Author: Redaksi

  • MARK HANUSZ dan PRAMOEDYA ANANTA TOER

    MARK HANUSZ dan PRAMOEDYA ANANTA TOER

    Oleh Mohamad Sobary

    Kretek, however, is more than simply an exotic

    cigarette and economic phenomenon, it is an

    integral part of Indonesia’s cultural tradition.”

                                                             (Mark Hanusz)

    Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer dua sosok pribadi; yang satu hidup di dunia kemegahan uang, dan yang satu lagi seniman besar yang hidup di dunia ide. Usaha untuk membuat keduanya bertemu tampaknya merupakan sesuatu yang mustahil.

    Jika kita hanya melihatnya sepintas lalu, akan segera jelas bahwa Mark, seorang bankir, dan Pram, sastrawan terkemuka, niscaya tidak bakal cocok satu dengan lainnya. Keduanya mungkin memang tidak bisa bertemu secara hangat untuk berbicara tentang hidup.

    Mark Hanusz

    Seorang bankir kerjanya ‘membuat uang’, sastrawan bekerja di bidang nilai-nilai, dalam worldview, dalam sikap dan tingkah laku manusia maupun dalam renungan filsafat tentang keadialan, kemanusiaan dan estetika yang sangat jauh dari bank dan uang. Di bank, uang paling berharga.

    Bank itu rumah uang. Di dalamnya hanya ada uang dan uang. Manusia ada untuk melipatgandakannya. Sekali lagi, di bank, uanglah yang paling berharga dan paling dimuliakan oleh manusia.

    Dunia Pram tidak ada hubungannya dengan bank. Mungkin Pram mengutuk bank dalam keadaan darurat sedang membutuhkan uang, tapi bank tidak begitu tertarik untuk memberinya pinjaman yang mengandung tuntutan kekeluargaan dan menimbang rasa kemanusiaan.

    Kemanusiaan yang adil dan beradab boleh diteriakan seribu kali dalam hanya satu jam, tetapi boleh jadi bank tak tergiur untuk mendengarkannya. Dalam kamus dunia perbankan, kata kemanusiaan tidak ada. Rumah uang, ya rumah uang. Dia bukan rumah kemanusiaan.

    Kita tahu, bank bekerja dengan mekanisme bisnis yang serba ketat, jauh dari apa yang namanya filsafat keadilan, kemanusiaan, mapun keindahan. Namun Mark melepas semua atribut yang ada pada dirinya. Kemudian ia tampil sebagai peneliti yang berkutat dengan wawancara, melakukan pengamatan secara jeli dan menginterpretasi suatu fenomena sebagai bagian dari data yang dihimpunnya. Ia pun berbicara tentang tembakau, tentang produk olahannya, dan aroma cengkeh yang semerbak – ada hangat ada pedas – dan menghubungkannya dengan warisan kebudayaan Indonesia. Dari situ, pelan-pelan Mark dan Pram tersambung oleh semangat dan jiwa penulis.

    Ketika pembicaraan jauh dari urusan uang – sesuatu yang asing baginya – Pram akan bisa melayaninya semalam suntuk. Lebih-lebih kalau Mark membawakannya oleh-oleh berupa beberapa bungkus kretek kesukannya.

    Kita sedang berbicara tentang Mark yang menulis buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes, buku terbaik di bidang tersebut hingga saat ini. Majalah Time menyanjungnya dengan ungkapan bahwa Mark menampilkan uraian hingga ke tingkat detail dan teliti mengenai industri yang sudah berusia 120 tahun itu, didukung oleh ilustrasi yang so beautiful, so interesting.

    Buku KRETEK: THE CULTURE AND HERITAGE OF INDONESIA’S CLOVE CIGARETTES, Karya Mark Hanusz

    Patut ditambahkan pula disini bahwa hingga hari ini buku Mark tadi belum ada tandingannya. Karya yang setara saja belum ada. Apalagi yang membandingi kesungguhannya.

    Apa yang dianggap penting dari tulisan Mark menurut kalangan muda yang bergerak dalam komunitas-komunitas pembela tembakau? Mungkin ini: kretek bukan hanya sekedar rokok yang bersifat eksotis maupun fenomena ekonomi belaka. Baginya, kretek merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia, sebagaimana dikutip di awal tulisan ini.

    Kretek merupakan bagian dari keluhuran budaya Indonesia. Inilah pesona Indonesia, atau pesona dari Timur, kehangatan dan aroma wangi cengkeh, yang membuat bangsa-bangsa Barat berdatangan, berkelahi, baku bunuh di sini, dan kemudian pelan-pelan menaklukan kita. Abad ke-16 adalah abad yang ditandai dengan modernitas, kemajuan dan pencerahan. Tapi apa yang maju di Eropa, kata Pram dalam novelnya Bumi Manusia, hanya berlaku di Eropa. Orang-orang yang hidup berkemajuan itu tak memberi kita perlakuan dengan rasa hormat.

    Dalam diskusi seperti ini, Mark dan Pram jelas satu semangat satu jiwa, ibaratnya takkan terpisahkan satu dari yang lain. Dalam buku Mark itu ditulis: “With a foreword by Pramoedya Ananta Toer”. Terbit tahun 2003, ketika nama Pram sudah melejit setinggi langit. Namanya terukir megah di tingkat dunia.

    Dalam buku Mark itu Pram berbicara tentang masa kecilnya, tentang kretek, dan pasar malam. Usianya masih 13 tahun,  ketika ayahnya menganggap Pram bodoh dan tak boleh meneruskan sekolah. Maka Pram membuka warung kretek. Dengan kata lain, Pram dihukum ayahnya, lalu berjualan kretek. Persis seperti Roro Mendut yang dikenai hukuman Tumenggung Wiroguno dari Mataram, dan kemudian membuka warung rokok yang menjadi bisnis sukses.

    Selama setahun itu Pram meraih sukses pula. Kita tidak tahu darimana darah bisnis yang mengalir di tubuhnya. Dia melayani para pelanggan, termasuk pamnnya sendiri, yang membeli kreteknya dengan cara kredit. Harga kretek dibayar pelan-pelan di kemudian hari. Ini potret ekonomi rakyat yang sangat tulen.

    Hukumnya bukan bisnis adalah bisnis. Juga bukan ungkapan bahwa bisnis tak mengenal saudara. Namun bisnis itu tolong-menolong. Semangat itu terbukti membuat dia sukses. Namun anak adalah anak. Sambil berlatih bisnis, Pram juga bermain gambar, atau disebut ‘adu gambar’, seperti layknya mainan anak-anak yang baru tumbuh.

    Pramoedya Ananta Toer

    Tak diragukan, dia sendiri perokok berat, sampai akhir hayatnya, dalam usia sekitar 86 tahun, kegemaran merokok tak dihentikannya. Dia mengetik sambil merokok. Ke belakang pun merokok. Juga ketika duduk tenang sambil mengembangkan ispirasi untuk menulis. Pram dan rokok adalah dua entitas yang menjadi satu dan saling mendukung.

    Mark menulis buku kretek dan memberinya sanjungan yang melambung ke dunia ide, tentang budaya Indonesia. Pram merokok untuk menanti datangnya inspirasi dan mengejar ide.

                                                ***

    *Mohamad Sobary, budayawan, penulis beberapa buku diantaranya: Semar Gugat di Temanggung, Makamkan Dirimu di Tanah Tak Dikenal, Kidung, Kisah Karna dan Dendam Kita, Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer, Kang Sejo Melihat Tuhan, Demokrasi ala Tukang Copet, Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung.

    *Sumber Tulisan buku Mark Hanusz dan Pramoedya Ananta Toer, Mohamad Sobary, Kepustakaan Populer Gramedia, 2016.

  • Politik sebagai Media Pelayanan

    Politik sebagai Media Pelayanan

    Oleh Ansel Deri

    PEKAN lalu sebanyak 25 calon anggota DPRD Dogiyai terpilih dilantik secara resmi oleh Ketua Pengadilan Negeri Nabire Ernest Jannes Ulaen. Pelantikan tersebut sesuai Surat Keputusan Gubernur Papua Nomor 155.2/407 tahun 2029 tentang Peresmian Keanggotaan DPRD Dogiyai periode 2019-2024. Prosesi pelantikan berlangsung semarak dalam acara bertajuk, Pengambilan Sumpah dan Janji Anggota DPRD Dogiyai di Aula Maranatha Malompo, Nabire, Kamis (23/1 2020). Para wakil rakyat ini akan mengemban tugas kurun waktu 2019-2024 memajukan rakyat dan tanah Dogiyai.

    Pelantikan ini membawa harapan pemerintah dan warga masyarakat setelah sekian lama Dogiyai vakum tak memiliki DPRD sebagai insitusi formal rakyat dalam ikut merencanakan arah kebijakan (politik) pembangunan bersama Bupati-Wakil Bupati beserta eksekutif. Anggota DPRD terlantik yang merupakan perpanjangan tangan partai secara kelembagaan di DPRD setempat dituntut pula tanggungjawab politik mereka bersama pemerintah dan rakyat memajukan daerah agar lebih sejahtera, aman, dan damai sesuai visi-misi ‘Dogiyai Bahagia’ Bupati Yakobus Dumupa-Wakil Bupati Oscar Makai. Ketua DPRD Yeskel Anou bersama rekan-rekannya akan bergandengan tangan bersama pemerintah dan masyarakat, dituntut bekerja keras memajukan daerahnya.

    Bupati Yakobus atas nama masyarakat dan pemerintah menyampaikan selamat kepada para anggota DPRD yang baru saja dilantik. Ungkapan Bupati Dumupa, hemat saya menarik. Ia menyebutnya dalam frasa, “Selamat menjadi pejabat Negara dan pelayan rakyat Kabupaten Dogiyai”. Pelayan rakyat mengandaikan wakil rakyat adalah “anak buah” dari “bos” bernama rakyat. Wakil rakyat adalah pengemban mandat politik, penerus suara kaum tak bersuara (voice of voiceless) sehingga wakil rakyat perlu terus-menerus diawasi agar mereka setia menyadari esensi politik sebagai  media pelayanan, kerasulan politik. Mengapa Bupati Dumupa perlu mengemukakan term “pelayan rakyat” bagi para wakil rakyat yang baru dilantik dalam konteks pembangunan Dogiyai?

