Blog

  • BERIMAN BERSAMA LAUT:  Dari Laut menuju Tuhan – Dari Tuhan menuju Laut

    BERIMAN BERSAMA LAUT: Dari Laut menuju Tuhan – Dari Tuhan menuju Laut

    Oleh Dr. Budi Kleden SVD

    I

    Laut, tasik, adalah simbolisme yang kuat tentang kehidupan dan penjelajahan manusia. Di kuping anak-anak yang lahir dan besar di pinggir pantai, deburan ombak adalah panggilan untuk menuju ke dunia yang luas dan dalam. Ada godaan untuk bertualang terngiang dari dalam hempasan ombak yang menyentuh bibir pantai. Laut adalah lambang kebebasan yang mengundang fantasi melanglang buana dan menggugah daya nalar untuk menukik ke kedalaman. Bukan seperti daratan, bagi masyarakat tradisional laut tidak mengenal batas. Sebelum lembaga negara menetapkan berbagai aturan, orang tidak takut melanggar batas dan tidak dituduh merampas wilayah orang ketika melintasi perairan. Maka, tidak ada sampan yang mesti dibakar karena berlabuh di ruang kekuasaan orang lain.

    Hempasan gelombang itu dapat pula menjadi pemantik trauma setelah laut dalam keganasannya merampas dari lingkungan terdekat orang-orang terkasih dan membenamnya entah di mana. Dalam situasi seperti ini, suara ombak adalah nyanyian duka yang bagai takdir hendak dijauhi namun tak sanggup disingkirkan. Bagi anak-anak pesisir yang di rantau, laut adalah suara ibu yang memanggil pulang. Suara itu terkadang begitu memelas, maka ada niat sulit dibendung untuk kembali ke kampung, “kendati nae bero ee”, biar cuma dengan menumpang sampan, seperti yang dinyanyikan anak-anak di Larantuka, pesisir pantai Flores Timur.

    Laut pun dialami sebagai guru pembentuk watak yang tak kenal kompromi. Dia membuat orang menjadi pemberani dan tak takut mengambil risiko. Laut tidak pernah menjamin kepastian seratus persen. Maka, melaut selalu berarti masuk ke dalam arus risiko. Yang dipertaruhkan adalah nyawa sendiri. Jika di darat kematian sering masih meninggalkan jenazah sebagai sisa kehidupan, kematian di laut sering berarti kehilangan jenazah. Laut tak hanya merenggut nyawa, dia pun menelan tubuh manusia. Sebab itu, para pelaut adalah manusia-manusia yang tidak hanya kekar tubuhnya, tetapi juga keras wataknya. Karena mengarungi laut adalah sebuah petualangan penuh risiko, maka pulang dari seberang laut membawa kegembiraan istimewa bagi mereka yang mengalaminya. Lebih dari istri petani menanti suaminya kembali dari ladang adalah harapan istri dan anak-anak akan kepulangan suami dan ayah mereka dari laut. Dermaga-dermaga adalah saksi bagi hati yang gundah dan mata yang berlinang ketika harus pamit dari kekasih yang berangkat menumpang kapal, atau luapan kegembiraan ketika dimungkinkan untuk bertemu kembali. Tidak seradikal pesawat terbang atau pun mobil yang membawa kekasih hilang terlampau cepat dari pandangan, kapal dan perahu, entah bermotor atau pun tidak, bermain dengan waktu, membuat orang berlama-lama mengalami perpisahan atau mempersiapkan orang bertemu lagi. Laut punya kesabaran untuk perasaan-perasaaan seperti itu.

    Tidak hanya itu. Laut mengajarkan orang untuk pandai membaca tanda alam. Arah angin yang dirasa di kulit atau yang terlihat pada gerakan layar diamati dengan saksama. Awan yang mulai mendung memberi isyarat agar segera mencari perlindungan dari hujan atau bahkan dari badai yang ganas. Bintang-bintang di langit merupakan ramalan cuaca bagi para nelayan. Mereka membacanya dengan sangat cermat, sehingga dapat memastikan ikan jenis mana ada di tempat mana dari gejala-gejala alam yang diamati.

    II

    Bagi orang-orang pesisir, laut adalah lahan kehidupan. Dia telah membesarkan berbagai jenis ikan dan kerang. Rahimnya menyimpan sejuta kekayaan. Namun, untuk mendapatkannya orang mesti mengambil risiko mempertaruhkan nyawanya. Laut itu dermawan dan memikat, tetapi dia juga tidak mudah diajak berkompromi dan menakutkan. Dia menyimpan segudang kekayaan serentak mengandung selaksa bahaya. Orang sering dikecewakannya, tetapi orang toh tidak bisa melepaskan diri darinya. Laut adalah sebuah misteri. Dia adalah yang fascinosum dan tremendum, yang menarik serentak menggetarkan. Seperti yang dikatakan Rudolf Otto kedua sifat itu ada dalam gambaran tentang Yang Ilahi di dalam agama-agama. Tuhan itu sesuatu yang memikat, menarik dan mengesankan demikan kuat, sehingga Chairil Anwar bersajak: “Di pintumu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling.” Namun, Tuhan juga adalah yang menggetarkan sukma, sehingga orang-orang Israel meminta Musa agar tidak dibiarkan berbicara langsung dengan Tuhan: “Engkau sajalah yang berbicara dengan kami, jangan biarkan Tuhan berbicara (langsung) dengan kami, atau kami akan mati” (Kel 20: 19).

    Laut dengan daya tariknya serentak menakutkan, yang mencerminkan sifat Tuhan, itulah yang dialami orang-orang Lamalera, sebuah kampung para pelayan tegar dari pantai selatan pulau Lembata, NTT. Bagi mereka, laut, seperti Tuhan, adalah pemberi kehidupan yang dermawan, tetapi yang juga tak mudah diajak berkompromi.

    Adalah menarik jika dibuat perbandingan antara religiositas dunia pertanian dengan keagamaan yang tumbuh di lingkungan para pelaut. Secara amat umum mungkin dapat dikatakan, berbeda dari religiositas yang terbentuk dalam masyarakat agraris yang ditandai oleh korban berdarah atau penyerahan diri seperti yang dikisahkan dalam mitos sang dewi padi, Dewi Sri dalam tradisi Jawa atau Tonu Wujo di kalangan masyarakat Lamaholot di Flores Timur, religiositas para pelaut adalah religiositas penyelamatan. Kisah nabi Nuh yang ditampung di dalam perut ikan besar atau cerita Io Kobu, hiu raksasa dari wilayah pesisir pantai Lamaholot, mengarahkan konsep religius tentang Tuhan yang datang sebagai penyelamat pada saat yang sulit. Karena kesuburan merupakan sesuatu yang amat penting dalam lingkungan agraris, religiositas para petani amat sering mengenal perkawinan antara langit dan bumi. Hujan adalah pembuahan ibu bumi oleh lelaki langit. Sebaliknya, pengalaman para pelaut mengingatkan akan kerahasiaan dasar laut, yang hanya akan dinikmati apabila orang membiarkan diri dibawa pergi oleh sang dewi laut, Puteri Duyun. Kesuburan perkawinan akan melahirkan anak dengan struktur hirarkis yang dikuasai oleh senioritas dan dominasi gender, sementara penikmatan kekayaan laut adalah soal kebersamaan. Seperti dikatakan di atas, di darat orang menetapkan batas tanah yang jelas. Batas tanah adalah batas kekuasaan, dan sering berarti batas wilayah agama tertentu. Di darat Tuhan memang gampang dikapling-kapling. Sebaliknya, laut tidak mengenal batas. Dan di atas laut yang tanpa batas itu, saling menolong adalah keharusan. Para pelaut Lamalera tahu, perahu-perahu saling merapat jika yang satu tengah mengintai seeokor paus. Solidaritas adalah bagian utuh dari keagamaan para nelayan.

    Dalam masyarakat pelaut tradisional, pengalaman akan misteri laut bukan cuma pengalaman individual yang didalami dan dirayakan dalam kesendirian. Ia adalah perayaan kolektif karena menyangkut hakikat hidup seluruh warga. Bagi orang-orang Lamalera, melaut adalah sebuah pekerjaan yang syarat bermuatan religius seperti kehidupan itu sendiri. Melaut merupakan sebuah ritual. Dan ritus adalah sarana pertemuan, bukan hanya pertemuan antara yang ilahi dan yang insani, tetapi ritus juga mempererat kesatuan di antara yang insani. Ritus selalu merupakan perayaan kesatuan. Sebab itu, Yesus, sang guru dari Nazaret berujar, “Oleh sebab itu, kalau salah seorang di antara kalian sedang mempersembahkan pemberiannya kepada Allah, lalu teringat bahwa ada orang yang sakit hati terhadapnya” (Mat 5:23). Ritual akan terungkap sebagai sebuah kobohongan apabila dalam kehidupan sehari-hari warga terbelah dalam konflik karena alasan uang atau gengsi. Dan bagi para nelayan tradisional yang memahat dalam ingatannya betapa pentingnya kesatuan di atas perahu, kesatuan di dalam kampung dalam keseharian pun merupakan unsur hakiki bagi keberhasilan pekerjaan mereka.

    Bagai laut yang mempertemukan pulau-pulau dan mengikat semua dalam satu ikatan, demikian Tuhan pun dilihat dan disembah sebagai yang mempersatukan semua hati dan segala suku. Terbelah dalam perseteruan adalah tindakan melawan hakikat Tuhan, dan jika suasana kampung dan hati para pelaut masih diliputi keretakan, melaut hanya akan menjadi sebuah perjalanan penuh bahaya tanpa hasil. Tuhan yang dijumpai dan disembah para pelaut adalah pemilik laut yang satu, yang mengingatkan bahwa hanya dalam solidaritas orang dapat mengatasi keganasan laut.

    III

    Para pelaut berlayar dari laut menuju Tuhan. Bagi mereka, laut adalah jembatan, jalan dan simbolisme yang teramat kuat tentang kehadiran dan efektitas dari yang ilahi. Laut berciri sakramental, tanda dan sarana yang mengingatkan dan menghadirkan Tuhan. Dan Tuhan para pelaut, sifat-sifat dan keutamaan-Nya, pastilah berbeda dari cita rasa keagamaan para pengolah tanah. Sebab itu, studi tentang religiositas laut, sebagaimana diupayakan oleh Anton Lelaona di dalam bukunya, adalah sesuatu yang amat bermakna. Bukan hanya ekonomi bangsa ini mesti dibangun di atas dasar potensi kekayaan laut. Cita rasa dan praktik keagamaannya pun perlu berpaling ke laut. Bangsa ini mesti kembali mengarah ke laut, dan dari laut menuju Tuhan.

    Namun, ini baru sebagian dari cerita. Tidak cukup orang berlayar dari laut menuju Tuhan. Menggapai Tuhan melalui pergumulan dengan laut memang perlu, tetapi ini barulah setengah dari perjalanan. Seperti para pelaut, yang pergi untuk pulang, perjalanan menuju Tuhan pun mesti mempunyai titik balik. Kita mesti berjalan kembali pulang dari Tuhan menuju laut. Dan hal ini menjadi semakin mendesak dewasa ini, ketika dengan lantang dan penuh percaya diri bangsa kita memproklamirkan diri sebagai bangsa pelaut dan hendak menggunakan kekayaan laut untuk mengenyangkan isi perut, mencerdaskan kepala dan membentuk watak anak bangsa. Mengapa?

    “Dari Tuhan menuju laut” adalah usaha untuk melihat dan memperlakukan laut sebagaimana Tuhan melihat dan memperlakukan laut. Laut bukan Tuhan, dia terbedakan dari Tuhan, maka laut tidak boleh disembah seperti Tuhan. Tuhan tidak boleh disamakan dengan apapun, tidak juga dengan laut. Laut adalah tanda yang membawa kita kepada Tuhan, tetapi mesti tetap terbedakan dari Tuhan. Namun, laut serentak adalah ciptaan Tuhan yang membawa dalam dirinya jejak penciptanya. Sebab itu, laut harus dirawat dalam rasa hormat dan penuh tanggungjawab, sebagaimana Tuhan menghormati dan merawat ciptaan-Nya dengan penuh kasih dan tanggungjawab. Kembali dari Tuhan menuju laut berarti melindungi laut dari eksploitasi tanpa batas hanya demi memuaskan nafsu dan ketamakan manusia.

    Tugas ini menjadi semakin penting dewasa ini ketika kekayaan kemaritiman diandalkan sebagai pilar utama ekonomi bangsa. Orang-orang yang sudah belajar mengenal Tuhan dari pergumulan dengan dan di laut, yang telah berlayar dari laut menuju Tuhan, sejatinya menjadi pejuang pembela laut, agar kerakusan yang mendominasi eksploitasi kekayaan hutan dan tanah di darat, tidak dibawa ke dasar laut. Kita tidak meng-konsekrasi laut, mengilahikannya dan menjadikannya tak tersentuh. Yang mesti dilakukan adalah meng-konservasi laut, merawat dan menjaganya sebagai ciptaan Tuhan yang diperuntukkan bukan cuma bagi satu generasi. Dengan ini tidak dikatakan bahwa hanya orang yang punya dan mengenal Tuhan, sanggup dan terlibat dalam usaha konservasi laut. Yang ditekankan adalah, bahwa orang yang sudah berlajar dari laut menuju Tuhan, tidak dapat tidak melibatkan diri di hadapan langkah masif pencemaran laut.

    Dari laut menuju Tuhan dapat dimengerti sebagai sebuah tugas spiritual, sebuah perjalanan mistis serentak telaah teologis untuk mengendus gambaran tentang Tuhan dalam tradisi para peluat. Dari Tuhan menuju laut adalah sebuah keterlibatan sosial dan politis untuk berpartisipasi menjaga dan merawat laut dari penghancuran akibat keserakahan manusia yang tak terbendung. Keduanya sama-sama penting. Mistik dan politik, kedalaman rohani dan solidaritas sosial, mestinya menjadi dua sisi berimbang dari keimanan seseorang. Kendati memberi judul buku ini, Dari Laut Menuju Tuhan, penulisnya sebenarnya berbicara, kendati secara implisit, juga tentang ziarah Dari Tuhan Menuju Laut.

    ***************************************************

    Sumber: Budi Kleden, Menuju Titik Balik – Esai-esai tentang Teologi dan Sastra, Lamalera 2022.

     

  • Menentukan Arah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa di Indonesia

    Oleh Dr. Cicilia Damayanti, Konsultan Pendidikan

     

    Pendahuluan

    Sejak menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka, para pendiri bangsa Indonesia menyadari pentingnya pendidikan bagi kemajuan hidup masyarakatnya. Dalam pembukaan UUD termaktub kalimat “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, makna kalimat ini jelas bahwa Indonesia ingin menjadi bangsa yang merdeka dan mampu berdikari, dan hal itu dilakukan dengan cara menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan. Menjelang usia 77 tahun kemerdekaannya, di mana akses pendidikan kian terbuka, sangat disayangkan bahwa hasil dari tujuan pendidikan nasional belum tampak baik. Terutama saat melihat bagaimana mutu pendidikan di Indonesia yang masih jauh dari kata sukses.

    Sarana Dan Prasana Pendidikan yang Kurang Merata.

    Pendidikan yang bermutu membutuhkan sarana dan prasana yang memadai agar proses kegiatan belajar mengajar (KMB) dapat berjalan dengan baik. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kendala dalam memberikan layanan pendidikan di daerah 3T (terpencil, terluar, tertinggal). Menurut data dari Kompas.id, banyak siswa SMA di daerah 3T yang tidak lancer membaca dan berhitung. Tajuk ini hendak menunjukkan lemahnya kontrol pemerintah terhadap para bawahannya yang mendapat tugas mengajar di daerah 3T. Kita semua tahu guru berperan penting dalam memajukan pendidikan di sekolah. Namun ironisnya para guru yang bertugas di daerah 3T, yang kebanyakan merupakan aparatur sipil negara (ASN), sering lalai dalam menjalankan tanggung jawab mereka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka dilansir sering meninggalkan tugas, lebih memilih tinggal di kota, dan hanya sesekali menengok anak didiknya. Bahkan ada beberapa guru yang tidak pernah bertugas sejak penempatan oleh pihak dinas.

    Peran pemerintah yang kendor ini menyebabkan anak-anak didik di daerah 3T tidak mendapatkan kesempatan untuk terdidik dengan baik. Bagaimana guru bisa tahu perkembangan para anak didiknya bila tidak pernah mengetahui situasi dan kondisi yang dihadapi oleh mereka. Hal ini yang menjadikan pendidikan dasar mereka tidak pernah terpenuhi, sehingga tidak mengherankan meskipun sudah menempuh jenjang menengah kemampuan membaca dan menghitung mereka masih kurang lancar. Kemudian akan muncul pertanyaan, mengapa bisa naik kelas bila tidak mampu mengikuti pelajaran? Absennya para guru ini membuat mereka takut bila berhadapan dengan para orang tua murid. Alih-alih memperbaiki pendidikan dengan membantu anak-anak mereka mengulang pelajaran, para guru yang notabene tidak pernah hadir ini memilih untuk meluluskan anak-anak untuk menghindari komplain para orang tua murid. Klaim tentang kekurangan guru ini masih menjadi kendala di daerah 3T selain minimnya infrastruktur umum, fasilitas sekolah, dan rendahnya kesadaran akan pendidikan. Banyak para guru dari luar daerah yang ditugaskan di daerah 3T mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar yang penuh tantangan, seperti medan wilayah yang cukup berat dan masih banyaknya binatang buas di sana.

    Bagaimana dengan kondisi di daerah selain 3T? Melalui laporan BBC, diketahui banyak bangunan sekolah yang kurang memadai dan itu berada di daerah Gunung Sindur, Bogor. Kemendikbudristek mengakui ada penambahan 26% atau 250 ribu unit ruang kelas yang rusak di sekolah negeri di seluruh Indonesia dari 2019 ke 2020. Pada tahun 2018/2019 total ruang kelas yang rusak di sekolah negeri mencapai 969.817 kelas, dan bertambah menjadi 1.222.064 di tahun 2019/2020. Hal ini dialami SD Negeri Jampang 02 di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, yang berada 20 km dari pusat kota. Akses menuju ke sekolah harus melalui jalan semen yang menurun tajam. Langit-langit kelas dengan kayu-kayu yang mulai menggelantung, dan dikhawatirkna dapat menimpa anak-anak yang sedang belajar. Ruang kelas tanpa plafon, dengan kayu-kayu penyangga genting yang sudah mulai keropos karena rayap atau terkikis air saat hujan. Ruang kelas yang tidak layak menjadi pilihan satu-satunya bagi mereka belajar, apalagi mereka masih kekurangan kelas. Selain ruang kelas, ruang perpustakaan juga mengalami masalah dengan rayap, dan dikhawatirkan juga dapat merusak buku-buku yang ada. Maka bisa dibayangkan bagaimana kondisi toilet di sana, yang jauh dari kesan bersih dan layak pakai. Syarat administrasi yang rumit menjadi kendala dalam upaya untuk memperbaiki sekolah. Pihak sekolah mengakui sudah berkali-kali mengajukan proposal ke pemerintah untuk perbaikan bangunan, tetapi birokrasi yang rumit menyebabkan perbaikan terkendala oleh waktu.

    Peristiwa ini menambah daftar panjang tentang abainya negara dalam memperhatikan pendidikan. Prioritas rehabilitasi sering tidak merata, sekolah yang dekat pemerintahan akan cenderung lebih diperhatikan dibandingkan yang berada di pelosok. Di samping itu tidak adanya peta jalan perbaikan sekolah menjadi kendala tersendiri dalam melakukan renovasi secara parsial. Masalah yang terbesar adalah korupsi anggaran dalam upaya perbaikan sekolah. Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia menemukan dalam lima tahun terakhir spesifikasi bangunan sekolah di sebagian wilayah Bogor tidak sesuai dengan perjajian kontrak. Kopel Indonesia dalam penyelidikannya menemukan pengurangan tinggi 20cm dari tinggi bangunan, ada beberapa retak yang belum diperbaiki, dan ada bangunan sekolah yang baru dua tahun direnovasi sudah roboh.

    Kualitas Guru

    Pendidikan di Indonesia, menurut survey dari Politic and Economic Risk Consultant (PERC) berada di posisi ke-12 dari 12 negara di Asia. Rendahnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA), yang merupakan tes membaca, matematika, dan sains. Tahun 2018 Indonesia berada di peringkat 10 terendah dari 78 negara dengan angka 371 untuk membaca, 379 untuk matematika, dan 396 untuk sains. Dikutip dari kastara.id, salah satu indikator penilaian kualitas pendidikan adalah kualitas para guru. Hasil dari Uji Kompetensi Guru (UKG) dari tahun 2012 – 2015, sekitar 81% guru di Indonesia tidak dapat mencapai nilai minimum. UKG merupakan salah satu evaluasi untuk mengukur kompetensi guru dengan penilaiannya melalui penguasaan kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kemampuan guru dalam menyiapkan strategi belajar untuk siswa dan mengelola kelas, pemahaman atas mata pelajaran yang diampu, serta kemampuan guru dalam mengevaluasi pembelajaran.

    Kurang maksimalnya manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam perekrutan guru disinyalir sebagai penyebab rendahnya kualitas guru. Dalam studi kualitatif yang dilakukan Reseach on Improving Systems of Education (RISE), ditunjukkan bahwa fokus perekrutan guru adalah untuk memenuhi kebutuhan menjadi ASN, bukan berdasarkan profesionalitas guru. Lebih dari 50% guru di Indonesia adalah ASN dan 90% tumpuan belajar berada di pundak mereka, di mana kualitas mereka tidak dapat menjamin pendidikan akan dapat berjalan dengan baik. Manajemen SDM yang kurang baik dalam perekrutan ASN sebagai tenaga pendidik menyebabkan sulitnya membedakan mana guru yang benar-benar ingin mendidik atau sekedar ingin memperoleh jabatan sebagai ASN. Penyaringan guru untuk menghasilkan guru yang benar-benar professional mengajar tidak berjalan dengan baik, sebab perekrutan ASN tidak memperhatikan kemampuan guru dalam mendidik.

    Upaya Pemerintah untuk Mengatasi Masalah Pendidikan

    Dalam upaya untuk memperbaiki fasilitas bangunan yang rusak, dikutip dari BBC.com, tahun 2021 pemerintah sudah menyediakan dana alokasi khusus (DAK) fisik untuk 31.695 satuan pendidikan sebesar Rp. 17.7 triliun. Anggaran tersebut masing-masing diberikan kepada PAUD Rp. 398.3 miliar, SD Rp. 7 Triliun, SMP Rp. 657,8 miliar, SKB Rp 110.1 miliar, SMA Rp. 2,43 triliun, SLB Rp. 125.3 miliar, dan SMK Rp. 3 triliun. Nadiem Makarin sebagai Menteri pendidikan juga menyodorkan strategi baru untuk menyelesaikan masalah bangunan sekolah yang rusak tersebut. Pertama, renovasi akan dilakukan secara tuntas di satu sekolah, tidak seperti sebelumya yang hanya memberi jatah perbaikan per kelas yang rusak per sekolah, pemugaran sekolah akan dibuat lebih menyeluruh. Kedua, rehabilitasi sekolah tidak lagi diurus oleh kepala sekolah tetapi dengan menggunakan jasa kontraktor. Ketiga, Kemendikbud-ristek akan melibatkan dinas pekerjaan umum pemerintah daerah untuk melakukan “assessment kerusakan, dan meningkatkan validitas di atas sarana dan prasarana sekolah. Nadiem mengklaim akan ada tim professional yang melakukan penilaian, peninjauan, dan monitoring pekerjaan yang dilaksanakan.

    Untuk mengatasi permasalahan kualitas guru yang rendah, melalui laman kemendikbud.go.id pemerintah mengajukan program organisasi penggerak. Tujuan dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat secara massif melalui dukungan pemerintah untuk peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah berdasarkan model-model pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Pada tahun 2020-2022 program ini akan meningkatkan kompetensi 50 ribu guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan di 5 ribu PAUD, SD, dan SMP, juga akan menyasar satuan pendidikan khusus/luar biasa. Ada hal lain yang dapat pemerintah lakukan untuk mengatasi hal ini, seperti dikutip dari kastara.id, hal pertama yakni khusus ASN sebagai guru sebaiknya dipisahkan dari perekrutan pada umumnya, sebab perekrutan tersebut seringkali hanya sebagai formalitas. Perlu dilakukan tes menjadi pengajar sebelum direkrut sebagai ASN agar guru yang diterima adalah seorang professional dan terbaik. Seleksi perekrutan guru untuk menjamin kualitasnya sudah dilakukan di beberapa negara seperti Irlandia dan Australia. Kedua, standar kompetensi guru yang ditetapkan pemerintah sebaiknya berfokus pada kualitas pembelajaran peserta didik. Pemerintah hendaknya berperan aktif untuk mengubah standar dan tidak ada permainan politik dalam prosesnya. Ketiga, profesi sebagai guru diberikan tanggung jawab terhadap kinerja profesinya. UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menyebutkan bahwa guru dan dosen diharapkan memiliki kompetensi dan latar pendidikan yang professional sesuai bidangnya, untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Perbaikan dalam manajemen SDM sangat berpengaruh untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

    Kondisi Perguruan Tinggi

    Pendidikan perguruan tinggi di Indonesia saat ini juga mengalami penurunan kualitas, terutama dalam hal soft skill yang dimiliki mahasiswa terkait rendahnya minat membaca. Jumlah perguruan tinggi swasta (PTS) tidak diimbangi dengan kualitasnya, dikutip dari Republika.co.id, Indonesia tercatat memiliki 4.500 PTS yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dengan 57% terakreditasi C. Sedangkan di China, dengan penduduk yang mencapai 1.3 miliar hanya memiliki PTS sekitar 2.500. Data ini hendak menunjukkan bahwa Indonesia kelebihan PTS. Terutama dengan banyaknya PTS dengan standar kualitas yang rendah dan merupakan instasi kecil. Melalui data ini diharapkan pemerintah melakukan peleburan atau merger pada PTS yang sulit berkembang. Di samping itu pemerintah dapat memberdayakan PTS agar mandiri, sehingga akan lebih baik berjumlah sedikit tetapi memiliki kualitas yang baik, agar pendanaan lebih efektif.

    Masalah lain dalam perguruan tinggi berkaitan dengan dosen dan mutu lulusan universitas. Apa yang yang membedakan guru dengan dosen? Dalam UU No. 14 tahun 2005, pemerintah memisahkan pengertian dan fungsi antara guru dan dosen. Dalam pasal 1 disebutkan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini di jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dosen adalah pendidik professional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, yang sering disebut Tri Dharma. Melalui perbedaan fungsi ini, dosen memiliki beban sedikit lebih tinggi dibandingkan guru karena berperan penting untuk menciptakan calon masyarakat.

    Beban kerja dosen (BKD), seperti dijelaskan laman kemendikbud.go.id, merupakan gambaran beban SKS dosen melaksanakan Tri Dharma pendidikan dalam satu semester ke depan. BKD ini perlu dilaporkan secara periodik untuk mengetahui gambaran kerja nyata dosen melaksanakan Tri Dharma pendidikan dalam hitungan SKS satu semester terakhir yang sudah dijalani. Tugas dosen terkait Tri Dharma (pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat) sekarang mengalami peningkatan, yakni beban kerja mengurus administratif yang menguras tenaga. Birokrasi administrasi itu antara lain mengisi borang, fomulir administrasi, setiap ada perubahan kebijakan pemerintah berarti setiap dosen harus merevisi dan mengisi kembali formulir administrasinya. Program pemerintah terkait perguruan tinggi seperti Sipeg, Simlibtamas, Arjuna, Sinta, Sister, dan sekarang mendapat tambabahan mySAP.bkn.go.id. Beban kerja administrasi yang mengganda ini sangat menghambat kegiatan akademik, apalagi setiap ada kebijakan baru dari pemerintah berarti akan ada administrasi baru yang harus diisi kembali (voi.id)

    Pengumpulan BKD bagi para dosen lebih ditujukan untuk mendapatkan insentif pemerintah, sehingga bila tidak mengumpulkan BKD insentif tidak akan cair. Letak permasalahan yang muncul adalah terkait penulisan jurnal baik nasional maupun internasional. Selain penelitian, dosen diharapkan membuat tulisan yang harus dipublikasikan di jurnal ilmiah. Di sini masalah muncul. Dengan rendahnya minat membaca di Indonesia, bagaimana seorang dosen dapat membuat tulisan yang berkualitas sehingga dapat menerbitkan artikelnya di jurnal nomor satu. Belum lagi kendala bahasa, jurnal internasional menuntut penggunaan bahasa asing yang dipahami secara global, yakni bahasa Inggris. Sementara para dosen di Indonesia kurang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, khususnya dalam menulis dengan menggunakan pola pikir para native. Jurnal yang terbit di Indonesia sangat sedikit memiliki pembaca, sehingga membuat para dosen terkesan abai dalam menulis artikel. Selama syarat terpenuhi dan insentif cair, urusan menulis hanya salin tempel tidak akan menjadi masalah, toh tidak akan ada juga yang membaca apalagi mengutip.

    Ditambah lagi dengan permasalahan dosen tidak tetap atau kerap disebut dosen luar biasa. Idealnya dosen tidak tetap berasal dari profesional agar dapat memberikan masukan kepada para mahasiswa terkait pekerjaan yang harus mereka hadapi saat lulus kelak. Ironisnya, proses perekrutan dosen luar biasa ini tidak berbeda jauh dengan perekrutan guru ASN di sekolah. Banyak dosen luar biasa yang memilih menjadi dosen agar memiliki status bekerja di masyarakat dan memiliki penghasilan. Di samping itu proses perekrutannya lebih banyak dikarenakan unsur pertemanan dengan pejabat struktural kampus tersebut, sehingga banyak kualitas dosen luar biasa yang dipertanyakan, karena mereka cenderung mengajar teori yang bisa dilakukan dosen tetap dibandingkan membagi pengalaman sebagai tenaga profesional.

    Berkaitan dengan mahasiswa, dengan BKD yang kian menuntut dosen, hal ini membuat mereka kesulitan meluangkan waktu untuk membimbing mahasiswa, khususnya yang sudah tingkat akhir. Di era 1970an, manajemen perguruan tinggi di Indonesia masih sederhana tetapi cukup mumpuni. Mahasiswa dapat menghubungi dosen untuk berdiskusi maupun bimbingan, hubungan yang terjalin cukup dekat dan tidak kaku. Dosen cenderung menginspirasi mahasiswa dalam proses bimbingan tugas akhir. Saat ini dengan kemajuan teknologi yang pesat ternyata tidak dapat membuat urusan administrasi menjadi lebih sederhana. Layanan akademik saat ini cenderung kaku, rumit dalam hal birokrasi, dan terkesan feodal karena dosen semakin sulit untuk ditemui.

    Penutup

    Dunia pendidikan Indonesia memerlukan arah yang tepat untuk menaikkan kualitasnya. Kualitas pendidikan di Indonesia masih berada dalam tahap peningkatan riset, sehingga diharapkan dapat mewujudkan universitas berbasis riset. Kendala yang sering ditemui adalah kemampuan para pendidik, dalam hal ini dosen, untuk meningkatkan kemampuannya dalam melakukan riset. Saat seorang dosen mencapai puncak pendidikan tertinggi, mereka terkesan stuck dan sudah merasa menyelesaikan semua tugasnya, sehingga mereka akan lebih terfokus pada mengajar. Bahkan dalam mengajar mereka cenderung memakai teori lama yang didapat dari mata kuliah yang diambil saat melanjutkan sekolah. Sesungguhnya penelitian yang diharapkan dikerjakan oleh para dosen dapat membantu mereka dalam meningkatkan kualitas diri dan selalu up to date dengan perkembangan zaman. Membaca juga dapat membantu mereka untuk merevisi teori-teori lama sehingga perkembangan pendidikan dapat diwujudkan. Sebagai pendidik, baik para guru maupun dosen, memiliki tugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Implikasi dari tugas ini adalah tanggung jawab untuk selalu memperbaharui diri agar kualitas pendidikan Indonesia dapat meningkat.

    *****************************************************************

  • Laut,  Ritual  dan  Allah  yang  Menggetarkan

    Laut, Ritual dan Allah yang Menggetarkan

     

    LAUT,  tasik adalah simbolisme yang kuat tentang kehidupan dan penjelajahan manusia. Di kuping anak-anak yang lahir dan besar di pinggir pantai, deburan ombak adalah panggilan untuk menuju ke dunia yang luas dan dalam. Ada godaan untuk bertualang tergiang dari dalam hempasan ombak yang menyemtuh bibir pantai. Laut adalah lambang kebebasan yang mengundang fantasi melanglang buana dan menggugah daya nalar untuk menukik ke kedalaman. Bukan seperti daratan, bagi masyarakat tradisional laut tidak mengenal batas. Bagi orang-orang Lamalera, melaut adalah sebuah pekerjaan yang syarat bermuatan religius seperti kehidupan itu sendiri. Melaut merupakan sebuah ritual. Dan ritus adalah sarana pertemuan, bukan hanya pertemuan antara yang ilahi dan yang insani, tetapi ritus juga mempererat kesatuan di antara yang insani. (Budi Kleden, “Beriman bersama Laut: Dari Laut menuju Tuhan – Dari Tuhan Menuju Laut” dalam Menuju Titik Balik, Esai-esai tentang Teologi dan Sastra: Lamalera 2022).

    Sebuah ritual yang dilakukan oleh orang-orang Lamalera setiap tanggal 30 April adalah ritual melarung lilin. Ritual ini di dahului dengan Perayaan Ekaristi (Misa Arwah) yang diadakan di pantai Lamalera guna mengenang orang-orang Lamalera yang meninggal di laut. Misa Arwah adalah cara orang-orang Lamalera merawat relasi dengan Tuhan dan para keluarganya yang telah meninggal di laut. Dengan Misa Arwah orang-orang Lamalera menyerahkan dan memasrahkan sanak saudaranya yang meninggal di  laut ke dalam belas kasih Tuhan. Tuhan bagi orang-orang Lamalera, meminjam Rudolf Otto, dipandang sebagai yang fascinosum dan termendum – yang misterius, menarik serentak menggetarkan. Pada abad ke-5 Santo Agustinus sudah mengucapkan  perasaan yang sama tentang Tuhan: “Dan aku gemetar dengan kasih dan ngeri”.  (Paskalis Liko Bataona)

    Acara Pelarungan Lilin di Pantai Lamalera 30 April 2022
    Acara Pelarungan LIlin oleh Kelurga Besar Ina Lefa Jakarta di Muara Baru 30 April 2022

     

     

     

     

     

  • Dilema Buruh Perempuan dalam Memperoleh Pendidikan Anak Secara Layak

    Oleh  Dr. Cicilia Damayanti, Konsultan Pendidikan

     

    Pendahuluan

    Hari buruh yang jatuh setiap tanggal 1 Mei selalu menyisakan gugatan kepada penguasa di Indonesia. Setiap tanggal 1 Mei seluruh buruh di Indonesia akan merayakannya dengan melakukan long march menuju istana negara untuk menuntut hak mereka dipenuhi. Meski demikian sangat disayangkan karena sampai saat ini tuntutan mereka hanya terpusat pada sistem pengupahan yang menurut mereka menjadi tolok ukur satu-satunya kesejahteraan. Ada hal lain pula yang terlupakan seperti pendidikan, padahal melalui pendidikanlah kesejahteraan dapat tercapai. Pendidikan menjadi sarana ampuh untuk membuka wawasan mereka tentang hak dan kewajiban yang harus dijalani. Pendidikan menjadi kesempatan untuk mengubah nasib kaum buruh, khususnya buruh perempuan.

    Problematika Kaum Buruh Perempuan

    Sebagai contoh, ketika harga minyak goreng yang melejit pada bulan Maret 2022 semakin membuka banyak hal kepada kita tentang abainya peran pemerintah kepada rakyatnya, termasuk hak buruh perempuan yang bekerja di perkebunan sawit. Menurut data dari International Labour Organization atau organisasi buruh internasional (ILO), di tahun 2022 ada 38 juta pekerja berada di sektor pertanian dan perikanan yang berarti hampir 30 % dari total penduduk bekerja. Perempuan yang bekerja di sana berjumlah sekitar 13,79 juta orang yang mewakili 36% dari total jumlah pekerja di kedua sektor tersebut.

    Dari sekian banyak jumlah buruh perempuan di perkebunan kelapa sawit tersebut rata-rata berpendidikan rendah, mulai dari tidak bersekolah, tingkat SD dan SMP. Dikutip dari Bisnis.com, upah mereka rata-rata Rp. 20 ribu – Rp. 40 ribu per hari selama 8 jam atau lebih. Akibat pendidikan yang rendah ini menyebabkan mereka minim pengetahuan sehingga mereka tidak mengetahui hak apa saja yang bisa mereka dapatkan sebagai pekerja. Bahkan mereka sering dianggap tidak terlihat karena sebagian besar dari mereka adalah buruh lepas. BHR institute yang melakukan penelitian di sana menemukan bahwa banyak buruh perempuan yang bekerja di perkebunan sawit adalah istri-istri pekerja perkebunan sawit, yang terpaksa bekerja untuk membantu suaminya agar target produksi perusahaan terpenuhi. Mereka sering disebut sebagai “ghost labour”, yang menyebabkan mereka tidak mendapat upah atas pekerjaan yang memiliki resiko tinggi.

    Selain upah yang minim mereka juga tidak mendapatkan jaminan sosial, karena tidak tercatat sebagai pekerja. Di samping itu mereka sering mengalami diskriminasi baik fisik maupun mental. Mereka juga rentan terhadap kekerasan seksual, baik verbal seperti digoda maupun fisik seperti dicolek hingga ancaman pemerkosaan. Meskipun banyak kasus yang terjadi, para korban tidak mau melaporkannya karena minimnya akses hukum, pengetahuan, dan ketakutan personal. Ironisnya posisi tempat bekerja mereka yang jauh dari kota membuat publik tidak mengetahui tentang pelecehan seksual tersebut. Ditambah dengan petugas pengawas yang jumlahnya sangat sedikit membuat para buruh perempuan ini tidak mendapat akses informasi Kesehatan dan keselamatan kerja (K3).

    Bagaimana dengan nasib buruh perempuan yang bekerja di pabrik di sekitar Jabodetabek? Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan para buruh perempuan di perkebunan. Menurut data BPS per tahun 2021 jumlah pekerja di indsutri pengolahan meningkat sebesar 1,22 juta orang pada Agustus 2021. Peningkatan jumlah tenaga kerja ini masih tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan hidup para buruh, khususnya perempuan. Jam kerja para buruh di pabrik jam panjang dan terkadang dibagi dalam 2 shift, membuat para ibu tidak bisa memperhatikan anak-anaknya.

    Kurangnya Akses Pendidikan bagi Buruh Perempuan

    Semua kejadian ini berakar dari kurangnya pendidikan yang dapat membantu para buruh perempuan mengakes informasi untuk menyadari hak-hak dasar mereka di tempat kerja dan untuk berjuang bersama mengatasi hal tersebut. Sebagai perempuan, mereka memiliki peran ganda, yakni menjadi ibu dan pekerja. Peran ini kemudian menuntut mereka untuk memilih prioritas utama: bekerja. Dengan bekerja kebutuhan ekonomi keluarga mereka akan terpenuhi. Ekonomi menjadi alasan utama mereka sehingga mengabaikan peran yang lebih penting, yakni anak-anaknya. Tuntutan ekonomilah yang menjadikan mereka abai pada peran sebagai ibu. Jam kerja yang panjang sering menyebabkan mereka tidak memiliki waktu untuk anak-anaknya. Perhatian mereka tercurah sepenuhnya di tempat kerja, sehingga sering abai pada pendidikan anak-anak. Bahkan di beberapa bidang pekerjaan ada yang mengharuskan mereka bekerja dalam dua shift. Minimnya waktu untuk keluarga menjadi dilema tersendiri bagi mereka. Kehadiran mereka di tempat kerja menyebabkan anak-anak tidak mendapatkan perhatian. Sejatinya anak-anak membutuhkan kehadiran ibu yang dapat membimbingnya. Tetapi karena ekonomi menuntut mereka untuk dapat bertahan hidup, yang terjadi adalah anak-anak akan dititipkan pada sanak keluarga atau teman dekatnya. Anak-anak para buruh ini seolah tidak dapat keluar dari lingkaran kemiskinan yang menjerat. Para buruh perempuan ini saat melahirkan mereka memutuskan untuk berhenti kerja. Posisi sebagai buruh lepas menyebabkan mereka tidak memiliki hak cuti melahirkan untuk merawat anaknya. Saat anaknya tumbuh dewasa dan bisa ditinggal bekerja, sang ibu akan melamar kerja lagi di tempat yang sama.

    Kejadian ini akan terus berulang sampai anak kedua, ketiga, dan seterusnya. Upah yang sangat minim dari para buruh ini menyebabkan istrinya harus ikut bekerja membantu para suami. Bagaimana kondisi anak-anaknya? Biasanya mereka akan ditinggalkan sendiri di rumah dan bermain bersama teman-temannya tanpa ada pengawasan dari orang tua. Bisa kita bayangkan bila kedua orang tuanya bekerja, pun misalnya bekerja dalam shift yang berbeda, misalnya ayah atau ibunya sedang di rumah, waktu itu akan mereka gunakan untuk beristirahat supaya bisa bekerja di shift mereka. Kondisi anak-anak yang tanpa perhatian ini menyebabkan mereka harus bisa mandiri tanpa perhatian dan bimbingan dari orang tuanya. Situasi inilah yang menyebabkan lingkarang kemiskinan seolah tidak terputus. Apa yang akan terjadi pada anak-anak ini kelak? Mereka akan kembali menjadi buruh menggantikan posisi orang tuanya. Pendidikan yang tidak cukup membuat mereka sulit untuk bekerja di sektor formal.

    Lingkaran kemiskininan ini seolah sulit diputus sebab minimnya akses pendidikan. Padahal pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan. Pada tahun 2021 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 57 tahun 2021 tentang standar nasional pendidikan. Melalui peraturan itu pemerintah ingin memberi jaminan bahwa setiap warga negara berhak untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Bahkan sejak tahun 2015 pemerintah sudah menganggarkan dana APBN untuk program perlindungan sosial di bidang pendidikan, yakni Kartu Indonesia Pintar (KIP). Bantuan ini diberikan secara berjenjang bagi siswa SD, SMP, sampai SMA, dan di tahun 2022 pemerintah menambahkan bantuannya bagi jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Akan tetapi bantuan ini tidak sampai menjangkau kaum buruh meskipun sudah disebutkan di awal bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan jaminan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Hal ini disebabkan karena persyaratan dan administrasi yang rumit, seperti perlu dibuktikan dengan terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sebagai peserta Program Keluarga Harapan (PKH) dan memiliki Kartu Kesejahteraan Sosial (KKS). Sedangkan untuk mendaftar, masyarakat harus datang ke kantor pemerintah daerah terkait atau secara online dengan membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Sedangkan banyak kaum buruh ini berasal dari daerah dan waktu bekerja yang panjang membuat mereka kesulitan untuk mengurus syarat tersebut.

    Kesenjangan akses pendidikan banyak terjadi di Kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Sarana dan infrastruktur sekolah, menurut Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, kurang memadai di daerah tersebut seperti internet hingga sarana dan prasarana penunjang lainnya. Dikutip dari Mediaindonesia.com, UNESCO melaporkan bahwa 258 juta anak dan remaja di Indonesia mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan. Salah satu penyebabnya adalah kemiskinan. Nadiem sendiri mengakui dana BOS yang dikeluarkan pemerintah sebesar Rp. 3 triliun bagi sekolah di daerah 3T tidak mencukupi sebab biaya penyelenggaraan pendidikan di sana relatif lebih mahal. Di samping itu kurangnya pemetaan pendidikan di Kawasan 3T seperti data siswa, sarana dan prasarana sekolah, hingga kebutuhan guru menyebabkan akses pendidikan kurang terjangkau bagi setiap warga negara Indonesia.

    Di samping itu, para buruh perempuan yang notabene juga tidak memiliki pendidikan yang cukup, merasa bahwa anak-anak akan baik-baik saja tanpa bimbingan orang tuanya, khususnya sang ibu. Padahal anak-anak yang tangguh dan mampu bertahan hidup adalah anak-anak yang mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya. Tepat di sini kehadiran ibu dibutuhkan. Ibu yang hadir bagi anak-anaknya akan membantu mereka mendapatkan nilai-nilai keutamaan hidup yang tidak mungkin didapat di sekolah. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, bekerja keras, peduli pada sesama, taat pada peraturan, harus ditanamkan sejak dini dan itu dimulai dari rumah. Dapat kita bayangkan bagaimana perilaku anak-anak yang sejak lahir sudah kehilangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, sehingga tidak perlu heran kalau saat ini generasi muda kita terkenal sebagai generasi yang kurang peka pada orang-orang dan lingkungan sekitarnya.

    Pendidikan seharusnya dapat menjadi kesempatan dan sarana untuk memutus lingkaran kemiskinan yang mereka alami saat ini. Tetapi justru keadaan ekonomi yang sulit membuat mereka sulit mendapatkan pendidikan yang layak. Para ibu yang seharusnya hadir untuk mendidik dan membimbing anak-anaknya, kenyataannya harus berjibaku sebagai buruh lepas yang sering mengalami diskriminasi. Kesempatan untuk hadir bagi anak-anaknya seolah lepas karena mereka harus bekerja demi hidup anak-anaknya.

    Situasi yang sulit bagi buruh perempuan ini seolah menambah deretan panjang daftar perbudakan modern. Padahal cita-cita kemerdekaan adalah untuk membebaskan rakyat dari perbudakan. Sementara saat ini hidup para buruh perempuan di era digital seperti tidak ada bedanya dengan para budak di zaman penjajahan. Sebenarnya sangat disayangkan saat mereka berdemo yang dituntut hanya kenaikan upah. Ada yang mereka lupakan yang harusnya menjadi tuntutan utama, yakni waktu berkualitas untuk keluarga dan pendidikan yang layak untuk anak-anaknya. Diharapkan saat mereka mempunyai waktu berkualitas bersama keluarga dan mendapatkan pendidikan yang cukup bagi  anak-anaknya lingkaran kemiskinan dapat diputus. Sebab melalui pendidikan mereka akan paham bahwa kesejahteraan tidak terukur melalui ekonomi semata.

    Penutup

    Hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah mulai melakukan pendampingan pada kaum buruh, khususnya perempuan, tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Pemerintah dapat mengeluarkan aturan yang lebih mempermudah kaum buruh untuk mendapatkan akses bantuan sosial dalam bidang pendidikan. Tempat penitipan anak perlu dibangun di wilayah sekitar kawasan industri agar anak-anak para buruh tetap terjamin keselamatan dan kesejahteraannya. Di samping itu pemerintah diharapkan dapat membuat RUU turunan yang dapat mengatur jam kerja para buruh dan menghapus sistem kontrak yang merugikan para buruh. Undang-undang ini diharapkan dapat menjadi jaminan bagi para buruh untuk dapat hidup sejahtera, sehingga cita-cita kemerdekaan yang ingin menghapuskan segala bentuk penjajahan di muka bumi ini dapat tercapai.

    ———————————————————————————–

  • Mengenal Orang Bajo

    Oleh Frans Laba Bataona

     

    THOMAS  MERTON, penulis Amerika yang produktif pada zamannya pernah mengungkapkan pandangannya: ”No Man  is An Island” bahwa manusia secara pribadi sekali pun tidak bisa hidup sendirian lepas dari korelasi dan kolaborasi dengan orang lain. Manusia sebagai makluk sosial perlu mengejahwantahkan dirinya lewat komunikasi dan kerjasama timbal balik dengan pribadi lain, dengan masyarakat dan dunianya secara sadar dalam mencapai kepribadian penuh secara utuh dan menyeluruh. Manusia bukanlah sebuah dunia isolasi total. Tidak ada seorang manusia pun bisa diibaratkan dirinya sebagai sebuah pulau terpencil.

    Bagaimana identitas diri dan sikap hidup saudara-audara kita orang Bajo di perairan Lewoleba Lembata, NTT menghadapi badai zaman yang begitu hebat dalam derasnya arus modernisasi ini? Mari kita ikuti laporan ini secara utuh dan lengkap sampai tuntas.

    Banyak suku bangsa dikawasan nusantara ini awet hidup dalam kekhususanya walaupun modernisasi   begitu   hebat digalakkan. Hanya mereka yang mampu mengenal diri mampu bertahan tehadap badai zaman. Kekhususan pernyataan diri dan tingkahlaku sosial tidak harus luntur ketika harus berdampingan dengan pengaruh dari luar. Masalahnya bukan sekedar embel-embel tetapi masalah budaya. Masalah budaya sebagai identitas memang tidak begitu saja terhapus dengan satu-dua kali penataran; semua nilai sosial dan budayanya telah menggumpal menjadi unsur-unsur yang menentukan apa   identitas dirinya. Sejarah telah mencatat ungkapan klasik “Rule Britania Rule the Waves” (Kalau mau kuasai Inggris taklukkan dulu ombak samuderanya). Ada juga pameo yang berbunyi “Ambillah kudanya dan dia bukan orang Kozakc lagi. Ungkapan yang sama dapat diterapkan pada orang Bajo. Ambillah perahunya maka dia bukan orang Bajo lagi.

    Segi dalam dari suku bangsa yang satu ini memang tidak banyak yang tahu meskipun mereka hidup begitu dekat dengan masyarakat kita. Yang kita tahu mereka itu pelaut yang tangguh  dan penyelam “bernapas penyu” berikut rumah-rumah panggung di lepas pantai yang mengejahwantahkan kecintaan kepada laut yang melepas bebas. Hal-hal yang disebut terakhir ini dijalin dalam satu ungkapan orang Flores yang utuh ,padu, pas dan bernas: “Bajolao”. Begitu sedapnya ungkapan Bajo dan Laut dieja dalam satu helaan napas.

     

    Senja di Sabu Na Puar

    Orang Flores Timur pernah  mengenal lagu Tina Le yang popular pada tahun 60-an. Sebuah lagu yang tidak lain berangkat dari tragika kehidupan sebuah keluarga Bajo yang bunyinya antara lain sebagai berikut.

     

    E.. Nasib sayang kerogo bao le…(Aduh…nasibmu sayang seperti rumput laut..hanyut)

     e…bao dore mo  ole lali nai.. Tina le… (hanyut mengikuti arus ole ke barat)

    E..Tina..Tina le…(Oh Tina..Tina)

    Tina ake molega doan bai ..(Tina le…    Jangan pasiar jauh-jauh)

    Puken Tina…ra belo beke ka…(Karna Tina..nyawa terancam.. dan..dimusuhi)

    E…Tapi tuen mo balik hala le..Tina le…(Dipanggil-panggil tapi kau tak akan Kembali)

     

     Pengarang lagu mengambil titik pandang wanita lereng gunung Ile Mandiri yang menjadi ibunya Tina yang terancam nyawanya karena Tina anaknya telah lari memgikuti sang ayah. Tema yang sama telah diangkat oleh seorang sutradara pada tahun 70-an   yang sempat menggebrak panggung kota Larantuka dengan judul drama yang cukup sentimental: Senja di Sabu Na Puar.

    Seharusnya mata batin kita lebih awas  bahwa bukan masalah penculikan oleh ayahnya yang harus  dipersoalkan tetapi bahwa tanah daratan adalah  bukan tempat buat Tina  berdarah Bajo itu. Masalahnya lebih sebagai masalah budaya daripada sebagai masalah moral. Meskipun dalam praktiknya kedua masalah ini dapat dibedakan tapi tak dapat dipisahkan. Di atas sudah dikatakan bahwa sebagian besar hidup masyarakat Bajo terbatas antara atap-atap kajang rumah perahu dan rumah-rumah panggung di lepas pantai yang relatif rerpisah dari daratan.

