Blog

  • SILSILAH YESUS DALAM INJIL MATIUS: Kisah Kasih Tuhan yang Maha Luas

    SILSILAH YESUS DALAM INJIL MATIUS: Kisah Kasih Tuhan yang Maha Luas

    Oleh  Petrus Lakonawa, S.S., M.TH, Ph.D 

     

     

     Silsilah Penyelamatan

    Silsilah Yesus dalam Injil Matius 1:1-17 adalah silsilah penyelamatan dan pembebasan, peneguhan dan pemberdayaan. Tergambar di dalamnya bahwa genetika Yesus merangkul orang-orang lemah, yang terkucilkan, terpinggirkan dalam masyarakat, orang-orang yang dianggap hina, berdosa serta terbuang dan tertindas.

    Pada zaman di mana orang-orang yang latar belakangnya berbeda dianggap tidak murni, kafir, najis, tidak selamat dan ditolak, teristimewa perempuan-perempuan yang lemah diperlakukan secara tidak adil dan diperdaya, berita gembira dalam Injil Matius membeberkan semangat dan bukti perlawanan Yesus atas budaya yang eksploitatif, diskriminatif, sektarian, etnosentrik, seksis, patriarkal dan penuh kekerasan.

    Litani nama-nama leluhur Yesus dalam silsilah-Nya sangat inklusif dan menohok. Ia mengangkat ke tempat yang tinggi orang-orang yang umumnya direndahkan di masyarakat.

    Dari semua figur leluhur Yesus yang disebut dalam silsilah-Nya, yang paling mencolok adalah disebutkannya perempuan dalam silsilah tersebut. Ada empat perempuan yang disebut yakni Tamar, Rahab, Rut, dan Batsyeba. Keempatnya memiliki track record yang tidak lazim sehingga menimbulkan pertanyaan dan perdebatan serta tidak jarang menimbulkan rasa malu akan aib yang hendak ditutup-tutupi. Ada 4 pertimbangan yang umumnya dijadikan penyebab untuk mengesampingkan mereka dari daftar silsilah: pertama, dalam budaya patriarki biasanya hanya laki-laki yang disebut; kedua, mereka yakni Tamar, Rahab dan Rut adalah orang dari suku lain sedangkan Batsyeba menikah (‘tercampur’) dengan orang asing sedangkan orang Israel cenderung menganggap rendah etnis, ras, budaya dan agama orang lain; ketiga, mereka orang-orang lemah, miskin, janda yang tidak punya pegangan hidup; keempat, kecuali Ruth, mereka bukan perempuan yang baik-baik menurut standar dan ukuran umum penilaian moral manusia.

     

    Siapakah Mereka dan Apa Cerita Mereka?

    Pertama, Tamar, seorang perempuan yang dirundung malang karena ditinggal mati oleh dua suaminya tanpa keturunan serta kemudian diabaikan oleh calon suaminya yang ketiga serta keluarga suaminya hingga akhirnya ia melacurkan diri dengan ayah mertuanya demi mendapatkan anak dan hak sebagai isteri yang sah.

    Dalam Kitab Kejadian 38:1-30 dikisahkan bahwa Tamar semula menikah dengan Er putra sulung Yehuda namun Er meninggal dunia. Menurut tradisi Yahudi yang disebut sebagai perkawinan levirat, saudara laki-laki dari almahrum suami berhak dan wajib menikahi isteri yang ditinggalkannya. Karena itu, adik laki-laki Er bernama Onan harus mengambil Tamar sebagai isterinya namun Onan tidak mau menghamilinya karena tidak ingin kakaknya memiliki keturunan sampai akhirnya Er pun meninggal. Tamar sekali lagi menjanda dan belum mempunyai anak. Harusnya putera ketiga Yehuda menggantikan kedua kakak laki-lakinya untuk menikahi Tamar. Namun Yehuda menunda-nunda untuk memberikan putranya yang ketiga itu kepada Tamar dengan alasan belum cukup umur. Karena itu, Tamar mencari jalan untuk mendapatkan haknya sebagai isteri dan untuk mendapatkan anak yang sah. Ia kemudian menyamar menjadi seorang pelacur untuk menggoda Yehuda menggaulinya dan dengan cerdik mengambil cincin meterai, tali, dan tongkat Yehuda sebagai jaminan. Sewaktu Yehuda tahu bahwa Tamar hamil, ia menyuruh untuk merajam dan membakar Tamar. (Bdk. Yos 7:15, 25.) Tetapi Tamar membuktikan bahwa Yehudalah ayah dari sang bayi tersebut. Yehuda kemudian menyesal dan mengaku bersalah serta menjadikan Tamar sebagai isterinya yang sah. Tamar kemudian melahirkan anak kembar bernama Perez dan Zerah. Perez, menjadi salah satu mata rantai silsilah Yesus.

    Kisah Tamar dengan demikian adalah kisah yang penuh intrik dan drama berisi perjuangan perempuan untuk merdeka dan merebut pengakuan akan hak serta harkat dan martabat kemanusiaannya.

    Kedua, Rahab, seorang pelacur di Yerikho (beretnis non-Yahudi) yang bertobat dan berbalik kepada iman akan Yahweh karena perjumpaan dengan mata-mata Israel yang pada saat itu sedang mengemban tugas dari Yosua untuk mempersiapkan serangan atas Yerikho.

    Mereka menginap di rumah seorang pelacur bernama Rahab. Waktu itu Raja kota Yerikho mendengar tentang mereka maka ia mengutus orang kepada Rahab untuk memerintahkan agar Rahab mengusir mereka dari rumahnya. Rahab berkelit dan menyembunyikan mereka di bawah tumpukan jerami di loteng rumahnya.

    Rahab meminta kepada mata-mata tersebut agar mereka akan melindungi keluarganya ketika mereka menyerang Yerikho suatu saat nanti. Kedua mata-mata itu mengiyakan dan berjanji akan menepatinya. Rahab menyelamatkan mereka dengan cara menurunkan mereka melalui jendela rumahnya yang terletak di tembok kota.

    Ketika Israel menyerang dan menghancurkan Yerikho, Rahab dan keluarganya dilindungi dan diselamatkan oleh orang-orang Israel. Ia kemudian ikut bersama orang-orang Israel dan menikah dengan Salmon. Salmon memperanakkan Boas yang kemudian menikah dengan Rut, perempuan ketiga yang disebut dalam silsilah Yesus menurut Injil Matius.

    Adapun Rut, seorang janda yang berasal dari Moab yang ditinggal mati tanpa anak oleh suaminya dan terpaksa bertahan hidup bersama ibu mertuanya bernama Naomi, yang juga merupakan seorang janda sebatang kara tanpa anak karena suami dan kedua anaknya telah meninggal dunia. Kisah hidup Ruth penuh lika-liku. Dari harus memilih bertahan di negerinya atau harus merantau mengikuti ibu mertuanya ke Israel. Demi mendampingi ibu mertuanya yang juga hidup seorang diri tersebut, Ia rela meninggalkan kampung halamannya dan mencoba peruntungan hidup baru di negeri orang. Ia berusaha bertahan hidup sebagai pekerja kebun, tekun bekerja hingga memikat hati Boas, pemilik kebun garapannya yang pada akhirnya menikahinya. Itu semua dijalaninya dengan penuh intrik: mulai dari bekerja keras dan tekun di kebun, hingga dengan sengaja menyelinap ke kamar Boas yang sedang minum anggur sampai mabuk, tidur di kaki Boas dengan maksud untuk merayu Boas agar bisa menghampiri dirinya dan menikahinya.

    Keempat, Batsyeba isteri dari seorang prajurit setia dan berintegritas tinggi bernama Uriah orang Het. Batseba adalah seorang yang cantik dan seksi. Ia adalah tetangga Raja Daud. Suatu sore ketika Raja Daud sedang mencari angin di atas rumahnya, Ia melihat Batsyeba sedang mandi. Hatinya terpikat. Ia tergoda.

    Waktu itu, suami Batsyeba sedang bertugas di medan perang. Raja Daud memanggil Batsyeba ke istana dan mulai berselingkuh dengan Batsyeba hingga akhirnya Batsyeba mengandung di luar pernikahan.

    Demi menutup aib mereka, Raja Daud menggunakan berbagai cara licik. Pertama, ia memerintahkan Uriah pulang ke rumah dari medan perang supaya kembali ke rumahnya dan tinggal sebagai suami isteri dengan Batseba agar dapat mengelabui Uriah bahwa anak yang dikandung oleh Batseba adalah anaknya namun cara ini tidak berhasil karena Uriah, seorang yang sangat berintegritas dan loyal memegang janji keprajuritannya untuk tidak bersenang-senang bersama isterinya di rumah sementara rekan-rekannya menyabung nyawa di medan perang. Kedua, karena Uriah tidak mau pulang ke rumah maka Daud menyuruh dia kembali ke medan perang dan menyuruh Yoab, panglima perang, untuk menempatkan Uriah ditempatkan di barisan paling depan di medan perang yang paling berbahaya agar Uriah terbunuh. Dan akhirnya berhasil. Uriah wafat di medan perang sedangkan isterinya diambil oleh Daud.

     

    Pesan dan Pembelajaran

    Dari silsilah Yesus dalam Injil Matius ini kita dapat melihat bahwa sejarah leluhur Yesus tidak lepas dari kelemahan manusia. Hidup mereka diwarnai dengan kelicikan, kekerasan, pembunuhan, nafsu dan dosa. Silsilah-Nya mengandung ketidaksempurnaan dan keberdosaan manusia sebagaimana silsilah manusia pada umumnya. Dari sana kita dapat memetik sebuah pembelajaran iman bahwa tanpa Tuhan manusia tidak bisa lepas dari dosa. Manusia membutuhkan rahmat keselamatan dari Tuhan.

