Blog

  • BERITA, CERITA, BERITA – untuk setengah abad umur Majalah “Tempo”

    BERITA, CERITA, BERITA – untuk setengah abad umur Majalah “Tempo”

     

    Oleh Goenawan  Mohamad

    PADA suatu siang, 50 tahun yang lalu di gedung tua di Senen Raya 83, ketika kami menyiapkan nomor pertama Majalah Tempo, saya dengar seseorang bergumam: “Majalah ini hanya akan berumur tiga bulan.”

    Saya kaget, sedikit. Yang bersuara adalah  B, salah seorang  anggota tim yang disiapkan mengelola administrasi majalah baru nanti. Tapi saya pura-pura tak mendengar.

    “Jangan-jangan dia betul”, kemudian  saya ceritakan pesismisme itu kepada T, seorang teman.

    “Tenang saja”, jawab T. “Mungkin  tiga bulan lagi Tempo  bubar, tapi kalian  sudah membuat sejarah.”

    “Jangan-jangan kau  betul,” kata saya, sedikit terhibur.

    Setengah abad kemudian, ternyata B salah dan  T bisa saya katakan betul.  Tempo membuat sejarah karena pada dasarnya  ia muncul secara baru dan  separuh nekad.

     

    ****

     

    Tempo lahir dan mengubah corak majalah. Sebelumnuya, sebuah berkala mingguan adalah sejenis toko-serba-ada.

    Star Weekly, misalnya, yang terbit di Jakarta sebelum dibreidel Presiden Sukarno di tahun 1960, bisa memuat uraian panjang tentang filsafat sejarah Arnold Toynbee, tapi juga cerita bergambar tentang pendekar Sie Djin Kui;  ada ulasan peristiwa internasional tentang konflik Terusan Suez,  tapi ada juga   resep membuat ketupat-tahu ala Magelang. Majalah Panyebar Semangat, yang terbit di Surabaya  dalam bahasa Jawa juga demikian:   ada  laporan dari daerah-daerah (rubrik Njajah desa milang kori), ada juga  komik lucu “Mas Klombrot” dan cerita detektif gubahan Any Asmara yang  jagoannya bergelar “raden mas”.

    Tempo sama sekali di luar model toko-serba-ada itu. Isinya hanya   “berita”. Tak ada rubrik dapur, teka-teki silang, atau cerpen. Kalaupun ada rubrik “Agama”, yang ditulis di sana bukan khotbah, melainkan  berita tentang, misalnya, malapetaka di musim haji di Arab Saudi. “Kesehatan” tak memuat petunjuk mencegah asam urat, melainkan tentang kabar berhentinya wabah cacar di dunia.

    Waktu kami mulai bekerja, kami tak tahu adakah pembaca akan tertarik dengan cara baru menyampaikan informasi itu.  Tempo disiapkan  tanpa didahului survei. Ia meloncat di dalam gelap.

    Mungkin itu yang dimaksud T sebagai “membuat sejarah”.  Tempo sebuah inovasi. Dalam arti tertentu: eksentrik.

     

    ***

     

    Tapi tak benar Tempo lahir begitu saja dari kepala saya dan teman-teman.  Jauh sebelumnya, di tahun 1933, di  Amerika Henry Luce menciptakan majalah Time.  Mingguan ini begitu berhasil hingga jadi model bagi majalah lain: Newsweek di Amerika,  L’Express di Prancis, Der Spiegel di Jerman.

    Time juga model bagi Tempo: ia memperkenalkan berita sebagai cerita dan membuat informasi sebagai stimuli.  Saya tertarik  “filsafat” ini: pembaca tak cuma dianggap kantong plastik yang akan dijejali data, fakta, angka. Pembaca diajak bertualang dalam kejadian.

    Perjalanan tualang itu berlangsung di dalam dan melalui bahasa.

    Bahasa bukan hanya mengisahkan dunia, ia  juga membentuk dunia. Tak selalu gampang. Sebab sering bahasa punya  hubungan  dengan sesuatu yang tak selamanya nyaman: kekuasaan.  Sejak akhir 1950-an, bahasa Indonesia berubah. Ia hanya berperan   dengan  satu pola, jadi bahasa politik yang dikuasai doktrin.  Ia bukan lagi bahasa yang hidup dari percakapan yang leluasa. Ia  sulit jadi bahasa yang kontemplatif, atau kocak, atau  bermain-main,  penuh hal yang tak terduga.

    Sejak Bung Karno meletakkan Indonesia di bawah “demokrasi terpimpin”,  bahasa  didominasi kata-kata yang diringkas, diulang bersama-sama, tanpa difikirkan.  Slogan dan singkatan bergemuruh:  “Manipol”, “Usdek”, “nekolim”, “kontrev”, dan seterusnya.  Makna kata-kata tak lagi diuraikan. Orang tak lagi diberi kesempatan menelaah, bahwa “Manipol” berasal dari  “manifesto politik”, dan kita tak dirangsang untuk menilai  isi manifesto itu.  Kata “Usdek” sebenarnya ringkasan serangkaian kebijakan Negara, (melaksanakan Undang-undang Dasar 1945, demokrasi terpimpin, ekonomi terpimpin, kebudayaan nsional),  tapi kemudian ia jadi  kata  tersendiri yang diucapkan secara otomatis. Orang   dihimpun untuk dijejali doktrin Negara, yang dirumuskan dalam “Tubapi” —“Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi”.

    Indoktrinasi adalah alat yang efektif untuk mengendalikan pikiran. Ia disampaikan dengan sejumlah slogan yang bertubi-tubi — dan membuat orang gentar, atau merasa bersalah, untuk membantah.  Hitler dan Stalin mengukuhkan kekuasaan mereka dengan mengedarkan  sebuah bahasa dengan kata yang  diringkas jadi akronim dan dikumandangkan: “Gestapo” dan “Stalag”,  “Politbiro” dan “Proletkult”.

    Ketika “demokrasi terpimpin” diganti dengan kekerasan  oleh “Orde Baru”, sifat “terpimpin”-nya dilanjutkan dengan lebih brutal. Slogan dan akronim ala Bung Karno (dan PKI) ditiadakan, tapi bahasa berubah jadi bahasa kekuasaan yang otoriter dan birokratik.  Akronim yang baru beredar:  “kopkamtib”, “Gestapu”, “dikbud”, “rapim” — umumnya melanjutkan akronimisasi yang dipakai dokumen militer.

    Saya melihat bedanya dari akronim “demokrasi terpimpin.” Bahasa “demokrasi terpimpin” dibuat untuk mobiliasi massa. Sebagai bagian  propaganda, ia sangat komunikatif: kata-kata kuncinya mudah dihafal dan punya efek emotif.

    Sebaliknya akronim birokratik “Orde Baru”. Seperti  komunikasi militer,  fungsinya membuat pesan yang efien dan efektif — dan tak untuk difahami  massa.

    Tapi  kedua-duanya adalah bahasa-kekuasaan yang memiskinkan pikiran.  Ketika kata diringkas untuk hanya diulang — dan  tak pernah diproses dalam pikiran kita dengan pelbagai alternatif — pikiran tak punya banyak lorong buat menjelajah.   Ketika kata “Manifes Kebudayaan” disingkat jadi “manikebu” dan disebar berkali-kali, orang lupa bahwa di situ ada kata “manifes” dan “kebudayaan”— dua pengertian yang memerlukan pemikiran. Demikian juga kata “Gestapu”:  kita  tak peduli lagi bahwa dalam akronim itu ada kata “gerakan”, dan kita tak berfikir lagi bagaimana  “gerakan” terjadi dan mengapa. Yang disasar:  efek psikologis. “Gestapu” dipakai agar mengerikan, seperti kata “Gestapo”— polisi rahasia — dalam kosa kota Nazi Jerman.  Bahasa diperkeras dengan dibekukan.

