Author: Redaksi

  • Kebenaran dan Politik

     

    Oleh Daoed Joesoef,  Alumnus Université Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne

     

    SEMAKIN mendekati hari pemilihan presiden, semakin ramai warga membicarakan kriteria pemimpin yang ideal. Dalam diskusi sekelompok pemuda terpelajar, sebagian tergolong pemilih pertama kali, ada diajukan aneka macam set kualitas (karakter) pemimpin yang mereka impikan.

    Yang mencolok adalah bahwa pada setiap set tertentu ada ”kejujuran” sebagai kualitas yang diniscayakan. Ternyata mereka rata-rata sudah muak dengan perilaku politik para pemimpin kita selama ini yang tidak integer, koruptif, di semua bagian dari trias-politika. Konsultasi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia menyimpulkan, ”jujur” dan ”kejujuran” adalah kata lain dari ”benar” dan ”kebenaran”, jadi dua sisi dari kebajikan yang sama. Bila demikian perlu dipertanyakan apakah harapan para pemuda tadi bisa terwujud. Sebab, praksis perpolitikan kita selama ini menunjukkan bahwa ”kebenaran” (truth) dan ”politik” (politics) bukan bagai ”lepat dengan daun”, tetapi mencolok bagai ”minyak dengan air”.

    Kebenaran, walaupun tanpa kekuasaan dan selalu kalah bila langsung berhadapan dengan kekuatan apa pun yang berkuasa, punya satu kekuatan khas. Berupa apa pun kombinasi kekuasaan yang berlaku, ia tidak mampu menemukan atau menciptakan suatu kebenaran yang mumpuni. Tekanan kekuatan dan kekerasan bisa saja menghancurkan kebenaran, tetapi tidak akan mampu menggantikannya. Ini tidak hanya berlaku bagi kebenaran faktual yang begitu mencolok, tetapi juga bagi kebenaran rasional dan kebenaran nurani.

    Kebenaran politik

    Menanggapi politik dalam perspektif kebenaran berarti tegak di luar bidang politik. Posisi di luar bidang politik—di luar komunitas ideologis di mana kita tergolong dan di luar persekutuan kepentingan bersama—jelas ditandai sebagai salah satu cara berdiri sendirian. Yang eminen di antara cara-cara eksistensial ”mengatakan kebenaran” adalah kesendirian sang filosof, keterasingan para ilmuwan dan intelektual, imparsialitas hakim dan independensi penemu fakta dan kesaksian reporter; pendek kata, pada umumnya, sikap dari ”non-konformis”, yang bagai elang, berani terbang sendirian, tidak takut dilebur pasang setelah dengan sadar memilih hidup di tepi pantai.

    Biasanya kita baru menyadari natur non-politik, bahkan kelihatan bagai anti politik dari kebenaran, bila terjadi konflik antara keduanya. Kita akan tersentak karena nurani menantang mulut untuk mengatakan: ”fiat veritas et pereat mundus”, biarkan kebenaran berlaku walaupun karena itu keseharian dunia runtuh! Lalu, apakah politik tak punya kebenarannya sendiri? Apa tak ada ”political truth” seperti halnya dengan ”scientific truth”?! Dewasa ini, sewaktu ilmu-ilmu sosial melaksanakan panggilannya dengan baik, ”the most modern communicable knowledge” ini memberitahukan keberadaan kompleksitas dan keniscayaan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mengenai hal ini, jurnalisme tak jarang turut membantu pemahaman publik tentang milieu di mana para politikus beroperasi, berbeda dengan ruang terbuka dari filosofi Newtonian.

    Milieu operasional dari politik lebih mirip lumpur tebal yang melekat di mana Darwin mengukuhkan kesadaran human tentang yang serba kotor dan jorok ini memerlukan suatu pemerintahan, bukan dalam artian lembaga kolektif yang kerjanya ”memerintah”, tetapi entitas publik yang mengayomi, melayani, pembersih, pengatur, pengelola ”polity”. Maka ”kebenaran politik” adalah pemandu warga keluar dari kebuntuan intelektual dan politis, intellectual and political cul de sac. Kebenaran ini dimulai dengan pernyataan bahwa pemerintah, walaupun rakitan manusia, adalah ”alami”. Bagi manusia ia sama alaminya dengan pakaian dan tempat berteduh (shelter) karena ia melayani kebutuhan yang serba alami bagi manusia, bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    A well-governed polity memberikan kepada warganya ”pangan”, ”sandang”, dan ”papan”, melibatkannya dalam suatu jaringan hubungan kebiasaan dan perbuatan yang diadatkan—yang membentuk disposisinya, mengembangkan apa yang baik bagi dirinya menekan apa yang buruk.

    Keragaman kapasitas human pada setiap saat di setiap masyarakat, menurut George F Will, terkondisi secara historis. Berarti, deretan dari bentuk asosiasi politik yang sesuai juga terkondisi. Filosofi politik ”for all seasons” harus berupa proposisi penting, tetapi umum. Filosofi politik yang cocok untuk satu polity partikular harus lebih spesifik, tetapi ada limit sejauh mana politikus atas nama rakyat boleh menjauhi proposisi umum ketika berusaha membuat bentuk yang paling memenuhi syarat dari asosiasi politis bagi polity pada umumnya.

    Hal ini perlu disadari mengingat publik dari era reformasi di zaman pasca revolusi cenderung tidak lagi terikat satu sama lain oleh ”ide”, tetapi oleh ”kepentingan” yang serba primordial materialistik. Dewasa ini atmosfer politik kelihatan direduksi menjadi sejenis debu intelektual, tersebar ke segala penjuru, tak mampu mengumpulkan, tak sanggup menyatu-padukan.

    Jadi ”politik”, betapapun megah kelihatan dengan ”kebenaran politiknya”, yang disanjung melangit sebagai ”the art of solving the impossibles”, mengenal limit, serba terbatas. Ia tidak meliputi semua tentang eksistensi human di dunia. Ia dibatasi oleh hal-hal yang tidak dapat diubah manusia begitu saja menurut seleranya. Dan hanya dengan menghormati batasan-batasannya sendiri, bidang di mana kita bebas bertindak dan bertransformasi bisa tetap utuh, mempertahankan integritas dan memenuhi janjinya. Maka yang kita namakan ”kebenaran”, secara konseptual, adalah apa yang tidak bisa kita ubah. Secara metaforis, ia adalah bumi tempat kita berpijak dan langit yang membentang di atas kita. Bak kata kearifan lokal, di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung.

    Walaupun begitu bukan berarti ia abadi. Biasanya perkembangan zaman menuntut perubahannya. Namun, yang mengubahnya bukan politik, melainkan ”Bildung”, sinergi simbiotis antara kebudayaan dan pendidikan. Walaupun begitu, politik tidak tinggal diam. Selaku kekuasaan negara yang berlaku, politiklah yang memutuskan wacana Building yang bersangkutan menjadi satu kebijakan pemerintahan tentang pembelajaran baru di bidang pendidikan nasional. Adalah Plato yang mula-mula berusaha menanggapi politik dalam perspektif kebenaran dan tegak di luar bidang politik. Platonisme ini di zamannya menjadi sangat berpengaruh selaku oposan gigih terhadap ”polis”, yaitu jagat politik dan pemerintahan negara-kota Yunani Purba. Impian Plato memang tidak terwujud: akademi yang dibentuknya tidak pernah menjadi ”counter-society”.

    Kebenaran intelektual independent

    Kebenaran Platonis itu mengilhami pembentukan lembaga-lembaga universiter. Walaupun lembaga-lembaga ini tak pernah merebut kekuasaan negeri, amfiteater serta ruang kuliahnya berkali-kali mengetengahkan kebenaran yang sangat tak diharapkan oleh sepak terjang politis tertentu yang berambisi tetap berkuasa at all costs. Maka lembaga semacam ini, seperti juga tempat-tempat pelarian lain dari kebenaran serupa, menjadi sasaran empuk aneka bahaya yang berasal dari kekuatan/kekuasaan sosial dan politik.

    Peluang kebenaran untuk hidup di tengah-tengah masyarakat ternyata sangat diperbesar oleh kebenaran organisasi ilmuwan dan kehadiran intelektual independen, yang pada asasnya disinterested dalam sikap dan tindakannya. Orang tidak akan dapat membantah, paling sedikit di negeri-negeri yang dijalankan secara konstitusional, bahwa bidang politik akhirnya mengakui, meskipun di saat sedang berkonflik, sungguh berkepentingan akan eksistensi lembaga dan orang yang tidak dikuasainya dalam hal kebenaran.

    Jadi apa yang tidak pernah diimpi-impikan oleh Plato justru terjadi, yaitu bahwa bidang politik akhirnya mengaku butuh lembaga dan personalitas eksterior selaku pelawan kekuasaan yang, dengan begitu, menambah imparsialitas atau kenetralan yang dituntut oleh dispensasi keadilan. ●

    ———————————————————————-

    Sumber Tulisan Kompas 04 Maret 2014

  • Kedewasaan Berpikir dan Bertindak  “Kunci Dasar Edukasi Meraih Sukses”

    Kedewasaan Berpikir dan Bertindak “Kunci Dasar Edukasi Meraih Sukses”

     

    Oleh Odemus Bei Witono *

     

    DUNIA  pendidikan membutuhkan teori, konsep dan praktik dalam ruang pembelajaran. Umumnya teori muncul dari pengalaman panca indera, jasmaniah dan batiniah yang terkait dengan memori, akal budi, dan kehendak. Seorang peraih Nobel Fisika tahun 1936, Viktor Francis Hess pernah melakukan penelitian di alam terbuka untuk mengukur proses ionisasi yang terjadi di atmosfir pada ketinggian 1–5-kilometer dari permukaan laut, melalui balon udara yang dia kendarai. Penelitian yang dilakukan membutuhkan energi dan keberanian yang besar untuk menanggung resiko. Salah satu teori Hess (dalam quotefancy.com, 2022) yang terkenal, medan magnet yang kuat dapat mengukur energi partikel yang sangat halus. Teori medan magnet ini, kalau diimajinasikan ada dalam diri orang berupa inner power. Manusia melalui inner power yang dimiliki dapat mengukur kemampuan diri dalam meraih kesuksesan atau kegagalan dalam hidup. Peserta didik melalui proses pendidikan formatif dapat bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Kemampuan mengukur para murid terbentuk dalam ruang edukasi formal di sekolah dan informal di keluarga dan masyarakat. Para murid yang sudah terbentuk menjadi pribadi dewasa dapat menyadari dan melakukan apa yang seharusnya diperbuat di dalam kehidupan nyata. Orang dewasa hasil didikan yang berkualitas diharapkan mampu menjadi teladan yang baik dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara.

    Dalam proses pendewasaan karakter, para pendidik dalam ruang edukasi perlu memperhatikan aspek antarpribadi dan komunikasi (interpersonal dan communication) dalam pergaulan formal dan informal. Dalam interpersonal dan communication dibutuhkan teknik berkomunikasi yang baik. Julius Fast (1994) dalam Subtext menekankan pentingnya bahasa antisipatif, yaitu berkomunikasi verbal dengan memperhatikan pesan yang tersembunyi dalam gerak tubuh, tatapan, isyarat tangan, cara berbicara, dan aneka signal lain yang lembut dalam setiap bentuk pertukaran informasi antara dua orang atau lebih.  Dengan memahami pesan dalam subtext secara baik, seorang pendidik dapat menggunakan diksi, pilihan kata yang tepat untuk berbicara dalam aneka keperluan dan pergaulan umum. Subtext dapat digunakan para pendidik melakukan bantuan personal (cura personalis) terhadap peserta didik yang dilatih dan didampingi. Cura personalis sangat penting dalam rangka pengembangan pembelajaran bermakna sehingga proses assessment dalam arti luas dapat dilakukan dengan lebih baik. Dalam assessment para pendidik mendapatkan informasi terukur terkait penguasaan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan untuk memperbaiki pendidikan. Menurut Muri Yusuf (2015) dengan adanya proses assessment sekolah dapat melakukan pengendalian mutu pendidikan, dan pembelajaran secara cermat, bahkan dalam pengambilan keputusan terkait peserta didik para guru dan unsur pimpinan sekolah memperhatikan berbagai aspek substansial demi kemajuan perkembangan para murid.

    Kedewasaan berpikir dan bertindak dapat dibentuk melalui interaksi sosial yang terjadi di berbagai tempat dan kesempatan. Kemampuan intelektual saja tidak cukup memadai untuk membuat orang menjadi lebih dewasa. Dibutuhkan keterampilan yang prima agar orang dewasa dapat hidup mandiri sesuai kebutuhan zaman. Oleh karenanya orang dewasa sejak belia perlu belajar menimba ilmu agar terampil dalam menjalankan hidup. Belajar dengan cara yang cerdas, disertai praktik dari apa yang dipelajari membutuhkan kedisiplinan. Disiplin diri memampukan seseorang terampil meraih impian hidup yang lebih baik. Menurut Charles Duhigg (2012) Disiplin diri memprediksi kinerja akademik lebih kuat daripada Intelligence Quotients (IQ). Disiplin diri juga dapat memprediksi pelajar mana yang dapat meningkatkan pencapaian nilai mereka selama tahun ajaran, sedangkan IQ belum tentu demikian. Para murid yang mempunyai disiplin diri baik mempunyai efek yang lebih besar pada kinerja akademik daripada bakat intelektual mereka. Tuntutan disiplin diri pada setiap murid akan membentuk pribadi yang tangguh dan ulet dalam menghadapi hidup.

    Dunia sekarang membutuhkan orang dewasa yang mampu berpikir cerdas, peduli, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman melalui keterampilan yang didasari pengetahuan yang memadai. Pendidikan dasar dan menengah mempunyai peranan yang esensial dalam proses pendewasaan berpikir dan bertindak para murid. Proses pendewasaan dilakukan dengan cara mengembangkan para murid agar mereka dapat menemukan jatidiri, mengoptimalkan bakat yang dimiliki, dan mengkristalkan semangat kepedulian pada sesama. Berdasarkan kajian yang mendalam, orang dewasa adalah pribadi yang sukses dalam menjalankan roda kehidupan. Kesuksesan seseorang tidak diukur dari berapa kekayaan yang dimiliki, popularitas yang didapat, dan keharuman nama baik yang dipunyai. John Maxwell (2009) mengatakan bahwa orang disebut sukses jika mereka mengerti tujuan mengapa diciptakan di dunia, mampu mengoptimalkan potensi atau bakat yang Tuhan berikan, dan dapat menanamkan benih-benih kebaikan bagi sesama yang membutuhkan pertolongan. Berdasarkan tiga kriteria orang sukses tersebut, maka siapapun dapat meraih sukses dalam hidupnya.

    Dalam proses pendewasaan para murid, para pendidik perlu mengoptimalkan potensi peserta didik melalui cara atau metode pembelajaran yang tepat. Para guru diharapkan dapat membantu para peserta didik bertumbuh, dari anak-anak, remaja, hingga menjadi pribadi dewasa, yang mampu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Peter Rogers (dalam goodreads.com, 2022) pernah mengatakan “The teacher is a catalyst to convert information from a high energy state to a low energy state.” Pendidik hadir sebagai katalis yang membatu para murid mengubah energi tinggi berupa informasi fakta-fakta menjadi energi rendah berupa konsep visual yang terkait dengan apa yang diketahui. Masa pendidikan 12 tahun, merupakan masa emas dalam formasi dasar dan menengah bagi pembentukan intelektual, dan karakter para peserta didik. Seorang pendidik atau pelatih yang sudah sarat dengan pengalaman hidup akan dengan mudah mengelaborasi teori ke dalam aneka aktivitas yang dialami. Guru-guru yang cakap sekaligus inspiratif dibutuhkan oleh para murid. Para pendidik yang berkualitas prima dapat menciptakan situasi dan kondisi belajar yang baik dan menyenangkan sehingga suasana belajar menjadi kondusif. Kondisi belajar yang kondusif akan mempercepat proses pembelajaran mencapai tujuan yang diharapkan.

    Sebagai catatan akhir penulis menekankan pentingnya proses pembentukan pribadi, dari anak-anak menuju pribadi dewasa yang dapat berpikir, bertindak, dan mau bertanggungjawab atas apa yang dilakukan.  Proses pendewasaan terjadi secara efektif dalam ruang edukasi di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kelincahan berpikir cerdas, berpendapat, dan berargumen merupakan faktor penting dalam proses interior pendewasaan. Kelincahan berpikir yang disertai dengan disiplin diri, perbuatan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan merupakan bagian integral pendewasaan diri yang seimbang.  Semoga para pendidik utama (orangtua dan guru) dan masyarakat dapat membantu proses pendewasaan berpikir dan bertindak anak-anak bangsa.  Para murid yang dididik dengan cara yang baik dan terhormat dapat menghasilkan profil alumni sukses yang berkompeten, mempunyai hati nurani yang baik, mau peduli terhadap sesama, dan mempunyai komitmen yang kuat membangun peradaban unggul dan berkualitas.

    ———————————————————————————————

    *) Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

  • BANI dan AI dalam Pendidikan di Masa Kini

    BANI dan AI dalam Pendidikan di Masa Kini

    Oleh Dr. Cicilia Damayanti, M. Pd., Pengajar Universitas Indraprasta PGRI – Jakarta

     

    Pendahuluan

    Dunia VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) sudah kita alami selama beberapa dekade ini. Situasi di mana kita mengalami keadaan penuh dengan pergolakan, ketidakpastian, kerumitan dan kebimbangan. Pandemi covid-19 yang sudah berlangsung selama dua tahun lebih semakin memperarah keadaan ini. Era VUCA sendiri sudah membawa permasalahan yang sangat pelik, khususnya dalam dunia politik, ekonomi, sosial, perubahan iklim, dan juga pendidikan.

    Saat ini kita sedang memasuki era informasi-komunikasi, di mana teknologi dan internet semakin membantu penyebaran informasi dengan sangat cepat. Di samping itu kemunculan AI (artificial intelligent) semakin membuat keadaan semakin mencemaskan. AI menciptakan tantangan tersendiri bagi manusia. Bila dulu teknologi sudah menciptakan mesin pintar, sekarang semakin berkembang dengan menciptakan mesin dapat belajar sendiri. Keadaan ini memunculkan banyak pertanyaan di benak kita. Mampukah kita bertahan hidup bersama AI? Bisakah kita bekerja sama dengan AI? Bagaimana kita mempersiapkan generasi penerus, khususnya dalam pendidikan agar tangguh dan berdikari?

    Dunia BANI (Brittle, Anxious, Non-linier, Incomprehensible)

    Pandemi covid-19 yang diharapkan dapat berakhir pada tahun 2021, ternyata masih berlangsung sampai saat ini. Mutasi virus covid-19 yang sepertinya tidak pernah berhenti membuat jalan keluar seolah menjadi buntu (sudden death). Situasi di mana serangan covid-19 yang serba tidak pasti menyebabkan konsep VUCA sudah usang.

    Jamais Cascio (1966 – ) seorang antropolog berkebangsaan Amerika, pada tahun 2020 menciptakan konsep BANI (Brittle, Anxious, Non-linier, Incomprehensible) untuk menggambarkan kondisi yang kita alami sekarang (http://www.openthefuture.com/jamais_bio.html). Apa itu BANI? Pandemi covid-19 semakin membuat keadaan semakin carut marut setelah sebelumnya kita menghadapi pergolakan politik dunia dan disrupsi teknologi. Apa yang dulu kita anggap sebagai perubahan yang sangat cepat (volatile) sudah semakin tidak dapat diprediksi dan ringkih (brittle). Saat ini masyarakat tidak lagi merasakan dunia yang penuh dengan ketidakpastian (uncertainty), tetapi mereka justru semakin merasakan kecemasan (anxious). Dunia kita bukan dunia yang rumit (complexity) lagi, tetapi sudah menerima sistem yang tidak saling berhubungan (non-linier). Kebimbangan (ambiguity) ini kemudian memunculkan keadaan yang sulit dipahami (incomprehensible) (https://stephangrabmeier.de/bani-versus-vuca).

    Rabindranath Tagore pernah mengungkapkan bahwa manusia itu unik, bebas berkreasi, memiliki hati yang penuh kasih, kreatif, diakui keberadaannya, memiliki emosi, dan rasa takjub serta ingin tahu. Dia menyebut hal ini sebagai kelebihan manusia (surplus in man). Keistimewaan ini dimiliki manusia karena, menurutnya, manusia mempunyai kemampuan untuk membayangkan tentang sesuatu yang lain darinya dan untuk mewujudkan hal yang dibayangkannya itu. Di samping itu ada 6 (enam) faktor keunggulan manusia: nalar, memori, imajinasi, intuisi, keinginan, dan persepsi. Kemampuan inilah yang membantu kita untuk menghadapi dunia BANI. Kondisi ringkih menyebabkan kita semakin dituntut untuk cepat beradaptasi. Untuk menjawab kecemasan kita dituntut untuk mempunyai rasa empati dan peduli pada sesama. Keadaan yang saling tidak terhubung menuntut kita untuk mempunyai daya analisis interdisipliner. Terakhir, keadaan yang sulit dipahami ini menuntut kita untuk mau membuka diri, memahami perbedaan pendapat, dan toleransi (https://academiamu.com/2021/12/01/keadaan-vuca-menjadi-semakin-bani/).

    Saat ini sistem pendidikan, terutama di dalam keluarga dan sekolah, diharapkan untuk segera berbenah mengikuti perubahan yang semakin cepat. Pendidikan yang terpusat pada kemampuan berpikir semata sudah tidak dapat diandalkan. Kemampuan kognitif perlu diimbangi dengan kemampuan mengolah emosi. Konsep kecerdasan berlapis (multiple intelligence) semakin dibutuhkan. Di mana perlu menggabungkan kecerdasan pikiran dengan empati dan toleransi. Pendidikan perlu menerapkan kemampuan interdisipliner untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan mendapatkan jalan keluar yang tepat.

    Era Informasi-Komunikasi

    Kegiatan manusia untuk saling terhubung dengan yang lain adalah melalui komunikasi. Apabila dulu gosip menjadi cara manusia untuk menyebarkan informasi melalui mulut ke mulut, kini internet menjadi media yang paling ampuh untuk menyebarkan informasi (gossip) tersebut. Saat ini internet menjadi gudang informasi yang berisi tentang pikiran manusia, dan tidak terpusat pada pengetahuan tentang manusia itu sendiri. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah manusia sudah paham tentang teknologi yang diciptakannya ini? Bagaimana manusia mampu menciptakan teknologi yang berdaya guna dan bermanfaat dalam hidupnya bersama dengan yang lain?

    Buku AI And Developing Human Intelligence: Future Learning and Educational Innovation, mencoba menjelaskan apa yang sedang kita alami saat ini dan bagaimana kita dapat mengatasinya – khususnya dalam bidang pendidikan. Kemunculan gawai dan internet semakin membantu manusia dalam memproses data, menciptakan dan menyebarkan informasi. Teknologi mesin pintar (machine learning) ini semakin berkembang menjadi deep learning yang kemudian memunculkan AI (artificial intelligent) atau kecerdasan buatan. Saat ini penciptaan AI semakin ditingkatkan dengan menambahkan kemampuan untuk mengingat dan BELAJAR. Mesin ini kemudian menimbulkan permasalahan baru, bila AI bisa belajar apakah manusia masih tetap harus belajar? Bukankah kita bisa bertanya pada AI saja? Apakah AI memiliki kesadaran? Apakah AI bisa kita ajak berdiskusi tentang kerumitan permasalahan hidup? Apakah AI bisa menjadi tempat untuk kita mencurahkah isi hati?

    Meskipun saat ini AI diciptakan semakin canggih dengan mampu meniru gerakan tubuh dan emosi manusia, tetapi ada kelemahan yang tidak dimiliki para agen artifisial ini. Mereka mungkin bisa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dan mekanisme logika. Tetapi pertimbangan ini sudah terprogram, yang berarti memiliki kecenderungan untuk dingin dan kaku. Sementara itu manusia lebih fleksibel dan memiliki pertimbangan emosional dalam mengambil keputusan. Para agen artifisial ini di masa depan mungkin akan diprogram lebih canggih. Sehingga dapat memasukkan pertimbangan yang melampui konteks. Namun ada segi intrinsik yang akan butuh waktu lama untuk dapat ditiru para agen artifisial ini, yakni faktor emosional manusia yang kompleks.

    Kebijaksanaan merupakan tingkatan pengetahuan pada level tertinggi. Pada tingkat ini pikiran menciptakan pemahaman berdasarkan pada pengetahuan, penilaian, dan pertimbangan untuk memahami pengetahuan. Di sinilah kreativitas berperan penting untuk menjadikan pengetahuan sebagai kebijaksanaan. Tepat di sini juga peran emosi muncul. Apakah AI bisa mencapai kebijaksanaan? Apabila AI semakin mampu belajar dan memiliki kesadaran, apakah kesadaran ini memiliki unsur manusiawi? Tepat di sini terjadi ketegangan. Bukankah para agen artifisial ini diciptakan untuk membuat keputusan yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga dapat berjalan sesuai prosedur dan mereduksi emosi yang menjadi unsur subyektif dalam tindakan? Mampukah mereka memenuhi kebutuhan afeksi manusia yang lebih dalam lagi?

    Revolusi Industri yang Semakin Cepat

    Pendidikan memiliki peranan yang sangat besar untuk mengubah hidup manusia. Kemunculan internet telah banyak mengubah wajah pendidikan. Berikut ini akan dijabarkan secara singkat sejarah perkembangan jaringan internet:

    Web 0.0: 1969 – ARPANET dan kemunculan jaringan informasi internal.

    Web 1.0: 1991 – munculnya World Wide Web yang menyebabkan jaringan informasi semakin mudah diakses publik.

    Web 2.0: 2003 – media sosial semakin mempermudah interaksi manusia, jaringan komunikasi semakin tersebar merata, penggunanaan data semakin masif dan mendalam.

    Web 3.0: 2006 – membentuk jaringan kecerdasan, data muncul dari para pengguna kepada pengguna yang membutuhkan, informasi tersebar semakin cepat dan mudah, konten menjadi lebih mudah diakses publik.

    Web 4.0: 2012 – AI menjadi bagian dari jaringan informasi, manusia mulai membangun kerja sama dengan mesin, terbentuknya jaringan informasi yang lebih menyeluruh.

    Perkembangan jaringan internet ini menyebabkan terjadi revolusi industri dalam segala bidang:

    Situasi di masa lampau

    Industri 0.0: abad 13 – munculnya inovasi pada teknologi, sumber daya alam dipakai untuk menggerakkan mesin yang pertama kali diciptakan, seperti kincir angin dan kincir air.

    Media 0.0: abad 11-15 – Alkitab dan tulisan sekular mulai ditulis kembali dan diperbanyak agar semakin banyak orang dapat mengaksesnya.

    Pendidikan 0.0: abad 11-15 – sistem pendidikan seminari menjadi landasan pendidikan yang kita jalani saat ini, sistem ini membantu anak-anak yang tidak mampu untuk tetap dapat kesempatan belajar.

    Situasi menjadi lebih mudah

    Industri 1.0: akhir abad 18 – penemuan mesin uap menyebabkan manusia tidak lagi tergantung pada hewan; mesin dapat digerakkan dengan memakai bahan bakar.

    Media 1.0: pertengahan abad 15 – kemunculan mesin cetak telah membantu manusia dalam menggandakan buku, sehingga penyebaran informasi semakin mudah.

    Pendidikan 1.0: pertengahan abad 18 – sekolah mulai dibentuk dan pendidikan semakin merata bagi semua orang.

    Situasi di mana informasi mudah tersebar

    Industri 2.0: awal abad 20 – produksi massal pada dunia industri.

    Media 2.0: awal abad 20 – penyebaran informasi yang masif, penemuan radio, mesin cetak industri, telepon, televisi menjadikan informasi semakin mudah diakes publik.

    Pendidikan 2.0: awal abad 20 – munculnya pendidikan umum, di mana setiap orang wajib untuk mengenyam pendidikan.

    Situasi menjadi semakin personal

    Industri 3.0: awal dekade abad 21 – teknologi digital, memproduksi barang-barang yang lebih personal, munculnya nanoteknologi dan printing 3D.

    Media 3.0: awal dekade abad 21 – informasi pribadi menjadi milik publik, di mana data pribadi secara sukarela disebarkan melalui media sosial.

    Pendidikan 3.0: awal dekade abad 21 – teknologi digital semakin memudahkan dalam belajar, setiap orang dapat belajar secara personal, gawai dan internet membantu manusia untuk mendapatkan pendidikan lebih mudah dengan cara belajar secara daring.

    Situasi yang menjadi semakin menyeluruh

    Industri 4.0: 2014 – produksi yang menyeluruh, saling terhubungnya pengetahuan dalam bidang biologi, fisika dan dunia digital, menciptakan kecerdasan buatan yang juga mulai digunakan dalam berkomunikasi dengan yang lain.

    Media 4.0: 2020 – media yang menyeluruh, koran dan TV tak terpisahkan, informasi dipegang oleh kecerdasan buatan

    Pendidikan 4.0: pertengahan abad 21 – pelajaran semakin menyeluruh pada segala bidang, sekolah terpusat pada benda-benda elektronik sehingga dapat belajar di mana saja dan kapan saja, pendidikan juga terhubung dengan kecerdasan buatan.

    Perubahan ini menjadikan sistem pendidikan harus bekerja keras untuk beradaptasi. Pendidikan kekurangan tenaga-tenaga yang paham tentang perkembangan teknologi. Tenaga pendidik cenderung ketinggalan zaman bila dibandingkan dengan para peserta didiknya. Sebagai generasi Z dan Alpha, para peserta didik ini sudah berhadapan dengan alat-alat teknologi sejak kecil. Kondisi ini menyebabkan mereka lebih mudah dalam menerima dan menyerap informasi yang didapat.

    Komponen Abad 21 yang Dibutuhkan Generasi Penerus

    Era informasi-komunikasi menghadirkan banyak stimulus yang mendorong rasa ingin tahu anak-anak. Kemampuan mereka menggunakan gawai lebih hebat bila dibandingkan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Hal ini menyebabkan anak-anak lebih mudah beradaptasi untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebab mereka adalah agen perubahan itu sendiri.

    Informasi yang tersebar dengan mudah dan cepat menyebabkan anak-anak lebih mudah menyerap pengetahuan. Kombinasi gawai dan internet membantu mereka untuk mencari informasi yang dibutuhkan lebih mudah dan cepat. Hal ini yang membuat mereka merasa bisa belajar mandiri. Bertanya pada mbah google lebih mudah dan cepat, dan tidak perlu menciptakan debat kusir yang membosankan dengan guru ataupun orang tuanya. Penyebaran informasi yang sangat cepat ini perlu diimbangi dengan pendampingan dari orang dewasa. Sehingga anak-anak tidak kehilangan arah dan tetap mengikuti norma dan aturan yang sudah disepakati bersama.

    Tidak dapat dipungkiri, saat ini perkembangan otak anak berjalan lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi yang semakin cepat, juga penyebaran informasi yang masif dan cepat. Mereka dikenal sebagai generasi kreatif dan mudah mendapatkan uang. Tetapi, kreativitas ini hanya terpusat pada hal-hal yang menarik minat mereka semata, yakni kreativitas yang berpusat pada hasil bukan prosesnya. Mereka lebih menyukai hal yang instan karena lebih mudah dan cepat. Pada titik inilah nilai-nilai pendidikan perlu direvolusi kembali agar dapat mengikuti perkembangan zaman.

    Sistem pendidikan homogen, yang terpusat pada pengetahuan yang seragam dan usang sudah tidak dapat diterima lagi. Kemajuan teknologi dan internet menyebabkan anak-anak mudah mendapat informasi dan juga pengetahuan yang lebih heterogen. Situasi ini memiliki nilai positif, di mana anak-anak mulai dapat menerima keragaman yang ada di dunia. Akan tetapi ada nilai negatif yang mengintai. Bila tidak ada pendampingan, anak-anak cenderung untuk menerima segala informasi yang diterimanya begitu saja. Hal ini menyebabkan mereka mudah terpapar oleh pemahaman yang keliru. Saat proses informasi semakin mudah diakses, anak-anak sedang berada di lingkaran ketidakpastian. Sebab keberlimpahan informasi ini dapat menjerumuskan mereka bila tidak ada pendampingan dari orang tua dan guru.

    Abad 21 merupakan abad yang penuh dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk itu kita perlu membekali anak-anak generasi Z dan alpha ini dengan komponen-komponen sebagai berikut:

    1. Menerima ketidakpastian

    Anak-anak dapat diajak untuk menerima ketidakpastian sebagai bagian dari hidup yang saat ini kita jalani bersama. Solusi yang dibutuhkan tidak akan ditemukan dalam situasi yang sudah pasti, tetapi bagaimana kita bisa mengajak mereka untuk menerima dan mengolah ketidakpastian hidup. Dengan menerima ketidakpastian, membantu mereka untuk selalu siap sedia menghadapi segala macam situasi yang akan terjadi.

    1. Bekerja sama

    Anak-anak dibantu untuk menjalin kerja sama dengan yang lain. Dengan bekerja sama, mereka telah menciptakan kesetaraan. Sebab setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, sehingga dapat menghasilkan ilmu pengetahuan yang lebih menyeluruh. Kompetisi tetap dibutuhkan, tetapi bukan untuk mencari siapa yang terbaik, melainkan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Adam Brandenburger dan Barry Nalebuff menyebut ini sebagai co-opetition. Perpaduan antara kerja sama dengan kompetisi untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi kesejahteraan hidup bersama.

    1. Harmonisasi

    Anak-anak perlu diajak untuk menyeimbangkan kemampuan nalar dan emosinya. Kita dapat melatih mereka dengan melakukan kegiatan yang menggabungkan aktivitas sensorik, seni, dan permainan. Aktivitas sensorik membantu anak-anak terhubung dengan alam sekitar dan sesamanya. Seni mengembangkan perasaan dan mengolah emosi. Permainan mengembangkan strategi berpikir dengan menguatkan segi kognitif melalui analisa, logika, dan perhitungan. Kegiatan ini dapat mengembangkan kecerdasan anak, sehingga kecerdasan berlapis dapat terwujud. Belajar adalah membentuk informasi menjadi pengetahuan, kemudian memahaminya, sehingga dapat memperoleh kebijaksanaan.

    1. Kemandirian

    Kemampuan ini membantu anak-anak menjadi lebih bertanggung jawab pada pilihan hidupnya. Kecenderungan orang dewasa adalah memberi hadiah agar anak mau melakukan tugas-tugasnya. Sebenarnya, hadiah membuat mereka kurang kreatif dan mandiri. Sebab hadiah membuat mereka memiliki harapan bahwa tugas yang diselesaikan dengan baik pasti akan mendapatkan imbalan. Hal ini membuat anak tidak dapat bebas mengekspresikan kreativitas dan keinginannya sendiri. Mereka terkekang oleh keinginan orang tuanya yang menginginkannya melakukan sesuatu. Sementara anak-anak yang melakukan tugas karena keinginannya sendiri, cenderung lebih bebas dalam mengambil keputusan dan mampu bertanggung jawab terhadap perbuatannya itu. Anak-anak yang mandiri lebih siap dalam menghadapi ketidakpastian dan tidak mudah terpengaruh pada situasi baru.

    1. Nalar kritis

    Anak-anak perlu dibantu untuk memahami bahwa informasi yang didapat penuh dengan dugaan-dugaan yang dapat keliru. Sebab, saat kita memahami informasi biasanya prasangka-prasangka akan muncul mengikuti pengetahuan, dan prasangka tersebut dapat mempengaruhi pertimbangan kita saat menerima suatu informasi. Saat kita memiliki pertimbangan dalam mengolah informasi yang diterima, tindakan ini disebut kontrol diri. Anak perlu diajarkan untuk menggunakan nalar kritisnya dalam menangkal hoaks. Ajak mereka mengolah informasi yang diterima dengan cara mencari tahu kebenaran suatu berita. Misalnya dengan mengevaluasi informasi melalui informan yang kredibel dan dapat dipercaya. Tindakan ini disebut dengan mengolah kembali setiap informasi yang diterima.

    1. Sikap menikmati hidup (carpe diem)

    Setiap manusia perlu menikmati hidup. Menikmati hidup dalam bahasa Latin dikenal dengan carpe diem, dan dalam bahasa Inggris dipahami sebagai “seize the day”. Anak-anak perlu diajak untuk menikmati hidup yang dijalaninya, termasuk situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Tindakan ini membantu mereka mempersiapkan masa depannya melalui pendidikan yang semakin penuh dengan tantangan.

    Komponen ini sangat dibutuhkan anak-anak untuk dapat bertahan hidup, terutama karena saat ini kita mulai memasuki budaya 3.0.

    Budaya Literasi

    Budaya 3.0 ditandai dengan munculnya beragam informasi yang mudah diakses. Di era ini generasi sebelumnya dituntut untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Mereka juga dituntut untuk mau mengikuti perubahan zaman, yakni mulai beradaptasi dengan penggunaan teknologi. Hal ini memunculkan slogan “belajar sepanjang masa”. Efek yang kemudian muncul adalah ada kemungkinan bahwa generasi muda akan mengajar generasi sebelumnya.

    Sistem pembelajaran yang baik berlangsung dalam dialog. Pengetahuan manusia didapat melalui informasi. Informasi yang ada saat ini kian beragam, dan semakin banyak cara untuk mendapatkannya. Hal yang tidak akan pernah lekang adalah membaca merupakan jalan untuk mengembangkan pemikiran. Kita semua tahu bahwa generasi sekarang menyukai audio-visual dalam mendapatkan pengetahuan dan informasi. Sistem ini lebih mudah dipahami karena orang akan dengan sangat mudah memahami sesuatu melalui gambaran yang dilihat dan didengarnya. Akan tetapi, membaca sangat penting untuk melatih otak dalam memahami urut-urutan (sequence) suatu peristiwa. Hal ini yang menyebabkan audio-visual ditengarai dapat membuat kemampuan analisis seseorang menurun. Sebab, pengetahuan via audio-visual mempersingkat proses untuk mendapatkan suatu pengetahuan.

    Membaca dapat membantu anak-anak mengembangkan imajinasi melalui pemahaman untuk merunutkan dan menghubungkan kata-kata menjadi suatu gambaran yang utuh. Mereka akan mudah memahami suatu ide dan menggambarkannya kembali dari proses membaca tersebut. Bahasa membantu pola pikir anak berkembang sejalan dengan imajinasinya. Analisis dan pemahaman tentang hubungan sebab akibat adalah landasan untuk berpikir logis. Imajinasi sangat dibutuhkan dalam membaca, untuk itu elemen linguistik perlu diajarkan sehingga dapat membantu mereka membentuk gambaran yang jelas pada kisah yang dibacanya. Kata-kata yang diungkapkan dengan jelas membantu otak dalam mengembangkan imajinasi. Kemampuan imajinasi yang terbentuk melalui kata-kata ini dapat dimiliki anak-anak dengan cara berlatih membaca sehingga dapat terbentuk pemahaman menyeluruh. Anak-anak yang belum dapat membaca dapat dibantu oleh orang tuanya melalui dongeng. Dalam dongeng, anak-anak berproses untuk merangkai kata-kata yang didengarnya sehingga dapat mengembangkan imajinasinya. Literasi berperan penting dalam mengembangkan Analisa dan nalar kritis.

    Peran Pendidikan di Era 3.0

    Saat ini kita menghadapi generasi Alpha yang sejak kecil sudah fasih dalam menggunakan teknologi. Berikut adalah karakteristik mereka:

    • Tertarik pada pengetahuan audio-visual dan kurang dalam merefleksikan sesuatu
    • Lebih suka pada hal yang instan dan fokus pada hasil bukan proses
    • Menyukai hal yang jelas dan ada di sekitarnya
    • Hidup dalam lingkarang teknologi digital
    • Kurang aktif dalam bersosialiasi tatap muka

    Mereka adalah generasi yang hidup dalam dunia yang beragam perkembangannya, wawasan ilmu pengetahuan yang majemuk, memiliki kekurangan yang unik (dikenal sebagai anak autis karena kurang bersosialisasi), memiliki kebebasan terutama dalam mengakses informasi dan pengetahuan yang berlimpah saat ini. Apakah sistem pendidikan sudah mendukung kemampuan ini?

    Sistem pendidikan saat ini membutuhkan pengetahuan sintesis, di mana dialog perlu dibangun untuk mengembangkan pengetahuan. Taksonomi Bloom versi ringkas dapat dipakai untuk membantu mengembangkan pendidikan, seperti:

    1. Kebebasan dalam bereksplorasi: saat peraturan sedikit dilonggarkan, anak-anak memiliki kebebasan dalam belajar. Pengetahuan mereka didapat melalui informasi yang mudah didapat sehingga pendampingan orang tua dan guru dibutuhkan dalam memahami informasi yang benar dan tepat untuk mereka.
    2. Pembelajaran yang metodis (methodical learning): anak-anak dapat mengaplikasikan metode yang didapat untuk kemudian menjelaskannya kembali dalam proses belajar.
    3. Belajar mandiri: anak-anak dapat belajar untuk mengaitkan informasi yang diterima kemudian memprosesnya bersama dengan orang tua dan guru sehingga dapat membuat pertimbangan apakah informasi tersebut dapat dipercaya dan dipakai dalam hidup sehari-hari.

    Memproses informasi yang logis dan berpikir analisis adalah kunci penting untuk memperoleh pengetahuan. Untuk itu anak-anak dapat diajarkan untuk menerima, mencari kebenarannya, kemudian membuat kategorinya. Budaya 3.0 memiliki tantangannya tersendiri, terutama dalam pendidikan. Informasi yang berlimpah menyebabkan ilmu pengetahuan mudah didapat di mana saja dan kapan saja. Anak-anak perlu dilatih untuk menyeleksi dan memproses informasi yang diterimanya. Ajarkan mereka mengembangkan kemampuan dalam mempertimbangkan dan memilih akses informasi yang tepat untuk mendapatkan pengetahuan. Hal ini dapat dilakukan melalui diskusi sehingga nalar kritisnya ikut berkembang dengan baik. Sistem pendidikan perlu melalukan reformasi. Hal ini dapat dimulai dengan menghapuskan ranking yang mengkategorisasikan prestasi, menghapus pembagian subjek pelajaran, memberikan anak kebebasan dalam mengeksplorasi dirinya. Dialog terbuka dibutuhkan anak-anak untuk memahami pengetahuan yang kompleks. Mereka dapat diajak untuk mengembangkan proyek-proyek ilmiah dan mencari solusinya. Dunia post-literasi yang sedang dihadapi mereka membutuhkan sistem yang bebas dari pengelompokkan subjek pengetahuan yang kaku. Sistem pendidikan harus dapat fleksibel dalam mengikuti perubahan zaman di era informasi-komunikasi agar tetap dapat bertahan.

    Apa yang bisa para guru dan orang tua lakukan bagi perkembangan anak-anak mereka? Mengingat saat ini kita semua hidup di dalam masyarakat yang sangat beragam (diverse), tentunya nilai-nilai yang dianut pun akan semakin majemuk. Kita dapat mengajak anak untuk menjadi orang yang tangguh dan berani. Anak-anak perlu diajarkan untuk dapat menerima kegagalan sebagai bagian dari proses menjadi orang yang lebih baik. Kemudian ajak mereka untuk bangkit kembali dalam memperbaiki kesalahannya. Kita perlu membuat anak-anak untuk bangkit dan berjuang kembali saat mengalami kegagalan dengan cara menanamkan rasa percaya diri bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat, tangguh, dan pemberani.

    Penutup

    Hidup yang penuh integritas dan stabil didapat dengan jalan menyeimbangkan kehidupan bersama alam, dengan diri sendiri, keluarga, komunitas, masyarakat, ekosistem, dan lingkungan sekitar (ecosphere). Kita hidup dalam dunia yang penuh pergolakan dan selalu berubah, untuk itu kita perlu menyeimbangkan hidup dan berbagi kepada sesama. Komponen-komponen abad 21 ini merupakan bekal yang dibutuhkan anak-anak dalam mengupayakan keseimbangan untuk menerima hal-hal yang tidak terduga. Anak-anak yang sudah dipersiapkan untuk bertanggung jawab terhadap pilihan hidupnya sendiri telah mendapatkan kesempatan untuk bebas menjadi diri sendiri. Kita, sebagai orang dewasa, perlu membangun lingkungan yang mendukung mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan pekerja keras, sehingga dapat bertahan hidup. Mereka akan menjadi generasi tangguh yang siap menghadapi ketidakpastian sebagai tantangan hidup. Ketidakpastian dapat dihadapi dengan cara bekerja sama dalam membangun keseimbangan pada lingkungan sekitar dan menciptakan mental pejuang pada anak-anak. Guru dan orang tua perlu mengembangkan karakter semangat juang pada anak-anak. Karakter yang menjadikan mereka kuat dan berani dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Anak-anak yang memiliki karakter yang seimbang mental dan pikirannya, akan mampu menerima keragaman, mereka akan menjadi pribadi yang kuat dan siap menghadapi ketidakpastian hidup.

    **********************************************************************

  • Lembata, Salah dari Awal -Audiensi Yayasan Koker dan Sulaiman Hamzah

     

    “SAAT memperjuangkan otonomi Lembata, kami dan kita semua yang terlibat membayangkan agar Lembata menjadi lebih maju setelah terpisah dari Flotim. Tetapi setelah 23 tahun otonomi, kita harus akui bahwa hanya bupati Pieter B Keraf yang meletakkan dasar untuk Lembata”, demikian ungkap Sulaiman Hamzah.

    Anggota DPR RI Dapil Papua yang meraih Top Legislator Award 2022 mengatakan dasar yang dimaksud adalah pendidikan dan Rumah Sakit. Pendidikan perlu dikelola dengan baik sehingga dari sana terlahir putera dan puteri daerah yang bisa mengembangkan daerahnya.

    Itu berarti secara mental mereka perlu cerdas tetapi juga tulus. Kalau pendidikan dikembangkan dengan baik maka SDM berkualitas seperti itu akan menjadi dasar bagi pembangunan Lembata. Yang terjadi banyak orang pintar tetapi tidak memiliki ketulusan dan kejujuran. Akibatnya kita melewati 20an tahun tanpa perubahan yang berarti.

    Selain itu, kesehatan fisik menjadi sangat penting. Hal itu ditandai dengan kehadiran Rumah Sakit yang dikelola secara profesional dengan pelayanan yang baik terhadap masyarakat. Yang terjadi masyarakat kita harus pergi ke Kupang melewati perjalanan 15 jam Km. Ferry hanya untuk berobat. Dasar inilah yang harus dibangun oleh pemimpin ke depan.

    Bagi Sulaiman, kondisi Lembata yang sekarang terjadi itu karena salah dari awal. Penerima Doktor Honoris Causa dari American Institute of Management Studies (2000) itu dengan jelas mengatakan ia paut beri acungan jempol pada Piter B Keraf penjabat bupati yang memberikan dasar yang baik. Sayangnya gebrakannya tidak diikuti oleh pemimpin-pemimpin sesudahnya dan sejak itulah kondisi Lembata menjadi seperti sekarang.

