NUSA Tenggara Timur mengenal dua sosok orang baik. Satu Prof Dr Cornelis Lay MA (61) dan lainnya, Pastor Nikolaus Duli Lolon Pr. Baik amatana Cony maupun ama tuan Niko sama-sama mengabdi di jalur pendidikan. Bedanya, satu awam, lainnya imam (pastor) dalam Gereja Katolik. Mengabdi di tempat berlainan berjarak ribuan kilometer, saya yakin dua sosok warga NTT di rantau ini bisa saja tak saling kenal. Cony dari Kupang. Sedang tuan Niko dari Mulankera, sebuah kampung kecil di bibir pantai selatan Pulau Lembata, menghadap ke Laut Sawu. Ama tuan Niko mengabdi di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), provinsi di tapal batas perairan Semenanjung Malaka menghadap negeri tetangga, Singapura. Mereka mungkin bersua dalam buku atau artikel-artikel di jurnal atau koran.
Bu Cony -kalau lidah saya manjakan dengan dialek Kupang- adalah Profesor pada Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Hiruk pikuk urusan politik nasional, bu Cony, salah seorang intelektual dan ahli politik adalah orang yang selalu (di)jadi(kan) rujukan. Selain tentu banyak ilmuwan dan ahli politik lainnya dari kompleks Bulaksumur atau kampus-kampus lainnya di Indonesia. Dari namanya, meski saya orang udik yang baru mengenal beliau dari membaca dan sedikit diskusi dengan saudara-saudari sesama orang kampung dari tanah Flobamora, saya bisa pastikan ia berdarah Sabu.
Beberapa kali saya inbox beliau via jejaring maya Facebook, amatana Cony baru respon. Senang, tentu. Demi pendidikan, amatana Cony rela pigi melarat (dalam dialek kampung saya), meninggalkan orangtua dan kerabatnya di Kupang. Ia menuju Yogyakarta. “Bu Cony baru saja meninggal tadi pagi di Rumah Sakit Panti Rapih. Saya kehilangan sahabat baik. Seorang intelektual, ahli di bidang pemikiran politik. Orangnya rendah hati dan suka berbagi ilmu,” kata Frans Maniagasi, intelektual Papua lulusan UGM kepada saya pagi ini. “Baru bu Cony ko kenal k tida? Pele….. Itu laki-laki sunggu mati. De pintar sampe…..,” kata Maniagasi. Maniagasi, analis politik asli Papua kagum pada Cony, memuji kehebatan dan kemampuan koleganya. Ia menyarankan agar kalau diskusi mendapat ilmu dan nasehat, saya bisa bertanya pada Cony, sesama orang kampung dari NTT. “Siyap dan hormat dibri, kaka tuan,” kata saya menimpali usulan Maniagasi gaya Papua.
Kabar Cony pukul 05.00 WIB membuat mata Maniagasi sembab. Air matanya gugur mengenal Cony, seniornya di jurusan Politik dan Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. Anak Kupang dan Papua itu bersahabat sejak 30 tahun lalu tatkala Maniagasi diterima di Fisipol UGM tahun 1981. “Cuma saya satu-satunya mahasiswa dari Irian Jaya saat itu. Sehingga dia jadi abang saya di kampus. Ada teman-teman lain dari NTT yang seangkatan tapi Cony jadi jangkar buat kami-kami. Ada uang 200 ribu dia panggil dan tanya saya. ‘Sudah makan?’ Kalau saya bilang belum, dia kasih 15 atau 20 ribu saya beli makan. Sampai hal-hal seperti itu. Selain bicara dan diskusi tentang ilmu-ilmu sosial dan politik,” kata Maniagasi pada saya.
Tuan Acong
Ket. Foto: Nikolaus Duli Lolon, Pr. Foto oleh Stefan Kelen, Pr
Sosok lain adalah Romo Diosesan (RD) Nikolaus Duli Lolon Pr. Di kampung sapaan sopan adalah tuan/bapa tuan Niko. Tuan Niko saat dipercaya sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bentara Persada Batam, Keuskupan Pangkalpinang. Kemarin ia pamit ke rumah-Nya di Rumah Sakit St Carolus, Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat. “Romo Niko Duli adalah imam diosesan Keuskupan Pangkalpinang. Ia sosok imam yang potensial bagi umat, terutama orang muda Katolik. Selama ini ia mempunyai kontribusi besar membangun metode pemberdayaan OMK di Keuskupan Pangkalpinang dengan membentuk lembaga out bond La Vita. Istilah kata bahasa Latin yang berarti hidup dan bertumbuh,” kata ama tuan Stefan Kelen Pr, Ketua Komsos Keuskupan Pangkalpinang.
Badan tuan Niko Duli tinggi. Ia ramah, cerdas dan mudah bergaul. Ia membangun La Vita dan membentuk tim pastoral kaum muda untuk menjadi trainner atau pelatulih di La Vita. Keuskupan Pangkalpinang tugaskan beliau masuk Jakarta untuk kuliah hukum di Universitas Atmajaya. Ia lulus dengan predikat summa cum laude. Ia langsung disuruh lagi studi S-2 bidang ator sumber daya manusia di kampus di bilangan Semanggi itu. Ia raih S-2 Magister Manajemen. Usai rampungkan S-1 dan S-2 tuan Niko balik Pangkalpinang. Uskup Hilarius Moa Nurak SVD (Alm) kasi anak nelayan ini jadi Ketua Yayasan Tunas Karya (YTK), Pangkapinang. Yayasan ini tangani 44 sekolah Katolik di Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Selama menjadi Ketua YTK ia bangun sistem dan manajemen SDM di lingkungan yayasan. “Beliau sangat akrab dengan para tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah-sekolah di lingkungan YTK. Ia sosok yang humoris, tidak menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang harus disembah. Tidak mengkomunikasikan kultur feodalistik dari gayanya memimpin. Ia selalu membuat kajian sebelum menetapkan suatu kebikakan umum berkaitan dengan YTK sebagai lembaga publik. Ada transparansi dan akuntabilitas yang ia tunjukkan,” kata tuan Stefan Kelen, pastor dari kampung di Flores Timur, ujung timur Pulau Flores.
Tuan Niko Duli juga peduli dengan masyarakat kecil tak berdaya. Selain turun ke tengah masyarakat, ia juga menulis gagasan-gagasan profetisnya di Bangka Pos, koran lokal. Ia adalah Imam Projo pertama Pangkalpinang yang ikuti seleksi jadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Bangka Belitung. Namun, ia tidak lolos seleksi, hanya berada di urutan ke 6. Pesentasi makalah di hadapan tim seleksi, ia sangat mampu kasi argumentasi. Ia sungguh menguasai materi. Di luar itu, tuan Niko adalah sosok humoris. “Kami menyapanya ‘Romo Acong’. Setiap ia berkesempatan memimpin Misa selama ia kuliah di Jakarta, Acong adalah nama rekaan pedagang yang diangkat dalam kotbah. Karena itu kami menyapa dengan nama nama ‘Romo Acong’. Romo Niko suka melucu dan mengundang tawa,” kata Petrus Bala Pattyona, praktisi hukum asal kampung Kluang, Desa Belabaja, Lembata.
Tuan Niko lahir di Mulankera, Desa Atakera, Lembata, 15 Agustus 1965. Ia lahir dari ayah-ibu Matias Laba-Juliana Barek Koban. Dibaptis di Mulankera pada 26 Agustus 1967 dan ditahbiskan jadi imam di Lekebai, Flores pada 19 September 1999. Alm menyelesaikan SD di SD Katolik Bersubsidi Labala, Wulandoni tahun 1975 -1980. Ia kemudian masuk SMP St. Pius X di Lewoleba tahun 1980-1983. Ia kemudian masuk SMA Kawula Karya Lewoleba, Lembata tahun 1983-1986. Masuk Tahun Orientasi Rohani di Seminari Tinggi St. Petrus, Sinaksak, Pematangsiantar dari Tahun 1986 s/d. 1994. Kemudian Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Regina Pacis, Tanjungpandan, Belitung Agustus 1995-1996. Ia lalu kuliah di STFT Widya Sasana, Malang September 1996-April 1999.
Ia pernah membantu Paroki Pangkalpinang mulai 1 November 1999-2022. Berturut-turut ia Delegatus Komisi Kepemudaan, 1 April 2002s-2006; Ketua Pengurus Asrama St. Theresia mulai 1 Juni 2002 – 30 Juli 2005; Pastor Pembantu Paroki Pangkalpinang mulai 1 Juni 1998-Oktober 1999. Lalu Anggota Dewan Imam Keuskupan Pangkalpinang & Perangkat Tribunal & Hakim Keuskupan Pangkalpinang mulai 1-Jun-2005-1-Jun-2008; Ketua Badan Penyelenggara Seminari Menengah Mario John Boen Keuskupan Pangkalpinang per 1 April 2011; Ketua Yayasan Tunas Karya Pangkalpinag 2011-2015; Anggota Tim Penyusun Buku Sinode II Keuskupan Pangkalpinang sejak 27 Agustus 2011. Terakhir ia menjabat Ketua Sekolah Tinggi Bentara Persada Batam sejak 2013.
Rabu pagi (5/8) pukul 08.30 WIB tuan Niko bertolak dari Jakarta ke Pangkalpinang. Tuan Niko meninggalkan RS St Carolus Jakarta. Ia segera berada Katedral St. Yosef Pangkalping. Pagi ini juga bu Cony segera ke rumah-Nya via RS Panti Rapih Yogyakarta. Guru Cony dan tuan Niko memenuhi panggilan Tuhan Sang Sabda. Selamat jalan, amatana Cony. Selamat jalan, ama tuan Niko. NTT tentu kehilangan dua guru rendah hati dari rahim Flobamora.
Jakarta, 5 Agustus 2020 Ansel Deri Orang udik dari kampung; Untuk amatana Cornelis Lay & ama tuan Niko Duli Lolon
ALOR menyimpan sejuta pesona. Entah pesona wisata alam maupun budaya. Di bidang lain jangan tanya lagi. Olahraga atau seni, misalnya, Kabupaten Alor juga punya nama mentereng. Kabupaten yang behadapan muka dengan Pulau Lembata, Indonesia atau berjarak sepelemparan batu dari Atauro, pulau di Republik Demokratik Timor Leste atau Timor Leste, negara adalah wilayah terluar Indonesia yang terbilang unik dan mistis. “Kalau anak panah sudah dilepaskan dari busur untuk melumpuhkan musuh ia akan mencari sendiri sasaran yang dituju. Panah Alor akan melumpuhkan Komodo, Paus atau Kuda Sandel. Tim Nusa Kenari akan menggunakan ilmu hitam paling sakti untuk melumatkan setiap pergerakan lawan di bawah mistar gawang. Tim-tim luar Timor akan pulang membawa duka dan Alor akan “terbang” ke markasnya bermodal selembar daun,” kata Justin, teman loper koran saya saat kami berada di Tribun bagian barat Stadion Oepoi Kupang menyaksikan laga El Tari Memorial Cup tahun 90-an, turnamen bola antartim memperebutkan Tropi dan hadiah turnamen yang digagas mantan Gubernur NTT El Tari.
Alor memang memiliki daya tarik luar biasa. Tak sebatas kisah-kisah mistik yang membalut kabupaten nan eksotik itu di bibir pantai Lembata bagian timur. Bahkan lebih dari itu. Alor memiliki daya tarik tersendiri. Al Quran dari kulit kayu pun ada di Alor. Anggota DPR Adji Massaid merasa terharu saat menyambangi Alor. Kata Adjie saat saya sambangi di ruang kerjanya, kompleks DPR RI, mengaku kabupaten itu menyimpan pesona luar biasa besar bagi pengunjung. Masyarakatnya sangat ramah; sesuatu yang juga menjadi kerinduan wisatawan saat menghabiskan waktu berhari-hari mengakrabi pesona bawah laut pulau-pulau di wilayah Kabupaten Alor. Mari menikmati pesona nan eksotik pulau-pulau mungil lainnya seperti Pulau Kepa, Pantar, Rusa, dan lain-lain. Sumber daya manusia Alor pun meroket ke tingkat nasional. Syahrir Ika, dosen dan orang penting di Bagian Analisa Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia adalah putera Alor. Masih ingat Hasan Azhari Oramahi, penyiar TVRI era 1980-an segenerasi Luther Kalasuad, Dian Budiargo, Max Sopacua, Indirwan, Yan Partawijaya, Yasir Denhas, dll, adalah wartawan senior dari Alor.
