Puan Terkasih – Pentas Asmara – Sajak-sajak Emil Bidomaking

Written by

in

Puan Terkasih

 

Secawan duka dicecap, pahit hingga kelu
Lalu air mata luruh menggenang
Suara tercekat berujung Isak
Sesak, tertelan tanpa rasa

Puan, tatapmu nanar tapi hilang arah
Binar yang sedianya ranum, kini redup
Puan, boleh kugenggam tanganmu?
Dukamu teramat sangat mendalam
Sedang engkau seorang diri tanpa ada yang mendekap
Puan, jalanmu masih panjang
Boleh aku berdiri di sisimu?
Aku hanya ingin hadir menemanimu
Membiarkanmu mencukupkan diri dalam duka yang pedih ini
Setelahnya, lanjutkan hidupmu, Puan.
Engkau berhak hidup, engkau berhak melanjutkan hidup. Bahagia melebihi siapapun.
Tetaplah hidup Puan.
Kubersamai engkau dalam doa.

 

———————

 

Pentas Asmara

 

Sebuah pentas asmara manusia
Gelak tawanya riuh nan manis
Siapa sangka jika ada dusta yang ternavigasi, di balik kata ‘aku mencintaimu ‘

Seperti kata ‘hai apa kabar’
Setelah ia hilang kabar dengan dalih ‘sibuk’
Kau sambut manis dengan detak riuh di hatimu, seolah rindumu akhirnya terbayarkan lunas.
Tuan, aku penyair.
Tinta mengucur deras ketika hatiku tersayat
Kukupas tuntas nistamu
Kukibas habis bait diksimu yang penuh dusta
Kau adalah sepintas yang tak tuntas

Setelah sekian purnama kubenamkan lukaku, aku puas merawat jiwaku.
Kau abadi dalam tulisanku.

————–

 

*Wilhelmina Mariana Ema. Spd, (Emil Bidomaking), adalah Guru Bahasa Indonesia SMK Strada, Daan Mogot, Tangerang. Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan dari FKIP, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia  dan Daerah pada Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah.

Comments

4 responses to “Puan Terkasih – Pentas Asmara – Sajak-sajak Emil Bidomaking”

  1. Riski g Avatar
    Riski g

    KERWNNN BUU 🔥🔥🔥🤩

  2. Renni Avatar
    Renni

    Kerennn🤩

  3. Renni Avatar
    Renni

    Luar biasa Nona🤩

  4. Adrianus Bareng Avatar
    Adrianus Bareng

    Mantap dan isnpiratif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *