Author: Redaksi

  • Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan

    Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan

     

     

    Oleh  Fridiyanto

     

     

    DANIEL DHAKIDAE,  seorang begawan ilmu sosial yang mungkin menurut saya tidak terlampau banyak dikenal di kalangan akademisi perguruan tinggi islam. Setidaknya ini saya amati di beberapa grup WhatsApp perguruan tinggi islam yang tidak ada sahutan ataupun komentar terkait berita wafatnya peneliti media, sejarah dan sosiologi intelektual ini. Jika Dhakidae dikenal di kalangan akademisi perguruan tinggi Islam, tentunya terdapat ucapan bela sungkawa yang mungkin dibarengi dengan sedikit ulasan tentang kiprah Dhakidae di dalam dunia intelektualisme dan ilmu-ilmu sosial. Postingan terkait Dhakidae dari para sarjana Islam saya lihat di akun facebook Rektor UIN Banjarmasin, yaitu Prof. Mujiburrahman yang menceritakan pertemuan fisik dan pengaruh pemikiran Dhakidae.

    Saya sendiri mengenal Dhakidae bukanlah dalam perjumpaan fisik di forum-forum ilmiah, tetapi hanya dalam pergumulan pemikiran melalui karya-karyanya. Pertemuan dengan Dhakidae, karena kegandrungan saya mengoleksi dan membaca  majalah Prisma lawas dan terbitan terbaru, yang di dalamnya banyak tersebar tulisan-tulisan Dhakidae. Secara perlahan saya mulai membaca dan sangat terpesona dengan kedalaman dan menariknya retorika Dhakidae.

    Dari tulisan  Dhakidae di Prisma,  kemudian saya mulai  menelusuri dan membeli buku-buku karya Dhakidae, sebut saja: Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru,sering dikatakan sebagai magnum opusnya Dhakidae. Dalam pengantarnya, Dhakidae terngiang  dan terganggu dengan pesan Ben Anderson bahwa buku tentang cendekiawan di Indonesia yang ditulisnya  harus “go beyond Prisma”. Kemudian melalui disertasinya di Cornell University, yang berjudul “the State, the Rise of Capital and the Fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesian News Industry”, Dhakidae mengungkap bagaimana ketika media semakin mengakumulasi kapital, maka para jurnalis akan semakin teralienasi dari kerja jurnalisnya yang politis. Semoga saja disertasi Dhakidae tentang politik ekonomi media dan industri media dapat diterjemahkan dan diterbitkan.

    Bersama Vedi R. Hadiz, Dhakidae menyunting buku, Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia yang mengkritik tentang macetnya ilmu sosial di Indonesia. Buku terakhir Dhakidae, Menerjang Badai Kekuasaan merupakan sebuah buku unik yang ditulis bercorak biografis mulai dari Bung Karno, seorang pemimpin bangsa sampai Kusni Kasdut, seorang kriminal tenar di masa Orde Baru. Lewat buku ini Dhakidae ingin menyampaikan tentang  adanya “being and nothingness”. Soekarno sebagai narasi besar adalah tentang “being a nation”, sementara, Rohimah, seorang jelata  dan Kusni Kasdut sebagai seorang bandit merupakan wajah “nothingness of a nation”, sebuah wajah kemiskinan, ketidakadilan, pembiaran, dan pengabaian terhadap rakyat jelata yang dianggap tidak memiliki makna. Dhakidae bukan sosok pemikir yang penuh nafsu untuk menulis banyak buku, ia lebih memilih kedalaman, sehingga tidak aneh jika buku-buku karyanya memiliki keabadian, dan selalu relevan dengan zaman.

     

    Cendekiawan dan Kekuasaan

     

    Kesan saya terhadap karya-karya Dhakidae menegaskan bahwa pemikiran-pemikirannya tidak terlepas dari diskursus seputar cendekiawan dan kekuasaan yang kemudian ditulis dengan berbagai kasus dan peristiwa. Buku Cendekiawan dan Kekuasaan, pasca wafatnya Dhakidae, kembali menjadi perbincangan tentang apa dan siapa itu cendekiawan. Buku Cendekiawan dan Kekuasaan ini adalah buku yang pernah menginspirasi saya untuk menulis buku berjudul, Kaum Intelektual dalam Catatan Kaki Kekuasaan, sebuah buku eksperimen saya  yang ingin mengupas sejarah dan peran intelektual di Indonesia.

    Bagi Dhakidae hanya mereka yang terlibat dalam sebuah diskursus yang dapat disebut sebagai kaum cendekiawan, karena sebuah diskursus lebih berbahaya dari senjata. Masa rezim Orde Baru Soeharto, sepucuk surat dari Cornell (Cornell Paper) yang ditulis oleh Benedict Anderson dan Ruth McVey yang membongkar kedok Kudeta 1 Oktober 1965 bukan dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia, melainkan manuver para jenderal senior Angkatan Darat, bagaikan sebuah bom nuklir yang dapat menghancurkan konstruksi negara Orde Baru, sehingga sangat mengkhawatirkan Soeharto. Maka bagi Orde Baru, setiap diskursus tandingan terkait peristiwa 65 “resmi” layaklah bagi cendekiawan  dengan karyanya untuk dilenyapkan.

    Seorang cendekiawan bukan seorang yang menulis buku dan artikel ilmiah, cendekiawan tidak ditandai hanya dengan kepemilikan ijazah sebagai tanda ke-terpelajaran. Kaum cendekiawan bukanlah intelektual fungsional yang dibayar oleh negara untuk menjalankan peran sebagai abdi negara, bekerja bagi kepentingan penguasa. Cendekiawan juga bukan seorang mistikus yang melakukan pertapaan di kesunyian puncak gunung. Cendekiawan bukan orang-orang yang tercerabut dari persoalan-persoalan sosial, sebagaimana kritik Dhakidae terhadap “La Trahison des Clercs”nya Jullien Benda yang mengatakan cendekiawan adalah sejenis manusia lain yang tidak mengejar tujuan-tujuan praktis. Kebahagiaan seorang cendekiawan adalah ketika ia dapat mengerjakan kesenian, ilmu pengetahuan, dan spekulasi-spekulasi metafisik. Sehingga dari keterasingan ini muncul ungkapan ekstase seorang cendekiawan, “Kerajaanku bukan dari dunia ini”.

    Keasyikan kaum cendekiawan dengan dunianya sendiri inilah kiranya yang membuat sahabat Dhakidae, Vedi R. Hadiz pada diskusi bertajuk ”Cendekiawan dan Kekuasaan: Mengenang Kepergian Daniel Dhakidae di Chanel Historia mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada intelektual organik. Pernyataan ini karena minusnya kaum cendekiawan yang menyuarakan kepentingan rakyat, kaum cendekiawan di Indonesia hanya membela penguasa dan pemodal.

    Kaum cendekiawan langitan versi Benda menurut Dhakidae bahwa cendekiawan melihat kehidupan bukan saja sebagai hal yang terpisah dari, namun harus berdiri di atas bahkan harus di luar berbagai persoalan sosial, perkembangan ekonomi dan politik. Sehingga seorang cendekiawan dapat hidup di atas angin dalam kerajaan roh,”qui vit dans le rotaume d ‘esprit”. Benda mengatakan bahwa kehidupan dalam perkembangan ekonomi, teknologi, dan modal akan dapat menekan nilai-nilai kecendekiaan. Kritik Benda terhadap pengkhianatan kaum intelektual di Eropa tersebut dikritik oleh Dhakidae karena tidak tepat untuk kondisi dunia Timur, terutama Indonesia. Jika di Indonesia kaum cendekiawan harus berbicara kesadaran kelas karena untuk  agenda emansipasi, jika kaum cendekiawan bicara nasionalisme maka hal itu merupakan la fidelite des clercs yaitu sebuah gerakan menjaga prinsip dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan.

    Dhakidae telah meninggalkan warisan intelektual, tinggal generasi berikutnya,“hidupkan teks tersebut dengan nada-nada musikal, apa yang tidak kau temukan di sini, gubahkan sendiri”. Tentu tulisan Dhakidae bukanlah tulisan-tulisan yang terindeks Scopus atau terindeks Sinta yang saat ini menjadi sebuah tujuan bagi para cendekiawan fungsional di Indonesia. Kesahajaan, kedalaman, dan keberpihakan  pemikiran  Dhakidae terekam dalam Prisma yang tidak terindeksasi apapun, bahkan agar dapat terus terbit Jurnal Sosial berbobot ini harus mengalami nasib bagai sisyphus yang berusaha melawan nasib yang selalu jatuh, bangun lagi, jatuh lagi, tapi pemikiran Dhakidae tidak mati, ia akan terus bernyanyi dengan berbagai nada dalam orkestra realitas sosial.

    ————————

     

    *Penulis adalah pengajar di UIN STS Jambi dan Penulis buku Kaum Intelektual dalam Catatan Kaki Kekuasaan.
    *Sumber Tulisan: Kajanglako.com, 13 April 2021

     

  • Merefleksi Kembali Ajaran Taman Siswa dalam Sistem Pendidikan Kita 

    Merefleksi Kembali Ajaran Taman Siswa dalam Sistem Pendidikan Kita 

     

    Oleh  Agus Widjajanto

     

     

    Pendidikan adalah sebuah usaha kebudayaan yang bertujuan untuk menuntun pertumbuhan jiwa dan raga anak, Dimana  pendidikan juga merupakan media untuk mewujudkan manusia yang merdeka secara lahir maupun batin. Guru berperan sebagai pamong atau pembimbing yang mendidik muridnya dengan kasih sayang dengan kesadaran personal, dimana guru harus tetap berpegang pada kemampuan dasar siswa (murid) dengan mendorong untuk mengungkapkan kemampuan berpikir tapi tetap  berbudi luhur. Seorang guru, dosen, pada semua level pendidikan harus berpikir, berperasaan dan bersikap seperti juru tani, dimana menggarap tanah disesuaikan dengan karakteristik tanah tersebut untuk ditanami tanaman apa yang paling cocok untuk tanah tersebut, demikian juga  terhadap siswa (murid)nya seorang guru tidak bisa merubah karakter dari siswa, akan tetapi hanya bisa memperbaiki dan memperindah harmoni nya. Tut Wuri Handayani (Guru memberikan dorongan, semangat, kepada muridnya ), Ing Ngarso Sung Tulada (Guru dan pemimpin bangsa  didepan rakyatnya, kalau guru, dosen di depan  murid (siswa) harus memberikan contoh tauladan yang baik, dalam pengajaran untuk mencetak generasi penerus  yang berbudi luhur, bukan hanya generasi yang cerdas seperti robot sesuai tehnologi kecerdasan buatan  A1. Sedangkan  moto Ing  Madya Mangun Karsa, yang artinya guru harus membangun motivasi memberikan semangat kepada murid siswanya harus bisa lebih baik untuk nanti mendarma baktikan kepada keluarga, masyarakat  dan bangsanya.

    Semboyan Tut Wuri Handayani yang diabadikan sebagai logo pada Kementerian Pendidikabn Riset dan Tehnologi (Kemrndikbudristek) yang hanya menjadi simbol dimana sistem pendidikannya justru telah mengamputasi semboyan dari pendiri Taman Siswa itu sendiri, dengan menghilangkan mata pelajaran dasar pada pelajaran Bahasa Daerah, Pancasila, Sejarah Bangsa nya dan membentuk karakter siswa sejak dini. Yang akibatnya hasil dari pendidikan yang melupakan pendidikan karakter, adalah menghasilkan generasi-generasi yang individual, dan rasa nasionalisme yang luntur, serta budaya sopan santun juga telah hilang, yang ada adalah sebuah generasi yang arogan, dan merasa paling benar serta lebih  cerdas dibanding generasi orang tuanya.

    Melihat fenomena tersebut sebenarnya  Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja, yang perlu terobosan untuk memperbaiki sistem yang dibangun sejak pasca runtuhnya Orde Baru memasuki era Reformasi yang sudah keluar jalur serta  kebablasan. Dan harapan ini ditujukan kepada presiden terpilih tahun 2024 agar lebih bisa peka dan tanggap bahwa ada yang salah dan perlu dilakukan terobosan radikal untuk diperbaiki.

    Fenomena tersebut tidak bisa dilepaskan karena terjadinya  ‘degradasi moral ‘ dari anak bangsa itu sendiri yang merupakan tugas kita semua. Mengajarkan moral dan etika serta cinta tanah air, sopan santun, rasa berbagi, toleransi antar umat beragama karena negeri ini terdiri dari bersuku-suku dengan ratusan bahkan ribuan bahasa daerah, harus dimulai sejak usia dini, yang merupakan tugas kita semua seluruh elemen anak bangsa, baik orang tua, guru baik tingkat pendidikan dasar, menengah dan hingga dosen, guru besar pada perguruan tinggi, kaum agamawan, budayawan serta pejabat negara selaku pengambil kebijakan. Sementara sistem pendidikan kita dalam proses belajar mengajar sudah dibuat sedemikian rupa seperti halnya sistem pendidikan di Eropa, dimana pada usia dini sudah dijejali  matematika, logaritma, bahasa asing , yang merupakan pelajaran berat yang merupakan porsi pada pendidikan menengah atas dan pada level yang lebih tinggi,  yang justru menghapus beberapa mata pelajaran budi pekerti, cinta tanah air, penghormatan terhadap guru, sopan santun, dan bahasa daerah, serta sejarah bangsanya. Agar nilai-nilai itu tetap melekat pada usia dini dan merupakan dasar bagi  pembentukan karakter anak dan manusia seutuhnya dikemudian hari. 

    Di Jepang yang merupakan negara maju, dan negara industri, sistem pendidikannya mengajarkan pada usia dini pada kelas satu hingga kelas tiga sekolah dasar, hanya diajarkan ekstra Kulikuler bidang olah raga untuk membentuk tubuh yang sehat, serta diajarkan khusus  pendidikan budi pekerti, sopan santun, sosialisasi sesama teman dan bersih terhadap  lingkungan serta menghormati guru, orang tua, dan cinta budaya  tanah air. Di Jepang dalam proses belajar tingkat dasar pada kelas satu hingga kelas empat tidak ada ujian seperti di negara kita, akan tetapi guru memantau karakter dan cara bersosialisasi dalam pergaulan, sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua dan guru. Dengan sistem pendidikan tersebut apakah Jepang menjadi negara terbelakang ? Oh tidak, Jepang tetap sebagai negara industri maju, negara kampiun industri mobil, digital, elektronik dan sumber keuangan dunia.

    Berikan kepada siswa, mahasiswa dalam semua strata pendidikan, kebebasan untuk berekpresi dalam berpikir agar menukan ide-ide baru, menemukan terobosan baru, tanpa dikungkung oleh aturan dogma, tata cara dan juklak dimana kebebasan berekpresi untuk berpikir, peran guru dan dosen hanya sebatas juru tani, yakni mengolah memilih tanaman sesuai tektur kondisi tanah, memberikan bimbingan dengan cara didepan siswa/mahasiswa memberi contoh, ditengah memberi semangat , dan dibelakang memberi dorongan itulah sebenarnya arti semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani.

    Jaman saya kecil dulu pada tahun 70-an dengan  sistem pendidikan lama, diajarkan tata cara menulis huruf Latin halus, menulis huruf honocoroko yang merupakan bagian sejarah dari bangsa ini, diajarkan sopan santun, unggah-ungguh, hormat terhadap guru serta  orang yang lebih tua dan orang tua, saking kerasnya seorang guru mengajarkan disiplin terhadap muridnya agar menjadi manusia yang berahlak bertanggungjawab serta berbudi luhur, maka dijaman itu guru sangat dihormati, coba jaman reformasi sekarang guru dianggap teman, apabila  ada guru menghukum muridnya disekolah, yang ada sang guru dilaporkan ke polisi oleh orang tua murid karena semena-mena, disinilah telah tejadi pergeseran nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta bermasyarakat yang  menafsirkan  sesuai nilai-nilai Pancasila, dan ajaran bapak Taman Siswa, Tut Wuri Handayani,  Ing Karso Sung Tulodo, tidak lagi terdengar diajarkan pada bangku-bangku sekolah oleh guru-guru kita, bahkan lebih kepada  berorientasi pada pendidikan yang menguntungkan secara finansial (education bisnis) hingga jangan kaget  begitu mahal biaya pendidikan saat ini yang harus ditanggung masyarakat, dengan pembelajaran sopan santun, tata krama, sosialisasi cara bergaul  yang dilakukan sejak usia dini  tentu setidaknya akan melekat pola pikir di usia dini dari anak anak kita, agar menjadi pribadi yang luhur, jujur dan penuh toleransi terhadap sesama. Bahkan sekarang kabarnya ditingkat perguruan tinggi rencananya akan  menghilangkan mata kuliah Pancasila di semester pertama  pada beberapa universitas baik negeri maupun swasta, hal ini berbanding terbalik dengan masa pemerintahan Orde Baru yang mengajarkan nilai-nilai Pancasila lewat program  Eka Prasetya Panca Karsa, untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, pejabat, kaum pendidik agar bisa memberikan suri tauladan. Kepada masyarakat yang dipimpinnya dan diajarnya, apa itu makna dan nilai-nilai dari Pancasila.  Didunia dengan kemajuan tekhnologi komunikasi dan informasi yang seolah-olah tidak ada lagi batas negara, dengan kemajuan tersebut hampir semua anak bangsa menggunakan internet , listrik, bahkan masa pandemi covid, dilakukan lock down dirumahkan  dimana memaksa masyarakat untuk  rapat dan sistem belajar mengajar menggunakan zoom di internet, belum lagi sistem perbankan, bahkan mobil juga bertenaga listrik, yang tentu itu semua bermuara pada sistem kontrol, yang bermuara pada cip yang diciptakan berdasarkan tehnologi canggih yang tidak semua negara mampu menguasai dan membuatnya, jadi seolah-olah kita digiring pada suatu kondisi tertentu secara bersamaan dan merata , apakah kita pernah membayangkan secara imajinasi saja, pada suatu ketiga terjadi shotdwon ( mematikan seluruh sistem dan komputerisasi ) sedang sistem yang dibangun menggunakan tekhnologi yang belum sepenuhnya kita kuasai, dan harus belajar dari kasus negara Estonia, dimana saat shootdwon seluruh operasi perbankan dan operasional internet mati, yang berakibat seluruh jaringan mati, dimana Estonia saat itu mengalami kelumpuhan total. Dan ini harus kita pikirkan bersama, tehnologi seolah membuat kita bangga dan hebat, padahal sebetulnya membuat diri kita semakin bodoh karena dikuasai oleh sistem tehnologi tersebut dan kita tidak bisa berbuat banyak kecuali ikut arus sistem tersebut, contoh segala internet  pakai pulsa, token listrik, tarik tunai uang dalam perbankan, transfer, telpon dan sebagainya. Yang mau tidak mau kita dipaksa untuk ikuti sistem  dunia tersebut, yang pada titik tertentu bukan tidak mungkin jikalau terjadi turbulensi dalam sistem, berakibat mati total dan lumpuh pada semua sektor.

    Bahwa suatu sistem yang dirancang dan diciptakan  salah akan membuat orang baik akan terseret dalam  turbulensi lingkungan  menjadi orang jelek dalam kapasitasnya sebagai warga negara, tapi dengan sistem yang baik, orang yang jelek secara mens rea (niat jahat) akan terkikis dan ikut terseret menjadi baik karena sistem yang bagus.

    Demikian juga dalam kehidupan politik, setiap hari dipertontonkan dengan hujatan karena pilihan berbeda dalam politik, ditengah kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, belum lagi pada masa lalu terjadi politik identitas menyangkut keagamaan dalam pilkada, yang menggiring masyarakat  pada potensi perpecahan antar umat beragama, yang mana masyarakat digiring pada opini dikaitkan dengan keagamaan, bahkan surga dan neraka, hal ini akibat dari adanya kebebasan yang tidak dibarengi dengan rasa tanggungjawab akibat dari pada dirubahnya sistem ketatanegaraan, dimana hukum dasar kita yakni UUD 1945 telah diamandemen hingga ke empat kali nya, yang merubah format dari sistem perwakilan menjadi sistem pemilihan langsung, menggunakan proporsional terbuka dalam sistem pemilihan dalam partai politik, hal ini akan berimbas pada suatu  mata rantai yang saling terkait pada  bidang yang lain, karena cost yang ditimbulkan sangat besar tentu bermuara pada saat menjabat pun akan berorientasi pengembalian modal, dalam masa jabatannya. Karena sistem proporsional terbuka siapapun calon legislatif, baik berusia muda maupun tua, belum lama masuk partai politik, dan dengan pengalaman yang masih sangat minim  boleh mencalonkan diri, yang pada akhirnya terjadi politik transaksional, layaknya pada negara sistem liberal yang berorientasi ekonomi kapitalis, yang setiap calon baik calon  kepala daerah, calon legislatif, bupati, walikota bahkan presiden ditengarai para ahli politik didukung oleh oligarki, yang tentu tidak ada makan siang yang gratis dan hal ini berakibat pada sistem dan kondisi perekrutan jabatan jabatan strategis, baik di pemerintahan, penegak hukum, perbankan, menjadi ajang transaksional, yang muaranya akan timbul ketidak pastian dalam segala bidang, termasuk dalam bidang penegakan hukum, baik di tingkat penyidikan, penuturan maupun ditingkat peradilan pada Pengadilan Negeri hingga Mahkamah Agung, yang masih jauh dari rasa keadilan, yang kerap dijumpai adalah adanya peradilan yang sangat mahal yang harus ditebus oleh para pencari keadilan, dan terjadi penjungkir balikkan aturan hukum positif demi kepentingan tertentu,  hal ini diakibatkan oleh pertama,  adanya degradasi moral dari anak bangsa dan yang  kedua  sistem yang dibangun sudah salah kaprah yang telah dikoyak dan diporandakan   sistem yang  yang ada, yang dibuat dengan konsep baru yang berorientasi pada soko guru negara liberal dengan sistem ekonomi kapitalis, yang telah keluar dari rel konsep lama yang telah dibangun oleh para pendahulu kita, para pemimpin-pemimpin kita masa lalu.

    Bahkan ada sementara pihak yang beranggapan Pancasila adalah produk politik hukum yang lahir pada tgl 1 juni 1945 dan disyahkan pada tgl 18 agustus 1945, artinya Pancasila bukan lagi merupakan filosofi dan pandangan hidup bangsa yang mengilhami seluruh tatanan bernegara yang telah hidup beribu-ribu tahun sebelum Indonesia Merdeka, yang digali oleh Bung karno melalui ajaran luhur nenek moyang saat kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, yang merupakan local wisdom, yang diambil dari Kitab Negara Kertagama dan ajaran Wulang Reh. Tapi merupakan produk hukum yang merupakan politik hukum saat Indonesia Merdeka. Ini yang harus diluruskan kepada generasi muda  bangsa oleh para guru, dosen, sejarawan, budayawan , kaum Agama, untuk mencetak generasi muda yang berbudi luhur.

    Sementara itu, dari kalangan pendidik sendiri yakni Guru Besar Senior Hukum Tata Negara dan Administrasi Negara dari Universitas Padjajaran Bandung, Prof. Dr. I Gde Pantja Astawa, berkomentar menyangkut sistem Pendidikan itu sendiri, dimana Prof. Gde menyatakan:

    Terlalu banyak masalah di sektor pendidikan yang terjadi selama ini, satu dan lain hal lebih terletak pada komitmen negara terhadap sektor pendidikan (dan kesehatan) sebagai salah satu tolok ukur kemajuan peradaban bangsa dan negara. Berbagai macam kebijakan di sektor pendidikan silih berganti karena ketiadaan blue print yang jelas, terukur, dan terarah tentang apa yang akan dibangun di sektor pendidikan (bukan pengajaran) dalam arti luas, yaitu bukan hanya ditujukan untuk mencerdaskan peserta didik, juga dan terutama bagaimana membangun dan melahirkan peserta didik yang mandiri, disiplin, pinter, dan berkarakter. Jadi bukan hanya terletak pada upaya untuk mencerdaskan peserta didik, namun juga karakter, mental, moral, etika anak didik jauh lebih penting untuk membangun masa depan negara dan bangsa ini. Bagaimana tujuan mulia pendidikan yang berfalsafahkan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani, bisa menjadi kenyataan kalau kebijakan yang dikeluarkan pihak yang memiliki otoritas lebih berkonotasi komersial dengan menjadikan sekolah dan PTN/PTS ladang bisnis, sementara kesejahteraan guru/dosen jauh api dari panggangnya (lebih rendah dari UMR)? Dalam kondisi demikian, bagaimana kita bisa mampu melahirkan anak didik yang berintegritas dan berani menyuarakan kebenaran?

    Hal ini adalah tantangan dan pekerjaan rumah yang harus dipikirkan betul solusi dan kebijakannya oleh pemerintahan baru Probowo Subiyanto, karena ini demi masa depan Bangsa dan Negara.

    Kita harus belajar pada sejarah, tepatnya sejarah berdirinya bangsa ini yang dibentuk oleh para pendiri bangsa (founding father) kita bahwa negara ini dibentuk dari awal adalah sebagai negara kesatuan berbentuk Republik yang menyatukan segala perbedaan baik agama, suku, ras, budaya, adat istiadat bahasa, menjadi satu tujuan berdirinya negara Republik Indonesia yang berdasarkan sistem perwakilan sesuai sila ke empat dari Pancasila, dan sistem ekonomi kerakyatan secara gotong-royong, dengan dasar dan falsafah serta pandangan hidup bangsa yakni Pancasila, bukan negara liberal yang berorientasi sistem kapitalis, juga bukan negara sosialis dengan sistem ekonominya sosialis, tapi sebuah negara dengan konsep ketatanegaraan ala Indonesia yang dengan konsep ekonomi kerakyatan dengan cara gotong-royong  diilhami dari nilai-nilai luhur para leluhur jaman dulu yang lalu dikonsep ulang oleh para  pendiri bangsa dan nenek  moyang bangsa ini. Bukan pula negara agama akan tetapi negara yang melindungi segenap umat beragama dalam menjalankan ibadahnya. Dan ini merupakan tanggungjawab kita bersama, seluruh elemen bangsa. Dan harus merefleksi diri kita bahwa kita telah gagal dalam menghantarkan para calon-calon pemimpin  bangsa pada proses kawah pendidikan kawah  candradimuka pada bidang  pendidikan, baik pada tingkat menengah atas hingga perguruan tinggi, yang melahirkan para anak bangsa yang telah menjabat  dari berbagai strata, dengan kondisi korupsi yang masif dari berbagai lini, walau dibentuk rasuah anti korupsi seperti KPK tidak bisa berbuat banyak, justru korupsi terbesar dibongkar oleh kejaksaan agung, ini sungguh memprihatinkan. Mungkin benar oleh pujangga Raden Ngabehi Ronggo Warsito bilang, ini jaman edan atau jaman kolo bendu, yen ora edan ora keduman ( kalau tidak ikut berbuat menyimpang tidak dapat hidup), yang digambarkan sebagai periode konflik dan permusuhan antara berbagai komponen bangsa, yang dipicu oleh manipulasi dalang yang tidak terlihat yang mengendalikan peristiwa dibalik layar.

    Maka tiada kata yang tepat, sebelum kita tersesat jauh dan terlambat dimana bangsa ini  telah kehilangan jati diri dan ruhnya ke Indonesiaan, kembalilah belajar dari sejarah masa lalu, dan jangan sekali-kali melupakan sejarah bangsa ini pada masa lalu. Karena esok hari ditentukan oleh langkah kita hari ini.

    ——————–

     

    *Penulis adalah Pemerhati Masalah-masalah Sosial Budaya, Politik, Hukum serta Sejarah
  • Atticus

    Atticus

     

    Goenawan  Mohamad

     

     

    PENDUDUK kota kecil itu, Maycomb, bukan orang yang keji, tapi ada sesuatu yang menakutkan di pengadilan itu. Tom Robinson tak terbukti bersalah, tapi hampir seluruh penduduk bersepakat dengan diam-diam atau berteriak: Tom harus dihukum mati.

    Dan para juri memutuskan ia memang telah memperkosa Mayella Ewell. Dan vonis itu dibacakan hakim. Dan Tom dimasukkan ke sel penjara, menunggu, tapi putus asa, mencoba melarikan diri, dan ditembak mati.

    Novel terkenal To Kill a Mockingbird, ditulis oleh Harper Lee dan terbit pada 1960, mungkin akan selalu mengingatkan kita bahwa ketidakadilan dapat dilakukan atas nama keadilan bagi orang banyak. Orang banyak itu penduduk kulit putih yang tak ingin dipermalukan seorang buruh kulit hitam, justru karena si negro tak bersalah dan dengan demikian ayah dan ibu si gadis yang bersalah, berdusta—dan bukan cuma itu, sebab dari pengadilan itu tampak bahwa Mayella itu yang mencoba merayu Tom, bukan sebaliknya.

    Pengacara yang lurus hati itu, Atticus Finch, telah ikut mempermalukan mereka. Ia, duda yang senantiasa berpakaian lengkap itu, seharusnya di pihak orang ramai, kaumnya, sebab ia juga berkulit putih. Tapi tidak. Atticus Finch memutuskan untuk membela Tom Robinson. Tanpa dibayar. Tanpa ragu meskipun ia harus menghadapi para tetangganya, bahkan disesali kakak kandungnya sendiri. Dan meskipun ia tahu ia tak boleh banyak berharap, dari sebuan mahkamah di kota di pedalaman selatan Amerika, untuk melihat seorang hitam sebagai sesama manusia.

    “Kasus ini,” kata Atticus Finch kepada anaknya, “kasus Tom Robinson ini, sesuatu yang merasuk ke hati nurani, Scout. Aku tak akan sanggup pergi ke gereja dan menyembah Tuhan jika aku tak menolong orang itu.”

    Apa sebenarnya yang disebut “hati nurani”, kita tak tahu. Tapi ada dorongan untuk kurang-lebih tak palsu. Atticus Finch mungkin bukan seorang yang tiap kali membaca Injil, tetapi ia merasa harus ada hakim yang terakhir, sebuah kekuatan yang tahu persis kebenaran dan keadilan, ketika manusia begitu galau, tak tahu persis apa yang terjadi, tapi ikut berteriak-teriak, ”Salibkan dia!”

    Atticus dimusuhi tetangganya. Di luar gedung pengadilan, seseorang datang, dan meludahi mukanya. Orang itu Ewell, ayah , Mavella, pemabuk yang suka memukuli anaknya sendiri.

    Dan Atticus berkata, “Nah, kalau meludahi mukaku dan mengancam-ancamku dapat menyelamatkan Mayella dari pukulan tambahan, aku dengan senang hati menerima diludahi.”

    Di kota kecil Maycomb yang sedang menanggungkan depresi ekonomi, ketika orang dirundung cemas, Atticus Finch berdiri: ia jadi merasa kuat, justru ketika ja merasa bahwa yang ditanggungkannya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan | Mavyella yang dipukuli dan Tom yang difitnah dan dizalimi oleh kekuasaan yang seharusnya melindunginya.

    ——————

     

    Sumber: “Catatan Pinggir”  –  Majalah Tempo, Februari 2010

     

  • Bahasa  dan  Buku

    Bahasa  dan  Buku

    Stephie Kleden-Beetz

     

     

    LAMBANG adalah sebuah bahasa, bahasa tertua manusia. Sampai sekarang di abad computer ini pun kita hidup dalam “lautan” lambang. Sebuah lukisan, entah itu bintang, garuda, beringin, perahu, atau apapun saja, baru menjadi lambang bila di dalamnya terkandung sesuatu yang lebih dari pada yang hanya terlihat oleh mata. C. G. Jung, psikiater (1875-1961) berkata: “Lambang memiliki aspek yang tak sadar yang mustahil dapat diterangkan atau diberi definisi setepatnya”. Pun : “Musik adalah juga Bahasa yang dipahami siapa saja”.

    George Bernard Shaw, (1856-1950) dramawan Irlandia dan juga pemenang hadiah Nobel Kesusasteraan, tahun 1926, pernah berkunjung ke rumah seorang yang sangat kaya. Si tuan rumah bertanya, apa kesan tamunya tentang barang-barang antik yang mahal. Shaw menjawab: “Saya merasa seperti berada di museum, yang paling penting tidak terdapat di sini.” Orang kaya itu terkejut, lalu spontan bertanya: Apa? “Buku”, jawab Shaw.

    Dulu di kota-kota besar Eropa ada gerobak penuh buku berkeliling dan orang boleh leluasa mencari. Seorang mahasiswi membeli buku karangan Beranger, : penyair Perancis, (1780-1852). Di rumah ia terkejut ketika menemukan setumpuk uang di balik sampul tebal buku itu dengan sebuah nota bertuliskan “Duit ini hadiah bagi pencinta buku”. Bahwa buku itu mencerdaskan manusia, semua kita tahu. “Katakan apa yang anda baca, dan akan kukatakan siapa anda”. Tentu ada pula buku yang tidak bermutu.

    Kita tidak bisa berkomunikasi tanpa bahasa. Buah, pikiran yang lahir dalam kepala kita, hanya mendapat wujud dalam bahasa. Semakin tertata-rapi bahasa kita, semakin mudah kita membuat orang lain memahami maksud kita. Semakin “ngawur” dan panjang lebar dan tidak keruan bahasa kita, semakin bingung pihak yang mendengarnya. Kemarin seorang sahabatku berkeluh-kesah tentang aneka naskah yang masuk majalahnya, dan dia harus mengedit naskah-naskah tersebut. “Astaga, saya jadi “pusing, tujuh keliling” benar-benar minta ampun”.

    Diterimanya kita dalam pergaulan dengan sesama amat tergantung bukan hanya pada peri laku kita melainkan terutama pada bagaimana kita bertutur-kata, ya berbahasa. Sepotong kalimat biasa bisa membuat hidup seseorang berubah, merasa berguna. Misalnya: “Jangan menyerah, coba sekali lagi pasti bisa!” Kalimat yang menguatkan dan memberi semangat ini dapat diucapkan oleh ayah-ibu kepada anak-anaknya, atau bapak dan ibu guru kepada murid-muridnya, atau atasan kepada bawahannya.

    Kenapa tidak suka Matematika? Seorang mahasiswi ditanya. Karena guruku pernah menghardik dengan galak “Goblok amat sih!” jawab si cantik itu. Maka ia pun langsung patah-arang dengan mata pelajaran eksakta dan kini menekuni bidang bahasa. Bahasa kita mengenal ungkapan: “Kata-kata lebih tajam dari pedang”. Tetapi kata pun memiliki daya sihir yang menghanyutkan pendengar atau pembacanya. Coba dengar sanjungan berikut: Wow, rambutnya bagaikan mayang berurai, alis persis semut beriring, lengan mulus seperti gading yang tidak retak, lehernya jenjang mempesona dan masih banyak lagi.

    Betapa senang saya menjelajahi ‘Ruang Siswa’ Warta Flobamora, membaca puisi dan cerita pendek dari para murid sekolah. “Rajin-rajinlah adik-adik. Sebab tak ada juara yang jatuh dari langit, semua harus dimulai langkah demi langkah,” Selamat berjuang untuk masa depan yang gemilang.

    Ada ungkapan oleh Grace Hopper: “A ship in port is safe, but this is not what ships are built for” (Kapal di pelabuhan memang aman, tetapi bukan itu maksud kapal dibuat). Justru di lautan ya di samudra raya kapal baru berfungsi, ketika bertarung dengan ombak dan gelombang atau angin puting beliung.

    Bersama Petronius, penyair Romawi kita pun berkata: “Perjuangan untuk mencapai sesuatu justru perlu, sebab apalah artinya kemenangan mudah yang terasa hambar dan tak memberi kepuasan di hati dan kebanggaan di jiwa”.

     

    ——————–

     

    Sumbber Tulisan Warta Flobamora, Edisi 38 – Maret 2016

     

  • Pancasila sebagai “Philosophische Grondslag”, dan Pengikat Persatuan di tengah Situasi Konflik Global

    Pancasila sebagai “Philosophische Grondslag”, dan Pengikat Persatuan di tengah Situasi Konflik Global

     

    Agus Widjajanto

     

    KELANGSUNGAN dari sebuah bangsa terletak pada pundak-pundak anak bangsa itu sendiri untuk mempertahankan eksistensi dari bangsa tersebut ditengah percaturan situasi global dan kawasan yang tidak menentu yang suatu saat bisa meletus konflik yang menyeret bangsa ini dalam pusaran kepentingan negara negara adi daya, dikarenakan letak nya yang sangat strategis secara geografis digaris kathulistiwa, dan dikaruniai wilayah laut yang luas dengan tiga  ALKI , sebagai jalur alternatif paling efektif dalam tranportasi laut antar benua, menuju samudera Hindia , sebagai sebuah negara kepulauan.

    Ada yang berpendapat dalam scenario writing, dari ahli ahli intelijen terkemuka bahwa kemungkinan Indonesia bisa bubar pada tahun 2030 seperti yang pernah disampaikan oleh Prabowo Subiyanto dalam sebuah pidato politiknya. Hal itu tergantung dari pada kesiapan dan kemauan dari para anak bangsa beserta tokoh-tokoh politik yang ada, untuk tetap berkomitment mempertahankan keberadaan dari bangsa ini yang bernama Indonesia.

    Kondisi yang sangat memprihatinkan dalam penegakan hukum di negeri ini, dimana telah ditangkapnya para mantan pejabat MA yang didapatkan uang cash hampir satu trilyun, merupakan indikasi dari ketidak beresan dari para pemangku hukum dalam menjalankan tugasnya, sangat memprihatinkan dan menakutkan bagi pencari keadilan di negeri ini, bahwa teori dari Hans kelsen yang memisahkan antara hukum dan moral benar-benar diterapkan dari para aparat penegak hukum baik di lingkungan peradilan, maupun pada tingkat penyidikan dan penuntutan. Bahwa hukum berlaku bagi yang punya kekuasaan baik materi maupun jabatan . Dan ini sudah jauh dari cita-cita kontitusi kita sebagai negara hukum yang dengan susah payah dan jiwa negarawan telah didirikan oleh bapak pendiri bangsa kita (founding fathers) kita. Padahal teori dari Hans Kelsen soal pemisahan antara hukum sebuah norma dengan moral berkaitan dengan pembentukan hukum dan perundanga, yang oleh H.L.A .Hart didefinisikan dalam teori kelembagaan, yakni terbentuknya lembaga peradilan, bukan menyangkut penerapan hukum dalam perspektif aparat penegak hukumnya.

    Pemikiran dari para pendiri bangsa kita ini, baik Soekarno, Soepomo, Syahrir , Mohamad Hatta, Mohamad Yamin, harus diakui tidak muncul secara taken for granted, karena mereka disamping banyak belajar dari situasi negara-negara Barat (Eropa dan Amerika) saat itu, tetapi juga mempunyai rasa sensitivitas dan pemahaman yang sangat dalam tentang nilai-nilai yang mengakar dan tumbuh dari suku suku bangsa ini ( local wisdom), bahkan seorang guru besar sosiologi di Indonesia yakni Prof Satjipto Rahardjo dalam memberikan pembelajaran kepada mahasiswanya mengatakan bahwa ” sejatine ora ono opo-opo, seng ono kuwi dudu” (sejatinya tidak ada apapun di dunia ini, yang ada sejatinya menipu) dimana kata falsafah dalam dimensi filsafat spiritualisme Jawa tersebut sangat dalam, yang mengajarkan kita agar kembali membumi pada kearifan lokal dan ajaran leluhur dalam menyikapi situasi saat ini, yang telah digali oleh Bung Karno dalam Pancasila dengan sila-silanya, sebagai pemersatu bangsa dan sekaligus sebagai philosophische grondslag.

    Pancasila sendiri  lahir secara konsep perumusan Dasar Negara pada tanggal 1 Juni 1945, pada  saat Bung Karno menyampaikan pidato pandangan umum tentang perumusan Dasar Negara pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Dokuritsu Junbi Casakai dimana istilah Pancasila sendiri berasal dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti prinsip atau asas dalam pedoman berbangsa dan bernegara sebagai sebuah Dasar Negara, falsafah dan pandangan hidup bangsa (philocophi schegrondslag). Secara de jure Pancasila ada dan berlaku sebagai Dasar Negara sejak mulai pada tanggal 18 Agustus 1945 atau  sehari sejak Proklamasi dikumandangkan sebagai statment kemerdekaan sebuah bangsa, namun secara de facto Pancasila sebagai sebuah landasan  falsafah dan pandangan hidup bangsa (Philosophische Grondslag atau Weltanschauung ) sudah ada sejak ribuan tahun, sebelum ada negara yang bernama Indonesia di bumi Nusantara ini  telah hidup dan menjadi pedoman masyarakat sejak Kerajaan-kerajaan besar di Jawa dan di Nusantara ini sebagai hukum yang hidup dan berkembang yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pedoman dalam bermasyarakat dan bernegara  (living law), hal ini terjadi baik sejak Mataram Hindu yang pernah mengalami masa  perang agama dalam sejarah masa lalu antara dinasti Sanjaya beragama Hindu  ( 732-1007 M)  dan dinasti  Syailendra beragama Budha, yang pada saat pemerintahan Rakai panangkaran putra Raja Sanjaya, terjadi perang agama yang begitu dahsyat dimana kerajaan  terbelah menjadi dua bagian dimana Mataram Hindu berada di Jawa bagian Utara dan Mataram Budha berada dibagian selatan, yang lalu  kedua golongan ini disatukan kembali oleh Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya dengan melakukan perkawinan politik  mengawini Pramordhawardani dari keluarga Syailendra, yang sebagian para sejarawan meyakini bahwa Raja Rakai Pikatan yang mempunyai nama samaran “Resi Gunadarma” sebagai arsitek  mendirikan candi bercorak Budha yang dikenal dengan Sambadha Budura (Borobudur) serta candi Sewu Roro Jonggrang yang bernama Candi  Prambanan di Klaten perbatasan Yogyakarta. Dan sejak saat itu ajaran-ajaran luhur tentang konsepsi Pancasila sebagai living law  sudah berlaku, sebagai pedoman penghormatan dalam kehidupan  terhadap sesama umat beragama dan antar umat beragama sesuai sila pertama dalam Pancasila. Dan lalu  dilanjutkan dalam pemerintahan Kerajaan Kediri di Jawa Timur dan Singosari di Malang  yang lalu dilanjutkan  pada masa  kerajaan Majapahit pada tahun 1293 hingga 1527 sebagai kerajaan bercorak Hindu dan Budha.

    Saat Majapahit mencapai kejayaan dalam pemerintahan Raja Hayam Wuruk, seorang Empu yang beragama Budha yakni Mpu Prapanca menulis  dalam kitab  Kakawin Nagara Kertagama yang ditulis dalam Bahasa Jawa kuno oleh Mpu Prapanca, menginspirasi  para pendiri bangsa kita (founding father) sebagai  konsep dalam berdirinya negara kesatuan yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia.

    Kakawin Nagara Kertagama ditemukan pertama kali di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat pada tahun 1894. Pertama disebut Kakawin Desa Warnana, yang melukiskan tentang pemerintahan saat itu dalam wilayah kerajaan Majapahit, termuat dalam bait (Ngk.pupuh 94: 4).

    Naskah Kakawin Nagara Kertagama ini menjadi sangat menarik dan istimewa lantaran memberikan keterangan langsung mengenai kondisi dan adat istiadat serta sistem pemerintahan, baik lokal (daerah dalam lingkup kadipaten), desa, maupun pusat kerajaan,  mengenai masyarakat Jawa kuno pada suatu masa dan dilihat dari sudut pandang tertentu.

    Kakawin Nagara Kertagama merupakan Kitab yang menjadi sumber nilai – nilai Pancasila yang kemudian menginspirasi Bung Karno dalam menyusun Dasar Negara Republik Indonesia dan juga Mr. Moh. Yamin dan Mr.  Soepomo   dalam memberikan masukan konsep tentang Dasar Negara sistem ketatanegaraan dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

    Bung Karno dalam Auto Biografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (hlmn 240) menulis:

    Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila, apa yang aku kerjakan hanyalah menggali jauh kedalam bumi kami, tradisi – tradisi kami sendiri, dan aku telah menemukan lima butir mutiara yang indah”.

    Naskah Nagara Kertagama juga telah diakui oleh kalangan International dan secara resmi masuk dalam daftar Memory of The World UNESCO.

    Dalam pupuh 43, Mpu Prapanca menulis “Agar kiranya berusaha memegang teguh pada Pancasila, lima kaidah tingkah laku utama”. Disinilah sebenarnya sumber inspirasi dari para Pendiri bangsa yang lalu digali dan dirangkum menjadi sila – sila dalam Pancasila.

    Para generasi muda bangsa harus paham dan mengerti sejarah bangsanya saat negara ini dibentuk dan diproklamirkan sebagai kemerdekaan sebuah bangsa, dan sejarah sebelum lahirnya Negara Kesatuan RI, dimana sistem ketatanegaraan kita, tidak bisa lepas dari pengaruh dan  pendapat Mr. Soepomo, yang merupakan “Ikon” penting dalam dunia politik hukum di Indonesia, hal ini untuk menjawab dinamika politik ditengah maraknya Otonomi Daerah yang diberikan peran yang sangat besar, baik perencanaan dan pengelolaan maupun penggunakan anggaran baik yang berasal dari APBD maupun dari APBN, yang sebetulnya sudah mirip sebuah negara federal.

    Dalam pidatonya di depan BPUPKI, tanggal 31 Mei 1945, Soepomo mengemukakan dan melontarkan gagasan tentang “Negara Integralistik” sebagai bentuk paling tepat bagi Indonesia ketika merdeka. Gagasan ini pulalah yang dikemudian hari menjadi inspirasi pada saat disusunnya Undang – Undang Dasar 1945 ( UUD 1945).

    Kontroversi yang mengemuka saat itu adalah ide model negara Integralistik yang ditawarkan Soepomo merupakan bentuk yang dianggap fasis, yang mencontoh dari kerajaan Jepang dan Jerman saat itu. Dianggap adanya persesuaian dengan watak masyarakat Indonesia yang dilandasi semangat kekeluargaan.

    Setelah Indonesia merdeka, banyak pakar  hukum ketatanegaraan menilai pemerintahan Orde Baru menerapkan gagasan yang diajukan oleh Soepomo.

    Soepomo adalah seorang bangsawan Jawa keturunan darah biru dari Keraton Kasunanan Surakarta yang   sangat memahami kontes sistem Manunggal Kawuloning Gusti. Dalam pemerintahan feodal Jawa merupakan penyatuan antara rakyat dan pemimpin, membentuk suatu masyarakat yang harmonis berdasar karakteristik masyarakat Indonesia.

    Sebenarnya inspirasi dari Soepomo didapat dari model pemerintahan desa – desa kuno di Jawa, seperti yang tertulis dalam Kitab Kakawin Nagara Kertagama.

    Para ahli hukum Tatanegara dalam kajiannya berpendapat bahwa Soepomo, mengambil konsep pemikiran dari tiga filsuf pada abad ke-18 dan ke-19, yakni Benedict Spinoza, Adam Muller  dan Georg W .F. Hegel.

    Diterjemahkan oleh  Soepomo sebagai bentuk ketertarikannya  dengan sistem pemerintahan Jepang dalam bentuk Tenno – Haika dan Jerman saat itu, tidak semuanya tepat walau tidak salah,  dimana Jepang sebagai negara feodal dengan Raja sebagai poros paling atas kekuasaan. Menurut Soepomo, sistem pemerintahan seperti ini sama persis dengan sistem kepemimpinan dalam pemerintahan di Jawa yang menggunakan model Kawulo Manunggaling Gusti.

    Diterapkan dalam pemerintahan kerajaan Mataram Islam di Jawa yang mengadopsi sistem pemerintahan pada kerajaan Majapahit, dimana raja sebagai gusti atau kepala negara dengan perangkat wakilnya perdana menteri sebagai kepala pemerintahan.

    Soepomo menolak konsep Individualisme Barat, sesuai rujukan dari filsuf Inggris, Jeremy Bentham. Menurut Soepomo, konsep individualitas ala Barat bertentangan dengan  struktur masyarakat desa yang merupakan soko guru untuk cermin struktur masyarakat yang lebih luas seperti negara. Bentuk paling ideal dan orisinil adalah dari sistem penyatuan antara kawulo (rakyat) dengan pemimpin (gusti). Masyarakat Desa Adat merupakan referensi paling sempurna dan orisinil bagi Soepomo dalam sistem pemerintahan kita dari sudut sistem ketatanegaraan. Dimana, dalam negara integralislis ala pemerintahan Desa, tidak ada pertentangan  dan selalu ada harmoni kepentingan. Ini karena negara dikelola secara kekeluargaan, layaknya sebuah keluarga harmonis. Negara Integralistik  dalam perspektif  Soepomo berakar dari struktur sosial masyarakat desa, dimana setiap orang dan golongan memiliki tempat dan kewajiban sendiri-sendiri sesuai kodratnya.

    Marsilam Simanjuntak  dalam studi yang sangat impresif soal konsep negara integralistik, dalam bukunya Negara Integralistik, menguraikan bagaimana Soepomo “membayangkan” hal sistem dan ketatanegaraan. Marsilam fokus pada kohesitas gagasan Soepomo dengan pemikiran Hegel, yang mana menurut penulis, aliran dan pendapat  dari Benedict Spinoza  dan Adam Muller serta George W.F .Hegel, bukan merupakan rujukan dan memberi  pengaruh kepada Soepomo dalam mengusulkan ide Negara Integralistik. Sebagai seorang bangsawan keraton Kasunanan Surakarta, Soepomo mengambil contoh dari kehidupan sistem pemerintahan kerajaan Mataram Islam dan Majapahit dalam pemerintah desa-desa adat, yang di konseptualkan dalam sistem terbentuk nya sebuah negara baru yang bernama Indonesia. Kebetulan lulusan pendidikan hukum di Belanda, pendapat para filsuf Eropa pada abad ke-18  dan 19 hanya sebagai referensi,  perbandingan pandangan.

    Pada era kini dalam era Reformasi, ide terbentuknya Negara Integralistik dari Soepomo dan tulisan Mpu Tantular dalam Kakawin Nagara Kertagama yang menggambarkan situasi dan sistem kekuasaan saat itu, dan terbentuknya kontitusi dan Dasar Negara Pancasila saat Indonesia Merdeka, telah dirombak total melalui amandemen sampai empat kali yang jujur penulis katakan sudah kehilangan ruh dan jati diri serta arah tujuan sebagai bangsa sesuai  UUD 1945 saat berlakunya Dekrit Presiden 5 juli 1959.

    Pada masa Orde Baru, memang tidak semuanya  sempurna, wajar ada kekurangan. Dalam doktrinisasi politik contohnya, dimana institusi TNI saat itu menjadi Dwi fungsi ABRI, yang bukan lagi sebagai alat pertahanan dan keamanan tapi juga sekaligus alat politik. Ini yang harus diperbaiki, bukan seperti mengejar tikus dalam lumbung padi bukan tikusnya yang di bunuh akan tetapi justru lumbungnya yang dibakar.

    Sebagai penjelmaan suara bagi seluruh rakyat, ada lembaga tertinggi yang namanya MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat), yang dulu merupakan dewan rembuk desa adat, yang memberikan keputusan yang diambil secara musyawarah mufakat, terdiri dari wakil tetua adat, tetua agama, wakil pemuda, wakil perangkat pemerintahan desa.

    Demikian juga MPR yang susunan anggotanya, terdiri dari seluruh anggota DPR RI, wakil golongan yaitu golongan  dari perwakilan agama seluruh tanah air, wakil dari organisasi kemasyarakatan, organisasi pemuda dan wakil daerah yang mewakili daerah masing-masing yang saat ini diwakili oleh anggauta DPD, yang pada masa lalu diwakili oleh gubernur, bupati, walikota yang merupakan wakil di daerah yang merupakan  penjelmaan seluruh rakyat melalui perwakilan. MPR diberikan mandat dan wewenang menyusun GBHN (Garis Besar Haluan Negara) sebagai panduan dari tujuan pembangunan  bangsa ini. Tertata dan terstruktur dalam jangka pendek, menengah dan panjang yang dituangkan pemerintah dalam REPELITA.

    Itulah wujud dari sistem Negara Integralistik  yang ditulis Mpu Prapanca di Kakawin Nagara Kertagama dan sistem pemerintahan desa dalam lingkup skala negara .

    Saat ini, kewenangan MPR sudah dicabut sehingga tidak ada lagi GBHN dan REPELITA yang berakibat bangsa ini kehilangan arah (kompas), petunjuk arah pembangunan tidak ada lagi. Masing-masing pemerintah daerah, dalam otonomi daerah, bisa menerjemahkan sesuai dengan perspektif masing masing. Belum lagi sistem pemilihan langsung, dimana sebelum reformasi, MPR adalah lembaga tertinggi yang merupakan mandataris presiden dan wakil presiden. Kemudian  dirubah menjadi suara rakyat  menjadi mandataris presiden  melalui pemilu langsung. Kita sama-sama  bisa lihat  dan merasakan, dimana seolah kita sudah kehilangan ruhnya sebagai sebuah bangsa. Sudah bermetafora pada bangsa dengan  sistem liberal, yang dulu tidak pernah dibayangkan oleh para pendiri bangsa  tetapi harus diakui akhirnya telah terjadi pada masa kini yang telah hilang budaya guyub rukun, gotong royong, dan sistem ekonomi yang berbasis kerakyatan , yang ada adalah ekonomi dikuasai pemodal besar, yang kalau meminjam kata kata dari Mark Twain “ketika orang kaya memeras orang miskin hal itu disebut bisnis, tapi ketika orang miskin melawan ketidak adilan hal itu disebut kejahatan”

    Menanggapi pemikiran Mr Soepomo tentang konsep kepemimpinan  dalam Negara Integralistik , Guru Besar Hukum Paling senior dari Universitas Padjajaran Bandung , yakni Prof Dr I Gde Pantja Astawa, punya pendapat yang mengkritik secara tajam soal pemikiran Soepomo yang tidak lagi sesuai dengan kondisi dan situasi negara demokrasi modern saat ini, dimana beliau menyatakan :

    Ada dua hal prinsipil terkait dengan pemikiran Prof. Soepomo yang disampaikan dalam penyusunan UUD 1945 di BPUPKI, yaitu: Pertama, konsep Integralistiknya Soepomo yang mengadopsi model kepemimpinan raja-raja Jawa pada masa kerajaan (juga merujuk sebagai perbandingan ke Jepang, Kaisar Hirohoto dan Musolini, Italia) yang menerapkan model kepemimpinan “Manunggaling Kawulo Gusti” – bersatunya rakyat dengan pemimpinnya. Karena rakyat dan pemimpin merupakan satu kesatuan, maka tidak ada tempat bagi rakyat untuk  berbicara Hak Asasi Manusia  dan pemimpin diyakini sebagai wakil Tuhan di dunia yang tidak mungkin akan sewenang-wenang atau zholim kepada rakyat. Ideal, memang bila yang jadi pemimpin adalah nabi, atau paling tidak malaikat. Karena pemimpin adalah manusia tempatnya bermukim kesalahan atau kekurangan, tentu saja potensi untuk  bertindak sewenang-wenang atau zholim/diktator bukanlah suatu hal yang musykil. Begitu juga HAM sebagai sesuatu yang melekat pada fitrah manusia yang merupakan karunia Tuhan, tidak dapat dinafikan keberadaannya. Itulah sebabnya, konsep Integralistik Soepomo mendapat sanggahan dari Bung Hatta, yang menyatakan bahwa konsep Integralistik berpotensi besar melahirkan Negara Kekuasaan (Machsstaat) dan perlunya diakui (diberikan) jaminan pengakuan terhadap HAM, walau hanya pokok-pokoknya, tidak juga model HAM ala Barat yang lebih mementingkan Hak daripada Kewajiban, melainkan HAM yang menjamin adanya keseimbangan antara Hak dan Kewajiban. Dengan adanya sanggahan Bung Hatta itulah, konsep Integalistik tidak jadi digunakan basis dalam konteks hubungan rakyat dan pemimpinnya.

    Kedua,  menyangkut konsep Republik Desanya Soepomo, diadopsi dari praktek pemerintahan desa masa lalu, yaitu adanya konsep “Rembug Desa” yang dalam kontek Indonesia merdeka dijelmakan dalam bentuk Institusi negara yang bernama MPR, Kepala Desa dijelmakan ke dalam bentuk lembaga kepresidenan dengan pemangku jabatannya yang disebut Presiden. Konsep Republik Desanya Soepomo itu di adopsi dari pemerintahan desa yang kemudian dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi dan situasi Indonesia merdeka. Dan jadilah lalu konsep dalam UUD 1945 beserta pembukaannya sesuai UUD 1945.

    Menyangkut Pancasila sebagai Philosophische Grondslag, sekaligus sebagai Weltanschauung, Prof Gde Pantja menambahkan: Sepanjang dan selama rumusan Sila-sila Pancasila tercantum dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945, – sementara Pembukaan UUD 1944 merupakan, roh/jiwa, spirit, dan amanah yang menjiwai Batang Tubuh UUD 1945, maka ratio legisnya : Pancasila adalah Dasar Negara, Philosofische Grondslaag (dasar falsafah bangsa), weltanchaung/pandangan hidup bangsa, sekaligus idiologi negara. Terutama kedudukannya sebagai dasar negara, Pancasila menjadi dasar (etika/moral) bagi penyelenggara negara dalam penyelenggaraan pemerintahan negara dan juga bagi segenap komponen bangsa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta sebagai sumber dari segala sumber hukum (tertulis), dan oleh karenanya menjadi penting dan strategis kedudukan Pancasila dalam konteks kehidupan bersama kita sebagai bangsa yang majemuk dalam upaya merajut persatuan dan kesatuan yang bernafaskan nilai-nilai keagamaan, HAM, demokrasi, dan keadilan sehingga bangsa ini memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia. Mengingat kedudukan Pancasila yang demikian penting dan strategisnya, maka menjadi sangat beralasan bila pendidikan Pancasila mulai diedukasikan kepada peserta didik sejak usia dini sampai ke level pendidikan tinggi (bagi generasi milineal/ generasi Z) melalui kurikulum pendidikan, yang berbeda dengan “Kewarganegaraan” yang diajarkan selama ini. Kalau “Kewarganegaraan”, substansinya lebih pada ‘civic education’ yang menekankan pada hak dan kewajiban warga negara dalam tataran infra struktur dan supra struktur politik ; sedangkan mata Pelajaran (mata kuliah Pancasila) lebih kepada penanaman NILAI yang terkandung dalam Pancasila.

    Terlebih lagi dalam menghadapi perkembangan global dengan pesatnya kemajuan IT (berikut dengan dampak yang ditimbulkannya), menjadi penting pula diberikan pemahaman kepada seluruh peserta didik bahwa Pancasila adalah juga merupakan Idiologi terbuka, sekaligus sebagai Filter / penyaring: dimana nilai-nilai dari luar yang bisa diserap dan diadopsi dan mana pula yang diprioritaskan  agar kepentingan bangsa, negara, dan rakyat terjaga dan terlindungi dari serbuan dampak buruk yang ditimbulkan dari dinamika global dan pesatnya kemajuan IT.

    Harapan penulis Setelah dilantiknya Presiden terpilih Prabowo Subiyanto dan Wakil presidennya Gibran Raka Bumingraka pada hari minggu  tanggal 20 Oktober, yang dalam pidato pelantikannya yang sangat berapi-api seperti halnya pidato orator  Bung Karno saat sidang BPUPKI dulu, semoga mempunyai komitmen untuk melakukan kebijakan politik  membangun karakter anak bangsa sesuai karakteristik  anak Indonesia , dengan   mempertimbangkan , kondisi situasi baik secara geo politik dan geo strategis kawasan Asia Tenggara dan global (dunia), yang telah terjadi peperangan dibelahan  dunia lain seperti serangan Iran ke Israel dan balasan Israel ke Iran, perang Rusia Ukraina, potensi meletusnya konflik pulau Taiwan dengan Tiongkok dan konflik Laut China Selatan yang telah diklaim Tiongkok sebagai wilayah tradisional mereka sejak jaman kerajaan dinasti China jaman dahulu, terbentuk nya aliansi militer AUKUS yang memicu terjadinya perlombaan senjata di Indo Pasifik, serta upaya  didominasi oleh kekuatan negara negara adidaya dengan doktrin-doktrin  mereka, dan adanya kemajuan tehnologi informatika yang sangat sulit dibendung masuknya pengaruh budaya dan doktrin asing baik melalui media sosial maupun media massa dan media elektronik kepada generasi muda bangsa, yang seolah tidak lagi ada batas antar negara, dimana dunia dalam satu  genggaman, serta  untuk tetap menjaga karakter anak bangsa agar tidak lagi kehilangan jati dirinya sebagai anak bangsa yang punya karakteristik sebuah bangsa dan budaya timur, yang sejak dahulu kala telah dijiwai dengan jiwa Pancasila, maka penulis berharap, mata pelajaran dan mata kuliah Pancasila dikembalikan lagi sebagai mata kuliah dan mata pelajaran wajib pada semester awal pada pendidikan tinggi dan atau pada kelas awal pada pendidikan menengah. Agar generasi muda dapat mengenal dan memahami apa itu Pancasila, dan asas asas serta nilai-nilai dari sila-sila Pancasila sebagai  Philasophisce Grondslag atau Weltanschauung dimana Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa yang tercermin dalam segala aktivitasnya dan menjadi pemersatu bagi ratusan suku dan banyak ras di Indonesia untuk itu agar generasi muda  tidak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia, yang sebetulnya merupakan tugas dari BPIP ( Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ) pada pemerintahan yang lalu, tapi ternyata BPIP sendiri tidak mempunyai sebuah terobosan dalam konsep membangun karakter anak bangsa  sesuai nilai-nilai ideologi  Pancasila, yang jauh dari harapan, kecuali hanya sebagai badan pelengkap sebuah kekuasaan, yang tidak jelas kiprahnya.

    ——————————————–

     

    Penulis: Praktisi Hukum, Pemerhati Sosial Politik dan Budaya Bangsanya, Tinggal di Jakarta

  • Gratia Plena – Luka Cinta,  Sajak-sajak  Rita Oetoro

    Gratia Plena – Luka Cinta, Sajak-sajak Rita Oetoro

     

    gratia plena

     

    pada masa kanak-kanak, selalu merdu
    teralun “ave maria” sebagai lagu “nina-bobo’
    yang akan melelapkan diriku ke dalam
    tidur nyenyak tanpa mimpi-mimpi kelam

    terdengar suara teduh yang memintaku
    meneleponmu tempo hari dengan pesan
    agar seusai mendaraskan “bapa kami’
    ucapkan rasa cintamu padanya dan tuhan

    semalam penampakan bunda terjadi lagi
    sarat kelembutan ilahi sabdanya:
    ‘katakan pada rita, aku pun mencintainya’
    diriku sujud bersimpuh di hadapannya

    ‘agar dia tetap berbakti pada putraku
    sebab dosa adalah asal penyakit dan derita
    suatu saat jiwanya akan menyatu dengan kami
    bila dia selalu patuh pada sang roh kudus’

    bertanya aku pada bunda, apakah berkenan
    menampakkan diri kepadamu juga
    dengan senyum arif dan kasih jawabnya:
    ‘setiap hari aku bersamanya, mungkin kelak dia melihatku

    ——————

     

    luka cinta

     

    taruhlah aku
    seperti meterai pada hatimu,
    seperti meterai pada lenganmu,
    karena cinta kuat
    seperti maut, kegairahan gigih
    seperti dunia orang mati,
    nyalanya adalah nyala api
    seperti nyala api tuhan!

    kidung agung 8: 6

    kini segala misteri yang selama ini melingkupi
    diri lelaki itu pun terbuka, hanya belas kasih sang
    ibunda maria yang kuasa menghadirkannya
    atas hidup dan kehidupanku: sebagai silih
    atas derita dan penderitaan berkepanjangan

    ———————-

     

    Tentang Penyair

     

    Rita A. Cascia saraswati – Rita Oetoro – adalah  seorang penyair sejati. Bertahun-tahun lamanya, dengan setia dia menekuni dunia kepenyatran. sejak masa remaja – sekolah menengah pertama – dikembangkannya bakat menulis dengan sepenuh dedikasi. dia “berguru” pada ka ros (ayip rosidi) dan b. kemala (benny tjhung). Dalam kurun waktu yang panjang, sajak- sajaknya banyak bertebaran di berbagai suratkabar, majalah dan tabloid. Dari Sebuah Album dan Sangkakala adalah buku-bukunya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka yang sudah cetak ulang kedua. Bukunya yang ketiga adalah Nyanyian Malam, diterbitkan Pustaka Sastra. Nyanyian Sukma adalah bukunya yang keempat.

    Rita Oetoro dilahirkan pada 6 XII 1943 di Purwokerto – bumi kamandaka – yang sangat dicintainya. Dia memang seorang pecinta alam raya: seluruh koleksi lukisannya bertemakan alam.

     

  • Belajar Efektif Gen Z dalam Mengoptimalkan Potensi

    Belajar Efektif Gen Z dalam Mengoptimalkan Potensi

    Foto diambil dari Google

     

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

     

     

    Gen Z hidup di tengah era digital yang penuh tantangan dan peluang, di mana informasi sangat mudah diakses. Dalam situasi ini, menemukan cara belajar efektif bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan meraih keberhasilan. Berikut beberapa tip belajar yang dapat membantu Gen Z mengembangkan diri secara optimal dengan semangat pantang menyerah, didukung oleh buku rujukan yang relevan.

    Pertama, gunakan teknologi sebagai alat bantu produktif. Teknologi dapat menjadi mitra dalam belajar, asalkan digunakan dengan cerdas dan disiplin. Aneka aplikasi pembelajaran mampu mengubah materi belajar menjadi catatan interaktif dan kartu flash yang menarik.

    Menonton video edukatif di platform seperti YouTube dapat mempercepat pemahaman konsep secara visual. Namun, penting untuk tetap fokus dan tidak mudah teralihkan. Cal Newport (2019) dalam “Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World” memberikan panduan tentang cara memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan arah.

    Kedua, manfaatkan teknik Pomodoro yakni istirahat di sela-sela belajar penting guna menjaga fokus dalam mengelola waktu belajar. Metode ini melibatkan belajar dalam interval 25 menit dengan istirahat 5 menit, dan setelah 4 sesi, mengambil jeda lebih lama. Teknik ini membantu menjaga konsentrasi dan mencegah kelelahan. “The Pomodoro Technique” oleh Francesco Cirillo menjadi sumber inspirasi tentang bagaimana menggunakan waktu secara efisien dan mencapai hasil maksimal dalam belajar.

    Ketiga, adopsi pendekatan belajar yang aktif dan reflektif. Hanya membaca atau mendengarkan tidak cukup. Cobalah menjelaskan kembali materi kepada diri sendiri atau orang lain untuk memperkuat pemahaman. Proses ini membuat materi lebih melekat dalam ingatan.

    Peter C. Brown, Henry L. Roediger III, dan Mark A. McDaniel (2014) memberikan strategi belajar yang didukung penelitian ilmiah, menjadikannya sumber penting bagi Gen Z. Strategi belajar yang didukung oleh penelitian ilmiah, termasuk teknik-teknik seperti retrieval practice (latihan mengingat) dan spaced repetition (pengulangan yang disebar), yang terbukti membantu pembaca, termasuk Gen Z, belajar secara efektif dan mempertahankan informasi jangka panjang.

    Keempat, lakukan latihan soal dan evaluasi diri. Mengasah kemampuan melalui soal latihan atau kuis membantu menemukan kelemahan dan memperbaikinya. Evaluasi diri menjadi cara efektif untuk mengukur sejauh mana pemahaman yang telah dicapai. “How We Learn: The Surprising Truth About When, Where, and Why It Happens” oleh Benedict Carey menawarkan wawasan tentang bagaimana otak bekerja dan cara berlatih secara optimal.

    Kelima, gunakan mind map atau peta pikiran untuk menghubungkan ide. Mind mapping membantu mengorganisasikan konsep dan ide dengan cara visual dan kreatif, membuat materi lebih mudah diingat. Tony Buzan (2010) mengajarkan teknik membuat mind map yang dapat memudahkan Gen Z dalam menghubungkan dan memahami konsep-konsep dengan lebih mendalam.

    Keenam, jangan lupakan pentingnya olahraga dan istirahat cukup. Aktivitas fisik meningkatkan aliran darah ke otak, sehingga meningkatkan konsentrasi dan kemampuan belajar. Tidur yang cukup juga penting untuk memperkuat memori. John J. Ratey (2008) menjelaskan bagaimana olahraga dapat memperkuat fungsi otak dan mendorong proses belajar yang lebih efektif.

    Menemukan dan menggunakan cara belajar yang paling sesuai dengan diri sendiri adalah langkah pertama menuju proses belajar yang efektif. Setiap individu memiliki cara belajar yang unik, dan dengan memahami serta menyesuaikan metode belajar berdasarkan preferensi pribadi, proses belajar menjadi lebih mudah dan efisien.

    Mengembangkan pemahaman tentang cara belajar tidak hanya sekadar menyesuaikan metode, tetapi juga melibatkan penerapan cara belajar yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan tantangan yang berbeda. Dalam hal ini, penerapan growth mindset menjadi sangat penting.

    Growth mindset merupakan keyakinan bahwa kemampuan intelektual seseorang dapat bertumbuh seiring dengan usaha dan dedikasi. Dengan mengadopsi pola pikir ini, individu tidak hanya belajar dengan cara yang sesuai keunikan mereka tetapi juga terbuka untuk berkembang dan menantang diri mereka dalam proses pembelajaran.

    Pentingnya growth mindset dalam proses belajar tak dapat diremehkan, terutama ketika kita menyadari bahwa kemampuan otak manusia memiliki potensi untuk terus berkembang. Oleh karena itu, memahami dan menggunakan cara belajar yang tepat, sambil tetap mempertahankan sikap mental yang terbuka dan positif terhadap perkembangan, akan membantu seseorang mencapai hasil belajar yang optimal.

    Metode ini memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih dinamis dan menyesuaikan diri dengan perubahan, menjadikan setiap individu lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan baru dalam perjalanan belajar mereka.

    Dengan mengintegrasikan tip-tip belajar yang disertai growth mindset dan merujuk pada buku-buku yang tepat, Gen Z dapat menemukan cara belajar yang tidak hanya efektif, tetapi juga efisien. Semangat belajar, ketekunan, dan upaya menemukan terobosan baru adalah kunci untuk meraih potensi terbaik. Ingatlah, belajar bukan sekadar tentang menyerap informasi, melainkan tentang proses mengembangkan diri dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

     

     

     

  • Ignas Kleden  dan  Cendekiawan

    Ignas Kleden dan Cendekiawan

    Ayu  Utami

     

     

    LEBIH dari 25 tahun silam, sekitar pukul 11 malam. Suasana di Jalan Utan Kayu mencekam. Siapa pun yang keluar dari halaman Komunitas Utan Kayu di Jakarta Timur menghadapi tiga lapis pemeriksaan oleh polisi dan tentara. Mobil dihentikan, bagasi dan jok digeledah, tas dirogoh.

    Di teater yang terletak agak di bawah tanah itu sebelumnya digelar diskusi buku berjudul Pengkhianatan Kaum Cendekiawan karya pemikir Prancis, Julien Benda. Aparat mungkin curiga kaum intelektual sedang melakukan rapat menyiapkan pengkhianatan.

    Hari berganti, suasana genting itu muncul kembali. Sepekan ini, rangkaian kecaman terhadap Presiden dan keprihatinan akan kondisi demokrasi disuarakan oleh civitas academica puluhan perguruan tinggi penting. Universitas Gadjah Mada, kampus asal Joko Widodo, menjadi pelopor.

    Selanjutnya adalah intimidasi terhadap para rektor dan guru besar agar membuat pernyataan sebaliknya. Menteri Bahlil Lahadalia menuduh para guru besar bersikap partisan. Padahal para guru besar itu pula yang diundang menjadi panelis dalam debat calon presiden yang diadakan Komisi Pemilihan Umum. Polisi memperkenalkan istilah “cooling system” – mendinginkan suasana dengan mendesak para cendekiawan agar tak kritis – yang justru memperkuat kekhawatiran akan kembalinya rezim atoricer.

    Saya teringat sebuah buku, Fragmen Sejarah Intebektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka, karya Ignas Kleden, yang berpulang pada 22 Januari 2024. Ignas adalah pelopor yang menganggap penting sejarah intelaktual Indonesia.

     

    Ignas mengawali pemikirannya dengan  pemikiran Julien Benda dan Edward Said, dan akhirnya setelah ringkasannya yang jernih tentang sejarah intelektual Barat, ia hendak membuktikan bahwa Indonesia juga dibentuk oleh kaum cendikia: Kartini,Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Sutan Takdir Alisjabahna, Toety Heraty, dan lain-lain.

    Kaum terpelajar, dalam sekujur buku Ignas, tidak diikat oleh kampus apa pun. Mereka boleh saja guru besar atau rektor. Tapi itu bukan legitimasi. Mereka adalah “intelektual publik”, gabungan dari manusia reflektif dan manusia yang bertindak yang tak digerakkan oleh politik kekuasaan. |

    Di awal pembentukan Indonesia, mereka adalah kaum bumiputra yang mendapatkan pendidikan Barat. Bukan untuk mampu berpikir kritis, melainkan sekadar agar dapat berfungsi dalam masyarakat modern.

    Suatu Pendidikan untuk sekadar mengash “nalar instrumental”. Tapi, kita tahu, mereka menjadi mampu mewacanakan, dalam bahasa modern, kesadaran kebangsaan dan melawan kolonialisme – sesuatu yang penting dalam pembentukan Indonesia.

    Siapakah para cendekiawan di zaman ini? Menanggapi kritik paraguru besar tersebut, rohaniwan Kardinal Suharyo mengatakan para intelektual menjalankan tugas kenabian dari masa Kitab Suci, yaitu memperingatkan raja. Ignas, tak jauh dari itu, mengutip Said: merekalah orang-orang yang dengan cara tertentu mengatakan “kerajaanku bukan dari dunia ini” (saya teringat Jokowi yang pada peringatan kemerdekaan Indonesia ke-78 menggunakan busana raja Jawa).

    Mungkin pernyataan itu terlalu mulia. Para professor di antaranya Harkristuti Harkrisnowo (Universitas Indonesia), Koentjoro (Universitas Gadjah Mada), Susi Dwi Harijanti (Universitas Padjadjaran) – tidak mengklaim mereka setinggi nabi atau Ilahi. Mereka menyeru soal moral, nilai, dan keteladanan yang harus ditempatkan lebih tinggi, atau lebih dasar, dari sekadar legalitas, terutama ketika legalitas diperoleh dengan melipat hukum.

    Sementara itu, para pendukung Istana memanfaatkan metode kritik ala pemikiran kontemporer, yang menggeser substansi dengan telaah atas forma atau motif-motif tersembunyi. Grace Natalie, politikus Partai Solidaritas Indonesia, menyebut seruan moral disampaikan para intelektual karena mereka pendukung kandidat tertentu. Rumadi Ahmad dari Kantor Staf Presiden berkomentar bahwa perbedaan adalah bagian dari demokrasi, tapi sama sekali tidak membicarakan isi kritik. Jokowi sendiri menanggapi pendek, “Itu hak demokrasi. Harus kita hargai.” Tak satu pun dari mereka menanggapi substansi kritik. Mereka sekadar membicarakan bentuk.

    Pemikir Prancis, Jacgues Ranciere, pernah bilang bahwa dunia distrukturkan oleh sejenis hierarki wicara ala Aristoteles. Ada kelompok orang yang memiliki logos, yaitu mereka yang bisa berwacana, dan kelompok lain yang, mirip hewan, hanya mengeluarkan bunyi-bunyian tanpa diskursus. Emansipasi adalah tindakan berwacana.

    Ignas menulis: para inteligensia telah membuat sejarah bangsanya, sejarah berakhirnya suatu penjajahan…… Namun apakah sekarang, dalam alam kemerdekaan, kaum terpelajar tetap setia? Saya khawatir, yang dilakukan penguasa justru menganggap wacana para cendekiawan Bagai gonggongan anjing. Bunyi-bunyian tanpa logos, tanpa isi argumen.

    —————————

     

    Sumber Tulisan, Marganalia, Tempo, 18 Februari 2024

     

     

  • Perlombaan Bulan Bahasa di SMA Negeri 2 Maumere dalam Rangka Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-96 dan Pelantikan Pengurus Osis SMAN 2 Maumere Periode 2024/2025

    Perlombaan Bulan Bahasa di SMA Negeri 2 Maumere dalam Rangka Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-96 dan Pelantikan Pengurus Osis SMAN 2 Maumere Periode 2024/2025

     

    SMAN 2 Maumere dan Beranda Negeri.com, 28 Oktober 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-96, SMA Negeri 2 Maumere menyelenggarakan serangkaian kegiatan perlombaan Bulan Bahasa. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 24 hingga 26 Oktober 2024, bertempat di Aula SMA Negeri 2 Maumere. Beragam lomba diadakan untuk mengasah kemampuan bahasa siswa, baik dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, maupun Bahasa Jerman.

     

     

    Adapun jenis-jenis lomba yang diselenggarakan antara lain Pidato, Cipta Puisi, dan Menulis Artikel untuk Bahasa Indonesia; Storytelling, Pidato, dan Baca Puisi untuk Bahasa Inggris; serta Singer (menyanyi), Poster, dan Gedicht Lesen (membaca puisi) untuk Bahasa Jerman. Kegiatan ini mendapatkan antusiasme yang luar biasa dari para peserta didik dan dewan guru.

     

    Ket. Foto: Kepala Sekolah SMAN 2 Maumere, Bpk Hendrikus Hadir, S.Pd

     

    PLT Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Maumere, Hendrikus Hadir, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki arti penting bagi perkembangan literasi dan bahasa di sekolah. “Perlombaan ini adalah bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di bidang literasi. Siswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan berbahasa dan bersaing secara sehat dalam dunia akademik. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung implementasi literasi di kalangan pelajar,” ujar beliau dalam sambutannya.

    Puncak acara berlangsung pada hari Senin, 28 Oktober 2024, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Acara dimulai dengan upacara bendera dimana para Guru dan Tenaga Kependidikan serta siswa-siswi mengenakan busana Daerah Indonesia khususnya daerah Kabupaten Sikka (Provinsi NTT) sebagai bentuk menghargai dan mencintai keanekaragaman budaya Indonesia dihati para pendidik dan generasi muda bangsa. Rangkaian kegiatan Apel ini dipadukan dengan pelantikan pengurus OSIS yang baru, hasil dari kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) (Tanggal 10-12 Oktober 2024) dan Kegiatan Debate dan Kampanye serta Pemilihan Pengurus Osis yang baru yang diadakan pada 19 Oktober 2024. Upacara tersebut dimeriahkan oleh aubade Panji OSIS SMA Negeri 2 Maumere dan Paduan Suara yang membawakan lagu-lagu perjuangan dengan penuh semangat.

    Setelah upacara, dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba Bulan Bahasa yang telah diadakan selama tiga hari. Para siswa pemenang tampil dengan penuh kebanggaan atas prestasi yang mereka raih dalam berbagai kategori lomba. Acara diakhiri dengan kebersamaan penuh sukacita saat menari bersama keluarga besar SMA Negeri 2 Maumere, yang turut meramaikan suasana Hari Sumpah Pemuda.

    Kegiatan ini berlangsung dengan sukses dan lancar, penuh semangat dan kegembiraan. Melalui kegiatan ini, SMA Negeri 2 Maumere tidak hanya memperingati sejarah penting bangsa, tetapi juga terus menanamkan kecintaan siswa terhadap bahasa, literasi, serta memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan di antara seluruh siswa dan guru.

    (Yanto Hayon).

     

     

    Galeri Foto

     

     

  • “In Memoriam” Mama Veronika Wilhelmina Njo – Tifaona:  Ibu “Super Woman” di Balik Dua Bintang

    “In Memoriam” Mama Veronika Wilhelmina Njo – Tifaona: Ibu “Super Woman” di Balik Dua Bintang

     

    Minggu, 20/10/2024, diadakan Misa Requiem mengenang 40 hari berpulangnya Ibu Veronika Wilhelmina Njo. Biasa disapa Mama Ony. Adalah istri dari Alm. Bapa Brigjend Pol (Purn) Anton Enga Tifaona. Merupakan orang NTT pertama yang menduduki jabatan Kapolda di jajaran Kepolisian Negara. Mantan Kapolda Maluku, mantan Kapolda Sulutteng dan mantan Wakapolda Jawa Barat. Ibu dari 10 orang anak (satu meninggal bayi). Semua anak-anaknya sudah mentas di bidang profesinya masing-masing. Salah anak dari rahimnya berkarya di Kepolisian Negara sebagai Perwira Tinggi Polri menyandang Bintang Dua (Irjen Pol). Mama Ony berpulang pada Rabu, 11/09/2024 dan dimakamkan pada 13/09/2024 di TPU Kramat Pulo Jakarta.

    Membaca jejak posisi, peran dan pengabdian seorang Mama Ony di balik sukses orang-orang terkasihnya, seperti kita sedang membaca dengan hati Puisi “Ibunda Tercinta,” karya Umbu Landu Paringgi. Syair puisi ini, pada setiap kata dalam larik dan baitnya, mencapai chemistry yang menggetarkan tentang arti dan makna seorang ibu. Mengenai sosok seorang Ibu, penyair asal Sumba, NTT yang dijuluki Presiden Malioboro itu menulis pada puisinya: 

     

    Ibunda Tercinta

     

    Perempuan tua itu senantiasa bernama:

    duka derita dan senyum abadi.

    Tertulis dan terbaca jelas kata-kata

    puisi dari ujung rambut sampai

    telapak kakinya

     

    Perempuan tua itu senantiasa bernama:

    korban, terimakasih, restu dan ampunan.

    Dengan tulus setia telah melahirkan

    berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

     

    Perempuan itu senantiasa bernama:

    cinta kasih sayang, tiga patah kata purba.

    Di atas pundaknya setiap anak tegak

    berdiri menjangkau bintang-bintang

    dengan hatinya dan janjinya

    (Umbu Landu Paranggi)

     

    Bernama lengkap Veronika Wilhelmina Njo (Mama Ony), lahir di Bajawa, 31/03/143. Ayah Petrus Njo asal Sabu dan ibu Suzana Ndoekona dari Ba’a Rote Ndao, NTT. Merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Walau orangtuanya berasal dari luar Flores, keluarga ini sangat dekat dengan Raja Bajawa saat itu Pea Mol dan Siwamole. Dengan itu saat kecil Mama Ony diambil jadi anak angkat Raja Bajawa dan diberi “nama adat” (dilawi) di kampung Bajawa dan diberi nama Mole Tai (nama dari ibunda Pea Mole). Karena itu, pada generasi mereka, Mama Ony oleh kerabat Raja Bajawa dipanggil dengan Ony Mole. Karena itu, malam sebelum pemakaman, diadakan seremoni adat Bajawa untuk almarhuma sebelum dilakukan seremonial tutup peti oleh Keluarga Njo sesuai adat tradisi Sabu, NTT.

    Tahun 1955, Opa Petrus Njo diangkat sebagai Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik Flores “Vedapura” (Benteng Ilmu) sehinga keluarga Mama Ony kembali menetap di Ende sebagai Pusat Yayasan Vedapura. Dari catatan masa kecil sebagai anak angkat Raja Bajawa,  anak dari Ketua Yayasan Vedapura dan anggota DPRD Flores dari Partai Katolik,  mereka adalah elit terpelajar di Flores masa itu. Usia sekolah lanjut, Mama Ony mengikuti kakaknya di Surabaya tapi tidak dituntaskan. Dia berhenti, memutuskan kembali ke Ende karena mau mengurus mamanya Oma Suzana yang mengidap asmah dan mulai sakit-sakitan.

     

    Jejak Istri Bhayangkara Sejati

    Menikah dengan Bapa Antonius Stephanus Enga Tifaona 18 /11 1964 di Gereja Katolik  Mater Boni Konsili, Bajawa, Flores, dikaruniai 10 orang anak (satu meninggal masih bayi) dengan 13 cucu.  Setelah merayakan 52 tahun pernikahan, Bapa Anton berpulang, 15 Oktober 2017, pada usia 83 tahun. Setelah suami berpulang Mama Ony pun menyusul menghadap sang khalik pada Rabu, 11/09 2924 di RSCM Jakarta.

    Di mata anak-anak, Mama Ony adalah wanita “super woman.” Mengurus sendiri anak-anaknya sejak melahirkan, merawat dari kecil hingga dewasa dan berkeluarga. Setia menemani suami bahkan menjadi tiang doa di dalam keluarga. Selalu melatih dan mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk selau berdoa setiap malam. Doa Rosario bersama selalu menjadi andalannya sekaligus kekuatannya. Doa Rosario bagi Mama Ony bahkan sudah sebagai nafas kehidupan setiap harinya. Selalu berdoa Rosario setiap hari untuk suami dan anak-anak serta cucunya, juga untuk kerabat, kenalan yang meminta bantuan doa. Kecintaanya terhadap Rorasio membawanya pada masa tua, bersama Bapa Anton menghabiskan kesibukan setiap hari dengan membuat untaian manik-manik Rorasio dan dibagikan kepada yang membutuhkan agar orang lain yang memilikinya semakin mencintai Bunda Maria.

    Sebagi istri seorang Bhayangkara Negara (Polisi), Mama Ony memulai hidup berkeluarga yang unik. Ketika menikah, suaminya sudah menjabat sebagai Komandan Resort Kepolisian (Danres) — saat ini Kapolres — di Bajawa, Flores. Pada usia yang masih sangat muda, 21 tahun, tapi posisi suaminya sebagai Danres menuntut Mama Ony harus segera meng-“upgrade”dirinya untuk memimpin ibu-ibu Bhayangkari di lingkup Kabupaten. Mulai belajar bicara dan beri sambutan di depan umum serta lainnya.

    Sejak saat itu, dalam tugas dan pengabdiannya di Kepolisian, suaminya Bapa Anton Tifaona hampir pada semua fase karirnya selalu menduduki jabatan pimpinan. Dengan sendirinya menuntut peran dari pendampingnya pada posisi setara di lingkungan kepolisian negara. Selalu berperan sebagai istri pimpinan dalam kurun waktu yang panjang tampaknya telah turut membentuk pola dan karakter pribadi mama Ony juga dalam pola hidup kesehariannya. Dia, Mama Ony dibentuk untuk harus berdiri tegar di samping suaminya. Harus selalu mengayomi, kuat hadapi masalah juga harus bisa tegas untuk hal-hal yang harus diperbaiki. Dia selalu perhatian dan mengasihi. Penuh pengertian tapi bisa tegas untuk hal-hal yang dinilai harus diperbaiki.

    Suaminya, Bapa Anton Tifaona, berdinas sebagai Pol Airud (Polisi Air dan Udara) di Kalimantan usai tamat dari PTIK. Luasnya wilayah kedinasan di Kalimantan, Mama Ony dan anak-anak sering ditinggalkan suaminya berdinas. Bahkan bisa berbulan-bulan. Berdinas di Dili, Timtim masih masa awal proses integrasi, sarat dengan tugas dan beban karja. Mama Ony harus mengurus anak-anaknya seorang diri. “Saya tahu, tugas dan tanggung jawab Bapa sangat berat. Saya urus anak. Setiap hari pada jam-jam tertentu, saya selalu berdoa untuk Bapa. Hanya doa. Saya hanya bersandar pada kuasa Tuhan. Tuhan yang menyempurnakan.” Cerita Mama Ony suatu ketika tentang masa-masa sulit yang pernah dilewati bersama Bapa Anton.

    Karena itu, peran Mama Ony sangat sentral dalam keluarga. Terutama pada posisinya sebagai istri yang harus berdiri tegar di samping suami. Hadapi tantangan dan kesulitan dalam berdinas, suami juga bisa goyah. Tugas istri harus menguatkan. Seperti dialami Mama Ony selama mendampingi suaminya Bapa Anton. Tercatat Bapa Anton banyak melahirkan gagasan yang hingga kini dipakai secara nasional maupun konsep pembinaan dan pendidikan di internal Polri. Seperti pemakaian Helm, Buka Tutup Jalur Puncak, Latihan Bersama Polri dan Polisi Malaysia dan lainnya. Tapi rekam jejaknya menunjukan selama 12 tahun dengan 8 kali mutasi jabatan Bapa Anton masih dengan pangkat yang sama: Kolonel Polisi. Menjalani posisi ini bagi seorang perwira Polri masa itu bukanlah hal mudah. Tentu butuh peran seorang istri yang berkarater kuat di sampingnya.

     

    Wanita Berkarakter Unggul

    Pada posisi penting dan jabatan suaminya, Mama Ony mengaku memang banyak godaan. Cukup banyak kejadian, orang datang dengan berbagai iming-iming. Dari hadiah ini dan itu hingga tas yang penuh dengan uang. Mama Ony tidak bergeming. Tidak pernah mau terpengaruh. Tidak hanya dari pejabat dan bawahan. Bahkan ada kejadian ketika mendampingi Ibu Tien Soeharto dalam kunjungan ke Timtim. Saat pamit pulang Jakarta, Ibu Tien serahkan satu tas. Setelah dibuka isinya penuh dengan uang. “Uang itu saya ambil dan bagi habis untuk semua ibu-ibu Bahayangkari di Timtim saat itu. Saya tidak mau beri makan anak-anak saya dari jenis uang begitu,” tutut Mama Ony mengenang.

    Ada kejadian yang sangat krusial. Ketika usai masa tugas sebagai Kapolda Sulutteng, sudah ada penugasan dari Mabes untuk pindah menjadi Kapolda Sumut. Tapi karena ada calon titipan dari Cendana, Bapa Anton lalu dialihkan mutasinya sebagai Wakapolda Jawa Barat. Justeru turun lagi ke Wakapolda walau sudah dua kali menjabat Kapolda. Sebuah sistem mutasi yang aneh. Ketika itu, Bapa Anton sudah putuskan untuk berhenti. Minta pensiun dini. Hanya ketenangan dan ketegaran Mama Ony, walau berat Bapa Anton Tifaona akhirnya bisa menerima ke Jawa Barat, sebagai Wakapolda.

    Pribadi dan karakter Mama Ony, sebagai istri dan sebagai Ibu, telah memberi nilai positif dan membanggakan. Sosok wanita dan ibu dengan karakter unggul. Seorang wanita kuat yang memampukan dua orang lelaki di sampingnya menggapai “Bintang” di pundak mereka. Satu, suaminya sendiri Brigjen Pol (Purn) Drs. Anton Enga Tifaona menyandang Bintang Satu (Brigjen Pol). Dan kedua, anak dari rahimnya kini sudah menyandang “Bintang Dua” (Irjen Pol) Daniel Bolly Hironimus Tifaona, S.IK, M.Si. Sukses menggapai Bintang bagi keduanya, tentu tak lepas dari peran Mama Ony di samping mereka. Boleh jadi benar kata orang: Di balik pria sukses selalu ada wanita hebat di sampingnya. Dan dari rahim unggul akan hadir generasi unggul. Melukiskan sosok Mama Ony rasanya terlampau puitis sebagaimana terbaca pada senandung puisi “Ibunda Tercinta” di atas.

    Belajar dari kehidupan seorang Mama Ony, adalah belajar tentang bagaimana hidup ini bisa terpatri mulia. Tentang kesetiaan, pengabdian dan ketekunan. Tentang pelayanan, amal saleh yang bermanfaat dan menyiapkan generasi berakhlak mulia sebagai kerja untuk keabadian. Pada hidupnya, Mama Ony seakan mengajarkan bahwa dalam hitungan usia hidup, kita harus mampu memberi keindahan dan energi positif pada dunia. Bahwa mesti ada jejak mulia yang ditinggalkan. Diwariskan. Terpancar nilai-nilai keutamaan hidup yang bermanfaat. Menyiapkan generasi unggul dan berakhlak mulia adalah berkarya untuk keabadian.

    Kini, Mama Ony, Ibu “Super Woman” itu telah pergi ke tampat dimana semua kita akan sampai. Requiescat in Pace (RIP). ***

     

    Stanis Soda Herin, Penulis Biografi Brigjen Pol (Purn) Drs. Anton Enga Tifaona