Blog

  • K a l v a r i

    K a l v a r i

     

    Joko Pinurbo

     

    Hari sudah petang ketika maut tiba di ranjang.

    Orang-orang partai yang mengantarnya ke situ
    sudah bubar, bubar bersama para serdadu
    yang mengalungkan kawat berduri di lehernya
    dan membuang tubuhnya tadi siang.

    Hanya ada seorang perempuan sedang sembahyang
    berkerudung kain kafan
    dan menggelarnya bagi raga yang capai.
    “Bapa, belum selesai. Entah kapan saya sampai.”

    Hanya ia yang tawakal
    menemani ajal,
    menyiapkan pembaringan
    buat tidur seorang pecundang:
    warga tanpa negara, tanpa agama.

    Hanya ia yang mendengar sekaratnya.

    “Telah kuminum anggur
    dari darah yang mancur.
    Telah kucecap luka
    pada lambung yang lapa.
    Di tubuh Tuhan kuziarahi
    peta negeri yang hancur.”

    Maut sudah kosong
    ketika mereka hendak menculik mayatnya.
    Hanya ada seorang perempuan
    sedang membersihkan salib di sudut ranjang.
    “Ia sudah pergi ke kota,” katanya,
    “dan kalian tak akan bisa lagi menangkapnya.”

    ———————————

     

    Sumber Puisi dari Buku Celana-Pacar Kecilku-Di Bawah Kibaran Sarung, Gramedia, 2007

     

  • Kepergian Seorang ”Mesias”

    Kepergian Seorang ”Mesias”

     Oleh  S i n d h u n a t a

     

    Kematian Maradona memang menyibakkan kembali bahwa sepak bola bukan sekadar sepak bola. Sepak bola sungguh bersentuhan dengan yang transenden, semacam ”agama” yang mencuat di tengah sekularisme, fenomena ritual manusiawi di tengah ritualitas agama yang kering, kaku, dan tidak memberi alternatif bagi hidup.

    Kata teolog Eckhard Bieger, sepak bola adalah pertaruhan, yang tidak bisa dipastikan. Sebuah kesebelasan mempunyai peluang tapi kalah, sementara lawannya minim penguasaan bola tapi menang. Tak sedikit fans bola yang percaya, itu bisa terjadi karena adanya campur tangan kekuatan di luar manusia. Kekuatan itu seperti dewa nasib, yang kadang-kadang tidak adil.

    Contoh untuk itu tentu adalah Maradona. Di Piala Dunia 1986, ia menyambar bola sapuan pemain Inggris, Steve Hodge, bukan dengan kepala atau kaki, melainkan dengan tangannya. Kiper Inggris, Peter Shilton, terlambat menghalaunya. Mata wasit Tunisia, Ali bin Nasser, seperti terkelabui oleh kelebat Maradona dan mengesahkan gol yang dibuat dengan tangan itu. Tak segan-segan, Maradona mengakui, itu adalah gol tangan Tuhan. Betapa tidak adilnya ”Tuhan” bagi kesebelasan Inggris di Piala Dunia Meksiko itu.

    Maradona kemudian membuat aksinya lagi. Ia menggiring bola bagaikan seorang penari, melewati enam pemain Inggris. Ia bermanuver sedemikian rupa, sampai pemain Inggris seakan tidak melihatnya, dan akhirnya mencetak gol yang dibukukan sebagai gol abad itu. Gol itu abadi karena lahirnya seakan dari luar kemampuan manusia biasa. ”Maradona adalah pemain bola yang terberkati. Ia bukan pemain bola. Ia seorang seniman, penari. Ia seorang genius,” kata Franz Beckenbauer. ”Memang,” kata pelatih dan filsuf bola César Luis Menotti, ”apa yang dibuat Diego dengan kakinya, kami, manusia insani ini, tak sekali pun bisa membuatnya dengan kedua tangan kami”.

    Menurut teolog Bieger, walau bukan agama, sepak bola itu religius. Bola memberikan ekstase, yang mengangkat fans-nya keluar dari rutinitas hidup harian dan memberinya suatu pengalaman tentang dunia lain. Maradona bisa memberikan perasaan ekstasis itu. Tak heran bila fans-nya di Buenos Aires menyebut dia ”D1OS”. Kata Spanyol ini berarti ”Tuhan”, dan menunjuk angka 10, nomor punggung Maradona. Bagi fans-nya, Maradona bagaikan orang kudus, sampai mereka mendirikan Iglesia Maradoniana, gereja Maradona. Kalau berkumpul, mereka mengenakan T-shirt bertulisan, ”Saya telah melihat Tuhan”.Itu memang sebuah ide yang gila, tapi ada alasannya. ”Ia telah memberikan demikian banyak kegembiraan bagi kami, rakyat Argentina. Di luar dia, tak ada rasanya yang bisa membuat kami gembira.” Begitu orang-orang meratapi kepergiannya.

    Maradona telah menjadi simbol harapan orang kecil. Maradona hanyalah anak pekerja miskin. Masa kecilnya dilewatkan di Villa Florito, daerah kumuh di pinggiran Buenos Aires. Siapa dilahirkan di tempat miskin itu, dia akan terhukum untuk tidak mempunyai peluang di masa depan.

    Ternyata Maradona bisa mematahkan takdir itu. Dan, karena pernah senasib, ia selalu menghidupi detak harapan dari mereka yang terpinggirkan. ”Dengan uangnya, ia bisa hidup sendiri. Tetapi ternyata ia tidak melupakan dari mana ia berasal. Karena itu, kami sangat mencintainya,” kata mereka-mereka yang miskin di sana. Memang, buat mereka, Maradona lebih daripada bola: Ia adalah rakyat. Maradona adalah tempat berpaling ketika rakyat tak menemukan harapannya dalam agama atau negara.

    Di Napoli, Maradona juga menjadi penyelamat. Bersama Maradona, Napoli meraih gelar scudetto Serie A untuk pertama kalinya pada musim 1986/1987. Masih lagi gelar Piala UEFA 1989 dan scudetto kedua di musim 1989/1990. Ini adalah kehormatan bagi klub di Italia selatan. Selama itu, hanya klub-klub kaya di Italia utara yang bisa menjadi juara. Maka Maradona lalu dijuluki mesias. Di rumah banyak fans Napoli, foto Maradona digantungkan di sebelah salib. Malah ada juga lukisan Madonna dengan si kecil Maradona di pangkuannya. Tak heran koran Vatikan, L’Osservatore Romano, marah dan menyebut Maradona sebagai pribadi menyebalkan, yang suka menghina.

    Dalam bola

    Menotti pernah mengungkapkan kata-kata puitis tentang Maradona, ”Bola dan dia lahir bersama-sama ke dunia”. Dan, katanya lagi, ”Diego tidak berada di dunia lain selain dunia bola. Bolalah hidup dan impiannya.” Kata-kata Menotti, filsuf bola ini, ada benarnya. Hanya dalam bola, Maradona menjadi dirinya. Di luar bola, ia ternyata tersasar dalam labirin hidup yang menyesatkannya.

    Memang di luar bola, hidup Maradona hanyalah ketragisan belaka. Ia kecanduan narkotika, menderita depresi dan skizofrenia. Ia juga menjadi agresif, sampai pernah mengancam hendak menembak wartawan yang membuatnya tak berkenan ketika ia menjadi pelatih kesebelasan Argentina. Beberapa kali ia mencoba bunuh diri. Kerusakan psikis dan mentalnya nyaris tak terobati. Belum lagi obesitas yang mengancam kesehatannya. Hidup keluarganya juga tak terpuji. Paling tidak, ia mempunyai delapan anak dengan enam perempuan. Baru tahun 2019 ia mengaku punya tiga anak di Kuba.

    Di Kuba, ia berusaha untuk sembuh dari kecanduan narkotikanya, dan bangga karena persahabatannya dengan Fidel Castro. Tetapi sekaligus tercela karena kedekatannya dengan diktator Amerika Latin, seperti Chavez dan Maduro. Ia benar-benar kehilangan orientasi. ”Banyak orang ingin melihat saya mati,” katanya. Akhirnya ia pun mati karena serangan jantung.

    Maradona bukan hanya el pibe de oro, the golden boy. Ia juga Dios, ”tuhan”. Menurut Friedrich Nietzsche, Tuhan dalam agama Kristiani hanyalah penghalang bagi manusia untuk menjadi dirinya. Maka, katanya, Tuhan harus mati, manusia harus membunuh-Nya, supaya manusia bisa menjadi dirinya, sesempurna-sempurnanya, tanpa hambatan lagi.

    Maradona bagaikan tesis yang meneguhkan pandangan Nietzsche: ia sempat menjadi superman dan menjadi ”tuhan”. Tetapi sekaligus Maradona adalah antitesis bagi filsafat Nietzsche: pada diri Maradona akhirnya ”tuhan” itu memang mati, tapi bersamaan dengan matinya, mati pula ke-superman-annya. Itulah tragika seorang ”tuhan”, yang di dunia ini masih harus menyandang kemanusiaannya: ”tuhan” itu akhirnya dibunuh oleh kemanusiaannya sendiri, kemanusiaan yang tak terlepas dari kelemahan, kesalahan, kerapuhan, kebuntuan, dan kefanaannya.

    ———————————————

     

    Sumber Kompas,  29 November 2020

     

  • Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi “Traumatik” di Panggung Sastra Reboan

    Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi “Traumatik” di Panggung Sastra Reboan

     

    Jakarta, Kamis, 26/10/2023,- Penyair Pulo Lasman Simanjuntak, 62 tahun, untuk kedua kalinya membaca puisi karya sendiri di panggung SASTRA REBOAN di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Lantai IV, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki di Jakarta, Rabu sore (25/10/2023).

    Pada kesempatan tersebut Penyair Pulo Lasman Simanjuntak-yang sehari-harinya adalah wartawan media online- membacakan puisi berjudul “Traumatik” yang ditulisnya pada Januari 1997. Puisi ini telah dipublikasikan (dimuat) di Harian Umum Seputar Indonesia  (SINDO) edisi Minggu Juli 2012.

