Oleh Fitzerald Kennedy Sitorus
Agar dapat dengan tepat memahami
metakritik yang dilakukan oleh Hegel terhadap Kant, maka tulisan yang sangat
singkat ini disusun dengan struktur demikian: Pada bagian I, saya akan
menggariskan filsafat transendental Kant, bagian II berisi metakritik Hegel
terhadap Kant, bagian III tentang „penduniaan“ atau detransendentalisasi rasio
oleh Hegel serta Dialektika Tuan-Budak yang merupakan momen dialektis dari mana
kesadaran-diri muncul secara historis (III.). Bagian terakhir (IV) berisi
tanggapan kritis atas kritik Hegel atas Kant serta pengaruh filsafat Hegel.
I.Filsafat
Transendental Kant
Kant sering disalahpahami. Salah paham itu biasanya menilai Kant sebagai
„penghancur segala sesuatu“, termasuk metafisika (Kant adalah der Alleszermalmer, kata Moses
Mendelssohn), atau bahwa filsafat teoretis Kant adalah sebuah epistemologi
(teori pengetahuan) karena Kant hendak menjelaskan proses terjadinya
pengetahuan. Kant juga sering dikatakan hendak mendamaikan pertentangan antara
rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa
rasio adalah sumber pengetahuan, sebaliknya, empirisme mengatakan bahwa sumber
pengetahuan adalah pengalaman empiris.
Sesungguhnya,
identifikasi-identifikasi demikian keliru. Intensi Kant bukanlah untuk
menghancurkan metafisika, melainkan justru untuk membangun-ulang metafisika di
atas dasar yang sama sekali baru, dengan maksud agar metafisika dapat menjadi
ilmiah, sama seperti ilmu-ilmu alam. Kant juga tidak hendak menjelaskan
terjadinya pengetahuan, melainkan hendak menjelaskan syarat-syarat yang memungkinkan terjadinya pengetahuan. Distingsi
ini perlu dipahami dengan cermat. Penjelasan tentang terjadinya pengetahuan itu
termasuk dalam bidang epistemologi (teori pengetahuan). Tapi penjelasan tentang syarat-syarat yang memungkinkan
terjadinya pengetahuan, itu masuk dalam wilayah filsafat transendental. Inilah
yang diteliti oleh Kant. Jadi, pertanyaan Kant bukanlah pertanyaan
empiris-epistemologis: bagaimana terjadinya
pengetahuan? (wie ensteht die
Erfahrung), melainkan transendental: bagaimana
pengetahuan itu mungkin, lebih tepat lagi: apa yang terdapat di dalam pengalaman itu? (wie ist Erfahrung möglich?
genauer: was in ihr liegt? (dalam Prolegomena,
A 87, § 21). Kant menegaskan: „Kata transendental bagi saya tidak menyangkut
hubungan pengetahuan kita dengan benda-benda, melainkan hanya menyangkut
kemampuan pengetahuan kita“ (Prolegomena,
A 71). Dan kalau kemudian rasionalisme dan empirisme terdamaikan (tersintesakan)
dalam filsafat Kant, itu adalah konsekuensi dari proyek filsafat
transendentalnya, dan bukan merupakan intensi Kant sendiri.
Pertanyaan yang menjadi titik-tolak
seluruh filsafat Kant berbunyi: „Wie ist
Metaphysik als Wissenschaft möglich? Bagaimana metafisika sebagai ilmu
pengetahuan itu mungkin? (Pengantar Kritik der
reinen Vernunft/Kritik Akal Budi Murni, B 23). Mengapa Kant mengajukan
pertanyaan ini? Jawabnya, karena Kant melihat bahwa sejak zaman Yunani Kuno
metafisika tidak mengalami kemajuan sama sekali. Para filsuf selalu saling
menyangkal dan membatalkan pendapat filsuf sebelumnya. Metafisika menjadi
„medan pertarungan tanpa akhir“, katanya (Prakata, KdrV, A VIII). Perkembangan sebaliknya terjadi pada ilmu-ilmu
alam. Ilmu-ilmu ini maju secara konstan dan progresif. Sekali sebuah teori
ditemukan maka teori itu dapat menjadi pijakan untuk penemuan berikutnya. Tidak
ada teori yang saling menyangkal dalam ilmu alam. Nah, Kant, yang sangat
mengagumi Newton, ingin agar metafisika juga dapat menjadi ilmiah sebagaimana
ilmu-ilmu alam.
