Author: Redaksi

  • Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada

    GOENAWAN MOHAMAD

    Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

    Hasil akhir pengetahuan para arifin adalah ketakmampuan mereka untuk mengetahui Dia. (Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ)

    Atheisme dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.

    Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.

    Kini berkibarnya “revivalisme”, terkadang dalam bentuk “fundamentalisme”, dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). Juga The God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”

    Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.

    Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika—yang baginya harus ditinggalkan. Dengan meninggalkannya, kata Heidegger, manusia justru akan lebih dekat ke “Tuhan yang ilahi” (göttlichen Gott).

    Mungkin dengan itu kita bisa memahami Derrida: ia menyebut diri atheis, tapi juga mengatakan “tetapnya Tuhan dalam hidup saya” yang “diseru dengan nama-nama lain”.

    Jelas gerak “menengok kembali agama” itu bukan gerak kembali kepada asas theisme yang lama. Dalam Philosophy and the Turn to Religion, Hent de Vries mengikhtisarkan kecenderungan itu dalam sepatah kata Perancis yang mengandung dua makna: kata á Dieu ’ke Tuhan’ atau adieu ’selamat tinggal’, “satu gerakan ke arah Tuhan, ke arah kata atau nama Tuhan”, yang juga merupakan ucapan “selamat tinggal yang dramatis kepada tafsir yang kanonik dan dogmatik… atas pengertian ’Tuhan’ yang itu juga”.

    Syahadat Nurcholish Madjid

    Tampak, tak hanya ada satu makna dalam nama “Tuhan”. Bahkan, sejak berkembang pendekatan pascastrukturalis terhadap bahasa, kita kian sadar betapa tak stabilnya makna kata.

    Kata Tuhan hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.

    Penanda itu tak pernah menemukan signatum atau apa yang ditandainya. Signatum (“petanda”?) itu baru akan muncul nanti, nanti, dan nanti sebab kata Tuhan akan selamanya berkecimpung dalam hubungan dengan penanda-penanda lain.

    Maka, tiap kali “Tuhan” kita sebut, sebenarnya kita tak menyebut-Nya. Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: “Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha”. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa “Buddha” atau “Tuhan” yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang “Buddha” dan Sang “Tuhan” yang tak terwakili oleh kata itu.

    Agaknya itulah maksud Nurcholish Madjid ketika menerjemahkan kalimat syahadat Islam dengan semangat taukhid yang mendasar: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan sendiri”. Dengan kata lain, nama “Allah” hanyalah signans, dan tak bisa dicampuradukkan dengan signatum yang tak terjangkau. Jika dicampuradukkan, seperti yang sering terjadi, “Allah” seakan-akan sebutan satu tuhan di antara tuhan-tuhan lain—satu pengertian yang bertentangan dengan monotheisme sendiri.

    Di abad ke-13, di Jerman, Meister Eckhart, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, berdoa dengan menyebut Gottes (tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). Yang pertama kurang-lebih sama dengan “pengertian” tentang Tuhan, sebuah konsep. Yang kedua: Ia yang tak terjangkau oleh konsep. Maka, Eckhart berbisik, “aku berdoa… agar dijauhkan aku dari tuhan”. Di tahun 1329 Paus Yohannes XXII menuduhnya “sesat”. Ia diadili dan ditemukan mati sebelum vonis dijatuhkan.

    Masalah bahasa itulah yang membuat akidah dan teologi jadi problematis. Teologi selamanya terbatas—bahkan mencong. Jean-Luc Marion mengatakan teologi membuat penulisnya “munafik”. Sang penulis berlagak bicara tentang hal-hal yang suci, tetapi ia niscaya tak suci. Sang penulis bicara mau tak mau melampaui sarana dan kemampuannya. Maka, kata Marion, “kita harus mendapatkan pemaafan untuk tiap risalah dalam teologi”.

    “Satu”, Zizek, dan ontologi Badiou

    Theisme cenderung tak mengacuhkan itu. Theisme umumnya berangkat dari asumsi bahwa dalam bahasa ada makna yang menetap karena sang signatum hadir dan terjangkau—asumsi “metafisika kehadiran”.

    Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.

    Justru di situlah atheisme bermula. Slavoj Zizek mencoba membahas ini dengan menggunakan tesis ontologis Alain Badiou. Dalam tulisannya yang menawarkan sebuah “teologi materialis” dalam jurnal Angelaki edisi April 2007, Zizek mengatakan, “Satu” adalah pengertian yang muncul belakangan.

    Zizek mengacu ke Badiou: “banyak” (yang juga berarti “berbagai-bagai”) atau multiplisitas adalah kategori ontologis yang terdasar. Multiplisitas ini bukan berasal dari “Satu” dan tak dapat diringkas jadi “Satu”. Lawan multiplisitas ini bukan “Satu”, tapi “Nol”—atau kehampaan ontologis. “Satu” muncul hanya pada tingkat “mewakili” —hanya sebuah representasi.

    Monotheisme tak melihat status dan peran “Satu” itu. Tak urung, monotheisme yang menghadirkan Tuhan sebagai “Satu” memungkinkan orang mempertentangkan “Satu” dengan “Nol”. Maka, orang mudah untuk menghapus “Satu” dan memperoleh “Nol”. Lahirlah seorang atheis. Tepat kata Zizek ketika ia menyimpulkan, “atheisme dapat bisa terpikirkan hanya dalam monotheisme”.

    Namun, memang tak mudah bagi kita yang dibesarkan dalam tradisi Ibrahimi untuk menerima “teologi materialis” Zizek. Umumnya tak mudah bagi para pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi menerima argumen ontologis Badiou yang menganggap “Satu” hanya sebuah representasi meskipun dengan demikian mereka telah memperlakukan Tuhan sama dan sebangun dengan representan-Nya—satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan dasar taukhid Surah al-Ikhlas dalam Al Quran, yang menegaskan “tak suatu apa pun yang menyamai-Nya”.

    Kaum monotheis memang berada dalam posisi yang kontradiktif. Apalagi, bagi mereka, Tuhan yang Satu itu juga Tuhan yang personal.

    Syahdan, Emmanuel Levinas mengkritik keras Heidegger. Kita tahu, acap kali Heidegger berbicara dengan khidmat tentang Sein (Ada). Sein (Ada) adalah yang menyebabkan hal-hal-yang-ada muncul ber-ada. Bagi Levinas, dengan gambaran itu Sein (Ada) seakan-akan mendahului dan di atas segala hal yang ada (existents). Artinya, dalam ontologi Heidegger, Ada menguasai semuanya. Bagaikan “dominasi imperialis”.

    Tampaknya Levinas menganggap Heidegger—pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu—berbicara tentang Ada sebagai semacam tuhan yang impersonal. Juga ketika Heidegger menyebut Yang Suci (das Heilige).

    Menurut Levinas, ini menunjukkan kecenderungan “paganisme”. Tanpa mendasarkan Ada dan Yang Suci dalam hubungan interpersonal, Heidegger telah mendekatkan diri bukan ke “bentuk agama yang lebih tinggi, melainkan ke bentuk yang selamanya primitif”.

    Levinas—yang filsafatnya diwarnai iman Yahudi—tampaknya hanya memahami agama dengan paradigma monotheisme Ibrahimi. Tentu saja itu tak memadai. Bukan saja Levinas salah memahami pengertian Ada dalam pemikiran Heidegger. Ia juga tak konsisten dengan filsafatnya sendiri, yang menerima Yang Lain sebagaimana Yang Lain, tanpa memasukkannya ke dalam kategori yang siap.

    Padahal, dengan memakai iman Ibrahimi sebagai model, Levinas meletakkan keyakinan lain—Buddhisme dan Taoisme misalnya—dalam kotak. Apabila baginya agama lain itu “primitif”, itu karena tak sesuai dengan standar Kristen dan Yahudi. Ia menyimpulkan: di ujung “agama primitif” ini tak ada yang “menyiapkan munculnya sesosok tuhan”.

    Levinas tak melihat, justru dengan tak adanya “sesosok tuhan” dalam “agama primitif”, atheisme jadi tak relevan. Dengan kata lain, persoalannya terletak pada theisme sendiri. Saya teringat Paul Tillich.

    Teolog Kristen itu menganggap theisme mereduksi hubungan manusia dan Tuhannya ke tingkat hubungan antara dua person, yang satu bersifat “ilahi”. Dari reduksi inilah lahir atheisme sebagai antitesis. Maka, ikhtiar Tillich ialah menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam- theisme”.

