Author: Redaksi

  • Terlahir dari Sunyi

    Terlahir dari Sunyi

    Oleh Paul Budi Kleden

     

     

    “CATATAN SUNYI”, demikian penyair kita memberi judul bagi kumpulan puisinya ini. Mencatat kesunyian, mengeja huruf dari dalam kesunyian. Bagaimanakah itu? Bagaimana relasi sunyi dan kata? Kesunyian, mungkinkah dia disesaki kata? Adakah kesunyian yang dijejali kisah? Sunyi yang dipadati gagasan? Atau, sunyi adalah kelepasan dari kebisingan kata? Adakah sunyi merupakan keheningan dari segala pengertian?Tidakkah sunyi berarti pula tiadanya catatan? Tak ada catatan dalam sunyi?

    Sunyi biasanya berkonotasi pada situasi tanpa suara, tanpa bunyi. Tempat yang sunyi adalah tempat yang jauh keramaian, suasana yang sunyi berarti kondisi tanpa kebisingan. Namun, itukah makna terdalam kesunyian? Memahami kesunyian sebagai situasi tanpa suara berarti menempatkan kesunyian pada wilayah indra pendengaran. Dalam alur berpikir seperti ini, maka sunyi berarti secara sengaja menutup telinga bagi suara atau secara tidak sengaja tidak menangkap sumber bunyi apapun. Namun, agaknya pandangan ini bermasalah. Sebab, apakah pengalaman seseorang yang dapat menutup telinganya di tengah pusat keramaian disebut sebagai kesunyian? Apakah saya sedang mengalami atau mungkin menikmati kesunyian saat memakai penutup telinga untuk menangkal gelombang suara menghantam gendang telingaku sedangkan mata saya tengah terbelalak menyaksikan keramaian orang-orang yang sedang menari? Apakah seorang penjahat buronan disebut sedang berada dalam kesunyian saat dia tinggal jauh dari suara apapun dan sedang hatinya tidak tenang dipenuhi kecemasan kalau-kalau tempat persembunyiannya diketahui?

    Sunyi bukan hanya soal tidak menangkap suara atau kesuksesan memasang kedap suara. Sunyi adalah juga kondisi batin seseorang yang mengambil jarak dari dunia luar. Orang menarik diri dari keramaian untuk berkonsentrasi pada pergumulan dengan diri sendiri. Sunyi adalah jalan menuju diri. Sunyi bukanlah suasana tenang ketika orang tekun mempelajari pikiran orang lain atau menyelesaikan tugas yang diberikan orang. Karena itu, dalam kesunyian orang dihadapkan pada diri sendiri.

    Di dalam kesunyian orang berada dengan dirinya sendiri. Berada dengan diri sendiri dapat mengantar orang ke dalaman diri. Orang merenungi dirinya, menyusuri sejarah dan mengais pengalamannya. Orang akan mengalami sumur dengan dasar tak terduga dan tak kunjung diraih. Rahasia kedirian manusia diselami dan selalu menghadirkan pertanyaan baru.

    Tetapi sunyi dapat pula menjadi penjelajahan fantasi sampai ke tepian semesta. Sunyi membuat orang terbawa dalam gelombang sejarah dan alunan alam. Orang merasa menyatu dengan semesta dan menjadi bagian dari sejarah yang panjang dari umat manusia.

    Sunyi membawa ke kedalaman dan keluasan. Dalam dimensi yang tak terjangkau ini, orang mengalami dilema eksistensi diri manusia. Betapa unik tak tergantikan dan berharganya setiap kehidupan, serentak betapa kecil dan tak berdaya bak buah kelapa yang dipermainkan gelombang samudera raya. Dalam sunyi orang mengalami akunya, serentak kebesaran jagad dan kedahsyatan sejarah yang menempatkan dirinya hanya sebagai sebuah titik kecil yang gampang diabaikan. Maka, dari kesunyian seperti ini Amir Hamzah melahirkan puisinya Nyanyi Sunyi yang terkenal itu: “Sunyi itu duka; sunyi itu kudus; sunyi itu lupa; sunyi itu lampus.” Sunyi mempertemukan orang dengan kepahitan pengalaman dan kegoyahan kehidupan. Ada duka tersimpan di dalamnya. Duka memandang wajah-wajah yang dikasihi dari bening sumur kenangan yang tak dapat digenggam. Pedih mengenang kisah-kisah yang tidak selesai, benang-benang yang rapuh dari relasi yang pernah terjalin. Sunyi adalah duka eksistensi manusia yang memiliki kerinduan tanpa batas di tengah kemungkinan pemenuhan serba terbatas. Tetapi justru di sana sunyi dapat menjadi perjumpaan dengan yang kudus. Orang mengalami persentuhan dengan yang terbatas dan membenam di dalamnya. Pembenanam ini dapat membuat orang lupa. Kenikmatan pada segukan transendensi mengangkat orang ke dalam sebuah dimensi kehidupan yang tak biasa. Sunyi yang membuat orang lupa akan dunianya yang keras dan tak bersahabat. Sebab itu, sunyi dapat memabukkan. Ada pengalaman eskstase dalam kesunyian.

     

     

    Monika N. Arundhati

     

    Penyair kita memberi refleksinya tentang sunyi dalam pengantarnya:“Lantas mengapa berjudul “Catatan Sunyi?” Tak ada alasan lain selain bahwa puis-puisi itu lahir dalam saat-saat sunyi; saat di mana pengembaraan intelektual dan rohani saya berlangsung secara intens. Saya hanya berusaha menuruti kehendak hati, menggali dan mengolah kemungkinan yg ada, hingga yg paling mustahil sekalipun. Di dalam “Catatan Sunyi” ini ada perjalanan panjang seorang petualang, pencarian jati diri yg tak henti-henti. Ada teka-teki kehidupan yg mesti diurai dan dipecahkan. Ada cinta dan kesakitan. Misteri kematian. Rahasia alam dan kepekatan malam, terlebih lagi kerinduan pada sang Khalik.“Lebih lanjut dalam puisinya Catatan Sunyi, penyair kita bersajak,

    Lewati lorong malam,/ membasuh senyap subuh// Dingin//Angin//Sehelai daun jatuh.// Sunyi.

    Dalam Pelabuhan kita baca:

     

    Kutambatkan perahu pada ranting-ranting sujud,

    Menelusuri belantara sunyi untuk menjumpaiMu.

    O, jadilah Kau telaga tanpa dasar,

    Mengganti cintaku yang dangkal dan berbatu.

     

    Kendati dengan refleksi tentang kesunyian seperti ini, pertanyaan kita di atas belum pula terjawab: apakah sunyi adalah pemangkasan kata dan pantang dari semua gagasan?

    Martin Heidegger, filsuf berkebangsaan Jerman abad ke-20 mengatakan, bahasa adalah rumah dari sang ada. Selama kita ada, kita ber-rumah dalam bahasa. Maka, batas bahasa kita adalah batas dunia kita, seperti dikatakan Ludwig Wittgenstein. Duniaku sejauh bahasaku. Dan bahasa berarti pengertian dan kata. Sebagaimana kita tidak dapat terlepas dari dunia melainkan selalu di dalam dan menjadi bagian dari dunia, demikian pun kita tidak pernah terlepas dari bahasa. Duniaku adalah jaringan yang terbuat dari kata. Terlempar ke dalam dunia, demikian Heidegger mengartikan keberadaan manusia, berarti terlempar ke dalam kata. Kita terjerat dalam kata. Sebab itu, juga kesunyian kita tak pernah bebas dari kata. Kita tidak pernah mampu menarik diri dari kata, sebagaimana kita tak bisa keluar dari dunia selama masih hidup. Pandangan ini kemudian dipertegas muridnya, Hans-Georg Gadamer dengan pernyataan terkenal: Tidak ada pengalaman tanpa bahasa.

    Untuk menunjukkan pemahaman tentang dominasi bahasa ini pada bidang sastra, saya kutip permenungan dokter Yurii Zhivago dalam roman besar “Dokter Zhivago” karangan Boris Pasternak (1890-1960). Dokter Zhivago dalam roman karya Pasternak adalah seorang dokter dan sekaligus sastrawan. Petikan yang diambil berikut ini berasal dari pelukisan sebuah malam penuh inspirasi bagi Yurii Zhivago yang terbangun dari tidurnya di samping Lara, kekasih gelapnya, dan Katenka, puteri mereka, untuk menuangkan di atas kertas sejumlah permenungan literarisnya. Adegan di rumah peristirahatan di Varykino itu dilukiskan secara sangat menyentuh perasaan. Pasternak menulis tentang pengalaman kreatif Yurii Zhivago malam itu:

    Setelah menulis dua atau tiga bait yang demikian mudah mengalir dari penanya, dan sesudah menghasilkan sejumlah perbandingan yang membuat dirinya sendiri demikian kagum, dia merasa sungguh dikuasai oleh pekerjaannya. Dia merasa sudah dekat sekali pada apa yang disebut inspirasi. Keterpaduan dari sekian banyak daya yang mengarahkan penulisan yang kreatif muncul dalam benaknya. Yang paling menentukan bukan lagi manusia dengan suasana batinnya yang hendak dituangkannya dalam kata. Yang terpenting kini adalah bahasa, dengannya dia hendak menyingkapkan tabir dirinya. Bahasa, tanah pijakan dan bejana keindahan dan makna, mulai berpikir dan berbicara sendiri untuk manusia dan menjadi laksana musik, bukan sebagai bunyi yang keras, namun bagai alur batiniah yang cepat dan kuat. Bahasa mencuat dalam arus yang mengalir dahsyat, yang dengan gerakannya perlahan melicinkan permukaan batu yang ada di dasarnya, arus yang menggerakkan roda kelincir […] Dalam suasana seperti itu Zhivago merasakan bahwa pekerjaan utama tidak terletak di tangannya, melainkan pada sesuatu yang ada di luar dirinya dan yang menuntunnya, yakni pemikiran dunia dan puisi dunia, masa depannya yang sudah ditentukan terlebih dahulu dan langkah ke depan yang mesti dilaksanakan dalam perkembangan historis­nya.

    Bahasa dapat menjadi semacam alur sungai, dan kita terhanyut dalam alunannya, dibuai olehnya. Bahasa sungguh menjadi Logos, yang memang berarti pikiran dan bahasa mahaluas, yang menjadikan kita percikan-percikan kecil untuk mengungkapkan kehadiran dan pengaruhnya. Tidak jarang kita mengalami kenikmatan, saat kita menemukan sebuah alur berpikir dan berbahasa yang mengalir. Pemikiran kita demikian mudah menemukan bahasanya, dan perasaan kita segera tertuang dalam pilihan kata yang jernih. Kita dapat mengalami kenikmatan itu dalam fantasi atau khayalan, tetapi dapat pula dalam permenungan studi yang serius. Dengan sangat gampang kita menelusuri sebuah persoalan, dan dengan mudah menemukan ruas-ruasnya yang masih tersembunyi, untuk kita angkat dalam kata yang padat makna. Kita mengalami diri sebagai sebuah instrumen pengungkapan diri dari kebenaran.

    Kita boleh saja mengalami dan memahami diri sendiri dalam buaian seperti ini. Namun kalau demikian, di manakah manusia sebagai subjek pengguna bahasa yang bertanggung jawab? Apakah itu bukan berarti kita menciptakan sebuah metasubjek, di belakangnya kita dapat bersembunyi dari kewajiban dan tanggung jawab membahasakan sesuatu? Ketika bahasa menjadi terlalu dominan, dia menjadi tameng perlindungan bagi manusia untuk menyembunyikan diri dari kewajiban bertanggung jawab sebagai subjek. Dominasi bahasa dapat beralih menjadi dominasi tradisi dan masyarakat, dominasi pola pikir arus utama dan budaya. Lalu manusia hanya menjadi elemennya tanpa daya dan tanggung jawab. Kesunyian dalam pandangan ini berarti masuk ke dalam jaringan kata yang sudah tertenun tradisi dan budaya. Sunyi dipadati kata, dia bukan lagi pengalaman keunikan diri, melainkan pintu masuk ke gerakan jagad dan alur sejarah yang berada di luar kontrol kita. Manusia hanya menjadi produk sejarah dan serpihan universum.

    Namun, pandangan seperti ini mengabaikan dimensi lain dari manusia sebagai pelaku sejarah dan individu khas. Kita bukan hanya bagian dari sejarah dan alam. Kita adalah juga makhluk independen yang dapat mengambil jarak terhadap apa yang terjadi dalam alam dan sejarah. Oleh kebebasan yang dimiliki yang tercermin dalam kesanggupan berkehendak dan berpikir kita dapat memutuskan mata rantai terhadap sejarah dan melakukan sesuatu terhadap alam.