     

    Mendukung Kehadiran Perguruan Tinggi

    Mendengar pemaparan Paulus Doni Ruing yang adalah pengawas Yayasan Koker Niko Beeker tentang rencana kehadiran Perguruan Tinggi di Lembata yang rencanakan akan dimulai tahun 2023, Sulaiman Hamzah sangat mendukung. “Meski saya tidak masuk dalam pengurus tetapi karena bekerja demi Lembata saya siap membantu”, demikian ungkapnya.

    Anggota DPR periode 2014-2019, dan 2019-2024 ini mengatakan bahwa Perguruan Tinggi perlu dikelola dengan baik sehingga menghasilkan pribadi yang cerdas tetapi juga tulus dan tetap peduli akan kampung halamannya. Baginya, kalau seseorang dididik dengan baik, meski ia sudah pergi jauh tetapi ia akan terus mengingat daerah asalnya. Hal itulah selalu ia ingatkan kepada siapapun orang Lembata yang ia jumpai di luar Lembata agar selalu ikut terlibat membangun lembatata.  Meski secara politik ia mewakili Papua tetapi apapun yang terjadi di Lembata ia selalu ingin ambil bagian, demikian ungkap lulusan SD Don Bosco dan SMP Ampera Ile Ape.

    Terkait pendirian Perguruan Tinggi Lembata, Sulaiman akui bahwa semau harus bekerjasama, apalagi untuk membangun Perguruan Tinggi dibutuhkan dana yang besar. Hal itu dikatakan menanggapi  informasi dari Dr Damianus Dai Koban tentang tuntutan biaya per Prodi yang didirikan sekitar Rp 3,5 miliar, Sulaiman mengatakan bahwa dengan kerjasama bisa tercapai. Ia tidak berjanji tetapi akan membantu menyambungkan Yayasan Koker dengan lembaga yang diharapkan dapat membantu termasuk ke PT Free Port dan perusahaan atau badan lainnya.

    Terhadap hal itu, Hamzah yang juga Ketua Bidang Pertanian, Peternakan dan Kemandirian Desa DPP Partai NasDem  mengharapkan agar Yayasan Koker Niko Beeker harus profesional dan jujur dan menerapkan manajemen yang profesional. “Kalau kerja dengan jujur maka akan terus dipercaya. Sebaliknya kalau tidak jujur maka tidak dipercaya dan selamanya tidak akan dipercaya lagi”, demikian tandasnya.

    Pertemuan pada hari Senin 14 Maret 2022, dan  berlangsung selama hampir 2 jam di gedung DPR RI, Jakarta itu berlangsung dalam suasana yang akrab. Niko Hukulima, Sekjen Yayasan Koker mengungkapkan kekagumannya pada figur pak Sulaiman Hamzan: “Karena kita hidup di antara mayoritas orang Katolik dan terbiasa dengan tampang para pastor, biarawan-biarawati, maka orang berpikir bahwa Pak Sulaiman ini pastor Katolik. Orang tidak tahu bahwa ia justru seorang muslim”, demikian Niko yang juga pegiat Koperasi Kredit.

    Hal senada diungkapkan oleh Agustinus Gereda Tukan. Dosen dari Universitas Musamus Merauke  mengatakan bahwa ia dan banyak orang Flobamora di Papua sangat kagum dan respek. Sejak tahun 2013, pak Sulaiman menjadi Ketua Flobamora dan kami masih terus berharap agar beliau tetapi menjadi orang tua bagi orang Flobamora di Papua.

    Wilem Lojor sebagai pendiri Yayasan Koker berulang kali mengucapkan limpah terimakasih atas kesediaan ‘bapak Orang Papua” yang tidak lupa akan kampung halamannya. Baginya, Pak Sulaiman yang sudah dikenal 20 puluh tahun lebih, tidak pernah berubah. Ia tetap sederhana, bijaksana, dan menjadi seorang bapa yang tidak membeda-bedakan orang. Terimakasih Pak Sulaiman (Team Humas Koker)

  • Pers yang Mendidik ( “In Memoriam”  P. Alex Beding, SVD)

     

    Oleh  Robert  Bala*

    “MEMBACA adalah ibarat membuka jendela dunia. Sayangnya, meski ada kegemaran membaca pada rakyat NTT, mereka tidak memiliki bahan bacaan,” demikian ungkap P. Alex Beding, SVD. Ia juga melanjutkan, ”Jika tak ada jaringan komunikasi lewat pers, masyarakat kita akan ketinggalan informasi. Harus ada surat kabar yang bisa dibaca.” (Kompas, 24 Juni 2013).

    Ungkapan ini tentu tidak saja lahir dari praksis hidup putera Lamalera, kelahiran 13 Januari 1924 yang adalah seorang pendidik (1959 – 1970) saat bekerja sebagai pembina di Seminari Menengah Mataloko dan saat bekerja langsung di dunia pers (1970 – 1984).

    Lebih jauh, ungkapan keprihatinan seseorang yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan yang menyiapkan daya analisis siswa untuk lebih kreatif dalam proses pendidikan. Selanjutnya, ia mengimplisitkan harapan agar dunia pers sungguh hadir memberikan informasi yang mendidik karena itulah tugas yang penting untuk diemban.

    Bukan Berita

    Perhatian media pada masalah pendidikan, terkadang dipahami sekedar memasukan berita apa pun yang terjadi di dunia pendidikan, demikian tulis Donaciano Bartolome, dalam Periodismo Educativo, 2005.

    Pemahaman demikian kerap mendatangkan kegamangan. Media hanya memuat berita ‘menarik’ tentang kegiatan yang dilaksanakan di sekolah. Itu pun kerap berita ditampilkan karena aneka kepentingan.

    Yang lebih mencemaskan, ketika aneka berita yang ditampilkan adalah kasus yang terjadi di lingkungan sekolah. Media merasa hal itu penting untuk diekspose karena unik dan dapat menjadi booming.Kasus yang melanda guru, siswa, hingga fasilitas sekolah dianggap penting untuk diberitakan bukan karena penting tetapi karena unik tanpa ada pertimbangan tentang kadar substansi yang dimiliki dan pengaruhnya pada masyarakat.

    Sayangnya, tanpa disadari, berita yang nota bene minim itu dapat menciptakan kesan tentang situasi ‘chaos’ dalam pendidikan. Bisa saja realitas yang ditampilkan itu faktual adanya. Tetapi tanpa disadari, model pemberitaannya bukannya memperbaiki tetapi malah menambah runyam permasalahan dan mengapa tidak dapat berpengaruh ke lingkup yang lebih luas.

    Model pemberitaan yang terlalu menekankan ‘bad news as good news’ itu sendiri mengandung ironi pada media. Pemberitaan tentang hal negatif tentang seseorang seakan begitu penting padahal pembaca sendiri barangkali tidak mengenalnya ketika masih hidup. Di sini benar ketika G.K. Chesterton menulis: “Journalisme largely consists in saying “Lord Jonses is dead” to people who never knew Lord Jons was alive.

    Kenyataan inilah yang mendorong Bartolome untuk menempatkan nilai pers secara lebih luas. Ia mestinya tidak saja mencakup berita tetapi melingkupi hampir semua genre pers seperti: kronik, opini, repostase, maupun wawancara.

    Melalui opini segar dengan pembahasan yang lugas tetapi ringan dan enak dibaca, pembaca diarahkan untuk memahami realitas pendidikan lebih jauh. Ia diajak untuk mencermati fenomen yang terjadi dan menentukan substansi dari sebuah permasalahan.

    Demikian juga repostase berbobot yang menarik makna di balik peristiwa pendidikan yang nota bene menyentuh nurani kemanusiaan, menjadi sebuah berita. Kriteria yang mendasari tentu bukan sekedar ‘berita biasa’, tetapi sejauh mana ia memberi makna untuk membangun kemanusiaan yang lebih baik.

     Membuat Berita

    Realitas timpang dalam dunia pers mestinya menjadi tantangan bagaimana mengembangkan pendidikan sehingga sanggup menjadikan siswa sebagai pencipta informasi bermanfaat dan bukan sekedar konsumen pasif.

    Keprihatinan ini telah menjadi pusat perhatian pedagog asal Brazil, Paolo Freire, dalam Pedagogia del Oprresso, 1970. Baginya, pendidikan telah salah kaprah karena memandang prosesnya bak sebuah bank, tempat dimana pengetahuan siswa disimpan atau ditabung ‘sebanyak-banyak’. Anak pun dijejali aneka pengetahuan, tetapi nyaris diberi kesempatan untuk berpikir secara ilmiah dalam lingkup ilmu pengetahuan.

    Bisa dibayangkan kegalauan anak. Mereka yang sudah ‘dipaksakan’ hanya merekam informasi di sekolah kemudian diperparah oleh aneka berita tak mendidik yang diperoleh di masyarakat dan media massa. Sudah pasti sebuah kebingungan besar akan terjadi dengan rangkaian akibat yang tentu akan semakin panjang kalau diurai.

    Kenyataan inilah yang perlu mendorong lingkup sekolah untuk mengembangkan sebuah pembelajaran yang lebih terbuka denagn menjadikan realitas kontekstual sebagai sumber ajar. Artinya semua kejadian tidak saja ditampilkan tetapi diolah sebagai sebuah teks besar (hyper text)yang bisa dikonsumsi sebagai media pembelajaran. Sumber ajar dalam konteks ini tentu saja lebih kaya dan bermakna ketimbang sekedar mengambil secara utuh dari buku teks.

    George P. Landow menulis secara lengkap hal ini dalam Hypertex: the Convergence of Contemporary Critical Theory and Technology, 1992). Baginya, pembelajaran akan menjadi aktif dan kreatif akan muncul ketika sumber ajar yang didapatkan lebih kontekstual dan mengena realitas anak.

    Dalam konteks pendidikan, iklim hypertext seperti ini meskipun penting, tetapi ia hanya sekedar batu loncatan. Ia hanyalah lingkup pasif-kondusif. Di baliknya tersimpan nuansa yang memberanikan siswa untuk lebih mengungkapkan diri lewat kualitas aktif seperti dengan menulis dan berbicara.

    Dua elemen kreatif dimaksud, merupakan media bagi siswa untuk membuat berita yang bersumber dari dirinya. Ia tidak lagi menjadi konsumen pasif yang menikmati atau bahkan menjadi korban dari aneka berita tetapi sanggup membuat berita sendiri.

    Peluang ini menjadi sangat besar di era digital seperti sekarang ini. Para siswa dapat mengungkapkan aneka pikiran yang bermanfaat melalui media sosial. Tentu diharapkan, dengan bantuan metode pendidikan yang baik, mereka tidak saja ‘berkicau’ dalam ungkapan-ungkapan lisan tak berbobot tetapi lebih dari itu menjadikan sesuatu yang lebih bermakna lewat pembicaraan dan terutama tulisan yang bermanfaat.

     Jadi Identitas

    Bagaimana mengejawantahkan pers mendidik dalam konteks aktual berinspirasi pada kesaksian hidup tokoh pers Alex Beding?

    Pertama, merujuk pada tendensi pers yang tidak mendidik, kita bisa mengecualikan Nusa Indah sebagai penerbit yang tampil beda. Ia itdak hanya menyampaikan berita, tetapi pada pesan yang sungguh bemranfaat. Apalagi didasari keyakinan bahwa yang disamapikan itu adalah Sabda yang menghidupkan, hal mana melekat pada spiritualitas ‘verbita’ yang dimiliki SVD.  P. Alex Beding, SVD menekankan hal itu secara nyata melalui moto  ‘in verbo tuo’, disampaikan dalam Sabda-Nya.

    Penerjemahan karya berbobot merupakan jawaban yang sangat tepat. Jelasnya, yang disampaikan adalah karya terpilih yang secara internasional teruji. Masyarakat terpencil di Flores pun disajikan karya-karya berkualitas.

    Secara pribadi, semenjak SD, saya sangat terkesan dan akhirnya membiasakan diri membaca cerita bersambung di DIAN tentang “Tenggelamnya Kapal Bismarck”. Ruang cakrawala kita ‘dibiasakan’ untuk memikirkan sesuatu yang besar dan ikut merasakan operasi sekelas Rhein übung.

    Kedua, menghadirkan berita berbobot demi mengatasi sekedar ‘berita’ butuh proses aktualisasi pesan agar lebih mengena. Mengapa? Sebuah teks klasik bisa saja ditulis  ‘in illo tempore’ alias pada waktu itu dengan konteks berbeda. Karena itu butuh proses hermeneutisasi yang memberinya konteks kekinian pada bacaan yang nota bene disusun jauh sebelumnya.

    Proses inilah yang telah dilaksanakan melalui media massa seperti Dian, Kunang-Kunang, dan Flores Pos kini. Penerbitan sebagai ‘induk’ diaktualisir melalui media yang bisa dinikmati lebih ringan oleh pembaca.

    Tetapi kita juga sadar bahwa proses yang bisa diramu secara tepat pada masanya P. Alex Beding, SVD, kurang diaktulisir lagi. Tak heran, media yang sudah ada nyaris bisa bergulat dengan perubahan yang terjadi. Akibatnya sudah pasti. Media seperti Dian dan Kunang-Kunang kini sudah ‘mangkat’ karena tidak diadakan pembaharuan pada waktu yang tepat.

    Ketiga, jiwa pers yang melekat pada P. Alex Beding, SVD dan rasa haus pembaca NTT untuk mendapatkan bahan bacaan berbobot mestinya menjadi sebuah jalan masuk untuk meluaskan pendidikan jurnalisme sejak bangku sekolah.

    Harus diakui, di daerah keras, kering, dan garang seperti NTT, telah menanamkan jiwa sastra dalam diri leluhur untuk selalu merangkum pesan lewat aneka pantun dan syair. hal itu pula telah menginspirasi lahirnya penulis hebat asal NTT yang sangat disegani di dunia nasional bahkan internasional.

    Sayangnya peluang ini belum dilihat sebagai sebuah produk unggulan yang menjadikan orang NTT beda dari orang lain. Karenanya, ketika kemampuan ‘alamiah’ ini dikondisikan melalui pelatihan jurnalisme malah pendidikan jurnalisme yang masuk dalam kurikulum maka semangat itu akan sekaligus menjadi sebuah identitas bagi pendidikan NTT.

    Kita lalu bisa berandai, hadiah paling penting bagi P. Alex Bading, SVD bukannya sanjungannya sebagai pribadi tetapi bagaimana pikiran dan keteladananya dapat diteruskan melalui pers mendidik yang lahir dari putera-puteri terdidik dan kelak akan mendidik masyarakat lewat informasi yang lebih mendidik.

    Dalam konteks ini kita paham, pers mendidik di tengah realitas yang tidak mendidik hanya bisa dibangun sekarang lewat penidikan yang menunjang kreativitas. Hanya dengan demikian identitas diri ini dapat dikembangkan secara lebih positif.

    —————————————————————————-

    *Robert Bala, Alumnus pada Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol,  Kolumnis  pada Harian Kompas

    *Sumber Tulisan dari Buku Yang Terpanggil yang Melayani – 70 thn P. Alex Beding, SVD, Nusa Indah, 2014

     

     

  • GRIPE di Lamalera – Sebuah Kisah yang Menyimpan Sejuta Kenangan

    GRIPE di Lamalera – Sebuah Kisah yang Menyimpan Sejuta Kenangan

     

    Oleh P. Alex Beding, SVD

     

    KALAU orang bicara tentang sebuah jembatan, kita selalu membayangkan adanya sebuah lembah atau jurang atau kali. Untuk melewati tempat itu orang harus mendirikan jembatan.

    LAMALERA, kampung nelayan yang terletak di pantai Selatan Lembata menghadap Laut Sawu mempunyai situasi tersendiri sebagai berikut. Di masa lampau Lamalera merupakan suatu kampung besar tapi terbagi atas dua kampung: yang satu letaknya lebih tinggi, namanya Teti Lefo (kampung di atas) dan yang lain lebih rendah, namanya Lali Fatan (kampung di bawah). Fatan artinya pantai, dan di desa Lali Fatan terletak pelabuhan dan tempat perahu-perahu. Sejak 1990 Lamalera telah menjadi dua desa otonom, yakni Desa Lamalera Atas alias Lamalera A dan Lamalera Bawah alias Lamalera B, masing-masing dengan kepala desa sendiri-sendiri.

    Di antara dua desa ini terletak sebuah bukit. Di atas bukit itu terletak Sebagian dari desa Lamalera Atas. Bukit itu disebut Fung.

    Untuk lalu lintas antara desa Lamalera A dan desa Lamalera B orang harus melewati Fung disuatu tempat yang dikenal dengan nama Gripe. Disitu tidak ada jalan, hanya ada tebing batu yang tegak dan tinggi. Ratusan tahun lalu, sejak orang Lamalera datang dan berdiam di tempat ini, Gripe itu mesti dilewati, entah dengan cara yang  tidak diketahui. Namun akhirnya terdapat disitu sebuah ‘jalan’ umum. Tapi bagaimana rupa jalan itu bisa dibayangkan kalua kita membaca catatan di bawah ini.

    Pada bulan Juni tahun 1886, dua imam Yesuit yaitu P. C. ten Brink SY dan P. Yoh de Vries SY singgah di Lamalera dan mempermandikan 125 anak-anak Lamalera menjadi Katolik, dan dengan demikian Gereja Katolik berdiri di Lembata. Mula-mula upacara itu diadakan di Lamalera B, lalu pada hari berikutnya mereka mengadakan upacara yang sama di Lamalera A. Nah berikut ini P. C. ten Brink SY menuturkan sedikit mengenai usaha keduanya untuk sampai ke kampung Lamalera A.

    “Untuk pergi ke Lamalera A (Lamalera atas) kami harus pergi ke atas mengikuti satu jalan menyusur tebing wadas, lewat batu-batu besar. Jalannya mengerikan! Orang Lamalera menamakan tempat itu Gripe. Sungguh suatu kesenian tersendiri kalua orang berlangkah naik dengan aman dari batu ke batu. Jangan coba bersandar pada tebing, karena tumbuhan kaktus berduri tajam mengancam. Jangan salah langkah, karena di sebelah kiri terdapat jurang. Kaki dan tangan harus diletakkan tepat pada batu-batu yang sudah menjadi licin sebagai tempat bertumpuh. Dengan susah payah kami seolah-olah merayap sampai di atas. Tapi itu rasanya tidak cukup. Kami mendengar orang-orang di belakang kami tertawa terbahak-bahak melihat gerak-gerik kami yang lucu, sementara orang-orang kampung sendiri seenaknya dengan lincah naik-turun di atas batu-batu itu. Mereka bisa naik-turun sambil memikul atau menjunjung beban yang berat seolah-olah itu jalan yang paling gampang di dunia. P. de Vries merasa bahwa lebih baik dia berjalan tanpa sepatu dan kaos mengikuti cara orang Lamalera berjalan di situ. Tapi batu tajam dan tumbuhan berduri yang runcing segera menyadarkannya bahwa dia tidak memiliki sepatu ‘alamiah’ seperti kaki orang Lamalera. Jadi dia mengenakan kembali sepatunya dan berusaha sedapat mungkin untuk sampai di atas.”

    Saya bertanya-tanya mengapa P. Bode SVD, pastor SVD pertama dan tetap, yang datang ke Lamalera sesudah pastor-pastor Yesuit, tidak mencatat apa-apa tentang Gripe. Waktu itu tangga sudah dikerjakan. Dia hanya menyinggung tentang jalan sempit di Gereja itu Ketika dipikirkan untuk membuat suatu jalan alternatif di belakang pastoran ke arah timur lewat Fung dan seterusnya. Tapi gagasan itu terlalu sulit dan akhirnya di tinggalkan.

    Mengenai waktu tangga Gereja dibangun saya mendapat informasi dari Bpk. Ignatius Getan, yang mengatakan bahwa tangga itu dibangun pada tahun 1918.

    Atas permintaan saya P. Jan van Asten – yang waktu itu sudah kembali ke Eropa – menulis beberapa catatan mengenai sejarah Gereja di Lembata. Dia menambahkan juga satu catatan singkat mengenai Gereja di Lamalera sebagai berikut:

    “Di jalan menuju kampung atas sekarang ada sebuah tangga dengan anak-anak tangga cyclopise. Adapun cerita tentang tangga (Gripe) itu adalah sebagai berikut. Pada hari Residen dari Kupang datang ke Lamalera untuk meninjau kampung dan melihat peledang-peledang. Dia ingin sampai ke kampung atas untuk bertemu dengan raja, tapi dia harus melalui sebuah jalan sempit yang hanyalah sebuah takuk pada tebing. Baru saja dia meletakkan kakinya pada takuk itu, ia balik mukanya dan berkata kepada orang yang ada di belakangnya: “Saya bukan kambing!” lalu dia ennggan naik di tebing itu. Beberapa minggu setelah dia Kembali, dia mengirim semen yang dulu diisi dalam tong kayu, lalu orang membangun sebuah tangga semen. Meskipun anak-anak tangga yang berjumlah 15 buah terlalu tinggi, namun kuda-kuda para pastor bisa naik turun di situ. Pernah dibuat sebuah film untuk menunjukkan bagaimana seorang pastor di atas punggung kuda naik dan turun pada tangga itu. Saya sendiri sering dengan rasa segan naik tangga itu sambil menunggang kuda. Tapi sementara saya memperhitungkan segala sesuatu, kaki kuda saya sudah berada di anak tangga itu dan tidak mungkin lagi saya turun dari kuda. Dan saya sampai di atas dengan selamat tapi merasa ngeri juga! Kuda P. Thoolen dan P. Notermans sudah tahu seninya turun naik di Gripe itu.”

    Tangga Gripe adalah satu berkat bagi masyarakat, suatu keunikan di Lamalera. Tibalah saatnya pada satu hari di tengah tahun 2000, orang membongkar Gripe yang masyhur itu, karena nampaknya Gripe akan tetap menghalangi perkembangan lalu lintas di zaman yang semakin maju. Sementara itu kendaraan beroda dua dan roda empat pun mulai memasuki Lamalera, tapi belum bisa sampai ke Lamalera atas. Jadi tangga semen itu sekarang tidak ada lagi, entah dibingkar entah ditutup, dan telah dibangun sebuah jalan yang bisa dilewati oleh kendaraan bermotor. Sebuah jalan yang dengan semen, dan dianggap cukup mantap untuk lalu lintas yang semakin lancer antara desa Lamalera A dan desa Lamalera B.

    Bagaimanapun juga kenangan manis akan Gripe yang doeloe itu rupanya belum lenyap, karena toh ada nilai uniknya. Berdiri di atas Gripe seolah-olah berdiri di serambi gedung beberapa tingkat, dan orang menikmati panorama yang memesona di sebelah kiri hamparan perumahan penduduk Lamalera B, di samping deretan bangsal-bangsal tempat penyimpan peledang-peledang, di sebalah kanan laut nan jernih transparan berhiaskan ombak putih-putih berkilat laksana kristal yang tak henti-hentinya membelai pantai dengan hidangan rupawan bervariasi. Laut di depan Lamalera adalah mare nostrum alias lefa kame bagaikan kolam raksasa untuk ikan-ikan raksasa. Tapi Gripe bisa jadi tempat untuk aneka perjumpaan. Bayangkan kalau Anda datang dari Lamalera B ( Lamalera bawah) dan sesampai di atas muncullah si ‘kekasih’. Jadilah tempat perjumpaan para kekasih. Tuhan betapa agung karya tangan-Mu!.

