Category: OPINI

  • Catatan Pinggir Nomor Lima

    Oleh  Franz Magnis-Suseno, SJ

     

    APAKAH tempat letak kebajikan: tubuh atau pikiran? Menurut mazhab Yhu Xi, salah satu mazhab dalam tradisi Kong hucu, kebajikan ditemukan dalam pikiran. Karena bagi Konghucu, sama dengan tradisi Yunani Kuno, pikiran menyatakan bagian manusia yang ”sama kapan saja dan di mana saja”. Tetapi Ito Jinsai, seorang tokoh pemikiran Konghucu abad ke-17 di Jepang, berpendapat lain. Menurut dia, pikiran asal pikiran hanya tinggal pada dirinya sendiri saja. Sebaliknya, yang menjadi titik persentuhan dengan dunia, dengan orang lain, adalah tubuh, padahal hubungan dengan orang lain adalah tempat di mana kebajikan bisa lahir. ”Roh” itu ”sempurna” karena tertutup. Sedangkan ”jasmani tak bisa direncanakan penuh. Ada selamanya yang tak terduga”.

    Masalah yang diangkat oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir jilid 5 ini di Barat pun panas dibicarakan. Selama 350 tahun terakhir, sejak Descartes menempatkan hakikat manusia pada pikirannya, pandangan Zhu Xi yang berkuasa di Barat. Tetapi sekarang banyak yang berpendapat bahwa mereduksikan manusia pada pikiran menjadi kesalahan filosofis maha hebat di zaman modernitas, antara lain menjadi sebab munculnya pemikiran ideologis yang demi kebenaran ideologi tega membunuh manusia yang nyata. Jadi, mana yang benar, Zhu Xi atau Ito Jinsai? Kalau mau menghormati keutuhan manusia, yang harus dihormati yang mana: pikirannya atau tubuhnya? Dan apa yang mau kita dahulukan: Kesempurnaan manusia dalam ketertutupan dan kemandiriannya, atau ketersentuhan oleh saudara-saudarinya yang memerlukan solidaritas, suatu rentangan hati dan tangan yang tak pernah selesai? Goenawan Mohamad tidak menjawab, ia membuat kita berpikir sendiri.

    Pertanyaan tentang tubuh adalah salah satu dari sekian banyak pokok yang diangkat Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir jilid 5. Adalah seni Goenawan Mohamad bahwa ia dapat membuat pertanyaan seabstrak pertanyaan tentang relevansi tubuh menjadi rangsangan pemikiran kita. Dan ia memang tak pernah menyediakan, atau menawarkan, apalagi mendesakkan sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkannya. Ia akan meninggalkan kita bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan, bak anjing diberi tulang besar untuk dikerjakan berharihari lamanya.

    Itulah ciri khas pemikiran Goenawan Mohamad—yang karena itu memang sangat cocok dicetuskan dalam bentuk aforisme, catatan pendek-pendek: Ia membikin memang terus menerus mengoreksi kita. Tetapi bukan dengan menunjukkan bahwa kita keliru. Melainkan dengan membuat kita menjadi sadar bahwa cakrawala kita, wawasan kita tidak memadai. Bahwa untuk mencari sikap terhadap apa yang kita hadapi dalam hidup, wawasan hitam-putih tidak cukup. Bahwa masih ada dimensi atau sudut pandang lain yang harus diperhatikan. Bahwa kesalahan kita bukan sebuah kekeliruan, melainkan kepicikan. Bahwa kita dibelenggu oleh apriori-apriori yang mempersempit persepsi kita.

    Hal apa pun yang disentuh Goenawan Mohamad menjadi masalah, menjadi dorongan yang membuat orang terentak sebentar, lalu ia terpaksa berpikir: Betulkah? Logiskah? Benarkah? Orang merasa cakrawalanya meluas sehingga segi-segi, unsurunsur, warna-warna yang sebenarnya ada tetapi dulu tidak diperhatikan disadari. Dengan demikian, bisa saja kemapanan intelektual dan emosional kita tergoncang.

    Ambil yang ini: Goenawan Mohamad menunjuk pada rentetan ini: Bung Karno dan Bung Hatta, Bung Karno sendirian, Pak Harto sendirian. Bung Karno dan Pak Harto memimpin sendirian kelihatan masuk akal: Untuk maju bangsa perlu menuruti ”satu komandan”. Tetapi mengapa semula Bung Karno dan Bung Hatta dipasang bersamaan padahal sejak semula mereka tidak cocok: tidak cocok temperamennya, tidak cocok dalam pandangan dasar politik masing-masing. Mana yang lebih menguntungkan? Orang bisa bertanya: Apakah kelancaran pemberian komando menjamin kelancaran kemajuan (apa pun artinya)? Jadi apa yang sebenamya efektif dalam sebuah bangsa yang teramat plural, yang hanya akan survive apabila belajar mengakomodasi pluralitas? Hal itu diangkat jauh sebelum Indonesia dikomandoi oleh pasangan Megawati-Hamzah Haz!

     Catatan Pinggir bukan untuk dibaca dalam satu tarikan napas panjang, melainkan sebaiknya per topik, dan tak usah mulai pada permulaan. Terjun secara acak malah bagus. Begitu banyak pokok terangkat. Banyak dari bidang politik, dan hampir semua dengan nuansa politik. Namun Catatan-Catatan Pinggir tidak menjemukan dengan terus berpolitik seperti hal talkshow-talkshow (yang tentu tidak semua menjemukan). Maksud Goenawan Mohamad bukan politik dalam arti, mau memenangkan pikiran-pikiran tertentu. Melainkan ia mau membuat kita berpikir, mencair dalam kemapanan pendapat, sikap, pengandaian, ya, prasangka yang barangkali sudah lama kita bawa. Ia mau kita menjadi mampu kembali untuk berefleksi, berefleksi atas segala macam masalah yang kita hadapi, tetapi dalam hal ini juga berefleksi atas diri kita sendiri.

    Buku ini kaya nuansanya. Bicara tentang Haji Princen—yang pernah ditahan oleh Sukarno maupun Soeharto—Goenawan Mohamad dibuat bertanya ”kenapa ia, yang pernah dipenjarakan tanpa pengadilan oleh pemerintahan ”Demokrasi Terpimpin” Bung Karno, kini ambil risiko untuk membantu pembebasan orang-orang yang dulu ikut mendukung ”Demokrasi Terpimpin” dan membenarkan represi atas dirinya?” Pertanyaan itu dalam kaitan Princen 1968 membela Pramoedya Ananta Toer. Dalam mengenang Romo Mangun, Goenawan Mohamad menanyakan mengapa Romo Mangun yang dekat dengan orang-orang pinggiran begitu mengagumi Sutan Sjahrir yang ”enak bergerak di antara nona dan tuan muda” Belanda? Karena Sjahrir adalah rokoh yang kalah? Karena kekalahan historis Sjahrir (terhadap Bung Karno) masih harus dipertanyakan apakah memang merupakan kekalahan?

    Dalam satu teks Goenawan Mohamad berefleksi tentang ”dari mana datangnya kekejaman?” Manusia kok bisa kejam luar biasa. Haruskah kecenderungan itu dilemparkan kepada pengaruh setan? Adakah suatu dualisme asali mendasari dunia yang merebak dalam pengkutuban baik-jahat? Atau manusia itu sendiri sumber kejahatan (dan kebaikannya)? Tanpa memberi jawaban, Goenawan Mohamad mengutip ucapan mengharukan Anne Frank—anak Yahudi yang waktu itu sudah harus bersembunyi dari pengejaran Nazi yang akhirnya akan menangkapnya juga dan menghabisinya di Auschwitz—bahwa ”manusia pada dasarnya baik”. Reaksi saya: munafik, atau bodoh, besar orang yang mengatakan hal itu (misalnya Jean-Jacques Rousseau yang atas nama ajarannya 30 tahun kemudian kepala-kepala bergulir di bawah kapak guillotine) kecuali kalau yang mengatakannya adalah seorang Anne Frank. Adakah kebenaran tentang manusia kecuali dari mulut korban yang tidak sampai membenci?

    Pada umumnya korban, korban penindasan, korban ketidakadilan, justru benci kembali, justru mau membalas. Goenawan Mohamad mengangkat Mahabharata. Mahabharata adalah kisah yang tidak mengenal pengampunan. Tak ada tindak jahat yang tidak memperoleh balasan. Segala kejahatan kaum Kurawa akan dibalas oleh para Pandawa. Bukankah korban lalu menjadi pelaku juga? Ketika korban menuntut balas dan jadi algojo, yang ada memang seakan-akan penyamaan: Gogon jadi sama dengan Gigin dalam mengalami kezaliman…. Ada musala yang pecah kacanya, ada kabar angin bahwa masjid telah dibakar. Maka sejumlah gereja pun dihancurkan. Ada gereja dihancurkan, maka ribuan kilometer jauhnya dari sana, sejumlah masjid pun ganti dibasmi…. Jadi apa itu adil? Siapa pihak yang baik? Dan apa nilai sebuah kemenangan? Judul renungan itu adalah ”Simetri”.

    Kitab-kitab suci pun menjadi alasan renungan. Banyak pertanyaan muncul apabila kita berani membacanya dengan terbuka, dengan memberi hak pada reaksi hati kita. Goenawan membicarakan komentar Simon Maimonides, filosof besar Yahudi abad ke-13, dan Prof Alan M. Dershowitz atas sebuah kejadian (lih. Genesis bab 34) di mana Simeon dan Levi, dua anak nabi Yakub, membunuh semua laki-laki sebuah kota karena adik mereka diperkosa, padahal sudah tercapai damai. Maimonides membenarkan tindakan itu. Namun menurut Dershowitz, kisah itu menimbulkan pertanyaan tentang Tuhan, mengingat yang terlibat adalah anak-anak nabi Yakub, orang pilihanNya: ”Hukum-hukumNya tumbuh dari pengalaman manusia dan Tuhan sendiri, bukan sekadar sebagai kata akhir.” Keadilan bukan sebagai barang jadi, melainkan sebagai proses belajar, proses belajar Tuhan bersama manusia?

    Siapa pun yang merasa tahu semuanya dengan pasti, bagi Goenawan Mohamad meragukan. Termasuk mereka yang merasa tahu persis apa yang mau disampaikan Tuhan melalui KitabkitabNya. Tetapi apa pesan otentik sebuah Kitab Suci? Adalah Mohammed Arkoun yang mengangkat pertanyaan itu. Menurut Arkoun—dan mengikuti apa yang dipastikan oleh hermeneutik tak ada arti sebuah teks tanpa adanya tafsiran. Apabila sebuah teks lalu dikodifikasi, jadi dibakukan salah satu tafsirannya sehingga perbedaan tafsiran dihentikan, tafsiran yang ditetapkan sebagai monopoli pengartian menjadi instansi kontrol terhadap tafsiran-tafsiran lain. Tetapi dari mana ”kekuasaan dan otoritas” lembaga yang membuat kodifikasi itu datang? Bukankah Sabda Ilahi diselewengkan kalau ada manusia menyatakan bahwa hanya pahamnya sendiri yang benar? Kemapanan segala skripturalisme kandas di sini. Timbul pertanyaan: Dengan cara apakah manusia sebenarnya setia pada Sabda Tuhan, taat pada KitabNya?

    Salah satu konsep yang nampaknya mapan adalah ”bangsa”. Tetapi apa makna sebuah bangsa? Apakah benar ”bangsa” dipahami sebagai ”sebuah kastil raksasa, dengan tembok yang tebal, menara pengintai, dan meriam-meriam yang siap?” ”Singkat kata, kini kita memerlukan sebuah angan yang lain tentang ”Indonesia”. Bukan sebuah geografi yang luas. Bukan sebuah benteng yang kedap. Tapi sebuah usaha sejarah yang belum selesai….” Angan yang bagaimana, usaha yang seperti apa? Bukan Goenawan Mohamad kalau ia memberikan jawabannya.

    Di mana pun kita masuk ke dalam buku kumpulan catatan itu, tak pernah kita akan kering. Apa pun yang muncul tidak pernah rutin. Masalah rutin menjadi hal baru, dan hal baru menjadi masalah. Apakah buku ini dapat disebut sebuah kritik? Tentu, catatan-catatan itu sebuah kritik, semuanya kritis, tak ada sesuatu apa pun yang dibiarkan, diafirmasikan begitu saja. Tetapi unsur kritik bukan yang pertama. Seorang pengkritik sering sudah bertolak dari pandangan tertentu, lalu memberikan penilaian atas dasar pandangannya. Goenawan Mohamad tak pernah begitu saja memberi penilaian. Kritiknya berbentuk lain. Kritiknya terarah pada pandangan kita yang sudah mapan, yang menjadi tolok ukur kritik kita, baik pandangan yang ”kritis” maupun yang afirmatif. Ia memperlihatkan bahwa ada segi lain juga yang harus diperhatikan. Perspektif kita sendiri mengalami perubahan. Penilaian akhir selalu dibiarkan terbuka. Lawan sebenarnya Goenawan Mohamad adalah pemikiran mono-dimensional. Pemikiran itu yang memalsukan, yang membuat keras, picik, fanatik, tidak nyata, tertutup, dan negatif. Di situ wawasan Goenawan Mohamad masuk. Dengan pengetahuannya yang luas dari sejarah Timur, Barat, dan nasional, dan dari keakrabannya dengan sastra besar dunia dan pemikiran para filosof dan tokoh intelektual umat manusia, ia mempunyai latar belakang dan modal intelektual luas untuk membuka multidimensionalitas segala macam pengalaman manusia, baik manusia Indonesia maupun manusia umum. Tak pernah ia menguraikan ide-ide besar, prinsip-prinsip kesayangan para filosof. Obyek perhatiannya selalu sesuatu yang konkret, yang lebih mikro daripada makro. Tetapi dalam memutar-mutar obyek itu, dimensi universalnya justru terangkat. Dengan akibat bahwa kita, para pembaca, menjadi heran, berpikir-pikir, bermenung-menung, akhirnya merasa terkembang dalam wawasan.

    Bagi mereka pun yang sudah membaca empat jilid Catatan Pinggir yang sebelumnya, jilid ini—yang memuat catatan-catatan pinggir dalam majalah Suara Independen, D&R, Tempo dan Tempo Interaktif dari tanggal 10 Desember 1994 sampai 23 Juli 2001—tetap akan memberikan inspirasi baru.

    ——————————————————————————-

    * Tulisan ini adalah Pengantar buku Catatan Pimggir 5, Pustaka Utama Grafiti , 2001

  • Kebenaran dan Politik

     

    Oleh Daoed Joesoef,  Alumnus Université Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne

     

    SEMAKIN mendekati hari pemilihan presiden, semakin ramai warga membicarakan kriteria pemimpin yang ideal. Dalam diskusi sekelompok pemuda terpelajar, sebagian tergolong pemilih pertama kali, ada diajukan aneka macam set kualitas (karakter) pemimpin yang mereka impikan.

    Yang mencolok adalah bahwa pada setiap set tertentu ada ”kejujuran” sebagai kualitas yang diniscayakan. Ternyata mereka rata-rata sudah muak dengan perilaku politik para pemimpin kita selama ini yang tidak integer, koruptif, di semua bagian dari trias-politika. Konsultasi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia menyimpulkan, ”jujur” dan ”kejujuran” adalah kata lain dari ”benar” dan ”kebenaran”, jadi dua sisi dari kebajikan yang sama. Bila demikian perlu dipertanyakan apakah harapan para pemuda tadi bisa terwujud. Sebab, praksis perpolitikan kita selama ini menunjukkan bahwa ”kebenaran” (truth) dan ”politik” (politics) bukan bagai ”lepat dengan daun”, tetapi mencolok bagai ”minyak dengan air”.

    Kebenaran, walaupun tanpa kekuasaan dan selalu kalah bila langsung berhadapan dengan kekuatan apa pun yang berkuasa, punya satu kekuatan khas. Berupa apa pun kombinasi kekuasaan yang berlaku, ia tidak mampu menemukan atau menciptakan suatu kebenaran yang mumpuni. Tekanan kekuatan dan kekerasan bisa saja menghancurkan kebenaran, tetapi tidak akan mampu menggantikannya. Ini tidak hanya berlaku bagi kebenaran faktual yang begitu mencolok, tetapi juga bagi kebenaran rasional dan kebenaran nurani.

    Kebenaran politik

    Menanggapi politik dalam perspektif kebenaran berarti tegak di luar bidang politik. Posisi di luar bidang politik—di luar komunitas ideologis di mana kita tergolong dan di luar persekutuan kepentingan bersama—jelas ditandai sebagai salah satu cara berdiri sendirian. Yang eminen di antara cara-cara eksistensial ”mengatakan kebenaran” adalah kesendirian sang filosof, keterasingan para ilmuwan dan intelektual, imparsialitas hakim dan independensi penemu fakta dan kesaksian reporter; pendek kata, pada umumnya, sikap dari ”non-konformis”, yang bagai elang, berani terbang sendirian, tidak takut dilebur pasang setelah dengan sadar memilih hidup di tepi pantai.

    Biasanya kita baru menyadari natur non-politik, bahkan kelihatan bagai anti politik dari kebenaran, bila terjadi konflik antara keduanya. Kita akan tersentak karena nurani menantang mulut untuk mengatakan: ”fiat veritas et pereat mundus”, biarkan kebenaran berlaku walaupun karena itu keseharian dunia runtuh! Lalu, apakah politik tak punya kebenarannya sendiri? Apa tak ada ”political truth” seperti halnya dengan ”scientific truth”?! Dewasa ini, sewaktu ilmu-ilmu sosial melaksanakan panggilannya dengan baik, ”the most modern communicable knowledge” ini memberitahukan keberadaan kompleksitas dan keniscayaan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mengenai hal ini, jurnalisme tak jarang turut membantu pemahaman publik tentang milieu di mana para politikus beroperasi, berbeda dengan ruang terbuka dari filosofi Newtonian.

