Author: Redaksi

  • Ini Penjelasan Kadinkes Sikka,Terkait Kasus Tipikor Proyek Puskesmas Bola

    Maumere Berandanegeri.com – Sidang lanjutan dugaan tindak pidana korupsi proyek Puskesmas Bola yang digelar pekan lalu di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kupang menghadirkan 7 orang saksi yakni: 3 anggota Tim Teknis, 3 anggota Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PPHP), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan bendahara.

    Petrus Herlemus, selaku Kuasa Pengguna Anggaran proyek Puskesmas Bola, dikonfirmasi media pasca bersaksi di PN Tipikor Kupang pekan lalu mengaku dirinya ditanya oleh majelis hakim seputar wewenangnya selaku KPA serta alur proses pencairan keuangan.

    Petrus Herlemus menjelaskan bahwa pendasaran proyek tersebut berdasarkan DPA Dinas Kesehatan Sikka dan pencairan keuangan sesuai dokumen kontrak yang terbagi dalam 4 tahap.

    Pencairan tahap pertama 30 persen uang muka, fisik 0 persen namun material sudah on site (di lokasi). Pencairan tahap kedua (termin 1) sebesar 50 persen saat kemajuan fisik mencapai 50 persen. 50 persen dana pencairan tahap kedua (termin 1) ini langsung dipotong uang muka 30 persen, sehingga kontraktor hanya menerima 20 persen.

    Pencairan ketiga atau (termin 2) sebesar 80 persen dikurangi 50 persen tahap kedua (termin 1), sehingga kontraktor terima 30 persen. Dan pembayaran tahap keempat (termin 3) sebesar 100 persen dikurangi 80 persen tahap ketiga (termin) sehingga kontraktor terima hanya 20 persen.

    Petrus menjelaskan, proses pencairan dana sudah sesuai tahapan berdasarkan laporan berjenjang mulai dari pengawas sehingga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan termuat dalam berita acara. “Saya membuat keputusan pencairan setiap tahap berdasarkan laporan dari bawah yang tertera dalam dokumen yang diajukan yakni: laporan fisik yang di back up dengan data visual dari pengawas ke PPK,” jelasnya.

    Lebih rinci Petrus menjelaskan, ada 2 dokumen yang wajib dilengkapi untuk pencairan dana; dokumen proyek dan dokumen pencairan dana. Dengan 2 dokumen tersebut KPA mendisposisikan ke Tim Keuangan untuk mengecek apakah sudah sesuai dengan Permendagri Nomor 13 Tahun 2016 tentang tata kelola keuangan daerah.

    Setelah itu dokumen akan dikembalikan kepada KPA untuk diperiksa. Jika semua dokumen sudah lengkap, maka KPA akan tanda tangan surat perintah pencairan dan mengusulkan pembayaran ke DPPKAD dan DPPKAD memproses kembali kelengkapan dokumen. Setelah itu dana dicairkan langsung ke rekening kontraktor.

    “Dasarnya saya adalah, laporan konsultan pengawas ke PPK, PPK memerintahkan Tim Teknis untuk turun melihat fisik dan kontrak berita acaranya. setelah itu, PPK akan meminta PPHP untuk siapkan dokumennya. Setelah semua lengkap barulah dilampirkan semua dokumen oleh PPK dan merekomendasikan ke KPA untuk permohonan pencairan dana,” jelasnya.

    Petrus mengaku bahwa dirinya juga sempat ditanya apakah ia mengetahui ada masalah dalam proyek tersebut. Ia menjelaskan, bahwa pada saat ia menandatangani perintah pembayaran, belum ada masalah. Sebab kata dia, jika ada masalah tidak mungkin dirinya akan tandatangani perintah pencairan. Dan kalau ada masalah, maka tidak mungkin PPK akan merekomendasikan pencairan.

     “Sehingga saya tidak memiliki wewenang untuk membatalkan dan menunda proyek, sebab tidak ada masalah dalam dokumen yang diajukan oleh PPK. Yang berhak memutus kontrak adalah PPK. KPA bisa mengambil keputusan apabila semua pelaksanaan oleh PPK fatal adanya. Tetapi semua proses yang dilaporkan kepada saya termasuk dokumen yang diajukan tidak ada yang janggal, sehingga diproses,” jelasnya.

    Herlemus juga menyampaikan jika ia juga ditanyai oleh Penasehat Hukum terdakwa dan Jaksa soal asas manfaat keberadaan Puskesmas Bola. Ia mengaku jika Puskesmas Bola sangat dirindukan oleh masyarakat. “Oleh karena itu asas manfaat sudah mulai berjalan sejak diserahterimakan pada bulan Mei 2020. Memang ada plafon yang rusak dan ada bekas rembesan air, tetapi fungsinya tidak terganggu,” ujarnya. (Atik)

  • Komodo Versus Pembangunanisme Kolonial

    Oleh Cypri Jehan Paju Dale, Warga Adat Flores, Peneliti pada Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), Kyoto University, Japan

    FOTO seekor Ora atau Sebae – nama asli Komodo (Varanus komodoensis) – berhadap-hadapan dengan sebuah dumptruck di Pulau Rinca telah menjadi salah satu foto paling ikonik dalam sejarah hubungan satwa dengan manusia di Indonesia. Sebagai bagian dari program menjadikan Taman Nasional (TN) Komodo dan sekitarnya sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), pemerintah membangun apa yang disebut sarana dan prasarana “wisata Jurassic” di Rinca.

    Bersamaan dengan itu, izin pengembangan resort ekslusif dan bisnis wisata lainnya digelontorkan di sejumlah lokasi strategis habitat satwa purba kebanggaan Indonesia itu. Momen yang terekam dalam foto itu menjadi historik bukan saja karena untuk pertama kalinya truk dan mesin-mesin proyek lainnya merambah masuk ke habitat komodo. Tetapi juga karena perjumpaan itu menandai sebuah transisi besar bentang alam di barat Pulau Flores itu dari tempat perlindungan yang aman (safe havens) selama jutaan tahun bagi Ora dan satwa penyertanya menjadi zona wisata berstatus Kawasan Strategis Nasional di bawah kuasa negara dan korporasi.

    Kendati baru menjadi intensif akhir-akhir ini, campur tangan penguasa dan pengusaha terhadap bentang alam dan peri kehidupan Komodo terjadi sejak  zaman kolonial Belanda. Sejak keberadaannya diketahui oleh kolonialis Eropa pada tahun 1910 hingga kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, tercatat setidaknya 15 ekpedisi dilakukan oleh para ilmuwan dan pebisnis satwa Barat ke Komodo.

    Letnan J.K.H van Steyn van Hensbroek, seorang pejabat kolonial Belanda, adalah orang Barat pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Komodo. Selama kunjungan itu, dia membunuh seekor komodo dewasa dan mengirim kulit dan fotonya kepada Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi dan Kebun Raya di Bogor. Ouwens kemudian mengirim seorang kolektor ke Komodo yang membunuh 2 ekor komodo dan membawa dua komodo hidup ke Bogor. Tahun 1912 Ouwen menulis sebuah artikel yang memperkenalkan Ora ke publik Barat, sebuah tulisan yang menggemparkan dunia dan memicu rangkaian ekspedisi ke Komodo.

    Setelah Perang Dunia I reda, sebuah tim yang dipimpin oleh W. Douglas Burden dari Museum of Natural History Amerika datang ke Komodo.  Atas izin pemerintah kolonial Belanda di Batavia, tim Burden ini menangkap  27 ekor Ora. Dua ekor Ora dewasa dibawa dalam keadaan hidup ke Amerika dan ditempatkan di Kebun Binatang Bronx, New York. Satu ekor dikirim ke Amsterdam dan lima ekor lagi menyusul pada tahun berikutnya.

    Dari lima itu, dua Ora dikirim ke kebun binatang London, sementara kebun binatang Amsterdam, Rotterdam, dan Aquarium Berlin masing-masing mendapat satu ekor. Dalam waktu singkat, Ora menjadi termasyur di Eropa dan Amerika. Kebun binatang dan museum dibanjiri pengunjung. Di New York misalnya, pada 26 September 1926 wahana Ora dikunjungi 38.000 orang.Sejak saat itu semua kebun binatang dan museum sejarah alam di Eropa dan Amerika berlomba-lomba mendapatkan koleksi komodo, hidup atau mati.

    Menanggapai tingginya permintaan pasar global, pemerintah kolonial Belanda di Batavia mengembangkan dua kebijakan. Pertama, komodo ditetapkan sebagai reptil yang dilindungi. Kedua, proses penjualan diatur oleh administasi pemerintah kolonial.

    Sebagaimana dicatat oleh sejarawan lingkungan Robbert Gribbs (2007) dan Timothy Barnard (2011), kebijakan pemerintah Belanda untuk menjadikan komodo sebagai reptil yang dilindungi diilhami oleh paternalisme kolonial yang bercampur aduk dengan kepentingan ekonomi. Mereka menganggap penduduk asli Komodo sebagai ancaman bagi kerusakan lingkungan melalui aktivitas-aktivitas tradisional mereka seperti berburu dan mengumpulkan hasil hutan dan laut. Sementara mereka sendiri bekerja sama dengan elit pribumi mengembangkan aktivitas-aktivitas borjuis, seperti olahraga berburu. Bahkan flora dan fauna Komodo pun mereka jadikan komoditas perdagangan global.

    Setelah pemerintah Indonesia menguasai rakyat dan negerinya sendiri, intervensi terhadap komodo dan habitatnya menjadi semakin intensif. Pada1965, Komodo ditetapkan sebagai cagar alam. Tahun 1980, di bawah asuhan lembaga bantuan pembangunan Ameria (USAID), habitat komodo ditetapkan sebagai Taman Nasional.

    Nasib tragis dialami warga yang hidup di bentang alam Komodo itu. Atas nama konservasi, pemukiman mereka dipusatkan dalam satu enclave seluas 17 hektar saja. Tanah mereka dikuasai dan sejak itu, berkebun dilarang. Mengambil hasil laut pun hanya diizinkan di kawasan tertentu. Kebun adat (lodok) di Loh Liang dibongkar. Warga yang menolak dianiaya dan dipenjara.

    Pemerintah mendorong masyarakat mengubah mata pencaharian mereka ke sektor pariwisata. Mereka dilatih menjadi penjual patung dan pedagang makanan di Loh Liang. Saat ini, setidaknya 127 orang menjadi pedagang di sana. Sekitar 100 orang muda menjadi naturalist guidesdive instructors atau agen perjalanan independen.

    Sementara itu, praktek penangkapan dan pengiriman komodo keluar habitatnya terus berlanjut. Selain untuk berbagai kebun binatang dalam negeri, Komodo terus dikirim ke luar negeri. Sebagian sebagai cenderamata persahabatan diplomatik. Penelusuran kami tahun 2012 menunjukkan bahwa setidaknya ada 500 Komodo tersebar di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat, di mana 40 kebun binatangnya mengoleksi Komodo. Di sana Komodo dikembangbiakkan dan terus diperjualbelikan di antara kebun binatang, serta menjadi obyek studi ilmiah multi-disiplin.

    Di kepulauan Flores sendiri populasi Komodo di luar taman nasional terus menurun tajam. Di dalam TNK, aktivitas utama Balai TNK adalah memungut tiket dan melakukan patroli. Tidak ada program konservasi sistematis dan penelitian yang signifikan.

    Selepas penetapan kawasan ini sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) oleh Pemerintahan Joko Widodo, nasib Ora dan habitatnya serta warga di dalam kawasan TNK makin tidak menentu. Selain pembangunan sarana dan prasarana pariwisata, izin investasi resort ekslusif dan bisnis jasa wisata lainnya diberikan kepada orang-orang Jakarta yang dekat dengan pejabat.

    Di Flores, istilah “orang-orang Jakarta” kini memiliki konotasi yang mirip dengan penguasa kolonial Eropa menjelang Indonesia merdeka. Orang-orang Jakarta adalah istilah untuk orang-orang yang memiliki kuasa dan uang, yang berlaku manis sambil mengincar tanah strategis, mengelola proyek-proyek kementerian dan memanipulasi kepolosan warga lokal dan ketidakpahaman pemerintah daerah. Mereka adalah himpunan orang-orang yang atas nama pembangunan merusak ekologi, menyingkirkan warga setempat, dan mengeksploitsi Komodo demi keuntungan ekonomi mereka sendiri. Ketidakpuasan terhadap situasi itu, dan keinginan untuk mempertahankan ekologi Komodo yang lestari, warga bangkit melawan.

    Ketika pemerintah NTT hendak merelokasi warga Komodo ke pulau lain pada tahun 2019, ribuan warga Komodo menghadang Tim Terpadu yang terdiri dari pejabat berbagai Kementerian dan Pemerintah Provinsi NTT di dermaga Komodo.  Mereka menolak rencana pemindahan penduduk demi program pariwista ekslusif super-premium di wilayah itu. Ketika melihat foto Ora ikut menghadang truk proyek wisata Jurassic di Rinca, kita menjadi maklum, bahwa baik Ora maupun Ata Modo tidak akan membiarkan penguasaan ruang hidup mereka atas nama konservasi dan bisnis pariwisata.

    Selama ribuan tahun Ata Modo hidup bersama Komodo dan satwa lainnya hidup bersama dalam apa yang oleh para antropolog disebut kekerabatan antarspesies (interspecies companionship) (Harraway 2003; Tsing 2012; Dale dan Afioma 2020).

    Sebae dalam bahasa Modo artinya sebelah atau kembaran. Bagi Ata Modo,  Varanus komodoensis dipercaya dan diperlakukan sebagai saudara kembar yang lahir dari rahim ibu yang sama. Tidak hanya dalam legenda adat, kepercayaan itu menandai praktek sehari-hari.  Mereka berbagi ruang, tidak saling memusnahkan. Dalam praktek berburu (sebelum dilarang) hasil buruan selalu dibagi dua. Ata Modo mengambil daging isi, kaki kepala, kulit dan seluruh bagian dalam dipotong-potong dan diberikan kepada saudara kembarnya itu . Saat menemukan Komodo mati di hutan, Ata Modo menguburkannya seperti manusia. Dan ketika berjumpa, Ata Modo berkomunikasi dengan Sebae dalam bahasa Modo.

