BELAKANGAN ini karya-karya sastra Indonesia tumbuh cukup subur. Munculnya karya-karya sastra tidak hanya menggembirakan dunia sastra namun juga dunia ilmu sosial yang mulai melirik sastra setelah jenuh dengan positivisme. Ilmu sejarah juga mulai mencari bentuknya dengan cara penulisan sejarah yang lebih memikat. Novel Pangeran dari Timur yang ditulis oleh Iksaka Banu dan Kurnia Effendi adalah salah satu cara sastrawan menulis sejarah dengan cara sastrawi. Bertempat di Museum Bank Indonesia, Jln. Pintu Besar Utara No. 3, Sabtu, 14 Maret 2020 novel ini diluncurkan. Tampil sebagai pembicara dalam acara peluncuran itu adalah Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, penulis novel Pangeran dari Timur. Yang menarik dari acara peluncuran novel ini adalah sesi action painting. Ini adalah sebuah sesi dimana bagian novel ini dibacakan disertai coretan lukisan yang dibuat oleh pelukis Widi S. Martodihardjo. Sambil mendengarkan narasi penggalan novel Pangeran dari Timur, yang dinarasikan oleh Nana Riskhi Susanti, Widi, pelukis dari Bali itu mencoba menangkap pesan cerita dan menuangkannya di atas kanvas.
Ket. Foto: Pelukis Widi S. Martodihardjo sedang menuangkan di atas kanvas ide yang ditangkap dari narasi novel “Pangeran dari Timur”
Dari Sayembara Skenario Film hingga Beasiswa ke Negeri Belanda
Penulisan novel ini bermula dari sebuah sayembara skenario film tentang Raden Saleh yang diadakan oleh sebuah majalah wanita. Ketika itu Iksaka Banu dan Kurnia Effendi berniat mengikuti lomba tersebut. Rintangan pertama yang mereka temui adalah tidak adanya buku referensi tentang Raden Saleh. Gairah untuk menulis Raden Saleh muncul lagi saat Banu dan Effendi berbelanja buku murah di Teater Utan Kayu. Pada saat itu mereka mendapatkan sebuah buku tipis yang mengulas tentang Raden Saleh. Pada tahun itu mereka juga terpukau oleh gaya tulisan Alan Lightman dalam novel Mimpi-Mimpi Einstein yang diterjemahkan oleh Yusi Avianto Pareanom, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Cara Alan bertutur sungguh filmis. Hal itu memicu awal penulisan sepenggal kisah mengenai Raden Saleh, maestro pelukis yang – ndilalah– menempati posisi ambigu dalam silang pendapat, baik dari kritikus seni rupa maupun pengamat nasionalisme.
Ket. Foto: Novel “Pangeran dari Timur”
Kerja keras untuk menggarap novel ini dilanjutkan dengan pasang surutnya semangat Banu dan Effendi. Bila ada diskusi, pameran, perhelatan yang terkait dengan Raden Saleh, Banu dan Effendi berusaha mengikuti acara-acara itu guna menambah informasi. Seluruh indra mereka kembangkan untuk mengendus, mengintai, mencari buku-buku, mailing list yang berhubungan dengan tokoh Raden Saleh.
Tahun 2017, adalah tahun ‘berkat’ bagi penulisan novel itu. Salah satu penulis novelnya, Kurnia Effendi, mendaftarkan diri sebagai calon peserta reseidensi penulis di luar negeri. Negeri Belanda dipilih sebagai tempat risetnya dengan tujuan ingin napak tilas Raden Saleh agar tidak ada alasan lagi bagi tertundanya penulisan novel yang sudah belasan tahun tak kunjung rampung. Proposal akhirnya disetujui oleh Komite Buku Nasional sehingga beasiswa unggulan dari Kemendikbud menjadi bekal residensi selama dua bulan di Belanda. Selama di Belanda Kurnia Effendi dengan sungguh-sungguh mengunjungi setiap tempat dan mencatat informasi yang berhubungan dengan Raden Saleh.
Kegelisahan Banu dan Effendi berikutnya adalah bagaimana cara menempatkan Raden Saleh sebagai sosok yang mereka kagumi (mungkin karena sama-sama penghamba seni rupa) tetapi dari sisi patriotisme, perjalanan hidupnya justru mendapat privilese dari pihak yang sedang menginjak-injak harga diri bangsanya. Banu dan Effendi akhirnya menemukan cara untuk meramu ‘kontroversi’ tentang Raden Saleh. Plot untuk penulisan novel Raden Salah menemukan titik terangnya. Penulisan novel ini di bagi dalam dua arus zaman: abad ke-19 (masa kehidupan Raden Saleh) dan abad ke-20 (masa pergerakan menjelang kemerdekaan Indonesia).
Siapakah Raden Saleh?
Raden Salah Syarif Boestaman lahir di Terboyo, Semarang, tahun 1811. Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa-Arab dari pasangan Sayyid Hoesan bin Alwi bin Awal bin Yahya dan Mas Adjeng Zarip Hoesen. Ketika berusia 10 tahun, Raden Saleh diserahkan kepada pamannya Kyai Adipati Soero Menggolo, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Semarang. Pamannya merupakan salah satu anggota Javaansch Weldadig Genootschap (masyarakat filantropi), yang sebagian besar anggotanya adalah pejabat Belanda.
Keramahan Raden Saleh dalam bergaul memudahkannya masuk dalam lingkungan orang-orang Belanda. Ia diterima bekerja di Lembaga Pusat Penelitian Pengetahuan dan Kesenian Bogor. Di lembaga itu ia bertemu dengan Antonie Auguste Joseph Payen, seorang pelukis keturunan Belgia yang ditugaskan pemerintah kolonial untuk melukis pemandangan alam di Hindia Belanda untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen Belanda. Raden Saleh belajar melukis pada Payen.
Foto Raden Saleh
Ketika Payen harus kembali ke Eropa pada 1825, Raden Saleh sudah menjadi bagian dari keluarga Jean Baptise de Linge, seorang akuntan di Direktorat Keuangan. Ketika de Linge diperintahkan untuk melakukan perjalanan ke Belanda, pada saat itu Raden Saleh ikut bersama mereka. Setelah tugas selesai, ketika de Linge bertolak dari Belanda, Raden Saleh justru memutuskan untuk tinggal dan belajar lebih lama di Belanda. Di Belanda ia belajar melukis potret pada Cornelis Kruseman. Raden Saleh juga belajar melukis pemandangan kepada Andries Schelfhout. Dari Belanda Raden Salaeh terus mengembara ke Eropa.
Pada 1851 Raden Saleh kembali dari Eropa ke Hindia Belanda.
Raden Saleh menikah dengan Constancia sekitar tahun 1855 dan tinggal di Kampung
Gunung Sahari di utara kota. Raden Saleh kemudian bercerai dan menikah lagi
dengan Raden Ayu Danoediredjo, seorang gadis keluarga ningrat dari Keraton
Yogya. Raden Saleh meninggal dunia pada 23 April 1880 dan di makamkan di TPU
Bondongan, Bogor.
Menulis novel Pangeran dari Timur, membutuhkan waktu yang cukup panjang, sekitar 20 tahun, tutur Iksaka Banu dan Kurnia Effendi. Namun harus diakui, buku setebal 593 halaman ini merupakan sebuah sumbangan besar bagi dunia sastra dan perbukuan di Indonesia. Manusia sudah menjadi makhluk bersastra sejak bayi, melalui kidung yang disenandungkan oleh ibu. Makluk kecil itu lalu belajar menjadi makhluk pencerita. Manusia adalah homo fabulator (makhluk pencerita), tulis Ben Okri dalam bukunya A Way of Being Free. Cerita itu kini kita nikmati dalam novel Pangeran dari Timur.
INDONESIA adalah negeri kepulauan, mungkin negeri kepulauan terbesar di dunia. Dari seluruh keluasannya sebesar 1.923.715 kilometer persegi, dua pertiganya terdiri dari laut. Sekalipun daratan hanya membentuk sepertiganya, boleh dikatakan orientasi penduduk negeri ini adalah ke daratan. Padahal, sebelum kedatangan orang Barat pada awal abad ke-16, yang diteruskan dengan sejarah kolonisasi, pelayar-pelayar dari kawasan ini telah melanglang buana lewat lautan, dari Filipina hingga ke Madagaskar, dari Lautan Teduh hingga ke India. Pada masa sekarang, penduduk di daerah-daerah pesisir umumnya bukan menggantungkan hidup pada laut, melainkan pada pertanian, entah sawah entah ladang. Menangkap ikan dan mengolah sumber daya laut hanyalah pengisi waktu senggang untuk mendapatkan lauk-pauk dan memperoleh sedikit tambahan pendapatan kalau orang sedang tidak bekerja di kebun.
Foto: Raja Ampat
Mengapa penduduk NTT, misalnya, yang hidup di pulau-pulau
kecil yang dikelilingi laut, tidak berorientasi ke laut dalam
mata-pencahariannya, tetapi justru tetap lengket ke daratan, yang tidak begitu
subur? Pertanyaan ini pernah saya dengar dari Sarwono Kusumaatmadja ketika dia
masih menjadi Menteri Kelautan. Dibutuhkan studi kebudayaan yang cukup luas untuk
mendapatkan jawabannya. Menurut dugaan saya, hal ini terjadi karena dalam mata
pencaharaian di laut, tidak terdapat sesuatu yang dapat menjadi ekuivalen
pertanian. Tidak ada perasaan bahwa dalam menangkap ikan, orang juga mengontrol
dan mengolah alam seperti seperti halnya orang mengelola tanah dan menanam
bibit dalam pertanian. Kehidupan di laut lebih mirip kehidupan berburu dan
meramu hasil hutan di daratan. Orang datang mengambil hasil yang diberikan oleh
alam, dan kemudian meninggalkannya. Perasaan ini mungkin menyebabkan orang
tidak terlalu berbangga bekerja mencari penghidupannya di laut, dan tetap
mengandalkan nafkahnya pada pertanian.
