Blog

  • FKM Flobamora Gelar Pembagian Sembako, APD dan Masker

    FKM Flobamora Gelar Pembagian Sembako, APD dan Masker

    Berandanegeri.com. Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Flobamora, Minggu (17/5/20) mengadakan pendistribusian 300 paket sembako, 2000 Alat Pelindung Diri dan 2000 Masker kepada warga masyarakat Flobamora Jabodetabek yang terkena dampak Covid-19. Acara pendistribusian dilangsungkan di halaman Dislitbang TNI AD, Jl. Ahmad Dahlan, Jakarta Timur, yang mana dihadiri oleh masing-masing Ketua Ikatan Keluarga Besar (IKB) Flobamora Se-Jabodetabek.

    Acara ini digelar sebagai bentuk kepedulian FKM Flobamora kepada warga IKB NTT Se-Jabodetabek yang terkena dampak Covid-19, dan juga bagi warga Flobamora yang kurang mampu.

    Ketua Forum Komunikasi (FKM) Flobamora Jabodetabek, Daniel Tagu Dedo dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini digelar sebagai bentuk kepedulian FKM Flobamora kepada masyarakat NTT Se-Jabodetabek dan terutama yang kurang mampu di tengah pandemic Covid-19.

    “ Pembagian sembako, APD dan masker sebagai bentuk respon kemanusiaan FKM terhadap warga NTT yang terkena dampak pandemi virus Corona. Tapi kita prioritaskan kepada warga kurang mampu yang kena dampak corona., “terang Daniel.

    Selain itu Sekjen FKM Flobamora Jabodetabek, Martinus Laba Uung menambahkan bahwa momen pembagiaan sembako, APD dan masker sebagai bentuk respon FKM Flobamora dalam menanggapi dampak pandemic Virus Corona. FKM sebagai wadah induk Flobamora terus menghimbau kepada para Ketua IKB NTT se Jabodetabek untuk membuat pendataan kembali jumlah warga NTT di Jakarta, terutama yang terkena dampak pandemic Covid-19,” tegas Martin Uung.

    Pembagian sembako, APD dan masker masih akan terus berlangsung selama masa pandemic berlangsung tetapi akan dipertimbangkan dengan jumlah data warga yang masuk. FKM Flobamora akan terus memantau warga Flobamora melalui IKB-IKB agar semua warga yang terkena dampak pandemic covid-19 dapat menerima bantuan. (Riky Hayon)

  • Gunung Batu yang Bersila

    Gunung Batu yang Bersila

    …kepada Paul Budi Kleden…

    (1)

    di kaki bukit Larantuka

    engkaulah gunung batu

    yang bersila

    hening bagai kaku pohonan

    paul, paul

    kau masih saja sesunyi air sebisu tanah

    saat mata nasib yang jalang

    memberiku isyarat penuh gemuruh

    apakah kita?

    boneka kertas yang pasrah dijarah sejarah

    ataukah Sishifus

    yang tak pernah menyerah

    pada kutuk batu? hari demi hari

    hanyalah gugusan karma

    yang terlunta dan duka maha raja bertahta

    dalam perjalanan ini

    telah kuikat takdir kasapku

    dengan seluruh kebebasanku

    tak akan ada batas

    yang sanggup melerainya

    (2)

    ke pulau diri………

    bersama burung-burung

    yang kau lepaskan

    dari menara-menara hijau

    aku seberangi kembali selat Solor

    laut begitu asin

    tangan-tangan dingin penuh garam

    menyalakan lampu-lampu damar

    di daratan

    kulihat masalalu berjalan

    kucium bau manusia Portugis

    di seberang lengang benteng Lohayong

    inikah tanah ibu?

    oh, aku seperti sedang memasuki

    kesuyian tiada tara

    tak kudengar riak

    bahkan disini angin tak bertubah

    sayap-sayapku yang patah

    kembali utuh bagai bahasa

    yang mengikat lidahku

    (3)

    Lamahala…….

    kucari juga diriku disitu

    tapi yang kutemui cuma sepotong sedu

    yang maikn lama makin perih

    di dadaku

    apa yang salah?

    hingga orang-orang kampung butuh kejahatan

    untuk menjagal diri sendiri

    tak kutanam dendam di bawah darahku

    meski mata pisau goreskan luka

    silsilah dagingku

    pada maut dan kiamat

    aku pasrahkan batas duka

    segala yang terampas dari sisiku

    akan terampas dari sisi mereka

    (4)

    maka jangan titahkan padaku

    untuk masuk menemu diri

    sebab aku akan mati

    seperti Sartre yang mati

    memasuki diri orang lain

    “sebab neraka adalah orang lain”

    dan sedih akan kembali tiba

    seperti kapal-kapal kembali

    dari bandar-bandar yang jauh

    maka buat saja aku lelah

    ludahkan padaku segala yang pahit

    dengan begitu aku akan merasakan

    manisnya pengembaraan

    Bara Pattyradja, dari buku puisi Samudera Cinta Ikan Paus”, Penerbit Asupsi, 2013, Bandung.

  • Mulai 18 Mei, Italia Mulai Buka Kembali Misa Publik

    Mulai 18 Mei, Italia Mulai Buka Kembali Misa Publik

    Berandanegeri.com. PEMERINTAH Italia dan Gereja Katolik setempat menyepakati Misa sudah dibuka kembali untuk umum seperti sediakala terhitung tanggal 18 Mei mendatang. Kesepakatan Pemerintah Italia tersebut juga berlaku untuk kegiatan ibadah komunitas-komunitas bagi umat agama lain.

    “Hari ini, 7 Mei, Konferensi para Uskup Italia (CEI) dan pemerintah negara sudah menandatangani kesepakatan yang memberikan kebebasan kembali kepada Gereja Katolik dan juga agama-agama lain untuk melakukan ibadah seperti biasa mulai 18 Mei mendatang,” ujar Pastor Markus Solo Kewuta SVD kepada berandanegeri.com dari Roma, Italia, Kamis (7/5) malam.

    Menurut Pastor Markus, dalam kesepakatan tersebut disepakati pula sejumlah peraturan ketat yang harus dihormati dan ditaati guna menghindari kasus-kasus baru. Sejak 10 Maret lalu diberlakukan pemberhentian ibadah publik menyusul coronavirus 2019 (covid-19) melanda Italia.

    Oleh karena itu, demikian imam asal kampung Lewouran, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, berbagai peraturan detail untuk mengghindari penularan covid-19 dan lain-lain, akan diumumkan oleh pihak Gereja & para pemuka agama kepada umatnya masing-masing. “Peraturan-peraturan yang disepakati dituangkan dalam lima poin utama dengan 27 poin penjelasan. Pengumuman resmi disampaikan tadi,” lanjut Pastor Markus, Islamolog yang menyelesaikan Studi Islamologi dan Arabistik di Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies (PISAI) Roma.

    Ansel Deri

  • Pemkab Dogiyai Bantu Mahasiswa Terdampak Covid-19

    Pemkab Dogiyai Bantu Mahasiswa Terdampak Covid-19

    Berandanegeri.com. PEMERINTAH Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, berkomitmen memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada para pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Dogiyai yang terkena dampak covid-19. Para pelajar dan mahasiswa tersebut sedang menjalani studi di beberapa kota di seluruh wilayah di Indonesia.

    “Hingga kini belum kita salurkan dananya karena data pelajar dan mahasiswa belum lengkap. Banyak pengurus Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai atau IPMADO di beberapa kota studi tidak punya data lengkap dan jelas,” kata Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa dalam keterangan kepada berandanegeri.com di Jakarta, Kamis (7/5) pagi.

    Menurut Bupati Dumupa, menurut rencana BLT akan diberikan langsung kepada setiap pelajar dan mahasiswa melalui rekening masing-masing. Namun, jika para pelajar dan mahasiswa yang tidak memiliki rekening akan dikirimkan melalui kantor pos.

    “Kami tidak mengirim BLT melalui pengurus IPMADO. Selama ini sejumlah pengurus tidak jujur, sering memotong atau menggelapkan uang. Pengiriman langsung kepada masing-masing pelajar dan mahasiswa bersangkutan untuk memudahkan pertanggungjawaban. Ini penting sebab setiap dana yang bersumber dari keuangan negara berapapun nilainya harus dipertanggungjawabkan,” tegas Dumupa

    Pemerintah Kabupaten Dogiyai memberikan deadline hingga Senin (11/5 2020) kepada setiap pengurus IPMADO untuk mencatat dan mengirimkan data mahasiswa melalui Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dogiyai.

    “Kami ingatkan, para pengurus IPMADO, pelajar, dan mahasiswa yang tidak mematuhi semua ketentuan seperti memalsukan data diri akan diberi sanski tegas,” kata Dumupa, mantan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP).

    Foto: Kabupaten Dogiyai. Papua

    Ansel Deri

  • Lestarikan Tradisi sambil Bersyukur

    Lestarikan Tradisi sambil Bersyukur

    Oleh Josef Bataona

    “All major religious traditions carry basically the same message, that is LOVE, COMPASSION and FORGIVENESS. The important thing is they should be part of our daily lives.” (Tenzin Gyatso)

    SAATNYA MELAUT. Satu Mei merupakan awal masyarakat Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur memulai siklus kehidupan 6 bulanan, mencari rezeki yang tersimpan di laut lepas. Berbagai ikan dengan ukuran yang tidak terbayangkan oleh banyak orang (termasuk oleh orang Indonesia), hanya ditangkap dengan menggunakan alat tradisional, dengan perahu yang hanya mengandalkan layar atau yang didayung sekitar 12 orang. Contoh besarnya ikan paus yang ditangkap, lihat di akhir tulisan ini

    Misa Arwah di Pantai

    Tidak kalah pentingnya untuk diangkat adalah tradisi seputar itu. Malam menjelang 1 Mei, seluruh masyarakat berkumpul di pantai, didepan kapel untuk merayakan Misa Kudus, memperingati anggota keluarga yang telah meninggal dunia di laut, terutama saat menjalankan tugas menangkap ikan, terutama ikan paus. Mereka adalah pejuang yang gigih menempuh gelombang lautan Hindia, untuk bisa memberi nafkah bagi keluarganya.

    Usai misa, dalam suasana hening, semua memasang lilin bernyala di di atas pasir pantai, dan sebagian lilin itu diarungkan ke laut, sambil  fokus mengenang anggota keluarga masing-masing yang telah meninggal dunia. Merinding, haru, namun terasa damai.

    Karya di Dunia Berbeda

    Di Jakarta dan sekitarnya, ada komunitas Lamalera yang bernama IKABELA. Mereka juga berjuang untuk kehidupan keluarga bukan di laut, tapi di dunia yang berbeda, sesuai dengan talenta masing-masing.

    Atas inisiatif anak-anak milenial Lamalera di Jakarta, mereka juga mengumpulkan informasi tentang orang Lamalera yang pernah tinggal dan berkarya di Jakarta dan sudah meninggal dunia. Total ada 100 orang yang sudah almarhum. Lalu dibuat kesepakatan, ritual misa arwah di Lamalera bisa dilakukan juga di Jakarta pada tanggal 1 Mei. Merekapun kompak membentuk koor dadakan yang dipimpin oleh nona Lamalera, Yuliana Kremo Keraf. Berikut foto anggota koor jelang beraksi di Gereja St Yosef Matraman

    Dalam kata pengantarnya, pater Sony Keraf menyampaikan bahwa, inisiatif ini patut diapresiasi. Selain memperingati keluarga Lamalera yang tinggal di Jakarta dan sudah meninggal dunia, juga turut memperingati arwah keluarga Lamalera yang meninggal di Laut. Selain itu kita bersama gereja merayakan pesta St Yosef Pelindung Pekerja dan juga awal bulan Rosario. Berikut foto anggota koor usai misa

    Mohon Berkat sebelum Melaut

    Pagi hari tanggal 1 Mei, semua masyarakat Lamalera kembali berkumpul depan Kapel di pinggir pantai, menghadiri Misa kudus untuk memohon berkat sebelum kegiatan melaut.

    Dilanjutkan dengan upacara memberkati semua perahu dan peralatan menangkap ikan dan juga memberkati laut, sumber rezeki masyarakat Lamalera.

    Misa Konselebrasi ini dipersembahkan oleh Pater Petrus Dile Bataona, Pater Herman Yosef Bataona dan pater Kris Laden. Yang disebut terakhir ini datang jauh-jauh dari Kucing Malaysia untuk turut menyaksikan tradisi unik desa Lamalera ini.

    Jaminan Kehidupan juga untuk para Janda

    Banyak yang hanya melihat tradisi penangkapan ikan paus, yang kurang lebih besarnya seperti nampak pada foto ini.

    Namun perlu kami kedepankan disini, bahwa penangkapan ikan paus di Lamalera tidak bisa dipisahkan dari tatanan kehidupan sosial di desa itu. Pada saat membuat perahu baru atau memperbaiki perahu, semua anggota suku akan bekerja secara gotong royong. Contoh lain, para janda tidak perlu cemas bila suami mereka sudah meninggal dunia. Kehidupan mereka akan dijamin oleh suku. Ada bagian tertentu dalam pembagian ikan yang ditangkap adalah untuk para janda. Dan yang paling penting untuk digaris-bawahi adalah ikan paus yang ditangkap turun temurun itu, bukan jenis ikan paus yang dilarang. Bahkan untuk jenis ikan yang dibolehkan inipun, masyarakat Lamalera hanya membutuhkan beberapa ekor untuk bisa menghidupi keluarga selama setahun.

    Semoga tradisi seputar 1 Mei ini bisa terus dilestarikan, sebagai bagian menumbuhkan rasa mensyukuri karunia Tuhan. Juga mempererat kebersamaan dan kekeluargaan warga Lamalera, baik yang masih di kampung, ataupun yang sedang merantau untuk berkarya di dunia yang berbeda. Semoga berkat Tuhan menyertai para Nelayan Lamalera!

    “Everything can be taken from a man but one thing; the last of the human freedoms – to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way.” (Viktor Frankl)

    ********

    • Tulisan ini dibuat bulan Mei 2019, satu tahun yang lalu, sebelum ada covid-19.
    • Sumber: https://www.josefbataona.com

  • Peran BIN dalam Penanganan Covid-19

    Peran BIN dalam Penanganan Covid-19

    Oleh Ansel Deri *

    PRESIDEN Jokowi akhir pekan kedua Maret 2020 memandang strategis mengajak Badan Intelijen Negara (BIN) terlibat dalam pencegahan dan penanganan coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Indonesia. Kepala Negara juga memandang serius mendapuk mantan Komandan Jenderal Kopassus, Letjen TNI Doni Monardo sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

    Dengan demikian, keterlibatan BIN diharapkan ikut mendukung pemerintahan Presiden Jokowi bergandengan tangan dengan masyarakat dan seluruh elemen bangsa mencegah dan menangani penyebaran virus berbahaya itu. Mengapa Presiden Jokowi memandang perlu melibatkan BIN dalam pencegahan dan penanganan covid-19? Ini juga merupakan pertanyaan penting lainnya. Kita tahu bahwa selain BIN, Indonesia juga memiliki sejumlah badan peyelenggara intelijen negara.

    Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, penyelenggara intelijen negara terdiri atas (i), Badan Intelijen Negara, (ii), Intelijen Tentara Nasional Indonesia, (iii), Intelijen Kepolisian Negara Republik Indonesia, (iv), Intelijen Kejaksaan Republik Indonesia, dan (v), Intelijen kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian. Sekali lagi, mengapa Presiden Jokowi memandang perlu melibatkan BIN dalam pencegahan dan penanganan covid-19, itu salah salah hal penting mendeteksi peran BIN sesungguhnya agar situasi keamanan dan ketertiban negara di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi tetap kondusif.

    Bekerja Optimal

    Bagi sebagian masyarakat awam terutama yang tinggal di pelosok Tanah Air kesan BIN sebagai institusi negara yang angker, misterius, boleh jadi mengisi batok kepala. Kesan itu bisa saja muncul karena aparatnya selalu bekerja dalam senyap menangkal setiap potensi ancaman yang membahayakan kedaulatan bangsa dan negara.

    Sejak Jokowi terpilih jadi Presiden Republik Indonesia periode pertama dan memasuki periode kedua pemerintahannya, sepak terjang BIN dalam kehidupan berbangsa dan bernegara malah semakin menunjukkan arah yang lebih baik. Bukan tidak mungkin keberadaan BIN melalui para personilnya kian dibutuhkan, terutama dalam berbagai peristiwa aksi terorisme hingga bencana alam. Wabah pandemi covid-19 yang membuat perekonomian nasional nyaris kelimpungan, tentu menarik perhatian Presiden Jokowi memandang BIN sebagai salah satu elemen negara yang perlu berada di garda depan. Ada beragam alasan yang dapat dikemukakan. Namun paling kurang ada sejumlah hal yang dapat dicatat.

    Pertama, sebagai penyelenggara intelijen negara BIN dengan caranya memberikan nasehat atau advis kepada pemerintah agar selalu siaga menangkal setiap potensi ancaman yang membahayakan bangsa dan negara. Dengan demikian, keamanan dan ketertiban sungguh dirasakan atau dinikmati masyarakat. Dalam konteks kehadiran wabah covid-19 yang melanda Indonesia, peran BIN sangat strategis. Mendeteksi kehadiran wabah itu di Indonesia, tentu tak hanya memerlukan keahlian di bidang ilmu kesehatan. Namun lebih dari itu, membutuhkan kepekaan BIN dalam sepak terjangnya membantu pemerintah mendeteksi atau menangkal gangguan invisible hand di balik wabah mematikan itu.

    Kedua, Budi Gunawan (selanjutnya BG) adalah Kepala BIN yang memimpin lembaga intelijen itu berprestasi di mata publik. Penilaian ini tentu tak berlebihan. Selama dipimpin BG, BIN selalu menunjukkan kinerja positif selama periode pertama kepemimpinan Jokowi hingga memasuki periode kedua bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Tak sebatas itu. Para wakil rakyat di Senayan pun mengakui peran BIN, terutama dalam menjaga situasi politik di Tanah Air. Anggota Komisi I DPR RI Bobby Adhityo Rizaldi pernah memberi apresiasi terhadap peran BIN di bawah kepemimpinan BG. Peran BIN dinilai dirasakan masyarakat dalam upayanya menciptakan persatuan bangsa.

    Ketiga, seperti pernah ditegaskan pengamat politik Boni Hargens, selama ini BIN di tangan BG terus fokus pada upaya melakukan transformasi kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan peningkatan kinerja. Bahkan lebih dari itu BIN merespon dengan cepat berbagai peristiwa dengan memberi sinyal berupa informasi ancaman terorisme, namun eksekusi ada di tangan penegak hukum. Dalam pengamatan Boni, ada konsistensi yang kuat dalam gaya kepemimpinan BG. Pasca aksi 411, ada perubahan drastis di tubuh birokrasi BIN.  Inilah boleh jadi menjadi alasan tambahan mengapa Presiden Jokowi memandang perlu BIN masuk dalam pencegahan dan penanganan covid-19.

    Mengapa selain unsur intelijen TNI dan Polri, BIN perlu diajak Presiden Jokowi dalam pencegahan dan penanganan covid-19? Pertanyaan itu menarik. Namun satu hal pasti bahwa Jokowi tentu tak sekadar melihat BIN memiliki kemampuan menjaga keamanan dan ketertiban negara. Lebih dari itu, BIN juga memiliki pengalaman dalam kerja-kerja sosial kemasyarakatan mumpuni. Apalagi pada 13 April 2020, Presiden menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2020 Tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai Bencana Nasional.

    Di sini, peran BIN tentu sangat diperlukan. Mengapa? Korona bukan hanya berpotensi melumpuhkan ekonomi dalam negeri tapi juga berpotensi mengganggu kerja sama ekonomi bilateral maupun multilateral seperti kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan tetapi juga berbagai kontrak bisnis sebelum Keppres diterbitkan. Tak berlebihan Presiden Jokowi pada Jumat (13/3/2020) langsung melibatkan BIN dalam satgas penelusuran pihak yang diduga berhubungan dengan pasien covid-19 positif. Tim tersebut tak hanya terdiri atas Kementerian Kesehatan, intelijen Polri namun juga BIN sendiri. Hasilnya menggembirakan.

    Jokowi mengakui, setelah diketahui yang bersangkutan (pasien covid-19) dalam dua hari, Kepala Negara sudah mendapatkan 80 nama. Sukses ini diraih tim reaksi cepat yang terdiri dari, Kemenkes dibantu intelijen BIN dan intelijen Polri, pemerintah berhasil menemukan pasien covid-19 baru.

    Peran BIN dalam gugus tugas penanganan covid-19 masih sangat diperlukan. Saat berlangsung Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR konferensi konferensi video pada Kamis (2/4 2020) Doni Monardo menyebutkan bahwa sesuai data BIN, penyebaran covid-19 di Indonesia akan mengalami puncaknya pada Juni atau akhir Juli 2020. Penyebarannya akan mencapai 106.287 kasus.

    Mencermati perkembangan penyebaran covid-19, maka peran gugus tugas, termasuk BIN masih sangat diperlukan. BG selaku Kepala BIN tentu semakin ditantang bagaimana memaksimalkan institusi intelijen itu untuk menyelamatkan tak hanya warga negara namun juga kedaulatan negara bila covid-19 sudah mengancam Indonesia sebagai negara akibat covid-19. Di sini, peran BIN  di garda terdepan adalah pilihan strategis Jokowi.

    ***

    *Ansel Deri, Aktif di Papua Circle Institut

    Sumber: Tribunnews.com, Kamis 30 April 2020

  • Menulis Puisi, Mendengar dan Memberi Suara

    Menulis Puisi, Mendengar dan Memberi Suara

    Oleh  Paul Budi Kleden, SVD

    Suara selalu mempunyai pemilik. Mengenal suara berarti dapat menghubungkan suara dengan pemiliknya. Kita tahu, suara ini bersumber dari mana atau siapa. Kita pun hafal, orang atau benda ini mengeluarkan suara macam mana. Suara ayah atau ibu, suara kekasih atau musuh bebuyutan, suara jengkrik di malam hari, atau suara lonceng gereja tua di kampong, pastilah suara yang mudah dikenal. Kita sudah terbiasa dengan suara-suara tersebut. Sebaliknya, kita akan merasa aneh ketika mendengar suara yang tidak diketahui sumbernya, atau saat berhadapan dengan sumber yang sudah dikenal namun mengeluarkan suara yang tidak biasa. Suara aneh di tengah malam bisa membuat kita takut. Dugaan kita menjadi liar saat mendengar suara ganjil yang keluar dari mulut saudara kita yang sedang sakit.

    Mengenal suara, artinya tahu dari mana suara itu, tidak selalu mengandaikan keakraban sebuah relasi. Kita dapat mengenal dengan sangat baik suara dari orang yang amat kita benci atau dari binatang yang amat kita takuti. Sebaliknya, tidak mengenal sebuah suara tidak selalu menimbulkan rasa takut atau tidak pasti. Kita dapat terpesona mendengar suara penyanyi yang belum pernah kita kenal, atau oleh musik dari alat yang belum pernah kita lihat.

    Suara bukan sekedar bunyi. Tentu saja, suara mengandaikan bunyi, tetapi berbeda dari bunyi, suara mengandung makna. Kita dapat mengatakan suara adalah bunyi yang menyampaikan pesan tertentu. Karena makna bukan hanya milik manusia, maka yang kita sebut mengeluarkan suara bukan hanya manusia. Kita menangkap suara burung, bahkan hempasan gelombang di tepi pantai dan desiran angin di hutan, kita sebut sebagai suara.

    Berbeda dari mengenal adalah memahami suara. Jika mengenal suara adalah persoalan mempertautkan suara dan sumbernya, maka memahami merupakan kesanggupan untuk mengaitkan suara dengan intensi atau maksud sumber suara. Biasanya, semakin mendalam kita mengenal sumbernya, semakin mudah kita menangkap makna suaranya.

    Kita amat paham, apa yang dikatakan oleh ayah dengan suaranya yang tinggi atau apa yang mau disampaikan ibu pada saat berbisik ke telinga kita. Sebuah kata yang sebenarnya berkonotasi menghina atau melecehkan, namun ketika disuarakan oleh seorang sahabat, ditangkap sebagai pernyataan kedekatan dan kehangatan. Suara gonggongan seekor anjing bisa membuat gemetar tamu yang baru pertama kali berkunjung, tapi dianggap sepi oleh tuannya. Jika kita sudah sangat mengenal seseorang, maka kita sanggup menangkap makna suara seorang kekasih juga ketika dia tidak sedang bersuara. Bukan hanya itu. Kalau kita sudah saling mengenal sangat mendalam, kita dapat memahami lawan bicara kita melampaui apa yang secara nyata dikatakannya. Kendati kata ‘senang’ yang dikatakannya, tetapi kita tahu, yang dimaksudkannya bukanlah seperti itu. Jawaban ‘tidak’ dari seorang anak ketika ditanya oleh ibunya apakah dia memecahkan gelas di dapur, ditangkap oleh ibunya sebagai sebuah pengakuan. Karena itu, kita sering mengatakan, ‘Suaramu mengkhianatimu.”

    Suara berbicara tentang pemiliknya jauh lebih banyak daripada apa yang dibunyikan melalui mulut. Kita mengungkapkan jauh lebih banyak tentang diri kita dari pada sekedar kata-kata kita. Suara kita tidak gampang dikontrol. Orang lebih mudah membaca kepribadian seseorang ketika mendengar suaranya daripada saat membaca tulisannya. Itulah alasan kenapa filsuf Prancis Roland Barthes merasa enggan berbicara. Dia menyadari bahwa dia tidak dapat sepenuhnya mengendalikan suaranya dan sebab itu merasa takut. “Kata-kata yang diucapkannya sering membuat saya merasa jengah karena selalu diliputi ketakutan menjadi pusat perhatian kalau saya berbicara.” Dia membayangkan kalau sedang berbicara, orang tidak hanya memperhatikan apa yang dia katakana, tetapi juga melihat lebih dalam ke suasana bathin dan kepribadiannya. Apa yang dikatakan Barthes tentu saja berlebihan. Tidak semua suara harus dikaitkan dengan kepribadian pemiliknya. Pendengar yang baik pasti membedakan konteks. Ketika menyaksikan sebuah pentasan drama, kita tahu bahwa yang disuarakan adalah pandangan dan perasaan tokoh yang diperankan.

    Demikian pula saat mendengarkan sebuah kotbah, yang menjadi yang utama bukanlah suasana bathin si pengkotbah. Yang menjadi inti adalah apa yang sungguh dikatakan. Sebabitu, yang menjadi pusat perhatian bukanlah kepribadian orang yang menjadi sumber suara. Kendati demikian, apa yang dikatakan Barthes tidak seluruhnya salah.

    Seorang penonton pentasan yang berpengalaman, pasti bisa membedakan apakah seorang aktor terlatih atau tidak, entahlah dia sungguh membatinkan perannya atau dia melakoninya tanpa penghayatan.

    Demikianpun, umat yang mempunyai perhatian pasti dapat menilai, apakah seorang pengkotbah hanya mengulangi apa yang dibacanya entah dimana, atau menyampaikan pikirannya sendiri, kendati sambil membacakannya. Karena bagaimanapun ada relasi antara suara dan pemiliknya, maka untuk menangkap dengan baik makna sebuah suara, kita perlu mendengar  dengan baik. Sumber utama dari ketidakpahaman atau kesalahpahaman adalah ketidaksungguhan dalam mendengar. Siapa yang mendengar setengah-setengah, akan juga mengerti setengah-setengah.

    Ketika orang tidak mendengar sungguh-sungguh, maka akan sangat mudah bahwa dia hanya mendengar suaranya sendiri, apa yang mau dia dengar dikatakan orang lain. Dia mendengar keinginannya sendiri. Bukan ada hanya prasangka, ada pula pra suara. Sungguh mendengar suara orang lain hanya mungkin apabila orang melepaskan suaranya sendiri.

    Mendengar dengan baik, memberikan telinga sepenuhnya kepada seseorang, seringkali menjadi syarat bahwa orang lain itu dapat bersuara. Seorang penulis Austria, Karl Kraus (1873-1936), pernah mengatakan, “Hab ich nur dein Ohr, find ich schon mein Wort” ( jika saya mendapatkan telingaku, aku segera menemukan kata-ku). Dihadapan telingamu yang terbuka, saya menemukan keberanian untuk mengatakan diri saya, mengungkapkan pikiran dan perasaan saya. Keterbukaan yang engkau tunjukan membantu saya untuk menemukan dan menyuarakan kata-kata saya. Orang tua dan pendidik yang mengandalkan ketakutan hanya akan menyebabkan anak-anak menjadi pendiam atau penipu. Mereka tidak sanggup berbicara atau berkata jujur.

    Sr. Andriana Ellaman memberi judul untuk kumpulan puisi perdananya: S u a r a. Dalam suara pembuka penyair memberi pertanggungjawaban, kenapa judul ini dipilih:

    “Suara” adalah teman paling setia kemanapun dan dimanapun kita berada…..Ada suara bergema menuntunku kembali kepada ruang tanpa tembok, membuatku mampu menuangkan nada-nada lembut yang tercecer menjadi alunan “Suara” yang akhirnya bisa membirama menyentuh dinding dengar pembaca yang terkasih.”

    Baginya, suara adalah ingatan. Kita dapat mengatakan, suara adalah ingatan pertama akan pemiliknya. Mendengar suara kita teringat akan pembicaranya. Dan sumber selalu harus ada lebih dahulu. Sebab itu, suara selalu memanggil pulang, membawa kepada sesuatu di masa lalu.

    Suara mengaitkan hari ini dengan yang kemarin, menyadarkannya bahwa langkah hari ini ada dalam sebuah jalinan erat dengan yang sudah mendahului. Suara adalah kenangan. Sebab itu, dalam puisi pertama dalam kumpulan ini penyair kita menulis:

    Suara bagiku adalah sebuah jalan panjang

    Jalan pulang kepada Nurani

    Jalan pulang kepada Cinta

    Jalan pulang kepada Ada

    Namun, panggilan pulang dalam suara bukanlah sebuah penyanderaan dalam dunia masa lalu. Sebab, kenangan, memoria, menyimpan dalam dirinya kekuatan maha dahsyat untuk melangkah maju. Daya juang tidak hanya datang dari rasa ingin tahu menguak tabir masa depan, tetapi juga dari keberanian untuk menyusuri jalan pulang, ke masa lalu. Di masa lalu kita akan temukan tekad  yang pernah dibulatkan dan janji yang sudah diikrarkan. Juga masa lalu mengandung gema banyak suara dari mereka yang terpangkas masa depannya karena ditekan dan diperlakukan tidak adil. Masa lalu memanggil dan merupakan sebuah panggilan. Sebab itu, suara adalah jalan pulang untuk dapat melangkah maju, bukan sekedar untuk mewujudkan impian sendirian, tetapi sebagai sebuah perjalanan untuk merealisasikan harapan banyak orang yang mimpinya terpotong terlampau muda. Dalam panggilan sebagai seorang biarawati, penyair kita menimba banyak kekuatan dari mengambil jalan pulang kepada orang tua. Dalam puisi ‘Dipanggil’ penyair kita menulis:

    Lihat Ayah

    Lihat Ibu

    Lihat Kasih

    Ikutilah Suara itu!

    Memang banyak dari puisinya berbicara tentang suara. Suara ayah tidak dapat dilupakan, sebab

    Dengan puji-pujianmu

    Terus berbisisk di telingaku,

    Suara lantang cinta bacamu

    Telah menyusup dalam relungku

    (Puisi ‘Bapa’). Suara tenunan sang ibu terekam kuat pada pita kaset kenangan seorang gadis kampung, sementara

    Kata terucap dari bibirmu,

    Tertulis pada setiap lembar doa rindu

    (Puisi ‘Mama’). Mengenang orang-orang terkasih adalah mendengar suara mereka, mengingat kisah yang mereka tuturkan.

    Engkau terlampau pergi

    Semoga bekas tapakmu tak tersapu angin,

    Biarlah ia tertinggal di sini

    (Puisi ‘Pesan’).

    Ket. Foto: Sekolah Dasar di Desa Mudalerek, Lembata

    Kampung Mudalerek di Lembata yang jauh memanggil pulang, untuk tetap tinggal dalam pelukan kenyamanan masa kanak-kanak, tetapi adalah panggilan yang mengingatkan akan kesederhanaan dan kepolosan, darinya penyair berasal.

    Berdiri engkau di antara bukitan hijau

    Pada lembah yang tak enteng dipandang jauh

    Suara manismu memanggil pulang

    Segenap anak yang kemarin kau kandung

    (Puisi ‘Mudalerekku Tercinta’).

    Ada suara kereta api di stasiun Termini, pula suara anak jalanan yang bingung tentang masa depannya. Tidak terkecuali bulan Desember yang akan segera pamit pun punya suara dengan gaung yang terus membahana. Tentang dambaan jiwa penyair kita menulis:

    Ku rindu suaramu

    Sapamu

    Ku rindu senyummu

    Hadirmu………

    Kusisishkan diriku di tepian sungai

    Berusaha menghadirkan suaramu,

    Lewat gemercik air

    Kau ingin berbicara

    Berbagi,

    Mendengarkan,

    Namun kata tak punya makna

    Hanya hembusan angina yang tercipta

    (Puisi: ‘Dambaan Jiwa’).

    Sebagai orang yang menyadari diri dipanggil untuk sebuah model kehidupan dan pelayanan khusus, penyair bermadah tentang panggilan Ilahi:

    Sapa-Mu bernafaskan lembut,

    Kala raga serasa sarat

    Bisik-Mu merasuk dalam kalbu……..

    Ini aku pancaran suara-Mu

    Tunjukkan jalan-Mu, kucoba telusuri

    Beri aku kuat-Mu

    Gemuruh Suara-Mu kuikuti

    ( Puisi: ‘Suara Ilahi’).

    Suara Tuhan yang memanggilnya dari ladang sang ayah di Mudalerek, Lembata, membangunkannya dari mimpi yang diterimanya tentang masa depan.

    Penyair ini menunjukan karakter amat kuat sebagai seorang pendengar yang intensif. Dia mendengar untuk mengerti. Kendati dia sendiri sadar sepenuhnya, mengerti itu mudah. Orang mesti mengambil waktu untuk mendengar dengan baik. Sebab itu, dalam puisi ‘Mengerti’? penyair kita menulis:

    Mengerti?

    Mengerti itu sulit

    Jika tiada ingin

    Tak meminjam waktu

    Tak menyendeng kuping

    Ya! Mengerti itu sulit

    Dia mendengar suara dalam batinnya. Telinganya dipasang untuk menangkap getaran dari alam. Sejarahnya adalah rangkaian suara yang memberi dorongan untuk terus melangkah maju. Relasinya terbentuk dari kata, yang terucap pun yang tak tersampaikan.

    Tuhan, yang dalam Kitab Kejadian mencipta dengan daya suara-Nya, yang dalam prolog Injil Yohanes disebut sebagai Sabda, kata yang abadi yang turun untuk memasang tendanya di tengah-tengah antara manusia, oleh penyair disapa sebagai Angin dengan getaran suara yang lembut.

    Kita baca dalam puisi ‘Menamaimu Angin’:

    Ku menamaimu Angin

    Getar lembut suaramu

    Membawaku nikmat musik hutan

    Hijau dan luas membentang

    Orang yang mendengar dengan baik, yang menangkap apa yang dipesankan sesama, alam dan sejarah, kembali dapat mengangkat suaranya untuk semuanya itu. Dia menjadi suara bagi yang kehilangan suara, entah karena kehilangan keberanian atau tersebab oleh arogansi orang lain. Juga menyuarakan perasaan-perasaan yang dianggap terlampau sederhana untuk disuarakan.

    Menulis puisi adalah memberi suara. Kualitas pemberian suara ditentukan oleh kesanggupan dan kerelaan untuk sungguh mengidentifikasikan diri dengan mereka atau apa yang disuarakan. Jika tidak, orang hanya menyampaikan keinginannya sendiri sambil mengatasnamai orang lain.

    Demikian pula, kekuatan sebuah puisi amat ditentukan oleh peyelaman ke dalam realitas dan kesanggupan untuk menemukan kata dengan diksi dan daya majas yang kuat. Puisi akan terkesan tawar ketika kata yang dipilih terdengar terlampau bombastis untuk menyampaikan pesan yang dimaksudkan.

    Saya mendapat kesan, sebagian besar puisi-puisi Sr. Andriana mengutamakan pilihan kata yang sederhana, yang memungkinkan orang dengan mudah mengikutinya. Dengan mudah orang-orang yang sedanga berada di perantauan, mereka yang mencintai alam, dan terutama mereka yang hidup dan melayani Tuhan secara istimewa serta para pendukung mereka, menemukan di dalam puisi-puisi ini pengalaman mereka sendiri, pengalaman akan suara yang memanggil pulang supaya dapat melangkah lebih pasti ke masa depan.

    Kita tidak harus memiliki kemampuan istimewa untuk menikmati puisi-puisi ini. Suara adalah panggilan, tetapi suara juga adalah jawaban. Sr. Andriana merasa mendengar ada suara yang memangilnya untuk menjalani hidup atas cara istimewa.

    Dan suaranya sudah diberikan untuk menanggapi panggilan itu. Dia sudah mengikrarkan janjinya untuk setia pada jalan ini. Tidak hanya itu, Suara panggilan itu pun menjadi sumber inspirasi baginya untuk menulis puisi.

    Sr. Andriana adalah seorang biarawan penyair. Dan puisi-puisinya adalah suara yang memanggil para pembaca untuk berjalan pulang, sebab

    Suara adalah jalan pulang bagiku

    untuk melihat kembali kata terucap

    langkah yang tercetak di setiap jejak,

    kisah terpatri pada setiap sejarah

    sembari………………..

    memetik hikmah yang terpoles

    (Puisi ‘Suara’).

    Kita dipanggil untuk menimba lagi kekuatan dari masa lalu yang tidak pernah menjadi terlampau jauh untuk direngkuh, dari kisah-kisah para leluhur yang pernah didengar, dari janji dan ikrar yang pernah disampaikan. Kiranya suara, Sr.Andriana ini pun memanggil lebih banyak lagi perempuan tidak hanya untuk menjadi penyair, tetapi juga menerbitkan karyanya, sebab suara itu lebih bergaung ketika disampaikan kepada dunia.

                                            ********

    *Tulisan ini adalah ‘P r o l o g’ pada buku puisi S u a r a, Karya Sr. Andriana Udjan Ellaman, DST, Penerbit Kandil Semesta.

  • Bupati Dogiyai: Kerja, Kerja, Kerja

    Bupati Dogiyai: Kerja, Kerja, Kerja

    Berandanegeri.com. DAMPAK ekonomi akibat coronavirus 2019 (covid-19) sangat dirasakan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali yang tinggal di pedalaman di tanah Papua seperti Kabupaten Dogiyai. Karena itu, Bupati Yakobus Dumupa jauh-jauh hari telah bekerja keras mengantisipasinya melalui sosialiasi tiada henti bagi masyarakatnya yang tinggal di wilayah adat Meepago.

    Selaku Ketua Gusus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Dogiyai, ia memerintahkan para anggota tim gugus tugas agar dalam sosialisasi terkait wabah menghebohkan dunia itu, disampaikan pula dampak ekonomi akibat covid-19.  Apa saja materi sosialisasi yang diperintahkan Bupati Dumupa untuk disampaikan atau diberitahu tim  gugus tugas kepada warga masyarakat di wilayahnya?

    Pertama, covid-19 sedang mengganggu kestabilan perekonomian Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kedua, masyarakat harus siap menghadapi guncangan perekonomian Indonesia yang lebih besar dan berat.

    Ketiga, solusi untuk bertahan hidup dalam guncangan perekonomian kedepan adalah kerja yaitu berkebun, beternak, dan melakukan pekerjaan mandiri lainnya. Keempat, jika malas bekerja, maka bersiaplah untuk menderita dan melarat dan jangan salahkan siapapun jika hal itu terjadi. “Saya ulangi kampanye dan nasehat saya selama ini: kerja, kerja, kerja,” kata Bupati Dumupa. (PB)

    Kabupaten Dogiyai
  • Arief, “Dian”, dan Taman Suropati

    Arief, “Dian”, dan Taman Suropati

    Oleh Ansel Deri

    SUATU waktu antara tahun 1999-2000. Saya berjalan kaki dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menuju Taman Suropati, Menteng, tak jauh kediaman Soeharto, Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun lebih. Setelah bertemu narasumber di YLBHI di bilangan Jalan Diponegoro, Menteng. Kantor itu seatap dengan kantor Koordinator untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Kontras ini yang belakangan naik daun di bawah pimpinan mas Munir Abdul Thalib atau beken dengan sapaan Munir, arek Malang bertubuh kecil namun berotak cerdas. Selain tentu mas Teten Masduki (kini Menteri yang membantu Presiden Joko Widodo), koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW). Di ruang ini, saya pernah bersua dengan Munir. Munir ini yang belakangan heboh dengan kisah diracun dengan arsenik dalam pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta-Amsterdam.

    Tak hanya Munir. Mas Bambang Wijojanto juga pernah saya temui. Selain sebagai narasumber untuk laporan saya ke Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian di Ende, Flores. Selain wawancara dengan mas Bambang, saya juga sempat mengajak mas Bambang (belakangan jadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk menjadi keynote speech peluncuran OZON, majalah berita bulanan yang saya ikut rintis dengan core sajian seputar lingkungan hidup, pertambangan, pariwisata, kehutanan, dll. Majalah milik Pak Karel Danorikoe, putra Todo, Manggarai, kami launching (luncurkan) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Cipayung, Jakarta Timur. Dari YLBHI saya juga leluasa mewawancarai Ibu Apong Herlina SH, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, terutama soal isu-isu hukum di DKI Jakarta.

    Niat saya ke Taman Suropati tak lain melihat dari dekat aksi demo di jalan antara Kantor Menteri Bappenas dan Taman Suropati. Sebagian massa duduk-duduk dalam taman itu karena mungkin kelelahan. Selain sebagai bahan laporan saya ke Dian, sekalian juga kongkow-kongkow dengan beberapa rekan wartawan yang baru saya kenal. Maklum. Wartawan muka baru. Perlu gaul dan bisa melatih lidah saya agak tak kaku lagi dengan bahasa Indonesia logat Kupang atau Lembata. Begitu kira-kira bayangan saya saat itu. Sambil ngeteh dan nikmati tahu dan tempe goreng dengan seorang rekan wartawan asal Semarang, mata saya tertuju pada sosok yang familiar di bawah pohon. Ia tengah dikerubuti beberapa rekan media.

    Kali ini saya sungguh beruntung. Bertemu langsung dengan Arief Budiman. Nama aslinya Soe Hok Djin. Ia tak sekadar seorang sosiolog namun juga penulis hebat dan intelektual Indonesia. Ia pemikir kritis era Orde Baru. Kala itu wajah dan komentarnya kerap menghiasi sejumlah media nasional. Namun, dalam pikiran saya Arief adalah pengajar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. “Itu Pak Arief Budiman, mas. Sosiolog yang brilian. Kayanya beliau lagi tugas di Jakarta. Bisa sampari dan wawancara beliau. Asyik orangnya,” kata mas Joko, rekan jurnalis kepada saya. Tantangan baru bagi saya mewawancarai tokoh sekaliber Arief Budiman. Saya mencoba meyakinkan diri. Kalau saja Pak Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, Jenderal Kemal Idris, Chris Siner Keytimu, Roch Basuki Mangunpurojo saja saya tembus mewawancarai mereka, mengapa Pak Arief nggak bisa?

    Itulah alasan saya mendekati Arief Budiman, mengorek banyak soal tentang demo yang kerap dilakukan rekan-rekan mahasiswa dan elemen-elemen lain kala itu. Dari mana pangkal soal aksi demo yang kerap melimpuhkan beberapa ruas jalan di Ibukota. Apakah pangkal soalnya adalah kebijakan Presiden Soeharto yang ditentang sebagian kalangan atau ada agenda lain di balik itu. Bagi saya, Arief Budiman adalah sosok yang tepat saya ajukan pertanyaan. “Saya sudah lama tahu Dian. Media itu kayanya sudah lama terbit. Anda ditugaskan Dian di Jakarta?” tanya Pak Arief usai saya wawancara. “Saya hanya kontributor lepas, Pa Arief. Saya terima kasih karena sudah menyampaikan banyak gagasan,” kata saya menimpali. Dan ia segera bergegas meninggalkan Taman Suropati.

    Nama Arief Budiman belakangan menghilang. Sosiolog ini kabarnya menuju Melbourne, Australia dan menjadi pengajar di Melbourne University. Di kota negeri Kanguru itu, ia sempat menghabiskan waktunya sebagai dosen. Kabar Arief mengajar di kampus itu juga pernah disinggung ama Dr Justin Laba Wejak, salah seorang pengajar Kajian Asia di Melbourne University dari kampung Baolangu, Nubatukan, Lembata. “Tapi kayanya beliau sudah kembali ke Salatiga,” kata ama Justin. Hari ini, kabar mengejutkan Arief Budiman berpulang. Sosiolog brilian kebanggaan itu menghadap Tuhan. Ia menutup mata di bawah langit Ungaran, Jawa Tengah pada Kamis, 23 April 2020 di usia 79 tahun.

    Justin mengenang kolega baiknya itu, sesama pengajar di Melbourne University, melalui Ata Lembata, grup WA warga asal Lembata sedunia. Kata Justin, Prof. Arief Budiman, akademisi dan aktivis, menjadi founder Professor untuk Indonesian Studies di Universitas Melbourne (1997-2007). “Dia senior saya di lembaga itu, dan sama-sama mengajar satu mata kuliah tentang Ketimpangan Sosial di Indonesia. Banyak kenangan indah selama 10 tahun bersama di Melbourne; dia dikenang sebagai sosok sahaja dan humanis yang luwes bergaul dengan siapapun. Selamat jalan sang Mentor yang sahaja dan polos,” kata magun Justin, lulusan STF Ledalero Maumere, Flores.

    KH Dr Ahmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah melukiskan sekilas sosok alm Arief Budiman. Kata Gus Mus, hari ini mendengar berita saudara dan guru kita Prof Dr Arief Budiman berpulang ke rahmatuLlãh. Kita kehilangan seorang tokoh intelektual dan budayawan yang berprinsip dan teguh dalam pendirian. Semoga segala amal baik almarhum diterima oleh Allah dan kesalahannya diampuni olehNya. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’ãfihi wa’fu ‘anhu. Semoga Mbak S. Leila Chairani dan segenap keluarga yang ditinggal dianugerahi tambahan ketabahan dan kesabaran. Al-Fãtihah. “Foto saat aku menjenguk beliau di rumahnya di Salatiga setahun yang lalu. Dari kiri: Mbak S. Leila Chairani, Prof. Dr. Arief Budiman, aku, anakku Rabiatul Bisriyah,” kata Gus Mus dalam caption foto di akun Facebook-nya.

    Sastrawan Floribertus Rahardi juga menulis sekilas sosok Arief Budiman. Rahardi, penulis buku Lembata, Sebuah Novel menulis, Arief lahir di Jakarta 3 Januari 1939. Ia kakak Soe Hok Gie (1942-1969). Ia salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan 1963. Juga tokoh Golongan Putih (Golput) dalam Pemilu 1971; meskipun istilah golput sendiri dicetuskan oleh Imam Waluyo. Pernah menjadi redaktur Majalah Sastra Horison 1966-1972. Arief pernah ditahan Pemerintah Orde Baru karena demonstrasi menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah 1972. Belakangan dikenal sebagai sosiolog dan menjadi guru besar di Universitas Melbourne, Australia.

    *********

    Jakarta, Kamis, 23/4 2020

    Ansel Deri, Pernah Menjadi Kontributor DIAN dan FLORES POS








  • Bupati Dumupa Apresiasi Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai

    Bupati Dumupa Apresiasi Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai

    Berandanegeri.com. KETUA Gugus Tugas Covid-19 sekaligus Bupati Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, Yakobus Dumupa menyebutkan, hasil evaluasi kerja termin pertama Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai terkait percepatan penanganan covid-19 di wilayah itu hingga Senin (21/4), masih nihil alias belum ada kasus covid-19.

    “Secara umum pelaksanaan kegiatan penanganan covid-19 di Dogiyai telah berjalan dengan baik. Hampir semua kegiatan mulai berjalan dan sejumlah kekurangan mulai dibenahi secara bertahap. Masyarakat juga mulai memahami covid-19 dan mematuhi kebijakan dan keputusan yang diambil oleh pemerintah kabupaten dalam rangka penanganan covid-19,” ujar Yakobus Dumupa dalam keterangan yang diterima berandanegeri.com Selasa (22/4).

    Hasil evaluasi juga memperlihatkan, pos koordinasi atau posko pengamanan dan pemeriksaan kesehatan di kilo meter 100 Siriwo, Bomomani, dan Moanemani sudah beroperasi secara efektif. Sedangkan posko Unito dan Wigoumakida tengah dalam proses pemberangkatan petugas ke lokasi dan dipastikan minggu depan sudah bisa dioperasionalkan. Dengan demikian, kata Dumupa, seluruh wilayah perbatasan Dogiyai dengan sejumlah kabupaten tetangga bisa dijaga dan diawasi petugas yang ditempatkan di masing-masing posko.

    Selain itu, pengguna jalan darat dari Kabupaten Nabire menuju Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai, dan Intan Jaya dan sebaliknya masih belum tertib. Ia mengaku, masih terjadi iring-iringan kendaraan, penyerobotan posko, pemaksaan petugas, dan tindakan anarkhis yang kebanyakan dilakukan warga masyarakat Paniai dan Deiyai dengan menggunakan “surat ijin jalan palsu” (di-scan dan di-fotokopi ulang-ulang) dari bupati setempat. Sedangkan warga masyarakat Dogiyai mulai tertib dan mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam penggunaan jalan trans Papua Nabire-Ilaga.

    “Pemerintah Dogiyai melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga mulai melakukan pendataan dan verifikasi pelajar dan mahasiswa untuk diberi bantuan biaya hidup selama masa covid-19. Kami juga sedang menyediakan bahan makanan untuk kemudian disalurkan bagi warga masyarakat yang kurang mampu ketika terjadi krisis pangan nanti. Termasuk menyiapkan pemberian dana bantuan sosial bagi masyarakat yang kurang mampu,” lanjutnya

    Ia menambahkan, dalam beberapa hari ke depan, Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai akan melakukan sosialisasi sejumlah hal yang berkaitan dengan covid-19 dan dampaknya dalam berbagai aspek dan langkah-langkah mengantisipasi atau mengatasi berbagai masalah yang akan muncul kemudian.

    Karena itu, menurutnya, pihak Gugus Tugas Covid-19 Dogiyai telah berkomitmen untuk konsisten dengan kesepakatan para bupati dari wilayah Meepago dalam rangka percepatan penanganan covid-19 di selkuruh kabupaten di wilayah Meepago. Wilayah Meepago Nabire, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya. Dengan demikian, pihaknya juga berharap agar masyarakat dan semua pihak tetap konsisten menaati kesepakatan yang telah diambil bersama para bupati di wilayah Meepago.

    “Selaku Ketua Gugus Tugas Covid-19 sekaligus Bupati Dogiyai saya mengapresiasi kerja keras tim, masyarakat, dan semua pihak yang sudah bahu-membahu ikut ambil bagian dalam mencegah dan menangani penyebaran covid-19 di Dogiyai. Evaluasi pertama ini perlu kami sampaikan untuk diketahui dan dijadikan bahan evaluasi agar dilakukan pembenahan-pembenahan sebagaimana mestinya,” katanya.

    Ansel Deri