Author: Redaksi

  • Perpustakaan Nasional Pattingalloang: Sebuah Usul

    Perpustakaan Nasional Pattingalloang: Sebuah Usul

    Oleh  Rizal  Mallarangeng

     

    Akhirnya, berita baik yang lama ditunggu datang juga. Presiden Joko Widodo baru saja meresmikan Gedung Perpustakaan Nasional, dengan lokasi persis di pusat Ibukota Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan. Digagas pertama kali oleh Bung Karno di tahun 1952, harapan mulia itu kini terwujud.

    Bahkan tidak main-main. Dengan koleksi buku dan naskah lebih sejuta, dengan bangunan setinggi 24 lantai serta ruang baca yang nyaman dan leluasa, plus lokasinya yang amat strategis, gedung baru ini pantas menjadi ikon baru Jakarta.

    Kita bersyukur, di tengah kesibukannya membangun infrastruktur jalan dan jembatan, Presiden Joko Widodo juga memikirkan perpustakaan. Kata seorang kawan saya, sosiolog Ignas Kleden, sebenarnya semua itu sama, hanya wujudnya yang berbeda: perpustakaan adalah juga sebuah infrastruktur, bukan untuk motor dan mobil, tetapi untuk lalu-lintas ide dan eksplorasi pemikiran.

    Buku dan ilmu tentu bisa dicari di mana saja. Apalagi di zaman digital seperti sekarang. Tapi selain fungsi praktisnya yang tetap diperlukan sebagai pusat pencarian ilmu dan pembentukan komunitas intelektual, simbolisme tetap penting: dengan lokasi tepat di pusat pemerintahan, perpustakaan baru ini adalah perwujudan sebuah tekad untuk memajukan Indonesia, bukan dengan warisan minyak atau emas, tetapi dengan pencapaian tinggi dalam dunia ilmu pengetahuan.

    Karena itu, kita patut mengacungkan dua jempol bagi Presiden Joko Widodo dan tim yang turut membantu beliau.

    Sekarang, gedung perpuspustakaan baru yang membanggakan ini tentu perlu diberi nama yang sesuai bobotnya. Penamaan ini, kalau sumbernya adalah salah satu nama pahlawan dalam sejarah kita, maka ia harus kelas berat, seorang tokoh historis yang sanggup menjadi sumber aspirasi universal dan abadi.

    Kalau boleh usul, di antara beberapa nama yang ada, tokoh yang paling cocok untuk dijadikan nama gedung baru tersebut adalah Karaeng Pattingalloang, satu-satunya pemimpin dan pelaku sejarah di Nusantara sebelum era penjajahan Belanda yang bisa disebut sebagai manusia renaisans. Ia adalah sosok penting yang jarang diingat, namun jasa dan perannya sebenarnya paling menarik dalam repertoar kisah kepahlawanan di negeri kita.

    Sambil menimbang-nimbang, tidak ada salahnya jika kita berkenalan dulu dengan pemimpin masa silam ini, baik sosok maupun konteksnya, walau secara cukup singkat.

    Sinar di Timur

    Karaeng Pattingalloang, karena daya tarik dan keunikannya, telah menjadi bahan telaah yang serius dari beberapa sejarawan terkemuka, seperti Anthony Reid dan Denys Lombard. Dalam magnum opus-nya, Asia in the Making of Europe (1969), Donald F. Lach juga mengulas posisi tokoh ini sebagai salah satu penguasa Asia abad ke-17 yang “uncommonly virtuous” serta kaya dengan pengetahuan modern untuk ukuran waktu itu, sosok tipikal seorang pemimpin yang mampu melihat jauh melampaui zamannya.

    Ia adalah bangsawan Kerajaan Tallo, sebuah unit politik relatif kecil yang  berbatasan dengan Kerajaan Gowa (Makassar). Ayahnya adalah Karaeng Matoaya, penguasa Tallo yang merangkap sebagai Perdana Menteri Kerajaan Makassar – hubungan kedua entitas politik ini sangat erat dan dalam ulasan sejarah sering disatukan menjadi Kerajaan Makassar-Tallo.

    Saat Karaeng Matoaya memegang tampuk pemerintahan, armada VOC (perusahaan dagang Belanda) berhasil menegakkan hegemoni di Banda dan Maluku. Perdagangan rempah-rempah, sebuah produk yang menjadi kebutuhan global saat itu, menjadi tertutup atau sangat terbatas. Bagi Karaeng Matoaya, perkembangan ini membuka sebuah peluang bagi Makassar. Dengan kemampuan diplomasi tingkat tinggi, ia menjadikan Makassar sebagai pelabuhan terbuka, semacam free trade zone pada zaman itu, di mana rempah-rempah “selundupan” dijual secara bebas, dengan perlindungan penuh Kerajaan Makassar.

    Prinsip dasar Karaeng Matoaya, sebagaimana yang ditulisnya dalam surat kepada pimpinan VOC di Batavia pada 1615, adalah: “Tanah diciptakan Tuhan buat penduduk yang bermukim di atasnya. Tetapi laut lepas adalah milik semua orang.”

    Dengan kebijakan ini, kaum pedagang dari berbagai belahan dunia berdatangan ke Makassar, terutama dari Portugal, Inggeris, Spanyol, Arab, China dan India. Makasar menjadi bandar alternatif terhadap Banda dan Maluku, dan karena itu kemudian berkembang menjadi negara maritim dengan pelabuhan yang hidup dan kosmopolitan.

    Karaeng Pattingalloang tumbuh dan besar dalam suasana itu. Pada masa remaja, tanpa memandang statusnya yang tinggi, ia sering bermain di geladak kapal dan bergaul dengan kaum pedagangan, pendeta dan pelaut yang datang dari empat penjuru angin.

    Seorang jesuit Perancis abad ke-17, Alexander de Rhodes, menyaksikan serta mencatat bahwa Karaeng Pattingalloang mampu berkomunikasi dalam empat bahasa Eropa. Khusus dalam bahasa Portugis, “anak muda ini akan terdengar seperti orang dari Lisbon” karena dia berbicara dalam tutur-kata yang sangat baik tanpa aksen lokal.

    Tapi minat Karaeng Pattingalloang bukan hanya dalam bahasa. Ia juga sering bertanya dan mengajak diskusi mengenai matematika, astronomi, ilmu militer dan geografi, di samping kisah-kisah penguasa Eropa yang hidup saat itu. Catatan de Rhodes: “Dia selalu membawa buku di tangannya, terutama buku matematika… Semangatnya untuk belajar tampaknya sangat besar… dia melakukannya siang dan malam.”

    Pada usia 39 tahun, Karaeng Pattingalloang meneruskan posisi ayahnya (Karaeng Matoaya wafat pada 1636). Ia melanjutkan kebijakan pintu terbuka dan relatif berhasil mengatasi persoalan politik domestik yang paling pelik saat itu: mengelola penyebaran Islam sambil menjaga toleransi, termasuk membina hubungan baik dengan raja-raja Bugis di sekitar Makassar, terutama Bone, Wajo dan Soppeng.

    Sebagai pimpinan pemerintahan, dia mewarisi kemampuan diplomasi dan kearifan ayahnya, dan dengan pengetahuan luas, dia membawa Makassar menjadi salah satu kerajaan paling maju dan enlightened untuk ukuran kerajaan Nusantara pada abad ke-17.

    Oleh sejarawan Anthony Reid, berbagai langkah serta keberhasilan Karaeng Pattingalloang diberi catatan tersendiri: “They laid the basis for the greatness of seventeenth century Makassar through not ruthlessness but rather an extraordinary combination of intellectual eminence and political wisdom.”

    Catatan seperti ini, oleh Anthony Reid, digunakan sebagai pembanding terhadap raja-raja lainnya di Nusantara yang bertahta pada kurun waktu yang kurang lebih sama, seperti Sultan Iskandar Muda di Aceh dan Sultan Agung di Mataram, yang sering menegakkan kekuasaan mereka lewat “personal terror” dan “artificial centralization.”

    Di samping terobosan politik, banyak hal lain dilakukan oleh Karaeng Pattingalloang. Ia memulai tradisi pencatatan kegiatan pemerintahan, the chronicles of the state, yang akurat dan faktual – berbeda dengan babad di Kerajaan Mataram yang lebih merupakan kombinasi antara fakta, legenda dan mitologi. Pada saat yang sama, penerjemahan naskah-naskah asing dalam ilmu persenjataan serta teknologi kelautan, terutama dari Portugal, Spanyol dan Turki, juga mulai giat dilakukan.

    Selain itu – dan hal ini mungkin paling mengagumkan – lewat jalur perdagangan dan hubungan diplomasi, ia juga berhasil mendatangkan ke Makassar sejumlah prisma, peta dunia baru yang dibuat sendiri oleh kartografer terkemuka Eropa, Joan Blaeu, serta dua buah teleskop Galilean.

    Tentang hal terakhir ini kita harus ingat bahwa pada waktu itu teleskop Galilean belum lama ditemukan, masih merupakan barang langka bahkan di Inggeris dan Spanyol sekalipun. Pemikiran Galileo Galilei sendiri – ilmuwan dari Pisa, Italia, yang sering disebut sebagai peletak dasar metode keilmuan modern, il fondatore del metodo scientifico – masih kontroversial di kalangan gereja, raja dan lapisan kepemimpinan Eropa.

    Jadi bisa dikatakan bahwa pada konteks zamannya, Karaeng Pattingalloang sudah berpikir dan bertindak jauh, memulai sebuah perpustakaan di Makassar dengan buku dan temuan-temuan keilmuan mutakhir, plus mendorong pemerintahan yang dipimpinnya untuk belajar serta beradaptasi dengan perkembangan baru. Singkatnya, di langit Nusantara abad ke-17, ia seperti sinar terang yang muncul di ufuk timur.

    Dan semua itu rupanya mencuri perhatian beberapa kalangan di Eropa sehingga, sebagaimana dijelaskan Anthony Reid, tokoh sekaliber Joost van den Vondel, penyair dan penulis drama Belanda terkemuka – satu generasi dengan Sheakespeare di Inggeris – melontarkan kekaguman dalam sebait puisi terhadap tokoh dari timur ini: “East India House sends a globe to the great Pattingalloang, whose endlessly curious brain, finds a whole world too small…”

    Tragedi dan Inspirasi

    Sayangnya, era Karaeng Pattingalloang tidak berlangsung lama. Ia meninggal dalam usia 52 tahun, setelah memegang tampuk kepemimpinan selama 13 tahun. Untuk ukuran abad ke-17, masa pemerintahan tokoh kreatif ini termasuk singkat – Sultan Agung bertahta 32 tahun dan Sultan Iskandar Muda 30 tahun.

