Author: Redaksi

  • Pangkalan TNI AL Maumere Gelar Pelatihan Pemantapan Keamanan Laut

    Maumere Berandanegeri.com – Dalam rangka  menegakkan hukum dan menjaga kedaulatan wilayah laut, Pangkalan TNI AL (Lanal) Maumere menggelar kegiatan pelatihan pemantapan keamanan laut bagi Personil TNI AL.

    Kegiatan tersebut dipimpin oleh Komandan Pangkalan Angkatan Laut Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr.Hanla., M.M.,CTMP, di Balai Prajurit Lanal Maumere, Senin 24 Mei 2021.

    Danlanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga mengatakan, pelatihan pemantapan kemananan Laut TW II tahun 2021 tersebut adalah salah satu kegiatan yang telah terprogramkan guna meningkatkan kemampuan personel Lanal Maumere untuk melaksanakan kegiatan keamanan di laut dalam menindak pelanggaran- pelanggaran di laut yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

    Komandan Pangkalan Angkatan Laut Maumere, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P.M. Tr.Hanla M.M CTMP Memimpin Kegiatan Pelatihan Pemantapan Keamanan Laut Bertempat di Balai Prajurit Lanal Maumere.

    “TNI Angkatan Laut dituntut untuk menegakkan hukum serta menjaga kedaulatan di Laut Republik Indonesia. Untuk itu, prajurit TNI AL baik perorangan maupun berkelompok wajib mempunyai pengetahuan serta mengerti hukum laut. Kegiatan ini juga menjadi momentum bagi prajurit matra laut untuk menghargai nilai heroisme dan semangat pengabdian tanpa pamrih,” tegas Danlanal Maumere.

    Kegiatan pembukaan latihan Keamanan Laut TW 2 Lanal Maumere dihadiri oleh Kadiskum Lantamal VII Kupang, Mayor Laut (KH) Jimrifes Batawa, S.H., Kapolres Sikka AKBP Sajimin, S.I.K, Kasdim 1603/Sikka Mayor Inf. Gede Pande, Kajari Sikka Fahmi, S.H, Ketua Pengadilan Negeri Maumere Johnicol Richard Frans Sine, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka Paulus Bangkur, S.Pi, Kepala Dunas Perdagangan dan Koperasi UKM Kabupaten Sikka Drs. Lukman, M.Si., Kasiops Kantor SAR Maumere I Wayan Suwena, S.H, General Manager PT Pelindo III Maumere Erry Ardiyanto, PPKK KSOP pelabuhan L. Say Maumere Alexander S. Maunta, Palaksa Lanal Maumere Mayor Laut (P) Samsul Bahri, M. Tr. Opsla, Pasops Lanal Maumere, Mayor Laut (P) Moh. Makruf, Dandenpom Lanal Maumere Kapten Laut (PM) I Made Sugiarta dan Paspotmar Lanal Maumere Kapten Laut (KH) Moh. Bono. (Atick)

  • Membidik B. Herry-Priyono Mengatasi Melankoli

    oleh Khudori Husnan (Esais, Alumnus STF Driyarkara dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

    Irony is the positive name which the melancholic gives to his solitude, his asocial choices. (Susan Sontag, Under the Sign of Saturn).

    Pengantar

    Di akhir 2017 atau mungkin 2018, saya lupa persisnya, sambil menenteng kamera saya mendatangi kampus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkaa Jakarta.  Selain ada  buka puasa bersama, di sana  digelar acara tutup semester untuk Mahasiswa S2, sekaligus perayaan ulang tahun  untuk sejumlah dosen  termasuk, seingat saya, Prof. Dr.Franz Magnis Suseno, SJ, (Romo Magnis)  Prof. Dr.  Kautsar Azhari Noer, Prof. Dr. J. Sudarminta, SJ,   Dr. Simon Petrus Lili Tjahjadi (Romo Lili), dan Dr. B. Herry-Priyono, SJ.  (selanjutnya disebut BHP).

    Berulang kali saya coba merekam gerak-gerik BHP, berkali-kali juga BHP selalu terlihat tidak nyaman,  gelisah dan berusaha menghindar.  Sikap berbeda diperlihatkan sejumlah dosen lain yang memilih cuek saat berkonfrontasi dengan kamera. Romo Lilil  bahkan tampak luwes berpose.

    Tulisan ini bukan tentang hiruk-pikuk acara tutup semester, melainkan tentang bagaimana sikap seorang BHP saat berhadap-hadapan dengan lensa kamera dan dari cara BHP bersikap pada kamera itu, saya akan menguraikan  kesan-kesan saya tentang BHP.

    Kreativitas di Balik Kamera

    Selain mampu menghadirkan kembali masa lalu di masa kini, fotografi juga berkemampuan memasa-lalukan masa kini. Lewat bidikan juru kamera, obyek-obyek usang akan selalu dikenali di masa kini dan lewat mata juru kamera pula, obyek-obyek di masa kini, akan segera menjadi masa lalu usai dipotret.

    Mengacu ke pemikiran Roland Barthes dalam Camera Lucida, melalui apa yang disebutnya sebagai ‘spektrum fotografi,’ praktik fotografi mencakup tiga unsur pokok yaitu juru kamera, penyimak, dan target. Jika perhatian kita terpusat pada juru kamera, maka kita akan berhubungan dengan suatu keahlian  dan tujuan-tujuan tertentu  dari juru kamera.

    Sementara itu, jika perhatian kita arahkan pada para penyimak potret, maka kita terhubung dengan fungsi sosial dari produk fotografi  yang dapat disimak oleh  khalayak ramai. Terkakhir,  jika fokus kita adalah obyek yang dipotret, maka kita akan menemukan hubungan yang tampak  eksploitatif   antara juru kamera  dengan target yang dipotret.

    Kamera, dalam pandangan sejumlah pemikir,  sering dianggap memiliki kemampuan melakukan objektifikasi secara agresif.  Susan Sontag dalam On Photography, misalnya,  menyebut kamera  sebagai  a predatory weapon,  satu unit kamera, dalam bayangan Sontag, tak ubahnya  senjata pemangsa yang mematikan. Lebih jauh, Susan Sontag   mengatakan  “Just as camera is a sublimate of the gun, to photograph someone is  sublimated murder a soft murder, appropriate to a sad, a frightened time.”

    Melalui fotografi, tatapan mata juru kamera adalah jenis tatapan mata yang berkehendak melakukan obyektivikasi.  Kamera, meminjam istilah yang sedikit teknis, bisa dan biasa mereduksi subyetivitas menjadikanya sekadar obyek belaka, yang secara simbolik bisa dimiliki oleh orang lain (baca juru kamera) untuk kemudian  dimanfaatkan  sesuka hatinya.

    Sementara itu,  obyektivikasi terjadi hanya ketika komunikasi, sebagai perwujudan dari subyektivitas, disangkal oleh pihak-pihak yang terlibat. Artinya,  seumpama  antara juru potret dengan target yang dipotret ada suatu hubungan timbal balik yang mesra, obyektivikasi atau penguasaan subyek atas obyek, barangkali bisa dihindari. 

    Selain itu, dari kaca mata juru kamera  dan penyimak foto, sebuah foto yang bagus biasanya dihasilkan dari adanya  kesepahaman atau sikap  saling pengertian antara juru potret dan yang dipotret; Juru potret yang keren dan berpengalaman biasanya akan mengutamakan empati dan ‘rasa’  saat memotret.