    Silsilah Yesus itu berbicara juga tentang pribadi kita masing-masing yang tidak luput dari dosa. Bahwasanya tidak ada keluarga atau leluhur yang sempurna. Latar belakang keluarga Yesus pun tidak sempurna. Tidak murni. Tidak ideal. Namun cinta Allah melampaui keberdosaan, cacat cela, kekurangan manusia. Allah menebus. Allah menyelamatkan. Allah membebaskan manusia dari dosa menuju hidup yang baru. Keberdosaan masa lalu ditransformasikan menjadi kemuliaan karena rahmat dan pertolongan Tuhan. Dari carut marut masa lalu telah lahir sang Juru Selamat, Allah yang hidup di antara manusia untuk menyelamatkan manusia dari kungkungan kuasa dosa.

    Rahmat kasih Yesus maha Luas. Ia menyelematkan semua orang, tidak memandang suku, agama, ras, ataupun golongan. Ia datang untuk seluruh alam ciptaan. Kasihnya bersifat universal. Penyelamatannya menyeluruh.

    Di kala masyarakat Yahudi masih berwawasan sempit dan eksklusif, cenderung memandang rendah orang lain, dari suku lain dan meremehkan orang-orang yang dipandang hina, Injil Matius menunjukkan bahwa Yesus mencintai dan menghargai semua orang. Ketika orang Yahudi pada masa itu menolak keselamatan bagi orang-orang di luar kalangannya, Injil Matius menampilkan cinta Yesus yang sangat inklusif. Yesus datang untuk semua orang. Ia datang dan semua jadi baru. Cinta-Nya mentransformasi hidup manusia. Kasihnya membebaskan semuanya.

    Silsilah Yesus adalah silsilah yang memanusiakan manusia. Ia membela orang-orang lemah. Ia menolak mendiskriminasikan orang-orang ‘lain’ yang berbeda dengan-Nya. Ia pun melawan eksploitasi dan penindasan terhadap orang-orang lemah. Kasih yang universal! Itulah pesan utama hidup Yesus dan ajaran inti iman Kristen.

     

    ______________________________________

     

    *Artikel ini sudah pernah dipublikasikan dalam Wacana Biblika No. 2 (2020)

     

    *Petrus Lakonawa, Ph.D adalah seorang pengajar di BINUS University, Jakarta, Indonesia. Dia adalah seorang Research Fellow di DePaul University, Chicago, Illinois, Amerika Serikat yang menyelesaikan studi doktoral teologi di St. Vincent School of Theology, Adamson University, Manila Philippines dan studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta dan S2 di Maryhill School of Theology, Manila, Filipina serta di Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia, Jakarta.

     

    *Referensi:

    McKenna, Megan. Not Counting Women and Children: Neglected Stories from the Bible. Maryknoll, New York, USA, Maryknoll, New York, USA: Orbis Books, 1994.

    Bellis, Alice Ogden. Helpmates, Harlots, and Heroes. Lousville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2007.

     

  • Gelar Musik dan Baca Puisi “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” Karya Nuyang Jaimee

    Gelar Musik dan Baca Puisi “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” Karya Nuyang Jaimee

     

     

    Jakarta, Senin, 18 Deseber 2023 berandanegeri.com – Gelar musik dan parade baca puisi Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya karya Nuyang Jaimee, akan berlangsung Selasa, 19 Desember 2023 mulai pukul 15.00 WIB sampai 22.00 WIB.

    Bertempat di Pasar Gembrong Jln. Basuki Rahmat , Prumpung, Cipinang Besar, Jakarta Timur.

    Road Show Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya akan disemarakkan dengan pembacaan puisi, teaterikal puisi, gelar musik, dan komedian Betawi.

    Pengisi acara silaturahmi komunitas sastra tutup.tahun 2023 ini yaitu Lasman Simanjuntak (KSJ), Guntoro Sulung (KSJ), Sihar Ramses Simatupang (KTN), Riri Sastria (JSM), Yogi S Karmas (KPS), Ireng Halimun (Sastra Semesta), Iyus Jayabumi (Kromatik).

    Selanjutnya Berly Gondrong dkk (Sanggar Ruang Condet), Badri adalah Badri (Seniman Ngopi Semeja), Narima Beryl Ivana (KSJ), Dyah Kencono Puspito Dewi (Sastra Reboan), Wahyu Toveng (KLB), Titieq Chemonk (Penyair Seksih), Dee Diana (Penyair Seksih), Toskir (KSJ), dan Jack Al Ghozali (KSJ).

    “Acara ini merupakan salah satu pembukaan rangkaian roadshow pertama dari roadshow selanjutnya gelar baca puisi karya puisi Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya karya Nuyang Jaimee, ” jelas Nuyang Jaimee di Jakarta, Senin siang (18/12/2023).

    Peluncuran dan bedah Buku antologi puisi tunggal karya Penyair Perempuan Indonesia Nuyang Jaimee telah diluncurkan awal Desember 2023 di Pusat Dokumentasi Sastra HB.Jassin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta dengan pembahas Prof. Dr. Wahyu Wibowo dan Tatan Daniel.

    Buku kumpulan puisi Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya karya Nuyang Jaimee diterbitkan oleh Teras Budaya Jakarta (TBJ), cetakan pertama November 2023, setebal 76 halaman dengan editor Nanang R Supriyatin.***

     

    Kontributor : Lasman Simanjuntak

     

     

     

  • Dekarbonisasi Dunia dan Nikel Indonesia

    Dekarbonisasi Dunia dan Nikel Indonesia

    Oleh Emanuel Y.H. Bria,  Peneliti dan Kandidat Doktor di Sustainable Minerals Institute, the University of Queensland, Australia

     

    Sejak 2021, bandul politik dunia cukup kuat bergerak dalam mendukung transisi energi dari dominasi fosil menuju energi bersih dan terbarukan. Kekuatan politik yang besar itu didorong oleh negara-negara adidaya seperti Inggris, Amerika Serikat, Tiongkok dan Uni Eropa. Saat Konferensi Para Pihak (COP) ke-26 di Glasgow bersama negara-negara yang lain, mereka berkomitmen untuk mencapai titik imbang antara jumlah emisi yang dilepaskan ke atmosfer dengan jumlah yang diserap dari atmosfer (NZE) pada 2050. Konferensi para pihak (COP) merupakan pengambilan keputusan tertinggi dari Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC).

    Di penghujung tahun ini, dalam Konferensi Para Pihak yang ke-28 di Dubai, sejumlah komitmen kembali dilakukan. Salah satunya untuk mempercepat pengurangan emisi kendaraan darat lewat pembangunan infrastruktur dan pengadaan kendaraan beremisi rendah atau nol. Pemerintah Indonesia sendiri sejak tahun lalu berkomitmen untuk mendorong penjualan kendaraan listrik sebesar 25 persen dari total penjualan dunia pada 2030 dan terus berusaha untuk menyiapkan ekosistem kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.

    Gerakan global untuk melakukan dekarbonisasi berbagai kegiatan ekonomi terutama di sektor kelistrikan dan transportasi menunjukan komitmen dunia untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim. Namun dekarbonisasi juga berarti dunia membutuhkan pasokan mineral kritis utama seperti Lithium (Li), Graphite (C), Cobalt (Co) dan Nickel (Ni) untuk mendukung teknologi energi rendah karbon. Permintaan dunia terhadap mineral-mineral tersebut akan meningkat tajam selama beberapa dekade ke depan.

    Saat ini Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar di dunia. Total permintaan nikel dunia diperkirakan akan meningkat dari 2.9 juta metrik ton pada 2022 menjadi sekitar 5 juta metrik ton di 2030. Untuk memenuhi kebutuhan dunia tersebut, produksi nikel Indonesia diproyeksikan meningkat sekitar 45 persen pada 2030. Kebutuhan nikel untuk industri baja saat ini tetap menjadi yang tertinggi. Hal ini bisa dilihat juga dari jumlah smelter nikel Indonesia yang memproduksi Feronikel dan Nickel Pig Iron (NPI) yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan smelter untuk produksi nikel bagi industri baterai. Akan tetapi, pada 2030 kebutuhan nikel untuk industri baja diproyeksikan menurun sementara nikel untuk baterai akan meningkat sekitar dua puluh kali lebih besar dari sekarang. Dengan demikian, jumlah smelter nikel untuk industri baterai juga akan meningkat.

    Sebagai bagian dari Belt and Road Initiative (BRI), Indonesia dan Tiongkok mulai merintis kerjasama program hilirisasi nikel Indonesia pada 2013 di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun hanya pada masa pemerintahan presiden Joko Widodo terjadi perkembangan hilirasi nikel yang luar biasa dengan dukungan investasi dan teknologi dari Tiongkok. Perusahaan-perusahaan raksasa nikel Tiongkok seperti Tsingshan Group dan Huayou menjadi penggerak utama dari pertumbuhan pesat hilirasi nikel Indonesia. Kehadiran perusahaan-perusahaan Tiongkok di Indonesia dengan dukungan pendanaan dari  lembaga-lembaga keuangan pemerintah Tiongkok telah menciptakan kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan kapasitas industri di bidang nikel.

    Meskipun demikian, saya memiliki sejumlah catatan umum yang mudah-mudahan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan dunia usaha agar industri nikel Indonesia bisa lebih berkualitas dengan mengarus-utamakan praktek-praktek terbaik dunia terkait perlindungan lingkungan dan sosial serta penguatan tata kelola (governance) nikel.

