Berandanegeri.com. Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Flobamora, Minggu (17/5/20) mengadakan pendistribusian 300 paket sembako, 2000 Alat Pelindung Diri dan 2000 Masker kepada warga masyarakat Flobamora Jabodetabek yang terkena dampak Covid-19. Acara pendistribusian dilangsungkan di halaman Dislitbang TNI AD, Jl. Ahmad Dahlan, Jakarta Timur, yang mana dihadiri oleh masing-masing Ketua Ikatan Keluarga Besar (IKB) Flobamora Se-Jabodetabek.
Acara ini digelar sebagai bentuk kepedulian FKM Flobamora kepada warga IKB NTT Se-Jabodetabek yang terkena dampak Covid-19, dan juga bagi warga Flobamora yang kurang mampu.
Ketua Forum Komunikasi (FKM) Flobamora Jabodetabek, Daniel Tagu Dedo dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini digelar sebagai bentuk kepedulian FKM Flobamora kepada masyarakat NTT Se-Jabodetabek dan terutama yang kurang mampu di tengah pandemic Covid-19.
“ Pembagian sembako, APD dan masker sebagai bentuk respon kemanusiaan FKM terhadap warga NTT yang terkena dampak pandemi virus Corona. Tapi kita prioritaskan kepada warga kurang mampu yang kena dampak corona., “terang Daniel.
Selain itu Sekjen FKM Flobamora Jabodetabek, Martinus Laba Uung menambahkan bahwa momen pembagiaan sembako, APD dan masker sebagai bentuk respon FKM Flobamora dalam menanggapi dampak pandemic Virus Corona. FKM sebagai wadah induk Flobamora terus menghimbau kepada para Ketua IKB NTT se Jabodetabek untuk membuat pendataan kembali jumlah warga NTT di Jakarta, terutama yang terkena dampak pandemic Covid-19,” tegas Martin Uung.
Pembagian sembako, APD dan masker masih akan terus berlangsung selama masa pandemic berlangsung tetapi akan dipertimbangkan dengan jumlah data warga yang masuk. FKM Flobamora akan terus memantau warga Flobamora melalui IKB-IKB agar semua warga yang terkena dampak pandemic covid-19 dapat menerima bantuan. (Riky Hayon)
Berandanegeri.com. PEMERINTAH Italia dan Gereja Katolik setempat menyepakati Misa sudah dibuka kembali untuk umum seperti sediakala terhitung tanggal 18 Mei mendatang. Kesepakatan Pemerintah Italia tersebut juga berlaku untuk kegiatan ibadah komunitas-komunitas bagi umat agama lain.
“Hari ini, 7 Mei, Konferensi para
Uskup Italia (CEI) dan pemerintah negara sudah menandatangani kesepakatan yang
memberikan kebebasan kembali kepada Gereja Katolik dan juga agama-agama lain untuk
melakukan ibadah seperti biasa mulai 18 Mei mendatang,” ujar Pastor Markus Solo
Kewuta SVD kepada berandanegeri.com dari
Roma, Italia, Kamis (7/5) malam.
Menurut Pastor Markus, dalam
kesepakatan tersebut disepakati pula sejumlah peraturan ketat yang harus
dihormati dan ditaati guna menghindari kasus-kasus baru. Sejak 10 Maret lalu
diberlakukan pemberhentian ibadah publik menyusul coronavirus 2019 (covid-19)
melanda Italia.
Oleh karena itu, demikian imam asal kampung Lewouran, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, berbagai peraturan detail untuk mengghindari penularan covid-19 dan lain-lain, akan diumumkan oleh pihak Gereja & para pemuka agama kepada umatnya masing-masing. “Peraturan-peraturan yang disepakati dituangkan dalam lima poin utama dengan 27 poin penjelasan. Pengumuman resmi disampaikan tadi,” lanjut Pastor Markus, Islamolog yang menyelesaikan Studi Islamologi dan Arabistik di Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies (PISAI) Roma.
Berandanegeri.com. PEMERINTAH Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, berkomitmen memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada para pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Dogiyai yang terkena dampak covid-19. Para pelajar dan mahasiswa tersebut sedang menjalani studi di beberapa kota di seluruh wilayah di Indonesia.
“Hingga kini belum kita salurkan dananya karena data pelajar dan mahasiswa belum lengkap. Banyak pengurus Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai atau IPMADO di beberapa kota studi tidak punya data lengkap dan jelas,” kata Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa dalam keterangan kepada berandanegeri.com di Jakarta, Kamis (7/5) pagi.
Menurut Bupati Dumupa, menurut rencana BLT akan diberikan langsung kepada setiap pelajar dan mahasiswa melalui rekening masing-masing. Namun, jika para pelajar dan mahasiswa yang tidak memiliki rekening akan dikirimkan melalui kantor pos.
“Kami tidak mengirim BLT melalui pengurus IPMADO. Selama ini sejumlah pengurus tidak jujur, sering memotong atau menggelapkan uang. Pengiriman langsung kepada masing-masing pelajar dan mahasiswa bersangkutan untuk memudahkan pertanggungjawaban. Ini penting sebab setiap dana yang bersumber dari keuangan negara berapapun nilainya harus dipertanggungjawabkan,” tegas Dumupa
Pemerintah Kabupaten Dogiyai memberikan deadline hingga Senin (11/5 2020) kepada setiap pengurus IPMADO untuk mencatat dan mengirimkan data mahasiswa melalui Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dogiyai.
“Kami ingatkan, para pengurus IPMADO, pelajar, dan mahasiswa yang tidak mematuhi semua ketentuan seperti memalsukan data diri akan diberi sanski tegas,” kata Dumupa, mantan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP).
“All major religious traditions carry basically the same message, that is LOVE, COMPASSION and FORGIVENESS. The important thing is they should be part of our daily lives.” (Tenzin Gyatso)
SAATNYA MELAUT. Satu Mei merupakan awal masyarakat Lamalera, Lembata,
Nusa Tenggara Timur memulai siklus kehidupan 6 bulanan, mencari rezeki
yang tersimpan di laut lepas. Berbagai ikan dengan ukuran yang tidak
terbayangkan oleh banyak orang (termasuk oleh orang Indonesia), hanya
ditangkap dengan menggunakan alat tradisional, dengan perahu yang hanya
mengandalkan layar atau yang didayung sekitar 12 orang. Contoh besarnya
ikan paus yang ditangkap, lihat di akhir tulisan ini
Misa Arwah di Pantai
Tidak kalah pentingnya untuk diangkat adalah tradisi seputar itu.
Malam menjelang 1 Mei, seluruh masyarakat berkumpul di pantai, didepan
kapel untuk merayakan Misa Kudus, memperingati anggota keluarga yang
telah meninggal dunia di laut, terutama saat menjalankan tugas menangkap
ikan, terutama ikan paus. Mereka adalah pejuang yang gigih menempuh
gelombang lautan Hindia, untuk bisa memberi nafkah bagi keluarganya.
Usai misa, dalam suasana hening, semua memasang lilin bernyala di di
atas pasir pantai, dan sebagian lilin itu diarungkan ke laut, sambil
fokus mengenang anggota keluarga masing-masing yang telah meninggal
dunia. Merinding, haru, namun terasa damai.
Karya di Dunia Berbeda
Di Jakarta dan sekitarnya, ada komunitas Lamalera yang bernama
IKABELA. Mereka juga berjuang untuk kehidupan keluarga bukan di laut,
tapi di dunia yang berbeda, sesuai dengan talenta masing-masing.
Atas inisiatif anak-anak milenial Lamalera di Jakarta, mereka juga
mengumpulkan informasi tentang orang Lamalera yang pernah tinggal dan
berkarya di Jakarta dan sudah meninggal dunia. Total ada 100 orang yang
sudah almarhum. Lalu dibuat kesepakatan, ritual misa arwah di Lamalera
bisa dilakukan juga di Jakarta pada tanggal 1 Mei. Merekapun kompak
membentuk koor dadakan yang dipimpin oleh nona Lamalera, Yuliana Kremo
Keraf. Berikut foto anggota koor jelang beraksi di Gereja St Yosef
Matraman
Dalam kata pengantarnya, pater Sony Keraf menyampaikan bahwa,
inisiatif ini patut diapresiasi. Selain memperingati keluarga Lamalera
yang tinggal di Jakarta dan sudah meninggal dunia, juga turut
memperingati arwah keluarga Lamalera yang meninggal di Laut. Selain itu
kita bersama gereja merayakan pesta St Yosef Pelindung Pekerja dan juga
awal bulan Rosario. Berikut foto anggota koor usai misa
Mohon Berkat sebelum Melaut
Pagi hari tanggal 1 Mei, semua masyarakat Lamalera kembali berkumpul
depan Kapel di pinggir pantai, menghadiri Misa kudus untuk memohon
berkat sebelum kegiatan melaut.
Dilanjutkan dengan upacara memberkati semua perahu dan peralatan
menangkap ikan dan juga memberkati laut, sumber rezeki masyarakat
Lamalera.
Misa Konselebrasi ini dipersembahkan oleh Pater Petrus Dile Bataona,
Pater Herman Yosef Bataona dan pater Kris Laden. Yang disebut terakhir
ini datang jauh-jauh dari Kucing Malaysia untuk turut menyaksikan
tradisi unik desa Lamalera ini.
Jaminan Kehidupan juga untuk para Janda
Banyak yang hanya melihat tradisi penangkapan ikan paus, yang kurang lebih besarnya seperti nampak pada foto ini.
Namun perlu kami kedepankan disini, bahwa penangkapan ikan paus di
Lamalera tidak bisa dipisahkan dari tatanan kehidupan sosial di desa
itu. Pada saat membuat perahu baru atau memperbaiki perahu, semua
anggota suku akan bekerja secara gotong royong. Contoh lain, para janda
tidak perlu cemas bila suami mereka sudah meninggal dunia. Kehidupan
mereka akan dijamin oleh suku. Ada bagian tertentu dalam pembagian ikan
yang ditangkap adalah untuk para janda. Dan yang paling penting untuk
digaris-bawahi adalah ikan paus yang ditangkap turun temurun itu, bukan
jenis ikan paus yang dilarang. Bahkan untuk jenis ikan yang dibolehkan
inipun, masyarakat Lamalera hanya membutuhkan beberapa ekor untuk bisa
menghidupi keluarga selama setahun.
Semoga tradisi seputar 1 Mei ini bisa terus dilestarikan, sebagai
bagian menumbuhkan rasa mensyukuri karunia Tuhan. Juga mempererat
kebersamaan dan kekeluargaan warga Lamalera, baik yang masih di kampung,
ataupun yang sedang merantau untuk berkarya di dunia yang berbeda.
Semoga berkat Tuhan menyertai para Nelayan Lamalera!
“Everything can be taken from a man but one thing; the last of the human freedoms – to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way.” (Viktor Frankl)
********
Tulisan ini dibuat bulan Mei 2019, satu tahun yang lalu, sebelum ada covid-19.
PRESIDEN Jokowi akhir pekan kedua Maret 2020 memandang strategis mengajak Badan Intelijen Negara (BIN) terlibat dalam pencegahan dan penanganan coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Indonesia. Kepala Negara juga memandang serius mendapuk mantan Komandan Jenderal Kopassus, Letjen TNI Doni Monardo sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
Dengan demikian,
keterlibatan BIN diharapkan ikut mendukung pemerintahan Presiden Jokowi
bergandengan tangan dengan masyarakat dan seluruh elemen bangsa mencegah dan
menangani penyebaran virus berbahaya itu. Mengapa Presiden Jokowi memandang
perlu melibatkan BIN dalam pencegahan dan penanganan covid-19? Ini juga
merupakan pertanyaan penting lainnya. Kita tahu bahwa selain BIN, Indonesia
juga memiliki sejumlah badan peyelenggara intelijen negara.
Berdasarkan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara,
penyelenggara intelijen negara terdiri atas (i), Badan Intelijen Negara, (ii),
Intelijen Tentara Nasional Indonesia, (iii),
Intelijen Kepolisian Negara Republik Indonesia, (iv), Intelijen Kejaksaan Republik Indonesia, dan (v), Intelijen kementerian/lembaga
pemerintah nonkementerian. Sekali lagi, mengapa Presiden Jokowi memandang perlu
melibatkan BIN dalam pencegahan dan penanganan covid-19, itu salah salah hal
penting mendeteksi peran BIN sesungguhnya agar situasi keamanan dan ketertiban
negara di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi tetap kondusif.
Bekerja Optimal
Bagi sebagian masyarakat awam terutama yang tinggal di pelosok Tanah Air kesan BIN sebagai institusi negara yang angker, misterius, boleh jadi mengisi batok kepala. Kesan itu bisa saja muncul karena aparatnya selalu bekerja dalam senyap menangkal setiap potensi ancaman yang membahayakan kedaulatan bangsa dan negara.
Sejak Jokowi terpilih
jadi Presiden Republik Indonesia periode pertama dan memasuki periode kedua
pemerintahannya, sepak terjang BIN dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
malah semakin menunjukkan arah yang lebih baik. Bukan tidak mungkin keberadaan
BIN melalui para personilnya kian dibutuhkan, terutama dalam berbagai peristiwa
aksi terorisme hingga bencana alam. Wabah pandemi covid-19 yang membuat
perekonomian nasional nyaris kelimpungan, tentu menarik perhatian Presiden
Jokowi memandang BIN sebagai salah satu elemen negara yang perlu berada di
garda depan. Ada beragam alasan yang dapat dikemukakan. Namun paling kurang ada
sejumlah hal yang dapat dicatat.
Pertama, sebagai
penyelenggara intelijen negara BIN dengan caranya memberikan nasehat atau advis
kepada pemerintah agar selalu siaga menangkal setiap potensi ancaman yang
membahayakan bangsa dan negara. Dengan demikian, keamanan dan ketertiban
sungguh dirasakan atau dinikmati masyarakat. Dalam konteks kehadiran wabah
covid-19 yang melanda Indonesia, peran BIN sangat strategis. Mendeteksi
kehadiran wabah itu di Indonesia, tentu tak hanya memerlukan keahlian di bidang
ilmu kesehatan. Namun lebih dari itu, membutuhkan kepekaan BIN dalam sepak
terjangnya membantu pemerintah mendeteksi atau menangkal gangguan invisible hand di balik wabah mematikan
itu.
Kedua, Budi Gunawan
(selanjutnya BG) adalah Kepala BIN yang memimpin lembaga intelijen itu
berprestasi di mata publik. Penilaian ini tentu tak berlebihan. Selama dipimpin
BG, BIN selalu menunjukkan kinerja positif selama periode pertama kepemimpinan
Jokowi hingga memasuki periode kedua bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Tak
sebatas itu. Para wakil rakyat di Senayan pun mengakui peran BIN, terutama
dalam menjaga situasi politik di Tanah Air. Anggota Komisi I DPR RI Bobby
Adhityo Rizaldi pernah memberi apresiasi terhadap peran BIN di bawah
kepemimpinan BG. Peran BIN dinilai dirasakan masyarakat dalam upayanya
menciptakan persatuan bangsa.
Ketiga, seperti
pernah ditegaskan pengamat politik Boni Hargens, selama ini BIN di tangan BG
terus fokus pada upaya melakukan transformasi kelembagaan, peningkatan kualitas
sumber daya manusia, dan peningkatan kinerja. Bahkan lebih dari itu BIN
merespon dengan cepat berbagai peristiwa dengan memberi sinyal berupa informasi
ancaman terorisme, namun eksekusi ada di tangan penegak hukum. Dalam pengamatan
Boni, ada konsistensi yang kuat dalam gaya kepemimpinan BG. Pasca aksi 411, ada
perubahan drastis di tubuh birokrasi BIN.
Inilah boleh jadi menjadi alasan tambahan mengapa Presiden Jokowi memandang
perlu BIN masuk dalam pencegahan dan penanganan covid-19.
Mengapa selain unsur
intelijen TNI dan Polri, BIN perlu diajak Presiden Jokowi dalam pencegahan dan
penanganan covid-19? Pertanyaan itu menarik. Namun satu hal pasti bahwa Jokowi
tentu tak sekadar melihat BIN memiliki kemampuan menjaga keamanan dan
ketertiban negara. Lebih dari itu, BIN juga memiliki pengalaman dalam
kerja-kerja sosial kemasyarakatan mumpuni. Apalagi pada 13 April 2020, Presiden
menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2020 Tentang Penetapan
Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai Bencana
Nasional.
Di sini, peran BIN
tentu sangat diperlukan. Mengapa? Korona bukan hanya berpotensi melumpuhkan
ekonomi dalam negeri tapi juga berpotensi mengganggu kerja sama ekonomi bilateral
maupun multilateral seperti kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan tetapi
juga berbagai kontrak bisnis sebelum Keppres diterbitkan. Tak berlebihan
Presiden Jokowi pada Jumat (13/3/2020) langsung melibatkan BIN dalam satgas
penelusuran pihak yang diduga berhubungan dengan pasien covid-19 positif. Tim
tersebut tak hanya terdiri atas Kementerian Kesehatan, intelijen Polri namun
juga BIN sendiri. Hasilnya menggembirakan.
Jokowi mengakui,
setelah diketahui yang bersangkutan (pasien covid-19) dalam dua hari, Kepala
Negara sudah mendapatkan 80 nama. Sukses ini diraih tim reaksi cepat yang
terdiri dari, Kemenkes dibantu intelijen BIN dan intelijen Polri, pemerintah
berhasil menemukan pasien covid-19 baru.
Peran BIN dalam gugus
tugas penanganan covid-19 masih sangat diperlukan. Saat berlangsung Rapat Kerja
dengan Komisi IX DPR konferensi konferensi video pada Kamis (2/4 2020) Doni
Monardo menyebutkan bahwa sesuai data BIN, penyebaran covid-19 di Indonesia akan
mengalami puncaknya pada Juni atau akhir Juli 2020. Penyebarannya akan mencapai
106.287 kasus.
Mencermati perkembangan penyebaran covid-19, maka peran gugus tugas, termasuk BIN masih sangat diperlukan. BG selaku Kepala BIN tentu semakin ditantang bagaimana memaksimalkan institusi intelijen itu untuk menyelamatkan tak hanya warga negara namun juga kedaulatan negara bila covid-19 sudah mengancam Indonesia sebagai negara akibat covid-19. Di sini, peran BIN di garda terdepan adalah pilihan strategis Jokowi.
Suara selalu mempunyai pemilik. Mengenal suara berarti dapat
menghubungkan suara dengan pemiliknya. Kita tahu, suara ini bersumber dari mana
atau siapa. Kita pun hafal, orang atau benda ini mengeluarkan suara macam mana.
Suara ayah atau ibu, suara kekasih atau musuh bebuyutan, suara jengkrik di
malam hari, atau suara lonceng gereja tua di kampong, pastilah suara yang mudah
dikenal. Kita sudah terbiasa dengan suara-suara tersebut. Sebaliknya, kita akan
merasa aneh ketika mendengar suara yang tidak diketahui sumbernya, atau saat
berhadapan dengan sumber yang sudah dikenal namun mengeluarkan suara yang tidak
biasa. Suara aneh di tengah malam bisa membuat kita takut. Dugaan kita menjadi liar
saat mendengar suara ganjil yang keluar dari mulut saudara kita yang sedang
sakit.
Mengenal suara, artinya tahu dari mana suara itu, tidak
selalu mengandaikan keakraban sebuah relasi. Kita dapat mengenal dengan sangat
baik suara dari orang yang amat kita benci atau dari binatang yang amat kita
takuti. Sebaliknya, tidak mengenal sebuah suara tidak selalu menimbulkan rasa
takut atau tidak pasti. Kita dapat terpesona mendengar suara penyanyi yang
belum pernah kita kenal, atau oleh musik dari alat yang belum pernah kita
lihat.
Suara bukan sekedar bunyi. Tentu saja, suara mengandaikan
bunyi, tetapi berbeda dari bunyi, suara mengandung makna. Kita dapat mengatakan
suara adalah bunyi yang menyampaikan pesan tertentu. Karena makna bukan hanya
milik manusia, maka yang kita sebut mengeluarkan suara bukan hanya manusia.
Kita menangkap suara burung, bahkan hempasan gelombang di tepi pantai dan
desiran angin di hutan, kita sebut sebagai suara.
Berbeda dari mengenal adalah memahami suara. Jika mengenal
suara adalah persoalan mempertautkan suara dan sumbernya, maka memahami merupakan
kesanggupan untuk mengaitkan suara dengan intensi atau maksud sumber suara.
Biasanya, semakin mendalam kita mengenal sumbernya, semakin mudah kita
menangkap makna suaranya.
Kita amat paham, apa yang dikatakan oleh ayah dengan suaranya yang tinggi atau apa yang mau disampaikan ibu pada saat berbisik ke telinga kita. Sebuah kata yang sebenarnya berkonotasi menghina atau melecehkan, namun ketika disuarakan oleh seorang sahabat, ditangkap sebagai pernyataan kedekatan dan kehangatan. Suara gonggongan seekor anjing bisa membuat gemetar tamu yang baru pertama kali berkunjung, tapi dianggap sepi oleh tuannya. Jika kita sudah sangat mengenal seseorang, maka kita sanggup menangkap makna suara seorang kekasih juga ketika dia tidak sedang bersuara. Bukan hanya itu. Kalau kita sudah saling mengenal sangat mendalam, kita dapat memahami lawan bicara kita melampaui apa yang secara nyata dikatakannya. Kendati kata ‘senang’ yang dikatakannya, tetapi kita tahu, yang dimaksudkannya bukanlah seperti itu. Jawaban ‘tidak’ dari seorang anak ketika ditanya oleh ibunya apakah dia memecahkan gelas di dapur, ditangkap oleh ibunya sebagai sebuah pengakuan. Karena itu, kita sering mengatakan, ‘Suaramu mengkhianatimu.”
Suara berbicara tentang pemiliknya jauh lebih banyak daripada
apa yang dibunyikan melalui mulut. Kita mengungkapkan jauh lebih banyak tentang
diri kita dari pada sekedar kata-kata kita. Suara kita tidak gampang dikontrol.
Orang lebih mudah membaca kepribadian seseorang ketika mendengar suaranya
daripada saat membaca tulisannya. Itulah alasan kenapa filsuf Prancis Roland
Barthes merasa enggan berbicara. Dia menyadari bahwa dia tidak dapat sepenuhnya
mengendalikan suaranya dan sebab itu merasa takut. “Kata-kata yang diucapkannya
sering membuat saya merasa jengah karena selalu diliputi ketakutan menjadi
pusat perhatian kalau saya berbicara.” Dia membayangkan kalau sedang berbicara,
orang tidak hanya memperhatikan apa yang dia katakana, tetapi juga melihat
lebih dalam ke suasana bathin dan kepribadiannya. Apa yang dikatakan Barthes
tentu saja berlebihan. Tidak semua suara harus dikaitkan dengan kepribadian
pemiliknya. Pendengar yang baik pasti membedakan konteks. Ketika menyaksikan
sebuah pentasan drama, kita tahu bahwa yang disuarakan adalah pandangan dan
perasaan tokoh yang diperankan.
Demikian pula saat mendengarkan sebuah kotbah, yang menjadi
yang utama bukanlah suasana bathin si pengkotbah. Yang menjadi inti adalah apa
yang sungguh dikatakan. Sebabitu, yang menjadi pusat perhatian bukanlah
kepribadian orang yang menjadi sumber suara. Kendati demikian, apa yang
dikatakan Barthes tidak seluruhnya salah.
Seorang penonton pentasan yang berpengalaman, pasti bisa
membedakan apakah seorang aktor terlatih atau tidak, entahlah dia sungguh
membatinkan perannya atau dia melakoninya tanpa penghayatan.
Demikianpun, umat yang mempunyai perhatian pasti dapat
menilai, apakah seorang pengkotbah hanya mengulangi apa yang dibacanya entah
dimana, atau menyampaikan pikirannya sendiri, kendati sambil membacakannya.
Karena bagaimanapun ada relasi antara suara dan pemiliknya, maka untuk
menangkap dengan baik makna sebuah suara, kita perlu mendengar dengan baik. Sumber utama dari ketidakpahaman
atau kesalahpahaman adalah ketidaksungguhan dalam mendengar. Siapa yang
mendengar setengah-setengah, akan juga mengerti setengah-setengah.
Ketika orang tidak mendengar sungguh-sungguh, maka akan
sangat mudah bahwa dia hanya mendengar suaranya sendiri, apa yang mau dia
dengar dikatakan orang lain. Dia mendengar keinginannya sendiri. Bukan ada
hanya prasangka, ada pula pra suara. Sungguh mendengar suara orang lain hanya
mungkin apabila orang melepaskan suaranya sendiri.
Mendengar dengan baik, memberikan telinga sepenuhnya kepada
seseorang, seringkali menjadi syarat bahwa orang lain itu dapat bersuara.
Seorang penulis Austria, Karl Kraus (1873-1936), pernah mengatakan, “Hab ich nur dein Ohr, find ich schon mein
Wort” ( jika saya mendapatkan telingaku, aku segera menemukan kata-ku). Dihadapan
telingamu yang terbuka, saya menemukan keberanian untuk mengatakan diri saya,
mengungkapkan pikiran dan perasaan saya. Keterbukaan yang engkau tunjukan
membantu saya untuk menemukan dan menyuarakan kata-kata saya. Orang tua dan
pendidik yang mengandalkan ketakutan hanya akan menyebabkan anak-anak menjadi
pendiam atau penipu. Mereka tidak sanggup berbicara atau berkata jujur.
Sr. Andriana Ellaman memberi judul untuk kumpulan puisi
perdananya: S u a r a. Dalam suara pembuka penyair memberi pertanggungjawaban,
kenapa judul ini dipilih:
“Suara” adalah teman
paling setia kemanapun dan dimanapun kita berada…..Ada suara bergema menuntunku
kembali kepada ruang tanpa tembok, membuatku mampu menuangkan nada-nada lembut
yang tercecer menjadi alunan “Suara” yang akhirnya bisa membirama menyentuh
dinding dengar pembaca yang terkasih.”
Baginya, suara adalah ingatan. Kita dapat mengatakan, suara
adalah ingatan pertama akan pemiliknya. Mendengar suara kita teringat akan
pembicaranya. Dan sumber selalu harus ada lebih dahulu. Sebab itu, suara selalu
memanggil pulang, membawa kepada sesuatu di masa lalu.
Suara mengaitkan hari ini dengan yang kemarin, menyadarkannya
bahwa langkah hari ini ada dalam sebuah jalinan erat dengan yang sudah
mendahului. Suara adalah kenangan. Sebab itu, dalam puisi pertama dalam
kumpulan ini penyair kita menulis:
Suara bagiku adalah
sebuah jalan panjang
Jalan pulang kepada
Nurani
Jalan pulang kepada
Cinta
Jalan pulang kepada Ada
Namun, panggilan pulang dalam suara bukanlah sebuah penyanderaan
dalam dunia masa lalu. Sebab, kenangan, memoria,
menyimpan dalam dirinya kekuatan maha dahsyat untuk melangkah maju. Daya juang
tidak hanya datang dari rasa ingin tahu menguak tabir masa depan, tetapi juga
dari keberanian untuk menyusuri jalan pulang, ke masa lalu. Di masa lalu kita
akan temukan tekad yang pernah
dibulatkan dan janji yang sudah diikrarkan. Juga masa lalu mengandung gema
banyak suara dari mereka yang terpangkas masa depannya karena ditekan dan
diperlakukan tidak adil. Masa lalu memanggil dan merupakan sebuah panggilan.
Sebab itu, suara adalah jalan pulang untuk dapat melangkah maju, bukan sekedar
untuk mewujudkan impian sendirian, tetapi sebagai sebuah perjalanan untuk
merealisasikan harapan banyak orang yang mimpinya terpotong terlampau muda. Dalam
panggilan sebagai seorang biarawati, penyair kita menimba banyak kekuatan dari
mengambil jalan pulang kepada orang tua. Dalam puisi ‘Dipanggil’ penyair kita
menulis:
Lihat Ayah
Lihat Ibu
Lihat Kasih
Ikutilah Suara itu!
Memang banyak dari puisinya berbicara tentang suara. Suara
ayah tidak dapat dilupakan, sebab
Dengan puji-pujianmu
Terus berbisisk di
telingaku,
Suara lantang cinta
bacamu
Telah menyusup dalam
relungku
(Puisi ‘Bapa’). Suara tenunan sang ibu terekam kuat pada pita
kaset kenangan seorang gadis kampung, sementara
Kata terucap dari
bibirmu,
Tertulis pada setiap
lembar doa rindu
(Puisi ‘Mama’). Mengenang orang-orang terkasih adalah
mendengar suara mereka, mengingat kisah yang mereka tuturkan.
Engkau terlampau pergi
Semoga bekas tapakmu
tak tersapu angin,
Biarlah ia tertinggal
di sini
(Puisi ‘Pesan’).
Ket. Foto: Sekolah Dasar di Desa Mudalerek, Lembata
Kampung Mudalerek di Lembata yang jauh memanggil pulang,
untuk tetap tinggal dalam pelukan kenyamanan masa kanak-kanak, tetapi adalah
panggilan yang mengingatkan akan kesederhanaan dan kepolosan, darinya penyair
berasal.
Berdiri engkau di
antara bukitan hijau
Pada lembah yang tak
enteng dipandang jauh
Suara manismu memanggil
pulang
Segenap anak yang
kemarin kau kandung
(Puisi ‘Mudalerekku Tercinta’).
Ada suara kereta api di stasiun Termini, pula suara anak
jalanan yang bingung tentang masa depannya. Tidak terkecuali bulan Desember
yang akan segera pamit pun punya suara dengan gaung yang terus membahana.
Tentang dambaan jiwa penyair kita menulis:
Ku rindu suaramu
Sapamu
Ku rindu senyummu
Hadirmu………
Kusisishkan diriku di
tepian sungai
Berusaha menghadirkan
suaramu,
Lewat gemercik air
Kau ingin berbicara
Berbagi,
Mendengarkan,
Namun kata tak punya
makna
Hanya hembusan angina
yang tercipta
(Puisi: ‘Dambaan Jiwa’).
