Telaah ilmu alam telah mengantar manusia kepada pengetahuan yang sangat kaya akan luas dan tuanya universum. Universum tidak hanya seluas langit yang kita junjung dan usianya tak hanya berbilang tahun. Di sana orang tidak lagi menghitung waktu dalam ukurun bulan dan tahun matahari, tetapi dalam rentang tahun cahaya. Lalu muncul pertanyaan: Apakah arti hidup seorang manusia di hadapan realitas deretan galaksi-galaksi yang sudah sekian miliar cahaya usianya? Apa artinya satu tahun yang berganti, pada rentang waktu usia bumi? Apa makna satu detik, pada arus sejarah kehidupan di bumi? Waktu, kendati terkadang tampak bagi manusia sangat tidak berarti, namun sebenarnya sungguh bermakna karena dia memberikan kepada manusia peluang untuk meninggalkan bekas bagi hidupnya
Kedelai yang terburai
Refleksi yang mendalam tentang manusia dan waktunya dalam universum yang mahaluas dan mahatua, terbaca dalam sebuah puisi karya Ahmad Nurrulah. Judulnya Di Tebing Waktu: Meditasi. Sajak itu dimuat dalam kumpulan sajak-sajak Bentara Kompas tahun 2000. Beberapa lariknya berbunyi demikian: “Sebelum jagad raya diciptakan, apa yang dilakukan Tuhan? Sunyi. Di teras: Waktu merayap. Malam mengalir. Aku duduk tapi melayang. Di langit berkeriap bintang-bintang. Dan di jalan-jalan berkecipak perang. Seperti di hatiku. Mungkin juga di hatimu//”.
Merenung tentang waktu membawa manusia ke persentuhan dengan jagat rata, bahkan dengan Tuhan. Waktu adalah ukuran usia, melontarkan tanya perihal awal dan merangsang dugaan mengenai akhir segalanya. Pada kedua ujung itu orang akan berhadapan dengan sebuah pertanyaan: Entakah ada daya ilahi, yang terbebas dari awal dan akhir, yang telah membawa segalanya ke dalam ada, menyertainya pada rentang sejarahnya dan menerimanya pada akhir?
Manusia hanya mulai merenung tentang waktu, kalau dia terbuka menangkap peristiwa dan tanggap terhadap kejadian dalam sejarah dan alam. Kalau manusia menanggapi satu peristiwa secara sangat intensif, apabila dia meratapi kedukaan secara demikian menyayat hati, atau mensyukuri sebuah keberhasilan dengan sangat tulus, maka mestinya hidup itu sangat istimewa. Tetapi apa makna keistimewaan itu di hadapan jagad yang tak kunjung selesai diukur dalam takaran tahun cahaya? Apa yang menyebabkan manusia mempunyai alas an untuk mempertahankan dan menyempurnakan hidupnya, dengan menguras tenaga bekerja keras? Waktu merayap, malam mengalir, pelan atau lambat semuanya berlalu, tetapi mengapa manusia justru merasa diri dan waktunya demikian penting, sampai dia tega mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankan anugerah kehidupan itu?
Mazmur 8 dari Kitab Suci orang Yahudi dan Kristen tentu belum tahu banyak tentang usia bumi, apalagi bintang-bintang dan galaksi-galaksi. Dia hanya menatap langit yang terbentang di atas kepala manusia, yang dijalani mathari pada waktu siang dan ditaburi bulan dan bintang ketika malam. Kendati dalam serba keterbatasan itu, sudah ada sensorium, kepekaan untuk menangkap rasa kecil dalam diri manusia berhadapan dengan alam yang agung dan dahsyat. “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan, apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?” Pengalaman kedahsyatan dan keagungan alam ini, dan perasaan diri manusia yang kecil , menjadi semakin bertambah apabila disisipkan di sana persoalan waktu. Manusia yang memikirkan waktunya adalah manusia yang menangkap gejolak dalam dirinya, yang terombang-ambing antara berbagai keresahan.
Selanjutnya Nurullah, sang penyair, berbicara tentang seorang Stephen, maksudnya pastilah Stephen Hawking, si ahli Fisika di atas kursi roda yang memeriksa alam dan isinya. Stephen mengajaknya melintasi universum. “Ia lalu mengajakku pergi. Jauh melayang; melompat dari bintang ke bintang. Berguling-guling dari galaksi ke galaksi. Mengintip lubang cacing. Membayangkan serbuk tubuh presiden yang terguling.// Di bawah telapak kaki ku berhambur bermiliar galaksi-galaksi. Bagai butiran biji kedelai yang terburai…….Seperti kepingan biji mutiara yang bersemai di sudut-sudut waktu.// ‘Lihat’, katanya, menunjuk sebuah titik yang berdesak di setumpuk cahaya. Apa arti kau ada?’ …..’Ketika bumi masih sebercak Kata, apa yang dilakukan Tuhan, Stephen? ?’…// Ia dituntun oleh wataknya, kembali menyeringai. Lalu kembali mengajakku berputar. Berdiri di tebing waktu, menyapa kemahakuasaan ruang. Meluncur di tanah masa depan yang berkabut, menjelajah kota-kota masa silam yang berasap”//.
Manusia dan waktunya laksan kedelai yang terburai pada taburan miliaran galaksi. Apakah titik sekecil itu pantas punya arti, dan apakah manusia punya dasar untuk meyakini diri sebagai makhluk paling mulia? Waktu merayap, malam mengalir. Semuanya akan disorong masuk ke dalam jurang masa lampau. Hilang di sana?
Kesempatan berubah dan mengubah
Waktu, dia mengalir tanpa bisa ditahan. Sangat sering arusnya yang deras membawa kita pergi tanpa terasa dan tersadar. Cuma sebentar, saat kita angkat mata dan melihat suasana sekitar yang telah berubah, kita lalu berguman dan mulai menghitung sekian waktu telah berlalu. Terkadang alirannya sungguh dirasa, dihitung secara saksama dalam detakan paling kecil yang dapat diukur. Yang seperti itu kita alami ketika harus menunggu, entah menunggu seseorang yang telah menjanjikan kedatangannya, menanti sebuah keputusan yang amat penting, atau berjaga bersama seseorang yang sedang menghadapi maut. Yang sama pun kita alami saat-saat menjelang tahun beralih. Kita menghitung waktu seolah waktu tergambar jelas di depan kita bagai gelombang yang dating, mengempas waktu sekarang ke masa lalu, yang sedang ke dalam sudah, sementara yang baru datang menerjang sekat tipis pembatas waktu di depan dan saat sekarang.
Menghitung waktu, di dalamnya terkandung melankoli, serentak harapan. Waktu yang dialami dan dihitung secara sadar, menjadi waktu yang sangat intensif dan sungguh berharga. Pada saat seperti itu muncul kesadaran yang menusuk: betapa banyak kesempatan telah terlewatkan, berapa peluang sudah terabaikan untuk menyebutkan kata maaf, untuk memberikan tangan perdamaian, untuk mewujudkan niat yang pernah dibulatkan. Berapa banyak orang yang nasibnya bisa diperbaiki kalau ada kejujuran dan tanggung jawab dalam mengelola jabatan? Waktu adalah kesempatan untuk berubah dan mengubah.
Waktu berlalu, dan berapa jeritan minta perhatian yang disepelekan? Waktu yang mengalir pergi menggemakan terikan semua mereka yang telah dikorbankan oleh arogansi manusia dan dinginnya sistem yang tercipta. Ya, sistem ekonomi dan politik bisa sangat dingin terhadap manusia, bekerja menurut logika keuntungan dan penimbunan kekuasaan, lalu menunjukkan wajah yang bergeming di hadapan kemiskinan dan punya hati yang membatu terhadap ketidakadilan. Yang terseret bersama arus waktu adalah mereka yang wajahnya adalah sangat sederhana dan karena itu gampang disepelekan. Di sini waktu adalah jeritan dan wajah manusia yang butuh keberpihakan.
Arus waktu membawa pergi yang sekarang, namun bukan tanpa sisa. Waktu meninggalkan bau amis kejahatan pribadi atau bersama, yang tak mau diakui secara sportif dan diselesaikan secara dewasa. Luka menganga yang tertoreh pada hati orang lain karena kelancangan dan pelecehan, akan terus menyebarkan aroma tak sedapnya. Ketakacuhan takkan bisa membuat yang buruk jadi baik. Putusan politik yang hanya menguntungkan diri sendiri akan terus menjadi sumber bau yang busuk, walaupun ada argumentasi bahwa itu adalah perintah undang-undang. Bangkai manusia yang telah dikorbankan dalam sebuah pengadilan yang sesat akan terus menggugat, kendati ada dasar yang terdengar sangat mulia: demi penegakan hukum. Waktu adalah deretan para korban yang telah berjatuhan.
Namun waktu yang berlalu menyimpan dalam gelombangnya sejumlah prestasi yang diraih, kesetiaan pada sebuah janji yang diikrarkan, komitmen yang jelas terhadap tugas yang telah diterima dan sikap yang tegas untuk menolak ikut bermain dalam penyebaran isu yang menghancurkan citra orang lain, merupakan bekas-bekas yang telah dijejakkan pada alur waktu. Waktu adalah deretan kebajikan yang sudah dilaksanakan dalam spontanitas, secara sangat alamiah.
Waktu, ketika dialami dan dirasakan secara intensif, menjadi sangat bernilai. Di dalamnya terkandung sejuta kemungkinan dan peluang untuk berubah dan mengubah; banyak wajah dimunculkan dan teriakan diperdengarkannya, semuanya minta diperhatikan, segudang harapan dan niat ditawarkan untuk diwujudkan. Semua inilah yang mejadikan waktu sungguh berarti, biar cuma sekejap, kendati dibandingkan hanya dengan kedelai yang terburai pada lautan galaksi.
Tahun yang akan segera berlalu bukan hanya sebuah angka. Ada nama, ada sejarah, ada kesedihan, luka dan kekecewaan. Ada pula kegembiraan dan sukacita, ada persahabatan dan persaudaraan yang ikhlas. Ada bekas yang sangat nyata dan konkret pada rentang waktu yang berlalu.
Waktu yang mengalir bagai petak tanah kosong yang panjang membentang. Tugas manusia adalah memberi bekas pada tanah itu. Sebagai homo historicus, makhluk yang menyejarah, kita membawa diri yang sama ke tahun yang di seberang. Meniggalkan jejak yang terarah, agar dapat terbangun sebuah jalan dengan tujuan yang jelas, itulah makna kehidupan. Peluang untuk berubah dan mengubah, wajah untuk ditatap dan suara yang mesti ditangkap, semua itu terkandung pula dalam arus tahun yang baru nanti. Memberi bekas pada waktu, supaya tahun yang baru nanti menjadi rentang waktu yang bermakna untuk banyak orang.
******************************
Sumber Tulisan: Paul Budi Kleden, Di Tebing Waktu, Ledalero, 2009.
Alexander Aur, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan Karawaci, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata, Semarang.
Judul tulisan ini adalah terjemahan bebas dari tulisan pengantar W. Lance Bennet berjudul “The Future is Now” dalam bukunya berjudul, Comunicating the Futere: Solutions for Environment, Economy, and Democracy (Polity Press, 2021). Tulisan pengantar Benet berisi gambaran mengenai dua gerakan masyarakat sipil di berbagai belahan dunia dalam merespon krisis lingkungan hidup dan ketidakadilan iklim. Aneka gerakan itu sering kali berhadap-hadapan dengan banyak korporasi dan partai politik di berbagai negara.
Korporasi dan partai politik saling menopang dalam mengeksploitasi bumi untuk kentingan ekonomi, di satu sisi. Masyarakat sipil yang peduli terhadap krisis lingkungan hidup dan ketidakadilan iklim, terus menerus melakukan gerakan untuk mengatasi krisis tersebut demi sebuah keadilan iklim bagi kehidupan, terutama kehidupan anak-anak saat ini pada masa depan. Jadi, gerakan masyarakat sipil untuk keadilan iklim adalah gerakan saat ini karena masa depan sudah berlangsung saat ini.
Tulisan Bennet tersebut saya jadikan inspirasi untuk esai akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023 ini. Meskipun dengan aksentuasi yang sedikit berbeda, esai ini bernada keprihatinan dan harapan akan hal yang sama seperti yang diungkapkan oleh Bennet dalam tulisannya tersebut.
***
Mungkin ada di antara kita masih ingat sosok gadis berusia enam belas tahun dari Swedia yang bernama Greta Thunberg. Ia mengejutkan para pemimpin dunia dengan meninggalkan sekolah dan melakukan mogok terkait masalah perubahan iklim di luar gedung parlemen di Stockholm pada tahun 2018. Kefasihan dan kemampuannya berbicara menarik perhatian dunia terhadap anak-anak yang mengkhawatirkan masa depan mereka. Segera setelah itu, ia diundang untuk berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Greta Thunberg juga naik kereta api selama 32 jam dari Swedia ke Pegunungan Alpen ke tempat Forum Ekonomi Dunia. Ia memarahi para elit dunia yang terbang dengan jet pribadi mereka. Ia menjadi nominator Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2019. Di hadapan Parlemen Inggris, ia menarik perhatian dunia mengenai keadaan bumi saat ini dengan pidatonya:
Nama saya Greta Thunberg. Saya berusia 16 tahun. Saya dari Swedia. Dan saya berbicara atas nama generasi mendatang…
Saya beruntung dilahirkan di waktu dan tempat di mana semua orang mengatakan kepada kami untuk bermimpi besar… Orang-orang seperti saya memiliki semua hal yang dapat kami harapkan, namun sekarang kami dapat tidak memiliki apapun…
Sekarang kita bahkan mungkin tidak memiliki masa depan lagi. Karena masa depan itu dijual sehingga sejumlah kecil orang bisa menghasilkan uang dalam jumlah yang tak terbayangkan. Masa depan dicuri dari kami setiap kali Anda mengatakan kepada kami bahwa langit adalah batasnya dan hanya hidup sekali.
Dalam nada keprihatinan, Greta Thunberg berbicara tentang masa depan. Akan tetapi kapan masa depan itu terwujud secara nyata? Perihal masa depan, kita kerap kali merenungkannya pada setiap akhir tahun untuk menyambut tahun baru. Demikian pula sekarang ini. Tahun 2022 segera berakhir. Tahun 2023 sudah di depan wajah. Kita akan melewati tahun lama. Tahun baru akan kita masuki. Meninggalkan tahun lama dan memasuki tahun baru merupakan “ritus” rutin setiap orang di seluruh dunia.
Sepanjang tahun 2022, waktu yang dihayati pun kerap kali merupakan waktu mekanis. Hidup dalam waktu mekanis pun boleh jadi merupakan kronos. Kemarin, hari ini, dan besok merupakan waktu yang dijalankan secara berurutan saja. Agar kronos tersebut mempunyai makna, kita selalu berefleksi. Hari ini kita melakukan refleki atas hari kemarin. Refleksi itu sekaligus sebagai proyeksi ke masa depan. Dengan demikian, kita selalu punya alasan untuk ikhlas meninggalkan masa lalu dan optimis memasuki masa depan. Meskipun segala hal yang ada di-dalam-sepanjang masa depan, kita tak pernah dapat mengetahui semuanya secara pasti dan terang-benderang.
Kita tidak dapat mengetahui secara pasti apa saja yang akan terjadi pada masa depan. Akan tetapi ada hal yang pasti baik untuk kemarin, hari ini, untuk besok, yakni kita hidup di planet bumi. Bumi adalah “rumah” kita bersama (Paus Fransiskus, Laudato Si’, 2016). Sebagai “rumah”, bumi bukan saja sebagai sumber daya tetapi juga ekosistem. Sebagai sumber daya, bumi adalah objek yang dapat dieksploitasi setiap. Akan tetapi bumi tidak sekedar sumber daya. Lebih dari itu, bumi merupakan ekosistem, yang di dalamnya, setiap unsur saling berkorelasi dan saling menunjang dalam sistem kehidupan (Murray Bookchin, Toward an Ecological Society, 1980).
“Ritus” rutin meninggalkan tahun lama dan memasuki tahun baru dan refleksi tentang kronos hidup yang kita lakukan berlangsung dalam status bumi yang demikian. Dalam ritus rutin dan refleksi itu, apakah kita memberikan perhatian dan pikiran untuk bumi? Apakah bumi hanya semata-mata sumber daya? Mengapa bumi merupakan ekosistem?
Dalam “ritus” rutin dan refleksi kita berupaya agar tetap memberikan ruang dalam hati dan pikiran untuk senantiasa diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan tersebut. Membiarkan hati dan pikiran diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan itu memungkinkan kita dapat menggerakkan aksi untuk dan demi bumi.
Memikirkan dan menggerakkan aksi untuk dan demi bumi merupakan hal mendesak bagi kita. Perubahan iklim dan pemanasan global kian meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu tanda perubahan iklim dan pemanasan global adalah anomali suhu udara. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan data mencengangkan pada 23 Desember 2022 mengenai perubahan iklim ekstrim (Data lengkap dapat diakses pada http://202.90.199.61:81/BMKG_Pusat/Klimatologi/Informasi_Indeks_Ekstrim_Perubahan_Iklim.bmkg dan https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=ekstrem-perubahan-iklim).
BMKG menulis pada lamannya sebagai berikut:
Berdasarkan data dari 89 stasiun pengamatan BMKG, normal suhu udara bulan November periode 1991-2020 di Indonesia adalah sebesar 27.14 oC (dalam range normal 21.35 oC – 29.95 oC) dan suhu udara rata-rata bulan November 2022 adalah sebesar 26.98 oC. Berdasarkan nilai-nilai tersebut, anomali suhu udara rata-rata pada bulan November 2022 menunjukkan anomali Negatif dengan nilai sebesar -0.16 oC. Anomali suhu udara Indonesia pada bulan November 2022 ini merupakan nilai anomali tertinggi ke-27 sepanjang periode data pengamatan sejak tahun 1981.
Sebagian besar penyebab perubahan iklim dan pemanasan global adalah karena tindakan manusia, terutama penggunaan bahan bakar fosil (BBF) dan alih fungsi lahan (Daniel Murdiyarso, 2003; http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/info-iklim/perubahan-iklim;). Akibat dari tindakan manusia meskipun berskala lokal tetapi pengaruhnya sampai ke bagian bumi yang paling jauh dari jangkauan manusia sekalipun. “Bagian-bagian dari bumi yang sangat jauh dari jangkauan manusia pun terpengaruh oleh aktivitas manusia, “ demikian ucap filosof ekologi Murray Bookchin dalam The Philosophy of Social Ecology (1996). Kita senantiasa menempatkan dan memperlakukan bumi sebagai sumber daya. Mengeksploitasi bumi untuk kepentingan manusia. Orientasi eksploitasi bumi adalah untuk memenuhi kepentingan manusia, khususnya kepentingan ekonomi. Orientasi ini lahir dari watak peradaban yang antroposentrik, peradaban yang menempatkan manusia sebagai pusat, asal, dan tujuan dari segala sesuatu.
***
Salah satu buah dari peradaban antroposentrik adalah ilmu pengetahuan ilmiah dan teknologi. Antroposentrisme mengagungkan kapasitas nalar manusia. Dengan cara kerja deduktif maupun induktif, nalar menghasilkan pengetahuan yang benar. Bertumpu pada kapasitas berspekulasi, nalar deduktif menghasilkan pengetahuan apriori. Bertumpu juga pada aneka pengalaman indrawi sebagai awal mula pengetahuan, nalar induktif mengolah aneka pengalaman itu dan menghasilkan pengetahuan aposteriori.
Baik dengan cara kerja deduktif maupun induktif, nalar berusaha mengetahui bumi dan seluk-beluknya. Berpijak pada metode pengamatan, observasi, dan eksperimen, sebagian dari kita yang berkiprah dalam ilmu pengetahuan meneliti alam, khususnya bumi. Dalam kerangka metodologi ilmu pengetahuan ilmiah, bumi (alam) adalah objek material yang dibedah setiap bagian dan ceruknya untuk menemukan dan mengetahuan hukum-hukum logis alam.
Pada tangan ilmuwan alam dan dalam metode kerja ilmu alam, logika kausalitas pada bumi (alam) dideskripsikan sebagaimana adanya. Kita mengetahui bumi (alam) sebagaimana adanya. Logika kausalitas inilah yang disebut oleh Jurgen Habermas sebagai kepentingan kognitif dari ilmu alam. Artinya, ilmuwan alam memperjuangkan kepentingan kognitif ilmu alam, yakni mendeskripsikan logika kausalitas sebagaimana adanya.
Akan tetapi penemuan dan pengetahuan mengenai hukum-hukum alam tidak bertujuan pada dirinya. Manusia menghasilkan ilmu pengetahuan (alam) tidak hanya demi (perkembangan) ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia akan alam. Setelah mengetahui dan mengerti logika kausalitas dalam alam, selanjutnya manusia menaklukkan dan mengolah alam bagi kepentingan manusia. Bila sebelum ilmu pengetahuan alam berkembang, seorang petani di daerah tropis hanya bisa menanam sekali dalam setahun pada musim hujan, maka setelah para ilmuwan alam mengetahui bahwa struktur geografis bumi/tanah bisa diubah dan aliran air dari gunung bisa dibelokkan dengan ke areal pertanian, maka petani dapat menanam lebih dari sekali dalam setahun. Pengubahan struktur geografis dan pembelokan aliran air adalah buah dari dua dua anak ilmu alam yakni ilmu geografi dan ilmu pertanian.
Ilmu pengetahuan alam menempatkan bumi (alam) sebagai materi (tak bersifat rohani). Oleh karenanya, bumi (alam) dapat dikuasai dan dieksploitasi dengan menggunakan teknologi modern. Dalam kerangka demi kepentingan manusia, dengan kekuatan ilmu pengetauan dan teknologi modern, bumi ditaklukkan untuk memenuhi hasrat ekonomi manusia. Pada titik ini, bumi (alam) adalah objek yang dapat dikalkulasi dan ditransaksi dalam cara kerja logika ekonomi. Studi dan penelitian terhadap alam berlangsung dalam logika untung-rugi secara ekonomi. Bumi semata-mata sumber daya ekonomi.
***
Peradaban antroposentrik pada mulanya digerakkan oleh para filsuf Yunani kuno dengan tujuan agar manusia mengetahui keberadaan dirinya dan bijaksana menempatkan dirinya di dalam alam. Pada era Modern, para filsuf mengokohkan lagi keberadaan manusia di tengah alam. Dengan kekuatan nalarnya, alih-alih manusia mengokohkan sikap bijaksana menempatkan diri dalam alam, justru yang dikokohkan adalah dominasi manusia terhadap bumi (alam).
Peradaban yang antroposentrik justru telah “membunuh” manusia dan bumi (alam) sebagai “rumah” tinggalnya. Dampaknya konkretnya adalah perubahan iklim dan pemanasan global ekstrim dan segala akibat buruknya bagi manusia dan alam pada masa sekarang. (Kemungkinan) akan terus berlanjut pada masa depan, bila tidak ada perubahan dan peralihan dari peradaban yang antroposentrik ke peradaban yang ekologis.
Di hadapan persoalan perubahan iklim dan pemanasan global, ilmu pengetahuan ilmiah tidak hanya digdaya dengan kemampuannya mendeskripsikan bumi (alam) sebagaimana adanya. Tetapi juga mengenakan suatu wawasan dunia (Weltanschauung) mengenai bumi (alam). Ilmu pengetahuan tidak semata-mata memungkinkan manusia melihat bumi (alam) sebagaimana adanya tetapi juga menggerakkan manusia untuk seharusnya bertindak secara etis terhadap bumi (Ignas Kleden, Fragmen Sejarah Intelektual, 2020). Terhadap bumi (alam), kita tidak saja memperlakukan bumi sebagaimana adanya tetapi juga bertindak sebagaimana seharusnya. Dengan kata lain, kita mengetahui bumi sebagaimana adanya supaya dapat bertindak sebagaimana seharusnya.
Bumi dalam bingkai wawasan dunia adalah bumi yang terhadapnya bagaimana seharusnya kita bertindak. Kita mengenakan suatu sikap etis terhadap bumi. Sikap ini bukan berarti menempatkan bumi (alam) sebagai makhluk moral. Sebaliknya, dengan karena kita sebagai makhluk moral, maka kitalah yang seharusnya mengenakan sikap etis terhadap bumi. Sikap etis ini bertumpu pada cara pandang etis terhadap bumi. Dalam cara pandang ini, bumi (alam) adalah ekosistem, bumi adalah sistem kehidupan (Sonny Keraf, Filsafat Lingkungan Hidup, 2014).
Di dalam sistem ini, setiap makhluk hidup berkorelasi saling dan saling menunjang. Alam adalah sebuah keseluruhan yang setiap unsur dan bagian di dalamnya tidak terpisahkan satu sama lain dan bersifat dinamis. Setiap bagian berada dalam keseluruhan proses kosmis. Oleh karena itu, kita sebagai makhluk moral mengenakan batas-batas tertentu manakala bersikap terhadap bumi. Keharusan etis dalam bertindak terhadap bumi merupakan keniscayaan.
Tahun 2022 berakhir dengan berbagai peristiwa alam. Semua peristiwa tersebut adalah karena sikap dan tindakan kita terhadap bumi yang lebih mengutamakannya sebagai sumber daya ekonomi. Setiap jengkal dari alam telah dan terus dikalkulasi dan diperlakukan secara ekonomi. Benar bahwa manusia memerlukan ekonomi. Tetapi ekonomi bukan satu-satunya hal yang menentukan masa depan hidup manusia dan bumi ini. Memperlakukan bumi secara ekonomik semata berarti kita tidak memulai masa depan pada saat sekarang. Jika demikian, kekhawatiran Greta Thunberg mengenai ketiadaan masa depan anak-anak justru dimulai hari ini.
***
Kita adalah makhluk moral yang senantiasa merefleksikan masa lalu pada masa sekarang sebagai antisipasi masa depan. Itu kita lakukan di bumi. Refleksi etis kita tentang masa lalu dan masa depan senantiasa berlangsung dalam dan bersama bumi (alam) sebagai sistem kehidupan. Ini berarti masa depan adalah masa depan bumi karena kita ada dalam sebuah sistem kehidupan. Jadi, masa depan adalah sekarang ini dan di sini dalam arti ekologis (bersama bumi sebagai rumah kita).
——————————————————————
Bahan Bacaan:
Bennet, W. Lance, 2021, Communicating the Future-Solutins for Enviroment, Economy, and Democracy, Cambrigde, Polity Press.
Bookchin, Murray, 1996, The Philosophy of Social Ecology–Essays on Dialectical Naturalism, Montreal/New York/London, Black Rose Books.
_______________, 1980, Toward an Ecological Society, Montreal, Black Rose Books.
Keraf, A. Sonny, 2014, Filsafat Lingkungan Hidup–Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan, Yogyakarta, Kanisius.
Kleden, Ignas, 2020, Fragmen Sejarah Intelektual–Beberapa Profil Indonesia Merdeka, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Murdiyarso, Daniel, 2003, Protokol Kyoto–Implikasinya bagi Negara Berkembang, Jakarta, Penerbit Buku Kompas.
Paus Fransiskus, 2016, Laudato Si’ (Edisi terjemahan bahasa Indonesia), Jakarta, Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.
Sumbangsih Goenawan Mohamad maupun polemik yang melibatkannya pada dunia pemikiran, seni, jurnalistik, dan dinamika demokrasi di Indonesia telah panjang, tapi kajian lintas disiplin dan pembacaan kritis atas isi pemikirannya belum serius dilakukan. Dalam rangka mengisi kekurangan kajian sejarah intelektual Indonesia, Komunitas Utan Kayu meluncurkan buku Membaca Goenawan Mohamad pada Kamis, 29 Desember 2022, bertempat di Komunitas Utan Kayu, Jln. Utan Kayu 68H, Jakarta Timur.
Ayu Utami (sebagai Editor buku) memberikan pengantar singkat tentang siapakah Goenawan Mohanad? Apakah ia menandai berakhirnya sebuah zaman? Zaman ketika sastra, jurnalisme, idealisme, dan perjuangan kebebasan berkelindan. Masa ketika sastrawan, wartawam, dan aktivis seringkali adalah sosok yang sama – sebagaimana GM, begitu ia biasa dipanggil. Jauh sebelumnya kita mengenal nama-nama, antara lain Tirto Adi Suryo di awal 1900-an atau Mochtar Lubis di tahun 1950-an hingga 1970-an. Tradisi tritunggal wartawan-sastrawan-pejuang itu dilanjutkan Goenawan Mohamad, penyair sekaligus pemimpin Tempo, majalah berita yang didirikannya tahun 1971. Bayangkan, selama seratus tahun lebih di sepanjang abad ke-20, kita sebenarnya terbiasa bersatunya kerja wartawan, sastrawan dan perjuangan kebebasan. Di Indonesia, itu adalah masa ketika kita belum memiliki demokrasi yang stabil.
Kini, abad ke-21 tengah berjalan, dengan galau dan kilaunya sendiri. Sudah dua dekade Indonesia menikmati demokrasi, dan generasi ini mulai tak punya ingatan tentang abad ke-20, tentang Perang Dunia, Perang Dingin dan jejak peperangan itu pada rezim militer di Indonesia, penderitaan serta semangatnya. Setelah runtuhnya komunisme di tahun 1990-an, kapitalisme bagai punya penantang kuat. Pers dan “industri kreatif” pun semakin dikuasai logika kapitalistis. Surat kabar, bahkan televisi, tak lagi punya wibawa intelektual sebesar dulu. Setiap orang bisa menjadi “citizen journalist”. Pada saat yang sama, kita pun tidak melihat pemimpin media besar yang juga seorang penyair. Atau, setidaknya pemimpin bisnis pers yang juga pencinta seni yang memberi ruang dan dukungan sangat serius bagi perkembangan seni-seperti pemred dua media terpandang Tempo dan Kompas ketika itu: Goenawan Mohamad dan Jakob Oetama. Apakah Goenawan Mohamad akan menandai berakhirnya sebuah zaman?
Buku ini adalah catatan yang barangkali mengantisipasi itu. Tulisan-tulisan dalam buku ini berasal dari ‘Seminar Membaca Goenawan Mohamad’ yang diadakan untuk memperingati ulang tahun Goenawan Mohamad yang ke-80. Pada usianya yang lanjut, ia tak lagi menjadi pemimpin redaksi Tempo, tapi dengan energinya yang tetap melimpah ia masih terus menulis “Catatan Pinggir”, kolom renungan intelektual yang sangat khas seorang Goenawan Mohamad. “Catatan Pinggir” amat mempengaruhi generasi penulis di era militer Soeharto. Di periode itu, banyak sekali orang yang mengaku membaca esai ini lebih dulu sebelum membaca berita atau artikel lain di majalah Tempo. “Catatan Pinggir” adalah bacaan wajib intelektual Indonesia era 1980-am hingga dekade pertama 2000-an.