     

    Perlindungan Lingkungan dan Sosial

    Ratusan perusahaan tambang dan smelter nikel saat ini beroperasi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Daerah-daerah ini disebut sebagai Wallacea yang diambil dari nama naturalis Inggris Alfred Russel Wallace (1823-1913). Wallace menemukan apa yang sekarang disebut sebagai Wallace line, wilayah perbatasan biogeografi antara Asia dan Australasia (lihat gambar 1). 

    Gambar 1: Lokasi tambang dan smelter nikel di wilayah Wallacea. Sumber: Kementerian ESDM

     

    Wallacea merupakan salah satu lokasi yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi di dunia. Di sini terdapat ekosistem ultramafic dengan hutan, flora dan fauna yang endemik. Wallacea juga merupakan bagian dari coral triangle yang menyimpan 30 persen dari terumbu karang dunia. Dengan konteks ekosistem yang khas seperti ini, setiap kegiatan pertambangan dan industri smelter nikel wajib memperhitungkan dan memitigasi berbagai resiko dan dampak negatif yang mengancam rusaknya lingkungan salah satu wilayah yang justru punya peranan besar dalam menyerap karbon dunia. Tentu akan menjadi sebuah ironi, jika kegiatan industri nikel untuk dekarbonisasi dunia justru merusak ekosistem alam yang sudah berkontribusi besar dalam menyerap karbon dunia.

    Kawasan industri di Pulau Obi, Halmahera, dan Sulawesi terletak di daerah-daerah terpencil dengan tingkat ekonomi dan sumber daya manusia yang rendah. Masyarakat setempat hidup sebagai petani dan nelayan subsisten. Dalam rentang waktu kurang dari satu dekade, tambang dan industri smelter nikel hadir di kampung-kampung mereka dalam jumlah yang masif. Bukan hanya itu, kegiatan industri nikel juga telah menyebabkan migrasi populasi besar-besaran dari Tiongkok dan wilayah lain di Indonesia ke sana sehingga turut melahirkan berbagai persoalan yang serius seperti konflik sosial, tekanan terhadap masyarakat adat dan lokal, bertumbuhnya kantong-kantong wilayah yang kumuh di sekitar kawasan industri nikel yang menciptakan masalah kesehatan masyarakat, lingkungan dan seterusnya.

    Perubahan pemanfaatan lahan dari wilayah pertanian menjadi industri nikel yang bersifat padat modal dan teknologi dengan kebutuhan kualifikasi sumber daya manusia yang tinggi, menyebabkan para petani dan nelayan lokal sulit untuk alih profesi dan mengambil bagian di dalam industri tersebut secara maksimal. Tidak mengherankan jika tingkat pertumbuhan ekonomi di provinsi-provinsi penghasil produk nikel tersebut tinggi namun angka kemiskinan juga meningkat. Kita harapkan persoalan-persoalan sosial di atas dapat diselesaikan oleh pemerintah pusat dan daerah serta industri.

    Terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi, pengalaman PT. Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan selama lima dekade terbilang berhasil di dalam membangun kapasitas sumber daya manusia daerah dan mempekerjakan lebih dari 80 persen orang  Luwu Timur di perusahaannya. Pengalaman ini dapat dilihat sebagai salah satu contoh yang baik bagi dunia industri nikel Indonesia. Dunia usaha perlu menyadari bahwa bisnis yang berkelanjutan hanya bisa berjalan jika mereka turut berkontribusi secara positif bagi pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat setempat.

     

    Penguatan Tata Kelola Industri Nikel

    Saat ini terdapat sekitar 260 an perusahaan nikel yang beroperasi di Indonesia baik yang besar maupun kecil. Namun dari ratusan perusahaan nikel tersebut tidak sampai sepuluh perusahaan yang membuka data keuangan dan kepemilikan perusahaan kepada publik baik melalui laporan keuangan di website perusahaan, bursa efek Indonesia,maupun lewat mekanisme transparansi seperti Extractive Industries Transparency Initiative (EITI). Mayoritas perusahaan tambang nikel di Indonesia masih beroperasi di dalam kegelapan. Ke depan, untuk memperkuat tata kelola industri nikel di Indonesia, pemerintah perlu mendorong perusahaan-perusahaan tersebut untuk menjadi lebih terbuka dan menjalankan praktek pertambangan nikel yang bertanggungjawab.

    Selain itu, masalah tata kelola lain yang cukup serius adalah interface antara perusahaan-perusahaan tambang nikel yang besar dengan yang kecil serta pasokan ore nikel ke smelter-smelter oleh tambang-tambang ilegal yang merusak hutan, lingkungan hidup dan merugikan keuangan negara.

    Kasus korupsi di Blok Mandiodo, Sulawesi Tenggara yang melibatkan sejumlah pejabat kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setidaknya menunjukan dua tipologi resiko korupsi yang bisa diidentifikasi:

    Pertama, sub-contracting dari PT. Aneka Tambang (Antam) ke perusahaan-perusahan kontraktor yang tidak melalui mekanisme due dilligence yang ketat dan terbuka. Ke depan perusahaan tambang nikel yang besar seperti Antam bisa mengambil inisiatif untuk membuka kepada publik terkait aturan dan praktek pelaksanaan sub-contracting sebagai upaya di dalam memitigasi resiko terjadinya korupsi dan kegiatan tambang ilegal oleh perusahaan-perusahaan kontraktornya.

    Kedua, pasokan ore nikel ke smelter (khususnya standalone smelter) oleh perusahaan-perusahan yang melakukan tambang nikel ilegal dengan menggunakan dokumen-dokumen palsu yang disetujui oleh pejabat ESDM. Pola seperti ini kerap terjadi karena tidak adanya proses due dilligence yang ketat dan terbuka oleh smelter-smelter dan proses pasokan ore nikel ke smelter-smelter tersebut masih berada di dalam kegelapan sehingga lolos dari pengawasan publik.

    Untuk memastikan adanya perbaikan tata kelola dalam rantai pasok nikel, pemerintah Indonesia perlu mendorong public disclosure rantai pasok nikel mulai dari mulut tambang hingga smelter sehingga setiap ore nikel yang dipasok ke smelter dapat dipastikan legalitasnya untuk menghindari kerugian keuangan negara akibat korupsi serta pemenuhan tanggungjawab sosial dan lingkungan.

    Indonesia memiliki peranan yang besar untuk menyelamatkan dunia dari krisis iklim lewat industri nikel. Pada saat yang sama industri nikel juga berpotensi untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain ekonomi yang penting di dalam rantai pasok kendaran listrik dunia.

    Akan tetapi, jika pemerintah dan dunia usaha tidak mendorong pembangunan industri nikel yang inklusif, kebijakan dan praktek industri yang bertanggungjawab secara lingkungan dan sosial serta memperkuat tata kelolanya, maka bukan tidak mungkin industri nikel hanya akan memperkaya masyarakat kota dan berpendidikan tinggi serta pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dunia, sementara masyarakat lokal di Wallacea sekedar menerima kutukan berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang diakibatkan oleh industri ini.*****

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Setelah “Allah Mati”, di Manakah yang Mistis?

    Setelah “Allah Mati”, di Manakah yang Mistis?

    Oleh F. Budi  Hardiman 

     

    Di tengah-tengah kebisingan globalisasi informasi dan ekonomi pasar, keseharian yang banal telah menjadi kelaziman. Kerumunan nomad pemuja tubuh, petarung kapital, pendaki karier, dan penjilat kekuasaan telah mengubur kecemasan eksistensial mereka, yang menyembul dari dalam keseharian, dalam timbunan kesibukan. “Ke manakah Allah?” Tanya Nietsche. “Kita sudah membunuhnya – kalian dan aku. Kita semua pembunuh.” Kondisi modern selalu menanduskan kehidupan yang ilahi. Akankah orang tidak lagi terbuka pada dasar-dasar kenyataan dan kehidupan sehari-hari dan terus menjadi kerumunan momad? Telah hilangkah yang mistis?

    Tidak, begitulah jawaban Martin Heidegger. Manusia memang memikul salib tertentu. Di satu sisi, manusia selalu mengalami, kejatuhan, yakni larut dalam keseharian, dan karena itu terasibg dari Ada-nya. Namun, di sisi lain, manusia adalah makhluk penanya Ada-nya. Pada momen ini, menurut Heidegger, kecemasan (Angst) yang menyembul keluar dari keseharian itulah perigi mistik di gurun nihilisme pada zaman ini, yang tidak lagi religius. Berkat kecemasan, dasar-dasar keseharian kita menjadi transparan: selubung yang memalsukan Sang Aku dikoyak. Kecemasan menelanjangi manusia sebagai Ada yang terlempar dan menuju kematian, sekaligus memberi tawaran untuk bermukim dalam rumah eksistensi.

     

     

    Mistik keseharian adalah inti pemikiran Heidegger dalam Sein und Zeit (Ada dan Waktu, 1927), yang akan dibahas dalam buku ini. Bukan mistik dalam arti peleburan makhluk dengan penciptaanya, perkawinan sakral antara pendoa dan yang ilahi, maupun penyatuan mikro dan makrokosmos yang dimaksud di sini, melainkan melainkan mistik keseharian: membua diri terhadap penyingkapan dasar-dasar kenyataan dan kehidupan sehari-hari kita.

    Sebutan “mistik keseharian” mungkin terdengar ganjil. Mistik jelas bukan pengalaman sehari-hari karena bersangkutan dengan dasar-dasar kenyataan dan kehidupan. Tetapi persis inilah yang dilakukan Heidegger dalam Sein und Zeit: menjernihkan keseharian, sehingga dasar-dasarnya menjadi tampak di hadapan kesadaran. Sein und Zeit merupakan pisau eksistensial untuk membedakan yang otentik dan inotentik, yang banal dan yang radikal bertolak dari keseharian kita. Selain itu, eksplorasi makna kata-kata dalam bukunya itu telah menjadi semacam mantra untuk menghayati waktu dan kemewaktuan dengan lebih bening. Pemikiran tentang waktu seperti ini belum pernah ada sebelumnya. Tidak mengherankan, Sein und Zeit menjadi tonggak penting dalam sejarah pemikiran Barat, dan Heidegger pun diakui sebagai filsuf terkemuka abad ke-20.

    Heidegger tidak begitu saja melanjutkan isme-isme dunia pemikran, entah itu rasionalisme, empirisme, idelaime, materialism, dan seterusnya. Semua itu menjadi rapuh dihadapannya, sehingga filsafat sebelum dan setelah Heidegger ditandai oleh suatu patahan. “…….Badai yang dihembuskan pemikiran Heidegger, sebagaimana badai karya Plato yang menerpa kita selama berabad-abad ,” tulis Hannah Arendt, “bukan berasal dari abad ini. Badai itu datang dari zaman yang sangat purba. Apa yang ditinggalkannya adalah sesuatu yang paripurna, dan, seperti segala yang paripurna, dapat dikembalikan ke zaman purba.”

    Pemikiran Rene Descartes (1596-1650), yang merevolusi filsafat, telah menjadi titik tolak segala refleksi zaman modern yang tampil dalam isme-isme di atas. Descartes menghimpun segenap refleksi pada problem kesadaran yang disebutnya subjek atau cogito. Rasio adalah pusat realitas; observasi menjadi pegangan kebenaran; manusia adalaha subjek sejarah dan seterusnya. Pemikiran yang berpusat pada subjek ini dianggap bertanggungjawab atas segala efek negatif yang muncul di zaman modern: bencana lingkungan akibat eksploitasi alam yang tak terkendali, tragedy kemanusiaan dalam rezim-rezim totaliter, atau manipulasi dan represi manusia atas manusia lain.

    Melampaui Descartes, Heidegger memperlihatkan bagaimana subjek atau kesadaran itu hanyalah salah satu cara realitas menyingkapkan dirinya. Kesadaran bukanlah segala-galanya, bahkan kesadaran merupakan suatu kelupaan akan realitas. Karena itu, berbeda dari semua filsuf yang mendahuluinya, Heidegger tidak ingin terjebak dalam salah satu aspek realitas, melainkan mengangkat totalitas realitas sebagai bahan refleksinya. Realitas sebagai suatu keseluruhan dalam filsafat disebut ‘Ada’ (Sein). Filsafat bagi Heidegger adalah pemikiran tentang Ada, dan memikirkan Ada diyakininya dapat meluruskan kesalahpahaman yang terjadi akibat pemikiran-pemikiran yang terbatas pada aspek-aspek realitas belaka. Tidak reduksionalistis, melainkan total dan radikal menyelami Ada dan Tiada – itulah karakter pemikiran Heidegger.

    Filsafat sebagai pemikiran tentang Ada tentu tidak unik Heidegger. Itulah yang dikenal dengan nama metafisika atau ontologi. Yang baru pada Heidegger adalah bahwa Ada ini dipikirkan dalam pertautannya dengan waktu. Bukan hanya itu, filsuf ini menyelam ke dalam keseharian yang banal untuk meraih kedalaman makna Ada. Sein und Zeit, master piece Heidegger merupakan buku kunci filsafat setelah Politeia (Negara) Plato (sktr. 428-347 SM) dan Phenomenologie des Geistes (Fenomenologi Roh, 1807) G.W.F. Hegel (1770-1831). Oleh Heidegger, untuk pertama kalinya dalam sejarah filsafat, hal-hal yang sehari-hari direnungkan sedemikian rupa sehingga memendarkan makna ontologis yang dalam. Heidegger tidak membicarakan hal-hal yang “tinggi-tinggi”, seperti dialektika roh, keadilan, rasio komunikatif, revolusi sosial atau – yang kini menjadi tren globalisasi. Heidegger juga bukan penghuni dunia isme-isme yang seolah mau menyepelekan kerumitan hidup dan meringkusnya ke dalam suatu kotak. Ia bicara tentang hal-hal remeh secara mendalam, seperti tentang alat-alat, rasa cemas, khalayak, atau kata-kata. Safransky menyebut filsafat Heidegger dalam Sein und Zeit sebagai “tranparansi keseharian,” dan saya menyarankan sebutan ‘mistik keseharian’.

    Buku ini terdiri dari enam bab. Bab 1 merupakan pengantar biografi sosok Martin Heidegger. Bab 2 menjelaskan metode fenomenologi yang dipakai oleh Heidegger dalam Sein und Zeit. Bab 3 mengulas struktur, isi dan proyek Sein und Zeit. Bab 4 membahas kemenduniaan Dasein yang merupakan titik tolak analisis Heidegger dalam buku itu. Saya mulai masuk ke dalam ulasan tentang suasana hati, keseharian, dan kematian dalam bab 5. Baru dalam bab 6 saya akan membahas tuntas segala yang telah dipersiapkan dalam bab-bab sebelumnya, yaitu tentang kemewaktuan Dasein. Buku ini akan ditutup dengan Epilog yang coba menunjukkan relevansi pandangan-pandangan Heidegger dalam Sein und Zeit untuk kehidupan masyarakat yang kompleks dewasa ini, katakanlah suatu tilikan Heideggerian atas keseharian dalam era globalisasi informasi dan ekonomi pasar. Dialog Heideggerian yang terlampir pada akhir bab ini disusun dalam konteks belajar-mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Dialog tersebut bukan untuk memberikan jawaban final atas berbagai ketidakjelasan dalam pemikiran Heidegger, melainkan untuk membuka diskusi lebih lanjut. Demikian pula, buku ini seyogyanya dipandang sebagai semacam “hidangan pembuka” untuk menikmati pemikiran Heidegger dan wacana filosofis lebih jauh.****

     

    *******************************

     

    Sumber Tulisan: Prolog Buku Heidegger dan Mistik Keseharian, KPG, 2003

     

  • Dengan Humor Melawan Praktik Ninabobo

    Dengan Humor Melawan Praktik Ninabobo

     

     Era demokrasi yang selama ini digerakkan oleh massa, kini tidak kontekstual lagi dengan hadirnya big data. Segala hal bisa dipetakan sampai ke tingkat individual dengan tujuan untuk alat pengontrol.

    Dengan metode penghitungan kuantifikasi perilaku pemilih dan kekuatan finansial, amat mudah siapa pun yang memahami algoritma internet memanipulasi selera populer.

    Hal dominan yang sekarang terjadi adalah praktik populisme politik populer berbasis pemetaan big data para pemilih membuat manuver politik semakin bisa dihitung.

    Hal ini disampaikan oleh peneliti Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) Dominggus Elcid Li pada seminar ‘Mengintip Demokrasi Lewat Lubang Humor’ yang diselenggarakan oleh FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Kamis (7/12/2023).

    Selain Elcid Li, hadir sebagai pembicara Direktur MURI Jaya Suprana, komedian Anang Batas, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Ranggabumi Nuswantoro, dan dosen Program Studi Sosiologi Lucinda.

     

    Politik Komputasi

    Menurut Elcid Li, salah satu kekeliruan utama yang biasa diterima secara normatif adalah ‘anak-anak muda sekarang seleranya lain’. Persoalannya, orang tidak melihat bagaimana fenomena ini terbentuk. Misalnya, dengan membuka rekayasa sosial (social engineering) yang dimungkinkan dengan politik komputasi (computational politics) yang bisa memanipulasi hingga ke tingkat individual.

    “Jangan heran ketika perdebatan yang sifatnya substantif di level kenegaraan, ketika turun ke level bawah, jatuhnya hanya soal kibasan tangan, isu rumah tangga, dan lain-lain,” ujar Elcid.

     

    Rekayasa Sosial

    Perang di jagat maya ini berhasil membuat seluruh kritik dibungkam. Orang yang memiliki pengetahuan tentang orang lain bisa mendesain dan memanipulasi kawanan lain karena pengetahuan yang tidak berimbang (epistemic asymmetry).

    “Bagi saya, bukan lagi soal perilaku Gen Z sebagai pemilih terbesar, tetapi soal computational logic yang dijalankan secara efektif dalam memanipulasi perilaku pemilih. Tak hanya computational politics, dengan kombinasi kekuasaan presiden yang mendekati absolut, membuat social engineering menjadi sempurna,” tambahnya.

    “Siapa pun yang mampu secara riil memetakan sampai ke level bawah, penguasaan terhadap data, penguasaan berbagai instrumen kekuasaan, sumberdaya yang sangat kuat, tidak usah berbuat apa pun, dia akan menang,” ujar Elcid.

     

    Ket. Foto: Elcid Li,  Peneliti IRGSC, salah satu pembicra dalam seminar

     

     

    Menurut Elcid, dengan kondisi demikian, kelihatan sekali saat ini posisi Prabowo-Gibran di atas angin karena epistemic asymmetry, juga karena technocratic dominance ala Jokowi. Target dari tim Prabowo, dengan modus teleological replacement adalah dengan mendesain atau mengatur agar Gibran menjadi sasaran target dari pendukung Ganjar.