     

    TRAUMATIK

    stasiun radio kuusung
    dari belakang punggung
    unjuk gigi
    hewan-hewan melata

    matahari mengepulkan asap hitam
    bencana berantai
    tidurku meninju bulan
    yang berdarah

    membuntingi pohon tunggal
    perawan bertekuk lutut
    perut ditikam belati
    kehilangan air mani

    kabar celaka
    membuatku makin menarik minat
    membenturkan geger otak
    ke dalam kulkas

    kebaktian sudah genap
    bapak menggali kuburan riuh
    saudaraku menjala pertempuran
    badai gurun
    jasad beradat penuh
    terbaring angkuh
    di atas papan catur

    berkembangbiaklah
    bumi yang labil
    turut berenang di dalam lautan
    tak bertepi
    ataukah menelan
    bunga-bunga karang

    tanyaku waktu itu
    mengapa dewa-dewa rajin mabuk
    menjaga pintu kematian
    sekian waktu dikhianati
    jadi suatu dongeng
    huruf-huruf lumpuh di lembaran koran

    aku kecurian
    tanah-tanah pijak
    sepuluh tahun kubangun
    jadi tugu hijau dihatimu
    mencair
    untuk penyair atau penginjil

    Jakarta, Juli 1997

     

    Peluncuran Buku Puisi Budhi Setyawan

    Sementara itu acara SASTRA REBOAN diisi dengan peluncuran buku antologi puisi tunggal ke-6 karya Penyair Budhi Setyawan yang berisikan 72 puisi.

    Sebelumnya penyair dari Bekasi yang banyak mendirikan dan mengasuh kelas-kelas puisi telah menerbitkan buku amtologi puisi Kepak Sayap Jiwa (2006), Penyadaran (2006), Sukma Silam (2007), Sajak-sajak Sunyi (2017), dan Mahzab Sunyi (2019).

    Pemantik Diskusi adalah Herdi Sahrasad, Moderator Sofyan RH.Zaid, dan Master Ceremony (MC) Setyo Bardono.

    “Puisi itu tak perlu dimengerti, tetapi dinikmati saja,” ujar Penyair Herdi Sahrasad, Dosen yang juga mantan Wartawan Harian Umum Media Indonesia ini.

    Dikatakannya lagi, kita perlu memberi apresiasi atas terbitnya buku kumpulan puisi Budhi Setyawan berjudul “Kembali Ke Puisi “.

    ” Kepenyairan Budi Setyawan merupakan suatu semangat genre sastra.Puisi penghayatan dan pengembaraan,” kilahnya.

    Penyair Herdi Sahrasad sebagai pemantik diskusi menilai buku antologi puisi ” Kembali ke Puisi” merupakan refleksi serta pengembaraan jiwa maupun pikiran.

    “Imajinasi Budhi Setyawan yang bertolak dari apa yang ada di lingkungannya tentang kekasih, sahabat, kesunyian, kesendirian, dan lain-lain,” pungkasnya.

    Menanggapi pernyataan Herdi Sahrasad, moderator yang juga Pemimpin Redaksi sastramedia.com , Sofyan RH.Zaid memberikan kesimpulan antara lain karya puisi Budhi Setyawan merupakan pergulatan batin yang lembut.

    “Mas Budi mau menulis hal-hal yang lebih dekat kepadanya.Buku kumpulan puisi ini memang cukup koheran.Kembali ke puisi, sebuah refleksi,” ujarnya.

    Pada diskusi dan tanya jawab dua orang peserta yakni Sam Mukhtar Chaniago dan Remmy Novaris DM mengajukan seputar proses kreatif dan produktivitas menulis puisi serta menulis puisi berdasarkan kedekatan yang dilakukan oleh Budi Setyawan.

    Panggung Sastra Reboan Rabu, 25 Oktober 2023 , di PDS.HB.Jassin diisi juga dengan parade baca puisi para penyair seperti Feri Putra, Mita Katoyo , Dian Rusdiana , Undani, Ilenk Rembulan , Tikno Suhendro, Nurul Amalia , Safianty Anwar, Lasman Simanjuntak, Rissa Churria, Tulus Wijanarko , Rahajeng, Herul Mas Brur, Mulya Elha, Aloysius Slamet Widodo , Herdi Sahrasad.

    Para undangan yang ikut hadir pada acara SASTRA REBOAN terlihat ada Nuyang Jaimee , Riri Satria, Sam Mukhtar Chaniago, Wig SM, Remmy Novaris DM, Nunung Noor El Niel, Nanang Ribut Supriyatin , Moktavianus Masheka, Kurnia Effendi, Wahyu Toveng , Setyo Setiyo Bardono , Ical Vrigar, Guntoro Sulung II , Asmariah Supriyadi dan masih banyak lagi.(*)

    ————————————————

    Kontributor : Lasman Simanjuntak

  • Bagaimana Tuhan dan Roh Masuk ke dalam Filsafat?

    Bagaimana Tuhan dan Roh Masuk ke dalam Filsafat?

    Oleh Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Fakultas Liberal Arts (FLA) Universitas Pelita Harapan (UPH)-Tangerang

     

    Saya diminta memberikan tanggapan atas orasi ilmiah Pdt. Asigor P. Sitanggang Th.D pada hari Sabtu, 30 September 2023. Orasi ilmiah yang disampaikan dalam rangka Dies Natalis ke-89 Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT), Jakarta itu, berjudul “Hermeneutika Pneumatologis: Suara Alkitab adalah Suara Roh?” Pneumatologi adalah studi tentang pneuma (roh). Tema yang menarik dan menantang.

    Hermeneutika Pneumatologis, menurut Pdt. Asigor Sitanggang, adalah pendekatan penafsiran Alkitab dengan melihat teks tersebut sebagai Roh Allah yang dahulu telah dan sekarang masih berbicara dan berkarya bagi para pembacanya, termasuk dalam penafsiran Kitab Suci.

    Sesuai dengan permintaan, saya menanggapi orasi itu dari sudut filsafat. Tentu ada banyak tema filosofis yang bisa diangkat dalam tanggapan tersebut. Misalnya, bagaimana kita dapat memastikan bahwa roh juga berperan dalam tafsiran atas Kitab Suci yang kita lakukan? Apa indikatornya? Atau sejauh mana mana roh itu mengintervensi interpretasi kita? Atau, apakah sah secara epistemologis mengatakan bahwa tafsiran kita itu adalah (juga) tafsiran roh? Di mana tanggung jawab penafsir atas tafsirannya bila tafsirannya adalah tafsiran roh? Dan lain-lain.

    Namun, selain pertanyaan-pertanyaan di atas, saya juga berbicara mengenai tema lain yang menurut saya menarik. Tema itu adalah: bagaimana dan sejak kapan Tuhan dan Roh masuk ke dalam filsafat? Maksudnya sejak kapan Tuhan dan Roh menjadi tema penting dalam filsafat, dan untuk tujuan apa? Tuhan adalah konsep teologi, bukan konsep filsafat.

    Namun dalam sejarah kita melihat betapa sentralnya konsep Tuhan dalam diskursus filsafat. Hampir semua filsuf besar seakan-akan wajib menuliskan pandangannya mengenai Tuhan. Bahkan kita mengenal misalnya frasa “Tuhan para Filsuf” (Gott der Philosophen), yakni Tuhan sebagaimana dipahami para filsuf, atau “Tuhan Akal Budi Murni” (Gott der reinen Vernunft), yakni Tuhan sebagaimana dipahami bukan dengan iman, melainkan dengan akal budi murni.

    Pertanyaan “Bagaimana Tuhan masuk ke dalam filsafat?“ sesungguhnya adalah pertanyaan filsuf Martin Heidegger. Ia mengajukan pertanyaan itu dalam tulisannya “Die onto-theo-logische Verfassung der Metaphysik” (Konstitusi ontoteologis metafisika). Maksudnya, metafisika yang dibentuk berdasarkan pemikiran yang bersifat ontologis, teologis dan logis. Ontologis artinya pemikiran yang hendak menyingkap struktur terdasar dari kenyataan. Teologis artinya pemikiran yang berpusat pada Tuhan (teos), sementara logis artinya pemikiran yang dikonstruksi berdasarkan kategori-kategori logika dan rasionalitas.

    Metafisika menurut Heidegger adalah adalah kombinasi dari ketiga karakter pemikiran tersebut. Filsuf ini mengkritik metafisika karena cabang filsafat ini tidak lain dari “kelupaan-akan-Ada“ (Seinsvergessenheit) itu sendiri. Disebut lupa akan Ada, karena dalam usahanya untuk mencari jawaban akan pertanyaan “Apa itu Ada“ para filsuf itu tidak melihat Ada sebagai Ada (Being qua Being), melainkan justru menciptakan Pengada (dalam hal ini “Tuhan“) dan menganggap itu sebagai Ada (Being).

    Situasinya jadi begini (menurut Heidegger): tadinya para filsuf itu mau mencari jawaban atas pertanyaan: apa itu Ada? Namun dalam menjawab pertanyaan tersebut, mereka tidak melihat Ada sebagai Ada, tidak memahami Ada sebagai Ada, melainkan justru menciptakan Pengada (entah itu “Tuhan“ atau “Ide”) lalu menganggap Pengada ciptaan mereka itu sebagai Ada. Itulah keluapaan akan Ada (Seinsvergessenheit), dan itulah metafisika.

    Dalam perspektif filsafat Heidegger, Tuhan masuk ke dalam filsafat ketika para filsuf mau mencari jawaban atas struktur terdasar (ontologi) dari kenyataan. Di sini Tuhan dilihat sebagai pencipta (creator) dari segala sesuatu yang ada. Importasi Tuhan ke dunia filsafat itu bahkan telah dimulai sejak zaman Yunani Kuno, sebagaimana diperlihatkan oleh Heidegger.

    Di sini kita melihat ketergantungan filsafat atas teologi untuk salah satu konsep paling penting dalam usahanya untuk mencari jawaban mengenai struktur terdasar atau asal-usul kenyataan (ontologi). Karena itu filsafat tidak mungkin melepaskan diri dari tema Tuhan.

    Dalam tanggapan saya, saya juga mengajukan pertanyaan serupa: “Bagaimana Roh masuk ke dalam filsafat?” Roh juga adalah istilah teologi, bukan istilah filsafat. Namun dalam sejarah kita juga melihat bahwa tidak sedikit filsuf yang mengangkat roh sebagai bagian penting dari sistem filsafatnya. Dan sebagaimana pada Tuhan, hal itu juga telah berlangsung sejak zaman Yunani Kuno. Term nous, yang biasanya diterjemahkan dengan “pikiran“ atau “intelek“, berperan penting dalam filsafat Plato, Aristoteles dan Plotinos.

    Dalam filsafat abad pertengahan yang jalin menjalin dengan teologi roh sudah pasti berperan penting. Dalam filsafat modern, sejak Descartes, Spinoza, Kant dan para filsuf Idealisme Jerman (Hegel, Schelling dan Fichte), roh tetap menjadi konsep sentral. Bagaimana dan untuk kepentingan apa Roh menjadi tema penting dalam filsafat?

    Waktu tidak mengizinkan untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana konsep roh digunakan oleh para filsuf dalam sejarah. Yang dapat dilakukan hanyalah observasi sederhana. Plato memahami nous sebagai bagian rasional dari jiwa manusia yang harus mengendalikan seluruh kapasitas manusiawi. Tapi nous pada Plato bukan hanya sebuah kapasitas manusiawi. Filsuf ini juga memberi status metafisis kosmologis bagi nous.

    Dalam bukunya Timaeus ia mengatakan bahwa nous-lah yang memungkinkan Demiurgos melakukan aktivitas kreatif untuk menetapkan keteraturan (order) pada kenyataan yang sebelumnya chaos. Kosmologi Yunani Klasik mengatakan, pada mulanya adalah chaos – dan bukan ketiadaan! — lalu datanglah Demiurgos untuk menetapkan order, dan jadilah kosmos. Karena itu, keseluruhan kenyataan ini diresapi oleh nous, dan manusia, sebagai bagian dari kenyataan, juga diresapi oleh nous. Nous manusia individual berpartisdipasi pada nous kosmologis. Di sini kita melihat karakter nous yang kreatif dan produktif pada Plato.

    Karakter serupa juga terlihat pada nous dalam konsepsi Aristoteles. Filsuf ini memahami nous sebagai pengertian dasar yang memungkinkan manusia berpikir rasional. Nous adalah bagian rasional dan kreatif dari pikiran manusia. Nous adalah aktualitas pikiran. Aristoteles menjelaskan nous dengan berbagai cara, namun senantiasa terkait erat dengan karakter energi kreatif, aktif, daya, kekuatan atau kemampuan.

    Filsuf modern yang menjadikan roh sebagai tema sentral filsafatnya, yakni Hegel, juga memahami roh dalam kaitannya dengan aktivitas, kreativitas, atau produktivitas.

    Hegel menolak filsafat substansi Spinoza karena menurutnya Allah tidak cukup hanya dipahami sebagai substansi yang menciptakan dirinya sendiri (causa sui), melainkan juga harus dipahami sebagai Subyek, yakni Allah yang aktif mencipta, menghasilkan yang lain, dan sekaligus melihat yang lain itu sebagai dirinya dalam bentuk yang lain. Allah yang dipahami sebagai Subyek demikian, yang merangkum yang lain dalam diri-Nya, adalah roh.

    Kendatipun hanya berdasarkan observasi sangat sederhana, kita memiliki alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa roh dibutuhkan dalam filsafat ketika filsuf mau berbicara mengenai energi atau daya kreatif baik pada level manusia maupun pada level kosmos. Sebagaimana pada Plato, nous bukan hanya aktivitas tertinggi dari jiwa manusia, tetapi juga prinsip transenden ilahi yang menata keseluruhan kosmos.

    Roh adalah realitas metafisis yang menghubungkan dan merangkum keseluruhan kenyataan. Pengertian ini misalnya sangat jelas terlihat pada Hegel. Roh-lah yang menghubungkan dunia sana dan dunia sini, yang ilahi dan manusiawi, yang surgawi dan duniawi. Tuhan hanya konkret sebagai Tuhan hanya dengan cara menjadi Roh, kata Hegel. Dalam bahasa teologi, istilah konkret di sini dipahami sebagai proses penciptaan atau pewahyuan Allah melalui ciptaan-Nya.

    Kita dapat memahami roh sebagai daya aktif dan kreatif yang mempengaruhi, menghubungkan serta mempersatukan yang lain dalam dirinya. Pengertian demikian juga tercermin bila kita menggunakan roh dalam percakapan sehari-hari. Kita misalnya mengenal istilah roh zaman (Zeitgeist). Istilah ini mengacu ke sebuah daya “metafisis“ yang mempengaruhi dan mengikat sebuah zaman tertentu ke dalam suasana kejiwaan tertentu. Roh zaman ini mempengaruhi bagaimana orang berpikir, menganalisa atau bertindak.

    Kalau kita misalnya sepakat bahwa roh zaman kita sekarang adalah kebebasan, maka setiap orang menjadikan kebebasan ini sebagai referensi nilai dalam berpikir atau bertindak; kebebasan itu ada dalam pikiran setiap orang. Roh zaman itu bekerja diam-diam, mempengaruhi kesadaran dan pemikiran setiap orang dan sering tanpa disadari. Ia menjadi semacam kondisi transendental bagi segenap tindakan dan pemikiran kita.

    Dalam arti ini roh memang menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan kalau filsafat atau teologi hendak melakukan refleksi mengenai dimensi metafisis realitas.

    Jadi rupanya Tuhan dan roh adalah dua konsep yang merupakan titik pertemuan antara filsafat dan teologi.

    Sejarah pneumatologi modern dimulai ketika Hegel melakukan kritis dialektis atas filsafat substansi Spinoza. Spinoza mengasalkan keseluruhan realitas dari substansi tunggal yang disebut “Allah atau Alam” (Deus siva natura). Substansi adalah sesuatu yang eksis dalam dan untuk dirinya sendiri serta tidak tergantung dari yang lain. Substansi adalah prinsip monistik ontologis fundamental untuk keseluruhan realitas. Segala sesuatu yang lain adalah modus atau cara berada substansi yang satu itu.

    Secara konsisten Spinoza menyimpulkan bahwa “apapun yang ada, itu ada di dalam Tuhan, dan tidak ada apapun yang ada atau yang dapat dipahami tanpa Tuhan.“

    Dengan konsep substansi demikian, filsafat Spinoza menjadi panteistik. Segala-galanya adalah Allah karena segala-galanya adalah modus dari Allah. “Tidak ada yang dapat dipahami atau substansi yang lain kecuali Tuhan,“ katanya. Filsafat ini juga deterministik. Karena segala sesuatu adalah cara berada dari Allah, maka segala-galanya telah dideterminasi Allah. Tidak ada lagi kebebasan; segala sesuatu berada dalam kondisi interdependensi atau interkoneksi.

    Tidak puas dengan konsep Tuhan yang dipahami sebagai substansi, Hegel mengkonstruksi sebuah sistem filsafat yang memahami Tuhan bukan hanya sebagai substansi tapi juga sebagai Subyek yang aktif dan kreatif merealisasikan diri-Nya. Tuhan adalah subyek yang hidup (das lebendiges Subjekt) bukan sekadar substansi yang pasif.

    Hegel menulis: “Tuhan itu mencipta … Tuhan bukan lagi esensi gelap yang tumpul pada dirinya. Ia memanifestastikan diri-Nya, Ia menyingkapkan diri-Nya, Ia memposisikan sebuah perbedaan dan menjadi yang Lain. Dalam ungkapan yang paling tinggi, perbedaan ini adalah putra, Putra itu ada atau dimediasi melalui Bapak, dan sebaliknya: dalam Putra itu yang tersingkapkan hanyalah Bapak. Tapi dalam yang Lain ini, Tuhan berada pada dirinya sendiri, ia tidak keluar dari dirinya sendiri; ia hanya menghubungkan dirinya kepada dirinya sendiri; dan karena ini bukanlah relasi kepada yang lain dari dirinya, maka mediasi itu ditransformasi (aufgehoben).”

    Dalam sistem filsafat Hegel yang disebut Idealisme Absolut itu Tuhan yang secara aktif, produktif dan kreatif merealisasikan diri-nya, sehingga menghasilkan yang lain dari diri-Nya sendiri, itulah yang disebut Roh. Di sini kita kembali melihat karakter roh yang aktif dan produktif sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya. Tuhan tampil dan menampakkan diri-nya sebagai Roh karena ia telah mengasingkan dirinya menjadi yang lain (dunia), dan menegasi kembali hasil negasi dirinya itu.

    Roh dalam konsepsi Hegel, dengan demikian, bukan sekadar entitas tertentu yang tidak material, juga bukan jiwa yang tidak berbentuk. Memahami Tuhan sebagai Roh bukanlah dengan membayangkannya sebagai jiwa yang melayang-layang begitu saja, melainkan sebagai yang aktif merealisasikan dirinya, membuat dirinya menjadi objektif, dan mengenali dirinya dalam objektivitas itu, serta mempertahankan kontradiksi dalam dirinya sendiri. Inilah konsepsi yang konkret mengenai Tuhan. Aktivitas Tuhan sebagai Roh ini tidak lain dari proses penciptaan dan kehadiran-nya di dunia ini.

    Karena itu, Tuhan sebagai Roh yang tidak terbatas itu merealisasikan dirinya dalam dan melalui yang terbatas. Kita mengenal Tuhan melalui aktivitas-Nya sebagai Roh, dan melalui Roh itulah ia menga-ada-kan segala sesuatu yang lain, yang kemudian dapat kita kenali, dan kita sebut ciptaan-Nya. Ketuhanan Tuhan justru terealisasi melalui yang terbatas itu, yang tidak lain merupakan realisasi-diri atau pernyataan diri dari Roh yang tidak-terbatas.

    Karena itu obyek-obyek yang terbatas yang terdapat di dunia ini adalah bentuk lain dari yang tidak-terbatas, yang tidak lain adalah Roh. Yang terbatas itu adalah yang tidak-terbatas dalam bentuk yang terbatas. “Roh hanya menjadi Roh dengan cara kalau ia ada sebagai negasi atas segala bentuk yang terbatas, sebagai idealitas absolut,” tulis Hegel.

    Allah adalah juga subyek karena Ia secara aktif merealisasikan diri-Nya, mencipta, menghasilkan yang lain dari diri-Nya. Ia bukan sesuatu yang pasif. Ia adalah Roh yang kreatif. Allah juga sebuah Pribadi karena berhadapan dengan semua yang lain itu, ia tetap mempertahankan dirinya sebagai Allah, keallahan-Nya tidak berkurang sekalipun ada yang lain dari diri-Nya, karena yang lain itu juga tercakup dalam diri-Nya.

    Dalam rumusan dialektis Hegel, maka Allah sebagai subjek, tetap “berada pada diri-sendiri-dalam-berada pada-yang-lain” (Bei-sich-selbst-sein im Anderssein). Artinya, sekalipun ada yang lain daripada dirinya (Allah), Ia melihat yang lain itu sebagai diri-Nya dalam bentuk yang lain, dan oleh karena itu, Ia berada pada diri-Nya sendiri dalam menyadari adanya yang lain daripada diri-Nya.

