Author: Redaksi

  • Apoly Bala, Karabau Knoki dan Melarat

    Apoly Bala, Karabau Knoki dan Melarat

    LEWUKA, Udak, dan Uruor. Tiga kampung masih punya hubungan suku, bahasa, dan kekerabatan yang kental hingga saat ini. Dua kampung yang pertama: Lewuka(k) dan Udak, takluk dan seolah terjepit di kaki bukit nan asri. Sedang yang lain, Uruor, berada di atas padang savana dengan panorama alam mempesona sejauh mata memandang. Jarak Lewuka dan Udak sejauh emperan dua rumah yang berhimpitan satu dengan yang lainnya.

    Berbeda dengan Uruor, yang sedikit agak jauh melewati tebing Karabau Knoki (pintu kerbau) dari bawah kaki kampung Udak dan Lewuka kemudian berjalan kaki melewati padang luas sebelum mencapai Uruor di atas padang tersebut. Ada yang menyebut Kerbau atau Karbau Knoki sesuai dialek masing-masing kampung atau desa sekitar. Nyaris 50-60-an tahun sejak Indonesia merdeka, ruas jalan menuju tiga kampung itu belum pernah dibangun sekadar dilewati kendaraan roda dua.

    Orang kampung masih memanfaatkan tenaga untuk memikul barang bawaannya. Termasuk warga masyarakat nelayan Lamalera dan sekitarnya yang pergi menjual dan membeli makanan di kampung-kampung di sekitar Lewuka, Udak maupun Uruor. Bahkan sampai Kalikasa, kota kecamatan Atadei atau desa-desa lain seperti Karangora, Watuwawer, Atawolo, Bauraja, dan lain-lain.

    Kala itu warga masyarakat sungguh terpenjara dalam ketertinggalan. Negara seolah tak sudi hadir membuka isolasi fisik agar orang-orang kampung dari tiga kampung itu agar memiliki akses dengan dunia luar. Itu dulu. Kini pun masih terasa. Mobil penumpang ke Udak dan Lewuka, mesti melewati jalur jalan wilayah selatan Lembata yang sangat buruk, minim perhatian pemerintah mulai dari pusat sampai daerah sejak Lembata menjadi daerah otonom 20 tahun lalu.

    Berniat ke Lewuka, Udak atau Uruor dengan berkendara, ada baiknya pengunjung baru siapkan diri baik-baik. Nyali pengunjung atau tamu akan diuji karena oto (bis kayu), moda transportasi ke tiga kampung itu, akan berlenggak lenggok kiri-kanan dengan keras. Kalau supir tak sigap, jurang sedalam puluhan meter jadi alamat terakhir. Namun, (Alm) Bastian N Ujan, seorang pengusaha lokal dari Udak yang lama bermukim di Dili, Timor Leste nekad membuka jalan hingga Udak. Jalan di Karabau Knoki ia buka dengan alat berat milik pribadi sehingga orang leluasa pulang-pergi Udak-Lewoleba.

    Badan penumpang oto atau pengunjung pun bakal terasa macam di-gebuk. Kondisi medan yang sulit itu terlihat baik melalui (Desa) Wulandoni, kota Kecamatan Wulandoni maupun dari Lewoleba, kota Kecamatan Nubatukan & kota Kabupaten Lembata, melalui kampung Pukaj Lerek, Nubatukan. Jalur Lewoleba-Uruor juga menjadi langganan saya jalan kaki pergi-pulang Boto untuk mengambil bekal selama sekolah di SMA Kawula Karya Lewoleba tahun 1987-1990.

    Lewuka secara resmi terbentuk menjadi Desa Belobao di Kecamatan Wuandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan kampung Udak menjadi Desa Udak Melomata. Sedangkan Uruor terbentuk menjadi Desa Belobatang, Nubatukan. Di kalangan orang kampung Lewuka, Udak dan Uruor tempo doeloe, Udak lebih familiar dengan sebutan Lewu.

    Sejak beberapa tahun lalu, Udak resmi menjadi sebuah desa definitif dengan nama Desa Udak Melomata. Berada di wilayah Kecamatan Nubatukan, Lembata. Kehadiran Udak Melomata sebagai sebuah desa resmi menambah koleksi desa di Lembata, kabupaten yang “merdeka” dari Flores Timur, kabupaten induk dua puluh tahun lalu.

    Melarat dan Merasul

    Meski berada di tengah kepungan lembah, berada di kaki bukit, beranda di ngarai terjal, toh, tempo doeloe semangat juang orang-orang kampung Lewuka pigi melarat (pergi merantau, dalam konteks Flores Timur dan Lembata tempo doeloe) melanjutkan pendidikan atau bertaruh nasib di luar kampung bahkan di tanah Jiran Malaysia, sangat tinggi. Kelak, anak-anak kampung baik dari Lewuka, Udak dan Uruor merasul di mana saja mereja tinggal.

    Drs Apoly Bala Wutun, M.Pd, salah satu anak kampung Lewuka, yang memutuskan melarat, bertaruh nasib melalui pendidikan untuk masa depannya kemudian mengharumkan nama Gereja, bangsa, dan negara melalui tugas perutusannya sebagai pengikut setia Kristus Yesus. Kala itu orangtua di kampung-kampung punya kebanggaan tersendiri kalau anak-anaknya bisa melarat, merantau atau sekolah mengandalkan hasil tanaman berupa kopi, kemiri, kelapa, pinang, padi, jagung, ubi-ubian dari kebun orangtua mereka. Apalagi melanjutkan pendidikan calon imam, suster, bruder, biarawan atau biarawati.

    Apoly Bala –begitu panggilan akrab Apoly Bala Wutun– salah seorang guru, dirigen bahkan komponis papan atas Nusa Tenggara Timur tak hanya lagu-lagu Gerejani. Namun, lebih dari itu. Ia adalah salah seorang anak asli Lewuka yang lahir dari kampung kecil kemudian dikaruniai Tuhan talenta luar biasa besar agar kelak ia boleh merasul melalui karya seni yang ia hasilkan.

    Belum lagi terhitung para guru, dosen, imam, biarawan dan biarawati yang mengabdi baik di dalam maupun luar negeri. Selain Apoly Bala Wutun, dalam catatan saya –sekadar menyebut beberapa– banyak putra-putri asal kampung Lewuka, Udak, dan Uruor yang mengabdi di berbagai bidang profesi tak hanya dalam namun juga luar negeri.

    Saya sebut saja beberapa di antara mereka. Misalnya Pastor Benediktus Genule Ujan SVD di Kalimantan; Pastor Yeremias Balapito Duan MSF; Pastor Stanis Beda Elanor, CM; Pastor Elfridus Ujan SVD di Bostwana, Afrika; Fr Alberto Geroda Atawolo, CMM, misionaris di Brazil; P Dr Pankras Kraeng SSCC; Pastor (Alm.) Thoby Muda Kraeng SVD; Sr Leny Kraeng, CP di Ruteng, Manggarai, ujung barat Pulau Flores.

    Selain itu, Sr Moniq Ujan di Italia; Br Dominggus Geroda Sinuor, SVD misionaris di Brazil; Sr Virgo Sinuor, OSF; Sr Helena Maria, SSpS (adik Apoly Bala Wutun) ; Pastor Jery Ujan CSsR; Sr Leonita Kraeng, PRR di Kenya; Pastor Cornelius Dominikus Boli (Rumly) Ujan SVD, misionaris di Paraguay; Pastor Dr Bernardus Boli Ujan SVD, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero dan mantan Sekretaris Komisi Liturgi Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI).

    Foto Apoly Bala Wutun bersama Herman Yosef Loli Wutun

    Berikut kalangan awam seperti Drs Herman Yosef Loli Wutun, Ketua Umum Induk KUD; psikolog Dr Rufus Pati Wutun, dosen Universitas Nusa Cendana Kupang, Hyronimus Sorywutun, mantan Direktur Perusahaan Daerah (PD) Flobamora; Dr Andre Ata Ujan, dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.

    Juga Dr Joseph Laba Sinuor, dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang, Banten; Jeremy Emanuel Laba Ujan, master ceremony (MC) beken pemilik usaha Publik Speaking J-Smart, Alberth Olak Sinuor, mantan guru di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang saat ini menjabat Ketua DPD Partai NasDem Flores Timur, (Alm) Drs Rikardus Labi Ujan, pengajar Akademi Manajemen Kupang / Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang, dan lain-lain.  

    Mereka semua ini adalah segelintir dari generasi tiga kampung di atas yang melarat kemudian marasul di bidangnya masing-masing. Saya percaya, sebagian dari mereka ini pernah melewati Karabau Knoki, pintu keluar-masuk jalan selebar “badan kerbau”, melewati tebing di atas bukit tak jauh dari Lewu guna merenda hari esok untuk kebaikan dan kemuliaan nama Tuhan.

    Karabau Knoki bukan tempat lalu larang kerbau, binatang dalam artian sesungguhnya. Karabau Knoki adalah kisah tentang jalan setapak kecil berbahaya untuk orang-orang kampung Lewuka, Udak maupun Uruor. Jalan yang hanya bisa dilewati kambing atau babi hutan. Karena itu, butuh kehati-hatian orang kampung atau pelancong yang gemar mengakrabi alam liar dan menantang. Mengapa? Kalau tak hati-hati, maka maut senantiasa mengintai bila terperosok dan jatuh.

    Sekitar tahun 1979-1983, didampingi para guru saya dan rekan-rekan dari SDK Boto pernah melewati “pintu masuk” Udak dan Lewuka di Karabau Knoki. Setelah meninggalkan Boto, kampung halaman, kami menuruni areal terjal menuju kampung Liwulagang (kini jadi desa defintif). Dari Liwulagang, kami mendaki jalan berbukit hingga Fit Fule (“leher kambing”) sebelum mencapai puncak, di area padang sabana tak jauh dari Uruor.

    Dari Uruor, perjalanan dilanjutkan melewati padang sabana. Meski panas membakar, toh, tak menyurutkan langkah kami. Menjadi peserta Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) Tingkat Wilayah di Kecamatan Nagawutun, kala itu, yang terpusat di Lewuka, kampung Apoly Bala Wutun. Ini pengalaman mengasyikkan karena bersiap menjadi juara tingkat pool sebelum puncaknya tingkat kecamatan di  Loang, kota Kecamatan Nagawutun.

    Menuruni jalan setapak yang sangat curam, tangan kami mesti dipegang guru. Selain menjaga keselamatan, barang-barang bawaan di dalam klombu atau serbet tak jatuh ke jurang di Karabau Knoki. Pemandangan alam yang indah sepanjang dari Uruor ke Udak, menjadi penghalau rasa takut. Tak lama wajah Udak dan Lewuka yang masih asri memanjakan jiwa.

    Lewuka dan Palu

    Siapa sangka suatu waktu Apoly Bala Wutun, orang anak kampung dari Lewukak, di pedalaman Lembata menginjakkan kaki di Palu, Sulawesi Tengah? Tentu, sebagai umat beriman, tukang pikul Salib Kristus, semua itu karena rencana dan karya Tuhan semata. Bagaimana tidak? Pada Senin, 20 Agustus 2018, Apoly Bala Wutun berada di Auditorium Universitas Tadulako (Untad), Sulawesi Tengah. Apoly Bala mendapat undangan khusus dari Rektor Untad Prof Dr Ir Muh Basir, SE, MS.

    Ia diundang mengikuti Dies Natalis ke-37 Untad, Wisuda Sarjana ke-93, dan Pengukuhan Dua Guru Besar Fakultas Teknik Untad. Kehadiran Apoly Bala di Untad karena dia adalah pencipta sekaligus aransir Hymne Untad. Pihak rektor memandang perlu memberikan Piagam Penghargaan kepada Apoly Bala Wutun atas jasanya menciptakan Hymne Universitas Tadulako.