Satu catatan penting, melalui “Catatan Pinggir”, Goenawan Mohamad juga memperkenalkan filsafat kontemporer. Tradisi intelektual membaca filsafat sebenarnya telah dimulai oleh para pendiri bangsa, seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Soedjatmoko. Juga para sastrawan yang tidak secara langsung terlibat dengan politik negara. Seperti Sutan Takdir dan Chairil Anwar. Goenawan Mohamad juga berada dalam tradisi intelektual ini. Ia menggunakan kolom mingguannya untuk merenung, dan dengan demikian memperkenalkan pemikiran para filsuf yang ia renungkan itu pada para pembaca.
‘Seminar Membaca Goenawan’, ingin merawat suatu tradisi intelektual Indonesia modern, yang telah dimulai sejak abad ke-20, dan dilanjutkan Goenawan Mohamad dengan antusias. Hampir semua panelis adalah mereka yang tumbuh dengan membaca tulisan-tulisan Goenawan Mohamad dan terinspirasi dari tulisan-tulisan itu. Terutama mereka yang lahir di tahun 1960-an atau awal 1970-an atau yang menghidupi dunia kesusasteraan dan kewartawanan. Juga para sarjana filsafat generasi lebih kini yang diminta untuk mengkaji bagaimana Goenawan Mohamad menafsir pemikiran para filsuf kontemporer kontinental.
Ignas Kleden dalam kata pengantarnya untuk buku Catatan Pinggir 2 ( Pustaka Utama Grafiti, 1989) dengan tepat membedakan posisi seorang wartawan dan penyair. “Penyair, seperti juga seorang wartawan, adalah orang-orang yang bekerja dengan aksara, dengan tulisan. Dan kita tahu masih ada sejumlah profesi lain yang memakai sarana tersebut: novelis, penulis skenario, mahasiswa, ilmuwan sosial, perencana ekonomi, birokrat atau seorang sekretaris penerbitan. Namun demikian jelas juga bahwa aksara di sana menjadi sarana untuk tujuan yang berbeda-beda, seperti juga perbedaan antara aksara seorang penyair dan aksara seorang wartawan. Dirumuskan secara sederhana: penyair berurusan dengan dunia dalam, sementara wartawan bergelut dengan dunia luar. Yang pertama menggarap makna, sedangkan yang kedua memperjuangkam fakta. Begitulah, kalau wartawan bekerja dengan pemberitaan, maka penyair berkiprah dengan permenungan. Prestasi seorang wartawan diukur berdasarkan banyaknya informasi yang dikumpulkannya, sedangkan prestasi seorang penyair diukur berdasarkan mendalamnya makna yang sanggup diserap dan diendapkannya. Kiat wartawan dipertaruhkan dalam sifat eksklusif informasi yang disiarkannya, sementara kiat penyair dipertaruhkan dalam otensitas pengalaman yang dicerna dalam jiwa. Dengan demikian, kapasitas wartawan adalah membuat pembacanya mengetahui lebih banyak, sedangkan penyair sanggup membuat pembacanya menghayati lebih intens. Untuk mengutip penulis “Catatan Pinggir”, kemampuan penyair, atau lebih tepat kemampuan puisi bukanlah “membuat kita lebih pintar atau lebih hebat, tetapi…..mengukuhkan ikatan batin kita kembali dengan hidup”. (“Catatan Pinggir”, 16 November 1965).” Apakah Goenawan Mohamad mampu mengkombinasikan dalam dirinya seorang wartawan dan penyair sekaligus? Mari membaca buku Membaca Goenawan Mohamad untuk menemukan jawabannya.
Oleh Fitzerald Kennedy Sitorus,Dosen Fakultas Liberal Arts (FLA) Universitas Pelita Harapan (UPH) – Tangerang
Dieter Henrich adalah salah seorang filsuf Jerman yang paling berpengaruh dan paling mendalam. Ia lahir pada 5 Januari 1927 di Marburg dan meninggal pada 17 Desember 2022 di München pada usia 95 tahun. Ia 2 tahun lebih tua dari Habermas dan pensiun tahun 1994 dari Ludwig-Maximilians-Universität, München.
Fokus penelitian Henrich adalah tema kesadaran diri, metafisika dan subyektivitas dalam konteks filsafat Idealisme Jerman. Henrich menerbitkan banyak penelitian dan refleksi mengenai tema-tema tersebut dengan mengacu ke filsafat Kant, Fichte, Hegel dan Hölderlin.
Pemikiran dan publikasi Henrich (dan para muridnya yang juga telah menjadi profesor di berbagai universitas di Jerman) mengenai tema di atas sangat berpengaruh dan dikenal dengan nama Mazhab Heidelberg. Kalau sekarang terjadi renaisans tema metafisika, subyektivitas, filsafat “orang pertama“ (the first person) dalam tradisi filsafat berbahasa Jerman (dan juga Anglo-Saxon), sedikit banyak itu karena pengaruh Henrich.
Pemikiran Henrich juga diresepsi di Amerika Serikat. Selama puluhan tahun, sejak 1968, ia menjadi profesor di Amerika, pertama-tama di Universitas Columbia, dan kemudian di Universitas Harvard. Sebelumnya ia telah beberapa kali menolak tawaran jadi profesor ini.
Mungkin menarik dicatat bahwa ada saja filsuf Jerman yang tidak tertarik menjadi profesor di AS. Reiner Forst, filsuf generasi keempat Mazhab Frankfurt yang sangat menonjol sekarang ini, menolak tawaran menjadi professor di Harvard. Dia lebih suka tinggal dan bekerja sebagai profesor di Universitas Frankfurt, dan hanya bersedia sesekali diundang untuk memberikan kuliah ke AS. Manfred Frank, ahli mengenai filsafat romantik dari Universitas Tübingen, beberapa kali menolak tawaran Richard Rorty dulu menjadi profesor di Princeton.
Henrich bersedia ke Harvard atas bujukan John Rawls. Rawls secara khusus memohon kepada Henrich agar bersedia cuti dari Universitas Columbia dan mengajar di Harvard untuk memperkenalkan tradisi filsafat Idealisme Jerman ke publik filsafat Amerika. Dan selama puluhan tahun berikutnya Henrich menetap di Harvard. Henrich kemudian kembali ke Jerman dan pensiun dari Ludwig Maximilian Universität, München, tahun 1994.
Pengaruh Henrich terhadap tradisi filsafat di AS terlihat dari semakin banyaknya publikasi mengenai tradisi filsafat Idealisme Jerman (khususnya Kant, Fichte dan Hegel) dan tema-tema khasnya yang terbit dalam bahasa Inggris. Contoh untuk ini adalah buku-buku yang ditulis Frederick B. Beiser, Robert Pippin, Frederick Neuhouser, dan lain-lain.
Kuliah-kuliah Henrich di Harvard sering dihadiri oleh para profesor terkenal dari tradisi filsafat analitis, seperti Hillary Putnam, W.V.O. Quine, Nelson Goodman, Roderick Chisholm dan lain-lain. Kadang Henrich membuat seminar kuliah bersama dengan salah seorang profesor tersebut. Dalam perayaan ulang tahun Henrich ke-70 di Tübingen, Hillary Putnam hadir dan mengakui ”I`m also a student of Henrich.” Mungkin itu agak melebih-lebihkan, tapi jelas itu memperlihatkan pengakuan akan kebesaran Henrich dan pengaruhnya.
Hector-Neri Castaneda, seorang filsuf terkemuka dari tradisi filsafat analitik, dengan penuh terimakasih menyatakan bahwa Henrich telah memberikan ”kontribusi yang sangat mencerahkan terhadap pemahaman kita akan hakikat kesadaran, kedirian (selfhood) dan kesadaran-diri.”
Penerimaan filsafat Idealisme Jerman di kalangan publik filsafat AS tidak terlepas dari cara Henrich memperkenalkan paham ini. Sebelumnya filsafat di AS hidup dalam tradisi filsafat analitik yang cenderung anti metafisika dan pemikiran spekulatif, sementara Idealisme Jerman sangat metafisis dan spekulatif. Henrich mampu menyampaikan gagasan-gagasan metafisis Idealisme Jerman dengan cara jelas, konkret, argumentatif dan tanpa jargon-jargon metafisis (sebagaimana jamak kita temui dalam tulisan Hegel, Heidegger atau Derrida) yang mengaburkan pemahaman. Henrich juga mampu memperlihatkan relevansi tema-tema filsafat Idealisme Jerman dalam filsafat kontemporer. Misalnya, tentang pentingnya pemahaman diri (self) dewasa ini, tentang relevansi pendekatan transendental dalam filsafat kontemporer.
Pendekatan seperti ini memunculkan perkembangan baru dalam filsafat. Sekarang ini hampir tidak ada lagi perbedaan mencolok antara tradisi filsafat kontinental dan analitik dalam hal tema atau gaya argumentasi. Padahal sejak dulu tema-tema perdebatan di kedua kubu tersebut umumnya berbeda. Namun, sekarang ini kita sering menyaksikan bahwa kedua kubu tersebut masing-masing memperdebatkan tema yang sama. Batas-batas antara tradisi filsafat transendental dan analitis semakin hilang.
Selain Henrich, Habermas dan Ernst Tugendhat adalah filsuf yang sering disebut berperan penting dalam meleburkan batas antara kedua tradisi filsafat ini.
Kritik atas kritik atas metafisika dan subyektivitas
Henrich adalah pembela metafisika dan subyektivitas. Ia mengkritik para filsuf yang mengkritik metafisika dan subyektivitas, antara lain Nietzsche, Heidegger, Habermas dan para filsuf post-strukturalis lainnya. Ia berdebat dengan Habermas mengenai metafisika melalui rangkaian tulisan yang saling mengkritik. Ia menganggap pemahaman Habermas atas metafisika dangkal dan karikatural.
Dalam pandangan Henrich, Habermas harusnya tidak perlu berbicara mengenai post-metafisika, melainkan cukup post-idealisme, karena apa yang dimaksud dan dikritik oleh Habermas dalam filsafatnya bukanlah metafisika melainkan idealisme sebagaimana dipahami Plato atau Hegel. Menurut Henrich, Habermas menyamakan idealisme dan metafisika dan karena itulah ia menuduh Habermas tidak memahami metafisika.
Henrich juga mengkritik konsep subyektivitas Habermas. Dalam filsafat komunikasinya, Habermas mengatakan bahwa subyektivitas adalah produk atau buah intersubyektivitas. Saya menyadari diri saya sebagai saya (dan inilah yang dimaksud dengan kesadaran diri atau subyektivitas) berdasarkan relasi intersubyektivitas saya dengan yang lain.
Henrich dengan cukup meyakinkan menolak pemahaman ini. Ia mengatakan, bagaimana mungkin saya menyadari diri saya sebagai saya kalau sebelumnya saya tidak memiliki kesadaran atau pengetahuan mengenai diri saya? Kalau mitra bicara saya dalam komunikasi intersubyektif mengatakan „engkau“ kepada saya, bagaimana mungkin saya tahu bahwa yang dimaksud dengan „engkau“ itu adalah saya, kalau sebelumnya saya tidak menyadari saya sebagai saya?
Karena itu, Henrich mengatakan bukan intersubyektivitas yang menghasilkan subyektivitas, melainkan sebaliknya: subyektivitas menjadi pengandaian bagi intersubyektivitas. Apa yang terlibat dalam proses intersubyektif adalah subyek-subyek yang menyadari dirinya. Karena itu jika Habermas memprioritas komunikasi intersubyektif atas filsafat kesadaran, Henrich sebaliknya: memprioritas kesadaran atas komunikasi. Henrich tetap membela subyektivitas. Menurutnya subyektivitas adalah Unhintergehbarkeit (“titik terakhir yang tidak mungkin dilewati“ atau pengandaian) dalam seluruh aktivitas manusia.
Henrich juga mengkritik kritik Heidegger atas subyektivitas. Dengan mengikuti Nietzsche, Heidegger (dan juga Habermas) mengatakan bahwa subyektivitas itu adalah manifestasi dari kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht). Mereka mengatakan bahwa Kehendak untuk Berkuasa ini adalah akar filosofis dari berbagai kekerasan dan tragedi dalam sejarah umat manusia.
Menurut Henrich, pendapat ini gampangan, kurang mendalam atau kurang filosofis. Berdasarkan penelitiannya, Henrich tiba pada kesimpulan bahwa subyektivitas muncul sebagai bentuk kehendak untuk “pemeliharaan diri (Selbsterhaltung; self-preservation) manusia”. Dalam keseluruhan hidupnya manusia selalu menghadapi ketidakpastian. Ketidakpastian ini bersifat eksistensial ontologis. Manusia tidak tahu ia mau ke mana (setelah mati) dan dari mana ia berasal. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ia rapuh, sering sakit, lupa dan tidak berumur panjang. Manusia itu sangat rentan.
Untuk menghadapi ketidakpastian, kerentanan dan ketidaktahuan yang bersifat eksistensial ontologis itulah maka manusia perlu mengorganisir berbagai hal dalam hidupnya. Itu berguna sebagai pegangan atau orientasi. Manusia kemudian mengorganisir ilmu pengetahuan, kepercayaan atau agama, dunia, filsafat dan dirinya sendiri. Untuk itulah manusia menciptakan sistem-sistem filsafat, ilmu pengetahuan dan kepercayaan, juga identitas atau kesadaran diri.
Semua itu pertama-tama adalah karena keinginan untuk memelihara diri (self preservation), dan bukan karena kehendak untuk berkuasa, sebagaimana secara naif dianggap oleh Nietzsche, Heidegger dan Habermas.
Setelah membaca Henrich saya kemudian menyadari bahwa pada level praktis (sosial politis) filsafat komunikasi dan gagasan post metafisika Habermas memang cukup penting, namun fondasi filosofis filsafat tersebut sebenarnya tidak kuat.
Kalau kita mengikuti argumen pembelaan Henrich atas metafisika dan subyektivitas, maka kita akan melihat bahwa kritik terhadap metafisika dan subyektivitas itu (sebagaimana dilakukan oleh Heidegger dan Habermas) sebenarnya tidak punya dasar yang kuat, naif dan kurang filosofis. Henrich dengan cukup meyakinkan memperlihatkan bahwa subyektivitas dan metafisika memiliki relevansi dan signifikansi yang jauh lebih mendalam ketimbang yang diasumsikan para kritikus tersebut.
Enigma tentang kesadaran diri
Titik-tolak keseluruhan filsafat Henrich adalah problem filosofis yang diangkat oleh Fichte dalam filsafatnya mengenai kesadaran diri. Fichte mengatakan bahwa dalam sejarah filsafat Barat, konsep kesadaran diri sangat sering digunakan, dan bahkan menjadi fondasi filosofis bagi gagasan-gagasan filsafat besar, sebagaimana ditemui dalam filsafat Descartes, Leibniz, Kant, dan lain-lain.
Masalahnya menurut Fichte adalah bahwa para filsuf itu belum pernah menjelaskan secara konseptual bagaimana munculnya kesadaran diri tersebut. Jadi para filsuf hanya menggunakan tema kesadaran diri itu begitu saja tanpa pernah mempertanggung-jawabkan syarat-syarat kemungkinannya. Bagaimana kesadaran diri itu mungkin? Itulah pertanyaan utama Fichte, menurut Henrich.
Dalam sejarah filsafat, penjelasan mengenai fenomena kesadaran diri ini umumnya dilakukan melalui teori refleksi. Teori ini mengatakan bahwa diri mencapai kesadaran mengenai dirinya melalui pertemuan dengan yang bukan dirinya. Jadi, pertama-tama, ada diri. Diri yang pertama ini bertemu dengan yang lain, yang bukan dirinya. Pertemuan dengan yang lain ini kemudian menghasilkan kesadaran bahwa yang lain itu bukan diriku. Kesadaran bahwa saya berbeda dari yang lain itu menghasilkan kesadaran akan diriku, atau kesadaran diri.
