Author: Redaksi

  • Saatnya Mengembalikan Marwah MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) sebagai Pelaksana Kedaulatan Rakyat

    Saatnya Mengembalikan Marwah MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) sebagai Pelaksana Kedaulatan Rakyat

     

    Oleh  Agus Widjajanto

     

     

    Pada era  Reformasi telah dilakukan  Amandemen Konstitusi kita yakni UUD 1945 sebagai Hukum Dasar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,  yang hingga berlangsung empat kali Amandemen, yang telah merubah sistem ketatanegaraan kita yang awalnya di desain dengan sistem kerakyatan dengan sistem perwakilan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat  dimana manifestasi dari suara rakyat yang dianggap  merupakan suara Tuhan lewat sebuah Majelis yang bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat, diganti dan diubah menjadi sistem pemilihan langsung dalam Pemilihan Umum dimana sebagai kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan seorang presiden dipilih langsung oleh rakyat, sebagai mandataris rakyat melalui pemilihan umum yang diusung dan diajukan oleh partai politik dan atau gabungan dari beberapa partai politik.

    Belum lagi masalah  keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menyangkut presidential treshold yang membatalkan aturan sebelumnya dari 20 persen perolehan suara secara nasional, 25 persen suara di parlemen,  menjadi 0 (nol) persen untuk bisa mengajukan calon presiden dan wakilnya, oleh partai politik, akan sangat menarik untuk dicermati karena pasti akan terjadi  kegaduhan dimana dengan sistem multy partai lebih dari 20 partai politik, setiap partai politik bisa mengajukan calon presiden tanpa harus berkoalisi dengan partai politik lain.

    Pada era Reformasi seperti saat  sekarang ini  dimana kebebasan berpendapat dan berbicara  diberikan keleluasaan dan berlakunya sistem pemilihan langsung dalam pemilihan umum dimana apabila dikaitkan dengan  konteks vox populi vox Dei ( suara rakyat adalah suara Tuhan )  Euforianya begitu besar  seolah bergema diseluruh negeri, termasuk jabatan presiden dan wakil presiden bukan lagi sebagai mandataris MPR akan tetapi sebagai mandataris rakyat dari seluruh rakyat Indonesia. Namun setelah terpilih dan berkuasa ternyata suara rakyat dianggap alunan musik yang kadang tidak lagi perlu didengarkan, dengan segala kebijakan yang diambil oleh mandataris rakyat sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan secara hukum  tidak perlu dikonsultasikan dan memberikan pertanggung jawaban  dengan pemberi mandat yang jumlahnya mencapai 270 juta jiwa satu persatu akan tetapi  cukup kepada anggauta DPR RI dari seluruh partai politik sedangkan anggota dewan faktanya selalu  bertanggung jawab kepada partai politik dimana  mereka bernaung in casu ketua partai, bukan kepada rakyat yang memilih presiden secara langsung,  hal ini  tentu tidak semudah yang dibayangkan bagaimana pengaturan dalam pertanggung jawaban dan prakteknya secara tekhnis dan  inilah yang tidak pernah dipikirkan saat Reformasi dengan mengamandemen UUD hingga ke-empat kali  dimana bukan saja telah meluluh lantakan sistem dan desain awal dari sistem ketatanegaraan yang dirancang para pendiri bangsa, akan tetapi juga membuka peluang terjadinya sistem feodal dalam jabatan kepala daerah melakui pemilihan langsung yang akhirnya  dengan terpilihnya kepala daerah tersebut juga  melakukan nepotisme dan tindakan korupsi yang berjalan masif dalam alam demokrasi pada Jaman Reformasi, yang dulu diharapkan terjadinya sebuah perubahan yang akan membawa perubahan besar dari sistem Orde Baru  yang dianggap otoriter kepada Demokrasi. Akan tetapi yang terjadi justru terjadinya degradasi moral dan sistem yang memberikan ruang kepada nepotisme dan korupsi yang sangat masif dinegara ini, dengan biaya atau cost yang sangat tinggi.

    Penulis sendiri hingga saat ini masih belum bisa memahami bagaimana bisa terjadi sebuah UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat flamboyan dan merupakan maha karya dari para Pendiri Bangsa bisa di obrak abrik melalui amandemen hingga ke empat-kalinya, yang secara nyata telah menimbulkan permasalahan demi permasalahan bangsa, yang berakibat bangsa ini hanya berkutat pada konflik politik tiada henti.

    Pikiran adalah sebuah ide yang bisa membuahkan suatu fenomena perubahan ataukah justru yang membuahkan kesesatan tergantung dari kita mengendalikan dalam kontek tujuan. Berbicara soal MPR tidak bisa dipisahkan dengan sejarah terbentuknya negara ini, baik dari sejarah  lahirnya Pancasila sebagai dasar negara, dan desain awal menyangkut dibentuknya Hukum Dasar Tertulis yakni UUD 1945 oleh Panitia Kecil dalam Panitia Persiapan Kenerdekaan Indonesia ( PPKI )  karena antara Dasar Negara dan UUD sebagai Konstitusi Tertulis merupakan satu kesatuan yang punya hubungan integral ibarat suami istri dalam sebuah rumah tangga yang saling mengisi satu sama lain yang tidak bisa dipisahkan.

    Seperti tertulis dalam sejarah bangsa saat Bung Karno menggali nilai-nilai luhur dari berbagai adat istiadat dan kebiasaan yang telah hidup dan tumbuh di bumi Nusantara ini, beliau dalam pidatonya menyatakan; “alam itu aku menggali didalam ingatanku, menggali dalam ciptaku, menggali didalam khayalku, apa yang terpendam didalam bumi Indonesia ini, agar supaya dari hasil dari penggalian itu dapat dipakai sebagai dasar negara bagi negara yang akan datang.”

    Kakawin Nagara Kertagama yang ditulis  dari bahasa Jawa Kuno, oleh Mpu Prapantja, yang ditemukan pertama kali di pulau Lombok Nusantara Tenggara Barat, pada tahun 1894, pertama-tama disebut Kakawin Desa Warnana, yang melukiskan tentang pemerintahan saat itu dalam wilayah kerajaan Majapahit, sebagai mana termuat dalam bait (Ngk.pupuh 94: 4). Naskah Kakawin Nagara Kertagama ini menjadi sangat menarik dan istimewa lantaran memberikan keterangan langsung mengenai kondisi dan adat istiadat serta sistem pemerintahan baik lokal (daerah dalam lingkup kadipaten), desa, maupun pusat kerajaan mengenai masyarakat Jawa Kuno pada suatu masa tertentu, dilihat dari sudut tertentu. Inilah sebenarnya yang menginspirasi para pendiri bangsa kita (founding father) dalam membentuk dan mendesain sebuah konsep berdirinya negara kesatuan yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia.

     Nagara Kertagama merupakan kitab sumber nilai-nilai Pancasila yang kemudian menginspirasi Bung Karno dalam menyusun Dasar Negara Republik Indonesia, termasuk, Mr Moh Yamin dan Mr Soepomo, dalam memberikan masukan konsep tentang dasar negara dan sistem ketatanegaraan dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Bung Karno sendiri dalam auto biografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat pada halaman 240 menulis :

    “Aku tidak mengatakan , bahwa aku menciptakan Pancasila, apa yang aku kerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri dan aku telah menemukan lima butir mutiara yang indah.”

    Naskah Nagara Kertagama juga telah diakui oleh kalangan international dan secara resmi masuk dalam daftar Memory of The World UNESCO.

     

    Bahwa  dalam pupuh 43 dalam Kitab Nagara Kertagama, dituliskan oleh Mpu Prapanca “agar kiranya berusaha memegang teguh pada Pancasila, lima kaidah tingkah laku utama” disinilah sebenarnya sumber inspirasi dari para Pendiri Bangsa yang lalu digali dan dirangkum menjadi sila-sila dalam Pancasila.

    Berbicara tentang sistem ketatanegaraan kita, tidak bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya negara ini dan tokoh yang dipandang sangat penting dan berpengaruh tentang pemikir  konsep ketatanegaraan terbentuknya UUD 1945  adalah pendapat dari Mr. Soepomo, yang merupakan ‘Ikon’  penting dalam dunia politik hukum di Indonesia. Dalam pidatonya tertanggal 31 Mei 1945 didepan BPUPKI, Soepomo mengemukakan dan melontarkan gagasan tentang “Negara Integralistik” sebagai bentuk paling tepat bagi Indonesia suatu hari nanti saat merdeka, gagasan ini pulalah yang dikemudian hari menjadi inspirasi pada saat disusunnya Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), dimana Soepomo selaku ketua konsep terbentuknya UUD 1945 saat itu, bahwa pemikiran Soepomo terjadi perdebatan dan dianggap kontroversi yang mengemuka saat itu adalah ide model negara Integralistik yang ditawarkan Soepomo merupakan bentuk yang dianggap fasis, yang mencontoh dari kerajaan Jepang dan Jerman saat itu, yang dianggap adanya persesuaian dengan watak masyarakat Indonesia yang dilandasi semangat kekeluargaan, yang setelah Indonesia merdeka, banyak studi hukum ketatanegaraan menilai Pemerintahan Orde Baru dinilai merupakan penerjemahan paling sempurna dari gagasan yang diajukan oleh Soepomo.

    Soepomo seorang bangsawan Jawa keturunan darah biru dari Keraton Kasunanan Surakarta, sangat memahami kontek sistem Manunggal Kawuloning Gusti dalam suatu pemerintahan feodal Jawa, yang merupakan penyatuan antara rakyat dan pemimpin yang bisa membentuk suatu masyarakat yang harmonis berdasar karakteristik masyarakat Indonesia, yang sebenarnya inspirasi dari Soepomo didapat dari model pemerintahan desa-desa kuno di Jawa, seperti yang tertulis dalam Kitab Kakawin Nagara Kertagama. Para ahli hukum tatanegara berpendapat, dalam kajian penelitiannya bahwa Soepomo, mengambil konsep pemikiran dari tiga filsuf pada abad ke-delapan belas dan abad ke-sembilan belas, yakni Benedict Spinoza, Adam Muller dan Georg W .F. Hegel sebagai terjemahan dari ketertarikan seorang Soepomo menyangkut sistem pemerintahan Jepang dalam bentuk Tenno – Haika dan Jerman saat itu, padahal model Jepang sebagai negara feodal dengan raja sebagai poros paling atas kekuasaan dianggap oleh Soepomo, sama persis dengan sistem kepemimpinan dalam pemerintahan di Jawa yang menggunakan model Kawulo Manunggaling Gusti  dalam praktek pemerintahan kerajaan Mataram Islam di Jawa yang mengadopsi sistem pemerintahan pada kerajaan Majapahit, dimana Raja sebagai Gusti atau Kepala Negara, dengan perangkat wakilnya Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan. Soepomo menolak konsep Individualisme Barat, sesuai rujukan dari filsuf Inggris Jeremy Bentham dimana menurut Soepomo konsep individualis ala Barat bertentangan dengan struktur masyarakat desa. Yang merupakan   cermin struktur masyarakat yang lebih luas dalam negara yang dibentuk paling ideal dan orisinil adalah dari sistem penyatuan antara kawulo (rakyat) dengan pemimpin (gusti). Masyarakat Desa Adat merupakan referensi paling sempurna dan orisinil bagi Soepomo dalam sistem pemerintahan kita dari sudut sistem ketatanegaraan, dimana dalam negara integralistis ala pemerintahan desa tidak ada pertentangan dan selalu ada harmonisasi kepentingan yang diambil secara musyawarah mufakat seperti layaknya dalam Lembaga Rembuk Desa dalam pemerintahan desa, karena negara dikelola secara kekeluargaan layaknya sebuah keluarga harmonis.

    Negara Integralistik  dalam perspektif  Soepomo berakar dari struktur sosial masyarakat desa, dimana setiap orang dan golongan memiliki tempat dan kewajiban sendiri-sendiri sesuai kodratnya. Itulah sebenarnya sistem pemerintahan dalam perspektif ke-Indonesiaan yang mempunyai ciri khas tersendiri lain dari pada Demokrasi dari negara-negara di belahan dunia lainnya, yang berkonsep Liberal dan Sosialis.

    Pendapat Soepomo diketengahkan sebagai jalan tengah bagi konsep negara yang akan dibentuk, dimana Soekarno sendiri mencita-citakan sebuah negara yang berbentuk Republik dengan sistem Presidensil, dengan sistem dua partai meniru  pada Amerika Serikat yang saat itu sebagai negara pemenang Perang Dunia ke-II dan Bung karno menginginkan dua partai politik yang mempunyai basis nasionalis dan agama.

    Untuk itu Soepomo mengetengahkan dengan konsep ke- Indonesiaan asli dari budaya Nusantara, dalam berdemokrasi, melalui keputusan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam sistem perwakilan seperti halnya Rembuk Desa dalam konsep pemerintahan desa dalam lingkup Negara Kesatuan (Nasional) sebagai jalan tengah.

    Dalam perjalanan sejarah karena pengaruh Perang Dingin dimana Soekarno membentuk Non Blok justru terjebak pada politik poros Jakarta, Pyongyang, Bejing Moskow, hingga menciptakan paham partai yang dikenal dengan NASAKOM (partai yang berbasis Nasionalis, Agama dan Komunis) yang pada saat Pemerintahan Orde Baru, sistem Three Partai ini kembali diadopsi dengan menempatkan Sekber Golkar sebagai Golongan Berkarya bersama dua partai yang berbasis Agama dan Nasionalis yakni Partai Demokrasi Indonesia dan PPP.

    Pada era kini dalam era Reformasi, ide terbentuknya negara Integralistik dari Soepomo yang di ilhami dari pemerintahan desa jaman kerajan  di Jawa dan Nusantara terus merujuk dari tulisan Mpu Tantular dalam Kakawin Nagara Kertagama yang menggambarkan situasi dan sistem kekuasaan saat itu, hingga mengilhami  terbentuk  Dasar Negara yakni  Pancasila saat Indonesia Merdeka, telah   dirombak total, melalui Amandemen hingga ke-empat kali.

    Menengok kilas balik pada masa Orde Baru memang tidak selalu sempurna, wajar ada kekurangan, seperti  dalam doktrinisasi politik contohnya, dimana institusi TNI saat itu menjadi Dwi Fungsi ABRI, yang bukan lagi hanya  sebagai alat pertahanan dan keamanan tapi juga sekaligus alat politik, ini yang harus diperbaiki, bukan justru dirombak total hingga menghilangkan soko guru dari tiang penyangga negara  yang diibaratkan seperti mengejar tikus dalam lumbung padi bukan tikusnya yang di bunuh tapi justru lumbungnya yang dibakar, itu yang terjadi pada tahun 2022 menjelang Amandemen pertama.

    Bahwa sebagai penjelmaan suara bagi seluruh rakyat yang namanya MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) yang dulu merupakan contoh manifestasi dari Lembaga  Rembuk Desa Adat, yang memberikan keputusan yang diambil secara musyawarah mufakat, terdiri dari wakil tetua adat, tetua agama, wakil pemuda, wakil kepala dusun dan  perangkat pemerintahan desa, disebut Rembuk Desa. Demikian juga MPR yang susunan anggotanya terdiri dari seluruh anggota DPR RI, wakil golongan yaitu golongan yang terdiri  dari perwakilan agama seluruh tanah air, ada NU, Muhammadiyah, Dewan Wali Gereja, Dewan Hindu dan Dewan Tertinggi Budha, KNPI, HMI dan wakil dari Organisasi Kemasyarakatan, termasuk  organisasi pemuda dan Wakil Daerah yang mewakili daerah masing-masing yang saat ini adalah anggota DPD terpilih, lalu  ada gubernur selaku wakil administratif dari pusat, bupati, walikota, seperti halnya pada saat Orde Baru berkuasa,  yang merupakan penjelmaan dari suara  seluruh rakyat yang dilaksanakan  melalui sebuah lembaga  perwakilan.

    Bahwa pada masa lalu  MPR diberikan mandat dan wewenang menyusun GBHN (Garis Besar Haluan Negara) dengan tujuan agar  apa yang mau dituju bangsa ini, apa yang mau dibangun bangsa ini jelas arah dan tujuanya, baik dalam jangka panjang,  jangka  menengah  dan jangka  pendek, yang lalu pemerintah membuat Repelita, dalam pelaksanaan GBHN tersebut  dalam rencana pembangunan, itulah wujud dari sistem negara Integralistik ala Soepomo dalam  sistem pemerintahan desa dalam lingkup skala negara dari Soepomo.

    Sedangkan sekarang, kewenangan MPR sudah direduksi dimana kewenangan untuk memilih, presiden dan wakil presiden sudah tidak lagi berlaku, menetapkan GBHN juga sudah dicabut, dengan demikian, tidak ada lagi GBHN dan  pemerintah tidak lagi ada Repelita yang berakibat bangsa ini kehilangan arah (Kompas) petunjuk arah tidak ada lagi, dimana masing-masing pemerintah dan daerah dalam Otonomi Daerah bisa menerjemahkan sesuai dengan perspektif masing-masing , belum lagi sistem pemilihan langsung, dimana masa lalu sebelum reformasi, MPR adalah lembaga tertinggi yang merupakan mandataris presiden dan wakil presiden, yang dirubah menjadi suara rakyat langsung menjadi presiden mandataris rakyat, karena  melalui pemilu langsung , yang kita sama-sama bis akita lihat dan rasakan, dimana seolah kita sudah kehilangan ruh-nya sebagai sebuah bangsa, sudah bermetafora pada bangsa pada sistem liberal, yang dulu tidak pernah dibayangkan sekalipun oleh para Pendiri Bangsa dan itu  telah terjadi saat ini.

    Bahwa perlu diingatkan disini antara Dasar Negara yakni Pancasila sebagai sumber dari segala Sumber hukum dengan Konstitusi negara sebagai hukum dasar negara merupakan satu kesatuan tunggal, yang tidak bisa dipisahkan, dimana  Dasar Negara telah mengatur suatu sistem Kerakyatan dengan cara perwakilan yang merupakan manifestasi dari suara rakyat melalui wakil-wakilnya yang diatur melalui sebuah lembaga tertinggi di negara ini yang bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), hal ini tertuang dalam sila ke-empat (4) dari Pancasila yang berbunyi “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” dari bunyi sila ke-empat dari Pancasila di atas  hal ini sinkron  dengan pasal 1 ayat (2) dari UUD 1945 yang lama ( yang masih murni sesuai dekrit presiden 5 juli 1959 yang berbunyi “Kedaulatan adalah Ditangan Rakyat dan Dilakukan Sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”  yang memang sejak awal didesain sebagai hubungan integral yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.

    Sedangkan setelah dilakukan Amandemen, pasal 1 ayat 2 menjadi: “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar”. Ini menjadi bias, sedangkan tata  bahasa yang digunakan dalam Konstitusi harus jelas, singkat padat dan berisi dan itu berlaku pada Konstitusi di seluruh dunia. Jangan sampai terjadi multi tafsir yang berakibat semua warga negara bisa menafsirkan sesuai perspektif sudut pandang masing-masing yang berakibat terjadi ketidak pastian dalam hukum.

    Dengan dirombak dan dirubahnya format dari UUD 1945 sebanyak empat kali, maka antara sila ke-4 dari Pancasila bertabrakan (bertentangan) dengan UUD 1945 hasil Amandemen, dalam sebuah rumah tangga saja jikalau hubungan antara suami istri tidak sinkron dan tidak sejalan akan menimbulkan masalah dalam kehidupan keluarga, demikian juga menyangkut sebuah negara tentu akan mengalami benturan dan ketidakstabilan dengan sistem Ketata Negaraan  dikarenakan antara Dasar Negara dengan hukum dasarnya sudah tidak lagi seirama, dengan demikian harus kita akui bahwa para founding father kita ( Bapak Pendiri Bangsa) kita lebih matang dan cerdas serta mempunyai pemikiran yang  progresif yang menjangkau ratusan tahun ke-depan melampau pola pikir di jamannya, dalam menyusun suatu sistem sebuah negara dalam hukum ketatanegaraannya.

    Untuk itu mari kita bersama-sama  bergandeng tangan untuk mengembalikan kewenangan dari MPR sebagai lembaga yang mewakili kepentingan rakyat sebagai pelaksana kedaulatan rakyat dalam sistem ketatanegaraan kita karena secara historis itulah konsep yang terbaik bagi bangsa ini yang telah terbukti secara nyata pada masa lalu hingga melahirkan stabilitas politik dan keamanan serta pertumbuhan ekonomi sebagai Macan Asia yang belum pernah di raih selama era reformasi, dalan kaitan manifestasi  bahwa suara rakyat adalah mandat tertinggi seperti halnya suara Tuhan.

    ———————-

     

     

    Penulis adalah Praktisi Hukum, Pemerhati Masalah Sosial Politik, Budaya Bangsanya, Tinggal di Jakarta

     

     

  • Sepuluh Perempuan dan Pelita

    Sepuluh Perempuan dan Pelita

     

    Mario  F.  Lawi

     

     

    Engkau senantiasa fasih
    Mengajarkan mereka berdoa
    Meskipun tetap saja kaupisahkan
    Terang dan gelap
    Kaki dian dan dari bawah gantang
    Belulang dari kubur yang dilabur putih
    Kiri dan kanan

    Kami mencarimu, Mempelai!

    Mereka bersisian menjaga jalan ke kota
    Meskipun akhirnya bersusah
    Menyusup melalui lubang jarum

    Telah kami jahit
    Telapak kami yang sakit
    Dan kami bentangkan bagi jalan
    Keledaimu di tengah pekik Hosana

    Mereka menjaga nyalamu dalam lelap dan jaga
    Sambil menyendengkan telinga
    Entah sangkakala atau derap langkah
    Yang pertama kali terdengar
    Ketika iring-iringan mendekat

    Hati kami adalah minyak dari minyakmu
    Sumbu dari sumbumu

    Dan antara yang paling redup
    Yang paling sayup
    Angin dingin mulai bertiup

     

    **************

     

    Mario F. Lawi dilahirkan di Kupang, 18 Februari 1991. Giat di Komunitas Sastra Dususn Flobamora

  • Peperangan di Padang Kurusetra dalam Epos “Mahabarata” dan Relevansinya dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

    Peperangan di Padang Kurusetra dalam Epos “Mahabarata” dan Relevansinya dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

     

    Oleh  Agus Widjajanto

     

     

     

    Dalam kisah Epos Perang Bharata Yuda antara Astina dan Kurawa, dimana Astina dengan Pandawa Limanya, melakukan peperangan terakhir di Padang Kurusetra, yang dalam kisah Epos Mahabaratha digambarkan sebagai sebuah padang yang sangat luas, sebagai penentu jalannya peperangan, antara Astina yang digambarkan sebagai pihak yang menjunjung kebenaran dengan Kurawa yang digambarkan sebagai  pihak yang berlaku kejahatan dan keangkara murkaan. Epos ini ditulis sedemikian hebatnya yang merupakan penuntunan bagi umat manusia disegala jaman dan waktu, bahwa selalu akan terjadi pertarungan antara yang baik dengan yang batil dan jahat, disetiap dimensi kehidupan. Bahwa peperangan paling dahsyat selalu terjadi pada diri kita, pada rohani kita yang terkurung pada jasad badan kasar yang bersifat kedagingan, terjadi tarik menarik antara amarah hawa nafsu dengan energi ruh kebaikan antara warna hijau dan biru dengan warna merah, antara hitam dengan putih, antara kesadaran dengan ketidak sadaran, antara ambisi dengan berjalan sesuai arah angin dan mengalirnya aliran sungai, sesuai hukum alam dalam sebuah kodrat dan akan selalu begitu disetiap jaman.

    Dalam sesi puncak peperangan di Padang Kurusetra, sang Maha Raja Krisna bersenjata Trisula Weda, menjadi kusir kereta kencana yang dinaiki Arjuna, sebagai lambang bahwa sang Maha Raja sebagai pengendali, sebagai pemimpin, sebagai Panetep Panoto Agomo (Sultan sang Raja dari pimpinan  agama diselutuh negeri) menghantarkan para kesatria negara untuk membela kebenaran dan hak melawan ketidak adilan yang bersifat batil pada semua lini kehidupan dan pada setiap jaman dan masa dimana manusia masih ada di muka bumi.

    Di dalam Kitab Bhagavad Gita ditulis Krisna dan Arjuna berbincang tentang hakekat realitas dan cara mengakses keselamatan dan kesatuan dengan Ilahi (Tuhan Yang Esa) atau Brahma dalam agama Hindu. Dalam percakapan tersebut sang Maha Raja Krisna menjelaskan kepada Arjuna bahwa keselamatan dapat diperoleh melalui pengetahuan rohani  dan tindakan nyata dalam kehidupan atau Amaliah dalam Islam. Bahwa dogma syariat adalah petunjuk, seremonial ibadah adalah tata cara bagaimana dalam mencapai yoga (ketenangan) dan Mu’ Amalah atau laku kita dalam hidup didalam keluarga dan  masyarakat, adalah puncak dari ibadah yang merupakan realitas dalam kehidupan mengapa kita dilahirkan di dunia dan untuk apa setelah lahir dan hidup di dunia, setelah itu kita kemana dan  bagaimana jalannya,  itu adalah sebuah proses perjalanan spiritualisme dalam mencapai dharma dalam hidup. Ukuran dari pada semua itu adalah bagaimana diri kita bisa memperlakukan sesama dan alam semesta ini secara manusiawi, dengan cinta kasih dan sayang yang telah terpatri pada diri kita dan setiap orang-orang yang beriman. Itu sesungguhnya dialog di padang Kurusetra antara Krisna dan Arjuna yang membabat ilmu hakekat untuk mencapai jalan tertinggi dalam kerohanian.

    Petunjuk dalam Bhagavad Gita dirancang untuk membangkitkan kesadaran murni pada diri manusia, oleh sebab itu pada bagian akhir dari dialognya Krisna bertanya pada Arjuna apakah sekarang Arjuna telah dalam kesadaran murni? Kesadaran murni yang dimaksud disini adalah berada dalam kondisi keadaan bermeditasi untuk mencapai ketenangan jiwa, mengendalikan pikiran dan tubuh. Yang dalam tasawuf Jawa disebut suwung atau kosong mengalami kekosongan, tiada diri lagi yang ada adalah Brahma yang bersemayam ditubuh adalah bukan dia, yang menggerakkan adalah bukan dia, tapi seluruh gerakan alam ini digerakan oleh Yang Kuasa.

    Untuk itu Kresna menegaskan bahwa Dharma atau pengabdian dalam  kebenaran  (Tan Hana Dharma Mangrwa) harus menjadi prinsip penuntun dalam membuat keputusan, menyangkut masalah Arjuna yang bertekad tidak mau menyakiti orang-orang yang dicintainya, Krisna sebagai Maha Raja, berujar dan mengingatkan bahwa sebagai prajurit adalah sudah menjadi  kewajibanya  untuk memastikan dan menjunjung keadilan dan melindungi sesama yang teraniaya oleh rasa keadilan itu sendiri agar kebaikan selalu bersemayam pada setiap insan dan harus dijaga.

    Bahwa dalam Bhagavad Gita atau disebut sebagai Weda Kelima yang berarti nyanyian suci merupakan sebuah kitab yang memiliki kedudukan penting dalam tradisi Hindu. Dimana ajaran universal dalam kitab Bhagavad Gita diperuntukan untuk seluruh umat manusia sepanjang masa. Bukan saja pada umat tertentu akan tetapi untuk semua manusia, yang ditulis dalam epos Mahabharata.

    Pelajaran yang kita dapatkan dari ini semua adalah, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana pada jaman Reformasi ini, ketidakadilan, keangkara murkaan, menuhankan agama, menuhankan harta benda kekayaan dan tahta telah bersifat masif dan terstruktur, dimana korupsi merajalela sudah menjadi budaya, penegakan hukum yang rusak dimana hukum dijadikan lahan bisnis oleh para penegak hukum, yang kerap terjadi hukum dibelokan, argumen hukum dipelintir seolah kejahatan ketidak benaran di justifikasi menjadi kebenaran dalam hukum, yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Itu sebenarnya pesan dari pada tafsir Bhagavad Gita, dalam peperangan dipadang Kurusetra dalam epos Mahabharata. Dan peperangan tersebut akan selalu ada, akan selalu terjadi antara keadilan melawan kejahatan, disepanjang jaman dan masa sepanjang manusia masih ada dan hidup di muka bumi.

    Bahwa hidup dan kehidupan baik secara pribadi maupun dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara, tidak selalu hitam dan putih adakalanya abu-abu, ada biru, ada kuning, ada hijau ada merah itulah realitas. Dalam memaknai pesan Maha Raja Krisna dengan senjata Tjakra Wedanya, kepada Arjuna di Padang Kurusetra saat Perang Maha Bharata, kita harus merefleksikannya  dalam kehidupan masa kini, bahwa kita harus berjiwa kesatria seperti halnya Arjuna sebagai salah satu kesatria dari Pandawa Lima dan Pandawa Lima harus dimaknai sebagai Pancasila, dengan sila-silanya yang berjumlah lima, sebagai Dasar Negara, Pandangan Hidup dan Filosofi dalam berbangsa dan bernegara  bagi seluruh masyarakat Indonesia.

    Bahwa kita pada diri kita harus bisa melawan hawa angkara pada diri kita, bahwa kita harus bisa menghilangkan ego pribadi, untuk kepentingan yang lebih besar yakni masyarakat luas dan bangsa serta negara. Apabila sudah timbul kesadaran adanya panggilan jiwa sebagai Arjuna-Arjuna seperti dalam peperangan Maha Bharata dalam eposnya, maka tindakan mau menang sendiri, mengkafirkan saudara sebangsa yang berlainan keyakinan tidak akan ada, demikian juga ketidakadilan dalam penegakan hukum, tidak akan terjadi, ketidakadilan dalam ekonomi tidak terjadi karena timbul kesadaran bahwa kita harus berbagi kepada sesama,  ketidakkeadilan dalam politik juga tidak akan terjadi karena memahami tujuan politik adalah mencapai  sebuah keadilan dan kesejahteraan  dalam negara bukan mencapai kekuasaan dalam arti sempit untuk diri sendiri dan kelompoknya. Karena adanya pemahaman bahwa diri kita sesungguhnya adalah Arjuna-Arjuna yang diutus oleh Yang Maha Kuasa sebagai pemimpin di muka bumi selaku hamba Tuhan, untuk menegakan keadilan memberantas keangkara murkaan, memberikan payung keadilan disaat hujan atau panas terhadap masyarakat  dan menyebarkan cinta kasih terhadap sesama, yang akan bermuara kepada keadilan bagi masyarakat luas dan bangsa serta negara dan hal itu  harus dimulai dari diri kita sendiri  masing masing.

    Adanya korupsi sebagai budaya yang telah berurat berakar di negeri ini, dikarenakan kurangnya kesadaran dan pemahaman atas tugas kita di muka bumi sebagai hamba sekaligus sebagai kesatria, pembela keadilan sebagaimana dengan Arjuna dalam epos Mahabharata  dalam perang di Padang Kurusetra.

    Dalam kaitan penegakan hukum yang saat ini dipandang paling buruk dalam sejarah sejak berdirinya negara ini, harus dilakukan terobosan berani untuk memperbaikinya. Apakah tetap mempertahankan sistem yang ada saat ini, atau mengganti sistem baru demi tegaknya keadilan dalam penegakan hukum dari para aparat hukum yang adil dan bersih, yang bertanggungjawab bukan saja pada atasan pada negara, akan tetapi juga terhadap Tuhan Yang Maha  Esa .

    Bahwa peperangan antara yang hak dan batil, antara yang benar dan salah, antara yang jahat dan benar akan selalu ada dan terjadi pada setiap masa dan jaman, karena sifat kedagingan dari diri kita yang telah membungkus ruh kita yang suci yang terdiri dari elemen bumi, air, kayu, api, ke-empat unsur tersebut saling berebut untuk mengalahkan dan mengklaim sebagai pemenang, cahaya ruh kesucian tersebut akan tertutup oleh angkara, oleh hawa amarah dan nafsu pada diri kita sendiri. Dan kita harus bisa memerangi diri didalam kita sendiri, sebagai bagian dari warga negara, bagian dari mayarakat dan bagian dari Alam Semesta. Itu lah pemaknanan dari dialog Sang Kresna dan Arjuna dipadang Kurusetra dalam perang Maha Bharata.

     

    ——————

     

    Penulis adalah Praktisi Hukum, Penulis, Pemerhati Masalah Sosial Budaya, Politik, Hukum dan Sejarah Bangsa

     

  • L a u t

    L a u t

    Goenawan Mohamad

     

     

    Nenek moyangku seorang pelaut

    gemar mengarung luas samudra

     

    TAPI laut adalah bagian yang bisu dalam narasi tradisional sebagian penghuni Indonesia. Lakon wayang tak dimulai dan diakhiri dengan laut, melainkan dengan gunungan: kerucut dua dimensi yang berisi relief pohon dan hewan hutan. Jika yang hendak dilambangkan di sana adalah semesta yang sakral dan berwibawa, laut tak masuk hitungan.

     

    Memang, sebuah negara yang ideal dalam imajinasi wayang kulit, sebagaimana diuraikan dengan fasih dalam janturan sang dalang, mempunyai laut. Tapi laut adalah elemen yang marginal. Negara ideal, kata Ki Dalang, adalah negara yang “membelakangi pegunungan, di sebelah kiri diapit sawah yang luas membentang, di sebelah kanan benua, dengan pelabuhan yang besar”—ngungkurake pagunungan, ngeringake pasabinan, nengenaken banawi, ngayunaken bandaran gedhe. Tampak dalam uraian itu laut cuma tersirat dalam kata terakhir, bandaran gedhe.

     

    Mungkin karena asalnya adalah epos yang tumbuh di wilayah pedalaman India purba, tokoh wayang tak pernah digambarkan sebagai orang gagah perwira yang (seperti nenek moyang anak Indonesia) “gemar mengarung luas samudra”. Setahu saya, hanya Bhima, pangeran kedua Pandawa, yang pernah diceritakan bersentuhan dengan laut. Ketika itu ia, dalam lakon “Dewa Ruci”, ingin berguru kepada dewa kecil berambut panjang yang diam di sebuah samudra. Tapi hanya sekali itu. Bahkan dalam cerita yang tak berasal dari Mahabharata itu, dalam Serat Dewa Ruci, tak ada deskripsi tentang ombak dan taufan. Yarg ada hanya Naga,  makhluk mithologis, lambang hambatan dan mara bahaya.

     

    Memang ada dewa laut, Waruna, yang dalam Bomantaka, terkenal terkenal dari abad ke-12, disebut “sang hyang riak“. Tapi Waruna hanya dewa figuran, ia hanya nyaris tak pernah tampil di layar dan cuma sesekali disebut dalam kakawin, bentuk puisi      Jawa Kuno. “Tak seperti sastra klasik Melayu yang sudah lebih banyak ditelaah, para pengarang kakawin tak begitu tertarik kepada thema laut luas,” demikian kesimpulan Jiri Jakl, peneliti dari Institut Antropologi Universitas Heidelberg, dalam telaahnya yang dimuat jurnal Archipel 100, 2020.

     

    Para penyair istana adalah kelas priayi darat yang bukan penjelajah. Ruang mereka tak jauh dari balairung. Mereka tentu pernah meninjau dunia luar, tapi tanpa menyeberangi laut. Hanya di pantai. Seperti ditulis Jakl, sering ditemukan deskripsi tentang pantai, bahkan dengan metafora yang memukau.

     

    Dalam Bhomantaka, misalnya, ada larik-larik yang dikutip Jakl: sawang kanya Iwir ningpasisiri halilintangnrepasuta (pantai pun tampak bagaikan perawan yang menyambut pangeran lewat) layar ning banyaganusu-nusu katon manda tanawas (layar kapal saudagar bak buah dadanya, samar-samar, antara kelihatan dan tiada)

     

    Paduan yang erotik dan yang puitik seindah itu tak kita dapatkan lagi dalam sastra Jawa setelah Islam, termasuk dalam karya-karya Ronggowarsito. Tapi juga dalam sastra Jawa Kuno, seperti dalam sastra Jawa abad ke-19, terasa ada jarak antara penyair dan dunia di luar habitatnya. Bukan hanya jarak geografis.

     

    Para penyair Istana itu ketika ke pantai kagum menyaksikan buat pertama kalinya keterampilan para nelayan menangkap ikan, seperti yang tertulis dalam Ghatotkacasraya karya Mpu Panuluh di abad ke-12. Sebuah kakawin lain tampak asyik menyaksikan hari pasar di pantai, ketika kapal datang dan orang berdagang-juga perempuan yang menjajakan kecantikannya, mawade hayunya.

     

    Dengan kata lain, pesisir adalah dunia yang dilihat, dengan rasa ingin tahu dan terkesima, dari suatu jarak-dari luar. Dalam telaahnya, Jak mengutip ucapan Mpu Monaguna, penyair awal abad ke-13, dalam Sumanasantaka, Sang Mpu menyatakan yang tak disukainya ketika berkunjung ke desa pesisir. “Di sana, orang kebanyakan tak menghormati perbedaan derajat”, tan wruh ingpurushabeda.

     

    Sang empu-ia terbiasa dengan hierarki sosial di istana kaget berhadapan dengan sesuatu yang lain: kehidupan di dunia nelayan dan saudagar yang lebih egaliter. Sang Mpu mengeluh, “Hanya ombak yang berbaris menjulang yang tampak menyambut dengan takzim para penyair yang terlena.”

     

    Yang tak dilihat Mpu Monaguna: ombak juga sesuatu yang mengguncang dan menantang. Sang penyair Sumanasantaka – terlalu terbiasa hidup terlindung oleh tata dan ketertiban—tanpa sadar bahwa “ketertiban” adalah represi yang mencoba menyembunyikan ketimpangan dan konflik sosial. Telaah Jakl menemukan, dalam masa Kediri akhir, antara tahun 1100 dan 1222, ketegangan meningkat. Di satu pihak ada kekuasaan : dan wibawa kultural yang dirawat di kalangan aristokrat yang  hidup di lokasi dengan basis pertanian. Di lain pihak tumbuh  kelas saudagar di pesisir. Mereka kian kuat melalui lalu lintas perdagangan barang mewah antarnegeri. Mereka makin tak sesuai dengan tata, apalagi dalam sejarah Jawa raja-raja dan para bangsawan di pusat kekuasaan jarang bisa sepenuhnya mengendalikan gerak-gerik orang pesisir. Dalam persaingan itu, dari puri mereka para aristocrat mengembangkan “ideologi”, yangmemandang orang-orang pesisir cela. Mpu Monaguna membawa persepsi itu.

     

    Agaknya sikapnya punya dasar yang dalam; pesisir adalah sebuah anathema. Sampai abad ke-20 lanjut, bahasa orang pesisir-di Tegal, Banyumas, dan lain-lain—tak dianggaplayak diapakai sebagai bahasa Jawa yang “baik dan benar”. Petunjuk pewayangan yang diterbitkan di Surakarta menganggap cara orang pesisir menata wayang keliru, atau “buruk”. Dalam teks ajaran yang disusun para literati keraton, ada anjuran agar anak muda menjauhi contoh wong ati sodagar, sebuah pandangan yang meletakkan kelas saudagar di luar, sebagaimana orang di pesisir.

     

    Tentu saja pandangan itu tak bisa selamanya berwibawa. Dunia modern menggoda, mencemaskan, tapi tak bisa diabaikan. Menarik bahwa dunia modern di awal abad ke-20 oleh Takdir Alisjahbana dikiaskan sebagai “laut”: generasi muda meninggalkan dunia tradisi yang tertata tapi statis ibarat “tasik yang tenang tiada beriak”, Mereka bergerak “menuju ke laut”, ke dunia yang lepas, kreatif, dengan segala risikonya.

    Dan pesisir pun tak lagi sunyi. Gunungan bukan satu-satunya awal, laut ternyata tak bisu.

    —————–

     

    Sumber Tulisan “Catatan Pinggir” Majalah Tempo 3-9 Juni 2024

     

  • Perempuan Seniman Sumba Itu, Kini Menari di Surga – RIP Mama Martha Dada Gabi

    Perempuan Seniman Sumba Itu, Kini Menari di Surga – RIP Mama Martha Dada Gabi

     

    Oleh Martha  Hebi

     

     

    “Jadi kalau saya mati nanti, harus ada yang menari buat saya seperti saya yang ingin menari sampai saya tidak kuat lagi,” ujar Mama Martha.

    Ini adalah kutipan saat saya mewawancarai Mama Martha Dada Gabi tahun 2018-2019. Dia salah satu perempuan Sumba yang saya tuliskan profilnya di buku Perempuan (Tidak) Biasa di Sumba Era 1965 – 1998. Dia seorang guru yang mendedikasikan hidupnya sebagai penari. Mama Martha mendokumentasikan sejumlah tarian Kodi yang dipelajarinya melalui riset yang dilakukan bersama Bapak Gregorius Gh. Kaka, suaminya.

    Sebagai guru, dia menjadikan hukuman di sekolah bernuansa seni. Jika lambat, anak-anak dihukum menari bersamanya. Begitu juga jika ada kesalahan lainnya, hukumannya menari.

    Saya mewawancarainya tahun 2018 dan 2019 di Weetabula, di rumah anak bungsunya Okta Kaka. Kemudian di Bali di rumah anak keduanya, Heribertus Ra Mone dan di kediamannya di Desa Hombakaripit, Kodi, Sumba Barat Daya.

    Dia mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai penari. Saat wawancara, tiba-tiba Mama Martha memeragakan tarian yang sedang diceritakan. Sebagai pengganti irama gong dan tambur, dia menggunakan irama mulut menyerupai bunyi gong dan tambur.

    Tahun 2020, kembali saya mendampingi Mama Martha dalam acara temu perempuan seniman se-Indonesia yang diselenggarakan oleh PERETAS. Waktu itu, karena pandemi COVID-19, pertemuan dilakukan secara online. Meskipun online, tidak mengurangi antusiasme Mama Martha. Dia bangkit berdiri dan langsung menari di depan kamera zoom. Beberapa kali Okta Kaka, si bungsu ikut mendampingi Mama Martha.

    Kami berusaha mencari tempat yang sinyalnya bagus. Pertama kali zoom di Konventu Weetabula, Biara Redemptoris. Kami mendapat ijin dari Pater Kimy. Waktu itu Desa Hombakaripit sedang mati listrik. Mama Martha menjadi narasumber pertemuan ini. Dia langsung menari di depan laptop. Para pastor yang lewat dekat kami dan tidak tahu bahwa kami sedang zoom, terheran-heran melihat Mama Martha menari seorang diri sambil mengucapkan dollu dollu dollu dollu… pengganti irama gong dan tambur.

    Waktu lain kami pindah ke Rumah Budaya, tentu memberi tahu Pater Robert. Kami menyingkirkan beberapa kursi di restoran untuk memberi ruang yang luas. Saya sudah terbiasa dengan gaya Mama Martha. Nanti mendadak saat sedang bicara sebagai narasumber, Mama Martha langsung bangun menari.

    Yang cukup seru itu di rumah anak bungsu dan di Hombakaripit. Perdebatan antara Okta dan Mama Martha. Ini soal irama gong dan hentakan kaki. Saya dan Ida Dena, istri Okta, hanya tersenyum melihat anak mama ini diskusi panjang.

    Pernah sekali waktu, Mama Martha lupa jam zoom. Kami keliling Weetabula mencarinya. Ternyata dia sedang mengunjungi saudaranya. Jadilah kami zoom dari rumah saudara Mama Martha. Dalam program ini, Mama Martha melatih Chiki, seorang penari muda dari Makassar. Ada dua tarian kodi yang diajarkan oleh Mama Martha. Kelak di akhir program mereka berdua menari bersama.

    Terima kasih Mama Martha atas dedikasimu di dunia seni dan pendidikan. Menarilah bersama para malaikat di surga.

    Turut Berduka Cita buat Patricia KakaWilly Pala-Raymundo Lakedakodi Okta KakaFelisitasidadena Maria Bora Rio Kaka-Reni Kaka.

     

     

     

  • “Sekuntum Mawar di Makam Ina Essy” – Sebuah Cerpen Yoseph Yapi Taum

    “Sekuntum Mawar di Makam Ina Essy” – Sebuah Cerpen Yoseph Yapi Taum

     

    Kuletakkan sekuntum mawar di atas makam Ina Essy, istriku, dan aku mulai berpikir tentang pensiun. Kubiarkan gerimis membasahi rambut, wajah, dan tubuhku. Dengan begitu, penjaga makam tidak melihat tetes-tetes air dari mataku.  Hari ini genap satu bulan Ina  Essy dimakamkan. Makam itu terletak di tengah perkampungan, di atas sebidang tanah yang letaknya lebih tinggi dari rumah-rumah penduduk. Pohon-pohon jati memberi bingkai lanskap pemakaman yang teduh, jauh dari kesibukan kota Yogyakarta. Kepergian Ina Essy yang begitu mendadak akibat pandemi covid-19 membawa luka dan duka yang mendalam bagiku dan bagi keempat anakku. Terutama si bungsu yang tak sempat memamerkan empat pasang seragam SMA-nya yang baru dijahitkan sang ibu.

    Suasana makam seperti ini adalah saat yang tepat bagiku untuk memikirkan kehidupan, kematian, dan pensiun. Rasanya ingin sekali aku mengajak Ina Essy sekali lagi menemui para kerabatku di Ataili, berjalan di gang-gang kampung, menyatu dengan anak-anak yang berlarian dalam belukar di ladang-ladang petani jagung. Terbayang pada liburan lima tahun yang lalu Ina Essy begitu menyukai cahaya keemasan dari matahari Lembata menjelang petang. Ketika lonceng gereja berdetang enam kali, Ina Essy larut dalam doa Angelus bersama orang-orang kampung. Dari desa perbukitan itu, terlihat di bawah sana hamparan Laut Sawu dengan buih-buih ombak yang selalu gelisah memecah karang. Di selatan Lembata, ombak laut lebih besar dan tinggi menggulung ke tepian dengan suara  menderu. Pada musim-musim tertentu, Laut Sawu dikunjungi puluhan bahkan ratusan ikan paus. Kini aku mengerti, mengapa Ina Essy begitu jatuh cinta pada Lembata: sayatan emas di kaki langit Labalekan telah mengurung mimpinya dalam cakrawala merah jambu.

    “Aku sengaja datang dari jauh untuk menutup pintu penantianmu, Lembata,” ujarnya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Lembata yang terletak di ujung timur Pulau Flores ini. Ina Essy tak habis-habisnya mengagumi keindahan pantai Lewolein, Waijarang, Mingar, dan Tanjung Nuhanera. Lembata memang memanjakan matanya dengan pemandangan laut yang hijau dan biru, pasir putih, matahari keemasan di saat terbit dan tenggelam. Kami suka berjalan bergandengan tangan di antara pasir dan pantai. Ombak kecil terus saja menyapu setiap jejak yang terlukis di atas pasir.

    Aku mencabut rumput liar di antara bunga taman di atas makam Ina Essy. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh: Ina Essy berdiri di tepian sunyi, aku hanya bisa memanggilnya dengan bisik sayang. Kudengar suaranya setipis selendang yang suka dililitkan di lehernya. Ia melayang-layang bagai tarian kapas dan berakhir di palang hening pusaranya. Kukenang masa yang indah itu, waktu kami sama-sama kuliah di IKIP Sanata Dharma di Yogyakarta. Pertemuan pertama dengan Ina Essy begitu mempesona. Selanjutnya kami mengisi sudut dan langit Yogyakarta dengan aneka cerita kasmaran, hingga sampai pada pertemuan keseratus, usai kembali dari kota kelahirannya di Madiun. Saat itu musim penghujan. Alam hijau segar di Kaliurang. Serombongan kupu-kupu kuning menari-nari menembus awan. Sayap-sayap kecil yang mengepak menghiasi langit berkabut. Sepasang bola matanya yang bening membawaku bertamasya memasuki negeri berpenghuni anak-anak awan. Ketika malam mengenakan jubah sunyi, kami bercinta dengan magma menggelora. Maka lahirlah butir-butir embun yang dibuahi bintang kejora yang paling pagi. Saat itulah kuntum-kuntum hijau mulai bermunculan. Aku memilihnya menjadi ibu anak-anakku. Kelak ia melahirkan, mencintai, dan mengajari mereka sembahyang serta melangkah dengan kepala tegak.

    Gerimis telah menepi. Kunyalakan lilin mengantarkan doa di atas makam Ina Essy. Langit tua kelabu. Tiba-tiba perhatianku dirampas oleh sesuatu yang ganjil. Sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda melintas di jalan masuk ke pemakaman. Lonceng kereta kuda itu dibunyikan. Dentangnya mengingatkanku pada masa awal rumah tanggaku di kota Dili, yang kini menjadi ibu kota negara baru bernama Timor Leste. Kukenang Dili, Universitas Timor Timur, Gereja Sagrado Coraçaŏ de Jesus, dan rumah kontrakan kami di Villa Verde ketika pertama kali aku bekerja sebagai pegawai. Kerap kami dicegat operasi para pemuda Fretelin pendukung kemerdekaan Timor Leste. Anak kami baru seorang waktu itu. Ina Essy adalah perempuan sederhana yang selalu membawa kegembiraan. Senyum dan tawa seakan melekat di bibirnya. Ina Essy sangat menyukai laut. Sabtu sore menjadi waktu terbaik bagi kami berenang di laut dan bermain pasir di pantai. Kereta kuda itu melintas menyeberangi jalan dan masuk ke dalam makam. Sebelum menghilang, masih sempat kulihat Ina Essy melompat ke dalamnya sambil melambaikan tangannya ke arahku.  Hatiku seperti disayat-sayat sembilu. Sepi dan sendiri. Kutahu hatinya dimakan rindu untuk memelukku dan pulang bersama ke rumah. Tapi kereta kuda itu menerbangkannya entah ke mana.

    Baru sebulan Ina Essy meninggal, ketika kepala kantor kepegawaian menelponku.

    “Pak Hendrik, uruslah segera akta kematian istrimu,” katanya.

    “Untuk apa, Pak Dirman?” aku bertanya.

    “Untuk menghapus tunjungan istri dari gaji bulananmu,” jawabnya sambil melanjutkan, “Segera pula Bapak mengurus KK dan KTP baru dengan status duda!”

    Dadaku terasa sesak. Aku tak bisa menyembunyikan rasa marah. Aku benar-benar tersinggung. Betapa rendahnya menjadi pegawai di negeri ini. Hanya demi uang tunjangan  yang tidak seberapa jumlahnya, nama istri dan anak harus dihapus dari lingkaran kehidupan seorang pegawai.

    “Silakan Bapak potong saja tunjangan istri saya. Jumlah uang tunjangan pegawai untuk istri dan anak di republik ini juga tidak seberapa. Potonglah. Akan tetapi nama Ina Essy tidak akan pernah saya keluarkan dari KK. Saya juga tidak akan mengubah status perkawinanku menjadi duda. Saya punya istri, hanya saja dia sudah meninggal!”

    “Bapak jangan berkelit dan banyak alasan. Saya paham maunya Bapak ‘kan tetap mendapatkan uang tunjangan istri. Tindakan Bapak bisa dikategorikan melawan hukum di negeri ini,” kata kepala bagian kepegawaian mengancam.

    “Maaf, Bapak jangan kurang ajar. Dengar! Saya tidak akan menghapus nama Ina Essy dari KK,” jawabku dengan lantang dan tegas sambil mematikan telepon. Republik ini sungguh sudah gila. Uang tunjangan lebih bernilai daripada cinta dan kebenaran.

    Aku menatap makam Ina Essy. Sekuntum mawar yang kuletakkan sejak sore tadi di pusaranya kini menebarkan aroma harum mewangi. Di sekitar mulai terbentang gulita. Kunang-kunang mencoba menerangi malam. Sudah sebulan dia tertidur di sini. Menyebut dan mengenang cinta Ina Essy adalah bagian dari kegembiraanku. Tak seorang pun boleh merebut kegembiraan itu dari hidupku. Karena cinta adalah sumber energi paling besar dan paling purba dalam kehidupan. Bahkan cinta jauh lebih purba dari nafas. Nafas manusia akan berhenti tetapi cinta tetap abadi. Nafasku tak akan berhenti hanya karena tidak lagi bekerja sebagai pegawai kantor di negeri ini. Cinta tetap hidup sekalipun jantung tak lagi berdetak. Kasih yang tertulis di dalam hati tak akan pudar, pun ketika tubuh sudah menjadi abu.

    Aku kembali ke rumah. Setelah menutup jendela dan menyalakan lampu-lampu, rumah dipenuhi jejak dan wajah Ina Essy. Di sebuah bingkai foto, terlihat aku dan Ina Essy berjalan bergandengan tangan sambil tertawa di pinggir pantai Lewolein. Pada bingkai foto lainnya, Ina Essy tersenyum menyambut kedatanganku di Bandara Adisucipto dengan penuh kegembiraan dan kasih sayang. Aku menanak hasrat dalam kesejukan cinta. Tangisku luruh. Tanpa keraguan sedikitpun, kutandatangani surat pengunduran diri sebagai pegawai.

     

    Yogyakarta, 7 Agustus 2022

     

     

    ————————————

    Tentang  Penulis

     

    Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember.  Saat ini menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4)  S-2 dari FIB Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2022).

     

     

  • “Isyarat Pulang” – “Kepada Maria”,  Sajak-sajak untuk Bunda Maria

    “Isyarat Pulang” – “Kepada Maria”, Sajak-sajak untuk Bunda Maria

    Oleh Wilhelmina Mariana Ema, Spd., (Emil Bidomaking)

     

     

    Isyarat Pulang

     

    Gadis keras kepala ini adalah bukti bahwa hatiku tetap ringkih di hadapanmu
    Aku hanyalah anomali yang sedang bertahan di tengah gempuran sejuta tuntutan hidup di zaman ini.

    Bunda yang penuh welas asih, aku sungguh paham, Yang Mulia Anakmu sedang berjuang keras untuk memelukku sedapat mungkin.

    Diberikan-Nya aku berbagai tanda dan isyarat agar segera pulang, tapi aku abai dan lalai penuh angkuh.
    Semakin jauh aku dari hiruk-pikuk mencari keheningan, semakin riuh isi kepalaku. Semakin malam dan hening bumi ini semakin berisik juga ruang di dalam hatiku.
    Ini adalah sia-sia paling sengaja yang kurancang
    Berharap aku bisa berjalan tanpa tuntutan
    Berpikir aku mampu melangkah tanpa diberi dian sebagai penerang
    Berani bertekad seolah hanya restu manusia yang dibutuhkan
    Jalan ini semakin jauh, semakin sunyi, semakin gelap dan kelam. Tapi kenapa riuh di hatiku semakin berisik beradu.

    Bunda,
    Jika nanti kita bertemu, maukah Engkau menggenggam tanganku yang dingin ini?
    Kemarin, tanganmu yang kugenggam, ternyata genggamanku mudah lepas. Kali ini, genggamlah dengan erat. Aku ingin pulang dan dipeluk dengan hangat olehmu.

     

    —————-

     

     

    Kepada Maria

     

    Maria yang kucintai,
    Sengaja kutulis surat ini dengan tinta air mata. Sengaja kulamatkan langsung kepadamu agar isi hatiku dapat terbaca tanpa harus kuutarakan.

    Maria,
    Terakhir kali, aku datang kepadamu dengan hati membuncah penuh cinta. Tapi kali ini, Engkau tahu bukan? Hatiku sedang patah dan sedikit berdarah.

    Beberapa mata menatap sinis kepadaku
    Beberapa bibir manusia berbisik dengan suara lantang penuh penghakiman
    Mereka bertindak bak hakim yang siap menjatuhkan vonis\

    Maria,
    Beberapa perempuan juga turut mencibir, tapi tidak semua. Masih ada beberapa yang merangkul memberi kekuatan kepadaku
    Saya memang bersalah, tapi apakah lantas saya pantas dihakimi oleh sesama manusia yang bahkan tidak mengetahui perjuanganku? Saya memang bersalah, tapi apakah saya layak dihukum dengan penghakiman seperti ini.

    Maria, saya hampir menyerah.
    Segeralah datang untuk menolongku. Engkau satu-satunya harapan terakhir yang kupercaya akan mengulurkan tangan untuk merangkulku. Segera Maria, retak di hatiku semakin menganga, sakitnya mulai menjalar hingga ke akal sehatku.
    Di akhir kalimat kutorehkan noktah merah sebagai isyarat; ini darurat, MARIA.

     

    —————————–

     

     

    *Wilhelmina Mariana Ema, Spd., (Emil Bidomaking), adalahGuru Bahasa Indonesia SMK Strada Daan Mogot, Tangerang. Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan dari FKIP, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah pada Universitas Tadulako, SulawesiTengah.

  • Ngalor-Ngidul Tipis-tipis: Bermula dari “Priangan Si Jelita”

    Ngalor-Ngidul Tipis-tipis: Bermula dari “Priangan Si Jelita”

     

     

    Oleh  Raudal Tanjung Banua

     

     

    Sebagaimana Jarot alias Abdullah Sattar, santri tengil asal Alas Abang, yang tergila-gila pada buku tipis puisi Ramadhan KH, Priangan Si Jelita, saya juga sangat menyukai buku tersebut, dan kebetulan kami sama-sama temukan di Perpus SMP (atau sekolah Jawa, versi orang Alas Abang). Bedanya, saya tidak sampai menamainya pada siapa pun seperti Jarot menamai dan menyapa kekasihnya, Istiqomah, dengan “Priangan Si Jelita”-ku. Namun saya menemukan “buku pendamping” yang juga tak tebal, yakni telaah Si Jelita oleh Drs. Jiwa Atmaja, berasal dari skripsi sarjana mudanya, membuat saya ikut senang membaca kritik atau telaah sastra kemudian.

    Jarot adalah tokoh dalam novel Hubbu karya Mashuri –entah kenapa saya rasa sedikit banyak merepresentasikan penulisnya– tercatat sebagai pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2006. Sempat disebut-sebut sebagai contoh baik novel polifonik, karena mewadahi suara-suara dan aneka persfektif sekaligus, selain dari tokoh-tokohnya, juga naratornya, atau entah dalam pengertian apalagi terkait makna polifonik yang belum saya pahami.

    Bagaimana Jarot di Alas Abang, sebuah desa santri di pesisir utara Jawa Timur bisa mendapat bacaan sama dengan seorang remaja Lansano, kampung pesisir di pantai barat Sumatera, yang ratusan km jaraknya? Mungkin hal lumrah karena pada masa buku itu terbit atau menyebar (terbit pertama kali tahun 1956, dan cetakan ketiga yang kemungkinan kami baca terbit tahun 1975), kami sama-sama duduk di bangku tingkat yang sama, sekolah menengah pertama, sementara tahun-tahun itu, seburuk-buruknya sistem pendidikan Orba, mereka masihlah membeli buku-buku sastra untuk disebarkan dengan cap “Milik Negara”.

    Kesamaan ini memang berdasarkan usia, sehingga lumrah pula berbagai dolanan dan benda-benda memorial tak berbeda di satu tempat dengan tempat lain sekalipun berjauhan. Bagaimana misalnya, gambar umbul dan komik-komik atau bungkus rokok menyebar luas menjadi dolanan semerata negeri. Saya baru saja bergabung dengan sebuah grup Nostalgia di facebook dengan ribuan anggota super aktif. Apa diupload anggota di ujung pulau satu, direspon takjub dan haru oleh anggota di ujung pelosok lain karena mereka juga mengalami persis postingan itu. Mereka punya dunia yang sama, dulu. Pun sekarang, misalnya lewat keserentakan fitur-fitur gadget, membuat anak di mana saja mengalami dunia yang sama.

    Tapi agak mencengangkan, bahwa dalam persentuhan dengan sastra, yang pastilah tak seramai dunia umum nostalgia atau semeriah alur fitur, saya dan Jarot, atau kita untuk menyatakan sedikit yang lain, berbagi bacaan yang sama. Ini layak diapresiasi, ditujukan untuk semua hal yang mendukung “pertemuan” itu (saya misalnya selalu akan mengingat Pak Ben, si guru olahraga yang nyambi kuncen pustaka), termasuk apresiasi bagi diri sendiri. Apalagi jika diingat buku Priangan Si Jelita atau sejumlah buku sastra lain, bukan buku wajib kurikulum seperti buku Ini Budi dan Arman dan Ima saat di SD. Meski dibeli dan disebar oleh Negara, tapi mereka nyaris digeletakkan begitu saja di rak berdebu atau pustaka terkunci.

    Beruntunglah kita yang bisa menyusup ke peti harta karun bernama pustaka terkunci itu, dan mendapatkan kemilau dan permata kata-kata sebagaimana saya dapatkan juga di Balada Orang-Orang Tercinta, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Orang-Orang Trans, Secercah Kisah Anak Tanah Air, Kubur Terhormat bagi Pelaut atau Sebuah Rumah Nun di Sana, dan Jarot Sattar pasti juga punya temuan permata yang lain.

    Boleh jadi yang kami baca adalah Priangan Si Jelita cetakan ketiga, 1975, sebab cetakan kedua tahun 1958 kemungkinan masih ejaan lama. Cetakan ketiga itu menandai buku puisi tersebut diambil-alih penerbitannya oleh PT Dunia Pustaka Jaya, terakhir saya punya cetakan kelima 2001, dan sekarang entah sudah cetakan ke berapa.

    Priangan Si Jelita mendapat Hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) sebagai kumpulan sajak terbaik 1957-1958, hadiah yang juga pernah diterima antara lain oleh Mochtar Lubis, Pram dan Toha Mochtar untuk kategori dan tahun berbeda.
    Ada dua hal setidaknya dapat dikomentari dari buku ini. Pertama, dari segi isi, inilah puisi bertema alam yang sangat indah dan menyentuh, dengan kesederhanaan dan kesegaran bahasa ungkap. Sebagaimana judulnya, ia menjelajah tataran Priangan dengan alamnya yang jelita. Kejelitaan itu padan dengan pilihan kata, suasana yang terbangun dan cara mengungkap perasaan, ibarat mendengar tembang Cianjuran. Kadang terasa ia seperti bergumam yang tidak dapat langsung saya artikan secara leksikal seperti “seruling di pasir ipis, jamrut di pucuk-pucuk, gadis dendang di matahari, belati di batu laut, mawar merah disobek di tujuh arah, perawan sendirian disamun di tujuh jalan, sumur segala derita, bersamaan semua berpelukan, sumur segala sayatan penampung tangis bertukaran, dst” tapi dengan irama dan suasana yang kuat-akrab, saya anggap paham saja, ‘eman-eman’ hilang keasyikan.

    Tapi di sisi lain, ia bisa sangat lugas dan terbuka, tanpa kehilangan kesegarannya, seperti “Pacar! Coklat matamu subur, coklat darah tanah Cianjur; penyair kayu pertama di tumpukan pembakaran; Dara! Takut hanya buat makhluk pengecut; Siapa cinta anak, jangan jual tanah sejengkal, kijang minta pengurbanan tanda kejantanan dst”.

    Meski selintas berbau mooi indie, sesungguhnya puisi di sini amat tragik, keindahan lembah, gunung dan bukit-bukit, berjalinan dengan sakit-derita orang Priangan, menyusup di bawah permukaan, tertanam bak umbian kentang yang mesti digali untuk tahu gunduk kedukaan. Artinya Ramadhan KH tak hanya memotret lanskap alam, juga pergulatan manusia Sunda yang bermukim di atasnya. Baik pergulatan kolegial “Dara sudah lari bersembunyi sejak senja, kota ditikam menyendiri, tengok dataran tanah Priangan, sayang kalau gadis-gadis mesti jadi perawan tua, dst,” maupun secara personal, “mau ke mana Nak, singgah cucurkan air mata, membalik tanah seperti neteskan air hujan di mata kedua belah, aku tutup pintu dan jendela untuk tidak tahu lagi derita, dsb.”

    Alhasil dengan memasukkan unsur pergulatan dan derita manusia di atas alam Priangan yang jelita, ironi dan kepedihan mengiris, pula seruling dan kecapi menambah sangsai. Apalagi kalau kita baca sekarang di mana industri dan urbanisasi gencar menggasak tlatar Priangan. Tak heran, Acep Iwan Saidi, misalnya, meminjam dan membelokkannya jadi Priangan Si Derita.

    Kedua, ini buku puisi paling tipis yang pernah terbit, 40 halaman sadja, itu pun sudah dengan pengantar “panjang” Ajip Rosidi, 12 halaman. Barangkali ini jadi patokan DKJ mensyaratkan sayembara manuskrip puisi minimal 40 hlm. Puisinya hanya 3 judul sahaja– “Tanah Kelahiran”, “Dendang Sayang”, “Pembakaran”– masing-masing dengan hanya 7 sub-penomeran, dan pendek-pendek pula. Total jendral ada 21 sajak.

    Saya berpikir jangan-jangan karena tipis buku ini jadi mengiris! Meski ini ungkapan gotak-gatuk tapi mungkin saja jika diasumsikan pilihan sajaknya lebih selektif, baik saat hendak diterbitkan maupun saat dituliskan. Tak mudah menerbitkan buku kala itu, sehingga sajak yang diajak bergabung mesti terpilih betul. Dan tak semua hal mesti ditulis jadi puisi, seperti dalam seloroh,”tiap hari kok nulis puisiiii…” atau,”kesandung batu aja ditulis!”

    Ah, abaikan! Silahkan ajak anak rohani rame-rame gabung di buku sajak, monggo apa-apa jadiin sajak…Yang jelas, dan alhasil memang buku puisi tempo doeloe umumnya tipis-tipis. Selain Priangan yang tertipis, konon Simponi Subagio, bisa jadi paling tipis. Dalam catatan Zen Hae dalam buku esei terbarunya, Simponi pernah terbit di Yogya, 26 hlm, tapi saya punya Buku Harian, 64 hlm dan Simponi Dua, agak tebal, 103.

    Buku puisi lain juga rata-rata tipis, di antaranya, Puspa Mega – Sanoesi Pane (45 hlm, 34 sajak), Buah Rindu – Amir Hamzah (54 hlm, 28 sajak) dan Tebaran Mega – STA (46 hlm, 38 sajak). Sayang saya tak punya buku awal Chairil, Kerikil-Kerikil Tajam, Deru Campur Debu dan Yang Terempas dan Yang Putus, sehingga tak bisa membandingkan. Punya saya versi Pamusuk, Aku Binatang Jalang, lebih tebal, karena memuat versi asli dan versi revisi. Tapi buku awal Chairil pasti amat tipis dengan hanya 72 puisi asli + 2 sajak saduran.

    Bandingan periode selanjutnya bisa dilihat Blues untuk Bonnie – Rendra (54 hlm, 13 puisi), Romance Perjalanan I Kirdjomuljo (42 hlm, 19 puisi), Buku Puisi – Hartojo Andangdjaja (62 hlm, 36 puisi), Bulan Tertusuk Lalang – D. Zawawi Imron (72 hlm, 57 sajak pendek).

    Begitu pula buku puisi yang terbit tahun 80-90an seperti Abad yang Berlari – Afrizal Malna, Tamparlah Mukaku – Acep Zamzam Noor, Kita Bersaudara – Tan Lioe Ie, saut kecil bicara dengan tuhan – Saut Situmorang, Pacar Kecilku – Joko Pinurbo, Nyanyian Alamanda – Ulfatin Ch, atau Sangkar Daging – Gus Tf. Ini belum termasuk antologi puisi tipis-tipis terbitan komunitas yang terutama juga marak dalam periode tersebut, dengan tampilan sederhana, jilid stepless, print/kopian/stensilan.

    Buku puisi yang terbit tebal biasanya sajak kompilasi, selected poems, seperti sajak lengkap Sitor, Goenawan Mohamad atau Otobigrafi Saut, selain ada edisi 100 sajak pilihan ala Pamusuk. Atau buku puisi setebal kamus, Kerygma & Matyria – Remy dan Tripitikata – Sitok. Selebihnya, di luar alasan tersebut, kenapa buku puisi sekarang cenderung tebal-tebal? Ya, rata-rata di atas 100 hlm. Soal produktifitas? Aksesibilitas? Entahlah.

    Tapi tetap ada yang terbit tipis seperti Misa ArwahDea Anugrah, Kartu Pos dari Banda – Zulkifli Songyanan, Badrul Mustofa 3 x – Heru JP, Baromban – Iyut Fitra atau Cinta tak Pernah Fanatik – Parlan Tjak, rata-rata di atas sedikit 50 atau di bawah 100 hlm.

    Saya sendiri punya dua buku puisi yang relatif tebal, Gugusan Mata Ibu (xii + 116) dan Api Bawah Tanah (xvi + 160). Saya punya alasan, selain untuk mewadahi sajak-sajak masa produktif yang jumlahnya cukup banyak, juga dengan pertimbangan: nerbitin buku puisi itu punya kesukaran sendiri, baik yang datang dari luar maupun dalam diri. Alhasil, meski punya akses dan kemudahan penerbitan, sampai lebih 20 tahun menyair, baru dua itu saja buku puisi saya.

    Tak mudah bikin buku puisi, apalagi yang berhasrat abadi, dan bikin banyak orang merindu, bahkan untuk sebuah buku tipis, setipis “seruling di pasir ipis, merdu…” — yang sampai kini kurindui itu!

     

    ——————-

    Sumber Tulisan: Sastraindonesia.com

     

  • Puan Terkasih – Pentas Asmara – Sajak-sajak Emil Bidomaking

    Puan Terkasih – Pentas Asmara – Sajak-sajak Emil Bidomaking

    Puan Terkasih

     

    Secawan duka dicecap, pahit hingga kelu
    Lalu air mata luruh menggenang
    Suara tercekat berujung Isak
    Sesak, tertelan tanpa rasa

    Puan, tatapmu nanar tapi hilang arah
    Binar yang sedianya ranum, kini redup
    Puan, boleh kugenggam tanganmu?
    Dukamu teramat sangat mendalam
    Sedang engkau seorang diri tanpa ada yang mendekap
    Puan, jalanmu masih panjang
    Boleh aku berdiri di sisimu?
    Aku hanya ingin hadir menemanimu
    Membiarkanmu mencukupkan diri dalam duka yang pedih ini
    Setelahnya, lanjutkan hidupmu, Puan.
    Engkau berhak hidup, engkau berhak melanjutkan hidup. Bahagia melebihi siapapun.
    Tetaplah hidup Puan.
    Kubersamai engkau dalam doa.

     

    ———————

     

    Pentas Asmara

     

    Sebuah pentas asmara manusia
    Gelak tawanya riuh nan manis
    Siapa sangka jika ada dusta yang ternavigasi, di balik kata ‘aku mencintaimu ‘

    Seperti kata ‘hai apa kabar’
    Setelah ia hilang kabar dengan dalih ‘sibuk’
    Kau sambut manis dengan detak riuh di hatimu, seolah rindumu akhirnya terbayarkan lunas.
    Tuan, aku penyair.
    Tinta mengucur deras ketika hatiku tersayat
    Kukupas tuntas nistamu
    Kukibas habis bait diksimu yang penuh dusta
    Kau adalah sepintas yang tak tuntas

    Setelah sekian purnama kubenamkan lukaku, aku puas merawat jiwaku.
    Kau abadi dalam tulisanku.

    ————–

     

    *Wilhelmina Mariana Ema. Spd, (Emil Bidomaking), adalah Guru Bahasa Indonesia SMK Strada, Daan Mogot, Tangerang. Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan dari FKIP, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia  dan Daerah pada Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah.

  • Kisah Sederhana Sarat Makna

    Kisah Sederhana Sarat Makna

     

     

    Oleh Dina Tuasuun

     

     

    Bermula dari Cerita Biasa

    Hidup kita dipenuhi cerita. Dari pagi hingga petang, kita membaca, mendengar, menyaksikan, melakonkan, bahkan mungkin mengarang cerita. Cerita sendu yang membuat terharu. Cerita duka yang menguras air mata. Cerita bahagia yang membuat tertawa. Di antara sekian banyak cerita kehidupan, ada cerita istimewa yang melekat dalam ingatan. Ada cerita biasa yang kita biarkan berlalu begitu saja. Saat seorang sahabat datang berkeluh kesah, saat kita memandang bunga mekar mendengar kicau burung di pagi hari, merasakan teriknya matahari, adalah saat-saat yang kerap terlewat dan tampak biasa.

    Namun, cuplikan pengalaman sehari-hari itu berubah menjadi perenungan yang mendalam di tangan Stephie Kleden-Beetz dalam bukunya yang berjudul Cerita Kecil Saja. Buku setebal 131 halaman Ini memuat 51 kisah yang melukiskan perjumpaan Stephie dengan Tuhan, sesama, dan alam sekitarnya. Dari tulisan-tulisan dalam buku ini, terpancar keluasan pengetahuan dan kedalaman pengalaman penulisnya. Stephie pernah menjadi responden Deutsche Welle-radio nasional Jerman. Selama hampir dua dasawarsa, ia juga pernah menjadi wartawan lepas yang giat menulis pada sejumlah media di Indonesia.

     

    Hikmat yang Nikmat

    Penulis dengan jeli memilih kisah-kisah hidup yang dekat dengan keseharian, meraciknya dalam kalimat yang hemat kata, kemudian menyuguhkannya dengan ilustrasi berwarna yang memanjakan mata. Pembaca pun diajak mencicipi tiap cerita dengan cita rasanya. Pahitnya pengkhianatan, manisnya persahabatan, getirnya luka, legitnya cinta, semua diramu menjadi satu dalam buku ini. Dalam tiap kisah terselip hikmat yang tersaji nikmat. Oleh Anton Sudiarja SJ dalam kata pengantar buku ini, gaya penulisan Stephie dijelaskannya demikian, “mengajak (pembaca) untuk tidak menelan begitu saja apa yang ditulisnya, tetapi mengunyah dan merenungnya” (hlm. xii).

    Dalam buku ini pembaca juga dapat menemukan berbagai kutipan kata-kata atau kisah dari orang-orang bijak, sastrawan, ilmuwan, bahkan juga pepatah dari berbagai negeri. Simak saja apa kata Stephle tentang senyum, “kita berkomunikasi tanpa kata-kata lewat jembatan paling pendek: senyum…. Rugi bila dijemput sang ajal, padahal sesama belum melihat betapa manisnya senyum kita. “Tuhan sudah memberimu sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri’ (pepatah Irlandia)” (hlm. 27).

    Di lain tempat, sebelum bertutur tentang buku, penulis mengawalinya dengan cerita saat Bernard Shaw, seorang dramawan, mengunjungi rumah mewah milik seorang kaya. Saat tuan rumah bertanya bagaimana kesan sang tamu tentang barang-barang antik dan mahal yang ada di dalam rumah itu, Shaw menjawab bahwa ia merasa seperti ada di museum, tetapi sayangnya yang paling penting justru tidak ada di situ. Orang kaya itu pun terkejut dan bertanya, “Apa?” Shaw menjawab, “Buku” (hlm. 80). Tentang pendidikan, Stephie menulis demikian, “Betapa pendidikan telah mengubah sebuah negeri yang hancur lebur karena perang…itulah yang ditunjukkan oleh Jepang. Saat itu Kaisar Hirohito tidak bertanya berapa tentara yang tersisa, melainkan berapa guru yang masih hidup? (hlm. 113).

    Mungkin kita tak butuh waktu lama membaca seluruh kisah dalam buku ini. Namun justru setelah membacanya, kita pun tergugah untuk membuka mata dan telinga, menikmati dan menghayati tiap kisah hidup kita sendiri. Buku ini mengajak kita untuk mencari makna dari tiap peristiwa, menarik pelajaran dari tiap kejadian, bahkan dari yang tampak biasa dan sederhana sekalipun.

    _—————–
    Sumber Tulisan Majalah Inspirasi, September 2009