    Pokok perkaranya  barangkali bukan terletak pada  adanya dua kutub berlawanan yang mengatakan  di satu pihak fotografi   adalah medium bagi berlangsungnya  obyektivikasi atau dengan lain perkataan fotografi  “mematikan” kekhasan subyek, dan di pihak lain  fotografi  bisa “menghidupkan” subyek dengan cara menonjolkan kekhasan-kekhasannya, tapi, yang perlu digaris-bawahi adalah  perlunya sebuah sikap kreatif dan bertanggung jawab terhadap  fotografi.

    BHP vs Kamera

    Di hadapan kamera, siapapun dia, akan merasa kikuk  meski hanya berlangsung sepersekian detik. Di hadapan kamera juga,  karakter seseorang, dari sebuah pemeriksan yang terperinci, akan bisa dikenali, seperti pernah dilakukan fotografer senior Darwis Triadi saat dia mengatakan, “sudah ratusan ribu saya foto dan saya tau betul membaca wajah dari pengalaman saya dan wajah Ahok adalah jujur, tegas, dan komitmen.”

    Ihwal BHP yang tampak tak nyaman dan terkesan selalu merasa terancam saat di hadapan kamera, bisa pembaca periksa pada beberapa fotonya di internet serta  di sejumlah tayangan video di YouTube dan menampilkan BHP. Di sana akan terpampang jelas bagaimana mata  BHP nyaris tak pernah menatap langsung ke arah kamera, bahkan ketika ia sedang melakukan diskusi virtual via aplikasi Zoom.

    Keengganan BHP diabadikan lewat kamera pernah disinggung B. Josie Susilo Hardianto dalam tulisan berjudul  Bertekun dalam Sepi   (dalam A. Tri Nugroho dkk [ed], B. Herry Priyono Dalam Kenangan,   Ikatan Alumni STF Driyarkara, 2021, hal, 61-62). B. Jossie Susilo Hardianto mengisahkan pengalamannya saat menulis untuk rubrik Sosok koran Kompas dan dia gagal mendapat  foto diri  BHP,  hingga akhirnya visualisasi sosok  BHP, hanya  muncul dalam bentuk karikatur berdasar salah satu foto BHP.

    BHP, demikian Jossie Susilo Hardianto, “tidak ingin terjebak dalam selebrasi dan menjadi selebritas.”   B. Jossie Susilo Hardianto juga menulis  BHP “ingin menyisihkan lebih banyak waktu untuk bergumul dengan buku, data, dan statistik … baginya   menghindar jauh dari sorotan lensa dan cahaya studio membuatnya lebih bebas bergumul denga isu-isu yang menjadi keprihatinannya.”

    BHP  sepertinya paham  ada risiko tertentu di balik selebrasi dan menjadi selebritas yang dimediasi oleh kamera. Walhasil, ia memilih menghindar. Terlepas dari masalah selebritas dan selebrasi, yang diperantarai oleh perkakas bernama kamera, ada perkara yang lebih mendalam  di balik praktik fotografi dan BHP.

    Di lembar-lembar terakhir buku  B. Herry Priyono dalam Kenangan, terdapat sejumlah foto BHP, dan dari delapan foto BHP, setidaknya hanya ada tiga foto yang menunjukkan BHP dengan wajah mengarah ke lensa kamera–itu pun saat BHP berfoto dengan sejumlah orang.

    Pada foto tertanggal 14 Agustus 2014 BHP terlihat memicingkan mata, menatap ke arah kamera dengan tatapan mata  yang khas BHP, “sinis tak sinis,” meminjam istilah dari Romo Magnis, seperti tertulis juga di buku  B. Herry Priyono dalam Kenangan (Hal.  108).

    Foto dari tahun 2001 di Tana Toraja. BHP berdiri seorang diri di  teras sebuah rumah besar  dengan latar belakang sebuah pemandangan alam. BHP  tak beralas kaki. Tangan kiri BHP memegang pergelangan tangan kanan dan  diletakkan di  depan  perut.

    Stola putih, penanda sakramen imamat yang diterima dan dihayati BHP  sebagai seorang imam Jesuit, yang dikalungkan di leher terlihat kontras  dengan busana serba gelap yang dikenakannya.  Stola warna putih dipakai para imam  di Hari Raya Natal, Paskah,  Hari Kamis Putih, Hari Raya Orang Kudus, atau hari raya-hari raya  khusus dalam liturgi Gereja Katolik.

    Wajah BHP tertunduk,  seperti sedang merenung, terlihat murung, dan  sedih.   Juru kamera membidik BHP dari samping  dan seperti biasa, tidak ada kontak mata langsung antara  BHP dengan lensa kamera. Foto sepertinya diambil secara  diam-diam. Sebuah foto yang sangat melankolis.

    BHP dalam tulisan  Kangen Kepada Tuhan  (akan diulas lebih jauh di bawah) banyak bicara tentang ketegangan yang selalu membayangi posisinya yang sekaligus sebagai  ilmuwan sosial dan imam Jesuit.  Stola yang terkalung di leher terkesan  begitu berat ditanggung BHP hingga tubuh BHP pun terlihat ringkih dan menunduk. Tapi, ia  berusaha untuk tetap berdiri.

    Suasana murung  di foto BHP ber-Stola menyiratkan  ketegangan antara di satu pihak sikap percaya kepada Tuhan (iman) yang harus diutamakan oleh seorang agamawan di satu pihak dan  sikap skeptis  dan kritis  khas  seorang ilmuwan  yang  selalu bekerja dengan penalaran, data, statistika, dan penelitian empirik di lain pihaknya. Kemurungan BHP di foto BHP ber-Stola bisa jadi merupakan ekspresi ketegangan antara nalar/akal budi di satu sisi dan iman kepada Tuhan di sisi lainnya.

    Foto BHP ber-Stola ini sangat dramatis. Foto ini  berhasil mengungkap karakteristik BHP yang kompleks;  memiliki kepekaan tinggi, terkesan sombong,  serius, hati-hati, cerdas, tertutup, penyendiri,  keras kepala, konsisten, dan tanpa basa-basi.   

    Peziarah yang Melampaui Melankoli 

     Kangen Kepada Tuhan (dalam B. Herry Priyono Dalam Kenangan hal.  313-314) adalah catatan  yang dibuat BHP sehari  sebelum BHP  menghembuskan nafas terakhir pada 21 Desember 2020 karena serangan jantung di usia 60 tahun. Romo  Magnis, salah seorang mentor penting BHP, melukiskan kabar  meninggalnya BHP yang mengejutkan banyak pihak itu dengan kalimat “seperti kilat di hari cerah.”

    Catatan  Kangen Kepada Tuhan  dibuka dengan tulisan “Ya … itu terasa sebagai sebuah kekosongan yang pedih. Tapi, setelah jatuh-bangun melalui banyak krisis besar, lambat laun saya punya cara sendiri.”

    Sulit untuk tidak merasakan adanya suasana melankolis  dalam  tulisan “Kangen Kepada Tuhan” yang sangat personal dari BHP ini.  “Kekosongan yang pedih,” lalu “jatuh bangun melalui banyak krisis besar,” terdengar seperti sebuah pengakuan akan adanya pergulatan batin yang dahsyat  dan  beban hidup  amat berat,  yang harus dipikul   BHP sendirian.  Seorang melankolis , demikian tulis pemikir mutakhir asal Inggris  Alain de Botton, tidak sekadar mengetahui dimensi tragis dari insight-insight  mereka tapi juga  berani menanggungnya seorang diri.

