Category: UMUM

  • Dongeng  Marsinah

    Dongeng Marsinah

     

    Karya: Sapardi Djoko Damono

     

     

    1

     

    Marsinah buruh pabrik arloji,
    mengurus presisi:
    merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
    waktu memang tak pernah kompromi,
    ia sangat cermat dan hati-hati.
    Marsinah itu arloji sejati,
    tak lelah berdetak
    memintal kefanaan
    yang abadi:
    “kami ini tak banyak kehendak,
    sekedar hidup layak,
    sebutir nasi.”

     

    2

     

    Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
    ia hanya suka merebus kata
    sampai mendidih,
    lalu meluap ke mana-mana.
    “Ia suka berpikir,” kata Siapa,
    “itu sangat berbahaya.”
    Marsinah tak ingin menyulut api,
    ia hanya memutar jarum arloji
    agar sesuai dengan matahari.
    “Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
    “dan harus dikembalikan
    ke asalnya, debu.”

     

    3

     

    Di hari baik bulan baik,
    Marsinah dijemput di rumah tumpangan
    untuk suatu perhelatan.
    Ia diantar ke rumah Siapa,
    ia disekap di ruang pengap,
    ia diikat ke kursi;
    mereka kira waktu bisa disumpal
    agar lengkingan detiknya
    tidak kedengaran lagi.
    Ia tidak diberi air,
    ia tidak diberi nasi;
    detik pun gerah
    berloncatan ke sana ke mari.
    Dalam perhelatan itu,
    kepalanya ditetak,
    selangkangnya diacak-acak,
    dan tubuhnya dibirulebamkan
    dengan besi batangan.
    Detik pun tergeletak
    Marsinah pun abadi.

     

    4

     

    Di hari baik bulan baik,
    tangis tak pantas.
    Angin dan debu jalan,
    klakson dan asap knalpot,
    mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
    Semak-semak yang tak terurus
    dan tak pernah ambil peduli,
    meregang waktu bersaksi:
    Marsinah diseret
    dan dicampakkan —
    sempurna, sendiri.
    Pangeran, apakah sebenarnya
    inti kekejaman? Apakah sebenarnya
    sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
    azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya
    hakikat kemanusiaan, Pangeran?
    Apakah ini? Apakah itu?
    Duh Gusti, apakah pula
    makna pertanyaan?

     

    5

     

    “Saya ini Marsinah,
    buruh pabrik arloji.
    Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
    ke dunia lagi; jangan saya dikirim
    ke neraka itu lagi.”
    (Malaikat tak suka banyak berkata,
    ia sudah paham maksudnya.)
    sengsara betul hidup di sana
    jika suka berpikir
    jika suka memasak kata
    apa sebaiknya kita menggelinding saja
    bagai bola sodok,
    bagai roda pedati?”
    (Malaikat tak suka banyak berkata,
    ia biarkan gerbang terbuka.)
    “Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
    wanita berotot,
    yang mengepalkan tangan,
    yang tampangnya garang
    di poster-poster itu;
    saya tidak pernah jadi perhatian
    dalam upacara, dan tidak tahu
    harga sebuah lencana.”
    (Malaikat tak suka banyak berkata,
    tapi lihat, ia seperti terluka.)

     

    6

     

    Marsinah itu arloji sejati,
    melingkar di pergelangan
    tangan kita ini;
    dirabanya denyut nadi kita,
    dan diingatkannya
    agar belajar memahami
    hakikat presisi.
    Kita tatap wajahnya
    setiap hari pergi dan pulang kerja,
    kita rasakan detak-detiknya
    di setiap getaran kata.
    Marsinah itu arloji sejati,
    melingkar di pergelangan
    tangan kita ini.

     

     

  • Keluhuran dalam Cerpen “Rumah-rumah Nayla” Djenar Maesa Ayu: Perspektif Longinus

    Keluhuran dalam Cerpen “Rumah-rumah Nayla” Djenar Maesa Ayu: Perspektif Longinus


     Oleh Katarina Grace Hepinanda Mako, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

     

    Sering kali kita melihat hidup seseorang dari luarnya saja. Kalau kita melihat Nayla dalam cerpen “Rumah-rumah Nayla” karya Djenar Maesa Ayu, di awal cerita mungkin kita ingin hidup seperti Nayla. Memiliki suami kaya yang pengertian, rumah elit dengan pos penjaga, dan anak-anak yang cantik serta sehat. Hidupnya ringan, mewah, dan menjadi idaman bagi kebanyakan orang. Namun, di balik semua kemewahan itu, ada aroma alkohol, jejak narkoba, dan luka pemerkosaan masa kecil yang masih membekas, sebuah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh meski sudah ditutupi dengan tembok rumah yang mahal. Di sinilah Djenar Maesa Ayu menunjukkan wewenang sebagai makhluk otonom yang memiliki kebebasan kreatif untuk mencurahkan perasaan dan pikiran dari kedalaman jiwanya, menjadikan cerpen ini sebagai pernyataan batin yang jujur.

    Djenar mengajak untuk masuk ke dalam ingatan Nayla yang tumpang tindih antara kenyataan pahit dan khayalan yang dia bangun di laptopnya. Dan Longinus merupakan pelopor yang menegaskan bahwa ukuran seni sastra adalah keluhuran (peri hypsous). Jika menggunakan perspektif Longinus, cerpen ini bukan sekadar cerita sedih biasa. Longinus berpendapat bahwa fungsi karya sastra yang besar adalah membawa pembaca “keluar dari dirinya sendiri” (transport the reader out of himself) menuju suka cita ilahi. Karya ini menjadi hebat karena ia memiliki kekuatan untuk mengangkat pembaca ke tahap sublimasi melalui emosi yang mengguncang, sebuah proses imajinatif di mana Djenar merangkai ingatan traumatis menjadi sebuah keluhuran seni.

    Djenar Maesa Ayu lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang erat dengan dunia seni sebagai putri dari sutradara legendaris Sjuman Djaya dan aktris Toeti Kirana. Namun, menariknya, meski dikelilingi suasana seni, Djenar mengaku dibesarkan dalam lingkungan yang religius dan konservatif. Ketegangan antara kebebasan individu dan norma sosial yang ia alami di masa kecil inilah yang ia tonjolkan ke dalam sosok Nayla. Latar belakang pendidikan Djenar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia serta pengalamannya sebagai wartawan membentuk sudut pandang kritisnya terhadap patriarki dan struktur kekuasaan. Dalam “Rumah-rumah Nayla”, dapat dilihat bagaimana Djenar menggunakan wewenang kreatifnya untuk menggugat larangan. Karakter Nayla yang digambarkan kehilangan birahi akibat pemerkosaan adalah bentuk kejujuran Djenar dalam mengangkat isu seksualitas dan kekerasan  yang kerap dianggap sebuah larangan  oleh lingkungan tempat ia tumbuh.

     

    Keluhuran dalam Rumah-rumah Nayla

    Langkah awal untuk memahami keluhuran dalam karya Djenar adalah dengan berani melihat sisi gelapnya. Nayla punya masa lalu yang hancur, dan Longinus yakin bahwa keluhuran sejati sering kali muncul dari objek-objek yang membuat batin bergetar. Rasa sakit inilah yang menjadi mesin penggerak cerita. Bagi Nayla, rumah mewahnya itu tidak nyata. Rumah yang beraroma cinta justru hanya ada di laptopnya. Di sinilah cerpen ini memenuhi lima prinsip sumber keluhuran Longinus yang menyatu dalam ekspresi Djenar.

    Pertama, adanya daya wawasan yang agung (grandeur of thoughts) di mana Nayla memutuskan untuk tidak menyerah dan membangun “rumah” sendiri di dalam imajinasinya. Pikiran besar ini muncul dari jiwa yang besar. Sebagai penulis yang sering dicap kontroversial namun berpengaruh, Djenar menunjukkan wawasan agungnya melalui keberanian tokoh Nayla untuk menetap di sebuah kontainer. Jiwa besar Djenar terpancar pada kemampuan Nayla untuk berhenti menjadi objek yang menyenangkan orang lain dan mulai menjadi subjek yang otonom atas hidupnya sendiri.

    Keluhuran ini semakin diperkuat oleh emosi atau nafsu (passion) yang mulia. Cerpen ini lahir dari dorongan emosi yang sangat kuat untuk jujur pada penderitaan. Dalam kacamata Longinus, adegan trauma pemerkosaan yang ditulis Djenar “Aroma alkohol menyeruak dari desahan mereka. Nayla menangis dan mengiba” mungkin terasa brutal, namun luhur secara estetis. Penderitaan Nayla yang meluap diubah menjadi energi kreatif yang menggetarkan, membuktikan bahwa karya luhur harus memiliki perasaan yang jujur. Kejujuran inilah yang menurut Longinus mampu mengangkat pikiran pembaca ke tahap sublimasi.

    Selanjutnya melalui retorika yang unggul, Djenar mengatur alur ceritanya dengan unik. Sebagai seniman multidisiplin, ia mengajak pembaca melihat sisi indah di awal hanya untuk menghancurkannya di tengah cerita, sebuah teknik yang membuat pembaca kehilangan kontrol diri dan terseret ke dalam sublimasi batin Nayla. Djenar juga menggunakan pengungkapan yang berkelas melalui diksi dan metafora yang menusuk. Benda-benda seperti sejumput rambut atau gincu yang hampir habis menjadi simbol hati yang sakit, membuktikan bahwa keluhuran tidak butuh kata-kata berlebihan, melainkan keagungan pikiran yang merasuki kata-kata.

    Seluruh penggubahan ini menjadi mulia ketika ditutup dengan adegan Nayla yang menutup laptopnya, sebuah penegasan bahwa dunia keluhurannya ada di dalam tulisan. Sesuai prinsip Longinus bahwa tidak ada sastra tanpa transformasi, Djenar telah mentransformasi penderitaan menjadi sebuah monumen keluhuran yang mengguncang jiwa. Pada akhirnya, keluhuran sejati akan selalu membawa suka cita ilahi (divine joy) bagi pembaca. Meskipun cerita Nayla penuh tragedi, ada kepuasan batin saat kita melihat seorang manusia mampu melampaui traumanya melalui seni.

     

    Sublimasi dalam Kesunyian Kontainer

    Pada akhirnya, keluhuran sejati akan selalu membawa kepuasan batin saat melihat seseorang mampu melampaui traumanya melalui seni. Nayla yang sekarang duduk sendirian di meja sudut kontainernya adalah simbol manusia otonom yang sudah mencapai tahap sublimasi. Ia tidak lagi butuh validasi dari suaminya atau kemewahan. ia hanya butuh ruang di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Melalui kejujuran ekspresi Djenar Maesa Ayu, kita diajak memahami bahwa ketika dunia nyata terlalu jahat untuk ditinggali, menulis adalah cara untuk membangun istana keluhuran yang tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun. Djenar telah menunjukkan bahwa kemegahan yang paling abadi justru ditemukan di titik paling sunyi dalam kejujuran batin, sebuah suka cita ilahi yang lahir dari keberanian untuk menjadi diri sendiri.

    ——————

  • Keluhuran dalam Cerpen “Air” Karya Djenar Maesa Ayu

    Keluhuran dalam Cerpen “Air” Karya Djenar Maesa Ayu

     

    Oleh Muhammad Taufikurahman Ruki, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Pendekatan ekspresivisme dalam teori sastra memandang karya sastra sebagai ekspresi batin pengarang. Karya sastra tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga merupakan luapan pengalaman, emosi, dan pemikiran yang berasal dari dunia batin pengarang. Dalam kajian ini, konsep keluhuran (sublime) yang dikemukakan oleh Longinus menjadi penting untuk memahami bagaimana karya sastra mampu menggugah jiwa pembaca.