Sebagai orang yang menyadari diri dipanggil untuk sebuah
model kehidupan dan pelayanan khusus, penyair bermadah tentang panggilan Ilahi:
Sapa-Mu bernafaskan
lembut,
Kala raga serasa sarat
Bisik-Mu merasuk dalam
kalbu……..
Ini aku pancaran
suara-Mu
Tunjukkan jalan-Mu,
kucoba telusuri
Beri aku kuat-Mu
Gemuruh Suara-Mu
kuikuti
( Puisi: ‘Suara Ilahi’).
Suara Tuhan yang memanggilnya dari ladang sang ayah di
Mudalerek, Lembata, membangunkannya dari mimpi yang diterimanya tentang masa
depan.
Penyair ini menunjukan karakter amat kuat sebagai seorang
pendengar yang intensif. Dia mendengar untuk mengerti. Kendati dia sendiri
sadar sepenuhnya, mengerti itu mudah. Orang mesti mengambil waktu untuk
mendengar dengan baik. Sebab itu, dalam puisi ‘Mengerti’? penyair kita menulis:
Mengerti?
Mengerti itu sulit
Jika tiada ingin
Tak meminjam waktu
Tak menyendeng kuping
Ya! Mengerti itu sulit
Dia mendengar suara dalam batinnya. Telinganya dipasang untuk
menangkap getaran dari alam. Sejarahnya adalah rangkaian suara yang memberi
dorongan untuk terus melangkah maju. Relasinya terbentuk dari kata, yang
terucap pun yang tak tersampaikan.
Tuhan, yang dalam Kitab Kejadian mencipta dengan daya
suara-Nya, yang dalam prolog Injil Yohanes disebut sebagai Sabda, kata yang
abadi yang turun untuk memasang tendanya di tengah-tengah antara manusia, oleh
penyair disapa sebagai Angin dengan getaran suara yang lembut.
Kita baca dalam puisi ‘Menamaimu Angin’:
Ku menamaimu Angin
Getar lembut suaramu
Membawaku nikmat musik
hutan
Hijau dan luas
membentang
Orang yang mendengar dengan baik, yang menangkap apa yang
dipesankan sesama, alam dan sejarah, kembali dapat mengangkat suaranya untuk
semuanya itu. Dia menjadi suara bagi yang kehilangan suara, entah karena
kehilangan keberanian atau tersebab oleh arogansi orang lain. Juga menyuarakan
perasaan-perasaan yang dianggap terlampau sederhana untuk disuarakan.
Menulis puisi adalah memberi suara. Kualitas pemberian suara
ditentukan oleh kesanggupan dan kerelaan untuk sungguh mengidentifikasikan diri
dengan mereka atau apa yang disuarakan. Jika tidak, orang hanya menyampaikan
keinginannya sendiri sambil mengatasnamai orang lain.
Demikian pula, kekuatan sebuah puisi amat ditentukan oleh
peyelaman ke dalam realitas dan kesanggupan untuk menemukan kata dengan diksi
dan daya majas yang kuat. Puisi akan terkesan tawar ketika kata yang dipilih
terdengar terlampau bombastis untuk menyampaikan pesan yang dimaksudkan.
Saya mendapat kesan, sebagian besar puisi-puisi Sr. Andriana
mengutamakan pilihan kata yang sederhana, yang memungkinkan orang dengan mudah
mengikutinya. Dengan mudah orang-orang yang sedanga berada di perantauan,
mereka yang mencintai alam, dan terutama mereka yang hidup dan melayani Tuhan
secara istimewa serta para pendukung mereka, menemukan di dalam puisi-puisi ini
pengalaman mereka sendiri, pengalaman akan suara yang memanggil pulang supaya
dapat melangkah lebih pasti ke masa depan.
Kita tidak harus memiliki kemampuan istimewa untuk menikmati
puisi-puisi ini. Suara adalah panggilan, tetapi suara juga adalah jawaban. Sr.
Andriana merasa mendengar ada suara yang memangilnya untuk menjalani hidup atas
cara istimewa.
Dan suaranya sudah diberikan untuk menanggapi panggilan itu.
Dia sudah mengikrarkan janjinya untuk setia pada jalan ini. Tidak hanya itu,
Suara panggilan itu pun menjadi sumber inspirasi baginya untuk menulis puisi.
Sr. Andriana adalah seorang biarawan penyair. Dan
puisi-puisinya adalah suara yang memanggil para pembaca untuk berjalan pulang,
sebab
Suara adalah jalan
pulang bagiku
untuk melihat kembali
kata terucap
langkah yang tercetak
di setiap jejak,
kisah terpatri pada
setiap sejarah
sembari………………..
memetik hikmah yang
terpoles
(Puisi ‘Suara’).
Kita dipanggil untuk menimba lagi kekuatan dari masa lalu yang tidak pernah menjadi terlampau jauh untuk direngkuh, dari kisah-kisah para leluhur yang pernah didengar, dari janji dan ikrar yang pernah disampaikan. Kiranya suara, Sr.Andriana ini pun memanggil lebih banyak lagi perempuan tidak hanya untuk menjadi penyair, tetapi juga menerbitkan karyanya, sebab suara itu lebih bergaung ketika disampaikan kepada dunia.
********
*Tulisan ini adalah ‘P r o l o g’ pada buku puisi S u a r a, Karya Sr. Andriana Udjan Ellaman, DST, Penerbit Kandil Semesta.
Berandanegeri.com. DAMPAK ekonomi akibat coronavirus 2019 (covid-19) sangat dirasakan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali yang tinggal di pedalaman di tanah Papua seperti Kabupaten Dogiyai. Karena itu, Bupati Yakobus Dumupa jauh-jauh hari telah bekerja keras mengantisipasinya melalui sosialiasi tiada henti bagi masyarakatnya yang tinggal di wilayah adat Meepago.
Selaku Ketua Gusus
Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Dogiyai, ia memerintahkan para
anggota tim gugus tugas agar dalam sosialisasi terkait wabah menghebohkan dunia
itu, disampaikan pula dampak ekonomi akibat covid-19. Apa saja materi sosialisasi yang
diperintahkan Bupati Dumupa untuk disampaikan atau diberitahu tim gugus tugas kepada warga masyarakat di
wilayahnya?
Pertama, covid-19 sedang mengganggu kestabilan perekonomian Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kedua, masyarakat harus siap menghadapi guncangan perekonomian Indonesia yang lebih besar dan berat.
Ketiga,solusi untuk bertahan hidup dalam guncangan perekonomian kedepan adalah kerja yaitu berkebun, beternak, dan melakukan pekerjaan mandiri lainnya. Keempat, jika malas bekerja, maka bersiaplah untuk menderita dan melarat dan jangan salahkan siapapun jika hal itu terjadi. “Saya ulangi kampanye dan nasehat saya selama ini: kerja, kerja, kerja,” kata Bupati Dumupa. (PB)
SUATU waktu antara tahun 1999-2000. Saya berjalan kaki dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menuju Taman Suropati, Menteng, tak jauh kediaman Soeharto, Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun lebih. Setelah bertemu narasumber di YLBHI di bilangan Jalan Diponegoro, Menteng. Kantor itu seatap dengan kantor Koordinator untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Kontras ini yang belakangan naik daun di bawah pimpinan mas Munir Abdul Thalib atau beken dengan sapaan Munir, arek Malang bertubuh kecil namun berotak cerdas. Selain tentu mas Teten Masduki (kini Menteri yang membantu Presiden Joko Widodo), koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW). Di ruang ini, saya pernah bersua dengan Munir. Munir ini yang belakangan heboh dengan kisah diracun dengan arsenik dalam pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta-Amsterdam.
Tak hanya Munir. Mas Bambang Wijojanto juga pernah saya temui. Selain sebagai narasumber untuk laporan saya ke Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian di Ende, Flores. Selain wawancara dengan mas Bambang, saya juga sempat mengajak mas Bambang (belakangan jadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk menjadi keynote speech peluncuran OZON, majalah berita bulanan yang saya ikut rintis dengan core sajian seputar lingkungan hidup, pertambangan, pariwisata, kehutanan, dll. Majalah milik Pak Karel Danorikoe, putra Todo, Manggarai, kami launching (luncurkan) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Cipayung, Jakarta Timur. Dari YLBHI saya juga leluasa mewawancarai Ibu Apong Herlina SH, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, terutama soal isu-isu hukum di DKI Jakarta.
Niat saya ke Taman Suropati tak lain melihat dari dekat aksi demo di jalan antara Kantor Menteri Bappenas dan Taman Suropati. Sebagian massa duduk-duduk dalam taman itu karena mungkin kelelahan. Selain sebagai bahan laporan saya ke Dian, sekalian juga kongkow-kongkow dengan beberapa rekan wartawan yang baru saya kenal. Maklum. Wartawan muka baru. Perlu gaul dan bisa melatih lidah saya agak tak kaku lagi dengan bahasa Indonesia logat Kupang atau Lembata. Begitu kira-kira bayangan saya saat itu. Sambil ngeteh dan nikmati tahu dan tempe goreng dengan seorang rekan wartawan asal Semarang, mata saya tertuju pada sosok yang familiar di bawah pohon. Ia tengah dikerubuti beberapa rekan media.
Kali ini saya sungguh beruntung. Bertemu langsung dengan Arief Budiman. Nama aslinya Soe Hok Djin. Ia tak sekadar seorang sosiolog namun juga penulis hebat dan intelektual Indonesia. Ia pemikir kritis era Orde Baru. Kala itu wajah dan komentarnya kerap menghiasi sejumlah media nasional. Namun, dalam pikiran saya Arief adalah pengajar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. “Itu Pak Arief Budiman, mas. Sosiolog yang brilian. Kayanya beliau lagi tugas di Jakarta. Bisa sampari dan wawancara beliau. Asyik orangnya,” kata mas Joko, rekan jurnalis kepada saya. Tantangan baru bagi saya mewawancarai tokoh sekaliber Arief Budiman. Saya mencoba meyakinkan diri. Kalau saja Pak Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, Jenderal Kemal Idris, Chris Siner Keytimu, Roch Basuki Mangunpurojo saja saya tembus mewawancarai mereka, mengapa Pak Arief nggak bisa?
Itulah alasan saya mendekati Arief Budiman, mengorek banyak soal tentang demo yang kerap dilakukan rekan-rekan mahasiswa dan elemen-elemen lain kala itu. Dari mana pangkal soal aksi demo yang kerap melimpuhkan beberapa ruas jalan di Ibukota. Apakah pangkal soalnya adalah kebijakan Presiden Soeharto yang ditentang sebagian kalangan atau ada agenda lain di balik itu. Bagi saya, Arief Budiman adalah sosok yang tepat saya ajukan pertanyaan. “Saya sudah lama tahu Dian. Media itu kayanya sudah lama terbit. Anda ditugaskan Dian di Jakarta?” tanya Pak Arief usai saya wawancara. “Saya hanya kontributor lepas, Pa Arief. Saya terima kasih karena sudah menyampaikan banyak gagasan,” kata saya menimpali. Dan ia segera bergegas meninggalkan Taman Suropati.
Nama Arief Budiman belakangan menghilang. Sosiolog ini kabarnya menuju Melbourne, Australia dan menjadi pengajar di Melbourne University. Di kota negeri Kanguru itu, ia sempat menghabiskan waktunya sebagai dosen. Kabar Arief mengajar di kampus itu juga pernah disinggung ama Dr Justin Laba Wejak, salah seorang pengajar Kajian Asia di Melbourne University dari kampung Baolangu, Nubatukan, Lembata. “Tapi kayanya beliau sudah kembali ke Salatiga,” kata ama Justin. Hari ini, kabar mengejutkan Arief Budiman berpulang. Sosiolog brilian kebanggaan itu menghadap Tuhan. Ia menutup mata di bawah langit Ungaran, Jawa Tengah pada Kamis, 23 April 2020 di usia 79 tahun.
