Blog

  • Puisi-puisi Astryanthi Korebyma: – Damai dari Kota Seribu Kapela – Mei, Maria dan Epifani – Senja di Taman Kota 1 –

    Puisi-puisi Astryanthi Korebyma: – Damai dari Kota Seribu Kapela – Mei, Maria dan Epifani – Senja di Taman Kota 1 –

     

    PUISI-PUISI ASTRYANTHI KOREBYMA

     

    Puisi “Damai dari Kota Seribu Kapela” (Nagi Larantuka) menggambarkan konflik dan kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat yang seharusnya hidup dalam damai. Puisi ini menyoroti pertentangan antara keluarga dan generasi serta kekerasan yang mengiringi konflik tersebut. Penyair mengekspresikan pertanyaan tentang arti hidup yang sebenarnya, apakah hanya sebatas pertarungan dan kekerasan, ataukah terdapat damai yang abadi di dalamnya. Puisi ini mengajak pembaca untuk mencari kedamaian dan hening dalam kehidupan yang penuh konflik.

    Puisi “Mei, Maria, dan Epifani” menggambarkan tentang kekuatan iman dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan dan kematian. Para tokoh seperti Mei, Maria, dan Rosario dijadikan simbol untuk melambangkan keberanian, ketabahan, dan ketaatan kepada Tuhan dalam menghadapi segala cobaan. Puisi ini menekankan pentingnya persiapan spiritual untuk menghadapi akhirat, dengan pengakuan bahwa segala dosa akan diampuni dengan syarat sujud syukur dan tawakal kepada Allah. Puisi ini mencerminkan kepercayaan pada kemurahan Allah dan perlunya kepatuhan kepada-Nya sepanjang hidup.

    Puisi “Senja di Taman Kota 1” menggambarkan perasaan kesendirian dan pertemuan dengan keheningan dalam suasana senja. Penyair merenungkan tentang keheningan yang memenuhi taman kota, di mana meskipun ada kehidupan di sekelilingnya, ia tetap merasa sendiri. Puisi ini menggambarkan proses internalisasi diri dalam menghadapi kesendirian, dengan awan dan rembulan menjadi simbol perenungan dan ketenangan. Meskipun malam telah tiba, penyair tetap merasa terjaga dalam keheningan taman kota, mencerminkan pertanyaan tentang eksistensi dan tempat dalam dunia yang luas.

     

    DAMAI DARI KOTA SERIBU KAPELA
    Nagi Larantuka

     

    Dahulu, dan bukan kini
    Disini, di bumi seribu kapela
    Damai
    Mudah dalam kata
    Tetapi tidak dalam tingkah laku
    Kakak dan adik tak lagi akur
    Ayah dan anak beradu pedang
    Beradu siapa yang menang

    Apakah hidup ini hanya sebatas
    Bilah pedang yang menghunus
    Menghempas leher dan tubuh kurus
    Dengan napas dan aliran darah
    Panas
    Membasahi ruas tanah
    Puas kah?

    Bercak darah
    Daging dan tulang
    Berserakan, melekat pada palang pintu
    Pada dinding kamar bergeming;
    “Cukupkan hari dan dirimu dengan sujud syukur
    Temukan hening
    Disana, ada damai yang tak selesai”

    Taman Kota Larantuka, 12 Maret 2019

    ————————————

     

     

    MEI, MARIA DAN EPIFANI

    Mei, Maria dan Rosario
    dalam puasa dan niat
    senjata ampuh melawan segala sakit
    tiada pernah terlalu cepat
    pula terlalu lambat
    Maria, Bunda pembantu abadi selalu tepat

    akhir kehidupan ini adalah mati
    teman segala perjalanan adalah diri sendiri
    sujud syukur untukmu tiada henti
    sediakan bekal perjalanan, siapkan diri
    sebab akhirat tidak kompromi
    untuk segala dosa duniawi

    sang pencipta memang memperhitungkan segala amal
    namun harus lebih banyak sujud dan tawakal
    sebab segala ampun adalah akhir dari sesal
    yang terasa mustahil

    sebab muara segala ampun
    dari Allah hingga akhir zaman.

    Teruntuk: Saveri_Je 

    ———————————–

     

    SENJA DI TAMAN KOTA 1

    Enggan menyapa kemudian bisu bertemu lisan
    Kaku memang menjadi pemersatu yang tak sejalan
    Pilihan jatuh pada simpang kata akhir yang kadang memberi luka di setiap lorong singgah

    Jika bernyawa,
    Kepada riuh jalanan, riak gelombang dan lampu jalanan, kupinta sabar yang penuh tuk peluh yang tak kunjung luluh
    Lantas berdatangan awan yang ditiup angin
    Mendekat, menari berbisik sendu;
    ‘tidak takutkah kau sendirian di sini? Pulanglah, hari sudah malam, Nak’.

    Hingga pada pucuk rembulan yang nyaris tua
    Ku kembali ke peluk malam dan tertidur
    Hingga bangun dan temukan diriku masih di taman kota.

    Taman Kota Larantuka, 22.09.2021

     

    —————————————————-

    Tentang  Penulis

     

    Astryanthi Korebyma, nama pena dari Agustina. Gadis kelahiran 03 Agustus 1993 ini berdomisili di Larantuka, Flores Timur, NTT. Saat ini bekerja sebagai Staff Tata Administrasi SMAK Frateran Podor- Larantuka. Astry bisa dihubungi melalui FB: Astryanthi Agustina Korebyma, IG: korebyma_acy0308, e-mail : agustinasurat@gmail.com, Nomor HP/WA : 0821 4699 2440.

  • “Honocoroko’”dalam Aksara Jawa sebagai Filosofi dan Konsep Ketuhanan Orang Jawa

    “Honocoroko’”dalam Aksara Jawa sebagai Filosofi dan Konsep Ketuhanan Orang Jawa

    Oleh Agus  Widjajanto

     

     

    Filosofi dari aksara Jawa Honocoroko merupakan intisari dari nilai-nilai Pancasila, yang pada pemerintahan Orde Baru, dilakukan penguatan nilai-nilai Pancasila yang dikenal dengan Eka Prasetya Pancakarsa.

    Konsep Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini pada hakekatnya adalah satu kesatuan hidup. Javanisme Memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam Kosmos, dengan demikian perjalanan kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman pengalaman religius.

    Dalam mencari eksistensi jati dirinya sebagai mahluk Hamba Tuhan maka, Daya upaya dilakukan melalui pengembaraan yang tidak pernah berhenti untuk mencari hakekat hidup dan kehidupan itu sendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Hukum Alam ( Sunatullah ), hingga timbul pertanyaan dari mana kita berasal dan setelah itu mau kemana dan kembali kemana ( Sangkan Paraning Dumadi ), maka dikarenakan Wujud sang Pengeran / pangeran yang berarti Tuhan yang tidak berwujud sebagai tempat bernaung dan berlindung, yang tidak bisa ditembus dan dijangkau dengan pikiran serta  panca Indra kita, maka sebagai wujud ekpresinya untuk menggambarkan itu semua maka ada istilah Tan Keno Kinoyo Ngopo.

    Pengetahuan tentang konsep ketuhanan salah satunya disimbolkan kedalam Aksara Jawa, Aksara yang sejatinya untuk media menulis orang Jawa, digunakan sebagai simbol pengetahuan konsep Ketuhanan. Simbol tersebut terdapat dalam tiap huruf aksara Jawa  Ha Na Ca To Ko, Da Tha Sha Wa La, Pa Da Jo Yo Nyo, Ma Ga Ba Ta NGO.

    Bahwa setiap huruf mengandung arti makna berbeda dan berkaitan antara satu dengan yang lain, yang semuanya berjumlah 20 Huruf aksara Jawa yang merupakan pengembangan dari huruf Palawa, yang setiap huruf nya punya muatan yang berkaitan dengan Sifat Religius dalam Konsep Ketuhanan, yang dalam keseharian dijabarkan dalam entitas olah roso bagi orang Jawa yang menekankan sisi spiritualitas yakni dengan laku spiritual .

    Dalam beberapa babad atau cerita diciptakannya Aksara Jawa pada tahun satu Saksi, penciptanya adalah Aji Saja dari tanah Hindustan India yang mengembara ke Tanah Jawa pada abad ke Dua Masehi, dengan demikian Aji Saka merupakan figur yang menyebarkan agama Hindu pertama di Tanah Jawa , maka tidak heran di Jawa banyak tempat tempat  yang diadopsi dari tanah Hindustan di India misalnya gunung Muria, dan Gunung Semeru yang identik dengan gunung Mahemeru yang disesuaikan dengan lidah orang Jawa, kisah Aji Saka sampai saat ini tumbuh subur di Jawa dan kisah Aji Saka menjadi inspirasi kehidupan batin orang Jawa, sebagai pusaka jati diri, ibarat Pusaka adalah Curigo, sedangkan warongkonya bisa bernama apa saja, sebagai pakaian penutup aurat dan memperindah bentuk.

    Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ko mewakili spiritualitas orang Jawa yang paling dalam yang merindukan harmoni, yang tidak suka atas terpecah belahnya Anak Bangsa.

    Arti dan makna dari huruf Aksara Jawa tersebut adalah:

    Ha Na Ca Ra Ka, yang berarti utusan yakni utusan Hidup berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad badan kasar manusia. Ada yang dipercaya untuk bekerja.  Yang ketiga unsur nya adalah Tuhan, Manusia, dan kewajiban Manusia sebagai Hamba Tuhan.

    Da Ta Sa Wa La yang berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan saat meninggal tidak boleh SaWaLa atau mengelak sebagai manusia, harus bersedia melaksanakan , menerima takdir, dan menjalankan kehendak nya

    Pa DHA Ja Ya Nya, yang berarti menyatunya Zat Pemberi Hidup ( Tuhan ) dengan yang diberi hidup ( Mahluk ) yang diberi sifat unggul atau jaya sebagai mahluk yang diberkati untuk memimpin di muka Bumi.