Atau sekadar menyebut Irjen Pol Drs Johni Asadoma, SIK, M.Hum, Ketua Umum Pertina, mantan Wakil Kepala Polda NTT yang sejak 17 Juli 2020 mengemban amanat sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri. Pun Dr Imanuel Ekadianus Blegur, mantan Ketua Umum GMKI dan staf Gubernur Viktor Laiskodat adalah putra Alor yang mengabdi di tingkat nasional. Berikut Thobias Tubulau, Asisten Deputi Industri Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia adalah putra Alor yang mengabdi di tingkat nasional. “Kita bekerja dengan hati agar berarti bagi bangsa dan negara. Kita bantu juga daerah kita sepanjang kita bisa,” kata Thobias kepada saya suatu waktu di sela-sela Raker dengan Menteri Pemuda dan Olahraga dan jajarannya dengan Komisi Olahraga DPR RI di Lt 1 Gedung Nusantara Senayan, Jakarta. Lalu balik ke kompleks Universitas Kristen Artha Wacana Kupang ada Dr Johni Lumba, Dekan Fakultas Ilmu Keguruan. Lalu bergeser ke Pulau Dewata ada Yabes Malaifani, pemain betkarakter yang tengah merumput di Bali United. Pun Andmesh Kamaleng, finalis Indonesia Idol 2018 adalah anak-anak Alor yang mengharumkan nama daerah dan tanah Flobamora.
Festival Dugong
Amon Djobo, Bupati Alor mengaku kabupaten yang ia pimpin menyimpan pesona wisata luar biasa besar. Festival Dugong di Pantai Mali adalah salah satu event pariwisata dari Alor bagi tak sekadar memanjakan mata warga Alor dan NTT namun persembahan terindah bagi para pelancong dalam dan luar negeri. Apa keunikan Festival Dugong? Ini pertanyaan menarik. Dugong atau ikan duyun bisa dipanggil masuk ke Pantai Mali dan mata wisatawan leluasa menyaksikan ikan itu pada saat pembukaan Festival Dugong di Mali. “Tahun 2009 saya bersama isteri menanam anakan mangrove dan bibit kelapa di Mali. Isteri saya malah protes. Mau urus anak kuliah atau urus tanam mangrove? Saya bilang kalau kita tidak tanam, merawat yang ada saya sudah cukup membantu menjaga kelestarian ekosistem pantai untuk masa depan alam dan lingkungan kita,” kata Onesimus Laa.
warga Alor dengan Kain Adat
Ones menjauh dari isteri, menyelam lebih dalam ke tengah arus Mali yang menantang. “Saat menyelam saya bertemu duyun. Saya mengakrabinya. Mengelus-elus badannya. Duyun itu akhirnya menjadi teman setia. Kapan saja saya bisa panggil ia akan datang seperti teman akrab. Dunia geger saat saya bersama tim WWF selam dan saya bisa akrab dengan duyun layaknya manusia. Sejak 2019, Pak Bupati Alor Amon Djobo menyelenggarakan Festival Dugong dihadiri langsung Pak Gubernur. Tahun 2020, Pak Gubernur datang lagi. Saya hadirkan dugong, duyun itu dan menjadi tontotan ribuan warga. Tahun 2021, Pak Gubernur berencana mengundang para duta besar negara-negara sahabat untuk datang menyaksikan langsung duyun dalam Festival Dugong di Mali,” ujar Ones.
Festival Dugong
Warga Alor I Gusti K Malua mengaku, Alor memiliki daya tarik luar biasa. Berbagai langkah yang diambil Bupati Amon Djobo dan jajaran Dinas Pariwisata Alor merupakan langkah cerdas mendukung program Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat yang menjadikan pariwisata sebagai prime mover, penggerak utama pembangunan NTT. Gusti, sarjana Bahasa Inggris lulusan Undana Kupang, mengaku di sela-sela menunaikan tugasnya sebagai guru ia juga diam-diam ikut membantu Dinas Pariwisata Alor mempromosikan potensi pariwisata akan makin dikenal dunia internasional.
Festival Dugong
“Langkah ini memang kecil. Namun, membantu Pemerintah Kabupaten Alor dan Dinas Pariwisata setempat mempromosikan berbagai destinasi wisata daerah adalah bagian tanggung jawab sebagai warga Alor. Cinta budaya dan pariwisata bisa kita wujudkan dalam bentuk promosi. Alor dan pulau-pulanya memiliki keunggulan di bawah laut seperti pulau-pulau kecil lainnya di NTT. Pesona sun set Alor tak jauh seperti memandang Pulau Semau dari Pelabuhan Tenau atau Bolok di Kupang,” kata Gusti Malua, Kepala SMP PGRI Alor. “Keunikan Festival Dugong ini adalah bagaimana pengunjung menyaksikan langsung om Ones berenang dan membawa langsung duyung ke bibir pantai kemudian dilihat langsung pengunjung,” kata Yanto Padabain, staf Dinas Pariwisata Alor.
Festival Dugong
Menarik wisatawan dunia
Tahun 2019, untuk pertama kalinya digelar Festival Dugong (Duyun) selama satu minggu yaitu mulai 19-25 Juli di Pantai Wisata Mali, Kecamatan Kabola, kurang lebih 12 kilo meter dari arah utara Kalabahi, kota Kabupaten Alor. Tujuan festival ini salah satunya mendorong semangat masyarakat setempat untuk mengembangkan pariwisata yang berbasis lingkungan dan alam (eco tourism). Juga bermaksud agar duyung atau dugong tetap dilindungi, tidak punah sehingga menjadi daya tarik turis dorang ke Alor. Termasuk turis lokal dari Lembata, pulau tetangga. Awal festival, diawali dengan prosesi kaka Ones berenang pigi panggil duyung, dugong di pesisir pantai Pulau Sika, kurang lebih 20 menit pelayaran dari bibir Mali. Di perairan Sika (bukan Kabupaten Sikka di Flores), ada “pasutri” duyung hidup bersama anak mereka selama bertahun-tahun.
Onesimus Laa
Kaka Ones seperti manusia sakti yang “pake pake”? Bisa saja. Laki-laki Alor berkulit legam ini sudah lama bertemu dan bersahabat dengan duyun. Itu tadi, sejak 1999 dan dikisahkan kaka Ones kepada wartawan Media Indonesia, milik Surya Paloh. Suatu sore, ketika Onesimus selesai menanam bakau di pesisir pantai Pulau Sika, ia turun ke laut untuk mengambil perahu. Saat kembali itulah, Onesimus melihat dua ekor dugong berenang di samping perahu. Seekor dugong berenang di depan perahu dan satu lagi berenang di belakang perahu. Dua dugong ini mengantar Ones hingga pantai Mali.Keesokan harinya saat dia kembali dari Sika, dua dugong tersebut kembali mengantar Ones. “Hari ketiga, saya lepas jangkar perahu dan tunggu. Dua ekor dugong itu muncul lalu saya mengulurkan tangan dan keduanya mencium tangan saya. Dari situ naluri dugong masuk dalam pribadi saya,” kata Ones.
Festival Dugong
Sejak itu, ia bersahabat dengan Dugong hingga saat ini, seperti terlihat saat dia memanggil dugong untuk bertemu pengunjung selama dua hari sejak Jumat (19/7) dan Sabtu. Begitu perahu tiba di lokasi kemunculan dugong, Ones kemudian memanggil nama mamalia tersebut mengunakan bahasa daerah Kabola beberapa kali. “Bu lamoli go, mao, hao,” ujarnya beberapa kali.Tidak kurang dari satu menit, seekor dugong jantan muncul dari arah depan perahu dan berenang mengelilingi perahu sekitar 10 menit sebelum diperintahkan pulang. Menurut Ones, dugong yang muncul tersebut memiliki panjang hampir tiga meter dan berat sekitar 300 kilogram. Dia menyebutkan, mamalia itu muncul sendirian karena sang betina tengah bersama anaknya. “Anak dugong belum bisa menyesuaikan diri dengan tamu sehingga tidak muncul,” kata Ones saat saya ngobrol dengan beliau (3/8) kemarin.
Festival Dugong
Prosesi tersebut bagian dari festival panggil dugong yang dibuka Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Saat membuka kegiatan, Viktor mengatakan festival tersebut akan dikembangkan agar berkualitas internasional, mulai dari fasilitas kapal, atraksi budaya, akomodasi, kuliner dan kerajinan rakyat sehingga menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru di Alor. “Persiapan festival dugong 40% bagus, tinggal dipoles lagi agar mendakati 100%,” ujar Viktor yang didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Jelamu, dan Kepala Dinas Periwisata NTT, Wayan Darmawan, dan sejumlah pejabat lainnya.
Menurut Viktor, pada festival panggil dugong ke-2 pada 2020, akan dihadiri Presiden RI, Joko Widodo. “Saya sudah lapor presiden dan akan hadir pada festival tahun depan,” kata Laiskodat kala itu. Viktor, mantan Ketua Fraksi NasDem DPR RI mengatakan, setelah seluruh persiapan rampung, kegiatan menonton dugong hanya dibuka dua kali dalam setahun. Hal itu bertujuan menjaga dan melindungi dugong bersama makanan dugong, yakni padang lamun di perairan tersebut. Nah, akhir pekan lalu selepas menjauh dari bibir pantai selatan Lembata, Viktor dan rombongan menyapa Mali. Dari Mali ada secercah asa, menjadikan Festival Dugong magnet baru menjadikan pariwisata NTT prime mover pembangunan. Dimulai dari bibir Mali nan eksotik, kabupaten yang dikawal Bupati Amon Djobo dan.kaka Ones, “manusia sakti” yang bisa panggil duyung untuk memanjakan mata turis (baca juga dalam https://radarntt.co/daerah/2020/amon-ones-dan-dugong/).
Jakarta, 4 Agustus 2020 Ansel Deri Orang udik dari kampung; staf Viktor Laiskodat di DPR
Ajip Rosidi, lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938. Ia tidak menyelesaikan pendidikannya hingga di Taman Madya (setingkat SMA) di Taman Siswa Jakarta. Dalam jagad sastra Indonesia namanya mulai dikenal sejak 1952. Ia menulis puisi, cerita pendek dan roman. Tak hanya dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis dalam bahasa Sunda. Ketika berumur 17 tahun, 1955, ia menerbitkan bukunya yang pertama dengan judul Tahun-tahun Kematian.
Ket. Foto Ajip Rosidi
Ajip Rosidi tidak saja terkenal piawi menulis sajak, cerpen, roman, tetapi ia juga penulis obituari yang mumpuni. Dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain, Sejumlah Obituari, Kepustakaan Populer Gramedia, Ajip Rosdi, sastrawan yang menulis sejak berusia 12 tahun ini, menulis dengan sangat indah dan berbagi kenangan tentang orang-orang yang pernah ia kenal dari orang-orang sederhana hingga orang-orang terkemuka. Dalam buku itu Ajip merefleksikan hidup dan sisi unik para sahabatnya seperti Pram, Rendra, Asrul Sani, Sobron Aidit, Ramadhan K.H., Utoy T. Sontani, Ali Sadikin, Moh. Gozali (seorang penjaga museum). Sikap kerendahan hati dan keakraban Ajip memampukannya menulis sisi humanis para sahabat yang ditulisnya.
Dengan gaya bahasanya yang memikat Ajip menggambarkan para tokoh
yang ditulisnya menjadi tokoh yang istimewa. Tentang Pram misalnya, ia menulis:
“Pram adalah individualis yang keras mempertahankan
hak-haknya dalam setiap kesempatan. Untuk itu dia tidak mengenal basa-basi.
Pada tahun 1976 ketika para tahanan politik Pulau Buru akan dibebaskan karena
tekanan dunia internasioanal, nama Pram termasuk yang pertama akan dibebaskan,
karena dialah yang paling dikenal di dunia internasional. Sebelum pembebasan
dilakasanakan, Panglima Kodam Maluku berkunjung dari Ambon ke Pulau Buru dan
diantaranya mengambil kesempatan untuk beramah-tamah dengan para tapol,
antaranya dengan Pram. Ketika Panglima bertanya kepada Pram , “Bagaimana Pak
Pram, selama di sini baik-baik saja, kan?”