    Tuhan “Tak Harus Ada”

    Kini suara Tillich (meninggal di tahun 1965) sudah jarang didengar. Setidaknya bagi saya. Tapi, niatnya menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam-theisme” dan ucapannya bahwa Tuhan “tidak eksist”—sebab Ia melampaui “esensi serta eksistensi”—saya temukan reinkarnasinya dalam pemikiran Marion.

    Jean- Luc Marion (filsuf Prancis), seperti Heidegger, menafikan tuhan kaum atheis yang sejak Thomas Aquinas (dan secara tak langsung juga sejak Ibnu Rushd, dengan dalil al-inaya dan dalil al-ikhtira’-nya) dibenarkan “ada”-nya dengan argumen metafisika. Baginya, Tuhan yang dianggap sebagai causa sui, sebab yang tak bersebab, adalah Tuhan yang direduksi jadi berhala: Ia hanya jadi titik terakhir penalaran tentang “ada”. Ia hanya pemberi alasan (dan jaminan) bagi adanya hal ihwal, jadi ultima ratio untuk melengkapi argumen. Tapi, di situlah metafisika tak memadai.

    Sebab Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita. Tuhan benar-benar tak harus ada (n’a justement pas á être). Ia mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada. Bagi Marion, Tuhanlah yang datang dengan kemerdekaannya ke kita karena Kasih-Nya yang berlimpah, sebagai karunia dalam wahyu.

    Di momen yang dikaruniakan itu kita bersua dengan manifestasi les phénomènes saturés, ’fenomena yang dilimpah-turahi’. Di hadapan fenomena dalam surplus yang melebihi intensiku itu, aku mustahil menangkap dan memahami obyek—kalaupun itu masih bisa disebut “obyek”. Bahkan, aku dibentuk olehnya.

    “Fenomena yang dilimpah-turahi” itu juga kita alami dalam pengalaman estetik ketika melihat lukisan Matisse, misalnya: sebuah pengalaman yang tak dapat diringkas jadi konsep. Apalagi pengalaman dengan yang ilahi, dalam wahyu: hanya dengan aikon kita bisa menjangkau-Nya.

    Aikon, kata Marion, berbeda dengan berhala. Berhala adalah pantulan pandangan kita sendiri, terbentuk oleh arahan intensi kita. Sebaliknya pada aikon: intensi kita tak berdaya. Yang kasatmata dilimpah-turahi oleh yang tak-kasatmata, dan aikon mengarahkan pandanganku ke sesuatu di atas sana, yang lebih tinggi dari aikon itu sendiri. “Aikon” yang paling dahsyat adalah Kristus. Marion mengutip Paulus: Kristuslah “aikon dari Tuhan yang tak terlihat”.

    Di sini Marion bisa sangat memesona, tetapi ia tak bebas dari kritik. Dengan memakai wahyu sebagai paradigma “fenomena yang dilimpah-turahi”, Marion—seperti Levinas—berbicara tentang “agama” dengan kacamata Ibrahimi. Bagaimana ia akan menerima Buddhisme, yang tak tergetar oleh wahyu dari “atas”, melainkan pencerahan dari dalam?

    Bagi Marion, berhala terjadi hanya ketika konsep mereduksikan Tuhan sebagai “kehadiran”. Tapi, mungkinkah teologi yang ditawarkannya sepenuhnya bebas dari tendensi pemberhalaan?

    Dengan pandangan khas Katolik, ia bicara tentang aikon. Tapi, bisa saja aikon itu—juga Tuhan—di-atas-Ada yang diperkenalkannya kepada kita, sebagaimana Gottheid yang hendak digayuh Eckhart—merosot jadi berhala, selama nama itu, kata itu, dibebani residu sejarah theisme yang, jika dipandang dari perspektif Buddhisme Zen, tetap berangkat dari Tuhan yang personal, bukan dari getar Ketiadaan.

    Di sinilah kita butuh Derrida. Marion mengira “Tuhan-Tanpa-Ada” yang diimbaunya bisa bebas dari sejarah dan bahasa, tapi dengan Derrida kita akan ingat: kita selamanya hidup dengan bahasa yang kita warisi, dari tafsir ke tafsir. “Tuhan” tak punya makna yang hadir.

    Maka Yudaisme, misalnya, cenderung tak menyebut Nama-Nya; dalam nama itu Tuhan selalu luput. “Dieu déja se contredit”, kata Derrida: belum-belum Tuhan sudah mengontradiksi diri sendiri.

    Maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.

    Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

    *****

     

    ———————————————

    *Sumber Kompas, Sabtu 6 Oktober 2007 (Kolom Bentara)

    *Goenawan Mohamad,  Penyair, Pendiri Majalah Tempo

     

  • Menulis Esai sebagai Kebahagiaan: Belajar dari Montaigne

     

    untuk: Budi Darma # RIP

     

    Oleh  Agustinus Tetiro (jurnalis dan esais)

     

    DALAM Filokomik, dilukiskan bahwa Montaigne memberi beberapa pengajaran untuk berbahagia, yaitu memiliki pengalaman hidup, sikap meragukan semua karena kita tidak sempurna, banyak piknik melihat dunia, keberanian untuk melepaskan, melawan prasangka dan bertoleransi.[1] Semua itu memberikan kita satu informasi bahwa Michel Eyquem de Montaigne (1533-1592) adalah seorang filsuf yang berfilsafat dengan merefleksikan pengalaman hidup dan riwayat biografisnya sendiri. Hal itulah yang membuatnya berbahagia. Kebahagiaan dalam berpengalaman langsung dengan realitas dan dalam kebersamaan dengan orang lain itulah yang diajarkan Montaigne melalui tulisan-tulisannya, terutama yang berbentuk esai yang diartikan sebagai “suatu obrolan yang cerdas dan memikat”.[2] Karena, menurut Montaigne, “latihan yang paling bermanfaat dan alami bagi pikiran kita adalah, menurut pendapat saya, percakapan”.[3]

    J.M. Cohen yang menerjemahkan karya besar Montaigne, Essays, ke dalam bahasa Inggris melukiskan dengan tepat filsafat yang dihidupi Montaigne dalam pilihan gaya menulisnya. Esai adalah sebentuk sastra (genus litterarium). “Tujuannya adalah menampilkan potret dirinya dalam bingkai keabadian; untuk membangun dari sejumlah sketsa parsial manusia esensial; bukan sebagai makhluk yang tidak berubah, tetapi sebagai orang yang mempertahankan inti identitas lebih penting sebagai subjek daripada peristiwa yang menimpanya.”[4]

    Semangat Montaigne dalam menulis esai sebagai kegembiraan hidupnya terinspirasi dari para filsuf klasik seperti Aristoteles dan filsafat Stoikisme.[5] Dari kedua sumber ini, Montaigne berbicara tentang persahabatan yang menggembirakan. Dalam tulisannya bertajuk “Tentang Persahabatan” (On Friendship), Montaigne banyak merujuk pada karya Cicero berjudul De Amicitia (Tentang Persahabatan) dan konsep persahabatan dari Aristoteles. Menurut Montaigne, persahabatan pertama-tama dipelajari dari rumah dan keluarga dan kemudian berkembang lebih luas hingga menjadi persahabatan politik (Aristoteles) dan warga dunia yang kosmopolis (Stoikisme Cicero). Orang berbahagia bila dia bisa mengalami pengalaman kebersamaan dengan orang lain.[6]

    Montaigne sangat antusias merefleksikan pengalaman kesehariannya, karena hal itu menggembirakan. “Dalam menilai kehidupan orang lain, saya selalu menanyakan bagaimana setidaknya dia berperilaku; dan salah satu tujuan utama saya dalam hidup saya adalah untuk berperilaku baik. Itu berakhir – dengan damai, maksud saya, dan dengan pikiran yang tenang.”[7]

    Montaigne tidak menutup mata bahwa dalam merefleksikan persahabatan dan pengalaman kebersamaan bisa saja kita salah paham ataupun menimbulkan kontradiksi. Hal itu tidak akan banyak menganggu, karena “kontradiksi pendapat, oleh karena itu, tidak menyinggung atau menjauhkan saya; mereka hanya membangkitkan dan melatih pikiran saya.”[8] Menurut Montaigne, latihan pikiran dan olah rasa seperti ini akan berguna untuk pemuliaan martabat manusia. Montaigne menulis, “Saya mencintai dan menghormati pengetahuan sebanyak mereka yang memilikinya; jika digunakan dengan benar, itu adalah perolehan manusia yang paling mulia dan paling kuat.”[9]

    Kekaguman pada realitas dan pada hidup manusia tentu saja telah mendorong Montaigne untuk dengan gembira menikmati pengalaman hidupnya. Dalam esainya bertajuk On the Power of Imagination (Tentang Kekuatan Imajinasi), Montaigne menekankan pentingnya imajinasi kreatif untuk kebahagiaan manusia. “Mungkin saja kepercayaan pada mukjizat, penglihatan, pesona, dan kejadian luar biasa seperti itu bersumber dari kekuatan imajinasi yang terutama bekerja di benak orang awam, yang lebih mudah terkesan.”[10]

    Imajinasi kreatif yang menuntun Montaigne menjadi sangat otentik bagi pembelajaran sang filsuf tentang hidupnya sendiri yang pada gilirannya membawa kebahagiaan. Bagi Montaigne, kebahagiaan bisa diperoleh dengan memberanikan diri sendiri untuk menyelami sejarah hidup masing-masing, mengalami sendiri, dan merefleksikan pengalaman dalam kebersamaan, khususnya bersama orang-orang yang—meminjam istilah saat ini—‘sefrekuensi’.[11] Imajinasi kreatif Montaigne dalam merefleksikan pengalaman hidup dan kebersamaannya itu yang kemudian memantapkan bentuk esai sebagai tulisan yang bisa diterima umum dan diakui sebagai karya yang otentik.