    Pereduksian pengalaman ke dalam pembahasaan sebagaimana diusung dalam pandangan terdahulu tampaknya mempermiskin dunia manusia. Dunia kita bukan hanya bahasa kita dan gagasan-gagasan yang dirumuskan. Dunia kita adalah pengalaman kita, dan pengalaman sudah selalu dapat dibahasakan, tidak selalu menjadi bagian dari keluasan alam dan sejarah. Ada pengalaman amat pribadi yang tak terkatakan. Pengalaman pra-bahasa yang tersimpan sebagai gudang kekayaan setiap pribadi. Jika duniaku hanyalah bahasaku, apakah dunia bayi dalam rahim ibu? Sementara psikologi modern mengajarkan kita betapa pengalaman tanpa kata tersebut mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang.

    Ada yang tidak terkatakan, tak terbahasakan. Ada kesunyian yang kosong kata dan bebas pengertian, kesunyian tanpa rumusan. Setelah memberikan ulasan menarik tentang bahasa dalam Tractatus, Ludwig Wittgenstein mengatakan:“Wovon man nicht reden kann, darüber soll man schweigen” (orang harus diam tentang apa yang orang tidak dapat bicarakan). Memang orang masih saja berdebat, apakah sikap diam yang dituntut oleh Wittgenstein itu sikap diam seorang ateis, agnostik, seorang positivis atau seorang teis, entahkah itu sebuah sikap diam tentang ketiadaan atau sebuah kediaman di hadapan Yang Tak Terungkapkan, Yang Mistis. Namun, kalau membaca buku harian rahasia yang ditulisnya bersamaan dengan penulisan Tractatus dan baru diterbitkan kemudian (1961), akan terungkap apa yang dimaksudkan Wittgenstein. Di dalam buku harian itu filsuf ini mendokumentasikan penderitaannya tersebab oleh kebiadaban perang, situasi sulit di front, pergolakan batinnya, kecemasannya terhadap kematian, doanya untuk mendapatkan Roh, untuk mengalami Allah. Menjadi jelas bahwa Wittgenstein, dalam buku hariannya, bergulat pada tapal batas kemungkinan bahasa yang dibayangkannya sendiri dan merasa harus berbicara. Dia menulis: “noch immer kann ich das eine erlösende Wort nicht aussprechen” (Aku belum juga sanggup mengungkapkan kata yang menyelamatkan itu). Itu berarti, ada kata penyelamat, namun kata tersebut belum bisa diungkapkan. Sikap diam Wittgenstein bukanlah diamnya seorang ateis, melainkan sikap diam seorang pemikir yang beriman dan berharap. Ada yang tak terkatakan, ada yang hanya bisa diakui sebagai rahasia.

    Saya sering mengutip kata-kata Friedrich Duerrenmatt, sastrawan Swiss yang mengatakan,“Seluruh karya seniku adalah sebuah upaya tanpa akhir untuk mengungkapkan visi yang kuperoleh.”Namun visi itu bukanlah sebuah rumusan yang jelas, dia lebih merupakan sebuah kerinduan yang tidak selalu terungkap dalam kata. Sebab itu, seluruh biografi seninya adalah usaha untuk mencari dan merangkai kata, mengkreasi figur dan menyusun alur kisah, untuk mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam kerinduannya. Dan setiap kali dia menyadari bahwa kata, figur dan kisah yang ditampilkan selalu lebih miskin dari apa yang tersimpan sebagai visinya. Pada mulanya adalah kerinduan tanpa kata, dan kerinduan itu dialami dalam kesunyian, dan selanjutnya penyair mencari kata untuk membahasakan kerinduan itu.

    Jika yang tersimpan sebagai kerinduan bagi dunia dan cita-cita bagi diri selalu lebih kaya dari kata yang dirumuskan, apakah kita memerlukan mukzijat perbanyakan kata untuk mengenyangkan kerinduan tersebut?

    Yang diperlukan bukan perbanyakan kata, melainkan puisi sebagai catatan kesunyian. Yang kita butuhkan adalah mukjizat perbanyakan sunyi untuk melahirkan dan membaca puisi. Puisi mengandalkan diksi dan majas, kekuatan kata untuk menimbulkan imajinasi. Sebab itu, puisi lahir sunyi dan akan membawa kepada sunyi. Puisi adalah catatan sunyi dan mengirim orang kembali ke sunyi. Sebab itu, saya yakin, puisi hanya dapat dinikmati orang-orang yang berani mengalami kesunyian. Dalam Sajak Untuk Tuhan Leo Kleden menulis, “Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah. Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi. Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu.“ Ada sunyi di bait terakhir semua puisi. Penyair, pun pembaca, akan dibawa ke dalam sunyi, tanpa pernah sanggup menulis dan membacanya secara tuntas.

    Dan dalam sunyi itu ada kontinuitas dan diskontinuitas, ada pengalaman menjadi bagian dari alam dan sejarah, serentak ada pengalaman akan keunikan diri, tak tergantikan dalam arus sejarah dan luasnya alam. Di atas kita katakan, sunyi membawa kepada kedalaman diri dan keluasan jagad serta sejarah.

    Mengalami ketaktergantikan diri dan arus sejarah serta alam berarti mengantar orang untuk menerima dan mengalami aku-nya yang solider. Setiap orang ini otonom, mempunyai hak untuk memberi kepada dirinya sendiri nomos, aturannya, untuk mengejar apa yang disebutnya sebagai cita dan karsa. Namun, setiap makhluk adalah pula serentak solidaritas, dalam ikatan yang menghidupkan dengan yang lain, entah sejarah pun alam.

    Sunyi mempertemukan orang dengan diri dan membawanya bersentuhan dengan yang tanpa batas, apapun nama yang hendak diberikan orang untuknya. Orang yang beragama melukiskannya sebagai Tuhan, yang lain menggunakan visi atau gambar kerinduan tanpa batas untuk mendeskripsikannya. Bagi yang beragama, Alfred North Whitehead pernah berkata, “Jika engkau takut terhadap sunyi, engkau tidak pernah dapat sungguh-sungguh menjadi manusia beriman.“ Beriman bukan pertama-tama soal bergerombolan memekikkan nama Tuhan, memadahkan pujian dan meneriakkan permohonan. Beriman pertama-tama adalah kesanggupan masuk dan bertahan dalam sunyi, mengalami keunikan diri yang selalu berarti kerapuhannya karena terentang antara ada dan ketiadaan, dan mengalami keluasan jagad dan sejarah.

    Ungkapan ini sejalan dengan pernyataan Karl Rahner, teolog Jerman terkemuka abad ke-20 tentang orang Kristen, yang hemat saya dapat diterapkan untuk para penganut agama manapun: Orang beriman masa ini harus merupakan seorang mistikus, atau tidak menjadi orang beriman sama sekali. Orang harus tumbuh sebagai individu yang beriman dan mempunyai kesadaran pribadi dan rasa percaya diri yang sehat. Orang beriman yang tidak takut akan kesunyian ini adalah manusia yang tidak menggadaikan nuraninya pada orang lain dan akalnya pada sebuah lembaga, orang yang sanggup menanggapi berbagai tawaran dan kemungkinan yang disampaikan kepadanya.

    Membaca puisi-puisi Monika N Arundhati dalam kumpulan ini bagi saya merupakan sebuah kenikmatan dalam sunyi. Dia membawa ke dalam sunyi yang menghadapkan pada diri dan melarutkan dalam arus sejarah dan keluasan alam. Penyair ini, seperti ditulisnya sendiri, memang tidak takut mengalami kesunyian, sebab dalam sunyi gagasan dan rasanya dipertajam dan disemai jadi matang. Ya, matang, itulah ungkapan yang tepat untuk mencirikan analogi-analogi cerdas yang ditemukan dan digunakannya. Dapat dibayangkan, puisi-puisi ini lahir dari kreativitas yang diberi ruang untuk berproses.

    Kesunyian tampaknya membawa penyair membaca alam sebagai analogi bagi perjumpaan dengan manusia, permenungan tentang hidup, dan kenangan akan mereka yang dikasihi. Dalam sajak Narasi Amplop Hitam kita baca, “Luka-duka kau simpan hingga membangkai di sudut jiwa. Gelap jalanku menjelma embun yang gugur dari matamu sebelum fajar.” Seorang anak yang mengenang bunda yang telah meninggal, yang tak membongkar dan memaklumkan luka dukanya melalui pengeras suara, perempuan yang memendam sendiri kebingungan melihat jalan hidup anaknya yang tak dipahaminya, yang dikonotasikan  dengan gelap.

    Dalam sajak Inkarnasi kita temukan sebuah analogi alam tentang penjelmaan wujud dengan sebuah akhir berupa pembalikan yang sarkastis. Setelah melukiskan pandangan yang dituturkan leluhur tentang jiwa yang hidup lagi dalam kupu-kupu yang mesti dihormati, penyair menulis: “Waktu terus berlalu. Aku terus tua dan menjelma kupu-kupu. Terbang mengitari rumah tanpa pernah dihiraukan.” Dalam bait ini terungkap hakikat hidup sebagai momentum kontinuitas dan diskontinuitas. Kontinuitas kebenaran tradisi yang ditemurunkan dalam kisah, kemudian menemukan patahannya dalam diri yang harus mengalami sebuah anomali. Tidak demikian kasusnya seperti yang dituturkan dalam kisah.

    Puisi yang cerdas sering menampilkan kejutan pada bait terakhir, yang kemudian membawa kita ke dalam sunyi. Orang disuguhkan dengan pernyataan yang tidak dibayangkan sebelumnya dan karena itu orang diundang untuk berkhayal panjang dan tunduk merenung. Ketrampilan seperti ini tampaknya dikuasai dengan baik penyair kita. Salah satunya adalah puisi Lelaki Kayu, yang saya kutip sepenuhnya di sini.

     

    Lelaki Kayu

    Ialah lelaki yang terpahat dari batang jati terkokoh

    dengan wangi cendana.

    Tubuhnya berukirkan tatapan teduh, senyum damai

    juga hati penuh belaskasih.

    Ia adalah lelaki yang dipelitur

    dengan campuran tiner cinta

    dan sekaleng penuh vernis ketulusan.

    Tangan kanannya menggenggam palu,

    anggrek di tangan kirinya.

    Ia menjunjung langit dan memeluk bumi.

    Lelaki itu Bapak.

     

    Ketajaman pelukisan seperti ini, hemat saya, hanya mungkin lahir dari penyair yang tidak takut akan kesunyian, yang mengalami kesunyian baik sebagai penyelaman ke dalam jaringan kata yang menenun ruang keberadaan, maupun kesunyian yang kosong bahasa. Dalam kesunyian mengamati dan mengenang lelaki itu, lalu muncul dari kesunyian itu berbagai analogi cerdas. Puisi-puisi ini hanya dapat dinikmati apabila orang mengambil waktu untuknya. Mereka terlahir dari sunyi, dan mengantar kepada sunyi.

     

    —————————————————–

     

    Sumber Tulisan: Pengantar Buku Puisi Catatan Sunyi, Karya Monika N. Arundhati

     

     

     

  • Srigala  dan  Bangau

    Srigala dan Bangau

    Cerpen Mini  Aesop

    SEEKOR Srigala sedang menguyah seekor binatang yang baru saja ia bunuh, ketika tiba-tiba sepotong tulang kecil dalam daging tersangkut dalam tenggorokannya dan ia tersedak. Ia segera merasa sakit luar biasa di tenggorokannya, dan berlari kesana-kemari melenguh dan melenguh dan mencari sesuatu yang bisa membebaskan dirinya dari rasa sakit itu. Ia mencoba meminta tolong pada siapa pun yang ia jumpai untuk mengeluarkan tulang itu. “Aku akan memberikan apa saja,” katanya, “jika kau berhasil mengeluarkannya.” Akhirnya seekor Bangau setuju untuk mencoba, dan mengatakan pada sang Srigala untuk bersandar dan membuka rahangnya selebar mungkin. Lalu sang Bangau mengulurkan lehernya yang panjang ke dalam tenggorokan sang Srigala, dan dengan paruhnya mengambil tulang itu, hingga akhirnya tulang itu keluar. “Apakah kau sudi memberi apa yang kau janjikan?” kata sang Bangau. Sang Srigala menyeringai dan menampakkan gigi-giginya dan berkata “Puaskanalah dirimu. Kau telah meletakkan kepala di dalam mulut seekor Srigala dan mengeluarkannya kembali dengan selamat. Itu tentu sebuah hadiah yang cukup buatmu.” Rasa terimakasih dan kesombongan tak pernah seiring dan sejalan.