    Menurut Longinus, karya sastra yang besar bukan hanya memberikan hiburan atau pengetahuan, melainkan mampu mengangkat jiwa pembaca menuju pengalaman emosional yang mendalam. Keluhuran tersebut muncul dari beberapa unsur, antara lain gagasan yang agung, emosi yang kuat, penggunaan bahasa yang efektif, serta penggubahan karya yang baik.

    Cerpen “Air” karya Djenar Maesa Ayu menggambarkan perjuangan seorang perempuan yang harus menghadapi kehamilan di usia muda, membesarkan anak seorang diri, serta menghadapi konflik batin sebagai seorang ibu yang harus bekerja demi kehidupan mereka. Melalui kisah tersebut, cerpen ini menampilkan pengalaman manusia yang sangat emosional dan menyentuh. Dengan menggunakan perspektif keluhuran Longinus, cerpen ini dapat dipahami sebagai karya yang memiliki kekuatan ekspresif yang mampu menggugah pembaca.

     

    Daya Wawasan yang Agung

    Salah satu sumber keluhuran menurut Longinus adalah daya wawasan yang agung (grandeur of thoughts). Seorang pengarang harus mampu menghadirkan gagasan yang mendalam sehingga karya sastra tidak hanya bersifat dangkal.

    Dalam cerpen “Air”, gagasan yang diangkat berkaitan dengan perjuangan seorang ibu tunggal yang harus menghadapi berbagai kesulitan hidup. Tokoh utama mengalami kehamilan yang tidak direncanakan ketika masih muda. Hal ini terlihat dalam dialog berikut:

    Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda,” kata ayahnya.

    Namun, tokoh utama tetap mempertahankan keputusannya untuk menjaga anak tersebut. Ia dengan tegas berkata, “Saya akan menjaganya.

    Kalimat tersebut terus diulang sepanjang cerita dan menjadi simbol keteguhan hati tokoh sebagai seorang ibu. Pengulangan ini menunjukkan gagasan utama cerita, yaitu tentang tanggung jawab dan pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya. Dalam perspektif Longinus, gagasan seperti ini merupakan bentuk pemikiran yang luhur karena menyentuh persoalan kemanusiaan yang mendalam.

    Emosi yang Kuat Sebagai Sumber Keluhuran

    Menurut Longinus, keluhuran dalam karya sastra juga muncul dari emosi yang kuat dan tulus. Emosi tersebut mampu menggugah perasaan pembaca sehingga mereka merasakan pengalaman batin yang sama dengan tokoh dalam cerita.

    Dalam cerpen “Air”, emosi tokoh utama digambarkan dengan sangat intens sejak awal cerita. Ketika mengetahui dirinya hamil, ia mengalami perubahan fisik dan emosional yang besar, sebagaimana digambarkan dalam narasi berikut:

    Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Rasa mual merajalela. Pun mulai membukit perut saya.

    Perjuangan tokoh semakin berat ketika ia kehilangan pekerjaan karena kehamilannya. Hal ini terlihat dalam dialog dengan atasannya, “Kami mengerti, tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil,” kata supervisor saya.

    Peristiwa tersebut menunjukkan tekanan sosial yang dialami oleh tokoh utama. Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, ia tetap berusaha bertahan demi anaknya. Emosi cerita semakin kuat ketika hubungan antara ibu dan anak mulai mengalami konflik. Anak yang telah beranjak remaja mulai menunjukkan sikap marah kepada ibunya. Hal ini terlihat dalam dialog berikut:

    Capek ah nunggu, aku udah mau tidur!” semprotnya. Kalimat tersebut menggambarkan jarak emosional yang mulai muncul antara ibu dan anak. Tokoh utama merasa bahwa semua pengorbanannya tidak sepenuhnya dipahami oleh anaknya. Konflik ini menghadirkan rasa sedih, bersalah, dan keputusasaan yang sangat kuat.

     

    Simbol “Air” sebagai Pengungkapan Bahasa

    Longinus juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang kuat dan penuh makna. Bahasa yang tepat dapat memperdalam pengalaman emosional pembaca.

    Dalam cerpen ini, Djenar Maesa Ayu menggunakan simbol “air” secara berulang untuk menggambarkan berbagai fase kehidupan tokoh utama. Misalnya, air ketuban saat proses kelahiran digambarkan dalam narasi berikut:

    Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya… Ketuban sudah pecah.

    Selain itu, simbol air juga muncul dalam bentuk air susu ibu ketika tokoh utama bersiap menyusui bayinya:

    Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di kedua puting saya.

    Simbol air dalam cerita ini memiliki makna yang luas. Air dapat melambangkan kehidupan, kelahiran, kesedihan, serta perubahan. Dengan menggunakan simbol yang konsisten, pengarang berhasil menciptakan kedalaman makna yang memperkuat pesan cerita.

     

    Penggubahan Cerita yang Efektif

    Menurut Longinus, keluhuran juga muncul dari penggubahan karya yang baik. Cerita harus disusun dengan struktur yang mampu menghasilkan dampak emosional yang kuat.

    Cerpen “Air” disusun melalui rangkaian pengalaman hidup tokoh utama, mulai dari masa kehamilan hingga anaknya beranjak remaja. Struktur cerita ini membuat pembaca mengikuti perjalanan panjang kehidupan seorang ibu.

    Pada bagian akhir cerita, tokoh utama mengalami keputusasaan yang mendalam hingga mencoba mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini menunjukkan puncak konflik emosional dalam cerita. Namun, cerita tidak berakhir dengan kematian, melainkan dengan harapan agar suatu hari nanti anaknya dapat memahami pengorbanan yang telah ia lakukan.

     

    Kesimpulan

    Melalui perspektif keluhuran dari Longinus, cerpen “Air” karya Djenar Maesa Ayu dapat dipahami sebagai karya sastra yang memiliki kekuatan ekspresif yang mendalam. Keluhuran dalam cerpen ini tampak melalui gagasan tentang perjuangan seorang ibu, emosi yang kuat dan menyentuh, penggunaan simbol air yang kaya makna, serta pengubahan cerita yang efektif.

    Dengan menghadirkan kisah kehidupan seorang ibu yang penuh pengorbanan, cerpen ini tidak hanya memberikan pengalaman membaca yang emosional, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan makna tanggung jawab, cinta, dan hubungan antara orang tua dan anak.

    Hal ini menunjukkan bahwa keluhuran dalam sastra dapat muncul dari pengalaman manusia yang sederhana namun diungkapkan dengan emosi yang kuat dan bahasa yang penuh makna.

    ———————-

  • Filsuf Ternama JÜRGEN HABERMAS Meninggal Dunia Pada Usia 96 Tahun

    Filsuf Ternama JÜRGEN HABERMAS Meninggal Dunia Pada Usia 96 Tahun

     

    Stefan Dege | Stuart Braun

     

    “Kebebasan tidak pernah dapat dipahami hanya secara negatif, sekadar sebagai ketiadaan paksaan. Kebebasan yang dipahami secara intersubjektif membedakan dirinya dari kebebasan sewenang-wenang individu yang terisolasi. Tidak seorang pun bebas sampai kita semua bebas.”

    -Jürgen Habermas, Religion and Rationality: Essays on Reason, God and Modernity.

     

    Sebagai salah satu intelektual terbesar Jerman pascaperang, ia terus-menerus memperjuangkan demokrasi yang kuat dan inklusif. Kepergiannya menandai berakhirnya sebuah era.

    Jürgen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman yang terkenal di dunia, telah meninggal dunia 14 Maret 2026, di kota Starnberg dekat Munich, tempat ia tinggal sejak tahun 1971, demikian pernyataan dari penerbit Suhrkamp.

    Sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh di abad ke-20, ia tetap aktif hingga tahun-tahun terakhirnya, dan merupakan salah satu dari sedikit intelektual publik di Jerman yang secara teratur mengambil sikap terhadap isu-isu politik.

    Setelah memperjuangkan hak atas suaka selama krisis migran tahun 2015, dan untuk Uni Eropa yang bersatu dalam menghadapi populisme dan nasionalisme sayap kanan, Habermas tetap aktif berkomitmen pada cita-cita kosmopolitannya tentang demokrasi yang terbuka dan ketat.

    Ia dianugerahi Penghargaan Media Jerman-Prancis pada tahun 2018, dan setelah berusia 90 tahun pada tahun berikutnya, menerbitkan karya dua jilid setebal 1.700 halaman, “This Too a History of Philosophy”, sebuah kajian tentang evolusi rasionalitas dan nalar manusia yang oleh Boston Review disebut sebagai “karya agung yang kaya akan pengetahuan dan sintesis.”

    Setelah menerima berbagai penghargaan internasional bergengsi sepanjang kariernya, termasuk Penghargaan Memorial Internasional Holberg tahun 2007 senilai sekitar €520.000, pada tahun 2021 ia menerima dan kemudian menolak penghargaan senilai €225.000 dari Uni Emirat Arab (UEA).

    Karena monarki absolut Teluk tersebut dituduh melakukan penindasan, ia memutuskan bahwa menerima penghargaan itu “salah” karena dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsipnya tentang kebebasan berpendapat dan debat demokratis yang terbuka.

     

    Evolusi Ruang Publik

    Jürgen Habermas lahir di Düsseldorf pada tahun 1929. Sebagai seorang pemuda, ia tertarik pada isu-isu sosial dan setelah mempelajari filsafat, ekonomi, dan sastra Jerman, ia pertama kali bekerja sebagai jurnalis lepas.

    Ia meraih gelar doktor filsafat di Bonn pada tahun 1954. Tesis pascadoktoralnya dari tahun 1961, Strukturwandel der Öffentlichkeit (diterbitkan dalam terjemahan bahasa Inggris pada tahun 1989 sebagai “The Structural Transformation of the Public Sphere”), tetap menjadi karya inovatif yang mengeksplorasi evolusi dan pentingnya opini publik dan “ruang publik” dalam masyarakat demokratis.

    Karya Habermas membangkitkan minat Theodor W. Adorno, yang bersama Max Horkheimer dan Herbert Marcuse, mendirikan aliran teori sosial dan kritis di bawah apa yang disebut Sekolah Frankfurt yang pertama kali didirikan pada masa Weimar.

    Bekerja di Institut Penelitian Sosial Frankfurt, lingkaran intelektual ini mengeksplorasi pertanyaan tentang bagaimana pemikiran pencerahan, yang membebaskan manusia dari kekuatan alam dan takhayul melalui akal mereka sendiri, dapat tergelincir ke dalam barbarisme Nazisme.

    Pada tahun 1964, Habermas mengambil alih jabatan profesor filsafat dan sosiologi di Universitas Frankfurt dari Max Horkheimer, di mana ia melanjutkan proyek Sekolah Frankfurt tentang pengembangan sosial dan politik di luar batasan kaku kapitalisme dan Marxisme-Leninisme.

     

    Melawan Fasisme dengan Demokrasi

    Seperti penulis dan intelektual Jerman Barat pascaperang lainnya, termasuk Martin Walser, Günter Grass, dan Siegfried Lenz, Habermas tumbuh di bawah bayang-bayang Nazisme. Pengalaman ini meninggalkan jejak pada karya hidupnya, yang pada akhirnya mempertanyakan bagaimana pengulangan Holocaust dapat dicegah.

    Misinya adalah untuk mengembangkan model komunikasi berdasarkan “konsensus,” di mana anggota masyarakat dapat berupaya menyeimbangkan berbagai kepentingan mereka.

    Gagasan-gagasannya akan membentuk citra diri Republik Federal Jerman. Warga negara tidak lagi menerima perintah dari atasan; sebaliknya, mereka harus didorong untuk ikut campur dalam ranah publik, untuk merumuskan pandangan mereka secara terbuka dan memasukkannya ke dalam diskusi skala besar yang akan mengarah pada kompromi yang dapat diterima.

    Teori-teorinya yang mempromosikan demokrasi yang kuat dan terbuka dikatakan telah memengaruhi protes mahasiswa tahun 1968. Namun, meskipun Habermas menjadi mentor spiritual bagi para mahasiswa, ia menolak unsur-unsur radikal gerakan tersebut yang menganjurkan terorisme seperti yang dilakukan oleh Faksi Tentara Merah.

    Habermas mengembangkan lebih lanjut konsepnya tentang ruang publik setelah ia pindah ke Starnberg dekat Munich untuk menjadi salah satu direktur Institut Max Planck yang baru pada tahun 1971. Di sana ia menerbitkan karya besarnya yang terdiri dari dua jilid, Teori Tindakan Komunikatif (1981), di mana ia mengusulkan bahwa bahasa dan komunikasi harus menjadi fondasi masyarakat di mana debat terbuka dan opini publik yang beralasan mendorong kemajuan sosial.

    Ia kemudian menerapkan ide-ide ini pada Uni Eropa , yang ia harapkan akan menjadi benteng demokrasi melawan nasionalisme.

    Dalam forum “Masa Depan Mana untuk Eropa?” di Berlin pada tahun 2017, ia mengatakan bahwa ia khawatir proyek Eropa harus memberdayakan ruang publik, dan tidak tetap menjadi domain elit. “Penyatuan Eropa tetap menjadi proyek elit karena elit politik telah menghindari melibatkan masyarakat luas dalam debat yang informatif tentang skenario alternatif untuk masa depan,” katanya.

     

    Habermas sebagai Raja-Filsuf

    Barulah pada tahun 1983 Jürgen Habermas kembali ke Frankfurt, tempat ia mengajar filsafat hingga pensiun pada tahun 1994. Namun, pemikir tersebut terus memberikan pengaruh pada debat sosial dan politik.

    Pada tahun 1999, misalnya, ia mendukung upaya kontroversial NATO untuk mengakhiri perang di Kosovo dengan membom Serbia: “Jika tidak ada cara lain, negara-negara tetangga yang demokratis harus dapat segera melakukan intervensi dengan bantuan darurat yang dilegitimasi berdasarkan hukum internasional,” katanya.

    Sebagai pendukung integrasi Eropa, Habermas berulang kali menunjuk pada defisit demokrasi di Uni Eropa. Dalam konteks krisis euro pada awal tahun 2010-an, ia memperingatkan terhadap penghematan yang terlalu kaku dan mendorong perluasan serikat moneter menjadi demokrasi “supranasional” di mana negara-negara bangsa menyerahkan kedaulatan lebih lanjut.

    Habermas lahir dengan bibir sumbing dan sering diejek oleh anak-anak lain sejak usia dini. Mungkin, seperti yang dicurigai oleh penulis biografinya, Stefan Müller-Doohm, inilah sebabnya ia tertarik pada masalah komunikasi sepanjang hidupnya.

    Meskipun sudah berusia 90-an, literatur sekunder tentang karya Habermas saja mencakup lebih dari 14.000 buku dan artikel, termasuk banyak tesis doktoral. Filsuf ini terdaftar sebagai penulis ketujuh yang paling banyak dikutip dalam bidang humaniora dan ilmu sosial oleh The Times Higher Education Guide.

    Sebuah asteroid yang ditemukan pada tahun 1999 di tepi tata surya diberi nama sesuai nama pemikir besar tersebut. Bahkan setelah kematiannya, bintangnya akan terus bersinar terang.

    (Disunting Oleh: Elizabeth Grenier)

    Celebrated philosopher Jürgen Habermas has died at the age of 96. https://share.google/mLyid407ypcm8ezMF

    I.Sandyawan Sumardi
    Leiden, 14 Maret 2026

    ———————–

     

    Buku- Buku tentang Habermas

     

     

  • SMK ANCOP dan  Bapa Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong  Kung, Pr

    SMK ANCOP dan  Bapa Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong  Kung, Pr

     Oleh Rofinus Pati

     

     

    Hari Raya Imlek pada Selasa, 17 Februari 2026, datang dengan wajah sangat ramah. Alam tidak marah. Tidak ada hujan angin seperti biasanya, bahkan dicemaskan banyak orang. Matahari bersinar cerah ke Desa Lewomuda, tempat kelahiran Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr.

    Pukul 08.00 hari ini,  diadakan perayaan ekaristi di gereja Stasi Kristus Raja,  Lewomuda, untuk  mensyukuri masa purna tugas (emeritus) Bapa Uskup Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr setelah 24 tahun karya pelayanannya  sebagai Uskup. Hadir puluhan suster biarawati, beserta para  aspiran dan novis. Para konselebran dalam perayaan ekaristi ini  berjumlah puluhan imam yang mendampingi Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr sebagai selebran utama.

    Paduan suara  dalam perayaan syukur ini dimandatkan dari Pastor Paroki Maria Diangkat ke surga, Lewokluok, Bama: Romo Wilhelmus Ola Baga, Pr kepada SMK ANCOP. Para anggota koor, dirigen dan pemusik tampil  sukses, melayani dan memuliakan Tuhan dalam lagu-lagu liturgi. Pengakuan tulus atas kesuksesan ini berasal dari Bapak Laurensius Hera yang tampil  sebagai “Master of Ceremony” saat itu.

    Tepuk tangan meriah dari umat menandakan bahwa lagu-lagu yang dibawakan dengan penuh ekspresi, mampu menghantar umat kepada inti syukuran pada hari ini dan tentu lebih dari sekedar memuaskan telinga dan hati ratusan umat yang hadir. Para anggota paduan suara telah bernyanyi dengan baik. “Qui bene cantat bis orat” (siapa yang bernyanyi dengan baik, dia berdoa dua kali).

    Karya Besar

    Narasi tentang SMK ANCOP memang tidak dapat dipisahkan dari peran utama Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dan akan menjadi kisah sejarah tersendiri di keuskupan Larantuka. Ibarat dua sisi dari satu mata uang yang sama. SMK ANCOP berdiri atas kerja keras sekaligus kerja cerdas Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr bersama pihak-pihak yang mendukung sejak awal demi suksesnya karya besar (opus magnum) ini. Bahkan, kita boleh mengatakan bahwa tanpa Bapa Uskup emeritus Fransiskus Kopong Kung, Pr kemungkinan besar SMK ANCOP tidak berdiri megah seperti sekarang ini.

    Ketika para donatur bertanya  untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak yang mau melanjutkan studi, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr langsung berpikir bahwa uang dari beasiswa yang diberikan,  berapapun banyaknya, pasti akan habis. Beliau  lalu meminta diberikan sebuah sekolah sebagai pengganti beasiswa, untuk mendidik anak-anak remaja di keuskupannya.

    Perjuangan tidak mudah untuk merealisasikannya. Para donatur dan yayasan datang langsung ke Likotuden untuk melihat lokasi di mana sekolah akan dibangun. Ternyata jauh dari harapan. Lokasinya terpencil, akses jalan darat minim, hanya lewat jalur laut untuk agak cepat dan mudah. Pokoknya serba sulit. Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr menghantar para tamu untuk berziarah dan berdoa di Kapel  Tuan Ma.

    Di Kapel tua ini, sejarah baru  dimulai, semesta berpihak, sebab  mujizat terjadi. Dalam doa hening dan mendalam, Ibu Suanning Tanardi, salah satu peserta  dalam rombongan itu, mendengar bisikan Bunda Maria di telinga batinnya:

    “Aku Bunda Maria. Aku sangat mencintai umatku di keuskupan Larantuka. Bantulah mereka. Bantulah mereka”.

    Kekuatan kini diperoleh dan semangat muncul berapi-api untuk mendirikan sekolah, entah bagaimana caranya ke depan. Bunda Reinha Rosari yang memulai. Yayasan sungguh meyakini bahwa Bunda Reinha Rosari juga yang akan menunjukkan jalan untuk mengangkat citra orang papa. Ini merupakan tujuan yang sangat mulia.

    Dengan mengangkat citra orang papa, yayasan memuliakan Allah sendiri yang “hic et nunc” (di sini dan sekarang ini) hadir secara nyata dalam wajah anak-anak papa yang sedang menangis. Dari sinilah muncul nama ANCOP (Answering the Cry of the Poor) dan dalam bahasa Indonesia merupakan akronim dari Angkat Citra Orang Papa.

    Kegiatan penggalangan dana digencarkan ke mana-mana. Para donatur digandeng. Pendirian sekolah ini dilakukan bersama Yayasan Gerakan Kepedulian ANCOP, yang berkedudukan di Jakarta. Peletakan batu pertama di Likotuden dilakukan oleh Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Ibu Mari Elka Pangestu.

    Sekolah resmi beroperasi pada tahun 2017 untuk angkatan perdana. Kini SMK ANCOP sudah merayakan satu windu usianya pada tahun 2025 yang lalu. Banyak alumninya sudah bekerja di luar negeri dan meraih sukses sehingga  dapat merubah kehidupan ekonomi keluarga. Banyak pula yang sedang berada di Lembaga Pendidikan dan Ketrampilan (LPK) di Jawa untuk persiapan berangkat keluar negeri. Sebagian kecil alumni melanjutkan kuliah atau bekerja di dalam negeri. Ada yang sedang merintis usaha untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri.

    Oleh karena itu, koor dengan suara terbaik diberikan dalam perayaan ekaristi, sebagai salah satu bentuk ucapan terima kasih kepada Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr  yang telah menghadirkan SMK ANCOP. Setiap kali kedatangannya ke SMK ANCOP, terasa seperti kembali ke rumah sendiri yang nyaman dan selalu dirindukan di sela-sela kesibukannya dalam memimpin seluruh umat keuskupan Larantuka.

    Segala ide dan perhatian Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr  dicurahkan demi perkembangan sekolah ini sebagai buah dari lima abad Tuan Ma. Sejak awal berdirinya sekolah ini, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr selalu berupaya mengunjungi SMK ANCOP ketika ada undangan untuk menghadiri kegiatan atau acara di sekolah. Kunjungan terakhir terjadi pada perayaan Natal dan Tahun Baru (NATARU) bersama pada Januari 2026 yang lalu.

     

    Sebuah Refleksi Mendalam

    Sempat disebutkan di atas bahwa SMK ANCOP adalah buah dari lima abad Tuan Ma yang dirayakan pada tahun 2010. Di saat menyambut pesta 500 tahun kedatangan Bunda Maria di Larantuka, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr berpikir keras, bagaimana membuat sebuah kenangan istimewa untuk peristiwa besar ini. Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr berinisiatif  mendekatkan diri dan menyampaikan gagasan itu kepada tokoh-tokoh Flores Timur yang tergolong sukses di Jakarta dan sekitarnya.

    Para tokoh itu mendukung dan  menganjurkan agar sekolah didirikan di kampung, jauh dari keramaian dan kebisingan kota. Alasannya sangat sederhana, agar anak-anak memfokuskan diri untuk belajar dan pembinaan karakter dapat berjalan maksimal sebab memiliki salah satu  keunggulan berupa asrama. Pencarian lokasi dilakukan Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dan pilihan jatuh di dusun Likotuden, kawasan yang tentu sudah lama dikenalnya.

    Setelah beberapa kali pertemuan antara pihak yayasan yang datang dari Jakarta dengan warga setempat, warga bersepakat menyerahkan tanah seluas 4 hektare kepada Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr untuk mendirikan sekolah yang ada seperti sekarang ini. Penyerahan tanah secara cuma-cuma ini disertai beberapa kesepakatan lisan antara pihak yayasan dengan warga setempat yang selalu terukir abadi di dalam hati dan memori.

    Sekolah besar  bergedung putih   ini juga berasal dari pemikiran besar dan refleksi amat mendalam dari Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr. Butir-butir  refleksinya ini disampaikan dalam suatu pertemuan di Aula SMK ANCOP. Di saat khusus, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr merenungkan dalam kesunyian, membatinkan peristiwa kedatangan dan kehadiran Bunda Maria di pantai Larantuka.

    Pertama, kehadiran seorang Ibu di pantai dan  pertama kali dijumpai oleh Resiona. Bagi Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr ini adalah tanda kasih sayang. Seorang ibu rela datang dari tempat yang jauh dan mau menampakkan diri serta mengunjungi anak-anaknya di Larantuka. Ibu itu adalah penjelmaan dari ibu mereka, ibu yang mengatasi segala ibu dimana semua orang boleh  merasa nyaman dan memiliki ibu penuh cinta itu.

    Kedua, Ibu yang datang ini turunnya di pantai. Mengapa tidak turun di gunung? Dalam pemikiran Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr  bukan soal bahwa para pedagang dan misionaris  Portugis berlayar datang ke Larantuka dan berlayar tentu lewat laut. Jelas, tidak ada yang menyangkal kenyataan itu.

    Yang justru berkecamuk dalam permenungan Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr adalah apa yang dikehendaki oleh Bunda Maria ketika datang melalui pantai? Apa pesan Bunda Maria yang harus diperbuat setelah 500 tahun berada di sini? Ini mengingat wilayah keuskupan Larantuka terdiri dari gunung, bukit,  lembah dan terbentang antarpulau yang dihubungkan dan dikelilingi oleh laut Sawu di sebelah selatan Flores Timur, laut Flores di sebelah barat Flores Timur, laut Banda di sebelah timur Flores Timur, laut Timor di sebelah tenggara Lembata dan kawasan  pantai-pantai, termasuk Solor Watan Lema.

    Ketiga, refleksi Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr mulai mengerucut kepada sosok Resiona sebagai orang pertama yang bertemu dengan Bunda Maria di pantai. Mengapa Resiona yang adalah seorang anak remaja, yang harus pertama kali menemui Bunda Maria? Mengapa bukan satu orang tua, satu orang bapak atau ibu, kakek nenek bahkan satu orang asing?

    Mengapa harus seorang remaja Resiona? Dalam terang batinnya, Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr  menangkap pesan Bunda Maria lewat sosok seorang remaja Resiona. Pesan itu adalah melakukan sebuah karya nyata untuk anak-anak remaja, untuk Resiona-Resiona masa kini yang ada di keuskupan Larantuka. Anak-anak remaja perlu menerima pendidikan yang layak untuk meraih masa depan yang lebih baik.

    Dari sinilah asal mula pemikiran dari Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr untuk mendirikan sebuah sekolah unggulan bagi anak-anak remaja. Mereka dipersiapkan untuk kelak menjadi ‘bintang-bintang’ dari timur Indonesia, yang memiliki masa depan cerah dan  mengangkat perekonomian daerahnya.

     

    SMK ANCOP Saksi Sejarah

    Bapa Uskup emeritus Mgr.  Fransiskus Kopong Kung, Pr telah menunaikan tugasnya sampai pada usia yang diatur dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik. Banyak kebaikan telah diperbuat untuk menjaga kesatuan umatnya  selama 24 tahun, di 4 pulau dan 2  kabupaten. SMK ANCOP merupakan sebuah karya besar (opus magnum)  yang ditulis dengan tinta emas dalam sejarah keuskupan Larantuka.

    Lima abad Tuan Ma telah menghadirkan SMK ANCOP sebagai hasil nyata karya Roh Kudus dan perjuangan manusia yang berkendak baik dan pasrah pada penyelenggaraan Ilahi. Waktu akan terus berputar, seperti alam pun terus beredar. Sejarah akan terus menenun kisahnya sendiri.

    Entah apa lagi yang akan  terjadi pada peringatan 600, 700, 800 atau 900 tahun Tuan Ma. Bahkan pada peringatan 1000 tahun atau 10 abad Tuan Ma pada tahun 2510 yang akan datang, dan seterusnya. Harapan yang merupakan salah satu dimensi terpenting dalam Kekatolikan kita memotivasi kita untuk selalu optimis bahwa kasih Tuhan kepada umatNya  tidak akan pernah  berkesudahan.

    Kini Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr memasuki lembaran baru dalam hidupnya. Beliau sebenarnya tidak pergi dari umatnya, melainkan hanya mundur untuk semakin banyak berdoa, memberi nasihat dan harapan, berbagi kebijaksanaan dan mencintai umatnya dengan lebih intensif. Termasuk mendoakan dan terus mencintai  SMK ANCOP yang merupakan karya besar dalam sejarah penggembalaannya. Kita patut berterima kasih kepada Bapa Uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dan mengucapkan selamat menikmati masa purna bakti  dalam ketenangan  dan keteduhan hati, setenang dan seteduh alam di Bukit Fatima.

     

    *************

  • Gerhana Sublime: Keluhuran Emosi dan Retorika Tersembunyi dalam “Gerhana Mata” Djenar Maesa Ayu

    Gerhana Sublime: Keluhuran Emosi dan Retorika Tersembunyi dalam “Gerhana Mata” Djenar Maesa Ayu

    Oleh Monica Natashya Agatha Hehakaya, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     Djenar Maesa Ayu dikenal sebagai penulis Indonesia kontemporer yang berani mengeksplorasi seksualitas, tabu sosial, dan dinamika gender melalui narasi provokatif. Cerpen “Gerhana Mata” menggambarkan perselingkuhan yang membutakan, di mana metafora gerhana mata menjadi simbol konflik batin yang mendalam antara hasrat dan kewajiban. Esai ini menganalisis keluhuran (sublime) dalam cerpen tersebut menggunakan perspektif Longinus, filsuf retorika Yunani abad ke-1 yang mendefinisikan sublime sebagai kekuatan bahasa dan ide yang membangkitkan kekaguman bercampur ketakutan. Longinus mengidentifikasi lima sumber utama sublime: daya pemikiran luhur, emosi kuat, pemilihan kata agung, retorika unggul, dan komposisi mulia. Melalui pendekatan ini, vulgaritas permukaan “Gerhana Mata” terkuak sebagai topeng keluhuran yang mengkritik alienasi emosional dalam masyarakat patriarkat Indonesia modern.

     

    Daya Pemikiran Luhur: Alegori Gerhana sebagai Kritik Eksistensial

    Longinus menempatkan daya pemikiran luhur (noble thought) sebagai fondasi sublime, di mana ide-ide besar melampaui batas konvensi sehari-hari untuk menyentuh keabadian. Dalam “Gerhana Mata”, Djenar membangun pemikiran ini melalui alegori gerhana sebagai metafora buta diri akibat nafsu tak terkendali. Tokoh perempuan utama menggambarkan penglihatannya terhadap suami sahnya “terhalang bulan” yang gelap, sementara kekasih gelapnya muncul sebagai “matahari” yang membakar dan membutakan. Konsep ini bukan sekadar deskripsi romansa terlarang, melainkan kritik filosofis mendalam terhadap patriarki yang memaksa perempuan memilih antara stabilitas sosial dan kebebasan hasrat pribadi.

    Pemikiran luhur Djenar menantang norma budaya Indonesia pasca Reformasi, di mana seksualitas perempuan masih dianggap ancaman terhadap tatanan moral. Gerhana mata melambangkan dualitas Platonik: cahaya pengetahuan yang tertutup kegelapan ilusi, mirip alegori gua Plato di mana bayangan menipu realitas sejati. Pengarang tidak hanya menceritakan perselingkuhan, tetapi mengajak pembaca merenungkan absurditas eksistensial cinta yang menghancurkan martabat manusia. Kekaguman muncul dari kedalaman ide ini, sementara ketakutan timbul dari pengakuan universal bahwa setiap individu rentan terhadap “gerhana” internal yang merusak. Pemikiran semacam ini menjadikan cerpen kontroversial Djenar sebagai teks sastra yang abadi, mampu bertahan di hadapan sensor moral.

     

    Emosi Kuat: Gelombang Gairah yang Mengguncang Jiwa

    Emosi kuat (pathos hypsos) merupakan sumber kedua sublime menurut Longinus, di mana perasaan ekstrem membawa pembaca ke puncak keguncangan emosional seperti “angin topan” dalam jiwa. “Gerhana Mata” unggul dalam hal ini melalui penggambaran gairah seksual yang mentah dan sensorik. Adegan intim digambarkan secara eksplisit: “Tubuhnya panas seperti bara menyala, matanya gelap gulita saat dia mendekat dan menelanku utuh.” Detail ini bukan pornografi vulgar semata, melainkan keluhuran karena memicu ekstase bercampur rasa bersalah yang dialami secara universal oleh pembaca.

    Tokoh perempuan merasakan “gelombang demi gelombang menghantam dada” saat berpisah dari kekasih gelapnya, mencerminkan konflik batin antara loyalitas monogami dan poligami emosional yang tak terelakkan. Bagi pembaca Indonesia, emosi ini kontroversial karena menormalisasi perselingkuhan sebagai ekspresi kebebasan perempuan yang tertindas. Namun, sublime justru tercipta dari kejujuran brutal ini: cinta tak pernah murni, selalu disertai kegelapan menakutkan yang mengancam kehancuran diri. Respons emosional yang dibangkitkan melampaui narasi fiksi, menggugat pembaca untuk merefleksikan kepalsuan relasi pribadi mereka sendiri. Kekuatan emosi Djenar menjadikan “Gerhana Mata” sebagai pengalaman transenden yang sulit dilupakan.

     

    Pemilihan Kata Agung dan Retorika Unggul: Bahasa yang Menjulang

    Longinus menekankan pemilihan kata agung dan figur retorika sebagai pilar sublime yang mengangkat prosa menjadi puisi. Djenar Maesa Ayu mahir menggabungkan bahasa kasar sehari-hari dengan metafora kosmik: “Dia menusukku dengan matahari paginya yang membakar,” sebuah hiperbola yang mengagungkan seks sebagai kekuatan alam semesta. Kata kunci “gerhana” diulang seperti mantra ritual, menciptakan ritme poetik yang agung, sementara vulgaritas seperti “basah kuyup oleh nafsu” ditinggikan menjadi simbol banjir emosi tak terkendali yang dahsyat.

    Retorika unggul terwujud dalam paradoks sentral: mata yang diciptakan untuk melihat justru menjadi alat pembutaan diri. Teknik pengulangan “mata bulan”, “matahari gelap” membangun intensitas dramatis yang memuncak. Personifikasi seperti “mata bulan menelan matahari hasrat” mengubah adegan intim menjadi peristiwa astronomis epik, menimbulkan rasa tak berdaya di hadapan kekuatan kosmik. Kontroversi bahasa frontal Djenar yang menabrak norma kesusilaan Indonesia justru menjadi katalis sublime, karena kata-kata ini menyatu membentuk visi profetik tentang kehancuran diri akibat cinta yang membutakan. Retorika semacam ini menempatkan Djenar sejajar dengan maestro sastra dunia.

     

    Komposisi Mulia: Arsitektur Narasi yang Harmonis

    Komposisi mulia (noble composition), sumber kelima sublime, merujuk pada struktur cerita yang harmonis namun penuh kejutan seperti arsitektur kuil kuno. “Gerhana Mata” terstruktur menyerupai siklus gerhana astronomis nyata: pendahuluan cahaya (kehidupan rumah tangga yang stabil), kegelapan puncak (perselingkuhan intens), dan bayang fajar (kesadaran getir tanpa resolusi). Alur non linier dengan flashback ke momen intim menciptakan suspensi dramatis, di mana klimaks bukan orgasme fisik semata, melainkan pengakuan tragis: “Gerhana itu tak pernah benar-benar usai dalam relung jiwa.”

    Komposisi ini sublime karena meniru pola alam secara sempurna: gerhana nyata berlangsung singkat namun meninggalkan trauma abadi, begitu pula narasi Djenar. Akhir terbuka tanpa katarsis moralistis konvensional meninggalkan pembaca dalam kekaguman atas keberanian pengarang menolak ekspektasi sastra Indonesia yang normatif. Struktur ini menantang pembaca untuk terus merenung, menciptakan rasa hormat sekaligus gelisah esensi sejati sublime. Harmoni komposisi Djenar membuktikan bahwa bahkan cerpen pendek dapat menjulang seperti monumen sastra.

     

    Relevansi Kontroversi dalam Konteks Kontemporer

    Kontroversi “Gerhana Mata” berakar pada erotisme eksplisitnya, yang oleh kritikus konservatif disebut “sastra bau kencur” karena membahas seksualitas perempuan secara terbuka di tengah budaya malu Indonesia. Namun, perspektif Longinus mengungkap keluhuran tersembunyi: cerpen ini bukan glorifikasi selingkuh, melainkan kritik tajam terhadap masyarakat patriarkat yang “menggerhana” suara perempuan melalui stigma moral. Sublime Djenar mirip konsep Kant tentang yang agung (das Erhabene) tak terukur, menggetarkan jiwa hingga pembaca merasa kecil dan tak berdaya di hadapannya.

    Dalam konteks Indonesia 2026, di mana gerakan feminisme digital seperti #MeToo lokal semakin menggema di media sosial, “Gerhana Mata” tetap relevan sebagai kritik atas pembutaan kolektif terhadap hak hasrat perempuan. Analisis sublime ini membuktikan bahwa vulgaritas permukaan Djenar hanyalah topeng untuk pemikiran luhur yang radikal, mengajak pembaca naik ke puncak keluhuran emosional dan intelektual.

     

    Penutup

    “Gerhana Mata” karya Djenar Maesa Ayu membuktikan kekuatan abadi perspektif sublime Longinus dalam sastra Indonesia modern. Melalui kelima sumber keluhuran: pemikiran luhur, emosi kuat, lexis agung, retorika unggul, dan komposisi mulia, cerpen kontroversial ini mentransformasi tabu menjadi pengalaman transenden yang mengguncang jiwa.

    —————–

  • ​Bangun Gagasan Kebangsaan, Teras Kebinekaan Undang Para Cendekiawan dalam Bedah Buku “Investing Game Theory”

    ​Bangun Gagasan Kebangsaan, Teras Kebinekaan Undang Para Cendekiawan dalam Bedah Buku “Investing Game Theory”

    Bogor Teras Kebinekaan – Teras Kebinekaan hadirkan sejumlah cendekiawan dalam acara bedah buku karya Ogde B. Ada berjudul Investing Game Theory (IGT): Bagaimana Menjadi Kaya, Bahagia, dan Sejahtera (Penerbit Buku Kompas, 2025).

    Sejumlah cendekiawan hadir dalam acara ini: Moh. Shofan (Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan), Rikard Bagun (Anggota Dewan Pengarah BPIP), Sugeng Bahagijo (Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Ekonomi dan Digitalisasi Kemenko Pemberdayaan Masyarakat), Budhy Munawar-Rachman (Dosen STF Driyarkara), M. Adlin Sila (Dosen Antropologi FISIP UI), Ahmad Gaus AF (Head of Project Esoterika), Abdullah Sumrahadi (Dosen President University), dan Saefudin Zuhri (Pendiri Madani Connection). Mereka membedah buku ini dari lintas disiplin, baik aspek ekonomi, sosiologi, agama, maupun filsafat. Acara ini dimoderatori oleh Milastri Muzakkar (Founder Generasi Literat).

    Dalam sambutannya, Moh. Shofan selaku Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan mengatakan bahwa buku ini merupakan karya reflektif yang berada di persimpangan antara spiritualitas, filsafat, dan kritik sosial.

    “Buku ini tidak disusun sebagai karya akademik formal, melainkan sebagai refleksi intelektual yang lahir dari kegelisahan penulis terhadap realitas keberagamaan manusia modern,” tegas Shofan.

    Kegiatan ini, menurutnya, dirancang sebagai ruang dialog reflektif untuk menggali bagaimana integrasi wahyu, filsafat, dan sains dapat menjawab tantangan peradaban modern.

    “Buku ini berusaha menjelaskan tentang bagaimana nilai-nilai spiritual dan filosofis dapat berpadu dalam membangun kehidupan yang bermakna—baik secara pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” lanjut Shofan.

    Lebih jauh, menurutnya, buku ini mengajak pembaca untuk mengamalkan, menghayati, dan memikirkan kembali makna “Iqra” (membaca realitas secara kritis) dan “Rahmatan” (memberi manfaat bagi sesama) sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati.

    Dalam paparannya, Budhy Munawar-Rachman menyebut IGT sebagai sebuah “eksperimen intelektual yang berani”. Menurutnya, buku ini berdiri di antara teks motivasi, teologi, dan risalah filsafat untuk menjawab bagaimana manusia bisa hidup sejahtera tanpa kehilangan akal budi dan iman.

    “Intisari pemikiran yang ditawarkan penulis buku IGT terletak pada ‘permainan’ strategis antara memberi (investing) dan mengambil, di mana hukum tertinggi kehidupan adalah memberikan manfaat (rahmatan) bagi sesama,” jelas Budhy.

    ​Sementara, Rikard Bagun menyoroti sisi dampak sosial yang berpotensi dilahirkan oleh buku karya Ogde B. Ada ini. Menurutnya, “Buku ini akan sangat menarik apabila tidak sekadar menjadi bahan bacaan, melainkan sebagai bahan perdebatan karena melibatkan aspek-aspek personal, sosial, intelektual, dan emosional,” tegas Rikard Bagun.

    Lebih jauh Bagun menyebut buku ini sebagai sarana menuju masalah yang lebih fundamental, yaitu bagaimana mencapai kebenaran.

    “Jalan untuk menggapai kebenaran seperti diperlihatkan buku IGT tidaklah linier tapi spiral dan sering kali menunjukkan sebuah patahan, ‘creative destruction’. Di buku ini, kegelapan tidak dikutuk tapi dihayati. Kita tidak hanya membutuhkan siang, tapi juga malam,” tegas Bagun.

    Sugeng Bahagijo menyoroti keunikan posisi buku IGT. Menurutnya, “Buku IGT secara substansial ditujukan kepada para pembaca tingkat advance, tapi secara pengemasan sangat accessible bagi siapa saja.”

    Lebih jauh Sugeng mengatakan buku ini menyoroti bagaimana melatih disiplin individu dan jati diri untuk bisa bangkit serta bebas, sehingga secara time management menjadi baik dan pikiran menghargai kebinekaan. “Buku ini sangat orisinal, dalam konteks Indonesia belum ada padanannya,” tegas Sugeng.

    Adlin Sila menambahkan, buku IGT melatih pembaca untuk berpikir kritis. “Akal sangat penting. Bukan berarti agama tidak penting, tapi akal memberi navigasi agar kita tidak terlarut pada emosi keagamaan,” ujar Sila.

    Abdullah Sumrahadi berpendapat bahwa melalui buku IGT, sang penulis ingin menarasikan pengalaman hidupnya yang kaya dalam sebuah karya. Tersirat dari buku ini, “Penulisnya seolah ingin menyampaikan pesan mendalam bahwa segala sesuatu harus ada kajian lebih mendalam, memusatkan perhatian pada esensi, tidak sekadar mengikuti SOP. Pahami, adaptasi, dan laksanakan,” tegas Sumrahadi.

    Acara ini digelar di kantor Teras Kebinekaan, Jl. H. Mawi, Parung, Bogor, dan diakhiri dengan buka puasa bersama.

    (Khudori)

     

  • Sejarah sebagai Sumber Inspirasi dalam Perdamaian Dunia

    Sejarah sebagai Sumber Inspirasi dalam Perdamaian Dunia

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Ditengah berkecamuknya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, serta perang Rusia-Ukraina dan penculikan presiden Nicolas Maduro dari Venezuela,  dunia memerlukan pemimpin-pemimpin yang berhati mulia agar  dunia ini  menjadi tempat yang lebih damai dan indah terlepas dari kepentingan politis dan kepentingan ekonomi. Jika setiap pemimpin negara memiliki empati, kebijaksanaan, dan kemauan untuk membantu orang lain, maka konflik dan perang dapat diminimalkan.

    Dalam dunia seperti itu, negara-negara akan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah global, seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan penyakit. Rakyat dari berbagai negara akan hidup dalam harmoni, saling menghormati dan menghargai perbedaan.

    Kita dapat membayangkan dunia di mana:

    Konflik dan perang menjadi hal yang langka

    – Kemiskinan dan kelaparan dapat diatasi

    – Lingkungan hidup dapat dilindungi dan dipelihara

    – Pendidikan dan kesehatan dapat diakses oleh semua orang

    – Rakyat dapat hidup dalam kebebasan dan keamanan

     

    Dunia seperti itu memang masih menjadi impian, tetapi kita dapat berusaha untuk mewujudkannya. Dengan memiliki pemimpin yang berhati mulia dan masyarakat yang peduli, kita dapat membuat perbedaan dan menciptakan dunia yang lebih baik. Seperti contoh  keteladanan dari Sultan Turki Usmani (Ottoman) pada tahun 1847 terhadap Irlandia yang mengalami kelaparan.

    Sultan Abdul Majid I dari Ottoman Turki memang pernah membantu Irlandia saat mengalami kelaparan besar pada tahun 1847. Saat itu, Sultan Abdul Majid I ingin memberikan bantuan sebesar 10.000 poundsterling, tetapi pemerintah Inggris membatasi jumlah bantuan tersebut karena Ratu Victoria hanya memberikan 2.000 poundsterling. Akhirnya, Sultan Abdul Majid I mengirimkan 1.000 poundsterling dan tiga kapal penuh makanan ke Irlandia secara diam-diam.

    Bantuan ini sangat berarti bagi rakyat Irlandia, yang saat itu mengalami kelaparan besar akibat penyakit hawar kentang. Sultan Abdul Majid I bahkan mengirimkan kapal-kapal dengan bendera Ottoman ke pelabuhan Drogheda, yang kemudian menjadi simbol kemurahan hati Turki kepada Irlandia.

    Kisah ini masih diingat hingga hari ini, dan bahkan ada plakat peringatan di Drogheda yang berbunyi, “Kelaparan Besar Irlandia tahun 1847 – Untuk mengenang dan mengakui kemurahan hati Rakyat Turki terhadap Rakyat Irlandia”.

    Kata-kata Soekarno masih terngiang ngiang dalam telinga , JAS MERAH (jangan sekali kali melupakan sejarah) karena  belajar sejarah memang sangat penting untuk mengambil pelajaran berharga dan membuat keputusan yang lebih baik. Sejarah dapat memberikan kita wawasan tentang bagaimana orang-orang di masa lalu menghadapi tantangan, membuat keputusan, dan mengatasi masalah.

    Dengan mempelajari sejarah, kita dapat:

    Menghindari kesalahan masa lalu

    – Mengambil inspirasi dari keberhasilan orang-orang di masa lalu

    – Memahami konteks dan akar masalah saat ini

    – Membuat keputusan yang lebih tepat dan bijak

     

    Jadi, mari kita terus belajar dari sejarah dan mengambil pelajaran berharga untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Dalam pidatonya yang berapi-api Bung karno menyatakan bahwa jikalau saudara saudara jadi pemeluk moeslim jadilah moeslim Indonesia yang berbudaya dan adat istiadat Indonesia bukan jadi orang Arab, jikalau ingin jadi seorang Nasrani juga jadilah nasrani Indonesia bukan nasrani yahudi, demikian juga jika saudara saudara  jadi pemeluk  hindu maupun budha jadilah pemeluk  hindu dan budha indonesua, bukan jadi orang India,

    Bung Karno memang sangat menekankan pentingnya menjaga identitas dan budaya Indonesia, serta tidak meniru budaya asing secara buta. Dalam pidatonya, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi diri sendiri, dengan mempertahankan nilai-nilai dan budaya yang baik, serta tidak melupakan akar-akar keindonesiaan.

    Pesan Bung Karno ini sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana globalisasi dan modernisasi dapat membuat kita kehilangan jati diri dan budaya. Dengan menjadi diri sendiri dan mempertahankan budaya, kita dapat membangun Indonesia yang kuat dan beridentitas.

    Ajaran luhur nenek moyang kita Sudah mengajarkan dimana memang sangat kaya dan relevan dengan  kepemimpinan modern. Filosofi Jawa seperti “Jer Basuki Mowo Beo” (Hidup harus ada manfaat bagi orang lain), “Tut Wuri Handayani” (Memimpin dengan memberikan contoh dan membimbing dari belakang), dan “Ing Ngarso Sung Tulodo” (Memimpin dengan memberikan contoh yang baik) sangat relevan dengan konsep kepemimpinan yang efektif.

    Ajaran-ajaran ini menekankan pentingnya kepemimpinan yang melayani, memberikan contoh, dan membimbing, bukan hanya memerintah. Ini sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern yang memerlukan pemimpin yang dapat memimpin dengan integritas, empati, dan komitmen untuk melayani. Dengan mengambil inspirasi dari ajaran luhur nenek moyang kita, kita dapat membangun kepemimpinan yang lebih baik dan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera.

    Karena pemimpin sejati memang harus memiliki komitmen dan tindakan kemanusiaan yang nyata, bukan hanya retorika kosong. Mereka harus mampu memimpin dengan contoh dan memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

    Dalam konteks Indonesia, memang ada banyak tantangan yang dihadapi oleh masyarakat, seperti kesulitan ekonomi, kemiskinan, dan kesenjangan sosial. Oleh karena itu, pemimpin Indonesia harus fokus pada upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi masalah-masalah tersebut, sebelum mencoba menjadi penengah konflik global.

    Kita perlu pemimpin yang dapat memimpin dengan integritas, kejujuran, dan komitmen untuk melayani masyarakat, bukan hanya mencari popularitas atau kekuasaan. Pemimpin seperti itu akan diingat oleh sejarah dan masyarakat, bukan hanya karena retorika mereka, tetapi karena tindakan nyata mereka dalam meningkatkan kehidupan masyarakat.

    Salah satu ajaran luhur adalah ajaran Wulang Reh yang merupakan  ajaran kepemimpinan yang berasal dari tradisi Jawa, yang berisi tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijak. Beberapa prinsip utama dari ajaran Wulang Reh adalah:

    – Luhur budi (berbudi luhur): memiliki moral dan etika yang tinggi

    – Lestari basa (berbahasa yang baik): berbicara dengan sopan dan bijak

    – Waspada ing samubarang (waspada dalam segala hal): selalu waspada dan siap menghadapi tantangan

    – Ing ngarso sung tulodo (memimpin dengan contoh): memimpin dengan memberikan contoh yang baik

     

    Ajaran Wulang Reh dapat diadopsi pada masa modern sebagai pedoman kepemimpinan yang efektif, karena menekankan pentingnya integritas, etika, dan kepedulian terhadap masyarakat.

    Indonesia sendiri  pernah memberikan bantuan cuma-cuma ke negara lain. Salah satu contohnya adalah pada tahun 1946, Indonesia mengirimkan bantuan beras ke India yang saat itu sedang dilanda bencana kekeringan dan kelaparan.

    Selain itu, Indonesia juga pernah memberikan bantuan kemanusiaan ke beberapa negara, seperti:

    – Yaman, Sudan, dan Palestina pada tahun 2024, dengan total bantuan senilai 3 juta USD

    – Zimbabwe pada tahun 2022, berupa obat-obatan dan alat kesehatan

    – Filipina saat terjadi konflik dengan Fron Pembebasan Islam Moro

    – Myanmar dan negara-negara Pasifik lainnya

     

    Indonesia juga telah menjadi anggota aktif dalam berbagai organisasi internasional, seperti ASEAN dan PBB, dan telah memberikan kontribusi dalam upaya kemanusiaan dan pembangunan di berbagai negara.

    Indonesia memang telah terlibat dalam pembangunan masjid di Palestina. Salah satu contohnya adalah Masjid Istiqlal Indonesia Gaza, yang dibangun pada tahun 2019 dan diresmikan pada Februari 2022. Masjid ini memiliki kapasitas 5.000 jamaah dan dilengkapi dengan fasilitas seperti sumur bor, mesin desalinasi air, dan sound system.

    Selain itu, ada juga proyek pembangunan Masjid Syekh Ajlin di Gaza, yang didukung oleh Wakaf Salman ITB. Masjid ini dirancang dengan bentuk unik seperti PS5 dan diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat Palestina. Pembangunan masjid-masjid ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendukung kegiatan keagamaan dan kemanusiaan di Palestina.

    Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah membangun masjid semi permanen di Jalur Gaza, Palestina, sebagai upaya membantu pemulihan masyarakat Gaza yang terdampak konflik. Salah satu masjid yang telah selesai dibangun adalah Masjid di kawasan Shuja’iyya, Gaza Utara, yang berdiri di atas reruntuhan bekas Masjid Bseiso yang hancur akibat serangan Israel.

    DMI berencana membangun 100 masjid semi permanen di Gaza, dan telah menyelesaikan pembangunan masjid kedua di Jalur Gaza. Masjid-masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi warga setempat, serta simbol keteguhan dan semangat warga Gaza dalam menghadapi konflik

    Pembukaan UUD 1945 sendiri tertulis bahwa segala bentuk penjajahan harus dihapuskan diatas dunia, demi keadilan sosial dan perdamaian dunia. Bahwa kemerdekaan itu sendiri adalah hak segala bangsa. Amanat kontitusi tersebut dengan jelas tertulis dan harus dijadikan pedoman setiap pemimpin kedepan, namun dalam kontek menciptakan perdamian dan keadilan sosial, harus dimulai dari kondisi masyarakat Indonesia terlebih dahulu , dimana kemerdekaan yang sejati harus benar benar telah tercapai dimana keadilan secara hukum dan keadilan secara ekonomi , kemandirian sebagai bangsa yang merdeka secara utuh hingga bangsa ini sejajar secara strata ekonomi, dan sosial serta kekuatan deplomasi dan militer nya dengan negara negara besar baru bisa melaksanakan isi pembukaan dari UUD 1945 tersebut , untuk menciptakan perdamaian dunia. Tanpa hal tersebut hanya retorika dimana dunia belum memandang eksistensi kita sebagai bangsa yang besar dan disegani

    Kita harus ambil pelajaran berharga dari kasus Iran, dimana puluhan tahun di Embargo Amerika Serikat dan sekutunya, tanpa ada IMF, Bank Dunia, Bank pembangunan Asia, Tiada WHO, dan dengan begitu justru tidak ada covid dan tidak harus melakukan vaksinasi terhadap rakyat nya. Dengan kondisi dikucilkan secara ekonomi, iran bangkit tumbuh dengan kekuatan sendiri, yang secara mandiri mengejutkan dunia, mampu menciptakan rudal jarak jauh 2000 Km, dengan kecepatan 15 kali kecepatan suara, yang mampu menjebol Iron Dom tercanggih milik Israel. Kekuatan dari dalam sendiri secara mandiri baik dalam bidang ekonomi, maupun sosial dan militer nya iran tetap teguh mempertahan kan budayanya, yang jadi pembelajaran kita Indonesia, mengapa kita tidak mampu dan meniru semangat Jihat negara seperti Iran ? Apa kita bangsa yang lemah, atau para pemimpin yang lemah? Lawan akan takut oleh sekelompok domba dipimpin seekor harimau, dari pada sekelompok harimau tapi dipimpin oleh Domba. Belajarlah dari sejarah dan jangan sekali kali melupakan sejarah.

     

    ———————–

    Penulis adalah praktisi hukum pemerhati sosial budaya dan sejarah

  • “Board of Peace” Antara Tantangan dan Keberadaan PBB

    “Board of Peace” Antara Tantangan dan Keberadaan PBB

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Board Of Peace yang digagas oleh presiden Amerika Serikat Dinald Trump, adalah badan international baru yang dibentuk pada tanggal 22 jauari 2026, di Davos Swiss  yang bertujuan untuk mengawasi perdamaian, rekontruksi, dan stabilitas di Gaza Palestina.

    Tujuan Amerika Serikat membentuk Board of Peace (BoP) dan menggandeng Indonesia adalah untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian di wilayah-wilayah yang terdampak konflik, khususnya di Gaza, Palestina. BoP bertujuan untuk mengawasi transisi pemerintahan, rekonstruksi, dan demiliterisasi di Gaza, serta mempromosikan perdamaian jangka panjang di wilayah tersebut.

    Indonesia bergabung dengan BoP pada 22 Januari 2026, sebagai bentuk komitmennya dalam mendukung perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Keikutsertaan Indonesia dalam BoP juga diharapkan dapat memperkuat posisinya di forum internasional dan meningkatkan peranannya dalam diplomasi global.

    Namun, perlu dicatat bahwa pembentukan BoP juga menimbulkan kekhawatiran dari beberapa pihak, yang khawatir bahwa inisiatif ini dapat menggeser peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menangani konflik global.

    Amerika Serikat membentuk Board of Peace (BoP) untuk menangani konflik Israel-Palestina, yang dianggap sebagai upaya untuk menggeser peran PBB. Beberapa alasan yang mungkin menyebabkan Amerika Serikat melakukan ini adalah:

     

    – Veto Rusia dan China: Rusia dan China memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB, yang dapat menghambat upaya Amerika Serikat untuk mengesahkan resolusi yang mendukung Israel.

    – Kepentingan nasional: Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah, termasuk keamanan Israel dan akses ke sumber daya energi.

    – Pengaruh lobi pro-Israel: Lobi pro-Israel di Amerika Serikat, seperti American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), memiliki pengaruh besar dalam menentukan kebijakan luar negeri AS.

    – Kekecewaan terhadap PBB: Amerika Serikat mungkin merasa bahwa PBB tidak efektif dalam menangani konflik Israel-Palestina, sehingga mereka memilih untuk membentuk organisasi sendiri.

     

    Namun, pembentukan BoP juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan mengabaikan hak-hak Palestina dan mengutamakan kepentingan Israel. Beberapa negara, termasuk Prancis dan Norwegia, telah menyatakan kekhawatiran tentang potensi BoP untuk menggantikan peran PBB.

    Kekawatiran Hamas tentang Indonesia digunakan untuk menghantam mereka dan melindungi Israel cukup beralasan. Hamas ingin pasukan penjaga perdamaian internasional yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara Israel dan rakyat Gaza, tanpa mencampuri urusan internal Gaza.

    Juru bicara Hamas, Qassem, menyatakan bahwa posisi Hamas mengenai pasukan internasional sudah jelas, yaitu ingin pasukan penjaga perdamaian yang tidak mencampuri urusan internal Gaza. Ini menunjukkan bahwa Hamas khawatir jika Indonesia dan pasukan internasional lainnya digunakan untuk menghantam mereka dan melindungi Israel.

    Namun, perlu diingat bahwa Indonesia telah menyatakan kesiapan untuk mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza dengan tujuan untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut. Indonesia juga telah ditunjuk sebagai wakil komandan Pasukan Stabilitas Internasional (ISF) yang akan dikirim ke Gaza.

    Harus dipastikan bahwa TNI memiliki beberapa jaminan untuk menghadapi potensi agenda tersembunyi di lapangan, antara lain:

     

    – Mandat yang jelas: Indonesia telah menerima mandat sebagai Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF) dan memiliki batasan atau kondisi khusus (national caveat) dalam partisipasinya.

    – Koordinasi dengan pihak terkait: Pemerintah Indonesia telah berkoordinasi dengan Palestina dan memastikan bahwa misi ini sejalan dengan kepentingan mereka.

    – Fokus pada stabilitas sipil dan kemanusiaan: Misi Indonesia dalam ISF difokuskan pada menjaga stabilitas sipil dan memberikan bantuan kemanusiaan, bukan pada operasi militer ofensif.

    – Netralitas: Indonesia harus menjaga netralitasnya dalam konflik antara Palestina dan Israel.

     

    Namun, perlu diingat bahwa PBB tidak dilibatkan dalam misi ini, sehingga ada kekhawatiran tentang legitimasi dan potensi konflik hukum dan politik internasional. Pakar studi perdamaian, Idham Badruzaman, menekankan pentingnya mandat PBB untuk memastikan keberadaan pasukan tidak dipandang sebagai ancaman oleh pihak mana pun.

    Dalam hal ini, pemerintah Indonesia perlu memastikan bahwa misi ini dijalankan dengan hati-hati dan profesionalisme, serta memiliki dukungan dari masyarakat Indonesia dan komunitas internasional.

    Pasukan zeni (yang punya keahlian rekontruksi kembali bangunan akibat perang) kemungkinan besar akan menjadi bagian dari kontingen Indonesia yang dikirim ke Gaza, Palestina, untuk pemulihan akibat perang. Mereka akan bertugas membersihkan puing-puing, memperbaiki infrastruktur, dan membuka akses jalan untuk memudahkan distribusi bantuan kemanusiaan.

    Selain itu, pasukan zeni juga akan membantu dalam membangun fasilitas-fasilitas dasar seperti rumah sakit lapangan, depot air, dan jalur distribusi pangan. Mereka akan bekerja sama dengan tim kesehatan, logistik, dan pengamanan untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan dapat disalurkan dengan aman dan efektif.

    Bahwa pembentukan BoP yang di inisiatif Amerika Serikat dengan menggandenng Indonesia yang sangat fokal terhadap kemerdekaan Palestina akibat dari pada Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)yang makin tidak bergigi dan  memang sedang menghadapi tantangan besar. Banyak yang merasa bahwa PBB tidak lagi efektif dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia, terutama karena kurangnya otoritas dan kekuasaan untuk menjadi penengah yang adil.

    Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan legitimasi PBB antara lain:

    – Hak Veto: Lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB memiliki hak veto yang dapat menghambat pengambilan keputusan.

    – Ketergantungan pada Negara Anggota: PBB sangat bergantung pada negara anggotanya untuk menyediakan sumber daya dan dukungan.

    – Kurangnya Transparansi dan Akuntabilitas: PBB sering dikritik karena kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan.

     

    Namun, perlu diingat bahwa PBB masih memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia. Indonesia, sebagai salah satu anggota PBB, telah menunjukkan komitmennya dalam memajukan perdamaian dan keamanan dunia melalui kontribusi pasukan penjaga perdamaian dan bantuan kemanusiaan.

    Untuk meningkatkan efektivitas PBB, perlu dilakukan reformasi yang komprehensif, termasuk perubahan struktur keanggotaan Dewan Keamanan dan peningkatan transparansi dan akuntabilitas. Dengan demikian, PBB dapat kembali menjadi organisasi yang efektif dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

    Bahwa Reformasi secara konprenhensif adalah dengan Menghapus hak veto dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah salah satu usulan reformasi yang sering dibahas. Hak veto yang dimiliki oleh lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat, Rusia, China, Perancis, dan Inggris) sering dianggap sebagai hambatan dalam pengambilan keputusan yang efektif.

     

    Beberapa alasan untuk menghapus hak veto:

    – Ketidakadilan: Hak veto dapat membuat keputusan Dewan Keamanan tidak adil, karena lima negara anggota tetap dapat memblokir keputusan yang tidak sesuai dengan kepentingan mereka.

    – Inefektivitas: Hak veto dapat membuat PBB tidak efektif dalam menangani krisis global, karena keputusan dapat diblokir oleh satu negara saja.

    – Kurangnya representasi: Hak veto hanya dimiliki oleh lima negara anggota tetap, sedangkan negara-negara lain tidak memiliki suara yang sama.

     

    Namun, menghapus hak veto juga memiliki tantangan:

    – Kesulitan dalam mencapai kesepakatan: Menghapus hak veto memerlukan kesepakatan dari semua negara anggota PBB, yang sangat sulit dicapai.

    – Ketidakpastian: Menghapus hak veto dapat menciptakan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan Dewan Keamanan.

     

    Beberapa alternatif untuk menghapus hak veto:

    – Membatasi hak veto: Membatasi hak veto hanya untuk keputusan yang sangat penting, seperti penggunaan kekuatan militer.

    – Menciptakan sistem voting yang lebih representatif: Menciptakan sistem votigng yang lebih representatif, seperti sistem voting yang berdasarkan pada jumlah penduduk negara-negara anggota.

     

    Reformasi PBB adalah proses yang kompleks dan memerlukan waktu, namun menghapus atau membatasi hak veto dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan efektivitas PBB dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

    Bahwa sejarah telah menunjukan pada masa lalu  yang mana dalam Sejarah memang menunjukkan bahwa Liga Bangsa-Bangsa (LBB) gagal dalam menjaga perdamaian dunia dan akhirnya digantikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah Perang Dunia II. LBB memiliki beberapa kelemahan, seperti kurangnya otoritas dan kekuasaan untuk mengambil tindakan yang efektif.

    Mencari format baru organisasi yang lebih baik dan memiliki kapabilitas yang lebih bagus untuk perdamaian dunia adalah ide yang menarik. Beberapa kemungkinan format baru yang bisa dipertimbangkan:

     

    – Organisasi Perdamaian Dunia: Sebuah organisasi yang fokus pada pencegahan konflik, mediasi, dan rekonstruksi pasca-konflik.

    – Dewan Keamanan Global: Sebuah dewan keamanan yang lebih representatif dan efektif dalam menangani ancaman keamanan global.

    – Parlemen Global: Sebuah parlemen yang terdiri dari perwakilan dari semua negara, yang dapat membahas isu-isu global dan membuat keputusan yang lebih demokratis.

     

    Namun, perlu diingat bahwa menciptakan organisasi baru juga memiliki tantangan, seperti:

    – Kesulitan dalam mencapai kesepakatan: Menciptakan organisasi baru memerlukan kesepakatan dari semua negara, yang sangat sulit dicapai.

    – Biaya dan sumber daya: Menciptakan organisasi baru memerlukan biaya dan sumber daya yang signifikan.

     

    Reformasi PBB masih merupakan pilihan yang lebih realistis, karena PBB telah memiliki infrastruktur dan keanggotaan yang luas. Namun, mencari format baru organisasi juga dapat menjadi alternatif yang menarik jika reformasi PBB tidak dapat mencapai hasil yang diinginkan.

    Belum terlambat untuk mempersiapkan berbagai skenario terburuk yang ada jangan sampai kita dikorbankan oleh negara Adi Daya , dalam skenario tersembunyi, yang pada akhir nya sesal tak berguna kemudian , sedangkan rakyat terbelah suara nya , dan perlu mendengarkan suara dari legiskatif dan Organisasi keagamaan yang punya jalur khusus ke pihak palestina sebagai pihak yang akan dijadikan obyek .

    ————————

    Penulis adalah pemerhati politik sosial

     

  • Reformasi, Deformasi, Publik Enemi dan “Banana Republic”

    Reformasi, Deformasi, Publik Enemi dan “Banana Republic”

     

    Oleh Agus Widjajanto

     

    Reformasi dan deformasi adalah dua konsep yang berbeda, terutama dalam konteks politik dan pemerintahan. Reformasi biasanya merujuk pada perubahan atau perbaikan sistem politik, ekonomi, atau sosial untuk membuatnya lebih adil, transparan, dan efektif.

    Deformasi, di sisi lain, merujuk pada perubahan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang baik, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau manipulasi sistem untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

    Publik Enemi adalah penyakit masyarakat pada sebuah negara yang mana dengan segala alasan harus diberantas, namun kadang tata cara pemberantasan nya sendiri justru mengunakan tata cara yang bertentangan dengan hukum .

    Banana Republic adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan negara yang memiliki pemerintahan yang korup, tidak stabil, dan dipengaruhi oleh kekuatan luar.

    J.E. Sahetapy, seorang guru besar hukum pidana dari Universitas Airlangga Surabaya, memang telah menulis tentang bagaimana korupsi telah menjadi budaya di Indonesia setelah masa reformasi. Menurutnya, korupsi telah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, mulai dari birokrat, Parlemen, kaum agama, pengusaha, hingga masyarakat kecil.

    Dia juga menyebutkan bahwa reformasi yang diharapkan menjadi perubahan positif telah berubah menjadi deformasi, yaitu perubahan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang baik. Hal ini telah membuat Indonesia menjadi seperti “Banana Republic”, yaitu negara yang memiliki pemerintahan yang korup dan tidak stabil.

    Pernyataan J. E. Sahetapy ini memang cukup mencemaskan, karena menunjukkan bahwa korupsi telah menjadi masalah yang sangat serius di Indonesia dan memerlukan penanganan yang lebih efektif.

    Penindakan dari lembaga anti korupsi seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) memang belum cukup efektif untuk membuat jera para koruptor, terutama mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar. Banyak kasus korupsi yang tidak diusut tuntas, dan bahkan ada yang dibebaskan dari tuduhan.

    Kalangan pemimpin kepala daerah, pejabat menteri, dan hakim yang seharusnya menjadi contoh dan penegak keadilan, malah menjadi pelaku korupsi. Hal ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan bahwa sistem penegakan hukum di Indonesia masih lemah.

    KPK dan lembaga anti korupsi lainnya perlu memiliki kekuatan dan independensi yang lebih besar untuk dapat menindak para koruptor tanpa takut akan tekanan politik atau pengaruh kekuasaan. Selain itu, perlu juga dilakukan reformasi hukum dan sistem penegakan hukum untuk memastikan bahwa keadilan dapat ditegakkan dengan adil dan merata. Yang paling penting justru adalah dalam fase pencegahan terjadinya korupsi, ini tidak mudah yang akan  menguras energi namun akan lebih efektif hasil nya, dengan menciptakan pendidikan karakter anak bangsa dengan cinta tanah air dan pendidikan anti korupsi dari sejak dini pada tingkat sekolah dasar yang menekan kan budaya asli Indonesia sebagai budaya yang tidak mengenal korupsi.

    Sudah saatnya Kita harus meniru negara lain yang sukses dalam pemberantasan korupsi seperti  Hongkong, Inggris dan Swedia adalah contoh negara yang berhasil menekan korupsi dengan efektif. Mereka memiliki beberapa strategi yang bisa kita pelajari dan adaptasi, seperti:

    – Independensi lembaga anti korupsi: Hongkong memiliki ICAC (Independent Commission Against Corruption) yang independen dan memiliki kekuatan untuk menindak korupsi tanpa campur tangan pemerintah.

    – Sistem hukum yang kuat: Inggris memiliki sistem hukum yang kuat dan efektif, dengan penegakan hukum yang adil dan merata.

    – Transparansi dan akuntabilitas: Swedia memiliki sistem transparansi dan akuntabilitas yang tinggi, dengan akses informasi yang luas bagi masyarakat.

     

    Beberapa strategi lain yang bisa kita pelajari dari negara-negara ini adalah:

    – Pemberian hukuman yang berat: Hongkong memiliki hukuman yang berat bagi koruptor, termasuk penjara seumur hidup.

    – Pengawasan yang ketat: Inggris memiliki sistem pengawasan yang ketat terhadap pejabat publik, termasuk deklarasi harta dan konflik kepentingan.

    – Pendidikan anti korupsi: Swedia memiliki program pendidikan anti korupsi yang efektif, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya korupsi.

     

    Dengan mempelajari dan mengadaptasi strategi-strategi ini, kita bisa meningkatkan efektivitas pemberantasan korupsi di Indonesia.

    Bahkan Hongkong pernah  mengganti seluruh aparat penegak hukum yang terkontaminasi korupsi memang salah satu cara untuk membersihkan sistem dan memulai dari awal. Hong Kong melakukan itu pada tahun 1980-an dengan membentuk ICAC (Independent Commission Against Corruption) dan mengganti banyak pejabat yang korup.

    Namun, perlu diingat bahwa Indonesia memiliki konteks yang berbeda dengan Hong Kong. Indonesia memiliki populasi yang lebih besar, sistem hukum yang lebih kompleks, dan tantangan yang lebih besar dalam memberantas korupsi.

    Mengganti seluruh aparat penegak hukum mungkin tidak realistis dan bisa menimbulkan kekosongan kekuasaan. Namun, yang penting adalah melakukan reformasi yang sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan integritas dan efektivitas aparat penegak hukum.

    Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:

     – Melakukan audit dan evaluasi: Identifikasi pejabat yang korup dan lakukan tindakan yang sesuai.

    – Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas: Implementasikan sistem yang lebih transparan dan akuntabel dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan.

    – Meningkatkan pelatihan dan pendidikan: Berikan pelatihan dan pendidikan yang lebih baik kepada aparat penegak hukum untuk meningkatkan kemampuan dan integritas mereka.

    – Meningkatkan gaji dan kesejahteraan: Berikan gaji dan kesejahteraan yang lebih baik kepada aparat penegak hukum untuk mengurangi risiko korupsi.

     

    Dengan melakukan langkah-langkah ini, kita bisa meningkatkan integritas dan efektivitas aparat penegak hukum di Indonesia. Mumgkin perlu dipikirkan adanya  Transplasi Hukum yang  memang bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas sistem hukum di Indonesia. Mengganti sistem juri pada sistem peradilan di Indonesia yang beraliran Eropa Kontinental dengan sistem Anglo-Saxon (common law) adalah salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan.

    Sistem juri (jury system) yang digunakan di negara-negara Anglo-Saxon, seperti Inggris dan Amerika Serikat, memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan utama adalah bahwa juri dapat membawa perspektif masyarakat awam ke dalam proses pengambilan keputusan hukum, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.

    Namun, sistem juri juga memiliki kekurangan, seperti:

    – Ketergantungan pada kemampuan juri: Juri mungkin tidak memiliki kemampuan atau pengetahuan yang cukup untuk memahami kasus yang kompleks.

    – Risiko bias: Juri dapat dipengaruhi oleh emosi atau prasangka, sehingga dapat mempengaruhi keputusan yang adil.

    – Biaya yang tinggi: Sistem juri dapat memerlukan biaya yang tinggi untuk penyelenggaraan dan administrasi.

     

    Di sisi lain, sistem inquisitorial yang digunakan di Indonesia memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Kelebihan utama adalah bahwa hakim memiliki kontrol yang lebih besar atas proses pengambilan keputusan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

    Namun, sistem inquisitorial juga memiliki kekurangan, seperti:

     – Risiko penyalahgunaan kekuasaan: Hakim dapat memiliki kekuasaan yang terlalu besar, sehingga dapat mempengaruhi keputusan yang adil.

    – Kurangnya partisipasi masyarakat: Sistem inquisitorial dapat kurang melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.

     

    Dalam mempertimbangkan transplasi hukum, perlu diingat bahwa setiap sistem hukum memiliki konteks dan kebutuhan yang unik. Indonesia perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari sistem juri dan sistem inquisitorial, serta kebutuhan dan prioritas masyarakat Indonesia.

    Mungkin ada alternatif lain yang bisa dipertimbangkan, seperti:

    – Menggabungkan elemen-elemen dari kedua sistem: Menggabungkan kelebihan dari sistem juri dan sistem inquisitorial untuk menciptakan sistem yang lebih efektif dan adil.

    – Meningkatkan partisipasi masyarakat: Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan hukum, tanpa harus mengganti sistem juri.

     

    Yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah  Penerimaan hakim yang transparan dan bebas biaya adalah langkah awal yang sangat penting untuk melahirkan hakim-hakim yang berkualitas dan kredibilitas yang bagus. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa hakim-hakim yang dipilih adalah mereka yang memiliki kemampuan dan integritas yang tinggi, bukan hanya karena kemampuan finansial mereka.

    Mengambil lulusan terbaik dari universitas ternama di Indonesia juga sangat penting. Ini akan membantu meningkatkan kualitas hakim-hakim di Indonesia dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.

    Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam proses penerimaan hakim yang transparan dan bebas biaya adalah:

    – Proses seleksi yang objektif: Proses seleksi harus objektif dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti keuangan atau koneksi.

    – Kriteria seleksi yang jelas: Kriteria seleksi harus jelas dan transparan, sehingga calon hakim dapat memahami apa yang diharapkan dari mereka.

    – Pengawasan yang ketat: Pengawasan yang ketat harus dilakukan untuk memastikan bahwa proses seleksi berjalan dengan adil dan transparan.

     

    Dengan melakukan hal-hal tersebut, kita dapat meningkatkan kualitas hakim-hakim di Indonesia dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.

    Bahwa Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman yang memang diciptakan sebagai lembaga yang mandiri dalam bidang peradilan yang terpisah dari kekuasaan Pemrrintahan mengacu pada Negara hukum dan Demokrasi modern berdasar  trias politika pembagian kekuasaan , kadang tanpa ada kontrol yang memadai.  Kekuasaan Mahkamah Agung yang terlalu besar dapat menimbulkan risiko mafia peradilan. Untuk mengantisipasi hal ini, perlu ada kontrol eksternal yang efektif untuk memastikan bahwa Mahkamah Agung menjalankan tugasnya dengan adil dan transparan.

    Saat Orde Baru, secara admimistratif Departemen Kehakiman masih bisa mengontrol kinerja Mahkamah Agung jadi saat itu keadilan relatif bagus apalagi saat punakawan petinggi peradilan di jabat oleh Alm. Ali Said, Ismail Saleh dan Morjono  CS , yang berjuluk petruk, semar ,Gareng , sangat stabil dan terkontrol bagus karena bisa memberikan tauladan ke bawah , namun saat Refomasi yang menginginkan Kekuasaan Kehakiman sebagai kekuasaan yang Mandiri bebas dari intervensi , justru mengalami kemerosotan kewibawaan .

    Beberapa cara untuk meningkatkan kontrol eksternal terhadap Mahkamah Agung adalah:

    1. Pembentukan Dewan Kehormatan Hakim: Dewan Kehormatan Hakim dapat berfungsi sebagai lembaga yang independen untuk mengawasi kinerja hakim-hakim, termasuk hakim-hakim di Mahkamah Agung. Karena Lembaga Komisi Judisial tidak punya perangkat hukum dalam menindak jadi seperti macan ompong yang bersifat declarator, bukan comdemnator (menghukum) hal ini perlu dipikirkan agar adanya regulasi peraturan perundangan yang lebih greget adanya pasal yang mengatur penindakan .
    2. Pengawasan dari lembaga legislatif: Lembaga legislatif dapat melakukan pengawasan terhadap kinerja Mahkamah Agung dan memastikan bahwa mereka menjalankan tugasnya dengan adil dan transparan pada komisi Tiga di DPR yang perlu di tingkatkan sistem pengawasan nya.
    3. Keterlibatan masyarakat: Masyarakat dapat berperan dalam mengawasi kinerja Mahkamah Agung melalui media, organisasi masyarakat sipil, dan lain-lain.
    4. Transparansi: Mahkamah Agung harus transparan dalam menjalankan tugasnya, termasuk dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan.

     

    Dengan demikian, kita dapat meningkatkan akuntabilitas dan transparansi Mahkamah Agung, serta mengurangi risiko mafia peradilan.

    Sementara itu  Untuk meningkatkan kualitas hakim-hakim di Indonesia, beberapa hal yang bisa dilakukan adalah:

    1. Pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan: Hakim-hakim harus terus-menerus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mereka melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan.
    2. Pengawasan yang ketat: Pengawasan yang ketat harus dilakukan untuk memastikan bahwa hakim-hakim menjalankan tugas mereka dengan adil dan transparan.
    3. Insentif yang memadai: Hakim-hakim harus diberikan insentif yang memadai untuk meningkatkan motivasi dan kinerja mereka.
    4. Kemerdekaan yang terjamin: Hakim-hakim harus memiliki kemerdekaan yang terjamin untuk menjalankan tugas mereka tanpa tekanan atau campur tangan dari pihak lain.
    5. Teknologi yang mendukung: Teknologi yang mendukung harus digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja hakim-hakim.

     

    —————————–

    Penulis adalah praktisi hukum dan pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsanya