Author: Redaksi

  • PIDATO KEBUDAYAAN IGNAS KLEDEN: SENI DAN CIVIL SOCIETY(Dengan Referensi Khusus kepada Penyair Rendra)

    PIDATO KEBUDAYAAN IGNAS KLEDEN: SENI DAN CIVIL SOCIETY(Dengan Referensi Khusus kepada Penyair Rendra)


    Oleh Ignas kleden


    I
    Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan civil society merupakan
    suatu tantangan yang tidak mudah dijawab, juga pada kesempatan ini. Tantangan ini
    telah saya terima sebagai sebuah penugasan dari Dewan Kesenian Jakarta, meskipun
    saya tidak terlalu paham mengapa tema ini dijadikan pokok pidato kebudayaan pada
    hari ini. Tugas ini telah saya terima semata-mata karena pertimbangan bahwa kesenian
    sebagai suatu sektor penting dalam kebudayaan, dapat dijadikan contoh soal untuk
    melihat masalah yang lebih besar yaitu hubungan kebudayaan dan civil society.


    Sebagai titik-tolak dapatlah dikatakan begitu saja bahwa kesenian dan setiap ekspresi
    seni, pada dasarnya, adalah ekspresi pribadi seorang seniman, yang sangat personal
    sifatnya. Tentu saja seorang seniman menerima pengaruh dari lingkungan hidupnya,
    dan terlibat dalam pergaulan dengan berbagai pihak dalam suatu masyarakat. Tiap-tiap
    lingkungan mungkin saja memberikan pengaruh tertentu kepada seniman, dan dari
    pergaulannya dengan berbagai pihak muncul rangsang yang berbeda-beda yang
    menyentuh sensitivitas seniman tersebut. Namun demikian segala pengaruh dan
    bebagai rangsang itu mengalami proses pencernaan mental dalam diri seorang seniman,
    sehingga terhadap setiap pengaruh dan rangsang dari luar, seorang seniman dalam
    ekspresinya, selalu memberikan suatu respons yang personal dan unik. Patut
    ditambahkan, hal ini bukanlah sesuatu yang hanya terdapat pada diri para seniman.
    Setiap orang, setiap individu, akan memberikan respons yang bersifat pribadi kepada
    suatu stimulus dari luar. Namun yang khas pada seorang seniman ialah bahwa respons
    pribadi itu selalu merupakan sebuah respons yang artistik sifatnya, yang tidak selalu bisa
    diberikan oleh seorang yang bukan seniman.


    Terhadap tekanan politik dan ancaman penjara, para aktivis yang berani bisa
    menyatakan perasaan tak takut atau sikap tak gentar. Tetapi tidak setiap orang bisa
    menyatakannya dengan artistik seperti yang dilakukan oleh Rendra ketika dia berkata:


    Sebuah sangkar besi / tidak bisa mengubah seekor rajawali / menjadi seekor burung
    nuri.
    Rajawali adalah pacar langit /dan di dalam sangkar besi / rajawali merasa pasti /
    bahwa langit akan selalu menanti


    (kutipan dari “Sajak Rajawali”) 1


    Secara umum sebuah ekspresi artistik akan tergantung sekurang-kurangnya pada dua
    kondisi. Yaitu otentisitas pesan yang disampaikan, yang mempersyaratkan penghayatan
    pribadi secara intens terhadap suatu soal, dengan melibatkan berbagai seluruh
    kemampuan mental seseorang, lebih dari sekedar olah pikir atau olah rasa, sehingga
    sebuah pesan menjadi ungkapan seluruh kepribadian. Kedua, orisinalitas medium
    penyampaian, yaitu suatu cara penyampaikan yang unik, yang hampir tak mungkin
    diubah atau ditransposisikan ke dalam bentuk penyampaian lain atas cara yang sama
    indah dan sama kuatnya.


    Dengan uraian pendahuluan ini saya ingin mengatakan bahwa seni pada dasarnya hidup
    dan berkembang dalam suatu ruang pribadi yang privat sifatnya, dan bukan produk
    suatu ruang publik. Muncul masalah di sini, bagaimana menghubungkan seni yang
    merupakan atribut ruang privat dengan civil society yang merupakan ruang publik? Atau
    dapatkah kita berpikir sebaliknya, bahwa ruang publik dapat menghasilkan suatu jenis
    kesenian yang lain dari yang kita kenal?


    Dari satu segi ruang privat perlu dipertahankan dan dipelihara karena ruang ini
    merupakan tempat kebebasan pribadi digarap dan diolah, dan menjadi benteng yang
    melindungi kebebasan seseorang dari campurtangan yang berlebihan dari pihak negara
    mau pun intervensi lembaga-lembaga sosial. Dia merupakan tempat seseorang
    mengolah cita-cita hidup sesuai dengan impian, keinginan dan selera pribadinya. Para
    ahli mengatakan bahwa ruang privat menjawab pertanyaan tentang hidup yang baik
    atau “the question of good life”. Termasuk di sini keinginan yang berhubung dengan
    kehidupan cinta dan pandangan religius serta cita-cita spiritual, selera makan dan
    pandangan tentang kebersihan dan kesehatan, cara berpakaian, cita-cita tentang tempat
    tinggal, dan selera estetik dan apresiasi kesenian. Semua hal tersebut terdapat dalam
    ruang privat diatur dan diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai budaya.


    Sebaliknya, ruang publik yang kita namakan civil society adalah tempat di mana
    keadilan dipertahankan dan dibela. Ruang ini hadir untuk menjawab pertanyaan yang
    berhubung dengan “the question of justice”, dan diatur oleh hukum negara. Hak dan
    kewajiban yang diatur oleh hukum mempunyai tujuan agar setiap orang memperoleh
    keadilan yang menjadi haknya, dengan kewajiban pada orang lain untuk
    menghormatinya. Keadilan menjadi faktor yang membuat masing-masing orang
    mendapat tempat dalam suatu kehidupan bersama, di mana kebebasan seseorang tidak
    melanggar atau mengorbankan kebebasan orang lain. 2


    Dengan demikian, berlaku hemat dan menabung penting sekali untuk kehidupan yang
    aman secara ekonomis, tetapi tiap orang bebas untuk melakukan atau tidak
    melakukannya, tanpa mereka bisa dipaksa oleh negara. Akan tetapi membayar pajak
    adalah sesuatu yang berhubung dengan keadilan, berupa kewajiban kepada kehidupan
    umum, yang diatur oleh hukum positif, dan dapat dipaksakan oleh negara. Demikian
    pun mendidik anak dalam keluarga dengan disiplin dan kasih sayang, merupakan
    persiapan pertama untuk pembentukan warga negara yang matang, mandiri dan
    bertanggungjawab. Namun demikian, pendidikan anak adalah urusan domestik
    keluarga, dan termasuk dalam ruang privat. Negara atau lembaga sosial tidak dapat
    memaksa suatu keluarga mendidik anak-anaknya atas cara yang dipaksakan dari luar.
    Namun demikian, kekerasan kepada anak oleh orang tuanya, dapat menimbulkan reaksi
    publik dan campur tangan negara, karena di sana ada pelanggaran terhadap hak seorang
    anak untuk mendapatkan protective security. Pada titik inilah terdapat suatu perbedaan
    hakiki antara negara demokratis dan negara-negara totaliter yaitu bahwa demokrasi
    memberi ruang bagi ruang publik dan ruang privat, sementara sistem totaliter melindas
    ruang privat dan hanya mengakui ruang publik. 3


    Seterusnya, dalam suatu ruang politik, kehidupan bersama diatur bukan saja oleh
    hukum tetapi oleh kekuasaan yang ada pada negara. Tidaklah mengherankan bahwa ahli
    sosiologi seperti Max Weber mengatakan bahwa negara ditandai oleh satu-satunya hak
    istimewa yang tidak ada pada lembaga lainnya, yaitu monopoli untuk mempergunakan
    kekerasan atas cara yang legal. 4 Di samping negara tidak ada lembaga lain mana pun
    yang dibenarkan menyelesaikan suatu soal dengan memakai kekerasan. Hak untuk
    memakai kekerasan ini ada pada negara agar dia dapat memaksakan ketundukan tiap
    orang terhadap hukum yang berlaku. 5


    Secara tipologis kita bisa mengatakan bahwa dalam ruang privat seseorang
    mengembangkan dirinya menjadi individu, menjadi pribadi dan menjadi anggota suatu
    komunitas, dalam ruang publik dia mengembangkan dirinya menjadi warga suatu
    negara, dan dalam ruang politik dia menjelma menjadi rakyat suatu pemerintahan yang
    syah. Hubungan di antara ruang publik dan ruang politik atau di antara civil society dan
    negara bersifat regulatif, karena kekuasaan yang ada pada negara dan monopoli
    penggunaan kekerasaan yang dimiliki negara, harus tunduk kepada pengaturan dan
    pembatasan oleh hukum positif. Sebaliknya, hubungan di antara ruang politik dan ruang
    privat atau antara negara dan komunitas-komunitas budaya, bersifat subsidiair. Negara
    diijinkan masuk dalam ruang privat apabila dibutuhkan bantuannya. Kalau para
    seniman memerlukan sebuah pusat kesenian, negara dapat diminta bantuan untuk
    mengadakannya, tetapi negara tidak dibenarkan memaksakan pembangunan sebuah
    pusat kesenian karena kebetulan ada dana untuk itu, apalagi memaksa para seniman
    agar memanfaatkan gedung kesenian dan fasilitas yang telah disiapkan oleh negara, atas
    cara yang ditentukan oleh negara.


    Adalah menarik bahwa hubungan di antara ruang privat dan ruang publik atau di antara
    komunitas-komunitas budaya dan civil society, bersifat sangat kreatif. Sudah jelas bahwa
    ruang publik diatur juga oleh nilai-nilai publik, seperti persamaan, keadilan,
    transparansi dan akuntabilitas. Namun demikian, munculnya ruang publik tidak dengan
    sendirinya, dan tidak harus menjadi saingan yang menggeser atau menggusur adanya
    ruang privat dalam komunitas-komunitas budaya. Hal ini dimungkinkan karena hampir
    semua nilai yang diterima dalam ruang publik dan kemudian berlaku di sana, diambil
    dari komunitas-komunitas budaya dan kemudian ditransformasikan menjadi nilai
    publik, setelah semua atribut dan nomenklatur yang bersifat komunal ditanggalkan,
    sambil substansi nilai itu tetap dipertahankan. Ini perlu dilakukan supaya suatu diskusi
    publik dapat dilakukan.


    Sebuah analogi kiranya dapat menjelaskan hal ini. Bahasa Indonesia telah diresmikan
    sebagai bahasa nasional, sedangkan bahasa itu diambil dari bahasa Melayu Riau yang
    sejak berabad-abad berfungsi sebagai lingua franca. Kita tahu, suatu bahasa menjadi
    lingua franca kalau bahasa itu digunakan sebagai sarana komunikasi tetapi tidak
    berperan lagi sebagai penunjuk identitas suatu kelompok orang. Seseorang yang fasih
    berbahasa Inggris dewasa ini, tidak dengan sendirinya berasal dari San Fransisco atau
    Liverpool. Atau seorang profesor yang memberi kuliah dalam bahasa Spanyol tidak
    harus berasal dari Madrid. Inilah rupanya sebab yang jarang diungkapkan, mengapa
    bahasa Melayu dengan mudah diterima sebagai bahasa nasional karena bahasa itu tidak
    lagi menjadi representasi suatu identitas etnis tertentu, dan telah menjadi sarana
    komunikasi di antara berbagai kelompok etnis sejak ratusan tahun. Lain halnya kalau
    bahasa Jawa, bahasa Sunda atau bahasa Bugis diusulkan sebagai bahasa nasional.
    Mungkin timbul lebih banyak kontroversi dan pertentangan karena bahasa-bahasa besar
    itu menunjuk dan menjadi penanda suatu identitas etnis tertentu, yang mungkin sekali
    menimbulkan penolakan dari kelompok etnis lainnya.


    Atas cara yang sama kita bisa berbicara tentang nilai-nilai publik. Apabila suatu
    komunitas budaya hendak menyumbangkan seperangkat nilai-nilainya ke dalam
    kehidupan publik, maka atribut-atribut dan nomenklatur komunal perlu dihilangkan
    (tanpa menghilangkan substansi nilai yang dikandungnya) agar supaya nilai tersebut
    dapat dipahami dan diterima oleh kelompok lainnya, karena nilai publik itu telah
    menjadi suatu nilai bersama meskipun nilai-nilai itu telah lahir dan dikembangkan
    dalam suatu komunitas budaya tertentu. Etos kapitan perahu yang secara tradisional
    berlaku di daerah-daerah pesisir di Sulawesi, dilegitimasi oleh nilai-nilai budaya
    setempat, dan legitimasi itu dilaksanakan karena alasan-alasan sosial atau kosmologis
    yang berhubung dengan kebudayaan setempat. 6 Namun demikian substansi etos itu
    dapat dibawa ke ruang publik, dan dapat diusulkan sebagai alternatif terhadap budaya
    politik Indonesia, yang umumnya diambil dari latarbelakang daerah pertanian.
    Kecenderungan kepada pola kepemimpinan feodal, atau hubungan patron klien dalam
    politik Indonesia, jelas berasal dari latar belakang masyarakat dan kerajaan-kerajaan
    yang berdasarkan pertanian.


    Sebagai alternatif terhadap kecenderungan tersebut etos kapitan perahu dapat diusulkan
    ke dalam diskusi dalam ruang publik, setelah segala alasan budaya yang menjadi dasar
    dari etos tersebut dan setelah nomenklatur yang bersifat komunal ditanggalkan. Karena
    pada dasarnya substansi etos itu – sekali pun tanpa disertai alasan-alasan budaya yang
    bersifat komunal — dapat diterapkan dalam politik Indonesia, sebagai negara dengan
    sifat maritim yang kuat. Ahli sejarah maritim, Prof. Adrian B. Lapian, pernah mengeritik
    penamaan Indonesia sebagai negara kepulauan, karena nama itu tidak menunjukkan
    aspek laut yang merupakan bagian terbesar dari negeri ini. Istilah kepulauan masih
    memperlihatkan orientasi ke daratan, sedangkan istilah negara kelautan lebih tepat
    menunjukkan watak negeri ini sebagai kawasan maritim.


    Istilah ‘negara kepulauan’ merupakan padanan dalam bahasa Indonesia dari pengertian
    archipelagic state. Jika kita menyimak arti sesungguhnya dari kata archipelago, maka
    (menurut kamus Oxford dan Webster) kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni arch
    (besar, utama) dan pelagos (laut). Jadi archipelagic state sebenarnya harus diartikan
    sebagai ‘negara laut utama’ yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulaupulau
    yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya
    terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya. 7


    Dalam kaitan dengan negara kelautan, maka etos kapitan perahu dapat menunjukkan
    orientasi baru dalam budaya politik Indonesia. Pertama, dalam etos kapitan perahu,
    seorang pemimpin perahu tidak mungkin didrop begitu saja dari atas, tetapi harus
    bertumbuh dari bawah dan mencapai pengetahuan dan kematangan tertentu yang
    dipersyaratkan. Dropping tentu saja bisa dilakukan, akan tetapi risikonya akan sangat
    tinggi, karena kapitan perahu yang tidak menguasai pengetahuan tentang navigasi, alur
    pelayanan, arah angin, tanda badai, cara menetapkan arah perahu dengan membaca
    letak bintang, tidak akan sanggup membawa perahu dan penumpangnya sampai ke
    tempat tujuan, atau perahunya segera menabrak karang dan tenggelam. Ibaratnya, dia
    harus membawa perahunya dari Surabaya ke Makasar, tetapi perahunya terdampar di
    Cilacap. Kedua, dalam etos ini diharuskan proses pengambilan keputusan yang cepat
    dan kemampuan mengoreksi keputusan dalam waktu singkat. Ketika menghadapi topan
    di tengah laut seorang kapitan perahu tidak bisa mengajak berunding para awak dalam
    musyarawarah selama dua tiga jam. Dia harus memutuskan dengan cepat, misalnya
    pada pukul 23.00 malam, dan kemudian kalau keputusannya terbukti keliru, dia harus
    mengoreksinya pada pk. 23.05. Keragu-raguan dalam mengambil keputusan, dan
    kelambanan atau keengganan untuk mengoreksi keputusan yang salah akan berakibat
    fatal bagi keselamatan perahunya dan hidup para penumpang perahu.


    Ketiga, dalam menghadapi bahaya karamnya perahu maka seorang kapitan perahu akan
    menjadi orang terakhir yang meninggalkan perahu, setelah penumpang lain mendapat
    kesempatan menyelamatkan diri atau mendapat pertolongan yang semestinya. Secara
    tradisional dia dilarang meninggalkan perahunya apabila masih ada penumpang yang
    membutuhkan pertolongan. Tentu saja seorang kapitan perahu bisa juga ketakutan
    menghadapi bahaya dan dapat meluputkan dirinya sebelum penumpang lainnya
    selamat. Akan tetapi hal itu akan merupakan aib yang diceritakan turun-temurun di
    kampung halamannya, dan turunannya harus menanggung malu untuk waktu yang
    lama, karena ada kapitan perahu yang demikian pengecut menyelamatkan diri sambil
    meninggalkan penumpang perahu terkatung di tengah laut, dihempas ombak dan
    meninggal ditelan badai.Tentu saja lukisan tersebut lebih merupakan tipe ideal atau
    ideal types dalam pengertian Max Weber, yaitu suatu tipe yang dilukiskan dalam
    kesempurnaan logisnya, sebagai referensi normatif bagi apa yang sesungguhnya
    terdapat dalam kenyataan empiris. Jadi ada kapitan perahu yang sangat dekat dengan
    tipe ideal dan ada pula yang sangat jauh dari tipe ideal tersebut, tetapi kita mempunyai
    pegangan tentang bagaimana seorang kapitan perahu harus berlaku dan bertindak
    apabila dia berada dalam kondisi ideal untuk menjalankan tugasnya.


    Apa yang dikemukakan di sini tentang etos kapitan perahu, dapat menjadi ilustrasi
    bahwa seperangkat nilai yang dikembangkan dalam suatu komunitas terbatas, dan
    dilegitimasi dengan alasan-alasan budaya dalam komunitas itu, dapat ditransfer dan
    diterapkan di ruang publik, asal saja segala alasan dan atribut yang bersifat komunal
    telah ditanggalkan (agar supaya dapat dipahami oleh publik yang lebih luas), sambil
    tetap dipertahankan substansi nilai yang dapat diterapkan juga di luar komunitas itu.
    Contoh lain yang mungkin lebih aktual bagi kita adalah masalah hak asasi manusia. Saya
    yakin bahwa tiap agama dapat mengajukan alasan yang diambil dari ajaran teologinya
    untuk membenarkan penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan kewajiban tiap
    orang membela hak tersebut. Akan tetapi dalam debat di DPR atau dalam proses di
    pengadilan tentang pelanggaran HAM orang tidak bisa lagi mengajukan alasan-alasan
    teologis dari agamanya masing-masing untuk membela pendapatnya. Karena alasanalasan
    teologis termasuk dalam ruang privat tiap agama, sedangkan pengadilan negara
    mengharuskan suatu rujukan bersama kepada hukum positif.


    Namun demikian pentingnya HAM dan sikap militan para aktivis HAM dalam membela
    hak ini dapat diterangkan dengan latarbelakang religius dari mana paham itu telah
    mendapat inspirasinya. 8 Untuk mengambil sebuah contoh, dalam tradisi kebudayaan
    Barat yang Kristen, ada teologi yang mengakar kuat bahwa tiap orang diciptakan seturut
    citra Allah, imago Dei, das Bild Gottes, atau the image of God. Dalam teologi ini dianut
    kepercayaan bahwa citra Tuhan itu adalah sesuatu yang suci yang tetap ada dalam diri
    seseorang, sekali pun dia seorang pencuri, pembunuh, atau seorang yang tidak percaya
    lagi kepada Tuhan. Kesucian citra ini dalam diri tiap orang tetap harus dihormati karena
    dua alasan. Pertama, citra itu diberikan oleh Tuhan sendiri dan bukan prestasi orang
    bersangkutan. Kedua, citra itu tetap hadir dalam diri tiap orang dengan seluruh
    kesuciannya, meskipun seseorang melakukan perbuatan kriminal yang ekstrim. Setelah
    mengalami proses sekularisasi yang panjang, konsep citra Tuhan ini tidak begitu
    kedengaran lagi di Barat, tetapi diganti oleh konsep martabat manusia, yang menjadi
    sumber segala hak asasi manusia. Nilai yang semula bersifat privat dalam suatu
    kelompok agama telah menjadi nilai publik dalam civil society.


    II


    Pandangan bahwa seni termasuk dalam ruang privat, mencapai puncaknya dalam
    paham dan slogan “seni untuk seni” (art for art’s sake). Paham ini telah muncul dalam
    kalangan seniman di Barat, dan harus dilihat kemunculannya dalam hubungan dengan
    perkembangan kebudayaan di Barat juga. Semenjak zaman pertengahan, kehidupan
    dalam masyarakat Barat praktis dikuasai oleh kendali teologi Kristen katolik, yang ada
    dalam monopoli gereja Roma katolik. Seni dalam pada itu berkembang sebagai sebuah
    bagian integral dari kehidupan keagamaan, dan mengabdi kepada keperluan-keperluan
    yang berhubung dengan pengembangan dan penyempurnaan ibadat. Kesenian, dan
    khususnya arsitektur Gotik misalnya menjadi dokumen visual tentang hubungan yang
    erat di antara teologi, kehidupan agama, dan seni. Gagasan tentang Tuhan yang
    transendental yang berada in excelsis, yaitu berada di tempat yang sangat tinggi,
    mendapatkan refleksinya secara arsitektural dalam garis-garis vertikal yang sangat
    dominan dalam arsitektur Gotik, sementara candi-candi katedral dibuat lancip dan
    runcing menusuk langit, dan mengesankan usaha menggapai sesuatu yang tak
    terjangkau dari bumi. 9


    Ide tentang seni untuk seni adalah usaha pembebasan seni dari tugasnya sebagai
    kegiatan yang harus melayani tujuan lain di luar dirinya. Contoh tentang seni dan agama
    dalam abad pertengahan Eropa dan pembebasan dari fungsi keagamaan seni yang
    berlangsung semenjak renaisans, memperlihatkan kepada kita bahwa dua sektor yang
    berada dalam ruang privat (yaitu seni dan agama) dapat memperjuangkan otonominya
    masing-masing.


    Persoalan yang menjadi perhatian kita hari ini adalah bagaimana hubungan yang wajar
    antara seni sebagai suatu sektor privat dengan masalah-masalah yang ada dalam ruang
    publik yang direpresentasikan dalam civil society. Pada titik ini pun seni dan khususnya
    sastra Indonesia memperlihatkan berbagai contoh yang menarik. Pertanyaan pertama
    adalah apakah suatu isu atau masalah publik harus menjadi rujukan dalam berkesenian?
    Tanpa perlu beragumentasi lebih panjang, dapatlah dikatakan begitu saja, bahwa paham
    ini jelas ditolak dalam kalangan seniman. Ketegangan dan bahkan permusuhan antara
    seniman bebas dan seniman Lekra pada tahun-tahun 1950-an hingga 1960-an patut
    dicatat sebagai pengalaman yang harus dipelajari dalam sejarah sastra Indonesia,
    bukannya dihapuskan dari memori kolektif bangsa kita.


    Puisi misalnya tidak harus ditulis untuk mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat
    atau perbaikan kesehatan ibu dan anak. Akan tetapi terhadap isu keadilan dan
    kemiskinan, sastrawan Indonesia memperlihatkan sikap yang berbeda. Penyair Rendra
    misalnya dengan tegas mengatakan bahwa sekalipun seni umumnya dan sastra
    khususnya, harus dikembangkan berdasarkan disiplin artistik, namun dalam pesan yang
    disampaikannya, seni dapat dan bahkan harus memberi respons kepada masalah
    keadilan, pemerintahan yang bersih, atau pendidikan nasional yang merupakan sektorsektor
    publik. Pendapat ini mempunyai dasar dalam paham Rendra, bahwa seorang
    seniman bukanlah seorang yang cukup bermewah-mewah dengan segala yang indah,
    tetapi bertugas memberi kesaksian tentang zamannya. Atau dalam kata-kata Rendra
    sendiri:


    Aku mendengar suara / jerit hewan yang terluka. / Ada orang memanah rembulan /
    ada burung terjatuh dari sarangnya. / Orang-orang harus dibangunkan. / Kesaksian
    harus diberikan / agar kehidupan bisa terjaga
    10


    Meski pun demikian dalam memberikan kesaksian ini seniman tetap berpegang pada
    disiplin artistik yang dimungkinkan dalam dunia seni. Tentang keterlibatannya dalam
    masalah-masalah publik ini Rendra berkata dalam sebuah sajaknya:


    Gunung-gunung menjulang / langit pesta warna di dalam senjakala / Dan aku
    melihat / protes-protes yang terpendam / terhimpit di bawah tilam.


    Aku bertanya, / tetapi pertanyaanku / membentur jidat penyair-penyair salon,/ yang
    bersajak tentang anggur dan rembulan, / sementara ketidakadilan terjadi di
    sampingnya, / dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan / termangu-mangu di
    kaki dewi kesenian


    (kutipan dari “Sajak Sebatang Lisong”) 11


    Apa yang dinamakan disiplin artistik rupanya mirip fungsinya dengan metode dalam
    berkesenian. Ini ada konsekuensinya yang berat buat seniman sendiri. Sebagai
    perbandingan, dalam ilmu-ilmu sosial berlaku asas bahwa tidak semua masalah sosial
    dapat diteliti dengan satu macam metode (misalnya statistik atau survei). Apa yang akan
    menentukan metode yang digunakan adalah masalah yang hendak diselidiki dalam
    suatu penelitian. Jadi bukan metode yang menentukan masalah yang diteliti, tetapi
    masalah penelitianlah yang menentukan metode apa yang sebaiknya dipergunakan,
    ibaratnya orang memukul paku dengan martil, tetapi mencabut paku dengan sebuah
    tang.


    Asas ini diterapkan Rendra dalam konsepnya tentang disiplin artistik. Menurut dia.
    pekerjaan seorang penyair (atau seniman pada umumnya) menjadi berat, karena dia
    harus cukup sensitif menangkap masalah zamannya dan memberi kesaksian pribadi
    tentang masalah tersebut, dan sekaligus dituntut menguasai format artistik yang tepat
    dan sesuai dengan tuntutan pesannya. Demikianlah, untuk melukiskan pengalaman dan
    kepekaannya terhadap alam, Rendra merasa cukup memakai simbolisme dan imajiimaji
    yang diambil dari tembang-tembang Jawa, yaitu sajak-sajak yang kemudian
    terhimpun dalam Kakawin Kawin dan Masmur Mawar. Tentang pengantinnya dia
    berkata:


    Awan bergoyang, pohonan bergoyang / antara pohonan bergoyang malaikat
    membayang / dari jauh bunyi merdu lonceng loyangSepi syahdu, / madu rindu, /
    candu rindu,/ gairah kelabu / rebahlah, sayang, rebahkan wajahmu ke dadaku


    Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung / antara dedaunan lembayung
    bergantung hati yang ruyung / dalam hawa bergulung antara mantra dan tenung


    (D
    ari sajak “Nina Bobok Bagi Penganten”) 12


    Pada tahapan berikut, khususnya ketika berada di New York, Rendra merasa terpanggil
    untuk memberikan suatu tes kepada moral umum yang berlaku dalam masyarakat.
    Untuk keperluan ini dia merasa simbolisme tidak memadai lagi, dan dia harus mencari
    format artistik lain yang didukung oleh filsafat antropologi dan pengalaman mistik.
    Disiplin artistik pada tahap ini dikembangkan dari kombinasi dan tegangan antara
    misteri dan ambiguitas, yang tampil dalam metafor-metafor yang surealistis
    sebagaimana terlihat dalam kumpulan sajak Blues Untuk Bonnie. Tentang seorang
    Negro tua yang bernyanyi dengan gitar dalam sebuah café di kota Boston, sambil
    berkisah tentang gubuk-gubuk tua orang Negro di Georgia, Rendra berkata:


    Georgia, / Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya / istrinya masih di sana / setia
    tapi merana / anak-anak Negro bermain di selokan, / tak krasan sekolah. / Yang tuatua
    jadi pemabuk dan pembual / banyak hutangnya / Dan di hari Minggu mereka
    pergi ke gereja yang khusus untuk Negro / Di sana bernyanyi / terpesona pada
    harapan akherat / karena di dunia mereka tak


    Georgia. / Lumpur yang lekat di sepatu /


    Gubuk-gubuk yang kurang jendela. / Duka dan dunia / sama-sama telah tua. / Sorga
    dan neraka / keduanya asing pula. / Dan Georgia? / Ya, Tuhan / Setelah begitu jauh
    melarikan diri / masih juga Georgia menguntitnya


    (Dari sajak “Blues Untuk Bonnie”) 13


    Seterusnya antara 1971 dan 1978, menurut pengakuannya sendiri, Rendra memusatkan
    perhatian pada soal-soal sosial-ekonomi dan sosial-politik, untuk memberikan suatu tes
    kepada relevansi politis dalam kehidupan publik. Dia menulis beberapa sajak sosialpolitis
    yang kemudian dikumpulkan dalam kumpulan sajak Potret Pembangunan Dalam
    Puisi dan juga dalam Orang-Orang Rangkasbitung. Untuk keperluan ini dia merasa
    peralatan estetik dalam metafor-metafor surealistis tidak memadai lagi dan dia mencari
    format artistik baru melalui analisa struktural ilmu sosial, dan mencoba menggarap
    metafor-metafor yang lebih grafis dan plastis. 14 Dalam melukiskan perjuangan cinta
    antara Saijah dan Adinda, plastisitas itu tampil dalam format yang mendekati taraf ideal:


    Adinda! Adinda! / Kemiskinan telah memisahkan kita / sepuluh tahun menahan
    dahaga asmara / alangkah sulit cinta di zaman edan, / di dalam hidup penuh
    ancaman. / Semua hak dianggap salah. / Tak punya apa-apa dianggap sampah /
    Alangkah hina orang yang kalah. / Meskipun miskin tanpa daya / aku toh harus
    berupaya / karena takut gila / dan dosa


    (Dari sajak “Nyanyian Saijah untuk Adinda”) 15


    Respons seni terhadap masalah publik tidak selalu mudah dilakukan karena ada
    tuntutan yang lebih tinggi kepada para seniman, untuk selalu mencari disiplin artistik
    dan format estetik yang dapat mendukung pesan yang hendak disampaikan. Kesulitan
    besar akan muncul kalau seorang penyair misalnya, hanya menguasai satu bentuk
    pengucapan, satu disiplin artistik, dan memaksakan disiplin tersebut sebagai sarana
    untuk menyampaikan berbagai pesan yang berbeda wataknya. Dalam kasus Rendra,
    simbolisme yang berhasil mengungkapkan pergaulan penyair dengan alam, barangkali
    akan menjadi gagap kalau dipaksakan juga menjadi sarana untuk mengekspresikan
    kesadaran sosial atau kesadaran politis.


    Kita bertanya: mengapa gerangan seorang penyair perlu melibatkan dirinya dalam
    masalah-masalah publik yang muncul dalam civil society dan masalah kekuasaan yang
    muncul dalam politik? Dalam paham Rendra, ini harus dilakukan karena perlu
    dilakukan dan dapat dilakukan oleh kesenian, meskipun dia tidak banyak menguraikan
    mengapa hal ini ini perlu dan dapat dilakukan.


    Dalam pandangan saya, seni dapat memainkan peranan penting dalam memberi respons
    kepada isu-isu publik sekurang-kurangnya karena dua alasan. Pertama, kita mengetahui
    bahwa baik dalam ruang privat maupun dalam ruang publik selalu ada nilai-nilai yang
    menjadi pegangan. Namun demikian, realisasi nilai-nilai itu terlaksana melalui berbagai
    pranata yang melembagakan suatu nilai. Nilai-nilai demokrasi diwujudkan dalam
    lembaga-lembaga politik seperti Pemilu, DPR, dan kebebasan pers, atau nilai keadilan
    diwujudkan dalam lembaga-lembaga peradilan. Namun demikian, kesulitan selalu
    timbul karena hubungan di antara nilai dan lembaga yang mengejawantahkannya
    bersifat asimetris.


    Maka nilai hanya dapat diwujudkan melalui suatu pranata (sebagaimana cinta lelaki
    perempuan diwujudkan dalam lembaga perkawinan), tetapi adanya suatu pranata tidak
    dengan sendirinya merealisasikan nilai yang direpresentasikannya (seperti juga tidak
    setiap perkawinan menjadi tempat penjelmaan cinta lelaki dan perempuan). Pemilu
    merepresentasikan hak rakyat untuk menentukan sistem pemerintahannya, tetapi
    pelaksanaan Pemilu tidak dengan sendirinya mewujudkan hak rakyat tersebut (misalnya
    karena penggunaan pemaksaan dalam pemberian suara, atau karena rakyat dipikat
    dengan sejumlah uang sogok untuk mendapatkan suara yang diinginkan). Lembaga
    pengadilan merepresentasikan nilai keadilan, tetapi tidak setiap lembaga pengadilan
    merealisasikan keadilan bagi para pencari keadilan sebagaimana mestinya, apalagi kalau
    lembaga-lembaga itu sudah dikuasai oleh semacam jaringan mafia peradilan.


    Kedua, setiap orang yang menggunakan pengamatannya dengan cermat dapat melihat
    kesenjangan antara nilai dan lembaga yang mengejawantahkannya. Namun demikin,
    ketajaman dalam melihat dan merasakan kesenjangan itu ada secara khusus dalam diri
    para seniman, Ini bukan karena para seniman lebih saleh, lebih sadar hukum, atau lebih
    berkomitmen terhadap transparansi, tetapi karena dalam menciptakan karya-karya
    kreatif yang berhasil, para seniman harus memenuhi tuntutan otentisitas pesan yang
    hendak disampaikan , dan orisinalitas ekspresi dalam pengungkapan pikiran dan
    perasaan. Otentik berarti bahwa suatu pesan yang diungkapkan, merupakan hasil
    pergulatan pribadi yang intens dan total, dan bukan sekedar buah pikiran intelektual
    atau letupan entusiasme emosional.


    Pesan yang otentik berbeda dari pesan yang benar, karena kebenaran pesan diukur
    berdasarkan kesesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang ditunjuk oleh oleh
    pesan bersangkutan, sedangkan otentisitas ditentukan oleh kesesuaian antara apa yang
    dikatakan dan keyakinan serta penghayatan orang yang mengatakannya. Demikian pun
    orisinalitas berarti bahwa cara mengungkapkan suatu pesan, mencerminkan hasil suatu
    perjuangan khusus untuk mendapatkan bentuk penyampaian yang unik. Keistimewaan
    sebuah karya seni ialah bahwa baik isi pesan maupun bentuk penyampaiannya sekaligus
    merupakan pancaran kepribadian seorang seniman yang memperlihatkan secara ideal
    keunikan tiap pribadi manusia dan kemampuan tiap pribadi menyampaikan satu aspek
    kenyataan hidup secara khas.


    Tidak mengherankan bahwa para seniman akan sangat peka terhadap segala pesan, juga
    pesan dan pernyataan yang disampaikan dalam ruang publik dan bahkan dalam ruang
    politik (misalnya janji politik untuk lebih memperhatikan pendidikan atau pernyataan
    mengenai kesejahteraan rakyat). Pesan-pesan dan pernyataan tersebut akan diuji
    berdasarkan kriteria seniman dalam menilai sebuah karya seni, yaitu otentisitas
    peryataan, dan orisinalitas ekspresi. Sebuah pernyataan yang tidak otentik, hampir
    dengan sendirinya tidak mencerminkan pikiran dan perasaan orang yang
    mengucapkannya, mana pula komitmen pribadinya terhadap pernyataannya. Demikian
    pun sebuah pernyataan yang tanpa orisinalitas hanya merupakan replika ucapan orang
    lain, atau reproduksi slogan dan wacana umum, sehingga tidak mengesankan sebagai
    suatu ungkapan pribadi yang telah mengalami pergulatan dalam mencari bentuk
    ekspresi yang unik. Apa yang tidak otentik menjadi palsu, dan ekspresi yang tanpa
    orisinalitas menjadi kodian. Tentang kesenjangan ini penyair Rendra membuat
    semacam deklarasi dalam puisi:


    Aku tulis pamplet ini / karena lembaga pendapat umum /ditutupi jaring laba-laba /
    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk / dan ungkapan diri ditekan / menjadi pengiya-
    an


    Apa yang terpegang hari ini / bisa luput besok pagi / ketidakpastian merajalela / di
    luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki / menjadi marabahaya / menjadi isi
    kebon binatang


    (Dari sajak “Aku Tulis Pamplet Ini”) 16


    Dan tentang otentisitas pernyataan dan orsinalitas ekspresi Rendra berkata:


    Apakah artinya janji yang ditulis di pasir? / Apakah artinya pegangan yang hanyut di
    air? / Apakah artinya tata warna dari naluri rendah kekuasaan? / Apakah artinya
    kebudayaan plastik dan imitasi ini?


    (Dari sajak “Ketika Udara Bising”) 17


    Kesenjangan antara nilai dan wujud pengejawantahannya adalah jamak dalam
    kebudayaan. Akan tetapi seni tidak memberikan toleransi kepada diskrepansi ini karena
    otentisitas akan menuntut bahwa nilai harus dihayati secara total dan tuntas, dan
    diinternalisasi menjadi personal, sementara orisinalitas tidak berkompromi dengan
    imitasi, duplikasi, reproduksi dan pretensi. Semua ini tidak berhubung dengan moral
    umum, tetapi tetapi dengan moral pribadi, yaitu apa yang diyakini sebagai disiplin yang
    menjamin daya cipta. Namun demikian apa yang oleh kalangan seniman dikemukakan
    sebagai syarat estetik dapat menjadi referensi bagi kejujuran moral dan akuntabilitas
    politik.


    III


    Hubungan di antara ruang privat dan publik tidak selalu jelas, karena kedua bidang itu
    tidak merupakan dua medan yang terputus, tetapi bersambung secara dinamis.
    Hubungan itu menjadi kontroversi yang belum selesai sampai hari ini dalam bidang
    yang kita namakan ekonomi. Apakah ekonomi termasuk dalam ruang privat atau ruang
    publik?


    Semenjak Adam Smith sudah dimaklumkan bahwa yang mengendalikan tingkahlaku
    ekonomi tidak lain dari kepentingan perorangan, kepentingan pribadi. Penjual roti
    membuka tokonya bukan untuk memberi makan kepada mereka yang membutuhkan,
    tetapi untuk mendapat untung bagi dirinya. 18 Diandaikan bahwa bila setiap orang
    bekerja dan berjuang untuk kepentingan dirinya, maka ada tangan tersembunyi yang
    akan mengatur kepentingan-kepentingan pribadi itu sehingga menguntungkan semua
    orang. Campur tangan kebijakan publik apalagi intervensi politik dalam pasar, hanya
    akan mengakibatkan distorsi yang mengganggu kinerja invisible hands, dan pada giliran
    berikutnya mengganggu kepentingan bersama.


    Untuk mempersingkat pembicaraan ini, dapat kita katakan bahwa ekonomi dapat
    dipandang sebagai ruang privat, tempat setiap orang mencari ikhtiar untuk menciptakan
    kehidupan yang baik, dan memberi jawaban kepada the question of good life yang
    menjadi tema dalam ruang privat. Namun demikian, dalam prakteknya impian Adam
    Smith tidak selalu menjadi kenyataan, karena kemakmuran suatu golongan acapkali
    tercipta karena golongan lain yang lebih besar disingkirkan dari akses ke sumber daya
    ekonomi. Pada saat itu muncul ketidakk-adilan, khususnya ketidak-adilan distributif,
    sehingga ekonomi menjadi persoalan keadilan, persoalan publik. Para ahli ekonomi
    sendiri sudah sejak lama mengakui bahwa apa yang dinamakan Pareto Optimal tidak
    pernah ada, yaitu keadaan di mana seorang mendapat keuntungan lebih banyak, tanpa
    menimbulkan kerugian pada pihak lain.


    Dengan cara yang amat disederhanakan dapat dikatakan bahwa sejauh menyangkut
    kehidupan yang baik atau good life ekonomi termasuk dalam ruang privat, sedangkan
    sejauh menyangkut keadilan dan ketidak-adilan maka ekonomi masuk dalam ruang
    publik. Kita tahu, persoalan mengenai sifat privat dan publik dalam ekonomi sudah
    menjadi bahan perdebatan para ahli dari tahun ke tahun bahkan dari abad ke abad.
    Dalam negara-negara sosialis ekonomi seluruhnya menjadi masalah publik, sedangkan
    negara-negara demokrasi selalu berdebat tentang trade-off atau pergeseran antara
    ekonomi sebagai ruang privat dan ruang publik. Di Indonesia masalah itu menjelma
    menjadi debat tentang peran pasar dan peran negara dalam ekonomi, dan pilihan antara
    liberalisasi pasar sebagaimana diusulkan oleh Washington Consensus pada 1994 dan
    peran kebijakan publik dalam ekonomi. Sementara itu kalau kemiskinan belum
    menurun, lapangan kerja tetap sulit, dan harga barang terus naik, apakah hal ini harus
    dilihat sebagai kegagalan pasar atau kegagalan pemerintah?


    Masalah ini berada di luar pokok pembicaraan hari ini, tetapi mempunyai implikasi
    tertentu terhadap persoalan seni dan civil society. Dari satu pihak sudah dikatakan
    bagaimana seni dapat merespons masalah-masalah dalam civil society. Masalah lain
    adalah apakah tema-tema kesenian mempunyai semacam akar sosial-ekonomi dan
    sosial politik, yang kemudian bertunas dan berkembang sebagai sebuah karya kreatif
    seni? Apakah seorang seniman, disengaja atau pun tidak, dinyatakan atau pun
    disembunyikan, memperlihatkan sesuatu yang menyangkut latarbelakang dan konteks
    konteks sosial-ekonomis dan sosial-politisnya, meski pun hubungan itu telah
    ditransformasi melalui sublimasi estetik dan sofistikasi artistik? Di antara pemikirpemikir
    tersebut ada kesepakatan bahwa ada hubungan itu, ada semacam social
    underpinnings
    dari tiap karya seni. Masalahnya adalah bagaimana bentuk dan wujud
    hubungan tersebut? 19


    Filosof Adorno misalnya beranggapan bahwa bukan hanya karya seni tetapi tiap teori
    ilmu pengetahuan harus dipandang pertama-tama sebagai teori tentang masyarakat di
    mana teori tersebut diproduksikan. Namun demikian, dalam hal seni, sebuah karya
    bukannya menjadi pantulan atau refleksi keadaan sosial ekonomi dan sosial politis
    masyarakat, melainkan lebih menjadi antitesa terhadapnya dan berada dalam tegangan
    dialektis dengan masyarakatnya. 20 Habermas dengan mengikuti rekannya Walter
    Benjamin berpendapat bahwa dalam masyarakat borjuis yang kapitalis banyak
    kebutuhan manusia yang berhubung dengan rasionalitas nilai (Wertrationalitaet) sudah
    tidak mendapat tempat yang pantas dan bahkan diperlakukan sebagai ilegal, karena
    tidak memenuhi tuntutan rasionalitas instrumental (Zweckrationalitaet) yang menjadi
    pedoman satu-satunya dunia industri yang kapitalis. Beberapa dari kebutuhan tersebut
    adalah pergaulan mimetis dengan alam, pergaulan dengan badan, keinginan untuk
    hidup solider dengan orang lain, serta keinginan untuk merasakan kebahagiaan
    menghayati pengalaman komunikasi yang tidak serba pragmatis. Semua ini kemudian
    tertampung dalam kesenian yang memberi tempat secara real atau secara virtual untuk
    memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut. 21


    Paham-paham filosofis dan sosiologis itu dapat ditarik implikasinya untuk kehidupan
    kesenian di Indonesia. Kalau setiap karya seni mempunyai semacam social
    underpinnings atau akar kemasyarakatan, maka kosekuensi apa yang dapat kita tarik
    dari sana?


    Pertama, dapatkah dengan mendalami karya-karya seni di Indonesia, kita memperoleh
    suatu impresi bahkan pengetahuan mengenai perkembangan masyarakat kita, karena
    kesenian melalui sofistikasi estetis dan sublimasi artistik dapat mengungkapkan
    berbagai masalah sosial kita atas caranya sendiri, baik dengan menyatakannya maupun
    dengan menyembunyikannya? Kita tahu bahwa dalam simbolisme seseorang dapat
    menyatakan sesuatu dengan menyembunyikan, dan dapat menyembunyikan sesuatu
    dengan menyatakannya. Kedua, sekalipun karya seni dapat menjadi tempat konflik konflik
    sosial ekonomi diungkapkan secara tersirat dan tersembunyi, apakah hal ini
    berarti bahwa seni dapat menjadi tempat seseorang menyembunyikan diri dan
    menghindari konflik-konflik sosial ekonomi, atau harus menjadi tempat orang
    mengungkapkan konflik-konflik tersebut sebagai bentuk tanggungjawabnya terhadap
    perkembangan yang ada dalam masyarakat?


    Jawaban terhadap pertanyaan tersebut hanya dapat diberikan oleh para seniman sendiri
    berdasarkan opsi pribadi yang mereka tentukan sendiri, dan berdaarkan penguasaan
    mereka terhadap masalah masyarakatnya dan ketrampilan mereka dalam menggunakan
    format estetik dan disiplin artistik yang mendukung pesan yang hendak disampaikan.
    Kita dapat berbahagia bahwa ada seniman-seniman kita seperti penyair Rendra telah
    menyatakan sikapnya secara gamblang, tanpa keraguan:


    Orang-orang miskin di jalan / yang tinggal di dalam selokan / yang kalah dalam
    pergulatan,/ yang diledek impian, / janganlah mereka ditinggalkan


    (
    Dari sajak “Orang-Orang Miskin”) 22


    Pesan penyair ini tentu saja tidak hanya tertuju kepada rekan-rekannya para seniman,
    dan khususnya para penyair Indonesia, tetapi kepada semua kita sebagai penghuni yang
    sah dari civil society yang bernama Indonesia.


    Jakarta, 31 Oktober 2009


    Catatan kaki:

    1. Kutipan dari Rendra, Perjalanan Bu Aminah (kumpulan sajak), Jakarta, Yayasan
      Obor Indonesia, 1997 :
    2. Distingsi privat dan publik ini dibuat berdasarkan teori liberal sebagaimana diuraikan
      oleh Bruce Ackerman dalam bukunya Social Justice in the Liberal State (1980) yang
      dibahas oleh Seyla Benhabib “Models of Public Space: Hannah Arendt, the Liberal
      Tradition, and Juergen Habermas” dalam Craig Calhoun (ed.), Habermas And The
      Public Sphere
      , Cambridge – Massachusetts – London, The MIT Press, 1992 : 81 -85.
    3. Peter Uwe Hohendahl, “The Public Sphere: Models and Boundaries”, dalam Craig
      Calhoun (ed.), op.cit.: 100 -101.
    4. Max Weber menamakannya “das Monopol legitimer Gewaltsamkeit” atau monopoli
      penggunaan kekerasan secara legitim, sebagai hak istimewa negara di samping haknya
      menarik pajak. Lihat Max Weber, Wirtschaft und Gesellschaft, Tuebingen, J.C.B. Mohr,
      1985 (1922) : 821 – 824.
    5. Tentang pembagian ruang privat, ruang publik dan ruang politik lihat Juergen
      Habermas, Strukturwandel der Oeffentllichkeit, Darmstadt & Neuwied, Luchterhand
      Verlag, 1980 : 42 – 46.
    6. Konsep “kapitan perahu” dikemukakan oleh Prof. Mattulada berdasarkan beberapa
      penelitian yang dilakukannya tentang budaya pesisir di Sulawesi.
    7. Adrian B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut
      Sulawesi Abad XIX
      , Jakarta, Komunitas Bambu, 2009 : 2.
    8. T. S. Kuhn, seorang ahli sejarah ilmu pengetahuan, mengemukakan dalilnya bahwa
      suatu teori ilmu pengetahuan sering menimbulkan sikap militan dalam kalangan
      penganutnya untuk membelanya. Hal ini disebabkan karena selain isi empirisnya, ada
      semacam metaphysical underlay dalam setiap teori, yang berhubung dengan pandangan
      dunia dan pandangan hidup seseorang. Berubahnya sebuah teori ilmu pengetahuan
      dikuatirkan akan mengganggu pandangan dunia dan pandangan hidup seseorang. Lihat
      T. S. Kuhn, The Structure of Scientifc Revolution, Chicago, University of Chicago Press,
      1962 : 58 -61.
    9. Dr. Wendelin Rauch & Dr. Jakob Hommes (ed.), Lexikon des Katholischen Lebens,
      Freiburg, Verlag Herder, 1952, sub voce “Kunst”.
    10. Kutipan diambil dari wawancara Hardi dan Rendra “Rendra: Saya Punya Mental
      Juara”, dimuat dalam Edi Haryono (ed.), Ketika Rendra Baca Sajak, Kepel Press, 2004 :
      133 – 134.
    11. Rendra, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Jakarta, Pustaka Jaya, 1993 : 34.
    12. Rendra, Empat Kumpulan Sajak, Jakarta, Pustaka Jaya, 1994 : 44.
    13. Rendra, Blues Untuk Bonnie, Jakarta, Burungmerak Press, 2008 : 18.
    14. Tentang perkembangan disiplin artistik baca uraian Rendra dalam Rendra,
      Mempertimbangkan Tradisi
      (diedit oleh Pamusuk Eneste), Jakarta, Gramedia, 1984 : 61
      -70.
    15. Rendra, Orang-Orang Rangkasbitung, Depok, Rakit, 2001 : 32 – 33.
    16. Rendra, Potret Pembangunan Dalam Puisi : 31
    17. Rendra, Perjalanan Bu Aminah, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997 : 19.
    18. Kutipan yang sangat terkenal dari Adam Smith berbunyi: “It is not from the
      benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but
      from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity
      but to their self-love, and never talk to them of our own necessities but of their
      advantages”
      , Lihat Adam Smith, The Wealth of Nations, vol.I, London, J.M. Dent &
      Sons Ltd, 1957 : 13.
    19. Masalah ini telah saya bahas dalam tulisan saya yang lain tentang “Pergeseran Moral,
      Perkembangan Kesenian dan Perubahan Sosial”, dalam Ignas Kleden, Sastra Indonesia
      Dalam Enam Pertanyaan
      , Jakarta, Grafiti & Freedom Institute, 2004 : 367 – 403.
    20. Theodore W. Adorno, Aesthetische Theorie, Frankfurt a.M., Suhrkamp, 1977 : 19.
    21. Juergen Habermas, Kultur und Kritik, Frankfurt a.M., Suhrkamp : 318.
    22. Rendra, Potret Pembangunan Dalam Puisi : 82 82.

  • Momen Mendengarkan M i l e n i a l

    Momen Mendengarkan M i l e n i a l

    Oleh  Josef  Bataona

    “A good listener tries to understand what the other person is saying. In the end he may disagree sharply, but because he disagrees, he wants to know exactly what it is he is disagreeing with.” (Kenneth A. Wells)

    PERTEMUAN rutin anggota HR Directors Forum (HRDF) dioptimalkan untuk saling update, saling belajar dan tentu saja menjaga tali silaturahmi tetap terjalin. Agendapun dirancang untuk memungkinkan para anggota mendapat update terkait berbagai issue kekinian seputar Pengelolaan SDM di industry 4.0 and beyond, termasuk ragam generasi dan digitalisasi.

    Transforming People for Transforming Business

    Mengelola 35 ribu drivers dan karyawan di 75 pools di 20 kota tentu bukan pekerjaan yang muda.   Para leaders tentu dipersiapkan untuk memainkan peran tersebut. Untuk itu mereka dtuntut untuk bisa memimpin diri sendiri (Leading self) sebelum mereka dipercayakan untuk memimpin team (Leading Team) dalam rangka meraih sukses di bisnis (Leading the Business). Dan untuk menyamakan dan menyatukan irama langkah, maka para pimpinan dimintaut untuk bisa melayani dengan nilai-nilai: integritas, peduli, inovatif dan sepenuh hati.

    Dengan penuh keyakinan, ibu Noni Sri Aryati Purnomo, CEO Blue Bird memaparkan bagaimana leader di Blue Bird di yakinkan bahwa setiap leader bertanggung jawab atas kehidupan 400 drivers dan keluarganya. Ini akan membuat mereka benar-benar mengambil keputusan yang bijak, manakala berkaitan dengan pengembangan para driver dalam jangka panjang dalam menunjang bisnis. Berikut kompilasi foto, termasuk foto depan Tesla, taksi mewa bertenaga listrik.

    Mendengarkan Milenial

    Salah satu agenda penting yang kami tunggu-tunggu adalah dialog dengan milenial, yang dihadirkan dari dua perusahaan berbeda. Berikut pertanyaan dan tanggapan para milenial.

    Apa kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan saat awal bekerja?

    1. Ada saja proses kerja yang bisa disederhanakan. Kami usulkan, tapi terbentur tembok, katanya dari dulunya begitu, sudah baku.
    2. Kerja dengan yang seumur orang tuaku. Mereka mengharapkan kami bisa mengerjakan banyak hal tanpa ditraining. Tapi kami kan baru, ingin ditrain, tapi kalau tidakpun kami tidak tinggal diam, kami learn by doing.
    3. Salah satu milenial melihat perjalanan awalnya seakan tidak berujung, tidak bisa melihat impact kerjaannya. Inginnya lebih kongkrit. Selain itu dia menginginkan flexibility, tidak terikat jam. Dengan pindah ke role baru di HR, dia masih tinggal di perusahaan 7 tahun karena bisa terbuka menyampaikan aspirasi, dan didengar; saya move to HR dengan proyek yang setahun kemudian bisa implementasi

    Sering dianggap sebagai generasi instan? Setuju?

    1. Instan? Tidak, kami masih hargai proses, perlu ukuran ke next step. Misalnya kalau saya mau jadi manager seperti dia, diperlukan apa saja dan bisa dalam waktu berapa lama?
    2. Tidak setuju. Perlu peneguhan atau kepastian apakah value pribadi sesuai dengan value perusahaan.
    3. Kerja cepat dan banyak, hasilnya juga harus cepat dinikmati.

    Apa yg membuatmu tinggal lebih lama di perusahaan? Apakah kompensasi itu utama?

    1. Engagement tumbuh bila aspirasi berbanding lurus dg kompensasi dan juga appreciation/recognition
    2. Environment nyaman, ada kebanggaan/pride, kesempatan self development karena manager peduli pada pengembangan anak buah
    3. Good leader, ada mentor/buddy, right compensation, appreciation.

    Beda generasi menurut kamu?

    1. Umur dan experience membentuk karakter orang lebih bijak. lebih banyak knowledge
    2. Adaptive technology, older lebih suka cara komunikasi face to face, kami lebih suka di sosmed, walau sama-sama ingin mencapai target
    3. Yang lebih tua tidak mau balas email maunya didatangi; willingness to speak di forum tapi terbentur kebiasaan yang tua, yaitu beri instruksi dan lainnya mendengarkan

    Ternyata dengan berbagai upaya yang dilakukan management, banyak juga milenial yang keluar; apa lagi yang harus diperbuat?

    1. Milenial tempting untuk kerja di unicorn, atau kerja di perusahan yang kuat brandingnya
    2. Budaya perusahaan, yang tercermin dari perilaku para leader turut menjadi faktor penting
    3. Keluar karena bos tidak peduli pada pengembangan anak buah.
    4. Terkadang dalam exit interview mereka hanya bilang tidak sesuai minat; bosan, pengen kuliah lagi; ada juga karena perusahaan lain lebih keren, teman-temanku bangga bekerja disana

    Hanya tiga orang yang didengarkan, namun beberapa pendapat mereka boleh jadi merupakan pendapat milenial umumnya, walaupun kita tidak bisa melakukan generalisasi.

    Hemat saya, langkah bijak yang perlu dilakukan oleh setiap leader adalah: lakukan dialog rutin dangan anggota timmu, dengarkan aspirasi mereka, bantu mereka untuk bisa berkontribusi maksimal ditengah lingkungan dengan generasi beragam. Muda-mudahan mereka bisa kita tahan lebih lama lagi di perusahaan.

    “A wise old owl sat on an oak; The more he saw the less he spoke; The less he spoke the more he heard; Why aren’t we like that wise old bird?”  (Chinese Proverbs)

    Sumber : hhttps//www.josefbataona.com

  • Menunggu Paitua Jokowi Buang Suara

    Menunggu Paitua Jokowi Buang Suara

    Oleh Ansel Deri

    PERISTIWA tragis Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8 2019) lalu menyulut amarah sebagian besar masyarakat baik di Papua maupun Papua Barat. Papua menjadi seksi di mata publik tanah air. Masyarakat tanah Melanesia itu seperti berselubung amarah. Merasa tersinggung karena harkat dan martabatnya direndahkan dengan sarkastis: anjing, babi atau monyet. Gelombang demonstrasi sejumlah elemen mahasiswa dan masyaraka terjadi sporadis tak hanya di beberapa kota di tanah Papua tapi kota-kota lain di Indonesia.

    Peristiwa itu bermula sehari sebelum peringatan HUT ke-74 RI. Asrama mahasiswa Papua di Kalasan dikepung massa sejumlah ormas pada Jumat (16/8). Kehadiran massa tersebut ditengarai dilatari adanya penistaan simbol negara yang diduga dilakukan mahasiswa asal Papua. Akibatnya, asrama porak poranda akibat aksi massa menyusul baku hantam massa dengan mahasiswa.

    Lain Kalasan, lain Rajabali. Sejumlah mahasiswa yang terhimpun dalam Aliansi Mahasiswa Papua hendak menggelar aksi damai di Balai Kota Malang, Kamis (15/8). Aksi tersebut, demikian Wali Kota Sutiaji, mengecam penandatanganan New York Agreement antara Indonesia dan Belanda yang terjadi 15 Agustus 1962. Namun, aksi dihadang sekelompok warga di kawasan Rajabali yang berbuntut bentrok.

    Aksi di dua kota berbeda itu memantik perhatian Presiden Jokowi. Paitua (bapa tua, sapaan akrab dalam bahasa lokal Papua) Jokowi merasa ibah kemudian buang suara, angkat bicara. Melalui linimasa, paitua menyapa pace (bapa) dan mace (ibu) serta basodara (saudara dan saudari) di tanah Papua. Ia mengaku memahami mereka tersinggung. Dari hati paitua buang suara. Sebagai saudara sebangsa dan setanah air, paling baik adalah saling memaafkan. Emosi itu boleh, tetapi memaafkan itu lebih baik. Demikian kata Jokowi. Apakah sebatas itu Jokowi buang suara?

    Merebus batu

    Perlakuan rasis dan diskriminatif atas sebagian mahasiswa asal Papua adalah bukti nyata lemahnya pemahaman sebagian anak bangsa atas negeri yang beraneka ragam suku, agama, adat-istiadat, dan asal-usul yang berdiam di honai (rumah) besar bernama Indonesia.

    Peristiwa Kalasan dan Rajabali menunjukkan perjuangan warga Papua setara warga negara lainnya, terutama hak-hak asasi manusia kerap menjelma jadi perilaku rasis dan diskriminatif. Bagi mahasiswa asal Papua, mengharapkan keadilan dari negara, mengutip tokoh Papua Thaha al Hamid, seperti “merebus batu.” Kita semua anak bangsa bisa memaklumi mengapa masyarakat Papua ganas (marah) menyusul aksi rasial seperti di atas.

    Dalam Heboh Papua (2010), Amiruddin al Rahab menyebut perjuangan untuk meraih hak, khususnya hak asasi manusia di Papua telah menjelma menjadi perjuangan politik. Ada dua faktor yang yang mendorong gejala ini terjadi. Pertama, terlalu lamanya pemerintah mengabaikan rasa adil di Papua sehingga persoalan kian bertumpuk. Kedua, Papua kian berjarak dengan daerah lain akibat terlalu rendahnya solidaritas rakyat dan daerah lain terhadap penderitaan orang Papua.

    Jalinan dari kedua faktor ini membuat rakyat di Papua seakan belum menjadi bagian dari Indonesia secara nyata. Bahkan dapat dikatakan, rakyat di Papua seakan dibiarkan berjuang sendirian untuk meraih hak konsitusional. Maka membicarakan pemenuhan hak asasi di Papua, berarti kita memeriksa keseriusan pemangku kekuasaan di satu sisi dan di sisi lain melihat tingkat solidaritas rakyat Indonesia dari daerah lain terhadap Papua.

    Bahkan jauh sebelumnya, dalam Otonomi Khusus Papua Telah Gagal (2012), Socratez Yoman mengingatkan agar perlu mengubah kebijakan dan proses pembangunan yang selama ini diwarnai pendekatan keamanan (security approach) menjadi pendekatan kemanusiaan dan kesejahteraan (humanity and prosperity approach) yang berpijak pada kearifan lokal.

    Kebijakan otonomi khusus bagi Papua adalah solusi bijaksana, tepat, dan bermartabat. Karena itu dibutuhkan pemikiran jernih dan rasional untuk mengurai permasalahan krusial, struktural, dan sistemik dalam pelaksanaan otsus. Butuh inovasi politik, bukan kebijakan politik yang usang namun dipaksakan. Dalam kaitan dengan peristiwa Kalasan dan Rajabali yang membuat tak hanya heboh di seluruh tanah Papua dan Indonesia, hemat saya paitua Jokowi perlu juga buang suara lebih jauh agar masyarakat Papua merasa disapa sebagai sesama saudara sebangsa dan setanah Air yang hidup yang menetap di honai besar bernama Indonesia. Apa saja langkah itu?

    Menyapa rakyat

    Publik tahu bahwa Presiden Jokowi mengasihi masyarakat dan tanah Papua. Ia misalnya, setia memantau perkembangan terkini terutama terkait demonstrasi mahasiswa dan masyarakat buntut peristiwa rasial Kalasan dan Rajabali. Bahkan Presiden Jokowi juga menyampaikan niat menyambangi Papua saat memantai tambak garam di kampung Nungkurus, Kupang Timur, NTT, Rabu (21/8/2019). Mengapa kunjungan ini penting, ada beberapa catatan.

    Pertama, Jokowi perlu ke Jayapura kemudian bertemu langsung pemerintah dan seluruh elemen di sana. Paitua cukup bawa badan kemudian buang suara, bicara dari hati ke hati menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada masyarakat, termasuk Gubernur Enembe dan jajarannya, DPRP dan Majelis Rakyat Papua sebagai representasi kultural, pimpinan gereja lokal, tokoh masyarakat, pemuda serta lembaga adat, dan lain-lain.

    Kedua, Papua adalah pulau raksasa di timur Indonesia dengan kekayaan alam luar biasa besar. Ia tak hanya menjadi sumber kehidupan dan keberlangsungan manusia di seantero jagad tapi juga salah satu penopang pundi-pundi ekonomi Indonesia dengan perusahaan tambang raksasa, Freeport Indonesia. Karena itu, dalam memajukan Indonesia terutama tanah Papua, pemerintah dan masyarakat serta seluruh elemen harus bahu membahu ambil bagian dalam memajukan negeri. Masyarakat Papua mesti sungguh dilibatkan. Tak hanya itu, Papua terdiri dari aneka ragam suku, bahasa, dan adat-istiadat, yang mendiami gunung, lembah, bukit, ngarai, sungai, pantai, dan setiap lekuk pulau besar itu.

    Ketiga, orang Papua adalah tipikal manusia yang sangat menjunjung tinggi keberagaman suku, agama, adat-istiadat ras, dan asal-usul di manapun mereka berada. Niat Jokowi bertemu langsung masyarakat boleh jadi sekaligus menyegarkan memori kehadiran Jokowi dan Ibu Negara saat berada di kampung Yoka, Papua, 5 Juni 2014. Bahwa antara Iriana, isteri paitua Jokowi, ada tali temali kepapuaan, persaudaraan. Kata Jokowi, Iriana diambil dari nama Irian. Kakek Iriana, pernah mengajar di sana, lantas saat lahir diberilah nama itu. “Namanya Iriana. Irian. Kenapa namanya Iriana? Karena kakeknya dulu adalah guru di sini, Irian. Kemudian pulang saat istri saya lahir, lalu ngasi nama cucunya Iriana. Iriana saja namanya,” begitu kata Jokowi.

    Lepas dari itu, bila paitua Jokowi hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung isi hati pace deng mace dorang, niscaya mampu menghapus luka hati yang telanjur terkoyak akibat peristiwa rasial seperti yang terjadi di Kalasan dan Rajabali. Masyarakat Papua tentu merasa disapa sebagai sesama manusia dan warga bangsa setara dengan saudara dan saudarinya di seluruh Indonesia. Dari sana, masyarakat Papua juga akan menghormati setiap pemimpin sebagai pengayom, pelindung masyarakat dan masyarakat tetap merasa nyaman berada di manapun di wilayah kedaulatan negeri ini.

    Hal itu juga menjadi sumber kekuatan bagi pemerintah memaksimalkan potensi yang dimiliki Papua untuk ikut memajukan tanah air dalam bingkai NKRI. Masyarakat tanah Papua adalah tipikal manusia beradat, bukan masyarakat tak tahu adat. Momen pertemuan ini tentu juga akan membahagiakan mereka. Bukan tidak mungkin paitua Jokowi dianggap dan diangkat sebagai anak adat, dia yang punya tugas tambahan merawat nilai-nilai adat, etika, tata krama, sopan santun warisan leluhurnya. Sambil menunggu paitua Jokowi buang suara, terima kasih dalam dialek Papua pantas disampaikan kepada paitua: Wa… wa…. wa…..

    Sumber Media Indonesia, 6 September 2019

  • Pidato Jokowi Mencari Bentuk

    Pidato Jokowi Mencari Bentuk

    Oleh Rizal  Mallarangeng

    Barangkali sekarang adalah saat yang tepat untuk mengingatkan Joko Widodo bahwa podium dan persuasi adalah instrumen kekuasaan yang penting, apalagi jika dilakukan seorang presiden.

    Teddy Roosevelt, presiden Amerika Serikat di awal abad ke-20, pernah berkata bahwa podium bagi pimpinan tertinggi eksekutif adalah the bully pulpit. Dalam membuat kebijakan, tangan presiden terikat dengan berbagai kewenangan yang melekat di lembaga lainnya. Walau duduk di kursi tertinggi pemerintahan, kekuasaan seorang presiden selalu terbagi.

    Tetapi, di podium, dengan simbol kebesaran negara, ia berdiri sendiri, bebas mengutarakan ide, opini, dan bujukan yang mampu mengubah pikiran begitu banyak orang. Memang, untuk bisa memanfaatkan podium secara maksimal, diperlukan bakat alamiah. Obama, misalnya, sejak awal telah menemukan gaya retorika yang memukau sebab ia memiliki bakat besar untuk berbicara di depan publik. Kemampuan berpidato adalah sebuah seni. Ia dapat dipelajari, namun faktor bakat dan kepribadian memiliki pengaruh yang tidak kecil.

    Dalam hal ini barangkali harus diakui bahwa Jokowi, sebagai seorang pribadi, tidak termasuk a natural public speaker. Tetapi, tidak berarti bahwa ia tidak perlu atau tidak bisa tampil sebagai pembicara yang menarik serta membangkitkan inspirasi. Pembicara yang baik tidak harus menjadi singa podium.

    Sejauh ini, dalam berpidato sebagai presiden, Jokowi sebenarnya beberapa kali tampil dengan sangat mengesankan. Contoh terbaik dalam hal ini adalah pidatonya pada peringatan Hari Pers Nasional di Jakarta, pada akhir April.

    Di hadapan ratusan tokoh pers yang menghadiri acara tersebut, dengan naskah pidato di tangan, tetapi hanya sesekali diliriknya, Jokowi seolah menemukan dirinya, comfortable in his own skin, berbicara sebagai pemimpin dengan pesan yang berbobot. Ia menjelaskan berbagai program pemerintah, meminta kesabaran sambil menekankan bahwa di ujung jalan yang berliku pasti terbentang horizon baru yang lebih baik buat semua.

    Dengan pidato semacam ini, kita melihat pada diri Jokowi seorang pemimpin yang sungguh-sungguh serta mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia juga memperlihatkan ketegasan, tanpa meninggalkan citra kesederhanaan yang selama ini melekat padanya.

    Pidato semacam ini, dengan durasi sekitar 15 menit, patut mendapat acungan dua jempol serta tepuk tangan yang meriah. Kalau diberi nilai, ia layak mendapat A plus. Sayang, beberapa pidato Jokowi lainnya tidak mencapai nilai sebaik itu, bahkan mungkin jauh di bawahnya.

    Di Blitar pada 1 Juni, misalnya, pidato Jokowi sebenarnya mengandung banyak persoalan. Faux pas tentang kota kelahiran Bung Karno, yang kemudian ramai menjadi bahan olok-olok di dunia maya, hanya salah satu di antaranya.

    Kalimat pembuka pidato ini agak lebay, berlebihan, karena mengungkapkan perasaan yang mungkin sulit dipercaya (“Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran proklamator kita. Hati saya tergetar.”). Isinya juga terlalu normatif dengan logika yang melingkar, tautologis (“Pancasila harus kita wujudkan dengan memperkuat persatuan nasional.”).

    Namun, kelemahan terbesar di sini: Jokowi tidak menjadi dirinya sendiri. Mungkin ia dan tim penulis pidatonya larut dalam momen besar peringatan kelahiran Pancasila serta peran Bung Karno, dan karena itu teks yang dibacanya pun bertebaran dengan kalimat-kalimat besar yang sebenarnya asing bagi kepribadiannya.

    Aura Jokowi cocok dengan kata “kerja,” bukan kata “perjuangan,” apalagi kata “revolusi.” Kalau ia terlalu memaksakan ungkapan yang sesuai dengan cita-rasa Bung Karno, maka Jokowi justru mengecilkan kekuatannya sendiri.

    Jadinya, selama delapan menit Presiden Ke-7 RI ini berpidato di Blitar, suasana yang tercipta datar-datar saja, tanpa antusiasme, tanpa kehangatan. Mungkin itu sebabnya, sebagaimana yang tampak di layar televisi, pada saat pidato tersebut disampaikan beberapa kali Ibu Megawati Soekarnoputri berbisik-bisik dengan Boediono, mantan wapres, yang duduk persis di sebelahnya.

    Semua itu barangkali patut menjadi pelajaran berharga, bagi Jokowi dan bagi tim inti di lingkaran kepresidenan. Dua contoh pidato di atas memperlihatkan bahwa setelah hampir setahun, Jokowi masih mencari bentuk yang baku. Terkadang kekuatannya muncul bersinar, seperti dalam beberapa momen terbaik masa kampanye tahun lalu, namun terkadang pula kekuatan ini meredup hampir tak bersisa.

    Saran saya, jangan kecil hati. Perjalanan ke depan masih panjang. Pemimpin harus terus belajar-bahkan Obama sampai sekarang, kalau menghadapi peristiwa penting, mempersiapkan dan melatih dirinya dua atau tiga jam sebelum menyampaikan pidato di depan publik.

    Tidak ada pemimpin yang langsung jadi. Justru yang hebat adalah pemimpin yang tidak terbebani, tetapi tumbuh dalam kekuasaan. The great leaders are those who grow in power. Yang penting adalah kemauan untuk belajar. Kembangkan kelebihan yang sudah ada, sambil menyadari dan terus memperbaiki kelemahan yang masih tersisa.

    Kita semua berharap Jokowi akan menjadi pemimpin yang sukses. Kita tahu, sebagai presiden, tangannya tidak begitu saja bebas bergerak dalam melahirkan kebijakan sebab ia harus mengarungi banyak kepentingan, terutama dari kelompok pendukungnya sendiri. Justru karena itulah, pada saat berdiri di podium dan menjadi satu-satunya pusat perhatian orang, Jokowi harus menjadi dirinya sendiri serta berbicara sebagai pemimpin tertinggi. Hanya dengan cara ini ia dapat memelihara modal politiknya yang terbesar, yaitu simpati dan opini publik.

    Dan hanya dengan cara itu, barangkali ia dapat menggerakan Indonesia, untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya . Terhadap Winston Churchill, kaum sejahrawan berkata, ia memobilisasi the English words untuk menyelamatkan Eropa dari penaklukan Adolf  Hitler. Terhadap presiden Joko Widodo , suatu waktu kelak kita berharap aka nada orang berkata, ia membangkitkan semangat Indonesia untuk melangkah semakin maju lewat kata-katanya yang halus, santun, dan merakyat.

    Sebagai penutup, mungkin ada baiknya kita dengarkan Marcus Tullius Cicero, orator terbesar Emperium Romawi “Tak ada yang dapat memberimu nasihat lebih baik selain suara yang datang dari lubuk batinmu sendiri.” So be yourself, Mr. President.

    Sumber Artikel dari Buku Dari Jokowi ke Harari, Kepustakaan Populer Gramedia, 2019

  • Warga Papua Harapkan Jokowi-Mar’uf Bawa Berkat

    Warga Papua Harapkan Jokowi-Mar’uf Bawa Berkat

    Wamena, berandanegeri.com

    Warga masyarakat Bogoga, wilayah Pegunungan Papua, Provinsi Papua menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin masa jabatan 2019-2024 oleh Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia pada Minggu, (20/10) di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta.

    “Kami berdoa dan berharap kiranya tugas Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden amanah dan membawa berkat berlimpah bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk kami masyarakat di wilayah Pegunungan Papua,” kata Dem Wanimbo, tokoh masyarakat Bogoga, wilayah Pegunungan Papua dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (21/10).

    Selaku Ketua Tim Relawan Pemenangan Jokowi-Maruf Pegunungan Papua, kata Dem Wanimbo, dua putera terbaik bangsa, Jokowi-Maruf Amin diharapkan sungguh membawa perubahan signifikan selama kepemimpinannya, terutama masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok tanah air seperti Papua dan Papua Barat.

    “Kami masyarakat menaruh harapan besar kepada kedua pemimpin ini. Kami akan mendukung penuh kerja-kerja beliau berdua bersama Kabinet Kerja dalam memajukan bangsa dan negara, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan seperti Papua, yang merupakan beranda negeri,” lanjut Dem Wanimbo, yang juga Ketua Tim Pemekaran Calon Daerah Otonomi Baru (DOB) Bogoga, wilayah Pegunungan Papua.

    Masyarakat Pegunungan Papua, ujar Dem, juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada aparat keamanan gabungan TNI-Polri yang sudah ikut mengamankan prosesi pelantikan sehingga berjalan aman dan lancar. Ia mengharapkan agar situasi keamanan dan ketertiban itu terjaga hingga ke seluruh wilayah di Indonesia.

    “Periode kepemimpinan Bapak Presiden Jokowi dan Bapak Wakil Presiden KH Maruf Amin bersama Kabinet Kerja sangat strategis bagi kami warga masyarakat di daerah. Oleh karena itu, keamanan dan ketertiban mutlak diperlukan agar seluruh agenda pemerintah mulai dari pusat hingga daerah dapat berjalan lancar dan warga dapat berperan serta menyukses agenda pemerintahan Jokowi-Maruf,” ujar Dem.

     Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 di Gedung MPR Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, pukul 15.30 WIB, Minggu (20/10/2019) kemarin.

    Warga masyarakat dan relawan Jokowi-Ma’ruf terutama di wilayah Bogoga, Pegunungan Tengah Papua, menyambut gembira dan memberikan ucapan selamat kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. “Kami juga berdoa dan berharap kepada Bapak Jokowi dan Bapak KH Maruf Amin membawa Indonesia menjadi lebih baik serta masyarakatnya semakin sejahtera, termasuk kami yang tinggal di wilayah Pegunungan Tengah Papua,” kata Dem.

  • Memacu Gairah Belajar

    Memacu Gairah Belajar

    Oleh   Josef  Bataona

    “To be fully engaged, we must be physically energized, emotionally connected, mentally focused and spiritually aligned with a purpose beyond our immediate self-interest.” (Jim Loehr)

    SUASANA penuh gairah untuk terus berbagi dan belajar. Ini bukan pertama kali. Sudah 50 batch Certified Human Resource Professional Program Atma Jaya dengan alumni lebih dari 2.000 orang. Mereka adalah praktisi HR yang ingin membekali diri lagi dengan berbagai pengetahuan secara konsep kekinian maupun pengalaman dari praktisi. Mereka juga ingin membangun network dengan rekan-rekan di perusahaan lain, agar dikemudian hari setelah selesai mengikuti program, mereka bisa terus saling belajar.

    Energi Positif

    Menarik untuk mengintip reaksi peserta usai mengikuti sesi ini. Secara umum yang memberikan komentar mengedepankan verbatim: very inspiring. Tapi ada baiknya  juga untuk mengutip apa yang dirasakan Sri Rezki Eskawaty Rosmala berkaitan dengan energi positif:

    Dear pak Josef,

    Terima kasih sudah mengembalikan energi positif yang sempat hilang di hari ini. Terima kasih telah memberikan kebahagiaan di malam ini dengan cerita hidup yang begitu inspiring bagi kami.

    Senada dengan itu, Marsha Djafar berkomentar:

    Thank you pak … very inspiring, penatnya hari ini tetiba berubah dengan mendengarkan materi dari bapak

    Sementara itu komentar Esther Natalia seakan meneguhkan pernyataan diatas:

    @josefbataona Salut pak,

    Jadi aku tahu mengapa sejak awal kelas dimulai auranya beda: sangat menginspirasi, sangat menggugah hati

    The power of Story Telling

    Di awal sesi, saya memang menjanjikan untuk tidak berteori tetapi menceriterakan  berbagai praktek nyata yang saya kerjakan bersama rekan BOD di perusahaan. Tema sesi tentang Leadership, tapi fokus saya pada Leadership yang authentic, genuine yang sadar sepenuhnya akan professional calling, diantaranya adalah membuat anak buahnya tumbuh dan berkembang. Tidak lupa saya menyelipkan juga perjalanan hidup dan karier pribadi yang memang merangkak dari bawah.

    Lidia Sari yang cermat menyimak paparan itu, membuat catatan panjang di postingan Instagramnya, sebagai berikut:

    Am I a better person?

    Dibalik moto hidupku, saya membuat komitmen untuk terus belajar setiap saat agar bisa terus memperbaiki diri. Belajar hari ini agar bisa menjadi pribadi yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Dan saya hanya ingin membandingkan diri saya di waktu yang berbeda, tidak membandingkannya dengan orang lain. Nelly Magdalena dengan tajamnya menangkap pesan ini, sehingga dia berkomentar:

    Never ending learning. His life story, @josefbataona is very inspiring. He is truly a living “walk the talk” man. He always prove his motto “Be yourself, but better everyday.” Am I a better person today?

    Sementara itu komen Syahrir Aditya atas postingan IGku mempertebal keyakinanku akan hasil belajar peserta CHRP. Berikut komentar lengkapnya:

    Saya jadi ingat ketika bapak @josefbataona memberikan sharing di batch 38 pada Juli 2017, rasanya semua sharing bapak masih melekat dan menginspirasi hingga sekarang… semoga someday bisa satu ruang dan satu forum lagi dengan bapak.

    Dan harapan untuk bisa terus belajar bersama juga disampaikan Khairunnisa Zahra:

    Thank you pak Josef for today’s session. Very inspiring pak, semoga saya ada kesempatan lagi mengikuti kelas bapak di lain event

    Harapanku, kisah ini terus berlanjut saat semua peserta kembali ke dunia nyata, apalagi saat mereka mulai menjalankan peran sebagai leader. Semoga inspirasi yang mereka ungkapkan ini juga terus menginspirasi mereka dalam implementasi. Dan perjalanan untuk belajar masih terus berlanjut. Peserta sudah menambah jaringan persahabatan dengan 56 peserta lainnya. Bila masing-masingnya mempunyai masa kerja rata-rata 5 tahun saja berarti mereka punya secara kolektif 280 tahun pengetahuan dan pengalaman yang bisa dibagikan kepada teman-temannya. Semoga !

    “When you are enthusiastic about what you do, you feel this positive energy.” (Paulo Coelho)

    Sumber : hhtps://www.josefbataona.com

  • Kekuasaan, Gender dan  Hubungan Produksi: Perspektif Tetralogi Pulau Buru

    Kekuasaan, Gender dan Hubungan Produksi: Perspektif Tetralogi Pulau Buru

     

    Oleh Ignas Kleden, Sosiolog

     

     

     

    I

     

    Empat novel Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer dapat dinikmati dengan beberapa cara baca, karena karya-karya itu menampilkan suasana awal munculnya kesadaran kebangsaan di Hindia Belanda, dengan berbagai faset persoalan yang sama menariknya. Di sini akan diterapkan tiga cara membaca yaitu 1) Melihat keempat novel itu sebagai narasi tentang kehilangan yang harus ditanggung setelah suatu perjuangan panjang dan getir; 2) Membacanya sebagai cerita tentang hubungan antara lelaki dan perempuan dengan simpati besar terhadap peranan perempuan; 3) Meninjaunya sebagai lukisan tentang peranan hubungan produksi dalam perubahan masyarakat, khususnya dalam usaha emansipasi orang terjajah terhadap pihak penjajah, dan emansipasi perempuan terhadap dominasi laki-laki.

    Jilid I Bumi Manusia (selanjutnya akan disingkat BM) telah ditutup dengan kisah Nyai Ontosoroh kehilangan anak perempuannya, Annelies, yang harus dibawa ke negeri Belanda untuk ditempatkan di bawah perwalian Nyonya Amalia Mellema-Hammers sebagai istri sah Herman Mellema, setelah yang terakhir ini meninggal, dengan meninggalkan dua orang anak dari pergundikannya dengan Nyai Ontosoroh. Kehilangan yang  sama menimpa siswa HBS Surabaya bernama Minke, anak bupati kota B, yang diterima oleh Nyai Ontosoroh untuk tinggal di Boerderij Buitenzorg di Wonokromo, sebagai teman dan kekasih Annelies, dan seterusnya dinikahkan dengan Annelies, setelah dia lulus dari HBS Surabaya sebagai lulusan terbaik di kota itu. Ini juga cerita tentang Nyai Ontosoroh yang kehilangan kedua orangtuanya, yang tidak diakuinya lagi dan tidak pernah dijumpainya lagi dengan sengaja, setelah ayahnya yang ingin naik pangkat menyerahkannya kepada Herman Mellema, yang ketika itu menjadi administratur pabrik gula di Tulangan, Jawa Timur. Masih ada satu kehilangan lagi yang dialami Nyai Ontosoroh, yaitu kehilangan Tuannya, Herman Mellema, yang kedapatan mati mabuk di rumah bordil Kebun Jepun, milik seorang Cina.

    Jilid II Anak Semua Bangsa (selanjutnya disingkat ASB) ditutup dengan dirampasnya perkebunan dan pabrik susu Boerderij Buitenzorg oleh anak Herman Mellema dari istri sah. Anak ini bernama Ir. Maurits Mellema, pahlawan perang Belanda melawan Inggris di Afrika Selatan, yang datang ke Hindia Belanda karena mendapat penugasan untuk membangun pelabuhan laut di Surabaya sebagai pangkalan Angkatan Laut Hindia Belanda. Perusahaan seluas 180 ha (belum termasuk sawah, ladang, hutan dan semak) yang telah turut dikelola oleh Nyai Ontosoroh selama 20 tahun, harus diserahkan ke Maurits Mellema sebagai ahli waris yang sah, sementara Nyai Ontosoroh sebagai gundik yang tidak dilindungi hukum Belanda, tidak mendapat sesuatu pun, dan harus pindah ke rumah bambu di Wonocolo, dan mulai membangun perusahaan baru di sana dengan modal uang tabungannya selama bekerja 20 tahun di Boerderij Buitenzorg. Dalam pada itu Nyai Ontosoroh sebagai gundik kehilangan dua orang anaknya, yaitu Annelies, yang akhirnya meninggal di Rumah Sakit Huizen, Belanda, karena menolak makan dan kehilangan gairah hidup, dan Robert Mellema abang Annelies, yang berlayar dengan kapal Inggris dan meninggal karena sifilis di Los Angeles. Sebelum berlayar Robert rupanya menjalin asmara gelap dengan seorang perempuan muda pemerah susu bernama Minem, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Rono Mellema. Sementara itu di tempat lain para petani kehilangan tanah yang diambil paksa oleh pihak perkebunan tebu. Seorang petani bernama Trunodongso yang mencoba mempertahankan tanahnya, mendapat luka-luka berat dan bersama keluarganya mencari perlindungan ke Boerderij Buitenzorg. Di Surabaya Minke kehilangan sahabatnya Khouw Ah Soe, seorang aktivis Angkatan Muda Tiongkok, lulusan Sekolah Menengah berbahasa Inggris di Shanghai, yang menyelundup ke Hindia Belanda untuk memperjuangkan berakhirnya kekaisaran Cina, dan mati terbunuh oleh gerombolan teror di Surabaya yang dikenal sebagai Gerombolan Thong.

    Jilid III Jejak Langkah (seterusnya disingkat JL) bercerita tentang banyak kehilangan. Minke kehilangan kesempatan menjadi dokter Jawa di STOVIA Betawi, karena menulis resep buat kekasihnya yang sakit payah, meskipun dia belum menjadi dokter. Dia harus mengembalikan beasiswa selama empat tahun sebesar 4 x 12 x f40. Dengan bantuan Nyai Ontosoroh utang itu dapat dilunasi, tetapi Minke harus kehilangan istrinya yang kedua, Ang San Mei, seorang gadis muda, guru bahasa Inggris di Sekolah Tionghoa di daerah Kota, yang menyelundup ke Hindia Belanda, menyebarkan cita-cita perjuangan Angkatan Muda Tiongkok, dan meninggal karena menderita ascites dan uremi. Mei adalah tunangan Khouw Ah Soe yang mati terbunuh di Surabaya. Kehilangan terbesar tentulah pembuangan Minke ke Ambon, karena koran Medan yang dipimpinnya menerbitkan tulisan Marko yang mengandung kritik keras atas perjalanan Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg ke Rembang, untuk melayat Bupati Rembang, suami R.A. Kartini, yang meninggal dunia, dengan rombongan yang amat besar. Sekitar 80 taksi di Bandung, Buitenzorg dan Betawi dicarter untuk perjalanan ini. Setelah Minke dibuang segala harta kekayaannya dibekukan oleh pemerintah dan pengadilan: rumahnya di Buitenzorg, percetakan, Hotel “Medan” di Betawi dan toko alat tulis serta semua uangnya yang ada di bank. Pembuangan ini menyebabkan Minke juga kehilangan istrinya yang ketiga, seorang puteri raja Maluku, yang dipaksa kembali ke Maluku setelah Minke dibuang.

    Jilid VI Rumah Kaca (seterusnya disingkat RK) bercerita tentang seorang intelektual dan pejabat tinggi asal Menado, yang diambil anak oleh seorang apoteker Prancis. Menamatkan sekolah menengah di Lyon, dia kemudian belajar dua tahun di Universitas Sorbonne, dan selanjutnya mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Kepolisian hingga tamat. Sebagai Ajung Komisaris dia ditugaskan mengamati dan mengawasi Minke, dan kemudian menghantar Minke ke tempat pembuangan di Ambon. Setelah diangkat sebagai pejabat tinggi di Algemeene Secretarie atau Kantor Gubernur Jenderal di Buitenzorg, dia diangkat menjadi tenaga ahli untuk urusan pribumi yang harus mengawasi kegiatan organisasi-organisasi pribumi yang bermunculan. Hidup tokoh kita ini yang bernama Pangemanann adalah tegangan dan tarik-menarik antara nurani intelektualnya yang membenarkan sikap dan tindakan Minke dan tokoh-tokoh kebangkitan nasional  lainnya seperti Tjokro, Marko, Wardi dan Siti Soendari, dan kewajibannya sebagai pejabat kolonial untuk mengawasi dan membatasi sepak-terjang mereka agar tidak membahayakan kekuasaan kolonial. Pada akhirnya Pangemanann ditugaskan menjemput Minke yang kembali dari pembuangannya, dan mengantarnya dari Surabaya ke Betawi. Dalam menjalankan tugasnya mengawasi gerakan pribumi Pangemanann menggunakan juga cara-cara di luar hukum, dengan mempekerjakan orang-orang yang bisa melakukan kekerasan terhadap Minke dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, dengan ketentuan bahwa bahwa teror tersebut dilaksanakan atas prakarsa dan risiko pribadi dari mereka yang melakukannya. Kalau berhasil, mereka dibayar. Kalau mereka terluka atau mati, pemerintah dianggap tak tahu-menahu tentang tindakan mereka. Minke akhirnya meninggal di Betawi karena dokter Jerman yang harus mengobatinya dilarang dengan ancaman oleh kaki tangan Pangemanann untuk membantu menyembuhkannya. Konflik batin dalam tugas ini menyebabkan Pangemanann sering tidak mempedulikan keluarganya. Istrinya Paulette akhirnya tidak tahan, dan minta pulang ke Prancis dengan membawa dua anaknya yang masih tinggal bersama mereka. Ketika Nyai Ontosoroh kembali dari Paris ke Betawi untuk menengok Minke, setelah mendengar menantunya ini dipulangkan dari pembuangannya, Pangemanann harus mengantar Minke ke kuburnya, dengan nisan yang telah ditutup oleh ter hitam. Pangemanann kehilangan keluarga dan kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang terpelajar, Minke kehilangan segala milik bahkan hidupnya sendiri, dan Nyai kehilangan bekas menantu, yang selalu mendapat bantuannya dalam segala kesulitan.

    Semua kehilangan ini disebabkan oleh kekuatan obyektif sejarah yang tak dapat dilawan, meskipun orang-orang yang mengalaminya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyerah dan dapat mengikuti pilihan hidup mereka sebagai manusia bebas. Tragis bahwa kebebasan yang menjadi dambaan Minke harus ditebus dengan kematiannya, dan kebebasan yang selalu didengar dan dibaca oleh Nyai Ontosoroh hanya dapat dialaminya dengan meninggalkan Hindia Belanda dan pindah ke Prancis, ke negeri suaminya, Jean Marais, yang kemudan mengubah namanya menjadi Jean Le Boucq. Kehilangan menjadi representasi dari tak terlawankannya kekuatan sejarah, dan tegarnya subyektivitas manusia yang tidak bisa ditundukkan begitu saja oleh kekuatan-kekuatan yang berada di luar dirinya.

     

    II

     

    Dalam perspektif kedua kita akan melihat peranan yang dimainkan oleh tokoh lelaki dan perempuan. Bintang dalam BM tentulah Nyai Ontosoroh atau Sanikem, yang diserahkan oleh ayahnya Sastrotomo ke administratur pabrik gula Tulangan untuk dijadikan gundiknya. Akan tetapi Sanikem tidak mau menyia-nyiakan hidupnya. Dia belajar bahasa Belanda sampai mahir menggunakannya secara lisan dan tertulis, belajar mengurus rumah dan mengelola perusahaan susu, belajar pembukuan dan korespondensi dagang, sampai akhirnya dia bisa berdiri sendiri dan tidak tergantung kepada tuannya. Sebaliknya, tuannya Herman Mellema, mungkin seorang administratur yang baik, tetapi seorang pribadi yang lemah. Dia tak sanggup melindungi Sanikem dan kedua anaknya dari cercaan dan tuntutan hukum Ir Maurits Mellema, anaknya dari istrinya yang sah di negeri Belanda. Herman Mellema kemudian tidak lagi berminat mengurus perusahaan, meninggalkan rumah secara tidak teratur, minum mabuk, jadi langganan tetap rumah bordil Kebun Jepun milik seorang Cina dan akhirnya mati mabuk di rumah bordil tersebut. Robert Mellema, anak Herman Mellema dengan Sanikem, jebol dari HBS, kerjanya menganggur dan berburu, dan ternyata melakukan kejahatan incest dengan memperkosa adiknya sendiri, pergi berlayar dengan kapal Inggris, dan mati kena sifilis di Los Angeles.

    Bintang lainnya yang tak kurang gemerlapan adalah Bunda, ibu Minke, istri bupati Kota B. Perempuan ini hanya mengenal nilai-nilai kebudayaan Jawa, dan merasa nilai-nilai itu mencukupi bagi kebutuhannya, dan yang dicoba diteruskannya kepada Minke anaknya. Berlainan dengan ayah Minke sebagai priyayi yang haus jabatan, Bunda selalu mencoba memahami anaknya yang tidak ingin menjadi bupati dan hanya mau menjadi manusia bebas, meskipun cita-cita anaknya ini sangat jauh dari pengertiannya. Bunda tampil sebagai antitesis yang sama kuatnya untuk Sanikem. Boleh dikata Sanikem adalah tokoh yang mendendam kepada orangtua, mendendam kepada masa lalu dan kebudayaan Jawa yang telah membuangnya, dan kemudian berusaha memanfaatkan segala apa yang ada di sekitarnya untuk menjadi dirinya sendiri. Dia terjepit di antara kebudayaan Jawa yang telah membuangnya sebagai sebutir telor yang pecah dan hukum kolonial yang telah merampas anaknya Annelies, tanpa mempedulikan jerih payahnya melahirkan, mengasuh dan membesarkan anaknya itu. Bunda, sebaliknya, menjadi tokoh yang menyimpan kedamaian utuh dalam dirinya, karena keyakinan penuh bahwa kewajiban dalam hidup adalah menghormati atasan, menjunjung tinggi yang berkuasa, dan tunduk kepada mereka yang lebih tinggi kedudukannya, Jawa atau Belanda.

    Minke tampil sebagai seorang pemuda yang terombang-ambing di antara berbagai gelombang pengaruh yang datang padanya. Dia menolak kebudayaan Jawa yang hanya menghargai orang karena status dan jabatan. Dia terpukau pada cita-cita Revolusi Prancis yang dibacanya dan dipelajarinya di sekolah. Kebebasan, persaudaraan dan persamaan adalah nilai-nilai yang amat menarik hatinya. Dalam pada itu dia seakan terjebak dalam kehidupan seorang nyai, dengan nilai-nilai yang belum pernah dikenalnya. Dia bergaul dengan pelukis Prancis, Jean Marais, seorang veteran Perang Aceh, yang hidup dalam kesunyian dengan anak perempuannya, yang dilahirkan oleh seorang perempuan Aceh, dan tidak ingin tampil dalam kehidupan umum, karena cacat tubuhnya, akibat kehilangan satu kakinya dalam pertempuran. Tokoh perempuan yang banyak memberi motivasi kepada Minke ialah guru sastra Belanda, Magda Peters, yang kemudian harus kembali ke Belanda, karena pandangan politiknya tidak berkenan pada pemerintah Hindia Belanda.

    Dalam ASB perempuan-perempuan dilukiskan kandas dalam nasib dan perjuangan mereka, tetapi memperlihatkan ikhtiar mereka untuk tidak kalah seluruhnya, dan tidak kehilangan segala sesuatu yang ada pada mereka. Nyai Ontosoroh kehilangan perusahaan dan pabrik susu, tetapi dia tidak menjadi terlunta-lunta. Dengan uang tabungannya yang sudah mencapai belasan ribu gulden, dia pindah ke Wonocolo, mendirikan sebuah rumah bambu dan mulai membangun perusahaannya yang baru di sana dengan sukses. Guru sastra Belanda di HBS Surabaya, Magda Peters, harus kembali ke Belanda atas kehendak pemerintah Hindia Belanda. Tetapi dia tidak kehilangan semuaya, karena seorang muridnya, dengan nama pena Max Tollenaar, mulai mengumumkan tulisan-tulisannya dalam bahasa Belanda yang indah, dan kemudian berkembang menjadi penulis dan wartawan yang berhasil. Surati keponakan Sanikem, anak abangnya Paiman, diserahkan oleh ayahnya menjadi gundik administratur pabrik gula, pengganti Herman Mellema, karena ingin mendapat jabatan lebih tinggi. Surati tidak dapat membantah kehendak ayahnya, tetapi minta izin untuk tirakat sebelum menyerahkan dirinya kepada Tuan Besar administratur pabrik gula. Dalam tirakat itu dia berjalan memasuki desa yang  tertular cacar ketika wabah cacar menyerang desa-desa sekitar Tulangan. Semalam suntuk dia membiarkan dirinya diserang cacar, dan pagi harinya dia datang sendiri ke Tuan Vlekkenbaaij untuk menyerahkan dirinya. Administratur itu segera mati karena cacar, Surati dapat diluputkan dan dibawa kembali ke rumah orangtuanya dengan muka penuh bopeng.

    Sebaliknya, hampir semua tokoh laki-laki dalam ASB adalah tokoh yang lemah. Paiman, abang Sanikem, adalah pemburu jabatan seperti ayah mereka, yang tak sanggup melindungi anak perempuannya dari keinginan dan nafsu administratur pabrik gula. Kommer, penulis berbahasa Melayu, gagal mencuri hati Nyai Ontosoroh, meskipun dia sahabat dan pembela setia Minke. Vlekkenbaaij  administratur pabrik gula, tak berbeda dengan pendahulunya, mengambil gadis anak pegawainya untuk dijadikan gundik. Sementara itu wartawan Marteen Nijman, yang semula amat dihormati Minke dan banyak diminta nasihatnya, ternyata seorang Indo, yang menjadi anggota pimpinan cabang Indische Bond, yaitu persatuan perusahaan gula di Jawa. Nijman mencegah niat Minke untuk membela petani Trunodongso yang tanahnya dirampas oleh perkebunan tebu, dan mencoba mempertahankan tanah miliknya. Tidak terkecuali Gubernur Jenderal Willem Roseboom, yang amat ketakutan dengan kunjungan Putera Mahkota Rusia yang bersama armadanya mampir ke Betawi dalam perjalanan ke Port Arthur. Setelah tahu bahwa putera mahkota gemar berburu, Gubernur Jenderal  memerintahkan tangkap sejumlah besar rusa di istana Buitenzorg untuk dilepas di hutan-hutan dekat Priok, tempat putera mahkota berburu. Alhasil, putera mahkota merasa amat tersanjung oleh pujian orang karena dia dapat menembak mati tiga ekor rusa, yang memang jinak. Demikian pun dalam penyerahan Boerderji Buitenzorg ke Ir. Maurits Mellema, akuntan De Visch, tidak dapat menyelamatkan perusahaan karena hanya sibuk memikirkan honornya dalam tawar-menawar yang keras dengan Nyai Ontosoroh.

    Dalam JL perempuan-perempuan yang tampil adalah Ibu Badrun, Bunda, Ang San Mei, R.A. Kartini, Dewi Sartika, wartawan Marie van Zeggelen, dan Prinses van Kasiruta yang bernama asli Prinses Dede Maria Futimma de Souza. Barisan srikandi ini berhadapan dengan sejumlah besar laki-laki. Di pihak pemerintah ada Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz dan Gubernur Jenderal Idenburg. Di kalangan tokoh politik ada Ir. H.van Kollewijn anggota Tweede Kamer dari golongan radikal dan Ter Haar wartawan koran De Locomotief di Semarang yang bersimpati dengan perjuangan pribumi. Ada pula Mr. Aberon, direktur pendidikan Hindia Belanda. Dari pihak pribumi muncl tokoh-tokoh pergerakan seperti Minke, pemimpin mingguanMedan dan pemimpin Sjarikat Dagang Islam, ada dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dari Dewan Pimpinan Boedi Moeljo. Dari kalangan agama Islam ada Sjech Ahmad Badjened, guru agama Minke. Dari kalangan Indo ada Hadji Moeloek dan Douwager, dan dari kalangan nasionalis muncul Wardi, Marko dan Sandiman. Priyayi lama diwakili oleh Achmad Djajadiningrat, bupati Serang, dan priyayi baru diwakili oleh dr Sadikoen, dokter di Kroya dan anggota pimpinan Boedi Oetomo cabang Kroya. Pribumi yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda diwakili oleh Thamrin Mohamad Thabrie, wedana Manggabesar, yang bersimpati dengan kebangkitan nasional, dan kemudian mengundurkan diri sebagai wedana, karena ingin mendukung Sjarikat Dagang Islam. Raja-raja lokal yang menentang ketundukan kepada Belanda diwakili oleh ayah Prinses van Kasiruta dari Maluku yang dibuang ke Sukabumi, Raja Klungkung I Dewa Agoeng Djambe bersama Mahapatihnya I Goesti Agung Djelantik yang memerintahkan rakyatnya melawan pasukan pendudukan Belanda dengan Perang Puputan pada 1904, meski pun sebelumnya Kerajaan Buleleng dihasut oleh Kompeni untuk melepaskan diri dari Klungkung.

    Ang San Mei adalah gadis pelarian dari Cina daratan, lulusan Sekolah Guru di Shanghai, dididik dalam biara Katolik sejak kecil, fasih berbahasa Inggris dan Prancis, dan kemudian menggabungkan diri dengan Angkatan Muda Tiongkok untuk mengakhiri kekuasaan kaisarina Ye Si. Dia masuk secara gelap ke Hindia Belanda untuk memprogandakan cita-cita Angkatan Muda Tiongkok, bersama sejumlah pemuda, antara lain, Khouw Ah Soe yang beroperasi di Surabaya, dan pernah mendapat perlindungan di Boerderij Buitenzorg, menjadi teman Minke, kemudian kedapatan mati terbunuh di Surabaya. Khouw Ah Soe ternyata tunangan Ang San Mei. Gadis ini menyamar sebagai guru bahasa Inggris di sebuah sekolah Tionghoa di daerah Kota. Dipecat dari sekolahnya karena ketahuan berhubung dengan seorang pribumi siswa STOVIA bernama Minke. Dengan bantuan Minke dia berhubungan surat-menyurat dengan Kartini di Jepara. Setelah dipecat dari sekolahnya, Mei dititipkan oleh Minke di rumah Ibu Badrun, yang menjadi tempat Minke mampir setiap akhir pekan. Keduanya mengunjungi orangtua Minke di kota B, mendapat restu Bunda, kemudian menikah di kota Bandung, setelah sempat mengunjungi Kartini di Jepara. Dialah yang selalu mengajurkan kepada Minke untuk memberi perhatian kepada organisasi. Kehidupan organisasi ini menyebabkan bahwa hanya beberapa bulan setelah menikah dan tinggal di rumah Ibu Badrun bersama Minke, dia minta izin kepada suaminya untuk pergi setiap malam ke tempat yang dirahasiakannya, bertemu dengan pemuda-pemuda yang tak dikenal oleh Minke, untuk urusan yang tak pernah diceritakannya. Mei hanya menjanjikan kesetiaan kepada Minke dan minta diperkenankan oleh suaminya untuk boleh bekerja beberapa bulan untuk Tiongkok tanah airnya. Kehidupan yang keras dan tak teratur selama beberapa bulan, udara malam, dan paksaan kerja, menyebabkan kesehatannya terus merosot dan akhirnya meninggal karena sakit ascites dan uremi.

    Ibu Badrun adalah seorang janda yang tidak lagi muda dengan seorang anak perempuan. Rumahnya menjadi rumah keluarga untuk Minke pada tiap akhir pekan. Menjadi kebiasaan anak-anak STOVIA untuk mencari salah satu keluarga di daerah Kwitang, tempat mereka mampir pada akhir pekan, untuk mengganti seragam sekolah dengan baju Eropa, dan berjalan-jalan di kota sampai sore hari. Minke memilih Ibu Badrun sebagai keluarganya. Kalau Bunda dari kota B hendak menengok anaknya, Bunda juga menginap di rumah Ibu Badrun. Kesulitan besar menimpa Ibu Badrun ketika Ang San Mei setelah menikah dengan Minke, pergi setiap malam entah ke mana dan pulang ke rumah menjelang pagi. Sebagai keluarga baik-baik si Ibu ini khawatir  bahwa perilaku Mei akan menjadi gunjingan tetangga dan dia akan dipersalahkan karena menerima perempuan nakal dalam rumahnya. Ibu Badrun akhirnya dapat diyakinkan oleh Minke yang berjanji bahwa dirinya sendiri menjadi jaminan kesetiaan istrinya, dan kalau terbukti bahwa Mei melakukan perbuatan yang tak patut, maka Minke sendiri akan mengusirnya dengan hina.

    Bunda tetap memainkan peranannya sebagai ibu yang tak pernah menarik kembali cintanya untuk anaknya, meskipun cita-cita, keinginan dan sepak-terjang anaknya sering amat membingungkan dia dan asing bagi pengertiannya. Dia tertegun mendengar niat Minke membela para petani. Menurut Bunda, mengapa petani harus dibela padahal tugas mereka hanyalah tunduk pada perintah pembesar. Untuk itulah pembesar ada. Dalam cerita wayang tak pernah disinggung-singgung tentang petani. Yang ada dalam wayang hanyalah para raja dan pangeran. Dia pun heran bahwa anaknya tak menginginkan jabatan bupati, yang menjadi impian tiap priyayi dan orang bersekolah tinggi. Ketika dia menerangkan bahwa tindakan Minke dapat membahayakan kedudukan ayahnya sebagai bupati, Minke menjawab, “Tidak ada hubungannya dengan sahaya, Bunda. Kalau Ayahanda dipecat bukanlah karena sahaya. Bukan” (Jl, 488). Semua konflik batin itu tak sedikit pun mengurangi rasa sayang kepada anaknya. Berbagai pertentangan yang dihadapinya menjelma sebagai coincidentia oppositorum, koinsidensi dari hal-hal yang bertentangan dan keselarasan berbagai kontradiksi. Dia begitu mengagungkan nilai-nilai Jawa tetapi tidak terkejut ketika Minke mengajukan niatnya untuk menikahi Ang San Mei dari Cina. Bunda berkata, “Raja-raja nenek-moyangmu dulu selalu bermimpi dapat memperistri putri Cina atau juga putri Campa sebagai kehormatan. Tapi mereka tak pernah Paramesywari,” (JL, 107).

    Nyai Ontosoroh sebagai bekas menantu Minke selalu tampil sebagai tangan yang mengulurkan bantuan kalau Minke mengalami kesulitan keuangan. Dia akhirnya menikah dengan pelukis Prancis Jean Marais dan melahirkan seorang anak bernama Jeanette Marais. Setelah menikah Jean Marais mengganti namanya menjadi Jean Le Boucq dan Nyai Ontosoroh menjadi Madame Le Boucq. Mereka pindah ke Prancis dan menjadi warga negara Prancis karena Nyai Ontosoroh ingin membuktikan sendiri bahwa di dunia ini ada negeri di mana kebebasan tiap orang dihormati.

    Prinses van Kasiruta adalah anak perempuan seorang raja Maluku yang dibuang ke Sukabumi. Dia mengikuti kursus persamaan MULO selama dua tahun di Bandung. Bisa bicara Belanda, Melayu dan sedikit Sunda. Dia menjadi pembantu mingguan Medan yang dipimpin oleh Minke, dan kemudian menjadi istri Minke yang ketiga. Dia ternyata pandai berkelahi, sanggup menggunakan senjata api dengan baik dan menembak para penyerang Minke di Bandung tanpa Minke sendiri mengetahuinya.

    Kalau tokoh-tokoh perempuan ditampilkan sebagai representasi sifat-sifat manusia dan sifat kebudayaan, maka tokoh laki-laki muncul sebagai representasi sifat-sifat kekuasaan. Gubernur Jenderal van Heutsz yang mempunyai hubungan erat dengan Minke dikenal sebagai penakluk Aceh yang kemudian menuntut ketaklukan daerah-daerah yang belum tunduk kepada kekuasaan Gubernur Jenderal. Tuntutan itu disampaikannya melalui maklumat Korte Verklaring. Idenburg pengganti van Heutsz hanya memperhatikan orang sebagai pejabat dan bukan sebagai manusia. Para nasionalis di Hindia Belanda mendirikan organisasi-organisasi pribumi yang mempersatukan kekuatan pribumi dalam berhadapan dengan kekuatan kolonial. Tokoh agama seperti Sjech Achmad Badjened menjadi otak  yang berada di balik gerakan pedagang keturunan Arab yang melakukan boikot terhadap usaha-usaha perdagangan Belanda dan pribumi non-Arab. Ini menimbulkan kesulitan kelompok pribumi lainnya, meskipun mereka sama-sama anggota Sjarikat Dagang Islam. Hadji Moeloek mencoba memperkenalkan sumbangan kelompok Indo kepada perubahan budaya di Hindia Belanda, tetapi Robert Suurhof, Indo yang menjadi teman kelas Minke di HBS Surabaya, memimpin berbagai gerakan teror di Betawi untuk mengintimidasi  setiap gerakan pribumi, khususnya sepak-terjang Minke. Wajah kemanusiaan dan wajah kebudayaan pada tokoh-tokoh perempuan berhadapan dengan wajah kekuasaan pada tokoh laki-laki.

    Dalam RK peranan utama dimainkan oleh Jacques Pangemanann, yang mendapat pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di Lyon dan Paris. Dia menjadi pejabat tinggi di kantor Gubernur Jenderal dan menempati rumah Minke di Buitenzorg, setelah pengadilan membekukan segala harta kekayaan Minke setelah dia dibuang. Dilihat dari perspektif hubungan lelaki-perempuan maka Pangemanann dalam tugasnya mengawasi kegiatan pribumi berhadapan dengan empat orang perempuan yaitu Paulette Pangemanann, Prinses van Kasiruta, Siti Soendari sebagai bintang yang muncul di langit nasional setelah Kartini dan Nyai Ontosoroh sebagai bekas mertua yang tetap mengikuti perkembangan bekas menantunya, Minke.

    Paulette adalah perempuan Prancis yang dinikahi Pangemanann di Prancis dan kemudian memutuskan mengikuti suaminya pindah ke Hindia Belanda. Perkawinan mereka memberi mereka empat orang anak. Paulette adalah istri yang penuh pengabdian, mengatur rumah tangga dengan rapi dan tertib, dan mencintai anak-anak dan suaminya dengan sepenuh hati. Keinginannya untuk cuti ke Prancis bersama suami dan anak-anak tidak terpenuhi, karena Eropa sedang terlibat Perang Dunia I yang bermula di Sarajevo. Selain itu, promosi suaminya menjadi tenaga ahli urusan pribumi di Algemeene Secretarie memberinya amat banyak pekerjaan yang tak dapat ditunda. Nasihat-nasihat Pangemanann sebagai tenaga ahli dibutuhkan oleh Gubernur Jenderal setiap saat, khususnya menyangkut gerakan pribumi.

    Konflik batin yang dialami Pangemanann antara nurani intelektualnya yang menghargai kebebasan dan sikap merdeka seseorang dan kewajibannya sebagai tenaga ahli kolonial yang harus mengawasi tiap gerakan dalam organisasi pribumi membuatnya sering kali hilang keseimbangan dan menjadi nervous. Keadaan ini tambah diperberat oleh beban pekerjaan yang semakin hari semakin menumpuk, karena atasannya rupanya menyerahkan semua urusan kepada dia. Ketegangan batin ini membuatnya semakin hari semakin acuh terhadap keluarganya, apalagi setelah dia dengan sia-sia berusaha menenangkan dirinya dengan minuman keras atau mencari pelarian pada wanita hiburan. Sikapnya yang semakin aneh terhadap keluarga dan perilakunervous yang semakin memburuk akhirnya membuat Paulette mengambil sikap. Istrinya memutuskan kembali ke Prancis bersama anak-anak, karena merasa suaminya tak membutuhkan bantuan dan kehadiran dirinya lagi.

    Prinses van Kasiruta sebagai istri ketiga dari Minke selalu siap membantu Minke dalam pekerjaan dan siap juga melindungi keselamatan suaminya. Sebagai tenaga ahli urusan pribumi Pangemanann berusaha dengan segala cara mengawasi dan membatasi sepak-terjang Minke yang semakin hari semakin berpengaruh karena pelayanan kepada pembaca yang diberikan melalui koran mingguan Medan. Pangemanann akhirnya terpaksa mengandalkan bantuan orang-orang yang bersedia melakukan teror dan intimidasi. Robert Suurhof sebagai tenaga yang disiapkan kepolisian untuk digunakan atas cara di luar hukum, mendapat instruksi dari Pangemanann untuk menyerang Minke di Bandung pada hari yang sudah ditentukan. Sudah ditetapkan pula warna baju yang harus dikenakan, serta hari dan jam penyerangan dilakukan. Gerombolan Suurhof diminta mencederai Minke tanpa membahayakan hidupnya. Setelah instruksi diberikan Pangemanann merasa Minke tak seharusnya dicederai dengan cara sebagaimana direncanakan. Dia lalu mengirim surat kaleng kepada Prinses van Kasiruta tentang rencana penyerangan itu, tentang waktu dan tempat penyerangan dan warna baju yang akan dikenakan oleh para penyerang.

    Oleh Prinses surat kaleng itu tidak diperlihatkan kepada Minke, tetapi secara rahasia Prinses mengajak Sandiman dan Marko pembantu Minke untuk menyiapkan aksi penyelamatan. Pada hari dan jam kejadian para pelaku teror sudah mengepung Minke yang sedang makan sate di sebuah warung di Bandung bersama Pangemanann. Tiba-tiba lewat seorang perempuan muda dengan payung hitam, lalu terdengar  letusan tembakan revolver. Seorang tersungkur mati, dan Robert Suurhof sendiri terbaring tak berdaya dengan sebilah pisau terhunjam di perutnya. Belakangan Minke tahu bahwa aksi itu dilakukan oleh Prinses, Marko dan Sandiman, meskipun ketika ditanya Prinses mengelak menjawab. Ketika Minke terus mendesak, Prinses akhirnya menjawab: “Ah kau Mas, menikahi wanita Kasiruta tapi tak tahu wataknya”. “Bagaimana watak wanita Kasiruta?” “Dia akan bunuh suami durhaka. Dan dia akan bunuh pendurhaka suami yang dicintainya” (JL, 522).

    Setelah Pangemanann tinggal di rumah Minke dan Prinses, tiap sore dia melihat dua perempuan tarik-menarik mendekati rumahnya. Dengan teropong dia melihat bahwa keduanya adalah Prinses van Kasiruta dan Piah pembantunya. Dia tahu bahwa Prinses ingin berhadapan dengannya dan ingin berdebat dengannya tentang kepemilikan rumah itu. ia menelepon polisi istana yang kemudian datang dan menyeret pergi kedua perempuan itu dengan kasar. Paulette istrinya melihat itu dan tersinggung hatinya. Dia berkata kepada Pangemanann bahwa tindakan itu amat berlebihan dan tidak patut. Kalau di Prancis dia bertindak seperti itu maka seluruh masyarakat akan mengutuknya. Prinses kehilangan rumahnya yang penuh ketenangan, tetapi Pangemanann kehilangan martabatnya sebagai laki-laki terpelajar.

    Siti Soendari adalah perempuan yang menjadi obyek pengamatan Pangemanann pada masa Tjokro mulai mengambil alih pimpinan Sjarikat Dagang Islam. Dia lahir dari sebuah keluarga priyayi terpelajar. Ayahnya pernah mengikuti pendidikan dokter Jawa di STOVIA tetapi tak selesai, dan kemudian bekerja sebagai kepala pegadaian di Pemalang. Siti Soendari dibesarkan ayahnya sebagai orangtua tunggal  karena ibunya meninggal ketika dia masih amat kecil. Pendidikan terakhirnya adalah HBS Semarang, sedangkan abangnya melanjutkan studi di Hoge Handelschool di Rotterdam. Setelah tamat HBS Siti Soendari mengajar SD berbahasa Belanda di Pacitan. Pada hari-hari tertentu dia membawa murid-muridnya keluar kelas dan belajar di alam bebas. Menurut dia, murid-murid harus mengenal alam tempat mereka hidup karena di situlah tanah air mereka. Selain mengajar dia menghadiri pertemuan-pertemuan politik, menjadi propagandis Insulinde dan menulis artikel-artikel politik di surat kabar dengan inisial SS. Dia diawasi oleh gubernemen, tulisan-tulisannya dipelajari oleh Pangemanann, yang berusaha mempertahankan sikapnya bahwa Siti Soendari tidak boleh ditangkap hanya karena punya pandangan yang berbeda dari pandangan pemerintah kolonial. Berita atau desas-desus bahwa dia diawasi oleh gubernemen menimbulkan ketakutan pada pimpinan sekolah tempatnya mengajar. Dia dipecat dari sekolah itu dan harus meninggalkan murid-muridnya dengan berat hati.

    Sementara itu pemerintah kolonial berusaha menghentikan kegiatan politiknya dengan memaksa ayahnya segera menikahkan dia. Perintah ini disertai ancaman bahwa kalau Siti Soendari  tidak segera dinikahkan, maka abangnya yang sedang belajar di Rotterdam akan dikeluarkan dari sekolahnya. Siti Soendari sendiri kemudian menghilang dan ayahnya juga tak dapat ditemukan. Ternyata sebelum kedua anak-beranak itu raib dari pengawasan pemerintah, sang ayah telah menarik semua uang simpanannya di bank. Beberapa waktu kemudian diketahui bahwa Siti Soendari sudah berada di negeri Belanda bersama Marko, murid Minke. Patut dicatat bahwa setelah kegiatan publik Kartini dapat dihentikan dengan memaksanya dikawinkan dengan Bupati Rembang, pemerintah kolonial rupanya yakin bahwa kegiatan politik perempuan yang punya pikiran bebas dapat dihentikan dengan membawa mereka ke ranjang pengantin. Gubernur Jenderal van Heutsz oleh masyarakat di sekitar istana dianggap menjadi Mak Comblang untuk Minke dan Prinses van Kasiruta. Dengan cara yang lebih primitif Asisten Residen Pekalongan menugaskan Kontrolir untuk mendengar sendiri percakapan Siti Soendari dengan seorang ibu yang diminta oleh ayah Siti Soendari agar membujuk anaknya itu untuk mau dinikahkan. Pembicaraan dilakukan di hadapan ayah Siti Soendari, sementara Kontrolir bersembunyi di balik dinding untuk mendengar. Singkat kata, Siti Soendari menolak tawaran menikah, karena dalam anggapannya pendidikan yang diperolehnya selama 10 tahun, harus dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih besar daripada sekadar menjadi istri orang.

    Bertentangan dengan pandangan atasannya di kantor Gubernur Jenderal, Pangemanann tetap bertahan untuk tidak menangkap Siti Soendari. Ini bukan hanya karena simpati pribadi tetapi berdasarkan kenyataan politik bahwa pembuangan Minke telah menaikkan jumlah anggota Sjarikat Dagang Islam dengan cepat, sementara penangkapan tokoh politik dan pemimpin organisasi politik cenderung berkoinsidensi dengan pembakaran perkebunan tebu secara besar-besaran. Lagi pula Gubernur Jenderal van Limburg Stirum yang mengganti Gubernur Jenderal Idenburg telah mengeluarkan kebijakan baru untuk merangkul para pemimpin organisasi politik dan melarang penangkapan dan pembuangan mereka. Patut dicatat bahwa tiga orang laki-laki pemimpin organisasi politik, yakni Tjipto, Douwager dan Wardi dibuang oleh pemerintah kolonial ke negeri Belanda. Sebaliknya, Siti Soendari seorang perawan muda berhasil menghindari penangkapan kolonial dan melarikan diri ke negeri Belanda atas kehendak sendiri. Sekali lagi terlihat kecenderungan Pramoedya untuk mengunggulkan perempuan dan perjuangan mereka lebih dari laki-laki.

    Nyai Ontosoroh yang berganti nama menjadi Madame Le Boucq, datang ke Betawi bersama anak perempuannya karena mendengar Minke telah kembali dari pembuangannya di Ambon. Dia menghubungi konsul Prancis di Betawi untuk menanyakan bagaimana  caranya dia dapat bertemu dengan Minke. Konsul Prancis mengontak kantor Gubernur Jenderal untuk minta tolong. Pangemanann sebagai tenaga ahli urusan pribumi kemudian ditugaskan oleh kantor Gubernur Jenderal untuk menemui Konsul Prancis. Di kantor konsul itulah Pangemanann dipertemukan dengan Madame Le Boucq, yang minta kepadanya untuk membantu mempertemukannya dengan Minke. Baru pada saat itu pula Madame Le Boucq diberitahu bahwa Minke telah meninggal dunia. Ketika ditanyakan penyakit apa yang menyebabkan Minke meninggal, dan dokter mana yang menolongnya kali terakhir, Pangemanann menyatakan tidak tahu. Memang hanya itu yang dapat dilakukannya, karena Pangemanann sendiri  turut bertanggung jawab atas kematian Minke, yang meninggal karena dokter Jerman yang diminta menolongnya diancam oleh Robert Suurhof, seorang kaki tangan Pangemanann. Suurhof memaksa dokter itu untuk menyatakan bahwa pasien menderita disentri berat dan tidak dapat ditolong lagi. Minke dibawa kembali ke rumah Goenawan, tempatnya menumpang, dan menghembuskan napas terakhir di rumah sahabatnya itu, tanpa banyak diketahui oleh para pengikutnya.

    Madame Le Boucq minta Pangemanann mengantar dia dan anak perempuannya ke makam Minke. Pangemanann menyanggupi dan membawa ibu dan anaknya ke sana. Ketika sampai di makam ketahuan bahwa nisan di kubur Minke telah ditutup dengan ter hitam. Pangemanann merasa tak enak hati dan berusaha meyakinkan Madame Le Boucq bahwa bukan dia yang menutup tulisan itu dengan ter. Dia memanggil seorang tukang doa di pemakaman itu untuk memberi konfirmasi bahwa beberapa hari lalu dia membawa kembang ke makam Minke dan nisan itu belum tertutup ter. Madame Le Boucq rupanya menaruh curiga terhadap Pangemanann dalam hubungan dengan kematian Minke. Dia menjawab Pangemanann dengan kalimat yang penuh kata-kata bersayap: ”Aku percaya Tuan tidak ikut campur dalam pengeteran itu, pastilah Tuan melakukan yang selebihnya” (RK, 499).

     

    III

     

    Dalam perspektif ketiga empat novel Pulau Buru ini melukiskan perjuangan tiap tokoh merebut posisinya dalam hubungan produksi, dan dengan cara itu mengubah pula kedudukannya dalam masyarakat. Istilah “hubungan produksi” digunakan di sini dalam pengertian sosiologi Marxian yang standar, yaitu sejauh mana seseorang atau sekelompok orang menguasai alat produksi seperti modal dan keahlian teknis. Seseorang yang tidak menguasai alat produksi hanya dapat menjual tenaga kerjanya dan menempatkan dirinya sebagai pihak yang selalu tergantung pada mereka yang menguasai alat-alat produksi. Saya berpendapat bahwa keempat novel Pulau Buru Pramoedya memberi perhatian khusus kepada hubungan produksi ini.

    Setelah Sanikem diserahkan kepada administratur pabrik gula Tulangan untuk dijadikan gundiknya, perempuan desa ini yang rupanya dikaruniai inteligensi yang tinggi dan kemauan yang kuat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak hanya hanyut dalam kesedihan. Secara teratur dia mulai belajar bahasa Belanda di bawah bimbingan tuannya, menguasai bahasa itu secara lisan dan tertulis, di samping belajar membantu Herman Mellema mengelola perusahaan susu dan perkebunan yang demikian luas dengan banyak tenaga kerja. Dia akhirnya tahu membuat perhitungan pemasukan dan pengeluaran perusahaan, sanggup mengawasi pemerah susu dan berapa banyak yang harus mereka hasilkan dalam sehari, dapat membuat pembukuan, dan sanggup memberi perintah secara efektif kepada para pekerja di perkebunan.  Sebagai pembantu tuannya dalam mengurus perusahaan, Sanikem mendapat gaji bulanan yang lumayan baik, yang selalu ditabungnya di bank. Anaknya, Annelies, terpaksa dikeluarkannya dari sekolah untuk membantu dia bekerja, setelah Herman Mellema mulai kehilangan kepercayaan dirinya dan menghabiskan waktu dengan menenggak minuman keras dan mengunjungi rumah bordil setiap hari. Tagihan dari rumah bordil kepada Nyai Ontosoroh adalah f45 setiap bulan. Annelies dididik oleh Nyai menjadi mandor pemerah susu, dan ini artinya dia sendiri harus dapat memberi contoh bagaimana cara memerah susu yang produktif dan berapa banyak waktu kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan susu yang banyak.

    Sejak tahun-tahun pertama bersama Herman Mellema Nyai Ontosoroh sudah menabung dan bisa menyimpan f100 di bank setiap bulan. Sebagai perbandingan, beasiswa yang diberikan oleh pemerintah kolonial kepada siswa STOVIA besarnya tidak lebih dari f40 per bulan. Perjalanan dengan kapal laut dari Surabaya ke Amsterdam biayanya f120. Tabungan Nyai Ontosoroh bertambah dengan cepat karena selain upah bulanan, dia juga diberi bagian dari keuntungan perusahaan selama  lima tahun. Bagian keuntungan yang diterimanya besarnya f5.000. Pada saat Annelies dibawa ke negeri Belanda, tabungan Nyai Ontosoroh sudah mencapai belasan ribu gulden. Sebagai gundik yang tak mempunyai hak apa pun dalam sistem hukum kolonial, dia sadar bahwa setiap saat dia dapat diusir dari rumah tuannya, atau ditinggal terlantar begitu saja kalau tuannya memutuskan kembali ke negeri Belanda. Dia sudah memperhitungkan bahwa kalau apa yang dicemaskannya itu terjadi, maka dia sudah dapat membuka usaha sendiri dengan modal yang ada dengan kepandaian kerja dan keterampilan yang telah dipelajarinya di Boerderij Buitenzorg.

    Persiapannya untuk mandiri ditunjang juga oleh sikap tuannya, yang telaten dan keras dalam mengajarkan beragai hal kepadanya. Di pihak Nyai Ontosoroh ada kemauan dan disiplin untuk belajar segala sesuatu dengan cepat dan dengan tekun. Betapa pun Herman Mellema amat baik kepadanya dan memperlakukannya sebagai pasangan sederajat, Nyai tetap pada keyakinannya bahwa dia bukanlah istri Herman Mellema, melainkan harta milik tuannya, yang telah membelinya dengan harga tertentu yang sudah dibayar kepada orangtuanya. Ketika anak perempuannya, Annelies, bertanya kepadanya apakah dia pernah mencintai orang yang menjadi papa Annelies, Nyai menjawab bahwa dia tak tahu apa itu cinta. Dia hanya tahu bahwa tuannya dan dia masing-masing punya kewajiban. Yang satu berkewajiban memelihara, yang lain berkewajiban melayani, membantu dan bekerja.

    Ada dua peristiwa yang semakin mempertajam kesadarannya tentang hubungan yang tidak setara antara dirinya sebagai pribumi dan mereka yang dilindungi oleh kekuasaan dan hukum kolonial. Peristiwa pertama ialah kedatangan Ir. Maurits Mellema ke Boerderij Buitenzorg untuk mendamprat ayahnya, Herman Mellema, karena ayahnya tak pernah secara resmi menceraikan ibunya Mevrouw Amelia Mellema-Hammers, sehingga selama lebih dari 20 tahun ibunya tak dapat menikah lagi. Sementara itu—begitu kata Maurits Mellema lebih lanjut—ayahnya bersenang-senang dengan seorang gundik yang tidak dinikahinya dan hidup bersama dalam suatu hubungan gelap selama bertahun-tahun. Menghadapi dampratan putranya itu Herman Mellema bukan saja tidak bisa membela diri secara patut, tetapi dia ternyata tidak bisa membela Nyai Ontosoroh dan anak-anak mereka yang dituduh lahir dari hubungan tidak sah. Sejak peristiwa itu Herman Mellema berubah, dia kehilangan kepercayaan dirinya, sering tidak pulang ke rumah, dan kalau pun pulang selalu dalam keadaan kacau dan mabuk. Nyai Ontosoroh hilang hormatnya kepada tuannya, sama seperti dia tidak lagi menaruh respek kepada orangtuanya yang dianggap hilang atau mati, karena tak sanggup melindungi dirinya. Nyai segera mengambil alih pimpinan perusahaan yang dijaga dengan setia oleh seorang pendekar Madura yang amat setia bernama Darsam. Perusahaan tidak boleh merugi karena nasib banyak orang tergantung kepada perusahaan itu. Dengan sebuah keputusan Pengadilan Amsterdam, Annelies diambil dan dibawa ke negeri Belanda, dengan ditemani seorang pegawai yang diam-diam diselundupkan oleh Nyai Ontosoroh ke atas kapal. “Kita kalah Ma” kata Minke dengan sendu. “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” jawab Nyai Ontosoroh dengan tegar. Tak lama kemudian Annelies meninggal di Rumah Sakit Huizen, Belanda.

    Peristiwa yang kedua adalah ketika Ir. Maurits Mellema datang untuk kedua kalinya, untuk mengambil alih perusahaan sebagai ahli waris, setelah ayahnya Herman Mellema kedapatan mati mabuk di rumah bordil Kebun Jepun. Nyai berusaha menyelamatkan perusahaan itu dengan menyewa beberapa ahli hukum, yang gagal menolongnya, entah karena kedudukan hukum Nyai Ontosoroh terlalu lemah, atau juga karena pusat perhatian para ahli hukum itu hanya pada besarnya honorarium yang diterimanya. Sejak saat itu kepercayaannya kepada hukum hilang sama sekali, karena beberapa sebab. Pertama, Pengadilan Amsterdam sama sekali tak mempertimbangkan dirinya dan sumbangan yang telah diberikannya kepada perusahaan selama lebih dari 20 tahun. Kedua, anak perempuannya, Annelies, diambil darinya untuk ditempatkan di bawah perwalian ibu Maurits Mellema, karena Annelies dianggap masih di bawah umur dan belum menikah, padahal dia sudah menikah secara sah dengan Minke menurut hukum Islam, yang tidak diakui sama sekali oleh Pengadilan Amsterdam.

    Sebuah debat antara Ir. Maurits Mellema dan Nyai Ontosoroh dapat melukiskan pandangannya tentang hukum kolonial. Ketika Maurits datang ke Boerderij Buitenzorg untuk mengambil alih perusahaan, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan belasungkawa kepada Minke dan Nyai atas kematian Annelies. Ketika dia mengulurkan tangan terjadilah pembicaraan sebagai berikut.

    NO (Nyai Ontosoroh):  Tidak perlu itu.  Hilangnya anakku tak dapat diganti dengan jabatan tangan pembunuhnya.

    MM (Maurits Mellema): Itu terlalu keras Nyai. Aku mengerti betapa besar dukacita Nyai. Tapi tuduhan pembunuh itu terlalu keras. Tidak benar.

    NO: Tuan tidak kehilangan apa-apa kecuali kehormatan di hadapanku dan kami. Sebaliknya Tuan mendapat segala-galanya dari kehilangan kami.

    MM: Aku tak bisa terima itu. Semua ada aturannya.

    NO: Betul, semua ada aturannya bagaimana merugikan kami dan menguntungkan Tuan.

    MM: Bukan aku yang membuat peraturan itu.

    NO: Dan Tuan dengan baik telah berusaha gunakan aturan itu buat keuntungan Tuan.

    MM: Tapi Nyai bisa gunakan advokat.

    NO: Seribu advokat tak bisa kembalikan anakku padaku. Tak satu advokat pun bersedia mengurus perkara pribumi lawan totok. Tidak ada cara di sini.

    MM: Apa boleh buat, kalau kehendak Tuhan sudah demikian.

    NO: Ya. Kehendak Tuan telah menjadi kehendak Tuhan. Semua yang Tuan tidak mau bertanggungjawab, Tuhan yang Tuan suruh bertanggungjawab. Indah sekali. Mengapa tak mau mempertanggungjawabkan padaku? Ibunya? Yang melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membiayainya? (ASB, 387-388).

    Kematian Herman Mellema di rumah bordil dan kehadiran penghuni Boerderij Buitenzorg telah membawa Nyai Ontosoroh dan Minke berhadapan dengan pengadilan di Surabaya, yang mengakibatkan Nyai harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos berperkara dan membayar honorarium  para penasihat hukumnya. Di tengah suasana yang yang panas itu Minke pernah bertanya kepada Nyai apa tidak sebaiknya dia dan Annelies segera menikah. Nyai menjawab:” Apa boleh buat, Nak, menyesal belum bisa meluluskan. Hari-hari persidangan telah banyak merugikan perusahaan. Kemerosotan harus disusul lebih dahulu. Karena, Nak, tanpa perusahaan berjalan baik, keluarga ini akan kehilangan kehormatannya. Aku harap kau bisa mengerti” (BM, 325). Nyai sudah sadar bahwa perusahaan cepat atau lambat akan diambil-alih oleh anak Herman Mellema. Pengadilan yang sengaja dibuat bertele-tele itu mempunyai dua sasaran. Pertama, diusahakan mendapat bukti keterlibatan Nyai dan Minke dalam kematian Herman Mellema. Kedua, pengadilan itu akan mengganggu konsentrasi Nyai dalam mengurus perusahaan, sehingga bisa dibuktikan berdasarkan pemeriksaan akuntan, bahwa sepeninggal Herman Mellema, perusahaan menjadi tak terurus dan terbengkalai dan karena itu layak diserahkan ke pihak yang lebih sanggup mengelolanya dengan baik.

    Minke adalah anak bupati yang tidak tertarik kepada jabatan bupati. Dia enggan memakai atribut kepriyayiannya. Satu-satunya yang dipertahankan adalah gelar Raden Mas yang memberinya hak menggunakan Forum Privilegiatum, yaitu hak untuk menolak diadili oleh pengadilan untuk pribumi dan hanya diadili dalam forum yang sederajat dengan pengadilan bagi orang Eropa. Dia menyatakan sikap menolak menghormati ayahnya hanya karena ayahnya mempunyai jabatan bupati. Dengan garang dia menentang Bupati Serang, Ahmad Djajadiningrat, yang menuntut penghormatan khusus pada waktu Minke beraudiensi.

    Sebagai siswa HBS Surabaya dia bekerja dengan mencari order lukisan untuk sahabatnya Jean Marais, seorang pelukis berkebangsaan Prancis, veteran Perang Aceh, yang kehilangan satu kakinya karena perang tersebut. Kemudian sebagai siswa STOVIA di Betawi dia mencari tambahan uang saku dengan menjadi penulis teks iklan untuk koran lelang. Tarif untuk tiap teks iklan adalah setalen untuk teks bahasa Melayu, tiga talen untuk teks bahasa Belanda, dan satu rupiah untuk teks bahasa Inggris. Sudah sejak di Surabaya dia mengumumkan tulisan dan artikel dalam bahasa Belanda dengan menggunakan nama pena Max Tollenaar. Lingkungan pergaulannya bukanlah kaum priyayi, tetapi para penulis, wartawan dan pelukis. Wartawan-wartawan yang menjadi teman diskusinya ialah Maarten Nijman, redaktur koran S.N. v/d D. di Surabaya, Jean Marais, dan penulis berbahasa Melayu bernama Kommer, dan aktivis Angkatan Baru Tiongkok, Khouw Ah Soe, yang datang ke Hindia Belanda untuk menyebarkan cita-cita mereka di Surabaya. Dia juga bersahabat dengan Darsam, pendekar Madura yang menjaga keamanan perusahaan. Padanya Darsam tiap sore belajar membaca dan berhitung. Di Betawi dia berkenalan dengan Ter Haar wartawan koran Semarang de Locomotief. Dari Ter Haar Minke belajar tentang paham-paham demokrasi liberal (Vrijzinnige Democraat). Koran Semarang ini mempunyai sejarah khusus karena dia diterbitkan untuk memperingati masuknya lokomotif untuk pertama kali ke Pulau Jawa, 36 tahun sebelumnya. Di Betawi pula Minke berkenalan dengan Marie van Zegellen, wartawan dan penulis perempuan yang sangat kagum akan perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaannya terhadap tentara pendudukan Belanda dalam perang yang berlangsung seperempat abad. Wartawan dan penulis ini juga menentang rencana Gubernur van Heutsz yang melalui maklumat pendek atau korte verklaring menuntut ketaklukan dari daerah-daerah yang masih merdeka kepada kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Melalui pergaulannya dengan Ter Haar Minke akhirnya berkenalan dengan Gubernur Jenderal van Heutsz dan mendapat perhatian khusus dari jenderal itu.

    Pengalaman-pengalaman politik yang diperolehnya dari lingkungan pergaulan di Betawi dan dorongan dari Ang San Mei yang dinikahinya dengan restu Bunda, membuatnya semakin terlibat dalam kegiatan jurnalistik dan membawanya berurusan dengan masalah-masalah publik.  Istrinya Ang San Mei sering mengajukan kritik bahwa kaum tepelajar pribumi di Hindia Belanda terlalu banyak berpikir dan bergerak sendiri-sendiri,  padahal kekuatan untuk mengubah keadaan hanya diberikan  oleh organisasi. Tanpa organisasi setiap orang hanya menjadi sebatang lidi yang mudah dipatahkan. Dalam kaitan ini, dua perempuan telah memberinya kesadaran tentang syarat-syarat perjuangan yang berhasil. Nyai Ontosoroh menyadarkan Minke tentang pentingnya modal, dan Ang San Mei mendorongnya mendirikan organisasi. Amat menarik bahwa dalam pembicaraan dengan orang-orang dari lingkungan terdekat, selalu ditekankan pentingnya landasan materil tiap usaha. Kata Nyai kepada Minke, tanpa perusahaan yang berhasil orang tak akan menghormati kita. Kata Ter Haar kepada Minke “sepandai-pandai orang, dan Stevenson manusia unggul di abad ini pun, takkan dapat berikan lokomotif pada dunia, kalau modal nihil. Hanya dengan modal dia dapat perintah(kan) mendung menggerakkan lokomotif yang puluhan meter panjangnya. Tanpa modal orang tak bisa perintahkan petir menghidupkan telegrap dan telepon . . . . Tanpa modal pembesar-pembesar  itu tinggal jadi wayang kulit tanpa gapit” (ASB, 294). Karena itu, begitu kata Ter Haar, gubernemen  tidak punya fungsi lain dari menjaga keselamatan modal, dan tiap orang di daerah jajahan hanya dilihat dan diperhitungkan sebagai sumber keuntungan. Selanjutnya kata Ang San Mei kepada Kartini ketika berkunjung ke Jepara, “Akhir-akhirnya  kasih sayang adalah juga benda, sekalipun mujarat, abstrak, dan setiap benda harus tunduk pada manusia . . . terserah pada manusia itu bagaimana menggunakannya”. Jawab Kartini, “seperti penaklukkan atas hukum-hukum alam.” Kata Ang San Mei kembali “itu hanya sebagian daripadanya” (JL, 117).

    Percobaan pertama yang dilakukan Minke dalam mewujudkan organisasi ialah menghubungi para pejabat pribumi untuk mendirikan Sjarikat Priyayi dan kemudian menerbitkan organ organisasi berupa koran mingguan  yang diberi nama Medan dan menggunakan bahasa Melayu Pasar. Baik organisasi maupun mingguan Medan dibiayai dengan iuran anggota. Menurut rencana, akan didirikan pula sekolah dan asrama, dan dibentuk Badan Fonds Kemajuan untuk memberi beasiswa kepada pelajar-pelajar cerdas tapi tak mampu. Organisasi ini segera mandek pertumbuhannya karena sebagian besar dana dikorup oleh pengurus. Akibatnya anggota mulai enggan membayar iuran. Di pihak lain mingguan Medan berkembang pesat dan terus naik tirasnya, terutama setelah koran ini menyediakan ruangan untuk penyuluhan, konsultasi dan advokasi hukum. Dalam ruangan ini pembaca dapat memperoleh penjelasan tentang peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Pertanyaan-pertanyaan dan keluhan pembaca dilayani dan dijawab oleh Mr Frischboten, suami Miriam de la Croix, yang menjadi sahabat Minke sejak dia masih belajar di HBS Surabaya. Pembaca mengadukan masalah dan ketidakadilan yang menimpa mereka dan Mr Frischboten memberikan konsultasi dan bahkan membawa perkara mereka ke pengadilan. Medan lambat-laun dikenal sebagai mingguan yang dapat mencegah terulangnya ketidakadilan yang menimpa pembaca dan memulihkan hak-hak mereka yang dirampas.

    Akan tetapi segera tampak bahwa Pramoedya sebagai pengarang memainkan dialektik sejarah dengan cara yang indah sekali. Nyai Ontosoroh atau Madame Le Boucq tetap mengikuti kegiatan bekas menantunya dari Paris. Diperingatkannya Minke bahwa hukum dan peraturan bukanlah segala-galanya dalam hidup manusia. Sukses Minke yang mulai bersinar terang akan mengundang iri hati dan usaha-usaha dari orang yang dengki hatinya untuk menggagalkan usahanya atau membahayakan hidupnya. Dia sebaiknya segera merekrut satu dua orang pendekar untuk melindungi dia dan perusahaan penerbitannya, seperti Darsam melindungi Boerderij Buitenzorg di Wonokromo dulu. Lain dari itu Nyai juga mempertanyakan mengapa Minke sebagai orang partikelir membantu gubernemen dengan penyuluhan hukum dan penerangan tentang aturan-aturan pemerintah. Bukankah penyuluhan seperti itu adalah tugas pemerintah? Mengapa Minke harus mengeluarkan banyak biaya untuk membantu gubernemen, bukankah gubernemen yang harus membayar dia untuk jasa-jasanya memberi penjelasan dan penyuluhan hukum dan aturan pemerintah?

    Menarik untuk melihat bagaimana pengarang menguji paham materialisme historis yang demikian ditonjolkan dalam diri beberapa tokohnya melalui antitesis yang diciptakan melalui tokoh lainnya. Antitesis itu diberikan oleh Tuan L. kepala arsip pusat (‘s landscharchiev), yang mempunyai keahlian khusus dalam kebudayaan Jawa. Diskusi tentang kebudayaan Jawa dalamRK mempunyai sekurang-kurangnya dua tujuan. Pertama, Jawa menjadi representasi dari akibat kolonialisme yang terlalu lama, dan kedua, akibat penjajahan yang lama dan beban yang ditanggung dalam perjumpaan dengan berbagai kebudayaan besar di dunia telah melahirkan suatu defense mechanism dengan dampak kebudayaan yang khas. Menurut teori Tuan L., suatu bangsa yang menghadapi gelombang-gelombang kebudayaan dari luar yang datang beruntun dan kemudian menderita penjajahan politik dalam ukuran abad, akan memilih di antara dua kemungkinan: dia dapat berkompromi dalam prinsip dan filsafatnya  dengan kekuatan-kekuatan luar supaya dapat bertahan hidup, atau dia tetap mempertahankan prinsip dan filsafatnya dan kemudian berperang untuk mempertahankan prinsip itu tanpa kompromi, dengan akibat bahwa dia mungkin akan dihancurkan oleh kekuatan luar dan kemudian sirna dari muka bumi. Bangsa Indian Amerika misalnya tidak dapat mengkompromikan prinsip dan filsafat mereka dengan paham yang dibawa dari Eropa dan menderita banyak kehancuran dirinya. Sebaliknya, Jawa tetap dapat bertahan karena kebudayaan ini mengkompromikan prinsip dan filsafatnya. Kekalahan Jawa dalam perang melawan Belanda disebabkan oleh kekalahan filsafatnya.

    Saya tidak mempunyai keahlian cukup untuk menilai pendapat dan teori Tuan L. sebagaimana dilukiskan oleh Pramoedya. Namun demikian, tetap penting untuk melihat bagaimana Pramoedya yang menonjolkan kekuatan materialisme historis dalam beberapa tokoh utamanya,  memberikan antitesis dengan menunjuk peran dan kekuatan filsafat dan prinsip melalui pandangan Tuan L. Menurut ahli ini setelah Majapahit runtuh pada 1478 Jawa hanya sanggup berkompromi dan menyesuaikan diri dan tidak dapat lagi membuat peninggalan untuk dunia seperti yang dilakukan pada masa-masa sebelumnya.

    Ada beberapa tahapan dialektik dalam perkembangan pandangan pengarang. Bunda, Ibu Minke adalah perempuan Jawa dari kalangan priyayi yang hidup dengan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa kehidupan akan aman, selamat dan tenteram, kalau tiap orang tahu tempatnya dalam masyarakat, kalau petani tidak mencoba menjadi priyayi, atau kalau priyayi tidak berpretensi dapat memacul di sawah. Pembesar selalu akan ada supaya rakyat kecil mempunyai pihak yang dapat dipatuhinya. Di pihak lain Nyai Ontosoroh berusaha melupakan kejawaannya karena menurut dia kebudayaan ini tidak memberi kekuatan yang dapat memberi perlindungan kepada orang yang tidak mempunyai kekuasaan. Dengan menyangkal kedua orangtuanya, yang menjual dia kepada seorang administratur pabrik, dia praktis menolak sejarahnya dan kebudayaan yang telah melahirkannya. Dalam kehidupannya bersama tuan yang telah mengambilnya sebagai gundik dan mendidiknya untuk bekerja dalam sebuah perusahaan modern, dia akhirnya menemukan bahwa hal yang akan memberinya martabat baru hanyalah modal yang dihasilkan oleh perusahaan yang dikelola dengan baik. Keyakinan tentang pentingnya modal ini semakin diperkuat oleh pengarang dengan memunculkan tokoh Ter Haar, yang menganggap bahwa perkembangan dunia dikendalikan oleh modal dan bahkan gubernemen tidak mempunyai tugas lain selain mengamankan modal. Lalu muncul Ang San Mei, anggota Angkatan Muda Tiongkok yang yakin dan meyakinkan Minke bahwa kekuatan untuk perubahan hanya diberikan oleh organisasi yang kuat. Tanpa organisasi tak mungkin orang menciptakan kekuatan politik dan keunggulan ekonomi. Terhadap pandangan-pandangan Nyai, Ter Haar dan Ang San Mei pengarang menghadirkan tokoh Tuan L. ahli kebudayaan Jawa yang berpendapat bahwa kekuatan suatu bangsa dan suatu kebudayaan ditentukan oleh kekuatan filsafat dan keteguhan prinsip yang dianutnya. Kekalahan dalam setiap perang dan pertempuran pada akhirnya tidak lain dari kekalahan filsafat dan kekalahan prinsip.

     

    IV

     

    Pada bagian akhir uraian ini perlulah dijelaskan dengan sedikit pertanggungjawaban mengapa ketiga perspektif ini telah diterapkan dalam membaca keempat jilid novel-novel Pulau Buru, meskipun ada berbagai faset lain yang sama menariknya untuk dijadikan pokok pembicaraan dan diskusi. Amat menarik misalnya untuk mempertanyakan apa gerangan yang menyebabkan keempat novel ini menimbulkan gema yang demikian luas, tidak saja di Indonesia tapi juga dalam kalangan sastra dunia. Dilihat dari bentuk dan komposisinya novel-novel ini ditulis dengan cara yang serba- konvensional. Tidak ada usaha dan pretensi pengarang untuk melakukan pembaruan apa pun dalam teknik, gaya, atau pun struktur cerita. Masing-masing cerita disusun dengan menggabungkan secara sederhana plot linear dan flashback. Tokoh-tokoh cerita adalah manusia biasa dengan watak yang normal dan tidak memperlihatkan ideosinkrasi yang berlebihan. Dengan demikian, kekuatan novel-novel ini tidak terletak pada aspek pembaruan yang dibawanya, tetapi pada kekuatan pesan yang disampaikannya.

    Pesan pertama yang amat jelas ialah bahwa ada pertarungan abadi antara kebebasan dan subyektivitas manusia dan kekuatan obyektif sejarah yang dihadapinya. Obyektivitas sejarah itu tampil sebagai kekuatan yang tak bisa dihindari dan tak terlawankan, yang dapat mengambil bentuk sistem budaya di mana anak-anak tak dapat menampik kehendak orangtua khususnya kemauan sang ayah. Sanikem dan Surati harus menyerah kepada perintah ayah mereka untuk datang menyerahkan diri kepada administratur pabrik gula dan tinggal di sana selama tuan mereka suka dan sampai saat mereka diusir kembali karena tuan mereka sudah merasa bosan. Namun demikian, diperlihatkan juga bahwa subyektivitas manusia tak dapat dibinasakan seluruhnya oleh kekuatan sejarah itu. Sanikem bertumbuh menjadi pengusaha yang pandai dan terampil dan berhasil memimpin sebuah perkebunan besar dan pabrik susu dengan banyak pekerja. Surati menyerahkan diri kepada administratur Vlekkenbaaij dan sekaligus membunuhnya dengan penyakit cacar yang sengaja ditularkan ke dirinya sendiri sebelum datang kepada tuannya. Kemudian Minke melakukan percobaan untuk menentang kebudayaannya. Dia enggan menjadi bupati dan menolak hak-hak kepriyayiannya. Akan tetapi penolakan itu tidak membuatnya menjadi seorang gelandangan secara budaya, karena Bundanya amat mencintai dia, dan dia juga mempunyai suatu hubungan afektif yang amat kuat dengan Bundannya. Minke yang berontak terhadap ayahnya, selalu siap sujud di kaki Bundanya untuk mendengar nasihat-nasihat yang telah diwariskan para leluhurnya.

    Selain sistem budaya, obyektivitas sejarah juga mengambil bentuk kekuasaan politik dan kekuatan hukum kolonial. Setelah menjadi gundik, Sanikem tidak mau mengakui lagi orangtuanya, tidak lagi peduli dengan adat-istiadat Jawa, dan berusaha membentuk dirinya menurut pola kebudayaan Barat, khususnya kebudayaan Belanda. Hal yang sama dilakukan oleh Minke melalui pendidikan yang diperolehnya di HBS Surabaya. Sebagai penulis dia lebih dulu menulis dalam bahasa Belanda dan baru kemudian dalam bahasa Melayu, tetapi tak pernah menulis dalam bahasa Jawa, sekali pun hal ini berkali-kali diminta oleh Bundanya. Dengan keadaan dan pilihan seperti itu baik Nyai Ontosoroh maupun Minke mengalami akhir yang sama. Perusahaan susu yang maju dan berhasil dikelola oleh Nyai Ontosoroh akhirnya harus diserahkan ke anak Herman Mellema dari istri yang sah di Belanda, sementara harta kekayaan Minke sebagai pemimpin mingguan Medan dan  pemimpin Sjarikat Dagang Islam akhirnya dibekukan oleh pengadilan dan pemerintah, setelah Minke dibuang ke Ambon. Minke gagal memperoleh kebebasannya kembali dan akhirnya meninggal dengan cara yang mengenaskan di Betawi. Nyai Ontosoroh akhirnya mendapatkan kebebasannya tapi harus meninggalkan Hindia Belanda dan pindah ke Prancis. Kekuatan sejarah memang tak terlawankan, tetapi subyektivitas manusia tak tertaklukkan.

    Dalam perspektif kedua ditampilkan peranan yang dimainkan oleh laki-laki dan perempuan. Disengaja atau tidak, dimaksudkan atau tidak, banyak sekali tokoh laki-laki yang mengalami kebangkrutan moral dan kemerosotan dalam perkembangan jiwa mereka. Laki-laki yang mempunyai kekuasaan besar cenderung tertimpa kelemahan moral yang amat mencolok. Pada tingkat kekuasaan tertinggi di Hindia Belanda para Gubernur Jenderal yang mempunyai hak-hak luar biasa (exorbitante rechten) memperlihatkan cacat yang luar biasa pula dalam watak dan perangai mereka. Van Heutsz, penakluk Aceh, adalah pembunuh berdarah dingin yang tak tahan melihat ada kantong-kantong yang masih merdeka. Bali menolak takluk tapi hampir semua rakyatnya, laki-laki dan perempuan, pangeran dan rajanya gugur mempertahankan diri dalam Perang Puputan. Gubernur Jenderal Idenburg dilukiskan sebagai orang yang hanya mengenal jabatan dan pejabat, tetapi tak mempunyai kepekaan sosial-politik untuk memahami kebangkitan baru di Hindia Belanda. Roseboom adalah Gubernur Jenderal benyali kecil, yang gentar ketakutan ketika Putera Mahkota Rusia mampir di Priok dengan armadanya. Para administratur pabrik gula adalah Tuan Besar Kuasa yang mempunyai selera rendah yang sama terhadap anak perempuan pegawainya. Para bupati mempunyai satu kesibukan yang sama: menyembah Asisten Residen sebagai atasannya, dan minta disembah oleh rakyatnya. Jacques Pangemanann, intelektual lulusan Prancis menjadi pejabat tinggi kolonial sambil berusaha sia-sia membunuh nurani intelektualnya. Kekuasaan rupanya membawa serta kemerosotan dalam moral, dan besarnya kekuasaan berbanding lurus dengan tingkat dekadensi.

    Di pihak lain, nama-nama perempuan muncul dengan keagungan dan keanggunannya masing-masing. Bunda, ibu Minke, adalah wanita tradisional Jawa yang tak tergoyahkan dalam ketenangannya, karena dia hanya percaya pada nilai-nilai yang diwariskan dari para leluhurnya. Sanikem menjadi gundik, tetapi segera membuktikan dirinya sebagai gundik yang sanggup beremansipasi dengan sukses. Ang San Mei, perempuan muda dari Tiongkok mempersembahkan hidupnya untuk perjuangan Angkatan Muda Tiongkok yang hendak mengakhiri kekuasaan kaisar. Prinses van Kasiruta tampil sebagai perempuan Maluku yang sanggup melindungi diri dan sanggup pula melindungi suami, bila perlu melalui perkelahian dan duel senjata api. Juga Piah, pembantu rumah tangga Minke dan Prinses, ternyata seorang anggota Sjarikat Dagang Islam yang bersumpah akan selalu mengenang pemimpinnya dalam pembuangan.

    Dalam empat jilid novel ini tak ada perempuan yang berwatak jahat. Secara hampir hitam-putih semua laki-laki menjadi representasi kekuasaan dan sifat-sifat kekuasaan yang menindas. Laki-laki yang mencoba melawan kekuasaan itu seakan ditakdirkan untuk kalah dan menderita bengisnya kekuasaan. Ini terjadi pada Minke yang terpelajar hingga ke Trunodongso, petani buta huruf yang mencoba mempertahankan tanah miliknya yang diambil oleh perkebunan tebu. Timbul pertanyaan: mengapa sifat-sifat moral lebih muncul pada tokoh perempuan daripada tokoh laki-laki? Sangat mungkin ini terjadi karena laki-laki diidentifikasi dengan kelas dominan yang berkuasa, di mana kedudukan dominan ini dibenarkan dan diperkuat oleh patriarki yang berurat berakar dalam kebudayaan selama berabad-abad. Sebagai kelas dominan laki-laki akan sibuk dengan kekuasaan dan ini membuat mereka juga menderita sifat kekuasaan yang cenderung korup. Cara pandang ini mengandung risiko tersendiri, karena ada semacam idealisasi yang romantis di dalamnya. Perempuan masih mempunyai kebajikan moral karena mereka belum menjadi bagian dari kelas dominan dan belum mempunyai kekuasaan. Emansipasi perempuan akan menghadapi dilema: untuk tetap bermoral  perempuan harus menghindari kekuasaan, karena sekali dia mengambil bagian dalam kekuasaan laki-laki dia akan jatuh ke dalam watak kekuasaan yang mengabaikan moral.

    Dalam perspektif ketiga akan terlihat bahwa emansipasi pribumi terhadap pihak penjajah dan emansipasi perempuan terhadap dominasi laki-laki tidak begitu berhasil kalau dilakukan melalui  jalan politik, dan lebih berhasil kalau dilakukan dengan merebut tempat yang lebih kuat dalam hubungan hubungan produksi. Siti Soendari, perempuan lulusan HBS yang menjadi propagandis organisasi politik dan menulis artikel-artikel politik yang tajam segera menarik perhatian gubernemen. Dia diawasi dan dibuntuti kemana pun dia pergi. Dia hanya selamat karena berhasil melarikan diri ke Belanda dengan dibiayai oleh uang ayahnya, dan di sana dia tidak dapat melakukan banyak aktivitas politik.  Khouw Ah Soe dan tunangannya Ang San Mei masuk secara gelap ke Hindia Belanda untuk mengobarkan semangat Angkatan Muda Tiongkok menggulingkan kaisar. Keduanya mati di negeri asing. Mereka yang lebih berhasil ialah yang berusaha melalui perebutan tempat yang lebih baik dalam hubungan produksi. Sebagai gundik Nyai Ontosoroh mungkin tidak dihormati, tetapi jelas dia tidak bisa diremehkan. Dia mampu mengelola sebuah boerderij seluas 180 ha dan mengurus pabrik susu yang mempekerjakan banyak tenaga kerja. Hukum kolonial merampas perusahaan itu darinya, dan menyerahkannya kepada Maurits Mellema sebagai ahli waris Herman Mellema. Tetapi Nyai tidak menyerah, dia pindah ke Wonocolo dan berhasil membangun perusahaan baru dengan tabungannya, hingga dia pindah ke Prancis. Demikian pun Darsam, pendekar Madura penjaga keamanan di boerderij Buitenzorg, yang belajar baca-tulis pada Minke dalam waktu senggangnya, kemudian terbukti sanggup mengelola perusahaan di Wonocolo, setelah ditinggalkan oleh Nyai Ontosoroh yang pindah ke Prancis.

    Dikatakan secara singkat, perubahan sosial di Hindia Belanda tidak terjadi karena perubahan status atau meningkatnya jabatan, tidak juga oleh pergantian priyayi lama dan priyayi baru tamatan sekolah tinggi. Perubahan sosial itu muncul karena didorong oleh munculnya secara perlahan borjuasi pribumi, yang sanggup memberi kekuatan nyata kepada pribumi untuk beremansipasi terhadap kekuatan kolonial, dan memberi sarana yang sama kepada kaum perempuan untuk beremansipasi terhadap dominasi laki-laki.

    ———————–

     

     
    Sumber : Tulisan ini adalah Kuliah Ignas Kleden di Salihara, Jakarta, 10 September 2011

     

  • Jos Blikololong, Pungut Sampah Demi Honor Guru

    Jos Blikololong, Pungut Sampah Demi Honor Guru

    JOSEPH Orem Blikololong (60 tahun). Di Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, ia bekerja dalam diam. Kerjanya pun bukan sembarang kerja. Magun Jose, begitu ia akrab dipanggil, hanya seorang tukang pungut sampah. Pemulung, kata orang Jakarta.

    Tukang sampah ini lahir di Lamabaka, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, 30 Oktober 1959. Jejak pengabdian menyisir setiap rumah tangga mengambil sampah warga, menarik perhatian Andy Flores Noya alias Andy F Noya, owner Kick Andy, reality show di Metro TV, tivi milik Surya Paloh, pengusaha media nasional.

    Andy F Noya memandang Josef Blikololong perlu hadir di acara Kick Andy memberikan testimoni bagaimana suka-duka menjadi pemulung di tengah kota Kupang sembari menghidupi dua lembaga pendidikan yang ia rintis: SMP Lamaholot dan PAUD Peduli Kasih di bilangan Kelapa Lima, Kota Kupang.

    “Setahun belakangan, uang transpor sembilan guru saya di SMP belum saya bayar. Saya agak kewalahan membayar uang transpor mereka. Harga sampah yang saya ambil dan pilah-pilah sebelum saya over ke teman untuk dikirim ke Surabaya makin mahal. Saat ini saya harus bayar Rp. 3 juta lebih,” kata Joseph sedih.

    Ia mengaku, beberapa anak buahnya yang pernah bersama memungut sampah warga malah berbenti kerja karena tak kuat lagi dengan uang transpor yang ia berikan. Tak hanya itu. Kecemasan mendera batinnya karena tidak hanya guru SMP miliknya tak mampu ia bayar transpor mereka. Tiga guru PAUD yang membantu mengajar juga sudah puasa transpor dari kantong pribadinya.

    Beberapa guru di sekolah miliknya, pernah diambil data untuk diberi insentif dari pihak Dinas PPO Kota Kupang, namun belum ada tanda-tanda realisasi. Situasi ini tak melumpuhkan semangatnya untuk memungut sampah demi uang transpor para guru di sekolahnya.

    “Saya pikir agak berlebihan kalau menyebut jasa mengajar guru dengan sebutan honor. Honor tentu identik dengan bayaran profesional. Saya menyebutnya dengan uang transpor. Sebulan, per guru baya bayar Rp. 100.000 sampai 150.000. Tentu jauh dari ketentuan ketenagakerjaan. Untungnya, bapa ibu guru maklum dengan kondisi kami,” kata Joseph.

    Joseph tukang pungut sampah ini berniat bertemu Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat untuk menyampaikan persoalan melangitnya harga sampah yang diambil dari produsennya. Ia berkilah, sebaiknya harga sampah jangan terlalu mahal. Ini karena selain ia masih memilah-milah sampah sebelum dibawa ke rekannya sebelum dibawa ke Jawa, ia juga masih menyewa bemo.

    “Keuntungan saya per bulan hanya sekitar Rp. 2 juta. Berkat ini masih saya bagi untuk anak saya yang masih kuliah. Akibatnya, hampir setahun belakangan, uang transpor guru mandek,” ujarnya.

    Ansel Deri

  • Loyalitas Timbal Balik

    Loyalitas Timbal Balik

    Oleh Josef Bataona

    “Loyal employees uphold your brand and ensure the sustainability of your business. They go the extra mile. They make it possible for you to win.” (Brigette Hyacinth)

    KARYAWAN LOYAL. Apakah ini berkaitan dengan lamanya seseorang bekerja? Apakah dia loyal kepada atasan atau Perusahaan? Apakah dia justru loyal kepada profesi?
    Saya tergugah untuk mengangkat tema loyalitas karyawan karena munculnya pertanyaan dari seorang peserta sharing sessionku tentang loyalitas ini. Pertanyaan persisnya, bapak pernah bekerja sampai 31.5 tahun di satu perusahaan, bahkan sampai pensiun. Apa makna Loyalitas menurut bapak? Pertanyaan itu sangat masuk akal terutama karena datangnya dari seorang milenial, yang belum bisa membayangkan bekerja selama itu di perusahaan yang sama. Berikut foto Bersama peserta sharing session.

    Perlakuan Yang dialami Karyawan

    Sering sekali kita bicara tentang cara Perusahaan memperlakukan karyawan, atau tentang budaya kerja perusahaan. Tapi sebetulnya yang dimaksud dengan perusahaan adalah atasan karyawan. Karena atasan kita adalah orang yang paling dekat dengan kita, yang karena tugasnya mewakili perusahaan dalam keseharian kita. Jadi kalau hubungan dengan atasan baik, akan dianggap bahwa hubungan dengan perusahaan juga baik. Tapi kalau sebaliknya terjadi maka karyawan tidak akan tinggal lama. Sementara itu, riset juga menunjukan bahwa karyawan yang loyal memiliki produktivitas 12% lebih tinggi. Mereka akan menjadi brand ambassador, akan go extra mile, menjamin keberlangsungan bisnis dan berjuang demi keberhasilan perusahaan.

    Perlu juga disadari, bahwa competitor sedang mengincar talent perusahaan kita. Bahkan hasil survey yang dipaparkan oleh Brigette Hyacinth di LinkedIn 5 April 2018, (https://www.linkedin.com/pulse/why-managers-should-care-employee-loyalty-brigette-hyacinth) bahwa dari 30 case study yang diambil dari 11 survey memperlihatkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menggantikan karyawan yang berhenti kurang lebih 20% dari total penghasilan karyawan tersebut. Angka itu dihitung dari hilangnya produktivitas karena karyawan keluar, biaya untuk mencari pengganti dan belum maksimalnya produktivitas karyawan baru. Belum lagi kerugian karena karyawan lain boleh jadi berpikir-pikir untuk pergi, atau rusaknya citra perusahaan di mata karyawan sendiri dan pencari Kerja.

    Tips untuk mempertahankan Karyawan terbaikmu

    Bila karyawan merasa disconnected, undervalues, unappreciated, mereka akan segera mencari pekerjaan lain dimana kontribusi mereka lebih dihargai. Karena itu cara mencegahnya adalah memberikan kepada karyawan alasan untuk mereka mau tinggal. Beberapa saran Brigette Hyacinth, diantaranya:

    • Perlakukan karyawan sebagai manusia, bukan mesin. Karyawan ini punya kebutuhan akan balanced life, punya personal time, family time, social time dll
    • Beri kesempatan untuk pengembangan karyawan. Buatlah karyawan melihat makna dibalik setiap tugas yang dikerjakan.
    • Berikan pengakuan dan penghargaan pada hasil kerja karyawan. Jadikan itu sebagai bagian dari budaya perusahaan.
    • Jangan micromanage karyawan. Percaya pada mereka, berikan otonomy dan keleluasaan untuk bekerja.
    • Berikan training dan support, yang akan dilihat karyawan sebagai komitmen perusahaan untuk pengembangan pribadi karyawan.
    • Perlihatkan empathy. Dampaknya moral dan kinerja karyawan akan meningkat
    • Akhirnya, ciptakan budaya dimana ada komunikasi terbuka, ada fairness, teamwork dan suasana kekeluargaan.

    Hal tersebut diatas perlu mendapat perhatian, karena sering kita berpendapat, seakan-akan karyawan keluar karena ada tawaran lebih besar di luar. Memang kenyataannya bahwa karyawan keluar akan meminta tawaran lebih tinggi di perusahaan baru. Tapi alasan utama kenapa dia mulai berpikir untuk keluar adalah karena perlakukan atasan terhadapnya. Apalagi atasan yang tidak dekat dengan karyawannya senantiasa gagal paham akan apa yang menjadi motivasi seseorang dalam bekerja.

    Loyal Sepenuh Hati

    Kembali ke pertanyaan awal, apa sebetulnya loyalitas itu? Saya diterima di sebuah perusahaan karena kompetensi yang saya miliki. Secara professional saya berkembang dan bisa berkontribusi bagi perusahaan. Saya akan bekerja dengan sepenuh hati karena saya percaya bahwa perusahaan juga menghargai kontribusiku, para pemimpin memberikan kesempatan untuk berkembang, dan disana saya diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.

    Dan di postingan IG peserta lain, Cordelia, explisit dia menyebutkan bahwa kisah perjalanan hidupku menginspirasinya. Namun ada tersirat harapan sekaligus doa, semoga di perusahaan manapun dia bekerja dia bisa sukses “from ZERO to HERO, dan from NOTHING to SOMETHING.” Ini adalah harapan lumrah mewakili karyawan-karyawan lain. Mereka ingin menambah MAKNA (Meaning) kehidupan mereka, karena bisa memberi manfaat bagi orang lain.

    Ini berarti loyalitas itu tidak satu arah (karyawan loyal kepada perusahaan), tapi timbal balik. Dan saya berpendapat, loyalitas saya adalah kepada profesi Human Resource. Saya akan terus berkarya dimanapun tempatnya dan siapapun atasannya, bilamana para pimpinan (yang juga mewakili perusahaan) memberikan kesempatan untuk profesi Human Resources berkipra.

    “Train people well enough so they can leave, treat them well enough so they don’t want to.” (Richard Branson)

    Sumber Tulisan: http//www.josefbataona.com, 11 Oktober 2019

  • Bie Lelaki Lamalera di Ujung Senja

    Bie Lelaki Lamalera di Ujung Senja

    Oleh Maria Pakpahan

    Matahari sudah naik melebihi pohon lontar, berkasnya yang menerpa laut, membuat permadani biru itu berkilau keperak-perakan. Nuansa pagi di Lamalera. Ketika itu bele Bie menghirup kopi paginya. Sorot matanya yang tajam dibawah alis mata tebal yang memutih mengawasi laut lepas. Belum ada satu peledang pun yang turun melaut.

    Cepat-cepat pisang rebus yang disiapkan oleh anaknya dilahap habis. Setelah hirupan terakhir dari gelasnya, langkahnya mulai diayunkan. Tujuannya jelas, pantai. Badannya yang sedikit membungkuk diusia yang menjelang senja, 67 tahun, tidaklah mengurangi kelincahan kaki-kaki telanjangnya untuk menghindari batu cadas. Hampir setiap hari dia mengawali hari-harinya seperti itu.

    Sejak berusia 18 tahun bele Bie, panggilan untuk Gabriel Blido Keraf, telah mengawali karirnya sebagai nelayan dengan menjadi meng (awak peledang). Masih diingat jelas bagaimana dia dan kawan-kawannya melaut sampai ke Lewotobi (Flores daratan) dan Pulau Rusa (dekat Pulau Alor) dibulan-bulan Agustus –September untuk memburu belelang (ikan pari).

    Pengalamnnya di laut tidak membuat dirinya cepat puas. Dengan belajar dan magang kepada ayahnya, pada usia 23 tahun dia sudah menguasai teknik membuat peledang, sehingga digelarinya dia sebagai atamolan (arsitek peledang). Bersamaan dengan itu keahlian sebagai belawai (juru tikam) dikuasainya pula. Lebih dari 30 ekor Kotoklema (Paus Lodan) terbunuh diujung kafenya (harpoon), sebelum dia pensiun sebagai belawai. Kafe itupun dibuat sendiri dengan tangannya.

    Bie memang tidak bisa diam berpangku tangan saja. Di luar lefanue (musim perburuan ikan) pasti ada yang dikerjakannya. Seperti membuat sampan untuk memancing ikan terbang, ketika ikan-ikan besar ‘tidak main’. Itu diawalinya sekitar tahun 1969. Saat itu ada empat buah sampan miliknya, sementara peledang yang milik suku tidak kurang dari lima buah yang telah diarsiteki.

    Sebagai laki-laki tertua dalam klennya, secara otomatis dia menjadi tetua adat (kepala suku). Tugas utamanya adalah menjaga keharmonisan hubungan antar anggota sukunya maupun dengan suku-suku lainnya yang semuanya ada 19 suku. Disamping sebagai penghubung antara anggota suku dan arwah nenek moyang.

    Sebagai imbalannya ada perlakuan khusus baginya, seperti mendapatkan bagi hasil ikan buruan yang didapat oleh perahu milik klen. Tetapi itu tidak dirisaukan benar, mengingat sesuai dengan aturan adat yang berlaku keahliannya membuat peledang, sampan dan tempuling telah menyajikan hasil bagi yang cukup berlebih. Dari hasil itu beberapa anaknya telah menyelesaikan pendidikan universitas di Jawa. Bie tidak mengharapkan anak-anaknya menjadi nelayan seperti dia.

    Sesampai di pantai , ditujunya garasi peledang milik klennya yang bernama lambung Santa Rosa, sesuai dengan nama anak kesayangannya yang telah meninggal dunia. Angin hari ini baik, bertiup lembut, cukup untuk mendorong peledang ke tengah laut. Ditunggu sampai beberapa saat, meng tidak genap, paling kurang satu peledang membutuhkan sembilan awak. Tampaknya mereka memilih melaut dengan sampan. Apa mau dikata, akhirnya diputuskan hari itu tidak melaut. Dan waktunya dipergunakan untuk memeriksa bagian-bagian peledang yang membutuhkan perawatan.

    Matahari telah di atas kepala, ketika isterinya, Monika, menjemput untuk makan siang. Dengan perempuan dari suku Bediona yang pernah dengan tabah menantinya selama empat hari ketika dia dibawa Kotoklema, dia menghabiskan masa tuanya, juga dengan seorang putrinya. Matanya berbinar ketika membayangkan nasi jagung dengan lauk ikan kering dan itupun akan disusul dengan tuak sambil membaca sebuah mingguan lokal yang datangnya tidak tentu.

    *Maria Pakpahan, salah seorang tim Keluarga Pencinta Alam Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (KAPALASASTRA UGM), Tim Ekspedisi Lamalera, 1989.

    *Sumber tulisan dari buku “TIM EKSPEDISI LAMALERA KAPALASASTRA-UGM”, Penerbit KAPALASASTRA UGM, Yogyakarta, 1989.