    Milieu operasional dari politik lebih mirip lumpur tebal yang melekat di mana Darwin mengukuhkan kesadaran human tentang yang serba kotor dan jorok ini memerlukan suatu pemerintahan, bukan dalam artian lembaga kolektif yang kerjanya ”memerintah”, tetapi entitas publik yang mengayomi, melayani, pembersih, pengatur, pengelola ”polity”. Maka ”kebenaran politik” adalah pemandu warga keluar dari kebuntuan intelektual dan politis, intellectual and political cul de sac. Kebenaran ini dimulai dengan pernyataan bahwa pemerintah, walaupun rakitan manusia, adalah ”alami”. Bagi manusia ia sama alaminya dengan pakaian dan tempat berteduh (shelter) karena ia melayani kebutuhan yang serba alami bagi manusia, bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    A well-governed polity memberikan kepada warganya ”pangan”, ”sandang”, dan ”papan”, melibatkannya dalam suatu jaringan hubungan kebiasaan dan perbuatan yang diadatkan—yang membentuk disposisinya, mengembangkan apa yang baik bagi dirinya menekan apa yang buruk.

    Keragaman kapasitas human pada setiap saat di setiap masyarakat, menurut George F Will, terkondisi secara historis. Berarti, deretan dari bentuk asosiasi politik yang sesuai juga terkondisi. Filosofi politik ”for all seasons” harus berupa proposisi penting, tetapi umum. Filosofi politik yang cocok untuk satu polity partikular harus lebih spesifik, tetapi ada limit sejauh mana politikus atas nama rakyat boleh menjauhi proposisi umum ketika berusaha membuat bentuk yang paling memenuhi syarat dari asosiasi politis bagi polity pada umumnya.

    Hal ini perlu disadari mengingat publik dari era reformasi di zaman pasca revolusi cenderung tidak lagi terikat satu sama lain oleh ”ide”, tetapi oleh ”kepentingan” yang serba primordial materialistik. Dewasa ini atmosfer politik kelihatan direduksi menjadi sejenis debu intelektual, tersebar ke segala penjuru, tak mampu mengumpulkan, tak sanggup menyatu-padukan.

    Jadi ”politik”, betapapun megah kelihatan dengan ”kebenaran politiknya”, yang disanjung melangit sebagai ”the art of solving the impossibles”, mengenal limit, serba terbatas. Ia tidak meliputi semua tentang eksistensi human di dunia. Ia dibatasi oleh hal-hal yang tidak dapat diubah manusia begitu saja menurut seleranya. Dan hanya dengan menghormati batasan-batasannya sendiri, bidang di mana kita bebas bertindak dan bertransformasi bisa tetap utuh, mempertahankan integritas dan memenuhi janjinya. Maka yang kita namakan ”kebenaran”, secara konseptual, adalah apa yang tidak bisa kita ubah. Secara metaforis, ia adalah bumi tempat kita berpijak dan langit yang membentang di atas kita. Bak kata kearifan lokal, di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung.

    Walaupun begitu bukan berarti ia abadi. Biasanya perkembangan zaman menuntut perubahannya. Namun, yang mengubahnya bukan politik, melainkan ”Bildung”, sinergi simbiotis antara kebudayaan dan pendidikan. Walaupun begitu, politik tidak tinggal diam. Selaku kekuasaan negara yang berlaku, politiklah yang memutuskan wacana Building yang bersangkutan menjadi satu kebijakan pemerintahan tentang pembelajaran baru di bidang pendidikan nasional. Adalah Plato yang mula-mula berusaha menanggapi politik dalam perspektif kebenaran dan tegak di luar bidang politik. Platonisme ini di zamannya menjadi sangat berpengaruh selaku oposan gigih terhadap ”polis”, yaitu jagat politik dan pemerintahan negara-kota Yunani Purba. Impian Plato memang tidak terwujud: akademi yang dibentuknya tidak pernah menjadi ”counter-society”.

    Kebenaran intelektual independent

    Kebenaran Platonis itu mengilhami pembentukan lembaga-lembaga universiter. Walaupun lembaga-lembaga ini tak pernah merebut kekuasaan negeri, amfiteater serta ruang kuliahnya berkali-kali mengetengahkan kebenaran yang sangat tak diharapkan oleh sepak terjang politis tertentu yang berambisi tetap berkuasa at all costs. Maka lembaga semacam ini, seperti juga tempat-tempat pelarian lain dari kebenaran serupa, menjadi sasaran empuk aneka bahaya yang berasal dari kekuatan/kekuasaan sosial dan politik.

    Peluang kebenaran untuk hidup di tengah-tengah masyarakat ternyata sangat diperbesar oleh kebenaran organisasi ilmuwan dan kehadiran intelektual independen, yang pada asasnya disinterested dalam sikap dan tindakannya. Orang tidak akan dapat membantah, paling sedikit di negeri-negeri yang dijalankan secara konstitusional, bahwa bidang politik akhirnya mengakui, meskipun di saat sedang berkonflik, sungguh berkepentingan akan eksistensi lembaga dan orang yang tidak dikuasainya dalam hal kebenaran.

    Jadi apa yang tidak pernah diimpi-impikan oleh Plato justru terjadi, yaitu bahwa bidang politik akhirnya mengaku butuh lembaga dan personalitas eksterior selaku pelawan kekuasaan yang, dengan begitu, menambah imparsialitas atau kenetralan yang dituntut oleh dispensasi keadilan. ●

    ———————————————————————-

    Sumber Tulisan Kompas 04 Maret 2014

  • Kedewasaan Berpikir dan Bertindak  “Kunci Dasar Edukasi Meraih Sukses”

    Kedewasaan Berpikir dan Bertindak “Kunci Dasar Edukasi Meraih Sukses”

     

    Oleh Odemus Bei Witono *

     

    DUNIA  pendidikan membutuhkan teori, konsep dan praktik dalam ruang pembelajaran. Umumnya teori muncul dari pengalaman panca indera, jasmaniah dan batiniah yang terkait dengan memori, akal budi, dan kehendak. Seorang peraih Nobel Fisika tahun 1936, Viktor Francis Hess pernah melakukan penelitian di alam terbuka untuk mengukur proses ionisasi yang terjadi di atmosfir pada ketinggian 1–5-kilometer dari permukaan laut, melalui balon udara yang dia kendarai. Penelitian yang dilakukan membutuhkan energi dan keberanian yang besar untuk menanggung resiko. Salah satu teori Hess (dalam quotefancy.com, 2022) yang terkenal, medan magnet yang kuat dapat mengukur energi partikel yang sangat halus. Teori medan magnet ini, kalau diimajinasikan ada dalam diri orang berupa inner power. Manusia melalui inner power yang dimiliki dapat mengukur kemampuan diri dalam meraih kesuksesan atau kegagalan dalam hidup. Peserta didik melalui proses pendidikan formatif dapat bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Kemampuan mengukur para murid terbentuk dalam ruang edukasi formal di sekolah dan informal di keluarga dan masyarakat. Para murid yang sudah terbentuk menjadi pribadi dewasa dapat menyadari dan melakukan apa yang seharusnya diperbuat di dalam kehidupan nyata. Orang dewasa hasil didikan yang berkualitas diharapkan mampu menjadi teladan yang baik dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara.

    Dalam proses pendewasaan karakter, para pendidik dalam ruang edukasi perlu memperhatikan aspek antarpribadi dan komunikasi (interpersonal dan communication) dalam pergaulan formal dan informal. Dalam interpersonal dan communication dibutuhkan teknik berkomunikasi yang baik. Julius Fast (1994) dalam Subtext menekankan pentingnya bahasa antisipatif, yaitu berkomunikasi verbal dengan memperhatikan pesan yang tersembunyi dalam gerak tubuh, tatapan, isyarat tangan, cara berbicara, dan aneka signal lain yang lembut dalam setiap bentuk pertukaran informasi antara dua orang atau lebih.  Dengan memahami pesan dalam subtext secara baik, seorang pendidik dapat menggunakan diksi, pilihan kata yang tepat untuk berbicara dalam aneka keperluan dan pergaulan umum. Subtext dapat digunakan para pendidik melakukan bantuan personal (cura personalis) terhadap peserta didik yang dilatih dan didampingi. Cura personalis sangat penting dalam rangka pengembangan pembelajaran bermakna sehingga proses assessment dalam arti luas dapat dilakukan dengan lebih baik. Dalam assessment para pendidik mendapatkan informasi terukur terkait penguasaan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan untuk memperbaiki pendidikan. Menurut Muri Yusuf (2015) dengan adanya proses assessment sekolah dapat melakukan pengendalian mutu pendidikan, dan pembelajaran secara cermat, bahkan dalam pengambilan keputusan terkait peserta didik para guru dan unsur pimpinan sekolah memperhatikan berbagai aspek substansial demi kemajuan perkembangan para murid.

    Kedewasaan berpikir dan bertindak dapat dibentuk melalui interaksi sosial yang terjadi di berbagai tempat dan kesempatan. Kemampuan intelektual saja tidak cukup memadai untuk membuat orang menjadi lebih dewasa. Dibutuhkan keterampilan yang prima agar orang dewasa dapat hidup mandiri sesuai kebutuhan zaman. Oleh karenanya orang dewasa sejak belia perlu belajar menimba ilmu agar terampil dalam menjalankan hidup. Belajar dengan cara yang cerdas, disertai praktik dari apa yang dipelajari membutuhkan kedisiplinan. Disiplin diri memampukan seseorang terampil meraih impian hidup yang lebih baik. Menurut Charles Duhigg (2012) Disiplin diri memprediksi kinerja akademik lebih kuat daripada Intelligence Quotients (IQ). Disiplin diri juga dapat memprediksi pelajar mana yang dapat meningkatkan pencapaian nilai mereka selama tahun ajaran, sedangkan IQ belum tentu demikian. Para murid yang mempunyai disiplin diri baik mempunyai efek yang lebih besar pada kinerja akademik daripada bakat intelektual mereka. Tuntutan disiplin diri pada setiap murid akan membentuk pribadi yang tangguh dan ulet dalam menghadapi hidup.

    Dunia sekarang membutuhkan orang dewasa yang mampu berpikir cerdas, peduli, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman melalui keterampilan yang didasari pengetahuan yang memadai. Pendidikan dasar dan menengah mempunyai peranan yang esensial dalam proses pendewasaan berpikir dan bertindak para murid. Proses pendewasaan dilakukan dengan cara mengembangkan para murid agar mereka dapat menemukan jatidiri, mengoptimalkan bakat yang dimiliki, dan mengkristalkan semangat kepedulian pada sesama. Berdasarkan kajian yang mendalam, orang dewasa adalah pribadi yang sukses dalam menjalankan roda kehidupan. Kesuksesan seseorang tidak diukur dari berapa kekayaan yang dimiliki, popularitas yang didapat, dan keharuman nama baik yang dipunyai. John Maxwell (2009) mengatakan bahwa orang disebut sukses jika mereka mengerti tujuan mengapa diciptakan di dunia, mampu mengoptimalkan potensi atau bakat yang Tuhan berikan, dan dapat menanamkan benih-benih kebaikan bagi sesama yang membutuhkan pertolongan. Berdasarkan tiga kriteria orang sukses tersebut, maka siapapun dapat meraih sukses dalam hidupnya.

    Dalam proses pendewasaan para murid, para pendidik perlu mengoptimalkan potensi peserta didik melalui cara atau metode pembelajaran yang tepat. Para guru diharapkan dapat membantu para peserta didik bertumbuh, dari anak-anak, remaja, hingga menjadi pribadi dewasa, yang mampu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Peter Rogers (dalam goodreads.com, 2022) pernah mengatakan “The teacher is a catalyst to convert information from a high energy state to a low energy state.” Pendidik hadir sebagai katalis yang membatu para murid mengubah energi tinggi berupa informasi fakta-fakta menjadi energi rendah berupa konsep visual yang terkait dengan apa yang diketahui. Masa pendidikan 12 tahun, merupakan masa emas dalam formasi dasar dan menengah bagi pembentukan intelektual, dan karakter para peserta didik. Seorang pendidik atau pelatih yang sudah sarat dengan pengalaman hidup akan dengan mudah mengelaborasi teori ke dalam aneka aktivitas yang dialami. Guru-guru yang cakap sekaligus inspiratif dibutuhkan oleh para murid. Para pendidik yang berkualitas prima dapat menciptakan situasi dan kondisi belajar yang baik dan menyenangkan sehingga suasana belajar menjadi kondusif. Kondisi belajar yang kondusif akan mempercepat proses pembelajaran mencapai tujuan yang diharapkan.

    Sebagai catatan akhir penulis menekankan pentingnya proses pembentukan pribadi, dari anak-anak menuju pribadi dewasa yang dapat berpikir, bertindak, dan mau bertanggungjawab atas apa yang dilakukan.  Proses pendewasaan terjadi secara efektif dalam ruang edukasi di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kelincahan berpikir cerdas, berpendapat, dan berargumen merupakan faktor penting dalam proses interior pendewasaan. Kelincahan berpikir yang disertai dengan disiplin diri, perbuatan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan merupakan bagian integral pendewasaan diri yang seimbang.  Semoga para pendidik utama (orangtua dan guru) dan masyarakat dapat membantu proses pendewasaan berpikir dan bertindak anak-anak bangsa.  Para murid yang dididik dengan cara yang baik dan terhormat dapat menghasilkan profil alumni sukses yang berkompeten, mempunyai hati nurani yang baik, mau peduli terhadap sesama, dan mempunyai komitmen yang kuat membangun peradaban unggul dan berkualitas.

    ———————————————————————————————

    *) Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

  • BANI dan AI dalam Pendidikan di Masa Kini

    BANI dan AI dalam Pendidikan di Masa Kini

    Oleh Dr. Cicilia Damayanti, M. Pd., Pengajar Universitas Indraprasta PGRI – Jakarta

     

    Pendahuluan

    Dunia VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) sudah kita alami selama beberapa dekade ini. Situasi di mana kita mengalami keadaan penuh dengan pergolakan, ketidakpastian, kerumitan dan kebimbangan. Pandemi covid-19 yang sudah berlangsung selama dua tahun lebih semakin memperarah keadaan ini. Era VUCA sendiri sudah membawa permasalahan yang sangat pelik, khususnya dalam dunia politik, ekonomi, sosial, perubahan iklim, dan juga pendidikan.

    Saat ini kita sedang memasuki era informasi-komunikasi, di mana teknologi dan internet semakin membantu penyebaran informasi dengan sangat cepat. Di samping itu kemunculan AI (artificial intelligent) semakin membuat keadaan semakin mencemaskan. AI menciptakan tantangan tersendiri bagi manusia. Bila dulu teknologi sudah menciptakan mesin pintar, sekarang semakin berkembang dengan menciptakan mesin dapat belajar sendiri. Keadaan ini memunculkan banyak pertanyaan di benak kita. Mampukah kita bertahan hidup bersama AI? Bisakah kita bekerja sama dengan AI? Bagaimana kita mempersiapkan generasi penerus, khususnya dalam pendidikan agar tangguh dan berdikari?

    Dunia BANI (Brittle, Anxious, Non-linier, Incomprehensible)

    Pandemi covid-19 yang diharapkan dapat berakhir pada tahun 2021, ternyata masih berlangsung sampai saat ini. Mutasi virus covid-19 yang sepertinya tidak pernah berhenti membuat jalan keluar seolah menjadi buntu (sudden death). Situasi di mana serangan covid-19 yang serba tidak pasti menyebabkan konsep VUCA sudah usang.

    Jamais Cascio (1966 – ) seorang antropolog berkebangsaan Amerika, pada tahun 2020 menciptakan konsep BANI (Brittle, Anxious, Non-linier, Incomprehensible) untuk menggambarkan kondisi yang kita alami sekarang (http://www.openthefuture.com/jamais_bio.html). Apa itu BANI? Pandemi covid-19 semakin membuat keadaan semakin carut marut setelah sebelumnya kita menghadapi pergolakan politik dunia dan disrupsi teknologi. Apa yang dulu kita anggap sebagai perubahan yang sangat cepat (volatile) sudah semakin tidak dapat diprediksi dan ringkih (brittle). Saat ini masyarakat tidak lagi merasakan dunia yang penuh dengan ketidakpastian (uncertainty), tetapi mereka justru semakin merasakan kecemasan (anxious). Dunia kita bukan dunia yang rumit (complexity) lagi, tetapi sudah menerima sistem yang tidak saling berhubungan (non-linier). Kebimbangan (ambiguity) ini kemudian memunculkan keadaan yang sulit dipahami (incomprehensible) (https://stephangrabmeier.de/bani-versus-vuca).

    Rabindranath Tagore pernah mengungkapkan bahwa manusia itu unik, bebas berkreasi, memiliki hati yang penuh kasih, kreatif, diakui keberadaannya, memiliki emosi, dan rasa takjub serta ingin tahu. Dia menyebut hal ini sebagai kelebihan manusia (surplus in man). Keistimewaan ini dimiliki manusia karena, menurutnya, manusia mempunyai kemampuan untuk membayangkan tentang sesuatu yang lain darinya dan untuk mewujudkan hal yang dibayangkannya itu. Di samping itu ada 6 (enam) faktor keunggulan manusia: nalar, memori, imajinasi, intuisi, keinginan, dan persepsi. Kemampuan inilah yang membantu kita untuk menghadapi dunia BANI. Kondisi ringkih menyebabkan kita semakin dituntut untuk cepat beradaptasi. Untuk menjawab kecemasan kita dituntut untuk mempunyai rasa empati dan peduli pada sesama. Keadaan yang saling tidak terhubung menuntut kita untuk mempunyai daya analisis interdisipliner. Terakhir, keadaan yang sulit dipahami ini menuntut kita untuk mau membuka diri, memahami perbedaan pendapat, dan toleransi (https://academiamu.com/2021/12/01/keadaan-vuca-menjadi-semakin-bani/).

    Saat ini sistem pendidikan, terutama di dalam keluarga dan sekolah, diharapkan untuk segera berbenah mengikuti perubahan yang semakin cepat. Pendidikan yang terpusat pada kemampuan berpikir semata sudah tidak dapat diandalkan. Kemampuan kognitif perlu diimbangi dengan kemampuan mengolah emosi. Konsep kecerdasan berlapis (multiple intelligence) semakin dibutuhkan. Di mana perlu menggabungkan kecerdasan pikiran dengan empati dan toleransi. Pendidikan perlu menerapkan kemampuan interdisipliner untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan mendapatkan jalan keluar yang tepat.

    Era Informasi-Komunikasi

    Kegiatan manusia untuk saling terhubung dengan yang lain adalah melalui komunikasi. Apabila dulu gosip menjadi cara manusia untuk menyebarkan informasi melalui mulut ke mulut, kini internet menjadi media yang paling ampuh untuk menyebarkan informasi (gossip) tersebut. Saat ini internet menjadi gudang informasi yang berisi tentang pikiran manusia, dan tidak terpusat pada pengetahuan tentang manusia itu sendiri. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah manusia sudah paham tentang teknologi yang diciptakannya ini? Bagaimana manusia mampu menciptakan teknologi yang berdaya guna dan bermanfaat dalam hidupnya bersama dengan yang lain?

    Buku AI And Developing Human Intelligence: Future Learning and Educational Innovation, mencoba menjelaskan apa yang sedang kita alami saat ini dan bagaimana kita dapat mengatasinya – khususnya dalam bidang pendidikan. Kemunculan gawai dan internet semakin membantu manusia dalam memproses data, menciptakan dan menyebarkan informasi. Teknologi mesin pintar (machine learning) ini semakin berkembang menjadi deep learning yang kemudian memunculkan AI (artificial intelligent) atau kecerdasan buatan. Saat ini penciptaan AI semakin ditingkatkan dengan menambahkan kemampuan untuk mengingat dan BELAJAR. Mesin ini kemudian menimbulkan permasalahan baru, bila AI bisa belajar apakah manusia masih tetap harus belajar? Bukankah kita bisa bertanya pada AI saja? Apakah AI memiliki kesadaran? Apakah AI bisa kita ajak berdiskusi tentang kerumitan permasalahan hidup? Apakah AI bisa menjadi tempat untuk kita mencurahkah isi hati?

    Meskipun saat ini AI diciptakan semakin canggih dengan mampu meniru gerakan tubuh dan emosi manusia, tetapi ada kelemahan yang tidak dimiliki para agen artifisial ini. Mereka mungkin bisa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dan mekanisme logika. Tetapi pertimbangan ini sudah terprogram, yang berarti memiliki kecenderungan untuk dingin dan kaku. Sementara itu manusia lebih fleksibel dan memiliki pertimbangan emosional dalam mengambil keputusan. Para agen artifisial ini di masa depan mungkin akan diprogram lebih canggih. Sehingga dapat memasukkan pertimbangan yang melampui konteks. Namun ada segi intrinsik yang akan butuh waktu lama untuk dapat ditiru para agen artifisial ini, yakni faktor emosional manusia yang kompleks.

    Kebijaksanaan merupakan tingkatan pengetahuan pada level tertinggi. Pada tingkat ini pikiran menciptakan pemahaman berdasarkan pada pengetahuan, penilaian, dan pertimbangan untuk memahami pengetahuan. Di sinilah kreativitas berperan penting untuk menjadikan pengetahuan sebagai kebijaksanaan. Tepat di sini juga peran emosi muncul. Apakah AI bisa mencapai kebijaksanaan? Apabila AI semakin mampu belajar dan memiliki kesadaran, apakah kesadaran ini memiliki unsur manusiawi? Tepat di sini terjadi ketegangan. Bukankah para agen artifisial ini diciptakan untuk membuat keputusan yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga dapat berjalan sesuai prosedur dan mereduksi emosi yang menjadi unsur subyektif dalam tindakan? Mampukah mereka memenuhi kebutuhan afeksi manusia yang lebih dalam lagi?

    Revolusi Industri yang Semakin Cepat

    Pendidikan memiliki peranan yang sangat besar untuk mengubah hidup manusia. Kemunculan internet telah banyak mengubah wajah pendidikan. Berikut ini akan dijabarkan secara singkat sejarah perkembangan jaringan internet:

    Web 0.0: 1969 – ARPANET dan kemunculan jaringan informasi internal.

    Web 1.0: 1991 – munculnya World Wide Web yang menyebabkan jaringan informasi semakin mudah diakses publik.

    Web 2.0: 2003 – media sosial semakin mempermudah interaksi manusia, jaringan komunikasi semakin tersebar merata, penggunanaan data semakin masif dan mendalam.

    Web 3.0: 2006 – membentuk jaringan kecerdasan, data muncul dari para pengguna kepada pengguna yang membutuhkan, informasi tersebar semakin cepat dan mudah, konten menjadi lebih mudah diakses publik.

    Web 4.0: 2012 – AI menjadi bagian dari jaringan informasi, manusia mulai membangun kerja sama dengan mesin, terbentuknya jaringan informasi yang lebih menyeluruh.

    Perkembangan jaringan internet ini menyebabkan terjadi revolusi industri dalam segala bidang:

    Situasi di masa lampau

    Industri 0.0: abad 13 – munculnya inovasi pada teknologi, sumber daya alam dipakai untuk menggerakkan mesin yang pertama kali diciptakan, seperti kincir angin dan kincir air.

    Media 0.0: abad 11-15 – Alkitab dan tulisan sekular mulai ditulis kembali dan diperbanyak agar semakin banyak orang dapat mengaksesnya.

    Pendidikan 0.0: abad 11-15 – sistem pendidikan seminari menjadi landasan pendidikan yang kita jalani saat ini, sistem ini membantu anak-anak yang tidak mampu untuk tetap dapat kesempatan belajar.

    Situasi menjadi lebih mudah

    Industri 1.0: akhir abad 18 – penemuan mesin uap menyebabkan manusia tidak lagi tergantung pada hewan; mesin dapat digerakkan dengan memakai bahan bakar.

    Media 1.0: pertengahan abad 15 – kemunculan mesin cetak telah membantu manusia dalam menggandakan buku, sehingga penyebaran informasi semakin mudah.

    Pendidikan 1.0: pertengahan abad 18 – sekolah mulai dibentuk dan pendidikan semakin merata bagi semua orang.

    Situasi di mana informasi mudah tersebar

    Industri 2.0: awal abad 20 – produksi massal pada dunia industri.

    Media 2.0: awal abad 20 – penyebaran informasi yang masif, penemuan radio, mesin cetak industri, telepon, televisi menjadikan informasi semakin mudah diakes publik.

    Pendidikan 2.0: awal abad 20 – munculnya pendidikan umum, di mana setiap orang wajib untuk mengenyam pendidikan.

    Situasi menjadi semakin personal

    Industri 3.0: awal dekade abad 21 – teknologi digital, memproduksi barang-barang yang lebih personal, munculnya nanoteknologi dan printing 3D.

    Media 3.0: awal dekade abad 21 – informasi pribadi menjadi milik publik, di mana data pribadi secara sukarela disebarkan melalui media sosial.

    Pendidikan 3.0: awal dekade abad 21 – teknologi digital semakin memudahkan dalam belajar, setiap orang dapat belajar secara personal, gawai dan internet membantu manusia untuk mendapatkan pendidikan lebih mudah dengan cara belajar secara daring.

    Situasi yang menjadi semakin menyeluruh

    Industri 4.0: 2014 – produksi yang menyeluruh, saling terhubungnya pengetahuan dalam bidang biologi, fisika dan dunia digital, menciptakan kecerdasan buatan yang juga mulai digunakan dalam berkomunikasi dengan yang lain.

    Media 4.0: 2020 – media yang menyeluruh, koran dan TV tak terpisahkan, informasi dipegang oleh kecerdasan buatan

    Pendidikan 4.0: pertengahan abad 21 – pelajaran semakin menyeluruh pada segala bidang, sekolah terpusat pada benda-benda elektronik sehingga dapat belajar di mana saja dan kapan saja, pendidikan juga terhubung dengan kecerdasan buatan.

    Perubahan ini menjadikan sistem pendidikan harus bekerja keras untuk beradaptasi. Pendidikan kekurangan tenaga-tenaga yang paham tentang perkembangan teknologi. Tenaga pendidik cenderung ketinggalan zaman bila dibandingkan dengan para peserta didiknya. Sebagai generasi Z dan Alpha, para peserta didik ini sudah berhadapan dengan alat-alat teknologi sejak kecil. Kondisi ini menyebabkan mereka lebih mudah dalam menerima dan menyerap informasi yang didapat.

    Komponen Abad 21 yang Dibutuhkan Generasi Penerus

    Era informasi-komunikasi menghadirkan banyak stimulus yang mendorong rasa ingin tahu anak-anak. Kemampuan mereka menggunakan gawai lebih hebat bila dibandingkan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Hal ini menyebabkan anak-anak lebih mudah beradaptasi untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebab mereka adalah agen perubahan itu sendiri.

    Informasi yang tersebar dengan mudah dan cepat menyebabkan anak-anak lebih mudah menyerap pengetahuan. Kombinasi gawai dan internet membantu mereka untuk mencari informasi yang dibutuhkan lebih mudah dan cepat. Hal ini yang membuat mereka merasa bisa belajar mandiri. Bertanya pada mbah google lebih mudah dan cepat, dan tidak perlu menciptakan debat kusir yang membosankan dengan guru ataupun orang tuanya. Penyebaran informasi yang sangat cepat ini perlu diimbangi dengan pendampingan dari orang dewasa. Sehingga anak-anak tidak kehilangan arah dan tetap mengikuti norma dan aturan yang sudah disepakati bersama.

    Tidak dapat dipungkiri, saat ini perkembangan otak anak berjalan lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi yang semakin cepat, juga penyebaran informasi yang masif dan cepat. Mereka dikenal sebagai generasi kreatif dan mudah mendapatkan uang. Tetapi, kreativitas ini hanya terpusat pada hal-hal yang menarik minat mereka semata, yakni kreativitas yang berpusat pada hasil bukan prosesnya. Mereka lebih menyukai hal yang instan karena lebih mudah dan cepat. Pada titik inilah nilai-nilai pendidikan perlu direvolusi kembali agar dapat mengikuti perkembangan zaman.

    Sistem pendidikan homogen, yang terpusat pada pengetahuan yang seragam dan usang sudah tidak dapat diterima lagi. Kemajuan teknologi dan internet menyebabkan anak-anak mudah mendapat informasi dan juga pengetahuan yang lebih heterogen. Situasi ini memiliki nilai positif, di mana anak-anak mulai dapat menerima keragaman yang ada di dunia. Akan tetapi ada nilai negatif yang mengintai. Bila tidak ada pendampingan, anak-anak cenderung untuk menerima segala informasi yang diterimanya begitu saja. Hal ini menyebabkan mereka mudah terpapar oleh pemahaman yang keliru. Saat proses informasi semakin mudah diakses, anak-anak sedang berada di lingkaran ketidakpastian. Sebab keberlimpahan informasi ini dapat menjerumuskan mereka bila tidak ada pendampingan dari orang tua dan guru.

    Abad 21 merupakan abad yang penuh dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk itu kita perlu membekali anak-anak generasi Z dan alpha ini dengan komponen-komponen sebagai berikut:

    1. Menerima ketidakpastian

    Anak-anak dapat diajak untuk menerima ketidakpastian sebagai bagian dari hidup yang saat ini kita jalani bersama. Solusi yang dibutuhkan tidak akan ditemukan dalam situasi yang sudah pasti, tetapi bagaimana kita bisa mengajak mereka untuk menerima dan mengolah ketidakpastian hidup. Dengan menerima ketidakpastian, membantu mereka untuk selalu siap sedia menghadapi segala macam situasi yang akan terjadi.

    1. Bekerja sama

    Anak-anak dibantu untuk menjalin kerja sama dengan yang lain. Dengan bekerja sama, mereka telah menciptakan kesetaraan. Sebab setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, sehingga dapat menghasilkan ilmu pengetahuan yang lebih menyeluruh. Kompetisi tetap dibutuhkan, tetapi bukan untuk mencari siapa yang terbaik, melainkan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Adam Brandenburger dan Barry Nalebuff menyebut ini sebagai co-opetition. Perpaduan antara kerja sama dengan kompetisi untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi kesejahteraan hidup bersama.

    1. Harmonisasi

    Anak-anak perlu diajak untuk menyeimbangkan kemampuan nalar dan emosinya. Kita dapat melatih mereka dengan melakukan kegiatan yang menggabungkan aktivitas sensorik, seni, dan permainan. Aktivitas sensorik membantu anak-anak terhubung dengan alam sekitar dan sesamanya. Seni mengembangkan perasaan dan mengolah emosi. Permainan mengembangkan strategi berpikir dengan menguatkan segi kognitif melalui analisa, logika, dan perhitungan. Kegiatan ini dapat mengembangkan kecerdasan anak, sehingga kecerdasan berlapis dapat terwujud. Belajar adalah membentuk informasi menjadi pengetahuan, kemudian memahaminya, sehingga dapat memperoleh kebijaksanaan.

    1. Kemandirian

    Kemampuan ini membantu anak-anak menjadi lebih bertanggung jawab pada pilihan hidupnya. Kecenderungan orang dewasa adalah memberi hadiah agar anak mau melakukan tugas-tugasnya. Sebenarnya, hadiah membuat mereka kurang kreatif dan mandiri. Sebab hadiah membuat mereka memiliki harapan bahwa tugas yang diselesaikan dengan baik pasti akan mendapatkan imbalan. Hal ini membuat anak tidak dapat bebas mengekspresikan kreativitas dan keinginannya sendiri. Mereka terkekang oleh keinginan orang tuanya yang menginginkannya melakukan sesuatu. Sementara anak-anak yang melakukan tugas karena keinginannya sendiri, cenderung lebih bebas dalam mengambil keputusan dan mampu bertanggung jawab terhadap perbuatannya itu. Anak-anak yang mandiri lebih siap dalam menghadapi ketidakpastian dan tidak mudah terpengaruh pada situasi baru.

    1. Nalar kritis

    Anak-anak perlu dibantu untuk memahami bahwa informasi yang didapat penuh dengan dugaan-dugaan yang dapat keliru. Sebab, saat kita memahami informasi biasanya prasangka-prasangka akan muncul mengikuti pengetahuan, dan prasangka tersebut dapat mempengaruhi pertimbangan kita saat menerima suatu informasi. Saat kita memiliki pertimbangan dalam mengolah informasi yang diterima, tindakan ini disebut kontrol diri. Anak perlu diajarkan untuk menggunakan nalar kritisnya dalam menangkal hoaks. Ajak mereka mengolah informasi yang diterima dengan cara mencari tahu kebenaran suatu berita. Misalnya dengan mengevaluasi informasi melalui informan yang kredibel dan dapat dipercaya. Tindakan ini disebut dengan mengolah kembali setiap informasi yang diterima.

    1. Sikap menikmati hidup (carpe diem)

    Setiap manusia perlu menikmati hidup. Menikmati hidup dalam bahasa Latin dikenal dengan carpe diem, dan dalam bahasa Inggris dipahami sebagai “seize the day”. Anak-anak perlu diajak untuk menikmati hidup yang dijalaninya, termasuk situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Tindakan ini membantu mereka mempersiapkan masa depannya melalui pendidikan yang semakin penuh dengan tantangan.

    Komponen ini sangat dibutuhkan anak-anak untuk dapat bertahan hidup, terutama karena saat ini kita mulai memasuki budaya 3.0.

    Budaya Literasi

    Budaya 3.0 ditandai dengan munculnya beragam informasi yang mudah diakses. Di era ini generasi sebelumnya dituntut untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Mereka juga dituntut untuk mau mengikuti perubahan zaman, yakni mulai beradaptasi dengan penggunaan teknologi. Hal ini memunculkan slogan “belajar sepanjang masa”. Efek yang kemudian muncul adalah ada kemungkinan bahwa generasi muda akan mengajar generasi sebelumnya.

    Sistem pembelajaran yang baik berlangsung dalam dialog. Pengetahuan manusia didapat melalui informasi. Informasi yang ada saat ini kian beragam, dan semakin banyak cara untuk mendapatkannya. Hal yang tidak akan pernah lekang adalah membaca merupakan jalan untuk mengembangkan pemikiran. Kita semua tahu bahwa generasi sekarang menyukai audio-visual dalam mendapatkan pengetahuan dan informasi. Sistem ini lebih mudah dipahami karena orang akan dengan sangat mudah memahami sesuatu melalui gambaran yang dilihat dan didengarnya. Akan tetapi, membaca sangat penting untuk melatih otak dalam memahami urut-urutan (sequence) suatu peristiwa. Hal ini yang menyebabkan audio-visual ditengarai dapat membuat kemampuan analisis seseorang menurun. Sebab, pengetahuan via audio-visual mempersingkat proses untuk mendapatkan suatu pengetahuan.

    Membaca dapat membantu anak-anak mengembangkan imajinasi melalui pemahaman untuk merunutkan dan menghubungkan kata-kata menjadi suatu gambaran yang utuh. Mereka akan mudah memahami suatu ide dan menggambarkannya kembali dari proses membaca tersebut. Bahasa membantu pola pikir anak berkembang sejalan dengan imajinasinya. Analisis dan pemahaman tentang hubungan sebab akibat adalah landasan untuk berpikir logis. Imajinasi sangat dibutuhkan dalam membaca, untuk itu elemen linguistik perlu diajarkan sehingga dapat membantu mereka membentuk gambaran yang jelas pada kisah yang dibacanya. Kata-kata yang diungkapkan dengan jelas membantu otak dalam mengembangkan imajinasi. Kemampuan imajinasi yang terbentuk melalui kata-kata ini dapat dimiliki anak-anak dengan cara berlatih membaca sehingga dapat terbentuk pemahaman menyeluruh. Anak-anak yang belum dapat membaca dapat dibantu oleh orang tuanya melalui dongeng. Dalam dongeng, anak-anak berproses untuk merangkai kata-kata yang didengarnya sehingga dapat mengembangkan imajinasinya. Literasi berperan penting dalam mengembangkan Analisa dan nalar kritis.

    Peran Pendidikan di Era 3.0

    Saat ini kita menghadapi generasi Alpha yang sejak kecil sudah fasih dalam menggunakan teknologi. Berikut adalah karakteristik mereka:

    • Tertarik pada pengetahuan audio-visual dan kurang dalam merefleksikan sesuatu
    • Lebih suka pada hal yang instan dan fokus pada hasil bukan proses
    • Menyukai hal yang jelas dan ada di sekitarnya
    • Hidup dalam lingkarang teknologi digital
    • Kurang aktif dalam bersosialiasi tatap muka

    Mereka adalah generasi yang hidup dalam dunia yang beragam perkembangannya, wawasan ilmu pengetahuan yang majemuk, memiliki kekurangan yang unik (dikenal sebagai anak autis karena kurang bersosialisasi), memiliki kebebasan terutama dalam mengakses informasi dan pengetahuan yang berlimpah saat ini. Apakah sistem pendidikan sudah mendukung kemampuan ini?

    Sistem pendidikan saat ini membutuhkan pengetahuan sintesis, di mana dialog perlu dibangun untuk mengembangkan pengetahuan. Taksonomi Bloom versi ringkas dapat dipakai untuk membantu mengembangkan pendidikan, seperti:

    1. Kebebasan dalam bereksplorasi: saat peraturan sedikit dilonggarkan, anak-anak memiliki kebebasan dalam belajar. Pengetahuan mereka didapat melalui informasi yang mudah didapat sehingga pendampingan orang tua dan guru dibutuhkan dalam memahami informasi yang benar dan tepat untuk mereka.
    2. Pembelajaran yang metodis (methodical learning): anak-anak dapat mengaplikasikan metode yang didapat untuk kemudian menjelaskannya kembali dalam proses belajar.
    3. Belajar mandiri: anak-anak dapat belajar untuk mengaitkan informasi yang diterima kemudian memprosesnya bersama dengan orang tua dan guru sehingga dapat membuat pertimbangan apakah informasi tersebut dapat dipercaya dan dipakai dalam hidup sehari-hari.

    Memproses informasi yang logis dan berpikir analisis adalah kunci penting untuk memperoleh pengetahuan. Untuk itu anak-anak dapat diajarkan untuk menerima, mencari kebenarannya, kemudian membuat kategorinya. Budaya 3.0 memiliki tantangannya tersendiri, terutama dalam pendidikan. Informasi yang berlimpah menyebabkan ilmu pengetahuan mudah didapat di mana saja dan kapan saja. Anak-anak perlu dilatih untuk menyeleksi dan memproses informasi yang diterimanya. Ajarkan mereka mengembangkan kemampuan dalam mempertimbangkan dan memilih akses informasi yang tepat untuk mendapatkan pengetahuan. Hal ini dapat dilakukan melalui diskusi sehingga nalar kritisnya ikut berkembang dengan baik. Sistem pendidikan perlu melalukan reformasi. Hal ini dapat dimulai dengan menghapuskan ranking yang mengkategorisasikan prestasi, menghapus pembagian subjek pelajaran, memberikan anak kebebasan dalam mengeksplorasi dirinya. Dialog terbuka dibutuhkan anak-anak untuk memahami pengetahuan yang kompleks. Mereka dapat diajak untuk mengembangkan proyek-proyek ilmiah dan mencari solusinya. Dunia post-literasi yang sedang dihadapi mereka membutuhkan sistem yang bebas dari pengelompokkan subjek pengetahuan yang kaku. Sistem pendidikan harus dapat fleksibel dalam mengikuti perubahan zaman di era informasi-komunikasi agar tetap dapat bertahan.

    Apa yang bisa para guru dan orang tua lakukan bagi perkembangan anak-anak mereka? Mengingat saat ini kita semua hidup di dalam masyarakat yang sangat beragam (diverse), tentunya nilai-nilai yang dianut pun akan semakin majemuk. Kita dapat mengajak anak untuk menjadi orang yang tangguh dan berani. Anak-anak perlu diajarkan untuk dapat menerima kegagalan sebagai bagian dari proses menjadi orang yang lebih baik. Kemudian ajak mereka untuk bangkit kembali dalam memperbaiki kesalahannya. Kita perlu membuat anak-anak untuk bangkit dan berjuang kembali saat mengalami kegagalan dengan cara menanamkan rasa percaya diri bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat, tangguh, dan pemberani.

    Penutup

    Hidup yang penuh integritas dan stabil didapat dengan jalan menyeimbangkan kehidupan bersama alam, dengan diri sendiri, keluarga, komunitas, masyarakat, ekosistem, dan lingkungan sekitar (ecosphere). Kita hidup dalam dunia yang penuh pergolakan dan selalu berubah, untuk itu kita perlu menyeimbangkan hidup dan berbagi kepada sesama. Komponen-komponen abad 21 ini merupakan bekal yang dibutuhkan anak-anak dalam mengupayakan keseimbangan untuk menerima hal-hal yang tidak terduga. Anak-anak yang sudah dipersiapkan untuk bertanggung jawab terhadap pilihan hidupnya sendiri telah mendapatkan kesempatan untuk bebas menjadi diri sendiri. Kita, sebagai orang dewasa, perlu membangun lingkungan yang mendukung mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan pekerja keras, sehingga dapat bertahan hidup. Mereka akan menjadi generasi tangguh yang siap menghadapi ketidakpastian sebagai tantangan hidup. Ketidakpastian dapat dihadapi dengan cara bekerja sama dalam membangun keseimbangan pada lingkungan sekitar dan menciptakan mental pejuang pada anak-anak. Guru dan orang tua perlu mengembangkan karakter semangat juang pada anak-anak. Karakter yang menjadikan mereka kuat dan berani dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Anak-anak yang memiliki karakter yang seimbang mental dan pikirannya, akan mampu menerima keragaman, mereka akan menjadi pribadi yang kuat dan siap menghadapi ketidakpastian hidup.

    **********************************************************************

  • Pers yang Mendidik ( “In Memoriam”  P. Alex Beding, SVD)

     

    Oleh  Robert  Bala*

    “MEMBACA adalah ibarat membuka jendela dunia. Sayangnya, meski ada kegemaran membaca pada rakyat NTT, mereka tidak memiliki bahan bacaan,” demikian ungkap P. Alex Beding, SVD. Ia juga melanjutkan, ”Jika tak ada jaringan komunikasi lewat pers, masyarakat kita akan ketinggalan informasi. Harus ada surat kabar yang bisa dibaca.” (Kompas, 24 Juni 2013).

    Ungkapan ini tentu tidak saja lahir dari praksis hidup putera Lamalera, kelahiran 13 Januari 1924 yang adalah seorang pendidik (1959 – 1970) saat bekerja sebagai pembina di Seminari Menengah Mataloko dan saat bekerja langsung di dunia pers (1970 – 1984).

    Lebih jauh, ungkapan keprihatinan seseorang yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan yang menyiapkan daya analisis siswa untuk lebih kreatif dalam proses pendidikan. Selanjutnya, ia mengimplisitkan harapan agar dunia pers sungguh hadir memberikan informasi yang mendidik karena itulah tugas yang penting untuk diemban.

    Bukan Berita

    Perhatian media pada masalah pendidikan, terkadang dipahami sekedar memasukan berita apa pun yang terjadi di dunia pendidikan, demikian tulis Donaciano Bartolome, dalam Periodismo Educativo, 2005.

    Pemahaman demikian kerap mendatangkan kegamangan. Media hanya memuat berita ‘menarik’ tentang kegiatan yang dilaksanakan di sekolah. Itu pun kerap berita ditampilkan karena aneka kepentingan.

    Yang lebih mencemaskan, ketika aneka berita yang ditampilkan adalah kasus yang terjadi di lingkungan sekolah. Media merasa hal itu penting untuk diekspose karena unik dan dapat menjadi booming.Kasus yang melanda guru, siswa, hingga fasilitas sekolah dianggap penting untuk diberitakan bukan karena penting tetapi karena unik tanpa ada pertimbangan tentang kadar substansi yang dimiliki dan pengaruhnya pada masyarakat.

    Sayangnya, tanpa disadari, berita yang nota bene minim itu dapat menciptakan kesan tentang situasi ‘chaos’ dalam pendidikan. Bisa saja realitas yang ditampilkan itu faktual adanya. Tetapi tanpa disadari, model pemberitaannya bukannya memperbaiki tetapi malah menambah runyam permasalahan dan mengapa tidak dapat berpengaruh ke lingkup yang lebih luas.

    Model pemberitaan yang terlalu menekankan ‘bad news as good news’ itu sendiri mengandung ironi pada media. Pemberitaan tentang hal negatif tentang seseorang seakan begitu penting padahal pembaca sendiri barangkali tidak mengenalnya ketika masih hidup. Di sini benar ketika G.K. Chesterton menulis: “Journalisme largely consists in saying “Lord Jonses is dead” to people who never knew Lord Jons was alive.

    Kenyataan inilah yang mendorong Bartolome untuk menempatkan nilai pers secara lebih luas. Ia mestinya tidak saja mencakup berita tetapi melingkupi hampir semua genre pers seperti: kronik, opini, repostase, maupun wawancara.

    Melalui opini segar dengan pembahasan yang lugas tetapi ringan dan enak dibaca, pembaca diarahkan untuk memahami realitas pendidikan lebih jauh. Ia diajak untuk mencermati fenomen yang terjadi dan menentukan substansi dari sebuah permasalahan.

    Demikian juga repostase berbobot yang menarik makna di balik peristiwa pendidikan yang nota bene menyentuh nurani kemanusiaan, menjadi sebuah berita. Kriteria yang mendasari tentu bukan sekedar ‘berita biasa’, tetapi sejauh mana ia memberi makna untuk membangun kemanusiaan yang lebih baik.

     Membuat Berita

    Realitas timpang dalam dunia pers mestinya menjadi tantangan bagaimana mengembangkan pendidikan sehingga sanggup menjadikan siswa sebagai pencipta informasi bermanfaat dan bukan sekedar konsumen pasif.

    Keprihatinan ini telah menjadi pusat perhatian pedagog asal Brazil, Paolo Freire, dalam Pedagogia del Oprresso, 1970. Baginya, pendidikan telah salah kaprah karena memandang prosesnya bak sebuah bank, tempat dimana pengetahuan siswa disimpan atau ditabung ‘sebanyak-banyak’. Anak pun dijejali aneka pengetahuan, tetapi nyaris diberi kesempatan untuk berpikir secara ilmiah dalam lingkup ilmu pengetahuan.

    Bisa dibayangkan kegalauan anak. Mereka yang sudah ‘dipaksakan’ hanya merekam informasi di sekolah kemudian diperparah oleh aneka berita tak mendidik yang diperoleh di masyarakat dan media massa. Sudah pasti sebuah kebingungan besar akan terjadi dengan rangkaian akibat yang tentu akan semakin panjang kalau diurai.

    Kenyataan inilah yang perlu mendorong lingkup sekolah untuk mengembangkan sebuah pembelajaran yang lebih terbuka denagn menjadikan realitas kontekstual sebagai sumber ajar. Artinya semua kejadian tidak saja ditampilkan tetapi diolah sebagai sebuah teks besar (hyper text)yang bisa dikonsumsi sebagai media pembelajaran. Sumber ajar dalam konteks ini tentu saja lebih kaya dan bermakna ketimbang sekedar mengambil secara utuh dari buku teks.

    George P. Landow menulis secara lengkap hal ini dalam Hypertex: the Convergence of Contemporary Critical Theory and Technology, 1992). Baginya, pembelajaran akan menjadi aktif dan kreatif akan muncul ketika sumber ajar yang didapatkan lebih kontekstual dan mengena realitas anak.

    Dalam konteks pendidikan, iklim hypertext seperti ini meskipun penting, tetapi ia hanya sekedar batu loncatan. Ia hanyalah lingkup pasif-kondusif. Di baliknya tersimpan nuansa yang memberanikan siswa untuk lebih mengungkapkan diri lewat kualitas aktif seperti dengan menulis dan berbicara.

    Dua elemen kreatif dimaksud, merupakan media bagi siswa untuk membuat berita yang bersumber dari dirinya. Ia tidak lagi menjadi konsumen pasif yang menikmati atau bahkan menjadi korban dari aneka berita tetapi sanggup membuat berita sendiri.

    Peluang ini menjadi sangat besar di era digital seperti sekarang ini. Para siswa dapat mengungkapkan aneka pikiran yang bermanfaat melalui media sosial. Tentu diharapkan, dengan bantuan metode pendidikan yang baik, mereka tidak saja ‘berkicau’ dalam ungkapan-ungkapan lisan tak berbobot tetapi lebih dari itu menjadikan sesuatu yang lebih bermakna lewat pembicaraan dan terutama tulisan yang bermanfaat.

     Jadi Identitas

    Bagaimana mengejawantahkan pers mendidik dalam konteks aktual berinspirasi pada kesaksian hidup tokoh pers Alex Beding?

    Pertama, merujuk pada tendensi pers yang tidak mendidik, kita bisa mengecualikan Nusa Indah sebagai penerbit yang tampil beda. Ia itdak hanya menyampaikan berita, tetapi pada pesan yang sungguh bemranfaat. Apalagi didasari keyakinan bahwa yang disamapikan itu adalah Sabda yang menghidupkan, hal mana melekat pada spiritualitas ‘verbita’ yang dimiliki SVD.  P. Alex Beding, SVD menekankan hal itu secara nyata melalui moto  ‘in verbo tuo’, disampaikan dalam Sabda-Nya.

    Penerjemahan karya berbobot merupakan jawaban yang sangat tepat. Jelasnya, yang disampaikan adalah karya terpilih yang secara internasional teruji. Masyarakat terpencil di Flores pun disajikan karya-karya berkualitas.

    Secara pribadi, semenjak SD, saya sangat terkesan dan akhirnya membiasakan diri membaca cerita bersambung di DIAN tentang “Tenggelamnya Kapal Bismarck”. Ruang cakrawala kita ‘dibiasakan’ untuk memikirkan sesuatu yang besar dan ikut merasakan operasi sekelas Rhein übung.

    Kedua, menghadirkan berita berbobot demi mengatasi sekedar ‘berita’ butuh proses aktualisasi pesan agar lebih mengena. Mengapa? Sebuah teks klasik bisa saja ditulis  ‘in illo tempore’ alias pada waktu itu dengan konteks berbeda. Karena itu butuh proses hermeneutisasi yang memberinya konteks kekinian pada bacaan yang nota bene disusun jauh sebelumnya.

    Proses inilah yang telah dilaksanakan melalui media massa seperti Dian, Kunang-Kunang, dan Flores Pos kini. Penerbitan sebagai ‘induk’ diaktualisir melalui media yang bisa dinikmati lebih ringan oleh pembaca.

    Tetapi kita juga sadar bahwa proses yang bisa diramu secara tepat pada masanya P. Alex Beding, SVD, kurang diaktulisir lagi. Tak heran, media yang sudah ada nyaris bisa bergulat dengan perubahan yang terjadi. Akibatnya sudah pasti. Media seperti Dian dan Kunang-Kunang kini sudah ‘mangkat’ karena tidak diadakan pembaharuan pada waktu yang tepat.

    Ketiga, jiwa pers yang melekat pada P. Alex Beding, SVD dan rasa haus pembaca NTT untuk mendapatkan bahan bacaan berbobot mestinya menjadi sebuah jalan masuk untuk meluaskan pendidikan jurnalisme sejak bangku sekolah.

    Harus diakui, di daerah keras, kering, dan garang seperti NTT, telah menanamkan jiwa sastra dalam diri leluhur untuk selalu merangkum pesan lewat aneka pantun dan syair. hal itu pula telah menginspirasi lahirnya penulis hebat asal NTT yang sangat disegani di dunia nasional bahkan internasional.

    Sayangnya peluang ini belum dilihat sebagai sebuah produk unggulan yang menjadikan orang NTT beda dari orang lain. Karenanya, ketika kemampuan ‘alamiah’ ini dikondisikan melalui pelatihan jurnalisme malah pendidikan jurnalisme yang masuk dalam kurikulum maka semangat itu akan sekaligus menjadi sebuah identitas bagi pendidikan NTT.

    Kita lalu bisa berandai, hadiah paling penting bagi P. Alex Bading, SVD bukannya sanjungannya sebagai pribadi tetapi bagaimana pikiran dan keteladananya dapat diteruskan melalui pers mendidik yang lahir dari putera-puteri terdidik dan kelak akan mendidik masyarakat lewat informasi yang lebih mendidik.

    Dalam konteks ini kita paham, pers mendidik di tengah realitas yang tidak mendidik hanya bisa dibangun sekarang lewat penidikan yang menunjang kreativitas. Hanya dengan demikian identitas diri ini dapat dikembangkan secara lebih positif.

    —————————————————————————-

    *Robert Bala, Alumnus pada Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol,  Kolumnis  pada Harian Kompas

    *Sumber Tulisan dari Buku Yang Terpanggil yang Melayani – 70 thn P. Alex Beding, SVD, Nusa Indah, 2014

     

     

  • GRIPE di Lamalera – Sebuah Kisah yang Menyimpan Sejuta Kenangan

    GRIPE di Lamalera – Sebuah Kisah yang Menyimpan Sejuta Kenangan

     

    Oleh P. Alex Beding, SVD

     

    KALAU orang bicara tentang sebuah jembatan, kita selalu membayangkan adanya sebuah lembah atau jurang atau kali. Untuk melewati tempat itu orang harus mendirikan jembatan.

    LAMALERA, kampung nelayan yang terletak di pantai Selatan Lembata menghadap Laut Sawu mempunyai situasi tersendiri sebagai berikut. Di masa lampau Lamalera merupakan suatu kampung besar tapi terbagi atas dua kampung: yang satu letaknya lebih tinggi, namanya Teti Lefo (kampung di atas) dan yang lain lebih rendah, namanya Lali Fatan (kampung di bawah). Fatan artinya pantai, dan di desa Lali Fatan terletak pelabuhan dan tempat perahu-perahu. Sejak 1990 Lamalera telah menjadi dua desa otonom, yakni Desa Lamalera Atas alias Lamalera A dan Lamalera Bawah alias Lamalera B, masing-masing dengan kepala desa sendiri-sendiri.

    Di antara dua desa ini terletak sebuah bukit. Di atas bukit itu terletak Sebagian dari desa Lamalera Atas. Bukit itu disebut Fung.

    Untuk lalu lintas antara desa Lamalera A dan desa Lamalera B orang harus melewati Fung disuatu tempat yang dikenal dengan nama Gripe. Disitu tidak ada jalan, hanya ada tebing batu yang tegak dan tinggi. Ratusan tahun lalu, sejak orang Lamalera datang dan berdiam di tempat ini, Gripe itu mesti dilewati, entah dengan cara yang  tidak diketahui. Namun akhirnya terdapat disitu sebuah ‘jalan’ umum. Tapi bagaimana rupa jalan itu bisa dibayangkan kalua kita membaca catatan di bawah ini.

    Pada bulan Juni tahun 1886, dua imam Yesuit yaitu P. C. ten Brink SY dan P. Yoh de Vries SY singgah di Lamalera dan mempermandikan 125 anak-anak Lamalera menjadi Katolik, dan dengan demikian Gereja Katolik berdiri di Lembata. Mula-mula upacara itu diadakan di Lamalera B, lalu pada hari berikutnya mereka mengadakan upacara yang sama di Lamalera A. Nah berikut ini P. C. ten Brink SY menuturkan sedikit mengenai usaha keduanya untuk sampai ke kampung Lamalera A.

    “Untuk pergi ke Lamalera A (Lamalera atas) kami harus pergi ke atas mengikuti satu jalan menyusur tebing wadas, lewat batu-batu besar. Jalannya mengerikan! Orang Lamalera menamakan tempat itu Gripe. Sungguh suatu kesenian tersendiri kalua orang berlangkah naik dengan aman dari batu ke batu. Jangan coba bersandar pada tebing, karena tumbuhan kaktus berduri tajam mengancam. Jangan salah langkah, karena di sebelah kiri terdapat jurang. Kaki dan tangan harus diletakkan tepat pada batu-batu yang sudah menjadi licin sebagai tempat bertumpuh. Dengan susah payah kami seolah-olah merayap sampai di atas. Tapi itu rasanya tidak cukup. Kami mendengar orang-orang di belakang kami tertawa terbahak-bahak melihat gerak-gerik kami yang lucu, sementara orang-orang kampung sendiri seenaknya dengan lincah naik-turun di atas batu-batu itu. Mereka bisa naik-turun sambil memikul atau menjunjung beban yang berat seolah-olah itu jalan yang paling gampang di dunia. P. de Vries merasa bahwa lebih baik dia berjalan tanpa sepatu dan kaos mengikuti cara orang Lamalera berjalan di situ. Tapi batu tajam dan tumbuhan berduri yang runcing segera menyadarkannya bahwa dia tidak memiliki sepatu ‘alamiah’ seperti kaki orang Lamalera. Jadi dia mengenakan kembali sepatunya dan berusaha sedapat mungkin untuk sampai di atas.”

    Saya bertanya-tanya mengapa P. Bode SVD, pastor SVD pertama dan tetap, yang datang ke Lamalera sesudah pastor-pastor Yesuit, tidak mencatat apa-apa tentang Gripe. Waktu itu tangga sudah dikerjakan. Dia hanya menyinggung tentang jalan sempit di Gereja itu Ketika dipikirkan untuk membuat suatu jalan alternatif di belakang pastoran ke arah timur lewat Fung dan seterusnya. Tapi gagasan itu terlalu sulit dan akhirnya di tinggalkan.

    Mengenai waktu tangga Gereja dibangun saya mendapat informasi dari Bpk. Ignatius Getan, yang mengatakan bahwa tangga itu dibangun pada tahun 1918.

    Atas permintaan saya P. Jan van Asten – yang waktu itu sudah kembali ke Eropa – menulis beberapa catatan mengenai sejarah Gereja di Lembata. Dia menambahkan juga satu catatan singkat mengenai Gereja di Lamalera sebagai berikut:

    “Di jalan menuju kampung atas sekarang ada sebuah tangga dengan anak-anak tangga cyclopise. Adapun cerita tentang tangga (Gripe) itu adalah sebagai berikut. Pada hari Residen dari Kupang datang ke Lamalera untuk meninjau kampung dan melihat peledang-peledang. Dia ingin sampai ke kampung atas untuk bertemu dengan raja, tapi dia harus melalui sebuah jalan sempit yang hanyalah sebuah takuk pada tebing. Baru saja dia meletakkan kakinya pada takuk itu, ia balik mukanya dan berkata kepada orang yang ada di belakangnya: “Saya bukan kambing!” lalu dia ennggan naik di tebing itu. Beberapa minggu setelah dia Kembali, dia mengirim semen yang dulu diisi dalam tong kayu, lalu orang membangun sebuah tangga semen. Meskipun anak-anak tangga yang berjumlah 15 buah terlalu tinggi, namun kuda-kuda para pastor bisa naik turun di situ. Pernah dibuat sebuah film untuk menunjukkan bagaimana seorang pastor di atas punggung kuda naik dan turun pada tangga itu. Saya sendiri sering dengan rasa segan naik tangga itu sambil menunggang kuda. Tapi sementara saya memperhitungkan segala sesuatu, kaki kuda saya sudah berada di anak tangga itu dan tidak mungkin lagi saya turun dari kuda. Dan saya sampai di atas dengan selamat tapi merasa ngeri juga! Kuda P. Thoolen dan P. Notermans sudah tahu seninya turun naik di Gripe itu.”

    Tangga Gripe adalah satu berkat bagi masyarakat, suatu keunikan di Lamalera. Tibalah saatnya pada satu hari di tengah tahun 2000, orang membongkar Gripe yang masyhur itu, karena nampaknya Gripe akan tetap menghalangi perkembangan lalu lintas di zaman yang semakin maju. Sementara itu kendaraan beroda dua dan roda empat pun mulai memasuki Lamalera, tapi belum bisa sampai ke Lamalera atas. Jadi tangga semen itu sekarang tidak ada lagi, entah dibingkar entah ditutup, dan telah dibangun sebuah jalan yang bisa dilewati oleh kendaraan bermotor. Sebuah jalan yang dengan semen, dan dianggap cukup mantap untuk lalu lintas yang semakin lancer antara desa Lamalera A dan desa Lamalera B.

    Bagaimanapun juga kenangan manis akan Gripe yang doeloe itu rupanya belum lenyap, karena toh ada nilai uniknya. Berdiri di atas Gripe seolah-olah berdiri di serambi gedung beberapa tingkat, dan orang menikmati panorama yang memesona di sebelah kiri hamparan perumahan penduduk Lamalera B, di samping deretan bangsal-bangsal tempat penyimpan peledang-peledang, di sebalah kanan laut nan jernih transparan berhiaskan ombak putih-putih berkilat laksana kristal yang tak henti-hentinya membelai pantai dengan hidangan rupawan bervariasi. Laut di depan Lamalera adalah mare nostrum alias lefa kame bagaikan kolam raksasa untuk ikan-ikan raksasa. Tapi Gripe bisa jadi tempat untuk aneka perjumpaan. Bayangkan kalau Anda datang dari Lamalera B ( Lamalera bawah) dan sesampai di atas muncullah si ‘kekasih’. Jadilah tempat perjumpaan para kekasih. Tuhan betapa agung karya tangan-Mu!.

     

    Gripe 

    Jadi Gripe yang berupa tangga sempit kira-kira 50 cm lebarnya itu puluhan tahun telah berjasa sebagai jembatan satu-satunya yang menghubungkan Lamalera atas dan Lamalera bawah. Tak terbilang kaki manusia lewat di tangga itu: dari segala umur, untuk segala macam urusan; anak-anak sekolah; pelaut-pelaut yang tiap hari turun naik untuk pergi ‘lefa’; ibu-ibu dan gadis-gadis yang pergi pulang ‘penetang’ dan kalau ada hasil tangkapan di laut, di Gripe itu Anda boleh saksikan orang memikul atau menjunjung potongan-potongan daging ikan yang berat itu sambil naik anak tangga demi anak tangga dengan napas terenga-enga tapi dalam semangat gembira karena Tuhan telah memberikan berkat-Nya; lewat Gripe itulah jalan pergi dan pulang bagi umat beriman ke dan dari ibadat di Gereja. Lewat jalan Gripe itu perarakan panjang Corpus Cristi (Sakramen Mahakudus) dan Jumad Agung. Pater Bode dan para penggantinya secara konsisten mengadakan prosesi-prosesi itu dengan obor-obor bernyala, sebagai tradisi Kristiani dan meski dilagsungkan pada malam hari dan melewati tangga yang sempit di Gripe itu, tidak pernah terjadi suatu kecelakaan. Dan lewat Gripe yang sempit itu pula jalan terakhir bagi yang meninggal di Lamalera bawah. Dengan hormat dan hati-hati para pengusung membawa peti jenasah melalui tangga sempit itu menuju Gereja dan akhirnya ke pemakaman.

    Sudah hampir 100 tahun umur tangga Gripe itu dan tidak pernah mengalami kerusakan meski pernah bongkah batu tebing jatu di atasnya. Pada 1930, ketika Gereja kedua di Lamalera dibangun, konstruksi atap perlu ditunjang oleh 14 tiang kayu. Kayu tiang-tiang itu diambil daru gunung dekat Puor. Kakang Johanes Muran memerintahkan supaya batang-batang pohon itu ditarik ke Lamalera lalu dikerjakan menjadi tiang-tiang. Batang-batang pohon yang gemuk-gemuk itu ditarik oleh tenaga manusia sampai ke Lamalera B, lantas diseret di atas anak tangga Gripe tanpa merusakkan jembatan kesayangan orang Lamalera itu, sampai di muka Gereja. Di situ tangan-tangan terampil tukang-tukang Lamalera mengikis, memoles, dan mengubahnya menjadi pilar-pilar bundar megah dan molek. Kemudian tukang-tukang mahir itu mampu mengangkat pilar-pilar yang 6 sampai 7 meter tingginya berdiameter 32 cm dan mendirikannya di atas kaki dari beton yang lebih kurang 1 meter tingginya. Satu prestasi yang patut dibanggakan.

    Seribu kali sayang, bahwa Ketika Gereja kedua dibongkar banyak obyek kebanggaan dari gedung itu ikut dibongkar dan hilang, termasuk pilar-pilar indah itu. Mau tahu mengapa Gripe tetap jaya dan tahan banting ketika batang-batang pohon yang keras itu berguling di atas anak-anak tangganya? Semen yang dikirim atas perintah Residen di Kupang telah dicampur dengan pasir dari Pantai Lamalera, itulah rahasianya mengapa Gripe bertahan begitu lama. Tukang-tukang Lamalera dari generasi awal abad ke-20 telah mewariskan Gripe itu untuk kita anak-anak, cucu-cucu mereka.

    Petanyaan terakhir ap arti Gripe? Apa arti sebuah nama? Pentingkah mengetahui arti tempat itu? Saya tidak tahu dan tidak bersedia membuat terka-terkaan. Tetapi Gripe tetap menawan. Meski sekarang terkubur di bawah lapisan semen, Gripe hendaknya tak layak dilupakan. Dan Gripe tetaplah sebuah nama untuk mengabadikan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan bagi dua desa yang bernama satu LAMALERA.

    ——————————————————————————–

     

     

     

     

     

     

  • Menemani Remaja dalam Proses Belajar Mengajar

    Oleh: Dr. Cicilia Damayanti, M. Pd., Pengajar Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta

     

    Pendahuluan

    Sejak dua tahun terakkhir, dunia dan juga Indonesia masih mengalami pandemi Covid-19. Keadaan ini banyak mengubah hidup manusia dalam segala hal. Terutama yang berkaitan dengan kesehatan, ekonomi, sosial politik, teknologi dan juga pendidikan terutama bagi remaja sebagai generasi muda. Oleh karena pandemi pula, pada saat ini aspek teknologi informasi seperti penggunaan gawai elektronik yakni telepon seluler hingga laptop, sangat dominan dalam proses belajar mengajar. Baik guru, orang tua dan murid dituntut harus memiliki keterampilan tersendiri di dalam penggunaan gawai elektronik. Akan tetapi dalam prosesnya seringkali ada kendala atau tantangan tersendiri yang bukan saja menyangkut aspek teknologi informasi, misalnya komunikasi, dan juga sosial ekonomi. Bagaimana situasi pandemi ini mengubah pola pembelajaran mereka? Apa yang bisa orang tua lakukan untuk mendampingi para remaja ini? Bagaimana sekolah dapat menjadi perantara yang baik bagi para remaja dan orang tuanya untuk mendapatkan pendidikan yang baik?

     

    Permasalahan yang Terjadi

    Sebelum pandemi, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilakukan secara tatap muka. Komunikasi terjalin dengan baik, dalam arti tatap muka membantu proses belajar mengajar dan penyelesaian masalah secara langsung. Para remaja sebagai peserta didik pergi ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan, bertemu dan berinteraksi dengan para guru serta teman-temannya.

    Pandemi membuat banyak kegiatan harus dilakukan dari rumah, salah satunya KBM. Pandemi mengubah pola ini dan membuat proses KBM dibantu teknologi: gawai (komputer dan ponsel) dan internet. Di awal pandemi sistem ini membuat proses pendidikan berjalan sangat lambat. Sebab permasalahan yang sering dihadapi dalam konteks teknologi, gawai yang dimiliki tidak memadai untuk dipakai belajar, serta jaringan internet yang tidak stabil. Selain itu, penggunaan gawai juga masih tidak maksimal, dalam arti kecanggihan sebuah benda tidaklah dapat dikuasai sepenuhnya. Dalam konteks ekonomi, gawai dan internet juga masih relatif mahal buat sebagian orang tua dan murid. Membeli dan mengakses teknologi masih menjadi hal yang tidak mudah untuk dijangkau banyak orang. Dalam konteks psikologi, ada ketergantungan terhadap gawai sejak usia dini karena ketidaktahuan atau rasa abai orang tua untuk menyerahkan kontrol terhadap anaknya. Survei yang dilakukan pada tahun 2021 oleh Sell Cell, sebuah situs perbandingan harga ponsel menemukan bahwa anak-anak mulai menggunakan ponsel pada usia muda. Setidaknya 47 persen anak-anak mulai menggunakan ponsel di bawah 6 tahun dan 12 persen berusia antara satu dan dua tahun. Hasil survei tersebut memperkuat temuan dalam sebuah riset di Indonesia yang dilakukan tahun 2020 bahwa 19,3% remaja dan 14,4% dewasa muda kecanduan internet.

    Rancangan KBM yang semula merupakan kegiatan tatap muka (luring) harus segera diubah menjadi kegiatan yang menggunakan internet (daring). Baik pihak peserta didik remaja, guru dan orang tua sebenarnya belum siap menghadapi pola pendidikan seperti ini. Hal ini terjadi karena percepatan penggunaan teknologi informasi yang idealnya dilakukan di masa depan, namun karena pandemi dipercepat sedemikian rupa. Sebab adanya kedaruratan dalam proses pendidikan. Guru harus segera mengubah rancangan KBM menjadi pendidikan berbasis daring. Peserta didik harus segera beradaptasi dengan belajar menggunakan gawai. Para orang tua tiba-tiba mendapat pekerjaan tambahan dengan menjadi guru bagi anak-anaknya ini.

    Keadaan darurat dan mendesak ini memaksa setiap orang yang berada di lingkungan pendidikan harus bisa beradaptasi terhadap sistem pendidikan yang baru. Mereka diharapkan “melek” teknologi. Menguasai teknologi di sini bukan hanya mampu mengoperasikannya tetapi sekaligus juga memanfaatkannya dengan baik. Gawai yang semula menjadi mesin untuk berkomunikasi dan bermain, kemudian ditambah menjadi alat untuk mencari dan mendapatkan informasi. Hal ini memicu mereka meningkatkan kemampuan bekerja bersama teknologi.

    Peristiwa ini berdampak positif dan negatif. Positif karena sekarang gawai menjadi alat serbaguna yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi dan bekerja atau belajar. Negatif karena informasi yang tersebar semakin banyak, dan menuntut kita semua untuk kritis dalam menyaring informasi yang mengandung kebenaran serta berguna bagi hidup. Permasalahan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa mengoperasikan gawai ini untuk bekerja. Sebab tidak semua dari kita “melek” untuk belajar dengan gawai. Di samping sinyal yang kuat sangat dibutuhkan untuk memperlancar proses KBM ini.

     

    Pelatihan untuk Mendukung KBM “New Normal”

    Hal pertama yang dapat dilakukan untuk membuat proses KBM di era “new normal” ini dapat berhasil dengan baik adalah memperkuat proses komunikasi, baik di antara guru dan peserta didik, guru dan orang tua, juga antara peserta didik dan orang tua. Guru, peserta didik, dan orang tua adalah lingkaran terpenting dalam KBM ini. Sebab mereka adalah bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Komunikasi yang terjalin selama masa pandemi ini memang terkesan menyulitkan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses teknologi yang memadai. Apalagi saat ini komunikasi yang terjalin diharuskan secara daring. Bagaimana menyiasati hal ini?

    Orang tua perlu lebih aktif dalam mendampingi anak-anaknya dalam belajar. Di samping itu mereka juga harus aktif dalam menjalin komunikasi dengan para guru di sekolah. Komunikasi ini bisa dilakukan via telpon atau email. Pendampingan orang tua sangat dibutuhkan, mengingat pola belajar via daring menyebabkan anak-anak senantiasa aktif menggunakan internet. Guru tidak bisa siap siaga seperti saat belajar luring, sehingga peran orang tua penting untuk membantu guru agar proses KBM berjalan dengan baik.

    Kedua, para remaja ini sedang berada dalam masa peralihan yang akan menentukan karakter mereka. Orang tua dan guru perlu memberi mereka kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukannya. Beri mereka kepercayaan untuk melakukan apa yang menjadi minatnya. Setiap anak adalah unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang bagus pada kemampuan motorik, sensorik, atau kognitif. Orang tua dan guru perlu mengenali kemampuan ini pada diri remaja, untuk kemudian bekerja sama mengembangkannya.

    Pola pendidikan demokrasi sangat dibutuhkan di sini. Para remaja ini perlu didengar apa yang menjadi kebutuhannya. Beri mereka kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya. Hal ini membantu mereka untuk berani bersuara juga untuk bekerja sesuai minatnya. Orang tua dan guru perlu hadir untuk mendampingi agar mereka tidak salah langkah. Sehingga komunikasi sangat dibutuhkan di sini. Usia mereka adalah usia yang sedang dalam proses mencari jati diri. Kehadiran orang tua dan guru dibutuhkan untuk mereka bisa memiliki sudut pandang dan panutan dari orang dewasa yang pernah berada di posisi mereka.

    Mengikuti teladan Socrates, belajar akan menjadi lebih menyenangkan bila dilakukan dengan dialog. Dialog yang dilakukan membuat para remaja ini merasa bahwa suara mereka didengarkan. Orang tua dan guru pun dapat menyampaikan pendapat mereka dengan lebih baik melalui dialog yang terjalin searah. Untuk itu pendidikan demokrasi menyebabkan setiap orang diperlakukan setara. Sehingga mereka merasa nyaman sebab diterima oleh orang-orang yang terdekat dengannya. Hal yang terpenting di sini adalah bahwa proses ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga sistem pendidikan dapat berjalan dengan lancar dan berhasil dengan baik.

     

    Pola Pendidikan VUCA vs VUCA

    Saat ini dunia mengalami masa penuh ketidakpastian, terutama efek pandemi. Dalam bidang ekonomi dikenal istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), yakni dunia yang penuh dengan pergolakan, ketidakpastian, kerumitan, dan kebimbangan. Perubahan berjalan sangat cepat dan sering tidak terduga. Situasi ini pada akhirnya merambah sampai ke dunia pendidikan.

    Pendidikan yang dihadapi para remaja ini penuh dengan perubahan yang cepat dan massif, terutama karena efek pandemi. Saat ini mereka sedang memasuki era teknologi, agar tidak ketinggalan zaman, apa yang bisa para orang tua lakukan untuk mendampingi mereka? Era VUCA dapat dilawan kembali dengan VUCA (Vision, Understanding, Clarity, Agility). Menjadi orang tua di era digital membutuhkan kesigapan dalam menghadapi perubahan yang cepat ini. Mereka dapat melawan gejolak perubahan zaman yang cepat dengan membuat visi yang jelas dengan anak-anak, terutama tentang masa depan yang ingin dicapai. Ketidakpastian dapat dilawan dengan pemahaman. Ajak anak-anak memahami perubahan ini dengan membantunya melewati masa-masa yang tidak jelas ini. Kerumitan dapat dilawan dengan kejelasan. Anak-anak perlu diajak berdialog untuk melihat kekacauan yang terjadi saat ini. Kemudian kita dapat melawan kebimbangan dengan keluwesan. Saat kita bisa fleksibel, anak-anak akan dapat nyaman berbagi dengan kita. Posisikan diri kita sebagai mitra yang setara sehingga dialog dapat tercipta dengan baik.

    Kenali anak-anak anda, pahami keinginannya, jadilah pendengar yang baik melalui sudut pandang mereka. Dialog yang intens membantu kita memahami dunia mereka, dan mereka juga dapat belajar dari pengalaman yang pernah kita alami. Saat kita memposisikan diri kita sebagai mitra yang setara, mereka akan lebih mudah terbuka dalam membicarakan masalah yang sedang dihadapinya. Sebab saat ini, kita sebagai orang dewasa dituntut untuk lebih adaptif dalam menerima perubahan.

     

    Apa yang Harus Dilakukan?

    Sebagai orang tua tentunya harus juga mampu menyesuaikan diri terhadap partisipasi dalam proses pendidikan anak. Meski pun tanggung jawab orang tua menjadi semakin besar karena harus memantau perkembangan anak dalam situasi belajar daring, hal tersebut haruslah tetap dilakukan sebagaimana dalam proses belajar sebelum pandemi. Penguasaan gawai dan internet juga menjadi porsi tersendiri yang mau tidak mau harus dikuasai agar tidak ketinggalan dengan perkembangan dan kemampuan anak. Anak perlu didengar, mengolah emosinya dengan mendengarkan cerita mereka. Orang tua juga dapat bercerita tentang pengalaman sebagai perbanding dan menempatkan posisi sebagai saling belajar di tengah pandemi yang memang menjadi ancaman bagi semua. Berbagi pengalaman sangat penting untuk membantu mereka melihat dunia dari perspektif yang lain. Sistem komunikasi yang terjalin sebaiknya (1) menempatkan diri sebagai mitra yang dapat dipercaya, (2) membangun dialog berupa komunikasi verbal-dinamis, menghindari percakapan monoton, (3) membangun kepercayaan diri si anak dan kepercayaan terhadap orang tua dengan memberi kebebasan dan tanggungjawab, serta (4) membiasakan untuk saling ekspresif menyampaikan pendapat dan perasaan. Hindari kebiasaan untuk menghakimi, karena setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahannya. Biarkan mereka berbuat kesalahan, asal jangan sampai fatal. Selama anda mendampingi mereka, kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir.

    Orang tua juga harus mampu menjadi hacker atau stalker sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, dalam arti dituntut untuk dapat memantau dan mengetahui hidup anak remaja anda terutama dalam penggunaan media sosial. Meski demikian, kemampuan tersebut bukanlah bertujuan untuk mengawasi secara langsung dalam arti terlibat dan ikut campur dalam kehidupan pribasi si anak. Orang tua tetap harus mengambil jarak, mendengarkan cerita dan keluh kesah mereka serta memposisikan diri sebagai mitra yang dapat dipercaya dalam menyelesaikan masalah serta tantangan yang dihadapi si anak. Orang tua harus dapat menjadi teman tanpa meninggalkan atribut sosial sebagai figur yang dihormati sekaligus dipercaya.

    Selain itu, dinamika yang terjadi antara orang tua dan anak juga membutuhkan pendampingan berkelanjutan berupa (1) menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dengan guru dalam memantau perkembangan pendidikan, (2) membangun kesadaran bahwa orang tua berperan penting dalam keberhasilan pendidikan anak-anaknya. Guru sebagai pendidik menjadi mitra kerja sama bagi orang tua agar anak-anaknya berkembang menjadi manusia yang baik, sehingga (3) orang tua dan guru bekerja sama dalam mengembangkan karakter peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.

     

    Penutup

    Oleh karena situasi pandemi Covid-19 belumlah berakhir, maka proses pendidikan yang kini mengandalkan percepatan penggunaan teknologi informasi, kemampuan menguasai gawai serta proses belajar mengajar yang berjalan secara daring ternyata membutuhkan lebih banyak partisipasi aktif, interaksi dan kerjasama baik antara orang tua, anak dan guru. Tuntutan semacam itu harus terpenuhi mengingat pendidikan dalam era sekarang harus menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Terlepas dari segala kekurangannya, harus dilakukan upaya-upaya yang lebih konkrit berupa pendalaman interaksi, kemampuan komunikasi dan penguasaan teknologi dari semua pihak yang terlibat agar proses belajar mengajar serta tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik.

    ************************************************************************

     

  • CANGIK DAN LIMBUK – Analisis Penokohan dalam Konteks Imajinasi Naratif Martha Nussbaum sebagai Peran Partisipasi dan Kesetaraan Perempuan dalam Pewayangan Nusantara dan Relevansinya Hingga Saat Ini

    Oleh  Dr. Cicilia Damayanti, Pengajar Universitas Indraprasta PGRI – Jakarta

     

    Pendahuluan

    Perempuan terkenal dengan kepekaan dan kepeduliannya. Kelembutan mereka menjadi sifat alami yang dikaitkan dengan wilayah domestik. Budaya patriarki menyebabkan perempuan ditempatkan di ranah privat yang bertugas untuk mengurus keluarga. Itulah sebabnya, kesetaraan perempuan masih menjadi perjuangan bersama sampai saat ini. Bahkan di saat pergerakan emansipasi sudah mulai menampakkan hasilnya, perempuan masih dikaitkan dengan pekerjaan domestik. Pada saat dunia memasuki masa teknologi digital 4.0, peran perempuan dalam dunia karier mulai terlihat semakin menggeliat. Apakah ini pertanda positif? Saat bekerja di luar rumah, para perempuan yang menjadi istri dan ibu juga membutuhkan bantuan asisten rumah tangga (ART) untuk mengerjakan pekerjaan domestik. Sayangnya, ketiadaan regulasi di Indonesia menyebabkan para asisten rumah tangga ini tidak memiliki standar usia kerja, upah, waktu kerja, dan perlakukan yang layak bahkan ada potensi kehilangan kesempatan pendidikan serta kekerasan. Ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah emansipasi dalam bentuk kesetaraan sesama perempuan sudah tercapai?

    Imajinasi Naratif 

    Berbicara tentang kesetaraan tentunya tidak terlepas dari proses untuk dapat menghargai martabat kemanusiaan orang lain. Martha Nussbaum (1947- ), seorang Profesor Hukum dan Etika Ernst Freund dari University of Chicago Amerika, mengenalkan imajinasi naratif dalam bukunya Cultivating Humanity: A Classical Defense of Reform in Liberal Education (1997). Mengapa harus imajinasi naratif? Apa peran imajinasi naratif dalam mewujudkan kesetaraan manusia khususnya perempuan?

    Menurut Nussbaum imajinasi naratif adalah kemampuan membayangkan bagaimana rasanya berada dalam posisi orang lain, yang dapat melahirkan empati. Kemampuan ini membantu seseorang untuk memahami emosi, harapan, dan hasrat orang lain. Imajinasi membantu seseorang untuk memahami keadaan orang lain.  Bagi Nussbaum, imajinasi dapat dikembangkan melalui seni. Segala bentuk seni seperti musik, tarian, lukisan, pahatan, dan arsitektur berperan penting untuk membentuk pemahaman kita tentang orang lain yang melahirkan empati. Tetapi imajinasi naratif memiliki peran yang sangat kuat dalam membentuk kepedulian dan kepekaan seseorang. Sebab narasi lebih detail dan jelas dalam menggambarkan situasi dan masalah manusia yang beragam. Kisah ini menjadi sumber yang menginspirasi untuk memahami bagaimana rasanya berada dalam posisi orang lain. Narasi membuat seseorang menyadari bahwa kisah tersebut bisa menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Narasi (narratio) membawa seseorang masuk ke dalam pengalaman hidup orang lain. Orang tua terkadang menggunakan kata ganti orang ketiga untuk menceritakan (narrare) kisahnya kepada anaknya. Sehingga pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik. Narasi membantu seseorang untuk meluaskan perhatian pada persoalan dan peristiwa penting yang terjadi, mengembangkan imajinasi, dan mewujudkan pengakuan akan kesetaraan martabat manusia yang seringkali diabaikan oleh para kaum terpandang (elite).

    Narasi yang dituturkan seperti drama atau yang dibaca dalam sastra membuat seseorang merasakan apa yang dirasakan orang lain. Narasi membantu mereka membangun kemampuan untuk membuat persepsi dan penilaian atas hidup orang lain. Pemahaman tentang emosi dapat diajarkan dengan baik melalui narasi. Sebab struktur narasi membantu seseorang untuk memahami dinamisme emosi yang dirasakan manusia, untuk memandang dunia dari sudut pandang orang lain. Imajinasi membangkitkan kesadaran bahwa sekuat dan semampu apa pun mereka tetap membutuhkan orang lain. Bela rasa (compassion) membuat imajinasi semakin hidup dengan membuat seseorang berpikir bahwa penderitaan orang lain dapat saja menimpa dirinya. Melalui Narasi, imajinasi seseorang dapat berkembang untuk menghargai dan menghormati martabat manusia. Hal ini membantunya untuk menerima keragaman yang dibutuhkan dalam hidup berdemokrasi.

    Dalam lingkup sastra Indonesia, wayang menjadi seni naratif yang dapat mengembangkan imajinasi. Dalam tulisan ini akan difokuskan pada tokoh pewayangan perempuan. Meskipun dunia wayang sering dikaitkan dengan laki-laki, tanpa peran perempuan kisah tersebut akan menjadi tidak lebih bermakna.

    Tokoh-tokoh Perempuan dalam Pewayangan

    Sri Mulyono Djojosupadmo (1930-1980) menulis karakter perempuan dalam dunia wayang melalui buku Wayang dan Karakter Wanita (1978). Ada beberapa tokoh perempuan tangguh yang ditulisnya untuk menunjukkan bahwa gerakan emansipasi sudah digaungkan sejak dulu. Melalui para tokoh ini diharapkan perempuan semakin menyadari kekuatan terbesar dalam hidupnya. Bahwa kelembutan justru menjadi senjata mereka dalam melawan kekacauan dunia. Berikut ini akan dijelaskan beberapa tokoh wayang perempuan.

    Dewi Sawitri, seorang anak raja Aswapati dari Kerajaan Madra, digambarkan sebagai perempuan cantik yang memiliki tekad yang kuat dan setia pada suaminya. Dia memilih menikah dengan Setiawan, seorang putra Brahmana yang bernama Jumatsena, yang terkenal berbudi luhur dan lurus. Suaminya ini hidupnya tidak lama lagi. Dia hanya diberikan waktu setahun untuk hidup bersamanya. Kebulatan tekadnya membuatnya setia mendampingi suami hingga ajal datang. Tetapi para dewata yang melihat kesetiaan dan mati raga yang dijalaninya, tergugah untuk mengabulkan permintaannya asalkan tidak untuk menghidupkan kembali suaminya. Selain setia, Dewi Sawitri juga cerdik. Dia memiliki kemampuan bernegosiasi yang mampu mempengaruhi keputusan para dewata. Sehingga akhirnya suaminya diberi kesempatan hidup dan berbahagia bersamanya.

    Berbicara tentang kesetiaan perempuan, ada dua tokoh yang memiliki kesetiaan mutlak pada suaminya. Kisah Dewi Damayanti dan Raja Nala tertulis dalam buku Wanaparwa, bagian dari kisah Mahabarata. Damayanti adalah istri Raja Nala dari Kerajaan Nishada. Nala yang kalah dari permainan dadu harus rela dibuang ke hutan. Karena kesetiaannya, Damayanti mengikuti Nala ke tempat pembuangannya. Perjalanan cinta mereka mengalami pergolakan saat Nala terkena kutukan roh Batari Kali yang menyebabkan wujudnya berubah. Hal ini membuat Damayanti dipulangkan kembali ke orang tuanya karena suaminya dianggap sudah tiada. Tetapi Damayanti tidak mempercayai kabar tersebut. Dia tetap berusaha mencari suaminya. Pencarian tersebut menemukan hasil saat dia bertemu orang Katai yang bernama Bahuka. Hati Damayanti merasa yakin bahwa orang itu suaminya. Dia kemudian membuat masakan yang sangat disukai Nala. Bahuka terangsang dengan bau masakan itu, berubah wujudnya menjadi Nala. Damayanti dan Nala dapat bersatu kemballi.

    Dalam kisah Ramayana Dewi Sinta, istri Rama, dikisahkan sebagai istri yang menjaga kesetiaan dan kesuciannya. Berbeda nasib dari dua tokoh sebelumnya, kisah cinta Sinta Rama tidak berakhir bahagia. Kesetiaan Sinta yang mengikuti Rama teruji dalam pembuangan di hutan saat dia tergoda pada kijang kencana yang menyebabkannya diculik Rahwana. Berkat bantuan dari adiknya Lesmana dan teman-temannya, Rama berhasil membebaskan Sinta. Tetapi dengan kembalinya Sinta tidak membuat Rama percaya akan kesucian Sinta. Dia meminta Sinta membuktikan kesuciannya dengan menceburkan diri ke dalam api. Dengan kebulatan hati, Sinta melakukan permintaan Rama untuk membuktikan kesuciannya.

    Mahabarata mengisahkan Dewi Kunti yang dikenal sebagai ibu para Pandawa. Dia memiliki suami yang bernama raja Pandu yang memiliki dua istri. Istri keduanya bernama Dewi Madrim. Karena kelengahan Pandu, dia dikutuk akan mati bila berhubungan badan dengan para istrinya. Cerita semakin menarik karena di sini terjadi versi yang berbeda antara kisah Mahabharata versi India dan wayang Indonesia. Dalam versi India, Dewi Kunti diceritakan diberi mantra oleh Resi Druwasa. Sebab Kunti sudah melayani keperluannya selama menginap di rumah orang tua Kunti, Raja Kuntiboja. Mantra ini untuk dapat memiliki anak yang bersifat mulia seperti para Dewa. Sebelum menikah, dia sudah mencoba mantra tersebut dengan memanggil Dewa Surya. Melalui dewa Surya lahirnya Karna. Dia diberi nama Karna karena lahir dari telinga. Sebab Kunti saat itu belum memiliki suami. Setelah menikah dengan Pandu, dan karena mendapat kutukan, Kunti menggunakan mantra itu kembali untuk melahirkan Yudistira yang berayah Dewa Dharma. Bima yang berayah dewa Bayu. Dan Arjuna yang berayah Dewa Indra. Setelah memiliki tiga putra, mantra tersebut dia pinjamkan kepada Madrim, yang kemudian melahirkan dua putra kembar. Nakula dan Sadewa adalah anak Madrim yang berayah Dewa Aswin. Pada versi wayang Jawa, yang budayanya kurang bisa menerima cerita di luar nalar, sebab agama Islam mulai masuk, para dalang akan mengubah sedikit kisah ini dengan menjadikan Pandu sudah memiliki anak sebelum mendapatkan kutukan. Sementara dalam versi India, Dewi Kunti digambarkan sebagai orang yang sakti, yang memiliki mantra ajaib tersebut. Sehingga Pandu dikisahkan sudah dikutuk sebelum memiliki anak.

    Berbicara tentang hutan, ada tokoh wayang perempuan yang digambarkan hidup secara poliandri. Namun budaya patriarki di Indonesia menyebabkan tokoh ini diceritakan hidup monogami. Drupadi yang adalah seorang perempuan cantik putri Raja Drupada dari Kerajaan Panchala. Sesungguhnya Dewi Drupadi menikah dengan Pandawa, yang berarti dia memiliki lima (5) suami. Drupadi adalah istri yang setia kepada para suaminya. Bahkan saat mereka kalah judi dan dibuang di hutan, Drupadi tetap setia mendampingi para Pandawa. Tokoh Drupadi menjadi tokoh perempuan yang memiliki kuasa tetapi tetap setia pada kodrat kewanitaannya. Melalui dua perempuan ini terlihat bagaimana budaya patriarki sulit menerima pandangan bahwa para perempuan sesungguhnya juga memiliki wilayah yang lebih dominan dibandingkan dengan laki-laki. Kontra narasi menjadi penting di sini untuk melihat bahwa suatu kisah narasi tidak dapat dipandang secara hitam putih belaka. Narasi akan semakin kaya dan bermakna bila kita bisa melihat bahwa hidup ini tidak merupakan posisi biner. Karakter manusia dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialaminya. Suatu perubahan perlu diterima sebagai kemutlakan. Sebab tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri. Kontra narasi membantu kita untuk melihat bahwa di dunia ini sebaiknya perlu diciptakan keseimbangan agar terjalin keharmonisan. Kerja sama perempuan dan laki-laki adalah lebih baik dibandingkan bila salah satu ingin lebih dominan. Kisah Kunti dan Drupadi menggambarkan bagaimana kaum perempuan dapat menjadi penolong, dan dapat diandalkan di saat kesulitan melanda.

    Tokoh Srikandi terkenal sebagai pahlawan perang. Melalui berbagai sumber, banyak versi tentang tokoh ini. Sesungguhnya Srikandi adalah inkarnasi dari Dewi Amba yang terlahir kembali menjadi Putri Raja Drupada dari Panchala. Dewi Amba sakit hati pada Bisma karena kekuatannya telah mengalahkan Salwa, lelaki yang dicintai Amba. Bisma sendiri telah berjanji hidup selibat, sehingga tidak bisa menikahi Amba. Sementara pria yang dicintai Amba tidak mau mempersuntinnya karena malu sudah dikalahkan Bisma. Kejadian ini menyebabkannya pergi ke Gunung Himalaya untuk bertapa. Doanya didengar Dewa Syiwa yang merestuinya untuk berinkarnasi agar dapat membalas dendam kepada Bisma. Sebelum berinkarnasi Amba diberi kalung bunga teratai (puspamala). Ajaibnya setelah dia berinkarnasi kalung itu dapat ditemukannya kembali. Putri Raja Drupada itu kemudian mengalungkan kalung bunga teratai, yang menyebabkannya berubah menjadi laki-laki, dan dikenal sebagai Srikandi. Dialah pahlawan perang yang membantu Pandawa melawan Kurawa, dan membalaskan dendamnya dengan membunuh Bisma. Dalam versi wayang Jawa tokoh Srikandi digambarkan tetap sebagai perempuan. Ceritanya hampir sama bahwa dia adalah titisan Dewi Amba. Namun untuk dapat mengalahkan Bisma, dia menjadi istri Arjuna. Perbedaan kisah ini hampir sama dengan kisah Drupadi yang juga memiliki versi antara poliandri atau monogami. Kemungkinan besar di Indonesia Srikandi digambarkan sebagai perempuan karena budayanya yang tegas pada posisi biner antara perempuan dan laki-laki.

    Para perempuan bangsawan ini mengajarkan kepada kita tentang arti kesetiaan dan kelembutan. Berbicara tentang hal ini, ada tokoh punakawan perempuan yang menjadi gambaran tepat tentang arti pengabdian. Cangik dan Limbuk adalah dua orang punakawan yang menjadi kepercayaan dari para ratu dan putri-putrinya.

    Cangik dan Limbuk       

    Selain para Putri Raja, ada penokohan wayang asli Indonesia. Melalui tokoh Cangik dan Limbuk akan dikenalkan tentang kesetaraan martabat manusia, khususnya perempuan. Disarikan dari berbagai sumber, tokoh Cangik dan Limbuk dikenal sebagai punakawan perempuan atau dayang. Kemunculan keduanya biasanya dijadikan sebagai penghangat suasana dalam kisah wayang. Cangik dan Limbuk adalah ibu dan anak yang mengabdikan hidupnya pada Putri Raja. Cangik digambarkan sebagai perempuan bertubuh kurus dan tinggi. Sedangkan Limbuk bertubuh tambun dan pendek.  Sebagai orang muda, Limbuk adalah murid kehidupan yang memberinya kebebasan gerak. Bicaranya terkesan apa adanya dan kurang tanggap terhadap persoalan hidup. Dia masih suka ceplas-ceplos namun menyenangkan karena berani menjadi diri sendiri. Sikap polosnya ini membuatnya ngangeni atau dirindukan. Fisik Limbuk ini menyimbolkan proses penataan diri yang masih bebas dengan memuja hal duniawi. Dia masih bebas makan dan tidur. Boleh berdandan menor yang sering keluar dari aturan, yang menjadi proses pencarian jati diri. Limbuk menjadi sosok yang kontras dengan sang ibu: Cangik. Cangik berbadan semampai, lebih sabar, dan setia dalam pengabdian.

    Cangik dan Limbuk adalah abdi dalam kepercayaan para Ratu dan Putri. Meskipun dari golongan rendah, keduanya mendapat dididikan agar memiliki budi dan pekerti yang luhur. Mereka dapat dipercaya, menjadi pendengar yang baik, mampu menyaring informasi, menyimpan rahasia, dan bila dibutuhkan mampu memberi saran yang sesuai dengan pemahamannya. Tugas mereka membantu mengurangi kegundahan junjungannya, dan menjadi penghangat suasana. Menjadi abdi dalam sering menjadikan mereka dianggap sebagai asisten yang tugasnya adalah membantu. Padahal pemahaman seperti ini mengandung kekeliruan, sebab Cangik dan Limbuk sesungguhnya adalah punakawan yang artinya sahabat. Bahasa Jawa dengan sangat tepat menyebut mereka “rewang” yang artinya penolong. Mereka berdua berada di wilayah terpenting di istana karena berurusan dengan para ratu dan putri. Keduanya diberi kepercayaan untuk menyimpan rahasia, bahkan yang paling intim. Sehingga tugas mereka sesungguhnya lebih penting bila dibandingkan dengan menteri atau mahapatih. Ketika disebut sebagai penolong, dalam hal ini mereka memiliki tugas penting untuk mendengar keluh kesah, memberi saran, menenangkan, menyenangkan hati, membela, dan membantu mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi junjungannya.

    Dalam menjalan tugas biasanya Cangik dan Limbuk akan tinggal bersama junjungan, bahkan mereka juga bisa tidur dan menjaga di ruang pribadi junjungan mereka. Cangik dan Limbuk juga merawat dan membesarkan anak-anak junjungannya. Mereka mendapat keistimewaan dalam hal menu makanan. Karena makanan yang mereka makan sama dengan yang dimakan junjungannya. Dalam kehidupan nyata, tugas seperti Cangik dan Limbuk diberi kepercayaan untuk menjaga harta, kekayaan, rahasia, rumah tinggal, dan anak-anak. Mereka sesungguhnya adalah “orang dalam” yang menjadi perpanjangan tangan junjungannya.

    Keberadaan Cangik dan Limbuk dalam lakon wayang sebagai asisten pribadi masih tetap ada hingga saat ini. Apalagi di era emansipasi perempuan yang menyebabkan mereka juga memiliki akses untuk bekerja di ranah publik. Bagaimana nasib kaum Cangik dan Limbuk di era 4.0 ini?

     Asisten atau Pengabdian Tanpa Batas?

    Pada saat ini banyak perempuan terutama dari kelas sosial menengah yang bekerja di luar rumah. Hal ini menyebabkan mereka membutuhkan orang lain untuk membantu mengerjakan urusan di rumah saat bekerja. Kebutuhan akan Asisten Pembantu Rumah Tangga (ART) menjadi cukup besar dan tersegmentasi, baik untuk memasak, mengurus bayi dan anak hingga merawat orang tua. Para ART ini ada yang bekerja pulang pergi, namuan banyak di antara mereka yang tinggal bersama orang yang mempekerjakan. Jarak bisa menjadi semakin jauh dari tempat asal jika para ART adalah bukan lagi pekerja suburban melainkan migran antar daerah di Indonesia. Apakah nasib para asisten ini jauh lebih baik dari pada Cangik dan Limbuk?

    Setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan dan upah yang layak. Hal ini sudah di atur dalam UUD 1945, yakni pasal 27 ayat 1 menegaskan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Ayat 2 menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 28 D ayat 1 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Ayat 2 menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

    Menurut sumber dari kapalperempuan.org dan ILO (2020), faktanya, asisten rumah tangga (ART) merupakan salah satu pekerjaan tertua dan terbesar jumlahnya di dunia maupun di Indonesia. Di dunia jumlahnya mencapai 87 juta jiwa. Di kawasan Asia dan Pasifik sebagian besar dilakukan oleh perempuan (78,4 persen). Di Indonesia jumlahnya lebih dari 4 juta orang. Mayoritas para pekerja dalam sektor ini di Indonesia adalah perempuan, yang merupakan tulang punggung keluarga. Bahkan sekitar 30 persennya adalah anak perempuan. Para asisten di wilayah Jabodetabek, misalnya. Mereka tidak bisa mengakses bantuan sosial. Sebab sekitar 85,6 persen statusnya sebagai urban atau pendatang, yang hidupnya hanya mengontrak rumah (90 persen). Ketika berhadapan dengan masalah, ART tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Padahal tiap tahun terdapat sekitar 400 kasus ART yang diantaranya tidak mendapatkan bayaran upah atau upah dipotong karena sakit, dan tidak mendapat tunjangan hari raya. Pada masa pandemi covid-19, mereka paling rentan terkena virus ini. Sebab pada saat bekerja mereka tidak dibekali alat pelindung yang memadai. Kemungkinan besar dapat tertular dari majikan. Apabila ada majikan yang waspada terhadap virus ini mereka dapat diberhentikan seketika. Para ART yang sudah tidak bekerja dan memutuskan pulang kampung tidak diberikan sarana untuk tes covid-19. Para asisten ini sangat beresiko terkena virus ini karena tidak bisa bekerja hanya dari rumah. Mereka adalah garda depan yang sewaktu-waktu dapat disuruh pergi menggantikan majikannya, pergi ke pasar misalnya.

    UUD 1945 dengan tegas menghargai kedudukan warga negara adalah sama di depan hukum, akan tetapi hingga saat ini tidak ada regulasi turunan dalam bentuk undang-undang yang mengatur pekerjaan para asisten rumah tangga. Selama hampir tujuh belas tahun, Rancangan Undang Undangan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga mangkrak atau jalan di tempat. Tidak ada pembahasan yang lebih serius bahkan untuk membuat RUU tersebut dalam turunan ayat dan pasal. Hal ini tentu saja semakin memperburuk kondisi pekerjaan dan status asisten rumah tangga dari masa ke masa. Pertama, oleh karena argumen pekerjaan domestik dan tinggal di dalam rumah maka asisten rumah tangga memiliki jam kerja yang sangat panjang, tidak ada istirahat, tidak ada hari libur, harus siap kapan saja dibutuhkan. Selain itu upah yang dibayar juga terbilang rendah dengan tidak ada kompensasi atau jaminan lain. Alasan yang umum adalah kebutuhan lain sudah ditanggung oleh para tuan dan nyonya pengguna jasa mereka seperti makan di tempat atau ikut berpergian. Kedua, usia para asisten rumah tangga adalah relatif sangat muda karena pekerjaan ini dianggap tidak membutuhkan keahlian dasar, melainkan hanya keinginan sukarela untuk mengikat diri dalam perjanjian kerja secara verbal. Akibatnya, dengan usia sangat muda tersebut maka banyak perempuan asisten rumah tangga tidak memiliki akses ketrampilan dan pendidikan formal. Setiap kesalahan yang dilakukan berpotensi untuk mengundang kekerasan dan pelecehan. Ketiga, posisi sebagai asisten rumah tangga dianggap bukan penolong, melainkan orang yang berbeda kelas di dalam sebuah rumah. Artinya, perlakuan terhadap mereka juga bersifat diskriminatif dalam segala hal baik kebutuhan sandang dan papan.

     Penutup

    Bagi Nussbaum imajinasi naratif merupakan sarana yang tepat untuk meluaskan lingkaran perhatian seseorang. Melalui kemampuan ini, kita diharapkan memiliki kepekaan dan kepedulian kepada semua orang, termasuk juga para asisten rumah tangga. Penokohan wayang Cangik dan Limbuk dapat menjadi kisah yang mengasah kepekaan untuk orang yang bekerja pada kita. Di masa lampau, mereka bekerja untuk mengabdi dalam konteks strata sosial dan lingkup feodal. Pada masa teknologi digital 4.0 dimana hak azasi manusia menjadi sebuah tuntutan dasar, idealnya nasib para asisten rumah tangga bisa jauh lebih baik dan dihargai. Posisi mereka dibutuhkan karena nilai-nilai yang tumbuh di masa lampau masih belum sepenuhnya bisa beradaptasi dengan situasi saat ini. Modernisasi tidak serta merta membuat perilaku feodal dan patriarki menghilang, malah terkesan ada upaya untuk bisa mengokohkan posisi asisten rumah tangga sebagai warga kelas dua dengan profesi yang dipandang rendah.

    Hal yang menjadikannya lebih ironis adalah para pengguna jasa asisten rumah tangga ini adalah notabene kebanyakan kaum perempuan juga yang lebih terdidik, memiliki status sosial cukup baik dan mampu membayar atau mempekerjakan orang lain. Banyak yang sadar akan peran, posisi dan kesetaraan perempuan namun kritik yang harus diperhatikan adalah seberapa besar alih peran, posisi dan kesadaran itu dilakukan terhadap dan oleh sesama perempuan. Itu menjadi penting sebab pada hakekatnya pembebasan dan pencerahan harus bisa dinikmati oleh siapapun tanpa memandang gender, kelas sosial, usia dan batasan apapun. Penokohan Cangik dan Limbuk membuka pikiran bahwa ada mispersepsi soal bagaimana relasi kerja domestik yang menjadi penolong, berubah menjadi pesuruh yang harus siap kapanpun juga. Selain itu, negara sendiri abai dalam melindungi para penolong ini dalam soal pengaturan hak-haknya.

    Imajinasi naratif hendaknya dapat menyadarkan posisi perempuan, untuk tidak saja berfokus pada soal pendidikan dan pembebasan yang bertumpu pada diri sendiri. Tetapi juga mampu melihat dan terpusat pada orang lain. Saat ini banyak orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, dan diharapkan mampu berpikir kritis. Kekritisan dalam berpikir ini diharapkan dapat membebaskan diri mereka juga sehingga di era digital ini mereka sudah tercerahkan. Pada kenyataannya, status dan pendidikan perempuan juga tidak serta merta membuat mereka terbebas dari konsep modern slavery, yakni menggunakan jasa asisten rumah tangga yang berupah rendah, jam kerja panjang, siap kapapun juga, minim akses keahlian dan pendidikan, serta membangun dependensi antara para pekerja dengan anak-anak atau keluarga mereka dengan argumen kemurahan mati dan belas kasihan. Nasib mereka pada saat ini, jauh lebih buruk dari apa yang bisa dibayangkan dengan penokohan Cangik dan Limbuk.

    **************************************************************

     

  • Dari  Langit

    Dari Langit

             Rizal  Mallarangeng

     

    KAMU kok memprotes dan mengeluhnya ke aku, Gus? Soal kompromi politik dan nasib kursi kekuasaanmu, itu urusanmu sendiri. Perkaranya kau sendiri yang bikin. Aku jangan diikutikutkan, dong. Sebenarnya aku masih ingin menolongmu. Tapi coba kautempatkan dirimu dalam posisiku. Kan, aku juga harus mempertanggungjawabkan langkah-langkahku di hadapan anak buahku. Malaikat-malaikat itu, lo. Coba, apa yang harus kukatakan kepada mereka untuk membelamu? Sulit betul. Malaikatku di seksi intelijen bilang, dua pekan lalu kau memecat Djohan Effendi, sahabatmu di Forum Demokrasi yang kau minta untuk memimpin Setneg sejak setahun silam. Terus terang, banyak malaikatku sudah lama bersimpati kepada Djohan. Dia orang yang santun dan luarbiasa jujur. Orang seperti dia tidak mungkin pernah mencuri dan mempertaruhkan kemaslahatan publik untuk kepentingan pribadi. Dengan memecat dia, kau membuat malaikat-malaikatku jadi bertanya. Kenapa kau sering memecat orang yang jujur dan tak terbiasa berbohong? Apa yang ingin kau sembunyikan?

    Selain masalah sepele seperti itu, masih banyak lagi soal yang jauh lebih penting. Salah satunya datang dari laporan malaikatku di seksi politik dunia non-akhirat—saya tidak perlu menyebut namanya—bahwa kau sekarang sudah sangat sering menduakan aku. Memang, aku mengerti, kau dan teman-temanmu di NU sering dekat dan mengaku-aku dekat dengan segala jenis arwah dan roh gaib. Kalau pada tingkat kultural, sih, aku maafkan semua itu. Katakanlah, itu warisan kultur pedesaan yang memperkaya kehidupan manusia, ciptaan-ciptaanku yang terkadang merepotkan itu.

    Tapi, Gus, lain soalnya kalau semua itu menyangkut masalah politik dan proses kenegaraan. Kau berurusan dengan orang yang hidup, bukan yang mati. Dengan mereka yang terakhir ini, soalnya memang jauh lebih mudah. Mereka tidak punya hak suara. Dan kau tak perlu meyakinkan mereka bahwa kau pemimpin yang berhasil. Kamu bisa seenaknya saja, tidak perlu bersusah-payah merebut hati mereka. Dengan mereka yang hidup, itulah persoalanmu. Suaraku adalah suara rakyat yang hidup, yang merasa, yang bisa jengkel dan menimbang-nimbang. Tapi, sejauh ini, apa yang kau lakukan terhadap mereka?

    Nol besar. Setahun lebih sudah kau mendapat kesempatan emas untuk berbuat baik terhadap mereka. Wakil-wakil mereka yang sah sudah memberimu peringatan berkali-kali. Tapi kau lebih sering menendang, menyikut, berkelit, dan mengancam.

    Dengan semua itu, posisiku agak terjepit sekarang. Kalau aku mengulurkan tangan dan menolongmu, seperti yang terkadang aku lakukan, reaksi para malaikatku pasti akan keras dan memojokkan. Anggota DPR sih masih mendingan. Coba kau diprotes para malaikat. Bisa minta ampun tujuh turunan.

    Jadi, maaf, Gus. Kali ini aku tak mungkin membantu. Kalau urusan lain di waktu berbeda, pasti aku akan berusaha menolong. Tapi, soal kompromi politik dan kursimu yang kini sedang oleng, aku angkat tangan. Kau selesaikanlah sendiri.

    Cuma, aku ada sedikit pertanyaan—hanya ini yang bisa aku lakukan untuk sementara. Kau ini mau dikenang sebagai pemimpin seperti apa? Kalau mandat kekuasaanmu dicabut bulan depan, kau ingin meninggalkan kesan apa? Dalam beberapa generasi ke depan, kau ingin namamu dikenang dengan penuh syukur dan takzim, atau dicerca dan terus-menerus menjadi bahan olok-olok? Indonesia, seperti negeri lainnya, akan terus menilai karya para pemimpinnya. Kau ingin hanya menjadi pecundang sejarah, tokoh paradoksal yang dianggap menyusahkan rakyat banyak?