     

    Gripe 

    Jadi Gripe yang berupa tangga sempit kira-kira 50 cm lebarnya itu puluhan tahun telah berjasa sebagai jembatan satu-satunya yang menghubungkan Lamalera atas dan Lamalera bawah. Tak terbilang kaki manusia lewat di tangga itu: dari segala umur, untuk segala macam urusan; anak-anak sekolah; pelaut-pelaut yang tiap hari turun naik untuk pergi ‘lefa’; ibu-ibu dan gadis-gadis yang pergi pulang ‘penetang’ dan kalau ada hasil tangkapan di laut, di Gripe itu Anda boleh saksikan orang memikul atau menjunjung potongan-potongan daging ikan yang berat itu sambil naik anak tangga demi anak tangga dengan napas terenga-enga tapi dalam semangat gembira karena Tuhan telah memberikan berkat-Nya; lewat Gripe itulah jalan pergi dan pulang bagi umat beriman ke dan dari ibadat di Gereja. Lewat jalan Gripe itu perarakan panjang Corpus Cristi (Sakramen Mahakudus) dan Jumad Agung. Pater Bode dan para penggantinya secara konsisten mengadakan prosesi-prosesi itu dengan obor-obor bernyala, sebagai tradisi Kristiani dan meski dilagsungkan pada malam hari dan melewati tangga yang sempit di Gripe itu, tidak pernah terjadi suatu kecelakaan. Dan lewat Gripe yang sempit itu pula jalan terakhir bagi yang meninggal di Lamalera bawah. Dengan hormat dan hati-hati para pengusung membawa peti jenasah melalui tangga sempit itu menuju Gereja dan akhirnya ke pemakaman.

    Sudah hampir 100 tahun umur tangga Gripe itu dan tidak pernah mengalami kerusakan meski pernah bongkah batu tebing jatu di atasnya. Pada 1930, ketika Gereja kedua di Lamalera dibangun, konstruksi atap perlu ditunjang oleh 14 tiang kayu. Kayu tiang-tiang itu diambil daru gunung dekat Puor. Kakang Johanes Muran memerintahkan supaya batang-batang pohon itu ditarik ke Lamalera lalu dikerjakan menjadi tiang-tiang. Batang-batang pohon yang gemuk-gemuk itu ditarik oleh tenaga manusia sampai ke Lamalera B, lantas diseret di atas anak tangga Gripe tanpa merusakkan jembatan kesayangan orang Lamalera itu, sampai di muka Gereja. Di situ tangan-tangan terampil tukang-tukang Lamalera mengikis, memoles, dan mengubahnya menjadi pilar-pilar bundar megah dan molek. Kemudian tukang-tukang mahir itu mampu mengangkat pilar-pilar yang 6 sampai 7 meter tingginya berdiameter 32 cm dan mendirikannya di atas kaki dari beton yang lebih kurang 1 meter tingginya. Satu prestasi yang patut dibanggakan.

    Seribu kali sayang, bahwa Ketika Gereja kedua dibongkar banyak obyek kebanggaan dari gedung itu ikut dibongkar dan hilang, termasuk pilar-pilar indah itu. Mau tahu mengapa Gripe tetap jaya dan tahan banting ketika batang-batang pohon yang keras itu berguling di atas anak-anak tangganya? Semen yang dikirim atas perintah Residen di Kupang telah dicampur dengan pasir dari Pantai Lamalera, itulah rahasianya mengapa Gripe bertahan begitu lama. Tukang-tukang Lamalera dari generasi awal abad ke-20 telah mewariskan Gripe itu untuk kita anak-anak, cucu-cucu mereka.

    Petanyaan terakhir ap arti Gripe? Apa arti sebuah nama? Pentingkah mengetahui arti tempat itu? Saya tidak tahu dan tidak bersedia membuat terka-terkaan. Tetapi Gripe tetap menawan. Meski sekarang terkubur di bawah lapisan semen, Gripe hendaknya tak layak dilupakan. Dan Gripe tetaplah sebuah nama untuk mengabadikan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan bagi dua desa yang bernama satu LAMALERA.

    ——————————————————————————–

     

     

     

     

     

     

  • Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam

    Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam

    Oleh Dami N. Toda

     

    MEMBICARAKAN kritik sastra, tidak terlepas dari pengertian peran dan tujuannya terhadap karya sastra. Gayley dan Scott, misalnya menerangkan peran dan tujuan kritik sastra untuk “mencari kesalahan, memuji, menghakimi, membanding-bandingkan dan menikmati”, H.B. Jassin menerangkan tugas kritik sastra “menjembatani dan memberikan penilaian”, I.A. Richards, yang sering disebut sebagai pemula prinsip kritik sastra modern, menerangkan peran dan tujuan kritik sastra untuk “membeda-bedakan pengalaman serta memberikan penilaian sekadarnya terhadap karya sastra”.

    Untuk tiba pada peran dan tujuan tersebut, seorang kritikus tentu saja harus tahu benar sifat-sifat pengalaman serta memiliki wawasan dan bandingan yang luas, mempunyai kemampuan meletakkan penilaian dan komunikasi nilai-nilai. Soal titik tolak pendekatan atau masalah metode, boleh saja tergantung pada pilihan kritikus, selama pendekatan tersebut dianggapnya relevan.

    Oleh sebab itu, tak heran bila terdapat banyak sekali jenis penamaan kritik sastra menurut pendekatan yang diletakkan. Ada kritik ilmiah (scientific criticism) yang struktural, ada kritik estetis, kritik etis, kritik sosiologis, yang semuanya dapat dikategorikan dalam nama kritik penilaian (judicial criticism), yakni jenis kritik yang bekerja secara deduktif berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Di samping itu, ada lagi kritik induktif, yakni kritik yang tidak berpretensi kriteria pasti, tetapi memulai dari kasus-kasus sastra itu sendiri (sebagai kasus). Kritik induktif, pada dasarnya menerima kenyataan tiap sastra memiliki : kriteria sendiri”, tiap sastra memiliki “hukum-hukum” cipta tersendiri, yang menjadikan yang satu (adalah) “lain” dari yang lain, dan selalu “baru”.

    Pemisahan kritik sastra berdasarkan “kartu-kartu nama” di atas, sebenarnya kurang menguntungkan karya sastra. Terkesan kebulatan “dunia” sebuah sastra seakan digiring ke dalam pra-anggapan sistem (ilmu) tertentu, yang belum tentu utuh menelusuri keunikan karya sastra. Posisi karya sastra tertekan hanya sebagai batu ujian atau objek dari sistem lain.

    Dari segi kemungkinan lain, pra-anggapan di atas, bukan juga sesuatu hal yang tidak mustahil. Karena dalam prateknya, tak ada suatu metode yang didedukasikan secara robot. Dan mungkin saja ada karya sastra tertentu, menurut proses kreatifnya, cocok ditelusuri secara sistem tertentu.

    Namun, secara umum dapat dikatakan. Suatu kritik sastra yang baik harus bekerja sebanding dengan sifat esensial sastra yang ditelusurinya. Berarti, kritik sastra yang baik, di dalam peranannya “membedakan pengalaman dan memberikan penilaian” perlu cara kerja induktif dan deduktif. Berarti kritik sastra yang baik, harus bekerja secara intrinsik dan ekstrinsik. Maksudnya, (1) bahwa kritik sastra tersebut harus masuk ke dalam intisari otonomi pencarian kreatif sebuah sastra, bergulat dengan isi dan bentuk dari “dunia” yang ditemukan pengarang, (2) bahwa kritik sastra harus mampu menghubungkan cakrawala sastra (itu) dengan cakrawala luar sastra yang bersifat keabsahan universal (universal validity), yang memungkinkan nilai sastra tersebut komunikatif (kepada segala orang, waktu, dan tempat), gamblang dibaca oleh pembaca dan dimaklumi masyarakatnya.

    Kritikus mengembani tugas tersebut bukannya tanpa kesulitan. Kesulitan tersebut, sebenarnya berpangkal pada (sifat) kerumitan hakikat sastra itu juga, yang kadang-kadang sangat personal sifatnya, dan mengandung tafsir (sangat) ganda (lebih-lebih dalam puisi). Sifat personal yang menonjol, pencarian yang bersifat pribadi, menyebabkan kritikus kadang-kadang harus memasuki kehidupan pribadi pengarang, mengenali akar-akar proses kreatifnya untuk dapat memahami dan mengenali lebih banyak. Seorang kritikus yang bekerja secara deduktif dan percaya kepada tradisi sastra (yang konvensional) semata, akan sangat enggan melakukan hal-hal seperti itu, sebab memang benar bahwa kadang-kadang (dalam sastra tertentu) tidak perlu dilakukan.

    Di samping itu, sifat sastra yang mengandung tafsir ganda (polyinterpretable) melebarkan kemungkinan-kemungkinan perbedaan tafsir atau pendapat di antara para kritikus sastra. Sedangkan bagi sastra itu sendiri, justru tafsir ganda itulah yang membuat sebuah sastra senantiasa “aktual” dan “baru”, selalu berisi kemungkinan inspiratif untuk membaca yang berbeda dan memiliki keabsahan universal.

    Kerumitan dari dalam dunia sastra dijumlah dengan tuntutan kecermatan, kepekaan dan keluasan bandingan pengalaman dari dalam diri kritikus, jadilah sebuah kritik menjadi sebuah tantangan dan warna tersendiri. Lain kritikus mewarnakan lain penyaksian.

    (I)

    Peranan kritik sastra, di satu pihak menimbulkan harapan dan penungguan masyarakat sastra dan pengarang, yang kadang-kadang terlalu berlebihan. Bahkan terdapat semacam kecenderungan untuk “melembagakan” kehadiran kritik sastra (dan kritikus) di samping karya sastra. Keadaan tersebut, di pihak lain, memojokkan peranan kritik sastra kepada kedudukan serba salah: harus ada ataukah tidak harus ada. Atau apakah ia sekadar makcomblang ataukah penakar nilai.

    Dalam sastra Indonesia modern, kesadaran terhadap (kebutuhan) kritik sastra dapat ditelusuri, misalnya pada kasus “Pengadilan Puisi” tanggal 8 September 1974 di Bandung, Pertemuan itu dihadiri lebih dari 200 peserta/pengarang yang datang secara spontan dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Bandung, berkumpul di Aula Unika Parahyangan, Jalan Merdeka. Terjadi semacam “pentasan” pengadilan versi pengarang. Bertindak sebagai “Hakim Ketua”, Sanento Juliman (Bandung), “Hakim Anggota”, Darmanto Jt (Semarang) “Penuntut Umum”, Slamet Sukirnanto (Jakarta), “Saksi-saksi” : Semua pengarang yang hadir.

    Bagi kritik sastra yang menarik dalam acara tersebut, adalah keluhan panjang dari pengarang Indonesia terhadap kritik sastra, sejak sebutan “krisis kritik ”, “krisis kritikus sastra”, hingga pernyataan bahwa sastra nasional Indonesia “belum memiliki kritik sastra”. Bahkan keadaan “tidak memasyarakatnya” sastra nasional dewasa ini, ditimpakan dosanya pada ketakmampuan kritik sastra Indonesia.

    Terlepas dari apa penungguan dan pengertian pengarang Indonesia terhadap kritikus dan kritik sastra Indonesia, terbuktilah bahwa keluhan di atas timbul dari “mitos” misi kritik sastra, serta kenyataan langkanya kritik sastra ditulis akhir-akhir ini dalam perkembangan sastra Indonesia semakin meluas.

    Harapan, penungguan, bahkan tuduhan serta tuntutan terhadap kehadiran kritik sastra Indonesia, secara psikologis dapat dimengerti. Sejauh perjalanan sastra nasional yang sudah 60 –an tahun itu, Dr. H.B. Jassin adalah satu-satunya “penjaga” (meminjam istilah “Custodian” dari Dr. A. Teeuw) sastra nasional yang setia. Dengan sangat tekun Dr. H.B. Jassin menghimpun dokumentasi sastra nasional untuk memungkinkan orang lain (mahasiswa, peminat bangsa Indonesia dan asing) mengenali dan mempelajari sastra Indonesia. Buku-buku antologi, kritik sastra yang ditulisnya sejak 30-an tahun lalu, tetap memberikan informasi lengkap dan pendapat-pendapatnya yang kuat hingga sekarang. Tak bisa lengkap mempelajari sastra Indonesia tanpa menimba buku dari sumber-sumber dokumentasi Dr. H.B. Jassin.

    Memperhatikan pendekatan Dr. H.B. Jassin terhadap sastra yang tidak meremehkan informasi-informasi pribadi esai, surat pribadi, riwayat hidup pengarang, sudah dapat diduga bahwa pendekatannya terhadap sastra sangat penuh. Dalam berusaha memahami sebuah karya, Dr. H.B. Jassin tidak hanya puas menikmati panorama muka secara tekstual, tetapi juga memasuki liku-liku proses pra-kreatif sebuah karya, yang berakar pada pengarang serta dunia pribadi pengarang. Dalam kata-kata Dr. H.B. Jassin sendiri:

    “…penyelidikan kesusasteraan bukan hanya pekerjaan otak, tetapi terutama pekerjaan hati yang ikut bergetar dengan objek penyelidikan dan sebagai penyelidikan harus mengandung serta memantulkan kembali getaran-getaran itu. Saya kuatir bahwa penyelidikan-penyelidikan yang telah saya lakukan diterima sebagai fakta-fakta objektif ilmiah belaka, padahal saya selalu berusaha untuk dalam semua penyelidikan mengikut sertakan diri pribadi sebagai penghayat sumber-sumber pengalaman estetis yang diungkapkan dalam kesusastraan, tentu saja dengan tidak mengabaikan segi-segi objektif faktual, karena inilah justru yang harus menentukan kadar ilmiahnya suatu penyelidikan. Hasil penyelidikan adalah pertemuan yang akrab antara objek yang diselidiki dan subjek yang menyelidiki, dan ini bagi saya lebih memuaskan, karena nampak di dalamnya lukisan diri pribadi juga”.

    (Nukilan Pidato Inaugurasi pemberian Doktor Kehormatan dalam ilmu sastra, Universitas Indonesia, 14 Juni 1975).

    Sesudah Dr. H.B. Jassin, adalah Dr. A. Teeuw. Buku-buku dan tulisan kritik lepas Dr. A. Teeuw, yang ditulis dalam bahasa Inggris (dan Indonesia) sangat berjasa memperkenalkan sastra Indonesia modern ke dunia internasional. Informasi dan kritik yang ditulisnya meliputi perkembangan terbaru sastra Indonesia modern. Pendekatan Dr. A. Teeuw terhadap sastra, berdiri di atas “bangunan bahasa yang menyeluruh dan otonom” atau “konvensi bahasa dan budaya”, dan mengakui “tidak memakai hanya satu metode tertentu saja untuk mendekati sajak” (prakata buku Dr. A. Teeuw, Tergantung Pada Kata, 1980: 5).

    Dr. H.B. Jassin dan Dr. A. Teeuw, adalah dua nama besar yang tak mungkin terpisahkan dari sejarah penelitian dan pengenalan sastra Indonesia modern. Tepat pada waktunya, mereka berada paling depan dan spektakuler memberikan gambaran sejarah sastra Indonesia modern secara keseluruhan, mengukuhkan identitas sastra nasional di tengah bangsanya sendiri.

    Kritikus-kritikus yang lebih muda, adalah bekas-bekas mahasiswa Dr. H.B. Jassin dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, seperti Dr. Boen S. Oemarjati, Drs.M.S. Hutagalung, Drs. J.U. Nasution, Drs. M. Saleh Saad. Dari alumni Universitas Gajah Mada, adalah Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Rachmat Djokopradopo, Th. Sri Rahayu Prihatmi. Dari Bandung adalah Drs. Jakob Sumardjo. (Dan beberapa peneliti luar negeri yang sedang menulis, seperti Harry Aveling, Dr. Keith Foulcher, Paul Tickell, Dr. Chambert-Loir, Dr. Burton Raffel, Dr. Rainer Carle, Dr. Ulrich kratz). Sedangkan dari “permuhibahan” di Malaysia, Drs. Umar Junus, merupakan seorang kritikus yang paling rajin dari semua.

    Kelompok akademis yang disebut belakangan ini, kebanyakan telah sering memunculkan tulisan kritik sastra, atau dalam istilah akademis mereka disebut dengan istilah “telaah sastra” (atau analisis sastra). Seperti terbaca dari sebutan “telaah sastra”, mereka mendekati karya sastra dari segi penelitian “ilmu”, atau analisis laboratorium. Tahun-tahun terakhir, di bawah sponsor Proyek Penelitian Sastra Indonesia Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sering diadakan “penataran peneliti” serta lokakarya dibantu oleh (antara lain) Dr. A. Teeuw (Universitas Leiden) sebagai penatar, untuk maksud-maksud “telaah sastra” Indonesia modern tersebut. Hasilnya belum nampak, kecuali Dr. A. Teeuw sendiri yang membukukan “telaah”12 puisi dalam buku yang berjudul referensif, Tergantung Pada Kata, 1980.

    Penungguan masyarakat sastra dan pengarang kepada kelompok akademis, menjadi lebih beralasan tatkala dalam tahun 1968 terdengar “perjanjian-perjanjian” lewat polemik kritik sastra yang bernama “Metode Kritik Sastra Ganzheit” (Arief Budiman dan Goenawan Mohamad) versus (yang kemudian pada 1973 dinamakan) “Aliran Kritik Sastra Rawamangun” oleh Drs. M.S. Hutagalung.

    “Metode Kritik Sastra Ganzheit” konon dibaptis dari psikologi Gestalt, menolak pretensi norma-norma sastra, melangkah sesubjektif mungkin berdasarkan penerimaan “pertemuan” keseluruhan tanpa mementingkan unsur-unsur. Dalam praktiknya, metode tersebut dapat ditelesuri dalam tesis Arief Budiman, Chairil AnwarSebuah Pertemuan diterbitkan PT. Dunia Pustaka Jaya, 1976. Dalam Prakata, Arief Budiman antara lain menulis:

    “Saya sendiri sudah tidak percaya lagi kepada konsepsi-konsepsi apa yang disebut sebagai indah dan apa yang tidak. Sebab itu, saya juga tidak mau menggunakan kata tersebut, karena kekaburan artinya. Saya melihat bahwa sebuah karya seni menjadi “indah” buat seseorang karena sudah terjadi pertemuan yang otentik antara seseorang dan dunia yang diungkapkan oleh karya seni tersebut. Pertemuan itu bersifat pribadi, tidak bisa secara massal dan karena itu apa yang disebut “indah” tidak bisa dirumuskan.

    Seseorang yang menghayati sebuah karya seni sebenarnya sedang melakukan pertemuan. Pertemuan antara si orang yang menghayati itu dan karya seni tersebut. Antara keduanya terjadi saling perbauran yang dinamis sifatnya.

    Dari perbauran inilah muncul sebuah nilai, nilai Gestalt atau lebih tepat lagi barangkali nilai Ganzheit, yang terjadi akibat pertemuan subjek dan objek. Nilai ini bersifat unik dan tidak akan muncul kalau keduanya saling berpisah”

    “Aliran Kritik Sastra Rawamangun” sebenarnya merupakan proklamasi kemudian (pada 1973) oleh Dr. M.S. Hutagalung, sebagai perpanjangan sanggahan “Kritik atas Metode Kritik Sastra” oleh Drs. S. Effendi, dan Drs. J.U. Nasution terhadap “Metode Kritik Sastra Ganzheit” Arief Budiman dan Goenawan Mohamad dalam diskusi kritik sastra tahun 1968. Apa yang disebut “ Aliran Kritik Sastra Rawamangun”, adalah usaha “versi Rawamangun” mempraktikkan aspek-aspek teori sastra terhadap studi sebuah karya sastra. Contoh hasil “Aliran Kritik Sastra Rawamangun” dapat ditelusuri kembali dalam apa yang telah dikerjakan Drs. M.S. Hutagalung, misalnya terhadap karya Asrul Sani, atau Drs, J.U. Nasution terhadap karya Sitor Situmorang.

    Bagi masyarakat sastra dan pengarang, yang mendambakan kehadiran kritik sastra Indonesia, apalagi dalam keadaan belum memasyarakatnya sastra Indonesia modern, “perjanjian” dari polemik tersebut menimbulkan penungguan terhadap “buah” yang lebih banyak, yang dalam istilah awam mereka disebut sebagai “kritik yang berwibawa”. Dan justru keadaan seperti itulah yang belum dirasakannya.

    Setelah polemik tersebut, Drs. M.S. Hutagalung dan lain-lainnya lebih jarang memunculkan tulisan kritik sastra lagi. Arief Budiman, juga muncul seakan-akan hanya untuk menempati “Metode Kritik Sastra Ganzheit” yang dijanjikannya (bersama Goenawan Mohamad) dengan menulis tesis tentang sajak-sajak Chairil Anwar, sebuah pokok yang sudah sering ditulis sejak Dr. H.B. Jassin, bahkan dijadikan disertasi oleh Dr. Boen.S. Oemarjati. Bukan juga berarti bahwa apa yang dikerjakan Arief Budiman sudah tak ada perlunya lagi. Goenawan Mohamad, yang dalam “Angket Sastrawan 1974” yang dikerjakan Jakob Sumardjo terpilih sebagai urutan ketiga deretan “kritikus berwibawa”, bahkan seakan berhenti menulis kritik sastra.

    Kontaminasi dari kejadian-kejadian di atas menyimpulkan dan membesarkan isyu “krisis kritik” dan “krisis kritikus” di kalangan sastrawan. Di pihak lain menimbulkan hikmah lain, bahwa sastrawan-sastrawan seperti Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Korrie Layun Rampan dan lain-lain, menulis kritik sastra di surat-surat kabar dan majalah. Kemungkinan tersebut ditunjang oleh tersedianya ruang-ruang budaya tetap dalam surat kabar dan majalah, yang sangat berkembang sejak akhir 1960-an atau awal 1970-an.

    Tulisan-tulisan kritik pada kolom media massa itu sangat berharga memberikan apresiasi dan informasi tetap tentang perkembangan sastra modern Indonesia kepada masyarakat luas. Bagi kelangsungan hidup kritik sastra di Indonesia, “kritik sastra koran” tersebut, juga sangat positif dalam hal menolak anggapan seakan-akan kritik sastra adalah semacam lembaga bagi “orang-orang pilihan” (di luar sastrawan) untuk “mengadili” karya sastra dengan dahi berkerut dan penuh sitiran “norma-norma sastra”, yang belum tentu relevan.

    (II)

    Masih ada lagi ganjelan lain, yang nampak didorong-dorong oleh polemik “metode kritik” itu! Bahwa seakan-akan “kesalahan metode” kritik sastra adalah kambing hitam dan tidak mampu dan tidak berfungsinya kritik sastra Indonesia mengembani tugas memberikan penilaian dan “menjembatani” sastra Indonesia dengan masyarakat bangsa. Dua kelompok yang berpolemik pun masing-masing menawarkan “obat kuat” berupa metode masing-masing. “Metode Kritik Satra Ganzheit” dan “Metode Aliran” untuk menjamin keampuhan kukuhnya sebuah kritik sastra.

    Padahal di atas segala metode, masih ada faktor utama, yakni faktor kemampuan manusia di belakang “senapan” (the man behind the gun) metode. Kemampuan bermetode bukanlah masalah utama, tetapi kepekaan kritikus menyelami dan menangkap seluruh kemungkinan isyarat yang diberikan sebuah sastra serta mensistematisasikannya kepada pembaca. Dalam hal ini, saya setuju dengan pendapat Subagio Sastrowardoyo (yang menjawab wawancara Satyagraha Hoerip, Sinar Harapan, 1977). “Karya seni seseorang pada hakikatnya adalah estetika tersendiri. Pada anggapan saya, begitu juga kritik sastra seseorang. Membawa pola tersendiri. Gaya dan mazhab tersendiri. Soal apakah namanya, saya anggap tak begitu penting. Soal apa perbedaan pendapat, biarlah. Orang kan bebas menafsirkan. Termasuk mengeritik.”

    Pendapat Subagio Sastrowardoyo tersebut, pada galibnya sama dengan pendapat Dr. A. Teeuw yang saya kutip di depan. Sebuah sastra memang merupakan sebuah dunia tersendiri. Tak mudah diglobalisasikan dengan atau dalam suatu metode formal begitu saja. Pendekatan suatu metode yang bersifat prejudikatif, tidak selalu menguntungkan. Soalnya, antara kritik sastra sebagai hasil, dan kritik sastra sebagai teori, metode, aliran, merupakan pengertian berlainan. Teori hanya ilmu. Metode hanya jalan. Aliran hanya arus. Percuma saja seorang menguasai metode, teori, secara sempurna tanpa diimbangi ketajaman menangkap bias-bias yang diberikan sebuah dunia sastra. Metode ataupun aliran, bukan penebus untuk menjamin keselamatan mutu sebuah kritik sastra. Sebuah kritik sastra mungkin sangat jelek nilainya, walaupun referensi teori, metode sudah sempurna. Kalau ada sastra baik dikritik secara jelek, ataupun sastra jelek dikritik secara baik, maka bagi nilai kritik sastra, keduanya sama-sama jelek mutunya. Karena sama-sama menipu nilai. Untuk mengobati ketidakpekaan semacam itu, tidak ada sebuah metode atau aliran kritik sastra yang mampu menolong.

    Rahasia keberhasilan sebuah kritik, terletak pada kepekaan akal dan rasa pengamat. Sebagai sebuah dunia tersendiri, sebuah sastra yang memperlihatkan isi (atau bobot­) dan bentuk yang tidak dapat dikenali lagi secara terpisah-pisah, seperti Anda misalnya mengenali H2 yang lain dari O, tetapi telah terpadu dalam senyawa sebagai hakikat “air” (persenyawaan H2O). Pengenalan kembali kepada unsur-unsur, tentu saja bisa dilakukam asal atau selama tidak kehilangan relevansi otonomi persenyawaan, seperti halnya air sebagai hakikat baru yang otonom, yang bukan H2 yang bersendiri dari O.

    Oleh sebab itu, untuk memasuki sebuah sastra, seorang kritikus harus benar-benar akrab dengan persenyawaan isi dan bentuk itu, yang dalam artian kreatif bukan senantiasa menghasilkan hal-hal yang konvensional. Soal memilih metode, dari mana kritikus mulai bekerja, bukan soal, tergantung pada pilihan akhir dari kritikus.

    Menegakkan kritik sastra yang baik, tentu saja meminta tanggung jawab yang tidak setengah-setengah. Kritikus harus membaca dengan kecermatan daya analisis dan intuisinya. Relevan pada sastra sebagai subjek (bukan hanya objek), yang senantiasa membiaskan keutuhan dan inspirasi yang tidak mati-mati. Mungkin orang berkata, kritik sastra bukanlah suatu yang mutlak ada ketimbang sastra itu sendiri. Tetapi begitu ditulis, kritik sastra (harus) dapat (diharapkan) menempatkan sebuah karya (secara utuh) di tengah masyarakat dan tatanan nilai-nilai secara keseluruhan.

    Barangkali itulah salah satu sebab, mengapa membuat tugas membuat kritik sastra bukan selalu pekerjaan yang menyenangkan. Langkanya tulisan kritik sastra di masyarakat kita, (walaupun masyarakat membutuhkannya) adalah suatu bukti “kebijaksanaan” juga, atau sikap hati-hati untuk mengerjakannya. Mengerjakan kritik sastra yang baik, senantiasa membutuhkan waktu, yang mungkin lebih lama dari waktu pengarang mengerjakan karya serupa. Pekerjaan “memuji” atau “mencela” dalam kritik sastra, adalah suatu pekerjaan yang mahal.

    (III)

    Menghubungkan peristiwa “Pengadilan Puisi” Bandung (1974) dengan gejala “tidak memasyarakatnya” sastra nasional kita, tidak terlalu tepat kalau kambing hitamnya ditudingkan kepada kelangkaan kritik sastra. Benar, bahwa kritik sastra berpengaruh terhadap apresiasi sastra, tetapi secara esensial kritik sastra bukanlah sama dengan iklan buku atau mak comblang. Sebuah sastra dapat mengembangkan publiknya sendiri tanpa kritik sastra.Sebuah sastra yang dipuji-puji oleh kritik sastra belum menjamin masyarakat pembaca yang luas, Sebaliknya, sastra yang mungkin dikenal sebagai murahan oleh kritik sastra, justru mendapat pembaca yang luas. Oleh sebab itu, gejala “tidak memasyarakatnya” sastra nasional seperti dikeluhkan pengarang-pengarang kita, mustinya disebabkan oleh hal lain yang lebih relevan, yakni bagaimana riwayat sastra “nasional” Indonesia itu berkembang dalam kehidupan sejarah bangsa kita.

    Umar Junus, sehubungan dengan “keterbatasan peminat puisi Indonesia” menyebutkan kasus “tradisi puisi modern telah dibuka dengan keterbatasan dunia sendiri” sebagai sebab . (Lihat: Umar Junus, “Keterbatasan Kepada Dunia Sendiri: Permasalahan Puisi Modern Indonesia”, Mitos dan Komunikasi, 1981:183-90). Pendapat Umar Junus, benar ditinjau dari perhitungan latar belakang puisi Indonesia modern yang disebutnya sebagai “dihasilkan dunia berbeda dari pantuan dan syair”.

    Kalau dilengkapkan pelibatannya dengan masalah sastra Indonesia modern secara keseluruhan, mungkin permasalahan “kepencilan” sastra dari masyarakatnya dapat diakibatkan oleh kasus-kasus umum sebagai berikut:

    1. Masalah-masalah dalam tubuh sastra nasionalitu sendiri, yakni faktor sastrawan dan bentuk pencarian mereka, media bahasa yang mereka pakai, yang masih mengalami dualisme dengan bahasa daerah/sastra daerah tempat asal.
      2. Masalah-masalah dalam masyarakat Indonesia, yakni tradisi budaya yang berbeda melatar belakangi “masyarakat nasional” Indonesia.
      3. Masalah-masalah lain berkenaan dengan negara baru, seperti masalah kepekaan agen modernisasi serta pengelola masyarakat, masalah ekonomi dan pendidikan bangsa, dan masalah benturan nilai dengan perkembangan abad ke-20 yang sangat cepat.

    Masalah pertama, hendaknya disadari bahwa media bahasa nasional Indonesia yang menjadi media pengucapan sastra nasional, adalah “media proklamasi” (lewat Ikrar Sumpah Pemuda, 1928) yang bersifat politis, dan harus dalam waktu singkat memikul tugas berat melakukan kesinambungan tradisi sastra, dari latar belakang daerah yang jamak itu menuju tradisi “baru”, yakni sastra nasional Indonesia. Kesenjangan antara pemahaman sastra “daerah” tentang bentuk sastra dan “siapa” sastrawan , sangat lain dari “tradisi” baru sastra nasional, yang sangat jelas “siapa” sastrawan dan “menulis” karya yang mana. Pada awal peralihan itu, tidak mengherankan bila terjadi banyak percobaan dan pencarian, seperti usaha memasukkan bentuk soneta pada awal sejarah sastra nasional tersebut, dan tidak sedikit polemik dan slogan mencari “arah” kebudayaan nasional Indonesia. Peranan awal tersebut telah dijalankan dengan baik oleh generasi Sumpah Pemuda 1920-an dan generasi Pujangga Baru pada 1930-an, serta kemudian membuka jalan kepada perkembangan yang sangat pesat pada tahun-tahun kemudian.

    Masalah kedua, hendaklah disadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki pengertian yang sangat jamak. Beraneka dalam kelompok etnis dan tradisi, terpisah tempat tinggal dalam wilayah kepulauan yang sangat luas. Latar belakang sastra daerah yang berbeda-beda, belum mengenal tradisi “sastra baca dan sastra tulis/cetak”. Warga masyarakat secara otomatis hidup dalam tradisi sastra lewat penurunan nilai-nilai kebudayaan tradisional. Pengertian sastra tak bisa dipisahkan dari masyarakat karena telah menjadi satu dan hidup dalam nilai-nilai sastra itu sendiri. Masuknya sebuah “tradisi”baru berupa sastra “nasional” dengan sifat baca dan tulis dalam media bahasa nasional “Indonesia”, tentu saja tidak serta merta diserap masyarakat tradisional tersebut. Dapat dipahami, kalau sastra nasional Indonesia membutuhkan waktu penyesuaian pertama, dan wajar harus menerima kenyataan “terasing” di tanah air sendiri entah untuk berapa puluh tahun.

    Masalah ketiga, hendaklah disadari bahwa nilai-nilai kebudayaan nasional, seperti proses pengendapan “nilai budaya” nilainya, terbentuk dalam keselarasan waktu dan nilai-nilai lain dari kebangunan/pertumbuhan sebuah bangsa. Proses waktu senantiasa dibutuhkan untuk pengakaran. Sebuah nilai yang ditanamkan secara “paksa” akan “mengapung”serta mudah sekali terlantar kembali, dan akan menampakkan kekerdilan. Pengakaran sebuah nilai budaya baru hanya mungkin bisa dipercepat kematangannya lewat jalur pendidikan nasional yang langsung atau tak langsung dari sistematis. Misalnya, tradisi membaca harus sudah ditanamkan sejak Taman Kanak-kanak. Ditunjang oleh tersedianya buku-buku bacaan (terpilih bagi semua usia) dan perpustakaan (sekolah dan luar sekolah), niscaya tumbuh semacam kebutuhan rohani untuk membaca di kalangan masyarakat, termasuk membaca buku-buku sastra. Dalam hal (strategi) tersebut, peranan yang merantai antara pemerintah, pendidik/tokoh masyarakat, orang tua, pengarang, penerbit, pencetak, toko buku, perpustakaan, (termasuk juga peranan kritikus) menjadi sangat penting. Dalam hubungan dengan Repelita III (Rencana Pembangunan Nasional Lima Tahun ke III), GBHN/Tap MPR IV/1978 sub “Kebudayaan”, ternyata memang tidak melalaikan sektor itu. Tinggal saja bagaimana pemerintah memilih “ujung tombak” untuk strategi yang menyeluruh. Mungkin “ujung tombak” kebijaksanaan yang pernah diciptakan zaman kolonial dulu, yakni Commissie voor de Volkslectuur yang kemudian menjadi Balai Pustaka, perlu ditata kembali serta diberikan peranan lebih luas daripada sekadar peranan birokratis rutin. Di samping merangsang kreativitas pengarang dan juga penerbit swasta, menampung kegiatan-kegiatan yang spontan bertumbuh dari masyarakat, seperti misalnya kegiatan (lomba) baca puisi dan baca prosa pada tahun-tahun terakhir.

    (IV)

    Kesimpulan dari gambaran-gambaran di atas, jelas kelihatan bahwa kelangkaan kritik sastra, bukanlah kambing hitam paling langsung dari keadaan belum memasyarakatnya sastra nasional dewasa ini. Banyak masalah lain, yang lebih prinsipil. Untuk memasyarakatkan sastra nasional sebagai “nilai budaya” bangsa, tidak cukup ditanggulangi oleh sebuah kritik sastra yang baik (apalagi sebuah kritik sastra biasanya “sukar dibaca” oleh orang kebanyakan, karena sifatnya yang kadang-kadang tidak sahaja). Kaitan kerja sama antara pemerintah sebagai pengelola masyarakat bangsa, pendidik/tokoh-tokoh masyarakat, orang tua, pengarang, kritikus, penerbit, pencetak, toko buku, perpustakaan, rupanya bersama-sama merupakan serta membentuk “iklim” dan “tanah” bagi pertumbuhan/perkembangan sastra nasional sebuah bangsa.

    Tentu saja bukan berarti bahwa kritik sastra Indonesia harus menunggu “kesiapan” kerja sama itu. Selama karya sastra (nasional) itu telah ada/ditulis (tanpa peduli berapa luas pembacanya kini), maka kritik sastra Indonesia pun senantiasa harus juga ada/ditulis sebagai pembanding atau penakar nilai. Karena hikmah sebuah kritik sastra yang baik, juga akan menjadi pembanding yang sangat bersifat mendidik bagi pengarang-pengarang. Hasil kritik yang diraih kritikus tentu saja harus sebaik-baiknya, dalam arti harus relevan dengan karya yang ditelusuri. Tentang apa nama cara kerja/metode yang ditempuh kritikus, biarlah menjadi tanggung jawab serta pilihannya sendiri. Keanekaan pendekatan terhadap sebuah sastra memang sangat mungkin, karena sebagai karya kreatif, hasil sastra dari lain pengarang dan lain periode, lain latar belakang, akan menimbulkan keanekaan dunia sastra itu sendiri.

    *********************************************

    *Sumber  tulisan dari buku Hamba-Hamba Kebudayaan, Penerbit Sinar Harapan

     

     

  • Menemani Remaja dalam Proses Belajar Mengajar

    Oleh: Dr. Cicilia Damayanti, M. Pd., Pengajar Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta

     

    Pendahuluan

    Sejak dua tahun terakkhir, dunia dan juga Indonesia masih mengalami pandemi Covid-19. Keadaan ini banyak mengubah hidup manusia dalam segala hal. Terutama yang berkaitan dengan kesehatan, ekonomi, sosial politik, teknologi dan juga pendidikan terutama bagi remaja sebagai generasi muda. Oleh karena pandemi pula, pada saat ini aspek teknologi informasi seperti penggunaan gawai elektronik yakni telepon seluler hingga laptop, sangat dominan dalam proses belajar mengajar. Baik guru, orang tua dan murid dituntut harus memiliki keterampilan tersendiri di dalam penggunaan gawai elektronik. Akan tetapi dalam prosesnya seringkali ada kendala atau tantangan tersendiri yang bukan saja menyangkut aspek teknologi informasi, misalnya komunikasi, dan juga sosial ekonomi. Bagaimana situasi pandemi ini mengubah pola pembelajaran mereka? Apa yang bisa orang tua lakukan untuk mendampingi para remaja ini? Bagaimana sekolah dapat menjadi perantara yang baik bagi para remaja dan orang tuanya untuk mendapatkan pendidikan yang baik?

     

    Permasalahan yang Terjadi

    Sebelum pandemi, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilakukan secara tatap muka. Komunikasi terjalin dengan baik, dalam arti tatap muka membantu proses belajar mengajar dan penyelesaian masalah secara langsung. Para remaja sebagai peserta didik pergi ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan, bertemu dan berinteraksi dengan para guru serta teman-temannya.

    Pandemi membuat banyak kegiatan harus dilakukan dari rumah, salah satunya KBM. Pandemi mengubah pola ini dan membuat proses KBM dibantu teknologi: gawai (komputer dan ponsel) dan internet. Di awal pandemi sistem ini membuat proses pendidikan berjalan sangat lambat. Sebab permasalahan yang sering dihadapi dalam konteks teknologi, gawai yang dimiliki tidak memadai untuk dipakai belajar, serta jaringan internet yang tidak stabil. Selain itu, penggunaan gawai juga masih tidak maksimal, dalam arti kecanggihan sebuah benda tidaklah dapat dikuasai sepenuhnya. Dalam konteks ekonomi, gawai dan internet juga masih relatif mahal buat sebagian orang tua dan murid. Membeli dan mengakses teknologi masih menjadi hal yang tidak mudah untuk dijangkau banyak orang. Dalam konteks psikologi, ada ketergantungan terhadap gawai sejak usia dini karena ketidaktahuan atau rasa abai orang tua untuk menyerahkan kontrol terhadap anaknya. Survei yang dilakukan pada tahun 2021 oleh Sell Cell, sebuah situs perbandingan harga ponsel menemukan bahwa anak-anak mulai menggunakan ponsel pada usia muda. Setidaknya 47 persen anak-anak mulai menggunakan ponsel di bawah 6 tahun dan 12 persen berusia antara satu dan dua tahun. Hasil survei tersebut memperkuat temuan dalam sebuah riset di Indonesia yang dilakukan tahun 2020 bahwa 19,3% remaja dan 14,4% dewasa muda kecanduan internet.

    Rancangan KBM yang semula merupakan kegiatan tatap muka (luring) harus segera diubah menjadi kegiatan yang menggunakan internet (daring). Baik pihak peserta didik remaja, guru dan orang tua sebenarnya belum siap menghadapi pola pendidikan seperti ini. Hal ini terjadi karena percepatan penggunaan teknologi informasi yang idealnya dilakukan di masa depan, namun karena pandemi dipercepat sedemikian rupa. Sebab adanya kedaruratan dalam proses pendidikan. Guru harus segera mengubah rancangan KBM menjadi pendidikan berbasis daring. Peserta didik harus segera beradaptasi dengan belajar menggunakan gawai. Para orang tua tiba-tiba mendapat pekerjaan tambahan dengan menjadi guru bagi anak-anaknya ini.

    Keadaan darurat dan mendesak ini memaksa setiap orang yang berada di lingkungan pendidikan harus bisa beradaptasi terhadap sistem pendidikan yang baru. Mereka diharapkan “melek” teknologi. Menguasai teknologi di sini bukan hanya mampu mengoperasikannya tetapi sekaligus juga memanfaatkannya dengan baik. Gawai yang semula menjadi mesin untuk berkomunikasi dan bermain, kemudian ditambah menjadi alat untuk mencari dan mendapatkan informasi. Hal ini memicu mereka meningkatkan kemampuan bekerja bersama teknologi.

    Peristiwa ini berdampak positif dan negatif. Positif karena sekarang gawai menjadi alat serbaguna yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi dan bekerja atau belajar. Negatif karena informasi yang tersebar semakin banyak, dan menuntut kita semua untuk kritis dalam menyaring informasi yang mengandung kebenaran serta berguna bagi hidup. Permasalahan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa mengoperasikan gawai ini untuk bekerja. Sebab tidak semua dari kita “melek” untuk belajar dengan gawai. Di samping sinyal yang kuat sangat dibutuhkan untuk memperlancar proses KBM ini.

     

    Pelatihan untuk Mendukung KBM “New Normal”

    Hal pertama yang dapat dilakukan untuk membuat proses KBM di era “new normal” ini dapat berhasil dengan baik adalah memperkuat proses komunikasi, baik di antara guru dan peserta didik, guru dan orang tua, juga antara peserta didik dan orang tua. Guru, peserta didik, dan orang tua adalah lingkaran terpenting dalam KBM ini. Sebab mereka adalah bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Komunikasi yang terjalin selama masa pandemi ini memang terkesan menyulitkan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses teknologi yang memadai. Apalagi saat ini komunikasi yang terjalin diharuskan secara daring. Bagaimana menyiasati hal ini?

    Orang tua perlu lebih aktif dalam mendampingi anak-anaknya dalam belajar. Di samping itu mereka juga harus aktif dalam menjalin komunikasi dengan para guru di sekolah. Komunikasi ini bisa dilakukan via telpon atau email. Pendampingan orang tua sangat dibutuhkan, mengingat pola belajar via daring menyebabkan anak-anak senantiasa aktif menggunakan internet. Guru tidak bisa siap siaga seperti saat belajar luring, sehingga peran orang tua penting untuk membantu guru agar proses KBM berjalan dengan baik.

    Kedua, para remaja ini sedang berada dalam masa peralihan yang akan menentukan karakter mereka. Orang tua dan guru perlu memberi mereka kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukannya. Beri mereka kepercayaan untuk melakukan apa yang menjadi minatnya. Setiap anak adalah unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang bagus pada kemampuan motorik, sensorik, atau kognitif. Orang tua dan guru perlu mengenali kemampuan ini pada diri remaja, untuk kemudian bekerja sama mengembangkannya.

    Pola pendidikan demokrasi sangat dibutuhkan di sini. Para remaja ini perlu didengar apa yang menjadi kebutuhannya. Beri mereka kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya. Hal ini membantu mereka untuk berani bersuara juga untuk bekerja sesuai minatnya. Orang tua dan guru perlu hadir untuk mendampingi agar mereka tidak salah langkah. Sehingga komunikasi sangat dibutuhkan di sini. Usia mereka adalah usia yang sedang dalam proses mencari jati diri. Kehadiran orang tua dan guru dibutuhkan untuk mereka bisa memiliki sudut pandang dan panutan dari orang dewasa yang pernah berada di posisi mereka.

    Mengikuti teladan Socrates, belajar akan menjadi lebih menyenangkan bila dilakukan dengan dialog. Dialog yang dilakukan membuat para remaja ini merasa bahwa suara mereka didengarkan. Orang tua dan guru pun dapat menyampaikan pendapat mereka dengan lebih baik melalui dialog yang terjalin searah. Untuk itu pendidikan demokrasi menyebabkan setiap orang diperlakukan setara. Sehingga mereka merasa nyaman sebab diterima oleh orang-orang yang terdekat dengannya. Hal yang terpenting di sini adalah bahwa proses ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga sistem pendidikan dapat berjalan dengan lancar dan berhasil dengan baik.

     

    Pola Pendidikan VUCA vs VUCA

    Saat ini dunia mengalami masa penuh ketidakpastian, terutama efek pandemi. Dalam bidang ekonomi dikenal istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), yakni dunia yang penuh dengan pergolakan, ketidakpastian, kerumitan, dan kebimbangan. Perubahan berjalan sangat cepat dan sering tidak terduga. Situasi ini pada akhirnya merambah sampai ke dunia pendidikan.

    Pendidikan yang dihadapi para remaja ini penuh dengan perubahan yang cepat dan massif, terutama karena efek pandemi. Saat ini mereka sedang memasuki era teknologi, agar tidak ketinggalan zaman, apa yang bisa para orang tua lakukan untuk mendampingi mereka? Era VUCA dapat dilawan kembali dengan VUCA (Vision, Understanding, Clarity, Agility). Menjadi orang tua di era digital membutuhkan kesigapan dalam menghadapi perubahan yang cepat ini. Mereka dapat melawan gejolak perubahan zaman yang cepat dengan membuat visi yang jelas dengan anak-anak, terutama tentang masa depan yang ingin dicapai. Ketidakpastian dapat dilawan dengan pemahaman. Ajak anak-anak memahami perubahan ini dengan membantunya melewati masa-masa yang tidak jelas ini. Kerumitan dapat dilawan dengan kejelasan. Anak-anak perlu diajak berdialog untuk melihat kekacauan yang terjadi saat ini. Kemudian kita dapat melawan kebimbangan dengan keluwesan. Saat kita bisa fleksibel, anak-anak akan dapat nyaman berbagi dengan kita. Posisikan diri kita sebagai mitra yang setara sehingga dialog dapat tercipta dengan baik.

    Kenali anak-anak anda, pahami keinginannya, jadilah pendengar yang baik melalui sudut pandang mereka. Dialog yang intens membantu kita memahami dunia mereka, dan mereka juga dapat belajar dari pengalaman yang pernah kita alami. Saat kita memposisikan diri kita sebagai mitra yang setara, mereka akan lebih mudah terbuka dalam membicarakan masalah yang sedang dihadapinya. Sebab saat ini, kita sebagai orang dewasa dituntut untuk lebih adaptif dalam menerima perubahan.

     

    Apa yang Harus Dilakukan?

    Sebagai orang tua tentunya harus juga mampu menyesuaikan diri terhadap partisipasi dalam proses pendidikan anak. Meski pun tanggung jawab orang tua menjadi semakin besar karena harus memantau perkembangan anak dalam situasi belajar daring, hal tersebut haruslah tetap dilakukan sebagaimana dalam proses belajar sebelum pandemi. Penguasaan gawai dan internet juga menjadi porsi tersendiri yang mau tidak mau harus dikuasai agar tidak ketinggalan dengan perkembangan dan kemampuan anak. Anak perlu didengar, mengolah emosinya dengan mendengarkan cerita mereka. Orang tua juga dapat bercerita tentang pengalaman sebagai perbanding dan menempatkan posisi sebagai saling belajar di tengah pandemi yang memang menjadi ancaman bagi semua. Berbagi pengalaman sangat penting untuk membantu mereka melihat dunia dari perspektif yang lain. Sistem komunikasi yang terjalin sebaiknya (1) menempatkan diri sebagai mitra yang dapat dipercaya, (2) membangun dialog berupa komunikasi verbal-dinamis, menghindari percakapan monoton, (3) membangun kepercayaan diri si anak dan kepercayaan terhadap orang tua dengan memberi kebebasan dan tanggungjawab, serta (4) membiasakan untuk saling ekspresif menyampaikan pendapat dan perasaan. Hindari kebiasaan untuk menghakimi, karena setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahannya. Biarkan mereka berbuat kesalahan, asal jangan sampai fatal. Selama anda mendampingi mereka, kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir.

    Orang tua juga harus mampu menjadi hacker atau stalker sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, dalam arti dituntut untuk dapat memantau dan mengetahui hidup anak remaja anda terutama dalam penggunaan media sosial. Meski demikian, kemampuan tersebut bukanlah bertujuan untuk mengawasi secara langsung dalam arti terlibat dan ikut campur dalam kehidupan pribasi si anak. Orang tua tetap harus mengambil jarak, mendengarkan cerita dan keluh kesah mereka serta memposisikan diri sebagai mitra yang dapat dipercaya dalam menyelesaikan masalah serta tantangan yang dihadapi si anak. Orang tua harus dapat menjadi teman tanpa meninggalkan atribut sosial sebagai figur yang dihormati sekaligus dipercaya.

    Selain itu, dinamika yang terjadi antara orang tua dan anak juga membutuhkan pendampingan berkelanjutan berupa (1) menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dengan guru dalam memantau perkembangan pendidikan, (2) membangun kesadaran bahwa orang tua berperan penting dalam keberhasilan pendidikan anak-anaknya. Guru sebagai pendidik menjadi mitra kerja sama bagi orang tua agar anak-anaknya berkembang menjadi manusia yang baik, sehingga (3) orang tua dan guru bekerja sama dalam mengembangkan karakter peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.

     

    Penutup

    Oleh karena situasi pandemi Covid-19 belumlah berakhir, maka proses pendidikan yang kini mengandalkan percepatan penggunaan teknologi informasi, kemampuan menguasai gawai serta proses belajar mengajar yang berjalan secara daring ternyata membutuhkan lebih banyak partisipasi aktif, interaksi dan kerjasama baik antara orang tua, anak dan guru. Tuntutan semacam itu harus terpenuhi mengingat pendidikan dalam era sekarang harus menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Terlepas dari segala kekurangannya, harus dilakukan upaya-upaya yang lebih konkrit berupa pendalaman interaksi, kemampuan komunikasi dan penguasaan teknologi dari semua pihak yang terlibat agar proses belajar mengajar serta tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik.

    ************************************************************************

     

  • Hikayat Kebo

    Hikayat Kebo

     

    Linda Christanty

     

    JALAN itu lurus. Berangkal batu, pecahan keramik, kristal semen, melapisi permukaannya. Bias cahaya meriah dari papan reklame dan logo pertokoan memberinya siluet.

    Minggu, 20 Mei 2001, pukul 21.00, sebuah taksi biru merayap di sana. Jarum speedometer-nya menunjuk angka 15 kilometer per jam. Setelah melampaui satu tikungan dan disambut sorot neon 40 watt, kendaraan tersebut berhenti. Tepat di muka pemukiman para pemulung.

    Enam pria melompat dari dalam taksi, kemudian sibuk menarik tubuh seseorang dari jok belakang. Kedua tangan dan kakinya terikat kawat. Rintihan parau terdengar lemah dari tenggorokan pria itu.

    Ia sekarat.

    Orang-orang mendekat dengan rasa ingin tahu.

    Lima puluh meter dari tempat kejadian, di samping pagar seng yang membatasi pemukiman tersebut dengan perkampungan, ada sebuah jalan kecil. Nama jalan tertera pada papan hijau tua yang terpancang di mulutnya: Jalan Tanjung Palapa.

    Faried tinggal di tepi jalan itu. Ia mahasiswa sebuah sekolah tinggi publisistik di Jakarta. Ia baru saja pulang ketika keponakannya memberitahu ada keramaian dekat pemukiman para pemulung. Faried bergegas ke sana.

    Massa berkumpul sekitar 50 orang, terdiri dari warga setempat, pemulung, dan tukang ojek. Faried mencoba menerobos kerumunan, mendesak maju. Di tanah menggeletak tubuh seseorang.

    “Ini siapa?” tanya Faried pada pria yang berdiri di dekatnya.

    “Kebo.”

    Teriakan terdengar dari tengah massa.

    “Buntungin aja tangannya!”

    “Ceburin ke kali!”

    “Bakar!”

    Tiba-tiba seorang pemulung mengguyur tubuh tak berdaya ini dengan minyak tanah.

    Massa hanya menonton.

    “Tolong jangan di sini. Kalau ingin menghakimi dia itu urusan kalian, tapi

    jangan di sini,” seru Faried, panik.

    Ia khawatir nama kampungnya tercemar akibat tindak kriminal, bukan pada nasib korban.

    Seakan menyetujui peringatan tadi, empat pria mengangkat tubuh Kebo, lalu meletakkannya dalam gerobak, bersatu dengan sampah plastik dan ban mobil bekas.

    Para pemulung itu mendorong gerobak ke tempat pembakaran sampah sampai berhenti di bawah sebatang pohon mangga. Bagai mengawali seremoni persembahan, salah seorang dari mereka menyalakan korek api.

    ***

    KARIMUN Usman baru saja selesai sholat Subuh. Rambut mulai memutih di usianya yang menjelang enam puluh. Sang istri, Siti Royamah, tengah sibuk di dapur. Karimun biasa sarapan dengan beberapa iris roti tawar dan secangkir kopi, sebelum berangkat ke gedung parlemen di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Barat, tempat ia melaksanakan tugas sehari-hari. Ia berkantor di sana sejak 1999.

    Saat berkunjung ke kebun bunga milik seorang sahabat di Cibodas pada 31 Januari 1999, Karimun bertemu Megawati Soekarnoputri, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mereka berbincang-bincang dan ternyata menemukan kecocokan dalam cara pandang terhadap berbagai konflik di Indonesia. Politik memang dunia yang intim dengannya sejak lama. Karimun pernah menjadi ketua anak cabang Partai Nasional Indonesia di Cotgire, Loksukun, Aceh Utara, pada 1966 dan sempat ditahan di penjara Loksukun, karena dituduh komunis.

    Buah pikirannya di Cibodas tak sia-sia. Dewan pimpinan cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Aceh mencalonkan Karimun duduk di parlemen. Karimun terpilih sebagai wakil partai berlambang banteng gemuk tadi. Orang Aceh menaruh banyak harapan padanya. Ia punya ruang untuk memperjuangkan kedamaian dan keadilan bagi rakyat di negeri yang masih bergolak itu.

    Meski punya rumah dinas di Kalibata, Karimun Usman tetap tinggal di Kompleks Pengairan, milik Departemen Pekerjaan Umum. Ia pensiun dari departemen tersebut pada April 1999. Rumah pribadi Karimun cukup nyaman. Ada garasi mobil, kursi-kursi dengan bantalan beludru di terasnya, dan lantai yang terbuat dari marmer merah bata.

    Sidang paripurna akan berlangsung pagi 21 Mei 2001. Tapi, Karimun Usman belum mengganti t-shirt putih dan pantalon warna kremnya dengan setelan resmi, ketika pintu rumahnya diketuk orang pada pukul 06.30.

    Norman, salah seorang warga, sudah menunggu di teras. Raut wajahnya menyiratkan kabar buruk. Karimun mafhum. Ia terbiasa menghadapi kabar seburuk apa pun. Karimun menjadi ketua rukun warga (RW) di wilayah itu sejak 1976, sehingga sudah cukup teruji. Kadang-kadang, ia kedatangan tamu tengah malam buta. Kadang-kadang, dini hari.

    “Ada mayat terbakar ditemukan di RW kita, Pak,” lapor Norman.

    Tanpa berpikir panjang, Karimun berangkat bersama Norman. Jarak rumahnya ke tempat kejadian sekitar 300 meter.

    Banyak orang berkerumun. Mayat itu hangus bersama gerobaknya di belakang Tower Anggrek Mall, Slipi, Jakarta Barat. Anggrek Mall atau lebih dikenal dengan sebutan Mal Taman Anggrek adalah sebuah pertokoan mewah di Jakarta. Berbagai barang dari merek ternama dijual di sana; dari celana dalam sampai gaun pesta, dari makanan sampai alat olah raga. Di sekitar pertokoan ini berdiri apartemen-apartemen menjulang dengan jendela kaca berkilau.

    Karimun diwawancarai reporter dari Patroli, sebuah program tayang di stasiun televisi Indosiar. Polisi belum datang.

    “Siskamling itu supaya nggak kenal waktu. Siskamling dibutuhkan bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sebagai anggota masyarakat. Jangan sampai terjadi seperti hal yang kita lihat pagi ini,” kata Karimun, menatap kamera.

    Ia menyesal terlambat mencegah kebiadaban tersebut.

    Karimun tercenung dalam ruang kerjanya yang terletak di koridor lantai lima Gedung Nusantara II, salah satu gedung perkantoran dalam kawasan parlemen. Sebuah jendela kaca menghadap jalan raya mengakhiri ujung koridor yang terasa dingin dan sunyi. Halaman gedung terlihat lengang. Barikade kawat berduri membentang di muka pagar besi. Pos penjagaan berisi seorang polisi. Teman-temannya mengaso di atas hamparan rumput hijau di sebelah kanan gedung yang

    diteduhi pohon beringin. Tenda besar dan truk tronton milik brigade mobil berada di sekeliling mereka. Setelah ribuan mahasiswa dan rakyat menduduki gedung tersebut untuk menuntut penurunan Presiden Soeharto tiga tahun lalu, aparat keamanan jarang istirahat. Mereka harus menahan aksi-aksi protes yang terus mengalir ke parlemen.

    “Menurut saya, apa pun kesalahan orang, tidak perlu kita bakar. Setelah kekesalan dilepaskan, serahkan orang itu kepada polisi, lalu diproses secara hukum,” ujar Karimun.

    Tapi, Karimun sendiri pesimis terhadap kinerja aparat penegak hukum, “Koruptor kakap lolos, maling ayam ditahan tiga bulan.”

    Ia menganggap kondisi perekonomian yang buruk memicu tindak kekerasan massa akhir-akhir ini. Masyarakat mengekspresikan kekecewaan dengan membabi-buta, meski yang menjadi sasaran justru sesama rakyat kecil lagi.

    “Ternyata setelah hampir dua tahun, yang terjadi justru dalam eksekutif, mengganti menteri dalam sebulan bisa dua kali. Menteri-menteri ditugaskan untuk lobi-lobi. Yang menyangkut tugas dan pokoknya tidak dilakukan. Sehingga apa yang sudah dicanangkan dibangun di daerah ini atau daerah sana, tidak dilakukan. Emosi-emosi kedaerahan bisa timbul dari sini. Akibatnya, kalau ada

    satu saja pemicu, orang tidak mau melihat pada keadaan sekarang, walaupun keadaan yang sekarang jauh lebih bagus daripada tiga puluh tahun Soeharto berkuasa.”

    ***

    CEROBONG bangunan tersaput jelaga itu terus-menerus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bangunan ini bagian dari Mal Taman Anggrek. Tepat di seberang temboknya berdiri bilik-bilik pemulung. Gundukan sampah plastik dan kaleng bekas cat atau minyak oli berada di muka atau sisi bilik mereka. Bau busuk tercium, tapi tak seekor lalat pun terbang atau hinggap. Bunga-bunga liar berkelopak putih dengan sepuhan ungu mendekati putiknya menjalar di atas tanah. Keindahan menjadi sebuah sindiran di sini.

    Kebo hampir setahun tinggal di lapak tersebut. Ia seperti para penghuni lain, memiliki sebuah bilik untuk berteduh. Bilik Kebo berdinding tripleks dengan atap seng dan tambalan tripleks pada bagian tertentu. Jarak lantai ke langit-langit 1,5 meter. Luas bilik 2×2,5 meter persegi. Karpet merah darah dari bahan sejenis wol melapisi lantai bilik yang terbuat dari tanah. Tempat tidur kayu tanpa kasur merapat ke salah satu dinding. Kebo menyimpan beberapa potong pakaian dalam tas olahraga warna biru. Semua ini kekayaan yang ia miliki.

    Kamar Kebo lebih mirip gua. Tanpa jendela. Di siang hari terasa pengap, sedang di malam hari begitu lembab. Cahaya matahari dan pergantian udara melewati satu-satunya lubang pada dinding; sebuah pintu yang terbuka. Kebo menggunakan kamar tersebut untuk tidur dan seringkali dalam keadaan teler akibat pengaruh alkohol. Ia gemar minum arak atau anggur hitam. Seorang pelacur biasa menemaninya bersenang-senang. Namun, perempuan yang dibawanya silih-berganti. Kebanyakan mereka berusia setengah tua dan seringkali berhubungan atas dasar suka sama suka.

    Bila musim hujan tiba lantai bilik tergenang air dan berlumpur. Penghuni lapak mencoba menimbun lantai bilik mereka dengan puing dan kayu, meski air yang turun dari langit nyaris tak terbendung. Kebo melakukan hal yang sama, lalu menjemur karpet yang basah berlumpur.

    Lapak-lapak pemulung ini berdiri di atas lahan seluas lima hektare. Sebelum gerakan reformasi pada 1998, tanah tersebut tercatat sebagai milik Yayasan Bhakti Putra Bangsa. Papan nama yayasan menancap di atas lahan yang gersang. Hutomo Mandala Putra, putra bungsu mantan Presiden Soeharto, orang nomor satu yayasan itu.

    Ketika Presiden Soeharto berkuasa, keluarga dan kroninya menguasai sebagian besar aset ekonomi serta perdagangan di Indonesia. Praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi lumrah.

    Menjelang detik-detik kejatuhan Soeharto pada 1998, perekonomian Indonesia mencapai kulminasi paling buruk. Sistem ekonomi dalam negeri yang lama bobrok ditambah krisis mata uang yang melanda negara-negara Asia membawa petaka. Nilai rupiah meluncur dari Rp 2.300 per dolar Amerika pada Juli 1997 ke angka Rp 17 ribu per dolar Amerika pada Januari 1998. Pertumbuhan ekonomi turun 15 persen secara keseluruhan, seiring krisis di sektor-sektor kunci.

    Pada Juni 1998, sektor pertanian menurun 2,4 persen, manufaktur 19,3 persen, pertambangan 8,3 persen, dan perdagangan serta jasa 25,2 persen. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat hampir 50 persen dan kebanyakan terkonsentrasi di wilayah Jawa. Pendapatan per kapita menurun dari 1088 dolar per kapita pada 1997 ke 610 dolar per kapita pada 1998.

    Pada situasi krisis ini pula, gubernur Jakarta Sutiyoso memberi kesempatan pada masyarakat kota untuk menggarap lahan-lahan tidur, baik milik pemerintah maupun perusahaan. Akibatnya, orang berbondong-bondong membuat sertifikat atas lahan yang bukan milik sendiri. Bahkan, di antara mereka ada yang menyewakan lahan tersebut pada orang lain.

    Seorang demi seorang datang, mengguntingi kawat pembatas, dan mengikat tali rafia pada tiang-tiang kayu untuk bermukim. Kebo termasuk dalam gelombang pendatang. Ia sudah lama menjalani hidup semacam itu, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Baginya itu hanya satu siklus yang biasa, seperti matahari terbit atau terbenam.

    Selain mengumpulkan sampah plastik atau kaleng dan menjualnya kepada bos lapak, Kebo menimbun lubang-lubang di sepanjang Jalan Tanjung Palapa. Ia memiliki sebuah gerobak kayu untuk mengangkut bahan baku perbaikan jalan itu.

    Kedengarannya mulia.

    “Tapi suka minta uang sama orang-orang, kalau nggak dikasih nabok,” kata Ismawan, salah seorang pemulung yang tinggal berseberangan dengan Kebo.

    “Abis nguruk, dia minta bayar. Terus, suka beler,” ujar Sri Utami, istri Ismawan.

    Kebo memang bukan jenis yang bisa menimbulkan rasa nyaman. Tubuh Kebo penuh tato. Tato ular kobra di lengan kiri, betis kiri, dan betis kanannya. Pada lengan kanannya ada tato kalajengking. Punggung Kebo berhias tato wajah perempuan berambut panjang.

    Namun, cara Kebo berpakaian cukup perlente. Ia gemar mengenakan setelan jaket dan celana jins. Sepatu kulit warna coklat melengkapi penampilannya. Tinggi pria ini sekitar 157 sentimeter, berkulit hitam, dan agak gemuk.

    Usia Kebo 40 tahun. Ini usia berdasarkan surat nikahnya dengan Muah binti Sukardi. Di situ nama Kebo tertulis: Ratno bin Karja.

    ***

    DESA Sisalam berada di Kecamatan Wanasari, bagian selatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dari alun-alun kabupaten, angkutan umum berwarna kuning jurusan Jagalumpeni siap mengantar penumpang ke Sisalam dengan ongkos Rp 1.000. Mobil melewati jalan yang tak rata dan berbatu-batu. Perempuan-perempuan desa membawa barang belanjaan dari kota mengisi bangku-bangkunya. Dandanan mereka sederhana. Ada juga yang bertelanjang kaki.

    Sisalam tertera dalam daftar desa tertinggal. Belum ada pusat kesehatan masyarakat di sini. Hanya sebuah sekolah dasar milik pemerintah yang melayani kebutuhan pendidikan anak. Listrik baru dua tahun masuk ke desa ini. Kebanyakan penduduk Sisalam bekerja sebagai buruh tani. Tak ada papan nama desa. Jembatan kembar berada di muka jalan masuk yang terbuat dari tanah dan batu kali berwarna hitam. Jejak hujan tertinggal pada ceruk-ceruk jalanan yang tergenang air.

    Rumah Muah binti Sukardi masih 500 meter ke dalam. Arsitekturnya amat sederhana. Dua buah jendela dan sebuah pintu di bagian muka. Langit-langit memperlihatkan komposisi kayu yang silang-menyilang, sedang sinar matahari menerobos ke dalam dari celah-celah genteng yang berlumut. Dinding-dinding rumah dikapur putih.

    Ia bersimpuh di lantai semen yang dingin pagi itu. Sorot matanya sayu. Wajahnya bundar tanpa riasan. Muah tinggal bersama putri angkatnya, Teti, yang berusia 13 tahun. Kebo dan Muah merawat Teti sejak anak tersebut masih bayi, karena perkawinan mereka tak membuahkan keturunan.

    “Rumah ini peninggalan embah saya,” tutur Muah, dalam logat Banyumas yang kentara. Konsonan diucapkan dengan tengah lidah pada langit-langit mulut.

    Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bercerita. Pernikahannya dengan Kebo adalah pernikahan kedua. Usia perkawinan pertama Muah hanya bertahan setahun, meski ia dan suaminya saling cinta. Orangtua suami pertamanya, Damat, tidak menyukai Muah yang miskin. Mereka mencarikan istri lagi untuk Damat.

    Pertemuan Muah dan Kebo juga kebetulan. Saat itu Muah ikut orangtuanya yang jadi pemulung di Pisangan, Jakarta. Muah berjualan pecel di samping bilik mereka. Kebo baru saja keluar dari penjara, setelah mendekam di sana selama enam bulan. Ia juga tinggal di lapak itu. Kayem, ibu Muah, menegur Kebo yang kebetulan lewat.

    “Bo, Kebo kapan lu pulang?” tanya Kayem.

    Muah memandangi ibunya heran, “Nama orang kok Kebo, sih Mak?”

    “Ya, memang gitu. Dipanggilnya Kebo, Kebo gitu ….”

    Suatu hari Kebo membeli pecel dagangan Muah dan hatinya berdesir melihat perempuan ini.

    “Tuh cewek boleh juga,” kisah Kebo pada sesama pemulung.

    Semula Muah tak tertarik, tapi Kebo pantang menyerah. Saat kaki Muah luka tergores kaleng, Kebo membelikannya sandal jepit.

    “Kamu mau nggak kawin sama saya?” tanya Kebo.

    Muah ragu-ragu.

    “Saya pengen jadi orang Jawa, jadi orang tani,” rayu Kebo.

    “Kalau situ mau sama saya, yang penting situ insaf. Berhenti mabok, asal lu baik, gua nggak apa-apa kawin sama lu,” Muah, mengajukan syarat.

    Ketika Muah hendak pulang kampung, Kebo memaksa ikut. Mereka sempat kumpul kebo selama enam bulan dan berkali-kali digrebek pemuda setempat. Pada 18 November 1986, Kebo dan Muah menikah di Sisalam. Tak seorang pun dari pihak keluarga Kebo hadir.

    Asal-usul Kebo tak jelas.

    Saat berpacaran dengan Kebo, Muah sempat bertanya, “Lu kampungnya di mana?

    Orangtua lu di mana?”

    “Di Dongkal. Cuma waktu kelas satu SD, saya ngikut truk berangkat ke Jakarta, terus bawa sarung sama ayam. Ayamnya nyolong punya orangtua saya. Ayam lagi angkrem (mengerami telur) diambil, buat ongkos. Sejak itu saya nggak pernah pulang,” jawab Kebo pada Muah.

    Hidup di Jakarta tidak mudah bagi Kebo. Ia tersesat sendirian di sebuah dunia asing, berada di tengah perubahan cuaca dan rasa lapar. Selain itu, berbagai bentuk kekerasan juga mengintai anak-anak jalanan seperti Kebo, termasuk pembunuhan dan penganiayaan seksual.

    Pada 1996, media massa sempat menggemparkan masyarakat lantaran memuat berita perkosaan serta pembunuhan anak jalanan. Seorang pelaku yang dibekuk aparat kepolisian bernama Robot Gedek. Sebelum membunuh anak-anak itu, ia menyodomi mereka.

    Kehidupan di jalanan mempertemukan Kebo kecil dengan pemungut puntung rokok dari tong-tong sampah kota, pria yang kemudian mengangkatnya sebagai anak. Kenangan Kebo terhadap ayah angkatnya samar-samar.

    “Kebo tinggalnya nggak tetap. Semenjak dia di belakang Mal Taman Anggrek saya nggak ikut. Saya disuruh ngurusin anak,” kenang Muah.

    Kebo menitipkan uang belanja buat Muah melalui saudara atau teman sekampung yang datang ke Jakarta. Kadang-kadang, Kebo datang sendiri mengantarnya.