    Tempo terbit dengan memilih bahasa yang melawan  pembekuan itu.  Kami memproduksi berita-sebagai-cerita.

    Di koran harian dan buletin, berita adalah berita-lugas, straight news. Di sana fakta — nama, waktu, tempat, bagaimana terjadi, mengapa — disebutkan dengan urutan  yang pasti. Sebaliknya dalam  Tempo, meskipun fakta tetap dimuliakan, mereka  tak disusun dengan formula.

    Tiap kali dikemukakan  secara baru. Pendapat klise disingkirkan, kata klise dibuang.  Tempo meniadakan frase, “dalam rangka…”, yang selalu dipakai dalam laporan pejabat. Bahasa pun dikembangkan variasinya.  Kami mengoptimalkan sinonim.  Kata “santai” diperkenalkan buat mendampingi “rileks”; saya mendapatkannya dari bahasa Komering, usulan Bur Rasuanto, waktu itu wakil pemimpin redaksi.  Putu Wijaya, redaktur musik dan teater, menyebarkan istilah “dangdut”. Ada juga kata cas-cis-cus:  pemakaian bahasa Inggris  dalam percakapan sehari-hari.

    Bahasa yang miskin dalam sinonim adalah bahasa yang menghilangkan pilihan untuk berbeda dan beragam dalam berpikir  — seperti ketika kini

    orang hanya  memakai kata “milad” dan tak boleh “hari lahir”, “shalat” dan tak boleh memakai kata “sembahyang”.

     

    ****

     

    Dalam berita-sebagai-cerita, membosankan adalah dosa seorang penulis.

    Seperti dongeng 1001 malam, tiap cerita harus memikat. Akan sempurna jika frase yang cerdas dan kocak muncul dari awal sampai akhir. Kisah  dibangun dengan membuka  saat-saat bercanda.

    Tentu saja isi cerita harus unik dan penting diketahaui. Tempo menyusun  seperangkat kriteria untuk itu. Pembuka cerita, lead, harus memancing,  bukan itu-lagi-itu-lagi.  Penutup cerita tak berpetuah.  Mengikuti gaya  novel yang baik, berita-sebagai-cerita harus mengandung suspens dan konflik.

    Untuk itu, dibutuhkan bukan hanya ketrampilan menulis, tapi juga sikap kreatif, terbuka,  merdeka, kritis— dan dengan rasa humor.  Salah satu semboyan Tempo yang jarang diketahui adalah  “Jujur, Jelas, Jernih — Jenaka pun bisa”.  Kita tahu, kejujuran, kejelasan, dan kejernihan sangat penting dalam komunikasi, tapi orang sering lupa  “jenaka”.

    “Jenaka”, disengaja atau tidak,  sebuah penangkal. Ia bisa melucuti fanatisme, mengendurkan permusuhan, menjangkau hati orang lain. Ia anti memuliakan hierarki.

    Ini bukan sekedar persoalan teknik. Dalam berita-sebagai-cerita, seperti sudah saya sebut di atas,  ada  undangan buat pembaca— yang tak diperlakukan sebagai kantong plastik — untuk ikut masuk dalam proses narasi.

    Maka tokoh cerita hadir:  ia diperkenalkan  bukan cuma sebagai nama dan asal-usul.  Tinggi atau pendek tubuhnya, cara duduk dan jalannya, pilihan pakaiannya — semua perlu digambarkan.  Bahkan juga suasana ruang dan waktu selama kejadian.  Sosok itu kongkrit. Manusia yang jadi berita bukan sekedar kasus, juga bukan cuma penyampai pendapat.  Ia punya sejarah, ia bisa merasakan nikmat dan sakit.

    Ada yang mengatakan jurnalisme Tempo  “jurnalisme sastra”.  Saya kira label itu tak ada gunanya.  Ada lagi yang mengatakan, jurnalisme itu jurnalisme “interpretative”, jurnalisme dengan tafsir. Saya lebih suka tak menamainya.

    Yang penting, Tempo ingin menampilkan manusia dan peristiwa dalam konteks dan proses, dalam multi segi dan perubahan. Tak ada kisah yang final.  Kemungkinan selalu dibuka untuk versi yang berbeda dari apa yang kita ketahui. Maka bukan kebenaran obyektif yang hendak dicapai (dan akan sia-sia), melainkan kesediaan mendengar kebenaran dari orang yang berbeda. Jurnalisme ini jurnalisme dengan empati.

    Tempo mengupayakannya sejak setengah abad yang lalu.  Tak selalu berhasil, tapi rasanya tak bisa dihentikan.

     

    ———————————————————

    Sumber:  Majalah Tempo Edisi 8-14 Maret 2021

  • Soekarno, Pancasila, dan Sejarah Teks

    Soekarno, Pancasila, dan Sejarah Teks

     

    Oleh Ignas Kleden

    Istilah “sejarah teks” adalah terjemahan bebas oleh penulis untuk konsep hermeneutik yang lebih dikenal dalam versi bahasa Jerman sebagai Redaktionsgeschichte atau sejarah redaksi. Konsep ini menegaskan bahwa setiap teks yang diproduksi dalam kebudayaan selalu mempunyai semacam riwayat hidup berupa sejarah penyusunan, kodifikasi, perubahan, atau revisi redaksi dan mungkin juga otorisasi teks yang terjadi dari waktu ke waktu.

    Mengetahui sejarah redaksi ini merupakan sebuah prasyarat penting untuk menyimak makna teks itu dalam hubungan dengan konteks penciptaan atau penyusunannya karena sering terjadi pergantian atau pertukaran semantik, penambahan anotasi, penyisipan bagian-bagian baru dalam editing, perbaikan sintaksis atau modulasi stilistik, yang mengakibatkan pergeseran makna atau perubahan tekanan pada berbagai bagian teks itu.

    Sudah jelas Pancasila adalah sebuah teks utama untuk Indonesia. Dalam sejarah redaksinya, tanggal 1 Juni 1945 menjadi sebuah momen yang amat penting karena pada hari itu Pancasila dikemukakan kepada suatu publik politik untuk dipertimbangkan, diuraikan masing-masing silanya secara rinci, dan didemonstrasikan keseluruhannya sebagai suatu konfigurasi pemikiran yang utuh. Soekarno sebagai penggagas dan juru bicaranya pada waktu itu dengan tegas memberikan dua kualifikasi utama kepada Pancasila, yaitu kedudukannya sebagai dasar filsafat negara (philosophische grondslag) dan fungsinya sebagai suatu pandangan (tentang) dunia (Weltanschauung).