    Prosesi pemberiaan Piagam Penghargaan kepada Apoly Bala Wutun, anak kampung dari Lewukak, mendapat perhatian Jefrianto, seorang blogger. Jefrianto, menulis dengan bernas dengan judul Penantian 35 Tahun Apoly Bala Terjawab dalam weblog pribadinya yang dimuat pada 22 Agustus 2008. Saya merujuk artikel Jefri dalam blognya. Tulisan itu sekaligus menjadi panduan mengetahui siapa sosok Apoly Bala Wutun.

    Foto Apoly Bala Wutun bersama Rektor Universitas Tadulako Palu

    Di dalam auditorium, sosok pria berperawakan kecil, berjalan pelan menuju panggung, begitu pemandu acara menyebut namanya; mempersilahkannya naik ke atas panggung. Pria dengan uban keperakan yang menutupi hampir seluruh rambutnya ini, mengenakan setelan jas hitam dengan kopiah motif tenun khas NTT.

    Di atas panggung, tampak Muh Basir bersiap menyambutnya. Hari itu, Senin (20/8/2018), bertepatan dengan puncak peringatan Dies Natalis ke-37 Untad, yang dirangkaikan dengan pelaksanaan wisuda sarjana ke-93 dan pengukuhan dua guru besar Fakultas Teknik Untad.

    Dipandu oleh pemandu acara, Muh Basir menyerahkan piagam penghargaan kepada Apoly Bala. Saat menerima Piagam Penghargaan tersebut, bola matanya basah dan berkaca-kaca. Ia tak kuasa menahan haru dengan apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya gubahannya. Sejak 35 tahun hingga saat ini Hymne Untad mewarnai perjalanan sejarah Untad.

    Siapakah Apoly? Karya apakah yang dihasilkannya sehingga diapresiasi Untad? Itu tak lain karena Apoly adalah masetro musik liturgi pencipta lagu dan syair Hymne Untad. Hymne Utad tersebut kembali ditemukannya setelah 35 tahun berselang, lewat sebuah peristiwa yang tidak disengaja.

    Apoly lahir di Lewuka, Wulandoni, Lembata. Ia lahir dari pasangan petani kecil: Lukas Djuang Wutun dan Ibu  Ero. Kedua orangtuanya sudah berpulang. Ia menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) di Lewuka, kemudian lanjut Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur dan STF Ledalero, Maumere.

    Saat menjalani TOP di Katedral Kupang, ia mundur dan tak melanjutkan cita-citanya menjadi imam. Sejak itu ia mengabdi sebagai guru di SMPK Santu Yosep Naikoten Kupang. Lulus dari FIP Undana ia menjadi dosen di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan pensiun saat menjabat PR I Unwira.

    Terkait Hymne Untad, Apoly menceritakan, sekitar 1982 ia melihat pengumuman sayembara Hymne Untad di salah satu koran nasional. Oleh karena sering menggubah lagu, ia tertarik mengikuti sayembara tersebut. “Saya lupa koran apa yang mengumumkan sayembara tersebut. Seingat saya, pada saat itu cuma dua koran yang ada di Kupang, yaitu Kompas dan Pos Kupang. Karena sayembaranya bersifat nasional, saya pikir tidak mungkin terbit di media lokal, sepertinya memang terbit di Kompas. Sayembara ini seingat saya dilaksanakan sesudah pelaksanaan wisuda perdana Untad tahun 1981, karena setelah wisuda tersebut, dirasa perlu untuk adanya sebuah Hymne,” ujar Apoly.

    Tidak butuh waktu lama baginya untuk menggubah lagu dan syair Hymne Untad tersebut. Setelah karya gubahannya selesai, karya tersebut dikirimkan via pos kepada panitia. Apoly mengatakan, dirinya juga mengkliping pengumuman sayembara tersebut. “Dulu saya sempat kliping pengumuman sayembarannya. Namun, karena tidak ada kepastian tentang hasil sayembaranya, kliping tersebut kini sudah entah di mana,” kata Apoly menyesal.

    Apa yang diceritakan Apoly terjadi. Selepas ia mengirimkan naskah lagu dan yair Hymne Untad beserta riwayat hidupnya kepada panitia sayembara, hingga 35 tahun berselang, tidak ada secuilpun kabar tentang hasil sayembara tersebut. Dirinya pun baru mengetahui jika lagu gubahannya sudah digunakan Untad selama 35 tahun, setelah tanpa sengaja anak bungsunya menemukan syair Hymne Untad ciptaannya, tertera dalam Statuta Untad.

    “Anak bungsu saya yang sekarang sedang kuliah di Universitas Indonesia (UI), pada 2017 lalu, iseng mengetik nama saya pada mesin pencarian google. Tanpa sengaja, dia menemukan nama saya tercantum dalam syair Hymne Untad yang ada di Pasal 6 Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) No 8 tahun 2015 tentang Statuta Universitas Tadulako,” jelasnya.

    Dalam lampiran Pasal 6 Statuta Untad, tertulis nama Apoly Bala sebagai pencipta lagu dan syair. Sementara pada aransemen tercantum nama DN Kumontoy. Sontak, si anak bungsu langsung mengontak Apoly untuk memberitahukan hal tersebut. “Setelah saya dengar infonya, saya minta dia cetak isi lengkap statuta tersebut. Saat pulang untuk liburan Natal 2017, salinan statuta tersebut diserahkannya ke saya dan ternyata setelah saya cek, syair dan lagu tersebut memang yang saya buat puluhan tahun lalu,” ujarnya.

    Mengetahui karyanya digunakan Untad, pada Januari 2018, Apoly mengirimkan surat klarifikasi yang dikirimkan oleh anaknya ke email Rektor Untad. Namun selang beberapa bulan, email tersebut tidak direspon. Akhirnya sekitar Maret atau April, dengan isi surat yang sama, Apoly mengirimkan secara fisik ke alamat kampus Untad. “Dalam surat tersebut, saya lampirkan riwayat hidup (CV), identitas, serta karya-karya yang pernah saya hasilkan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, ketika surat fisik dikirim, selang beberapa hari, balasan surat tersebut datang. Ia mengaku ditelepon oleh Pak Yos dari Untad, yang ternyata berasal dari daerah yang sama dengannya di Lembata. Pada kontak terakhir Juni 2018 lalu, meneruskan pesan Rektor Untad, Yos bertanya kepada Apoly, apakah ingin datang ke Palu pada pelaksanaan wisuda 5 Juli lalu, atau pada peringatan Dies Natalis ke-37 Untad, 20 Agustus. “Saya jawab, kalau bulan Juli saya belum siap. Saya putuskan datang pada peringatan Dies Natalis Untad,” ujarnya.

    Tiba di Palu pada 8 Agustus, Apoly dipertemukan dengan Rektor Untad. Dalam pertemuan tersebut kata dia, Rektor mengaku menerima dua surat tersebut. “Saya awalnya bertanya-tanya ada beberapa kemungkinan, bisa saja dulu pihak Untad yang lalai, atau surat pemberitahuan sudah dikirim, tapi tidak sampai ke tangan saya,” ujarnya.

    Pada momen pertemuan tersebut, Rektor secara pribadi dan atas nama institusi meminta maaf secara langsung kepada Apoly. Rektor bahkan segera membentuk tim khusus untuk menyelidiki hal tersebut. “Kesan saya saat bertemu langsung pak rektor, orangnya sangat luar biasa, sangat objektif. Dia mengatakan kepada saya, lagu tersebut adalah lagu yang monumental dan sampai kapanpun akan jadi identitas kampus. Sama seperti yang dikatakan Pak Yos waktu pertama kali mengontak saya, bahwa lagu saya tersebut sangat populer di Untad,” urainya.

    Untuk menyelidiki terkait sejarah Hymne Untad tersebut Apoly dibawa oleh Yos menemui salah seorang mantan Pembantu Rektor II Untad di tahun 1980-an. Dari pertemuan tersebut, mantan PR II Untad tersebut menjelaskan, pernah PR II Untad tersebut dalam suatu kesempatan di tahun 1980-an, bertemu dengan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), bernama Frans.

    “Dalam pertemuan tersebut, dia (PR II Untad red.) sempat mencari orang yang menang sayembara hymne tersebut. Rektor Undana menanyakan siapa namanya, namun dia ternyata lupa nama pemenangnya. Jika pertemuannya pada 1980-an, kemungkinan Rektor Undana yang ditemuinya adalah Prof Frans Likadja dan pertemuannya menurut saya mungkin belum berselang lama setelah sayembara,” jelasnya.

    Mantan PR II Untad tersebut, kata dia, juga menyebutkan jika karya yang dikirim waktu itu hanya lagu dan syair, sehingga menganggap jika dulu ia juga mengirim aransemen lagunya, harus dikaji kembali, karena baik maupun pihak Untad, tidak lagi memiliki data terkait hal tersebut.

    Terkait penghargaan yang diterimanya, Apoly mengaku senang karyanya ternyata digemari orang. Hal ini kata dia, juga menjadi motivasi baginya untuk berkarya, untuk membuat orang lain merasa senang, apalagi kata dia ini untuk lembaga. “Harapan saya untuk Untad, sudah tersirat dalam syair lagu ini. karena syair lagu ini berisi pesan dan doa serta harapan yang dibungkus dengan lagu, agar gaungnya sampai kepada pendengarnya,” ujarnya.

    Tertarik kata ‘Tadulako’

    Apoly mengisahkan, saat melihat pengumuman sayembara tersebut, hal yang menarik baginya justru adalah kata ‘Tadulako’ pada nama universitasnya. Mengapa ia tertarik? Dalam bahasa daerahnya, kata Tadulako itu terdiri dari dua kata: yaitu Tadu dan lako. Tadu berarti tinju dan Lako artinya musang hutan. “Karena penasaran dengan nama itu, saya seperti terinspirasi untuk membuat lirik dan melodinya,” kisahnya.

    Oleh karena lagu itu bentuknya hymne, ia memahami bahwa hymne ini lagu pujian. Di di dalam pujian, ada salah satu unsur penting yaitu doa. Makanya, bait-bait awal hymne tersebut dimulai dengan ungkapan doa. “Lagu ini dibagi dalam tiga bagian, di mana masing-masing dua baris. Bagian pertama isinya doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bagian kedua berisi misi perguruan tinggi, sedangkan bagian ketiga berisi pujian kepada almamater,” jelasnya.

    Hymne tersebut memiliki unsur religius. Sebagai manusia, jelasnya, sebagai manusia usaha tanpa adanya campur tangan Tuhan tidak ada arti. Ia mengaku proses pengerjaan lagu itu lumayan cepat karena inspirasinya langsung muncul. Saat bertemu Rektor Untad pada 8 Agustus 2018, ia sempat menanyakan arti kata ‘Tadulako’.

    Melalui rektor dan beberapa pihak, ia mendapatkan jawaban bahwa istilah Tadulako lekat dengan jiwa kepemimpinan, utamanya kepemimpan yang bersifat kolektif. “Jika memang demikian maknanya, maka mestinya melalui institusi ini, mahasiswa harus belajar menjadi pemimpin di masyaraat. Untad ini sebenarnya adalah perguruan tinggi yang memimpin dan mendidik calon pemimpin, sehingga untuk itu, Untad wajib menggali nilai budaya dan makna serta ciri khas Tadulako untuk diaplikasikan kepada mahasiswanya,” ujarnya.

    Untuk mengisi masa tuanya, Apoly, pria yang membuat arensemen lagu Flobamora, lebih banyak menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga di kediamannya di Jalan Nangka, Kelurahan Oeba, Kota Kupang. Sejak pensiun sebagai ASN tahun 2010 ia menikmati keseharian di dunia yang bersentuhan dengan musik. Ia juga melanjutkan aktif dalam Paduan Suara Sekarsari yang sudah ia bina puluhan tahun.

    Herman Wutun, kerabat dekatnya dari Uruor, Jumat, 24 Januari 2010, mengabarkan bahwa Apoly menurut mata selamanya. Apoly menghadap Ata Rajan, Tuhan, di Rumah Sakit Siloam. Herman mengaku, Apoly sosok bersahaja, sederhana, keras pendirian, ulet dan disiplin. Ia memberi diri bagi banyak orang dalam kesederhanaan, selama 30 tahun lebih membina paduan suara Sekar Sari hingga ajal menjemputnya,” kata Herman Wutun, Ketua Umum Induk KUD.