    Sistem filsafat Hegel dapat disebut sebuah pneumatologi karena yang menjadi pusat pembahasan dalam sistem itu tidak lain dari Roh itu sendiri atau Tuhan dalam aktivitas kreatif-Nya. Keseluruhan sistem filsafat Hegel yang disebut Idealisme Absolut itu tidak lain dari pemaparan diri Tuhan yang berlangsung secara dialektis melalui momen-momen Roh pada dirinya (an sich) Roh untuk dirinya (für sich) dan Roh pada dan untuk dirinya (an und für sich). Idealisme Absolut Hegel adalah logos tentang roh (pneuma).

    Pada Hegel kita melihat bahwa Roh yang pada era filsafat sebelumnya, terutama pada filsafat abaf pertengahan, merupakan prinsip demarkasi antara manusia dan yang supermanusia, atau antara yang empiris dan supra empiris, sekarang justru menjadi prinsip unifikasi kesatuan antara elemen-elemen yang beroposisi: antara yang material dan spiritual, antara yang ilahi dan manusiawi, antara yang duniawi dan surgawi.

    Secara singkat Roh menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Roh menjadi kategori ontologis yang menyatukan segala sesuatu. Dari situ kita dapat melihat bahwa konsep roh telah selalu mengimplikasikan komunitas karena ia mencakup atau mempersatukan elemen-elemen yang berbeda dalam dirinya.

    Sekalipun dikenal sebagai filsuf Pencerahan yang menundukkan segala sesuatu di hadapan pengadilan kritis akal budi (kritische Vernunft) dan membatasi wilayah pengetahuan hanya pada bidang empiris (fenomena), Kant memberi perhatian besar terhadap tema-tema agama, Tuhan, jiwa, keselamatan, iman, Roh Kudus dan lain-lain.

    Ulasan Kant mengenai tema-tema tersebut bukanlah dalam rangka ateisme atau agnotisisme, sebagaimana secara tidak tepat sering dituduhkan, melainkan dalam usaha untuk memberi tempat yang tepat bagi iman dan ilmu pengetahuan. Secara singkat, Kant ingin menarik garis demarkasi di antara keduanya. Namun demikian kita tetap dapat merumuskan sebuah pneumatologi menurut Kant.

    Pemikiran Kant mengenai tema Tuhan, agama dan iman dalam kerangka filsafat praktis itu bertolak dari fakta kejahatan radikal (das radikale Böse) dalam diri manusia. Istilah ini memaksudkan bahwa manusia sudah selalu hidup dalam kondisi kejahatan radikal. Yang dimaksud kejahatan radikal di sini bukan kejahatan ekstrim, sebagaimana dilakukan Hitler misalnya, melainkan kejahatan yang sudah berakar (radix) dalam kehendak manusia itu sendiri. Tindakan manusia selalu berawal dari keinginan.

    Namun, keinginan, sebagai akar tindakan ini, selalu cenderung ke arah yang jahat secara moral. Misalnya, pamrih yang kita miliki dalam melakukan sebuah perbuatan baik. Pamrih ini mengakibatkan perbuatan baik kita tidak lagi bernilai moral. Sebenarnya istilah kejahatan radikal di sini adalah ungkapan filosofis Kant untuk istilah teologis dosa asali (original sin).

    Masalahnya kemudian, bagaimanakah manusia yang telah selalu dalam kejahatan radikal itu masih mampu berbuat baik, sebagaimana diperintahkan oleh hukum-hukum moral? Kalau hukum moral memerintahkan manusia untuk bertindak moral (misalnya: jangan berdusta, jangan membunuh, jangan mencuri, dll) maka secara logis perintah itu dapat dilakukan.

    Tapi, demikian Kant bertanya dengan meminjam pernyataan Martin Luther: bagaimana mungkin pohon yang buruk dapat menghasilkan buah yang baik? Bagaimanakah manusia yang jatuh ke dalam dosa masih mampu berbuat baik? Bukankah harusnya manusia itu harus baik dulu baru ia dapat melakukan perbuatan baik, sebagaimana pohon yang baik menghasilkan buah yang baik?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, Kant merefleksikan secara filosofis tema dosa dan pembenaran (justification), sebagaimana dipahami dalam doktrin Kekristenan. Hal ini kemudian membawanya ke tema pneumatologi. Melalui pembenaran, yang merupakan tindakan kasih karunia Allah dan bukan sebagai imbalan atas perbuatan baik kita, keberdosaan manusia diampuni. Pembenaran menghasilkan manusia yang baru.

    Pembaharuan ini terjadi melalui perubahan dalam suara hati (Gesinnung); suara hati menurut Kant adalah situs kehadiran Allah atau Roh Kudus dalam diri manusia. Roh Kudus berdiam secara permanen dalam diri orang percaya, Ia menjadi pendamping kita (1 Kor 6: 19-20, 12:13). Suara hati juga merupakan salah satu fakultas moral dalam diri manusia. Namun, sekalipun telah menjadi manusia baru, manusia tetap otonom secara moral. Ia tetap dapat menuruti atau tidak menuruti suara hatinya.

    Suara hati selalu melakukan pengadilan (tribunal) atas tindakan-tindakan moral kita. Di sini Kant menggunakan ilustrasi pengadilan untuk memperlihatkan kehadiran Allah atau Roh Kudus dalam suara hati kita. Pengadilan dalam suara hati itu, yang terdiri dari hakim, terdakwa, dan jaksa tidak mungkin terdiri dari satu dan orang yang sama, sebab bila demikian halnya, maka jaksa (yang menuduh kita orang jahat kalau kita bertindak jahat secara moral) akan selalu kalah dan karena itu kita sebagai terdakwa (pelaku tindakan jahat itu) akan selalu menang.

    Kenyataannya tidak demikian; pengadilan moral itu kadang memutuskan kita bersalah kalau tindakan kita buruk secara moral. Itulah yang kemudian kita sebut dengan rasa bersalah.

    Berdasarkan akal budi praktis, jaksa yang meneliti dan menuduh kita dalam pengadilan moral suara hati itu harus dipahami sebagai pribadi ideal yang tidak berkenan terhadap segala yang buruk secara moral. Itulah Tuhan atau Roh Kudus yang bertindak sebagai „penyelidik hati“ kita. Pribadi ideal ini juga harus dipikirkan sebagai Pribadi yang memiliki kekuasaan untuk menjaga keberlakuan hukum-hukum-Nya hingga di pengadilan suara hati.

    Secara singkat, berdasarkan fenomena suara hati dan pengadilan moral, pertanyaan mengenai jaksa sebagai Pribadi ideal dalam suara hati itu membawa kita untuk mengandaikan eksistensi Tuhan atau Roh Kudus dalam diri kita.

     

    ———————————————————-

     

  • Pemimpin Panutan atau Pemimpin Demokratis?

    Pemimpin Panutan atau Pemimpin Demokratis?

     Ignas  Kleden

     

    Dalam retorika politik Indonesia dewasa ini masih sering terdengar keinginan atau harapan akan adanya pemimpin panutan. Seseorang dianggap menjadi panutan apabila dia memiliki kebajikan-kebajikan yang patut dicontoh oleh orang lain, yang melihat dalam diri sang panutan suatu model tentang perilaku yang baik dan benar. Dalam istilah antropolog Clifford Geertz dia diperlakukan sebagai suatu examplary center, yaitu suatu pusat yang penuh teladan.

    Jarang kita menyadari bahwa memperlakukan seseorang sebagai panutan adalah mengasumsikan bahwa orang tersebut mempunyai kualifikasi moral di atas rata-rata, yang melampaui kemampuan moral orang kebanyakan. Dengan pengandaian semacam itu muncul ketidak-adilan yang secara tidak disadari diperlakukan pada diri sang panutan. Ini artinya, kalau sang panutan bertingkahlaku baik dan benar, maka hal itu diterima sebagai kenyataan yang serba biasa, sesuatu yang semata-mata given, seakan-akan keteladanan moralnya bukanlah hasil perjuangan pribadinya dalam mencapai nilai-nilai yang lebih luhur. Sebaliknya, kalau dia melakukan suatu kesalahan (dan mungkin kesalahan yang kecil saja) maka segera saja dia dianggap mengecewakan harapan banyak orang, menimbulkan frustrasi dan amarah pada para pengikutnya, yang menganggap dia tidak memenuhi suatu standar yang telah mereka terapkan pada dirinya. Dia diperlakukan tidak sebagai manusia biasa yang kadang kala tak berhasil mengatasi kelemahannya sendiri.

    Paham tentang pemimpin panutan sangat mungkin berasal dari masa aristokrasi, tatkala hubungan patron-klien merupakan pola utama yang mengatur hubungan sosial. Gampangnya, mereka yang dianggap pemimpin, juragan atau pembesar menjadi juga model bagi perilaku rakyat biasa, anak buah atau para bawahan. Ungkapan bahasa Prancis noblesse oblige merupakan peninggalan dari masa aristokrasi, yang percaya bahwa status sosial yang lebih tinggi membawa serta kewajiban yang lebih banyak, termasuk di dalamnya juga kewajiban dalam memberikan teladan hidup.

    Paham ini diubah secara radikal dalam sistem demokrasi yang bertolak dari ide utama tentang persamaan setiap orang. Aspek persamaan yang sering ditekankan dalam diskusi politik adalah persamaan di depan hukum, yaitu ketetapan bahwa tiap orang yang melakukan kesalahan yang sama ketika berada dalam kondisi yang sama, harus dihukum dengan hukuman yang sama, sekalipun mereka berasal dari status sosial yang berbeda.

    Meskipun demikian, secara implisit, demokrasi mengandaikan adanya semacam persamaan dalam moralitas di antara semua orang, tetapi dalam formula negatif. Berarti, demokrasi tidak mengandaikan bahwa semua orang mempunyai kebajikan yang sama, tetapi orang-orang dengan kebajikan yang berbeda-beda itu, dapat jatuh dalam kesalahan yang sama, khususnya kalau mereka mempunyai kekuasaan di tangannya. Asas noblesse oblige diganti oleh prinsip power tends to corrupt, yaitu bahwa kecenderungan kepada penyelewengan dan kejahatan selalu melekat pada tiap kekuasaan. Ini jelas dari kenyataan sederhana bahwa kecenderungan kekuasaan untuk memperbesar dirinya jauh lebih kuat daripada kemampuannya membatasi diri, dan kecenderungan kekuasaan untuk membenarkan diri juga berkali-kali lebih besar dari kemampuannya mengkritik dan mengawasi dirinya. Dalam aristokrasi diandaikan bahwa status sosial yang lebih tinggi membawa kewajiban dan kebajikan yang lebih tinggi. Dalam demokrasi diandaikan bahwa kekuasaan yang lebih besar memberi kesempatan untuk kesalahan dan penyelewengan yang semakin berat.