    Soekarno dalam pidato yang bersejarah itu menyamakan begitu saja dasar filsafat negara dan suatu pandangan dunia. Patut dicatat bahwa pandangan dunia, yaitu world view atau Weltanschauung diperlakukan dalam ilmu-ilmu sosial sebagai pokok kajian dan penelitian ilmu-ilmu budaya. Clifford Geertz, misalnya, melihat world view sebagai gagasan orang-orang dalam suatu kelompok budaya tentang dunia yang mereka hadapi dan hayati, berupa ikhtisar kompleksitas dunia itu dalam beberapa gambaran yang disederhanakan: apakah dunia itu pada dasarnya baik atau jahat, real atau maya, abadi atau sementara, merupakan tempat persinggahan sejenak atau tempat orang mengolah nasib dan membangun masa depannya. Sosiolog Jerman-Inggris, Karl Mannheim, berbicara tentang Weltanschauung eines Zeitalters atau pandangan dunia dalam suatu kurun waktu sejarah, jadi mirip dengan suatu semangat zaman atau Zeitgeist. Sementara itu, filosof Jerman, Karl Jaspers, berpendapat bahwa Weltanschauung tak lain dari suatu jenis filsafat (karena sifatnya yang menyeluruh dan tidak sektoral), tetapi tidak sekadar suatu filsafat yang spekulatif, tetapi filsafat yang efektif, suatu wirkende Philosophie, yang sanggup memberi harapan, kepercayaan, dan membangun komitmen.

    Apa pun soalnya, cukup jelas bahwa Soekarno, selama dua dasawarsa (sejak 1926 hingga 1945), berpikir keras tentang apa yang dapat mempersatukan berbagai kelompok suku di Indonesia menjadi suatu bangsa yang dapat menentukan nasibnya sendiri melalui sebuah negara merdeka. Apakah mungkin tercapai sebuah dasar tempat semua orang dapat berdiri bersama secara politik di atas suatu platform nasional?

    Sebagai aktivis politik yang berpengalaman, Soekarno memiliki perhatian yang tertuju pertama-tama pada suatu integrasi politik yang dapat mempertemukan dan mempersatukan berbagai kelompok politik pada watu itu. Dia tidak banyak berpikir tentang integrasi sosial atau integrasi budaya, yang kemudian menjadi pokok pemikiran tokoh-tokoh, seperti Ki Hadjar Dewantara atau Sutan Takdir Alisjahbana.

    Apa yang dicari oleh Soekarno adalah suatu tema yang cukup luas, tetapi cukup terpadu, tempat semua kelompok politik terpenting pada masa itu merasa terwakili asasnya, identitasnya, dan kepentingannya.

    Dalam istilah ilmu politik sekarang, Soekarno secara meyakinkan melakukan suatu agregasi kepentingan politik dan mengartikulasikannya dengan berhasil.

    Jelas sekali Soekarno harus memperhitungkan kelompok-kelompok agama, khususnya Islam, sebagai kelompok agama terbesar yang terwakili dalam NU dan Masjumi. Tanpa mencantumkan sila ke-Tuhan-an kelompok-kelompok agama sangat mungkin tidak tertarik mendukung negara yang akan didirikan. Atas cara yang sama tanpa mencantumkan sila kebangsaan golongan nasionalis yang mendapat kristalisasi politiknya dalam PNI barangkali akan tinggal apatis.

    Demokrasi dan kedaulatan rakyat jelas akan menarik perhatian kelompok politik yang menekankan kepentingan rakyat seperti MURBA dan para pejuang demokrasi, seperti Hatta dan para muridnya dalam PNI Baru. Demikian pula tanpa mengikutsertakan sila keadilan sosial, partai-partai politik berhaluan kiri tidak akan merasa terpanggil.

    Tak perlu diuraikan panjang lebar bahwa penghormatan kepada martabat manusia tidak bisa diabaikan karena hal tersebut merupakan isu yang dianggap menjadi tanda-kenal kaum inteligensia baru, khususnya kelompok politik yang mencita-citakan modernisme sebagaimana dapat diamati dalam subkultur PSI dan Masjumi misalnya. Jadi, berbeda dari Karl Mannheim, Soekarno tidak berbicara tentang pandangan dunia dari suatu kurun waktu, tetapi dari suatu tempat tertentu yang bernama Indonesia. Juga, berbeda dari Karl Jaspers, Soekarno tidak berbicara tentang filsafat tentang dunia (Weltanschauung), tetapi filsafat tentang kehidupan bersama dalam suatu negara. Dalam arti itu, Pancasila diusulkan sebagai pandangan hidup (Lebensanschauung) secara politik Apakah prinsip-prinsip Pancasila dipetik dari nilai-nilai dalam peradaban dunia atau digali dari kebudayaan-kebudayaan Nusantara adalah isu yang dimainkan dengan piawai oleh Soekarno sebagai teknik promosi dan persuasi terhadap pendengarnya, melalui retorika yang amat terpelajar dengan pengucapan yang gilang-gemilang.

    Dasar paling bawah (bottom line) pemikiran Soekarno adalah suatu gagasan yang dapat merepresentasikan identitas dan asas sebanyak mungkin kelompok politik, dan sekaligus dengan itu mengagregasikan kepentingan politik dalam spektrum seluas mungkin. Singkat kata, dari segi genealoginya, Pancasila terlahir sebagai suatu historico-political gentleman agreement, yaitu kesepakatan dari orang-orang dan kelompok-kelompok yang saling menghormati, meskipun mereka sadar ada banyak perkara di antara mereka yang tetap sulit dipertemukan. Kesepakatan itu harus dibuat agar dapat tercipta suatu landasan bagi konsensus nasional mengenai negara yang akan terbentuk.

    Kita bersyukur bahwa RI sudah terbentuk di atas landasan tersebut. Fondasi politik ini sampai kini masih membuat Indonesia sebuah rumah bagi semua orang yang turut membangunnya, dan ingin hidup tenteram di dalamnya. Semoga rumah ini tidak berubah menjadi transit house, sekadar tempat bermalam dan menaruh koper bagi orang-orang yang hendak bepergian entah ke mana.

    ———————————————————–

    Ignas Kleden, Sosiolog

    Sumber Tulisan: Kompas, 23 Juni 2007

  • Puisi-puisi Wendy Lim: – Sepasang Merpati – Cita Cinta – Mimpi dan Nasib – Catatan Cinta – Mata, Mulut dan Telinga – Perpustakaan –

     

    Sepasang Merpati

    Kamu menjadi merpati putih
    Ada bahasa yang gembira
    Sembunyi di bulu putih
    Seperti malu-malu
    Di ucapan rahasia

    Aku menjadi merpati hitam
    Ada riak yang acak
    Berbunyi di bulu hitam
    Seperti ragu-ragu
    Di hadapan bahaya

    Kita menjadi sepasang merpati
    Ada kosakata cinta
    Dalam sunyi hitam putih
    Seperti ulu hati
    Di kutipan aksara

    Seperti elu batin
    Di endapan asmara
    Lalu adu mata
    Di kecupan cahaya

    ————————————————————-

    Cita Cinta

    Karena ada rencana dan renjana
    Di sudut bibir kita berdua
    Aku mengemas kebahagiaan kita
    Ketika kita ciuman mesra
    Lalu menikmati liburan jiwa

    Karena ada kembara dan bara
    Di dalam mulut kita berdua
    Aku menempuh semangat kita
    Ketika kita bicara mesra
    Lalu berjuang untuk bersama

    Karena ada canda dan tanda
    Di hangat tangan kita berdua
    Aku sudah hafal bahasa kita
    Ketika kita gandengan mesra
    Lalu menjadi kamus cinta

    Karena ada setia dan sedia
    Di jantung hati kita berdua
    Aku tetap ingin leluasa
    Ketika kita bersama
    Lalu belajar menerima

    ———————————————————

    Mimpi dan Nasib

    Burung hantu berkukuk tiga kali
    tanda kita lelap dalam mimpi
    satu mimpi yang aku mau
    yaitu lelap di pangkuan hatimu

    Matahari memang sudah raib
    tanda kita terjebak dalam nasib
    satu nasib yang aku mau
    yaitu terjebak di labirin cintamu

    Gelap menebar indah seperti lagu
    tanda kita dewasa dalam pinta
    satu pinta yang aku mau
    yaitu dewasa di ranjang nikah kita

    ——————————————————————

    Catatan Cinta

    /1/
    Tarian angin
    Halusnya sayap cinta
    Mandi cahaya

    /2/
    Kecipak air
    Wangi pagi asmara
    Saling bercanda

    /3/
    Ciuman api
    Lilin kecil di mata
    Terangi jiwa

    ——————————————————————

    Mata, Mulut dan Telinga

    Aku dengan mataku yang padam
    Karena telah ditiup asing dunia
    Hingga mataku tidur dengan imaji ide
    Dan aku melihat dunia melalui mimpi

    Aku dengan mulutku yang setipis kertas
    Karena suaraku mengecil pada dunia bebas
    Hingga mulutku belajar bahasa sunyi
    Dan aku bisa bicara bebas dalam diri

    Aku dengan telingaku yang mencari frekuensi
    Karena bising dan penuh dengan distorsi dunia
    Hingga telingaku menangkap suatu suara
    Dan aku mendengar tangisan batinku sendiri

    —————————————————————–

    Perpustakaan

    Kamu telah menjadi perpustakaan bagi jiwaku
    Ketika aku mencari pemahaman diri yang tergeletak
    Di kolam mata yang luas dan wangi serat buku
    Dan lorong jiwa yang sehening nasib kertas
    Aku mau membaca rahasia ketenangan batin

    —————————————————————————————————

     

    Tentang Penulis

    Wendy Lim, lahir tanggal 10 Juni 1996 di Pontianak, adalah seorang mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2016 dengan jurusan S1 Sastra Indonesia. Pada tahun 2020 Wendy Lim kembali kuliah di Universitas Widya Dharma Pontianak dengan jurusan D3 Bahasa Inggris. Salah satu buku puisinya adalah Pilu Memilu Aku Berlagu yang diterbitkan Enggang Media pada akhir tahun 2021.

  • Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata:  – Dikau yang Dikandung tanpa Noda – Oh Bunda –

    Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata: – Dikau yang Dikandung tanpa Noda – Oh Bunda –

     

    DIKAU YANG DIKANDUNG TANPA NODA

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Rancangan Allah sejak awal mula
    Saat Hawa lama menjalin cinta
    Dengan ular tua bermata merah
    Berkepala tujuh bertanduk 10

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Untuk membawa hidup baru bagi manusia
    Setelah tumit Hawa dan Adam terpagut bisa
    Yang mendatangkan dosa dan menciptakan derita
    Kutukan kekal yang harus disemat kepada siapa saja

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Bersinar terang bagai bintang gemintang
    Di langit cerah tanpa sapuan awan
    Memantulkan sumber cahaya segala cahaya
    Membuat gelap bertekuk lutut tanpa daya

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Putih jiwamu bagai kapas..
    murni ragamu tak bercacat
    Bening rahimmu tiada bercak
    Tempat layak pilihan Bapa
    Tabernakel suci bagi sang Putra

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    kepadamu malaikat kudus berlutut memberi hormat
    Gemetar suara menyampaikan salam surga
    Memintamu menjawab ya atas tugas mulia
    Agar janji-janji Allah terlaksana segera

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Memilih menjadi hamba bagi Yang Mahakuasa
    Terselubung cinta kekal Roh mahamulia
    agar menjadi bunda bagi penebus dunia
    supaya Firduas baru tercipta lagi seperti sediakala

    Oh Maria Bunda Nirmala Demi Bapa
    Engkau membaktikan dirimu sepenuhnya
    Demi Putra
    Engkau menanggung segalanya
    Demi Roh Kudus
    Engkau memberi dirimu seutuhnya
    Demi kami yang dilanda lara
    Engkau mengingkari dunia fana

    Salam Maria Penuh rahmat
    Salam padamu bunda Sang Sabda
    Ulurkan tanganmu bagi kami
    yang menanti Penyelamat dunia
    Gandengkan kami anakmu untuk kokoh berdiri siaga
    Menghalau badai yang silih berganti di segala cuaca
    Agar tak jatuh terjerembab
    di masa suci yang penuh makna

    Salam Maria penuh rahmat
    Salam padamu ratu para malaikat
    Salam padamu ratu para rasul mulia
    Salam padamu ratu alam semesta
    Rindu jiwa kami berjalan bersamamu ke padang efrata
    Rindu hati kami mengalami kemilau cahaya
    saat putramu tiba
    Rindu mulut kami melantunkan kidung suci
    bagai para gembala
    Rindu diri kami tak bernoda seperti Dikau perawan nirmala
    saat Putramu sang Sabda menjelma menjadi manusia

    Salam Maria penuh rahmat
    Salam ya Bunda Tak bernoda
    Terpujilah Engkau karena Tuhan sertamu
    tuntunlah kami untuk menanti bersamu
    agar di kepenuhan waktu
    kami juga boleh merasakan Emanuel – Tuhan menyertai kami anak-anakmu

    Katedral St. Yoseph, 8 Desember 2021

    ————————————————————————-

    OH BUNDA

    Oh dikau Bunda tersuci
    Hari ini dikau kupuji
    Karena Dikau manusia sejati
    Yang dirancang Allah dengan sepenuh hati

    Dikau melahirkan sang Pencipta sejarah
    Melindunginya dengan jiwa yang pasrah
    Kendati sebilah tombak mengkilat terasah
    Dikau menerimanya dengan hati yang tabah

    Oh bunda kaum peziarah
    Rencana terindah dalam lintas sejarah
    Agar hidup kami terus terarah
    Meniti jalan menuju surga

    Di Nasareth batinmu bergolak
    Di Betelehem dikau ditolak
    Di Yerusalem dikau menyaksikan wajah yang galak
    Di golgota dikau mengalami serdadu yang palak

    Oh dikau bunda nirmala
    Demi kami kaum kelana
    Dikau rela berdukacita
    Agar pintu surga tetap terbuka

    Betapa engkau tak tega
    Melihat anak-anakmu yang merana
    Di lembah duka yang tiada tara
    Lembah hunian kami kaum kembara

    Oh bunda termulia
    Demi kami anak-anakmu yang fana
    Merona hatimu begitu semerbak
    Walau harus tertusuk tombakKarena tak tega engkau melihat kami
    Kami yang terus meratap dalam suara lirih
    Tak rela engkau mendengar rintihan kami
    Rintihan duka dari hati yang sepih

    Oh Bunda Pembantu Abadi
    Hamba Allah yang patut kupuji
    Karena Dikau memiliki jiwa yang sunyi
    Melaksanakan titah Bapa dengan sepenuh hati

    Tak pernah mulutmu berkata tolak
    Walau hatimu tertikam tombak
    Tak pernah hatimu keras membeku
    Walau jiwamu tertambat paku

    Oh bunda tak bercela
    Selubungi anakmu dengan busana surga
    Bersitkan sinar bintangmu dalam kembara
    Agar lapang jalan kami menuju surga

    Karena di lembah dunia yang penuh duka
    Sering kami terjatuh saat digoda
    Membuat jalan surga menjadi sirna
    Karena mereguk susu hawa yang lama

    Oh bunda kami, bunda Maria
    Di hari yang sangat istimewa
    Tak ada kata yang luar biasa
    Hanya sebaris aksara pelipur lara
    Untukmu bunda yang sedang berduka
    We love you mama

    Tembesi 15 September 2021

    —————————————————————————————–

    Tentang    Penulis

    Poya Lucius Hobamata, Imam Keuskupan Pangkal Pinang, Pencinta Filsafat, Teologi dan Sastra.

  • Sajak-sajak Teresa Patricia Putri: ~ Berputih Tulang ~ Secangkir Lara ~ Saujana ~ Kabar Jauh

     

    BERPUTIH TULANG

    Senja telah berpulang
    Lilin lebah silih-berganti
    Ombak meraung rindu
    Pasir berbisik mengikar janji

    Baskara menampakkan wajahnya
    Malu tak mau menyapa bumi
    Semilir angin melirihkan duka
    Kering bertabur di musim gugur, tumbuh kematian

    Hari ini, waktu itu
    Rindu meruak, janji teringkar, terisisa mati rasa
    Tuan tertimbun abu
    Tunas nestapa jadi milik Nona

    Jakarta, 20 September 2021

    ——————————————————————

    SECANGKIR LARA

    Bumantara bersemburat jingga
    Awan putih menari sukacita
    Hati pun ikut berdansa selaras kicauan burung
    Membangun asmaraloka bagi dua insan

    Angin menjadi saksi bisu keduanya
    Menautkan anjangsana kehendak batara cinta
    Mengikat janji sehidup semati
    Awal niskala pula bagi mereka

    Ia mengikar janji
    Puan ditinggalkan sendiri
    Hatinya menjadi gulita
    Asa miliknya pun masih berada pada senja kala itu

    Jakarta, 11 Oktober 2021

    ——————————————————————–

    SAUJANA

    Semburat merah tengah turun dari barat
    Adiwarna bagi penikmatnya
    Nirmala yang tercipta
    Dari Sang Pencipta
    Yang dititipkan di bumantara
    Asmaraloka tumbuh karena eloknya
    Kidung pun bersautan merdu
    Ajak hati untuk terpaku
    Lihat keindahan itu
    Ah, memang senja tidak pernah salah

    Jakarta, 18 Oktober 2021

    ———————————————————————-

    KABAR JAUH

    Nona mengetuk meja kala menulis surat
    Bayangan tuan sembunyi dibalik tirai
    Bercerita pembantaian waktu itu
    Berisik, nona hanya sendiri

    Diam; itu jawaban nona,

    Kabar jauh menusuk hati nona
    Tertusuk tak bersisa
    Selesai juga suratnya.

    Dukanya yang masih tersisa.

    Jakarta, 1 November 2021

    ————————————————————————————————

      Tentang  Penulis


    Teriakan batin yang tersuarakan dan diikat menjadi seikat puisi. Teresa Patricia Putri, perempuan yang lahir di Jakarta tahun 2002. Saat ini sedang belajar di Universitas Sanata Dharma prodi Sastra Indonesia. Ia suka musik, menulis, membaca, dan tidur. Memiliki harapan agar setiap tulisannya dapat terdengar

  • ~ Sebatas Angan ~ Hilang ~ Senja ~, Sajak-sajak Stefanni Dewi Anggraini

     

    Sebatas Angan

    Malam gelap menyelimut mega
    menjadikan lintang tak berdaya
    Bersinar terang kalahkan rembulan
    Jadikan iri hati niscaya pada harapan
    Tuk dapat perhatian akan dunia
    Kisah romansa pandangan pertama

    Ribuan angin ingin mengadu
    pada rindu yang sudah beradu
    Melintas selalu dalam benakku
    serta pikiran hingga hati nuraniku

    Akankah musim dingin bertahan
    membekukan segala perbuatan
    Untuk pernyataan bermadu kasih
    Bersama dirimu duhai kekasih

    Hanya sebuah hayalan angan
    Merasakan hangatnya dekapan
    Seseorang yang selalu ku rindukan
    dan di hati akan selalu terlukiskan
    Sebab perhatian sekecil debu pasir
    Akan sebanding dengan batu safir

    Sang pencipta bukankah tak adil
    Melihat dirinya yang membuat usil
    dan berlabuh dengan sesuka hati
    Tuk memberikan harapan hidup semati
    Tetapi sampai akhirnya nanti
    Dirinya akan tetap kekeh untuk pergi

    Yogyakarta, 8 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Hilang

    Suara ombak menerjang karang
    Angin menusuk sampai ketulang
    Nafsu cinta membara
    Gerayang tangan membabi buta

    Pikiran jernih terpendam
    Ungkapan cinta menyesatkan
    Janji-janji bertebaran
    Aku hanyut
    Asa pun ikut larut
    Neraka menanti depan mata

    Hina yang tersisa
    Apa guna itu semua…
    Tinggal derita dan nestapa
    Izin menghancurkan segala cerita

    Yogyakarta, 22 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    S e n j a

    Senja ialah waktu bagi sang surya terlelap
    Dimana warna jingga kian berubah gelap
    Tak mengurangi pesona indah cakrawala
    Yang membuat jatuh hati di waktu senja

    Senja ialah moment manis paling di tunggu
    Romantisme sepasang kekasih di madu
    Hasrat dalam diri kian menggebu-gebu
    Ungkapan hati pun juga tak bisa tertipu

    Yogyakarta, 13 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

         TENTANG  PENULIS

    Stefanni Dewi Anggraini atau lebih akrab dipanggil Fanni, lahir di Yogyakarta, 12 September 2000. Menyelesaikan pendidikan di SD Kanisius Kalasan pada tahun 2014, lalu di SMP Joannes Bosco Yogyakarta pada tahun 2017, dan di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta pada tahun 2020 dengan mengambil jurusan IPS. Setelah lulus SMA, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta di Univeritas Sanata Dharma Yogyakarta dengan mengambil program studi Sastra Indonesia.

  • – Serupa Raga – Setapak Jalan – Tentang Ayah -, Sajak-sajak Marcelina Sri Rezeky

     

    Serupa  Raga

    Mendasar pada raga yang rapuh
    cahaya menilik menatap pedih,
    sang penyair pun menyanjung perih
    merangkul luka yang tergeletak terpisah
    tak sakit pun tak sedih.

    Pada malam hari, sang khalik
    menarik busur takdir yang larik,
    melirik pada empunya syair
    agar menjadi suci bak musafir
    dan menjadi pengembara sampai akhir.

    Lalu datang si kupu malam
    menyibak sutera , menjamu si teman malam
    agar tak perlu lagi menjadi sendok emas
    pada kisah nya yang tak terbalas,
    melekang dan tak diingat sang makam
    yang setia menunggu , si penjamu kelam.

    Tentang menggerutu pada napas,
    penyair pun menyulam sutera
    untuk layak ditunangkan dengan luka
    dan pada akhir nya takdir berbicara jua,
    bertemu di ujung penantian hidup sang pemula
    sebagaimana ditulis pada pasir dupa
    tak mendalam, tak tertanam, abadi pun memikat, segan.
    Bersama lonceng gereja kehidupan
    berkumandang syair pelipur lara.

    Yogyakarta, 9 Oktober 2021.

    ————————————————————–

    Setapak  Jalan

    Setapak jalan menuju senja
    telusur bak nadi pada raga,
    meluap rasa untuk tuan tanah
    yang terpatri penuh dengan bunga.
    Kicauan burung gagak
    menjadi pengiring suara napas Ibu Pertiwi,
    menutup mata yang berpeluh darah
    untuk sekedar membuka mata
    dari cahaya dahulu kala.

    Rahim bumi bergejolak riuh
    pada senja yang berujung hilang,
    yang menjadi berita alam semesta
    untuk tuan dan nyonya berjaga-jaga.
    Terlepas dari gurau keras,
    angin datang membawa kabar
    ke penjuru tanah berantah
    hingga yang lenyap pun bergema
    untuk bersua dengan kehidupan.

    Hijau nan indah pemandangan,
    sejauh mata tak ada cela pun yang nampak
    dari pelukan hangat sang kuasa.
    Pesan berbintang terukir indah di langit
    untuk menyambut malam penuh sunyi
    agar tertidur lelap semua alam semesta
    sehingga yang tabu pun tumbang
    tumbuh hijau bersama hujan.

    Yogyakarta, 30 Oktober 2021.

    ——————————————————————————-

    Tentang   Ayah

    Aku tak pandai bercakap dan bertanya tentang keadaan mu,
    apakah kamu baik-baik saja, Ayah?
    Waktu berjalan terlalu cepat, aku tak bisa
    menyamakan langkah ku bersama nya.
    Ayah bertambah tua, tak bisakah kau hentikan waktu, agar aku bisa
    menua bersama mu.

    Ayah tak banyak bicara, namun tatapannya menyirat begitu banyak kisah,
    kisah yang tak ingin diceritakan pada putrinya,
    tentang rasa sakit yang dipoles dengan senyuman ramahnya.
    Ayah pandai menyimpan cerita, seolah seperti awan putih yang bersih dan indah,
    namun menopang kesedihan yang telah mendarah daging.

    Suara ayah terdengar gembira di seberang sana,
    seperti kopi manis kesukaan nya,
    hitam pekat nan manis ketika di seduh.
    Ayah pun selalu punya banyak cerita,
    tentang keluarga, tentang kampung, dan tentang rindu
    pada anak perempuan nya yang tersirat dalam setiap kata yang diucapkan.

    Anak perempuannya hanya mendengar dalam diam,
    meresapi setiap kata dan mengunci setiap alunan suara
    dalam kotak memori yang akan selalu di putar setiap malam sebelum tidur.
    Ayah tak pandai bicara, hanya bergurau melepas penat,
    mengisyaratkan kerinduan pada sang anak,
    yang jauh dari pelukkanya.

    Ayah pun selalu berdoa dalam diam,
    untuk putri nya yang di tanah rantau,
    semoga Tuhan selalu menjaga nya.
    Doa ayah pun tak panjang,
    karena dia percaya bahwa hatinya
    telah banyak berbicara kepda Tuhan dalam diam.
    Dalam diam dan sunyinya malam,
    diselipkannnya kerinduan pada langit,
    berharap agar bintang dan bulan
    menghibur putri nya,
    berharap putrinya cepat pulang ke rumah.

    Yogyakarta, 9 September 202

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

     

    BIODATA  PENULIS

    Nama : Marchelina Sri Rezeky
    Email : marchelinasrirezeky@gmail.com
    Status: Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Fakultas SASTRA, Prodi Sastra Inggris (
    2018)
    Asal : Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.

  • Jakarta:  Rumah untuk Semua (Bagian I dari Tiga Tulisan)

    Jakarta: Rumah untuk Semua (Bagian I dari Tiga Tulisan)

    Oleh  Anies Rasyid Baswedan

     

    HARI  Kemerdekaan tahun ini tampak berbeda bagi anak-anak di Kampung Akuarium. Senyum mereka kini merekah menyaksikan Kampung Susun Akuarium yang akhirnya berdiri setelah perjuangan panjang.

    Lima tahun lalu, sepulang dari sekolah, harapan akan masa depan cerah seketika sirna. Rumah orang satu kampung diratakan buldoser. Sebuah ironi, warga jadi pengungsi di kampungnya sendiri: Rumah disapu, status kependudukan dicabut. Masa depan terasa gelap.

    Tahun-tahun itu jadi pengalaman berat bagi anak-anak di pesisir utara ibukota tersebut. Namun, tepat di tanggal 17 Agustus 2021, walau kenangan buruk itu tak bisa dihapus, masa depan itu bisa hidup kembali. Kampung Susun Akuarium berhasil tegak berdiri.

    Di kampung itu, semua warga urun rembuk mengenai rancangan yang diinginkan sesuai pola interaksi sosial keseharian dan kegiatan ekonomi mereka. Warga tak dicerabut dari akarnya, melainkan merasa memiliki apa yang menjadi hak mereka.

    Bahkan, pola kepemilikannya pun tak transaksional. Warga bukan ditempatkan sekadar sebagai penyewa, melainkan warga membentuk koperasi pemukiman. Anggotanya hanya warga penghuni.

    Pemerintah mempercayakan koperasi ini untuk mengelola dan merawat kampung susun. Ya, mereka memang masih sederhana keadaan ekonominya, tapi jangan sepelekan kemampuan warga. Mereka bisa bekerja bersama dan mengelola kampung susunnya secara kolektif.

    Kolaborasi kolektif dalam Kampung Susun Akuarium adalah bukti bahwa membangun kampung kota bukan sekadar mendirikan bangunan, melainkan menghadirkan ruang hidup yang memanusiakan warganya.

    Cerita Kampung Susun Akuarium hanyalah satu dari 21 kampung yang ditata dengan pendekatan lebih humanis. Kita menyebutnya dengan Community Action Plan (CAP). Kata kuncinya: Community!

    Memanusiakan Warga

    Pendekatan pembangunan top down yang hanya menjadikan warga sekadar sebagai objek tak lagi relevan. Ini era kolaborasi dan warga adalah subjek yang berperan aktif dalam pembangunan, bukan jadi objek yang ditinggalkan deru kemajuan.

    Community Action Plan adalah ikhtiar bersama mewujudkan pendekatan kolaboratif dan memanusiakan warga dalam pembangunan kampung kota.

    Kampung lain seperti Kampung Tanah Merah yang sebelumnya terisolir kini mendapat akses melalui pembangunan infrastruktur seperti jembatan, transportasi umum, dan penyediaan air bersih.

    Bahkan rumah yang sudah berdiri puluhan tahun tapi tak ber-IMB (Izin Mendirikan Bangunan) karena status legal atas tanah belum tuntas kini diberi solusi yaitu IMB kolektif.  Satu buah IMB untuk semua bangunan dalam satu Rukun Tetangga (RT). Bukan IMB per rumah tapi per komunitas. Sebuah terobosan yang baru pertama kali dilakukan di Republik ini.

    Dengan adanya IMB kolektif itu, mereka kini bisa terima aliran listrik, aliran air dan pelayanan dasar lainnya. Status tanah yang belum tuntas tak perlu membuat warga kehilangan hak dasarnya seperti air dan listrik.

    Solusi semacam itu muncul setelah diskusi panjang dengan warga dan semua pemegang kepentingan. Sebagai pengemban amanah, kita berikhtiar terus mewadahi dan memberi ruang aspirasi untuk bersama mencari solusi. Pendekatan birokratis yang cenderung otoritatif dan menutup alternatif solusi dalam memecahkan beragam masalah warga tak lagi kita gunakan.

    Yang terbaru: Pembangunan Kampung Susun Produktif Tumbuh Cakung untuk warga Bukit Duri. Pendekatan komunitas bersama warga lokal dan arsitek pendamping berupaya menghadirkan kampung susun yang beranjak dari kebutuhan dan aktivitas warga.