    Pembangunan pariwisata super premium dan konservasi yang dikembangakan Pemerintah dewasa ini, sebagaimana environmentalisme kolonial pada zaman Belanda, tidak saja mengabaikan sistem pengetahuan dan praktek arif Ata Modo dan suku-suku lain di Kepulauan Flores yang sudah berlangsung ribuan tahun. Malahan ruang hidup Komodo dirambah menjadi lahan bisnis pariwisata ekslusif super premium, satwa dijadikan komoditas industrial, dan warga setempat disingkirkan.

    Tidak mengherankan jika model pembangunan ala kolonial ini mendapat tentangan dari masyarakat lokal.

                             ******************

    *Ata Modo : Orang Komodo

    *Sumber Tulisan Majalah Tempo, Edisi 4-10 Januari 2021

  • Sebanyak 173 Pejabat Administrator dan Pengawas di Lantik Bupati Sikka

    Maumere Berandanegeri.com – BUPATI Sikka, Fransiskus Roberto Diogo S.Sos, M. Si mengambil sumpah dan melantik 173  orang pejabat  Administrator dan Pengawas dalam lingkungan Pemerintah Kabupaten Sikka, yang berlangsung di kawasan pohon jati emas Kantor Bupati Sikka di Jalan Eltari, Kelurahan Kota Uneng,  Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Kamis(6/10/2021).

    Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M. Si dalam sambutannya mengatakan bahwa mutasi dalam jabatan adalah hal yang biasa dalam rangka penataan birokrasi agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik dari waktu ke waktu. Selain itu mutasi jabatan tentunya ada tambahan pendapatan bagi ASN.

    “Pendapatan di jabatan fungsional itu sama bahkan mungkin bisa lebih baik tergantung prestasi yang kita berikan kepada negara ini,” ucap Robi Idong.

     Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo juga menyampaikan terimakasih kepada tim penilai kinerja yang telah memberikan penilaian yang terbaik terhadap sejumlah jabatan hal tersebut berdasarkan arahan Presiden RI bahwa pada bulan Juni 2021 akan ada penyesuaian jabatan dari struktural menjadi fungsional.

    “Terimakasih kepada tim penilai kinerja Bapak Sekda dan rekan rekan yang telah bekerja maksimal dan memberikan yang terbaik, karena pada bulan Juni nanti ada penyesuaian atau pengalihan jabatan jabatan fungsional sehingga ada 173 pejabat yang mesti dirotasi atau pemetaan dari jabatan struktural ke jabatan fungsional tetapi kita jangan kuartir mau jabatan fungsional atau jabatan struktural yang penting bekerja secara profesional” ungkap Bupati Sikka.

    Robi Idong memberikan pesan kepada para pejabat yang dilantik agar menerimanya dengan hati yang tenang, kemudian melaksanakan dengan baik, karena sebagai aparatur negara (ASN) mendapatkan tugas yang utama dan penting untuk mengabdi kepada rakyat, tidak semua orang punya kesempatan untuk mengabdi kepada rakyat” tegas Robi.

    Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo sedang Memberikan Sambutan

    Robi Idong juga menghimbau  kepada semua ASN untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan guna menekan penyebaran  Covid-19. Selain itu di masa krisis akibat pandemi COVID-19 berbagai upaya harus dilakukan agar pembangunan bisa berjalan. Upaya-upaya itu diantaranya, pertama, kreativitas dari para pejabat dan ASN untuk mencari kemitraan dengan pihak lain. Kedua, pinjaman daerah.

    173 Pejabat Administrator dan Pengawas yang Dilantiik oleh Bupati Sikka

    ”Untuk pinjaman daerah dari  88 Provinsi dan Kabupaten/Kota yang mengusulkan pinjaman ada 19 daerah yang boleh saya katakan disetujui dan salah satu diantaranya adalah Kabupaten Sikka,” kata Robi Idong.

    Pinjaman ini  akan di gunakan untuk 148 kegiatan yakni pembangunan di bidang infrastruktur jalan, air minum, peningkatan kesehatan dengan membangunan rumah sakit dan peningkatan di bidang pendidikan dengan membangun sekolah di Doreng. (Atik)

  • Atasi Gelap Gulita di Pedalaman Manggarai Timur, Jerman Menolong: 30 Unit Panel Solar Tiba di Wukir, Elar Selatan

    Oleh Markus Makur

    Yayasan Steyler Mission, milik Serikat SVD menyalurkan “30 Unit Panel Solar” kepada 30 rumah keluarga atau komunitas di Wukir, Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Flores-Nusa Tenggara Timur.

    Data yang dihimpun pada Senin, (3/5/2021), bantuan ini merupakan bantuan dari Yayasan H.+W. Winkler di Jerman dalam kerjasamanya dengan yayasan Steyler Mission milik biara SVD yang berpusat di St. Augustin, Jerman.

    Pembangunan infrastruktur (listrik, jalan, jembatan, angkutan, irigasi, sanitasi, dan lain-lainnya yang tertinggal dari perkotaan membuat Wukir menjadi salah satu desa terisolir di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang adalah salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Akses listrik negara (PLN), misalnya, adalah mimpi yang belum terwujud sejak wilayah ini dibangun untuk pemukiman penduduk, sekitar tahun 1970-an.

    Pater Agateus Ngala, SVD bersama Bapak Ferdinandus Rondong mengetuk hati penderma untuk membantu keluarga dan komunitas yang membutuhkannya. Proposal pengadaan Panel Solar ini juga mendukung program yang dikampanyekan secara internasional oleh Serikat Sabda Allah (SVD) terutama komisi “Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan” (JPIC), seperti misalnya pemanfaatan tenaga matahari bagi kebutuhan harian masyarakat yang tentunya minus polusi.

    “Dari Proposal yang diajukan tersebut, kita mendapat suntikan dana sebanyak 26.399 Euro (dalam Rupiah: Rp. 435.000.000) untuk pengadaan tenaga surya ini. Dana itu seluruhnya dipergunakan untuk pengadaan 30-unit Panel Solar,” jelas Pater Teus, SVD kepada wartawan, Senin, (3/5/2021) melalui pesan whatsapp dari Jerman.

    Bantuan Panel Solar Cell dari Yayasan Styler Mission Jerman atas bantuan dari Yayasan H.+W. Winkler di Jerman sudah tiba di Wukir dan sudah di pasang di rumah warga dan Pastoran Wukir, Minggu lalu. (DOK/Pater Teus, SVD yang kirim via whatsapp)

    Dikatakan Ferdinandus, satu paket Panel Solar terdiri dari: dua unit Modul Surya 100Wp, dua unit Aki Kering VRLA 12v 100Ah, satu unit Inventer Liminous Eco Volt 1500VA, satu unit Solar Charge Controller 20A, Bracket penyangga panel dan satu set kotak bateri, satu set kabel 30 meter dan Lampu 12 watt sebanyak sepuluh unit.

    “Pengadaan barang ini, seluruhnya, kita pesan langsung di Perusahaan Panel Solar di Surabaya”, bebernya.

    Ia menjelaskan, selain bantuan dari Jerman, ada juga kontribusi lokal dari keluarga atau komunitas yang mendapat bantuan ini, sebesar Rp. 3.000.000, yang diperlukan untuk biaya transportasi, pengiriman barang-barang (Panel Solar,red) mulai dari Surabaya hingga ke Wukir, juga dipakai untuk mendatangkan teknisi khusus dari Surabaya, untuk pemasangan dan pelatihan tenaga lokal.

    30 Unit Panel Solar Tiba di Wukir, Elar Selatan

    Data yang diterima pada Jumat, (30/4/2021) 30-unit Panel Solar tiba di Wukir, yang dimulai dengan acara “Kapung” (acara penerimaan secara adat) dan dilanjutkan dengan pemberkatan oleh Pastor Paroki Wukir, Romo Stanislaus Kamput, Pr di Pastoran Wukir.

    Setelah dikuatkan dengan berkat Ilahi, 30-unit Panel Solar diserahkan untuk selanjutnya dipasang oleh teknisi ke 30 perumahan atau komunitas yang menjadi sasaran.

    Romo Stanislaus menjelaskan, ia baru bertugas di Paroki Wukir. Sebelumnya ia bertugas di Paroki Orong, Kabupaten Manggarai Barat. Saat tiba pertama di Paroki Wukir, belum tersambung jaringan listrik.

    “Saya bersyukur atas bantuan panel solar cell dari orang baik di Jerman melalui perantaraan Pater Teus, SVD. Kini panel solar cell sudah dipasang di Pastoran Wukir,” ucapnya.

    Melkior Jalang, salah satu penerima bantuan ini, kepada media ini mengatakan: “Baru kini kami merasakan sungguh-sungguh apa artinya dari gelap terbitlah terang!” Bersama 30 keluarga yang lain, Bapa Lydia, demikian beliau di sapa, mengucapkan terima kasih kepada donatur dan pihak yang terlibat mendatangkan bantuan ini: “Kami hanya mengucapkan terima kasih, dan sisanya Tuhan yang akan membalasnya,” tutupnya.

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa mengakui bahwa Kecamatan Elar dan Elar Selatan belum tersambung jaringan listrik dari PLN.

    “Saya minta Pemerintah dapat memperjuangkan jaringan listrik di dua kecamatan tersebut,” pintanya saat dihubungi wartawan lewat sambungan telepon selulernya, Senin, (3/5/2021).

    Secara kelembagaan, Lanjut Dupa, sudah menyurati pihak PLN untuk memasang jaringan listrik di seluruh Manggarai Timur. DPRD Manggarai Timur minta kepada pihak PLN agar rasio elektrik di wilayah itu 80 persen sehingga seluruh desa dan kampung dialiri listrik sampai 2024.

    “Untuk wilayah utaranya pemasangan instalasi seperti tiang dan kabelnya sampai di Watunggong sementara bagian Kecamatan Kota Komba Utara sudah sampai di Desa Golo Nderu dan Desa Rana Mbata. Jadi Kecamatan Elar dan Elar Selatan belum terpasang instalasi listrik,” jelasnya.

                                     ***********

    Penulis adalah wartawan tinggal di Manggarai Timur

  • Minat Literasi Dimulai dari Keluarga demi Memperkuat Pengaruh Era Digital

    KRISPINUS LOIS GONZALES, guru SDI Ranaloba, Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu, (2/5/2021) mengungkapkan pengaruh permainan game online di media handphone yang tak bisa terbendung lagi bagi anak-anak usia sekolah. Semakin banyaknya sarana game online yang diminati anak-anak usia sekolah mempengaruhi minat belajar, minat membaca dan minat menulis.

    “Saat ini anak-anak sudah memiliki handphone atau pinjam handphone orang tua untuk keperluan main game. Permainan-permainan game memikat anak-anak untuk membuka handphone serta main game berjam-jam di rumah dan saat istirahat jam belajar di sekolah,” jelasnya saat diskusi terbatas di Komunitas Cenggo Inung Kopi Online (CIKO) Kabupaten Manggarai Timur, saat merayakan Hari Pendidikan Nasional 2021, Minggu, (2/5/2021).

    Krispinus menjelaskan, upaya di sekolah mereka agar minat anak untuk membaca terus meningkat dengan membiasakan diri membaca dongeng di buku sebelum masuk kelas.

    “Setiap lima menit anak-anak dilatih membaca buku, baik di ruang kelas maupun di luar ruangan sebelum mata pelajaran dimulai di kelas. Bahkan anak-anak dilatih membaca buku di ruangan perpustakaan. Ini yang biasa dilakukan guru-guru di sekolah demi meningkatkan minat baca,” jelasnya.

    Siswa dan siswi SDK Mok, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu, (5/5/2021) sedang membaca buku sebelum pelajaran dimulai di kelas. Ini kebiasaan bagi anak-anak murid untuk membaca buku. (DOK/GURU SDK MOK-URSULA MANGGUNG)

    Dua putri milenial, Angel Hangguman dan Naige Anam yang hadir dalam diskusi terbatas itu mengungkapkan, mereka biasa membaca buku di rumah. Menulis di majalah dinding di sekolah.

    “Orang tua selalu mendorong kami untuk membaca buku serta melatih menulis. Orang tua biasa membeli buku cerita dan Novel agar kami terbiasa membaca buku,” jelasnya.

    Angel Hangguman yang pernah di Jakarta dan kini ikut orangtua kembali ke Manggarai mengungkapkan, pengalamannya bersama teman-teman di Jakarta selalu membaca buku serta latihan menulis.

    “Orang tua saya selalu ajak saya ke toko buku untuk membeli buku. Buku yang saya beli sesuai dengan minat saya,” jelasnya.

    Willy Hangguman, Mantan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan serta penulis Buku Novel Molas Flores Gadis Pulau Bunga berbagi pengalaman serta memberikan motivasi bahwa kebiasaan membaca buku akan berpengaruh terhadap cara berpikir dan bertindak seseorang. Membaca buku akan berpengaruh terhadap kebiasaan menulis. Bisa juga membaca sambil menulis. Minat berliterasi harus dimulai dari keluarga di era digital dengan maraknya handphone serta permainan game-game online. Kebiasaan membaca buku dongeng bagi anak-anak akan berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan anak itu sendiri.

    “Sewaktu kecil dengan sarana buku terbatas, saya selalu mendengar cerita dongeng dari orang tua atau nenek saya yang sedang berkunjung ke rumah orang tua saya. Bahkan ada kakak saya yang pulang libur dari Sekolah Seminari Pius XII Kisol, saya selalu minta dia untuk mendongeng,” beber pengalamannya.

    Hangguman menjelaskan, kemampuan membaca buku serta menulis saat saya belajar di Seminari Pius XII Kisol. Di Seminari Pius XII Kisol, saya bisa membaca dua buku dalam satu minggu. Asah kemampuan ini terus saya lakukan saat kuliah hingga menggeluti profesi jurnalis di Kota Jakarta.

    “Ada pengalaman menarik di Seminari Pius XII Kisol saat guru kami, Pater Henri Daros, SVD membaca buku Novel. Sejak saat itu kemampuan bersastra terus diasah hingga bisa menulis,” jelasnya.

    Hangguman menjelaskan, Presiden Pertama, Pendiri NKRI, Ir Soekarno dan Wakil Presiden Pertama NKRI, Mohammad Hatta memiliki kebiasaan membaca Novel dan buku-buku sastra sangat tinggi sehingga kemampuan menulis sangat luar biasa.

    “Saya anjurkan agar membiasakan diri membaca buku Novel dan buku-buku sastra,” anjurnya.

    Salah satu Orang tua di Kabupaten Manggarai Timur, Frumensius F Anam saat diskusi terbatas Hari Pendidikan Nasional mengungkapkan membangkitkan kebiasaan membaca dan menulis di era digital saat ini membutuhkan perjuangan keras dengan kemajuan teknologi yang sangat memudahkan anak-anak dengan menggunakan handphone dengan banyaknya game-game.

    “Saya selalu ajak anak-anak di rumah untuk membaca buku serta memulai menulis. Orang tua sebaiknya mendampingi dan membimbing anak-anak untuk membaca dan membaca,” ajaknya.

    Kepala Sekolah SMAN 06 Kota Komba, Frumensius Hemat menjelaskan, melalui sambungan telepon, Senin, (3/5/2021) menjelaskan, anak murid di sekolahnya sangat terasa dampak main game di handphone, dimana anak-anak sekolah tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru-guru. Memang belum ada ketergantungan dalam main game. Ini juga dampak dari pandemi Covid19 dimana dilakukan pembelajaran lewat media online dengan menggunakan handphone android. 105 siswa di SMAN 06 Kota sudah memiliki handphone android.

    “Belajar online mampu mengerjakan soal-soal yang diberikan guru-guru. Di sekolah kami ada juga website online, semacam mading online agar karya tulis anak-anak dipublikasikan di website itu,” jelasnya.

    Frumensius menjelaskan sekolahnya sudah ditetapkan menjadi sekolah penggerak di Kabupaten Manggarai Timur. Digitalisasi sekolah terus dibenahi menuju sekolah digital.

    “Salah satu sekolah digital dengan tersedianya website sekolah untuk mempublikasikan karya tulis anak sekolah dan guru. Di website itu anak-anak sekolah dilatih membaca dan menulis serta kemampuan guru diasah terus demi kemajuan berliterasi di Manggarai Timur,” jelasnya. ( Markus Makur )

    ********************************************************************

  • Bertindak sebagai Khotib, Danlanal Maumere Mengisi Kotbah Shalat Jumad di Masjid Al-Ansor Maumere

    Maumere Berandanegeri.com – Bertindak  sebagai Khotib Komandan Lanal Maumere, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr. Hanla., M. M., CTMP  mengisi khotbah pada  ibadah shalat Jum’at yang digelar bagi kaum Muslim di Masjid Al-Anshor Jl Diponegoro km-2. Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok-Maumere, Kabupataen Sikka, Jumad (30/4/2021).

    Danlanal Maumere Dwi Yoga dalam khotbahnya menyampaikan Manusia diciptakan dimuka bumi memiliki 3 (tiga) tugas (berdasarkan firman Allah SWT). Tugas-tugas  tersebut adalah, sbb :

    1. Tugas Pokok : Beribadah kepada Tuhan (QS.Az-Zariat : 56),

    2. Tugas Fungsional : Sebagai Pemimpin/Kholifah di dunia (QS. Al Baqarah : 30),

    3. Tugas Operasional : Memakmurkan Bumi (QS. Hud : 61).

    Danlanal menguraikan  tugas pokok yang pertama hendaknya selalu menjadi manusia yang Ulil Albab, yaitu selalu berfikir dan berdzikir (mengingat) kepada Allah SWT (QS. Ali Imron : 190), Ibadah merupakan bentuk penghambaan makhluk kepada Sang Pencipta.

     Segala sesuatu yg terjadi di bumi merupakan kehendak Tuhan dan sebagai manusia wajib bersabar dan tetap berusaha berbuat baik menghadapi takdir yang ditetapkan Tuhan. Perbuatan baik tersebut diantaranya berusaha mengatasi cobaan-Nya sesuai degan kemampuan manusiawi.

    Sebagai contoh melaksanakan protokol kesehatan standar Covid-19, merupakan upaya manusia dalam memerangi penyebaran virus Corona yang melanda Bumi saat ini, disamping tetap yakin akan segala bentuk ketetapan-Nya.

    Yang kedua Tugas Fungsional manusia yaitu menjadi pemimpin di muka bumi, bahwa setiap lelaki dewasa (Rizal),  adalah pemimpin dalam kehidupannya masing-masing, terkecil adalah pemimpin di keluarga (QS. An Nisa : 34). Lelaki dewasa adalah pemimpin bagi wanita (istri dan anak-anak) oleh karenanya wajib kita memberikan tauladan yangg baik kepada mereka, dan memberikan nafkah yg baik pula.

    Yang ketiga yaitu tugas Operasional dengan Memakmurkan Bumi, merupakan perintah Tuhan (QS. Hud : 61), agar manusia selalu ingat bahwa dirinya tercipta dari tanah dan diperintahkan untuk memakmurkan bumi serta selalu bertobat dan berdoa meminta rahmat dari Allah SWT. Terkadang kita sebagai manusia, terlalu sibuk dengan urusan Operasional saja dalam hal memakmurkan bumi atau bekerja, namun kita lupa akan tugas pokok sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME, yaitu Beribadah kepada Allah SWT.

    Shalat Jumat di Masjid Al-Ansor Maumere tersebut diikuti oleh jamaah warga sekitar, serta Prajurit Lanal Maumere sebagai kewajiban ibadah shalat jumat bagi kaum muslim.

    Pelaksanaan shalat jumat dan ibadah lainnya tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak serta tidak bersentuhan kontak fisik secara langsung. (Penlanalmme/Atik)

  • Di Kewapante Peringatan Hardiknas dengan Tabur Bunga

    Maumere Berandanegeri.com – Apel Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei di Kecamatan Kewapante diakhiri dengan penaburan bunga di pelabuhan Fery Kewapante, K abupaten Sikka, Senin(3/5/2021).

    Sebelumnya dilaksanakan upacara apel Hardiknas yang dipimpin oleh Camat Kewapante, Alfonsus Naga bertempat dihalaman Kantor Camat Kewapante yang dihadiri oleh TNI, Polri, para Guru  dan Tenaga Kesehatan.

     Camat Kewapante, Alfons Naga dalam sambutannya  mengatakan  situasi saat ini kita seakan berada di medan perang melawan wabah pandemi covid-19 demi mencerdaskan anak bangsa. Di tengah pandemi yang melanda tanah air pada dua tahun terakhir ini menuntut kita berjuang bersama, saling berkolaborasi antara guru, siswa dan orang tua agar pendidikan tetap berlangsung.

    “Mari kita maknai Hardiknas dengan terus berjuang memajukan pendidikan di Sikka dan generasi penerus bangsa. Di masa pandemi ini sektor pendidikan harus tetap berlangsung. Selain itu kita harus  tetap mematuhi protokol kesehatan demi keberlangsungan pendidikan anak-anak kita,” kata Camat Alfons.

     Usai apel Hardiknas semua peserta melanjutkan apel penaburan bunga di Pelabuhan Fery Kewapante yang dipimpin oleh Kapolsek Kewapnte IPTU Yance Yauri Kadiaman.

    Apel ini diselenggarakan untuk menggenang jasa pahlawan di bidang Pendidikan Nasional dan Kru KRI Nanggala 402 yang gugur saat melaksanakan tugas.

    Dalam apel itu, Kapolsek Kewapante, Iptu Yance Yauri Kadiaman  memimpin “Mengheningkan Cipta”. “Kita doakan para pendidik yang mendahului kita dan berdoa bersama semoga para awak KRI Nanggala 402 mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai abdi pengawal samudra, pengawal kedaulatan negara Republik Indonesia.

    Selanjutnya peserta yang hadir juga melakukan penghormatan tenggelamnya KRI Nanggala dan gugurnya Ke -53 ABK yang dipimpin oleh Camat Kewapante, Kapolsek Kewapante, Danramil Kewapante.

    Iptu Yance pada kesempatan itu menyampaikan keprihatinan atas tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402. “Atas gugurnya awak Kapal KRI Nanggala 402, semoga arwah mereka mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan YME dan tabah sampai akhir”, kata Iptu Yance , saat melakukan penaburan bunga. (Atik)

  • Jejak Inspiratif dalam “Jejak dari Rantau”

    Jakarta Berandanegeri.com – Ansel Deri, staf Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur Nusa Tenggara Timur saat masih tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia periode 2014-2018, menerbitkan buku Jejak dari Rantau bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei. Ada belasan sosok beragam latar belakang profesi ditulis dalam buku setebal 200 lebih halaman tersebut.

    Buku biografi mini sejumlah tokoh asal NTT di berbagai level dan bidang profesi tersebut diluncurkan dalam sebuah diskusi ringan Forum Pemuda Peduli Lembata Jakarta (FPPL), wadah komunikasi terbatas sejumlah warga asal Lembata di wilayah Jabodetabek yang berlangsung di Cikini, Menteng, Jakarta, Pusat, Minggu (2/5 /2021).

    “Niat menulis itu sudah lama terpendam. Beberapa kali saya sempat dengar Pak Viktor Laiskodat dan Pak Jacki Uly menyinggung kisah inspiratif banyak warga asal NTT mengabdi di berbagai bidang tugas saat beliau berdua masih aktif di DPR RI. Warga asal NTT ini tak hanya dalam negeri tapi di manca negara,” kata Ansel Deri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (2/5/2021).

    Ansel Deri

    Menurut Ansel, kisah para tokoh itu dapat memberi motivasi, pelajaran bagi generasi muda agar berjuang meraih sukses dengan memanfaatkan kemudahan teknologi informasi yang kian pesat. Meski banyak dari mereka sukses dan dipercaya mengemban tugas di bidangnya namun belum banyak dikenal luas terutama warga masyarakat yang tinggal di desa maupun kampung-kampung.

    “Banyak kisah tokoh ini bisa saja masih gelap di kalangan warga masyarakat, terutama yang tinggal di desa bahkan kampung-kampung. Saya terdorong menelusuri lebih jauh jejak pengabdian mereka kemudian merampungkan dalam bentuk buku. Buku ini bisa menjadi sumber informasi para siswa dan mahasiswa mengenal lebih jauh jejak pengabdian para tokoh dengan lika liku yang menyertai perjuangan mereka hingga hingga meraih sukses,” ujar Ansel, wartawan kelahiran kampung Kluang, Desa Belabaja (Boto), Nagawutun, Lembata.

    Menurut alumni Universitas Nusa Cendana Kupang ini, sejak tahun lalu pihaknya memulai melakukan riset mini dan membaca berbagai sumber tambahan, berdiskusi dengan sejumlah rekan jurnalis, dan memulai melihat peluang sejumlah sosok di bidang tugas dan pengabdian yang mudah dihubungi untuk menulis buku tersebut.

    “Saya meminta waktu Pak Jacki Uly menyampaikan niat menulis biografi mini orang-orang asal NTT yang inspiratif dalam sebuah buku. Saya bertemu beliau di kantornya, di belakang Mapolda Metro Jakarta. Pak Jacki sagat mendukung. Ya, sekalian saya minta waktu wawancara. Dalam obrolan singkat, saya baru tahu beliau pernah menjabat Kapolda Perserikatan Bangsa-Bangsa di Takeo, Kamboja di bawah misi PBB. Pak Jacki adalah salah satu tokoh yang saya angkat dalam buku ini,” kata Ansel.

    Unik

    Provinsial Ordo Fratrum Minorum (OFM) Indonesia Pastor Mike Peruhe Unarajan, OFM saat berlangsung diskusi mengemukakan, setiap orang punya kisah hidup sendiri, punya alur kehidupan yang unik. Banyak orang sukses yang terlahir dari sebuah perjuangan yang tekun dan panjang. Juga banyak yang lahir dari kesederhanaan yang memantik energi perjuangan menuju kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

    “Buku ini merupakan kisah-kisah inspiratif dari sejumlah tokoh NTT. Gaya tutur yang enak dan ringan seakan membuat pembaca melewati cerita-cerita yang hidup dan menggerakkan. Satu hal pasti, para tokoh dalam buku ini adalah orang-orang sederhana yang meraih sukses dalam kucuran keringat perjuangan yang tak kenal lelah. Ini yang sungguh menggetarkan, mempesona dan menginspirasi orang lain,” ujar Pastor Mike yang juga moderator Forum Pemuda Peduli Lembata Jakarta.

    Menurut imam asal Mulandoro, Lembata, buku ini sangat cocok untuk semua kalangan, khususnya kaum muda dan remaja yang bisa belajar banyak hal menarik dan inspiratif untuk kemajuan diri, meraih masa depan penuh berkat. Dalam konteks gencarnya kampanye pengembangan literasi di NTT, langkah yang dilakukan penulis buku adalah sesuatu yang positif.

    “Buku hasil karyanya tentu menjadi sumbangan berharga untuk menambah khasana bacaan yang inspiratif. Selain itu langkah menulis buku ini adalah salah satu cara mendorong warga NTT untuk terus melahirkan tokoh-tokoh inspiratif dari tanah Flobamora untuk Indonesia dan dunia,” kata Mike Peruhe.

    Referensi

    Direktur Papua Circle Institute Hironimus Hilapok, M.Si mengapresiasi terbitnya buku Jejak dari Rantau karya Ansel, koleganya yang ia percaya sebagai Sekretaris Papua Circle Institute. Pengalaman para tokoh dalam buku ini, ujar Hiron, memberi pelajaran berarti bagi banyak orang terutama generasi muda arti perjungan yang dilandasi kerja keras, jujur, dan sabar dalam meraih sukses. Ada pepatah mengatakan, pengalaman adalah guru terbaik.

    “Beberapa tokoh yang diuraikan dalam buku ini namanya sudah familiar di tingkat nasional dan dunia. Mereka berkarya dan mengabdi di bidang tugasnya masing-masing tak hanya dalam negeri tapi juga luar negeri. Banyak dari mereka datang dari latar belakang keluarga kurang mampu, menempuh pendidikan dasar di kampung halaman dengan fasilitas serba minim. Berkat usaha pantang menyerah mengubah hidup mereka menjadi berguna bagi banyak orang,” ujar Hiron, putra asli tanah Papua kelahiran Wamen.

    Hiron yang dipercaya sebagai Komisaris Independen PT Adhi Karya (Persero) Tbk berharap agar pengalaman pengabdian para tokoh dalam buku ini menjadi referensi dan sumber bacaan bagi generasi muda terutama di kampung-kampung dalam mengisi pembangunan hari ini dan akan datang. Keutamaan para tokoh seperti kerjas keras, ulet, sabar, jujur, dan berserah dalam doa adalah nilai-nilai yang dapat dipedomani dan dihayati oleh siapapun dalam perjuangan meraih sukses.

    “Gerakan literasi harus didorong sejak dini untuk menjadi habitus baru sehingga ilmu dan pengetahuan akan selalu hidup sepanjang hayat. Buku ini salah satu rerefensi tak hanya bagi generasi muda kita di sekolah dasar hingga menengah namun juga mahasiswa dan masyarakat untuk meningkatkan kebiasaan membaca dan menulis di tengah kemajuan teknologi informasi yang kian pesat,” ujar Hiron, lulusan Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

    Sejumlah tokoh dalam buku ini antara lain Uskup Tanjung Selor Mgr Dr Paulinus Yan Olla, MSF; H. Saleh Husin, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Ma’ruf Amin; Irjen Pol (Purn) Drs Y. Jacki Uly, MH, anggota DPR dan mantan Kapolda PBB Provinsi Takeo, Kamboja; Pastor Dr Markus Solo Kewuta SVD, staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama di Takhta Suci Vatikan; dan Sr Neno Maria Yosefina, SSpS, fotografer di Generalat SSpS Roma, Italia.

    Selain itu ada juga Marsekal Pertama (Marsma) TNI Drs. Embu Agapitus, M.Si (Han), Kepala Staf Komando Garnisun Tetap II/Bandung; Agustinus Dawarja, praktisi hukum pasar modal; Boni Hargens, Ph.D, back-office analyst Kantor Staf Khusus Kepresidenan, Jenderal Gories Mere; Dr Justin L Wejak, Ph.D, dosen Kajian Asia di The University of Melbourne, Victoria, Australia, dan lain-lain.

    “Saya menyampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Pak Linus Lusi; Pastor Dr Polykarp Ulin Agan SVD, dosen Teologi Fundamental pada Kölner Hochschule für Katholische Theologie, Sankt Augustin, Jerman; sastrawan ibu Mezra Pellondou; dan sahabat Joaqium Rohi atas bantuannya menulis pengantar, catatan editor, prolog, dan epilog buku ini. Saya sungguh mendapat kehormatan meski sempat menyita waktu saudara sekalian,” ujar Ansel.

  • Gernas BBI Buka Peluang Pasar bagi UMKM di Ranah Regional maupun Global

    Maumere Berandanegeri.com – Gerakan Nasional Bangga Buatan  Indonesia(Gernas BBI)membuka peluang pasar bagi UMKM baik regional maupun global ditengah Pandemi saat ini.

     Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia(BBI)  sekaligus mengajak masyrakat untuk membeli dan bangga memakai produk karya anak bangsa.

    Untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada para pelaku UMKM di daerah NTT, maka Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim, dan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, menyelenggarakan Road to Kilau Digital Permata Flobamora 2021 Webinar & Workshop dengan tema “Mendorong Kreasi dan Inovasi UMKM Flobamora  pada Sabtu, 1 Mei 2021.

    Kegiatan webinar dan Workshop ini dilaksanakan secara online dan offline di Golden Hall, Go Hotel Maumere, dan disiarkan secara live melalui aplikasi Zoom dan kanal YouTube Ditjen IKP Kominfo.

    Direktur IKPM Kemkominfo, Septriana Tangkary dalam sambutannya menjelaskan bahwa Gernas BBI dapat membuka peluang pasar baru bagi UMKM, baik di ranah regional maupun global. Di masa pandemi diharapkan UMKM dapat berpindah dari manual based ke platform online.

    “Bagi yang belum masuk ke dalam ranah online, belum memiliki toko-toko online, jangan ragu hari ini belajar masuk memiliki toko online, karena ini adalah suatu program pemerintah untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa saat ini pelaku UMKM bergantung pada penjualan secara online karena aktivitas fisik yang dibatasi.

    Septriana menegaskan Kemkominfo mendukung agar para pelaku UMKM bisa memanfaatkan sarana ruang digital dengan benar agar bisa menjadi soko guru perekonomian bangsa.

    Septriana Tangkary berharap pelaku UMKM di Flobamora khususnya di Sikka, memanfaatkan maksimal kehadiran perwakilan toko online, sehingga produk-produk lokal kreatif dan inovatif dapat dibelanja secara digital.

    Sementara itu Staf Khusus Menkominfo Philip Gobang dalam sambutannya mengatakan bahwa, ada dua syarat penting yang perlu diperhatikan bagi para pelaku UMKM untuk masuk ke pasar digital, terutama untuk yang memperkenalkan produk-produk kriya, wastra dan sebagainya.

    Yang pertama, harus selalu memastikan kualitas produk adalah produk terbaik dan yang kedua adalah mengenai ketersediaan produk.

    “Sediakan barang dalam jumlah banyak, standar terjamin, dan ketersediaan barang yang cukup. Itulah yang menjamin keberlangsungan dari kehidupan UMKM”, ungkap Philip.

    Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo, ia mengingatkan masyarakat untuk mencintai produk-produk Indonesia, dan juga meningkatkan kreativitas dan inovasi agar produk-produk UMKM memiliki nilai tambah yang tinggi.

    Hadir sebagai  narasumber:  Fransiskus Roberto Diogo (Bupati Sikka), Septriana Tangkary (Direktur IKPM Kemkominfo), Philip Gobang (Staf Khusus Menkominfo),  Victoria Simanungkalit (Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian KUKM), Maria Cahyani Idong (Ketua Dekranasda Sikka), Kuncoro Wastuwibowo (Synergy Project Leader Telkom Indonesia), Daniel Agus Prasetyo (Deputi Kepala Perwakilan BI NTT), Zhafira dan Nabila (Tokopedia), Bramantya Eka (Blibli), dan Dandy (LaDaRa).

    Sementara itu hadir secara online Odo RM Manuhutu (Deputi Bidang Koordin kasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenkomarves), Yuana Rochma Astuti (Direktur Pemasaran Ekonomi Kreatif Kemenparekraf), Danny Januar (Direktur Layanan TI Masyarakat dan Pemerintah, BAKTI), Hilmi Adrianto (Government Relation Tokopedia), Reancy Triashari (DANA), Radityo Triatmojo (Shopee), Prita Widya Oktavianti (Public Affairs OVO), dan Lusiana Dita (Bukalapak).

    Acara tersebut juga menghadirkan para pembicara dari marketplace dan juga payment gateway meliputi Shopee, Tokopedia, LaDaRa, Blibli, Bukalapak, DANA, dan OVO yang membahas tentang program dan dukungan kepada UMKM agar siap terjun ke pasar online. (Atik)

  • Anggota DPR RI dan Kementerian KKP Gelar Gemarikan di Kupang

    Jakarta Berandanegeri.com – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar kegiatan “Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan” (GEMARIKAN) di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang pada Kamis-Jumat (29-30/4/2021).

    Menurut politisi muda PDI Perjuangan yang akrab dipanggil Ansy Lema itu, GEMARIKAN bertujuan memerangi kemiskinan dan anak gagal tumbuh (stunting), yang kini menjadi masalah utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

    “Kemiskinan dan stunting adalah persoalan serius di NTT. Persentase penduduk miskin di NTT pada September 2020 meningkat 0,31 persen menjadi sebesar 21,21 persen, menempati urutan ketiga terbawah di Indonesia. Kemiskinan sangat berpengaruh pada kualitas stunting. Prevalensi bayi stunting di NTT juga berada di urutan ketiga terbawah se-Indonesia, yakni sebesar 27,5 persen. Sejak satu setengah tahun berada di DPR, saya menggelar sosialisasi GEMARIKAN untuk memerangi stunting di NTT,” ujar Ansy Lema di Jakarta, Jumat (30/4/2021) dalam Rilis yang diterima berandanegeri.com, Sabtu(1/5/2021).

    Lokasi kegiatan GEMARIKAN di Kabupaten Kupang adalah di Panti Asuhan Bakti Luhur dan masyarakat Desa Oeltua di Kecamatan Oebenu, Kabupaten Kupang. Sementara sosialisasi GEMARIKAN di Kota Kupang berlangsung di Pantai Asuhan Generasi Pengubah, Pantai Asuhan Aisyiyah Muhammadiyah, Kelurahan BTN Kolhua, Gereja Kristen Anggur Baru dan Para Pemulung di Bantaran Sungai Oesapa. Acara GEMARIKAN dihadiri langsung dua staf Ansy yakni Mario Fransisko Hurek Making dan Yustinus Oswin M.

    Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Ditjen Penguatan Daya Saing, perwakilan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT, serta jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten-Kota Kupang.

    “Setelah acara seremoni, kami langsung membagikan 1000 paket yang berisi ikan segar dan olahan ikan kepada anak-anak panti asuhan, ibu hamil, lansia, dan keluarga tidak mampu. Tidak hanya membagikan paket ikan, tim kami langsung mendatangi lokasi untuk mengkampanyekan dan mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi ikan,” kisahnya.

    Manfaat Makan Ikan

    Wakil rakyat asal NTT itu menjelaskan, tujuan GEMARIKAN adalah mengampanyekan pentingnya manfaat makan ikan sejak dini karena banyaknya kandungan gizi yang terdapat pada ikan sangat penting untuk perkembangan tumbuh dan kecerdasan otak. Masyarakat diajak untuk semakin sering mengonsumsi berbagai jenis ikan setiap hari.

    “Potensi perikanan di NTT sangat besar, namun tingkat konsumsi ikan masih sangat rendah, sehingga saya bersama KKP mengampanyekan GEMARIKAN dengan sejuta manfaatnya. Setidaknya masyarakat semakin menyadari manfaat mengonsumsi ikan, yang diikuti tindakan konkret menjadikan ikan sebagai menu makanan wajib dalam keluarga,” paparnya.

    Menurut Ansy, ikan sangat kaya akan sumber protein hewani, meningkatkan kecerdasan kognitif anak-anak, dan memperkuat sistem imun. Kontribusi protein ikan mencapai 57,2 persen, artinya lebih besar dari kandungan protein daging hewan, telur dan susu. Kandungan Omega 3  ikan sangat berguna untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, menghasilkan antioksidan, serta mengurangi risiko kanker, jantung, dan radang sendi.

    “Selain itu, ikan dapat memperkuat imunitas tubuh. Ini penting agar tubuh terhindar dari penyakit, apalagi di tengah pandemi Covid-19. Makan ikan tidak hanya menyehatkan, tetapi mengamankan tubuh dari penyakit,” tambahnya.

    Perangi Stunting

    Ansy mengaku, ia secara sadar mengampanyekan GEMARIKAN di berbagai daerah di NTT untuk memerangi stunting. Maka, setiap kali menggelar kegiatan GEMARIKAN, dirinya selalu memberi perhatian khusus kepada anak atau siswa SD, SMP dan SMA, ibu hamil, atau kelompok masyarakat yang berada dalam deraan kemiskinan. Anak-anak adalah masa depan bangsa dan NTT. Mereka harus sehat, kuat dan cerdas agar dapat berkontribusi maksimal membangun Flobamora tercinta.

    “Itulah alasan saya mengunjungi anak-anak, ibu hamil, keluarga miskin, para lansia dan para pemulung di Kabupaten-Kota Kupang. Kita harus berjuang keras memerangi kemiskinan dan stunting, salah satunya dengan mengonsumsi ikan. Saya berharap, kampanye makan ikan ini semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk sesering mungkin mengonsumsi ikan. Ayo makan ikan agar tubuh kian sehat, segar, dan berotak cerdas,” ajak Ansy.

    Aktivis reformasi 98 itu menjelaskan, kegiatan GEMARIKAN sangat membantu nelayan dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) NTT di bidang pengolahan ikan. Selama Pandemi, hasil tangkapan ikan banyak, tetapi permintaan pasar menurun drastis karena terdampak pandemi COVID-19. Maka, kegiatan GEMARIKAN menjadi salah satu solusi dari negara untuk membantu nelayan dan UMKM.

    “Permintaan pasar domestik dari luar NTT dan konsumsi ikan NTT dalam kondisi lesu di tengah Covid-19. Kegiatan GEMARIKAN adalah upaya saya dan KKP untuk membeli ikan hasil tangkapan nelayan dan berbagai olahan ikan dari UMKM,” pungkasnya.