    Beberapa hal yang bisa dikatakan tentang esai menurut Montaigne.[12] Pertama, essai atau essais dalam bentuk jamaknya, sengaja dipilih oleh Montaigne, karena maksud utama tulisan dan renungan-renungannya adalah mencoba memahami manusia dan masyarakat secara lebih baik. Kedua, esai menghindari konsep-konsep abstrak dan selalu bertolak dari pengalaman. Menurut Montaigne, pengalaman manusia adalah obyek penelitian dan sekaligus juga metode penelitian. Ketiga, pengetahuan sistematis memang berguna, tetapi belum mempunyai manfaat yang optimal kalau tidak membantu kita mendapatkan pengertian moral tentang apa yang baik dalam hidup, dan sanggup membentuk sikap kita terhadap hidup itu sendiri.

    Sampai di sini, kita perlu memberikan beberapa pertimbangan. Pertama, pilihan Montaigne untuk menulis tentang kebahagiaan hidup dalam bentuk esai lebih menyentuh hati daripada uraian sistematik tentang kebahagiaan yang dalam banyak pengalaman ternyata tidak banyak membantu manusia untuk menggapai kebahagiaan. Kedua, kebahagiaan yang diperoleh dalam pengalaman kebersamaan dan rasa kagum pada kehidupan manusia tentu saja lebih membekas pada setiap sejarah hidup masing-masing pribadi. Ketiga, kendati demikian, peran pengetahuan sistematis tetap berguna dan tak tergantikan. Selain fungsinya untuk menginformasikan suatu pengetahuan, sejarah manusia juga mencatat bahwa ada orang yang juga bisa menulis suatu pengetahuan sistematis dengan hati yang gembira.

    ********************************

     

    [1]Jeane-Philippe Thivet dkk., Filokomik. 10 Filsuf 10 Strategi Bahagia (terj. A Setyo Wibowo) (Jakarta: KPG, 2020), hlm.56-67.

    [2]Ignas Kleden, Antara Obyektivitas dan Orisinalitas (Esei Kita), dalam “Prisma” No.8 Tahun XVII 1988 (Sastera dan Masyarakat Orde Baru), hlm.17.

    [3]“The most fruitful and natural exercise for our mind is, in my opinion, conversation.” Michel de Montaigne, Essays (translated with an Introduction by J.M. Cohen) (Middlesex, English: Penguin Books, 1958), hlm.286.

    [4]“His aim is to present a portrait of himself in a frame of timelessness; to build up from a number of partial sketches the essential man; not as an unchanging being, but as one who retained a core of identity more important as a subject than the events that befell him.” J.M. Cohen, Introduction, dalam Michel de Montaigne, Essays (translated with an Introduction by J.M. Cohen) (Middlesex, English: Penguin Books, 1958), hlm.9.

    [5]“Montaigne’s own practical philosophy derived from the Classical forms of self-discipline, which he found in Socrates and the Stoics.”  J.M. Cohen, Introduction, hlm.17.

    [6]Michel de Montaigne, Essays, hlm.91-105.

    [7]“In judging another man’s life, I always inquire how he behaved at the least; and one of my principal aims of my life is to conduct myself well it ends–peacefully, I mean, and with a calm mind.” Michel de Montaigne, Essays, hlm.36.

    [8]“Contradiction of opinion, therefore, neither offend nor estrange me; they only arouse and exercise my mind.” Michel de Montaigne, Essays, hlm.288.

    [9]“I love and honour knowledge as much as those who possess it; put to its proper use, it is the noblest and most powerful acquisition of man.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.292.

    [10]“It is probable that the belief in miracles, visions, enchantments, and such extraordinary occurrences springs in the main from the power of imagination acting principally on the minds of the common people, who are the more easily impressed.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.39.

    [11]“The only good histories are those written by men who were themselves at the head of affairs, or took a share in the conduct of them, or at least hand the good fortune to direct others of a similar nature.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.171.

    [12]Untuk bagian ini disarikan dari artikel berjudul Esai. Godaan Subyektivitas dalam  Ignas Kleden, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Esai-Esai Sastra dan Budaya (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2004), hlm.472-476.

    Agustinus Tetiro
  • Dua  Paus

    Dua Paus

    Goenawan  Mohamad

    SEORANG paus dan seorang kardinal bertemu di antara pepohonan taman Castle Gondolfo. Di bulan April 2011, siang terik, juga di tempat tetirah para paus di luar Roma itu.

    Kedua orang tua itu duduk di sudut yang teduh, kadang-kadang berjalan—dan selamanya berkonfrontasi.

    Adegan film The Two Popes di kebun Italia abad ke-17 itu adalah poros karya sutradara Fernando Meirelles ini, yang tumbuh dari fragmen penting sejarah Gereja Katolik, ketika iman, kekuasaan, dan dosa bertaut.

    Sang Kardinal berkata kepada sang Paus: “Seluruh Gereja kita kini membutuhkan pengampunan.”

    “Selama tahun-tahun belakangan ini kita sibuk menertibkan mereka yang tak menyetujui kebijakan kita—tentang perceraian, keluarga berencana, mereka yang gay… sementara planet ini sedang dihancurkan dan ketimpangan sosial tumbuh seperti kanker….”

    Anthony Hopkins sebagai Paus Benediktus dan Jonathan Pryce sebagai Kardinal Bergoglio membuat percakapan seperti itu tak berteriak, lebih seperti bunyi api dalam jerami. Dengan kemampuan seni peran yang mempesona, keduanya menghadirkan sejarah kehidupan yang berbeda, arah yang berseberangan. headtopics.com

    Tapi dalam The Two Popes kita tak perlu melihat paus dan kardinal itu replika tokoh sejarah abad ke-21. Film ini tak mengundang kita melihat Hopkins sebagai rohaniwan angker yang dulu bernama Ratzinger dan Pryce sebagai kardinal yang rendah hati dari Buenos Aires.

    Di layer itu yang kita temui seorang pemimpin agama di saat guncang: korupsi terbongkar dalam manajemen keuangan Takhta Suci, kasus pedofilia terbongkar di kalangan pastor. Vatikan seperti bukan lagi bagian dunia. Sementara itu, Paus Benediktus melihat Gereja, yang baginya suara “kebenaran yang universal”, dikepung “relativisme”.

    Maka Gereja harus dijaga. Konon Stalin pernah mengejek: “Vatikan—berapa batalion tentara dia punya?” Tentu tak satu pun. Tapi Gereja sebuah kekuatan moral di tengah dunia yang dilecut persaingan senjata, kapital, dan teknologi. Apa jadinya jika umat dilanda keraguan?

    Benediktus melihat, harus ada batas yang kukuh. Harus ada tembok…. Di pojok taman Gandolfo, ia tahu Kardinal Bergoglio tak menyukai itu.

    Bergoglio: “Apakah Yesus membangun tembok? Wajah Yesus wajah pengampunan, dan pengampunan ibarat dinamit yang meruntuhkan tembok-tembok.”

    Sebuah kontras. Benediktus adalah nada tunggal. Sejak muda ia lebih banyak bergaul dengan buku ketimbang manusia. Orang yang selalu makan malam sendirian ini tak kenal dunia yang beragam. Ia menyukai musik (malam itu ia memainkan karya Bedrich Smetana pada piano), tapi ia tak tahu bahwa tango sebuah tarian. Ia hanya bisa mencoba melucu dengan “humor Jerman”—yang diakuinya sendiri “tak harus jenaka”.

    Bergoglio adalah antithesisnya. Ia dari negeri yang meriah, rumit, dan traumatis. Masa lalu Argentina dicederai kediktatoran, masa panjang digerogoti ketimpangan sosial.

    Ia kesal agama Katolik tak bisa menjadi inspirasi baru. Ia ingin Gereja berubah, tapi Benediktus anggap berubah sama dengan berkompromi dengan dunia yang tak langgeng.

    “Anda pengkritik saya yang paling keras,” kata Paus.Dilihatnya oposisi Bergoglio tak hanya kata-kata. Kardinal ini menolak tinggal di kediaman megah yang ditentukan Vatikan. Ia mengenakan sepasang boot tentara yang talinya mudah lepas, sementara Sri Paus sepatu cantik desain Zara. “Sepatu Anda juga sebuah protes,” kata Bapa Suci.

    Tapi tak seluruh film ini kisah konfrontasi. Pelan-pelan ia menjadi kisah persahabatan. Benediktus tahu, orang Argentina ini tulus. Kehangatannya spontan. Ia tak menjaga jarak dari suster pengurus Istana, tukang kebun, penjaga pintu. Ia ikut berteriak-teriak seperti umumnya penonton pertandingan bola dan suka jajan pizza dari kedai.

    Dan meskipun ia tak mendukung sikap Benediktus, tak ada dalam sikapnya yang dengan angkuh menghakimi.

    Pelan-pelan orang yang duduk di Takhta Suci itu merenung. Dan di ruang dalam Kapela Sistina, ketika mereka kembali berdua, sang Paus mengatakan, “Saya tak menyetujui kebanyakan yang Anda katakan, tapi ada sesuatu….”

    Ia tak selesaikan kalimatnya. Tapi kemudian ia ucapkan keputusannya: Gereja harus berubah, dan Bergogliolah yang akan membawanya. Ia sendiri akan mengundurkan diri; ia ingin Kardinal Argentina itu menjadi paus berikutnya.

    Bergoglio menolak. Ia bukan orang yang tepat. Ada yang gelap di masa lalunya: di tahun 1970-an, untuk menjaga keselamatan gereja dan umat, ia bekerja sama dengan diktator militer yang baru mengambil alih kekuasaan. Ketika teman-teman Jesuitnya membuat gerakan untuk demokrasi, ia tak membantu. Mereka disergap, di antaranya dibunuh. Ia dituduh berkhianat, dan ia merasa berkhianat. Ia berdosa.

    Dan baginya, “Dosa itu luka, bukan cuma noda.” Maaf saja tak cukup.

    Ini tentu berlaku juga bagi Benediktus yang tak mengikis habis kejahatan seks di kalangan padri.

    Dan kedua paus itu pun bertaut. Saya ingat baris sajak Soebagio Sastrowardojo: “Melalui dosa kita bisa dewasa.”

    Kesadaran akan dosa diri tak menghapus dosa itu, tentu, tapi bisa menghapus perasaan paling suci dan ketakaburan, untuk lebih siap menjangkau, memeluk, mereka yang rapuh.

    Pada 25 Maret 2016: Paus Fransiskus (d.h. Kardinal Bergoglio) membersihkan kaki imigran muslim yang terpaksa lari dari tanah airnya. Caritas in veritate. “Kebenaran vital bagi hidup, tapi tanpa cinta kasih, ia tak tertanggungkan,” kata orang baik dari Argentina itu.

    ********************************

     

    Sumber Tulisan “Catatan Pinggir” Majalah Tempo – Edisi 28 Juni 2020.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Status Pengakuan Wilayah Adat di Indonesia 17 Agustus 2021

    Berandanegeri.com – PADA perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-76, Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) memperbarui data “Status Pengakuan Wilayah Adat di Indonesia”. Data ini diolah dari Sistem Registrasi Wilayah Adat BRWA. Sistem ini meliputi tahapan pencatatan data dan informasi mengenai keberadaan masyarakat adat dan wilayah adatnya.  Selanjutnya BRWA melakukan proses standardisasi data spasial (peta) dan data sosial (profil) masyarakat adat melalui proses Registrasi, Verifikasi, dan Sertifikasi wilayah adat.

    BRWA telah meregistrasi 1.034 peta wilayah adat dengan luas mencapai sekitar 12,4 juta hektar. Peta wilayah adat tersebut tersebar di 29 provinsi dan 136 kabupaten/kota. Status pengakuan wilayah adat berdasarkan kebijakan daerah yang bersifat pengaturan dan penetapan.  Ada 154 wilayah adat yang sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan luas mencapai 2,46 juta hektar atau sekitar 19,8% dari total wilayah adat teregistrasi di BRWA. Pada wilayah provinsi dan kabupaten/kota yang telah menerbitkan Peraturan Daerah untuk pengakuan Masyarakat Adat terdapat 617 peta wilayah adat dengan luas mencapai 7,66 juta hektar. Sementara itu, masih ada sekitar 2,31 juta hektar wilayah adat belum memiliki payung hukum pengakuannya.

    Dari 12,4 juta hektar peta wilayah adat teregistrasi di BRWA, potensi hutan adatnya mencapai sekitar 8,35 juta hektar. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menerbitkan 75 surat keputusan pengakuan Hutan Adat dengan luas sekitar 56.903 hektar atau sekitar 0,68% dari potensi Hutan Adat saat ini.

    Informasi lengkap status pengakuan wilayah adat dan hutan adat secara nasional dan regional dapat dilihat pada infografis terlampir.

     

     

  • Bupati Dogiyai dan 24 ASN Wisuda S-2 di STPMD APMD Yogyakarta

    NABIRE berandanegeri.com – Bupati Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Yakobus Dumupa bersama 24 aparatur sipil negara (ASN) diwisuda secara virtual dalam acara Wisuda Program Magister Ilmu Pemerintahan Kelas Dogiyai Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” di Gedung Sutopo STPMD “APMD”, Jalan Timoho, Yogyakarta, Sabtu (14/8/2021).

    “Atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Dogiyai, saya merasa bangga dan bahagia. Sabtu (14/8) hari ini, saya bersama bapa dan ibu ASN boleh mengikuti acara wisuda setelah kuliah di STPDM “APMD” Yogyakarta hingga selesai,” kata Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa dalam keterangan tertulis yang diterima dari Nabire, kota Kabupaten Nabire, Sabtu (14/8/2021).

    Mantan anggota Majelis Rakyat Papua ini mengemukakan, kerja sama ini ditempuh sebagai upaya untuk membangun dan mengembangkan sumber daya manusia Dogiyai agar bisa mengerti pemerintahan dan berpemerintahan yang melayani masyarakat di kampung-kampung di Dogiyai. Proses pendidikan kelas khusus ini sebagian berlangsung tatap muka, yaitu sebelum masa pandemi Covid-19. Setelah pandemi merebak, kelas berlangsung dalam jaringan (daring).

    “Kami semua bersyukur kepada Tuhan karena boleh melewati proses perkuliahaan di daerah di tengah keterbatasan jaringan telekomunikasi yang kerap tersendat-sendat. Kami semua tetap semangat demi meningkatkan mutu pelayanan melalui pendidikan formal bagi warga masyarakat kampung. Para dosen juga tetap bekerja keras melayani aparat kami di kampung hingga kami sukses melalui capaian akademik membanggakan,” ujar Yakobus Dumupa, bupati berusia muda dan penulis belasan buku aneka tema.

    Bupati Yakobus Dumupa dan para ASN tersebut mengikuti wisuda secara virtual dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Magister Ilmu Pemerintahan Kelas Dogiyai tahun 2021 di Auditorium LPP RRI Jalan Merdeka, Nabire, kota Kabupaten Nabire atau sekitar 300 kilo meter dari Mowanemani, kota Kabupaten Dogiyai.

    Para wisudawan yang semuanya ASN Dogiyai, wilayah adat Meepago itu memulai kuliah pada Juli 2019 pada Program Magister Ilmu Pemerintahan di STPMD “APMD” Kelas Khusus Dogiyai Yogyakarta. Nota kesepahaman kerjasama atau Memorandum of Agreement (MoA) antara pihak Pemerintah Kabupaten Dogiyai dengan STPMD “APMD” Yogyakarta ditandatangani pada 19 Februari 2019 di Yogyakarta.

    Ketua STPMD “APMD” Yogyakarta Dr Sutoro Eko Yunanto mengatakan, wisuda Program Magister Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Kelas Dogiyai membahagiakan meski awalnya penuh dengan dinamika. Namun, dengan pemindahan kuncir menandai bahwa para wisudawan menjadi ‘sujana’, orang yang penuh kebajikan.

    “Para lulusan harus mempunyai kemampuan berpikir, thinking yang lebih atau talking, berbicara kepada pemerintah dan masyarakat serta kemampuan memimpin. Namun, lebih penting adalah menjaga spirit melayani dan melindungi rakyat yang berdaulat. Ini menjadi semangat STPMD “APMD” Yogyakarta. Mudah-mudahan bisa menjadi semangat wisudawan. Selamat melayani dan melindungi rakyat Dogiyai,” kata Sutoro Eko, doktor Ilmu Pemerintahan lulusan Universitas Gajah Mada.

    Asisten III Bidang Administrasi Sekretariat Daerah Dogiyai yang juga Ketua Panitia Wisuda Samuel Rihi mengemukakan, pihak panitia mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Dogiyai atas perhatian terhadap peningkatan kapasitas ASN melalui alokasikan anggaran untuk program kerjasama dengan Yayasan Pengembangan Pendidikan Tujuh Belas Yogyakarta.

    “Bupati Dogiyai Pak Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Pak Oskar Makai sungguh mewujudkan salah satu misi dari visi Dogiyai Bahagia sehingga hari ini kita bisa saksikan pengukuhan 24 lulusan Magister Ilmu Pemerintahan yang merupakan putra-putri Dogiyai. Kami juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua STPMD “APMD” Pak Sutoro Eko yang sudah menerima Pemerintah Kabupaten Dogiyai sebagai mitra untuk mengembangkan SDM aparatur sipil negara guna melayani masyarakat di kampung-kampung di Dogiyai,” ujar Sem Rihi, yang juga Anggota Senat Luar Biasa STPMD “APMD” Yogyakarta.

    Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan seluruh pejabat struktural STPMD “APMD”, para dosen, senat, dan seluruh civisitas akademik yang setia meluangkan wakti untuk membimbing para mahasiswa kelas Dogiyai mulai awal hingga wisuda. Begitu juga dukungan penuh pimpinan dan anggota DPRD, pimpinan organisasi perangkat daerah serta elemen masyarakat terkait program pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas ASN.

    “Kami berterima kasih kepada semua pihak yang membantu panitia sehingga acara wisuda berjalan lancar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Secara khusus saya sampaikan limpah terima kasih kepada Bupati Dogiyai Pak Yakobus Dumupa, Wakil Bupati Bapak Oskar Makai, Sekda Bapak Petrus Agapa, Ketua DPRD Bapak Elias Anauw, dan Sekretaris Dewan Adat Bapak Alexander Pakage yang setia ikut mendampingi kami selama prosesi wisuda,” kata Sem Rihi.

    ****

     

     

  • Emanuel Bria : Ilusi Industri Garam Bupati Simon 

    Emanuel Bria : Ilusi Industri Garam Bupati Simon 

     

    Jakarta berandanegeri.com. – BUPATI Simon sebaiknya berhenti berilusi soal industri garam Malaka dan fokus pada program swasembada pertanian, seperti beras “Nona Malaka” sesuai janji kampanyenya. Hal ini karena industri garam Malaka buruk dari sisi lingkungan dan memiliki nilai ekonomi yang kecil.

    Kalaupun Bupati Simon hendak membangun wilayah pesisir, lebih berguna memberdayakan kelompok-kelompok garam tradisional dengan cara-cara yang ramah lingkungan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga di Kabupaten Malaka dan sekitarnya dari pada melakukan intervensi industri garam secara masif untuk kebutuhan industri nasional.

    Perlu dicatat bahwa meskipun Indonesia memiliki garis pantai terbesar kedua di dunia setelah Kanada, namun sebetulnya tingkat produksi garam Indonesia sangat tergantung terhadap banyak faktor di antaranya cuaca dan nilai ekonomi garam yang rendah. Faktanya total produksi garam Indonesia terus menurun setiap tahun karena terkena dampak badai La Nina yang menyebabkan curah hujan yang tinggi. Sementara itu secara ekonomi pemamfaatan pantai untuk kegiatan ekonomi lain seperti pariwisata alam memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan industri garam. Hal ini menyebabkan sejumlah pemerintah daerah lebih memilih mengembangkan pariwisata ketimbang industri garam.

    Contohnya sesuai perhitungan ahli Kimia Universitas Indonesia, Misri Gozan, dalam kondisi ideal,  rata-rata satu hektar lahan produksi garam menghasilkan antara 50-100 ton garam per tahun dan dijual sekitar RP. 1.100 per kilogram karena itu satu hektar lahan garam menghasilkan sekitar Rp. 5.5 juta hingga 11 juta hasil kotor. Ini belum dihitung biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi dalam waktu sekitar lima bulan dan tentu saja ini kondisi ideal. Dalam banyak kasus panen garampun gagal karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

    Nilai ekonomis garam yang rendah diperparah lagi dengan dampak industri garam sendiri terhadap lingkungan. Di Kabupaten Malaka, misalnya, dampak kegiatan produksi garam industri PT. IDK terhadap masyarakat pesisir sangat terasa. Apalagi kegiatan pembersihan lahan dilakukan dengan cara merusak berhektar-hektar hutan mangrove.

    Dampak langsung yang dirasakan masyarakat berdasarkan berbagai diskusi dengan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan tambak garam IDK antara lain penyusupan air laut ke wilayah darat terutama daerah pertanian dan sumur penduduk yang menyebabkan rusaknya lahan pertanian dan masyarakat makin kesulitan untuk mengakses air tawar untuk konsumsi sehari-hari.

    Selain itu rusaknya hutan mangrove yang merupakan ekosistem peralihan darat dan laut dan tumbuhan penyerap karbon yang cukup tinggi, menyebabkan suhu udara dan laut makin panas. Perlu dicatat juga bahwa Laut Timor merupakan wilayah yang secara rutin dilewati badai tropis Australia yang menyebabkan gelompang laut meningkat dan menyebabkan curah hujan dan angin yang cukup tinggi. Bencana siklon tropis yang baru saja dilewati beberapa bulan yang lalu oleh sebagian besar masyarakat NTT khususnya Kabupaten Malaka adalah salah contohnya.

    Dalam kondisi rusaknya hutan mangrove sebagai benteng alami yang berfungsi untuk memecah arus gelombang laut yang tinggi maka resiko bencana alam untuk masyarakat Kabupaten Malaka juga makin meningkat.

    Bupati Simon, dalam masa kampanyenya selalu menyebut beras “Nona Malaka” sebagai salah satu program primadonanya. Akan tetapi jika industri garam juga hendak dilaksanakan, meskipun beliau menolaknya selama masa kampanye, maka sudah hampir pasti mimpi soal beras “Nona Malaka” pun tidak akan tercapai jika lahan pertanian masyarakat rusak dan bencana alam melanda.

    Karena itu dari pada membangun ilusi tentang industri garam Malaka, lebih baik stop program garam IDK, pulihkan alam dan lingkungan pesisir laut khususnya situs-situs adat budaya dan fokus pada program primadonanya tentang beras “Nona Malaka” dan berbagai bidang pertanian yang lain.

    ***************************

  • Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)

    Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)

    Oleh Dea Tantyo

    APA yang membuat Mohammad Hatta (Bung Hatta) dikenang abadi?   Apa yang membuat jasad yang mati, tapi tetap tersebar luas di pikiran? Tulisan .

    Menulis adalah jalan untuk menyelami kehidupan dan memaknai keberadaan diri. Mereka yang menulis kerap lebih mampu memecahkan persoalan hidup. Mereka yang kita kenal sebagai tokoh dunia dan para pemimoin menjadikan menulis sebagai tradisi. Tradisi menulis juga menyatu pada darah Bung Hatta.

    Tak kurang sekitar 150 judul buku tulisan Bung Hatta, lebih dari 100 artikel yang tersebar di majalah Belanda, dan lebih dari 40 buku mengisahkan tentang Bung Hatta.

    Kemampuan intelektual seorang pemimpin terlihat dari kemampuan menulisnya. Jika pemimpin sejati adalah penulis sejati, Hatta termasuk di dalamnya. Beliau adalah tokoh yang sangat menggemari aktivitas menulis dan membaca. Bahkan di usia 18 tahun, Hatta telah menulis sebuah cerita yang dimuat di majalah Jong Sumatra sekitar tahun1920, berjudul  Namaku  Hindiana.

     Pada 1933, ketika Soekarno diasingkan ke Ende, Flores, Hatta membombardir Belanda dengan tulisannya mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi ini pemerintah colonial Belanda mulai serius menngawasi dan menangkap para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.

    Tak berhenti di situ. Di tempat pengasingan Digul, tulisan Hatta rutin dimuat di koran Pemandangan di Jakarta, yang menceritakan nasib orang-orang buangan. Surat itu kemudian dibaca menteri jajahan pada saat itu, Colin, yang kemudian mengecam pemerintah dan segera mengirim residen Ambon untuk menemui Hatta di Digul.

