Author: Redaksi

  • Kritik Terbuka Emanuel Bria terhadap Bupati Simon Nahak Soal Tambak Garam IDK 

    Kritik Terbuka Emanuel Bria terhadap Bupati Simon Nahak Soal Tambak Garam IDK 

    Jakarta Berandanegeri.com – Menanggapi kebijakan Bupati Malaka, Simon Nahak yang terus menggelar karpet merah bagi PT. Inti Daya Kencana (IDK) yang hingga sekarang beroperasi secara ilegal di Kabupaten Malaka dan telah merusak sekitar 300 hektar hutan mangrove dan situs-situs adat yang sakral (lulik) di sepanjang Pantai Selatan Malaka, Emanuel Bria, anggota Departemen Sumber Daya Alam dan Energi pada DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengutuk keras kebijakan tersebut karena tidak berpihak pada masyarakat adat di sepanjang meti ktuik tasi ktuik (wilayah pesisir pantai selatan).

    Emanuel Bria yang saat ini juga mengajar tata kelola Sumber Daya Alam (SDA) pada Sustainable Development Goals (SDG) Academy Indonesia, sebuah inisiatif yang dilahirkan oleh UNDP, Bappenas dan Tanoto Foundation seperti dilansir dari Gendis, secara tegas mengatakan saat ini dunia sedang bergerak ke arah model pembangunan yang rendah karbon dan hutan mangrove serta laut memberi kontribusi yang sangat besar untuk menyerap karbon dioksida.

    Selain itu kondisi Kabupaten Malaka yang berada di perbatasan dengan Australia sangat rentan terhadap badai tropis yang secara rutin melewati wilayah ini setiap tahun. Jika industri garam menjadi pilihan bupati Simon dengan mengorbankan ekosistem laut seperti mangrove artinya Bupati Simon sedang menyiapkan jalan mulus bagi bencana alam untuk daerah yang dipimpinnya. Warisan seperti apa yang hendak ditinggalkan Bupati Simon dalam waktu pemerintahannya? Itu yang harus dipikirkan.

    Sebelum terpilih, Bupati Simon Nahak menjadi bagian dari gerakan Forum Peduli Mangrove Malaka dan ditunjuk oleh masyarakat hukum adat sebagai penasihat hukum untuk menghentikan kegiatan PT. IDK. Ini menjadi salah satu agenda kampanye Bupati Simon saat Pilkada Malaka tahun 2020 sehingga didukung suara mayoritas di sebagian besar wilayah pesisir pantai selatan yang terkena dampak negatif kegiatan PT. IDK.

    Sebagai orang beradat, janji kampanye untuk selamatkan wilayah meti ktuik tasi ktuik bersama masyarakat adat bukan hanya sebuah janji politik tetapi janji Bupati Simon terhadap situs-situs sakral (lulik) dan leluhur tanah Malaka.

    “Karena itu sebagai salah seorang yang turut mendukung dan menggerakan masyarakat untuk memilih Bupati Simon saat Pilkada Malaka, saya berharap Bupati Simon kembali mempertimbangkan kebijakannya tersebut dan setia pada janjinya terhadap tanah dan leluhur rai Malaka,” tutur Eman.

  • Senjata Orang Kalah

    Senjata Orang Kalah

    Oleh  J. Sumardianta

    Apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kau keluhkan, tetapi sesalilah dirimu karena tidak cukup tabah untuk menggali kekayannya.

    -RAINER MARIA RILKE (1872-1926), penyair Austria-Cekoslavakia

    Kuang Tzu gemar menyamakan dirinya dengan kupu-kupu. Menjelang wafat, para murid sepakat untuk membaringkan      bapak Taisme ini dalam peti indah agar jasadnya tidak dimangsa burung gagak. Dalam peti indah sekali pun,aku tetap dimakan cacing dan rayap. Jadi sama saja. “Sang guru tidak mau terikat dengan apa pun di dunia yang fana. Sebagaimana kupu-kupu, Kung Tzu ingin terbang lepas bebas.

    Kupu-kupu memang identik dengan cinta, kerendahan hati, kebahagiaan, kebebasan, dan pengorbanan. Kupu-kupu merupakan ilustrasi bagus buat menggambarkan ketangguhan dan keteladanan spiritual Ram Chander dan Hasari Pal – dua tokoh dalam buku klasik Dominique Lappiere, The City of Joy (1985).

    Hasari Pal bersama istri dan ketiga anaknya adalah petani yang terdampar di Kalkuta, India, akibat bencana kekeringan berkepanjangan. Hasari bekerja sebagai penarik angkong (ricksaw). Pelaku pekerjaan kasar ini sering diledek sebagai manusia kuda. Kehidupan pekerja ini miskin, keras, dan menderita. Bekerja nyaris tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan. Mereka adalah penghirup polusi udara terburuk di dunia. Jadi obyek pemerasan kota polisi praja. Biasa terbunuh di jalanan karena kejeblos lubang banjir. Menjelang pemilu, sering dieksploitasi pengurus partai yang berdalih membela orang miskin.

    Kendati kecingkrangan (tidak berdaya), hidup Hasari sesungguhnya diliputi kebahagiaan dan dipenuhi perasaan syukur. Sebelum mati, dipagut tuberkolosis, Hasari menjual kerangka tubuhnya ke perusahaan alat peraga kedokteran agar bisa mendapat biaya pesta pernikahan Amrita, anak perempuannya. Penganut Hindu yang saleh ini menerima nasib menjalankan tugas suci yang harus ditunaikan agar memperoleh kehidupan lebih baik sesudah reinkarnasi. Bagaimana penarik angkong ini menyalakan harapan hidup supaya bisa bertahan dalam kesulitan, tegar dalam pergulatan dan tabah menghadapi kekerasan?

    Ram Chander, bekas petani yang tidak kunjung menhapus utang keluarganya di Provinsi Bihar, bertutur, “Masih terbayang bagaimana istri saya menggandeng tangan anak saya, berdiri di ambang pintu gubuk kami seraya mengusap air mata. Kami sering bicara rencana kepergian dan sekarang saatnya tiba. Ia menyiapkan sebuah ransel berisi satu longhi, kemeja, dan handuk. Ia bahkan membuat chapati (martabak India) dan potongan sayur-sayuran sebagai bekal perjalanan. Sampai mati akan tetap terkenang. Ingatan mesra tentang keluarga yang berdiri di depan gubuk  lempung itulah yang membuat saya betahan di kota bengis ini.”

    Ram Chander bermimpi bahwa suatu hari ia akan kembali ke desanya dan membuka kedai pracangan di sana, dan duduk di kios itu sepanjang hari, tanpa berlarian. Ia ingin bertakhta di warungnya, dikelilingi karung-karung penuh segala macam kacang dan beras. Dan wadah-wadah yang mengeluarkan aroma rempah, bumbu dapur, dan onggokan sayur. Di rak, tersedia sabun, dupa batangan, biskuit, rokok, dan makanan kecil. Ram tidak pernah bisa pulang ke desanya sebagaimana para penarik angkong lain. Ram mati dipagut radang paru-paru.

    Hasari Pal dan Ram Chander adalah wujud kearifan India: “Segala yang tidak kita berikan akan lenyap sia-sia.” Mereka adalah alegori penderitaan, kematian, dan kehancuran yang bergandeng dengan belas kasih, harapan, dan cinta. Inilah kisah bagaimana manusia belajar dalam situasi paling kelam, tetapi tetap bisa menyalakan semangat hidup. Persis seperti yang dikatakan Rabindranath Tagore, pujangga India peraih Nobel, “Penderitaan itu agung, tetapi manusia tetap lebih mulia daripada penderitaan.”

    Kaum paria menjadi manusia luar biasa berkat kemampuan mereka melampaui kekejaman hidup yang tidak ramah. Antropolog James Scott menyebut kemampuan ini sebagai Weapon of the Weak (Senjata Kaerifan Kaum Rudin). Ironi melegakan karena memberdayakan kaum rudin untuk bisa menertawakan kenistaan. Kaum paria, mengutip almarhum Karl Rahner, teolog mashyur Jerman abad ke-20, “berkat ironi sukses mencapai transendensi – pengalaman dikuatkan oleh sang adikodrati dalam mistisisme konkret sehari – hari.”

    Nasib tukang becak di Yogyakarta, sebagaimana yang dikisahkan Sindhunata, Agus Leonardus, dan Ong Hari Wahyu dalam buku Waton Urip (2005), setali tiga uang dengan penarik ricksaw di Kalkuta. Mereka tak ubahnya pelanduk yang menerjunkan diri ke air guna membebaskan diri dari kejaran bintang buas. Namun, dalam hal ini, mereka mendapati diri dikepung gerombolan buaya. Kendati memelas, bila didekati secara mandalam, dari warung-warung tempat mereka melepas penat seraya mengudap makanan keseharian tukang becak memancarkan kegembiraan, semangat, dan harapan. Inilah sisi terang tukang becak bergelimang ketegaran, kebersahajaan, cinta, berkah, kepuasaan, ketentraman, perasaan syukur, keikhlasan, keberuntungan, dan keselarasan. Tentu juga ada tukang becak yang licik dan suka memeras.

    Becak merupakan pantulan hidup bernilai, bermakna, dan tujuan hidup mendasar dari wong kabur kanginan: orang yang tidak berumah, tidur di jalanan. Transendensi terbaca dari tulisan slebor di becak pribadi mereka. Waton Urip (bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri, melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan); Banyu Mili atau Lumintu (kendati sedikit, toh rezeki bakal mengalir terus tiada henti); Sr Rahayu (kesungguhan dalam membesarkan dan melindungi anak perempuan); Ningsih (dicintai semua orang); Barokah (terberkati); Prasojo (bersahaja); Marem (kepuasan); Bejo (beruntung); Sami-Sami (penerimaan dan pemberian diri tanpa syarat); Gemah Ripah (subur makmur); Prihatin (bermati raga); dan Raharja (maju). Itu semua sesungguhnya memuat harapan dan motivasi hidup para tukang becak, sekaligus merefleksikan pandangan hidup orang Jawa: manggihaken kabegjaning sak lebeting kecingkrangan (menemukan kebahagiaan dalam ketidakberdayaan).

    Becak, di zaman serba motor, seolah-olah merendahkan martabat manusia. Si penghela mengeksploitasi diri layaknya kuda beban. Namun, tidaklah demikian yang terlihat pada diri Pak Kliwon, Pak Zaenal, Pak Sukiman, bahkan Mbok Ponirah, tukang becak perempuan. Tidak ada sedikit pun fatalism dan sikap menyerah pada mereka. Mereka justru mencerminkan konsolasi (filsafat kegembiraan), bukan desolasi (filsafat kemuraman).

    Pak Kliwon (60 tahun), yang sehari-hari mangkal di dekat stasiun Lempuyangan, gampang bersyukur karena badan tidak cacat untuk memenuhi nafkah keluarganya. Pak Sukiman tak pernah menumpang bus saat pulang ke desanya. Ia mengayuh becaknya sampai Delanggu, Kalten, Jawa Tengah. Perjalanan ditempuh selama lima jam karena harus berhemat supaya anak-anak tetap bisa bersekolah. Ponirah (55 tahun) lebih heroik lagi. Sudah 15 tahun ibu lima anak ini mbecak. Sejak suaminya meninggal karena kanker, ia harus menanggalkan urat malu. Ia pernah ditempeleng oleh sesama tukang becak dan ditendang oleh polisi demi mencicil utang.

    Strategi hidup dengan memaksimalkan kekuatan unik, seperti solidaritas sosial, keberanian, keuletan, integritas, kebaikan hati, rupanya membuat para tukang becak itu mampu mentransedensikan kesulitan dan meloloskan diri dari tirani kekejaman dunia. Transedensi merupakan sinergi berbagai kekuatan dari dalam yang menjangkau ke uar sebagai penghubung mereka dengan sesuatu yang permanen dan lebih akbar. Kekuatan itu antara lain spontanitas, kesadaran diri, visi dan nilai, mental yang utuh, kepedulian, independensi terhadap lingkungan, kemauan untuk mengambil manfaat dari kemalangan, dan keterpanggilan.

     

    ————————————–

    *J. Sumardianta, Guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta

    *Sumber Tulisan dari buku Simply Amazing, J Sumardianta, Gramedia 2009.

  • Menggapai Makna “Catatan Pinggir”,   Puisi Simply da Flores

    Menggapai Makna “Catatan Pinggir”, Puisi Simply da Flores

    Seorang wartawan
    mengemban profesi
    menyajikan berita
    Seorang penyair membagi
    makna kehidupan yang
    diolah bathin jiwa nurani

    Dalang “Catatan Pinggir”
    Bukan saja wartawan dan penyair
    Tetapi seniman, muzyafir pemikir
    yang berkelana tanpa kenal lelah
    dan tidak berhenti membangun
    istana kenyamanan

    Menggapai totalitas refleksi
    dan menemukan makna
    dalam Catatan Pinggir memang tidak mudah
    Karena ada aneka data,
    fakta, rasa, nilai dan pendalaman arti
    Yang tersaji secara apik dan menarik,
    meski penuh pengandaian
    bagi pembaca karya ini

    Catatan Pinggir itu
    Seorang nelayan usur
    yang duduk di bawah pohon rindang
    tepian pantai, sambil membetulkan jalanya,
    bercerita kepada anak cucu
    tentang asinnya laut, ombak-gelombang,
    karang dan ikan-ikan, malam gulita
    dan perjuangan menangkap ikan.
    Tentang samudera
    sebagai ibu kehidupan bagi para
    nelayan dan buih ombak
    yang setia mencium
    bibir pasir pantai hari-hari

    Catatan Pinggir itu
    Seorang kakek petani
    sedang meneguk kopi pagi hari
    di pinggir ladangnya, bercerita kepada putra-putri
    pewarisnya tentang sejarah ladang ini,
    pohon buah yang subur, kolam ikan
    dan bebek yang berkejaran, serta aneka suka duka
    selama mengelola ladang,
    untuk menghidupi keluarga
    hingga para cucunya.
    Tanpa memaksa mereka
    harus menjadi petani
    dan tinggal di ladang ini

    Catatan Pinggir itu
    Seorang nenek pengrajin tenunan
    yang dengan bangga menjelaskan
    proses pembuatan tenun secara tradisional,
    untuk keperluan tugas sekolah para bocah.
    Dan ketika malam tertidur,
    mereka diselimuti sarung
    buatan nenek, dan esoknya ketika pulang ke kota,
    sarung itu dihadiahkan kepada mereka,
    agar ingat kampung dan nenek

    Catatan Pinggir itu
    Ebiet G Ade menulis syair
    lalu dan memetik gitar sambil beenyanyi
    agar pemirsa bisa mendengar,
    apalagi sampai kepada perjalanan jiwanya bertemu
    dan berdialog dengan Sang Pencipta

    Bang Goenawan Mohamad
    Pemilik – Sang Dalang Catatan Pinggir
    Memang mencatat dari pinggir,
    tapi setelah menjelajahi keliling area
    dan mendalami semua materi yang disajikan,
    agar data, fakta, pengalaman, rasa,
    nilai, harapan dan cita bisa dirangkul
    dalam sebuah karya unik:
    “Catatan Pinggir”
    Singkat, padat, menarik, menantang,
    membuka ruang luas untuk pembaca mengembara,
    dari pinggir menuju ke tengah dan lebih dalam,
    lalu membuat catatan pribadi
    dan kesimpulan baru,
    bahkan menjadi musyafir yang berkelana abadi
    mencari makna sejati realitas
    dan eksistensi diri sebagai insani

    Catatan Pinggir
    Menjelajah semua bidang kehidupan,
    lintas zaman, suku, budaya, agama
    dan pribadi, masa lalu dan masa depan,
    dengan aneka tawaran bebas
    bagi pembaca untuk membuat kajian,
    pilihan dan keputusan:

    Bagaimana menjadi manusia sejati
    Bagaimana berada dan menjadi
    Bagaimana memberi makna dan arti
    sebagai pribadi di hadapan sesama insani
    dan di tengah alam semesta ini

    Catatan Pinggir
    Adalah karya unik dan kreatif
    Bang Goenawan Muhamad sebagai pribadi,
    untuk berada dan menjadi,
    memberi arti bagi eksistensi dirinya,
    agar membagi makna dan
    arti kepada sesama insani
    untuk bersama melahirkan “makna peradaban sejati”
    di alam semesta ini,
    sampai kembali kepada Sang Ilahi

    ———-

    Simply da Flores, Direktur Ya-Harmoni

  • P e n d e r i t a a n

    P e n d e r i t a a n

    “Deritaku sudah tidak tertanggung lagi”.