    Warga masyarakat kampung Lewuka, Udak, dan Uruor tentu mengenang sosok Apoly Bala Wutun, anak kampung inspiratif. Ia meninggalkan kampung, melintas Karabau Knoki guna melarat agar kelak berguna bagi bangsa dan negara di rantau. Pun masyarakat Lembata dan Nusa Tenggara Timur, tentu merasa kehilangan masetro musik yang berjasa memajukan musik lokal dan Gerejani. Pun Universitas Tadulako dan masyarakat Sulawesi Tengah tentu mengenangnya sebagai sosok yang telah berjasa menciptakan Hymne Untad bagi masyarakat dan civitas akademika Untad.

    Pastor Dr Bernardus Boli Udjan SVD, kerabatnya dari Lewuka mengenang Apoly sebagai sosok yang amat berjasa untuk kita semua orang. “Beliau berjasa untuk liturgi Gereja khususnya sebagai komponis lagu-lagu liturgi dan dirigen handal, juga pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Kita kehilangan besar. Semoga semangatnya kita warisi dan teruskan kepada yang lain. Terima kasih, Pak Apoly Bala untuk segala jasa dan kebaikan. Semoga Almarhum berbahagia di surga dan bersatu dangan para kudus dan malaikat dalam madah syukur pujian tanpa henti bagi Tuhan,” ujar tuan Boli Ujan.

    Pastor Yeremias Bala Pito MSF, kerabat lain Apoly dari  Lewukak, mengenang almahrum dalam curahan hati menggugah. Ia menulis, hari ini semua terhenyak atas kepergian seorang pribadi yang telah panjang  menghiasi pelataran musik gereja, musik daerah NTT mengisi serambi hati seluruh insan Flobamorata, tulus, tidak pernah berpikir untung dalam rupa fulus.

    “Apoly Bala melukis indah jajar musik indahnya membuatku selalu kagum dalam ekspresi setiap bertemu. Kucium tangan halusmu yang sudah membuat NTT-ku berdenyut di nadi musik yang penuh tanpa balutan atau pernak pernik cerdik lainnya, namun sungguh murni  mengharumkan lantunan nada dan suara putra-putri Flobamorata. Tidak cukup melukis retas jalan yang telah dibentang dan surut aku mengakui akan meneruskan laku yang telah dipaku, tapi biarkan bergerak sekehendak zaman. Doakan kami yang berusaha meneruskan segala yang telah diletakkan agar pada titiknya boleh berkanjang pada muara yang semestinya. Beristirahatlah dengan damai, Bapak Apoly Bala. Tuhan terimalah hamba-Mu ini dalam kebahagiaan kekal di Surga. Amin,” kata tuan Bala Pito.

    Jakarta, 24 Januari 2020

    Ansel Deri, Orang Kampung Asal Boto; Mengenang Alm. Apoly Bala Wutun

    Sumber foto: Copas jefrianto dan dok Herman Wutun

  • Kuda dalam Tanda Mata Stephie

    Kuda dalam Tanda Mata Stephie

    BUDI Baik. Warnanya coklat. Pun Tanda Mata. Warnanya putih. Boleh jadi, baik Budi Baik maupun Tanda Mata seperti piaraan paling mengasyikkan. Keduanya boleh seperti pembasuh penat usai bekerja, pengganda bahagia tatkala bolak balik rumah-kebun. Orangtua Stephie Kleden-Beetz (76): bapa Yohanes Djuan Kleden dan mama Katharina Sabu Hadjon, yang empunya kuda kesayangan bernama Budi Baik dan Tanda Mata.

    Dari Malang, Jawa Timur, Budi Baik dan Tanda Mata menyelinap masuk dalam memori Stephie Kleden-Beetz. Ia (Stephie) memutar kembali memori, bale (pulang) Waibalun, kampung halamannya di rumah orangtua, beranda pelabuhan fery, arah barat Larantuka, kota Reinha, kota Maria, di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Memorinya melebur dengan kisah Budi Baik dan Tanda Mata, tempo doeloe, yang mungkin bolak balik dengan ayah-ibunya menempuh rute rumah-kebun di sekitar Waibalun atau Larantuka.

    Saya biasa menyapa akrab Stephie Kleden-Beetz dengan “kaka Oa” setiap kali saya mengirim pesan singkat baik melalui messanger atau WhatsApp bila bertanya bagaimana resep bahkan rahasia menulis yang baik dari seorang penulis dan wartawan senior. Sekitar Agustus hingga September 2019, saya memberanikan diri meminta kaka Stephie menyiapkan Prolog sebuah buku yang akan segera terbit.

    Stephie memastikan akan mengagendakan menulis Prolog dimaksud sebagai bukti dan kesetiaan mendukung setiap upaya para penulis muda dari kampung halaman, tanah Lamaholot. “Adik Ansel Deri, bersama ini saya kirim kata pengantar Lembata yang Mempesona. Semoga ada manfaat. Silahkan bertanya bila belum ada kejelasan. Salam dan selamat berkarya. Stephie Kleden-Beetz,” ujar kaka Stephie melalui e-mail, surat elektronik kepada saya, 26 Oktober 2019.

    Nama Stephie juga mulai familiar setelah Pilatus mengisi halaman Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian milik SVD yang terbit di Ende, Flores. Saya mendengar Pilatus kemudian belakangan membaca artikel itu usai pastor berkotbah di altar Gereja (lama) Paroki Santo Joseph Boto beberapa waktu setelah itu.

    Pilatus adalah tulisan Gabriel G Sola, seorang kontributor Dian di Jakarta.  Gaby, belakangan jadi rekan sesama kontributor lepas Dian, meski lokus domisili kami berjauhan. Pun tak saling kenal. Saking menarik, Pilatus kembali juga disinggung sang pastor dalam kotbahnya.

    Sedang Stephie Kleden-Beetz? Nama Stephie Kleden-Beetz, juga familiar mengisi nyaris setiap rubrik Dian tatkala saya masih di kampung tahun 80-an. Banyak laporan beliau dari Jerman. Selain tentu berita maupun laporan-laporan human interest, yang mengaduk rasa ingin tahu pembaca sekelas kami segelintir anak kampung yang suka baca koran-koran usang terutama Dian dan Hidup. Kami tentunya, terasa ditawan di sana dan melahap laporan Stephie hingga di akhir tulisan kemudian tahu siapa penulisnya.

    Tentang Budi Baik dan Tanda Mata Stephie menyandera kedua bola mata. Seberapa penting Budi Baik dan Tanda Mata di mata Stephie? Pastinya, tatkala menggarap Tanda Mata, buku mini karyanya, Stephie malah kewalahan. Bukankah seorang penulis hebat dan wartawan senior dengan jam terbang tinggi akan dengan mudah menemukan judul? Tapi, kok kewalahan?

    Rupanya ingatan Stephie menyasar Budi Baik dan Tanda Mata. Dua ekor kuda itu milik ayah-ibunya di Waibalun. Tak lama menemukan judul buku karyanya, Tanda Mata, dari kuda Tanda Mata ayah-ibunya. “Ketika sedang mencari-cari judul untuk buku ini, tiba-tiba saya teringat masa kecil saya dan kebahagiaan naik kuda bersama Ayah,” kata Stephie Kleden-Beetz di bagian Ucapan Terima Kasih Tanda Mata, buku karyanya setebal 342 halaman tersebut.

    Namun, Stephie, penulis kelahiran Waibalun, Flores Timur pada 25 Desember 1943 melanjutkan, tak disangka, tragedi itu terjadi: Budi Baik tewas di ujung panah pemburuh liar. Bukan hanya keluarga Stephie yang berduka. Tanda Mata, sahabat Budi Baik, pun menjadi murung, kehilangan nafsu makan, menjadi semakin kurus, akhirnya pergi menyusul Budi Baik.

    “Maka jadilah nama buku ini: Tanda Mata. Kepada Ayah dan Ibu, yang telah membuat kami berbahagia lewat dua ekor kuda tersebut, saya sampaikan limpah terima kasih. Terima kasih pertama-tama saya berikan kepada Pater Dr. Paul Budi Kleden, SVD, yang telah berkenan menulis kata pengantar buku ini. Untuk Hermien Y. Kleden, manager produksi buku ini saya berikan beribu terima kasih atas jerih payahnya di tengah kesibukan utamanya sebagai wartawan majalah Tempo,” kata Stephie lagi.

    Rasa Hormat

    Stephie Kleden-Beetz sungguh penulis hebat dan wartawan senior terbilang langka. Setiap peristiwa bahkan pengalaman perjumpaan ia tulis dengan indah dan enak dibaca. Tiga buku karyanya, Cerita Kecil Saja, Merajut Kata-Kata, dan Tanda Mata hanya yang terakhir saja jadi tanda mata untuk saya anak kampung.

    Wawasan Stephie Keden-Beetz sangat luas. Ia melanglang buana, menembus benua. Bahkan Stephie lama bermukim di Jerman setelah menikah dengan Werner Beetz, pemuda pilihannya. Meski demikian, di tengah kesibukannya bekerja sebagai jurnalis di negeri yang pernah dipimpin baik oleh Kanselir Angela Merkel maupun Helmut Kohl, itu, ia masih menyapa pembaca setia di NTT melalui reportasenya yang dimuat SKM Dian di Ende.

    Stephie lahir dari keluarga guru yang rata-rata adik-adik kandungnya adalah intelektual dan orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Sesuatu yang tentu sangat disyukuri pasutri guru Djuan Kleden dan mama Sabu Hadjon. Sekedar menyebut beberapa nama yang saya tahu. Misalnya, Pastor Dr. Leo Kleden, SVD. Tuan Leo, pastor filsuf ini lama bertugas di Rumah Induk SVD di Roma, sebelum akhirnya kembali ke almamaternya, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.

    Begitu pula Dr Ignas Nasu Kleden, sosiolog lulusan Jerman atau Drs Marianus Gege Kleden, pengajar Fisip Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Juga Hermien Y. Kleden, mantan wartawan senior Tempo, majalah berita mingguan paling berpengaruh di Indonesia. Berikut Emil Ola Kleden, pernah bergiat di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

    Waibalun,  kampung kecil di muka pelabuhan fery itu pun bukan asing di mata saya. Sejak masuk Kupang, Pulau Timor, tuk melanjutkan studi tahun 1990, Waibalun adalah tempat asyik buat minum kopi panas sambil nikmati jagung titi (makanan khas Flores Timur dan Lembata) dan ikan tongkol segar dari laut Flores.

    Tiba di Larantuka, pelabuhan teramai di jantung kota Reinha, Flores Timur dari pelabuhan laut Lewoleba, Pulau Lembata, perjalanan mesti dilanjutkan ke Waibalun, arah barat, kampung penulis dan jurnalis senior Stephie Kleden-Beetz. Melewati jalanan sepanjang bibir pantai sebelum tiba di kampung kecil Waibalun, kita akan disuguhkan pula panorama alam pantai dan eksotisme beberapa kampung nan asri seperti Lewolere dan Pante Besar.

    Sejak dari Larantuka, mata kita sungguh dimanjakan pula dengan pemandangan satu dua menara kapel yang indah di sepanjang kampung-kampung itu. Di situlah guru Djuan Kleden dan mama Hadjon memelihara dan merawat Budi Baik dan Tanda Mata. Tanda Mata inilah yang bakal berlanjut pada Tanda Mata, karya mungil Stephie yang berisi rekaman lensa rasa yang begitu indah dalam jejak pengabdian sebagai penulis dan wartawan.

    Tanda Mata beranak Tanda Mata dalam tulisan? Saya memandang Stephie Kleden-Beetz adalah penulis unik yang telah membuat kejutan bagi saya sebagai penulis pemula dari kampung, nun di tengah dekapan dingin yang kerap mencekam di kaki Labalekan, selatan Lembata.