    BHP menulis,  “‘Kangen Kepada Tuhan’itu juga membuat saya perlahan belajar bahwa tidak pernah ada situasi ideal. Situasi selalu situasional. Artinya, tidak permah terjadi sepenuhnya apa yang saya inginkan…”

    BHP mafhum segala sesuatu yang terjadi di dunia,   tak selalu berjalan sebagaimana seharusnya seperti yang ia cita-citakan. Sebaliknya, kenyataan di sekitar BHP kerap melenceng jauh dari apa yang ia bayangkan sebagai yang ideal.  Kendati demikian, BHP juga menolak untuk menanggapi situasi  tidak beres,  bahkan cenderung brengsek  itu, dengan tindakan-tindakan ekstrim  berbalut kemarahan   yang frontal.  BHP memilih melakukan orkestrasi antara antara yang idealistis  dengan yang realistis.

    Sikap BHP menunjukkan kekhasan seorang melankolis yang,  karena kecakapan dan kedalaman    wawasan keilmuannya,  mengetahui dimensi-dimensi realitas   secara jauh lebih luas  bila dibandingkan dengan  orang kebanyakan. Ia adalah seorang pembaca tanda-tanda zaman yang jempolan. 

    BHP  menegaskan  “Maka mari peluk ciri terbatas situasi! Mari peluk kondisi yang selalu terbatas  ini! Peluklah ketidak-terjadinya kepenuhan ini! Yaa mari kita peluk kegembiraan hanya dengan Anugerah Kangen Kepada Tuhan” saja! Itu sudah cukup bagi saya bukan hanya untuk hidupi kondisi terbatas (karena pandemi  ini), tetapi juga untuk tetap mengalami bahwa Dia menuntun saya. Maka, saya juga dekati dengan mata batin “keterbatasan” dan ciri tidak ideal situasi, dan saya tidak kehilangan kegembiraan batin.”

    BHP  yang menyebut dirinya seorang peziarah itu, dikenal luas sebagai imam Katolik dari ordo Yesuit, ilmuwan, penulis, pemikir, aktivis, dan akademisi.  Aneka penyebutan untuk BHP menyiratkan kesan BHP tidak hanya terpaku pada satu bidang kajian. Kendati demikian, BHP  bukanlah seorang  yang hanya mengetahui suatu pengetahuan sekadar dari kulit permukaannya belaka. Ia menekuni semuanya sejauh masih berada di aras refleksi kritis dan radikal khas modus berpikir filosofis.

    BHP di catatannya Kangen Kepada Tuhan mennulis  Sebagai Jesuit, saya memeluk mistik hidup dalam tegangan; antara sorga dan dunia, antara kontemplasi dan aksi, antara yang tak terbatas dengan yang terbatas. Yang pertama bukan musuh yang kedua, yang kedua bukan musuh yang pertama.”

    BHP  merelakan dirinya tetap terbuka   bagi berbagai diskursus, aneka  disiplin ilmu dan arus gagasan-gagasan besar. BHP tampaknya berpandangan hanya dengan cara seperti itu  dia  tetap bisa berkiprah merawat kehidupan dan membela kemanusiaan di tengah situasi-situasi yang melulu tidak ideal.

    Melalui jalan “mistik hidup dalam tegangan,”  BHP terselamatkan dari kemalangan eksistensial seperti banyak dialami para melankolis   seperti salah satunya oleh  sang melankolis,   pemikir dan kritikus terkemuka Walter Benjamin, yang diyakini banyak pihak memilih mati  bunuh diri di usia 48 tahun.

    Susan Sontag dalam tulisan berjudul Under the Sign of Saturn yang mengulas  karakter melankolis pemikiran dan sepak terjang  Walter Benjamin, pernah menulis begini; “Benjamin menempatkan dirinya pada persimpangan jalan (crossroads). Hal ini penting baginya untuk tetap berada di banyak ‘posisi;’ teologis, surealis/estetis, komunis. Satu posisi mengoreksi yang lain; dia  memerlukan semuanya.”

    Berada di banyak posisi dan hidup dalam buaian  ketegangan, sementara Walter Benjamin  harus  tumbang dalam kemalangan di akhir hayatnya, tapi tidak demikian halnya dengan BHP  seperti saat dia  menulis “saya tetap lihat wajah Tuhan dalam tegangan itu, dan saya tetap dengar suara-Nya dalam tegangan dua kutub itu. ” Lugasnya, BHP  “tidak kehilangan kegembiraan batin.”

    Orang-orang melankolis sering dikatakan terlahir  “di bawah tanda Saturnus.”   Saturnus sendiri adalah bintang terjauh yang dapat diketahui dari planet bumi. Saturnus sering diasosiasikan  dingin, bayangan, dan kematian. Tapi, Saturnus,   kata Alain de Botton, “juga berkaitan dengan kekuatan untuk menginspirasi pencapaian-pencapaian luar biasa di  bidang  pemikiran dan imajinasi.”

    Ya. Kekuatan terbesar BHP adalah dalam hal  memberikan inspirasi bagi orang-orang terdekatnya. Daya inspiratorial BHP  terrekam dalam sebuah buku berjudul  B. Herry Priyono dalam Kenangan Kami  (A. Tri Nugroho dkk [ed], Ikatan Alumni STF Driyarkara, 2021).  Di buku setebal kebih dari tiga ratus halaman ini, pembaca akan menemukan begitu banyak cerita, kesaksian, insight dari berbagai pihak yang pernah berinteraksi dengan BHP; para mentor, anak didik, kolega, keluarga, dan masih banyak lagi.

    Kebanyakan kontributor tulisan di buku ini mengaku sangat terkesan dengan kecerdasan BHP, sosok yang pernah menyandang predikat sebagai mahasiswa  terbaik di LSE (London School of Economics and Political Science). Mereka  merasa berhutang banyak pada BHP melalui caranya mengajar, menulis, gerak-gerik, hingga   kebiasaan-kebiasaannya di keseharian.

    Tangan dingin BHP berhasil membangkitkan jiwa-jiwa yang sebelumnya “minder” menjadi sangat penuh percaya diri.  Tidak sedikit yang  nyaris tersesat dalam studi, akhirnya terselamatkan oleh sentuhan ajaib BHP. Di sini BHP tak ubahnya juru selamat.

                                     ************

  • Dukung Program kerja PMI, Danlanal Maumere Sumbang Darah

    Maumere Berandanegeri.com – Dalan rangka mendukung program kerja Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka guna pemenuhan kebutuhan darah, Komandan Lanal Maumere, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P.M.Tr.Hamla,M.M., CTMP menyumbangkan darahnya kepada PMI Kabupaten Sikka di kantor SAR Maumere, Kamis (20/5/2021).

    Disela-sela pengambilan darah, Danlanal Maumere mengatakan “Mari kita bantu orang-orang yang membutuhkan darah guna melanjutkan hidup mereka, karena darah yang kita sumbangkan sangat berarti untuk mereka yang membutuhkan. “ini adalah nilai ibadah serta saling tolong menolong, “himbau Danlanal Maumere.

    Kepala SAR Maumere, I Putu Sudayana mengatakan kegiatan donor darah adalah program kerja  kantor SAR dan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap 4 bulan sekali.