     

    Panggilan Jiwa

    Di atas sudah disinggung bahwa  hal ini sedikit banyak merupakan panggilan jiwa suku Bajo. Gejala lain yang perlu disebutkan ialah bahwa mereka bisa saja hadir di banyak tempat tanpa harus tercerabut dari akarnya: Bajo Naim, Bajo Torosinaim, Bajo Flores, Bajo Lembata, Bajo Filipina dan sebagainya. Ini..Hidup yang melepas bebas ini tidak berarti bahwa masyarakat Bajo  sebagai suatu kelompok sosial tidak mengenal hukum. Setiap warga Bajo merasa dipanggil untuk mengemban tugas yang sifatnya melanjutkan sejarah peradaban leluhur. Justru pada titik inilah letak fanatisme, membuka diri suatu suku bangsa. Orang merasa mengkianati leluhur kalau harus melangkah di luar jalur tradisi yang sudah telanjur mapan. Mengolah tanah, sekolah, media masa, modernisasi tidak merangsang orang Bajo, karena warisan tradisi lekuhurnya tidak mengenal hal-hal demikian. Hidup yang tepergantung pada rezeki hari ini mungkin hal yang aneh bagi Anda dan saya tetapi tidak untuk orang Bajo. Ini tidak berarti mereka harus memusuhi modernisasi. Dalam arti modernisas merupakan milik orang “Bagai” ( Istilah    untuk menyebut orang di luar kelompok “Sama” / kelompok orang Bajo sendiri). Dan  dengan mengetahui istilah-istilah warisan tradisi modern tersebut mereka telah memenuhi kewajiban dalam larik sejarah kelompok mereka. Seorang anak Bajo dididik secara demikian untuk melihar dunia “Bagai”  melalui istilah-istilah yang ditujukan padanya. Atau yang didengarnya sehari-hari dan di kemudian hari akan diajarkannya kepada anaknya sendiri. Bagi orang Bajo sendiri pandangan serupa ini merupakan wujud sebuah komunikasi yang diam.

    Dan sekaligus merupakan suara orang Bajo sendiri terhadap dunia luat. Kita harus bisa mengerti hal ini karena dengan cara ini sejarah mereka diceritakan. Cara hidup Bajo di sustu lautan memisahkan mereka dengan dunia lainnya dan di mana penderitaan yang jarang muncul dalam lagu rakyatnya menjadikan suku bangsa Bajo orang yang damai,penuh tekad hidp dan yakin bhwa mereka masih merupakan bangsa Bajo. Kedewasaan mereka tidak pernah akan membuat bangsa  Bajo menolak bangsa “Bagai”. Mereka  membuka diri, coba tahu dan mengerti kehadiran dunia yang sekarang, dunia yang sedang meraih mereka, dunia modern. Hal-hal modern yang yang melanda seperti benda-benda, kapal-kapal, impian, media masa, para ahli Antropologi, menempatkan mereka pada  suatu persoalan bermata dua. Mereka tergiur tapi sebaliknya sangsi akan keuntungan yang dapat diperoleh. Keterbukaan itu ada tetapi mereka selalu terbentur pada kesadaran tentang siapakah mereka sesungguhnya., bahwa mereka adalah orang Bajo.  Menjadi orang Bajo berarti hidup seadanya di tengah laut,  dan berpasrah sepenuhnya pada nasib dan keberuntungan.   Orang Bajo sendiri mengidentifikasi diri dengan “kesederhanaan”. Bagaimana mungkin jala-jala bikinan Jepang yang sering mereka percakapkan itu bisa diharapkan, jika mereka sadar bahwa hal ini akan merombak kebudayaan mereka? Bukankah ini sama saja dengan membongkar kepribadian mereka secara cukup drastis? Mereka bisa menertawakan keterbatasan mereka dibandingkan dengan kelompok lain. Mereka bisa tertawa  tentang anak-anak mereka yang cuma pintar memancing.  Mereka akan tunduk dan menyebut diri keras kepala, bahwa hidup ini terlalu berat baginya, bahwa hidup di daratan akan lebih ringan tetapi dia tidak tinggal di darat.

     

    Sekolah

    Orang Bajo yang mewakili suatu kesatuan suku bangsa, kesatuan bahasa, yang bebas dari pengaruh pihak mana pun juga. Ruang tempat tinggal dan sejarah berkaitan secara mesra. Kalau kita mau berteman, mau mengenal, mau  mengerti dan menghormati orang Bajo maka kita harus mempu mengerti bahwa terpencar-pencarnya mereka merupakan suatu nilai budaya mereka sendiri. Hal ini juga menunjukkan kecendrungan mereka untuk hidup secara bebas sebebas-bebasnya. Ini juga berrti bahwa dari pihak kita dibutuhkan suatu hati yang lebih lapang untuk memahami keengganan mereka untuk mengalah kepada yang lebih berpengaruh. Nada dasar yang perlu kita bidik iahlah bahwa oang Bajo tidak mau mendengar suara-suara dari luar. Jangan heran kalau salah satu sarana yang paling efektif bagi pembangunan mental warga Negara, adalah hal yang ditolak orang Bajo sejak dulu yaitu  sekolah. Menurut mereka Sekolah mencerminkan suatu tradisi asing: Ia mengganggu tradisi yang telah ada. Sekolah harus dihindari  atau paling kurang jangan terlalu sering dikunjungi. Pengetahuan menangkap ikan berarti pengetahuan untuk kelangsungan hidupnya, jauh  lebih penting dari pengetahuan apa pun. Sekolah adalah hal yang baik tapi bukan untuk orang Bajo. Apa yang terjadi dengan budaya dan bahasa Bajo kalau mereka harus berhadapan dengan suatu cara hidup daratan.

    Itulah sekelumit perkenalan dengan segelintir anak tanah kita sendiri, yang begitu akrab dengan hidup kita tapi tetap dalam suatu keterasingan yang tidak bakal berakhir dengan membangun  jembatan penghubung antara daratan dengan rumah mereka. Mengunjungi sekolah berarti harus tinggal di darat.

    Boleh saja  kita berangan-angan demikian, tetapi mungkin perlu kesabaran ekstra hingga  beberapa generasi mendatang. Semoga tulisan ini menjadi perkenalan untuk lebih mengakrabi dunia mereka dari dalam yang selama ini walau tidak bertetangga sebelah rumah tapi bertetangga perahu di atas laut yang sama, dengan arus, ombak, batu karang dan matahari yang sama. Itulah hembusan hari-hari indah bersama saudara kita orang Bajo di perairan Lewoleba, Maumere, Labuan Bajo dan di mana saja.  Itulah nada hidup orang Bajo yang berhembus hari demi hari bagai camar di tiang kapal, mengarungi nasib bagai karogo bao le yang hanyut mengikuti arus air berlalu (bdk. majalah Prisma Februari 1979)

     

    Yogyakarta, 26 Januari 1980

    NB. Maaf kalau ada bahasa peyorasi yang salah ditutur dalam tulisan ini.

    * Frans Laba Bataona, Pengajar dan Filolog

  • Gugatan Kartini untuk Perempuan Indonesia Masa Kini

    Oleh Dr Cicilia Damayanti, M. Pd., Dosen Universitas Indraprasta PGRI – Jakarta

     

    SETIAP  tanggal 21 April perempuan-perempuan di Indonesia akan bersukacita menyambut hari Kartini. RA Kartini yang lahir pada 21 April 1879 adalah anak dari pasangan R.M. Sosroningrat dengan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya adalah seorang bupati Jepara yang pada masa itu diperkenankan memiliki istri lebih dari satu. Meskipun ibunya adalah istri pertama, tetapi karena kemudian ayahnya menikah dengan Raden Ajeng Woerjan, yang adalah seorang putri Bupati Jepara, hal ini menyebabkan ibunya tidak dijadikan sebagai istri utama atau biasa disebut garwa padmi. Kedudukan ibunya sebagai garwa ampil menyebabkan Kartini harus memanggil ibunya Yu dan memanggil Ibu kepada istri utama Ayahnya. Kartini sendiri sangat tidak menyukai poligami, tetapi dia tidak bisa melawan karena peraturan ini disahkan oleh adat dan agama.

    Sebagai anak bangsawan yang berjenis kelamin perempuan, saat itu Kartini tidak dapat mengenyam pendidikan. Tetapi dia beruntung karena ayahnya berpikiran terbuka dan tetap mengizinkan anak-anak perempuannya mendapatkan pendidikan. Seperti yang sudah kita ketahui dari banyak buku yang menulis tentang Kartini, dia mendapatkan banyak buku, buletin maupun majalah yang mendukungnya untuk memperluas wawasannya. Untuk itu Kartini sangat berterima kasih pada kakaknya RM Panji Sosrokartono. Kartono adalah seorang pelajar Bumiputra pertama yang melanjutkan sekolahnya di Belanda dan bergelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, dengan spesialisasi pada jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Dia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara. Kartono dijuluki sebagai “Si Jenius dari Timur”. Dia banyak melalangbuana ke Eropa dan bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar dan majalah terkenal. Melalui Kartono inilah Kartini banyak mendapatkan buku, buletin, dan majalah. Sumber-sumber ilmu pengetahuan ini juga yang membuat Kartini mendapatkan wawasan dan pencerahan untuk mendobrak tradisi dan memperjuangkan kesetaraan perempuan.

    Berbicara tentang kesetaraan perempuan, yang hendak diperjuangkan Kartini pada saat itu adalah kesempatan bagi para perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Menurutnya, pendidikan akan membantu kaum perempuan untuk memperoleh pengetahuan sehingga mereka siap untuk melaksanakan tugas yang ditentukannya sendiri. Dia ingin para perempuan dapat mengembangkan pikiran dan semangat untuk kemudian diturunkan kembali kepada anak-anaknya. Baginya, seorang anak yang hebat berasal dari seorang ibu yang terdidik dan tangguh. Untuk itu pendidikan menjadi jalan bagi perempuan untuk mendapatkan kesempatan mengembangkan dirinya sehingga mereka dapat menjadi sahabat yang bermartabat bagi laki-laki dan semakin maju.

    Cita-cita Kartini sekarang sudah menjadi nyata. Di era modern menuju pascamodern ini kaum perempuan sudah mendapatkan kesempatannya untuk mendapatkan pendidikan dan terdidik menjadi perempuan yang cerdas dan hebat. Saat ini mereka sudah menjadi setara dengan kaum laki-laki, baik dalam hal pendidikan maupun pekerjaan. Kerja sama perempuan dan laki-laki pun sudah semakin baik. Hal ini ditandai dengan mulai maraknya laki-laki yang mau terjun langsung mengurusi urusan domestik. Bukan hal yang tabu lagi bila saat ini kita melihat laki-laki memasak atau mengurus anak sementara ibunya meniti kariernya di luar rumah. Saat ini setiap perempuan sudah mendapat kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk menjadi apa yang diinginkan dalam hidupnya.

    Namun ironisnya saat kesetaraan laki-laki dan perempuan kian merata, dan perempuan maupun laki-laki berhak bekerja di luar rumah, hal ini menimbulkan ketimpangan yang lain. Saat orang tua, baik ayah maupun ibu bekerja di luar rumah, menimbulkan permasalahan baru terutama ketika ada anak-anak yang perlu diurus. Keadaan tanpa orang tua yang mengurus anak ini di satu sisi menjadi jembatan bagi orang lain untuk bekerja, tetapi di sisi lain pekerjaan ini tidak didukung oleh payung hukum yang memadai. Saat ini banyak Pekerja Rumah Tangga (PRT), dan rata-rata adalah perempuan, yang membantu para ibu mengatasi permasalahan pengasuhan anak-anaknya saat mereka bekerja di kantor. Tepat di sini terjadi kontradiksi. Para PRT ini bekerja tanpa memiliki kontrak yang jelas dari para majikannya. Jam kerja, gaji, jaminan sosial, bahkan kesejahteraannya tidak pernah mendapat perhatian dari para tuan dan nyonya yang mempekerjaan mereka. Bahkan sampai saat ini pun negara masih abai terhadap kesejahteraan kaum PRT ini. Hal ini terlihat dari tidak disahkannya Rancangan Undang-Undang turunan tentang PRT. RUU ini sendiri sudah mangkrak selama 17 tahun di DPR. Dikutip dari nasinoal.tempo.co, RUU perlindungan PRT sudah diajukan ke DPR sejak 2004 dan sampai tahun 2021 hanya masuk dalam daftar program legislasi nasional (prolegnas), tanpa pernah menjadi prioritas untuk dibahas dan disahkan oleh DPR RI.

    Apabila Kartini masih hidup, lagu Ibu Pertiwi ciptaan Kamsidi Samsuddin akan berubah lirik menjadi “Kulihat Ibu Kartini sedang bersusah hati”. Cita-cita Kartini untuk memajukan kaumnya sehingga mereka bisa setara dengan laki-laki justru dinodai oleh kaumnya sendiri. Kaum ibu yang mempekerjakan PRT justru kurang memperhatikan kesejahteraan para karyawannya ini. Jam kerja para PRT yang fleksibel menjadi semakin tidak jelas terutama saat para ibu harus lembur di kantor. Gaji yang didapat para PRT jauh dari Upah Minimum Regional. Dikutip dari ibupedia.com, gaji PRT yang pulang pergi berkisar antara Rp. 1 juta hingga Rp1.5 juta dengan jam kerja dari jam 7 sampai jam 5 sore. Sementara untuk PRT yang menginap gajinya sekitar Rp. 2 juta sampai Rp. 2.5 juta. Sementara untuk baby sitter yang berpengalaman dibayar Rp. 2,5 juta hingga Rp. 3 juta. Sedangkan yang belum berpengalaman dibayar Rp. 1.8 juta sampai Rp. 2 juta.   Gaji ini pun masih dapat disesuaikan berdasakan kesepakatan. Alasan utamanya adalah karena tidak perlu mengontrak rumah dan urusan domestik sudah ditanggung majikan. Para PRT ini tidak memiliki jaminan sosial karena pekerjaan mereka dianggap tidak jelas sehingga tidak dapat didaftarkan jaminannya ke departemen tenaga kerja.

    Bagaimana Kartini tidak akan menangis bila melihat kaum perempuan ini, yang notabene adalah kaum yang merupakan ibu dia sendiri, diperlakukan tidak adil. Pendidikan yang diharapkan Kartini dapat memajukan kaum perempuan malah menjadi boomerang bagi mereka sendiri. Justru melalui pendidikan, kaum perempuan yang sudah melek hukum dan paham akan hak asasi manusia malah menjadi penyebab terjadinya perbudakan modern. Perjuangan Kartini untuk menyetarakan kaum perempuan seolah-olah pupus karena justru dari perempuan itu sendiri perbudakan modern dilanggengkan.

    ———————————————————————

     

  • “Cintaku di Lembata”, sebuah Fiksi Perjalanan Bertabur Cinta

    “Cintaku di Lembata”, sebuah Fiksi Perjalanan Bertabur Cinta

     

    Oleh   Dr. Wiyatmi, H. Hum

     

    PEMBACA SASTRA INDONESIA saat ini mungkin tidak begitu mengenal nama Sari Narulita sebagai salah satu sastrawan perempuan di Indonesia. Mereka, terutama generasi saat ini, lebih mengenal nama Nh. Dini, Dee (Dewi Lestari), Okky Madasari, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Oka Rusmini. Mengapa demikian? Ternyata karier kepenulisannya sudah dimulai sejak 1970-an, sezaman dengan Marga T., Titie Said. La Rose, Maria Sardjono, Nina Pane, dan Titiek W.S. Sejumlah nama sastrawan perempuan yang dalam buku A. Teeuw (Modern Indonesian Literature II, 1979:163) dikategorikan sebagai novel pop. Novel pertamanya berjudul Kabut Cinta (1978), disusul dengan Tatkala Cengkeh Berbunga (1982). Dari catatan biografinya, dia lebih dikenal sebagai seorang bintang film (aktris) dan bermain dalam sejumlah film, antara lain Bermalam di Solo (1962), Penjeberangan (1963), Masa Topan dan Badai (1963), Unggul Kasih Dimusim Kemarau (1964), Takkan Lari Gunung Dikedjar (1965), Deru Campur Debu (1972), Bundaku Sayang (1973), Patgulipat (1973), Last Tango in Jakarta (1973), Ratapan Si Miskin (1974), Cinta Pertama (1974), Antara Surga dan Neraka (1976), Pengalaman Pertama (1977), Gara-Gara Gila Buntut (1977), Cowok Masa Kini (1978). Selain bermain film dia juga bekerja sebagai redaktur majalah, antara Sarinah, Pertiwi, Cosmopolitan, Herworld, Brides, dan Maxim.

    Perspektif feminisme tampaknya dapat menjelaskan mengapa Sari Narulita dan sastrawan perempuan seangkatannya di tahun 1970-1980-an tidak banyak dibahas dalam kajian sastra dan sejarah sastra di Indonesia. Kritikus sastra dan sejarawan sastra Indonesia pada umumnya masih menggunakan perspektif patriarkis dan cenderung melupakan kretivitas para sastrawan perempuan atau menilai rendah kualitas karya sastrawan perempuan (Wiyatmi, 2017:12). Dengan menggunakan kritik sastra feminis, kreativitas para sastrawan perempuan akan lebih diakui dan dihargai. Showalter (1986:130-131) mengemukakan bahwa kritik sastra feminis pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu the women as a writer (gynocritics) yang memberikan perhatian pada perempuan sebagai penulis karya sastra, dan the women as a reader¸ yang membaca dan memahami karya sastra sebagai mana perempuan membaca. Dengan menggunakan perspektif gynocritics tulisan ini mencoba memahami kreativitas dan karya sastrawan perempuan–yang telah berkarya sejak tahun 1970-an, Sari Narulita dan karya terbarunya, Cintaku di Lembata (Gramedia Pustaka Utama, 2016).