    Esensi Politik

    Proses pelantikan anggota DPRD Dogiyai tentu memiliki makna strategis. Tentu tak sebatas dalam pemahaman tiga tugas dan fungsi wakil rakyat yaitu legislasi, anggaran (budgetting), dan pengawasan (controlling) dalam setiap kebijakan (politik) pembangunan. Namun, lebih dari itu, para wakil rakyat (semisal Dogiyai) yang merupakan perpanjangan tangan partai politik perlu memahami arti dan makna esensial politik yang bermuara pada kepentingan dan kebaikan  rakyat (bonum commune).

    Peneliti Veri Junaidi dkk (2011) menyebutkan, jauh sebelum merdeka Indonesia sudah mengenal partai politik. Pada zaman kolonial, para tokoh pergerakan menggunakan partai sebagai alat atau sarana perjuangan politik. Karena itu, Wakil Presiden Mohamad Hatta mengeluarkan Maklumat X pada Oktober 1945, partai-partai politik yang sempat tiarap pada zaman Jepang, bangkit kembali. Perang kurun waktu 1945-1949 tak menyurutkan konsolidasi masing-masing partai politik sehingga tatkala masa perang berakhir, melalui para kadernya partai siap berkompetisi merebut dukungan politik melalui Pemilu untuk menjadi –meminjam istilah Bupati Yakobus Dumupa– pelayan rakyat.

    Foto Buku SAKRAMEN POLITIK, Karya Eddy Kristiyanto

    Dalam Sakramen Politik (Lamalera, 2008), Eddy Kristiyanto, guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta memandang perlu agar setiap politisi memahami makna dan esensi politik. Bukan dalam artian sempit, stricto sensu melainkan dalam arti luas, largo sensu yakni arti utama dan sesungguhnya dari politik.

    “Jiwa” politik dan memoria itu paling jelas terbaca bukan pada tataran wacana (discourse), bukan tingkat verbal dan kognitif, melainkan pada kemungkinan yang diciptakan oleh masing-masing pribadi dalam kebersamaan untuk menjadi semakin manusiawi (human), seraya hidup dalam suatu lingkungan yang ramah (hospitable) terhadap sesama, di mana keadilan, bela rasa penuh cinta (compassion), dan pemeliharaan hidup diutamakan.

    Maka dari itu pembicaraan tentang politik dan memoria menyangkut harkat hidup kita semua sebagai manusia. Inilah salah satu makna terdalam manusia di hadapan Hyang Widi. Kiranya, Ia tidak pertama-tama melihat agama, ras, golongan etnis, tingkatan sosial apa yang melatarbelakangi kita, melainkan “apa nilai manusia“ di hadapan-Nya. Semua hal kemudian menjadi sangat relatif jika diperhadapkan pada Sang Absolut Sejati.

    Pekerjaan Berat

    Sebanyak 25 orang yang baru dilantik guna mengemban mandat sebagai wakil rakyat di DPRD Dogiyai, orang-orang pilihan yang datang dari honai rakyat sendiri. Mereka juga tentu tahu anatomi Dogiyai sebagai sebuah daerah otonom 12 tahun lalu.  Komplet dengan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan tantangan yang sudah dan tengah dihadapi oleh Bupati, Wakil Bupati dan jajaran pemerintah serta masyarakat.

    Foto: Moanemani – Ibu Kota Kabupaten Dogiyai

    Sekadar mengingatkan kembali. Dogiyai adalah sebuah kabupaten yang dari segi usia masih tergolong muda. Tahun 2008, Dogiyai mekar bersama 16 daerah otonom baru lainnya di seluruh tanah Papua. Luas wilayahnya sebesar 4.237,4 km persegi meliputi sepuluh distrik (kecamatan) dan 79 kampung (desa). Sebagai kabupaten dengan wilayah yang sangat luas, Dogiyai menyimpan beragam potensi unggulan di sektor pertanian dan peternakan, Luas areal tanaman perkebunan tahun 2016, misalnya, sebesar 253 hektar dengan produksi sebesar 2.464 ton.

    Meski demikian, menurut Yakobus Dumupa dalam Desa Kuat Negara Berdaulat (2019), secara umum kehidupan masyarakat masih dibayangi kemiskinan dominan. Rumah sebagian besar warga sangat sederhana, tidak dilengkapi dengan sanitasi dan akses air bersih untuk konsumsi atau kebutuhan lain. Banyak keluarga tidak memiliki jamban (WC) yang layatk dan sehat. Kebutuhan air untuk mandi dan cuci masih mengandalkan sungai atau kali.

    Di kampung-kampung yang jauh dari sungai, penduduk mengandalkan air hujan yang mereka tampung. Setidaknya ada 50 kampung yang sulit mengakses air bersih. Di beberapa kampung —tidak lebih dari 15 kampung— pemerintah sudah membangun instalasi air bersih untuk umum. Biasanya masyarakat mengambil air di pancuran yang bersumber dari mata air untuk kebutuhan sehari-hari dan mencuci busana.

    Gambaran sekilas Dogiyai dengan potensi dan tantangan yang melingkupnya di atas menuntut kerja politik para wakil rakyat bersama eksekutif dan masyarakat berpijak pada esensi dan makna politik paling hakiki yaitu media pelayanan. Menjadikan politik sebagai media pelayanan adalah sesuatu yang dirindukan rakyat tatkala mereka disambangi di musim kampanye. Nah, pascapelantikan anggota DPRD Dogiyai di Aula Maranatha Malompo, Nabire, pekan lalu ada asa yang tengah dirindukan rakyat di tangan 25 orang wakilnya bersama Bupati Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oscar Makai bersama para pemangku kepentingan lokal menggapai Dogiyai Bahagia. 

    Anse Deri, Sekretaris Papua Circle Institute

    Sumber: Papua Pos Nabire, 31 Januari 2020

  • Keajaiban Kasih Sayang

    Keajaiban Kasih Sayang

    Oleh Gede Prama *

    Dunia yang semakin rumit. Ini potret zaman ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhasil membuat komplesitas permasalahan di segala bidang menurun. Sebaliknya di segala bidang muncul kerumitan-kerumitan yang semakin rumit. Di tengah kelangkaan jalan keluar, biasanya manusia menunggu datangnya keajaiban. Kebanyakan manusia mengira, keajaiban datang dari langit, lupa bahwa keajaiban yang paling ajaib datang dari dalam hati, muncul dalam keseharian yang penuh kasih sayang.

    Kesembuhan

    Keajaiban kasih sayang yang pertama, muncul dalam bentuk kesembuhan. Dulunya, kasih sayang menyembuhkan hanya cerita di dunia spiritual. Sekarang, berlimpah riset yang mendukung penemuan ini. Salah satu riset yang paling sering dikutip dalam hal ini, adalah dua kelompok mahasiswa yang diminta menonton dua film berbeda. Kedua kelompok mahasiswa ini diambil air liurnya sebelum dan sesudah menonton film untuk untuk melihat kekebalan tubuh mereka. Hasilnya sangat menyentuh, kelompok mahasiswa yang menonton film Bunda Teresa kekebalan tubuhnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang menonton film biasa.

    Sejumlah yogi Tibet dimasukan ke dalam mesin MRI, kemudian diminta memeditasikan kasih sayang. Hasilnya terang sekali, gerakan neural di bagian otak tempat berfungsinya kesembuhan menaik drastis sekali. Seorang sahabat dekat yang ceritanya bisa dipercaya sepenuhnya menggunakan tubuhnya sendiri untuk mengecek kebenaran bahwa kasih sayang dapat menyembuhkan. Tatkala melakukan meditasi pribadi, sore harinya memberikan kesempatan kepada banyak sekali nyamuk-sebagian nyamuknya berwarna hitam putih yang kerap disebut sebagai sumber penyakit demam berdarah-untuk meminum darahnya. Tentu saja dilakukan dengan spirit kasih sayang mendalam. Akibatnya tubuhnya tentu saja merah di sana-sini. Tapi setelah bertahun-tahun, tidak ada  tanda-tanda ia terkena penyakit demam berdarah.

    Daftar contoh dan bukti bisa diperpanjang tentu saja. Tapi di tengah mahalnya harga obat, tidak terjangkaunya biaya rumah sakit, tidak tersentuhnya masyarakat miskin oleh bantuan pemerintah, layak kita renungkan melindungi kesehatan tubuh dengan kasih sayang mendalam.

    Kedamaian  

    Keajaiban kasih sayang yang kedua, ia sangat mendamaikan. Salah satu Guru yang meditasinya damai sekali bernama Ramana Maharshi. Berkali-kali muridnya menemukan, di dekat beliau, meditasi atau mengajar, tidak saja manusia damai, bahkan binatang liar seperti ularpun damai. Nelson Mandela adalah contoh lain. Beliau tidak saja dirasakan damai oleh sahabat dan keluarga, tapi juga terasa damai di hati musuh-musuhnya. Jalalludin Rumi adalah salah satu tokoh sufi yang damai sekali. Vibrasi kedamainnya bahkan dirasakan jauh di luar komunitas muslim, melampaui waktu hidupnya di abad empat belas. Ketiga tokoh ini memang lahir dari agama yang berbeda. Tetapi ketiganya memiliki satu kesamaan, yakni hati yang penuh dengan kasih sayang.

    Salah satu logika yang bisa menjelaskan hal ini adalah cerita ketika dua orang bertemu anjing. Orang pertama damai sekaligus penuh kasih sayang. Orang kedua adalah orang biasa. Setelah lewat di depan anjing, hanya orang kedua yang digonggong anjing. Ini bisa terjadi karena ketakutan berlebihan membuat tubuh manusia menghasilkan adrenalin. Dan adrenalin ini yang dicium oleh anjing sehingga menggonggong juga karena ketakutan.