    Bagaimana tidak? Dari Tanda Mata kesayangan ayah-ibunya, guru Djuan Kleden dan mama Sabu Hadjon di Waibalun, lahir judul buku yang hemat saya mengejutkan. Stephie tinggal “membaptis” bukunya dengan nama Tanda Mata tanpa memikirkan atau mencari nama yang jauh-jauh semisal Eropa untuk karya uniknya itu. Ya, cukup meminjam nama kuda Tanda Mata menjadi kitab mini Tanda Mata yang baru untuk pembaca. Nggak sulit, kan? Inilah kehebatan Stephie di mata saya.

    Superior General SVD Sedunia Pastor Dr Paulus Budi Kleden SVD, jauh-jauh dari Cordoba, Argentina, ujung Agustus 2014, menulis khusus dalam judul ‘Jembatan Itu Bernama Cerita’ untuk Tanda Mata Stephie Kleden-Beetz, kerabatnya dalam rumpun Kleden. Kata Budi, hidup manusia adalah tenunan kisah. Di dalamnya, kita merajut kebahagiaan, sukses, perjuangan, kesusahan hati, pengalaman indah masa kanak-kanak.

    Kita bisa menuturkan dengan bebas apa yang sungguh terjadi atau sekadar berbagi mimpi-mimpin dinihari. Tak mengherankan, orang Yunani menyebut manusia sebagai soon logon, maklukh berbahasa, juga makluk berakal budi. Kebutuhan bercerita manusia menembus batas-batas usia, menerobos sekat ruang dan waktu, serta menjadi kebutuhan yang niscaya.

    Orang bisa bercerita di tepi sumur, di bibir pantai, atau via media sosial serba canggih. Kekuatan suatu cerita menentukan jejaknya: sekadar lewat dalam ingatan atau bisa lama terpatri, berdaya gugah, bahkan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. “Yesus, Sang Guru Nazareth, mengatakan, manusia tak hanya hidup dari roti, tapi juga setiap sabda Allah. Dalam banyak kebudayaan, cerita menjadi sarana ampuh sekaligus asali untuk mendidik, meneruskan nilai, dan memperluas cakrawala,” ujar tuan Budi Kleden lebih lanjut dalam catatan pengantar Tanda Mata Stephie Kleden-Beetz.

    Dari Malang, Jawa Timur, Selasa, 21 Januari 2020, kabar itu nongol melalui pesan singkat di telepon genggam. Stephie Kleden-Beetz mengakhiri ziarahnya di dunia. Ia memenuhi panggilan Tuan Deo, sang Sabda di Wisma Stephie, bilangan Patuha. Malang tepat pukul 19.10 WIB. Tuhan yang Memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan (Ayub 1 : 21).

    Sebagai penganut Katolik, saya percaya, kaka Stephie Kleden-Beetz, bahagia bersama para Kudus di Surga. Cerita kuda dalam Tanda Mata Stephie akan menjadi tanda mata bagi pembaca, terutama keluarga besar di Waibalun atau ata ribu di lewotana, Lamaholot.

    Sebagai anak Lembata, saya dan tentu warga group Ata Lembata masih merasa bangga karena Stephie Kleden-Beetz juga punya tanda mata terakhir: Lembata yang Mempesona, sebuah pengantar yang kalau dibaca mengasyikkan, seasyik membaca kisah Tanda Mata guru Djuan dan mama Sabu Hadjon dalam Tanda Mata, karya Stephie. Selamat jalan, kaka Oa Stephie Kleden-Beetz. Dari surgamu, doakan kami agar setia menjadi pewarta sukacita bagi dunia di sekitar kami.

    Ansel Deri, Orang Kampung Asal Lembata; Mengenang Stephie Kleden-Beetz, Penulis dan Wartawati Senior

  • Minum Kopi bersama Gandhi

    Minum Kopi bersama Gandhi

    Oleh Robin Sharma

    Membaca adalah salah satu disiplin terbaik yang saya ketahui untuk tetap “berada pada permainan” dan berada pada pencapaian kita yang tertinggi. Membaca buku yang bagus berarti berdialog dengan pengarangnya. Dan kita pun menjalin dialog dengan diri kita sendiri. Cobalah malam ini membaca buku autobiografi Mahatma Gandhi, My Experience with Truth, ditemani secangkir kopi, Anda akan melihat melalui sudut pandangnya dan belajar mengenai apa yang menggerakannya. Ingin menghabiskan waktu  bersama Madonna besok? Bacalah bukunya. Sama halnya dengan Jack Welch, Ibu Teresa, Bill Gates, Salvador Dalhi, atau Dalai Lama. Selain itu, membaca buku karya seseorang yang Anda hormati membuat kecerdasan mereka melekat pada Anda. Tangan yang meletakkan buku bagus yang telah selesai dibaca, tidak akan pernah sama lagi. Seperti yang diamati oleh Oliver Wendell Homes: ”Pikiran yang telah berkembang karena suatu ide baru tidak akan pernah kembali ke dimensi aslinya.”

    Ketika saya beranjak dewasa, ayah saya pernah berkata, “Kurangi biaya sewa dan kurangi pengeluaran untuk makan, tapi tak perlu merasa cemas karena menginvestasikan uang untuk sebuah buku  bagus.” Pemikiran yang sangat berpengaruh ini telah menyertai saya sepanjang hidup. Filosofinya adalah mendapatkan satu ide dari sebuah buku akan membawa Anda ke satu tingkat baru dan mengubah cara Anda memandang dunia. Jadi begitulah rumah kami penuh buku. Dan sekarang saya mencoba untuk menyediakan waktu sedikitnya satu jam setiap hari untuk membaca. Kebiasaan ini sendiri telah mengubah saya. Terima kasih, Ayah.

    Mungkin hadiah terbesar saya untuk anak-anak ketika saya mati adalah perpustakaan saya. Saya memunyai koleksi buku tentang kepemimpinan, hubungan antarmanusia, bisnis, filsafat, kesehatan, spiritualitas, contoh-contoh kehidupan yang luar biasa, dan banyak buku lain dengan topik-topik favorit saya. Banyak di antara buku itu saya beli di took buku dalam perjalanan melintasi dunia ketika saya melakukan perjalanan bisnis. Buku-buku ini membentuk filosofi pribadi saya. Buku-buku ini menjadikan saya manusia seperti sekarang ini. Bagi saya, buku-buku saya tak ternilai harganya.

    Pepatah lama ini memang benar: “Mengetahui bagaimana membaca tetapi tidak membaca hampir sama dengan tidak mengetahui bagaimana cara membaca.” Sediakan waktu untuk membaca sesuatu yang baik setiap hari. Isilah pikiran Anda dengan ide-ide besar dan pemikiran yang memesona. Maanfatkan buku untuk mengalirkan harapan dan inspirasi ke dalam jiwa Anda. Dan Ingatlah, jika Anda ingin memimpin, Anda memang perlu membaca. Oh, dan jika Anda – seperti saya – memiliki kebiasaan membeli banyak buku, tapi belum tentu dibaca, jangan merasa bersalah, Anda sedang membangun perpustakaan Anda. Dan ini akan menjadi sesuatu yang indah.

    Sumber Tulisan : The Greatness Guide, Robin Sharma, BIP Jakarta.

    Robin Sharma, CEO Sharma Leadership International.

  • Kolaborasi Rentang Generasi

    Kolaborasi Rentang Generasi

    Oleh Nilam Zubir*

    Banyak kisah tentang kesenjangan generasi/generation gap di berbagai belahan bumi. Banyak kajian tentang kendala dan peluang lintas generasi, salah satunya mengacu pada esai The Problem of Generations karya sosiolog Karl Mannheim. Banyak juga lelucon muncul akibat kesenjangan ini, antara lain joke ‘millenial versus kolonial’.

    Saya yang tergolong generasi Z, generasi yang lahir di era kecanggihan teknologi, juga mengalami banyak kisah dalam interaksi dengan generasi baby boomer yang lahir antara tahun 1946 – 1964, dan generasi X yang lahir tahun 1965 – 1980.

    Sejak SD saya sering ikut ibu dalam kunjungan ke panti-panti wreda (panti lansia), baik panti lansia untuk kaum miskin maupun wisma lansia eksklusif untuk kaum kaya. Saya senang ketemu para lansia sebab saya tidak punya kakek-nenek dari ibu dan dari ayah. Lha wong saya lahir usia ibu saja sudah nyaris 40 tahun, katanya sudah lupa urus bayi sampai langganan lagi majalah ibu-anak serta beli buku-buku tentang merawat bayi dan balita.

    Waktu SMP, tiap tahun saya diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menjadi narasumber Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Tingkat SMP untuk motivasi literasi pada siswa. Pada kesempatan tanya jawab, salah seorang guru bahasa Indonesia bertanya, bagaimana trik/tips menulis awal karangan, sebab murid-muridnya kebanyakan memulai paragraf awal dengan kalimat “Pada suatu hari…..”. Saya menjawab “Bebaskan judul karangan bu…jangan seragam…”.

    Dulu saya paling sebel kalau disuruh mengarang dengan judul dipatok seragam “Liburan di Rumah Nenek”. Terpaksa saya harus menggali imajinasi, lha saya gak punya nenek. Untung dulu belum ada pemeo “Liburan di rumah nenek lu?…”.

    Gaul dengan baby boomer secara intensif juga saya alami waktu usia SMP, berguru Ballroom & Latin Dance pada opa Him Damsyik sampai mahir. Sekarang gantian saya mengajar dansa opa-opa dan oma-oma di beberapa retirement club. Saya jadi tambah mengerti filosofi bahwa hidup adalah sebuah lingkaran.

    Kolaborasi rentang generasi di zaman now sangat potensial untuk memperkuat tatanan ekonomi sosial budaya di berbagai sektor, dengan saling melengkapi kekuatan masing-masing generasi, bukan hanya terpaku pada kesenjangannya.

    Beruntung saya punya pengalaman bergaul dengan para lansia, sehingga memudahkan dalam berinteraksi dengan para senior baby boomer, baik di lingkup organisasi maupun di lingkup bisnis sendiri dan di lingkungan kerja.

    Yang paling seru dalam tugas saya sebagai Plt Corporate Secretary adalah saat saya melaksanakan koordinasi dan komunikasi antara Direksi dan Dewan Komisaris yang sudah sepuh-sepuh (tua). Harus ekstra sabar dalam berkomunikasi. Saat sang sepuh sedikit rewel, saya lalu ingat waktu kecil sering iri pada teman yang punya kakek-nenek. Tuhan pun menjawab, semua akan indah pada waktunya. Ya sekarang ini, Tuhan bilang “Nyoh, tak kek’i eyang-eyang (nih tak kasih eyang-eyang) gak usah iri…”.

    Keuntungan yang tak ternilai dari kolaborasi rentang generasi ini, saya banyak menimba ilmu bisnis dan rangkaiannya dari para pengusaha besar sebagai ‘guru/suhu’. Sering saya harus membawa laptop ke meja Komisaris untuk menyerap langsung aspirasi dan arahannya secara ‘tikpet’ ketik cepet. Persis seperti hubungan eyang dan cucu. What a wonderful life…

    Selain ilmu bisnis, banyak ilmu kehidupan yang saya peroleh selama gaul dengan para lansia lintas strata sosial. Dari seorang engkong Kumpen, petani kota sahabat keluarga, saya banyak dapat ilmu tentang kearifan alam semesta. Saya menjulukinya guru tanpa aksara, karena ia buta huruf.

    Tak terhitung keberuntungan yang saya peroleh dari pergaulan dengan para lansia, ya dari pengalamannya, ya dari petuahnya, ya dari hiburannya, musik dan tontonannya. Saya ikuti semua. Apalagi di zaman keajaiban teknologi sekarang, tinggal klik, semua tentang ‘kejadulan’ muncul dalam sekejap.

    Buku apa yang mereka baca, saya baca. Film legendaris yang mereka tonton, saya tonton juga. Saya si generasi Z akhirnya jadi teman ngobrol yang asyik bagi generasi baby boomer, karena saya bisa ngikuti dan ‘nimpalin’ alur obrolannya.