    “Kegiatan ini kita lakukan bersama TNI Polri dan instansi komunitas maritim, setiap empat bulan sekali, “sebut I Putu Sudayana.

    I Putu Sudayana menyebutkan  total penyumbang darah yang bisa diambil serta memenuhi syarat sebanyak 25 orang dari 28 orang.sedangkan 3 orang tidak dapat melaksanakan donor darah dikarenakan tensi rendah dan juga masa pemulihan setelah didiagnosa reaktif Covid-19.

     I Putu Sudayana pada kesempatan itu juga mengucapkan terimakasih kepada Komandan Lanal Maumere yang sudah berpartisipasi dengan menyumbangkan darahnya kepada PMI.

    Turut berpartisipasi dalam pengambilan darah diantaranya Kepala Basarnas Maumere I Putu Sudayana, Kepala Seksi TOKPD Bandara Maumere, I Putu Eka Budayasa, Pelaksana Lanal Maumere, Mayor Laut (P) Samsul Bahri, Pjs Danunit Intel Lanal Maumere, Kapten Laut (KH) M.Bono, Anggota Basarnas Maumere, Personel Kodim 1603/Sikka, Personel Polres Sikka, Pegawai KSOP Maumere. (Atick)

  • Danlanal Maumere Apresiasi Kerja Panitia Penerimaan Tamtama Gelombang 1 Tahun Anggaran 2021 Panda Lanal Maumere

    Maumere Berandanegeri.com – Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi,M.Tr.Hanla M.M.CTMP, mengapresiasi kerja panitia Penerimaan Tamtama Gelombang 1 Tahun Anggaran 2021 Panitia Daerah (Panda) Lanal Maumere, dalam amanatnya  saat memimpin  upacara Penandatanganan Pakta Integritas dan Sumpah Jabatan Panitia Penerimaan Tamtama Gel 1 TA 2021 Panitia (Daerah) Panda Lanal Maumere berlangsung dilapangan olahraga Lanal Maumere, Kamis (20/5/2021).

    Dikatakannya selaku Komandan Lanal Maumere dan sebagai ketua panitia daerah mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada seluruh panitia Lanal Maumere, karena dengan penuh semangat dan ikhlas meluangkan waktu dalam melaksanakan tugas penerimaan prajurit saat ini. “Saya juga mengucapkan terimakasih kepada adik-adik calon Prajurit TNI Angkatan Laut yang dengan penuh semangat mengikuti tahap, demi tahap seleksi dan saya harapkan kalian lulus menjadi prajurit TNI Angkatan Laut,” ungkap Danlanal Maumere.

    Komandan Lanal Maumere juga menyampaikan perintah dari Kepala Staf Angkatan Laut yaitu dalam proses penerimaan Prajurit TNI Angkatan Laut harus sesuai dengan seleksi yang berlaku

    “Bagi prajurit TNI Angkatan Laut atau siapapun juga dilarang melakukan praktek percaloan, seleksi seluruh prajurit TNI Angkatan Laut gratis dan tanpa dipungut biaya, bila terjadi praktek percaloan maka oknum akan dihukum sesuai aturan hukum yang berlaku, “tegas Danlanal Maumere selaku ketua panitia Daerah Lanal Maumere.

    Danlanal Maumere juga menegaskan, bagi calon siswa Tamtama TNI AL yang memenuhi persyaratan dalam proses seleksi akan mengikuti tahapan seleksi pusat di Malang. Saya harapkan kalian lulus menjadi prajurit TNI Angkatan Laut,” tuturnya.

    Sementara itu Perwakilan Orang Tua calon siswa Tamtama TNI AL, Anwar mengatakan  “kami sangat berterimakasih kepada Lanal Maumere serta  memberikan kepercayaan  sepenuhnya kepada panitia perekrutan Calon Tamtama AL agar proses ini dilaksanakan secara transparan dan terbuka.

    “Proses seleksi dilakukan dengan transparan dan terbuka, karena pengalaman di Lanal Maumere bagi casis yang dinyatakan gugur diberi kesempatan untuk bertanya dimana letak kekurangannya, sehingga diketahui dan kemudian diperbaiki,” ujar Anwar.

    Hadir dalam Upacara tersebut pelaksana Lanal Maumere, Mayor Laut (P) Samsul Bahri,S.E.M,Tr.Opsla, Pasintel Lanal Maumere Mayor Laut (P) M.Makruf, Pasminlog Lanal Maumere, Mayor Laut (T) Nono Sumarno dan seluruh perwira Staf Lanal Maumere dengan peserta upacara terdiri dari barisan Prajurit Lanal  Maumere dan Calon Siswa Tamtama Panda Lanal Maumere, serta dihadiri oleh perwakilan orang tua calon siswa Tamtama TNI AL Gel 1 TA 2021 Panda Lanal Maumere.  (Atick)

  • Danlanal Maumere Paparkan Rencana Pengembangan Wisata KBN Desa Kojadoi

    Maumere Berandanegeri.com – Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr.Hanla., M.M., CTMP memberi paparan rencana penyiapan pengembangan  wisata Kampung Bahari Nusantara (KBN),  Desa Kojadoi, Kecamatan Alok, Kabupaten  Sikka.

     Pemaparan ini dalam rangka rapat koordinasi Pokja Badan Pelaksana Otoritas Labuan Bajo Flores (BPOLBF) bersama Pemerintah Daerah bertempat di Ballroom Hotel Capa Resort Maumere, Rabu(19/5/2021).

    Dalam paparannya, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr.Hanla., M.M., CTMP mengatakan “TNI adalah komponen utama Pertahanan dan Keamanan Rakyat yang mempunyai Tiga Tugas Pokok. Ketiga tugas pokok itu antara lain pertama menegakkan kedaulatan negara, kedua mempertahankan keutuhan negara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan ketiga melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.”

    Pada kesempatan itu, TNI Angkatan Laut (Lanal) Maumere mengajak  Pemerintah Daerah maupun Pusat untuk bersinergi memberdayakan dan memanfaatkan anugerah Tuhan yang ada di wilayah Kabupaten  Sikka khususnya Desa Kojadoi yang memiliki keindahan alam laut dan pemandangan Bukit Purba sebagai tempat destinasi “The Acient Sea Rock Mountain

    “Mari kita bersama – sama persiapkan  Wisata Kampung Bahari Nusantara (KBN) Desa Kojadoi, Kecamatan Alok untuk mewujudkan impian kita menjadikan Desa  Kojadoi tempat destinasi yang mendunia, “ucapnya.

    Danlanal Maumere berharap apresiasi dan dukungan penuh dari Kadis Pariwisata Kabupaten  Sikka dan Direktur Industri dan Kelembagaan BPOPLBF terhadap pengembangan KBN Desa Kojadoi.

    Turut hadir dalam rapat koordinasi tersebut diantaranya : Direktur Industri dan Kelembagaan BPOLBF, Ibu Neysa Amelia, Kadis Pariwisata Kab. Sikka, Petrus Poling Wairmahing, Kadis Kelautan dan Perikanan Kab. Sikka, Paulus Bangkur, Kadis Kominfo Kab. Sikka, Drs. Kensius Didimus, Pjs Pasops Lanal Maumere, Mayor Laut (P) M. Makruf, Danunit Intel Lanal Maumere, Kapten Laut (KH) M. Bono, Pjs. Kapen Lanal Maumere, Lettu Laut (P) Heru Elfianto, para OPD Kab. Sikka, staf Kementerian Pariwisata RI dan Staf Dinas terkait Kab. Sikka.

    (Penlanalmmep/Atick)

  • Blaise Pascal dan Kebahagiaan

    Blaise Pascal dan Kebahagiaan

    Oleh Agustinus Tetiro ( Jurnalis, Alumnus STFK Ledalero )

    untuk Ignas Kleden pada HUT ke-73

    BLAISE PASCAL (1623-1662) mengatakan, semua orang mencari kebahagiaan, tanpa ada pengecualian.[1] Dalam proses pencarian kebahagiaan itu, kadang manusia bahkan bisa tiba pada ketidakbahagiaan. Lalu, manusia harus bagaimana untuk menemukan dan tiba pada kebahagiaan otentik? Untuk bahagia, manusia harus menerima Allah sebagai pribadi yang tak terbatas dan tak berubah.[2] Pascal langsung merujuk pada Yesus Kristus sebagai awal dan akhir pencarian manusia. Dengan mengenal Yesus, kita bisa mengetahui semua yang terjadi.[3]

    Menurut Pascal, sebagai makhluk yang kontradiktoris, manusia membutuhkan Tuhan. Kontradiksi kondisi manusia bersifat paradoksal. Manusia adalah makhluk yang nista sekaligus luhur, hina serentak mulia. Manusia tidak sepenuhnya rasional, tetapi juga tidak seluruhnya irasional. Relasi kedua hal yang paradoksal ini terjadi secara dialektis. Inilah keadaan yang kemudian membuat manusia hampir selalu tidak puas dan tidak pernah mencapai kesempurnaan. Pascal menyatakan, keluhuran manusia berasal dari kehinaannya. Hanya dengan mengakui kerapuhannya, manusia bisa menunjukkan kebesaran dan kemuliaan.[4]

    Pengakuan akan kerapuhan dan kenistaan memungkinkan manusia menerima Allah setelah Allah mengaruniahkan rahmat-Nya. Hal ini hanya bisa dilakukan dalam jalan iman dan bukan hasil dari proses rasionalisasi.[5] Iman itulah yang menyelamatkan dan membahagiakan manusia. Inilah jaminannya bahwa “Tuhan mengubah hati manusia dengan kemanisan surgawi yang Dia tanamkan di dalamnya, yang mengatasi kelezatan daging.”[6]

    Penekanan pada iman ini berkaitan dengan konteks historis Pascal. Ada dua pokok pikiran Pascal, yaitu anti-rasionalisme dan pembedaan antara Allah iman dan Allah filsafat.[7] Pertama, anti-rasionalisme. Dengan mengatakan bahwa hati mempunyai logikanya sendiri, filsafat Pascal merupakan reaksi terhadap rasionalisme Descartes. Kedua filsuf ini hidup di zaman yang sama, filsafat zaman barok. Menurut Pascal, akal budi hanyalah salah satu sumber pengetahuan dan akal budi mempunyai batas. Pengetahuan lain disebut logika hati atau dikenal luas sebagai pengetahuan intuitif. Logika hati bukanlah letupan emosi belaka, tetapi unsur pemahaman yang berlainan dari rasio. Pascal menggunakan ‘hati’ dalam berbagai makna: ‘kehendak’, ‘kepercayaan’, dan ‘kemampuan untuk mengetahui’.[8]

    Kedua, Allah iman, Allah filsafat.  Manusia bertemu dengan Allah dalam hatinya. Mungkin akan terlihat melawan rasio.  Menurut Pascal, “bukti metafisik tentang Tuhan begitu terpisah dari akal manusia, dan sangat rumit bahwa meskipun menarik perhatian, dan jika terlihat muda dipahami, itu hanya sesaat, dan satu jam kemudian terlihat bisa salah.”[9] Dari kesadaran seperti inilah, Pascal berbicara tentang pertaruhan (Le Pari) tentang ada-tidaknya Allah, yang secara singkat berbunyi: “Kalau kau percaya (akan adanya Allah), kalau kau menang, kau memenangkan segalanya, kalau kau kalah (ternyata Allah tidak ada), kau tidak kehilangan apapun. Jadi, percayalah jika kau dapat.”[10] Allah yang dimaksud Pascal tentu saja Allah iman, sebagaimana “yang diimani Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah yang penuh kasih dan penebusan.”[11]

    Sampai di sini, kita tahu bahwa apa yang khas pada konsep kebahagiaan Pascal adalah pengajaran dan penekanannya pada pengetahuan intuitif dalam mengenal sumber dan tujuan kebahagiaan yaitu Allah (Yesus Kristus). Dengan logika hati, Pascal mengajarkan bahwa jalan intuisi bukan pengganti jalan rasional. Keduanya hadir untuk saling melengkapi. Jalan intuisi, secara negatif, diartikan sebagai jalan pikiran yang tidak deduktif dan tidak induktif. Suatu penalaran tanpa silogisme lengkap. Secara positif, intuisi tentang Allah berarti kesadaran langsung kuasi-eksperimental tentang kehadiran Allah.

    Penilaian tentang jalan intuisi pembuktian adanya Tuhan pada umumnya dalam hubungan dengan jalan pembuktian rasional tentang adanya Tuhan. Jalan rasional seringkali kering, abstrak, dan tidak menyentuh hati manusia. Jalan rasional menghantar manusia pada Allah para filsuf (Deus Philosophorum), dan bukan kepada Allah kaum beriman. “Allah Abraham, Yakub dan Esau, Allah Yesus Kristus.”[12] Lebih jauh, jalan rasional mengandaikan pengetahuan filsafat yang cukup mendalam serta kemampuan menarik kesimpulan logis atas dasar kenyataan yang ada dan menggunakan prinsip-prinsip metafisis, tetapi kebanyakan orang tidak mempunyai kemampuan itu. Maka, bahaya dari jalan rasional adala bahwa jalan ini cenderung menggunakan kategori-kategori empiris untuk Yang Transenden. Hal ini bisa menurunkan Yang Transenden menjadi intra-duniawi.[13] Sementara itu, jalan intuisi jauh lebih sederhana, langsung dan menyentuh hati manusia, karena hampir semua orang bisa mengerti dan menggunakan jalan ini. Akan tetapi, jalan ini sangat bergantung pada penghayatan subjektif manusia. Orang jahat yang hidup sembrono sulit diharapkan sadar ke arah Tuhan melalui hati nuraninya.

    Bagi Pascal, yang mendalami “kegiatan ilmiah yang sangat rasionalistis dan duniawi ini diiringi dengan kecenderungan asketisme dalam hidup pribadinya”[14], jalan rasional dan jalan intuisi saling melengkapi karena kedua-duanya diperlukan. Tanpa jalan rasional, maka jalan intuisi gampang jatuh dalam sentimentalisme dan subjektivisme. Sebaliknya, tanpa jalan intuisi, maka jalan rasional gampang membawa kita kepada abstraksi yang kering, dengan menjadikan Yang Transenden itu objek pengetahuan rasional belaka, seperti objek pengetahuan empiris. Manusia adalah makhluk multi-dimensional, maka jalan rasional dan jalan intuisi mesti dipakai bersama untuk mencari Yang Transenden.  Pascal sendiri “tidak memandang kegiatan ilmiah sebagai kegiatan ‘duniawi’, melainkan sebagai pengabdian kepada Allah.”[15]


    [1]Blaise Pascal, The Thoughts of Blaise Pascal (translated from the text of M. Auguste Molinier by C. Kegan Paul (London: George Bell and Sons, 1901), hlm.69.