    Indahnya kasih sayang mendalam, tidak saja membuat tubuh manusia tidak memproduksi adrenalin, juga menjadi jembatan bagi pengalaman kebersatuan. Di tingkat kebersatuan, diri kecil (tubuh, perasaan, persepsi, formasi mental, pikiran dualistik) lebur menyatu dengan Diri Agung. Di tingkat ini alam kecil dan alam besar terhubung rapi. Sehabis ini, tidak ada hal lain yang tersisa kecuali damai.

    Kesempurnaan

    Dengan modal kedamaian menawan, kasih sayang bisa mengantar manusia ke tangga keajaiban yang ketiga yakni kesempurnaan. Di tingkat kesembuhan dan kedamaian berlimpah logika dan penelitian yang tersedia sebagai bahan penjelasan. Di tingkat kesempurnaan, semua bahasa dan logika manusia menjadi tangga yang tidak cukup tinggi untuk menjangkau. Itu sebabnya, orang suci yang sudah sampai di sini semuanya menggunakan bahasa puitik.

    Salah satu Guru suci pernah berpesan seperti ini: “Awalnya suka cita. Di tengah suka cita. Di akhir juga sukacita”. Di tingkat kesempurnaan, semua dilihat dan diperlakukan dengan suka cita sehingga kehidupan tidak punya wajah lain selain suka cita. Bedanya suka cita di tingkat kesempurnaan dengan suka cita orang biasa, suka cita di tingkat kesempurnaan menjadi ibu bagi lahirnya bayi indah bernama kasih sayang. Makanya, salah satu arti buku suci adalah kerinduan mendalam akan kasih sayang (a crying for compassion).

    Dengan kata lain buku suci lahir dari kerinduan mendalam akan kasih sayang. Ia serupa seorang ibu yang rindu akan anak-anaknya, sekaligus dengan tangan mendekap untuk menenangkan sekaligus menyelamatkan. Itu sebabnya, di banyak tradisi disarankan menghormati buku suci sebaik manusia menghormati ibu kandungnya.

    Menitipkan Masa Depan

    Kembali ke cerita awal tentang kerumitan meningkat di mana-mana, salah satu sebab dominannya karena dunia tanpa pemimpin. Sulit menyangkal, zaman ini sangat mengagumi Mahatma Gandhi, Nelason Mandela, Bunda Teresa, Dalai Lama. Dan yang serupa dari tokoh-tokoh ini sederhana, semuanya berpengaruh karena kedalaman kasih sayang. Dalam studi mendalam tentang kepemimpinan, sudah lama ditemukan bahwa intisari kepemimpinan terletak pada kemampuan ‘memengaruhi’. Dan kemampuan memengaruhi sangat ditentukan oleh seberapa indah hati seseorang dihiasi oleh kasih sayang. Kepada orang-orang semacam inilah masa depan akan dititipkan.

                                                   ***

    *Gede Prama, adalah seorang pencinta kedamaian, motivator.

    *Sumber Tulisan: Buku Cahaya Kedamaian, Gede Prama, Penerbit Karania, 2014.

  • Program Nasional di NTT Harus Didukung

    Program Nasional di NTT Harus Didukung

     Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) meminta kepada seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Provinsi NTT untuk mendukung dua program nasional yang ada di Provinsi NTT. “Saya minta kita semua dukung Program Nasional yang ada di NTT yakni Sensus Penduduk tahun 2020 dan Pemilihan Kepala Daerah di sembilan kabupaten yang ada di NTT,” tandas Gubernur VBL saat memimpin apel bersama di halaman gedung Sasando Kantor Gubernur di Jalan El El Tari 52 Kupang, Senin (03/02/2020). Ikut hadir Wagub NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM, Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Ben Polo Maing, dan seluruh pimpinan perangkat daerah lingkup Pemprov NTT serta ratusan ASN juga sejumlah ASN yang akan memasuki masa purna tugas diantaranya Drs. Sinun Petrus Manuk (mantan Kadis PMD NTT), Dra. Sisilia Sona (mantan Kadis Kop, Nakertrans NTT, dan Karo Umum Drs. Hali Lanan Elias). Data Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT menyebutkan ada 125 ASN yang purna tugas terhitung Januari sampai dengan Maret 2020 yang terdiri dari golongan IV sebanyak 53 orang, golongan III sebanyak 64 orang, golongan II sebanyak 7 orang dan golongan I sebanyak 1 orang. Sensus Penduduk, sebut Gubernur VBL harus didukung agar bisa diketahui populasi penduduk baik di Indonesia maupun di Provinsi NTT. “Kita harus terlibat secara aktif. Sehingga kita tahu populasi penduduk di NTT maupun di Indonesia. Sekarang populasi penduduk di dunia sebanyak 7,7 miliar orang,” ucap Gubernur VBL.

     ASN Harus Netral Pada bagian lain arahannya, Gubernur VBL meminta kepada seluruh jajaran ASN untuk bersikap netral dalam menyikapi konstelasi Pilkada di sembilan kabupaten di NTT. “ASN harus netral,” tegas Gubernur dan menambahkan, “memang tadi pagi saya baca di media ada tiga daerah yang dikategorikan merah atau rawan.” Sebagaimana diketahui sembilan kabupaten yang melaksanakan Pilkada antara lain : Malaka, Belu, TTU, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Sabu Raijua, Sumba Timur dan Sumba Barat. Sedangkan tiga daerah yang dianggap rawan sesuai catatan pihak kepolisian antara lain : TTU, Manggarai dan Sumba Barat. (*) Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT.

     

         
       
  • Menelusuri Benang Kusut Jiwasraya

    Menelusuri Benang Kusut Jiwasraya

    Oleh Bernard Limalaen Krova

    TATKALA kasus Jiwasraya mencuat, muncul beragam pendapat dari pengamat ekonomi, praktisi asuransi, DPR dan Pemerintah. Umum berpendapat Jiwasraya gagal bayar karena tiga hal. Pertama, krisis global 1998. Kedua, mismanaged atau salah investasi. Ketiga, perampokan besar-besaran. Semua sepakat harus ditelusuri ‘siapa yang merampok’ dan ‘pemerintah bertanggungjawab mengembalikan dana nasabah’.

    Benar, terjadi krisis global tahun 1998. Industri keuangan global terpuruk dan nyaris ambruk. Bailout dipandang sebagai satu-satunya obat mujarab. Industri asuransi juga mengalami kondisi tersebut. Peran pemerintah nihil dalam membantu industri asuransi. Pelaku industri asuransi mencari cara agar bertahan.

    Investasi berupa saham, reksadana dan deposito hancur lebur. Aset tergerus dan equitas lampu merah yang berakibat kemampuan membayar klaim kerusuhan 1998 pada level insolven. Pemodal dan pemilik asuransi enggan bahkan tidak mampu memberikan suntikan modal mendongkrak solvabilitas.

    IFRS Diperkenalkan

    Setelah krisis 1998, Bapepam-LK pada 2000 memperkenalkan International Financial Report Standard yang diadopsi dari standar akutansi internasional. Solvabilitas 120 persen dipatok sebagai batas minimum memenuhi kewajiban.

    Sistem pencatatan akuntansi, pengakuan pendapatan, pencadangan premi, pencadangan klaim dan investasi berubah. Industri asuransi bergejolak meminta relaksasi. Pemerintah memberikan kelonggaran pemberlakuan secara gradual, dimulai 5 persen triwulan pertama 2000 dan akan efektif 120 persen akhir 2004.

    Dari sini muasal carut-marut Jiwasraya. Implikasi penerapan IFRS, perusahaan asuransi yang selama ini sehat dalam sekejap berubah menjadi insolven. Pasalnya, solvabilitas terjerembab di bawah 120 persen.

    Penerapan IFRS ini oleh pemerintah dituangkan melalui KMK No. 481/KMK.017/1999, digantikan dengan KMK No. 424/KMK.06/2003, dan belakangan diganti dengan PMK No. 53/Tahun 2012. KMK No. 424/KMK.06/2003 Bab II Pasal 2 Ayat 1 mengatur batas tingkat solvabilitas minimum sebesar 120 persen dari risiko kemungkinan kerugian yang mungkin timbul.

    Penghitungan solvabilitas memasukkan sejumlah faktor risiko. Misalnya, kegagalan pengelolaan kekayaan (asset default risk), ketidakseimbangan antara nilai kekayaan dan kewajiban dalam setiap jenis mata uang asing (currency mismatched), perbedaan antara beban klaim dan beban yang diperkirakan (claim experience worse than expected) dan reinsurance risk.

    Ketua BPK, Agung Firman Sampurna dalam statemennya 8 Januari 2020 mengatakan, kasus Jiwasraya bermula pada 2002. Pernyataan ini menegaskan dugaan saya bahwa akibat dari implementasi IFRS, Jiwasraya terpuruk dalam kondisi defisit equitas.

    Laporan Keuangan per 31 Desember 2006 menyebutkan, Jiwasraya menderita defisit Rp 3,29 triliun. Isu utama defisit adalah jumlah aset jauh lebih rendah dibandingkan kewajiban. Akhir 2008, Jiwasraya defisit Rp 5,7 triliun. Defisit berlanjut 2009 mencapai Rp 6,3 triliun. Jelas equitas Jiwasraya defisit sehingga sudah tidak mampu memenuhi kewajiban atau solvabilitasnya di bawah 120 persen.

    Opsi solusi

    Hanya ada dua opsi solusi bila defisit ekuitas. Pertama berhenti berbisnis dan kedua, menambah modal. Opsi pertama sangat sulit bagi Jiwasraya. Jumlah nasabah Jiwasraya berkisar 7 juta pemegang polis. Pilihan yang paling tepat adalah opsi kedua, mendapatkan suntikan dana segar. Entah dari pemerintah sebagai pemilik atau investor baru.