    Banyak kelucuan dalam komunikasi lintas generasi. Semua jadi hiburan yang membahagiakan, walau sesekali ada juga hal yang menyebalkan dalam lingkungan kerja, terutama tentang seringnya lupa atas arahan dan sebagainya, yang membuat saya ngelus hape eh ngelus dada.

    Tentang buku, konon para pemimpin dunia yang humanis, masa kecilnya membaca buku serial Winnetou karya Karl May. Saya baca juga serial itu.

    Anjuran membaca buku “Menjadi Indonesia”-nya opa Parakitri T. Simbolon yang setebal dingklik (bangku jongkok) itu pun saya baca ‘ampe gempor’.

    Serial novel dan film The Godfather-nya Mario Puzo dan Francis Ford Copolla juga asyik dibaca dan filmnya saya tonton berulang-ulang. Banyak pelajaran dari film yang meramu paradoks hidup tentang bisnis legal & ilegal dalam lingkaran kekuasaan, keserakahan, kejahatan, dendam, berpadu dengan cinta, kasih sayang, kesetiaan, dan keindahan yang dikemas jitu menjadi tontonan apik.

    Walau tontonan penuh kengerian, tapi ada juga tuntunan dalam banyak rangkaian kalimat filosofis, seperti “Jangan biarkan siapa pun tahu apa yang kau pikirkan…”

    Akhirulkalam, ini wejangan dari eyang Don Michael Corleone “Jangan membenci musuhmu…”.

    “Karena kebencian akan melumpuhkan nalar dan kewarasan…” sambung si grandcicit genZ

    Speak sofly love… ~

    Nilam Zubir, Public Relation Representative di Indonesia Plastic Recyclers

     

     

     

     

     

    +7

    Top of Form

    36

    Bottom of Form

  • Bersyukur : Sumber Kebahagiaan

    Bersyukur : Sumber Kebahagiaan

    Oleh Josef Bataona

    “Develop an attitude of gratitude, and give thanks for everything that happens to you, knowing that every step forward is a step toward achieving something bigger and better than your current situation.” (Brian Tracy)

    Pagi-pagi saya menerima pesan di WA dengan tautan artikel di The Weekend Australian Magazine, November 22, 2019. Saya membukanya, membaca sepintas, tapi naluri saya mendorong untuk membacanya kembali sambil mencernanya secara saksama. Aku dibuat merinding membaca tulisan itu, walau situasi yang diceritakan itu banyak ditemukan di pedesaan di Indonesia. Tetapi cerita yang dikedepankan sungguh memberikan pelajaran yang luar biasa. Sayapun memutuskan untuk mengangkat pelajaran dari tulisan tersebut di blog ini.

    Tantangan Orang Kota

    Namanya Hugh van Cuylenburg, besar dan sekolah di Melbourne. Dia sedang sibuk  sebagai coach di Melbourne University Cricket Club mempersiapkan mereka untuk kejuaraan. Tapi cintanya pada seorang gadis keturunan Australia India mendorongnya untuk mengikuti pacarnya  menjadi relawan untuk mengajar 6 bulan di Ladakh, sebuah desa kecil sekitar Himalaya. Penduduk desa itu sangat ramah. Mereka ditempatkan di rumah kepala sekolah, dan tidur di lantai seperti lainnya.

    Sekolahnya sederhana, dengan ruang kelas hanya berisi satu meja dan kursi untuk guru, sementara 150 murid yang berusia antara 4 sd 16 tahun hanya duduk di lantai. Murid2nya sangat santun dan penuh perhatian di kelas, memiliki semangat tinggi setiap hari dan menebar kebahagiaan diantara mereka.

    Kepala Sekolah menugaskan 3 anak usia 4 tahun untuk menunjukan TK. Sangat menyedihkan saat mereka menunjukan permainan enjot-enjotan yang tak layak dipakai. Tak disangkah anak2 itu mengacungkan jempol menunjukan alat main itu dengan penuh antusias dan bangga. Mereka memperlihatkan bagaimana bermain dengan alat itu dengan cara mereka sendiri, tidak seperti design aslinya.  Misalnya mereka hanya bergelantungan disana selama mungkin.

    Hugh Mengisahkan Sendiri Pengalamannya

    Saya kagum dengan semua anak di sekolah itu, tapi ada seorang yang sungguh mencuri hatiku. Namanya Stanzin, usia 9 tahun dan mungkin orang terbaik yang pernah kutemui. Saat pertama kali saya masuk ke kelasnya, saya tidak sadar kalau kusen pintunya rendah sehingga kepalaku terbentur. Di hari berikutnya, Stanzin sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum dan menunjuk bagian atas kusen pintu. Dia mengikat kantong kain berisi pasir dan dedaunan untuk mengingatkan saya akan bahaya benturan.

    Stanzin memperlihatkan kepedulian tulus tidak hanya kepada saya. Saat makan siang, bila dia menemukan seorang temannya sendirian, dia akan menghentikan apa yang sedang dilakukan dan menghampiri teman dan bertanya, apakah anda baik2 saja? Tidak peduli apa yang sedang diperbuat, Stanzi akan utamakan menolong yang lain. Komen saya ke Anjali (sang pacar): “This kid has got to be the most caring, selfless and truly happy person I’ve ever met.”

    Suatu malam, setelah berkeliling kampung, saya temukan sesuatu yang sungguh mengubah hidupku. Saya melihat Stanzin masih dalam seragam sekolah siap2 untuk pergi tidur. Saya mendekatinya dan menyapa dia. Dia tidur di lantai tanah, seperti penduduk lainnya. Dia tersenyum lebar. Saya membalas senyumnya dan pamit untuk pulang ke kediamanku. Sepanjang jalan saya sendiri tidak tahan menyaksikan kenyataan itu sampai saya sendiri menangis.

    Saya tidak bisa tidur semalaman saat membayangkan murid2ku di Australia yang mengalami depresi, cemas dan sakit mental. Mengapa mereka yang berada di negara maju dengan berbagai fasilitas serba ada justru mengalami itu?

    Bukan hanya Stanzin, semua yang saya temui di desa terpencil ini telah  menemukan rahasia kebahagiaan,. Tetapi apa RAHASIA kebahagiaan mereka?

    Sir, dis, dis!

    Stanzin datang ke sekolah setiap hari dengan membawa buku catatan dan pensil. Saya terus memperhatikan semua perilaku dan apa yang dia perbuat. Suatu saat istirahat makan siang, Stanzin menunjukan kepada saya sepatunya, sambal berujar “dis” maksudnya “this”. Tidak semua anak sekolah mempunyai sepatu. Tapi yang menarik juga adalah, sepatu Stanzin mungkin sudah diperoleh beberapa tahun lalu.  Begitu dia tumbuh besar, ujung sepatu itu harus dipotong agar bisa muat walau jari2 kakinya menonjol keluar.

    Bukan saja sepatu yang tidak dimiliki anak2. Bahkan sekolah menyediakan sekedar nasi putih untuk makan siang anak2. Reaksi mereka: “Sir, dis, dis” sambil menunjuk piring nasi, seakan berkata: “sir, how good is it that we get lunch at school?”

    Hal lain yang saya perhatikan, penduduk ini melakukan meditasi. Antara jam 08:30-09:00 sebelum sekolah dimulai, murid2 berkumpul di halaman dimana mereka duduk diam dan fokus pada momen kekinian. Apakah mereka berdoa? Tidak, mereka melakukan meditasi, dan setiap murid akan datang awal karena mereka tidak ingin kehilangan momen tersebut.

    Setelah tiga bulan, saya merasa paham apa rahasia kebahagiaan penduduk desa itu. Ada tiga prinsip yang mereka terapkan, dan itu yang membuat mereka tahan banting/ulet (resilient) dan BAHAGIA:

    • Gratitude (the ability to pay attention to what you have instead of worrying about what you don’t have);
    • Empathy (the ability to feel what another person is feeling) and
    • Mindfulness (the ability to focus on the present moment).

    Kehidupan penduduk desa itu sesungguhnya lebih berat dibandingkan dengan dunia lain, namun mereka menanggapinya dengan cara yang berbeda. Perjalanan ini merupakan titik balik dalam hidupku.

    Positivity

    Di tahun 2010 saya mengambil masterku di RMIT. Salah satu yang saya pelajari adalah GRATITUDE. Saat saya membaca bahan dari psikolog Amerika Martin Seligman, founder dari Positive Psychology, saya hampir terjungkal dari kursi. Beliau mengatakan bahwa “we can retrain our brains so we feel happier on a day-to-day basis.” Dia menyarankan Teknik sederhana: “write down three things that went well each day, every day, along with an explanation for why each good thing happened.”

    Riset Seligman mengingatkan saya akan pengalaman di India, dimana Stanzin setiap hari memperlihatkan hal positif dalam hidupnya, kecuali satu hal lebih yang dilakukan Stanzin: dia mencatat momen2 itu. Ia akan berhenti dan menunjukkan apa saja yang patut disyukuri di momen itu: “dis!”

    The Power of Story Telling

    Suatu saat saya ngobrol dengan sahabat kuliahku di Fintona tentang pengalaman di India dia bereaksi: “you should come in one day and give a talk to my class.” Seminggu kemudian saya sudah hadir di kelasnya, tanpa persiapan apa yang mau saya bicarakan. Saya hanya ingin bercerita tentang bagaimana anak sekolah di India yang beda dengan anak2 di Fintona, dengan failitas yang lengkap. Melihat anak2 yang terdiam menyimak dengan mata telinga terbuka lebar, saya berkesimpulan ceritaku sungguh memukau mereka.

    Walaupun sebelumnya saya tidak pernah melakukan hal seperti itu, saya menemukan bahwa saya menyukai sharing cerita positif didepan anak2. Dan itu merupakan langkah awal dari perjalanan panjang dalam menciptakan proyek yang saya sebut dengan Resilience Project. Berkat cerita dari mulut ke mulut, saya akhirnya harus berbicara di 10 kelas dalam seminggu. Semua uang yang terkumpul saya gunakan untuk membuat kurikulum dan model jurnal untuk anak dewasa. Di akhir 2014 Resilience Project sudah diadopsi di 500 sekolah di Australia. Dan awal tahun ini, program managerku melaporkan bahwa di 2019, kita akan mempunyai 110.000 anak yang terlibat dalam kurikulum atau presentasi.

    Berlaku di berbagai segi kehidupan

    Suatu Sabtu sore di Pebruari 2015, saya ngobrol dengan Brian Phelan yang bekerja di The Melbourne Storm Rugby Leage Club. Dia bertanya, apa yang saya kerjakan selain Cricket. Saya ceritakan tentang Resilience Project, yang langsung disambut Brian: “you should come to my work and speak.” Dia menginginkan saya bercerita kepada anggota clubnya, dan yang dimaksud adalah pemainnya.

    Beberapa hari kemudian, di Storm’s Home ground at Aami park, saya hadir dan dalam lima menit, saya menyadari bahwa saya menganggap reme “the power of the message”; para pemain  mendengarkan dengan penuh perhatian, kata demi kata. Belakangan Brian memberitahuku bahwa Pimpinan Club: Cameron Smith, Cooper Cronk dan Billy Slater meminta agar program ini diluncurkan ke seluruh Club. Semua mereka menjadi champion the resilience project dan menenun GEM (gratitude, empathy and mindfulness) tidak saja dalam kehidupan club tapi juga dalam kehidupan pribadi.

    “Dis” Challenge

    Tujuh bulan berikutnya, seminggu sekali saya luangkan bersama NRL Club. Mereka terpesona dengan cerita Stanzin dan sangat mengapresiasi apa saja yang baik dalam kehidupan ini. Saya lalu memberikan mereka “dis challenge”, yang sangat popular di sekolah. Sangat sederhana, kataku. Dalam 24 jam, kapanpun anda melihat sesuatu yang patut disyukuri, tidak peduli anda dimana atau dengan siapa, saya inginkan anda berhenti, tunjukan jarimu dan katakan “dis”. Semua setuju.