    Di Makassar, sepeninggal Karaeng Pattingalloang, pemimpin yang terkenal kemudian adalah Sultan Hasanuddin. Tapi tokoh baru yang gagah berani ini rupanya tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelola kondisi domestik dan menjaga hubungan baik dengan aliansi raja-raja Bugis. Konflik dan perpecahan internal menajam, suatu hal yang membuka kesempatan baru bagi pemimpin VOC untuk kemudian menegakkan hegemoni di Sulawesi Selatan, termasuk di Makassar.

    Cerita seperti ini – konflik internal, perpecahan, penjajahan – adalah cerita umum praktis di semua wilayah Nusantara. Adalah tragedi kita sebenarnya, bahwa tokoh kreatif dan berpikiran maju pada abad yang menentukan itu hanya muncul di Makassar dalam sosok Karaeng Pattingalloang (dan dalam beberapa hal juga dalam sosok Sultan Ageng Tirtayasa di Banten). Kaum penguasa lainnya bisa dikatakan sebagai pemimpin yang, terlepas dari besarnya kekekuasaan yang mereka miliki, lebih merupakan sosok ignoramus dalam soal pengetahuan dunia baru, perkembangan ilmu, serta kondisi yang dibutuhkan bagi kemajuan sebuah masyarakat.

    Tragedi tersebut harus kita bayar mahal: kita kehilangan lebih dua abad, dan baru pada awal abad ke-20 kaum pemimpin di Nusantara, dalam kondisi yang sudah sama sekali berbeda, mulai menyadari lagi pentingnya modernitas, kemajuan ilmu pengetahuan, serta betapa perlunya untuk terus-menerus melakukan adaptasi kreatif terhadap perubahan zaman.

    Dan karena semua itulah Karaeng Pattingalloang dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita.

    Kembali pada soal pemberian nama Gedung Perpustakaan Nasional yang baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo: setelah kita mengerti riwayat tokoh dari timur ini, usul yang telah saya kemukakan di atas tadi rasanya tidak terlalu berlebihan.

    Pemberian nama tersebut bagi gedung sepenting itu adalah penghargaan bagi Karaeng Pattingalloang. Tapi sebenarnya bukan ini yang utama. Justru buat kita yang hidup sekarang, terutama generasi muda Indonesia yang akan menyongsong masa depan, hal itu teramat diperlukan.

    Kata kuncinya adalah, seperti yang dikatakan Anthony Reid tentang pemerintahan Karaeng Pattingalloang: intellectual eminence dan political wisdom. Kita berharap, kedua kata kunci inilah yang menjadi sumber pencarian generasi muda kita manakala mereka membaca buku, mengejar pengetahuan, atau sekadar duduk merenung sejenak di salah satu sudut ruangan perpustakaan baru tersebut.

    Kalau semua itu memang terjadi, bukankah kita semua akan merasa bangga dan bersyukur?.

    *************************************

    Sumber Tulisan Dari Jokowi ke Harari, Rizal Mallarangeg, Penerbit KPG, 2019.

     

  • COSMO JNE FC Siap Torehkan Prestasi di Liga Futsal Indonesia 2022/2023

    COSMO JNE FC Siap Torehkan Prestasi di Liga Futsal Indonesia 2022/2023

    Jakarta berandanegeri.com –  Cosmo JNE Futsal Club siap torehkan prestasi terbaiknya dalam menghadapi Liga Futsal Professional Indonesia musim 2022-2023.

    Upaya tersebut ditandai dengan seremoni  perpanjangan kerjasama antara JNE dan Cosmo Futsal untuk 2 musim sekaligus sebagai momentum perkenalan pemain yang akan memperkuat tim, peresmian jersey baru dan memperkenalkan maskot Cosmo JNE FC bernama MARS, yang dilaksanakan pada Kamis (15/12/2022) di CGV Sports Hall FX Sudirman Jakarta.

    Ket. Foto: Kiri ke Kanan Fachri Reza (Kapten), Ivan Bunawan (Artis), Eri Pulgunadi

    Acara peresmian ini dilakukan antara manajemen JNE dan manajemen COSMO yang dihadiri oleh VP of Marketing JNE, Eri Palgunadi dan Manajer Tim Cosmo JNE FC, Hansen Tjubianto beserta seluruh  official dan pemain.

    Dukungan JNE ini merupakan wujud kepedulian terhadap perkembangan dan kemajuan futsal di Indonesia dan sebagai bentuk komitmen JNE untuk memberikan manfaat sebesar -besarnya kepada masyarakat di usianya yang ke – 32 tahun.

    Eri Palgunadi selaku VP of Marketing JNE mengatakan, JNE ingin terus memberikan dukungan bagi anak bangsa. Salah satunya melalui olahraga futsal sebagai olahraga yang sangat digandrungi di Indonesia.

    Ket. Foto: Kiri ke Kanan Maskot COSMO JNE FC (MARS) dengan Jersey Baru

    “Sebagai perusahaan asli Indonesia, JNE tentunya juga akan terus mendukung untuk kemajuan UKM, pendidikan, ekonomi maupun olahraga sesuai tagline “Connecting happiness”.

    Hansen Tjubianto selaku Manajemen Cosmo JNE FC, menyampaikan bahwa JNE merupakan sponsor utama untuk mendukung Cosmo JNE FC yang akan berlaga dengan 12 tim futsal terbaik di Indonesia.

    “Dengan dukungan yang maksimal dari JNE sebagai perusahaan logistik terbesar di Indonesia ini, harapannya adalah memberikan hasil yang terbaik di setiap pertandingan dan menjadi juara Liga Futsal Professional di musim 2022-2023” ungkapnya.

    Ket. Foto: Santunan bersama Anak Yatim

    Tim yang memiliki sebutan Yellow Sub ini di dominasi pemain Timnas Futsal Indonesia yang berhasil meraih medali perak pada ajang Piala Futsal AFF dan Sea Games 2021.

    Untuk musim kompetisi 2022-2023 akan berlangsung di 5 kota (Jakarta, Surabaya, Pontianak, Lampung dan Malang) yang diikuti 12 tim terbaik di Indonesia, dan sudah ditetapkan oleh Federasi Futsal Indonesia akan dimulai kick off pada 7 Januari – 27 Agustus 2023.

    Dalam acara kali ini pun tim Cosmo JNE FC akan melakukan funmatch futsal pada melawan tim Futsal karyawan JNE bersama dengan Ivan Gunawan serta dilakukan juga pemberian santunan anak yatim sebagai kepedulian kepada sesama dan sejalan dengan filosofi Berbagi, Memberi dan Menyantuni dari JNE.

    Ket. Foto: COSMO JNE FC

    Fachri Reza Kapten Tim Cosmo JNE FC menyampaikan, “Kekompakan dan kerja keras tim, di musim sebelumnya berhasil meraih peringkat ke tiga berkat dukungan doa dan harapan dari seluruh Ksatria dan Srikandi JNE dan masyarakat agar kami terus memberikan yang terbaik dan mampu menjadi juara di musim 2022-2023,” tutur Fachri. ( Athick ).

  • JNE Raih Penghargaan “The Best Industry Marketing Champion 2022 Logistics Category”

    JNE Raih Penghargaan “The Best Industry Marketing Champion 2022 Logistics Category”

     

    Jakarta berandanegeri.com – JNE kembali dianugerahi penghargaan bergengsi dari Markplus dengan meraih penghargaan “The Best Industry Marketing Champion 2022 Logistics Category”

    Penghargaan diberikan oleh Hermawan Kartajaya Founder & Chairman of M-Corp kepada Presiden Direktur JNE, Mohamad Feriadi Soeprapto”, pada Kamis  (8/12/2022), di Ballroom Ritz Carlton Hotel Pacific Place Jakarta Selatan.

    MarkPlus, Inc. bekerja sama dengan Marketeers dan Indonesia Marketing Association (IMA) secara konsisten memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh Marketing yang bergengsi dan dihormati di Indonesia. Mereka harus menunjukkan keteladanan “marketing spirit” sekaligus memberikan dampak yang besar baik pada kinerja bisnis perusahaan mereka dan masyarakat luas melalui Industry Marketing Champion dan Marketeer of The Year.

    M. Feriadi Soeprapto, Presiden Direktur JNE, mengungkapkan rasa syukur atas penghargaan istimewa ini. “Mewakili seluruh karyawan dan manajemen JNE, kami mengucapkan terima kasih sebesar–besarnya kepada Markplus, sebagai penyelenggara penganugerahan skala nasional kepada para tokoh marketing tahun 2022 yang dinilai telah memberikan pengaruh baik untuk kinerja perusahaan”.  kata Presiden Direktur  JNE.

    Komitmen JNE sebagai perusahaan ekspres dan logistik nasional, untuk konsisten berkontribusi terhadap kemajuan perekonomian Bangsa, diwujudkan dalam berbagai langkah bisnis yang dapat menjadi peluang bagi masyarakat. Pengembangan bisnis pun terus dilakukan dengan meningkatkan kinerja berbagai sektor penting agar JNE memberikan kualitas pelayanan terbaik.

    Ket, Foto: JNE Meraih Penghargaan Markplus “The Best Industry Marketing Champion 2922 Logistics Category” pada 8-12-2022 di Ballroom Ritz Carlton Hotel Pacific Place Jakarta Selatan.

    Feriadi juga menyampaikan bahwa JNE didirikan dengan tujuan utama membawa manfaat bagi seluruh stakeholder, pelanggan, mau pun para mitra sesuai dengan tagline kami yaitu, “Connecting Happiness”.

    Penghargaan ini pun begitu istimewa bagi seluruh karyawan JNE di seluruh Indonesia di usia JNE 32 tahun ini dengan tema Bangkit Bersama untuk mengemban amanah, mengantarkan paket ke seluruh pelanggan, serta meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional agar dengan majunya logistik, bangkitnya ekonomi akan baik untuk kejayaan bangsa”, kata Feriad.

    Untuk diketahui JNE berdiri pada tahun 1990 sebagai perusahaan nasional yang berkonsentrasi pada bidang usaha jasa pengiriman dan pendistribusian. JNE juga memperluas bidang usahanya hingga jasa pengiriman makanan khas daerah (PESONA), jasa kepabeanan, penjemputan di bandara, dan pengiriman uang/money remittance.

    Pada akhir tahun 2012, JNE memisahkan divisi Logistik, menjadi unit usaha tersendiri dan terpisah dari unit kurir ekspres. Mulai tahun 2013, JNE siap berekspansi di bidang logistik, dengan berfokus pada layanan yang mencakup pergudangan, cargo, pengiriman jalur darat, sea freight, dan air freight. Di tahun 2014, JNE melakukan optimalisasi Mobile Applications untuk meningkatkan service berupa trace tracking kiriman, kemudahan transaksi digital, Free Pick up dan COD. Di tahun 2017 JNE membangun EFulfillment di beberapa cabang yaitu Warehouse Management System yang terintegrasi terkait warehousing, order fulfillment, technology development, shipping management dan delivery, menjadi solusi lengkap untuk para UKM di seluruh Indonesia. Di tahun 2020 menyikapi perkembangan e-commerce, UKM dan perubahan daya beli masyarakat yang berubah sangat cepat serta dinamis maka dibangun Mega Hub JNE di area Bandara Internasional Soekarno – Hatta. Dibangun diatas tanah seluas 4 hektar, Mega Hub (Automatic Sorting Center and Gateway System) ini akan memiliki kapabilitas menangani ratusan ribu paket per hari.

    Saat ini JNE memperluas jaringan hingga lebih dari 8000 titik layanan di seluruh Indonesia untuk mendorong kemajuan UKM dan meningkatkan perekonomian nasional. ( Athick).

  • Bila  Messi  Bermain  untuk  Anaknya

    Bila Messi Bermain untuk Anaknya

    S i n d h u n a t a

     

    Boleh jadi, ini adalah kali terakhir Lionel Messi tampil di Piala Dunia. Maklum, sudah 35 tahun usianya. Belum tentu ia bisa tampil empat tahun lagi. Jika demikian, ini adalah saat ia harus memperdengarkan ”Nyanyian Angsa”-nya. Saat ia akan menyanyikan lagu terindah dengan kakinya, sebelum ia beristirahat dari Piala Dunia.

    Sepanjang kariernya, Messi sering menjadi teka-teki. Seperti pernah ditulis oleh Jonathan Liew dari The Guardian, Diego Maradona dan Pele pernah membicarakan hal itu dalam suatu acara promosi jam tangan Swiss di Paris.

    Kata Maradona, ”Messi adalah pribadi yang besar, tetapi ia tidak mempunyai kepribadian untuk menjadi pimpinan.” Pele setuju, ”Messi adalah pemain besar, tak usah diragukan. Namun, ia tidak mempunyai kepribadian.”

    Benarkah anggapan dua legenda bola dunia itu? Dulu mungkin benar. Namun, sekarang kiranya tidak. ”Messi adalah pemimpin yang diam. Ia amat menunjukkan kepribadiannya ketika bermain,” kata Jorge Sampoli, mantan pelatih Argentina. Veteran bola Sergio Bastita menambahkan, Messi mungkin kurang menonjolkan diri di lapangan. Tetapi ketika ia bicara di ruang ganti, semua mendengarka

    Di hadapan rekan-rekannya, Messi ternyata amat berwibawa dan bisa menunjukkan otoritas kepemimpinannya. Di ruang ganti, menjelang final Copa Amerika 2021 melawan Brasil, demikian ia menggugah semangat rekan-rekannya, ”Selama 45 hari kita dikurung dalam hotel, 45 hari kita tidak melihat keluarga kita, teman-teman. Itu semua untuk saat ini. Maka, kita pergi ke sana dan mengangkat piala, kita akan membawanya pulang ke Argentina. Aku ingin mengakhiri dengan ini: koinsidensi itu tidak ada. Kejuaraan ini seharusnya digelar di Argentina, tetapi Tuhan menghendaki itu dimainkan di Brasil, sehingga kita dapat menang di Maracana dan membuat lebih indah bagi kita semua.”

    Maksud Messi jelas, sangatlah terhormat bila Argentina bisa menundukkan Brasil, di kandang tuan rumah yang angker, Maracana. Maka bagi Messi, bukanlah kebetulan, jika dengan alasan lonjakan Covid-19 di Argentina, Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan membatalkan Argentina sebagai tuan rumah dan mengalihkannya ke Brasil. Itulah kesempatan untuk mempermalukan Brasil di kandangnya sendiri. Cita-cita Messi tercapai, Argentina menggondol pulang trofi Copa Amerika setelah menekuk Brasil, 1-0, di Maracana.

    Menurut Pelatih Lionel Scaloni, kini Messi telah tumbuh sebagai pemain dan pemimpin yang matang. ”Ia bertambah usia. Dulu, ia menggiring sendiri, lima sampai enam rekannya tak diberinya kesempatan. Kini ia lebih membutuhkan kesebelasannya, ia membantu timnya, ia membuat kesebelasannya bermain. Ia memainkan bola tidak lebih dari tiga detik saja. Ia lebih banyak menimbang. Ia tahu bagaimana harus berlatih dan bagaimana orang menjaga dan memperhatikannya,” kata Scaloni.

    Pelatih Messi di Paris Saint-Germain, Mauricio Pochettino, juga bilang, Messi sekarang lain dari sebelumnya. Bermain di klub lain dengan bermain dalam kesebelasan nasional. Sebagai pemain bintang, di kesebelasan nasional Messi bisa menjadi pusat. Di klub PSG, hal itu tidak bisa terjadi. Di sana ia harus berbagi peran dengan pemain besar lainnya, Neymar Jr, bintang Brasil dan Kylian Mbappe, bintang Perancis. Karena tidak terus menjadi pusat, Messi bisa mengurangi stresnya. Tidak hanya di lapangan, tetapi juga di hadapan media,

    Messi tidak lagi menganggap dirinya penting. Namun, tidak demikian anggapan rekan-rekannya. Kata kiper Emiliano Martinez, ”99 persen Argentina adalah Messi. Kami hanya 1 persen, sisanya. Kami berlari seperti singa dan berusaha membantu dia.”

    Mac Alisster memuji Messi sebagai pemain yang banyak membantu teman-temannya. Gelandang tengah Argentina itu selalu berusaha memberikan passing kepada Messi. Alasannya, jika bola di kaki Messi, semua akan menjadi mudah. Itu terjadi seperti otomatisme magis. Bahkan, ketika ia tidak bermaksud mengarah ke Messi, bola jatuh di kaki Messi. Bola seakan ingin menjadi miliknya. Tidak salah, karena kaki siapa yang bisa merasakan bola dengan sempurna melebihi kaki seorang Messi?

    Itu benar terjadi ketika Argentina mencetak gol pertama ke gawang Australia. ”Sesungguhnya saya bermaksud mengoper bola ke Ottamendi, tetapi bolanya menyasar ke Messi.” Waktu itu Ottamendi tampak kehilangan kontrol dan Messi menyambutnya, menyentuhnya sebentar, lalu menyarangkannya ke gawang lawan. ”Saya bilang ke Leo, itulah asis saya bagimu,” gurau Ottomendi tentang passing yang meleset tetapi benar itu.

     

    Messi harus menang demi Argentina. Itulah beban berat di pundak Messi. Maka, bek kiri Nicolas Tagliafico senang ketika Messi berani bilang, ”Saya sesekali bermain untuk anak-anak saya, bukan untuk Argentina.” Dengan begitu, beban akan pergi dari pundaknya, dan ia akan memperoleh kembali rasa kebebasannya, lalu akan menang dengan lebih mudah, demi anak-anaknya, dan tentu saja juga demi rakyat Argentina.

    Argentina sadar tak mudah menaklukkan Belanda pada laga perempat final. Apalagi Louis van Gaal mengancam, ”Kami harus membuat perhitungan dengan Argentina.” Sampai sekarang, Van Gaal masih kesal mengenang kekalahan Belanda lewat adu penalti dari Argentina pada semifinal Piala Dunia 2014. Dan, ia hendak menebusnya sekarang.

    Kata Van Gaal, ”Messi hebat, tetapi saya melihat, selama ini Messi tampak tidak banyak beraksi ketika lawan-lawannya menguasai bola. Itu tentu sebuah peluang bagi kami.” Van Gaal juga tidak peduli pernyataan jurnalis yang menilai Belanda memainkan sepak bola negatif dan membosankan. ”Itu pendapat Anda, tetapi saya tidak berpikir bahwa pendapat Anda adalah pendapat yang benar,” kata Van Gaal ketus.

    Van Gaal menegaskan, dalam meraih cita-citanya, Belanda akan meniti sendiri jalannya dengan tenang dan pasti. Semua tentu menanti dengan berdebar-debar, apakah Van Gaal nanti bisa sungguh membuat perhitungan dengan Argentina.

    *******************************************************

    Sumber Tuklisan Kompas 9 Desember 2022

  •  Inteligensia Indonesia

     Inteligensia Indonesia

     

    Oleh  Ignas  Kleden

     

    Dalam pengertian yang disederhanakan, inteligensia adalah kaum terpelajar dan terdidik yang berperan sebagai ujung tombak perubahan dan pembaruan masyarakatnya.

    Di pihak lain, kita mendapati kaum literati yang berperan sebagai benteng pertahanan nilai, norma, dan perilaku budaya. Mereka ini terpanggil merawat dan melestarikan nilai-nilai dan bentuk kebudayaan, khususnya dalam seni dan sastra, menurut pakem-pakem yang berlaku dalam tradisi. Sebaliknya, kaum inteligensia merasa terpanggil untuk menerobos batas-batas tradisi demi menjajaki kemungkinan lain yang diperlukan untuk memperbarui tradisi sebagai prasyarat bagi pembentukan masyarakat baru.

    Ketika Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berpolemik dengan guru-guru bahasa Melayu yang merasa harus setia kepada paramasastra Melayu, sementara STA membuka kemungkinan baru dalam pemakaian bahasa Indonesia, maka di sana terjadi polemik antara inteligensia dan literati. Sama halnya dalam debat dengan lawan-lawannya dalam Polemik Kebudayaan, dia bertindak sebagai inteligensia yang menganjurkan pembentukan kebudayaan Indonesia baru berdasarkan etos kebudayaan Barat, sambil mendesak agar kebudayaan lama dalam tradisi ditinggalkan saja sebagai kebudayaan pre-Indonesia. Sikap ini jelas memancing reaksi para literati yang melihat pentingnya tradisi dalam kebudayaan Indonesia,  baik karena tradisi itu sudah berfungsi selama ratusan tahun maupun karena kebudayaan Barat memperlihatkan berbagai ekses yang dapat merugikan kebudayaan Indonesia.