    Kementerian BUMN pada 2008 meminta bantuan likuiditas berupa pinjaman subordinary atau zero coupon bond sebesar Rp 6 triliun. Permintaan tersebut ditolak Menteri Keuangan. Oleh Kementerian BUMN, Jiwasraya dipaksa berbisnis dengan kondisi kesehatan “jantung” sudah stadium empat.

    Bapepam-LK tentu telah melakukan pengawasan. Bila demikian, seyogyanya Kementerian Keuangan paham dan menyetujui rencana penyehatan (lihat Pasal 7 Ayat 1 – 7 KMK No. 424/2003). Rencana penyehatan harus dituangkan dalam ‘rencana bisnis lima tahun’, di mana sebelum sampai kepada Menteri Keuangan tentu telah mendapat persetujuan Menteri BUMN selaku pemegang saham. Rencana penyehatan harus mendapat pengawasan ketat Bapepam-LK.

    Demi menopang equitas, atas ijin Bapepam-LK ditempuh cara reasuransi 2009. Cara ini seharusnya tertuang dalam ‘rencana bisnis lima tahun’ karena bagian dari program penyehatan. Model reasuransi umumnya dalam kurun waktu ‘three years deal’ sehingga akan berakhir tahun 2012.

    Era OJK

    Era Bapepam-LK berakhir melalui Undang-Undang Nomor 21/2011, tonggak lahirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Model reasuransi tidak kunjung menyembuhkan, selanjutnya ditempuh cara revaluasi aset pada 2013. Revaluasi meningkatkan aset Jiwasraya dari Rp 208 miliar menjadi  Rp 6.3 triliun. Revaluasi aset berdampak equity Jiwasraya surplus Rp 1.7 triliun. Surplus equitas hanya ada di pembukuan akuntansi, bukan aset liquid yang dapat dicairkan sewaktu waktu.

    Alih-alih memperbaiki kinerja memperbaiki struktur permodalan, struktur portofolio, juga struktur investasi, atas ijin OJK Jiwasraya menjual produk JS Saving Plan dengan cost of fund sangat tinggi. Return guarantee-nyadi atas 9 persen, memaksa Jiwasraya mencari investasi high return.

    Polis produk ini berdurasi lima tahun dan akan jatuh tempo tahun 2018, benefit polis dapat dicairkan setiap tahun. Oleh Jiwasraya, dana nasabah diinvestasikan pada instrumen saham dan reksadana yang berkualitas rendah.

    Ini merupakan ‘bom waktu’ kedua. ‘Bom waktu’ pertama adalah defisit equitas. Kedua bom waktu ini memicu default atau gagal bayar Jiwasraya atas kewajiban-kewajibannya.  

    BPK mengatakan bahwa produk saving plan adalah produk yang memberikan kontribusi pendapatan tertinggi bagi Jiwasraya sejak tahun 2015. Pendapat ini benar. Namun bagi praktisi asuransi, tentu paham bahwa premi yang diperoleh bukan sekaligus diakui sebagai pendapatan. Dari Rp 100, bila 25 persen adalah komisi, dan 40 persen adalah cadangan untuk polis berdurasi lima tahun. Maka, yang dapat dibukukan sebagai pendapatan di tahun pertama hanya sebesar Rp 9.

    Laporan Keuangan 2017 menunjukkan, Jiwasraya mampu membukukan laba Rp 360,3 miliar. Namun disematkan opini tidak wajar karena kekurangan pencadangan premi Rp 7,7 triliun. Berlanjut ke tahun 2018, Jiwasraya membukukan kerugian unaudited sebesar Rp 15,3 triliun. Pada September 2019, kerugian menurun jadi Rp 13,7 triliun. Laporan terakhir November 2019 menyebut, Jiwasraya mengalami negative equity sebesar Rp 27,2 triliun.

    Dalam kurun waktu 2010-2019, BPK telah dua kali melakukan pemeriksaan atas Jiwasraya. Pertama, pemeriksaan dengan tujuan tertentu tahun 2016 dan pemeriksaan investigatif pendahuluan tahun 2018. Ingat, investigasi dilakukan setelah tahun 2013 saat JP Saving Plan diluncurkan. Hemat saya, ini tidak membongkar akar masalah sebenarnya yaitu defisit equitas sejak 2006.  

    Benang merahnya adalah defisiti equitas yang mengakibatkan Jiwasraya terpuruk dalam kondisi insolven dan tidak ada upaya penyelamatan berarti oleh Kementerian BUMN sejak tahun 2006. Sebagaimana telah saya sampaikan, hanya ada dua opsi penyelesaian bila sebuah perusahaan asuransi dalam kondisi insolven.

    Perusahaan asuransi yang tidak memenuhi ketentutan tingkat solvabilitas wajib menyampaikan rencana penyehatan keuangan yang disetujui pemegang saham dalam rangka memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas. Rencana penyehatan keuangan harus disampaikan kepada Menteri bersamaan penyampaian perhitungan tingkat solvabilitas.

    Langkah-langkah penyehatan, paling sedikit memuat salah satu rencana berikut. Pertama, restrukturisasi kekayaan dan/atau kewajiban. Kedua, penambahan modal disetor. Ketiga, pengalihan sebagian atau seluruh portofolio pertanggungan. Keempat, melakukan penggabungan badan usaha. 

    Otoritas yang berkewajiban dan bertugas sebagai pengawas sama. Semua standar yang tertuang dalam PMK No. 53/Tahun 2012 pengganti KMK No. 424/2003 abai dilaksanakan. Ketika kondisi Jiwasraya kian amburadul, telunjuk pun mengarah kemana-mana. Terlalu mahal biaya yang harus dibayar akibat segala kelalaian ini.

    Bernard Limalaen Krova, Praktisi Asuransi.

    Sumber Media Indonesia, Sabtu, 1 Februari 2020

  • Jos Nae Soi: E-Filing Permudah SPT

    Jos Nae Soi: E-Filing Permudah SPT

    JAKARTA-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Josef A Nae Soi mengakui, pemanfaatan teknologi seperti electronic filing (e-filing) sangat memudahkan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT.

    “Hadirnya e-filing sungguh membuat proses penyampaian SPT menjadi jauh lebih mudah. Sekarang saya bisa lakukan dari rumah, tidak perlu ke kantor pajak,” ujar Nae Soi saat bertatap muka dengan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Nusa Tenggara, Belis Siswanto di ruang kerja Wagub, Rabu, (29/1/2020) sebagaimana keterangan pers yang diterima dari Valeri Guru, Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT di Jakarta.

    Ikut hadir Kepala Bidang Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2 Humas), Devi Sonya Adrince, Kepala Bidang Pemeriksaan, Penagihan, Intelijen, dan Penyidikan (PPIP), Candra Budi, Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan (DP3), Mochamad Taufiq serta didampingi Moch. Luqman Hakim, Kepala KPP Pratama Kupang dan M. Arifin, Kepala KPP Pratama Atambua. Juga hadir Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Zet Sony Libing serta Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Jelamu Ardu Marius.

    Kakanwil DJP Nusa Tenggara mengaku, koordinasi antara instansi sangat penting dilakukan untuk mendukung upaya optimalisasi penerimaan pajak di daerah termasuk di Provinsi NTT. Karena itu, “Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja sama dan kontribusi yang telah diberikan kepada negara dalam hal penerimaan pajak,” kata Belis.

    Dia menambahkan, terkait kinerja penerimaan tahun 2019; pihaknya berhasil mencapai total penerimaan sebesar Rp. 5.649.738.905.302,00 (realisasi 88,06%), dengan pertumbuhan sebesar 7,17%. “Capaian ini merupakan prestasi yang patut dibanggakan, karena Kanwil DJP Nusa Tenggara telah berhasil melebihi pencapaian penerimaan pajak nasional yakni sebesar 84,64%. Untuk capaian dari Provinsi NTT sebanyak 90,33% yakni Rp. 2.741.970.147.122,00 (tumbuh sebesar 11,25%),” lanjut Belis.

    Menurutnya, pada 2020 target penerimaan pajak secara nasional telah ditentukan oleh Pemerintah yakni sebesar Rp 1.642 triliun, tumbuh sebesar 4,12% dari target penerimaan tahun 2019. “Berbagai strategi dan upaya optimalisasi pengamanan penerimaan pajak harus sudah diimplementasikan. Tentunya, kebijakan yang diambil dalam rangka pengamanan penerimaan pajak tersebut selaras dengan kebijakan yang tengah diimplementasikan oleh Pemerintah Daerah. Untuk itulah, diperlukan suatu koordinasi yang kuat antar instansi untuk pengharmonisan seluruh kebijakan agar tidak saling bertentangan,” kata Belis.

    Ia melanjutkan, salah satu contoh upaya optimalisasi penerimaan pajak yang erat kaitannya dengan kebijakan di daerah ialah Program Konfirmasi Status Wajib Pajak (KSWP). “Memorandum of Understanding (MoU) KSWP antara Kanwil DJP Nusa Tenggara dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah ditandatangani pada tanggal 11 Juli 2019 lalu. Implementasi dari program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan perpajakan seluruh masyarakat. Saya berharap, agar MoU tersebut dapat berjalan dengan efektif, pengawasan atas implementasi program KSWP di wilayah NTT dapat dilakukan secara bersama-sama baik dari DJP maupun dari Pemerintah Provinsi NTT,” jelas Belis.

    Terhadap berbagai hal yang disampaikan Kakanwil DJP Nusa Tenggara, Nae Soi mengatakan, manfaat pajak sangat dirasakan dalam berbagai bidang diantaranya bidang ekonomi, pariwisata, dan bidang lainnya. “Contoh nyata yang dapat dirasakan masyarakat diantaranya adalah pembangunan jalan, dan gedung-gedung. Terlebih lagi Nusa Tenggara Timur akan menjadi tuan rumah kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik tahun 2020, juga NTT akan menjadi tuan rumah Pertemuan G20 di tahun 2023 yang akan datang,” ujar Nae Soi.

    Menurutnya, untuk mempersiapkan kegiatan tersebut tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit. “Di sinilah, penerimaan dari pajak berperan untuk pembangunan dan dalam rangka persiapan kegiatan-kegiatan yang telah saya sebutkan tadi,” lanjut Nae Soi.