    “Sekian humor, komik, dan meme yang disebarkan untuk menyerang Gibran, aslinya memang disengaja agar agenda Ganjar menjadi tidak muncul atau tidak disorot. Posisi yang paling pas malah sedang dikerjakan Anies, dengan tidak menyerang Gibran/Jokowi dan hanya menampilkan program Anies,” ujar Elcid.

     

    Humor Itu Serius

    Menurut komedian Anang Batas, humor itu serius, menyenangkan tapi juga membahayakan. Hal ini tergantung pada materi apa, siapa yang menyampaikan, tepat tempat, dan tepat audience

    “Humor bisa jadi nilai plus tapi bisa jadi minus ketika kita bersuara bukan di ranah atau di tempat yang tepat,” ujar Anang.

    “Humor zaman dulu tidak pernah sevulgar sekarang, mencubit tak bikin sakit. Tapi komedi sekarang, sudah vulgar tapi tidak terasa,” tambah Anang.

    Terkait plesetan, Anang menjelaskan bahwa jenis humor ini sudah ada sejak abad 8 dan mendapat ruang yang penting di kerajaan. Ketika itu, abdi dalem raja diminta untuk menghibur rajanya. Abdi dalem boleh mengkritik rajanya lewat humor.

     

    Antitesis pada Pemilu 2024

    Mengutip buku “Kuasa Rakyat”, dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta Rangggabumi Nuswantoro menjelaskan tiga pertimbangan seorang pemilih ketika menentukan pilihannya.

    Pertama, pertimbangan sosiologis, khususnya berbasis agama. Kedua, seiring berjalannya waktu beralih ke pertimbangan psikologis, bagaimana calon memberikan rasa aman, rasa nyaman. Ketiga, yang ideal, adalah pertimbangan rasional.

    Ketika perilaku pemilih bergerak maju, ujar Rangga, semakin hari kita melihat kenyataan yang berbeda. Pemilu 2014, seperti ada angin segar.

    “Dari masa konsolidasi demokrasi, kita melihat sebuah harapan ketika pemimpin seperti Jokowi lahir dari bawah. Masyarakat kita mulai melihat aspek psikologis dan melihat sesuatu yang lebih substansial,” ujar Ranggabumi.

    Yang menarik, kata Rangga, pada 2024, ada antitesis yang muncul. Pada 2016, saat pilkada Jakarta, kita berpikir bahwa masyarakat Indonesia makin rasional. Tahun 2024 tampaknya kita masih punya pekerjaan rumah bagaimana sebagai masyarakat kita bisa semakin rasional.

     

    Humor untuk Melawan Praktik Ninabobo

    Menurut Rangga, rasionalitas politik kita seakan-akan dijebak pada kondisi yang akhirnya kita dituntut untuk mempertahankan apa yang disebut zona nyaman.

    “Selama sembilan tahun kita diberi narasi akan menjadi bangsa besar, bonus demografi, yang membuat masyarakat melihat kondisi ini adalah kondisi yang nyaman. Ada sebuah ketakutan jangan-jangan kita tidak bisa melanjutkan situasi yang baik,” kata Rangga.

    ‘Dibalut dengan politik riang gembira, humor tidak lagi dilihat sebagai kritik, tapi menjadi meninabobokan rasionalitas. Kita perlu melihat, pada Pemilu 2024 sebanyak 60 persen diikuti usia di bawah 40 tahun ke bawah atau generasi yang lahir pasca 1998. Mereka tumbuh dengan narasi yang sudah lepas dari horror 1998 dan Indonesia akan menjadi negara besar di tahun Indonesia emas.

    “Saat ini ada kecenderungan untuk lebih menyukai pendekatan yang menawarkan kesenangan, membuat kita happy. Ibi banyak dimainkan oleh media. Artinya, di dalam narasi yang dimunculkan menjauhkan politik dari hal-hal yang sifatnya substansial,” ujar Rangga.

    Menurut Rangga, humor pada titik ini, pada Pemilu 2024, perlu dipakai sebagai pendekatan untuk menekan rasionalitas politik yang mencoba kritis pada situasi politik bahwa power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely.

    “Kita bisa melihat apa yang ada pada sebuah masa lalu, ada di masa ini,” tegas Rangga.

    Kita perlu memunculkan narasi tandingan yang mengajak orang muda untuk berpikir lebih substantif karena arena itu kini hanya diisi dengan narasi yang meninabobokan.

    Rangga mencontohkan bagaimana media seperti Tempo menemukan cara dan pendekatan baru bagaimana masuk ke pusaran politik, berbau humor dan obrolan ringan, misalnya lewat Podcast Bocor Alus.

    “Saya melihat cara itu berhasil. Tempo akhirnya mau turun gunung. Apa yang dilakukan Tempo menjadi menarik bagi kita sebagai bagian dari masyarakat sipil,” tukas Rangga.

    Rangga mengajak para komedian untuk turun gunung karena humor saat ini justru dipakai untuk meninabobokan daya kritis publik.

    “Seolah kalau ada yang mengkritik, kita dianggap menjadi pihak yang mengingingkan politik tidak damai,” tambahnya.***

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Warisan “Pemikiran Agama” Soedjatmoko

    Warisan “Pemikiran Agama” Soedjatmoko

    Oleh Teuku Kemal Fasya
    Pada 29 September 2022 lalu, penulis bersama pemikir dan aktivis keagamaan menjadi pembicara seminar daring “Membaca Soedjatmoko : Beragama dan Berbangsa”. Kegiatan ini rangkaian diskusi membedah pemikiran Prof. Soedjatmoko Mangoediningrat yang dilaksanakan pada tahun itu,  bertepatan 100 tahun kelahiran pemikir dan penulis prolifik yang pernah dimiliki Indonesia itu.

    Sedianya diskusi akan dibuka oleh keluarga dan ikut disimak oleh sang istri, Ratmini. Namun sakit keras sang istri Soedjatmoko itu menyebabkan tak disaksikan oleh keluarga besar mereka. Waktu kemudian menentukan takdir garis hidup. Ratmini Soedjatmoko binti Sudirman Gandasubrata menghembuskan nafas terakhir, 1 Oktober 2022 pada usia 96 tahun!

     

    Seorang universalis dan moralis

    Soedjatmoko, atau dikenal dengan panggilan Bung Koko, dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, 10 Januari 1922. Ia berasal dari keluarga ningrat Jawa. Meskipun demikian ia tumbuh, berpendidikan, dan berkarir di banyak kota di Indonesia dan belahan dunia sehingga membantunya menjadi penulis dan artikulator problem bangsa Indonesia di forum internasional dengan cukup elegan. Kota Manado, Surabaya, Jakarta, dan Surakarta menjadi persinggahan dan membentuk karakter pemikirannya yang antifeodal.

    Sebagai “keluarga bangsawan” ia hampir tidak memiliki hambatan untuk mengembangkan pendidikan, termasuk bahasa, ketika menulis ke dalam bahasa Belanda dan Inggris, selain Indonesia. Jejak tulisannya yang berhasil didokumentasikan sejak 1948 hingga di menit terakhir kehidupannya, 21 Desember 1989, tidak kurang 300 artikel dan paper. Itu termasuk paper kuliah terakhir di Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY).

    Sebagai seorang intelektual, gagasannya teruji dalam tindakan. Ia mendapat kesempatan menjadi seorang diplomat di PBB karena restu Soekarno. Namun ketika sang proklamator itu menjadi semakin otoriter, ia meninggalkan Konstituante dan hijrah ke luar negeri. Soedjatmoko baru kembali ke Indonesia ketika Soekarno digulingkan, dan menjadi bagian yang ikut mendukung rejim awal Soeharto. Beberapa jabatan sempat dipegang termasuk duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat dan penasehat khusus di Bappenas. Namun posisinya tidak pernah stabil. Ia sempat dituduh mengotaki gerakan Malari 1974, sehingga akhirnya memilih eksil, sebagai Rektor  Universitas PBB di Tokyo (1980-1988).

    Jika dilihat dari tulisan-tulisannya, Prof. Soedjatmoko lebih tepat disebut sebagai universalis dan moralis. Komitmen perubahan yang dinarasikannya adalah memperbaiki nasib umat manusia dan mendorong Indonesia sebagai bagian dari warga dunia dalam mendorong mutu kesejahteraan sosial, pengurangan kemiskinan, dan pemajuan pemikiran rasional-modern.

    Sebagai seorang “sosialis” ide tentang kemiskinan dan demografi menjadi perhatian utama. Namun gagasannya tidak diartikulasikan secara provokatif. Jika mau ditarik sudut tikar penyama, ia lebih terlihat sebagai seorang Weberian dibandingkan Gramscian. Meskipun di dalam tulisannya ia banyak menyoroti masalah kemiskinan dan kelaparan, Bung Koko tidak mencari musuh dalam struktur negara sebagai pelaku tertuduh. Kritik yang dilakukan memang menggunakan analisis neo-Marxisme, meskipun tidak menggunakan bahasa analisis struktural dan parokialisme yang kental. Hal ini dipengaruhi posisinya yang berbolak-balik antara sebagai “orang di luar” dan “dalam” di pemerintahan. Sisinya sebagai diplomat lebih mengental dibandingkan sebagai kritikus “seberang jalan”.

     

    Sosiolog agama

    Demikian pula dalam pemikiran keagamaan. Meskipun disebutkan ada 13 persen dari tulisannya berhubungan dengan agama, ia tidak membahasnya dalam konstruksi esoteris dan transedental, tapi lebih sebagai kritik sosiologis. Dalam artikel yang berjudul “How religion can help?” yang dimuat di Asianweek (Januari 1977) ia memulai pengambarannya tentang dunia yang tidak stabil, dipenuhi residu oleh perang Vietnam, ketegangan hubungan AS dan Uni Soviet, keterbelahan Korea dan China, dan ancaman perang dunia ketiga.