    STA hanya salah satu contoh. Kebangkitan gerakan kebangsaan di Hindia Belanda sejak dasawarsa pertama abad ke-20 telah digerakkan para inteligensia. Para Ibu dan Bapak Bangsa, seperti Kartini, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Cokroaminoto, Haji Agus Salim, ataupun Sam Ratulangi adalah kaum inteligensia yang lahir dari pendidikan Barat hasil Politik Etis pemerintah kolonial, yang kemudian mengambil jarak dari tradisi politik kolonial yang intinya menciptakan rust en orde, yaitu ketenangan dan ketertiban di seluruh koloni. Dengan segala cara, kaum inteligensia berusaha membuka mata bangsanya bahwa ideal masyarakat yang tenang dan tertib hanya opium yang membuat orang tak sadar lagi tentang demikian banyak penderitaan, ketidakadilan, pemerasan, dan kehinaan yang diterima begitu saja oleh penduduk pribumi, yang merasa harus ikut bertanggung jawab atas terciptanya ketenangan dan ketertiban.

    Diperlihatkan diskriminasi dan ketidakadilan yang terwujud dalam berbagai sektor. Di bidang sosial diciptakan diskriminasi rasial dalam pembagian kerja antara penduduk Eropa, penduduk Timur Asing, dan penduduk pribumi, sementara orang banyak dibius dalam diskriminasi ini melalui penamaan ilmiah yang keren, seperti ethnically stratified division of labor atau pembagian kerja berdasarkan stratifikasi etnik. Dalam ekonomi diperkenalkan dualisme ekonomi, dengan penjelasan bahwa ekonomi kolonial yang berorientasi ekspor harus dipisahkan dari ekonomi penduduk yang subsisten, yang menjamin ketenangan penduduk di pedesaan, karena ekonomi pasar tidak boleh mengganggu kerukunan hidup penduduk.

    Dalam bidang bahasa diciptakan diskriminasi linguistik. Pribumi, khususnya anak-anak bangsawan lokal, diberi kesempatan belajar bahasa Belanda, tetapi dalam pergaulan sehari-hari penduduk setempat dilarang bicara Belanda dengan tuan-tuan Belanda, dan hanya boleh mempergunakan bahasa Melayu pasar, seakan bahasa Belanda terlalu mulia dipergunakan oleh para inlander. Dalam bidang politik dilancarkan secara gencar politik pecah-belah atau divide et impera melalui konflik dan persaingan yang direkayasa dan didorong antara para raja di berbagai kerajaan Nusantara, dan antara para bangsawan dan rakyat jelata. Pendidikan dibatasi hanya untuk anak-anak bangsawan atau para pejabat pribumi yang bergaji cukup, sementara patriarki dalam tradisi kebudayaan lokal diperkuat dengan membatasi pendidikan kaum perempuan.

     

    Kesadaran kebangsaan

    Kesimpulan para inteligensia kita: semua ketidakadilan, diskriminasi, penderitaan, dan kehinaan itu telah lahir dari satu kenyataan yang sama, yaitu hilangnya hak-hak suatu bangsa untuk menentukan dan mengatur dirinya sendiri, dan menggantungkan nasibnya pada kekuasaan bangsa lain. Perlahan lahir kesadaran kebangsaan. Ahli politik Ben Anderson menjadi masyhur di antara ahli ilmu sosial di seluruh dunia dengan definisinya tentang bangsa sebagai komunitas politik yang hanya terbayangkan karena sebagian besar anggotanya tak pernah bertemu dan tak saling mengenal, tetapi sama-sama merasa anggota suatu komunitas politik yang sama. Namun,  jauh sebelumnya, Soekarno bertolak dari paham lain dan berpegang pada definisi Otto Bauer: eine Nation ist eine aus Schicksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft.

    Soekarno menegaskan, bangsa lahir dari persatuan nasib yang membawa persatuan perangai. Betapa pun menariknya  argumen akademis dan teoretis yang diajukan Ben Anderson, suatu bangsa yang sedang bergolak tak dapat dikobarkan semangatnya jika kepada mereka dimaklumkan bangsa adalah  an imagined political community. Dalam pengertian Soekarno, suatu bangsa tak lahir dari bayangan tentang suatu komunitas politik, tetapi  dari pengalaman tentang penderitaan yang sama, nasib sama, yang akhirnya menghasilkan perangai sama disertai tekad sama.

    Lahir kemudian berbagai inisiatif untuk pembebasan sekaligus dibangun kesadaran nasionalis tentang hak suatu bangsa untuk mengatur dirinya sendiri, dan dengan cara itu menciptakan martabatnya di antara bangsa-bangsa lain di dunia sebagai bangsa dan negara merdeka. Hatta dan Sjahrir memberikan kursus-kursus untuk mendidik kader agar menguasai kepandaian teknis dan administratif sehingga para kader ini kelak sanggup mengambil alih administrasi pemerintahan dari tangan administrator kolonial. Soekarno, lewat pidato-pidatonya yang gempar, menekankan perlunya persatuan semua golongan sebagai sarana melumpuhkan tipu muslihat adu domba yang memecah-belah, dan sekaligus mengerahkan massa rakyat untuk bersatu padu dalam machtsvorming (pembentukan kekuatan politik).

    Kartini, lewat surat-suratnya, membuka pintu emansipasi bagi kaum perempuan dan mendorong pendidikan untuk mereka. Tan Malaka mendirikan sekolah untuk anak-anak buruh perkebunan dan mengajarkan bahwa tenaga kerja buruh adalah faktor produksi yang sama penting dengan modal tuan-tuan besar pemilik perkebunan sehingga mereka harus berani dan sanggup membela tenaga kerja mereka berdasar asas keadilan menurut hukum berlaku. Cokroaminoto dan Agus Salim mendidik umat bahwa Islam memuliakan persamaan dan keadilan dan dapat jadi tempat perlindungan bagi mereka yang terdiskriminasi dan tertindas, sementara agama adalah ruang suci yang tak bisa diterobos oleh kekuatan asing.

    Tentu saja tak dapat dikatakan, kaum inteligensia Indonesia 1930-1940-an adalah satu-satunya pihak yang membawa Indonesia kepada kemerdekaan. Ada begitu banyak golongan yang terlibat dalam perjuangan itu: para pemuda revolusioner, pemimpin agama, para saudagar, khususnya saudagar Islam yang terorganisasi dalam Serikat Dagang Islam, para pejuang gerilya, serta para buruh dan tani. Namun, kaum inteligensia  telah memberikan inspirasi pertama tentang kebangsaan dan kemerdekaan, dan memimpin perjuangan sepanjang jalan. Merekalah yang membuka mata rakyatnya terhadap perlunya kemerdekaan politik, kemerdekaan budaya, kemerdekaan ekonomi, kemerdekaan linguistis, serta kemerdekaan dalam pertahanan dan keamanan. Jenderal Sudirman adalah seorang guru, seorang inteligensia, yang kemudian bersinar sebagai idola bagi perjuangan bersenjata.

     

    Apa dan siapa kaum inteligensia

    Tak semua intelektual dan akademisi berperan sebagai inteligensia. Kelompok Mandarin dalam kekaisaran Tiongkok klasik adalah intelektual yang terdidik dan terpelajar secara literer dan humanistis. Mereka punya pengetahuan mendalam tentang sastra dan kebudayaan, tetapi pengetahuan ini menjadi prasyarat agar mereka diterima dalam salah satu dari sembilan tingkat kepegawaian dalam birokrasi Tiongkok klasik. Mereka berperan sebagai literati, tetapi bukan inteligensia.

    Dalam sejarah intelektual di Barat, di bawah pengaruh zaman Romantik, dengan Rousseau di Perancis sebagai eksponen utama, muncul kelompok yang bukan saja melepaskan diri dari rasionalisme masa Pencerahan, tetapi juga dari basis sosial borjuasi baru, dan menjadi apa yang oleh sosiolog Karl Mannheim dinamakan sozial freischwebende Intellektuelle yang diterjemahkannya sendiri ke bahasa Inggris sebagai socially unattached intellectuals atau yang boleh kita namakan free-floating intellectuals. Mereka bukanlah intelektual organik dalam pengertian Gramsci, yaitu mereka yang merumuskan aspirasi kelasnya dan menjadi juru bicara kelas.

    Inteligensia yang muncul di masa Romantik hidup dengan pandangan dunia yang romantis dalam kondisi ekonomis labil. Secara intelektual, mereka tak utamakan pengetahuan sistematis yang tersusun rapi tentang keadaan masyarakatnya, tetapi mengimpikan dan mendorong orang ke suatu susunan masyarakat lain yang baru. Untuk mereka, sikap romantis suatu kekuatan. Mannheim mengutip Novalis penyair Jerman yang hidup akhir abad ke-18 dan mewujudkan semangat romantik dalam sajak-sajaknya. Kata Novalis, “Bersikap dan berlaku romantis tak lain dari meningkatkan potensi seseorang secara kualitatif. Diri yang rendah diidentifikasikan sebagai diri yang lebih baik dalam sikap ini.. Karena tatkala melihat nilai yang tinggi dalam sesuatu yang banal, memberi wibawa yang penuh rahasia kepada  pada yang remeh temeh, menemukan martabat dari sesuatu yang tak dikenal dalam apa yang dikenal, dan memandang yang fana seolah-olah suatu yang abadi, maka saya bertindak romantis.”

    Intelektual yang berperan sebagai inteligensia tak jadi tawanan masa sekarang, tetapi jadi perintis masa depan. Mengutip filosof Ernst Bloch, mereka bukanlah orang yang menikmati dan mempertahankan apa yang ada, tetapi mengambil risiko mewujudkan yang belum ada. Ini bukan ideal khayali. Soekarno tak membangun kantor kontraktor bangunan, tetapi menceburkan diri dalam usaha pembangunan lain yang bernama nation building. Agus Salim sebagai polyglotyang mendekati genius, tak mendirikan sekolah bahasa asing atau jadi juru bahasa tingkat tinggi, tetapi bergiat sebagai pejuang yang mencerdaskan rakyat melalui berbagai tulisan. Hatta tak menyewakan tenaganya sebagai konsultan ekonomi, atau bankir, tetapi memberi pendidikan untuk koperasi bagi rakyat, dan bersama Sjahrir mendidik para kader politik. Sam Ratulangi tak melamar jadi guru besar matematika, tetapi memimpin perjuangan politik di daerah.