    Ma Gha Ba Ta Ngo, yang artinya menerima yang diperintahkan dan melarang atas hukum yang dilarang dari Tuhan yang Maha Esa, yang maksutnya manusia harus berserah diri Sumarah pada garis Kodrati, meskipun manusia diberi hak meWiradat, atau  berusaha. Sedangkan arti setiap Huruf nya adalah :

    HA Hana Hurip Wening Suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci ( Tuhan ).

    NA Nur Chondro, Ghaib Condro artinya pengharapan manusia hanya selalu pada Sinar cahaya ke Tuhanan untuk jadi penuntun .

    CA Cipto Wening artinya Arah dan Tujuan Manusia hanya pada yang Maha Tunggal atau Tuhan.

    RA Rasa Ingsun Handulusih artinya Rasa Cinta sejati muncul dari Cinta Kasih Nurani.

    KA  Karsoningsung memayuning Bawono, artinya hasrat ditujukan untuk kesejahteraan Alam Semesta.

    Dumading Dzat kang tanpo winangenan, artinya menerima hidup apa adanya.

    TA  Tatas lan Wibowo, artinya totalitas dalam hidup untuk mencapai tujuan satu visi dan misi

    Sifat Ingsun, artinya membentuk kasih sayang seperti sifat Tuhan yang penuh kasih.

    Wujud Hana tan keno kiniro, artinya Ilmu manusia hanya terbatas , tapi implikasi nya bisa tanpa batas.

    Lir Handoyo paseban jati, artinya mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi .

    Papan Tan tanpo Kiblat, artinya hakekat Tuhan yang ada di segala Arah , timur dan Barat milik Allah dimana wajahmu dihadapkan disitulah Allah berada.

    DHA  Duwur wekasane endek wiwitane, artinya untuk bisa berada diatas, tentu selalu dimulai dari bawah / dasar.

    JHA jumbuhing Kawulo LAN Gusti, artinya selalu berusaha menyatu memahami kehendaknya .

    Yakin marang samubarang, artinya yakin atas titah kodrat illahi

    NYA  Nyoto tanpo moto, artinya memahi kodrat kehidupan ,

    Madep manteb nembahing illahi, artinya mantab dalam menyembah Illahi

    GA guru Sejati kang Muruki, artinya guru sejati adalah hati nurani dan belajar lah pada nya,

    BA Bayu sejati kang andalani, artinya menyelaraskan pada gerakan alam Semesta ( Sunatullah ).

    TA  Tukul Soko niat, artinya sesuatu akan terjadi dari niat diri kita

    NGA. Ngracut busaning Manungso, artinya melepas dan menghancurkan Ego pribadi , sebagai manusia.

    Bahw setiap huruf huruf aksara Jawa dalan Honocoroko tersebut penuh dengan dimensi spiritual yang punya kekuatan magis secara spiritual , dengan tata cara yang tentu diajarkan oleh para ahli filsafat dan kebatinan Jawa.

    Apabila diringkas maka merupakan sebuah perjalanan, untuk menjawab segala pertanyaan kita dari mana kita berasal dan setelah dilahirkan untuk apa, di Dunia, lalu kita akan kembali Kemana dengan bekal apa kita berjalan.

    Karena setiap aksara tersebut bermakna dimensi spiritual maka, seluruh Sila-Sila dari Pancasila merupakan perwujudan dan pengejawantahan dari aksara Jawa tersebut yang dijabarkan dalam bahasa modern saat ini dalam sila pertama hingga kelima dari Pancasila.

    Dalam kaitan membangun Karakter Bangsa, terhadap generasi muda, dimana pembangunan karakter bangsa mencakup  potensi potensi keunggulan bangsa, untuk ketahanan bangsa, yang diarahkan empat tatanan yakni menjaga jati diri bangsa, menjaga keutuhan NKRI, membentuk masyarakat yang berakhlak mulia dan membentuk bangsa yang maju , mandiri dan bermartabat sebagai bangsa yang besar dan berbudaya.

    Kiranya konsep aksara Jawa dari Honocoroko bisa dijadikan pijakan dan pembelajaran bersama dari generasi muda , yang merupakan tulang punggung bagi bangsa ke depan agar tetap  mengenal budaya Bangsanya sebagai bangsa yang berbudaya tinggi dan adiluhung . Nusantara pernah mencapa kejayaan dimana Saat abad ke Tujuh masehi, dinasti sanjaya dan syailendra membangun monumen budaya bangsa yang menghasilan bangunan yang jadi keajaiban dunia yakni candi prambanan dan Candi Borobudur beserta anak anak candi dalam situs sejarah yang bisa dilihat hingga hari ini, belum lagi saat abad je 11 Masehi, Singosari dengan armada angkatan laut nya yang sangat terkenal telah menahlukan hampir sepertiga wilayah Dunia, serta Majapahit imperium yang sanggup menyatukan Nusantara ( Wilayah asia tenggara saat ini ), harus bangga sebagai anak bangsa, sebagai refleksi semangat tidak mau dijajah bangsa lain dalam bentuk apapun, baik ekonomi, budaya, tatanan kenegaraan dalam konsep berdemokrasi, isu Hak asasi Manusia dan Terorisme yang selalu dijadikan komuditas Politik, untuk Intervensi pada Negara yang berdaulat dalam negara Modern saat ini.

    Tan Hanna Dharma Mangrwa, BhinekaTunggal Ika.

     

    ———————————–

     

    *Penulis adalah Seorang Praktisi Hukum di Jakarta, Pemerhati Masalah-masalah Sosial Budaya , Hukum dan Politik

  • Nihilitas Pemikiran Manusia Modern

    Nihilitas Pemikiran Manusia Modern

     

    Oleh  Matroni el-Moezany

     

    ZAMAN modern merupakan zaman yang tidak disukai Dostoevsky. Ia muak dengan rasionalisme yang merupakan bentuk ketidakpuasan akan eksistensi manusia. Manusia seolah direduksi menjadi alat rasio.

    Dari kemuakan itu, manusia berontak dan berusaha menunjukkan kediriannya sebagai eksistensi yang konkret. Dengan novel Notes From Underground, Dostoevsky menampilkan kisah satiris tentang kemuakan manusia zaman modern.

    Kapastian yang dianut manusia modern dengan berlandaskan pada sains dan rasionalitas mengajarkan manusia bertindak objektif. “Dua tambah dua adalah empat”; manusia harus menerima apa adanya hukum tersebut, tidak dapat melawan karena (hukum) alam tidak akan pernah meminta pendapat manusia berlaku padanya.

    Hal demikian merupakan sesuatu yang absurd bagi sang Underground. Manusia penuh dengan perhitungan matematika bahkan terhadap apa yang ingin dilakukan. Jika demikian, di manakah kesadaran subjektif yang diagung-agungkan zaman modern? Bagaimana manusia bisa jadi otonom jika apa yang dilakukan dideterminasi hal-hal di luar dirinya?

    “Dua tambah dua adalah empat”, tidak peduli apakah kita menyukainya atau tidak. Hal demikian sangat menyakitkan. Manusia hanya menjadi budak dari penyakit (rasionalisme) zamannya.

    Dengan demikian, apakah kesadaran itu? Kesadaran adalah sebuah kemuakan, itulah yang diungkapkan sang Underground untuk menggambarkan mereka yang benar-benar menyadari eksistensinya. Orang yang benar-benar sadar akan muak dengan perhitungan tersebut. Muak dengan determinasi yang terjadi. Dengan demikian, ia mengatakan kesadaran akan subjek yang otonom merupakan ilusi belaka.

    Otonomi manusia tidak benar-benar terjadi seperti yang dicita-citakan. Di sini dapat dilihat bagaimana pandangan Ivan, Kardinal, dan Roskolnikov bahwa otonomi manusia-manusia rasional sebenarnya tidak sepenuhnya otonom karena mereka justru menjadi “budak” ideologi semata. Dalam bahasa lain dapat disebut, mereka hanyalah sel-sel dari suatu sistem besar yang mereka anut. Namun, mereka membutakan mata dan telinga untuk membenarkan logika yang dianut. Dari rasionalisme mereka, yang Underground berkata “lihatlah darah mengalir di sungai-sungai…Lihatlah apa-apa yang terjadi sepanjang abad 19… Lihatlah Napoleon… Lihatlah apa yang terjadi di Amerika Utara”.

    Sang Underground beranggapan orang-orang modern merupakan orang bodoh. Dengan menempatkan rasio sebagai dasar, mereka kehilangan kemanusiaannya. Rasio hanya pikiran dan hanya memuaskan kapasitas berpikir manusia.

    Perhitungan dan kalkulasi mengajarkan untuk mencari kepastian. Namun, apakah yang dapat dipastikan dari manusia? Hanya orang bodohlah yang dapat dipastikan. Manusia sesungguhnya lebih daripada perhitungan dan kepastian-kepastian. Ia menyebutkan semua intelektual dari abad ke-19 harus dan secara moral berkewajiban hadir sebagai makhluk tak berkarakter karena orang yang berkarakter tidak lebih dari makhluk yang terbatas (ditentukan).

    Dari penuturan sang Underground terlihat bagaimana ketidakpuasan akan eksistensi diri yang direduksi dalam perhitungan dan sistem-sistem sains. Manusia merupakan “ada” yang unik. Segala klasifikasi saintis mengenai manusia tidak pernah mencakup ke-manusia-an. Rasionalitas sains yang di anut Ivan, Kardinal, dan Raskolnikov mendapat perlawanan dari pemikiran eksistensialis sang Underground, seseorang yang muak terhadap zamannya.

    Semangat zaman modern yang hadir melalui rasionalisme dan saintisme membawa pengaruh atas paradigma berpikir manusia. Cita-cita besar menjadikan manusia sebagai makhluk otonom malah terjatuh pada peng-objek-an terhadap manusia itu sendiri. Hal tersebut kerena pola ilmu alam yang (berusaha) melihat segala sesuatu dengan berjarak atau objektif diterapkan pada manusia. Manusia kemudian memandang sesamanya sebagai objek semata. Hubungan antarmereka jadi bersifat kebendaan.

    Dostoevsky dalam buku ini menggambarkan bagaimana objektivikasi terhadap manusia dilakukan oleh kaum intelektual yang diwakili Ivan Karamazov, Kardinal, dan Raskolnikov. Dengan rasionalisme, mereka membedakan manusia atas dan manusia bawah.

    Manusia atas adalah mereka yang telah “tercerahkan” dan memiliki kesadaran yang tinggi. Dengan begitu, mereka memiliki hak terhadap manusia-manusia bawah yang bodoh.

    Sebab, manusia bawah tidak mengerti apa-apa, sehingga mereka dapat dimanipulasi untuk suatu sistem-sistem sosial yang akan dilanggengkan. Mereka juga dapat menjadi kelinci percobaan untuk suatu eksperimen yang dilakukan. Di sini terlihat bahwa pembendaan terhadap sesama memungkinkan terjadinya tindakan yang tak menusiawi.

    Dostoevsky muak terhadap hal tersebut. Manusia bukan sel-sel dari suatu sistem. Ia adalah makhluk konkret dengan segala kemanusiaan yang dimilikinya. Lewat kisah Notes From Underground, ia mengkritik gaya pemikiran rasionalistik yang menjamur saat itu manusia tidak dapat ditentukan atau direduksi dalam hukum-hukum positif ilmu alam.

    Yang jelas buku ini menjelaskan sosok pemikir dan sastrawan yang hidup di Rusia pada abad ke-19, dapat dilihat bagaimana ia menggugat pemikiran-pemikiran yang ada pada zaman modern. Jadi sangat layak dan patut dibaca oleh yang berniat untuk mengetahui bagaimana orang Rusia mencetuskan idenya tentang politik, tentang filsafat, dan tentang manusia itu sendiri.

    Selain itu buku ini mengungkap berbagai fakta, realitas, dan data yang akurat tentang berbagai kendala dan kepincangan-kepincangan yang melanda manusia di Rusia baik tentang cinta kasih, krisis manusia modern. Juga dibahas tentang alasan mengapa buku Dostoevsky perlu ditelaah untuk dijadikan rujukan bagi perkembangan zaman modern pada masanya dan saat ini masih aktual untuk dijadikan bahan diskusi dan renungan.

     

    Judul: Dostoevsky, Menggugat Manusia Modern
    Penulis: Henry S. Sabari
    Penerbit: Kanisius
    Cetakan: Pertama, 2008
    Tebal: 136+xxiv
    Peresensi: Matroni el-Moezany

     

    —————————————————

     

    * Matroni el-Moezany,  Direktur Eksekutif Pustaka Rumah Tanya Yogyakarta

    *Sumber: sastraindonesia.com

     

  • Penyair, dan Budayawan  Pdt.Roberth William Marthin ( Romo Marthin ) Meninggal Dun

    Penyair, dan Budayawan  Pdt.Roberth William Marthin ( Romo Marthin ) Meninggal Dun

     

    JAKARTA berandanegeri.com. Penyair, Sastrawan, Budayawan dan Pendeta Roberth William Marthin, S.Th, M.Ag, atau biasa dipanggil Romo Marthin meninggal dunia pada Sabtu (10/2/2024) sekitar pukul 14.00 WIB karena serangan penyakit jantung.

    Menurut keterangan dari Penyair Nanang R Supriyatin melalui medsos pada laman facebook-nya di Jakarta, Sabtu sore (10/2/2024) sudah beberapa hari tim redaksi Majalah ‘Apresiasi Sastra’  (AP) berniat mengadakan pertemuan demi terbitnya majalah AP edisi ke-2.

    Lalu pada Sabtu siang (10/2/2024), tim redaksi berkumpul di kantin Taman Ismail Marzuki (TIM).

    “Salah satu yang kami tunggu pastinya Romo William Marthin, salah seorang redaktur, atau yang akrab disapa Romo Marthin,” ujarnya.

    Tiba-tiba berita duka datang melalui percakapan telepon antara Fanny Jonathans dan Remmy Novaris DM.Tak lama kemudian mendapat kabar langsung dari istri Romo Marthin.

    “Benar, Romo meninggal dunia karena serangan jantung, sekitar pukul 14.00 wib.” ucap ketua Dapur Sastra Jakarta (DSJ) Remmy Novaris DM.

    Kemudian, meyakinkan ke kami yang berada di dekatnya.Rapat untuk majalah dipersingkat.

    Masing-masing dari kami terdiam sejenak. Almarhum, kabarnya disemayamkan di Gereja Petra, Koja, Jakarta Utara.

    “Kami, Sunu Wasono, Helmi Haska, Giyanto Subagio, Eki Thadan, Jimmy S. Johansyah, Remmy Novaris, Nunu, dan saya mengambil keputusan bersiap mendatangi lokasi persemayaman Romo di Gereja Petra, Koja, Jakarta Utara,” ucapnya.

     

    Kumpulan Puisi Terakhir

    “Manusia Baya”, adalah kumpulan puisi terakhir almarhum Romo Marthin yang diterbitkan Teras Budaya, Januari 2024.

    Padahal rencana semula Sabtu sore (10/2/2024) sebanyak 100 eksampler buku kumpulan puisi “Manusia Baya” dimaksud akan diserahkan kepada sang penyair.

    “Namun ,Tuhan berkehendak lain. Ia, Romo William Marthin, S.Th.M.Ag,  pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya,” katanya dengan nada suara sedih.

    Romo William Marthin- pemerhati sekaligus pegiat kebudayaan, pelayan umat (pendeta) di Gereja Protestan Indonesia Barat  (GPIB) dan pengajar/ dosen.

    Menulis beberapa buku filsafat dan theologi, esai dan renungan kebudayaan.(*)

     

    Kontributor : Lasman Simanjuntak

     

     

  • Indonesia 2025: Mencari Srategi

    Indonesia 2025: Mencari Srategi

     

    Ignas  Kleden 

     

    DALAM pidato kenegaraan di depan Dewan Perwakilan Rakyat, 14 Agustus 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan suatu visi jangka menengah tentang Indonesia 2025. Diproyeksikan, pada tahun itu Indonesia akan menjadi negara maju. Untuk itu ditetapkan 10 sasaran yang harus dicapai: (1) persatuan dan harmoni sosial yang semakin kokoh, (2) stabilitas nasional yang makin mantap, (3) penguatan demokrasi dan keterbukaan dalam penyelenggaraan negara, (4) penegakan hukum dan ketertiban secara konsisten, (5) pertumbuhan ekonomi yang terus terjaga dan ditingkatkan, dengan kemampuan yang makin mandiri, (6) peningkatan kesejahteraan, (7) tata kelola pemerintahan yang baik dan pemberantasan korupsi yang semakin efektif, (8) perlindungan terhadap lingkungan hidup, (9) pembangunan daerah, dan (10) pengembangan kemitraan dan kerja sama global.

    Sepuluh tujuan ideal tersebut mungkin akan semakin jelas kalau kita merumuskan dalam kontras, apa yang hendak dilawan oleh sasaran-sasaran tersebut. Maka yang kita dapati (melalui tafsiran logis saja) adalah (1) menurunnya ketegangan dalam negeri berupa konflik antaretnik, antardaerah, dan antaragama, (2) mengecilnya kemungkinan terorisme dalam bentuk apa pun, (3) tercegah kembalinya politik otoritarian dan berkuasanya oligarki politik, (4) berkurangnya kesewenang-wenangan kekuasaan, (5) menguatnya fundamental ekonomi agar sanggup bertahan terhadap krisis, sambil mengurangi ketergantungan kepada pihak asing, (6) keseimbangan antara dimensi agregatif dan dimensi distributif dalam ekonomi, (7) menguatnya kontrol terhadap penyelewengan dalam pemerintahan, (8) diberikannya hak terhadap perlindungan lingkungan hidup bukan saja kepada negara, melainkan juga kepada civil society, (9) dihentikannya berbagai penyelewengan dalam pelaksanaan otonomi daerah, dan (10) tercegahnya isolasionalisme dalam politik internasional.

    Sepuluh sasaran tersebut dikemukakan sebagai tujuan normatif yang harus dicapai oleh Indonesia hingga 2025, agar dapat masuk kategori negara maju. Terhadap daftar sasaran tersebut dapat dikemukakan tiga catatan. Pertama, belum terlihat dari pidato Presiden sasaran mana saja yang menjadi tujuan substantif dalam pembangunan politik Indonesia, dan sasaran mana pula yang dapat diperlakukan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan substantif. Kedua, belum terlihat juga suatu logika yang menghubungkan satu sasaran dengan sasaran lainnya sehingga kita dapat melihat kesepuluh sasaran tersebut sebagai suatu keseluruhan atau framework yang secara koheren mengangkat status Indonesia menjadi negara maju. Ketiga, tidak tampak bagaimana urutan prioritas kesepuluh tujuan termaksud. Di samping itu, tidak ditetapkan suatu target yang lebih terukur untuk dicapai pada titik waktu tertentu. Millennium Development Goals (MDGs), misalnya, yang ditandatangani oleh 150 kepala negara dan kepala pemerintahan di New York pada September 2000, menetapkan bahwa hingga 2015 kemiskinan di dunia harus dikurangi hingga separuhnya.

    Sekadar perbandingan, pembangunan politik dan ekonomi dalam Orde Baru mempunyai suatu logika yang jelas, meskipun dalam retrospeksi kita dapat mengkritiknya sebagai logika yang dibangun di atas asumsi teoretis yang tidak selalu valid. Tujuan substantif pembangunan nasional di bawah Presiden Soeharto adalah tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Inilah sasaran yang bersifat substantif. Untuk itu diperlukan suatu stabilitas politik yang menjadi sarananya, karena pembangunan ekonomi tak dapat berjalan mulus dalam politik yang penuh ketegangan. Kesejahteraan dianggap dapat terwujud secara “alamiah” kalau sudah tercapai tingkat pertumbuhan tertentu, karena kemakmuran akan menetes ke kalangan yang lebih luas melalui mekanisme trickledown atau spillover. Untuk menjamin stabilitas politik, keamanan harus dijaga dan segala gejolak politik ditekan, bila perlu, dengan jalan represif. Partisipasi politik dibatasi pertama-tama dengan pengurangan jumlah partai politik menjadi hanya tiga, dan Golkar sebagai partai pemerintah diusahakan selalu menjadi partai yang paling kuat dan dominan.

    Asumsi teoretis yang melandasi logika pembangunan seperti itu sekarang sudah disingkapkan kekeliruannya. Pertama, bukan ekonomi yang harus menentukan perkembangan politik, tapi ekonomi harus menjalankan keputusan politik. Kedua, kesejahteraan tidak terwujud secara alamiah, karena ternyata yang mengatur distribusi kemakmuran bukan hanya mekanisme pasar, melainkan kekuasaan politik. Kemakmuran tidak banyak menetes seperti diasumsikan, karena mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan selalu berkepentingan untuk membatasi distribusi kemakmuran dalam lingkungan terbatas sesuai dengan kepentingan kelompok yang berkuasa. Kemakmuran akhirnya tidak menetes, tapi menumpuk.

    Logika seperti itu tidak tampak atau sekurang-kurangnya tidak terlihat secara eksplisit dalam visi yang diajukan oleh Presiden RI tentang Indonesia 2025. Sebagai suatu daftar cita-cita, hal itu patutlah disambut, tapi yang sama pentingnya adalah merumuskannya dalam suatu rangkaian langkah strategis, bagaimana tujuan yang satu dapat membantu atau mungkin saja menghalangi tercapainya tujuan yang lain, dan urutan prioritas berdasarkan kepentingan dan kemungkinan pelaksanaannya.

    Selain itu, konsep negara maju mungkin perlu lebih diperjelas. Dalam sosiologi pembangunan sebelum berakhirnya Perang Dingin, kita tahu dunia dibagi menjadi tiga, yaitu dunia pertama yang mencakup negara-negara industri maju di Barat yang kapitalis, dunia kedua yang meliputi negara-negara sosialis, dan dunia ketiga yang meliputi negara-negara berkembang. Pembagian itu kini berubah karena dunia kedua praktis sudah tidak ada lagi dengan rontoknya negara-negara sosialis, sehingga dibutuhkan suatu pembagian baru. Human Development Report 2007-2008 yang diterbitkan United Nations Development Programme (UNDP) membagi negara-negara di dunia, khususnya 192 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan beberapa cara.

    Pertama, berdasarkan indeks pembangunan manusia (human development index/HDI), negara-negara dibagi ke dalam kelompok yang tinggi indeks pembangunan manusianya (dengan HDI 0,800 dan di atasnya), negara-negara dengan indeks pembangunan manusia tingkat menengah (dengan HDI 0,500-0,799), dan yang rendah tingkat pembangunan manusianya (dengan HDI di bawah 0,500). Dalam pengukuran yang dilakukannya, UNDP tidak menghitung indeks pembangunan manusia dari semua negara anggota PBB, karena beberapa negara tak dapat memberikan data statistik yang dibutuhkan. Dari 177 negara yang dihitung UNDP, yaitu 175 negara anggota PBB ditambah Hong Kong dan Palestina, Indonesia menduduki nomor 107 (satu tingkat di bawah Palestina dan satu tingkat di atas Suriah) dan termasuk negara dengan tingkat pembangunan manusia menengah.

    Kedua, berdasarkan tingkat pendapatan per kepala, laporan UNDP mengikuti pembagian negara-negara menurut Bank Dunia, yaitu yang berpendapatan tinggi (mencapai US$ 10.726), berpendapatan menengah (dengan pendapatan antara US$ 876 dan US$ 10.725), dan berpendapatan rendah (di bawah US$ 876). Kriteria Bank Dunia ini masih berasal dari tahun 2005 tapi digunakan oleh UNDP untuk laporannya tahun 2007-2008.

    Ketiga, berdasarkan agregat di dunia, negara-negara dibagi ke dalam negara berkembang, negara-negara Eropa Tengah dan Timur, serta negara-negara CIS (Commonwealth of Independent States) dan negara-negara yang termasuk dalam OEDC (Organization for Economic Cooperation and Development).

    Dilihat berdasarkan pendapatan per kepala ataupun berdasarkan indeks pembangunan manusia, Indonesia saat ini menduduki peringkat menengah di antara 177 negara yang diukur dalam laporan UNDP tersebut. Apakah ini berarti bahwa Indonesia pada 2025 akan berpindah kelas dari tingkat menengah ke tingkat tinggi? Cita-cita ini patutlah didukung secara nasional, dan agar dapat terwujud, perlu disusun strategi agar kesepuluh sasaran tersebut, dalam kaitan satu dengan yang lainnya, dan dengan prioritas yang ditentukan, dapat menjadi tenaga pendorong mobilitas vertikal Indonesia dalam peringkat negara-negara di dunia. Sangat perlu dihindari kemungkinan bahwa tujuan yang satu menghalangi tercapainya tujuan yang lain.

    Dalam sejarah negara-negara maju ada satu langkah strategis yang selalu diambil, yaitu menjadikan pendidikan nasional sebagai penunjang yang memudahkan tercapainya tujuan politik nasional. Tidak ada negara maju yang tidak memberikan perhatian khusus kepada pendidikan sebagai sarana strategis yang amat menentukan kemajuan suatu bangsa. Perhatian terhadap pendidikan nasional ini tidak cukup hanya ditunjuk dengan menaikkan anggaran pendidikan, tapi bersamaan dengan itu perlu ditingkatkan pengawasan terhadap standar dan mutu pendidikan. Dalam tingkat melek huruf orang dewasa (15 tahun ke atas), Indonesia mencatat prestasi yang bagus, yaitu 90,4 persen. Tapi, dalam produktivitas penulisan di jurnal ilmiah, kedudukan Indonesia amat lemah, karena hanya sanggup menghasilkan 0,93 artikel per satu juta penduduk, dibandingkan dengan Malaysia, yang tingkat produktivitas ilmiahnya 23,97 per satu juta penduduk.

    Kontrol kualitas itu mempunyai dua fungsi utama, yaitu memastikan bahwa pendidikan nasional membantu tercapainya tujuan politik nasional, dan dalam pada itu pendidikan mencapai tujuannya sendiri dengan mengikuti standar-standar yang berlaku dalam pendidikan umumnya di seluruh dunia. Orde Baru pernah menjadikan pendidikan sebagai sarana yang membantu pembentukan monoloyalitas melalui pendidikan P4, misalnya, yang jelas merupakan saka guru mental untuk stabilitas politik. Jalan itu bisa ditiru pada masa sekarang, tapi dengan menetapkan tujuan nasional yang sesuai dengan tuntutan tahun 2025, dan dengan mempertimbangkan apakah tujuan tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

    Ada berbagai strategi yang bisa dicoba, dan pendidikan salah satunya. Menetapkan sasaran normatif selalu berguna sebagai tantangan berpikir. Namun, tanpa kiat dan langkah strategis, tiap tujuan mulia akan dikenang kemuliaannya tapi tak pernah menjadi kenyataan.

     

    ————————————-

     

    Sumber: Majalah.tempointeraktif.com, 24 Agustus 2009

     

  • Apakah Hukum Berkaitan dengan Norma dan Etika

    Apakah Hukum Berkaitan dengan Norma dan Etika

    Oleh Agus Widjajanto

     

    Dalam aliran hukum positif, seperti yang dianut oleh hukum di Indonesia, memandang perlu memisahkan secara tegas antara hukum dan moral yaitu antara hukum yang berlaku dengan hukum yang seharusnya, antara Das Sein dan Das Sollen, karena begitu kakunya aliran hukum positif yang kadang tidak mencerminkan rasa keadilan, oleh Prof. Satjipto Rahardjo mengajarkan aliran hukum progresif, dimana antara Das Sein dan Das Sollen saling mengisi tidak terpisahkan.

    Bahwa sesungguhnya hukum juga berkaitan dengan moral karena hukum mencerminkan nilai nilai etika dalam aturan aturannya, meskipun hukum dan moral tidak selalu identik, karena aturan hukum positif tadi.

    Etika sendiri adalah ladang tempat hukum ditemukan dan hukum itu sendiri merupakan pengejawantahan dari aturan formal yang diberikan sangsi, dalam filsafat hukum, kita mengenal tingkatan hukum yang berawal dari nilai, asas, norma, dan Undang-Undang . Artinya pada saat hukum itu dibuat maka disitulah nilai nilai norma dan etika sudah melekat, karena para pembentuk undang-undang sendiri adalah para ahli dan pakar dibidang nya, yang menggunakan dan mempertimbangkan etika hokum.

    Kalaupun ada sesuatu yang kurang jelas dalam norma hukum yang tertulis dalam pasal-pasal Undang-Undangnya, maka perlu adanya penafsiran dan harus diuji di Mahkamah Konstitusi, bukan karena etika hukum tapi norma dan bunyi dari UUD itu sendiri, yang bisa menimbulkan multi tafsir. Contoh yang baru saja formal dan diperdebatkan di media adalah soal apakah presiden boleh berkampanye baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain?

    Undang-Undang nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dalam pasal 299 berbunyi :

    (1) Presiden dan wakil presiden mempunyai hak melaksanakan kampenye.

    (2) Pejabat negara lainya yang berstatus sebagai anggota partai politik mempunyai hak melaksanakan kampanye. Dalam pasal 304 dari Undang-Undang no. 7 tahun 2017 tentang pemilu, berbunyi :

    (1) dalam melaksanakan kampanye presiden dan wakil presiden, pejabat negara, pejabat daerah , dilarang menggunakan fasilitas negara. Yang disebut fasilitas negara berupa apa saja yang sudah dituangkan dalam ayat (2) dari pasal 304 Undang-Undang no. 7 tahun 2017. Sedangkan pasal 305 mengatur tentang fasilitas negara yang melekat pada jabatan presiden dan wakil presiden yang harus dilakukan sesuai situasi dan kondisi secara profesional dan proporsional .