    Keliru jika memandang kampung kota seperti Kampung Akuarium, Tanah Merah, Bukit Duri, dan banyak kampung kota lainnya hanya sebagai kumpulan rumah. Kampung-kampung kota adalah cermin paling nyata dari persatuan. Kampungnya satu, isinya seribu satu unsur manusia. Itulah kampung kita.

    Pembangunan kampung kota pun jangan dimaknai semata sebagai pembangunan deretan bangunan mati, tapi dipandang sebagai satu kesatuan bangunan sosial yang hidup. Itulah kampung. Itulah alas budaya kebersamaan bangsa kita. Kampung-kampung kota tersebut berupaya kita ayomi, alih-alih dihakimi. Hilangkan masalahnya bukan meniadakan kampungnya.

    Pendekatannya pun berbeda untuk masing-masing daerah, tak pakai satu solusi untuk semua. Tiap daerah punya karakter dan masalah hidup yang berbeda-beda. Keunikan itu harus diberdayakan, bukan malah disingkirkan dan distandarkan.

    Alih-alih merasa paling tahu dan otoritatif, Pemprov DKI berupaya menghadirkan ruang kolaborasi antar komunitas. Warga, fasilitator, pakar, dan pemerintah bekerja sama (ko-kreasi) menemukan solusi bersama untuk setiap kampung kota.

    Kemajuan yang Berkeadilan

    Masih terngiang ucapan Sandyawan Sumardi, pegiat komunitas di Bukit Duri, saat Pemprov DKI bersama komunitas warga akan membangun Kampung Susun Produktif Tumbuh Cakung. Ia mengatakan, “Punya rumah hunian sendiri adalah awal kisah hidup perjuangan kami.”

    Bagi warga, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah ruang hidup, sebuah harapan akan masa depan yang lebih baik di ibukota.

    Sayangnya, ketika membicarakan kemajuan, ada persepsi yang menormalisasi jika ada warga yang menjadi korban derap kemajuan. Persepsi ini secara implisit mengatakan bahwa penyingkiran dianggap normal asal yang jadi korban adalah orang lain, bukan diri sendiri. Kita ubah paradigma yang tak memanusiakan seperti itu.

    Kemajuan harus memanusiakan. Memberikan kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi semua warganya. Tanpa itu semua, solidaritas dan persatuan warga akan mustahil terwujud.

    Jakarta adalah kota harapan, ruang yang mewadahi ragam mimpi dan harapan dari seluruh penjuru Republik ini. Sebutkan suku dan agama dari seluruh penjuru negeri, semua ada di Jakarta.

    Jakarta sebagai rumah untuk semua, inilah gagasan yang terus kita wujudkan dengan karya dan kebijakan. Rumah yang terasa hangat bagi seluruh warganya. Rumah yang menghadirkan interaksi yang menyatukan dan mengayomi, alih-alih memisahkan dan mengasingkan.

    Rumah yang menyatukan, karena hadirnya kesetaraan dan keadilan sosial bagi seluruh warganya! •••

     

  • – Rindu Klaten – Putus – Esensi Cinta – Dentang Keduabelas -, Sajak-sajak Faustina Hanna

     

    Rindu Klaten

       : Live In SMU Bunda Hati Kudus, 2004

    Setumpuk cahaya kunang-kunang membentuk telapak tangan seorang gadis kecil. Ketiga garis utama di telapak tangannya itu membentangkan jalan; menuju lahan persawahan, menuju api pengkhotbah santo antonius padua yang tiada pernah padam, dan menuju cangkir-cangkir bening tempat bulan berendam di atap rumah penduduk.

    Aku menyusutkan diri, hendak bertualang di sepanjang garis tangan yang bercabang. Kurindu hingga kuresapi bau matahari yang itu, yang hangatnya mengasihi rerumputan, gembala bebek di tepi sawah, pengairan yang diusahakan bapak. Petikan gitar malam hari, anjing-anjing hitam bergantian mendengkur dan terjaga di tepi lapangan bola.

    Kurindu, berkali-kali ingin kembali.

    2017

    ——————————————————————

    Putus

    pada saat seorang perempuan memutuskan untuk menghapus, atau pun memelihara sebuah perapian cinta; saya rasa dasar dari cinta itu sendiri tetaplah tentang suatu keindahan. semacam getar, serupa bola mata biru besar yang tengah membidik, diam-diam. pada detak polos jarum jam yang basah bermain hujan, di atas telapak tangan seorang perempuan berambut lurus panjang. bersiagalah, sebab jantung yang nakal senang menjalarkan permainan berburu anak-anak tangga yang sedemikian kencang, ke sepanjang nadi, juga tentang jarum nasib yang tak pernah lupa menghujani telapak tangan mereka (ketika mereka merasa begitu genting dengan arus cinta).

    lalu dapat kupastikan: kau bakal rela menerima dan menyambut terbuka kedatanganku, yang tidak terlampau dini ini, yang mungkin diriku sendiri telah telanjur amat menyukai pisau pengerat arus, yang kubeli seminggu lalu ini, juga pemberhentian hatimu yang selalu sembarang dan tiba-tiba

    2012

    ———————————————————————

    Esensi Cinta

    kumohon, jangan pernah terlintas sepagi ini akan secangkir gurauan, ketika aku berucap sedemikian lembut pada-Mu; aku telah memangkas sembilan puluh sembilan malam berkantung api −ari api− dengan hutan kirmizi yang berkecamuk di dalamnya, yang rimbun bertarung sebagai calon pengantinku. kala itu pastilah aku tengah telaten mengasuh harum dari gaharu, hingga dupa. sepenuhnya, aku berjanji takkan pernah sembunyi seperti simpul bibir pada akar-akar lupa. tahukah Engkau? (aku selalu mencari-cari Engkau…)

    lalu aku mengunci pintu dari dalam −kulepaskan sepasang mata ini, hati tunggal yang penurut, serta kutegur tegas napas-napas jernih yang masih sibuk menggerai rambut. melalui jendela kamar kuterbangkannya (satu per satu) kepada-Mu Yang MahaKudus di atas sana. ke tempat indah yang begitu mulia, dan rahasia.

    sepagi ini, ya Tuhan… (alam adalah simbol diri yang akrab untuk memulai hari). mentari pun rembulan senantiasa meneruskan kandung musim dari kidung-kidung sahaja yang telah Kau pilih. izinkanlah aku: untuk selalu menjadi satu malam klimis yang bersimpuh dalam hening kasih-Mu, abadi cinta-Mu

    2012

    ———————————————————————

    Dentang  Keduabelas
    : kerinduan kepada penyairku

    /masihkah ingat dengan rambut hitam ini, tempat kau biasa membaringkan sajaksajakmu/

    satu…
    satu…
    dan satu yang kemudian menjagai bulibuli pada dasar sepi

    lalang berpatahan
    surut dalam mimpinya melengkapi langit, serupa setumpuk nasib antre untuk dimasak di benua sendiri
    jika harum tanah terlebih aku damba dibanding kepundan yang rapi berdandan
    akankah merah menjadi penghibur bagi kesekian jariku yang berduri

    jangan dulu memejam hai nisannisan yang letih tertawa
    masih ada darah dan duka mengumandangkan nama kita
    tidakkah kamu lihat
    tatkala aku menuju kamu
    menagih luka itu

    di antara dangkal ruparupanya ada yang terlupa
    adalah detik bersuara melantunkan duka yang kedua
    sayang, dengarlah
    kala kita urung bermuara, kemudian sekiranya kita hadir bagai lencana pada sepanjang dada imaji yang merekah

    lidah puisi karam menuju tilam yang kusebut kusam
    tersebab ada jarak teramat pekat ~menyangsikan sepenuhnya bintik purnama yang merindui genggaman alam
    : masihkah kita berkutat dengan skema hati yang terbengkalai di tahuntahun silam?