    Semua ini dikatakan tak untuk menafikan pentingnya profesionalisme, kepandaian teknis, atau keahlian para spesialis bagi kemajuan bangsa. Namun, perlu diingat kembali, Indonesia tak akan bangkit berdiri sebagai bangsa dan negara kalau kaum yang paling terpelajar dan terdidik pada suatu masa yang genting tak mengutamakan kemajuan diri mereka dan mantapnya basis ekonomi dan sosial yang dimungkinkan untuk mereka berkat keahlian yang dikuasai, tetapi memilih menjadi freschwebende Intellektuelleseperti kata sosiolog Mannheim, dan mencoba  jadi inteligensia yang berenang dan mengambang di antara beberapa kemungkinan yang sempit, memperkenalkan ide baru tentang kebangsaan dan kemerdekaan, yang untuk bangsanya sendiri pada saat itu, barangkali merupakan gagasan asing yang dianggap hanya menggantang asap.

    Dalam lintasan sejarah modern Indonesia, para inteligensia pada awal abad ke-20 adalah mereka yang terlibat dalam perjuangan politik dengan menjadi penggagas nasionalisme dan kemungkinan untuk merdeka. Pada tahun-tahun pertama setelah kemerdekaan, mereka merelakan diri menjadi statesmen, yaitu negarawan yang memimpin bangsa dan negaranya, hidup dalam kehidupan ekonomi serba compang-camping bersama rakyatnya dan membangun kepercayaan diri bangsanya untuk tegak berdiri. Pada zaman Demokrasi Terpimpin dan sesudahnya, mereka jadi kelompok yang berjuang dalam partai-partai politik yang yakin bahwa ideologi masing-masing adalah jalan terbaik membawa Indonesia menuju kemajuan.

    Pada masa Orde Baru, kaum terpelajar amat dibutuhkan oleh administrasi pemerintahan Soeharto dan diserap dalam administrasi pemerintahan Orde Baru. Ideologi dianggap momok yang menghalangi pembangunan ekonomi. Pembangunan diterjemahkan jadi teknokrasi, ibarat mesin yang tiap bagiannya harus dijalankan oleh masing-masing insinyur berijazah khusus. Pada masa reformasi, kaum terpelajar memilih di antara tiga kemungkinan tersedia, jadi bagian dari administrasi pemerintahan, bergabung dengan kekuatan politik dalam parpol, atau mencari basis sosial dalam dunia industri dan bisnis sebagai tenaga ahli atau konsultan yang dibayar mahal. Inteligensia adalah bagian sejarah lahirnya suatu bangsa dan negara merdeka. Peran ini tak boleh hilang karena orang enggan hidup dengan mengambil risiko labilnya basis sosial-ekonomi yang jadi zona nyaman untuk hidupnya sendiri. Peran ini layak dipertahankan agar kita tak mengulang teriakan dan ratapan bangsa Jerman setelah kalah Perang Dunia II dengan menyanyikan elegi baru bagi negeri ini, noch ist Indonesien nicht verloren, Indonesia belum kalah  dan belum  hilang lenyap.

     

                               ********************************************

     IGNAS KLEDEN,   Sosiolog

    *Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Februari 2016.

  • Pemanfaatan Rekayasa Genetika untuk Keberlangsungan Hidup Manusia

    Pemanfaatan Rekayasa Genetika untuk Keberlangsungan Hidup Manusia

    Oleh  Cicilia Damayanti,  Pengajar dan Konsultan Pendidikan

     

    Pendahuluan

    Pernahkah mendengar nama He Jiankui? He Jiankui adalah seorang peneliti kesehatan dari Cina dan mantan profesor dari Southern University of Science and Technology di Shenzhen. Pada 1 November 2018 dia mengklaim telah berhasil merekayasa genetika bayi untuk pertama kalinya dalam sejarah. Berkat penemuan tersebut dia dipecat dari jabatannya dan harus mendekam di penjara selama 3 tahun. Rekayasa genetika yang dilakukannya dianggap belum dapat dilakukan terhadap manusia. Sebab menurut para ilmuwan metode tersebut masih membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut sebelum digunakan bagi manusia.

    Peristiwa yang terjadi pada He Jiankui membuktikan bahwa terobosan baru dalam dunia kesehatan dan teknologi tidak pernah tanpa konflik. Program bayi tabung pertama, Louise Brown pada tahun 1978, memunculkan perdebatan publik yang sangat tajam. Tapi sekarang, banyak orang yang justru merasa tertolong dengan teknik ini. Terutama bagi mereka yang ingin memiliki keturunan.

    Pada tahun 1996 saat kloning hewan pertama kali, domba Dolly, juga memunculkan perdebatan etika di banyak kalangan. Tetapi saat ini sudah mulai diterima bahkan dikembangkan di beberapa area. Kloning hewan transgenerik mulai digunakan untuk penelitian dalam ilmu kesehatan. Bukankah tidak mungkin bila teknologi rekayasa genetika ini akan diterima demi kepentingan dan keselamatan manusia?

    Metode Rekayasa Genetika

    Rekayasa genetika seperti yang dilakukan He Jiankui merupakan penyisipan, penggantian, atau pembuangan DNA pada genom suatu organisme hidup. Teknologi ini menggunakan enzim-enzim nuclease yang direkayasa untuk memotong dan menyambungnya (Kuntz, 2022). He kemudian mengembangkan mekanisme perbaikan manusia dengan menggunakan teknik editing genetika yakni CRISPR-Cas9 atau gunting genetika.

    Teknik Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats (CRISPR) dikembangkan oleh Emmanuelle Charpentier dari Perancis dan Jennifer Doudna dari Amerika Serikat pada tahun 2011 (Ahmad et al., 2022). Mekanisme yang dilakukan CRISPR memungkinkan sel untuk merekam dari waktu ke waktu virus yang terdeteksi olehnya. Teknologi CRISPR membantu para ilmuwan mengubah DNA pada sel-sel sehingga manusia memiliki kesempatan untuk sembuh dari penyakit genetika.

    Bagian dari sistem CRISPR adalah protein yang disebut Cas9. Protein Cas9 mampu mencari, memotong, dan menurunkan DNA virus dengan cara tertentu. Aktivitas Cas9 dimanfaatkan untuk merekayasa genetika (Goldstein, 2022). Cara kerjanya adalah menghapus atau menyisipkan bit tertentu dari DNA ke dalam sel dengan ketepatan yang akurat.

    Teknologi CRISPR memiliki daya tarik tersendiri karena relatif lebih sederhana. Para ilmuwan bisa mengubah DNA hewan, tumbuhan, maupun organisme mikro dengan presisi yang sangat tepat. Teknik ini mempunyai tingkat akurasi yang tinggi, mudah digunakan, dan relatif tidak mahal. Biasanya digunakan di bidang pertanian untuk mengamankan produksi pangan agar tetap terjaga dengan sistem yang ramah lingkungan.

    Yang harus menjadi bahan pertimbangan adalah bahwa teknologi CRISPR dapat digunakan untuk mewujudkan hal-hal yang dulu hanya ada di film fiksi ilmiah (Grunwald, 2021). Teknologi ini dimanfaatkan untuk membuat tubuh manusia menjadi sempurna. CRISPR diklaim dapat menjadi alat untuk “mendesain manusia”. Seperti: tulang lebih kuat, mencegah kebotakan, IQ tinggi, mengantisipasi penyakit genetik, menciptakan warna mata yang berbeda, bahkan bisa menjadikan tubuh lebih tinggi.

    Saat ini yang menjadi pertimbangan adalah tentang nasib embrio yang sudah terbentuk. Dengan adanya rekayasa DNA manusia dinilai sudah tidak memiliki otoritas atas hidupnya sendiri. Sejak awal mereka sudah “diciptakan” oleh orang lain. Perdebatan seru yang terjadi adalah tentang status moral embrio. Apakah mereka sudah makhluk hidup atau hanya entitas biokimia natural?

    Menghargai Kehidupan demi Keselamatan Manusia

    Nasib embiro manusia masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Terutama tentang kesepakatan awal hidup embrio. Tetapi beberapa dekade ini para ilmuwan mulai menunjukkan kesepakatan. Seperti dilansir dari jurnal BMC Medical Ethics (https://doi.org/10.1186/s12910-022-00840-6), mereka meyakini bahwa embrio dalam fase pra-implantasi dapat digunakan untuk kepentingan penelitian kesehatan.

    Penelitian ini dipakai untuk menemukan pengobatan terbaru, yakni sel punca, yang dapat meringankan penderitaan banyak orang. Sebagian besar metode yang digunakan untuk mendapatkan sel punca embrionik adalah dengan menghancurkan embrio berumur 3 sampai 5 hari. Kebanyakan sel induk embrionik berasal dari embrio yang berkembang dari telur yang dibuahi secara in vitro. Kemudian disumbangkan dengan persetujuan dari pendonor.

    Penelitian yang dilakukan oleh BMC menemukan bahwa pada tahun 2009 50% pasangan di Swiss meyakini bahwa embrio memiliki hak dan martabat yang sama dengan manusia. Tetapi penelitian di tempat lain menunjukkan bagaimana donor embrio mengalami peningkatan. Pasangan pendonor embrio di Australia mencapai 27% dan di Swedia 92%. Bahkan di Cina, Denmark, dan Switzerland sekitar 26-41% pasangan positif mendukung program pendonoran embrio.

    Saat diwawancara mereka menyatakan bahwa tindakan ini dilakukan terutama demi kemanusiaan dan mendukung kemajuan di bidang kesehatan. Salah satu contohnya adalah anak-anak penderita kanker. Donor embrio yang mereka lakukan telah membantu para ilmuwan mengembangkan inovasi sel punca untuk memberi kesempatan hidup bagi anak-anak tersebut. Sekarang mereka dapat tersenyum dan bermain lagi bersama teman-teman.

    Manusia saat ini berada di persimpangan antara mendukung teknologi atau kehidupan. Teknologi CRISPR-Cas9 masih perlu dikembangkan dan diuji sebelum dapat dipakai untuk manusia. Tetapi hal yang tidak dapat dipungkiri adalah teknologi ini membantu manusia untuk mengatasi persoalan hidup seperti kelaparan dan kesembuhan penyakit termasuk Covid-19. Teknologi ini secara etis dapat diterima jika digunakan untuk menyejahterakan dan melindungi umat manusia. Khususnya mereka yang terpinggirkan.

    Penutup

    Saat ini yang perlu menjadi perhatian bersama adalah kita hidup bersama dengan yang lain. Di mana solidaritas dibutuhkan untuk membangun rasa persaudaraan dengan sesama. Persaudaraan akan berjalan dengan baik bila berdasarkan pada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara diri sendiri dan orang lain.

    Petuah “perlakukan orang lain seperti dirimu ingin diperlakukan”, mengandung pesan bahwa orang lain perlu dihormati martabatnya sebagai manusia. Hal yang dapat kita lakukan adalah menjadikan orang lain sebagai tujuan. Untuk itu perlu terus dikembangkan dialog dan kerja sama agar kualitas kehidupan manusia dapat ditingkatkan. Manusia sebagai arsitek kehidupan (Baconian Homo Faber) bertanggung jawab untuk menghargai otonomi dan otoritas makhluk hidup yang lain.

    **************************************************

     

  • BEI Gelar Diskusi dan Sharing Merdeka Belajar dan Mengajar di Perbatasan RI – RDTL

    BEI Gelar Diskusi dan Sharing Merdeka Belajar dan Mengajar di Perbatasan RI – RDTL

    Atambua berandanegeri.com – Dalam rangka memperingati hari guru nasional, Beyond Education Indonesia (BEI) bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Astanara Keuskupan Atambua menyelenggarakan diskusi tentang implementasi merdeka belajar di wilayah perbatasan NKRI, Sabtu 26 -11-2022.

    Diskusi yang mengusung tema “Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar di Perbatasan NKRI” menghadirkan narasumber Vinsensius Brisius Leo, Ketua Yayasan Pendidikan Astanara Keuskupan Atambua dan Fajar Muharam, selaku Co Founder Beyond Education Indonesia.

    Selain itu juga menghadirkan narasumber lain, Ela Nurlaela, Kepala Sekolah MTS Al-Fatah, Nur Syafitri, Kaprodi Broadcasting dan Perfilman SMK Taruna Bhakti Depok.

    Founder Beyond Education Indonesia dan Beyond Borders Indonesia, Dr. Rahtika Diana mengemukakan pentingnya mengangkat isu pendidikan di wilayah perbatasan NKRI – RDTL

    Hal itu mengingat wilayah tersebut strategis sebagai  beranda terdepan negara dan bagian dari sistem pertahanan nasional wilayah NKRI

    Selain peningkatan SDM di daerah tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan dan konsep inti kurikulum merdeka belajar kesenjangan pendidikan di berbagai daerah termasuk perbatasan NKRI dapat teratasi.

    Hal itu perlu diamati seberapa siap para guru di daerah untuk mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar dan hal- hal yang menjadi kendala.

    Fajar Muharam selaku Co Founder Beyond Education Indonesia menjelaskan bahwa Beyond Education Indonesia memberikan perhatian khusus pendidikan di perbatasan.

    Dimana kondisi pada umumnya memprihatinkan dari sarana prasarana yang tidak memadai, kurangnya motivasi peserta didik untuk belajar dan rendahnya kesejahteraan guru secara ekonomi.

    “Keadaan ini berbanding terbalik kalau dilihat dari sekolah unggulan di kota kota besar dengan fasilitas lengkap dan pembelajaran nyaman,” ujarnya.

    Menurut Fajar, Kurikulum merdeka belajar menjadi topik yang menarik dunia pendidikan Indonesia saat ini karena fleksibilitas pembelajaran, fokus pada materi esensial dan menekankan pada pengembangan karakter peserta didik.

    Hal yang perlu dipahami adalah kurikulum merdeka belajar berorientasi pada kebebasan berinovasi dan berkreatifitas bagi guru dan peserta didik.

    Diskusi ini menjadi ruang sharing session mengenai kurikulum merdeka belajar dan para guru khususnya di Atambua untuk memahami konsep merdeka belajar dan kendala yang dihadapi.

    Vinsensius Brisius Leo, Ketua Yayasan Pendidikan Astanara Keuskupan Atambua,mengatakan rendahnya literasi masyarakat dan masalah ekonomi menjadi hambatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan layak di Atambua.

    Selain itu, rendahnya kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidikan dan kependidikan menjadi masalah tersendiri dan perlu diatasi agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Atambua.

    Kegiatan serupa  bertema sudah pernah dilakukan sebelumnya, yakni di Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara. Akan diselenggarakan di daerah lain seperti Kabupaten Natuna, daerah lainnya.

    Antusiasme masyarakat dengan kehadiran Beyond Education Indonesia di perbatasan NKRI menunjukkan bahwa pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut perlu mendapat perhatian khusus.( Athick).

    ************

     

  • Siaran Pers Bupati Dogiyai mengenai Masalah Kecelakaan Lalu Lintas dan Kerusuhan di Kabupaten Dogiyai

    Siaran Pers Bupati Dogiyai mengenai Masalah Kecelakaan Lalu Lintas dan Kerusuhan di Kabupaten Dogiyai

    Kigimani berandanegeri.com. Pada hari Sabtu, 12 November 2022 telah terjadi kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan satu orang meninggal dunia di Kampung Putapa, Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai. Kasus ini kemudian berlanjut dengan dilakukannya pembakaran rumah warga, kios, dan kantor pemerintah Kabupaten Dogiyai, pembunuhan terhadap satu orang warga, dua orang anggota polisi terluka akibat terkena panah, satu orang warga terluka, dan empat orang sementara dinyatakan hilang.

    Menanggapi masalah tersebut, Bupati Dogiyai menyampaikan beberapa pernyataan sebagai berikut:

    • Pemerintah Kabupaten Dogiyai menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya warga Kabupaten Dogiyai akibat kecelakaan lalu lintas maupun akibat pembunuhan yang dilakukan oleh pihak yang terlibat dalam kerusuhan. Kami berdoa semoga arwah mereka diterima di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan dan kebahagiaan dalam hidupnya di dunia.
    • Pelaku kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan seorang anak meninggal dunia agar diproses hukum dan diberi hukuman sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
    • Pemerintah Kabupaten Dogiyai mengutuk keras semua pihak yang melakukan kerusuhan dan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun, yang menyebabkan terbunuhnya warga yang tidak bersalah, melakukan pembakaran rumah, kios dan kantor, dan melakukan pemanahan terhadap anggota polisi yang sedang melaksanakan tugas.
    • Pihak penegak hukum harus mengambil tindakan tegas dengan memproses hukum semua pihak atau pelaku yang terlibat dalam kerusuhan dan tindakan kekerasan dalam kasus ini.
    • Berlaku sejak terjadinya permasalahan ini sampai waktu yang tidak ditentukan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru, pengamanan di wilayah Kabupaten Dogiyai lebih ditingkatkan. Bersamaan dengan itu, dilarang keras melakukan aksi demonstrasi, kegiatan-kegiatan dalam bentuk massa kecuali untuk kepentingan ibadah, dan tindakan-tindakan lain yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan keamanan dan ketertibaan.
    • Disampaikam kepada semua pihak agar tidak melakukan tindakan provokasi dalam bentuk apapun dan tidak menyebarkan berita bohong (hoax) secara lisan maupun melalui media massa dan media sosial yang dapat memperparah gangguan keamanan dan ketertiban di Kabupaten Dogiyai.
    • Pemerintah Kabupaten Dogiyai akan melakukan pendataan terhadap semua kerugiaan yang dialami oleh warga yang tidak bersalah dan akan dilakukan penanganan secara wajar atas kerugiaan-kerugiaan tersebut dengan berpedoman pada aturan perundang-undangan yang berlaku.
    • Pemerintah Kabupaten Dogiyai akan melakukan proses pemulihan pasca-kerusuhan dengan melibatkan semua pihak. Untuk itu, dihimbau kepada semua warga Kabupaten Dogiyai untuk tetap beraktivitas secara normal dan tetap menjaga keamanan dan ketertiban.

    Kigamani, 14 November 2022

    BUPATI DOGIYAI, YAKOBUS DUMUPA, S.IP, M.I.P

  • Metanoia

    Metanoia

     

    Oleh Stephie Kleden-Beetz

     

    “To err is human, to forgive Divine”. Alexander Pop (Khilaf itu manusiawi, memaafkan adalah ilahi).

    Pada 1830 George Wilson divonis menjalani hukuman gantung karena telah merampok sebuah kantor pos di Amerika Serikat. Namun presiden Andrew Jackson mengeluarkan surat pengampunan bagi Wilson. Anehnya Wilson menolak pengampunan itu. Pengadilan Tinggi akhirnya memutuskan bahwa jika seseorang tidak menerima pengampunan yang diberikan, ia harus menjalani hukuman itu. George Wilson pun menjalani hukuman gantung.

    Dalam Divine Comedy-nya, Dante berkisah tentang dendam kesumat yang tak mengenal ampun. Adalah Ugolino della Gherardesca dan Uskup Agung Ruggieri degli Ubaldin yang bersepakat untuk sebuah urusan politik, kalau tidak keliru. Tetapi uskup agung itu mengkhianati Ugolino. Ugolino beserta putera dan cucunya ditawan dan dihukum mati. Dalam petualangan literaturnya, Dante kebetulan lewat di neraka. Eh, tampak olehnya Uskup Agung dan Ugolino berhimpit-himpit dalam lubang derita yang sama. Bedanya Ugolino terus saja menggerogoti Ruggieri karena lapar oleh dendamnya yang abdi, tak mengenal ampun.

    Setelah membaca Dante betapa sejuknya hati ketika kita menoleh ke Rembrant dengan karyanya yang gemilang “Si Anak Hilang” yang dirangkul mesra oleh sang bapak. Bunda Theresa berkata: “Jika kita benar-benar mencintai, kita harus belajar mengampuni”.

    Mengampuni adalah tindakan yang membebaskan kita dari penjara dendam. Berbicara tentang pengampunan, harus ada dulu dosa dan kesalahan. Langkah memberi ampun harus lewat tahap yang bernama tobat, ya penyesalan. Tanpa itu ampunan tidak mempunyai nilai. Dalam Kitab Suci kata “Repentance” – sesal, tobat, tercantum sampai 70 kali. Orang Yunani menyebutnya “Metanoia” dari kata meta yang artinya mengubah atau perubahan dan nous = pikiran. Namun yang sesungguhnya bukanlah semata-mata mengubah pikiran melainkan harus sampai ke esensinya yaitu mengubah hati. “Koyakkan hatimu dan bukan pakaianmu” seperti yang kita baca dalam Kitab Suci. Tobat menurut Thomas Watson meliputi tahap-tahap berikut: 1. Sadar akan kesalahan kita. 2. Sesali kesalahan kita. 3. Mengakui kesalahan kita. 4. Berpaling dari kesalahan.