Tapi bagaimana menjawab pertanyaan
mengenai: „Bagaimana metafisika sebagai ilmu pengetahuan itu mungkin?“ Tentu,
pertanyaan ini tidak bisa diteliti secara langsung. Strategi penelitian yang
dilakukan Kant adalah dengan mereformulasi pertanyaan tersebut, demikian:
Pertanyaan mengenai kemungkinan metafisika sebagai ilmu pengetahuan hanya bisa
dijawab dengan lebih dulu menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan ilmu
pengetahuan: bagaimana ilmu pengetahuan
itu mungkin? Dan pertanyaan mengenai kemungkinan ilmu pengetahuan hanya
bisa dijawab dengan lebih dulu menjawab pertanyaan: bagaimana “pengetahuan yang bersifat umum dan niscaya“
itu mungkin, karena yang disebut ilmu pengetahuan adalah proposisi-proposisi
yang bersifat umum dan niscaya. Dan pertanyaan mengenai kemungkinan pengetahuan
yang bersifat umum dan niscaya hanya bisa dijawab dengan meneliti: bagaimana
„putusan-putusan sintesis apriori“ itu mungkin, karena ilmu pengetahuan terdiri
dari putusan-putusan sintesis apriori. Contoh putusan sintesis apriori itu:
„semua kejadian pasti ada penyebabnya“ atau „semua benda jatuh dari atas ke
bawah“ atau „air akan mendidih kalau dipanasi hingga 100 derajat celcius“. Oleh
karena itu Kant memulai penelitiannya dengan meneliti pertanyaan mengenai:
„bagaimana putusan sintesis apriori itu mungkin?“ (B 19).
Kant mengidentifikasi ada tiga jenis
putusan:
1.Putusan analitis:
putusan yang tidak menambahkan informasi apapun pada subyek putusan. Misalnya: Bujangan
adalah orang yang belum menikah. Putusan ini tidak menghasilkan pengetahuan
baru, tidak memperluas pengetahuan, dan karena itu tidak dapat menjadi prinsip
pengetahuan. Putusan ini khas putusan rasionalisme (mis: Descartes, Leibniz,
Wolff). 2. Putusan sintetis: putusan
yang menambahkan sesuatu pada subyek berdasarkan pengalaman (putusan sintetis
aposteriori). Misalnya: ruangan ini dingin. Dalam konsep „ruang“ tidak
terkandung konsep „dingin“. Konsep dingin diatributkan sebagai predikat kepada
konsep ruang berdasarkan pengalaman. Putusan ini khas empirisme (Hume, Locke).
Tapi karena pengalaman bersifat partikular dan kontingen, sementara ilmu
bersifat universal dan niscaya (misalnya putusan di atas) maka putusan ini
tidak dapat menjadi dasar ilmu pengetahuan.
Putusan yang menjadi dasar ilmu pengetahuan
itu disebut Kant 3. Putusan sintetis
apriori. Ini adalah jenis putusan yang bersifat sintetis (artinya: predikat
menambahkan sesuatu pada subyek), tapi bersifat apriori (penambahan itu tidak
diperoleh dari pengalaman) serta niscaya dan universal. Keniscayaan dan
universalitas putusan ini tidak mungkin diperoleh dari pengalaman karena
pengalaman selalu bersifat partikular dan kontingen. Putusan “semua kejadian
pasti ada penyebabnya“ bersifat sintetis karena predikat „penyebab“ tidak secara
konseptual terkandung dalam konsep „kejadian“, melainkan itu ditambahkan, tapi
bukan secara aposteriori (karena kita menghasilkan keputusan tersebut tanpa
harus meneliti semua kejadian yang pernah ada di muka bumi ini), melainkan
secara apriori (mendahului pengalaman). Dan putusan itu juga universal karena
berlaku di mana-mana dan kapan pun (lihat kata „semua“). (KdrV, B 11/A 7 dst).
Fakta keberlakuan putusan sintetis
apriori (sebagaimana terlihat dalam pernyataan-pernyataan ilmu-ilmu alam) membuktikan
bahwa ada struktur-struktur apriori dalam diri subyek yang memungkinkan
pengetahuan tersebut. Seperti dijelaskan di atas, putusan tersebut tidak
mungkin didasarkan atas pengalaman. Struktur apriori yang memungkinkan
pengetahuan inilah yang diteliti Kant dalam filsafat transendentalnya. „Tugas
utama Akal Budi Murni terkandung dalam pertanyaan ini: bagaimana putusan sintesis apriori itu mungkin?“ (KdrV, B 19).