Justin mengenang kolega baiknya itu, sesama pengajar di Melbourne University, melalui Ata Lembata, grup WA warga asal Lembata sedunia. Kata Justin, Prof. Arief Budiman, akademisi dan aktivis, menjadi founder Professor untuk Indonesian Studies di Universitas Melbourne (1997-2007). “Dia senior saya di lembaga itu, dan sama-sama mengajar satu mata kuliah tentang Ketimpangan Sosial di Indonesia. Banyak kenangan indah selama 10 tahun bersama di Melbourne; dia dikenang sebagai sosok sahaja dan humanis yang luwes bergaul dengan siapapun. Selamat jalan sang Mentor yang sahaja dan polos,” kata magun Justin, lulusan STF Ledalero Maumere, Flores.
KH Dr Ahmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah melukiskan sekilas sosok alm Arief Budiman. Kata Gus Mus, hari ini mendengar berita saudara dan guru kita Prof Dr Arief Budiman berpulang ke rahmatuLlãh. Kita kehilangan seorang tokoh intelektual dan budayawan yang berprinsip dan teguh dalam pendirian. Semoga segala amal baik almarhum diterima oleh Allah dan kesalahannya diampuni olehNya. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’ãfihi wa’fu ‘anhu. Semoga Mbak S. Leila Chairani dan segenap keluarga yang ditinggal dianugerahi tambahan ketabahan dan kesabaran. Al-Fãtihah. “Foto saat aku menjenguk beliau di rumahnya di Salatiga setahun yang lalu. Dari kiri: Mbak S. Leila Chairani, Prof. Dr. Arief Budiman, aku, anakku Rabiatul Bisriyah,” kata Gus Mus dalam caption foto di akun Facebook-nya.
Sastrawan Floribertus Rahardi juga menulis sekilas sosok Arief Budiman. Rahardi, penulis buku Lembata, Sebuah Novel menulis, Arief lahir di Jakarta 3 Januari 1939. Ia kakak Soe Hok Gie (1942-1969). Ia salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan 1963. Juga tokoh Golongan Putih (Golput) dalam Pemilu 1971; meskipun istilah golput sendiri dicetuskan oleh Imam Waluyo. Pernah menjadi redaktur Majalah Sastra Horison 1966-1972. Arief pernah ditahan Pemerintah Orde Baru karena demonstrasi menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah 1972. Belakangan dikenal sebagai sosiolog dan menjadi guru besar di Universitas Melbourne, Australia.
*********
Jakarta, Kamis, 23/4 2020
Ansel Deri, Pernah Menjadi Kontributor DIAN dan FLORES POS
Berandanegeri.com. KETUA Gugus Tugas Covid-19 sekaligus Bupati Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, Yakobus Dumupa menyebutkan, hasil evaluasi kerja termin pertama Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai terkait percepatan penanganan covid-19 di wilayah itu hingga Senin (21/4), masih nihil alias belum ada kasus covid-19.
“Secara umum pelaksanaan kegiatan penanganan covid-19 di Dogiyai telah berjalan dengan baik. Hampir semua kegiatan mulai berjalan dan sejumlah kekurangan mulai dibenahi secara bertahap. Masyarakat juga mulai memahami covid-19 dan mematuhi kebijakan dan keputusan yang diambil oleh pemerintah kabupaten dalam rangka penanganan covid-19,” ujar Yakobus Dumupa dalam keterangan yang diterima berandanegeri.com Selasa (22/4).
Hasil evaluasi juga
memperlihatkan, pos koordinasi atau posko pengamanan dan pemeriksaan kesehatan
di kilo meter 100 Siriwo, Bomomani, dan Moanemani sudah beroperasi secara
efektif. Sedangkan posko Unito dan Wigoumakida tengah dalam proses
pemberangkatan petugas ke lokasi dan dipastikan minggu depan sudah bisa
dioperasionalkan. Dengan demikian, kata Dumupa, seluruh wilayah perbatasan
Dogiyai dengan sejumlah kabupaten tetangga bisa dijaga dan diawasi petugas yang
ditempatkan di masing-masing posko.
Selain itu, pengguna
jalan darat dari Kabupaten Nabire menuju Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai,
dan Intan Jaya dan sebaliknya masih belum tertib. Ia mengaku, masih terjadi
iring-iringan kendaraan, penyerobotan posko, pemaksaan petugas, dan tindakan
anarkhis yang kebanyakan dilakukan warga masyarakat Paniai dan Deiyai dengan
menggunakan “surat ijin jalan palsu” (di-scan dan di-fotokopi ulang-ulang) dari
bupati setempat. Sedangkan warga masyarakat Dogiyai mulai tertib dan mematuhi
ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam penggunaan jalan trans Papua
Nabire-Ilaga.
“Pemerintah Dogiyai
melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga mulai melakukan pendataan dan
verifikasi pelajar dan mahasiswa untuk diberi bantuan biaya hidup selama masa
covid-19. Kami juga sedang menyediakan bahan makanan untuk kemudian disalurkan
bagi warga masyarakat yang kurang mampu ketika terjadi krisis pangan nanti.
Termasuk menyiapkan pemberian dana bantuan sosial bagi masyarakat yang kurang
mampu,” lanjutnya
Ia menambahkan, dalam
beberapa hari ke depan, Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai akan melakukan sosialisasi
sejumlah hal yang berkaitan dengan covid-19 dan dampaknya dalam berbagai aspek
dan langkah-langkah mengantisipasi atau mengatasi berbagai masalah yang akan
muncul kemudian.
Karena itu, menurutnya,
pihak Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai telah berkomitmen untuk konsisten dengan
kesepakatan para bupati dari wilayah Meepago dalam rangka percepatan penanganan
covid-19 di selkuruh kabupaten di wilayah Meepago. Wilayah Meepago Nabire,
Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya. Dengan demikian, pihaknya juga berharap agar
masyarakat dan semua pihak tetap konsisten menaati kesepakatan yang telah
diambil bersama para bupati di wilayah Meepago.
“Selaku Ketua Gugus Tugas Covid-19 sekaligus Bupati Dogiyai saya mengapresiasi kerja keras tim, masyarakat, dan semua pihak yang sudah bahu-membahu ikut ambil bagian dalam mencegah dan menangani penyebaran covid-19 di Dogiyai. Evaluasi pertama ini perlu kami sampaikan untuk diketahui dan dijadikan bahan evaluasi agar dilakukan pembenahan-pembenahan sebagaimana mestinya,” katanya.