    Pengampunan adalah hadiah yang kita berikan pada diri sendiri. Dengan tidak mengampuni kita menanam racun dalam diri kita. Racun yang pasti merusakkan. Penelitian ilmiah menemukan bahwa memberi ampun amat berguna untuk kesehatan tubuh dan kesehatan rohani. Pengampunan dapat meneyembuhkan diri sendiri, perkawinan, keluarga, masyarakat dan bahkan seluruh bangsa. Mahatma Gandhi berkata: “Mengampuni adalah pertanda kekuatan seseorang. Bila kita mengampuni sebenarnya itu kita buat hanya untuk diri sendiri, bukan untuk siapa-siapa”.

    Kata orang, “Pengampunan adalah dendam yang paling manis”. Oscard Wilde menyimpulkan begini: “Tak ada yang lebih mengganggu musuhmu, selain bila engkau mengampuni”.

    Kita ingat kisah dua bersaudara John dan Bill. Bertahun-tahun hidup rukun, tanah pertanian dikerjakan bersama. Tetapi pada suatu hari ada salah paham antara keduanya. Salah paham berubah jadi pertengkaran sengit sampai saling mendiamkan berminggu-minggu bahkan berbulan.

    Suatu pagi ada ketukan di rumah John. Seorang tukang mencari pekerjaan. John berkata, oh kebetulan ada rencana saya membangun tembok. Coba lihat, itu batas antara rumahku dan rumah adikku Bill. Sekarang saya tak mau lagi melihat wajahnya, jadi silahkan bangun tembok setinggi mungkin. Tanpa bertanya lagi, si tukang mulai bekerja.

    Ketika sore tiba dan John memeriksa hasil pekerjaan si tukang itu, ia menjerit, astaga! Saya kan suruh dirikan tembok, koq malah yang dibangun jembatan? Pada saat itu Bill telah berlari dari ujung jembatan, sambil merentangkan tangannya untuk memeluk abangnya. Kata Bill: “Aduh abang baik benar hatimu. Setelah kita bertengkar hebat, engkau mau membangun jembatan penghubung”. John tergagap dan membalas rangkulan adiknya.

    Sementara itu si tukang bergegas pergi. John menahannya, jangan pergi dulu, masih ada banyak pekerjaan. Tapi si tukang menjawab: “Maaf masih banyak sekali jembatan yang harus dibangun”.

    “Jika sebuah pintu sudah tertutup, pasti masih ada pintu lain yang terbuka” (Alexander Graham Bell). Dan………luka di batin tak akan pernah sembuh, sebelum ada pengampunan. Benarlah “Khilaf itu manusiawi, mengampuni adalah ilahi.

    ************

    Sumber Tulisan Warta Flobamora, Edisi 52 Mei 2017

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Planetariasme untuk Pergerakan Kaum Muda Masa Kini

    Planetariasme untuk Pergerakan Kaum Muda Masa Kini

     

    Oleh  Cicilia Damayanti, Pengajar dan Konsultan Pendidikan

     

    Pendahuluan

    Dunia menuju normal setelah dihantam pandemi covid-19 melahirkan era yang semakin penuh dengan ketidakpastian. Sebelum pandemi merebak, VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) hadir sebagai era yang penuh dengan gejolak, ketidakpastian, sangat komplek, dan ambigu. Perubahan ditengarai sebagai hal yang konstan, tidak dapat dihindari, dan pasti. Pandemi Covid-19 semakin menambah keruwetan yang sulit terurai, dan memunculkan era BANI (Brittle, Anxious, Non-Linear, Incomprehensible). Era Bani, yang dikenal sebagai era yang rapuh, penuh kecemasan, permasalahan yang semakin tidak berkaitan, dan sulit dipahami, seolah menjadi jalan buntu karena kekacauan dunia semakin tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir.

    Saat ini dunia sedang memasuki era antroposen atau yang dikenal sebagai era manusia. Pada masa ini manusia adalah subjek yang superior. Terutama karena manusia dianggap sebagai penyebab terjadinya segala perubahan di bumi. Homo sapiens yang berkuasa atas bumi dan segala isinya. Era Antroposen (Anthropocene) merupakan satuan waktu geologis yang digunakan untuk menggambarkan periode terbaru dalam sejarah bumi, ketika aktivitas manusia mulai memberi dampak pada iklim dan ekosistem bumi. Kata antroposen berasal dari bahasa Yunani antropo yang berarti “manusia”, dan cene yang berarti “baru”. Antroposen diciptakan dan dipopulerkan oleh ahli biologi Eugene Stormer dan ahli kimia Paul J. Crutzen pada tahun 2000 (Dürbeck & Hüpkes:2022).

    Perubahan yang semakin tidak pasti menimbulkan kekhawatiran dalam hidup manusia. Generasi muda saat ini, khususnya Gen-Z (generasi yang terlahir antara tahun 1995-2010), menghadapi persaingan yang semakin ketat. Terutama ketika berhadapan dengan generasi milenial (generasi yang terlahir antara tahun 1980-1996) yang masih dalam usia produktif. Apa yang dapat dilakukan oleh para-Gen-Z di tengah dunia yang semakin ruwet dan tidak pasti ini?

     RAAT (Resilience, Attention, Adaptation, and Transparency) untuk Dunia yang Tidak Pasti

    Perubahan menyebabkan dunia dalam keadaan yang tidak pasti. Kekuasaan manusia justru membuat planet bumi berada di ambang kehancuran. Era antroposen mengakibatkan manusia, sang penguasa, mampu mengubah tatanan dunia. Jamais Cascio (2020), seorang antropolog dari Amerika, menyatakan bahwa era VUCA sudah lewat. Pandemi covid-19 menyebabkan dunia berada di ambang ketidakpastian yang membuat manusia harus siap dalam menghadapi perubahan yang abadi.

    Situasi pada era BANI menyebabkan perubahan terjadi kian cepat dan tidak dapat diprediksi. Manusia semakin cemas karena situasi yang semakin tidak terhubung menyebabkan mereka kesulitan dalam mencari solusi yang tepat. Hal ini berimbas terhadap generasi muda. Mereka semakin dituntut untuk memiliki kemampuan dasar seperti kemampuan untuk bertahan (resilience) dalam keadaan yang tidak dapat diprediksi. Memiliki perhatian (attention) yang cermat dalam melihat peluang. Mampu beradaptasi (adaptation) terhadap perubahan yang konstan. Siap terbuka (transparency) terhadap wawasan yang baru. Kemampuan dasar yang disingkat RAAT ini bila dikembangkan dalam pendidikan dapat membantu kaum muda untuk menemukan arah dalam menghadapi ketidakpastian hidup.

    Efek pasca-pandemi Covid-19 dan perkembangan teknologi yang kian pesat mulai menjadi ancaman baru bagi keselamatan hidup manusia di era antroposen. Manusia diyakini sebagai penyebab bumi menjadi semakin tidak aman untuk ditinggali. Ketamakan manusia menyebabkan terjadinya ketimpangan sosial yang tajam, di mana segelintir orang kaya menguasai bumi dengan cara mengontrol sumber air, pangan, dan energi. Pertambahan penduduk yang kian pesat menyebabkan permintaan produksi pangan meningkat sekitar 70%, sementara lahan semakin sempit (Bongers:2022). Kekurangan lahan pertanian yang tidak seimbang dengan kecepatan laju pertumbuhan penduduk ini disinyalir dapat melahirkan bencana kelaparan.

    Sifat egois manusia yang ingin menguasai bumi kini mulai diikuti dengan ingin menguasai manusia lainnya, yang menyebabkan terjadi peperangan di beberapa tempat. Bila peperangan ini tidak segera dihentikan, kita sedang memasuki era kepunahan massal akibat ulah manusia sendiri. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan ini? Hal yang perlu segera diubah adalah pola pikir kita untuk kembali peduli pada alam. Saat ini Manusia dituntut untuk kembali menjalani hidup yang selaras dengan alam dan lingkungan sekitar.

     Konsep Planetarianisme untuk Menjaga Bumi

    Planetarianisme dapat dipahami sebagai komitmen filosofis biosentris – pandangan yang menempatkan alam sebagai entitas subjek yang memiliki nilai – untuk mempertahankan kehidupan di planet bumi. Konsep planetarianisme menjadi kontra narasi bagi situasi distopia. Konsep ini juga menjadi wacana antroposentris dari antroposen yang melegalkan ekosida (pembunuhan dan pemusnahan terhadap tempat tinggal makhluk hidup), sebagai keberhasilan dari peradaban manusia. Planetarianisme, pada level lain, dapat diterapkan untuk mengartikulasikan harapan melalui narasi. Sebentuk harapan yang membuat kita mampu berdiri tegak untuk mengatasi tantangan.

    Narasi menjadi titik terang dan solusi untuk membangun pandangan positif yang berpotensi untuk menggerakkan banyak orang dalam melakukan perubahan. Konsep planetarianisme merupakan formula yang tepat untuk membantu kita melepaskan diri dari kecenderungan untuk merusak alam. Narasi yang dibentuk dalam konsep planetarianisme menggambarkan kondisi planet sebagai tempat tinggal bersama, di mana semua orang bekerja sama dalam menjaga kelestarian dan keharmonisan hidup di planet bumi (Paulsen et al.:2022).

    Kaum muda perlu diajak untuk melakukan perubahan bagi kelangsungan planet bumi. Selain pengetahuan faktual, keyakinan akan perubahan hidup yang lebih baik adalah suatu harapan yang terbentuk dari imajinasi antisipatif untuk melihat sesuatu yang melampaui cakrawala mengenai hal yang mungkin diinginkan dan diperlukan. Harapan ini dibangun dan dikembangkan melalui seni narasi untuk membantu kaum muda mengembangkan empati dalam menjaga planet bumi (Nussbaum, 2016).