    Karena itu dalam demokrasi tidak diharapkan bahwa seorang pemimpin politik haruslah seorang panutan (sebagaimana berlaku dalam kehidupan agama misalnya). Mereka yang berada dalam kabinet, DPR, birokrasi pemerintahan, dan bahkan kepala negara dan kepala pemerintahan sendiri—untuk memakai istilah sosiologi Max Weber—bukanlah moral virtuosi, yaitu orang-orang yang dikarunia kemampuan moral yang lebih tinggi dari kemampuan moral rata-rata orang kebanyakan. Secara moral mereka sama saja dengan rakyat yang dipimpinnya, bahkan mereka jauh lebih rentan terhadap kesalahan dan kejatuhan, karena mereka memiliki kekuasaan, yang dalam dirinya selalu mengandung kecenderungan untuk disalah-gunakan. Rakyat biasa tidak mengalami kerentanan tersebut, karena mereka tidak memiliki kekuasaan.

    Inilah sebabnya, pemimpin yang baik dalam sistem demokrasi bukanlah pemimpin panutan. Dia tidak usah berpretensi menjadi pemimpin yang tanpa cela atau bebas dari segala cacat. Secara demokratis, pemimpin yang baik hanya perlu tunduk pada pengawasan publik, baik pengawasan melalui hukum yang berlaku, mau pun kontrol sosial oleh para warga. Pemimpin yang baik harus diandaikan bisa melakukan kesalahan, tetapi dia harus siap untuk dikoreksi. Legitimasinya lebih terjamin kalau dia mempunyai moral courage untuk mengakui kesalahannya, memperbaikinya, dan bersedia menerima sanksi akibat kesalahan tersebut. Jalan ini jauh lebih menguntungkannya secara politik daripada kalau dia berkelit dengan berbagai dalih bahwa dia tak melakukan kesalahan apa pun.

    Terhadap godaan penyelewengan kekuasaan, kita tidak mengharapkan bahwa seorang pemimpin akan demikian teguh hatinya dan demikian saleh jiwanya sehingga sanggup mengatasi godaan penyelewengan dengan kekuatannya sendiri. Demokrasi mengandaikan bahwa seorang pemimpin menjadi baik dan benar karena dia terhindar dari penyelewengan berkat pengawasan, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Di sini pemimpin menjadi baik dan berhasil bukan karena keunggulan pribadinya, tetapi karena dia dikekang dari praktik penyelewengan oleh pengawasan rakyatnya, meski pun dia sendiri ingin dan sangat tergoda untuk menyelewengkannya. Dalam demokrasi, seorang pemimpin yang tidak menyelewengkan kekuasaan karena takut pada pengawasan, adalah pemimpin yang baik, dan dia tidak usaha menjual tampang bahwa dia tidak tertarik untuk menyalahgunakan kekuasaannya.

    Kalau demokrasi sebagai sistem politik mengandaikan bahwa pemerintahan harus berasal dari rakyat, dijalankan oleh rakyat demi kepentingan rakyat, maka pemimpin yang demokratis adalah seseorang yang berasal dari rakyat (dan bukan dari kalangan bangsawan), diawasi oleh rakyat (dan bukan mengawasi dirinya sendiri), dan bekerja untuk rakyatnya (dan bukan untuk dirinya atau kelompok yang kebetulan dekat dengan dirinya).

     

    ————————————————
    Sumber Tulisan: Kompas, 6 Juni 2007

     

     

     

  • Risiko  Demokrasi

    Risiko Demokrasi

    I g n a s  K l e d e n

     

    DALAM penyelenggaraan demokrasi di Indonesia sering terdengar kritik tentang terbatasnya realisasi demokrasi hanya pada tingkat prosedural saja. Demokrasi diwujudkan hanya melalui pembentukan lembaga-lembaga dan pelaksanaan prosedur dan tata cara, tetapi belum memperlihatkan hasil yang dijanjikan olehnya sebagai sistem politik. Ada Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi para anggotanya lebih sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak banyak berperan sebagai wakil yang menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat yang mereka wakili dan yang telah memilih mereka karena berbagai janji dan impian masa depan yang ditawarkan.

    Ada pemilihan umum, tetapi hasilnya masih sering dipertanyakan apakah hasil itu benar-benar menunjukkan suara rakyat, atau menjadi gema gencarnya serangan fajar, atau cerminan disiplin penghitungan suara yang mengundang pertanyaan dan keraguan. Demikian pula ada lembaga peradilan, tetapi pencari keadilan masih kebingungan, ke mana mereka mencari keadilan dan dapat menemukannya. Ada pemerintah dengan berbagai kementerian, tetapi cukup banyak keluarga yang tetap meringkuk di bawah garis kemiskinan, dengan kondisi yang tak banyak berubah dari rezim pemerintahan yang satu ke rezim yang lain.

    Semua ini lambat laun menimbulkan anggapan bahwa demokrasi hanyalah suatu formalitas, yang tidak membawa perbaikan substantif untuk rakyat berupa kesejahteraan yang lebih merata, keadilan yang lebih pasti, dan perlindungan hak-hak rakyat yang merasa aman di bawah naungan undang-undang. Sementara itu, kita tahu, baik substansi demokrasi maupun prosedurnya, merupakan dua hal yang sama pentingnya, seperti dua sisi dari satu mata uang yang sama.

    Substansi demokrasi dan psikologi politik

    Dapatlah dibayangkan rakyat akan bersorak-sorai kalau suatu pemerintah memberi perhatian utama pada pembagian pendapatan nasional secara lebih merata. Meski demikian, pemerintah tak dapat melakukan pemerataan pendapatan ini dengan melanggar hak milik perorangan seorang warga negara, dan mengambil begitu saja tanah, rumah, dan penghasilan seorang kaya dan membagikannya kepada kelompok yang tak berpunya. Atau orang-orang yang diduga melakukan korupsi ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa melalui proses pengadilan.

    Dalam dua contoh tersebut, substansi demokrasi dicoba diwujudkan (yaitu kesejahteraan dan keadilan), tetapi dengan cara yang melanggar asas demokrasi yang melindungi kepemilikan pribadi dan menegakkan praduga tak bersalah di pengadilan.

    Pada titik itulah terlihat bahwa prosedur demokrasi sangat penting dalam menjamin bahwa tujuan-tujuan substantif demokrasi hanya boleh dicapai dan diwujudkan melalui cara-cara demokratis, dan bukannya dengan sembarang cara, sekalipun cara-cara itu mungkin lebih efektif. Ini artinya, baik demokrasi prosedural maupun demokrasi substansial sama-sama mengandung risiko kalau dua kepentingan itu tidak diambil secara bersama, tetapi secara terpisah satu dari yang lainnya.

    Sementara itu, sering kita alami bahwa dalam psikologi politik, pendapat umum dapat dengan mudah berubah dan cepat bergerak dari ujung yang satu ke ujung yang lain meskipun kedua ujung tersebut merupakan titik ekstrem yang tidak mengandung seluruh kebenaran dan kebaikan. Setelah Presiden Soekarno mencanangkan dan melaksanakan program nation building, pemerintahannya dianggap terlalu ideologis dan kurang memberi perhatian pada perbaikan ekonomi.

    Kemudian, tatkala Presiden Soeharto memegang kekuasaan, dia memperkenalkan program pembangunan ekonomi yang diterima secara luas, sekalipun dengan membatasi beberapa hak politik dan hak sipil.

    Di negara maju yang lain, kita melihat Presiden Bush senior (presiden ke-41 AS) menekankan pentingnya suatu politik luar negeri yang relatif berhasil meredam ketegangan Perang Dingin. Dalam kampanye pemilihannya yang kedua, presiden ini rupanya tidak menyadari adanya suatu peralihan generasi di AS. Semenjak Franklin D Roosevelt, presiden-presiden AS semua pernah terlibat dalam Perang Dunia II, entah sebagai anggota militer atau sebagai Panglima Tertinggi (commander in chief) yang menjadi wewenang dan tanggung jawab presiden AS.

    Pada tahun 1992 tatkala Presiden Bush senior berjuang untuk dipilih kembali, generasi baby boomer dan mereka yang lebih muda merupakan bagian cukup besar dari para pemilih yang mempunyai keinginan dan impian lain. Gubernur Bill Clinton dari Arkansas, yang lebih muda 22 tahun, melihat pergeseran generasi ini. Dengan cerdas, dia memasuki kampanye dengan menggeser perhatian Amerika dari politik luar negeri yang menjadi kekuatan pendahulunya, dan berusaha menjawab kecemasan yang semakin meluas tentang keadaan ekonomi. Dia mencanangkan slogan kampanyenya, ”It’s the economy, stupid!” (masalah kita adalah ekonomi, tolol!), dan memenangi pemilihan sebagai presiden ke-42 AS.

    Tak bisa disangkal, dalam menyongsong Pemilu Presiden RI 9 Juli 2014 nanti, masih ada nostalgia ke masa pemerintahan Presiden Soeharto dalam perbandingan dengan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rupanya ini psikologi yang biasa. Berhadapan dengan kesulitan masa sekarang, orang enggan memaksa diri mencari penyelesaian, tetapi kembali ke masa silam yang dibayangkan aman sentosa dan merasa tenteram di sana.

    Dianggap keamanan di masa lampau lebih terjamin, sambil lupa bahwa tokoh-tokoh nasional yang dianggap melakukan provokasi politik dijebloskan begitu saja ke dalam penjara tanpa proses pengadilan sebagaimana yang berlaku dalam negara hukum, sementara para pencopet, penggarong, dan penodong dibunuh secara misterius dan ditinggalkan di pinggir jalan setelah dikarungkan.

    Dibayangkan pemilu di masa lalu lebih mulus dan tanpa banyak pergolakan dan konflik, sambil diabaikan bahwa ada paksaan di masa lalu untuk memenangkan satu partai saja dengan mayoritas mutlak, sambil hak politik rakyat untuk membentuk partai politik lain dibatasi dengan ketat. Dikira kehidupan di masa lalu lebih tenteram, sementara kritik diawasi, oposisi dilarang, dan pemimpin redaksi surat kabar dapat ditelepon setiap saat untuk membatalkan publikasi berita atau isu tertentu yang tak disenangi pemerintah.

    Memang, masa lampau, khususnya masa lampau yang dekat, seakan selalu bermuka dua. Dalam kesulitan menghadapi masalah-masalah di masa sekarang, masa lampau tampak lebih indah dari aslinya, dan seakan menjadi tempat pelarian yang aman.