    Kata Sang Guru, “Saat sekarang tidak pernah tidak dapat ditanggung. Yang engkau pikirkan tentang apa yang akan terjadi lima menit lagi atau lima hari lagi, itulah yang membuatmu putus asa. Berhentilah hidup di masa depan.”

    —————

     Anthony de Mello, Berbasa-basi Sejenak 2, Penerbit Kanisius dan Obor.

  • Eksperimen Seorang Penyair

    Eksperimen Seorang Penyair

    Ignas Kleden

     

    PADA dasarnya “Catatan Pinggir” majalah Tempo adalah catatan seorang penyair, dan semua kita tahu, penyair tersebut seorang wartawan. Tentu saja tidak ada yang aneh jika penyair menjadi wartawan atau wartawan menjadi penyair. Sepintas lalu, hubungan antara penyair dan wartawan tidak lebih istimewa dari hubungan penyair dan guru, atau wartawan dan kolektor barang-barang antik.

    Apakah yang aneh kalau seorang biolawan sekaligus juga jadi pemain sepakbola atau seorang pelukis jadi mahaguru antropologi? Masalahnya mungkin baru muncul kalau seorang pemain musik klasik ingin sekaligus menjadi pemusik rock, atau seorang pelukis naturalis sekaligus mau menjadi spesialis kubisme. Dengan lain perkataan, menjalankan dua-pekerjaan yang sama sekali berbeda mungkin lebih mudah daripada menggabungkan dua keterampilan yang hanya dipisahkan oleh nuansa. Tentu saja pernyataan ini pun bukanlah suatu proposisi yang mutlak. Penulis Susan Sontag pernah ditanya apakah dia mengalami kesulitan dan konflik karena menulis novel sekaligus menulis esai dan kritik. Jawabannya sungguh mengejutkan,

    ”Saya bukan saja tidak menyadari adanya konflik itu. Saya bahkan tidak sadar bahwa ada hubungan antara keduanya. Kalau saya menulis sebuah fiksi, maka hanya hal itu sajalah yang menarik saya. Saya merasa bahwa saya mempunyai hubungan naif yang biasa dengan fantasiku, yang dengannya tiap orang harus mulai. dan kemudian saya berjuang dengan kata kerja, kata keadaan atau koma. Sebelumnya saya tidak mempunyai gambaran tentang bagaimana akan jadinya, dan tentu saja saya tidak pernah menulis fiksi sebagai ilustrasi dari gagasan yang ada padaku sebagai penulis esai”.

    Sekalipun pernyataan itu benar dan jujur, hal itu tidaklah menafikan keperluan untuk melihat apakah kepenyairan atau kewartawanan tidak memperlihatkan konflik tertentu atau melahirkan modus vivendi yang baru dalam “Catatan Pinggir”.

    Penyair, seperti juga wartawan, adalah orang-orang yang bekerja dengan aksara, dengan tulisan. Dan kita tahu masih ada sejumlah profesi lain yang memakai sarana tersebut: novelis, penulis skenario, mahasiswa, ilmuwan sosial, perencana ekonomi, birokrat, atau seorang sekretaris penerbitan. Namun demikian, jelas juga bahwa aksara di sana menjadi sarana untuk tujuan yang berbeda-beda, seperti juga perbedaan antara aksara seorang penyair dan aksara seorang wartawan.

    Dirumuskan secara sederhana: penyair berurusan dengan dunia-dalam, sementara wartawan bergelut dengan dunia-luar. Yang pertama menggarap makna, sedangkan yang kedua memperjuangkan fakta. Begitulah, kalau wartawan bekerja dengan pemberitaan, maka penyair berkiprah dengan permenungan. Prestasi seorang wartawan diukur berdasarkan banyaknya informasi yang dikumpulkannya, sedangkan prestasi seorang penyair diukur berdasarkan mendalamnya makna yang sanggup diserap dan diendapkannya. Kiat wartawan dipertaruhkan dalam sifat eksklusif informasi yang disiarkannya, sementara kiat penyair dipertaruhkan dalam otensitas pengalaman yang dicerna dalam jiwa. Dengan demikian, kapasitas wartawan adalah membuat pembacanya mengetahui lebih banyak, sedangkan penyair sanggup membuat pembacanya menghayati lebih intens. Untuk mengutip penulis “Catatan Pinggir”, kemampuan penyair, atau lebih tepat kemampuan puisi bukanlah ”membuat kita jadi lebih pintar, atau lebih hebat, tetapi…, mengukuhkan ikatan batin kita kembali dengan hidup”.

    Memadukan kedua kemampuan itu tentulah bukan hal yang selalu mustahil, terutama karena di sana-sini kedua pekerjaan itu mempunyai tuntutan yang sama, atau sekurang-kurangnya kebutuhan yang dapat dibandingkan satu sama lain. Hal pertama yang bisa segera disebut ialah kenyataan bahwa baik kewartawanan maupun kepenyairan bertolak dari kenyataan konkret. Wartawan pada dasarnya bukanlah orang yang menjual gagasan, tetapi harus menyajikan fakta. Penyair pada dasarnya tidak bekerja dengan ide, tetapi dengan pengalaman. Ide bisa datang dari penyair, tetapi ide itu—untuk dapat menjadi bahagian yang organis dari puisi—haruslah ide yang dialami, gagasan yang tidak hanya dipikirkan, tetapi diajak bergulat dengan daging dan darah, pikiran yang menyebarkan bau napas dan keringat. Dengan demikian, dalam analisa terakhir, baik wartawan maupun penyair akan sama-sama bergulat dengan fakta; pada yang satu fakta itu bersifat sosial, pada yang lain fakta itu bersifat eksistensial.

    Kecenderungan itu kemudian membawa akibat lain. Sejumlah besar pengetahuan tentang informasi akan menghasilkan apa? Pertanyaan itu barangkali tidak relevan untuk seorang wartawan yang menganggap tugasnya bukanlah mengerjakan informasi sebagai bahan mentah, tetapi mendapatkan informasi sebagai hasil akhir. Analisis berita dan penarikan kesimpulan bukanlah tugas seorang wartawan, tetapi tugas pembaca dan barangkali hobi dan kesibukan tambahan untuk para analis sosial. Persoalannya adalah apakah dari seorang wartawan boleh diharapkan tidak saja factual knowledge, tetapi juga conceptual knowledge?

    Demikian pun seorang penyair pastilah bukan seseorang yang mengerjakan dan menawarkan konsep-konsep. Sebuah sajak bukanlah sebuah bangun-pikiran, tetapi lebih mirip kesaksian tentang pengalaman penyair. Kesaksian itu pada giliran berikutnya bisa mempunyai berbagai sifat: reflektif, imajinatif, atau juga barangkali naratif tetapi tetap dengan satu muatan yang sama: makna yang dipetik dari pohon kehidupan. Penyair bukanlah seorang pengamat kehidupan, tetapi seorang yang berhadapan dengannya, menerima atau menolaknya. Kehidupan bukanlah sebuah Gegenstand atau obyek, tetapi suatu Gegenueber, suatu alter ego.

    Dengan latar belakang seperti itu, dapatlah dibayangkan betapa sulitnya seseorang yang mempunyai latar belakang kepenyairan yang kuat, dan kemudian menerima tugas kewartawanan dengan kedua belah tangannya, menanggapi pekerjaan tetap untuk menulis sesuatu yang dianggap dan diharap membentuk atau sekurang-kurangnya merangsang pendapat.

    Memang, ada keberatan yang cukup beralasan untuk tidak menghubungkan sifat suatu tulisan dengan latar belakang pribadi pengarangnya. Apa perlunya mengetahui bahwa Heidegger pernah menulis beberapa sajak, untuk membaca Sein und Zeit? Dan saya tahu dengan pasti bahwa penulis “Catatan Pinggir” ini dalam kedudukannya sebagai penyair terkadang kesal menghadapi kritik terhadap puisi indonesia sekarang yang menurut dia lebih banyak membicarakan penyairnya dan bukan sajaknya.

    Namun demikian, ada satu alasan mengapa pendekatan tersebut terpaksa diterapkan di sini, bukan semata-mata untuk mengutak-atik kehidupan sang penulis, tetapi untuk melihat sejauh mana pemilihan beberapa genre penulisan yang telah dilakukannya, telah menghasilkan suatu ”kompromi” yang tampaknya harus diterima dalam menulis “Catatan Pinggir” sebagai bagian sebuah majalah berita.

     

    ***

     

    “CATATAN Pinggir” adalah sebuah judul yang sengaja tak sengaja telah jadi metafora untuk tulisan-tulisan yang terhimpun di sini. Penulisnya sering menjelaskan bahwa catatan ini dimaksud sebagai marginalia, catatan di pinggir halaman buku yang sedang dibaca, untuk mengingatkan kembali pembacanya tentang hal-hal penting yang termuat di suatu halaman bacaan. Catatan-catatan itu sendiri tidak penting, tetapi hanya menjadi penting karena merujuk kepada teks utama.

    Namun demikian, siapapun yang membaca karangan-karangan yang terhimpun di sini akan segera merasa bahwa “Catatan Pinggir” adalah catatan seseorang yang dengan sadar memilih berdiri di pinggir, mencatat dari suatu jarak dan mencatat sebanyak apa yang dapat dilihatnya, sering kali bukan untuk menyampaikan sesuatu gagasan kepada orang lain, tetapi untuk mengingatkan dirinya sendiri tentang apa yang terjadi dan apa saja yang tengah jadi bahan pembicaraan orang banyak di dunia luas. Si pencatat kita tidak mau masuk ke tengah kerumunan, atau mencoba ikut berdebat dalam suatu pertengkaran antara berbagai pihak, tetapi mencatatnya dengan tekun, dan sesekali melontarkan keraguan, bukan hanya tentang penting tidaknya semua yang terjadi atau semua yang dikatakan, tetapi juga tentang apakah suatu kejadian harus terjadi atas cara itu dan tidak atas cara lainnya, atau apakah sesuatu dapat dikatakan dengan cara yang tidak terlalu memaksa?

    Dengan beberapa kekecualian, “Catatan Pinggir” adalah catatan seorang yang meragukan banyak soal, tanpa pretensi dan tanpa determinasi untuk menjawabnya. Sikap dasar di baliknya kurang lebih adalah keyakinan tentang ketidakpastian dan karena itu pengambilan sikap dan penarikan kesimpulan—juga bahkan hanya secara tentatif—dianggap sebagai keberanian yang tidak perlu. Yang diperlukan adalah ”hidup dengan cukup informasi”, begitu tulisnya pada suatu ketika. Dan informasi yang dibutuhkan itu disajikan atas cara yang luas mulai dari informasi sejarah, informasi politik dan ekonomi, maupun informasi tentang pendapat dan pikiran-pikiran penting yang diajukan dalam abad ini tentang berbagai soal.

    Ini juga barangkali sebabnya karangan-karangan pendek ini menyampaikan banyak bahan kepada pembacanya, tanpa banyak menantang pembaca untuk mengambil posisi terhadapnya. Sebagai suatu diskusi banyak bahagian terlalu deskriptif, sedangkan orang-orang yang mencari suatu pokok uraian tidak akan merasa puas, karena banyak alasan dalam mengulas hanya diajukan secara aforistis. Ini juga—tak dapat disangkal—sumber kekuatan dan kesegaran karangan-karangan ini yang bertaburan kutipan-kutipan cerdas, yang sering cukup kuat membuat kita tercenung dan terpesona kendati tidak cukup kuat untuk melibatkan kita dalam suatu discourse, karena kutipan-kutipan itu lebih merupakan ilustrasi dari informasi atau dari sebuah ide yang disajikan daripada bahagian suatu bangunan argumentasi.

    Tentu saja keraguan adalah suatu hal yang penting, tetapi keraguan adalah awal dan bukan akhir. Sebagai awal dia akan membawa kita kepada pertanyaan, kepada soal, kepada masalah, yaitu kepada suatu ”bahan” yang harus dikerjakan secara konseptual. Sebagai akhir dia akan mirip suatu teknik yang cenderung mengakhiri diskusi, meskipun keraguan itu tetap ditutup dengan tiga tanda tanya sekaligus. Dengan lain perkataan, ada pertanyaan yang investigatif, dan ada juga pertanyaan retoris. Pada yang pertama pertanyaan adalah suatu metode, sedangkan pada yang kedua pertanyaan adalah suatu gaya.

    Kekuatan karangan-karangan ini terletak pada penguasaan sejumlah besar informasi tentang sejumlah besar bidang masalah, dan mewakili berbagai tingkat informasi: baik informasi empiris, informasi sosial, maupun informasi intelektual. Kesulitan kita adalah karena “Catatan Pinggir” menggoda kita dengan berbagai ide, dan kemudian meninggalkan ide dan pembacanya setengah jalan. Itulah sebabnya, kadang-kadang timbul kesan bahwa karangan-karangan ini lebih dimaksudkan sebagai komentar yang bersifat ”open-ended” tentang apa yang sedang dibicarakan.

    Tapi di situ pula soalnya kalau skeptik tidak dikembangkan menjadi kritik, kalau keraguan tidak dikembangkan menjadi pertanyaan, dan pertanyaan tidak digarap lebih lanjut menjadi penyelidikan. Pada titik ini juga akan ditentukan sikap apa yang akan diambil terhadap informasi. Ada dua sikap umum yang dapat disebut di sini: pertama, seseorang akan bersifat selektif terhadap informasi, dan mengambil yang paling relevan untuk masalah yang diselidikinya. Kedua, dia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan informasi dengan akibat kehilangan kesempatan dan konsentrasi untuk merumuskan masalah yang diselidiki atau dipikirkannya, dan akhirnya kemudian hanya mempunyai waktu dan tenaga untuk hanya menyajikan kembali informasi-informasi itu dengan cara yang sebaik-baiknya aktual, menarik, dan atas cara yang segar serta hidup dan barangkali ”menghibur”, tetapi tidak problematis.

    Risiko itu rupanya harus dihadapi oleh siapa pun yang harus menulis secara ajeg, periodik, dan aktual, dan demi melayani kepentingan suatu penerbitan, yang harus sampai ke tangan pembaca pada waktunya. Dengan demikian ada berbagai keperluan pragmatis yang turut mendesakkan diri ketika sebuah tulisan disusun dan harus diselesaikan. Menjadi persoalan adalah apakah tulisan-tulisan ini dapat dipahami dalam hubungan dengan kebijaksanaan penerbitan yang diwakilinya, atau untuknya tulisan-tulisan ini menjadi sebuah tanda kenal yang khas?

    Tempo adalah suatu majalah berita yang ingin dan telah menerapkan teknik bercerita dalam laporan-laporannya. Dia mendefinisikan berita dan laporan-laporannya sebagai news story. Kejadian diceritakan menurut tuntutan teknik story telling: ada jalan cerita, setting, suasana, suspense yang membuat cerita itu menarik, dan tetap terbuka untuk penyimpulan secara bebas oleh pembacanya.

    Dalam arti itu “Catatan Pinggir” dalam banyak kasus memang lebih mirip suatu cerita daripada suatu pendapat yang mengambil posisi, suatu news dengan komentar panjang dan anotasi yang luas daripada suatu analisis yang dapat dicek konsistensinya, sebuah plot yang didesain dengan rapi untuk pertemuan dan pertentangan ide-ide intelektual, tetapi bukan suatu think-piece yang dikembangkan secara linear atau dibangun secara arsitektonik.

    Posisi ini tampaknya perlu diperjelas supaya tidak terjadi ketidakadilan intelektual, karena dari tulisan-tulisan ini orang mengharapkan sesuatu yang tidak menjadi klaimnya, atau di mana karangan-karangan ini diharap menjawab pertanyaan yang tidak diajukannya.

     

    ***

     

    TENTU saja sikap seperti itu menunjukkan suatu kesadaran yang tinggi tentang sifat dilematis berbagai persoalan yang muncul dalam hubungan seorang individu dengan masyarakatnya. Ada berbagai masalah yang penuh dengan kontradiksi dan paradoks, sehingga penyelesaian berdasarkan kesimpulan yang terlalu cepat, bahkan dapat merupakan kesalahan baru yang akan menimbulkan persoalan lain yang lebih muskil dari persoalan awal. Mungkin pada titik inilah terletak sebuah batu ujian terhadap sikap intelektual seorang penulis: bagaimana dia menghadapi berbagai dilema yang ada?

    Tampaknya ada dua kecenderungan ekstrem yang sama-sama tidak menguntungkan, yang untuk mudahnya kita sebut saja kecenderungan dogmatik di satu pihak, dan kecenderungan agnostik di pihak lainnya. Dalam kecenderungan pertama dianggap bahwa hampir semua dilema dapat diselesaikan, bahkan dapat diselesaikan dengan berpegang pada beberapa doktrin yang sudah tersedia, apakah itu dogma keagamaan, doktrin sosial, ataukah teori ilmu pengetahuan. Yang terjadi di sini adalah penyederhanaan, bahkan distorsi masalah agar dapat disesuaikan dan kemudian ”dipecahkan” berdasarkan formula yang ada. Pada yang kedua ada anggapan bahwa berbagai masalah tidak akan dapat dipecahkan, karena pengetahuan kita tentang duduk perkaranya sangat terbatas atau bahkan hampir tidak ada. Yang terjadi di sini ialah perumitan masalah melalui komplikasi sedemikian rupa, hingga masalah itu seakan-akan tak tertangani, karena kita tidak punya persediaan pengetahuan yang cukup untuk menguraikan apalagi memecahkannya. Pilihan satu-satunya ialah berdamai dan hidup dengan dilema-dilema itu.

    Kedua kecenderungan itu pada giliran berikut tidak dapat tidak akan membawa risiko masing-masing. Sikap dogmatik akan melahirkan sikap otoriter secara intelektual yang memaksa pihak lain untuk harus menerima kepastian atau bentuk-bentuk penyelesaian yang sudah disiapkan. Sedangkan sikap agnostik hanya akan membawa orang kepada pragmatisme intelektual. Yang pertama akan membawa orang kepada pemaksaan secara moral, sedangkan yang kedua akan membawa kita kepada oportunisme secara moral. Yang pertama memakui pengetahuan sebagai kedok untuk memaksakan diri. Yang kedua memakai ketidaktahuan sebagai kedok untuk menyembunyikan diri.

    Siapa pun yang membaca karangan-karangan yang terhimpun di sini dengan agak cermat, niscaya akan merasa bahwa penulisnya menghadapi pilihan sulit itu: menghadapi dilema ternyata suatu dilema tersendiri. Yang juga terlihat adalah bahwa pembawaannya sebagai penyair telah membuatnya sangat peka terhadap kecenderungan pertama, yang mendapat penolakannya yang cukup eksplisit, sementara terhadap kecenderungan kedua dia memperlihatkan sikap yang penuh ambivalensi. Apresiasi yang tinggi terhadap perkembangan informasi yang terjadi serta pembacaan yang luas adalah bukti nyata tentang keyakinan penulis ini tentang ada dan perlunya pengetahuan. Sekaligus di pihak lainnya tetap terlihat kehati-hatiannya untuk mengembangkan pengetahuan dan informasi itu menjadi bagian dari suatu argumentasi yang dapat dipegang dan diuji ketika berhadapan dengan suatu dilema. Dengan kata lain, kritiknya yang tegas terhadap otoritarianisme intelektual tidak diimbangi dengan sama kuatnya dengan kritik terhadap skeptisisme intelektual. Dalam hal yang terakhir itu harapan pada akhirnya tidak diberikan kepada kemampuan manusia tetapi kepada kekuasaan waktu. Dalam perkembangan waktu, situasi akan berubah dan sebuah dilema akan berkurang tingkat kepelikannya, dan mudah-mudahan dapat teratasi.

    Ada persamaan yang menarik antara kecenderungan dogmatik dan kecenderungan agnostik: penyelesaian masalah pada akhirnya bukan di tangan manusia. Pada yang pertama penyelesaian masalah akan tergantung pada doktrin yang ada (seakanakan doktrin dan pengetahuan pada umumnya bukanlah hasil ciptaan manusia), sedangkan pada yang kedua penyelesaian diserahkan kepada waktu (seakan-akan waktu adalah sesuatu yang terlepas dari campur tangan manusia). Demikian pun kedua anggapan seakan-akan mengandaikan bahwa mengatasi dilema adalah suatu pekerjaan yang dapat diselesaikan secara tuntas. Padahal dalam kenyataan, yang terjadi adalah hal yang sebaliknya yaitu bahwa penyelesaian suatu dilema akan melahirkan dilema baru dalam suatu rangkaian dialektis yang tak putus-putusnya, tetapi bahwa kenyataan itulah yang justru menyebabkan perkembangan dan kemajuan dalam sejarah. Setiap langkah adalah penyelesaian relatif dalam perkembangan historis atau suatu jawaban tentatif secara epistemologis. Tidak terselesaikannya suatu dilema secara tuntas, bukanlah memberi alasan untuk berlaku skeptik, tetapi memberi alasan yang nyata untuk berlaku kritis, yaitu bahwa terhadap setiap dilema atau masalah layak dan bahkan harus diambil suatu posisi penyelesaian, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa posisi itu hanyalah suatu posisi tentatif yang siap menghadapi ujian, yang sekaligus berarti siap ditolak bila terbukti tidak dapat dipertahankan.

    Kritik dalam arti ini tampaknya dapat meredam dua kecenderungan ekstrem yang membawa kita kepada kesulitan yang tidak perlu, baik dalam dogmatisme maupun agnotisisme. Pada yang pertama kekeliruan terjadi karena sejumlah pengetahuan dianggap tidak mungkin salah, pada yang kedua kemungkinan akan adanya pengetahuan itu sendiri sudah disingkirkan. Dalam sikap kritis yang baru diuraikan, maka kekeliruan itu sama-sama ditolak karena baik kemungkinan pengetahuan maupun kemungkinan kekeliruan itu sama-sama diakui, tetapi sekaligus dengan memberikan suatu kewajiban kepada tiap orang yang terlibat dalam urusan pengetahuan untuk mengambil suatu posisi.

    Semua ini mau tidak mau menimbulkan pertanyaan tentang ada tidaknya suatu posisi yang diperlihatkan dalam “Catatan Pinggir”, sekalipun ada alasan cukup untuk mengandaikan bahwa dia tidaklah dimaksudkan sebagai pendapat dan sikap resmi majalah berita Tempo, tempat catatan itu diumumkan. Ini berarti, sekalipun kita sering kali tidak menemukan suatu tanggapan langsung kepada perkembangan situasi, atau suatu respons yang eksplisit kepada sebuah isu yang sedang menghangat, adakah suatu sikap tertentu yang diperlihatkan oleh tulisan-tulisan ini, kalau tidak tentang sebagian besar masalah, sekurang-kurangnya tentang beberapa soal?

    Hal pertama yang dapat segera dikatakan ialah bahwa “Catatan Pinggir” lebih sering merupakan—dan lebih meyakinkan kita dalam kualitasnya sebagai—deskripsi yang penuh informasi daripada suatu posisi yang dibela atau ditolak. Kedua, dapat juga diandaikan bahwa “Catatan Pinggir” lebih merupakan pandangan pribadi penulisnya daripada pandangan resmi penerbit yang memang sangat dipromosi olehnya. Ketiga, pandangan pribadi penulisnya pada dasarnya bertolak dari pandangannya sebagai seorang penyair, dan hal ini pada giliran berikutnya akan membawa dua akibat, baik terhadap masalah yang dibahas maupun terhadap cara penyampaian, atau bentuk komunikasi yang digunakannya.

    Sejauh menyangkut masalah maka sikap penulisnya jauh lebih jelas, dan sampai tingkat tertentu menampilkan suatu posisi tanpa banyak rasa gamang, kalau masalah yang dibahas adalah soalsoal yang berhubungan dengan penyair dan kepenyairan. Sebaliknya kalau dia harus menghadapi masalah-masalah sosial-politik atau sosial-ekonomi, maka yang terlihat adalah perasaan ragu yang bahkan sebagai keraguan pun sering kali tidak begitu meyakinkan, karena sifatnya yang kurang spesifik, suatu tanda tanya yang terlalu besar dan umum untuk berbagai masalah yang amat berbeda, suatu generalisasi kebimbangan tanpa langkah-langkah induktif yang dapat membuatnya absah sebagai pertanyaan. Dengan demikian terhadap masalah-masalah seperti kebebasan, kehidupan rohani, fungsi dan kedudukan kesusastraan, atau pun kesepian manusia, dia bisa mengatakan sesuatu secara afirmatif atau negatif, sedangkan terhadap masalah pendidikan, disparitas, kekuasaan, atau partisipasi, yang terdengar adalah perasaan tak pasti, ungkapan panjang dan sering amat ”cantik” tentang keraguan yang tak sempat mengkristal menjadi pertanyaan.

    Dalam hal terakhir itu pendapat dan sikap penulisnya dinyatakan dengan sangat halus dan tersirat—sering kali dengan menyusup melalui aforisme-aforisme yang bijak, yang memang didukung oleh teknik naratif yang sangat canggih dari seorang penulis yang penuh pengalaman. Hal ini akan membawa kita kepada segi keempat, yaitu bahwa juga dalam mengemukakan suatu posisi maka penulisnya lebih sering menggunakan teknik persuasi secara estetik daripada mengajak kita berargumentasi secara diskursif. Gagasan-gagasan yang sepintas lalu disajikan secara impresionistik, sering kali muncul dalam bentuk suasana yang kuat, kesan yang mendalam, atau kiasan yang penuh simbol, yang serta-merta meminta penerimaan atau penolakan kita, tanpa memberi kita banyak waktu untuk mengujinya dalam langkah-langkah diskursif.

    Hal ini tidak dapat tidak mengingatkan saya pada apa yang oleh filsuf Karl R. Popper dinamakan ekspresionisme epistemologis, di mana bahagian-bahagian suatu uraian tidak dianggap sebagai proposisi-proposisi yang dapat didiskusikan secara obyektif, tetapi harus diterima sebagai ekspresi keadaan mental, situasi kejiwaan, atau percikan ke luar suatu interioritas yang pribadi dan intim. Dengan demikian, menghadapi suatu uraian sebetulnya tidak akan banyak bedanya dengan menghadapi sebuah lukisan. Kita hanya dihadapkan pada tuntutan untuk menerima atau menolaknya, menyukai atau mencampakkannya, karena argumentasi di sana hanya merupakan hal yang sekunder. Dalam arti itulah “Catatan Pinggir” memperlihatkan kemampuan persuasifnya, karena tanpa menantang kita untuk berargumentasi, dia sebetulnya sangat efektif untuk memancing penerimaan atau penolakan kita secara pribadi.

     

    ***

     

    DILIHAT dari tema-tema yang dibicarakan, maka segera tampak bahwa penulis “Catatan Pinggir” telah melibatkan dirinya dalam spektrum persoalan yang sangat luas, baik karena hal itu menarik minatnya maupun karena hal itu diharuskan oleh urgensi atau aktualitas masalahnya pada suatu waktu. Yang lebih menarik bukanlah keragaman masalah itu sendiri, tetapi karena keragaman itu telah dibahas dengan suatu sikap yang dapat dipahami berdasarkan latar belakang penulisnya.

    Kepenyairan adalah suatu pembawaan yang mungkin tidak dapat berdamai atau dipertemukan dengan ketidakbebasan. Ini juga barangkali sebabnya bahwa terhadap soal kebebasan penulis memperlihatkan suatu sikap yang tidak ragu. Dan jelas pula bahwa kebebasan yang dibelanya bukanlah hanya kebebasan libertarian tetapi juga kebebasan eksistensial. Penolakannya terhadap komunisme, umpamanya, adalah karena penjelmaannya di Indonesia paham ini telah memaksakan suatu regimentasi kesadaran dan indoktrinasi pengertian, yang tidak memungkinkan seorang penyair menuliskan puisi yang jujur, yang menyuarakan kesaksian perasaan dan pikiran bebas, yang terbit dari pengalaman manusia yang sebenarnya, sebelum dinodai oleh kepalsuan atau ditindas oleh paksaan dan kekerasan.

    Namun demikian, pembelaan terhadap kebebasan ini tetaplah pembelaan seorang penyair, yang menuliskan buah pikirannya tidak dalam tese-tese yang diajukan dalam bahasa denotatif, tetapi dalam berbagai asosiasi dan suasana yang dimainkan dengan pandai melalui simbolisme bahasa penyair, yang penuh makna, berbunga-bunga, yang menyebarkan aroma harum tetapi sulit ditebak jenis tanamannya. Ini jugalah yang menyulitkan kita, karena juga pada saat beberapa hal harus dibicarakan dengan lebih lugas, tetap saja klarifikasi dan presisi pengertian menjadi sulit, karena penggunaan bahasa yang sangat konotatif. Apakah sebenarnya birokrasi? Maka dengan setengah bercanda konsep birokrasi diterjemahkan menjadi suatu suasana: ”… sebuah meja penuh bekas api rokok… sebuah ruang yang tak pernah lagi dipel… sederet map kertas yang tak jelas fungsinya, toh sementara itu semuanya tak bisa dibuang”. Dan birokrat pun dikiaskan sebagai seseorang yang mencari kebajikannya dalam ”sedikit berbuat, sedikit bicara, sedikit menongol”.

    Aforisme-aforisme itu memang memberikan suatu kesenangan sendiri kepada pembacanya, tetapi kesulitannya ialah bahwa ucapan-ucapan itu bukan merupakan ilustrasi dari suatu konsep yang dapat ditelusuri, dan tidak begitu jelas fungsinya secara instrumental, tetapi yang pasti sangat efektif sebagai dekor yang menciptakan suasana. Efek yang tercapai sering lebih berupa sentuhan puitis daripada rangsangan analitis. Demikianlah kita misalnya ingin mengetahui apa pandangan penulisnya tentang diskusi sosialisme-kapitalisme dalam hubungan dengan teori pembangunan. Tetapi di sini pun kita sering lebih banyak berhadapan dengan ”kata-kata mutiara” yang bertebaran, yang di sana-sini seakan menggoda dengan visi yang intuitif, tetapi yang tidak banyak memberi kita suatu pegangan konseptual untuk mulai ”bekerja” secara intelektual. Dengan mengatakan bahwa sosialisme mempunyai sistem ekonomi yang berfungsi pada malam hari (karena itulah saatnya pemerintah tidur) belum disentuh sama sekali keadaan ekonomi di banyak negara berkembang, di mana peran negara sangat menentukan, sekalipun pemerintahnya menganut ekonomi bebas, misalnya.

    Mengenai ideologi, dengan mengesankan dikatakan bahwa ideologi pastilah bukan ”satu kuil pemujaan… meskipun para tokohnya tak disebutkan sebagai dewa”. Namun demikian, dengan itu belum jelas benar apakah ideologi merupakan suatu hal yang masih diperlukan atau tidak. Dengan kata lain, kalau ideologi bukan sebuah kuil pemujaan, maka dalam wujud apakah kita sebaiknya membayangkan dalam penerimaan atau penolakan kita: sebuah operation room, sebuah sekolah, perpustakaan, atau laboratorium? Mengenai Pancasila, misalnya, dengan sangat menarik dikatakan bahwa kita menggunakan metafora pertanian, yaitu bahwa dia digali dan bukan diciptakan atau ditemukan. Namun demikian, semua orang tahu bahwa metafora itu menyatakan satu hal: bahwa Pancasila bukanlah suatu gagasan yang diperoleh dari luar, tetapi yang benih-benihnya sudah terdapat dalam alam pikiran dan kebudayaan di Indonesia. Pertanyaan yang penting ialah bagaimana sekaligus bisa dipertemukan anggapan bahwa Pancasila adalah hasil bumi Indonesia dan anggapan lain yang melihatnya sebagai seperangkat nilai yang justru bersifat universal?

    Demikian pun politik dan mungkin juga demokrasi dilukiskan secara plastis melalui kata-kata Lech Walesa sebagai kesediaan untuk ”bekerja dengan upah sepiring sup sehari”, tetapi dengan jaminan ”bahwa saya punya hak bicara tentang situasi”. Sementara di tempat lain bertahannya sistem demokrasi di AS buat sebahagian dapat dijelaskan secara simbolik melalui watak George Washington yang memperlihatkan pengekangan diri untuk tetap setia kepada tertib pemerintahan sipil, sekalipun seluruh situasi revolusioner pada masa itu dapat dengan mudah mendukungnya menjadi diktator. Dengan lain perkataan, dia besar bukan karena apa yang dilakukannya, tetapi justru karena apa yang tidak dilakukannya. Sementara kita tahu bahwa demokrasi itu bertahan karena orang bersedia mengetesnya, yaitu mengetes konsekuensi-konsekuensinya sampai pada batas yang paling ekstrem seperti yang dialami Abraham Lincoln dengan perang saudara, Kennedy dengan krisis rasial, atau Nixon dengan krisis konstitusi. Dikatakan dengan singkat, gagasan-gagasan ini sering kali menjadi sulit didiskusikan karena bahasa penyair telah mengubah semuanya menjadi suasana, asosiasi, dengan berbagai konotasinya, tetapi bukan dalam suatu kerangka yang bisa diperiksa batas-batasnya dan diselidiki isi konseptualnya. Dengan mengemukakan semua hal ini, maka mudah-mudahan “Catatan Pinggir” dapat diberi tempat sebagaimana mestinya, mendapat apresiasi yang sesuai dengan sifatnya, dan tidak dibebani harapan yang tidak relevan. Harapan seperti itu, umpamanya, muncul dari anggapan bahwa catatan-catatan ini adalah semacam editorial yang harus menampilkan posisi penerbit yang diwakilinya. Ternyata “Catatan Pinggir” tidaklah berpretensi memberikan suatu posisi, tetapi hanya berusaha mendeskripsikan dengan cara yang memikat berbagai hal yang terjadi dan dipikirkan. Demikian pun mengharapkan bahwa tulisan-tulisan ini merupakan suatu pemikiran yang ”keras” dan konsisten tentang beberapa masalah politik, ekonomi, atau kebudayaan, kiranya merupakan harapan yang tidak pada tempatnya. Sebab, sekalipun ada berbagai ide yang diajukan di sini dan berbagai cuplikan dari perdebatan nasional dan internasional disajikan kembali secara hidup dan aktual, penulisnya sendiri tetap berusaha menjadi pengamat yang tekun dan setia sambil berdiri ”di pinggir” semua perdebatan itu.

    Karangan-karangan ini pada dasarnya merupakan penerobosan regimentasi kesadaran dan emansipasi secara sengaja, sadar, jenaka, dan estetik terhadap kompartimentalisasi pengetahuan, minat, dan komitmen, sebagaimana yang diharuskan oleh interest ekonomi, kepentingan ideologis secara politik, berbagai prasangka primordial dan komunal, maupun disiplin-disiplin ilmu pengetahuan. Kumpulan esai ini adalah usaha pembebasan diri dari semua pengotakan itu, sekalipun tidak selalu jelas apakah pembebasan itu suatu keperluan yang tak terhindarkan untuk tujuan yang telah ditetapkan atau sekadar pemberontakan terhadap rasa sumpek atau karena kecemasan yang timbul dari klaustrofobia. Untuk yang tidak bersimpati, karangan-karangan ini kelihatannya serba ”tidak lengkap”, tetapi bagi yang bersimpati, karangankarangan ini berhasil mengembalikan pembaca pada kedudukan fenomenologis mereka, di mana tiap kali makan mereka tidak harus selalu menjadi ekonom, tiap kali berpikir tidak harus selalu menjadi filsuf, dan tiap kali terharu tidak perlu menjadi penyair.

    Esai-esai ini memperlihatkan usaha yang terus-menerus— sering kali dengan cara menggapai-gapai untuk menyelamatkan kebebasan hidup manusia dalam memilih apa yang dapat dinikmati dan diminatinya tanpa terlalu terbeban oleh kewajiban yang barangkali tidak ingin ditanggungnya, sekalipun itu diharuskan oleh konvensi. Bolehkah kita menanam rumput sekalipun kita bukan tukang kebun atau ahli ilmu tumbuhan? Bolehkah kita bersimpati kepada Perang Kamboja sekalipun kita bukan politikus atau ahli hubungan internasional? Bolehkah kita berbicara tentang dosa dan rindu kepada Tuhan sekalipun kita bukan ahli agama atau pemimpin umat? Penulis “Catatan Pinggir” telah menjawabnya dengan afirmasi yang tegas, justru melalui praktek penulisan dalam eksperimen yang dilakukannya dengan kesadaran seorang penyair. Risikonya ialah bahwa banyak pembaca akan menghadapinya sebagai proses biasa, justru karena kadang kala terlalu banyak puisi untuk hal yang terlalu prosais.

    ————————————————————————————-

    Tulisan ini adalah “Pengantar” pada Buku Catatan Pinggir 2, Pustaka Utama Grafiti 1996.

     

     

     

     

  • Puisi-puisi Simply da Flores, “Sudah Kering Gersang” dan “Selaras – Seimbang”

    Sudah Kering Gersang

    Setahun lalu…..
    basah pepohonan, rerumputan dan tanah pun becek kebanjiran
    Hujan air mata duka lara atas kematian

    Tahun ini….
    Kami kehabisan air mata kesedihan untuk tangisi kepergian tragis kakek nenek, ibu ayah, kakak adik, anak cucu, sahabat kenalan, sesama yang dikasihi, dibutuhkan….

    Tanah rasa kering
    Pohon harapan gersang
    Mata air dan sungai nafkah kerontang
    Ketakutan mencekam karena ganasnya wabah menyerang

    Kering gersang air mata
    Kerontang rasa jiwa
    Tak mampu hentikan wabah dan kematian
    Bertubi-tubi tak mampu tertahankan
    Entah sampai kapan


     

    Selaras – Seimbang

    Hujan deras mengguyur berkepanjangan
    Becek, lumpur
    Banjir…. Longsor

    Panas terik
    sampai kelamaan
    Kering… Gersang
    Haus kerontang..

    Gelombang badai
    Gempa tsunami
    Bencana alam ini pasti mengancam nyawa dan kehidupan

    Serasi, selaras
    Seimbang harmonis
    Dibutuhkan agar segenap isi semesta ada dan bermakna
    Hanya Dia Yang Punya

    —————————————-

    Simply da Flores

     

     

  • Bupati Flotim Apresiasi  Langkah KEMENAG Gandeng FKUB Ajak Masyarakat  “Pray from Home”

    LARANTUKA Berandanegeri.com – Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hajon memberi apresiasi atas terselenggaranya kegiatan “Berdoa dari Rumah” (Pray from Home) yang digagas oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur secara virtual untuk keselamatan Bangsa dan Negara serta Lewotana Flores Timur dari ancaman Covid-19.

    Apresiasi ini  disampaikan Bupati Flotim Antonius Hubertus Gege Hajon saat memberikan sambutan yang digelar secara virtual dari rumah jabatan Bupati Flores Timur, pada Selasa, 27 Juli 2021.

    “Sebagai Bupati Flores Timur saya  menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Kantor Kementerian Agama dan FKUB Flores Timur  atas inisiatif yang sangat baik dan bermanfaat ini” ungkap Antonius Gege Hajon.

    Antonius Gege Hajon menegaskan Flores Timur juga merupakan salah satu daerah yang mengalami situasi buruk ini. Puluhan korban terpapar dan kehilangan keluarga dan sahabat.

    “Ini duka kita, ini pengalaman yang mesti terus mengingatkan kita semua untuk tetap memiliki optimisme bertahan hidup dengan berbagai cara dan sikap. Tentu hal yang mesti kita ikuti dan kita buat yakni membiasakan pola hidup sehat , mengikuti  protokol kesehatan 5 M dan mentaati himbauan pemerintah dan lembaga agama”, jelasnya.

    Karena itu menurutnya butuh kesadaran bersama untuk mengupayakan semua cara yang bisa membantu meredam laju dan semakin meluas dan masifnya akibat Pandemi Covid.

    “Pemerintah telah melakukan berbagai tindakan dan kebijakan berdasarkan atauran aturan yang bisa menolong meredam Pandemi ini. Berbagai aturan telah diterapkan seperti Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat serta edukasi dan sosialiasi pembiasaan hidup dengan Protokol Kesehatan 5M ; menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas”, jelasnya.

    Bupati Flotim  menggarisbawahi pada titik tertentu mungkin perlu ada ruang tersendiri untuk kembali ke diri. Memberi ruang spiritual dengan berdoa memohon kehadiran dan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa agar pandemi ini segera berlalu dan kita semua dapat kembali melaksanakan tugas tugas panggilan kita masing masing dengan lebih baik, aman dan lancar.

    Dirinya berharap, semoga kegiatan “Doa dari Rumah”, Pray from Home ini dapat menjadi sebuah ketukkan di Pintu Surga sehingga  Tuhan kita, Allah yang Satu dan Esa dapat memberikan rahmat kesembuhan dan perlindungan. Rahmat pembebasan dari malapetaka Covid 19 ini.

    Menurutnya meminta doa-doa seperti ini bukan hanya dalam ruang ruang atau media media seperti ini tetapi boleh juga terjadi dan dilaksanakan di rumah kita masing- masing, bersama sama anggota keluarga kita masing -masing, serta upaya-upaya lainnya yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga masyarakat melalui ritual-ritual khusus yang bertujuan untuk membebaskan masyarakat Flores Timur dari ancaman Covid-19.

    Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Martinus Tupen Payon menyampaikan terima kasih kepada Bupati Flores Timur yang berkenan memberi perhatian akan terselenggaranya acara Pray from Home, serta seluruh jajaran pemerintah daerah dan unsur Forkompimda Flores Timur yang turut ambil bagian dalam ikhtiar ini.

    “Kita berdoa untuk keselamatan bangsa dan daerah kita, teristimewa untuk para korban meninggal dunia agar dapat diberi tempat yang istimewa di surga, yang menderita sakit dapat disembuhkan, mohon kesehatan dan kekuatan untuk para relawan serta tenaga kesehatan yang berjuang mengatasi wabah ini”, harap Martinus Tupen Payon.

    Martinus Tupen Payon  menambahkan “Doa dari Rumah,” Pray from Home merupakan ajakan bapak Menteri Agama RI, dan kami sebagai perpanjangan tangan beliau di daerah, juga himbauan bapak PLT Kakanwil untuk melaksanakan tugas ini dengan mengajak dan menghimbau masyarakat kita, secara khusus ASN di lingkungan Kementerian Agama agar berdoa dari rumah untuk keselamatan bangsa kita dan secara khusus agar pandemi covid ini segera berakhir.

    Kepala Kementerian Agama Flores Timur, Martinus Tupen Payon

    Kegiatan secara virtual melibatkan beberapa komponen seperti unsur Forkompimda, organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, para pimpinan BUMN/BUMD serta para pemuka agama  berjalan aman dan lancar serta mendapat atensi yang luar biasa dari masyarakat umat beragama di Kabupaten Flores Timur.