    Narasi dalam konsep planetarianisme membantu kaum muda untuk menghadapi situasi distopia (suatu keadaan yang buruk). Distopia merupakan fenomena yang telah mengkristal menjadi struktur perasaan populer. Fenomena ini membenamkan orang dalam kesenangan nihilisme dan menopang pesimisme anti-utopia (suatu keadaan sempurna yang diharapkan). Kehidupan distopia banyak diceritakan dalam film fiksi seperti The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner. Kemudian ada permainan The Cusanus Game yang terinspirasi dari novel yang ditulis oleh Nicolaus Cusanus. Permainan ini menunjukkan bahwa bumi bagaikan “sebuah roda di dalam sebuah roda dan sebuah lingkaran dalam sebuah lingkaran” yang tidak ada pusat ataupun batas yang melingkupinya. Bumi dianalogikan bergerak seperti kapal yang berlayar entah kemana.

    Banyak kaum muda mulai paham tentang situasi distopia. Mereka mendapatkan informasi ini melalui film, buku, dan permainan tentang distopia. Mereka sadar bahwa sistem kapitalisme tidak dapat dihindari, meskipun juga sangat mengetahui bagaimana sistem itu merusak kehidupan di planet bumi. Bagi mereka, dalam situasi yang kian memprihatinkan ini – di mana mulai banyak terjadi bencana alam, penyebaran penyakit, dan perang – membayangkan harapan untuk masa depan yang lebih baik adalah hal yang naif. Mereka justru lebih percaya dan dapat menerima bahwa planet bumi yang mereka tinggali saat ini sudah sangat rusak dan kacau. Krisis lingkungan hidup ini telah melahirkan krisis bagi harapan hidup yang lebih baik (Bélanger et al.:2023). Sesungguhnya harapan sangat dibutuhkan dalam hidup manusia. Harapan untuk mempertahankan lingkungan hidup yang lebih baik tidak hanya diperlukan tetapi juga penting untuk mengatasi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan rangkaian krisis lingkungan hidup yang kita hadapi.

    Film sebagai Praktik dari Konsep Planetarianisme

    Kaum gen-Z membutuhkan metode yang dapat membantu mereka untuk terlibat langsung dalam menjaga planet bumi. Konsep narasi planetarianisme ini dapat dilanjutkan dengan metode pembuatan film pendek, seperti film dokumenter. Proses pembuatan film membantu mereka untuk semakin menggerakkan imajinasi ke dalam aksi nyata. Film menjadi sarana bagi gen-Z untuk mengembangkan konsep planetarianisme dengan cara terjun langsung mengobservasi lingkungan sekitar. Proses pembuatan film juga membantu mengasah pola berpikir kritis mereka dan untuk membangun kerja sama dengan yang lain.

    Proses pembuatan film bertujuan membantu kaum muda untuk mengembangkan imajinasi dan membangun kerja sama dalam kelompok. Pembuatan film membantu mereka mengeksplorasi kemampuan afektif dan kognitif, dan untuk menyelaraskan naskah yang akan dipakai dalam film. Kaum muda dapat diajak untuk melatih konsep planetarianisme melalui film dokumenter pendek yang dapat diikutsertakan dalam festival film. Melalui pembuatan film, mereka dapat mempelajari proses produksi yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, kerendahhatian, keterbukaan, dan dialog bersama dengan yang lain. Proses pembuatan film adalah sarana untuk mengembangkan pribadi yang kreatif dan lebih peduli pada lingkungan (planetarianisme) dan sesama. Proses ini juga dapat mengembangkan nalar berpikir kritis. Festival film sangat penting untuk memacu kaum muda mengembangkan kreativitas dalam membuat skenario yang baik sehingga menghasilkan karya yang dapat menginspirasi teman-teman yang lain. Peran pendidik di sini tidak hanya mentransfer pengetahuan semata, tetapi juga mengembangkan kemampuan peserta didik dengan membuka jendela dunia kepada mereka, sehingga mereka juga terbuka pada dunia sekitarnya (Krogh et al.:2023).

    Proses pembuatan film dapat mengembangkan kerja sama dan dialog terbuka. Proses ini juga membantu mengasah pola berpikir kritis mereka. Pada saat pembuatan skenario, mereka dilatih untuk berdiskusi, menerima perbedaan pendapat, dan mencermati situasi yang sedang terjadi di sekitarnya. Keseluruhan proses pembuatan film dikoordinasikan dalam kelompok. Peserta didik dapat mengatur peran bersama teman-teman, seperti menentukan sutradara, membuat sinematografi, menentukan para pemain, mengedit, dan yang lainnya. Proses produksi ini sekaligus mempersiapkan kaum muda untuk bekerja secara profesional, sebab keseluruhan proses pembuatan film ini dikerjakan oleh mereka. (Curren, Randall R.:2023). Beberapa ide yang dapat dijadikan tema dalam film antara lain:

    1. Tema ini dapat membantu mereka untuk mengetahui nasib para petani dan untuk mengupayakan ketahanan pangan. Melalui film dokumenter tentang pertanian, mereka dapat mengetahui permasalahan klasik yang sampai saat ini masih dialami para petani, seperti harga bibit yang mahal, hingga stigma negatif bahwa menjadi petani tidak akan bisa menjadi sukses.
    2. Saat ini para nelayan terdampak krisis iklim, terutama karena perubahan iklim sering membuat mereka kesulitan untuk melaut karena semakin tidak dapat memprediksi cuaca. Di samping itu industri ekstraktif di wilayah pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil telah menurunkan jumlah nelayan karena terdampak proyek reklamasi.
    3. Pemulung sampah. Saat ini para pemulung dianggap sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), padahal pekerjaan mereka termasuk kerja mandiri produktif. Meskipun dianggap warga miskin, tetapi mereka bekerja dan tidak mengemis. Saat ini kaum muda perlu diajak untuk mengamati kehidupan para pemulung, sehingga mereka dapat mengubah paradigma tentang pemulung.

    Proyek film dokumenter ini dapat mengembangkan empati karena membayangkan bagaimana rasanya berada dalam posisi orang lain. Proyek ini membantu mereka untuk merefleksikan hidupnya dan hidup para tokoh di film yang mereka kerjakan. Tema sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari dalam film, membantu kaum muda untuk bebas bereksplorasi dalam mengembangkan cerita yang dapat menyebarkan pesan bagi orang lain untuk peduli pada sesama dan planet bumi. Kisah-kisah yang mereka angkat dalam proyek film bertema planetarianisme membantu mereka merefleksikan hidup yang sedang dijalani, bagaimana mereka sebagai kaum muda telah berperan dalam proses pelestarian planet bumi. Proses pembuatan film ini diharapkan mampu mengubah paradigma berpikir mereka, terutama untuk lebih peduli kepada planet bumi sebagai rumah mereka.

     Penutup

    Kondisi di era antroposen memaksa manusia untuk menyadari bahwa planet bumi perlu dijaga. Saat ini banyak spesies yang mulai menghilang. Meskipun manusia mengklaim sebagai makhluk tertinggi dalam tangga kehidupan, tidak dapat dipungkiri bahaya kemusnahan tetap mengintai. Pengalaman pandemi Covid-19 kemarin menyadarkan kita bahwa bahaya yang sedang mengintai adalah bila terjadi perang biologis dan bencana kelaparan. Apa yang bisa kita, manusia, lakukan untuk menghindari kehancuran dan atau kemusnahan massal?

    Hal yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki semua ini adalah: pertama, melalui sistem pendidikan yang mengembangkan imajinasi untuk melahirkan empati dengan sarana seni, baik narasi maupun film. Revolusi pendidikan dapat dimulai dengan mengubah sistem pembelajaran yang membantu para peserta didik untuk semakin peduli pada keberlanjutan hidup di planet bumi. Konsep planetarianisme membantu mengembangkan imajinasi yang dapat menggerakkan kaum muda untuk bertindak dalam menjaga keberlangsungan planet bumi.

    Kedua, mengajak kaum muda melakukan aksi nyata untuk melestarikan kehidupan di planet bumi melalui proyek film dokumenter. Proses pembuatan film dokumenter dapat melatih mereka untuk mengembangkan imajinasi yang melahirkan empati kepada sesama dan lingkungan. Film dapat menjadi sarana kerja sama lintas ilmu dalam pendidikan yang berkelanjutan. Melalui proyek pembuatan film, mereka dilatih untuk bekerja sama dan untuk menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan. Di samping itu proyek ini membantu mereka merefleksikan hidup yang sedang mereka jalani dengan membandingkannya dengan kehidupan para tokoh dalam karya film tersebut.

    Konsep planetarianisme melatih mereka untuk mengembangkan nalar kritis, sebab saat ini yang harus diubah terlebih dahulu adalah paradigma berpikir manusia tentang planet bumi. Selama ini manusia adalah subjek yang menguasai bumi. Situasi antroposen menyadarkan manusia bahwa ada batasan dari kemampuan yang dimilikinya. Posisi manusia sebagai subjek saat ini patut dipertanyaan, terutama pada saat bencana terjadi. Tepat di sini posisi manusia sebagai sang penguasa berada di titik nadir karena mulai dapat menyadari kelemahannya. Melalui kelemahan inilah manusia semakin ditantang untuk mengubah pola berpikirnya, bahwa masih ada makhluk lain di alam yang juga memiliki hak hidup yang sama di planet bumi. Kerja sama yang berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian planet bumi, agar keberlangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya tetap terjamin.

    ———————————————————————-

    Daftar Pustaka

    Bélanger, M., Potvin, P., Horst, S., Shtulman, A., & Mortimer, E. F. (2023). Multidisciplinary Perspectives on Representational Pluralism in Human Cognition: Tracing Points of Convergence in Psychology, Science Education, and Philosophy of Science. Taylor & Francis.

    Bongers, B. (2022). Understanding Interaction: The Relationships Between People, Technology, Culture, and the Environment: Volume 1: Evolution, Technology, Language and Culture. CRC Press.

    Curren, Randall R., E. (2023). Handbook of philosophy of education (R. R. Curren (ed.)). Routledge, Taylor & Francis Group. https://doi.org/10.4324/9781003172246

    Dürbeck, G., & Hüpkes, P. (2022). Narratives of Scale in the Anthropocene: Imagining Human Responsibility in an Age of Scalar Complexity. Taylor & Francis.

    Hartley, J., Ibrus, I., & Ojamaa, M. (2021). On the Digital Semiosphere: Culture, Media and Science for the Anthropocene. New York.

    Krogh, E., Qvortrup, A., & Graf, S. T. (2023). Bildung, Knowledge, and Global Challenges in Education: Didaktik and Curriculum in the Anthropocene Era. Taylor & Francis.

    Paulsen, M., Jagodzinski, J., & Hawke, S. M. (2022). Pedagogy in the Anthropocene: Re-wilding Education for a New Earth. Springer International Publishing AG.