Secara singkat, Kant kemudian
memperlihatkan bahwa struktur-struktur apriori yang memungkinkan pengetahuan
(putusan sintetis apriori) itu adalah 1. Ruang dan Waktu, 2. 12
kategori-kategori transendental dan 3. Saya transendental (das transzendentales Ich). Melalui sintesis antara
struktur-struktur apriori (struktur pikiran) dan keterberian obyek-obyek secara
aposteriori (empiris) inilah pengetahuan menjadi mungkin. Berdasarkan hal
inilah maka sering dikatakan bahwa Kant telah mendamaikan empirisme dan
rasionalisme. (Lebih jauh mengenai hal ini lihat buku saya: Das transzendentale Selbstbewusstsein bei Kant, Hamburg: Dr.
Kovac, 2008, hal 63-106).
Dari uraian di atas kita dapat
melihat bahwa locus penelitian Kant bukanlah pada obyek pengetahuan, melainkan
pada struktur pikiran kita yang
memungkinkan kita mengetahui obyek tersebut. Tapi, bagaimana struktur pikiran
bisa diteliti? Ya, tidak ada jalan lain kecuali dengan melihat bagaimana
pikiran bekerja untuk menghasilkan pengetahuan mengenai obyek itu. Jadi, Kant
„mempreteli“ proses terjadinya pengetahuan itu untuk melihat cara kerja dan instrumen
pikiran kita untuk menghasilkan pengetahuan itu. Jadi, fokus Kant adalah untuk
meneliti struktur pikiran yang menghasilkan pengetahuan mengenai obyek itu,
tapi untuk meneliti itu ia harus meneliti bagaimana pikiran bekerja dalam
menghasilkan pengetahuan tersebut. Struktur pikiran akan tercermin dan dapat
diihat dari cara kerjanya dalam menghasilkan pengetahuan. Karena itu, logika
argumentasi Kant selalu demikian: „harus ada kategori ini atau itu, sebab kalau
tidak, pengetahuan (mengenai obyek tersebut) tidak mungkin.“
Nah, karena kategori-kategori itu
menjadi syarat kemungkinan pengetahuan, maka kategori itu sifatnya
transendental. Artinya: dia harus dianggap ada, agar pengetahuan menjadi
mungkin; tanpa kategori-kategori itu pengetahuan tidak mungkin.
Kategori-kategori itu juga tidak mungkin dijadikan obyek pengetahuan sebab
justru merekalah yang memungkinkan pengetahuan; syarat-syarat kemungkinan
pengetahuan tidak mungkin dijadikan obyek pengetahuan. Pengetahuan yang kita
peroleh mengenai kategori-kategori tersebut (yakni bahwa mereka merupakan
syarat kemungkinan pengetahuan) dinamai Kant pengetahuan transendental.
Secara singkat, Kant memperlihatkan
bahwa semua pengetahuan bertolak dari keterberian obyek-obyek empiris kepada
subyek penahu, yang kemudian diresapi oleh si subyek melalui kategori-kategori
apriori keindrawian (yakni Ruang dan Waktu) dan selanjutnya diproses oleh
instrumen-instrumen pikiran (yakni, 12 kategori transendental) dan semua
pengalaman itu disintesakan oleh Kesadaran Diri Transendental (transzendentales Selbstbewusstsein).
Kant mengatakan: Gedanken ohne Inhalt
sind leer, Anschauungen ohne Begriffe sind blind; pikiran tanpa isi adalah
kosong, intuisi tanpa konsep adalah buta.(KdrV,
B 75/A 51). Obyek empiris itu adalah isi atau materi pengetahuan, sementara
pikiran manusia memberi bentuk (konsep) kepada materi itu; pengetahuan adalah sintesa antara materi dan bentuk/pikiran. Para
filsuf dalam metafisika tradisional selalu bertengkar mengenai konsep-konsep
metafisika karena mereka hanya memiliki pikiran tanpa isi/materi pengetahuan.
Pengetahuan transendental tentang
struktur pikiran itulah yang dimaksud oleh Kant dengan metafisika.
