Oleh Paulo Coelho
Saat kedua kaki kita sudah lelah, berjalanlah dengan h a t i kita, tetapi janganlah berhenti


Oleh Paulo Coelho
Saat kedua kaki kita sudah lelah, berjalanlah dengan h a t i kita, tetapi janganlah berhenti


Oleh Stephie Kleden-Beetz
SEORANG Polisi lalu lintas sedang bertugas di suatu perempatan yang ramai. Pada siang hari yang terik itu, seorang pengendara yang iseng mengejek, “Aduh, hidupmu seperti anjing, ya: jaga sana, awasi sini. “Dengan tenang polisi itu menjawab, “Mungkin saja hidup saya begitu. Tetapi hari ini saya udah menyelamatkan tiga nyawa. Sudah berapa nyawa yang kauselamatkan.
Di sebuah kota, seorang Wali Kota berjalan-jalan menemui warganya. Tiba-tiba ia melihat warganya yang baru dilepas dari penjara beberapa hari sebelumnya. Dengan ramah Wali Kota menyapa, “Halo, apa kabar? Senang melihatmu Kembali.”
Tahun-tahun berlalu, di sebuah kota lain, secara kebetulan Wali Kota berjumpa dengan orang tersebut. Orang itu menghampiri Wali Kota dan berkata, “Pak, terima kasih untuk kebaikan yang telah Bapak buat terhadap saya. “Wali Kota dengan heran bertanya, “Perbuatan baik apa?” Jawab orang itu, “Andalah orang pertama yang menyapa saya dengan ramah. Sejak itu, semangat hidup saya datang Kembali.”
Kebaikan adalah bahasa yang dapat dilihat oleh orang buta dan dapat dapat didengar oleh si tuli.
Charles Fulton Oursler (jurnalis-pengarang drama-penulis) asal Amerika Serikat berkata, “Bersikaplah ramah dan berbuat baik kepada siapa saja. Sebab, barangkali di balik pakainnya yang sederhana, mereka menyimpan sayapnya yang perkasa.” Lalu ia bercerita bagaimana seorang petugas hotel yang biasa tiba-tiba menjadi manajer sebuah hotel terkenal di Amerika Serikat, yaitu Hotel Waldorf-Astoria.
Suatu malam di sebuah kota di Philadelphia, sepasang suami-istri yang sudah tua masuk ke sebuah hotel kecil. Terjadilah percakapan antara tamu dan pengurus hotel:
Tamu: Masih ada kamar untuk saya dan istri saya?
Petugas: Maa, Pak. Penuh semua. Di kota ini kebetulan ada tiga pertemuan besar, sehingga semua hotel penuh. Tetapi tidak mungkin saya menolak Bapak dan Ibu dan menyuruh pergi tengah malam begini, sementara di luar hujan dan badai. Kalau Anda mau, Anda boleh menginap di kamar saya. Akan segera saya bereskan kamar saya.
Pagi harinya, ketika hendak membayar, tamu itu berkata, “Kamu seharusnya bukan menjadi pegawai biasa begini, melainkan menjadi manajer hotel besar bertaraf internasional. Mungkin saya akan membangun hotel tersebut dan kamu menjadi manajernya.” Si petugas tersenyum.
Dua tahun kemudian, ia seperti disambar petir ketika mendapat undangan untuk datang ke New York dan menerima kunci hotel terkenal, tempat ia menjadi manajernya: Hotel Waldorf-Astoria. Pak tua yang telah menginap di kamarnya ternyata tak lain adalah William Waldorf Astor, hartawan masyhur itu.
Jika engkau mencintai, berbuatlah baik, jika engkau berbuat baik, engkau akan mencintai. Mencintai dan dicintai adalah dua sisi yang berbeda dari mata uang yang sama.
****************************
Sumber: dari Buku Cerita Kecil Saja, Stephie Kleden-Beetz, Kanisius 2009


Oleh Paus Yohanes Paulus II
Saudara dan saudariku terkasih….. Renungkanlah banyak-banyak tentang masa depanmu sebagaimana kita merenungkan kerabat-kerabat tercinta yang telah pergi mendahului kita dalam imannya dan beristirahat dalam damai. “Sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak” (I Yoh. 3:2). Kini masih ada jurang antara keadaan kita sekarang dan keadaan kita kelak. Di antara kedua kutub ini kita menanti dan harapan kita sudah mengatasi maut, karena kita tahu bahwa kematian hanyalah merupakan suatu transisi menuju pertemuan definitif dengan Tuhan, agar kita “menjadi sama dengan Dia, karena kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya” (I Yoh. 3:2).
Kini kita dipanggil untuk menghayati hubungan khusus dengan saat kematian kita. Dalam iman dan doa, kita menjalin kembali hubungan keluarga kita dengan mereka; mereka sedang menantikan kita, melindungi serta membantu kita. Mereka telah melihat Allah “dalam keadaanNya yang sebenarnya.” Mereka meyakinkan serta memberi kita semangat untuk bertekun meneruskan perjalanan serta peziarahan kita yang masih tinggal di dunia ini. “Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibr. 13:14). Jangan cemas, tetapi tengadahkanlah pandanganmu ke tujuan akhir hidupmu; itulah yang terpenting bagi kita. Kerabat-kerabat kita yang sudah meninggal dunia sudah berada di sana, ke tempat kita akan berada pula. Sesungguhnya di sanalah tanah air kita bersama dengan mereka, sehingga mereka menjadi sesama kita. Di sini pula kita akan memasuki misteri tritunggal Bapa, Anak, dan Roh Kudus, karena kita dibaptis dengan baptisan yang sama. Kita saling bergandengan tangan, karena maut sudah tidak ada lagi di sana, selain kehidupan kekal.
****************************
Sumber: Buku Doa dan Devosi – Paus Yohanes Paulus II – Penerbit Erlangga 1995

Tentang Aku
Aku selalu hidup dibayang ketakutan
Aku selalu menjadi misteri di bawah radangnya rumah tua
Lusuhnya pakaianku selalu jadi bahan tawa para koruptor rumah itu
Tak tersadar jiwaku yang beranjak tua semakin hina di hadapan mereka
Aku adalah sosok yang selalu hidup dalam gelap
Aku adalah sosok hina yang tak pernah bisa dimengerti orang lain
Hidup yang mungkin selalu terjamin membuat aku semakin dianggap mati
punya rasa menyesal karena Tuhan mengujiku pada usia yang harusnya ku butuhkan Bahagia
Aku takut
Hidup-ku yang selalu dihantui dengan ancaman dan hinaan
Aku takut karena mungkin akan terpaku pada gelap
Aku sadar aku hanyalah benda pajangan yang dilahirkan untuk tawa masyarakat
Mungkin tak lama namun harus membekas pada batin
Fisik dan raut penampilan selalu jadi bandingan masyarakat
Mungkinkah jika tubuh terbujur kaku akan ada hinaan di balik kubur basah
Ataukah rasa sakit ini harus kubawa hingga Tuhan memanggil-ku pulang menjadi debu ?
Ada cobaan untuk mengahkiri hidup
Berjalan di atas rasa sakit yang terus menusuk lemahnya jiwa bangkit
Yang terus saja berbanding terbalik dengan apa yang selalu dibayangkan
Rasa sakit itu yang selalu membawaku untuk kembali terupuruk
Di kursi reot saksi hidup-ku
Kutuliskan ini dan menanti hadiah apalagi yang akan diberikan untuk penikmat kopi pahit Di ujung senja
—————————————–
Suara Anak Rantau
Di tengah riuh pesta pora
Sepotong harapan di balik jendela
Menatap keluar bagai menyayat hati
Gugur daun mengingat sawah ayah ibu
Sebingkai foto di sudut ruangan
Mematung kepala, berlinang air mata
Susah hidup di tanah orang, gemuruh hati meminta pulang
Bulan terang megisyaratkan minta-ku pada sang Ilahi
Ketika susah harus diam, melihat tawa teman sebaya
Damping peluk dan cium teringat akan harum kebaya ibu
Gelak memecah ketika canda dari bibir ayah
Mati rasanya ketika ingin dari hati tak terpenuhi
Rindu pondok beralas tikar
Biar susah, hati tak pernah ingin mengeluh
Tenang terasa ketika dekat
Harum masak buatan ibu, membuat sudut bibir ingin menyantap
Belum saat akan bertemu
Walau linang air mata terus berderai
Lantunan doa pada sang Ilahi ingin pulang
Semoga diri menahan rindu
Ketika peluk ibu menyambut diri lemah
Semoga yang harus tersemogakan
Harap yang harus terharapkan
Mimpi yang harus termimpikan
Tertahan rindu karena peluh rantau mengejar cita
Jika rindu adalah sakit
Temu sapa adalah obat anak rantau
————————————
Taktik Berdasi
Di tengah busung lapar terjadi
Mata gelap, telinga menuli
Perjuangan orang kecil dalam mimpi
Berharap hari esok kembali terbit fajar yang membuah pada harapan
Bukan tentang apa yang harus dipikirkan
Bukan tentang apa yang harus didengarkan
Kesedihan yang terpojok ketika usia akan menua
Jika tanya membunuh semua jawaban
Putarnya nilai rupiah, seakan menginjak usaha harga diri berharap meninggi
Ratap tangis anak yatim meminta sepeser harga untuk sepiring nasi
Tikus-tikus politik seakan bermain di balik bayang susah
Gedung-gedung mewah seakan membanting pintu menolak sedekah
Secerca harapan mendapat perhatian tak terwujud
Hati susah, ketika harus bergelut di bawah terik demi rupiah
Mati rasa hati para pembesar, membuat tangis pecah di balik cahaya purnama
Monopoli kota metropolitan jejak rupiah bagai tak terekam
Mungkin sakit jika harus bercerita
Pembesar tidur di atas uang, permainan seakan berahkir tanpa pemenang
Mungkin ratap harus menua berjalan bersama usia
Penderitaan tak kunjung habis ketika menutup mata membawa susah
Wahai para pembesar
Taktik hebat, kalian rancang
Membutakan uang, tanpa berpikir rakyat melarat
Jika bisa bertanya, apa harus kami menyembah?
Jangan buta wahai pejabat
Hentikan permainan konyol, menyusahkan hidup pelosok
Mungkin doa mewakili ratap susah
Berharap Tuhan mengabulkan apa yang dipinta
Jika harus memilih mungkin mati harus terbayang
Tak lagi harap bantuan dana pemerintah
Siap diri untuk bergelut
Merebut sepiring nasi untuk hidup
Terwakilkan rasa, jika tersampaikan
Terima kasih jika tersentuh
——————————–
Gadis di Balik Purnama
Syair-syair cinta bekerja ketika sang pengelana mengejar cinta
Purnama malam, begitu hangat terasa
Santapan malam yang terhidang terasa lembut sampai pada sudut bibir
Teringat kenang manis ketika di bawah atap gereja
Rintik-rintik bagai bercerita tentang kondisi hati
Ingin lepas tak terpikir ketika mengingat kenang di bawah langit mendung
Senyum manis ketika berdua menikmati indahnya terbenam sang fajar
Ketika pisah hati tak ikhlas jika harus jauh memendam rindu
Waktu berjalan, seiring bertambah usia ketika harus menua
Di balik jendela usang, bintang cantik di malam itu
Bulatnya mata mengharap kembali mengulang masa itu
Mengandaikan senyum dengan purnama di penghujung tahun
——————————————-
Untuk Kamu
Aku pernah mengenal-mu
Namun aku lupa kapan kita pernah menyapa
Aku juga pernah melihat-mu
Namun aku lupa kapan kita pernah bertemu
Kamu
Beberapa huruf yang terlintas dibenakku untuk mengingat satu nama
Kamu yang selalu membawa-ku keluar dari duniaku
Kamu yang selalu membuatku menjadi istimewa tanpa tau bahwa aku adalah kurang yang Kamu punya
Aku
Istilah usang yang kau anggap istilah usang dalam hidup-mu
Nama yang selalu membuat-mu bagai terpuruk dalam satu zona
Nama yang selalu membawa-mu pada rasa trauma untuk kembali mengenal sosok lain
Mungkin terlalu buruk untuk kembali bercerita
Hayalan-ku dan hayalan-mu mungkin terlalu jauh berbeda
Hayalan-ku yang mungkin membuat-mu merasa bahwa aku terlalu buruk untuk hadir Kembali
Waktu yang selalu memaksaku untuk menghilang dari dunia-mu
Semua seakan menarik paksa agar aku terbangun dari mmpi indah-ku
Dari aku untuk kamu yang jauh dari genggaman-ku
Ini untuk kamu yang telah pergi dan tak akan pernah bisa kembali
Dari aku yang selalu membawa-mu pada dunia-ku yang terlalu suram bagi-mu
———————————————————–
* Clara Juliatry Corneliani Mbulu, Siswi XII MIPA 4 SMA Katolik Giovanni Kupang
* Kelima Puisi Clara Juliantry Corneliani Mbulu di atas adalah Pemenang Juara 3 Kepenulisan Puisi Tingkat Sekolah Jenjang SMA, dalam Program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional, yang Diselenggarakan oleh GMB- Indonesia.

Oleh Veronica Um Kusrini, Guru Perkumpulan Strada
MENJADI bagian dari perjalanan bangsa adalah sebuah kebanggaan sekaligus tantangan. Agaknya itulah yang terjadi dalam diri dan jiwa para civitas akademika di Perkumpulan Strada, komunitas pendidikan yang unggul, peduli, dan berjiwa melayani. Perkumpulan Strada telah menjadi bagian dari pengembangan generasi muda Indonesia dengan eksistensinya melayani dalam dunia pendidikan tepatnya sejak tanggal 24 Mei 1924. Sejak waktu itu hingga saat ini, Perkumpulan Strada telah menjawab tantangannya sebagai bagian dari bangsa ini dengan mencerdaskan generasi muda.
Perkumpulan Strada dan generasi muda Indonesia memang tidak dapat dilepaskan. Hampir 24.000 orang muda Indonesia di bawah naungan Perkumpulan Strada. Vibrasi semangat Sumpah Pemuda sangatlah terasa. Tidak terkecuali pada kesempatan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada masa pandemi ini. Hal ini bisa dirasakan dalam seminar yang diadakan oleh Perkumpulan Strada pada Jumat, 29 Oktober 2021. Seminar ini mengambil tema “Memperkuat Wawasan Kebangsaan Bercermin Semangat Sumpah Pemuda.”
Hadir secara virtual dalam seminar tersebut adalah Romo Odemus Bei Witono, SJ selaku Direktur Perkumpulan Strada, Ibu Anita Wahid Senior Advisor of Gusdurian Network dan Presidium MAFINDO, Bapak Yudi Latif, MA., PhD. pakar Aliansi Kebangsaan, dan praktisi pendidikan Bapak Yohanes Vajar Juniyanto, S.Pd. MM wakil kepala SMA Stada Bhakti Wiyata Kranji. Seminar juga dihadiri oleh guru, karyawan, siswa, dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah.
Memilih menyerah atau berusaha. Itulah salah satu pesan dari Romo Odemus Bei Witono SJ. Dalam paparannya beliau menambahkan “Apalagi kita memilih berusaha maka kita akan memiliki masa depan dan kehidupan yang baru. Maka mari kita hancurkan cangkang kehidupan yang membatasi dan membelenggu kita. Mari bertumbuh dan jadilah manusia yang merdeka, apalagi saat ini merdeka belajar untuk para siswa,” ujarnya dengan penuh semangat. Pendidikan juga mempengaruhi sistem nilai dan karakter bangsa. Kita diharapkan mempunyai karakter untuk mempunyai mimpi yang besar agar Indonesia bisa bertumbuh menjadi bangsa yang kuat dan utuh. Itulah pesan kebangsaan dari Romo Bei, Direktur Perkumpulan Strada untuk bangsa Indonesia.
****************************

*Veronica Um Kusrini, Guru Perkumpulan Strada, Penulis Buku Jejak Jiwa-Antologi Cerpen Anak-anak Katolik, Kanisius 2021.
Oleh Mike Keraf
Dua butir pasir rebah dalam sunyi
Masih kumenanti ayahku kembali
Di tepian Kènafatang
Nyanyian para nelayan meninggi sekuat debur gelombang
Memukau hymne leluhur di kitaran arus Bui Pukâ
Kutahu pukat ayahku masih menggantung di sana
Temani biduk kecil kesayangannya
Dua butir pasir menjadi sunyi
Ketika ibundaku berdandan putih
Memeluk waktu jadi abadi
Di tepian jalan nan jauh mengkristal jadi purna
Di sudut lengang Lamalèra
Kurindu tenunan ibuku menggantung di sana
Seg’ra temani aku di kala senyap menyergap
Dua butir pasir bukan lagi sunyi
Ketika DIA jadi segala-galanya
di dalam segala sesuatu
(Mike Keraf,
Sajak Anak Nelayan,
Memoriale Pium
Ayahanda Benediktus Laba Keraf dan
Mama Anastasia Hunu Dasion.
Penghujung Oktober 2004).
Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalua-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindumu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan dari si Tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”
———————————————
Tuan
Tuan, Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.
————————-
Sumber: buku puisi Perhu Kertas, Gramedia 1983

Oleh Goenawan Mohamad
“Saya harus hanya mempercayai seorang Tuhan yang mengerti bagaimana menari.” – Also Sprach Zarathustra
NIETZSCHE hadir tak hanya dengan niat mengejutkan, ketika ia mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati”. Ia lebih radikal ketimbang seorang atheis biasa. Beberapa pernyataannya yang termashur bahkan menyebabkan ia bisa ditafsirkan sebagai seorang filosof yang bukan saja menampik filosofi (yang pernah ia cemooh sebagai kegiatan yang mirip vampir; menghisap darah dari kehidupan) dan menentang meta-fisika, tetapi juga seorang pemikir yang menampik adanya kebenaran. Baginya kebenaran adalah ilusi. “Kebenaran”, begitu ia pernah katakan, “adalah sejenis kesalahan yang bila tanpa itu sejenis mahkluk tak dapat hidup”. Bahkan kehendak untuk mendapatkan kebenaran pernah dianggapnya sebagai ekspresi dari ideal yang tidak disukainya, yakni ideal zahid, atau “asketik”, yang menampik kehidupan.
Memperkenalkan Nietzsche ke kalangan yang lebih luas di Indonesia, seperti yang dengan bagus dilakukan oleh penulis dan penerbit buku ini, berarti menyediakan satu kesempatan – kepada mereka yang tertarik akan soal ide-ide – untuk ikut serta dalam suatu penjelajahan yang mengguncang-guncang, menjebol batas, menemui malam, memasuki sebuah gelora yang merangsang karena kita senantiasa dikejutkan oleh tendensinya, yakni bahaya. Nietszche sendiri mengatakan apa yang akan kita alami dalam arung itu dalam satu aforismenya yang terkenal, sebagaimana dikutip oleh St. Sunardi dalam buku ini:
“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu: memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutera, emas dan mimpi yang indah. Namun akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tidak terbatas. Oh, burung yang malang yang merasa bebas dan kini menabrak dinding-dinding sarangnya! Ya, bila kau merasa rindu akan daratanmu… yang seolah-olah menawarkan kebebasan lebih banyak – dan tak ada ‘daratan lagi’”.
Ini pasti bukan suara seorang yang putus asa setelah mengatakan bahwa “kebenaran adalah ilusi”. Yang terbersit dari kata-kata itu justru sebuah isbat kepada hidup, dengan segala rindu yang tak sampai, rumah yang tak pernah tegak, petaka yang tak putus, di dalam kancah kelezatan tubuh dan angan-angan. Amor fati: kita menerima nasib dengan semacam rasa cinta. Tanpa miris, bahkan dengan gairah. Di dalam masa ketika aman dan tertib merupakan nilai yang diunggulkan – tidak hanya dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam pemikiran dan keyakinan – di masa ketika banyak orang ingin berlindung di bawah otoritas negara (“monster yang paling dingin”, kata Nietzsche), atau di bawah iman atau ilmu, pemikiran Nietzsche memang bisa dianggap semacam ekstasi: yang didapat dari sana adalah pembelotan, kegilaan, khaos, keasyikan dan niat untuk kembali terus-menerus, dengan berahi. Bedanya dengan sebuah obat perangsang biasa ialah bahwa dari Nietzsche kita bisa, kalau kita terbuka untuk itu, memperoleh keberanian yang tertuntas. Dengan Nietzsche kita ibarat mendaki Mahameru untuk mencapai puncak dalam panggilan sang hero yang tragik.
Juga sebuah hidup yang kreatif. Juga pandangan yang riang dan ringan hati. Ketika Zarathustra, dalam Also Sprach Zarathustra mengatakan bahwa ia “harus hanya mempercayai seorang Tuhan yang mengerti bagaimana menari”, ia agaknya meringkaskan suatu leitmotif dalam pandangan hidup Nietzsche: bahwa seandainya pun ada satu sumber yang esa, kalaupun ada satu fondasi dari segala hal ihwal, maka sumber atau fondasi itu sesuatu yang bergerak senantiasa, mencipta senantiasa, berubah senantiasa, seperti penari di dalam satu koreografi yang membersit dari dalam diri sendiri, tanpa mengikuti pakem dan bentuk, tanpa telos atau tujuan yang dipatok. Suasananya bukanlah semangat memberat, sebab semangat macam itulah yang justru musuh. “Akulah musuh Semangat Memberat,” ujar Zarathustra, yang merasa diri ibarat burung, selalu siap dan tak sabar untuk terbang. Menjadi burung yang terbang bukanlah menjadi burung onta yang berlari lebih cepat ketimbang kuda tetapi sementara itu suka membenamkan kepalanya sarat ke dalam tanah – dan menyebut bahwa bumi dan hidup itu berat.
Bagi Nietzsche: tarian dalam nasib yang dahsyat ini adalah tarian yang ringan, terbang, bermain, bahkan ketawa….
Mereka yang tak terbiasa dengan semua ini mungkin akan bertanya (dengan sedikit “semangat memberat”): jika demikian, dimana tanggung jawab, disiplin, hidup yang tahu apa yang dituju? Bagaimana kau akan menghadapi orang-orang yang malang, dan bagaimana kau menghadapi Maut, yaitu akhir, yang bisa membuat eksistensi sebagai suatu alur, atau suatu tema? Dan mengapa harus ringan, terbang, bermain, bahkan tertawa?
Seorang penulis pernah mengatakan bahwa Nietzsche adalah “tokoh sentral dalam pemikiran postmodern di Barat”, suatu pemikiran yang sering kali diasosisikan dengan sensibilitas terhadap apa yang disebut Derrida sebagai konsep “permainan”. Yang kita arungi, dengan keberanian dan kegembiraan, bukanlah suatu proyek penaklukan dunia. Yang menonjol dari Nietzsche pertama-tama adalah sebagai sebuah suara kritis terhadap agenda modernitas yang dimulai dengan Descartes, yang praktis menempatkan ego dalam posisi Tuhan—sebagai awal, malah sumber, dari perpikir dan dari “meng-ada”—dan dengan demikian membuat pemikiran diskursif menjadi pembangunan dunia. Bagi Nietzsche, ego yang seperti itu hanya fiktif. Baginya, tidak ada seonggok subjek. Yang ada hanyalah pluralitas. “Kita adalah pluralitas yang membayangkan diri sebagai satu kesatuan,” kata Nietzsche. Yang ada (seperti yang kemudian bergema dalam pemikiran Julia Kristeva) adalah subjek-dalam-proses. Semua mengalir, semua menjadi. Makhluk, seperti kata orang Jawa, segala hal yang kita temui karena ada, adalahdumadi, suatu yang “dijadikan dan menjadi”.
Hanya saja banyak orang melihat air yang dibendung tidak percaya, bahwa air itu mengalir, begitulah sebagaimana yang di ibaratkan dalam Zaratustra. Mereka hanya melihat tambak, bendungan, tebing—mungkin karena itu lebih memudahkan mereka untuk berurusan praktis dengan dunia. Orang yang bertumpu pada identitas benda-benda, kepada konsep dan kepada kategori, yang konstan, utuh, beku, tak bergerak dalam perbedaan, sebab dengan itu orang bisa mengaturnya, mengontrolnya, dan menjalankan pengetahuan dengan dunia serta kekuasaan atas hidup dan hal-ihwal. Negara, modal, uang, ilmu dan teknologi bermula dari sini. Dan Nietzsche—setidaknya dalam interpretasi posstrukturalis—adalah sebuah suara alternatif dari kesibukan modernitas itu.
Tentu, tidak persis demikian. Heidegger, misalnya, mengatakan bahwa pada dasarnya tidak banyak beda antara Nietzsche dan Descartes. Dengan memastikan cogito ergo sum, Descartes telah merubah manusia menjadi sang subjek, yakni substansi atau penopang yang berperan sebagai fondasi segala yang ada (beings). Dengan demikian, keputusan tentang apa saja yang dapat dianggap sebagai “sesuatu yang ada” terletak pada manusia, dan manusia pun hadir dalam posisi dominan. Bagi Heidegger, Nietzsche pun melakukan hal yang sama. Bedanya, dalam pemikiran Nietzsche, sang subjek bukanlah ego yang spiritual, melainkan tubuh, yang ditafsirkan satu pusat hasrat dan rasa, sebagai “penubuhan” dari“der Wille zur Macht”, kehendak-untuk-kuasa. Subjek itulah yang oleh Nietzsche, menurut Heidegger, jadi ukuran keber-ada-an? Dari tiap hal yang ada: terhadap suatu benda, satu barang, satu hal yang bukan-saya yang “ber-ada” di hadapan saya, sayalah yang menetukan keber-ada-annya. Memang itu tak pernah terjadi dengan proses pemikiran diskursif seperti pada renungan Descartes. Tapi bila Nietzsche menganggap kebenaran sebagai ilusi—dan itu berarti ada yang “benar” dan ada yang “ilusi”—maka sang subjeklah yang dihadirkan sebagai suatu “kekuasaan mutlak untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang palsu.”
Agaknya bagi pandangan Heidegger, Nietzsche masih belum beringsut dari baying-bayang humanisme. Ia belum manusia dari pusat hal-ihwal. Agaknya bagi Heidegger, yang cenderung menggambarkan manusia, atau Dasein, sebagai yang selamanya “terpikat” oleh wujud dan makhluk lain, dan mahkluk lain, dan yang kodratnya dibentuk seluruhnya oleh hubungan yang bersifat“gumati” dengan mereka, Nietzsche masih meneruskan pemikiran adanya subjek yang bukan saja berbeda, tapi juga lebih utama dari objek. Daripadanya kita memperoleh ideal sang kelana yang gagah berani, yang menuju ke kualitas Ubermens, menghadang resiko, memilih arung yang tak lazim, menjadi “tuan” dan bukan “budak”, mirip dengan sang jagoan dalam kisah perjalanan Odysseus. Tapi bukankah itu juga gambaran seorang entrepreneur, orang bisnis yang hendak merengkuh sesuatu yang besar, membentuk satu imperium, menaklukkan, dengan menempuh badai dan melawan arus? Dan bukankah Odysseus bisa dianggap (oleh Adorno, misalnya) sebagai “prototype individu borjuis”?
Heidegger, yang berbicara nuram tentang teknologi, dalam perkembangan pemikiran kemudian bahkan mengemukakan bahwa di dunia ini manusia sekadar berperan sebagai “penggembala” yang memelihara misteri dari sang Ada (Sein atau Being)—satu pernyataan yang seakan-akan memberi warna mistis bagi pandangan hidupnya, satu hal yang memang umumnya dianggap tak ada indikasinya dalam pandangan Nietzsche. Dalam hubungan inilah agaknya bagi Heidegger, Nietzsche—yang menentang metafisika, yang menyatakan tak ada dunia yang trasenden—telah melakukan apa yang oleh metafisika umumnya: mengabaikan Ada. Metafisika, bagi Heidegger, adalah sejarah surutnya Ada. Dan itu pula yang terjadi ketika Nietsche mengemukakan “kehendak-untuk-kuasa” sebagai “esensi dunia”, “esensi hidup”, bahkan “esensi segala hal yang ada”. Heidegger menganggap Nietzsche telah meletakkan Ada pada status nilai: sekadar suatu kondisi untuk mempertahankan dan meningkatkan kehendak-untuk-kuasa. Maka, apa bedanya dia dengan Descartes dan agenda modernitas dan himanisme yang bertolak dari sana?
Tetapi Heidegger telah salah membaca Nietzsche, menurut Derrida dan kaum posstrukturalis. Bagi Derrida, pemikiran Heidegger mengukuhkan kembali kedudukan logos dan kebenaran sebagaipremium signatum: sebagai tanda yang dalam arti tertentu bersifat trasendental. Bagi Derrida dan kaum posstrukturalis, Heidegger benar jika ia, dalam membaca Nietzsche, bisa membiarkan bahasa Nietzsche tidak bekerja sebagai metafora. Bagi Derrida, hanya dengan menelaah bahasa Nietzsche secara demikian, Nietzsche justru akan tampak telah mampu membebaskan penanda dari sifat ketergantungannya dan derivasinya, sehingga penanda pun tidak akan ditentukan oleh dan tidak akan pula berasal usul dari logosatau konsep tentang kebenaran yang terkait.
Derrida pun mengajukan argumennya tentang “main”. “Main” adalah “tidak hadirnya petanda yang trasendental sebagai ketidakterbatasan main.”
Karena Nietzsche percaya bahwa kebenaran adalah ilusi, karena ia tidak mengasumsikan bahwa akan mungkin penanda yang cocok dengan petanda yang ditandainya, karena realitas adalah dumadi, yang terus dalam prosen menjadi, berubah, mengalir, dan tiap titik dalam air tidak pernah kembali, bahkan yang ada dalam suatu khaos, Derrida tampaknya ingin menampilkan Nietzsche sebagai isbat, suatu afirmasi, kepada gerak penanda yang putus-putusnya menandai, suatu signifiant yang menari-nari terus tanpa tempat menambatkan diri, tanpa suatu signifie, tanpa rumah asal tanpa tujuan akhir, tanpa nostalgia: yang ada sebuah tanah air pikiran yang telah hilang. Sang Ubermens, kata Derrida, membakar teks nya dan menghapus jejak langkahna sendiri, tertawa ke arah jalan kembali, dan ia akan menari, di luar kebenaran dan “rumah Ada”, lupa secara aktif …
Mari menari, mari tertawa, mari berlupa…
Derrida, seperti ditunjukkan oleh Michael Haar dalam satu esai yang cemerlang yang menggambarkan bagaimana Derrida “memainkan” Nietzsche, sebenarnya menjalani suatu startegi HyperNietzshean. Dengan mengatakan “menulis adalah permainan dalam bahasa”, di mana penanda bergerak dengan tidak lagi memiliki petanda, suatu proses main intra-linguistik yang tanpa henti, suatu proses permainan dari segala yang ada yang berlangsung di atas “papan catur tanpa dasar” yang tanpa penahan dan tanpa kedalaman—semuanya itu agaknya melebih-lebihkan apa yang disebut Nietzsche sebagai dorongan untuk bermain sebagai suatu bagian dari kehendak-untuk-kuasa.
Sebab, seperti yang dikatakan Michael Haar, bagi Nietzsche, dunia bukanlah sebuah “papan catur tanpa dasar”. Pelbagai daya yang hadir dalam khaos berlangsung dengan menopang dan mempertahankan manusia. Bagi Nietzsche, bahasa bukanlah cakrawala tanpa batas yang terus menerus tertunda garis batasnya. Menulis adalah suatu imitasi dari bicara. Memang, menulis bisa menyembuhkan bahasa dari cakap yang tanpa intensitas yang biasa disenangi orang banyak. Tapi pada dasarnya menulis hanya sebuah salinan pucat, dan sebab itu Nietzsche mengatakan: “Aku hanya suka apa yang ditulis dengan darah.”
Tidak selamanya bisa pas menang. Terutama karena “kata dibuat untuk gaya berat”, seperti yang dikatakan Zaratustra, dan hanya nyanyi, music, yang tidak berbohong pada dia yang “ringan”. Kata akan selalu dibebani makna, lagu bisa tak mengacuhkan hal itu.
Derrida memang bisa mengatakan bahwa justru dengan mengatakan hal itu, Nietzsche mengutamakan yang tanpa-beban-makna, yang tanpa harus terkait dengan petanda, yang mengingatkan, bahwa kebenaran adalah ilusi. Tapi bisakah sebenarnya kita mengatakan bahwa kebenaran adalah ilusi? Bukankah dengan mengutarakan kalimat itu, Nietzsche sebenarnya mengutarakan kebenaran?
Dalam bukunya, St. Sunardi cenderung mengatakan “ya”. Bagi Nietzsche, kata Sunardi, kriterium kebenaran berbeda dari yang dirumuskan Descartes. Kriterium kebenaran adalah “semakin tingginya kesadaran orang akan adanya kekuatan.” Ada yang memberi kesan dekatnya Nietzsche dengan pragmatisme disini. Pun ada yang, seperti yang dikemukan oleh Sunardi, bahkan bisa dibandingkan dengan Karl R Popper: bahwa suatu ucapan atau hipotesis bersifat ilmiah, kalau secara prinsipil terdapat kemungkinan untuk menyangkalnya. Bukankah, menurut Nietzsche, kebenaran bukanlah antithesis kekeliruan, melainkan, dalam hal-hal yang paling fundamental, hanya merupakan bentuk hubungan antara berbagai macam kekeliruan? Dengan kata lain, menurut kesimpulan Sunardi, baik Popper maupun Nietzsche memperingatkan “bahaya dogmatisme kebenaran”?
Dogmatisme: kemandegan. Maka barangkali tidak ada jeleknya kita teringat kembali bahwa Zaratustra adalah seorang penari, yang hanya mau percaya kepada Tuhan yang mengerti bagaimana menari. Kepada hidup, Zaratustra berkata: “Aku menari mengikutimu, kuturutkan kau bahkan ketika kulihat jejakmu yang paling lamat. ”Kebenaran adalah Sesuatu yang didapat dari proses kreatif, tanpa dibebani pamrih, atau tanpa tujuan samping apapun; suatu proses kreatif yang menguntit hidup: itu juga sejenis “arah”, dan bisa jadi semacam “kepatuhan”, dan jangan-jangan “tanggung jawab” – setidaknya kepada sang Hidup. Saya kira, disini tampak bahwa Nietzsche memang hadir tidak untuk mengejutkan, tidak usah mengejutkan.
*************
*Sumber: Catatan Pendamping buku ‘Nietzsche’ karya St. Sunardi.
*Catatan:
* Berbeda dengan St. Sunardi, saya menerjemahkan kata der Wille zur Macht dengan “kehendak-untuk-kuasa” (atau lebih tepat mungkin: “kehendak-menuju-kuasa”. Kata Macht (Jerman) atau power (Inggris) tidak sekadar berarti “kekuasaan”, yang berarti “dominasi”. Juga kata “kuasa”: kata ini mengandung baik arti “kekuasaan” maupun arti “daya”.
** “The Play of Nierzsche in Derrida”, dalam Derrida: A Critical Reader, dengan editor David Wood, diterbitkan oleh Blackwell Publishers, 1992.
Oleh A. Sudiarja, S.J.
MENJELANG usianya yang ke-19, Benedetta Bianchi Porro, atas nama adik-adiknya dan seluruh keluarganya mengirimkan sepucuk surat untuk ulang tahun yang ke-56 dari ayahnya yang bekerja di kota lain. Bersama surat itu, Benedetta menyertakan foto dirinya, yang tampak cantik dan muda. Pada bagian bawah foto ia menulis “buat ayah” dan tanda tanagannya yang tegas.
Siapa yang mengira bahwa di balik wajah yang cantik dan ceria itu Benedetta menyimpan penderiataan yang hampir-hampir tak tertanggungkan? Surat ulang tahun ini mengungkapkan jeritan seorang remaja yang ingin bebas seperti teman lain, akan tetapi tidak dirasakannya. Apakah yang menekan hidupnya? Bukan ayahnya atau ibunya tetapi nasibnya.
Benedetta sejak dilahirkan menderita penyakit polio yang memaksanya menggunakan sepatu penyanngga yang berat. Tahun demi tahun, penyakitnya bukannya berkurang, melainkan memburuk. Baru kemudian diketahui bahwa hal itu disebabkan oleh peradangan syaraf. Foto itu rupanya memperlihatkan mekarnya bunga yang terakhir kali, sebab sesudah itu ia semakin layu. Pada usia 24 tahun, praktis ia harus meninggalkan segala-galanya, kuliahnya, masa depannya. Pelan-pelan ia kehilangan kepekaan indrianya, mula-mula kehilangan pendengarannya, kemudian penglihatannya, bahkan pencecap dan penciumannya. Seluruh tubuhnya menjadi lumpuh dan ia harus berbaring tanpa bisa merasakan apa-apa. Keadaan ini mengakibatkan krisis jiwa yang luar biasa.
Menjelang kematiannya pada usia 27 tahun, ia hanya mampu berkomunikasi lewat rabaan tangan ibunya dan lewat suaranya yang nyaris tak terdengar. Namun dari seluruh hidupnya yang penuh dengan penderitaan dan di tengah pergulatan jiwanya untuk menerima kenyataan yang pahit itu, ia ternyata memiliki kekaguman yang senantiasa dipendamnya, akan karunia kehidupan. Kekaguman itu dapat kita baca dari catatan hariannya yang ditulisnya dengan setia sejak ia berusia 8 tahun. Ia mempunyai harapan besar seperti ditulisnya dalam buku hariannya: “il dolore e il nostro pane, ma anche la nostra grande Speranza, il nostro riscatto” (penderitaan adalah makanan kita, tetapi juga pengharapan kita yang besar, yang kita berikan sebagai tebusan!)”.
Banyak orang yang mempunyai pengalaman dalam penderitaan, namun hanya sedikit saja yang mampu memaknai penderitannya. Viktor Frankl, seorang psikolog yang pernah mengalami penderitaan dalam kamp konsentrasi, menganggap bahwa kemampuan bertahan dalam penderitaan merupakan salah satu nilai yang tak kalah indahnya, di samping nilai kreativitas (ekspresi, produksi) dan nilai afektivitas (cinta, relasional). Akan tetapi rupanya tidak semua orang dipanggil untuk memperoleh nilai semacam ini. Hanya orang-orang yang pernah menderita, yang mampu memberi makna pada penderitaannya. Namun kita semua diajak untuk bisa memahami dan menghargai nilai-nilai penderitaan yang dialami oleh mereka.
************
*Sumber dari Buku Memahami Tuhan dalam Segala, A. Sudiarja, S.J., Penerbit Kanisius 2014.



Oleh Paulo Coelho
Pada acara World Economic Forum di Davos, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Shimon Peres, menceritakan kisah berikut
Seorang Rabi mengumpulkan murid-muridnya dan bertanya kepada mereka:
“Bagaimana kita tahu, kapan persisnya malam hari berakhir, dan terang di mulai?”
“Kalau sudah cukup terang untuk membedakan domba dari anjing, “sahut salah seorang murid.
Murid lainnya berkata, “Tidak, kalua sudah cukup terang untuk membedakan pohon zaitun dari pohon kurma.”
“Tidak, itu juga bukan definisi yang bagus.”
“Nah, kala begitu, apa jawaban yang benar?” tanya nurid-murid tersebut.
Dan Rabi itu berkata: “Kalau seorang asing menghampirimu dan engkau menganggap dia saudaramu, dan semua perselisihan lenyap , saat itulah malam berakhir dan terang hari dimulai.”
*************************
Sumber: Buku Seperti Sungai yang Mengalir, Paulo Coelho, Gramedia 2006.