    Dalam tulisan ini Soedjatmoko melihat peran agama (di Asia) yang tidak cukup responsif dalam melihat masalah krisis sosial dan global yang sedang terjadi. Agama belum belum menganggap penting merespons isu-isu keamanan internasional dan masih berkutat pada isu esoterik. Pandangan jelas memiliki sisi yang bersebelahan dengan apa yang dikembangkan oleh Hans Kung, teolog Swiss, yang mulai populer saat itu.

    Jika Soedjatmoko melihat inferioritas agama ketika berhadapan dengan krisis keamanan dunia, Kung melihat krisis dan konflik di dunia terjadi karena belum adanya perdamaian di dalam agama-agama dan belum terwujudnya dialog di antara agama-agama tersebut. Kung melihat fungsi teologis agama yang sentral dalam perdamaian, sedangkan Soedjatmoko masih pesimis agama bisa merespons problem krisis global saat itu.

    Di dalam tulisan Javanese Mysticim (1980), Soedjatmoko melihat realitas sinkretisme Jawa dalam pengaruh Hindu-Budha. Pandangan ini berbeda dengan penelitian antropologi, termasuk tesis Clifford Geertz, 20 tahun sebelumnya, bahwa realitas “agama Jawa” tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Islam. Soedjatmoko mereduksi realitas kejawen sebagai relasi personal antara hamba dan Tuhan melalui percakapan batin (cor ad cor loquitur). Berbeda secara arus utama seperti pemikiran antropolog seperti Geertz yang melihat agama berfungsi bukan hanya pengaturan aspek kebatinan, tapi pembentuk harmoni sosial sebagai penanda masyarakat beragama. Bisa jadi Soedjatmoko sedang menjadikan dirinya sebagai cermin pandangan Barat yang gagal paham tentang mistitisme Jawa sehingga turut salah dalam mendesain pembangunan masyarakat di pulau Jawa melalui skema bantuan utang.

    Dalam tulisannya “Religious Perceptions of Desirable Societies : Islamic Perspectives Responses” (12 Maret 1984) yang disampaikannya di Bangkok sebagai rektor PBB, Soedjatmoko menegaskan dirinya sebagai seorang muslim. Hampir tidak pernah ia membuat pendakuan seperti itu. Ia membuat statemen awal bahwa dunia Islam sedang berlangsung perkembangan besar termasuk dalam gerakan pembaruan pemikiran. Namun, ia tetap melihat agama masih sulit mengakomodasi perubahan sosial.

    Lagi-lagi di sini Soedjatmoko tidak lama merepresentasikan diri sebagai pemikir Islam. Alih-alih menjadi seorang muslim yang menjelaskan agamanya secara emik, ia dengan cepat beralih sebagai seorang pemikir yang mengkritik peran (semua) agama secara deduktif.

    Responsnya masih sama, ada tuntutan agama harus punya peran dalam penghapusan kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan problem kecemasan sosial lainnya. Ia melihat masih ada celah dalam perkembangan peradaban Islam, kalau iman mau dikoneksikan dengan pemikiran rasional. Solusinya: iman, tauhid, syariah, dan sufisme harus mampu membuat pelibatan pada masalah kemanusiaan, baik secara kolektif atau individual.

    Memang dalam pembacaan konteks ini, Soedjatmoko tidak bisa dianggap sebagai “pemikir keagamaan”, seperti Harun Nasution, Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, atau Ahmad Wahib. Namun, hasratnya yang kuat agar agama harus mengambil peran dalam perdamaian, pengentasan kemiskinan, dan perubahan sosial layak dikontekstualisasikan.

    Terakhir, kritiknya tentang sosiologi agama masih relevan ketika melihat peran agama pada agenda perubahan sosial-politik di Indonesia. Apalagi sekarang, ketika agama kerap dipaksanakan masuk dalam gelanggang politik identitas dan “ideologi jamur” yang membahayakan kebinekaan Indonesia.

    —————————-

    Teuku Kemal Fasya,  Kepala UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan Universitas Malikussaleh. Aktivis Jaringan Antariman Indonesia (JAII)..

     

    Sumber Tulisan  Kompas.id, 31 Oktober 2022

  • Melihat Proses Kreatif Penyair Nuyang Jaimee dalam Buku “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”

    Melihat Proses Kreatif Penyair Nuyang Jaimee dalam Buku “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”

     Jakarta, Minggu 3/12/2023 berandanegeri.com. Ketika memilih ruang puisi, sepenuhnya ia sadar bahwa dirinya telah masuk ke dalam ruang yang begitu sunyi. “Puisi yang telah saya pilih, yang telah anda pilih, yang telah teman-teman semua pilih, yang telah kita semua pilih, adalah sebuah keniscayaan dari hati paling sepi, langkah paling sunyi dan kata tanpa suara paling hakiki. Namun begitu puisi memberi keriuhan pada pikiran-pikiran saya serupa aksara-aksara yang bebas berterbangan di kepala dan saling bertubrukan lincah menciptakan serangkaian paragraf-paragraf yang memiliki kekuatan metafisis dan memberi kesadaran baru menggugah hati dan jiwa saya,” ujar Penyair Perempuan Berbakat, Nuyang Jaimee ketika menjawab pertanyaan dari beberapa peserta yang hadir dalam peluncuran dan bedah buku antologi puisi PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA di PDS.HB.Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Jumat (1/12/2023)

    Pada peluncuran buku antologi puisi tersebut, juga diadakan diskusi sastra dengan nara sumber Prof.Dr.Wahyu Wibowo dan Tatan Daniel, moderator Rita Sri Hastuti.Sedangkan MC Santined dan Nanang R Supriyatin.

    Dikatakan lagi oleh Nuyang Jaimee -penyair kelahiran Jakarta 31 Maret 1977 ini- menulis puisi bukan sekedar mengenai proses mengungkapkan pikiran dan isi kepala saja.

    “Tetapi juga menjadi tempat untuk bicara semua kegelisahan dan pergolakan bathin yang dalam, di mana semua ekspresi bebas keluar tanpa batas. Saya bisa teriak, melolong, menangis, tertawa, marah, protes tanpa mengumpat dan memaki semua kecamuk dalam hati dan pikiran, tempat di mana saya menemukan makna dan kebijaksanaan yang menghantarkan saya dalam perenungan yang lebih mengerucut pada sebuah pemahaman yang lebih universal,” kata penyair yang mulai menekuni dunia teater dan sastra sejak awal tahun 2000-an.

    Seperti sebuah kesadaran kosmik yang teramat dalam, seperti ruang kedap suara yang steril yang membersihkan kotoran-kotoran pemikiran, energi negatif dan daya-daya rendah di luar kosmiknya, puisi tetap mampu menembus semua hal di alam semesta manusia dan seluruh isinya karena sifatnya yang tak terbatas menyentuh apa saja di sekeliling dirinya.

    Karena sifatnya yang mampu mensterilisasi tersebut sehingga bagi saya puisi menjadi sebuah ruang tempat tumpahnya seluruh perasaan, imajinasi, sekaligus pemikiran yang teramat sakral.

    Dan karena puisi adalah sebuah kesadaran yang senantiasa bergerak dinamis, berputar dengan sendirinya sesuai kesadaran diri manusia, itu yang menjadikan keberadaan puisi menjadi sangat khas dan tidak bisa digantikan oleh karya sastra jenis lainnya.

    Buku kumpulan puisi PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA ini sebenarnya bukan kumpulan puisi pertama. “Sebelumnya kumpulan puisi saya berjudul “Surat” sudah pernah hampir saya terbitkan, berisi hampir lebih dari tujuh puluh puisi pilihan. Namun karena beberapa faktor, takdir mengantarkan buku puisi PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA  yang berisi dua puluh puisi pilihan ini menjadi puisi pertama yang saya terbitkan. Beberapa puisi di dalam buku ini, sudah dimuat di beberapa media sastra offline dan online atau kumpulan antologi puisi bersama,” ucap Nuyang Jaimee yang pada tahun 2004 pentas teater keliling ke-13 kota di Jawa dan berakhir di Bali dalam event Jakarta Art Festival 2004.

    Puisi-puisi dalam buku ini sebagian besar ditulisnya dari hasil pergulatan dirinya di Forum Seniman Peduli TIM (FSP-TIM), dengan gerakan bernama #SaveTIM di akhir tahun 2019 sampai sekarang, meski selebihnya diambil dari tahun-tahun sebelumnya.

    “Tadinya saya ingin berbangga diri dengan puisi-puisi perlawanan diri kepada kawan-kawan seperjuangan bahwa saya tetap berjuang tidak dengan senjata atau maju di garis depan menjadi tokoh-tokoh perlawanan, tapi saya berjuang dengan karya, dengan puisi ruang kesunyian yang sangat subtil dan mampu menohok bathin lebih tajam dari ribuan pedang perang apapun. Dengan tulisan dan raungan perih yang akan terus tercatat dalam sejarah, ia tetap hiudp tak akan mati sampai kapanpun meski saya sudah pergi berkalang bumi, tapi sepertinya keperihan saya menjadi berlipat ganda, karna kelahiran puisi ini sungguh, tidak dalam kebahagiaan yang sesungguhnya sebab ada yang saya rindukan dari Forum Seniman Peduli TIM dan proses perjuangan #SaveTIM ini adalah sebuah kebersamaan dan cinta kasih yang hilang,” kilah Nuyang Jaimee yang pada tahun 2005 mulai menjadi kontributor berita untuk seni dan budaya pada Harian Umum MADINA, dan majalah bulanan Bulettin WARTA PDS.HB.Jassin.