    The resilience project mulai menarik perhatian public, karena itu banyak yang minta dibantu. Salah satunya adalah the Richmond Football Club. Saya tiba di tempat mereka dengan membawa copies “21-day wellbeing journal.”  Setelah presentasi. Setiap peserta mengambil journal yang saya bawa. Saat Dustin Martin berdiri, dia mengambil 10 lembar journal. 210 hari kemudian saya menerima text message darinya: “finished the journals. Can you please send me some more? “Ini dengan Dustin Martin, Richmond Football Club. Setiap hari saya menulis semua pengalaman baikku yang patut saya syukuri. Saya hampir tidak percaya betapa ini mengubah hidupku, dan saya tidak ingin kehilangan catatan untuk hari berikutnya. Tolong kirimkan saya lembar jurnal lagi.” Awal tahun ini, saya berbicara bersama Dustin di sebuah conference, dan dihadapan pendengar, Dustin bercerita kalau dia sudah habiskan 1086 hari berturut-turut mengerjakan the resilience project journal.

    Momen Mensyukuri

    Kisah Stanzin juga memberikan dampak luar biasa kepada pemain di Collingwood Football Club. Suatu hari saya melihat Kapten Club Scott Pendlebury membuat posting foto di sosmednya dengan caption: “dis moment #gratitude.”

    Saat saya bertemu, saya bertanya, itu maksudnya apa? Saya sungguh menyukai cerita tentang anak kecil yang anda kisahkan. Kita sering berpikir negatif tentang kehidupan ini. Kisahmu sungguh membantu saya untuk melihat sisi positifnya. Dan suatu waktu bila anda nonton pertandingan, perhatikan Adam Treloar. Dia biasanya menuliskan dengan tinta hitam di gelang tangannya: “dis” sambil berkata pada dirinya sendiri: “Adam, you are blessed”. Saat saya bertemu Adam, saya bertanya, apa makna tulisan itu, apa yang mebuatnya merasa terberkati? Ujarnya: “I live in australia, we get food, we get water, we get shelter. I remind myself of that whenever I get stressed. ‘dis’ means this life in this country, every day.”

    Banyak sekali momen setiap hari yang layak kita syukuri. Belajar dari kisah Hugh, kitapun bisa mulai dengan “Resilience Project” untuk diri kita, menyiapkan buku catatan dan tuliskan setiap hari momen yang layak disyukuri. Kita akan kaget sendiri, betapa banyaknya berkat yang kita terima setiap hari.

    Selanjutnya dalam diskusi jelang akhir tahun, bersama beberapa teman kami gulirkan #GEMprogram3 untuk membawanya dalam keseharian. Nantikan di postingan selanjutnya.

    “Appreciation can make a day – even change a life. Your willingness to put it into words is all that is necessary.” (Margaret Cousins).

    Sumber Tulisan: https://www.josefbataona.com

  • Ketika Seni Membaca Korupsi

    Ketika Seni Membaca Korupsi

    Oleh Agus Darmawan T*

    Para seniman Indonesia dari berbagai disiplin

    selalu tertarik untuk membuat karya seni antikorupsi.

    Meski sebagaian lahir sebagai seni adikarya,

    korupsi tetap saja berjaya.

    ESENSI kesenian adalah menyarankan kepada setiap orang untuk berbuat baik. Kesenian juga berfungsi sebagai antena social. Itu sebabnya sekitar satu dasawara setelah kemerdekaan Indonesia, ketika masyarakat mulai resah dengan gejala korupsi, kesenianlah yang lebih dulu menangkap. Dari sini lahir film berjudul Korupsi karya sutradara Raden Arifien, produksi Tjendrawasih (1956).

    Film hitam-putih yang dibintangi Bambang Hermanto, Dian Anggreni, Tuty S. bercerita tentang seseorang lelaki lurus hati bernama Muhamad. Namun istri dan ketiga anak gadisnya terseret kehidupan boros dan mewah. Muhamad terpuruk ketika ia berurusan dengan calon menantunya yang importir penyelundup. Bahkan si menantu ini berhasil memaksanya menerima suap dan menelan uang negara. Muhamad akhirnya hidup nista setelah dicokok sebagai koruptor.

    Film di atas agaknya efektif berperan sebagai pengingat. Sedikit banyak film ini berhasil menghambat munculnya korupsi dalam skala besar pada kurun itu. Tapi tahun terus berjalan, dan orang Indonesia memasuki masa Orde Baru. Tak disangka masa ini ternyata mencetak cukup banyak pejabat yang pandai korupsi, meski semua konon berjalan sangat sistematis, namun serapat apa pun aib itu disembunyikan, kebusukan akan kuat tercium. Sampai akhirnya termanifestasi dalam film terkenal Si Mamad (1973).

    Si Mamad, produksi PT Matari Film, disutradarai oleh Sjuman Djaja. Di situ diceritakan bahwa ketika istri Si Mamad akan melahirkan anaknya yang ketujuh, lelaki jujur ini bingung lantaran tak memiliki uang. Ia pun melakukan korupsi kecil-kecilan, seperti memalsukan pembelian bon kertas di kantor tempat ia bekerja. Perbuatan ini sangat menyiksa jiwanya. Sering timbul niatan untuk mengaku ke hadapan atasannya, yang diperankan oleh Aedy Moward. Namun niat itu selalu terhalang. Sementara atasannya, yang sebenarny juga koruptor besar, tahu perbuatan Si Mamad. Dan Si Mamad – diperankan Mang Udel alias Drs Purnomo – dibiarkan untuk melakukan perbuatannya. Sekaligus dibiarkan tertindih perasaan bersalahnya sampai ia sakit dan meninggal dunia. Film yang diinspirasi karangan Anton Chekov ini memperoleh beberapa Piala Citra 1974.

    Film Si Mamad senafas dengan film antikorupsi Sjuman Djaja sebelumnya, Lewat Jam Malam (1971), produksi PT Allied Film of Indonesia. Film ini berbicara soal pencurian uang negara dengan melibatkan para koruptor yang diburu oleh para polisi (pada waktu itu) masih jujur. Tokoh-tokoh film diperankan Rachmad Hidayat, Rima Melati, Sukarno M Noor, Rahayu Effendi, dan Sjuman Djaja sendiri.

    Sementara keberanian Sjuman Djaja mengkritik koruptor disulut oleh sejumlah puisi kritis Rendra pada kurun itu. Dalam sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya Rendra memang membakarnya. “Sebagai kepala jawatan lelakimu normal / Suka disogok dan suka korupsi. Bila ia ganti kau tipu / itu sudah jamaknya / Maling menipu maling itu biasa…..” Kita tahu, sajak ini merupakan embrio dari drama korupsi birokrasi yang berjudul Sekda (Sekretaris Daerah), ciptaan Rendra beberapa tahun kemudian.

    Orde Baru runtuh pada Mei 1998. Keruntuhan itu menyemburkan kekuatiran betapa keganasan korupsi yang bermain di bawah permukaan itu diprediksi akan terus berlangsung pada era Reformasi. Dan kanker korupsi akan mematikan apabila tidak segera dihadang. Dari sini gerakan reaktif kesenian antikorupsi berhamburan muncul. Ada yang didera perasaan pesimis. Tapi tidak sedikit yang optimis. Contoh yang paling optimis adalah ini.

    Pada 28 Oktober 1998 di Solo berdiri Parsendi, atau Partai Seni dan Dagelan Indonesia. Dalam kongresnya yang luar biasa Parsendi memilih Sri “Milko” Mulyati sebagai Ketua Umum. Sri adalah pelawak yang peka social, terus terang, kampungan, buta huruf, sekaligus maha jujur sehingga jauh dari niatan korupsi. Ini selaras dengan jiwa Parsendi yang sangat antikorupsi. Menyadari bahwa Parsendi hidup di Indonesia, maka pada pemilu 1999 organisasi politik (Kumpul-kumpul untuk menggelitik) ini pun menjunjung semboyan penuh percaya diri:”Hanya ada kata bertuah: Optimis Kalah!”.

    Bila Parsendi melumuri dirinya dengan tawa pedih dan senyum sinis, penyair Taufiq Ismail tampil dengan kedongkolan tak tertahnkan. Dalam puisi panjang Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998) ia pun berkata “Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu / Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang susah dicari tandingan / Di negeriku, komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separoh masuk kantong jas safari.”

    Dalam seni rupa korupsi juga ramai menjadi tema. Banyak adikarya yang lahir dari isu membencikan ini. Lukisan Suraji Jakarta Berburu Tikus (2008), misalnya. Karya ini merupakan pemenang utama dalam kompetisi Jakarta Art Awards 2008 yang diikuti 3.456 lukisan. Dalam kanvas tampak masyarakat kota sedang riuh menangkap tikus-tikus raksasa (berdasi!) yang tubuhnya kuat bagai banteng. Ribuan tangan manusia yang dibantu hewan buas seperti serigala dan harimau tak juga mampu merungkusnya. Sementara di pojok sana tampak seekor macan putih yang tertawa gembira lantaran merasa berhasil menangkap tikus-tikus sangat kecil segede ibu jari saja. Lukisan ini dibeli oleh Gubernur Jakarta Fauzi Bowo.

    Perupa Agapethus A. Kristiandana pada tahun 2000-an menciptakan adikarya seni patung yang menggambarkan sapi bertubuh sangat panjang, dengan belang kulit yang menggambarkan peta Indonesia. Ia seperti meramalkan bahwa pada saatnya Indonesia akan diperas bak sapi perah lewat skandal korupsi import daging sapi, seperti yang sekarang terjadi. Pada Maret 2013 Aris Budiono Sadjad berpameran khusus seni lukis bertema “Perang Suci melawan Korupsi”. Apa yang dikerjakan membarengi musik Ikang Fauzi, Iwan Fals, Franky sampai Slank, yang jelas-jelas memusuhi perbuatan busuk itu. Dan secara moral ikut mendorong lahirnya film antikorupsi Sebelum Pagi Terulang Kembali, yang didukung oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2014.

    Tapi apakah para seniman dirugikan oleh secara langsung oleh perbuatan para koruptor itu? Seniman, sebagai rakyat, cenderung mengaku tidak. Lalu kita ingat apa yang dikatakan Jean Jaques Rousseau, filsuf Prancis abad 18. “Sesungguhnya rakyat tidak pernah dikorupsi. Rakyat hanya ditipu oleh para koruptor.” Bagi seniman, penipuan justru lebih menyakitkan.***

    *Agus Dermawan T, lahir di Rogojampi, Jawa Timur. Menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Seni Rupa ‘Asri’, Yogyakarta. Telah menulis ribuan artikel budaya, seni, sosial, politik di berbagai media massa, seperti Kompas, Tempo, Gatra, Koran Tempo, Koran Sindo, Media Indonesia, Intisari, Femina.

    Sumber Tulisan : Buku Sihir Rumah Ibu, Agus Dermawan T, Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.

  • Strategi Jalur Rempah

    Strategi Jalur Rempah

    Oleh Stefanus Ananta Wahana, Sekretaris Badiklatpus DPP PDI PERJUANGAN, Anggota Komisi VI DPR RI Periode 2019-2024

  • Hidup adalah Hadiah

    Hidup adalah Hadiah

    Oleh Stephie Kleden-Beetz *

    Adalah Henry Ford, si raja mobil itu, pada suatu hari keluar kota bersama mobilnya. Kebiasaannya adalah selalu melihat-lihat dan menikmati pemandangan sekitar.

    Ketika mereka sampai di sebuah desa terpencil, ada beberapa anak sedang bermain bola. Fokus perhatian Henry Ford tiba-tiba tertuju pada seorang anak yang hanya tertatih-tatih. Berhenti sebentar, perintahnya kepada sopir.