Pram tidak menjawab pertanyaan basa-basi itu dengan basa-basi lagi, melainkan dengan tegas menunjukkan kenyataan bahwa sebagai tahanan politik dia bersama-sama dengan orang lain dirampas hak-hak sipilnya dan bahwa selama itu mereka tidak diperlakukan tidak sebagai warga negara merdeka. Tentu saja jawaban itu di luar dugaan Panglima, sehingga Panglima marah dan memerintahkan agar Pram jangan dulu dibebaskan. Karena itulah Pram baru dibebaskan dua setengah tahun kemudian.” ( “Pramoedya Ananta Toer Individualis Tulen”).
Pada tulisan yang lain “R. Satjadibrata, Penyusun Kamus Sunda
Pertama” Ajip mengisahkan:
“Ketika S. Takdir Alisjahbana sedang berceramah dalam Pekan
Buku Balai Pustaka di gedung Balai Pustaka Jl. Wahidin Jakarta, tanggal 26
Agustus 1969, seorang tua yang usianya sudah lanjut benar dengan
langkah-langkah goyah dan tangan gemetar, maju ke depan memotong pembicaraan
penceramah, meminta waktu untuk menyampaikan isi hatinya. S. Takdir Alisjahbana
yang mengenal orang tua tersebut, memberikan kelapangan waktu. Dia turun dari
mimbar dan orang tua yang sudah lanjut itu berdiri menggigil di depan mimbar
kemudian ditolong naik mimbar. Ia meminta maaf karena telah memotong
pembicaraan penceramah, tetapi tak bisa berbuat lain karena ia merasa takkan
sanggup mengikuti ceramah itu sampai habis lantaran uzur.
Kemudian ia mengungkapkan isi hatinya, yaitu pentingnya Balai
Pustaka menerbitkan buku-buku bacaan. Kalau tidak dapat menjalankan fungsinya
itu, dia menyarankan agar Balai Pustaka lebih baik ditutup saja. Dia juga
menyinggung nasib cetak ulang Kamus
Bahasa Sunda yang disusunnya dan sudah direvisi oleh Prof. Dr. Hoesein
Djajadiningrat namun keburu meninggal sebelum pekerjaan itu selesai namun
demikian kamus revisi itu tidak juga dicetak ulang. Orang tua tersebut tidak
lain R. Satjadibrata, pengarang kenamaan dalam bahasa Sunda, pernah lama
menjadi redaktur Balai Pustaka.”
Ajip, penulis Mengenang Hidup Orang Lain, Sejumlah Obituari, itu kini telah berpulang. Ia telah bersua dengan para sahabatnya yang pernah ia tulisi obituari mereka.
APA komentar Peter Drucker seandainya ia masih bisa membaca bahwa, dalam penilaian para pemuka lintas agama, birokrasi negara kita sangat rapuh sebagai akibat dari mudahnya para penegak hukum dipengaruhi uang? (Kompas, 21 Januari 2011). Salah satu kemungkinan Peter Drucker yang dijuluki “bapak manajemen modern itu” akan berpaling pada “bapak filsafat eksistianlisme”, Soren Kierkegaard (Drucker, 2010: 47-61).
Peter Drucker
Keabadian sebagai
Alteritas
Kierkegaard menjadi relevan karena menyadarkan kita tentang
adanya ketegangan dalam eksistensi manusia. Ketegangan itu terjadi antara
eksistensi manusia dalam waktu dan eksistensi manuasia di luar waktu. Kita
menyebut eksistensi manusia dalam waktu itu sebagai “hidup” dan menyebut
eksistensi manusia di luar waktu sebagai “ada” (being). Dalam dimensi “hidup” horison imajinasi manusia adalah
“mati”. Dalam dimensi “ada”, horison imajinasi manusia adalah “keabadian”.
Dalam ilmu administrasi, kita sudah belajar dari Stephen
Covey bagaimana “kematian” menjadi horison imajinasi bagi birokrat dan manajer
yang “proaktif” dan dengan demikian “efektif”. Di sini berlaku pula dalil
Heidegger, bahwa orang yang otentik ialah yang memiliki anticipatoryresoluteness terhadap
kematian karena manusia adalah Sein-zum-Tode
(Ada–ke-arah-kematian).
Orang proaktif, begitulah Covey, ialah orang yang peduli pada
apa yang dipikirkan para pelayat tentang dirinya tatkala dia sudah terbujur
sebagai jenasah. Bagi Covey, orang “efektif” ialah orang yang peduli pada
“kenangan” yang akan tetap tumbuh dalam hati dan pikiran banyak orang ketika
dirinya sudah tidak hidup lagi.
Dalam dimensi keabadian, kenangan orang-orang lain waktu kita mati bukanlah masalah utama. Masalah utama adalah bagaimana dalam hidup ini eksistensi sebagai “keabadian” dapat diaktualkan. Bagaimana dapat diwujudkan dalam perilaku konkret hidup sehari-hari di dunia sekarang, bahwa eksistensi kita punya dimensi “eternitas”. Dalam bahasa para agamawan, itu kurang lebih berbunyi bahwa eksistensi kita “tidak berasal dari dunia ini”.
Bagi Kiergegaard, dua dimensi itu berada dalam ketegangan.
Eksistensi dalam waktu mendorong manusia untuk berkembang biak, agar spesies
bertahan dan tumbuh kuat, untuk menafkahi hidupnya dan anak cucunya, untuk
meraih kekuasaan, kemuliaan, kejayaan. Eksistensi dalam keabadian mendorong
manusia untuk bergerak ke arah yang sebaliknya. Mengendalikan nafsu, sabar,
berani mengalah, bela rasa, selalu siap mengampuni, adalah beberapa sikap yang
dipupuk oleh eksistensi diri sebagai keabadian.
Penghayatan eternitas oleh eksistensi yang juga fana ini
tidak jarang menimbulkan kecemasan (fear
and trembeling). Bayangkan Anda bangun tidur dan tiba-tiba tersadar bahwa
suatu saat Anda akan mati, tetapi akan tetap “ada” dan tidak dapat men-delete “ada’ Anda.
Perwujudan eksistensi eternitas dalam dunia temporal sering
menimbulkan tragedi, bhkan juga di kalangan para pemuka agama. Secara tragis,
agama dapat “jatuh” dan berubah menjadi usaha pribadi atau usaha bersama untuk
mengakumulasi kekayaan, kekuasaan, kemuliaan, kejayaan duniawi. Buku harian
Soren Kierkegaard sendiri, memuat banyak kritik atas praktik “organisasi dan
administrasi” agama yang tragis.
Mengingat jauhnya perbedaan antara dua dimensi itu, bersama
Hannah Arendt bisa kita katakan bahwa dimensi keabadian ialah “alteritas” dari
dimensi keberwaktuan. Kita sering “banal”, “pragmatis” atau “mencari mudahnya
saja”, dengan menutup mata dan telinga terhadap “alteritas”. Eksistensi kita
sebagai keabadian tidak diajak berunding. Kita menganggap eksistensi
keberwaktuan sebagai eksistensi keabadian.
Suara Hati Birokrat
Dalam konteks pemikiran Hannah Arendt, birokrat dan penegak hukum yang tidak “banal” ialah birokrat dan penegak hukum yang peduli terhadap “alteritas” berupa eksistensi sebagai keabadian. Mereka mendengarkan suara keabadian, suara “yang lain” dalam diri, yang dalam bahasa sehari-hari disebut “suara hati” atau “hati nurani”.
Hannah Arendt
Dimensi keabadian perlu dipedulikan dalam perilaku profesional maupun perilaku sehari-hari, tidak hanya pada saat beribadah. Jangan sampai dalam perilaku profesional, para birokrat dan penegak hukum semata-mata bertindak atas “dorongan untuk hidup”, “mempertahankan kekuasaan”, atau “mencari kekayaan, kemuliaan dan kejayaan” yang lebih tinggi. Jangan sampai kita hanya bertindak berdasarkan “kebiasaan” begitu saja, tanpa memeriksa adakah yang kurang pas, kurang sreg, dilihat dari sudut keabadian. Jangan sampai kita bertindak hanya berdasarkan “semangat korps” atau “prosedur” semata, tanpa memperhatikan “suara hati” atau “suara keabadian”.
Bahkan dengan mengingat imbauan
Stephen Covey saja, birokrat dan penegak hukum kita semestinya berusaha peduli
pada bagaimana kelak hidupnya akan dikenang orang pada saat sudah meninggal,
tak hanya pada bagaimana bergelimang kekayaan dan kejayaan semasa hidup. Sikap
proaktif ini merupakan salah satu ciri dari birokrat yang “efektif”, yang akan
menyebabkan birokrasi kita tidak serapuh sebagaimana dikeluhkan para pemuka
lintas agama.
Namun, bagi Drucker, Kierkegaard,
Arendt, “efektivitas sosial” bukanlah ukuran yang memadai. Dengan efektivitas
sosial, birokrat kita akan sekadar menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan
yang ada, atau dengan “semangat korps” semata-mata. Kita bisa saja dikenang
sebagai “warga korps” yang “loyal”, bila tidak membuka korupsi yang dilakukan
secara beramai-ramai. Kita akan berusaha untuk dikenang sebagai “bukan raja
tega” oleh sanak kerabat yang menengadahkan tangan dan tak mau tahu darimana
asal uang bantuan itu. Akibatnya, akan muncul keluhan bahwa birokrat dan
penegak hukum kita rapuh, mudah tergiur oleh uang.
Dalam konteks ini, “mengambil nafas
satu menit” untuk berkonsultasi dengan “suara keabadian” dalam diri menjadi
sangat penting bagi para birokrat dan penegak hukum. Masalahnya, suara
keabadian itu mungkin hanya berbisik lirih, sementara suara keberwaktuan dengan
suara keras mendominasi ruang batin para birokrat, penegak hukum dan juga
politisi. Kita berharap para birokrat, penegak hukum dan politisi masih
mendengar desir keabadian yang lirih itu.
**************
Sumber Tulisan,Alois A. Nugroho, 2017, Rakyatisme
dan Esai-esai Lain, Jakarta, Penerbit Buku Kompas.
“Penulis tidak hanya membutuhkan kepintaran, tetapi juga keberanian untuk menulis.” ( Dumupa Odiyaipai ).
Hari itu di antium
Roma, selepas bertubi-tubi masalah menghantam Cicero, ia memanggil Tiro,
pengawal setianya. “Apa satu-satunya senjata yang kumiliki Tiro?” Cicero
bertanya, lalu menjawabnya sendiri, “ini,” ujarnya sambil menunjuk bukunya Kata-Kata. Caesar dan Pompeius punya
tentara, Crassus punya harta, Cloudius punya pengawal di jalan. Satu-satunya
tentaraku adalah kata-kata. Dengan bahasa aku meninggikan derajat dan dengan
bahasa aku akan bertahan.
Fragmen sejarah ini dapat di baca pada episode terakhir novel brilian Conspirata. Dan sejarah memang mencatat bahwa “Kata-Kata” lah yang membuat nama Cicero abadi sebagai orator Romawi yang paling brilian dan dikenang oleh sejarah selama lebih dari 2000 tahun. Ia menjadi orang pertama yang meraih jabatan tertinggi di republik Romawi, tanpa modal harta melimpah atau dukungan jabatan turun temurun(Dea Tantyo, 2017).
Buku Kata yang
Menghidupkan, Kumpulan Kata Inspiratif yang ditulis Yakobus Odiyaipai
Dumupa adalah buku yang ke-10 yang ditulisnya. Sebelumnya ia telah menulis 9
buah buku yang terdiri dari buku umum, novel dan puisi. Uniknya, anak dari
pasangan suami-istri Amatus Dumupa dan Theodora Goo ini menulis dan menerbitkan
buku dalam situasi dan kapasitas apapun yang dimuainya sejak masih kuliah,
menganggur, menjabat sebagai anggota Majelis Rakyat Papua, hingga menjabat
sebagai Bupati Dogiyai.
Naskah dalam buku Kata
yang Menghidupkan merupakan kumpulan kata-kata inspiratif yang telah ia
tulis dan dipublikasikan secara lepas di media sosial facebook. Lelaki asal suku Mee
ini, karena kegemarannya membaca, rupanya memahami betul bahwa seringkali
seseorang dihargai bukan karena kedudukan, melainkan kekuatan kata-kata. Banyak
tokoh dunia dikenang bukan karena harta atau kedudukan, tetapi dari apa yang
mereka perbuat dan ucapkan. Sokrates, Cicero, Dalai Lama, Confucius, Mahatma
Gandhi, adalah tokoh-tokoh yang pada zamannya bukan berlatar belakang orang
kaya dan berkedudukan. Mereka adalah orang-orang sederhana tetapi ‘kata-kata’
mereka memiliki daya, kekuatan untuk merubah peradaban.
Tradisi Membaca dan Menulis Inspirasi dari Hatta
Menulis adalah kebiasaan orang-orang besar. Orang-orang besar menjadikan menulis sebagai tradisi. Tradisi membaca dan menulis juga melekat pada diri Bung Hatta. Sepanjang 77 tahun masa hidupnya, ia sudah membaca dan mengoleksi 80 ribu judul buku. Rasa cinta Mohammad Hatta terhadap buku benar-benar mengangumkan. Ke mana Hatta tinggal menetap ke situ pula ribuan buku itu ikut serta. Ia dan buku ibarat dua sejoli. Saat meminang Rahmi Rachim, Hatta menyerahkan mas kawin yang unik: buku karangannya sendiri Alam Pikiran Yunani. Buku ini ditulis saat Hatta di buang ke Boven Digul. Di Boven Digul, disela-sela waktunya yang tertib, Hatta menyempatkan memberi kursus kepada orang-orang buangan sesamanya. Kursus itu tidak hanya menyangkut masalah politik, ekonomi dan sosiologi. Namun juga filsafat. Menurut Hatta, filsafat meluaskan pandangan serta memepertajam pikiran. Dari bahan-bahan kursus filasafat itulah lahirlah buku Alam Pikiran Yunani.
Yakobus Odiyaipai Dumupa, Penulis Buku “Kata yang Menghidupkan”
Yakobus Odiyaipai Dumupa, penulis buku yang produktif ini juga adalah seorang pemimpin yang menimba spirit kepemimpinannya dari membaca dan menulis. Kemampuan intelektual seorang pemimpin diukur dari kemampuan menulisnya. Menulis adalah jalan untuk menyelami kehidupan dan memaknai keberadaan diri. Dalam semangat menulisnya, Yakobus Odiyaipai Dumupa, mungkin membatinkan pepatah Latin ini “Verba Volant, Scripta Manen”—Lisan Sementara, Tulisan Abadi—.
“Pikiran dan hati yang baik merupakan kombinasi yang dahsyat. Namun jika engkau menambahkan lidah atau pena yang terasah, maka engkau memiliki sesuatu yang istimewa.” (Nelson Mandela)
Oleh Ansel Deri, Orang Udik dari Kampung, Penikmat Sastra
TAK BANYAK PENYAIR setia mengendus kata dalam jejak sepi. Si penyair kayanya perlu semacam mantra sakti lalu menepi di sunyi puisi. Doa sudah pasti: di tempat sepi di kaki gunung, misalnya. Kadang di kamar biara. Di tengah savana. Pun di altar Gereja. Memeluknya dengan riang. Chee, salah satunya. Pasangan burung Gereja pun ia pelototi (dalam imajinasi) demi kata yang ia cari kemudian hadir dalam bait-bait. Tatkala pasangan burung bercinta pun, mata penyair ini tak sudi berpaling.
Chee Nardi Liman
Chee, si penyair dalam Sisi Lain Tuhan, mengamati burung Gereja yang tengah dalam desah. Chee, si penyair (lengkapnya Chee Nardi Liman), menyadari diri di sisi Tuhan: ia seperti manusia biasa, umat yang tak pernah bebas dari dosa. Ia (manusia, umat) adalah makluk berlumur dosa karena, misalnya, kerap selingkuh. Dan syair itu lahir dari kedalaman hatinya; lebih pas batin. Ia (penyair) -tentu juga penikmat puisi & sastra umumnya- seperti membasuh jiwa dalam syair; menyadari diri sebagai yang lemah di hadapan Sang Sabda. Katanya, “Maaf Tuhan, hamba-Mu doyan selingkuh di bangku-bangku bait-Mu,” kata Chee dalam Birahi, salah satu bait dalam Sisi Lain Tuhan, antologi puisi perdananya.
Paling kurang puluhan karya sastra (baca: puisi) Chee dalam antologi ini menegaskan satu hal: kedekatan penyair dengan Tuhan sebagai sumber inspirasi. Seketika kedekatan itu menjelma puisi-puisi religi dalam antologi bersampul gelap. Tambahan ilustrasi seorang (katakan musafir) tengah meneteng lentere di tengah gulita malam adalah perjalanan sunyi membasuh jiwa dalam doa. Karena itu lahirlah puisi-puisi religi (banyak saya lihat begitu) ringkas dengan lokus kelahiran puisi bertautan jauh satu sama lain. Kluang, Wisma Gaspar, Wanno Gaspar (apakah identik dengan Wisma Gaspar Chee?), Yogyakarta, Wisma Sang Penebus, dan Weetabula.
Adakah pembaca atau tepatnya penikmat puisi Chee tahu dari beberapa sudut negeri ini lahir puisi-puisi indah penyair muda ini? Yogya, Wetabula okelah. Yogya? Dunia tahu. Ia kota tempat domisili Raja Yogya sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X. Pun Weetabula. Di Pulau Sumba, menyebut Weetabula, identik dengan pusat karya para imam Katolik dari Kongregasi Redemptoris (CSsR). Begitu juga Sumba adalah tanah kelahiran Umbu Landu Paranggi, penyair unik bergelar “mantan Presiden Malioboro”. Umbu, penyair kuda kayu bertangan dingin yang melahirkan banyak penyair berbakat seperti budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) atau si empunya Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi AG bahkan Ebiet G Ade, penyanyi dan pencipta lagu legendaris Indonesia.
Sedang Kluang? Tentu tak banyak yang tahu di mana letaknya. Tapi tidak demikian dengan Chee. Ia (Kluang) adalah kampung nun di udik, di lereng Labalekan. Tepatnya di Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Kluang, Belabaja dan Boto adalah tiga kampung atau dusun kecil mungil di Nagawutun yang familiar dengan Boto. Boto (desa Labalimut) adalah pusat Paroki St Joseph Boto dan bekas kota Kecamatan Nagawutun tempo doeloe sebelum pindah ke Loang, kota kecamatan saat ini. Kluang adalah dusun tempat awal gedung SMP Lamaholot Boto, sekolah swasta yang didirikan para kepala kampung tahun 60-an untuk anak-anak kampung di sekitar lereng Labalekan. Tahun 1997, sekolah menengah ini diambil alih pemerintah kemudian berubah nama jadi SMP Negeri 2 Nagawutun.
Desa Belabaja, Kabupaten Lembata
Sekolah ini menjadi lahan pengabdian Josef Ribu Liman, ayahanda terkasih penyair Chee, sebagai guru. Pun kampung tempat Marselina Jawang, ibunda Chee menghabiskan waktu membesarkan ketiga anaknya: Elfri Liman, Icha Liman, dan penyair Chee. “Chee salah satu murid kami yang pintar dan rendah hati. Ia anak yang kutu buku. Kami bangga dengan alumni seperti Chee dan pilihan hidupnya saat ini. Saya sudah pesan beberapa buku Sisi Lain Tuhan agar jadi bahan bacaan adik-adiknya dan kami para guru di almamater,” kata Konrad Soni Labaona, Kepala SMP Negeri 2 Nagawutun. Setahu saya, guru Ribu Liman dan isterinya adalah aktivis sosial keagamaan. Di masanya, tatkala masih mengabdi di Boto, Ribu Liman adalah pemimpin Ibadat Sabda tatkala pastor paroki turne ke luar stasi. Begitu pula sang isteri, ibu Marselina, adalah anggota koor dan penggerak ibu-ibu di dusun ini. “Kalau liburan, anak-anak saya juga akan menghabiskan waktu liburnya di Kluang. Selain ke Lamabaka, kampung halaman dan tanah leluhurnya,” kata ibu Marselina tatkala saya sambangi di Klua(ng) suatu waktu.
Bpk. Jos Ribu Liman dan Ibu Marselina Jawang, Orang Tua Chee Nardi Liman
Elfri dan Icha Liman, Kakak dan Adik Chee Nardi Liman
Satu diktum yang dikenal luas dari Paul Klee berbunyi: “Kunst macht sichtbar,” –Karya seni menyingkapkan-. Tentu pernyataan ini tidak mengatakan banyak tentang hakikat seni, yang sanggup membedakannya dari semua yang lain. Dan di sini memang kita tidak bermaksud melibatkan diri dalam diskursus tentang hakikat seni. Dengan mengutip ungkapan di atas hanya mau dikatakan bahwa hal yang sama penting dengan hakikat adalah makna seni, yang merujuk pada apa yang ditunjukkan oleh sebuah karya seni. Hanya dengan demikian sebuah karya seni tidak selesai didefinisikan dengan sebuah refleksi atas keindahan. Sebuah karya seni bukan sekadar sesuatu yang indah, dia adalah juga sesuatu yang berbicara tentang sesuatu. Dalam arti ini, seni dapat diletakkan sejajar dengan banyak kegiatan manusia lainnya, seperti refleksi ilmiah, keterlibatan politik atau aksi sosial.
Karya seni, entah musik, lukisan, tarian atau sastra membuka mata orang untuk menangkap sesuatu yang tidak mau atau tidak dapat dilihat. Karya seni menyentakkan orang untuk menangkap realitas yang mungkin dengan sengaja atau secara tanpa sengaja didepak ke wilayah yang tersembunyi. Wajah yang sengaja di sembunyikan dinyatakan, suara yang diredam atau didiamkan diangkat. Sebuah karya seni dapat memelekkan mata orang untuk menemukan sesuatu yang luhur, yang tertimbun di bawah kesemuan keluhuran yang diobral. Apa dan mereka yang dipinggirkan dan diabaikan, menjadi pusat perhatian dan keprihatinan. Melalui karya seni orang dibantu untuk menyadari dan mengakui keindahan yang masih terpancar dalam sebuah masyarakat yang terlanjur mendapat umpatan sebagai masyrakat biadab. Juga sebaliknya, sebuah karya seni dapat mengungkapkan kebobrokan yang menyebalkan di balik kegemerlapan yang dipamerkan.
Dalam pengertian di atas, karya seni adalah sebuah medium pengetahuan. Pemirsa dan pembaca tidak hanya ditempatkan pada posisi penikmat yang hanyut dalam suasana emosional, tetapi sekaligus disapa sebagai makhluk berintelek, kepadanya disuguhkan sejumlah informasi. Namun informasi yang diberikan tidak bertujuan memperbanyak perbendaharaan pengetahuan objektif akan sesuatu, tetapi agar orang meneruskan perolehan pengetahuan dalam imajinasinya sendiri. Pengetahuan yang disuguhkan adalah rangsangan untuk sebuah petualangan imajinatif melampaui apa yang dilukiskan. Objek kesenian menarik kita kepada dirinya, untuk, setelah dibekali dengan sejuta data penting, kembali melepaskan kita ke dalam sebuah petualangan interpretasi. Sebuah karya seni menyingkapkan sesuatu, yang pada gilirannya akan menjadi awal dari sebuah proses penyingkapan yang berkelanjutan.
Kegiatan menikmati dan menginterpretasi sebuah karya seni adalah sebuah keterlibatan di dalam alur penyingkapan makna tersebut. Untuk itu memang mutlak disadari perbedaan antara tanda dan yang ditandakan, antara pernyataan dan maksud, atau antara isi dan bentuk. Apabila orang menolak makna dalam karya seni, maka orang akan berputar pada bentuk yang merangsang rasa indah dalam diri pemirsa.
Dalam diskursus tentang estetika, ada perbedaan pendapat tentang kualitas sebuah karya seni. Ada yang melihat nilai sebuah karya seni sebagai objek estetis. Pandangan seperti ini hanya memperhatikan apa yang dirasakan oleh pemirsa atau pembaca. Di sini yang menjadi kriteria sebuah objek estetis adalah entakah pemirsa atau pembaca merasa tersentuh atau tidak, entahkah sebuah karya itu sanggup membangkitkan dalam diri pemirsa atau pembaca suatu perasaan kagum yang menghanyutkan. Konsep ini dikritik karena dianggap memutarbalikan objek estetis dengan karya seni. Seharusnya, yang disebut sebagai karya seni adalah karya yang mengatakan sesuatu. Sebuah karya seni tidak berhenti di dalam dirinya.