    Para pemimpin agama atau rohaniwan yang membawakan doa yakni Katolik : RD. Bernadus Bala Kerans, Islam : H. Muhammad Syahrir Gunawan, Kristen : Pdt. Paulus Bambang Irawan Matoneng dan I Made Budana dari Hindu.  (Athick)

  • Akal Budi di Dalam Batas-Batas Agama  (Refleksi tentang Defisit Rasionalitas dalam Agama)

    Akal Budi di Dalam Batas-Batas Agama (Refleksi tentang Defisit Rasionalitas dalam Agama)

     

    Oleh Fitzerald Kennedy Sitorus

     

    1. Pengantar

    Wajah agama di ruang publik global paling tidak sejak 20 tahun terakhir memperlihatkan kesan yang justru bertentangan dengan hakikat agama itu sendiri. Agama, yang seharusnya menampilkan dan membawa kedamaian dan ketenangan, justru sering menghadirkan ketakutan, kebencian dan konflik. Sedemikian banyak aksi kekerasan, konflik, terorisme dan perang yang dilakukan atas nama agama. Keberadaan motivasi religius dalam berbagai tindak kekerasan itu bahkan telah mengubah konstelasi politik global dan juga nasional. Itulah yang membuat agama menjadi faktor penting dalam politik di seluruh dunia dewasa ini. Dan sayangnya, kehadiran agama dalam politik tersebut lebih merupakan persoalan ketimbang mitra untuk mencari solusi. Secara singkat: agama justru sering menjadi sumber masalah.

    Tidak berlebihan jika Mark C. Taylor, dalam Pengantar bukunya After God, mengungkapkan wajah buruk agama itu demikian: ”You never understand the world today if you do not understand religion. Never before has religion been so powerful and so dangerous. No longer confined to church, synagogue, and mosque, religion has taken to the street by filling airways and networks with images and messages that create fatal conflict, which threaten to rage out of control.” (Mark C. Taylor, After God (Chicago and London: The University of Chicago Press, 2007), hal. Xiii)

    Fenomena seperti di atas membuat agama menjadi salah satu tema yang paling banyak mendapat perhatian, baik secara politis maupun intelektual. Lihatlah, betapa banyaknya literatur tentang agama diterbitkan atau percakapan ilmiah mengenai agama dilakukan sekarang ini. Dalam dinamika ini, kita juga melihat munculnya tuntutan akan redefinisi konsep-konsep sentral dalam bidang agama, termasuk pengertian agama itu sendiri, relasi agama dan politik, agama dan ruang publik, agama dan modernitas serta agama/iman dan rasio/filsafat. Istilah yang sangat populer dewasa ini, postsekularisme, berusaha menggambarkan fenomena baru dalam bidang agama ini, yakni bahwa agama yang sebelumnya hidup di ruang-ruang privat, kini menyeruak kembali ke ruang-ruang publik, namun minus dimensi transendental atau metafisis yang per defenisi inheren dalam agama.

    (Yang saya maksud di sini adalah sekalipun banyak orang membicarakan agama di ruang publik, terutama ruang publik politis, tidak dapat dikatakan bahwa orang-orang tersebut memiliki aspirasi spiritualitas yang diidealkan oleh agama. Agama dalam ruang publik dewasa ini lebih merupakan vokabuler politis belaka yang dimaksudkan untuk tujuan-tujuan politik; para pembicara agama itu dapat dikatakan bukanlah orang yang sesungguhnya religius. Itulah yang saya maksud dengan ”minus dimensi transendental atau metafisis”. Fenomena ini juga sesungguhnya menuntut kita untuk melakukan redefinisi atas agama dalam era postsekuler ini.)

    Dialog terkenal antara Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI) dan filsuf Jürgen Habermas tahun 2004 juga dapat dibaca sebagai upaya untuk memahami konstelasi baru yang menempatkan agama di pusat kontroversi ini. (Buku yang memuat dialog tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Lihat Dialektika Sekularisasi. Diskusi Habermas – Ratzinger dan Tanggapan, ed. Paul Budi Kleden dan Adrianus Sunarko (Yogyakarta/Flores: Lamalera dan Ledalero, 2010).

    Dalam dialog tersebut, seakan-akan menjawab penyebab munculnya wajah negatif agama seperti disinggung di atas, Paus Benedikt XVI sendiri mengakui bahwa bukan hanya rasio yang mengandung patologi, agama juga mengandung patologinya sendiri yang dapat sedemikian berbahaya dan oleh karena itulah  keduanya ”dipanggil untuk saling menjernihkan dan menyembuhkan, untuk saling membutuhkan dan harus saling mengakui.”

    Joseph Ratzinger memang tidak secara eksplisit menyebut apa sesungguhnya patologi yang terdapat dalam agama itu. Namun dalam presentasi ini, saya menamai patologi itu: defisit rasionalitas. Patologi adalah terjadinya perkembangan yang keliru, yang menyimpang, pada sesuatu. Patologi agama yang saya maksud di sini tidak lain dari tindakan-tindakan kekerasan dalam berbagai bentuknya yang dilakukan atas nama agama. Sementara yang saya maksud dengan defisit rasionalitas adalah semakin terasingnya agama dari pemikiran rasional. Keterasingan ini menyebabkan bahwa kegiatan atau hal-ikhwal agama cenderung dipahami semata-mata sebagai masalah iman dan kepercayaan belaka, minus rasionalitas.

    Dalam hal iman dan kepercayaan, orang seakan-akan tidak perlu berpikir atau menggunakan rasionya, cukup percaya saja. Di sini yang lebih berperan adalah fakultas emosi, passion, manusia ketimbang rasio. Dan ketiadaan rasio dalam agama membuat agama dengan mudah jatuh dalam situasi konflik yang berbahaya karena yang berlaku kemudian adalah logika emosional ketimbang logika rasional. Inilah, menurut saya, salah satu penyebab utama munculnya fundamentalisme agama dewasa ini yang pada gilirannya menimbulkan aksi-aksi kekerasan  atas nama agama. (Dialektika Sekularisasi, hal. 52-53.)

    Tesis yang hendak saya ajukan dalam presentasi ini adalah bahwa defisit rasionalitas telah membuat agama dengan mudah jatuh ke dalam tindakan-tindakan kekerasan. Oleh karena itu, kalau kita mau membuat agama lebih lebih ramah dan manusiawi, kita perlu mengembalikan rasionalitas yang hilang dari agama tersebut, menyuntikkan kembali rasionalitas ke dalam agama, sehingga agama tidak hanya berisi iman dan kepercayaan tetapi juga rasionalitas. Dengan demikian pula, dialog antara iman dan rasio atau agama dan filsafat, sebagaimana diharapkan Joseph Ratzinger dan Habermas di atas, dapat berlangsung lebih konstruktif.

    Dalam presentasi ini saya akan memperlihatkan kaitan erat antara agama dan rasionalitas: bahwa agama atau iman sesungguhnya tidak terlepaskan dari rasionalitas, bahwa iman atau kepercayaan itu sendiri sebenarnya adalah buah dari pengetahuan rasional tertentu, bahwa Tuhan kita kenal bukanlah pertama-tama melalui iman atau kepercayaan begitu saja, melainkan melalui proses pencarian rasional. Proses pencarian inilah yang membawa kita kepada kepercayaan akan Tuhan, dan agama adalah bidang di mana hal Ketuhanan tersebut digumuli.

    Namun sebelum berbicara mengenai ”akal budi atau rasionalitas dalam batas-batas agama” itu, saya akan lebih dulu berbicara mengenai penyebab terjadinya defisit rasionalitas tersebut.

     

    II. Mengapa defisit rasionalitas terjadi?

    Kalau kita melihat sejarah perkembangan kebudayaan Barat, khususnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita akan melihat bahwa pada tahap awal perkembangan tersebut, agama memegang peranan yang sangat sentral. Agama, khususnya agama-agama monoteis, dapat dikatakan menjadi satu-satunya kekuatan yang mengarahkan seluruh dinamika kebudayaan Barat. Sejarah ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa monoteisme menyediakan lahan bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Monoteisme melakukan purifikasi dewa-dewa dari alam, bahwa hanya ada satu dewa, yakni Allah Sang Pencipta semesta. Sang Pencipta ini telah menciptakan alam dan menyerahkannya kepada manusia untuk diteliti, dikelola, dan dieksplorasi (sekaligus, sayangnya, dieksploitasi). Alam itu material dan obyektif ada di sana, sebagai obyek untuk diteliti. Ini membuka jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

    Dengan kata lain, melalui purifikasi dewa-dewa ini, alam tidak lagi menakutkan, sebagaimana dalam pandangan masyarakat penganut politeisme. Masyarakat politeis percaya bahwa setiap bagian dari alam dihuni oleh dewa-dewa tertentu. Kepercayaan itu membuat alam tampak menakutkan. Akibatnya, ketimbang melakukan penelitian terhadap alam, masyarakat politeis justru berusaha menjaga agar dewa-dewa penghuni alam tidak marah, yakni dengan cara memberikan sesajen dan lain-lain. Karena itu, ilmu pengetahuan tidak berkembang pada masyarakat politeis.

    Melalu proses sekularisasi, tatkala ilmu pengetahuan telah berkembang sedemikian rupa, pengaruh agama mulai surut. Orang semakin mengandalkan rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Agama, yang sebelumnya berperan aktif dalam kehidupan publik, surut ke wilayah privat. Wilayah-wilayah yang tadinya menjadi kompetensi agama diambil alih oleh ilmu-ilmu pengetahuan yang muncul sesuai dengan spesialisasi masing-masing.

    Eric C. Rust merangkum dinamika perkembangan rasionalitas dan ilmu pengetahuan sekaligus kemunduran agama itu demikian: “In the history of Western World, during the ascendancy of Christian faith, God was tacitly taken for granted by the majority of people. In the Medieveal period, the intellectual  structure of the time was fundamentally Christian. With the Renaissance and the Reformation, the monolitic structure of Christian culture began to break apart. … Within such an atmosphere modern science come to birth … We forget that science and the concern with human freedom are alike products of the Christian emphasis on creation and on the nature of man”. (Eric C. Rust, „The „God is Dead“ Theology,“ in Review and Expositor Journal, 1967, hal. 271-284.)

    Ketika masih berdiri di pusat kehidupan masyarakat, sebagai kompas yang mengarahkan perkembangan masyarakat, agama dituntut untuk memiliki kompetensi yang dapat mengatasi atau membantu mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat. Artinya, dari agama dituntut rasionalitas tertentu agar secara fungsional mampu menjawab masalah-masalah sosial yang terjadi.

    Kompetensi rasional agama itu dapat dibuktikan misalnya dari pemikiran para teologi besar zaman dulu, termasuk para bapak-bapak gereja, di mana mereka dengan terampil berbicara mengenai berbagai persoalan sosial politik pada zamannya dari sudut pandang iman mereka.  Kompetensi demikian hampir tidak ditemukan lagi pada kalangan teolog dewasa ini.

    Namun, ketika agama mulai surut ke ruang privat dalam proses yang disebut sekularisasi, dan bidang-bidang yang tadinya merupakan kompetensi agama diambil alih oleh masing-masing ilmu yang muncul sesuai dengan spesifikasi persoalan yang dihadapi, maka perlahan-lahan surut pula rasionalitas yang tadinya dimiliki oleh agama. Dari agama tidak lagi dituntut kompetensi untuk turut bertanggung jawab atas permasalahan sosial aktual. Agama kemudian dilihat semata-mata sebagai persoalan iman dan kepercayaan privat, sebagaimana umumnya pemahaman masyarakat kita sekarang. Jadi, dapat dikatakan bahwa sekularisasi adalah sekaligus awal terjadinya patologi agama, yakni proses  derasionalisasi agama; sekularisasi adalah derasionalisasi agama, aktivitas agama dijalankan dengan cara-cara yang semakin jauh dari rasionalitas.

    Filsuf Jürgen Habermas juga mengakui bahwa asal-usul defisit rasionalitas pada agama itu bermula dari terjadinya proses diferensiasi fungsional dalam sistem sosial masyarakat Barat. Dalam sebuah tulisannya ia mengatakan: ”Benar bahwa dalam proses diferensiasi sistem-sistem sosial fungsional ini, gereja dan komunitas-komunitas agama semakin membatasi diri pada fungsi inti pelayanan kerohanian dan pastoral dan melepaskan kompetensi mereka dalam bidang-bidang sosial lainnya.

    Pada waktu yang sama, praktik-praktik agama dan iman surut menjadi bentuk-bentuk individual atau subyektif belaka. Jadi terdapat kaitan antara spesifikasi fungsional sistem agama dan individualisasi praktik-praktik keagamaan.” (Dalam „Dialektik der Säkularisierung“, dalam Bätter für deutsche und internationale Politik, April 2008, hal. 36. Tulisan ini berasal dari teks kuliah yang diberikan oleh Habermas di Nexus Institut Universitas Tilberg, Belanda, pada 15 Maret 2007.)

     

    III. Rasio dalam agama

    Filsuf dan teolog Paul Tillich mengatakan ”agama adalah keterarahan kepada yang Absolut.” Yang Absolut ini bisa juga disebut dengan yang Transenden, atau Tuhan/Allah dalam bahasa agama monoteis. Bagaimanakah Tuhan ini muncul dalam kehidupan manusia? Monoteisme mengatakan bahwa iman dan kepercayaan itu adalah buah Wahyu Allah: Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Namun, sebagaimana dinyatakan oleh Karl Rahner, manusia mampu menerima Wahyu dari Allah karena manusia juga terbuka terhadap yang Transenden atau horison ketidakterbatasan. Dan keterbukaan terhadap ketidakterbatasan itu menurutnya merupakan syarat-syarat kemungkinan yang bersifat apriori untuk setiap pengetahuan dan kehendak manusia. (Markus Knapp, Die Vernunft des Glaubens. Einführung in die Fundamentaltheologie (Freiburg/Basel/Wien: Herder, 2009), hal. 63.) Fakultas manakah dari diri manusia yang membuatnya terbuka terhadap yang Transenden itu?

    Sejarah agama-agama memperlihatkan bahwa bahkan manusia yang paling primitif pun telah memiliki ide tersendiri mengenai yang transenden. Mengapa hampir semua kelompok masyarakat manusia, bahkan yang paling terpencil dan primitif sekalipun, selalu memiliki ide mengenai yang transenden, itu tidak lain karena manusia tidak pernah puas hanya dengan yang empiris. Dengan akal budinya, manusia selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sering justru tidak dapat dijawabnya sendiri dengan pikiran dan pengetahuannya yang terbatas.

    Di sini kita perlu ingat pernyataan Kant mengenai penyebab munculnya dorongan dan kebutuhan untuk menjalankan pemikiran spekulatif atau metafisika bagi manusia; ia mengatakan: ”Akal budi manusia memiliki takdir yang khas dalam sebuah jenis pengetahuannya; bahwa dia dibebani  melalui pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat diabaikannnya, karena pertanyaan-pertanyaan itu terberi  kepadanya melalui hakikat akal budi itu sendiri, tapi ia sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena pertanyaan-pertanyaan itu telah melampaui semua kemampuan akal budi manusia.” (KdrV, VII)

    Kant mengatakan bahwa Tuhan adalah salah satu kepentingan rasionalitas manusia. Kepercayaan kepada eksistensi Tuhan dan karakterisasi atas sifat-sifat-Nya adalah kebutuhan alami kapasitas rasional manusia. (KdrV, A Xvii, B xxxi, B 21-22, A 298/B354).

    Dengan akal budinya, manusia mengarahkan pikirannya melampaui apa yang dapat dipersepsi melalui indra, mengajukan pertanyaan mengenai syarat-syarat kemungkinan tertinggi dari segala sesuatu yang ada, dan pertanyaan tersebut membawanya kepada ide tentang Tuhan. Eksistensi Tuhan ini memang tidak dapat diketahui secara kognitif, sebagaimana kita memiliki pengetahuan mengenai benda-benda empiris, namun akal budi murni kita mempostulatkan ide mengenai ”pengetahuan transendental mengenai Tuhan (theologia transscendentalis).” (KdrV, A 334/B 391).

    Tuhan ini kemudian disebut sebagai ens realissimum, mahluk yang paling nyata/real, karena mengandung seluruh realitas pada dirinya dengan demikian mendeterminasi segala sesuatu yang ada.)

    Kebutuhan rasional kita akan postulat eksistensi Tuhan didasarkan, kata Kant, atas prinsip tertinggi akal budi murni, yakni: ”Jika yang terkondisikan itu terberi, maka yang tidak terkondisikan juga terberi.” (KdrV, A 308/B 364). Karena segala sesuatu yang berada di alam semesta terkondisikan dan terberi, maka yang yang tidak terkondisikan (yang mengkondisikan yang terkondisikan itu) juga terberi. Artinya eksistensi Tuhan harus dipostulatkan. Kant mengatakan bahwa Tuhan transendental ini adalah Ideal Akal Budi Murni (das Ideal der reinen Vernunft). (KrdV, A 567/B 595). Ini adalah cara Kant untuk secara filosofis memperlihatkan bahwa Tuhan (dan metafisika) adalah kebutuhan rasional dan alami manusia.

    Jadi Tuhan (yang digumuli dalam bidang yang disebut agama) bukanlah terutama hasil pencarian iman manusia yang religius, melainkan nama untuk realitas transenden yang ”ditemukan“ manusia berdasarkan aktivitas rasionalnya. Karena manusia adalah mahluk yang bertanya, maka ia menyelidiki dunia di mana dia hidup. Ia tidak puas hanya dengan apa yang tampak secara empiris. Filsuf sekaligus ahli filologi klasik Yunani, Werner Jaeger, mengatakan bahwa konsep „dewa-dewa“ (Götter) muncul dari  aktivitas intelektual tersebut, dan itulah yang menjadi hakikat dan asal-usul agama. (Werner Jaeger, Die Theologie der frühen grierischen Denker (Stuttgart: Kohlhammer, 1953), hal. 196).

    Istilah teologi sendiri muncul dari usaha manusia untuk memahami keseluruhan kenyataan ini. Usaha tersebut merupakan kesibukan utama filsafat sejak kelahirannya pada zaman Yunani Antik. Pertama-tama memang Tuhan adalah istilah yang berasal dari bidang agama. Namun, istilah ini juga merupakan tema yang sangat sentral dalam filsafat. Karena itu, Martin Heidegger, filsuf yang paling intensif merefleksikan relasi antara manusia dan yang transenden (Ada/Sein) ini, pernah mengajukan sebuah pertanyaan fundamental: ”Bagaimana Tuhan masuk ke dalam filsafat? Maksudnya, mengapa dan untuk kepentingan apa Tuhan yang notabene adalah istilah teologi itu harus diimpor ke dalam filsafat dan bahkan menjadinya salah tema sentralnya?

    Kendati Heidegger menjawab pertanyaan itu dengan mengacu kepada perbedaan ontologis antara Ada (Sein) dan pengada (Seinden), penelitian literatur memperlihatkan bahwa Tuhan masuk menjadi istilah filsafat sejak manusia berpikir mengenai keseluruhan kenyataan. Dan sejak awal kelahirannya, filsafat adalah usaha untuk memahami keseluruhan kenyataan, dan Tuhan atau Yang Ilahi dianggap sebagai sumber atau asal-usul kenyataan tersebut. Istilah teologi sendiri, sebagai pemikiran mengenai prinsip pertama realitas (Prinzipiendenken), secara etimologis menurut Aristoteles berarti: pemikiran tentang asal-usul yang bersifat ilahi (Denken des göttlichen Ursprungs).

     

    IV. Rasionalitas iman

     Banyak filsuf lain yang juga secara intensif merefleksikan Tuhan secara rasional filosofis. (Lihat Wilhelm Weischedel, Gott der Philosophen. Grundlegung einer philosophischen Theologie im Zeitalter des Nihilismus, 2. Bde., (München/Darmstadt: WBG, 1971).

    Di atas saya sudah berbicara mengenai jalan rasional yang membawa manusia kepada Tuhan. Manusia tiba kepada yang transenden, entah dalam bentuk pengetahuan transendental maupun spekulatif metafisis, berdasarkan aktivitas akal budinya. Bagaimana dengan realitas transenden atau Tuhan dalam agama monoteis? Fakultas mana dari diri manusia yang berperan untuk membawa kita kepada (kepercayaan) akan yang transenden tersebut? Imankah? Atau akal budi?

    St. Agustinus mengatakan bahwa akal budi (reason) adalah pengantar untuk iman. Dia mengatakan bahwa akal budi memainkan peran ganda (two-fold role) dalam pembentukan kepercayaan kita kepada Tuhan. Pertama, akal budi atau rasio membuka jalan bagi iman, dan dalam arti ini, rasio mendahului iman. Agustinus menulis: ”For who cannot see that thinking is prior to believing? For no one believes anything, unles he first thought it is to be believed. For however suddenly, however rapidly, some thoughts fly before the will to believe … it is yet necessary that everything which is believed should be believed after thought has preceded.” (Wilma Gundersdorf von Jess, „Reason as Propaedeutic to Faith in Augustine,” dalam International Journal for Philosophy of Religion, vol. 5, December 1974, hal. 225-233.)

    Kedua, akal budi kemudian menerangi iman, sesuai dengan ajaran Anselmus, fides quaerens intellectum, iman yang mencari pengertian. Dengan demikian, kita dapat mempertanggung-jawabkan iman secara rasional.

    Dalam pandangan Agustinus, kepercayaan adalah sebuah bentuk pengetahuan tertentu. Karena itu, kemungkinan iman juga tergantung dari rasio. Itu juga yang menyebabkan hanya manusialah mahluk yang memiliki kemampuan untuk beriman. Dalam proses pembentukan iman ini, demikian Agustinus, rasio lebih dulu bekerja sebelum kita memutuskan untuk memahami dan mempercayai apa yang kita dengar. Karena itu hasil karya rasio dalam proses beriman ini tidak boleh diremehkan. Agustinus mengingatkan: “Jika kita meremehkan atau membenci rasio, maka kita juga harusnya menolak citra Allah di dalam diri kita dan sumber yang membuat kita memiliki keunggulan di antara semua ciptaan lainnya. Tapi ini tentu saja akan absurd,” katanya. (Augustine in His own Words, ed. William Harmless, S.J. (Washington, D.C.: The Catholic University of America Press 2010), hal. 29.)

    Saya dapat menerima ajaran Agustinus ini. Bagaimana pun, iman memang mengandaikan pengetahuan. Kita tidak mungkin begitu saja memiliki kepercayaan kepada sesuatu, termasuk kepercayaan kepada Tuhan. Kepercayaan selalu didahului oleh penalaran dan pengetahuan, misalnya, bahwa sesuatu yang mau dipercayai itu memang layak atau masuk akal dipercaya. Kita memiliki kepercayaan kepada Tuhan karena memang dengan akal budi kita melihat bahwa Tuhan memang layak menjadi obyek kepercayaan. Bahkan dalam kasus pewahyuan ilahi pun rasanya tidak sulit melihat betapa sentralnya akal budi kita dalam menerima dan memahami wahyu tersebut. Kita menggunakan akal budi kita untuk memahami, mengidentifikasi dan menafsirkan wahyu Ilahi, yang kemudian menghasilkan kepercayaan.

    Karena itu kita dapat mengatakan bahwa rasio adalah instrumen pertama untuk memperoleh pengetahuan religius atau kepercayaan.

    Tentu ada juga beberapa teolog lainnya yang melihat peranan rasio dalam iman. Di sini kita perlu ingat kepada Anselmus dan Aquinas. Pada zaman kita sekarang, Alvin Plantinga seorang teolog yang mencoba mendamaikan antara sains dan agama. Tampaknya memang benar pernyataan Hegel bahwa tidak ada sesuatu pun dalam agama yang bukan merupakan hasil akal budi manusia. Bahkan kata-kata yang kita pilih (dari sekian banyak kemungkinan kata yang bisa kita gunakan) untuk mengungkapkan iman kita — misalnya mengapa kita menggunakan kata Allah dan bukan Zeus atau dewa atau tuan, mengapa kita menggunakan iman dan bukan aman?, dan seterusnya – itu semua adalah buah pemikiran rasional kita, dan itu indikator yang jelas bagi ketidakmungkinan untuk memisahkan iman dari rasio.

    (Barangkali kita perlu ingat kritik pedas Hegel terhadap filsuf dan teolog Schleiermacher yang mengatakan bahwa agama itu adalah perasaan ketergantungan dan ketaatan mutlak kepada yang Absolut; Hegel mengatakan, “if religion in man is based only on a feeling, then the nature of that feeling can be none other than the feeling of his dependence, and so a dog would be the best Christian for it possesses this in the highest degree and lives mainly in this feeling,” dalam Hegel`s Foreword to H. Fr. W. Hinrichs`, Die Religion im inneren Verhältnisse zur Wissenschaft (1822), dalam Beyond Epistemology, ed. Frederick G. Weiss (The Hague: Martinus Nijhoff, 1974), hal. 238.)

     

    V. Rerasionalisasi agama/iman

     Di tengah-tengah ancaman fundamentalisme agama sekarang ini, juga dengan gelombang ateisme baru yang dibawa oleh perkembangan sains, sudah waktunya kita memperkenalkan agama yang lebih rasional. Kant pernah memperingatkan bahwa beragama yang tidak kritis dan tidak rasional justru rentan menimbulkan kecurigaan yang akan merugikan agama itu sendiri. Dengan status kesucian, penetapan hukum (Gesetzgebung) dan keagungan yang dimilikinya agama memang cenderung mengecualikan dirinya dari sikap kritis terhadap diri sendiri, namun itu justru akan merugikan agama itu sendiri (KdrV, A XI, catatan kaki).

    Selain itu, seperti telah disinggung di atas, beragama yang tidak rasional juga akan membuat agama rentan jatuh ke dalam tindakan-tindakan fundamentalis karena model beragama demikian hanya akan digerakkan oleh emosi dan passion.

    Rerasionalisasi agama itu tidaklah menyalahi, tapi justru, sebagaimana telah diperlihatkan di atas, sesuai dengan hakikat agama itu. Dengan rerasionalisasi itu kita mengembalikan kepada agama apa yang dulu pernah merupakan miliknya. Beragama bukanlah sekadar Amin, Haleluya, Puji Tuhan! Agama bukanlah sekadar iman yang didasarkan atas perasaan, melainkan seharusnya iman yang didasarkan atas rasionalitas.

    Untuk itu pengajaran agama dan aktivitas kerohanian perlu dilakukan  dengan senantiasa berdialog secara kritis dengan ilmu-ilmu lainnya.

    Salah satu tugas teologi pada zaman ini adalah merefleksikan dan mensistematisasikan pernyataan-pernyataan iman dalam dialognya dengan ilmu-ilmu sekuler, ya filsafat, sejarah, psikologi, politik, ilmu-ilmu alam dan lain-lain — dialog antara Athena dan Yerusalem. (Lihat misalnya, Christoph Böttigheimer, Wie handelt Gott in der Welt? Reflexion im Spannungsfeld von Theologie und Naturwissenschaft (Freiburg/Basel/Wien: Herder, 2013). Dalam buku ini, sejumlah teolog dan ahli ilmu alam merefleksikan bagaimana Allah bertindak di dunia).

     

    ***************

     

    *Tulisan ini adalah paper yang dibawakan dalam Webinar yang diadakan oleh JPIC-OFM Indonesia dengan tema “Fundamentalisme Agama”,  (29 Mei 2021).

    *Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan.

     

     

     

     

  • “Parade Kematian” – “Di Seberang Samudera”, Puisi-puisi Simply de Flores

    PARADE KEMATIAN

    Mati adalah anugerah dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan setiap manusia di bumi fana oleh Sang Pencipta
    Kematian adalah kepastian, meski misteri caranya, kapan dan dimana

    Mati karena kecelakaan dan becana alam sering menjadi pengalaman tragis dan tidak gampang dihadapi

    Mati karena membunuh diri pun sering terjadi dengan berbagai alasan
    Dan meninggalkan banyak pertanyaan bagi yang hidup
    Mengapa dia bunuh diri dan akhiri hidupnya ?

    Mati karena perang, pembunuhan dan kejahatan sesama juga mengerikan

    Mati yang terjadi karena pandemi bertubi-tubi dan dimana-mana seluruh dunia saat ini
    Menjadi menakutkan, mencekam, mengerikan dan menghentak totalitas adanya setiap pribadi agar kembali ke jati diri dan hakekat hidup
    Bahkan Sang Pencipta

    “Aku ini siapa, darimana datangku, siapa penjamin adaku, bagaimana memperlakukan hidupku di tengah sesama dan alam ini, kemana nanti kukembali, kapan – bagaimana dan dimana aku mati, mengapa dan untuk apa saya terlahir”
    Adakah Kasih Allah
    Dimana Allah-ku

    Apakah aku juga masuk daftar mati dalam parade kematian pandemi covid19 ini ?
    Semua air mata, ketakutan, rindu damba
    Segala daya upaya tidak mampu menghentikan dan menghilangkan kematian

    Saatnya menyadari, memahami, bersahabat dan mencintai kematian
    Saudara kembar kehidupan
    Misteri realitas dan Sang Pencipta

    —————————————————————–

    DI SEBERANG SAMUDERA

    (Memaknai kematian, mengiringi semua yang telah berpulang mendahului )

    Biduk kita bertolak dari pelabuhan asal
    Berlayar melintas ombak lautan menerjang mengarungi gelombang samudera agar sampai tujuan jiwa di seberang sana

    Ada burung camar melintas menyapa
    Ada lumba-lumba mengiring bercanda
    Ada badai menerpa dan layar tersobek, tiang nyaris patah, biduk hampir tenggelam dalam siang malam berganti melewati hari-hari

    Ketika biduk ditelan batas pandang cakrawala
    Saat kehidupan sirna di ujung samudera,
    waktunya ajal datang menjemput jiwa,
    Maka segalanya tak mampu ditahan karena kehidupan ada awal dan ada akhir

    Ketiadaan mengawali dan kematian mengakhiri
    Yang tersisa adalah amal bhakti setiap kita yang tercatat di pasir pantai, dalam debur ombak, pada halaman samudera dan sejarah peradaban

    Ada keyakinan asali
    Ada harapan hakiki jiwa nurani sejati
    Di seberang samudera ada kota perjanjian
    Di batas cakrawala ada pelabuhan cinta
    Di akhir pelayaran ziarah makna dunia
    Setiap kita yakini ada awal kehidupan baru abadi lestari bersemi

    (Maumere, Flores, 21 Juli 2021)


     

    *Simply da Flores, Direktur YaHarmoni.

  • Sapardi : Geometri dan Memori

    Oleh Nirwan Ahmad Arsuka

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    (1989)

    Puisi Aku Ingin memang tak terelakkan akan mengangkat nama Sapardi Djoko Damono jadi abadi. Tapi yang membuat puisi itu, dan sederet karya terkenal Sapardi lainnya, jadi punya kekuatan untuk menancapkan diri di kenangan dan memfanakan gergaji waktu adalah “lima tak ingin.”

    Lima tak ingin itu adalah: tak ingin heroik, tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit, tak ingin eksperimental, dan tak ingin religius.

    Kekuatan sajak-sajak Sapardi langsung terlihat begitu kaidah “tak ingin” itu ditegakkan. Ketika terbit kumpulan puisi pertamanya, Duka-Mu Abadi, Goenawan Mohamad menyambutnya dengan sebuah ulasan panjang di Majalah Horison, No. 2 Th. IV Februari 1969, dengan judul Nyanyi Sunyi Kedua. Buat Goenawan, kumpulan Duka-Mu Abadi  adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali, tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya. Masa lalu yang ingin ditinggalkan adalah masa lalu yang dipenuhi oleh sajak-sajak heroik dan “berdjoeang.”

    Setelah setengah abad lebih sejak terbitnya Duka-Mu Abadi disusul dengan munculnya sejumlah kumpulan puisi lain, dapatlah dikatakan bahwa Sapardi menarik bukan hanya karena responnya terhadap masa silam, yang ikut membebaskan puisi Indonesia dari desakan pengaruh sajak-sajak heroik waktu lampau. Puisi-puisi terbaik Sapardi itu menarik bukan hanya karena mengembalikan lirisisme ke kancah perpuisian, tapi juga karena antisipasinya atas masa depan penciptaan. Bisa ditambahkan bahwa yang istimewa pada sajak-sajak Sapardi itu bukanlah karena sikap ingin leburnya dengan Tuhan, seperti yang diperlihatkan Amir Hamzah dalam Nyanyi Sunyi, tapi pada penjarakan intelektualnya terhadap Tuhan.

    Di esai bertajuk Permainan Makna yang terkumpul dalam buku Sihir Rendra: Permainan Makna (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) Sapardi mengenang masa kecilnya, dan kebutuhannya untuk menciptakan permainan makna. Ia mengaku permainan makna yang disusun dari kata-kata itu membuat ia bisa menghadapi kenyataan yang tak masuk akal. Tapi ia juga menyebut ketakinginannya menjadi kanak-kanak yang hanya asyik dengan permainan tanpa makna, sekaligus ketakinginannya untuk menjadi nabi yang cuma menyampaikan pesan makna tapi tanpa permainan. Ia hanya ingin jadi penyair yang baik. Sapardi yang konon berpikir dalam Bahasa Jawa, tentu harus mengatur kata-katanya sebaik mungkin dalam Bahasa Indonesia. Dan bersamaan dengan itu, sadar atau tidak, ia menerjemahkan ketakinginan menjadi kanak-kanak atau nabi itu ke dalam bentuk-bentuk puisi yang perlahan-lahan memenuhi “lima tak ingin” itu.

    Kelak akan tampak bahwa puisi-puisi terkenal Sapardi menegakkan kaidah “lima tak ingin” itu karena mereka membantunya menciptakan ruang kosong untuk menghadapi kenyataan alam yang tak masuk akal, sekaligus mempermudah pembacanya ambil bagian untuk mengabadikan sajak-sajaknya. Selain esai Permainan Makna, sajak Catatan Masa Kecil, 3 dan Catatan Masa Kecil, 4 dapat memberi petunjuk tentang asal-usul lima tak ingin itu.

    Catatan Masa Kecil, 3

    Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela
    lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan
    yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta
    dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat
    memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya
    sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan
    ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya
    berkata “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam
    suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya”

    (1971)

    Catatan Masa Kecil, 4

     Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya
    sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih
    kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari
    tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan
    setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat kurang
    dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika
    ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di
    halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya
    dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat
    sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.
    Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    (Sajak tanpa titimangsa, dimuat dalam kumpulan Sihir Hujan yang terbit 1984)

    Pertanyaan yang diajukan di Catatan Masa Kecil, 3, dan bilangan nol yang dipercaya di  Catatan Masa Kecil, 4, adalah bekal Sapardi membangun kaidah “lima tak ingin” yang dibuat jadi batu penjuru sebuah arena permainan. Ke dalam arena itu, saya bayangkan Sapardi menarik masuk dan menghadapi kekuatan besar yang membuat Amir Hamzah bersaksi dan menyeru dalam sajak Padamu Jua yang terhimpun dalam Nyanyi Sunyi: Engkau cemburu/Engkau ganas/Mangsa aku dalam cakarmu.

    Bisa juga dikatakan bahwa lima tak ingin itu adalah dinding-dinding limas piramid yang dibangun untuk menjadi — meminjam larik Chairil Anwar dalam sajak Di Mesjidruang gelanggang  kami berperang.  Perang Sapardi memang tak sekeras Chairil yang  Binasa-membinasa, Satu menista lain gila. Sapardi tak punya potongan untuk perang yang meledak-ledak seperti itu.  Jika kita membaca sajak Catatan Masa Kecil, 3 bisa kita katakan bahwa sikap Sapardi kurang lebih adalah sikap berjarak, sikap seorang ilmuwan yang penuh perhitungan:

    Ia yang turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang itu mungkin saja masih seorang kanak-kanak, tapi ia sudah memperlihatkan bakat kritis dan tak gampang terhanyut. Ia memang bertanya-tanya, tapi pertanyaan yang diajukannya adalah apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta.  Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bertahap dan terukur, yang mengenali batas dan mencoba melampaui batas: karakter pertanyaan yang kerap diajukan para ilmuwan.

    Seperti seorang ilmuwan tulen, ke dalam piramid berdinding dan berlantai “lima tidak” itu Sapardi menarik masuk Sumber Tanya beserta dunia yang tak masuk akal itu dan menghadapinya dengan penuh perhitungan. Dan selaiknya penyair tulen, Sapardi menghadapinya dengan mengalirkan dua arus pemberian yang meski bergerak tenang namun mengandung kekuatan penampik waktu.

    Pemberian pertama, yang memang dikerjakan oleh semua penyair besar, adalah pemberian “hidup” pada benda-benda sepele: pada angin, pada burung, lampu jalan, kabel telepon, dll. Pemberian “hidup” ini bisa juga dilihat sebagai penciptaan tandingan — yang meskipun hanya rekaan, namun berwatak puitik dan intelektual —atas ciptaan nyata yang lebih besar yang berasal dari kekuatan yang ada di luar semesta, dan di luar luar semesta.

    Personifikasi Sapardi atas benda-benda itu tak cuma menghidupkan benda-benda itu, tapi juga memberi mereka laku yang subtil. Semesta kenyataan yang kita terima secara intuitif, jadi berubah radikal dalam sajak-sajak Sapardi. Diri pembaca yang semula jadi subyek, jadi pusat, yang menentukan dunia, bisa bergeser tiba-tiba jadi obyek yang tak berarti dan ditentukan oleh dunia. Sajak-sajak ini seperti mencopot mata pembaca dan meletakkan di sebuah tempat dengan perspektif yang merangsang kerja otak.

    Sajak-sajak Sapardi memang bisa jadi contoh yang bagus tentang kemampuan puisi untuk memberi manusia mata ketiga dan keempat. Sains dan teknologi juga memberi manusia mata tambahan. Dengan mikroskop yang kian canggih dan teleskop yang bahkan di tempatkan di langit, manusia bisa melihat kenyataan-kenyataan baru yang menakjubkan. Hal yang sama juga dilakukan Sapardi dan para penyair besar lain. Bedanya adalah puisi mengajak kita melihat dunia ajaib yang subyektif personal, sementara sains memberi kita mata untuk menjelajahi semesta fantastis yang obyektif universal. Perbedaan ini menegaskan bahwa semesta yang disingkap dan dibentuk oleh sains dan teknologi akan jadi lebih lengkap dan memukau, makin kaya dan berharga, buat mereka yang juga bisa mengapresiasi puisi.

    Selain mata, Sapardi juga memberi kita sepasang telinga atau sebuah stetoskop kebudayaan dan politik untuk menyimak detak dan percakapan yang lirih dari berbagai macam benda-benda, bukan hanya yang selama ini setia melayani manusia, entah itu Sepasang Sepatu Tua, Bola Lampu, Topeng misalnya.

    Sapardi memang mengerjakan dengan sangat bagus teknik yang sudah dilakukan oleh para penyair sejak dahulu kala: menjadi tukang sihir yang memberi hidup lewat kata dan dengan itu memperkaya dunia. Tapi ia tak cuma memberi hidup pada benda-benda mati, ia juga membuat kehidupan benda-benda itu bisa bertahan lama di benak pembacanya. Para penyair memang mengandalkan teknik mnemonik seperti rima, tapi Sapardi tak cuma menggunakan perangkat literer yang sudah ada. Ia menemukan perangkat literer baru, yang lebih canggih dari rima. Perangkat literer temuan Sapardi itu agaknya berasal dari khazanah matematika, karena jelas sejajar dengan sejumlah konsep matematis, khususnya barisan geometri dan simetri terbalik.

    Penggunaan perangkat matematis ini punya kaitan yang menarik dengan sajak Catatan Masa Kecil, 4. Di larik keempat bait pertama, tertulis: Sejak semula ia sayang pada angka nol. Sajak ini ditutup dengan penegasan di bait kedua yang hanya berisi satu baris kalimat: Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    Angka nol yang disayang dan dipercaya itu memang tak hadir telanjang di sajak-sajak Sapardi, tapi ia muncul memukau dalam bentuk barisan geometri, yang tampak jelas pada sajak-sajaknya yang sederhana dan rapi.  Barisannya memang tidak horizontal dengan suku yang sejajar dalam larik, tapi vertikal dengan suku yang berurut turun dari bait ke bait. Dalam satu sajak, bisa terlihat beberapa barisan. Karena suku barisan literer Sapardi ini berubah pada tingkat dimensi dan kualitas, bukan sekedar penambahan atau pengurangan kuantitas, maka barisan itu lebih dekat ke barisan geometri dan bukan ke aritmetika. Barisan ini umumnya memang bergerak dari dimensi yang besar ke yang kecil dan menyarankan langkah menuju ke nol, atau dari yang fisik ke non fisik bergerak menuju ke kekosongan.

    Sajak Aku Ingin mengandung empat barisan yang masing-masing terdiri dari dua suku, sesuai dengan jumlah baitnya. Suku baris pertama adalah kata (bait pertama) dan suku berikutnya adalah isyarat (bait kedua). Kata adalah satuan yang masih mengandung bunyi dan intonasi yang menuntut gerak, setidaknya gerak otot bicara; sementara isyarat adalah satuan yang tak lagi mengandung bunyi dan intonasi, dan mungkin hanya tersisa gerak. Suku baris kedua adalah kayu (bait pertama) yakni benda fisik yang masih bisa disentuh, diikuti oleh awan (bait kedua) yakni massa yang terbentuk dari uap air yang mengambang di cakrawala dan tak lagi bisa dijamah. Suku-suku baris ke tiga, yakni api dan hujan, memang tak langsung terlihat aspek barisannya, tapi kita bisa melihat gerak menurun dalam hal temperatur. Barisan menurun itu tampil kuat pada baris keempat, yang sukunya adalah abu (bait pertama) yakni benda yang masih mungkin dijamah dan dicerap indra, yang kemudiaan diikuti tiada (bait kedua) yang sama sekali sudah tak lagi bisa dicerap.

    Kehadiran barisan itu muncul paling jelas dan paling indah dalam sajak Pada Suatu Hari Nanti, yang saya cantumkan di halaman akhir.  Pada tiga bait sajak itu, kita lihat subyek berubah dari fisik ke non-fisik, yakni dari jasadku di bait pertama, ke suaraku di bait kedua, dan akhirnya ke impianku di bait penutup. Jasad adalah massa yang masih bisa dijamah, dan jika diusap masih mungkin menimbulkan bunyi. Suara adalah fenomena sekuder yang tak lagi bisa dijamah, sedangkan impian sudah benar-benar tak tercerap secara indrawi. Sejajar dengan subyek yang berubah bentuk dari yang indrawi ke non-indrawi itu, obyek sajak juga berubah secara berurut, dari satuan yang besar ke satuan yang kecil, yakni dari bait di untai pertama, lalu larik di untai kedua, dan dengan huruf  di untai penutup. Buat saya, sajak Pada Suatu Hari Nanti  adalah sebutir berlian yang diasah dengan sangat bagus, dan di dalam struktur yang keras, rapi dan bening itu, tampaklah bagai tarian dua barisan Sapardi dengan indah bergerak pelan menuju kekosongan.

    Selain barisan yang bergerak konsisten menurun dari awal menuju kekosongan, ada juga barisan yang tampak bergerak datar, tapi akhirnya juga mengarah ke kekosongan. Barisan datar seperti ini tampak misalnya pada sajak yang tak kalah terkenal di bawah ini:

    Hujan Bulan Juni

    tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu

    (1989)

    Baris pertama yang menyusun Hujan Bulan Juni adalah baris yang sejajar karena suku-sukunya punya arti yang hampir sama. Baris ke dua juga boleh dikata sejajar, dan suku-sukunya adalah kata kerja pasif. Rintik rindu dan jejak kaki adalah citraan tentang hal-hal yang pernah menjadi bagian diri, yakni rintik yang sudah terlepas dari himpunan, dan jejak kaki yang juga sudah bukan bagian dari  diri. Adapun yang tak terucapkan adalah sesuatu yang bahkan tak sempat untuk menjadi sesuatu, tak sempat atau tak mungkin menggumpal jadi kata yang bisa terlepas dari sumbernya. Suku yang tak terucapkan ini memberi semacam anjlokan yang mempertegas kekosongan yang kehadirannya sudah disarankan dengan sangat kuat oleh dua suku baris ketiga sebelumnya, dan dua baris yang lainnya. Tiga barisan ini gampang mengingatkan kita pada gagasan wu wei dalam khazanah pemikiran Tiongkok, yakni “nir-tindak,” inaction, yang konon dianggap sebagai puncak kekuatan dan kebijaksanaan.

    Barisan dalam sajak-sajak Sapardi ini, yang dapat kita katakan sebagai perangkat literer temuan Sapardi yang istimewa, sungguh lebih canggih dari rima.  Satuan dasar pembentuk rima adalah bunyi pada suku kata, sementara satuan dasar pembentuk barisan Sapardi adalah arti pada kata. Yang pertama auditoris, yang kedua semantik. Meskipun sama-sama perangkat mnemonik untuk membantu memori, rima itu umumnya bekerja mengejar efek bunyi dan musikal, kadang juga efek emosional. Barisan Sapardi, yang juga bisa mengandung rima, bekerja lebih jauh lagi menjangkau efek kognitif yang merangsang penalaran, bahkan efek epistemik yang menggugah pengetahuan. Yang menarik adalah bahwa Sapardi tak pernah menulis tentang perangkat literer temuannya ini, meskipun ia menggunakannya dalam banyak puisinya.  Barisan sejajar yang saling mempertegas, terlihat juga misalnya pada:

    Dalam Doaku

    dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang semalaman tak
    memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima                                           cahaya  pertama, yang melengkung hening karena akan
     menerima suara-suara

    ketika matahari mengambang di atas kepala, dalam doaku
    kau menjelma pucuk pucuk cemara yang hijau senantiasa,
     yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
     kepada angin yang mendesau entah dari mana

    dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
    mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
    ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
    tiba tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

    maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
    perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, 
    menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan
    menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi,
    dan bulu-bulu mataku

    dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
    dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
    atasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
    tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

    aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai                                mendoakan keselamatanmu

    (1989)

    Ada paduan dua barisan yang segera tampak pada sajak Dalam Doaku. Yang pertama adalah barisan setara yang merujuk pada waktu yang bergerak dari saat menjelang fajar hingga ke puncak malam. Yang kedua adalah barisan geometri yang bermula dari langit yang maha luas dan berada di luar si aku lirik, kemudian menurun ke pucuk cemara. Suku barisan selanjutnya memang tampak bergerak ke atas menjadi burung (bait ketiga) bahkan angin (bait keempat), namun pada akhirnya barisan itu menurun, mengerut dan memadat. Pada saat lingkaran waktu berdoa lima kali sehari itu melengkapkan diri, langit pun menggumpal menjadi denyut jantung.

    Barisan yang bergerak itu memang juga dimainkan oleh Sapardi. Ia tak selalu membiarkan barisannya berhenti di nol atau kekosongan, tapi memutar balik suku barisan terakhir dan mengembalikannya ke suku barisan pertama. Dengan cara seperti ini, barisan pun — meminjam larik-larik dari sajak Melipat Jarak — jadi melengkung seperti tanda tanya, buru memburu dengan jawabannya. Sajak-sajak semacam ini menciptakan sirkuit, seperti misalnya pada puisi:

    Bayangkan Seandainya

    Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit
    berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu-bulunya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu
    menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari
    bulu-bulunya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu
    yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski
    telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.

    (2009)

    Sirkuit yang terbentuk di sajak ini bermula, tentu tak perlu dikatakan, pada “wajahmu” yang terpampang di cermin pagi ini. Tapi sajak ini membujuk kau di bait pertama untuk membayangkan bahwa wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit. Di bait kedua si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu. Di bait ketiga si kau kembali dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya. Setelah si kau dibawa terbang melayang-layang, bermain dan menari menyusur barisan geometri yang bergerak turun dari langit ke awan, dari atas kota ke halaman rumah, mendadak di bait terakhir si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu adalah wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas.

    Bait terakhir ini melengkungkan barisan dan membuatnya jadi sirkuit tertutup yang bisa berubah menjadi siklon kognitif yang dengan ganas mengangkat pikiran pembaca yang imajinatif terburai dan terlepas dari pengetahuan dirinya yang dikira mapan. Sajak ini mengubah kebenaran yang sudah sangat jelas dan karena itu tak pernah dipertanyakan, menjadi problem yang minta dipikirkan, menjadi gatal yang menuntut digaruk. Dan karena tak ada jawaban bagi problem yang dihamparkan itu, maka problem itu, tepatnya sajak itu, dapat menjadi godaan yang terus berputar dan bertahan di otak selama otak tersebut bisa bekerja normal.

    Jika barisan yang menuju nol atau kekosongan itu mengendapkan perasaan suwung, nyaman dan mantap, maka barisan yang menjadi sirkuit ini adalah strategi untuk menciptakan pain, nyeri, untuk memicu badai, brainstorming.

    Di Restoran

    Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
    ilalang panjang dan bunga rumput —
    kau entah memesan apa. Aku memesan
    batu di tengah sungai terjal yang deras —

    kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
    saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
    yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
    memesan rasa lapar yang asing itu.

    (1989)

    Sajak di atas menghadirkan cara lain Sapardi menorehkan nyeri. Ironi yang tajam sudah terasa di bait pertama dimana si Aku (dengan A kapital) dan si kau, ke restoran berdua, tapi seperti tak punya koneksi satu sama lain. Keduanya ada di dalam gelembung masing-masing meski mungkin duduk berdekatan, mungkin berhadapan. Si Aku mungkin ingin membangun suasana romantis dengan mula-mula memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Tapi usahanya tak berbalas karena pasangannya entah memesan apa. Nyeri mulai menggores kuat ketika si Aku kembali memesan sesuatu yang jauh dari restoran itu yakni batu di tengah sungai terjal yang deras. Di untai kedua, si Aku yang mestinya jadi subyek penentu itu bahkan akhirnya hanya memesan sesuatu yang haram ada di restoran itu, sesuatu yang tak terpikirkan dan justru ingin dihilangkan ketika orang mengunjungi restoran, yakni rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, rasa lapar yang asing itu.

    Simetri terbalik antara judul dan isi sajak ini, dengan kontrasnya yang menusuk itu bisa meninggalkan efek kognitif yang tak putus di benak pembaca. Dan buat mereka  yang merindukan cinta dan kebersamaan, yang terikat dengan pasangan yang kehadirannya justeru membuatnya merasa kian terasing, efek itu bisa  nyaring lengkingnya.

    “Lima tak ingin” yang ditopang bentuk-bentuk matematis bersahaja, telah mengarahkan Sapardi membuat komposisi yang juga sederhana, lalu menggarap dua unsur yang mempengaruhi memori manusia dan sangat penting bagi keberlangsungan hidup organisme: pain dan pleasure. Sajak-sajak Sapardi itu kerap menghadirkan dua hal penting ini sekaligus, tapi dengan timbangan yang berbeda. Sajak Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni adalah jenis yang lebih berat ke pleasure, sementara Metamorfosis, Topeng, Catatan Masa Kecil 2 atau Tiga Percakapan Telepon adalah sajak yang lebih berat ke pain.

    Selain dengan jenis memori yang berhubungan dengan persepsi indrawi, puisi-puisi terkenal Sapardi sungguh bisa juga dikaitkan dengan memori semantik, yakni bagian dari memori eksplisit atau deklaratif. Jika jenis memori pertama itu membuat sajak-sajak Sapardi jadi mudah tertancap di ingatan lewat pencerapan indrawi, maka memori jenis kedua itu bisa membantu sajak-sajak tersebut tercipta ulang dan berkembang di benak para pembacanya lewat bantuan khazanah kebudayaan dan pengetahuan.

    Puisi bagus yang gampang diingat adalah benda ajaib yang sangat berharga bukan hanya buat mereka yang ingin mencipta. Buat mereka yang terutama ingin mencipta, dengan penuh cinta, dan tak gentar pada keharusan cinta, puisi bagus yang sederhana dan mudah diingat itu mirip rumus matematis sederhana yang memang juga sebuah ekspresi estetis, dan mungkin diterapkan di seluruh jagad.  Tentang keharusan cinta, termasuk cinta kepada Pencipta, Sapardi menuliskan sajak berikut:

    Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta

    /1/
    mencintai angin
    harus menjadi siut
    mencintai air
    harus menjadi ricik
    mencintai gunung
    harus menjadi terjal
    mencintai api
    harus menjadi jilat

    /2/
    mencintai cakrawala
    harus menebas jarak

    /3/
    mencintai-Mu
    harus menjelma aku

    (Sajak tak bertitimangsa dimuat dalam kumpulan Arloji  yang terbit 1998)

    Sajak ringkas ini menegaskan lagi jarak intelektual yang terentang ke arah Sang Mu — penjarakan yang membuat Sapardi Djoko Damono jadi berbeda dari Amir Hamzah dan Chairil Anwar, seperti yang sudah disinggung di depan. Bagi sajak ini, mencintai-Mu memang harus menjelma aku, di mana aku adalah semacam bayangan dari sekaligus koreksi atas Mu, meski dengan magnitude yang berbeda. Si aku memang tak mungkin menyamai Mu dalam hal kebesaran, tapi ia mungkin bisa menandingi dalam hal kemasukakalan, keadilan dan keabadian ciptaan. Kemasukakalan telah coba dibangun dengan sajak-sajak yang indah dan terukur. Kemasukakalan itu mencakup keadilan juga. Jika pun keadilan tak dapat diciptakan sepenuhnya dalam sajak-sajak Sapardi, setidaknya keadilan dan harapan terhadapnya telah dihadirkan dengan indah dan subtil.

    Seraya menjadi pencipta yang adil dan masuk akal, Sapardi juga ingin jadi pencipta dengan ciptaan yang abadi. Sapardi tentu tahu bahwa mustahil ia abadi di dunia, tapi ia tahu, dan berjuang, untuk membuat karya-karyanya abadi di tengah kehidupan pembacanya. “Lima tak ingin” yang dibantu dengan struktur matematis yang membantu kerja memori itu adalah senjata Sapardi untuk menjadi abadi.

    Foto Sapardi Djoko Damono oleh Arnold Simanjuntak

    Selain pemberian kehidupan pada benda-benda mati yang membangkitkan berbagai sensasi kognitif, ada satu pemberian lagi yang tak semua tukang sihir, penyair, atau bahkan Tuhan (dalam pemahaman sebagian umatnya) sanggup berikan. Yakni memberikan diri sendiri, menghapus jejak keagungan dan kebesaran diri, untuk membesarkan sesuatu yang bukan diri sendiri.  Sajak-sajaknya yang memanfaatkan deret yang bermula dari satuan besar menuju satuan kecil, dari subyek yang fisik menuju non-fisik, menyarankan gerakan menuju kekosongan, dari ada menjadi tiada, dari gunung menjulang yang merobohkan diri jadi lapangan hijau berumput yang maha luas. Di kekosongan itulah sajak-sajaknya membuka diri bagi pembacanya untuk menciptakan semesta makna baru.

    Puisi-puisi terbaik Sapardi, yang cerdik memanfaatkan khazanah matematis itu, tak hanya memberi kita momen puitik, tapi juga petunjuk menangkap dan menciptakan sendiri momen-momen puitik itu. Kaidah “lima tak ingin” itu kembali menjadi penting karena kaidah itu mempermudah pembaca untuk juga jadi penyair, jadi pencipta. “Tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit dan tak ingin eksperimental” itu misalnya telah menghasilkan sajak-sajak dengan kata-kata yang sangat sederhana, bukan kata-kata sulit atau jargon akademis dengan bentuk yang tampak liar. Pembaca jadi nyaris tak punya kesulitan, tak perlu buka kamus, untuk memahami puisi-puisi Sapardi. Kaidah “lima tak ingin” itu bahkan mungkin membantu pembaca kreatif yang ingin coba menciptakan ulang atau membayang-bayangi puisi Sapardi.

    Seiring dengan itu, kaidah “tak ingin religius” yang mencegah sajak-sajak Sapardi menempelkan lambang dan ungkapan dari khazanah agama yang dianutnya itu, jelas membuka diri seluas-luasnya pada semua pembaca tak peduli apapun keyakinan dan ketakyakinannya. Yang menarik adalah bawa sajak-sajak yang tak ingin religius itu justru berhasil menunjukkan bahwa religiusitas itu sungguh bisa juga direngkuh bukan lewat jalan agama.

    Ringkasnya, jika sebelumnya kaidah “lima tak ingin” itu telah membantu Sapardi menjinakkan chaos dan merapikan dunia, maka kini, kaidah “lima tak ingin” itu sekaligus membantu Sapardi menurunkan palang pintu bahasa sehingga sebanyak mungkin pembaca bisa masuk ke kancah penciptaan yang ikut dihamparkan oleh puisi-puisinya. Tentang apakah “Barisan Sapardi” itu benar-benar temuan yang orisinal, atau hasil pencurian kreatif yang memang watak penulis besar, seperti kata TS Eliot, biarlah telaah lain yang akan uji. Yang jelas adalah bahwa dengan cara yang memukau, puisi-puisi Sapardi telah ikut menunjukkan kemampuan kata sebagai pembebasan. Kata, yang demikian biasa dan sederhana, yang dapat dihimpun oleh siapa pun dengan melimpah bahkan sejak masih kanak-kanak, memang modal kultural manusia yang paling berharga karena punya kekuatan luar biasa untuk diolah menyiasati dan menyusun ulang dunia.

    Pembaca yang terus mencipta adalah hal penting dan berharga buat Sapardi, sehingga bahkan seorang pensiunan yang tinggal menyongsong mati pun, seperti yang dikisahkan dalam Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro, masih juga terus digoda untuk tidak memadamkan indra, untuk kembali mencipta: membayangkan dirimu pangeran yang lain dari yang dulu dibayangkan nenekmu tentangmu. Hanya dengan penciptaanlah memang, Kita abadi: memungut detik demi detik, ciptaan demi ciptaan, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa, lupa ruang dan waktu, tenggelam dalam keasyikan yang intens. Yang fana memang adalah waktu. Ciptaan abadi.

    Jika pun Sapardi dan kuasanya tak dapat hilang sama sekali dari sajak-sajaknya, ia jelas menyingkir dari pusat dan memilih jadi kawan bahkan mungkin abdi yang mendampingi pembaca untuk maju ke tengah dan menduduki tahta penciptaan. Entah sebagai abdi, sebagai kawan, atau sebagai guru besar yang dicinta, sajak-sajak terbaik Sapardi takkan merelakan kita sendiri, akan tetap mensiasati dan tak letih-letihnya mencari, agar kita tetap mencipta dan memfanakan waktu.  Saya bayangkan Sapardi Djoko Damono akan tersenyum senang jika karya-karyanya membuat pembacanya, yang telah mendapat mata tambahan dari seni dan sains, tumbuh jadi pencipta yang bahkan lebih besar dari si penyair sendiri.

    Pada Suatu Hari Nanti

    pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau takkan kurelakan sendiri

    pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati

    pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau takkan letih-letihnya kucari

    (1991)

     

    Jakarta, 17 Agustus 2020

    ———————————————————————

    *Daftar Pustaka

    * K.A. Stroud. Matematika Untuk Teknik, Jakarta: Erlangga, 1991. Alih bahasa: Erwin Sucipto
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Grasindo, 1994
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Editum, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Mata Jendela, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Kolam, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Ayat-Ayat Api, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Sihir Rendra: Permainan Makna, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999

     

    *Sumber Tulisan Sastra Indonesia.com

     

    Top of Form

     

    Bottom of Form

    Top of Form

    Bottom of Form

     

    Top of Form

     

    Bottom of Form