Hegel juga menjelaskan proses kesadaran diri melalui proses reflektif dialektis seperti ini, yakni melalui pertemuan antara diri dan yang lain.
Pertanyaan dan kritik Fichte: penjelasan ini tidak memuaskan, karena akan selalu jatuh kepada kelemahan logis petitio principii atau begging the question. Bagaimana saya tahu bahwa (melalui pertemuan dengan yang lain itu, yang kemudian membuat saya menyadari diriku) diriku adalah diriku kalau sebelumnya saya tidak memiliki kesadaran mengenai diriku? Fakta bahwa saya dapat membedakan diriku dari yang lain itu mengandaikan bahwa sebelumnya saya telah memiliki kesadaran atau pengetahuan mengenai diriku sendiri.
Dengan kata lain, kesadaran akan diriku tidak muncul berdasarkan pertemuan dengan yang lain (sebagaimana kemudian dikatakan oleh Habermas), melainkan bahwa pertemuan dengan yang lain itu telah selalu mengandaikan kesadaran diri. Dan justru karena aku telah memiliki kesadaran akan diriku-lah maka saya dapat membedakan diriku dari diri yang lain. Penjelasan asal-usul kesadaran diri melalui moderl refleksi dengan demikian mengandung cacat logis: ia mengandaikan apa yang mau dibuktikan.
(Di sini kita dapat ingat lelucon mengenai orang desa yang pertama sekali masuk mal di Jakarta dan selalu heran melihat di kaca bahwa ada orang mirip dia yang selalu mengikutinya turun naik eskalator. Kalau orang desa itu sebelumnya tidak mengenali atau menyadari dirinya, bukankah seharusnya dia tidak perlu heran terhadap orang yang selalu mengikutinya itu?)
Nah, pertanyaan mengenai syarat-syarat kemunculan kesadaran diri inilah, menurut Henrich, yang menjadi problem filosofis keseluruhan filsafat teoretis Fichte. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Fichte sampai harus lebih 20 kali merevisi filsafat teoretisnya. Hasilnya? Ia tetap tidak berhasil menjelaskan kemunculan kesadaran diri dengan cara yang memuaskan.
Pertanyaan dan problem awal Fichte yang diajukan tahun 1700-an itu kemudian diangkat kembali oleh Henrich hampir 200 tahun kemudian dalam sebuah artikel yang berjudul ”Fichtes ursprüngliche Einsicht” (Insight awal Fichte) yang terbit tahun 1966. Dalam karangan kecil ini Henrich memaparkan problem filosofis dalam penjelasan asal-usul kesadaran diri. Karangan kecil ini sangat terkenal dan bersifat seminal. Karangan inilah yang menjadi titik tolak dan sering dirujuk dalam diskusi mengenai teori filosofis kesadaran diri sekarang ini.
Dengan bertolak dari pertanyaan dan problem yang dipaparkan oleh Henrich dalam karangan kecil itu, sejarah panjang pencarian asal-usul kesadaran diri kemudian dimulai. Henrich dan para muridnya (Ulrich Pothast, Conrad Cramer, Manfred Frank) menerbitkan banyak tulisan, penelitian, refleksi dan percobaan yang berusaha menjelaskan bagaimana munculnya kesadaran diri. Keseluruhan konteks filosofis inilah yang disebut dengan Mazhab Heidelberg. Namanya disebut demikian karena pada saat itu Henrich masih menjadi profesor di Heidelberg.
Namun Mazhab Heidelberg pun tidak berhasil menjelaskan secara konseptual bagaimana munculnya kesadaran diri. Fenomena kesadaran diri tetap gelap dan teka-teki. Kita memang telah selalu memiliki kesadaran diri, kita melakukan refleksi atas kesadaran diri, kita dapat mengobservasinya. Namun, bagaimana ia terjadi, itu pertanyaan yang tetap tidak dapat dijawab secara memuaskan, hingga sekarang.
Apakah kesadaran diri itu merupakan pengetahuan kognitif terhadap diri sendiri, di mana diri berperan sebagai obyek yang diobservasi? Ini tentu tidak mungkin, sebab observasi itu telah selalu mengandaikan kesadaran diri. Kalau kesadaran diri adalah sejenis pengetahuan kognitif yang bersifat inferensial, itu mengimplikasikan kesadaran diri bisa keliru, sebagaimana pengetahuan kita mengenai obyek-obyek di dunia bisa keliru. Namun dalam kenyataannya kesadaran diri tidak pernah keliru.
Tidak mungkin pula kesadaran diri itu merupakan hasil refleksi, sebab refleksi telah selalu mengandaikan kesadaran diri. Melalui refleksi kita memang dapat mengobservasi kesadaran diri, misalnya sekarang ini saya sedang mengetik, namun ini hanya menjelaskan bagaimana kita bersikap terhadap kesadaran diri, dan tidak menjelaskan bagaimana kesadaran diri itu terjadi atau esksis. Kita tidak dapat merefleksikan kesadaran diri untuk mencari asal-usul kesadaran diri.
Dalam disertasi saya di Frankfurt, saya membahas secara kritis proyek filosofis Mazhab Heidelberg ini. Saya menanggapi mereka khususnya dalam kritik mereka terhadap kesadaran diri transendental Kant. Saya mengatakan bahwa kritik mereka terhadap Kant (yang mengatakan bahwa kesadaran diri Kant itu juga tidak mungkin) tidak tepat karena mereka melupakan dimensi transendental filsafat Kant; mereka mengalami Transzendentalsvergessenheit (kelupaan akan transendental). Buku (lihat: https://www.amazon.com/transzendentale…/dp/333910526X) yang berasal dari disertasi saya itu juga digunakan sebagai literatur dalam entri mengenai Dieter Henrich di wikipedia berbahasa Jerman (lihat: https://de.wikipedia.org/wiki/Dieter_Henrich_(Philosoph)
Metafisika sebagai keniscayaan
Dalam perkembangan pemikiran filosofis selanjutnya, Henrich bertolak dari kegelapan ontologis penjelasan genesis kesadaran diri itu untuk mengkonstruksi sebuah sistem metafisika yang bertolak dari subyektivitas.
Henrich mengatakan karena manusia tetap menjadi teka teki bagi dirinya sendiri (ia tidak dapat menjelaskan asal-usul kesadaran dirinya, padahal itu menjadi pengandaian bagi segenap tindakannya) maka manusia harus mengkonstruksi sistem-sistem metafisika yang dapat membantunya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang dihadapi di dalam hidupnya, termasuk mengenai asal-usul kesadaran diri tersebut. Agama adalah salah satu upaya untuk membantu manusia memberikan jawaban atas pertanyaan eksistensial tersebut.
Henrich mengatakan metafisika adalah sebuah kebutuhan eksistensial manusia. Sepanjang hidupnya, katanya, manusia tidak akan pernah berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisis, karena pada dasarnya manusia adalah animal metaphysicum justru karena dia animal rationale. Dengan akal budinya, manusia akan selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak dapat dijawabnya dengan pikiran rasionalnya karena pertanyaan-pertanyaan itu telah berada di luar kemampuan kognitif intelektualnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya tentang asal-usul atau hakikat jiwa, apa yang terjadi setelah kematian, hakikat dunia dan seluruh kenyataan, tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak ada, tentang kehidupan setelah kematian, arti kesadaran, tentang makna dan tujuan kehidupan, tentang keadilan, keindahan, dan lain-lain.
Kendatipun pertanyaan itu tidak ilmiah atau betapapun jawaban yang diberikan untuk pertanyaan itu jauh dari standar ilmiah, bukan berarti pertanyaan dan jawaban itu tidak memiliki rasionalitas tertentu. Kehidupan manusia akan terlalu miskin bila segala sesuatu diukur dan ditangani dengan standar-standar rasionalitas ilmiah yang berpatokan pada ilmu-ilmu alam. Kita juga akan terlalu naif sebagai manusia bila semua pertanyaan yang kita ajukan hanya dijawab dengan mengacu ke lingkup bukti-bukti empiris-ilmiah belaka. Sainstisme atau naturalisme jelas tidak memadai untuk merangkum kompleksitas kemanusiaan kita, demikian Henrich.
Henrich menamai sistem metafisikanya dengan All-Einheitsontologie (Ontologi Kesatuan Segalanya). Ini adalah sistem filsafat yang, dengan bertolak dari subyektivitas, merangkum dan memberikan penjelasan untuk segala multiplisitas kenyataan. Di dalam sistem itu, tema-tema seperti Tuhan, keindahan, politik, manusia dan kesadaran dan lain-lain memperoleh tempat dan jawaban. Kedengarannya seperti sistem filsafat Idealisme yang digagas Hegel.
Bedanya dari filsafat Hegel adalah ontologi Henrich bertolak dari subyektivitas manusia yang berusaha memahami diri dan dunianya, sementara Hegel bertolak dari Roh atau Subyek yang menentukan segalanya. Subyektivitas Henrich bukanlah subyektivitas ala Cartesian yang mau menjadi fondasi dan acuan untuk segala sesuatu; ini adalah konsepsi subyektivitas yang dikritik dalam filsafat Barat modern.
Sistem metafisika Henrich disebut metafisika modern justru karena ia bertolak dari subyek, namun subyek di sini bukanlah subyek yang kaku, fondasional, dan serba mendeterminasi; ia adalah subyek yang hendak memahami dirinya, dan untuk itulah ia menciptakan sistem metafisika. Henrich memahami metafisika bukan dalam arti Aristoteles, yakni pemikiran mengenai ”yang melampaui yang fisik”, melainkan sistem pemikiran mengenai keseluruhan (the whole).
Menarik bahwa dengan sistem metafisikanya, Henrich memperlihatkan alasan kuat bagi manusia modern untuk tetap berbicara mengenai Tuhan. Dalam pandangan Henrich, Tuhan adalah entitas yang tidak dapat diabaikan kalau manusia modern ingin memaknai diri dan kehidupannya. Karena alasan inilah maka Komite Sentral Katolik Jerman pada tahun 1995 mengundang Henrich untuk mendengarkannya memaparkan alasan-alasan filosofis bagi kebutuhan akan Tuhan pada zaman Modern. Henrich juga memiliki teori filosofis tersendiri mengenai agama.
Metode penelitian filsafat Henrich disebut dengan Konstellationsforschung (penelitian konstelasi). Ini adalah metode yang tidak hanya meneliti teks-teks resmi karya seorang filsuf, melainkan juga meneliti surat-surat pribadi, resensi-resensi, percakapan-percakapan, hingga arsip-arsip sezaman. Melalui penelitian tersebut maksud dan pemikiran seorang filsuf dapat diketahui dengan lebih baik dan komprehensif; hal yang mungkin tidak selalu terungkap dalam teks-teks resmi.
Melalui penelitian konstelasi inilah, Henrich menghasilkan beberapa kontribusi penting bagi filsafat modern. Antara lain ia berhasil merevisi pemahaman mengenai filsafat Idealisme Jerman. Selama ini, dalam buku-buku teks sejarah filsafat, Idealisme Jerman selalu dipahami sebagai era pemikiran yang bertolak dari Kant, yang kemudian dilanjutkan Fichte, Schelling dan Hegel sebagai penutup. Filsafat keempat filsuf ini dilihat berada dalam kesatuan garis lurus yang berusaha mengerjakan sebuah tema tertentu: yang bermula dari Kant dan kemudian disempurnakan oleh Hegel (From Kant to Hegel).
Melalui penelitiannya Henrich memperlihatkan bahwa sejarah Filsafat Idealisme Jerman demikian (From Kant to Hegel) itu) adalah klaim Hegel sendiri. Henrich mengatakan bahwa keempat filsuf tersebut memiliki proyek sendiri-sendiri yang berbeda, sehingga ketimbang memahami Idealisme Jerman sebagai era From Kant to Hegel, jauh lebih tepat memahami era ini sebagai Between Kant and Hegel. Henrich menulis-ulang sejarah filsafat Idealisme Jerman.
Melalui penelitian konstelasi ini pula Henrich memperlihatkan jasa besar penyair Hölderlin dalam kelahiran era Idealisme Jerman. Hölderlin memperkenalkan prinsip rekonsiliasi dan Ada (Sein) sebagai asal-usul dan dasar bagi identitas dan perbedaan. Prinsip ini kemudian diadopsi Hegel dalam sistem filsafatnya.
Tidak mengagumi Adorno
Pada tahun 2020, Henrich menerbitkan autobiografi filosofisnya yang ditulis dalam bentuk tanya jawab. Judulnya ”Ins Denken Ziehen” (Ditarik ke Pemikiran). Dalam autobiografi ini kita dapat membaca berbagai hal menarik mengenai pengalaman, kesan dan relasi Henrich dengan para filsuf.
Doktorvater (suvervisor) Henrich untuk penulisan disertasinya adalah Hans-Georg Gadamer. Henrich sering bermain catur dengan Gadamer. Gadamer sendiri meninggal dalam usia 102 tahun pada tahun 2002. Tahun 1968, setelah pensiun dari Heidelberg, Gadamer menjadi profesor tamu di Washington. Gadamer sama sekali tidak fasih berbahasa Inggris, tapi ia mencoba berbicara secara langsung dalam bahasa Inggris dalam kuliah-kuliahnya. Di Washington, Gadamer tinggal di sebuah apartemen universitas Katolik di mana berlaku larangan minum alkohol. Namun setiap malam Gadamer selalu menyeludupkan sebotol anggur merah ke kamarnya, kata Henrich.
Henrich juga yang pertama sekali menyambut Adorno, ketika Adorno pulang dari pengasingan dan mendarat di Frankfurt. Tapi sambutan itu bukan di bandara melainkan di perpustakaan, yakni ketika Adorno masuk perpustakaan dan melihat Henrich duduk sendirian di sana. Adorno menyapa: ”Saya Adorno. Anda kenal saya”, katanya kepada Henrich. Henrich menjawab bahwa ia mengenal Adorno dan juga membaca buku-bukunya. Adorno, yang waktu itu sudah menjadi filsuf besar, berusaha agar Henrich masuk ke dalam lingkaran asistennya. Ia sangat mengagumi Henrich.
Dalam suratnya kepada Horkheimer, Adorno menulis demikian mengenai kemampuan Henrich. ”Ia seorang anak ajaib, anak berusia 22 tahun bernama Henrich, yang kelihatannya seperti Shelley. Ia hapal isi ”Kritik Akal Budi Murni” di luar kepala, dan mampu mendiskusikan problem-problem filsafat Kant dan sangat mendetail dan luar biasa.” (Saya sendiri tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Adorno dengan Shelley dalam suratnya ini).
Namun rupanya Henrich tidak begitu mengagumi Adorno. Menurutnya, filsafat Adorno bernada sofis. Buku Adorno yang sangat terkenal, Negative Dialektik, menurut Henrich mengandung banyak jargon yang membuat diskusi mengenai dialektika Hegel menjadi kurang mendalam. Perlahan-lahan Henrich kemudian menjauh dari Adorno.
Oleh Mgr Dr Paulinus Yan Ola, MSF, Uskup Tanjung Selor, Kalimantan Utara
Sejak awal Desember Kota Solo diselimuti aneka warna lampu yang memanjakan mata di senja dan malam hari. Sebuah romantisme perayaan Natal dibangun. Ia mirip apa yang terlihat di kota-kota besar dunia, termasuk kota Roma. Dalam ritus tahunan ini, manusia berharap Allah menyapa dalam doa, pujian, dan kegembiraan.