    “Untuk dua bulan kadang Rp 150 ribu, kadang Rp 100 ribu,” kata Muah. Ia maklum pekerjaan suaminya tak bisa menghasilkan banyak uang, tapi, “Ini juga diminta lagi, kalau dia mau beli minuman. Rp 10 ribu, Rp 20 ribu … lama-lama abis,” lanjutnya. Pendapatan Kebo bervariasi setiap hari.

    “Pernah sehari dapat Rp 7.000, tapi nggak tentu.”

    Kebo tidak berubah. Dia tetap suka menenggak minuman keras. Bahkan, ia jadi amat pencemburu. Rasa cemburu membuat Kebo tega menyakiti istri sendiri.

    “Saya ngasih nasi sama temannya dikiranya saya senang. Kejadiannya di Kampung Sawah, Jakarta, di samping Mal Taman Anggrek. Saya dipanggil, terus É mulut saya sudah bercucuran darah,” kata Muah, menerawang.

    Kebo boleh cemburu pada istrinya, tapi Muah harus menerima kehadiran perempuan lain dalam rumah tangga mereka. Pada 1988, Muah menengok suaminya di lapak Kemanggisan, Jakarta Barat. Seorang perempuan hamil bernama Yuli berada dalam bilik Kebo. Di malam hari Muah terpaksa membiarkan suami dan kekasihnya itu bercinta.

    Akhirnya, Kebo mengutarakan niatnya untuk menikah lagi.

    “Situ boleh kawin, asal ceraikan saya,” ujar Muah, panas.

    “Gua nggak mau ninggalin lu,” jawab Kebo.

    “Percuma, nggak mau ninggalin, tapi nyakitin terus.”

    “Nggak apa-apa kalau kamu maunya begitu. Tapi kamu kan punya orangtua, punya saudara.” Kebo mengancam.

    Muah gemetar.

    Dalam keadaan marah, Kebo mengambil golok.

    Ia memotong telunjuk tangan kanannya sendiri.

    Para tetangga di Sisalam sering mendengar Kebo memukul istrinya. Muah menjerit-jerit, lalu berlari keluar rumah. Muah terpaksa bersembunyi di rumah tetangga untuk menghindari kekejaman Kebo. Tapi, nasib Muah tak selalu baik. Ia pernah pingsan akibat tindakan Kebo dan terkapar berlumuran darah. Kebo malah meninggalkannya, mencari arak, dan mabuk.

    Namun, Kebo sangat lembut terhadap anak-anak. Ia senang mengajak anak-anak kampung pergi memancing. Kebo juga tak suka mendengar Muah membentak Teti. Saat mereka bertengkar malam-malam, Kebo tak ingin putrinya tahu. Suatu malam di antara ribuan malam yang menakutkan bagi Muah, Teti terbangun mendengar suara gaduh. Bocah ini melihat kursi sudah jungkir-balik di lantai.

    “Ada apa, sih, Pak?” tanya Teti.

    “Nggak ada apa-apa, kok, Nok.”

    Pada 1992, Kebo membuat ulah pertama kali dengan penduduk kampung Sisalam. Dia mengancam seorang pria bernama Soka. Kebo menempelkan golok di leher Soka sambil menggiringnya mondar-mandir di jalan desa. Penduduk menyaksikan, tapi tak berani melerai.

    “Soka ini pendatang, sama seperti Kebo. Mungkin, mereka ini ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa,” ujar Rodijuro, lurah Sisalam.

    “Tapi, hanya sekali itu. Dia nggak pernah bikin keributan lagi dengan warga sini,” kata Wage, pertahanan sipil (hansip) Sisalam.

    Akibat perbuatannya itu Kebo dikurung lima bulan di tahanan Kepolisian Resort

    Brebes.

    Angin siang berembus lewat pintu dan jendela yang terbuka. Kenangan pahit menyesakkan dada Muah. Sebentar-bentar terdengar embikan kambing dari kejauhan. Muah meluruskan kedua kakinya yang terasa penat. Perempuan mungil ini menghela napas panjang. Baru saja ia kembali dari memotong padi di sawah. Muah bekerja sebagai buruh tani. Pemilik sawah memberikan seperenam hasil panen untuk upah para buruh. Pekerjaan tersebut bersifat musiman. Ketika beras dari hasil panen sudah habis dan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari menipis, Muah berharap pada kiriman uang dari suaminya. Namun, Kebo sudah dua bulan tak berkabar berita sejak Mei 2001 itu.

    ***

    SENJA turun pada Jumat 18 Mei 2001. Dua pelacur, Lina dan Unyil, menemani Kebo yang teler dalam biliknya. Biasanya, Kebo ditemani salah seorang dari mereka. Kali ini agak istimewa.

    Pintu bilik Kebo tertutup rapat. Kebo dan dua perempuan ini tenggelam dalam kesenangan mereka. Tiba-tiba Kebo menyuruh Unyil dan Lina melakukan adegan lesbian, seperti dalam film biru.

    “Dua perempuan disuruh telanjang. Terus disuruh begituan,” tutur Kusni, salah seorang pemulung.

    Kedua perempuan tersebut menolak. Kebo marah dan mengancam akan membakar bilik. Dengan langkah sempoyongan ia berjalan ke ambang pintu. Seorang pemulung lewat. Kebo berteriak memintanya membeli minyak tanah.

    Pria ini tak bersedia. Kebo lantas menempelkan golok ke leher pria tersebut, yang buru-buru memenuhi permintaan Kebo.

    Kebo menyiram tempat tidur kayunya dengan dua liter minyak tanah, lalu menyulut korek api. Lina dan Unyil nekad membuka pintu. Mereka lari tunggang-langgang. Pukul 18.15 api menyala. Bilik Kebo terbakar. Api merembet ke bilik-bilik tetangga.

    Kebo kaget. Nalurinya menyuruh kabur. Teriakan panik terdengar santer.

    “Kebakaran … kebakaran!”

    “Kebakaran!”

    “Kebakaran ….”

    Sewaktu orang-orang menyelamatkan diri serta barang-barang mereka dari jilatan api, Kebo telah meninggalkan kawasan tersebut. Sebelas bilik hangus.

    “Ada yang sedang tiduran, ada yang baru selesai mandi, dan melihat api sudah membakar, nggak bisa ngapa-ngapain lagi, ada yang belum pulang. Waktu itu saya sedang nonton tivi. Tiba-tiba saja api sudah membesar dan semua orang panik. Semua hangus terbakar. Surat tivi, kartu tanda penduduk, surat nikah, peralatan dapur, pakaian É semua terbakar. Saya hanya bisa menyelamatkan tivi. Pakaian saya hanya ini saja yang nyisa, yang melekat di badan ini. Gubuk terbakar semua, abis. Sekarang kami nggak punya tempat tinggal, numpang-numpang sama

    tetangga,” kata Wati, tetangga Kebo, dengan wajah memelas.

    Penduduk kampung sekitar lapak ikut terkena getahnya.

    “Aliran listrik mendadak padam. Telepon aja ikut mati.”

    Dua hari kemudian, pemulung-pemulung yang membawa besi, golok, dan kayu menemukan Kebo teler di lapak kayu Kedoya Utara, Jakarta Barat. Jumlah mereka, 32 orang. Tentu bukan lawan yang seimbang. Kebo dianiaya beramai-ramai tanpa melakukan perlawanan. Setelah ia jatuh pingsan, para pengeroyok mencegat taksi untuk membawanya kembali ke belakang Mal Taman Anggrek.

     

    ARNOLD Toynbee, sejarawan Inggris terkemuka, mengatakan bahwa menjadi pemimpin bagai berada di antara dua celah sempit. Bila berteguh pada pendirian akan jadi diktator, tapi terlalu mendengarkan rakyat membuatnya terkesan lemah.

    Pemerintahan Abdurrahman Wahid mengalami hal itu. Di tengah warisan krisis yang parah dan ancaman disintegrasi di berbagai wilayah, Wahid serba salah. Tawaran bantuan dari International Monetary Fund datang, tapi bukan tanpa pamrih. Syaratnya, antara lain subsidi bahan bakar minyak dan listrik harus dicabut. Padahal, kesulitan ekonomi masih mendera rakyat. Kerusuhan di daerah membuat Wahid terpaksa meminta militer turun tangan dan pelanggaran hak-hak sipil tak bisa dihindari. Hukum kehilangan kekuatan.

    Penghakiman massa terhadap pelaku kriminal maupun tersangka kejahatan menjadi fenomena. Rakyat bertindak sendiri untuk mempertahankan milik mereka yang tersisa.

    “Tindakan massa itu tidak benar. Itu pembunuhan. Polisi mengeluarkan tembakan peringatan, kalau situasinya demikian,” ujar kepala dinas penerangan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Komisaris Besar Anton Bachlul Alam.

    Polisi sering gagal meredakan massa yang marah. Korban tewas di depan mata mereka.

    “Pada situasi di era reformasi, orang ingin bebas, demokrasi kebablasan, semua hal dihadapi dengan people power. Polisi akan bertindak tegas. Karena ada juga korban yang jadi korban. Ini yang lebih memprihatinkan. Istilahnya, terjadi maling teriak maling. Penjahat itu kan sudah tahu bahwa massa akan menghakimi mereka, sehingga mereka melakukan ini,” kata Anton.

    Di Indonesia, lebih seribu orang jadi korban kekerasan massa tahun lalu. Harian Kompas memuat 46 peristiwa pengeroyokan yang disertai pembakaran sepanjang Januari 1999 sampai Mei 2000 di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Wilayah Jakarta Barat merupakan peringkat pertama dalam jumlah korban. Masyarakat kawasan ini dikategorikan “tega.” Delapan kasus pembakaran orang hidup-hidup berlangsung di sini. Data forensik dari Universitas Indonesia menunjukkan

    korban kekerasan massa pada tahun 2001 di Jakarta mencapai 86 kasus dengan 6 kasus pembakaran korban.

    Kebo hanya melanjutkan daftar panjang tadi.

    Adrianus Meliala, kriminolog dari Universitas Indonesia, mengatakan kekerasan massa sekarang memasuki tahap yang sulit dihentikan. Ia curiga media massa terlibat.

    “Media massa harus puasa memberitakan,” kata Meliala, serius.

    Meliala tak pukul rata terhadap semua media. Internet tidak berpengaruh pada masyarakat kelas bawah, sedang televisi kurang berpotensi.

    “Televisi juga terlambat mengambil gambar, mereka tak punya gambar yang bagus.

    Misalnya, yang ditayangkan Patroli itu, gambarnya tidak berbicara dan tidak cukup melekat di memori. Media cetak lebih berpengaruh. Pos Kota, misalnya, headline-nya bukan pada perilaku massa yang brutal, tapi mengarah pada korban yang gosong, yang news yang makin gosong itu. Makin sadis berita itu, makin oke. Tidak serta-merta memang. Tapi, kemudian kelompok massa yang marah melihat kok model itu cocok dengan mereka.”

    Gunawan Eko Prabowo, redaktur pelaksana suratkabar Pos Kota, terbahak-bahak. Ia

    batal menyentuh semangkuk bakmi pangsit yang terhidang di meja kami, di salah satu restoran yang bersebelahan dengan kantornya. Sepasang mata pria ini mulai mengerjap-ngerjap. Ia sudah sebelas tahun bekerja di Pos Kota.

    “Saya sering mendengarkan pendapat semacam itu. Saya ingin bukti. Berapa persen berita kami mempengaruhi orang untuk melakukan kejahatan? Coba adakan penelitian,” ujar Gunawan dengan mimik serius.

    “Peniruan langsung atau spontan itu mengada-ada.”

    Tapi, ia setuju berita bisa menjadi rujukan modus kejahatan terencana.

    “Dulu ada kasus Nyonya Diah, mayat dipotong tujuh itu. Setelah kasus Nyonya Diah, berlanjut dengan kasus Kristin. Mayatnya dipotong-potong juga. Pengakuan pamannya yang menjadi pelaku, ‘Saya baca koran, Nyonya Diah dipotong. Polisi sangat sulit mengungkap kasus. Jadi saya tiru itu’,” tutur Gunawan.

    Pos Kota suratkabar yang identik dengan berita kriminal, meski Gunawan membuktikan hanya 25 persen dari keseluruhan halamannya yang memuat berita semacam itu. Oplah Pos Kota fluktuatif. Paling tinggi 700 ribu eksemplar, paling rendah 300 ribu eksemplar.

    “Berita seperti itu kami muat, karena paling dekat dengan keseharian masyarakat

    pembaca Pos Kota, menengah ke bawah,” Gunawan berargumentasi.

    Bagaimana dengan pemilihan judul berita dan ungkapan yang vulgar?

    “Selagi saya bisa koreksi, saya koreksi. Dulu ada headline yang menceritakan razia terhadap wanita tuna susila. Dalam judulnya ada kalimat berbunyi, ‘celana dalamnya ketinggalan.’ Saya panggil redakturnya. Kok, bisa menurunkan judul seperti ini? Saya marahi,” kilahnya.

    Di lain pihak, Gunawan khawatir dengan mengubah gaya penulisan Pos Kota membuat mereka kehilangan pasar. Brand name itu terlanjur melekat. Apalagi sekarang banyak koran yang mengikuti gaya Pos Kota, baik tema maupun penyajian berita. Tingkat persaingan antar media dalam ceruk yang sama makin tinggi. Pos Kota tak ingin berjudi.

    Citra Pos Kota sebagai suratkabar berita kriminal membuat harian ini sering berfungsi sebagai pos polisi. Masyarakat datang untuk melaporkan anak yang hilang. Pengusaha mengadukan rekan bisnis yang kabur menggondol sejumlah uang milik bersama.

    “Kelihatannya masyarakat lebih percaya pada media ketimbang pada polisi. Seringkali polisi terlambat. Fasilitas mereka nggak memadai. Saya pernah melihat sendiri bagaimana untuk mengejar penjahat saja harus cari motor dulu, beli bensin patungan,” kata Gunawan.

    Pengalaman produser Patroli Indosiar, Indria Purnama Hadi, menyangkut pengaruh berita pada tindak kejahatan nyaris sama dengan Gunawan. Indria bahkan tak menyangkal pendapat Meliala.

    “Sebelumnya saya pernah dengar ada yang berkata bahwa televisi atau media berpengaruh pada perilaku orang. Tapi, ini akhirnya saya alami sendiri. Suatu hari kami mewawancari pelaku pencurian kendaraan bermotor di Sleman, Yogyakarta. Usianya masih muda, sekitar 17 tahun. Dalam sehari ia bisa mencuri dua sampai tiga motor. Kami kaget juga sewaktu ia bilang, untuk mencuri itu dia melihat dari Patroli,” kata Indria.

    Evaluasi pun dilakukan. Sejak itu ia lebih berhati-hati melakukan penyuntingan.

    Patroli tak lagi menampilkan alat-alat yang mendukung pencurian.

    Menurut Indria, program tayang tersebut lahir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak terpenuhi stasiun televisi lain. Banyak televisi menyajikan berita politik, yang membuat orang jenuh. Berita-berita Patroli tak melulu menonjolkan sisi kriminal, melainkan mengandung tujuan sosial dan hukum.

    “Agar masyarakat makin hati-hati,” ujar Indria. “Sebagai peringatan kepada masyarakat yang lain. Misalnya, penghakiman massa itu memberi informasi sekaligus peringatan. Atau tayangan tentang ledakan mercon yang membawa korban di Duri Kepa. Orang yang punya mercon di Depok, misalnya, jadi waspada.”

    Pada awal masa tayang, Patroli memperoleh informasi dari kepolisian. “Tapi, sekarang masyarakat sendiri yang menelepon kami. Seperti kasus mayat yang dibakar di belakang Mal Taman Anggrek itu,” ujar penanggung jawab program Patroli sejak tayang pertama pada April 1999 lalu.

    Di luar segala kontroversi pengaruh media, Adrianus Meliala menyisakan satu asumsi lagi.

    “Pada dasarnya kita ini sudah punya bibit dan menjadi budaya. Coba datang ke Cengkareng. Ada satu daerah di sana yang memasang pengumuman: di sini tempat orang dibakar pertama kali. Di sini ada semacam glory, pengagungan. Artinya, ketika terjadi di daerah lain, bukan lagi sekadar peniruan, tapi pengagungan,” tuturnya, prihatin.

    ***

    EMPAT pembunuh Kebo masih buron. Sebelum menghilang, mereka mengumumkan kematian Kebo pada pemulung lain sambil tertawa bangga.

    Polisi hanya berhasil membekuk delapan tersangka penganiaya Kebo, termasuk SuhariÑpaman Muah, dan Zumadi, adik Muah satu ibu.

    Di Sisalam, Muah makin gelisah. Kebo belum juga pulang. Tak tahan menanggung penasaran, ia meminta Wage, hansip Sisalam, mengantarnya ke Jakarta.

    Pada 22 Mei 2001, mereka sampai di Terminal Pulogadung. Wage membeli suratkabar

    Pos Kota. Jantung pria ini berdetak keras saat menyimak sebuah kolom di kiri halaman muka. Muah yang buta huruf tenang-tenang saja.

    “Suamimu lagi ada masalah,” kata Wage.

    Saat Muah dan Wage menghadap Brigadir Satu Eko Kuswanto di kantor Kepolisian Resort Jakarta Barat, delapan tersangka berkumpul di ruang yang sama.

    Suhari dengan wajah letih mengeluh pada Wage, “Saya itu kesal, dimintain duit terus sama dia (Kebo) saban hari, sing tanpa perhitungan.”

    Eko bertanya pada Muah, “Ibu Muah, suami ibu meninggal dibunuh orang. Apakah ibu mau menuntut?”

    Muah tidak ingin menuntut kematian Kebo secara hukum, “Orang dia itu jahat.”

    Seorang polisi wanita yang ikut hadir terkesima, “Saya juga perempuan, Bu Muah. Masak orang berumah tangga itu nggak ada kasih sayangnya?”

    Wage membantu Muah menulis surat pernyataan. Setelah itu Muah membubuhkan cap jempol di atasnya.

    “Sekalipun dia itu dibunuh seseorang, tapi dia orang jahat. Saya masih ingat, dulu pemerintah mengadakan misterius itu, pemerintah juga membunuhi orang, kok, orang jahat,” kata Wage pada Eko.

    Pada 1980-an, pemerintah Soeharto melakukan sebuah operasi yang terkenal dengan sebutan “Petrus” atau penembakan misterius. Ribuan penjahat ditembak, sedang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Pers dan forum internasional mengutuk tindakan yang dianggap melanggar prinsip kemanusiaan ini. Dalam biografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto membela diri, “Itu untuk terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya.”

    Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, salah satu rumah sakit umum di Jakarta, ada bagian yang membiarkan waktu berhenti. Dunia orang-orang mati. Bau busuk mengelana di lantai ruang pendingin. Deretan lemari besi merapat ke dinding. Pada pintunya tertera angka-angka; 1,2,3, dan 4 dari cat biru. Seonggok arang tersimpan di balik pintu nomor 3. Dalam daftar registrasi petugas kamar mayat tercantum catatan: “21/5001/793/9.35/Tanpa Nama/Polsek Tanjung Duren/Luka bakar.” Tak ada pihak keluarga datang mengambil mayat itu.

    Pada 25 Mei 2001, petugas kamar mayat membawa mayat tanpa nama tadi ke pemakaman massal Tegal Alur, Jakarta Barat. Penggali kubur menimbun tanah di atas lubang. Kebo kembali sendirian.

    ***

    PERTENGAHAN Juni 2001. Mata Muah kembali menerawang. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak wanita ini.

    “Bagaimanapun dia suami saya, ya kadang kangen. Tapi, dia begitu.”

    Nani, istri lurah Sisalam, menghibur, “Sudahlah, kini kowe sudah bebas. Nanti cari suami yang baik.”

    Kecemasan Muah masih tertuju pada yang hidup.

    “Kasihan adik saya. Anak-anaknya masih kecil.”

    Surat perpanjangan penahanan Zumadi yang dikeluarkan pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat menggeletak di lantai semen yang dingin.

    Ratusan kilometer dari Sisalam, cerobong bangunan tersaput jelaga terus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bekas-bekas bilik yang terbakar menyuguhkan pemandangan mengenaskan.

    Kerangka kursi panjang teronggok di muka bilik Kebo yang tinggal puing. Karpet merah dari bahan wol miliknya masih tersampir di tali jemuran. Seorang pria berkaus singlet mendorong gerobak di antara sampah kaleng dan plastik. Roda kehidupan berderit lagi, berputar, tiada berhenti. Manusia menjalaninya seperti kutukan, sebagaimana Atlas, dewa dalam mitologi Yunani, memikul bumi pada pundaknya.

    Muah termangu memandangi serpihan-serpihan kertas yang berserak di lantai, surat nikahnya dengan Kebo. Kebo merobek surat tersebut saat mereka bertengkar

    hebat untuk kesekian kali.

    “Akan saya simpan terus kenang-kenangan,” ujar Muah, nyaris berbisik.*

     

    ********************************

     

    Sumber Tulisan dari Buku Jurnalisme Sastrawi,  KPG 2008

     

     

     

     

     

  • CANGIK DAN LIMBUK – Analisis Penokohan dalam Konteks Imajinasi Naratif Martha Nussbaum sebagai Peran Partisipasi dan Kesetaraan Perempuan dalam Pewayangan Nusantara dan Relevansinya Hingga Saat Ini

    Oleh  Dr. Cicilia Damayanti, Pengajar Universitas Indraprasta PGRI – Jakarta

     

    Pendahuluan

    Perempuan terkenal dengan kepekaan dan kepeduliannya. Kelembutan mereka menjadi sifat alami yang dikaitkan dengan wilayah domestik. Budaya patriarki menyebabkan perempuan ditempatkan di ranah privat yang bertugas untuk mengurus keluarga. Itulah sebabnya, kesetaraan perempuan masih menjadi perjuangan bersama sampai saat ini. Bahkan di saat pergerakan emansipasi sudah mulai menampakkan hasilnya, perempuan masih dikaitkan dengan pekerjaan domestik. Pada saat dunia memasuki masa teknologi digital 4.0, peran perempuan dalam dunia karier mulai terlihat semakin menggeliat. Apakah ini pertanda positif? Saat bekerja di luar rumah, para perempuan yang menjadi istri dan ibu juga membutuhkan bantuan asisten rumah tangga (ART) untuk mengerjakan pekerjaan domestik. Sayangnya, ketiadaan regulasi di Indonesia menyebabkan para asisten rumah tangga ini tidak memiliki standar usia kerja, upah, waktu kerja, dan perlakukan yang layak bahkan ada potensi kehilangan kesempatan pendidikan serta kekerasan. Ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah emansipasi dalam bentuk kesetaraan sesama perempuan sudah tercapai?

    Imajinasi Naratif 

    Berbicara tentang kesetaraan tentunya tidak terlepas dari proses untuk dapat menghargai martabat kemanusiaan orang lain. Martha Nussbaum (1947- ), seorang Profesor Hukum dan Etika Ernst Freund dari University of Chicago Amerika, mengenalkan imajinasi naratif dalam bukunya Cultivating Humanity: A Classical Defense of Reform in Liberal Education (1997). Mengapa harus imajinasi naratif? Apa peran imajinasi naratif dalam mewujudkan kesetaraan manusia khususnya perempuan?

    Menurut Nussbaum imajinasi naratif adalah kemampuan membayangkan bagaimana rasanya berada dalam posisi orang lain, yang dapat melahirkan empati. Kemampuan ini membantu seseorang untuk memahami emosi, harapan, dan hasrat orang lain. Imajinasi membantu seseorang untuk memahami keadaan orang lain.  Bagi Nussbaum, imajinasi dapat dikembangkan melalui seni. Segala bentuk seni seperti musik, tarian, lukisan, pahatan, dan arsitektur berperan penting untuk membentuk pemahaman kita tentang orang lain yang melahirkan empati. Tetapi imajinasi naratif memiliki peran yang sangat kuat dalam membentuk kepedulian dan kepekaan seseorang. Sebab narasi lebih detail dan jelas dalam menggambarkan situasi dan masalah manusia yang beragam. Kisah ini menjadi sumber yang menginspirasi untuk memahami bagaimana rasanya berada dalam posisi orang lain. Narasi membuat seseorang menyadari bahwa kisah tersebut bisa menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Narasi (narratio) membawa seseorang masuk ke dalam pengalaman hidup orang lain. Orang tua terkadang menggunakan kata ganti orang ketiga untuk menceritakan (narrare) kisahnya kepada anaknya. Sehingga pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik. Narasi membantu seseorang untuk meluaskan perhatian pada persoalan dan peristiwa penting yang terjadi, mengembangkan imajinasi, dan mewujudkan pengakuan akan kesetaraan martabat manusia yang seringkali diabaikan oleh para kaum terpandang (elite).

    Narasi yang dituturkan seperti drama atau yang dibaca dalam sastra membuat seseorang merasakan apa yang dirasakan orang lain. Narasi membantu mereka membangun kemampuan untuk membuat persepsi dan penilaian atas hidup orang lain. Pemahaman tentang emosi dapat diajarkan dengan baik melalui narasi. Sebab struktur narasi membantu seseorang untuk memahami dinamisme emosi yang dirasakan manusia, untuk memandang dunia dari sudut pandang orang lain. Imajinasi membangkitkan kesadaran bahwa sekuat dan semampu apa pun mereka tetap membutuhkan orang lain. Bela rasa (compassion) membuat imajinasi semakin hidup dengan membuat seseorang berpikir bahwa penderitaan orang lain dapat saja menimpa dirinya. Melalui Narasi, imajinasi seseorang dapat berkembang untuk menghargai dan menghormati martabat manusia. Hal ini membantunya untuk menerima keragaman yang dibutuhkan dalam hidup berdemokrasi.

    Dalam lingkup sastra Indonesia, wayang menjadi seni naratif yang dapat mengembangkan imajinasi. Dalam tulisan ini akan difokuskan pada tokoh pewayangan perempuan. Meskipun dunia wayang sering dikaitkan dengan laki-laki, tanpa peran perempuan kisah tersebut akan menjadi tidak lebih bermakna.

    Tokoh-tokoh Perempuan dalam Pewayangan

    Sri Mulyono Djojosupadmo (1930-1980) menulis karakter perempuan dalam dunia wayang melalui buku Wayang dan Karakter Wanita (1978). Ada beberapa tokoh perempuan tangguh yang ditulisnya untuk menunjukkan bahwa gerakan emansipasi sudah digaungkan sejak dulu. Melalui para tokoh ini diharapkan perempuan semakin menyadari kekuatan terbesar dalam hidupnya. Bahwa kelembutan justru menjadi senjata mereka dalam melawan kekacauan dunia. Berikut ini akan dijelaskan beberapa tokoh wayang perempuan.

    Dewi Sawitri, seorang anak raja Aswapati dari Kerajaan Madra, digambarkan sebagai perempuan cantik yang memiliki tekad yang kuat dan setia pada suaminya. Dia memilih menikah dengan Setiawan, seorang putra Brahmana yang bernama Jumatsena, yang terkenal berbudi luhur dan lurus. Suaminya ini hidupnya tidak lama lagi. Dia hanya diberikan waktu setahun untuk hidup bersamanya. Kebulatan tekadnya membuatnya setia mendampingi suami hingga ajal datang. Tetapi para dewata yang melihat kesetiaan dan mati raga yang dijalaninya, tergugah untuk mengabulkan permintaannya asalkan tidak untuk menghidupkan kembali suaminya. Selain setia, Dewi Sawitri juga cerdik. Dia memiliki kemampuan bernegosiasi yang mampu mempengaruhi keputusan para dewata. Sehingga akhirnya suaminya diberi kesempatan hidup dan berbahagia bersamanya.

    Berbicara tentang kesetiaan perempuan, ada dua tokoh yang memiliki kesetiaan mutlak pada suaminya. Kisah Dewi Damayanti dan Raja Nala tertulis dalam buku Wanaparwa, bagian dari kisah Mahabarata. Damayanti adalah istri Raja Nala dari Kerajaan Nishada. Nala yang kalah dari permainan dadu harus rela dibuang ke hutan. Karena kesetiaannya, Damayanti mengikuti Nala ke tempat pembuangannya. Perjalanan cinta mereka mengalami pergolakan saat Nala terkena kutukan roh Batari Kali yang menyebabkan wujudnya berubah. Hal ini membuat Damayanti dipulangkan kembali ke orang tuanya karena suaminya dianggap sudah tiada. Tetapi Damayanti tidak mempercayai kabar tersebut. Dia tetap berusaha mencari suaminya. Pencarian tersebut menemukan hasil saat dia bertemu orang Katai yang bernama Bahuka. Hati Damayanti merasa yakin bahwa orang itu suaminya. Dia kemudian membuat masakan yang sangat disukai Nala. Bahuka terangsang dengan bau masakan itu, berubah wujudnya menjadi Nala. Damayanti dan Nala dapat bersatu kemballi.

    Dalam kisah Ramayana Dewi Sinta, istri Rama, dikisahkan sebagai istri yang menjaga kesetiaan dan kesuciannya. Berbeda nasib dari dua tokoh sebelumnya, kisah cinta Sinta Rama tidak berakhir bahagia. Kesetiaan Sinta yang mengikuti Rama teruji dalam pembuangan di hutan saat dia tergoda pada kijang kencana yang menyebabkannya diculik Rahwana. Berkat bantuan dari adiknya Lesmana dan teman-temannya, Rama berhasil membebaskan Sinta. Tetapi dengan kembalinya Sinta tidak membuat Rama percaya akan kesucian Sinta. Dia meminta Sinta membuktikan kesuciannya dengan menceburkan diri ke dalam api. Dengan kebulatan hati, Sinta melakukan permintaan Rama untuk membuktikan kesuciannya.

    Mahabarata mengisahkan Dewi Kunti yang dikenal sebagai ibu para Pandawa. Dia memiliki suami yang bernama raja Pandu yang memiliki dua istri. Istri keduanya bernama Dewi Madrim. Karena kelengahan Pandu, dia dikutuk akan mati bila berhubungan badan dengan para istrinya. Cerita semakin menarik karena di sini terjadi versi yang berbeda antara kisah Mahabharata versi India dan wayang Indonesia. Dalam versi India, Dewi Kunti diceritakan diberi mantra oleh Resi Druwasa. Sebab Kunti sudah melayani keperluannya selama menginap di rumah orang tua Kunti, Raja Kuntiboja. Mantra ini untuk dapat memiliki anak yang bersifat mulia seperti para Dewa. Sebelum menikah, dia sudah mencoba mantra tersebut dengan memanggil Dewa Surya. Melalui dewa Surya lahirnya Karna. Dia diberi nama Karna karena lahir dari telinga. Sebab Kunti saat itu belum memiliki suami. Setelah menikah dengan Pandu, dan karena mendapat kutukan, Kunti menggunakan mantra itu kembali untuk melahirkan Yudistira yang berayah Dewa Dharma. Bima yang berayah dewa Bayu. Dan Arjuna yang berayah Dewa Indra. Setelah memiliki tiga putra, mantra tersebut dia pinjamkan kepada Madrim, yang kemudian melahirkan dua putra kembar. Nakula dan Sadewa adalah anak Madrim yang berayah Dewa Aswin. Pada versi wayang Jawa, yang budayanya kurang bisa menerima cerita di luar nalar, sebab agama Islam mulai masuk, para dalang akan mengubah sedikit kisah ini dengan menjadikan Pandu sudah memiliki anak sebelum mendapatkan kutukan. Sementara dalam versi India, Dewi Kunti digambarkan sebagai orang yang sakti, yang memiliki mantra ajaib tersebut. Sehingga Pandu dikisahkan sudah dikutuk sebelum memiliki anak.

    Berbicara tentang hutan, ada tokoh wayang perempuan yang digambarkan hidup secara poliandri. Namun budaya patriarki di Indonesia menyebabkan tokoh ini diceritakan hidup monogami. Drupadi yang adalah seorang perempuan cantik putri Raja Drupada dari Kerajaan Panchala. Sesungguhnya Dewi Drupadi menikah dengan Pandawa, yang berarti dia memiliki lima (5) suami. Drupadi adalah istri yang setia kepada para suaminya. Bahkan saat mereka kalah judi dan dibuang di hutan, Drupadi tetap setia mendampingi para Pandawa. Tokoh Drupadi menjadi tokoh perempuan yang memiliki kuasa tetapi tetap setia pada kodrat kewanitaannya. Melalui dua perempuan ini terlihat bagaimana budaya patriarki sulit menerima pandangan bahwa para perempuan sesungguhnya juga memiliki wilayah yang lebih dominan dibandingkan dengan laki-laki. Kontra narasi menjadi penting di sini untuk melihat bahwa suatu kisah narasi tidak dapat dipandang secara hitam putih belaka. Narasi akan semakin kaya dan bermakna bila kita bisa melihat bahwa hidup ini tidak merupakan posisi biner. Karakter manusia dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialaminya. Suatu perubahan perlu diterima sebagai kemutlakan. Sebab tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri. Kontra narasi membantu kita untuk melihat bahwa di dunia ini sebaiknya perlu diciptakan keseimbangan agar terjalin keharmonisan. Kerja sama perempuan dan laki-laki adalah lebih baik dibandingkan bila salah satu ingin lebih dominan. Kisah Kunti dan Drupadi menggambarkan bagaimana kaum perempuan dapat menjadi penolong, dan dapat diandalkan di saat kesulitan melanda.

    Tokoh Srikandi terkenal sebagai pahlawan perang. Melalui berbagai sumber, banyak versi tentang tokoh ini. Sesungguhnya Srikandi adalah inkarnasi dari Dewi Amba yang terlahir kembali menjadi Putri Raja Drupada dari Panchala. Dewi Amba sakit hati pada Bisma karena kekuatannya telah mengalahkan Salwa, lelaki yang dicintai Amba. Bisma sendiri telah berjanji hidup selibat, sehingga tidak bisa menikahi Amba. Sementara pria yang dicintai Amba tidak mau mempersuntinnya karena malu sudah dikalahkan Bisma. Kejadian ini menyebabkannya pergi ke Gunung Himalaya untuk bertapa. Doanya didengar Dewa Syiwa yang merestuinya untuk berinkarnasi agar dapat membalas dendam kepada Bisma. Sebelum berinkarnasi Amba diberi kalung bunga teratai (puspamala). Ajaibnya setelah dia berinkarnasi kalung itu dapat ditemukannya kembali. Putri Raja Drupada itu kemudian mengalungkan kalung bunga teratai, yang menyebabkannya berubah menjadi laki-laki, dan dikenal sebagai Srikandi. Dialah pahlawan perang yang membantu Pandawa melawan Kurawa, dan membalaskan dendamnya dengan membunuh Bisma. Dalam versi wayang Jawa tokoh Srikandi digambarkan tetap sebagai perempuan. Ceritanya hampir sama bahwa dia adalah titisan Dewi Amba. Namun untuk dapat mengalahkan Bisma, dia menjadi istri Arjuna. Perbedaan kisah ini hampir sama dengan kisah Drupadi yang juga memiliki versi antara poliandri atau monogami. Kemungkinan besar di Indonesia Srikandi digambarkan sebagai perempuan karena budayanya yang tegas pada posisi biner antara perempuan dan laki-laki.

    Para perempuan bangsawan ini mengajarkan kepada kita tentang arti kesetiaan dan kelembutan. Berbicara tentang hal ini, ada tokoh punakawan perempuan yang menjadi gambaran tepat tentang arti pengabdian. Cangik dan Limbuk adalah dua orang punakawan yang menjadi kepercayaan dari para ratu dan putri-putrinya.

    Cangik dan Limbuk       

    Selain para Putri Raja, ada penokohan wayang asli Indonesia. Melalui tokoh Cangik dan Limbuk akan dikenalkan tentang kesetaraan martabat manusia, khususnya perempuan. Disarikan dari berbagai sumber, tokoh Cangik dan Limbuk dikenal sebagai punakawan perempuan atau dayang. Kemunculan keduanya biasanya dijadikan sebagai penghangat suasana dalam kisah wayang. Cangik dan Limbuk adalah ibu dan anak yang mengabdikan hidupnya pada Putri Raja. Cangik digambarkan sebagai perempuan bertubuh kurus dan tinggi. Sedangkan Limbuk bertubuh tambun dan pendek.  Sebagai orang muda, Limbuk adalah murid kehidupan yang memberinya kebebasan gerak. Bicaranya terkesan apa adanya dan kurang tanggap terhadap persoalan hidup. Dia masih suka ceplas-ceplos namun menyenangkan karena berani menjadi diri sendiri. Sikap polosnya ini membuatnya ngangeni atau dirindukan. Fisik Limbuk ini menyimbolkan proses penataan diri yang masih bebas dengan memuja hal duniawi. Dia masih bebas makan dan tidur. Boleh berdandan menor yang sering keluar dari aturan, yang menjadi proses pencarian jati diri. Limbuk menjadi sosok yang kontras dengan sang ibu: Cangik. Cangik berbadan semampai, lebih sabar, dan setia dalam pengabdian.

    Cangik dan Limbuk adalah abdi dalam kepercayaan para Ratu dan Putri. Meskipun dari golongan rendah, keduanya mendapat dididikan agar memiliki budi dan pekerti yang luhur. Mereka dapat dipercaya, menjadi pendengar yang baik, mampu menyaring informasi, menyimpan rahasia, dan bila dibutuhkan mampu memberi saran yang sesuai dengan pemahamannya. Tugas mereka membantu mengurangi kegundahan junjungannya, dan menjadi penghangat suasana. Menjadi abdi dalam sering menjadikan mereka dianggap sebagai asisten yang tugasnya adalah membantu. Padahal pemahaman seperti ini mengandung kekeliruan, sebab Cangik dan Limbuk sesungguhnya adalah punakawan yang artinya sahabat. Bahasa Jawa dengan sangat tepat menyebut mereka “rewang” yang artinya penolong. Mereka berdua berada di wilayah terpenting di istana karena berurusan dengan para ratu dan putri. Keduanya diberi kepercayaan untuk menyimpan rahasia, bahkan yang paling intim. Sehingga tugas mereka sesungguhnya lebih penting bila dibandingkan dengan menteri atau mahapatih. Ketika disebut sebagai penolong, dalam hal ini mereka memiliki tugas penting untuk mendengar keluh kesah, memberi saran, menenangkan, menyenangkan hati, membela, dan membantu mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi junjungannya.

    Dalam menjalan tugas biasanya Cangik dan Limbuk akan tinggal bersama junjungan, bahkan mereka juga bisa tidur dan menjaga di ruang pribadi junjungan mereka. Cangik dan Limbuk juga merawat dan membesarkan anak-anak junjungannya. Mereka mendapat keistimewaan dalam hal menu makanan. Karena makanan yang mereka makan sama dengan yang dimakan junjungannya. Dalam kehidupan nyata, tugas seperti Cangik dan Limbuk diberi kepercayaan untuk menjaga harta, kekayaan, rahasia, rumah tinggal, dan anak-anak. Mereka sesungguhnya adalah “orang dalam” yang menjadi perpanjangan tangan junjungannya.

    Keberadaan Cangik dan Limbuk dalam lakon wayang sebagai asisten pribadi masih tetap ada hingga saat ini. Apalagi di era emansipasi perempuan yang menyebabkan mereka juga memiliki akses untuk bekerja di ranah publik. Bagaimana nasib kaum Cangik dan Limbuk di era 4.0 ini?

     Asisten atau Pengabdian Tanpa Batas?

    Pada saat ini banyak perempuan terutama dari kelas sosial menengah yang bekerja di luar rumah. Hal ini menyebabkan mereka membutuhkan orang lain untuk membantu mengerjakan urusan di rumah saat bekerja. Kebutuhan akan Asisten Pembantu Rumah Tangga (ART) menjadi cukup besar dan tersegmentasi, baik untuk memasak, mengurus bayi dan anak hingga merawat orang tua. Para ART ini ada yang bekerja pulang pergi, namuan banyak di antara mereka yang tinggal bersama orang yang mempekerjakan. Jarak bisa menjadi semakin jauh dari tempat asal jika para ART adalah bukan lagi pekerja suburban melainkan migran antar daerah di Indonesia. Apakah nasib para asisten ini jauh lebih baik dari pada Cangik dan Limbuk?

    Setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan dan upah yang layak. Hal ini sudah di atur dalam UUD 1945, yakni pasal 27 ayat 1 menegaskan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Ayat 2 menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 28 D ayat 1 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Ayat 2 menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

    Menurut sumber dari kapalperempuan.org dan ILO (2020), faktanya, asisten rumah tangga (ART) merupakan salah satu pekerjaan tertua dan terbesar jumlahnya di dunia maupun di Indonesia. Di dunia jumlahnya mencapai 87 juta jiwa. Di kawasan Asia dan Pasifik sebagian besar dilakukan oleh perempuan (78,4 persen). Di Indonesia jumlahnya lebih dari 4 juta orang. Mayoritas para pekerja dalam sektor ini di Indonesia adalah perempuan, yang merupakan tulang punggung keluarga. Bahkan sekitar 30 persennya adalah anak perempuan. Para asisten di wilayah Jabodetabek, misalnya. Mereka tidak bisa mengakses bantuan sosial. Sebab sekitar 85,6 persen statusnya sebagai urban atau pendatang, yang hidupnya hanya mengontrak rumah (90 persen). Ketika berhadapan dengan masalah, ART tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Padahal tiap tahun terdapat sekitar 400 kasus ART yang diantaranya tidak mendapatkan bayaran upah atau upah dipotong karena sakit, dan tidak mendapat tunjangan hari raya. Pada masa pandemi covid-19, mereka paling rentan terkena virus ini. Sebab pada saat bekerja mereka tidak dibekali alat pelindung yang memadai. Kemungkinan besar dapat tertular dari majikan. Apabila ada majikan yang waspada terhadap virus ini mereka dapat diberhentikan seketika. Para ART yang sudah tidak bekerja dan memutuskan pulang kampung tidak diberikan sarana untuk tes covid-19. Para asisten ini sangat beresiko terkena virus ini karena tidak bisa bekerja hanya dari rumah. Mereka adalah garda depan yang sewaktu-waktu dapat disuruh pergi menggantikan majikannya, pergi ke pasar misalnya.

    UUD 1945 dengan tegas menghargai kedudukan warga negara adalah sama di depan hukum, akan tetapi hingga saat ini tidak ada regulasi turunan dalam bentuk undang-undang yang mengatur pekerjaan para asisten rumah tangga. Selama hampir tujuh belas tahun, Rancangan Undang Undangan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga mangkrak atau jalan di tempat. Tidak ada pembahasan yang lebih serius bahkan untuk membuat RUU tersebut dalam turunan ayat dan pasal. Hal ini tentu saja semakin memperburuk kondisi pekerjaan dan status asisten rumah tangga dari masa ke masa. Pertama, oleh karena argumen pekerjaan domestik dan tinggal di dalam rumah maka asisten rumah tangga memiliki jam kerja yang sangat panjang, tidak ada istirahat, tidak ada hari libur, harus siap kapan saja dibutuhkan. Selain itu upah yang dibayar juga terbilang rendah dengan tidak ada kompensasi atau jaminan lain. Alasan yang umum adalah kebutuhan lain sudah ditanggung oleh para tuan dan nyonya pengguna jasa mereka seperti makan di tempat atau ikut berpergian. Kedua, usia para asisten rumah tangga adalah relatif sangat muda karena pekerjaan ini dianggap tidak membutuhkan keahlian dasar, melainkan hanya keinginan sukarela untuk mengikat diri dalam perjanjian kerja secara verbal. Akibatnya, dengan usia sangat muda tersebut maka banyak perempuan asisten rumah tangga tidak memiliki akses ketrampilan dan pendidikan formal. Setiap kesalahan yang dilakukan berpotensi untuk mengundang kekerasan dan pelecehan. Ketiga, posisi sebagai asisten rumah tangga dianggap bukan penolong, melainkan orang yang berbeda kelas di dalam sebuah rumah. Artinya, perlakuan terhadap mereka juga bersifat diskriminatif dalam segala hal baik kebutuhan sandang dan papan.

     Penutup

    Bagi Nussbaum imajinasi naratif merupakan sarana yang tepat untuk meluaskan lingkaran perhatian seseorang. Melalui kemampuan ini, kita diharapkan memiliki kepekaan dan kepedulian kepada semua orang, termasuk juga para asisten rumah tangga. Penokohan wayang Cangik dan Limbuk dapat menjadi kisah yang mengasah kepekaan untuk orang yang bekerja pada kita. Di masa lampau, mereka bekerja untuk mengabdi dalam konteks strata sosial dan lingkup feodal. Pada masa teknologi digital 4.0 dimana hak azasi manusia menjadi sebuah tuntutan dasar, idealnya nasib para asisten rumah tangga bisa jauh lebih baik dan dihargai. Posisi mereka dibutuhkan karena nilai-nilai yang tumbuh di masa lampau masih belum sepenuhnya bisa beradaptasi dengan situasi saat ini. Modernisasi tidak serta merta membuat perilaku feodal dan patriarki menghilang, malah terkesan ada upaya untuk bisa mengokohkan posisi asisten rumah tangga sebagai warga kelas dua dengan profesi yang dipandang rendah.

    Hal yang menjadikannya lebih ironis adalah para pengguna jasa asisten rumah tangga ini adalah notabene kebanyakan kaum perempuan juga yang lebih terdidik, memiliki status sosial cukup baik dan mampu membayar atau mempekerjakan orang lain. Banyak yang sadar akan peran, posisi dan kesetaraan perempuan namun kritik yang harus diperhatikan adalah seberapa besar alih peran, posisi dan kesadaran itu dilakukan terhadap dan oleh sesama perempuan. Itu menjadi penting sebab pada hakekatnya pembebasan dan pencerahan harus bisa dinikmati oleh siapapun tanpa memandang gender, kelas sosial, usia dan batasan apapun. Penokohan Cangik dan Limbuk membuka pikiran bahwa ada mispersepsi soal bagaimana relasi kerja domestik yang menjadi penolong, berubah menjadi pesuruh yang harus siap kapanpun juga. Selain itu, negara sendiri abai dalam melindungi para penolong ini dalam soal pengaturan hak-haknya.

    Imajinasi naratif hendaknya dapat menyadarkan posisi perempuan, untuk tidak saja berfokus pada soal pendidikan dan pembebasan yang bertumpu pada diri sendiri. Tetapi juga mampu melihat dan terpusat pada orang lain. Saat ini banyak orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, dan diharapkan mampu berpikir kritis. Kekritisan dalam berpikir ini diharapkan dapat membebaskan diri mereka juga sehingga di era digital ini mereka sudah tercerahkan. Pada kenyataannya, status dan pendidikan perempuan juga tidak serta merta membuat mereka terbebas dari konsep modern slavery, yakni menggunakan jasa asisten rumah tangga yang berupah rendah, jam kerja panjang, siap kapapun juga, minim akses keahlian dan pendidikan, serta membangun dependensi antara para pekerja dengan anak-anak atau keluarga mereka dengan argumen kemurahan mati dan belas kasihan. Nasib mereka pada saat ini, jauh lebih buruk dari apa yang bisa dibayangkan dengan penokohan Cangik dan Limbuk.

    **************************************************************