    Namun begitu dirinya patut berbangga hati bahwa hari ini  (Jumat, 1 Desember 2023) sejak awal proses kreatif karya ini Nuyang selalu di damping oleh Abangda , guru pergerakan , “Puitic Resistance”  yang selalu mensupport  dalam terus berjuang dan berkarya.

    “Dengan segala hormat saya, dia adalah Bapak Tatan Daniel dan Bapak Mujib Hermani.Pada akhirnya, Proses kreatif  terhadap Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya ini menuntun  pada pemahaman tentang arti sebuah perjuangan dan keikhlasan dengan cara yang begitu sangat sederhana.Ketika saya serahkan puisi-puisi ini ke para guru-guru saya yang kini duduk di tengah-tengah kita sebagai pembicara, hati saya berdebar-debar, seperti sebuah ujian kelulusan dimana saya akan dibantai dalam persidangan tesis S2. Saya sadar semua energi yang dikeluarkan dalam menulis puisi-puisi ini hanyalah sebagian kecil saja yang dicuri dari mereka secara diam-diam yang menurut saya satu-satunya kasus pencurian yang dihalalkan, namun demikian tetap tak sanggup saya melampaui kebajikan dan kebijaksanaan mereka. Karnanya dengan berpura-pura merelakan diri dalam “pembantaian kreatif” pada hari ini saya bersyukur apapun dan bagaimanapun puisi ini sudah dilahirkan dan sejak saat ini dia sudah memiliki takdirnya sendiri di ruang public _”Para Pecinta Kesunyian dan Puitic Perlawanan”,” ucap Nuyang yang pada Juli 2004 mendirikan lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI) dan pada April 2017 menggagas gerakan komunitas Keluarga Besar Penyair Seksih (KBPS), dan September 2019 mendirikan Kelompok Teaterikal Puisi Penyair Seksih (KTPPS).Selanjutnya Juli 2020 mendirikan Teater Cakra, dan Januari 2023 membentuk Komunitas Kampung Seni Jakarta (KSJ).

    Sejak September 2019 hingga sekarang, Nuyang Jaimee ikut dalam gerakan #SaveTIM, bersama kawan-kawan seniman Taman Ismail Marzuki lainnya terkait Revitalisasi TIM. “Semoga buku kumpulan puisi ini bisa memberi sumbangsih dan peranan penting dalam mewarnai khazanah perpuisian di Indonesia khususnya dan perjalanan Kesusasteraan Indonesia pada umumnya,” pungkasnya. (*)

     

     

    Kontributor : Lasman Simanjuntak

  • “Process Due Of Law”, dalam Praktek Peradilan dalam Kaitan Sistem Peradilan Pidana

    “Process Due Of Law”, dalam Praktek Peradilan dalam Kaitan Sistem Peradilan Pidana

    Oleh  Agus Widjajanto

     

    Banyak ditemui kasus kasus peradilan pidana di Indonesia, baik ditingkat penyidikan , maupun penuntutan dan yang telah masuk ranah peradilan di pengadilan , kurang adanya perhatian dari para penegak hukum bahwa kita disamping harus menghormati Due Process of Law, juga jangan lupa sistem peradilan pidana kita mengenal dan menganut Sistem Peradilan Pidana Terpadu ( Integrated Criminal Justice Sistem )

    Due Process of Law adalah proses hukum yang adil , yaitu suatu proses hukum yang menerapkan rumusan pasal pasal perundang undangan secara adil , baik dari segi formal maupun material , dalam suatu proses peradilan pidana, yang mengandung jaminan hak kemerdekaan seseorang warga negara dalam menjalani suatu proses peradilan , baik dalam.tingkat penyidikan maupun penuntutan.

    Banyak kasus terungkap, dalam tingkat penyidikan , yang kebetulan seseorang yang telah ditetapkan tersangka berdasarkan dua alat bukti yang dianggap cukup, ditahan dengan pertimbangan Subyektif yang merupakan kewengan penyidik dalam proses peradilan pidana. Saya pernah menangani suatu kasus yang kebetulan tersangka nya adalah masih aktif menjabat jabatan pelayanan masyarakat, yang berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat, yang disangkakan pemalsuan surat dalam jabatan , dalam.suatu lahan tertentu yang kebetulan mengacu pada hasil floting gambar peta dari kantor pertanahan / BPN , ini juga sangat beresiko , karena harus dibuktikan benar apakah penerapan pasal nya pas, atau tidak, apakah unsur delik sesuai pasal yang disangkakan benar terpenuhi ? apakah obyek yang dilaporkan benar adanya sesuai ploting peta dari BPN tersebut, jangan sampai salah obyek salah letak yang berakibat salah menetapkan tersangka , apakah statusnya tanah yg disengketakan tanah negara atau adat ? Itu perlu pembuktian, yang komprehensif dan dibuka di depan sidang . Dan akan lebih sulit lagi saat tersangka sudah terlanjur ditahan , pelayanan masyarakat terganggu , dan bagaimana kalau terbukti letak obyek bukan di situ sesuai yang dilaporkan ? Ini salah satu contoh dari banyak kasus , di Indonesia. Yang jadi pertanyaan bersama apakah demi kepentingan penyidikan kah, atau demi kepentingan masyarakat ? Atau justru demi kepentingan pelapor ?

    Kecuali dalam kasus kasus Delik Formil , bukan delik aduan , yang memang mengarah pada kerugian negara secara masif dan pencucian uang mungkin perlu dipertibangkan untuk dilakukan penahanan terhadap Tersangka, ini jadi renungan kita bersama , demi terwujudnya keadilan bersama.

    Sebetul nya Sistem Peradilan Pidana di Indonesia menganut dan mengacu pada ” Daad – Dader StrafRecht ” atau menurut Prof Muladi , disebut model keseimbangan kepentingan , dimana pendekatan nya mengenal pendekatan Normatif , Administratif , dan Sosial ,

    Sebetulnya dalam.Sistem Peradilan Pidana dikenal dengan Integrated Criminal Justice Sistem , atau sistem peradilan terpadu yaitu sistem agar bisa menjaga keseimbangan perlindungan kepentingan ,baik kepentingan Negara menyangkut pelayanan publik, ,kepentingan masyarakat yakni yang harus dilayani, dan pelaku tindak pidana sendiri. Serta korban yakni saksi pelapor.

    Maka dengan sistem yang ada bertujuan agar proses peradilan pidana , baik ditingkat penyidikan dan penuntutan diharapkan agar mempertimbangkan sistem diatas, agar tidak terjadi pelanggaran hak asasi manusia dalam kaitan Due Process of Law yang justru akan menyulitkan penegak hukum sendiri saat dibawa ke ranah sidang , padahal tersangka sudah terlanjur di tahan

    Tujuan dari Hukum Acara Pidana sendiri adalah untuk mencari dan mendapatkan kebenaran materiil yang lengkap dari suatu tindak pidana, karena KUHAP kita memang menganut Due Process of Law, dimana berdasar pasal 183 KUHAP menganut sistem pembuktian Negatif Weterlijke . Ini yang harus dipahami bersama.

    Bahwa Due Process Of Law diterapkan oleh negara negara demokrasi modern yang segala sesuatunya berdasar atas hukum, dimana dalam kontitusi kita, di atur dalam pasal.1 ayat 3 UUD 1945, Undang Undang Kekuasaan kehakiman , dan perundangan terkait .

    Bahwa keadilan yang diharapkan bersama sesuai cita cita Proklamasi dalam UUD 1945 masih jauh dari yang diharapkan, pisau keadilan harus tajam dibawah juga tajam diatas, terbebas dari pengaruh politik, dan kepentingan apapun karena kekuasaan penegak hukum adalah mandiri, dengan demikian harus benar benar obyektif , berttindak sesuai koridor hukum, karena pertanggung jawaban nya bukan hanya pada intitusi tapi langsung kepada Tuhan Yang Maha Agung , saat pengucapan sumpah jabatan .

     

    *************************

     

    Penulis adalah Praktisi Hukum di jakarta, Penulis Masalah-masalah Politik, Sosial, Budaya dan Hukum

     

  • Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri:  Puisi adalah Kesaksian Manusia Lewat Kata-Kata

    Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri: Puisi adalah Kesaksian Manusia Lewat Kata-Kata

     

    Jakarta berandanegeri.com. ” Puisi adalah kesaksian manusia lewat kata-kata,” ujar Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri (SCB) pada acara diskusi sastra dan bedah buku antologi puisi tunggal Impromtu Terzina karya Ewith Bahar di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Lantai 4, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Kamis sore (30/12/2023).

    Ket. Foto: Sutardji Calzoum Bachri

     

    Dikatakan lagi oleh SCB, berkaitan dengan puisi yang mula-mula adalah kata, dan puisi menambah pertambahan makna. “Makna di dalam puisi adalah nikmat, dan kata-kata tersebut adalah nikmat.Elaborasi dari kata nikmat itu penting karena dapat membawa pengadaan makna sebab hidup adalah pelaksanaan sebanyak.mungkin makna-makna.Puisi adalah kesaksian manusia lewat kata-kata,” ucapnya.

    Seperti diketahui buku antologi puisi Impromtu Terzina karya Ewith Bahar keluar sebagai juara pertama sayembara Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2023 yang diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi, berhadiah Rp 50 juta.

    Menurut Maman S Mahayana hadiah sebesar Rp 50 juta tersebut merupakan penghargaan terhadap penciptaan sebuah karya puisi. ”Karena karya puisi memiliki nilai tinggi dan bermartabat. Bahkan negeri ini terbentuk dari puisi dan kata.Puisi Ewith Bahar sangat kuat di metafora,” kilahnya.

    Octavianus Masheka, Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) pada kesempatan acara – yang menghadirkan moderator Kurnia Effendi – memberi kata sambutan. “Acara diskusi dan bedah buku antologi puisi Impromtu Terzina karya Ewith Bahar bukan merupakan  produksi TISI. Meskipun yang selenggarakan Dewan Kesenian Jakarta atau Kumite Sastra, Kang Maman dan Bang Tardji harus mempertanggungjawabkan kenapa buku antologi puisi Ewith Bahar bisa keluar sebagai juara satu, “tegasnya.

     

    Sayembara Buku Puisi

    Sementara itu Maman S Mahayana, secara panjang lebar dan sistematis menjelaskan tentang sayembara buku puisi Yayasan Hari Puisi yang meliputi latar belakang, latar depan, persyaratan, hadiah dan  dewan juri.

     

    Ket. Foto: Maman S Mahayana

     

    BANJIR

    Di kolam raksasa zaman mutakhir

    Tak ada ikan mas, kecuali mobil-mobil

    Menggeliat-geliat dipermainkan deras air

     

    GEMURUH AIR KALI

    Bunyi gemuruh air kali

    datang dari celah malam buta

    esoknya riuh ramai kamar pengungsi

     

    KEAUTENTIKAN

    Bangunan Kecil yang Indah

    Kesadaran estetik

    Menegaskan konsep

    Kredo atau pengantar

    Judul sebagai lanjaran memasuki tema

     

    Trilin (three line): tiga larik

    Berirama: a-b-a

    “…obat ketenangan batin, kebahagiaan, dan

    harapan.”

    … tidak menulis pesimisme, ketakutan,

    kesangsian.

    … tidak menulis yang muluk-muluk, gagah

    perkasa, keputusasaan

    … hanya menuliskan kesederhanaan .

     

    KEPADUAN

    Penyusunan

    Judul sebagai bagian dari isi

    Kekompakan hubungan antarpuisi

     

    BEETHOVEN

    Kendati hidup tajam seperti tikam

    ditekannya kuat hasrat bunuh diri pada tuts

    melodi mengalir, indah menghujam

     

    KEDALAMAN

    Wawasan pengetahuan, keluasan bacaan

    Puisi memberi—menawarkan banyak hal

     

    IMPROMPTU TERZINA

    Impromptu—improvisasi …

    Terzina—puisi tiga larik

    Impromptu Terzina: Improvisasi tematik dalam

    tiga larik

     

    KEMATANGAN

    Diksi: metafora, paradoks, simbolisme, dst.

    Permainan kata, frasa, kalimat

     

    METAFORA PENULIS KECIL DAN PENULIS BESAR

    PK: “Menuliskan SEMUA yang diketahui”

    PB: “Mengetahui SEMUA yang dituliskan”

     

    CATATAN

    Proporsionalitas

    Urutan dan pilihan tema

    Jejak penyair

    Konsep improvisasi:

    “Tema sebagai inspirasi atau sebagai pemantik?

    Permainan antar larik. Larik ketiga sebagai pesan, tema, jawab atau mempertahankan konsistensi,” pungkasnya.(*)

    Kontributor :  Lasman Simanjuntak

  • Ewith Bahar – Puisi Tiga Baris dan “Impromptu Terzina”

    Ewith Bahar – Puisi Tiga Baris dan “Impromptu Terzina”

     

    Mari berkenalan dengan Ewith Bahar. Ia Penyair Perempuan yang sedang melambung di tanah air, khususnya di kalangan para peminat sastra. Buku Puisi karyanya Impromptu Terzina menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023 ini.

     

    228 Puisi, 22 Sub-Tema

    Buku Puisi setebal 150 halaman tersebut, memuat 228 Puisi, 22 Sub-Tema. Dewan Juri yang terdiri dari Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, dan Maman S. Mahayana, yang menetapkan Impromptu Terzina menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023.

    Pada Kamis, 30 November 2023 nanti, buku puisi itu akan dibedah oleh dua dari tiga Dewan Juri, yaitu Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana. Bedah buku itu dilakukan di aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

    Penyelenggara bedah buku itu adalah Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI). “Di satu sisi, ini merupakan bentuk apresiasi terhadap Ewith Bahar. Di sisi lain, Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana akan menjelaskan, kenapa buku puisi tersebut berhasil menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik. Apa keistimewaannya dibanding buku karya peserta lainnya,” ujar Octavianus Masheka, Ketua Umum Komunitas TISI, pada Senin, 27 November 2023 lalu.

    Octavianus Masheka berharap, bedah buku serta penjelasan Dewan Juri tersebut, akan memberi pencerahan kepada para peminat sastra. Dengan demikian, kualitas puisi yang sudah dibukukan, yang dikirimkan ke panitia Sayembara Buku Puisi di masa-masa mendatang, akan lebih baik lagi.

    Acara bedah buku tersebut akan dibuka oleh Firmansyah selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta. Ia didampingi oleh Diki Lukman Hakim, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Itu adalah wujud dukungan kedua lembaga tersebut terhadap Komunitas TISI, dalam konteks meningkatkan literasi anak-anak bangsa melalui sastra.

    Oh, ya, buku puisi Impromptu Terzina karya Ewith Bahar ini menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023, dari Sayembara Buku Puisi, yang diselenggarakan oleh Yayasan Puisi Indonesia (YPI). Secara jumlah, ada 150 buku puisi yang menjadi peserta sayembara tahun tersebut.

    Untuk tahap awal, Dewan Juri memilih 20 buku puisi yang lolos menjadi nominasi. Kemudian, pada Rabu, 26 Juli 2023 lalu, Dewan Juri mengumumkan buku puisi Impromptu Terzina karya Ewith Bahar menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023.

    Pengumuman tersebut dilakukan di Teater Kecil, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), sebagai rangkaian dari Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-11. Sayembara Buku Puisi itu merupakan acara tahunan YPI, yang diikuti secara antusias oleh para peminat sastra dari seluruh wilayah tanah air.

     

    Inspirasi Puisi Tiga Baris

    Pada Senin, 27 November 2023 lalu, saya janjian dengan Ewith Bahar. Tujuannya, sebelum mendengar penjelasan Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana selaku Dewan Juri, saya ingin mendengar proses kreatif Ewith Bahar dalam menciptakan Puisi Tiga Baris yang dihimpun dalam buku puisi Impromptu Terzina.

    Ewith Bahar mengungkapkan, ia terinspirasi untuk menciptakan Puisi Tiga Baris, setelah mencermati ragam puisi tiga baris di berbagai negara di dunia. Antara lain, haiku, hokku, dan katauta dari Jepang. Juga, sijo di Korea dan terza rima di Italia.

    Minatnya terhadap dunia tulis-menulis, sudah tumbuh sejak remaja. Hingga tahun 2023 ini, Ewith Bahar sudah menerbitkan 9 buku sebagai karya tunggal. Baik berupa buku puisi, cerpen, novel, dan esai. Pada tahun 2019, salah satu buku puisi karyanya

    Sonata Borobudur memperoleh penghargaan sebagai 5 Besar Buku Puisi Terbaik Indonesia, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

    Dengan latar yang demikian, juga dengan dukungan teknologi informasi kini, Ewith Bahar leluasa menjelajahi ranah perpuisian dunia. Ia menyadari, jenis puisi tiga baris, tidak dikenal dalam sejarah perpuisian Indonesia. Yang ada adalah jenis-jenis pantun dua baris atau empat baris.

    “Saya sebenarnya menantang diri saya sendiri, mampukah saya menciptakan puisi tiga baris?” tutur Ewith Bahar. “Saya membayangkan, puisi tiga baris adalah sebuah ruang yang sempit. Tantangannya, bagaimana mengisi ruang yang sempit dengan elemen-elemen yang bermakna, dengan harmoni yang terjaga,” lanjut Ewith Bahar.

    Ia menyadari, itu sangat tidak mudah baginya. Meski demikian, pergulatan kreatif menemukan tema, mengulik diksi, serta menciptakan rima, tetaplah ia tempuh dengan asyik. Buktinya, di buku puisi Impromptu Terzina ia berhasil menciptakan 228 puisi, dengan 22 sub-tema.

    Tapi, apa sebetulnya Impromptu? Ini adalah istilah dalam dunia musik, yang berasal dari bahasa Prancis, yang berarti improvisasi. Dengan landasan improvisasi itulah, Ewith Bahar mengolah peristiwa banjir, misalnya, ke dalam puisi tiga baris.

    Memang, untuk satu peristiwa, beberapa puisi tiga baris, bisa ia ciptakan. Tapi, Ewith Bahar menantang dirinya untuk memilih sudut pandang yang ia nilai paling kuat. Dengan kata lain, 228 puisi dengan 22 sub-tema tersebut, sesungguhnya adalah hasil dari proses memilih, yang berlangsung terus-menerus.

    Ketika Impromptu Terzina dinyatakan Dewan Juri sebagai Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023, Ewith Bahar tentu saja happy. Ia mengakui, ini bukan yang pertama kali ia mengirimkan buku puisi ke panitia Sayembara Buku Puisi, yang diselenggarakan oleh Yayasan Puisi Indonesia (YPI).

    Meski di tahun-tahun sebelumnya buku puisinya tidak terpilih, ia terus dan terus berproses secara kreatif. Menantang diri sendiri itu, ternyata asyik.

     

    Kontributor : Lasman Simanjuntak