    “Kami berkomitmen untuk mendorong peningkatan perekonomian melalui pemberian pelayanan perpajakan terbaik, yang berlandaskan prinsip keadilan (fairness) dan equal treatment, serta mendorong peningkatan ekonomi usaha kecil dan menengah dengan penerapan Business Development Services (BDS),” kata Belis menambahkan. Berkenaan dengan layanan perpajakan, seluruh masyarakat dapat mendatangi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) yang tersebar di NTB dan NTT.

    “Selain dari pelayanan yang didapatkan di kantor pajak, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) juga telah banyak mengembangkan pelayanan yang dapat diakses secara online di situs pajak.go.id, seperti penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing yang bisa dilakukan via handphone dimana saja dan kapan saja,” tambah Kepala KPP Pratama Kupang, Moch. Luqman Hakim.

    Untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran terkait kewajiban perpajakan, kantor pajak akan mengadakan penyuluhan, kelas pajak, kampanye, dan sosialisasi yang topiknya dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap wajib pajak, dan tentunya dengan mempertimbangkan kearifan lokal wilayah setempat.

    “Edukasi dilakukan tidak hanya kepada para wajib pajak tapi juga kepada calon wajib pajak. Contohnya, melalui kegiatan Pajak Bertutur yang diperuntukkan untuk pelajar dan mahasiswa. Kami juga telah melakukan kerja sama dalam hal Tax Centre dan Relawan Pajak dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Flores (Unflor).” ujar Kepala Bidang Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2 Humas), Devi Sonya Adrince.

     Di akhir pertemuan, Belis Siswanto mengungkapkan harapannya untuk dapat bekerja sama dalam hal pertukaran data pihak ketiga yakni seperti dari Badan Pendapatan dan Aset Daerah, Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), dan beberapa dinas lainnya. “Kami mohon dukungan Bapak Wagub beserta jajaran untuk berkenan memberikan dukungan, saran dan masukan dalam pelaksanaan tugas di Kantor Wilayah DJP Nusa Tenggara; agar kami dapat mengoptimalkan penerimaan pajak tahun 2020 ini. Kami sangat terbuka atas segala masukan dan saran dari Bapak dan jajaran agar kami dapat terus memperbaiki diri dalam rangka memberikan pelayanan prima dan mencapai penerimaan negara yang optimal,” kata Belis.

     

       
  • Wagub NTT: Keberadaan KPID untuk Saring Hoax

    Wagub NTT: Keberadaan KPID untuk Saring Hoax

    Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM menegaskan, keberadaan Komisi Penyiaran Daerah (KPID) Provinsi NTT adalah bertujuan untuk menyaring, news (berita), hoax (kabar bohong), pendapat dan persepsi publik atau seseorang terhadap fakta dan data yang dimilikinya; sehingga masyarakat bisa membedakannya. “Inilah out comes yang sesungguhnya,” ucap Wagub Nae Soi saat bertatap muka dengan jajaran komisioner KPID NTT di ruang kerja wagub, Kamis (30/01/2020).

    Ikut hadir dalam pertemuan bersama Wagub, Kadis Kominfo Provinsi NTT, Drs. Aba Maulaka dan Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si. Menurut Wagub, ukuran kinerja KPID ada dan terletak pada azas kemanfaatan yang dirasakan oleh masyarakat di Provinsi NTT. “Saya yang paling penting, masyarakat bisa membedakan apa itu news, hoax, pendapat dan persepsi. Ini memang tugas yang tidak mudah. Terlalu ideal; tapi kan orang-orang KPID NTT itu kan orang-orang yang luar biasa,” tandas Wagub dan berharap agar KPID NTT bisa bekerja maksimal. Dijelaskan, tugas KPID NTT tidak sekadar memberikan ijin kepada lembaga penyiaran tetapi KPID NTT merupakan benteng untuk menyaring news, hoax, pendapat dan persepsi publik. “Kalau masyarakat dapat merasakan keberadaan dan manfaat KPID NTT maka tidak usah bicara tentang dana. Dana akan mengikuti dengan sendirinya. Tapi intinya out comes yang dirasakan oleh masyarakat. Walaupun masyarakat belum merasakan tapi minimal ada tanda-tanda yang mulai menggeliat,” kata Wagub dan menyampaikan, “Selamat bekerja ya…”

     Kadis Kominfo NTT, Aba Maulaka menjelaskan, keberadaan KPID NTT telah eksis di Provinsi NTT sejak tahun 2006 dan hingga kini telah terjadi empat kali pergantian komisioner. “Tahun 2020 ini dana hibah yang diberikan kepada KPID NTT dari APBD NTT sebesar Rp 250 juta, rasanya dana ini tidak cukup,” ucap Kadis Aba Maulaka. Ungkapan yang sama disampaikan Ketua KPID NTT, Yosef Kolo. “Kami telah dilantik dan telah bekerja. Kami datang sebagai anak dan mau melapor kepada Bapak Wagub,” kata Jurnalis AFB TV. Ikut hadir bersama Ketua KPID NTT, Wakil Ketua Desiana Rumlaklak, Koordinator Bidang PS2P, Jack Lauw dan anggota Oni Lauta; Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran, Frederikus R. Bau dan Koordinator Bidang Kelembagaan, Gasim. Usai tatap muka dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT.

  • Buah Pertobatan dari Penjara

    Buah Pertobatan dari Penjara

     

    Oleh P. Moses Hala Beding, CSsR 

     

     

    “LEMBAGA Pemasyarakatan atau Penjara tidak pernah mempertobatkan orang kecuali yang bersangkutan berupaya bertobat”. Kalimat atau pernyataan ini saya dengar pada suatu siang tanggal 6 Februari 2014, keluar dari mulut seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya dan orang itu bernama Yoppi Ririhena asal Ambon, yang belum lama keluar dari penjara Nusakambangan. Dan pernyataan ini telah diabadikan dalam suatu percakapannya dengan wartawati mingguan HIDUP, Maria Etty, yang termuat dalam majalah HIDUP, 7 September 2003. Ia sendiri bersaksi atas pernyataannya itu.

    Beberapa rekannya, sesama tahanan, tak pernah jera dengan perbuatannya. Ada di antara mereka yang keluar-masuk penjara berkali-kali. “Ada yang sampai 14 kali masuk tahanan, sampai saya bosan melihatnya,” keluhnya. Kasus homoseksual juga kerap ia temui. Biasanya bila ada tahanan yang berwajah tampan baru masuk penjara, seketika akan jadi santapan ramai-ramai. “Kasihan sekali, sampai jalannya tertatih-tatih.” Begitulah sebagian dari pernyataannya kepada Etty, yang direkam dalam mingguan HIDUP. Edisi ini digulung rapih dalam genggaman tangannya.

    Sore itu sebenarnya saya keluar menemui seorang tamu di ruangan tamu komunitas Soverdi Jakarta. Di samping itu ada seorang bapak yang tidak saya kenal. Saya kurang memperhatikannya, tetapi sepintas pada wajahnya nampak muatan persoalan hidup yang berat. Saya mengajak tamu saya berbicara di ruang dalam sementara ia duduk sendirian, entah sedang menanti seseorang atau merenungkan nasib?

    Setelah kurang lebih setengah jam kemudian, tamu saya pamit pulang, dan saya bergegas kembali masuk. Dengan cepat ia bangkit dan seolah mengejar saya. Ia bertanya apakah saya seorang Romo? Saya menjawab, ya! Dan menambahkan bahwa saya adalah tamu di rumah ini.  Ia langsung berkata: “Romo, saya minta didoakan dan diberkati sekarang! Saya ini bekas tahanan di Nusakambangan!”. Mendengar kata Nusakambangan, telinga saya mulai berdiri, karena saya pernah dibawa oleh seorang rekan pastor pembantu Cilacap, mengunjungi pulau yang menakutkan itu. Saya lalu mengajaknya masuk ke pendopo ruangan dalam. Secara singkat, sebelum mendoakan dan memberkatinya, ia memperkenalkan diri secara singkat, membuka pertemuan kami.

    Ia sebenarnya mantan Kepala Kamar Mesin (KKM) dari kapal berbendera Yunani  Joifelouf  yang malang melintang menjelajah seantero dunia. Ia lulusan Akedemi Ilmu Pelayaran (AIP) Jakarta. Kedudukannya di kapal sangat menentukan. Karena dialah yang dapat menentukan apakah kapal itu dapat berlayar atau tidak. Semua kru, bahkan kapten sekalipun, harus tunduk kepada keputusannya. Bertahun-tahun lamanya ia bertarung di laut menerjang ombak dan gelombang. Menembus amukan badai dan gelora samudra. Pada suatu waktu, ia mengemukakan keinginannya agar gajinya dinaikin, supaya memenuhi standard gaji seperti di kapal yang lain. Ternyata beberapa kali disampaikan, tidak direspon oleh pimpinan, mala dipermalukan di muka orang lain. Akhirnya dendam kesumat membara dari hari ke hari, dan memuncak pada keputusannya nekatnya untuk mengeksekusi kedua kapten kapalnya itu yang berkebangsaan Jerman atas tanggung jawab sendiri.

    Keputusan hatinya menjadi bulat dan dilaksanakannya pada 1986, tiga hari menjelang Natal. Sakit hati dan dendamnya harus impas dengan melenyapkan nyawa kedua kapten pada malam itu. Saat kapal mulai melintasi perbatasan antara Singapura dan Indonesia, sebuah pistol jenis vickers yang berisi 6 peluru, dalam genggamannya, mencabut nyawa kedua kapten kapal itu. Dalam hitungan detik, ia masih membabat leher kedua sasarannya itu. Ia lalu membuan kedua jasad itu ke laut di antara deru ombak yang bergulung-gulung dalam kepekatan malam. Dengan pakaian yang masih berlumuran dara, Yoppi menurunkan sekoci, dan menyerahkan diri pada polisi perairan. Dengan sengaja ia menjalankan eksekusi itu di perairan Indonesia, karena kalau terjadi di perairan Singapura, ia akan dihukum mati di atas kursi listrik. Ia nekat dan tetap mau mempertanggung jawabkan perbuatnnya.