    [2]F Budi Hardiman, Pemikiran Modern. Dari Machiavelli sampai Nietzsche (Yogyakarta: Kanisius, 2019), hlm.62.

    [3]“Jesus Christ is the goal of all, and the centre to which all tends. Who knows him knows the reason of all things.” Blaise Pascal, The Thoughts of Blaise Pascal, hlm.68.

    [4]F Budi Hardiman, Pemikiran Modern, hlm.61.

    [5]Michael Moriarty, Grace and Religious Belief in Pascal, dalam Nicholas Hammond (ed), “The Cambridge Companion to Pascal” (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), hlm.144.

    [6]Michael Moriarty, Grace and Religious Belief in Pascal, hlm.149.

    [7]Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm.16-17. 

    [8]F Budi Hardiman, Pemikiran Modern, hlm.60.

    [9]Blaise Pascal, The Thoughts of Blaise Pascal, hlm.67.

    [10]Sebagaimana dikutip, F Budi Hardiman, Pemikiran Modern, hlm.62.

    [11]Blaise Pascal, The Thoughts of Blaise Pascal, hlm.68.

    [12]Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, hlm.17.

    [13]Leo Kleden, Filsafat Ketuhanan (catatan kuliah mimbar) (Maumere: STFK Ledalero, 2008)

    [14]F Budi Hardiman, Pemikiran Modern, hlm.59.

    [15]F Budi Hardiman, Pemikiran Modern, hlm.59.

  • Danlal Maumere Ingatkan Penerimaan Casis TNI AL tidak Dipungut Biaya

    Maumere Berandanegeri.com – Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr.Hanla., M.M., CTMP mengingatkan bahwa penerimaan Calon Siswa (Casis) TNI AL tidak dipungut biaya.

    “Laporkan bila ada oknum yang mengatasnamakan panitia dengan meminta sejumlah imbalan dengan iming-iming kelulusan dan modus seperti itu adalah penipuan,” tegas Danlal Maumre dihadapan para calon siswa Seleksi Tamtama TNI AL TA 2021 Panda Lanal Maumere saat memimpin apel khusus pengecekan kesiapan para calon (Casis) yang berlangsung di lapangan Parkiran  Lanal Maumere, Senin(17/5).

    Dihadapan para calon siswa Seleksi Tamtama TNI AL Gel.1 TA 2021 Panda Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P.M.Tr.Hanla M.M.CTMP menyatakan sebagai calon Prajurit TNI AL harus siap segalanya baik fisik maupun mental dalam menghadapi seleksi.

    “Sekali lagi saya ingatkan bahwa penerimaan calon siswa TNI AL tidak dipungut biaya apapun,”tegasnya.

    Selain pengecekan para calon siswa Tamtama TNI AL Gel.1 TA 202, Danlanal Maumere juga melaksanakan inpeksi kendaran dinas (Randis) Lanal Maumere baik Roda empat maupun roda dua sebagai kesiapan mobile dalam melaksanakan kedinasan pasca Hari Raya Idul Fitri.

    Pengecekan dimaksud meliputi kondisi fisik baik mesin, interior, dan eksterior Randis kepada Pengawak, “ucapnya.

    Lanjut Danlanal,  dalam inpeksi tersebut juga didata jumlah kendaraan dinas yang bisa beroperasi maupun kendaraan dinas yang rusak., ang kemudian akan ditindaklanjuti untuk dilaporkan kepada komando atas agar segera dihapus dalam inventaris dinas.

    Turut mendampingi Danlanal Maumere dalam pengecekan persiapan seleksi Casis Tamtama TNI AL TA 2021 Gel 1 Panda Lanal Maumere Mayor Laut (P) Samsul Bahri M.Tr.Opsla, Pjs Pasops Mayor Laut (P) Moh Makruf Pasminlog Mayor Laut (T) Nono Sumarno beserta perwira Lanal Maumere.

     (Pennlanalmme/Atick)

  • Bantu Penanggulangan Bencana NTT, Lanal Maumere Terima Penghargaan dari Kepala SAR Maumere

    Maumere Berandanegeri.com – Dalam membantu menanggulangi bencana alam banjir bandang di Pulau Adonara dan Pulau Lembata beberapa waktu lalu, Pangakalan TNI AL (Lanal Maumere) mendapat penghargaan dari Kepala  Kantor SAR Maumere, I Putu Sudayana, S.E.,M.AP.

    Hal ini ditandai dengan penyerahan sertifikat penghargaan dari Kepala kantor SAR Maumere kepada Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr.Hanla., M.M., CTMP pada Selasa 18 Mei 2021 di Mako Lanal Maumere sebagai wujud serta apresiasi peduli kemanusiaan pada musibah bencana di Pulau Adonara Kab. Flores Timur dan Kab. Lembata NTT.

    Selain itu peran aktif Lanal Maumere pada bencana Adonara dan Lembata serta Alor adalah mendukung penuh Fasilitas Sandar kepada Kapal Perang RI (KRI) yang akan sandar di Kab. Flotim serta Kab. Lembata untuk mendroping serta mendistribusikan bantuan-bantuan yang diangkut oleh KRI untuk korban bencana NTT.

    Saat terjadinya bencana alam banjir bandang di Kabupaten Flores Timur (P.Adonara) dan Kabupaten Lembata (P. Lembata), seluruh jajaran TNI Angkatan Laut memberikan bantuan dengan pengiriman logistik bantuan melalui kapal perang (KRI) dari markas Angkatan Laut baik dari Jakarta, Surabaya, Kupang dan Maumere. Tercatat ada beberapa KRI yg dikirimkan oleh TNI Angkatan Laut dan terlibat dalam bencana tersebut, antara lain : KRI Oswald Siahaan-354, KRI Ahmad Yani-351, KRI Escolar-871, KRI Tanjung Kambani-971, KRI Semarang-594. Khusus KRI Semarang-594 adalah kapal Rumah Sakit, yang saat itu juga memberikan bantuan medis kepada korban bencana alam dengan melaksanakan bakti sosial di Larantuka Flores Timur dan di Lembata.

    Bantuan tersebut berasal dari seluruh komponen masyarakat yang dikumpulkan oleh Posko Bencana Alam yang didirikan atas perintah Pimpinan Angkatan Laut dan dilaksanakan oleh seluruh jajarannya baik dari Koarmada I, ll dan III, maupun Lantamal serta Lanal jajaran Angkatan Laut di seluruh Indonesia.

    Peran Pemerintah daerah juga sangat luar biasa dalam membantu logistik, diantaranya Pemprov Jatim (Bu Khofifah Gubernur Jatim) dan Pemprov lainnya turut mengirimkan bantuan kemanusian melalui Kapal Perang (KRI).

    Antusiasme masyarakat dengan kehadiran unsur-unsur KRI sangat tinggi, karena disamping membantu melaksanakn pengobatan untuk korban Bencana, juga membawa barang logistik bantuan bencana dalam jumlah sangat banyak.

    Komandan Lanal Maumere mengatakan “Membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan merupakan salah satu tugas pokok TNI dalam Operasi Militer selain Perang (OMSP) sesuai pasal 7 Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004,” tegas Danlanal Maumere.  