    Jawabannya ada di tanganmu. Kau belajarlah pada Al Gore, wapresnya Bill Clinton, yang hampir mengalahkan George W. Bush dalam pemilu di AS pada akhir tahun lalu. Namanya menjadi lebih harum justru setelah dia menerima kekalahan dengan besar hati. Dia menerima kenyataan dan mengorbankan kepentingan dirinya demi kepentingan yang jauh lebih besar. Dia tidak pernah mengancam dan menendang dengan panik. Pidato penerimaan kekalahan yang dibacakan Gore akan menjadi salah satu pidato terbaik dan paling bersejarah di Negeri Abang Sam pada abad ke-21. Dengan itu, tanpa menjadi presiden pun, nama Gore akan tetap harum dalam sejarah.

    Kalau tidak mau belajar dari negeri yang jauh, kau bisa belajar dari negerimu sendiri. Tepatnya dari tokoh yang kau gantikan, B.J. Habibie. Dia memang memiliki banyak kelemahan sebagai politisi. Dia terlalu naif untuk peran yang membutuhkan ketangkasan Machiavellian ini. Tapi, lihatlah, namanya kini semakin harum, bukan sebaliknya. Pada titik tertentu, dia menerima realitas dan melakukan tindakan yang sangat arif. Dia mundur dengan sukarela, melepaskan kursinya, karena tahu dukungan wakil rakyat untuknya tidak lagi memadai. Tindakan seperti ini akan terus dikenang.

    Itulah pelajaran yang baik, Gus. Kalau kau membutakan diri terhadap pelajaran ini, sungguh sayang. Kau bisa berlaku nekat-nekatan dan memukul atau merusak banyak hal di sisa waktu kekuasaanmu, seperti banteng terluka yang merangsek ke mana-mana. Kalau itu yang menjadi pilihanmu, aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Cuma, pikirkanlah hal itu baik-baik. Jadi, sekali lagi, semuanya aku serahkan kembali ke tanganmu. Aku ada banyak urusan saat ini. Kapan-kapan aku mengirim surat lagi kepadamu.

    ———————————————————————–

    Sumber Tulisan: Dari Buku Dari Langit , KPG 2008

     

  • Pancasila dan Tantangannya

    Oleh Cicilia Damayanti, Dosen Universitas Indraprasta PGRI – Jakarta

     

    Pendahuluan

    Pancasila sebagai dasar negara yang lahir pada 1 Juni 1945, merupakan falsafah negara yang dipegang teguh oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai yang dinamis dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Hal ini seperti dapat kita lihat pada pengakuan agama Khonghocu pada era Abdurahman Wahid (Gus Dur). Akan tetapi, kedinamisan nilai-nilainya ini kemudian menjadi perdebatan saat kita mengetahui bahwa banyak nilai-nilai Pancasila yang ternyata saling berbenturan. Seperti yang terjadi pada warga di Wadas, Purworejo, saat ini. Penduduk di sana menginginkan agar daerahnya tetap dipertahankan kealamiannya, tapi pemerintah melihat potensi desa tersebut dapat digunakan untuk kepentingan rakyat yang lebih banyak lagi. Peristiwa ini memperlihatkan kepada kita bahwa sila-sila dalam Pancasila dapat berbenturan. Bagaimana nilai persatuan kemudian dipahami lain oleh segelintir kelompok atau perorangan dan berbenturan dengan nilai kerakyatan. Di mana permusyawaratan pada sila keempat dapat digunakan untuk memuluskan tujuan yang dicapai atas nama persatuan. Kejadian ini menjadi pertanyaan kita bersama, mampukah Pancasila menjadi dasar negara yang bisa diterima dengan baik oleh seluruh rakyat Indonesia?

    Fakta Sejarah

    Mengapa kita perlu mempelajari sejarah? Belajar sejarah mengajak kita untuk menikmati proses yang terjadi dalam hidup, karena tidak semua hal terjadi secara instan, dan proses ini membantu hidup kita membangun masa depan yang lebih baik. Kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajaratun yang artinya pohon. Kata pohon memiliki makna percabangan geneologis kelompok keluarga yang mirip dengan pohon yang memiliki ranting, daun, serta akar. Kata syajaratun kemudian berkembang dalam bahasa Melayu menjadi syajarah.

    Istilah sejarah dalam bahasa Indonesia menjadi turunan dari bahasa Melayu untuk menggambarkan silsilah atau keturunan. Sedangkan pengertian sejarah sebenarnya lebih sesuai padanannya pada kata historia dalam bahasa Yunani, yang berarti keilmuan, ilmu, atau orang pandai. Dalam bahasa Inggris menjadi history dari kata istoria yang berarti belajar dengan cara bertanya.

    Kata istoria menjadi cikal bakal berkembangnya kajian ilmu dan pembelajaran yang sifatnya kronologis atau dikaji berdasarkan tempo atau urutan waktu. Sedangkan merujuk dari bahasa Jerman, kata Geschichte dan geschidenis, atau historie dalam bahasa Belanda, memiliki arti kejadian yang dibuat oleh manusia.

    Fakta pada sejarah ditampilkan melalui tafsiran yang jelas dan terperinci. Hal ini untuk memberi pendefinisian yang jelas sehingga tidak mengalihkan fakta yang sebenarnya. Kisah dari ingatan-ingatan yang disarikan dari berbagai sumber kemudian ditafsirkan. Penafsiran ini yang kemudian disampaikan kembali kepada generasi selanjutnya yang tidak mengalami kejadian tersebut. Kisah sejarah ini disampaikan sesuai konteks zaman agar mudah dipahami oleh generasi selanjutnya.

    Manusia tidak sepenuhnya mengingat seluruh kejadian di masa lalu yang pernah dialaminya, sehingga menyebabkan banyak peristiwa sejarah yang tidak terungkap seutuhnya. Untuk merekam sejarah, biasanya menggunakan media tulisan. Tulisan tersebut menjadi bukti konkret atas sejarah dibandingkan yang disampaikan secara verbal. Hasil tulisan sejarah inilah yang dijadikan sumber pengetahuan untuk diteliti, dianalisis, atau dikembangkan lagi.

    Unsur sejarah terdiri dari manusia, waktu, ruang, dan kausalitas. Peristiwa lahirnya Pancasila, misalnya, menjadi peristiwa penting bagi bangsa Indonesia. Di mana pada masa itu banyak tokoh yang terlibat di dalamnya untuk menemukan ideologi bangsa. Tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945 menjadi kurun waktu yang menjadi batasan sejarah itu dimulai atau diakhiri secara jelas dan sistematis. Gedung Cuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila) di jalan Taman Pejambon, Jakarta Pusat, menjadi tempat di mana unsur sejarah ini terjadi. Gedung ini menjadi tempat beraktivitas para tokoh pada waktu itu untuk melahirkan Pancasila. Gedung ini kemudian mempermudah pembaca generasi selanjutnya untuk memahami sebuah peristiwa sejarah yang terjadi secara utuh. Fakta ditemukannya para tokoh minoritas, seperti kaum Tionghoa, Arab, Indo, bahkan kaum perempuan yang ikut terlibat dalam pembentukan Pancasila, menjadi data deskriptif yang akan memicu keingintahuan pada peristiwa sejarah tersebut.

    Para tokoh yang terlibat dalam suatu sejarah sering menjadi panutan dan dikagumi oleh generasi masa itu, saat ini, maupun sesudahnya. Tindakan kepahlawanan seseorang atau kelompok tertentu yang kemudian mengubah hidup ke arah yang lebih baik, menjadikannya terus dikenang sepanjang masa. Untuk itu generasi muda perlu diajak untuk memahami para tokoh tersebut dengan lebih baik. Sebagai contoh saat mereka mengagumi Sukarno, mereka perlu diberi informasi dan data yang faktual tentang siapa Sukarno, tindakan apa yang sudah dilakukannya, dan lain sebagainya. Informasi ini membantu mereka untuk melihat tokoh panutannya secara lebih jelas dan mengikuti teladannya yang baik.

    Pelajaran sejarah bermafaat sebagai: 1) peneguh hati untuk menjalani hidup, sehingga dengan memahami sejarah membantu manusia memaknai hidupnya saat ini, 2) penuntun hidup bagi manusia untuk melakukan sesuatu di masa depan, menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam hidup, 3) peringatan bagi seseorang untuk memetik sinyal dalam situasi tertentu berdasarkan kejadian yang sudah pernah terjadi, 4) sumber kebenaran untuk menjalankan kehidupan agar dapat bertahan hidup, 5) sumber informasi yang menginspirasi dan menginstruksi manusia untuk menjalani kehidupan di masa depan yang lebih baik.

    Asal-Usul Nama Indonesia

    Bagaimana kita dapat membenci seseorang atau suatu peristiwa sejarah bila kita tidak mengetahui dengan baik kisah dibalik sejarah itu sendiri? Seperti pernyataan bahwa Indonesia dijajah kolonial selama 3,5 abad memiliki makna yang rancu. Kita perlu menelusuri sejarah untuk menemukan kebenarannya. G.J. Resink dalam buku Bukan 350 Tahun Dijajah menyebut bahwa penjajahan 350 tahun adalah konstruksi politik kolonial yang dimasukkan ke dalam kurikulum sejarah pendidikan. Padahal saat itu banyak negara dan kerajaan di Nusantara yang belum pernah ditaklukkan oleh Belanda.

    Istilah “Indonesia” baru muncul pada abad 19. Berasal dari kata “Indus” (Hindia) dan “Nesia” (Kepulauan), yang digagas oleh pengacara Inggris James Richardson Logan dan ahli geografi George Windsor Earl.  Istilah “Indonesia” dipopulerkan sebagai istilah akademik oleh etnografer Jerman, Adolf Philipp Wilhelm Bastian (1826-1905). Nama Indonesia digunakan secara politis pertama kali pada tahun 1920.

    Nama Indonesia lahir sebagai hasil dari politik etis pihak Belanda atas desakan dari para tokoh humanis dan sosial demokrat di Belanda. Para Mahasiswa perantau dari Hindia Belanda yang mengenyam pendidikan di Belanda mendirikan sebuah perkumpulan untuk saling bertukar cerita tentang tanah air. Nama perkumpulan ini adalah Indische Vereeniging (Perhimpunan India) yang didirikan oleh Sutan Kasayangan dan R.M. Noto Suroto pada tahun 1908. Perkumpulan ini bergerak dalam bidang sosial dan kebudayaan, lalu menjurus ke arah politik.

    Aktivitas politik ini sebagai imbas dari kedatangan para aktivis yang dibuang ke Belanda pada tahun 1913. Mereka adalah Soewardi Soeryaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Douwes Dekker, yang mengkritik pemerintah Belanda melalui pendirian partai bernama Indische Partij.

    Kehadiran Mohammad Hatta membuat Indische Vereeniging semakin berani menyelenggarakan kegiatan politik. Pada tahun 1922 perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia). Perubahan nama ini mengubah arah perkumpulan ini menjadi suatu organisasi politik. Kata “Indonesia” tidak lagi diartikan secara geografis, tetapi memiliki kekuatan politis. Istilah “Indonesia” untuk menunjukkan bahwa mereka tidak ingin dikenal sebagai kelompok berdasarkan etnis, seperti Jawa, Minangkabau, Sunda, dan lain sebagainya.

    Pada tahun 1924 Perhimpunan Indonesia tidak lagi menggunakan bahasa Belanda. Perkumpulan ini kemudian menerbitkan majalah yang kemudian diberi nama Indonesia Merdeka. Dalam majalah tersebut, mereka menyebutkan bahwa pemakaian nama “Indonesia” memberikan ciri pada kepribadian. Kata “merdeka” menjadi tujuan dan usaha untuk menciptakan Indonesia yang merdeka. Pada tahun 1926 nama “Indonesia” semakin diperkenalkan di dunia Internasional. Pada saat Bung Hatta menghadiri Kongres Gerakan Perdamaian Internasional di Paris, dia semakin meyakinkan dunia internasional mengenai keberadaan Indonesia baik secara geografis mapun politis.

    Bahkan Resink memperkirakan bahwa Indonesia hanya dijajah Belanda selama 40 tahun, dan itupun tidak di seluruh bagian Indonesia yang kita kenal saat ini. Bahkan Ratu Belanda juga membedakan antara daerah jajahan Hindia Belanda dengan Negara-Negara Pribumi di Nusantara Bagian Timur, yang bersahabat dengan pemerintah Kerajaan Belanda.

    NKRI Harga Mati

    Indonesia merupakan negara republik yang mengedepankan kesatuan. Slogan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan harga mati dan harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Hal ini pun tertuang dalam UUD hasil amandemen keempat dalam pasal 37 ayat 5.

    Mangunwijaya, seorang rohaniwan yang peduli pada masalah kemanusiaan, pernah berkata bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan pegangan yang tepat bagi suatu negara federal. Apa itu negara federal? Negara federal adalah suatu negara yang merupakan gabungan dari beberapa negara yang menjadi negara-negara bagian dari negara serikat. Perbedaan dengan negara kesatuan ada pada tugas pemerintah pusatnya. Pemerintah pusat pada negara federal hanya bertugas mengurusi hal-hal yang bersifat nasional, seperti politik luar negeri, fiskal, pertahanan dan keamanan. Negara bagian memiliki wewenang untuk mengurusi masalah dalam negerinya sendiri, seperti hukum, keuangan, politik, dan kebijakan publik.

    Pada negara kesatuan, seperti yang dianut bangsa Indonesia, pemerintah pusat memegang kendali penuh atas setiap daerah yang ada di wilayah negaranya. Otonomi daerah yang diberikan oleh pemerintah pusat tetap terbatas dan di bawah kontrol pemerintah pusat dalam mengelola segala aspek keuangan, infrastuktur, pendidikan, kesehatan, hukum, dan sebagainya. Kebijakannya dibuat seragam untuk mengakomodasi kepentingan yang beragam dari setiap daerah. Seperti kebijakan pemerintah untuk membuat sawah baru yang mengalihfungsikan hutan sebagai penghasil oksigen.

    Bangsa yang berjumlah hampir 300 juta penduduk cenderung sulit untuk diatur secara efektif dengan damai dalam suatu sistem sentralistik. Bahkan Mangunwijaya sendiri pernah berujar hanya seorang diktator bertangan besi saja yang mampu memimpin. Tindakannya ini bahkan dapat menuntut tumbal darah dan air mata dari rakyatnya.

    Bung Hatta, seorang tokoh proklamator, pernah mengajukan ide federalistik yang digabungkan dengan ide desentralisme. Hal ini untuk melahirkan generasi muda yang sentralistik, untuk memulai wacana serius, studi dan diskusi logis, tetapi dengan penjabaran yang tajam.

    Pada 1 Juni 1948, Pandji Ra’jat memuat sebuat tulisan yang berjudul “Perbedaan Antara Federalis dan Unitaris”. Artikel tersebut menyebutkan bahwa aliran persatuan (federalis) menghendaki agar setiap daerah atau tempat yang berbeda budaya, adat istiadat, dan bahasa menyatu dalam suatu pemeritahan. Artikel ini hendak menunjukkan bahwa setiap daerah ataupun negara mengurus urusan dalam negerinya sendiri-sendiri, tetapi tetap bersatu dalam perserikatan pemerintah pusat.

    Negara Djawa Timoer menjadi salah satu contoh negara federal di Indonesia saat itu. Negara ini lahir berdasarkan resolusi Konferensi Djawa Timoer di Bondowoso, 23 November 1948. Pembentukan Negara Djawa Timoer merupakan upaya bagi masyarakat Djawa Timoer untuk berusaha sekuat dan seluas tenaga sendiri memajukan kemakmuran masyarakat yang ada di sana. Mandat ini merupakan amanat dari masyarakat Djawa Timoer dan bukan merupakan sesuatu yang diberikan oleh pemerintah kolonial.

     Penutup

    Sebagai generasi penerus, saat ini kita ditantang dalam menghadapi perubahan yang massif dan cepat. Apakah kemudian nilai Pancasila dan NKRI harga mati masih relevan untuk kita? Apakah kemudian kita akan menggantinya?

    Mengganti ideologi negara tidak semudah membalik telapak tangan. Keringat, darah, dan air mata mewarnai peristiwa kelahiran Pancasila. Kita semua tahu sejarah Pancasila keruh dan kusut, dan hal ini menantang kita semua, terutama generasi Z. Kita semua memiliki kekecewaan dan gugatan pada berbagai rezim penguasa yang menjadikan Pancasila sebagai alat, terutama untuk melanggengkan kekuasaannya. Saat ini kita dapat menuntut pemerintah, dalam hal ini Arsip Nasional, untuk membuka akses bagi publik yang ingin membaca salinan stenografi sidang-sidang BPUPKI. Tindakan ini untuk menunjukkan bahwa pemerintah terbuka pada elemen-elemen yang berhubungan dengan sejarah Pancasila.

    Kehidupan multikultural yang saat ini kita jalani, membuat kita mempertanyakan kembali makna kesatuan. Meskipun kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, apakah kemudian dapat kita jadikan pegangan sampai saat ini? Untuk itu menyelidiki sejarah bangsa sangat perlu dilakukan oleh generesi muda. Fakta sejarah perlu ditelurusi. Ada baiknya generasi muda mempelajari sejarah budaya yang berbeda dari orang tuanya. Mempelajari sejarah akan lebih mengenai sasaran dengan masuk ke dalam hidup sehari-hari budaya tersebut. Menghormati keberagaman sangat penting dilakukan, mengingat kemajemukan budaya dan agama yang kita miliki saat ini. Sehingga saat kita mengadopsi makna kesatuan, kita sudah paham tentang keragaman yang kita miliki. Sebab keragaman itu bukan untuk diseragamkan, tetapi untuk membuat hidup semakin kaya dan bermakna dalam kebersamaan.

    ————————————————————–

    Referensi

    https://kominfo.go.id/content/detail/29115/hoaks-nama-indonesia-berasal-dari-akronim-inisial-wali-songo/O/laporan_isu_hoaks

    https://www.qureta.com/post/menuju-republik-indonesia-serikat

    https://amp.tirto.id/umur-pendek-negara-jawa-timur-bBLD

    https://m.kumparan.com/qusthan-abqary-hisan-firdaus-l00286/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka-berbahaya-1wKQr0ydvrB/full

    https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-sejarah/amp/