Author: Redaksi

  • – Kutitipkan Engkau pada Kwan Im : Koko Ecan – Debu-debu Mesiu antara Israel dan Palestina – Kartu Pos untuk Kinanthi – Terluka: ATL -, Sajak-sajak Asti Li

     

    Kutitipkan Engkau pada Kwan Im
    : Koko Ecan

    Senja itu gagak hitam mengitari rumah kami
    Suaranya parau kacau pupus hening
    Hingga lembayung senja balik badan tak sudi
    Sedangkan di sana awan hitam durjana menikmati

    Halilintar pun menyambar
    Tajam mengiris-iris kalbu
    Hujan deras membasahi bumi
    Seraya tangisan pilu kami yang membisu

    Bayang-bayang hitam memenuhi segala sisi
    Ia merebutmu dari kami
    Kami berserah tiada harapan
    Bagaimana mungkin kami menolak kehendak Tian

    Kami lepas ragamu di tepi telaga sunyi
    Melihatmu berjalan di atas teratai
    Menuju angsa putih yang akan membawamu pergi
    Kami pajang fotomu di altar agar kau ingat jalan kembali

    Hanya hio di altar yang dapat menerangimu
    Hanya lantunan paritta pelipur laramu
    Engkau pergi sendiri tanpa ragu
    Tinggalkan kami berbuah sendu

    Kwan Im kau welas asih
    Mengapa kau ambil dia, Kwan Im?
    Apa karena kau terlalu menyayanginya?
    Kami masih bisa merawatnya

    Kwan Im mengapa kau hanya mematung?
    Bukankah kau ingin semua makhluk berbahagia
    Aku sedih dengan keputusanmu Kwan Im
    Kwan Im tolong, kembalikan dia

    Kwan Im kutitipkan dia kepadamu
    Kami telah ikhlas dengan takdir ini
    Tolong jaga dia seperti anakmu sendiri
    Temani dia untuk duduk menunggu di sisi Tian

    Kami titipkan dirimu pada Kwan Im
    Jikalau nanti angsa putih itu membawamu kembali
    Rumah kami selalu terbuka untuk di datangi
    Semoga kita menyatu pada cerita di buku yang sama lagi

    Yogyakarta, 6 September 2021

    ……………………………………………………………………….

    Debu-debu Mesiu
    antara Israel dan Palestina

    Musim-musim telah berganti
    Tetapi badai di kota sengketa itu tak kunjung berhenti
    Debu mesiu bertebaran mengelilingi kota sengketa
    Kota hidup tampak mati karena manusia tak nampak manusia

    Burung camar hitam terbang kesana kemari
    Dari ranting satu ke ranting lainnya membawa kabar duka nan pilu
    Langit pun enggan tersenyum, ia nampak muram membisu
    Bahkan ibu pertiwi tak mampu lagi menahan tetes air mata yang memecah

    Dewa Bagaskara tak lagi ada harganya di tanah ini
    Ia marah melihat bumi yang semakin merah
    Ksatria Angin pun tak sudi lalu lalang
    Kalpataru-kalpataru rindang kini semua telah mati!

    Tiada lagi nyanyian alam nan resap, hanya dentuman besar nan pekak
    Air hujan sudah tidak bening lagi di kota ini
    Airnya keruh bercampur dosa dan derita
    Mengalir ke hilir-hilir surga dan neraka dengan nestapa

    Yogyakarta, 13 September 2021

    ……………………………………………………………….

    Bidadari Muntah Darah

    Merah saga telah terlelap
    Kini gulita menyelimuti seluruh dunia
    Bunga sedap malam gandanya menyebar
    Ketika cahaya bulan menerangi semesta

    Kumpulan dewa-dewi bintang menyebar di angkasa
    Tetapi tidak mengobati sunyinya hati seorang bidadari
    Hatinya tinggal separuh diiris sembilu
    Dikantunginya sepotong lagi yang sudah membiru

    Bidadari itu muntah darah
    Putih suci gaunnya berubah menjadi merah
    Disiksa ia dengan durjana
    Oleh keparatnya seorang pria

    Bidadari yang muntah darah itu kini pergi
    Menepinya menuju telaga sunyi
    Ia menerjunkan dirinya sendiri
    Tenggelam ia bersama kisahnya yang rumit

    Moyudan, 10 Oktober 2021

    ………………………………………………………………….

    Kartu Pos untuk Kinanthi

    Sore itu langit cerah
    Tiada lawan warna jingganya nan indah
    Warna jingga biasa perlambang bahagia, katanya
    Pak Pos sedang bersepeda keliling desa
    Tentunya dengan membawa tas surat yang khas
    Kring-kring… kring-kring….
    “Kinanthi”, pekiknya
    Gadis itu berlari untuk menjemputnya
    Ia nampak bahagia sesaat bingung

    Pak Pos berdiri kaku
    Mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu
    Wajah Kinanthi sekejap pucat dan sayu
    Kartu pos itu terpercik darah

    “Kinanthi, bila kamu menerima kartu pos ini berarti aku telah mati”
    “Tentara-tentara itu telah menembakku”
    “Kartu pos ini kutulis sebelum kepergianku, jaga dirimu…”
    “Batavia, 19 Desember 1912. Salam, Sumarni”

    “Ibunda” teriaknya pilu.
    Ia menangis tersedu-sedu
    Ibunya pamit pergi ke pasar dan tak kembali sejak seminggu lalu
    Ia menanti harap cemas tak pasti
    Hanya nama yang kembali

