Author: Redaksi

  • Lembata Segera Mempunyai Perguruan Tinggi

    Lembata Segera Mempunyai Perguruan Tinggi

    KERINDUAN yang telah lama dimiliki diharapkan akan segera terwujud. Lembata bakal memiliki Perguruan Tinggi. Adapun bentuk yang dirancang untuk dimiliki Lembata adalah Institut dengan nama Institut Teknologi dan Pendidikan Vokasi yang disingkat INTEL VOKASI Lembata.

    Mengenai alasan mengapa memilih institut, Robert Bala, Ketua Yayasan Koker mengatakan bahwa setelah lama mempelajari nomenklatur dan mengikuti acuan pemerintah, maka sebuah Perguruan Tinggi bisa memilih model apapun tetapi sangat bergantung pada jumlah Prodi yang dimiliki. Sebuah Institut misalnya bisa dibentuk dengan syarat memiliki minimal 6 Prodi. Karena itu, INTEL VOKASI Lembata telah merancang agar ke depannya ada 6 prodi yang diusulkan yaitu: Pendidikan Guru Vokasi, Pendidikan guru MIPA, Pendidikan Informasi dan Komputer, Pariwisata, Teknologi Pertanian dan Teknologi Penangkapan Ikan.

     Studi Kelayakan

    Sejak September 2021, secara kontinyu, Yayasan Koker Niko Beeker mengadakan beberapa webinar untuk mendisain Perguruan Tinggi yang merupakan kerjasama antara para akademisi Lembata dan Pemerintah Derah Lembata. Pada kesempatan itu banyak akademisi yang diundang untuk hadir dalam webinar demi menangkap sebanyak mungkin ide.

    Setelah proses lama, ada tiga akademisi yang secara konsisten terlibat mendisain Perguruan Tinggi yaitu Dr Wilem Ola Rongan, M.Sc, Dr Hipolitus Kewuel, M.Hum, dan Drs Agustinus Gereda Tukan, M.Hum. Dari Yayasan Koker, Robert Bala M.A., Dipl dan Dr Damianus Dai Koban, M.Pd bertugas sebagai koordinator untuk memungkinkan bahwa program itu bisa segera dilaksanakan.

    Tidak kurang, selama proses ini, team Yayasan Koker merasa bersyukur karena Siprianus Tua Betekeneng, M.Pd yang saat ini bekerja di Kopertis XV NTT, mengambil bagian secara khusus. Sipri sangat aktif memberikan arahan agar sejak awal, proses pendirian itu bisa terlaksana. Ketika ditanya, putera Ile Ape itu mengatakan bahwa sudah menjadi tugasnya untuk mendampingi setiap inisiatif baik dari masyarakat dan pemda dalam mendirikan Perguruan Tinggi. “Kita selalu ingatkan agar semua aturan itu ditepati dengan baik agar usulan itu bisa ‘temus’”, demikian Sipri.

    Dr Wilem Ola Rongan, M.Sc dalam pernyataannya mengatakan, INTEL LEMBATA, dalam menetapkan jenis prodi didasarakan pada análisis dan studi kelayakan. Dari análisis yang ada, kebutuhan terhadap teknologi pertanian dan teknologi perikanan merupakan Prodi yang sangat urgen. Memang untuk mewujudkannya butuh kolaborasi dengan pemerintah baik pemda maupun pemerintah pusat. Pendirian Teknologi Perikanan misalnya perlu menjadi bagian dari program pemerintah pusat mengingat Lembata memiliki potensi perikanan yang dahsyat. 50% ikan di NTT berasal dari Lembata dan karena itu pengembangan bidang perikanan menjadi hal yang sangat penting.

    Selain itu, menurut doktor asal Lamahora Lembata, pertanian menjadi salah satu kebutuhan sangat urgen di Lembata Bila dikembangkan secara serius maka INTEL Lembata bisa memberikan kontribusi penting selain pariwisata mengingat Lembata punya spot wisata yang mengagumkan. Sementara itu bidang pendidikan guru vokasi dan pendidikan MIPA serta teknologi Komputer menurutnya sangat sejalan dengan program penyediaan Sarjana Terapan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

    Menerima Calon Dosen

    Dalam rangka memeprsiapkan pendirian, maka Dr Damianus Dai Koban yang menangani SDM mengharapkan bahwa banyak calon dosen di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia bisa melamar menjadi tenaga dosen. Adapun syarat menjadi dosen, demikian doktor MIPA lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengatakan bahwa syarat-syaratnya adalah:

    1. Lulusan S2 dari Berbagai Perguruan Tingig Negeri dan Swasta.
    2. Ijazah S1 dan S2 linear dengan 6 prodi yang didikan (MIPA, GURU VOKASI, TIK, PARIWISATA, TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN DAN TEKNOLOGI PERTANIAN).
    3. Fresh Graduate dan belum memiliki NIDN diutamakan.
    4. Bersedia tinggal di Lembata.
    5. Mengirimkan lamaran dalam 1 file PDF dengan menampilkan: Ijazah S1 dan S2; Transkrip Nilai S1-S2, KTP, dan Surat Pernyataan bahwa siap menjadi dosen pada INTEL LEMBATA.
    6. Selain itu bersedia tinggal di Lembata.
    7. Mengirimkan lamaran ke: intekvokasi22@gmail.com paling lambat 15 April 2022

    Mengenai lokasi, Dr Damianus menuturkan bahwa INTEL akan bergabung dengan SMA SKO SMARD. Saat ini, menurut pria asal Lerek Lembata, Yayasan telah memulai pendirian gedung 3 lantai dengan 9 ruang. Selanjutnya, akan disusul dengan pendirian gedung 4 lantai dengan total maksimal 24 ruangan lagi.

    Dalam kaitan dengan dukungan Pemda, Robert Bala, ketua Yayasan Koker menjawab bahwa Pemda sebagai pihak yang akan diuntungkan oleh kehadiran Perguruan Tinggi semestinya proaktif. Lebih lagi, dari PT ini, akan muncul SDM profesional yang bisa diterjunkan membangun Lembata. Karena itu menurut Bala, sangat diharapkan ‘uluran tangan’ dari Pemda.

    Sejak awal rancangan, Bupati Thomas Ola dan Ketua DPRD Lembata Piet Gero  terlibat dalam pembicaraan awal. Di sana kedua tokoh eksekutif dan legislatif itu sangat mengharapkan agar Yayasan bisa berperan dalam pendirian ini. Pemda secara aturan tidak bisa menjadi pendiri Perguruan Tinggi tetapi akan mendukung semua inisiatif baik.

    Menyinggung waktu pelaksanaan, Robert menjawab bahwa proposal pendirian akan diajukan pada bulan Mei 2022 ke Dikti. Bila proses berjalan lancar maka paling lambat, tahun 2023 sudah bisa berjalan. Semuanya hanya bisa berjalan kalau banyak pihak mengambil bagian, dan Yayasan Koker selalu mengedepankan kolaborasi dan kontribusi kepada siapapun yang berkehendak baik untuk bergabung.

    (Team Humas Yayasan Koker)

  • – Krisis dan Intervensi Pemerintah –

    – Krisis dan Intervensi Pemerintah –

    Oleh A Sonny Keraf

     

    Krisis keuangan global yang dipicu krisis keuangan di Amerika Serikat sebenarnya disebabkan oleh pengkhianatan terhadap ideologi ekonomi pasar.

    Tidak seperti dikehendaki Bapak ekonomi pasar, Adam Smith, Pemerintah AS justru membiarkan pasar keuangannya bebas tak terkendali tanpa intervensi.

    Di pihak lain, saat Pemerintah AS mengintervensi pasar keuangannya dengan mengucurkan dana besar talangan dari pajak rakyat, tindakan itu memunculkan pertanyaan apakah tindakan itu tepat dan adil dari perspektif sistem ekonomi pasar. Pertanyaan yang sama juga muncul, bahkan harus muncul, saat Pemerintah Indonesia mengambil aneka tindakan yang mengarah pada intervensi pasar keuangan guna mencegah krisis ekonomi.

    Tidak tabu intervensi

    Sistem ekonomi pasar sebagaimana dikehendaki Adam Smith memang membuka ruang bagi interaksi dan transaksi bisnis secara bebas di antara pelaku. Prinsipnya, pelaku bebas masuk dan keluar dari pasar. Tetapi, ini tidak berarti dalam sistem ekonomi pasar sebagaimana dicetuskan Adam Smith, intervensi negara melalui pemerintah ditabukan sama sekali. Dia memang melontarkan doktrin nonintervensi dari negara. Namun, itu tidak mutlak. Negara bahkan dibenarkan untuk intervensi.

    Intinya, boleh atau tidak pemerintah atas nama negara melakukan intervensi terhadap pasar ditentukan oleh paling kurang dua hal. Pertama, ini ditentukan oleh siapa sesungguhnya pemerintah yang sedang berkuasa.

    Kedua, niat dasar dari tindakan intervensi pemerintah terhadap pasar. Kedua pertimbangan ini pada dasarnya bersifat moral: menyangkut keadilan (fairness) dalam interaksi pasar.

    Bagi Adam Smith, saat pasar (untuk konteks modern berarti juga pasar keuangan) telah berkembang menjadi sedemikian liar dan jelas ada pihak atau pelaku pasar terindikasi atau telah dirugikan, maka sah secara moral dan dibenarkan untuk pemerintah melakukan intervensi demi mencegah dan/atau memulihkan kembali kerugian dari pihak tertentu dalam pasar.

    Tentu saja ini mengandaikan informasi terbuka sehingga bisa diketahui potensi atau kejadian yang merugikan pihak tertentu. Dan, itu berarti perlu dan diharuskan adanya pengawasan dari negara melalui pemerintah untuk menjaga agar pasar benar-benar fair dan tidak malah merugikan pihak tertentu.

    Atas dasar teori Adam Smith, dapat disimpulkan, pemerintahan George W Bush telah melakukan kesalahan fundamental yang justru mengkhianati sistem ekonomi pasar sendiri, yaitu membiarkan pasar keuangannya bebas liar beroperasi dengan menelan korban dan banyak pihak dirugikan secara menyakitkan tanpa ada intervensi berupa pengawasan atau kontrol apa pun.

    Pemerintahan Bush seharusnya melakukan intervansi jauh sebelumnya tidak saja untuk mencegah krisis tetapi juga mencegah pelaku pasar yang dirugikan sekaligus menjaga fairness dalam interaksi pasar. Intervensi ini adalah sebuah keharusan doktrin pasar bebas sejak dari lahir oleh pencetusnya sendiri.

    Pemerintah yang mana?

    Di pihak lain, intervensi terhadap pasar oleh pemerintah tidak serta-merta bisa dibenarkan bahkan oleh sistem ekonomi pasar sendiri. Dalam konteks historis, Adam Smith menolak intervensi pemerintah (Inggris saat itu) karena pemerintah telah berkolusi dan bersekongkol dengan para pedagang (kaum merkantilis) untuk mengatur transaksi dagang sedemikian rupa demi kepentingan dan keuntungan pedagang dengan merugikan kepentingan banyak pihak.

    Jadi, pertama, selama pemerintah berkolusi dan bersekongkol dengan pihak tertentu (pedagang) untuk mengatur transaksi bisnis demi kepentingan kelompok tertentu dengan merugikan pihak lain, intervensi itu secara moral salah dan karena itu harus ditolak.

    Kedua, selama niat dasar intervensi pemerintah adalah bukan menegakkan fairness dan menjamin kepentingan bersama secara fair, intervensi itu secara moral juga salah karena itu tidak pernah dibenarkan.

    Dengan dasar pemikiran ini, apakah intervensi pemerintahan Bush dan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap pasar keuangan yang sedang krisis dibenarkan atau tidak, amat tergantung niat dasar, warna, dan watak pemerintahan itu. Jika niat dasarnya adalah untuk menyelamatkan kepentingan publik yang mengalami kerugian akibat krisis keuangan, tentu bisa dibenarkan. Lebih dari itu, jika bisa dijamin bahwa pemerintah yang sedang melakukan intervensi itu memang steril dari kepentingan bisnis atau politik, juga bisa dibenarkan.

    Cerita akan lain jika niat dasar dari intervensi yang dilakukan pemerintah sebenarnya adalah untuk menyelamatkan kepentingan bisnis pihak tertentu yang sedang sekarat karena krisis keuangan, tetapi dibungkus argumen demi menyelamatkan krisis keuangan dan untuk mencegah korban lebih banyak. Intervensi yang kelihatan mulia, tidak serta- merta secara moral dibenarkan.

    Alat paling sederhana untuk mengecek kemurnian niat pemerintah adalah apakah ada anggota kabinet yang mempunyai kepentingan bisnis langsung atau tidak langsung dengan perusahaan yang sedang dilanda krisis keuangan. Kalau ada (entah presiden, wakil presiden, atau menteri), kita harus mencurigai niat intervensi pemerintah karena amat mungkin ditunggangi kepentingan anggota kabinet untuk menyelamatkan perusahaannya. Selama ada anggota kabinet yang perusahaannya dilanda krisis keuangan atau ada anggota kabinet menjadi pemain di pasar saham, intervensi pemerintah amat patut dicurigai dan diwaspadai.

    Pada titik ini, persoalan keadilan atau fainerss, yang menjadi fokus utama teori Adam Smith, kembali mengemuka secara jelas. Apakah adil, bila pemerintah menggunakan uang negara untuk menyelamatkan perusahaan keuangan yang sekarat padahal mereka jugalah yang telah merugikan kepentingan para klien mereka secara tidak fair, serakah dan tidak peduli?

    Apakah intervensi dengan kedok menyelamatkan krisis ekonomi negara secara keseluruhan adalah adil jika akhirnya rakyat banyak yang dirugikan justru yang membayar kerugian yang ditimbulkan para kapitalis yang tamak dan rakus? Lalu, siapakah yang membela rakyat ketika kekuasaan negara juga digunakan para kapitalis melalui pemerintah yang berkuasa untuk menyelamatkan kepentingan kapitalis?

    ********************************************************************

    A Sonny Keraf, Menulis Disertasi di KUL Belgia,  “Etika Ekonomi Pasar Adam Smith“,  Diterbitkan dalam Bahasa Indonesia berjudul “Pasar Bebas, Keadilan dan Peran Pemerintah”, 1996 Kaniius. 

    Sumber : Kompas, Rabu, 22 Oktober 2008

     

  • Pancasila bagi Gen – Z

    Pancasila bagi Gen – Z

    Cicilia Damayanti, Pengajar di Universitas Indraprasta PGRI – Jakarta dan Alumnus Doktoral STF – Driyarkara 

     

    Pendahuluan

    Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia sebagai hasil kesepakatan bersama. Kesepakatan bersama ini menjadikan Pancasila sebagai rumah yang menaungi kepentingan banyak orang. Kesepakatan ini tidak selalu berjalan mulus, penuh dengan perdebatan dan penolakan dari beberapa pihak. Meski demikian, proses tersebut berlanjut untuk menghasilkan kesepakatan bersama yang diharapkan dapat dilanjutkan oleh generasi penerus. John Rawls pernah berpendapat bahwa kesepakatan berdasarkan kesamaan dalam perbedaan (overlapping consensus) akan dapat dicapai, meskipun tidak otomatis. Keadilan dapat diraih bila orang-orang yang penuh pertimbangan (reasonable persons) bersatu untuk membuat kesepakatan berdasarkan kesamaan dalam perbedaan (Rawls. 1993, 48-9). Hal ini sudah dilakukan oleh anggota Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) yang kemudian menghasilkan Pancasila.

    Sejarah Lahirnya Pancasila

    Pancasila merupakan dasar negara khas yang dimiliki Indonesia. Sejarah lahirnya Pancasila penuh dengan dialog yang terbuka terhadap perbedaan. BPUPKI menjadi badan yang melahirkan dan mengesahkan Pancasila sebagai ideologi negara. BPUPKI melakukan sidang pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam sidang tersebut, Sukarno menjabarkan lima sila sebagai dasar negara yang kemudian disebut sebagai Pancasila. Prinsip dasar dari sila-sila tersebut antara lain: 1) Kebangsaan Indonesia, 2) Internasionalisme/Peri kemanusiaan, 3) Mufakat/demokrasi, 4) Kesejahteraan Sosial, 5) Ke-Tuhanan yang berkebudayaan.

    Jalannya sidang tidak berjalan mulus sebab ada perdebatan pada sila pertama yang hendak menambahkan kalimat: Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Para Pemeluk-Pemeluknya. Sebab golongan Indonesia Timur, yang sebagian besar non-Muslim, menolak kalimat tersebut karena dianggap tidak mencerminkan keragaman Indonesia. Sehingga pada 22 Juni 1945 sila pertama diubah menjadi: Ketuhanan yang Maha Esa, dan disahkan bersama sila-sila yang lain pada tanggal 18 Agustus 1945. Kesepakatan untuk menciptakan Pancasila dibuat bersama perwakilan seluruh lapisan masyarakat Indonesia, termasuk dari golongan minoritas. Antara lain: 1) perwakilan tokoh Tionghoa seperti: Liem Koen Hian, Oei Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, dan Mr. Tan Eng Hoa, 2) Perwakilan Arab: AR Baswedan, 3) Perwakilan Indo-Belanda: PF Dahler, 4) Perwakilan Perempuan: Maria Ulfah dan Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito.

    Gen-Z

    Saat ini Pancasila menghadapi tantangan terbaru saat memasuki era teknologi 4.0. Tantangan terbesar adalah bagaimana mengajarkan Pancasila untuk kemudian diamalkan dan dijalankan oleh Gen-Z. Gen-Z adalah generasi yang lahir setelah Gen-Y antara tahun 1995 – 2010. Generasi dikenal sebagai generasi internet. Mereka selalu terhubung dengan dunia maya dan dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi.

    Generasi Z menggunakan ponsel pintar dan tablet secara alami. Karakteristik mereka antara lain: 1) Mahir teknologi dan suka berkomunikasi. Gen-Z dapat melakukan akses dengan cepat dan mudah sehingga dapat diandalkan dalam hal IPTEK. Dengan merebaknya internet membuat mereka mudah melakukan komunikasi. Media sosial menjadi sarana mereka untuk berkomunikasi dan berekspresi secara spontan, yang membuat mereka terkesan kurang sopan. 2) Gemar mengumbar privasi dan lebih mandiri. Semakin banyaknya media sosial dan jaringan internet yang memadai memudahkan mereka untuk berekpresi dan menunjukkan segala hal yang dialami. Mereka terbiasa mengabil keputusan secara mandiri tanpa melibatkan pertimbangan orang lain, dan lebih memilih untuk belajar dan berkembang sendiri. 3) Lebih toleran dan penuh ambisi. Mereka terbiasa menerima segala perbedaan yang ada dengan sikap lapang dada disertai sikap toleransi. Gen-Z dapat menghormati sesame orang dan lingkungan yang berbeda dengannya. Hidup mereka penuh semangat dan memiliki ambisi yang bergelora. Mereka tidak mudah berpuas diri dan selalu ingin terus berkembang. Mengejar impian adalah tujuan hidupnya dan kadang mengabaikan kepentingan orang lain. Karakter mereka individualistis dan egosentris karena selalu ingin memenuhi ambisinya (https://www.merdeka.com/jatim/pengertian-gen-z-serta-karakteristiknya-ketahui-agar-tak-keliru-kln.html). Lantas bagaimana kita bisa membantu mereka memahami nilai-nilai Pancasila?

    Penerapan Nilai Pancasila yang Baru

    Bagi Gen-Z, informasi merupakan media yang membantu mereka dalam menyerap pengetahuan sehari-hari. Untuk itu nilai-nilai Pancasila perlu diuraikan secara lebih up-to-date agar dapat membantu mereka menerima hal ini dengan baik. Berikut ini akan dijelaskan nilai-nilai Pancasila melalui berbagai macam pemikiran dan contoh yang mengikuti perkembangan pengetahuan Gen-Z.

    Sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa. Berbicara tentang ketuhanan berkaitan dengan agama dan kepercayaan seseorang. Pada tahun 2000, di era pemerintahan Presiden Gus Dur, agama Khong Hu Cu resmi diakui oleh negara. Pengakuan ini tidak berhenti sampai di sini, Gus Dur kemudian juga memberikan kebebasan bagi para pemeluk agama Khong Hu Cu, yang kebanyakan keturunan Cina, untuk menjalankan ibadah agamanya secara terbuka dan merayakan hari raya keagamaan mereka. Dampak dari peraturan ini membuat kita sekarang bebas melihat pertunjukkan barongsai, yang sempat dilarang di era Orde Baru. Di samping itu masih ada perjuangan masyarakat Badui yang berharap kolom agama KTP mereka bisa diisi dengan agama Sunda Wiwitan. Kita semua tahu identitas bangsa kita masih mengharuskan kolom agama untuk diisi. Masyarakat Badui keberatan bila harus mengisi salah satu dari 6 agama yang diakui pemerintah. Sebab menurut mereka itu bukan agama dan kepercayaan yang mereka anut, sehingga banyak dari orang Badui memilih mengosongkan kolom agamanya. Mahkamah Institusi di akhir tahun 2018 memutuskan bahwa kolom agama di KTP bisa diisi dengan “Kepercayaan”. Meskipun masyarakat Badui masih mengharapkan kolom agama mereka bisa diisi dengan Sunda Wiwitan, tetapi sebagian besar sudah dapat menerima. Sebab mereka membutuhkan KTP untuk keperluan administrasi sehari-hari, seperti mengambil bantuan dari pemerintah, mendaftarkan sekolah, atau untuk memiliki akta kelahiran (https://m.antaranews.com/amp/berita/809218/kolom-agama-ktp-warga-badui-diisi-penganut-kepercayaan)

    Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kemanusiaan berarti penghormatan terhadap nilai-nilai kesetaraan manusia. Manusia yang saling menghargai harkat dan martabat sesamanya. Bagaimana mewujudkan hal ini? Salah satunya dengan menghargai keragamaan semua manusia. Ketika kita berbicara semua manusia, berarti termasuk juga mereka yang berkebutuhan khusus dan para lansia. Apa yang mereka butuhkan dalam hidup? Menurut Martha Nussbaum (1947- ), seorang filsuf dari Amerika, orang berkebutuhan khusus dan lansia membutuhkan bukan uang semata, tetapi bagaimana orang tersebut dapat mengembangkan kemampuannya dengan menjadi apa yang diinginkannya (Nussbaum. 2006:164-170). Hal ini mengajak kita untuk memasukkan anak yang berkebutuhan khusus ke dalam kelas bersama dengan anak yang biasa. Tindakan ini dapat mengajarkan kepada anak-anak yang lain tentang keragaman. Kelas campuran ini dapat mengajak mereka untuk menyadari bahwa kelemahan orang lain merupakan bagian dari keragaman kemampuan yang dimiliki manusia. Pada hakikatnya pendidikan adalah kesempatan bagi setiap orang yang berhubungan dengan hak dan martabatnya sebagai manusia. Pendidikan menjadi sarana dan akses untuk memilih pekerjaan, memberikan suara dalam politik, dan menjadi posisi tawar-menawar yang kuat untuk menjadi diri sendiri. Situasi ini membutuhkan pengaturan publik yang baik dan budaya publik yang layak untuk memastikan orang lanjut usia dan orang berkebutuhan khusus tidak menjadi masalah bagi keluarga mereka. Kebijakan publik sebaiknya disebarkan agar pilihan untuk mengasuh orang yang diasuhnya menjadi pilihan nyata, bukan paksaan yang lahir dari ketidakpedulian sosial. Di sini terlihat bahwa dalam kepedulian ada tindakan timbal balik (reciprocity). Prinsip mendasar dalam kepedulian adalah tanggapan terhadap apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Negara berkewajiban untuk memperhatikan kebutuhan anak-anak (juga yang berkebutuhan khusus) dan para lansia.

    Sila ketiga: Persatuan Indonesia. Kita dapat belajar melalui Kartini, Kardinah, dan Roekmini. Tiga dara dari Jepara ini menggunakan daun semanggi sebagai simbol persatuan. Mengapa daun semanggi? Daun ini dipercaya sangat bagus untuk tulang, terutama untuk mencegah ostereoporosis. Ketika berbicara tentang tulang, kita sedang menggambarkan tentang penopang. Tulang adalah penyangga tubuh. Tulang yang kuat menghasilkan tubuh yang sehat. Persatuan perlu dijaga dan dipelihara agar kuat. Melalui simbol daun semanggi dari tiga dara ini, kita dapat belajar bahwa persatuan membutuhkan kerja sama, saling pengertian, saling menghormati, dan saling menjaga. Semua orang diharapkan dapat membuka hati untuk mau terlibat dalam masyarakat dan membangun kerja sama yang berkelanjutan. Sehingga persatuan Indonesia sungguh dapat lestari (https://amp.kompas.com/biz/read/2020/12/24/203555128/mengenang-sosok-kartini-kardinah-dan-roekmini-tiga-bersaudara-penentang).

    Sila keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Sila ini terpusat pada permasalahan Hak Asasi manusia (HAM) yang masih menjadi perjuangan sampai sekarang. Para petani dari pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, sejak tahun 2016 terus memperjuangkan hak asasi mereka dengan menolak pembangunan pabrik semen di daerah Kendeng milik PT Semen Indonesia. Mahkamah Agung (MA) pada tahun 2016 sudah memutuskan untuk menolak pembangunan pabrik semen tersebut. Tetapi sampai saat ini pembangunan pabrik semen tersebut terus berjalan. Mereka merasa menteri ESDM memiliki tendensi untuk menyimpang dari keputusan MA tersebut. Para petani Kendeng terus menggelar aksi di seberang Istana Presiden dengan menyemen kaki mereka. Tindakan ini sebagai simbol penolakan terhadap pengelolaan penambangan semen di daerah mereka. Para petani Kendeng berjuang untuk menyuarakan aspirasi mereka dengan cara damai yang diselingi dengan lagu dan musik gamelan. Bagi mereka lingkungan hidup harus dipelihara agar tetap lestari dan bisa dinikmati oleh generasi penerus. Mereka menuntut pemerintah membuat peraturan yang dapat menjaga kelestarian lingkungan. Mereka tidak melakukan aksi ini untuk diri mereka saja. Dalam benak mereka ada generasi penerus yang akan terus menghuni planet bumi ini. Mereka memikirkan generasi mendatang (https://tirto.id/ibu-ibu-petani-kendeng-tagih-penuntasan-kasus-pabrik-semen-c2XC). Gerakan menjaga kelestarian lingkungan juga digerakkan oleh kaum muda. Osin dari Nusa Tenggara Timur dan Aulia dari Jakarta Barat juga berjuang untuk mengatasi perubahan iklim yang makin dahsyat untuk menjaga peradaban manusia saat ini. Mereka berjuang bersama komunitasnya. Osin membuat alat desalinasi air laut sederhana untuk menyediakan air bagi hewan dan tanaman di lingkungannya. Dia berhasil membuat kontribusi untuk lingkungan sekitar, meskipun dalam skala kecil. Aulia mengajak teman-temannya membuat bank sampah, agar warga bisa mengumpulkan dan belajar cara memilah sampah (https://m.mediaindonesia.com/opini/428007/mencari-greta-bermuatan-lokal). Melalui para tokoh ini, Gen-Z diajak untuk bergerak bersama dalam menjaga lingkungan sekitar dan peduli pada generasi selanjutnya.

    Sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Keadilan berarti kesetaraan semua orang. Saat berbicara tentang kesetaraan hal utama yang harus diraih adalah memberi kesempatan dan kebebasan bagi setiap orang untuk berfungsi dalam hidupnya. Bagaimana mereka bisa berfungsi di masyarakat? Salah satunya adalah dengan memenuhi kebutuhan mereka dalam mendapatkan pendidikan yang layak dan kesehatan yang memadai. Sebab bila seseorang terdidik tapi tidak sehat tentu saja dia tidak dapat meraih cita-citanya. Sehingga keadilan dapat terwujud saat setiap orang dapat menjadi apa yang ingin dilakukannya. Hal terpenting adalah bahwa setiap orang berhak diperlukan sebagai tujuan, bukan sebagai sarana semata. Pekerja Rumah Tangga (PRT) menjadi contoh nyata yang sering mengalami ketidakadilan. Sebagai manusia mereka sering diperlakukan sebagai manusia kelas dua. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka tidak mendapat upah yang layak, jam kerja yang tidak menentu, dan tidak memiliki jaminan sosial maupun kesehatan. UUD 1945 sudah menegaskan bahwa setiap warga negara adalah sama di depan hukum. Tapi sampai saat ini tidak ada regulasi turunan dalam bentuk undang-undang untuk menghargai harkat dan martabat mereka sebagai manusia. Sehingga nasib mereka masih menjadi PR kita bersama untuk mewujudkan keadilan.

    Penutup

    Melalui kelima sila dari Pancasila ini diharapkan tumbuh semangat patriotisme untuk bangga pada bangsa dan negaranya. Tetapi tetap harus berhati-hati karena patriotisme dapat bermuka dua (Janus-faced). Wajah menghadap keluar menyatakan bahwa kita mempunyai tugas utama berkorban bagi kepentingan bersama. Sedangkan wajah yang menghadap ke dalam mengajak setiap orang untuk merasa hebat dan memisahkan diri dari orang lain di luar komunitas negara, menjadi subversif dan mengucilkan orang asing. Dalam hal ini patriotisme bersifat bipolar. Di satu segi mengikat setiap warga negara untuk bekerja sama dan berupaya menjunjung tinggi kesetaraan dan martabat manusia. Di segi lain menjadi tindakan untuk membela bangsanya secara fanatik. Sehingga membedakan dirinya dari orang yang tidak sama keyakinan dan pemahaman dengannya. Hal ini menyebabkan patriotisme tetap membutuhkan nalar kritis sejak awal dan berkelanjutan. Sebab, patriotisme sejati menuntut kebebasan untuk berpikir kritis dalam berpendapat.

    Suatu negara terdiri dari kesepakatan bersama dengan semua warga yang menjadi bagiannya. Kebebasan berpendapat dan berserikat merupakan hak mutlak yang dimiliki setiap warga negara. Pertanyaan yang mengusik adalah bagaimana setiap orang dapat berpendapat dan berserikat bila tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan kesehatan yang memadai? Pemeritah suatu negara berperan penting dalam mewujudkan hal ini. Tidak lupa setiap warga negara berhak untuk menjadi pengawas bagi jalannya pemerintahan yang bersih dan adil. Peran serta aktif setiap warga negara membantu jalannya demokrasi yang dinamis dan berkelanjutan. Sebab, negara adalah tempat setiap orang menerima keragaman dan keunikan setiap individu. Rumah bersama di mana setiap orang hidup damai dan sejahtera. Negara adalah tempat yang menerima setiap orang menjadi satu keluarga. Kedekatan ini masih menjadi perjuangan kita bersama untuk mewujudkannya, terutama dalam menghadapi keragaman yang ada di sekitar kita. Mampukah kita sebagai manusia yang berakhlak mulia menjaga dan melestarikan nilai-nilai kemanusiaan di tengah himpitan teknologi yang kian membuat jarak di antara kita? Melalui konteks yang sudah diuraikan tersebut kita akhirnya memahami bahwa aplikasi Pancasila terus bergerak dan berkembang dinamis. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bukanlah nilai yang kaku dan statis. Dalam praktiknya nilai-nilai tersebut terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, dan pastinya selalu untuk menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan sejahtera.

    *****************************************************

  • Tahun Baru China dan Dongeng tentang Kerbau

    Tahun Baru China dan Dongeng tentang Kerbau

    SETIAP TAHUN, warga keturunan etnis China di seluruh belahan dunia merayakan Tahun Baru China sebagai syukur atas berkat, rahmat dan makna kehidupan. Orang-orang etnis China (華人 baca: Huárén) dikenal punya semangat menjaga tradisi, ada konsistensi yang kuat untuk mempertahankan warisan budaya.

    Dari situlah perayaan Tahun Baru China (orang Taiwan bilang 過年 guònián), orang Barat bilang “Chinese New Year”, orang Filipina dan Vietnam bilang “Lunar New Year”, orang Indonesia bilang “Imlek”) lalu menjadi momen menggembirakan sekali setahun untuk melihat nuansa alam warna merah cerah, pagelaran dan pertunjukan-pertunjukan seni a la China, hidangan-hidangan tradisional yang lezat, dan tentu saja kumpul-kumpul bersama keluarga.

    Kegembiraan Tahun Baru China bersama keluarga

    Seturut tradisi yang ada, pada hari-malam sebelum Tahun Baru (除夕 baca: chúxì), semua anak laki-laki akan kembali ke rumah orang tuanya untuk merayakan makan malam tahun baru bersama, serta melakukan aktivitas pembersihan rumah untuk menyapu bersih “kemalangan” tahun lalu dan menyambut “nasib baik” di tahun yang baru.

    Anak laki-laki yang sudah menikah akan membawa serta istri dan anak-anaknya ke rumah. Baru pada hari kedua di tahun baru itu (初二 baca: chūèr), anak laki-laki akan mengikuti istrinya pergi ke rumah orang tua sang istri. Kebiasaan seperti ini diyakini akan membawa berkat tersendiri bagi anak-anak.

    Satu menu yang unik disajikan pada makan malam tahun baru adalah ikan (魚 baca: yú) yang biasanya dimasak dengan cara dikukus. Konon katanya di malam tahun baru, ikan yang disajikan tidak boleh dimakan sampai selesai (sekalipun rasanya enak sekali dan ko sedang lapar bukan main). Ini dibuat sebagai harapan bahwa tahun baru akan dimulai dan diakhiri dengan surplus (pemasukan yang lebih besar dari pengeluaran).

    Di samping itu, perayaan Tahun Baru China juga tidak lepas dengan pemberian angpao atau amplop merah berisi uang atau kartu ucapan tahun baru. Angpao biasanya diberikan oleh orang yang sudah tua (misalnya orang tua) kepada orang-orang yang lebih muda (misalnya anak-anak).

    Tahun Baru China kali ini jatuh pada tanggal 12 Februari 2021. Oleh orang-orang China disebut sebagai “Tahun Kerbau” (牛年 baca: niú nián). Dalam penanggalan kalender China, selain kerbau masih ada sebelas hewan lain yang namanya dipakai untuk menyebut tahun-tahun dalam kalender China. Sebelas hewan tersebut ialah tikus, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam jantan, anjing dan babi. Kerbau menempati urutan kedua, setelah tikus, sebelum harimau (alasannya akan saya jabarkan kemudian). Dan yang pasti, urutan seperti ini sudah diatur demikian, dipaku mati dari sono, tidak bisa dibolak-balik sesuka hati.

    Bersama salah seorang adik angkat

    Menulis tentang hewan-hewan ini, saya dibawa kembali pada hari-hari awal belajar bahasa Mandarin. Pagi itu saya memasuki ruang kelas. Bagi saya, belajar bahasa memang tidak sesulit belajar ilmu filsafat yang dengan tertatih-tatih sudah saya lewati beberapa tahun lalu.

    Ketika berkutat dengan ide-ide filsafat tertentu misalnya, ko harus banyak baca lebih dahulu buku sumber utama dan buku-buku sumber lain sebagai pembanding, baru ko bisa mulai mendalami, menganalisis dan mengerti satu gagasan filsafat besar, yang rumit, yang abstrak, yang wah itu. Bayangkan saja saat ko sedang geluti ide filsafatnya Hegel atau mukut baca Sein und Zeit nya Heidegger yang tetap saja sulit walaupun sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
    Belajar bahasa memang tidak serumit itu. Yang buat rumit adalah diri sendiri. Di saat usia semakin hari semakin bertambah, kemampuan untuk menyerap pengetahuan akan bahasa baru juga semakin melemah. Di situ ko harus sadar. Sadar bahwa ko harus lebih dari sekadar tekun. Sadar bahwa ko harus bisa lebih dari sekadar setia. Sadar bahwa di usia dua puluhan tahun, ko mau tidak mau harus  menjadi seperti seorang anak TK yang mulai belajar bahasa. Tapi jangan dulu terlalu pesimis. Percayalah, ada juga banyak nikmat yang beriringan bersama beberapa kerumitan yang telah saya sebutkan sebelumnya.

    Baru saya sendiri. Di kelas. Sedang di atas meja guru tergeletak dua belas gambar hewan yang langsung menyita perhatian saya. Ketika kelas mulai, guru  mulai mendongeng tentang kedua belas hewan itu. Pertanyaannya: mengapa hanya ada dua belas ekor hewan? Saya tidak tahu, guru juga tidak tahu. Setelah itu baru saya tahu bahwa ini hanyalah “fabel” – sebuah cerita dongeng tentang binatang yang dikemas semata-mata sebagai hiburan yang menyenangkan bagi anak-anak, bagi kami waktu itu. Tapi jangan tangkis, beberapa dongeng ternyata menyisipkan pesan moral dan edukasinya juga loh.

    Satu halaman buku yang memuat tentang dongeng singkat 12 zodiak China

    Pada zaman dahulu,” guru mulai membuka cerita, ada dua belas hewan yang sepakat mengadakan lomba menyeberangi sungai. Siapa yang paling cepat sampai ke tempat tujuan, dialah yang menjadi pemenangnya. Perlombaan mulai. Semua hewan mengeluarkan kemampuan renang terbaiknya untuk menyeberangi sungai tersebut. 

     Setelah bersakit-sakit dahulu, tikus kemudian bersenang-senang karena selamat sampai duluan di tempat tujuan, diikuti kerbau di urutan kedua, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam jantan, anjing, sedang babi ada di urutan terakhir. Nah, sekarang sudah jelas kenapa kerbau harus menempati urutan kedua dalam penanggalan kalender China.
    Setelah kompetisi tersebut, orang-orang China mulai menggunakan nama-nama hewan tersebut berturut-turut seturut hasil perlombaan mereka untuk mewakili penanggalan tahun-tahun kalender mereka (jadi, setelah tahun kerbau, berdasarkan urutan jawara perlombaan, tahun depan kita akan memasuki tahun harimau).
    Dari dongeng itulah orang-orang pun mulai menyebut dua belas hewan ini dengan “zodiak China” (生肖 baca: shēngxiào). Selain di negeri China sendiri, hingga saat ini, zodiak China masih tetap eksis dan populer di beberapa negara Asia lain seperti Vietnam, Brunei, Korea, Malaysia, Mauritius, Singapura, Filipina, Jepang, Thailand, Mongolia dan negeri tercinta Indonesia.
    Sebuah harapan ditulis di awal tahun baru: semoga rejeki semakin berlimpah (財源廣進)

    Kembali ke Tahun Kerbau. Bahasa China 牛 (niú) selain merujuk pada kerbau, juga dipakai untuk menyebut hewan sapi, dua hewan yang mana masyarakat Indonesia sendiri sudah membuat pembedaan nama yang sangat jelas dan tegas sejak menerima santapan ilmu pengetahuan alam ditambah pengalaman bertemu “mereka” langsung di alam.

    Hal yang sama juga muncul saat menyebut kata domba dan kambing sama-sama sebagai 羊 (baca: yáng). Ini penting karena misalnya ketika ko mau pi makan 羊肉 (baca: yángròu), itu bisa berarti ko mau makan entahkah “daging domba” atau “daging kambing”.

    Maka di sini jelas, ketika ko sampe di warung, tidak cukup kalo ko hanya andalkan kemampuan mata untuk melihat “dari luar” (ingat: mengandaikan ko ada di luar) sebuah warung yang bertuliskan 羊肉. Ko, lebih dari itu, harus bisa gunakan indera penciuman untuk bisa membaui secara tajam apakah ini aroma 羊肉 yang adalah daging kambing yang khas itu, ataukah 羊肉 yang adalah daging domba.

    Sampai di sini, selain ko harus pastikan kalo ko punya hidung sedang baik-baik saja, ko juga harus tahu baik-baik dan be more familiar lebih dulu dengan aroma dua daging yang berbeda ini.

    By the way, yang mau saya tonjolkan di sini sebetulnya bukan semata-mata soal mengenali menu makan yah. Bukan. Sampai di tahap ini, saya akhirnya sadar akan betapa kayanya perbendaharaan bahasa Indonesia itu sendiri (walaupun toh banyak juga kata bahasa Indonesia yang diserap dari kata-kata bahasa asing). Di sini saya merasa bangga. Bangga sekali!

    Menurut kepercayaan orang-orang etnis China, tahun kerbau disinyalir membawa keberuntungan bagi mereka melalui kerja keras dan ketabahan. Mereka yang lahir di tahun ini diyakini akan memiliki karakter-karakter baik kerbau seperti sabar, tak kenal lelah, dan menyukai rutinitas.

    Selain itu, mereka juga bisa jadi pendengar yang baik meski agak keras kepala dalam arti pemikirannya yang susah diubah. Namun, terlepas dari itu, meneladani peri hidup kerbau, seluruh warga etnis China, juga kita semua diajak untuk menjadi “kerbau-kerbau” yang baik dan cerdik, yang bisa selalu membawa keberuntungan, bukannya petaka, dalam perjalanan hidup seluruh hari di tahun ini.

    Selamat merayakan Tahun Baru China (2572) 新年快樂

    Selamat datang Tahun Kerbau! 歡迎牛年


     

    Frano Kleden, Menyelesaikan Studi Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsatat dan Teologi Ledalero, Maumere – Flores.

  • Biarkan Aku Bercinta dengan Kota Ini

    Biarkan Aku Bercinta dengan Kota Ini

    Cerpen Emanuel Dapa Loka

     

    KERETA SENJA Jakarta – Jogja sebentar lagi tiba. Jam di dinding bercat putih itu menunjukkan pukul 2.35 WIB. Tiba-tiba handphone John berdering panjang. Merasa terganggu, dia bangun lalu langsung mematikan, apalagi yang muncul di layar ponselnya hanya nomor.

    Tidak lama berselang, handphone android buatan China itu kembali berdering. John langsung matikan lagi. Lelaki berkulit bersih itu kembali tidur.

    Sekitar pukul 4.30 hpnya kembali berdering. Telepon masih dari nomor yang sama. John memang biasanya bangun pada jam segitu.

    Dengan dongkol, sekaligus berat hati, dia angkat. “Hallo, siapa nih,” katanya dengan suara agak jengkel. “Maaf, Mas. Aku Fenny. Masih ingat aku? Aku turun dari kereta di Stasiun Tugu tadi jam 2.35. Aku dapat panggilan wawancara kerja di Jogja. Jemput aku, ya….” kata Fenny tanpa jeda.

    John terdiam. Nyawanya “belum nyatu”. Ingatannya juga belum nyambung, dan belum ngeh dengan suara orang yang barusan berbicara dengannya. “Fenny siapa, ya… Maaf, kayaknya aku gak kenal orang bernama Fenny. Anda mungkin salah nomor,” kata John.

    Cepat-cepat wanita di balik telepon itu menimpali, “Oh, iya… Aku Stefany atau Any. Di kantorku orang lebih suka panggil aku Fenny, sebab ada pegawai lain yang lebih dahulu dipanggil Any. Sudah ingat belum….? Aku Any teman kamu dulu di Malang…”.

    Mendengar penjelasan itu, jantung John langsung berdegup kencang…. Dug…. dug….dug….

    Dia langsung teringat seorang wanita cantik berbadan “sempurna” yang dia pacari selama 2 tahun setelah selesai kuliah. Mereka sama-sama alumni sebuah kampus terkenal di kota Malang. Hubungan mereka ketika itu sangat baik. Mereka tampak cocok, jarang terjadi cekcok. Pokoknya cocoklah!

    ***

    Fenny kembali bicara. “Hallo, Mas… Jemput, ya…. Lagian ini hujan. Aku gak kenal siapa-siapa di kota ini. Kemarin aku minta nomormu di Billy sahabatmu. Kenal Billy, kan? Sekarang dia sudah jadi boss lho di Jakarta… Jemput aku, ya… Nanti jam 9 aku ada wawancara kerja di Timoho.”

    Wajah John terlihat gugup. Dia enggan menjemput. Dia sepertinya tidak kuat melihat Fenny. “Ayo, Mas…. Jemput, ya…. Please… Please,” kata Fenny dengan suara manja.

    “I… Iya…. Tunggu, ya….,” katanya terbata-bata. Tangannya sedikit gemetar sampai handphone di tangannya terjatuh. Untung handphone buat China itu tidak pecah.

    “Mas, saya tunggu di pintu keluar, ya… Dekat becak-becak,” kata Fenny dengan gembira.

    Tidak lama kemudian jantung Fenny pun berdegub kencang karena membayangkan sebentar lagi bertemu dengan John, setelah lima tahun tidak bertemu usai berpisah di Stasiun Lawang, Malang.

    Lamunan Fenny belum melayang terlalu jauh, tahu-tahu John dengan motor matic-nya sudah nongol di depan matanya. Mata mereka seperti saling memagut. Jantung keduanya sama-sama berdegub kencang, sampai lupa bersalaman.

    “Ayo, berangkat. Nanti kamu terlambat wawancara. Mana lagi tasmu,” kata John sambil mengangkat tas di samping Fenny. Fenny pun mengangkat tas jinjing berwarna coklat.

    ***

    Setelah menyelesaikan wawancara, Fenny masih tinggal di Jogja selama empat hari. Dia menginap di sebuah hotel di Jalan Solo, sedangkan John ngekos di Babarsari, dekat kampus Atma Jaya.

    Selama itu, keduanya beberapa kali bertemu, bahkan mereka dua kali makan malam bersama dan nonton film di bioskop. Mereka sempat pula main ke alun-alun utara. Tampak romantis, tetapi tetap saling menjaga jarak. Terutama John,dia tampak canggung memegang tangan Fenny, walau Fenny menunjukkan keinginan menggamit tangan John.

    John pun melayani obrolan Fenny dalam nada yang biasa sekali. Dia terkesan sangat hati-hati. Sesekali Fenny memang mengumpan dengan kenangan indah mereka pada enam tahun lalu. John hanya tersenyum kecil, lalu mengalihkan pembicaraan.

    ***

    Di pikiran dan pelupuk mata John masih sangat terang benderang bagaimana Fenny menyampaikan keinginan pulang ke Jakarta untuk menjenguk ibunya yang sakit keras. Namun, sejak kepulangannya itu tidak pernah ada kabar sama sekali. Semua komunikasi terputus!

    “Maafkan aku, Mas. Ibu sakit keras. Aku takut kehilangan Ibu. Aku harus pulang. Yang pasti, aku sayang kamu. Hati dan jantung ini milikmu,” kata Fenny terisak-isak.

    John lalu berkata, “Kalau mau pulang jenguk Ibu, pulanglah. Jangan lupa kasih kabar. Semoga ibu lekas sembuh, ya. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Gak bakalan macam-macam.”

    Melihat John seperti melamun dan tidak bersemangat menanggapinya, akhirnya Fenny minta diantar ke hotel.

    ***

    Empat hari setelah wawancara kerja tersebut, Fenny kembali ke Jakarta. John mengantarnya ke stasiun Tugu. Tidak berapa lama, kereta berangkat. Sekitar 30 menit kemudian, Fenny mengirim pesan, “Mas John, terima kasih untuk semuanya. Kamu memang laki-laki luar biasa. Mas, jantung yang pernah aku sebut adalah milikmu, benar-benar akan jadi milikmu…”

    Tulisnya pada pesan berikutnya, “Aku akan segera kembali lagi ke kotamu, Yogyakarta untuk membawa jantung ini untukmu.”

    John sama sekali tidak membalas pesan Fenny. Ditelepon pun, dia tidak angkat. Berkali-kali Fenny menelepon. Dia justru menonaktifkan ponselnya.

    Sepulang dari stasiun, John mampir ke penjual pulsa dan membeli nomor baru. Dia ingin segera mengganti sim card-nya agar Fenny tidak bisa menghubunginya lagi.

    Dua minggu kemudian, dia coba menghidupkan kartunya untuk menyalin nomor-nomor yang ada dalam sim card itu. Setelah itu dia ingin buang kartu lamanya.

    Tak terduga, Fenny menelepon. Dengan terus terang Fenny mengatakanbahwa dia ingin kembali jadian dengan John. Dia bercerita bahwa suaminya meninggal dua tahun lalu. Tentang dua anaknya yang lucu-lucu, Fenny sudah ceritakan ke John saat makan malam bersama. “Aku masih sayang kamu, Mas. Benar jantung dan cintaku memang untukmu,” kata Fenny.

    Dalam hati, John berkata, “Enak saja kau katakan begitu. Setelah  bertahun-tahun tanpa kabar, lalu jantung dan hatimu dicabik-cabik lelaki lain, sekarang kau ingin membawa kepadaku?Puih….!

    Lalu John berkata, “Maafkan aku, Fenny. Terima kasih atas jantung dan cintamu yang hendak kau kembalikan untukku. Hanyalah, setelah jantung dan hatimu memar entah oleh lelaki yang mana, kini kau ingin kembalikan kepadaku? Tidak! Uruslah hidupmu dengan baik, aku juga akan mengarungi kehidupanku dengan caraku sendiri di kota ini.”

    Lanjutnya lagi, “Sungguh, Fenny! Aku tidak mau jatuh cinta lagi, apalagi dengan orang yang pernah aku cintai. Biarkanlah aku bercinta dengan kotaku ini. Kota ini telah bertahun-tahun setia denganku. Jogya sungguh tidak ingkar cinta. Jogja jauh lebih setia dibanding dengan semua wanita yang aku cintai, termasuk kamu.”

    Tak satu pun lagi kata keluar dari mulut Fenny selain terdengar sesenggukannya, lalu tut…tut…tut… Dia memutuskan sambungan telepon.

    ***

    Setelah putus dari Fenny, John sempat pacaran dengan beberapa wanita, tapi semuanya sad ending, malah ada yang berkesudahan dengan tragis.Walau pekerjaannya cukup matang, terakhir, karena sedikit stress dia pacaran dengan seorang “penghuni” Pasar Kembang atau Sarkem. Wanita itu kemudian pergi dengan seorang lelaki lain ke sebuah kota, dan tidak pernah kembali. Terakhir, John mendapat kabar, wanita bernama Ayu itu meninggal karena terpapar Covid-19.

    ********************

    *Emanuel Dapa  Loka, Jurnalis, Penulis Buku Orang-Oramg Hebat – dari Mata Kaki ke Mata Hati.

  • Sulaeman L. Hamzah:  Membaca Sejarah – Meluhurkan Kehidupan

    Sulaeman L. Hamzah: Membaca Sejarah – Meluhurkan Kehidupan

    ANGGOTA Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia H. Sulaeman L Hamzah tampil sebagai pembicara dalam diskusi buku berjudul Lembata dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya karya sejarahwan Jakarta Thomas B Ataladjar di Hotel Marcopollo, Jakarta, Minggu (16/1). Demikian keterangan tertulis yang diperoleh wartawan di Jakarta, Senin (17/1).

    Sulaeman Hamzah, anggota Fraksi NasDem DPR RI Daerah Pemilihan Papua dua periode adalah salah seorang tokoh Lembata di balik sukses Lembata menjadi daerah otonom tahun 1999. Saat persiapan awal pengesahan Lembata menjadi daerah otonomi baru tahun 1999, ia duduk sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah Papua periode 1999-2004.

    ”Di hotel ini, 21 tahun lalu sejumlah sesepuh dan tokoh Lembata di Jakarta kita pernah berkumpul bersama para delegasi dari kampung halaman. Hari ini kita napak tilas proses perjuangan Lembata menjadi daerah otonom sesuai cita-cita para pejuang sejak tahun 1954,” ujar Sulaeman Hamzah, yang juga Ketua Masyarakat Flobamora Provinsi Papua.

    Tokoh masyarakat Lembata kelahiran Lewotolok, Ile Ape ini mengaku saat menjadi anggota MPR Utusan Daerah Papua periode 1999-2004, ia melakukan komunikasi intens dengan Drs Stanis Atawolo, Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata agar mempersiapkan semua persyaratan.

    “Alhamdulilah. Melalui Pak Stanis Atawolo, semua persyaratan kita penuhi. Saat Bapak Jendral Pol Anton Tifaona bersama delegasi hendak bertemu Menteri Dalam Negeri melalui Dirjen Otonomi Daerah Pak Profesor Ryass Rasyid, Pak Ryass menyampaikan tak ada masalah karena Lembata sudah pasti menjadi kabupaten baru Oktober 1999,” ujar Sulaeman Hamzah.

    Sulaeman Hamzah lebih jauh menegaskan bahwa dengan membaca buku Lembata – dalam Pergumulam Sejarah dan Perjuangan Otonominya karya Thomas B. Atadlajar, dapat memampukan kita menimba nilai-nilai luhur dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita entah sebagai petani, nelayan, buruh, pendidik, pegawai negeri, atapun sebagai politisi. Sebuah  sejarah perlu terus-menerus dikritisi agar pemikran kita diberi lahan untuk bertumbuh.

    Thomas mengakui buku itu berisi jejak tapak sejarah Lembata dari sejumlah tonggak dan serpihan sejarah, yang pernah menghiasi titian perjalanan kabupaten itu sejak zaman nirleka (pra-aksara) yang sekaligus melatarbelakangi ikwal sejarah panjang perjuangan rakyat daerah itu sukses mencapai otonomi lepas dari Flores Timur, kabupaten induk.

    Satu hal yang tidak mungkin dibantah, ujar Thomas, adalah bahwa Lembata menjadi kabupaten, itu merupakan salah satu poin dari rentang perjalanan sejarah Lembata. Artinya, tidak bisa lepas dari periodisasi sejarahnya sebelum menjadi kabupaten.

    Ia menambahkan, buku ini dipartisi hanya dalam dua bagian, yang masing-masing bagian disusun berdasarkan bab-bab yang berbeda. Bagian pertama menyajikan tentang Lomblen era prasejarah termasuk kisah migrasi leluhur serta asal usul manusia penghuni berdasarkan kisah tutur yang bisa diperoleh, sekaligus mitos dan legenda yang melekat dan menghiasinya. Bagian ini termasuk memuat penelitian hasil usaha para arkeolog yang telah menemukan benda-benda purbakala serta sejumlah situs prasejarah Lomblen (kini Lembata) yang memberikan petunjuk bahwa Lembata itu telah berpenduduk dan mempunyai peradaban sejak zaman nirleka.

    “Entitas masyarakat Lomblen secara geografis dan kultural serta kajian arkeologis berdasarkan penemuan situs-situs purbakala yang ditemukan, telah ada sejak lebih dari 1.000-4.000 tahun sebelum Masehi. Masa inilah yang disebut masa prasejarah, termasuk fase migrasi suku-suku masuk ke Lomblen. Juga dibahas tentang Sina Jawa-Malaka, Seran Goran Abo Muar, Lepan Batan-Kroko Puken serta bencana Kroko Puken dan Awololo; juga tentang agama asli leluhur Lera Wulan Tana Ekan (Tuhan Penguasa Langit dan Bumi) serta aneka ritus budaya lainnya,” ujar Thomas, penulis buku-buku sejarah DKI Jakarta, Kepulauan Seribu, Banten, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Sumatera Barat.

    Sedangkan bagian kedua menyajikan Lomblen memasuki era sejarah ditandai dengan masuknya dua agama wahyu Islam dan Katolik di Lomblen. Pada bagian kedua ini, diulas sejumlah topik seperti Kedang dan Labala: gerbang masuknya agama Islam; mengupas khusus tentang masuknya agama Islam ke Lomblen lewat dua pintu gerbangnya Labala dan Kalikur dibawa penyebar agama Islam dari Palembang, Jawa, Ternate, Tidore, Makasar dan Sumatera Barat. Yang kemudian memunculkan koalisi atau komunitas kerajaan Islam Solor Watan Lema, yang dibentuk kerajaan Islam Lamahala, Terong, Lohayong, Lamakera dan Labala, untuk membendung pengaruh dan mengusir bangsa Portugis di abad 16-17 di Kepulauan Solor.

    Sedangkan Sulaeman mengatakan, isi buku ini dapat dijadikan materi muatan lokal di sekolah-sekolah di Lembata. Buku itu juga bisa jadi sumber referensi mahasiswa asal Lembata yang sedang menimba ilmu di perguruan baik di NTT maupun di luar daerah menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya sejarah. Thomas dikenal sebagai penulis Ensiklopedia Nasional Indonesia dan buku-buku sejarah Jakarta, Banten, dan Sumatera Barat.

    Menurut Thomas buku karyanya itu diharapkan menjadi salah satu sumbangsih penulis selaku putra asli Lembata menyikapi situasi perjalanan pembangunan tanah kelahirannya selama kurun waktu 20 tahun terakhir. Buku tersebut ditulis untuk menjernihkan sejarah Lembata selama ini.

    Buku itu sekaligus juga bertujuan memastikan tidak terjadi penyimpangan sejarah, arah serta tujuan pembangunan Lembata di masa mendatang. Lembata dikenal luas sebagai salah satu pulau kecil di NTT penghasil misionaris yang mengabdi di hampir lima benua, gudang penulis, wartawan, guru, dan aneka profesi lainnya yang mengabdi tak hanya di Indonesia tapi juga mancanegara.

    “Saya sepakat isi buku ini dijadikan silabus lalu dicetak kemudian jadi muatan lokal di sekolah-sekolah di Lembata. Saya akan membantu agar kita semua bertanggungjawab terhadap masa depan sumber daya manusia di Lembata yang berdaya saing menghadapi persaingan global,” ujar Sulaeman Hamzah, yang juga memberi sambutan dalam buku itu.

    Buku setebal 552 halaman tersebut diberi kata pengantar Prof Dr Alo Liliweri MS, Guru Besar Ilmu Komunikasi Budaya Universitas Nusa Cendana Kupang dan epilog ditulis Dr Yoseph Yapi Taum, M. Hum, dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta serta editor buku Anzis Kleden, penulis dan wartawan senior kelahiran Waibalun, Flores Timur. Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Direktur Jendral Otonomi Daerah, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Drs Akmal Malik.

    Diskusi terbatas dengan prokes Covid-19 dihadiri sejumlah akademisi seperti Dr Josef Laba Sinuor, Dr Gorys Lewoleba, Petrus Bala Pattyona, SH, MH, Matias J Ladopurab, SH, MH, dr Maxi Ladopurab, Maria Namang, dan Alexander Aur Apelaby serta Letkol TNI-AL Fidelis Betekeneng, putra pejuang dan pencetus Statemen 7 Maret 1954 Alm Petrus Gute Betekeneng (guru Gute) dan tokoh otonomi Paulus Doni Ruing dan Jerry Sabaleku.

    Diskusi dipandu Robert Bala, guru yang juga seorang penulis buku dan dihadiri sejumlah wartawan seperti Ansel Deri, Benjamin Tukan, Paskalis Bataona, John Laba Wujon, Pius Klobor serta sejumlah aktivis muda seperti Heri Tanatawa Purab, Willy Keraf, Antonius Ledun, dan Eric Langobelen. Buku karya Thomas menurut rencana akan diluncurkan dalam sebuah seminar di Hadakewa, Lembata.   ***

    ————————————————————————————–

     

  • BERITA, CERITA, BERITA – untuk setengah abad umur Majalah “Tempo”

    BERITA, CERITA, BERITA – untuk setengah abad umur Majalah “Tempo”

     

    Oleh Goenawan  Mohamad

    PADA suatu siang, 50 tahun yang lalu di gedung tua di Senen Raya 83, ketika kami menyiapkan nomor pertama Majalah Tempo, saya dengar seseorang bergumam: “Majalah ini hanya akan berumur tiga bulan.”

    Saya kaget, sedikit. Yang bersuara adalah  B, salah seorang  anggota tim yang disiapkan mengelola administrasi majalah baru nanti. Tapi saya pura-pura tak mendengar.

    “Jangan-jangan dia betul”, kemudian  saya ceritakan pesismisme itu kepada T, seorang teman.

    “Tenang saja”, jawab T. “Mungkin  tiga bulan lagi Tempo  bubar, tapi kalian  sudah membuat sejarah.”

    “Jangan-jangan kau  betul,” kata saya, sedikit terhibur.

    Setengah abad kemudian, ternyata B salah dan  T bisa saya katakan betul.  Tempo membuat sejarah karena pada dasarnya  ia muncul secara baru dan  separuh nekad.

     

    ****

     

    Tempo lahir dan mengubah corak majalah. Sebelumnuya, sebuah berkala mingguan adalah sejenis toko-serba-ada.

    Star Weekly, misalnya, yang terbit di Jakarta sebelum dibreidel Presiden Sukarno di tahun 1960, bisa memuat uraian panjang tentang filsafat sejarah Arnold Toynbee, tapi juga cerita bergambar tentang pendekar Sie Djin Kui;  ada ulasan peristiwa internasional tentang konflik Terusan Suez,  tapi ada juga   resep membuat ketupat-tahu ala Magelang. Majalah Panyebar Semangat, yang terbit di Surabaya  dalam bahasa Jawa juga demikian:   ada  laporan dari daerah-daerah (rubrik Njajah desa milang kori), ada juga  komik lucu “Mas Klombrot” dan cerita detektif gubahan Any Asmara yang  jagoannya bergelar “raden mas”.

    Tempo sama sekali di luar model toko-serba-ada itu. Isinya hanya   “berita”. Tak ada rubrik dapur, teka-teki silang, atau cerpen. Kalaupun ada rubrik “Agama”, yang ditulis di sana bukan khotbah, melainkan  berita tentang, misalnya, malapetaka di musim haji di Arab Saudi. “Kesehatan” tak memuat petunjuk mencegah asam urat, melainkan tentang kabar berhentinya wabah cacar di dunia.

    Waktu kami mulai bekerja, kami tak tahu adakah pembaca akan tertarik dengan cara baru menyampaikan informasi itu.  Tempo disiapkan  tanpa didahului survei. Ia meloncat di dalam gelap.

    Mungkin itu yang dimaksud T sebagai “membuat sejarah”.  Tempo sebuah inovasi. Dalam arti tertentu: eksentrik.

     

    ***

     

    Tapi tak benar Tempo lahir begitu saja dari kepala saya dan teman-teman.  Jauh sebelumnya, di tahun 1933, di  Amerika Henry Luce menciptakan majalah Time.  Mingguan ini begitu berhasil hingga jadi model bagi majalah lain: Newsweek di Amerika,  L’Express di Prancis, Der Spiegel di Jerman.

    Time juga model bagi Tempo: ia memperkenalkan berita sebagai cerita dan membuat informasi sebagai stimuli.  Saya tertarik  “filsafat” ini: pembaca tak cuma dianggap kantong plastik yang akan dijejali data, fakta, angka. Pembaca diajak bertualang dalam kejadian.

    Perjalanan tualang itu berlangsung di dalam dan melalui bahasa.

    Bahasa bukan hanya mengisahkan dunia, ia  juga membentuk dunia. Tak selalu gampang. Sebab sering bahasa punya  hubungan  dengan sesuatu yang tak selamanya nyaman: kekuasaan.  Sejak akhir 1950-an, bahasa Indonesia berubah. Ia hanya berperan   dengan  satu pola, jadi bahasa politik yang dikuasai doktrin.  Ia bukan lagi bahasa yang hidup dari percakapan yang leluasa. Ia  sulit jadi bahasa yang kontemplatif, atau kocak, atau  bermain-main,  penuh hal yang tak terduga.

    Sejak Bung Karno meletakkan Indonesia di bawah “demokrasi terpimpin”,  bahasa  didominasi kata-kata yang diringkas, diulang bersama-sama, tanpa difikirkan.  Slogan dan singkatan bergemuruh:  “Manipol”, “Usdek”, “nekolim”, “kontrev”, dan seterusnya.  Makna kata-kata tak lagi diuraikan. Orang tak lagi diberi kesempatan menelaah, bahwa “Manipol” berasal dari  “manifesto politik”, dan kita tak dirangsang untuk menilai  isi manifesto itu.  Kata “Usdek” sebenarnya ringkasan serangkaian kebijakan Negara, (melaksanakan Undang-undang Dasar 1945, demokrasi terpimpin, ekonomi terpimpin, kebudayaan nsional),  tapi kemudian ia jadi  kata  tersendiri yang diucapkan secara otomatis. Orang   dihimpun untuk dijejali doktrin Negara, yang dirumuskan dalam “Tubapi” —“Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi”.

    Indoktrinasi adalah alat yang efektif untuk mengendalikan pikiran. Ia disampaikan dengan sejumlah slogan yang bertubi-tubi — dan membuat orang gentar, atau merasa bersalah, untuk membantah.  Hitler dan Stalin mengukuhkan kekuasaan mereka dengan mengedarkan  sebuah bahasa dengan kata yang  diringkas jadi akronim dan dikumandangkan: “Gestapo” dan “Stalag”,  “Politbiro” dan “Proletkult”.

    Ketika “demokrasi terpimpin” diganti dengan kekerasan  oleh “Orde Baru”, sifat “terpimpin”-nya dilanjutkan dengan lebih brutal. Slogan dan akronim ala Bung Karno (dan PKI) ditiadakan, tapi bahasa berubah jadi bahasa kekuasaan yang otoriter dan birokratik.  Akronim yang baru beredar:  “kopkamtib”, “Gestapu”, “dikbud”, “rapim” — umumnya melanjutkan akronimisasi yang dipakai dokumen militer.

    Saya melihat bedanya dari akronim “demokrasi terpimpin.” Bahasa “demokrasi terpimpin” dibuat untuk mobiliasi massa. Sebagai bagian  propaganda, ia sangat komunikatif: kata-kata kuncinya mudah dihafal dan punya efek emotif.

    Sebaliknya akronim birokratik “Orde Baru”. Seperti  komunikasi militer,  fungsinya membuat pesan yang efien dan efektif — dan tak untuk difahami  massa.

    Tapi  kedua-duanya adalah bahasa-kekuasaan yang memiskinkan pikiran.  Ketika kata diringkas untuk hanya diulang — dan  tak pernah diproses dalam pikiran kita dengan pelbagai alternatif — pikiran tak punya banyak lorong buat menjelajah.   Ketika kata “Manifes Kebudayaan” disingkat jadi “manikebu” dan disebar berkali-kali, orang lupa bahwa di situ ada kata “manifes” dan “kebudayaan”— dua pengertian yang memerlukan pemikiran. Demikian juga kata “Gestapu”:  kita  tak peduli lagi bahwa dalam akronim itu ada kata “gerakan”, dan kita tak berfikir lagi bagaimana  “gerakan” terjadi dan mengapa. Yang disasar:  efek psikologis. “Gestapu” dipakai agar mengerikan, seperti kata “Gestapo”— polisi rahasia — dalam kosa kota Nazi Jerman.  Bahasa diperkeras dengan dibekukan.

    Tempo terbit dengan memilih bahasa yang melawan  pembekuan itu.  Kami memproduksi berita-sebagai-cerita.

    Di koran harian dan buletin, berita adalah berita-lugas, straight news. Di sana fakta — nama, waktu, tempat, bagaimana terjadi, mengapa — disebutkan dengan urutan  yang pasti. Sebaliknya dalam  Tempo, meskipun fakta tetap dimuliakan, mereka  tak disusun dengan formula.

    Tiap kali dikemukakan  secara baru. Pendapat klise disingkirkan, kata klise dibuang.  Tempo meniadakan frase, “dalam rangka…”, yang selalu dipakai dalam laporan pejabat. Bahasa pun dikembangkan variasinya.  Kami mengoptimalkan sinonim.  Kata “santai” diperkenalkan buat mendampingi “rileks”; saya mendapatkannya dari bahasa Komering, usulan Bur Rasuanto, waktu itu wakil pemimpin redaksi.  Putu Wijaya, redaktur musik dan teater, menyebarkan istilah “dangdut”. Ada juga kata cas-cis-cus:  pemakaian bahasa Inggris  dalam percakapan sehari-hari.

    Bahasa yang miskin dalam sinonim adalah bahasa yang menghilangkan pilihan untuk berbeda dan beragam dalam berpikir  — seperti ketika kini

    orang hanya  memakai kata “milad” dan tak boleh “hari lahir”, “shalat” dan tak boleh memakai kata “sembahyang”.

     

    ****

     

    Dalam berita-sebagai-cerita, membosankan adalah dosa seorang penulis.

    Seperti dongeng 1001 malam, tiap cerita harus memikat. Akan sempurna jika frase yang cerdas dan kocak muncul dari awal sampai akhir. Kisah  dibangun dengan membuka  saat-saat bercanda.

    Tentu saja isi cerita harus unik dan penting diketahaui. Tempo menyusun  seperangkat kriteria untuk itu. Pembuka cerita, lead, harus memancing,  bukan itu-lagi-itu-lagi.  Penutup cerita tak berpetuah.  Mengikuti gaya  novel yang baik, berita-sebagai-cerita harus mengandung suspens dan konflik.

    Untuk itu, dibutuhkan bukan hanya ketrampilan menulis, tapi juga sikap kreatif, terbuka,  merdeka, kritis— dan dengan rasa humor.  Salah satu semboyan Tempo yang jarang diketahui adalah  “Jujur, Jelas, Jernih — Jenaka pun bisa”.  Kita tahu, kejujuran, kejelasan, dan kejernihan sangat penting dalam komunikasi, tapi orang sering lupa  “jenaka”.

    “Jenaka”, disengaja atau tidak,  sebuah penangkal. Ia bisa melucuti fanatisme, mengendurkan permusuhan, menjangkau hati orang lain. Ia anti memuliakan hierarki.

    Ini bukan sekedar persoalan teknik. Dalam berita-sebagai-cerita, seperti sudah saya sebut di atas,  ada  undangan buat pembaca— yang tak diperlakukan sebagai kantong plastik — untuk ikut masuk dalam proses narasi.

    Maka tokoh cerita hadir:  ia diperkenalkan  bukan cuma sebagai nama dan asal-usul.  Tinggi atau pendek tubuhnya, cara duduk dan jalannya, pilihan pakaiannya — semua perlu digambarkan.  Bahkan juga suasana ruang dan waktu selama kejadian.  Sosok itu kongkrit. Manusia yang jadi berita bukan sekedar kasus, juga bukan cuma penyampai pendapat.  Ia punya sejarah, ia bisa merasakan nikmat dan sakit.

    Ada yang mengatakan jurnalisme Tempo  “jurnalisme sastra”.  Saya kira label itu tak ada gunanya.  Ada lagi yang mengatakan, jurnalisme itu jurnalisme “interpretative”, jurnalisme dengan tafsir. Saya lebih suka tak menamainya.

    Yang penting, Tempo ingin menampilkan manusia dan peristiwa dalam konteks dan proses, dalam multi segi dan perubahan. Tak ada kisah yang final.  Kemungkinan selalu dibuka untuk versi yang berbeda dari apa yang kita ketahui. Maka bukan kebenaran obyektif yang hendak dicapai (dan akan sia-sia), melainkan kesediaan mendengar kebenaran dari orang yang berbeda. Jurnalisme ini jurnalisme dengan empati.

    Tempo mengupayakannya sejak setengah abad yang lalu.  Tak selalu berhasil, tapi rasanya tak bisa dihentikan.

     

    ———————————————————

    Sumber:  Majalah Tempo Edisi 8-14 Maret 2021

  • Soekarno, Pancasila, dan Sejarah Teks

    Soekarno, Pancasila, dan Sejarah Teks

     

    Oleh Ignas Kleden

    Istilah “sejarah teks” adalah terjemahan bebas oleh penulis untuk konsep hermeneutik yang lebih dikenal dalam versi bahasa Jerman sebagai Redaktionsgeschichte atau sejarah redaksi. Konsep ini menegaskan bahwa setiap teks yang diproduksi dalam kebudayaan selalu mempunyai semacam riwayat hidup berupa sejarah penyusunan, kodifikasi, perubahan, atau revisi redaksi dan mungkin juga otorisasi teks yang terjadi dari waktu ke waktu.

    Mengetahui sejarah redaksi ini merupakan sebuah prasyarat penting untuk menyimak makna teks itu dalam hubungan dengan konteks penciptaan atau penyusunannya karena sering terjadi pergantian atau pertukaran semantik, penambahan anotasi, penyisipan bagian-bagian baru dalam editing, perbaikan sintaksis atau modulasi stilistik, yang mengakibatkan pergeseran makna atau perubahan tekanan pada berbagai bagian teks itu.

    Sudah jelas Pancasila adalah sebuah teks utama untuk Indonesia. Dalam sejarah redaksinya, tanggal 1 Juni 1945 menjadi sebuah momen yang amat penting karena pada hari itu Pancasila dikemukakan kepada suatu publik politik untuk dipertimbangkan, diuraikan masing-masing silanya secara rinci, dan didemonstrasikan keseluruhannya sebagai suatu konfigurasi pemikiran yang utuh. Soekarno sebagai penggagas dan juru bicaranya pada waktu itu dengan tegas memberikan dua kualifikasi utama kepada Pancasila, yaitu kedudukannya sebagai dasar filsafat negara (philosophische grondslag) dan fungsinya sebagai suatu pandangan (tentang) dunia (Weltanschauung).

    Soekarno dalam pidato yang bersejarah itu menyamakan begitu saja dasar filsafat negara dan suatu pandangan dunia. Patut dicatat bahwa pandangan dunia, yaitu world view atau Weltanschauung diperlakukan dalam ilmu-ilmu sosial sebagai pokok kajian dan penelitian ilmu-ilmu budaya. Clifford Geertz, misalnya, melihat world view sebagai gagasan orang-orang dalam suatu kelompok budaya tentang dunia yang mereka hadapi dan hayati, berupa ikhtisar kompleksitas dunia itu dalam beberapa gambaran yang disederhanakan: apakah dunia itu pada dasarnya baik atau jahat, real atau maya, abadi atau sementara, merupakan tempat persinggahan sejenak atau tempat orang mengolah nasib dan membangun masa depannya. Sosiolog Jerman-Inggris, Karl Mannheim, berbicara tentang Weltanschauung eines Zeitalters atau pandangan dunia dalam suatu kurun waktu sejarah, jadi mirip dengan suatu semangat zaman atau Zeitgeist. Sementara itu, filosof Jerman, Karl Jaspers, berpendapat bahwa Weltanschauung tak lain dari suatu jenis filsafat (karena sifatnya yang menyeluruh dan tidak sektoral), tetapi tidak sekadar suatu filsafat yang spekulatif, tetapi filsafat yang efektif, suatu wirkende Philosophie, yang sanggup memberi harapan, kepercayaan, dan membangun komitmen.

    Apa pun soalnya, cukup jelas bahwa Soekarno, selama dua dasawarsa (sejak 1926 hingga 1945), berpikir keras tentang apa yang dapat mempersatukan berbagai kelompok suku di Indonesia menjadi suatu bangsa yang dapat menentukan nasibnya sendiri melalui sebuah negara merdeka. Apakah mungkin tercapai sebuah dasar tempat semua orang dapat berdiri bersama secara politik di atas suatu platform nasional?

    Sebagai aktivis politik yang berpengalaman, Soekarno memiliki perhatian yang tertuju pertama-tama pada suatu integrasi politik yang dapat mempertemukan dan mempersatukan berbagai kelompok politik pada watu itu. Dia tidak banyak berpikir tentang integrasi sosial atau integrasi budaya, yang kemudian menjadi pokok pemikiran tokoh-tokoh, seperti Ki Hadjar Dewantara atau Sutan Takdir Alisjahbana.

    Apa yang dicari oleh Soekarno adalah suatu tema yang cukup luas, tetapi cukup terpadu, tempat semua kelompok politik terpenting pada masa itu merasa terwakili asasnya, identitasnya, dan kepentingannya.

    Dalam istilah ilmu politik sekarang, Soekarno secara meyakinkan melakukan suatu agregasi kepentingan politik dan mengartikulasikannya dengan berhasil.

    Jelas sekali Soekarno harus memperhitungkan kelompok-kelompok agama, khususnya Islam, sebagai kelompok agama terbesar yang terwakili dalam NU dan Masjumi. Tanpa mencantumkan sila ke-Tuhan-an kelompok-kelompok agama sangat mungkin tidak tertarik mendukung negara yang akan didirikan. Atas cara yang sama tanpa mencantumkan sila kebangsaan golongan nasionalis yang mendapat kristalisasi politiknya dalam PNI barangkali akan tinggal apatis.

    Demokrasi dan kedaulatan rakyat jelas akan menarik perhatian kelompok politik yang menekankan kepentingan rakyat seperti MURBA dan para pejuang demokrasi, seperti Hatta dan para muridnya dalam PNI Baru. Demikian pula tanpa mengikutsertakan sila keadilan sosial, partai-partai politik berhaluan kiri tidak akan merasa terpanggil.

    Tak perlu diuraikan panjang lebar bahwa penghormatan kepada martabat manusia tidak bisa diabaikan karena hal tersebut merupakan isu yang dianggap menjadi tanda-kenal kaum inteligensia baru, khususnya kelompok politik yang mencita-citakan modernisme sebagaimana dapat diamati dalam subkultur PSI dan Masjumi misalnya. Jadi, berbeda dari Karl Mannheim, Soekarno tidak berbicara tentang pandangan dunia dari suatu kurun waktu, tetapi dari suatu tempat tertentu yang bernama Indonesia. Juga, berbeda dari Karl Jaspers, Soekarno tidak berbicara tentang filsafat tentang dunia (Weltanschauung), tetapi filsafat tentang kehidupan bersama dalam suatu negara. Dalam arti itu, Pancasila diusulkan sebagai pandangan hidup (Lebensanschauung) secara politik Apakah prinsip-prinsip Pancasila dipetik dari nilai-nilai dalam peradaban dunia atau digali dari kebudayaan-kebudayaan Nusantara adalah isu yang dimainkan dengan piawai oleh Soekarno sebagai teknik promosi dan persuasi terhadap pendengarnya, melalui retorika yang amat terpelajar dengan pengucapan yang gilang-gemilang.

    Dasar paling bawah (bottom line) pemikiran Soekarno adalah suatu gagasan yang dapat merepresentasikan identitas dan asas sebanyak mungkin kelompok politik, dan sekaligus dengan itu mengagregasikan kepentingan politik dalam spektrum seluas mungkin. Singkat kata, dari segi genealoginya, Pancasila terlahir sebagai suatu historico-political gentleman agreement, yaitu kesepakatan dari orang-orang dan kelompok-kelompok yang saling menghormati, meskipun mereka sadar ada banyak perkara di antara mereka yang tetap sulit dipertemukan. Kesepakatan itu harus dibuat agar dapat tercipta suatu landasan bagi konsensus nasional mengenai negara yang akan terbentuk.

    Kita bersyukur bahwa RI sudah terbentuk di atas landasan tersebut. Fondasi politik ini sampai kini masih membuat Indonesia sebuah rumah bagi semua orang yang turut membangunnya, dan ingin hidup tenteram di dalamnya. Semoga rumah ini tidak berubah menjadi transit house, sekadar tempat bermalam dan menaruh koper bagi orang-orang yang hendak bepergian entah ke mana.

    ———————————————————–

    Ignas Kleden, Sosiolog

    Sumber Tulisan: Kompas, 23 Juni 2007

  • Puisi-puisi Wendy Lim: – Sepasang Merpati – Cita Cinta – Mimpi dan Nasib – Catatan Cinta – Mata, Mulut dan Telinga – Perpustakaan –

     

    Sepasang Merpati

    Kamu menjadi merpati putih
    Ada bahasa yang gembira
    Sembunyi di bulu putih
    Seperti malu-malu
    Di ucapan rahasia

    Aku menjadi merpati hitam
    Ada riak yang acak
    Berbunyi di bulu hitam
    Seperti ragu-ragu
    Di hadapan bahaya

    Kita menjadi sepasang merpati
    Ada kosakata cinta
    Dalam sunyi hitam putih
    Seperti ulu hati
    Di kutipan aksara

    Seperti elu batin
    Di endapan asmara
    Lalu adu mata
    Di kecupan cahaya

    ————————————————————-

    Cita Cinta

    Karena ada rencana dan renjana
    Di sudut bibir kita berdua
    Aku mengemas kebahagiaan kita
    Ketika kita ciuman mesra
    Lalu menikmati liburan jiwa

    Karena ada kembara dan bara
    Di dalam mulut kita berdua
    Aku menempuh semangat kita
    Ketika kita bicara mesra
    Lalu berjuang untuk bersama

    Karena ada canda dan tanda
    Di hangat tangan kita berdua
    Aku sudah hafal bahasa kita
    Ketika kita gandengan mesra
    Lalu menjadi kamus cinta

    Karena ada setia dan sedia
    Di jantung hati kita berdua
    Aku tetap ingin leluasa
    Ketika kita bersama
    Lalu belajar menerima

    ———————————————————

    Mimpi dan Nasib

    Burung hantu berkukuk tiga kali
    tanda kita lelap dalam mimpi
    satu mimpi yang aku mau
    yaitu lelap di pangkuan hatimu

    Matahari memang sudah raib
    tanda kita terjebak dalam nasib
    satu nasib yang aku mau
    yaitu terjebak di labirin cintamu

    Gelap menebar indah seperti lagu
    tanda kita dewasa dalam pinta
    satu pinta yang aku mau
    yaitu dewasa di ranjang nikah kita

    ——————————————————————

    Catatan Cinta

    /1/
    Tarian angin
    Halusnya sayap cinta
    Mandi cahaya

    /2/
    Kecipak air
    Wangi pagi asmara
    Saling bercanda

    /3/
    Ciuman api
    Lilin kecil di mata
    Terangi jiwa

    ——————————————————————

    Mata, Mulut dan Telinga

    Aku dengan mataku yang padam
    Karena telah ditiup asing dunia
    Hingga mataku tidur dengan imaji ide
    Dan aku melihat dunia melalui mimpi

    Aku dengan mulutku yang setipis kertas
    Karena suaraku mengecil pada dunia bebas
    Hingga mulutku belajar bahasa sunyi
    Dan aku bisa bicara bebas dalam diri

    Aku dengan telingaku yang mencari frekuensi
    Karena bising dan penuh dengan distorsi dunia
    Hingga telingaku menangkap suatu suara
    Dan aku mendengar tangisan batinku sendiri

    —————————————————————–

    Perpustakaan

    Kamu telah menjadi perpustakaan bagi jiwaku
    Ketika aku mencari pemahaman diri yang tergeletak
    Di kolam mata yang luas dan wangi serat buku
    Dan lorong jiwa yang sehening nasib kertas
    Aku mau membaca rahasia ketenangan batin

    —————————————————————————————————

     

    Tentang Penulis

    Wendy Lim, lahir tanggal 10 Juni 1996 di Pontianak, adalah seorang mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2016 dengan jurusan S1 Sastra Indonesia. Pada tahun 2020 Wendy Lim kembali kuliah di Universitas Widya Dharma Pontianak dengan jurusan D3 Bahasa Inggris. Salah satu buku puisinya adalah Pilu Memilu Aku Berlagu yang diterbitkan Enggang Media pada akhir tahun 2021.

  • Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata:  – Dikau yang Dikandung tanpa Noda – Oh Bunda –

    Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata: – Dikau yang Dikandung tanpa Noda – Oh Bunda –

     

    DIKAU YANG DIKANDUNG TANPA NODA

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Rancangan Allah sejak awal mula
    Saat Hawa lama menjalin cinta
    Dengan ular tua bermata merah
    Berkepala tujuh bertanduk 10

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Untuk membawa hidup baru bagi manusia
    Setelah tumit Hawa dan Adam terpagut bisa
    Yang mendatangkan dosa dan menciptakan derita
    Kutukan kekal yang harus disemat kepada siapa saja

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Bersinar terang bagai bintang gemintang
    Di langit cerah tanpa sapuan awan
    Memantulkan sumber cahaya segala cahaya
    Membuat gelap bertekuk lutut tanpa daya

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Putih jiwamu bagai kapas..
    murni ragamu tak bercacat
    Bening rahimmu tiada bercak
    Tempat layak pilihan Bapa
    Tabernakel suci bagi sang Putra

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    kepadamu malaikat kudus berlutut memberi hormat
    Gemetar suara menyampaikan salam surga
    Memintamu menjawab ya atas tugas mulia
    Agar janji-janji Allah terlaksana segera

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Memilih menjadi hamba bagi Yang Mahakuasa
    Terselubung cinta kekal Roh mahamulia
    agar menjadi bunda bagi penebus dunia
    supaya Firduas baru tercipta lagi seperti sediakala

    Oh Maria Bunda Nirmala Demi Bapa
    Engkau membaktikan dirimu sepenuhnya
    Demi Putra
    Engkau menanggung segalanya
    Demi Roh Kudus
    Engkau memberi dirimu seutuhnya
    Demi kami yang dilanda lara
    Engkau mengingkari dunia fana

    Salam Maria Penuh rahmat
    Salam padamu bunda Sang Sabda
    Ulurkan tanganmu bagi kami
    yang menanti Penyelamat dunia
    Gandengkan kami anakmu untuk kokoh berdiri siaga
    Menghalau badai yang silih berganti di segala cuaca
    Agar tak jatuh terjerembab
    di masa suci yang penuh makna

    Salam Maria penuh rahmat
    Salam padamu ratu para malaikat
    Salam padamu ratu para rasul mulia
    Salam padamu ratu alam semesta
    Rindu jiwa kami berjalan bersamamu ke padang efrata
    Rindu hati kami mengalami kemilau cahaya
    saat putramu tiba
    Rindu mulut kami melantunkan kidung suci
    bagai para gembala
    Rindu diri kami tak bernoda seperti Dikau perawan nirmala
    saat Putramu sang Sabda menjelma menjadi manusia

    Salam Maria penuh rahmat
    Salam ya Bunda Tak bernoda
    Terpujilah Engkau karena Tuhan sertamu
    tuntunlah kami untuk menanti bersamu
    agar di kepenuhan waktu
    kami juga boleh merasakan Emanuel – Tuhan menyertai kami anak-anakmu

    Katedral St. Yoseph, 8 Desember 2021

    ————————————————————————-

    OH BUNDA

    Oh dikau Bunda tersuci
    Hari ini dikau kupuji
    Karena Dikau manusia sejati
    Yang dirancang Allah dengan sepenuh hati

    Dikau melahirkan sang Pencipta sejarah
    Melindunginya dengan jiwa yang pasrah
    Kendati sebilah tombak mengkilat terasah
    Dikau menerimanya dengan hati yang tabah

    Oh bunda kaum peziarah
    Rencana terindah dalam lintas sejarah
    Agar hidup kami terus terarah
    Meniti jalan menuju surga

    Di Nasareth batinmu bergolak
    Di Betelehem dikau ditolak
    Di Yerusalem dikau menyaksikan wajah yang galak
    Di golgota dikau mengalami serdadu yang palak

    Oh dikau bunda nirmala
    Demi kami kaum kelana
    Dikau rela berdukacita
    Agar pintu surga tetap terbuka

    Betapa engkau tak tega
    Melihat anak-anakmu yang merana
    Di lembah duka yang tiada tara
    Lembah hunian kami kaum kembara

    Oh bunda termulia
    Demi kami anak-anakmu yang fana
    Merona hatimu begitu semerbak
    Walau harus tertusuk tombakKarena tak tega engkau melihat kami
    Kami yang terus meratap dalam suara lirih
    Tak rela engkau mendengar rintihan kami
    Rintihan duka dari hati yang sepih

    Oh Bunda Pembantu Abadi
    Hamba Allah yang patut kupuji
    Karena Dikau memiliki jiwa yang sunyi
    Melaksanakan titah Bapa dengan sepenuh hati

    Tak pernah mulutmu berkata tolak
    Walau hatimu tertikam tombak
    Tak pernah hatimu keras membeku
    Walau jiwamu tertambat paku

    Oh bunda tak bercela
    Selubungi anakmu dengan busana surga
    Bersitkan sinar bintangmu dalam kembara
    Agar lapang jalan kami menuju surga

    Karena di lembah dunia yang penuh duka
    Sering kami terjatuh saat digoda
    Membuat jalan surga menjadi sirna
    Karena mereguk susu hawa yang lama

    Oh bunda kami, bunda Maria
    Di hari yang sangat istimewa
    Tak ada kata yang luar biasa
    Hanya sebaris aksara pelipur lara
    Untukmu bunda yang sedang berduka
    We love you mama

    Tembesi 15 September 2021

    —————————————————————————————–

    Tentang    Penulis

    Poya Lucius Hobamata, Imam Keuskupan Pangkal Pinang, Pencinta Filsafat, Teologi dan Sastra.