Blog

  • Mengulas Lebih Dalam Film ‘Ketika Bung Di Ende’

    Mengulas Lebih Dalam Film ‘Ketika Bung Di Ende’

    Apa yang terlintas pertama kali ketika Anda menonton film? Seting lokasinya menarik, pemain yang sesuai karakter, atau justru menikmati saja tanpa ekspektasi apapun?

    Muchlis Paeni, Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia yang juga mantan ketua Lembaga Sensor Film dalam sebuah diskusi film mengajak kami mengkritisi film ‘Ketika Bung di Ende’. Sebuah film sejarah Bangsa Indonesia dengan Soekarno sebagai tokoh utamanya.

    “Apa yang ada di benak kita saat menonton film berdurasi hampir dua jam ini?” tanya Muchlis ketika itu.

    Muchlis Paeni diskusi film

    Seorang penonton menjawab, “keren!”. Jawaban lain kemudian menyusul. Sebagian mengatakan “mengharukan”, “sedih”, hingga “bangga”. Muchlis kemudian menjelaskan bahwa menikmati film, tidak cukup dengan hanya menonton, tetapi juga memaknai dan melihatnya sebagai sebuah fakta.

    “Bila kita bicara film sejarah, banyak hal yang harus kita pahami. Banyak dimensi dan perspertif yang harus dilihat secara seksama, sehingga kita dapat mengetahuinya bahwa apa yang sedang kita tonton adalah sebuah realitas sejarah,” paparnya.

    “Waktu Soekarno dibuang di Ende, ia diberi biaya hidup 150 golden oleh pemerintah. Ketika itu raja-raja yang diberi santunan oleh kolonial, hanya diberi 75 golden. Yang menarik di sini adalah, saat Soekarno dibuang, usianya sekitar 34 tahun, sedangkan Inggit, istrinya, berusia 47 tahun. Perbedaan usia mereka saat menikah adalah 13 tahun, Soekarno 23 dan Inggit 35 tahun. Ketika itu Inggit mengatakan, dia menjadi ibu, sahabat dan kekasih bagi Engkus, sapaannya untuk Soekarno. Ini sangat menarik!” Muchlis menjelaskan.

    diskusi bersama muchlis paeni

    Dalam film sejarah lain, ia melanjutkan, terdapat adegan Soekarno sedang duduk. Apa yang terjadi? Ia tidak membuka kancing jasnya. “Di dalam etika berpakaian, kalau orang berdiri dan berjalan, jas harus terkancing. Tapi kalau duduk, jas harus dibuka kancingnya. Soekarno tidak melakukan itu. Ini adalah properti sejarah yang harus disimak dan ini adalah realitas sejarah yang harus kita pelajari,” katanya.

    Tapi poin dalam Film ‘Ketika Bung di Ende ini adalah peranan Inggit. Romantika sejarah dalam film ini, ketika Soekarno akan meninggalkan rumahnya di pengasingan, ia mengatakan, “kita akan pindah ke tempat yang lebih baik dari sini”. Tapi dalam realitas sejarah, itu bukanlah awal pembebasan Inggit, tapi pembuangan inggit selama-lamanyanya, dan Soekarno memilih Fatmawati.

    Peran pastor dalam Film ‘Ketika Bung di Ende’ ini, memperlihatkan bagaimana gereja saat itu selalu bertentangan dengan pemerintahan kolonial. Kita melihat bahwa sebenarnya, andil dalam menuju kemerdekaan ini banyak karena orang-orang di sekitar Soekarno. Bila diperhatikan, hampir semua orang dalam Danau Kalimutu itu, merupakan orang-orang pendatang dari berbagai daerah, yang kemudian tinggal di Ende sebagai pendatang.

    nonton bareng

    “Dari situ kita bisa melihat kebhinekaan Soekarno yang diletakkan dalam kepemimpinannya. Begitu banyak suku-suku bangsa yang diunggulkan Soekarno dalam mencapai kemerdekaan. Yang diperjuangkan Soekarno untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, di mana orang-orang yang berbeda-beda hidup dalam satu negara sudah tercapai, meski belum dalam derajat dan harkat yang sama,” sambung Muchlis.

    Film ini telah memberikan kesadaran kesejarahan bagi kita semua, bahwa kemerdekaan yang dicapai kita saat ini adalah hasil dari diplomasi para diplomat kita. Perang adalah bumbu dari kemeredekaan itu. Apa yang kita rasakan sekarang ini tidak muncul tiba-tiba, tapi dari proses yang begitu panjang,” tukasnya.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Pengumpul Data Kebudayaan Membuat Bianglala

    Pengumpul Data Kebudayaan Membuat Bianglala

    Pada waktu itu, sepulang saya dari Lembaga Sensor Film melewati daerah Pasar Rumput Jakarta dan macet. Saat melihat pemandangan sekitar, tatapan saya tak bisa berpaling dari bianglala yang bagus sekali. Disitu kemudian berpikir untuk menambahkan kata Bianglala untuk judul buku saya.

    Ya, berawal dari kepuasan mata memandang sesimpel itu makna Bianglala dalam judul buku ini. Meskipun beberapa pembedah buku mengemukakan Bianglala bermakna penghubung dua dunia, keanekaragaman antar etnis, garis pemisah warna budaya, dan masih banyak lagi.

    Berawal pada 2001, saat Nunus membaca buku katalog pameran foto ‘Java Instituut dalam Foto’ di Yogyakarta. Ia melihat foto-foto kongres kebudayaan yang dipamerkan. Sejak saat itu, hatinya pun terdorong untuk mengetahui lebih jauh mengenai Kongres Kebudayaan (KK).

    Pemerhati Budaya Nunus Supardi

    Nunus Supardi, penulis buku Bianglala Budaya: Rekam Jejak 95 tahun Kongres Kebudayaan 1918-2013 juga seorang pemerhati budaya. Seorang yang tidak mau disebut sejarawan ini, menyebut dirinya seorang pemulung. Memulung berbagai data Kongres Kebudayaan yang menyebar, merapikan dan menyusunnya menjadi sebuah naskah.

    Buku ini pun disebutnya bukanlah buku sejarah namun hanya sebuah dokumentasi atau kompilasi Kongres Kebudayaan yang merupakan salah satu peristiwa budaya. Buku ini terbagi menjadi 5 bagian. Berikut penjelasannya:

    1. Bagian I berjudul “Kongres Kebudayaan”

    Pada bagian ini berisi penjelasan mengenai tujuh kongres yang diselenggarakan sebelum Indonesia merdeka pada 1918 (Surakarta), 1919 (Surakarta), 1921 (Bandung), 1924 (Yogyakarta), 1926 (Surabaya), 1929 (Yogyakarta), 1937 (Bali). Delapan kongres yang diselenggarakan setelah Indonesia merdeka. Dimulai dari KK 1948, 1951, 1954, 1957, 1960, 1991, 2003, dan 2008. Kongres pertama yang menjadi penggerak diberi nama Congres voor de Javaansche Cultuur Ontwikkeling atau Kongres Guna Membahas Pengembangan Kebudayaan Jawa.

    1. Bagian II berjudul “Kongres Pancasila, Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan”

    Pada bagian ini menjelaskan hasil Kongres Pancasila, Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan serta penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia yang telah berlangsung dua kali di Los Angeles (2012) dan Jakarta (2013).

    1. Bagian III berjudul “Kongres Kebudayaan Daerah dan Kongres Lainnya”

    Pada bagian ini berisi unsur-unsur kebudayaan termasuk kebudayaan daerah. Kongres Kebudayaan Melayu yang diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia yang mempunyai hubungan sejarah dengan budaya Melayu di Indonesia juga dipaparkan.

    1. Bagian IV berjudul “Kongres Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah”

    Pada bagian ini menjelaskan seluruh kongres Bahasa dan sastra Indonesia, serta Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu yang diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia yang kita ketahui Bahasa Indonesia berakar dari Bahasa Melayu-Riau.

    1. Bagian V berjudul “Catatan Rekam Jejak”

    Pada bagian ini menjelaskan ‘benang merah’ dari kongres sebelum Indonesia merdeka dan sesudah Indonesia merdeka. Realisasi dari keputusan dan rekomendasi KK seperti tidak ada tindak lanjut dari keputusan, tidak ada langkah realisasi yang konkrit, tidak ada evaluasi pelaksanaan keputusan, dan tidak ada pula laporan pada kongres berikutnya.

    Menjelang KK 2013, penulis ingin melakukan revisi buku dengan memasukkan hasil KK 2003 dan 2008 namun karena dirasa ingin memberikan informasi yang lengkap bagi pembaca, Nunus pun juga menjelaskan kongres lainnya yang terikat erat dengan kebudayaan.

    Harapannya ‘Bianglala’ menjadi sumber referensi mengenai peristiwa budaya yang selama ini masih terabaikan dan mendapat deskripsi yang lengkap mengenai perjalanan Kongres Kebudayaan yang pernah terjadi di negeri tercinta. Begitu banya ide, gagasan, saran, pendapat yang dihasilkan dalam kongres. Adapun bahan tersebut dapat dijadikan referensi untuk kemajuan budaya. KK tak hanya membahas masalah budaya semata namun juga masalah ekonomi, politik, sosial, pendidikan, karakter bangsa, dan masih banyak lagi.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Musik Dan Hidup Seorang Purwacaraka

    Musik Dan Hidup Seorang Purwacaraka

    Belgrade, Yugoslavia. Lima puluh lima tahun yang lalu, tepatnya tanggal 31 Maret 1960, seorang Purwa Caraka dilahirkan. Piano memasuki dunianya pada usia tujuh tahun, dan Ia mempelajari piano selama 6 tahun. Hingga kini, tiap jari jemarinya menyentuh tuts piano, melodi indah menguar dengan sendirinya, dari dalam dirinya. Keahliannya di bidang teknik industri turut berpengaruh terhadap inspirasinya dalam bermusik. Berbagai ilustrasi musik dan aransemen lagu pun telah diciptakannya, cipta rasa yang diolah sedemikian elok lewat kecintaannya terhadap musik.

    purwa

    Tekad yang kuat dalam bermusik tidak semata hanya berhasrat untuk menghasilkan melodi, tetapi juga mendidik lewat musik. Purwa Caraka mendirikan sekolah musik PCMS (Purwa Caraka Music Studio) pada 1 Oktober 1988, yang berlokasi di Jalan Mangga No. 12 Bandung, Jawa Barat. Kini, sekolah musik PCMS telah tersebar di seluruh Indonesia sebanyak 93 cabang, dengan ribuan guru dan puluhan ribu murid, bersama-sama mendalami musik dalam alunan mimpi dan cita, menjadikan dunia lebih permai.

    purwa-school

    Program Belajar Bersama Maestro yang melibatkan sosok Purwacaraka sebagai pendidik dan figur inspiratif bagi sepuluh siswa-siswi SMA seluruh Indonesia yang terpilih, telah mengukir cerita sarat makna untuk bekal masa depan generasi Indonesia. Mereka mengemukakan opini masing-masing tentang sosok Purwacaraka yang akrab disapa ‘babeh’ ini.

    purwacaraka

    “Sebuah bentuk yang tak dapat dijelaskan, karena musik ada di dalam diri saya. Dan sehari-hari saya adalah bagian dari musik itu sendiri. Musik adalah diri saya, bagian dari diri saya, sepanjang hidup saya. Kesan saya menjadi seseorang yang dianggap maestro, yang harus memberikan motivasi pendidikan dan arti bagi anak-anak, saya merasa bahwa kita sebagai orang tua diberi tanggung jawab untuk memberikan nilai, suatu arti, di dalam masyarakat. Saya merasa bahwa ini sebuah kepercayaan dan saya merasa tanggung jawab ini memang sangat berat. Saya ingin sepuluh anak ini kelak menjadi orang-orang hebat, orang yang punya arti dalam hidupnya, hidupnya juga berarti untuk orang lain, dan berpikir besar, menjadi orang hebat kelak,”.

    Purwacaraka menyatukan sepuluh anak berbakat dengan beragam kemampuan bermusik dan ciri khasnya masing-masing. Melalui bakat memainkan instrumen musik dan olah vokal yang telah ditempa selama hari, Purwacaraka mampu mengiringi dan mengarahkan mereka dalam perjalanan meraih mimpi dan cita, menemukan diri dan arti hidupnya, menghasilkan sebuah album Medley Nusantara yang berisi 6 buah lagu daerah mewakili kebudayaan Indonesia dari Sabang hingga Merauke, antara lain lagu Bolelebo, Bubuy Bulan, Suwe Ora Jamu, Lir Ilir, Si Patokaan, dan Paris Barantai.

    purwacaraka-maestro

    Integritas haruslah ditanam sejak dini di dalam diri generasi penerus. Tidak hanya sekedar integritas, tetapi juga dedikasi terhadap bangsa dan negara. Sumbangsih apa yang dapat diberikan pada negeri ini, merupakan manfaat dalam peran tiap insan muda Indonesia. Musik hanya salah satu dari sekian banyak jalan penghubung menuju cita-cita. Musik bukan segalanya, tapi segalanya berawal dari inspirasi bermusik.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Toko Oen: Mengenang Nuansa Lampau Di Kota Malang

    Toko Oen: Mengenang Nuansa Lampau Di Kota Malang

    WELKOM IN MALANG | TOKO “OEN” DIE SINDS 1930 AAN DE GASTEN GEZELLIGHEID GEEFT.

    Sebuah tulisan berhuruf kapital merah, tercetak di atas spanduk berwarna putih, akan menyambut kedatangan para tamu dalam sebuah toko zaman lampau ini. “Selamat datang di Malang. Toko Oen sejak 1930 memberikan kenyamanan pada para tamu,” kurang lebih itulah arti dari alih bahasa Belanda tersebut. Malang, Jawa Timur; kota yang terletak di dataran tinggi beriklim sejuk, menyimpan banyak guratan memorial terkait sejarah perjuangan bangsa pada masa kolonial, termasuk seni budaya dan arsitektur bangunan yang masih bertahan hingga saat ini.

    Terletak di Jalan Basuki Rahmat No.5, Toko Oen memberikan corak tersendiri pada jalur sirkulasi Alun-Alun Merdeka (Alun-Alun Malang). Kawasan bersejarah sekitar alun-alun, Masjid Jami dan bangunan historis lainnya diperkirakan berasal dari masa yang sama dan turut membangun laju pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat. Potensi pelestarianToko Oen yang telah berusia 81 tahun ini memiliki bangunan dengan perubahan yang sangat minim. Keaslian arsitektural yang terjaga, menjadi tonggak batas kota Malang dengan sumbangsih ekonomi.

    Gaya bangunan art deco yang mulai populer pada 1920-an terlihat dari interior Toko Oen, elemen kaca patri dan perabotan yang digunakan. Kursi dan meja rotan khas zaman lampau tertata sedemikian rupa, menimbulkan kesan nyaman seperti layaknya di rumah. Beberapa elemen yang memperkuat kesan nostalgia dalam Toko Oen juga dapat dilihat dengan adanya piano dan radio kuno, gambar-gambar pada masa awal kemerdekaan, bahkan ubin (tegel) yang digunakan pun masih orisinil dengan nuansa lampau yang melekat.

    Toko yang didirikan sekitar tahun 1910 di Yogyakarta ini merupakan toko kue yang digeluti oleh Nyonya Liem Gien Nio, akrab dengan panggilan Nenek Oen. Seiring dengan perkembangannya, toko kue Oen berubah menjadi kedai es krim yang menyajikan aneka jenis es krim khas Italia dan hidangan lainnya, termasuk penganan ringan dan oleh-oleh.

    Toko Oen: ketika nuansa lampau tercicipi lewat rasa dan karsa.

    Sumber:

    TOKO OEN 

    Mulyadi, Lalu., Gaguk Sukowiyono. “Kajian Bangunan Bersejarah di Kota Malang sebagai Pusaka Kota (Urban Heritage) Pendekatan Persepsi Masyarakat”, Prosiding Temu Ilmiah IPLBI, 2014 hlm. 1—6.

    Rahajeng, Dinda., Antariksa., Fadly Usman. “Pelestarian Kawasan Alun-Alun Kota Malang”, Arsitektur E-Journal, Volume 2 No. 3, November 2009 hlm. 142—159

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Nya Abbas Akup, Bapak Film Komedi Indonesia

    Nya Abbas Akup, Bapak Film Komedi Indonesia

    Siapa yang tidak kenal dengan Nya Abbas Akup? Nama Nya Abbas Akup sangat dikenal di kalangan para sineas perfilman. Sutradara komedi berdarah Aceh yang berjaya pada era 1970-an ini lahir di Malang pada 22 April 1932. Lahir dan besar di kota Malang membuat Ia mengenal dan memahami seni pertunjukkan, seperti ludruk dan sandiwara. Kecintaannya terhadap seni itulah yang membuat ia terjun dalam dunia perfilman. Tiga puluh tiga karya film berhasil Ia gagas dan 28 film diantaranya adalah film komedi.

    Karirnya bermula dari seorang clapper boy, scriptman, dan unit manager. Usmar Ismail mengamati bakat yang dimiliki oleh Nya Abbas, Usmar pun mengangkat Nya Abbas Akup menjadi asisten sutradara di film garapannya, Kafedo (1953). Sejak Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) berdiri, Nya Abbas menghasilkan film pertamanya Heboh di tahun 1954. Ia memasuki puncak kejayaannya pada tahun 1970-an dengan menghasilkan 15 film komedi.

    Komedi menjadi salah satu genre yang banyak mewarnai perfilman nasional pada saat itu, namun pada masa ini penciptaan komedi berubah menjadi kegiatan yang serius ketika adanya kesadaran bahwa kekuasaan negara di bawah Orde Baru semakin reperesif dan otoriter. Pada masa Orde Baru, tidak sembarang orang dapat membuat film yang mengangkat sebuah realita, terlebih realita tersebut berupa kritik terhadap pemerintahan. Apapun realita yang ditunjukkan kepada publik tetap harus atas pengawasan badan pemerintah khusunya dalam hal ini BSF.

    inem karya Nya Abbas Akup

    Ruang gerak para sineas untuk berkreatifitas terus diawasi dan dibatasi oleh koridor-koridor untuk tidak menjamah persoalan politik yang dianggap akan memunculkan sensitivitas penguasa. Hal ini disadari betul oleh Nya Abbas Akup saat membuat film yakni dimasa Pemerintah akan memberikan perhatiannya secara khusus kepada orang-orang yang berani melakukan kritik secara keras baik bagi pemerintah maupun kritik terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan masyarakat.

    Hal tersebut terlihat dari minimnya film-film pada masa ini yang menghadirkan sebuah realita dan peristiwa yang tidak lazim yang terjadi disekitarnya, baik tentang masyarakat maupun pemerintahannya. Menyadari hal tersebut, Nya Abbas Akup mencoba merepresentasikan keadaan yang Ia lihat disekitarnya melalui film komedi, karena melalui komedi semua orang yang menonton tidak akan sadar bahwa apa yang mereka tertawai merupakan gambaran realita kehidupan masyarakat sehari-hari.

    Karya Nya Abbas hampir seluruhnya berangkat dari realita sosial masyarakat yang diamati dari keadaan lingkungan sekitar. Mulai dari lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, hingga tempat umum. Film-filmnya banyak pula yang menceritakan tingkah laku manusia atau masyarakat Indonesia lengkap dengan gaya tutur masyarakatnya.

    Contohnya dalam film Semua Karena Ginah (1985) bercerita tentang praktek monopoli dalam dunia ekonomi, film Drakula Mantu (1974) menceritakan permasalahan penggusuran yang sedang marak pada tahun 70-an, Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) sebagai sikap protesnya mengenai banyaknya film-film Hollywood, Inem Pelayan Sexy 1-3 kehidupan pekerja sektor informal seperti pembantu rumah tangga pada masa Orde Baru, lengkap dengan permasalahan mengenai sistem pengupahan dan regulasi hukum yang belum jelas.

    Melalui film-filmnya, Ia tak hanya menampilkan humor semata namun juga bentuk representasi keadaan sosial masyarakat pada zamannya. Ia menerapkan salah satu fungsi film, yaitu sebagai arsip sosial yang dapat menangkap jiwa zaman atau zeitgeistmasyarakat saat itu atau dengan kata lain fim hadir sebagai manifestasi yang jujur dari apa yang tengah bergejala di masyarakat. (Wanti)

    Sumber: Hidayah, Wanti. 2015. Representasi Mobilitas Sosial Pembantu Rumah Tangga dalam Film Komedi Inem Pelayan Sexy 1-3 Karya Nya Abbas Akup.

    Suara Karya Minggu, 31 Juli 1988 (foto)

    Filmindonesia.or.id (foto)

    Sumber Artikel : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Pasar Baru Penuh Dengan Pesona Dan Keunikan

    Pasar Baru Penuh Dengan Pesona Dan Keunikan

    Orang Jakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Pasar Baru. Pasar yang terletak di kawasan jalan Pasar Baru, Jakarta Pusat ini didirikan pada tahun 1820 dan menjadi salah satu pusat perbelanjaan tertua di Jakarta. Nama Pasar Baru sudah ada sejak zaman VOC dengan ejaan Pasar Baroe atau De Nieuwe Markt. Keberadaan Pasar Baru tak lepas dari sejarah perpindahan ibu kota kolonial ke Weltervreden (sekitar Gambir, Lapangan Banteng dan Istana Merdeka).

    Perpindahan pusat kota ini mencakup perpindahan pusat administrasi, pemerintahan, transaksi bisnis, dan militer. Pada abad ke-19, Pasar Baru identik dengan pusat perbelanjaan bergengsi orang-orang Eropa. Lokasinya yang dekat dengan kawasan elit Rijswijk (sekarang jalan Veteran, Jakarta Pusat) semakin menjadikan Pasar Baru sebagai tempat bergengsi pada jamannya.

    Suasana Pasar Baru

    Memasuki bangunan, pengunjung disambut oleh sebuah gerbang tinggi kokoh bergaya Tionghoa. Beberapa kawasan seperti Pasar Baru, Istana Baru, Kawasan Pintu Air, Metro Pasar Baru, Metro Atom dan Harco Pasar Baru menjadi pilihan pengunjung untuk berbelanja. Keunikan gaya bangunan toko berarsitektur Tionghoa dan Eropa menambah keindahan suasana pasar.

    Di dalam kawasan Pasar Baru juga terdapat berbagai bangunan bersejarah seperti tempat beribadah masyarakat keturunan Tionghoa yang diperkirkan berdiri sejak abad ke-17 dan Kuil Sikh yang biasa disebut Gurdwara oleh orang keturunan India. Pagelaran budaya juga disajikan tiap tahun di Pasar Baru.

    Pasar Baru

    Semenjak tahun 2003 pemerintah Provinsi DKI juga menggelar Festival Passer Baroe yang diselenggarakan rutin tiap tahunnya. Festival ini biasanya digelar bertepatan dengan ulang tahun DKI Jakarta. Gelaran pertunjukkan dan sajian kuliner meramaikan festival ini.

    Kemajemukan para pedagangnya juga menjadi pesona tersendiri bagi para pengunjungnya, orang Tionghoa, Eropa, maupun Melayu berjualan barang primer dan sekunder seperti makanan, sepatu, alat-alat elektronik dan alat tulis. Tak hanya itu, para pedagang keturunan India pun juga menjajakan tekstil.

    Sesuai dengan perkembangannya, kini Pasar Baru menjual berbagai jenis kebutuhan, seperti uang kuno, lukisan dan kuliner. Kecepatan dan ketangkasan penjual dalam melayani pembeli adalah ciri khas dari Pasar Baru. Hal itu seperti yang dicatat oleh Justus van Maurik seorang penulis buku “Indrukken van een Totok” yang menceritakan pengalamannya memesan sepatu di Pasar Baru. (Wanti)

    Sumber:

    Harianti, Diah, dkk.2012. Menguak Pasar Tradisonal Indonesia. Jakarta:Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya.

    Sumber Artikel : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Oei Tiong Ham, Penguasa Gula Asia Tenggara Dari Semarang

    Oei Tiong Ham, Penguasa Gula Asia Tenggara Dari Semarang

    Gula pernah menjadi salah satu komoditas unggulan Nusantara pada masa penjajahan terdahulu. Setelah mengalami penurunan harga secara drastis, posisi Pulau Banda Neira sebagai penghasil rempah utama dunia tergeser oleh Pulau Jawa sebagai salah satu penghasil gula terbaik saat itu. Pada rentang tahun 1800 – 1930, gula menjadi produk olahan alam terpenting di dunia.

    Salah satu saudagar gula saat itu adalah seorang Tionghoa bernama Oei Tiong Ham. Kesuksesan pria yang lahir pada 1866 sampai 1924 ini berasal dari sang ayah, Oei Tjie Sien yang memiliki perusahaan Kian Gwan. Dirinya menjadi proklamator Oei Tiong Ham Concern (OTHC) yang dikemudian hari menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia. Dengan kantor pusat yang berada di Semarang, Oei Tiong Ham melebarkan sayap bisnisnya dari Hongkong, London, hingga New York. Bahkan Koran De Locomotief pernah menyebut Ia sebagai “orang terkaya di antara Shanghai dan Australia.”

    Oei Tiong Ham memulai bisnis pertamanya dengan hasil bumi, seperti kopi, karet, kapuk, gambir, tapioka, serta opium. Bisnisnya mulai berkembang pesat ketika saat itu Ia mengakuisisi 5 pabrik gula yang akan bangkrut, yaitu pabrik gula Pakis di Pati, Rejoagung di Madiun, Ponen di Jombang, Tanggulangin di Sidoarjo, dan Krebet di Malang.

    Kini, jejak peninggalan Oei Tiong Ham Concern masih dapat dijumpai di kawasan Kota Lama Semarang. Terdapat 3 bangunan eks-kantor OTHC, yaitu yang terletak di Jl Kepodang No 25, di sudut pertemuan antara Jalan Kepodang dan Jalan Suari, dan di Jalan Kepodang No 11 – 13.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Ahmad Tohari: Memberi Asa Dalam Sastra

    Ahmad Tohari: Memberi Asa Dalam Sastra

    Memori puluhan tahun itu masih bersarang di benak Ahmad Tohari. Suatu ketika, koran yang tengah ia baca ditarik oleh sang bibi sambil berkata “Kayak kamu mau jadi apa baca-baca koran!”.

    Kejadian tersebut tentunya menyayat hati. Ditambah lagi kala itu masih umum terdengar hanya mereka yang ingin menjadi priayi, atau bahkan cukup priayi saja, yang dianggap pantas membaca koran.

    “Perasaan saya ya cuma sakit saja” ucapnya.

    Ahmad Tohari merasakan lompatan budaya yang luar biasa dalam hidupnya. Duduk di bangku sekolah, bercengkerama dengan buku dan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya untuk membaca menjadi barang mahal yang ia rasakan. Bukan tanpa alasan, pria asal Banyumas ini lahir di tengah-tengah keluarga yang saat itu belum sadar sepenuhnya budaya literasi.

    “Ibu saya masih buta huruf, apalagi kakek saya. Jadi kalau sekarang saya jadi penulis itu sungguh lompatan budaya yang sangat jauh,” jelas sastrawan Ahmad Tohari, yang ditemui di kediamannya, di Banyumas, Jawa Tengah.

    Tohari muda hampir menghabiskan sebagian waktunya di tanah kelahirannya. Ia lalu melanjutkan hidup di Purwokerto untuk menyelesaikan pendidikan SMA. Perkenalan dengan buku jauh terasa lebih syahdu di kota tersebut. Buku demi buku yang ia jelajahi seolah membuka cakrawala pengetahuan yang berujung pada lembaran cerita tentang tokoh-tokoh dalam karya sastranya.

    Sastra dan Tohari bak menjadi dua sisi yang tak pernah terpisahkan. Jatuh cinta kepada dunia sastra sudah dirasakan Tohari sejak ia duduk di bangku SMA. Barulah selepas SMA pria yang pernah mendapatkan penghargaan di tingkat Asean ini mengirimkan karyanya ke berbagai media massa. Cerpennya yang berjudul Jasa-jasa Buat Sanwirya berhasill mengantongi Hadiah Harapan Sayembara Kincir Emas yang diselenggarkan Radio Nederlands Wareldomroep (1977). Tak lama kemudian, Kubah (1980) dan Ronggeng Dukuh Paruk (1982) terbit bergiliran dan  memberikan sejarah baru di dunia sastra.

    “Ada bermacam alasan kenapa saya menulis, karena saya ‘hamil’ tulisan. Sederhananya, kenapa kamu melahirkan karena ada bayi di dalam perutmu. Saya pun demikian, saya hamil sastra. Siapa yang menghamili? tentu lingkungan saya. Jadi harus dilahirkan,” tegasnya.

    Cerita Untuk “Wong Cilik”

    Tokoh-tokoh yang dilahirkan Tohari tak jauh dari sebuah realitas kehidupan. Ia tak hanya mengandalkan imajinasi, namun menghidupkan fenomena-fenomena yang pernah terjadi sebagai keutuhan cerita. Tentu dikemas sebagai karya sastra dengan fondasi pijar imajinasi dan bahasa yang memikat.

    Itulah mengapa tokoh-tokoh yang dihadirkan Tohari sebagian besar merupakan potret kehidupan masyarakat miskin, seperti gelandangan, pelacur, pengemis yang diceritakan dengan penuh deskriptif. Dirinya berprinsip, menjadi penulis realisme merupakan kekukuhan hati yang tak bisa ditawar.

    “Aliran saya realisme. Saya hanya mampu menulis berdasarkan pengalaman yang saya lihat, dengar, baca tentang kenyataan. Jadi kalau menulis sebetulnya mengekspresikan diri saya sambil beridealis. Saya tidak bisa menulis di luar masyarakat kecil, lebih nikmat menulis tentang gelandangan, orang gila, pelacur dan pengemis. Saya sadar karya ini melawan pasar, tapi ini mewakili jiwa saya” ujar pria yang tahun ini menginjak usia ke-70.

    Tohari percaya, dengan menulis sebenarnya turut andil memberikan kontribusi terhadap kehidupan. Kata demi kata yang ia uraikan dalam sebuah kalimat sastra nantinya mampu membangkitkan secercah jiwa pembaca. Selain itu, sastra juga dapat mengasah daya kepekaan terhadap sesama.

    “Karena sastra mengisi jiwa kita dengan kepekaan, sensitivitas. Orang yang banyak membaca sastra lebih peka terhadap sensitivitas sosial dibandingkan yang tidak sama sekali. Saya berharap anak-anak muda dapat memberikan kontribusi dan membangun bangsa ini, supaya mereka tidak melulu pintar dan cerdas namun juga peka,” tukasnya.

    Foto: Ahmad Bagwi

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Perpusnas Rencanakan Susun Ensiklopedia Musik Indonesia

    Perpusnas Rencanakan Susun Ensiklopedia Musik Indonesia

    BNC,- Industri Korean Pop (K-Pop) saat ini mewabahi dunia. Keseriusan pemerintah Korea Selatan yang mendukung masyarakatnya sepenuh hati mengubah industri seni menjadi gurih. Sarat dengan pundi-pundi materi dan popularitas. Kesuksesan ini yang coba dirintis Perpustakaan Nasional yang berkeinginan industri suara menempatkan porsi yang pantas termasuk royalti bagi pelaku seninya.

    Bahasan ini yang mengemuka pada Focus Group Discussion (FGD) antara Perpusnas dengan produsen karya rekam suara yang diwakili oleh Ketua Presidium Indonesia Music Forum, Buddi Ace, Ketua Karya Cipta Indonesia, Dharma Oratmangun, perwakilan musisi, Rahman Syarief, dan pengamat musik, Bens Leo, yang digelar secara physical distancing di Jakarta, pada Rabu, (5/6).

    “Masalah hak cipta dan royalti merupakan hal yang sering dikeluhkan oleh para pelaku seni,” terang Bens Leo mengawali pembahasan.

    Bens lalu mengisahkan beberapa tahun lalu ia bercakap dengan salah seorang musisi dari daerah yang mencoba mendaftarkan hak cipta karyanya ke salah satu kementerian terkait. Singkat cerita, si pekerja seni tersebut mengurungkan niatnya dengan alasan biaya. Bagaimana dengan pelaku seni yang memilih jalur indie?.

    Nah, keberadaan UU SSKCKR Nomor 13 Tahun 2018 seperti membawa angin segar perubahan bagi industri musik. Mereka merasa negara telah hadir, apalagi jika menyangkut hak cipta. Artinya, setiap karya tidak hanya disimpan, dikelola, dilestarikan, tapi bahkan mereka tidak perlu dikenakan biaya untuk hal-hal tersebut. Perlakuan yang sama juga diberikan kepada musik-musik tradisional.

    Hal lain yang menjadi keinginan pelaku seni di industri suara adalah bagaimana karya mereka bisa dinikmati secara massal, misalnya melalui channel YouTube. Mereka berharap jika karyanya dinikmati banyak orang dan berhasil mencapai viewers tertentu, royalti bisa mereka peroleh. 

    “Harapannya sih, Perpusnas bisa menjadi pionir agar para musisi dapat lebih sejahtera ketika diunggah ke YouTube karena ada nilai ekonominya (baca : royalti),” terang Bens.

    Senada dengan Bens, Ketua Presidium Indonesia Music Forum, Buddi Ace, juga mengharapkan hal serupa. Namun, untuk bisa sejajar dengan K-Pop masih jauh karena Buddi merasa industri musik belum ada karena ekosistemnya belum berjalan. Meski demikian, Buddi menyarankan agar negara melalui Perpusnas bisa menjadi mitra (partner) YouTube karena di YouTube sedang ada program YouTube Partner Program yang sudah berjalan sejak 2020.

    “YouTube Perpusnas bisa menjadi bagian dari program YouTube partner program apabila sudah berhasil mencapai subscribe diatas 100.000, jam tayang melebihi dari 4.000 jam. Jika konten ini berhasil dihidupkan selain reward pemberian anugerah, saya meyakini di masa mendatang akan banyak yang berbondong-bondong menyerahkan karyanya,” terang Buddi.

    Di samping itu, Buddi juga menyampaikan gagasan menarik agar setiap karya yang telah diserahkan di Perpusnas tidak hanya disimpan melainkan juga dapat diceritakan melalui pembuatan ensiklopedia musik Indonesia. 

    Para peserta FGD sepakat bahwa komitmen untuk meningkatkan industri musik bukan hanya dari sisi ekonomi semata, tetapi juga harus bisa menjadi salah satu indikator peradaban dan mengikat perbedaan (pemersatu).

    “Kita bisa berkolaborasi membuat inovasi yang lebih milenial dan saya setuju dengan ide pembuatan ensiklopedia,” tambah Dharma Oratmangun.

    Menanggapi sejumlah masukan, Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, merasa ide memasukkan setiap karya musik ke dalam channel YouTube bisa saja dilakukan, namun Syarif Bando merasa hal ini perlu dinegoisasikan kembali dengan YouTube Indonesia. “Jika proyek ini berjalan, maka tujuan Perpusnas mensejahterakan dan memberi manfaat (melalui pemberian royati) bisa terwujud,” kata Syarrif Bando.

    Bahkan, inovasi gagasan pembuatan ensiklopedia musik Indonesia diapresiasi Kepala Perpusnas. Bahkan, secara tersirat akan melibatkan para pustakawan dan masuk ke dalam kegiatan Perpusnas di 2021.

    Sumber : perpusnas.go.id /  Hartoyo Darmawan / Fotografer ; Hartoyo Darmawan

  • Inkubator Literasi Pustaka Nasional, Hidupkan  Iklim Kepenulisan

    Inkubator Literasi Pustaka Nasional, Hidupkan Iklim Kepenulisan

    BNC,- Perpustakaan Nasional RI melalui Perpusnas Press menyelenggarakan pelatihan “Inkubator Literasi Pustaka Nasional” yang diikuti 15 pustakawan dan pengelola perpustakaan dari seluruh Indonesia. Para peserta tersebut merupakan peserta terpilih dari Kompetisi Menulis Pustaka Nasional yang diselenggarakan pada Februari-Maret lalu.

    Pelatihan diselenggarakan pada Rabu (3/6/2020) secara daring via aplikasi telekonferensi. Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpusnas Joko Santoso menyatakan “Inkubator Literasi Pustaka Nasional” merupakan ajang untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi dalam bidang kepenulisan. “Yang pada akhirnya akan melahirkan karya-karya yang dibukukan dan diterbitkan oleh Perpusnas Press,” ujarnya saat memberikan sambutan.

    Joko Santoso menambahkan, persoalan kepenulisan, penerbitan, dan ketersediaan bahan bacaan di masyarakat Indonesia, bersifat lateral, bukan linier. Karenanya, harus diciptakan sebuah ekosistem yang saling menghidupi penulis, kepenulisan, termasuk pembuatan karya tulis baru dengan keunikan dan kepentingan serta manfaat tersendiri, yang didukung oleh penerbitan.

    Saat ini, ujarnya, tercipta kondisi di mana penerbitan mainstream tidak hanya memandang kualitas tulisan tetapi juga diserap pasar dengan baik. Persoalan inilah yang menghambat dunia kepenulisan karena tidak semua buku yang berkualitas baik, laku di pasar.

    “Nah dengan upaya ini harapan kita, kekurangan bacaan di Indonesia yang saat ini angkanya satu buku dibaca 30 ribu orang, itu segera bisa kita atasi dengan banyaknya karya-karya baru dari penulis-penulis baru. Yang kedua, upaya penerbitan ini sebuah upaya bersama yang tidak mungkin disandarkan pada kepentingan ekonomis semata,” urainya.

    Melalui kegiatan yang diselenggarakan penerbit Perpusnas Press ini, beragam subyek termasuk bidang kepustakawanan, mudah didapat untuk kepentingan pengembangan perpustakaan di Indonesia. Selain itu, esai para peserta diharapkan bisa menggali kepustakawanan yang berbasis pada Indonesia. “Filosofi kepustakawanan Indonesia itu berbeda dengan filosofi kepustakawanan Barat. Nah inilah yang perlu kita gali dalam upaya penerbitan ini,” tuturnya.

    Kegiatan “Inkubator Literasi Pustaka Nasional” diharapkan menjadi momentum dalam memulai tradisi baru yaitu menghidupkan iklim kepenulisan, merayakan pemikiran positif, pemikiran yang digali dari pengalaman yang ada di daerah. Semuanya didokumentasikan dalam terbitan sehingga masyarakat dapat menikmatinya.

    Sementara itu, Kepala Subbagian Penerbitan Edi Wiyono menyatakan, rencananya pelatihan diselenggarakan secara tatap muka pada April 2020. Namun karena pandemi Covid-19, pelatihan diselenggarakan secara daring. Sebanyak 15 peserta yang terseleksi dimentor dan bekerjasama secara daring untuk menghasilkan sebuah buku.

    Edi menambahkan, sebanyak 305 peserta mengikuti Kompetisi Menulis Pustaka Nasional yang mengangkat tema “Inovasi dan Kreativitas Pustakawan dalam Rangka Peningkatan Indeks Literasi untuk Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju”. Kompetisi ini diikuti pustakawan dan pengelola perpustakaan dari seluruh Indonesia di mana sebanyak 37 orang dari Sumatera, 222 orang dari Jawa, 14 orang dari Kalimantan, 13 orang dari Bali dan NTT, 18 orang dari Sulawesi, dan 1 orang dari Maluku dan Papua.

    Dalam pelatihan ini, para peserta mendapatkan bimbingan dari tim Bitread untuk memoles tulisannya. Selanjutnya, tulisan peserta dibukukan dan diterbitkan pada Juli 2020. Selain itu, tiga karya terbaik akan terpilih menjadi juara pertama, kedua, dan ketiga.(*Che)

    Sumber www.perpusnas.go.id / Reportase: Hanna Meinita