    Pada 1937, bersama Syahrir, Hatta dipindahkan ke Banda Neira. Namun Hatta tak pernah berhenti, gagasan-gagasannya kian menjadi peluru yang mengusik ketenangan Belanda. Di sana, beliau rutin menulis untuk majalah Sin Tit Po terbitan Batavia dalam bahasa Belanda. Di samping itu, Hatta juga menulis di Nationale Commantaren (Komentar Nasional) pimpinan Sam Ratulangi. Peluru-peluru yang tajam itu makin hari berubah menjadi Meriam. Tahun 1941, Mohammad Hatta menulis sebuah artikel yang lebih keras di koran Pemandangan mengenai seruan agar rakyat Indonesia tidak memihak Barat atau pun fasisme Jepang.

    Hatta dan buku adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sampai ketika cinta mengetuk hidupnya, Hatta mempersembahkan sebuah maskawin kepada sang istri tercinta berupa sebuah buku yang ia tulis sendiri, Alam Pikiran Yunani.

    Tulisan adalah tradisi para pemimpin. Melalui tulisan pula nama Bung Hatta terukir abadi. Kecintaan Bung Hatta terhadap proses menulis melebihi kecintaannya terhadap harta benda. “Saya mempunyai tiga istri: Indonesia, buku, dan istri saya sendiri, “ujar Hatta.

     

    ———————

    *Naskah ini adalah ringkasan dari buku Leiden is Lijden, Inspirasi Hidup, Perjuangan, Kepemimpinan, dan Mata Air Keteladanan Founding Fathers, Dea Tantyo, Elex Media Komputindo, Jakarta 2017.

     

     

  • Satu Hati untuk NTT, “Ad Hoc to Foundation”

    SETELAH resmi dibubarkannya kegiatan penggalangan donasi kepanitiaan “Satu Hati untuk NTT” (SHUN) dalam penanganan bantuan seroja, Sabtu (7/7/2021), Kepala Badan Penghubung NTT, Hendry Donald Izaac, S.Sos., M.Si menginisiasi berdirinya SHUN sebagai Yayasan.

    Setelah berunding bersama para Tokoh Diaspora NTT, Organda dan perwakilan Diaspora NTT dari kalangan etnis, kepengurusan Yayasan “Satu Hati untuk NTT” pun resmi terbentuk di Kantor Badan Penghubung NTT, Tebet, Jakarta Selatan pada Selasa (10/8/2021).

    “Saya sangat berterima kasih kepada para tokoh Diaspora NTT yang ada di Jakarta, para Organda dan Perwakilan etnis kabupaten yang turut mendukung terbentuknya Yayasan “Satu Hati untuk NTT”. Harapan saya, semoga yayasan ini bisa bekerja sama dengan Badan Penghubung dan warga Diaspora NTT seluruh dunia terlebih dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan” kata Pak Donald Izaac dalam sambutan paska acara pemilihan pengurus Yayasan yang juga dihadiri awak berandanegeri.com“, Selasa (10/8/2021).

    Selain itu, Yayasan “Satu Hati untuk NTT” pun bergerak di bidang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, dan Sosial Religi.

    “Yayasan Satu Hati untuk NTT” juga mengakomodir bidang pendidikan dalam hal membantu anak-anak untuk mendapat kemudahan pendidikan, anak-anak miskin, warga diaspora yang sakit, Bencana Alam, Musibah, Pembangunan dan Rehabilitasi Rumah ibadah dan kegiatan Sosial lainnya” Tamba Pak Donald Izaac.

    Acara Pemilihan Pengurus Yayasan “Satu Hati untuk NTT” dipimpin langsung oleh Pengacara Tobby Ndiwa, S.H (Steering Commite), dihadiri perwakilan Tokoh Diaspora NTT Jakarta, Organda, dan perwakilan Diaspora NTT dari kalangan etnis. Lewat voting, Vico Amalo berhasil terpilih sebagai Ketua Yayasan dan Sandra Hartono sebagai Wakil Ketua Yayasan.

    Ketua Yayasan “Satu Hati untuk NTT” terpilih, Vico Amalo, dalam sambutannya meminta dukungan semua anggota, warga Diaspora NTT dan juga Badan Penghubung NTT Jakarta.

    “Saya berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya sebagai Ketua Yayasan “Satu Hati untuk NTT”. Oleh karena kepercayaan dari kita semua maka saya mohon dukungan kita agar Yayasan ini dapat berjalan dengan baik” Tutur Vico di sela-sela sambutannya, Selasa (10/8/2021).

    Sementara itu, Ketua Forum Pemuda NTT-Jakarta, Yohanes Hiba Ndale dalam sambutannya mewakili Tokoh Diaspora NTT Jakarta pun turut mendukung berdirinya Yayasan “Satu Hati untuk NTT”.

    “Sebagai tokoh Diaspora NTT, saya mengapresiasi acara ini dan siap mendukung kegiatan Yayasan “Satu Hati untuk NTT” ke depannya” Ujar sosok yang lazim di sapa Adi Papa.

    Setelah pemilihan pengurus definitif, rencana acara pelantikan, sedianya akan dilangsungkan paska HUT RI ke 76, di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).  (Riky)

  • Jeritan Kematian Kala Pandemi

    Jeritan Kematian Kala Pandemi

    Oleh   Sindhunata

    Di masa pandemi Covid-19, statistik amat berbicara. Kita suka membaca angka-angka. Tanpa kita sadari, kita terjebak pada cara membaca, yang membuat kita memahami Covid-19 itu seakan hanyalah naik turunnya kasus saja. Misalnya, data 15 Maret 2021, total kasus Covid-19 di dunia sebanyak 120.399.288, sembuh 96.944.566, meninggal 2.664.622. Di Indonesia, positif Covid-19 menembus angka 1.425.044, sembuh 1.249.947, dan meninggal 38.573.

    Kita khawatir, bila angka itu naik. Dan terhibur, bila turun. Namun, benarkah bila kekhawatiran dan keterhiburan kita hanya kita gantungkan pada naik turunnya angka? Kita lupa bahwa kematian 2.664.622 di dunia dan 38.573 di Indonesia bukan sekadar angka, melainkan juga nyawa. Memang di balik sejumlah angka itu sesungguhnya ada rasa kesedihan, kehilangan, dan kekecewaan.

    Kematian yang tragis

    Kematian adalah kematian. Namun, jika kita melihat kematian sebagai sekadar angka, dengan serampangan kita bisa membandingkan kematian karena Covid-19 dengan kematian karena demam, serangan jantung, sakit ginjal, bahkan kecelakaan lalu lintas. Setiap tahun, kematian karena itu semuanya juga menempati statistik yang tinggi.

    Anggapan macam ini membuat kita lupa bahwa kematian karena Covid-19 tak dapat dibandingkan dengan kematian lainnya. Karena bersama kematian itu terjadi peristiwa yang tidak terjadi pada kematian-kematian umumnya.

    Kematian sering datang dengan lebih dini daripada yang dikira. Namun, mereka yang berpulang karena virus korona, kematian itu sungguh tragis. Karena datang tanpa dinyana, sering tanpa gejala, dan dalam waktu dekat sudah merenggut nyawanya. Kematian macam ini pasti meninggalkan kesedihan dan penderitaan luar biasa bagi mereka yang ditinggalkan. Seakan tanpa sebab apa pun, mereka tiba-tiba kehilangan orang yang tercinta.

    Dokter, perawat, dan petugas kesehatan bisa tetap selamat ketika merawat pasien yang menderita sakit, misalnya kanker, jantung, atau ginjal. Tetapi dengan pasien virus korona, mereka harus merisikokan nyawanya. Akhirnya tak sedikit dari mereka ikut meregang nyawa.

    Mereka yang terpapar lebih sedih lagi. Mereka terasing dari keluarganya justru di saat akhir mereka sangat membutuhkannya. Orang-orang yang bisa mendekat padanya harus pakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Mereka bahkan tak mengenali lagi, juga bila yang mengunjungi adalah keluarga terdekat.

    Dan ketika kematian menjemputnya, nasibnya benar-benar merana. Tubuhnya disemprot habis-habisan dengan disinfektan. Tak diberi dandanan dan harus cepat-cepat dimakamkan. Penguburannya berlangsung sepi. Keluarga terdekatnya hanya boleh menyaksikan dari jauh. Mereka sungguh seperti orang yang terbuang dan dianggap sebagai wabah yang bisa menyebabkan penularan walau mereka sudah berpulang.

