Author: Redaksi

  • Sajak-sajak Teresa Patricia Putri: ~ Berputih Tulang ~ Secangkir Lara ~ Saujana ~ Kabar Jauh

     

    BERPUTIH TULANG

    Senja telah berpulang
    Lilin lebah silih-berganti
    Ombak meraung rindu
    Pasir berbisik mengikar janji

    Baskara menampakkan wajahnya
    Malu tak mau menyapa bumi
    Semilir angin melirihkan duka
    Kering bertabur di musim gugur, tumbuh kematian

    Hari ini, waktu itu
    Rindu meruak, janji teringkar, terisisa mati rasa
    Tuan tertimbun abu
    Tunas nestapa jadi milik Nona

    Jakarta, 20 September 2021

    ——————————————————————

    SECANGKIR LARA

    Bumantara bersemburat jingga
    Awan putih menari sukacita
    Hati pun ikut berdansa selaras kicauan burung
    Membangun asmaraloka bagi dua insan

    Angin menjadi saksi bisu keduanya
    Menautkan anjangsana kehendak batara cinta
    Mengikat janji sehidup semati
    Awal niskala pula bagi mereka

    Ia mengikar janji
    Puan ditinggalkan sendiri
    Hatinya menjadi gulita
    Asa miliknya pun masih berada pada senja kala itu

    Jakarta, 11 Oktober 2021

    ——————————————————————–

    SAUJANA

    Semburat merah tengah turun dari barat
    Adiwarna bagi penikmatnya
    Nirmala yang tercipta
    Dari Sang Pencipta
    Yang dititipkan di bumantara
    Asmaraloka tumbuh karena eloknya
    Kidung pun bersautan merdu
    Ajak hati untuk terpaku
    Lihat keindahan itu
    Ah, memang senja tidak pernah salah

    Jakarta, 18 Oktober 2021

    ———————————————————————-

    KABAR JAUH

    Nona mengetuk meja kala menulis surat
    Bayangan tuan sembunyi dibalik tirai
    Bercerita pembantaian waktu itu
    Berisik, nona hanya sendiri

    Diam; itu jawaban nona,

    Kabar jauh menusuk hati nona
    Tertusuk tak bersisa
    Selesai juga suratnya.

    Dukanya yang masih tersisa.

    Jakarta, 1 November 2021

    ————————————————————————————————

      Tentang  Penulis


    Teriakan batin yang tersuarakan dan diikat menjadi seikat puisi. Teresa Patricia Putri, perempuan yang lahir di Jakarta tahun 2002. Saat ini sedang belajar di Universitas Sanata Dharma prodi Sastra Indonesia. Ia suka musik, menulis, membaca, dan tidur. Memiliki harapan agar setiap tulisannya dapat terdengar

  • ~ Sebatas Angan ~ Hilang ~ Senja ~, Sajak-sajak Stefanni Dewi Anggraini

     

    Sebatas Angan

    Malam gelap menyelimut mega
    menjadikan lintang tak berdaya
    Bersinar terang kalahkan rembulan
    Jadikan iri hati niscaya pada harapan
    Tuk dapat perhatian akan dunia
    Kisah romansa pandangan pertama

    Ribuan angin ingin mengadu
    pada rindu yang sudah beradu
    Melintas selalu dalam benakku
    serta pikiran hingga hati nuraniku

    Akankah musim dingin bertahan
    membekukan segala perbuatan
    Untuk pernyataan bermadu kasih
    Bersama dirimu duhai kekasih

    Hanya sebuah hayalan angan
    Merasakan hangatnya dekapan
    Seseorang yang selalu ku rindukan
    dan di hati akan selalu terlukiskan
    Sebab perhatian sekecil debu pasir
    Akan sebanding dengan batu safir

    Sang pencipta bukankah tak adil
    Melihat dirinya yang membuat usil
    dan berlabuh dengan sesuka hati
    Tuk memberikan harapan hidup semati
    Tetapi sampai akhirnya nanti
    Dirinya akan tetap kekeh untuk pergi

    Yogyakarta, 8 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Hilang

    Suara ombak menerjang karang
    Angin menusuk sampai ketulang
    Nafsu cinta membara
    Gerayang tangan membabi buta

    Pikiran jernih terpendam
    Ungkapan cinta menyesatkan
    Janji-janji bertebaran
    Aku hanyut
    Asa pun ikut larut
    Neraka menanti depan mata

    Hina yang tersisa
    Apa guna itu semua…
    Tinggal derita dan nestapa
    Izin menghancurkan segala cerita

    Yogyakarta, 22 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    S e n j a

    Senja ialah waktu bagi sang surya terlelap
    Dimana warna jingga kian berubah gelap
    Tak mengurangi pesona indah cakrawala
    Yang membuat jatuh hati di waktu senja

    Senja ialah moment manis paling di tunggu
    Romantisme sepasang kekasih di madu
    Hasrat dalam diri kian menggebu-gebu
    Ungkapan hati pun juga tak bisa tertipu

    Yogyakarta, 13 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

         TENTANG  PENULIS

    Stefanni Dewi Anggraini atau lebih akrab dipanggil Fanni, lahir di Yogyakarta, 12 September 2000. Menyelesaikan pendidikan di SD Kanisius Kalasan pada tahun 2014, lalu di SMP Joannes Bosco Yogyakarta pada tahun 2017, dan di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta pada tahun 2020 dengan mengambil jurusan IPS. Setelah lulus SMA, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta di Univeritas Sanata Dharma Yogyakarta dengan mengambil program studi Sastra Indonesia.

  • – Serupa Raga – Setapak Jalan – Tentang Ayah -, Sajak-sajak Marcelina Sri Rezeky

     

    Serupa  Raga

    Mendasar pada raga yang rapuh
    cahaya menilik menatap pedih,
    sang penyair pun menyanjung perih
    merangkul luka yang tergeletak terpisah
    tak sakit pun tak sedih.

    Pada malam hari, sang khalik
    menarik busur takdir yang larik,
    melirik pada empunya syair
    agar menjadi suci bak musafir
    dan menjadi pengembara sampai akhir.

    Lalu datang si kupu malam
    menyibak sutera , menjamu si teman malam
    agar tak perlu lagi menjadi sendok emas
    pada kisah nya yang tak terbalas,
    melekang dan tak diingat sang makam
    yang setia menunggu , si penjamu kelam.

    Tentang menggerutu pada napas,
    penyair pun menyulam sutera
    untuk layak ditunangkan dengan luka
    dan pada akhir nya takdir berbicara jua,
    bertemu di ujung penantian hidup sang pemula
    sebagaimana ditulis pada pasir dupa
    tak mendalam, tak tertanam, abadi pun memikat, segan.
    Bersama lonceng gereja kehidupan
    berkumandang syair pelipur lara.

    Yogyakarta, 9 Oktober 2021.

    ————————————————————–

    Setapak  Jalan

    Setapak jalan menuju senja
    telusur bak nadi pada raga,
    meluap rasa untuk tuan tanah
    yang terpatri penuh dengan bunga.
    Kicauan burung gagak
    menjadi pengiring suara napas Ibu Pertiwi,
    menutup mata yang berpeluh darah
    untuk sekedar membuka mata
    dari cahaya dahulu kala.

    Rahim bumi bergejolak riuh
    pada senja yang berujung hilang,
    yang menjadi berita alam semesta
    untuk tuan dan nyonya berjaga-jaga.
    Terlepas dari gurau keras,
    angin datang membawa kabar
    ke penjuru tanah berantah
    hingga yang lenyap pun bergema
    untuk bersua dengan kehidupan.

    Hijau nan indah pemandangan,
    sejauh mata tak ada cela pun yang nampak
    dari pelukan hangat sang kuasa.
    Pesan berbintang terukir indah di langit
    untuk menyambut malam penuh sunyi
    agar tertidur lelap semua alam semesta
    sehingga yang tabu pun tumbang
    tumbuh hijau bersama hujan.

    Yogyakarta, 30 Oktober 2021.

    ——————————————————————————-

    Tentang   Ayah

    Aku tak pandai bercakap dan bertanya tentang keadaan mu,
    apakah kamu baik-baik saja, Ayah?
    Waktu berjalan terlalu cepat, aku tak bisa
    menyamakan langkah ku bersama nya.
    Ayah bertambah tua, tak bisakah kau hentikan waktu, agar aku bisa
    menua bersama mu.

    Ayah tak banyak bicara, namun tatapannya menyirat begitu banyak kisah,
    kisah yang tak ingin diceritakan pada putrinya,
    tentang rasa sakit yang dipoles dengan senyuman ramahnya.
    Ayah pandai menyimpan cerita, seolah seperti awan putih yang bersih dan indah,
    namun menopang kesedihan yang telah mendarah daging.

    Suara ayah terdengar gembira di seberang sana,
    seperti kopi manis kesukaan nya,
    hitam pekat nan manis ketika di seduh.
    Ayah pun selalu punya banyak cerita,
    tentang keluarga, tentang kampung, dan tentang rindu
    pada anak perempuan nya yang tersirat dalam setiap kata yang diucapkan.

    Anak perempuannya hanya mendengar dalam diam,
    meresapi setiap kata dan mengunci setiap alunan suara
    dalam kotak memori yang akan selalu di putar setiap malam sebelum tidur.
    Ayah tak pandai bicara, hanya bergurau melepas penat,
    mengisyaratkan kerinduan pada sang anak,
    yang jauh dari pelukkanya.

    Ayah pun selalu berdoa dalam diam,
    untuk putri nya yang di tanah rantau,
    semoga Tuhan selalu menjaga nya.
    Doa ayah pun tak panjang,
    karena dia percaya bahwa hatinya
    telah banyak berbicara kepda Tuhan dalam diam.
    Dalam diam dan sunyinya malam,
    diselipkannnya kerinduan pada langit,
    berharap agar bintang dan bulan
    menghibur putri nya,
    berharap putrinya cepat pulang ke rumah.

    Yogyakarta, 9 September 202

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

     

    BIODATA  PENULIS

    Nama : Marchelina Sri Rezeky
    Email : marchelinasrirezeky@gmail.com
    Status: Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Fakultas SASTRA, Prodi Sastra Inggris (
    2018)
    Asal : Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.

  • Jakarta:  Rumah untuk Semua (Bagian I dari Tiga Tulisan)

    Jakarta: Rumah untuk Semua (Bagian I dari Tiga Tulisan)

    Oleh  Anies Rasyid Baswedan

     

    HARI  Kemerdekaan tahun ini tampak berbeda bagi anak-anak di Kampung Akuarium. Senyum mereka kini merekah menyaksikan Kampung Susun Akuarium yang akhirnya berdiri setelah perjuangan panjang.

    Lima tahun lalu, sepulang dari sekolah, harapan akan masa depan cerah seketika sirna. Rumah orang satu kampung diratakan buldoser. Sebuah ironi, warga jadi pengungsi di kampungnya sendiri: Rumah disapu, status kependudukan dicabut. Masa depan terasa gelap.

    Tahun-tahun itu jadi pengalaman berat bagi anak-anak di pesisir utara ibukota tersebut. Namun, tepat di tanggal 17 Agustus 2021, walau kenangan buruk itu tak bisa dihapus, masa depan itu bisa hidup kembali. Kampung Susun Akuarium berhasil tegak berdiri.

    Di kampung itu, semua warga urun rembuk mengenai rancangan yang diinginkan sesuai pola interaksi sosial keseharian dan kegiatan ekonomi mereka. Warga tak dicerabut dari akarnya, melainkan merasa memiliki apa yang menjadi hak mereka.

    Bahkan, pola kepemilikannya pun tak transaksional. Warga bukan ditempatkan sekadar sebagai penyewa, melainkan warga membentuk koperasi pemukiman. Anggotanya hanya warga penghuni.

    Pemerintah mempercayakan koperasi ini untuk mengelola dan merawat kampung susun. Ya, mereka memang masih sederhana keadaan ekonominya, tapi jangan sepelekan kemampuan warga. Mereka bisa bekerja bersama dan mengelola kampung susunnya secara kolektif.

    Kolaborasi kolektif dalam Kampung Susun Akuarium adalah bukti bahwa membangun kampung kota bukan sekadar mendirikan bangunan, melainkan menghadirkan ruang hidup yang memanusiakan warganya.

    Cerita Kampung Susun Akuarium hanyalah satu dari 21 kampung yang ditata dengan pendekatan lebih humanis. Kita menyebutnya dengan Community Action Plan (CAP). Kata kuncinya: Community!

    Memanusiakan Warga

    Pendekatan pembangunan top down yang hanya menjadikan warga sekadar sebagai objek tak lagi relevan. Ini era kolaborasi dan warga adalah subjek yang berperan aktif dalam pembangunan, bukan jadi objek yang ditinggalkan deru kemajuan.

    Community Action Plan adalah ikhtiar bersama mewujudkan pendekatan kolaboratif dan memanusiakan warga dalam pembangunan kampung kota.

    Kampung lain seperti Kampung Tanah Merah yang sebelumnya terisolir kini mendapat akses melalui pembangunan infrastruktur seperti jembatan, transportasi umum, dan penyediaan air bersih.

    Bahkan rumah yang sudah berdiri puluhan tahun tapi tak ber-IMB (Izin Mendirikan Bangunan) karena status legal atas tanah belum tuntas kini diberi solusi yaitu IMB kolektif.  Satu buah IMB untuk semua bangunan dalam satu Rukun Tetangga (RT). Bukan IMB per rumah tapi per komunitas. Sebuah terobosan yang baru pertama kali dilakukan di Republik ini.

    Dengan adanya IMB kolektif itu, mereka kini bisa terima aliran listrik, aliran air dan pelayanan dasar lainnya. Status tanah yang belum tuntas tak perlu membuat warga kehilangan hak dasarnya seperti air dan listrik.

    Solusi semacam itu muncul setelah diskusi panjang dengan warga dan semua pemegang kepentingan. Sebagai pengemban amanah, kita berikhtiar terus mewadahi dan memberi ruang aspirasi untuk bersama mencari solusi. Pendekatan birokratis yang cenderung otoritatif dan menutup alternatif solusi dalam memecahkan beragam masalah warga tak lagi kita gunakan.

    Yang terbaru: Pembangunan Kampung Susun Produktif Tumbuh Cakung untuk warga Bukit Duri. Pendekatan komunitas bersama warga lokal dan arsitek pendamping berupaya menghadirkan kampung susun yang beranjak dari kebutuhan dan aktivitas warga.

    Keliru jika memandang kampung kota seperti Kampung Akuarium, Tanah Merah, Bukit Duri, dan banyak kampung kota lainnya hanya sebagai kumpulan rumah. Kampung-kampung kota adalah cermin paling nyata dari persatuan. Kampungnya satu, isinya seribu satu unsur manusia. Itulah kampung kita.

    Pembangunan kampung kota pun jangan dimaknai semata sebagai pembangunan deretan bangunan mati, tapi dipandang sebagai satu kesatuan bangunan sosial yang hidup. Itulah kampung. Itulah alas budaya kebersamaan bangsa kita. Kampung-kampung kota tersebut berupaya kita ayomi, alih-alih dihakimi. Hilangkan masalahnya bukan meniadakan kampungnya.

    Pendekatannya pun berbeda untuk masing-masing daerah, tak pakai satu solusi untuk semua. Tiap daerah punya karakter dan masalah hidup yang berbeda-beda. Keunikan itu harus diberdayakan, bukan malah disingkirkan dan distandarkan.

    Alih-alih merasa paling tahu dan otoritatif, Pemprov DKI berupaya menghadirkan ruang kolaborasi antar komunitas. Warga, fasilitator, pakar, dan pemerintah bekerja sama (ko-kreasi) menemukan solusi bersama untuk setiap kampung kota.

    Kemajuan yang Berkeadilan

    Masih terngiang ucapan Sandyawan Sumardi, pegiat komunitas di Bukit Duri, saat Pemprov DKI bersama komunitas warga akan membangun Kampung Susun Produktif Tumbuh Cakung. Ia mengatakan, “Punya rumah hunian sendiri adalah awal kisah hidup perjuangan kami.”

    Bagi warga, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah ruang hidup, sebuah harapan akan masa depan yang lebih baik di ibukota.

    Sayangnya, ketika membicarakan kemajuan, ada persepsi yang menormalisasi jika ada warga yang menjadi korban derap kemajuan. Persepsi ini secara implisit mengatakan bahwa penyingkiran dianggap normal asal yang jadi korban adalah orang lain, bukan diri sendiri. Kita ubah paradigma yang tak memanusiakan seperti itu.

    Kemajuan harus memanusiakan. Memberikan kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi semua warganya. Tanpa itu semua, solidaritas dan persatuan warga akan mustahil terwujud.

    Jakarta adalah kota harapan, ruang yang mewadahi ragam mimpi dan harapan dari seluruh penjuru Republik ini. Sebutkan suku dan agama dari seluruh penjuru negeri, semua ada di Jakarta.

    Jakarta sebagai rumah untuk semua, inilah gagasan yang terus kita wujudkan dengan karya dan kebijakan. Rumah yang terasa hangat bagi seluruh warganya. Rumah yang menghadirkan interaksi yang menyatukan dan mengayomi, alih-alih memisahkan dan mengasingkan.

    Rumah yang menyatukan, karena hadirnya kesetaraan dan keadilan sosial bagi seluruh warganya! •••

     

  • – Rindu Klaten – Putus – Esensi Cinta – Dentang Keduabelas -, Sajak-sajak Faustina Hanna

     

    Rindu Klaten

       : Live In SMU Bunda Hati Kudus, 2004

    Setumpuk cahaya kunang-kunang membentuk telapak tangan seorang gadis kecil. Ketiga garis utama di telapak tangannya itu membentangkan jalan; menuju lahan persawahan, menuju api pengkhotbah santo antonius padua yang tiada pernah padam, dan menuju cangkir-cangkir bening tempat bulan berendam di atap rumah penduduk.

    Aku menyusutkan diri, hendak bertualang di sepanjang garis tangan yang bercabang. Kurindu hingga kuresapi bau matahari yang itu, yang hangatnya mengasihi rerumputan, gembala bebek di tepi sawah, pengairan yang diusahakan bapak. Petikan gitar malam hari, anjing-anjing hitam bergantian mendengkur dan terjaga di tepi lapangan bola.

    Kurindu, berkali-kali ingin kembali.

    2017

    ——————————————————————

    Putus

    pada saat seorang perempuan memutuskan untuk menghapus, atau pun memelihara sebuah perapian cinta; saya rasa dasar dari cinta itu sendiri tetaplah tentang suatu keindahan. semacam getar, serupa bola mata biru besar yang tengah membidik, diam-diam. pada detak polos jarum jam yang basah bermain hujan, di atas telapak tangan seorang perempuan berambut lurus panjang. bersiagalah, sebab jantung yang nakal senang menjalarkan permainan berburu anak-anak tangga yang sedemikian kencang, ke sepanjang nadi, juga tentang jarum nasib yang tak pernah lupa menghujani telapak tangan mereka (ketika mereka merasa begitu genting dengan arus cinta).

    lalu dapat kupastikan: kau bakal rela menerima dan menyambut terbuka kedatanganku, yang tidak terlampau dini ini, yang mungkin diriku sendiri telah telanjur amat menyukai pisau pengerat arus, yang kubeli seminggu lalu ini, juga pemberhentian hatimu yang selalu sembarang dan tiba-tiba

    2012

    ———————————————————————

    Esensi Cinta

    kumohon, jangan pernah terlintas sepagi ini akan secangkir gurauan, ketika aku berucap sedemikian lembut pada-Mu; aku telah memangkas sembilan puluh sembilan malam berkantung api −ari api− dengan hutan kirmizi yang berkecamuk di dalamnya, yang rimbun bertarung sebagai calon pengantinku. kala itu pastilah aku tengah telaten mengasuh harum dari gaharu, hingga dupa. sepenuhnya, aku berjanji takkan pernah sembunyi seperti simpul bibir pada akar-akar lupa. tahukah Engkau? (aku selalu mencari-cari Engkau…)

    lalu aku mengunci pintu dari dalam −kulepaskan sepasang mata ini, hati tunggal yang penurut, serta kutegur tegas napas-napas jernih yang masih sibuk menggerai rambut. melalui jendela kamar kuterbangkannya (satu per satu) kepada-Mu Yang MahaKudus di atas sana. ke tempat indah yang begitu mulia, dan rahasia.

    sepagi ini, ya Tuhan… (alam adalah simbol diri yang akrab untuk memulai hari). mentari pun rembulan senantiasa meneruskan kandung musim dari kidung-kidung sahaja yang telah Kau pilih. izinkanlah aku: untuk selalu menjadi satu malam klimis yang bersimpuh dalam hening kasih-Mu, abadi cinta-Mu

    2012

    ———————————————————————

    Dentang  Keduabelas
    : kerinduan kepada penyairku

    /masihkah ingat dengan rambut hitam ini, tempat kau biasa membaringkan sajaksajakmu/

    satu…
    satu…
    dan satu yang kemudian menjagai bulibuli pada dasar sepi

    lalang berpatahan
    surut dalam mimpinya melengkapi langit, serupa setumpuk nasib antre untuk dimasak di benua sendiri
    jika harum tanah terlebih aku damba dibanding kepundan yang rapi berdandan
    akankah merah menjadi penghibur bagi kesekian jariku yang berduri

    jangan dulu memejam hai nisannisan yang letih tertawa
    masih ada darah dan duka mengumandangkan nama kita
    tidakkah kamu lihat
    tatkala aku menuju kamu
    menagih luka itu

    di antara dangkal ruparupanya ada yang terlupa
    adalah detik bersuara melantunkan duka yang kedua
    sayang, dengarlah
    kala kita urung bermuara, kemudian sekiranya kita hadir bagai lencana pada sepanjang dada imaji yang merekah

    lidah puisi karam menuju tilam yang kusebut kusam
    tersebab ada jarak teramat pekat ~menyangsikan sepenuhnya bintik purnama yang merindui genggaman alam
    : masihkah kita berkutat dengan skema hati yang terbengkalai di tahuntahun silam?

    mengapa tiada lelah kita merangkum malam menjadi beranda kata yang sungkan
    sedang gunting diam dibungkam rembulan
    dan inti setiap patahan kepalang diungsikan dengan isak tangis di lembar tertua
    : segala ketajaman masih mencari air mata yang baru
    di mana kembara tak hendak bercerita tentang pulau sendu yang menimangi anakanak randu

    sekadar mengulum suatu kepastian untuk laut jemu yang kau sajikan kemarau lalu
    aku memunguti bebutiran birunya ~sederhana dari lingkar kesabaran yang kau biarkan terbengkalai
    kini kurangkai berbekal hati,
    kujadikan mata pagi yang sungguh berhatihati
    (memandangimu di seberang sana)

    sebelum mentari segera merapat dan cemburu kepada dua tiga baris suara sederhana
    ada baiknya kita menyusun agenda tentang setiap perjalanan rasa, meski tak sempat terbaca
    kita bukan sejarah yang menghadirkan langit biar terkenang
    atau rindu berulang tengah dikubur di ladangladang usang
    hanyalah penghuni sementara -menumpuk di pelabuhan hujan-

    hujan… ya, hujan masih saja dibentuk dari gerimis syair yang gerutu
    belum lagi angkaangka terencana tengah menggandakan jeruji mati di atas jam yang berdiri
    ; kau membuatku mengantarkan dentang keduabelas kepada inspirasi sunyi

    03/2012

    ============================================

     

      Tentang  Penulis

    Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni dan budaya. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, dan menekuni dunia kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya terbit di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, BWCF (Borobudur Writers & Cultural Festival), Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto.

    Beberapa sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Kutukan Negeri Rantau (Forum Sastra Bumi Pertiwi, 2011), Jembatan Sajadah, Kabar dari Negeri Seberang (UmaHaju Publisher, 2012), Kursi Tanpa Takhta (Writing Revolution, 2012), Berbagi Kasih (Penerbit Sahabat Kata, 2012), Antologi Bersama Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas (2012), Nostalgia Filantropi Tiada Terbalaskan (Penerbit Jendela Sastra Indonesia, 2020). Turut bergabung dalam Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG).

    Menjuarai lomba penulisan puisi, di antaranya: Juara 3 Sajak TKI (UmaHaju Publisher, 2012), Juara Harapan 1 “Ekspresikan Dirimu dengan Puisi” (Writing Revolution, 2012). Pernah menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Bina Nusantara Center, Jakarta dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

     

     

     

     

  • ~ Kehancuran ~ Pergi ~ Cahaya ~ Di Kota yang Tak Pernah Sepi ~ Harapan Tak Tersampaikan ~, Sajak-sajak Savvyna Meyra Yosari

     

    Kehancuran

    Wahai malam
    Kau kirimiku kabar pagi ini
    Tentang gugurnya sang bintang
    Bintang yang tak lagi memancarkan sinarnya

    Wahai malam
    Kau hancurkan rasa yang selama ini kupendam
    Rasa yang selalu membara di dalam dada
    Hingga akhirnya kesunyian pun kurasakan

    Tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan
    Bak air terjun yang terus mengalir
    Aku pun tak kuasa menahannya
    Seluruh jiwaku terbanjiri jua olehnya

    Yogyakarta, 1 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Pergi

    Aroma kopi di penghujung jalan itu
    Sama seperti wangimu saat di dekatku
    Harum namun hanya sepintas
    Membuatku ingin melepas

    Suara panggilan yang saat itu sayup kudengar
    Tak dapat menggoyahkan tekadku
    Aku berjalan lunglai menuju selasar
    Selasar itu membawaku bersama pilu

    Kukira kaulah pembawa bahagia
    Ternyata semua hanyalah derita
    Kulangkahkan kakiku menjauhi nestapa
    Sebelum semua terasa semakin tersiksa

    Kini kutabahkan hati untuk mengucap selamat tinggal
    Meskipun kaki ini terasa kaku untuk berjalan
    Dan semua terasa sulit untuk sekedar bertahan
    Tetap kujauhi meski ku merasa hilang moral

    Yogyakarta, 30 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Cahaya

    Cahaya adalah sinar yang terpancar dari bola mata
    Yang membantuku untuk melihat indah parasnya
    Yang membuatku terpana saat berpapasan dengan dia
    Kilau sinarmu lah yang menusuk relung jiwa

    Cahaya adalah sang penakluk gelap sama seperti senyumnya
    Yang terpatri di mulut sang pelipur lara saat masih bernyawa
    Yang membuatku dapat hidup damai dengan segenap jiwa
    Kekuatannya pula lah yang dapat membuatku bertahan saat terluka

    Cahaya sebagai penerang dunia yang sama seperti tawamu
    Tawa yang membuatku merasakan bahagia di setiap harinya
    Yang membuatku ingin menghentikan dunia untuk sementara
    Keindahannya pun mampu membuat bibirku terasa kelu

    Cahaya sebagai penghidup harapan redup yang sama seperti semangatnya
    Membara seperti api yang dikobarkan saat lampu tak menyala
    Tak kenal lelah dan kata menyerah saat mencapai sesuatu
    Cahaya adalah kamu yang membuatku dapat menikmati hidup di dunia yang fana

    Yogyakarta, 12 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Di Kota yang Tak Pernah Sepi

    Saat kulangkahkan kakiku menuju kota ini
    Kota yang tak pernah sepi
    Saat itu pula lah pertemuan itu terjadi
    Dengan berbekal rasa gembira yang membumbung tinggi

    Kuhampiri jalan setapak yang bergerak menujumu
    Membawa sejumlah kerinduan yang menumpuk dalam dada
    Di pertemuan singkat yang membuatku candu akan senyummu
    Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya

    Kupandangi sudut kota ini dengan mata telanjang
    Kota yang tak pernah tidur dan dianggap istimewa
    Disini lah kutemukan pujaan hati yang kusayang
    Pujaan hati yang selama ini kudamba – damba

    Yogyakarta, 20 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Harapan Tak Tersampaikan

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Menunggu datangnya sang pencerah
    Sang pencerah yang selalu membawa kebahagiaan
    Membanting tulang demi sesuap nasi

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Dengan harapan bisa merasakan hangatnya tanganmu
    Tangan menghitam dan kekar yang membiru
    Meski kutahu semua hanyalah ilusi

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Berharap bisa menikmati indah senyummu
    Senyuman yang terpatri di bibir itu
    Kala menatap wajah rupawannya setiap hari

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Meneriakkan keinginan menggebu untuk bertemu
    Bertemu sang pencari nafkah yang tak tergantikan ini
    Meski kutahu semua hanyalah halu

    Yogyakarta, 26 November 2021

     

    =======================================================

        Biodata Penulis

    Savvyna Meyra Yosari, seorang perempuan kelahiran Yogyakarta pada tanggal 21 Mei 2001 merupakan seorang Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan program studi Sastra Inggris. Penulis mulai membenamkan diri ke dunia puisi saat masih berada di bangku sekolah menengah pertama dan kerap menuliskan puisi pada momen – momen tertentu yang dirasa memiliki makna yang mendalam. Tak jarang penulis juga mengirimkan puisi – puisinya ke media cetak sekolah. Ia pun memiliki cita–cita untuk menjadi seorang penerjemah Bahasa yang professional nantinya.

  • – Kasihku – Kesendirian Ini – Kidung Sunyi – Goresan Senja – Dalam Jiwa -,  Puisi – puisi Tifani Pudyasti

    – Kasihku – Kesendirian Ini – Kidung Sunyi – Goresan Senja – Dalam Jiwa -, Puisi – puisi Tifani Pudyasti

     

    Kasihku

    Fajar mulai menampakkan rupanya
    Tetes-tetes embun perlahan memudar
    Sang rembulan perlahan menghilang
    Tampaklah bahwa dunia akan di mulai

    Namun aku tidak rela!
    Jika mawarku harus menangis
    Tiap-tiap tetesanya menandakan luka
    Dalam jiwa yang rapuh dan gugur

    Kekosongan menyorot tajam mata tuanya
    Bungaku menaruh besar harapan kepadaku
    Tak mungkin aku biarkan batinnya teriris
    Dan juga memudarkan senyumannya

    Ku menangis jika bungaku pergi
    Mendahului anak kelopaknya ini
    Beribu doa selalu mengiringimu
    mawarku yang selalu rupawan

    Perlahan langit berubah menjadi jingga
    Kicau burung pun mulai menghilang
    Suara sepoi angin semakin menjauh
    Dan bungaku mulai kembali tenang

    Yogyakarta, 15 September 2021

    ————————————————————————-

     

    Kesendirian Ini

    Aku ingin mengadu pada malam jika ragaku kini terkikis
    Aku risau dengan kesepian ini
    Ku merasa sepi walaupun keramaian ini tak berujung
    Menampar mimpi yang lama terpendam

    Meski hatimu beku tetapi tetap menghangatkan jiwaku
    Senyummu bagaikan kesengsaraan yang diunjukkannya
    Melawan kerasnya baja hingga melebur seperti kapas
    Tidakkah sempat mengangkat jiwa-jiwa yang rapuh

    Hingga batin ini terlampau tumpul untuk terbuka
    Nyawa ini seperti tinta hitam yang perlahan memutih
    Angin malam memeluk erat dalam kesendirian ini
    Sunyi senyap tidak terlihat adanya deru bising

    Sang raja malam bersatu bersama dewi bintang
    Demi paripurnanya sangkala menuju fajar
    Wahai engkau sang pemilik kasih
    Sampaikan rinduku pada pujaan hati

    Yogyakarta, 20 September 2021

    ———————————————————————-

     

    Kidung Sunyi

    Kususuri lorong perjalanan panjang itu
    Dengan kehampaan diri ini
    Angin malam menyapa seorang permata
    Permata yang sudah meredupkan binarnya

    Tidak ada lagi raut kebinarannya
    Yang terlihat hanyalah beban dalam derita
    Mematahkan seliweran dalam pikir
    Benak kosong yang mengikuti

    Apakah celoteh itu akan hilang?
    Dipenghujung malam yang malang
    Terselip rindu di sela samar kabut
    Beriramakan kesetiaan senandung tirta

    Sepasang mata ini masih setia
    Mengharap permata bertemu sang dewa
    Samudera kelabu membumbung di cakrawala
    Penghalang tuk memadu kasih

    Yogyakarta, 8 Oktober 2021

    ———————————————————————-

     

    Goresan Senja

    Senja adalah candu bagi sang pujangga
    Candunya selalu menenangkan hati
    Mengobati rapuhnya diri ini
    Hingga tak terasa lagi

    Senja adalah obat bagi goresan hati
    Pelipur segala luka lara
    Menjelma menjadi coretan tinta kehidupan
    Yang bayangnya hampir tak terlihat

    Senja adalah segala penenang tuk jiwa yang rapuh
    Menenangkan segala suasana menjadi senyap
    Menata segala cerita dan kisah dalam jiwa
    Meredakan atensi kehidupan yang membara ini

    Senja adalah luapan emosi yang terpendam
    Disertai dengan bisikan angin yang masuk ke dalam jiwa
    Membuatku merasakan dekapannya
    Senja selalu membuat merindu

    Yogyakarta, 12 November 2021

    ————————————————————-

     

    Dalam Jiwa

    Dalam kegelapan sang rembulan
    Cahaya putih mulai memperlihatkan
    Seseorang yang selama ini kurindukan
    Menapakkan kakinya menyusuri dunia fana

    Perasaan ini membara berkobar
    Seperti ada percikan api
    Perlahan bara itu semakin terasa
    Mengalahkan datangnya sang dewi malam

    Para pujangga menantikan datangnya sang bintang
    Dewi malam penuh gemerlap seakan mendukung
    Adanya rasa mendambakan sang kasih
    Tidakkah ingin kita berjumpa, walau hanya sekejap

    Ku tatap netra itu
    Seakan ingin mengajakku mendekat
    Gejolak rasa semakin menggelora jiwa ini
    Tak tertahankan hingga nadi berdenyut cepat

    Yogyakarta, 12 September 2021

     

    ===================================================

     

    Biodata Penulis

    Tifani Pudyasti, kelahirannya bertepatan dengan hujan bulan Januari, tepatnya tahun 2002. Saat ini statusnya masih sebagai mahasiswa semester III prodi Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma. Senja dan kopi merupakan perpaduan yang tepat baginya. Tidak ada kata terlambat dalam kamusnya, yang ada hanyalah menunggu waktu saja. Masih berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan dewasa ini dan tak pernah menyiakan kesempatan.

  • – Ratapan Malam Ini – Bisik Harap Para Dinda: Korban Jugun Ianfu – Malam Sunyi – Raga Tak Sendiri -,  Sajak-sajak Benita Reggy

    – Ratapan Malam Ini – Bisik Harap Para Dinda: Korban Jugun Ianfu – Malam Sunyi – Raga Tak Sendiri -, Sajak-sajak Benita Reggy

     

    Ratapan Malam Ini

    Malam ini adalah malam yang berbeda.
    Udara dingin terasa tembus menujam.
    Jantungku berlari kencang
    Badan gemetar genggam tangan tak berdaya.

    Ringkuk badanku mencari kehangatan
    Tanpa kulepas genggam itu.
    Coba tenangkan diri
    Namun, takut entah mengapa sangat besar.

    Sorak demi sorak terus terdengar.
    Batin berteriak,
    Tapi mulut terkatup isak.
    Aku harus bagaimana?

    Semakin tahan isakan,
    Semakin sesak dada.
    Wajah basah buliran air
    Terasa keringat yang terus terjun.

    Telinga rasa berdenging
    Olokan-olokan tiada henti.
    Ingin menerkam BERHENTI
    Lagi dan lagi tidak sampai ujung bibir.

    Aku bingung.
    Aku takut.
    Raga memang disini,
    Tapi jiwa seakan melayang mencari lindung.
    Mata terus menatap bawah
    Melihatnya tidak bernyawa.
    Dengan tak hentinya harap,
    Ada secuil belas kasih lewat.

    Yogyakarta, 4 September 2021

    ————————————————————

    Bisik Harap Para Dinda: Korban Jugun Ianfu

    Fajar kali ini sangat berbeda,
    Seakan sambut tuk mulai cerita.
    Biru langit manjakan mata.
    Telihat kelopak kecil didukung semesta.

    Dinda sang bunga Krisan.
    Perlahan merekah memberi jutaan impian.
    Langkah kepercayaan serta keyakinan dimantapkan.
    Hingga terbayang esok akan menjadi kenyataan.

    Badai menghantam, sang Dinda terombang-ambing kalut.
    Firasat buruk sampai pikiran.
    Hati hancur, gelisah, nan takut.
    Bom waktu memuncak keadaan.

    Enam puluh tahun bukanlah pendek.
    Ingatan lampau tidak akan sirna.
    Dipandang hina dicemooh makanan,
    Mengusik batin terus jalan.

    Dinda mantap diri
    Mupuk kembali Krisan tua,
    Kasat berbeda dengan lalu.
    Harap jaga dan bawa sampai hayat.

    Dilangkah kaki kecil nan keriput.
    Menelusur masa kelam hitam berdarah.
    Keyakinannya membawa pergi negeri sakura.
    Meraba keadilan tak berserah pada nasib.

    Krisan karib sudah gugur.
    Tapi titah tidak lenyap dalam benak fana.
    Apakah maaf sangat sulit tersiar?
    Hingga kini mata itu terpejam untuk selamanya.

    Yogyakarta, 15 September 2021

    ————————————————————–

    Malam Sunyi

    Terjaga dalam purnama.
    Menggoret lagi luka hampir mengering.
    Hembusan angin pun ikut tertawa,
    Semakin kencang, hingga pedih dirasa.

    Tercambik-cambik dengan penyesalan,
    Pikiran terasa ikut berontak.
    Sesak dalam dada, mengudara dalam mata.
    Menguap hingga linangan bak genangan.

    Menopang jiwa dalam raga.
    Menguatkan diri kian menjadi santapan.
    Menarik semua kebusukan yang menari-nari,
    Sebab berpisah ialah perjalanan.

    Yogyakarta, 24 September 2021

    ____________________________________

    Raga Tak Sendiri

    Langit mengisyaratkan malam
    Lampu kota memuntahkan cahaya
    Dengan gelap bersua.

    Angin berembus membawa kenang
    Memberi sukma akan harap
    Untuk delusi tak lagi terulang

    Gelapnya membaur nyata
    Lihat sekeliling layak semut dan gula
    Namun, diri merasuk sendiri

    Kembali melanjut langkah
    Mengarah mata ke bukit menjulang
    Mengingat diri, ini belum usai.

    Yogyakarta, Oktober 2021

    ———————————————————————————————-

     

    Tentang   Penulis

    Untaian kata dari jiwa muda yang selalu tenang. Seorang gadis yang diberi nama dengan berkat oleh sepasang merpati muda saat itu, bersamaan dengan sorakkan bangga yang terus bergemuruh di Agustus 2002. Suka mengulik hal bersejarah yang menegangkan dan percaya kalimat “bahwa semuanya akan baik-baik saja”. Sekarang ia masih menggali banyak informasi di Universitas Sanata Dharma Yogykarta sebagai mahasiswa Sastra Indonesia angkatan pandemi 2020.
    Penulis bisa disapa di instagram: @bennceh.

  • – Kertas  Putih  –  Basah  -,   Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata

    – Kertas Putih – Basah -, Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata

     

    KERTAS PUTIH

    Di atas kertas putih
    Dengan mulut berbuih
    Engkau menulis aksara kehidupan
    Dari huruf ke kata
    Dari kata ke kalimat
    Dari kalimat kepada makna

    Di atas kertas putih
    Dengan hati dan jiwa yang bersih
    Matamu menatap setiap anak
    Hatimu menyapa setiap murid
    Yang pintar engkau sanjung
    Yang belum sanggup engkau bantu

    Kertas putih itu kini penuh goresan
    Ada yang baru ada pula yamg lama
    Ada yang masih terbaca
    Ada yang telah kabur tertelan masa
    Namun goresanmu di awal ilmu
    Tak pernah punah apalagi lenyap

    Walau jasamu dihargai tanpa jasa
    tetes keringatmu mengukir sejarah
    Setiap katamu membentuk watak
    Ajaranmu menghasilkan ilmu
    Nasehatmu membentuk karakter
    Membuatku utuh walau tak selalu sempurna

    Hari ini sehelai kertas putih
    Kukirim kembali kepadamu Guruku
    Dengan serangkai aksara menenun kata
    TAKZIMKU BUATMU PAHLAWAN
    Aksara yang dulu tak jemu engkau ajar
    Sambil memegang mistar di tangan kanan

    Sungai Kecil, 25 November 2021
    Untukmu Guruku

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    B A S A H

    Basah
    Bukan karena mimpi basah
    Tapi karena sepanjang malam langit gelisah
    Petir dan guntur tak berhenti bertitah
    Membuat bumi menjadi resah

    Basah
    Awan gemawan berkeluh kesah
    Air di langit pun merasa tak betah
    Jatuh berguguran bagai minyak jelantah
    Gelombang laut pun berbuih mendesah

    Basah
    Badan terasa gerah
    Jalan-jalan patah
    Langkah kaki menjadi lelah
    Karena tanah berubah menjadi getah

    Sungai Kecil, 24 November 2021

  • ~ Memorial ~ Biyung ~ Akhir Juang ~ Kelam-Kerlip ~, Sajak-sajak Windi Prawesti

     

    Memorial

    Lampu kota memuntahkan cahya
    Tua muda tumpah ruah jadi satu jua
    Menampik lara mencandu sukacita
    Berseru sorak sorai tanpa kata

    Sejenak, sekejap, sesaat
    Hati penuh ‘pun memerah mata
    Bak baja disiram lahar, tumpah air mata
    Saat teringat hikayat sang tuan

    Berangkat berjalan, pulang merangkak
    Pergi bersorak, balik terbungkam
    Bukan tanpa derita namun tanpa sesal
    Usaha keras digaji sekadar ucapan,

    “Terima kasih”

    Sekarang tuan berbibir biru membisu
    Bersisa tulang kulit semata
    Sesekali merintih menahan lara
    Tapi mata menantang tiada menyurut

    Sayang tuan, damai jadi neraka
    Cepat-lambat ia dirasuki setan
    Membisik-menyeru pada penguasa
    Tuk tebar kharisma demi kekuasaan

    Tuan dicerca, tuan dilupa
    Meluruh tuan dimakan usia jaman
    Sampai datang senyap nan mencekak
    Tuan berdamai selesai berjuang

    Lampu kota memuntahkan cahya
    Menebar damai bahagia, ilusi semata
    Suasana ramai membuat hati senyap
    Tunggal dalam bayang dan kenangan

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Biyung

    Laksana sejuk embun samudra
    Ananda torehkan rasa cinta kasih
    Kata per kata meresap ke sukma
    Senantiasa menemani sepi hati
    Mengeruk habis segala sisa duka
    Imaji malaikat milikku seorang diri

    Walau siang walau malam
    Indah manis senyumu selalu hadir
    Dan tawamu menyertai bagai lagu alam
    Yang tak luput mengalun membisik
    Alangkah elok sosokmu bak berkat dunia
    Semenit sedetik pun tiada kau mendengki

    Tetes tetes air mata pun tiada terbuang
    Oleh Tuhan, Ia hitung, Ia punguti
    Emas pun memucat jadi tak berharga
    Tiada harga, tiada nilai tuk menilai
    Ini karena engkau lebih dari segalanya

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Akhir Juang

    Langit senja memerah getih
    Tak sedap bahkan tuk dilirik
    Jadilah ia cermin bagi bumi
    Yang tubuhnya tercemari
    Tercemar merah jasad, lagi

    Dikau maju bergelora mengikuti angin
    Berani menerjang badai, tercerai berai
    Sukarela merangkul derita, demi kami
    Berjuang demi satu keyakinan hati
    Satu semangat, teriakan penuh arti

    “MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA”

    Disahut kau oleh raungan si artileri
    “DOR, DOR, DOR”
    Peluru melawan bambu runcing
    Saling menembus tubuh si pemilik
    Lalu, kau sunyi senyap tak berkutik

    Tidurmu menumpuk, terbelak, ternganga
    Bermimpi sehari sampai selamanya
    Berangan pulang, merangkul keluarga
    Tercatat tanpa nama, jadi harga negara
    Negara bayi yang harganya ratus ribuan

    Tana lempung sejauh mata melihat
    Dicipta tanpa sengaja, tanpa tujuan
    Ditebari kayu nan berlubang – lubang
    Bak dimakan rayap, dari timah panas
    Teronggok, tertutup debu, terlupakan

    Kanda dipungut persatunya
    Tiada dikenali lagi wajahnya
    Hanya ibu yang mau menerima
    Di rumah dua kali satu nan sederhana
    Penuh harum semerbak kembang

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Kelam – Kerlip

    Hitam ialah nestapa hidup hamba,
    Yang dihantui rasa bersalah

    Yang membuat hatiku terluka,
    Bak disayat seribu pedang
    Yang membuat lidahku pegal,
    Dipenuhi kata “andaikan”
    Yang membuatku mengutuk dunia,
    Dunia yang memisahkan kita

    Hitam ialah noda dalam kenangan,
    Yang mengubah bahagia jadi lara

    Yang tiada habis menggaruk jiwa,
    Menjadikanku bak mayat berjalan
    Yang tiada lain tapi bagai kutukan,
    Mengutuk semua makhluk fana
    Yang tiada pernah meninggalkan,
    Mengingatkan akan segala dosa

    Hitam ialah bukti kehidupan,
    Yang jadikan kita, manusia, indah

    Yang bikin kita besar walau kecil,
    Di hadapaNya, Yang Maha Kuasa
    Yang bikin kita memiliki makna,
    Bagi mereka yang menyayangi kita
    Yang bikin kita bersinar terang,
    Bak bintang di langit malam

    Hitam ialah lambang kesempurnaan,
    Yang jadi warna para dewa di surga

    Hitam ialah yang tiada ternoda,
    Yang telah melewati segala cobaan
    Hitam ialah awal dan akhir kehidupan,
    Yang dipenuhi oleh ketidaksempurnaan
    Hitam ialah kita, manusia penuh hasrat,
    Yang makhluk ternoda tapi sempurna

    _________________________________________________

    Biodata penulis

    Windi Prawesti, perempuan kelahiran Yogyakarta, sembilan belas tahun lalu ini merupakan salah satu mahasiswi jurusan Sastra Inggris di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia sudah menyelami dunia puisi semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas dan kerap kali menuliskan puisi di momen – momen yang ia rasa unik demi mengembangkan kemampuan penulisan puisinya. Ia juga kerap kali mengembangkan pengalaman penulisan puisinya dengan mengirimkan sajak – sajak yang ia tulis ke media cetak sekolah maupun media cetak luar dalan beberapa kesempatan. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan sarjana di Universitas Sanata Dharma Fakultas Sastra dengan program studi Sastra Inggris. Ia bercita – cita menjadi seorang konsulat KBRI di Jepang  setelah lulus nanti.