Persoalannya adalah apakah di laut dapat diciptakan suatu
usaha yang mirip pertanian, tempat para pekerjanya merasa mengawasi dan
mengolah alam sebagaimana petani membuat saluran air di sawah dan mengawasi
padinya. Hal ini mungkin dilakukan kalau di berbagai daerah di Indonesia dapat
dikembangkan budi daya laut, tempat potensi sumber daya laut tidak hanya diambil,
tetapi juga dipelihara dan dikembangkan secara terencana. Budidaya udang,
teripang, rumput laut dan mutiara adalah beberapa contoh yang sudah dicobakan
di banyak tempat. Kalau saja usaha budidaya ini dapat menciptakan presepsi baru
bahwa di laut orang dapat mengawasi dan mengolah alam, mungkin perhatian untuk
menggarap potensi laut akan meningkat sebanding dengan perhatian kepada
pertanian.
Preokupasi dengan daratan dan sikap mengabaikan laut terlihat
tidak saja dalam bidang ekonomi penduduk, tetapi juga dalam bidang yang lebih
canggih seperti pola kepemimpinan, khususnya kepemimpinan politik. Yang dominan
dalam politik Indonesia semenjak kemerdekaannya adalah pola kepemimpinan dengan
warna feodal yang kuat dari latar belakang pertanian. Para bangsawan yang
menguasai tanah menjadi patron untuk para petani yang menjadi klien mereka.
Bangsawan memerintah para kawulanya sambil menjaga kebudayaan, sedangkan para
petani menerima perintah dan mengurus ekonomi. Tukar-menukar berlangsung antara
kekuasaan dan kebudayaan yang turun dari atas dan hasil-hasil pertanian yang
diserahkan dari bawah. Petani terlalu lugu untuk mengurus politik dan terlalu
kasar untuk mengurus kebudayaan, sementara para pangeran terlalu halus untuk
mencangkul di sawah. Dengan pola seperti itu, sifat utama hubungan feodal
adalah orientasi ke atas yang kuat, patronisme yang paternalistis, penekanan
kepada ketundukan dan nilai-nilai yang mendukung ketundukan, konsep waktu yang
siklusnya seperti musim yang selalu berulang, dan legitimasi yang bersifat
turun-temurun, meskipun selalu ada ruang untuk mobilitas vertikal untuk lapisan
bawah. Hak dan kewajiban ditempatkankan dalam asimetri. Yang di atas memberi
petunjuk, yang di bawah melaksanakan. Yang di bawah memohon yang di atas
berkenan.
Alam juga tidak begitu sulit diramalkan, sehingga pengetahuan yang sederhana saja sudah memadai untuk keperluan tersebut. Keteraturan alam hanya di selang-selingi oleh bencana seperti kemarau panjang, banjir, atau letusan gunung berapi. Kehidupan sosial relative stabil. Dalam pola seperti ini, waktu adalah suatu sumber daya yang tak akan habis (renewable resource), dan keputusan seperti mufakat dapat diambil dengan menghabiskan waktu yang panjang. Tidak mengherankan, seorang pemimpin tidak begitu mendatangkan banyak resiko, sekalipun dia ditentukan begitu saja dari atas.
Buku Karya Mattulada
Ketidakpuasan terhadap pola in sudah sering kali diungkapkan dalam berbagai kritik, tetapi usaha untuk mencari pola kepemimpinan alternatif belum banyak dilakukan. Tak adanya alternatif ini menyebabkan kita mudah terjebak dalam kesadaran palsu, ketika seseorang dengan sengit mengkritik feodalisme, sedang dia sendiri dengan asyik mempraktekan cara-cara feodal. Dalam beberapa studi yang diadakan tentang kebudayaan pesisir, khususnya yang dilakukan oleh almarhum Prof. Dr. Matullada, telah diidentifikasi suatu pola kepemimpinan yang berasal dari tradisi kelautan yang dinamai kepemimpinan kapitan perahu. Kepemimpinan jenis ini sekarang layak dipertimbangkan karena ia dapat memberi warna baru dalam kepemimpinan politik Indonesia sekarang. Selain itu, kepemimpinan itu digali dari suatu latar belakang yang amat dominan di masa lampau, dan mencerminkan kedudukan Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut dan lautan. Pola kepemimpinan ini ditandai oleh beberapa ciri yang secara mencolok berbeda dari kepemimpinan dengan latar belakang pertanian.
Pertama, seorang kapitan perahu tidak dapat
ditentukan saja dari atas. Tentu saja
dropping bisa saja dilakukan, tetapi risikonya amat tinggi karena langsung
berhadapan dengan ujian dalam prakteknya. Seorang kapitan yang tidak
berpengalaman tidak bisa dijamin membawa perahunya dari Surabaya ke kepulauan
Riau, misalnya, sementara perahunya bisa saja mendarat di sebuah tempat di
Lombok atau Sumbawa. Demikian pun tanpa pengetahuan yang memadai mengenai laut,
dia dapat membawa perahunya menabrak karang atau terhunjam di tempat yang
dangkal. Risiko tersesat, terdampar, dan karam demikian tingginya sehingga
mengangkat sembarang orang menjadi kapitan perahu akan tak terbayangkan dalam
tradisi kelautan. Demikian pun kesanggupan untuk berlayar dengan selamat
menempuh jarak jauh mempersyaratkan adanya pengetahuan yang cukup mendalam
mengenai navigasi, peta di laut, arah angin, letak bintang, gerak arus, dan
saat-saat datangnya topan. Perubahan di laut jauh lebih cepat dan bervariasi
dari perubahan alam di darat. Karena itulah kehidupan di atas laut menjadi
dinamis, penuh antisipasi terhadap perubahan cuaca, yang mengharuskan keputusan
baru dan penyesuaian baru dari waktu ke waktu.
Kedua, dalam menghadapi krisis seperti topan
atau gelombang besar, seorang kapitan perahu tidak bisa mengajak berunding para
awak kapal selama beberapa jam atau menunggu tercapainya mufakat setelah bermusyawarah
seharian penuh. Keputusan harus diambil, katakanlah, pada pukul 23.05, dan
barangkali dikoreksi pada pukul 23.10. Pengambilan keputusan yang cepat dan
tegas, dan mengoreksi keputusan yang keliru dalam waktu singkat, adalah
imperatif. Kalau dia terlambat mengambil keputusan atau terlambat mengoreksi
keputusan yang keliru, dapat berakibat tenggelamnya kapal, yang bisa mengakhiri
hidup para penumpangnya. Adapun tepat-tidaknya keputusan yang diambil langsung
mengalami ujian pada saat itu, yaitu apakah kapalanya tetap terjebak dalam
topan atau dapat meloloskan diri dari bahaya. Akuntabilitas seorang kapitan
perahu hampir-hampir merupakan akuntabilitas alamiah karena benar-salah
keputusannya akan diuji oleh kekuatan alam sendiri.
Ketiga, kalau kapalnya karam dan para
penumpangnya terancam bahaya, seorang kapitan perahu terikat oleh semacam
“sumpah jabatannya” yang biasanya dipegang teguh, yakni bahwa dia tetap berada
di perahunya sampai penumpang dan awak perahunya yang terakhir telah mendapat
kesempatan menyelamatkan diri. Secara tradisional seorang kapitan perahu dapat
saja mengkhianati “sumpah jabatannya” ini, tetapi dengan itu secara sosial dia
telah mati. Orang-orang dikampungnya tidak akan pernah memaafkan dia, dan
barangkali anak cucunya juga akan tetap menanggung aib ini bahwa pernah ada
seorang kapitan perahu yang denikian pengecut meninggalkan penumpang perahu dan
para awaknya begitu saja dalam keadaan terlunta-lunta ketika kapalnya karam. Mentalitas
cari selamat sendiri adalah hal yang ditabukan.
Tentu saja etos ini ada risikonya sendiri. Seorang kapitan
perahu cenderung menjadi pemimpin dengan one-man
leadership. Ketegasan yang dituntut daripadanya dapat berubah menjadi sikap
otoriter. Kepemimpinan tunggal ini masih sering kita dengar dari ungkapan
sehari-hari bahwa tidak mungkin ada dua orang kapitan di atas satu perahu.
Dalam kehidupan di atas perahu, kepemimpinan tunggal ini relatif diterima
karena diimbangi dengan tanggung jawab yang sangat besar dari sang kapitan. Dia juga didukung
oleh legitimasi yang kuat berupa pengakuan dan penerimaan para awak perahunya.
Di samping itu, patut diingat bahwa risiko otoritarianisme adalah risiko yang
ada pada segala jenis kepemimpinan dan segala jenis kekuasaan. Dalam hal ini,
legitimasi dapat menjadi kontrol yang kuat. Seorang pemimpin yang selalu
menunjukkan sikap otoriter terhadap bawahannya, dengan atau tanpa alasan
lambat-laun akan kehilangan legitimasinya. Sebab, legitimasi adalah unsur yang masih
menyelamatkan rasionalitas penggunaan kekuasaan. Kalau orang-orang yang
diperintah merasa bahwa kekuasaan itu bukannya dipergunakan untuk menyelamatkan
seluruh perahu dan penumpang melainkan sudah menjadi tanda kesewenang-wenangan
kapitannya, bisa saja terjadi pembangkangan di atas perahu.
Kalau kita ingat bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan, dan
bila diingat juga bahwa tradisi kelautan mempunyai akar sejarah yang demikian
mendalam, patutlah dipikirkan, apakah mungkin, dan bagaimana caranya, pola ini
dapat diterapkan dalam politik Indonesia saat ini, yang menghadapi masalah
serius mengenai kepemimpinan. Penyair Chairil Anwar bahkan sudah menulis puisi
tentang laut pada 1946:
Beta Pattiradjawane
Kikisan laut berdarah
laut
Beta Pattiradjawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
(Sajak Cerita Buat Dien
Tamaela).
Sayangnya, baris-baris sajak ini sudah terlalu lama tidak dibacakan dalam politik Indonesia.
***
*Ignas Kleden, Sosiolog dan Kritikus Sastra
*Sumber Tulisan, Majalah Tempo, Edisi 12-19 Agustus 2001
JAKARTA, berandanegeri.com. Pastor Markus Solo Kewuta SVD menyesalkan foto dirinya bersama Paus Fransiskus yang beredar di media sosial (medos) di Indonesia dengan judul “Ke Indonesia Tertunda”. Ia menyesalkan beredarnya foto tersebut karena seolah-olah berita gambar itu dibuat oleh beliau sendiri. Atau sumber berita pembatalan kunjungan Paus itu berasal dari beliau.
“Bukan! Berita resmi pembatalan kedatangan Paus itu berasal dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan, Pak Agus Sriyono, seperti yang dirilis oleh media-media,” ujar Pastor Markus Solo, Kamis (12/3/2020).
Ia
menyesalkan ada orang sudah menggunakan foto beliau untuk menyebarkan berita
pembatalan kedatangan Paus itu yang mengundang multi-tafsir. “Saya meminta
untuk tidak menyebarkan foto itu lagi. Terima kasih,”
lanjut Pastor Markus.
DALAM satu hal mungkin tidak ada tempat lain di dunia yang menyamai Indonesia, yaitu bahwa pendapat para pakar begitu didengar dalam membicarakan everyday politics, baik menyangkut ekonomi maupun politik. Di Negara-negara maju, pembagian antara kerja politisi dan para ilmuwan sudah demikian baku,sehingga para ilmuwan dan peneliti tidak begitu terlibat dalam membicarakan issue aktual,tetapi bergulat dengan masalah penelitian mereka. Yang menyangkut issue aktual mengenai ekonomi dan politik (juga bidang lainnya) ditanggapi para politikus di parlemen atau partai politik yang bertugas mengawasi pemerintah menyangkut kebijaksanaan dan keputusan politik.
Terlibatnya para pakar Indonesia dalam aktualitas politik dan ekonomi menunjukan bahwa keahlian untuk kedua bidang ini belum seluruhnya terwakili secara memadai di kalangan politisi. Untuk masalah politik, pendapat dan sikap para ahli ilmu politik (misalnya dari LIPI maupun dari lembaga penelitian lainnya) banyak diminta dan didengar. Demikan pula untuk masalah ekonomi Indonesia, pendapat para pengajar dan peneliti ekonomi dari kampus dan lembaga penelitian amat dinanti-nantikan. Keadaan ini telah berkembang sedemikian jauh, sehingga paraktis para ahli kita, terutama dalam kedua bidang itu, lebih mempersiapkan dirinya untuk melayani pertanyaan khalayak atau menjawab pertanyaan media, daripada berkutat dengan suatu penelitian yang direncanakan dengan matang dan dikerjakan secara kontinu.
Foto: Buku Masyarakat dan Negara, Karya Ignas Kleden
Istilah pakar dalam semantik politik Indonesia bukan saja berarti seseorang yang mempunyai keahlian, tetapi lebih berarti seorang ahli yang berperan sebagai public intellectual atau cendikiawan publik dan bukan sebagai knowledge worker atau peneliti profesianal dalam bidangnya. Pada titik ini terlihat sebuah interaksi yang menarik. Makin tinggi tingkat keahlian teknis politisi (dalam ekonomi, teknik, kesehatan, pendidikan, kependudukan, dan kebudayaan) akan makin kurang dibutuhkan peran para pakar dari kampus atau lembaga penelitian untuk menanggapi situasi aktual yang berkembang. Dengan demikian, munculnya gejala pakar dalam politik Indonesia, merupakan sebuah indikasi tentang belum memadainya tingkat ekspertis politisi kita untuk mengimbangi kalangan eksekutif yang umumnya mempunyai keahlian teknis yang relatif lebih tinggi.
Keadaan ini telah menimbulkan beberapa kesulitan yang cenderung lebih merugikan daripada menguntungkan. Sering terlihat bahwa sebagian besar masalah aktual, baik politik dan ekonomi, dicoba dipecahkan berdasarkan common sense dan logika, tetapi lemah dasarnya secara empiris. Sebagai contoh, krisis ekonomi yang demikian hebat, sampai kini, sepengetahuan saya, belum mendorong lahirnya sebuah penelitian yang luas dan cukup mendalam oleh peneliti Indonesia sendiri tentang sebab-musababnya, kaitan-kaitannya, faktor-faktor internasional dan nasional dan usul apa yang diajukan untuk mengantisipasi timbulnya krisis itu di masa depan. Ada beberapa studi yang dilakukan oleh satu dua lembaga penelitian, tetapi jangkuan penelitiannya amat terbatas dan hasilnya pun sering tidak dipublikasikan. Dalam bidang politik, belum terdengar seorang peneliti kita melakukan riset tentang kejatuhan Soeharto untuk menetapkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara sahih. Apa yang kita ketahui sampai sekarang lebih banyak berupa hasil leraning by hearsay, yaitu omongan a la warung kopi pada berbagai arasnya: bocoran informasi tingkat tinggi, gosip pinggir jalan, atau analisis yang lebih spekulatif sifanya daripada empiris.
Hampir pasti bahwa baik penelitian ilmu ekonomi tentang krisis ekonomi Indonesia maupun penelitian ilmu politik tentang kejatuhan Soeharto akan dihasilkan oleh para peneliti asing, yang kemudian dengan senang kita rujuk dan terjemahkan. Yang merisaukan disini adalah bahwa pemikiran dan pengetahuan kita tentang keadaan kita sendiri sangat ditentukan oleh produksi penegetahuan yang berlangsung di tempat lain, oleh peneliti lain, yang jelas mempunyai kepentingan tertentu dengan membawa berbagai prasangka mereka sendiri berupa country bias, cultural bias, personal bias atau discipline bias. Ketergantungan kita pada pasar luar negeri yang dipaksakan oleh jenis kapitalisme yang diterapkan di Indonesia mendapat refleksinya yang sempurna dalam produksi pengetahuan ilmiah tentang Indonesia.
Dalam pada itu, diabaikan kerja penelitian yang kontinu menyebabkan banyak keputusan politik dan juga kritik politik tidak didasarkan pada data empiris yang disodorkan padanya atau bertentangan dengan data yang diajukan, misalnya, karena dia sangat yakin dan mempunyai intuisi yang tajam bahwa keadaan akan segera berubah dan data empiris yang diajukan akan tidak lagi relevan. Namun demikain, data empiris ini tetap diperlukan dalam pertimbangan dan keputusan politik sebagai pegangan yang tangible, entah itu keputusan yang sesuai dengan data yang ada atau keputusan yang menentang data tersebut, dan bukannya suatu keputusan yang didasarkan pada kebetulan semata-mata.
Produksi pengetahuan belum dianggap penting dan urgen di Indonesia dan pastilah dianggap jauh kurang penting dari produksi beras atau minyak mentah. Hal ini merupakan ironi yang aneh karena pejabat-pejabat pemerintah biasanya merasa kurang gagah kalau dalam pernyataan atau pidatonya tidak menyinggung ilmu dan teknologi. Sementara itu, kita tahu bahwa baik ilmu pengetahuan maupun teknologi hanya bisa berkembang kalau didukung oleh suatu tradisi penelitian yang kuat.
Dilihat dari segi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, situasi ini amatlah merugikan. Terjebaknya para pakar kita (khususnya mereka yang berasal dari lingkungan ilmu-ilmu sosial) di dalam aktualitas politik mengharuskan mereka selalu siap dengan beberapa provisionan explanations yang tidak didasarkan pada hasil penelitian, dan sekaligus dengan itu menghabiskan banyak waktu yang dapat digunakan untuk melakukan penelitian dengan rencana yang dipikirkan secara matang, dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, dan dengan suatu lingkup penelitian yang cukup luas dan mendalam. Dengan itu dapat dihasilkan beberapa proposisi ilmiah yang bisa dipegang dan lebih bisa diuji.
Dalam hal ini ilmuwan sosial tidak mempunyai kemewahan yang dipunyai oleh rekan-rekannya dari kalangan ilmu-ilmu alam atau dalam lapangan teknik. Dalam kedua bidang yang disebut belakangan ini ada fase-fase kerja yang tidak mungkin diganggu oleh publik, misalnya penelitian dalam laboratorium atau dalam bengkel. Seorang desainer mobil yang sedang merencanakan jenis mobil baru tidak akan ditanya wartawan tentang kemajuan-kemajuan dalam disainnya. Orang akan menunggu hingga disainnya selesai dan diluncurkan. Demikian pula seorang peneliti AIDS, misalnya, akan dapat bekerja dengan tenang dalam laboratoriumnya tanpa diganggu oleh publisitas sampai penemuannya berhasil.
Hal yang berbeda terjadi pada seorang peneliti ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Hampir dalam tiap tahap penelitiannya dia akan ditanya tentang apa yang dilakukannya atau tentang relevansi penelitiannya terhadap suatu masalah aktual. Gangguan yang datang dari pihak publisitas sering tidak dirasakan sebagai masalah karena kontraprestasi yang diberikan kepada ilmuwan yang bersangkutan juga berupa publisitas yang dinikmatinya. Masalahnya adalah bahwa dia mendapat publisitas tidak dalam kualifikasinya sebagai peneliti berdasarkan validitas temuannya, tetapi karena efektivitas pernyataannya dalam menanggapi suatu issue aktual atau karena gaung politik sebuah jawaban yang mengalami amplifikasi karena aktualitas politik.
Adapun sikap terhadap ilmu dan pengetahuan dapat dibedakan sekurang-kurangnya dalam tiga kategori. Yang Pertama, mengkonsumsikan dan mengaplikasikan temuan ilmu pengetahuan yang sudah ada. Kedua, mendistribusikan temuan yang sudah dihasilkan. Ketiga, memproduksikan pengetahuan-pengetahuan baru (dan memproduksi pengetahuan lama) demi kelanjutan dari the progress of knowledge.
Dalam pendidikan tinggi di Indonesia, ketiga tugas itu relatif telah dirumuskan dengan baik dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Perbedaan antara perguruan tinggi dan tingkat pendidikan lainnya adalah bahwa di sekolah menengah atau sekolah dasar pendidikan dapat memakai bermacam-macam sarana seperti kesenian, olah raga, pelajaran atau kegiatan mengenai alam, dan berorganisasi. Yang khas pada perguruan tinggi adalah bahwa pendidikan dijalankan hanya dengan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai sarananya. Sarjana bahasa dan tokoh pendidikan Jerman Wilhelm von Humboldt memberikan sebuah definis tentang perguruan tinggi sebagai Bildung durch Wissenchaft atau pendidikan melalui ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kedudukan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi adalah esensial. Sementara pengetahuan ilmiah ini diharap diproduksikan dalam penelitian dan distribusikan melalui pengabdian masyarakat.
Masalah kita adalah apakah ada permintaan yang efektif di Indonesia saat ini terhadap penelitian dan pengetahuan baru yang dihasilkannya? Produksi ilmu di Indonesia termasuk amat terbelakang. Sikap yang distortif terhadap ilmu pengetahuan menyebabkan ilmu pengetahuan lebih berfungsi sebagai sarana bagi tujuan yang amat menyimpang dan jauh melenceng dari the progress of knowledge. Pernah para teknokrat Indonesia amat berkuasa di negeri ini karena mereka dapat mempertukarkan keahlian mereka untuk membentuk pendapat umum dan mendapat pengaruh politik sekalipun mereka tidak didukung oleh konstituen politik mana pun. Dalam kedua hal ini ilmu tidak memproduksikan pengetahuan, tetapi memproduksi kekuasaan.
_____________________________
Sumber Tulisan: Buku “Masyarakat dan Negara”, Ignas Kleden, Penerbit Indonesia Tera
Berandanegeri.com. SETIDAKNYA 17 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menemui Bupati Eliaser Yentji Sunur. Mereka menyampaikan mengundurkan diri dari PPK karena merasa kurang nyaman kerap dipanggil dan dimintai keterangan aparat penegak hukum dari kejaksaan dan kepolisian.
Langkah itu mendapat tanggapan Petrus Bala Pattyona, praktisi hukum nasional asal Lembata di Jakarta. Pattyona mempertanyakan mengapa para pejabat itu mundur dengan alasan tidak nyaman kerap dipanggil aparat kepolisian dan kejaksaan. Padahal, mereka menjalankan tupoksinya sesuai regulasi.
“Jika selama ini PPK menjalankan tugas sesuai aturan pasti mereka siap mempertanggungjawabkan segala pekerjaan yang diadukan masyarakat kepada aparat penegak hukum. Dalam pengadaan barang dan jasa terlalu banyak celah untuk diakali, berbuat curang. Mulai dari menetapkan pemenang tender, sudah diatur syarat-syarat yang bisa saja menggagalkan peserta lain. Simak saja pendaftaran peserta via email. Pada hari pendaftaran bisa saja diatur emailnya ngadat, sehingga apabila peserta yang diunggulkan sudah masuk langsung di-lock, dikunci,” ujar Pattyona dalam keterangan tertulis yang diterima media ini di Jakarta, Senin (9/3).
Peserta yang sudah direkomendasi memenangkan tender dibuat kontrak kerja. Namun, saat mau tanda tangan kontrak sudah ada dua pos pengeluaran yaitu uang penunjukan pemenang tender dan uang tandatangan kontrak. Celakanya, ada peserta lain yang tidak direkomendasikan keluar sebagai pemenang tender. Sekalipun pemenang tender yang tidak direkomendasikan itu dari segi finansial, pengalaman, peralatan atau meminjam bendera pihak lain bahkan sebagai kuasa dari CV atau PT tidak memenuhi syarat, yang menang tender.
“Celah malingnya di sini. PPK dan pemenangnya sudah baku atur. Saat tanda tangan untuk pencairan uang muka yang melibatkan bendahara ada celah lagi di sini. Pemenang tender harus mengerti, kalau tidak maka disposisi pencairan di bank kas daerah tidak akan cair. Selanjutnya mulai pengadaan material atau kerja fisik diatur cara pembayaran. Misalnya, seolah-olah sudah ada kemajuan fisik 50 persen tetapi faktanya tidak demikian,” ujar Pattyona,praktisi hukum asal kampung Kluang, Desa Belabaja.
Pattyona melanjutkan, di ruang terbuka ini berpotensi bermain dalam berita acara kemajuan pekerjaan yang ditandatangani kontraktor, pengawas, petugas lapangan. Semua bisa tandatangan walau fisiknya tidak sesuai. Bila ada batas waktu pekerjaan untuk serah terima proyek, dibuat seolah-olah sudah tuntas. Padahal mungkin di lapangan tidak sesuai.
Semua berpotensi bermain merekayasa berita acara kemajuan proyek untuk pencairan sisa dana proyek dan pengguna barang jasa/pemilik proyek punya hak retensi 6 bulan, misalnya 5 persen sesuai kontrak. Di ruang ini, ujarnya, uang masih berpotensi bermain soal mutu material atau fisik bangunan. Seolah-olah kualitasnya bagus sehingga ada kesempatan mencairkan dana.
“Tugas PPK memang berat. Setiap tahap penuh tekanan, godaan tetapi jika PPK bekerja sesuai regulasi sesungguhnya tak ada masalah. Namun siapa (PPK) berani melawan tekanan, intervensi big bos yang mengatur mereka sebagai boneka atau figuran? Sementara di lain pihak apabila timbul masalah hukum karena celah kejahatan yang mungkin muncul dari setiap tahapan mereka yang bertanggung jawab?” kata Bala retoris.
Sebelumnya, sejumlah media lokal dan nasional sebelumnya memberitakan, 17 pejabat pemerintah di Lembata menemui Bupati Sunur. Mereka menyampaikan mundur sebagai PPK dan kelompok kerja di sejumlah proyek pemerintah. Para PPK tersebut bekerja di Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perhubungan, dan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.
Alasannya, mereka merasa tidak nyaman dalam mengendalikan kontrak berdasarkan pengalaman sebagai PPK pada tahun-tahun sebelumnya dan saat ini. Mereka kerap dipanggil untuk dimintai keterangan oleh aparat penegak hukum dari kepolisian dan kejaksaan guna diperiksa berkaitan proyek meski masih dalam tahap pemeriksaan.
Permintaan pengunduran diri mengingat beban tugas dan tanggung jawab serta risiko hukum yang dihadapi dalam mengendalikan kontrak tidak seimbang dengan honorarium yang dianggarkan. Berikut tak tersedia anggaran membiayai peningkatan SDM sebagai PPK.
Atas permohonan
pengunduran diri belasan PPK tersebut, Bupati Sunur mengatakan akan
menindaklanjutinya. Pengunduran diri para pejabat itu sangat mengganggu
percepatan pembangunan sebagaimana ditegaskan Presiden Joko Widodo. “Nah
pencabutan SK menunggu saya bicara dengan Kapolda. Kalau Kapolda juga tidak
tanggapi, saya setopkan saja, saya laporkan ke Presiden,” ujar Sunur
mengutip sebuah media on-line
nasional.
Sebuah cerita perkumpulan budayawan
dan seniman muda di Yogyakarta yang meresahkan kaum penguasa, di Jakarta.
Maklum PSK namanya!
APABILA PSK atau Persada Studi Klub masih hidup pada 2013,
klub sastrawan ini akan berusia 45 tahun. Karena pada medio Maret 1968 klub
tersebut mulai dibentuk lewat rubrik sastra di mingguan Pelopor Yogya. Sebuah koran amat sederhana, yang terkategori jelek
cetakannya. PSk ini dikomandani oleh Umbu Landu Paranggi, penyair karakteristik
kelahiran Waikabubak, Sumba Barat, yang pada 2013 genap berusia 70 tahun.
Apabila lembar-lembar sejarah PSK dicermati, ternyata klub sastra itu tidak cuma menggerakan gairah para pencipta puisi dan prosa saja, tetapi juga memotivasi para pemikir serta aktivis sosial dan budaya yang “laten revolusioner” pada tengah tahun 1970-an.
Ket. Foto: Trotoar di persimpangan Kantor Pos Besar Yogyakarta, tempat pertemuan komunitas Persada Studi Klub
Lewat rubrik sastra itu Umbu memang tak henti memupuk
keberanian anak-anak muda untuk bicara lewat medium tulisan, apa pun bentuknya.
“Segala yang kau pikirkan” katanya memprovokasi di depan gedung Senisono. Tepatnya
di sehampar trotoar yang letaknya di persimpangan Kantor Pos Besar Yogyakarta,
sebelah selatan Malioboro. Satu wahana informal yang jadi pusat pertemuan fisik
dan pikiran anak-anak muda setiap malamnya.
Bagi yang sadar situasi budaya, yang lantas bertaut dengan sosial dan politik, kalimat Umbu itu seperti akan ajakan untuk bersikap dan berbuat dengan disertai kematangan pikiran, yang telah dilatih lewat dunia penulisan. Tujuannya agar anak-anak muda siap menghadapi pemerintah Orde Baru, yang pada menjelang paru pertama dekade 1970 dirasa mulai represif. Lewat PSK Umbu seperti mengatakan bahwa orang yang berpikir tak mudah tersingkir.
Ket. Foto: Rainer Maria Rilke, sastrawan Jerman yang pemikirannya didiskusikan oleh Persada Studi Klub
Bertahun-tahun sastra jalanan ala Umbu hidup dan menyala. Dan
ia selalu melontarkan topik untu dipikirkan dan didiskusikan. Pada suatu kali
lewat rubrik ia menegaskan perkataan pujangga Rainer Maria Rielke, “Janganlah
engkau menulis puisi cinta yang cengeng pada langkah permulaan. Berpalinglah
kepada tema kehidupan sehari-hari yang keras dan terus melintas.” Saya tak
menduga, topik Rielke yang dilontarkan Umbu itu jadi perbincangan sehari-hari
di trotoar Senisono, juga disepanjang koridor Malioboro. Dan kalimat
“berpalinglah kepada tema kehidupan yang keras” berkembang jadi wacana
bagaimana cara melawan segala sesuatu yang menjurus ke tiran.
Pada kesempatan lain penyair Ragil Suwarna Pragolapati menyampaikan kabar bahwa Umbu menolak isi esai Why the moved matters tulisan D.H. Lawrance, yang menyatakan bahwa novelis lebih tinggi kedudukannya ketimbang penyair. Lalu tak kurang dari seminggu forum diskusi trotoar memperdalam persoalan itu. Penyair dan novelis pun merasa dirinya satu.
Ket. Foto: Pemikiran Filsuf Herbet Marcuse menjadi tema serius di Persada Studi KlubKet. Foto: Puisi-puisi Rendra juga menjadi bahan diskusi di Persada Studi Klub
Ratusan topik kesenian, kebudayaan sosial, bahkan politik
dipercakapkan di sana. Dari yang ilmiah, ngilmiah,
ringan, berat sampai yang banal. Nama Rivai Apin, W.S. Rendra, Dickinson, Andy
Warhol, Herman Hesse, Robert Forst, Herbert Marcuse, sampai Ronggowarsito
muncul di ujung Malioboro.
Pada awalnya yang berkumpul di situ tentu sastrawan kerabat
PSK. Kemudian diimbuh para mahasiswa STSRI ( Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia
) “Asri” yang gemar diskusi. Selanjutnya muncul anak-anak muda anggota
teater di sekitar Yogya. Pada waktu
berikutnya bergabung mahasiswa serta dosen dari fakultas sastra, sejarah,
sosial-politik serta filsafat Universitas Gajah Mada-Bulaksumur. Sampai disini
niat Umbu mempertemukan sastrawan dengan perupa, filsuf, sosiolog, politikus
sampai antropolog tampak tercapai. Dan dari sinilah kemudian muncul istilah
“Universitas Malioboro” atau “Poros Bulaksumur-Malioboro”, yang dikemudian hari
diangkat jadi judul kumpulan puisi.
Jika dedengkot PSK Emha Ainun Najib mengungkap ada jalur Umbu
yang menyusur Tugu sampai Kraton (Utara-Selatan), maka tak boleh dilupakan
jalur Gampingan sampai Bulaksumur (Barat-Timur), yang bersumbu di ujung
Malioboro. Jalur ini adalah turunan dari kegilaan Umbu, yang lantas menerbitkan
nama Yudhistira ANM Masardi, Halim HD, Ebiet G. Ade, Linus Suryadi AG, Landung
R. Simatupang dan puluhan nama penting lainnya.
Pada akhir Maret 1975, sebagai mahasiswa STSRI “Asri” saya
dan delapan teman mengadakan pameran “Nusantara! Nusantara!” di gedung Karta
Pustaka, Yogyakarta.* Sebuah pameran parody seni rupa, yang isinya berempati
kepada sejumlah mahasiswa STSRI “Asri” yang diskors dari kampus. Syahdan para
mahasiswa ini dihukum lantaran melakukan gerkan “Desember Hitam” yang anti
pemaksaan konsep kebudayaan di Jakarta. Pameran “Nusantara! Nusantara!” dibuka
oleh Romo Dick Hartoko, seorang rohaniwan Katolik, budayawan, pemimpin redaksi
majalah Basis.
Beberapa hari pameran dibuka keributan terjadi. Aparat Orde
Baru menuduh pameran itu embrio dari subversi kebudayaan. Terembus kabar bawah
kasus ini, sekalian kasus ‘Desmber Hitam’, telah masuk dalam pembahasan Panglima
Komando Wilayah Pertahanan IV Jawa-Madura, Letjen Widodo. Para dosen STSRI
“Asri” ditekan untuk menindak para peserta pameran. Dan saya selaku juru bicara
pameran tidak boleh masuk kampus dalam tempo tiada terbatas.
Saya pun datang ke Romo Dick untuk minta pertolongan. Dengan
Kuatir Romo Dick mengatakan bahwa saya telah dicatat sebagai bagian dari
“Universitas Malioboro”, komunitas pemikir muda yang sudah lama dimata-matai
aparat kemananan demi stabilitas politik. “Ini tanda-tanda zaman”, katanya. Apa
yang dikatakannya benar. Beberapa minggu kemudian Emha Ainun Najib dan
novelis-sosiolog Ashadi Siregar menyarankan agar saya segera lari, bila tidak
ingin ditangkap tentara. Mereka menganjurkan saya ke Jakarta, untuk menyelinap
di majalah Obor. Majalah itu ternyata
dibatalkan penerbitannya oleh Menteri Penerangan, lantaran di dalamnya ada nama
Aini Chalid, salah seorang penggerak Malari (Malapetaka Limabelas Januari)
1974.
Saya pun menggelandang di Jakarta sambil mengingat Umbu Landu Paranggi, “Presiden Malioboro” yang menginspirasi siapa saja untuk terus berpikir dan bertindak berani. Sementara Umbu sendiri diam-diam pulang ke kampungnya, lalu pindah ke Bali, setelah PSK di populerkan pemerintah sebagai singkatan dari Pekerja Seks Komersial.
Foto: Umbu Landu Paranggi
***
*Karta Pustaka adalah perpustakaan milik Konsulat Belanda di
Yogyakarta. Didirikan pada 1968. Perpustakaan yang menyimpan puluhan ribu buku
ini tutup pada awal Desember 2014, karena kekurangan dana pemeliharaan.
*Sumber Tulisan dari Buku SIHIR
RUMAH IBU, Agus Dermawan T, Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.
Yesus mengalami hal-hal lumrah seperti kita: lapar, haus, bahkan digoda iblis. Kepada Yesus iblis menawarkan solusi-solusi instant untuk menggunakan kuasa-Nya demi memenuhi keinginan akan makanan, harga diri, serta kekuasaan politik.
Makanlah Karena Kebutuhan, bukan Demi Selera
Yesus digoda untuk menggunakan kuasa-Nya demi memenuhi kebutuhan jasmani: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti”. Yesus tidak menyangkal bahwa manusia butuh makan. Tetapi ia tidak menggunakan kuasa ilahi-Nya demi kepuasan sesaat. Dengan mengatakan “manusia hidup bukan dari roti saja”, Yesus menyatakan bahwa makanan memang penting bagi tubuh, tetapi tentu bukan jaminan keselamatan jiwa manusia.
Kata-kata Yesus itu relevan juga pada situasi aktual manusia: Kita diingatkan bahwa makanan dikonsumsi bukan demi memenuhi selera makan, tetapi terutama untuk kesehatan tubuh. Tradisi Kristen selalu menghormati nilai tubuh manusia: Tubuh bukan penjara jiwa, melainkan raung (locus) bagi jiwa untuk lebih terarah kepada Pencipta.
Gengsi: Virus Tua yang Selalu Baru
Yesus juga digoda untuk mendapat kehormatan dan pengakuan atas hal-hal ajaib yang dapat Ia lakukan. Kata: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkan saja dirimu ke bawah, toh ada malaikat-malaikat yang dapat engkau perintahkan untuk menatang engkau, sehingga tidak tersandung batu”. Kalau manusia memiliki kekuasaan, gengsinya juga jadi besar.
Yang relevan dengan dunia kita sekarang ialah soal gengsi. Gengsi itu ibarat virus yang menyebar tanpa membedakan antara orang kaya dan miskin, antara yang gajinya besar atau yang pas-pasan, antara artis terkenal atau orang biasa. Yesus mengingatkan kita untuk hidup realistis, sesuai kemampuan, tak mengejar hal yang tidak mampu kita dapatkan. Yesus memberi motivasi: mari hidup sesuai kenyataan, bukan sesuai kata orang, sesuai nilai yang kita yakini, bukan asal sesuai style umum, apalagi sesuai gosip.
Waspadai Politisi Murahan
Kita mungkin bertanya begini: Tetapi kan Yesus itu ilahi, Anak Allah. Mengapa Ia tidak menggunakan kuasa itu untuk mengatasi godaan? Bukankah dengan demikian Iblis dipermalukan. Tidak! Yesus tidak sewenang-wenang, Ia tidak main kuasa; ia tidak berkolusi dengan goadaan solusi instant. Yesus mendidik kita agar tidak gegabah dalam melawan iblis. Ia memperlihatkan teladan kesetiaan dan ketahanan dalam mewujudkan misi mewartakan Kerajaan Allah, sampai wafat di salib dan bangkit.
Bukan Tiga Kali
Godaan yang dialami Yesus juga terus mendatangi manusia, bukan hanya tiga kali, tetapi berkali-kali; dan manusiapun bisa jatuh berkali-kali. Setelah mengakhiri pencobaannya, iblis mundur. Tapi dikatakan bahwa ia menunggu waktu yang baik. Artinya, godaan terus mendekati kita melalui naluri kemanusiaan: makanan, kekuasaan, harga diri dan kehormatan. Kita ditantang untuk mewaspadai godaan itu.
Akar dari segala dosa ialah egoisme: Bentuk ekstrim dari egoisme ialah menjadikan diri sebagai allah, dan itulah berhala dalam arti sesungguhnya. Sejak awal mula, manusia jatuh dalam godaan untuk “menjadi seperti Allah”, sebagaiamana dikatakan ular kepada Hawa. Manusia tergoda untuk menjadi bebas tanpa harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Manusia tergoda mengandalkan dirinya, artinya menyangkal Allah.
Pintu Rahmat.
Paulus mengajak kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah, dan bukan kepada diri sendiri (lawan egoisme). Pintu pertobatan terbuka bagi kita. Di mana letak pintu itu? Pada kasih karunia Allah. Mengapa kasih karunia Allah? Kasih karunia itu lebih besar dari dosa kita; kasih karunia selalu mengalir dari hati Allah. Sebenrnya manusia tidak layak, tidak pantas memandang Allah. Namun manusia dibenarkan dan dimaafkan tanpa jasa apapun dari pihak kita. Inilah dasar keyakinan kita.
P. Andre Atawolo, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
KAMI bertemu pertama kali pada pertengahan tahun 1972 ketika Drs. Benediktus Molan Oleona (lebih dikenal dengan Ben Oleona) tiba di Ende untuk bergabung dengan Penerbit Nusa Indah, dan turut mempersiapkan terbitnya majalah dwimingguan umum DIAN dan majalah bulanan anak-anak KUNANG-KUNANG. Ben datang dari Jakarta setelah menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) dan meraih gelar sarjana (doktorandus). Sambil kuliah Ben juga bekerja sebagai wartawan dan penulis untuk majalah Penabur, sebuah majalah Katolik yang kemudian mati dan digantikan dengan majalah Hidup Katolik yang dewasa ini telah berubah nama lagi menjadi majalah Hidup. Sekolah Tinggi Publisistik yang dulunya berkampus di daerah Menteng, Jakarta Pusat, kemudian hari berpindah ke Lenteng Agung, di perbatasan Jakarta dan Jawa Barat, dan kini dikenal sebagai Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta.
Foto Penerbit Nusa Indah-Ende Flore, NTT
Waktu itu kami yang bekerja di Penerbit Nusa Indah, Ende di bawah pimpinan direktur P. Alex Beding SVD, yakni Thom Wignyanta, E. P. Boleng, Albert Pantaleon, Aloy L. Madja dan saya memang sedang mempersiapkan penerbitan kedua majalah tersebut. Bahkan sejak hari pertama bertemu P. Alex di bulan Oktober 1971, saya diberitahu bahwa Biro Naskah Nusa Indah, selain mengerjakan dan menerbitkan buku-buku, juga merencanakan penerbitan dua majalah. Oleh karena itu dibutuhkan tenaga-tenaga muda untuk memperkuat tim Nusa Indah. Beberapa orang yang ditunggu untuk datang dari Jakarta adalah Ben Oleona, El Mauritsz Parera dan Matheus Dhae. El dan Matheus lebih dulu tiba di Ende; El bekerja sebagai ilustrator buku dan majalah dan tinggal dengan kami di Wisma Paupire, sedangkan Matheus Dhae hanya beberapa hari, lalu pergi menghilang kembali ke Jakarta.
Pada bulan Juli 1972 Ben Oleona dan isteri serta puteranya Didi tiba di Ende dan menempati sebuah rumah misi di Jl. Irian Barat. Dengan kehadiran Ben, maka berbagai persiapan terus dilakukan di bagian Redaksi dan percetakan Arnoldus karena akan terbit kedua majalah itu segera setelah keluar Surat Izin Terbit (SIT) dan Surat Izin Cetak (SIC) dari Departemen Penerangan Republik Indonesia di Jakarta. Kami yang bekerja di Biro Naskah Nusa Indah sekaligus merangkap sebagai wartawan/reporter bagi majalah DIAN. Ben Oleona ditunjuk sebagai Redaktur Pelaksana DIAN dan melapor langsung kepada P. Alex Beding SVD sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi sesuai dengan ketetapan dalam SIT.
Kami mulai menyiapkan tulisan-tulisan yang akan diedit dan disempurnakan oleh Ben sebelum dimuat dalam DIAN. Sebagai Redaktur Pelaksana, Ben memimpin kegiatan redaksional DIAN sehari-hari, sedangkan untuk majalah anak-anak KUNANG-KUNANG, Pater Alex menunjuk Sr. Emmanuella Gunanto OSU dari Biara Santa Ursula, Ende.
Sebelum terbitnya kedua majalah tersebut, P. Alex sering bepergian ke Jakarta untuk urusan-urusan yang berkenaan dengan Surat Izin Terbit dan Surat Izin Cetak. Di Jakarta, Nusa Indah mempunyai kantor perwakilan di Jl. Matraman Raya, biara SVD, di mana Marcel Beding, wartawan senior Harian Kompas sebagai Kepala Perwakilan, dengan Melanus Conterius, eks Seminari Mataloko, sebagai kepala kantor. Urusan ini tenyata makan waktu lama, hampir 2 tahun. Surat Izin Terbit (SIT) dari Departemen Penerangan Republik Indonesia diurus di Jakarta, dengan berbagai syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Meskipun sudah punya SIT, perusahaan pers belum boleh melakukan penerbitan, karena harus juga mendapatkan Surat Izin Cetak (SIC) dari Panglima Kodam setempat, dalam hal ini Pangdam Udayana di Denpasar, karena Ende/Flores di mana majalahh-majalah ini akan terbit termasuk dalam jurisdiksi Kodam Udayana. Itulah lika- liku penerbitan pers di masa rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Akhirnya SIT dan SIC diperoleh maka DIAN dan KUNANG-KUNANG boleh terbit. Selama waktu-waktu penantian itu, tim redaksi menyiapkan tema dan topik-topik artikel untuk majalah-majalah tersebut. Selain itu juga direncanakan tema atau isu-isu apa yang akan diangkat jadi topik peliputan sebagai berita utama, di samping berita-berita lainya untuk mengisi rubrik-rubrik yang ada.
Pada tanggal 24 Oktober 1973, edisi pertama DIAN terbit. Kami senang, bangga dan bersyukur. Majalah DIAN menggunakan semboyan: “Membangun Manusia Pembangun”, dan kemudian El Mauritsz merancang sebuah iklan “Diam-diam baca DIAN” yang akan menjadi sangat populer di masyarakat pembaca.
Latihan Bekerja sebagai Wartawan
Kepada kami yang belum berpengalaman, Ben memberikan bimbingan dan arahan bagaimana bekerja sebagai wartawan, baik dalam meliput berita, mewawancarai narasumber dan membuat tulisan atau laporan jurnalistik dengan formula berita 5W1H (What, Who, When, Where, Why dan How). Meskipun demikian, penulisan laporan mesti dilakukan sebagai tulisan feature karena DIAN akan terbit sebagai majalah bukan surat kabar harian.
Toko Buku Nusa Indah
Kami juga diajari bahwa bekerja sebagai wartawan harus berintegritas, jujur, obyektf, berita yang ditulis harus berdasarkan kebenaran dan fakta, bukan asumsi atau dugaan. Wartawan harus berani dalam mencari dan mewawancarai narasumber, tetapi tetap menjaga sopan santun, dan selalu mempersiapkan diri dengan banyak membaca dan terus berlatih menulis. Redaktur atau editor, dalam hal ini Ben sendiri akan memeriksa dan memperbaiki seperlunya agar tulisan kami agar laik muat.
Saya ingat, waktu Gubernur NTT El Tari berkunjung ke Ende untk melantik Herman Josef Gadi Djou menjadi bupati Ende menggantikan H. Hasan Aroeboesman, saya dan El Mauritsz pergi ke Wolowona untuk meliput penjemputan gubernur. Sebagai wartawan kami membawa kamera dan selalu berada di dekat Gubernur untuk mengabadikan setiap momen penting yang bernilai berita. Kami wartawan DIAN lebih berani mendekat ke gubernur, dibandingkan pegawai-pegawai departemen penerangan dan reporter RRI Ende. Waktu acara pelantikan bupati di gedung DPRD Ende, kami berada di dalam ruang sidang untuk memotret kegiatan itu dan juga mencatat pidato-pidato gubernur, ketua DPRD dan bupati baru. Ada rasa senang dan bangga bekerja sebagai wartawan. Saya membuat reportase mengenai kegiatan hari itu yang kemudian diedit, dirangkai dengan informasi lain dan disempurnakan oleh Ben untuk dimuat dalam DIAN sebagai berita utama (headline).
Selang seminggu kemudian, DIAN mendapat undangan untuk meliput kunjungan perdana Bupati Gadi Djou ke Wolowaru, kampung halamannya. Saya ditugasi untuk mengikuti dan meliput kunjungan tersebut dan kemudian membuat reportase untuk DIAN. Demikian juga kunjungan dinas sehari bupati ke Nangapanda dan juga kunjungan kerja dua hari di Detusoko.Ada lagi satu kunjungan Bupati Gadi Djou yang saya ikuti yakni ke Kaburea di pantai utara yang berbatasan dengan kabupaten Ngada. Bupati Ende Gadi Djou dan Bupati Ngada Jan Jos Botha bersama rombongan bertemu di Kaburea untuk menyelesaikan perselisihan tapal batas kedua kabupaten, di mana telah terjadi bentrokan fisik oleh masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan tersebut.Jika menulis berita yang kemudian dirangkum dan digabungkan oleh Ben, maka nama wartawan/reporter hanya menggunakan singkatan atau kode angka. Sedangkan kalau menulis artikel atau feature secara by-line, boleh menggunakan nama lengkap. Itulah sebabnya saya selalu ingin membuat tulisan-tulisan by-line yang menyebutkan nama lengkap penulisnya.
Saya ingat tulisan by-line saya yang pertama adalah sebuah feature yang berjudul “Sirih dan manfaatnya”, tetapi setelah mengeditnya, Ben memberi judul “Sirih bukan hanya untuk dimakan”. Dia menjelaskan bahwa judul tulisan harus menarik supaya orang tertarik untuk membaca. Karena umumnya kaum ibu di Flores suka makan sirih-pinang, maka judul tulisan itu dibuat lebih menarik dan lebih sesuai dengan apa yang ada dalam masyarakat pembaca. (Tulisan ini dimuat pada DIAN no. 10 Tahun I, tanggal 10 Maret 1974).
Suatu reportase lain saya buat mengenai kebun contoh di Malamesi, yang terletak di antara Raja dan Ndora, di kabupaten Nagekeo sekarang, yang kami kunjungi pada suatu hari Sabtu. Kebun contoh yang dikelola oleh seorang bruder SVD itu menanam dan memelihara tanaman jagung, kacang panjang, kacang tanah, singkong (ubi kayu) dan lain-lain yang dilakukan dengan sistem terasering (petak-petak pada lokasi tanah yang miring). Selain untuk keperluan sendiri, kebun ini juga dimaksudkan untuk memberi contoh kepada masyarakat petani sekitar untuk belajar bertani secara baru dan modern.Pulang dari kunjungan sehari itu, saya membuat suatu reportase yang saya beri judul “Ceritera dari Malamesi”, dan ternyata Ben setuju dengan judul itu dan tidak mengubahnya, walaupun isi tulisan banyak juga dikoreksinya. (DIAN no. 14 Tahun I, tanggal 10 Mei 1974).
Bagi saya sebagai seorang wartawan pemula, ada rasa bangga ketika berita yang saya tulis dapat diperbaiki dan dimuat, dengan nama reporter hanya diberi singkatan atau kode. Tetapi akan terasa lebih senang lagi apabila kami bisa menulis artikel atau feature, karena nama kami disebut lengkap dan jelas. Bagi seorang penulis, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan selain tulisan atau artikel by-line kita dimuat. Betapa senangnya membaca nama kita pada terbitan majalah atau surat kabar tersebut.
Surat untuk Kapolri
Meskipun senang dan menikmati bekerja di Ende, tetapi saya tidak akan terus di sini, karena saya berencana merantau ke Jakarta untuk mencari kerja dan kuliah. Itulah sebabnya setelah setahun lebih bekerja sebagai wartawan DIAN dan 3 tahun sebagai penulis, penyadur dan penerjemah untuk buku-buku Nusa Indah, El dan saya mengundurkan diri baik-baik dari Nusa Indah, dan kami berdua berangkat ke Jakarta dengan menumpang kapal misi KM Stella Maris dari Ende pada tanggal 1 Januari 1975 menuju Surabaya. Dengan bus kami ke Jogjakarta dan bermalam di rumah kost teman mahasiswa, dan dua hari berikutnya kami naik bus ke Jakarta dan tinggal di Kelurahan Makassar, Jakarta Timur, di rumah keluarga Om Side Parera.
Dengan bekal pengalaman bekerja di Penerbit Nusa Indah dan majalah DIAN di Ende itu, di Jakarta saya beruntung karena cepat mendapat pekerjaan di surat kabar Harian Suara Karya sebagai translator berita-berita dan artikel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pada masa itu Suara Karya termasuk salah satu surat kabar mainstraim di Indonesia di samping harian pagi Kompas dan harian sore Sinar Harapan. Setahun kemudian saya minta untuk merangkap jadi reporter, dan oleh redaksi saya ditugaskan untuk meliput di Hankam/Kopkamtib/Opstib, juga departemen Luar Negeri serta di Sekneg/Istana.
Pada awal 1976, saya menerima sebuah surat dari Pater Alex Beding di Ende, yang meminta saya melaporkan langsung kepada Kepala Kepolisian RI atas kasus pemukulan wartawan DIAN Christianus Nau oleh oknum-oknum polisi di Bajawa. Laporan kronologis kasus pemukulan dan penganiayaan tersebut dibuat dan ditandatangani oleh Ben Oleona sebagai Redaktur Pelaksana dan P. Alex Beding sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi. Saya menghadap Kapolri Jend. Polisi Drs. Widodo Budidarmo di rumahnya di Kebayoran Baru dan menyerahkan langsung laporan tersebut. Kemudian saya dengar bahwa oknum-oknum polisi di Bajawa yang terlibat penganiayaan wartawan tersebut mendapat tindakan disiplin berupa teguran dari atasan.
Bertemu Lagi di Universitas Atma Jaya Jakarta
Sambil bekerja sebagai wartawan Suara Karya pada pertengahan 1976, saya mulai kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FIPK) Unika Atma Jaya, Jakarta. Di sini saya bertemu lagi dengan Ben Oleona yang bekerja di kantor rektorat Atma Jaya bersama Dr. Gorys Keraf, pembantu rektor bidang kemahasiswaan. Rupanya setelah 4 tahun bekerja di Ende, Ben mengundurkan diri, pindah ke Jakarta dan bekerja di Atma Jaya. Di kampus ini, Ben menerbitkan majalah kampus “Atma Jaya” dan mengajak saya juga untuk ikut sebagai anggota redaksi media kampus tersebut.
Dalam 4 tahun bekerja di Ende sebagai Redaktur Pelaksana DIAN, Ben berhasil melatih dan mendidik para staf dan karyawan redaksi sehingga bisa meneruskan penerbitan majalah itu, setelah ia pindah ke Jakarta. Jabatan Redaktur Pelaksana DIAN dipegang oleh Thom Wignyanta, putera Bali yang kemudian menjadi tokoh pers di Flores.
Pater Alex Beding SVD, 96 tahun, yang kini tinggal di Biara Simeon Ledalero, Maumere, Flores, mengatakan beberapa hari lalu, bahwa Ben Oleona memang dia minta untuk jadi redaktur pelaksana DIAN. Selain karena pengalamannya bekerja sebagai wartawan majalah Penabur di Jakarta, Ben juga mempunyai pendidikan jurnalistik yang lengkap yaitu sarjana Publisistik. “Ketika kami di Ende merencanakan penerbitan majalah, saya teringat akan Ben yang sedang kuliah publisistik di Jakarta. Jadi saya ajak dia untuk ikut dalam pengelolaan majalah DIAN sebagai redaktur pelaksana. Ben itu dari Lamalera, sekampung dengan saya. Dia keponakan saya. Dia banyak membantu kami di DIAN walau tidak lama, lalu pindah ke Jakarta karena dia ingin mengembangkan karirnya di ibukota. Sebagai pimpinan DIAN dan Nusa Indah, saya merasa sangat terbantu oleh Ben selama dia bekerja dengan kami,” kata P. Alex Beding lewat telepon genggamnya.
Pada tahun 1978, ketika saya tinggal di Perumnas Depok Jaya, kami bertemu lagi dengan Ben dan keluarganya yang juga tinggal di perumahan tersebut. Saya tinggal di Jl. Komodo Raya (kemudian ganti nama jadi Jl. Arif Rahman Hakim), sedang Ben dan keluarga tinggal di Jl. Kutilang. Kami biasa bertemu di gereja St. Herculanus karena Ben juga aktif memimpin paduan suara (kor) di gereja tersebut.
Agak lama kami tidak bertemu, dan baru pada bulan September 1982, ketika sebagai redaktur luar negeri Suara Karya saya menghadiri suatu seminar internasional mengenai Hubungan Indonesia – Amerika di Nusa Dua, Bali, seorang wartawan Bali memberitahu saya bahwa ia bekerja dengan Ben Oleona sebagai pemimpin redaksi koran Nusra (Nusa Tenggara). Pada malam harinya Ben menjemput saya di hotel dan kami jalan-jalan untuk makan malam dan mampir di kantor redaksi dan percetakan harian Nusra di daerah Sesetan, Denpasar.
Rupanya Ben bekerja di Atma Jaya sampai pertengahan 1981, lalu mendapat tawaran untuk menjadi pemimpin redaksi koran Nusra di Bali. Menurut penuturan Josef Larantukan, seorang wartawan asal Larantuka, Flores Timur, koran Nusra sebelumnya bernama Surat kabar Angkatan Bersenjata (AB) milik Kodam Udayana, Bali. Yosef sudah bekerja beberapa tahun di koran tersebut dan kemudian Kodam Udaya mengundang investor swasta untuk menanamkan sahamnya di koran itu dan mengganti namanya menjadi koran Nusra untuk menjadi surat kabar harian umum dengan harapan akan lebih mudah penetrasi ke pasar. Ben Oleona dan team redaksi dan manajemen baru menangani penerbitan koran itu, dengan teknisi-teknisi percetakan yang didatangkan dari Jakarta. Masuknya Ben di Nusra, menurut Yosef, direkomendasikan oleh wartawan senior/redaktur Luar Negeri Kompas, Marcel Beding.
Akan tetapi rupanya perkembangan koran Nusra kurang menjanjikan, di tengah persaingan ketat dengan koran Bali Post yang sudah lebih lama eksis dan juga membanjirnya koran-koran dari Jakarta, Bandung dan Surabaya yang punya wartawan/koresponden tetap di Bali. Dua tahun kemudian koran Nusra tutup dan Ben beralih profesi dengan bekerja pada sebuah perusahaan pengembangan properti.
Rupanya jiwa dan semangat kewartawanan masih terus membara di dalam dirinya, sehingga pada tahun 1990, ketika Kompas-Gramedia lewat anak perusahaan Persda, membeli dan mengelola koran-koran di daerah-daerah, Ben bergabung dengan Persda. Dia sempat bekerja membantu pengembangan redaksi surat kabar Harian Surya di Surabaya, kemudian pindah ke surat kabar Harian Fajar di Makassar, lalu surat kabar Pos Maluku di Ambon dan surat kabar mingguan Tifa Irian di Jayapura.
Selesai kontrak dengan Persda, Ben kembali ke Denpasar dan menjadi penulis lepas (freelance) untuk berbagai surat kabar dan majalah di Jakarta seperti Kompas, Suara Karya, Jakarta Post, majalah Tempo, majalah Hidup Katolik dll. Ben juga pernah menjadi penulis tetap Tajuk atau Induk Karangan untuk Harian Bali Post.
Dari Guru ke Wartawan
Benediktus Molan Oleona Lahir di Lamalera, Lembata pada 26 Juli 1939. Ben bercita-cita menjadi guru. Itulah sebabnya setelah tamat sekolah dasar di kampungnya, dia pergi ke kota Larantuka dan masuk Sekolah Guru Bawah (SGB). Tamat SGB, Ben berangkat ke Ende dan melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) Ndao. Pada masa itu lulusan SGB berhak mengajar di sekolah-sekolah dasar, sedangkan SGA mengajar di sekolah menengah pertama (SMP) dan juga SMA. Jadi setelah tamat SGA Ndao, Ben sempat menjadi guru di SMP Lewoleba.Tahun 1964 ia berangkat ke Jakarta untuk kuliah di STP sambil bekerja di Penabur, dan aktif di PMKRI Jakarta. Pada masa-masa itulah ia berpacaran dengan Johanita Murniati, seorang perawat RS Sint Carolus, dan kemudian mereka menikah pada 20 Juni 1971 di Jakarta.