    Biasanya, penguburan adalah saat di mana mereka yang ditinggalkan memberikan penghormatan terakhir bagi yang berpulang. Saat terakhir cinta dicurahkan, maaf dimintakan, dan keluarga membisikkan pesan. Tentu saja disertai ritual keagamaan untuk mendoakan agar yang meninggal pergi dengan tenang dan yang ditinggalkan dianugerahi penghiburan.

    Ini semua ditiadakan pada kematian mereka karena Covid-19. Alasannya, jangan sampai yang hidup ketularan. Itulah kematian yang tragis bagi mereka yang mati karena Covid-19.

    Sudah selayaknya bahwa kematian dihiasi dengan kebahagiaan. Bahkan, mereka yang hidupnya paling nista pun layak mendapat kehormatan sebagai manusia pada saat kematiannya. Itulah yang dilakukan Ibu Theresa, perempuan suci dari Kalkuta.

    Saat ia menerima hadiah Nobel tahun 1979 di Oslo, Ibu Theresa berpidato, ”Saya tak pernah lupa, bagaimana saya menemukan seorang laki-laki di jalanan. Sekujur tubuhnya dikerubungi lalat. Apa yang kelihatan bersih hanyalah wajahnya. Saya membawa orang itu ke tempat di mana kami menampung orang-orang yang mau meninggal. Inilah satu-satunya kata yang ia ucapkan, ’Saya hidup seperti binatang di jalanan, tapi sekarang saya akan mati sebagai seorang malaikat, dicinta dan dirawat’. Dan ia pun mati dengan indah. Ia berpulang ke Tuhan. Kematian tak lain adalah pulang kembali ke Tuhan. Saya merasa: Ia gembira dan bahagia karena mengalami cinta, bahwa ia dikasihi, diinginkan, dan bahwa adalah seseorang yang berarti bagi yang lain.”

    Memang, menjelang ajal, siapa pun patut mengalami bahwa ia adalah manusia, yang dicinta dan dihargai sebagai manusia. Justru cinta dan penghargaan itulah yang hilang dalam kematian mereka yang terpapar Covid-19. ”Maaf, penguburan ini tak berkenaan dengan penghormatan,” inilah apologi di balik tiadanya ritual perpisahan dan keagamaan bagi mereka yang meninggal karena Covid-19.

    Hal di atas kiranya adalah latar belakang mengapa terjadi kasus seperti di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, belum lama ini. Ratusan sukarelawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) mendatangi DPRD Bantul. Mereka memprotes pernyataan salah seorang anggota Dewan sehubungan dengan pemakaman jenazah korban Covid-19.

    Menurut para sukarelawan, anggota Dewan tersebut pernah menyatakan, pemakaman jenazah korban Covid-19 dilakukan dengan sangat tidak layak, seperti layaknya menguburkan binatang saja. Pernyataan ini jelas sangat melukai hati para sukarelawan, yang dalam segala keterbatasan telah menguburkan jenazah korban dengan ikhlas dan tulus. Syukurlah, kasus itu selesai dengan permintaan maaf dari anggota Dewan itu.

    Kasus seperti di atas jelas memperlihatkan bahwa Covid-19 membawa problem tentang kematian. Seperti dikatakan oleh kolumnis dari die Zeit, Anna Mayr, Covid-19 mendorong kita untuk bicara terus mengenai turunnya angka kematian, tetapi kita tak berbicara tentang kematiannya sendiri. Kematian manusia menjadi anonim.

    Di balik ketidakacuhan terhadap kematian ini bisa tersembunyi paham keselamatan liberal yang bilang, apa yang bernilai adalah keselamatanku, peduli amat dengan kematian korban, dan dukacita mereka yang ditinggalkan. Jika ketidakacuhan itu dibiarkan, kita takkan bakal bisa bersama-sama menemukan ide, bagaimana menghargai dan menghormati mereka yang telah berpulang dalam upacara ritual yang sepadan.

    Lumpuhnya agama

    Memudarnya upacara ritual kematian karena Covid-19 ini adalah salah satu tanda lumpuhnya kekuatan agama di era modernitas ini. Menurut filsuf Giorgio Agamben, sudah lama sebenarnya agama harus bersaing dengan kapitalisme dan ilmu pengetahuan. Berhadapan dengan pandemi ini terlihat agama terpaksa ”takluk” terhadap ilmu pengetahuan, khususnya medicine, ilmu kedokteran, dan obat-obatan.

    Lewat kekuasaan politik, agama diminta tunduk pada ”ritual dan liturgi medicine”. Ini semua harus dibuat demi kesehatan dan kehidupan. Maklum, bagi medicine, kesehatan dan kehidupan adalah segala-galanya.

    Begitulah, kesehatan telah menjadi berhala di era liberalisme ini. Kata Agamben, salvezza, keselamatan, telah dikurbankan demi salute, kesehatan. Ini disebabkan agama harus mengikatkan dirinya dalam sejarah, mencari keselamatan lewat sejarah. Akhirnya, apa yang ditemukan lewat sejarah ini bukan keselamatan, melainkan kesehatan. Tujuan akhir manusia adalah kesehatan. Apa pun yang di luar kesehatan—apalagi kematian—tidak lagi diperhitungkan. Itulah sebabnya manusia mengalami tiadanya lagi hubungan natural antara kehidupan dan kematian.

    Diingkari atau diterima, pandemi Covid-19 ini jelas mendekatkan kembali kematian pada kehidupan. Menurut teolog Wolfgang Palaver, saat ini merupakan kesempatan agar kita tidak bersikap dingin terhadap kematian.

    Dengan sikap itu, kita justru bisa menghargai kehidupan. Namun, seperti sudah ditunjukkan Agamben, kelirulah bila hidup itu kita sempitkan menjadi kesehatan. Begitu berpikir tentang kesehatan, orang mudah tergoda untuk mengutamakan kesehatannya sendiri.

    Ini antara lain yang menyebabkan kita seperti sama sekali tak mempunyai kemungkinan untuk berpikir bagaimana memberi penghormatan yang layak bagi mereka yang mati karena Covid-19.

    Memang, hidup tak sekadar kesehatan. Maka, Palaver setuju dengan filsuf Emmanuel Levinas yang mengatakan, menggenggam hidup demi alasan apa pun, adalah akar dari kekerasan dan peperangan. Hidup bukanlah sekadar hidup kita tetapi hidup demi dan bersama orang lain. Di sinilah letaknya kita boleh berpikir kembali tentang keselamatan, di samping atau melebihi kesehatan.

    Maka, Palaver tak setuju dengan pikiran Agamben, seakan keselamatan bisa dipisahkan dari kesehatan. Keduanya tak terpisahkan dan keduanya ada di dalam sejarah. Tak mungkinlah mencari keselamatan di luar sejarah. Bila harus ditemukan dalam sejarah, keselamatan harus ada bersama kesehatan.

    Namun, berbicara mengenai keselamatan, tak mungkin melupakan kematian. Dengan kematian, keselamatan itu mencapai kesempurnaannya. Kematian dalam arti inilah yang dilupakan selama pandemi. Kematian seakan hanya disebabkan terinfeksi virus belaka. Maka, ritualnya boleh diabaikan juga. Inilah kiranya yang menyakitkan hati banyak keluarga yang ditinggal orang tercinta yang mati karena virus korona ini.

    Politik yang tuli

    Sudah lama kita mendesak kematian sebagai bukan bagian dari politik. Sekarang ganti politik yang didesak oleh kematian, sampai gelagapan. Politik jadi kehilangan jalan menghadapi kematian yang bertubi-tubi datang. Politik dipaksa untuk takut pada kematian.

    Menurut Palaver, takut akan kematian jangan diartikan hanya negatif. Takut juga meliputi respek. Jika menaruh respek terhadap kematian, politik pun akan menghasilkan tindakan-tindakan yang bertanggung jawab.

    Di hadapan kematian yang demikian mengancam selama pandemi ini, politik dipaksa untuk menyadari bahwa hidup itu ternyata demikian berarti. Maka dengan menghormati kematian, politik pun pasti akan menghormati kehidupan. Karena bukan kematian melainkan hanya hiduplah yang bisa memberi orientasi, maka politik harus mencari manakah orientasi baru yang sekarang diberikan oleh hidup ini. Jika politik malas mencari orientasi baru itu, bisa terjadi akan datang lagi bahaya yang akan menerkam kita dengan kematiannya.

    Pertama-tama, orientasi baru hendaklah menghapus pandangan darwinisme sosial yang secara kasar bersemboyan: yang mati biarlah mati, yang hidup biarlah hidup. Pandangan ini jelas merelakan yang lemah sebagai korban demi yang kuat. Tragis, bahwa selama pandemi ini darwinisme sosial ini sempat mengemuka justru di beberapa negara maju.