Karena itu sebuah karya seni mesti dibedakan dari objek estetis. Karya seni menunjukkan sesuatu, yang berbeda dari dirinya, tetapi yang tak bisa dilepaskan dari dirinya. Kita dapat menyebutnya sebagai sebuah simbol untuk sebuah makna. Makna menjiwai seluruh karya itu dan menjadikannya sebuah karya seni, sehingga karya itu mampu berbicara, memiliki makna.
Tentu serentak diingatkan bahwa dengan memahami karya seni sebagai karya yang meneruskan pengetahuan, kita tidak bermaksud mengatakan bahwa dalam sebuah karya seni kita menjumpai data-data objektif tentang sesuatu. Kita memiliki data realistis, namun kita tidak berhenti pada data-data realistis itu, sebab tujuannya adalah membawa kita melampaui data-data objektif yang ada. Memang ada karya seni yang tidak mengandung data empiris, karya itu hanya memaparkan suatu penyimpangan dari keadaan sebenarnya. Namun penyimpangan itu disadari dan dikehendaki, dan seorang pemirsa atau seorang pembaca diberi bantuan secukupnya untuk menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan sebuah kamuflase dari kenyataan empiris.
Pemaparan realistis mesti ditunjang oleh sejumlah data yang objektif, saat seorang pengarang sastra misalnya menyebutkan secara eksplisit setting ceritanya, membatasi tempat atau waktunya. Semakin dipersempit setting sebuah kisah, semaikn tinggi kebutuhan akan akurasi data yang dipaparkan, tetapi semakin dituntut pula kecakapan seorang pengarang untuk tetap menciptakan ruang simbolis di dalam kepadatan data itu. Di satu pihak kita berhadapan dengan kenyataan bahwa sebuah karya seni yang melukiskan sesuatu secara tidak benar, hanya akan menimbulkan perasaan dibodohi dalam diri pemirsa atau pembaca, dank arena itu gagal membawa misinya sebagai sebuah karya seni. Pada pihak yang lain, pembatasan yang terlampau ketat akan meniadakan ruang imaginasi dan mematikan sebuah karya seni. Sebab itu, karya seni, secara khusus seni sastra, sebenarnya hidup dari dialektika antara identitas apa yang dipaparkan dan makna yang hendak disampaikannya.
Apa yang diuraikan di atas, menemukan ungkapan hermeneutisnya dalam pengertian-pengertian dunia empiris yang menjadi referensi dan dunia potensial atau dunia proyeksi yang menjadi makna dalam filsafat Paul Ricoeur. Dunia referensi adalah dunia yang sedang dilukiskan dalam sebuah karya seni, entah itu dunia riil atau dunia imaginatf. Dunia ini adalah apa yang dibicarakan, referensi, sebuah dunia di luar relasi linguistis teks. Pada pihak lain, dunia proyeksi adalah dunia yang menjadi tujuan dari pembicaraan, dunia kepadanya seniman mengajak pemirsa atau pembaca untuk bertualang. Ini adalah makna dari sebuah teks. Makna, sense, sinn, adalah satu jaringan relasi dari unsur-unsur internal teks. Makna adalah dunia yang dicita-citakan, yang diproyeksikan oleh teks. Di dalam makna terungkap apa yang seharusnya di tengah realisme yang dihidupkan oleh apa yang ada. Dengan ungkapan lain, dunia pertama adalah subjek dari sebuah kalimat. Subjek mesti dijelaskan, sehingga orang dapat memperoleh bayangan tentang apa yang dibicarakan. Peran identifikasi subjek membantu kita mengetahui apa yang dikisahkan, peristiwa yang dituturkan. Sementara dunia proyeksi adalah predikatnya, yang membuka kembali identifikasi subjek ke arah yang lebih luas, ke sebuah dunia di depan teks.
Sebuah karya sastra membutuhkan identitas peristiwa yang tertentu, yang menjadi dasar bagi perluasan dalam pencarian makna dalam prekasi. Identitas mengandaikan adanya pengetahuan. Pengarang hanya dapat membeberkan sebuah peristiwa secara benar apabila dia memiliki pengetahuan tentang itu. Tetapi dia harus memiliki kesanggupan untuk menuturkan pengetahuan itu sedemikian, sehingga predikasi dimungkinkan. Seorang seniman harus mengetahui apa yang dikisahkannya, untuk dapat melukiskannya secara meyakinkan, dan dengan demikian menciptakan sebuah kondisi yang menjadi dasar bagi petualangan individual para pemirsa atau para pembaca.
Di sinilah letak dilema yang dapat ditemukan dalam sebuah karya seni, secara kuhusus sastra. Seorang pengarang dapat melukiskan secara sangat mendetail sesuatu, tanpa membiarkan kita mengetahui apa yang sebenarnya hendak dikatakan dengan pelukisan itu. Pelukisan yang sekian mendetail dapat menjadi alasan bahwa sebuah karya gagal sebagai karya sebuah karya sastra karena tidak memberikan ruang untuk imajinasi pembaca, sekaligus tidak berhasil sebagai suatu karya ilmiah karena masih tetap mencoba memberi ruang kebebasan bagi pemirsa dan pembaca.
Bahaya seperti ini cukup besar dijumpai dalam diri para pengarang yang mencoba menuliskan sesuatu yang belum banyak dikenal. Terdorong oleh hasrat untuk memberikan sebanyak mungkin pengetahuan, seorang pengarang dapat menjejali pembaca dan pemirsa dengan sekian banyak informasi. Tak ada ruang tersisa untuk memberikan arah ke mana semua hendak menuju.
Penyingkapan kedua dunia dan bahaya yang terkandung di dalam upaya penyingkapan itu dapat dicermati kalau kita membaca novel ini. Ata Mai, Sang Pendatang adalah satu bentuk penyingkapan yang membawa orang kepada beberapa kenyataan yang tersembunyi atau disembunyikan. Novel ini menyingkapkan sebuah wilayah dari suatu kelompok masyarakat yang belum banyak menjadi pusat perhatian dalam percaturan politik dan kalkulasi ekonomi berskala besar. Secara cukup detail pengarang membawa kita ke beberapa kota dan desa di Flores. Memang terkadang pengarang terjebak dalam keinginan besar untuk melukiskan sebanyak mungkin hal yang dianggap baru dan penting diketahui pembaca, sehingga dapat muncul kesan, novel ini tak banyak berbeda dari sebuah laporan perjalanan dan mendekati sebuah jurnal peneliti antropologi. Selain itu, kegiatan penelitian yang demikian dinamis melompat dari satu aktivitas yang lain, tidak memberi waktu untuk pembaca untuk berdiam diri. Novel seakan mewartakan suatu aktivisme di tengah pengagungannya akan keheningan dan ketenangan alam pedesaan.
Tetapi mungkin di sinilah letak keunggulan dari novel ini, yakni teknik pemilihan tokohnya. Pengarang memilih Lila, seorang peneliti sebagai tokoh utamanya, dan bagi seorang peneliti antropologi, keterbukaan bagi hal-hal yang baru, kekaguman dan minat yang besar akan kebudayaan yang dijumpai adalah syarat yang utama. Kita di bawa oleh pengarang untuk mengalami bersama peneliti berbagai macam hal baru yang dilihat dan didengarnya.
Mengetahui, mengenal sesuatu berarti menangkap secara lebih tajam berbagai nuansa yang terdapat di dalamnya, menjadi sadar dan mengakui bahwa sesuatu itu jauh lebih kompleks dari kesan awal tentangnya. Dunia referensi, tentangnya pengarang hendak menawarkan kita sejumlah pengetahuan, memiliki juga sekian banyak nuansa.
Di dalam novel ini pengarang membawa kita untuk mengetahui dan mengenal kompleksitas kenyataan dan permasalahan suatu kelompok masyarakat yang sedang berada dalam satu tahapan perubahan. Biasanya, semakin jauh suatu kelompok masyarakat dari jangkuan perhatian kita, semakin mudah kita jatuh dalam stereotipe kalau hendak menilai mereka. Dengan relatif mudah kita akan menggunakan kategori-kategori besar untuk mendeskripsi-kan mereka. Tokoh Bimo dalam novel mewakili cara pandang jarak jauh yang menggeneralisir. Akan segera menjadi nyata, bahwa di bawah bayang-bayang kategori besar itu banyak individu kehilangan individualitasnya. Keberagaman warna sebuah masyarakat hilang dalam pandangan yang menyamaratakan. Dengan kesadaran yang patut dipuji pengarang mengarahkan perhatian kita pada satu kelompok masyarakat. Terkesan kuat bahwa pengarang berusaha melawan satu cara pandang yang menggeneralisir itu.
Ketajaman mata seorang peneliti menyingkapkan tabir pandangan tentang suasana kampung yang tak bernoda, dalamnya warga masyarakat hidup dalam satu keharmonisan yang membahagiakan. Pandangan yang nostalgis tentang masyarakat desa di perhadapkan dengan sebuah pemaparan yang hidup tentang berbagai ketegangan dan ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat desa. Secara khusus perhatian kita diarahkan kepada nasib kaum perempuan dan anak-anak yang kurang diperhatikan. Dengan ini, novel ini tidak hanya mengundang untuk melihat satu wilayah dan sebuah kelompok masyarakat yang berada dipinggiran perhatian pada tingkat nasioanal, tetapi juga membuka tabir peminggiran yang juga terjadi di dalam masyarakat desa itu.
Pada awal kedatangannya masih ditulis kalimat seperti ini sebagai kesan pertama:
Sesungguhnya mereka orang-orang kaya, yang berlimpah kasih sayang dan persaudaraan. Kehidupan yang tenteram karena di tempat ini uang tidak menjadi Dewa. (hlm. 87).
Setelah mengalami sejumlah peristiwa Lila mesti mengatakan:
Hampir enam bulan berada di Flores, dan mengalami berbagai peristiwa. Hidup bukan sesuatu yang mudah, bukan sekedar kesenangan menerima gaji berbelanja di pertokoan atau menghabiskan uang dengan berekreasi atau membeli benda-benda koleksi dan hobi. Banyak hal mewarnai kehidupan. Ibarat pelangi, selama ini hanya warnah putih dan merah yang kulihat, tetapi di Flores aku mengenal warna jingga, hijau, biru dan ungu. (hlm. 420).
Maria D. Andriana, Penulis Novel “Ata Mai, Sang Pendatang”.
Selain itu, pengarang mengantar kita untuk menyadari banyaknya perubahan yang tengah terjadi karena mobilitas manusia dan arus informasi. Juga seorang peneliti, yang merekam apa yang dikira masih asli pada sebuah masyarakat, mesti menyadari bahwa kehadirannya sedang membawa perubahan ke dalam tatanan sosial itu. Di tengah gelombang perubahan yang tak terelakan itu, apakah satu kebudayaan asli akan tergilas dan hanya direkontruksi menjadi objek sebuah tontonan? Keseluruhan novel mengungkapkan sebuah dilema antara keinginan untuk mempertahankan kebudayaan yang sudah dibangun leluhur dan ketakberdayaan menemukan bentuk yang memadai untuk menyelamatkan kebudayaan itu dalam konteks yang berubah. Menulis sastra seperti ini adalah satu upaya untuk menyingkapkan apa yang pernah ada sedang berubah. Namun sebuah transformasi budaya yang kreatif tidak dapat dilaksanakan hanya dengan dokumentasi. Ada contoh yang mesti mengingatkan kita:
Di halaman belakang terdapat contoh bangunan rumah adat suku Lio yang dibuat dengan sempurna, tetapi kemudian terlantar tanpa perawatan, berdebu, terbakar matahari, dan tersapu angin laut yang membuatnya kusam. Ke-beradaannya hanya sebagai tanda bukti bahwa kota ini mpunya contoh rumah adat. (hlm. 24).
Satu proses pengenalan yang menerobos sekat-sekat kategori-kategori besar untuk menangkap perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam satu kolektivitas, akhirnya bermuara pada kisah cinta antara Lila dan Sam, seorang pemuda Flores. Tampaknya pelukisan kisah cinta itulah yang menjadi inti dari novel ini. Petualangan Lila, si Ata Mai, si orang asing di Flores, bukan hanya dan bukan terutama pergumulan seorang peneliti sosial yang berhadapan dengan sekian banyak pengalaman baru, tetapi agaknya pergolakan batin seorang perempuan yang terlibat dalam sebuah jalinan percintaan dengan seorang lelaki dengan sebuah latar belakang yang berbeda. Dunia batin seorang perempuan, yang terombang-ambing antara janji karier seorang wanita post-modern yang ditawari pekerjaan di Kanada, disingkapkan secara cukup jelas. Pada pihak lain, kita berhadapan dengan Sam, seorang lelaki yang tertutup dan penuh teka-teki.
Dengan teknik seperti ini pengarang novel menunjukkan bahwa yang menjadi Ata Mai bukan hanya dia yang datang dari luar. Ada pula orang asing di lingkungan sendiri, malah di dalam keluarga sendiri. Sebaliknya, persoalan kedekatan tidak terutama ditentukan oleh rahim yang melahirkan dan tanah yang memberi makan. Jika yang asli dapat dikonotasikan dengan yang dikenal, padanya orang merasa krasan, maka dapat terjadi bahwa yang asing menjadi asli, dan yang asli justru menjadi asing. Yang asli tidak selalu berarti yang jauh dan ditolak, dan yang asli tidak identik dengan yang dekat dan bersahabat. Berbagai pengalaman kepahitan telah mengunci hati Sam, menjadikannya orang yang sulit didekati dan dipahami, juga oleh orang tua dan saudarinya sendiri. Pada pihak lain, novel ini melukiskan, betapa dua perempuan yang berbeda asal namun seusia, Inez, saudari Sam, dan Lila, dapat sekian cepat menjadi sahabat yang sangat akrab.
Namun adalah terlalu naïf untuk mengatakan bahwa persoalan asing dan asli hanyalah masalah relasi antara dua manusia. Lingkungan dengan stereotipenya masih mempunyai peran yang sangat menentukan. Dengan menjadi sahabat dari Inez dan kekasih dari Sam, Lila belum menjadi seorang asli yang memahami semuanya dan bersahabat dengan semua orang di kampung. Tetap ada orang yang menolaknya, bukan hanya para rival Sam dan keluarganya, tetapi juga sejumlah orang yang memandang kehadirannya sebagai sebuah ancaman untuk keamanan kehidupan mereka. Sementara itu, masih ada banyak hal yang terus tersembunyi, yang tak tersingkap, yang tak dipahami. Lila menolak dan menunjukkan ketak-mengertiannya atas sikap Inez yang terlampau merendahkan dirinya sendiri sebagai perempuan.
“Kalau kau melamar ke Pemda bisa jadi camat, “candaku. Inez mencibirkan bibir
“Aku perempuan, susah mendapat posisi di daerah seperti ini, laki-lakilah yang menjadi camat atau bupati.” (hlm. 62).
Praktik penomorduaan perempuan adalah satu hal yang ditolaknya dan karena itu menjadikannya asing di tengah kaum laki-laki dan sebagian perempuan yang terkondisi oleh sistem yang didominasi kaum laki-laki. Selain itu, yang bertahan sebagai sebuah teka-teki yang tak terjawab adalah Sam. Lelaki yang dikasihimya itu adalah satu sosok yang asing dan tak terpahami, juga pada kunjungannya yang kedua ke Flores, setelah meninggalkannya selama tiga tahun.
Ata Mai menyingkapkan kenyataan, bahwa akan selalu ada sesuatu yang asing, yang tak terpahami di dalam setiap perjumpaan. Ketegangan yang diciptakan di dalam novel ini antara keriangan dan keringanan persahabatan yang cepat dan mudah antara Lila dan sejumlah besar tokoh lain, dan kesulitan untuk mendekati dan sungguh-sungguh memahami Sam, mengungkapkan kemustahilan sebuah obsesi bahwa manusia bisa mengenal secara paripurna. Selalu ada yang tersisa, yang asing. Setiap orang adalah Ata Mai bagi orang lain, dan bagi dirinya sendiri. Setelah menerima akhir yang menyedihkan dari kisah-kasih mereka, Lila mengatakan kepada dirinya sendiri:
Betapa munafiknya, satu sisi diriku menantinya tetapi, sebagian lain menolaknya. Sejauh ini hidupku selalu beruntung dan nasib baik selalu menyertaiku. Sekarang aku merasa dikalahkan oleh seorang gadis kecil yang bukan siapa-siapa! (hlm. 530).
Sikap paling tepat berhadapan dengan yang asing itu, adalah menghormati.
Sastra memang menyingkapkan, tetapi ada bagian dalam diri manusia yang masih tersembunyi, yang tak kuasa disingkapkan, juga tidak oleh sastra. Yang dapat dibuat sastra adalah menyadarkan orang akan adanya wilayah yang belum tersingkapkan ini dalam setiap orang. Kalau kita berbicara tentang dunia di depan kita, dunia yang diproyeksikan oleh pengarang, maka boleh jadi elemen ini yang hendak digarisbawahi, bahwa kita perlukan sikap saling menghargai secara tulus. Kita boleh dan harus selalu berusaha menemukan sebanyak mungkin kesamaan di antara kita, tetapi kita tidak akan pernah sampai pada sebuah pengenalan paripurna akan manusia. Yang rahasia, yang patut dihargai dan yang diterima kekhasannya, bukan hanya kebudayaan yang beragam, tetapi juga setiap diri manusia yang dijumpai.
=====================
*Tulisan ini adalah Kata Pengantar dalam Novel Ata Mai, Sang Pendatang, Galang Press
KEHADIRAN partai sebagai alat perjuangan politik bagi kemaslahatan rakyat sungguh disadari segelintir elite negeri di Indonesia. Tatkala kran keterbukaan menganga menyusul berakhirnya sistem politik otoritarian Orde Baru ke sistem demokratis, peran partai politik kian disadari sangat vital para elite. Tatkala sistem demokratis diterapkan saat bersamaan memberi peluang perubahan terhadap dinamika kehidupan politik nasional.
Sejarah politik Indonesia mencatat ada segelintir elite bangsa terpanggil melahirkan partai sebagai sarana dan alat perjuangan politik guna meraih cita-cita besar bagi kebaikan atau kesejahteraan umum, bonum commune. Partai diyakini menjadi salah satu institusi penting dan instrumen strategis bagi pertumbuhan dan perkembangan demokrasi. Ia (partai) muncul sebagai salah satu pilar penting demokrasi. Para pakar juga meyakini bahwa tanpa partai politik demokrasi tak akan efektif bekerja.
Salah satu elite bangsa, Surya Dharma Paloh, adalah segelitir dari elite bangsa yang memenuhi panggilan mengabdi bangsa dan negara melalui partai. Pengusaha dan tokoh pers nasional dari Kuta Raja, kota Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam itu menghadirkan NasDem, di mana ia tampil sebagai sosok penting di balik kehadiran partai yang mengusung tagline Restorasi Indonesia. Surya memahami poin penting sikap kenegarawanan sebagai sebuah kebutuhan terbesar dan panggilan luhur.
Kepentingan komunal
Apa makna politik bagi Surya, paling kurang ada beberapa catatan. Pertama, politik tak dipahami sekadar merebut dan mempertahankan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Pemahaman mesti bergerak lebih ke dalam yaitu memikirkan kepentingan rakyat dalam artian sesungguhnya. Bila politik dimengerti sebatas merebut kekuasaan maka makna paling esensial politik tergerus.
Poin ini hendak menegaskan bahwa para elite partai yang tengah mengabdi di jalur politik memiliki misi kolektif menunaikan tugas-tugas partai meraih kesejahteraan bangsa dan negara. Kerja politik tak boleh dipatok untuk kepentingan kelompok tetapi demi kebutuhan dan kepentingan yang lebih luas yaitu kemaslahatan bersama.
Tak berlebihan Surya setia mengingatkan pentingnya makna dan pemahaman esensi politik bagi para elite internal. Misalnya, saat hadir dalam acara syukuran dua tahun Fraksi Partai NasDem DPR RI periode 2014-2019 di Lt 22 Gedung Nusantara 1, kompleks DPR/MPR RI Senayan, Jakarta. Ketua Fraksi (kala itu), Viktor Bungtilu Laiskodat mengundang Surya memberikan nasehat dan arahan kepada anggota fraksi bekerja dengan sumber daya, resourches yang dimiliki agar kerja politik kian berdaya guna. Para elite (kader) juga semakin memahami esensi partai dalam kerja-kerja politik demi kebaikan umum. Meski bicara secara internal, pesan ini tentu juga bagi elite lainnya.
Kedua, di tengah kehidupan yang penuh tantangan, para elite partai senantiasa diharapkan tetap berkonsolidasi, berbenah, dan berkontribusi maksimal bagi bangsa dan negara. Para elite setia mengambil peran politik, tidak sekadar berpikir mengedepankan kepentingan partai tetapi memikirkan kepentingan negara yang lebih luas. Partai mesti rela melepaskan kepentingan sesaat namun terus menyasar dan sanggup berkorban demi kebaikan bersama.
Pilihan sikap setia memberi arahan, nasehat kepada para elite internal sebagaimana dilakukan Surya dalam berbagai kesempatan ialah langkah tepat yang bertujuan memastikan satu hal penting tentang arti dan makna esensial dari politik. Bahwa esensi politik selalu berkiblat atau mengabdi kepentingan umum. Dengan demikian, partai perlu menawarkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki kepada masyarakat yang merupakan muara dan pengabdian politik.
Mengapa tawaran keunggulan politik ini penting? Itu tak lain bertolak dari konsep ideal politik yang memiliki orientasi menjawab kepentingan bersama. Selain itu dalam praksis hidup politik kerap dibelokkan segelintir elite sehingga tujuan mulianya dibajak di tengah jalan. Politik berpotensi berbelok arah, berubah menjadi anak tangga menggapai kepentingan pribadi atau kelompok. Bila itu terjadi esensi politik tergerus.
Panggilan suci
Dalam Restorasi: Rekonstruksi Menuju Keberadaban Politik (2007), Surya mengapresiasi tema restorasi NasDem, partai yang ia dirikan. Kata Surya, Restorasi Indonesia sebagai tagline semangat perjuangan untuk melakukan perubahan bangsa ke arah lebih baik merupakan pilihan tepat, atraktif, dan inspiratif. Restorasi sebagai upaya melakukan rekonstruksi menuju pemberdayaan politik menjadi salah satu tawaran yang tepat.
Tak berlebihan di tangan Surya dan para elitenya pada Pemilu 2019 NasDem mendulang sukses kemudian mengantar partai itu masuk peringkat lima besar dengan perolehan 12,6 juta suara. Sukses ini bertolak dari semangat Restorasi Indonesia yang diusung dan nilai-nilai yang dipegang dan diperjuangkan selama ini.
Karena itu bila ada hal-hal terkait kinerja partai ia serahkan kepada masyarakat untuk menilai apakah partai melenceng dari semangat tujuan awal atau tidak. Baginya, tidak ada tempat bagi kader bila dia inkonsisten. Bahkan alangkah bodohnya bagi Surya sebagai pendiri dan ketua umum membuang waktu, tenaga, pikiran, energi yang dimiliki tanpa ambisi untuk satu kekuasaan formal yang ingin dicapai kalau bukan hanya karena niat baik semata-mata. Di sini, politik adalah panggilan suci mengabdi rakyat, meski kerap dilihat dalam wajah berbeda seperti berikhtiar dengan kotor.
Menurut Frumen Gions dalam Gereja Itu Politis (2012), kita hidup dengan pemahaman dan bahkan keyakinan bahwa politik itu sama dengan tipu muslihat dan laku tercela. Berpolitik berarti berikhtiar dengan kotor, bergelut dengan dusta, bertingkah dengan kasar dan berjuang dengan korup. Politik adalah wilayah penuh intrik, dendam kesumat. Padahal, kenyataan-kenyataan buruk bisa muncul dalam kehidupan bersama lantaran kita sendiri tak punya sensivitas untuk kehidupan sosial.
Dalam benak Surya, boleh jadi politik merupakan aspek kehidupan manusia yang punya nilai fundamental dan menarik. Politik adalah ruang publik, muara aneka kepentingan manusia. Entah elite, aparat, pers, petani, tukang sayur, guru, mahasiswa, supir, cleaning service, petugas pom bensin, tukang cukur, dan lain sebagainya. Ini menunjukkan esensi politik sesungguhnya. Lewat NasDem Surya menunjukkan dirinya laksana surya, suluh kemudian mendermakan tenaga, pikiran, dan uangnya melalui karya sosial maupun politiknya bagi banyak orang.
Harian Media Indonesia (14/7 2020) menyebut Surya Paloh sebagai inspirator kaum muda membangun negeri. Ia tokoh politik, tokoh pers, dan pengusaha sukses. Namanya tak asing di Tanah Air dengan segudang pengalaman dan prestasi. Di kalangan pengusaha nasional, Surya dikenal sebagai sosok bertangan dingin dalam menjalankan roda bisnisnya. Pidato politiknya selalu membakar semangat sehingga kerap disebut sebagai singa podium namun berhati lembut, asyik berdiskusi.
Jejak panjang pengabdian Surya dalam politik dapat dibaca dalam beberapa aspek. Pertama, politik perlu dipahami dari esensinya untuk menata kehidupan masyarakat yang berpatok pada prinsip keadilan. Mengapa hal ini penting? Konflik politik berpotensi lahir dan dapat menyandra rakyat. Dengan demikian dituntut kesadaran kolektif elite dan rakyat dalam berpolitik.
Kedua, elite di semua level perlu memahami peran politiknya menata kehidupan guna mewujudkan cita-cita meraih kebaikan bersama agar lebih sejahtera, berkeadaban, dan berkeadilan. Mengapa? Politik tak sekadar urusan merebut dan mempertahankan kekuasaan. Ia mesti dipahami dalam terang iman sebagai peluang tepat menjadi berkat bagi sesama. Selamat Ulang Tahun ke-69, Pak Surya Paloh. Pengabdianmu adalah inspirasi anak bangsa dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote.
FILSUF Italia, Giorgio Agamben, dewasa ini mendapatkan tempat khusus dalam khazanah pemikiran politik Barat. Karya-karyanya, terutama Homo Sacer dan State of Exception, sangat berpengaruh dan memicu perhatian lintas-disiplin dalam dunia intelektual Barat.
Lahir di Roma pada 22 April 1942, Agamben menyelesaikan studi doktoral bidang hukum dan filsafat di Universitas Roma dengan disertasi pemikiran politik Simone Weil, dan mengikuti kuliah-kuliah Martin Heidegger mengenai Hegel dan Heraklitos sebagai peneliti pascadoktoral. Agamben pernah mengajar di berbagai universitas, antara lain Academia di Archittetura di Mendriso (Universita Della Svizzera Italiana), Universitas IUAV Venezia, Collegge International de Philosophie Paris.
Negara Demokrasi dan Keadaan-Darurat
Demokrasi umumnya selalu dibayangkan sebagai tatanan politik
yang mampu mewujudkan kepastian hukum, pelembagaan hak-hak sipil dan pembagian
kekuasaan menjadi eksekutif, yudikatif dan legislatif. Hukum dalam negara
demokrasi selalu tampil membawa janji tentang kesetaraan, keadilan, dan
absennya kekerasan dalam kehidupan bersama. Namun dalam kenyataannya, menurut
Agamben, dalam negara demokrasi kepastian hukum sering di tangguhkan, prinsip
pemisahan kekuasaan diabaikan, dan hak-hak sipil dilanggar ketika negara
tersebut mengalami ‘keadaan darurat’ seperti perang saudara, revolusi, invasi
asing, pemberontakan atau ancaman terorisme. ‘Keadaan-darurat’ senantiasa dicirikan
oleh penangguhan hukum (suspension of law)
yang konon bertujuan melindungi masyarakat dari kekerasan. Garis pemisah
kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif dihapus, sementara kekuasaan
militer diperluas hingga menjangkau urusan publik yang lebih luas dari sekedar
urusan pertahanan. Situasi inilah yang oleh Agamben disebut sebagai
penyelenggaraan ‘keadaan-darurat’ atau ‘keadaan-pengecualian’ (state of exception).
Agamben kemudian menunjukan asal mula penyelenggaraan
‘keadaan-darurat’ dan hubungannya dengan tatanan demokrasi. Menurut Agamben,
demokrasi sejak awal merupakan kekaburan antara kekuatan yang melahirkan
kekuasaan politik dengan kekuatan yang menjalankan kekuasaan politik. Sejak era polis Yunani, demokrasi selalu merupakan
tumpang tindih antara rasionalitas politik yuridis konstitusi dan rasionalitas
manejerial-administratif pemerintahan. Kata politeia
secara ambigu diterjemahkan sebagai konstitusi sekaligus administarasi
pemerintahan. Padahal, dalam khazanah Yunani, sesungguhnya telah terkandung
kata politeuma untuk merujuk pada
kehendak bersama, kedaulatan rakyat dan konstitusi. Yang terjadi kemudian
adalah politeia dalam pengertian
kekuatan-pembentuk-konstitusi dan politeuma
dalam pengertian kekuatan-pelaksan-konstitusi menjadi tak terpisahkan dan
melebur ke dalam satu sosok, kyrion,
yang diterjemahakan Agamben sebagai kekuasaan-berdaulat (the souverign power).
Agamben menilai, polis
Yunani telah mewariskan dualitas politeia
dan politeuma sebagai landasn politik
Barat hingga saman demokrasi kontemporer. Peleburan rasionalitas
politis-yuridis dan rasionalitas manejerial-administratif ke dalam sosok
kekuasaan berdaulat dalam praktiknya membuat kehendak bersama dan hak
konstitusional rakyat di satu sisi dengan penyelenggaraan pemerintahan di sisi
lain menjadi tak terpisahakan. Dengan latar belakang sejarah seperti inilah
demokrasi dalam perjalanannya lebih banyak dipahami sebagai sistem
penyelenggaraan kekuasaan dibandingkan sebagai sistem yang menakar legitimasi
penyelenggaraan kekuasaan.
Penyelanggaraan kekuasaan tegas Agamben, kemudian menjadi
demikian identik dengan kekuasaan-berdaulat. Sosok yang tidak tertandingi oleh
kekuatan apa pun dan tidak terikat oleh mekanisme apa pun karena merupakan
representasi tunggal dari seluruh rakyat. Karena telah merepresentasikan
kekuasaan seluruh rakyat, kekuasaan-berdaulat menjadi kekuatan yang tak
tersentuh. Keputusannya bersifat otonom dan tak terbantahkan.
Sumbangan penting pemikiran Agamben adalah bahwa situasi
keadaan-berdaulat tidak hanya terjadi pada rezim totaliter tapi juga
kekuasaan-berdaulat oleh Agamben diletakan sebagai fenomena rezim demokrasi. Bagaimana
kekuasan-berdaulat menyusup masuk dalam tatanan demokrasi? Menurut Agamben,
melalui normalisasi keadaan-darurat. Keadaan-darurat lazim dipahami sebagai
keadaan khusus yang merupakan pengecualian dari normalitas tatanan demokrasi.
Dalam keadaan-darurat, kekuasaan eksekutif dapat secara sepihak menangguhkan
hukum, mengabaikan prosedur-prosedur konstitusional, membenarkan kekerasan dan
mengabaikan hak-hak kebebasan warga negara.
Demokrasi kontemporer, menurut Agamben, tidak banyak mengubah kenyataan bahwa keadaan-darurat adalah praktek dominan dalam tatanan demokrasi. Agamben menunjukan, negara demokrasi liberal yang bertumpu pada prinsip pembatasan kekuasaan negara tidak berhasil menghapuskan praktik-praktik penangguhan hukum dalam keadaan-darurat. Kebebasan individu dapat dicabut dan keadilan ditangguhkan atas nama hukum dengan alasan menjaga kepentingan keamanan nasional. Lebih dari itu, pengertian keadaan-darurat kemudian sedemikian rupa diperlonggar atau diperluas sehingga batas-batas antara yang darurat dan normal, antara pengecualian hukum dan pelaksanaan hukum menjadi kabur. Dengan melakukan penulusuran historis, Agamben menyimpulkan pelembagaan dan normalisasi keadaan-darurat adalah tendensi dominan dalam praktek kekuasaan demokrasi kontemporer.
Manusia Kontemporer sebagai Homo Sacer
Dikotomi utama dalam politik menurut Agamben bukanlah
dikotomi kawan lawan melainkan dikotomi antara hidup-alamiah dan hidup politis.
Perendahan atas hidup alami yang melahirkan fenomena hidup telanjang-yakni
orang-orang yang tanpa tameng hukum sama sekali-juga berakar pada sejarah hukum
Romawi. Istilah homo sacer adalah
istilah dalam hukum Roma untuk menyebut orang-orang yang dilucuti haknya dalam
mendapatkan perlindungan hukum. Siapa pun dapat menganiaya dan membunuh
orang-orang tersebut dengan impunitas. Status homo sacer merujuk kepada pelaku kriminal, pengkhianat kerajaan
atau penganut aliran kepercayaan yang menyimpang. Mereka dapat dibunuh tanpa
konsekuensi apa pun untuk pelaku pemnbunuhan. Mereka telah dieksklusi dari
komunitas politik dan menjadi eksitensi fisik belaka tanpa status hukum sama
sekali. Pembunuhan atas homo sacer
juga tidak dianggap sebagai proses penyakralan atau persembahan suci. Homo sacer adalah orang-orang yang
mengalami dua eksklusi: dari hukum duniawi maupun hukum ilahi. Pembunuhan atas
dirinya bukan suatu pelanggaran hukum dan ditolak sebagai bentuk persembahan
suci.
Agamben menggunakan istilah homo sacer untuk menjelaskan keadaan masyarakat dalam negara
demokrasi kontemporer. Tesis politik Agamben menegaskan, hubungan politik asali
antara negara dan warganya adalah penelantaran. Negara menginklusi semua orang
dalam tatanan dengan berbagai peraturan dan batasan. Namun negara juga,
menjalankan kekuasaan berdasarkan paradigma penyelenggaraan status darurat
sehingga di dalam tatanan hukum sekalipun, kekerasan dan kesewenangan masih
terjadi. Ketika penyelenggaraan status-darurat telah mengalami normalisasi dan
kekerasan dipakai sebagai mode penyelenggaraan kekuasaan, maka tidak ada lagi
batas antara hukum dan kekosongan hukum, antara keadaan alamiah (state of nature) dan tatanan hukum (state of law). Dalam konteks inilah
menurut Agamben, setiap orang pada era kontemporer ini berstatus sebagai homo sacer.
Dari temuan istilah homo
sacer, Agamben berargumen bahwa prosuder resmi negara untuk meng-homo sacer– warganya adalah lewat state of exception (situasi darurat).
Menurut Agamben, yang berhak mendekritkam State
of Exception adalah The Sovereign
(Yang Berdaulat) yang merupakan gabungan dua hal: potestas (power) dan auctoritas
(authority). Sebagai potestas(contituted power), ia adalah power of law, pemimpin eksekutif
tertinggi sesuai undang-undang yang ada. Namun sebagai auctoritas (kewenangan,
constituting power) ia bersifat
beyond the law. Karena bersifat beyond
the law, Yang Berdaulat bisa mendekritkan state of expection sehingga semua hukum yang ada ditangguhkan.
Implikasi Pemikiran Politik Agamben
Normalisasi ‘keadaan-darurat’ seperti yang dikatakan Agamben telah menjadi kecenderungan dominan dalam penyelenggaraan pemerintahan pada rezim demokrasi dewasa ini. Keadaan darurat lazim dipahami sebagai status yang diputuskan secara resmi oleh negara ketika sedang menghadapi ancaman perang, invasi asing, pemberontakan, dan semacamnya. Keadaan darurat senantiasa ditandai dengan tindakan penangguhan atas konstitusi, prosedur pengambilan keputusan demokratis, serta prinsip pemisahan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Atas nama keamanan nasional, eksekutif mengambil kekuasaan legislatif dan yudikatif, mengabaikan hukum positif dan melegitimasi tindakan kekerasan. Namun, dalam perjalanannya, pengertian keadaan-darurat mengalami perluasan konteks penerapan sehinggah muncul keadaan darurat bencana, darurat terorisme, darurat narkoba, darurat wabah penyakit dll. Dalam berbagai keadaan ini, ciri-ciri keadaan darurat tetap dipertahankan: penangguhan hukum, kesewenang-wenangan eksekutif, dan legitimasi atas kekerasan. Dalam konteks ini Agamben menegaskan, normalisasi keadaan-darurat dalam rezim demokrasi telah menghapuskan perbedaan distingtif antara ‘keadaan-darurat’ dan ‘keadaan-normal’.
Paskalis Bataona
Tulisan ini sepenuhnya ringkasan dari buku: Agus Sudibyo, DEMOKRASI dan KEDARURATAN, Memahami Filsafat
Politik Giorgio Agamben– (Marjin Kiri, 2019).
KALAU Sapardi Djoko Damono masih hidup ia akan menertawakan kami. Tinggal di kaki gunung dengan kawalan belukar yang masih perawan, teman kami adalah katak di sungai, ubi kayu dari kebun orangtua, dan panorama alam pegunungan nan eksotik. Puisi dengan modal kata? Sabar dulu. Biarkan kami anak laki berdeklamasi dengan baju disisip dengan celana sobek di bawah selangkangan. Atau rok teman-teman sesama anak kampung yang dijahit dengan benang hasil pintal ibu-ibu mereka.
Nikmat?
Tentu. Tapi, jangankan Chairil Anwar atau Idrus, nama “tuan tanah” di
jagad sastra, tuan Sapardi pun tak akan ambil pusing dengan kami.
Kalaupun mereka tahu kami anak-anak tengah berdeklamasi ria di bawah
hawa gunung yang manja, mungkin hanya sebait doa mereka yang rapuh di
sunyi puisi dari Jakarta, kota bertabur beton. Kami hanya berdeklamasi.
Bukan berpuisi. Kok begitu? Ya, tak ada kata “puisi” yang membaptis
omongan-omongan lisan rada seni yang indah. Puisi kami sudah mampus:
kami “berpuisi” dengan gambar.
Kamus Besar Bahasa Indonesia,
gudang kata, adalah barang mewah tuan-tuan yang mengatur negara. Kami
terpaut jauh. Sejauh langit dan bumi; bumi, tanah leluhur tempat kami
pijak nun di lereng. Kata yang segera menjadi puisi telah lama mampus.
Puisi sudah lapar dan lama mati di tengah sunyi: dibalut rimba lereng.
Ia mati tapi tidak (mati) dalam batok kepala kami yang telah penuh
dengan gizi ubi kayu, bunga & daun pepaya dari ladang bapak &
ibu kami. Otak kami sudah menyatu dengan katak di sungai yang mengalir
di lekuk alam yang masih perawan. Puisi mati tapi ia suci dan bertahan
dalam benak kami. Ia beranak pinak dalam wajah ubi kayu, pisang, katak,
daunan hijau yang kami santap di ladang atau di bibir anak sungai, tak
jauh dari kampung. Kalaupun Sapardi, Chairil atau Idrus tahu kala itu,
ia akan menyapa kami dari jauh: dalam puisi meski nantinya puisi juga
jadi barang asing.
Mengapa? Kami punya sebatas satu ini:
deklamasi. Pun musiman. Untung-untungan kalau guru kami membawa kami ke
tengah lapangan lalu kata luruh seperti butiran jagung dari serbet ibu
yang sudah kabur warnanya. Kemudian satu per satu disuruh deklamasi
modal corat coret guru di atas selembar kertas putih polos agar kata
merasuk sukma yang sudah kebal dengan gizi dari dapur sederhana ibu.
“Tali celana kamu diikat kuat. Kalau saat berekspresi dalam deklamasi
celana kalian tidak melorot. Sayang kalo tali celana putus ayahmu bisa
pening. Kata-kata yang kita produksi adalah bahasa jiwa. Ia lentera
batin melihat ke (dunia) luar,” kata guru Bahasa Indonesia kala itu.
Puisi? Tak ada. Sekali lagi: puisi sudah (lama) mampus. Tapi ia jadi
seperti orang suci, kudus dalam batin. Ia akan setia bekerja membasuh
jiwa kita, jiwamu, kelak di manapun ujung bumi kau pijak. Puisi akan
jadi guru dalam setiap jejak tapak yang kau ciptakan, katanya. Benar.
Bersentuhan dengan Golgota, tempat tengkorak, dalam (baru belakangan
setelah “deklamasi” bergeser) puisi di kota Timor, di atas batu karang
dalam selembar koran lokal. Puisi (nama baru) menemui ruang edisi
Minggu. Menyebut penulis deklamasi takut dibilang ndeso: kampungan.
Dibilang penyair terlalu tinggi setinggi gunung Labalekan. Ya, mau
dibilang apa, terserah. Tapi jangan dibilang penyair. Terlalu
berlebihan. Atau abai lebe lebe, kata orang Kupang. Saya tidak di posisi
itu. Pas kalau menyebut John Dami Mukese di tingkat lokal (sekadar
menyebut satu nama) atau Sapardi, Chairil Anwar atau Idrus di level
atas. Kalau Sapardi, ya. Sapardi dalam hati saya tak lebih seorang
pemangku ulayat “deklamasi”, “puisi” dalam khasana satra Indonesia. Ia
telah memenuhi panggilan Tuhan, sang Penyair dari segala penyair. Langit
negeri bertabur kata di Ahad 19 Juli 2020 di Rumah Sakit Eka, Tangerang
Selatan, seputaran Bumi Serpong Damai, Banten. Sapardi menutup mata
selamanya menghadap Tuhan, Sang Sabda.
Sosok Sapardi
Siapa
sastrawan Sapardi Joko Damono? Ia bukan orang kampung saya. Tapi kelak
ia telah mengajarkan banyak orang arti mengolah batin, mencintai
manusia, dan negeri di mana kita tinggal. Negeri bertabur onggokan tanah
besar dan kecil bernama seperti Lembata. Pulau yang juga jadi tempat
lahir Prof Dr Gregorius Perawin (Gorys) Keraf, guru besar dan ahli Tata
Bahasa Indonesia. Sapardi lahir di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1943.
Ia anak pertama dari dua bersaudara pasangan orangtua Sadyoko dan
Sapariah. Sekolah mulai SD hingga SMA ia lalui di Solo. ‘Melarat’ (dalam
istilah kampung saya) atau merantau ke Jogja, ia diterima di jurusan
Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada hingga meraih gelar tahun
1964. Tahun 1970-1971, ia terbang ke Hawaii untuk menempuh pendidikan
non gelar di University of Hawaii, Honolulu. Masa studi Sapardi yang
kala itu saya masih orok setelah ibu pecah ketuban di hutan tak jauh
dari kampung dan saya mulai bertemu dunia luas. Tahun 1989, Sapardi
meraih gelar doktor (S-3) Universitas Indonesia (UI). Disertasinya
membedah novel-novel di Jawa tahun 1950-an. Baru tahun 1995, ia
dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra kampus negeri itu.
Jejak Sapardi
Sapardi memiliki sejarah panjang pengabdiannya di jalur pendidikan. Ia
guru di ruang kuliah dan guru di tengah masyarakat. Ia tentu mengajar
bagaimana cara olah gerak mimik dan tubuh yang baik saat deklamasi,
berpuisi bagi banyak orang terutama para penyair Indonesia bahkan dunia.
Kompas.com
menulis sekilas jejak pengabdian Sapardi. Ia pernah menjadi dosen
tetap, Ketua Jurusan Bahasa Inggris, IKIP Malang Cabang Madiun, tahun
1964-1968. Tak lama diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas
Sastra-Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 1968-1973. Sejak
1974, ia bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra, UI, jurusan
Sastra Indonesia. Fakultas ini yang kalau tak salah juga ada Gorys
Perawin Keraf, penulis Tata Bahasa Indonesia, buku yang jadi bacaan di
sekolah-sekolah, termasuk kampus-kampus di Indonesia. Sapardi pernah
menjabat Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra, UI kurun waktu tahun
1979-1982. Tak lama kemudian diangkat jadi Pembantu Dekan I pada
1982-1996. Lalu menjabat Dekan tahun 1996-1999 di UI.
Tahun 2005, ia memasuki masa pensiun sebagai guru besar Fakultas Ilmu Budaya, UI. Meski demikian, ia masih diberi tugas sebagai promotor dan penguji di beberapa perguruan tinggi, termasuk menjadi konsultan Badan Bahasa. Ia juga aktif di lembaga seni dan sastra tahun 1970-1980. Ia pernah menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Jakarta (1973-1980), redaksi majalah sastra Horison (1973), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak 1975), anggota Dewan Kesenian, anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka Jakarta (sejak 1987) dan lain-lain. Tahun 1986, Sapardi mengemukakan perlunya mendirikan organisasi profesi kesastraan di Indonesia. Ia pun mendirikan organisasi bernama Himpunan Sarjana-Kesusasteraan Indonesia (Hiski) pada 1988 dan terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat selama tiga periode. Sapardi juga tercatat sebagai anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI), dan sebagai anggota Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV). Selain aktif di dunia sastra dalam negeri, Sapardi juga sering menghadiri berbagai pertemuan internasional, seperti Translation Workshop dan Poetry International di Rotterdam, Belanda (1971) dan Seminar on Literature and Social Exchange in Asia di Australia National University Canberra.
Merujuk Ikhtisar Kesusasteraan Indonesia Modern (1988) karya Pamusuk Eneste, Sapardi dimasukkan dalam kelompok pengarang Angkatan 1970-an. Begitu pula dalam Sastra Indonesia Modern II (1989) karya A Teeuw, Sapardi digambarkan sebagai cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar 1960. Puisinya banyak dikagumi. Mengapa? Banyak kesamaan dengan yang ada dalam persajakan Barat yang disebut simbolisme sejak akhir abad ke-19. Beberapa karyanya adalah Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998). Serta Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2000), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003), kumpulan cerpen Pengarang Telah Mati (2001), dan kumpulan sajak Kolam (2009).
Sapardi sungguh pakar sastra yang dimilik Indonesia. Beberapa buku penting karyanya saya sebut di sini. Misalnya, Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999), Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1996), Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999), Sihir Rendra: Permainan Makna (1999), dan Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan Awal. Ia juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway); Daisy Manis (Daisy Milles, Henry James); Puisi Brasilia Modern; George Siferis; Sepilihan Sajak; Puisi Cina Klasik; Puisi Klasik; Shakuntala; Dimensi Mistik dalam Islam karya Annemarie Schimmel; Afrika yang Resah (Song of Lowino dan Song of Ocol oleh Okot p’Bitek); Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra oleh Eugene O’Neill); Amarah I dan II (The Grapes of Wrath, John Steinbeck), dan lain-lain.
Apresiasi
Sapardi adalah sastrawan berjasa di bidangnya selama masih hidup. Peran dan karyanya di bidang sastra, berbuah aneka penghargaan, apresiasi di bidang sastra. Hadiah Majalah Basis atas puisinya “Balada Matinya Seorang Pemberontak” (1963); Penghargaan Cultural Award dari Pemerintah Australia (1978); Mendapat Hadiah Anugerah Puisi-Puisi Putera II untuk bukunya Sihir Hujan dari Malaysia (1983); Mendapat hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta atas bukunya yang berjudul Perahu Kertas (1984); Mataram Award (1985); Menerima hadiah SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Thailand (1986); Mendapat Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990); Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996); Mendapat penghargaan The Achmad Bakrie Award for Literature (2003); Khatulistiwa Award (2004); dan Penghargaan dari Akademi Jakarta 2012). Hari ini dunia sastra Tanah Air tentu merasa kehilangan Sapardi. Tapi, saya percaya panggilan Sang Sabda lebih ia rindukan. Sapardi tak mau puisinya tetap hadir nun di rumah-Nya. Tak lagi seperti kami anak kampung tempo doeloe yang suka deklamasi di tengah lapangan di bawah bayang-bayang tali celana yang rerancam putus. Meski perut kami sudah aman dengan singkong, daging katak atau pesona alam pegunungan yang menggoda dan menyemangati kami melangkah dalam diam demi masa depan. Meski kami relah puisi kami mampus dan kami bertahan dengan deklamasi saja.
Sapardi, saya akan deklamasikan Hujan Bulan Juni, puisi karyamu. Dalam hati tentunya. Kali ini saya deklamasikan tanpa tali celana berbahan benang pintalan ibu atau tali waru hasil kreasi ayah saya di kampung saat saya masih kecil.
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
—-1994———————
Selamat jalan, Sapardi. Berpuisilah dari Surga agar puisi tak lagi mampus seperti dulu; dalam sunyi alam pegunungan. Bahagia selalu. Selalu, Sapardi Requiscat In Pace. Damailah di sisi-Nya.
Ansel Deri Orang udik penikmat sastra; Mengenang Sapardi Djoko Damono