Kampung Lamalera, Kampung kelahiran Ben Oleona
Selama bekerja di Ende, Ben sempat diminta jadi dosen tamu pada Universitas Nusa Cendana Cabang Ende untuk mengajar matakuliah penulisan ilmiah. Wilhelmus Berybe, seorang guru di Kupang menuturkan bahwa ketika ia kuliah di FKIP Undana Cabang Ende, pernah mendapatkan kuliah matapelajaran penulisan ilmiah dari Ben Oleona, ketika FKIP Ende dipimpin oleh Asisten Dekan Dra Threes Kumanireng. Ketika bekerja di Unika Atma Jaya, kalau mau Ben bisa saja menjadi dosen. Tetapi rupanya dunia jurnalistik dengan ‘kebebasannya’ lebih menarik minatnya daripada pekerjaan lain, termasuk jadi guru. Namun jiwa gurunya pun tetap kelihatan ketika dia mengajari kami di Ende bagaimana bekerja sebagai wartawan. Dan juga bagaimana di tengah kesibukan-kesibukannya di bidang jurnalistik, Ben masih punya waktu melayani kegiatan gereja, baik sebagai pengurus dewan pastoral paroki maupun dirigen paduan suara yang handal. “Kami di sini mengenal Pak Ben sebagai seorang wartawan yang disegani, tetapi beliau juga aktif dalam kegiatan lingkungan gereja dan masyarakat. Di paroki Monang-maning, Denpasar, Pak Ben aktif memimpin kor dan juga jadi anggota Dewan Pastoral Paroki,” tutur Benediktus Jandon, asal Riung, Flores dan eks Seminari Mataloko, seorang tokoh Katolik di Monang-maning baru-baru ini.
Lama sekali kami tidak bertemu dan berkomunikasi dengan Ben Oleona. Pada Juli 2000, saya dan isteri yang waktu itu tinggal di Kuala Kencana, Timika, Papua berlibur ke Bali. Di bandara Ngurah Rai, kami berkenalan dengan seorang staf Travel Bureau, yang mengatakan mengenal Ben Oleona, karena mereka sama-sama tinggal di perumahan Monang-maning Denpasar, dan juga sama-sama satu gereja di paroki tersebut. Ia mengatakan bahwa Ben Oleona bekerja sebagai wartawan dan juga sangat aktif di gereja, baik di Dewan Pastoral Paroki maupun sebagai pemimpin kor.
Dia juga memberi saya nomor telepon Ben di rumah, sehingga saya kemudian bisa menghubunginya dan kami janji bertemu di Kuta, di hotel Santika, tempat saya dan isteri menginap. Kami bertemu dengan Ben dan isteri serta makan malam sambil ngobrol banyak hal nostalgik baik waktu bekerja di Ende maupun di Jakarta dan juga Depok. Keesokan harinya dengan menggunakan mobil Ben, kami jalan-jalan di Denpasar dan sekitarnya, termasuk ke beberapa obyek wisata, dengan Ben sebagai guide.
Itulah pertemuan terakhir kami dengan Ben Oleona, karena menjelang akhir tahun 2000 ia jatuh sakit dan meninggal dunia pada 21 Desember 2000 pada usia 61 tahun 5 bulan dan dimakamkan di Denpasar. Saya sendiri baru mengetahui bahwa Ben sudah wafat, justru dari Thom Wignyanta di Ende, Flores. Suatu hari di tahun 2001 atau 2002, saya menelepon Thom untuk menanyakan sesuatu hal. Tetapi dari seberang, Thom malah bertanya kepada saya, “Pak Ben sudah meninggal, Ans sudah dengar?” Saya kaget, karena memang belum mendengar dan mengetahui hal itu. Biasanya saya kadang-kadang suka menelepon Ben, tetapi karena kehilangan nomor teleponnya, saya tidak bisa lagi menghubunginya.
Ketika membuat tulisan ini, saya teringat akan kedua orang senior, mentor dan guru saya, dari siapa saya belajar bekerja: Dari Ben Oleona saya belajar bekerja sebagai wartawan, dari Thom Wignyanta saya belajar mengerjakan buku-buku baik sebagai penulis, penerjemah dan penyadur. Ben orang Lembata, Flores memilih berkarya di Bali sampai akhir hayat, sedang Thom, orang Bali memilih berkarya di Ende, Flores sepanjang hidupnya. Terima kasih, Seniors. Reqiescant In Pace!
Berandanegeri.com. KREATIVITAS anak milenial terus dipacu dan berkembang, hal ini terlihat dari pameran lukisan yang dilakukan oleh sekolah melukis Tomato Art ke 9 yang berlangsung dari 29 Februari – 1 Maret 2020 di Lotte Shoping Centre, Jl Casablanca, Jakarta Selatan.
Deezal Annabel Putri atau akrab disapa Annabel, turut memamerkan hasil karya lukisannya tentang “Pelecehan”(Harrasment) dengan judul Case Study 01. Hal ini ia lakukan atas hasil penelitiannya dengan mendatangi dan mewawancarai si korban dan dituangkan dalam bentuk lukisan.
“Saya dan istri selaku orang tua tentu terus memberikan dorongan dan motivasi agar Annabel terus memperdalam dan mengembangkan bakat serta daya imajinasinya agar lukisan lukisannya semakin bermutu dan disenangi oleh orang lain yang melihatnya,” ujar Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) Saleh Husin.
Pada pertengahan Desember 2018 Annabel juga pernah membuat pameran tunggal lukisan hasil karyanya di Kemang Jakarta Selatan dengan tema Sence Movement (Sense MVMT). “Saya juga berharap suatu saat nanti pameran karya anak-anak milenial ini dapat di lihat oleh Bapak Presiden Jokowi sebagai bentuk dukungan untuk para milenial dapat tampil di pentas internasional,” lanjut Saleh Husin, mantan Menteri Perindustrian. (Ansel)
Berandanegeri.com, BUPATI Kabupaten Dogiyai, Papua, Yakobus Dumupa, S.IP merespon peristiwa kecelakaan lalu lintas dan pengeroyokan yang terjadi pada Minggu, 23 Februari 2020, di Kampung Ekimani, Distrik Kamu Utara, Kabupaten Dogiyai. Insiden tersebut menyebabkan pengendara motor, DEMIANUS MOTE (37 tahun), warga Kabupaten Dogiyai, dan sopir truk YUS YUNUS (27 tahun) warga Polewali Madar, Sulawesi Barat meninggal dunia.
Kejadian ini telah menjadi viral dan mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Berkaitan dengan itu dan dalam rangka untuk menyelesaikan masalah ini secara baik, jujur dan adil, saya selaku Bupati Dogiyai menyampaikan beberapa hal agar masyarakat luas tahu duduk soalnya,” kata Bupati Dogiyai dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat 28 Februari 2020.
Berikut beberapa poin yang disampaikan Bupati Yakobus Dumupa:
(1) Pemerintah Kabupaten Dogiyai atas nama PARA PELAKU pengeroyokan dan pembunuhan serta seluruh masyarakat Kabupaten Dogiyai menyampaikan TURUT BERDUKA CITA dan PERMOHONAN MAAF yang sebesar-besarnya kepada pihak KORBAN almarhum YUS YUNUS dan keluarganya dan kepada seluruh warga Polewali Mandar dan warga Sulawesi yang berada di Polewali Mandar, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Nabire dan dimanapun berada. Kami berdoa semoga arwahnya diterima oleh ALLAH, Tuhan Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkannya diberi penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup ini. Dan kami berharap semoga permohonan maaf kami dari lubuk hati yang terdalam ini dapat diterima.
(2) Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga menyampaikan TURUT BERDUKA CITA atas meninggalnya almarhum DEMIANUS MOTE. Semoga arwahnya diterima oleh ALLAH, Tuhan Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkannya diberi penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup ini.
(3) Perlu diklarifikasi dan dipertegas mengenai satu hal yang simpang siur dan tidak benar, bahwa pengeyorokan dan pebunuhan terhadap sopir YUS YUNUS bukan sebagai upaya balas dendam atas kematian BABI, karena para pelaku yang melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap YUS YUNUS tidak mempersoalkan kematian babi. Tetapi hal ini karena tersulut emosi melihat kematian DEMIANUS MOTE yang DICURIGAI ditabrak oleh truk. Sehingga diharapkan untuk tidak mengembangkan dan menyebarluarkan isu seolah-olah nyawa babi dibalas dengan nyawa manusia. Sekali lagi saya pertegas bahwa ini tidak benar!
(4) Beberapa pihak mempunyai pemahaman dan kronologis yang berbeda-beda mengenai masalah ini, dan perbedaan itu menyebabkan tanggapan yang berbeda-beda pula. Untuk itu, agar masalah tidak menjadi simpang siur dan agar menjadi terang-benderang sesuai dengan kejadian yang sesungguhnya, maka kami mempercayakan pihak berwajib (kepolisian) untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah ini. Dan diharapkan hasil penyelidikan secara baik dan benar itulah yang perlu dipercayai.
(5) Pemerintah Kabupaten Dogiyai tidak mengharapkan masalah ini membesar, meluas dan menyimpang dari kejadian yang sebenarnya. Perlu dipahami bersama bahwa masalah ini tidak ada kaitan dengan kepentingan politik, rasisme, agama, suku, kepulauan dan lainnya. Dan juga ini bukan masalah antara orang Dogiyai dengan orang Polewali Mandar atau masalah antara orang Papua dan orang non-Papua. Masalah ini murni kecelakaan lalu lintas dan kriminal. Karena itu dimohon untuk tidak mengaitkan masalah kecelakaan lalu lintas dan kriminal ini dengan masalah politik, rasisme, agama, suku, kepulauan, dan lainnya.
(6) Pemerintah Dogiyai MEMOHON semua pihak, terutama pihak korban dan pelaku untuk MENAHAN DIRI dan TIDAK MELAKUKAN AKSI BALAS DENDAM atas permasalahan ini. Semua pihak harus menyerahkan penyelesaian masalah ini melalui proses hukum.
(7) Pemerintah Kabupaten Dogiyai mendukung seluruh proses penyelidikan terhadap masalah ini, yang sedang dilakukan oleh pihak berwajibn (POLSEK Kamu, POLRES Nabire dan POLDA Papua). Diharapkan kepada semua pihak juga untuk mendukung proses hukum ini. Demikian pernyataan yang dapat kami sampaikan dengan maksud agar masalah ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya.