Author: Redaksi

  • HERODES

    HERODES

     

     

    Goenawan  Mohamad

     

     

    BANYAK sekali yang dikatakan di hari Natal, tentang Natal dan begitu banyak nasihat dan petuah yang aus. Maka kita harus berterima kasih kepada W.H. Auden. Atau kepada puisi.

    Di tahun 1942, semasa Perang Dunia II yang menakutkan, Auden menulis sebuah sajak panjang, 1.500 baris, sebuah oratorio Natal, For the Time Being. Bukan sebuah khotbah. Tapi justru di dalamnya berpendar kembali apa yang religius-yang sebelumnya tertimbun di bawah ajaran yang kering.

    Bagi Auden, Natal bukan cuma ritual akhir Desember. Natal adalah pengingat bahwa di satu celah dari hidup yang banal, di antara laku yang sepele dan tak istimewa-membayar tagihan, memperbaiki alat yang rusak, menghafal kata yang sulit ada saat yang menyadarkan kita bahwa mukjizat telah terjadi, yakni hidup itu sendiri. Di saat itu yang rutin menemukan pesonanya kembali.

    Menebus kembali pesona yang hilang dari kata sehari-hari itulah ikhtiar puisi. Khotbah dan petuah tak berniat untuk itu. Bagi para imam, yang penting hanya yang abadi, yang berdosa dan yang kelak di alam baka. Bagi mereka, detik dan jam juga hari dan bulan suci yang datang tiap tahun—tak akan mengubah desain kehidupan.

    Para pemimpin umat menjadikan hari suci sebagai hari konsolidasi: di depan mimbar, para penganut dikumpulkan kembali dan ditata. Untuk itu institusi harus punya pegangan yang ajek. Yang rutin dan klise penting. Ketika umat dikiaskan sebagai “gembala”, mereka diharapkan untuk mengikut, menyatu stabil dalam penanda yang sama. Repetisi dibutuhkan buat menghindari chaos. Bahasa untuk “gembala” harus tak berubah-ubah mengejutkan.

    Puisi justru hidup dengan merayakan yang mengejutkan dan tak tersangka-sangka. Ia perlawanan terhadap klise dan sebab itu ia anti-khotbah. Juga ketika berbicara tentang Tuhan dan kebajikan. Sang penyair, seperti Auden, tak nenulis sebagai seorang penggembala yang menggiring ternak ke sebuah kandang yang aman.

    Bagi Auden bahkan Tuhan bukan “jalan” yang Iazim. Mengikuti-Nya akan sampai ke tempat yang tak terduga:

     

    He is the Way.
    Follow Him through the Land of Unlikeness:
    You will see rarebeasts,
    and have unigue adventures.

     

    Dalam sajak ini, jalan Tuhan memasuki wilayah yang terbangun dari hal-hal yang tak bermiripan, bukan itu-itu saja. Di sana kita akan bersua dengan “hewan-hewan yang tak lazim” dan masuk ke dalam “petualangan yang unik”. Mengikuti jalan ini adalah mengikuti Tuhan yang membebaskan manusia dari ruang tertutupnya sendiri. Manusia dan semesta jadi “Engkau” (You), bukan cuma”itu” (it).

    Tentu, kebebasan itu mencemaskan mereka yang menganjurkan umat bertahan, bersiap tertib di dalam wilayah yang sudah pasti.

    Para penganjur itu bisa keras. Dalam sastra Jawa, personifikasinya adalah Sunan Kudus. Wali Islam di abad ke-16 inilah yang menghabisi nyawa Syekh Siti Jenar yang “Islam”-nya membingungkan. Ia juga yang disebut memimpin hukum bakar Malang Sumirang, seorang sufi yang nakal.

    Dalam sastra Eropa, tokoh Penjaga Tertib itu Sang Inkuisitor Agung dalam novel Karamazov Bersaudara Dostoyevski. Dialah yang mengusut iman orang dan membakar orang itu hidup-hidup bila imannya dianggap palsu atau bengkok. Ia tak percaya cinta kasih, karena cinta kasih terlalu mempercayai manusia dan meletakkannya dalam kebebasan. Pejabat Gereja ini menyalahkan Yesus. Manusia, katanya, tak seperti yang Tuan harapkan: mereka “tak dapat bebas, karena mereka lemah, jahat, tak bermutu, dan pembangkang”.

    Dalam sajak Auden, kita bertemu dengan Herodes. Menurut Injil, raja ini berusaha mencegah kelahiran bayi Yesus dengan membunuh tiap anak yang berumur dua tahun ke bawah di Bethlehem dan sekitarnya. Dalam For the Time Being, ia tampak lain. Ia seseorang yang cemas akan hilangnya “Hukum Rasional”. Tanpa hukum ini, ia takut, “Pengetahuan akan merosot ke dalam kacau-balaunya pandangan-pandangan subyektif.”

    Bagi Herodes, sang raja, itulah anarki. Anarki itu akan datang bersama suara yang menegaskan bahwa cinta kasih adalah dasar hidup antarsesama. Dengan itu akan terbangun hubungan horizontal yang lurus setara: sebuah dunia yang bukan saja tanpa Hukum Rasional, tapi juga tanpa struktur: “Aristokrasi Baru akan terdiri hanya atas para pertapa, gelandangan dan orang cacat permanen.”

    Herodes memperingatkan kita, sebab itu ia tahu apa arti kekuasaan, apa fungsi struktur, hierarki dan hegemoni. Ia akan menampik demokrasi, apalagi demokrasi yang radikal dalam  multitudes. |

    Seperti Sang Inkuisitor Agung yang menyesali Yesus, Herodes tak mengakui cinta kasih sebagai esensi kehidupan bersama. Kehidupan justru antagonisme dan persaingan. Selalu ada yang kalah, ada yang takluk. Hubungan cinta kasih hanya membuat keadaan mandek: tanpa dialektik. Hubungan horizontal tanpa hierarki juga tak akan berkeadilan, cuma belas kasihan—sebab orang yang salah tak akan dihukum, karena tak ada aturan yang keras, karena tak ada takhta kehakiman. Justice will be replaced by Pity as the cardinal human virtue, and all fear of retribution will vanish….

    Herodes: sungguh persuasif. Kita pun risau bila ternyata ja benar bahwa manusia harus punya doktrin, hierarki, dan struktur, selalu perlu khotbah, klise, konsolidasi ideologis dan pengukuhan kekuatan. Jangan-jangan manusia selalu punya (dan perlu) musuh.

    Tapi benarkah kata “harus” dan “selalu” itu? Kini abad ke-21, saya tak bisa melihat hidup dari atas dengan teropong sebuah ide – dan menyimpulkan esensi hidup adalah cinta kasih atau sebaliknya, antagonisme. Hidup bergerak dalam jutaan “petualangan yang unik”. Ia tak bisa jadi satu thesis. Di bumi ini sejarah adalah proses yang serba mungkin, berubah, berbeda. The Land of Unlikeness.

    ————————–

     

    Sumber Tulisan Catatan Pinggir 7, Tempo Publisher

     

  • Di Balik Asumsi, Terselip Solusi

    Di Balik Asumsi, Terselip Solusi

     

    Oleh Odemus Bei Witono

     

     

    Pandu adalah mahasiswa semester lima yang terkenal karena tampilan dirinya yang awut-awutan. Hari-harinya di kampus lebih banyak dihabiskan dengan tertidur di kelas, ketimbang mendengarkan dosen. Bukan karena malas, melainkan karena kelelahan.

    Pandu bekerja paruh waktu sebagai kurir malam guna membantu perekonomian keluarganya. Meski begitu, tidak banyak yang tahu alasan di balik kebiasaan buruknya itu. Bagi sebagian besar teman sekelas, Pandu merupakan sosok yang susah diatur, sulit didekati dan bahkan tidak peduli dengan masa depan hidupnya.

    Kendati demikian, ada tiga teman baik Pandu yang selalu setia berada di sisinya, yakni Romi, Tina, dan Rika. Mereka sering mengingatkan Pandu agar lebih serius dalam kuliah. Rika, yang paling peduli dan cerewet, sering pusing melihat Pandu yang kerap tertidur di kelas.

    Ketika bangun, Pandu hanya mencoret-coret kertas dengan tulisan tangan yang sulit dipahami. “Apa sih yang ditulis Pandu? Coretan itu lebih mirip sandi rahasia daripada catatan,” gumam Rika suatu kali.

    Suatu hari, Romi meminjam buku catatan Pandu. Begitu membuka halaman pertama, ia terperangah. “Gila bener! Bagaimana gua bisa baca ini? Payah banget nih Pandu. Isinya cuma coretan doang kayak sandi rumput,” keluhnya.

    Tak butuh waktu lama, kisah buruknya tulisan Pandu menyebar di antara para mahasiswa. Banyak asumsi muncul. Ada yang bilang Pandu sengaja menulis buruk agar dapat menghindari belajar. Ada pula yang menganggap Pandu hanya datang ke kampus demi presensi kehadiran.

    Berita itu akhirnya sampai ke telinga Pak Bijak, salah satu dosen senior. Dengan nada santai, beliau berdasarkan asumsi yang diyakini benar, berkata, “Iya, kemarin pas UTS saya tidak baca jawaban Pandu. Jadi, dikasih D saja daripada saya pusing.”

    Para dosen lain pun mulai memberikan penilaian serupa. Hanya Bu Leny yang membela Pandu. “Nilainya bagus kok di ujian saya. Soalnya pilihan ganda, dan Pandu bisa menjawab semua,” katanya.

    Kehadiran Pandu di kelas benar-benar mengembangkan banyak tafsir. Mungkin kalau Socrates masih hidup, ia akan bingung dan memilih ujian lisan bagi Pandu. Mahasiswa eksentrik ini memang tidak banyak teman, tetapi ia tetap bergulat dengan dirinya sendiri. Pandu menyadari bahwa hidupnya tidak bisa terus seperti ini.

    Dalam suatu kesempatan, Pandu merasa frustrasi saat menatap coretan-coretan di bukunya. Huruf-huruf yang seharusnya membentuk kata-kata justru terlihat seperti menari liar, membuatnya semakin sulit untuk fokus.

    Ruangan sempit di pojok kampus, tempat dia dan teman-temannya nongkrong seakan memperkuat rasa terisolasi dirinya. Ia memukul-mukul kepala sendiri dengan pelan, mencoba mengusir kekacauan pikiran yang terus menghantui. “Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain? Apa yang salah denganku?” gumamnya lirih, diiringi keputusasaan yang menyesakkan.

    Melihat keadaan Pandu, Tina dan Rika tak tinggal diam, demikian juga Romi. Mereka tahu betapa sulitnya perjuangan Pandu dalam memahami huruf-huruf yang terus melawan. “Pandu, jangan menyerah!” Tina mencoba menyemangati dengan nada penuh keyakinan.

    Rika mendekatinya dengan penuh perhatian. “Tulisanmu memang mungkin sulit dibaca sekarang, tapi itu bukan akhir dari segalanya. Jika kamu mau belajar dan terus mencoba, kamu pasti bisa,” ujarnya dengan lembut, mencoba menanamkan harapan di hati temannya yang hampir putus asa.

    Mendengar dukungan itu, Pandu terdiam sejenak. Meski masih diliputi keraguan, kata-kata temannya seolah menjadi cahaya kecil di tengah kegelapan pikiran. “Mungkin mereka benar,” kata batinnya, meski masih ragu-ragu. Perlahan, ia meraih kembali buku tulisnya, mencoba membaca coretan-coretan itu sekali lagi.

    Dengan napas panjang, ia berbisik pada diri sendiri, “Aku akan mencoba sekali lagi. Setidaknya, untuk mereka yang percaya padaku.” Di ruangan sempit itu, sebuah tekad kecil mulai tumbuh, mengusir bayang-bayang keputusasaan.

    Dengan dorongan dari teman-temannya, Pandu mulai belajar menulis ulang catatannya dengan lebih rapi. Awalnya sulit, tetapi perlahan tangannya mulai terbiasa. Suatu kali, tanpa sadar, coretan-coretannya berubah menjadi lukisan. Lukisan samar yang menggambarkan teman-temannya; Tina dengan senyum yang ceria, Rika dengan wajah serius, dan Romi dengan ekspresi jahilnya. Pandu tersenyum. “Ternyata huruf-huruf ini seperti bernyawa,” gumamnya.

    Hari demi hari, tulisan Pandu semakin membaik. Ia sadar bahwa tulisan bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Rangkaian kata perlu dibagikan, karena nyawa kata ada dalam makna yang dapat dipahami orang lain.

    Dengan semangat baru, Pandu mulai menyusun kalimat-kalimat penuh inspirasi. Tangannya menari di atas kertas, menciptakan cerita yang dapat menggerakkan hati siapa saja yang membacanya.

    Di akhir semester, tulisan Pandu tidak lagi menjadi bahan lelucon. Bahkan, salah satu esainya tentang perjuangan hidup dipuji oleh Bu Leny dan dibacakan di depan kelas. Pandu akhirnya menyadari bahwa setiap goresan pena adalah langkah kecil menuju pemahaman lebih besar.

    “Tulisan bukan hanya coretan,” ujar Pandu suatu hari kepada Romi, Tina, dan Rika. “Tulisan adalah jiwa yang perlu dimaknai dan dibagikan.”

    Dengan keyakinan itu, Pandu terus menulis. Tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi dunia yang lebih luas. Sebab ia percaya, setiap kata memiliki nyawanya sendiri.

     

    ==================================

     

  • Reses Perdana Yoseph Beda Hayon, Tampung Aspirasi Warga di Tiga Desa

    Reses Perdana Yoseph Beda Hayon, Tampung Aspirasi Warga di Tiga Desa

     

     

    Lewoleba berandanegeri.com. Anggota DPRD Kab. Lembata, Yoseph Beda Hayon, S.AP (YBH) menuturkan, setiap aspirasi yang disampaikan masyarakat terkait pembangunan, harus melalui tahapan/proses, sesuai mekanisme prosedur agar sampai ke tangan Bupati untuk direalisasikan.

    Hal tersebut disampaikannya dalam reses perdana bersama Warga 3 Desa di Kec. Nagawutung, antara lain; Desa Duawutun, Desa Riabao dan Desa Wuakerong dalam kegiatan reses perdana sebagai Anggota DPRD, Rabu hingga Kamis,18-19 Desember 2024.

    Anggota DPRD Partai Demokrat Kab. Lembata Dapil 4 tersebut mengakui, sebagai Wakil Rakyat, ia berkewajiban mengawasi dan mengkawal aspirasi masyarakat setempat sampai pada tahap realisasi.

    “Aspirasi masyarakat dimulai dari pengajuan/usulan masyarakat melalui Musrenbang Desa ke Musrenbang Kecamatan. Selanjutnya, diambil oleh OPD/Dinas terkait, yang kemudian dilist sebagai program yang akan diproses ke RAPBD untuk di bahas dalam rapat DPRD. Setelah dibahas dan diputuskan DPRD, akan diserahkan kembali ke Bupati dalam paripurna DPRD untuk selanjutnya ditindaklanjuti. “Terang YBH”.

    Namun demikian, seluruh tahapan proses penyampaian aspirasi masyarakat sampai ke tahap realisasi tetap diawasi dan dikawal DPRD, tambahnya.

    Didampingi Ketua Demokrat Kec. Nagawutung, Marianus Ladoangin dan Tim, dan dukungan Pemerintah Ketiga Desa, Pemerintah Kec. Nagawutung, dan para tokoh masyarakat, kegiatan reses perdana YBH berjalan lancar.

     

    Prioritas Kebutuhan Air Minum

    Adapun beberapa aspirasi masyarakat Ketiga Desa berhasil ditampung dan yang menjadi perhatian serius, salah satunya tentang kebutuhan Air Minum Bersih.

    “Salah satu kebutuhan warga Duawutun, Riabao dan Wuakerong yang paling urgen/mendesak adalah air minum bersih. Fasilitas pipa air minum yang menghubungkan mata air di Boto dengan 3 Desa (Duawutun, Riabao dan Wuakerong), semenjak tahun 1979, belum pernah diganti sampai sekarang sehingga kondisi pipa-pipa yang tertanam di dalam tanah, sudah banyak yang mengalami kerusakan, berkarat dan bahkan bocor. Alhasil, debet air yang masuk ke kampung (tiga desa tersebut) volumenya sangat kecil, bahkan hampir tidak ada. Jadi perlu diganti dengan pipa-pipa yang baru”, Jelas YBH.

    Aspirasi lainnya dari Ketiga Desa yang juga butuh perhatian antara lain; Rehabilitasi Gedung Gereja Loang, Jalan Utama Dalam Desa, Sertifikat Tanah, Talut, Nama Desa, Rehab Sekolah SDI 2 Loang, Ruang Kelas TK Negeri 3 Nagawutung, Insentif Guru Swasta diperbaiki, dan terkait penempatan Guru PNS suami istri sedomisili.

    Kegiatan Reses Perdana YBH dihadiri ratusan warga ketiga desa beserta perwakilan pemerintah desa setempat. (*RH)

     

    —————————

    Foto-foto Kegiatan Reses

  • Buah Rambutan di Halaman Sekolah – Sebuah Cerpen Odemus Bei Witono

    Buah Rambutan di Halaman Sekolah – Sebuah Cerpen Odemus Bei Witono

     

     

     

    Di sebuah sekolah SMP di pinggiran kota, terdapat satu pohon rambutan besar yang tumbuh rindang di halaman samping. Buahnya lebat, merah menyala ketika musim panen tiba. Pohon itu merupakan kebanggaan sekolah dan sering dipandang oleh para siswa dengan rasa penasaran. Akan tetapi, ada satu aturan tegas dari kepala sekolah: “Siapa pun tidak boleh memetik rambutan tanpa izin.” Aturan itu sudah seperti hukum tak tertulis di kalangan siswa, tetapi seperti halnya godaan, tidak semua orang bisa menahan diri.

    Suatu siang selepas jam pelajaran, Toni duduk bersama empat temannya: Roni, Jono, Anto, dan Ignas. Mereka memandang pohon rambutan itu dengan rasa lapar, bukan karena belum makan, tetapi karena buah itu tampak begitu bagus menggoda.

    “Rasanya nggak ada salahnya kalau kita ambil beberapa saja,” bisik Roni sambil menyikut Toni.

    “Iya, cuma beberapa. Lagian nggak ada yang bakal tahu,” tambah Jono.

    Toni sempat ragu. Dia memandang teman-teman satu per satu. Tapi akhirnya, dorongan mencoba dan solidaritas pada teman-teman mengalahkan keraguannya.

    “Ayo, cepat! Sebelum ada yang lihat,” ujar Anto sambil bergegas menuju pohon.

    Dengan cekatan, Ignas dan Jono memanjat pohon. Toni dan Roni berjaga di bawah, sementara Anto sibuk mengumpulkan rambutan yang dilempar ke tanah. Gelak tawa kecil terdengar di antara mereka, disertai bisikan panik setiap kali ada suara langkah kaki di dekat halaman. Bagi mereka, petualangan itu terasa menyenangkan.

    Namun demikian, mereka lupa bahwa ada satu sosok yang sedang berjalan di sekitar halaman depan sekolah. Romo Budi, seorang Pastor Paroki yang kebetulan datang berkunjung, melihat dengan jelas aksi kelima anak itu. Dari kejauhan, Romo Budi berhenti, menyilangkan tangan, dan menghela napas. Beliau tidak marah, tetapi merasa perlu memberi tahu pihak sekolah agar anak-anak itu bisa belajar dari kesalahannya.

    Keesokan harinya, suasana sekolah terasa berbeda bagi Toni dan teman-temannya. Satu per satu nama mereka dipanggil ke ruang kepala sekolah. Detak jantung Toni berdegup kencang saat melihat teman-temannya kembali dari ruangan itu dengan wajah lesu.

    “Toni,” panggil suara tegas dari pengeras suara.

    Toni berdiri. Rasanya kakinya seperti dipaku ke lantai. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Di dalam, ia melihat Romo Budi dan Kepala Sekolah, Pak Darmawan, duduk menatap dirinya dengan serius.

    “Toni,” ujar Pak Darmawan, “kemarin Romo Budi melihat ada anak-anak yang memanjat pohon rambutan di halaman belakang. Apakah kamu tahu siapa saja yang terlibat?”

    Toni terdiam. Kepalanya menunduk. Ia tahu, teman-temannya sudah dipanggil sebelumnya, tetapi tidak ada yang menyebut siapa pun. Mereka semua berusaha menutupi satu sama lain. Namun, Toni merasa ada yang salah jika terus berbohong. Dengan berat hati, ia mengangkat wajah dan berkata lirih.

    “Saya ikut, Pak. Kami berlima.”

    Pak Darmawan dan Romo Budi saling bertukar pandang. Romo Budi tersenyum tipis, sementara kepala sekolah menghela napas panjang.

    “Siapa saja, Ton?” tanya Pak Darmawan lagi.

    “Saya, Roni, Jono, Anto, dan Ignas,” jawab Toni.

    Sepulang dari ruangan itu, keheningan menyelimuti lima anak tersebut. Teman-temannya sempat merasa gelisah dan kecewa karena nama mereka terbongkar. Namun, di sisi lain, mereka tahu bahwa cepat atau lambat semuanya akan terungkap. Roni, yang paling pertama bicara, akhirnya memecahkan keheningan.

    “Udahlah, kita memang salah kok. Kita juga nggak boleh nyalahin Toni,” ujarnya pelan.

    Jono menambahkan, “Iya, lagi pula cuma karena rambutan, kita hampir bikin masalah besar. Mending kita minta maaf.”

    Hari berikutnya, mereka berlima menghadap kepala sekolah bersama-sama. Dengan tulus, mereka meminta maaf kepada Pak Darmawan dan Romo Budi. Tidak ada hukuman berat, hanya nasihat panjang tentang kejujuran dan tanggung jawab.

    “Kalian tahu, pohon itu bukan sekadar pohon. Itu simbol tanggung jawab. Sekecil apa pun tindakan kita, pasti ada konsekuensinya,” ujar Romo Budi dengan lembut. “Tetapi saya bangga karena kalian akhirnya mau mengakui kesalahan.”

    Waktu berjalan, insiden pohon rambutan itu menjadi kenangan yang sering mereka bicarakan sambil tertawa kecil di bangku sekolah. Toni dan teman-temannya belajar banyak dari kejadian itu. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lebih bertanggung jawab, meskipun tentu saja kenakalan kecil tetap ada di sana-sini. Namun, satu hal yang pasti, yakni kejujuran dan solidaritas mereka tidak pernah berubah.

    Beberapa tahun kemudian, ketika mereka sudah lulus dan tumbuh dewasa, Toni mengenang momen itu sebagai salah satu titik balik dalam hidupnya. Dia sadar bahwa keberanian mengakui kesalahan merupakan langkah awal menuju kedewasaan.

    Saat reuni sekolah diadakan, mereka berlima berkumpul di bawah pohon rambutan yang sama. Pohon itu masih berdiri kokoh, meski sudah berkurang buahnya. Toni menepuk bahu Roni dan tertawa kecil.

    “Gara-gara rambutan ini, kita jadi sadar arti tanggung jawab.” “Iya, untung waktu itu ada Romo Budi,” timpal Ignas sambil tersenyum gembira.

    Romo Budi, yang kebetulan hadir di reuni, hanya tersenyum melihat mereka. Dalam hati, ia merasa bangga melihat anak-anak yang dulu pernah memanjat pohon rambutan kini tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Terkadang, pelajaran terbesar memang datang dari hal-hal kecil seperti buah rambutan di halaman sekolah.

     

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

  • Julie Sutrisno Laiskodat, Bantu Alat Pertanian Pra Panen, Kelompok Tani di Sikka

    Julie Sutrisno Laiskodat, Bantu Alat Pertanian Pra Panen, Kelompok Tani di Sikka

     

    Maumere berandanegeri.com. Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat membantu alat mesin pertanian (Alsintan) pra panen kepada sejumlah kelompok tani di  kabupaten Sikka,Propinsi Nusa Tenggara Timur.

    Melalui DPD NasDem Sikka Selasa (17/12/2024) Julie Sutrisno Laiskodat menyalurkan tiga unit hand traktor kepada tiga kelompok penerima manfaat.

    Ketiga kelompok penerima aspirasi  dari anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat, masing masing, Kelompok Tani Kesa Lakang dari Desa Runut Kecamatan Waigete.

    Ket. Foto: Penyerahan hand traktor kepada kelompok Kesa Lakang dari Desa Runut Kecamatan Waigete Kabupaten Sikka, Selasa (17/12/2024).

     

    Kelompok Tani Kuwu Si’e, dari Desa Korobhera, Kecamatan Mego

    Ket. Foto: Penyerahan hand traktor kepada kelompok Kuwu Si’e dari Desa Korobhera Kecamatan Mego Kabupaten Sikka, Selasa (17/12/2024)

     

    dan Kelompok Ban Bekar dari Desa Reroroja Kecamatan Magepanda.

    Ket. Foto: Penyerahan hand traktor kepada kelompok Ban Bekar dari Desa Reroroja Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka, Selasa (17/12/2024).

     

    Penyerahan ketiga hand traktor itu dilakukan oleh Ketua DPD NasDem Sikka, Romanus Woga, yang didampingi oleh Sekretaris Ofridus Krispinianus, dan sejumlah pengurus DPD NasDem Sikka.

    Dalam arahannya Ketua DPD NasDem Sikka,Romanus Woga menjelaskan bahwa perjuangan qnggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat ibarat pohon yang berbuah manis tanpa mengenal musim.

    “Ibu Julie dan Pak Viktor adalah orang kaya dan sudah selesai dengan diri mereka, tetapi mereka tetap konsisten berjuang untuk masyarakat termasuk kita di Kabupaten Sikka,” ujarnya.

    Ia berharap kelompok penerima manfaat agar menggunakan hand traktor secara baik untuk kesejahteraan anggota kelompok tani itu sendiri.

    Ketua kelompok Tani Kesa Lakang, Yohanes Yan Sani (50) mengapresiasi perhatian Ibu Julie di bidang pertanian mulai dari alat pertanian pra panen sampai paska panen.

    “Terimakasih Ibu Julie yang sudah peduli terhadap kesejahteraan petani di NTT khususnya di Kabupaten Sikka,” kata Yan Sani.

    Hal yang sama disampaikan ketua Kelompok Ban Bekar dari Desa Reroroja, mengakui tingginya perhatian Julie Sutrisno Laiskodat terhadap nasib petani di Sikka.

    “Selama ini, baru Ibu Julie yang bantu kami traktor. Pada hal kelompok kami sudah bersertifikat madyah, tapi minim bantuan sarana pendukung,” ujarnya.

    Sebastianus Mite (40) Ketua Kelompok Tani Kuwu Si’e mengakui, selama ini kelompoknya harus sewa traktor dengan biaya tinggi dan terkadang tidak sebanding dengan hasil panen.

    “Terimakasih Ibu Julie, hari ini kami sudah merdeka, atas bantuan traktor ini, kami sudah hemat biaya operasional untuk bajak lahan,” ujarnya.

    Usai menandatangani berita acara serah terima hand traktor, ketiga kelompok tani penerima manfaat langsung membawa pulang hand traktor ke kelompok masing masing.   (Athy Meaq)

  • Patriotisme dan Nasionalisme Belajar dari Herman Yoseph Fernandez

    Patriotisme dan Nasionalisme Belajar dari Herman Yoseph Fernandez

     

     

    Oleh Paskalis Liko Bataona

     

     

    “Hanya ada satu tanah yang menjadi tanah airku, dia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku.”  Bung Hatta (1902-1980),– mengutip aktivis politik Belanda Rene de Clercq (1877-1932) dalam persidangannya di Den Haag.

     

    Sejarah adalah manifestasi yang khas manusiawi; pengenalan sejarah merupakan kenyataan manusiawi yang dapat kita telusuri sejak perkembangan kemanusiaan yang paling dini, sejauh masa itu meninggalkan jejak-jejak melalui perwujudan tertentu. Dari goresan yang berupa lukisan atau tulisan  sampai dengan jejak yang berupa monumen, manusia sepertinya ingin menandai kehadirannya dalam sesuatu masa dan rekaman yang ditinggalkannya itu diharapkan dapat menjadi petunjuk tentang kehadirannya itu.

    Peneliti dan penulis sejarah terbuka buat siapa saja, sebab lapangan sejarah terbuka bagi yang tertarik dengan masalah historis, dengan syarat penulisan dilakukan dengan serius dan jujur. Penulis sejarah harus bertaut dengan kenyataan-kenyataan masa lalu dan untuk itu dia harus dijembatani oleh rekaman jejak-jejak masa lalu, apapun bentuk jejak-jejak itu. Ia meneropong masa lalu dengan realitas yang masih tersisa di masa kini. Realitas yang ditemui penulis sejarah adalah sekeping kenyataan yang bisu belaka; sejauh mana kenyataan itu bisa diterobos kebisuannya, lalu selanjutnya berperan memberikan kesaksian pada sesuatu fragmen sejarah sangat tergantung dari kemahiran sang penulis sejarah untuk menemuinya sebagai representasi masa yang sudah silam. Seorang penulis sejarah diharuskan mampu menyajikan kembali masa lalu secara objektif.

    Sejarah adalah sumber orientasi (masa lalu) yang dikenali kembali dari suatu pusat orientasi lain (masa kini). Upaya pengenalan itu nampaknya didorong oleh keinginan kita untuk menemukan sambungan antara masa lalu dan masa kini. Pengenalan sejarah membantu kita menemukan sambungan antara masa lalu dan masa kini, ia juga berfungsi merentangkan kesinambungan antara dua kutub yakni kutub kenyataan yang sudah silam dan sirna dengan kutub  masa kini. Penulisan buku  Herman Yoseph Fernandez-Kusuma Bangsa Pembela Tanah Air Layak Jadi Pahlawan Nasional (Penulis Thomas B. Ataladjar – Penerbit Ikan Paus, 2024) adalah juga sebuah upaya untuk merentangkan kesinambungan antara  masa lampau dan masa  kini. Buku tentang kisah perjuangan Herman Fernandez ini berguna untuk dibaca oleh siapa saja yang mau percaya, bahwa masa kini adalah sambungan dari peristiwa sejarah di masa lalu dan kandungan peristiwa sejarah yang akan datang.

     

    Identitas Nasional dan Revolusi ’45

    Terdapat suasana, iklim dan corak serta sikap yang lain dari yang lain dalam hidup manusia dan masyarakat dalam tahun 1945 dan sesudahnya. Suasana atau iklim tadi berhubungan dengan perasaan umum bahwa hal-hal yang lama telah, sedang atau ditinggalkan secara radikal dan bahwa sesuatu yang baru, yang lebih baik daripada yang pernah ada sedang atau akan dibangun. Revolusi selalu mencakup sikap yang secara keras menolak yang lama dan menantikan masa baru dengan pengharapan yang meluap-luap. Impian untuk membangun yang belum pernah ada merupakan unsur penting dalam suasana revolusi. Oleh sebab itu suatu revolusi yang berhasil merupakan kurun waktu di mana dilahirkan dasar-dasar dan cita-cita yang oleh suatu bangsa dianggap bersifat sangat pokok, bahkan sering dianggap bersifat tetap dan abadi, dalam perjalanan bangsa itu selanjutnya.

    Suatu revolusi tidak terjadi begitu saja, seolah-olah dia jatuh dari atas. Dalam suatu revolusi maka kekuatan-kekuatan dan cita-cita yang telah lama tertekan dan bertimbun-timbun muncul ke permukaan, sering dengan disertai oleh kemarahan dan kadang-kadang keganasan. Revolusi ’45 digerakkan oleh kekuatan-kekuatan dan cita-cita yang telah berkembang selama pergerakan kebangsaan sejak permulaan abad ke-20, yang telah memperoleh sifat-sifat yang lebih militan selama tahun-tahun pendudukan Jepang. Pergerakan kebangsaan itu adalah kelanjutan dari perlawanan-perlawanan yang sebelumnya di jalankan secara sedaerah-sedaerah terhadap Belanda. Perlawanan-perlawanan itu dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kita baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat nama-nama mereka dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, telah dapat dipatahkan oleh Belanda selama mereka berjuang secara terpisah-pisah dan dengan cara-cara pra-modern. Mereka baru berhasil mengakhiri penjajahan Belanda waktu mereka menghadapinya sebagai bangsa yang bersatu dan dengan cara-cara yang cukup modern. Perjuangan ini telah mencapai puncaknya dalam Revolusi ’45. Dengan demikian jelas bahwa Revolusi ’45 itu adalah reaksi dan penolakan terhadap penjajahan Belanda dan juga terhadap pendudukan Jepang. ( Lihat T. B. Simatupang, “Pentingnya Revolusi ’45 bagi Kita Dewasa Ini”, dalam Majalah Prisma No.7 tahun 1976).

    Dengan semangat dan spirit revolusi ’45 Herman Fernandez dan kawan-kawannya ikut bertempur dalam peristiwa pertempuran hidup mati di Palagan Sidobunder. Apa yang mendorong Herman Fernandez dan kawan-kawannya sehingga mereka dengan berani mengambil keputusan berjuang hidup mati untung kemerdekaan bangsanya? Untuk menjawab pertanyaan ini kita dapat merujuk pada pemikiran seorang nasionalis Jerman, Johan Gottfried Herder (1744-1803). Menurut Herder, identitas nasional suatu bangsa berkaitan erat dengan bahasa dan kebudayaannya. Karena dalam kedua hal ini sebuah bangsa dibentuk. Kebudayaan menjadi nyata dalam bentuk praktik hidup sehari-hari, kebiasaan, cerita-cerita rakyat, kepercayaan dan mitologi asli juga bahasa untuk saling berkomunikasi memungkinkan para warga bangsa mengidentifikasi. Dalam jaring ini para warga bangsa menginterpretasi diri dan membentuk identitas bersama sebagai suatu bangsa. Saya mempunyai identitas yang sama dengan rekan-rekan sebangsa karena saya menafsirkan diri dengan mereka dan lingkungan sosial yang ada, yang tersedia berupa bahasa dan kebudayaan. Herder juga berpendapat bahwa identitas nasioanal memiliki kekuatan yang terletak pada kekayaan sumber kebudayaan yang dipakai untuk membangun konsepsi tentang komunitas nasional. Adanya landscapae atau tanah air, sejarah dan hak-hak istimewa sebagai anak bangsa memungkinkan kita menyadari identitas kita. Kita adalah sama karena memiliki tanah air yang sama, sejarah yang satu dan hak-hak yang sama. Kesadaran akan kebersamaan identitas sebagai sebuah bangsa inilah yang yang pertama-tama menuntut dan menggerakan orang untuk memperjuangkan sesuatu, misalnya kemerdekaan dan kedaulatan serta kebebasan dari intervensi.

     

    Tumbuhnya Rasa Nasionalisme

    Nasionalisme sebagai sebuah aliran pemikiran dan kesadaran diri yang telah memainkan peranaan signifikan selama beberapa ratus tahun lampau, sudah barang tentu mempunyai momen kemunculannya. Menurut Benedict Anderson dalam karyanya Imagined Communities: Reflection on the Origin and the Spread of Nationalism (Verso:1998), bangsa adalah komunitas politis terbayang. Bagi Anderson bangsa merupakan komunitas karena bangsa merupakan sebuah kesetikawanan yang masuk mendalam dan melebar mendatar. Artinya sebagai komunitas, bangsa diyakini sebagai wadah di mana orang mendapatkan rasa persaudaraan, rasa senasib dan sepenanggungan sesungguhnya.

    Disebut juga sebagai komunitas terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekalipun tak akan tahu dan dikenal sebahagian besar anggota yang lain atau tak bakal menjalin kontak muka dengan muka. Padahal mereka sama-sama membayangkan bahwa mereka adalah satu kesatuan dalam kebersamaan, mereka ada dalam satu komunitas.

    Bangsa juga disebut sebagai komunitas politis karena bangsa lahir pada era di mana Pencerahan dan Revolusi menghancurkan kekuasaan absolut. Dari sini orang lalu mengusahakan kebebasan dan kedaulatan. Bangsa lalu menjadi kekutan politis karena selalu mengusakan kedaulatan secara politis, yang tentu akan diakui secara politis oleh pihak lain.

    Herman Fernandez dan kawan-kawannya ketika ikut dalam pertempuran hidup mati Sidobunder, tentu membayangkan bahwa negeri mereka suatu saat akan memperoleh kemerdekaan. Karena kesamaan cita-cita ingin lepas dari cengkraman kolonialisme,  maka tumbuh dalam diri mereka rasa kesamaan nasib, kesetiakawanan dan persaudaraan yang menjadi modal bagi mereka untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda dan Jepang, yang di mata Herman Fernandez dan kawan-kawannya telah merendahkan kedaulatan negeri mereka.

    Bila kita renungkan sejenak motivasi apa yang mendorong pemuda dan rakyat kita ikut berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia, maka motivasi pokoknya adalah keinginan dan tekad untuk hidup bebas dan merdeka terutama dari segala kepalsuan dan kebohongan dengan jalan merebut kekuasaan untuk memegang nasib bangsa dan tanah air di tangan sendiri. Hal ini jelas dicerminkan oleh Bung Karno dalam pidato pengantarnya pada hari Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, sebelum membacakan naskah Proklamasi itu sendiri. Berkatalah Bung Karno:

     

    “Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah berates-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan itu ada naik dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak henti-henti. Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri tetpa kita percaya kepada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah-air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya” (Lihat Ir. Sukarno, Di bawah Bendera Revolusi, Jilid II, tahun 1964, hal 3-4).

     

    Dari pidato Bung Karno di atas jelas bahwa motivasi pokok para pejuang kemerdekan adalah kemerderkaan dan kebebasan melawan segala kepalsuan dan kebohongan sistem militerisme yang bercokol; disertai dengan cinta kepada tanah air dan bangsa. Dengan perkataan lain nilai-nilai yang tersimpan di  dalamnya adalah jelas bersumber kepada patriotisme dan nasionalisme, dipertinggi dengan keberanian untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.

    Negara bangsa dan nasionalisme masihkah diperlukan?

    Dengan sejarah kita belajar bahwa bahwa masa kini adalah sambungan dari peristiwa sejarah di masa lalu dan kandungan peristiwa sejarah yang akan datang. Sejarah juga membuat kita sungguh-sungguh menikmati peristiwa-peristiwa aktual dari prespektif sejarah, sehingga memampukan kita untuk percaya bahwa dari sejarah kita sungguh bisa belajar untuk memetik manfaat bagi hidup kita.

    Dalam himpitan arus globalisasi dimana rasa kebangsaan  dan nasionalisme dianggap tak punya arti dan peran yang signifikan, tak patut diperbincangkan atau tak dibenarkan menuntut pengorbanan diri para warganya,  apakah bangsa dan nasionalisme masih mempunyai masa depan? Bangsa dan nasionalisme terlahir melalui suatu proses yang melibatkan sejumlah pelaku dan sumber daya yang ada. Proses itu terjadi dalam kerangka kehidupan sosial, ekonomi dan budaya. Bangsa ada dalam kerangka proses yang pernah ada, dan masih terus berada, berkat adanya kehendak, kesadaran para pendukung yang merasa bahwa mereka ada dalam kesamaan asal, mereka punya tanah yang satu dan sama, mereka punya kisah dan cerita yang membanggakan sekaligus memprihatinkan lebih-lebih mereka punya bahasa dan sistem simbol untuk saling membahasakan diri. Bangsa tercipta oleh mereka, individu-individu yang menyadari kebersamaan.

    Negara bangsa dan nasionalisme masih akan terus hidup dan relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sosial dan politik modern. Negara bangsa dan nasionalisme masih mempunyai peran sebagai wadah dan bentuk kehidupan sosial politik bersama. Negara bangsa dan nasionalisme di masa depan masih sangat dibutuhkan untuk menahan terpaan homogenisasi yang dibawah oleh globalisasi dan juga merupakan bentuk dan rasa kebersamaan yang masih dapat menggerakan orang untuk membangun hidupnya dan hidup sesamanya.

    Denny JA, pendiri Lembaga Survei Indonesia dan juga seorang penulis puisi, meyakini bahwa negara bangsa dan nasionalisme akan tetap hidup di jaman getar algoritma dan sinyal digital ini. Kita dengarkan puisinya.

     

    Nasionalisme di Era Algoritma

     

    Oleh Denny JA

     

    Di tahun 2023, sambil memainkan aplikasi kecerdasan buatan,
    anak muda itu merenungkan nasionalisme.

    Di balik layar ponselnya, ia bertanya:
    Apakah arti tanah air, di zaman tanpa batas ini?
    Negara adalah peta yang kabur di ujung jari,
    batas-batasnya larut dalam pixel dan kode.
    Tapi, di antara getar algoritma dan sinyal digital,
    datang bisikan dari jauh, dari tahun 1928.

    Sejarah bersimpuh di hadapannya.
    Di langit, nampak leluhur menggali akar,
    menyatukan suku, bahasa dan agama.

    Dari Sumatra hingga Papua, sumpah pun diikrarkan.
    Satu bahasa, satu tanah air, satu bangsa: Indonesia.

    Mereka memahat impian dari luka dan air mata,
    menjahit setiap perbedaan dalam simpul kuat.

    Mantra itu menjadi akar yang menembus dalam,
    meneguhkan tanah air yang belum bernama,
    namun menyala dalam jiwa.

    Ia, Darta, hidup di era digital yang tanpa batas.
    Ia melihat dunia berbaur menjadi satu,
    di antara pixel, kode, dan bising algoritma.

    Dalam riuh suara global yang tumpang tindih,
    tanah airnya bagai nada dasar yang terus bergema,
    nada yang tak terhapus.

    Darta juga terheran:
    “Di jantung algoritma yang tanpa rimba,
    mengapa cintaku pada tanah air tetap berakar,
    seperti embun pada daun yang enggan jatuh,
    meski musim berganti dan waktu tak mengijinkannya.”
    Dunia digital mencairkan batas negara,
    tapi tanah air bukan sekadar garis di peta;
    ia ikatan yang merasuk jiwa,
    melekat erat di setiap rasa.

    Bahasa digital meleburkan segala suara,
    tapi bahasa nasional bukan sekadar kata;
    ia gema dalam dada,
    jejak identitas yang kita bawa.

    Di hatinya, tumbuh warna tanah yang tak tergantikan,
    identitasnya berpadu dalam cinta yang tak kasat mata,
    menjadi akar yang tak tampak namun kuat.
    Sekarang, ia bicara dengan bahasa algoritma,
    namun hatinya tetap bernada Indonesia.

    Informasi memang tak mengenal batas.
    Sinyal mengaburkan jarak.
    Tapi cinta tanah air tetap tumbuh dalam senyap.
    Sejarah memberinya memori.
    Negara memberinya identitas.
    Tanah air memberi rumah untuk pulang.

     

    —————–

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Nasionalisme di Era Algoritma

    Nasionalisme di Era Algoritma

     

     

    Oleh  Denny JA

     

     

    Di tahun 2023, sambil memainkan aplikasi kecerdasan buatan,
    anak muda itu merenungkan nasionalisme.

     

    Di balik layar ponselnya, ia bertanya:
    Apakah arti tanah air, di zaman tanpa batas ini?
    Negara adalah peta yang kabur di ujung jari,
    batas-batasnya larut dalam pixel dan kode.
    Tapi, di antara getar algoritma dan sinyal digital,
    datang bisikan dari jauh, dari tahun 1928.

     

    Sejarah bersimpuh di hadapannya.
    Di langit, nampak leluhur menggali akar,
    menyatukan suku, bahasa dan agama.

     

    Dari Sumatra hingga Papua, sumpah pun diikrarkan.
    Satu bahasa, satu tanah air, satu bangsa: Indonesia.

     

    Mereka memahat impian dari luka dan air mata,
    menjahit setiap perbedaan dalam simpul kuat.

     

    Mantra itu menjadi akar yang menembus dalam,
    meneguhkan tanah air yang belum bernama,
    namun menyala dalam jiwa.

     

    Ia, Darta, hidup di era digital yang tanpa batas.
    Ia melihat dunia berbaur menjadi satu,
    di antara pixel, kode, dan bising algoritma.

     

    Dalam riuh suara global yang tumpang tindih,
    tanah airnya bagai nada dasar yang terus bergema,
    nada yang tak terhapus.

     

    Darta juga terheran:
    “Di jantung algoritma yang tanpa rimba,
    mengapa cintaku pada tanah air tetap berakar,
    seperti embun pada daun yang enggan jatuh,
    meski musim berganti dan waktu tak mengijinkannya.”
    Dunia digital mencairkan batas negara,
    tapi tanah air bukan sekadar garis di peta;
    ia ikatan yang merasuk jiwa,
    melekat erat di setiap rasa.

     

    Bahasa digital meleburkan segala suara,
    tapi bahasa nasional bukan sekadar kata;
    ia gema dalam dada,
    jejak identitas yang kita bawa.

     

    Di hatinya, tumbuh warna tanah yang tak tergantikan,
    identitasnya berpadu dalam cinta yang tak kasat mata,
    menjadi akar yang tak tampak namun kuat.
    Sekarang, ia bicara dengan bahasa algoritma,
    namun hatinya tetap bernada Indonesia.

     

    Informasi memang tak mengenal batas.
    Sinyal mengaburkan jarak.
    Tapi cinta tanah air tetap tumbuh dalam senyap.
    Sejarah memberinya memori.
    Negara memberinya identitas.
    Tanah air memberi rumah untuk pulang.

    Bali, 14 Oktober 2023
  • Mampukah Filsafat Survive dalam Peradaban Kontemporer?

    Mampukah Filsafat Survive dalam Peradaban Kontemporer?

     

     

    Memperingati Hari Filsafat Sedunia 2024, Paramadina Graduate School of Islamic Studies menyelenggarakan diskusi bertema “Filsafat Telah Mati? Membincang Ulang Peran Filsafat dalam Kanvas Peradaban Kontemporer,” Sabtu, 7 Desember 2024 di ruang Sevilla, Gedung Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta. Masing-masing narasumber yang terdiri dari Dr. M. Subhi-Ibhrahim (Direktur Paramadina Graduate School of Islamic Studies Paramadina University), Dr. Budhi Munawar-Rachman (Dosen STF Driyarkara, Jakarta) dan Dr. Luh Gede Saraswati Putri, S.S, M. (Dosen Filsafat Universitas Indonesia) memberikan paparan-paparan yang saling melengkapi satu sama lain.

    Filsafat di Masa Disrupsi

    Luh Gede Saraswati Putri memulai paparannya dengan terlebih dulu mengapresiasi pembacaan puisi dari penyair Sofyan RH Zaid berjudul “Pagar Kenabian,” yang diiringi petikan gitar yang lembut dari Ivan. Kedua pemuda ini adalah peserta program Paramadina Graduate School of Islamic Studies. Menurut Saraswati, ranah puisi, atau katakanlah nalar puitis, menjadi domain yang sangat krusial dalam diskursus filsafat kontemporer terutama setelah bapak filsafat fenomenologi Edmund Husserl mendiagnosa adanya krisis ilmu pengetahuan di Eropa yang terlalu mengagung-agungkan ilmu pengetahuan; pokok yang dalam diskursus filsafat Barat kontemporer disebut saintisme.

    Saintisme adalah sebuah sudut pandang yang meyakini betul bahwa sains merupakan barometer tunggal untuk, tidak saja menjelaskan keseluruhan fenomena yang terjadi dalam kehidupan, melainkan juga sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuan yang valid.

    Sikap terlalu mengagungkan ilmu pengetahuan, demikian Saraswati, membuat “Ilmu pengetahuan modern berjarak dengan makna hidup manusia. Objektivisme yang berlebih, yang mengabaikan aspek individual yang unik.” Atas dasar inilah, masih menurut Saraswati, “Ilmu pengetahuan harus kembali pada Lebenswelt (penghayatan hidup sehari-hari individu).”

    Krisis ilmu pengetahuan modern yang tak dibenahi dapat memicu berbagai krisis lain misalnya dalam wujud bencana ekologi hingga tragedi kemanusiaan memilukan seperti terjadi di Palestina. Krisis semakin parah karena berjejaring dengan semangat eksploitasi yang didenguskan sistem kapitalisme.

    Merujuk pada pemikiran filosof Etienne Balibar, Saraswati berpendapat “konflik atau peperangan yang ada tidak semata-mata perseteruan ideologis saja, tetapi ada intensi bahkan desain kapitalistik.” Oleh sebab itu, ucap Saraswati, “kehidupan yang selaras dengan alam sebagai politik perlawanan yang juga menjegal kekuatan kapitalisme.”

    Saraswati juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya “Teknologi AI melayani agenda kapitalisme global.” Teknologi AI yang serba mencakup itu, dalam ulasan Saraswati, “dapat menyeragamkan isi pikiran kita, imajinasi visual kita, mengambilalih ruang kreatif kita.”

    Pada konteks inilah peran filsafat menjadi sangat mendasar. “Filsafat,” kata Saraswati, “dibutuhkan untuk mengevaluasi ancaman eksistensial oleh AI, yang dapat mendorong regulasi atau batasan-batasan AI.” Dengan nada sedikit merendah Saraswati berpendapat “Filsafat tidak pernah menjadi total dan final. Ketidaklengkapan itu adalah caranya juga beradaptasi/menyikapi disrupsi yang ada.”

     

     Merestart Kognisi Manusia

    Pembahasan tentang teknologi semakin luas dan mendalam di tangan Dr. Budhi Munawar-Rachman yang menyoroti pokok soal bagaimana keterlibatan yang sangat intens manusia dengan teknologi berpeluang besar “merestart” struktur kognisi manusia. “Saat ini” kata Munawar-Rachman, “teknologi telah mengubah cara hidup manusia secara drastis.”

    Di sela-sela pembahasannya, Munawar-Rachman menceritakan bagaimana ia di waktu luang dapat berlama-lama berasyik masyuk dengan teknologi AI baik untuk keperluan membantu memudahkan kerja-kerja akademik, maupun untuk sekadar ngobrol-ngobrol santai.

    Sebagai dosen filsafat, Munawar-Rachman menegaskan “filsafat berperan dalam memberikan kerangka untuk memahami dampak teknologi terhadap eksistensi manusia dan masyarakat, menganalisis isu-isu kritis seperti privasi data dan kecerdasan buatan, serta mengarahkan inovasi teknologi menuju tujuan yang lebih humanistik.”

    Lebih jauh Munawar-Rachman menerangkan, “dalam konteks peradaban kontemporer, filsafat menjadi disiplin penting dalam menghadapi tantangan-tantangan kompleks di era modern, memberikan perspektif kritis untuk memahami dan mengarahkan perkembangan peradaban.”

    Sementara Saraswati, seperti telah dijelaskan di awal, bertolak dari tradisi fenomenologi, Munawar-Rachman berangkat dari khazanah pemikiran filsafat eksistensialisme yang menekankan pentingnya kebebasan individu dalam pembentukan identitas.

    Menurut Munawar-Rachman, “pemahaman mengenai filsafat eksistensial dapat membantu kita mengkaji secara lebih mendalam bagaimana privasi dan identitas saling terkait.”

    Dalam pembahasannya, Munawar-Rachman merekomendasikan suatu pendekatan baru yang memanfaatkan teknologi dapat memperluas sumber pengetahuan, meningkatkan kecepatan dan efisiensi analisis, serta menangani skala data yang lebih besar. Dengan adaptasi, kolaborasi lintas disiplin, dan perannya dalam etika teknologi, filsafat dapat tetap relevan dan berkembang di era digital ini.”

    Posisi Munawar-Rachman menyiratkan kesan bahwa aktualitas filsafat di era digital akan terlihat manakala filsafat mempertahankan watak dasarnya sebagai ilmu kritis yang selalu menggonggong bak seekor anjing, mempertanyakan segala hal secara radikal.

    Kritisme filsafat dengan demikian dapat menjadi panduan untuk menyikapi berbagai capaian yang dihasilkan perkembangan teknologi sekaligus mengelolanya sehingga teknologi tidak bergerak secara ugal-ugalan.

    Kembali  ke  Philosophia

    Sebagai pembicara terakhir, Dr. M. Subhi-Ibhrahim, Direktur Paramadina Graduate School of Islamic Studies dan penekun filsfat perenialis yang kaffah, menggaris-bawahi perlunya menarik kembali filsafat ke kodratnya sebagai “philosophia,” mencintai kebijaksanaan.

    Seruan untuk mengembalikan filsafat ke posisi asalinya, dikemukakan karena filsafat, menurut Subhi-Ibhrahim, telah melenceng jauh dari marwah asalinya. Alih-alih mencitai kebijaksanaan, filsafat, terutama yang terartikulasikan pasca penutupan Akademia Platon hingga maklumat mendebarkan filosof Nietzsche tentang Tuhan telah mati, justru malah mengekspresikan sebuah sikap membenci kebijaksanaan. Salah satu kekhasan paling mendasar dari filsafat sebagai philosophia terletak pada adanya pertautan khas antara pengetahuan dan dunia keseharian. Pengetahuan falsafi selalu terintegrasi dengan dimensi praktis dan kontekstual, yang dalam istilah teknis disebut sebagai “bios theoretikos” dan “bios politikos.”

    Dalam pandangan Subhi Ibrahim, frasa itu tampaknya dimaknai sebagai “living philosophy.” Filsafat menjadi titik awal dan titik akhir dalam mengarungi semesta kehidupan yang selalu berdenyut dan tak bisa lepas dari partisipasi sang pemilik kehidupan.

    Dari penjelasan-penjelasan di atas, alih-alih menemui ajal sebagai jawaban dari pertanyaan tema diskusi “filsafat telah mati?” para pembicara, justru memperlihatkan kecenderungan untuk menghidupkan dan menghadirkan gaya baru berfilsafat sebagai disiplin ilmu yang selalu adaptif dengan kemajuan zaman, tanpa secuilpun kehilangan daya gedor krtisismenya.

    Sebagai penutup, menyitir judul lagu lembut dan sopan milik Bernadya, “Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan,” maka filsafat juga akan tetap berjalan dan hidup dengan nafas kritisismenya.

     

    ——-Khudori  Husnan——-

     

  • Manajemen sebagai Seni Mengelola Sekolah Berkualitas

    Manajemen sebagai Seni Mengelola Sekolah Berkualitas

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

     

     

    Ilustrasi Praktik Manajeman, Koordinasi dalam Team, Sumber Pexels

    Manajemen sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam menentukan keberhasilan suatu karya pendidikan. Sebagai seorang praktisi pendidikan, saya merasa beruntung memiliki bekal ilmu manajemen yang sungguh membantu dalam memahami dan menata tanggung jawab secara lebih terstruktur. Ilmu ini telah menjadi dasar penting dalam seni menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan, terutama dalam mengatasi berbagai tantangan yang ada.

    Pengalaman ini mengajarkan bahwa keberhasilan manajerial selain terletak pada pemahaman terhadap tugas yang diemban, juga pada penerapan seni mengelola situasi dan sumber daya. Seni manajemen memungkinkan seseorang menemukan solusi kreatif terhadap hambatan, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara lebih efektif. Di dunia pendidikan, penerapan manajemen yang baik oleh kepala sekolah dan unsur pimpinan lainnya sangat diperlukan agar dapat menghasilkan pelayanan unggul kepada peserta didik.

    Manajemen dalam konteks sekolah mencakup administrasi semata, dan menyentuh aspek perencanaan, pengorganisasian atau koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi. Semua itu bertujuan agar daya kekuatan sekolah—baik manusia, finansial, maupun fasilitas—dapat diupayakan secara optimal dalam mendukung proses pembelajaran. Kepala sekolah, sebagai pemimpin tertinggi di sekolah, memainkan peran kunci untuk mengarahkan jalannya organisasi pelayanan.

    Sayangnya, tidak semua pimpinan sekolah memiliki latar belakang atau pelatihan formal di bidang manajemen. Padahal, kemampuan manajerial yang baik sangat diperlukan dalam mengelola berbagai tantangan dalam dunia pendidikan yang semakin kompleks, seperti perubahan kurikulum, kebutuhan siswa yang beragam, dan tuntutan peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, penting bagi para pimpinan sekolah agar dapat melengkapi diri dengan ilmu manajemen, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan informal.

    Dunia pendidikan tidak terlepas dari berbagai kesulitan, mulai dari kendala administratif hingga permasalahan teknis di lapangan. Berdasarkan pengalaman, salah satu kunci mengatasi kesulitan tersebut adalah memahami esensi tugas yang diberikan. Dengan pendekatan manajerial, seseorang mampu menguraikan setiap tugas menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, membuat perencanaan strategis, serta melibatkan tim dalam bekerja sama mencapai tujuan.

    Sebagai contoh, ketika menghadapi hambatan dalam koordinasi kegiatan sekolah, penerapan manajemen komunikasi yang baik membantu menghasilkan alur komunikasi lebih lancar antara guru, staf, siswa, dan orang tua. Demikian pula, dalam pengelolaan sumber daya, seni manajemen membantu memastikan alokasi anggaran dan fasilitas dilakukan secara efisien sehingga mendukung kegiatan belajar mengajar secara optimal.

    Kemampuan demikian sangat mungkin dikembangkan oleh para kepala sekolah dan pimpinan lainnya jika mereka diberi kesempatan belajar ilmu manajemen. Pelatihan-pelatihan tentang kepemimpinan, pengelolaan waktu, hingga pengambilan keputusan strategis perlu menjadi bagian dari program pengembangan profesionalisme mereka.

    Manajemen yang baik di tingkat sekolah terbukti memberikan dampak positif pada organisasi, dan pelayanan kepada peserta didik. Dengan pengelolaan terstruktur, siswa akan mendapatkan lingkungan belajar lebih kondusif. Misalnya, melalui perencanaan matang, kegiatan pembelajaran dapat berlangsung tanpa hambatan, tenaga pengajar dapat bekerja dengan lebih terorganisasi, dan fasilitas pendukung pembelajaran dapat dimanfaatkan secara sangat baik.

    Manajemen sekolah yang efektif juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik. Ketika guru merasa didukung oleh sistem yang baik, mereka dapat berkonsentrasi pada tugas utama mereka, yakni mendidik siswa. Kondisi ini pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan hasil belajar siswa.

    Dalam jangka panjang, manajemen yang baik juga membantu menghasilkan budaya positif organisasi di sekolah. Sekolah tidak sekedar menjadi tempat belajar secara akademis, tetapi juga menjadi lingkungan yang membangun karakter dan nilai-nilai kehidupan. Hal demikian dapat terwujud secara baik jika pimpinan sekolah mampu membuat visi dan misi yang jelas serta mengelola personalia pendidik dan tenaga kependidikan dengan bijak.

    Untuk memastikan bahwa semua unsur pimpinan di sekolah memiliki keterampilan manajerial yang memadai, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, pertama-tama jika dimungkinkan kepala sekolah dan pimpinan lainnya dapat melanjutkan pendidikan formal di bidang manajemen pendidikan atau mengambil program studi terkait. Bekal akademis ini akan memberikan landasan teori yang kuat serta wawasan praktis dalam mengelola organisasi sekolah.

    Kedua, mengikuti aneka pelatihan, seperti workshop manajemen konflik, pengambilan keputusan strategis, dan manajemen sumber daya manusia sangat bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan praktis. Ketiga, belajar melalui studi banding. Studi banding ke sekolah-sekolah yang telah berhasil menerapkan manajemen yang baik dapat menjadi inspirasi guna mengadopsi strategi relevan dengan kondisi sekolah masing-masing. Keempat, menggunakan penerapan teknologi. Penggunaan teknologi, seperti sistem informasi manajemen sekolah, dapat membantu menyederhanakan tugas-tugas administratif dan meningkatkan efisiensi operasional.

    Sebagai catatan akhir manajemen merupakan seni ilmu praktis dalam mengelola sekolah berkualitas. Dengan keterampilan manajerial memadai, kepala sekolah dan unsur pimpinan lainnya dapat menghasilkan lingkungan kondusif bagi pembelajaran, meningkatkan kualitas pelayanan kepada siswa, serta mengatasi berbagai tantangan dengan lebih efektif.

    Sebagai seorang yang telah merasakan manfaat ilmu manajemen dalam dunia kerja, saya percaya bahwa investasi dalam pendidikan dan pelatihan seni tata kelola bagi pimpinan sekolah menjadi langkah layak yang perlu dipertimbangkan. Dengan manajemen yang baik, organisasi sekolah akan berjalan lebih tertata, dan pada akhirnya, siswa sebagai generasi penerus bangsa akan menerima pelayanan pendidikan terbaik.

    ———————

     

  • Di Hadapan Rahasia

    Di Hadapan Rahasia

     

     

    Adimas Immanuel

     

     

    Masihkah kita harus berbantah ketika waktu menipis dan tak bisa mengiris kesedihan-kesedihan kita lagi? Kusembunyikan diriku dari sihir matamu ketika nasib memendarkan warna-warni seperti bianglala, ketika wangi hutan bersiap menyergap dan menyerapmu seperti sumur-sumur resapan yang merindukan air dari tanah-tanah tak tertempuh.

     

    Masihkah kita harus bersengketa ketika hari hampir habis dan doa hanya menjadi ritus ala kadarnya, sementara daun-daun tak sekalipun menebak ke mana angin akan meniupnya. Seperti kita manusia, yang amat kecil di hadapan rahasia, yang tak sepenuhnya berkuasa atas jatuh-bangun kita.

     

    ———— Sumber Puisi, Di Hadapan Rahasia, Adimas Immanuel, Gramedia 2020—————-