SELURUH manusia penghuni muka bumi sepertinya tengah bermuram durja. Sejak muncul di Wuhan, Tingkok, pekan ketiga Januari 2020, gerak virus korona atau coronavirus disease 2019 (covid-19) nyaris menyebar di hampir sebagian besar penduduk dunia. Nyaris semua pimpinan negara dan seluruh sumber kekuatan yang dimiliki, termasuk sumber keuangan masing-masing negara, takluk di bawah tekanan virus korona. Pemerintah masing-masing negara tak ada pilihan selain menguras pundi-pundi negara guna membentengi warganya dari serangan virus ganas tersebut dengan kampanye maupun antisipasi tenaga medis dan obat-obat untuk mencegah dan menangani virus korona.
Pemerintah dan rakyat dari pusat hingga daerah mengerahkan seluruh kemampuan menghadapi laju virus tersebut melalui solidaritas mondial, solidaritas yang mendunia. Solidaritas berkarakter lembut yang bermakna dan berniai buat masa depan seluruh bidang kehidupan kemanusiaan. Imbauan Jokowi terbukti efektif. Solidaritas mewabah atas nama perasaan senasib dan sepenanggungan sebagai sesama anak bangsa menyikapi virus korona. Presiden Jokowi dan kementerian terkait menginstruksikan semua jajaran pemerintahan mulai dari pusat hingga daerah bersama warga masyarakat mengambil langkah cepat dan efektif mencegah dan menangani virus korona agar tak sampai merenggut nyawa lebih banyak lagi.
Gayung bersambut hingga daerah, tak terkecuali Nusa Tenggara Timur. Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat tak lama berselang membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Nusa Tenggara Timur. Gubernur menunjuk Sekretaris Daerah Benediktus Polo Maing sebagai Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Nusa Tenggara Timur melalui Surat Keputusan Gubernur NTT Nomor: 103/Kep/HK/2020, tertanggal 13 Maret 2020.
Kepala Negara pun tentu tak ingin ekonomi nasional guncang kian hebat akibat virus korona. Imbauan hingga instruksi Jokowi melalui saluran televisi maupun pemberitaan media massa tak henti-henti agar warga tetap waspada, menjalani pola hidup sehat, termasuk menghindari kerumunan (social distancing), momen di mana virus korona lebih berpotensi menyebar merupakan bentuk solidaritas paling nyata. Di sisi lain, usulan lockdown belum dianggap perlu karena beresiko.
Imbauan dan instruksi Kepala Negara bak gayung bersambut. Langsung direspon para kepala daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota dan warga melalui gugus tugas penanganan virus korona. Mengapa Jokawi menganggap imbauan dan instruksi itu penting? Hal itu tak lain atas pertimbangan bahwa keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi (salus populi suprema lex). Semua pihak, entah pemerintah pusat dan pemerintah daerah, tokoh-tokoh agama, masyarakat serta warga negara Indonesia selalu sigap menangani dan mencegah virus korona yang sudah menjadi pandemi.
Ada tiga program prioritas yang ditempuh Jokowi menghadapi pandemi virus korona. Pertama, memfokuskan dan menggerakkan semua sumber daya negara untuk mengendalikan, mencegah, dan mengobati masyarakat yang terpapar virus korona. Kedua, memfokuskan dan menggerakkan semua sumber daya negara untuk menyelamatkan kehidupan sosial-ekonomi seluruh rakyat. Ketiga, memfokuskan seluruh sumber daya negara agar dunia usaha baik UMKM, koperasi, swasta, dan BUMN agar terus berputar. “Kita terus bekerja keras bergotong-royong tanpa henti dengan kerendahan hati untuk keselamatan seluruh rakyat Indonesia, serta berterimakasih sebesar-besarnya kepada seluruh tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan lainnya,” kata Fadjroel Rachman, juru bicara Presiden, Senin (23/3 2020).
Solidaritas Mewabah
Sejak virus korona masuk Indonesia dan menyebar hingga ke daerah-daerah di seluruh penjuru tanah air, seluruh warga negara seolah takluk tak berdaya. Pemerintah pun dibuat kewalahan mengambil langkah-langkah strategis mencegah sekaligus menanganinya. Ketakutan kolektif terasa, terutama di kalangan masyarakat dengan kehidupan ekonomi tak seberuntung kebanyakan warga menengah ke atas. Warga masyarakat terutama di kampung-kampung atau desa nyaris dibuat tak berdaya. Apalagi ditambah dengan kebijakan masing-masing pemimpin daerah yang sudah mulai membatasi ruang gerak manusia, barang, dan jasa antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Geliat ekonomi terusik, terasa mulai lesu, akibat virus korona. Suasana itu juga suka atau tidak suka melanda sebagian warga masyarakat di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bali, Bandung, dan lain-lain.
Namun, pada saat bersamaan solidaritas sebagai sesama anak bangsa untuk saling tolong-menolong, bersama pemerintah berusaha mencegah virus korona serta merta lahir. Rasa solidaritas seperti mewabah seperti virus korona. Solidaritas menemui maknanya secara leksikal. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti solidaritas sebagai suatu sifat yang dimiliki manusia secara solider; perasaan setia kawan terhadap orang lain maupun kelompok. Rasa setia kawan yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain maupun kelompok dapat membuat seseorang tersebut rela berkorban demi orang lain maupun kelompok tanpa adanya rasa paksaan di dalam dirinya. Seluruh warga negara seolah diajak menjawab pertanyaan berikut: apakah bangsa itu?
Pengajar Universitas Bina Nusantara dalam artikelnya, ‘Solidaritas Besar’ Bangsa Indonesia (2016) mengutip What is a Nation karya Ernest Renan, mengajak setiap anak bangsa menjawabnya dalam hati. Renan menulis, sebuah bangsa adalah ‘suatu solidaritas besar’. Solidaritas besar itu dibentuk oleh kesadaran bahwa solidaritas tersebut merupakan buah pengorbanan banyak orang dan kesediaan dari banyak orang untuk berkorban lagi. Hal ini sepertinya mengacu pada kejadian di masa lampau, tetapi sebenarnya adalah kenyataan yang dapat dipegang sekarang, yaitu suatu kesepakatan, berupa keinginan tegas untuk melanjutkan hidup bersama sebagai suatu bangsa.
Tentang arti solidaritas atas pertanyaan apakah bangsa itu, dapat dipahami bahwa setiap orang saling menolong tanpa melihat latar belakang apapun tetapi berpijak pada rasa saling tolong-menolong, solider sebagai sesama warga bangsa. Solidaritas sesama anak bangsa lahir dari terpaan virus korona yang tak mengenal latar belakang. Data terbaru hingga Senin, 23 Maret 2020 pukul 17.40 WIB menunjukkan, jumlah kasus positif virus korona menjadi 579 kasus atau bertambah 65 kasus positif dari data sebelumnya. Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah terkait penanganan wabah korona menyebut, sebanyak 49 orang meninggal dan 29 lainnya sembuh.
Meski mengalami perkembangan penanganan postif dari waktu ke waktu, namun paling kurang, ada hal yang dapat dicatat. Pertama, solidaritas menghadapi virus korona adalah sikap positif yang masih terawat baik di antara sesama warga bangsa. Ungkapan rasa senasib, sepenanggungan, dan tolong-menolong nampak begitu indah. Kedua, rasa solidaritas tumbuh dalam diri setiap orang dan memandang satu dengan yang lain sebagai manusia makluk ciptaan Tuhan paling mulia.
Tak berlebihan Presiden Jokowi melalui juru bicaranya memandang bahwa keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Di sinilah solidaritas menemui makna paling hakiki. Solidaritas adalah satu-satunya bahasa universal yang menempel dalam dinding hati setiap anak bangsa dalam relasi sosial kemasyarakatan. Solidaritas terus mewabah untuk kebaikan bersama menyikapi korona. Dan Nusa Tenggara Timur di bawah kendali Gubernur Laiskodat setia bergerak bersama semua pemangku kepentingan lokal mencegah dan menangani korona.
Berandanegeri.com. BUPATI Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Yakobus Dumupa menindaklanjuti Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi berkaitan dengan penyesuaian sistem kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dogiyai. Tindak lanjut surat edaran itu berupa jadwal kerja dari rumah dan kantor berlaku mulai 6 April 2020.
“Saya
baru saja mengeluarkan surat berkaitan dengan penyesuaian sistem kerja ASN.
Mulai tanggal 6 hingga 19 April 2020 seluruh ASN di Kabupaten Dogiyai tetap
aktif bekerja di rumah masing-masing dan masuk kantor kembali pada 20 April. ASN
yang terlibat dalam penanganan pencegahan covid-19 tetap menjalankan tugasnya
melalui koordinasi dengan pimpinan OPD masing-masing,” ujar Bupati Yakobus
Dumupa dalam keterangan kepada media ini, Minggu (5/4 2020).
Surat
Edaran Nomor 440/106 SET tentang Perpanjangan Penyesuaian Jam Kerja Aparatur
Sipil Negara (ASN) di Lingkungan Pemerintahan Dogiyai Dalam Upaya Pencegahan
Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) dikeluarkan di Kigamani pada Jumat, 3
April 2020. Surat edaran tersebut selain disampaikan kepada seluruh pimpinan
OPD di lingkup Pemerintahan Kabupaten Dogiyai, juga diteruskan kepada pimpinan
Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMN/BUMD) serta para
kepala sekolah mulai dari SD hingga SMP di wilayah Dogiyai.
“Pekerjaan
yang di rumah atau tempat tinggal dikoordinasikan oleh pimpinan OPD. Bekerja
dari rumah atau tempat tinggal tidak diartikan sebagai libur. Saya juga meminta
pimpinan OPD membuat jadwal bagi pejabat eselon III, IV, dan staf melaksanakan
tugas di kantor secara bergilir sehingga penyelenggaraan pemerintahan tetap
berjalan optimal untuk melayani masyarakat,” katanya.
Dalam
surat edaran tersebut, Bupati Yakobus juga menyampaikan bahwa dalam hal
pekerjaan penting dan mendesak yang harus dikerjakan di kantor atau di tempat
lain, maka dilakukan secara terbatas baik jumlah personil maupun jam kerja
diatur kepala OPD. “Saya juga meminta agar sejak tanggal pemberlakuan surat
edaran ini, seluruh rencana perjalanan dinas ditiadakan. Kecuali rencana perjalanan dinas yang penting dan
mendesak atas perintah Bupati,” lanjut Yakobus, mantan anggota Majelis Rakyat
Papua (MRP). Ia menambahkan, setelah surat ini berlaku akan dilakukan evaluasi
terhadap perkembangan pandemi covid-19 untuk diambil langkah-langkah lebih
lanjut.
Surat
edaran tersebut, demikian Bupati Dumupa, menindaklanjuti Surat Edaran Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 34 Tahun 2020
tentang Perubahan atas Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja
Aparatur Sipil Negara Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan
Instansi Pemerintah.
Berikut Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 440/2436/SJ tentang Pencegahan Penyebaran Coronavirus Diseas 2019 (Covid-19) di Lingkungan Pemerintah Daerah. Juga Surat Edaran Gubernur Papua Nomor 440/3705/SET tentang Pembatasan Masuk/Keluar Orang, Pembatasan Aktivitas Masyarakat dan Pembatasan Aktivitas Masyarakat dan Perpanjangan Waktu Kerja di Rumah (Work From Home) serta Pengendalian Dampak Kasus Covid-19 di Provinsi Papua.
DALAM tradisi pemikiran Jawa selalu saja memiliki sebuah refleksi yang khas hingga mencapai kedalaman relung hati manusia. Seperti di tengah kegalauan mewabahnya pandemi covid-19 yang melanda dunia yang telah dilihat sebagai darurat global, selalu saja berimplikasi pada kesiapam manusia menangani seluruh aspek kehidupan, yang semuanya terarah dalam perspektif problem ini.
Ket. Foto: Semedi
Pada bagian tulisan ini, saya mengulasnya dari aspek budaya kehidupan Jawa pada umumnya, yang secara sederhana bisa berpengaruh dalam proses kehidupan. Di tengah kegalauan kehidupan yang penuh dengan segala kerisauan yang tidak menentu, karena dilanda oleh berita yang sangat ramai di media sosial tentang pandemi yang sangat berbahaya ini, budi orang Jawa bisa menenggelamkan diri dalam suatu hal yang disebut semedi. Konsep dasar yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kondisi sekarang adalah sebuah keterpurukan yang mengandung bahaya.
Bahaya
dan keterpurukan bukanlah sebuah hal yang terjadi secara kebetulan. Bukan pula
sebuah nasib yang menimpa begitu saja atau selalu disebut sebagai sebuah
takdir. Atau pun juga sebuah keniscayaan yang seakan-akan memang harus terjadi
demikian. Tidak harus selalu demikian. Budi Jawa tidak menghamba pada
keniscayaan hampa dan tidak menghamba pada sebuah keterpaksaan. Peristiwa tetap
tidak merupakan sebuah peristiwa kalau jika tanpa makna dan juga nilai yang
akan mengikutinya. Semua mata bisa terperanjat dan semua mulut bisa saja
menjerit, namun hati dan budi manusia selalu saja juga mencari makna dan nilai
yang ada di balik semuanya.
Misteri apa gerangan yang selalu terselubung dalam kepasrahan hidup di tengah kehampaan dan ketidakberdayaan seorang manusia. Bagi orang Jawa (saya sendiri orang Jawa), seluruh kultur kehidupan dapat tergambar secara luar biasa dalam sebuah budaya, namanya, wayang. Ketika mulut terkatup atau bungkam, ketika mata tidak melihat atau terpejam, atau ketika akal budi mulai mengalami kebuntuan berpikir, maka terhadap semuanya itu, wayang hadir sebagai pelarian diri yang sangat efektif.
Kehadiran
wayang menunjukkan sebuah refleksi yang mendalam. Bayang-bayang kehidupan
keseharian manusia, muncul dalam wayang. Ia hadir dan menunjukkan sosoknya
dalam kultur naratif dan punya cara kerja yang sangat khas yakni selalu
bergumul dengan kisah. Segenap tokoh wayang, hadir dalam gambaran naratif yang
selalu memiliki kekhasan dan keunikan yang serasi. Kehadiran para tokoh ini pun
selalu menghadirkan beragam simbolisme yang sangat kaya dan mengagumkan. Dalam
wayang, sebetulnya terjadi sebuah ekspresi atau sebuah elaborasi yang sangat
kaya dalam makna dan nilai sebuah kehidupan yang sangat mencerahkan, di mana
kehadirannya lewat represetasi makna kata, kalimat, teks dan konteks yang
sangat khas dan unik.
Dengan
kata khas dari penulis yakni, ketika sebuah kehidupan tergolek tidak berdaya di
hadapan kedasyatan alam, hadirnya akal budi untuk segera mencari keluhuran
makna dan nilainya. Kalaupun rumit dan sungguh berbelit segala kepastian hidup
ini, seolah segalanya tidak menunjukkan kepastian yang valid; wayang hadir
dalam sosoknya yang memiki kekuatan yang selalu mencerahkan.
Budaya wayang adalah kekhasan budi Jawa yang selalu hadir mencerahkan dan menghadirkan makna dan nilai bagi para pemilik budayanya. Eksistensi wayang yang hadir dalam makna dan nilai kehidupan, diharapkan bisa menjadi “obat” penolak kerisauan dan bisa menjadi penenang aktivitas kehidupan yang berarti, dalam setiap pergumulan kehidupan sebagai manusia yang berbudaya yang selalu mengklaim diri sebagai pemilik kebudayaan.
***
Dra. Christina Purwanti, M.Pd, Dosen Bahasa Indonesia Universitas Pelita Harapan
Buku Takdir Manusia Bekerja Bukan Korupsi ditulis oleh Emanuel Dapa Loka. Buku ini bukan sebuah karya sistematik, melainkan kumpulan berbagai tulisan sang penulis. Tulisan-tulisan dalam buku ini pernah dipublikasikan di berbagai media massa.
Meskipun bukan karya sistematik, tetapi berdasarkan judulnya, buku ini mengupas beberapa perkara pokok, yakni manusia, korupsi, dan politik. Perkara-perkara pokok tersebut dipotret dengan sudut pandang ajaran Gereja Katolik. Selain itu, buku ini diperkaya dengan perspektif filsafat dan teologi. Pengayaan filosofis atas buku ini ditulis oleh Yustinus Prastowo, pegiat anti-korupsi dan perpajakan. Pengayaan teologi ditulis oleh Pater Dr. Andreas Atawolo, dosen teologi STF Driyarkara, Jakarta.
Tulisan sederhana ini merupakan sebuah upaya mengupas dan
memahami isi buku ini. Tulisan ini terbagi dalam beberapa bagian. Pertama, Struktur Buku. Kedua, Potensi Koruptif Diri Manusia. Ketiga, Korupsi: Kebusukan sekaligus Tindakan
Membusukkan. Keempat, Berpolitik: Strategi
Mengatasi Korupsi? Sudah barang tentu, tulisan ini hanya merupakan salah satu
cara membaca buku ini. Para pembaca yang lain secara bebas dapat membedah buku
ini dari perspektif yang lain.
Struktur Sederhana
Buku setebal 212 halam ini terdiri 50 tulisan pendek. Jumlah tulisan tersebut digolongkan menjadi 9 bagian. Penggolongan tulisan-tulisan disusun berdasarkan tema khusus, yang termaktub dalam setiap tulisan pada setiap bagian. Meskipun setiap bagian menekankan tema khusus tetapi setiap bagian saling berhubungkan satu sama lain. “Takdir Manusia Bekerja Bukan Korupsi” yang menjadi judul buku ini merupakan benang merah yang menghubungkan tema-tema dari setiap bagian.
Struktur buku ini sederhana. Justru karena struktur yang
demikian, memudahkah pembaca untuk mencerap isi buku ini secara maksimal.
Sebuah buku mampu menggerakkan pembaca untuk menimba makna dari isinya dan
menjadi inspirasi bagi pembaca untuk melakukan tindakan dan gerakan konkrit
tertentu, apabila struktur buku itu sederhana. Buku dengan strukturnya yang
demikian, tidak terlepas dari kepiawaian penulis meramu isi pikirannya dan
meletakkannya dalam buku. Dengan demikian, menjadi nyata kesalingtautan antara
penulis, pikiran, dan struktur buku.
Potensi Koruptif Manusia
Penulis buku menyatakan bahwa takdir manusia adalah bekerja bukan korupsi. Penulis menyatakan sikapnya itu pada judul bukunya. Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, jika takdir manusia adalah bekerja dan bukan korupsi, lalu dari mana datangnya (tindakan dan perilaku) korupsi? Apakah korupsi datang dari luar diri manusia?
Bila benar bahwa takdir manusia adalah bekerja, berarti korupsi bukan takdir manusia. Bila benar bahwa bekerja adalah baik, berarti korupsi adalah buruk. Tetapi pertanyaan-pertanyaan baru segera muncul: Bagaimana mungkin sesuatu yang datang dari luar takdir manusia, mampu melemahkan atau merusak takdir manusia? Bagaimana mungkin korupsi yang bukan takdir manusia, mampu melemahkan atau merusak takdir manusia sebagai makhluk yang bekerja. Bagaimana mungkin korupsi yang adalah buruk mampu melemahkan atau merusak manusia yang pada takdirnya baik?
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk paradoksal. Watak paradoksal diri manusia terletak pada status dirinya sebagai makhluk kemungkinan. Manusia mungkin baik sekaligus mungkin jahat. Artinya, manusia berpotensi berbuat baik karena ia mungkin baik sekaligus berpotensi berbuat jahat karena mungkin ia jahat. Di atas dasar logika kemungkinan diri manusia inilah, jawaban atas deretan pertanyaan tersebut ditetapkan.
Foto Karikatur Anti Korupsi diambil dari google
Kenyataan empirik dalam dunia ekonomi-politik sehari-hari di negeri menunjukkan secara jelas beroperasinya logika kemungkinan diri manusia itu. Para koruptor yang telah ditangkap dan diadili oleh KPK adalah orang-orang beragama. Mereka mungkin baik sehingga agama menawarkan kepada mereka nilai-nilai kebaikan moral-teologis. Tetapi kenyataanya mereka korupsi. Mereka korupsi karena dalam dirinya terkandung kemungkinan berbuat jahat. Jadi, menjadi orang baik atau orang jahat adalah kemungkinan dan bukan kepastian.
Dengan mengikuti logika takdir yang dibangun oleh penulis, kira-kira begini posisi berpikir yang berlaku: takdir manusia adalah mungkin baik sekaligus mungkin jahat. Manusia mungkin baik. Oleh karenanya ia bekerja. Manusia mungkin jahat. Oleh karenanya ia korupsi. Dengan demikian, takdir manusia adalah mungkin ia baik sekaligus mungkin ia jahat.
Dalam bingkai logika takdir dan logika kemungkinan tersebut, manusia berpotensi melakukan korupsi. Kenyataanya, korupsi terjadi. Korupsi sebagai tindakan (aktus). Hubungan antara potensi melakukan korupsi dan tindakan korupsi menunjukkan bahwa korupsi bukan peristiwa kebetulan.
Korupsi merupakan peristiwa yang dirancang dan disengaja.
Mekanisme korupsi diatur sedemikian rupa. Tempat, waktu, dan pelaku dirancang
sedemikian rupa oleh setiap orang yang terlibat dalam jaringan korupsi. Perancangan
dan pengaturan melakukan korupsi didasarkan pada potensi (kemungkinan) diri
manusia melakukan korupsi.
Korupsi: Kebusukan Sekaligus Tindakan Membusukkan
Menetapkan sebuah tindakan sebagai tindakan koruptif, mau tidak mau, kembali dulu pada pengertian dasar korupsi. Apa itu korupsi? Dalam tulisan “Takdir Manusia Bekerja Bukan Korupsi” penulis mendefinisikan “korupsi adalah sebuah kebusukan sekaligus tindakan membusukkan” (hal. 15). Penulis tidak menjelaskan lebih lanjut definisi tersebut. Selanjutnya penulis menyatakan korupsi sebagai extraordinary crime dan sebagai banalitas (kedangkalan) tanpa menjelaskan apa maksudnya (hal. 2, 20, 21). Penulis juga menggolongkan koruptor sebagai orang yang tak punya imajinasi (hal. 1).
Foto dari google
Memang bukan perkara mudah mendefinisikah arti korupsi
dan menjelaskannya secara jernih. Dan tampaknya penulis buku ini tidak ingin
masuk dalam perkara rumit definisi dan penjelasan mengenai korupsi. Meski
demikian, penulis berusaha mengatasi kerumitan itu dengan menunjukkan beberapa
peristiwa sebagai gejala korupsi. Dalam tulisan-tulisan berjudul, antara lain: Politikus Nirkarakter (hal. 27), Pilkadal di Negeri “Main Paksa” (hal.
47), Waspada dengan Budaya Copy Paste (hal.91),
Bersama Lawan Hoax (hal.95), Buang Saja ke Laut (hal.107), Perilaku Palsu (hal. 115), penulis
menunjukkan berbagai peristiwa sebagai gejala korupsi.
Berpolitik: Strategi
Mengatasi Korupsi?
Praktik korupsi sering terjadi di ranah politik. Banyak politikus dan aparat negara melakukan korupsi. Mereka ditangkap dan diadili oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Politikus dan para aparatur negara telah membelokkkan politik dari politik sebagai upaya menciptakan kebaikan bersama (bonnum commune) kepada politik kepentingan pribadi dan kelompok (self and group interest). Politik telah menjadi busuk. Politik telah menjadi ajang praktik korupsi. Berpolitik identik dengan perilaku koruptif.
Meski demikian, penulis buku menanamkan optimisme pemberantasan korupsi melalui politik atau berpolitik. Hal itu tidak terlepas dari amatan penulis bahwa korupsi terkait langsung dengan kebijakan politik. Politik merpakan “mata air kebijakan”. “… semua aturan yang mengurus tata cara hidup bersama, kebijakan-kebijakan yang mengatur kehidupan publik lahir dari keputusan-keputusan politik. Bahwa kita membayar bahan bakar dengan harga tertentu, atau bahwa setiap orang berhak atas pendidikan dan kehidupan yang layak misalnya, merupakan keputusan politik” (hal. 27). Oleh karena itu, dengan masuk dalam dunia politik dan menjadi pengambil kebijakan politiklah, korupsi bisa diatasi.
Foto diambil dari google
Akan tetapi ada syarat yang harus dipenuhi agar dapat memberantas korupsi melalui jalur politik. Mengacu pada Ajaran Sosial Gereja dan pernyataan Paus Fransiskus, penulis mengatakan, “Berpolitik, sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja. Politik merupakan salah satu bentuk tertinggi dari karya amal karena melayani kepentingan umum,” (hal. 27). Sebagaimana agama Katolik, agama-agama lain juga menyatakan hal yang sama bahwa tujuan politik dan berpolitik adalah menciptakan tatanan sosial yang baik sehingga setiap orang dalam tatanan sosial itu memperoleh kesejahteraan. Jadi, politik dan berpolitik sebagai upaya mewujudkan tatanan sosial yang baik merupakan anjuran setiap agama.
Apakah anjuran optimistik itu dapat diwujudkan? Kembali pada hal yang telah disampaikan di atas: manusia adalah makhluk kemungkinan. Manusia mungkin baik sekaligus mungkin jahat. Dengan begitu, korupsi dan pemberantasannya berlangsung dalam tegangan antara dua kutub kemungkinan itu.
***
*Alexander Aur Apelaby, Pengajar Filsafat di FLA UPH dan Pencinta Buku-Buku
Berandanegeri.com. DALAM rangka mencegah penyebaran coronavirus diseas 2019 atau Covid-19 di daerah, empat bupati di Provinsi Papua bergandengan tangan mencegah covid-19 secara kolektif. Keempat bupati itu yaitu Bupati Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai.
Langkah
pencegahan empat pemerintah kabupaten tersebut diambil setelah Organisasi
Kesehatan Sedunia atau World Health Organization (WHO) Perserikatan
Bangsa-Bangsa menetapkan covid-19 sebagai pandemi global dan penetapan Indonesia
sebagai negara dengan status darurat covid-19.
“Kami mengambil
tindakan pencegahan penyebaran covid-19 bersama. Masing-masing kabupaten
berkontribusi menyumbangkan dana, fasilitas, dan tenaga bagi pelaksanaan
kegiatan pencegahan covid-19. Kabupaten Dogiyai bertindak sebagai koordinator
dan secara teknis akan dilaksanakan Satuan Tugas Covid-19,” ujar Bupati Dogiyai
Yakobus Dumupa melalui keterangan tertulis yang diterima media ini di Jakarta,
Minggu (22/3 2020).
Selain itu,
langkah berikut yaitu kegiatan pencegahan penyebaran covid-19 akan dilaksanakan
mulai tanggal 23 Maret sampai dengan 5 April 2020. Jadwal tersebut dapat
diperpanjang setelah pihak satgas covid-19 melakukan evaluasi. Ia menambahkan,
ada sejumlah langkah konkrit yang akan diambil bersama pemerintah Nabire,
Dogiyai, Deiyai, dan Paniai dalam rangka pencegahan penyebaran covid-19.
Langkah konkrit
tersebut antara lain pertama, melarang
orang yang berasal dari wilayah yang telah berdampak covid-19 untuk memasuki
wilayah Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Kabupaten Paniai. Kedua, melarang semua
warga Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai untuk keluar daerah meninggalkan
kabupaten masing-masing.
Ketiga, sosialisasi
pencegahan penyebaran covid-19 secara luas kepada seluruh masyarakat. Keempat,
pendirian Posko Terpadu Covid-19 di Jalan Trans Papua, Nabire-Enarotali KM 100
Unipo, Distrik Siriwo, Nabire. Posko ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan
kepada semua pengguna jalan dan sterilisasi terhadap semua kendaraan yang
melintas.
Kelima, pendirian
Posko Covid-19 di Moanemani, kota Kabupaten Dogiyai, Waghete, kota Kabupaten
Deiyai, dan Enarotali, kota Kabupaten Paniai, dan pelayanan tindakan medis di Rumah
Sakit Umum Daerah Nabire. Keenam, pemeriksaan terhadap penumpang pesawat di bandara
udara Nabire dan penumpang kapal laut di pelabuhan laut Nabire. Ketujuh, penutupan
bandar udara Moanemani, bandara udara Waghete, dan bandara udara Enarotali.
Kedelapan, kegiatan-kegiatan lainnya yang dianggap penting dalam rangka pencegahan
penyebaran Covid-19.
“Kami semua
sangat mengharapkan dukungan dan kerja sama dari semua pihak agar langkah
bersama empat kabupaten mencegah penyebaran covid-19 dapat berjalan lancar dan
sukses. Kerja keras ini dibarengi dengan doa memohon kuasa Tuhan demi mewujudkan
Meepago bebas covid-19,” kata Yakobus, mantan anggota Majelis Rakyat Papua
(MRP).
Ket foto: Bupati Kabupaten Dogiyai, Papua Yakobus Dumupa
Ia bukan selebritas. Lacakan sembarangan di majalah-majalah masa 1970-an sampai 1990-an tak bercerita banyak tentang dirinya. Ia luput dari sorotan pokok dan tokoh yang penting untuk dicuplik hidupnya dan dikabarkan pada pembaca.
BUKU Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia1981-1982 (Grafiti Pers, 1981) yang menulis ‘profil nama-nama yang sering disebut dalam media massa,’ tak menampilkan namanya. Ia tetap dianggap tak penting meski di halaman pengantar, majalah Tempo yang menyusun buku ini menjelaskan, syarat pemasukan nama-nama di buku tak cuma soal dia terkenal secara nasional, tapi juga ‘meskipun tak sangat luas terkenal, sangat penting dalam lingkungan profesi dan kaumnya.’ Di buku Apa dan Siapa Orang Indonesia 1985-1986, pembaca juga tak menemu nama Gorys Keraf di antara ketebalan 1287 halaman. Mata malah bertemu Anton Moedardo Moeliono yang tak termaktub di buku Apa dan Siapa jilid sebelumnya. Tapi di kalangan pelajar dan mahasiswa pada masa 1970-an sampai 1980-an namanya sangat tenar. Buku-buku garapannya, terutama Tata Bahasa Indonesia dan Komposisi bak kitab suci yang bakal mengantarkan mereka pada ketangkasan berbahasa Indonesia.
J.J. Rizal, sejarahwan dan bos penerbit Komunitas Bambu, saat dolan ke Solo dan mewaktu sejenak bersama teman-teman di Bilik Literasi pun mengakui ketokohan Gorys Keraf pada masa lalu. Beberapa sastrawan kondang, katanya, mengaku berguru pada buku-buku Gorys Keraf demi kecakapan dan kegenitan berbahasa Indonesia. Gorys Keraf turut memberi andil. “Oh, iya, semua pasti menggunakan bukunya Pak Gorys Keraf buat belajar bahasa, terutama Komposisi itu,”kata J. J. Rizal, 4 Maret 2008, di Whatsapp saat saya memastikan ingatan tentang malam itu. Dia pun mengaku berguru bahasa pada buku-buku Gorys Keraf.
Sapardi Djoko Damono, melalui pesan Whatshapp, 3 Maret 2018, menyebut Gorys Keraf, yang sempat menjadi rekan mengajar di Universitas Indonesia, sebagai pekerja keras, pengajar yang baik dan rajin, pembimbing skripsi yang sabar, sosok yang ‘selalu tampak sibuk.’ Dia pun mengakui Gorys Keraf itu tokoh bahasa yang penting masa 1970-an sampai 1980-an, “sebagai penulis buku laris.” Selain J.S. Badudu, menurut Sapardi, Gorys Keraf-lah yang serius menulis buku-buku untuk bahan ajar. Obrolan yang terjadi antara Sapardi dan Gorys lebih sering bertaut pada perkara penulisan buku ajar dan buku karangan Gorys “yang waktu itu banyak dipakai mahasiswa.”
Nun di Lampung, sekitar tahun 1999-2002, Rahma Purwahida mengenal Gorys Keraf melalui ibunya yang saat itu kuliah lanjut di Lampung sambil mengajar. Melalui pesan Whatshapp, 1 Maret 2018, Rahma berkisah buku Gorys Keraf, Tatabahasa Indonesia dan Komposisi, yang menjadi bacaan ibunya sebagai persiapan mengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Rahma yang memiliki rasa penasaran tidak berjeda pun bersua kata dengan Gorys Keraf. Saat dia kuliah di Universitas Negeri Yogyakarat (UNY) tahun 2005, buku-buku Gorys Keraf pun menjadi bacaan mahasiswa meski ‘lebih tenar buku-buku Suparno dan buku-buku Abdul Chaer.’ Nyatanya, sampai sekarang, Rahma yang menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Jakarta masih menganggap buku Komposisi penting.
Di Jawa Tengah, Tri Winarno, salah satu guru SMK Negeri 2 Klaten, kadang masih menggunakan buku-buku karangan Gorys Keraf untuk bahan ajar. Sekarang buku-buku Gorys Keraf tergeser karena bersaing dengan buku-buku pelajaran dari pemerintah. Saat kuliah di Universitas Muhamadiyah di Surakarta (UMS) tahun 2000, Tri pun diminta dosen untuk membaca buku Komposisi. Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Solo, sampai sekarang juga masih dianjurkan dosen untuk membaca buku yang kini menjadi klasik itu, pada semester awal perkulihan. Di toko-toko buku bekas seperti di belakang Sriwedari dan Gladag, Solo, buku asli dan banyak sekali bajakan Komposisi masih bisa ditemui.
Ket. Foto: Buku Disertasi Gorys Keraf “MORFOLOGI DIALEK LAMALERA”
Di daerah asalnya, Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur, Gorys Keraf pun dikenal sebagai tokoh yang turut memberi arti besar bagi bahasa Indonesia. Frater Erich Langobelen, calon imam projo keuskupan Larantuka, asal Lembata, membagi ingatan, di pesan suara Whatshapp, 5 Maret 2018, “Mungkin tidak semua orang juga tahu tentang kiprahnya di dunia itu. Orang hanya tahu bahwa Gorys Keraf itu punya sumbangsih besar di bahasa Indonesia. Hanya namanya saja yang orang tahu tapi pemikirannya tidak semua yang tahu. “Perkenalan Erich dengan Gorys Keraf bermula saat kelas dua SMP, 2007. Dia diminta guru bahasa Indonesianya, yang keponakan Gorys Keraf, membaca bukunya. Tapi, Erich benar-benar membaca buku Gorys Keraf, terutama Komposisi, saat dia meneruskan pendidikan di seminari ‘Sando Minggo’, Hokeng, tempat yang sama Gorys Keraf menghabiskan SMP-nya. Di seminari, menurut Erich, nama Gorys Keraf pun masih dikenal meski koleksi buku-bukunya di perpustakaan tidak begitu lengkap.
Cuilan-cuilan ingatan tentang Gorys Keraf memberi kepastian pada ketokohannya di tema bahasa. Biografinya, sejauh ini, tak tercatat di mana-mana kecuali di sampul belakang buku-buku yang ia tulis, atau pada akhiran buku di halaman berjudul ‘Tentang Penulis.’ Disana pembaca tahu secuplik kehidupan akademis putra Lembata itu, bersama sebuah potret yang menampilkan wajah dengan bahasa tak beda: tembam berkulit gelap dengan bibir lebar yang tipis. Kedua mata selalu mengenakan kaca mata gelap meski tubuh bisa memakai setelan jas atau kemeja berlengan pendek.
Kampung Lamalera, tempat lahir Gorys Keraf
Lahir 17 November 1936 di Lamalera, Gregorius Prawin Keraf merampungkan SMP di seminari ‘San Dominggo’, Hokeng, 1954. Usai lulus dari SMA Suryadikara, Ende, 1958, ia merantau ke Jakarta dan memeroleh gelar sarjana jurusan Bahasa Indonesia Kejuruan Linguistik tahun 1964 dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia juga mengajar di SMA Suryadikara di Ende, SMA Seminari ‘San Dominggo’, di Hokeng, juga beberapa SMA di Jakarta: SMA Buddhaya II (1962-1965), SMA St. Ursula, dan SMA St. Theresia (1964). Tahun 1964, ia bekerja sebagai registar di Unika Atma Jaya Jakarta dan dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Pendidikan Unika Atma Jaya. Ia juga memberi kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta, dan dosen di Jakarta Academy of Languanges.
Rupa-rupa pengalaman mengajar dan barangkali ketiadaan buku pengajaran tata bahasa Indonesia yang memberi bobot pada pendidikan bahasa Indonesia itulah yang mungkin menggerakan Gorys Keraf menulis Tatabahasa Indonesia (1969). Pada 1970, buku yang ditulis untuk pelajar sekolah menengah tingkat atas itu diterbitkan oleh Nusa Indah, Ende, Flores. Pada 1984, Tatabahasa Indonesia telah mengalami cetak ulang yang kesepuluh.
Pembaca menyimak tuturan Gorys Keraf pada kata pengantar edisi perdana yang masih disertakan di cetakan tahun 1984: “Peningkatan taraf pendidikan tersebut tidak mungkin berjalan baik kalau pengetahuan dan penguasaan bahasa Indonesia belum cukup. Kekurangan ini akan di atasi bila taraf pengetahuan para pendidik juga ditingkatkan, serta buku=buku pegangan yang kurang sesuai mengalami penyempurnaan (……). Karena insyaf akan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan buku-buku Tatabahasa Indonesia hingga saat ini, maka kami mencoba menyusun Tatabahasa ini dengan mempergunakan prinsip-prinsip Ilmu Bahasa Modern, memakai penafsiran-penafsiran baru dan analisa-analisa yang lebih sesuai dengan taraf kemajuan Ilmu Bahasa sekarang. Tidak pada tempatnya bila kita tahu adanya kekurangan-kekurangan tersebut, tetapi tetap mempergunakan bahan-bahan yang sama. Karena itu perlu ada perombakan.” Sedikit cuplikan mencandrakan niat sungguh-sungguh Gorys Keraf demi kemajuan pendidikan bahasa di Indonesia. Tak ada pilihan lain agar tujuan itu mewujud kecuali ‘memaksa’ orang-orang mempertangkas cara pikir lewat persembahan buku-buku bermutu.
Bambang Kaswati Purwo, dosen Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, sempat menulis makalah berjudul “Menguak Alisjahbana dan Keraf: Pengajaran Bahasa Indonesia” di majalah kebudayaan BASIS, no 12 Desember 1987. Di makalah itu, Bambang melakukan penelusuran pada dua buku yang ‘pengaruhnya begitu dalam memasuki relung-relung pengajaran bahasa Indonesia’: dua jilid tata bahasa garapan Sutan Takdir Alisjhbana (1949) dan Tatabahasa Indonesia Gorys keraf. Penyelidikan pada struktur bahasa dan teori di kedua buku tata bahasa yang paling digdaya melawan waktu itu, sampai pada suatu simpulan yang penting. Buku Sutan Takdir Alisjahbana dan Goris Keraf telah ketinggalan zaman dan selayaknya diadakan buku tatabahasa yang lebih menyambut zaman bahasa, yang ‘sejalan dengan kemajuan pandangan manusia mengenai bahasa.’
Barangkali, negara serius mempertimbangkan ajuan Bambang. Lewat Balai Pustaka, negara menerbitkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia pada 1988. Buku lebih tebal dari garapan Gorys Keraf. Tim penyusun yang di ketuai oleh Anton M. Moeliono, waktu itu juga menjabat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, tidak melibatkan Sutan Takdir Alisjahbana dan Gorys Keraf, dua orang yang mendahului penulisan tata bahasa Indonesia. Lagi pula, ada bagian penting yang termuat di Tatabahasa Indonesia Gorys Keraf dan tak sehuruf pun terbahas di Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia versi negara: “Sejarah dan Kedudukan Bahasa Indonesia.” Orang-orang mungkin sempat meragu, apakah negara menginginkan orang Indonesia bertutur dalam bahasa yang tak mereka ketahui asal-usulnya.
Usai Tatabahasa Indonesia, tahun 1971, Gorys Keraf menerbitkan buku kedua, Komposisi dengan keterangan kecil, Sebuah Pengantar Kepada Kemahiran Bahasa. Penerbit buku masih sama, Nusa Indah. Secuplik cerita penulisan buku itu ada di kata pengantar. Mulanya, Komposisi ditulis demi bahan ajar sebuah mata kuliah yang belum pernah ada di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mata kuliah itu berjudul Kemahiran Bahasa Indonesia. Kuliah kemahiran bahasa dirasa perlu sebab tercandra dari tulisan-tulisan ilmiah mereka, mahasiswa belum memiliki kecakapan bahasa memadai demi kelayakan sebagai sarjana. Desakan kemahiran berbahasa Indonesai di perguruan tinggi juga disebabkan kegagalan pendidikan di sekolah lanjutan untuk ‘menamatkan pelajar-pelajar dengan bekal kemampuan bahasa yang membanggakan.’ Komposisi berhasil disusun setelah bertahun-tahun pengalaman Gorys Keraf memberi kuliah di kelas.
Komposisi, kata Gorys Keraf, “Dimaksudkan terutama untuk meletakkan dasar-dasar karang-mengarang bagi mahsiswa atau siapa saja, yang ingin menggarap karangan secara baik dan teratur” (Diksi dan Gaya Bahasa, 2004). Di pengantar edisi kedua, 1973, pembaca menemu buku Komposisi segera tak bersisa dilahap penikmat bahasa. “Dalam waktu singkat, cetakan pertama dari buku Komposisi ini sudah habis terjual, “tulis Gorys Keraf. Permintaan-permintaan segera cetak ulang berdatangan. Pada 1978, Komposisi sudah dicetak lima kali.
Melani Budianta, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan sempat menjadi mahasiswa Gorys Keraf pada 1973 sampai 1974 memberi kesaksian lewat surel, 4 Maret 2018. Melani mengingat sosok Gorys Keraf yang tinggi besar, senantiasa berjalan mondar-mandir di hadapan kelas, dan mampu menjangkau seluruh kelas, sekitar 50 mahasiswa lebih, dengan suaranya. Menurut Melani, Gorys mengajar dengan sangat sistematis, jelas, dan komunikatif. Ia sering membikin contoh-contoh lucu untuk ‘menunjukan penalaran yang keliru’ dan menggagalkan mahasiswa tidur di kelas.
Dari sejumlah dosen Universitas Indonesia waktu itu, bagi, Melani, Gorys Keraf termasuk yang ‘menggunakan bahasa Indonesia dengan sempurna.’ Ia tak sekedar menjiwai tapi juga meraga di bahasa Indonesia. Melani Budianta memberi narasi panjang tentang laku bahasa Gorys Keraf.
“Bahasa Indonesia yang mengalir dari mereka-secara lisan maupun tertulis-adalah bahasa intelektual yang mengolah pikiran secara logis, runtun dan utuh. Dengan demikian, Gorys keraf bukan sosok dosen yang mengajarkan teori belaka. Ia sendiri, dengan tutur bahasanya, adalah contoh yang terbaik dari apa yang diajarkannya. Kuliah komposisi yang diberikannya kepada mahasiswa semester awal, adalah kuliah yang menata bukan saja kaidah berbahasa, tetapi terutama penalaran ilmiah. Kuliah ini merupakan landasn yang penting bagi calon sarjana. Saya sangat beruntung mendapatkan ilmu dari Gorys Keraf. Latihan untuk membuat karangan (out line), menyusun argument yang absah dalam satu paragraf yang padu, adalah langkah pertama untuk setiap calon sarjana. Gorys Keraf-dengan kuliah yang mencerahkan dan penjelasannya yang terstruktur dan rinci, yang dituangkan dalam buku Komposisi, buku teks klasik itu-telah memberikan bekal tak ternilai bagi calon intelektual.”