    Dengan penjelasan dari bunyi pasal di atas, maka hak kampanye yang diberikan kepada presiden dan wakil presiden adalah hak demokrasi sebagai warga negara yang kebetulan menjabat presiden yang sudah diatur oleh Undang-Undang.

    Sedangkan uji materi menyangkut batas umur minimal dari pada calon presiden dan wakil presiden yang telah diputuskan oleh MK dalam perkara no. 90 / tahun 2023, berkaitan dengan norma hukum, atau subtansi bunyi Undang-Undang yang dianggap bertentangan dengan norma dari Undang-Undang Dasar 1945 sebagai hukum dasar Negara. Karena menyangkut norma yang diuji maka, berlaku bagi seluruh warga negara, yang tidak lagi membedakan jenis kelamin, suku, ras maupun agama, kebetulan saja setelah keluarnya putusan MK, maka Gibran Raka buming Raka, sebagai calon wakil presiden dari Prabowo Subiyanto, anak seorang presiden, bukan berarti menyalahi etika, karena sesuai hukum positif yang berlaku, maka aturan hukum itu sesuai bunyi pasal dalam Undang-Undang itulah yang harus dipatuhi termasuk putusan Mahkamah Kontitusi yang berlaku final dan mengika, yang merupakan hak bagi seluruh warga negara tanpa kecuali.

    Apakah itu norma hukum? Norma hukum adalah kesepakatan yang dibuat oleh seluruh masyarakat beserta elemannya atau yang mewakili masyarakat dalam suatu wilayah tertentu ( DPR RI, DPRD Propinsi , DPRD Kota Kabupaten, DPD ) tentang apa yang boleh dilakukan dan tidaj boleh dilakukan. Bahwa norma hukum adalah peraturan yang harus dihormati di suatu negara agar dapat hidup dalam kerangka hukum dalam masyarakat. Contoh hukum pidana, hukum perdata, hukum adat, hukum lalulintas, bahkan hukum alam, bagi yang melanggar norma, yang berlawanan dengan sunatullah ( hukum alam ) .

    Bahwa yang terjadi saat ini justru adanya pernyataan sikap di beberapa universitas baik negeri maupun swasta bahwa kita Indonesia  telah mengalami darurat politik, karena dianggap presiden sudah menyalahi etika sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, mencalonkan anaknya dalam pemilu presiden tahun 2024 ini, yang dianggap tidak netral. Sedang jabatan presiden masih berlaku dan menjabat, jikalau dikaitkan dengan bunyi Undang-Undang pemilu, dalam pasal 304 dan 305, hak itu adalah hak demokrasi dari presiden. Harusnya para penggagas gerakan dikampus kampus tersebut, memberikan edukasi agar pemilu berjalan demokratis yang berasaskan jurdil, bisa terlaksana dengan baik, yang mana justru melakukan petisi, yang biasanya dilakukan para mahasiswa. Yang muaranya bisa ditebak, adanya pemakzulan terhadap presiden, menekan presiden  menggunakan alasan etik sebagai dasar petisi, dan terang-terangan menjegal keabsahan paslon 02 yang dianggap secara moral dan etika tidak layak jadi calon presiden dan wakil presiden, harusnya kampus tetap netral, kebebasan mimbar yang dimiliki jangan terkontiminasi oleh kepentingan politik praktis, jangan mau digiring kearah itu. Agar marwah dunia kampus tetap terjaga .

    Bagaimana apabila ternyata suara rakyat mayoritas justru memilih paslon 02, dimana berlaku suara rakyat adalah suara Tuhan ( Vox Populi Vox Dei ) bagaimana? Apa tidak justru mempermakukan diri sendiri sebagai pelaksana kawah candra dimuka dalam mendidik anak bangsa sebagai calon para pemimpin kedepan dari bangsa ini?

    Pilpres tahun 2024 saat ini lain dari pilpres pilpres sebelumnya , dimana kepentingan negara dan bangsa dipertaruhkan karena kondisi Geo Politik dan Geo Stategis baik kawasan maupun kepentingan Global saat ini, yang memandang Indonesia adalah gadis paling cantik di dunia yang perlu direbut dan dikuasai,  jangan berpikir sempit hanya soal pilpres dan hiruk pikuknya yang dianggap ada darurat politik di negeri ini, tapi ada yang lebih besar yang dipertaruhkan , yaitu  kelangsungan bangsa dan negara ini jadi taruhan,ini yang harus dipahami bersama. 

    Karena pemilu serentak saat ini disamping pilpres juga pemilu untuk wakil rakyat baik tingkal nasional di DPR maupun DPRD propinsi dan DPRD kota dan kabupaten, dan anggauta DPD dimana harus ada pemerintah yang stabil untuk bisa menjaga berlangsung nya pemilu tersebut, baik dari segi keamanan, stabiitas politik maupun dari segi biaya , dalam pesta demokrasi agar terlaksana dengan baik sebagai negara yang katanya demokrasi.

    Mari kita berikan kebebasan kepada masyarakat dan seluruh warga negara yang mempunyai hak pilih, untuk memilih sesuai yang diyakini baik, tanpa ada pengaruh berupa tekanan, petisi politik, dalam bentuk apapun, walau sebenarnya model pemilu langsung dalam Pilpres, bukan merupakan karakter demokrasi kita sebagai bangsa timur yang berasaskan Pancasila, namun karena sudah kita sepakati bersama sesuai norma hukum dari wakil-wakil rakyat dan pemerintah, saat UU Pemilu disyahkan , maka mari kita laksanakan sesuai asas Pemilu dalam Demokrasi, untuk memilih pemimpin kita kedepan dalam lima tahun. Semoga Tuhan memberkati kita semua dan bangsa ini. Amin .

    —————————————————-
    Agus Widjajanto, Penulis, Praktisi Hukum di Jakarta, Pemerhati Masalah-masalah Sospoibud dan Hukum   
  • Harapan, Kematian, dan Makna Hidup  dalam Filosofi Sartre hingga Dostoyevsky

    Harapan, Kematian, dan Makna Hidup dalam Filosofi Sartre hingga Dostoyevsky

    Harapan pada masa depan, sumber foto: Pexels

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada, Mahasiswa Doktoral Filsafat STF Driyarkara

     

     

    Harapan dalam Merriam-Webster (2024) dapat diartikan sebagai keinginan disertai dengan keyakinan akan pemenuhan. Pemenuhan itu tentu saja secara manusiawi bukan tanpa kendala dan proses yang menyertai, karena kadang manusia lewat berbagai tantangan hidup mengalami keputusasaan.

    Ayub dalam kitabnya menggunakan istilah Torak untuk menggambarkan gulungan benang yang berakhir pada kata putus “asa”. Panjang benang ada batasnya. Batas itulah yang menyangkut hak manusia, yang berakhir ketika masa hidupnya selesai. Ada berapa filsuf pun mengalami keputusasaan dengan yang namanya kematian.

    Jean-Paul Sartre (1905-1980) meneropong kehidupan manusia melalui lensa kematian, dan menggambarkan sebagai pemicu absurditas yang merajai eksistensi manusia. Menurut Sartre, kematian, yang seringkali tiba secara tiba-tiba dan tanpa pandang bulu, memberikan sentuhan frustrasi dan menghapuskan makna dari setiap perjalanan kehidupan.

    Dalam pandangan filosofisnya, kematian menggiring orang pada pengalaman tanpa arti, menggulingkan segala makna yang telah disusun. Sartre menegaskan bahwa kematian tidak dapat diintegrasikan ke dalam rencana eksistensi manusia, menjadi sebuah dimensi yang terpisah dan tidak dapat direncanakan dalam perjalanan eksistensial manusia sebagai being-for-itself.

    Namun, di tengah pemikiran Sartre yang mendalam tentang kematian, muncul pertanyaan filosofis yang menarik: bagaimana manusia dapat menemukan makna dan tujuan dalam kehidupan, ketika kematian terus mengintai tanpa memberikan petunjuk yang jelas?

    Gagasan Sartre, mendorong orang melalui catatan kritis untuk merenung, tidak hanya tentang absurditas kematian, tetapi juga tentang kemampuan manusia menciptakan makna sendiri dalam keadaan yang serba tidak pasti.

    Dengan demikian, pandangan tentang kematian bukanlah sekadar penggambaran kekosongan, melainkan panggilan untuk menemukan arti yang lebih dalam di tengah ketidakpastian eksistensi manusia. Manusia, dengan kebebasan eksistensial yang dimiliki, bukanlah pengada yang berjalan menuju kematian, apalagi menantikan atau mengharapkan kematian sebagai tujuan akhir.

    Kematian, dalam perspektif Jean-Paul Sartre, merupakan realitas yang datang dari luar dan dengan cara yang radikal mematahkan eksistensi manusia yang sejauh ini terarah kepada dan melalui kebebasan. Dalam pandangannya, kesadaran akan kematian tidak hanya memberikan tanda bahaya terhadap hidup yang akan berakhir, tetapi juga mengharuskan manusia untuk merenung mendalam tentang makna eksistensi diri di dunia.

    Kesadaran akan kematian membawa seseorang mempertanyakan nilai dan makna dari pekerjaan manusia di dunia ini. Konsep kematian mengajak orang untuk mengevaluasi apakah upaya manusiawi dalam mengejar barang-barang duniawi, yang nilainya pada akhirnya terbatas, memiliki makna sejati. Dalam konteks ini, makna fundamental eksistensi manusia tidak dapat terletak pada akumulasi materi atau kekayaan pribadi yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pribadi semata.

    Sebaliknya, kematian mengingatkan kita bahwa pada saat akhirnya tiba, segala sesuatu yang dikejar dan dimiliki dalam kehidupan ini akan ditinggalkan. Oleh karena itu, pertanyaan tentang makna hidup dan tujuan eksistensi manusia menjadi semakin mendalam dan mendesak.