    Sekali lagi tampak, seperti ditunjukkan Agamben, itulah berhala dari liberalisme yang mengukuhkan hidup dan kesehatan sebagai satu-satunya tujuan. Terbuka pula kedok dari berhala itu, karena ternyata hidup dan kesehatan yang diperjuangkannya adalah hidup dan kesehatan dari mereka yang kuat. Yang lemah dibiarkan tak terlindungi.

    Di balik darwinisme sosial itu tersembunyi logika kalkulatif yang kejam. Logika demikian bisa dengan dingin berkesimpulan: bolehlah satu orang mati, jika ribuan orang diselamatkan. Secara moral, logika ini tak bisa dipertanggungjawabkan. Tak dapat diterima, bahwa manusia boleh dikorbankan, bahkan seorang saja, demi keuntungan sekian banyak orang lainnya.

    Orientasi baru itu kiranya juga perlu menjauhi prinsip modernitas, yang memandang manusia itu bernilai sejauh ia berguna. Menurut sosiolog Zygmunt Bauman, prinsip ini bisa berpendapat, bahwa akhirnya manusia hanyalah sampah, bila sudah tidak ada gunanya lagi.

    Karena sudah tidak berguna lagi, ia boleh dikecualikan, bahkan dibuang seperti sampah. Maklum prinsip itu berpandangan, hidup akan nyaman, bila tidak terganggu oleh mereka yang hanya menjadi beban. Dalam bahasa Agamben, kaum terbuang itu adalah homo sacer.

    Di zaman dulu, homo sacer adalah kaum yang dianggap tidak berguna dan boleh dikorbankan. Di zaman ini, homo sacer adalah mereka yang tak bisa dan tak berkapasitas untuk bisa ikut dalam tata aturan demokrasi zaman modern. Karena itu, bahkan demokrasi pun diam-diam menyingkirkan mereka.

    Bauman memerincikan homo sacer itu sebagai mereka yang kehilangan pekerjaan, para penganggur, dan kaum terpinggirkan. Mereka ini sudah tidak dapat berproduksi lagi karena itu mereka terbelit dengan problem finansial. Akibatnya, mereka juga tidak bisa menjadi konsumen yang ideal.

    Mereka ini kehilangan suaranya. Akibatnya, mereka pasti akan tercampakkan dari proses demokrasi. Demokrasi mengandaikan warga yang bisa mengurusi dan menentukan nasibnya sendiri. Sementara kaum ini justru harus diurusi karena tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Maka, bila digampangkan, politik dengan mudah menganggap mereka pengganggu bagi demokrasi.

    Banyak yang keliru dalam modernitas di zaman ini. Sudah lama orang tidak mau keluar dari kekeliruan itu. Dengan jeritan kematiannya, pandemi Covid-19 memaksa kita untuk meluruskan lagi jalan yang keliru itu. Jeritan ini tak boleh kita diamkan karena jeritan itu tidak hanya menggugat, tetapi juga memberi kesempatan bagi kita untuk memikirkan kembali kehidupan.

    Jeritan itu meneriakkan kematian itu sakral. Bila kita rela untuk kembali mensakralkan kematian, kehidupan juga akan kita sucikan. Maksudnya, kematian menghendaki kita untuk tidak bermain-main dengan kehidupan dan menyempitkan kehidupan hanya sebagai kesehatan belaka. Kehidupan adalah keselamatan, bukan bagi diri kita sendiri, melainkan juga demi sekian banyak manusia lainnya.

    Di negeri ini, pandemi juga telah mendekatkan kita pada kematian. Politik kita pun sempat dibuat bingung dalam menghadapi kematian itu. Sayangnya, politik kita seakan menutup telinga terhadap jeritannya. Pesan utama kematian, yakni kehidupan itu bernilai, maka hargailah kehidupan dan jadikan kehidupan itu keselamatan.

    Kita lupa akan pesan kematian itu. Politik tetap kita dangkalkan dengan remeh temeh persoalan yang tak kunjung padam. Politik kita jadikan arena pertikaian, perebutan kebenaran, yang kita sajikan lewat hujatan dan kebohongan.

    Hiruk-pikuk politik yang dangkal, menjemukan dan menjengkelkan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah yang ditinggalkan pandemi dan harus kita urusi: pengangguran, hilangnya kesempatan kerja, kemiskinan, dan sekian banyak warga yang mendadak terpinggirkan.

    Demokrasi kita tak boleh mengabaikan warga yang tiba-tiba-tiba menjadi homo sacer itu. Sayangnya, demokrasi kita malah menjadi ajang para elite politik untuk berebut kekuasaan, dan mencari keamanan bagi dirinya sendiri. Elite itu menggembar-gemborkan antiliberalisme, tetapi sebenarnya mereka malah telah memeluk sikap liberal itu sendiri. Sikap liberal itu tak lain adalah kesombongan dan pamrih untuk mencari enaknya sendiri.

    Rasanya, politik kita sungguh menyia-nyiakan jeritan kematian sekian banyak warga yang telah terenggut nyawanya karena pandemi ini. Kita seakan tidak berutang apa-apa pada mereka. Padahal, utang itu baru bisa kita bayar, bila kita mau menjalankan politik yang menghargai kehidupan. Dan itu kita baru benar-benar akan terwujudkan, bila politik mau membela dan memperjuangkan mereka yang hidupnya lemah dan terancam.

    Orang Jawa mempunyai ajaran tentang mati sajroning urip, rela mati dalam hidup ini. Siapa mau mempraktikkan ajaran itu, ia akan menjadi arif dan bijak dalam kehidupan ini. Di sanalah kita diajar untuk tidak memutlakkan hidup kita sendiri, dan mau kehilangan sebagian hidup kita demi hidup orang lain. Pandemi telah mempertajam kebenaran ajaran itu. Bila mau peduli dengan kebenaran itu, politik kita pasti akan menjadi lebih arif dan bijaksana.

    Sayang, politik kita tetap membandel dengan lagak-lagunya yang lama, seakan kematian di tengah pandemi ini tak menuntut apa-apa. Tak kelihatan sedikit pun manakah orientasi baru, yang harus kita temukan secara bersama-sama untuk menghadapi masa depan setelah pandemi mengancamkan kematiannya pada kita sekarang. Rupanya, politik kita juga tak juga mau menjadi arif kendati mendengar jeritan kematian di tengah pandemi ini.

    ———————————————————————————

    *Sindhunata, Wartawan, Penanggung Jawab Majalah Basis, Yogyakarta

     

    *Sumber Tulisan Kompas, Sabtu 20 Maret 2021

     

     

     

  • “SUPER0808 2021 Surat Presiden 08-08-2021” – Puisi Sympli da Flores

     

    Saudara-saudaraku
    sebangsa dan setanah air

    Tahun ini negara kita merayakan HUT-76
    Syukur kepada Allah
    Trimakasih kepara para Pahlawan Bangsa
    Atas berkah kemerdekaan bagi kita bangsa Indonesia

    Saudara-saudaraku
    Putra-Putri pewaris bangsa Indonesia
    Mari…..
    Hentakkan kaki dan tepuklah dada kita
    Berbanggalah atas anugerah kemerdekaan NKRI
    Kita Indonesia
    Indonesia itu Kita
    Kita satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air
    INDONESIA

    Saudara-saudaraku
    Sebangsa setanah air
    Kitalah Putera Fajar
    Kitalah Puteri Purnama
    Pada hari ini
    08 Agustus 2021
    Kuperintahkan kepadamu sekalian:

    Petiklah cahaya Fajar
    Sematkan dalam diri dan tanamlah di jiwa
    jadikan pagar keliling negeri
    Dari Merauke ke Sabang, Mianggas ke Rote dan seluruh daratan tanah kita

    Ambilah Purnama patrikan di dadamu Pilih bintang-bintang sematkan di wajah dan kepalamu
    Lalu taburlah di semua laut dan samudera negeri ini
    Jadikan cahaya berseri warna-warni

    Kita jadikan pribadi kita bercahaya abadi
    Menerangi seluruh pelosok tanah air ini
    Lalu memancar ke segenap penjuru mata manusia dunia

    Kita cahaya semesta
    Kita anak-anak cahaya
    Kita mercusuar dunia
    Kita INDONESIA

    Demikian damba dan doaku, yang kutulis sebagai perintahku
    untuk dilaksanakan sebagai doa dan tekad amal bersama dan menjadi kado kita semua, karena: terimakasih kepada para penjasa dan pahlawan bangsa
    Syukur kepada Allah atas anugerah kemerdekaan bagi kita bangsa Indonesia

    Merdeka, Merdeka
    Merdeka…….
    Dirgahayu NKRI-76 !!!


    Sympli da Flores