Gorys Keraf menambah kerja menulis tiga buku lanjutan, Ekposisi dan Deskripsi (1981), Argumentasi dan Narasi (1982), dan Diksi dan Gaya Bahasa (1984), diterbitkan oleh Gramedia Pustaka, Jakarta. Peralihan ke penerbit mayor mencandrakan anggapan kemonceran Gorys Keraf pada perkara kebahasaan. Di pengantar Diksi dan Gaya Bahasa (cetakan ke-14, 2004), bertanggal 13 Juli 1980, Gorys Keraf memberi penjelasan, “Bersama Diksi dan Gaya Bahasa, kedua buku yang disebut terakhir (Eksposisi dan Deskripsi dan Argumentasi dan Narasi) merupakan trivium komposisi lanjutan, atau bersama-sama merupakan suatu seri retorika.” Gorys Keraf menginginkan pembaca tak sekedar tahu cara menulis karangan bagus. Ia ingin mereka lesap ke dalam lekuk liku batin bahasa Indonesia dan sanggup menulis karangan yang memukau.
Tempo, 1 Desember 1984, mengabarkan buku-buku yang akan membantu pembaca ‘pandai menyampaikan pemikiran, mempengaruhi sikap dan perasaan orang lain melalui pidato atau tulisan.’ Iklan menganjurkan pembaca agar memakai ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar.’ Diantara buku-buku di daftar, pembaca bertemu tiga buku karangan Gorys keraf: Argumentasi dan Narasi, Diksi dan Gaya Bahasa, dan Linguistik Bandingan Historis. Penerbit memberi godaan panjang agar buku-buku itu meyakinkan. Iklan pun memberi penjelasan singkat mengapa buku-buk wajib termiliki.
Tempo, 6 Juli 1985, memuat iklan buku sastra terbaru Gramedia, Anak Tanah Air garapan Ajip Rosidi. Iklan tak cuma menginginkan pembaca memiliki buku Ajip. Godaan lanjut ikaln: “Lengkapilah buku ini dengan terbitan kami yang lain di bidang kesusastraan Indonesia.” Iklan menampilkan daftar 25 buku bahasa dan sastra yang mesti dimiliki pembaca. Enam sampul buku pun tersaji di hadapan mata (calon) pembaca. Di antara sampul buku itu, ada Diksi dan Gaya Bahasa yang ditulis Gorys Keraf. Dari 25 uku di daftar, ada dua buku Gorys Keraf, termasuk Linguistik Bandingan Historis (1984) bersama buku Santun Bahasa garapan Anton Moeliono, dan Inilah Bahasa Indonesia yang Benar garapan J.S. Badudu. Seperti godaan iklan, orang-orang tahu buku-buku garapan Gorys Keraf penting untuk bekal untuk kecakapan berbahasa Indonesia dalam perkara karang-mengarang dan berbincang.
Menahbiskan raga dan jiwa demi mengajar di Universitas Indonesia, 30 Agustu 1997, Gorys Keraf berpamit dari jagad bahasa Indonesia. Ia memberi warisan kata di buku-buku Linguistik Bandingan Historis (1984), Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia (1995), Cakap Berbahasa Indonesia (1996). Tapi siapa saja yang rindu, pergi ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tak bakal membayar lunas. Perpustakaan Negara itu punya tiga buku Gorys Keraf saja: Komposisi, Diksi dan Gaya Bahasa, dan Kamus Terampil Berbahasa. Negara dimaklumkan selalu abai dan melupa, tapi kita memuliakan diri sedikit mengingat masa lalu bahasa Indonesia di sosok G o r y s K e r a f.
***
*Na’imatur Rofiqoh, Redaktur Sebaran Bahasa Katebelece
*Sumber Tulisan: Majalah BASIS, Nomor 03-04, Tahun Ke-67, 2018.
Berandanegeri.com. SELURUH aparatur sipil negara (ASN) dan para siswa mulai dari SD, SMP dan SMA, dan SMK di Kabupaten Dogiyai, Papua akan libur mulai tanggal 19 Maret hingga 5 April 2020. Mereka akan masuk kerja dan sekolah pada 6 April 2020. Namun, bagi ASN diperintahkan untuk bekerja di rumah masing-masing dan tetap berkoordinasi dengan masing-masing pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).
Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa melalui Surat Edaran Nomor 440/100/Set tentang Penyesuaian Jam Kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Dogiyai tertanggal 20 Maret 2020 menyebutkan, langkah itu dilakukan sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran coronavirus diseas 2019 (covid-19)di Dogiyai.
“Pemerintah Kabupaten Dogiyai sungguh-sungguh mengambil lankah-langkah yang diperlukan untuk melakukan pencegahan penyebaran covid-19,” ujar Bupati Dumupa dalam keterangan tertulis yang diterima berandanegeri.com di Jakarta, Jumat (20/3 2020).
Menurut Bupati Dumupa, langkah yang diambil menyusul penetapan covid-19) oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia. Berikut langkah tersebut diambil setelah memperhatikan Instruksi Presiden Republik Indonesia, Surat Edaran Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 19 Tahun 2020, Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 440/2436/SJ, dan Surat Edaran Gubernur Papua Nomor 440/3234/SET berkaitan dengan pencegahan penyebaran covid-19
Bupati Dumupa menambahkan, selain meliburkan para ASN dan siswa di seluuruh wilayah Dogiyai,pihaknya juga memerintahkan seluruh Kepala OPD dan pegawai ASN Dogiyai untuk membatalkan atau tidak melakukan perjalanan dinas keluar daerah, kecuali untuk urusan yang sangat penting dan mendesak setelah mendapatkan izin dari Bupati.
Menurutnya, Pemerintah Dogiyai telah membentuk Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Dogiyai dengan tugas sebagai berikut. Pertama, melakukan sosialisasi mengenai Pencegahan Penyebaran CoronavirusDisease 2019. Kedua, membentuk Posko Penecegahan Penyebaran covid-19 di KM 100 Siriwo dan Moanemani.
Tugas posko untuk melakukan pendeteksian infeksi covid-19 kepada setiap orang yang masuk ke wilayah Dogiyai dan melakukan tindakan medis bagi orang yang terindikasi pengidap virus covid-19. Ketiga, melakukan evaluasi terhadap kondisi pencegahan penyebaran covid-2019 secara berkala.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat Dogiyai dan semua orang yang masuk wilayah Dogiyai agar bekerja sama untuk melakukan langkah-langkah pencegahan penyebaran covid-19 di wilayah Dogiyai,”ujar Dumupa.