„Metafisika“, katanya „adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum akal budi
murni manusia“ (Reflexion 3952) atau
„sistem prinsip-prinsip semua pengetahuan apriori (AA XVIII, hal. 323). „Metafisika bukanlah sebuah filsafat
mengenai obyek-obyek, karena hal ini hanya dapat terberi melalui indra,
melainkan filsafat mengenai subyek, yakni hukum-hukum pikiran-nya“ (Reflexion
3716). Metafisika pada Kant bukanlah filsafat mengenai hal-hal yang melampaui
yang empiris/fisika karena hal itu tidak mungkin, melainkan filsafat mengenai
apa yang memungkinkan (pengetahuan mengenai) yang physics itu. Dan apa yang memungkinkan pengetahuan tentang yang
physics itu pasti tidak lagi berada di dalam yang physics, ia pasti terletak di seberang (meta) yang physics itu,
yakni struktur pikiran manusia itu sendiri. Jadi metafisika pada Kant adalah
filsafat pengenai struktur pikiran manusia yang transendental itu.
II.
Metakritik Hegel
Metakritik adalah kritik yang
ditujukan bukan kepada apa yang dikatakan pihak lain, melainkan kepada
pengandaian-pengandaian atau asumsi yang mendasari apa yang dikatakan itu.
Kritik Hegel kepada Kant disebut metakritik karena Hegel mengkritik
pengandaian-pengandaan filsafat transendental Kant di atas.
Dalam metakritiknya, Hegel menuduh
Kant jatuh dalam sebuah „sikap alamiah“ (eine
natürliche Vorstellung (Phänomenologie des Geistes, hal. 68) yang
mengatakan bahwa sebelum kita mengetahui maka kita harus lebih dulu memeriksa
alat yang kita gunakan untuk mengetahui itu sehingga kita tahu batas-batas dan
kemampuan alat tersebut. Alat yang dimaksud Hegel adalah pikiran itu sendiri, yang
strukturnya diteliti oleh Kant. Sepintas ini sikap yang masuk akal, tapi nanti
Hegel akan memperlihatkan bahwa ini adalah sikap yang absurd. Dalam pandangan
Hegel, Kant memahami bahwa pikiran kita itu seperti alat yang kita gunakan
untuk menangkap obyek. Kant meneliti alat itu: strukturnya, cara kerjanya dan
batas-batas kemampuannya. Hasilnya adalah bahwa pengetahuan hanya terbatas pada
obyek-obyek indrawi (dan karena itu metafisika tradisional yang berbicara
mengenai obyek-obyek supra-indrawi adalah tidak mungkin). Penelitian Kant juga
memperlihatkan, karena pikiran kita sudah selalu langsung bekerja untuk
mem-frame obyek yang kita persepsi maka, sebagai konsekuensinya, kita tidak
lagi mengetahui obyek pada dirinya sendiri (das
Ding an sich atau noumena), yang kita ketahui hanyalah obyek yang terberi
kepada kita (das Ding für uns atau
fenomena) melalui pikiran tersebut. Kita dapat mengandaikan pikiran kita
itu ibarat kaca mata biru yang telah selalu kita gunakan dalam melihat sesuatu.
Karena kita telah selalu mengenakan kaca mata biru itu, maka kita melihat semua
obyek sesuai dengan kaca mata itu, yakni berwarna biru. Padahal bisa saja obyek
itu dalam kenyataannya tidak berwarna biru.
Justru di sinilah absurditas Kant
menurut Hegel. Penelitian Kant mengenai
syarat-syarat pengetahuan (dalam dua jilid tebal buku Kritik Akal Budi Murni) itu sudah merupakan pengetahuan, yakni
pengetahuan mengenai syarat-syarat pengetahuan. Karena itu, kalau Kant
konsisten, kata Hegel mengejek, Kant juga harus meneliti syarat-syarat dari syarat-syarat
pengetahuan, begitu seterusnya
regressus in infinitum. Sikap absurd Kant itu, kata Hegel, sama seperti
orang yang tidak mau terjun ke dalam air sebelum tahu caranya berenang. Padahal
berenang harus dipelajari dengan terjun langsung ke dalam air.
Hegel juga menolak asumsi Kant yang
melihat hubungan antara pikiran dan obyek pengetahuan sama seperti hubungan
antara alat/instrumen yang digunakan untuk menangkap sesuatu. Kalau pikiran
adalah alat yang kita gunakan untuk menangkap sesuatu, maka, demikian Hegel,
obyek yang kita ketahui/tangkap bukan lagi obyek sebagaimana adanya, melainkan
obyek yang telah terkontaminasi oleh alat yang kita pakai untuk menangkap obyek
itu. Itu berarti, kita hanya akan selalu menangkap obyek yang telah
terdistorsi, padahal pengetahuan bertujuan untuk memahami obyek apa adanya.
Lalu bagaimana kita dapat menghilangkan pengaruh alat itu kepada obyek
pengetahuan agar kita memperoleh pengetahuan yang apa adanya mengenai obyek?