    mengapa tiada lelah kita merangkum malam menjadi beranda kata yang sungkan
    sedang gunting diam dibungkam rembulan
    dan inti setiap patahan kepalang diungsikan dengan isak tangis di lembar tertua
    : segala ketajaman masih mencari air mata yang baru
    di mana kembara tak hendak bercerita tentang pulau sendu yang menimangi anakanak randu

    sekadar mengulum suatu kepastian untuk laut jemu yang kau sajikan kemarau lalu
    aku memunguti bebutiran birunya ~sederhana dari lingkar kesabaran yang kau biarkan terbengkalai
    kini kurangkai berbekal hati,
    kujadikan mata pagi yang sungguh berhatihati
    (memandangimu di seberang sana)

    sebelum mentari segera merapat dan cemburu kepada dua tiga baris suara sederhana
    ada baiknya kita menyusun agenda tentang setiap perjalanan rasa, meski tak sempat terbaca
    kita bukan sejarah yang menghadirkan langit biar terkenang
    atau rindu berulang tengah dikubur di ladangladang usang
    hanyalah penghuni sementara -menumpuk di pelabuhan hujan-

    hujan… ya, hujan masih saja dibentuk dari gerimis syair yang gerutu
    belum lagi angkaangka terencana tengah menggandakan jeruji mati di atas jam yang berdiri
    ; kau membuatku mengantarkan dentang keduabelas kepada inspirasi sunyi

    03/2012

    ============================================

     

      Tentang  Penulis

    Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni dan budaya. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, dan menekuni dunia kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya terbit di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, BWCF (Borobudur Writers & Cultural Festival), Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto.

    Beberapa sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Kutukan Negeri Rantau (Forum Sastra Bumi Pertiwi, 2011), Jembatan Sajadah, Kabar dari Negeri Seberang (UmaHaju Publisher, 2012), Kursi Tanpa Takhta (Writing Revolution, 2012), Berbagi Kasih (Penerbit Sahabat Kata, 2012), Antologi Bersama Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas (2012), Nostalgia Filantropi Tiada Terbalaskan (Penerbit Jendela Sastra Indonesia, 2020). Turut bergabung dalam Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG).

    Menjuarai lomba penulisan puisi, di antaranya: Juara 3 Sajak TKI (UmaHaju Publisher, 2012), Juara Harapan 1 “Ekspresikan Dirimu dengan Puisi” (Writing Revolution, 2012). Pernah menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Bina Nusantara Center, Jakarta dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

     

     

     

     

  • ~ Kehancuran ~ Pergi ~ Cahaya ~ Di Kota yang Tak Pernah Sepi ~ Harapan Tak Tersampaikan ~, Sajak-sajak Savvyna Meyra Yosari

     

    Kehancuran

    Wahai malam
    Kau kirimiku kabar pagi ini
    Tentang gugurnya sang bintang
    Bintang yang tak lagi memancarkan sinarnya

    Wahai malam
    Kau hancurkan rasa yang selama ini kupendam
    Rasa yang selalu membara di dalam dada
    Hingga akhirnya kesunyian pun kurasakan

    Tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan
    Bak air terjun yang terus mengalir
    Aku pun tak kuasa menahannya
    Seluruh jiwaku terbanjiri jua olehnya

    Yogyakarta, 1 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Pergi

    Aroma kopi di penghujung jalan itu
    Sama seperti wangimu saat di dekatku
    Harum namun hanya sepintas
    Membuatku ingin melepas

    Suara panggilan yang saat itu sayup kudengar
    Tak dapat menggoyahkan tekadku
    Aku berjalan lunglai menuju selasar
    Selasar itu membawaku bersama pilu

    Kukira kaulah pembawa bahagia
    Ternyata semua hanyalah derita
    Kulangkahkan kakiku menjauhi nestapa
    Sebelum semua terasa semakin tersiksa

    Kini kutabahkan hati untuk mengucap selamat tinggal
    Meskipun kaki ini terasa kaku untuk berjalan
    Dan semua terasa sulit untuk sekedar bertahan
    Tetap kujauhi meski ku merasa hilang moral

    Yogyakarta, 30 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Cahaya

    Cahaya adalah sinar yang terpancar dari bola mata
    Yang membantuku untuk melihat indah parasnya
    Yang membuatku terpana saat berpapasan dengan dia
    Kilau sinarmu lah yang menusuk relung jiwa

    Cahaya adalah sang penakluk gelap sama seperti senyumnya
    Yang terpatri di mulut sang pelipur lara saat masih bernyawa
    Yang membuatku dapat hidup damai dengan segenap jiwa
    Kekuatannya pula lah yang dapat membuatku bertahan saat terluka

    Cahaya sebagai penerang dunia yang sama seperti tawamu
    Tawa yang membuatku merasakan bahagia di setiap harinya
    Yang membuatku ingin menghentikan dunia untuk sementara
    Keindahannya pun mampu membuat bibirku terasa kelu

    Cahaya sebagai penghidup harapan redup yang sama seperti semangatnya
    Membara seperti api yang dikobarkan saat lampu tak menyala
    Tak kenal lelah dan kata menyerah saat mencapai sesuatu
    Cahaya adalah kamu yang membuatku dapat menikmati hidup di dunia yang fana

    Yogyakarta, 12 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Di Kota yang Tak Pernah Sepi

    Saat kulangkahkan kakiku menuju kota ini
    Kota yang tak pernah sepi
    Saat itu pula lah pertemuan itu terjadi
    Dengan berbekal rasa gembira yang membumbung tinggi

    Kuhampiri jalan setapak yang bergerak menujumu
    Membawa sejumlah kerinduan yang menumpuk dalam dada
    Di pertemuan singkat yang membuatku candu akan senyummu
    Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya

    Kupandangi sudut kota ini dengan mata telanjang
    Kota yang tak pernah tidur dan dianggap istimewa
    Disini lah kutemukan pujaan hati yang kusayang
    Pujaan hati yang selama ini kudamba – damba

    Yogyakarta, 20 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Harapan Tak Tersampaikan

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Menunggu datangnya sang pencerah
    Sang pencerah yang selalu membawa kebahagiaan
    Membanting tulang demi sesuap nasi

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Dengan harapan bisa merasakan hangatnya tanganmu
    Tangan menghitam dan kekar yang membiru
    Meski kutahu semua hanyalah ilusi

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Berharap bisa menikmati indah senyummu
    Senyuman yang terpatri di bibir itu
    Kala menatap wajah rupawannya setiap hari

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Meneriakkan keinginan menggebu untuk bertemu
    Bertemu sang pencari nafkah yang tak tergantikan ini
    Meski kutahu semua hanyalah halu

    Yogyakarta, 26 November 2021

     

    =======================================================

        Biodata Penulis

    Savvyna Meyra Yosari, seorang perempuan kelahiran Yogyakarta pada tanggal 21 Mei 2001 merupakan seorang Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan program studi Sastra Inggris. Penulis mulai membenamkan diri ke dunia puisi saat masih berada di bangku sekolah menengah pertama dan kerap menuliskan puisi pada momen – momen tertentu yang dirasa memiliki makna yang mendalam. Tak jarang penulis juga mengirimkan puisi – puisinya ke media cetak sekolah. Ia pun memiliki cita–cita untuk menjadi seorang penerjemah Bahasa yang professional nantinya.