    (Penlanalmme/Atick).

  • Pererat Silaturahmi, Lanal Maumere Gelar Olahraga bersama TNI Polri dan Unsur Instansi Maritim

    Maumere Berandanegeri.com – Dalam rangka mempererat silahturahmi bersama TNI-Polri  dan unsur instansi maritim khususnya di wilayah kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, TNI Angkatan Laut (Lanal Maumere) menggelar olahraga bersama, Minggu (16/5/2021).

    Kegiatan berlangsung di Kesatrian Lanal Maumere Jl. Magepanda Km 10 Kecamatan  Alok Barat Kabupaten  Sikka.

    Turut  hadir Danlanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M. Tr. Hanla., M. M., CTMP, Dandim 1603/Sikka, Letkol Inf Zulnalendra Utama, S.I.P,Kapolres Sikka, AKBP Sajimin, S.I.K bersama istri,Kejari Sikka, Fahmi, S.H,Kepala Bea Cukai Maumere, Tommy Hutomo, GM Pelindo III Maumere, Erry Ardiyanto, KSOP pelabuhan L Say Maumere, Halim Eko dan Alexander Mananta,Kakansar Maumere diwakili oleh I Wayan Suwena, S.H, Ketua IDI Kab. Sikka, dr. Asep Purnama bersama istri,. dr. Samuel Galinging, dr. Theo, Kasi Intel Bea Cukai Maumere, Dimas, Perwira,Bintara dan Tamtama Lanal Maumere, Ketua Jalasenastri Cab 3 Korcab VII DJA, Ibu Ekamagdalina Yoga.

    Beberapa olahraga yang digelar bersama diantaranya senam SKJ-88, Diving dan Snorkling, dengan Spot Diving di depan Mako Lanal Maumere.

    Selain olahraga dilanjutkan dengan  kegiatan  diskusi “Pengembangan Kampung Bahari Nusantara” (KBN) binaan Lanal Maumere di Desa Kojadoi dan  Perencanaan Bakti Sosial bidang kesehatan, bekerjasama degan IDI Kabupaten  Sikka.

    Pada kesempatan tersebut, Danlanal Maumere,Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi M.Tr.Hanla M.M. CTMP menuturkan, bahwa tujuan olahraga bersama ini  untuk mempererat tali silaturahmi antara TNI-Polri, dan  unsur instansi maritim diKabupaten Sikka yang selama ini sudah terjalin sangat baik.

    “Jenis-jenis olahraga yang digelar berupa Senam SKJ -88, Diving, Snorkling dan Joy Sailing. Ini dilakukan dengan tujuan agar unsur instansi maritim di Kabupaten Sikka lebih akrab lagi,”, ucapnya.

    “Ditengah merebaknya wabah covid-19 kita harus bisa menjaga diri dengan olah raga sesuai dengan kemampuan, sesuai dengan hobi masing-masing. Dengan olahraga dapat membuat reflek anggota badan serta otot lebih responsif dan tidak kaku, disamping itu setelah olah raga pikiran menjadi fresh/segar,”ungkap Dwi Yoga.

    Danlanal Maumere  menyampaikan, dengan kegiatan olahraga bersama ini diharapkan dapat semakin mempererat jalin kebersamaan, memperkokoh persatuan dan kesatuan antara TNI dan Polri, dan unsur instansi Maritim kabupaten Sikka.

    “Olahraga bersama ini juga untuk saling mengenal tidak hanya di lingkungan Perwira tapi para anggota masing-masing juga agar saling mengenal dalam melaksanakan tugas di wilayah kerja kita. Melalui olahraga bersama ini, marilah kita tetap jaga solidaritas TNI-Polri,” tandasnya.

    Sementara Kapolres Sikka AKBP Sajimin S.I.K mengatakan, “Polres Sikka  menyambut baik kegiatan ini yang dapat mempererat tali silaturahmi TNI-Polri dan unsur instansi Maritim.”

    “Polres Sikka menyambut baik kegiatan silaturahmi ini. Dan berharap kedepannya lebih ditingkatkan lagi,”ungkapnya.

    Dengan kebersamaan ini tentu pelaksanaan tugas di lapangan akan bisa tercapai. Bukti kebersamaan dan kekompakan serta sinergitas TNI-Polri dalam melaksanakan  pengamanan Hari Raya Idul Fitri tahun 2021 dapat berjalan dengan baik, selain itu kegiatan ini sebagai ajang saling kenal antara sesama.

    Pantauan media peserta yang hadir melakukan Jos Sailing melihat spot terumbu karang yang ada diwilayah perairan Maumere dengan menggunakan kapal Reder milik Pangkalan TNI AL. Kegiatan berjalan dengan baik dan tetap mematuhi protokol Kesehatan.(Atick)

  • Kopi, Politik, Ekonomi dan Persaudaraan

    Oleh Markus Makur

    Mengangkat tema ini mungkin sudah terbiasa dijelaskan. Dituturkan. Didiskusikan. Dibahas secara lisan.

    Membahas ini biasa dilakukan  di lingkungan keluarga. Di lingkungan sosial masyarakat. Di kedai-kedai kopi. Disaat sedang arisan keluarga. Arisan komunitas. Bahkan, disaat melaksanakan ritual adat. Di pesta perkawinan dan lain-lainnya.

    Di berbagai kesempatan saat dua tiga orang berkumpul pasti disuguhkan minuman kopi. Kecuali ada yang tidak minum kopi karena berbagai alasan dan pertimbangan kesehatan. Di saat kita minum kopi, pasti ada perbincangan lepas bebas, tentu bertanggungjawab.

    Satu teguk minuman kopi pasti memunculkan diskusi. Interaksi sosial terjadi saat kita minum kopi. Minum kopi mampu mencerahkan. Bahkan memompa adrenalin untuk berpikir positif.

    Minum kopi tidak membuat kita mabuk. Tidak ada cerita mabuk karena minum kopi. Melainkan minum kopi membuat seseorang semakin cerdas. Ini tak bisa dibantah.

    Siapapun saat bekerja selalu disuguhkan dua macam minuman. Pertama air bening. Kedua minuman kopi.

    Manusia adalah makhluk minum kopi. Tentu tidak semua. Manusia adalah makhluk politik.

    Manusia adalah makhluk ekonomi. Manusia adalah makhluk sosial. Manusia adalah makhluk peniru. Saat berinteraksi sosial terjadi ikatan persaudaran. Kekeluargaan. Kekerabatan. Persahabatan.

    Boleh dibilang manusia adalah makhluk pemakan segala. Tentu bukan semuanya dimakan. Ada pilihan karena manusia pandai memilih dan memilah.

    Manusia adalah makhluk yang pandai memilih dan memilah.

    Apa kaitan antara kopi, politik, ekonomi dan persaudaraan

    Tentu kita semua alami dalam kehidupan sehari-hari. Ada bicara politik, walaupun memahami setengah-tengah tentang politik. Yang terpenting bicara politik.

    Bicara politik selalu menggiurkan. Tak akan habis selagi manusia bisa berpikir.

    Bicara politik selalu menggairahkan sebab manusia itu makhluk berpolitik. Bahkan orang-orang menganggap diri hebat selalu berbicara politik. Menulis tentang politik. Bahkan bicara politik itu seperti darah yang mengalir dalam tubuh manusia. Jikalau darah tersumbat pasti membawa penyakit. Begitupun politik kalau tersumbat pasti membawa malapetaka.