    Si raja mobil itu turun lalu menghampiri anak yang cacat kakinya. Siapa namamu? Jimmy jawab si anak. Berapa umurmu? 8 tahun. Kamu suka bila kakimu sama dengan kaki teman-temanmu itu? Tentu saja, jawab Jimmy, tetapi kenapa bapak bertanya? Henry Ford menjawab: sebab saya mau kakimu menjadi normal dan boleh bermain bola dengan lincah.

    Kemudian ia masuk lagi ke dalam mobil dan berkata kepada sopirnya: tugas utamamu hari ini adalah mencari tahu di mana rumah orang tua Jimmy. Tanyalah apakah mereka setuju, jika kaki Jimmy dioperasi.

    Ayah-ibu Jimmy yang sederhana heran, kaget dan tidak percaya. Mana ada orang di saman sekarang mau berbuat baik tanpa pamrih? Tetapi sopir itu terus bertanya dan meminta jawaban. Singkat cerita, persetujuan orang tua Jimmy didapat dan Jimmy boleh dioperasi. Mereka tetap mendesak dan bertanya siapa sih yang berbaik hati semacam ini? Sopir menjawab: Penderma itu tidak mau namanya disebut.

    Kini Jimmy berseri-seri karena gembira, kakinya sudah dioperasi dan mendapat pula sepatu khusus. Masih ada lagi tugasmu, kata Henry Ford kepada sopirnya, pergilah lagi kepada ayah-ibu Jimmy dan katakan mereka sekeluarga boleh membeli pakaian dan sepatu baru untuk Natal.

    Prinsip si raja mobil itu ialah: kita membantu orang agar mereka membantu diri sendiri dan jangan pernah kita biarkan orang bergantung pada kita.

    Kisah lain adalah seorang gadis buta. Dia membenci dirinya dan orang lain karena dia buta. Satu-satunya orang yang dia sayangi adalah pacarnya. Pacarnya selalu menemaninya dan membantunya di mana pun juga. Maka kata si gadis buta itu: seandainya pada suatu hari saya bisa melihat, maka saya akan menikahi pacar saya.

    Pada suatu hari si gadis buta mendapat dua mata yang sehat dari seorang penderma. Si gadis buta akhirnya bisa melihat dunia dan ia amat bahagia. Betapa kagetnya ia ketika ia melihat bahwa pacarnya itu buta. Pacarnya bertanya, sekarang kamu sudah melihat, marilah kita menikah. Tetapi si gadis buta yamg kini sudah melihat itu, menolak dan tidak mau menikahi pacarnya. Dengan berurai air mata, pacarnya pergi. Lalu menulis surat yang berbunyi begini: “Tolong jaga baik-baik kedua mata saya, yamg sudah saya hadiahkan untukmu”. Begitulah banyak orang mengingkari janjinya, bila keadaan telah berubah.

    Hari ini bila Anda menghadapi makanan yang kurang enak dan Anda hendak mengomel, ingatlah ada banyak orang yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk dimakan.

    Sebelum Anda mengeluh tentang istri dan suami Anda, ingatlah masih ada orang yang minta pada Tuhan untuk mendapatkan pasangan hidup.

    Bila Anda mengeluh tentang hidup, ingatlah bahwa ada banyak orang yang mempunyai umur yang pendek.

    Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak, ingatlah bahwa ada banyak orang yang tetap mengharapkan keturunan.

    Sebelum Anda mengeluh tentang rumah yang terlalu kecil atau kotor, ingatlah pada mereka yang tidak mempunyai rumah.

    Sebelum Anda mengeluh tentang pekerjaanmu, ingatlah pada mereka yang tidak mempunyai pekerjaan.

    Sebelum Anda menuduh seseorang akan kesalahannya, ingatlah bahwa tak ada seseorang pun yang luput dari kesalahan dan dosa. Dan bila tekanan hidup amat menekan Anda, senyumlah dan berterima kasihlah pada Pencipta bahwa Anda masih hidup, dan boleh menikmati keindahan sekitar dan sesame yang baik terhadapmu.

    Hidup adalah hadiah, nikmatilah, rasakanlah dan isilah hidup Anda dengan hal-hal yang berguna.

    *Stephie Kleden-Beetz, lahir di Waibalun Flores Timur. Stephie pernah bekerja di Deutsche Welle-radio nasional Jerman  dan seorang wartawan lepas.  Stephie telah menerbitkan beberapa buku antara lain: Cerita Kecil Saja (Kanisius, 2009), Merajut Kata-Kata (Kanisius, 2011), Tanda Mata (Lamalera, 2016).

    Sumber tulisan Majalah Warta Flobamora

  • Mengurai Kekerasan di Nduga

    Mengurai Kekerasan di Nduga

     

    Oleh Ansel Deri, Sekretaris Papua Circle Institute

    KEAMANAN dan kedamaian merupakan dua hal yang menjadi kerinduan masyarakat Kabupaten Nduga, Papua. Jaminan keamanan dan kedamaian boleh jadi ialah napas kehidupan masyarakat. Kerinduan rasa aman dan damai, terutama bagi sebagian umat kristiani warga Nduga menjelang dan puncak perayaan Natal 2019, misalnya, masih jauh dari kehidupan sosial warga setempat. Mengapa? Fakta memperlihatkan, setahun belakangan ketegangan bahkan kekerasan masih menyelimuti Nduga.

    Publik nasional tentu masih ingat baik peristiwa kelam berbau SARA di Wamena pada akhir September 2019. Buntutnya, seperti disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI, Harry Hikmat, Kamis (3/10), sebanyak 32 warga meninggal, 67 luka-luka, belasan ribu orang meninggalkan wilayah Wamena, Jayawijaya, untuk mengungsi ataupun kembali ke kampung halaman masing-masing.

    Duka Nduga ialah duka bangsa. Siapa pun tentu tak sudi kekerasan antarpihak beranak pinak di tengah upaya pemerintahan Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin menggelontorkan anggaran bersumber APBN, dan mendorong sejumlah kebijakan strategis guna memacu ketertinggalan Nduga serta daerah-daerah lainnya di tanah Papua. Namun, konflik masih saja terjadi. Bisa saja dalam hati pelaku berdiam frasa ini, ‘kekerasan ialah satu-satunya bahasa yang saya pahami’. Mengapa Nduga bergelimang konflik dan kekerasan?

    Belum Membaik

    Sejak akhir Desember 2018 hingga penghujung 2019, kekerasan di Nduga, Papua, belum memperlihatkan tanda-tanda membaik. Persis dalam konteks relasi Jakarta-Papua. Dalam Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua (2009), (alm) Neles Tebay, salah seorang penggagas dialog damai Papua dari Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Dioses Jayapura, juga mengingatkan, jalan kekerasan tidak pernah menyelesaikan konflik. Soal yang kini tengah dialami pemerintah dan masyarakat Nduga.

    Meski tak terkait dengan kekerasan Nduga, Neles bicara ihwal kekerasan seperti yang melanda Nduga saat ini. Kata Neles, kenyataan sejarah di Papua memperlihatkan secara jelas bahwa hingga kini masalah Papua belum dituntaskan secara komprehensif kendati telah diupayakan penyelesaiannya melalui berbagai cara. Pada Rabu (14/8), Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem, memerinci sedikitnya 184 warga sipil meregang nyawa pascaoperasi keamanan di Nduga sejak Desember 2018 hingga Juli 2019.

    Menjelang Natal 2019, kekerasan terus menemui ruangnya. Theo menyebut ada tiga aktor kekerasan, yaitu masyarakat sipil, TNI-Polri, dan Organisasi Papua Merdeka. Buntutnya, Senin (23/12/2019), Wakil Bupati Wentius Nimiangge di hadapan warganya menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.

    Wentius berkilah, sudah satu tahun terjadi kekerasan, pihaknya menghadap menteri, DPR, Panglima TNI, dan Kapolri meminta pasukan di Nduga ditarik agar masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, permintaan tidak direspons sehingga penembakan terhadap warga terus terjadi. Karena itu, ia memilih mundur sebagai bentuk protes atas operasi militer karena banyak memakan korban warga masyarakat (Media Indonesia, 26/12).

    Bara dalam Sekam

    Kekerasan di Nduga sepintas bukanlah konflik yang berdurasi pendek, tetapi berkepanjangan sejak puluhan tahun. Potensi konflik Nduga ibarat bara dalam sekam yang bisa terbakar. Karena itu, tak berlebihan bila Nduga senantiasa berada dalam zona konflik yang perlu penangangan serius, tak hanya pemangku kepentingan lokal, tapi juga nasional.

    Pertanyaan retorik muncul dari Forum Kerja Oikumene Gereja-gereja Papua melalui sejumlah pendeta, yaitu Dorman Wandikmbo, Socratez Yoman, dan Benny Giyai. Menurut mereka, kalau Presiden Jokowi bisa gunakan pendekatan dialogis dengan Aceh, mengatasi krisis kemanusiaan di Rohingya dan mendukung kemerdekaan bagi Palestina, mengapa masih gunakan pendekatan militer di Papua?

    Intelektual Papua Markus Haluk dalam bukunya Konflik  Nduga: Tragedi Kemanusiaan Papua (2019) mengemukakan, Nduga dalam zona konflik mencakup beberapa dimensi. Dimensi-dimensi dimaksud ialah, pertama, kehidupan sosial politik. Kedua, religi dan sejarah gereja. Ketiga, administrasi pemerintahan. Keempat, perjuangan hak penentuan nasib sendiri. Kelima, memoria passionis suku Nduga dari waktu ke waktu. Memoria passionis ini mengungkapkan berbagai kejadian yang bertalian dengan pembunuhan dan pelanggaran HAM orang Papua.

    Penderitaan warga Papua selama 55 tahun (1 Mei 1963 hingga Desember 2018) bersama Indonesia, demikian Haluk, dialami dengan tindakan berbagai operasi terbuka dan tertutup yang dilakukan pemerintah Indonesia kepada warga Papua.

    Sejumlah contoh operasi militer yang berakibat pada pelanggaran HAM terhadap rakyat Papua dapat dikemukakan di sini. Misalnya, Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Barathayudha (1967-1969), Operasi Wibawa (1969), Operasi Militer di Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1980), dan Operasi Militer Pembebasan Mapenduma (1996). Bagaimana langkah efektif pemerintah pusat dan daerah serta semua pemangku kepentingan mengurangi kekerasan Nduga? Ini pertanyaan penting. Salah satu pilihannya, dialog sebagaimana disampaikan tiga gembala Papua: Dorman, Socratez, dan Giyai. Dialog ini juga pernah disampaikan Muridan S Widjojo dkk (2009), bertolak dari empat akar persoalan di Papua. Akar persoalan itu ialah diskriminasi dan marginalisasi, kegagalan pembangunan, pelanggaran HAM, serta sejarah dan status politik.

    Catatan editorial Media Indonesia, Jumat (27/12), menarik. Pendekatan kesejahteraan bagi Papua (termasuk Nduga tentunya) sudah tidak bisa ditawar lagi. Semua sepakat, kesenjangan pembangunan selama ini juga menjadi faktor pemantik munculnya aksi-aksi perlawanan dari sebagian rakyat di sana.

    Apresiasi tentu juga dialamatkan kepada Presiden Jokowi dan jajaran pemerintahan mulai pusat sampai daerah. Membangun Nduga dan daerah-daerah lainnya di Papua, mengupayakan kesejahteraan rakyat ialah pilihan rasional sejak awal memimpin negeri ini. Namun, kekerasan yang terjadi hampir setahun belakangan ini merupakan persoalan serius yang tentu tak dapat dibiarkan berlarut-larut.

    Presiden Jokowi perlu mengundang para pemangku kepentingan lokal segera bertemu guna mencari alternatif solusi mengurai kekerasan agar rakyat Nduga tak tersandera lagi dalam kubangan konflik dan kekerasan berkepanjangan.

    Para kepala distrik, ondoafi (kepala suku), pimpinan gereja lokal, tokoh pemuda dan perempuan juga perlu diundang bersama bupati, wakil bupati, DPRD setempat, pimpinan aparat keamanan untuk duduk bersama mencari alternatif solusi damai.

    Duduk bersama satu meja dalam semangat persaudaraan sejati, boleh jadi ialah kado istimewa pemerintah bagi masyarakat Nduga memasuki babak baru kehidupan awal tahun yang damai dan penuh cinta. Tiga aktor kekerasan seperti disampaikan Hesegem: masyarakat sipil, TNI-Polri, dan Organisasi Papua Merdeka perlu juga bergabung dan duduk satu meja. Memandang Nduga dan Papua sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi, surga penuh cinta dan damai.

    Sumber: Media Indonesia, 31 Desember 2019

  • I r o n i  N a t a l

    I r o n i N a t a l

    Paul Budi Kleden, SVD

    Dari tanggal 3 sampai dengan 15 Desember2017 digelar Konferensi PBB tentang Pemanasan Global di Denpasar, Bali. Pertemuan penting ini di selenggarakan karena masalah pergeseran iklim bumi sebagai akibat dari pemanasan global. Hujan dan salju yang tidak datang pada waktunya membawa kebingungan dan kecemasan pada manusia. Suhu yang semakin naik membuat makhluk hidup kehilangan orientasi. Bukan mustahil, kebingungan dan kehilangan orientasi itu berakibat pada perubahan wajah bumi dan punahnya spesies tertentu dan makhluk hidup.

    Tampaknya pergeseran serupa kita alami pula dengan perayaan-perayaan keagamaan,seperti Natal. Suasana yang khas, yang boleh jadi dialami dahulu, terasa sudah bergeser. Taka da lagi yang khusus. Banyak orang kehilangan orientasi. Masa advent tidak lagi menyajikan suasana istimewa persiapan Naatal. Akibatnya seperti tiba-tiba, kita telah berada di ambang Natal.

    Namun, sebenarnya peristiwa ini terlampau agung untuk dibiarkan pergi bersama berlalunya waktu. Belum terlambat untuk memberi makna padanya. Untuk dapat menyelami makna yang mendalam dari perayaan Natal, kita perlu membongkar berbagai pemahaman yang kurang tepat dari praktik yang menyeleweng. Dengan demikian Natal menjadi sebuah moment untuk belajar dan berubah.

    Desakan Harapan

    Pada dasarnya setting Natal bukan terutama kandang hewan yang mudah membangkitkan rasa haru. Aktor utamanya bukan sepasang suami istri yang ketiadaan tumpangan, yang merah mukanya mendengar umpatan tuan rumah yang menolak memberikan penginapan. Natal bukan pertama-tama diistimewakan oleh bintang yang bersinar benderang di malam yang kelam, yang menjadi inspirasi  untuk sebuah lagu dan syair yang menggugah. Juga bukan terutama berkenaan dengan nyanyian merdu para malaikat yang membangunkan dan mengundang rasa kagum para pekerja di padang gembalaan.

    Memang, semua yang disebutkan di atas termasuk dalam kisah Natal. Namun, kisah itu hanya dipahami secara benar apabila kita menempatkannya pada suatu latar belakang yang jauh lebih luas. Natal harus ditempatkan pada horizon penantian yang sangat panjang, mendesak sekaligus aktual. Karena itu, bukan tanpa alasan orang-orang Kristen melewati masa penantian selama empat minggu, sebelum merayakan pesta Natal. Masa penantian itu melambangkan harapan yang panjang dari umat manusia.

    Natal adalah jawaban Allah atas harapan yang mendalam dari sejarah panjang umat manusia. Di tengah situasi kehidupan dengan berbagai persoalannya, terkristalisasi harapan yang mendesak akan intervensi ilahi yang mengatasi semuanya. Secara sangat padat harapan itu diungkapkan oleh Yesaya, seorang nabi Yahudi dari abad ke-8 SM: “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan itu telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar….sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya telah Kaupatahkan……..sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubbah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan bagi kita” (Yesaya 9: 1-6).

    Pernyataan sang nabi itu merupakan ungkapan kerinduan manusia yang mengalami ketertekann karena tanggungjawab kehidupan yang semakin berat. Tidak hanya pada waktu itu. Sang nabi membahasakan kerinduan dan harapan kita juga. Tuntutan dan beban kerja yang kian tidak manusiawi di bawah ancaman PHK yang sangat riil, ruang gerak ekonomi yang semakin sempit, yang tak jarang memaksa orang menjual harga dirinya sebagai manusia; kerakusan akan kekayaan yang menghancurkan keseimbangan alam. Di tengah situasi seperti ini, manusia merindu dan berharap agar beban yang menekan, yang sering membuatnya malu, diangkat. Warga bangsa seperti ini tidak ingin lagi terus menunduk, menyembunyikan wajahnya, terpuruk dalam kehinaan.

    Dalam kenyataan, memang banyak orang mesti hidup di bawah komando orang lain yang bertindak sewenang-wenang. Kesewenangan itu tidak jarang menampilkan diri dalam bentuk kekerasan dan symbol-simbol kekerasn. Ada pemaksaan yang menggunakan perangkat perundangan dan aparat negara. Negara dan perangkatnya dialami sebagai institusi yang mewakili kepentingan para pemodal besar daripada kesejahteraan umum. Mereka menekan masyarakat untuk bekerja di bawah kondisi yang tidak bersahabat demi peningkatan profitnya sendiri. Lembaga-lembaga demokrasi lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas wacana demokrasi, karena kuantitas lebih gampang memberikan kriteria objektif untuk mendapat uang dan serentak memperbanyak kesempatan untuk melakukan korupsi. Rakyat kehilangan instansi dan oknum yang bersedia menyuarakan desahan penderitaan mereka. Dalam situasi seperti ini tumbuh harapan agar tongkat penindas sefera dipatahkan. Tak akan ada lagi penguasa yang bertindak sewenang-wenang di atas penderitaan orang banyak.

    Kenyataan lain yang sangat membelenggu masyarakat adalah rantai balas dendam yang sengaja dibiarkan tidak pernah putus. Kerusuhan-kerusuhan yang secara terencana tidak pernah diselesaikan dengan tuntas, yamg selalu menyembunyikan tokoh kunci di balik nama misterius ‘dalang’ atau ‘aktor intelektual’, menimbun rasa dendam yang berkelanjutan pada masyarakat. Di tengah kondisi masyarakat seperti ini, dibutuhkan sebuah pemicu yang sangat tidak berarti untuk memunculkan aksi kekerasn yang meluas. Maka tindak kriminal pun menjadi semakin tidak terbendung. Ketidakpercayaan terhadap penyelesaian masalah oleh lembaga publik menemukan kompensasinya dalam tindakan main hakim sendiri. Banyak mantel menjadi berdarah-darah. Dari dalam kondisi ini terumus harapan agar mantel berdarah yang memendam dendam itu dihanguskan. Bayang-bayang penderitaan masa lalu yang menghantaui akan ditiadakan, agar dengan lebih bebas orang menatap dan melangkah ke depan.

    Buku “DI TEBING WAKTU’ Karya Paul Budi Kleden

    Kesederhanaan Natal   

    Memahami Natal dalam prespektif kerinduan dan harapan yang panjang dan mendesak itu, memunculkan pertanyaan: Apakah harapan besar itu menemukan pemenuhannya dalam peristiwa yang dirayakan sebagai Natal? Allah datang ke dunia dalam sosok seorang bayi, putera sepasang suami-istri yang miskin secara ekonomi dan tidak berpengarug secara politis. Dapatkah kerinduan itu mendapatkan jawabannya dalam kehinaan dan ketakberdayaan serupa itu?

    Hemat saya di sini kita mengenal ironi Natal. Betapa tidak! Kesukaan besar, dapatkah itu ditemukan pada kelahiran seorang anak dari sebuah keluarga miskin yang sedang ketiadaan tumpangan? Berita gembira bagi seluruh bangsa, mungkinkah itu bermula dari pinggir sebuah kota kecil? Juruselamat, bisakah Dia dijumpai dan dialami di dalam diri seorang bayi? Pembebas, dalam sosok anak kecil yang terikat lampin di kawan hewan? Yang membebaskan, dalam Dia yang dikandangkan? Kristus yang diurapi, di tengah bau binatang, pemilik sah dari kandang itu? Rentetan pertanyaan ini mengungkapkan ironi Natal.

    Orang Kristen merayakan Natal sebagai pesta Allah memberikan jawaban-Nya kepada harapan manusia. Apakah ini sebuah jawaban yang memadai? Yang diimpikan adalah keselamatan, namun yang ditemukan adalah sebuah kemiskinan. Yang dinantikan adalah pembebasan, tapi yang diberikan adalah sebuah ketakberdayaan. Yang dirindukan adalah kepastian, sementara yang dijumpai adalah seorang bayi, tanda paling jelas dari ketidakpastian. Ini adalah sebuah ironi, karena jawaban yang diberikan Allah terlampau kecil untuk segudang pertanyaan yang kita kandung dalam diri kita. Kelahiran itu tampaknya terlalu tak  berarti untuk kerinduan kita yang sangat besar. Palungan itu terlalu sederhana untuk membungkus hadiah yang kita harapkan. Lalu apa makna ironi itu?

    Natal bukanlah jawaban tuntas dari Allah yang sanggup mendiamkan semua pertanyaan manusia. Natal tidak dapat sebagai akhir dari sejarah. Ke;ahiran Kristus bukanalah jawaban yang memberikan kepenuhan bagi serba kerinduan dan impian manusia. Sebaliknya! Kelahiran itu menyingkapkan sederetan pertanyaan baru, membakar kembali kerinduan manusia, menyalakan lagi impiannya. Natal, kelahiran Kristus, bukan titik final dari segala ziarah, bukan penyelesaian semua tugas dan akhir segala beban kehidupan. Sejarah Allah dan manusia tidak berhenti di sini.

    Natal berarti Kristus lahir dalam sebuah kehinaan, ditengah kekelaman nasib para miskin, dalam kepeutusasaan sekian banyak bangsa yang terpenjara karena kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Kristus tidak datang untuk menutupi semua itu. Sebaliknya, Dia datang untuk menyingkapkan semua itu. Dia datang agar kemiskinan, keputusasaan, aib dan ketakberdayaan itu tidak terus disembunyikan.

    Tempat kelahiran-Nya adalah sebuah wilayah kumuh, daerah gelap, daerah yang sengaja digelapkan agar tidak tampak, yang disembunyikan di balik tirai. Dia lahir di tengah kelompok orang miskin. Mereka ini adalah kelompok yang disembunyikan, yang ditutup-tutupi supaya tidak mencoreng kejayaan sebuah rezim. Apa yang tidak semestinya, hendak disembunyikan, supaya ada kesan baik tentang rezim yang sedang berkuasa. Lalu, perlahan yang miskin sebagai korban ketidakadilan itu dianggap tidak ada. Pertanyaan yang seharusnya timbul kareana kenyataan ini perlahan hilang. Manusia hidup seolah semuanya beres, tanpa masalah, tanpa pertanyaan yang mendesak semua jawaban.

    Terang Natal bukanlah terang yang menyilaukan dan membutakan. Kesyahduan Natal bukanlah sebuah undangan untuk tenggelam dalam sebuah histeria massal. Natal memang jawaban Allah, namun jawaban itu memancarkan sinar atas banyak hal yang belum beres. Jawaban itu membangkitkan sederetan pertanyaan baru tentang apa yang mesti dilakukan. Natal berarti Allah memberanikan manusia untuk melihat kekelaman yang masih saja merundung banyak bangsa dan sekelompok masyarakat, menyoroti kegelapan yang masih tersisa dalam hidup kita sebagai manusia.

    Natal memiliki sebuah ironi. Namun ironi itu bukan untuk mematikan, melainkan untuk membongkar semua rasa puas diri dan mental triumfalistis. Ironi Natal mengingatkan bahwa kita masih terus menempuh sebuah jalan panjang mengubah kandang menjadi rumah yang layak bagi semua. Natal adalah sebuah simpul pada harapan panjang umat manusia.

    Sumber Tulisan dari Buku ‘DI TEBING WAKTU’ Penerbit Ledalero, 2009