    Cintaku di Lembata adalah novel yang ditulisnya setelah kembali ke dunia sastra. Dari pengantarnya, dia menyatakan bahwa novel tersebut ditulis berdasarkan perjalanannya ke Pulau Lembata, NTT tahun 2014. Pengalamannya yang mengendap selama setahun, kemudian dibangkitkan kembali ketika 2015 dia mendpatkan kesempatan me ngunjungi pulau tersebut bersama tim AFI (Asosiasi Fotografer Indonesia). Novel ini tidak hanya berkisah tentang cinta sepasang kekasih di Pulau Lembata, yang sempat terputus, bertemu kembali, dan akhirnya berpisah untuk kedua kalinya. Namun, ada yang lebih menarik dari hal itu, sebuah reportasi perjalanan wisata dan analisis kritis terhadap perkembangan sosial budaya dan peradaban di wilayah Indonesia Timur, khususnya NTT digambarkan dengan sangat indah dalam novel in

     Kisah Cinta dalam Sebuah Fiksi Perjalanan Karya Sari Narulita

    Bagi pembaca yang suka traveling dan belum mengenal wilayah Indonesia Timur, khususnya Lembata, Nusa Tenggara Timur, novel ini akan sangat berguna untuk memberikan gambaran mengenai lokasi geografis, perkembangan masyarakat, pemerataan proyek pembangunan pemerintah, destinasi wisata, kekayaan tradisi, dan budaya masyarakat Lembata. Narasi yang memperkenalkan dataran Lembata sangat mendetil dan informatif.

    Pulau Lembata yang berada dalam gugusan Kepulauan Solor di Propinsi NTT. Konon dikenal dengan nama Lomblen, yang berarti kawula. Alamnya sebagian besar terdiri atas wilayah pesisir pantai, perbukitan, dan gunung berapi. Penduduk aslinya berasal dari dua etnis, Lamaholot dan Kedang. Meski agama di sini Roma Katolik, Islam, Protestan, Hindu, dan Budha, mereka masih menaruh kepercayaan pada leluhur dan adat memberi sesaji. Juga sangat kuat memegang tradisi (Narulita, 2016: 18).

     Narasi tersebut membuat pembaca mengenal latar tempat terjadinya berbagai kisah dan peristiwa, baik yang dialami oleh tokoh dalam perjalanannya di Lembata maupun karakter masyarakatnya. Karakter masyarakat yang bersahabat dalam menyambut tamu tampak pada narasi berikut:

    Sekitar jam 17.00 kami tiba di puncak buktit Desa Lamagute. Mobil berhenti dan kami dipersilakan turun, menanti sampai seluruh rombongan tiba. Akan ada upacara adat yang merupakan tradisi penyambutan, sebelum kami diperbolehkan memasuki desa tersebut…
    Para tetua adat yang berbaris memegang tombak berpantun sahut menyambut. Seorang perempuan tua menyanyikan lagu dengan nada-nada monoton dengan nyaring. Tidak satu pun kata yang kami mengerti, tapi semua menikmati ritual ini. Setelah tarian tombak, sejumlah perempuan berpakaian adat dengan sekotak sirih di tangan menghampiri kami dan menyuguhkannya.
    Aku mengambil selembar daun sirih, secuil kapur, dan sepotong gambir…. (Sari Narulita, 2016: 22-23).

     Dari struktur naratifnya novel Cintaku di Lembata dapat dikategorikan ke dalam genre sastra perjalanan (travel writing). Dengan mengacu pada pendapat Carl Thomson (2012: 13) yang menyatakan bahwa travel writing adalah segala catatan yang merekam pertemuan antara diri (self) dan yang lain (other), dan negosiasi-negosiasi atas perbedaan atau persamaan yang melingkupinya, juga bentuk dokumen lain yang berhubungan dengan perjalanan atau artefak kebudayaan, maka Cintaku di Lembata termasuk genre sastra perjalanan. Kisah diawali dengan keputusan tokoh Kayla mengikuti ajakan sahabatnya, Eleonara dalam program Adventure Lembata 2014. Bersama rombongan yang terdiri dari 120 orang yang terdiri dari warga negara Indonesia, Singapura, dan Malaysia mereka berwisata mengunjungi sejumlah tempat di Lembata.

    Perjalanan dimulai dari Jakarta ke Kupang dengan pesawat Batik Air, dilanjutkan dengan pesawat Internusa (atau Susi Air) ke Lembata. Selanjutnya perjalanan darat mengunjungi sejumlah desa wisata menggunakan bus.

    Pesawat yang membawa rombongan Lembata Adventure 2014 mendarat pukul 05.30 di Bandara El Tari, Kupang. Aku melangkah turun dari pesawat. Tiba di bawah aku berhenti sejenak. Mataku menyusuri lapangan terbang yang tampilannya jauh berbeda dari saat terakhir kutinggalkan….
    Dulunya lapangan terbang ini tandus dan di pinggirnya penuh ilalang saat itu hanya pesawat milih AURI yang mendarat di situ…(Sari Narulita, 2016:12).

    Penerbangan dengan pesawat berbaling-baling itu hanya memakan waktu 45 menit. Pesawat mendarat mulus di Pulau Lembata. Bandara kecilnya bernama Wunopito Lewaleba yang terletak hanya lima belas menit berkendara ke kota (Sari Narilita, 2016:18).

    Sebagai novel yang dapat dikategorikan writing travel melalui tokoh utama (Kayla) dengan sudut pandang akuan, novel ini cukup berhasil menggambarkan perjalanan yang ditempuhnya dari Jakarta-Kupang, dilajutkan dngan Kupang-Lembata. Kayla bahkan mencoba membandingkan keadaan ketika pertama kali mengunjungi Lembata melalui Kupang beberapa tahun sebelumnya dengan kondisi 2014.

    Ketika menggambarkan tempat-tempat yang dikunjungi, Kayla juga mengekspreikan sejumlah fasilitas umum yang perlu ditingkatkan untuk mendukung Lembata sebagai daerah kunjungan wisata. Misalnya, tembok-tembok ruang bandara yang belum dilengkapi poster atau foto wisata yang dapat menjadi sarana promosi (Narunita, 2016:19), kurangnya persiapan panitia setempat sehingga kamar home stay tak berpintu dan hanya ditutup gordin (hlm, 29), penginapan di desa adat yang berupa saung setengah terbuka terbuat dari bambu yang ditutup dengan atap ala kadarnya (hlm. 37), letak toilet yang cukup jauh dari kamar dengan fasilitas air untuk madi yang terbatas (hlm. 37-38).

    Namun, kurangnya fasilitas yang diperoleh para wisatawan selama perjalanannya di desa-desa di Lembata digantikan oleh keramahan dan keterbukaan penduduk dalam menyambut dan melayani mereka, termasuk berbagai menu makanan tradisional yang enak dan menggugah selera. Sebuah perjalanan wisata tampak jelas pada narasi berikut.

    Secara geografis Lamalera membentang di tepi pantai selatan Pulau Lembata. Jarak Jontora ke sana sebenarnya tidak terlalau jauh, tetapi dapat ditempuh empat jam karena jalanan berliku dan tidak mulus. Akan ada dua tempat yang bakal dikunjungi dalam perjalanan ke Lamalera yaitu desa Belo Baja dan pasar barter tradisional.
    Ketika bus mulai penuh, kami diabsen panitia, kemudian bus jalan beriringan… Bus kembali bergerak menempuh jalanan gunung yang berkelok-kelok. Dari kejauhan kami dapat melihat desa. Itulah Belo Baja.
    Bus berhenti dan kami dipersilakan turun. Di kanan kiri jalan kami disambut hangat oleh masyarakat setempat yang kebanyakan mengenakan pakaian tradisional. Mereka menari sambil menyanyi, mengarahkan kami ke tempat yang tersedia kopi dan camilan lokal.
    Ini daerah penghasil kopi. Aku tidak biasa minum kopi hitam, tapi gadis yang menuangkannya meyakinkanku bahwa kopinya ebak. Aku melihat ke arah Nora yang tengah menghirup kopinya dengan nikmat…. (Sari Narulita, 2016: 108).

    Melalui perjalanan wisata Kayla bersama Adventure Lembata 2014 novel ini juga memperkenalkan berbagai produk budaya khas Lembata, seperti alat musik sasando dan kerajinan tenun (Sari Narulita, 2016:163-164). Selain itu, novel ini juga memperkenalkan salah satu warisan budaya yang ada di Desa Lembata, yaitu atraksi perburuan ikan paus secara tradisional yang diawali dengan upacara misa leva untuk pemberkatan alat-alat tadisional yanga kan digunakan berburu. Tradisi perburuan ikan paus dilakukan antara bulan Mei hingga September. Konon ini merupakan satu-satunya tradisi di dunia, sehingga pada bulan tersebut banyak kru TV atau jurnalis asing meliput peristiwa tersebut (Narulita, 2016: 112).

    Dari situs http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/03, diperoleh informasi bahwa tradisi perburuan ikan paus di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tidak seperti yang dilakukan oleh nelayan-nelayan modern Jepang yang memburu kawanan ikan paus dengan kapal-kapal besar dan canggih, nelayan Lamalera hanya menggunakan peledang, yakni perahu kayu tradisional sebagai sarana perburuan, serta sosok lamafa yang memiliki tugas menikam ikan paus menggunakan sebilah tempuling atau tombak.

    Sesuai dengan judulnya Cintaku di Lembata novel ini bukan sekedar kisah perjalanan wisata bersama rombongan Adventure Lembata, tetapi juga sebuah kisah cinta yang mengharukan. Kisah cinta yang bersemi antara Kayla dengan Gringgo (Elanda). Mereka bertemu pertama kali ketika Kayla bersama sejumlah artis ibukota yang tergabung dalam BKSSM (Badan Kerja Sama Seniman Militer) di era Orde Baru dikirim Lembata untuk menghidur para prajurit yang menjaga keamanan NKRI. Kisah cinta terputus setelah Kayla kembali ke Jakarta. Bertahun-tahun mereka berpisah. Namun, perjalanan wisata berasma Adventure Lembata 2014 mempetemukan kembali Kayla dengan Gringgo. Dalam pertemuan kembali tersebut, mereka tidak hanya saling menumpahkan kerinduannya, tetapi juga menikmati keindahan alam Lembata dan mendiskusikan kemajuan Lembata dan kurangnya perhatian pemerintah pusat dalam membangun infrastruktur di Indonesia Timur.

    “Gringgo, kau tak pernah cerita bahwa bulan lebih besar dan indah dilihat dari sini!”
    “Kukira kau tak berminat mengetahuinya,” jawab lelaki itu seenaknya.
    “Aku juga tak pernah tahu langit di sini lebih biru dan lautnya begitu jernih. Mengapa dulu kau tak pernah mengajakku jalan-jalan di pantai, Gringgo?”
    “Tak mungkin menculikmu dan mengajaknya pergi. Tak ada kesempatan untuk itu. Aku sedang tugas dan keadaan belum aman.” (Narulita, 2016:141-142).

    “Lembata memiliki potensi menjadi objek wisata, Ada laut dan gunung. Adat istiadat dan budanya terjaga turun tumurun, “ sambung Gringgo.
    “Kau benar, tapi infrastrukturnya masih kurang diperhatikan pemerintah pusat. Perlu standarisasi home stay, sanitary, perbaikan jalan, dan alat transportasi setempat sehingga menjadi lebih layak, “ kataku menengadah ke arah Gringgo….(Narulita, 2016:136).

    Meskipun kisah cinta tersebut bersemi kembali dalam pertemuan kedua di Lembata, akhirnya keduanya harus berpisah lagi. Gringgo meminta Kayla kembali ke Jakarta, walaupun Kayla ingin tetap tinggal di Lembata. Gringgo tak ingin menahan Kayla karena di Jakarta Kayla masih terikat perkawinan, memiliki keluarga dan karier. Dengan berat hati akhirnya Kayla pulang ke Jakarta bersama rombongannya. Apalagi sebelum Gringgo memintanya untuk meninggalkannya dan pulang ke Jakarta, Kayla ditemui sosok misterius yang mengaku mendapat tugas dari leluhurnya sebagai penjaga Gringgo.
    Baru saja aku akan melangkah, kudengar di belakangku ada yang memanggil.
    “Nona, tunggu! Beta mau bicara.”
    Suara itu mengejutkanku. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, berharap ada orang lain selain aku di jalanan. Tapi jalan kosong, tak ada orang lain. Aku tak berani menengok ke belakang, amak segera kupercepat jalanku, tapi langkahku terasa berat sekali.
    “Tolong, Nona berhenti sebentar!”
    Pada saat yang sama langkahku terhenti. Dan tiba-tiba ada saja seorang berpostur tinggi, tegap, dan berkulit gelap sudah berdiri tepat di depanku. Sepertinya sudah berumur. Sekilas kulihat wajahnya bergurat keras, membuatku takut. Lututku mulai gemetar dan peluh dingin keluar. Mau apa sebenarnya orang ini….
    Pakaian orang ini aneh, tak lazim. Dari atas ke bawah dia mengenakan tenun ikat, tapi tutup kepalanya mirip batik.
    “Mau apa?” ketaku memberanikan diri.
    “Beta hanya mau mengingatkan Nona untuk berhenti berjumpa dia.” Suara itu terdengar tegas.
    “Dia? Dia siapa? Aku tidak mengerti maksud Anda,” sengaja kukeraskan suaraku. Sedikit demi sedikit ketakutanku berangsur bekurang.
    “jangan pura-pura tidak tahu, Nona, itu Tuan Muda yang baru saja mengantar Nona.” Dari suaranya jelas temperamen orang itu mulai meninggi.
    “Kenapa?”
    “Biarkan dia tenang. Jangan ganggu dia lagi.”
    “Aku mencintainya.”
    “Nona terlambat kembali untuk itu!” kata sosok itu dengan suara tegas.
    “Tidak aku akan tetap di sini untuk mendampinginya.”
    “ditakdirkan untuk hidup bersama.” Suara sosok itu semakin tegas….
    “Leluhurnya meminta aku menjaganya,” sahut orang itu tegasdan pergi meninggalkan ku yang masih terhenyak sendiri….(Narulita, 2016:152-153).

     Siapa sebenarnya sosok misterius itu? Mengapa Gringgo tidak mau Kayla tetap tinggal di Lembata walaupun dia mengaku tetap mencintai kayla?. Itulah misteri yang sengaja tak terjawab sampai akhirnya kisah ini berakhir yang ditandai dengan perjalanan Kayla dan sahabatnya, Nora menuju bandara El Tari, Kupang untuk segera kembali ke Jakarta.

    Dengan menggunakan perspektif gynocritics, maka terbitnya novel Cintaku di Lembata dan karya-karya Sari Narulita sebelumnya perlu dicatat dalam sejarah sastra Indonesia. Novel ini akan tidak hanya akan memperkaya genre sastra perjalanan yang akhir-akhir ini banyak ditulis sastrawan Indonesia, seperti Edensor (2007) karya Andrea Hirata atau Partikel (2012) karya Dee, tetapi juga mengukuhkan eksistensi para sastrawan perempuan yang menulis karya-karyanya sambil melakukan riset etnografis. Dalam menulis karyanya sastrawan tidak hanya bermain dalam imajinasinya, tetapi juga harus melakukan perjalanan dan penelitian di lokasi yang akan dijadikan bahan penulisan karyanya. Tanpa emansipasi tentu saja perempuan tidak mungkin melakukan itu semua. Itulah mengapa kreativitas para sastrawan perempuan harus diapresiasi dalam ruang-ruang diskusi maupun dalam kajian sastra dan dicatat dalam buku-buku yang akan dipelajari generasi selanjutnya.

    Penutup

     Masih banyak yang dapat dieksplorasi dari novel Cintaku di Lembata. Catatan ini hanya merupakan salah satu pengantar singkat. Sebagai sebuah novel perjalanan Cintaku di Lembata tidak hanya memperkenalkan keindahan alam dan kekayaan budaya Pulau Lembata yang dapat dainggap sebagai salah satu museum peradaban manusia yang perlu dikaji secara ilmiah dan dinikmati estetikanya, tetapi juga menggugah sebuah renungan tentang hubungan cinta sepasang kekasih yang tak ditakdirkan tidak tersatukan. Novel ini akan lebih menarik bila dikaji secara ilmiah dengan menggunakan perspektif sosiologi sastra, ekokritik, psikoanalisis, bahkan ekofeminisme mungkin akan lebih mampu mengeksplorasi banyak hal yang terbentang dalam kisah yang setebal 188 halaman ini. Ditunggu kajian selanjutnya terhadap novel ini.

     

    Ibu Sari Narulita Penulis Novel Cintaku di Lembata

    ———————————————————————————————

     

    DAFTAR PUSTAKA

    http://nationalgeographic.co.id/…/lembata-lamera-dan-perbur…. Diunduh 21/03/2018.
    Narulita, Sari. 2016. Cintaku di Lembata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
    Showalter, Elaine. Ed. 1985. The New Feminist Criticsm: Essay in Women, Literature, ant Theory. New York: Pantheon.
    Teeuw, A. 1979. Modern Indonesian Literature. Netherland:The hague –Martinus Nuhoff.
    Thompson, Carl. 2011. Travel Writing. London and New York: Routledge.
    Wiyatmi. 2017. Perempuan dan Bumi dalam Sastra: dari Kritik Sastra Feminis, Ekokritik, sampai Ekofeminisme. Yogyakarta: Cantrik.

     

    *) Artikel saya tulis untuk mendampingi diskusi buku Cintaku di Lembata di Yogyakarta, 27 April 2018

    *) Sumber Tulisan dari SukuSastra.com

     

  • Paskah, Kehidupan dan Utopia

    Paskah, Kehidupan dan Utopia

    Paul Budi Kleden

    DUA SUASANA berbeda mewarnai dua perayaan terbesar orang Kristen, Natal dan Paskah. Kalau Natal ditandai oleh gemerlap pusat-pusat perbelanjaan, Paskah cukup sepi dari hiruk pikuk komersial. Jika Natal telah merasuk ke benak umum dan menjadi peryaan kemasyarakatan, Paskah merupakan perayaan keagamaan yang hanya diamaknai oleh umat Kristen. Tidak ada Paskah bersama yang dirayakan secara nasional dan ditayangkan berbagai stasiun televisi. Apabila Natal terancam kehilangan intinya karena tendensi eksteriorisasi makna religius, Paskah justru terancam ketiadaan daya tarik karena kuatnya konsentrasi pada makna religius. Memang kita lebih mudah tersentu untuk merayakan kehidupan, daripada berkutat dengan tema kematian; kita lebih tergugah oleh kehadiran seorang bayi daripada tubuh seorang lelaki dewasa di atas salib atau di hadapan kubur yang terbuka. Paskah memang bukan peristiwa untuk membangkitkan perasaan, dan pesannya tak gampang dicerna pikiran.

     

     Tuhan tidak perlu ke Utopia

     Keyakinan akan adanya hidup setelah kematian bukan baru sekarang terasa sulit diterima. Yang sulit menerima keyakinan ini bukan hanya orang tidak beriman. Di kalangan bangsa Yahudi yang teguh beriman pada masa Yesus pun sudah ada kelompok orang beragama yang merasa tidak ada alasan yang cukup dan mendesak untuk menerima akan adanya kehidupan setelah kematian. Mereka disebut kaum Sadduki. Mereka yakin, bahwa hidup hanya sekali dianugerhkan Tuhan kepada manusia. Dunia adalah satu-satunya tempat untuk mendaptkan kebahagiaan. Di bumi ini segalanya berlangsung. Tidak ada hidup yang lain. Kalau ada pahala untuk kebaikan yang pernah dilakukan, atau pembalasan untuk kejahatan yang pernah terjadi, itu akan dialami oleh generasi yang menyusuli. Dunia dan sejarah sudah cukup untuk menjelaskan kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan penderitaan.

    Hanya orang yang sedang bermimpi berbicara tentang hidup setelah kematiaan. Pembicaraan seperti ini hanya membuang waktu dan tidak pernah bisa dipandang penting. Kalau tidak ada kehidupan setelah kematian, maka kebangkitan orang mati pun tidak ada dasarnya. Kebangkitan lalu menjadi sebuah utopia. Dan memang Paskah berkaitan dengan utopia.

    Dalam novelnya Wir sind Utopia, (Kita adalah Utopia), Stefan Andres (1906-1970), seorang sastrawan Jerman melukiskan kisah petualangan seorang mantan rahib Katolik di Spanyol pada masa kekuasaan diktator Franco Paco Gonsalves demikian nama tokoh utama itu. Dia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan di biara dan melibatkan diri dalam perjuangan rakyat yang sedang memberontak melawan Franco. Namun, akhirnya dia ditangkap dan kemudian justru ditawan didalam biaranya dahulu. Di sana, ia teringat kembali akan impiannya saat masih sebagai rahib muda di biara itu. Dia berkhayal seolah sedang melihat Utopia, pulau impiannya, dari balik jendela kamarnya. Masih dalam khayalan dia memandang dirinya berlayar ke pulau itu, berulang kali.

    Pada suatu hari dia mendapat kesempatan berbicara dengan seorang mantan gurunya, Pastor Damiano. Dia berbicara juga tentang pulau itu dan kerinduannya yang tak terbendung untuk ke sana. Pastor Damiano menasihati: “Jangan lagi engkau pergi ke pulau itu. Engkau tidak pernah boleh lupa, bahwa tidak seorang pun telah berhasil mengubah dunia menjadi sebuah utopia. Tuhan pun tidak! Consalves, jika engkau sadar bahwa seluruh dunia adalah satu pasar bursa (Pastor Damiano pernah menjadi seorang pemilik bank yang berhasil dan disegani), dan apabila engkau melihat betapa rendahnya nilai saham Tuhan yang engkau tetap mau beli, maka dalam hati pasti engkau sebenarnya berpikir: siapa tahu apa yang terjadi? Siapa tahu saham ini kemudian bernilai kembali? Saya bisa langsung katakan kepadamu bahwa engkau sedang berspekulasi dan spekulasimu sama sekali meleset. Nilai saham itu terus melorot pada saat engkau sedang membelinya……..Sebab itu engkau dilihat dan dinilai sebagai orang tolol, dan banyak orang menertawkanmu.  …..Keajaiban terbesar adalah masih percaya pada saham yang bermasalah itu, bukan karena itu tertulis sebagai perintah Tuhan, melainkan suara hati kita sendiri berbisik bahwa saham ini memang asli. Inilah jalan, kebenaran dan kehidupan…….Sebab itu jadilah setia dan jujur, percaya, berharap dan terutama hiduplah dalam kasih. Dan saham yang engkau pegang itu jauh lebih memperkaya engkau daripada sebuah utopia. ……Tuhan tidak pergi ke Utopia – Dia datang ke bumi yang dipenuhi air mata ini, berulang kali!” (1). Ya, Tuhan tidak pernah ke Utopia, tetapi Dia datang ke bumi, sebab di sini, di tengah kemiskinan yang tragis ini, dalam bencana kelaparan yang menghantui, di tengah lembah penderitaan yang kelam, Dia hadir sebagai harapan yang menentang kemapanan, ya sebagai utopia.

     

    Kita butuh Utopia

    Tampaknya, manusia selalu memerlukan utopia, sebuah dunia yang diimpikan dan dirindukan. Namun, ada dua bahaya yang selalu muncul berhadapan dengan utopia. Di satu pihak, utopia sering dilihat sebagai tempat pelariaan dari kenyataan yang keras dan menantang. Tak mampu berhadapan dengan dunia dan sejarah seperti ini, orang lari ke dunia utopia. Di sini, utopia seumpama opium yang melumpuhkan daya ubah. Pada pihak lain, utopia dapat menjadi ideologi yang memaksa. Utopia dipandang sebagai imperative yang tidak mengenal kompromi.

    Yang utopis memang merupakan yang ideal. Namun dia tidak secara niscaya berarti tidak realistis. Dia muncul dari relitas dan kembali menjadi roh bagi perubahan di tengah situasi konkret. Sebenarnya utopia adalah sebuah kritik atas kenyataan dan sangguo menggerakkan perubahan di tengah kenyataan. Utopia pun bukan pertama-tama rekaan manusia. Dalam bingkai iman, sebagaimana dikatakan Stefan Andres dalam novelnya, utopia itu datang dari Tuhan. Tuhan datang, karena itu manusia pun dapat bertransformasi. Gerakan pembebasan masyarakat selalu berkait dengan utopia tertentu. Sebab itu, utopia pun selalu bermuatan politis, berdaya gugat terhadap status quo dan berkemampuan ubah terhadap kondisi aktual.

    Mereka yang mempertahankan kemapanan sebenarnya tidak lagi menhendaki lagi kehidupan. Tidak jarang ambisi ini diwujudkan dengan memumifikasi diri sendiri dalam bentengnya dan menghancurkan kehidupan orang lain. Mereka menumpulkan perasaannya dari persentuhan dengan orang lain. Empati disejajarkan dengan kelemahan dan kekalahan. Orang kehilangan perhatian dan mengalami kematian perasaan. Maka solidartas pun mengalami defisit yang serius. Pikirannya direduksi menjadi kelicikan untuk memperkaya dan mengamankan diri. Kecerdasan adalah soal menyusun strategi untuk selalu tampil sebagai pemenang tanpa peduli apa dan berapa ongkosnya. Yang mesti roboh dan rebah pada pentas persaingan dinilai sebagai bodoh atau sedang bernasib sial.

    Oleh dan atas nama kuasa kemapaman Yesus telah dibunuh. Yang diberitakan-Nya dinilai terlalu berbahaya bagi keamanan para penguasa agama dan politik. Dia berbicara tentang Tuhan yang menjadi pembela para miskin dan tertindas. Bapa para pendosa dan sahabat mereka yang terbuang. Dia menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin, baik di dalam agama pun dalam politik. Agama tidak hidup dari hukum mengeksklusi kelompok orang tertentu tapi dari kesediaan untuk memberi ampun. Politik bukanlah soal kelicikan merampas hak pihak lain, melainkan kesanggupan untuk memberi kepada kaiser apa yang menjadi hak Kaiser, dan kepada Tuhan apa yang sesungguhnya menjadi hak Tuhan. Tak pantas kaiser merebut hak Tuhan dan bertindak absolut seolah dia adalah yang ilahi. Logika agama dan kerangka berpikir politik seperti ini memang sangat mudah mengantar seorang tokoh pembaru ke tiang gantungan.

    Pada latar seperti ini, kebangkitan berarti Tuhan sendiri menghadirkan diri sebagai utopia, sebagai dunia yang semestinya dan menjadi hak manusia. Utopia yang dibawanya bukanlah mimpi yang mengantar manusia pergi dari dunianya, menghanyutkan dalam halusinasi yang mengalienasi. Paskah, kebangkitan menunjukkan bahwa Tuhan adalah perubahan. Tuhan tidak dapat dikuburkan dan dibungkamkan, dan Dia pun tidak rela membiarkan manusia terus dikuburkan dalam penjara ketakutan dan dibungkamkan oleh para penguasa.

    “Tuhan adalah sebuah kata kerja”, kata Kurt Marti, seorang teolog Protestan berkebangsaan Swiss (2). Kata kerja berarti keaktifan. Tuhan bukan nama lain dari kematian dan kepasrahan. Kematian karena bencana kelaparan bukanlah sesuatu yang terjadi di bumi yang dihuni manusia yang beradap. Keterbelakangan karena pembodohan yang sistematis tidak pernah dapat dilihat sebagai nasib yang tegaris pada tangan manusia yang berpikir.

    Paskah adalah sebuah perayaan yang secara radikal menuntut perubahan. Tidak adalagi kubur yang secara abadi sanggup menyimpan kebohongan dan penipuan. Mengandalkan represi sebagai sarana untuk pembungkaman kebenaran tidak akan pernah bertahan selamanya. Paskah adalah sebuah perubahan radikal, bukan sekedar reformasi. Paskah pun mesti menggerakkan perubahan itu. Mungkin karena itu Paskah tidak dapat di komersialisasi, wartanya tidak mudah direkam. Perayaan ini pun kurang diminati. Paskah bukanlah perayaan untuk mereka yang tenggelam dalam kemapanan dan bersekongkol dengan kuasa kematian.

    Persoalan besar yang dihadapi oleh bangsa yang terus dililit masalah seperti bangsa kita adalah ketiadaan harapan, kehilangan utopia. Kita menjadi sulit percaya akan rencana dan pada kemungkinan perubahan. Rentetan bencana ternyata tak pernah sanggup membuat kita belajar mengantisipasi. Setiap tahun dikejutkan oleh persoalan yang sama tentu bukanlah satu tanda keterpelajaran. Program-progam pembangunan lebih pantas disebut sebagai program penetesan ke bawah setelah pusat-pusat pengambilan keputusan merasa dikenyangkan. Kita mengalami stagnasi secara meluas karena ketiadaan prespektif dan kehilangan harapan.

    Memiliki utopia sebagaimana diwartakan Paskah memang seumpama memegang saham yang sedang anjlok nilainya. Tidak banyak orang berminat membelinya. Karena, memang tidak banyak orang sungguh-sungguh menghendaki perubahan. Kalau mesti berbicara tentang perubahan, itu selalu ditempatkan dalam kurung, dia menjadi perubahan yang dikurungkan, yang pada akhirnya sama dengan absennya perubahan. Paskah mengingatkan, perubahan mesti dan bisa terjadi, selama kita menghendaki kehidupan.

    ———————————————–

    Sumber: Paul Budi Kleden, Di Tebing Waktu, Ledalero, 2009.

     

    Catatan Kaki:

    1. Stefan Anders, Wir sin Utopia, Munchen Piper 1958, hlm. 39-44
    2. Kurt Marti, Wen meinte der Mann? Gedichte un Prosa, Stutgart, Reclam 1998, hlm 94

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Eco dan Iman

    Eco dan Iman

     

    Oleh Goenawan Mohamad, Sastrawan, Kurator Komunitas Salihara dan Pendiri Majalah Tempo

     

    UMBERTO  ECO  meninggal 19 Februari 2016 yang lalu – tapi saya tak yakin ia pergi selama-lamanya. Namanya tak mudah terhapus dari ingatan. Ia hadir di mana saja orang berbicara tentang semiotika, filsafat, telaah bahasa, media, sejarah Eropa Abad Tengah, dan tentu saja novel.

    Tentu saja: Eco adalah pabrik kata dan ide dan percakapan. Ia menulis 7 buah novel, sekitar 30 jilid non-fiksi, termasuk karya akademik yang pelik, (salah satunya dengan judul: “Dari Pohon sampai Labirin: Telaah Sejarah tentang Tanda dan Tafsirnya”). Dan itu belum semuanya: ada buku untuk anak-anak. Ia menulis kolom untuk surat kabar – juga Twitter.

    Kalimat terakhir di akun Twitter-nya, (22 November 2015): “…surat kabar tak akan lenyap, setidaknya di tahun-tahun aku masih diizinkan hidup” – “il giornale non sparirà almeno per gli anni che mi è consentito di vivere.”

    Ia orang tua, sudah di atas 80 tahun waktu ia menulis itu, yang memang setia kepada medium pra-digital. Ia mencintai buku (di kedua perpustakaaanya ada 50 ribu jilid) ketika buku, dalam bentuknya sekarang, diperkirakan akan ditinggalkan; ketika toko besar macam Borders tutup dagang dan orang banyak membaca melalui Kindle atau iPad. Eco yakin, E-books atau bukan, buku akan tetap ada, sebagaimana “gunting, palu, dan roda”.

    Ia akrab dengan bacaan sejak kecil. Kakeknya, yang berpengaruh besar kepada dirinya, yang meninggal ketika Umberto enam tahun, punya koleksi buku yang berkesan pada si cucu. Neneknya tiap pekan membawa pulang dua atau tiga jilid yang dipinjamnya dari perpustakaan, buat cucunya.

    Ayahnya, seorang akuntan, di masa mudanya yang miskin tetap gemar membaca tanpa harus beli buku: dengan cara datang ke beberapa toko buku untuk menikmati sebuah novel sampai selesai.

    Dengan buku dalam hidupnya, novel-novel Eco mengagumkan, atau sebaliknya, meletihkan. Hampir tiap bagian seakan-akan sebuah pameran erudisi, hampir tiap bab mengandung bobot pengetahuan yang ditimba dari buku yang lain.

    Atau ia menggelitik kita buat menebak-nebak “intertekstualitas” pustaka di belakangnya. Tokoh utama Il nome della rosa (versi Inggris: The Name of the Rose), William Baskerville, misalnya – yang memerankan “detektif” Abad Tengah – mengingatkan kita akan karya Sherlock Holmes oleh Arthur Conan Doyle, The Hound of Baskerville.

    Tokoh Jorge de Burgos, kepala perpusatakaan biara yang buta: kita ingat sastrawan tunanetra yang tenar, Jorge Luis Borges, yang juga direktur Perpustakaan Nasional di Bueno Aires. Nama Braggadocchio dalam Numero Uno berasal dari tokoh pembual dalam syair Edmund Spenser Faerie Queene yang terbit di tahun 1590. Dalam Il Cimitero di Praga (Pekuburan Praha), muncul pengarang Le Comte de Monte Cristo, Alexander Dumas.

    “Buku selalu bicara tentang buku lain,” kata Eco, “dan tiap cerita membawakan kisah yang sudah diceritakan.”

    Tapi di sini Eco adalah orang zaman ini, ketika hierarki dan dinding pembatas genre (dan “mutu”) tiap hari tumbang. Itu sebabnya ia menelaah semiotika; baginya, semua hal ihwal dapat dijadikan sasaran analisis kebudayaan.

    Pakar tentang dunia Abad Pertengahan Eropa dan kolektor buku langka ini tak membeda-bedakan karya yang dianggap “abadi”, misalnya Hamlet Shakespeare, dengan karya “hiburan” yang gampang lewat, katakanlah Casino Royal Ian Fleming.

    Seri James Bond lazimnya dipinggirkan dari telaah sastra, tapi tidak buat Eco. “Manifestasi kebudayaan yang di pinggiran tak boleh diabaikan,” katanya dalam wawancara dengan “Paris Review.” Siapa tahu, kata Eco pula, dua abad mendatang iklan Coca Cola akan dianggap lebih bagus ketimbang karya Picasso. Ia sendiri menganggap serius cerita detektif.

    ***

    Novel detektif, menurut Eco, punya persamaan dengan filsafat. Keduanya bertolak dari pertanyaan sentral: siapa-yang-melakukan-itu?

    Saya tak yakin apakah memang demikian. Tapi jika kita pahami alam pikiran Eco, saya kira ada tiga faktor lain yang membuatnya akrab dengan cerita detektif.

    Pertama, genre ini membawakan rasa ingin tahu yang tangguh. Eco punya satu istilah dalam bahasa Inggris: stubborn curiosity. Kata itu, dalam konteks yang agak beda, menunjukkan pencarian jawab yang tak gampang menyerah. Dan dengan itulah suspens cerita detektif terbentuk.

    Demikianlah Hercule Poirot diciptakan Agatha Christie untuk mempersonifikasikan rasa ingin tahu: siapa sang pembunuh di antara penumpang kereta api Orient Express malam itu? Pertanyaan dan tilikannya intensif, mengerucut, sampai rahasia tersingkap.

    Kedua, cerita detektif mengandung yang dalam semiotika disebut ”abduksi”. Abduction, satu pengertian Charles Sanders Peirce (pelopor semiotika, pemikir yang dikagumi Eco), adalah proses menyimpulkan: ada fakta, ada hipotesis tentang fakta itu, ada kemungkinan bahwa hipotesis itu benar, dan akhirnya ada pembuktian.

    Ketiga, cerita detektif lahir karena teka-teki yang dibentuk dusta – dan dusta, seperti akan saya uraikan di ujung tulisan ini, punya fungsinya sendiri.

    Tak mengherankan bila Il nome della rosa, novel pertamanya, (yang merupakan karya fiksi Eco yang paling kaya dalam tafsir dan paling memikat bila dibaca), adalah sebuah titisan kisah Sherlock Holmes dan Hercule Poirot – meskipun tak hanya itu.

    Di dalam novel ini, dengan piawai Eco menampilkan manusia dalam kapasitasnya yang unik. Jika kita menemukan “humanisme” di dalamnya, maka itu ketika diperlihatkan keistimewaan manusia: bukan cuma sebagai hewan yang mandiri dalam berpikir, seperti dalam humanisme Pencerahan menurut Kant, tapi juga hewan yang bisa berbohong dan bisa ketawa.

    Di situ pula makhluk ini berhadapan dengan sisi lain dari dirinya: hewan yang beriman.

    Dan dalam Il nome della rosa, Eco memanggungkan konfrontasi antara iman dengan tiga kemampuan manusia itu: dalam nalar, dalam humor, dalam dusta.

    Novel ini mengadopsi model cerita Abad Tengah, dengan pembagian bab berdasarkan waktu ibadah dalam biara – tapi kisah yang terbentuk menampilkan kompleksitas sebuah karya modern – dengan akhir yang membawakan perspektif, katakanlah, “pasca-modern”. Dengan cara bercerita yang memikat.

    Syahdan, di tahun 1327, serangkaian pembunuhan terjadi di sebuah biara yang terisolir di Italia Utara. Waktu itu datang ke sana seorang pastur dari Ordo Fransiskan, orang Inggris, William Baskerville, untuk mengikuti sebuah perdebatan teologis. Ia disertai seorang rahib muda, anak Jerman, Adso.

    Kepala biara pun meminta William menyelidiki apa yang menyebabkan sejumlah biarawan berturut-turut mati secara misterius. Dan sang padri Fransiskan pun jadi detektif.

    Ia berhasil. Akhirnya terbukti para biarawan itu terkena racun. Akhirnya diketahui bahwa mereka mati karema berani masuk ke ruang perpustakaan tempat sebuah buku karya Aristoteles tentang humor tersimpan.

    Buku itu dijauhkan dari siapa saja. Jorge, pustakawan utama, seorang biarawan tua yang buta dan fanatik, telah menyembunyikannya. Ia melindungi karya Aristoteles itu secara istimewa: lembar-lembarnya dilapisi racun yang ganas; siapa yang membuka-bukanya akan terkena, dan pasti mati.

    Pada akhirnya, setelah menghimpun data dan menyusun hipotesis, William menemukan motif kematian atau pembunuhan itu. Di situ ia tampak sebagai seorang padri Abad Tengah yang tak lazim: ia menampik kepercayaan bahwa rangkaian kematian misterius itu hasil perbuatan Iblis.

    Dengan metode abduksi, ia bisa memecahkan sebuah teka-teki yang pelik. Ia mengingatkan kita kepada Sherlock Holmes yang mengamalkan apa yang disebutnya sendiri sebagai the science of deduction: mengamati fakta-fakta kecil, yang mungkin bisa jadi dasar kesimpulan-kesimpulan yang besar, dan kemudian mem-verifikasi-kannya.

    William mungkin akan tampak anakronistis, sebab umumnya Abad Tengah Eropa diceritakan sebagai abad yang gelap, diliputi taklid dan takhayul, zaman ketika agama menguasai pemikiran dan ilmu-ilmu masih kerdil. Tapi Eco justru menunjukkan bahwa Abad Tengah bukan sepenuhnya kegelapan.

    Masa itu, katanya dalam sebuah wawancara, justru merupakan “tanah subur dari mana akan terbit zaman Renaissance”. Abad Tengah adalah sebuah masa peralihan dengan segala gejolak dan kegugupannya: transisi dari suasana jahiliah ke dalam the Age of Reason, zaman yang berpegang nalar atau akal budi.

    Dan William adalah manusia di masa transisi itu: seorang yang beriman, pengikut Ordo Fransiskan, tapi tak berpikir dari doktrin agama. Baginya, kebenaran yang mutlak dan dianggap final justru menakutkan.

    Kebenaran, bagi William, orang Inggris ini, bukan ditentukan konsep-konsep, melainkan  pengalaman empiris: dunia yang dicerap pancaindra, dunia benda-benda yang “dekat”, partikular, konkret, berubah-ubah.

    Seperti disebutkan Aldo, si narator dalam Il nome della rosa, William menunjukkan “sikap skeptis tentang ide-ide universal” tetapi ”hormat terhadap hal-hal individual”. Eco menekankan sifat ini dengan memberinya latar belakang Inggris – negeri para filosof empiris: John Locke, David Hume, John Stuart Mill. Seakan-akan William Baskerville bagian dari mereka.

    ***

    Hubungan empirisme dengan penelaahan ilmu cukup dikenal. Dari segi ini, William berada dalam kubu pemikiran ilmiah, sebuah kontras bagi kehidupan di biara Italia abad ke-14 itu, di mana iman adalah segala-galanya.

    Ia belajar di Oxford, murid Roger Bacon, padri Fransiskan di pertengahan abad ke-13 yang memelopori studi tentang alam secara empiris.

    Bacon memperkenalkan pelbagai gagasan teknologi baru, antara lain, tentang mesiu, mesin terbang, dan terutama optik, yang ditakiknya dari karya Alhazen (Hasan Ibn al-Haytham), ilmuwan Arab abad ke-10 yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

    Alhazen, Al Kindi… Beberapa kali William menyebut sumber-sumber Islam dalam pengetahuannya – dan saya merasa Eco sedang hendak menegaskan sebuah perbandingan: dunia Kristen yang terkekang dogma dan kecemasan akan dosa, begitu tertinggal dibandingkan dengan dunia Islam yang, (setidaknya di abad ke-9 dan ke-10, 400 tahun sebelumnya – bukan dunia Islam hari ini), penuh percaya diri, berani menjelajah ilmu pengetahuan ke sudut yang sejauh-jauhnya.

    Di dalam proses itu, “kekuatan magis,” magia, mendapatkan makna lain. Agama, menurut William, harus memuliakan magia santa, di mana “pengetahuan Tuhan dimanifestasikan melalui pengetahuan manusia, untuk mengubah alam, dan salah satu tujuannya adalah memperpanjang hidup”.

    Tapi itulah yang tak ditemukan di biara itu. Pada akhirnya tempat ibadat itu pun jadi sebuah alegori kehidupan iman yang ketakutan, yang menyembunyikan konflik dalam dirinya, dan tertutup.

    Tak mengherankan bila agama dalam novel ini adalah sebuah gua yang muram.

    Gereja digambarkan menumpuk kekayaan duniawi dengan tanpa risih, sementara di sekitarnya menjalar kemiskinan. Ada rohaniawan-rohaniawan yang melawan keadaan itu. Mereka menjadi kritik yang merisaukan para wali penjaga ajaran: mereka memilih jalan kemiskinan, membentuk aliran yang mengharamkan hak milik, dan menggerakkan pembangkangan terhadap Paus – mungkin cara Eco mengingatkan pembacanya akan para padri Katolik Amerika Latin yang bekerja sama dengan gerakan komunis dalam “teologi pembebasan.” Tapi akhirnya mereka jadi sempalan yang dikejar-kejar dan dihabisi.

    Di tengah-tengah kehidupan beragama itu, ada kekuasaan Inkuisitor, yang atas nama Tuhan merasa berhak mengusut keimanan seseorang dan membakar hidup-hidup orang yang dianggap ingkar dari ajaran. Salah satu bagian yang mencekam dalam Il nome della rosa adalah ketika seorang yang tak berdaya diadili, diusut kelurusan imannya, dan disiksa, dan seorang gadis dusun yang miskin dan tak bersalah dicadangkan dibunuh dengan nyala api.

    Dalam suasana yang penuh ketegangan itu, hadir Jorge. Sosok antagonis ini dengan tegar menegakkan satu tiang iman: “rasa takut” – persisnya, “rasa takut kepada Tuhan”.

    Tanpa rasa takut, kata biarawan tua itu, tak akan ada iman. Hukum, katanya pula, berjalan karena rasa takut. “Apa akan jadinya kita, makhluk yang berdosa ini, tanpa rasa takut?”. Baginya, rasa takut adalah “anugerah Tuhan yang paling berpandangan jauh, paling kasih-sayang”.

    Agaknya karena itulah iman dalam konsep Jorge adalah iman yang cemas. Biarawan buta ini mengharamkan gambar dan karya visual, terutama bila melukiskan mahluk dan adegan yang ganjil, kocak, dan menarik.

    Ia cemas bila seorang rahib merasa lebih senang “mengagumi karya manusia ketimbang merenungkan hukum Tuhan”. Jorge cemas: imajinasi, nalar, bahasa, dan tubuh manusia adalah kemampuan yang bisa liar.

    Dalam khotbahnya menjelang akhir novel, padri tua ini mengingatkan bahwa kebanggaan biaranya terletak dalam tugas “merawat pengetahuan”. “Merawat”, katanya, bukan “mencari”. Sebab pengetahuan, sebagai milik yang datang dari Tuhan, “sudah didefinisikan sejak semula”.

    Maka semua kemampuan manusia harus dikendalikan. Jorge menganggap, yang dikehendaki Yesus dari manusia adalah “ya” atau “tidak”, itu saja. Jika bergeser, Iblis akan menyeret kita ke jalannya.

    Sehubungan dengan itu, metafor atau kiasan tak diperbolehkan. Makna kata harus transparan, pasti, dan harfiah. “Untuk mengatakan ‘ikan’ cukup dengan menyebut ‘ikan’,” katanya, “tanpa menyembunyikan makna di bawah bunyi kata itu.”

    Sejalan dengan itu pula, iman yang antimetafor ini mengharamkan humor dan menjauhkan manusia dari ketawa. Bagi Jorge, humor membuat manusia mudah menyeleweng dari jalan lurus. “Ketawa menghasut orang untuk ragu,” katanya. “Ketawa mematikan rasa takut,” dan, seperti sudah disebut di atas, bagi Jorge, “tanpa rasa takut tak akan ada iman.”

    Maka pustakawan tua ini menandaskan bahwa manusia tak sepatutnya jenaka, tak pantas ketawa, sebab Kristus tak pernah ketawa. Buku tentang humor tak boleh dibaca, apalagi diikuti. Terutama karya Aristoteles, “Sang Filosof”.

    Jorge agaknya lebih mengamini Plato yang mengutamakan ide yang kekal dan menganggap tubuh sebagai sesuatu yang rendah. Yang pasti ia anti-Aristotelian. “Tiap buku dari tangan orang ini,”  kata Jorge, “telah meruntuhkan sebagian dari pengetahuan yang selama berabad-abad dihimpun agama Kristen.”

    Kitab Kejadian, misalnya, telah menunjukkan komposisi dari kosmos, tapi Aristoteles didatangkan, dan filosof ini memperkenalkan alam semesta hanya sebagai “zat yang budeg, dongok, dan berlendir”, materia sorda e viscida.

    Bersama itu, “orang Arab yang bernama Averoes itu,” – yang membawa pemikiran Aristoteles ke kalangan umat Kristen – nyaris meyakinkan semua orang bahwa dunia ini kekal.

    Kata Jorge, kesal: “Sebelumnya kita melihat ke atas, ke langit, kini kita menatap ke bawah, ke bumi. Kita memercayai yang di langit berdasarkan kesaksian apa yang di bumi.”

    Sang Filosof pula yang mengangkat martabat humor. Aristoteles menjadikan ketawa bagian dari seni, jadi telaah filsafat dan “teologi yang munafik”. Jorge cemas bila kelak “bahasa keyakinan” digantikan oleh “bahasa olok-olok”.

    Ia cemas karena ketawa adalah kesukaan orang ramai, rakyat banyak yang seharusnya dibimbing para “penggembala rohani” agar selamat dari godaan perut, alat kelamin, makanan, dan “hasrat mereka yang jorok”.

    Pendeknya, pengetahuan yang dibawa Aristoteles adalah ajaran sesat. Dan Jorge mengingatkan, buku sang Filosof, yang semula tak dikenal dunia Kristen, “sampai kepada kita melalui orang Islam, orang kafir”.

    William adalah lawan yang telak bagi anggapan seperti itu. Baginya, ilmu tak mengenal kafir atau tak kafir. Di atas sudah disebut bagaimana ia menghormati khasanah ilmu dari para pemikir Islam.

    Di bagian lain novel ini, William, ketika berada di tengah perpustakaan biara yang berisi buku-buku yang tak lazim, menemukan sebuah kitab yang langka: telaah Ayyub al-Ruhawi tentang “gejala hidrofobia pada anjing.” Lihatlah, katanya, ada ”karya-karya ilmiah dari mana orang Kristen harus banyak belajar”.

    William juga mengoreksi Adso yang mengangap Quran – yang kebetulan ada di ruangan itu – sebagai kitab yang “menyimpang”. Bukan, Adso, kata sang pastur dari Inggris itu, Quran “adalah sebuah buku yang mengandung kearifan yang berbeda dari ajaran kita”.

    Berbeda – dan itu tak berarti salah dan sesat. Dan apakah salah atau sesat ketika yang disebut “kebenaran” tak bisa dirumuskan secara pasti? William, yang juga seorang pragmatis, tak menawarkan satu rumusan. Bahkan ia, menurut Adso, “sama sekali tak tertarik kepada kebenaran”; ia lebih asyik menelaah kemungkinan-kemungkinan.

    “Sebab itu Tuan tak punya satu jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan Tuan?” “Adso, seandainya aku punya itu, aku sudah akan jadi pengajar teologi di Paris.”

    Dengan posisi itulah ia melihat bagaimana humor dan ketawa dalam kehidupan manusia amat penting – dan bagaimana “kebenaran”, yang dianggap hanya ada satu oleh teologi, bisa menakutkan. Kutipan yang terkenal, kata-kata Baskerville:

    Mungkin tugas mereka yang mencintai umat manusia adalah membuat orang menertawakan kebenaran, membuat kebenaran tertawa, sebab satu-satunya kebenaran terletak dalam belajar membebaskan diri kita dari gairah yang tergila-gila kepada kebenaran.

    “Gairah yang tergila-gila kepada kebenaran”, la morbosa passione per la verità itulah yang membuat orang siap membinasakan mereka yang diangap “tidak-benar”. Di saat itu, di Abad Tengah itu, William seakan-akan sedang memandang ke semesta sejarah, ke masa lalu dan masa depan, ke saat-saat ketika ideologi dan ajaran agama – yang mengeklaim sebagai pembawa Kebenaran – berkali-kali jadi penindas. Atau membuat manusia saling membunuh.

    Eco mengutarakan hal ini lagi dalam kata-kata Simonini, tokoh utama Il cimitero di Praga: ”Orang tak pernah begitu keji, secara penuh dan antusias, seperti ketika ia bertindak berdasarkan keyakinan agama.” Agama, bagi Simonini, bukan candu, melainkan “kokain”, narkoba yang membuat orang beringas dan bergairah. Dan gairah itu, gairah kepada kebenaran itu, bisa bertaut dengan sikap takabur.

    Maka William mencerca Jorge, rohaniawan yang merasa paling suci dan benar itu. “Kamu Iblis,” katanya dengan sengit. Iblis bukanlah kekuasaan yang memenangkan materi, il principe della materia. Iblis adalah keangkuhan rohani, l’arroganza dello spirito – “iman yang tanpa senyum, kebenaran yang tak pernah dijangkiti ragu.”

    Dengan “keangkuhan” juga manusia merasa mampu mengetahui dunia sampai mendasar – dan akhirnya menjadikan dunia hanya sebungkah obyek untuk ditelaah dan diolah.

    Saya kira tema itu juga yang dikemukakan Eco dalam novelnya yang kedua, Il pendolo di Foucault. Di sini tokoh Casaubon mengajukan satu perspektif lain:

    “Saya sampai pada keyakinan bahwa bumi seutuhnya adalah sebuah enigma, sebuah enigma yang tak berbahaya, yang justru jadi mengerikan karena usaha kita untuk menafsirkannya, seakan-akan ia menyimpan kebenaran di dasarnya.”

    Buat menangkal ilusi bahwa ada “kebenaran” di dasar dunia itulah kita perlu mengakui: ketidak-benaran punya fungsinya sendiri. Kita ingat yang dikatakan Eco: manusia adalah makhluk yang bisa berdusta; anjing tidak. Bahasa memungkinkan itu. “Manusia dapat mengisahkan dongeng peri, membuat gambaran dunia baru, berbuat salah – dan kita bisa berbohong,” katanya dalam salah satu wawancaranya.

    Dan kebohongan, seperti dalam cerita detektif, seperti dalam Il nome della rosa, bisa mengganggu manusia, mendorongnya untuk membongkarnya. Tapi kebohongan juga membuat kita sadar bahwa kita bisa terkecoh, kita bisa salah. Seperti yang ditulis Eco dalam “The Force of Falsity”, salah satu esei dalam Serendipities: Language and Lunacy:

     “…mengakui bahwa sejarah kita digerakkan oleh banyak cerita yang kini kita ketahui sebagai cerita bohong, seharusnya membuat kita waspada untuk selalu siap menginterogasi cerita-cerita yang kita yakini sebagai benar. Ukuran kearifan komunitas kemanusiaan kita didasarkan kepada kesadaran yang terus menerus akan kemungkinan bahwa yang kita ketahui, yang kita pelajari, bisa salah.

    Saya kira itu sebabnya, ketika Il nome della rosa berakhir, tak ada perayaan kemenangan seperti yang biasa kita temukan dalam kisah seorang detektif yang dengan the science of deduction berhasil memecahkan misteri dan mengungkapkan kebenaran.

    Novel Eco ditulis dan dibaca di masa yang berbeda dari zaman ketika kisah-kisah Sherlock Holmes dielu-elukan: akhir abad ke-19 Eropa. Tokoh cerita detektif Inggris itu hidup ketika positivisme berkibar, filsafat yang yakin bahwa logika dan rasionalitas selalu sanggup menjaga tertib pikiran dan memastikan kebenaran.

    Tapi zaman Eco, zaman kita, sebaliknya: kini para pemikir menyadari bahwa rasionalitas bisa menyesatkan dan kebenaran tak stabil.

    Di titik klimaks novel ini, Jorge tewas, tapi perpustakaan biara yang menyimpan koleksi ilmu itu terbakar habis – sebuah alegori pasca-modern tentang gagalnya dunia modern. Dunia modern, juga agama-agama yang hidup di dalamnya, gagal meyakinkan bahwa selalu ada satu sumber yang tunggal, atau fondasi yang kekal, untuk kebenaran. Padahal yang didapat hanya serpihan.

    Seakan-akan mengukuhkan hal itu, Adso yang salih itu akhirnya hanya bisa mengumpulkan serpihan bekas buku dari puing-puing perpustakaan yang telah hangus.

    Tapi ia tak menampiknya. Ia merawatnya sampai di hari tuanya. Baginya, itu satu bentuk perpustakaan tersendiri: “fragmen, kutipan, kalimat yang tak selesai, ujung buku-buku yang terpotong”– yang  makin ia baca berulang kali, makin jelas bahwa semua hadir acak-acakan, tak mengandung pesan apa pun.

    Di akhir cerita William Baskerville juga mengakui: ia tak cukup arif untuk melihat bahwa sebenarnya tak ada tata yang tertib di alam semesta. Dunia sehari-hari selalu acak-acakan. Tata yang tertib hanya ada dalam pikiran manusia, berfungsi sebagai tangga untuk meraih ilmu pengetahuan, menggapai kebenaran. “Tapi setelah itu, tangga itu harus dibuang,” kata William.

    Itu berarti, jalan ke kebenaran selalu baru.****

     

    ——————————————————————————————————

    Sumber Tulisan dari Buku Eco dan Iman, Diva Press.

     

  • Sastra Lembata: Dari Simpan Pesan ke Imajinasi Masa Depan

     

    “ADA banyak hal yang sulit dibicarakan tanpa prasangka, tetapi kebudayaan barangkali merupakan salah satu pokok soal yang paling kuat ditandai prasangka. Salah satu sebabnya ialah karena dalam sifatnya kebudayaan merupakan suatu apriori untuk setiap orang, sehingga setiap usaha untuk memikirkan, memajukan dan melakukan perubahan kebudayaan sekaligus merupakan produk dari kebudayaan orang-orang yang terlibat dalam usaha tersebut. Kebudayaan selalu menjadi juga cultural paradigm (konsep cultural paradigm dipakai di sini dalam arti sebagaimana yang dipergunakan oleh C. Geertz dalam bukunya, Negara: The Theatre State in Nineteen Century Bali, Princeton: Princeton University Pres, New Jersyey, 1980) bagi seseorang yang akan menentukan bentuk dan sudut penglihatannya berdasarkan apriori kognitifnya dan sekaligus mempengaruhi jenis dan arah pilihan yang diambil berdasarkan preferensi nilai yang dianut dalam kebudayaan bersangkutan. Karena walaupun kita selalu dihantui tanggung jawab dan kewajiban untuk memberi sesuatu kepada kebudayaan, kita pada dasarnya lahir dan besar sebagai penerima kebudayaan dari generasi yang terdahulu. “Kita adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” kata seniman “Gelanggang”, di mana kebudayaan diturunkan sebagai notre heritage n’est precede d’aucun testament (warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat – Hannah Arendt, Between Past and Future, N. Y.: Penguin Books, 1978). Rene Char, penyair dan penulis Prancis yang baru saja dikutip kata-katanya, tentu saja mau mengatakan bahwa pada mulanya kebudayaan adalah nasib dan baru kita memanggulnya sebagai tugas. Pada mulanya kita adalah penerima yang bukan saja menghayati tetapi juga menjadi penderita yang menanggung beban kebudayaan itu, sebelum kita bangkit dalam kesadaran untuk turut membentuk dan mengubahnya. Pada dasarnya kita adalah pasien kebudayaan sebelum kita mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu bagi kebudayaan kita, sebetulnya kita telah mengalami pergeseran tertentu dalam apriori kognitif dan preferensi nilai dalam sistem kebudayaan kita. Dengan kata lain, telah terjadi pergantian warisan yang satu dengan warisan lain, ketika kita menjadi pasien bagi suatu kebudayaan baru.” ( Ignas Kleden,  “Pembaruan Kebudayaan: Mengatasi Transisi”  dalam Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, LP3ES,1987).

    Menjawab pelbagai pertanyaan atas soal-soal kebudayaan di atas, pada Sabtu, 2 April 2022, Institut Kebudayaan Lembata (IKaL) mengadakan serial ke-3 Diskusi Kebudayaan dengan tema “Sastra dan Kebudayaan Lembata”. Serial ke-3 Diskusi Kebudayaan ini terselenggara atas kerjasama Institut Kebudayaan Lembata (IKaL) dengan Direktorat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbudristek RI. Diskusi ini mencoba menggali lebih dalam beberapa tema menarik diantaranya apakah ada sastra Lembata dan kalau ada apa bentuknya?,  mestikah sastra terlibat dalam kehidupan masyarakat?, apa pesan untuk generasi sekarang dengan mempelajari sastra?, bagaimana sikap kebudayaan (termasuk kebudayaan daerah) dalam menghadapi modernisasi?. Tampil sebagai pemateri dalam Talk Show diskusi yakni: Dr. Yoseph Yapi Taum (Penyair, Peneliti Sastra Lisan  dan Pengajar Sastra di Universitas Sanatha Dharma), Dr. Budi Kleden, SVD (Teolog dan Kritikus Sastra), Trie Utami (Penyair, Seniman dan Penggiat Budaya), Dr. Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI), Moderator: Ursula Natali Langouran, MC: Monika N. Arundhati. Berandanegeri.com menyajikan rangkumannya.

     

    Yoseph Yapi Taum: Lembata dan Sastra Lisan

    Yoseph Yapi Taum dalam bukunya Studi Sastra Lisan (Lamalera, 2011) mendefinisikan  Sastra Lisan sebagai sekelompok teks yang disebarkan dan diturun-temurunkan secara lisan, yang secara intrinsik mengandung sarana-sarana kesusastraan dan memiliki efek estetik dalam kaitannya dengan konteks moral maupun kultur dari sekelompok masyarakat tertentu.

    Penyebutan sastra untuk sebuah etnis tertentu selalu berkaitan erat dengan bahasanya. Di Lembata terdapat dua bahasa besar yakni bahasa Lamaholot dan bahasa Kedang. Maka di Lembata terdapat dua model sastra yakni sastra Lamholot dan sastra Kedang. Sastra Lamholot mementingkan pola paralelisme dengan rumusan di dalam percakapan-percakapan ritual adat. Sastra Lamaholot memiliki tradisi kuat dengan model penceritaan yang disebut “Koda-Kiring”. Oreng adalah sebuah contoh ekspresi sastra Lamaholot yang mementingkan pola paralelisme dengan rumusan percakapan ritual yang memiliki nilai keindahan.

    Dalam sastra Lamaholot jarang dijumpai dongeng atau cerita rakyat. Sastra Lamaholot dapat ditelusuri pada puisi-puisi rakyat Tutu-Marin yang dituangkan dalam puisi-puisi lisan.

    Sastra Lamaholot, selalu mementingkan pola paralelisme dengan rumusan di dalam percakapan-percakapan ritual adatnya dengan model Wua Matan (ada pasangan paralel).

    James Fox pernah mengadakan penelitian di kawasan Timur Indonesia dan menyebutkan bahwa di kawasan Indonesia Timur: Flores, Timor dan Ambon adalah wilayah penyebaran sastra paralelisme dengan model Wua-Matan. Dalam sastra Lamaholot dapat kita jumpai contoh sastra dengan model Wua-Matan. Sastra Lamaholot menggunakan kata Lera Wulan-Tanah Ekan (Lera-Wulan: Matahari-Bulan, kekuatan langit, Tanah Ekan: kekuatan bumi) sebagai satu entitas. Dalam konsep sastra Lamaholot dengan model Koda-Knalan dengan pasangan paralel Lera Wulan – Tanah Ekan diartikan sebagai Tuhan sekalian alam-Tuhan yang Maha Esa.

     

    Budi Kleden: Sastra yang Terlibat

    Sastra lisan lahir dari religiositas masyarakat. Ada tautan yang erat antara religiositas, sastra dan agama. Religiositas dan agama adalah dua hal yang berbeda. Religiositas adalah tanggapan (respon) seseorang atas pengalaman dengan yang Ultim (yang Ilahi) tanggapan dalam bentuk perasaan, pikiran, imajinasi, ketika orang berhadapan dengan pertanyaan yang sulit dijawab dalam hidup dengan kerapuhannya sendiri dan juga yang menakjubkan. Blaise Pascal menamai religiositas sebagai “du coeur” yaitu cita rasa yang mencakup totalitas ( rasio dan rasa manusiawi) kedalaman pribadi manusia. Pada dasarnya religiositas mengatasi agama yang tampak formal dan resmi. Agama lebih menunjuk kepada kelembagaan, ajaran, ritual.

    Kalau agama kehilangan kontak dengan religiositas maka agama menjadi museum yang mati, sesuatu yang tidak menginspirasi. Agama baru menjadi hidup bila tetap ada kaitannya dengan religiositas. Dalam gereja Katolik misalnya dikenal istilah sensus fidelium-rasa keagamaan. Rasa keagamaan bisa menemukan ekspresi dalam ajaran baku dan perlu ada kontak yang hidup antara rumusan agama yang baku dengan rasa keagamaan yang dihidupi oleh umat. Sastra lahir dari religiositas dan juga agama yang ada. Komumitas agama mempunyai sastra. Komunitas agama yang ada di Lembata juga mempunyai kekayaan sastra yang lahir dari pengalaman religius.

    Baik sastra, religiositas maupun agama menghadirkan yang ideal. Dalam menghadirkan yang ideal ia ibarat cermin. Kalau kita berhadapan dengan cermin kita melihat kenyataan diri kita. Dengan melihat kenyataan diri kita, juga mengundang kita untuk melihat apa-apa yang perlu kita perbaiki. Melihat realitas sekaligus melihat apa yang harus diperbaiki. Pada titik inilah kritik sosial masuk. Berhadapan dengan yang ideal kita melihat apa yang kurang, yang tidak indah, apa yang tidak utuh, apa yang tidak benar dan ini adalah kritik sosial yang terungkap baik dalam agama, religiositas maupun agama. Karena itu baik sastra, religiositas maupun agama mempunyai muatan kritik sosial yang tinggi.

     

    Trie Utami: Sastra sebagai Cara Simpan Ilmu Pengetahuan

    Sastra lisan tidak hanya dilihat sebagai legenda, dongeng atau cerita rakyat. Sastra lisan bisa dilihat dalam konteks ilmu pengetahuan. Sastra tidak hanya mengandung  nilai-nilai religiositas namun nilai-nilai yang terkandung didalamnya adalah sebuah cara simpan ilmu pengetahuan.  Sastra tidak hanya dilihat sebagai dongeng, legenda, atau kisah tutur. Sastra lisan misalnya harus dilihat sebagai cara leluhur kita menyimpan dan membagikan pesan. Diperlukan kemampuan membaca, menerjemahkan, menafsir apa yang leluhur kita simpan sebagai karya sastra. Kita perlu memakai cara baca yang berlapis. Sebagai contoh di Jawa Barat ada tujuh tanda baca yang dipakai untuk mendapatkan suatu cerita baik yang disimpan di dalam naskah-naskah lontar, legenda maupun dogeng. Ke tujuh tanda baca itu adalah silip, sindar, sampir, siloka, sandi, sasmita, dan sunyata. Ketujuh tanda baca ini dipakai untuk mendapatkan suatu cerita baik yang disimpan di dalam naskah-naskah lontar, legenda maupun dongeng.  Sebuah dongeng, mitos, legenda bila dibaca dengan tujuh tanda baca itu maka kita akan menemukan banyak aspek. Kadang-kadang leluhur kita menyimpannya di dalam nama-nama tempat. Begitulah cara simpan leluhur kita tentang apa yang perlu diwariskan. Kita mempunyai aksara-aksara dimana itu menjadi kode bagi penyimpanan-penyimpanan ilmu pengetahuan. Karena nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra-sastra lisan sebagai cara simpan pengetahuan kita bisa menemukan sistem ekologi, kemudian kita bisa menemukan sistem sosial, ada pengobatan dan juga sains (dalam bahasa lama bukan sains dalam pengertian mutakhir).

    Saat ini kita dituntut untuk melihat bahwa apa yang ditinggalkan oleh leluhur kita harus bisa dibahasakan dalam bahasa hari ini. Tugas kita adalah mengadakan gerakan untuk menggali, mendokumentasikan, mereinterpretasi dan mencoba merektualisasi dengan mengadakan pemutakiran nilai-nilai yang kita anggap lampau. Inilah yang mungkin bisa kita lakukan tidak saja membangun sebuah desain thinking tetapi juga sebuah desain doing.

    Sastra di Lembata mesti dibaca dengan kritis bahwa dia tidak sekedar dongeng, atau legenda tapi sastra itu mesti mampu kita reinterpretasi ke masa kini untuk dibawah ke masa depan sebagai titik pijak.

     

    Hilmar Farid: Kebudayaan dan Modernitas

    Mendokumentasikan karya sastra lisan adalah tugas kita yang paling mendesak. Hal ini dipacu dengan keadaan dimana para penutur sastra lisan yang usianya semakin uzur. Regenerasi sastra lisan juga sangat bervariasi. Ada daerah-daerah yang anak mudanya terlibat sungguh dalam regenerasi sastra lisan dan ada daerah-daerah yang regenerasi berjalan lambat.

    Mendokumentasikan sastra lisan bukanlah perkara yang sederhana. Biasanya orang menggunakan rekaman guna mentransfer sastra lisan in. Kesulitan yang dihadapi adalah mesti dipastikan soal bunyi dan nuansa tidak hilang saat pendokumentasiaan dilakukan.

    Dalam sebuah kebudayaan terdapat tiga hal penting   yakni  sistem ide-ide, sistem tingkahlaku dan perwujudan benda- benda budaya. Baik ide-ide, pola tingkahlaku, dan benda-benda materiil akan dipandang pertama-tama sebagai produk sebuah kebudayaan. Soal penting yang mesti kita sama-sama pikirkan tentang sebuah kebudayaan (juga kebudayaan di Lembata) adalah soal penerimaan kebudayaan terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Ketika sebuah kebudayaan menghadapi pengaruh dari luar maka yang dapat dilakukan adalah kebudayaan itu memilih untuk menentang perubahan dan mempertahankan identitasnya ataukah kebudayaan itu menerima perubahan dan mengembangkannya lebih jauh ( soal ini bisa dilihat dalam novel Lembata ketika Pedro menawarkan apakah bisa hosti dan anggur digantikan dengan jagung titi dan moke, lihat novel Lembata – Lamalera 2011). Kebudayaan dituntut untuk mencari maknanya dalam hubungannya dengan berbagai segi kehidupan manusia. Kebudayaan mesti mampu memperbaharui dan mengembangkan dirinya dengan nilai-nilai baru yang relevan dengan kemajuan zaman. ( Paskalis Bataona )

    —————————————————————————————————-