Romantisme dan harapan akan kasih Allah mendapat konteksnya karena Natal tahun ini dalam situasi yang tampak kelam. Ada peperangan dan konflik berkepanjangan. Ada gempa bumi dan letusan gunung api. Natal dibayang-bayangi berita mencemaskan tentang kemungkinan memburuknya kondisi ekonomi di tataran mondial sebagai dampak perang Rusia Ukraina, pengetatan moneter global dan perlambatan ekonomi China (Economist Intelligence Unit, 2022).
Indonesia pun diprediksi bisa mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kelesuan perdagangan, pemutusan hubungan kerja, dan melemahnya daya beli masyarakat, bisa terjadi bila tidak diantisipasi (Kompas, 05/12/2022).
Namun, kita percaya Natal bukanlah sekadar ritus penghibur keputus-asaan. Melalui Yesus umat Kristiani mengimani bahwa kegelapan dunia diterangi oleh Allah sendiri. Tuhan datang melawat umatNya. Dalam kegelapan dan ketakutan manusia, Natal memancarkan harapan baru di tengah kesuraman hidup.
Kedamaian yang dirindukan, yang tampak tak kunjung tercapai bukan suatu impian kosong. Ia merupakan sebuah janji Allah yang dinubuatkan dan dapat tercapai kendati belum sempurna. Perayaan Natal membangkitkan kembali percikan harapan akan kehidupan yang damai dan lebih manusiawi.
Harapan akan perubahan hidup itu tidak terjadi seketika. Kehadiran Allah dalam diri Yesus yang tinggal di antara manusia bukan untuk mengambil alih tanggung jawab manusia. Diperlukan keterlibatan manusia dalam menciptakan kondisi yang dirindukan itu agar terwujud secara bertahap. Tindakan Allah dalam diri Yesus terwujud melalui keterlibatan manusia beriman.
Menanggapi dengan kasih
Perang dan berbagai konflik yang dialami menjadi indikasi kuat bagi orang Kristiani yang merayakan Natal untuk menanggapinya. Allah yang diimani orang Kristiani, melalui Yesus selalu menunjuk “kasih” sebagai jalan perjuangan.
Itulah sebabnya dalam suratnya kepada bangsa Ukraina yang menjadi korban peperangan, Paus Fransiskus meratapi kegagalan untuk mengasihi. Melihat para korban perang Paus Fransiskus mengatakan, “Di dalam diri masing-masing mereka, seluruh umat manusia menderita kekalahan.” (Surat Paus Fransiskus, 24 November 2022).
Menanggapi berbagai situasi di atas, dalam perspektif rohani, Natal tahun ini mendorong Gereja-Gereja di Indonesia untuk merenungkan kisah tiga orang bijaksana yang dalam kisah Alkitab mengunjungi Yesus yang baru dilahirkan. Mereka mau menyembah Yesus sebagai “Raja” dan hal itu membangkitkan kepanikan dan kegelisahan Raja Herodes sebagai penguasa setempat.
Motif politik kekuasaan mendorong Herodes untuk berpura-pura menjadi pula penyembah Raja yang baru lahir. Tiga orang bijaksana dari Timur ingin ditunggangi Herodes dengan mengorek informasi agar dapat “menghabisi” Yesus, bayi yang dilihat sebagai “musuh” dan lawan politiknya.
Niat busuk Herodes tidak sampai terlaksana karena Allah mengarahkan ketiga orang bijaksana dari Timur itu kembali ke tempat asalnya melalui jalan lain tanpa menemui lagi Herodes. Itulah Tema Natal Nasional tahun ini, “…pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain” (Matius 2:12).
Pesan rohani
Ada beberapa pesan rohani dari kisah Alkitab di atas. Pertama, adalah ajakan untuk merintis jalan-jalan baru setelah perjumpaan dengan Yesus dalam peristiwa Natal.
Natal bukanlah sekadar seremoni emosional yang mengarah pada pemuasan kesenangan superfisial dan hedonistis. Ia menyangkut perintisan jalan-jalan baru pengorbanan diri agar lahir harapan-harapan baru dan realitas baru menuju kebaikan bersama warga-bangsa.
Yesus bukanlah alasan untuk berfoya-foya dalam sebuah romantisme kosong. Ia menjadi panggilan mengikuti pembaruan rohani Yesus melalui “revolusi kasih” yang membawaNya pada kematian di kayu Salib.
Pesan kedua adalah, perlunya dihentikan penggunaan agama sebagai “kendaraan” untuk berbagai kepentingan perebutan kekuasaan maupun motif ekonomi dan keuntungan pribadi seperti dilakukan Herodes. Agama jangan digunakan sebagai sarana kekerasan untuk kepentingan pribadi.
Semua agama dipanggil menjalankan “revolusi kasih” karena “kebencian bukanlah hakikat agama.”
Diskursus politik dan eskalasi ketegangan sosial menjelang Pemilihan Umum hendaknya steril dari instrumentalisasi agama. Semua agama dipanggil menjalankan “revolusi kasih” karena “kencian bukanlah hakikat agama.”
Ketiga, “revolusi kasih” yakni pengorbanan diri yang dipilih Yesus perlu dilanjutkan sebagai jalan membangun kesejahteraan umum. Caranya adalah melawan “ketidakpedulian.” Ada globalisasi ketidakpedulian yang menyebabkan dunia berada dalam keterpurukan (Paus Fransiskus, 2015).
Ketidakpedulian yang sangat besar ditandai oleh aneka bentuk pertikaian yang berbasis keinginan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri dan mengabaikan orang lain.
Natal memperlihatkan bahwa Allah peduli dan memanggil manusia untuk peduli. Di sana ada bentuk “pengosongan diri” yang berpuncak pada kasih yang total, agape. Bentuknya adalah “salib.” Kayu silang itu adalah tanda kepedulian Allah yang paling tinggi yakni kasih Yesus yang tersalib.
Natal membawa panggilan etis-spiritual bagi yang merayakannya untuk mengambil bagian dalam kepedulian Allah terhadap penderitaan manusia. Ia bukan perayaan untuk kesenangan pribadi, bukan kendaraan politik kekuasaan apalagi pelampiasan kesenangan hedonis semata.
Natal dengan demikian bukanlah sekadar sebuah ritus emosional kosong. Ia mengungkap kasih Allah sekaligus panggilan kepada manusia untuk mengasihi sampai mengorbankan diri demi kehidupan bersama. Situasi suram manusia tidak untuk diratapi tetapi menjadi kesempatan untuk mewujudkan kasih.
Setelah musibah Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004, tsunami pasti bukamlah sekedar “ombak yang berlabuh” sebagaimana bahasa Jepang mengartikannya. Dengan korban jiwa jauh di atas 100.000 jiwa, yang hidupnya direnggut hanya dalam waktu lima hingga sepuluh menit, tsunami, gelombang dahsyat yang konon menerabas pantai dan daratan dengan kecepatan 75 km per jam, setelah melewati lautan dengan kecepatan di atas 800 km per jam, lebih tepat diartikan sebaai “maut yang berlabuh”. Banda Aceh yang penuh sejarah yang gemilang – dalam tata negara, kebudayaan Islam dan perdagangan – menjelma dalam beberapa menit menjadi sebuah kuburan terbesar dan reruntuhan yang paling luas dalam sejarah modern, dengan nisan yang hanya tertulis dalam ingatan atau bawah – sadar kita.
Indonesia hanyut dalam duka-nestapa dan dunia dikejutkan oleh penderitaan sejumlah besar mahluk yang bernama manusia. Dalam beberapa hari yang menyusul tingkahlaku orang-orang yang masih hidup, dan bangsa-bangsa yang menyaksikan bencana itu, seakan-akan berubah drastis: ideologi menjadi tidak relevan, perbedaan agama menjadi tidak penting, persaingan politik dan ekonomi antar-bangsa dilupakan sementara waktu, karena semua pihak bersatu padu dalam simpati terhadap penderitaan manusia yang mendekati batas putus-asa. Aceh tegak sebagai dokumen yang untuk sekian kalinya memperingatkan dunia bahwa kemajuan dan kemakmuran akan selalu cenderung memilah-milah, membedakan dan bahkan memisahkan, tetapi penderitaan manusia selalu punya energi untuk mempersatukan, menghimpun dan mengumpul-satukan. Pernyataan dan komitmen bantuan mengalir dari segala penjuru tanah air dan dari negara-negara asing, dengan kecepatan dan dalam besaran yang mungkin sebanding dengan kecepatan dan besarnya tsunami itu sendiri.
Ribuan anak-anak kehilangan ayah bunda dan mungkin juga seluruh kaum kerabatnya – sementara mereka sendiri belum sempat memahami apa artinya menjadi yatim piatu dan betapa pula rasanya hidup sebatang kara. Ayah ibu yang kehilangan anak mencoba mempertahankan harapan untuk masih dapat menemukan anaknya kembali, hidup atau mati, di antara timbunan mayat atau tumpukan sampah. Mereka yang belum sanggup mencerna semua pengalaman dan kehilangan menjadi limbung jiwanya sehingga bahkan tak sanggup lagi bertanya dan bersedih. Mereka memasuki rawa-rawa kejiwaan yang bernama bawah-sadar sebagai tempat pelarian dan cara memalingkan muka dari rasa pahit yang tak tertanggukan. Orang-orang di luar Aceh mencoba berspekulasi tentang apa yang dikehendaki Tuhan dari bencana ini, sementara orang Aceh sendiri barangkali mencoba menyerah kepada apa pun yang menjadi kehendak Tuhan. Atas cara yang sama para korban bencana menerima dengan terima kasih bantuan makanan, air bersih dan pakian serta obat-obatan yang berdatangan dari segala pihak, sementara para “petualang politik” mulai sibuk meniup isu tentang motf dan agenda tersembunyi dari orang-orang yang mengulurkan bantuan.
Apa pun soalnya di Aceh ada bencana, yang oleh PBB dinyatakan sebagai bencana internasional, yaitu suatu musibah yang menimpa seluruh dunia dan segala bangsa. Di banyak negara Eropah dan mungkin juga di tempat lain para warganya diwajibkan menundukan kepala dan mengheningkan cipta selama satu menit, sementara di Indonesia bendera nasional berkibar setengah tiang selama tiga hari. Media masa nasional dan internasional memberitaknnya dengan tekun selama dua minggu atau lebih, sementara tayangan televisi tentang bencana Aceh membuat berbagai acara hiburan dan bahkan terlihat sebagai “pornografi”. Orang mulai bertany apakah bencana Aceh menjadi “titik balik” dalam kesadaran dan perilaku nasional, seperti halnya jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945 atau peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat telah mengubah kesadaran dan perilaku orang Jepang atau para warga Amerika Serikat. Apakah orang akan semakin menghormati semua yang bernama kehidupan? Apakah kita sendiri semakin sadar tentang rapuhnya bumi tempat kita hidup, yang kata para ahli hanya terdiri dari 16 lempengan yang melayang di atas cairan berapi? Apakah bumi semakin dirawat atau manusia yang harus diruwat?
Tsunami Aceh ternyata tak hanya menghempas Nangroe – Aceh – Darussalam (NAD) tetapi sekaligus menghempas jiwa kita, menghamyutkan demikan banyak harapan sambil meninggalkan tumpukan sampah dan reruntuhan dalam rohani kita.
Adalah seorang filosof Prancis – Rene Descartes (1596-1650) – yang mula pertama mengajukan gagasan bahwa hidup manusia mempunyai dua belahan. Yang satu adalah dunia di luar manusia yang dinamakannya kosmologi berupa susunan alam semesta dan belahan lainnya adalah dunia – dalam manusia sendiri – pikiran, disposisi, mentalitas dan rohaninya – yang dinamakan psikologi. Yang pertama dinamakannyares extensa yang hanya terdiri dari luasan, yang kedua berupa res cogitans yang sanggup berpikir. Pembagian ini sekaligus menunjukkan keyakinan Descartes bahwa dibandingkan dengan alam luar maka manusia seakan-akan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi karena kemampuan akal-budinya. Maka hanya manusia yang sanggup berkata “saya berpikir, maka saya ada” atau “cogito, ergo sum”, suatu hal yang tak mungkin diucapkan oleh sebuah gunung atau sebatang pohon kelapa.
Menghadapi bencana Aceh, rasanya tak mungkin lagi seorang di Indonesia saat ini masih berani bersumbar mengulang ucapan Descartes tersebut. Karena tsunami alam-semesta atau kosmologi ternyata mempunyai cara sendiri untuk memberitahukan bahwa dia ada. Tsunami di ujung utara pulau Sumatera itu menegaskan sesuatu yang lain: “aku membinasakan, maka aku ada” atau deleo ergo sum. Dia tidak mempunyai pikiran tetapi dia jelas mempunyai besaran, luasan, tenaga yang dapat menhancurkan. Tanpa pikiran, alam luar itu bagaikan tenaga buta yang bergerak secara mekanis menurut hukum-hukumnya sendiri, berupa peraturan yang dipatuhi oleh kekuatan semesta ini, tanpa mempertimbangkan mengapa dan untuk apa lempengan bumi yang satu harus bergeser dan menabrak lempengan lainnya.
Tidaklah mengherankan bahwa renungan filsafat pertama yang dikenal dalam sejarah adalah kesibukan para pemikir Yunani dari Elea dan Miletos 6 abad sebelum Masehi dalam memandang dan berspekulasi tentang alam semesta, agar dari pengamatan terhadap tingkahlaku alam itu dapat ditarik kesimpulan dan pelajaran untuk hidup manusia sendiri. Pertanyaan pertama yang diajukan Thales dan kemudian diteruskan oleh Pythagoras adalah apakah yang menjadi intisari atau arche alam semesta ini, apakah air, api, udara atau yang lain? Yang khas dalam renungan-renungan tentang alam tersebut ialah usaha para pemikir itu untuk menjadikan alam besar ini sumber kebijaksanaan untuk perilaku manusia sendiri, dan bukannya menjadikan alam semesta ini sumberdaya yang boleh dikuras dan dieksploitasi tanpa mempedulikan batas daya dukungnya. Parmenides dari masa Yunani Antik mengatakan alam itu berwujud suatu “Ada”, sedangkan Herakleitos mengajarkan bahwa inti dari alam semesta ini tak lain dari perubahan. Kalau segala gejala alam ini mengalir bagaikan aliran sungai, maka yang tetap dalam alam ini hanyalah aliran itu. Diterapkan dalam pengalaman kita tentang Aceh apakah bencana itu sesungguhnya sesuatu yang “ada” atau sekedar “mengalir” dalam hidup kita?
Mengikuti pemikiran Descartes, tsunami Aceh telah memporak-porandakan alam-luar Aceh, infrastruktur, kehidupan fisik manusia, mata pencaharian, komunikasi, dan bahkan kampong halaman. Pertanyaannya adalah apakah perubahan kosmologis tersebut akan mempengaruhi psikologi Aceh, dunia –dalam Aceh sendiri berupa identitas mereka, semangat hidup, kebudayaan Islamnya, dan kebanggaannya tentang sejarahnya sendiri. Semua kita tahu infrastruktur dapat dapat dibangun kembali, sarana transportasi dan komunikasi dapat dipulihkan, gedung-gedung dan perumaha dapat didirikan kembali, dengan bantuan berbagai pihak yang mudah-mudahan dapat dikelola dengan baik. Imbauan pemerintah agar anak-anak Aceh yang masih selamat jangan dibawa ke luar Aceh jelas berhubungan dengan soal ini. Satu generasi telah hilang sebagian besar anggotanya, dan sementara ini yang masih tertinggal mungkin mencari perlindungan ke pihak-pihak di luar Aceh. Rupanya perlu dipikirkan suatu kebijakan pendidikan anak-anak Aceh agar supaya mereka bukan saja dapat mengatasi trauma bencana itu, tetapi dapat menemukan kembali pertautan dirinya dengan akar-akar kebudayaan dan sumber-sumber tradisinya seperti semula.
Tatkala Jerman dikalahkan selama perang dunia kedua, dan ekonominya hancur berantakan, ketika tenaga-tenaga lelaki tua dan muda pulang dengan loyo dari medan perang yang tak lagi dimenamgkannya, maka muncul semboyan yang amat menyentuh hati: Noch is Deutshland nicht verloren (Jerman belum hilang lenyap), yang maknanya mirip ungkapan Hang Tuah: “tak hilang Melayu di bumi”. Apakah Aceh akan hilang dari bumi atau bertahan di masa depan, tidak hanya tergantung dari orang Aceh sendiri, yang saat ini kehilangan hampir segala yang mereka miliki, tetapi tergantung dari pihak lain, khususnya pemerintah RI, untuk memulihkan Aceh dalam psikologis mereka. Bantuan untuk memulihkan prasarana dan kerusakan fisik dapat disiapkan oleh pemerintah Indonesia dan negara asing dan pihak – pihak yang bersimpati, tetapi bantuan untuk menemukan kembali identitas Aceh dan menghidupkan lagi tradisi mereka sangat tergantung dari orang-orang Aceh sendiri, dan berbagai kelompok di tanah air yang secara sadar mengidentifikasikan diri dan kegiatan mereka dengan kepentingan Aceh.
Sejarah dunia memberikan banyak pelajaran bahwa suatu bangsa yang hancur dapat bangkit dari keruntuhannya berkat bantuan pihak lain. Ekonomi negara-negara Eropah yang luluh-lantak karena perang dunia kedua dicoba dipulihkan melalui ERP atau European Recovery Program yang diusulkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika serika, George C. Marshall, di universitas Harvard, AS, pada 5 Juni 1947, dan kemudian lebih dikenal sebagai Marshall Plan. Bantuan yang ditanda-tangani oleh 17 negara itu terbukti sanggup memulihkan kembali ekonomi negara-negara Eropah, khususnya Jerman sebagai pihak penyebab perang, yang dalam waktu satu dasawarsa dapat memaklumkan dirinya pada awal tahun 60-an sebagai Wirtschaftswunder atau keajaiban ekonomi, di bawah pimpinan politik Adenauer dan menteri ekonominya Prof. Ludwig Erhard.
Pelajaran yang dapat diperoleh dari berbagai sejarah bantuan adalah bahwa berhasilnya bantuan akan tergantung dari penghayatan dan penerapan filsafat pembangunan tentang prinsip help for self-help. Efektivitas suatu bantuan pada intinya tidak pernah tergantung seluruhnya pada pemberi bantuan tetapi juga dan terutama pada penerima bantuan. Memang kita mengetahui bahwa dalam banyak paket bantuan pihak pemberi bantuan selalu memberikan persyaratan atau conditionalities yang cenderung menguntungkan mereka sendiri dan tidak begitu membawa manfaat bagi penerima bantuan. Akan tetapi apakah persyaratn-persyaratan itu akan diterapkan atau tidak buat sebagian besarnya tergantung dari negosiasi pihak penerima dan pemberi bantuan.
Komitmen bantuan uang dari negara-negara asing untuk Aceh sudah disiarkan kepada publik, dan besarnya tak kurang dari 9 milyar dollar AS, atau kira-kira 72 trilyun rupiah, yaitu jumlah yang lebih besar dari subsisdi BBM yang sementara ini sedang dalam perdebatan untuk dihapus atau tidak dihapus oleh pemerintah RI. Jumlah itu baru berupa komitmen negara-negara asing belum termasuk bantuan yang di mobilisasi dari dalam negeri sendiri. Semua kita tahu bahwa komitmen untuk bantuan itu barulah dilaksanakan, kalau pihak penerima bantuan, dalam hal ini Aceh melalui pemerintah RI dan kelompok-kelompok masyarakat Imdonesia, dapat menyodorkan program aksi yang konkret tentang untuk apa dan bagaimana bantuan-bantuan tersebut akan digunakan. Selagi tidak lagi ada usul tentang program aksi yang dapat diajukan dan diterima oleh pihak pemberi bantuan, dapat dipastikan bahwa bantuan itu tidak akan segera cair. Ini artinya pemerintah dan masyarakat Indonesia yang mewakili Aceh, harus bekerja keras pada saat ini untuk menyusun berbagai usul program aksi yang dapat diajukan secara meyakinkan kepada pihak pemberi bantuan, termasuk juga rencana tentang bagaimana penggunaan dana-dana itu dapat diawasi dan dipertanggungjawabkan.
Dari pembicaraan selintas dengan satu atau dua yayasan asing di Jakarta yang juga menyalurkan dana bantuan kepada kelompok-kelompok yang ingin membantu Aceh, terdengar keluhan betapa sulitnya mereka mendapatkan usul program aksi yang dapat menjadi pegangan dan dasar bagi mereka untuk mencairkan bantuan yang mereka siapkan. Kelompok-kelompok relawan dan aktivis ini harus berulangkali dihubungi dan sedikit “diuber-uber” agar menyerahkan rencana aksi mereka. Dapat dipahami bahwa di tengah berbagai kesibukan membatu Aceh, mungkin sulit mengambil waktu yang tenang untuk menyusun rencana aksi yang diinginkan. Namun demikian, tidak dapat dihindari kenyataan bahwa rencana aksi itu – demi Aceh dan para korban – tetap harus disiapkan secepat mungkin, sebagai bagian komitmen dari kesungguhan membantu para korban di Nangroe-Aceh Darussalam. Para pemberi bantuan, demi akuntabilitas, harus mempertanggungjawabkan bantuan yang mereka salurkan, dan ini kembali sangat tergatung pada kelompok-kelompok relawan dan aktivis yang menerima bantuan tersebut untuk disalurkan kepada rakyat dan masyarakat Aceh.
Ucapan “tak ada makan siang gratis” tidak hanya dapat dijadikan sindiran untuk pemberi bantuan, tetapi juga selayaknya menjadi pecut bagi pihak-pihak kita di Indonesia yang menjadi penerima bantuan Aceh. Tidak ada pemberi bantuan yang akan dengan tenang menyerahkan bantuan mereka, tanpa tahu hendak dipengapakan bantuan itu oleh para calon penerimanya. Pada titik inilah akan teruji apakah prinsip help for self-help itu juga dapat diperlihatkan oleh pihak Indonesia yang hendak menolong Aceh yang lagi hancur-hancur belahan luarnya dan centang-perenang belahan dalamnya. Organisasi pemulihan Aceh sudah dimulai dari organisasi penyaluran bantuan-bantuan itu, yang kembali dapat diperlihatkan oleh kesiapan setiap kelompok untuk menyusun rencana aksi mereka. Tanpa rencana aksi ini, pencairan bantuan akan selalu tertunda, sementara anak-anak dan orang dewasa yang memerlukan bantuan itu dari menit ke menit terpaksa menahan lapar dan dingin di malam hari semata-mata karena semangat membantu Aceh tidak disertai oleh kesiapan menyusun rencana aksi yang merupakan syarat pertama pencairan dana bantuan.
Adalah jelas bahwa rencana aksi ini dapat disusun dalam berbagai tingkatnya. Pemerintah Indonesia dapat menyusun rencana aksinya melalui cabinet yang kemudian hasilnya dapat berbentuk keputusan presiden. Namun berbagai lembaga swadaya masyarakat dapat menyusun rencana aksi mereka dalam bentuk people to people assistance. Bersama dan terus membesarnya angka-angka yang merupakan komitmen negara-negara sahabat seyogyanya diimbangi dengan publikasi yang sama gencarnya tentang rencana aksi dan menerapkannya, kita ibarat “mengharapakan elang di langit, punai di tangan dilepaskan”.
Besarnya perhatian kepada Aceh tentu saja diakibtkan oleh besarnya musibah yang melanda daerah itu dan juga oleh berliku-likunya rahasia kecelakaan yang tidak selalu dapat dipahami. Sampai dengan saat karangan ini ditulis, mayat dalam jumlah puluhan masih juga ditemukan, dan anak-anak yang hilang berhasil dipertemukan kembali dengan orang tua mereka yang barangkali telah melepaskan segala harapan. Perjumpaan yang diusahakan melalui sebuah stasiun televisi nasional, masih dapat disaksikan sampai hari ini di layar kaca. Setelah lenyap tak tentu rimba selama beberapa hari, pertemuan yang tak dinanya menjadi peristiwa kemanusiaan yang dirakan dengan penuh keharuan dan sukacita, yang barangkali taka da presedennya dalam hidup mereka yang mengalaminya. Menemukan kembali anak yang hilang, berjumpa kembali dengan orang tua yang sudah kehabisan tenaga mencari adalah ibarat mendapatkan kembali kehidupan yang telah sirna dan merayakan harapan yang dipulihkan tepat pada saat harapan itu akan punah.
Kita yang tak terlibat langsung dalam kehilangan dan pertemuan itu dapat melihat bagaimana rahasia kehidupan manusia disingkapkan selapis demi selapis. Bencana memang berkuasa membinasakan, tetapi hidup dan kegembiraan manusia di sela-sela kehancuran, sebagai perkara yang terlalu berharga dan milik yang tak dapat dibinasakan sampai tuntas. Bahkan seorang yang sepenuhnya tak percaya kepada Tuhan tak dapat mengelak bahwa imannya kepada hidup ini sendiri semakin diperkuat.
Hati siapa tak gentar mendengar kisah seorang mahasiswi kedokteran muda usia yang mencoba bertahan di tengah gemuruh air yang lebih dahsyat dari beberapa banjir bandang digabung satu, hanya untuk merekam dengan kameranya riwayat perkembangan musibah itu dari menit ke menit selama empat jam, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri sambil berdoa agar rekamannya mudah-mudahan dapat diselamtkan. Tidak terbersit rasa bangga atau puas diri dalam wawancara televisi dengannya. Segala sesuatu tampak wajar belaka dalam keyakinannya, karena dalam sikap sumarah yang mengangumkan kematian merupakan saat yang dapat diterima dengan wajar tanpa rasa gentar, tanpa sinisme dan tanpa keangkuhan hati. Dia mencoba bertahan dengan kameranya, merekam segala sesuatu yang sempat direkamnya “selama masih ada waktu” dengan harapan bahwa apa yang dilakukannya dapat menjadi pelajaran untuk orang lain, seandainya pun dirinya sudah tiada karena ditelan gelombang musibah.
Cut Putri, mahasiswi kedokteran itu, tidak hanya merekam dengan kameranya, tetapi mengajarkan – tanpa sendiri diniatkannya – bahwa hidup adalah karunia yang menyenangkan dan kematian bukanlah akhir yang menakutkan. Ketenangan dan keteguhan hatinya selama empat jam merekam amukan tsunami dan segala yang dibinasakannya, tingkahlakunya menghadapi buasnya alam, ingatannya untuk merekam pengalaman itu untuk orang lain di tempat lain dan di masa yang lain, sikap tak acuh terhadap hidup-matinya sendiri – kini telah menjadi salah satu dokumen kemanusiaan yang dapat menyumbang keteguhan hati kepada banyak orang lain yang mengenal kisahnya. Karena kameranya memang menyimpan dengan cermat perkembangan bencana dari waktu ke waktu, tetapi dirinya sendiri telah menjelma menjadi rekaman tentang harapam dan kepercayaan terhadap kehidupan.
Cut Putri mungkin bukan satu-satunya contoh tentang adanya “batu karang” yang tetap tegak dalam dahsyatnya bencana Aceh. Banyak kisah-kisah tentang keteguhan hati manusia, kemantapan jiwa, dan tak tergoyahkannya kepercayaan dan ketenangan jiwa menanggapi perubahan besar di dunia luar, atau tentang penyerhan diri yang tanpa ragu kepada misteri masa depan, dan perasaan tahu syukur terhadap kesempatan kecil yang masih diperoleh untuk melanjutkan hidup – masih tetap tersembunyi dari pengetahuan umum. Usaha orang Aceh dan keterbukaan para relawan untuk membongkar sampah dan lumpur, atau menggeser mayat dan reruntuhan untuk menemukan seorang bayi atau seorang tua yang masih hidup, sekarang telah menjadi tamsil tentang ikhtiar manusia dalam mencoba mendaptkan harapan di tengah kesia-siaan dan membangun kepercayaan di hadapan absurditas yang tak terelakkan.
Bencana memang bagian dari kosmologi kita. Dunia luar itu ternyata punya kemauan tersendiri yang tak selalu sejalan dengan harapan dan aspirasi dalam psikologi manusia, dan tidak selalu dapat dicerna oleh otak manusia, yang menurut Descartes, adalah satu-satunya res cogitans, atau mahluk di muka bumi yang dapat berpikir. Bagaimana dapat dipahami bahwa daerah pantai sebelah Barat Aceh yang langsung ada di depan episentrum seperti Tapaktuan, Kandang, Bakongan dan Singkel tidak terkena hempasan tsunami, yang malahan menghancurkan Lhokseumawe di pantai Timur Aceh? Mengapa pula Banda Aceh yang dilanda tsunami sementara Sabang di sebelah utaranya selamat, sementara tsunami harus lewat di sana untuk tiba ke pantai Timur atau ke Myanmar?
Aceh dengan bencana dan korbannya kini meninggalkan pelajaran buat siapa saja bahwa tak selalu manusia dapat membusung dada bahwa dia dapat berbuat sesuka hatinya dengan alam besar di luar dirinya, yang bagaimana pun harus dihormati dan turut dijaganya seperti seorang sahabat menghormati sahabatnya, atau seorang ibu mencintai anaknya. Berbagai tradisi komunitas-komunitas di tanah air tak pernah lupa mengingatkan bahwa alam semesta adalah mitra hidup manusia yang patut dijaga dengan rasa sayang, hormat dan bahkan rasa gentar. Sebelum ekologi menjadi ideologi yang gemuruh di berbagai belahan bumi, berbagai suku bangsa di Nusantara telah yakin sedari dulu bahwa antara manusia dan alam yang dihuninya ada kekerabatan dan persaudaraan. Sayang, ilmu pengetahuan, teknologi dan industry, yang menyelidiki dan memanfaatkan pengetahuan tentang hokum-hukum alam, akhirnya lebih cenderung membawa manusia kepada keyakinan sebaliknya. Seakan-akan bumi dan segala isinya adalah harta liar yang boleh diambil oleh siapa yang cepat dan nekat, seakan terhadap sungai, gunung dan pepohonan orang boleh bertindak sebagai predator yang semena-mena, seakan manusia mempunyai hak untuk hanya mengambil, mengeruk, mengotorkan dan meninggalkan dalam keadaan terbengkelai, tanpa mengingat bahwa untuk bumi kita pun berlaku peribahasa: “seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul”, daya dukung bumi telah dipersetankan, sehingga ucapan George Orwell tentang kekacauan bahasa dapat diterapkan dengan tepat untuk ekologi Indonesia: kalau seorang menghancurkan bumi, maka bumi akan menghancurkannya.
Bencana adalah bagian dari krisis sedangkan krisis adalah bagian dari terungkapnya kebenaran. Gempa dan banjir menguji kekuatan bangunan sebuah gedung, tetapi sekaligus mengetes psikologi manusia entah dia berhitung dengan risiko dan kemungkinan bahaya, atau cuma terlena dalam apa yang dianggap menjadi pencapaian dan keberhasilannya. Setiap bencana dan musibah, cepat atau lambat, akan menyingkapkan kesiapan masyarakat dan kesiapan pemerintah, mengkonfirmasi lancer atau macetnya informasi, menguji tingkat responsive atau tingkat indiferennya orang terhadap informasi yang diterimanya, dan juga memperlihatkan apakah infrastrukrur yang ada dan birokrasi yang mengaturnya mempunyai antisipasi terhadap apa yang tak diinginkan tetapi selalu mungkin terjadi. Mengharapkan yang terbaik sambil bersiap untuk yang terburuk – nampaknya semakin mendesak untuk dijadikan etos nasional Indonesia Bumi ternyata bukanlah surga dan dunia bukanlah harmoni yang selalu aman dalam keseimbangan.
Kehancuran alam-luar tak dapat tidak membawa dampak pada dunia-dalam manusia dan pada sikap orang terhadap psikologinya, apakah dia memilih untuk membereskannya atau membiarkannya hancur bersama robohnya rumah tempat tinggal. Apa yang menjadi gelombang besar dalam alam-luar menjelma menjadi pertanyaan reflektif dalam belahan-dalam manusia. Politik tidak pantas lagi hanya menjadi soal perebutan kekuasaan atau dagang-sapi antar partai, uang untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat tak patut lagi dipermainkan dalam korupsi yang semakin hari semakin gelembung dan mendekati tahap pervesi. Indonesia rupanya tidak lagi terkejut, jangankan pula merasa gundah, bahwa praktek korupsi yang ada sekarang yang terbesar dalam sejarah bangsa-bangsa moderen. Kita akhirnya tak perlu menunggu datangnya bencana lain yang akan menyingkapkan kelemahan, yang tidak dicoba untuk diatasi, tetapi selalu diupayakan untuk disembunyikan. Kenyataan bahwa Banda Aceh dan kota-kota lain di Aceh musnah pada 26 Januari 2005 dan bahwa respons nasional baru terlihat pada 27 januari 2005 akan tetap menjadi dokumen sejarah yang tak terhapuskan tentang betapa siap tak-siapnya kita sebagai bangsa dan negara dalam menaggapi suatu persoalan yang telah mengejutkan seantero dunia.
Kata orang-orang bijak, pengalaman tidak pernah mengubah dengan sendirinya kesadaran dan perilaku orang yang mengalami. Yang membuat perubahan hanyalah refleksi tentang pengalaman, untuk menarik pelajaran dari padanya tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya dihindari pada kesempatan lain. Kalau bencana besar Aceh tak juga sanggup membuat kita di Indonesia berpikir ulang tentang kebiasaan-kebiasaan kita dalam politik dan pengelolaan kekuasaan, tentang tanggungjawab dan solidaritas terhadap orang lain – tidak saja dalam bencana tatpi juga dalam kehidupan sehari-hari, tentang prasangka antar kelompok yang seringkali tidak berdasar tetapi selalu dikompromi oleh orang-orang yang sedang haus dan lapar akan kekuasaan, tentang komitmen kepada kejujuran dan rasa malu terhadap penipuan dan kejahatan, maka rupa-rupanya tak ada lagi persanbungan atau titian apa pun antara kosmologi dan psikologi. Kalau dunia-luar tak bersentuhan lagi dengan dunia-dalam, kalau keinginan dan hasrat kejiwaan sudah bergerak liar tanpa persinggungan dengan alam-luar, maka psikologi itu sendiri barangkali sudah mengalami krisis dan bencana besar, sekali pun tak ada tsunami yang membenturkan gelombangnya ke pantai dan merobohkan tembok-tembok kota.
Tsunami – menurut makna aslinya dalam bahasa Jepang adalah “ombak yang berlabuh”. Alangkah indahnya makna itu. Arti itu terlalu manis kalau orang berhadapan dengan gelombang setinggi pohon kelapa yang mengakhiri hidup puluhan ribu orang dengan sekali hempas. Di Aceh, Meulaboh dan Lhokseumawe tsunami telah berubah menjadi “maut yang berlabuh”. Bencana itu bukan saja meruntuhkan gedung dan jembatan serta jalanan, tetapi menerobos juga dalam dinding-dinding dalam kehidupan sosial dan politik kita yang selama ini menjadi tempat persembunyian yang aman bagi berbagai kelemahan, penyelewengan atau prasangka. Tsunami mengungkapkan tak-berdayanya manusia atau ketabahan menghadapi bencana dan maut, membeberkan kesiapan dan kegagapan masyarakat dan pemerintah dalam menanggapinya, memperlihatkan kesejatian dan kepalsuan hubungan antar-kelompok dan antar-bangsa, serta menyatakan bahwa tak ada bangsa yang dapat hidup dalam kesendirian sekali pun dia barangkali menghendakinya. Pada titik itu tsunami menjelma menjadi “kebenaran yang berlabuh”.
Akan tetapi kebenaran itu tak perlu menakutkan siapa pun. Bertumpuknya bantuan, simpati nasional, komitmen internasional, dan kesungguhan berbagai kelompok dalam penanganan bencana itu, mulai memperlihatkan prespektif lainnya bahwa Aceh adalah kita, dan kita adalah sebagian dari Aceh. Orang-luar atau orang-dalam hampir tak ada artinya pada saat ini, karena kemanusiaan dan solidaritas mempunyai tenagnya sendiri dalam menerobos batas-batas. Pada saat itu tsunami dapat berubah pula dari “kebenaran yang berlabuh” menjadi “harapan yang berlabuh”.
Oleh RD Poya Lucius Hobamata, Imam Keuskupan Pangkalpinang
Natal selalu istimewa. Ia istimewa karena dirayakan di ujung ziarah setelah setahun menyusuri lorong-lorong kehidupan dalam terang dan gelap, menghirup berbagai aroma wangi dan busuk, merasakan aneka persitiwa yang terkadang membuat seseorang berjalan tegak, terkadang pula harus merayap menyatu debu. Dalam pergulatan dengan aneka warna kehidupan seperti itu, muncul pertanyaan mengapa cuaca kehidupan harus dicicipi dalam beragam rasa? Mengapa Tuhan tidak menunjukkan kuasa-Nya yang paling ultim agar cukup satu rasa untuk dicicipi oleh semua, sehingga tidak ada lagi tangisan, jeritan, dan sumpah serapah? Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul ketika menyaksikan senyuman lebar segelintir orang dengan hati tampak bahagia, sementara di depan wajahnya terdengar raung jeritan yang mengundang iba.
Dalam kondisi di mana carut marut persoalan tak sanggup terjawab, natal seakan memberi secercah hiburan serentak gugatan untuk siapa saja. Natal memberikan secercah hiburan sekaligus gugatan karena pengalaman itu ternyata bukan hanya manusia melainkan pula Allah. Natal mementaskan secara gamblang betapa Allah juga merasakan pengalaman manusia di titik yang paling ekstrim. Lukas melukiskan bahwa pengalaman pahit itu terjadi karena Allah tidak diberi tempat. Semua ruang kehidupan manusia tidak diberi akses untuk Allah. Yohanes pun memberi jawaban setimpal. Tuhan datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi milik kepunyaan-Nya menolak Dia. Tuhan tidak diterima. Seluruh pintu tertutup bagi-Nya (Yoh. 1: 11).
Inilah sajian jurnalisme Lukas dan Yohanes, yang sepintas terkesan menghibur karena kalau Allah saja merasakan apa yang dirasakan manusia, apalagi sesama manusia yang nota bene selevel? Namun hiburan ini serentak pula memicu pertanyaan yang menggugat:” Apa gerangan yang terjadi sehingga manusia yang diciptakan oleh Firman menolak Penciptanya sendiri? Apa sejatinya kondisi obyektif manusia, sehingga kunjungan Tuhan kepada umat-Nya bukan dirasakan sebagai sukacita melainkan ancaman; bukan pula disambut dengan penerimaan dan keterbukaan, sebaliknya ketertutupan dan penolakan?
Sungguh tidak mudah untuk mendapati jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Namun mengacu pada kisah penciptaan sebagai referensi alkitabiah, rasanya psikologi Hawa menjadi warisan yang melekat begitu kuat dalam diri anak-anaknya turun temurun. Psikologi Hawa itu adalah untuk menyamai Allah; sebuah keinginan untuk melepaskan diri dari bayangan keterikatan dan persekutuan dengan Allah, supaya dapat berdiri sejajar dengan-Nya. Kondisi inilah yang membuat baik Hawa maupun Adam memilih bersembunyi saat Tuhan datang mencari untuk mengunjungi mereka. Mereka memilih untuk menikmati ketelanjangan dalam persembunyian daripada keluar dari kepengapan persembunyian untuk dibalut dan diselubungi Allah (Kej. 3: 8-10). Inilah kegelapan yang paling gelap, karena manusia berusaha mengatasi masalah dirinya dengan kekuatan sendiri tanpa Allah, yang justru menciptakan masalah baru yang lebih kompleks.
Oleh karena itu, misteri kelahiran Tuhan sejatinya memiliki dimensi profetis. Allah hendak menggugat manusia bahwa akal budi tanpa iman; kemampuan pengetahuan manusia tanpa penyerahan diri kepada Allah; mengandalkan kehendak pribadi manusiawi tanpa menyelami kedalaman kehendak Allah; mengagungkan keangkuhan insani sebagai puncak prestasi seraya mengabaikan bahwa di atas itu masih ada langit yang lebih tinggi dan luas (Allah); maka kehancuran turun temurun akan terus terjadi. Fakta-fakta sosiologis yang mempresentasikan secara kasat mata bagaimana yang kuat memangsa yang lemah, yang kaya memangsa yang msikin, yang pintar memperalat yang bodoh, dll; menunjukkan bahwa dunia akan semakin tidak manusiawi bila manusia berjalan sendiri tanpa disertai Allah. Demikian pula kehidupan akan semakin hancur bila manusia tidak memberi tangannya untuk dituntun oleh Allah. Ketika manusia hanya bangga akan prestasi budinya, karena sanggup menyamai Allah, sehingga abai terhadap patokan-patokan etis moral, maka kehidupan akan berubah menjadi kematian.
Rasanya demi memperbaiki kondisi kemanusiaan manusia itu, Allah berinisiatif untuk berinkarnasi; agar dengan mengambil wajah manusia, menelusuri jalan-jalan sejarah manusia, membahasakan seluruh rencana dan misteri Allah dengan bahasa manusia, dekat dan berjalan bersama manusia, manusia sanggup melihat Allah dari dekat, terus belajar pada-Nya, mendengar apa rencana-Nya serta memiliki patron hidup supaya hidup bersama ditenun dalam cara-cara Allah.
Ya! Natal bukan ajang ritual; bukan pula pesta temporal. Ketika dijadikan sekedar ritual, maka natal hanyalah pesta patung dan aksesoris; karena orang yang merayakannya tetap memapankan perilaku manusia Betlehem yang tak mau Kristus lahir ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Demikian pula, bila natal sekedar pesta temporal, yang dirayakan menjelang akhir tahun, maka mungkin saja ada pergantian busana; ada pertukaran suasana; namun tak ada pembaharuan apapun secara fundamental.
Oleh karena itu pertanyaan refleksi sebagai penutup tulisan ini adalah apakah kisah penolakan terhadap Yesus yang selalu dikumandangkan injil pada malam Natal dan Natal Inkarnasi hanya sebuah kisah nostalgia, atau tetap memiliki relevansi terhadap umat kristiani yang merayakannya?
Alexander Aur, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Banten; Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Unika Soegijapranata, Semarang.
Perubahan iklim global terus berlangsung. Anomali iklim yang terwujud dalam berbagai peristiwa ekstrim lingkungan hidup terus terjadi di berbagai belahan dunia. Salah satu peristiwa ekstrim adalah anomali suhu udara. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data perihal anomali suhu udara, khususnya di Indonesia, periode Juni 2022.
Pada laman BMKG yang penulis akses (21/7/2022, pukul 9.07 WIB), telah dipublikasikan data mengenai anomali suhu udara. Mengacu pada data dari 86 stasiun pengamatan BMKG, normal suhu udara bulan Juni periode 1991-2020 di Indonesia adalah sebesar 26.79 oC (dalam range normal 21.4 oC – 28.7 oC) dan suhu udara rata-rata bulan Juni 2022 adalah sebesar 26.73 oC. Berdasarkan nilai-nilai tersebut, anomali suhu udara rata-rata pada bulan Juni 2022 menunjukkan anomali negatif dengan nilai sebesar -0.06 oC. Anomali suhu udara Indonesia pada bulan Juni 2022 ini merupakan nilai anomali tertinggi ke-22 sepanjang periode data pengamatan sejak 1981.
Perubahan iklim merupakan persoalan bersama dan telah menjadi perhatian berbagai pihak. Dalam konteks diskursus pengetahuan lingkungan, persoalan perubahan iklim telah lama menjadi diskursus pengetahuan ilmiah. Salah satu data yang dipaparkan oleh BMKG yang penulis cantumkan pada awal tulisan ini, merupakan contoh buah dari diskursus pengetahuan ilmiah mengenai perubahan iklim.
Dengan perangkat paradigma saintifik dan metode ilmu pengetahuan ilmiah, para ilmuwan alam meneliti fenomena suhu udara dan menyimpulkan kausalitas dari anomali suhu udara. Kesimpulan itu diterima sebagai sebagai pengetahuan yang benar. Publikasi oleh BMKG tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai anomali suhu udara di Indonesia merupakan pengetahuan yang benar. Meskipun kebenaran pengetahuan tersebut dapat berubah seiring dengan penemuan-penemuan baru pada masa depan, tetapi untuk saat ini pengetahuan tersebut benar secara ilmiah.
Dalam konteks perubahan iklim, pengetahun ilmiah mengenai alam telah dan banyak berguna bagi manusia. Kegunaanya adalah manusia memilik pengetahuan mengenai perubahan iklim dan akibat-akibatnya. Berdasarkan pengetahuan itu pula, manusia menetapkan tindakan-tindakan konkret untuk mengatasi perubahan iklim. Salah satu tindakan manusia terungkap dalam sikap negara-negara anggota G20 membahas persoalan pengelolaan lingkungan hidup dan upaya mengendalikan perubahan iklim pada Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (Media Indonesia, 21/6).
Apakah cukup menggunakan pengetahuan dan pendekatan ilmiah untuk mengendalikan perubahan iklim? Apakah masyarakat adat atau masyarakat lokal mempunyai pengetahuan lingkungan, yang berkontribusi juga bagi upaya pengendalian perubahan iklim?
Pengetahuan lingkungan lokal
Pengetahuan lingkungan lokal melekat pada masyarakat lokal atau masyarakat adat. Beberapa istilah teknis digunakan oleh para environmentalist, ecologist dan antropolog untuk menamakan pengetahuan tersebut. Istilah-istilah yang digunakan (Kyle White, 2018) antara lain, indigenous knowledge (IK), traditional knowledge (TK), indigenous knowledge of the environment (IKE), traditional ecological knowledge (TEK) dan native science (NS).
Istilah-istilah tersebut, termasuk istilah “pengetahuan lingkungan lokal” yang penulis gunakan dalam artikel ini, semuanya merujuk pada wawasan dunia (world view) masyarakat lokal atau masyarakat adat mengenai kehidupan dan relasinya dengan ekosistem. Sifat wawasan dunianya adalah kultural dan spiritual (LaDuke, 1994; Rebecca Tsosie, 2018). Jadi, pengetahuan lingkungan lokal adalah wawasan dunia masyarakat lokal atau masyarakat adat mengenai cara berpikir dan cara bertindak terhadap lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan ekologi/alam. Pengetahuan lingkungan masyarakat lokal bersifat kultural dan spiritual.
Berbagai diskursus filosofis mengenai pengetahuan manusia tentang lingkungan menunjukkan bahwa dalam pengetahuan lingkungan lokal, terkandung beberapa dimensi fundamental (Joan MCGregor, 2018). Masyarakat lokal atau masyarakat adat menghayati dan mempraktikkan dimensi-dimensi fundamental berikut ini secara kultural dan spiritual.
Pertama, dimensi komunitas. Manusia adalah bagian dari alam sebagai komunitas kehidupan. Setiap makhluk mempunyai peran yang tepat. Setiap orang dalam komunitas ini mempunyai kewajiban untuk merawat dan melindungi satu terhadap yang lain baik terhadap sesama manusia maupun alam. Dalam dimensi komunitas ini, sifat spiritual, kultural, politik, dan ekonomik saling berkelindan.
Sifat spiritual terkait dengan pandangan masyarakat lokal bahwa semua makhluk memiliki roh. Kepemilikan itu mewujudkan dalam bukti-bukti kehidupan yang berlangsung dalam alam. Sifat politik dari dimensi ini terungkap dalam relasi saling tergantung antaramanusi dan antara manusia dengan hewan dan tumbuhan. Sedangkan sifat ekonomik merujuk pada relasi pertukaran timbal-balik dalam berbagai hal antarmanusia dan manusia dengan hewan dan tumbuhan.
Kedua, dimensi keterhubungan satu sama lain. Di dalam alam sebagai sistem kehidupan, setiap makhluk saling terhubungkan. Setiap entitas tidak dapat diperlakukan secara terpisah. Tindakan sekecil pun terhadap sebuah entitas berdampak terhadap entitas-entitas yang lain. Keterhubungan ini menunjukkan bahwa lingkungan merupakan sistem kehidupan.
Ketiga, dimensi masa depan. Tindakan dan perilaku manusia terhadap dan dalam lingkungan wajib mempertimbangkan kehidupan generasi demi generasi berikutnya. Tindakan dan perilaku terhadap lingkungan saat ini sudah harus memperhitungkan pula kondisi-kondisi kehidupan yang baik bagi keberlangsungan hidup generasi berikut di masa depan.
Keempat, dimensi sikap rendah hati. Sikap ini bertautan dengan sikap mawas diri dalam bertindak terhadap lingkungan. Di hadapan hubungan yang kompleks dan rumit antarkomponen dalam lingkungan, sikap rendah hati terungkap melalui pengakuan diri bahwa manusia mempunyai pengetahuan yang terbatas mengenai lingkungan. Oleh karenanya, prinsip kehati-hatian dalam bertindak merupakan merupakan hal penting. Tujuannya agar tindakan setiap orang tidak menimbulkan akibat buruk bagi keberlanjutan lingkungan atau mengancam sistem kehidupan.
Berbeda dengan pengetahuan ilmiah mengenal lingkungan yang berciri empirik dan teoritis, pengetahuan lingkungan lokal berciri kultural dan spiritual. Masyarakat lokal atau masyarakat adat menghayati pengetahuan itu sebagai bagian integral kehidupan sehari-hari. Terintegrasi dengan praktik dan keyakinan masyarakat mengenai alam semesta. Dengan corak yang demikian, masyarakat lokal menata tindakannya terhadap lingkungan. Oleh karena itu, cara hidup masyarakat adat senantiasa ramah terhadap lingkungan, tidak eksploitatif, dan ekologis.
Mengendalikan perubahan iklim
Pengetahuan lingkungan lokal dapat menjadi kontribusi bagi upaya mengendalikan perubahan iklim dan pemanasan global. Dimensi-dimensi yang terkandung dalam pengetahuan tersebut mempunyai beberapa berfungsi. Pertama, fungsi paradigmatik. Oleh karena sifat kultural dan spiritualnya, pengetahuan lingkungan lokal dapat menjadi paradigma dalam menetapkan kebijakan ekonomi-politik pengendalian perubahan iklim. Fungsi paradigmatik pengetahuan tersebut juga memungkinkan terjadinya – meminjam istilah Gadamer – fusi horizon dengan paradigma dan metode ilmiah. Fusi ini beralasan karena ilmu pengetahuan ilmiah bermula dari praktik-praktik hidup yang bersifat kultural dan spiritual dalam masyarakat. Dengan demikian, setiap kebijakan ekonomi-politik dan tindakan terhadap lingkungan dipandu oleh horizon berpikir lokal dan ilmiah.
Kedua, fungsi etis-regulatif. Oleh karena pengetahuan lingkungan lokal terintegrasi dengan praktik hidup sehari-hari, maka pengetahuan tersebut berfungsi untuk meregulasi tindakan dan perilaku manusia. Penetapan larangan bagi warga masyarakat adat untuk merambah atau mengola kawasan-kawasan tertentu, merupakan regulasi terhadap tindakan dan perilaku para warga. Meskipun larangannya bersifat mitis dan spiritual, tetapi efektif untuk mengendalikan perubahan lingkungan ekstrim. Kepatuhan terhadap regulasi itu senantiasa berbasis pada keyakinan bahwa alam memiliki roh. Keyakinan ini terungkap pula melalui cara hidup masyarakat adat yang terintegrasi dengan lingkungan (tumbuhan dan binatang). Hidup yang integratif dengan lingkungan senantiasa demi keberlanjutan lingkungan.
Pengendalian perubahan iklim selain terwujud dalam teknik-teknik praktis pengendalian masalah lingkungan, juga menyangkut masalah pengetahuan mengenai lingkungan. Perihal pengetahuan, pengetahuan lingkungan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat/masyarakat lokal dipadu dengan pengetahuan lokal mesti dimasukkan dalam berbagai regulasi pengendalian perubahan iklim. Dengan demikian, pengendalian iklim memperoleh legitimasi baik secara ilmiah maupun secara kultural dan spiritual. Legitimasi inilah wajib diupayakan semua pihak karena semua pihak dan makhluk menghuni satu bumi. ***
– Di Argentina, bola adalah segalanya-galanya. Dengan lolos ke final Piala Dunia Qatar 2022, mereka di ambang menuju surga kebahagiaan atau terempas pada dunia kenistaan –
Cinta akan bolabagaikan cinta akan hidup. Seperti jatuh cinta, tak dapat orang yang mencintai bola hanya berhenti pada akalnya. Emosinya akan terkuras, dan ia makin tak dapat mengerti, mengapa bola terasa makin menuntut untuk mempertaruhkan hidupnya.
Jika hal ini benar, makin benarlah itu jika dikenakan pada rakyat Argentina. Lebih-lebih sekarang ketika Lionel Messi dan kawan-kawannya menatap final Piala Dunia 2022.
Bagi mereka, final seperti suatu ambang, di mana mereka boleh masuk menikmati surga kebahagiaannya, atau terempas kembali pada dunia kenistaan. Seakan tak berartilah segala prestasi jika di final mereka kalah. Cinta memang kejam bila ia gagal.
Memang, di Argentina, bola adalah segala-galanya. Tak cukuplah menyebut bola hanyalah sport atau permainan. Di sana bola mencakup kultur, pilihan hidup, emosi, dan tentu saja politik. Pantaslah, ketika Lionel Scaloni ditetapkan sebagai pelatih nasional, ada rekannya yang berkomentar, ”Sekarang, kamu lebih besar daripada presiden di negeri ini.”
Kontan Scaloni menolak, ”Tidak, saya hanya pelatih kesebelasan nasional Argentina.” Dan kepada para pemain Argentina ia berpesan, ”Apakah kita menang atau kita kalah, kita hanyalah pesepak bola, tidak lebih dan tidak kurang. Kata-kata kita tidak lebih bernilai daripada kata-kata setiap warga Argentin
Scaloni boleh menolak, tetapi di Argentina bola tetaplah bukan sekadar bola. Bola telah menjadi hasrat gairah rakyat Argentina. Jurnalis Alejandro Fabbri memaparkan, negara Argentina sudah berusia lebih dari 220 tahun, dan usia klub-klub sepak bola di sana mencapai 120 tahun. Karena itu, klub-klub sepak bola itu juga punya pengaruh sejarah kuat pada Argentina.
Sangatlah menguntungkan bagi politik jika bisa memeluk gairah itu. Sejarah mencatat, ketika Argentina menjadi tuan rumah Piala Dunia 1978, sepak bola bisa digunakan untuk memalingkan rakyat dari represi dan kekerasan yang dijalankan rezim diktator militer saat itu.
Di final, Argentina berhasil menundukkan Belanda. Namun, dalam sejarah sepak bola, kemenangan mereka tercacat sebagai tidak terlalu bersih. Campur tangan politik terasa di dalamnya.
Di Argentina, sampai sekarang politik tidak terlepas dari bola. Anehnya, menurut Fabbri, saat politik bisa memecah belah, bola justru mempersatukannya. Pihak-pihak yang bersengketa dalam politik bisa saja sama-sama menjadi fans setia dari sebuah klub bola.
”Maka, di tribune bola terjadilah apa yang tidak terjadi dalam hidup sehari-hari: musuh bebuyutan secara politis saling berpelukan ketika klubnya mencetak gol. Pada dasarnya, mereka ternyata terikat oleh cinta pada jersei klub tersebut,” kata Fabbri.
Kalau jersei klub saja bisa demikian mengikat, apalagi jersei biru putih Argentina. Tidak hanya fans yang akan memenuhi Stadion Lusail, juga seluruh rakyat Argentina akan meluapkan cinta mereka akan bola di kaki Messi dan kawan-kawannya.
Sejak 1986, mereka hampa akan juara. Maka, mereka berharap setengah mati di Stadion Lusail malam ini, anak-anak Scaloni dapat mengisi kehampaan mereka dengan menjadi juara. Tidak sekadar juara dunia. Mereka bahkan mempunyai harapan lebih, inilah saat untuk mengabadikan ikon mereka, Lionel Messi.
Maka, di tribune bola terjadilah apa yang tidak terjadi dalam hidup sehari-hari: musuhbebuyutan secara politis saling berpelukan ketika klubnya mencetak gol.
Bagi Messi, memang Piala Dunia kali ini adalah kesempatan terakhir untuk memahkotai dirinya. Jika mahkota itu berhasil diraihnya, lengkaplah sudah alasan untuk menyejajarkan Messi dengan Pele, Johan Cruyff, Alfredo di Stefano, dan Diego Maradona.
”Mereka adalah legenda yang merevolusi bola. Tiap 20 tahun mereka muncul. Sebelum ini dia adalah Maradona. Sekarang Messi,” kata Jorge Valdano, veteran bola Argentina, yang juga pengamat bola.
Messi adalah anak kesayangan Argentina. Valdano mengaku dirinya adalah ”Madridista”, pencinta Madrid, tetapi toh ia berkata, ”Saya selalu berpikir, siapa tidak mencintai Messi, dia tidak mencintai bola.”
Koran di luar Argentina pun ikut mengelu-elukan Messi dan menyejajarkannya dengan Maradona. El Mundo Deportivo di Spanyol menyebut Messi dengan ”Maramessi”, sedangkan Gazzetta dello Sport di Italia menyebutnya ”Messidona”.
Sebutan apa saja terserah. Bagi Argentina, Messi dan Maradona sama besarnya. Mereka menyanyi, ”En Argentina nací, tierra de Diego y Lionel”, atau ”Di Argentina aku lahir, di tanah Diego dan Lionel.”
Dan malam nanti surga dan dunia bersatu: Maradona dan Messi. Messi akan bermain sepak bola, dan Maradona akan membantunya ”dari atas sana”.
Meminjam pemikiran Pierre Bourdieu yang dipakai filsuf Gunter Gebauer untuk analisis bolanya, malam nanti dengan bermain bola Argentina akan mengalami semacam ”transendensi sosial”. Maksudnya, segala harapan, cita-cita, idaman, doa, dan emosi sosial Argentina akan meliputi diri mereka, dan membuat mereka ”transendens” terhadap dirinya.
Karena transendensi sosial ini, mereka akan menjadi ”lebih” dari dirinya. Namun, transendensi macam ini juga bisa menjadi ujung malapetaka jika pada akhirnya mereka kalah. Karena transendensi itu, keterempasan akan terasa jauh lebih menyakitkan dan parah.
Belum ada jaminan bahwa Argentina tak akan terempas. Maklum, lawan mereka di final nanti adalah Prancis. Sampai ke final ini, Prancis telah memperlihatkan diri sebagai kesebelasan yang paling stabil. Mereka seperti mesin, yang berputar ajek, dan makin lama makin panas.
Mekanik mesin itu adalah Didier Deschamps, seorang realis. Ia bilang, Jerman, Spanyol, dan Brasil hebat dalam menyerang, tetapi mereka sudah pulang. Kenapa Perancis harus ikut-ikutan bermain menyerang kalau buktinya dengan pola bertahan mereka bisa sampai ke final?
Pendeknya, kini Prancis menemukan kembali ”roh mereka di tahun 2018” yang mengajarkan, tak usah mereka malu dengan permainan defensif dan pragmatisnya. Toh, dengan permainan itu, mereka bisa menjadi juara dunia 2018.
Selama ini orang ramai bicara Messi. Seakan lupa, mesin Prancis itu mempunyai lokomotif, bernama Kylian Mbappe. Jika tidak diwaspadai, dengan super-kecepatannya, Mbappe bisa melindas harapan Argentina.
Dan jangan lupa, selama 60 tahun ini belum ada juara bertahan bisa mempertahankan pialanya. Kalau jadi juara bertahan, Prancis akan membuat rekor juara dunia dua kali berturut-turut, seperti Brasil di tahun 1958 dan 1962.
Motivasi Prancis tak kalah besarnya dengan Argentina yang ingin menjadi juara ketiga kalinya. Pasti malam nanti adalah sebuah final saling mengempaskan yang sangat menegangkan.
———————————————–
Sumber Tulisan Kompas Minggu, 18 Desember 2022
“Penggemar Argentina” – Foto dari Harian Kompas – Foto Karya Gustavo Garello
BAGIHappy Salma, 37 tahun, membaca hanyalah dari kertas. Meski aplikasi membaca sudah bejibun dan gampang diunduh di gawai, Happy ogah melakoni kegiatan ini. “Kalau di ponsel untuk yang iseng-iseng doang, yang sambil lewat, atau untuk cari data,” katanya saat menjadi bintang tamu #ngopidikantor di Gedung Tempo.
Untuk membaca yang agak berat, semisal buku atau majalah, Happy Salma memilih versi cetak. Buat dia, kertas punya banyak nilai lebih: bisa disimpan sehingga bisa dibaca lagi kapan-kapan serta lebih enak dipegang. “Kertas juga ada baunya, dan romantis,” ujarnya. Happy Salma punya banyak koleksi buku. Dari manga karya penulis Jepang, Kyoko Mizuki, Candy Candy (versi Indonesia diterbitkan pada 1990-an)—hasil pencariannya di penjual buku bekas—sampai novel sejarah karangan Pramoedya Ananta Toer, penulis favoritnya.
Dari karya Pram yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, Happy membuat pentas teater Bunga Penutup Abad. Happy Salma menjadi produser sekaligus memerankan Nyai Ontosoroh, salah satu tokoh sentral dalam dua novel tersebut.
Happy Salma menyimpan koleksinya di ruang baca rumahnya di Bali dan Jakarta. Happy selalu menyediakan waktu untuk melahap semua buku pilihannya tersebut. “Diusahakan kalau pergi juga membawa buku,” ucapnya.