Ini semakin menambah absurditas filsafat Kant di mata Hegel.
Hegel juga menolak setiap
pengetahuan transendental (Ruang dan Waktu, ke-12 kategori transendental, dan
kesadaran diri transendental) dalam filsafat Kant. Transendentalitas
konsep-konsep ini tidak memuaskannya. Mengapa? Karena keberadaan konsep-konsep
itu hanya berupa pengandaian; apakah mereka sungguh-sungguh ada, kita tidak
pernah tahu. Sistem filsafat idealisme absolut Hegel menuntut bahwa semua
bagian dari realitas harus dapat diketahui. Hegel juga mengkritik Kant yang memahami
subyek dan kesadaran diri secara ahistoris, seakan-akan tidak tertanam pada
dunia historis-empiris tertentu. Tidak ada subyek yang ahistoris, demikian
Hegel.
III.
Detransendentalisasi Rasio
Lalu bagaimana alternatif yang
diajukan Hegel? Hegel tidak lebih dulu meneliti syarat-syarat pengetahuan,
sebagaimana dilakukan Kant. Hegel langsung terjun ke dalam air, dan tanpa
mengandaikan apapun. Bagaimana caranya? Ia melakukan apa yang diistilahkan
Habermas dengan detransendentalisasi kesadaran diri atau rasio. Kesadaran diri
yang bersifat transendental itu, yang mengawang-awang itu, ditarik Hegel turun
ke bumi, ke realitas empiris-historis, dan kemudian ia dipahami dalam
perkembangan historisnya. Itulah yang dimaksud dengan detransendentalisasi.
Filsafat, kata Hegel, tidak boleh
mengandaikan apapun. Bila filsafat bertolak dari pengandaian tertentu, maka
filsafat demikian tidak sungguh-sungguh filosofis lagi, sebab hal itu berarti,
masih ada bagian dari realitas yang tidak sungguh-sungguh dipahami dan dijelaskan,
yakni pengandaian itu sendiri. Dalam Ilmu Logika (Wissenschaft der Logik)-nya kita kemudian dapat melihat kritik
sistematis Hegel terhadap setiap filsuf yang membangun filsafatnya dengan
bertolak dari pengandaian tertentu. Misalnya Descartes, Kant, Spinoza atau
Leibniz. Bagaimanakah sosok filsafat yang sungguh-sungguh tanpa pengandaian
itu? Dengan apakah ia dimulai? Jawaban atas pertanyaan ini dipaparkan Hegel
dalam bukunya Fenomenologi Roh
(Phänomenologie des Geistes) di mana ia menggambarkan perkembangan Roh atau
kesadaran mulai dari momen yang paling universal dan dasariah hingga momen yang
paripurna, yakni Roh Absolut.
Apakah momen yang paling dasariah,
paling unversal dan tanpa pengandaian itu? Hegel menyebutnya kepastian-indrawi (die sinnliche Gewißheit). Ini adalah
pengetahuan yang kita peroleh begitu saja dengan mata telanjang; pokoknya, apa
yang tampak kepada kita secara indrawi. Bentuk konseptual dari kepastian
indrawi ini adalah: Ini (das Diese),
karena segala hal bisa kita tunjuk dengan Ini.
Pengetahuan bertolak dari sini. Kemudian, secara fenomenologis-dialektis, dari Iniitu muncullah konsep-konsep lain yang
lebih spesifik dan kaya, antara lain persepsi (die Wahrnehmung), penampakan (die
Wahrnehmung), pikiran (die
Verstand), kesadaran-diri (das
Selbstbewusstsein), roh (der Geist),
agama (die Religion), seni (die Kunst), hingga pengetahuan
absolut (das absolute Wissen). Tidak
mungkin memaparkan keseluruhan proses tersebut dalam ruang yang sangat terbatas
ini. Kiranya cukup dikatakan bahwa karakter utama filsafat Hegel, terutama
dalam kontra-distingsinya kepada Kant adalah bahwa Hegel selalu memahami segala
sesuatu dalam perkembangan historisnya. Tidak ada konsep yang muncul begitu
saja, setiap konsep adalah hasil perkembangan historis-dialektis dari konsep
sebelumnya.
Tesis utama filsafat Hegel adalah
bahwa keseluruhan kenyataan ini adalah manifestasi-diri dari Roh. Tapi
bagaimana filsafat memahami Roh dan manifestasi diri-Nya itu, itu hanya dapat
dilakukan bila kita memahami keseluruhan proses itu dalam perkembangan
historisnya. Dengan demikian, pada Hegel, tidak ada lagi yang transenden,
melainkan yang metafisis. Kalau Kant mengatakan bahwa pengetahuan metafisika
itu tidak mungkin, Hegel justru mengukuhkan metafisika. Namun, pada Hegel, yang
metafisis itu hanya dapat dipahami dalam perkembangan historisnya. Tuhan hanya
dapat dikenali berdasarkan manifestasi historisnya dalam dunia yang empiris.
Subyek atau kesadaran diri, agama, kimia, fisika, biologi, moralitas, negara,
mekanika, seni dan lainnya itu (semua itu dibahas Hegel dalam filsafatnya)
hanya dapat dipahami secara tepat bila ia diletakkan dalam sejarah yang
historis.
Sejarah, pada Hegel, merupakan
sejarah Roh. Roh memanifestasikan dirinya di dalam dan melalui sejarah. Dan
sistem filsafat Hegel yang disebut Idealisme Absolut itu tidak lain dari
deskripsi fenomenologis-dialektis atas momen-momen dialektis manifestasi diri
Roh itu. Tentu kita dapat bertanya: mengapa Roh harus memanifestasikan dirinya?
Jawaban Hegel: karena itu sudah merupakan hakikat-Nya. Roh hanya merupakan Roh
kalau ia memanifestasikan diri-Nya. Artinya: Roh yang non-material dan
non-empiris itu bukanlah Roh yang tetap abstrak dan mengawang-awang; ia mesti
menjadi yang empiris dan material. Dan hanya dengan demikianlah ia dapat
menjadi Roh. Sama halnya: Tuhan bukanlah sebuah entitas yang sama sekali
terasing dari dunia ini, yang berada di luar dunia ini, yang sama sekali
metafisis. Tuhan tidak beroposisi kepada dunia ini. Tuhan mesti hadir di dunia
ini, membuat dirinya menjadi dunia ini, menjadi manusia. “Tanpa dunia, Tuhan
bukanlah Tuhan,” tulis Hegel dalam
Filsafat Agama-nya (lihat Fitzerald Kennedy Sitorus, „Tanpa Dunia, Tuhan Bukanlah Tuhan“. Tentang Struktur Konseptual Tuhan
dan Momen-Momen Kesadaran Religius menurut Hegel, dalam: Tuhan, Manusia dan Kebenaran, Festchrift
untuk 65 Tahun Prof. Dr. J. Sudarminta, SJ., Penerbit Buku Kompas, Jakarta,
2016, hal. 39-81.) Mengapa? Sebab kalau ada yang bukan-Tuhan di dunia, artinya:
kalau ada yang bukan hasil manifestasi-diri Tuhan, maka secara logis sesuatu
itu masih beroposisi dengan Tuhan, dan itu berarti, sesuatu itu masih membatasi
Tuhan, dan dengan demikian, Tuhan menjadi terbatas, dan itu berarti Tuhan tidak
sungguh-sungguh absolut dan tidak-terbatas. Oleh karena itu, demikian Hegel,
segala sesuatu harus dipahami identik dengan (tapi juga sekaligus berbeda dari)
Tuhan/Roh. Itulah tesis utama filsafat Hegel.
III.
Dialektika Tuan-Budak.
Salah satu tema yang sangat menarik
dan penting dalam Fenomenologi Roh adalah
penjelasan Hegel mengenai munculnya kesadaran-diri melalui proses
historis-konfliktual, yakni dalam “Dialektika Tuan-Budak” (Herrschaft – Knechtschaft). Hegel membahas ini dalam tema: Kebenaran Kepastian Mengenai Diri Sendiri dalam
FR. Di sini kita melihat konsepsi yang sangat berbeda antara Kant dan Hegel
mengenai kesadaran diri. Kant menjelaskan kesadaran diri secara ahistoris.
Hegel menjelaskannya secara historis, yakni melalui pertemuan diri dengan yang
lain (other). Kesadaran terbentuk
berdasarkan pertemuan dengan yang lain. Yang lain itu menjadi obyek “keinginan” (Begierde, desire) saya. Tujuan
tertinggi dari keinginan atau kesadaran diri adalah pengakuan (Anerkennung, recognition). Artinya “
kesadaran diri mencapai tujuan dan kepuasannya hanya di dalam kesadaran diri
yang lain”. Yang lain menjadi medium bagi pencapaian tujuannya. Konflik tidak
terelakkan: ada pihak yang berani mempertaruhkan kehidupan, menghadapi
kematian, dia menjadi Tuan. Sementara pihak sebaliknya menjadi Budak. Relasi
konfliktual Tuan-Budak tercipta. Budak bekerja melayani Tuan, mensuplai segala
kebutuhannya. Tuan menjadi simbol bagi segala bentuk penikmatan kehidupan dan
konsumsi, sementara Budak menjadi simbol bagi segala kerja keras, produksi dan
transformasi alam.