    Sebaliknya, kalau ada kesulitan di masa sekarang yang muncul akibat tindakan, kelalaian, dan pelanggaran di masa lampau, kesulitan di masa sekarang dicoba dihilangkan dengan melupakan masa lampau.

     

    Pendulum politik

    Pemilihan presiden RI yang segera berlangsung dalam waktu dekat akan menjadi sebuah tes tentang pandangan dan penghayatan kita di Indonesia tentang masa lampau dan masa sekarang. Juga tes tentang pendulum dalam psikologi politik, apakah menjadi kecenderungan yang dapat dikontrol atau selalu kebablasan. Istilah-istilah ini seakan menunjuk pada sesuatu yang abstrak sekali, sementara dalam praktik politik semua ini menjadi nyata dan dapat diamati.

    Apakah mungkin terjadi bahwa kejenuhan orang dengan proseduralisme dalam demokrasi seperti yang terjadi sekarang akan mendapat balasannya dalam dukungan penuh kepada seorang calon presiden yang dapat meyakinkan kita tentang program politik yang mewujudkan tujuan-tujuan substantif demokrasi seperti kesempatan kerja yang lebih luas, pendidikan yang lebih baik, dan pemerintahan yang lebih bersih, tetapi dengan jaminan yang masih dapat diragukan tentang komitmennya untuk tetap menghormati prosedur demokrasi?

    Hal ini akan semakin sulit di tengah dukungan besar dari para pengikut yang sudah lama mendambakan realisasi demokrasi dalam substansinya, dan mungkin sekali akan bersikap permisif terhadap pelanggaran prosedur-prosedur demokrasi yang baku, seperti keharusan mencari penyelesaian masalah dengan cara tanpa kekerasan atau non-violent problem-solving.

    Demikian pula masa lampau setiap calon presiden kita seyogianya diperjelas sebagai rujukan tentang perilaku pemimpin Indonesia yang sejalan dengan tuntutan demokrasi. Dengan mengakui kemungkinan perubahan perilaku tiap orang dalam perjalanan waktu, tidak ada salahnya mengingat dan mengingat kembali bahwa kekuasaan presiden yang demikian besar hendaknya menjadi api obor yang menerangi perjalanan bangsa Indonesia melalui liku-liku kesulitan dan tantangan menuju masa depan yang lebih baik, dan bukannya menjadi api yang membakar hutan dan mengirim panas dan asapnya ke berbagai penjuru negeri.

    Great men make great mistakes, orang-orang besar membuat kesalahan-kesalahan besar, begitu pesan filsuf Austria-Inggris, Karl R Popper. Seluruh bangsa Indonesia sepatutnya menjaga agar kekuasaan besar membuat kebajikan besar dan mencegah bencana besar.

     

    —————————————–

    Sumber Tulisan Kompas, 22 Mei 2014.

     

  • Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi pada  Ultah JSM Ketiga di Cafe Sastra Balai Pustaka

    Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi pada  Ultah JSM Ketiga di Cafe Sastra Balai Pustaka

     

    Para Tamu dan Undangan Ultah JSM Ketiga di Cafe Sastra Balai Pustaka, Jakarta Timur, Minggu Sore (15/10/2023) Sebelum Pulang Barfoto Bersama.

     

    Jakarta, berandanegeri.com. Penyair Pulo Lasman Simanjuntak, 62 tahun  diundang ikut baca puisi karya sendiri  berjudul KALAH ATAU MENANG pada penghujung acara pesta ulangtahun (ultah) ketiga JAGAT SASTRA MILENIA di Cafe Sastra, Balai Pustaka, di Jakarta, Minggu sore (15/10/2023).

    “Sekarang kita sambut Lasman Simanjuntak untuk giliran baca puisi,” ujar Rissa Churria yang menjadi MC pada ultah JSM ketiga tersebut.

    Puisi KALAH ATAU MENANG ditulis pada tahun 1983, saat Penyair Pulo Lasman Simanjuntak masih kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP-Jakarta). Puisi ini telah dimuat di Tabloid NOVA, group Gramedia-Kompas pada tahun yang sama.

    Puisi-puisi karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan 26 buku antologi puisi bersama para penyair seluruh Indonesia.

     

    Sastra dilisankan

    Sementara itu puncak acara ulangtahun (ultah) Jagat Sastra Milenia (JSM) yang ketiga, Minggu, 15 Oktober 2023, diisi dengan sambutan Direktur Utama PT.Balai Pustaka (Persero) Dr.Ir.Achmad Fachroji yang mengingatkan para tamu dan pengunjung bahwa Dunia Sastra Indonesia maju bukan sekedar tulisan. “Melainkan lebih darii itu. Sastra maju karena dilisankan,” ucapnya.

    Maka tak heran-pada saat memberi kata sambutan- Dr.Ir.Achmad Fachroji lebih banyak berpantun ria.

    Sedangkan Riri Sastria selaku Ketua JSM pada kesempatan perayaan ultah tersebut mengatakan sastrawan memerlukan regenerasi.

    “JSM juga telah merekrut siswa dan siswi  SLTP untuk diikutsertakan dalam pelatihan kelas menulis puisi, cerpen, dan Esai. Jumlah peserta hampir 100 orang juga ikut hadir bersama gurunya pada acara ultah ini,” katanya.

    Setelah pemotongan kue ulangtahun, juga diisi dengan testimoni antara lain oleh Dr.Sunu Wasono, Sam Muchtar Chaniago beserta isteri, dan Humam S Chudori yang lebih dikenal sebagai seorang cerpenis.

    Pada kesempatan itu juga dilakukan peluncuran buku antologi puisi antara lain HARUM HARAMAIN yang merupakan sepilihan puisi karya Rissa Churria,  buku Sehimpun Puisi Terbaik karya Riri Satria & Emi Suy berjudul ALGORITMA KESUNYIAN, serta buku kumpulan puisi dan esai sastra ALARM SUNYI dan INTERVAL karya Emi Suy.

    Selain itu diluncurkan juga  buku ENERGI KATA, SINERGI KITA (JSM Press, Oktober 2023). Buku setebal 272 halaman ini berisikan 22 Puisi Terbaik Sastramedia tahun 2022-2023, 11 Cerpen Terbaik Sastramedia 2022-2023.

    Acara terakhir ultah JSM ketiga diisi dengan Parade Baca Puisi antara lain oleh Ical Vrigar, Lasman Simanjuntak, Soekardi Wahyudi, Dhe Sundayana Perbangsa, Romy Sastra, Slamet Widodo, Khairani Pilliang, Sapto Wardoyo, Mita Katayo, Alex R Nainggolan, dan 4 Penyair Perempuan Jagat Sastra Milenia  (JSM) yaitu Nunung Noor El Niel, Emi Suy, Rissa Churria, dan Erna Winarsih Wiyono.

    Berikut adalah kutipan Sajak KALAH ATAU MENANG yang dibacakan Penyair Pulo Lasman Simanjuntak.

     

    KALAH ATAU MENANG

    kita berangkat dari sebuah titik
    makin lama menjelma jadi mata air
    lalu mencium ikan-ikan beracun di danau
    tanpa sayap

    (padahal jarak Yogjakarta dan New York hanya segaris, kepastian-kepastian semu)

    Kristus pernah engkau dengar bukan?
    bermazmur
    sesungguhnya cinta itu
    permainan gila
    para tukang potret amatiran

    hayo….
    kita berkelahi tanpa badik
    melawan matahari betina itu
    agar sinarnya yang manja
    tak lagi menghamili
    hewan-hewan langka kegemaranmu

    percayalah,
    sejarah akan tunduk
    atau kita pura-pura jadi malaikat manis
    yang berlari dari kandang sapi
    rindu tidur di kereta angin

    mulailah

    Jakarta, tahun 1983

    Konributor: Lasman Simanjuntak

  • Buku, Kecerdasan dan Pendidikan

    Buku, Kecerdasan dan Pendidikan

     

    Oleh   Ignas Kleden

     

    PENCANANGAN bulan buku tentulah dimaksudkan untuk mengingatkan kita semua akan arti pentingnya buku, khususnya dalam peranannya sebagai sarana utama untuk mencerdaskan bangsa. Dalam hubungan itu yang bisa dibuat ialah melihat jumlah judul yang terbit setiap tahunnya, lalu membandingkan dengan jumlah penduduk, untuk melihat berapa besar konsumsi bacaan yang diserap oleh tiap-tiap penduduk. Kalau kita dapat mengandalkan pemberitaan surat-kabar, maka jumlah buku yang terbit di Indonesia termasuk sangat rendah, dan hal ini menjadi lebih rendah lagi kalau masih dihubungkan dengan jumlah penduduk. Bagian pertama dari dua tulisan Jumlah judul yang terbit setiap tahunnya secara rata-rata di beberapa negara adalah sebagai berikut: Indonesia 2.400 judul, Malaysia 4.000 judul, Thailand 8.000 judul, Korea Selatan 43.000 judul, Australia 7.500 judul. Dari negara-negara maju dapat dicatat: Negeri Belanda 13.000 judul, Jepang 44.000 judul, Inggris 61.000 judul dan Amerika Serikat 100.000 judul (Kompas 5 Mei 1995). Apakah artinya angka-angka tersebut? Sekurang-kurangnya dapat diandaikan adanya dua macam hubungan. Pertama, diandaikan bahwa buku adalah sumber informasi dan rekaman pikiran-pikiran pengarang yang telah teruji oleh publik dan karena itu bisa dijadikan pegangan dan pedoman. Dengan membaca lebih banyak buku, penduduk negara bersangkutan mendapatkan informasi yang berguna, dihadapkan dengan pikiran-pikiran yang sudah teruji dan karena itu menjadi lebih cerdas.

    Buku adalah input untuk kecerdasan penduduk suatu bangsa. Dari segi itu kita lalu dengan mudah berkesimpulan, bahwa dengan mencetak lebih banyak judul buku, maka suatu bangsa seakan- akan dengan sendirinya menjadi lebih cerdas. Pada titik inilah anggapan pertama ini harus diuji dengan anggapan kedua, yang berhubungan dengan pertanyaan: mengapa gerangan penduduk Jepang misalnya lebih banyak membaca buku dari bangsa kita? Bolehkah kita berkata bahwa keinginan bangsa Jepang untuk menjadi cerdas lebih besar dari keingingan bangsa kita? Apakah bangsa Jepang menjadi cerdas karena membaca banyak buku, ataukah justru karena tingkat kecerdasan umum di negara itu sudah demikian tinggi sehingga permintaan intelektual (intellectual demand) mereka hanya bisa dilayani dengan produksi buku yang besar-besaran? Barangkali kita perlu merelatifkan sedikit anggapan pertama di atas dengan mengandaikan bahwa buku bukan hanya sarana mencerdaskan bangsa, akan tetapi indeks atau petunjuk tingkat kecerdasan bangsa itu. Ini berarti, hanya bangsa yang cukup cerdaslah yang akan menghasilkan penulisan buku secara teratur. Buku bukan hanya input untuk kecerdasan, tetapi adalah output atau produk kecerdasan penduduk bangsa bersangkutan.

    Semakin cerdas suatu bangsa, akan semakin banyak buku dihasilkan, dan kita bisa mengandaikan seterusnya bahwa semakin banyak buku dihasilkan akan semakin cerdas pula bangsa itu. Kedua anggapan ini pada hemat saya perlu dipertahankan secara berimbang, agar supaya kita dapat melihat peranan buku dalam kaitan yang lebih realistis.

    Persoalan penulisan buku mungkin bisa dihadapi sebagai masalah teknis seorang pengarang. Demikian pun persoalan penerbitan buku barangkali adalah masalah teknis sebuah penerbit. Tetapi persoalan pembacaan buku dan penggunaan buku dalam kehidupan sehari-hari adalah persoalan sosial-budaya, dan karena itu menangani persoalan buku secara tuntas hanya bisa dilakukan dengan terlebih dahulu mengkaji kembali kaitan-kaitan sosial budaya yang berhubungan dengannya. Harga kertas yang sekarang naik lebih dari 20 persen sudah langsung menunjukkan bahwa bahkan produksi buku pun bukan hanya masalah penerbit tetapi masalah yang langsung berkaitan dengan kebijaksanaan ekonomi umumnya dan kebijaksanaan perdagangan pada khususnya. Hal ini merupakan suatu aspek yang tentu amat penting dan menarik, tetapi tidak akan menjadi fokus tulisan ini. Kembali kepada persoalan sosial budaya, dapatlah kita berangkat dari pertanyaan yang sederhana: apakah yang menyebabkan kecerdasan umum suatu bangsa meningkat atau tidak meningkat? Jawabannya adalah pendidikan. Yang dimaksudkan dengan pendidikan di sinni bukan hanya pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah formal, yang menyangkut pedagogik, didaktik atau metodik tetapi suasana umum yang memungkinkan atau menghalangi perkembangan inteligensi, baik secara individual maupun secara kolektif. Dengan lain perkataan pendidikan yang secara mikro merupakan masalah pedagogis, secara makro lebih merupakan masalah sosial budaya.

    Sebagai contoh yang banal saja, marilah kita bayangkan dua buah keluarga. Keluarga A dengan tiga anak adalah keluarga yang amat rukun. Ayah dan ibu adalah orang yang mempunyai pekerjaan tetap. Hidup mereka berkecukupan, dan suasana dalam rumah tertib karena semuanya sudah diatur oleh kedua orangtua dan anak-anak hanya harus menjalankan segala sesuatu yang sudah diatur. Yang tidak ada dalam keluarga itu adalah waktu untuk berbicara bersama dan berdiskusi. Keluarga B adalah keluarga dengan 2 anak. Ibu dan ayah juga bekerja, tetapi keduanya selalu melibatkan kedua anak mereka dalam persoalan keluarga. Kalau kedua orangtuanya kebetulan kekurangan uang, anak-anak juga diberitahu. Anak-anak selalu diminta pendapatnya dan kalau pendapat anak-anak tersebut berbeda dengan kedua orangtuanya, hal itu diterima sebagai normal, dan bahkan pendapat mereka dapat diterima kalau alasannya lebih kuat dan meyakinkan. Kalau tingkat inteligensi anak-anak keluarga A dan B diandaikan sama, maka bisalah kita andaikan bahwa anak keluarga B akan lebih cepat berkembang inteligensinya, karena kepada mereka diberi kesempatan untuk itu. Dengan kata lain, pendidikan yang dimaksudkan di sini, adalah penciptaan dan pengadaan kesempatan untuk mengembangkan inteligensi, yang praktis berarti terhalang atau tidak terhalangnya seorang atau sekelompok orang untuk menggunakan pikirannya.

    Tentu saja pendidikan mencakup aspek yang lebih luas dari inteligensi dan penggunaan pikiran, tetapi dalam membicarakan hubungan antara buku dan kecerdasan, hal inilah yang sebaiknya menjadi pokok tinjauan di sini. Kesempatan mempergunakan pikiran adalah syarat minimum yang harus ada supaya kecerdasan bisa meningkat. Ibaratnya, sebuah mesin mobil yang bagus, baru ketahuan fungsinya kalau kita menjalankan mobil itu, dan tidak hanya menyimpannya dalam gudang atau diparkir sepanjang tahun.

    Inteligensi, dalam arti tertentu, sama dan berbeda dengan mesin mobil itu. Mesin mobil itu berfungsi dengan baik kalau dihidupkan dan dijalankan, sementara inteligensi yang diberi kesempatan berkembang bukan hanya berfungsi tetapi dalam berfungsi itu langsung pula mengalami perkembangan dan menjadi tajam dan hidup. Namun demikian, inteligensi yang kita maksudkan adalah inteligensi manusia dan bukannya inteligensi buatan (artificial intelligence) seperti yang ada pada komputer. Kalau anda menghidupkan komputer dan mengerti programnya, komputer itu akan bekerja dengan baik selama Anda memberinya perintah yang benar. Inteligensi komputer hanya perlu dikomando dan tidak perlu dimotivasi. Inilah perbedaan pokok sebuah komputer dengan inteligensi seorang anak manusia. Seorang anak akan berpikir dengan baik, kalau dia dimotivasi untuk itu. Dan motivasi selalu berhubungan dengan suatu tujuan. Dalam praktek ini berarti, seseorang akan terdorong untuk mempergunakan pikirannya, kalau memang terbukti dalam lingkungannya bahwa mempergunakan pikiran memberinya manfaat dan kemajuan yang lebih besar daripada tidak mempergunakan pikiran.

    Dalam sekolah-sekolah di Jerman salah satu pokok yang amat diperhatikan untuk memberi angka kepada rapor anak murid adalah seberapa seringnya anak tersebut mengacungkan tangannya dalam kelas untuk menjawab pertanyaan. Hal ini dianggap penting karena inisiatif dan keberanian berpikir dianggap sama pentingnya dengan soal apakah jawaban anak itu benar atau salah. Jadi kalau seorang anak yang pintar tetapi malas mengacungkan tangan, guru-gurunya akan menurunkan angkanya dengan alasan bahwa dia kurang berinitiatif dalam kelas. Terlihat di sini bahwa berpikir artinya bekerja dan berusaha dengan memakai otak sebagai modal dan alat. Akan tetapi hal itu akan berkembang jikalau suasana yang ada mendorong seseorang untuk menggunakan otaknya. Kalau seorang anak terus-menerus mengalami bahwa diam lebih berguna daripada bertanya maka lambat laun dia akan memilih diam. Kalau kesalahan dalam menjawab pertanyaan ditertawakan atau dimarahi, dan bukannya dibantu untuk dibernarkan, maka dia akan enggan berinisiatif. Seorang guru sekolah menengah di Bielefeld yang menjadi teman dekat keluarga kami, selalu mengatakan bahwa dalam pendidikan menjawab salah dan menjawab benar sebetulnya sama manfaatnya secara ilmu pendidikan.

    Kesalahan murid selalu memberi ilhan kepada guru untuk menemukan jalan baru untuk membimbing muridnya kepada jawaban yang benar. Kesalahan murid justru membuka cakrawala bahwa ada begitu banyak jalan menuju jawaban yang benar, dan jalan-jalan itu tidak akan kelihatan kalau semua murid selalu menjawab benar. Tanpa kesalahan-kesalahan yang dibuat murid, guru juga akan kehilangan kreativitasnya dalam mengajar dan membimbing.

     

    ——————————————-

     

    Sumber Tulisan dari Buku “Buku dalam Indonesia Baru, Editor Alfons Tariyadi, Obor – Jakarta

  • Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kidung Malam Hari-Tangisku untuk Pulau Rempang-September Mengerikan-Penyair Bermata Batu-September Mengerikn, Oktober Makin Mencemaskan-

    Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kidung Malam Hari-Tangisku untuk Pulau Rempang-September Mengerikan-Penyair Bermata Batu-September Mengerikn, Oktober Makin Mencemaskan-

     

    KIDUNG MALAM HARI

    kusalin kidung-kidung terluka-
    tanpa rebana
    nyanyian mezbah
    makin rebah
    tak berdaya

    matahari terbenam
    dalam dingin
    cuaca kering

    lalu kulihat di matamu
    katarak amarah
    membara

    selalu terbesit
    persungutan berair
    tak juga mencair

    bernyanyilah untukku
    kesunyian apel malam
    mengeja kitab suci
    mari kita bermazmur
    sampai dinihari

    hari-hari sendiri lagi
    malam menjelma
    jadi hujan
    jadi kekelaman

    hanya menghitung bintang-bintang
    sampai langit ketiga
    nada nyanyiannya
    makin sendu
    tersedak

    oi, aku kembali
    jadi batu

    Jakarta, Senin, 25 September 2023

    *************************************

     

    TANGISKU UNTUK PULAU REMPANG

    tangisku untuk pulau rempang
    dulu hidup damai dengan bertani, berkebun, dan melaut
    di atas hamparan lahan
    ribuan hektare

    kini terhempas keji
    kejam
    tak bisa dibendung
    senjata dan gas air mata

    tangisku untuk pulau rempang
    mengalir amat deras
    dari wajah ibu dan anak di tanah adat melayu
    tergusur dari hunian yang dibangun di atas hamparan samudera raya
    menjelma jadi pabrik kaca
    tajam dan berdarah

    jeritan kesakitannya
    karena telah kehilangan rumah, masa depan, dan tanah air sendiri
    sampai juga
    ke pintu istana emas dan gudang-gudang persenjataan
    membawa duka kemiskinan
    tipuan triliunan rupiah

    mulut-mulut berapi
    investor omong kosong
    dengan gigi kekerasan
    mengigit rakus matahari
    bahkan mereka hanya mau menawarkan semangkuk sup-
    racun tumbuhan

    lihatlah,
    nelayan tak mampu lagi
    berenang dengan kail dan ikan
    sebab lautan telah berubah
    jadi ratusan dajal
    menyelam liar
    membawa tangisan histeris untuk penduduk pulau rempang

    ini duka kita semua
    berakhir dengan kepiluan
    kesedihan di tanah kuburan kematian yang dipaksakan

    memanjang sampai akhir
    kehidupan kehilangan mata pencaharian
    dalam penderitaan
    ujian iman dan doa syafaat
    harus segera dilayangkan
    sangat keras
    sekeras batu karang

    walaupun berakhir bentrok
    membara
    kaki-kaki yang muntah
    rambut panjang yang pecah
    tak lagi menerbitkan seberkas cahaya
    airmata putus asa

    Jakarta, Kamis, 28 September 2023

    **************************************

     

    SEPTEMBER MENGERIKAN

    seribu peluru persungutan liar-
    dimuntahkan
    dari genting rumah
    jatuh di dasar sumur
    air tanah makin memuakkan

    bahkan suara ledakannya
    tak mampu tembus
    cakrawala garis jingga
    ditelan minyak jelantah
    dikunyah bau busuk
    mulutnya

    siapa lagi awal bulan ini
    mau memberi sepotong daging segar
    jelang hari ketujuh mengetuk pintu
    tannyamu
    seperti suara kidung
    putus asa

    mari,
    tetap kita nyalakan obor
    berjalan dengan tiang api
    di atas mezbah sajakku
    pesta kelaparan
    mau digelar
    hambar

    ingat, teriakmu
    tak ada hawa napsu birahi
    dikunci tiap dinihari
    menebar benih kesakitan
    sangat membosankan

    pergilah ke gurun pasir
    tusuk tenggorokanmu
    pecah
    berdarah
    tak ada hujan

    september telah datang
    makin mengerikan
    kembali dihadirkan
    lewat tangisan bayi dalam kandungan

    karena doa deras dilayangkan tiap malam
    tak mampu lagi membendung pikiran
    dan ramalan
    digenapi
    sungguh menyakitkan

    Jakarta, 20 September 2023

    *********************************

     

    PENYAIR BERMATA BATU

    penyair bermata batu
    masuk usia suntuk
    seharian menyalin meditasi
    agar ada sajak-sajak suci
    mengalir dari mata air sungai
    kehidupan anak domba
    yang disembelih

    tanpa tulisan
    suara sunyi
    terus berbisik
    berguguran
    benih matahari

    supaya jangan ada lagi
    amarah meledak
    bau busuknya
    menyusup
    dalam perutmu kian mengecil
    aku suka berkelamin

    penyair bermata batu
    ikut kecewa
    anaknya senang berhala
    tak lagi pandai berucap sedap
    ia terjebak di pulau-pulau terluar

    sambil terus berdansa
    menghisap mimpi tidurnya
    bermalam di padang kelam

    penyair bermata batu
    lalu melarikan sajaknya
    ke gedung kesenian rakyat
    di sini ia bertemu para pujangga
    punya lidah tajam
    seperti pisau cukur tua
    mereka lalu bertukar wajah
    dengan presiden penyair
    tak lagi mabuk anggur
    dipetik dari ribuan bintang
    sampai langit ketiga

    aku sendiri mau menyendiri
    lantaran tak sanggup
    menatap penyair bermata batu
    keluh kesahnya semakin terluka
    memerah
    dalam sajaknya
    yang kelaparan ini

    Jakarta, Juli 2023

    ***************************

     

    SEPTEMBER MENGERIKAN, OKTOBER MAKIN MENCEMASKAN

    september mengerikan
    oktober makin mencemaskan
    sudah berjalan perlahan-lahan
    keras
    menegangkan

    tangisan terulang
    jadi nafas kematian
    di ranjang kusantap
    sperma menjijikkan

    ditiup angin kemarau panjang
    selesai di bukit-bukit memanjang

    september mengerikan
    oktober makin mencemaskan
    aku ketakutan
    dalam kamar khayalan
    menjelma jadi ribuan mata uang

    hujan tak bisa hapuskan
    kegelisahan disebar pepohonan
    yang tak pernah disiram
    sampai matang

    setelah melalui perjalanan
    paling memalukan !
    akhirnya tibalah para pejalan malam
    beristirahat dalam alur sungai
    membusuk diterjang
    bangkai binatang
    diam-diam menyusup
    dalam bulan telanjang

    Jakarta, Senin 2 Oktober 2023


     

    Tentang  Penyair

    Pulo Lasman Simanjuntak, menulis puisi pertama kali berjudul “Ibunda” dimuat di Harian Umum Kompas  pada bln Juli 1977.Setelah itu sejak tahun 1980 sampai tahun 2023 ini berturut-turut karya puisinya dimuat (dipublish) diberbagai media cetak, media online, dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.
    Karya puisinya juga telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 diberi judul Meditasi Batu. Selain itu juga puisinya terhimpun dalam 26 buku antologi puisi bersama para penyair seluruh Indonesia.
    Saat ini sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), anggota Sastra ASEAN, Dapur Sastra Jakarta (DSJ) Bengkel Deklamasi Jakarta (BDJ) Sastra Nusa Widhita (SNW) ,Pemuisi Nasional Malaysia, Sastra Sahabat Kita (Sabah, Malaysia), Komunitas Dari Negeri Poci (KDNP), Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Kampung Seni Jakarta, Penikmat Seni Budaya, Storia Sastra, Bengkel Narasi, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Sastra Reboan dan anggota Sastra Indonesia. Bekerja sebagai wartawan dan rohaniawan, bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
    Kontak Person : 08561827332 (WA

  • Sajak-sajak Milla Lolong:  Pergi – Salam – Dongeng 1 – Dongeng 2 – Ke Rumah-Mu.

    Sajak-sajak Milla Lolong: Pergi – Salam – Dongeng 1 – Dongeng 2 – Ke Rumah-Mu.

     

    Buku Puisi “Perihal Pulang” Karya Milla Lolong

     

    Puisi-puisi Milla Lolong mengekspresikan perasaan dan makna yang mendalam dengan bahasa yang sederhana. Puisi “PERGI” menggambarkan perpisahan dengan sentuhan alam dan doa. “SALAM” adalah penghormatan kepada Maria Bundaku dengan metafora alam dan rasa kerinduan yang kuat. “DONGENG, 1” mengkritik orang-orang yang hidup dalam ketidaktahuan dan tidak mau melihat realitas sekitar mereka. “DONGENG 2” mengekspresikan kehausan akan air dalam bahasa simbolis. “KE RUMAH-MU” menciptakan gambaran tentang kehancuran alam dan perasaan kehilangan yang disertai dengan pengharapan akan kehidupan yang lebih baik.

    Puisi-puisi ini menciptakan nuansa yang kuat dan mendalam dengan penggunaan kata-kata yang sederhana, namun penuh dengan makna. Milla Lolong menghadirkan suasana perasaan, keindahan alam, dan makna kehidupan dalam karyanya.

     

    PERGI
    Buat Vinsensia

     

    Ia lalu mendekat pada langkah pertama
    Angin bertiup berlalu ketakutan
    Debu tanah beterbangan.

    Rumput-rumput sujud mencium tanah
    Pun bening yang menganak sungai di pipi
    Kemudian senyum merekah: pergilah!

    Di sini, di dermaga ini kami dengan tabah
    Tak henti merapal doa: sampai nanti
    Setabah rindu ini: sampai nanti.

    Juli 2017

    —————————————————

     

    SALAM

     

    Salam ya
    Maria Bundaku
    Di malam yang gigil ini
    Selimutilah dingin hatiku.

    Salam ya
    Maria Bundaku
    Di Oktober yang kering ini
    Basahilah kerongkong hatiku
    Yang kerontang ini.

    Salam ya
    Maria Bundaku
    Di rosario yang kuhitung ini
    Siramlah rahmatmu
    Tebuslah segala mohonku.

    Oktober 2018

    ———————————————–

     

    DONGENG  I

     

    Di negeri para petualang
    Tersebutlah para penghuninya
    Selalu memakaikan kacamata hitam
    Maka gelaplah mata
    Pun mata hatinya
    Serupa mati lampu di saban malam
    Hingga tak tampak ‘lubang’ di mana-mana
    Sebab kaca tutup-menutupi
    Dan tertutup matanya!

    September, 2018

    ———————————————-

     

    DONGENG 2

     

    Tersebutlah
    Saban hari
    Sejak sang jago merah berkokok
    Mereka telah lama di sana
    Menunggu jatah seteguk dua teguk.

    Untuk membasahi dahaga kerongkong
    Hingga terik membakar kulit
    Mereka tengadah
    Sembari berdoa:
    “Berilah kami anggur”
    sebagai ganti BBM
    ” Berilah kami air bah hari ini”
    Sebab terlalu ‘kering’ negeri ini.

    September, 2018

    ——————————————

     

    KE RUMAH-MU

     

    Setelah gemuruh itu pecah
    Ibu-ibu meratap memeluk perih
    Bapak-bapak tergelepar di tepi
    Anak-anak jadi yatim-piatu.

    Setelah gemuruh itu pecah
    Camar-camar mengais
    Tubuh berlumur lumpur.

    Setelah gemuruh itu pecah
    Segalanya berbondong ke rumahMU
    Ke rumahMU setelah segalanya selesai.

    Oktober 2018

     

    —————————————-

     

    *Milla Lolong, perempuan Lembata, lahir pada 13 Oktober 1997, di kampung Lewoeleng dengan nama Lengkap Maksimiliana Wua Lolong. Anak ke-empat dari enam bersaudara. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SDK Lewoeleng pada tahun 2010, kemudian menempuh sekolah menengah pertama pada SMP Sinar Pelita Ledoblolong (sekarang SMP Negeri 5 Lebatukan-Lembata) dan tamat pada tahun 2013, tahun 2016 tamat pada SMA Negeri 1 Nubatukan-Lembata. Menyelesaikan studinya di Universitas Flores. Karya-karyanya dimuat dalam beberapa buku antologi puisi bersama. Juga sering dimuat pada media cetak dan media online diantaranya: Pos Kupang, Flores Pos, Kabar NTT, Cakrawala Pendidikan, Weeklyline.net, Flores Pos.co. Bergabung di komunitas sastra Rakyat Ende (SARE).
    Saat ini menjadi guru di SMP St Pius X Lewoleba, Lembata. Pernah menjadi dosen tamu pada kuliah Puisi Indonesia di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (2022).

     

    *Sumber Puisi dari Buku Perihal Pulang Karya Milla Lolong

    Buku Puisi “Perihal Pulang” Karya Milla Lolong