    Pak Pos masih berdiri kaku,
    Perlahan ia mengurai kata
    Kemarin ada wanita separuh baya, peluru menancap di dadanya
    Dikawal tentara-tentara
    Ia mengirim kartu pos, akhirnya pergi untuk selamanya
    “Aku tak tau kemana tentara itu membawanya, tugasku hanya menyampaikan ini untukmu”
    Pak Pos melanjutkan tugasnya
    Kinanthi melanjutkan tangis pilunya

    Tiada yang tahu atas dasar apa tentara menembaknya
    Tiada yang tahu pula kemana pergi jasadnya
    Hanya kartu pos berdarah yang tersisa

    Moyudan, 10 Oktober 2021

    ………………………………………………………………….

    Terluka
    : A T L

    Malam imlek yang bahagia aku terluka
    Sangat dalam hingga darah pun tak tersisa
    Bahkan rasa sakit tak ada
    Mungkin ingin mati saat itu juga

    Kulihat di langit ada banaspati
    Ia seperti meringis menertawankanku
    Matanya sinis menyumpahiku untuk mati
    Tetapi masih kulihat langit warna biru

    Tetapi pohon beringin itu menghantuiku
    Kuntilanak di dahannya mengolok kisah masa laluku
    Mendengar kisah itu Mak Lampir tertawa tiada malu
    Sungguh, aku dikelilingi duka masa lampau

    Dewa-dewa menasehatiku tentang neraka
    Apa ini neraka dunia?
    Tidak bisa berdamai masalalu adalah penyiksaannya?
    Apakah rasa bersalah kutukannya?

    Pergilah dari ingatanku,
    Jika pergi dari hidupku engkau tak mampu!

    Moyudan, 10 Oktober 2021

    =======================================================

    Tentang  Penulis

    Asti Li lahir dengan nama Asti Nurrahmatuti merupakan gadis etnis Tionghoa kelahiran 2003 saat ini menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Entah apa yang meracuni pikiran gadis sederhana ini sehingga mampu memutuskan untuk mengenal lebih jauh mengenai sastra di program studi Sastra Indonesia. Untuk mengenal Asti lebih lanjut bisa mengunjungi Instagram @steasti.li

  • ~ Memori Hati ~ Sang Pejuang Penyendiri ~ Inikah Keadilan ~,  Puisi-puisi  Friagung Aditya Kusuma

    ~ Memori Hati ~ Sang Pejuang Penyendiri ~ Inikah Keadilan ~, Puisi-puisi Friagung Aditya Kusuma

     

    Memori  Hati

    Dikala langit jingga nan indah sore itu
    Kembali menyegarkan kenangan akan hadirmu
    Begitu manis namun juga pahit
    Layaknya secangkir kopi yang ku racik dan ku seduh

    Tak pernah ada rasa sesal dalam raga dan jiwa ini
    Akan segala kasih dan sayang yang kucurahkan padamu
    Meskipun semua berakhir berbeda dari apa yang kuyakini
    Tetaplah kau sang dewi pujaan hati ini

    Tak kusangka kau tinggalkan daku dengan penuh sejuta angan
    Dan tak lupanya rasa sakit yang begitu menyiksa raga dan batin kau hadirkan
    Dalam diam ku tak berkutik, dalam hati ku menangis
    Hanya satu yang dapat kulakukan, merelakan kepergianmu dengan ikhlas.

    Dengan cinta yang tak berbalas ini
    Kuyakinkan diri bahwa suatu hari nanti,
    dari luka yang kau torehkan ini
    Muncul kembali seribu bunga penguat diri yang menghiasi hari hari ku esok hari

    November 05, 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

     

    Sang Pejuang Penyendiri

    Mentari yang menyinari dunia
    Embun segar tercipta diatas hamparan rumput hijau

    Semerbak aroma bunga mawar yang mekar menghiasi hari
    Segelas kopi hitam dan sepuntung rokok tersaji di hadapan

    Senyum kecut tersimpul di bibir
    Secercah harapan tersimpan dalam sanubari

    Meski duka nestapa memeluk diri dengan erat
    Menorehkan resah dan gundah dalam pikiran

    Auman sang binatang buas bergema ke seluruh penjuru arah
    Namun dengan lembut berbisik pada telinga ini
    Tarian para dewi yang memukau hati
    Tapi tak dapat dimiliki oleh diri ini

    Berada di tengah keramaian namun tetap saja terasa sepi
    Berjuang dan terus berjuang melawan rasa kesepian yang tak ada habisnya

    Sehalus sutra namun setajam bilah pisau, beribu luka tertoreh di batin ini
    namun apalah daya hanya bisa tersenyum palsu dan menguatkan diri

    November 10, 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

     

    Inikah  Keadilan?

    Mengapa?
    Mengapa Kau mengambil orang yang paling kusayangi didunia ini?

    Mengapa tidak mereka yang kubenci, memusuhiku dan memperlakukanku layaknya sampah
    Inikah yang Kau sebut dengan keadilan?
    Inikah yang kau sebut dengan kasih sayang kepada hamba Mu?

    Pagi, siang dan malam
    Tak henti-henti nya ku panjatkan doa kepada-Mu

    Untuk memanjangkan umur, memberikan kesehatan lebih kepada mereka yang kusayangi
    Dengan sabar, semua cobaan yang Kau berikan kulalui dengan ikhlas dan tabah

    Mengapa orang yang kusayangi dan kupanggil dengan “ayah” Kau rebut dariku Tuhan?
    Apakah harus seperti ini?

    Ia yang selalu bersujud dan berdoa kepada-Mu
    Ia yang selalu berbuat baik dan tak henti bersyukur hari demi hari
    Mengapa ia orang pertama yang Kau panggil untuk menghadap-Mu?

    Persetanlah dengan semua perintah dan larangan-Mu
    Tak seharusnya aku berharap kepada-Mu
    Jika sedari awal Kau berlaku tak adil seperti ini kepadaku.

    Oktober 17, 2021

    =====================================

    Tentang Penulis

    Friagung Aditya Kusuma atau biasa dipangil Aditya, salah satu mahasiswa Universitas Sanata Dharma,
    Jurusan Sastra Inggris , Yogyakarta yang gemar bersepada dan mendengarkan musik.
    Aditya terbiasa membaca karya puisi ringan atau sajak yang berbentuk antologi dan kumpulan-kumpulan
    puisi di berbagai media. Di waktu senggang nya Aditya mencoba untuk menulis puisi ataupun cerpen
    untuk melatih dan juga mendalami kemampuannya di bidang karya sastra
    Aditya bisa dijumpai di sosial media:
    Instagram : @otisedmun
    E-mail: Friagung@gmail.com

  • – Aku dan Tabula Rasa – N a t a l – R u m a h – Biarawati -,  Sajak-sajak Yiurika Retanubun

    – Aku dan Tabula Rasa – N a t a l – R u m a h – Biarawati -, Sajak-sajak Yiurika Retanubun

     

    Aku dan Tabula Rasa

    pada awalnya saja,
    aku dan kau hanyalah serpihan debu;
    tempat rumput ilalang berkembang;
    serpihan dari jiwa leluhur yang mati
    seketika aku menjelma menjadi tubuh
    dan kau menjelma sebagai aku

    atas dasar perjanjian lama dan baru
    aku dan kau kini menyatu
    bagai sepasang sayap siap mengepak
    mencari dan menemukan apa yang hilang
    jiwa yang kini bertaut
    hanya dapat dipisahkan oleh maut

    pada akhirnya nanti,
    aku dan kau kembali terpisah
    entah aku berakhir di dunia
    atau kau yang menjadi fana

    tubuh dan darah pada satu jiwa
    kini hidup, mengalir berbeda arah

    +++++++++++++++++++++++++++++++

    N a t a l
    Surat: Maria-Elisabeth

    Natal;
    hari ini telah lahir bagimu
    seorang Juru Selamat
    dari rahim yang kudus,
    seorang perawan
    yang bernama Maria

    Maria kepada Elisabeth

    Elisabeth,
    hari ini,
    burung-burung menari riang
    bunga-bunga bermekaran
    segala makhluk tersenyum senang

    aku,
    seorang wanita, menjadi seorang ibu
    bagi Ia, seorang bayi mungil
    dengan mata indah, dengan senyum sempurna
    yang lahir di kandang domba,
    Noel, Noel namanya…

    Elisabeth,
    Para ibu ntah dari mana
    datang menemui-Nya dengan suka cita
    raja-raja dari timur membawa hadiah:
    emas, bintang, dan segala isinya

    mereka memuja-Nya
    mencium kaki-Nya, membelai kening-Nya
    mereka bersenandung merdu di telinga-Nya
    sampai lelaplah Ia, begitu teduh senyum-Nya

    Elisabeth kepada Maria

    Maria,
    sahabatku, saudariku..

    hari ini,
    lonceng gereja berdenting tiada henti
    lantunan rohani bergema sana sini
    menyambut Ia yang tlah diberi nama
    oleh mu seorang ibu mulia..

    Ia kan menjadi raja
    meski tanpa tahta, meski tanpa istana
    Ia ‘kan merendah pada setiap langkah-Nya
    Ia ‘kan tetap teguh pada pendirian-Nya

    Maria,
    saat Ia dewasa,
    aku ‘kan ikut membasuh kaki-Nya
    setia melayani dan menyembah diri-Nya
    sebab Ia terang bagi dunia
    sebab Ia jalan menuju kerajaan bapa-Nya

    Maria,
    Terpujilah engkau diantara wanita,
    melahirkan sang Mesias dengan penuh cinta

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++

    R u m a h

    apalah arti sebuah rumah
    jika tanpa pintu dan jendela
    tiada jiwa yang hendak tinggal
    embun dan hujan pun enggan singgah

    apalah arti sebuah ruang
    jika tanpa sudut dan sisi
    tiada tangis tawa berisik
    tiada jejak kaki riang berpijak

    tak mengapa bila tiada taman
    pun rumput masih kian bisa hidup
    tak mengapa bila sendirian
    langit biru, kicau burung
    kian tampak dan terdengar

    yang kau sebut itu rumah
    ialah jiwa yang bersuka dan berduka

    yang kau sebut itu rumah
    ialah jiwa yang senang dan berkenang

    yang kau sebut itu rumah
    ialah jiwa bernyawa yang berangan

    yang kau sebut itu rumah
    ialah jiwa yang bertubuh

    yang kau sebut itu tubuh
    itu aku

    ++++++++++++++++++++++++++++++++

    B i a r a w a t i

    Biarawati;
    seorang manusia, seorang wanita
    ia yang terpilih, bukan dipilih
    mengikrarkan janji suci dihadapan Ia, Tuhannya
    berjanji, bersumpah menjadi pelayan-Nya

    ia yang melepas kebebasannya
    tinggalkan indahnya dunia fana
    mengabdi pada Ia, Tuhannya
    hidup dalam kesederhanaan,
    tanpa harta tanpa tahta

    ia seorang pendosa
    dengan beribu gejolak di dadanya
    terkadang ia gundah, terkadang ia goyah
    terkadang ia lelah, terkadang ia pasrah

    ia dengan hati sebagai hamba
    yang kan selalu taat setiap saat
    dalam roh dan kebenaran
    dalam kebajikan dan kebijakan

    ia seorang yang tak sempurna
    sosok bunda layaknya Maria,
    yang tak ternoda, yang tak tercela
    yang bahagia dalam naungan bapa-Nya

    ——————————————————————-

    Tentang Penulis

    Yiurika Retanubun

    ”puisi hidup dari jiwa-jiwa yang tlah mati”
    Demikianlah dari seorang gadis
    pecinta kopi pahit yang keluar dari
    tubuh wanita luar biasa pada bulan
    maret 2001 lalu saat planet bumi
    sedang asri-asrinya.

    Sekarang ia menjabat sebagai mahasiswa Sastra Indonesia di
    Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan
    virus corona. Sejauh ini kehidupannya
    sederhana; asal ada kopi, hujan rindu, dan
    juga kamu..
    penulis bisa disapa di instagram : rikayiu/ email : yiurikaretanubun7@gmail.com

  • ‘Debar’ – ‘Luka’ – ‘Merpati Cinta’ – ‘Keajaibanku’, Sajak-sajak Stevanny Yosicha Putri

     

    DEBAR

    Debaran yang muncul
    Bersamaan dengan bahagia
    Diiringi oleh alunan lagu
    Bersemayam dalam sebuah rasa

    Debaran yang bergetar seiring dengan hembusan angin
    Tersirat dalam senyuman yang menutupinya
    Aku pun ingin
    Menyimpan langit senja dalam asa

    Agar aku bisa selalu memandang
    Insan nan indah rupawan
    Walau aku tatap selayang pandang
    Dibalik setiap gumpalan awan

    9 Oktober 2019

    *************************************

    LUKA

    Ternyata rasa itu tidak mati
    Dia hanya menanti
    Sambil menempatkan hati
    Bagai menyulam dengan teliti

    Meraung gejolak dalam diri
    Luka robek terkoyak duri
    Bahkan tak sanggup berlari
    Bagai dicaci ibu tiri

    Angin samudera menambah perih
    Deru ombak menangis lirih
    Tunggu sampai luka ini pulih
    Ia berhamburan bagai beni

    12 Oktober 2019

    ********************************************

    MERPATI CINTA

    Merpati yang hinggap di jendela kamarku terbang
    Terbang membawa sebuah impian konyolku ke surga
    Ternyata merpati cinta mendengar ucapanku
    Kehadiranmu adalah bukti bahwa ucapan memiliki kuasa

    Sungguh sebuah candaan yang indah
    Saat aku bercanda tentang dirimu
    Candaan itu telah berubah menjadi sebuah cinta
    Ternyata merpati cinta terbang membawa perasaanku
    Perasaan setangkai mawar yang mengharapkan sakura

    10 November 2021

    ********************************************

    KEAJAIBANKU

    Tiada kata yang bisa aku tulis atau ucapkan
    saat pertama kali melihat sinar matanya
    Ia adalah sebuah keajaiban yang datang
    saat aku merasa semuanya adalah mimpi
    Hembusan dari seluruh mata angin membawanya dekat denganku
    Barisan selat dan gugusan gunung telah ia lewati
    Mengantarkannya tepat di sampingku

    Aku telah berjanji kepada semesta untuk menjadi malaikat penolongnya
    Sukacita adalah ketika aku bisa memberikan kesejukan
    di tengah kegundahannya
    Pertanyaan yang ia berikan seperti daun yang berguguran
    Aku pun menjawab setiap keindahan itu
    Manis dan asam tidak akan pernah aku lupakan
    Ombak dalam hatiku menderu saat dia
    menuangkan air sejuk untukku

    Terima kasih untuk Sang Maha Cinta yang membawanya kepadaku
    Perbedaan yang membentuk sebuah pelangi yang indah
    Keindahan yang entah ia ketahui atau tidak
    Satu hal yang aku inginkan adalah tetap mendengar suaranya
    memanggil namaku
    Saat itulah jiwaku melonjak kegirangan

    21 November 2021

    ************************************************************

    Tentang Penulis

    Stevanny Yosicha Putri atau yang biasa dipanggil Vanny adalah seorang mahasiswa Prodi Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia memiliki hobi membaca dan menulis sejak kecil. Vanny suka mengabadikan pengalaman, perasaan yang ia alami, dan kejadian di sekitarnya dengan cara membuatnya menjadi tulisan berupa prosa dan puisi. Vanny ingin terus mengembangkan bakat dan pengetahuannya di bidang penulisan, sehingga mampu memajukan ilmu Sastra dan Bahasa Indonesia di masa depan. Vanny bisa dijumpai melalui media sosial di Instagram @stevannyyosicha.

  • “Ajarkan Aku” – “Elok Dunia dan Aku” – “Tinggal Elegi” – “Perihal Pandang” – “Gitaris Angkringan”, Sajak-sajak G Dimitri

    “Ajarkan Aku” – “Elok Dunia dan Aku” – “Tinggal Elegi” – “Perihal Pandang” – “Gitaris Angkringan”, Sajak-sajak G Dimitri

     

    AJARKAN AKU

    Ajarkan aku rasa sakit, ya pahlawan
    Terputar di benakku banyak adegan
    Engkau melawan senjata api dengan bambu yang diruncingkan
    Tiada keluhan
    Melawan bajingan

    Ajarkan aku bau anyir darah, ya pahlawan
    Ketika tertembus tubuhmu
    Jiwa dan raga jadi bulan-bulanan
    Tiada ampun
    Melawan gempuran

    Ajarkan aku rasa duka, ya pahlawan
    Ketika kawan seperjuanganmu berguguran
    Mayat bergelimpangan
    Tiada batu nisan
    Hanya isak tangis dan gigi gemertakan

    Tangerang, 12 Juli 2020

    ————————————————-

    ELOK DUNIA DAN AKU

    Terang…
    Tinta biru melawan api
    Cakrawala terbelalak
    Sejuta kelabu menyembunyikan sang raja
    Melukis lembaran dunia
    Dan aku terpaku

    Beku…
    Penguasa hari mengamuk
    Bayangan diri terhilang
    Terbakarlah semua yang kasat mata
    Denting jam telah terhenti
    Dan aku terdiam

    Senja…
    Secercah cahaya mengecup wajahnya
    Malaikat pun iri akan senyumnya
    Rintik lembut membelainya
    Penghancur ini pengecut
    Berderai berlian dari matanya
    Dan aku tertunduk

    Gelap…
    Melodi yang tak berwujud
    Dewi perak menangis
    Jatuh cinta dengan yang membutakan
    Membelai bumi menghukum diri
    Dan aku tidak peduli

    Sunyi…
    Tatapan tanpa arti
    Langkah pelan membawa rindu
    Rembulan masih setia
    Menjaga yang meninggalkannya
    Dan aku tersujud malu

    Apa daya acap kukatakan
    Ribuan menit tak lagi acuh padaku lagi
    Masih layakkah aku?
    Membakar waktu cuma-cuma
    Sebersit penyesalan sia-sia
    Masih bisa layakkah aku?

    Hancur degup jantungku
    Kepingan-kepingan bodoh yang terbuang
    Para saksi bisu pernah mencintaiku
    Terbuai dengan gemerlap manusia
    Aku tidak layak dikasihi mereka
    Tidak seharusnya dilindungi mereka

    Sisa-sisa butir kepercayaan
    Terbawa arus kesepian
    Apakah masih ada kesempatan?
    Percik api tarian terakhir
    Tinggalkan aku mengais debu
    Selamanya kelayakan telah meninggalkan aku

    Tangerang, 21 April 2018

    ———————————————-

    TINGGAL ELEGI

    Malam itu gusar
    Malam itu penuh derak
    Riak kolam mengiringi sejuta kematian
    Para ikan pun berfirasat sama
    Ingin mengikutimu ke alam baka

    Satu purnama lalu
    Kau genggam erat tanganku
    Satu kemarau lalu
    Kau merekam sebuah lagu
    Helaan karya terakhirmu

    Gundah itu terlalu sederhana
    Debur biru di relung renjana
    Mencari ke mana engkau berkelana
    Jauh dari pandangan mata
    Hanya terlihat kaku di kapel gereja

    Swastamita kelabu
    Yang membawa engkau berlalu
    Tataplah resahku
    Sebersit cemburu
    Dari tempat yang belum bisa kutuju

    Agar jiwaku jelita
    Semua yang baik adanya
    Dalam naungan cakrawala
    Suatu saat akan tiba
    Tunggu aku di sana

    Yogyakarta, 4 September 2021

    —————————————————–

    PERIHAL PANDANG

    Aku bukan periang
    Bukan manis gula biang
    Malah mental pecundang
    Dengan hati yang gersang
    Mata abu cemerlang

    Angkasa dan bintang
    Segala perasaan di antara bujur lintang
    Datang tanpa bilang
    Sayang tanpa ancang
    Membuatku mabuk kepalang

    Namun memang
    Begini kalau akal sehat ditentang
    Jantung kering kerontang
    Diajak perang
    Detak acak berdentang

    Kepada si penumpang
    Kupercayakan parang dan pedang
    Silakan dipegang
    Dan ketika tragedi tayang
    Kuberdoa aku tidak kau serang

    Tangerang, 20 September 2020

    —————————————————

    GITARIS ANGKRINGAN

    Gitaris angkringan
    Demi sepeser seribuan
    Tatap-tatapan
    Duga-dugaan
    Yang bicara hanya mataku, tuan

    Tangan gemetaran
    Demi sedikit berkenalan
    Di bawah rinai hujan
    Namun tiadalah yang instan
    Yang membuatku senyum dirimu, tuan

    Tangerang, 13 Juni 2020

    ———————————————————–

    Tentang Penulis

    G Dimitri, lahir dengan nama Eugenia Kusumo di
    Tangerang, 10 Desember 2001. Mengawali
    pendidikan sekolah dasar di Sekolah Mentari
    Bangsa di mana dia mulai mengasah bakatnya
    dalam menulis berbagai puisi dan cerpen.
    Menginjak jenjang sekolah menengah pertama di
    Sekolah Terpadu Pahoa, ia memenangkan juara
    kedua lomba menulis puisi yang diadakan di
    sekolah dengan puisinya yang berjudul “Ungkapan
    Terakhir”. Sempat berhenti menulis karena sibuk
    di jenjang sekolah menengah atas yang ia tempuh
    di UPH College dan Bina Insan Kamil. Pernah
    mengikuti Kelas Menulis Puisi Online dan
    dibimbing langsung oleh Muhammad Asqalani eNeSTe. Karya puisi dan
    cerpennya pernah dibukukan dalam beberapa antologi bersama yang antara lain
    berjudul “Pelangi Tak Pernah Datang Sebelum Hujan”, “Misteri Rasa dari Isyarat
    Semesta”, “Menjadi Sajak dan Jarak”, dan lain-lain. Saat ini menempuh
    pendidikan sarjana di Universitas Sanata Dharma Fakultas Sastra dengan program
    studi Sastra Inggris. Bercita-cita menjadi penulis profesional dan juga ingin
    berkiprah di dunia seni peran. Kesibukan saat ini selain kuliah adalah bekerja
    secara freelance sebagai seorang penerjemah dan juru tulis, dan juga menulis puisi
    di waktu luang.
    Eugene bisa dijumpai di Instagram-nya @offcialeugenek dan Instagram khusus
    karyanya @xgdimitri, serta dapat melalui email ke
    dimitri.eugene2001@gmail.com

  • “Rintihan Rindu” – “Ballada Puan” – “Embun”, Puisi-puisi Maranecha Latriyana

     

    Rintihan Rindu

    Rindu adalah perasaan nestapa jiwa
    Menjadi hampa terpaku hening
    Tawar tanpa rasa selayaknya elok paras senja
    Datang untuk memberi cinta, binasa sebagai luka

    Rindu adalah gelisah meratap lamban dalam renungan malam
    Berharap dekat dalam sanubari
    Rintihan hujan yang bernyanyi
    Tak henti memberikan isyarat isi hati

    Rindu adalah kasih yang meracik sebuah harapan
    dalam buih cinta lautan memberi angan
    Lantas engkau bunga cantik dalam jilwa
    Pandanglah rintihan hujan itu, jangan acuhkan rasa rindu.

    Maranecha Latriyana
    Oktober 08, 2021

    —————————————————

    Ballada Puan

    Puan ialah paras menawan
    Senyum manismu, indah wajahmu, jua tubuhmu, lengkap pun tawa hasmu
    Membuat gunung bertekuk lutut di hadapanmu
    Enggan mencerca namun melukis wajah teduhmu

    Puan ialah selembut sutera
    Entah bahagia atau terluka tak menghiraukan yang terasa
    Kilau puan serupa intan permata
    Sabar puan seluas samudera

    Puan ialah elok penaka bunga
    Di atas butiran pasir putih mempesona
    Tawamu merayu memikat senja jingga
    Tak sekedar tabahmu tetapi juga kedermawanmu; puan.

    Maranecha Latriyana
    Oktober 08, 2021

    —————————————————

    Embun

    Kilau itu serupa intan
    meski resah di terik mentari
    berlindung diantara pucuk-pucuk puspa
    berharap hujan menemaninya

    Embun itu tak bisa lari
    air mata tak bisa menggantikannya
    mencoba berteman dengan angin
    berharap sepoi tak menjatuhkannya

    Kumbang haus menghampirinya
    mencengkram dahan dan memeluknya
    embun itu harus pasrah
    ketika satu dari mereka menghisapnya

    Akhirnya embun itu hilang
    para kumbang rindu kilaunya
    berharap hujan segera datang
    sisakan embun yang baru
    untuk dihisapnya kembalai

    Maranecha Latriyana
    November 20, 2021.

    ———————————————————————————–

    Tentang Penulis

    Maranecha Latriyana, atau biasa dipanggil Eca, agama Kristen Protestan anak
    keempat dari empat bersaudara.
    Eca salah satu mahasiswi Universitas Sanata Dharma, Jurusan Sastra
    Indonesia, Yogyakarta yang gemar menulis dan mendengarkan musik.
    Eca lebih terbiasa membaca karya puisi-puisi yang berbentuk antologi dan kumpulan-kumpulan puisi di berbagai media.
    Eca juga sering coba-coba untuk menulis puisi yang ringan-ringan saja sembari
    melatih kemampuan dalam bidang karya sastra ini.
    Eca bisa dijumpai di sosial media:
    Instagram: @maranechal_
    Email: maranechalatriyana123@gmail.co

  • “Yang Tertawan” – Murka Angin” – “Bab Terakhir” – “Syair Para Pecinta” – “Aku Sang Penipu”, Sajak-sajak Abdul Ghofar

     

    Yang Tertawan

    cahayamu luruhkan rembulan
    indah kilaunya pun melumat kasunyatan
    mencabik raga tanpa daya
    membungkam kata tanpa asa

    perlahan alam ikut memudar
    sisakan rona terbujur samar
    termenung diam memangku pilu
    terlelap tenang terhajar waktu

    tatapan panah melesat tajam
    merobek jantung menembus malam
    dalam senyap singa tertawan
    memendam cinta dikesunyian

    YOGYAKARTA, 06-08-2021

    ————————————————

    Murka Angin

    jika angin kuasa gugurkan hujan dari awan
    mengapa direngkuhnya pula rintik dari kelopak mata
    jika angin kuasa hitam dan pekatkan malam
    mengapa dipadamkan pula sepucuk lentera dalam gubuk jelita
    jika angin kuasa memecah deru ombak lautan
    mengapa dirampasnya pula rindu seorang perempuan

    mengapa senyum rembulan yang ia tawan
    bukan tatapan liar serigala jalan
    atau pekik teriakkan anjing peradaban
    mengapa
    mengapa ia!

    REMBANG, 23-10-20213.

    ————————————–

    Bab Terakhir

    hujan adalah dahan melambai tangan
    kepada burung-burung menari
    kepada angin-angin sepi

    hujan adalah gema desiran awan
    percumbuan air dengan bumi
    penantian semusim lagi

    hujan adalah merah yang menawan
    tubuh anggun penuh duri
    harum mewangi tenggelamkan diri

    hujan adalah bab terakhir keindahan
    rambut hitam yang terurai
    berlinang mata yang berderai

    REMBANG, 28-10-2021

    ——————————————-

    Syair Para Pecinta

    mata mana yang tak jatuh dalam pangkuan purnama
    lorong-lorong pengap yang menganga
    awan-awan pekat yang terjaga
    pun takkan tahan tertawan sihirnya

    telinga mana yang tak luruh kala dibelai melodinya
    bisik lirih yang lembutkan jiwa
    pekik teriakan yang menggoda
    pun takkan tahan tertawan gemanya

    jantung mana yang tak berdegub kala diketuk cinta
    pelukan hangat yang mendekap raga
    balada merdu yang hanyutkan jiwa
    pun takkan tahan tertawan cumbunya

    REMBANG, 5 November 20215.

    ——————————————————-

    Aku Sang Penipu

    bagaimana jika aku yang kau panggil
    adalah pedang yang tebaskan batang dari pohonnya
    adalah racun yang pisahkan ruh dari jasadnya
    dan bagaimana jika
    suaraku yang kau sangka merdu
    adalah seruling subuh yang mengambil jiwa dari raganya
    adalah waktu yang gugurkan kanak dari mudanya
    aku tak tahu siapa aku
    apakah senja yang mencuri siang dari malamnya
    apakah api yang membakar lilin dari tubuhnya
    atau akulah penyamun yang merampas dagang dari bighalnya

    YOGYAKARTA, 20-11-202

    ——————————————————————————

    Biodata Penulis

    Nama : Abdul Ghofar
    Alamat : Jl. Kaliurang KM 09 Bakungan, RT 01 RW 56 No 43,
    Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta
    Nomor Telpon : 082314549959
    Email : ghofarabdul8@gmail.com
    Tempat, tanggal lahir : Pati, 03-01-1995
    Warga Negara : Indonesia
    Status Perkawinan : Belum kawin
    Status Pendidikan : Mahasiswa (Universitas Sanata Dharma)

  • “Hyacinth” – “Pada Sebuah Musim di Bulan April” – “Muak” – “Kanvas Sang Pelukis” – “Envious”, Puisi-puisi Theresia Paskah

     

    Hyacinth

    Burung berkicau pelan nan merdu
    sinar surya menyelinap di balik kelambu
    tanda hari baru telah datang hampiriku;
    ingatkanku akan pagi nan riang
    yang kini hanyalah tinggal kenang

    Tak pernah terpikir olehku
    bahwa jemariku tak sanggup
    pertahankan dirinya disisiku.
    Tak pernah terduga olehku
    bahwa seteguk teh rosella akan mampu
    membangkitkan senyum getirku

    Tak mampu diriku sampaikan perpisahan,
    dan tak tersisa lagi padaku setitik air mata
    yang mampu kuteteskan untukmu.
    Kini, yang tersisa padaku ialah
    segenggam hyacinth ungu
    yang menguarkan wangi lembut
    dan terasa begitu hangat dalam dekapku.

    Theresia Paskah,
    September 14, 2021

    ——————————————

    Pada sebuah musim di bulan April

    Pada sebuah musim di bulan April
    dituliskannya sajak hangat untuk sang terkasih;
    dengan kerinduan yang membuncah di dada
    tertuang segala jenis harap dan doa.

    Pada sebuah musim di bulan April
    dalam sebuah ruang kecil nan sempit;
    semakin terputuslah tarikan nafasnya
    tak sanggup tubuh rapuhnya pertahankan kesadaran.

    Pada sebuah musim di bulan April
    ketika tak mampu lagi ia pertahankan ketegarannya
    beriringan dengan tetesan bening dari maniknya
    ia mengukirkan senyum di bibir rapuhnya, berbisik:
    “kini engkau telah bebas, tak perlu mengurus
    seorang wanita tua renta sepertiku”.

    Beriringan dengan berakhirnya satu musim di bulan April
    maniknya perlahan menutup, kehangatan kian menguap darinya;
    senyum tersungging di bibirnya,
    tak ada penyesalan tersurat pada guratan wajahnya
    meskipun tak ada seorangpun yang menemani.

    Beriringan dengan berakhirnya satu musim di bulan April
    Ia meninggalkan dunia dengan kesendirian
    dalam ruang kecil nan sempit miliknya
    dengan segenap rasa yang tertinggal dalam hatinya;
    hanya satu yang berarti baginya dari sekian banyak yang tersisa:
    sebuah sajak yang ia tulis pada penghujung musim semi.

    Theresia Paskah,
    October 7, 2021.

    —————————————

    Muak

    Rasaku menggelora,
    Karsaku membakar jiwa.

    Inginku berseru,
    Pada mereka yang tak acuh.
    Inginku mengerang,
    Pada mereka yang tak paham.

    Tak bisakah sedetik saja,
    Mereka katupkan bibir?
    Tak bisakah sejenak saja,
    Mereka kenakan kuping?
    Hanya untuk menghargai,
    Pihak lain yang juga bersuara.

    Hanya untuk menghormati,
    Pihak lain yang juga berkesah.

    Namun, hanya sia-sia saja,
    Kepala mereka sekeras batu.
    Tak mau mencerna,
    Hanya mau bertutur.

    Theresia Paskah,
    September 23, 2021.

    ————————————————

    Kanvas Sang Pelukis

    Ia menggoreskan kuas-Nya pada kanvas,
    garis semu itu kini perlahan nyata,
    biru, hijau, cokelat, penuh warna.

    Guratan biru itu meluas,
    membentang mulai Utara hingga Selatan.
    Deburnya terdengar; meraung dengan keras,
    berlomba-lomba menuju bibirnya.

    Ia beralih pada ujung lain kanvas,
    kuas-Nya bergerak menggores semu
    tinta hijau itu; perlahan tapi pasti,
    sapuannya kian nyata.

    Gemerisik dedaunan terdengar dibalik
    kicauan burung-burung kecil, serta
    erangan dan auman satwa. Bunga-bunga
    telah bersemi, wanginya semerbak,
    menguar hingga sisi terdalam hutan.

    Kini kuas-Nya teralih pada
    sisi kanvas lain yang masih tersisa.
    Kuasnya perlahan bergerak,
    pelan, teliti, melukiskan tinta cokelat
    dipadu dengan sinar keemasan.

    Pada tanah ukiran terakhir-Nya,
    tiada apapun selain kersik halus
    nan lembut tergoyang sang bayu.
    Kendatipun tanah itu tandus,
    segelintir tanaman dibiarkan-Nya
    tumbuh berbuah: manis nan sedap.

    Sang Pelukis menatap kembali pada
    kanvas-Nya yang telah terukir sempurna.
    Diletakkannya kuas terkasih-Nya,
    senyum tersungging indah di bibir-Nya,
    “Kini adalah masa kita untuk beristirahat.”

    Ia meletakkan kuas itu, dan bersandar,
    memandang kanvas kepunyaan-Nya,
    tiap hari, tiada lelah: bagian dari rehat-Nya,
    agar tiada yang mampu merusak kanvas-Nya,
    karena Ia begitu mencintai karya diatasnya.

    Theresia Paskah
    Oktober 29, 2021.

    ——————————–

    Envious

    Looking at the skies
    the wolf was wondering:
    what a beautiful sight
    they had there: amazing

    but the star up there
    looking back at the ground
    “you had a lively, pleasant nature,
    colourful: green, blue, and brown”

    “your world is better, let us
    became you.” their hearts
    craved for others’ life, and
    the moon granted their wish.

    The wolf moved to the sky,
    the star shifted to the ground,
    with a hopeful smile on their faces;
    though it did not last long.

    The wolf could not eat nor sleep,
    the star not able to shine bright,
    then the moon smiling and whispering
    “better on your own world, ain’t it?”

    Theresia Paskah,
    September 21, 2021.

     

    ——————————————————–

    Tentang Penulis

    Theresia Paskah, atau biasa dipanggil Tere, adalah salah satu
    mahasiswa di Yogyakarta yang senang membaca dan menulis.
    Tere lebih terbiasa menulis karya yang bukan tipe karya sastra,
    seperti puisi. Meskipun begitu, Tere ingin mengenal dan belajar
    lebih dalam mengenai puisi sehingga ia bisa menghasilkan puisi
    miliknya sendiri.
    Tere bisa dijumpai di sosial media:
    Instagram: @theresiaprastiti dan @termarasa
    Email: theresiapaskahprastiti@gmail.com

  • Saat-saat Penuh Inspirasi

    Saat-saat Penuh Inspirasi

    Oleh Paulo Coelho

     

    T u h a n, bukalah mata kami

    supaya kami melihat bahwa tak ada

    apa pun yang terjadi

    secara kebetulan dalam hidup ini

     

  • Kepercayaan  pada  Allah

    Kepercayaan pada Allah

     

    Oleh Anthony de Mello

     

    Para murid merasa kurang enak karena Sang Guru tampaknya tidak terlalu peduli apakah orang percaya pada Allah yang personal atau tidak.

    Suatu Ketika Sang Guru membacakan sebuah kutipan yang di kemudian hari menjadi favoritnya. Kutipan itu berasal dari buku harian Dag Hammarskjold, mantan Sekretaris Jenderal PBB.

    “Allah tidak mati ketika kita tidak lagi percaya pada keilahian yang personal, tetapi kita tidak lagi diterangi oleh sesuatu yang gaib, yang senantiasa memancar, yang senantiasa baru, yang sumbernya di luar jangkuan akal budi.”

     

    ————————————                                                                                       Sumber: buku Berbasa-basi Sejenak 2, Anthony de Mello – Kanisius 1997