    Memang berbicara politik sangat asyik. Segala sesuatu di dunia ini selalu berkaitan dengan politik.

    Misalnya bercinta juga sebuah politik. Namanya, politik cinta dan contoh lainnya.

    Mengambil suatu keputusan juga berdasarkan politik. Menentukan sesuatu juga dengan politik.

    Memberi dukungan juga berkaitan dengan politik balas budi. Jutaan buku yang ditulis orang-orang hebat sudah diterbitkan. Dibaca orang lain. Ditulis lagi sesuai dengan perkembangan sebuah sistem perpolitikan.

    Berbicara politik tidak dengan secangkir kopi pasti diskusinya buntu. Berbeda dengan berdiskusi sambil minum kopi pasti diskusinya mengalir seperti air yang terus mengalir.

    Pengalaman sehari-hari dalam Komunitas Cenggo Inung Kopi Online (CIKO) Manggarai Timur selalu minum kopi sambil membahas berbagai persoalan serta mencari dan menemukan solusi alternatif. Bukan hanya di komunitas ini, komunitas lain yang makin bertumbuh subur di wilayah ini tidak terlepas dari suguhan minuman kopi sambil bercerita apa adanya.

    Berbicara macam-macam situasi yang berkembang. Bahkan dalam lingkungan keluarga, sebelum berdiskusi selalu disuguhkan segelas kopi diatas meja.

    Senggo inung wae, (singgah minum air) termasuk inung wae kopi (minum air kopi) adalah kebijaksanaan orang Manggarai Raya khususnya dan Nusa Tenggara Timur umumnya.

    Dari minum kopi ada nilai ekonomi-nya. Kopi dibeli dari petani. Kopi dibeli di pasar. Kopi beli di kios-kios. Bahkan kopi juga ada milik sendiri yang dipetik dari kebun. Minum kopi bagian dari politik ekonomi atau ekonomi politik. Kata seorang petani dari Kampung Lendo, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Agustinus Adil saat diskusi lepas di Pastoran Paroki Mbata belum lama ini.

    Siapa yang menguasai ekonomi, berarti bisa menguasai politik. Ekonomi politik dan politik ekonomi berjalan seiringan.

    Negara mana yang menguasai perekonomian global maka kekuasaan politik dikuasainya.

    Pengamatan sehari-hari, apalagi saat pelaksanaan hayatan demokrasi tidak terlepas dari suguhan minuman kopi. Artinya minuman kopi memiliki nilai politik dan ekonomi dan persaudaraan.

    Dimana dua tiga orang berkumpul sambil minum kopi pasti disana ada persaudaraan, persahabatan dan kekeluargaan.

    Minuman kopi mampu merangkul lintas etnis. Minuman kopi bisa mempersatukan manusia dari berbagai latar belakang kehidupan.

    Belum lama ini saat diskusi lepas, seorang dosen Fisipol UGM Yogyakarta, Agustinus V Jalong menceritakan bahwa di Negara Amerika Latin minuman kopi di kedai-kedai selalu berhubungan dengan diskusi politik, ekonomi dan persaudaraan. Kopi bisa dipahami dari mitologi ke metafisika. Minuman kopi mampu memacu adrenalin serta memompa jantung yang berujung kepada otak untuk terus berpikir dan menulis.

    Penulis berpikir, mungkin para filsuf terkenal dari zaman dulu hingga sekarang ini memiliki kebiasaan minum kopi sehingga mengalir seperti air cara berpikir dan menuangkan ide. Ide yang dituangkan dalam sebuah gagasan dan dinarasikan sesuai dengan perkembangan zaman dibaca ulang oleh pemikir-pemikir berikutnya. Membaca, memahami dan mengutip ulang gagasan itu membuat gagasan dibahas ulang, dikaji sesuai dengan konteks dimana seorang pembaca itu berada.

    Minuman kopi tentu ada persaingan ekonomi. Persaingan politik, tapi tetap penuh persaudaraan.  Minum kopi juga terjadi transaksi ekonomi antara peminum kopi dan pemilik kedai-kedai kopi.

    Belum lama ini Maret 2021, komunitas CIKO menggelar virtual webinar dengan topik, “Kopi dan Kesejahteraan Petani Kopi di Manggarai Timur”. Banyak hal dibahas oleh beberapa narasumber terkait sejarah tanaman kopi, pemasaran dan kendala-kendala yang dihadapi selama ini.

    Untuk diketahui bahwa untuk daratan Flores, tanaman pertama yang ditanam oleh petani adalah tanaman kopi. Tanaman kopi dibawa oleh para misionaris yang bermisi di wilayah Pulau Flores.

    Tentu para misionaris memiliki alasan dan pertimbangan. Salah satu pertimbangan yang diamati oleh penulis adalah tanaman kopi dengan suguhan minuman kopi ada persaudaraan, mempersatukan semua orang.

    Minum kopi mampu merangkul semua kepentingan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

    Saat ini kita amati di berbagai kedai-kedai, banyak generasi lintas usia memadati kedai itu sambil minum kopi serta membahas berbagai perkembangan zaman. Sambil minum kopi berselancar di dunia maya dengan gadget canggih. Kita bisa data jumlah penikmat minuman kopi dan minuman teh. Yang lebih dominan adalah penikmat minuman kopi.

    Minuman kopi tidak membeda-bedakan kelas sosial. Merata. Setara. Sederajat

    Kita bisa bedakan dalam keseharian saat berkumpul sambil minum air bening dan minum kopi. Saat kita minum air bening hanya untuk menghilangkan rasa haus. Sedangkan minum kopi ada kenikmatan tersendiri bahkan bisa menghilangkan rasa ngantuk dan mengalir diskusi-diskusi secara spontan dan betah duduk berjam-jam. Ujung dari diskusi spontan akan merembet ke diskusi politik, ekonomi yang bernuansa persaudaraan.

    Foto dari Google

    Saat menikmati minuman kopi kita membahas berbagai persoalan, baik masalah kemanusiaan, lingkungan hidup, budaya, demokrasi dan strategi politik dan berbagai ilmu bisnis.

    Penulis merasakan pengalaman harian saat berkumpul dengan rekan sejawat profesi, relasi, anggota komunitas.

    Leonardus Santosa dan Frumensius Fredrik Anam, dua pengagum minum kopi Manggarai Timur berpendapat bahwa minuman kopi berhubungan dengan budaya lokal. Misalnya saat ritual adat atau ritual perkawinan, pertama-tama disuguhkan minuman kopi sebelum dilangsungkan ritual adat.

    Keduanya berangkat dari pengalaman harian di rumah, saat bekerja selalu ada minuman kopi. Bahkan saat membuat sebuah kajian-kajian sosial, politik, ekonomi ada minuman kopi. Analisis pasti mengalir seperti air mengalir.

    Keduanya berpendapat bahwa saat minum kopi, itu berarti kita sangat mencintai petani kopi yang tersebar di kampung-kampung di seluruh wilayah Manggarai Timur.

    Keduanya berpendapat bahwa cikal bakal tanaman kopi bermula dari Kampung Colol di Kabupaten Manggarai Timur. Itu berarti Manggarai Timur memiliki ikon yang mendunia yakni kopi. Untuk itu pemerintah harus mengarahkan kebijakan politik, ekonomi di sektor pertanian.

                                    ***************

    Penulis adalah wartawan yang berkarya di Manggarai Timur