Relasi ini menghasilkan situasi khas
dialektika Hegel: “dunia yang terbalik”
(die verkehrte Welt). Budak mencapai kemajuan, merealisasikan dirinya,
mentransformasi alam, menghasilkan produksi, menemukan ilmu dan pengetahuan.
Ini akar filsafat pekerjaan Hegel yang diteruskan oleh Marx dan Feuerbach.
Melalui kerja Budak menemukan dirinya. Dalam filsafat pekerjaan Hegel, kita
kemudian dapat mengatakan: Takut akan Tuan adalah sumber pengetahuan dan
kemajuan. Sebaliknya, Tuan mandek, tidak berkembang, bahkan tergantung
sepenuhnya pada hasil kerja Budak. Tanpa Budak, Tuan tidak ada apa-apanya. Ia
mati. Karena Tuan tergantung pada hasil kerja dan manifestasi diri dari Budak,
maka Budak menjadi tuan dari Tuan, sementara Tuan menjadi budak dari Budak. Hegel
mengatakan: menjadi Tuan berarti memperbudak diri sendiri, menjadi Budak
berarti mempertuan diri sendiri. Demikianlah Budak memperoleh kesadaran diri
sebagai subyek yang bebas melalui realisasi-diri yang dilakukannya dalam
pekerjaan.
DTB ini sangat terkenal dan
mengandung sisi hermeneutis yang sangat kaya. Para komentator mengatakan
paradigma Tuan-Budak ini menjadi simbol segala dinamika sejarah baik pada level
individu maupun masyarakat. DTB ini telah ditafsirkan dari berbagai perspektif:
marxis dan non-marxis, historis, sosiologis, psikologis, ontoteologis. Contoh
interpretasi psikologis: dalam diri manusia selalu ada dorongan (desire) untuk menikmati (Tuan) dan juga
dorongan untuk merealisasikan diri (Budak). Masyarakat bergerak maju karena ada
elemen Tuan (konsumsi) dan Budak (produksi). Tanpa DTB ini, filsafat Marx pasti
akan sangat berbeda (filsafat tentang pekerjaan). Tema DTB bahkan telah
mengalihkan kembali tradisi filsafat Prancis abad XX dari tradisi subyektivitas
Cartesian yang ahistoris ke pemahaman baru mengenai subyek yang historis.
Konsepsi yang baru mengenai subyek yang historis itu membuat Hegel disambut di
Prancis dan hal ini mempengaruhi perkembangan filsafat Prancis abad XX.
Penemuan-kembali Hegel di Prancis itu terjadi melalui filsuf Alexander Kojeve
(dan para muridnya) Jean-Paul Sartre, Jacques Lacan dan Merleau-Ponty. Para
filsuf ini memahami kesadaran-diri sebagai hasil pertemuan dengan yang lain (Being for others). Konsepsi Lacan
mengenai desiring subject (yang
kemudian diteruskan oleh muridnya, Slavoj Žižek) dalam konstruksi
psikoanalisisnya juga didasarkan atas DTB ini. Filsuf Habermas dan Axel Honneth
menafsirkan DTB ini dalam tema mutual-recognition
(saling mengakui) sebagai syarat komunikasi. Honneth mengembangkan filsafat
sosialnya mengenai Teori Pengakuan (Recognition)
dari DTB ini. Filsuf Prancis Jean Hyppolite mengatakan bahwa DTB adalah sebuah
kategori kehidupan historis karena segala dinamika peradaban manusia bisa
dikembalikan kepada motif-motif yang terkandung dalam dialektika ini.
IV.
Kritik dan Kesimpulan
Apakah kritik Hegel terhadap Kant
itu dapat diterima? Duduk perkara filsafat Kant adalah usaha untuk menjadikan
metafisika sebagai ilmu, dan untuk itu ia mengajukan pertanyaan penelitian:
bagaimana putusan sintesis apriori itu mungkin. Penelitian tersebut membawa dia
pada apa yang disebut dengan pengetahuan transendental, yakni pengetahuan
mengenai konsep-konsep yang harus diterima sebagai syarat-syarat kemungkinan
pengetahuan, sebab tanpa konsep-konsep tersebut pengetahuan menjadi tidak
mungkin. Hegel mengkritik bahwa penelitian mengenai syarat-syarat pengetahuan
itu sudah merupakan pengetahuan tersendiri. Itu benar. Tapi Hegel tidak melihat
atau lupa bahwa Kant tidak menyebut itu pengetahuan yang jenisnya sama dengan
pengetahuan yang kita peroleh melalui hasil kerja instrumen/alat itu.
Keseluruhan hasil penelitian itu adalah memang pengetahuan, tapi pengetahuan transendental (transzendentale
Erkenntnis), dan bukan pengetahuan empiris, sebagaimana dimaksudkan oleh Hegel,
yakni pengetahuan mengenai obyek-obyek empiris di hadapan kita. Jadi, menurut
saya, kritik Hegel tersebut sesungguhnya tidak tepat.
Lantas, apakah detransendentalisasi
kesadaran-diri yang dilakukan oleh Hegel itu keliru? Sama sekali tidak! Melalui
metakritiknya, Hegel justru telah membuka wilayah berfilsafat yang baru, yakni
bahwa pemahaman yang tepat atas sesuatu mestilah dengan melihat sesuatu itu
dalam perkembangan historisnya. Historisitas adalah terminologi kunci pada
Hegel; Filsafat adalah zaman yang
ditangkap dalam pikiran, katanya dan dengan prinsip inilah ia menjalankan
pengaruh mendalam atas perkembangan filsafat selanjutnya. Para Hegelian
Muda/Kiri, seperti Karl Marx dan Ludwig Feuerbach, juga para filsuf Teori
Kritis, Soren A. Kierkegaard, dan lain-lain berusaha meradikalkan dimensi
historis dalam filsafat Hegel ini dan sekaligus menolak dimensi metafisisnya.
Karena itu Habermas selalu menekankan bahwa „secara filosofis kita sesungguhnya
masih sezaman dengan para Hegelian Muda“ (dalam Nachmetaphysisches Denken. Philosophische Aufsätze, hal. 277).
Dalam etika, historisitas dalam
pemikiran Hegel itu tampak antara lain dalam komunitarisme, yakni paham moral
yang mengatakan bahwa setiap komunitas memiliki paham tersendiri mengenai apa
yang baik dan buruk. Ini bertolak belakang dengan etika deontologis Kant yang
menentukan pengertian baik dan buruk secara apriori, yakni bahwa yang baik
adalah yang sesuai dengan hukum moral. Hegel mengkritik bahwa etika Kant ini
kosong karena semata-mata formal. Bagi Hegel, setiap masyarakat memiliki
pandangan tersendiri mengenai apa yang baik dan buruk. Moralitas sebuah
masyarakat, katanya, juga tidak bisa dipaksa maju. Ia akan berkembang secara
evolusioner. Sejarah sendiri menurut Hegel berkembang menuju rasionalitas dan
kebebasan yang semakin besar. Kemajuan tersebut terjadi secara dialektis, yakni
melalui peristiwa-peristiwa negatif (perang, bencana alam, kelaparan, konflik)
yang kemudian mendorong sejarah untuk bergerak maju ke arah yang lebih baik dari
sebelumnya — karena itu dalam konsep dialektikanya Hegel mengatakan bahwa
„yang negatif itu positif“, karena justru melalui hal-hal yang negatif itulah
kita mencapai kemajuan.
Tapi Hegel tidak mengatakan kapan
sejarah akan berhenti dan dalam bentuk sistem sosial-politik yang seperti apa.
Karena itu, dilihat dari kaca mata Hegel, Francis Fukuyama keliru ketika ia
mengatakan bahwa, setelah bubarnya sistem komunis Uni Soviet, demokrasi yang
berorientasi liberal dan ekonomi pasar menandai akhir sejarah. Estetika
(Marxis) yang melihat seni sebagai artikulasi kesadaran historis juga bertolak
dari Hegel. Ini bertolak belakang dengan pandangan Kant yang mengatakan bahwa
seni harus otonom dari dimensi-dimensi di luar seni (lihat tulisan saya, “Estetika
Hegel“ dalam Teks-Teks Kunci Filsafat
Seni, Yogyakarta, 2005, hal. 11-39).
Fitzerald
Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Universitas Pelita
Harapan, Tangerang
*Tulisan ini dibawakan untuk kuliah “Philosophy Underground” di Teater Utan Kayu, Jakarta, 30 Agustus 2019