     Harapan yang tidak padam, walau kadang sinar meredup, sumber foto: Pexels

     

    Sebagian filsuf mempunyai keyakinan bahwa kematian, sebagai guru kebijaksanaan terakhir, meruntuhkan ilusi kekayaan dan kepemilikan yang hanya bermuara pada kepentingan pribadi semata-mata. Pandangan ini menggambarkan bahwa segala harta dan materi yang diakumulasi dalam hidup ini, jika hanya diperuntukkan bagi kepuasan diri sendiri, hanyalah bentuk kesia-siaan.

    Sebaliknya, kematian menyinari jalan menuju pemahaman bahwa nilai sejati terletak pada bagaimana barang-barang hasil kebudayaan dapat dijadikan alat untuk meningkatkan martabat sesama manusia. Seperti yang diutarakan oleh Emmanuel Levinas (1906-1995), barang-barang bukanlah benda yang harus ditumpuk demi kekayaan pribadi, melainkan sarana yang harus diberikan untuk kepentingan bersama. Dalam konteks ini, hidup menjadi lebih berarti ketika berbagai aspek kehidupan diarahkan untuk memberikan kontribusi positif kepada orang lain.

    Lebih lanjut, pandangan ini mengajak kita untuk menangkap makna kebebasan dengan merangkai pengalaman hidup yang membangun, melebihi batas diri, dan menciptakan kebaikan bersama. Oleh karena itu, hidup di masa kini menjadi lebih bermakna ketika diisi dengan tindakan nyata yang mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan.

    Adanya kematian tidak meredupkan harapan yang dimiliki manusia. Menurut Fyodor Dostoyevsky (1821-1881), hidup tanpa harapan berarti berhenti hidup. Harapan menjadi kunci untuk menjalani kehidupan dengan makna yang mendalam. Kematian bukanlah entitas yang merampas harapan. Bahkan, dalam tradisi keagamaan kuno, diungkapkan bahwa upah dari menjalani kehidupan ini adalah kesempatan menyampaikan kabar gembira tanpa imbalan. Imbalan yang didapat jelas yakni kemampuan untuk berpartisipasi dalam menjalani kehidupan dengan baik. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti berharap dan teruslah menjalani hidup menuju harapan yang mulia.

     

  • Mabuk Material Dahaga Spiritual

    Mabuk Material Dahaga Spiritual

    Oleh J. Sumardianta

     

    MASYARAKAT zaman mutakhir abad ke-21, sebagaimana diuraikan sosiolog David Myers dalam Spiritual Hunger in an Age of Plenty (2000), sedang menderita kebangkrutan jiwa. Busung lapar spiritual di tengah kemakmuran material. Digaji lebih baik, mengonsumsi makanan lebih kenyang, punya rumah lebih bagus, akses pendidikan lebih tinggi, lebih sehat ketimbang masa lalu, berkomunikasi lebih lancar, serba kecukupan informasi, dan didukung transportasi sangat nyaman.

    Ironisnya, perceraian berlipat ganda, bunuh diri remaja berlipat tiga, kriminalitas berlipat empat, dan populasi penjara berlipat lima.

    Kemarau panjang spiritual tidak hanya mendera masyarakat zaman mutakhir. Tujuh abad lalu sudah membuat sesak masyarakat Eropa. Saat itu gereja Abad Pertengahan dikuasai para ilmuwan yang terlalu bersemangat dalam mendewakan filsafat dan teologi. Kaum intelektual larut dalam perdebatan yang tak jelas juntrungannya. Mereka terlalu mengagungkan akal budi, menyombongkan kepandaian, sibuk berwacana, dan bersilat lidah. Debat kusir para ilmuwan bukan demi kebenaran, melainkan nafsu mendapatkan pengakuan serta kemasyhuran sebagai cerdik pandai.

    Para pemuka agama dan biarawan sibuk mengurusi harta benda. Nafsu keduniawian tentu bertentangan dengan semangat Injil. Kehidupan rohani mangkrak. Spiritualitas terbengkalai. Ritual agama bercorak artifisial. Umat terjerumus di kubangan ritual berbagai sekte. Larut dalam praktik takhayul guna mendatangkan keajaiban (mukjizat) yang tak masuk akal.

    ***

    Gereja mendapatkan terobosan pembaharu. Reformasi, sebagaimana diuraikan Sindhunata dalam Mustakaning Pangabekti Thomas A. Kempis (2019), digerakkan para anggota biara pertapaan kontemplatif. Gerhard Groote (1340–1384) pelopor gerakan kebangunan rohani devotio moderna (bakti zaman modern). Gerakan pembaharuan hidup menggereja yang mengutamakan kedalaman batin sekaligus kesalehan sosial.

    Thomas A. Kempis (1379–1471), tokoh disrupsi gereja, mendapat inspirasi dari devotio moderna. Dia melihat, merasakan, dan mengalami kemerosotan gereja. Dia tidak membongkar atau merobohkan gereja. Dia memperbaikinya dari dalam.

    Thomas terkesan kurang memberikan tempat pada budi dan ilmu. ”Saya lebih ingin merasakan hati nelangsa ketimbang mengerti bagaimana cara mengungkapkannya secara teliti. Lebih terpuji menjadi petani bersahaja yang istiqamah ketimbang jadi cerdik pandai takabur yang abai merawat jiwa. Tiada faedah memperdebatkan perkara absurd bergelimang simbol. Di pengadilan terakhir kelak tak akan ditanyakan karena memang sebenarnya tak paham.”

    Thomas bukan cerdik pandai yang menekuni ilmu. Tidak berarti dia meremehkan ilmu. Thomas gemar membaca. Dia piawai menulis. Keduanya merupakan kesenangan obsesif. ”Dalam seluruh pencarian hidup tenteram, tidak pernah kedamaian saya temukan selain saat sendirian membaca buku.” Di pusara Thomas tertulis Hoexken met en Boexken – in angello cum libelo – Mojok sendiri sambil baca buku.

    Thomas digolongkan contemptus mundi. Tulisannya seperti meremehkan segala yang bersifat keduniawian. Sebaliknya, meluhurkan keilahian dan keabadian. Thomas pernah berujar, ”Jika kamu menghindari menggosip tiada guna, tidak keluyuran ke mana-mana, pasti punya waktu untuk mempertimbangkan perkara-perkara mulia.”

    Pernah dituduh sebagai penganut Quietismus. Menganjurkan sikap pasif. Menjauhi keramaian. Pandangan seperti itu keliru. Thomas memang menekankan kesabaran, kerendahan hati, dan kepasrahan. Ketiganya hanya bisa diwujudkan dalam aktivitas nyata keseharian yang berguna bagi sesama. Dia tidak mengagung-agungkan sikap pasif menikmati hidup damai sebagai rahib.

    Seorang pekerja keras yang tekun. Pernah menjadi wakil pimpinan biara. Pernah bertugas sebagai bendahara. Guru bagi para calon anggota pertapaan. Bukan hanya pertapa yang pasif berdoa. Thomas punya keyakinan begini. ”Demi menolong mereka yang menderita dan sengsara, pekerjaan boleh kau tinggalkan sementara. Pekerjaan utama tidak dibatalkan, tapi diganti yang lebih luhur. Tanpa cinta kepada sesama, pekerjaan tidak akan bermakna.”

    Thomas sering disebut pemikir exselsus mentis, kidung cinta. Kidung cintanya sejalan dengan gagasan reformis Martin Luther (1483–1546). Simul justus et precator. Sola fide et sola gratia. Aku yang berdosa ini, karena iman dan rahmat, beroleh kebahagiaan dan keselamatan. Wir sind bettler, das ist wahr. Aku ini hanyalah pengemis, itu nyata. Nah, Thomas Kempis juga menyebut manusia sebagai orang berdosa yang tidak pantas di hadapan Tuhan. ”Bagaikan pengemis yang diundang pesta orang kaya.” Martin Luther dan Thomas memang menekankan sikap rendah hati.

    Thomas mumpuni dalam menelisik kejiwaan manusia sekaligus memberikan terapinya. Kesucian sebenarnya bisa diraih melalui perkara-perkara sepele dan bersahaja dalam keseharian hidup. Jika bisa membebaskan diri dari jerat keinginan yang tak mungkin dipenuhi, manusia pasti bakal merasa ringan, tenteram, dan merdeka.

    Jiwa merana terjerat godaan mendapat pertolongan. Mereka yang dirundung kesedihan mendapat penghiburan. Yang ragu-ragu dibuat bergairah. Yang letih lesu karena berbeban berat dikuatkan. Manusia yang kepribadiannya seperti kincir angin bakal terus diombang-ambing perasaan kecewa, sedih, khawatir, dan bosan. Sumber emosi tak terkendali adalah rasa cinta diri yang keterlaluan. Manusia menjadi gila hormat dan haus pengakuan. Galau dalam ketegangan bila tak dihargai.

    Ketergantungan akut akan pengakuan orang lain itulah yang menjadi salah satu keprihatinan Thomas. Pemikirannya, sudah berabad-abad, menjaga dan merawat keyakinan umat gereja. Thomas melakukan interiorisasi perihal yang baik dan buruk. Pun yang benar dan salah. Dari wilayah eksterior masyarakat yang memuja keduniawian menuju suara hati yang amat personal (interior).

    ”Jangan pergi keluar. Pulanglah ke dalam bilik diri. Dalam pribadi yang mengarah di kedalaman bersemayam kebenaran.” Itulah ungkapan St Agustinus yang memengaruhi Thomas A. Kempis. Thomas kembali ke puri kedalaman batin. Di sana dia menemukan kehendak sebagai juru perantara damai antara nalar dan nafsu.

    Thomas A. Kempis penulis buku De Imitatione Christi. Sudah berabad-abad kitab kebaktian Kristen karyanya diandalkan sebagai senjata ampuh gereja. Merupakan bacaan kedua terbanyak setelah kitab suci. Para santo, santa, pujangga gereja, dan orang biasa mengambil manfaat dari buku tersebut. Santo Carolus Borromeus, Paus Pius V, Philiphus Neri, Benediktus Labre, dan Petrus Kanisius tak pernah lepas dari buku itu. Sampai ada seloroh: jika Anda ingin menjadi orang suci, bacalah De Imitatione Christi. Sejarah kekeringan spiritual selalu berulang. Kendati demikian, mari tetap bersyukur untuk segala hal. (*)

    ______________________________________

     

    Sumber Tulisan, Jawa Pos, Minggu, 22 – 12 – 2019

     

    J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese De Britto Yogyakarta

     

     

  • Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Menulis Syair untuk Presiden 2024

    Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Menulis Syair untuk Presiden 2024

     

    Jakarta, berandanegeri.com – Penyair dan Sastrawan Pulo Lasman Simanjuntak (62 tahun) dalam menyambut Pemilihan Umum (Pemilu) 14 Februari 2024, sekaligus Pemilihan Presiden RI Tahun 2024.

    Menulis syair untuk presiden dalam format sajak dan puisi yang akan meng-kritisi dan memberikan solusi untuk tujuan masa depan bangsa ini.

    Dengan menulis syair untuk presiden dalam bahasa sastra serta batin terluka para penyair.

    Maka akan ditemukan secercah harapan dan pengharapan seluruh masyarakat Indonesia untuk menuju kepada bangsa yang berbudaya, beradab, sejahtera, dan makmur lahir dan batin.

    Berikut puisi dwi bahasa (Indonesia dan Inggris).Selamat membaca.

     

    MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN

    -episode pertama-

     

    menulis syair untuk presiden
    aku melihat tingkap-tingkap langit terbuka lebar
    seperti percakapan tadi pagi
    di meja kaca tanpa daging
    kehilangan pasangan
    tak punya kenangan

    kenapa harga pangan terus melambung tinggi, tanyamu
    setinggi burung gagak
    terbang ke lumbung kematian sangat gersang
    kering kerontang

    kenapa nilai mata uang
    tak bisa lagi menari-nari
    bersama matahari pagihari
    menyambut kekusaman hati
    memasuki negeri di bawah telapak kaki

    menulis syair untuk
    presiden
    aku menatap jutaan manusia langka
    tak punya otak
    minta sedekah
    tangannya berapi
    untuk publikasi sejati

    tanah tumpah darah
    di seberang pulau berair
    masihkah ada investor
    menebar benih-benih palsu
    yang tak bisa dihitung
    dengan sempoa atau kucing liar dalam.karung

    Jakarta, Kamis 1 Februari 2024

    _________________________________

     

    MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN

    -episode dua-

     

    jika aku jadi presiden
    aku akan melanjutkan
    menulis syair ini
    sambil menghitung jumlah utang negara
    di bawah awan garang
    bahkan angan-angannya telah dikorupsikan mencapai delapan puluh triliun rupiah

    setelah itu
    kutelan rakus ribuan kilometer
    jaringan jalan tol, kereta api cepat, bendungan tak bisa dijebol, dan mobil listrik yang sering meledak di pinggir jalan protokol

    sekarang lihatlah,
    aku sudah jadi presiden
    tak punya janji
    hanya kusodorkan
    perawan berpendidikan
    anak-anak mampu berlarian
    mengejar sejumlah harapan
    tanpa harus jadi pesakitan

    karena masa depan
    bukan lagi milik pesyair
    yang rajin menulis syair
    untuk disodorkan
    di pintu gerbang negarawan
    acapkali kebakaran
    uraikan kemacetan di seputar
    bunderan kematian

    Jakarta, Kamis 1 Februari 2024

    _________________________________________

    WRITE A LETTER TO THE PRESIDENT

    – first episode-

     

    write a letter to the president
    I saw the windows of heaven wide open
    like the conversation this morning
    on the glass table without meat
    loss of spouse
    don’t have memories

    why food prices continue to soar, you ask
    as tall as a crow
    flying to the brink of death
    very arid
    was very dried

    why currency value
    can’t dance anymore
    with the morning sun
    welcome to the heartwarming
    entering the land underfoot

    writing poetry for
    President
    I stare at millions of rare humans
    no brain
    ask for alms
    his hands are on fire
    for true publication

    the land of blood
    across the watery island
    is there an investor
    sowing the false seeds
    which cannot be counted
    with an abacus or a stray cat in a sack

    Jakarta, Thursday 1 February 2024

     

    _____________________________________

     

    WRITE A LETTER TO THE PRESIDENT

    – episode two-

     

    if I were president
    I will continue
    write this poem
    while calculating the amount of state debt
    under fierce clouds
    even his dreams have been corrupted to reach eighty trillion rupiah

    after that
    thousands of miles of ice
    toll road networks, high-speed trains, dams cannot be broken, and electric cars that often explode on the side of protocol roads

    now look,
    I’m already president
    no promises
    just give me a hand
    educated Virgin
    children can run
    chasing a certain amount of hope
    don’t have to be a pain

    because the future
    no longer belongs to the Peshmerga
    the one who writes poetry
    to be proffered
    at the gate of statesmen
    frequent fires
    break the traffic jam around
    circle of death

    Jakarta, Thursday 1 February 2024

     

    ________________________________________

     

    Tentang Penyair

     

    Pulo Lasman Simanjuntak, menulis puisi pertama kali berjudul IBUNDA dimuat di Harian Umum KOMPAS pada bln Juli 1977.Setelah itu karya puisinya sejak tahun 1980 sampai tahun 2024 telah dimuat di 23 media cetak (koran, suratkabar mingguan, dan majalah) serta tayang (dipublish) di 143 media online dan majalah digital di Indonesia maupun di Malaysia.
    Karya puisinya juga telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 diberi judul MEDITASI BATU.Selain itu juga puisinya terhimpun dalam 26 buku antologi puisi bersama para penyair seluruh Indonesia.
    Saat ini sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), anggota Sastra ASEAN, Dapur Sastra Jakarta (DSJ) Bengkel Deklamasi Jakarta (BDJ) Sastra Nusa Widhita (SNW) ,Pemuisi Nasional Malaysia, Sastra Sahabat Kita (Sabah, Malaysia), Komunitas Dari Negeri Poci (KDNP), Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Kampung Seni Jakarta, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Sastra Reboan, Forbes TIM, dan Sastra Semesta.
    Sering diundang baca puisi , khususnya di PDS.HB.Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.
    Bekerja sebagai wartawan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
    Kontak Person : 08561827332 (WA)
    Email : pulo_lasman@yahoo.com
    Instagram : @lasman simanjuntak
    Tiktok : @lasmansimanjunta
    Facebook : Bro
    Youtube : Lasman TV

  • Pilpers 2014  dan  Kita

    Pilpers 2014 dan Kita

    Ignas Kleden 

     

     

    Pada 9 Juli 2014 rakyat Indonesia akan memilih calon yang menjadi presiden mereka untuk lima tahun mendatang. Para pemilih akan berhadapan dengan tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan dengan pilihan yang mereka lakukan terhadap anggota DPR, misalnya.

    Kita tahu ada 560 kursi di DPR untuk para legislator terpilih. Seandainya di antara jumlah itu ada 260 anggota Dewan terpilih yang ternyata tidak sanggup menjalankan tugas dengan baik, kekurangan mereka masih dapat dikompensasi oleh 300 anggota lainnya yang dengan tanggung jawab, kompetensi, dan dedikasi melaksanakan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran sebagai tugas anggota Dewan. Risiko dalam memilih calon memang ada, tetapi diperkecil oleh kehadiran dan kinerja calon lainnya. Hal ini tidak berlaku pada pemilihan presiden karena yang menjadi presiden hanya satu orang. Seandainya presiden terpilih tidak menjalankan tugasnya dengan benar, tidak ada pihak lain yang dapat mengimbangi kelemahannya, dan seandainya dia melakukan hal-hal yang tidak diharapkan, hal itu harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia selama lima tahun, karena tak ada mekanisme politik untuk menurunkan presiden dari jabatannya di tengah jalan.

    Impeachment hanya mungkin dilaksanakan dalam keadaan yang amat sangat langka, yaitu kalau presiden terbukti melanggar konstitusi atau terlibat dalam suatu skandal besar. Ini semua berarti, para pemilih presiden mempunyai tanggung jawab yang amat besar karena pilihan yang mereka lakukan akan membawa akibat bukan hanya buat diri mereka sendiri, melainkan juga buat banyak orang lain, bahkan untuk seluruh rakyat dan masyarakat Indonesia. Memilih presiden sama dengan menentukan hitam-putihnya masa depan seluruh bangsa dan jatuh-bangunnya negara Republik IndonesiaI.

    Apa pun soalnya, pemilihan presiden bukanlah teka-teki yang hanya bisa ditebak, tetapi keputusan yang dibuat oleh para pemilih berdasarkan preferensi setiap orang entah karena alasan pribadi, ideologi, atau karena pengaruh lingkungan. Apakah ada kriteria yang dapat menjadi pegangan dalam melakukan pilihan? Pemilihan presiden bukan sekadar tindakan pribadi, melainkan juga tindakan politis yang berhubung dengan pertimbangan politik dan membawa akibat politik.

    Visi dan misi umpamanya disusun dan disosialisasikan oleh seorang calon presiden dan para pendukungnya agar para pemilih tahu apa kira-kira yang akan dilakukan seorang calon presiden apabila dia diberi mandat oleh rakyat menjadi presiden mereka. Visi dan misi menunjukkan apa yang hendak dilakukan dan ingin dilakukan, meskipun belum menunjukkan apakah seorang presiden sanggup melaksanakan apa yang dikehendakinya menurut visi dan misi yang diumumkan.

    Kalau kita membaca visi dan misi kedua calon presiden saat ini, cukup jelas bahwa keprihatinan dasar kedua calon tak banyak bedanya: kesejahteraan rakyat, penguatan kebangsaan, dan tegaknya Indonesia sebagai negara dan bangsa yang berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Ini tidak mengherankan karena baik Prabowo maupun Jokowi sama-sama nasionalis dalam orientasi politik mereka. Langsung atau tidak keduanya diilhami gagasan Bung Karno tentang Trisakti, yakni daulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Perbedaan baru terlihat dalam cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan mereka.

     

    Berbasis materiil kebudayaan

    Dengan perspektif kebudayaan, saya cenderung berpendapat bahwa visi dan misi Prabowo bertolak dari perubahan basis materiil kebudayaan. Yang hendak dilakukan adalah menggerakkan semacam revolusi pertanian dalam ukuran kecil. Menurut rencana, akan dibuka 2 juta hektar lahan baru untuk produksi pangan dengan menyerap lebih dari 12 juta tenaga kerja. Selanjutnya, akan dicetak 2 juta hektar lahan untuk aren, ubi kayu, sagu, kelapa, kemiri, dan bahan baku untuk bioetanol, juga dengan menyerap lebih dari 12 juta tenaga kerja. Produktivitas pertanian rakyat, peternakan dan perikanan akan ditingkatkan dengan menambah dana riset sebanyak Rp 10 triliun selama periode 2015-2019.

    Dalam bidang infrastruktur dasar akan dibangun jalan dan jembatan, termasuk 3.000 kilometer jalan raya nasional baru dan modern serta 4.000 kilometer rel kereta api. Untuk rakyat yang belum punya rumah, akan disediakan perumahan bagi 15 juta orang, dan satu juta unit rumah susun yang dapat dicicil selama 20 tahun. Hutan yang rusak akan dihijaukan kembali dengan reboisasi 77 juta hektar. Bahkan, pendidikan hendak ditingkatkan mutunya dengan perbaikan pada basis materiil, baik dengan memberi dana perbaikan fasilitas pendidikan sebesar Rp 150 juta per sekolah untuk pendidikan dasar dan menengah maupun dengan mengalokasikan Rp 20 triliun dari APBN untuk pendidikan universiter selama 2015-2019. Jumlah guru akan diperbanyak dengan merekrut 800.000 guru selama lima tahun dan profesi guru akan diberi tunjangan rata-rata Rp 4 juta per bulan.

    Perubahan-perubahan yang hendak dilakukan oleh Prabowo dicoba dilaksanakan melalui proyek-proyek berskala besar dengan ukuran yang ditetapkan secara kuantitatif. Sama sekali belum jelas bagaimana visi mengenai dampak sosial dan biaya sosial dari perubahan-perubahan itu. Apakah perubahan pada basis materiil kebudayaan mendapat dukungan atau resistensi pada basis sosial dan basis mental kebudayaan? Patut dipikirkan, apakah pembukaan 4 juta hektar lahan baru benar-benar menyentuh kepentingan rakyat yang perlu lapangan kerja, atau bahkan mengakibatkan munculnya landlords, yaitu penguasa lahan yang baru, dan oligarki baru dalam bidang pertanian?

    Pertanyaan ini berlaku juga untuk pembangunan rumah bagi 15 juta rakyat yang belum mempunyai rumah dan pengadaan satu juta unit rumah susun. Menurut pengalaman masa lalu, menggenjot pertumbuhan ekonomi dalam bidang apa pun selalu lebih dapat tertangani daripada membereskan persoalan pemerataan dan redistribusi pendapatan. Mungkin semua ini sudah dipikirkan oleh Prabowo dan timnya, tetapi belum terlihat dalam visi dan misi yang diumumkan kepada publik.

     

    Perubahan pada manusianya

    Calon presiden Jokowi, sebaliknya, ingin memulai perubahan pada manusianya. Dia menyebutnya revolusi mental dan perubahan dalam pembentukan karakter bangsa. Rencana ini mungkin akan diimplementasikan melalui berbagai cara, tetapi cara yang sudah dijelaskan dalam visi dan misi adalah melalui kurikulum di sekolah. Akan diadakan pembalikan total proporsi pendidikan karakter dalam perbandingan dengan pengajaran ilmu pengetahuan pada berbagai tingkat pendidikan formal. Asasnya, semakin rendah tingkat pendidikan (seperti PAUD atau SD), semakin kecil porsi pengajaran ilmu pengetahuan dan semakin besar porsi pendidikan karakter. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar porsi pengajaran ilmu pengetahuan dan semakin kecil porsi pendidikan karakter (yang diharap sudah terbentuk pada tingkat pendidikan sebelumnya).

    Tentu saja besar kecilnya proporsi pendidikan karakter dan pengajaran ilmu pengetahuan akan ditetapkan dengan bantuan para ahli pendidikan dan ahli psikologi. Akan tetapi, untuk contoh saja, hal itu dapat diilustrasikan sebagai berikut. Pada tingkat SD perbandingannya 80 persen pendidikan karakter dan 20 persen pengajaran ilmu pengetahuan. Proporsi ini akan berubah sesuai dengan naiknya tingkat pendidikan, sehingga di universitas proporsinya menjadi terbalik, yaitu 80 persen pengajaran ilmu pengetahuan dan 20 persen pendidikan karakter. Usul ini boleh dianggap suatu revolusi dalam bidang pendidikan, karena sudah puluhan tahun para perencana pendidikan di Indonesia seakan terbuai oleh ilusi bahwa segala tingkat pendidikan di sekolah harus dijejali dengan pengajaran ilmu pengetahuan. Anak-anak SD memikul tas penuh buku di punggungnya, seakan mereka adalah mahasiswa doktoral yang tengah menulis disertasi atau peneliti yang sedang mengecek teori penelitiannya.

    Pada titik ini, pendidikan menjadi contoh terbaik bahwa tanpa mengubah basis mental dan basis sosial, perubahan pada basis materiil pendidikan (misalnya penambahan dana besar-besaran) tidak akan membawa perbaikan, dan sangat mungkin memperburuk keadaan. Kalau kesalahan dalam orientasi pendidikan nasional dan kebijakan yang keliru tidak dibenahi terlebih dahulu, penambahan dana pendidikan malahan memungkinkan terjadinya semakin banyak penyelewengan yang berasal dari orientasi dan kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan hakikat pendidikan. Kalau buku pelajaran bisa diperbarui setiap tahun, penambahan dana pendidikan akan memungkinkan pencetakan buku-buku pelajaran baru yang serba coba-coba dan dalam praktiknya semakin menambah kebingungan, bukan saja di antara murid, melainkan juga di kalangan guru-guru mereka.

    Sudah sejak abad ke-19 ahli bahasa dan filosof pendidikan Jerman, Wilhelm von Humboldt, memberi definisi pendidikan tinggi yang masih dipegang teguh oleh banyak universitas di Jerman hingga sekarang. Menurut filosof ini, hakikat pendidikan tinggi di universitas adalah Bildung durch Wissenschaft atau pendidikan melalui ilmu pengetahuan. Hanya di universitaslah pendidikan memakai ilmu pengetahuan sebagai sarananya, sedangkan tingkat pendidikan yang lebih rendah memakai banyak sarana lain di samping pengajaran ilmu pengetahuan.

    Sarana-sarana lain tersebut dapat berbentuk bermain, olahraga, kerajinan tangan, melukis, berlatih musik dan bernyanyi, tarian dan drama, berdebat dan berpidato atau membaca puisi, pendidikan agama dan budi pekerti, serta berbagai sarana lainnya. Dengan demikian, menjejali otak anak-anak SD dengan berbagai pengajaran ilmu pengetahuan akan menjurus ke suatu materialisme pedagogis yang hanya menghasilkan informasi, tetapi mengabaikan formasi sebagai inti pendidikan.

    Selain pendidikan, hal lain yang mencolok dalam visi dan misi Jokowi ialah perhatian utama yang amat nyata pada golongan yang paling terpinggirkan dalam pembangunan: nasib pulau-pulau terdepan dan para guru di daerah terpencil, keadaan para TKW di luar negeri yang hampir tanpa perlindungan, pedagang kaki lima dan pasar tradisional, para petani gurem yang hendak ditingkatkan kepemilikannya atas lahan pertanian dari rata-rata 0,3 hektar menjadi 2 hektar per kepala keluarga, keterlibatan kaum perempuan yang perlu didorong menjadi tulang punggung dalam kedaulatan pangan, dan adanya 1.000 desa yang mempunyai kedaulatan pangan hingga 2019.

    Kita mungkin teringat peribahasa yang mengatakan bahwa kekuatan rantai selalu ada pada mata-rantai yang paling lemah, karena bagian inilah yang menentukan apakah rantai itu dapat digunakan atau harus dibuang karena mudah putus. Dengan kata lain, slogan putting the last first rupanya menjadi sebuah sikap politik dalam visi Jokowi tentang pembangunan.

    Hal lain yang amat penting dan belum mendapat cukup perhatian ialah hubungan di antara seorang pemimpin dengan kekuasaannya. Kekuasaan tak terhindarkan dalam politik karena menjadi sarana utama agar suatu pemerintahan dapat bekerja dan mewujudkan berbagai kebijakan publiknya. Akan tetapi, semenjak masa hidup Lord Acton (ingat adagiumnya power corrupts?), kita sudah belajar bahwa kekuasaan dapat diibaratkan juga sebagai sejenis penyakit yang dapat merusak sehatnya kehidupan sosial-politik.

    Ada dua sifat penyakit ini yang sudah terbukti dalam sejarah dunia, yaitu kecenderungan kekuasaan untuk selalu memperbesar dirinya dan enggan atau tak sanggup membatasi dirinya, serta kecenderungan lain untuk selalu membenarkan diri dan enggan atau tak sanggup mempersalahkan dirinya. Dalam kaitan itu, ada pemimpin dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap penyakit itu, dan ada pula yang lebih imun terhadap bahaya penyakit kekuasaan. Seorang yang rentan dapat diubah oleh kekuasaan menjadi pribadi yang lain sama sekali dari yang kita kenal sebelumnya dan sulit diramalkan tindak tanduknya. Memilih pemimpin dengan tingkat imunitas yang tinggi terhadap penyakit kekuasaan adalah jalan terbaik untuk menjamin masa depan yang dapat diramalkan karena adanya pola kepemimpinan yang tidak dikacaukan oleh watak kekuasaan.

     

    —————————————————–

     

    Sumber Tulisan: Kompas, 08 Juli 2014