    Pria yang selama 13 tahun menjelajah manca negara tak bisa lagi berkawan akrab dengan ombak samudra. Ia dijatuhi vonis 22 tahun penjara, pertama dikirim ke Lembaga Pemasyarakatan Tolako (Makasar), 3 tahun kemudian pindah ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang selama 7 tahun, dan terakhir di Nusakambangan. Berbagai hukuman dan siksaan yang diterima selama dipenjara, ia pasrahkan saja sebagai konsekuensi perbuatannya. Ia juga memaafkan istrinya, yang karena kesepian telah khilaf dengan seorang pria dan melahirkan seorang anak. Kemudian ia mendapat berita lagi, kalau anak tunggal mereka diboyong oleh anggota keluarga mereka ke negeri Belanda. Penderitannya di dalam penjara menjadi sempurna, ketika telinganya menangkap berita, kekayaannya berupa sebuah rumah mewah berlantai dua, tanah dan harta lainnya yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun , ludes dijual sang istri untuk menyambung hidup.

     

    Buku MARI MENARI BERSAMA MARIA Karya P Moses Hala Beding, CSsR

    Semua bencana yang menimpa hidupnya ini tidak membuatnya larut dalam kesedihan dan putus asa. Justru sebaliknya. Maka hatinya mulai terbuka. Ia mulai menyadari hakekat hidup sebenarnya. Segala kekayaan dan harta benda yang dikumpulkannya bertahun-tahun dianggap fana saja. Ia mulai bertobat. Segala hobi dan ketrampilannya disumbangkan habis-habisan untuk kebutuhan dan keperluan di dalam penjara. Ia mempunyai hobi fotografi (sebelumnya ia sempat memiliki 25 kamera). Ia pandai melas, memperbaiki dan mencat kendaraan-kendaraan yang rusak. Kepala penjara mempercayakan kepadanya penataan dan kebersihan dalam penjara. Ia mulai mendekatkan diri kepada Tuhan. Kehidupan rohani, yang dahulunya tidak diperhatikannya, sekarang ditekuninya dengan membaca buku-buku rohani yang dahulu diberikan oleh seorang misionaris, waktu berkunjung ke penjara di Makasar. Di atas segala-galanya, di dalam penjara, ia menemukan seorang Ibu Sejati. Dengan berdoa Rosario setiap hari, ia merasa kedekatan Tuhan dan pertolongan Bunda Maria. Dalam pembicaraan kami itu ia mengeluarkan rosario dari saku celananya dan mengatakan kepada saya: “Romo, inilah Ibu yang selalu menolong dan membantu saya selama dalam penjara. Saya sangat akrab dengan dia dan mencintainya.

    Ia sangat heran dan terperangah, ketika bulan Juni 2003 lalu, dipanggil oleh direktur Lembaga Pemasyarakatan, bahwa ia akan segera bebas. Ini sungguh-sungguh suatu berita luar biasa, karena biasanya remisi atau pelepasan para tahanan diberikan pada bulan Agustus. Berarti dengan pembebasan bulan juni 2003, ia mendapat potongan tahanan 4 tahun dari keseluruhan 22 tahun. Ia sangat yakin inilah kerahiman Tuhan berkat perantaraan Bunda Maria melalui doa Rosario. Yoppi memantapkan hati untuk menghadapi kenyataan di luar selama 18 tahun diisolasi: bagaimana ia akan menghadapi istrinya, anak kandungnya yang ada di Belanda dan anak tirinya yang di Australia.

    Entah kebetulan apa tidak, pada pertemuan sore hari itu, masing-masing kami memegang gulungan di tangan. Yoppi memegang gulungan majalah HIDUP edisi September 2003, yang di dalamnya wartawati HIDUP mengcover kisah hidupnya. Dan saya memegang gulungan gambar Bunda Maria Selalu Menolong ukuran besar (40 x 60). Gambar ini sedianya saya mau hadiahkan kepada tamu saya tadi, tetapi karena di rumahnya sudah ada, jadi urung. Dan saat itu saya tidak tahu mau menyerahkan kepada siapa? Saya baru mendapat gambar Bunda Maria Selalu Menolong (dalam ukuran besar) dan telah membagikannya kepada saudara dan kenalan-kenalan di Jakarta sebelum kembali ke Sumba. Saya tidak mau repot dengan barang bawahan tambahan yang memerlukan perhatian dan perawatan khusus di jalan seperti gambar-gambar yang istimewa itu. Gulungan di tangan saya ini adalah gambar terakhir. Maka pikiran saya mengembara mencari siapa gerangan yang layak mendapat gambar istimewa tersebut. Serta-merta pilihan jatuh pada Yoppi, dan hati saya begitu merasa bahagia melepaskan gulungan gambar itu kepadanya dengan berpesan: “Inilah Ibu Sejati yang engkau temui dalam penjara. Seperti halnya ia telah menolong engkau mengatasi berbagai kesulitan di dalam penjara, bahkan sampai-sampai hukuman dipersingakat 4 tahun. Diapun akan menolong engkau selalu dalam hidup selanjutnya di alam bebas. Sampaikanlah keluh-kesahmu kepada Bunda Maria, maka ia akan tetap menjadi perantaramu pada Bapa di surga. ”Dengan gembira ia menerima gulungan gambar itu, menciumnya dan mencium tangan saya dan pamit dari saya. Sore itu dia langsung ke Stasiun Kereta Api Senen menuju Surabaya, selanjutnya menuju Makassar untuk memulai suatu awal hidup baru di alam bebas dengan pengharapan bersatu kembali dengan istri dan anak-anaknya. Dan dengan sukacita besar di hatinya semoga Bunda Maria selalu besertanya.

    ———————————————

     

    *P. Moses Hala Beding, CSsR (Almarhum) adalah imam pertama dari Indonesia yang bergabung dengan Ordo Redemptoris (CSsr). Pater Moses semasa hidupnya menulis di berbagai surat kabar, Flores Pos, Pos Kupang dan Majalah Ave Maria.Ia menulis buku MARI MENARI BERSAMA MARIA, 2007, Penerbit Mariam Center Indonesia.

    *Sumber Tulisan dari Buku MARI MENARI BERSAMA MARIA, P. Moses Hala Beding, CSsR, Penerbit Mariam Center, 2007.

  • Intisari Pidato Bupati Dogiyai pada Acara Pengambilan Sumpah dan Janji Anggota DPRD Kabupaten Dogiyai Periode Tahun 2019-2024, Kamis 23 Januari 2020

    Intisari Pidato Bupati Dogiyai pada Acara Pengambilan Sumpah dan Janji Anggota DPRD Kabupaten Dogiyai Periode Tahun 2019-2024, Kamis 23 Januari 2020

    Dalam acara Pengambilan Sumpah dan Janji/Pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Dogiyai, pada hari Kamis, 23 Januari 2020, Bupati Dogiyai  atas nama masyarakat dan pemerintah Kabupaten Dogiyai menyampaikan pidato lisan, dengan intisari pidatonya sebagai berikut:

    • Permohonan maaf atas keterlambatan Pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Dogiyai yang disebabkan oleh lambatnya proses penerbitan SK oleh Pemerintah Provinsi Papua. Tetapi hal itu jangan dijadikan polemik, sebab sekalipun pelantikannya lambat dilakukan tetapi masa jabatan anggota DPRD tetap genap lima tahun dan tidak ada pengurangan waktu masa jabatan. Sekarang semua pihak fokus untuk melaksanakan proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai kedepan.
    • Atas nama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Dogiyai, Bupati Dogiyai menyampaikan selamat kepada para anggota DPRD Kabupaten Dogiyai yang telah dilantik. Selamat menjadi menjadi pejabat Negara dan pelayan rakyat Kabupaten Dogiyai.
    • Esensi maksud dan tujuan bernegara dan berpemerintahan adalah membangun dan menciptakan hidup yang lebih baik dan lebih benar, yang ditandai dengan adanya perubahan hidup (buruk ke baik, salah  ke benar) dan pertumbuhan (terus berkembang baik secara kualitatif maupun kuantitatif). Pemerintah Kabupaten Dogiyai, DPRD Kabupaten Dogiyai dan pihak lainnya berkewajiban untuk melaksanakan proses pembangunan itu dalam hidup bernegara dan berpemerintahan.
    • Secara teoritis, negara dan pemerintahan modern dalam hal berdemokrasi merupakan implementasi dari teori Trias Politica, yang dikembangkan oleh John Locke (ilmuwan Inggris) dan Montesquieu (ilmuan Prancis), yang membagi kekuasaan dalam pemerintahan dalam bentuk Legislatif, Eksekutif, Yudikatif. Di negara barat, seperti Amerika Serikat dan lainnya kekuasaan ini dijalankan secara “terpisah” (pemisahan kekuasaan), tetapi di Indonesia kekuasaan antar ketiga unsur dijalankan  secara “berbagi” (pembagian kekuasaan). Dalam pembagian kekuasaan, memungkinkan terjadinya proses “kerja sama” antara unsur penyelenggaraan kekuasaan. Untuk menjalankan kekuasaan Legislatif itulah perlu dilaksanakannya PEMILU sebagai sarana memilih penguasa legislatif, yang di Kabupaten Dogiyai adalah DPRD Kabupaten Dogiyai.
    • Masalah-masalah yang terjadi di Kabupaten Dogiyai antara lain adalah sistem dan pelayanan pemeritahan yang buruk; pengelolaan keuangan daerah yang tidak sehat; SDM, kesehatan, dan ekononomi yang rendah; pengangguran yang tinggi (maunya jadi PNS/Honorer, tidak mau bertani/beternak dan profesi lainnya); penyakit sosial (kenakalan remaja, perjudian, prostitusi, pencurian, dan lainnya); gangguan KAMTIBMAS; ketergantungan kepada pemerintah yang sangat tinggi; keterbatasan insfrastruktur, dan berbagai masalah lainnya. Anggota DPRD Kabupaten Dogiyai telah dilantik di tengah masalah-masalah itu, untuk menghadapi masalah-masalah itu, dan untuk terlibat dalam proses penyelesaian masalah-masalah itu.
    • Untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan di Kabupaten Dogiya, maka Pemerintah Kabupaten Dogiyai telah menetapkan visi Dogiyai Bahagia dengan 10 misi. Visi dan misi ini kemudian telah dirumuskan dalam RPJMD Kabupaten Dogiyai 2018-2022. Ini merupakan RPJMD pertama dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Dogiyai dan merupakan RPJMD pertama di Provinsi Papua yang dibuat dengan berpedoman pada Permendagri 86/2017. RPJMD Kabupaten Dogiyai ini telah menjadi “model” atau “contoh” bagi pembuatan RPJMD Kabupaten/Kota lainnya di Papua dengan berpedoman pada Permendagri 86/2017.
    • Proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat yang telah dilaksanakan di Kabupaten Dogiyai dalam dua tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati telah menghasilkan sejumlah keberhasilan, perkembangan, dan kemajuan, misalnya tingkat kinerja penyelenggaraan Pemerintah meningkat drastis; pengelolaan keuangan menjadi lebih sehat (mendapat opini WDP, padahal selama 10 tahun Kabupaten Dogiyai selalu mendapat opini disclaimer); meningkatnya SDM aparatur penyelenggara pemerintahan; pembangunan insfrasruktur meningkat tajam; pembangunan di bidang keagamaan meningkat tajam (misalnya, memfasilitasi pembangunan gedung rumah ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya), kedisiplinan pegawai meningkat; pemberdayaan masyarakat (dengan pemberian pelatihan dan permodalan); Kabupaten Dogiyai mulai dikenal dikenal luas; dan banyak keberhasilan lainnya yang bisa diraih hanya dalam dua tahun.
    • Sekalipun mulai ada keberhasilan pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat Kabupaten Dogiyai, masih ada kelemahan yang menghambat proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat, misalnya rendahnya rasa cinta pembangunan; perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan masih berorientasi uang atau mengejar keuntungan pribadi; pejabat, Pegawai ASN dan masyarakat terpecah-belah atas dasar kewilayahan, keagamaan, kepentingan politik, dan lainnya; masih banyaknya kelompok sakit hati dan iri hati yang menjadi provokator dalam hidup berpemerintahan dan bermasyarakat; tingginya ketergantungan masyarakat kepada pemerintah (Bupati) termasuk dalam hal-hal yang sepele; pelayanan pemerintahan Kampung dan Distrik lemah; masih punya pola pikir yang salah tentang pembangunan; dan lainnya. Masalah-masalah inilah yang menjadi penghambat pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai. Jika hal-hal ini masih ada dan terus dilestarikan, maka proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai tidak akan berjalan dengan baik. Karena itu, kelemahan-kelemahan ini harus dibenahi secara bersama-sama.
    • Perlu disadari oleh semua pihak, termasuk oleh anggota DPRD bahwa pembangunan merupakan sebuah proses panjang, bukan hasil instan yang dinikmati seketika. Sebagai seburh proses, pembangunan membutuhkan waktu; pikiran cerdas; kerja cerdas dalam seluruh proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi; dan perlu persatuan dan kebersamaan Pemerintah, DPRD, masyarakat, dan semua pihak. Yang terpenting adalah semua pihak harus terlibat secara aktif dalam seluruh proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat, karena kebersamaan dan keterlibatan aktif itulah yang akan menentukan hasil akhir dari setiap proses pembangunan.
    • Tentu saja pada akhirnya seluruh proses pembangunan akan diukur keberhasilannya. Ada tiga hal pokok yang harus menjadi tolok ukurnya: (1) bagaimana proses pelayanan pemerintahan membuahkan keadilan dalam masyarakat; (2) bagaimana proses pemberdayaan telah mendorong dan menghasilkan kemandirian masyarakat; dan bagaimana proses pembangunan menciptakan kemakmuran dalam masyarakat. Penilaian semacam ini perlu dilakukan secara berkala dalam kurun waktu tertentu atas pelaksanaan visi, misi, program dan kegiatan pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai.
    • DPRD Kabupaten Dogiyai sesungguhnya merupakan wakil rakyat/sahabat rakyat dan mitra kerja pemerintah (eksekutif). Dalam kapasitas sebagai itu, Anggota DPRD diharapkan untuk  memahami dan melaksanakan tugas dan fungsinya (legislasi/PERDA, anggaran, pengawasan) dengan baik dan benar; berdisiplin dalam bekerja (terutama rajin masuk kantor); kalau boleh menetap/punya rumah di Kabupaten Dogiyai; dan menjaga nama baik pribadi dan wibawa pemerintahan. Hal-hal inilah yang mendorong anggota DPRD untuk berhasil melaksanakan tugasnya dalam lima tahun kedepan. Ini merupakan harapan dari Bupati dan semua masyarakat Kabupaten Dogiyai.
    • Sekretariat DPRD Kabupaten Dogiyai wajib melaksanakan tugas pelayanan administrasi dan keuangan kepada Anggota DPRD dengan baik dan benar; sebagai Pegawai ASN dilarang berpolitik; menyusun program dan kegiatan yang relevan dalam mendukung tugas dan fungsi DPRD; dan wajib berdisiplin dalam kerja. Kepada Pegawai ASN di SETWAN yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik akan diberikan sanksi yang tegas.
    • Setelah pelantikan, anggota DPRD akan langsung bekerja. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bekerja adalah: bekerja dengan menjaga etika berpemerintahan; boleh menyampaikan kritik tetapi harus rasional dan obyektif, tetapi jangan memfitnah dan menyebarkan berita bohong; berkoordinasi dengan berbagai pihak sebagai mitra kerja; dan hidup dan bekerja dengan pedoman pada nilai-nilai hidup orang Mee: ipa akaga, maa akaga, ibo akayaiki/ibo akate, akaapa/ide akaga, enaimo (wegai, ekowai, wudi, nai).
    • Karena Anggota DPRD adalah “wakil rakyat”, maka rakyat Kabupaten Dogiyai mempunyai hak untuk mengawasi DPRD dan memberikan aspirasi, kritik dan saran kepada DPRD. Rakyat Kabupaten Dogiyai harus aktif melaksanakan haknya ini.
    • Terimakasih kepada Ketua Pengadilan Negeri Nabire yang melantik anggota DPRD; terimakasih kepada semua tamu  undangan yang telah menghadiri acara pelantikan; dan semua pihak yang telah mempersiapkan, menghadiri dan mensukseskan pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Dogiyai.
    • Semoga anggota DPRD Kabupaten Dogiyai membawa dan menyumbangkan pikiran dan perbuatan yang positif dan produktif untuk melayani masyarakat dan membangun Kabupaten Dogiyai. Selamat bekerja dan selamat melayani rakyat Kabupaten Dogiyai. Marilah kita mewujudkan DOGIYAI BAHAGIA dengan hidup dan berkarya untuk memuliakan Tuhan, menghormati sesama manusia, dan menghargai alam semesta.

    Bupati Dogiyai,

    YAKOBUS DUMUPA, S.IP

  • Kehormatan Memberi Kewajiban

    Kehormatan Memberi Kewajiban

    Oleh Albino Luciani*

    Kepada Goethe

    Penyair yang sangat saya hormati.

    Festival film terakhir, yang sudah mendapat pujian sampai ke tingkat yang tingi-tinggi, saya tidak tahu bagaimana, mengingatkan saya akan Anda. Mungkin disebabkan oleh kesan-kesan yang timbul dari bawah sadarku. Ketika membaca tulisan-tulisan dalam surat-surat kabar pada waktu itu, saya harus berpikir tentang Anda, tentang para pencinta keindahan, para seniman dan para kritikus bidang kesenian. Anda adalah pencinta ulung keindahan, yang sanggup secara mendalam dan dengan hati yang luas mengangkat “keindahan alamiah” yang tersebar di seluruh jagad, mulai dari peristiwa-peristiwa alam sampai kepada gejolak nafsu hati seorang manusia. Anda adalah seniman yang besar, yang sanggup menyajikan dengan penuh wibawa kepada orang-orang lain, bukan saja keindahan yang dilihat melainkan juga suasana batin dengan mana Anda sendiri menyaksikannya. Anda adalah seorang kritikus yang hebat di bidang kesenian, sebab dengan pengetahuan tentang persoalannya dan dengan penuh semangat Anda menghadapi karya-karya seni orang lain.

    Bukankah negeri Jerman mengagumi Anda sebagai direktur teater banyak tahun lamanya di Weimar? Bukankah Anda menamai peristiwa itu suatu kelahiran Anda kedua, ketika Anda menginjakan kaki di Roma yang antik itu? Bukankah Anda nyaris jatuh pingsan karena sedemikian merasa bahagia pada menyaksikan patung Apolo di Belvedere? Sayang bahwa Anda tidak menonton film mengenai festival itu – dan dengan demikian saya pun sudah mengetahui reaksi Anda. Karena itu saya hanya bisa membayangkan saja. Sebagai pencinta keindahan Anda sebenarnya sudah menemukan banyak hal-hal yang lebih indah, yang Anda belum kenal.

    Film itu sendiri yang terdiri dari tata cahaya, gerak, warna-warni, musik dan perbuatan, adalah sesuatu yang indah. Anda duduk menghadapi layar putih, dan kalau montase film itu dibuat dengan baik, maka Anda akan terseret sedemikian rupa oleh peristiwa-peristiwa, sehingga rasanya jam-jam sebagai menit-menit saja. Gambar-gambar yang besar, yang memenuhi layar dengan satu wajah manusia saja, mendekatkan Anda kepada gambar-gambar itu secara amat memukau; manusia-manusia yang hatinya digugah oleh perasaan-perasaan yang mendalam. Antara Anda dan para sutradara timbul suatu hubungan yang akrab. Bagian-bagian yang singkat yang Anda kagumi pada Mantegna dan Carveggio, dapat Anda saksikan berkat teknik pengambilan yang memperbesar dengan ukuran raksasa. Misalnya seseorang penjahat diambil gambarnya dari bawah dan dengan bantuan baying-bayang dari sisi kiri bentuk badannya dibikin begitu jelek, sehingga Anda merasa ngeri dan takut melihatnya. Ini saja untuk menunjukkana kepada Anda beberapa unsurnya.

    Entah pada menyaksikan sebuah film Anda juga menemukan ‘keindahan seni’? Saya kira begitu. Sebagai seorang kritikus karya seni Anda pasti siap menghadapi hal-hal yang menakjubkan. Anda sudah biasa dengan dengan renungan-renungan yang menembus lebih jauh dari pada latar depan, juga dengan kecenderungan-kecenderungan klasik, dengan suatu bahasa yang berbicara kepada Anda dari dalam karya-karya bangunan, dari karya-karya marmer dan fresko atau dari miniature-miniatur karya tulisan. Anda memberikan pertimbangan mengenai masing-masingnya, ahli bangunan, pelukis, pelakon. Sebaliknya dalam sebuah film beberapa senimsn bekerjasama: produsen, penata pentas, sutradara, pelakon. Tiap-tiapnya bekerja sesuai dan bersama dengan yang lain, untuk membuat hanya satu film. Dengan demikian sulitlah mengetahui momen kreatif yang sebenarnya di dalam karya itu: pada tiap film hal itu terletak pada suatu bidang yang lain. Boleh jadi ada nilai seni di dalamnya, saya ulangi, mungkin nilai seni yang tinggi sekali, namun hal itu tidak dapat ditangkap pada salahsatu segi, melainkan tersebar dan terpencardi seluruh bidang. Jadi suatu karya seni yang lain dari yang lain; orang menamakannya ‘dewi seni kesepuluh’.

    Mengenai pengaruhnya, orang menyebutnya sebagai ‘kekuatan kelima’, sesudah parlemen, pemerintah, kekuasaan dan pers. Sehubungan dengan penyebarannya, orang sering menyebutnya sebagai ‘kekuatan pertama’, karena orang memperhitungkan bahwa sesudah beberapa tahun ada film-film yang sudah mempengaruhi penonton yang bermilyar-milyar jumlahnya. Sebaliknya dari pihak lain film ditujukan kepada industri dan perdagangan, jadi kepada uang. Para sutradara dan pelakon sering menginginkan produksi dari karya-karya yang bertaraf seni yang tinggi, yang memberikan kemungkinan kepada mereka, untuk mempertahankan kebolehan mereka. Akan tetapi sang produsen, yang harus mengambil uang dari padanya, mempunyai perhitungan lain. Ia menghendaki film-film yang membawa hasil dan mengisi kas. Andaikata ada seorang seniman gila misalnya Doktor Faust atau bahkan Mephisto dari karya Anda, yang dengan perantaraan Antipe dengan tongkat sulap menjamin lebih dahulu sukses dari film yang bermutu karya seni, maka sang produsen akan membuat film yang bermutu seni, karena tak ada seniman gila itu maka sang produsen dengan susah payah harus mencari jalan lain.

    Pada waktu hidupnya Terens harus menelan kepahitan, ketika ia melihat para penonton meninggalkannya dan pergi menonton pemain-pemain yang berjalan di atas tali dan pemain-pemain sandiwara yang memberikan pertunjukan dalam sebuah teater tidak jauh dari situ. Gejala ini sekarang berulang lagi: para produsen film cenderung untuk membuat fil-film yang disesuaikan dengan cita rasa yang kurang luhur para penonton. Sebab biasanya mereka tidak mengunjungi kino, untuk menambah pegetahuannya, melainkan untuk bersantai. Jadi kiranya inilah sesuatu yang dapat menimbulkan rasa prihatin pada kritikus kesenian seorang Goethe dalam festival film: yakni kenyataan bahwa walaupun tersedia sarana dan personil untuk menciptakan karya-karya seni yang ulung, namun mereka sering hanya mempertunjukan hasil yang sedang-sedang saja, oleh karena orang mementingkan keuntungan-keuntungan bagi perusahan.

    Sesuatu yang lain lagi kiranya dapat Anda ketemukan: bahwa pada beberapa film memang terdapat nilai kesenian sejati, akan tetapi toh berhubungan dengan soal-soal tak susila. Barangkali Anda heran kalau saya berbicara mengenai karya-karya yan bersifat tak susila dan sekaligus bernilai seni. Kata ajektif ‘bersifat seni’ dihubungkan dengan karya itu sendiri, sedangkan kata adjektif ‘tak susila’ mengenai hubungan antara manusia-seniman dan seniman-kristen. Beberapa novel tertentu yang bersifat tak susila dari Boccacio memang bernilai seni sastra yang indah, tapi Boccacio sendiri berlaku buruk secara moril, ketika ia menulis buku-buku itu, sehingga berakibat merugikan banyak pembaca. Anda kenal beberapa di antaranya, sebab ketika Anda menulis Leiden des jungen Wether, Anda merasa gelisah dan kacau menghadapi akibat negatif yang ditimbulkan oleh buku itu pada para remaja Jerman dalam gejolak semangatnya.

    Tapi, mengapa saya bisa hanya mengkritik seorang Goethe, yang menulis mengenai satu dari antara para pengeritiknya: “Sebagaimana halnya tiap mawar, demikianpun setiap seniman mempunyai serangga: saya punya Tieck”. Baik, kalau begitu kini Anda telah menulis juga tentang saya, yang walaupun mengagumi keunggulan Anda. Misalnya begini: oleh karena bidang kesenian meliputi seluruh alam yang nyata, maka seorang seniman dapat secara sah dan bebas menceritakan semuanya, menjelaskan semuanya, termasuk hal-hal yang tak senonoh. Tentu saja sang seniman dapat memperlihatkan juga hal-hal yang buruk, akan tetapi atas cara sedemikian rupa, sehingga orang mengenal yang buruk itu sebagai sesuatu yang patut dihindarkan. Hal itu janganlah diperindah ataupun jangan sampai menggoda orang lain untuk menirunya. Tema sentral dalam buku Sophekles Raja Oedipus ialah zinah. Tetapi perbuatan itu dibeberkan secara kasar dengan kata-kata yang jelas, sehingga dari mula sampai akhir nampak jelas rasa muak. Hukuman-hukuman bagi orang-orang yang bersalah dilukiskan secara mengerikan, sehingga pada akhirnya para pembaca lebih terpikat oleh perbuatan zinah itu daripada oleh hal-hal lain. Saya katakana: ‘dari mula sampai akhir’. Sebab ada saudara-saudara dan kritikus-kritikus yang berpendapat, bahwa dengan satu catatan dari segi moral atau dengan satu aksen penutup orang dapat meloloskan sebuah film porno. Seolah-olah dengan satu semprotan air suci orang mengusir roh-roh jahat atau perbuatan guna-guna. Kiranya inilah yang masih kurang pada kita!

    Foto Johann Wolfgang von Goethe

    Satu pendapat Anda yang lain tidak dapat saya setujui: bahwa seorang genius itu hampir seperti dewa. Jadi satu tokoh bintang yang berada di atas moral umum. Anda telah mengungkapkan pemikiran ini terutama pada jaman ketika Anda belajar bersama nyonya von Stein Spinoza dan mencari Allah di di dalam alam jagat. Anda mengira, bila seorang cendikiawan terus-menerus nengangkat dirinya dengan dibantu oleh kebudayaannya maka dia dapat di telan sedikit demi sedikit oleh Allah, dan akhirnya bersatu dengan-Nya dan dengan demikian menjadi tuan atas dirinya sendiri. Dewasa ini tidak sedikit orang yang menganut gagasan ini, sekurang-kurangnya dalam praktek. Sayang! Tujuan yang luhur dan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa pada manusia berlaku untuk tiap manusia, juga bagi yang miskin, yang bodoh dan yang menderita. Allah menghendaki agar semua orang menjadi anak-anakn-Nya, dan agar mereka semua dengan salah satu cara mencapai tujuan yang sama dengan Dia. Akan tetapi yang menjadi persoalan manusia harus meningkatkan diri dengan bantuan Allah dengan mengindahkan hukum-hukum-Nya yang wajib ditaati semua orang yang besar dan kecil, juga para seniman. Anda sendiri sebagai penyair yang ulung, para seniman yang diwakili dalam festival oleh karya-karya mereka, dan kami, orang-orang kecil di pinggir-pinggir jalan, yang kurang berbakat. Dalam pandangan ini kita semua sama rata di hadapan Allah. Jadi jika seseorang memeperoleh anugerah keahlian di bidang kesenian, atau anugerah kemasyhuran atau kekayaan, maka ia semaikn mempunyai kewajiban untuk berterimakasih kepada Allah oleh suatu cara hidup yang layak. Untuk digolongkan bersama orang-orang besar, ada;ah suatu anugerah Allah. Hal itu hendaknya tidak menjadi alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri, melainkan mengajaknya untuk berlaku sederhana dan berbudi baik. Sekali lagi: Noblesse obdige! Kehormatan adalah kewajiban.

    *Albino Luciani, adalah Paus Yohanes Paulus I, hanya 34 hari saja beliau memangku jabatan pimpinan tertinggi Gereja Katolik. Pada tanggal 25 September 1978 seluruh dunia dikejutkan oleh berita duka cita dari Vatikan bahwa Paus Yohanes Paulus I telah tutup usia secara mendadak. Artikel di atas, “Kehormatan Memberi Kewajiban” adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Albino Luciani kepada Goethe, yang dibukukan dalam buku berjudul Illustrissimi (Kepada yang Terhormat). Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh P. Alex Beding, SVD, dengan judul Kepada yang Terhormat, 1982, Penerbit Nusa Indah, Ende-Flores.