    Aesop, seorang fabulus (penulis fabel) legendaris Eropa.

    Sumber: Buku Pagi di Amerika, 47 Cerpen Mini dari 5 Benua, Serambi.

  • Merawat Surga Bernama Papua

    Oleh Ansel Deri

    Sekretaris Papua Circle Institute

    SUARA penyanyi asli Papua, Edo Kondologit, terdengar indah melantunkan syair lagu, Aku Papua dari laman Youtube. Lagu itu, karya Franky Sahilatua, penyanyi legendaris Indonesia. Suara merdu Edo dan suara hati masyarakat Papua mengungkapkan kekaguman dan rasa cinta pada tanah leluhurnya dalam dekapan NKRI. Tanah leluhur warga paling timur Indonesia itu meliputi Papua dan Papua Barat.

    Tanah yang bergelimang harta dari perut gunung Nemangkawi di wilayah ulayat suku Amungme dan Komoro, berupa emas, perak, tembaga, dan hasil tambang lainnya. Tanah (terutama Papua) yang menyedot Freeport-McMoRan & Gold Inc, raksasa tambang dunia asal AS melebarkan sayap usaha pertambangannya melalui PT Freeport Indonesia.

    Begitu pula wilayah Papua Barat, yang terus bersolek dengan keberadaan Liquefied Natural Gass (LNG) Tangguh, perusahaan gas alam di Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, yang dioperasikan British Petroleum Berau, Ltd, selaku operatornya.

    Selain itu juga irisan pulau kepala burung itu berada di bawah otoritas Papua Nugini, negara tetangga RI. Tanah Papua, entah Papua entah Papua Barat, merujuk Aku Papua, ialah tanah yang kaya. Ia ibarat surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah, sebanyak batu ialah harta harapan. Ia tanah leluhur, bersama angin, daun anak-anak Papua dilahirkan dan dibesarkan.

    Kekerasan

    Namun, Papua terus bergelimang kekerasan sejak Indonesia merdeka. Pada Sabtu (19/9), misalnya, pendeta Yeremia Zananbani roboh dan maut menjemputnya di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya. Penerjemah Alkitab bahasa Moni itu tewas setelah tubuhnya terkena timah panas orang tak dikenal.

    Beberapa hari sebelumnya dalam pekan itu, Serka Sahlan dan rekannya, Pratu Dwi Akbar Utomo serta Badawi, tukang ojek yang mengalami nasib serupa Zananbani. Peristiwa tragis ini seolah menambah luka bagi Papua setelah pada 2018, pendeta Germin Nirigi, juga tutup mata selamanya di Mapnduma, Kabupaten Nduga.

    Dua insiden itu segera menyeret nama kelompok kriminal bersenjata sebagai pihak terkait di balik insiden kelam itu. Pun nama institusi keamanan segera mendapat tudingan serupa. Namun, siapa pelaku sesungguhnya, seolah hanya mata Tuhan yang tahu insiden di atas surga kecil itu. Papua diselubung duka saban waktu.

    Mengapa kekerasan berujung kematian begitu nyata di atas surga kecil (yang) jatuh ke bumi itu? Papua dan Indonesia dibuat heboh, tentuya. Apakah semua pemangku kepentingan, terutama para elite, pemimpin gereja lokal, dll di tanah Papua sungguh ikut bekerja untuk menjaga keamanan dan kedamaian warga di atas surga kecil itu?

    Menurut Cypri JP Dale dan John Jonga dalam Paradoks Papua (2011), merujuk hasil studi Forum Kerja (Foker) LSM Papua dan LIPI, ada sejumlah akar konfl ik Papua. Foker LSM Papua menyebut akar konfl ik di antaranya, persoalan ketidakadilan yang berkaitan aspek ekonomi. Dominasi pendatang dalam politik pemerintahan, dominasi dan penindasan budaya dan pengembangan SDM yang bias, serta kekerasan militer.

    Sementara itu, LIPI memetakan sejumlah sumber lain seperti marginalisasi dan diskriminasi, kegagalan pembangunan dan kekerasan negara, serta pelanggaran HAM. Jauh sebelumnya, dalam tubuh pemerintahan lokal juga sudah disadari Gubernur Papua Barnabas Suebu. Bas membagi akar persoalan konflik Papua dalam tiga kelompok. Pertama, pelanggaran HAM. Kedua, ketimpangan pembangunan antara Papua dan luar Papua. Ketiga, kemiskinan yang akut dan meluas.

    Pascainsiden Intan Jaya, Jakarta langsung bereaksi. Presiden Jokowi melalui Menko Polhukam Mahfud MD membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Kekerasan dan Penembakan di Intan Jaya. TGPF menuju Papua dan segera bekerja selama dua minggu berdasarkan SK Menko Polhukam No 83/2020.

    Merawat Papua

    Publik utamanya di Papua menyambut baik langkah cepat merespons insiden Intan Jaya. Kepedulian negara terhadap warga terkait nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan nasib orang tertindas ialah keharusan. Bahkan sejak awal, gereja secara institusi, hierarki maupun umat Allah juga menaruh sikap tegas membela orang-orang kecil bahkan kaum tertindas.

    Socratez Sofyan Yoman dalam Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat (2007) menguraikan perhatian dua misionaris, Theo PA van den Broek, OFM dan J Budi Hermawan, OFM yang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan care terhadap orang-orang tertindas.

    Perhatian atau kepedulian mereka seperti itu bukan hanya perlu, tetapi menjadi keharusan bagi gereja untuk terlibat dalam misi pembelaan dan perlindungan terhadap manusia agar hak-hak dasar masyarakat diakui, dihormati, dan diutamakan.

    Masyarakat sangat mengharapkan gereja mampu mengambil sikap dalam perjuangan dan penderitaan mereka. Lebih-lebih belakangan masyarakat tanah Papua menaruh kepercayaan besar pada gereja. Pada peran gereja inilah mereka merasa diakui dan dihormati sebagai manusia sejati. Inilah cara gereja berperan serta bersama pemerintah, merawat Papua agar menjadi mozaik indah, surga kecil (yang) jatuh ke bumi. Surga yang perlahan terhindar dari kekerasan sebagaimana di Intan Jaya.

    Namun, dalam jangka panjang, ada beberapa langkah strategis meminimalisasi kekerasan di Papua. Dalam konteks lokal, intelektual Papua Paskalis Kossay mengingatkan pemerintah tidak perlu membuat konsep yang muluk-muluk, tetapi sesuai apa yang dihadapi setiap hari dalam kehidupan masyarakat.

    Menurut Kossay, ada beberapa hal. Pertama, mengubah cara pandang terhadap masalah Papua. Selama ini Jakarta masih melihat Papua dari perspektif keutuhan wilayah. Padahal, saat ini Papua tidak lagi menjadi ancaman serius dari luar. Ancaman yang ada hanya dari dalam dan masih dikategorikan sebagai gangguan keamanan dalam negeri.

    Kedua, Otsus Papua ialah dasar membangun Papua dengan hati. Presiden ke-6 RI SBY dalam Pidato Kenegaraan di hadapan Sidang Bersama DPR dan DPD RI pada 16 Agustus 2016 mengatakan otsus ialah kerangka dasar mengelola pelayanan publik, pembangunan dan pemerintahan daerah. Pemerintah telah menerapkan pendekatan yang terintegrasi guna mempercepat pembangunan. Bahwa membangun Papua dalam bingkai NKRI menjadi tugas kolektif semua anak bangsa.

    Namun, praktik di lapangan banyak tumpang tindih pelaksanaan kebijakan yang diterapkan di tanah Papua. Belum ada sinkronisasi kebijakan dengan amanat otsus. Setiap lembaga negara baik di pusat maupun daerah bergerak parsial, mengedepankan ego sektoral.

    Nah, bila hal itu terus terjadi bukan tidak mungkin niat dan kerja keras merawat Papua, bakal melewati jalan terjal.

    Namun, langkah para pemangkut kepentingan (stakeholders) baik pemerintah pusat, maupun Pemerintah Provinsi Papua bekerjasama, terutama dengan kelompok kultural setempat, pimpinan gereja, tokoh masyarakat, ondoafi, intelektual, dan mahasiswa mutlak diperlukan.

    Bukan tidak mungkin, akar persoalan serius kekerasan yang kerap melanda Papua, potongan surga yang jatuh ke bumi segera ditemukan. Namun, pekerjaan tambahan segera diseriusi, yaitu merawatnya dengan hati tanpa prasangka terhadap satu sama lain.


    Sumber: Media Indonesia, 10 Oktober 2020

  • 12.28 ke 13.28

    Cerpen Fince Bataona

    Maria menatap layar HP androidnya. Foto laut biru dan jam. Mengapa jam? Apapun yang kau pikirkan dan lakukan, selalu beriringan dengan waktu. Dia setia bergerak. Terus bergerak. Menandai perubahan. Mengingatkanmu. Meski terima kasih mungkin tak pernah kau ucapkan buatnya.

    “Satu jam lagi, saya berangkat. Untuk waktu yang lama dan  tak menentu, saya ada di sana. Tidak ada signal. HP mati total. Hubungi saya sekarang sebelum saya benar-benar pergi, Maria.”

    ***

    Ini malam entah kesekian. Dia tidak lagi menghitung. Yang setia dilakukannya adalah duduk sejenak di teras rumah usai makan malam. Kepada malam yang sepi. Kepada angin yang dingin. Kepada bintang yang berpendar, dia hanya menitip rindu. Rindu yang kekal. Padamu.

    Selalu begitu. Tiap kali begitu. Dia tahu, sia-sia berharap segala inginnya sampai padamu. Tapi dia percaya, dia sedang tak sia-sia melewati segala malam dalam doa yang sama. Dia teguh yakin, jika malam enggan bicara padamu, telinga Tuhan telah lebih dulu mendengar. Bahkan saat harap itu masih bersemayam dalam hati.

    Dingin terasa mulai menusuk hingga tulang. Lewoleba sedang berada pada puncak musim dingin di malam hari. Jacket tebal yang dipakainya tak cukup menghalau dingin.

    “Di kamar saja. Kehangatan ada di dalam. Sebab pintu dan jendela tertutup. Selimut tebal juga bisa menutupi seluruh tubuhmu. Dikau nyaman di dalam. Hanya dalam kamarmu.”

    “Saya ingin menulis.”

    “Tentang apa?”

    “Tentang hari ini.”

    Dipandanginya Laptop yang tak pernah tutup itu. Seperti pada HP, dia memandangi laut biru dan jam pada layarnya.

    *

    12.28 Wita.

    Siang yang panas tadi. Jalanan tidak seluruhnya beraspal mulus. Sebagiannya pecah dan berlubang. Sebagian lagi masih jalan tanah.

    “Ini wilayah Desa Nila Napo, Kecamatan Omesuri. Sebelahnya Desa Balurebong, Kecamatan Lebatukan. Kita sedang berada di dua wilayah kecamatan di Kabupaten Lembata, yang berbeda.”

    Perempuan berkulit putih dengan rambut pendek yang duduk di sebelah saya menjelaskan. Ibu camat. Suaminya, kepala wilayah Kecamatan Lebatukan.

    Mobil terus bergerak. Menyusuri kali kecil lalu jalanan tanah. Debu beterbangan naik ke udara bak kepulan asap saat kebakaran. Saya menoleh. Dari kejauhan, saya menyaksikan pepohonan, rerumputan dan bebatuan menerima dengan iklas sisa-sisa debu kendaraan kami. Seberapa tebal tepungnya menempel? Setiap hari, jalan ini pasti dilewati. Minimal sepeda motor.

    Iklasmu seumpama pepohonan, rerumputan dan bebatuan di pinggiran jalan ini, Maria. Diam, pasrah, tabah. Selalu begitu. Tiap kali begitu.

    “Ini lokasi penangkaran tukik,” ibu camat mengalihkan pikiran saya.

    Mobil berhenti di pinggir pantai. Air sedang surut jauh. Hamparan rumput laut hijau tumbuh di atas karang. Di kejauhan, Pulau Rusa terlihat anggun dikelilingi laut biru. Indah nian. Melepas lelah, mungkin pas di tempat seperti ini.

    “Kau anggun, Maria. Seperti itu dirimu. Dikelilingi banyak soal yang mengharu biru nuranimu, menguras air matamu. Tapi, kau senantiasa tegak berdiri. Itulah kau, Maria!”

    Bapak Mikael tersenyum lebar. Gigi-giginya hitam. Dia pasti biasa isap tembakau. Atau dia suka makan sirih pinang, seperti perempuan umumnya di kampung. Bapak Mikael pengecualian bersama beberapa laki-laki di kampung yang suka makan sirih pinang.

    Tubuhnya kurus dengan rambut keriting, beruban. Usianya sekitar 60-an tahun. Dia terlihat energik. Diperlihatkannya beberapa baskom plastik dan baskom dari ban bekas. Ratusan tukik bergerak. Berdesakan. Wadah ini terlampau kecil di usia mereka yang sudah sebulan. Di dasar baskom, rumput laut masih tersisa. “Makanan tukik hanya rumput laut”, katanya.  “Saya ambil tiap hari. Secukupnya saja untuk tukik.” Dalam sebuah ember bekas cat, ada sisa-sisa rumput laut yang masih segar.

    Seorang perempuan seusia bapak Mikael tergopoh menemui kami. Ramah tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. Sama seperti bapak Mikael. Ema ini pasti selalu makan sirih pinang. Di bibirnya masih tersisa merah air sirih pinang.

    Kepada kami disodorinya pisang rebus. “Makanlah. Yang ada hanya ini.”  Suaranya lembut. Dia amat ramah. Polos. Apa adanya.

    Maria, itulah kau. Selalu ramah dan apa adanya. Jangan berubah!

    “Kak, ayo dimakan.” Ibu camat yang ramah, saya membathin. Warga di wilayah ini pasti menyenangi sosok sepertinya. Dia tak perlihatkan jarak saat bicara dengan istrinya bapak Mikael, tadi. Saya melihatnya bergurau seperti sahabatnya dan istri bapak Mikael lagi-lagi tertawa lebar. Gigi-giginya yang hitam dan sisa air sirih pinang tampak jelas. Mungkin semburat air ludahnya yang merah mengenai baju kaus putih ibu camat. Tapi, mereka tak peduli soal itu.

    Jadi pemimpin mesti begitu, Maria!

    Kau jaga jarak? Sok jaga image? Rakyatmu lebih tak peduli. Ketika kau ajak mereka sama-sama membangun wilayah, mereka bisa balik belakang seolah tak mengenalmu. Bagi mereka, bisa makan tiga kali saja, sudah cukup. Tidak ada urusan dengan segala tetek bengek ukuran keberhasilan seorang pemimpin. Itu patokanmu dengan pemimpin di atasmu.

    Beda, jika kau membangun ikatan emosional dengan mereka. Kalau kunjungan ke desa, duduklah bersama mereka di bale-bale. Makanlah ubi, pisang, jagung titi sambil minum tuak bersama mereka. Dengarkan mereka, lalu bicaralah bersama apa yang mau kau buat untuk kepentingan bersama.

    “Itu terlalu idealis.” Saya membantah, “Rakyat itu jadi komoditas politik semata untuk kepentingan pribadi. Main kuasa saja. Persetan dengan kepentingan mereka.”

    Di lokasi penangkaran, saya memandangi bangunan 2×3 meter penuh tanya. Seperti pos penjagaan. Catnya biru, Baru. Mungkin dicat sesaat sebelum kunjungan bapak gubernur. Sudah lama, bangunan itu berdiri, tapi dibiarkan begitu saja, kata Bapak Mikael. Karena bernama penangkaran tukik, bapak Mikael pun tergerak mengurus.

    Saban malam dia tidur di pasir pantai yang dingin. Saat dibacanya tanda alam penyu akan bertelur, dia setia menunggui. Menandai lokasi-lokasi penyu bertelur. Terus menjagai hingga telur-telur itu menetas. Memelihara dan merawat tukik dalam baskom plastic dan ban bekas hingga mereka harus dilepas ke laut.

    Jika memberinya nama penangkaran tukik, mengapa hanya ada bangunan kecil, semacam pos jaga? Saya menatap Bapak Mikael yang sedang sibuk memberi makan tukik. Urat tangannya tampak jelas. Dia pekerja. Sambil terus membagi-bagi rumput laut, dia terus berceritera dan saya mendengarnya dengan setia.

    Maria, kau pendengar yang baik, penuh perhatian pada setiap wajah yang mengeluh. Bahkan pada keluhan-keluhan remeh temeh, kau mendengarnya dengan sungguh. Tetaplah begitu, Maria.

    Bapak Mikael mengambil sepasang tukik yang melompat keluar dari dalam baskom. Terdesak dengan sesamanya yang pasti berebutan berada di posisi nyaman. Dia menggeleng berkali-kali dan saya memahami harapannya. Dia ingin memberi tukik lebih leluasa hidup.

    Hanya orang bernurani saja yang terusik melihat sesuatu yang hanya asal nama. Dia terganggu dengan sesuatu yang asal ada, di sekitarnya. Dan dia tidak menunggu untuk memulai sesuatu. Saya memegang tangannya, salut, bapak!

    Maria, lakukan sesuatu.

    Saya diam. Diskusi kita tentang pemimpin, kuasa, kesewenangan, seperti sebuah film pendek yang tengah diputar di depan saya.

    “Minggu depan sudah dibangun bak penampung untuk tukik-tukik itu.” Kepala Desa Balurebong dan Camat Lebatukan sudah berdiri di sebelah Bapak Mikael yang tersenyum sumringah. Dia bahagia.

    ***

    “Hubungi saya sekarang. Sebelum saya benar-benar pergi. Di sana, HP mati total.” Saya memandangi layar HP dengan perasaan tak menentu. Gelisah saya menekan nomor. Masuk. Tidak diangkat. Coba lagi. Tidak diangkat. Coba lagi dan tetap tidak diangkat.

    Nanar, saya terus pandangi waktu. Sedih perlahan berkecamuk.

    Di tangga pesawat, Adrian menatap layar HPnya. Membiarkan saya memanggil. “Maria, saya tidak kuat dengar, kalau kau bilang, saya tak kuat kehilanganmu. Jangan menangis, Maria.”

    Butiran air hanya menggantung di bola mata. Saya dekatkan jarak lihat ke layar HP. Tak! Waktu berubah. Jam12.28Wita ke 13.28 WIT. Lompatan waktu satu jam. Di depan sana, Pantai Wade bening menggoda. Lewoleba, 0508202

    Pantai Wade Lembata (Sumber Foto Google)

    Catatan:

    Ema: Panggilan untuk ibu dalam bahasa setempat

    Pantai Wade: salah satu obyek wisata pantai di Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Propinsi NTT dengan keunikan yang belum banyak diketahui umum adalah lompatan waktunya satu jam lebih cepat dari waktu di seluruh wilayah Lembata bahkan NTT (dari WITA ke WIT)

  • Buku untuk Rayakan Otonomi Lembata

    Buku untuk Rayakan Otonomi Lembata

    JAKARTA, berandanegeri.com– Sejumlah warga Lembata diaspora se-dunia, Kamis, (8/10/2020), meluncurkan buku berjudul – Membangun Tanpa Sekat – sebagai wujud kecintaan bersama Pemerintah Kabupaten Lembata dan masyarakat di tanah kelahiran, lewotana, leu awuq, untuk merayakan dan memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-21 Otonomi Lembata yang jatuh pada Senin, 12 Oktober 2020.

    Foto; Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata

    Buku tersebut berisi koleksi 26 tulisan hasil refleksi kritis atas sejumlah isu dan aspek pembangunan di Lembata selama 20 tahun terakhir. Ada sejumlah tema dalam buku tersebut seperti sejarah, kepemimpinan, prasarana dan sarana, pendidikan, kesehatan, pariwisata, kebudayaan, spiritualitas, filsafat dan epistemologi lokal.

    “Para penulis adalah putera-puteri Lembata, yang menyebar di seluruh wilayah NTT dan manca negara. Mereka berasal dari beragam latar belakang pendidikan, pengalaman, dan profesi. Misalnya anggota DPR, rohaniwan, akademisi, pengacara, ASN, politisi, aktivis, guru, pekerja sosial, dan wartawan. Semua tulisan disajikan dengan bahasa yang lugas dan ringan sehingga mudah dibaca. Buku ini digagas Ansel Deri, seorang wartawan di Jakarta, dan Dr Justin L Wejak, dosen Kajian Indonesia di The University of Melbourne, Victoria, Australia,” ujar Ansel Deri, co-editor buku dari Ata Lembata, dalam keterangan tertulis yang diterima berandanegeri,com di Jakarta, Kamis, (8/10/2020).

    Ansel yang pernah menjadi tenaga ahli Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Irjen Pol (Purn) Drs Y. Jacki Uly MH di DPR RI, menambahkan, buku tersebut diberi sambutan sebagai pengantar oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Johnny G. Plate, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pemilihan NTT 1 yang meliputi juga Lembata. Sedangkan, Prolog ditulis jurnalis senior asal Waibalun, Flores Timur, Stephie Kleden-Beetz dan epilognya ditulis Pastor Dr. Otto Gusti Madung SVD, Pimpinan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.

    Justin L. Wejak, Salah Seorang Penggagas Buku “Membangun Tanpa Sekat”

    Menurut Justin L Wejak, ide dan gagasan menerbitkan buku tersebut lahir dari diskusi lepas beberapa orang dalam WA Group Ata Lembata pada September 2019. Group itu lebih sekadar moting, tempat ngobrol ala kampung di jagat maya dan beranggotakan sejumlah warga asal Lembata yang tinggal di kampung halaman maupun di luar.

    “Buku ini, selain merupakan hasil refleksi kritis para penulis, ia hadir sebagai ajakan bagi para pembaca untuk membuat refleksi tentang Lembata di masa dulu, kini dan seperti apa Lembata nanti di masa depan. Ini penting agar julukan tak enak saat ini sebagai ‘kabupaten tertinggal’ atau meminjam judul buku Pastor Steph Tupeng Witin SVD, ‘negeri kecil salah urus’, bukan label tetap sepanjang masa,” kata Justin, dosen kelahiran Baolangu, Kecamatan Nubatukan.

    Justin menambahkan, pilihan judul buku bertolak dari pemikiran bahwa Lembata adalah kabupaten dengan potensi kekayaan sumber daya manusia dan sumber daya alam melimpah yang mesti diberdayakan dan dikembangkan untuk kemajuan masyarakat dan daerah. Para pemimpin setiap berganti rezim mesti membangun Lembata secara holistik dan integratif berpijak pada potensi daerah tanpa terjebak dalam pragmatisme politik pembangunan. Semua stakeholders lokal perlu disatukan dalam satu visi yang sama demi memajukan Lembata tanpa terjerumus dalam sekat-sekat primordialisme geopolitik.

    “Buku ini hadir sebagai kado kecil bagi pemerintah dan rakyat Lembata selama 20 tahun perjalanan Lembata menjadi daerah otonom, pada 12 Oktober 2020, memasuki usia ke-21. Lembata resmi menjadi kabupaten otonom terlepas dari kabupaten induknya Flores Timur pada 12 Oktober 1999. Semoga melalui buku ini putra-putri Lembata baik yang tinggal di kampung maupun di luar tetap setia mencintai Lembata dengan caranya masing-masing sekecil apapun,” kata Justin, kolumnis harian The Jakarta Post, Ucanews, dan Canberra Times.

    Ansel Deri, Co -Editor Buku “Membangun Tanpa Sekat”

    Sedangkan Ansel, co-editor sekaligus admin grup Ata Lembata, menambahkan, buku –Membangun Tanpa Sekat – terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berisi sejumlah tulisan antara lain, Lembata dan Kepemimpinan Melayani, Memanen Buah Otonom, Dua Puluh Tahun Otonomi Lembata, Wajah Lembata yang Perlu Dipoles, Pembelajaran Berbasis Motivasi, Guru Terima Kasih, Jokowi, Guru dan Lembata, dan Berguru Kearifan Tempo Doeloe

    Bagian kedua buku berisi artikel-artikel antara lain Kekuatan Budaya Lembata, Spiritualitas Ata Lembata, Pariwisata dan Kearifan Lokal, Selamat Datang Desa Budaya Leuwayang, Filosofi Tenun Tradisional, Lamalera dalam Konstruksi Konservasi, Politik yang Jauh dari Rakyat, dan Korupsi Awololong.

    Sedangkan bagian ketiga meliputi delapan artikel yaitu Ketakutan Momok Pembangunan, Menelisik Tambang Emas di Lembata, Mengabdi Rakyat, Nasionalisme: Sebuah Pembaharuan Etis, Lembata yang Remaja, Balita yang Terancam ISPA dan Bahaya Rokok, Mengapa Orang Lembata Merantau, dan Sastra sebagai Sebuah Refleksi Kehidupan Manusia.

    “Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus Jakarta, ia hadir sebagai bentuk mini mencintai Lembata, tanah leluhur. Sekaligus bentuk tanggungjawab kepada para pejuang dan perintis sejarah perjuangan Lembata menjadi kabupaten otonom. Setelah perjuangan mencapai garis finish mengantar Lembata menjadi daerah otonom sejak 21 tahun lalu, kini saatnya semua elemen masyarakat berperan aktif dengan caranya masing-masing membangun Lembata tanpa sekat-sekat primordialisme kepentingan geopolitik. Buku ini bisa menjadi bahan bacaan masyarakat sekaligus mendukung gerakan literasi yang dicanangkan pemerintah,” kata Ansel Deri. (bn)

    Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi No WA:

    Ansel Deri: +62 822 1343 3110, atau

    Justin Wejak: +61 408 285 838

  • Menulis “C i n t a” Menemukan Sesama dan Tuhan

    Menulis “C i n t a” Menemukan Sesama dan Tuhan

     

    DALAM bukunya Kata Waktu Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001 (Penerbit Pusat Data dan Analisa Tempo),  Goenawan mengatakan bahwa: “Puisi dimulai dengan semangat dan kerinduan, dan berakhir dengan kerendahan hati. Mereka yang mencipta dengan sungguh-sungguh tahu bahwa kesenian merupakan usaha yang tak putus-putusnya. Jika seni merupakan proses dialektik – manusia di satu sisi dan realitas di pihak lain – dialektik itu tak kunjung habis. Hasil seni tak pernah sempurna, meskipun ia selalu ingin demikian.”  Semangat menulis itulah yang menjadi pelatuk bagi Yakobus Odiyaipai Dumupa menerbitkan buku puisinya Apa Itu Cinta. Permenungan tentang cinta (dari cinta akan sesama sampai ke pencarian akan cinta abadi) menggelisahkan Yakobus untuk menulis puisi-puisinya.  

     

    Pesona Cinta

    Dari novel pengarang Rusia Dotoevski, Crime and Punishment, kita dapat memperoleh inspirasi yang menarik mengenai cinta. Bagaimana tidak? Dalam novel itu, dikisahkan bagaimana Raskolnikov seorang  mahasiswa yang miskin, terdesak akan kebutuhannya akan uang untuk melunasi biaya kuliah dan kosnya di Petersburg (Moskow sekarang), menjadi mata gelap dan membunuh dua orang perempuan tua, tukang gadai barang. Kepada mereka ini Raskolnikov biasa menggadaikan barangnya. Sekian lama polisi mencari jejak si pembunuh, namun belum menemukan. Sekian lama pula, Raskolnikov berada dalam kegelisahnnya karena perbuatannya belum diketahui.

    Akan tetapi tatkala percintaan terjalin antara Raskolnikov dan Sonia, meluaplah pengakuan dari hati si anak muda yang gelisah oleh karena beban kejahatan yang tersembunyi dan telah terlalu lama ditanggungnya. Pengakuan itu tercurah bagaikan air ke dalam jembangan ketulusan dan kesederhanaan si gadis miskin itu. Tetapi drama percintaan itu tidak hanya berhenti di situ. Daya cinta Sonya mendorong Raskolnikov untuk melangkah lebih jauh lagi, menegakkan harga diri Raskolnikov, sehingga ia berani secara jantan mengakui perbuatannya itu di hadapan polisi. Memang, Raskolnikov akhirnya mendapat ganjaran delapan tahun kerja paksa di Siberia, namun Sonia yang setia tidak meninggalkannya sendirian. Ia ikut menemani kepindahan kekasihnya ke Siberia. Yang menarik, Sonia tidak dilukiskan Dotoevski sebagai seorang moralis, yang berkotbah mengenai kebaikan dan tanggung jawab atau pun menjelaskan mengenai jahtnya pembunuhan, melainkan sebagai seorang gadis yang sederhana, yang bahkan sering menjadi incaran orang-orang kaya untuk dijadikan koirban karena kemiskinan dan kesederhanaannya.

    Teknologi canggih dewasa ini bisa menjelaskan kemungkinan memindahkan gunung untuk membuat jalan raya atau menimbun jurang untuk membuat jalan kereta, menimbun danau untuk pertanian dan sebagainya. Akan tetapi cinta bukanlah “teknik” dan untuk menggerakkan hati, atau menegakkan harga diri, ternyata diperlukan energi yang jauh lebih besar dari yang bisa dicipta  oleh “teknik”. Teknik mampu memproduksikan energi atom atau nuklir, yang berdaya guna. Akan tetapi energi ini tak bisa menggerakan perasaan moral manusia.

    Hanya dalam cinta yang tulus dan setia ada energi yang besar sekali, energi yang  bisa menggoncang kehidupan, merobohkan kesombongan, mencairkan kebekuan, dan menerobos kemampetan ( Bagian ini sepenuhnya saya ambil dari buku: A. Sudiarja, Menemukan Tuhan dalam Segala, Kanisius 2014).  Yakobus Odiyaipai Dumupa meyakini bahwa cinta mampu memberikan energi untuk kehidupan.

     

    CINTA DAN HUDUP

     

    Ketika cinta tak terbendung

    Yang dibutuhkan hanya kepercayaan

    Biarkanlah kasih kalbumu bersatu

    Sebesar ketulusan kasih kalbuku

    Ketika kasih kalbu bersatu

    Yang dibutuhkan hanya pengorbanan

    Biarkanlah dirimu berkorban

    Sebesar kukorbankan diriku

    Ketika pengorbanan terbukti

    Biarkanlah dirimu menemukan makna hidupku

    Sebesar aku menemukan makna hidupmu

    Menuju akhir kehidupan dunia

     

    (Lereng Merapi, 17/06/2010).

     

     

    Yakobus Odiyaipai Dumupa

     

    Puisi bukan deretan kata mati, puisi adalah realitas hidup ketika dibahasakan, disuarakan,  dan digaungkan dalam keindahan kata. Dalam puisinya “Gelora Cinta Teluk Saireri”, Yakobus seolah menegaskan bahwa hal-hal yang mempesona, sebelum hilang mesti kita olah menjadi karya sastra entah itu berupa puisi ataupun cerpen.

     

    GELORA CINTA TELUK SAIRERI

     

    Cinta yang membekas

    Kapal Dorolonda adalah saksi

    Kala kau tergoda dan pasrah

    Disambar kedip mesra tatapanku

    Kau tersenyum malu

    Ditengah alunan gelombang

    Tak henti kau menatapku

    Dalam hembusan angina malam Saireri

    Kala aku ulur tangan hendak kenal

    Kau menyambar girang

    Aku mengaku Rajawali rimba

    Kau mengaku Rembulan Serui

    Dewa cinta melilit kita

    Dalam peluk cium mesra

    Dewi bulan menemani kita

    Dalam canda tawa girang

    Takdir tak dapat dilawan

    Kau pergi menghiasi taman kembang

    Aku pergi mengitari rimba

    Tapi kenangan cinta tetap abadi.

     

    (Km. Doloronda Nabire-Serui, 04/06/2008).

     

     

    Seorang filsuf besar abad 20, Alfred North Whitehead, membicarakan agama sebagai sumber visi dan penggerak untuk bertualang atas dasar keyakinan iman. Whitehead juga menekankan pentingnya “adventure” (sikap dan keberanian untuk melakukan suatu penjelajahan baru). Allah digambarkan oleh Whitehead sebagai suatu daya dinamis yang secara imanen berfungsi dalam pergulatan hidup manusia di dunia ini dan bukan sebagai suatu individu yang serba transenden. Agama adalah dasar yang memberikan jaminan bahwa perjuangan hidup yang tak kunjung habisnya untuk menyempurnakan hidup di dunia ini, tidaklah sia-sia. Agama memberikan rasa damai. Rasa damai diperoleh karena walaupun proses hidup di dunia ini tidak lepas dari kekurangan, kesalahan dan dosa, namun Tuhan Penebus dan Penyelamat mampu menjalin suatu karya seni yang indah. Yakobus dalam peziarahan hidupnya, dengan penuh kerendahan hati terus mencari cinta yang berasal dari Sang Sumber Cinta. Tentang itu ia menulis:

     

    PELUKAN KEABADIAN

     

    Dalam remang-remang kabut kehidupan

    Ketika segala sinar sirna dihadapan waktu

    Tersisa senyap-senyap melodi ratapan

    Aku termenung tak berdaya di ujung senja

    Seakan girang yang berlalu tak bermakna lagi

    Hanya jejak-jejak pengantar kea lam binasa

    Hendak kuratapi setiap detik yang berlalu

    Tapi tak ada harapan yang sudi menolong

    Di ujung senja ini aku terlelap lunglai

    Bermimpi bidadari merangkulku mesra

    Membawaku terbang tinggi ke kayangan

    Agar aku tetap dalam pelukan keabadian

    (Dune Kapau, Makewaapa, 9/8/2015)

     

    Yakobus seakan mengajak kita melihat Tuhan dengan kaca mata Whitehead, Tuhan sebagai teman seperjalanan dan teman senasib sepenanggungan yang maha memahami, maha memaklumi dan oleh karena itu maha mengampuni.

     

    Paskalis Bataona

  • Menjadi Penggarap Tahu Diri (Refleksi 100 tahun SVD di Lembata)

    Menjadi Penggarap Tahu Diri (Refleksi 100 tahun SVD di Lembata)

    Oleh P. Steph Witin, SVD


    Minggu Biasa XXVII-A
    Yes 25:6-10a;
    Flp 4:12-14;
    Mat 22:1-14

    Nabi Yesaya melukiskan keajaiban Tuhan menciptakan kebun anggur. Para ahli agama Yahudi selalu menggunakan sebutan “kebun anggur” sebagai kiasan bagi Israel. Kebun anggur dunia ini Tuhan beri tanah yang subur dengan air yang cukup dan dikelola oleh para penggarap dengan setia agar menghasilkan buah yang melimpah. Di tengah kebun anggur itu ada menara jaga yang ditafsirkan sebagai “tempat kudus” atau Bait Allah yang dilengkapi dengan tempat memeras anggur yang ditafsirkan sebagai “altar.” Lukisan ini mengingatkan kita bahwa kebun anggur itu tempat kudus yang mesti dirawat agar yang kudus itu berbuah kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tapi Tuhan sebagai pemilik kebun anggur tidak pernah memaksakan pikiran dan kehendak-Nya kepada penggarap-pengarap yang ia percaya. Pemilik kebun anggur tidak arogan dalam kuasa meski ia memilkinya. Ia sangat menghargai kehendak dna pilihan bebas. Penginjil Matius menulis, “Pemilik kebun anggur itu menyewakan kebun itu kepada penggarap-pengarap lalu berangkat pergi ke negeri lain” (Mat 21:33). Allah memberikan kebebasan penuh kepada penggarap-penggarap untuk mengekspresikan kehendak bebas demi Kerajaan Allah. Beda Venerabilis, seorang Rahib Benediktin yang menetap dalam Biara Northumbria Santo Petrus di Monkwearmouth Inggris, menulis “Ia tampaknya meninggalkan kebun anggur supaya dapat meninggalkan para pemelihara kebun anggur itu pilihan tindakan yang bebas.” Pilihan tindakan yang bebas itu sesungguhnya terangkum dalam identitas “penggarap.” Istilah “penggarap”-sebenarnya tertuju kepada Imam kepala yang duduk dalam Mahkamah Agama Sanhedrin-bisa kita terjemahkan “penyewa”, “pemilik sementara” “sekadar pekerja” atau “petani kebun anggur.” Istilah “penggarap” identik dengan sesuatu yang sementara saja. Mereka hanya sekadar menggarap lahan dari pemilik tanah. Konsekuensi lanjut, jika pemilik tanah tidak mempunyai ahli waris maka para “penggarap” mempunyai hak pertama untuk memiliki tanah itu.

    Soal ahli waris inilah yang memunculkan konflik kepentingan dalam diri para penggarap di dalam kebun anggur. Ruang-ruang rohani tidak pernah bebas dari permainan kepentingan dangkal. Berhadapan dengan realitas kebun anggur yang memilik prospek masa depan, hadir hasrat menjadi kaya dengan menghalalkan segala cara. Atas nama rakus hidup mewah instan, nyawa begitu murah ditumbalkan dan darah ditumpahkan tanpa pernah mendengarkan teriakan sunyi. Kehendak bebas yang Tuhan titip untuk menentukan pilihan yang benar, baik dan adil, dibelokkan sekadar memuaskan hasrat diri.

    Penggarap-penggarap kebun anggur merasa khawatir akan kepastian masa depan berhadapan dengan godaan kualitas hasil kebun anggur ini, Santo Paulus mengingatkan jemaat di Filipi, godaan itu akan berperang melawan suara Tuhan yang terkadang lebih sunyi, pelan dan kecil dibandingkan dengan suara keserakahan yang bergelora dan mendesak-desak (Flp 4:12).
    Pengarap-penggarap itu kehilangan kendali kebebasan. Hati mereka oleng dan kalangkabut oleh godaan dan tawaran kenikmatan, kemewahan dan kualitas hasil kebun anggur. Kehendak dan pilihan yang berkiblat pada Kerajaan Allah kalah dari dorogan hasrat keserakahan untuk memiliki kebun anggur. Maka pembunuhan sesama khususnya utusan pemilik kebun anggur yang ditafsir sebagai nabi atau utusan Allah menjadi sebuah keniscayaan. Nyawa dan darah utusan, bahkan pemiliknya yaitu Yesus Kristus begitu gampang ditumpahkan. Para penggarap sangat kesetanan hasil dorongan hasrat membara untuk menguasai kebun anggur milik orang lain. Mereka mencuri hal milik orang lain. Niat itu begitu licik tapi nikmat. Ada darah dan nyawa yang dikorbankan. Tapi ada kuasa, harta dan kebun anggur yang akan dimiliki meski itu “sementara”.

    Narasi bacaan hari ini melukiskan kasih setia Allah di satu pihak dan keserakan manusia di pihak lain. Allah sangat setia dan telaten merawat Israel agar menjadi kebun anggur yang menghasilkan buah yang ranum dan lezat. Ia mencangkul tanahnya, membuang-batu-batu, menanaminya dengan bibit anggur pilihan, membangun pagar dan menara penjaga serta menggali lubang pemerasan anggur (Yes 5:7). Tapi Isreal hadirkan kekecewaan karena tegar hati sehingga hanya mampu hasilkan buah anggur asam. Israel mengingkari semua kebaikan Allah. Bahkan dalam Injil Matius, penggarap justru tidak tahu diri dan berebut kuasa menjadi pemilik dengan menyingkirkan orang-orang kepercayaan Allah. Bahkan Anak Allah sebagai pemilik sah kebun anggur pun dibunuh (Mat 21:37-39).

    Namun Tuhan selalu menciptakan keajaiban di tengah puing-puing kehancuran dunia. Tragedi Jumat Agung dimahkotai kebangkitan. Perbuatan jahat selalu tidak abadi. Hanya memuaskan dahaga infantil sesaat. Penggarap-penggarap yang garang dan sadis akan tertunduk malu di hadapan sang pemilik. Utusan Allah dan Anak-Nya pemilik yang telah dibuang akan menjadi batu sendi hidup Gereja di masa depan. Darah orang-orang benar tidak pernah mengering apalagi hilang. Darah itu akan abadi dalam “teriakan.”

    Darah Misionaris

    Darah Pater Konrad Becker SVD yang tumpah di Watuwawer, Paroki Lerek, Lembata menyucikan tanah kebun anggur dan menyuburkan benih panggilan. Rentang waktu 100 tahun kehadiran SVD di tanah Lembata menjadi momen refleksi spiritual. Saat untuk bersyukur, mengenang jejak tapak kaki para misionaris dan merancang misi masa depan. Apakah Lembata telah menjadi kebun anggur yang berbuah ranum dan berkualitas lezat? Atau kita hanya menghasilkan buah anggur yang asam karena otak kita terbatas-meski ada potensi-stagnan dan tertutup lalu hilang kreativitas di tengah deburan gelombang informasi kemajuan zaman? Apakah kita menjadi penggarap yang kehilangan identitas karena kelekatan dengan “orang tertentu” yang begitu personal dan akhirnya membangun “rumah kenyamanan pribadi” lalu dengan berbagai cara berusaha “membunuh” utusan yang lebih muda, progresif dan berenergi untuk perubahan karena merusak kenyamanan relasi penggarap terdahulu yang sudah akut dan uzur? Belum lagi, “utusan” lebih dekat dengan pemilik yang hanya ada di belakang meja, gemar mendengarkan bisikan dan menjadikan jabatan dan status sebagai ruang pengaman bagi utusan yang tidak berbobot, bodoh (kurang pengetahuan), tertutup dan arogan. Saat kehilangan argumentasi, utusan yang tidak berkualitas membela diri dengan sepotong SK dari “atasan.” Utusan-utusan yang tidak berbobot hanya mempersulit manajemen pengelolaan kebun anggur sehingga penggarap yang nakal bisa membawa kabur aset kebun anggur ke “negeri seberang.” Tapi perilaku penggarap yang bawa lari uang ini patut diduga ada skenario “bersama” utusan untuk “mengamankan” niat buruk. Kita belajar dari para misionaris dulu yang setia bekerja, tahu diri, sadar kemampuan sehingga menyatu dengan keseharian umat sederhana yang menjadi ruang tumbuhnya benih Sabda Allah kontekstul. Sikap diam terhadap utusan yang tidak berkualitas adalah dukungan suburnya tabiat yang semakin merusak kelestarian dan keutuhan kebun anggur.

    Gereja St. Maria Banneux Lewoleba

    Rasul Paulus mengatakan bahwa gereja mampu jadi penggarap yang baik kalau Tuhan jadi kiblat hidup seumur hidup, hati yang terbuka kepada realitas, kritis membaca kenyataan, peka menangkap getaran aspirasi dan berani memperjuangkan kebenaran dan kebaikan bersama hingga Kalvari. *

    Sumber Tulisan: Suryaflobamora.com

  • Isaiah Berlin

    Oleh Rizal Mallarangeng

    PADA 6 November 1997, dalam usia 88 tahun, Isaiah Berlin telah pergi, meninggalkan sekian banyak tulisan yang dapat di sejajarkan dengan karya-karya pemikiran terbaik di abad ke-20 ini.

    Dalam banyak esai panjangnya, Isaiah Berlin yang semasa kecilnya sempat menjadi saksi pergolakan Revolusi Rusia pada 1917, sering mengingatkan kita betapa berbahayanya bagi sejarah kemanusiaan ide-ide besar yang mengklaim kebenaran bagi dirinya sendiri. Dari ruang studinya di Oxford, dia mengabdikan hidupnya untuk menjelaskan dan mendalami sejarah ide-ide semacam ini.

    Isaiah Berlin adalah seorang intelektual sejati yang hidup dan menghirup nikmatnya udara kehidupan melalui eksplorasi dan pertarungan ide-ide. Di tangannya, ide-de tidak lagi menjadi sekedar konsepsi-konsepsi abstrak yang dingin. Bagai seorang penyihir, dia sanggup menghidupkan kembali berbagai pemikiran klasik yang telah beku dan dilupakan, misalnya Hamann, Vico, Herzen, de Maistre, dan mencari kaitan ide-ide mereka dengan gagasan-gagasan besar yang di zaman modern ini mengharu-birukan nasib manusia.

    Dia banyak menelusuri asal-usul, substansi, dan kaitan antara gagasan-gagasan besar karena dia percaya pada kekuatan pemikiran. Dia pernah berkata, “Konsep-konsep filosofis yang dilahirkan di ruang studi yang sepi seorang profesor dapat menghancurkan sebuah peradaban.” Baginya kekuatan-kekuatan sosial dan material memang penting, tetapi semua ini hanya akan menjadi kekuatan buta tanpa arah jika tidak dibingkai oleh ide-ide. Dia sangat yakin bahwa dunia pemikiranlah yang memberi petunjuk ke arah mana sejarah harus  bergerak.

    Satu dari ide-ide besar yang menarik perhatiannya adalah ide atau konsepsi kebebasan positif. Konsepsi ini berasal dari spektrum pemikiran yang luas, mulai dari Palto, Rousseau, Hegel, de Maistre hingga Marx. Menurut konsepsi ini, manusia bebas adalah manusia yang menjadi tuan bagi dirinya sendiri, yang menjadi manusia sejati, yang mencapai hidup sepenuh-penuhnya. Manusia semacam ini bukanlah manusia yang senantiasa diperbudak oleh berbagai nafsu dan kesadaran palsunya. Kebebasan hanya mungkin terjadi jika manusia memang bisa merealisasikan potensinya yang sejati, yang “benar”, yang “lebih tinggi”.

    Konsepsi ini, menurut Isaiah Berlin, berbau romantik. Kebebasan tidak lagi dikaitkan dengan pembatasan tindakan sewenang-wenang terhadap individu, tetapi dengan proses pemenuhan kesempurnaan hidup manusia. Jadi, dalam konsepsi ini, walaupun seseorang secara legal dan faktual tidak dikekang oleh siapapun, dia tetap bukan manusia yang bebas sejauh dia masih diperbudak oleh kesadaran palsunya, oleh pikiran dan perasaannya yang “keliru”.

    Yang menarik adalah, bagi Isaiah Berlin, konsepsi kebebasan semacam ini bisa berbahaya, bahkan sangat berbahaya. Kenapa? Karena, dengan sedikit manipulasi makna, pengertian “tuan” dalam konsepsi ini dapat menjadi “bangsa”, “Negara”, “partai”, atau “kelas”. Sementara “hidup yang sepenuh-penuhnya” dapat  diartikan hidup dalam “masyarakat sosialis”, “masyarakat baru”, “sejarah baru”. Berkaitan dengan hal ini, diri manusia pun diartikan sebagai makhluk yang terdiri atas dua kenyataan yang berlawanan, yaitu dirinya yang sejati, yang lebih tinggi, yang benar, dan dirinya yang lebih rendah sumber nafsu dan kesadaran palsu.

    Jika pembalikan makna ini sudah terjadi, maka, menurut Isaiah Berlin, terbentanglah jalan yang sangat lebar bagi seorang despot untuk memerintah dengan sewenang-wenang dan memberangus kebebasan individu. Bukankah tetek-bengek nasib individu adalah hal yang terlalu kecil untuk dianggap serius bagi sebuah bangsa, atau partai, atau negara, yang sedang mengejar tuntunan sejarahnya untuk membangun masyarakat baru? Bukankah dalam proses pemenuhan tuntutan sejarah ini Diri yang Lebih Tinggi ( yaitu Sang Bangsa, Sang Partai, Sang Negara) memang layak memberangus Diri yang Rendah (manusia yang hanya terbawa oleh kesadaran palsu, yang tidak mengerti tuntunan sejarah)?

    Konsepsi kebebasan positif, dengan kata lain, sangat cocok untuk menjadi alasan pembenar bagi tirani dan kekuasaan despotik. Dalam konsepsi ini tidak ada argumentasi yang secara prinsipil dapat mengatakan kepada Sang Penguasa untuk membatasi kekuasaannya dan menghargai kedaulatan masing-masing individu. Sekali Sang Penguasa berhasil memanipulasi beberapa pengertian kunci yang ada dalam konsepsi ini, maka ia seolah-olah mendapat cek kosong, carte blanche, untuk melakukan apa saja yang dianggapnya perlu dalam mengejar “tuntutan sejarah”, “masyarakat baru”, atau apapun yang sanggup menjamin tercapainya “hidup yang sepenuh-penuhnya”.

    Karena itulah tidak mengherankan jika Isaiah Berlin, yang dikenal sebagai penentang gigih para pemimpin garis keras Israel, berkata bahwa konsepsi kebebasan semacam inilah yang berada di balik banyak malapetaka kemanusiaan pada abad ke-20.

    Di abad ini, kita tahu muncul banyak pemimpin besar yang atas nama bangsa, partai, kelas, atau negara, melindas nasib orang per orang untuk mengejar tujuan-tujuan yang dianggapnya bersifat historis, luhur, atau progresif. Hitler, Stalin, Mao, Pol-Pot: tangan mereka berlumuran darah justru untuk menggiring bangsa mereka ke arah “kebebasan” yang lebih sejati.

    Sumber Tulisan dari buku Dari Langit, Rizal Mallarangeng, Penerbit KPG.

  • Yang Akrab dengan Yang Murni

    Yang Akrab dengan Yang Murni

    Mengenang Arief Budiman (1941- 2020)

    Goenawan Mohamad

    SEORANG anak muda 19 tahun, sebaya saya, tetapi lebih kurus, lebih tinggi, dengan baju dan celana lusuh tapi bersih, dengan cara bicara yang lempang tapi agresif, dan dipanggil “Djin”, mengatakan ia sudah menerjemahkan satu bab dari L’Etrangere: sejak kami berkenalan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ditahun 1960, Arief Budiman—waktu itu memakai nama “Soe Hok Djin” – sudah tampak luar biasa.

    Ia menyukai sastra dan filsafat sejak SMA, ia melukis, ia bermain gitar klasik, dengan ketrampilan awal yang lumayan, ia pintar matematika. Kami berdua dengan cepat jadi akrab. Mungkin karena kami berdua agak jauh dari pergaulan dengan mahasiswa lain di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Waktu itu jumlahnya mungkin tak lebih dari 150 orang, tapi umumnya mereka tak dekat dengan hal-hal yang kami sukai: omong filsafat, omong seni. Arief juga tak menikmati yang mereka sukai – disebuah universitas yang bersemboyan “buku, pesta dan cinta”.

    Persahabatan kami diperkuat lingkungan yang terbentuk kemudian. Arief memperkenalkan saya dengan seniman dan cendikiawan terkenal: Trisno Sumardjo (penerjemah Shakespeare dan perupa), Nasar (perupa), Zaini (perupa), P.K. Ojong (wartawan dan kelak pendiri Kompas), Onghokham (sejarawan), dan setelah 1967, memperkenalkan saya dengan orang yang ia kagumi dan dekat kepadanya, Moctahr Lubis.

    Segera saya menjadi bagian lingkungan ini – meskipun saya, yang dibesarkan dalam bahasa Jawa, tak seberani Arief menyebut seniman yang lebih tua “kau”.

    Ya, Arief anak Jakarta tulen. Ia dibesarkan keluarga Tionghoa yang hanya berbahasa Indonesia (ayahnya dulu seorang sastrawan yang menulis dalam bahasa Melayu Tionghoa), dan meskipun ibunya berbahasa Sunda, adat bertutur Arief lurus, lugas.

    Lagi pula, ia tak melihat dirinya inferior. Dalam umur semuda itu, ia sudah menulis esai di majalah Star Weekly. Seperti yang saya sebut di awal, Arief sudah menerjemahkan satu bab dari L’Etrangere. Ia mengagumi Albert Camus; ia bahkan merasa punya persamaan dengan pengarang kelahiran Aljazair itu ketika ia, seperti Camus di umur 17 tahun, didiagnosis kena tuberkolosis; Arief pernah harus dirawat di Pacet. Ia membaca dalam bahasa Inggri, buku-buku Camus. Ia melahap The Myth of Sisyphus, dari mana ia kembangkan pandangannya yang anti-utopisme. Buku itu, di mana tertera nama “Djin” di halaman depan, masih saya simpan, sejak setengah abad yang lalu.

    Arief bukan foto kopi Camus, tentu. Ia tak pernah aktif dalam dunia pentas, dan tak seperti Camus, Arief tak punya hubungan dengan perempuan-perempuan yang memikat. Tapi pandangan anti-utopismenya memang dibentuk mithos Sisyphus yang dipakai Camus sebagai alegori bagi sejarah manusia yang tak pernah selesai dan lengkap.

    Ini terutama tampak ketika ia, di tahun 1963, pada umur 22 tahun, ikut merumuskan Manifes Kebudayaan. Manifes itu semacam petisi. Kami menghimbau dijaganya kemerdekaan ekspresi seni di masa ‘Demokrasi Terpimpin’ itu, ketika banyak tulisan diberangus.

    Petisi kami bertolak dari pandangan bahwa tak semestinya kemerdekaan seni dikorbankan untuk perjuangan politik (ditahun 1960-an itu disebut “Revolusi” dengan “R”) yang hendak mencapai masyarakat yang sempurna. Sebab, dalam prespektif yang anti-utopisme, masyarakat seperti itu tak akan pernah tercapai. Justru dengan merawat kemerdekaan, menurut Manifes Kebudayaan, kesenian akan mampu menjadi bagian pembebasan. Peran seni itu tak pernah berhenti, sebab tak mengasumsikan akan ada “sorga di bumi”- untuk meminjam judul kumpulan sajak seorang penyair Lekra, Sugiarti Siswadi.

    Dalam hal itulah petisi diejek sebagai “Manikebu” itu bertentangan dengan “realisme sosialis” yang dianjurkan Lekra. “Realisme” ini doktrin yang digariskan Stalin pada awal 1930-an untuk mendukung Rencana Lima Tahun. Bagi doktrin ini kemerdekaan kesenian sebuah kemewahan. Seperti pernah dikatakan Lenin, kemerdekaan hanya ada setelah masyarakat sosialis lahir.

    Kami berkeberatan. Kemerdekaan tak sebaiknya dikarantina. Arief dan penanda tangan Manifes Kebudayaan menganggap bahwa itu akan mengorbankan banyak hal, seperti yang terjadi di Uni Soviet, di mana sastrawan dipenjarakan, disisihkan, atau dieksekusi. Dan semuanya sia-sia, karena mereka di korbankan untuk sebuah masyarakat masa depan yang akan lahir. Dan terbukti eksperimen Stalin gagal membangun masyrakat seperti itu.

    Sebenarnya waktu itu Arief jauh dari Marxisme. Ia tak tertarik. Ia tak pernah ikut saya melihat-lihat buku terbitan Foreign Publishing House, Moskow, di Jln Kramat Raya, Jakarta, di bagian bawah kantor CC PKI, di mana karya Dostoyevski, Gorki, Turgenev, Plekanov, Lenin, Marx, Engels – dalam jilid yang tebal dan menarik – dijual dengan harga murah. Saya sering berbelanja: buku-buku Marxis dengan gambar wajah dua orang berjenggot mengingatkan saya pada perpustakaan ayah saya – maka mungkin saya, yang bangga bisa hafal lagu Internasionale sejak kelas tiga SD, menyenanginya karena nostalgia. Arief mendapatkan bacaan utamanya dari tempat lain, mungkin dengan bantuan P.K. Ojong, wartawan senior Star Weekly yang sangat dekat dengan dia. Ojong selama majalahnya ditutup Demokrasi Terpimpin (karena dianggap dekat dengan Partai Sosialis Indonesia yang dibubarkan Bung Karno), punya cara mendapatkan buku dari Eropa dan Amerika yang waktu itu tak boleh masuk ke Indonesia. Arief beruntung menikmati kesempatan itu.

    Saya kagum ia menguasai bagian-bagian yang sulit dari Being and Nothingness, versi Inggris karya Sartre. Tapi jika ia menyukai “eksistensialisme”, bukan karena ia ikut sebuah mode intelektual; eksistensialisme menyertai pandangan Arief di awal dan pertengahan 1960-an. Ia bahkan menulis skripsi untuk gelar sarjana psikologi dengan focus Chairil Anwar sebagai “eksistensialis”. Dan ini luar biasa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang tak pernah menyentuh sastra Indonesia.

    Saya kira yang merasuk ke dalam diri Arief dari para penulis Prancis sehabis pendudukan Nazi itu adalah semangat perlawanan dan ide kemerdekaan – dua thema yang menjadi corak pemikirannya selamanya.

    Dengan itulah Arief memilih jalan yang liat-jalan ide yang solid di atas dunia yang rekalsitran dan lunak. Ada sikap puritan dalam dirinya. Ia tak pernah mencari santapan lezat dan pakaian mentereng. Kesederhanan hidupnya berkaitan dengan keyakinan bahwa tubuh tak begitu penting. Dunia pemikiran lebih penting.

    Di sana sayup-sayup bergaung pemikiran Sartre-atau alam pikiran yang menyebabkannya mudah menerima pembagian biner ala Sartre: di satu pihak ada kehidupan en-soi – yang tak digerakkan kesadaran/pikiran/refleksi. Di pihak lain kehidupan pour-soi, yang sadar akan kesadarannya, yang bisa membentuk, mengubah keadaan obyektif.

    Prespektif biner seperti itu kuat dalam pandangan Arief: yang terkenal misalnya, ia melihat beda yang tegas antara “gerakan moral” dan “gerakan politik. Dan sebagiamana lazimnya, prespektif biner mengutamakan yang satu di atas yang lain. Bagi Arief, “gerakan politik”- juga yang berniat mengubah struktur yang busuk – selalu terjebak “tangan-tangan kotor”. Ia memilih “gerakan moral”. (Ia bahkan menjaga “yang moral” sampai hal yang sepele. Ketika menjadi anggota Badan Sensor Film di akhir tahun 1968, mewakili seniman, ia menolak menerima rokok 555 yang dibagikan importir film; baginya itu langkah kecil penyuapan).

    Marxismenya, yang ia dapat selama belajar dan bergaul di kampus Amerika di akhir tahun 1970-an, adalah Marxisme “ethis”. Ia terpikat karya-karya Marx muda. Marxisme Arief bermula dari kesadaran akan ketidakadilan, dan kemudian membentuk konstruksi teoritis masyarakat. Dari sana ia menganalisis keadaan. Disertasinya di Harvard tentang Cile dan pemerintah Allende yang kiri adalah contohnya.

    Dalam pemikiran ilmunya, Arief menjalankan apa yang disebut “idealisasi”, menangkap realitas dengan cara membentuknya dalam ide-dan dengan demikian ia menganalisis problem dengan gamblang.

    Sebab itu esai Arief Budiman kita baca sebagai prosa yang tajam dan terang, clair and et distinct. Kompleksitas, keruwetan dan inkonsistensi di dunia ini tak dibiarkan merecoki thesis yang hendak di kemukakan. Arief dengan ulung mampu mencerna masalah dan menguraikan persoalan menjadi sederhana. Saya pernah melihat ia pernah menjelaskan sebuah problem statistika yang pelik kepada teman-teman sekuliah. Mereka senang, perkara jadi jelas sebagaimana kalau orang mengikuti paparan Arief Budiman tentang, misalnya,  “theory dependensi” pembangunan ekonomi di Amerika Latin.

    Maka wajar kalau transformasi Arief dari seorang penggemar filsafat menjadi seorang man of action – dari yang bergairah dalam dunia pemikiran menjadi orang yang turun ke jalan untuk menyatakan statement. Aktivisme menghendaki arah yang jelas.

    Ini sejajar dengan perubahan sumber-sumber intelektual Arief: ia jadi tertarik kepada Marxism, setelah di masa muda begitu “masuk” ke pemikiran Camus dan Sartre.

    Di sini saya duga Sartre sebuah jembatan. Pemikir Prancis ini, setelah mencoba memaparkan filsafatnya sebagai alternative bagi Marxisme, di akhir tahun 1950-an berubah. Dalam Critique de la Raison Dialectique yang terbit ditahun 1960 Sartre menyatakan bahwa ekstensialisme berada di bawah Marxisme. Ia seorang “Marxis”, katanya merumuskan dirinya sendiri.

    Arief tak pernah menjelaskan perubahan ini dalam tulisannya (atau saya tak pernah mengetahuinya jika ia pernah). Tapi seperti Sartre, ia punya keyakinan humanisme yang unik. Baginya, manusia merdeka karena dihukum untuk merdeka, dan dengan kemerdekaan itu, ia tidak bisa dirumuskan dengan esensi tertentu. Ia menjadi dirinya karena memilih, berbuat, membuat.

    Aktivisme Sartre-filosof ini, kita ingat, bukan hanya menulis karya-karya yang tebal, tapi juga penggerak demonstarsi menentang kapitalisme dan imperialisme-bertolak dari pandangan tentang manusia yang tak punya ketentuan takdir. Aktivisme Arief juga demikian. Tapi harus saya tambahkan pada Arief, ada yang sangat berbeda.

    Satu tokoh dalam Huis Close Sartre mengatakan, “Neraka, itulah orang lain.” Berlawanan dengan itu, Arief menemui orang lain, ia mudah bertegur sapa, bertukar pikiran tanpa ngotot. Komunikasi merupakan dorongan yang dominan dalam dirinya.

    Bahkan ia melihat konflik sebagai komunikasi. Tak pernah tercetus kata “goblok” atau “bangsat” dari mulutnya. Ia tak pernah menghina pendapat lain. Kata negative yang paling kasar dari mulut Arief: “payah!”. Ia punya kapasitas mendengarkan, juga mendengarkan kritik yang paling keras.

    Dengan sangat wajar ia bergabung dalam “pergerakan”. Tapi ada satu faktor lainnya yang membuatnya  “bergerak”: Soe Hok Gie, adik kandungnya. Persisnya sejak Gie meninggal dalam kecelakaan di Gunung Semeru.

    Kakak adik ini jarang berbicara satu sama lain. Mereka saling menjauh, setidaknya di depan orang ramai. Dunia pergaulan mereka berbeda. Gie aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis; ia dekat dengan kalangan Partai Sosoialis Indonesia yang dibubarkan Bung Karno, dan pemimpinnya, Sjahrir di penjarakan. Gie lebih akrab dengan aktivis politik-termasuk dengan bekas peserta pemberontakan Permesta. Sedangkan Arief lebih banyak bergaul dengan perupa sperti Nazar, Zaini, Oesman Efendi, dan Trisno Sumardjo, dan kemudian dengan saya, Rendra dan penulis lain.

    Tapi ketika ia menulis obituari pendek tentang adiknya, Arief terasa tergetar, dan tergerak, oleh perjuangan Gie yang selama ini mungkin tak ia pedulikan. Ia menjemput jenazah Gie dari Gunung Semeru. Di sana ia diberitahu ada tukang peti mati yang menangis karena “kematian orang yang berani” itu.   

    Ini memberi Arief insight baru. Pada suatu saat Gie pernah menyatakan kebimbangan kepadanya dalam perjuangan untuk “menolong rakyat kecil yang tertindas”, ia merasa kian banyak dimusuhi. Kata Gie, “Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

    Tapi di kaki Semeru itu Arief tahu, tak demikian halnya. Soe Hok Gie tak kurang pendukung dan pengagum. Di sebuah peti mati adiknya ia berkata, “Gie, kamu tidak sendirian”.

    Kemudian Arief membuktikan itu dengan bergerak sebagai aktivis, seakan-akan mengambil bendera keberanian yang terjatuh yang dibawah adiknya yang tewas. Ia percaya seseorang ‘yang jujur dan berani” yang melawan ketidakadilan akan “mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang”. 

    Kepercayaan Arief kepada “banyak orang” itu bagi saya memperlihatkan sikapnya dalam dirinya, tak ada arogansi, tak ada kekenesan seseorang yang sedang berada di atas panggung perjuangan.

    Berbeda dengan Gie, Arief tak pernah mengatakan ia sendirian dan dengan itu merasa heroik. Kesendirian dalam diri Arief sangat dekat dengan keikhlasan. Ia suka memakai tokoh film Shane sebagai tauladan. Jagoan film western ini menghadapi kesewenang-wenangan tanpa melibatkan orang lain ke dalam bahaya, dan setelah berhasil memulihkan keadilan, pergi menghilang. Tanpa menunggu sorak-sorai.

    Itu sebabnya orang yang mengenalnya tahu, perjuangan Arief murni. Persahabtannya juga murni, sebagaimana cintanya kepada Leila-teman sekuliahnya yang kemudian menjadi istrinya. Saya ingat apa yang dikatakan seseorang yang mengaguminya dan mencintainya: Ivan Kats, yang bekerja di Congres for Cultural Freedom di Paris di tahun 1960-an.

    Sebelum Arief dan keluarga pindah ke Paris di tahun 1972 untuk bekerja bersama Ivan, di tahun 1964 Arief pernah tinggal di rumah keluarga Kats di Marly-le-Roi, sebuah kota kecil tua dengan hutan yang rindang di dekat Versailles. Kepada saya, yang mampir berlibur ke rumah itu sewaktu kuliah di Burges, Belgia, mendiang Ivan dan istrinya, Evelina, seorang pelukis, bercerita: mereka beberapa kali mengajak Arief berjalan menyusuri hutan. Mereka tertegun, sahabatnya akan berhenti di tepi sebuah parit dengan air yang jernih, dan dalam cuaca musim gugur, langsung minum dari air itu………”Ia sungguh akrab dengan yang murni,” kata Evelina. Kini Arief akan murni selama-lamanya.

    Jakarta, 23 April 2020.

    Sumber: Catatan Pinggir, Majalah Tempo, Edisi April –Mei 2020.

  • Sr. Franselin Sabu, SSpS: Tofa dan Kail untuk Orang Kusta

    Jakarta, berandanegeri.com. SUSTER Franselin Sabu, SSpS meminta saya bertemu di rumah kerabatnya dari Adonara, Flores Timur. Persisnya di sekitaran Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Kelurahan Bidaracina, Jakarta Timur. Tak jauh dari Gereja Santo Antonius Padua Bidaracina, paroki saya. Jauh-jauh terbang dari Ruteng, kota Kabupaten Manggarai, biarawati itu bertaruh waktu di Jakarta demi sejumlah panti rehabilitasi kusta di bawah naungan Yayasan Santo Damian Cancar, Keuskupan Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, milik Kongregasi Suster Misi Abdi Roh Kudus atau dalam kata bahasa Latin, Congregatio Missionalis Servarum Spiritus Sancti (SSpS).

    Ada Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar, Kabupaten Manggarai, Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Unit Binongko, Manggarai Barat, dan Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Unit Ngalu, Waingapu, Sumba Timur. Meski singgah di rumah kenalannya di Bintaro, Tangerang, Provinsi Banten. “Ada kenalan yang menahan saya harus nginap di rumahnya. Mereka menyediakan mobil dan supir kapan saja bisa mengantar saya selama di Jakarta. Jadi, kita ketemu di Otista agar tidak mengganggu aktivitas ade,” kata Sr Franselin, SSpS, Ketua Yayasan Santo Damian Cancar, Manggarai dari balik telepon genggam. Tak sulit mencari alamat kerabatnya setelah tukang ojek online mengantar saya ke alamat yang dituju.

    Sr. Franselin SSpS, dan Penghuni Pantai Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar, Manggarai

    Pagi ini, Sr Franselin mengontak saya dari Cancar, Manggarai, Flores. Ia mengabarkan, personil kelompok musik SLANK menyambangi anak asuhnya. Jauh-jauh dari Jakarta, SLANK berbaur dengan pengelola dan penghuni Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Unit Binongko, Labuan Bajo, Manggarai Barat, ujung barat Flores. Informasi kehadiran personil SLANK di panti rehabilitas kusta di bibir pantai itu membuat Sr Franselin segera meluncur ke panti rehabilitasi kusta dan cacat yang terlekat di kampung Binongko tersebut. Ingatan biarawati asal Adonara berdarah kampung Kluang, Boto, Lembata ini menyasar anak-anak asuhnya di panti rehabilitasi yang sebagian tinggal dan akrab dengan alam pedesaan dan pantai. Berikut kerja keras sebagian besar penghuni panti yang saban waktu bertaruh peluh di kebun atau laut untuk melatih kemandirian mereka.

    “Selama ini kita menampung, merawat, dan menyayangi para penghuni dengan cara berbeda. Mereka saling membantu satu sama lain dalam kondisi keterbatasan. Bagi yang punya kemampuan bertani, kita ajak mereka ambil bagian menolong temannya agar cepat mandiri. Jadi kalau penghuni panti ingin makan nasi atau jagung, kita minta donatur bantu tofa, pacul, parang atau klewang. Begitu pula kalau ingin makan ikan, kita minta donatur bantu kail atau sampan,” kata Sr Franselin. Menurutnya, di Ngalu jumlah orang kusta sebanyak kurang lebih 65. Mereka tinggal di rumah dan dilayani di sana pengelola. Kalau ada perawatan khusus dibawa ke klinik. Sedangkan di Binongko ada 20 orang. Kemudian di Cancar ada 80 orang tinggal dalam panti. Sebanyak 24 orang tinggal di luar.

    Biarawati yang ramah ini mengaku sudah menyatu dengan Manggarai. Ia menambahkan, selama mempersembahkan hidup dan karyanya bagi Tuhan melalui panggilan hidup membiara selama 34 tahun, nadinya sudah menyatu dengan komunitas SSpS Ruteng. Selama menjadi misionaris di Juba, kota negara Sudan Selatan, benua Afrika selama 6 tahun ia mengaku Tuhan sungguh luar biasa baginya.

    Sr. Franselin SSpS bersama Personil SLANK dan Penghuni Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat St. Damian Unit Binongko, Manggarai Barat

    Pimpinan SSpS Flores bagian barat mengutusnya kembali ke Manggarai, tanah Congka Sae, Manggarai, untuk kembali melayani Tuhan melalui sesama yang berkekurangan dalam fisik dan mental di Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar. “Jubah sangat indah dan saya bahagia melayani umat di negara baru itu meski beratap desingan peluruh akibat konflik yang mendera negara baru pecahan dari Sudan. Tetapi Tuhan mengutus saya kembali menjadi misionaris di Manggarai agar saya dapat melakukan sesuatu yang berguna dari Nusa Bunga untuk dunia,” kata Sr Franselin, anak kedua dari pasangan Alm Fransiskus Ola Ebang dan Almhr Juliana Kebang de Ona.

    Tentang Sudan Selatan

    Saya tertarik dengan kisah Sr Franselin SSpS tatkala menjadi misionaris di Juba, Sudan Selatan. Bayangan tentang Addis Ababa, tanah Misi di negara pecahan Sudan yang kering kerontang, tandus, dan panas sirna. Ia mengaku pada Minggu 5 September 2010 pukul 11.30 waktu setempat, untuk pertama kali ia menginjakkan kaki di tanah Addis Ababa, Sudan Selatan, Afrika. Udara kota negara Republik Demokratik Ethiopia yang terletak di Benua Afrika itu dingin dan hujan terus mengguyur. Setelah mengurus visa ke Sudan, Sr Franselin didampingi rekan-rekan biarawati sesama kongregasi yang bertugas di Addis Ababa, berkesempatan melihat-lihat kota itu sebelum ia terbang ke Juba, ibu kota Sudan Selatan.

    “Addis Ababa sangat indah. Setelah menelusuri beberapa tempat saya lihat para penghuni kota itu hidup berdampingan dengan damai. Kaum wanitanya juga cantik seperti kebanyakan orang Arab,” ujar Sr Franseline kepada saya melalui surat elektronik (e-mail) dari Addis Ababa, Ethiopia, Selasa, 14 September 2010. Setelah proses visanya selesai, seharusnya pada Senin, 13/9, pukul 10.00 waktu Addis Ababa biarawati asal Pulau Adonara, Keuskupan Larantuka, Flores Timur, itu bertolak ke Juba. Namun, penerbangan baru terjadi pada pukul 04.00 sore.

    Saat itu seluruh penumpang sudah di dalam pesawat, tetapi hujan lebat sekali sehingga para penumpang disuruh turun. Penerbangan akhirnya ditunda sampai besok siang pukul 13.30. “Seluruh penumpang diinapkan di hotel yang disiapkan maskapai penerbangan. Hotel ini juga menyediakan fasilitas internet sehingga saya bisa menghubungi rekan-rekan suster di komunitas,” kata biarawati kelahiran Boto, Lembata, NTT, ini.

    Menurut Sr Franselin, sebelum menjadi misionaris di Sudan Selagan ia bertugas di sebuah komunitas SSpS di Bima, Nusa Tenggara Barat. Di Bima ada sebuah karya sosial di bidang kesehatan yang ditangani para suster suster SSpS.Namun, belum beberapa lama mengemban misi sosial kemanusiaan itu, ia mendapat tugas baru di Sudan, Afrika Selatan. Sebelum menjalani misinya di Benua Afrika, Sr Franselin bertolak ke Australia guna mengikuti kursus persiapan selama enam bulan.

    Pada awal September 2010, ia terbang ke Addis Ababa, Ethiopia, melalui Dubai, Uni Emirat Arab. Tepat pada 5 September, ia menginjakkan kaki di Addis Ababa. Sebelum masuk Juba, ia terus membayangkan negara tujuannya, Sudan, yang tinggal seminggu melakukan jajak pendapat, referendum, untuk Sudan Selatan pada 9 Januari 2011. “Kita semua perlu berdoa agar referendum berjalan lancar, aman, dan damai agar nama Tuhan semakin dimuliakan di muka bumi,” kata Sr Franselin, biarawati yang lahir sebagai anak kedua kemudian mengikuti jejak Pastor Petrus Payong SVD (Alm), kakak sulungnya sebagai pelayan Sabda. “Saya sungguh merasakan kasih Tuhan dengan melayani sesama. Selama 34 tahun hidup membiara, saya sudah 28 tahun menyatu dengan orang-orang yang saya kasihi di Pusat Rehabilitasi Kusta Cancar dan sesama saudara saya di Manggarai. Di sini saya melayani dengan cara berbeda. Kalau ada yang berbaik hati menawarkan beras, pisang, ibu atau sayur maka saya minta tofa, klewang, benih agar anak asuh bisa bekerja memberdayakan diri dan saling melayani. Begitu pula kalau ada yang orang baik hati mau beri ikan untuk anak asuh saya minta bantuan kail atau sampan,” kata Sr Franselin.

    Jakarta, 6 September 2020
    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    Pernah ke Labuan Bajo